Ceritasilat Novel Online

Dewa Iblis 1

Pendekar Rajawali Sakti 38 Dewa Iblis Bagian 1


DEWA IBLIS Oleh Teguh Suprianto
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting: Puji S.
Gambar sampul oleh Tony G.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau
seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit
Teguh Suprianto
Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode:
Dewa Iblis Ebook: Abu Keisel
http://duniaabukeisel.blogspot.com
1 Dua ekor kuda berpacu cepat
melintasi padang rumput yang sangat luas bagai tak bertepi. Penunggang kuda itu
seorang laki-laki muda tampan. Rambutnya panjang meriap agak tergelung ke atas.
Bajunya rompi putih, dan pedangnya yang bergagang kepala burung menyembul dari
balik punggungnya. Pemuda itu menunggang kuda berwarna hitam kelam yang tinggi
dan tegap berotot.
Sedangkan penunggang kuda satunya lagi adalah seorang gadis cantik, mengenakan
baju ketat berwarna biru langit. Begitu ketatnya, sehingga memetakan bentuk
tubuhnya yang ramping dan indah. Sebilah pedang bergagang kepala naga tersandang
di punggungnya.
Kudanya berwarna putih bersih, tanpa belang sedikit pun. Kedua ekor kuda itu
digebah cepat bagai kesetanan melintasi padang rumput luas di Kaki Gunung Jaran.
Dua ekor kuda itu terus berpacu cepat menuju sebuah bukit yang ditumbuhi
pepohonan cukup lebat. Bukit itu sudah terlihat, namun masih cukup jauh untuk
mencapainya. Sementara sang surya semakin terik dengan sinarnya yang panas
membakar. Dua penunggang kuda itu berpacu cepat meninggalkan kepulan debu yang
membumbung tinggi ke
udara. Tapi tiba-tiba saja....
Swing...! "Awas...!" seru penunggang kuda hitam tiba-tiba.
"Hap!"
Tring! Tepat ketika sebuah benda
sepanjang jengkal tangan meluncur ke arah wanita berbaju biru itu, dengan cepat
dicabut sebuah senjata yang terselip di pinggangnya. Seketika dikebutkannya
untuk menyampok benda sepanjang jengkal tangan itu.
"Hup!"
"Yap...!"
Kedua penunggang kuda itu
berlompatan turun dari punggung kuda masing-masing. Mereka mengedarkan
pandangannya ke sekeliling. Memang tak ada tanda-tanda kehidupan di sekitar
padang rumput ini. Pandangan mereka kemudian tertuju pada sebuah benda seperti
ranting berwarna biru tua yang menancap di tanah. Ada bulu-bulu halus pada ujung
yang menyembul ke permukaan tanah. Pemuda berbaju rompi putih menghampiri dan
mencabut benda itu.
"Mata sumpit...," gumamnya pelan seraya memperhatikan benda di tangannya.
Bentuk benda itu hanya sepanjang jengkal tangan, bulat dan panjang dengan bulubulu halus pada ujungnya.
Sedangkan satu ujung lainnya begitu
runcing berkilat. Benda itu adalah mata sumpit yang biasa digunakan para pemburu
kelinci atau binatang-binatang kecil lainnya. Biasanya benda ini beracun, tapi
tidak berbahaya bagi manusia.
"Apa itu, Kakang?" tanya gadis berbaju biru seraya menghampiri.
"Mata sumpit," sahut pemuda
berbaju rompi putih seraya memberikan mata sumpit berwarna biru itu.
"Mungkin ada pemburu kelinci di sekitar sini, Kakang," kata gadis itu setengah
bergumam. "Mungkin.... Tapi tidak ada
perkampungan di sekitar Gunung Jaran ini."
"Atau...," suara gadis itu
terputus seketika, dan,... "Awas Kakang...!"
"Hap!"
Cepat sekali pemuda itu
mengibaskan tangannya ke samping, tepat ketika sebuah benda biru meluncur deras
ke arahnya. Ternyata benda itu sama dengan yang pertama.
Kedua anak muda itu menjadi semakin waspada. Jelas kalau mata sumpit ini bukan
dari seorang pemburu yang meleset sasarannya. Tapi lebih berat ditujukan pada
mereka berdua. "Hati-hati, Pandan. Rupanya ada orang yang tidak suka atas kehadiran kita di
sini," bisik pemuda berbaju
rompi putih itu.
"Baik," sahut gadis itu yang
dipanggil Pandan. Dia memang Pandan Wangi, yang berjuluk si Kipas Maut.
Sedangkan pemuda berbaju rompi putih itu tidak lain dari Rangga, Pendekar
Rajawali Sakti. Mereka kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menatap
tajam tanpa berkedip. Tapi tak ada satu tanda-tanda adanya kehidupan di sekitar
tempat ini. Bahkan tak terdengar sedikit pun suara-suara mencurigakan. Juga gerak-gerak
rerumputan begitu sempurna tersapu angin.
Tapi tiba-tiba saja....
"Auh...!" Pandan Wangi terpekik.
Sukar dipercaya! Mendadak saja dari dalam tanah menyembul sebuah tangan yang
langsung mencekal kaki gadis itu, dan berusaha menariknya ke dalam. Maka kaki
Pandan Wangi langsung melesak ke dalam tanah sampai ke betis.
"Kakang..., tolong!" seru Pandan Wangi terkejut.
"Tahan, Pandan! Hup...!
Hiyaaa...!"
Cepat sekali Rangga bertindak.
Pendekar Rajawali Sakti itu langsung melompat ke samping Pandan Wangi, lalu
menghantamkan satu pukulan keras ke dalam tanah, tepat di depan kaki gadis
berbaju biru itu. Kemudian dengan cepat pula Rangga melompat sambil meraih
pinggang Pandan Wangi.
Dua kali mereka berputaran di udara sebelum mendarat manis di tanah berumput.
Tampak wajah si Kipas Maut begitu pucat. Sedangkan Rangga mengedarkan
pandangannya berkeliling merayapi rerumputan di sekitarnya.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini, Kakang," usul Pandan Wangi, agak
bergetar suaranya.
"Naiklah ke kudamu, Pandan," ujar Rangga pelan.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Pandan Wangi langsung melentingkan tubuhnya,
dan hinggap di punggung kudanya. Wajahnya masih kelihatan pucat. Sungguh hatinya
masih diliputi keterkejutan akibat kakinya tertarik ke dalam tanah. Sedangkan
Rangga pelahan-lahan menggeser kakinya mendekati Dewa Bayu di samping kuda putih
yang ditunggangi si Kipas Maut.
"Cepat, Kakang...," desis Pandan Wangi.
"Baik! Hup...!"
Begitu Rangga berada di punggung kudanya, langsung menggebah kuda hitam itu agar
berlari kencang. Pandan Wangi segera memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Dua
ekor kuda kembali berpacu mendekati Gunung Jaran yang menjulang tinggi tertutup
kabut pada bagian
puncaknya. Kuda-kuda itu berpacu bagaikan berada di atas angin. Jelas sekali
kalau kuda putih yang
ditunggangi Pandan Wangi sukar untuk menyusul kuda hitam yang bernama Dewa Bayu.
"Kakang, tunggu...!" teriak
Pandan Wangi keras.
Rangga menoleh, dan langsung
memperlambat laju kudanya. Cukup jauh juga Pandan Wangi tertinggal di belakang.
Maka gadis itu harus memacu kudanya dengan kecepatan tinggi agar sampai di
samping Pendekar Rajawali Sakti. Rangga kembali menggebah Dewa Bayu setelah
Pandan Wangi berada di sampingnya. Mereka berkuda
berdampingan. Jelas kalau Rangga mengimbangi lari kuda putih yang tampak
kewalahan mengikuti lari kuda hitam yang bukan kuda sembarangan itu.
*** "Hooop...!"
Rangga menghentikan lari kudanya begitu tiba di tepi hutan Kaki Gunung Jaran.
Pandan Wangi mengikuti, dan langsung melompat turun dari punggung kudanya begitu
melihat Rangga sudah turun dari punggung kudanya sendiri.
Mereka berdiri berdampingan memandang ke padang rumput yang begitu luas bagai
tak bertepi di depan sana.
"Apa sebenarnya yang terjadi, Kakang?" tanya Pandan Wangi.
"Entahlah. Aku hanya melihat
sebuah tangan menyembul dari dalam tanah dan menarik kakimu ke dalam,"
sahut Rangga tanpa berpaling.
Kalau saja Pendekar Rajawali
Sakti itu berpaling, tentu akan melihat perubahan wajah Pandan Wangi yang begitu
cepat memerah bagai kepiting rebus. Sebentar kemudian wajah itu berubah memucat.
Tampak gadis itu bergidik sedikit,
membayangkan sebuah tangan menyembul dari dalam tanah dan mencengkeram kakinya.
"Kau tidak main-main, Kakang...?"
terdengar bergetar suara Pandan Wangi.
"Kenapa?" tanya Rangga seraya memalingkan mukanya.
Agak terkejut juga Pendekar
Rajawali Sakti itu saat melihat wajah Pandan Wangi begitu pucat dan tubuhnya
gemetar seperti menggigil kedinginan.
"Kau kenapa, Pandan?" tanya
Rangga. "Oh...! Ah, tidak. Tidak apaapa," sahut Pandan Wangi buru-buru memalingkan mukanya ke arah lain.
"Wajahmu pucat. Sakit...?"
"Tidak, Kakang. Aku
hanya..., hanya.... Ah, sudahlah," sahut Pandan Wangi tidak bisa menyembunyikan
kegugupannya. "Kau takut, Pandan?" tanya Rangga tidak percaya.
Pandan Wangi tidak langsung
menjawab. Memang gadis itu sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja mempunyai
perasaan yang belum pernah dirasakannya. Dia tidak tahu, apakah takut atau hanya
terkejut saja dengan kejadian tadi yang begitu tiba-tiba dan sulit dimengerti
ini. Sementara Rangga terus memperhatikan. Pendekar Rajawali Sakti itu tidak
percaya kalau Pandan Wangi jadi ketakutan setelah menceritakan peristiwanya.
"Sebaiknya kita teruskan saja perjalanan ini, Kakang," kata Pandan Wangi pelan.
"Sudah sore, Pandan. Sebentar lagi malam akan menjelang. Aku tidak tahu seberapa
luasnya hutan ini. Dan lagi aku begitu yakin kalau di hutan ini tidak ada satu
rumah pun yang bisa disinggahi," jelas Rangga seraya mengedarkan pandangannya ke
sekeliling. "Jadi..., kita bermalam di sini?"
kembali bergetar suara Pandan Wangi.
"Iya, kenapa...?" Rangga semakin heran saja melihat sikap Pandan Wangi yang
tidak seperti biasanya.
"Tidak apa-apa, Kakang. Hanya saja...," Pandan Wangi tidak
melanjutkan ucapannya.
Rangga ingin bertanya lagi, tapi
melihat wajah yang pucat begitu, segera diurungkan niatnya. Pendekar Rajawali
Sakti itu melangkah
dan memunguti ranting-ranting kering yang banyak tersebar di sekitar tempat ini.
Dan tentu saja untuk dijadikan api unggun. Ditumpuknya ranting itu di bawah
pohon dekat sebuah batu besar yang seperti seekor kerbau berkubang di dalam
lumpur. Sedangkan Pandan Wangi masih berdiri saja memandang ke arah padang
rumput yang baru
dilewatinya tadi.
"Pandan, kau punya pemantik api?"
tanya Rangga. "Ada, di pelana kudaku," sahut Pandan Wangi tanpa berpaling.
Rangga memandangi gadis itu
sejenak, kemudian menghampiri kuda putih dan membuka kantung pelana kuda itu.
Diambilnya pemantik api yang terbuat dari batu api berwarna putih bagai batu
pualam. Kemudian pemuda berbaju rompi putih itu kembali duduk di dekat tumpukan
ranting kering.
Sementara senja semakin merayap turun.
Keadaan di tepian Hutan Gunung Jaran ini semakin terasa suram. Angin mulai
berhembus menyebarkan hawa dingin.
Tidak lama lagi malam akan
menggantikan tugas sang mentari yang sepanjang hari telah menyinari permukaan
belahan bumi ini.
Dengan pemantik api itu, Rangga
membuat api unggun. Disimpannya kembali pemantik api itu di dalam saku pelana
kuda putih milik si Kipas Maut.
Kemudian Pendekar Rajawali Sakti membaringkan tubuhnya tidak jauh dari api yang
berkobar melahap ranting kering. Agar tidak merambat, Rangga menghalanginya
dengan batu-batu yang dibuat melingkar seperti cincin.
Diperhatikannya Pandan Wangi yang masih saja berdiri memandang padang rumput
yang mulai kelihatan gelap.
"Kau tidak pegal berdiri terus begitu, Pandan...?" tegur Rangga seraya beringsut
dan duduk bersandar pada batu sebesar badan kerbau.
Pandan Wangi menoleh dan
menghampiri, lalu duduk di samping Rangga agak ke depan. Namun
pandangannya kembali tertuju ke arah padang rumput yang terlihat jelas dari
tempat ini "Ada apa, Pandan" Kau melihat sesuatu di sana?" tanya Rangga seraya menggeser
tubuhnya mendekati gadis itu.
"Ah, tidak," sahut Pandan Wangi agak mendesah.
"Seharusnya tadi tidak perlu
kuceritakan," desah Rangga pelan bernada menyesal.
Pandan Wangi memalingkan mukanya, memandang wajah tampan di sampingnya.
Diambilnya tangan Pendekar Rajawali
Sakti itu dan didekapnya hangat-hangat. Rangga juga memandang wajah cantik yang
matanya bersinar bening bagai sejuta bintang bertaburan di langit kelam.
Beberapa saat lamanya mereka terdiam, hanya saling pandang saja.
"Kau cantik sekali, Pandan,"
desah Rangga. "Ih genit, ah!" dengus Pandan Wangi seraya mendorong dada Rangga yang mulai
mendekat. Tapi dengan cepat Rangga
menangkap tangan gadis itu, lalu menggenggamnya kuat-kuat. Kemudian Pendekar
Rajawali Sakti menariknya, hingga gadis itu jatuh terjerembab dalam pelukannya.
Pandan Wangi memekik kecil. Namun belum juga sempat menolakkan pelukan pemuda
tampan itu, bibirnya sudah lebih cepat disumpal oleh bibir Rangga.
"Ebf...! Hm...."
Pandan Wangi mencoba meronta
melepaskan diri, tapi itu hanya sebentar saja. Kemudian dibalasnya pagutan
Rangga dengan hangat dan penuh rasa cinta yang membara. Lenyap sudah semua
bayangan peristiwa yang hampir membuatnya mati kaku sore tadi. Yang ada sekarang
hanya kehangatan dan kemesraan yang menggelora dalam dada.
"Aoh...!"
Pandan Wangi menggeliatkan tubuhnya saat jari-jari tangan Rangga mulai nakal menggerayangi tubuhnya. Gadis itu
mendorong dada pemuda itu, dan cepat-cepat menggeser menjauh. Pada saat itu,
tiba-tiba saja sebuah benda biru melesat ke arah mereka, dan menancap tepat di
batu di antara kedua anak muda itu. Rangga dan Pandan Wangi terkejut bukan main,
dan langsung melompat bangkit berdiri. Di batu sebesar kerbau itu tertancap
sebuah mata sumpit berwarna biru dengan bulu-bulu halus pada bagian pangkalnya.
***

Pendekar Rajawali Sakti 38 Dewa Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Malam ini begitu gelap. Langit menghitam tersaput awan tebal, membuat cahaya
bulan sukar menembus untuk menerangi permukaan bumi. Rangga menemui kesulitan
untuk mencari sumber datangnya mata sumpit biru itu, karena sekelilingnya begitu
pekat. Hanya keredupan api unggun saja menerangi sekitarnya dalam jangkauan yang
tidak seberapa jauh.
Pandan Wangi menggeser kakinya mendekati Rangga. Gadis itu sudah menggenggam
kipas baja putih yang masih tertutup. Itulah salah satu senjata yang menjadikan
dirinya terkenal berjuluk si Kipas Maut. Tak ada yang membuka suara, masingmasing diliputi suasana tegang. Terlebih lagi
Pandan Wangi. Belum pernah dirasakan ketegangan seperti ini. Sampai-sampai
dadanya terasa sesak, bagai dihimpit sebongkah batu sebesar gunung.
"Kakang...," belum lagi selesai ucapan Pandan Wangi, mendadak saja kembali
melesat sebuah mata sumpit dari arah samping kiri.
Secepat kilat Pandan Wangi
mengibaskan kipasnya yang langsung terbuka lebar. Kipas itu menyampok mata
sumpit berwarna biru tua.
Tring! Pandan Wangi melompat dua tindak ke belakang. Bibirnya meringis merasakan
getaran pada pergelangan tangannya. Kalau saja tadi tidak dikerahkan tenaga
dalam, kipas baja putihnya pasti terpental jauh ketika berbenturan dengan mata
sumpit biru. Belum juga Pandan Wangi sempat berpikir jauh, kembali dua buah mata sumpit
meluncur ke arahnya dari arah yang berlawanan. Si Kipas Maut itu cepat-cepat
memutar tubuhnya sambil mengebutkan kipas disertai pengerahan tenaga dalam
penuh. Dua kali terdengar dentingan senjata beradu. Dan mata sumpit itu
terpental menancap cukup dalam di sebuah batang pohon. Buru-buru gadis itu
melompat mendekati Rangga.
"Kakang..., tampaknya tempat ini sudah terkepung," ujar Pandan Wangi
setengah berbisik.
Belum lagi Rangga menyahuti,
terdengar suara tawa terbahak-bahak.
Suara tawa itu menggema seolah-olah datang dari segala penjuru mata angin.
Rangga menggumam, dan langsung merasakan kalau suara tawa itu dikeluarkan lewat
pengerahan tenaga dalam tinggi, memang sukar untuk mencari arahnya.
"Ha ha ha...! Kau cukup cerdik untuk menebak, Pandan Wangi...!"
Belum hilang suara itu, mendadak muncul seorang laki-laki tua bertubuh bungkuk
mengenakan baju panjang berwarna biru gelap yang sudah kusam.
Tangannya menggenggam sebatang tongkat yang ujungnya berbentuk kepala tengkorak
manusia. Tongkat itu berkeluk tujuh, dan ujung bagian bawah berbentuk runcing
bagai sebuah keris raksasa. Laki-laki tua itu muncul bagaikan dari dalam tanah.
Tidak dapat diketahui, dari mana datangnya Pandan Wangi menggeser kakinya lebih
mendekat ke belakang Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan laki-laki tua bertongkat
tengkorak manusia itu terkekeh, sambil menatap tajam ke arah mereka. Begitu
tajam tatapan matanya, sehingga seperti sepasang bola api tertuju langsung ke
arah Pandan Wangi.
Sedikit pun tidak dipedulikannya keberadaan Rangga di tempat itu.
"Sudah cukup lama aku bersabar menunggumu, Pandan Wangi," kata laki-laki tua
itu. "Kisanak, apa maksudmu berkata begitu" Aku tidak kenal denganmu!"
bentak Pandan Wangi ketus.
"He he he.... Sudah kuduga, kau pasti akan berkata begitu, Pandan.
Tapi kau tidak akan bisa lari lagi.
Kau berada di wilayah kekuasaanku sekarang."
"Siapa yang peduli" Aku bebas menentukan tempatku berpijak!" sentak Pandan Wangi
masih ketus. "Rupanya kau sudah pandai
bersilat lidah, Pandan," sinis nada suara laki-laki tua bertongkat kepala
tengkorak itu. Diliriknya Rangga dengan pandangan tidak suka.
"Kau pikir aku ini siapa, heh"!
Aku tidak kenal denganmu! Dan jangan coba-coba mengusik kehidupanku, Orang Tua!"
dengus Pandan Wangi dingin.
"Kehidupan..." Ha ha ha...!"
Laki-laki tua bertongkat kepala tengkorak itu tertawa terbahak-bahak.
Sementara itu Rangga hanya diam saja sambil menyimak setiap pembica-raan.
Sebentar dipandangnya orang tua bertongkat kepala tengkorak di depannya.
Sebentar kemudian ditatapnya Pandan Wangi yang berdiri di sampingnya. Terlihat
jelas dalam keremangan cahaya api unggun, kalau wajah Pandan
Wangi selalu berubah pucat dan memerah bagai terbakar. Memang cukup sulit
menebak perasaan si Kipas Maut saat ini. Dan perhatian Pendekar Rajawali Sakti
kembali pada laki-laki tua bertongkat kepala tengkorak.
"Sekarang juga kau harus ikut denganku, Pandan!" tegas laki-laki tua itu agak
keras. "Apa..."!" Pandan Wangi tampak terkejut. "Kau pikir aku ini siapa, heh..."
Seenaknya saja ingin
membawaku!"
"Aku tidak ingin main-main,
Pandan. Ayo, ikut!" bentak orang tua itu.
"Tidak!" Pandan Wangi balas
membentak. "Bocah gendeng...!" dengus orang tua itu.
Tiba-tiba saja orang tua itu
melesat bagaikan kilat, langsung mengarah ke Pandan Wangi. Tangan kiri yang
tidak menggenggam tongkat, terjulur hendak mencengkeram gadis itu. Tapi manis
sekali Pandan Wangi mengegoskan tubuhnya berkelit, sehingga terkaman orang itu
luput dari sasaran.
Tapi tanpa diduga sama sekali, orang tua itu bisa memutar tubuhnya cepat sambil
mengibaskan tangan kiri ke arah dada si Kipas Maut.
"Ikh...!" Pandan Wangi terperangah. Buru-buru si Kipas Maut itu
mengebutkan kipas baja putihnya. Kalau saja orang tua itu tidak cepat-cepat
menarik pulang tangannya, pasti ujung-ujung kipas baja putih itu telah membuat
tangannya buntung seketika.
Tapi dia masih juga bisa memberi satu serangan yang begitu cepat. Tongkatnya
berkelebat bagaikan kilat menyambar ke arah kaki si Kipas Maut.
"Hait..!"
Cepat sekali Pandan Wangi
melompat memutar tubuhnya ke belakang.
Maka tongkat berkepala tengkorak itu lewat beberapa jengkal di bawah telapak
kaki Pandan Wangi. Dan belum juga gadis itu menjejakkan kakinya di tanah, orang
tua bertongkat itu sudah menyerang dahsyat kembali. Kali ini sasaran yang
dipilih adalah dada.
Dengan ujung jari telunjuk, dia bermaksud menotok si Kipas Maut.
Pandan Wangi mengetahui hal itu.
Cepat-cepat dikibaskan kipasnya ke depan dada, sambil memutar tubuhnya.
Seketika itu juga, kaki kanannya berkelebat melepaskan tendangan bertenaga dalam
cukup tinggi. Hal ini membuat orang tua itu terperanjat, karena tidak menyangka
kalau Pandan Wangi mampu melindungi diri sambil balas menyerang dalam waktu yang
hampir bersamaan.
"Hup...!"
Cepat-cepat laki-laki tua berbaju biru tua dan bertongkat kepala tengkorak itu
melompat mundur. Hampir saja tendangan Pandan Wangi menghantam perutnya. Dengan
kedua kaki merentang lebar ke samping, orang tua itu menatap tajam pada si Kipas
Maut. Mulutnya menggeram kecil, dan bibirnya yang hampir tertutup kumis putih bergetar
menahan amarah.
"Kau cukup membuat kesulitan, Pandan!" dengus orang tua itu menggeram.
"Hm.... Lalu kau mau apa?"
tantang Pandan Wangi sinis.
"Kesabaranku ada batasnya,
Pandan! Aku tidak peduli siapa dirimu sekarang. Kau sudah membuat banyak
kesulitan padaku. Nyawamu tak cukup untuk membayar penghinaan ini!"
Pandan Wangi hanya tersenyum
sinis. Gadis itu tahu kalau orang tua bertongkat kepala tengkorak itu sudah
sangat marah, tapi tidak
dipedulikannya. Dengan adanya Rangga di sini, segala perasaan gentar lenyap dari
hatinya. Gadis itu melirik Pendekar Rajawali Sakti yang sejak tadi hanya diam
saja memperhatikan.
Sedikit pun pemuda berbaju rompi putih itu tidak melakukan tindakan apa-apa.
Sepertinya Pandan Wangi diberi kebebasan untuk menentukan tindakan
sendiri. Pada saat itu, laki-laki tua
bertongkat kepala tengkorak manusia sudah kembali menyerang, dan kali ini tidak
main-main. Bahkan tongkatnya yang aneh itu seperti memiliki nyawa saja,
berkelebat mengancam bagian-bagian tubuh Pandan Wangi yang mematikan. Kali ini
si Kipas Maut harus mengakui kalau lawannya memiliki kepandaian sangat tinggi.
Dalam beberapa jurus saja, sudah terlihat kalau Pandan Wangi kewalahan
menghadapi serangan-serangan orang tua itu. Beberapa kali si Kipas Maut harus
jatuh bangun menghindari serangan yang begitu gencar dan dahsyat luar biasa.
Hingga suatu saat....
"Lepas...!" seru laki-laki tua bertongkat itu tiba-tiba.
Secepat itu pula dikibaskan
tongkatnya ke arah dada Pandan Wangi.
Cepat sekali si Kipas Maut itu mengebutkan kipasnya, melindungi daerah dadanya
yang terancam. Namun sungguh di luar dugaan, ternyata orang tua itu memutar
tongkatnya ke bawah.
Dan seketika itu juga, tangan kirinya bergerak cepat menotok pergelangan tangan
kanan si Kipas Maut.
"Akh...!" Pandan Wangi memekik keras tertahan.
Kipas baja putih yang menjadi senjata khas gadis itu terpental ke
udara. Dan belum juga Pandan Wangi menyadari apa yang terjadi, satu tendangan
keras mendarat telak di dadanya yang lowong. Satu tendangan yang tak terbendung
lagi. Bug! "Akh...!" untuk kedua kalinya Pandan Wangi menjerit keras.
Tubuh si Kipas Maut terjengkang ke belakang sejauh beberapa batang tombak. Dan
sebelum gadis itu ambruk, laki-laki tua bertongkat kepala tengkorak itu sudah
melompat memburu.
Pandan Wangi tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dadanya seperti remuk, dan napasnya
terhambat. Namun belum juga orang tua itu berhasil menerkamnya, mendadak saja
sebuah bayangan putih berkelebat
cepat dan telah lebih
dahulu menyambar gadis itu.
"Heh...!"
*** 2 Bukan main terperanjatnya orang tua bertongkat kepala tengkorak itu.
Karena, tiba-tiba saja Pandan Wangi lenyap dari hadapannya, tepat saat sebuah
bayangan putih berkelebatan menyambar gadis itu. Orang tua itu jadi celingukan,
lalu menggeram begitu menyadari kalau pemuda yang bersama
Pandan Wangi juga ikut menghilang.
"Bedebah...!" umpatnya geram.
Diedarkan pandangannya berkeliling, tapi tak terlihat lagi seorang pun di tempat
ini. Cahaya api unggun yang begitu redup tidak mampu menembus pekatnya kegelapan
malam. Dia menggerutu dan memaki habis-habisan, tapi tetap saja tidak bisa
menemukan yang dicari.
"Phuah! Pasti anak muda itu yang menyelamatkannya...!" dengusnya geram.
Sambil menghentakkan kakinya
penuh kemarahan, orang tua itu melesat pergi meninggalkan tempat itu. Sama
sekali tidak diketahuinya kalau ternyata Pandan Wangi bersembunyi di balik
sebongkah batu besar bersama Rangga. Mereka baru keluar dari tempat
persembunyian setelah cukup lama laki-laki tua bertongkat kepala tengkorak itu
pergi. "Ughk...!" keluh Pandan Wangi saat berusaha berdiri hendak keluar dari tempat
persembunyian ini.
"Kau terluka, Pandan?" tanya
Rangga seraya membantu Pandan Wangi berdiri.
"He-eh...," Pandan Wangi hanya menganggukkan kepalanya saja.
Rangga memapah si Kipas Maut
keluar dari balik batu. Mereka menghampiri api unggun yang masih menyala redup.
Sebagian ranting sudah
hancur jadi debu. Rangga menambahkan ranting-ranting yang dikumpulkannya sore
tadi. Api kembali membesar, menambah terang sekitarnya. Pandan Wangi duduk
bersandar di bawah pohon yang cukup besar. Napasnya nampak terengah satu-satu.
Pendekar Rajawali Sakti menghampiri dan duduk di depan gadis itu.
"Aku periksa lukamu, Pandan,"
kata Rangga lembut.
"Uhk! Dadaku...," keluh Pandan Wangi meringis.
Tanpa ragu-ragu lagi, Rangga
menekan ujung jari telunjuknya di dada Pandan Wangi. Gadis itu meringis sambil
menggeliatkan tubuhnya. Buru-buru pemuda berbaju rompi putih itu menarik kembali
ujung jarinya. Dipandangi wajah gadis itu dalam-dalam. Pendekar Rajawali Sakti itu bangkit
berdiri dan menghampiri kipas baja putih yang tergeletak tidak jauh dari situ.
Dipungutnya senjata itu dan diserahkan pada Pandan Wangi. Gadis itu menyelipkan
senjata kesayangannya di balik ikat pinggang. Jelas sekali kalau napasnya masih
tersengal, namun tetap mencoba untuk tersenyum.
Mendadak saja, Pandan Wangi terbatuk dan memuntahkan darah kental
kehitaman. "Pandan...!" sentak Rangga terkejut.
Buru-buru Pendekar Rajawali Sakti itu memeluk Pandan Wangi, tapi pelukan itu
malah dicegahnya. Gadis itu beringsut menjauh, membuat Pendekar Rajawali Sakti
hanya memandanginya.
Sedangkan sinar matanya penuh diliputi berbagai macam pertanyaan. Pandan Wangi
membalas tatapan itu dengan pandangan sayu. Bibirnya yang berwarna merah
kehitaman menyunggingkan senyuman tipis dan amat dipaksakan.
"Aku tidak apa-apa, Kakang. Hanya sesak sedikit," kilah Pandan Wangi lemah.
"Kau terluka dalam, Pandan. Biar kuperiksa," desak Rangga seraya menggeser
mendekati. Tapi Pandan Wangi mencegah, lalu menggeleng dan tersenyum tipis. Dengan punggung
tangan, diseka darah di mulutnya. Rangga kelihatan cemas melihat Pandan Wangi
begitu lemah dan pucat. Dia yakin kalau gadis itu terluka dalam akibat
pertarungannya dengan laki-laki tua misterius tadi.
"Tidurlah, Kakang. Besok, pagi-pagi sekali kita harus keluar dari hutan ini,"
kata Pandan Wangi, masih terdengar lemah suaranya.
"Kau benar tidak apa-apa,
Pandan?" tanya Rangga cemas.
"Tidak. Aku ingin semadi, mudah-mudahan besok sudah segar lagi," sahut Pandan
Wangi meyakinkan.
Rangga memberi senyuman. Tapi dari sorot matanya masih menampakkan kekhawatiran.
Sedangkan Pandan Wangi sudah duduk bersila. Ditekan kedua telapak tangannya di
lutut yang terlipat. Rangga memperhatikan sebentar, kemudian menggeser tubuhnya
menjauh. Pendekar Rajawali Sakti itu
memilih tempat di seberang api unggun.
Direbahkan tubuhnya di atas rerumputan yang basah berembun. Perhatiannya masih
tertuju pada Pandan Wangi. Gadis itu sudah tidak bergerak lagi melakukan semadi
untuk mengusir rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Melihat Pandan Wangi tampaknya benar-benar bersemadi, Rangga mulai memejamkan
matanya. Pada saat itu Pandan Wangi membuka kelopak matanya.
Diperhatikannya Pendekar Rajawali Sakti yang terbaring di seberang api unggun.
Mata pemuda berbaju rompi putih itu terpejam rapat. Napasnya begitu teratur,
menciptakan gerak pada dada yang bidang sedikit berbulu. Agak nanar pandangan
Pandan Wangi. Sementara malam terus merambat semakin jauh. Udara dingin begitu terasa menyebar
dihembus oleh angin.
Sedangkan api semakin redup cahayanya.
Tak terdengar lagi suara, selain desiran angin malam dan jeritan binatang malam
di hutan ini.

Pendekar Rajawali Sakti 38 Dewa Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

*** Kokok ayam jantan begitu nyaring terdengar menyambut datangnya pagi.
Matahari belum lagi menampakkan sinarnya. Namun burung-burung telah ramai
berkicau di atas pepohonan.
Rangga menggeliatkan tubuhnya, mencoba mengurangi rasa penat. Semalaman dia
tertidur pulas, sehingga tak peduli terhadap nyamuk-nyamuk yang berpesta-pora
menikmati darahnya.
"Pandan...!" tiba-tiba Rangga tersentak begitu teringat Pandan Wangi.
Pendekar Rajawali Sakti itu
bergegas bangkit, dan menjadi terkejut menyadari Pandan Wangi tidak ada lagi di
tempatnya. Sesaat diedarkan pandangannya ke sekeliling, tapi gadis itu tak
terlihat lagi. Rangga terpaku begitu matanya tertumbuk pada kuda hitam yang
tertambat di bawah pohon jati. Di sana seharusnya ada dua ekor kuda, tapi kini
hanya tinggal seekor.
"Oh, tidak...!" sentak Rangga mulai dirasuki pikiran buruk.
Bergegas pendekar muda itu
melompat ke punggung kuda hitamnya, tapi tidak jadi menggebah. Dipandangi tempat
Pandan Wangi semalam duduk bersemadi. Pandangannya terpaku tak berkedip.
Rerumputan di situ masih terlihat ada bekasnya. Juga....
"Oh.... Kenapa Pandan pergi
begitu saja?" gumam Rangga dalam hati.
Terlihat jelas jejak-jejak kaki di atas rerumputan, yang berakhir di bawah pohon
ini. Kemudian disambung jejak-jejak kaki kuda yang menuju tengah Hutan Gunung
Jaran ini. Rangga menghentakkan kakinya, menyepak perut kuda hitam itu. Pelahanlahan Dewa Bayu melangkah mengikuti jejak yang tertera jelas di tanah berumput.
Pagi masih terlalu gelap, namun jejak itu masih terlihat menuju dalam hutan.
Rangga mengendalikan kudanya mengikuti jejak-jejak di tanah berumput yang
dibasahi embun. Semakin jauh masuk dalam hutan, semakin banyak jejak yang
terlihat. Bukan saja di tanah, tapi juga di ranting-ranting yang patah dan semak
yang terkuak. Dan semua itu kelihatan masih baru.
Terbukti, getah pada ranting itu terus mengucur.
"Hm...," Rangga bergumam pelan.
Hutan di Gunung Jaran ini
demikian lebat. Cukup sukar menerobos dengan menunggang kuda. Tapi jejak-jejak
itu terus semakin jauh masuk ke dalam hutan. Rangga turun dari kudanya, lalu
melanjutkan dengan berjalan kaki. Pendekar Rajawali Sakti itu membiarkan saja
kudanya mengikuti, dan terus berjalan sambil memperhatikan setiap jejak yang
terlihat. Semakin jauh masuk ke dalam hutan, semakin nyata kalau jejak itu masih baru.
"Kau ingin ikut denganku terus, Dewa Bayu?" tanya Rangga bertanya pada kudanya.
Kuda hitam itu meringkik kecil dan mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan-akan
bisa mengerti ucapan Pendekar Rajawali Sakti. Rangga menepuk leher kuda itu dan
kembali berjalan cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Sungguh luar biasa.
Dewa Bayu ternyata mampu mengimbangi kecepatan pemuda itu. Padahal, jalan yang
dilalui cukup sulit, lebat oleh rapatnya pepohonan yang saling berkait satu sama
lainnya. Tapi kuda hitam itu tidak pernah jauh berada di belakang Rangga.
Sampai matahari berada di atas kepala, Rangga terus bergerak cepat mempergunakan
ilmu meringankan tubuh.
Meskipun kelihatannya berjalan biasa, namun kecepatannya melebihi orang berlari
sekuat tenaga. Pendekar Rajawali Sakti itu baru berhenti setelah tiba di tepi
sungai kecil berair jernih. Sedangkan Dewa Bayu menghampiri sungai itu, lalu
menju-lurkan kepalanya ke dalam sungai.
"Hhh..., putus sampai di sini,"
keluh Rangga. Jejak-jejak yang diikuti memang
tidak tampak lagi di tepi sungai ini.
Rangga memandang ke seberang sungai.
Tidak seberapa lebar, dan hanya sekali lompatan saja bisa sampai ke seberang.
Sungai ini juga dangkal, sehingga dasarnya jelas terlihat. Tanpa membuang-buang
waktu lagi, Pendekar Rajawali Sakti melompat menyeberangi sungai kecil itu.
Benar dugaannya. Hanya sekali lompatan saja, Rangga berhasil menyeberangi sungai
itu. Begitu ringan kakinya menjejak tepi seberang sungai.
Pendekar Rajawali Sakti itu mengedarkan pandangannya berkeliling. Agak berkerut
juga keningnya, karena tidak lagi menemukan satu jejak pun di seberang sungai
ini. Tapi mendadak saja hatinya dikejutkan suara ringkik kuda dari seberang.
Saat menoleh....
"Putih...," desis Rangga.
Pendekar Rajawali Sakti itu
kembali melompat menyeberangi sungai begitu melihat seekor kuda putih berada di
samping kuda hitam miliknya.
Rangga mengenali betul kalau kuda itu milik Pandan Wangi, dan masih memakai
pelana lengkap. Rangga bergegas menghampiri begitu tiba di seberang.
"Putih! Di mana Pandan Wangi?"
tanya Rangga. Kuda putih itu seperti mengerti pertanyaan
Rangga, lalu langsung
meringkik sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kemudian diputar tubuhnya dan berlari kencang. Tanpa membuang-buang
waktu lagi, Rangga melompat ke punggung Dewa Bayu dan cepat
menggebahnya. Kuda hitam itu meringkik keras, lalu melesat bagai sebatang anak
panah lepas dari busur.
Rangga memacu kuda hitam itu
membuntuti kuda putih yang terus berlari cepat. Dua ekor kuda berlari menyusuri
tepian sungai yang jarang ditumbuhi pepohonan. Kemudian pada belokan sungai,
kuda putih itu berhenti, lalu menoleh ke belakang dan kembali berlari lagi
mendaki tebing batu yang tidak begitu terjal. Tak ada kesulitan bagi Rangga
untuk mengendalikan Dewa Bayu mendaki tebing batu itu. Dan pada akhirnya Pendekar
Rajawali Sakti sampai di sebuah dataran yang cukup luas. Rangga menghentikan
kudanya, tepat saat kuda putih itu berhenti.
"Hup!"
Rangga melompat turun dari
punggung kudanya.
"Kau yakin Pandan Wangi ke sini, Putih?" tanya Rangga seraya mendekati kuda
putih itu. Kuda putih itu meringkik sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian
mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Rangga memperhatikan tingkah kuda
putih itu, kemudian memandang sebuah perkampungan yang terlihat jelas di depan sana.
Sebuah perkampungan kecil yang kelihatan sunyi bagai tak berpenduduk.
"Hm..., aku tidak pernah
mendengar ada perkampungan di sekitar Gunung Jaran ini," gumam Rangga berbicara
pada dirinya sendiri.
Pendekar Rajawali Sakti itu
mengamati sekitarnya. Suasana begitu sunyi, tak terdengar suara apa-apa.
Hanya desir angin saja yang mengusik telinga. Sama sekali tidak terdengar suara
binatang. Rangga jadi bersikap waspada terhadap kesunyian ini.
Dihampirinya kuda-kuda yang tengah merumput.
"Kalian tunggu di sini. Aku akan melihat ke sana," kata Rangga pada kedua ekor
kuda itu. Kedua ekor kuda itu seperti
mengerti saja, dan sama-sama terangguk dan kembali merumput. Rangga kemudian
mengayunkan kakinya menghampiri perkampungan yang tidak begitu jauh di depan.
Hanya melewati sedikit padang rumput kering, Pendekar Rajawali Sakti sudah
sampai di sana.
*** Rangga merasakan adanya keanehan di perkampungan ini. Begitu sunyi.
Malah sama sekali tidak terlihat
seorang pun. Rumah-rumah yang terbuat dari bilik bambu beratapkan rumbia,
semuanya kosong tak berpenghuni.
Bahkan tanda-tanda kehidupan pun tidak dijumpai. Tidak begitu banyak rumah yang
ada, hanya sekitar dua belas yang berdiri saling berdekatan satu sama lain.
"Hm..., apa nama tempat ini?"
gumam Rangga bertanya pada dirinya sendiri.
Pendekar Rajawali Sakti sudah mengelilingi tempat ini tiga kali, dan memeriksa
setiap rumah. Tapi tetap tak dijumpai seorang pun. Bahkan tanda-tanda bekas
kehidupan saja tidak dijumpai. Rumah-rumah ini seperti sengaja dibangun tidak
untuk ditempati. Pendekar Rajawali Sakti itu mengamati rumah yang berada paling
tengah. Rumah yang paling besar dan kelihatan paling mewah.
Pelahan-lahan Rangga menghampiri rumah itu. Sepasang matanya yang tajam selalu
beredar mengamati sekelilingnya. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu yang
terbuka lebar. Dari luar sudah terlihat kalau rumah ini kosong tak berpenghuni.
Tapi yang membuat Pendekar Rajawali Sakti itu bertanya-tanya, keadaan di sini
begitu bersih seperti terawat rapi. Baru saja Rangga hendak melangkah memasuki
rumah itu, tiba-tiba saja terdengar bentakan
dari arah belakang.
"Diam di tempatmu, Anak Muda!"
Rangga mengurungkan niatnya
hendak memasuki rumah itu. Pelahan diputar tubuhnya berbalik. Tampak di depannya
kini sudah berdiri seorang laki-laki berusia lanjut, dan tubuhnya agak bungkuk.
Bajunya bercorak indah dari bahan sutra halus yang cukup mahal harganya. Ikat
kepalanya terbuat dari lempengan emas berhiaskan batu-batu permata. Laki-laki
tua itu memegang sebatang tongkat hitam, yang dihiasi tiga buah cincin emas
membelit tongkatnya. Rangga benar-benar terpukau, seakan-akan tengah
berhadapan dengan seorang raja atau bangsawan kesasar di dalam hutan yang sunyi
ini. "Anak Muda, apa tujuanmu datang ke sini?" tanya laki-laki tua itu tajam.
"Maaf. Aku tidak sengaja berada di sini, karena sedang mencari adikku yang
hilang," sahut Rangga sopan seraya membungkuk sedikit memberi hormat.
"Hm.... Siapa namamu?"
"Rangga. Dan adikku yang hilang bernama Pandan Wangi."
"Rangga...," laki-laki tua itu bergumam pelan mengulangi nama Rangga.
Sedangkan Rangga sendiri hanya diam
saja sambil terus mengawasi
seksama. Benaknya masih dipenuhi berbagai macam tanda tanya tentang laki-laki
tua ini. Kehadirannya sungguh mengejutkan dan tidak diketahui sama sekali.
Sehingga bagai muncul dari dalam tanah saja.
"Kau memasuki daerah yang sangat terlarang, Anak Muda," jelas laki-laki tua itu.
Suaranya serak dan berat.
"Terlarang..." Aku tidak mengerti maksudmu, Ki," tanya Rangga.
"Tempat ini terlarang bagi siapa saja, tanpa kecuali. Siapa saja yang melanggar
harus mati. Itu sudah menjadi hukum tetap di sini, Anak Muda," tegas kata-kata
laki-laki tua itu.
"Eh, tunggu dulu! Aku tidak
mengerti maksudmu. Malah aku tidak tahu siapa dirimu dan apa nama tempat ini,"
sergah Rangga, terkejut juga mendengar kata-kata orang tua itu.
"Anak Muda, aku bernama
Ki Ratapanca. Aku telah diberi wewenang untuk merawat dan menjaga tempat
persinggahan ini. Sudah menjadi keputusan Gusti Prabu Sumabrata untuk menghukum
mati siapa saja yang berani mengotori tempat ini! Jelas, Anak Muda...?" tegas Ki
Ratapanca. "O..., tapi aku tidak mengotori tempat ini. Aku hanya kebetulan lewat saja dan
akan segera pergi kalau tidak menemukan adikku di sini," sahut
Rangga mulai bisa mengerti sedikit.
"Aku tidak mengenal adikmu! Dan dia tidak ada di sini. Sudah tiga purnama tempat
ini tidak pernah disinggahi seorang pun."
"Kalau begitu, aku akan segera pergi," ujar Rangga seraya mengayunkan kakinya
hendak meninggalkan tempat yang sangat aneh baginya ini.
"Tunggu dulu...!" bentak Ki
Ratapanca. Rangga menghentikan langkahnya.
"Kau tidak bisa
pergi begitu saja, Anak Muda. Dan kau baru boleh pergi, kalau sudah berhasil
mengalahkanku."
"Hm.... Aku tidak kenal siapa dirimu, dan kau juga tidak kenal siapa diriku.
Kenapa harus bertarung?"
Rangga mengerutkan keningnya.
"Kenal atau tidak, suka atau
tidak suka, kau harus bertarung denganku. Jika berhasil mengalahkan aku, kau
boleh bebas pergi dari sini, Anak Muda!" tegas Ki Ratapanca.
"Aneh..."! Apakah ini juga
perintah dari Gusti Prabumu?"
"Tentu!"
"Hm...," Rangga bergumam seraya mengerutkan keningnya dalam-dalam.
Tapi belum juga Pendekar Rajawali Sakti itu bisa berpikir lebih jauh lagi,
mendadak Ki Ratapanca sudah melompat sambil berteriak keras
menerjangnya. Tongkat hitam dengan cincin emas tiga buah berkelebat bagaikan
deburan ombak menghantam pantai.
Rangga terkejut, dan buru-buru melompat mundur menghindari serangan mendadak
ini. Terkesiap juga hatinya, begitu merasakan angin kebutan tongkat yang
demikian dahsyat itu. Tubuhnya sampai terhuyung bagai selembar daun kering
terhempas angin. Namun cepat-cepat Pendekar Rajawali Sakti itu menguasai
keseimbangan tubuhnya sebelum Ki Ratapanca menyerang kembali.
"Tahan! Aku...."
Belum lagi Rangga selesai
berkata, Ki Ratapanca sudah kembali menyerang dahsyat. Tongkat yang panjangnya
sama dengan tubuhnya itu berkelebatan di sekitar tubuh Rangga.
Pemuda berbaju rompi putih itu terpaksa berlompatan menghindari setiap serangan
laki-laki tua itu.
Menyadari serangan-serangan yang datang begitu gencar dan sangat berbahaya,
Rangga segera menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'.
Gerakan-gerakan kaki dan tubuhnya memang seperti tidak beraturan dan bagai orang
yang tidak pernah mengerti ilmu olah kanuragan. Tapi Ki Ratapanca sulit untuk
mendesak. Setiap serangan yang dibangun, selalu kandas dan tidak
pernah menemui sasaran tepat. Bahkan beberapa kali ujung tongkatnya hampir
menusuk tubuh Rangga. Namun tinggal beberapa helai rambut lagi, Pendekar
Rajawali Sakti itu dapat menghindar dengan manis.
"Hup...!"
Tiba-tiba saja Ki Ratapanca
melompat mundur menghentikan serangan-serangannya. Ditatapnya Rangga, seakanakan tengah mengukur kemampuan pemuda itu. Sedangkan Rangga sendiri hanya
berdiri tegak dan bersikap tenang.
"Apa hanya sampai di situ
kemampuan yang kau miliki, Anak Muda?"
tanya Ki Ratapanca, agak sinis suaranya.
"Persoalan yang kuhadapi sudah cukup banyak, Ki. Dan aku tidak ingin menambah
persoalan baru lagi
denganmu," sahut Rangga tenang.
"Hm. Penolakanmu sungguh halus, tapi bukan berarti kau bisa pergi dari tempat
ini begitu saja."
Rangga hanya diam saja. Bisa
dimengerti kalau laki-laki tua itu tetap akan menyerangnya. Memang disadari
kalau dirinya tidak akan mungkin bisa melayani jika hanya menggunakan jurus
'Sembilan Langkah Ajaib'. Sementara Ki Ratapanca sudah kembali bersiap hendak
menyerang. Rangga masih berdiri tenang dan terus
memperhatikan. Selama laki-laki tua itu masih menggunakan jurus-jurus olah
kanuragan, Pendekar Rajawali Sakti akan melayaninya pula dengan jurus.
Rangga tidak ingin membuat persoalan baru, dan sedapat mungkin bisa meninggalkan
tempat ini tanpa membuat Ki Ratapanca merasa sakit hati.
*** 3 Rangga benar-benar tidak bisa mengelak lagi dan harus bertarung dengan Ki
Ratapanca. Laki-laki tua itu kelihatannya bersungguh-sungguh hendak merobohkan
Pendekar Rajawali Sakti.
Setiap serangan yang dibangun sungguh berbahaya dan sangat mematikan.


Pendekar Rajawali Sakti 38 Dewa Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sedikit kelengahan saja akan berakibat parah. Dan Rangga tidak bisa lagi
bermain-main. Memasuki jurus ke dua puluh, Pendekar Rajawali Sakti itu mulai
kelihatan hati-hati. Serangan baliknya selalu membuat Ki Ratapanca kelabakan
menghindarinya.
Beberapa kali Ki Ratapanca harus jatuh bangun menghindari setiap serangan
Pendekar Rajawali Sakti. Tapi laki-laki tua itu masih juga mampu menyerang,
meskipun kini sudah tidak sering. Bahkan sekarang lebih banyak bertahan.
Hingga pada jurus yang
ketiga puluh, terlihat jelas kalau Ki Ratapanca terdesak hebat. Beberapa kali
pukulan dan tendangan Rangga mendarat di tubuhnya, sehingga membuat laki-laki
tua itu terguling dan terjerembab mencium tanah.
Buk! Satu pukulan keras kembali
bersarang di tubuh Ki Ratapanca. Laki-laki tua itu kontan mengeluh pendek.
Dan belum lagi dapat menguasai keseimbangan tubuhnya, kembali satu tendangan
keras bersarang di tubuhnya.
Laki-laki tua itu terjerembab ke tanah dengan posisi menelentang. Rangga cepat
memburu. Dan hampir saja kakinya menjejak dada orang tua itu, tapi Rangga cepat
melompat mundur dan mengulurkan tangannya.
"Ughk! Terima kasih," ucap Ki Ratapanca seraya menerima uluran tangan Rangga.
Laki-laki tua itu berdiri.
Dipungut tongkatnya yang tadi sempat terlepas dari genggaman. Sambil
membersihkan debu yang melekat di baju, dipandanginya Rangga. Pemuda berbaju
rompi putih itu hanya memperhatikan saja, dan bibirnya terkatup rapat.
"Kau hebat, Anak Muda. Aku
mengaku kalah," ujar Ki Ratapanca disertai senyum terkulum di bibir.
Sinar mata laki-laki tua itu
tidak lagi tajam, dan kini malah kelihatan cerah dengan wajah berseri-seri.
Padahal wajahnya agak memar dan sedikit berdarah pada sudut bibirnya.
Sikap Ki Ratapanca membuat Rangga jadi berpikir lain. Benaknya diliputi berbagai
macam pertanyaan tentang diri laki-laki tua dan juga tempat yang aneh ini.
"Kau boleh pergi sekarang, Anak Muda," kata Ki Ratapanca ramah.
Namun Rangga tetap diam tak
bergeming. "Tunggu apa lagi, Anak Muda" Kau sudah bebas, dan bisa meninggalkan tempat ini,"
ujar Ki Ratapanca.
"Ki Ratapanca, di balik sikapmu, bisa kuduga kalau kau menyimpan sesuatu," tebak
Rangga pelan, namun terdengar mantap suaranya.
Ki Ratapanca hanya tersenyum
saja, kemudian menghampiri Rangga dan menepuk pundak Pendekar Rajawali Sakti
itu. Rangga diajaknya masuk ke dalam rumah yang paling besar di antara rumahrumah lainnya. Rangga tidak menolak, dan mengikuti saja. Mereka kemudian duduk
bersila saling berhadapan di ruangan depan yang cukup luas. Hanya selembar
permadani tipis sebagai alas lantai yang mereka duduki kini.
"Sudah lama aku menunggu
seseorang yang berkepandaian tinggi
sepertimu, Anak Muda," jelas Ki Ratapanca setelah cukup lama berdiam diri.
Rangga hanya diam saja.
"Entah sudah berapa orang yang datang ke sini, tapi tak seorang pun yang bisa
kembali lagi...," lanjut Ki Ratapanca, agak pelan suaranya.
"Kau membunuh mereka, Ki?" tanya Rangga.
"Dalam suatu pertarungan, hanya ada dua pilihan, Anak Muda. Membunuh atau
dibunuh." "Tentu yang kau bunuh orang-orang yang tidak bersalah. Mungkin saja mereka hanya
sekadar lewat seperti aku ini, Ki. Atau mungkin hanya seorang perambah hutan
yang tidak mengerti ilmu olah kanuragan."
"Tidak, Anak Muda...," Ki
Ratapanca menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak ada satu desa pun di sekitar
Gunung Jaran ini. Tidak ada perambah hutan yang memasuki kawasan hutan di sini.
Mereka yang datang memang sengaja menguji nasib, tapi ternyata hanya
mengantarkan nyawa.
Kemampuan mereka begitu rendah, tapi bermulut besar. Mereka tidak pernah
mengukur diri sendiri, dan semua itu tidak pernah kusesali. Tapi...."
"Tapi kenapa, Ki?"
"Sejak pertama melihatmu, aku melihat ada sesuatu yang tidak pernah
kutemukan selama tiga tahun ini. Kau begitu lain, tidak seperti mereka yang
datang ke sini terlebih dahulu. Kau begitu sopan dan selalu merendah.
Bahkan tidak bertarung sepenuh hati.
Kenapa, Anak Muda" Apakah karena kau menganggapku seorang tua yang sudah tidak
waras lagi?"
Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maaf, Ki. Tidak sedikit pun
terbetik di hatiku kata-kata seperti itu. Aku hanya tidak ingin membuat
persoalan denganmu. Lagi pula, tidak ada gunanya melenyapkan nyawa seseorang
sebelum aku tahu pasti segala urusannya. Dan sebenarnya bukan nyawa manusia yang
kulenyapkan, tapi iblis yang bercokol di hati mereka.
Sama sekali setiap musuhku tidak pernah kubenci. Aku hanya ingin membebaskan
mereka dari cengkeraman nafsu setannya," tenang sekali Rangga menjelaskan.
Entah kenapa, tiba-tiba saja Ki Ratapanca tertawa terbahak-bahak mendengar
penjelasan Rangga. Sedangkan Rangga hanya diam saja. Sedikit pun dia tidak
merasa tersinggung, bahkan hanya tersenyum saja.
"Aku benar-benar kagum padamu, Anak Muda. Belum pernah kutemui orang sepertimu.
Memiliki prinsip hidup yang begitu cemerlang. Apakah itu keluar
dari hati nuranimu...?" ujar Ki Ratapanca setelah reda tawanya.
"Mungkin iya, mungkin juga
tidak," sahut Rangga mantap.
"Bagus! Aku suka jawabanmu, Anak Muda. Jika kau jawab iya, itu berarti berdusta.
Dan yang pasti aku akan menyerangmu kembali sampai salah satu di antara kita ada
yang mati!"
"Hm, kenapa begitu?"
"Karena aku tidak suka
kemunafikan. Aku lebih suka kepolosan dan sikap apa adanya. Itu sebabnya tempat
ini kubangun dan kujaga dari gangguan manusia-manusia kotor berhati iblis yang
bisanya hanya mengobral mulut besar, tapi tidak ada bukti sama sekali."
"Hm.... Jadi, apa yang kau
lakukan ini bukan karena perintah Prabu Sumabrata" Aku tahu kalau Gunung Jaran
ini masih termasuk wilayah Kerajaan Kulon. Dan aku tahu nama rajanya bukan Prabu
Sumabrata. Lalu, siapa yang kau maksudkan, Ki?" Rangga mulai bisa memahami
hampir seluruhnya.
"Ha ha ha...!" lagi-lagi Ki
Ratapanca menjawab dengan suara tawanya yang lepas menggelegar.
Meskipun pertanyaannya belum
terjawab, tapi Rangga tidak merasa kecewa. Ditunggunya tawa Ki Ratapanca sampai
habis. Laki-laki tua itu menepuk-nepuk pundak Rangga sambil
tersenyum lebar. Sepasang bola matanya semakin berkilat bercahaya. Sedangkan
Rangga hanya diam saja menunggu sabar jawabannya.
"Ternyata bukan hanya kepandaian tinggi saja yang kau miliki, Anak Muda. Kau
begitu cerdik dan cepat tanggap," tegas Ki Ratapanca memuji.
"Terima kasih. Tapi, kau belum menjawab pertanyaanku, Ki," ucap Rangga.
"Ha ha ha...!" lagi-lagi Ki
Ratapanca tertawa terbahak-bahak.
*** Pagi-pagi sekali Rangga sudah mempersiapkan kudanya. Dia melompat naik ke
punggung kuda hitam yang sudah berpelana. Tangan kirinya memegangi tali kekang
kuda putih milik Pandan Wangi. Pendekar Rajawali Sakti itu berpaling saat
mendengar suara pintu terkuak. Tampak Ki Ratapanca keluar dari rumah besar yang
dikelilingi sebelas rumah yang berbentuk sama persis.
"Jadi juga kau pergi hari ini, Rangga?" tanya Ki Ratapanca setelah dekat di
samping Rangga.
"Tentu, Ki," sahut Rangga mantap.
"Ke mana tujuanmu?"
"Entahlah. Tapi aku yakin kalau Pandan Wangi belum meninggalkan Gunung
Jaran ini, apalagi dalam keadaan terluka," sahut Rangga.
"Kalau bisa kubantu, pasti aku akan membantumu, Rangga," ucap Ki Ratapanca.
"Terima kasih, Ki," ucap Rangga seraya tersenyum.
"Seharusnya akulah yang berterima kasih, karena kau masih memberi kesempatan
padaku menikmati udara segar hari ini," balas Ki Ratapanca.
"Tapi sayang, Ki. Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk tetap tinggal di
sini dan membantu
keinginanmu," ujar Rangga pelan.
"Tidak mengapa, Rangga. Aku
mengerti, keselamatan adikmu lebih penting daripada rencana gilaku ini."
"Mumpung masih pagi, Ki. Aku
pergi dulu," pamit Rangga.
"Berangkatlah. Jangan lupa kalau sudah ketemu, bawa adikmu ke sini. Aku akan
senang bila kau tinggal di sini beberapa hari."
Rangga hanya tersenyum saja.
Mengangguk pun tidak. Pemuda itu memang tidak pernah melakukan janji apa pun
yang dirinya sendiri belum tahu kepastiannya. Pendekar Rajawali Sakti itu
menggebah kudanya pelahan.
Dewa Bayu bergerak pelan berjalan meninggalkan Ki Ratapanca yang memandanginya.
Sedangkan kuda putih mengikuti dari belakang.
Ki Ratapanca masih berdiri
memandangi kepergian Rangga sampai pemuda berbaju rompi putih itu lenyap dari
pandangan mata. Bibirnya tersenyum, dan senyum itu semakin lebar. Lalu terdengar
tawa menggelegar terbahak-bahak. Tiba-tiba saja orang tua itu melesat dan lenyap
seketika, bagaikan hilang begitu saja.
Sementara Rangga sudah jauh
meninggalkan rumah-rumah yang kosong tanpa penghuni itu. Dia tidak tahu, arah
mana yang hendak dituju. Tidak ada lagi petunjuk atau jejak yang ditinggalkan
Pandan Wangi. Hutan Gunung Jaran begitu luas, dan tidak mungkin dikelilingi
dalam waktu singkat. Meskipun dibantu burung rajawali raksasa, rasanya tidak
akan cukup mencari satu harian. Itu juga belum tentu bisa berhasil.
"Hhh...," desah Rangga pelahan.
Pendekar Rajawali Sakti itu
menghentikan langkah kudanya setelah tiba di tepi sungai. Di tempat ini jejak
Pandan Wangi lenyap. Pemuda berbaju rompi putih itu turun dari punggung kudanya,
lalu mendekati tepian sungai.
"Rasanya tidak mungkin kalau
Pandan Wangi hanyut. Sungai ini sangat dangkal, dan arusnya juga tidak deras,"
gumam Rangga berbicara pada dirinya sendiri.
Selagi Rangga merenung berpikir, mendadak saja telinganya mendengar desiran
angin kencang dari belakang.
Cepat sekali dimiringkan tubuhnya, dan digerakkan tangannya cepat.
Tap! Rangga membeliak begitu melihat di antara kedua jarinya terselip mata sumpit
berwarna biru dengan bulu-bulu halus menghiasi pangkalnya. Buru-buru Pendekar
Rajawali Sakti itu
membalikkan tubuhnya. Pada saat itu, dari balik semak dan pepohonan bermunculan
makhluk-makhluk yang sangat ganjil.
Ada sekitar delapan jumlahnya.
Makhluk itu berwujud manusia, tapi sikap dan tingkahnya seperti kera.
Seluruh tubuhnya berwarna biru, bahkan rambutnya pun berwarna biru. Mereka semua
membawa sumpit berwarna kuning keemasan. Hanya selembar cawat kulit kayu yang
menutupi auratnya. Mereka berjingkrakan membuat lingkaran mengepung Pendekar
Rajawali Sakti.
"Hm.... Apakah mereka yang
membawa Pandan Wangi dari sini?" gumam Rangga bertanya pada dirinya sendiri.
Rangga memandangi makhluk-makhluk aneh yang mengelilinginya. Baik tingkah maupun
suara mereka begitu mirip kera. Tapi tubuh dan wajahnya berwujud manusia biasa.
Hanya saja seluruh tubuhnya berwarna biru.
"Khuk khuk khraaaghkkk...!"
Salah satu dari makhluk seperti kera itu memperdengarkan suara keras.
Dan tiba-tiba saja makhluk yang berjumlah delapan itu berlompatan menerkam
Rangga. Tentu saja serangan yang secara bersamaan ini tidak bisa dihindari
Lingkaran Rantai Setan 2 Pendekar Naga Putih 49 Tumbal Perkawinan Memanah Burung Rajawali 37

Cari Blog Ini