Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pemetik Harpa 14


Pendekar Pemetik Harpa Karya Liang Ie Shen Bagian 14



Pendekar Pemetik Harpa Karya dari Liang Ie Shen

   

   "Lho, mereka menunggang kuda Kanglam Sianghiap yang jempolan itu, kenapa belum tiba disini? Soal ini panjang ceritanya..."

   Sampai disini tanpa merasa dia menoleh ke arah Tan Ciok-sing.

   Waktu dia tiba tadi kebetulan didengarnya Ciu Kiam-khim sedang menanyakan Tan Ciok-sing, dia sendiri juga belum tahu siapa sebenarnya laki-laki ini, kalau dia orang luar, tak enak dia bicara blakblakan di hadapannya.

   Ciu Kiam-khim juga lantas ingat, katanya.

   "Betul, soal Siauongya kalian boleh nanti kau tuturkan kepadaku. Coba kau terangkan dulu siapa dia ini?"

   "Aneh,"

   Kata Toh Ni.

   "aku seperti pernah melihatnya, tapi juga seperti belum kenal."

   Tiba-tiba Tan Ciok-sing berkata.

   "Siau-nicu, apakah kakimu sudah sembuh?"

   Kontan Siau-nicu terbelalak kaget, namun dia segera berjingkrak senang, teriaknya.

   "Kau, kau adalah..."

   Cepat Tan Ciok-sing memberi tanda kedipan mata. Toh Ni cukup cerdik, dia maklum akan kedipan mata ini, katanya.

   "Nona Ciu. Tentang Siau-ongya biarlah Ling Suhu nanti tuturkan kepadamu. Biar aku bicara sebentar dengan saudara ini."

   Mendengar pengakuan Siau-nicu, legalah hati Ciu Kiamkhim, pikirnya.

   "Agaknya orang ini punya pantangan yang tidak boleh diketahui orang lain, buat apa memaksanya,"

   Maka dia berkata.

   "Baik, pergilah kau bicarakan urusanmu dengan sahabat ini, aku akan tunggu disini."

   Toh Ni ajak Tan Ciok-sing ke pinggir sungai, katanya.

   "Tansiangkong, sungguh tak kira aku bisa bertemu kau disini, kau, apa benar kau ini dia?"

   Agaknya dia masih ragu-ragu. Tan Ciok-sing tersenyum, segera dia basahi lengan bajunya terus membersihkan muka sendiri katanya.

   "Maaf, aku tidak boleh menghapus make up ku seluruhnya. Kuyakin kau sudah mengenalku bukan?"

   Kaget dan girang Toh Ni dibuatnya, katanya.

   "Tansiangkong, ternyata memang kau, kenapa kau menyamar begini?"

   Tan Ciok-sing tertawa getir, katanya.

   "Ya untuk menghindari kesukaran. Yang tahu akan diriku maklum akan kerisauanku, yang tidak tahu akan diriku, buat apa aku harus memohon kepadanya? Hanya Thian yang tahu apa yang terkandung dalam sanubariku?"

   Kata-kata terakhir ini pernah disenandungkan oleh Tan Ciok-sing waktu berada di Cit-singgiam, sebelum dia berlalu serta menyerahkan harpanya kepada Toh Ni, saat mana Toan Kiam-ping masih belum siuman dari pingsannya.

   Mendengar senandung ini, lebih yakin pula Toh Ni bahwa orang dihadapannya ini memang bukan lain adalah Tan Ciok-sing, katanya menghela napas.

   "Tansiangkong, hari itu sebetulnya tak perlu kau berlalu. Kau, kau tidak tahu."

   "Tahu apa?"

   Tanya Tan Ciok-sing.

   "Hari itu nona In mencarimu ubek-ubekan sehari suntuk. Setiap peloksok kota Kwi-lin telah dijelajahinya, malamnya waktu pulang, wajahnya tampak kuyu dan sedih. Belakangan Siau-ongya tahu bahwa kau mengantarnya ke rumah keluarga In, lalu kau berlalu, aku dimakinya, kenapa aku membiarkan kau pergi."

   Pilu hati Tan Ciok-sing, katanya.

   "Terima kasih akan perhatian mereka kepadaku. Aku hanya mengharap mereka hidup bahagia. Yakin bila sang waktu telah berlalu, mereka pasti akan melupakan aku."

   "Tidak,"

   Kata Toh Ni tegas.

   "mereka justru takkan melupakan kau."

   "Siau-nicu,"

   Tukas Tan Ciok-sing mengulap tangan.

   "marilah bicara soal lain saja. Apakah luka-luka Siau-ongya sudah sembuh? Apa kau tahu betul bahwa dia kemari bersama nona In? Kenapa kau tidak bersama dengan mereka? Agaknya sejak lama Ling Suhu sudah meninggalkan Kwi-lin, bagaimana kau bisa menemukan dia? Dia kembali ke Tayli bukan?"

   "Baiklah, biar kututurkan kejadian sejak kita berpisah dulu,"

   Ucap Toh Ni.

   "Siau-ongya memang keracunan cukup parah, untung dia mendapat perawatan nona In, In Ih memanggil tabib kenamaan untuk mengobatinya pula. Hari kedua dia sudah siuman. Beruntun beberapa hari, sambil makan obat diapun mengerahkan lwekang untuk membantu bekerjanya obat. Hanya tujuh hari kesehatannya sudah pulih.

   "Pagi hari itu, dia suruh aku membawa harpa pemberianmu, lalu dia memetik sebuah lagu, sudah beberapa tahun aku melayaninya, belum pernah aku melihat dia melelehkan air mata. Waktu memetik harpa itu, diam-diam nona In masuk, namun dia tidak tahu."

   Mendengar cerita sampai disini, tanpa terasa air matapun berlinang di ujung mata Tan Ciok-sing, katanya dengan tawa dipaksakan.

   "Dia suka harpaku yang kuno itu, sungguh aku amat senang."

   Toh Ni meneruskan ceritanya.

   "Begitu Siau-ongya selesai memetik harpa, nona In lantas berkata.

   "Kiam-ping jalan pikiranmu sama denganku, waktu itu baru aku tahu akan kehadirannya. Aku amat heran, Siau-ongya belum pernah bicara dengan dia bagaimana dia bisa tahu jalan pikiran Siauongya?"

   "Irama harpa melimpahkan perasaan, kenapa harus mengutarakan isi hati dengan perkataan,"

   Demikian Tan Cioksing menjelaskan. Siau-ongya angkat kepala, katanya.

   "Betul, kita harus temukan dia."

   Bergetar perasaan Tan Ciok-sing, didengarnya Toh Ni melanjutkan.

   "Hari kedua, dia lantas meninggalkan Kwi-lin bersama nona In. Semula aku ingin ikut mereka mencarimu, tapi Siau-ongya melarangku dengan tegas, malah aku disuruh pulang memberi laporan palsu. Apa boleh buat, terpaksa aku jalankan perintahnya."

   "Nah, kalau Siau-ongya suruh pulang ke Tayli bagaimana kau bisa datang kemari secepat ini bersama Ling Suhu?"

   "Baru tiga hari aku meninggalkan Kongcu, di tengah jalan aku bertemu dengan Ling Suhu."

   "Bukankah Ling Suhu jauh hari sudah disuruh pulang?"

   "Betul, Ling Suhu sudah disuruh pulang waktu Siau-ongya janji bertemu dengan kau. Waktu aku ketemu dia juga keheranan,"

   Demikian tutur Toh Ni lebih lanjut.

   "belakangan baru kuketahui bahwa diapun belum pulang ke Tayli, di tengah jalan dia ketemu utusan istana raja. Orang itu diperintahkan oleh permaisuri untuk mendesak Siau-ongya lekas pulang. Katanya Lo-ongya sakit keras, dia diharuskan pulang untuk mewarisi jabatan."

   Tan Ciok-sing kaget, katanya.

   "Kalau demikian, dia kan harus lekas pulang."

   "Memang, Lo-ongya sakit keras, maka aku tak bisa membual lagi. Maka dengan kuda lari cepat Ling Suhu menyusul balik ke Kwi-lin, duduk persoalan yang sebenarnya kujelaskan kepada Ling Suhu, maka segera kami menyusul kemari hendak mencari Siau-ongya,"

   Cerita sampai disini tibatiba Toh Ni tertawa sendiri.

   "Apa yang kau tawakan?"

   Tanya Ciok-sing heran.

   "Majikan tuamu sakit keras, kau masih berani tertawa?"

   "Biar kukasih tahu padamu, tapi jangan kau bocorkan. Padahal Ling Suhu juga menipu."

   "Menipu apa?"

   Tanya Tan Ciok-sing.

   "Kabar tentang majikan tua sakit keras hanyalah bualan belaka. Sejak bertemu aku sudah terus terang kepada Ling Suhu, tapi baru kemarin Ling Suhu bicara sejujurnya dengan aku. Ternyata Lo-ongya kuatir putranya berdiri sepihak dengan orang-orang gagah di Kangouw. Utusan dari istana semula juga tak berani terus terang terhadap Ling Suhu, tapi karena minta bantuannya, tahu akan kejujuran pula, maka akhirnya hal itu dijelaskan."

   "Tak lama lagi akan terjadi peperangan disini, demi kepentingan Siau-ongya kalian, memang pantas kalau dia lekas pulang,"

   Demikian kata Tan Ciok-sing.

   "Dari mana kau tahu bakal ada perang disini?"

   Tanya Toh Ni.

   "Kedua orang yang menyamar utusan keluarga Toan adalah matamata Watsu, kebetulan tertangkap olehku, aku telah mengompres keterangan mereka."

   Toh Ni menghela napas, katanya.

   "Kalau aku seorang diri, ingin aku melihat peperangan disini. Tapi bisa tidak aku menemukan Siau-ongya, aku harus pulang memberi laporan. Tan-siangkong, bila kau ketemu Siau-ongya, jangan kau bocorkan berita bohong itu kepadanya."

   "Tak usah kuatir, aku takkan ketemu dia."

   Toh Ni seperti paham, sesaat kemudian dia berkata.

   "O, jadi kau sengaja menghindari Siau-ongya?"

   Tan Ciok-sing diam saja, tapi manggut-manggut. Toh Ni menghela napas, katanya.

   "Kau sengaja menghindari dia, sebaliknya aku pusing mencarinya. Aneh, tiga hari dia lebih dini berangkat kemari menunggang kuda yang dapat lari ribuan li sehari, kenapa aku tiba lebih dulu malah? Aku, aku jadi kuatir."

   "Mungkin di tengah jalan mereka tertunda oleh suatu urusan. Kungfu Siau-ongya dan kepandaian nona In cukup tinggi, dengan gabungan kekuatan mereka, yakin musuh takkan mampu berbuat banyak, tak usah kuatir mereka mengalami sesuatu."

   Toh Ni berkata lebih lanjut.

   "Sebetulnya setulus hati aku mengharap Siau-ongya dapat mempersunting nona In, bicara terus terang, waktu itu sedikitpun tidak simpatik kepadamu, ingin rasanya kau lekas meninggalkan nona In sejauh mungkin. Tapi pikiranku sekarang berbeda, karena aku sudah tahu kau adalah orang baik yang sukar dicari keduanya di dunia ini, aku juga tahu nona In hanya menyukai kau, harap kau suka mendengar pendapatku..."

   "Anggapanmu semula memang tidak salah,"

   Demikian tukas Tan Ciok-sing.

   "Siau-ongya memang pasangan setimpal dengan nona In, aku tidak setimpal jadi suaminya."

   "Tidak, itu hanyalah pikiranmu seorang. Siau-ongya dan nona In justeru tidak sependapat dengan kau. Apa kau ingin tahu bagaimana Nona In membicarakan dirimu?"

   Tan Ciok-sing goyang tangan, katanya.

   "Tidak aku tidak mau dengar. Mereka begitu baik terhadapku, aku amat haru dan berterima kasih, tapi aku tidak boleh tidak tahu diri, aku tidak mau ditertawakan orang, dikatakan aku ini kodok buduk yang menginginkan daging bangau."

   Merah muka Toh Ni, katanya.

   "Tan-siangkong, kau masih menyindirku akan perkataan yang kulontarkan di hari itu tentang dirimu? Mulutku memang pantas digampar. Tapi kuharap kau memaafkan kelancanganku itu,"

   Sambil bicara dia sudah angkat tangannya mau menggampar mulut sendiri. Lekas Ciok-sing menariknya, katanya.

   "Aku tidak menyalahkan kau, aku sendiripun berpikir demikian."

   Toh Ni masih mau membujuk, Tan Ciok-sing berkata.

   "Siau-nicu, tidak usah dibicarakan, lagi. Aku hanya mengejar ketentraman batinku saja. Kumohon bantuanmu jangan kau katakan kepada Siau-ongya dan nona In bahwa kau pernah ketemu aku disini, jangan pula kasih tahu kepada Ling Khongtik."

   "Kau pernah menolong jiwaku, apa kehendakmu pasti kulaksanakan. Masih ada?"

   "Masih ada satu hal, juga mohon bantuanmu."

   "Tan-siangkong silakan katakan saja, jangan kata soal membantu persoalanmu, meski Siau-nicu harus terjun ke lautan api, juga pasti kulaksanakan."

   "Terima kasih akan kesetiaanmu. Kedatanganku kemari bukan hanya ingin memberitahu jejak Siau-ongya, aku juga membawa pesan seorang teman,"

   Lalu dia tuturkan keinginan Han Cin yang mau mendarma baktikan tenaganya di markas Kim-to Cecu, minta Siau-nicu sampaikan hal' ini kepada putri Kim-to Cecu. Supaya mengutus orang menjemput Han Cin di kedai itu.

   "Urusan sekecil ini pasti beres. Tapi maafkan bila aku cerewet, ingin tanya kepadamu. Apakah kau menyukai nona Han ini?"

   Untuk menghindari banyak pertanyaan, maka Tan Ciok-sing menjawab.

   "Betul, aku amat menyukainya, kami sudah angkat saudara."

   "Sebetulnya aku kuatir bagi nona In. Kau takut menemui dia, tapi juga tidak suka bertemu dengan dia bersama nona Han. Ini sudah membuktikan bahwa kau hanya mencintai nona In saja. Apa yang kau katakan justru kebalikannya."

   "Siau-nicu jangan sembarang ngomong. Emm, waktu amat mendesak, aku harus lekas pergi. Soal itu kutitip padamu supaya diselesaikan,"

   Dia tidak kembali menemui Ciu Kiamkhim, secara diam-diam dia turun gunung. 000OOO000 Di tengah perjalanan pulang, hatinya justru gundah dan gelisah. Kata-kata Siau-nicu menimbulkan riak gelombang dalam sanubarinya.

   "Nona In hanya mencintai kau, dia tidak akan melupakan dirimu,"

   Kalau bukan cerita Siau-nicu ini, hakikatnya dia tidak tahu bahwa cinta In San kepadanya ternyata begitu mendalam. Tapi sedapat mungkin dia berusaha menekan gejolak hatinya.

   "Umpama betul dia tidak akan melupakan aku selamanya, akupun tak perlu menyesal akan keputusanku ini. Mencintai seseorang harus bisa memberikan kebahagiaan kepadanya. Kalau dia menjadi permaisuri Toan Kiam-ping pasti jauh lebih bahagia dari pada menjadi isteriku."

   Meski dia berusaha menekan gejolak perasaannya, tapi hatinya tetap merasa hambar dan kosong.

   Akhirnya Tan Ciok-sing kembali pula ke Tay-tong.

   Waktu dia masuk kota, penduduk sudah mulai menyulut lampu.

   Tay-tong setelah mengalami peperangan, bagi penduduk yang punya uang, seperti sudah melupakan lukaluka akibat peperangan itu, mereka tetap mengejar kesenangan hidup.

   Malam hari ternyata tidak kalah ramai dari siang hari, jalan raya tetap berjubel manusia yang berlalu lalang.

   Tan Ciok-sing berjalan di tengah keramaian kota, perasaannya justru sunyi sepi seperti di atas alas pegunungan yang belukar.

   Dengan jari-jarinya yang gemetar dia mengetuk pintu kedai.

   Seperti murid sekolah yang harus memasuki arena ujian, hatinya bingung dan kacau.

   "Bagaimana aku harus memberi penjelasan kepada adik Cin?"

   Diluar dugaannya, dia tidak menemukan Han Cin, begitu dia masuk laki-laki tua itu lantas berkata kepadanya.

   "Kebetulan kau pulang, aku mau beri tahu, hari kedua setelah kau pergi, Han-siangkong juga meninggalkan kedai kami."

   Tan Ciok-sing kaget, katanya.

   
Pendekar Pemetik Harpa Karya Liang Ie Shen di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

   
"Kenapa tidak menungguku pulang? Aku sudah berjanji dengan dia, apa kau tahu dia kemana?"

   "Kau tak perlu kuatir, dia bilang dia sudah menemukan Kim-to Cecu."

   Karuan Tan Ciok-sing keheranan, katanya.

   "Bagaimana dia bisa menemukan Kim-to Cecu? puncak gunung dimana markas Kim-to Cecu berada pun belum kuketemukan. Memangnya dia sudah ke Tay-tong ini?"

   "Yang kumaksud bukan langsung ketemu dengan Kim-to Cecu, tapi dia bertemu dengan seorang yang tahu dimana Kim-to Cecu berada."

   "Siapa orang itu?"

   Tanya Ciok-sing, dalam hati dia membatin.

   "Padahal dia tidak kenal siapa saja, memangnya dari mana dia berkenalan dengan orang?" ' "Dia tidak memberi tahu padaku,"

   Sahut laki-laki tua.

   "Tapi dia meninggalkan sepucuk surat untuk kau. Katanya setelah membaca suratnya kau akan mengerti."

   Ciok-sing terima surat peninggalan Han Cin serta dirobek dan dibacanya, dimana surat itu berbunyi demikian.

   "Aku tidak ingin merepotkan pemilik kedai ini, kedainya ini untuk berdagang, setiap hari banyak orang pergi datang disini, aku perempuan menyaru laki-laki, lama kelamaan pasti terbongkar oleh orang. Rumah keluarga In kan tiada yang menghuni, biarlah untuk beberapa hari aku tinggal disana Tinggal di kamar tidurnya yang serba indah itu jauh lebih enak, lebih leluasa, tapi tak enak aku terus terang kepada pemilik kedai ini, yakin kau tidak salahkan aku mempermainkan kau bukan? Sekembalimu, boleh langsung kau ke rumah keluarga In."

   Setelah baca surat ini, baru Tan Ciok-sing tahu Han Cin sengaja main gara-gara, diam-diam dia menjadi geli.

   "dia memang nakal, entah bagaimana dia mendapat akal untuk pindah tempat. Yang benar tinggal di rumah keluarga In hakikatnya jauh lebih berbahaya,"

   Maka dia bertanya.

   "Sejak aku pergi dulu, pernahkah opas atau petugas lainnya yang memeriksa gedung keluarga In yang sudah terbakar itu?"

   "Tidak pernah. Sejak rumah keluarga In digerebek tentara, rumah itupun sudah disegel, sejauh ini belum dibuka. Tansiangkong, buat apa kau tanya hal ini?"

   "Tidak apa-apa,"

   Ujar Tan Ciok-sing.

   "Soalnya tempo hari kudengar kau berkata, ada orang yang mengaku utusan keluarga Toan di Tayli kemari dan mencari tahu tentang rumah keluarga In kepadamu, maka aku tanya sambil lalu saja"

   "'O, kau kuatir mereka masuk ke rumah keluarga In, sehingga menimbulkan curiga petugas dan mengadakan pemeriksaan disana? Menurut apa yang kutahu, opas atau petugas negara lainnya tiada yang pernah masuk kesana, aku juga tidak tahu. Tapi rumah yang disegel, siapa yang berani memasukinya."

   Legalah hati Ciok-sing, pikirnya.

   "Untung kalau tidak terjadi apa-apa. Apa boleh buat terpaksa aku ikut berbohong pada pemilik kedai ini."

   Laki-laki tua berkata.

   "Siapakah teman Han-siangkong itu? Apakah dia utusan dari keluarga Toan?"

   "Bukan, tapi salah seorang anak buah Kim-to Cecu yang tinggal di kota ini."

   Laki-laki tua ini tahu akan pantangan orang-orang Kangouw, maka dia tidak berani banyak tanya dimana tempat tinggal Han Cin itu, katanya.

   "Kalau begitu lekaslah kau pergi mencarinya."

   "Betul, sebentar juga aku akan pergi mencarinya."

   Tan Ciok-sing lalu ngobrol dengan pemilik kedai, diketahuinya sejak dia meninggalkan Tay-tong keadaan disini ternyata aman saja, lebih lega pula hatinya.

   Setelah makan bakmi, tanpa terasa hari sudah menjelang kentongan yang ketiga.

   Tan Ciok-sing berkata.

   "Aku harus berangkat,"--setelah pamitan kepada pemilik kedai, diam-diam dia lantas menyelundup ke rumah keluarga In. Untuk kedua kalinya dia menyelundup ke rumah keluarga In, terbayang waktu dulu dia bertemu dengan In-hujin, hatinya amat haru. Pikirnya.

   "Waktu itu kukira akan bertemu dengan adik San, tak nyana bertemu dengan ibunya. Tapi kali ini aku sudah jelas, yang bakal kutemui adalah In San samaran. Hmm, adik San memang ada sedikit persamaan dengan adik Cin, memang cocok kalau adik Cin menyamar dia. Entah sekarang dia sudah tidur atau belum?"

   Tengah otaknya bekerja, tanpa disadarinya dia langsung menuju ke kamar tidur In San dulu.

   Setelah dekat, tiba-tiba didengarnya suara petikan harpa dari dalam kamar.

   Karuan Tan Ciok-sing menjublek.

   Lagu yang dibawakan dalam petikan harpa ini adalah lagu yang pernah dia bawakan sebelum dia berpisah dengan Toan Kiam-ping serta menghadiahkan harpanya di atas Cit-singgiam dulu.

   Di waktu terlongong itu, pikirannya melayang.

   "Belum pernah aku tuturkan kejadian itu kepada adik Cin, bagaimana mungkin di kala kebetulan aku pulang, dia lantas petikan lagu itu, mungkinkah secara kebetulan? Tapi yang membuatnya menjublek bukan lantaran petikan lagunya, tapi karena dia dapat merasakan, dapat meresapi perasaan yang dibawakan oleh irama harpa itu. Bahan kayu yang berbeda untuk membuat harpa dapat menimbulkan perbedaan nada dan suara, orang biasa takkan bisa membedakan, tapi bagi seorang ahli, guru harpa yang sudah banyak pengalaman tentu dapat membedakan. Harpa kuno peninggalan keluarganya itu adalah Kiau-bwekhim yang tercatat dalam sejarah daftar harpa, konon harpa itu dibuat oleh Coa Pa pada dynasti Han timur, bahannya dari sebongkot kayu yang sudah terbakar separo, maka harpa itu dinamakan Kiau-bwe-khim (harpa bongkot arang). Nada dan warna suaranya jauh berbeda dengan harpa umumnya. Kini Tan Ciok-sing mendadak mendengar petikan irama Kiau-bwekhim miliknya dulu itu, saking kaget, hampir dia tidak mau percaya akan pendengaran kupingnya. Walau gaya petikannya masih belum cukup mahir, tapi lagu itu dapat dibawakan cukup sempurna dan lebih penting lagi dia dapat melimpahkan isi hatinya melalui petikan harpa itu, perasaan yang hambar dan penuh harapan dituangkan pada irama harpa, ini menimbulkan reaksi yang kontras dalam sanubarinya, Tan Ciok-sing berpikir.

   "Ai, bagaimana adik Cin juga memiliki perasaan yang sama dengan aku pada waktu itu?"

   Bahwa Han Cin pandai meniup seruling dan mahir teori musik, ini diketahui oleh Tan Ciok-sing, maka dia yakin bahwa yang memetik harpa ini pasti Han Cin adanya, sesaat lamanya dia menjublek, akhirnya dia maju perlahan-lahan serta mengetuk pintu, serunya.

   "Adik Cin, aku sudah pulang, dari mana kau peroleh harpa yang kau petik itu, coba biar kulihat."

   Suara harpa seketika berhenti, pintu kamarpun cepat terbuka.

   Tapi yang berdiri dihadapannya ternyata bukan Han Cin.

   Tanpa merasa kembali dia terlongong di depan pintu.

   Kalau tadi dia tidak percaya akan pendengaran kupingnya, kini dia tidak percaya akan pandangan matanya.

   Ternyata yang muncul dihadapannya bukan lain adalah In San yang sengaja ingin dia hindari.

   Ternyata sikap In San tidak seheran dia, begitu membuka pintu, dia lantas menyambut dengan tertawa.

   "Aku sudah tahu kau telah datang, sudah beberapa hari aku menunggumu disini."

   "Apa betul kau nona In?"

   Tergagap suara Ciok-sing. Dia tahu Han Cin pandai menyamar, maka dia curiga bahwa In San yang berdiri di hadapannya ini samaran Han Cin. In San tertawa, katanya.

   "Tan-toako, baru sebulan lebih aku berpisah dengan kau, kau sudah tidak mengenalku lagi? Osang bisa menyaru, tapi harpa kuno warisan keluargamu ini apakah bisa dipalsukan?"

   Tan Ciok-sing ambil harpa itu serta diperiksanya dengan teliti, memang inilah Kiau-bwe-khim warisan keluarganya itu.

   Yang benar tak perlu dia memeriksa sedemikian rupa, sekali pandang saja orang lainpun akan tahu bahwa harpa ini tulen.

   Kiau-bwe-khim ini sudah dia hadiahkan kepada Toan Kiamping, Toan Kiam-ping datang ke Tay-tong bersama In San, sudah tentu harpa ini berada di tangan In San, dan tak mungkin berada di tangan Han Cin.

   Baru sekarang Tan Ciok-sing yakin bahwa gadis yang berada di hadapannya betul-betul adalah In San, bukan samaran Han Cin yang pernah menggodanya dulu.

   Karuan kaget dan senang hatinya, katanya.

   "Ah, ternyata kau memang adik San."

   In San tersenyum, katanya lembut.

   "Kau kira aku siapa?"

   Teringat bahwa kedatangannya mau mencari Han Cin dan memperlihatkan surat peninggalan ayah angkatnya kepadanya, seketika jengah muka Tan Ciok-sing, katanya tersendat.

   "Kukira kau samaran seorang temanku."

   Seperti tertawa tidak tertawa In San mengawasinya, tanyanya.

   "Siapakah temanmu itu?"

   "Seorang nona she Han, dia, dia..."

   Sebelum dia ceritakan siapa sebenarnya Han Cin, In San sudah berkata lebih dulu.

   "Dia adalah anak angkat Khu Ti, Khu-locianpwe telah meninggal, atas perintah ayah angkatnya itu kau angkat saudara sama dia, betul tidak?"

   Lama Tan Ciok-sing melenggong, katanya kemudian masih melongo.

   "Jadi kau sudah bertemu dengan nona Han?"

   Tertawa tapi In San tidak menjawab, tiba-tiba malah bertanya.

   "Sejak kau meninggalkan Tay-tong sampai hari ini kebetulan tepat sepuluh hari, betul tidak?"

   "Lho, bagaimana kau tahu sejelas ini?"

   Sahut Tan Ciok-sing setelah menghitung dengan jari, memang tepat sepuluh hari.

   "Malam itu, kau pernah lewat depan rumahku, betul tidak?"

   "Jadi bayangan yang kulihat malam itu adalah kau."

   "Malam itu kira-kira kentongan ketiga, aku belum tidur, sayup-sayup mendadak kudengar seseorang menghela napas panjang, entah mengapa, aku menduga pasti kau adanya. Tapi waktu aku keluar mencarimu, kau sudah tidak kelihatan."

   "Waktu itu aku juga curiga mungkin engkau, tapi juga kuatir bila orang yang diutus dari keluarga Liong, karena tidak ingin mencari perkara, maka aku lekas-lekas pergi."

   In San menghela napas, katanya.

   "Kau bukan takut kena perkara, tapi kau sengaja menghindari aku, kau kira aku tidak tahu?"

   Tan Ciok-sing tidak bisa mungkir, terpaksa dia menunduk. Sikapnya kikuk mimiknya lucu. In San tertawa geli melihat tampangnya, katanya.

   "Malam itu kau tidak masuk kemari, tapi tidak lama, mungkin satu jam kemudian, adik Cin itulah yang kemari."

   "Ternyata demikian, tak heran segalanya sudah kau ketahui."

   Setengah mendesak setengah berkelakar In San berkata.

   "Sekarang kau masih mau menghindari aku?"

   Tan Ciok-sing menyengir kuda, katanya.

   "Aku ketipu oleh kalian."

   "Hari kedua adik Cin lantas pindah kemari, surat yang diberikan kau itupun dia tulis disini. Tapi bukan maksudku menipu kau datang kemari. Kau tidak salahkan aku bukan?"

   Lirih suara Tan Ciok-sing.

   "Yang benar akupun ingin bertemu dengan kau."

   Secerah kembang mekar senyum In San, katanya.

   "Kukira kau sudah melupakan aku. Setelah mendengar pengakuanmu, tidak sia-sia aku menunggumu sepuluh hari disini."

   Bergetar perasaan Tan Ciok-sing, namun ditenangkan hati, katanya.

   "Mana nona Han?"

   "Semalam dia menginap disini bersamaku, hari kedua dia lantas pergi."

   "Pergi kemana?"

   "Tak usah gugup, nanti kuceritakan. Masih ada yang ingin kau tanyakan?"

   "Bukankah Toan-toako datang bersamamu, kenapa tidak kelihatan?"

   Dengan tersenyum In San menerangkan.

   "Memang nona Han menipu kau datang kemari, tapi tidak seluruhnya dia ngapusi kau. Bukankah dalam suratnya dia ada bilang bahwa dia ketemu seorang teman yang akan mengantarnya ke markas Kim-to Cecu?"

   "Jadi benar?"

   Seru Ciok-sing heran.

   "teman itu..."

   "Teman yang mengantarnya ke markas Kim-to Cecu adalah Toan Kiam-ping."

   Tan Ciok-sing tepuk dahinya sendiri, katanya.

   "Aku memang goblok, seharusnya sudah kuduga sejak tadi."

   "Mereka berangkat naik kuda Kanglam Sianghiap, yakin pasti menemukan tempat tujuannya. Sekarang mungkin sudah berada di tempat Kim-to Cecu."

   Kusut pikiran Tan Ciok-sing, katanya kemudian.

   "Sebetulaya dia harus berangkat bersama kau."

   Seperti tertawa tidak tertawa In San berkata.

   "Kau tidak rela bila adik Cinmu itu dia rebut?"

   Tan Ciok-sing menghela napas, katanya.

   "Waktu aku mengantarnya ke rumah murid tertua It-cu-king-thian, aku mengharap, mengharap bisa..."

   Dia ingin bilang "merangkap jodoh kalian", entah kenapa, lidahnya menjadi kelu dan tak enak melanjutkan perkataannya.

   "Terima kasih akan maksud baikmu, tapi sikapmu ini jelas memandang aku dengan Toan-toako bukan sebagai manusia."

   Tan Ciok-sing kaget, serunya.

   "Adik San berat kata-katamu. Terhadap Toan-toako, aku amat menghormatinya. Terhadapmu, aku hanya berdoa supaya kau selalu baik-baik."

   "Tapi apa kau tidak tahu bahwa aku dan Toan-toako adalah manusia, bukan suatu benda mati, manusia mana boleh dipermainkan sesuka hati? Aku suka kepada siapa, aku punya keputusanku sendiri,"

   Sampai disini sikap In San kembali ramah, aleman dan Jenaka, dengan ujung jarinya dia tuding jidat Tan Ciok-sing, katanya.

   "Kau tahu salah, aku takkan memakimu. Kau mengaku salah tidak?"

   Tan Ciok-sing menunduk, hatinya syur dan manis mesra, seperti seorang murid yang dimarahi gurunya, mukanya merah seperti tomat masak, sahutnya tersekat.

   "Ya, aku tahu salah."

   Lebar tawa In San, katanya.

   "Baiklah, kali ini kuampuni. Apakah kacang merah itu masih kau simpan?"

   Ciok-sing keluarkan kacang merah itu, katanya.

   "Barang sepenting ini mana boleh kuhilangkan?"

   Pendekar Pemetik Harpa Karya Liang Ie Shen di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

   

   In San terima kacang itu serta memeriksanya, katanya.

   "Hanya warnanya yang berubah sedikit gelap."

   "Mungkin karena kena debu,"

   Kata Ciok-sing. In San menggosok kacang merah itu di tengah kedua telapak tangannya, katanya tertawa.

   "Betul, setelah debu dibersihkan, warnanya tetap menyala."

   Debu yang menyelimuti hati Tan Ciok-singpun seketika diusap bersih oleh In San, tiba-tiba In San berkata.

   "Toan Kiam-ping ada titip sebuah kado untuk kau."

   Tan Ciok-sing tertegun.

   "Kado apa?" . In San tuding harpa itu, katanya.

   "Semula kau hadiahkan harpa itu kepadanya, sekarang dia kembalikan kepadamu."

   "O, waktu kuberikan harpa ini kepadanya, maksudku untuk membalas kebaikan seorang yang tahu isi hatiku. Di samping itu, kukira, kira..."

   In San menatapnya, katanya.

   "Kau kira kenapa? Pikiranmu selalu menyeleweng, semuanya tidak benar."

   Meski dimarahi, namun hati Ciok-sing senang, tapi tak berani bersuara.

   "Toan-toako tahu akan maksudmu, maka dia tidak mau menerima kado ini. Kini dia kembalikan aku kepadamu, dia minta aku menyatakan kepada kau, maksudnya seperti maksudmu waktu kau menyerahkan harpa ini kepadanya."

   Semakin manis hati Tan Ciok-sing, tapi mukanya semakin merah.

   "Walau dia tidak menerima kadomu, tapi dia menerima persahabatanmu yang kental. Lagu yang kupetik tadi dialah yang mengajarkan kepadaku."

   Kembali dimarahi, Tan Ciok-sing malah tertawa, katanya.

   "Sebetulnya aku sudah menduga, pasti dia yang mengajar kepadamu. Mendengar petikan lagumu tadi, aku masih kira kau adalah samaran Han Cin, sungguh menggelikan."

   Seperti tertawa tidak tertawa, In San berkata.

   "Itulah karena didalam relung hatimu ada terisi bayangan adik Cin juga."

   Lekas Ciok-sing berkata.

   "Jangan kau salah paham, meski aku sudah angkat saudara dengan dia, tapi perasaanku terhadap kalian, terus terang, jauh berbeda"

   In San cekikikan geli, katanya.

   "Kenapa kau gugup begitu rupa, aku hanya menggodamu,"

   Lalu berkata pula.

   "Malam itu aku tidak menemukan kau, sekembaliku kupetik lagu itu juga. Tak nyana justru memancing kedatangan adik Cinmu itu. Beberapa hari ini aku tahu kau pasti kembali, maka setiap malam aku pasti petik lagu itu."

   Tan Ciok-sing amat haru, katanya tersendat.

   "Adik San, betapa besar dan luhur hatimu, kau sudah berjerih payah lantaran aku, aku amat haru dan terima kasih padamu."

   "Waktu kau hadiahkan harpa ini kepada Toan Kiam-ping, tak pernah terpikir akan akhir kejadian seperti malam ini bukan? Kau puas tidak?"

   Lirih suara Ciok-sing.

   "Akhir dari semua drama ini sungguh berada diluar dugaanku."

   In San seperti teringat sesuatu, katanya kemudian.

   "Aku masih mengharapkan suatu akhir yang sempurna."

   Tan Ciok-sing melengak, tanyanya.

   "Akhir yang lebih sempurna bagaimana?"

   "Bila adik Cinmu dapat menikah dengan Toan-toako, bukankah lebih sempurna? Kulihat mereka memang cocok dan setimpal."

   Tan Ciok-sing juga ingat satu hal, tanyanya.

   "Betul, memang aku ingin tanya kau, kalau menungggang kuda Kanglam Sianghiap, seharusnya beberapa hari lebih dini tiba di Tay-tong."

   "Itulah karena di tengah perjalanan ke Tay-tong, kami ketemu seorang yang tak pernah terduga sebelumnya."

   "Siapa?"

   "Apa kau masih ingat Hwesio gendut salah satu dari Patsian dulu?"

   "Maksudmu Sia-cin Hwesio yang berkawan dengan Ui-yap Tojin itu? Hwesio gendut itu memang mirip patung Mi-lik-hud didalam kelenteng, senyum selalu menghias wajahnya, tingkah lakunya lucu Jenaka, mana bisa aku melupakan dia. Kenapa?"

   In San menghela napas, katanya.

   "Sayang waktu aku ketemu dia, dia sudah tidak bisa tertawa lagi."

   Tan Ciok-sing kaget, tanyanya.

   "Dia ketimpa persoalan apa?"

   "Setelah pertemuan di Lian-hoahong bubar, bersama Uiyap Tojin dia mampir ke tempat kediaman Wi-cui-hi-kiau di Koan-tiong, lalu mereka akan bersama-sama pergi ke tempat Kim-to Cecu. Sayang mereka tidak ketemu Wi-cui-hi-kiau, namun menemukan sepucuk surat yang ditinggalkan Wi-cuihi- kiau, dalam surat itu diberitahukan suatu berita penting."

   "Berita apa?"

   "Berita tentang Liong Bun-kong yang ada intrik dengan pihak Watsu."

   Tan Ciok-sing kaget, katanya.

   "Liong Bun-kong-keparat itu jelek-jelek adalah pembesar tinggi kerajaan, apa betul ada kejadian ini?"

   "Watsu ada kirim seorang utusan rahasia, membawa surat pribadi raja Watsu menyelundup ke Peking, di samping itu membawa pula banyak harta manikam untuk dihadiahkan kepada bangsat tua itu. Walau tiada orang tahu isi dari surat pribadi itu, tapi bisa diduga pasti tidak menguntungkan bagi negeri kita."

   "Itu sudah tentu. Apakah berita ini dapat dipercaya?"

   "Justeru karena berusaha merebut surat pribadi itulah Siacin Hwesio dan Ui-yap Tojin mengalami nasib jelek, kenapa tidak boleh dipercaya?"

   Lalu In San ceritakan kejadiannya.

   "Wi-cui-hi-kiau punya seorang teman yang tinggal di ibu kota negeri Watsu, dia punya teman bangsa Watsu, dari kalangan atas sampai golongan rendah, banyak berita penting yang berhasil disadapnya. Setelah dia mendapat tahu kabar ini, sebelum utusan raja Watsu berangkat, dia sudah kirim orang untuk memberitahu kepada Wi-cui-hi-kiau.

   "Untuk menuju ke Pakkia, utusan raja Watsu bisa menempuh dua jalan. Teman Wi-cui-hi-kiau tidak tahu jalan mana yang bakal ditempuh oleh utusan raja Watsu."

   "Setelah memperoleh berita besar dan penting ini, maka Wi-cui-hi-kiau segera mengadakan persiapan, disadarinya bahwa waktu amat mendesak, tak mungkin dia memanggil banyak orang untuk membagi tugas mencegat kedua jalan yang mungkin bisa ditempuh itu, terpaksa mereka bekerja sendiri menyelusuri jalan pertama, di samping meninggalkan surat, mohon bantuan Ui-yap Tojin dan dan Sia-cin Hwesio untuk mencegat di jalan kedua itu. Sebelumnya mereka sudah ada janji, maka mereka tahu bahwa dalam waktu dekat Ui-yap Tojin dan Sia-cin Hwesio bakal datang."

   In San bercerita lebih lanjut.

   "Ternyata Ui-yap Tojin dan Sia-cin Hwesio yang kesamplok dengan rombongan utusan raja Watsu ditengah jalan."

   "Malam itu mereka lantas berusaha untuk mencuri surat tugas dan rahasia itu, tak nyana jejak mereka konangan oleh jago-jago silat Watsu yang memiliki kepandaian yang tangguh. Dalam pertempuran sengit itu, Ui-yap Tojin dan Sia-cin Hwesio kewalahan dikeroyok musuh sebanyak itu, sungguh malang Ui-yap Tojin gugur di medan laga di saat menunaikan tugas suci dan mulia."

   Kejut Tan Ciok-sing bukan main, katanya.

   "Ui-yap Tojin adalah jago pedang pada jaman ini yang terhitung paling top, tujuh puluh dua jurus Tiang-hoan-toh-bing-kiam yang diyakinkan itu amat ganas dan liehay, sungguh tak nyana dia mati di tangan musuh."

   "Untuk menolong teman baiknya meloloskan diri, terpaksa Ui-yap Tojin mengorbankan diri, dia gugur bersama tiga jago kosen bangsa Watsu."

   "Lalu bagaimana nasib Sia-cin Hwesio?"

   "Luka Sia-cin Hwesio tidak ringan, untung dia berhasil meloloskan diri. Waktu aku bertemu dia, sungguh dia amat girang tapi juga sedih, setelah dia ceritakan pengalaman yang menegangkan itu, diapun tak kuat lagi, roboh..."

   "Hah,"

   Tan Ciok-sing menjerit kaget.

   "Sia-cin Hwesio, dia juga..."

   "Tidak, dia hanya pingsan karena kehabisan tenaga,"

   Tutur In San.

   "Sebetulnya dia minta kami selekasnya mengirim kabar ini kepada Kim-to Cecu, namun kami tak bisa meninggalkan dia begitu saja di tengah jalan. Waktu itu kami pikir, kalau usaha merampas surat rahasia itu sudah gagal, dihitung waktu dan jaraknya, bila kita tiba di markas Kim-to Cecu, utusan kerajaan Watsu itupun pasti sudah tiba di Pakkia. Walau kita menunggang kuda yang cepat lari ribuan li sehari juga takkan bisa menyandaknya lagi. Yang jelas intrik Liong Bun-kong dengan bangsa Watsu sudah menjadi kenyataan, tak perlu kita buru-buru menyampaikan berita ini kepada Kim-to Cecu."

   "O, jadi karena kalian harus merawat luka-luka Sia-cin Hwesio sehingga perjalanan kalian tertunda."

   "Beberapa hari kami merawat dan melindungi dia di tanah pegunungan yang liar dan belukar, syukur luka-lukanya lekas sembuh, belakangan kami menemukan rumah pemburu, lalu kami titipkan dia disana untuk menyembuhkan luka-lukanya, hari itu juga kami melanjutkan perjalanan."

   "Toan-toako buru-buru meninggalkan Tay-tong, pasti dia hendak mengirim kabar ini kepada Kim-to Cecu."

   "Ya, di samping untuk mengantar adik Cinmu itu. Aku tidak tahu entah kenapa dia tidak mau menunggumu pulang. Hari kedua dia lantas minta Toan-toako mengantarkan dia pergi ke tempat Kim-to Cecu."

   Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

   "Seharusnya kau sudah tahu, dia pergi lantaran kau dan aku."

   Merah muka In San, katanya.

   "Apa kau beritahu seluruh persoalan kami dengan dia?"

   "Tidak. Tapi dia cukup cerdik, setelah melihat kau, membicarakan diriku, yakin dia pasti sudah menerka dalam hati,"

   Lalu dia menambahkan.

   "Sebetulnya kau boleh ikut berangkat bersama mereka."

   In San mengerut seketika, rengeknya.

   "Kau tidak suka bertemu dengan aku?"

   "Bukan begitu. Kurasa urusan dinas lebih penting."

   "Jangan kau kira aku hanya memikirkan soal cinta melulu, aku menunggu kedatanganmu juga lantaran urusan dinas. Aku punya jalan pikiranku sendiri."

   "Jalan pikiran bagaimana?"

   "Kuharap kau suka membantu aku. Mari kita pergi ke Pakkia membunuh Liong-lo-jat."

   "O, kiranya kau berpikir demikian, jadi aku yang keliru menduga yang bukan-bukan."

   In San kertak gigi, katanya.

   "Bangsat tua she Liong itu menipu ibu kandungku, membunuh ayahku, sehingga keluargaku tercerai berai, sekarang aku sebatangkara juga lantaran dia, dendam sedalam lautan ini, mana boleh tidak kubalas."

   "Tapi bangsat tua ini kini sudah naik pangkat jadi sekretaris militer, merangkap jabatan Kiu-bun-te-tok pula, aku tahu untuk membunuhnya bukan soal mudah, maka aku harus berani pertaruhkan jiwa ragaku untuk menunaikan tugas penting ini. Tan-toako, apa kau sudi menemani aku menempuh bahaya?"

   Tanpa pikir Tan Ciok-sing menjawab tegas dengan tertawa.

   "Sampai sekarang kau masih tanya demikian kepadaku, bukankah terlalu berkelebihan? Bisa sehidup semati bersama kau sungguh merupakan cita-citaku yang terbesar."

   Senyum In San secerah kembang mekar, katanya.

   "Tantoako, aku tahu kau pasti setuju akan rencanaku ini. Maka aku tidak berani utarakan rencanaku ini kepada Toan Kiam-ping hanya kepadamu saja."

   "Terima kasih bahwa kau begitu mempercayai aku. Tapi Toan Kiam-ping adalah pangeran raja, adalah jamak kalau kau tidak memberi kesempatan padanya untuk menyerempet bahaya,"

   Tiba-tiba dia teringat sesuatu.

   "Bangsat tua she Liong dan keponakan serta anak buahnya banyak yang mengenali kau, sayang aku tidak pandai make up, lalu bagaimana baiknya?"

   "Yang harus kau buat sayang adalah, selama itu kau kumpul dengan adik Cinmu, kenapa tidak belajar make up padanya."

   Tan Ciok-sing tertegun, katanya.

   "Ah, jadi kau sudah tahu bahwa dia pandai juga dalam bidang ini?"

   In San tertawa, katanya.

   "Kau tak usah kuatir, kau tidak belajar, aku malah sudah cukup mahir."

   "Kau memang pintar, hanya semalam kumpul, kau sudah pandai make up."

   "Tata rias sebetulnya tidak sukar. Soalnya kau tidak mau belajar."

   Di jalan raya terdengar ronda malam sudah menabuh kentongannya, hari sudah menjelang kentongan ke empat.

   Tan Ciok-sing melangkah enteng ke pekarangan tengah, dilihatnya rembulan sudah doyong ke barat, mengingat besok pagi dia bakal menempuh perjalanan jauh pula bersama In San, sanubarinya diliputi rasa senang dan bahagia.

   Tanpa sadar jari-jarinya meraba surat wasiat pesan Khu Ti kepadanya itu.

   Dalam hati dia berpikir.

   "Nasib memang mempermainkan orang. Untung aku tidak perlihatkan surat ini kepada adik Cin,"

   Lalu dia membatin.

   "Surat ini tidak pantas kusimpan selalu, kapan ada waktu dan kesempatan, diluar tahu adik San aku harus membakarnya,"

   Tapi sanubarinya tiba-tiba merasa menyesal.

   "terhadap adik San selamanya aku tidak pernah berbohong, perlukah aku beritahu soal ini kepadanya? Em, adik Cin sekarang sudah ada tempat berteduh, masa depannya masih cerah, adik San sudah rujuk kembali dengan aku. Untuk menghindarkan sesuatu kejadian yang diluar dugaan, lebih baik aku tak usah jelaskan soal ini kepadanya."

   Di kala pikiran Tan Ciok-sing timbul tenggelam, didengarnya In San memanggilnya.

   "Tan-toako, kau boleh masuk. Coba kau lihat apakah samaranku sekarang tidak mirip adik Cinmu?"

   Tan Ciok-sing heran, katanya.

   "Lho, koh kau menyamar dia? Kukira lebih baik kau menyamar..."

   Sambil bicara dia melangkah masuk ke rumah, sebelum dia sempat mengatakan 'laki-laki', tampak yang muncul di hadapannya adalah pemuda pelajar yang cakap ganteng. Sekilas Tan Ciok-sing melongo, katanya.

   "Kukira kau betulbetul menyaru Han Cin, kiranya ngapusi aku saja. Kau menyaru jadi pelajar, memang bagus dan tepat sekali."

   In San tertawa, katanya.

   "Waktu adik Cinmu datang kemari malam itu, diapun menyamar seperti diriku sekarang. Dia bilang selama perjalanan dengan kau, dia tetap dengan samarnya itu, maka aku mencontoh dia saja, murid mencontoh guru, kan jamak."

   
Pendekar Pemetik Harpa Karya Liang Ie Shen di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

   
"Kalau begini, kita boleh berpura-pura sebagai saudara misan menempuh perjalanan ke kota raja."

   In San mengawasinya sejenak, lalu katanya.

   "Masih belum sempurna."

   "Apa yang tidak sempurna?"

   "Tampangmu mirip pedagang kecil, kalau seperjalanan dengan aku, perbedaannya jadi menyolok. Kau harus menyamar jadi pemuda perlente dari keluarga bangsawan, kira-kira sepadan dengan aku, yaitu Siucay yang mau menempuh ujian negara ke kota raja."

   "Jadi kau memang sudah persiapkan pakaian Siucay ini? Tapi aku tidak punya pakaian."

   "Perawakanmu tidak banyak beda dengan Toan Kiam-ping, ada beberapa perangkat pakaiannya yang ditinggal disini, kebetulan dapat kau pakai."

   Maka Tan Ciok-sing salin pakaian, In San mulai merias mukanya, lain kejap dia sudah pangling pada dirinya yang terbayang di kaca. Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

   "Hampir aku tidak kenal mukaku sendiri, keahlianmu di bidang ini ternyata tidak kalah dari sang guru."

   "Mungkin aku tidak teramat bodoh, tapi dibanding adik Cinmu yang cerdik pandai, terus terang aku bukan tandingannya Ya, bicara tentang adik Cinmu, aku jadi ingat."

   "Ingat apa?"

   Tanya Ciok-sing melengak. In Sin membuka jendela lalu melihat cuaca, katanya.

   "Setengah jam lagi bakal terang tanah. Malam itu nona Cin juga ngobrol dengan aku sampai pagi. Dia banyak bercerita. Ada satu hal mungkin dia tidak leluasa tanya kepadamu, maka aku ingin wakilkan dia tanya kepadamu. Aku harap kau bicara sejujurnya dengan aku."

   Bergetar benak Tan Ciok-sing, katanya.

   "Adik San, kau tahu, selamanya aku tidak pernah ngapusi kau."

   "Kau pernah bersumpah di depan pusara Khu-locianpwe untuk melaksanakan pesannya?"

   "Betul,"

   Sahut Tan Ciok-sing menunduk.

   "Dia meninggalkan sepucuk surat kepadamu, untuk melaksanakan pesannya itu sesuai yang tercantum dalam surat wasiat itu, maka kau angkat saudara dengan nona Han?"

   Tan Ciok-sing manggut-manggut, mulutnya mengiakan.

   "Kau tidak pernah perlihatkan surat wasiat ayah angkatnya itu kepada nona Han?"

   Untuk ketiga kalinya Tan Ciok-sing mengangguk, mulut kembali mengiakan.

   "Baik, nah coba kau perlihatkan kepadaku."

   Tan Ciok-sing tertawa getir, katanya.

   "Sebetulnya aku akan beritahu soal ini kepadamu, namun belum sempat, kuharap kau..."

   Setelah menerima sampul surat itu, In San lantas menukas.

   "Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu, biarlah aku baca surat ini dulu,"

   Setelah membaca surat itu serius sikap In San katanya sungguh-sungguh.

   "Tidak pantas kau ngapusi nona Han, Khulocianpwe berpesan supaya kalian jadi suami istri, bukan saudara angkat."

   Tan Ciok-sing amat kaget, katanya.

   "Tapi dalam benakku hanya ada kau, waktu itu aku belum tahu apakah kau bakal kembali ke dampingku, aku sudah berkeputusan untuk tidak kawin dengan siapapun."

   In San geleng-geleng, katanya.

   "Seorang laki-laki harus berani bersumpah berani bertanggung jawab, aku tidak suka kau jadi seorang yang ingkar janji."

   Tan Ciok-sing amat risau, katanya.

   "Tapi ini kan menyangkut masa depan kita. Apalagi, apa lagi..."

   "Apalagi kenapa?"

   "Apalagi sekarang sudah berakibat adanya dua kemungkinan yang membawa kesempurnaan. Sebetulnya umpama kau menjadi permaisuri, aku masih bisa menyerahkan surat ini kepada Han Cin, biar dia sendiri memberi keputusan tapi aku toh harus memberitahu hubunganku dengan kau kepadanya. Kini..."

   "Kini kenapa pula?"

   "Kini aku sudah berada di sampingmu pula sementara nona Han berada di damping Toan Kiam-ping. Memangnya kau tidak mengharap Han Cin menjadi permaisurinya?"

   In San menghela napas, katanya.

   "Sayang itu hanya merupakan harapan kosong yang belum jadi kenyataan, apa kelak terjadi seperti yang kau duga kan, masih sukar diramalkan. Dan lagi sebelum ini aku tidak tahu akan adanya surat peninggalan Khu-locianpwe kepada kau. Betapa besar budi kebaikan Khu-locianpwe terhadapmu, aku jadi merasa caramu ini telah mengingkari janjimu di depan pusaranya."

   "Tapi waktu itu aku kan tidak tahu bahwa dia menyuruh aku mengawini putri angkatnya."

   "Sekarang kau sudah tahu, tapi kau masih mengelabui nona Han, jelas sikapmu ini tidak blakblakkan dan kurang jantan."

   Tan Ciok-sing menatapnya lekat-lekat, katanya.

   "Bila tiada pertemuan malam ini antara daku dan dikau, bila aku tidak mendengar petikan harpamu, aku masih akan mengeraskan kepala menghindarimu. Kini aku sudah berhadapan dengan kau, betapapun aku takkan bisa berpisah dengan kau."

   Berlinang air mata In San, air mata senang, sesaat dia baru berkata.

   "Aku pun takkan mau berpisah lagi dengan kau, tapi sebagai manusia adalah jamak kalau kita harus dapat dipercaya."

   Tan Ciok-sing tertawa dipaksakan.

   "Untuk membunuh Bangsat tua she Liong di Pakkia, belum tentu kita bisa pulang dengan selamat."

   "Jangan kau ngomong yang tidak genah,"

   Teniak In San.

   "Baiklah kita bicarakan lagi kelak bila aku pulang dengan selamat."

   "Bila kau bertemu sama dia, kurasa sudah menjadi kewajibanmu untuk membicarakan hal ini kepadanya. Mau tidak dia menjadi isterimu, terserah dia. Tapi kau tidak boleh ngapusi dia."

   "Waktu itu mungkin dia sudah jadi permaisuri, umpama belum menikah, yakin mereka sudah merupakan pasangan kekasih yang tak takut kita ketahui. Kalau aku menyerahkan surat peninggalan ayah angkatnya, bukankah bikin urusan menjadi ruyam malah?"

   In San berpikir sejenak, katanya kemudian.

   "Baiklah, aku mengalah. Bila betul seperti yang kau katakan, boleh kau bakar surat itu. Kalau tidak betapapun aku akan tuntut kau melaksanakan pesan Khu-locianpwe sesuai apa yang dipesan dalam surat itu."

   Legalah hati Tan Ciok-sing, katanya tertawa.

   "Lha kan begitu, legalah hatiku. Tapi aku percaya kalau memang sudah jodoh mau kemana."

   In San menghela napas prihatin, katanya.

   "Jikalau kejadian tidak seperti yang kita harapkan kau harus berjanji kepadaku untuk mempersunting dia, tentang diriku..."

   "Kau mau apa?"

   Desak Tan Ciok-sing.

   "Peduli kau mau tidak mengawini dia, aku takkan menikah dengan siapapun. Memangnya sejauh ini kau masih tidak mempercayai aku?"

   "Apa yang kau pikir sekarang justru mirip pikiranku dua bulan yang lalu. Em, kalau begitu biar aku berdoa semoga nona Han betul-betul menjadi permaisuri Toan Kiam-ping. Aku yakin, doaku dan harapanku pasti akan menjadi kenyataan." *'Ya, semoga demikian,"

   Ucap In San pula.

   Lahirnya dia bilang demikian, padahal sanubarinya sudah diselimuti bayangan gelap.

   Walau sepanjang perjalanan ini In San tak pernah menyinggung soal ini.

   Apakah Han Cin akan jatuh cinta kepada Toan Kiam-ping? Meski mereka berdoa dengan penuh harapan, tapi masih ada satu teka teki yang belum terbongkar.

   000OOO000 Memang belum tiba saatnya membongkar teka teki ini, karena Han Cin sendiripun belum bisa memberikan jawabannya.

   Dia ikut Toan Kiam-ping pergi mencari Kim-to Cecu.

   Waktu itu, keadaannya tak ubahnya seperti Tan Ciok-sing dan In San, hatinyapun gundah dan ruwet.

   Kejadian malam itu kembali terbayang di depan kelopak matanya.

   Waktu Tan Ciok-sing meninggalkan kedai itu secara diam-diam, waktu sudah menunjukkan kentongan ketiga.

   Dia mendekam di depan jendela, mengawasi punggung bayangannya menyebrang jalan dan lenyap di ujung pengkolan, masuk ke sebuah gang kecil.

   Entah kenapa timbul suatu pikiran aneh.

   "Entah Tan-toako akan kembali tidak, tentunya dia bukan ingin menjauhi diriku? Ai, begitu baik dia terhadapku, kenapa aku mencurigainya?"

   Setelah menghela napas, benaknya berpikir pula.

   "Terhadapku dia seperti ada maksud tapi juga tidak naksir, sungguh sukar aku meraba perasaannya,"

   Tanpa merasa mukanya merah sendiri.

   "Apakah aku sudah naksir kepada Tan-toako?"

   Dalam hati dia tanya kepada diri sendiri, terasa anggapannya memang sedikit benar, tapi juga tidak benar, Han Cin jadi bingung, karena dia sendiri juga heran akan jalan pikiran sendiri, dia tidak tahu dan tidak bisa menentukan pilihan.

   Di kala pikirannya gundah dan siap menutup jendela mau mapan tidur, tiba-tiba dilihatnya sosok bayangan seorang muncul di ujung gang sana.

   Kentong ketiga sudah lewat, tokotoko sudah tutup, penduduk kota kebanyakan sudah tidur, jarang orang keluar malam ini, tapi bayangan ini muncul seorang diri, mau tidak mau Han Cin jadi heran, maka dia menaruh perhatian akan gerak-geriknya.

   Sinar bulan redup, tapi masih bisa kelihatan bahwa bayangan orang adalah seorang perempuan.

   Han Cin lebih heran lagi, tengah malam buta, tidak tidur memeluk guling di atas ranjang, kenapa keluyuran di jalan raya yang sepi dan dingin? Lebih heran lagi setelah dilihatnya gadis itu akhirnya berhenti di depan kedai minum ini.

   Han Cin kaget, pikirnya.

   "Mungkin gadis ini menyelidik jejak Tan-toako dan aku? Siapakah dia?"

   Lama juga gadis itu mondar mandir di depan kedai, dari gerak-gerik orang Han Cin tahu bahwa gadis ini pandai silat, maka dia sudah siap menyambutnya bila gadis itu masuk.

   Tak nyana tiba-tiba didengarnya gadis itu menghela napas, lalu berlalu.

   Heran Han Cin dibuatnya, timbul keinginannya untuk mencari tahu siapa sebenarnya gadis ini dan apa kerjanya mondar mandir disini, dengan gerakan Yan-cu-joan-lian segera dia menerobos keluar jendela, lompat ke atap, dari tempat tinggi dia memandang ke jauh di bawah sana, tampak bayangan gadis itu akhirnya lenyap didalam sebuah gedung besar.

   Dari pembicaraan Tan Ciok-sing dan pemilik kedai ini Han Cin sudah tahu bahwa gedung besar di ujung gang seberang itu adalah rumah besar keluarga In, karena tak kuasa menekan keinginannya maka dia balas beraksi mengadakan penyelidikan.

   Begitu dia memasuki pekarangan rumah keluarga In, dia disambut oleh tarikan suara nyanyian yang sangat merdu merawan hati diiringi petikan harpa.

   Mendengarkan nyanyian yang menyedihkan Han Cin ikutikutan pilu dan berdiri terpesona, terbayang olehnya akan hidupnya yang sebatangkara dan keluyuran tidak menentu, sungguh sukar dia perasaan duka.

   Diam-diam dia membatin.

   "Entah dia putri In Tayhiap? Apa pula yang dia sedihkan? Apakah diapun seperti diriku juga sebatangkara? Umpama benar dia putri ln Tayhiap, meski ayah bunda sudah tiada, tak mungkin dia hidup sengsara dan terlantar?"

   Diam-diam dia sudah menggeremet sampai pekarangan dalam dimana kamar tidur In San berada, tengah dia menimang-nimang apakah dirinya perlu menemui gadis didalam kamar, tiba-tiba di layar jendela kain sutra muncul bayangan sepasang muda mudi.

   "In Tayhiap hanya punya seorang putri, tidak punya anak laki-laki. Kalau betul gadis itu putri ln Tayhiap, laki-laki itu tengah malam begini masih berada di kamarnya, kalau bukan suaminya, tentulah pujaan hatinya,"

   Demikian reka Han Cin. Dia kira rekaannya ini takkan meleset, maka dalam hati dia merasa sedikit menyesal.

   "Tak heran Tan-toako sering kulihat murung dan masgul, kiranya nona In ini sudah punya pujaan hati. Beruntung aku tidak gegabah, kalau sampai diketahui mereka aku mencuri dengar percakapan di bawah jendela, tentu runyam jadinya,"

   Tapi di kala dia hendak menyingkir diam-diam, percakapan kedua muda mudi dalam kamar seketika menarik perhatiannya, maka dia batalkan niatnya.

   Laki-laki yang menemani In San didalam kamar sudah tentu adalah Toan Kiam-ping.

   Namun Han Cin yang mencuri dengar diluar jendela belum tahu akan asal-usulnya.

   Begitu In San beraksi memetik harpa Toan Kiam-ping lantas menghela napas.

   "Itulah lagu yang dibawakan Tan-toako di Cit-sing-giam sebelum dia berpisah dengan aku, sayang waktu itu aku masih dalam keadaan pingsan,"

   Demikian kata Toan Kiam-ping.

   "Aku tahu. Kacung pribadimu telah menjelaskan keadaan waktu itu kepadaku."

   "Ai, kalau hari itu aku tidak terluka oleh jarum berbisa, dalam keadaan pingsan, apapun aku takkan membiarkan Tantoako pergi. Adik San, akulah yang membuat kapiran,"

   Demikian ucap Toan Kiam-ping setelah menghela napas. Mendengar percakapan ini, Han Cin yang sudah melangkah pergi seketika terpaku di tempatnya.

   "Putri In Tayhiap bernama In San, laki-laki itu memanggilnya adik San, agaknya dugaanku tidak meleset. Tapi kenapa dia bilang 'Tan-toako' kepada nona In, naga-naganya rekaanku tadi tidak tepat."

   Setelah dia mendengar lebih lanjut, barulah persoalannya manjadi jelas baginya, semula dia kira laki-laki didalam kamar itu adalah pujaan hati In San, namun kenyataan bukan demikian.

   "Toan-toako, jangan kau salahkan diri sendiri, akulah yang harus disalahkan, aku tidak berusaha supaya dia mempercayai aku sepenuh hatinya,"

   Demikian kata In San.

   "Hal inipun tak boleh menyalahkan kau,"

   Ucap Toan Kiamping.

   "aku jadi merasa Tan-toako sendirilah yang harus disalahkan, dia memang seorang goblok."

   Perkataan 'goblok' ini kedengarannya menusuk kuping, Han Cin yang mencuri dengar sampai melenggong.

   "Kenapa dia bilang Tan-toako goblok?"

   Untuk tahu persoalannya, Han Cin tidak mau menyingkir malah.

   "Begini besar cintamu kepadanya, tapi sedikitpun dia tidak tahu. Coba katakan bukankah dia laki-laki goblok?"

   "Tidak, sebetulnya dia sudah tahu. Toan-toako, maaf bahwa hal ini tidak kuberitahu kepadamu, kami masingmasing sudah pernah saling mencurahkan isi hati."

   Mendengar sampai disini, tanpa merasa hambar pikiran Han Cin.

   "kiranya Tan-toako bohong kepadaku, kenapa dia tidak bicara terus terang kepadaku?"

   Didengarnya Toan Kiam-ping berkata.

   "Kalau begitu dia tidak goblok, tapi ceroboh."

   "Betul, dia ceroboh, dia mempunyai pikirannya yang aneh, dia kira, dia kira..."

   "Aku tahu perbuatannya ini adalah untuk merangkap hubungan kita, aku haru akan kebaikannya terhadap teman, tapi tak bisa tidak aku tetap memakinya ceroboh. Adik San, ada sedikit isi hatiku yang ingin kemukakan terhadapmu, sayang belum pernah mendapat kesempatan."

   Pendekar Pemetik Harpa Karya Liang Ie Shen di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

   

   "Baiklah, sekarang boleh kau kemukakan,"

   Kata In San, diluar tahunya bahwa diluar jendela ada seorang lagi mencuri dengar percakapan mereka. Perlahan kata-kata Toan Kiam-ping.

   "Adik San, waktu kecil kau pernah tinggal di rumahku, akupun pernah nginap di rumahmu, meski tidak boleh dikata tumbuh dewasa bersama bolehlah dianggap teman sejak kecil. Aku tidak akan berpurapura, sejak kecil aku amat menyukai kau."

   "Aku tahu,"

   Sahut In San lirih.

   "Terakhir kali kita berkumpul, itu waktu kau berusia tiga belas? Aku masih ingat, tahun itu ayahmu mengajakmu ke rumahku, kau tinggal sebulan dan sudah mahir memainkan ilmu golok ajaran keluarga, setiap hari kau mengajakku berlatih. Selama sebulan lebih itu adalah hari yang paling senang dan bahagia bagi diriku. Tapi ayah bundaku pernah bertengkaran karena membicarakan hubunganku dengan kau."

   In San tertawa, katanya.

   "O, ada kejadian begitu, aku koh tidak tahu? Apakah beliau merasa aku terlalu binal?"

   "Biar kututurkan, kuharap kau tidak kecil hati. Ayah kepingin kau menjadi menantunya, tapi ibu menolak. Ibu bilang, nona In memang cantik dan baik hati, tapi ayahnya orang persilatan, malah mengikat permusuhan dengan keluarga Liong. Jikalau anak Ping kawin sama dia, mungkin bisa celaka dari pada hidup bahagia. Aku tidak mengharap anak Ping berkelana di Kangouw. Ayah kewalahan menghadapi pendapat ibu yang kukuh, maka soal perjodohan ini sampai tertunda berkepanjangan."

   In San tertawa, ujarnya.

   "Kau ini seorang Pangeran, memangnya perjodohan kita tidak setimpal. Untunglah soal jodoh ini tidak jadi."

   "Betul. Beruntung adanya pertengkaran orang tuaku itu. Kalau tidak kejadian hari ini pasti lebih runyam."

   "Toan-toako, jangan kau salah paham. Bukan aku merasa kau tidak baik, sejak kecil akupun menyukai kau. Tapi aku pandang kau sebagai engkohku, aku menghormat dan sayang kepadamu sebagai kakakku, tak pernah terpikir dalam angananganku kelak menjadi istrimu."

   "Aku tahu. Tapi aku harus berterus terang dulu aku pernah ingin meminangmu sebagai istriku."

   Merah muka In San, katanya.

   "Kejadian sudah berselang, buat apa dibicarakan lagi?"

   "Tidak, aku harus jelaskan bagaimana jalan pikiranku dulu dan bagaimana pula perubahan tekadku akhir-akhir ini kepadamu, yakin setelah adanya pembicaraan terbuka saling memberi kenyataan ini, barulah dalam hatimu takkan menimbulkan bisul yang fatal. Kitapun masih tetap menjalani hubungan akrab seperti kakak beradik layaknya."

   Agaknya In San terharu oleh kepolosan Toan Kiam-ping, sesaat baru dia berkata.

   "Baiklah, boleh kau bicarakan."

   Berpikir sebentar, akhirnya Toan Kiam-ping berkata dengan tertawa.

   "Adik San, mari kita ngobrol sejadinya, biar aku tanya beberapa patah kata iseng kepadamu, bolehkan?"

   "Yang terang malam ini aku tidak pingin tidur, boleh ngobrol sampai terang tanah, silakan kau tanya apa yang ingin kau ketahui."

   "Waktu di Tayli, kau bermain senang, riang dan gembira. Aku tahu itu bukan lantaran aku yang menemani kau. Tapi lantaran kaupun menyukai negeri Tayli kita, betul tidak."

   "Keduanya ada sangkut paut. Tayli adalah negeri yang indah panoramanya, banyak tempat-tempat wisata yang mempesona, itulah tempat idaman bagiku, namun kalau Toantoako menemani aku, jelas akupun takkan bisa main seriang itu."

   "Bagus, nah coba kutanya pula. Kau amat suka negeri Tayli, tapi kalau kau harus menetap disana sampai hari tua, setiap hari boleh tamasya dan kerjanya mengurus keluarga tanpa kelana di Kangouw, kukira kau takkan kerasan lagi. Betul tidak?"

   In San tertawa geli, katanya.

   "Sudah tentu. Manusia harus melakukan sesuatu kerja yang dia anggap punya arti, mana boleh seharian kerjanya cuma menikmati kembang, mendengarkan alunan musik dan menyaksikan tarian melulu?"

   Toan Kiam-ping menghela napas, katanya.

   "Nah itulah letak perbedaan pikiranku dengan kau. Yang kumakud adalah cara berpikirku beberapa tahun, lalu. Sekarang walau ada sedikit peubahan, aku tahu tetap tidak akan bisa menyamaimu."

   "Coba kau jelaskan lebih terperinci, mana yang sama mana yang berbeda?"

   "Waktu itu akupun mendambakan kehidupan yang bebas di dunia luar yang luas, aku mengharapkan suatu hari akan kelana di Kangouw, tapi harapan itu hanyalah gambaran selintas seperti keinginan seorang bocah yang pingin memperoleh sesuatu yang baru, tapi bila rasa 'baru'nya itu sudah lenyap maka keinginan itupun pudar, mungkin bisa membencinya malah. Pernah aku tanya kepada diriku sendiri, aku tahu bila selama hidup ini aku harus berkelana di Kangouw, aku takkan tahan. Paling aku hanya akan sekedar keluyuran diluar, cepat atau lambat harus kembali ke pangkuan ibu negeri, aku takkan tega meninggalkan Tayli, aku sayang meninggalkan keluarga."

   "Tak perlu berbelit kau menerangkan, aku tahu kemana maksudmu. Kau takkan bisa hidup seperti diriku, kecuali secara insidentil, tapi tak mungkin selama hidup ini kau keluyuran diluar. Betul tidak?"

   "Aku tahu, kaupun takkan bisa hidup seperti caraku itu. Kau adalah elang betina di angkasa padang rumput, bukan burung camar yang hanya terbang kelana di atas Ni-hay melulu. Mungkin perumpamaanku tidak tepat, mengibaratkan seorang gadis yang lemah lembut sebagai elang yang galak dan gagah, tapi demikianlah perasaanku."

   "Terima kasih akan pandanganmu yang meningkatkan gengsiku, tapi aku sendiri merasa terlampau jauh mengibaratkan diriku dengan seekor elang gagah. Kau tidak tahu, ada kalanya akupun terlalu lemah."

   "Aku tahu. Tapi kau jauh lebih kuat dari aku. Yang kumaksud bukan soal Kungfu."

   "Aku tahu maksudmu. Tapi, Toan-toako sekarang kau jauh lebih kuat dari dulu, kali ini kau mengantarku mencari Kim-to Cecu, kau tidak mau mendengar nasehatku, ini amat diluar dugaanku."

   Toan Kiam-ping tertawa, katanya.

   "Terus terang, kali ini aku terkesan oleh perbuatan Tan Ciok-sing."

   "Setelah aku tahu persoalanmu dengan Tan Ciok-sing, baru aku sadar bahwa dialah yang benar-benar mencintaimu. Dulu aku kira aku amat mencintai kau, tapi bila cintaku dibanding cintanya terhadapmu, aku lantas sadar, bahwa cintaku tidak sedalam dan semurni cintanya terhadapmu.'"

   Mendengar pengakuan yang terus terang ini merah jengah muka In San, namun hatinya manis mesra, mulutpun terkancing.

   "Demi merebut hatimu, berapa kali Tan Ciok-sing menempuh bahaya, demi membahagiakan kau, diapun ingin merangkap perjodohan kita. Walau cara berpikirnya ini lain dengan kenyataan, tapi betapa dalam dan murni cintanya terhadapmu, sungguh aku harus mengaku asor."

   "Dua hari yang lalu, ayah bunda mendesak aku supaya selekasnya mencari jodoh, aku jadi sebal terhadap mereka yang tebal pupur dan gincu, mereka bukan pasanganku. Sekarang baru aku sadar, bila Tan Ciok-sing dibanding aku, hakikatnya aku inipun seorang awam. Aku bukan jodohmu."

   In San menatapnya, katanya dengan sungguh-sungguh.

   "Toan-toako, tak usah kau merendahkan dirimu, sebagai seorang Pangeran kau sudi mengantarkan kemari, mana boleh dikatakan sebagai awam? Tapi soal jodoh memang mengutamakan kecocokan. Aku tak bisa menikah dengan kau bukan lantaran aku anggap tidak baik, tapi lantaran kita tidak cocok menjadi suami isteri. Dalam sanubariku kau tetap adalah engkohku yang patut kuhormati."

   Terbuka pikiran Toan kiam-ping mendengar keterusterangan ini, katanya tertawa.

   "Kau betul, kau memang lebih cocok dengan Tan Ciok-sing. Tapi perlu juga aku memberi nasehat kepadamu, kalau memang sudah jodoh mau kemana kaupun tak perlu risau lagi. Aku akan membantumu sekuat tenaga mencarinya, namun belum tentu berada di Tay-tong."

   "Kau kira tadi aku berpikiran kusut dan melamun? Terus terang aku benar-benar mendengar helaan napas. Tadi aku sudah berada di depan kedai minum itu, tapi aku tak berani masuk. Besok aku akan mencari tahu."

   "Baiklah besok boleh besertaku ke kedai minum itu untuk mencari tahu pada pemiliknya,"

   Demikian kata Toan Kiamping. Han Cin yang mencuri dengar diluar jendela menjadi haru dan sedih, tanpa merasa air mata berlinang-linang. Pikirnya.

   "Ternyata begitu besar dan luhur jalinan cinta mereka, aku harus selekasnya memberitahu jejak Tan-toako kepada mereka."

   Tengah dia ragu-ragu itulah didengarnya In San yang berada didalam bersuara heran, katanya.

   "Kali ini yakin aku tidak salah dengar lagi?"

   Ternyata Han Cin yang mencuri dengar diluar jendela saking pesona, tanpa merasa menghela napas perlahan. Cepat In San berlari keluar seraya berteriak.

   "Tan-toako, kuharap kau tidak menghindariku lagi."

   Han Cin sembunyi di belakang gunungan batu.

   Sengaja dia memperlihatkan jejaknya supaya In San melihat dan mengejarnya.

   Setelah dia dengar kesiur angin sudah dekat, dia tahu In San sudah mengudak tiba, tiba-tiba dia berpaling sambil mengulum senyum lebar.

   Sinar bulan memang redup, tapi In San dapat melihat jelas yang sembunyi di belakang gunungan ini adalah seorang pemuda yang berwajah ganteng (Han Cin menyamar laki-laki) tapi bukan Tan-toako yang dia sangka.

   Karuan In San kaget, bentaknya.

   "Siapa kau?"

   Mendadak dia merangkap dua jarinya terus menjojoh ke arah tengkuk Han Cin.

   Harus dimaklumi bahwa pintu besar rumalnya masih disegel oleh penguasa, kembalinya secara diam-diam ini, harus selalu waspada dan berjaga-jaga bila diluruk oleh cakar alap-alap, pemuda ganteng ini menyelundup ke rumahnya di tengah malam, adalah jamak kalau dia curiga ke arah yang negatif Han Cin dianggapnya cakar alap-alap utusan keluarga Liong.

   Maksudnya bendak menutuk hiat-to Han Cin, baru nanti mau mengompes keterangannya.

   Han Cin sebaliknya berpikir.

   "In Tayhiap terkenal di seluruh jagat, entah bagaimana kepandaian putrinya? Biarlah aku menggodanya,"

   Dengan gerakan Ih-sing-hoan-wi dia meluputkan diri dari tutukan hiat-to In San. Tanpa menyebut nama dan menerangkan siapa dirinya dia malah tertawa, katanya.

   "In-siocia, kenapa begini galak? Aku ini seorang tabib."

   Gerak tutukan In San sebetulnya amat cepat dan telak, sungguh tak nyana sekali kelit orang mampu meluputkan diri, namun sebat sekali dia menegakkan telapak tangan terus menepis miring seperti pisau, kembali Han Cin berputar dengan poros sebelah kakinya, tubuhnya berputar setengah lingkar, dengan jurus Hong-in-toh-gwat, dia punahkan serangan In San, katanya pula tertawa.

   "Sengaja aku kemari untuk menyembuhkan luka hatimu."

   Keki dan jengkel ln San dibuatnya mendengar olok-oloknya, pikirnya.

   "Menghadapi alap-alap buat apa aku menaruh belas kasihan?"

   Segera kedua tangan mengembangkan permainan ilmu golok keluarga In, rangsakannya memberondong seperti gelombang sungai yang susul menyusul, sejurus bacokan telapak tangan lebih cepat dan ganas dari bacokan yang terdahulu.

   Karuan Han Cin mengeluh, pikirnya.

   "Tak boleh aku menggodanya lagi, tengah berpikir In San sudah kebacut melontarkan jurus mematikan. Tapi sigap sekali Han Cin menggunakan gerakan Hong-tiam-thau tahu-tahu membresot maju hampir jatuh dalam pelukan In San, telapak tangan hampir menyentuh baju di depan dadanya. Karuan In San naik pitam, dampratnya.

   "Pemuda bangor, berani kau kurang ajar kepadaku,"

   Dia kira Han Cin adalah laki-laki, sudah tentu dia pantang dadanya dijamah oleh orang.

   Dalam seribu kesibukannya, lekas dia menekuk pinggang seperti petani bercocok tanam di sawah secara kekerasan dia menekuk tubuhnya ke samping, baru saja hendak menyerang lagi, Han Cin.

   sudah melompat keluar kalangan.

   Dengan tertawa Han Cin berkata.

   "In siocia, jangan kau i marah..."

   Belum habis dia bicara, mendadak seorang membentak.

   "Bangsat cilik, lari kemana kau?"

   Ternyata Toan Kiam-ping sudah memburu tiba.

   Dimana tangannya menyapu angin pukulannya yang deras menyampuk jatuh topi di atas kepala Han Cin.

   Begitu topi jatuh rambutnya yang panjangpun terurai mayang, sudah tentu Toan Kiam-ping tidak menduga bangsat cilik yang hendak ditabraknya ini ternyata adalah seorang gadis belia yang cantik, karuan dia melenggong.

   In Sanpun sadar kenapa tadi Han Cin menyuruh jangan marah, diapun tertegun, teriaknya.

   "Kau, kau sebetulnya..."

   "Maaf, In-siocia, tadi aku berkelakar dengan kau. Tapi aku sungguh-sungguh membawa kabar baik untukmu."

   "Siapa kau? Membawa kabar apa?"

   "Aku adalah anak angkat Khu Ti, adik angkat Tan Ciok-sing. In Siocia, terkaanmu memang tidak keliru. Tan Ciok-sing memang berada dalam kedai itu. Tapi baru saja dia meninggalkan Tay-tong."

   Khu Ti mempunyai hubungan intim dengan keluarga In, setelah tahu asal-usulnya lekas In San mohon maaf kepada Han Cin, tapi bahwa Han Cin adalah gadis belia yang cantik mau tidak mau mimik mukanya kelihatan agak lucu dan ganjil.

   000OOO000 Teringat akan kejadian malam itu, mau tidak mau Han Cin tertawa geli.

   "Untung aku mengaturkan tipu daya sehingga In San tidak menaruh curiga kepadaku. Entah Tan-toako sekarang sudah bertemu dengannya belum?"

   Kembali dia berpikir.

   "kejadian dalam dunia serta perubahannya memang sukar diduga sebelumnya, semula-aku kira Tan-toako akan menemaniku ke tempat Kim-to Cecu, tak nyana sekarang Toan-ongya inilah yang menemaniku dalam perjalanan sejauh ini."

   Bersama Toan Kiam-ping mereka sudah tiga hari menempuh perjalanan, namun Kim-to Cecu belum juga mereka temukan.

   Tapi selama tiga hari ini mereka ternyata akur dan cocok satu sama lain.

   Di kala dia melamun itulah, tiba-tiba Toan Kiam-ping menoleh, tanyanya dengan tertawa.

   "Nona apa yang sedang kau pikirkan?"

   Han Cin tersentak seperti siuman dari mimpi, sorot matanya masih kelihatan hambar, setelah tenangkan diri dia berkata.

   "Tiada yang kupikir, aku sedang menikmati panorama nan permai ini, sayang disini terlalu belukar dan jarang diinjak manusia. Tiga hari kita menempuh perjalanan, belum pernah bertemu dengan seorang manusia."

   Toan Kiam-ping tertawa, katanya.

   "Jadi kau kuatir entah kapan baru akan bertemu dengan Kim-to Cecu, jangan kuatir kuda yang kutunggangi ini adalah milik Kanglam Sianghiap yang telah dikenal betul oleh orang Kim-to Cecu. Yakin cepat atau lambat pasti jejak kita diketahui mereka, bila demikian tak usah kita susah payah mencari Kim-to Cecu, orang Kim-to Cecu sendiri yang akan mencari kita."

   "Untung kau sudi mengantarku, kalau tidak seorang diri aku keluyuran di atas pegunungan yang sepi dan belukar begini, entah bagaimana baiknya?"

   "Memangnya aku ingin bertemu dengan Kim-to Cecu, cuma tak kuduga..."

   Dengan tertawa Han Cin menyambung.

   "Aku juga tidak duga bisa seperjalanan dengan engkau."

   "Sebetulnya kau bisa menunggu beberapa hari lagi di Taytong, setelah Tan Ciok-sing kembali, dia pasti akan mengantar kau."

   "Kalau begitu aku lebih senang kau yang mengantarku. Sudah lama dia berpisah dengan nona In dan kali ini bakal bertemu, betapa banyak omongan mesra yang akan mereka perbincangkan kalau aku ada di antara mereka, apakah tidak mengganggu?"

   Kecut hati Toan Kiam-ping, katanya dengan tawa dipaksakan.

   "Kumpul dan berpisahan manusia kadang kala memang teramat ganjil serta diluar dugaan. Entah sekarang mereka sudah bertemu belum?"

   "Setelah kuaturkan tipu daya secermat itu kecuali Tantoako tidak pulang ke Tay-tong, bila dia pulang, pasti dia akan mencariku ke rumah keluarga In, cepat atau lambat mereka pasti akan bertemu. Aku hanya mengharap selekasnya dapat bertemu pula dengan mereka di tempat kediaman Kim-to Cecu,"

   Sampai disini tiba-tiba seperti tertawa tidak tertawa dia mengawasi Toan Kiam-ping, katanya.

   "Apa kau tidak merasa aku terlalu banyak polah?"

   Merah muka Toan Kiam-ping, katanya.

   "Kau begitu simpatik terhadap teman, aku harus berterima kasih kepadamu. Kau tidak tahu betapa besar harapanku supaya nona In selekasnya dapat bertemu kembali dengan Tan Cioksing."

   "Aku juga tahu betapa jerih payahmu terhadap teman, akupun amat mengagumimu,"

   Seorang mengatakan "simpatik"

   Seorang lain mengatakan "jerih payah"

   Mendengar kedua patah kata ini, diam-diam Toan Kim-ping maklum bahwa percakapannya malam ini dengan In San telah dicuri dengar oleh Han Cin. Berkata Han Cin lebih lanjut.

   "Kau mengantar nona In kemari adalah demi teman tapi terhadap aku yang tiada sangkut paut dan baru kau kenal, kaupun sudi membantuku sedemikian rupa, bagaimana aku takkan merasa haru dan berterima kasih kepadamu?"

   "Nona Han, kenapa kau bilang demikian. Bukankah sekarang kitapun sudah jadi teman? Urusan sekecil ini, buat apa kau bicarakan selalu?"

   "Bagimu urusan kecil, bagi aku justeru urusan besar. Aku adalah gadis sebatangkara yang tiada tempat berteduh, jikalau bukan kau sudi mengantarku ke markas Kim-to Cecu, mungkin aku terpaksa harus luntang lantung di Kangouw."

   Mendengar perkataan ini tiba-tiba Toan Kiam-ping menghela napas rawan. Han Cin melengak, katanya.

   "Toan-toako, tidak apa-apa kenapa kau menghela napas." '"Sebetulnya akupun ingin seperti kau, tinggal di markas Kim-to Cecu sekedar membantu apa yang bisa kukerjakan. Di markas itu ada temanku Kanglam Sianghiap, kini ketambah kau dan Tan-toako serta nona In yang akan segera menyusul, tentu keadaan akan lebih ramai. Bukankah kehidupan itu akan jauh lebih berarti dari pada aku pulang ke Tayli hidup dalam kesunyian di lingkungan tembok tinggi? Sayang aku tak bisa lama bergaul dengan kau."

   
Pendekar Pemetik Harpa Karya Liang Ie Shen di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

   
"Negeri Tayli terkenal dengan panoramanya, sebagai seorang pangeran, sudah tentu kau tidak boleh keluyuran di atas pegunungan menjadi brandal?"

   Tampak serius sikap Toan Kiam-ping, katanya.

   "Nona Han, meski baru tiga hari kita berkumpul, namun dalam kalbuku seperti teman yang sudah lama. Kukira kau dapat memahami jalan pikiranku, tak kira kau masih berkata demikian, jikalau kau bukan menggodaku, berarti kau anggap aku ini 'orang luar' saja."

   Han Cin melelet lidah sambil unjuk muka setan katanya.

   "Toan-toako aku hanya menggodamu saja, kenapa kau begini serius?"

   Dia maklum 'orang luar' yang dimaksud Toan Kiamping bukan melulu sebagai teman yang sehaluan dan secitacita, maka dia berpikir.

   "Memang belum pernah aku berpikir aku ingin jadi orang macam apa. Dia sudah anggap aku seperti Tan-toako sebagai kaum ksatria, ini sungguh harus amat kusesalkan. Tapi hobiku agaknya ada sedikit persamaan dengan dia, aku suka silat, bermain musik, diapun suka. Dan lagi, aku ingin melakukan suatu kerja besar bersama banyak orang yang cukup menggemparkan, tapi terpikir pula kehidupanku selanjutnya yang tanpa kekang tiada batas, diapun ingin demikian. Kungfu dan musik, Tan-toakopun menyukainya, tapi aneh, meski sejak kecil dia sudah biasa mengembara, namun tak pernah terbayang dalam benaknya keinginan uatuk hidup bebas di alam terbuka seperti kemauan Siau-ongya ini. Toan Kiam-ping seperti orang yang sejenis dia, tapi juga seperti tidak sepaham. Lalu dengan siapa aku boleh dianggap secita-cita dan sehaluan?"

   Toan Kiam-ping berkata lebih lanjut.

   "Beberapa tahun yang yang lalu, aku memang cinta tanah air, cinta kampung halaman, kalau hidupku harus selalu berkelana di Kangouw, jelas aku takkan betah. Tapi jalan pikiranku sekarang sudah jauh berbeda, hal ini, aku tak pernah utarakan kepada nona In."

   Han Cin membatin.

   "Aku tahu kenapa kau tidak bicarakan hal ini dengan dia, karena kau ingin supaya perpisahan itu tidak meninggalkan bayangan gelap dalam benaknya. Kau ingin supaya dia beranggapan bahwa kau takkan berubah jadi kelana Kangouw, maka perpisahan itupun akan terjadi secara wajar."

   Toan Kiam-ping melanjutkan.

   "Bukan aku ingin pulang ke Tayli untuk hidup senang, aku sudah bosan kehidupan yang munafik dengan sanjung puji sebagai Pangeran segala, bila boleh memilih jalan hidupku sendiri, aku pasti tinggal disini. Tapi aku tahu orang tuapun takkan membiarkan aku menempuh cara hidupku ini. Usia mereka sudah tua, pada sisa hidupnya di hari tua ini, aku tidak ingin meninggalkan kesan yang buruk, aku tidak suka membangkang dan melukai hati beliau, oleh karena itu, cepat atau lambat aku tetap harus pulang."

   "Toan-toako, kau luas pengalaman dan banyak pengetahuan, berkumpul beberapa hari dengan kau, tidak sedikit yang kuperoleh. Sekarang aku jadi mengharap tak perlu terburu-buru untuk menemukan tempat kediaman Kimto Cecu."

   "Terima kasih akan pujianmu, yang terang kaulah perempuan yang gagah berani, cerdik pandai serta serba bisa. Selama berkumpul beberapa hari dengan kau ini, tak sedikit pula yang kudapatkan. Bicara terus terang, aku jadi segan berpisah dengan kau,"

   Kata-katanya terakhir diucapkan dengan setulus dan sejujurnya, kata-kata yang dilimpahkan dari suara yang paling dalam.

   Mereka terus melanjutkan perjalanan, setelah menuruni sebuah celah gunung, tiba-tiba pandangan mereka terbeliak, ternyata di sebelah depan terdapat air terjun, air seperti dituang dari puncak gunung yang terjal.

   "Ah, indah benar pemandangan disini, seolah-olah aku sudah berada kembali di Jong-san. Marilah kita istirahat sejenak."

   "Mari. Biar kuda-kuda ini minum air."

   Mereka akhirnya duduk di pinggir empang. Han Cin mencuci mukanya, air dingin seketika membangkitkan semangatnya, katanya.

   "Kalau ada waktu, aku ingin tamasya ke kampung halamanmu, menikmati Jong-san Ni-hay."

   "Selalu kuterima kedatanganmu dengan terbuka. Entah kau sudah tahu, pertemuanku yang pertama dengan Tan-toako justeru di Ni-hay."

   "Kabarnya kau ketarik oleh petikan harpanya?"

   "Betul, kau pernah dengar dia memetik harpa? Bagus sekali petikannya."

   "Aku sih belum punya rejeki, masa kau lupa harpanya itu kan sudah diberikan kepadamu sebelum aku kenal Tan-toako, waktu itu kaupun belum kembalikan kepadanya."

   "Betul, memang aku yang lalai. Nona Han tiupan serulingmu juga indah, petikan harpa Tan Cok-sing takkan bisa kunikmati sekarang, sudikah kau meniup serulingmu?"

   "Kongcu ada perintah, mana aku berani membangkang?"

   Kata Han Cin berkelakar, segera dia keluarkan serulingnya, tiba-tiba terbayang olehnya waktu dia meniup seruling di depan pusara ayah angkatnya bersama Tan Ciok-sing dulu, maka tidak mau tidak, merasa pilu akan perubahan nasibnya yang tidak menentu itu.

   Setelah melenggong sekian saat, baru dia mulai meniup sebuah lagu yang sentimentil.

   Toan Kiam-ping mendengarkan dengan melamun, lama setelah Han Cin selesai meniup serulingnya baru dia berkata dengan tertawa kecut.

   "Tiupan serulingmu memang bagus sekali, tahukah kau akan seorang yang bernama Kek Lam-wi?"

   Han Cin tertawa, katanya.

   "Konon dia adalah peniup seruling yang terbaik jaman ini, kau kenal dia?"

   "Aku pernah melihatnya tapi dia tidak melihat aku. Akupun pernah mendengar tiupan serulingnya."

   "Lho, koh aneh, kenapa kau sudah melihatnya, tapi seperti sengaja menyingkir dari depannya. Hobimu juga musik, kenapa kau tidak berkenalan dengan dia?"

   "Waktu itu dia bersama Tan Ciok-sing di Yang-siok. Karena sementara aku tidak mau bertemu dengan Tan-toako, maka kesempatan berkenalan telah kusia-siakan."

   "Aku tahu akan dirinya, Tan-toako pernah ceritakan kepadaku. Menurut Tan-toako tiupan serulingnya persis dengan aku, Tan-toako malah curiga bahwa aku dan dia dari seperguruan. Yang benar aku diajari ayah, umpama ayah masih hidup usianya sudah enam puluh enam tahun lebih. Mana mungkin seperguruan dengan dia?"

   "Kukira belum tentu, soal tingkatan berbeda bukan mustahil tetap sebagai seperguruan, kepada siapa dulu ayahmu belajar meniup seruling?"

   "Ayah tidak pernah jelaskan kepadaku. Tapi ayahku tidak pandai silat, menurut Tan-toako Kek Lam-wi adalah seorang pendekar muda yang kenamaan di Kangouw, kukira tidak mungkin dia seperguruanku."

   Tapi karena dua orang menyinggung Kek Lam-wi terhadapnya, hatinya tertarik juga, tanyanya.

   "Entah dimana orang she Kek itu, kalau ada kesempatan bertemu, ingin aku dengar tiupan serulingnya. Tan-toako pernah ceritakan pertemuan kaum pendekar di Yang-siok, konon para pendekar yang hadir telah diundang olen Tam Tayhiap yang mewakili Kim-to Cecu untuk bertemu di markasnya. Entah orang she Kek itu bakal datang tidak?"

   "Mungkin dia tidak akan kemari. Umpama datang juga pasti diundur setahun kemudian."

   "Bagaimana kau tahu?"

   "Aku memang tidak kenal dia, tapi aku tahu jelas berita tentang dirinya, nona In pernah memberitahu kepadaku. Waktu di Yang-siok mereka berempat adalah teman karib yang tak pernah berpisah."

   Han Cin melengak, tanyanya.

   "Empat orang?"

   "Seorang lagi adalah teman perempuan Kek Lam-wi, namanya Toh So-so. Sepasang pendekar muda ini sejajar dan seangkatan dengan Kanglam Sianghiap Kwik Ing-yang dan Ciong Buimu, maka sebelum aku bertemu dengan mereka, aku sudah tahu nama besarnya."

   "Kenapa mereka tak bisa kemari?"

   "Kabarnya ada seorang Susioknya yang belum pernah ketemu tinggal di Khong-goan, yaitu Say-jwan Tayhiap Ti Nio. Ti Nio minta dia datang ke Khong-goan untuk menemui orangorang seperguruannya."

   "O, Susioknya itu she Ti, tinggal dalam keresidenan Sayjwan."

   "Betul. Apakah Ti Tayhiap ini kenalan baik ayah angkatmu?"

   "Belum pernah ayah membicarakan Ti Tayhiap ini kepadaku, aku hanya tanya sambil lalu saja."

   Ayah angkatnya yaitu Khu Ti memang tidak pernah bicara soal orang she Ti, tapi ayah kandungnya pernah membicarakan seorang she Ti.

   Tapi waktu itu ayahnya tidak menjelaskan bahwa orang she Ti itu bergelar Say-jwan Tayhiap Ti Nio.

   Sudah tentu diapun tidak tahu bahwa Ti Nio adalah Susiok Kek Lam-wi.

   Ayah kandungnya jarang menceritakan kehidupan masa mudanya, suatu ketika hanya kebetulan saja menyinggung orang she Ti ini kepada putrinya.

   Walau tanpa sengaja, namun waktu itu tutur katanya penuh perasaan.

   Hari itu dia belajar meniup seruling, ayahnya memuji kemajuan yang dicapai, sudah tentu hatinya amat senang, katanya.

   "Anak memang sudah menguasai, tapi tiupanku tidak sebagus ayah."

   "Ayah angkatmu mengajar ilmu silat, dia sering bilang gunung tinggi ada yang lebih tinggi, orang pandai ada yang lebih pandai. Sebetulnya perumpamaan ini bukan ditujukan pelajaran Kungfu melulu, segala ilmu pengetahuan sama saja. Meniup seruling hanyalah suatu kepandaian yang tidak berarti, memangnya berapa orang dalam jaman ini yang benar mahir meniup seruling. Usiamu masih begini muda, tapi tiupanmu sudah boleh dipuji. Tapi bila dibanding dengan orang lain, sekarang jelas kau bukan tandingan ayah, tapi ayah juga bukan tandingan orang lain."

   "Ayah apakah ada orang lain yang tiupan serulingnya lebih baik dari kau?"

   Ayahnya tertawa katanya.

   "Kau seperti kodok dalam perigi, tidak tahu betapa besarnya dunia ini. Memangnya kau kira tiupan seruling ayahmu nomor satu di dunia ini?"

   Han Cin memonyong mulut, katanya.

   "Kalau putrimu kodok dalam perigi, ayah angkat tentunya tidak. Padahal ayah angkat juga bilang demikian,"

   Sejak dia bisa berpikir ayah kandung dan ayah angkat adalah dua orang yang dipujanya, apa yang dikatakan ayah angkat yakin tidak akan salah. Ayahnya tertawa pula, katanya.

   "Soalnya ayah angkatmu belum pernah mendengar orang lain meniup seruling, bila dia pernah mendengar tiupan seruling orang lain untuk perbandingan, pasti dia tidak akan mengatakan aku nomor satu di dunia ini,"

   Sampai disini tanpa terasa mimik tawanya semula telah lenyap, mimiknya kelihatan prihatin dan seperti mengenang sesuatu. Timbul rasa ingin tahu Han Cin, tanyanya.

   "Siapakah peniup seruling nomor satu di dunia ini?"

   "Aku juga tidak tahu apakah dia terhitung nomor satu di kolong langit, tapi kenyataan dia jauh lebih ahli dari aku. Dia adalah seorang temanku yang paling akrab di masa muda dahulu, seruling yang kau tiup sekarang adalah pemberiannya pada dua puluh tahun yang lalu."

   "Ayah, kenapa kau tidak pernah bicarakan orang ini kepadaku?"

   Tanya Han Cin. Ayahnya menghela napas, katanya.

   "Peristiwa di masa muda dulu, aku segan untuk mengangkatnya pula. Kini kita sebagai pengungsi tinggal di daerah yang terpencil ini, untung penduduk disini baik hati, sehingga aku bisa hidup tenang sebagai guru sekolah kampungan, hidupkupun telah tentram dan sentosa. Sekarang boleh dikata aku sudah putus hubungan dengan dunia luas, kukira tiada harapan lagi untuk bisa bertemu dengan teman karibku dulu itu. Kalau hari ini kau tidak ajak aku bicara soal seruling ini akupun takkan bicarakan soal dia."

   Waktu itu Han Cin baru berusia empat belas tahun, seperti paham tapi juga tidak mengerti, lapat-Iapat masih teringat olehnya di masa lalu kehidupan keluarganya seperti berkecukupan kalau tidak mau dibilang serba berkelebihan, belakangan karena mengungsi adanya peperangan, keluarga mereka jadi berantakan dan tercerai berai.

   Ibunya meninggal di tengah pelarian itu, mereka ayah dan anak terus mengungsi sampai di dusun kecil dan terpencil ini baru menetap cukup lama sampai sekarang.

   Kini setelah mendengar cerita ayahnya, seolah-olah dia seperti dapat menyelami perasaan ayahnya.

   "Ayah, jangan kau bersedih, maklum putrimu masih kecil tidak tahu urusan, sehingga bikin ayah sedih. Ayah, teruskan pelajaran meniup seruling ini, selanjutnya aku takkan berani banyak mulut lagi."

   "Anak bodoh, soal itu tiada sangkut paut dengan kau, toh aku sendiri yang mengungkat soal temanku itu. Dia adalah temanku yang paling kurindukan, aku betul-betul mengharap suatu ketika bisa bertemu dengan dia, tapi sayang aku sendiri tahu selama hidupku ini terang takkan ada kesempatan bertemu dengan dia."

   Tak terasa timbul pula keinginan tahu Han Cin, katanya.

   "Ayah, kalau kau tidak merasa sedih, anak ingin tahu sedikit lebih banyak perihal paman itu. Siapa she dan namanya, apakah sekarang masih hidup? Tinggal dimana? Kenapa ayah bilang selama hidup ini takkan bisa bertemu lagi dengan dia?"

   Ayahnya tertawa getir, katanya rawan.

   "Sudah kebacut kubicarakan, biarlah aku beritahu kepadamu. Aku yakin dia masih hidup, tapi kudengar diapun telah mengungsi ke Khonggoan di daerah Say-jwan, letak Khong-goan ada ribuan li dari sini. Usiaku sudah tua tenaga lemah mana bisa mencarinya ke tempat yang jauh itu?"

   "Tapi kan tidak pasti takkan bisa bertemu, beberapa tahun lagi setelah anak besar boleh kau tulis sepucuk surat, biar kubawa ke Khong-goan menemuinya. Lalu kubawa dia kemari untuk kumpul dengan kau."

   Ayahnya goyang-goyang tangan, katanya.

   "Tidak, tidak, bila kau sudah besar kemungkinan akupun sudah meninggal. Umpama aku masih hidup, akupun takkan bisa menemuinya."

   "Kenapa?"

   Han Cin mendesak.

   "Dia adalah temanku yang paling karib. Tapi aku pernah melakukan perbuatan yang membuatnya amat sedih."

   Han Cin keheranan, katanya.

   "Ayah, kau adalah orang baik, bagaimana kau bisa melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, aku tidak percaya?"

   "Usiamu masih muda, kau takkan mengerti. Suatu yang menyebabkan orang lain sedih belum tentu perbuatan yang merugikan. Aku tak pernah menyesal karena perbuatanku itu, karena aku tiada pilihan untuk tidak melakukannya, namun demikian hatiku amat menyesal merasa berdosa terhadapnya.

   "Persoalan apakah itu?"

   "Barusan kau bilang takkan buka mulut lagi, kenapa pertanyaanmu terus memberondong?"

   "Ayah tidak mau menemuinya, ya sudah. Selanjutnya akupun takkan menyinggung soal ini."

   "Aku tak mau menemuinya, lapi aku punya keinginan, kuharap setelah aku meninggal, kau melakukan untukku."

   "Ayah, aku tidak suku mendengar omonganmu yanj kurang pantas ini."

   "Manusia mana yang tidak akan mati kenapa harus ditakuti? Dengarkan pesanku, temanku she Ti itu mempunyai dua hobi yang sama dengan aku, pertama meniup seruling, kedua suka membuat syair. Bila kami berkumpul selalu saling bantu, satu nyanyi yang lain mengiringi dengan tiupan seruling, demikian pula sebaliknya. Dia gemar mengoreksi syair ciptaanku, tahun itu aku menulis syair baru, selalu dia minta duplikatnya. Sering dia bilang bila sepuluh hari tidak membaca syair ciptaanku yang baru, hati rasanya malas dan masgul selalu. Sudah tentu kekagumannya terhadapku itu adalah merendahkan hati pula. Sebetulnya syair ciptaannya juga amat baik. Tapi demi membalas kebaikan kawan karib, setelah aku meninggal boleh kau serahkan seluruh koleksi syairku termasuk karya-karyaku yang terakhir kepada dia. Tapi apa yang akan terjadi kelak orang sukar meramalkan, bila dia mati mendahului aku, atau kau tiada kesempatan ke Khonggoan menemui dia, ya, anggap saja tiada pesanku ini."

   "Bagaimana bisa tiada kesempatan? Sekarang aku sedang giat belajar Kungfu, memangnya ayah kira putrimu ini gadis pingitan yang lemah tak kuat dihembus angin lalu? Beberapa tahun lagi setelah aku dewasa, pergi ke Khong-goan begitu bukan kerja yang berat. Ayah, bila kau suka menemui paman Ti itu, sekarang juga boleh aku berangkat ke Khong-goan mengundangnya kemari.'' "Khong-goan ada ribuan li jauhnya harus melewati pegunungan terpencil dan belukar lagi. Maksudku bukan tidak mampu kesana, di bawah didikan dan gemblengan ayah angkatmu, aku yakin kau kelak adalah pendekar perempuan yang bernama besar, betapapun jauh jaraknya tetap dapat kau tempuh dengan selamat. Tapi kala itu kemungkinan kau sudah menikah, punya suami punya anak. Di atas kau ada mertua, di bawah kau harus mengasuh anak, suamimu belum tentu mengijinkan kau pergi ke tempat yang terpencil itu. Kecuali suamimu adalah kaum persilatan yang suka mengembara pula, baru dia akan mau menemani kau menunaikan tugas yang kau pandang ringan itu ke Khonggoan. Tapi terus terang, aku tidak suka kau menikah dengan suami yang demikian."

   Perempuan usia empat belas tahun tentunya sudah tahu malu, mendengar ucapan ayahnya jengah muka Han Cin, katanya.

   "Sebal aku ayah, aku bicara serius, ayah justru menggodaku. Anak tidak akan kawin, selamanya akan mendampingi ayah saja."

   Ayahnya tertawa geli, katanya.

   "Ah, omongan anak-anak. Beberapa tahun lagi, kau akan tahu, suami lebih penting dari ayah. Sudahlah percakapan hari ini dihentikan sampai disini saja. Hari ini karena aku terbuai oleh emosi, sehingga banyak bicara dengan kau. Tapi kau tidak usah mencatat dalam hati, jangan risaukan soal ini, selanjutnya tak usah kau menyinggung paman she Ti itu."

   Kini setelah dia mendengar Toan Kiam-ping membicarakan Susiok Kek Lam-wi, mau tidak mau hatinya berpikir.

   "Tantoako dan Toan-toako sama memuji tiupan seruling Kek Lamwi amat bagus, maka Susioknya itu pasti juga seorang ahli peniup seruling? Susioknya itu she Ti tinggal pula di Khonggoan, jadi Susioknya itu pasti teman karib ayah yang juga she Ti, yang tinggal di Khong-goan itulah."

   Agaknya Toan Kiam-ping juga sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri, lama juga dia tidak bersuara. Tiba-tiba keduanya menoleh dan pandangan merekapun beradu, tanpa berjanji keduanya sama-sama bertanya.

   "He, apa yang sedang kau pikirkan?"

   "Kau katakan dulu,"

   Desak Han Cin.

   "Aku sedang iri dan mengagumi rejeki dan kebahagiaan orang lain."

   "Kau masih mengiri kepada orang lain justru orang lain mengiri kepadamu. Seorang pangeran yang serba pandai, ilmu silat dan ilmu sastra, entah kapan orang bakalan memperoleh kehidupan senang nan bahagia seperti ini."

   Toan Kiam-ping tertawa getir, katanya.

   "Dalam hal apa awakku ini patut dibuat iri. Pepatah kuno ada bilang, ribuan kati emas dapat diperoleh, teman karib sukar dicari. Ada pula yang bilang hanya iri pada pasangan mandarin, tapi tak iri kepada sang dewi. Bila sudah memperoleh kekasih, barulah patut dibuat iri dan jelus."

   Han Cin cekikikan, katanya.

   "O, jadi kau mengiri soal jodoh. Jadi orang yang menjadikan kau iri adalah..."

   "Di kalangan Kangouw ada dua pasangan pendekar bulim yang tersohor, pasangan pertama adalah Kanglam sianghiap Kwik Ing-yang dan Ciong Bin-siu, pasangan kedua adalah Kek Lam-wi dengan Toh So-so, tapi sekarang akan tambah sepasang lagi..."

   "Tan-toako dan nona In maksudmu."

   "Betul, tiga pasangan pendekar ini sudah kukenal dua pasang, Kek dan Toh sudah pernah kulihat tapi belum sempat berkenalan. Bukankah mereka jauh lebih beruntung dari aku?"

   "Memangnya siapa lahu dalam waktu dekat, akan muncul pula sepasang pendekar ke empat di Kangouw? Waktu itu yang dibuat ngiri pasti adalah dirimu,"

   Bicara sampai disini, tanpa merasa mukanya merah. Toan Kiam-ping berkata.

   "Terima kasih akan nasehatmu yang membuka kerisauanku. Sayang kita takkan berkumpul lama."

   Han Cin tahu orang merasa berat meninggalkan dirinya, hatinya merasa senang, tapi juga hambar dan bingung. Batinnya.

   "Apa maksud perkataannya tadi? Mungkinkah dalam sanubarinya sudah menganggap aku sebagai temannya yang paling karib? Walau hanya tiga hari aku berkumpul sama dia tapi apa yang dapat kuselami dari dia agaknya jauh lebih banyak dari apa yang kumengerti dari Tan-toako. Kalau dikatakan memang aneh, tapi dia tak mungkin tinggal disini, akupun tak bisa pulang bersama dia ke Tayli, hubunganku dengan dia mungkin seperti juga hubunganku dengan Tantoako, bertemu di perjalanan dan berpisah pula untuk selamanya."

   Setelah minum air, kedua ekor kuda itu dibiarkan bebas makan rumput didalam hutan.

   Baru saja Toan Kiam-ping hendak memanggil mereka, tiba-tiba dilihatnya kedua ekor kuda itu berlari kencang turun gunung, meski dipanggil berulang kali tetap tak mau menghampiri mereka.

   Karuan Toan Kiam-ping merasa heran, katanya.

   "Kenapa kedua binatang itu tak dengar perintah lagi?"

   Pendekar Pemetik Harpa Karya Liang Ie Shen di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

   

   Namun tiba-tiba pikirannya tergerak.

   "Ah, mungkin Kanglam Sianghiap telah datang."

   Waktu dia memandang jauh ke bawah, tampak dari lereng bukit sana muncul bayangan dua orang, yang lari di depan adalah kacungnya Toh Ni, yang berada di belakang adalah guru silat istana Ling Khong-tik.

   Belum nampak bayangannya, dari kejauhan Toh Ni sudah berseru.

   "Siau-ongya, dimana kau bersama nona In?"

   Kaget dan senang Toan Kiam-ping, serunya.

   "Siau-ni-cu, kenapa kaupun datang kesini dengan Ling Suhu?"

   "Masih ada dua temanmu juga, coba kau terka siapa mereka?"

   Seru Toh Ni. Mendengar masih ada dua orang lagi, Toan Kiam-ping lantas tertawa.

   "Buat apa main terka segala, pastilah Kanglam Sianghiap."

   Betul juga dilihatnya Kwik Ing-yang dan Ciong Binsiu sudah mendatangi sambil menuntun kuda masing-masing. Ternyata kedua ekor kuda itu melihat majikan lama, maka lekas mereka memapak ke bawah gunung.

   "Toan-toako,"

   Seru Kwik Ing-yang bersama Cong Bin-siu.

   "akhirnya kau datang juga. Tahukah kau, beberapa hari ini, kami sedang mencari dan menanti kedatanganmu."

   Toh Ni tiba dulu, langsung dia mengawasi Han Cin, katanya.

   "Siau-ongya, aku tahu kau datang bersama nona In, siapa sangka dugaanku keliru. Ini..."

   "Inilah Han..."

   Tiba-tiba Toan Kiam-ping ingat Han Cin menyamar laki-laki, mungkin dia tidak senang bila asalusulnya dia jelaskan kepada kacungnya, maka dia merandek ragu.

   Apakah dia harus memanggil Siangkong atau nona.

   Tiba-tiba Toh Ni goyang-goyang tangan, katanya.

   "Siauongya, jangan kau katakan dulu, biar aku menebaknya,"

   Lalu dia menoleh ke arah Han Cin dan berkata tertawa.

   "Kukira kau ini adalah nona Han Cin, betul tidak?"

   Han Cin segera mengerti, katanya.

   "Agaknya kau sudah bertemu dengan Tan Ciok-sing?"

   Toh Ni tertawa, katanya.

   "Nona Han, kau memang pintar, sekali tebak lantas kena,"

   Lalu dia ceritakan bagaimana di tengah jalan dia bertemu dengan Tan Ciok-sing. Setelah mendengar berita Tan Ciok-sing, perasaan Toan Kiam-ping yang tertindih seketika longgar, hatinya senang tapi juga hampa, pikirnya.

   "Meski dia tidak menunggang kuda, yakin dia sudah pulang sampai Tay-tong."

   Han Cin seperti tahu jalan pikirannya, katanya dengan mengerling.

   "Toan-toako, sekarang kau tidak usah kuatir, dia pasti sudah bertemu dengan nona In. Bukan mustahil beberapa hari lagi bakal menyusul kemari."

   Baru Toan Kiam-ping mau tanya kenapa mereka berada disini, Ling Khong-tik sudah buka suara.

   "Lo-ongya jatuh sakit, beliau mengharap kau lekas pulang."

   Toan Kiam-ping kaget, katanya.

   "Sakit apa, bagaimana keadaannya?"

   "Sakit biasa seperti orang tua umumnya, tapi usia Lo-ongya memang sudah lanjut, badannya lemah, meski sudah makan banyak obat, kesehatannya masih belum pulih. Bila orang tua jatuh sakit adalah logis kalau dia merindukan putranya. Mohon Siau-ongya lekas pulang bersama kami,"

   Dari nada penuturan ini Toan Kiam-ping merasakan bahwa penyakit ayahnya kali ini agak parah, karuan hatinya amat kuatir. Mana dia tahu bahwa sang ayah sebetulnya menipu dia supaya lekas pulang. Maka Toan Kiam-ping berkata.

   "Semula kupikir setelah mengantar nona Han ke markas Kim-to Cecu segera akan pulang. Sekarang aku tak usah mengantarnya sendiri, hari ini juga aku bisa pulang bersama kalian."

   "Kwik-toako, Ciong-ciei, tolong kalian saja yang mengantar nona Han, mohon tolong sampaikan pula permintaan maafku kepada Kim-to Cecu, aku tidak sempat menyampaikan salam hormatku sendiri,"

   Demikian kata Toan Kiam-ping kepada Kanglam Sianghiap."

   Kwik Ing-yang berkata.

   "Ayahmu sakit, maka aku tak enak menahanmu disini, kudaku ini kau boleh pakai untuk pulang ke Tayli."

   "Sebetulnya aku mewakili Tan Ciok-sing mengembalikan kuda ini kepada kalian, tak enak bila kupakai lagi,"

   Ujar Toan Kiam-ping.

   "Kau ada urusan genting, buat apa sungkan? Tolong sampaikan salam kami pada ayahmu,"

   Demikian kata Kwik Ing-yang. Baru saja Toan Kiam-ping mau naik ke punggung kuda, tiba-tiba Ciong Bin-siu berkata.

   "Toan-toako, kukira kali ini bisa kumpul bersama kau beberapa hari, tak nyana baru berhadapan sekejap sudah harus berpisah lagi Akupun takkan menahanmu, tapi ingin bicara dengan kau, harap tunda dulu pemberangkatanmu sebentar."

   "Kalian meminjamkan kuda jempolan kepadaku ini sudah menghemat beberapa hari perjalanan aku harus mengucap banyak terima kasih kepada kalian. Memang ada beberapa hal yang ingin kuberitahu kepadamu."

   Ciong Bin-siu tarik Toan Kiam-ping ke pinggir, sementara Toh Ni ajak Han Cin ngobrol. Setiba didalam hutan, baru dia berkata lirih.

   "Kukira kau datang bersama nona In, tak nyana kau datang bersama nona Han?"

   "Beberapa hari lagi nona In akan datang bersama Tan Cioksing,"

   Lalu dia ceritakan perkenalannya malam itu dengan Han Cin di rumah In San. Ciong Bin-siu tertawa, katanya.

   "Jangan kau anggap aku cerewet, aku pernah janji jadi comblangmu. Lalu bagaimana persoalanmu dengan adik In?"

   "Terima kasih akan maksud baikmu, soal ini tak usah dibicarakan lagi. Soal jodoh ada di tangan Thian, adik In bukan jodohku, selanjutnya aku hanya menganggapnya adikku sendiri."

   "Aku sudah tanya Siau-nicu, sedikit banyak aku sudah tahu hubungan kalian. Kalau adik San mencintai orang lain, kukira soal jodoh ini tak usah dipaksakan. Kuharap kau tidak sedih."

   "Siapa bilang aku sedih, aku belum sempat senang karena pertemuan mereka. Tan Ciok-sing Toako adalah orang baik, dia jauh lebih baik dari aku."

   "Aku tahu. Sementara biar aku percaya inilah perkataan setulus hatimu. Tapi kau bilang mau cari seorang yang cocok, maaf bila aku mencampuri urusanmu, aku ingin tanya kepadamu, kabarnya nona Han adalah puteri angkat Khu Ti, kungfunya kukira tidak rendah?"

   "Memang bagus. Diapun pandai memetik harpa, main catur, buat syair dan melukis."

   "Jadi terhitung seorang perempuan serba bisa, bagaimana karakternya?"

   "Baru beberapa hari aku bergaul sama dia, tapi kurasa tidak perlu malu bila disebut Hiap-li (Pendekar Perempuan)."

   "Syukurlah kalau begitu. Hilang satu dapat ganti yang lain, begitupun baik."

   "Jangan kau main-main, bila didengar dia, bisa berabe jadinya."

   "Apa kau ingin membawanya pulang? Kau tak berani bilang, biar aku yang mengaturnya."

   Berkata Toan Kiam-ping sungguh-sungguh.

   "Ciong-toaci, soal ini jangan kau bicarakan lagi, nona Han adalah gadis yang punya pambek, bercita-cita luhur, kedatangannya ke markas Kim-to Cecu memang untuk berteduh mencari tulang punggung, tapi juga demi melaksanakan cita-cita dan keinginannya, disini dia bisa memperoleh ketenangan hidup dan aman. Kalau aku membawanya pulang, terhitung apa itu? Kalau dibicarakan salah-salah dia bisa menganggap kita memandangnya rendah."

   Sambil keluar hutan Toan Kiam-ping berkata.

   "Nona Han, maaf aku tidak mengantarmu ke markas. Beberapa hari lagi bila Tan-toako dan nona In tiba, tolong sampaikan salamku."

   "Toan-toako,"

   Kata Han Cin.

   "kau sudah mengantarku sejauh ini, aku sudah amat berterima kasih. Aku juga mengharap ayahmu lekas sembuh, semoga kau selamat dalam perjalanan,"

   Toan Kiam-ping cemplak ke punggung kuda, serta melambai tangan ambil berpisah. Ciong Bin-siu tertawa, serunya.

   "Lho, ada sepatah kata penting, bila sesama kawan mau berpisah harus diucapkan, kenapa kalian melupakan."

   Han Cin melengak, katanya.

   "Kata apa?"

   "Selama gunung menghijau dan air tetap mengalir kelak pasti bertemu lagi."

   Toan Kiam-ping tertawa, katanya.

   "Nona Han, kau belum tahu, Ciong-toaci kita ini paling suka berkelakar dan menggoda orang."

   "Siapa bilang berkelakar,"

   Kata Ciong Bin-siu.

   "memangnya kau tidak ingin bertemu lagi dengan nona Han?"

   Walau agak kikuk dan malu, terpaksa Toan Kiam-ping dan Han Cin mengucap "semoga ketemu lagi".

   Pada hal kata-kata yang umum diucapkan, tapi diucapkan dari mulut mereka, lain pula artinya, bagi yang bersangkutan menimbulkan rasa yang syur dan sendu.

   Dari sorot mata Han Cin terasa oleh Ciong Bin-siu orang merasa berat berpisah, diam-diam hatinya amat senang, pikirnya.

   "Kali ini tugasku sebagai mak comblang pasti takkan gagal lagi. Nanti bila sudah berada di markas biar aku mengatur rencana bersama adik Kiam-khim."

   Kanglam Sianghiap membawa Han Cin pulang ke markas, tahu bahwa Han Cin adalah anak pungut Khu Ti sudah tentu Kim-to Cecu menyambutnya dengan riang, padanya diapun mengajukan banyak pertanyaan yang menyangkut Tan Cioksing.

   Mendengar sepak terjang Tan Ciok-sing yang gagah perkasa sungguh senang Kim-to Cecu bukan main.

   Katanya tertawa sambil mengelus jenggot.

   "Syukurlah markas bakal kedatangan seorang pendekar muda yang berkepandaian tinggi, markas kita bakal lebih ramai."

   Tapi tujuh hari telah berselang Tan Ciok-sing yang ditunggu-tunggu belum kunjung tiba, Kim-to Cecu suruh orang mencari tahu ke Tay-tong, namun tidak memperoleh berita apapun.

   Selama beberapa hari ini, ternyata Ciu Kiam-khim amat cocok dengan Han Cin, mereka bergaul akrab sekali, hubungan mereka semakin intim seperti teman lama.

   Diam-diam Ciong Bin-siu pernah berunding dengan Ciu Kiam-khim, cara bagaimana untuk mengantar Han Cin pergi ke Tayli, sayang sejauh ini mereka belum mendapat akal dan alasan.

   Suatu hari, seorang spiofi kembali dari kota raja Kim-to Cecu menerimanya di ruang dalam.

   Semula Ciu Kiam-khim kira spion ini pulang dari Tay-tong, karena ingin tahu berita tentang In San, maka dia mencuri dengar di belakang pintu angin.

   Kim-to Cecu bertanya.

   "Bagaimana keadaan kota raja?"

   Spion itu menjawab.

   "Setelah kepungan terhadap Tay-tong dipukul hancur, para pembesar sipil dan militer di kota raja merasa tugas sudah berakhir, mereka sedang sibuk memperkaya diri sendiri, maka suasana disana cukup aman."

   Kim-to Cecu berkata.

   "Hanya sementara Watsu menarik mundur angkatan perangnya, kini huru hara dalam negerinya sudah ditumpas, keadaan sudah aman, penguasa semakin kokoh kedudukannya, maka mulailah mereka mengatur rencana untuk mengadakan infansi pula ke selatan, memangnya pihak kerajaan tidak tahu akan berita ini?"

   "Bukan tidak tahu,"

   Kata spion itu.

   "tapi kelompok yang berkuasa di istana kerajaan sekarang lebih cenderung untuk damai dengan musuh, damai dalam arti kata takluk dan tunduk akan syarat-syarat yang diajukan pihak sana, kelompok ini dipimpin oleh sekrataris militer yang menjabat juga Kiu-bun-te-tok Liong Bun-kong, Baginda sih hanya makan tidur dan memikirkan keselamatan belaka apapun dia tunduk dan menerima nasehat Liong Bun-kong, harapan untuk menyadarkan Raja lalim ini jelas tidak mungkin. Maka untuk menggerakkan angkatan perang kerajaan dan bergabung dengan laskar rakyat kita melawan agresor jelas tidak mungkin pula, lebih celaka lagi bila angkatan perang kerajaan dikerahkan untuk menumpas kekuatan kita dibantu pihak Watsu."

   Kim-to Cecu menghela napas, katanya.

   "Hal ini sudah dalam dugaanku, selama ini belum pernah aku berangan kepada pihak kerajaan, apapun yang akan datang biarlah kita hadapi dengan tabah."

   "Karena berhasil mendapatkan suatu berita penting, maka aku pulang lebih dini dari rencana yang semula,"

   Demikian kata spion itu.

   "Berita rahasia apa kelihatan begitu penting?"

   "Bahwa Khan baru yang berkuasa di Watsu sekarang telah mengutus seorang Duta rahasianya, dan kini sudah tiba di Pakkia. Konon duta rahasia ini ada membawa surat pribadi Khan agung mereka dan membawa serta banyak hadiah mahal untuk Liong Bun-kong, pasti ada rencana keji dibalik pertemuan utusan itu dengan Liong Bun-kong."

   "Liong Bun-kong pembesar anjing itu memang ingin menjual negara demi mengejar pangkat dan harta, sekarang saatnya dia mendapat angin dan kesempatan, buat apa hal ini dibuat heran?"

   "Sayang sekali Ui-yap Tojin sudah berkorban karena peristiwa ini,"

   Kata spion itu. Kim-to Cecu kaget, katanya.

   "Ilmu pedang Ui-yap Tojin teramat tinggi, bagaimana jiwanya bisa melayang?"

   Spion itu bercerita.

   "Bersama Sia-cin Hwesio dia berusaha mencegat dan membunuh Duta rahasia itu, tujuannya untuk merebut surat rahasia itu, tak kira di antara pengikut Duta rahasia ini terdapat beberapa jago silat tangguh, akhirnya Uiyap Tojin gugur di medan laga. Sia-cin Hwesio lolos tapi diapun terluka parah."

   "Umpama mereka berhasil dan membongkar muslihat serta intrik Liong Bun-kong itu juga tiada gunanya,"

   Demikian kata Kim-to Cecu menghela napas.

   "para pembesar sipil maupun militer sama memikirkan keselamatan sendiri, umpama Baginda Raja berani bertindak tegas memecat jabatan Liong Bun-kong, yakin takkan lama lagi, Liong Bun-kong kedua pasti akan muncul pula."

   


Raja Naga 7 Bintang -- Khu Lung Si Rase Terbang Pegunungan Salju Karya Chin Yung Manusia Yang Bisa Menghilang -- Khu Lung

Cari Blog Ini