Ceritasilat Novel Online

Si Tangan Sakti 8


Si Tangan Sakti Karya Kho Ping Hoo Bagian 8



"Mengapa? Karena engkau sudah jatuh cinta kepada pangeran Mancu itu! Karena engkau sudah tergila-gila padanya! Tak tahu malu, merendahkan diri tergila-gila kepada seorang pangeran Mancu!"

   "Hemmm, apa alasan Ayah menuduhku berbohong?"

   "Apa alasannya. Bocah murtad, pengkhianat! Selama hidupku, belum pernah aku melihat engkau demikian penakut dan tolol sehingga dapat dikelabui musuh, dapat disergap dan ditundukkan dari da-lam kamar tahanan, kemudian demikian penakut sehingga ketika engkau ditawan dan digiring keluar, engkau memerintahkan para anak buah kita untuk membiarkan dua orang itu pergi! Kau boleh mengelabui orang lain, akan tetapi tidak mungkin dapat membohongi aku! Aku sudah mengenal watakmu. Engkau tak mengenal takut, engkau cerdik, tak mungkin dapat ditundukkan dua orang tawanan semudah itu, kecuali kalau engkau memang sengaja hendak membantu mereka lolos!"

   "Itu hanya dugaan Ayah belaka. Mana buktinya?"

   Tantang Siangkoan Eng yang memang sejak kecil digembleng ayah ibunya tidak mengenal takut.

   "Bocah setan. Engkau masih menantangku untuk menunjukkan bukti? Kau kira aku belum melakukan penyelidikan dan belum membongkar rahasiamu yang busuk dan memalukan?"

   Siangkoan Kok membentak ke arah pintu memanggil pelayan dan ketika seorang pelayan wanita masuk dengan sikap takut-takut, dia membentak,

   "Panggil ke sini Sui Lan! Cepat!!"

   Pelayan itu lari tunggang langgang dan diam-diam Siangkoan Eng terkejut. Apakah Sui Lan telah mengkhianatinya dan melapor kepada ayahnya? Rasanya hal itu tidak mungkin terjadi. Ia hampir yakin akan kesetiaan sumoinya itu kepadanya. Tak lama kemudian Sui Lan masuk dan memberi hormat kepada suhunya, dengan suara biasa ia berkata seperti orang melapor,

   "Maaf, Suhu. Sudah teecu (murid) dengar dari laporan anak buah bahwa. pencarian itu tidak berhasil...."

   "Diam!"

   Siangkoan Kok membentak.

   "Jangan bicara kalau tidak kutanya, dan setiap jawaban harus kau jawab sejujurnya!".

   "Baik, Suhu."

   Gadis itu pun duduk di atas bangku yang ditunjuk oleh gurunya. Berbeda dengan Siangkoan Eng yang masih nampak tenang, Tio Sui Lan kelihatan agak pucat dan matanya mengandung kegelisahan melihat kemarahan gurunya. Setelah melihat muridnya yang sesungguhnya merupakan murid yang paling disayangnya itu duduk, Siangkoan Kok lalu menghadapi puterinya lagi. Dia tetap berdiri, bagaikan gunung karang di depan puterinya yang duduk di samping ibunya Lauw Cu Sin, wanita berusia empat puluh lima tahun yang masih cantik itu, mengerutkan alisnya dan hanya mendengarkan, pandang matanya juga gelisah.

   "Nah, sekarang Sui Lan telah berada di sini. Eng Eng, apakah engkau masih tidak mau mengakui pengkhianatanmu terhadap Pao-beng-pai dan bahwa engkau telah membantu kedua orang itu mem-bebaskan diri?"

   "Ayah hanya menuduh tanpa bukti."

   Kembali Siangkoan Eng atau Eng Eng membantah, sikapnya tetap berani.

   "Brakkkkk!!"

   Meja di samping kirinya dihantam tangan kiri Siangkoan Kok dan papan meja itu hancur berkeping-keping.

   "Engkau masih berani mengatakan aku menuduhmu tanpa bukti? Anak durhaka, dengar baik-baik. Aku telah menyelidiki dan menanyai para penjaga. Dua jam sebelum engkau muncul, si iblis cilik Sui Lan ini datang ke tempat tahanan, memasuki tempat tahanan dan mengatakan kepada para penjaga bahwa aku sengaja memerintahkan ia untuk menjaga para tawanan. Dan para penjaga melihat Sui Lan cekcok dengan para tahanan, lalu ia menyambitkan jarum ke arah para tahanan. Para penjaga melihat berkelebatnya sinar putih halus! Sui Lan, jawab. Benarkah itu?"

   "Benar, Suhu. Teecu marah dan menyerang orang she Yo dengan jarum teecu dan...."

   "Bohong! Ingin kau kurobek mulutmu? Mana mungkin jarum rahasiamu bersinar putih? Tentu bukan jarum yang kau sambitkan, melainkan surat, gulungan kertas atau alat lain untuk mengirim pesan!"

   "Suhu...."

   "Diam!"

   Tangan Siangkoan Kok menyambar ke arah muridnya dan gadis itu terpelanting dari bangkunya dan bajunya robek lebar memperlihatkan sebagian dadanya. Sui Lan bangkit dan berlutut, sambil membetulkan letak bajunya. Untung gurunya tidak berniat membunuhnya sehingga ia tidak terluka.

   "Eng Eng, engkau masih hendak membantah? Engkau mengirim pesan lewat Sui Lan kepada pangeran Mancu itu. Kemudian, dua jam setelah itu, engkau sendiri yang datang berkunjung, pura-pura melakukan pemeriksaan dan sengaja engkau membiarkan dirimu dibuat tidak berdaya! Engkau bahkan membantu mereka lolos karena engkau sudah tergila-gila kepada seorang pangeran Mancu. Tak tahu malu!"

   Kini tahulah Eng Eng bahwa Sui Lan tidak berkhianat. Rahasianya terbongkar semata-mata karena kecerdikan ayahnya yang memang luar biasa. Ia menghela napas panjang.

   "Ayah, aku melakukan hal itu demi menjaga baik nama Ayah"

   Mata itu melotot,

   "Apa kau bilang? Menjaga nama baikku?"

   Karena heran, maka untuk sementara kemarahannya tertunda.

   "Ayah adalah ketua Pao-beng-pai yang baru saja memperkenalkan diri kepada para tokoh kang-ouw, dikenal sebagai pemimpin perkumpulan patriot yang gagah perkasa. Akan tetapi, Ayah telah menawan Pendekar Tangan Sakti secara curang. Bagaimana kalau sampai terdengar dunia persilatan? Pula, aku yakin bahwa Pangeran Cia Sun bukan seorang mata-mata Mancu. Biarpun dia pangeran Mancu, akan tetapi dia bukan mata-mata, melainkan seorang pemuda yang ingin meluaskan pengetahuan dan pengalaman di dunia kang-ouw. Mana mungkin pangeran melakukan pekerjaan mata-mata yang berbahaya? Tentu keluarganya tidak akan menyetujuinya."

   "Cukup! Katakan saja engkau tergila-gila kepada pangeran Mancu itu!"

   Dengan sama lantangnya Siangkoan Eng yang yakin bahwa ayahnya amat menyayangnya dan tidak mungkin ia sampai terancam malapetaka oleh tangan ayahnya, menjawab,

   "Tidak kusangkal, Ayah. Memang aku mencinta Cia Sun dan dia mencintaku. Akan tetapi, bukankah Ayah juga sudah menerima pinangannya, menerima pula tanda pengikat perjodohannya, dan bahkan Ayah mengajukan syarat yang sudah disanggupinya? Apakah Ayah ingin menarik kembali janji dan ucapan Ayah?"

   "Jahanam kau! Kau ingin Ayah mempunyai mantu seorang pangeran Mancu?"

   "Mengapa tidak, Ayah? Dia pangeran biasa, bukan calon kaisar!"

   "Keparat, anak durhaka, engkau memang patut dihajar!"

   Bentak Siangkoan Kok dan dia pun menerjang ke depan, tangannya terayun memukul ke arah kepala Eng Eng. Gadis itu terkejut, sama sekali tidak pernah menduga bahwa ayahnya akan sedemikian marahnya sehingga mau memukulnya, hal yang selama ini belum pernah dilakukan ayahnya. Yang mengejutkan hatinya adalah ketika melihat betapa tangan ayahnya itu memukul ke arah kepalanya. Pukulan maut! Kalau kepalanya terkena pukulan itu, tentu akan pecah dan ia akan tewas seketika! Otomatis, sebagai seorang ahli silat yang gerakannya otomatis, dengan cepat ia menggerakkan lengan ke atas untuk menangkis karena untuk mengelak, ia tidak berani dan hal itu tentu akan membuat ayahnya menjadi semakin marah.

   "Desss....!!"

   Biarpun ia telah menangkis, karena ia tidak berani pula mengerahkan seluruh tenaganya, hantaman ayahnya itu tetap saja hebat bukan main. Tenaga dahsyat menerpa dan menerjang dirinya, membuat kursi yang didudukinya patah-patah dan tubuhnya terjengkang sampai berguling-guling. Sungguh hal ini tidak disangkanya sama sekali. Kepalanya terasa pening, dadanya nyeri karena hawa pukulan itu menerjang masuk lewat lengannya. Dari mulutnya keluar darah dan Eng Eng yang kemudian rebah menelungkup itu, menggerakkan tubuh telentang dan ia bertopang pada siku kanannya, kemudian tangan kirinya diangkat ke arah ayahnya, bibirnya berdarah dan matanya terbelalak.

   "Ayah....?!!?"

   Terkandung penasaran, keheranan dan kekagetan dalam suara itu. Melihat keadaan Eng Eng, Siangkoan Kok bukan mereda kemarahannya, melainkan menjadi semakin marah karena tangkisan puterinya tadi dianggapnya sebagai perlawanan.

   "Engkau memang patut dibunuh!"

   Ben-taknya lagi dan dia sudah mencabut pedangnya, menerjang ke depan dan mengayun pedangnya untuk memenggal leher Eng Eng yang masih bertopang pada sikunya.

   "Singgg....! Tranggg....!!"

   Pedangnya tertangkis pedang lain dan dia cepat meloncat ke belakang, mukanya merah sekali ketika dia melihat bahwa yang menangkis pedangnya adalah isterinya sendiri, Lauw Cu Si! Wanita cantik itu berdiri dengan pedang di tangan, dan dengan mata mencorong ia menghadapi suaminya.

   "Engkau harus melangkahi mayatku dulu kalau hendak membunuhnya!"

   Katanya, suaranya tenang akan tetapi mengandung ancaman yang mengerikan. Kalau saja yang menantang itu orang lain, tanpa banyak cakap lagi tentu Siangkoan Kok akan membunuhnya. Akan tetapi, isterinya adalah keturunan Beng-kauw. Biarpun Beng-kauw telah hancur, namun di dunia persilatan masih terdapat banyak sekali bekas tokoh Beng-kauw yang lihai sekali. Kalau dia membunuh isterinya, apalagi tanpa sebab yang kuat, ten-tu dia akan berhadapan dengan banyak musuh yang amat berbahaya dan ini berarti akan melemahkan Pao-beng-pai. Melihat keraguan ayahnya, Eng Eng yang masih merasa sesak dadanya dan kini sudah bangkit duduk berkata memelas.

   "Ayah, bukankah aku ini anakmu, darah-dagingmu? Seekor binatang buas sekalipun tidak akan membunuh anak sendiri...."

   "Dia bukan ayahmu! Engkau bukan anaknya!"

   Tiba-tiba Lauw Cu Si berkata dan wajah Eng Eng seketika pucat sekali, matanya terbelalak dan hampir ia jatuh pingsan.

   "Ibu.... dia.... dia bukan ayahku....?"

   Ia berbisik-bisik berulang-ulang. Ibunya sudah berlutut dan merangkulnya.

   "Tenanglah, tidak akan ada manusia di dunia ini dapat membunuhmu tanpa melangkahi mayatku!"

   Kata ibu itu sambil merangkul puterinya dan memandang suaminya dengan sinar mata menantang. Siangkoan Kok menjadi merah sekali mukanya.

   "Baik, kalian ibu dan anak memang jahanam! Memang kau bukan anakku! Ibumu menjadi isteriku telah membawa engkau! Seorang gadis telah mempunyai anak tanpa ayah. Huh, perempuan macam apa itu! Dan sekarang, kalian hendak mengkhianati aku!"

   Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok menyarungkan pedangnya lalu hendak melangkah keluar. Akan tetapi dia melihat Sui Lan yang masih berlutut dengan muka pucat dan baju robek.

   "Engkau juga mengkhianatiku. Mestinya engkau kubunuh! Akan tetapi, aku tidak membunuhmu, dan mulai sekarang, engkau menggantikan perempuan laknat itu dan melayaniku sebagai isteriku!"

   Sekali tangannya bergerak dia telah menyambar tubuh Sui Lan dan memondongnya keluar dari kamar itu.

   "Tidak, Suhu....! Jangan, Suhu....! Tidaaaaakkk....!"

   Gadis itu menjerit-jerit, akan tetapi Siangkoan Kok tidak peduli dan melangkah lebar menuju ke kamarnya sendiri, menutupkan daun pintu dengan keras dan tangis Sui Lan makin sayup.

   "Ibu.... ahhh, Ibu.... aku harus menolong sumoi...."

   Eng Eng mencoba untuk bangkit berdiri, akan tetapi ia terhuyung dan jatuh ke dalam rangkulan ibunya.

   "Hemmm, apa yang dapat kau lakukan, Eng Eng? Mari, kurawat lukamu, kita masuk kamarmu. Aku tidak sudi lagi memasuki kamar yang tadinya menjadi kamar kami itu. Aku pindah ke kamarmu."

   "Tapi, Ibu....! Kasihan Sui Lan. Ibu, tolonglah sumoi. Setidaknya, ayah.... ah, suami Ibu masih memandang muka Ibu. Tolonglah, cegahlah agar sumoi tidak menjadi korban."

   Ibunya menggoyang kedua pundak, sikapnya acuh saja. Ia adalah seorang bekas tokoh besar Beng-kauw, perkumpulan sesat. Ia adalah seorang tokoh sesat sehingga peristiwa seperti itu tidak ada artinya baginya. Ia tidak peduli seujung rambut pun.

   "Tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Kalau dia hendak membunuhmu, baru aku bangkit. Akan tetapi Sui Lan? Huh, aku tahu bahwa sudah lama Siangkoan Kok memandang kepadanya penuh berahi. Agaknya sekarang ini kesempatan baginya. Sui Lan bersalah, kalau aku mencegahnya sekalipun, tentu ia akan dibunuh gurunya. Biarlah, jangan ambil peduli!"

   Ibu itu menarik puterinya ke kamar Eng Eng yang berada agak jauh di samping kiri. Eng Eng menangis karena merasa tidak berdaya.

   "Lebih baik ia mati.... lebih baik ia mati...."

   Ia berulang-ulang berbisik, akan tetapi ibunya tidak mempedulikannya dan membawanya ke kamar. Eng Eng mencoba untuk mengusir bayangan sumoinya yang meronta dalam pondongan pria yang selama ini dianggapnya ayahnya, ditaatinya dan disayangnya.

   "Ibu, kenapa selama ini Ibu tidak pernah memberi tahu kepadaku bahwa dia itu bukan ayahku?"

   Tanya Eng Eng ketika ibunya memeriksa tubuhnya, lalu menyalurkan tenaga sin-kang untuk menyembuhkan luka di dalam tubuhnya karena terguncang hawa pukulan Siangkoan Kok yang kuat. Kemudian ia pun minum obat yang diberikan ibunya. Setelah puterinya menelan obat, barulah ia menjawab.

   "Untuk apa? Selama ini dia menyayangmu seperti anak sendiri. Baru setelah kalian bertentangan dalam urusan gerakan Pao-beng-pai, dia hampir membunuhmu. Engkau masih terlalu kecil ketika aku menjadi isterinya, maka kupikir sebaiknya tidak perlu kau tahu bahwa dia bukan ayahmu, sampai tadi ketika dia hampir membunuhmu."

   "Kalau begitu.... nama keluargaku bukan Siangkoan?"

   "Tentu saja bukan!"

   "Lalu siapa? Siapakah nama ayah kandungku dan di mana dia, Ibu?"

   "Hemmm, dia sudah mati. Kalau engkau tidak suka nama marga Siangkoan boleh kau pakai nama keluargaku, yaitu Lauw. Namaku Lauw Cu Si dan kalau engkau tidak suka nama Siangkoan, boleh kau ganti Lauw, jadi namamu Lauw Eng."

   "Tapi, siapa nama ayah kandungku, Ibu? Aku ingin menggunakan nama marganya!"

   "Sudahlah aku tidak mau bicara tentang dia. Aku tidak suka mengingatnya!"

   Suara wanita itu mulai terdengar ketus sehingga Eng Eng merasa heran sekali.

   "Akan tetapi, kenapa, Ibu? Kalau ayah kandungku sudah mati, kenapa Ibu tidak mau memberitahukan namanya? Dan di mana kuburannya? Aku ingin bersembahyang di depan kuburannya."

   "Cukup! Aku tidak sudi menyebut namanya. Aku sudah lupa namanya. Aku benci pada-nya!!"

   Suara itu semakin galak. Eng Eng terkejut dan semakin heran.

   "Tapi, dia sudah mati, Ibu...."

   "Dia sudah mati atau masih hidup, aku paling benci padanya, sudah, kalau engkau bicara tentang dia lagi, aku akan marah sekali!"

   Eng Eng tidak berani melanjutkan. Dia sudah kehilangan ayahnya, atau orang yang selama ini dianggap ayahnya yang disayangnya dan ditaatinya dan kini dia tidak ingin kehilangan ibunya pula. Pasti terjadi sesuatu yang hebat, sesuatu yang amat menyakitkan hati ibunya yang telah dilakukan ayah kandungnya maka ibunya begitu membencinya setengah mati. Kalau benar demikian, berarti ayah kandungnya telah melakukan sesuatu yang amat jahat. Hatinya terasa perih dan nyeri sekali. Orang yang selama ini dianggap ayahnya sendiri akan tetapi ternyata hanya ayah tiri itu seorang jahat, dan ayah kandungnya sendiri pun dahulunya orang jahat. Ketika ia terkenang kepada Pangeran Cia Sun, Eng Eng merasa jantungnya seperti ditusuk. Ia merasa rendah diri.

   Dua orang pemuda itu berhasil meninggalkan Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Iblis) yang berada di bagian barat Kwi-san (Bukit Iblis), bahkan turun dari bukit itu dan setelah jauh, menjelang tengah hari, mereka duduk beristirahat di bawah pohon besar dalam sebuah hutan kecil yang sunyi. Melihat betapa wajah Cia Sun agak murung, Yo Han berkata,

   "Mengapa engkau kelihatan murung, Cia-te? Bukankah sepatut-nya kita bersyukur karena telah terhindar dari ancaman maut di sana?" Pangeran itu memandang kakak angkatnya.

   "Yo-twako, aku takut. Aku khawatir sekali apa yang akan terjadi dengan Eng-moi. Aku amat mencintanya...."

   Yo Han tersenyum.

   "Engkau aneh sekali, Cia-te. Ketika engkau dan aku berada dalam tahanan dalam keadaan tidak berdaya, setiap saat dapat saja kita dibunuh, engkau sama sekali tidak merasa takut, bahkan selalu nampak gembira. Akan tetapi sekarang, setelah terbebas dari bahaya, engkau malah takut."

   Cia Sun menghela napas panjang.

   "Biasanya aku tidak pernah takut, Yo-twako. Akan tetapi sekarang, aku gelisah sekali dan aku tidak tahu bagaimana caranya aku dapat menghilang-kan perasaan takut atau gelisah ini."

   "Tidak ada cara untuk menghilangkan takut, Cia-te. Takut adalah perasaan kita sendiri, yang ingin menghilangkan itu pun perasaan kita sendiri. Takut timbul karena ulah pikiran, dan keinginan menghilangkan juga ulah pikiran, Cia-te. Kalau kita tidur, pikiran kita bekerja, maka takut pun tidak ada. Pikiran menimbulkan rasa takut, duka, dan sebagainya. Namun, kesadaran akan rasa takut itu sendiri, tanpa adanya usaha melenyapkan, akan mendatangkan perubahan, mendatangkan kesadaran dan dengan sendirinya takut pun tidak nampak bekasnya."

   Apa yang dikatakan Yo Han bukan teori, melainkan pengalaman yang sudah dialami sendiri oleh pemuda itu. Takut bersumber dari pikiran, dan pikiran bergelimang nafsu, membentuk aku. Keakuan inilah yang menjadi sumber segala perasaan. Aku terancam, pikiran membayangkan segala hal buruk yang dapat menimpa diriku, maka timbullah takut. Aku yang mengaku-aku adalah pikiran bergelimang nafsu. Nafsu membuat kita selalu ingin senang, tidak mau susah, maka membayangkan kesusahan yang akan menimpa diri, menimbulkan rasa takut. Takut adalah ulah pikiran yang membayangkan hal yang belum terjadi, membayangkan hal buruk yang mungkin menimpa kita. Yang sehat takut sakit, kalau sudah datang sakit, bukan sakit lagi yang ditakuti, melainkan mati, lalu takut akan keadaan sesudah mati dan selanjutnya.

   Membayangkan hal-hal yang belum terjadi, itulah sebab rasa takut. Kalau pikiran tidak membayangkan hal-hal yang belum terjadi, takut pun tidak ada. Iblis menggoda kita manusia melalui nafsu-nafsu kita sendiri. Nafsu sesungguhnya merupakan anugerah Tuhan, disertakan kepada kita sejak kita lahir. Nafsu diikutsertakan untuk menjadi alat kita, menjadi budak kita yang membantu kita dalam kehidupan di dunia lain. Tuhan Maha Murah, Tuhan Maha Asih. Dengan memiliki nafsu, kita dapat menikmati kehidupan di dunia ini melalui panca-indera kita, melalui semua alat tubuh kita lahir batin. Iblis melihat ketergantungan kita kepada nafsu, mempergunakan nafsu untuk menyeret kita sehingga kita bukan lagi memperalat dan memperbudak nafsu, melainkan kita yang diperalat dan diperbudak, dan kalau sudah begitu,

   Kita tidak berdaya, menjadi permainan nafsu yang akan menyeret kita ke dalam kesengsaraan, menjadi seperti kanak-kanak yang diberi makanan enak, tak mengenal batas makan sebanyaknya untuk kemudian menderita sakit yang menyengsarakan. Kalau sudah menderita akibat menuruti nafsu, barulah timbul penyesalan, dan alat lain dalam tubuh mem-protes, akal sehat melihat betapa merugikan dan tidak menyenangkan akibat dari menuruti dorongan nafsu tadi. Akan tetapi, usaha menghentikan pengaruh nafsu itu takkan berhasil, atau sukar sekali mendatangkan hasil. Usaha itu datangnya dari hati akal pikiran pula, padahal hati akal pikiran sudah bergelimang nafsu. Bagaimana mungkin nafsu meniadakan nafsu, atau nafsu mengalahkan dirinya sendiri? Tidak mungkin! Bahkan akal pikiran yang sudah dipengaruhi nafsu daya rendah itu membela pekerjaan nafsu.

   Contohnya banyak kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan dalam kehidupan kita ini. Adakah manusia yang tidak menyadari akan perbuatannya yang benar? Adakah seorang pun pencuri yang tidak tahu bahwa mencuri itu buruk? Adakah seorang koruptor yang tidak tahu bahwa korupsi itu jahat dan buruk? Semua tahu belaka! Seperti contoh ter-dekat dan teringan, adakah seorang pun perokok atau pemabuk yang tidak tahu bahwa merokok atau bermabukan itu tidak baik? Tentu tidak ada! Setiap orang tahu, akan tetapi apa daya? Pengetahuan ini tidak mampu menghentikan ikatan pengaruh nafsu. Yang berjudi, walau tahu benar bahwa berjudi itu tidak baik, tidak mampu menghenti-kan kebiasaannya berjudi! Demikian pula dengan perokok, pencuri, koruptor dan sebagainya!

   Kenapa begitu? Karena pengetahuan itu ada di pikiran, dan pikirannya pun sudah bergelimang nafsu. Bahkan hati akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu membela perbuatan-perbuatan itu. Seorang pencuri dibela pikirannya sendiri bahwa dia mencuri karena terpaksa, karena tidak ada pekerjaan, karena ingin menghidupi keluarga, dan sebagainya. Seorang koruptor dibela oleh pikirannya sendiri bahwa dia korupsi karena semua orang pun melaku-kannya, karena gajinya tidak mencukupi karena keluarganya ingin hidup mewah, dan seribu satu macam alasan lagi.Kalau semua usaha gagal, lalu apa yang harus kita lakukan untuk menanggulangi pengaruh nafsu kita sendiri? Dalam pertanyaan ini sudah terkandung jawabannya. Selama kita berusaha melakukan sesuatu, kita tidak akan berhasil, karena yang berusaha menundukkan nafsu adalah nafsu itu sendiri.

   Kalau kita sudah ingin menundukkan nafsu, hanya waspada mengamati gejolak nafsu kita, tanpa ada keinginan mengubahnya, maka akan terjadi perubahan! Tanpa adanya si-aku yang berusaha, tanpa adanya si-aku yang alias nafsu melalui pikiran yang merajalela, nafsu bagaikan api yang tidak ditambah minyak. Kekuasaan Tuhan akan bekerja! Dalam urusan kehidupan sehari-hari, mencari sandang pangan papan, hidup sebagai manusia yang berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tentu saja kita harus mempergunakan hati akal pikiran. Akan tetapi dalam urusan rohanian, alat-alat jasmani kita tidak berdaya. Hanya kekuasaan Tuhan yang mutlak berkuasa. Maka, kita hanya menyerah! Kekuasaan Tuhan yang akan mengembalikan nafsu-nafsu kita pada kedudukan asalnya, yaitu menjadi peserta dan alat kita, bukan sebaliknya kita yang diperalat.

   "Yo-twako, sebenarnya, apa sih yang kita cari di dunia ini? Mengapa dalam kehidupan ini selalu kita dipermainkan senang dan susah, puas dan kecewa? Bahkan apa yang menyenangkan menjadi membosankan. Kenyataan hidup terlalu sering berlawanan dengan apa yang kita idamkan dan harapkan. Sekelumit kesenangan segera diseling segunung kesusahan. Bukankah kita manusia ini se-perti selalu mencari-cari? Apa yang kita cari? Kebahagiaan? Di mana dan apa kebahagiaan itu? Pertanyaan ini selalu menggangguku dan sudah kutanyakan kepada banyak sekali orang-orang pandai, namun tak pernah aku memperoleh jawaban yang meyakinkan dan memuaskan."

   Yo Han tersenyum lebar.

   "Pertanyaanmu itu agaknya telah menjadi pertanyaan dunia sepanjang masa, pertanyaan seluruh manusia di permukaan bumi ini, Cia-te. Kita mencari-cari kebahagiaan, mengejar-ngejar kebahagiaan, namun tak pernah menemukannya. Kalau ada kalanya merasa menemukan, ternyata dalam waktu singkat yang kita tadinya anggap sebagai kebahagiaan itu berubah menjadi kesengsaraan. Kita mengejar dan mencari terus selama kita hidup."

   "Akan tetapi, adakah orang yang benar-benar menemukan kebahagiaan itu, Twako? Dan dimanakah sebenarnya kebahagiaan itu?"

   "Cia-te. Mari kita selidiki bersama. Mungkinkah kita mencari sesuatu yapg tidak kita kenal?"

   "Tentu saja mustahil!"

   Jawab sang pangeran tanpa ragu.

   "Tepat. Karena itu, sebelum kita bertanya di mana adanya kebahagiaan yang kita cari. Apakah kebahagiaan itu, Cia-te?"

   "Kebahagiaan! Tentu saja kebahagiaan adalah suatu perasaan, yaitu perasaan bahagia!"

   "Kalau begitu pertanyaan yang menyusul. Apakah engkau pernah mengalami perasaan bahagia itu, Cia-te?"

   Pangeran Cia Sun tertegun dan mengingat-ingat, lalu mengangguk-angguk.

   "Rasanya pernah dan sering malah. Kalau aku merasa bebas dari kepusingan apa pun, merasa bebas dan lega, seperti ketika aku berada seorang diri di tepi laut yang sunyi, seperti kalau aku berada di puncak gunung yang sunyi pada suatu senja memandang matahari tenggelam, seolah-olah aku melayang di antara sinar senja, ketika aku saling tatap dan bercakap-cakap dengan Eng-moi, yah, seringkali aku merasakan itu mungkin aku selalu mencari-cari saat atau detik-detik seperti itu...."

   "Nah, itulah, Cia-te! Sekali saat kita merasa berbahagia seperti yang kau alami itu. Akan tetapi nafsu menguasai hati akal pikiran. Karena nafsu selalu mengejar keenakan dan kesenangan, maka nafsu di hati akal pikiran membuat kita ingin mengabadikan perasaan bahagia di saat itu! Kita ingin memilikinya! Dan kita terseret oleh nafsu, yaitu menjadikan saat indah dan suci itu menjadi semacam kesenangan. Jadi, yang kita cari selama ini, yang dicari-cari oleh setiap orang manusia di dunia ini, hanyalah kesenangan yang mengenakan topeng kebahagiaan. Yang dapat dikejar oleh kesenangan, Cia-te. Mudah saja mengejar kesenangan makanan nafsu itu, melalui mata, hidung, telinga, mulut dan lain anggauta badan luar dan dalam. Kesenangan timbul dari kenangan, dari pengalaman, diulang-ulang, karenanya mati dan selalu disusul kebosanan. Kebahagiaan sudah ada dan selalu ada, hidup bagaikan awan berarak di angkasa, bagaikan gelombang di samudera, tak dapat ditangkap dan dimiliki, tak dapat diulang-ulang, dirasakan saat demi saat tanpa bayangan kenangan masa lalu."

   Pangeran Cia Sun tertawa dan memegangi kepala dengan kedua tangannya.

   "Aduh, kepalaku yang pening, Twako. Apakah kalau begitu, menurut Twako, amat tidak baik kalau dalam hidup ini kita bersenang-senang?"Yo Han tertawa pula.

   "Wah, bukan begitu, Cia-te! Menikmati keenakan dan kesenangan dalam hidup merupakan anugerah yang sudah sepatutnya kita nikmati. Kita berhak menikmati keenakan dan kesenangan melalui panca-indra. Akan tetapi, diperhamba nafsu lain lagi akibatnya. Kita lalu menjadi hamba, setiap saat hanya mengejar-ngejar dan mencari-cari kesenangan dengan melupakan segala macam cara. Di sini perlunya kita mempergunakan alat kita yang lain, yaitu akal budi, untuk mempertimbangkan, kesenangan macam apa yang baik dan tidak baik, yang sehat dan tidak sehat. Engkau tentu mengerti apa yang kumaksudkan."

   Pangeran itu mengangguk-angguk.

   "Sekarang, bagaimana baiknya, Twako? Aku sebenarnya ingin sekali memperisteri Eng-moi, akan tetapi jelas bahwa ayahnya pasti tidak akan menyetujuinya. Dia anti pemerintah, anti Mancu, sedangkan aku seorang pangeran Mancu."

   "Memang keadaan kalian itu sulit sekali, Cia-te. Akan tetapi, aku tetap yakin bahwa lahir, jodoh dan mati ditentukan dan sudah diatur oleh kekuasaan Tuhan. Maka, bersabarlah dan sebaiknya sekarang engkau kembali dulu karena dipanggil keluargamu. Sebaliknya kalau kau ceritakan persoalanmu kepada orang tuamu. Mungkin mereka akan dapat menemukan jalan sehingga akhirnya engkau akan dapat berjodoh dengan kekasihmu itu."

   Pangeran itu menggeleng-geleng kepalanya dengan sedih.

   "Agaknya mustahil kalau ayah mengijinkan aku menikah dengan Eng-moi, kalau dia mengetahui bahwa Eng-moi adalah puteri ketua Pao-beng-pai yang menentang pemerintah."

   "Kalau begitu, lebih sulit lagi. Akan tetapi percayalah, Cia-te, betapapun sulit dan mustahilnya suatu urusan bagi kita manusia, kalau Tuhan menghendaki, segala kesulitan itu akan terlampaui dan perkara dapat diatasi dengan segala ikh-tiarmu dengan penyerahan kepada kekuasaanNya."

   "Dan sekarang, engkau sendiri hendak ke mana, Twako? Aku akan kembali ke kota raja. Maukah engkau ikut denganku ke sana? Akan kuperkenalkan kepada ayah ibuku."

   Diam-diam Yo Han merasa ngeri. Ikut ke sana dan bertemu dengan Sian Li? Ah, tidak! Dia tidak ingin membuat adik angkatnya ini menjadi terganggu kalau tahu bahwa dia memiliki hubungan dekat sekali dengan gadis tunangannya itu. Juga dia tidak mau membuat Sian Li menjadi rikuh. Di samping itu, dia pun tidak ingin menyiksa diri sendiri dengan menyaksikan pertunangan antara adik angkatnya dengan gadis yang dicintanya.

   
Si Tangan Sakti Karya Kho Ping Hoo di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

   
"Terima kasih, Cia-te. Akan tetapi, aku harus melanjutkan pelaksanaan tugasku, yaitu mencari puteri bibi guruku yang hilang sejak kecil itu."

   "Pekerjaan yang teramat sulit, Twako. Bagaimana mungkin mencari seorang yang belum pernah kau kenal sama sekali? Apalagi ia hilang ketika berusia tiga tahun dan jarak waktunya sudah dua puluh tahun. Ia sendiri mungkin tidak ingat lagi akan keadaan dirinya ketika berusia tiga tahun."

   "Tidak ada perkara yang sulit, kalau saja aku dibimbing kekuasaan Tuhan, Cia-te. Engkau tentu ingat kata-kataku tadi. Aku tidak akan putus asa dan akan terus mencari. Setidaknya, aku mengetahui tanda pada tubuhnya ketika ia lahir, yaitu di pundak kirinya dan di kaki kanannya."

   Pangeran itu tertawa geli.

   "Ha-ha-ha, sekarang mengertilah aku mengapa gadis yang mengirim surat Eng-moi kepadaku melalui jarum yang disambitkan padamu itu memaki-makimu! Kiranya engkau pernah menyang-ka gadis itu sebagai gadis yang kau cari dan engkau tentu membuka bajunya untuk melihat pundaknya, juga membuka sepatunya untuk melihat kakinya. Pantas ia marah-marah!"

   Pangeran itu tertawa geli dan Yo Han juga ikut tertawa dengan muka kemerahan.

   "Apalagi ketika engkau menjawabnya dengan sikap kasar, aku sempat terheran-heran melihat sikapmu, Twako. Eh, kiranya engkau bersandiwara dan tahu bahwa gadis itu tentu mempunyai maksud tertentu. Nyatanya ia menyambitmu dengan jarum yang ada surat Eng-moi sehingga kita dapat siap melaksanakan sandiwara ketika Eng-moi datang membebas-kan kita."

   "Memang itulah gadis yang disuruh Siangkoan Kok untuk menjebakku. Baru kemudian kuketahui bahwa dia adalah murid terbaik dari ketua Pao-beng-pai itu. Nah, sekarang sebaiknya kita saling berpisah di sini, Cia-te. Percayalah, ka-lau engkau memang berjodoh dengan nona Siangkoan Eng, kelak engkau pasti dapat menjadi suaminya, dan kalau tugasku selesai, kelak pada suatu hari aku pasti akan mengunjungimu di kota raja."

   Dua orang pemuda itu bangkit dan setelah saling memberi hormat dan saling rangkul, mereka mengambil jalan masing-masing. Pangeran Cia Sun kembali ke kota raja sedangkan Yo Han mengambil jalan yang belum dia ketahui menuju ke mana karena dia pun tidak tahu ke mana harus mencari Sim Hui Eng. Dia akan melanjutkan ikhtiarnya itu dengan menghubungi orang-orang di dunia kang-ouw, terutama golongan sesat untuk menyelidiki siapa pelaku penculikan atas diri puteri bibi gurunya itu.

   Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun. Tubuhnya sedang namun tegap dengan dada yang bidang dan kekar dengan otot-otot menggelembung sehingga nampak jantan dan gagah. Wa-jahnya juga tampan dan bersih, alisnya tebal, hidungnya mancung dan mulutnya memiliki bentuk yang manis, dengan dagu kokoh dan matanya mencorong seperti bintang. Pakaiannya sederhana bentuk-nya, namun bersih, dan rambutnya pun tersisir rapi. Seorang pemuda yang tampan dan gagah.

   Apalagi pada pagi hari itu, dia berlatih silat seorang diri di bawah pohon besar itu dengan gerakan yang perkasa, cepat tangkas dan mengandung tenaga yang amat kuat sehingga daun-daun pohon itu bergoyang-goyang seperti dilanda angin. Makin lama, gerakan pemuda itu semakin cepat dan tiba-tiba, sambil membalikkan tubuhnya, tangannya bergerak memukul ke arah sebatang pohon sebesar paha orang. Tangan itu tidak sampai menyentuh batang pohon, ada satu setengah meter jaraknya, namun terdengar suara "kraaakkk!"

   Dan batang pohon itu pun patah dan tumbang! Mulut pemuda itu kini tertarik dan menyeringai aneh, dan pada saat itu, nampak berkelebat seekor burung yang terkejut mendengar robohnya pohon kecil itu. Burung itu terbang dekat pohon besar dan pemuda itu tiba-tiba saja meloncat ke atas dan tangannya bergerak ke arah burung.

   Burung itu tiba-tiba terjatuh seperti sebuah batu dan disambar oleh tangan pemuda itu yang juga melayang turun. Sambil membuang bangkai burung itu, dia menengadah, lalu wajah yang tampan itu menyerigai, dan dia pun tertawa bergelak seperti kesetanan! Lalu dia berjongkok, memeriksa bangkai burung yang sudah menjadi hitam seluruh tubuhnya, keracunan. Kembali dia tertawa, akan tetapi tawa ini aneh karena berhenti tiba-tiba seperti tercekik. Dia lalu memandang ke sekeliling, seolah-olah takut kalau ada yang melihat atau mendengarnya, kemudian dia pun meloncat dan menyelinap ke balik semuk belukar dan tahu-tahu tubuhnya lenyap. Kalau ada orang yang melihat dan mencarinya, menyingkap semak belukar, orang itu tentu akan melihat adanya sebuah sumur yang amat dalam di balik semak belukar itu.

   Sumur yang tua dan kalau dilihat dari atas, tidak nampak dasarnya, saking dalam dan gelapnya. Dapat dibayangkan betapa besar bahayanya kalau orang berani menuruni sumur itu, dengan tangga atau tali sekalipun, karena dia tidak tahu apa yang berada di dasar sumur. Mungkin gas beracun, atau ular berbisa. Orang itu tentu akan semakin heran dan kagum kalau melihat betapa pemuda tadi memasuki sumur dengan cara merayap melalui dinding sumur. Gerakannya cepat seperti seekor cicak saja yang merayap menuruni dinding! Dan kini, pemuda itu sudah berada di ruangan bawah tanah yang mendapat sinar matahari dari celah-celah batu retak di atas. Pemuda itu tertawa-tawa seorang diri, menghadapi sebuah dinding yang penuh dengan coret-coretan huruf dan gambar-gambar yang sebagian sudah terhapus.

   "Ha-ha-ha-ha-ha, susiok-kong (kakek paman guru) Ciu Lam Hok yang buntung kaki tangannya itu mencoba untuk melenyapkan Bu-kek-hoat-keng! Ha-ha-ha, arwahnya tentu sekarang akan cemberut kalau melihat betapa usahanya itu tidak sempurna, dan bahwa ilmu Bu-kek-hoat-keng akhirnya dapat dimiliki orang yang paling berhak, yaitu aku, Ouw Seng Bu, ha-ha-ha!"

   Seperti orang sinting pemuda itu tertawa-tawa dan kini dia menggunakan kedua tangannya menggaruk-garuk ke permukaan dinding batu. Sungguh hebat bukan main. Gerakan jari-jari tangannya itu membuat dinding batu rontok bagaikan tepung saja, seolah-olah dinding batu itu hanya merupakan tanah yang lunak. Sebentar saja, terhapuslah sudah semua huruf dan gambar yang tercoret di dinding itu. Siapakah pemuda itu.

   Seperti kata-katanya tadi, dia bernama Ouw Seng Bu dan merupakan seorang tokoh muda dari Thian-li-pang. Belasan tahun yang lalu, ketika dia sendiri masih seorang anak laki-laki kecil berusia delapan atau sembilan tahun, Thian-li-pang, perkumpulan orang-orang gagah anti penjajah Mancu itu dipimpin oleh mendiang Ouw Ban sebagai ketuanya. Ouw Ban mempunyai dua orang putera, yang pertama adalah Ouw Cun Ki yang diselundupkan ke istana untuk membunuh kaisar Mancu, akan tetapi tertawan dan dihukum mati. Yang ke dua adalah Ouw Seng Bu yang ketika peristiwa itu terjadi, masih kecil. Kemudian, terjadi perpecahan di kalangan para pimpinan Thian-li-pang sehingga Ouw Ban tewas di tangan guru-gurunya sendiri, yaitu mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong (baca kisah Si Bangau Merah).

   Kemudian, muncul Yo Han yang secara kebetulan mewarisi ilmu kepandaian kakek yang buntung kaki tangannya di dalam sumur rahasia, yaitu mendiang kakek Ciu Lam Hok, sute dari Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong yang memiliki ilmu kesaktian hebat. Munculnya Yo Han membersihkan Thian-li-pang dari pengaruh-pengaruh sesat dan jahat partai-partai lain seperti Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai dan kehadiran Yo Han menyerahkan pimpinan Thian-li-pang, kepada Lauw Kang Hui sebagai ketuanya. Lauw Kang Hui telah sadar dan membawa kembali Thian-li-pang ke jalan lurus, sebagai perkumpulan orang gagah yang menentang penjajah Mancu. Juga dia merasa iba. kepada Ouw Seng Bu, putera suhengnya dan mengajarkan ilmu silat kepada keponakannya itu. Ouw Seng Bu berlatih dengan rajin.

   Di depan paman guru yang kini menjadi gurunya dan di depan para tokoh Thian-li-pang, dia memperlihat-kan sikap sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa dan pendiam. Namun, pemuda ini tidak pernah melupakan pesan mendiang ayahnya dahulu ketika dia masih kecil bahwa sekali waktu, dia harus berani menyelidiki dan memasuki sumur di bawah tanah, mencari peninggalan kakek paman gurunya yang sakti. Demikianlah, setelah dia memiliki ilmu kepandaian dan cukup gagah, dalam usia delapan belas tahun, dia nekat mencari dan menemukan sumur di balik semak belukar itu dan nekat memasukinya dengan tali yang panjang. Setelah mencari-cari dan membongkar-bongkar batu besar di dalam gua dan terowongan di bawah tanah, akhirnya dia menemukan dinding penuh coretan dan gambaran itu yang tadinya tertutup batu besar.

   Agaknya kakek Ciu Lam Hok dahulu pernah membuat coretan dan gambaran di dinding itu, kemudian menghapus sebagian dan menutupi dinding dengan batu besar. Dia pun tahu bahwa itulah ilmu Bu-kek-hoat-keng yang merupakan ilmu rahasia kakek buntung itu, maka dengan penuh ketekunan dia mulai mempelajari ilmu itu secara rahasia. Selama lima tahun dia rajin belajar tanpa
(Lanjut ke Jilid 08)
Si Tangan Sakti (Seri ke 16 - Serial Bu Kek Siansu)
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

   Jilid 08
mengetahui bahwa karena ilmu yang aneh itu tidak lengkap, maka dia pun menyimpang dari jalur yang semestinya. Tanpa disadarinya, dia telah melakukan latihan yang salah, bahkan kadang-kadang berlawanan. Berkali-kali dia jatuh pingsan karena salah pengerahan tenaga sin-kang, akan tetapi akhirnya, setelah lima tahun belajar dengan tekun dan rahasia, tanpa diketahui siapapun juga, dia berhasil menguasai ilmu yang aneh dan dahsyat bukan main.

   Tanpa disadari, penyelewengan cara latihan yang salah itu juga mendatangkan perubahan pada dasar wataknya, pusat susunan syarafnya. Dia memang masih nampak pendiam dan lembut, jujur dan baik di depan para pimpinan Thian-li-pang, akan tetapi pada saat-saat tertentu, kalau dia sedang berada seorang diri, terutama sekali sehabis dia berlatih ilmu silat Bu-kekhoat-keng yang tidak lengkap itu, dia menjadi seperti kesetanan, seperti sinting, tertawa-tawa sendiri, kadang-kadang menangis sendiri, dan pandang matanya yang biasanya lembut dan jujur itu mencorong penuh kecerdikan! Juga latihan yang salah itu membuat dia berhasil menguasai pukulan yang mengandung hawa beracun yang dapat membuat yang dipukulnya tewas dengan tubuh menghitam seperti menjadi hangus!

   Hal ini diketahuinya ketika beberapa kali dia menguji kecepatannya, membunuh burung atau binatang lain yang ditemuinya. Sekali pukul, binatang itu akan tewas dengan tubuh hangus! Pagi hari itu, dia merasa telah menamatkan ilmunya, maka dia menghapus semua coretan di dinding itu dengan jari-jari tangannya yang memiliki kekuatan demikian dahsyatnya sehingga sekali garuk saja permukaan dinding itu rontok dan semua coretan lenyap. Setelah merasa puas karena di situ tidak terdapat apa pun juga yang dapat dipelajari orang lain, Ouw Seng Bu lalu merayap keluar dari dalam terowongan gua bawah tanah melalui sumur, menutupkan kembali sumur itu dengan semak belukar, kemudian dia pun berjalan dengan santai kembali ke markas Thian-li-pang yang berada di dekat puncak Bukit Naga. Matahari sudah mulai meninggi dan cuaca cerah sekali.

   Wajah pemuda itu kini kembali menjadi lembut dan senyumnya ramah gembira, jauh berbeda dengan ketika dia berlatih silat dan di dalam tanah tadi. Dia kini menjadi seorang pemuda yang nampak ramah dan murah senyum, pendiam dan lembut menyenangkan! Ketua Thian-li-pang yang bernama Lauw Kang Hui ini telah tua sekali, usianya sudah tujuh puluh tiga tahun. Biarpun dia masih nampak tinggi besar dengan muka merah, gagah dan berwi-bawa, namun bagaimana-pun juga, usia tua membuat semangatnya banyak menurun. Diam-diam Lauw Kang Hui sedang melihat-lihat siapa kiranya yang pantas untuk dijadikan penggantinya. Dia sendiri tidak mempunyai keturunan, dan di antara para anggauta Thian-li-pang dan murid-muridnya, hanya ada dua orang muridnya yang agaknya cukup dapat dipercaya.

   Yang pertama adalah murid wanita yang telah berusia empat puluh tahun, berwajah buruk dan berwatak kasar namun setia kepada Thian-li-pang, bernama Lu Sek. Wanita ini sudah janda dan tidak mempunyai anak. Suaminya tewas dalam pertempuran membela Thian-li-pang. Bahkan, menurut penilaian Lauw Kang Hui, di antara para muridnya, Lu Sek ini yang paling lihai, memiliki tingkat yang paling tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan apa yang dicapai Ouw Seng Bu, yaitu murid ke dua yang dipercayanya dan dianggap merupakan calon penggantinya. Dia masih bimbang, apakah harus menunjuk Lu Sek ataukah Ouw Seng Bu untuk menjadi penggantinya, menjadi ketua Thian-li-pang. Lu Sek, biarpun wanita, berwibawa dan penuh semangat. Juga janda itu memiliki hubungan dekat dengan Lauw Kin, duda yang berusia lima puluh tahun dan tidak mempunyai anak pula.

   Lauw Kin masih keponakan Lauw Kang Hui sendiri, putera tunggal adiknya yang mati muda. Hati ketua itu lebih condong memilih Lu Sek untuk menjadi calon penggantinya. Ilmu silatnya yang paling tinggi di antara semua murid Thian-li-pang, apalagi kalau dibantu Lauw Kin yang mungkin menjadi suaminya. Selain itu, agak tidak enak hatinya kalau mencalonkan Ouw Seng Bu, karena bagaimanapun juga, Seng Bu adalah putera mendiang suhengnya, Ouw Ban yang pernah menjadi ketua Thian-li-pang, yang telah menyelewengkan Thian-li-pang ke jalan sesat. Lauw-pangcu (Ketua Lauw) telah sarapan pagi dan duduk di ruangan depan ketika dia melihat Seng Bu melangkah masuk dari luar. Kebetulan sekali, pikir-nya. Dia harus lebih dahulu memberitahu muridnya itu agar kalau pada suatu hari dia mengambil keputusan, muridnya ini tidak merasa kecewa.

   Beberapa kali dalam sikap muridnya itu dia melihat tanda bahwa Seng Bu mengharap-kan kelak menjadi ketua Thian-li-pang, bahkan para tokoh Thian-li-pang sebagian besar juga menduga bahwa pemuda yang pandai membawa diri ini pantas menjadi calon penggantinya. Kalau saja di situ terdapat Pendekar Tangan Sakti Yo Han, tentu tidak sukar baginya untuk mengambil keputusan ber-dasarkan petunjuk pendekar muda yang sakti itu. Akan tetapi, sudah lima tahun lebih Yo Han yang dianggap menjadi pemimpin besar atau penasihat Thian-li-pang tidak pernah terdengar beritanya. Dia harus mengambil keputusan sendiri dan dia harus dapat bersikap bijaksana demi keutuhan para tokoh Thian-li-pang. Dia berteriak memanggil nama muridnya itu. Seng Bu cepat memasuki ruangan di mana gurunya duduk seorang diri, dan dia lalu memberi hormat dan mengucapkan selamat pagi.

   "Duduklah di sini, Seng Bu,"

   Kata ketua yang sudah berusia lanjut itu sambil menunjuk ke arah sebuah kursi di depannya, sebelum muridnya itu berlutut.

   "Terima kasih, Suhu,"

   Kata Seng Bu yang merasa heran dan tahu bahwa tentu ada urusan penting maka suhunya mempersilakannya duduk di kursi, tidak membiarkan dia berlutut seperti biasa. Dia duduk dan menundukkan muka dengan sikap siap mendengarkan dan mentaati semua perintah gurunya.

   "Seng Bu, apakah engkau sudah sarapan pagi dan dari mana engkau sepagi ini sudah berkeringat?"

   "Teecu baru saja berlatih silat, Suhu, nanti setelah mandi teecu akan sarapan di dapur,"

   Jawab Seng Bu dengan sikap hormat.

   "Bagus, engkau memang rajin. Kalau engkau mencontoh suci-mu Lu Sek rajinnya dalam berlatih silat, kurasa engkau akan mampu mencapai tingkatnya."

   "Teecu tidak berani, Suhu. Tidak mungkin mengejar Lu-suci yang amat lihai."

   Lauw Kang Hui tersenyum. Muridnya ini selalu bersikap rendah diri dan sopan, selalu menyenangkan hati orang lain.

   "Seng Bu, apakah dua ilmu simpananku yang terakhir kuajarkan padamu, sudah dapat kau kuasai dengan baik?"

   "Suhu maksudkan Tok-jiauw-kang (Cengkeraman Beracun) dan Kiam-ciang (Tangan Pedang)? Setiap hari teecu sudah berlatih diri dengan tekun dan mohon petunjuk Suhu."

   Lauw Kang Hui menghela napas panjang.

   "Aku sudah terlalu tua untuk dapat berlatih dengan kedua ilmu itu denganmu, Seng Bu. Sebaiknya engkau minta kepada Lu Sek untuk latihan bersama agar engkau dapat memperoleh banyak kemajuan."

   "Baik, Suhu. Teecu (murid) akan mohon bantuan Lu-suci."

   "Aku ingin sekali lagi mengingatkanmu, Seng Bu. Hanya kepada Lu Sek dan engkau dua orang sajalah aku mengajarkan dua ilmu simpananku itu. Oleh karena itu, jangan dilupakan bahwa kedua macam ilmu itu adalah ilmu yang amat berbahaya dan mematikan lawan. Kalau engkau tidak terancam maut dan terpaksa sekali, jangan engkau menggunakan ilmu-ilmu itu untuk menyerang lawan. Mengerti?"

   "Teecu mengerti, Suhu"

   Lauw Kang Hui menghela napas panjang.

   "Sampai sekarang kalau teringat aku masih merasa menyesal bukan main karena dahulu aku pernah mempergunakan kedua ilmu secara sembarangan sehingga menjatuhkan banyak korban yang tidak semestinya kubunuh. Sekarang aku menghendaki agar seluruh murid Thian-li-pang, selain menjadi patriot-patriot yang menentang penjajah Mancu, juga menjadi pendekar-pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, dan tidak mempergunakan ilmu untuk memaksakan kehendak dan berbuat kejahatan."

   "Teecu mengerti."

   "Ingat, kalau sampai terjadi penyelewengan oleh siapapun juga, andaikata aku yang sudah tua tidak mampu lagi menghukum, kelak kalau Sin-ciang Tai-hiap Yo Han datang berkunjung, dia tentu akan turun tangan dan menindak mereka yang melakukan penyelewengan."

   "Teecu mengerti, Suhu."

   Seng Bu menunduk menyembunyikan senyum mengejek yang mendesak keluar ke mulutnya. Lalu dia bersikap biasa dan hormat kembali, mengangkat mukanya yang jujur dan bertanya kepada suhunya,

   "Suhu, apakah Sin-ciang Tai-hiap itu luar biasa lihainya? Apakah Suhu sendiri tidak akan mampu menandinginya?"

   Lauw Kang Hui tersenyum.

   "Ha-ha-ha, Seng Bu, jangan samakan aku dengan dia! Bahkan kedua orang kakek gurumu sekalipun, yaitu mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong, tidak akan mampu menandingi Pendekar Tangan Sakti Yo Han."

   "Luar biasa sekali! Bukankah usianya masih sangat muda, Suhu? Hanya beberapa tahun lebih tua dari teecu? Teecu masih ingat ketika masih kanak-kanak, dia tidak banyak lebih tua dari teecu."

   "Benar, dia hanya beberapa tahun lebih tua darimu. Akan tetapi, dia telah mewarisi ilmu yang mujijat dari kakek paman gurumu, mendiang supek Ciu Lam Hok di sumur bawah tanah."

   "Maaf, Suhu. Teecu mendengar bahwa kakek itu buntung kaki dan tangannya. Dalam keadaan seperti itu, ilmu silat macam bagaimanakah yang dapat beliau ajarkan kepada Sin-ciang Tai-hiap?"

   Lauw Kang Hui menghela napas panjang.

   "Ilmu yang mujijat, ilmu yang luar biasa dan tiada keduanya di dunia ini. Ilmu itu disebut Bu-kek-hoat-keng dan hanya Sin-ciang Tai-hiap seorang saja yang menguasainya. Sukar dicari tandingannya."

   "Suhu maksudkan bahwa kalau memiliki ilmu Bu-kek-hoat-keng itu, orang akan dapat menjadi jagoan nomor satu di dunia persilatan?"

   Lauw Kang Hui mengangguk-angguk.

   "Mungkin saja. Akan tetapi, Yo Han Taihiap bukan orang semacam itu. Tidak, dia tidak mau menonjolkan diri, bahkan menjadi ketua Thian-li-pang saja dia menolaknya. Karena dia maka Thian-li-pang harus menjaga diri menjadi perkumpulan yang gagah dan menegakkan kebenaran dan keadilan."

   "Teecu mengerti, Suhu. Bolehkah teecu mengundurkan diri sekarang untuk pergi mandi?"

   "Nanti dulu, ada satu hal lagi ingin kubicarakan denganmu, Seng Bu."

   "Urusan apakah itu, Suhu? Teecu siap mendengarkan."

   "Engkau tentu tahu bahwa mengurus Thian-li-pang tidaklah mudah, selain harus ketat mengawasi sepak terjang anak buah Thian-li-pang, juga harus mampu menghadapi ancaman dari luar. Aku sekarang sudah semakin tua dan lemah, kurang bersemangat. Coba katakan, siapakah di antara para anggauta Thian-li-pang yang waktu ini memiliki ilmu kepandaian silat paling tinggi sesudah aku, Seng Bu?"

   Siapa lagi kalau bukan aku, bisik hati pemuda itu. Bahkan suhunya sendiri pun tidak akan mampu menandinginya! Akan tetapi mulutnya menjawab tanpa ragu,

   "Tentu saja Lu-suci, Suhu."

   "Tepat sekali Seng Bu. Oleh karena itu, kurasa engkau pun akan setuju kalau aku mengangkat suci-mu itu menjadi calon penggantiku, menjadi calon ketua Thian-li-pang, bukan?"

   "Teecu setuju, Suhu."

   Katanya sambil menunduk, karena dia harus menyembunyikan lagi tarikan sinis pada mulutnya.

   "Melihat hubungan suci-mu dengan suhengmu Lauw Kin, kurasa mereka akan menjadi pasangan yang akan mampu me-mimpin Thian-li-pang. Dan engkaulah yang kuharapkan akan dapat membantu mereka. Maukah engkau berjanji untuk membantu mereka sekuat tenagamu, Seng Bu? Karena engkaulah orang ke dua yang kupercaya setelah suci-mu."

   "Teecu berjanji akan membantu Lu-suci, Suhu."

   "Bagus! Legalah hatiku sekarang dan besok kita mengadakan upacara besar, mengumpukan seluruh anggauta untuk mengumumkan pengangkatan Lu Sek menjadi calon ketua Thian-li-pang, Lauw Kin menjadi wakil ketua dan engkau menjadi pembantu utama. Nah, sekarang engkau boleh pergi."

   Pada keesokan harinya, pagi-pagi seluruh anggauta Thian-li-pang telah berkumpul di ruangan besar yang biasa dipergunakan untuk rapat dan juga berlatih silat. Dibawah bimbingan Lauw Kang Hui, Thian-li-pang dalam lima tahun lebih ini sejak kematian Ouw Ban, telah kembali ke jalan benar. Akan tetapi, banyak anggauta yang dikeluarkan dan disaring sehingga kini hanya mempunyai sedikit saja. Namun, seluruh anggauta itu merupakan orang-orang gagah yang berwatak pendekar dan juga yang berjiwa patriot. Para anggauta yang langsung menjadi murid-murid Lauw Kang Hui hanya ada belasan orang.

   Yang terutama di antara mereka tentu saja adalah Lu Sek, Lauw Kin, dan Seng Bu. Para murid lain memiliki tingkat yang lebih rendah dari tiga orang ini, walaupun tentu saja mereka jauh lebih lihai daripada para anggauta biasa yang hanya mempelajari ilmu silat Thian-li-pang dari para murid ini. Selama ini, Lauw Kin yang mewakili pamannya, juga gurunya dan ketuanya, untuk membimbing para angauta dalam berlatih silat. Lu Sek mewakili ketua untuk urusan luar Thian-li-pang. oleh karena itu, desas-desus tentang akan diangkatnya kedua orang ini menjadi ketua dan wakil ketua, diterima olah para anggauta Thian-li-pang dengan wajar dan gembira karena memang selema ini kedua tokoh itulah yang aktif mewakili sang ketua yang sudah lanjut usia itu mengurusi Thian-li-pang bagian luar dan bagian dalam.

   Ketika Lauw Kang Hui keluar dari dalam, seluruh anggauta Thian-li-pang sudah berkumpul dan tiga belas orang murid ketua itu pun sudah berada di situ, paling depan dan mereka semua segera bangkit berdiri ketika Lauw-pang-cu muncul. Setelah menerima penghormatan semua murid dan anggauta Thian-li-pang, Lauw Kang Hui duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya. Setelah duduk, dia pun memberi isyarat kepada tiga belas orang muridnya yang mengambil tempat duduk di bangku yang tempatnya lebih rendah, sementara itu para anggauta Thian-li-pang tetap berdiri dengan rapi. Suasana menjadi hening karana semua anggauta tidak berani mengeluarkan suara, siap menanti untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ketua mereka. Juga para murid duduk dengan sikap tenang dan patuh.

   "Para murid dan anggauta Thian-li-pang semua, dengarlah baik-baik apa yang kukatakan dan laksanakan dengan patuh. Seperti kalian ketahui, lebih lima tahun sejak Sin-ciang Tai-hiap Yo Han menyerahkan kepemimpinan Thian-li-pang kepadaku, telah terjadi banyak perubahan. Biarpun dalam hal perjuangan kita belum dapat berbuat banyak, namun kita telah mampu membelokkan arah kemudi dan kembali ke jalan benar sebagai perkumpulan yang membela kebenaran dan keadilan, sesuai dengan apa yang diinginkan Pendekar Tangan Sakti. Akan tetapi, sekarang aku telah semakin tua, usiaku sudah tujuh puluh empat tahun sudah kekurangan semangat. Sudah lama kita, menanti-nanti datangnya Yo-taihiap, akan tetapi dia tidak kunjung datang. Oleh karena itu, sekarang aku akan menentukan pilihanku, untuk mengangkat calon-calon pimpinan Thian-li-pang sehingga kalau sewaktu-waktu aku mati, tidak akan terjadi kekacauan karena tidak ada pimpinan. Sementara itu, andaikata nanti Yo-taihiap datang dan tidak setuju dengan pilihanku, maka tentu saja calon yang kupilih dapat saja diganti sesuai dengan kehendak Yo-taihiap. Setujukah kalian semua?"

   Serentak seratus orang lebih itu menyambut dengan suara penuh semangat,

   "Setujuuuuu....!!"

   Sambil tersenyum gembira atas sambutan meriah itu, Lauw-pang-cu mengangkat tangan minta agar semua orang diam, lalu dia melanjutkan dengan suara gembira.

   "Bagus! Nah, sekarang hendak kuumumkan siapa yang kupilih menjadi calon pimpinan Thian-li-pang yang akan menggantikan aku sewaktu-waktu kukehendaki atau sewaktu-waktu aku meninggalkan dunia. Pertama, yang akan menjadi ketua adalah muridku Lu Sek. Biarpun ia seorang wanita, namun tingkat kepandaiannya adalah yang paling tinggi di antara kalian semua. Pula, ia sudah berpengalaman dan sudah biasa mewakili aku. Adapun yang menjadi wakilnya kutetapkan murid dan juga keponakanku Lauw Kin. Sedangkan pembantu utama mereka adalah muridku Ouw Seng. Kalau memang kelak dibutuhkan, ketua boleh mengangkat para pembantu lainnya. Setujukah kalian? Kalau ada yang tidak setuju, boleh mengajukan pendapatnya!"

   

Si Bangau Merah Eps 12 Kisah Si Bangau Putih Eps 20 Si Bangau Merah Eps 18

Cari Blog Ini