Ceritasilat Novel Online

Iblis Berwajah Seribu 3

Pendekar Rajawali Sakti 8 Iblis Berwajah Seribu Bagian 3


didobrak. Tampak, Adipati Prahasta duduk tenang di tengah-tengah ruangan
pribadinya. Rakapati mengayunkan langkahnya mendekati adipati itu yang juga ayah
tirinya. "Aku sudah menduga, kau yang ada di belakang semua kejadian ini," kata Adipati
Prahasta pelan dan datar suaranya.
"Karang Asem sudah aku kuasai, dan sebentar lagi Kerajaan Karang Asem akan
berdiri kembali. Akulah Raja Karang Asem yang syah! Dan kau, Prahasta, kau harus
mati di tiang gantungan seperti penjahat!" dingin dan kedengaran tertekan suara
Rakapati. Rakapati menggerakkan tangannya. Dua orang berpakaian serba hitam segera masuk. Tanpa menunggu
perintah lagi, mereka langsung meringkus Adipati Prahasta.
Laki-laki gemuk itu tidak sedikitpun memberikan perlawanan. Tangan dan tubuhnya
diikat tambang.
Baru saja Rakapati hendak menghampiri Adipati
Prahasta, tiba-tiba seorang berpakaian hitam lainnya datang. Dia berbisik di
telinga Rakapati. Sesaat Rakapati memandang ke arah Adipati Prahasta, kemudian
dia menoleh pada orang yang berbisik di telinganya tadi.
"Suruh dia tunggu di Balai Agung," kata Rakapati.
Rakapati kemudian memerintahkan beberapa orang
untuk menjaga Adipati Prahasta. Kemudian dia bergegas ke luar kamar itu.
Langkahnya lebar-lebar dan terburu-buru menuju ke Balai Agung. Dia tidak menoleh
sedikitpun saat memasuki ruangan besar yang indah itu. Rakapati
langsung menuju ke kursi yang letaknya tinggi dengan ukiran berlapiskan emas.
Dia duduk di kursi itu dengan sikap agung bagai seorang raja besar. Sesaat
matanya merayapi sekitarnya, kemudian pandangannya menatap pada dua laki-laki
yang duduk bersimpuh di depannya.
Kedua orang laki-laki itu adalah Balungpati dan Welut Putih.
Balungpati dan Welut Putih memberikan sembah
hormat. Rakapati mengangkat tangannya sedikit. Di
belakang Balungpati dan Welut Putih, duduk empat orang berpakaian serba hitam.
Mereka adalah Setan Cakar
Racun, Iblis Kembar Teluk Naga dan Perempuan Iblis Peminum Darah. Rakapati
tersenyum lebar penuh
kemenangan. Dia berhasil menguasai Kadipaten Karang Asem tanpa perlawanan yang
berarti. Pasukannya terlalu tangguh bagi para pengawal kadipaten, sehingga
dengan mudah dapat ditundukkan
"Hamba membawa sekitar tiga ratus orang prajurit Gusti." kata Balungpati sambil
menyembah. "Hm, bagus!" dengus Rakapati gembira. "Apakah mereka akan setia padaku?"
"Mereka orang-orang pilihan hamba. Dan sebagian besar adalah murid-murid dari
Welut Putih," Balungpati menoleh pada Welut Putih yang duduk di sampingnya.
"Benar, Gusti. Hamba sudah lama sekali menunggu kesempatan ini. Hamba dan Kakang
Balungpati memang sengaja menjadi prajurit di Kadipaten Karang Asem ini.
Hamba selalu berharap dan mempersiapkan para pemuda dan prajurit-prajurit yang
setia pada junjungan Gusti Prabu Sirandana. Mereka semua dapat diandalkan,
Gusti. Hamba sendiri yang melatih mereka semua," kata Welut Putih menjelaskan.
"Terima kasih. Aku terharu sekali dengan kesetiaan Paman berdua. Maaf, kalau aku
sempat mencurigai kalian dan membenci karena kalian mengabdi pada musuh,"
Rakapati bersikap berjiwa besar. "Aku janji, tidak akan melupakan jasa-jasa
kalian yang telah banyak memberikan keterangan berharga padaku."
Balungpati dan Welut Putih segera memberi hormat.
"Nah, mulai sekarang, aku serahkan kepemimpinan prajurit pada paman berdua."
kata Rakapati. "Hamba laksanakan, Gusti." sahut Balungpati dan Welut Putih berbarengan.
"Atur penjagaan, dan sapu bersih setiap prajurit Limbangan yang ditemui."
Balungpati dan Welut Putih kembali memberikan
sembah. Kemudian mereka beringsut pergi dari ruangan besar itu. Rakapati
memandangi empat orang berpakaian serba hitam yang masih duduk bersimpuh di
lantai. Mereka segera berdiri dan mengambil tempat duduk di kursi yang berjajar
rapi di depan Rakapati duduk.
"Aku minta kalian semua masih tetap tinggal di sini untuk beberapa saat. Aku
khawatir Panglima Lohgender dan Arya Duta menyerang ke sini. Mereka harus mati,
juga semua prajurit Limbangan harus mati." kata Rakapati.
"Jangan khawatir, tanpa prajurit pun aku sanggup menghabiskan mereka," kata Naga
Hitam, salah satu dari Iblis Kembar Teluk Naga.
"Aku percaya, kalian adalah tokoh-tokoh sakti pilih tanding. Tapi jangan anggap
remeh Panglima Lohgender.
Dia juga sukar dicari tandingannya."
"Serahkan dia padaku!" Perempuan Iblis Peminum Darah menepuk dada sambil
terkekeh. Rakapati tersenyum senang. Kemudian dia bangkit
berdiri, dan meninggalkan ruangan itu. Empat orang tokoh hitam rimba persilatan
itu segera angkat kaki.
Mereka membuka baju hitam yang dikenakan, dan
membuangnya begitu saja. Mereka memang lebih senang mengenakan pakaian yang
sudah menjadi ciri khas mereka sendiri-sendiri.
*** Panglima Lohgender yang sudah bergabung dengan Arya
Duta, tiba di perbatasan Kadipaten Karang Asem dengan Hutan Tarik. Hampir enam
ratus orang prajurit mengikuti dari belakang. Mereka terus bergerak langsung
menuju kediaman Adipati Prahasta. Panglima Lohgender merasakan suatu keanehan.
Sepanjang jalan yang dilalui tampak sepi. Tak seorang penduduk pun dijumpai.
Semua rumah tertutup rapat Arya Duta juga merasakan hal yang sama.
Arya Duta mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dia melompat dari punggung kudanya
diikuti para prajurit yang berada di belakangnya. Keadaan ganjil ini membuat
Arya Duta dan Panglima Lohgender bersikap lebih waspada.
Panglima Lohgender memerintahkan sepuluh prajurit
untuk memeriksa keadaan. Namun baru saja mereka melangkah beberapa depa, puluhan
anak panah meluncur dengan cepat ke arah mereka, hingga tak ayal lagi tubuhtubuh mereka roboh satu per satu dengan jeritan tertahan.
"Setan!" geram Arya Duta melihat sepuluh orang prajuritnya langsung tewas
tertembus anak panah.
Seketika itu juga dari balik pepohonan dan rumahrumah penduduk serta gerumbul semak belukar, bermunculan orang-orang berpakaian serba hitam. Mereka berlompatan dan berlarian
menyerang. "Serang...!" teriak Arya Duta keras.
Pertempuran tak dapat dihindari. Para prajurit Kerajaan Limbangan bertempur
bagai singa lapar dan terluka. Setiap tebasan pedang atau hunjaman tombak,
selalu meminta nyawa. Pekik peperangan dan jerit kematian berbaur jadi satu.
Tubuh-tubuh bersimbah darah bergelimpangan tak tentu arah. Dekat perbatasan
Kadipaten Karang Asem berubah jadi ajang pertempuran. Denting senjata dan
desingan anak panah hiruk pikuk membelah udara. Tak terhitung lagi, berapa
korban yang jatuh di kedua belah pihak.
"Welut Putih!" Arya Duta tersentak melihat Welut Putih datang dan langsung
menyerang para prajurit Kerajaan Limbangan.
Arya Duta melentingkan tubuhnya ke arah Welut Putih.
Pedangnya langsung berkelebat dengan cepat Welut Putih terperangah sejenak,
langsung dia melompat menghindari tebasan pedang Arya Duta. Mereka berhadapan
saling tatap dengan sinar mata merah membara.
"Pengkhianat!" geram Arya Duta.
"Hhh! Kau lupa, Arya Duta. Aku putra Karang Asem,"
balas Welut Putih mendesis.
"Seharusnya sejak semula aku mencurigaimu, Welut Putih."
"Terlambat, karena sebentar lagi kau akan mampus!
Juga seluruh prajuritmu!"
"Setan! Kubunuh kau, pengkhianat!" geram Arya Duta.
Arya Duta langsung menerjang dengan garang.
Pedangnya berkelebatan cepat mengurung tubuh Welut Putih. Dalam waktu yang tidak
terlalu lama, keduanya telah mengerahkan puluhan jurus andalannya. Saat memasuki
jurus ketiga puluh, tampak Welut Putih kelihatan mulai terdesak. Welut Putih
memang bukan tandingan Arya Duta.
Dia bisa berbangga di Kadipaten Karang Asem, tapi tingkat kepandaiannya masih
berada di bawah anak angkat
Panglima Kerajaan Limbangan itu.
"Mampus kau..!" bentak Arya Duta tiba-tiba.
Seketika kakinya melayang mengarah ke dada Welut
Putih yang sedikit lowong. Welut Putih menangkis dengan mengibaskan senjatanya,
namun rupanya tendangan itu hanyalah tipuan belaka, karena Arya Duta segera
menarik kakinya dibarengi dengan kibasan pedang ke arah leher.
Crash! "Aaakh...!" Welut Putih mengerang panjang.
Darah langsung muncrat dari leher yang terbabat
menganga lebar, lalu tubuh itu tersuruk jatuh ke tanah.
Sebentar menggelepar, kemudian diam tak bergerak lagi.
Welut Putih mati mengenaskan oleh tebasan pedang orang yang pernah
menghormatinya dengan panggilan paman.
"Manusia busuk, aku lawanmu!"
Terdengar bentakan keras disertai pengerahan tenaga dalam. Arya Duta langsung
menoleh dan melompat ke luar dari arena pertarungannya dengan Welut Putih tadi.
Ludahnya menyembur begitu melihat seorang laki-laki tua ber-jubah-hitam.
Tubuhnya kurus kering, tinggi bagai galah bambu. Dialah si Setan Cakar Racun.
"He... he... he ... seharusnya aku serahkan pada Iblis Wajah Seribu dia pasti
senang padamu." Setan Cakar Racun terkekeh melihat ketampanan wajah Arya Duta.
"Phuih! Jangan banyak bacot kau iblis! Majulah, kalau kau mau merasakan
pedangku!" dengus Arya Duta.
Satu bayangan kuning tiba-tiba saja meluncur, dan mendadak sudah berdiri di
samping Setan Cakar Racun seorang perempuan cantik mengenakan baju kuning dengan
bunga terselip di telinganya. Baju yang ketat, membentuk tubuh ramping indah,
membuat mata Arya Duta tak sempat berkedip memandangnya.
"Ah, baru ternat di hatiku, kau sudah datang." sambut Setan Cakar Racun
menyeringai melihat Klenting Kuning atau Iblis Wajah Seribu sudah berdiri di
sampingnya. "Terima kasih, kau tahu benar seleraku," sahut Klenting Kuning tersenyum manis.
Klenting Kuning menatap Arya Duta tak berkedip. Wajah tampan itu membuat
seleranya bangkit penuh gejolak.
Beberapa kali Klenting Kuning menelan ludahnya sendiri.
Dia memang selalu bergairah jika melihat pemuda tampan, apalagi yang memiliki
tingkal kepandaian tinggi, gairahnya langsung bangkit seketika.
"Aku tinggal dulu, Manis. Bersenang-senanglah kalian."
kata Setan Cakar Racun langsung mencelat pergi. Suara terkekeh terdengar dari
mulutnya yang tipis kecil.
"Hm..., siapa namamu, bocah bagus?" tanya Klenting Kuning lembut sambil mengulas
senyum menggoda.
"Jangan coba-coba merayuku, perempuan iblis!" dengus Arya Duta. "Aku tidak
peduli dengan kecantikan wajahmu, siapa saja yang berada di belakang Rakapati,
harus mampus di ujung pedangku!"
"Ha... ha... ha...," Klenting Kuning tertawa renyah. "Aku suka pemuda tampan
sepertimu "
"Phuih!"
Arya Duta langsung berteriak nyaring melengking.
Tubuhnya melenting tinggi ke udara, lalu dengan cepat menukik sambil mengibaskan
pedangnya beberapa kali.
Klenting Kuning hanya memekik manja, dia memiringkan tubuhnya sedikit hingga
pedang Arya Duta hanya
menyambar angin.
Klenting Kuning masih menyunggingkan senyuman
manis menggoda. Gerakan tubuhnya amat gemulai. Dia seolah menganggap remeh
lawannya. Meskipun begitu, belum sedikitpun ujung pedang Arya Duta menyentuh
ujung rambutnya. Setiap kali pedang Arya Duta berkelebat cepat. Klenting Kuning
hanya berkelit sedikit dengan gerakan lemah gemulai. Tanpa terasa, pertarungan
sudah berlangsung lebih dari sepuluh jurus.
"Hiyaaa...!" tiba-tiba Arya Duta berteriak nyaring. Sambil melompat, dia
mengibaskan pedangnya dengan cepat.
Klenting Kuning memekik manja, dia segera mundur, dan kibasan pedang Arya Duta
kembali menemui tempat
kosong. Pada saat tubuh pemuda itu masih berada di atas, seketika tangan
Klenting Kuning mendorong ke arah tubuh pemuda itu. Seberkas sinar kehijauan
meluncur deras.
"Akh!" Arya Duta memekik tertahan.
Tanpa dapat dicegah lagi. Jarum hijau yang dilepaskan Klenting Kuning menembus
dadanya. Arya Duta langsung jatuh roboh tak berkutik. Tubuhnya serasa lemas tak
ber-tenaga. Klenting Kuning semakin lebar senyumnya. Dia melangkah menghampiri
tubuh pemuda itu. Hanya dengan sekali angkat saja, tubuh Arya Duta sudah berada
di dalam kempitannya.
"Kita akan bersenang-senang dulu, bocah bagus," kata Klenting Kuning seraya
mencelat kabur.
"Arya Duta...!" seru Panglima Lohgender.
Panglima Kerajaan Limbangan itu segera melompat
hendak menyerang, namun beberapa orang berpakaian
serba hitam sudah lebih dulu menghadangnya. Terpaksa Panglima Lohgender harus
melayani para penyerangnya.
Perhatiannya pada Arya Duta jadi terganggu.
*** Saat itu Rangga dan Pandan Wangi sudah tiba di
Kadipaten Karang Asem. Mereka terkejut melihat pertempuran sudah berjalan
sengit. Tampak Panglima
Lohgender bertarung bagai banteng teriuka sambil berteriak-teriak memberi
semangat pada para prajuritnya.
Rangga menahan tangan Pandan Wangi yang mau terjun ke kancah pertempuran.
"Ingat, Pandan. Jangan campuri urusan mereka. Kita baru terjun kalau ada tokoh
rimba persilatan ikut campur,"
kata Rangga. Belum juga Pandan Wangi membuka mulut, matanya
langsung menangkap dua orang laki-laki kembar berkelebatan cepat menghajar para prajurit Kerajaan
Limbangan. Tanpa menunggu lagi, gadis itu segera
mengibaskan cekalan tangan Rangga. Bagai anak panah lepas dari busurnya, Pandan
Wangi langsung melentingkan tubuhnya ke arah dua orang kembar itu.
Kedatangan Pandan Wangi membuat Iblis Kembar Teluk Naga terkejut. Apalagi gadis
itu langsung menyerangnya.
Pandan Wangi sengaja membawa mereka ke luar dari
arena pertempuran. Mereka bertarung di luar dari para prajurit yang saling baku
hantam. Pandan Wangi bertempur dengan menggunakan kipas baja saktinya.
Beberapa kali si Kipas Maut itu mematahkan serangan-serangan Iblis Kembar Teluk
Naga, sehingga membuat tokoh kembar itu kerepotan menghadapinya. Tapi pada
jurus-jurus selanjutnya, kelihatan sekali kalau keadaan berbalik. Pandan Wangi
kini jadi kewalahan, dan selalu terdesak. Kerjasama tokoh kembar itu sangat rapi
dan saling susul serangannya.
"Pandan, gunakan Pedang Naga Geni!" teriak Rangga.
Rangga yang sejak tadi memperhatikan jalannya pertarungan, bisa mengetahui kalau Pandan Wangi sudah sangat terdesak sekali. Tapi
dia tidak mau ikut campur membela gadis itu. Rangga berpegang teguh pada
prinsip-nya sebagai seorang pendekar.
Sret! Iblis Kembar Teluk Naga langsung melompat mundur
begitu melihat pamor pedang Naga Geni. Udara di sekitar gadis itu mendadak jadi
terasa panas. Pandan Wangi bagaikan sosok malaikat pencabut nyawa dengan pedang Naga Geni di
tangannya. Mendadak, Pandan Wangi merasakan sesuatu yang
aneh menjalari tubuhnya. Gadis itu merasakan tubuhnya jadi ringan bagaikan
kapas. Dan nafsu untuk membunuh mengalir deras merasuk ke dalam tubuhnya tanpa
terkendali. Pamor pedang Naga Geni mulai merasuki tubuh dan jiwa gadis itu.
Mendadak saja, Pandan Wangi berteriak nyaring, dan tubuhnya melenting tinggi ke
udara. Pedang yang memancarkan sinar merah menyala bagai api itu berputar-putar
cepat meluruk ke arah Iblis Kembar Teluk Naga.


Pendekar Rajawali Sakti 8 Iblis Berwajah Seribu di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Iblis Kembar Teluk Naga berlompatan begitu merasakan hawa panas menyambar
tubuhnya. Mereka sampai terperangah merasakan kedahsyatan pedang itu. Namun
Pandan Wangi tidak lagi memberi kesempatan lagi.
Serangan pertama gagal, langsung disusul dengan
serangan berikutnya yang tidak kalah cepatnya.
"Awas, Adi Naga Putih...!" teriak Naga Hitam tiba-tiba.
Saat itu Pedang Naga Geni sudah berkelebat cepat
membabat ke arah dada Naga Putih. Begitu cepatnya
tebasan pedang itu, sehingga membuat Naga Putih tak bisa berbuat apa-apa lagi,
dan.... "Aaakh...!" Naga Putih memekik keras.
Darah langsung muncrat ke luar dari dada yang terbelah hangus terbabat pedang
Naga Geni di tangan Pandan
Wangi. Belum lagi tubuh Naga Putih ambruk ke tanah.
Pandan Wangi sudah kembali melenting ke arah Naga
Hitam. Tentu saja satu dari Iblis Kembar Teluk Naga itu terperanjat bukan main.
"Hih!" Naga Hitam mengangkat senjatanya.
Tring! Dua senjata beradu keras memercikkan bunga api.
Naga Hitam tersentak kaget, karena senjatanya buntung jadi dua bagian. Belum
lagi hilang rasa kagetnya, tahu-tahu dia sudah terlempar tinggi ke udara. Kaki
Pandan Wangi melayang di udara, secepat kilat Pandan Wangi mencelat mengejar.
"Hiya, hiyaaa...!"
"Aaakh...!" Naga Hitam menjerit melengking.
Dua tebasan beruntun memotong tubuh Naga Hitam jadi tiga bagian. Tubuh yang
terpotong-potong itu meluruk jatuh ke tanah. Pandan Wangi kembali meluruk turun,
dan langsung menghajar orang-orang yang berpakaian hitam.
Kegemparan langsung pecah, karena Pandan Wangi
bagaikan malaikat pembantai yang sulit dibendung.
"Celaka!" desis Rangga yang selalu memperhatikan gadis itu.
Tanpa membuang-buang waktu lagi. Pendekar Rajawali Sakti itu langsung melompat
menghampiri Pandan Wangi.
"Pandan! Cepat lepaskan pedang itu!" seru Rangga sambil berlompatan menghindari
tebasan pedang Pandan Wangi.
"Tidak bisa, Kakang. Pedang ini bergerak sendiri mengendalikan diriku!" sahut
Pandan Wangi sedikit terengah.
"Kalian semua menyingkir!" teriak Rangga menyuruh orang-orang yang ada di
sekitar Pandan Wangi menyingkir.
Pandan Wangi benar-benar tidak bisa mengendalikan
pedang Naga Geni. Dia kini malah menyerang Rangga yang berusaha membawanya
menjauh dari arena pertempuran.
Pada saal itu, dua sosok tubuh melayang menghampiri.
Mereka adalah Perempuan Iblis Peminum Darah dan Setan Cakar Racun. Melihat
Pandan Wangi tidak terkendalikan oleh pedangnya sendiri, kedua tokoh hitam itu
memanfaat-kannya.
"Setan alas! Kalian mau mampus, heh!" bentak Rangga geram.
"He... he... he..., Setan Cakar Racun, kau hadapi yang betina. Biar aku yang
melayani bocah bagus ini." kata Perempuan Iblis Peminum Darah.
"Tapi ingat, kau jangan membunuhnya. Serahkan dia pada Iblis Wajah Seribu
sebagai hadiah," sahut Setan Cakar Racun.
"Phuih! Aku juga senang padanya, biar dia nanti bekas-ku!"
"Terserah kaulah!"
Setan Cakar Racun segera merangsek Pandan Wangi.
Sementara Perempuan Iblis Peminum Darah, langsung
menggempur Rangga. Hal ini membuat Pendekar Rajawali Sakti itu jadi muak.
Sementara dia juga mengkhawatirkan keadaan Pandan Wangi yang tidak bisa lagi
mengendalikan dirinya akibat pengaruh pedang Naga Geni.
Rasa geram yang sudah melanda Rangga, membuat
Pendekar Rajawali Sakti itu tidak dapat lagi mengendalikan dirinya. Dia langsung
mencabut pedang Rajawali Sakti dari warangkanya. Seketika itu juga cahaya biru
berkilau menyemburat terang dari pedang itu. Perempuan Iblis Peminum Darah
terkesiap melihat pamor pedang itu.
"Mampus kau iblis, hiyaaa...!" teriak Rangga nyaring.
Secepat kilat Rangga mengayunkan pedangnya ke arah tubuh lawannya. Perempuan
Iblis yang sempat terperangah, langsung melentingkan tubuhnya menghindar, tapi
serangan Rangga yang begitu cepat, masih bisa melukai kaki wanita itu.
"Akh!" Perempuan Ibtis Peminum Darah memekik tertahan.
Belum juga dia sempat menginjakkan kakinya ke tanah, Rangga sudah mengibaskan
pedangnya kembali. Kali ini jeritan melengking terdengar dari mulut si Perempuan
Iblis Peminum Darah. Rangga langsung menolehkan kepalanya ke arah Pandan Wangi.
"Hiya...!"
Pendekar Rajawali Sakti itu melompat cepat bagai kilat seraya mengibaskan
pedangnya. Setan Cakar Racun yang tengah kerepotan membendung serangan Pandan
Wangi, tidak sempat lagi menghindari terjangan Rangga. Dia menjerit keras begitu
merasakan lehernya terbabat pedang.
"Ayo, Pandan. Cepat ikuti aku!" seru Rangga.
Rangga sengaja mengadukan pedangnya dengan
pedang Naga Geni di tangan Pandan Wangi. Seketika itu juga, Pandan Wangi
mengalihkan perhatiannya pada
Rangga yang sudah mencelat pergi ke arah Hutan Tarik.
Pandan Wangi yang sudah tidak bisa mengendalikan
pengaruh Pedang Naga Geni, langsung saja melompat
mengejar Pendekar Rajawali Sakti. Dua tubuh langsung berkejaran menuju ke Hutan
Tarik. Sementara pertarungan antara para prajurit Kerajaan Limbangan yang
dipimpin langsung oleh Panglima Lohgender, terus berlangsung sengit. Tapi kini
sudah kelihatan kalau para pengikut Rakapati mulai terdesak.
"Panglima, cepat cari Rakapati di dalam!" terdengar suara Rangga menggema,
padahal orangnya sudah tidak ada lagi.
Panglima Lohgender tidak terkejut lagi. Dia paham kalau seorang pendekar
digdaya, pasti mampu mengirimkan
suara tanpa ujud. Segera saja dia melompat ke luar dari kancah pertempuran.
Sejenak dia bisa melupakan Arya Duta yang dibawa Iblis Wajah Seribu.
*** 7 Rakapati bergegas ke dalam istana kadipaten. Dia
langsung menuju ke kamar pribadi adipati. Di sana Adipati Prahasta masih duduk
terikat dengan wajah tenang dan bibir menyunggingkan senyuman. Senyumnya semakin
lebar begitu melihat Rakapati masuk menghampiri.
"Sebaiknya kau urungkan saja niatmu, Rakapati. Tanpa mengadakan pertumpahan
darah pun aku akan menyerahkan Kadipaten Karang Asem ini padamu," kata Adipati
Prahasta. "Diam kau!" bentak Prahasta gusar.
"Percuma saja kau melawan, prajurit Limbangan bukanlah tandinganmu. Lebih-lebih
Panglima Lohgender. Kau akan menyesal seumur hidup," Adipati Prahasta yang
teramat menyintai anak tirinya ini berusaha menyadar-kannya.
Rakapati menjulurkan kepalanya mendekati wajah
Adipati Prahasta. Mukanya merah padam dengan bola
mata merah menyala. Perlahan-lahan dia mengeluarkan kelewang dari balik bajunya.
Adipati Prahasta tetap tersenyum melihat senjata berkilat di tangan anak
tirinya. "Bunuhlah aku, Rakapati. Kalau itu membuatmu jadi puas," tenang sekali Adipati
Prahasta berkata.
"Kau memang harus mari, Prahasta. Harus...!" desis Rakapati tegang.
"Hidupku pun tidak ada gunanya. Bertahun-tahun aku menginginkan seorang anak.
Kini meskipun hanya seorang anak tiri yang kudapat, aku tidak merasa menyesal.
Aku memang tidak mungkin lagi mempunyai keturunan. Ayo, bunuhlah aku. Aku puas
karena anak yang kudidik dan kubesarkan, memiliki semangat dan cita-cita pada
tanah kelahirannya. Aku bangga memilikimu, Rakapati," kata Adipati Prahasta
dengan mata berkaca-kaca. Namun nada suaranya tetap tenang mencerminkan
kebanggaan. Rakapati jadi terdiam terpaku mendengar kata-kata
Adipati Prahasta yang begitu menyentuh sampai ke lubuk hatinya yang paling
dalam. Secara jujur, hati kecilnya mengakui kalau selama ini dia benar-benar
merasakan kasih sayang penuh dari ayah tirinya ini. Tak pernah sedikitpun
Adipati Prahasta memperlakukannya sebagai anak tiri yang tanpa hak di Kadipaten
Karang Asem. Tiga kali Adipati Prahasta menikah, tapi tak seorangpun dari istrinya yang mampu
melahirkan keturunan. Dan begitu dia menikahi Puspa Lukita yang sudah memiliki
seorang anak laki-laki, seluruh cinta dan kasih sayangnya dia tumpahkan pada
anak tirinya. Meskipun seharusnya Puspa Lukita dan Rakapati menjadi tawanan
perang pada masa runtuhnya Kerajaan Karang Asem. Dan dengan restu Raja
Limbangan, dia menikahi Puspa Lukita. Kini anak yang dia didik dan dia asuh
sejak berumur empat tahun, menempelkan kelewang di lehernya. Namun Adipati
Prahasta tidak sedikitpun merasa menyesal atau murka dengan sikap Rakapati.
Dalam hatinya justru dia merasa bangga karena Rakapati ingin mengembalikan
Karang Asem pada masa jayanya. Adipati Prahasta sendiri
sebenarnya tidak setuju ketika harus menggempur
Kerajaan Karang Asem ketika itu.
"Rakapati, di mana ibumu?" tanya Adipati Prahasta.
"Untuk apa kau tanyakan ibuku?" dengus Rakapati masih bersikap bermusuhan, namun
nada suaranya sudah sedikit melunak.
"Sebaiknya kau bawa ibumu ke Kadipaten Sedana. Kau tidak akan berhasil dengan
hanya kekuatanmu yang ada sekarang. Prajurit-prajurit Limbangan terlalu kuat
bagimu. Susunlah kekuatan yang lebih besar lagi di Kadipaten Sedana jika kau masih tetap
ingin mengembalikan
kejayaan Karang Asem. Aku yakin, pamanmu mau
membantu perjuanganmu, Rakapati," kata Adipati Prahasta.
Rakapati menjauhkan kelewangnya dari leher Adipati Prahasta. Kepalanya menoleh
demi mendengar langkah-langkah kaki memasuki kamar ini. Tampak seorang wanita
setengah baya namun masih kelihatan cantik, melangkah menghampiri.
"Ibu...," Rakapati melangkah mundur dua tindak.
"Saran ayahmu benar, anakku. Pergilah ke Kadipaten Sedana. Temui pamanmu
Winicitra. Berikan ini padanya,"
kata Puspa Lukita sambil menyerahkan kalung hitam
bercincin emas.
"Ibu...," suara Rakapati seperti tersedak di tenggorokan.
"Pergilah, anakku. Tinggallah di Bukit Kapur bersama Eyang Wanakara. Beliau
seorang pertapa sakti. Ibu yakin beliau mau menerimamu karena kau anak tunggal
dari Sirandana. Paman Winicitra akan mengantarkanmu ke
sana. Tunjukkan kalung ini pada Eyang Wanakara. Beliau pasti sudah tahu melihat
kalung ini."
Rakapati tidak mampu berkata-kata lagi. Dia menerima saja pemberian ibunya, dan
menyimpannya dibalik lipatan sabuk. Rakapati memandang Adipati Prahasta yang
tersenyum dan menganggukkan kepala padanya.
Kebekuan dan ketegaran hati Ratapati seketika itu juga mencair luluh tersiram
kelembutan dan kasih sayang.
Terbetik rasa sesal di hatinya karena telah berlaku tidak terpuji pada laki-laki
yang begitu mencintai dirinya.
"Balungpati, aku serahkan anakku padamu. Jaga keselamatannya," kata Puspa
Lukita. Balungpati membungkuk hormat. Tanpa diperintah lagi, dia segera melepaskan
ikatan di tubuh Adipati Prahasta.
Balungpati langsung memeluk kaki laki-laki tua gemuk itu.
Dia benar-benar menyesal telah mengkhianati orang yang sungguh bijaksana dan
patut dijadikan teladan. Adipati Prahasta memegang pundak Balungpati dan
membawanya berdiri.
"Tidak perlu kau bersikap begitu, Balungpati. Aku serahkan keselamatan Rakapati
padamu." kata Adipati Prahasta lembut.
"Maafkan hamba, Gusti," ucap Balungpati tersedak.
Adipati Prahasta menepuk-nepuk pundak kepala
pasukan itu. Sementara Rakapati bersujud di kaki ibunya, dan mencium punggung
tangan wanita setengah baya itu.
Sejenak dia memandang pada Adipati Prahasta setelah bangkit berdiri. Sesaat
kemudian, kedua laki-laki yang semula bermusuhan itu, saling berpelukan erat.
Agak lama juga mereka saling berpelukan, kemudian berpandangan tanpa berkatakata lagi. "Kelak kau akan mengembalikan kejayaan Kerajaan Karang Asem, anakku," bisik
Adipati Prahasta.
"Ayah...," Rakapati tak mampu lagi berkata-kata.
"Cepatlah pergi. Panglima Lohgender menuju ke sini!"
seru Adipati Prahasta agak ditahan suaranya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rakapati dan Balungpati langsung melompat ke luar
dari jendela. Dalam sekejap saja tubuh mereka lenyap di balik tembok kadipaten
yang tinggi dan tebal. Saat itu Panglima Lohgender bersama beberapa orang
prajurit sudah memasuki kamar itu.
"Kakang tidak apa-apa?" tanya Panglima Lohgender sedikit cemas.
"Tidak," sahut Adipati Prahasta tersenyum.
"Kakang Prahasta, sebaiknya hentikan pertempuran.
Korban sudah terlalu banyak yang jatuh," kata Puspa Lukita.
Adipati Prahasta tersenyum, kemudian mengangguk.
Tanpa berkata apa-apa lagi, dia langsung melangkah ke luar kamar itu dan
memerintahkan kepada prajurit-prajurit yang sedang bertempur untuk menghentikan
pertempuran. Setelah dilihatnya pertempuran mereda, Adipati
Prahasta pun segera berkata.
"Hai, para prajurit kebanggaanku, marilah kita bersatu kembali membangun
Kadipaten Karang Asem ini seperti semula. Janganlah kita terpecah belah hanya
karena adanya beda pendapat di antara kita!"
"Setujuuu ..." para prajurit berteriak serentak, menyatakan kegembiraannya
melihat pemimpin mereka
telah siap membangun kembali kadipaten yang tadinya terpecah belah ini.
Para prajurit yang tadinya memihak Rakapati, segera berbalik kembali memihak
Adipati Prahasta. Apalagi ketika mereka melihat pemimpin mereka tidak kelihatan
lagi batang hidungnya.
Kadipaten Karang Asem sudah tenang kembali dengan
munculnya Adipati Prahasta bersama Puspa Lukita.
Panglima Lohgender juga tidak bertanya-tanya lagi setelah mendapat penjelasan
kalau Rakapati sudah melarikan diri.
Tapi Adipati Prahasta dan Puspa Lukita tidak mau
mengatakan ke mana Rakapati pergi. Tapi sebenarnya yang menjadi beban pikiran
Panglima Lohgender, bukanlah kepergian Rakapati, tapi hilangnya Arya Duta yang
dibawa kabur oleh Iblis Wajah Seribu dalam keadaan pingsan.
Ke mana Iblis Wajah Seribu atau Klenting Kuning membawa Arya Duta"
Di sebuah pondok kecil dekat tepi Hutan Tarik, tampak Klenting Kuning berdiri
memandangi Arya Duta yang lemas tak berdaya karena jalan darahnya tertotok Iblis
Wajah Seribu itu. Hanya matanya saja yang mendelik penuh amarah melihat wanita
cantik itu tersenyum-senyum.
Klenting Kuning menghampiri dipan kayu di mana Arya Duta terbaring lemas tanpa
daya, kemudian dia duduk di tepi dipan itu. Tangannya lembut membelai-belai
leher dan dada pemuda itu. Gerakan lembut jari-jemari tangan Klenting Kuning
itu, rupanya membuka totokan pada leher, sehinga Arya Duta bisa menggerakgerakkan kepalanya.
"Perempuan jalang! Apa yang akan kau lakukan?"
sentak Arya Duta ketika jari-jari tangan Klenting Kuning membuka bajunya.
"Diamlah, bocah bagus. Kau akan merasakan nikmatnya sorga," desah Klenting
Kuning tak dapat lagi menahan gejolak di dadanya.
"Ikh...!" Arya Duta memalingkan mukanya ke samping begitu Klenting Kuning mulai
menciumi leher dan wajahnya.
Iblis Wajah Seribu itu semakin bernapsu. Napasnya
mulai memburu, mendengus-dengus hangat di seputar
leher dan wajah Arya Duta. Pemuda itu tidak menyadari kalau Klenting Kuning
menyebarkan ajiannya yang sangat ampuh untuk menaklukkan laki-laki. Periahanlahan, aji 'Pelebur Jiwa' meresap ke dalam tubuh dan mengacaukan syaraf-syaraf Arya Duta.
"Oh...," Arya Duta mulai mendesah.
Sekuat tenaga dia berusaha untuk melawan gejolak
yang semakin membara di dadanya. Arya Duta meng

Pendekar Rajawali Sakti 8 Iblis Berwajah Seribu di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

geleng-gelengkan kepalanya dengan kelopak mata terpejam rapat. Rasanya sia-sia
saja dia melawan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Perasaan itu semakin membelenggu tak terkendalikan lagi.
Arya Duta merasakan kepalanya jadi pening, dan
matanya yang mulai terbuka, berkunang-kunang. Dadanya semakin berdebar kencang,
bergemuruh bagai ombak di lautan. Sedikit demi sedikit, kesadaran Arya Duta
mulai menghilang, hingga akhirnya dia lupa sama sekali. Pada saat itulah
Klenting Kuning melepaskan totokan di tubuh pemuda itu.
Arya Duta bukannya memberontak, tapi kini dia malah membalas semua kehangatan
yang diberikan Klenting
Kuning. Bau harum yang menyebar dari tubuh wanita itu, semakin membuat Arya Duta
mabuk. "Aaah...." Klenting Kuning mendesah lirih.
*** Klenting Kuning tersenyum penuh kepuasan. Tangannya
bergerak cepat merapikan pakaiannya, lalu tangannya sudah menggenggam sebilah
pisau kecil berwarna hijau.
Wanita itu masih tersenyum menatap Arya Duta yang
tergolek lemah tanpa daya. Seluruh tubuhnya bersimbah keringat. Kedua matanya
membeliak lebar melihat Klenting Kuning menggenggam pisau.
"Sayang, aku harus membunuhmu. Aku tidak mau mati di tangan laki-laki yang telah
memuaskan diriku." gumam Klenting Kuning pelan.
Mata Arya Duta semakin membeliak lebar tanpa mampu mengeluarkan suara, meskipun
mulutnya terbuka lebar.
"Pergilah dengan tenang ke neraka, hi... hi... hi...!" Arya Duta berusaha
menjerit sekuat-kuatnya ketika pisau hijau itu menghunjam dadanya dengan dalam.
Tak ada suara yang ke luar dari mulut pemuda itu. Dia juga tidak mengejang,
hanya raut mukanya saja yang menegang
kaku. Darah muncrat ke luar dari dada yang berlubang tertembus pisau
"Ha... ha... ha...!" Klenting Kuning tertawa renyah.
Arya Duta langsung tewas tanpa mampu melakukan
perlawanan sedikitpun. Klenting Kuning menarik pisaunya dari tubuh pemuda malang
itu, dan menyelipkannya ke balik bajunya. Tawanya kembali terdengar renyah dan
lepas. "Tak ada seorang pun yang mampu menghadapi
Klenting Kuning!" katanya pongah.
"Kecuali aku!"
Tawa Klenting Kuning langsung berhenti seketika begitu terdengar suara jawaban
keras menggema. Suara itu
seolah terdengar dari segala penjuru. Si Iblis Wajah Seribu itu langsung
melentingkan tubuhnya ke luar dari pondok.
Dua kali dia bersalto di udara sebelum mendarat ringan di atas atap.
"Setan! Siapa kau!" bentak Klenting Kuning
"Aku!"
Klenting Kuning terperanjat ketika dia menoleh. Tampak Pendekar Rajawali Sakti
berdiri tenang di atas atap itu juga. Klenting Kuning semakin terperanjat,
karena Pandan Wangi juga berada di tempat ini. Gadis itu menunggu di bawah.
"Kau terkejut, Klenting Kuning?"
"Huh! Mau apa kau ke sini?" dengus Klenting Kuning tidak menghiraukan pertanyaan
Rangga, atau Pendekar Rajawali Sakti.
Klenting Kuning memang terkejut, tapi dia juga gembira melihat Pendekar Rajawali
Sakti. Sejak dia gagal menundukkan pemuda itu, rasa penasarannya semakin
menjadi. Dia belum puas kalau belum bisa menundukkan pendekar tampan itu. (Baca
Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam kisah, Pertarungan di Bukit Setan).
"Kau bisa menjawab sendiri pertanyaanmu, Klenting Kuning."
"Kakang Rangga, Arya Duta tewas!" teriak Pandan Wangi dari bawah.
"Iblis!" geram Rangga.
"Ha... ha... ha...!" Klenting Kuning tertawa pongah. Dia langsung melompat turun
dan tanpa banyak bicara lagi menyerang Pandan Wangi.
Mendapat serangan mendadak, Pandan Wangi sedikit
kerepotan juga. Tapi dia segera menjatuhkan diri, dan langsung melentingkan
tubuhnya menjauh. Klenting
Kuning tidak memberikan kesempatan pada gadis itu. Dia segera melancarkan
serangan-serangan berikutnya yang lebih dahsyat lagi.
Rangga yang menyaksikan pertarungan itu, segera
melompat turun. Dia berdiri tegak menyaksikan pertarungan dua wanita cantik itu. Dalam beberapa jurus, pertarungan masih berjalan
seimbang. Tapi pada jurus ke lima betas, tampak kalau Pandan Wangi mulai
terdesak. Beberapa kali pukulan dan tendangan Klenting Kuning mendarat telak di
tubuh si Kipas Maut itu.
"Gunakan Pedang Naga Geni, Pandan!" seru Rangga keras.
"Tidak!" sahut Pandan Wangi segera mencabut senjata kebanggaannya berupa kipas
baja putih. Pandan Wangi tidak mau lagi menggunakan pedang
Naga Geni. Dia hampir mati dengan pedang berpengaruh liar itu. Kalau saja Rangga
tidak membantunya dengan pedang Rajawali Sakti, entah apa yang akan terjadi pada
diri gadis itu.
"Bagus! Dengan senjata, kau akan lebih cepat kukirim ke neraka!" dengus Klenting
Kuning. "Mampus kau, iblis! Hiyaaa...!"
Pandan Wangi segera menyerang Iblis Wajah Seribu itu dengan senjata kipas di
tangan. Klenting Kuning masih melayaninya dengan tangan kosong. Biarpun Pandan
Wangi sudah menggunakan senjata kebanggaannya, tapi setelah mellewati sepuluh
jurus lagi, gadis itu masih juga terdesak hebat.
Rangga yang menyaksikan pertarungan itu, jadi cemas juga. Klenting Kuning memang
bukan tandingan Pandan Wangi, meskipun gadis itu sudah hampir menguasai ajl
'Naga Sewu', tapi masih belum sempurna. Dan nampaknya Klenting Kuning masih
terlalu tangguh bagi Pandan Wangi yang mengeluarkan aji 'Naga Sewu'. Keadaan
Pandan Wangi semakin mem prihatinkan. Dia jadi bulanan bulanan Klenting Kuning pada
jurus-jurus terakhir.
"Pandan, mundur...'" seru Rangga langsung melompat ke tengah-tengah pertempuran.
Pandan Wangi menyeka darah yang memenuhi mulutnya. Matanya tajan menatap Klenting Kuning. Bagaimanapun juga, dia harus mengakui tidak akan mampu
menandingi Iblis Wajah Seribu itu dalam lima jurus lagi.
Pandan Wangi segera melangkah mundur beberapa tindak.
"Aku suka bertempur denganmu, Rangga. Tapi aku lebih suka berkasih mesra
denganmu," kata Klenting Kuning.
"Biar kubunuh perempuan liar itu, Kakang!" sentak Pandan Wangi geram.
"Ah, rupanya kau juga menyukai Rangga. Boleh, aku senang punya saingan." sambut
Klenting Kuning mengerling genit pada Rangga.
"Bedebah!" merah padam muka Pandan Wangi.
Dengan kasar dia menyentakkan tangan Rangga yang
berusaha mencegahnya. Tanpa buang waktu lagi, Pandan Wangi langsung menenang si
Iblis Wajah Seribu itu.
Amarah yang meluap-luap membuat gadis itu nekad. Dia langsung mencabut Pedang
Naga Geni, meskipun tahu
bahayanya bagi lawan maupun yang menggunakannya.
"Eh!" Klenting Kuning terkesiap kaget melihat pamor pedang yang mengeluarkan
cahaya merah menyala itu.
Kekagetan Klenting Kuning tidaklah lama, karena dia harus segera berlompatan
menghindari serangan Pandan Wangi. Setiap kibasannya selalu mengandung hawa
panas yang luar biasa. Klenting Kuning jadi hati-hati menghadapi Pandan Wangi
yang menggunakan pedang Naga Geni.
Dua puluh jurus segera berlalu dengan cepat,
tampaknya Pandan Wangi sudah tidak bisa lagi menguasai pedang itu. Gerakangerakannya tak terkendali, mukanya merah dan kedua bola matanya menyala-nyala
menimbulkan napsu membunuh. Sementara Klenting Kuning
semakin kerepotan menghadapi serangan Pandan Wangi yang aneh dan tak terkendali,
dia kelihatan terdesak sekali. Napasnya tersengal-sengal karena udara di
sekitarnya semakin menipis.
"Hiyaaa..!" tiba-tiba Pandan Wangi berteriak nyaring.
Secepat kilat Klenting Kuning melentingkan tubuhnya ke udara. Dan pada saat itu
juga, pedang Naga Geni
berkelebat cepat menebas tubuh yang sedang bersalto di udara itu.
"Aaakh..." terdengar jeritan menyayat dari mulut Iblis Wajah Seribu itu.
Tubuhnya terbagi menjadi dua bagian dan jatuh di tanah.
"Pandan...!" panggil Rangga keras sambil mencabut pedangnya.
Cring! "Ayo lawan aku!" seru Rangga sambil menghunus pedang Rajawali Sakti.
"Kakang...!" Pandan Wangi tersentak kaget.
"Ayo, cepat! lawan aku!" seru Rangga. Pada saat itu, Panglima Lohgender bersama
sekitar dua puluh orang prajurit tiba di tempat itu. Panglima Kerajaan Limbangan
itu terkejut melihat dua pendekar saling berhadapan dengan senjata terhunus dan
di bawah kaki mereka
tergeletak potongan tubuh seorang perempuan. Panglima Lohgender tidak mengerti,
kenapa dua pendekar beraliran putih itu bisa saling berhadapan"
8 "Menyingkir, Panglima. Pedang itu sangat berbahaya!" seru Rangga saat melihat
Panglima Lohgender mau menghampiri.
"Apa yang terjadi?" tanya Panglima Lohgender mengurungkan langkahnya.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, cepat menyingkir!"
sahut Rangga. Pada saat itu, Pandan Wangi sudah melompat
menerjang. Rangga mengangkat pedangnya, dan langsung mengadunya dengan pedang
Naga Geni. Dua senjata sakti beradu keras di udara. Percikan bunga api memercik
indah disertai suara ledakan keras menggelegar.
Rangga segera mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali
Membelah Mega'. Tubuhnya melenting deras ke udara, lalu menukik seraya memular
pedangnya dengan cepat.
Pandan Wangi juga memutar pedangnya di atas kepala.
Tring! Rangga sengaja membabat ujung pedang gadis itu, lalu tangannya dengan cepat
sekali menjambret sarung pedang Naga Geni yang menempel di punggung Pandan
Wangi. Bagaikan kilat, tubuh Rangga kembali melenting ke udara.
Kembali dia menukik tajam sambil mengarahkan sarung pedang di tangannya ke ujung
pedang Naga Geni.
Slap! Cahaya merah langsung hilang begitu pedang Naga Geni masuk ke dalam warangkanya.
Dan Rangga juga segera memasukkan pedang pusakanya ke dalam warangkanya di
punggung. Pandan Wangi jaruh terduduk lemas dengan pedang menggeletak di tanah.
Wajahnya jadi pucat pasi.
Rangga menghampiri dan memungut pedang yang menggeletak di tanah.
"Ini pedangmu," kata Rangga sambil menyerahkan pedang itu.
Pandan Wangi mengangkat kepalanya memandang
Rangga. Perlahan-lahan dia berdiri, dan menggelengkan kepalanya lemah beberapa
kali. Dua kali dia hampir mati oleh pengaruh pedang Naga Geni itu
"Kau takut?" tanya Rangga.
"Aku tidak bisa menggunakan pedang itu, Kakang." ucap Pandan Wangi lirih.
"Kau harus bisa Pandan. Kau harus menaklukkan pengaruh pedang ini " Rangga
memberi semangat.
Pandan Wangi kembali menggeleng lemah.
"Kalau kau tidak mau memilikinya. Lalu siapa yang akan memiliki pedang ini?"
"Terserah padamu, Kakang. Atau kau saja yang
memilikinya. Kau bisa menaklukkan pedang itu."
"Tidak mungkin. Pandan. Aku sudah memiliki senjata.
Dan kedua senjata ini sangat berlawanan, tidak mungkin bisa bersatu."
"Tapi aku tidak sanggup lagi menggunakannya. Pedang itu liar sekali, dia bisa
membunuh siapa saja yang memegangnya. Tenagaku tersedot, aku tidak bisa
mengendalikannya, Kakang," kehih Pandan Wangi.
"Kau belum sepenuhnya menguasai ilmu 'Naga Sewu'.
Aku yakin, kalau kau sudah sempurna menguasai ilmu itu, pasti kau bisa
menaklukkan pedang ini. Pedang Naga Geni hanya bisa dipergunakan oleh orang yang
menguasai ilmu 'Naga Sewu' dengan sempurna," Rangga menjelaskan.
Pandan Wangi menatap Rangga.
"Seperti juga halnya Pedang Rajawali Sakti, harus digunakan dengan jurus-jurus
Rajawali Sakti. Tidak akan ada seorangpun yang bisa menggunakan Pedang Rajawali
Sakti kalau tidak menguasai dengan sempurna jurus-jurus Rajawali Sakti," lanjut
Rangga. "Apa mungkin aku bisa menguasai ilmu 'Naga Sewu'.
Kakang?" tanya Pandan Wangi kembali bangkit semangat-nya.
"Kenapa tidak" Kau sudah menguasai dasar-dasarnya, kau tinggal memperdalam dan
menyempurnakannya. Yang penting sekarang, kitab Naga Sewu masih ada di
tanganmu. Pelajari lagi kitab itu dan sempurna kan jurus-jurus 'Naga Sewu',"
Rangga terus mendorong semangat Pandan Wangi yang hampir padam.
"Berapa lama?"
"Tergantung dari kesungguhanmu, Pandan."
Pandan Wangi tidak lagi menolak ketika Rangga
menyodorkan Pedang Naga Geni yang sudah aman
tersimpan di warangkanya. Gadis itu mengenakan kembali pedang pusaka itu ke
punggungnya. Rangga tersenyum dan menoleh menatap Panglima Lohgender dan
beberapa prajurit yang menyertainya.
"Aku akan mengantarkanmu ke suatu tempat agar kau tenang menyempurnakan jurusjurus 'Naga Sewu'," kata Rangga setengah berbisik.
"Kau sendiri?" tanya Pandan Wangi yang sudah bisa menangkap maksud Rangga.
"Aku akan meneruskan perjalanan panjang ini." sahut Rangga.
"Jadi kita berpisah?"
"Kelak kita akan bertemu lagi, dan kau sudah menjadi seorang pendekar wanita
yang tangguh," sahut Rangga tetap membesarkan hati gadis itu.
"Oh, Kakang..." desah Pandan Wangi terharu.
Kalau saja tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, mau rasanya Pandan Wangi
memeluk pemuda tampan
yang sudah menggores relung hatinya ini. Pandan Wangi hanya bisa menatap dalamdalam dengan berbagai macam perasaan yang sukar dilukiskan. Mereka menghampiri
Panglima Lohgender yang menunggu dengan jarak agak jauh.
*** "Apa yang terjadi?" tanya Panglima Lohgender.
"Pandan Wangi tidak bisa mengendalikan pedangnya,"
sahut Rangga. Panglima Lohgender memandang Rangga dan Pandan
Wangi bergantian. Dia masih belum mengerti dengan
penjelasan singkat itu. Dia sudah banyak makan asam garamnya dunia persilatan,
tapi belum pernah menemukan hal seperti ini, sebuah senjata ampuh mampu
mengacaukan kendali pemiliknya.
"Pedang itu bernama Naga Geni, dia baru saja
kehilangan pemiliknya. Dan Pandan Wangi adalah ahli waris tunggalnya. Tapi dia
belum bisa menguasai senjata itu, harus perlu waktu untuk bisa bersama-sama
sejalan dengan Pedang Naga Geni." Rangga mencoba menjelaskan.
"Apakah pedang itu berbahaya?" tanya Panglima Lohgender.
"Ya, sangat berbahaya sekali jika orang berwatak jahat yang memilikinya. Pedang
itu punya hawa dan pengaruh membunuh yang sangat dahsyat, sulit untuk
menaklukkan-nya, jika tidak dibarengi dengan jurus-jurus yang sesuai."
Panglima Lohgender ingin bertanya lagi, tapi pertanyaan yang sudah sampai di
tenggorokan tidak jadi ke luar, karena salah seorang prajuritnya berlari-lari
dengan napas terengah-engah.
"Gusti Panglima..." prajurit itu langsung membungkuk hormat.
"Ada apa?" tanya Panglima Lohgender.
"Gusti Arya Duta..."
Rangga yang mendengar itu langsung melompat masuk
ke dalam gubuk kecil di antara gundukan batu berbukit Pandan Wangi juga segera
mengikuti, disusul oleh
Panglima Lohgender. Betapa terkejutnya Panglima
Lohgender begitu melihat Arya Duta tergolek dengan dada berlumuran darah.
Pandan Wangi langsung memalingkan mukanya. karena
Arya Duta tidak mengenakan pakaian sepotongpun.
Rangga segera memungut kain yang teronggok di lantai gubuk kecil ini, dan


Pendekar Rajawali Sakti 8 Iblis Berwajah Seribu di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menutupi tubuh Arya Duta. Panglima Lohgender tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia hanya memandang Rangga dengan mata sedikit berkaca-kaca.
"Maaf, aku terlambat menolongnya. Dia tewas di tangan si Iblis Wajah Seribu,"
kata Rangga pelan.
Panglima Lohgender tidak berkata apa-apa lagi. Dia langsung melangkah ke luar
dengan wajah terselimut duka. Terlebih lagi ada salah seorang prajurit yang
lolos dan menceritakan semua peristiwa atas meninggalnya Braja Duta bersama para
pengawal lainnya. Panglima Lohgender merasa terpukul sekali dengan kematian
kedua anak angkatnya, yang sangat dipercayai dan diandalkan-nya.
Dua orang prajurit segera masuk ke dalam. Mereka
segera merawat jenazah Arya Duta. Tanpa menunggu lama, mereka segera memakamkan
mayat Arya Duta. Setelah itu Rangga segera mengajak Pandan Wangi meninggalkan
Kadipaten Karang Asem.
*** [ Suasana di Kadipaten Karang Asem sudah kembali
normal. Panglima Lohgender juga akan meninggalkan
kadipaten itu keesokan harinya bersama sisa-sisa prajurit yang masih hidup.
Sedangkan Rangga dan Pandan Wangi telah jauh
meninggalkan perbatasan kadipaten itu.
Dalam perjalanan, Rangga heran dengan perangai
Pandan Wangi yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam. Ia tidak tahu, apa yang
sedang dipikirkan gadis itu.
"Apa yang kau pikirkan, Pandan?" tanya Rangga.
"Tidak ada," sahut Pandan Wangi.
"Kau masih memikirkan Pedang Naga Geni?" tebak Rangga.
"Mungkin," sahut Pandan Wangi mendesah.
"Aku akan mengantarkanmu sampai ke pantai. dari sana kau bisa langsung menuju ke
Pulau Karang. Aku yakin, dalam waktu tidak lama kau sudah bisa menguasai pedang
itu," kata Rangga.
Pandan Wangi tidak menjawab. Dia tetap melangkah
pelan-pelan dengan kepala tertunduk. Jelas sekali kalau sikapnya ini jauh
berubah dari sebelumnya. Belum pernah Rangga melihat Pandan Wangi diam begitu.
"Terus terang saja, Pandan. Apa yang menyusahkan pikiranmu?" desak Rangga tidak
tahan melihat sikap Pandan Wangi begitu.
Pandan Wangi menghentikan langkahnya Dia menatap
Rangga dalam-dalam. Sepertinya ada yang hendak dikatakan, tapi terasa sulit
mengucapkannya. Hanya tatapan matanya saja yang banyak bicara.
"Kau memikirkan Klenting Kuning..?" tanya Rangga menebak dengan suara agak
ditahan. Pandan Wangi tampak tersentak. Buru-buru dia
memalingkan mukanya menatap ke arah lain. Pelan-pelan kakinya kembali terayun
melangkah. Sementara matahari sudah semakin tinggi mencapai atas kepala.
"Kau cemburu pada perempuan yang sudah jadi mayat itu?" tebak Rangga lagi.
"Tidak!" sahut Pandan Wangi tegas. Namun dari nada suaranya jelas-jelas
tertahan. "Lalu?" desak Rangga
"Berapa lama lagi kita sampai di Pantai Utara?" Pandan Wangi mengalihkan
pembicaraan. Sepertinya dia segan membicarakan Klenting Kuning.
"Menjelang senja nanti baru sampai," sahut Rangga maklum.
"Kita menginap di mana?"
"Terserah, tapi kalau kau mau, bisa langsung
menyeberang. Perjalanan ke Pulau Karang tidak berbahaya. Pulau itu jadi tempat persinggahan para nelayan."
Pandan Wangi mendesah berat. Sebenarnya dia tidak
ingin berpisah dengan Pendekar Rajawali Sakti ini, tapi demi kesempumaan
ilmunya, dia harus bisa menekan
perasaannya. Segala sesuatu memang membutuhkan
pengorbanan, dan Pandan Wangi menyadari kalau dirinya harus berkorban demi masa
depannya sendiri. Dia tidak ingin menyandang senjata tanpa dapat mempergunakannya. Pedang Naga Geni sangat dahsyat, dan pengaruhnya sungguh luar biasa.
"Kakang...," Pandan Wangi menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Rangga.
"Ah, tidak...," Pandan Wangi mendesah. Kembali dia melangkah.
"Ada apa, Pandan. Katakan saja."
"Kau tidak terpikir untuk masa depan, Kakang?" tanya Pandan Wangi pelan.
"Mungkin, tapi sekarang ini aku belum memikirkannya.
Entah kalau nanti," sahut Rangga merasa aneh dalam nada pertanyaan itu.
"Sampai kapan kau akan mengembara?"
"Mungkin sampai aku tidak sanggup lagi melakukannya."
"Kau tidak ingin kembali ke tanah kelahiranmu?"
Rangga tidak segera menjawab. Perlahan dia menarik napas dalam-dalam, lalu
menghembuskannya pelan-pelan juga. Dia memang rindu dengan tanah kelahirannya,
tapi dia tidak tahu letak yang pasti, di mana Kerajaan Karang Setra" Entah,
bagaimana keadaannya sekarang ini. Dua puluh tahun dia tidak pernah lagi
menginjakkan kakinya di sana. Setelah peristiwa mengerikan di Lembah Bangkai,
tepatnya di tepi Danau Cubung. (Baca serial Pendekar Rajawali Sakti, dalam
kisah, Iblis Lembah Tengkorak)
"Satu saat nanti..." desah Rangga pelan, seperti untuk dirinya sendiri.
"Pasti, Kakang." sahut Pandan Wangi.
Rangga hanya tersenyum saja. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke Utara. Rangga melangkah pelan-pelan dengan
kenangan kembali pada dua puluh tahun lalu. Dia jadi teringat dengan kedua orang
tuanya yang tewas terbunuh. Sementara Pandan Wangi berjalan santai di
sampingnya. Dia juga sibuk dengan pikirannya sendiri.
SELESAI Created by fujidenkikagawa & syauqy_arr
Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 1 Pedang Ular Mas Karya Yin Yong Cincin Berlumur Darah 2

Cari Blog Ini