Ceritasilat Novel Online

Dewa Iblis 2

Pendekar Rajawali Sakti 38 Dewa Iblis Bagian 2


dengan cara biasa. Pendekar Rajawali Sakti itu bergegas melentingkan tubuhnya ke
atas, dan hinggap di atas dahan pohon.
Belum juga Pendekar Rajawali
Sakti itu bisa bernapas lega, manusia-manusia kera itu sudah berlompatan
menyerang kembali. Tubuh mereka begitu ringan bagai kapas. Dan justru mereka
semakin tangkas berada di atas pohon.
Rangga jadi kewalahan menghadapinya.
Hingga.... Bughk! Satu pukulan keras mendarat di punggung Pendekar Rajawali Sakti itu.
Tak pelak lagi, Rangga jatuh dari atas pohon yang cukup tinggi. Pendekar
Rajawali Sakti kemudian bergulingan di tanah, dan cepat bangkit berdiri. Pada
saat itu beberapa mata sumpit bertebaran di sekitar tubuhnya.
"Hiyaaa...!"
Tak ada kesempatan lagi bagi
Rangga untuk mengatur jalan napasnya.
Dia harus jumpalitan menghindari benda-benda biru yang bertaburan mengancam
tubuhnya. Namun begitu
benda-benda biru itu habis, Rangga kembali harus menghadapi delapan manusia
setengah kera yang langsung menyerang setelah lebih dahulu meluruk turun dari
pohon. Rangga benar-benar tidak
mempunyai kesempatan untuk mengambil napas, dan tentu saja tidak mau mati konyol
di tempat ini. Segera saja Pendekar Rajawali Sakti itu
mengerahkan jurus 'Seribu Rajawali', salah satu dari lima rangkaian jurus
'Rajawali Sakti' yang sangat ampuh.
Begitu cepatnya Rangga bergerak, sehingga seolah-olah bisa membuat dirinya
menjadi seribu orang! Hal ini membuat manusia-manusia setengah kera itu jadi
kelabakan. Serangan-serangan mereka berantakan dan tidak beraturan lagi. Tubuh
Rangga seperti ada di mana-mana, dan justru seperti mengepung mereka dari segala
arah. Beberapa kali Rangga berhasil mendaratkan pukulan maupun tendangan keras
bertenaga dalam sangat tinggi.
Tapi manusia-manusia berwarna biru itu seperti kebal dan tidak merasakan sakit
sedikit pun. Bahkan tak ada pengaruh sama sekali, meskipun Rangga mengerahkan
tenaga dalamnya yang sudah mencapai taraf kesempurnaan dalam pukulan dan
tendangannya. "Gila! Tubuh mereka seperti
karet!" dengus Rangga dalam hati.
Pendekar Rajawali Sakti itu
memang merasa seperti memukul segumpal karet. Setiap pukulan dan tendangannya
selalu berbalik. Kalau saja tenaga dalamnya belum sempurna, tentu akan memakan
dirinya sendiri. Rangga jadi berpikir keras sambil terus
mempergunakan jurus 'Seribu Rajawali'.
Memang hanya dengan jurus ini serangan-serangan yang dilancarkan manusia-manusia
aneh itu mampu diimbanginya.
"Hm..., coba akan kugabung dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali',"
gumam Rangga dalam hati.
Saat itu juga Rangga mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.
Tepat pada saat itu salah seorang lawan berada dalam jangkauan
pukulannya. Secepat kilat Rangga melontarkan satu pukulan keras begitu tangannya
mulai memerah bagai terbakar.
"Hiyaaa...!"
"Aaarghk...!"
Satu raungan keras terdengar
bersamaan terdengarnya bunyi berderak dari tulang-tulang yang patah. Pukulan
Rangga tepat menghantam dada salah seorang lawannya. Sungguh di luar dugaan sama
sekali ternyata manusia setengah kera itu kini menggelepar di tanah dengan dada
melesak ke dalam.
Sementara dari mulutnya mengeluarkan
darah segar. Robohnya satu orang membuat yang lainnya terkejut. Mereka segera berlompatan
menjauh. Tapi Rangga sudah melepaskan dua pukulan beruntun sekaligus, dan
langsung mengenai dua orang manusia setengah kera yang terlambat menghindar.
Kembali terdengar raungan keras. Dua manusia setengah kera kembali menggelepar.
Salah seorang kepalanya pecah, dan seorang lagi perutnya jebol
berantakan. Mereka langsung tewas seketika.
"Khraghk...!"
Begitu terdengar seruan keras yang serak, lima orang lainnya berlompatan kabur
masuk ke dalam hutan. Rangga tak sempat lagi mengejar. Apalagi gerakan mereka
begitu cepat, sehingga sebentar saja sudah lenyap dari pandangan mata.
Tinggal tiga makhluk biru yang tergeletak tak bernyawa lagi di tanah.
"Hm..., aku yakin, ada orang lain di belakang mereka," gumam Rangga pelan.
Belum lagi hilang suara gumaman Pendekar Rajawali Sakti, tiba-tiba saja
terdengar suara tawa terbahak-bahak. Rangga menggerinjang melompat tiga langkah
ke depan. Suara tawa itu menggema, seolah-olah datang dari segala penjuru mata
angin. Jelas kalau
suara tawa itu disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Rangga merasakan
telinganya mulai sakit. Buru-buru dikerahkan kekuatan tenaga dalamnya untuk
mengimbangi suara tawa itu.
*** Rangga menggerak-gerakkan tangannya di depan dada. Ditarik napasnya dalam-dalam,
dan dihimpun seluruh tenaga dalamnya di dada. Kemudian pelahan-lahan tangannya
merentang ke samping, lalu....
"Yeaaah...!"
Dengan satu teriakan keras,
Pendekar Rajawali Sakti mengeluarkan seluruh kekuatan tenaga dalam yang sudah
terhimpun di dalam dada. Bumi bergetar, dan batu-batu berlompatan.
Pohon-pohon berguncang menggugurkan daun-daunnya. Sungguh dahsyat suara teriakan
yang disertai pengerahan tenaga dalam sempurna itu. Seluruh alam bagaikan murka.
Dan suara tawa itu seketika berhenti, berganti jeritan panjang melengking.
"Hup! Hup! Hiyaaa...!"
Rangga menghentakkan tangannya ke depan sambil memutar tubuhnya ke kanan. Maka
dari kedua telapak tangannya meluncur sinar merah yang langsung menghantam semak
belukar. Ledakan keras terdengar begitu sinar
merah menghantam semak belukar itu.
Pada saat yang sama, tiba-tiba melesat sebuah bayangan biru dari dalam semak
yang hancur berantakan. Tahu-tahu di depan Rangga sudah berdiri seorang lakilaki berbaju biru tua. Tangannya menggenggam tongkat berbentuk kepala tengkorak
manusia pada ujungnya.
"Hhh! Kau lagi, Orang Tua!"
dengus Rangga. "Hebat! Ternyata kau memiliki kepandaian tinggi juga, bocah...!"
terdengar dingin nada suara laki-laki tua itu.
"Hm...," Rangga hanya menggumam tidak jelas. Pandangan matanya begitu tajam
menusuk langsung bola mata laki-laki tua bertongkat kepala tengkorak di
depannya. "Di mana kau sembunyikan Pandan Wangi, bocah!?" bentak laki-laki tua bertongkat
kepala tengkorak itu.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, Orang Tua!" sambut Rangga dingin.
"Heh...! Aku tidak ada waktu
bermain-main, bocah setan!" bentaknya gusar.
"Kau pikir aku juga ada waktu bermain-main denganmu"! Kenal pun aku tidak sudi!"
dengus Rangga tidak kalah ketusnya.
"Kadal! Mulutmu begitu lancang, bocah! Kau akan berlutut memohon ampun
jika tahu siapa diriku!"
"Aku tidak peduli meskipun kau utusan iblis dari neraka sekalipun!"
"Setan...! Dengar, bocah! Kau sekarang ini berhadapan dengan pengawal Dewa
Iblis, penguasa seluruh daerah Kulon!" lantang suara laki-laki tua bertongkat
kepala tengkorak yang menyebut dirinya sebagai pengawal penguasa daerah Kulon.
"Baru pengawal, sudah sok! Bahkan junjunganmu sendiri, aku tidak akan tunduk!"
dengus Rangga dingin penuh ejekan.
"Beledek bongkrek! Kau menghina Dewa Iblis...!" geram laki-laki tua itu marah.
"Kau harus mampus di tangan Borga si Tongkat Samber Nyawa!"
"Rasanya kau yang lebih dahulu akan terbang ke neraka, Orang Tua,"
begitu dingin sambutan Rangga.
"Keparat...! Hiyaaa...!"
Rupanya laki-laki tua yang
menyebut dirinya Borga atau si Tongkat Samber Nyawa itu sudah tidak bisa lagi
membendung amarahnya. Seluruh wajahnya sudah memerah bagai besi terbakar di
dalam tungku. Dia langsung saja melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti
disertai teriakan keras menggelegar.
"Uts!"
Buru-buru Rangga memiringkan
tubuhnya ketika ujung tongkat si
Tongkat Samber Nyawa meluruk ke arah dada. Secepat itu pula dikibaskan
tangannya, menyampok tongkat
yang lewat di depan dada. Tapi Borga lebih cepat lagi menarik pulang tongkatnya
sambil melayangkan satu tendangan menyimpang dengan tubuh setengah berputar.
"Hait!"
"Hiya...!"
Cepat Rangga menarik mundur
kakinya ke belakang sejauh dua tindak.
Dan belum lagi Pendekar Rajawali Sakti itu berbuat sesuatu, Borga sudah
menyerang dahsyat kembali. Tongkat berkepala tengkorak itu bagai memiliki mata
saja. Meliuk-liuk berkelebatan mengincar setiap bagian tubuh Rangga yang
mematikan. Ke mana pun Rangga berkelit, ujung tongkat yang runcing selalu cepat
memburunya. Trak! Trak...! Beberapa kali tangan Rangga
berhasil menyampok tongkat itu. Tapi setiap kali tangannya berbenturan,
dirasakan adanya sengatan yang membuat aliran darahnya seolah-olah membeku.
Bahkan jantungnya bergetar keras bagai hendak pecah. Rangga langsung menyadari
kalau tongkat itu sangat berbahaya dan memiliki suatu kekuatan dahsyat.
Menyadari akan hal itu, buru-buru Pendekar Rajawali Sakti melompat ke belakang
begitu si Tongkat Samber
Nyawa baru selesai memberikan serangan ke arah kaki.
"Kau tidak akan bisa lari, bocah!
Dan kali ini harus mampus di
tanganku!" dengus Borga menggerung.
"Tidak ada gunanya lari!" sahut Rangga dingin. "Kita tentukan, siapa yang mati
lebih dulu hari ini, Borga!"
Setelah berkata demikian, Rangga mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti dari
dalam warangkanya di punggung.
Sret! Cring...!
Seketika itu juga cahaya biru berkilau menyemburat keluar dari Pedang Pusaka
Rajawali Sakti itu. Mata Borga langsung terbeliak lebar begitu melihat
pamor pedang lawannya.
Tubuhnya menggerinjang melangkah mundur tiga tindak. Kedua matanya tidak
berkedip memandangi pedang yang melintang di depan Rangga.
"Kau gentar melihat senjataku ini, Borga...?" ejek Rangga memanasi.
Borga tidak menyahuti, tapi
kembali menggeser kakinya ke belakang beberapa langkah. Mata dan mulutnya
ternganga lebar, seakan-akan terpana menyaksikan pedang bercahaya biru di tangan
Pendekar Rajawali Sakti.
"Bocah! Siapa kau sebenarnya...?"
sentak Borga tiba-tiba.
"Namaku Rangga! Tapi, orang-orang selalu memanggilku Pendekar Rajawali Sakti.
Puas...?" sahut Rangga lantang.
"Hah..."!"
Borga kelihatan begitu terkejut mendengar nama Pendekar Rajawali Sakti disebut.
Dia kembali melompat ke belakang beberapa langkah. Entah kenapa, tubuhnya
seketika itu juga jadi gemetar bagai kedinginan. Padahal siang ini udara begitu
panas, dan matahari bersinar amat terik.
"Kau.... Kau tunggulah di sini, bocah!" kata Borga.
Tanpa menunggu jawaban, laki-laki tua bertongkat kepala tengkorak itu langsung
melesat pergi. Begitu cepatnya, sehingga dalam sekejap saja sudah lenyap dari
pandangan mata.
Rangga memasukkan kembali Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangkanya di
punggung. Sama sekali hatinya tidak berminat mengejar laki-laki tua itu.
Langsung dihempaskan tubuhnya ke atas rerumputan dan disandarkan punggungnya
pada sebongkah batu yang cukup besar. Terdengar hembusan napas panjang dan cukup
berat dirasakan.
"Hhh.... Apa sebenarnya yang
terjadi pada diriku...?" keluh Rangga lirih. "Ke mana perginya Pandan Wangi..."
Hhh.... Terlalu banyak keanehan yang kujumpai di Gunung Jaran ini."
Memang semua yang terjadi di
Gunung Jaran ini belum bisa dimengerti
Pendekar Rajawali Sakti. Terlalu banyak peristiwa yang dialami secara beruntun.
Dan kesemuanya itu sukar dipahami. Terlebih lagi Rangga tidak bisa menghubungkan
antara peristiwa yang satu dengan lainnya. Hanya saja, pusat pikirannya kini
tertuju penuh pada hilangnya Pandan Wangi.
"Hhh..., Dewa Iblis. Siapa pula dia...?" gumam Rangga bertanya-tanya pada
dirinya sendiri.
*** 4 Seperti malam-malam sebelumnya, di sekitar Gunung Jaran suasananya begitu kelam.
Langit tertutup awan hitam, sehingga menghalangi sinar bulan menerangi sekitar
gunung itu. Angin bertiup kencang menyebarkan udara dingin membekukan tulang.
Suasana di sekitar Gunung Jaran begitu sunyi, tak terdengar sedikit pun suara
binatang malam. Hanya desiran angin dan gemerisik dedaunan yang terdengar.
Namun kesunyian itu mendadak
dipecahkan oleh suara genderang ditabuh bertalu-talu. Suara-suara itu
membangunkan Rangga dari tidurnya di tepi sungai kecil yang berair jernih dan
mengalir pelan, Pendekar Rajawali Sakti menggerinjang bangun. Dimiringkan sedikit kepalanya, mencari arah sumber suara genderang itu. Seketika
pandangannya tertuju ke satu arah, tempat terlihatnya cahaya terang menyembul
dari puncak pepohonan yang merapat hitam.
"Hm.... Suara itu dari...," gumam Rangga terputus.
Pendekar Rajawali Sakti itu
bergegas menghampiri kudanya, tapi tidak jadi naik. Ditepuk-tepuknya leher kuda
itu beberapa kali.
"Kau tunggu di sini, jaga si
Putih," kata Rangga.
Kuda hitam itu menganggukanggukkan kepalanya, seperti mengerti ucapan Rangga. Bergegas Pendekar Rajawali
Sakti itu berlari cepat menuju cahaya terang yang terlihat jelas dari tempat
ini. Begitu ringan dan cepat gerakannya, bagaikan terbang tak menyentuh bumi.
Sebentar saja Pendekar Rajawali Sakti sudah tiba di perkampungan yang pernah
dimasukinya. Perkampungan sunyi tanpa seorang penduduk pun menempatinya.
Rangga berhenti berlari, dan agak tertegun begitu melihat sebuah api unggun
besar menyala di tengah halaman rumah yang paling besar di antara rumah-rumah
yang ada di situ. Terlihat jelas, di sekitar api unggun itu berkeliling makhlukmakhluk berwarna biru yang bertingkah seperti kera.
Mereka berjingkrakan mengikuti irama tabuhan genderang, bersorak-sorak sambil
mengelilingi api unggun yang menyala besar membuat sekitarnya jadi terang.
Rangga bergerak mengendap-endap mendekati tempat itu. Sejak semula dia memang
sudah curiga pada Ki Ratapanca yang bersikap aneh dan penuh tanda tanya. Semakin
dekat ke perkampungan aneh itu, semakin jelas terlihat suasananya. Pendekar
Rajawali Sakti itu terkesiap saat menatap ke beranda depan rumah besar itu.
Tampak di sana terdapat dua buah kursi berukir indah yang diduduki sepasang
manusia. Di samping kanan dan kirinya berdiri dua orang laki-laki tua yang sudah
dikenal Rangga. Mereka adalah Ki Ratapanca dan si Tongkat Samber Nyawa.
Namun bukan kedua orang tua itu yang menjadi perhatian Rangga. Mata Pendekar
Rajawali Sakti itu sampai tidak berkedip menatap wanita muda berbaju biru dengan


Pendekar Rajawali Sakti 38 Dewa Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sebentuk mahkota bertengger di kepalanya. Wajah yang cantik semakin terlihat
cantik bagai dewi kahyangan. Wanita itu duduk di kursi berdampingan bersama
seorang pemuda berwajah tampan mengenakan baju indah dan bermahkota.
"Pandan Wangi.... Apa yang
dilakukannya di sini...?" desis Rangga bergumam.
Memang wanita itu adalah Pandan Wangi. Wajahnya nampak cerah, namun sorot
matanya begitu redup tak bercahaya. Tak ada senyum sedikit pun tersungging di
bibirnya yang merah menyala. Sedangkan pemuda di
sampingnya terlihat senyum-senyum, dan sepasang bola matanya berbinar seperti
bertaburkan bintang.
Baru saja Rangga hendak bergerak lebih mendekat, seketika dibatalkan niatnya.
Dari dalam rumah yang berdiri mengelilingi rumah besar itu, bermunculan gadis-gadis cantik yang hanya mengenakan cawat dari kulit kayu.
Sebagian besar tubuh mereka dibiarkan terbuka lebar. Mereka berjalan beriringan
membawa baki yang penuh makanan dan minuman serta buah buahan. Sebentar saja di
sekitar halaman rumah itu bagai sedang diadakan pesta.
Saat itu, di tempat persembunyiannya, Rangga terus mengawasi tanpa berkedip. Dia semakin ingin tahu
kelanjutannya. Rasa penasarannya begitu dalam dan tertumpah penuh pada Pandan
Wangi yang duduk berdampingan bersama seorang pemuda tampan bermahkota di
kepalanya. Kelopak mata Pendekar Rajawali Sakti itu agak menyipit saat melihat
seorang laki-laki berjubah bagai pendeta tengah meniti anak-anak tangga beranda
depan. Di belakangnya gadis-gadis yang berjumlah dua belas orang mengiringi.
Suara genderang berhenti ketika laki-laki tua berjubah bagai pendeta itu tiba di
depan dua insan yang duduk berdampingan. Makhluk-makhluk berwarna biru juga
berhenti berjingkrakan.
Semua perhatian tertumpah ke beranda depan rumah besar itu. Rangga tidak
berkedip, dan terus memperhatikan dari tempat persembunyiannya.
"Paman Pendeta Gorayana, apakah kau sudah siap melaksanakan upacara perkawinan
ini?" tanya pemuda tampan yang duduk di samping Pandan Wangi.
"Semua sudah siap, Gusti Prabu Sumabrata," sahut laki-laki tua berjubah kuning
gading dan berkepala gundul yang dipanggil Pendeta Gorayana itu.
"Bagus! Laksanakanlah segera,"
sambut Prabu Sumabrata seraya tersenyum cerah.
"Tapi, Gusti Prabu...."
"Apa lagi, Paman Pendeta?"
"Apakah mempelai wanita benar-benar sudah sehat" Sebab hamba tidak berani
meresmikan perkawinan ini jika mempelai wanita masih dalam keadaan terluka."
"Luka yang diderita calon istriku benar-benar sudah sembuh, Paman Pendeta. Tidak
ada lagi yang perlu dirisaukan. Kau bisa bertanya pada
Paman Ratapanca."
"Benar, Kakang Gorayana. Pandan Wangi sudah sehat dan pulih seperti sediakala,"
jelas Ki Ratapanca yang berdiri di samping Prabu Sumabrata.
"Kalau begitu, upacara bisa
dilaksanakan, Gusti Prabu," ujar Pendeta Gorayana.
"Laksanakanlah. Sudah terlalu lama aku menunggu peristiwa ini, Paman Pendeta.
Aku tidak sudi lagi gagal berantakan seperti dulu."
"Baiklah, Gusti Prabu."
*** Rangga benar-benar terkejut bukan main mendengar semua percakapan itu.
Sudah dapat ditebak, siapa calon pengantin yang dimaksudkan. Keheranan semakin
menyelimuti diri Pendekar Rajawali Sakti itu saat mendengar kesediaan Pandan
Wangi menikah dengan Prabu Sumabrata. Ternyata gadis itu mengangguk mengiyakan
saat ditanya Pendeta Gorayana.
"Gila! Ini tidak boleh
dibiarkan!" geram Rangga dalam hati.
Berbagai macam perasaan berkecamuk dalam dada Pendekar Rajawali Sakti. Marah,
geram, dan kecemburuan berkecamuk menjadi satu. Merah padam seluruh wajah
Rangga. Jantungnya berdegup kencang dan napasnya mendengus memburu.
"Hentikan...!" seru Rangga tiba-tiba sambil melompat keluar dari tempat
persembunyiannya.
Semua yang ada di tempat itu
terkejut melihat kemunculan Pendekar Rajawali Sakti yang begitu tiba-tiba.
Rangga langsung berdiri tegak di depan tangga beranda depan. Sama sekali tidak
dipedulikan makhluk-makhluk berwarna biru yang sudah bergerak mengepungnya.
"Heh! Siapa kau, manusia tidak tahu adat"!" bentak Prabu Sumabrata.
"Aku Rangga. Aku tidak mengijinkan kau mengawini Pandan Wangi!"
sahut Rangga dingin.
Sorot mata Pendekar Rajawali
Sakti itu sangat tajam dan terasa dingin menusuk. Sedangkan Pandan Wangi hanya
diam duduk seperti patung.
Seakan-akan tidak mempedulikan kehadiran Rangga di tempat ini.
"Gusti Prabu, ijinkan hamba
memberi pelajaran kepada bocah kurang ajar ini," ujar si Tongkat Samber Nyawa
seraya membungkuk memberi hormat.
"Tunggu dulu, Paman. Aku ingin tahu, apa maksud kedatangannya ke sini," cegah
Prabu Sumabrata.
"Gusti, bocah ini bisa menjadi sumber bencana bagi kita semua. Hamba sudah
pernah bertarung dengannya.
Kepandaiannya sangat tinggi," sergah Borga.
"Benar, Gusti Prabu," sergah Ki Ratapanca.
"Hm..., jadi kalian pernah berhadapan dengannya?"
"Benar, Gusti Prabu," sahut Ki Ratapanca dan Borga berbarengan seraya membungkuk
memberi hormat.
"Kenapa kalian tidak mengatakannya padaku?" tanya Prabu Sumabrata menyesalkan.
"Ampun, Gusti Prabu. Hamba berdua tidak ingin merusak hari perkawinan ini. Hamba
berusaha mengusirnya keluar dari daerah ini. Segala daya sudah hamba lakukan,
tapi...," kata-kata Borga terputus.
"Tapi kenapa, Paman?" desak Prabu Sumabrata.
"Bocah ini tangguh sekali," jelas Borga tanpa malu-malu lagi mengakui.
"Gusti, bocah itu datang bersama Pandan Wangi. Dan Pandan Wangi diakuinya
sebagai adiknya," celetuk Ki Ratapanca.
"O..., begitu...?" Prabu Sumabrata tersenyum sinis. "Sejak kapan Pandan Wangi
mempunyai seorang kakak"
Atau dia kekasihnya?"
"Hamba pikir memang demikian, Gusti," sahut Ki Ratapanca.
"Kalau begitu, singkirkan dia!"
perintah Prabu Sumabrata tegas.
"Hamba, Gusti Prabu," sahut Borga dan Ki Ratapanca bersamaan.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, kedua laki-laki tua itu berlompatan menerjang
Rangga. Tentu saja Rangga yang sudah siap sejak tadi segera melompat ke
belakang, dan langsung membalas serangan orang tua itu dengan sengitnya.
Tapi baru beberapa gebrakan saja, Borga dan Ki Ratapanca melompat mundur
menghentikan serangan. Mereka berteriak memerintahkan makhluk-makhluk berwarna
biru untuk menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Makhluk-makhluk berwarna biru
dengan tingkah seperti kera itu langsung berlompatan merangsek. Jumlah mereka
tinggal lima orang. Tapi begitu mereka menyerang, mendadak saja dari dalam tanah
bersembulan makhluk serupa yang langsung mengeroyok pemuda berbaju rompi putih
itu. Sedangkan Borga dan Ki Ratapanca menyingkir mendekati tangga beranda rumah.
Semakin lama jumlah makhluk
berwarna biru itu semakin banyak saja.
Mereka bersembulan dari dalam tanah.
Rangga benar-benar kewalahan
menghadapinya. Ruang geraknya semakin sempit. Beberapa kali pukulan dan
tendangannya berhasil mengenai sasaran, tapi makhluk-makhluk biru itu seperti
tidak merasa sama sekali.
Terus merangsek, tanpa mengenai gentar sedikit pun.
"Huh! Sekarang harus kugunakan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali',"
dengus Rangga yang teringat pada pertarungannya melawan makhluk-makhluk ini di
tepi sungai kecil.
Langsung saja Pendekar Rajawali Sakti ini menggunakan jurus yang dahsyat itu.
Kedua kepalan tangannya jadi merah membara bagai terbakar.
Tidak ada satu pukulan pun yang luput dari sasaran. Jeritan melengking mulai
terdengar, disusul ambruknya tubuh-tubuh berwarna biru. Darah mulai bersimbah
membasahi tanah yang telah basah oleh embun. Namun makhluk-makhluk biru itu
benar-benar tidak mengenal rasa takut. Mereka terus merangsek meskipun sudah
banyak yang bergelimpangan berlumuran darah tak bernyawa lagi.
"Kalau begini terus, mereka bisa habis, Kakang Borga," kata Ki Ratapanca.
"Kau tidak perlu cemas, Adi
Ratapanca. Mereka tidak akan habis.
Kau lihat saja," sahut Borga atau si Tongkat Samber Nyawa tenang.
Memang benar apa yang dikatakan Borga. Makhluk-makhluk biru itu terus
bermunculan dari dalam tanah. Seakan-akan kehidupan mereka berasal dari setitik
debu. Dan hal ini tentu saja
membuat Rangga semakin kewalahan menghadapinya. Keringat sudah bercucuran
membasahi sekujur tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu. Sudah tidak terhitung lagi,
berapa yang tewas. Tapi lebih banyak lagi yang bermunculan dari dalam tanah.
Rangga jadi tidak habis mengerti. Mereka ini bagai mayat hidup yang tidak takut
mati dan tidak punya perasaan sama sekali.
Tak ada pilihan lain bagi Rangga, kecuali segera mencabut Pedang Pusaka Rajawali
Sakti dari warangkanya di punggung. Seketika itu juga cahaya terang berkilau
menyemburat dari pedang itu. Dengan senjata andalan tergenggam di tangan, Rangga
bagai malaikat maut yang mengamuk dan membantai makhluk-makhluk biru itu.
Tapi mendadak saja keanehan terjadi.
Makhluk-makhluk biru itu berlompatan mundur sambil menutupi mata dengan kedua
tangannya. "Gusti, sebaiknya pernikahan ini ditunda saja," usul Pendeta Gorayana yang
berdiri di samping Prabu Sumabrata.
"Benar, Gusti Prabu. Sebaiknya Gusti kembali saja ke istana dulu,"
celetuk Borga. Sebentar pemuda yang dipanggil Prabu Sumabrata itu terdiam sambil memandangi
Rangga yang masih mengamuk
dengan pedang bersinar biru berkilau di tangan. Kemudian digamitnya lengan
Pandan Wangi, lalu melangkah masuk ke dalam diikuti Pendeta Gorayana dan Ki
Ratapanca. Sedangkan si Tongkat Samber Nyawa tetap tinggal di tempat itu.
Gadis-gadis cantik yang hanya mengenakan cawat dan selembar kain penutup dada
juga bergegas masuk ke dalam rumah-rumah lainnya.
*** "Wuih...! Makhluk apa ini..,?"
gumam Rangga keheranan melihat makhluk-makhluk berwarna biru itu tiba-tiba saja
melesak masuk ke dalam tanah.
Semua makhluk aneh berwarna biru itu menghilang, terpendam ke dalam tanah. Hanya
si Tongkat Samber Nyawa yang masih tinggal. Laki-laki tua bertongkat kepala
tengkorak itu menghentakkan ujung tongkatnya ke tanah tiga kali. Maka tiba-tiba
saja dari dalam tanah bersembulan tiga pasang tangan yang langsung mencekal
pergelangan kaki Pendekar Rajawali Sakti.
"Heh..."!" Rangga tersentak
kaget. Tapi belum juga hilang rasa
terkejutnya, tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti itu merasakan kakinya
ditarik ke dalam tanah. Seketika kedua kakinya melesak sampai ke lutut.
Rangga segera mengerahkan tenaga dalamnya, mencoba menarik kembali kakinya
keluar dari dalam tanah. Tapi hasilnya bukannya keluar, melainkan malah semakin
melesak dalam. Sudah hampir sepinggang tubuh Pendekar Rajawali Sakti melesak ke dalam tanah.
Pemuda itu merasakan kedua kakinya dicengkeram kuat, dan terus ditarik ke dalam
tanah. Sekuat tenaga berusaha ditahan agar tubuhnya tidak terus melesak masuk ke
dalam tanah. Tapi tarikan itu demikian kuat, dan tubuh Pendekar Rajawali Sakti
semakin jauh masuk ke dalam.
"Ha ha ha...!" Borga tertawa
terbahak-bahak melihat Pendekar Rajawali Sakti terus amblas ke dalam tanah.
Rangga mengangkat pedangnya
tinggi-tinggi di atas kepala dengan ujung berada di bawah. Digenggamnya gagang
pedang dengan kedua tangan erat-erat. Kemudian....
"Hiyaaa...!"
Wuk! Crab! Sambil mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam, Pendekar Rajawali Sakti itu
menghunjamkan pedangnya dalam-dalam ke tanah, tepat di depan perutnya. Tepat
saat terdengar raungan
panjang, Rangga segera mengempos tenaganya melenting ke udara.
Tawa si Tongkat Samber Nyawa
seketika itu juga lenyap. Dua kali Rangga berjumpalitan di udara, kemudian manis
sekali kakinya menjejak tanah tepat sekitar tiga langkah lagi di depan Borga.
Secepat kilat Rangga mengibaskan pedangnya ke leher laki-laki tua bertongkat
kepala tengkorak itu.
Bet! "Uts...!"
Buru-buru Borga mengibaskan
tongkatnya menyampok pedang itu sambil melompat mundur dua tindak.
Trak! "Heh...!"
Betapa terkejutnya si Tongkat Samber Nyawa melihat tongkatnya terpotong menjadi
dua bagian. Dan belum lagi hilang rasa terkejutnya, Rangga sudah melayangkan
satu tendangan menggeledek bertenaga dalam sangat sempurna ke arah Borga.
Des! "Akh...!" Borga memekik keras.
Tendangan Pendekar Rajawali Sakti tepat menghantam dada si Tongkat Samber Nyawa.
Akibatnya, tubuh laki-laki tua itu terpental jauh ke belakang dan menghantam
pilar beranda depan rumah besar itu hingga roboh.
Atap beranda langsung ambruk menimpa
tubuh Borga. Rangga melompat
mundur ke belakang beberapa langkah. Bumi laksana bergetar ketika atap beranda rumah itu
ambruk. Pendekar Rajawali Sakti berdiri tegak. Di samping kakinya menggeletak
tongkat berkepala tengkorak manusia. Rangga hendak memungut tongkat itu, tapi
mendadak saja....
"Jauhkan tongkat itu dari
tanganmu, Pendekar Rajawali Sakti...!"
terdengar bentakan keras mengejutkan.
Rangga yang sudah membungkuk
hendak mengambil tongkat berkepala tengkorak itu jadi mengurungkan niatnya, dan
pelahan berdiri tegak kembali. Pandangannya langsung tertuju pada Borga yang
sudah berada di atas reruntuhan atap beranda rumah besar itu. Tampak mulutnya
dipenuhi darah, dadanya kelihatan melesak ke dalam.
Borga berdiri gontai di atas kedua kakinya yang bergetar.
"Kau tidak boleh menjamah tongkat itu, bocah!" dengus Borga seraya melangkah
gontai menghampiri.
"Kenapa" Tongkat ini tidak ada artinya lagi bagimu. Aku akan menggunakannya
untuk memanggang tubuhmu!" dingin nada suara Rangga.
"Kau bisa saja membunuhku, Anak Muda. Tapi jangan harap dapat menyentuh tongkat
itu!" kata Borga
tidak kalah dinginnya.
"Kenapa tidak...?"
Rangga kembali membungkuk hendak memungut tongkat di dekat kakinya.
Tapi belum juga tangannya menyentuh tongkat itu, Borga sudah melompat sambil
berteriak keras. Langsung dilontarkan dua pukulan sekaligus ke arah Pendekar
Rajawali Sakti.
"Uts...!"
Buru-buru Rangga memiringkan
tubuhnya ke samping menghindari pukulan laki-laki tua itu. Namun selagi tubuhnya
doyong, si Tongkat Samber Nyawa mengibaskan kakinya mengarah perut. Terpaksa
Rangga melentingkan tubuhnya berputar, maka tendangan Borga luput dari sasaran.
Secepat itu pula Borga menyambar tongkat yang tergeletak di tanah dengan ujung
kakinya. Tongkat itu melayang ke udara.
"Hup! Hiyaaa...!"


Pendekar Rajawali Sakti 38 Dewa Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Bagai kilat, Borga melesat ke udara mengejar tongkat berkepala tengkorak itu.
Pada saat yang sama, Rangga juga melentingkan tubuhnya ke udara mengejar tongkat
yang sama. Dua tokoh tingkat tinggi melesat cepat mengejar sebuah tongkat
berkepala tengkorak manusia.
Tap! Tap! Dalam waktu yang sama, kedua
orang itu menangkap tongkat berkepala tengkorak di udara. Tapi tanpa diduga sama
sekali, Rangga melayangkan satu pukulan keras ke bagian dada Borga.
Pukulan yang begitu cepat dan tidak terduga sama sekali itu tak dapat dielakkan
lagi. Dug! "Akh...!" Borga memekik keras.
Pegangannya pada tongkat
berkepala tengkorak langsung terlepas, dan tubuhnya meluruk deras ke bawah.
Seketika itu juga Rangga cepat memburu mempergunakan jurus 'Rajawali Menukik
Menyambar Mangsa'. Kedua kakinya bergerak cepat, sedangkan tubuhnya meluruk
deras mengejar Borga.
"Hiyaaa...!"
Buk! Prakkk...!
"Aaa...!"
Satu jeritan melengking tinggi terdengar begitu kaki Rangga
menghantam keras kepala si Tongkat Samber Nyawa. Laki-laki tua itu jatuh
berdebum ke tanah. Kepalanya pecah dan darah bercucuran deras. Tepat pada saat
Rangga menjejakkan kakinya di tanah, Borga tak bergerak-gerak lagi.
Dia tewas, dan kepalanya pecah bersimbah darah.
"Hhh...!" Rangga menarik napas panjang dan agak berat.
Pendekar Rajawali Sakti itu hanya sebentar memastikan kalau lawannya
sudah tewas, kemudian langsung melesat ke dalam rumah besar. Dia tahu kalau
Pandan Wangi tadi dibawa pemuda yang dipanggil Prabu Sumabrata ke dalam rumah
ini bersama Pendeta Gorayana dan Ki Ratapanca.
*** 5 Rangga benar-benar tidak habis mengerti, rumah besar ini kosong, tak ada seorang
pun yang dijumpai.
Pendekar Rajawali Sakti itu terus mencari sampai ke belakang. Tetap saja tidak
dijumpai seorang pun. Bergegas dia keluar lagi melalui pintu belakang, lalu
memutari rumah ini. Dia berdiri tegak di tengah-tengah halaman yang cukup besar
dan luas. Api unggun masih menyala terang membuat malam yang gelap gulita ini
jadi terang-benderang.
"Pandan...!" teriak Rangga
memanggil. Teriakan yang begitu keras
menggema terpantul, dan menyusup terbawa angin malam ke seluruh hutan di Gunung
Jaran ini. Tapi tak ada sahutan sama sekali. Hanya gema yang menyahuti teriakan
itu. Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tak ada yang dapat dilihat,
kecuali mayat- mayat bertubuh biru dan mayat Borga yang tergeletak hampir memenuhi halaman
rumah ini. Dengan perasaan kesal bercampur kecemasan, Pendekar Rajawali Sakti itu mengambil
tongkat berkepala tengkorak manusia milik Borga dan menghentakkan ke tanah. Saat
itu juga tanah yang dipijak bergetar. Rangga terkejut, lalu berjingkrak ke
belakang beberapa langkah. Belum hilang keterkejutannya, mendadak saja dari
dalam tanah bersembulan makhluk-makhluk berwarna biru. Dan anehnya, makhluk biru
yang sudah tewas, kembali hidup tanpa ada bekas luka sedikit pun!
"Edan! Lagi-lagi makhluk keparat ini muncul!" dengus Rangga gusar.
Pendekar Rajawali Sakti itu
langsung bersiap kalau-kalau makhluk biru itu menyerangnya. Tapi pemuda itu jadi
terheran-heran, karena mereka hanya berdiri diam memandangnya. Malah sama sekali
tidak mengadakan penye-rangan. Pendekar Rajawali Sakti memandangi dengan sinar
mata penuh keheranan dan segumpal tanda tanya memadati benaknya.
"Siasat licik macam apa lagi
ini...?" Rangga bertanya-tanya sendiri di dalam hati.
Sebelum pertanyaan itu bisa
terjawab, kembali Pendekar Rajawali Sakti dibuat keheranan yang amat
sangat. Makhluk-makhluk biru itu tiba-tiba saja berlutut, dan kedua telapak
tangannya ditekan ke tanah. Kepala mereka semua tertunduk dalam. Rangga
melangkah mundur, dan seketika mereka yang berada di belakang Pendekar Rajawali
Sakti itu bergerak menyingkir memberi jalan. Hal ini membuat Rangga jadi semakin
bertanya-tanya. Makhluk yang semula buas, mendadak jadi seperti hamba sahaya
berada di depan majikannya.
"Apa yang kalian lakukan
padaku...?" tanya Rangga terheran-heran.
Tak ada yang menjawab. Semuanya tertunduk diam, dan sikapnya tetap berlutut.
Rangga memandangi makhluk-makhluk berwarna biru yang jumlahnya puluhan itu.
"Kalian punya mulut, tentunya bisa berbicara, bukan?" tanya Rangga lagi.
Salah satu makhluk biru yang
berada tepat di depan Rangga
mengangkat kepalanya, kemudian duduk bersila. Dan yang lainnya segera mengikuti.
Serentak mereka menggu-mamkan suara sambil merapatkan kedua telapak tangan di
depan dada. Hal ini membuat Rangga semakin tidak mengerti.
"Katakan, kenapa kalian tiba-tiba berubah sikap padaku?" pinta Rangga masih
penasaran. Makhluk biru yang tadi bersila lebih dulu, bangkit berdiri.
Dibungkukkan tubuhnya dengan tangan masih merapat di depan dada. Rangga
mengamati penuh keheranan. Dia tahu kalau itu merupakan sikap penghor-matan.
Tapi baginya sikap itu lebih pantas ditujukan buat seorang pemimpin, atau pada
seorang raja. "Kau bisa berbicara sepertiku?"
tanya Rangga. "Hamba, Yang Mulia," sahut
makhluk biru itu dengan suara berat, tapi nyaring. Lebih mirip suara jeritan
seekor kera. "Hm..., kau menyebutku Yang
Mulia. Kenapa?" tanya Rangga ingin tahu.
"Yang Mulia adalah pemimpin kami.
Kami siap mengabdi dan menjalankan segala perintah yang dititahkan Paduka Yang
Mulia," sahut makhluk biru itu penuh hormat.
"Pemimpin..."!" Rangga benarbenar tidak mengerti.
"Benar. Yang Mulia membawa tanda kepemimpinan dan telah memanggil kami yang
telah siap menjalankan titah."
Rangga baru tersadar kalau saat ini tengah memegang potongan tongkat milik
Borga. Potongan tongkat berkepala tengkorak. Pendekar Rajawali Sakti itu
memandangi tongkat yang tergenggam di tangannya, kemudian
beralih pada makhluk biru yang berdiri agak membungkuk di depannya. Sedangkan
makhluk-makhluk biru lainnya masih duduk bersila dengan kepala tertunduk dalam.
"Siapa namamu?" tanya Rangga.
"Nama..." Ampun, Yang Mulia.
Hamba tidak mengerti," sahut makhluk biru itu.
"Heh...! Apakah kau tidak punya nama?" Rangga terkejut heran. "Lalu, biasanya
dipanggil apa?"
"Kami semua sama, Yang Mulia.
Kami hanya mengabdi dan menjalankan titah pemimpin. Kami tidak pernah
berhubungan satu sama lain. Jadi kami tidak memiliki panggilan apa pun,"
makhluk biru itu menjelaskan dengan hormat.
"Aneh...," gumam Rangga.
Tapi Pendekar Rajawali Sakti itu jadi tersenyum. Memang makhluk-makhluk aneh
berwarna biru itu satu sama lain sangat mirip. Jadi, sukar untuk membedakan.
Tapi sedikit banyak Rangga sudah bisa mengerti, mengapa sikap mereka langsung
berubah padanya.
Rangga tahu kini, siapa saja yang memegang tongkat berkepala tengkorak ini, akan
dianggap sebagai pemimpin mereka yang harus ditaati segala perintahnya.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan memanggilmu si Biru saja. Bagaimana?"
tanya Rangga meminta pendapat.
"Hamba, Yang Mulia," makhluk biru itu membungkukkan badannya.
Rangga hanya tersenyum saja.
Tentu saja semua makhluk biru itu menyetujui, karena baginya tidak ada masalah
menggunakan nama apa pun juga.
Dan lagi Rangga sendiri tidak akan bisa mengenali lagi jika mereka satu sama
lain sudah bergabung. Pendekar Rajawali Sakti itu melangkah menghampiri beranda
depan salah satu rumah yang terdekat, kemudian mengambil sebuah tali kulit
binatang yang digunakan untuk mengikat tiang.
Pendekar Rajawali Sakti itu memberikan pada makhluk biru yang masih berdiri di
tempatnya. "Kalungkan ini pada lehermu, dan jangan dilepas," perintah Rangga.
"Hamba, Yang Mulia."
Makhluk berwarna biru itu
menerima tali kulit dari tangan Pendekar Rajawali Sakti dan mengalung-kannya di
leher. Disimpulkannya ujung tali kulit binatang itu menjadi satu, kemudian
dibungkukkan tubuhnya kembali memberi hormat. Rangga tersenyum, karena kini bisa
mengenali salah satu makhluk yang sama seluruhnya itu.
"Nah, kalian boleh kembali.
Kecuali kau, Biru," perintah Rangga lagi. Dia memang tidak membutuhkan makhlukmakhluk biru untuk saat ini.
Makhluk-makhluk biru itu memberi hormat, kemudian kembali masuk ke dalam tanah.
Sungguh menakjubkan! Begitu tubuh mereka lenyap ke dalam tanah, permukaan tanah
kembali seperti semula. Tak ada tanda-tanda kalau makhluk-makhluk aneh berwarna
biru keluar masuk dari dalam tanah ini.
Kini tinggal satu yang masih bersama Rangga di atas permukaan tanah.
"Nah, Biru. Kau kenal orang itu?"
tanya Rangga menunjuk mayat Borga yang tergeletak tidak jauh dari situ.
"Dia bernama Borga, Gusti.
Sepuluh tahun lebih bangsa kami dikuasainya. Tapi sekarang Yang Mulia adalah
pemimpin kami," sahut si Biru.
"Apakah sebelum Borga, ada orang lain yang pernah menjadi pemimpin bangsamu?"
tanya Rangga menyelidik disertai perasaan ingin tahu.
"Benar, Gusti. Kami selalu
berganti-ganti pemimpin sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu."
"Hm..., kenapa kalian selalu
menganggap orang yang memegang tongkat ini sebagai pemimpin" Kenapa tidak
mengangkat salah satu dari kalian saja yang menjadi pemimpin?" tanya Rangga.
"Hanya Sang Hyang Wenang yang mengetahui, Yang Mulia. Kami sudah ditakdirkan
hidup dengan jumlah tetap sampai dunia ini berakhir. Begitu pula
pemimpin kami yang selalu datang dari bangsa manusia. Ampun, Yang Mulia.
Hamba tidak tahu, karena semua ini adalah kodrat yang sudah ditentukan Sang
Hyang Wenang," sahut si Biru.
"Ya, sudah," Rangga tidak
mendesak lagi. *** Pagi sudah menghiasi mayapada ini. Sang surya menampakkan cahayanya menerangi
seluruh permukaan bumi yang indah. Semalaman Rangga tidak bisa tidur, dan terus
mencari Pandan Wangi.
Tapi sudah setiap jengkal tanah di sekitar tempat ini diteliti, tidak juga
ditemukan tanda-tanda yang bisa dijadikan petunjuk untuk menemukan Pandan Wangi.
Rangga duduk mencangkung di atas akar pohon yang menyembul dari dalam tanah.
Tidak jauh di depannya ber-simpuh si Biru. Makhluk aneh bertubuh seperti
manusia, namun berwarna biru dan tingkahnya lebih mirip kera.
Rangga memandangi si Biru dalam-dalam.
Sebenarnya dia tidak ingin menggunakan makhluk ini untuk kepentingannya. Tapi
mengingat makhluk ini pernah bersama orang-orang yang kini menculik Pandan
Wangi, Pendekar Rajawali Sakti itu jadi punya pertimbangan lain.
"Biru, kau tahu di mana mereka
kini berada?" tanya Rangga.
"Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak mengerti maksud Yang Mulia," sahut si Biru
seraya memberi hormat.
"Maksudku Prabu Sumabrata dan orang-orangnya," jelas Rangga.
"Yang Mulia, selama hamba hidup ribuan tahun di sini, tidak ada yang bernama
Prabu Sumabrata. Hamba tahu kalau sekitar Gunung Jaran ini termasuk wilayah
Kerajaan Kulon. Tapi raja sendiri tidak pernah mengijinkan rakyatnya mengusik
tempat ini. Dan kami semua memang tidak ingin diganggu. Tidak ada seorang pun
yang berani mengganggu, kecuali...."
"Teruskan, Biru," pinta Rangga.
"Kecuali Dewa Iblis, Yang Mulia."
"Dewa Iblis..."!" Rangga terhenyak mendengar nama itu.
"Benar, Yang Mulia."
Rangga terdiam membisu. Nama itu memang pernah didengarnya saat si Tongkat
Samber Nyawa dulu pernah menyebutkan. Cukup lama juga Pendekar Rajawali Sakti
itu terdiam merenung.
Otaknya berputar keras, kemudian Rangga tersentak dan bangkit berdiri.
Dipandanginya si Biru dalam-dalam.
"Kau tahu di mana si Dewa Iblis itu tinggal?" tanya Rangga.
"Di Puncak Gunung Jaran ini, Yang Mulia. Dewa Iblis tinggal di sebuah kuil tua,"
sahut makhluk biru itu.
Rangga mengalihkan pandangannya ke Puncak Gunung Jaran yang selalu terselimut
kabut, baik siang maupun malam. Sepanjang mata memandang, hanya kehijauan yang
tertutup kabut. Gunung Jaran ini memang tidak pernah dijamah manusia, dan Rangga
sendiri baru kali ini ke sini.
"Biru, mengapa Dewa Iblis selalu mengganggu bangsamu?" tanya Rangga ingin tahu.
"Dewa Iblis yang ini adalah
keturunan terakhir, Yang Mulia. Sejak jaman nenek moyang, antara kami dan dia
selalu bermusuhan. Mereka selalu ingin menguasai bangsa kami untuk maksud-maksud
jahat. Tapi sudah menjadi takdir, kalau kami tidak akan mempunyai pemimpin dari
keturunan Dewa Iblis."
"Kenapa begitu?"
"Karena Sang Hyang Wenang memang sudah menggariskan demikian, Yang Mulia. Dewa
Iblis bukanlah manusia utuh, tapi keturunan darah iblis.
Sedangkan kami sudah ditakdirkan untuk mengabdi pada manusia seutuhnya yang
bukan keturunan neraka atau nirwana.
Untuk itu, kami membuat tanda yang terbuat dari tulang-tulang pemimpin pertama.
Tanda itu kini dipegang Yang Mulia," jelas si Biru.
"Hm, jadi siapa saja yang
memegang benda ini langsung menjadi
pemimpin bangsamu?" Rangga ingin memperjelas.
"Benar, Yang Mulia."
"Tidak peduli apakah orang itu baik atau jahat?"
"Kami tidak bisa membedakan
antara yang baik dan yang jahat. Kami terlalu patuh pada pemimpin, dan itu sudah
menjadi sumpah kami di hadapan Sang Hyang Wenang."
"Dewata Yang Agung...," desah Rangga tidak menyangka. "Tidak seharusnya makhluk
sepertimu jatuh ke tangan orang berwatak jahat."
Rangga memandangi potongan
tongkat yang tergenggam di tangannya.
Sungguh, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa dengan tongkat ini. Tidak mungkin
tongkat ini dibawa terus selama hidup. Makhluk-makhluk biru ini harus mempunyai
pegangan hidup sendiri,
tapi tidak mudah untuk
merubahnya. Dan ini semua ditentukan Hyang Widi, penguasa tunggal seluruh jagad
raya ini. Rangga tidak mungkin mampu merubah keyakinan mereka.
Tongkat kepala tengkorak ini sudah menjadi lambang kepemimpinan yang tidak bisa
dirubah lagi. "Ayo, Biru. Kita ke Puncak Gunung Jaran," ajak Rangga.
"Mau apa ke sana, Yang Mulia?"
tanya si Biru sambil berdiri.
"Siapa tahu Pandan Wangi ada di
sana. Kalaupun tidak, aku akan membebaskan bangsamu dari gangguan si Dewa
Iblis," tegas Rangga.
"Sebaiknya jangan, Yang Mulia,"
cegah si Biru.

Pendekar Rajawali Sakti 38 Dewa Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kenapa?"
"Dewa Iblis sangat kejam. Dia tidak segan-segan membunuh siapa saja yang cobacoba mengusik kehidupannya.
Sudah banyak orang yang tewas di tangannya, terutama rakyat Kerajaan Kulon dan
desa-desa sekitar kaki Gunung Jaran ini. Yang Mulia, pernah suatu ketika Raja
Kerajaan Kulon minta bantuan kami untuk membinasakannya.
Tapi kami sendiri tidak sanggup, meskipun tidak bisa mati oleh apa pun.
Kecuali, bila Sang Hyang Wenang menghendaki kami mati."
"Hm...," gumam Rangga tidak
jelas. Sebenarnya Pendekar Rajawali
Sakti itu agak terkejut juga, karena tidak menyangka kalau orang-orang di
wilayah Kulon ini sudah mengetahui tentang adanya kehidupan suatu makhluk
berwarna biru di Gunung Jaran ini.
Bahkan rajanya sendiri mengetahui.
Rangga jadi berpikir juga. Kalau hal ini sampai diketahui para tokoh rimba
persilatan, tentu kedamaian makhluk-makhluk biru ini akan terancam. Rangga tahu
betul watak orang-orang rimba persilatan yang serakah dan tidak
pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki.
Rangga tidak ingin memikirkan tentang hal itu sekarang ini.
Pikirannya masih tertuju pada keselamatan Pandan Wangi yang kini entah di mana.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Pendekar Rajawali Sakti itu mengayunkan kakinya
melangkah. "Yang Mulia...," panggil si Biru seraya mengejar.
"Ada apa, Biru?" tanya Rangga terus saja berjalan tanpa menoleh.
"Apakah Yang Mulia tetap akan ke Puncak Gunung Jaran?"
"Tentu," sahut Rangga mantap.
"Hamba mohon, Yang Mulia
mengijinkan hamba untuk kembali,"
mohon si Biru. Rangga berhenti melangkah, lalu membalikkan tubuhnya menghadap pada makhluk
berwarna biru itu.
Dipandanginya dalam-dalam, kemudian ditepuk pundak makhluk itu sambil mengulas
senyum. "Baiklah. Kukabulkan permintaanmu ini. Tapi kuminta kau menjaga tongkat ini
baik-baik," kata Rangga.
"Apakah Yang Mulia akan
mengambilnya lagi nanti?"
"Iya," hanya itu yang bisa
diucapkan Rangga.
"Tapi tongkat ini berguna untuk memanggil, Yang Mulia."
"Lalu, bagaimana cara memanggilmu selain dengan tongkat itu?"
"Hentakkan kaki tiga kali, dan sebut namaku. Hanya hamba yang akan muncul
membawa tongkat ini dan menyerahkan kembali pada Yang Mulia untuk memimpin
kami." "Baiklah. Aku pergi dulu dan jaga tongkat ini baik-baik."
"Akan hamba jaga dengan baik, Yang Mulia."
Rangga tersenyum dan menepuk
pundak makhluk biru itu. Setelah membungkuk hormat, makhluk bertubuh biru itu
melesak cepat masuk ke dalam tanah sambil membawa tongkat berkepala tengkorak
manusia. Rangga memandangi beberapa saat, kemudian bergegas berbalik dan berlari
cepat menuju Puncak Gunung Jaran.
*** 6 Tidak terlalu sukar bagi Rangga untuk menemukan letak puri yang merupakan tempat
tinggal Dewa Iblis.
Pendekar Rajawali Sakti itu memandangi bangunan yang seluruhnya terbuat dari
batu itu. Sebuah bangunan puri tua yang kelihatannya tidak terawat baik.
Sekitarnya ditumbuhi rumputan liar.
Seluruh dinding puri berlumut tebal.
Bangunan ini seperti tidak pernah dijamah manusia.
Rangga mengayunkan kakinya lebih mendekat ke puri itu. Sikapnya begitu waspada.
Matanya tidak berkedip memandang sekitarnya. Pendekar Rajawali Sakti itu juga
mengerahkan aji
'Pembeda Gerak dan Suara', untuk menangkap suara-suara yang mencurigakan. Tapi
sampai sejauh ini, tidak terdengar suara apa pun selain desir angin yang
mengganggu gendang telinga.
Tapi ketika tinggal beberapa langkah lagi mencapai bangunan puri itu, mendadak
saja.... "Berhenti...!" terdengar bentakan keras menggelegar.
Rangga langsung menghentikan
langkahnya. Dan belum sempat berbalik, tiba-tiba saja sebuah tombak panjang
meluncur deras dari arah belakang.
Cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti itu memiringkan tubuh, maka tombak itu
lewat sedikit di sampingnya. Bergegas Pendekar Rajawali Sakti memutar tubuhnya
membelakangi puri. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di depannya sudah
berdiri seorang wanita muda berwajah cantik.
Wanita itu hanya mengenakan
selembar kain kecil yang menutupi auratnya. Tangannya memegang sebatang tombak
panjang bermata tiga pada ujungnya. Wanita itu menghentakkan
tombaknya ke tanah tiga kali. Maka seketika itu juga dari dalam semak dan balik
pepohonan berlompatan wanita-wanita berwajah cantik menggenggam tombak bermata
tiga. Mereka semua hanya mengenakan cawat dan penutup dada. Sebagian besar
tubuhnya terbuka lebar, memamerkan kulit putih halus yang membungkus tubuh
ramping nan indah. Ada sekitar dua puluh orang yang kini sudah mengepung
Pendekar Rajawali Sakti.
"Hm...," gumam Rangga pelahan.
Pendekar Rajawali Sakti itu
bersikap waspada. Dia tahu kalau wanita-wanita ini pasti bermaksud tidak
bersahabat. Dan Rangga pernah melihat mereka di perkampungan aneh yang hanya
memiliki dua belas rumah saja. Dan itu dilihatnya pada saat diadakan upacara
perkawinan yang membuat darahnya mendidih.
"Ternyata kau cukup punya nyali juga untuk datang ke sini, Pendekar Rajawali
Sakti!" kata wanita itu, dingin nada suaranya.
"Siapa kau, Nisanak?" tanya
Rangga tenang. "Aku Lara Pandini, penguasa Puri Jaran ini," jawab wanita itu lantang.
Rangga bergumam tidak jelas.
Wanita yang satu ini memang agak lain dari yang lainnya. Dia mengenakan ikat
kepala berwarna kuning keemasan yang
dihiasi sebuah batu merah di tengah-tengah keningnya. Sedangkan yang lain tidak
mengenakan apa-apa. Dan itu sudah menandakan kalau wanita cantik ini adalah
pemimpinnya. Tapi bukan dia yang dicari.
"Kau telah melanggar daerah
kekuasaanku, Pendekar Rajawali Sakti.
Kau tahu, puri ini terlarang bagi laki-laki. Dan siapa saja yang berani
melanggar harus mati!" tegas kata-kata Lara Pandini.
"Hebat! Mudah sekali kau
mengatakan mati pada seseorang.
Padahal, kau juga menyimpan laki-laki di tempat ini," sinis nada suara Rangga.
"Tutup mulutmu, keparat!" bentak Lara Pandini memerah wajahnya.
"Kenapa kau kelihatan marah,
Nisanak?" "Mulutmu memang harus dibungkam, Pendekar Rajawali Sakti! Seraaang...!"
Seketika itu juga sekitar dua puluh wanita cantik yang bersenjatakan tombak
bermata tiga, langsung berlompatan menyerang Rangga.
Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti yang memang sudah siaga sejak tadi, segera
bergerak cepat mempergunakan jurus
'Sembilan Langkah Ajaib' yang sesekali dipadukan dengan jurus 'Pukulan Maut
Paruh Rajawali' pada tingkatan pertama.
Dugaan Rangga memang benar.
Wanita-wanita itu bukanlah
tandingannya. Tingkat kepandaian mereka masih terlalu jauh bila dibandingkan
dengannya. Sehingga mudah sekali pemuda berbaju rompi putih itu memporakporandakan serangan mereka.
Dalam beberapa gebrak saja,
mereka sudah berpelantingan memperdengarkan suara jeritan kesakitan.
Rangga memang sengaja tidak mengerahkan tenaga dalam penuh dalam
melancarkan pukulan-pukulan agar tidak membahayakan lawan-lawannya. Satu persatu mereka dibuat roboh tak sadarkan diri tanpa terluka sedikit pun.
Sebentar saja, dua puluh orang wanita cantik itu sudah tergeletak tidak sadarkan
diri. Tinggal sang pemimpin yang bernama Lara Pandini masih berdiri kokoh dengan
tombak bermata tiga tergenggam erat di tangan kanan.
"Jangan merasa besar kepala dulu hanya karena bisa menjatuhkan pengawalpengawalku, Pendekar Rajawali Sakti!" dengus Lara Pandini sengit.
"Aku ingin tahu, apakah kau sama tololnya dengan mereka!" ejek Rangga memanasi.
"Bedebah! Pantang aku dihina, Pendekar Rajawali Sakti!" geram Lara Pandini
gusar. Setelah berkata demikian, Lara
Pandini langsung melompat menerjang Rangga yang sudah siap sejak tadi.
Wanita cantik ini ternyata memang tidak seperti yang lain, ilmu olah
kanuragannya ternyata cukup tinggi juga. Bahkan serangan-serangannya pun cukup
berbahaya. Tapi Rangga
melayaninya dengan bibir tersungging senyuman.
*** Kepandaian yang dimiliki Lara Pandini memang cukup tinggi, tapi itu bukan
berarti dapat mengalahkan Pendekar Rajawali Sakti. Kalau boleh dibilang, masih
jauh untuk bisa mendesak sekali pun! Maka tidak terlalu sukar bagi Rangga
menjatuhkan wanita itu. Dalam waktu singkat saja satu pukulan telak berhasil
disarangkan Rangga pada tubuh wanita itu. Akibatnya Lara Pandini terpekik jatuh
tersuruk mencium tanah!
Sebelum sempat bangkit berdiri, Rangga sudah menubruknya dan memberi satu
totokan halus di dada Lara Pandini. Wanita cantik itu langsung lemas tak
bertenaga lagi. Jalan darahnya tersumbat akibat totokan Pendekar Rajawali Sakti
yang tidak dapat terelakkan lagi. Rangga membalikkan tubuh wanita itu hingga
menelentang. "Aku tidak tahu, apa yang
membuatmu jadi liar begini, Nisanak.
Sinar matamu mencerminkan adanya pengaruh kuat di luar akal sehatmu
sesungguhnya," kata Rangga datar.
"Huh!" Lara Pandini mendengus berang.
"Baik-baiklah di sini. Akan
kucoba menghilangkan pengaruh yang ada pada dirimu," kata Rangga lagi.
Setelah berkata demikian, Rangga langsung melompat mendekati puri tua yang
tampak tidak terurus itu. Hanya sekali lesatan saja, Rangga sudah mencapai
ambang pintu yang tidak memiliki penutup. Tapi belum juga Pendekar Rajawali
Sakti itu bisa melangkah masuk, mendadak dari dalam berkelebat sebuah bayangan
biru. "Uts!"
Buru-buru Rangga memiringkan
tubuhnya, sehingga terjangan bayangan biru itu lewat di depannya. Pendekar
Rajawali Sakti langsung melompat ke belakang, dan jadi terkejut. Ternyata
bayangan biru itu kembali menyerang ganas. Tapi yang membuat Pendekar Rajawali
Sakti itu terkejut adalah bukan serangannya, melainkan orangnya.
"Pandan, tahan...!" bentak Rangga keras.
Secepat kilat Rangga melompat ke belakang sejauh dua batang tombak.
Serangan wanita berbaju biru yang
ternyata memang Pandan Wangi itu terhenti. Sejenak Rangga tertegun melihat sorot
mata Pandan Wangi merah menyala, bagai sepasang bola api yang siap membakar.
Pedang Golok Yang Menggetarkan 9 Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan Hoa San Lun Kiam Karya Chin Yung Patung Dewi Kwan Im 7

Cari Blog Ini