Ceritasilat Novel Online

Jago Jago Bayaran 2

Pendekar Rajawali Sakti 11 Jago Jago Bayaran Bagian 2


Kalau berita itu memang benar, sungguh berat yang akan mereka hadapi nanti.
Untuk menghadapi Pendekar Rajawali Sakti saja, belum tentu mereka bisa menang.
Apalagi harus ditambah si Kipas Maut"
"Aku tak peduli siapa pun yang membantu dia, yang jelas, kita harus bisa
memenggal kepala pendekar itu!" dengus Jalapati menggeram.
"Aku malah sangsi, Kakang," ada nada pesimis pada suara Jaladara.
"He! Sejak kapan kau jadi penakut?"
"Sebaiknya kita urungkan saja niat kita, toh kita bisa memperoleh lebih banyak
dari hadiah itu. Kita bisa menguras orang-orang kaya di desa ini, lalu kabur!"
usul Jaladara. "Tidak!" sentak Jalapati.
"Terserah Kakang lah," Jaladara mengangkat bahunya, mengalah.
Kemudian dua Rantai Pencabut Nyawa itu melanjutkan langkahnya. Mereka sama
sekali tidak menyadari, kalau semua pembicaraannya ada yang mendengarkan dari
atas pohon. Tak lama setelah Dua Rantai Pencabut Nyawa itu pergi, Sanggabawung
dan Sangga Kelana kernbali turun.
"Mereka menuju ke Kawah Neraka," gumam Sanggabawung. "Itu berarti Pendekar Rajawali Sakti memang ada di sana, Kakang," kata Sangga
Kelana menyahuti.
"Aku tidak percaya sebelum melihat sendiri," sergah Sanggabawung.
"Kau berani ke sana?"
Sanggabawung menatap adiknya tajam. Pertanyaan itu benar-benar merupakan
tantangan yang menimbulkan api semangat. Dan rasa penasaran setelah mendengar
pembicaraan dua orang tadi, membuat rasa gentarnya hilang. Maka tanpa banyak
bicara lagi, mereka segera mengayunkan langkahnya menuju ke Kawah Neraka.
*** 5 Di Desa Kali Anget, Suryadenta dan saudara-saudaranya sedang bergembira, karena
rencana mereka untuk
menyebarkan berita tentang keberadaan Pendekar Rajawali Sakti, tanpa diketahui
sumbernya, berjalan mulus tanpa hambatan. Bahkan orang-orang rimba persilatan
mulai meninggalkan desa, menuju Kawah Neraka yang berada di luar batas Desa Kali
Anget sebelah Utara.
Namun, kegembiraan empat bersaudara itu tidak
berlangsung lama, karena Ki Pungkur mulai menyebarkan hasutan untuk memilih
kepala desa yang baru. Sedang Ki Pungkur
dengan terang-terangan
menyodorkan Ki Karangseda sebagai calon tunggalnya.
"Aku jadi curiga, jangan-jangan semua ini sudah diatur oleh Ki Karangseda," kata
Mayadenta setengah bergumam.
Saat itu mereka tengah berada di kedai Pak Rahim.
Kedai yang menjadi langganan mereka untuk mengisi perut dan memecahkan segala
permasalahan. "Benar," sambung Tirtadenta. Tidak mungkin orang-orang rimba persilatan datang
ke sini kalau tidak ada yang mengundang. Dan kita sudah tahu, mereka ke sini
untuk menunggu Pendekar Rajawali Sakti."
"Aku sendiri jadi bingung, bagaimana mereka bisa tahu kalau pendekar itu akan
lewat sini?" sambung Bayudenta setengah bergumam.
"Seribu keping uang emas..., benar-benar hadiah yang menggiurkan untuk satu
kepala manusia. Tapi tak masalah bagi Ki Karangseda. Bahkan sepuluh kali lipat
pun, dia sanggup menyediakan," kata Mayadenta menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara Suryadenta hanya mendengarkan. Apa yang dikatakan adik-adiknya memang
benar. Ki Karangseda adalah seorang yang paling kaya di desa ini. Dan semua juga
tahu, Ki Karangseda sangat berambisi jadi kepala
desa. Dia tidak puas hanya sebagai wakilnya saja.
Menurutnya, dialah yang lebih pantas jadi kepala desa. Dia tidak pernah
rneninggalkan desa. Sedangkan Ki Jatirekso belum lama kembali ke desa, lantaran
mengembara. Suryadenta menengadahkan kepalanya. Dia ingat
sekarang, kalau antara Ki Karangseda dan Ki Jatirekso dari dulu tidak pernah
sepaham. Ada saja yang menjadi
perselisihan di antara mereka.
"Sejak tadi kau diam saja, Kakang. Apa yang kau pikirkan?" tegur Tirtadenta.
"Yaaah...," desah Suryadenta agak kaget.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Mayadenta mengulangi pertanyaan tadi.
Belum sempat Suryadenta meniawab, tiba-tiba perhatian mereka beralih pada Ki
Pungkur, yang tahu-tahu sudah ada di dalam kedai. Dia melangkah ringan
menghampiri empat bersaudara yang duduk menghadapi satu meja. Tanpa dipersilakan
lagi, Ki Pungkur menuang arak yang ada di atas meja ke dalam mulutnya
"Lezat sekali arak ini," kata Ki Pungkur seraya meletakkan guci arak yang sudah
kosong. Tidak ada yang menanggapi kata-kata Ki Pungkur.
Semua hanya memandang dengan tatapan kurang senang.
Lebih-lebih Mayadenta, dari dulu dia memang tidak pernah menyukai laki-laki itu.
Semua orang tahu, Ki Pungkur selalu menggunakan harta kekayaannya untuk
kepentingan pribadi. Dan tidak ada gadis-gadis di desa ini yang lolos dari perhatiannya.
Sedang Mayadenta pun tahu, kalau mata laki-laki itu selalu memandangnya dengan
liar dan binal. Bahkan saat ini pun mata Ki Pungkur juga terus merayapi wajah
cantik di depannya, yang juga tengah memandangnya dengan penuh kebencian.
"Apakah kalian sudah mendengar pengumuman?" kata Ki Pungkur tidak mempedulikan
empat pasang mata yang
menatapnya tanpa ada persahabatan.
"Sudah," sahut Suryadenta datar dan dingin suaranya.
"Bagus! Kalian pasti setuju untuk mengganti kepala desa, bukan?" Ki Pungkur
tersenyum lebar. Tidak ada satu pun yang menjawab.
"Seluruh penduduk tampaknya sudah tidak sabar lagi untuk mengangkat Ki
Karangseda menjadi kepala desa.
Dan aku pun sudah menetapkan harinya," kata Ki Pungkur lagi.
"Tidak semudah itu, Ki Pungkur!" dingin suara Mayadenta.
"He he he..., semuanya mudah diatur," Ki Pungkur terkekeh seraya mengerdipkan
matanya ke arah gadis itu.
"Penduduk tidak akan pernah memilih kakakmu! Mereka masih setia pada Ki
Jatirekso yang pasti akan kembali lagi,"
kata Tirtadenta agak muak melihat tingkahnya.
"Apa yang kalian harapkan dari seorang pengecut seperti itu, heh"!" seketika itu
juga wajah Ki Pungkur berubah.
"Ki Jatirekso lebih baik daripada Ki Karangseda!" dengus Tirtadenta.
"Phuih! Orang pengecut begitu kalian anggap baik"
Melarikan diri pada saat seluruh penduduk membutuhkannya. Kalau dia memang seorang kepala desa yang baik, kenapa tidak
bertindak" Dia kan punya hak untuk mengusir mereka semua"!" suara Ki Pungkur
terdengar meledak-ledak dan berapi-api. Wajahnya merah padam.
"Asal kau tahu saja, Ki Jatirekso tidak melarikan diri, dia sedang menyelidiki,
siapa pembuat onar di sini?" sahut Suryadenta dingin.
"Kalian pasti tahu, bahwa orang-orang itu datang atas undangan Ki Jatirekso. Dia
memang punya dendam pribadi dengan Pendekar Rajawali Sakti, karena anak yang
dititipkan Perempuan Iblis Pulau Karang padanya, tewas!
Dan perempuan itu minta ganti rugi dengan kepala
Pendekar Rajawali Sakti!"
Tanpa menunggu tanggapan dari empat bersaudara itu, Ki Pungkur langsung berbalik
meninggalkan kedai. Sedang empat bersaudara itu masih tetap duduk di tempatnya.
Kata-kata Ki Pungkur begitu jelas dan gamblang. Bahkan Pak Rahim yang duduk di
sudut, langsung terbangun.
"Kalian percaya pada kata-katanya?"
Mayadenta memecah kebisuan.
"Entahlah," desah Suryadenta seraya bangkit.
*** Kawah Neraka bukanlah tempat yang ramah dan
gampang dicapai. Bagi yang nyalinya kecil, langsung mengundurkan diri dari
percaturan memperebutkan kepala Pendekar Rajawali Sakti. Tapi tidak sedikit juga
yang nekad, meskipun nyawa sebagai taruhannya. Kini, sudah tak terhitung lagi,
berapa jumlah yang tewas di tempat itu, sebelum bertemu dengan Pendekar Rajawali
Sakti. Sementara itu, Sanggabawung terus melangkah memasuki daerah Kawah Neraka. Di belakangnya, tampak Sangga Kelana. Tidak kurang
dari sepuluh mayat yang mereka jumpai, begitu menginjakkan kaki di daerah ganas
itu. Semua mayat-mayat itu dalam keadaan rusak
mengenaskan. "Hsss...!" tiba-tiba terdengar suara mendesis.
Sanggabawung langsung menghenrikan langkahnya.
Sedang matanya liar mengawasi sekitarnya. Tiba-tiba Sangga Kelana mencolek
pundak kakaknya. Kedua
matanya mendelik lebar melihat beberapa ekor ular dari berbagai macam jenis,
sedang merayap menghampiri.
suara mendesis yang disertai bau amis, semakin tajam menusuk hidung. Buru-buru
Sanggabawung mengeluarkan pedangnya.
"Kita telah terkepung, Kakang," desah Sangga Kelana
bergetar. "Tampaknya ular-ular itu ada yang mengendalikan," bisik Sanggabawung.
Kini mereka benar-benar sudah terkepung oleh ratusan ular berbisa dari bebagai
macam jenis. Sementara suara mendesis makin keras terdengar. Melihat keadaan
yang demikian, Sangga Kelana segera me-rapatkan punggungnya ke punggung
Sanggabawung. Sementara ular-ular itu semakin mendekat ke arah mereka.
"Awas...!" seru Sanggabawung tiba-tiba.
Bersamaan dengan itu, seekor ular belang mencelat ke arah Sangga Kelana. Secepat
kilat anak muda itu
mengibaskan goloknya. Tak ampun lagi, ular itu langsung menggelepar dengan tubuh
terpotong jadi dua. Bau amis darah yang ke luar dari tubuh ular tadi, membuat
ular ular lainnya makin beringas. Kini mereka sibuk mengibaskan goloknya dan
membabat ular-ular yang mencoba mendekat.
Dalam waktu yang singkat saja, tidak terhitung lagi ular yang terbabat dan putus
jadi dua bagian. Namun herannya, ular-ular lainnya bukannya surut melihat
temannya mati, tapi malah tambah semakin banyak.
"Celaka! Bisa kehabisan nafas kalau begini!" ru-ngut Sanggabawung tersengal.
"Binatang celaka ini semakin banyak!" dengus Sangga Kelana.
Sementara keringatnya sudah bercucuran membasahi wajah dan lehernya.
"Cepat pergi dari sini!" seru Sanggabawung.
"Kau..."!"
"Jangan hiraukan aku.... Akh!"
"Kakang...!"
Sanggawabung meringis. Salah seekor ular berhasil menyambar kaki kanannya.
Kontan saja dia membabatkan goloknya ke arah ular itu. Dan darah pun langsung
munerat dari tubuh ular yang telah buntung. Tapi tiba-tiba satu ekor lagi
berhasil menerkam kaki kiri Sanggabawung.
"Hiya...!" Sangga Kelana melompat tinggi ke udara.
Goloknya berkibas cepat sekali. Tampak lima ekor ular langsung terbabat buntung.
"Cepat pergi..., aaakh...!" Sanggabawung tidak mampu lagi bertahan.
Hampir seluruh tubuhnya sudah dibelit ular-ular yang langsung mematukinya.
Sangga Kelana menggeram
menyaksikan kakaknya mati dengan begitu tragis.
Sementara tubuh Sanggabawung menggelepar tak karuan dilibat puluhan ekor ular.
Sangga Kelana kembali melompat lebih tinggi, dan kabur dari tempat itu. Dia baru
berhenti berlompatan setelah jaraknya agak jauh dari tempat itu.
"Uh..., uh...!" Sangga Kelana membungkuk me-nahan nafasnya.
Belum sempat dia bernafas lega, tiba-tiba seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ada
suara auman harimau yang begitu dekat. Dia terkejut sekali dan matanya mendelik
melihat seekor harimau besar mengendap-endap
menghampiri. "Mati aku...!" keluh Sangga Kelana putus asa.
Sementara harimau itu makin mendekat ke arah Sangga Kelana. Suaranya yang besar
bagai guntur, telah membuat pemuda itu menciut nyalinya. Seluruh persendiannya
terasa lemas tak bertenaga. Baru saja terlepas dari satu bahaya, kini sudah
menghadang bahaya lain yang tidak kalah ngerinya. Tubuh harimau itu besar
sekali, lebih besar dari anak kerbau. Tiba-tiba harimau itu melompat bagai kilat
ke arah Sangga Kelana. Sejenak anak muda itu terkesiap, lalu Harimau itu
melompat bagai kilat ke arah Sangga Kelana.
Sejenak anak muda itu terkesiap, lalu dengan cepat sekali dia melenting ke atas
menghindari ser-gapan harimau itu!
"Hih!" Sangga Kelana bergidik juga merasakan terjangan harimau itu lewat di
bawahnya dengan cepat sekali dia melenting ke atas menghindari sergapan harimau
itu. "Hih!" Sangga Kelana mengibaskan goloknya begitu dia berada di atas.
Namun tanpa diduga sama sekali, harimau itu
meIentingkan tubuhnya dengan manis dan lentur sekali, sehingga tebasan golok
Sangga Kelana menyambar angin.
Kemudian setelah kakinya menginjak tanah kembali, dia bersiap-siap lagi untuk
menerima serangan berikutnya dari si raja hutan itu.
"Ayo maju! Serang aku!" seru Sangga Kelana nekad.
"Auuummm...!"
harimau itu mengaum keras menggetarkan bumi.
"Phuih! Kau pikir aku takut, heh"!" Sangga Kelana menyemburkan ludahnya.
Sangga Kelana menggerakkan kakinya menyusur tanah.
Goloknya dia kibas-kibaskan di depan dada. Sementara kedua matanya terpicing
lebar menatap harimau yang hanya diam mendekam di rumput tebal.
*** "Auuummm...!" Harimau itu kembali mengaum keras.
Sementara Sangga Kelana yang sudah siap sejak tadi, langsung menghindar, begitu
harimau itu melompat dan menerjangnya. Sangga Kelana menjatuhkan tubuhnya
seraya mengayunkan goloknya ke arah perut hewan itu. Dia berguling ke samping
dan langsung melompat bangun.
Sementara kibasan goloknya hanya mengenai angin, karena harimau itu bisa
mengelak dengan melenturkan tubuhnya.
Belum juga Sangga Kelana berdiri, harimau itu sudah kembali menerjang sambil


Pendekar Rajawali Sakti 11 Jago Jago Bayaran di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengaum. Buru-buru dia
mengelebatkan goloknya dan memapak terjangan harimau itu. Sungguh di luar
dugaan, meskipun berada di udara, harimau itu bisa berkelit menghindari kibasan
goloknya. Bahkan tanpa disangka-sangka, harimau itu melentingkan tubuhnya lebih tinggi
lagi. Harimau itu seperri sudah terlatih menghadapi lawan manusia bersenjata. Belum
lagi hilang rasa herannya, mendadak sebelah kaki depan binatang itu menyambar
dari atas. "Akh!" Sangga Kelana memekik tertahan.
Darah mengucur dari bahu yang koyak tersambar kuku-kuku tajam kaki harimau itu.
Dia langsung melompat mundur. Luka di bahunya begitu besar, hingga darah
mengucur deras membasahi bajunya.
"Grrr...!" harimau itu menggeram begitu mencium darah segar.
"Ukh! Matilah aku," lenguh Sangga Kelana putus asa.
Kembali harimau itu menerjang dengan kecepatan tinggi.
Sementara Sangga Kelana yang sudah kehilangan
semangat, dengan sebisanya menghindari serangan itu dengan berkelit sambil
mengibaskan goloknya.
Darah pun mengucur semakin banyak dari luka Sangga Kelana. Gerakan-gerakannya
pun semakin lemah. Sedang matanya berkunang-kunang lantaran terlalu banyak darah
yang ke luar. Dari tadi tebasan goloknya tidak ada yang mengenai sasaran.
Sangga Kelana kini benar-benar sudah tidak berdaya.
Untuk berdiri saja rasanya tidak mampu lagi. Sementara keringat dan darahnya
bercampur jadi satu. Nafasnya tersengal-sengal dan memburu cepat. Kini dia hanya
berlutut, bertopang pada goloknya. Sedangkan harimau itu tampak mendekam sekitar
tiga batang tombak dari Sangga Kelana.
Sementara kedua matanya menatap liar menggetarkan jantung.
"Ayo, bunuh aku! Terkam aku, binatang!" rungut Sangga Kelana putus asa.
"Grrr...," harimau itu hanya menggeram lirih. Seperri mengolok-olok keputus
asaan Sangga Kelana.
Melihat harimau itu diam saja, Sangga Kelana mencoba bangkit. Namun baru saja
bergerak, tiba-tiba harimau itu
menggeram hebat. Membuat Sangga Kelana mengurungkan niatnya. Kini hanya matanya yang berani menatap harimau yang tetap
mendekam bermalas-malasan. Dia heran, kenapa harimau itu menjadi seperti jinak.
Hanya saja, setiap dia bergerak harimau itu menggeram hebat. Seperti hendak
mengatakan, dirinya harus diam.
"Heran, apa sebenarnya yang dia inginkan?" gumam Sangga Kelana dalam hari
Belum lagi pertanyaan itu terjawab, tiba-tiba terdengar siulan nyaring yang
melengking panjang. Siulan itu menggema, seakan-akan datang dari segala arah.
Setelah dua kali siulan panjang itu terdengar, maka pada siulan ke tiga, harimau
itu bangkit berdiri. Gerakannya lamban seperti malas untuk bangun.
"Oh!" Sangga Kelana semakin kaget ketika matanya menangkap sesosok tubuh
berjubah merah sudah berdiri di depannya.
Dia seorang perempuan tua yang rambutnya sudah
memutih dan tergulung ke atas. Wajahnya penuh keriput, namun sinar matanya tajam
menatap Sangga Kelana.
Seluruh tubuhnya terbungkus jubah merah yang longgar.
Sementara tangan kanannya meng-genggam tongkat
dengan beberapa kelukan berkepala bulat yang tak
beraturan bentuknya.
"Belang...!" suara perempuan aneh itu terdengar serak dan kering.
"Habisi dia!"
Harimau besar itu menggeram lirih, lalu segera
menerkam tubuh Sangga Kelana yang sudah tak berdaya lagi. Dia mengoyak-ngoyak
tubuh itu dan menyantapnya dengan bernafsu.
Setelah merasa kenyang, dia segera merebahkan
tubuhnya di samping tuannya. Sementara lidahnya
menjulur-julur ke luar menjilati sisa-sisa darah yang melekat
di mulutnya. Lalu nenek penguasa Kawah Neraka yang berjuluk Ratu Macan Kurnbang
itu mengajak binatang piaraannya pergi meninggalkan bangkai Sangga Kelana yang
tinggal tulang-tulang saja.
6 Sclain dacrahnya sangat berbahaya, Kawah Neraka juga menyimpan banyak misteri.
Sampai kini, berarti sudah tiga hari, Sangga Kelana tidak ketahuan kabar
beritanya. Sedang Sanggabawung sudah menggeletak jadi mayat
busuk, dengan tubuh hancur digerogoti ratusan ular berbisa.
Begitu ganasnya daerah itu, apa mungkin Pendekar
Rajawali Sakti dan Kipas Maut ada di sana" Rasa-nya sulit, sekalipun dia seorang
tokoh sakti. Hal itu dapat dilihat dari beberapa tokoh rimba persilatan golongan
hitam yang hanya menunggu di batas Kawah Neraka. Itu pun mereka sudah seribu
kali berpikir untuk melakukannya.
Dan hal tersebut juga disadari betul oleh Rangga dan Pandan Wangi. Mereka tahu,
betapa bahayanya berada di daerah itu. Sementara bagi Rangga, dia juga tidak mau
mengambil resiko terlalu berat, karena orang-orang rimba persilatan yang
menginginkan kepalanya demi seribu keping uang emas, menunggu di sana. Sebab
itulah, sebenarnya mereka tidak berada di sana.
"Bagaimana perkembangan Desa Kali Anget?" tanya Rangga pada Pandan Wangi yang
selalu mengamati
keadaan desa dan orang-orang rimba persilatan.
"Ada perkembangan baru," sahut Pandan Wangi.
"Maksudmu?" Rangga tertarik.
"Sebentar lagi akan ada pengangkatan kepala desa baru, dan calonnya hanya satu,
Ki Karangseda," Pandan Wangi menjelaskan.
"Lantas, bagaimana tindakan Suryadenta dan adik-adiknya?"
"Mereka terus berusaha mencari Ki Jatirekso dan Jaka Wulung. Menurut berita yang
tersiar, Ki Jatirekso lah yang mengundang tokoh-tokoh rimba persilatan. Tapi
Suryadenta dan adik-adiknya tidak percaya. mereka justru menduga, Ki
Karangseda dan Ki Pungkur lah yang mendalangi semua ini," jelas Pandan Wangi
lagi. "Sudah kuduga...," gumam Rangga pelan, seakan yakin bahwa kejahatan akhirnya
akan terbongkar.
"Aku juga mendapat keterangan, kalau Ki Karangseda diam-diam selalu berhubungan
dengan Perempuan Iblis Pulau Karang," lanjut Pandan Wangi.
"Siapa dia?" tanya Rangga sedikit terkejut.
"Perempuan tua, tapi masih kelihatan muda dan cantik.
Dia adalah seorang tokoh sakti yang datang dari Pulau Karang. Dulu, Ki Jatirekso
juga pernah berhubungan dengan perempuan itu, ketika masih sama-sama muda. Tapi,
waktu itu ia masih terkenal dengan sebutan Pendekar Pukulan Besi."
"Teruskan," pinta Rangga ketika Pandan Wangi berhenti.
"Aku belum tahu pasti, ada hubungan apa di antara mereka. Tapi yang jelas,
sebelum peristiwa itu terjadi, Ki Jatirekso memang sudah memerintahkan
Jaka Wulung untuk mencarimu," lanjut Pandan Wangi.
"Mencariku" Untuk apa?" tanya Rangga terheran-heran.
"Entahlah, hanya itu yang bisa kuperoleh," sahut Pandan Wangi.
Sejenak Rangga merenung. Keningnya berkerut dalam, seakan dia tengah berpikir
keras untuk mencerna semua keterangan itu, Memang belum seluruhnya jelas, tapi
sedikit banyak sudah bisa dijadikan gambaran. Kemudian Rangga mendesah panjang,
kepalanya menengadah memandang
langit biru yang bersih dari awan. Tampak matahari mulai condong ke Barat,
sedang sinarnya tak lagi menyengat.
Perlahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti bangkit. Pandangan matanya lurus ke Kawah Neraka. Dari tempat yang cukup tinggi seperri
itu, dia dapat melihat jelas bentuk dari daerah itu. Dalam sekelebatan mata,
bentuknya memang mirip sebuah kawah, tapi ditumbuhi pepohonan yang sangat lebat,
dan dikelilingi bukit-bukit kecil bagai
sebuah benteng baru alam. Untuk menuju ke sana, hanya ada satu jalan, yakni
melewati Desa Kali Anget.
"Jalan satu-satunya untuk membuka tabir ini, kita larus menemui Ki Jatirekso,"
gumam Rangga pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.
"Aku rasa tidak," bantah Pandan Wangi.
"Hm..., menurutmu?" Rangga menoleh.
"Perempuan Iblis Pulau Karang!" sahut Pandan Wangi mantap.
Rangga kembali mengernyitkan keningnya. Memang,
perempuan itu pasti mengetahui semuanya. Hanya saja, rasanya tidak mungkin bisa
memperoleh keterangan
darinya. Bagaimana mungkin, sudah jelas dalam masalah ini dia selalu berhubungan
dengan Ki Karangseda
Di lain pihak, untuk menghubungi Ki Jatirekso atau Jaka Wulung, sepertinya
kurang tepat. Bukan hanya memakan waktu saja, tapi mereka tidak tahu, ke mana
harus mencari" Dan tak seorang pun tahu, di mana kini mereka berada. Kecuali....
Ya! Kecuali, hanya satu yang tahu. Dan itu juga baru suatu kemungkinan.
"Ayo ikut aku, Pandan!" seru Rangga dengan riba-tiba dan langsung melompat.
"Ke mana?" tanya Pandan Wangi segera ikut melompat
"Ikut saja!"
Semenlara itu, jauh di luar batas Desa Kali Anget sebelah Selatan, tampak
berdiri rumah kecil berdinding papan dan beratap daun-daun rumbia. Rumah itu
tampak jadi seperti tersembunyi, karena dikelilingi oleh pepohonan besar dan
kecil. Keadaannya tampak sunyi bagai tak berpenghuni.
Namun di dalam rumah itu ada Ki Jatirekso dan Jaka Wulung yang tengah duduk di
dipan bambu. Sementara di depan mereka, duduk beralaskan tikar pandan, seorang
perempuan tua yang sedang menganyam bambu yang
dihaluskan tipis-tipis.
Perempuan itu adalah Nyi Nirah, ibu dari Ki Jari?rekso
yang juga berarri nenek Jaka Wulung. Tampak tubuhnya sangat kurus tertutup
kemben kembang-kembang yang sudah lusuh. Sementara kerut-kerut kulitnya memenuhi
seluruh tubuh. Sedang baris gigi yang hitam akan terlihat saat dia menguap
lebar. Namun dengan keadaan yang demikian, dia masih punya sinar mata yang
jernih, pertanda bahwa dia memiliki isi dalam tubuhnya. Dalam usianya yang sudah
mencapai seratus tahun lebih, Nyi Nirah masih juga bisa menganyam bambu.
Terlihat dari jari-jemari tangannya yang lincah menganyam.
"Kapan kau akan kembali ke Desa Kali Anget, Rekso?"
tanya Nyi Nirah memecah kesunyian. Suaranya masih terdengar gagah meskipun
bergetar. "Mungkin tidak," sahut Ki Jarirekso pelan.
"Apa kau tidaK kasihan melihat rakyatmu sengsara" Aku tahu betul siapa Ki
Karangseda itu, watak dan tingkah lakunya persis dengan mendiang ayahnya dulu.
Aku tidak yakin, kejadian ini karena dia ingin membalas kematian ayahnya," kata
Nyi Nirah kembali mengenang masa talunya.
"Mungkin juga begitu, Bu," sahut Ki Jatirekso.
"Ayahmu dulu juga seorang pendekar. Dialah yang membunuh
ayah Karangseda karena membela kehormatannya sebagai seorang laki-laki. Mana ada laki-laki di dunia ini yang
bisa diam kalau melihat istrinya dirampas. Yaaah...., sebetulnya sih bukan dia
yang membunuh, tapi aku! Akulah yang menusukkan keris
pusaka Pancasona ke dadanya. Aku bangga dengan
ayahmu, Rekso. Dia mau bertanggung jawab, meskipun harus mati di tiang
gantungan. Sejak saat itu, aku tidak mau lagi menginjak Desa Kali Anget," ada
kesenduan pada suara Nyi Nirah.
"Sudahlah, Bu. Tidak perlu lagi mengingat-ingat kejadian itu. Aku sudah
melupakannya. Itulah sebabnya, kenapa aku bersedia dipilih jadi kepala desa,
meskipun aku sadar, peristiwa seperti yang terjadi saat ini sebagai akibatnya,"
kata Ki Jarirekso mencoba menenangkan hati ibunya.
"Kabar sudah tersiar luas, bahwa kaulah yang mengundang
orang-orang rimba persilatan untuk memenggal kepala Pendekar Rajawali Sakti," lirih suara Nyi Nirah.
"Biarkan mereka menduga begitu, Bu. Biarkan Karangseda tertawa dengan kemenangannya
Toh akhirnya, rakyat juga yang bisa menentukan. Rasanya aku tidak mungkin lagi
berbuat apa-apa sekarang. Aku hanya bisa melihat dan melihat!" sedikit tertekan
suara Ki Jatirekso.
"Bagaimana kalau mereka percaya, bahwa kau yang mengundang orang-orang itu" Aku
juga dengar bahwa di antara mereka kini ada Perempuan Iblis Pulau Karang," Nyi
Nirah memberi pilihan.
"Aku yang akan menghadapi perempuan itu. Dia tidak akan pernah berhenti
mengusikku sebelum kupenggal lehernya!" geram juga Ki Jatirekso diingatkan
begitu. "Kau tidak akan mampu, Rekso. Dia bukan lawanmu.
"Lebih baik aku mati di tangannya, daripada jadi boneka permainan!"
"Tapi, bagaimanapun juga, dia masih istrimu. Aku, bisa merasakan perasaannya
karena aku juga perempuan,
Rekso. Sebuas-buasnya harimau betina, dia tidak akan mungkin memangsa keluarga
dan keturunannya sendiri.
Kemungkinan dia hanya ingin melampiaskan sakit hatinya padamu. Tapi dia tidak
bermaksud mencelakakanmu,
apalagi membunuhmu," lagi-lagi Nyi Nirah mengingatkan.
Ki Jatirekso hanya diam termangu. Secara jujur, dia masih mencintai perempuan
itu. Tapi karena tingkahnya yang liar dan tidak pernah puas hanya. dengan satu
laki-laki, Ki Jatirekso terpaksa meninggalkannya dengan memberi cacat pada
wajahnya. Tapi entah bagaimana caranya, perempuan itu kini kelihatan semakin
muda dan tambah cantik saja.
Di dunia ini, memang begitu banyak hal-hal yang sulit dimengerti oleh akal dan
pikiran yang sehat. Semua yang dirasa mustahil, kadang jadi kenyataan. Entah itu
dengan cara lurus atau bersekutu dengan setan. Pokoknya semua cara ditempuh
manusia untuk mencari kepuasan diri.
Manusia memang makhluk paling egois di muka bumi ini!
Sejenak Ki Jatirekso melirik Jaka Wulung. Sejak tadi, mata anaknya tidak pernah
lepas memandang ke luar. Jaka Wulung adalah anak satu-satunya dari perkawinannya
dengan Telasih, si Perempuan Iblis Pulau Karang. Tapi, sejak berumur sepuluh
hari, Jaka Wulung tidak pernah kenal siapa ibunya. Sedang Ki Jatirekso selalu
mengatakan, bahwa ibunya sudah meninggal ketika melahirkan.
"Ayah...!" Panggil Jaka Wulung tiba-tiba.
Ki Jatirekso segera bangkit dan mendekati anak muda itu. Dia melongokkan
kepalanya melalui jendela yang terbuka sedikit. Tampak agak jauh di depan, ada
dua bayangan tubuh manusia yang berlari-Iari kecil menghampiri rumah ini. Dua bayangan putih dan biru itu berkelebatan dari balik
pepohonan.

Pendekar Rajawali Sakti 11 Jago Jago Bayaran di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kau kenal dua orang itu, Rekso?" tanya Nyi Nirah yang tanpa ikut mengintai.
"Belum begitu jelas," sahut Ki Jatirekso yang tidak lagi heran mendengar
pertanyaan ibunya. Dia kenal betul siapa ibunya. Perempuan itu bisa mendengar
dan membedakan gerak dari jarak yang cukup jauh. Karena dia memiliki ilmu
pendengaran jarak jauh yang sudah sempurna.
"Dua orang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi, ayunan kakinya begitu ringan
dan halus," gumam Nyi Nirah seraya berusaha bangkit.
Melihat itu, Jaka Wulung segera melompat dan
membantu neneknya berdiri. Kemudian dituntunnya ke dekat jendela. Meskipun
perempuan itu tidak memerlukan bantuan untuk berjalan, tapi dia membiarkan cucu
satu-satunya itu membantu. Bahkan dia tersenyum bangga pada
Jaka Wulung. Sedangkan Ki Jatirekso memberi tempat agar ibunya bisa lebih jelas
melihat ke luar.
"Satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka masih amat muda," kata Nyi Nirah
setelah memandang ke luar sebentar. "Ah! Ada pedang di punggung. Bentuknya
begitu mirip dengan kepala burung. Benar-benar pasangan yang serasi. Ck ck
ck...." "Pendekar Rajawali Sakti...," gumam Ki Jarirekso pelan.
"Siapa...?" tanya Nyi Nirah.
Tapi sebelum pertanyaan perempuan itu terjawab, Ki Jarirekso sudah mencelat ke
luar. Begitu cepatnya, tahu-tahu dia sudah berdiri tegak di depan pondok. Ki
Jatirekso tampak seperti menghadang dua orang yang semakin dekat ke arah pondok.
Benarkah dugaan dan penglihatan Ki Jatirekso"
*** Apa yang didengar dan dirasakan Nyi Nirah memang
benar. Dua orang yang datang itu adalah Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas
Maut. Mereka segera berhenti
melangkah setelah jaraknya dekat dengan Ki Jatirekso.
Sementara dari dalam pondok, Nyi Nirah ke luar didampingi Jaka Wulung.
Rangga segera merunduk, memberi hormat pada
perempuan tua yang sudah berdiri di samping Ki Jatirekso.
Nyi Nirah membalas dengan mengangguk pula sebagaimana seorang pendekar bertemu sesama pendekar. "Kalau tidak salah penglihatanku, benarkah nenek yang bernama Nyi Nirah?" tanya
Rangga ingin memas-tikan.
"Benar, anak muda. Dari mana kau bisa tahu namaku?"
balas Nyi Nirah sopan, mengimbangi kesopanan Rangga.
"Bibi Pelangi banyak cerita tentang nenek."
"Ah, ya..., bagaimana keadaan dia sekarang" Apakah
kedua keponakannya sehat dan betah tinggal di sana?"
"Semuanya baik-baik saja, Nyi."
Nyi Nirah melirik Jaka Wulung yang berdiri di samping ayahnya.
"Jaka! Kenapa kau diam saja seperti patung" Ayo, beri hormat pada pamanmu!"
sentak Nyi Nirah.
Jaka Wulung jadi kebingungan, buru-buru dia membungkuk, memberi hormat Rangga tersenyum dan
membalas dengan membungkuk pula. Keadaan tersebut, bukan saja mengherankan Ki
Jatirekso dan anaknya, Jaka Wulung. Pandan Wangi pun demikian. Mereka heran
melihat Nyi Nirah dan Rangga seperti sudah saling kenal, hingga saling hormat
begitu rupa. "Aku sudah banyak tahu tentang dirimu, Rangga. Biarpun berpuluh tahun aku
mengurung diri di sini, tapi setiap kejadian di luar, aku selalu bisa
mengikutinya. Adik Pelangi mengatakan, bahwa dia telah mengangkatmu sebagai
saudara, dan tentunya kau juga jadi saudaraku," kata Nyi Nirah tersenyum lebar.
"Terima kasih," ucap Rangga.
"Mari, sebaiknya kita ngobrol di dalam saja," ajak Nyi Nirah.
Rangga segera menggamit tangan Pandan Wangi dan
mengikuti langkah Nyi Nirah yang didampingi Ki Jatirekso dan Jaka Wulung. Tak
lama kemudian, tampak mereka telah duduk di lantai pondok yang beralaskan papan
dan dilapisi tjkar pandan. Jaka Wulung segera menyediakan beberapa guci arak dan
gelas dari bambu yang dihaluskan.
"Silakan," Nyi Nirah mempersilakan tamunya untuk minum.
Rangga segera mengangkat gelas yang sudah diisi arak manis oleh Jaka Wulung.
Sementara Pandan Wangi juga minum setelah Nyi Nirah dan Ki Jatirekso menenggak
minuman dari guci yang sama. Sedangkan Jaka Wulung hanya duduk di samping
neneknya. Di benaknya masih
diliputi berbagai macam pertanyaan mengenai Rangga dan neneknya yang begitu
saling menghormati.
"Apakah ada sesuatu yang khusus hingga kau datang kemari" Atau hanya sekedar
singgah?" tanya Nyi Nirah setelah beberapa saat terdiam.
"Sebenarnya aku sengaja datang ke sini, tapi tanpa diduga malah bertemu dengan
Ki Jatirekso dan adik Jaka Wulung di sini," sahut Rangga sambil melirik dua
laki-laki yang duduk mengapit Nyi Nirah.
"Hm..., ya, ya...! Aku tahu." Nyi Nirah terangguk-angguk.
"Terus terang, Nyi. Sejak semula aku tidak percaya, kalau Ki Jatirekso
mengundang jago-jago itu untuk membunuhku,"
kata Rangga sejujurnya. "Dan kedatanganku ke sini, sebenarnya juga untuk meminta
bantuan pada Nyi. Karena menurut Bibi Pelangi, Nyi memiliki kelebihan yang tidak
dimiliki orang lain."
"Ki Jatirekso sudah menceritakan semuanya padaku.
Semua ini hanya karena dendam lama seseorang pada Jatirekso. Aku sendiri tidak
tahu, kenapa justru kau yang dijadikan kambing hitam."
Kemudian tanpa diminta, Jatirekso pun segera mencentakan semua yang terjadi beberapa tahun lalu, sampai berbuntut panjang
hingga kini. Sementara Rangga sedikit kaget, setelah mengetahui ternyata Ki
Jatirekso anak dari Nyi Nirah. Kini persoalannya sudah jelas! Jago-jago bayaran
sengaja didatangkan untuk mengacaukan suasana, yang sebenarnya hanya untuk menutupi maksud buruk Ki Karangseda.
"Aku tahu di mana perempuan iblis itu tinggal," kata Jaka Wulung.
"Darimana kau tahu, Jaka?" tanya Ki Jatirekso.
"Selama ini aku menyelidiki, siapa yang menyediakan seribu keping uang emas.
Maaf, Ayah. Semua ini kulakukan untuk
membersihkan nama Ayah," Jaka Wulung menjelaskan. Tanpa diminta, Jaka Wulung segera mencentakan
pengalamannya menguntit Ki Karangseda dan Ki Pungkur yang pergi ke tempat
tinggal sementara Perempuan Iblis Pulau Karang. Sementara secara bergantian,
Rangga segera menceritakan, bahwa dia telah berhasil menggiring tokoh-tokoh
rimba persilatan ke luar dari Desa Kali Anget dan menuju Kawah Neraka.
Kini dalam gubuk itu terdengar mereka bercerita saling sambung, apa yang mereka
alami selama ini sambil
mencari jalan keluarnya. Kini Rangga sudah tahu duduk persoalannya, siapa yang
patut diberi dukungan dan siapa yang harus dilawan. Tiba-tiba hatinya panas,
karena dijadikan kambing hitam oleh Ki Karangseda dan
Perempuan Iblis Pulau Karang. Rupanya mereka memanfaatkan masa silam untuk menggulingkan Ki
Jatirekso. Suatu rencana keji yang tersusun dengan rapi.
*** 7 Suasana di Desa Kali Anget benar-benar meriah sekali.
Seluruh pelosok desa dihias, sedangkan pada tempat-tempat terbuka dan strategis
didirikan panggung-panggung untuk hiburan. Walaupun masih dua hari lagi Ki
Karangseda akan dinobatkan jadi kepala desa, tapi dia sudah
menempati rumah besar yang memang disediakan untuk pejabat kepala desa.
Sementara di tengah-tengah halaman rumah yang luas itu, sudah berdiri panggung
besar. Sedang beberapa kursi undangan tampak berjejer rapi mengelilingi
panggung. Sayang sekali, kemeriahan itu tidak terpancar pada wajah penduduk yang justru
kelihatan resah. Sejak dulu, mereka semua tahu siapa sebenarnya Ki Karangseda.
Dan mereka masih mengharapkan Ki| Jatirekso muncul kembali.
Tampak Ki Karangseda berjalan mengelilingi rumah
besar yang akan menjadi miliknya dua hari lagi. Bibirnya terus menyunggingkan
senyum kemenangan. Dia begitu puas, meskipun seluruh penduduk tidak menginginkan
dirinya jadi kepala desa. Dan berkat cara kasar yang dilakukan Ki Pungkur,
seluruh penduduk desa terpaksa menyetujui dan memilih Ki Karangseda menjadi
kepala desa. "Apa kau sudah dapat kabar tentang Sanggabawung dan Sangga Kelana, Adi Pungkur?"
tanya Ki Karangseda pada Ki Pungkur yang tidak pernah jauh darinya.
"Belum," sahut Ki Pungkur.
"Aku menyesal, kenapa Perempuan Iblis Pulau Karang memerintahkan mereka ke Kawah
Neraka," pelan suara Ki Karangseda. Sepertinya dia menyesali hilangnya dua
bersaudara itu.
"Mungkin mereka sudah tewas di sana, Kakang," Ki Pungkur menduga-duga.
"Yaaah...," desah Ki Karangseda. "Selama ini belum
pernah ada seorang pun yang sanggup ke luar dari sana kalau sudah masuk"
"Bagaimana dengan orang-orang itu?" tanya Ki Pungkur.
"Mereka masih berada di sekitar Kawah Neraka."
"Biarkan mereka menunggu sampai tua!" dengus Ki Karangseda.
"Apakah kau percaya, Pendekar Rajawali Sakti ada di sana?"
"Kalau pun dia ke sana, pasti sudah tewas. Sehebat-hebatnya dia, tidak akan
mampu menandingi binatang-binatang peliharaan Ratu Macan Kumbang."
Ki Pungkur diam saja meskipun Ki Karangseda tertawa merasakan kemenangannya.
"Kenapa kau diam saja, Adi Pungkur?" tanya Ki Karangseda melihat adiknya diam
saja tidak ikut gembira.
"Tidak apa-apa," desah Ki Pungkur berusaha tersenyum.
"Apa yang kau pikirkan?" desak Ki Karangseda.
"Tidak," sahut Ki Pungkur singkat dan pelan.
"Hm...," Ki Karangseda bergumam. Matanya tajam menatap wajah Ki Pungkur penuh
selidik. Dia yakin, kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati adiknya itu.
"Aku akan memeriksa keliling desa dulu, Kakang," kata Ki Pungkur merasa jengah
dipandang begitu.
Ki Karangseda hanya menggumam dan mengangguk.
Matanya masih menatap tajam pada adiknya yang sudah melangkah. Dia yakin, Ki
Pungkur tengah memikirkan sesuatu yang dirahasiakan. Beberapa hari ini, Ki
Pungkur memang kelihatan lebih pendiam dari biasanya. Perubahan yang begitu
menyolok itu, tentu saja mendapat perhatian dari Ki Karangseda.
Laki-laki berpakaian menterang itu masih berdiri saja di tempatnya. Dia masih
memikirkan sikap Ki Pungkur yang bembah drastis dalam beberapa hari ini. Rasanya
tidak mungkin, kalau dia gelisah terus hanya karena kehilangan dua murid
kesayangannya yang begitu setia.
Ki Karangseda segera mengurungkan niatnya untuk
melangkah, ketika dari arah samping tiba-tiba ada seorang perempuan cantik
mengenakan baju merah yang ketat sedang berjalan menghampirinya.
"Perempuan Iblis Pulau Karang...," desah Ki Karangseda.
"Mau apa dia ke sini?"
Perempuan yang sebenarnya bernama Telasih itu
langsung berdiri di depan Ki Karangseda. Bibirnya yang selalu merah
menyunggingkan senyum lebar dan sedikit bergetar seperri hendak menggoda. Dengan
baju ketat seperri itu, Telasih bagai seorang gadis remaja. Tidak sedikit pun
tampak kerut-kerut ketuaan di wajahnya.
Sedang di bagian dadanya masih menggembung
kencang. Sementara buah pinggangnya yang ramping, membentuk pinggul yang indah
dan membuat setiap mata lelaki yang memandangnya jadi melotot. Yang tidak
mengenal siapa Telasih, mungkin akan menyangka wanita itu seorang gadis remaja.
"Mau apa kau datang ke sini?" tanya Ki Karangseda seraya menelan air liurnya.
"Tidak boleh?" Telasih malah balas bertanya. Sedang matanya mengerdip dengan
bibir menyunggingkan senyum menggoda.
"Bukannya tidak boleh, tapi...," Ki Karangseda tidak meneruskan kata-katanya.
Dia melirik ke kanan dan ke kiri.
"Tidak ada yang bisa mengenalku, Karangseda. Lihatlah, kau tertarik untuk
mengajakku ke peraduan, kan?" Telasih merentangkan tangannya
Lagi-lagi Ki Karangseda menelan ludahnya, membasahi tenggorokan yang mendadak
jadi kering. Sikap wanita itu benar-benar menggoda hasrat kejantanannya.
Meskipun dia sudah pantas disebut kakek-kakek, tapi seleranya pada wanita cantik
tak pernah hilang. Sementara matanya kembali mengamati sekelilingnya, khawatir
kalau-kalau ada orang yang melihat.
Ki Karangseda segera menarik pergelangan tangan
wanita itu dengan tidak sabar. Sedang Telasih memekik manja, begitu tubuhnya
jatuh ke pelukan Ki Karangseda.
Tiba-tiba tangannya menahan kepala Ki Karangseda yang sudah mau nyelonong
menciumnya. "Sabar, dong..., jangan di sini," desah Telasih manja.
"He he he..., kau membuatku jadi bergairah, Manis," Ki Karangseda terkekeh.
Telasih melepaskan pelukan laki-laki tua itu, kemudian melenggang ke belakang
rumah. Sementara Ki Karangseda mengikuti dari belakang sambil terkekeh.
Pandangannya terus merayapi pinggul wanita yang melenggak-lenggok di depannya.
Mereka segera hilang di balik tembok gudang belakang rumah.
Tak lama kemudian hanya terdengar suara mengikik, di sela-sela desahan napas
memburu. *** Ki Karangseda tampak perlente dengan mengenakan
jubah warna hijau bersulam benang emas. Senyumnya terus terkembang menyaksikan
keramaian di depan
rumahnya. Sementara semua undangan telah hadir dan menempati
bangku-bangku yang telah disediakan. Sedangkan hampir seluruh penduduk, tumpah ruah di sekitar halaman rumah itu.
Hanya sinar mata dan raut wajah penduduk yang tidak menggambarkan kegembiraan.
Mereka seperti terpaksa menyaksikan penobatan Kepala Desa Kali Anget yang baru.
Tapi Ki Karangseda benar-benar tidak mempedulikan ketidak senangan penduduk. Dia
sudah cukup puas dengan jabatan yang telah diimpikannya bertahun-tahun.
Ki Karangseda segera duduk di kursi yang berukiran indah dan berwarna keemasan.
Sementara di kanan kirinya, duduk Telasih dan Ki Pungkur. Tidak bisa dipungkiri,
meskipun Ki Pungkur selalu tersenyum, namun dari sinar
matanya terlihat kalau dia tidak menikmati semua
kegembiraan yang penuh hiburan itu. Sementara di atas panggung besar, beberapa


Pendekar Rajawali Sakti 11 Jago Jago Bayaran di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

gadis cantik melenggak-lenggok mengikuti irama gamelan.
"Aku merasakan kejanggalan di sini," gumam Telasih seperri pada dirinya sendiri.
"Mereka akan segera tunduk padaku!" sahut Ki Karangseda tidak peduli dengan
sikap penduduk yang tidak menyukainya.
"Tapi kau masih memiliki hutang padaku," kata Telasih.
"He he he..., sebentar lagi kau akan mendengar kematian Pendekar Rajawali
Sakti." "Bukan itu! Aku tidak peduli dengan dia!"
"Lalu apa?"
"Jatirekso!"
"Aku yakin, dia sudah mati diterkam macan. Lagi pula, kalau masih hidup, mana
mungkin dia berani ke sini"
Sudahlah! Tidak perlu kau pikirkan lagi laki-laki tolol itu.
Biarkan saja dia sengsara!"
"Tapi kau kan janji untuk membawa kepalanya padaku?"
Telasih tetap menagih.
"Tentu saja, tapi setelah upacara penobatanku selesai.
Itu kan janji kita sebelumnya."
"Aku tunggu janjimu, Karangseda. Awas! Satu purnama setelah penobatanmu, kau
harus menyerahkan kepala Jatirekso padaku."
"He he he...," Ki Karangseda hanya terkekeh. Tentu saja dia ingat semua
perjanjian di antara mereka.
Sementara itu, Ki Pungkur hanya mendengarkan saja.
Pikirannya masih dikacaukan dengan dua murid kesayangannya yang setia. Dia juga tidak yakin, kalau Pendekar Rajawali Sakti ke
Kawah Neraka. Dia menduga, itu hanya siasat untuk mengalihkan jago-jago bayaran
yang disewa Ki Karangseda. Memang imbalan yang diberikan sangat menggiurkan.
Maka tidak mengherankan, bila begitu
banyak tokoh rimba persilatan yang datang.
Sebenarnya Ki Pungkur tidak setuju dengan rencana itu.
Terlalu berbahaya melibatkan Pendekar Rajawali Sakti!
Meskipun dia belum pernah bentrok secara langsung, tapi dia tahu betul semua
sepak terjangnya. Sedang hilangnya Sanggabawung dan Sangga Kelana membuatnya
jadi punya pikiran lain. Dia khawatir, kalau Pendekar Rajawali Sakti tidak pergi
ke Kawah Neraka, tapi menghadang di pinggir desa dan menghabiskan satu per satu
jago-jago bayaran.
Ki Pungkur mendongakkan kepalanya sedikit miring, ketika salah seorang
membisikkan sesuatu dari belakang.
Tak berapa lama kemudian Ki Pungkur menganggukanggukkan kepala. Sementara laki-laki muda yang
berpakaian merah menyala dan bersenjata golok di
pinggang, terus pergi menyelinap di antara penduduk.
"Ada apa?" tanya Ki Karangseda.
"Sebagian tokoh-tokoh persilatan sudah pergi," sahut Ki Pungkur memberitahu apa
yang dibisikkan pemuda tadi.
"Hm...," Ki Karangseda bergumam, keningnya sedikit berkerut.
"Di sekitar perbatasan Kawah Neraka, banyak mayat bergelimpangan. Mereka adalah
orang-orang persilatan,"
lanjut Ki Pungkur.
Ki Karangseda menatap tajam pada adiknya. Sungguh mati, dia kaget bukan main
mendengar berita itu. Sedang Telasih tampak tenang-tenang saja duduk di
kursinya. Bahkan bibirnya tampak tersungging senyuman mendengar berita itu.
"Aku yakin, Pendekar Rajawali Sakti masih hidup. Bahkan sekarang
ini, tidak sedikit jago-jago bayaranmu meninggalkan batas Kawah Neraka. Mungkin hanya
beberapa saja yang tinggal," lanjut Ki Pungkur melaporkan.
"Kau cari pendekar itu di Kawah Neraka, sekarang juga!"
perintah Ki Karangseda dengan suara tertahan.
"Gila! Kenapa tidak kau tusukkan saja pisaumu ke
dadaku"!" dengus Ki Pungkur geram.
"Jangan tolol, Pungkur! Semuanya bisa berantakan kalau pendekar itu masih
hidup!" "Huh! Kau mau enaknya sendiri, Kakang. Sudah aku peringatkan sejak semula,
jangan bawa-bawa nama
Pendekar Rajawali Sakti! Dia bukan orang yang bisa diajak main-main!" gerutu Ki
Pungkur. "Sekarang ini kau yang bertanggung jawab terhadap keamanan desa, Pungkur."
"Tapi bukan untuk mengurusi persoalan pribadimu!"
"Pungkur!" sentak Ki Karangseda begitu terkejut mendengar kata-kata yang bernada
ketus itu. Ki Pungkur menatap tajam pada Ki Karangseda.
Kemudian dia bangkit dan beranjak pergi tanpa berkata-kata lagi. Ki Karangseda
hendak mengejar, tapi keburu dicegah oleh Telasih. Dan dengan bersungut-sungut,
dia kembali duduk.
"Biarkan saja, mungkin dia masih merasa kehilangan!"
kata Telasih mencoba menghibur.
"Sikapnya jadi aneh. Aku rasa, bukan hanya karena kehilangan dua murid
kesayangannya," Ki Karangseda menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak mengerti
sikap Ki Pungkur yang jadi membenci dirinya.
"Ah, sudahlah! Nanti juga terbiasa. Dia cuma meluapkan emosinya!" hibur Telasih.
Tapi benarkah apa yang dikatakan Perempuan Iblis Pulau Karang itu" Apakah hanya
karena kehilangan dua murid kesayangannya, Ki Pungkur lantas membenci kakaknya"
Semua ini menjadi beban pertanyaan Ki Karangseda. Dia masih tidak yakin, kalau
adiknya berubah hanya karena peristiwa kehilangan. Pasti ada hal lain yang
tengah dipikirkan Ki Pungkur.
*** Sementara itu acara hiburan di panggung sudah selesai.
Tampak Ki Karangseda bangkit dari duduknya. Dia segera melangkah pelan-pelan
dengan kepala menengadah,
menunjukkan wibawanya Satu per satu kakinya menaiki anak tangga panggung.
Sejenak dia mengedarkan
pandangannya. Suasana jadi hening begitu Ki Karangseda berada di atas panggung. Laki-laki tua
dengan pakaian perlente itu menjura memberi hormat pada seluruh pengun-jung yang
memadati halaman rumah.
"Terima kasih aku ucapkan pada saudara-saudara yang telah sudi datang ke sini,
untuk menyaksikan penobatan Kepala Desa Kali Anget yang baru," kata Ki
Karangseda, suaranya menggema karena disertai dengan tenaga dalam.
Suasana masih tetap hening. Sementara seluruh
pandangan para undangan tertuju pada laki-laki tua di atas panggung itu. Sedang
para penduduk yang berdiri di belakang barisan kursi undangan, seperri malasmalasan. "Perlu saudara-saudara ketahui, bahwa Ki Jatirekso telah melarikan diri, karena
tidak bisa mengatasi kerusuhan yang melanda desa ini. Dan aku bersama Ki Pungkur
telah berhasil mengatasinya, hingga desa yang kita cintai ini menjadi tenang
seperri semula. Namun, karena sebuah desa tidak layak jika tidak ada yang
memimpin, maka aku memutuskan untuk menjadi kepala desa sementara sampai hari
ini. Dan atas restu saudara-saudara sekalian, mulai hari aku ini resmi jadi...,"
"Ha ha ha...!" tiba-tiba terdengar suara tawa menggelegar menggema dari segala
arah, memutus kata-kata Ki
Karangseda. Seketika itu juga keadaan jadi gaduh. Sementara suara tawa yang keras disertai
tenaga dalam sempurna itu terus menggema. Tampak Ki Karangseda celingukan,
mencari sumber tawa itu.
"Diaaam...!" bentak Ki Karangseda keras, mengalahkan
suara gaduh dan tawa.
Mendadak keadaan jadi sunyi kembali. Suara Ki
Karangseda itu begitu keras bagai guntur di siang hari.
Sementara matanya beredar berkeliling. Sedang Telasih sudah berdiri di
sampingnya. Dua puluh orang bersenjata golok di tangan, segera mengambil
tempat melingkari panggung. Mereka mengenakan seragam merah menyala, dan golok besar panjang melintang di dada.
Ternyata mereka adalah murid-murid Ki Pungkur yang sengaja dikerahkan untuk
menjaga segala kemungkinan.
"Jangan percaya kata-katanya! Dia tidak lebih dari perampok yang harus
dilenyapkan!" lagi-lagi terdengar suara keras menggema.
"Siapa kau" Ke luar!" bentak Ki Karangseda gusar.
"Aku, orang yang kau jadikan kambing hitam!"
"Pendekar Rajawali Sakti.,.," desah Ki Karangseda bergetar suaranya.
Suasana di halaman rumah besar itu makin tegang!
Suara yang menggema tanpa ujud, membuat para
penduduk beringsut dan menjauhi panggung. Bahkan
beberapa undangan juga sudah beranjak pergi meninggalkan tempat duduknya, tidak mau ikut campur dalam masalah itu Kini hanya
tinggal beberapa undangan yang memiliki nyali cukup besar yang masih duduk di
kursinya. "Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu, Ki Karangseda!" suara tanpa ujud
itu kembali terdengar.
"Ke luar kau, pengecut!" bentak Ki Karangseda.
"Aku di sini,"
Ki Karangseda terlonjak kaget seraya berbalik. Tampak seorang pemuda tampan
dengan mengenakan rompi putih dan bersenjata pedang yang gagangnya berbentuk
kepala burung, sedang nangkring di salah satu cabang pohon yang tidak jauh dari
panggung. "Pendekar Rajawali Sakti...," gumam Ki Karangseda sedikit bergetar suaranya.
"Aku datang untuk menyerahkan kepalaku, Ki Karangseda. Aku ingin hadiah yang kau janjikan," kata Rangga kalem.
"Setaaan...!" geram Ki Karangseda tidak lagi dapat mengendalikan amarahnya.
Seketika itu juga dia mengebutkan tangannya ke depan.
Sinar keperakan segera meluncur dari telapak tangannya yang terbuka. Sinar itu
meluncur bagai kilat dan
menghantam pohon yang ditangkringi Rangga. Dan
kemudian terdengar suara ledakan dahsyat, begitu sinar itu menghantam pohon.
Seketika itu juga, pohon yang
ditangkringi Rangga jadi hancur berkeping-keping.
"Hebaaat...," puji Rangga yang tahu-tahu sudah berada di atas panggung.
Ki Karangseda langsung terperanjat. Buru-buru dia membalikkan tubuh. Tak
disangkanya sama sekali, kalau Pendekar Rajawali Sakti itu sudah berada di
belakangnya. Sementara Telasih hanya mengamati wajah tampan yang berdiri tegak di pinggir
panggung. Hatinya langsung terpesona melihat ketampanan wajah Rangga.
"Kau menjanjikan seribu keping uang emas untuk kepalaku, bukan" Nah! Sekarang
aku datang untuk
meminta hadiah itu," tenang sekali suara Rangga, tapi nadanya mengejek.
Ki Karangseda menggemerutukkan rahangnya menahan
geram. Matanya melihat ke kanan dan ke kiri mencari-cari adiknya. Tapi Ki
Pungkur tidak tampak di sekitamya.
"Aku serahkan kepalaku, tapi kau harus mengambilnya sendiri," kata Rangga lagi
dengan tenang, walau nadanya menantang.
"Setan! Seharusnya kau sudah mati!" geram Ki Karangseda.
"Sayang sekali, justru aku sendiri yang mengantarkan
pesananmu."
"Phuih!" Ki Karangseda menyemburkan ludahnya.
Secepat kilat Ki Karangseda mencabut pisau kembarnya.
Dan tanpa berbasa-basi lagi, dia langsung menerjang sambil berteriak nyaring.
Sementara Rangga hanya
memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri, sedang tangannya terangkat dan memapak
tangan kiri Ki Karangseda yang menusukkan pisaunya ke arah leher.
Trak! Ki Karangseda terkejut setengah mati, karena tangannya kesemutan begitu beradu
dengan tangan Rangga. Secepat kilat dia melompat mundur, dan menyiapkan serangan
selanjutnya. "Mampus, kau! Yeaaah...!" teriak Ki Karangseda.
"Hih!"
*** 8 Ki Karangseda tidak mau tanggung-tanggung lagi. Dia langsung mengerahkan jurus
andalannya, yaitu jurus
'Pukulan Tangan Besi'. Suatu jurus yang pada masa mudanya tidak ada
tandingannya. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti yang tidak mengira akan
mendapat serangan begitu dahsyat, hanya menggunakan jurus 'Cakar Rajawali'. Namun dia terlambat mengerahkannya, hingga
begitu pukulan dahsyat dari Ki Karangseda bersarang di tubuhnya, Rangga hanya
mampu bertahan. Tapi akibatnya fatal sekali, karena tubuhnya langsung terjungkal
dan menghantam papan panggung hingga hancur berantakan.
"Ha ha ha...!" Ki Karangseda tertawa terbahak-bahak melihat lawannya terbenam di
kolong panggung bersama papan yang jebol berantakan.
Tapi tiba-tiba tawa Ki Karangseda berhenti. Pendekar Rajawali Sakti melenting ke
luar dan dengan manis mendarat di atas panggung. Tidak sedikit pun terlihat dia
mengalami luka-luka akibat pukulan Ki Karangseda.
"Gila! Ilmu apa yang dia pakai?" dengus Ki Karangseda.
"Pukulanmu hebat sekali Ki Karangseda," puji Rangga tulus.
"Phuih! Jangan bangga dulu, bocah! Itu baru setengahnya!" geram Ki Karangseda.
"Keluarkan semua kepandaianmu!" tantang Rangga.
"Terimalah kematianmu, Pendekar Rajawali Sakti.
Yeaaah...!"
Ki Karangseda mengeluarkan selumh kepandaiannya pada jurus andalannya.
Rangga yang sudah merasakan betapa dahsyatnya ilmu pukulan laki-laki tua itu,
langsung mengerahkan aji 'Cakra Buana Sukma'. Dia tidak mau lagi menerima resiko
fatal.

Pendekar Rajawali Sakti 11 Jago Jago Bayaran di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Aji 'Cakra Buana Sukmaaa'...!" teriak Rangga keras.
"Hiyaaa...!"
Ki Karangseda langsung menerjang pendekar Rajawali Sakti sambil mengembangkan
tangannya lurus ke depan.
Sedang Rangga hanya mengangkat tangannya, dengan kaki terentang agak lebar.
Seketika dua tangan beradu saling cengkeram. Ki Karangseda benar-benar terkesiap
begitu tangan Pendekar Rajawali Sakti mengeluarkan cahaya biru berkilau. Dan dia
makin terkejut begitu merasakan ada kekuatan dahsyat yang menyedot tenaganya.
Seketika itu juga dia langsung menarik tangannya yang menempel erat pada kedua
telapak tangan Rangga.
"Hik!" Ki Karangseda berusaha sekuat tenaga untuk menarik lepas tangannya.
Semakin dia mengerahkan tenaga, semakin kuat pula daya sedot dari aji 'Cakra
Buana Sukma' Seluruh paras wajah Ki Karangseda langsung berubah merah padam.
Keringat bercucuran deras membasahi lehernya. Sementara sinar biru mulai merambat menyelimuti kedua tangannya, sedangkan
tenaganya makin banyak terkuras.
Melihat Ki Karangseda bergetar seluruh tubuhnya, lima orang yang berjaga-jaga di
sekeliling panggung, melompat hendak membantu. Kernudian secara serempak mereka
membabatkan goloknya ke tubuh Rangga. Tapi tidak sedikit pun Rangga bergeming.
Sehingga tubuhnya menjadi
sasaran empuk dari lima batang golok.
"Aaaakh...!"
Tiba-tiba lima orang yang menyerang Rangga, berpelantingan begitu golok mereka mengenai tubuh Rangga. Seketika itu juga
mereka tewas dengan dada pecah. Ternyata tanpa mereka sadari, ilmu 'Pukulan
Tangan Besi' milik Ki Karangseda yang tengah terkuras, berbalik menyerang
mereka. Menyaksikan lima orang roboh sekaligus, mereka yang masih hidup langsung
mengambil langkah seribu. Namun sial, baru saja mereka bergerak, dari dalam
gerombolan penduduk, muncul empat sosok tubuh menghadang.
Mereka adalah empat bersaudara yang sejak semula
mencurigai kalau Ki Karangseda lah dalang utamanya.
Maka tanpa pikir panjang lagi, Suryadenta dan ketiga adiknya langsung menyerang
lima belas orang murid Ki Pungkur. Seketika itu juga pertempuran sengit terjadi
di dekat panggung.
Sementara itu, keadaan Ki Karangseda semakin kritis.
Dia benar-benar sudah kehilangan seluruh tenaganya.
Bahkan kini sebagian tubuhnya sudah terbalut cahaya biru yang terus terpancar
dari kedua tangan Rangga.
"Telasih..., tolong aku...," rintih Ki Karangseda lirih.
Mendengar itu Telasih langsung meloloskan selendang yang membelit pinggangnya.
Namun pada saat itu, tiba-tiba meluncur bayangan biru ke arah perempuan itu.
Ternyata di depan Telasih sudah berdiri Pandan Wangi dengan kipas maut di
tangannya. Pandan Wangi yang berjuluk si Kipas Maut itu segera mengebutngebutkan kipas bajanya.
"Aku lawanmu, perempuan iblis!" tantang Pandan Wangi dingin dan sinis suaranya.
"Heh! Anak kemarin sore, berani kau menantangku!"
dengus Telasih geram.
"Dan kau.... Sudah sepantasnya masuk liang kubur!"
"Bangsat! Terimalah selendang saktiku!"
"Heit...!"
*** Di sekitar panggung, kini benar-benar telah menjadi
ajang pertempuran. Empat tokoh sakti saling ber tarung di atas panggung,
sementara Suryadenta dan ketiga adiknya menghadapi sekitar lima belas orang
murid-murid Ki Pungkur. Sedangkan para undangan yang hadir sudah sejak tadi menyelamatkan diri.
Agak ke pinggir di atas panggung, tampak sinar biru masih menyelimuti tubuh Ki
Karangseda. Sementara
dengan perlahan-lahan Rangga mulai merenggangkan
jarak, namun sinar biru dari aji 'Cakra Buana Sukma' masih memancar dari
tangannya. Saat itu Ki Karangseda sudah tidak berdaya lagi. Dan pada saat itu
pula Rangga menghentakkan tangannya dengan keras.
"Aaakh...!" Ki Karangseda menjerit melengking.
Suara jeritan itu disusul dengan terdengarnya ledakan dahsyat. Tampak tubuh Ki
Karangseda perlahan-lahan hancur jadi tepung. Rangga menarik kembali ajiannya.
Cahaya biru langsung lenyap dari pandangan. Sebentar dia menarik napas panjang
melihat tubuh lawannya sudah berubah jadi seonggok tepung.
"Hiya...! Hiyaaa...!"
Rangga menolehkan kepalanya. Pada saat itu, Pandan Wangi terpental kena sabetan
selendang maut Perempuan Iblis Pulau Karang. Tubuh Pandan Wangi meluruk deras
jatuh ke tanah. Dari mulutnya menyemburkan darah kental kehitaman.
"Perempuan iblis, aku lawanmu! Hiyaaa...!" teriak Rangga keras.
"Huh!" Perempuan Iblis Pulau Karang mendengus sambil memiringkan tubuhnya
sedikit ke kiri.
Dengan cepat tangannya mengebutkan selendang
mautnya ke arah Pendekar Rajawali Sakti yang tengah meluruk deras ke arahnya.
Namun Rangga dengan tangkas melentingkan tubuhnya, dan meluruk deras dari atas
kepala Perempuan Iblis Pulau Karang itu.
"Ikh!"
Perempuan Iblis Pulau Karang terkejut Buru-buru dia menjatuhkan dirinya dan
bergulingan beberapa kali sebelum melompat bangkit. Rangga yang baru saja
menjejakkan kakinya di tanah, harus kembali melompat begitu selendang maut
perempuan iblis itu kembali meluncur ke arahnya.
Pertarungan antara Rangga dan Perempuan Iblis Pulau
Karang berjalan seru. Jurus-jurus dilalui dengan cepat.
Sementara Pandan Wangi hanya menyaksikan saja sambil menyembuhkan luka dalamnya
dengan menyalurkan hawa murni ke seluruh aliran jalan darahnya.
"Edan! Bocah satu ini benar-benar hebat!" dengus Perempuan Iblis Pulau Karang
dalam hati. Perempuan iblis itu memutar selendang saktinya, dan terjadi keajaiban. Selendang
itu bergulung-gulung kaku menjadi sebuah senjata seperri tongkat. Rangga juga
tidak mau ketinggalan, dia segera mencabut pedang pusaka Rajawali Sakti dari
warangkanya. Cahaya biru terang langsung membias dari pedang terhunus itu.
"Hiya...!" "Yeaaah...!"
Kembali pertarungan berjalan semakin sengit. Rangga merasa kagum juga dengan
kehebatan selendang lawannya yang kini sudah kaku jadi tongkat maut. Beberapa
kali pedangnya berbenturan dengan senjata perempuan iblis itu, tapi Rangga
merasakan seolah-olah dia membabat segumpal karet yang kenyal.
"Aku harus menggunakan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'!" gumam Rangga dalam hati.
Selagi dia menghindari serangan perempuan iblis itu, Rangga segera merubah
jurusnya jadi jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Dan pada saat senjata perempuan
iblis itu menyambar ke arah kepalanya, dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti
mengangkat pedangnya memapak serangan itu. Dan....
Cras! "Heh!"
Perempuan Iblis Pulau Karang terkejut melihat senjata andalannya putus jadi dua
bagian. Belum lagi hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba kaki pendekar Rajawali
Sakti. melayang ke arah dada. Buru-buru perempuan iblis itu menarik mundur tubuhnya,
tapi tanpa diduga sama sekali, Rangga berputar cepat sambil menghunus pedangnya
ke depan. Perempuan Iblis Pulau Karang itu tidak sempat lagi mengelak Ujung pedang
Pendekar Rajawali Sakti berhasil menggores pundak kanannya. Darah mengucur dari
luka yang dalam dan panjang. Pada saat perempuan iblis itu merasakan sakit pada
pundaknya, secepat kilat Rangga mengibaskan pedangnya, dan....
"Akh!" Perempuan Iblis Pulau Karang itu meme-kik tertahan sambil memegangi
dadanya yang tertembus
pedang Rajawali Sakti. Darah mengucur deras keluar dari dada yang tertusuk itu.
Sesaat kemudian tubuh perempuan iblis itu kaku dengan mata mendelik lebar.
Cahaya biru kembali lenyap begitu pedang Rajawali Sakti masuk ke dalam
warangkanya kembali.
"Kakang...," Pandan Wangi menghampiri Rangga.
"Kau tidak apa-apa, Pandan?" tanya Rangga.
"Tidak, hanya saja aku harus bersamadi selama dua hari.
Pukulan maut perempuan itu membuat dadaku sesak,"
Pandan Wangi mengakui.
Rangga memberikan senyum dan menepuk pundak gadis itu,"Sebaiknya kau istirahat
saja, pulihkan dulu kondisi tubuhmu," kata Rangga lembut.
"Tapi mereka, Kakang...," Pandan Wangi mengamati pertarungan yang masih
berlangsung. "Aku rasa keadaan akan segera teratasi," sahut Rangga.
*** Sementara itu pertempuran antara murid-murid Ki
Pungkur melawan Suryadenta dan ketiga adiknya juga sudah berakhir. Semua orangorang berpakaian merah menyala telah bergelimpangan mandi darah.
Tepat ketika empat bersaudara itu melompat ke
panggung, Ki Jatirekso dan Jaka Wulung ke luar dari dalam
rumah. Kemunculan Ki Jatirekso disambut gembira oleh para penduduk yang memang
sudah mengharapkan kepala desanya itu muncul kembali. Dia segera mengangkat
tangannya dengan penuh wibawa. Mendadak suara riuh hilang dan keadaan hening
kembali. "Berakhir sudah kemelut Desa Kali Anget, dan aku mengucapkan terima kasih kepada
saudara-saudara
sekalian yang masih tetap setia padaku. Mulai saat ini, saudara-saudara tidak
perlu cemas lagi. Orang-orang dari rimba persilatan tidak akan muncul kembali di
sini!" kata Ki Jatirekso bersemangat dan penuh wibawa.
Segera suara gemuruh diikuti tepuk tangan mele-dak begitu Ki Jatirekso
menyelesaikan pidato singkat-nya.
Kemudian laki-laki tua yang masih kelihatan gagah itu, mendekati Rangga dan
Pandan Wangi. "Aku akan senang sekali, jika kalian berdua mau tinggal di sini barang beberapa
hari," undang Ki Jatirekso sebagai rasa terima kasih.
"Terima kasih," hanya itu yang bisa diucapkan Rangga.
"Bagaimana dengan Ki Pungkur" Dia tidak kelihatan dari tadi," tanya Pandan Wangi
tiba-tiba. "Ah! Benar, orang itu sangat berbahaya sekali!" Ki Jatirekso tersentak seperti
diingatkan. "Aku rasa, dia kembali ke perguruannya di Lembah Ngarai," celetuk Suryadenta.
"Di mana itu?" tanya Pandan Wangi.
"Tidak jauh dari sini, letaknya hanya di luar perbatasan desa sebelah Tenggara,"
sahut Tirtadenta.
"Sebaiknya kita ke sana, Kakang. Menebang pohon harus sampai ke akar-akarnya,
agar tidak tumbuh lagi," sahut Pandan Wangi bersemangat.
"Ki Pungkur memiliki murid-murid yang kepandai-annya cukup tinggi," kata Ki
Jatirekso tanpa mengecilkan arti kedua pendekar itu.
"Aku dan adik-adikku akan membantu, Ki!" seru
Suryadenta cepat.
"Aku percaya. Kalian pasti bisa mengatasinya. Tapi aku tidak ingin ada korban
lagi di pihak kita. Sudah cukup banyak korban berjatuhan, dan aku ingin desa ini
tenang barang sejenak," kata Ki Jatirekso memberikan alasan.
"Baiklah kalau begitu. Aku dan Pandan akan ke sana besok pagi-pagi sekali," kata
Rangga bisa me-ngerti maksud Ki Jatirekso.
Laki-laki tua itu tersenyum senang. Rasa kagum-nya makin bertambah pada pendekar
muda itu. Selain tingkat kepandaiannya yang sangat tinggi, juga bisa memahami
maksud kata-kata yang berkias. Sementara sikapnya yang lembut dan sopan menambah
simpatinya. "Jaka, mintalah bantuan pada beberapa penduduk untuk mengurus mayat-mayat itu,"
perintah Ki Jatirekso.
"Baik, Ayah," sahut Jaka Wulung.
"Mari, sebaiknya kita istirahat di dalam saja," ajak Ki Jatirekso. "Kau juga,
Suryadenta."
"Ah! Biarlah kami mengurus mayat-mayat itu bersama Jaka Wulung, Ki," sahut
Suryadenta menolak halus.
"Ayolah, kalian juga perlu istirahat, kan?" desak Pandan Wangi.
"Baiklah!"
*** Sebelum matahari terbit, Pendekar Rajawali Sakti, si Kipas Maut, Jaka Wulung dan
empat bersaudara, sudah bersiap-siap hendak meninggalkan rumah kediaman kepala
desa. Mereka semua menunggang kuda, agar lebih cepat sampai ke tujuan.
Beberapa saat kemudian, tujuh ekor kuda sudah berlari kencang membelah pagi
buta, di mana sebagian orang masih terlelap dalam buaian mimpi. Tujuan mereka
sudah jelas, yaitu Lembah Ngarai. Di mana terdapat sebuah
padepokan perguruan silat yang dipimpin oleh Ki Pungkur.
Tidak begitu lama, mereka telah melewati batas desa sebelah Tenggara. Dan mereka terus memacu kudakudanya menuruni tebing landai dengan rumput yang setinggi lutut.
"Itu padepokannya!" seru Tirtadenta menunjuk kearah bangunan yang dikelilingi
pagar ringgi dari gelondongan kayu pohon ara.
Tampaknya padepokan itu sepi-sepi saja. Tak ada
seorang pun yang terlihat di sekitar bangunan itu. Rangga mengangkat tangannya,
dan mereka segera berhenti agak jauh dari bangunan yang menyerupai benteng kecil
itu. Sejenak Rangga mengamati keadaan sekitarnya, kemudian dikerahkannya ilmu pembeda
gerak dan suara.
"Sepi seperti tidak ada orang di sana," gumam Pandan Wangi juga mengerahkan ilmu
yang sama dengan Rangga.
"Jangan-jangan ini merupakan satu jebakan," ceIetuk Jaka Wulung.
"Kalian tunggu di sini, aku akan periksa," kata Rangga.
"Hati-hati,
Ki Pungkur sangat licik!" Mayadenta memperingatkan.
Rangga hanya tersenyum, lalu melompat dari punggung kudanya. Gerakannya yang
begitu cepat dan ringan, membuat dia sudah melayang jauh menuju bangunan itu.
Tapi ketika ia hampir sampai di depan f bangunan itu, tiba-tiba ratusan anak
panah meluncur menghujaninya.
Rangga terkejut setengah mati. Buru-buru dia mengeluarkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'.
Tampak kedua tangannya terentang lebar bergerak-gerak cepat menghalau anak-anak
panah yang datang bagaikan hujan. Tubuhnya berlompatan begitu cepat, sehingga
kelihatannya dia berada di atas anak panah.
"Bangsat! Licik!" geram Rangga.
Melihat keadaan demikian, Jaka Wulung segera
menggebah kudanya. Sementara Pandan Wangi yang
berada di dekatnya, tak dapat lagi mencegah. Bahkan dia juga ikut melompat dan
mengerahkan ilmu lari cepat yang hampir
mencapai tahap kesempurnaan.
Sedangkan Suryadenta dan adik-adiknya juga tidak mau ketinggalan, mereka langsung
menggebah kudanya dan menyusul.
"Kembali...!" teriak Rangga begitu melihat teman-temannya menghampiri.


Pendekar Rajawali Sakti 11 Jago Jago Bayaran di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tapi peringatan Rangga tidak digubris lagi. Mereka terus maju untuk membantu
Rangga. Menyadari hal itu, Rangga segera
mengeluarkan pedang Rajawali Sakti dari warangkanya. Seketika itu juga cahaya biru memancar terang
di sekitar tempat itu. Rangga kemudian mengerahkan ajian 'Cakra Buana Sukma'. Satu ajian yang sangat diandalkannya.
"Aji 'Cakra Buana Sukma'...!" teriak Rangga keras.
Seketika itu juga dia menggosok pedang Rajawali Sakti dengan telapak tangan
kirinya, dan kemudian tampaklah cahaya biru bergulung menggumpal di ujung pedang
itu. Segera ia mengarahkan ujung pedang Rajawali Sakti ke bangunan yang bagaikan
benteng kecil itu. Seketika itu juga terlihat secercah sinar biru melesat cepat
menuju bangunan itu, dan kemudian terdengarlah ledakan dahsyat yang disusul
dengan terbakarnya bangunan itu.
Tidak berapa lama kemudian, orang-orang berpakaian merah-merah berlarian ke luar
sambil menjerit-jerit berusaha memadamkan api yang membakar tubuh mereka.
Api semakin berkobar melahap bangunan itu. Bunyi
gemeretek kayu-kayu yang terbakar menambah panas
suasana. Sejenak Rangga melangkah mundur untuk
mengurangi jangkauan panas. Sementara teman-temannya ke luar dari
persembunyiannya dan menghampiri Rangga.
"Kau lihat Ki Pungkur ada di situ, Kakang?" tanya Pandan Wangi.
"Tidak," sahut Rangga pelan dan singkat.
"Maaf, aku tidak bisa menahan emosi tadi," ucap Jaka
Wulung menyesal.
Rangga menoleh dan tersenyum. Memang, kalau saja
Jaka Wulung bisa menahan sedikit emosinya, barangkali masih bisa diketahui,
apakah Ki Pungkur terbakar atau melarikan diri. Dan Rangga hanya memaklumi, Jaka
Wulung memang masih muda dan belum bisa mengendalikan
emosinya secara penuh. Di samping itu, rasa marahnya pada Ki Pungkurlah yang
membuat dia tidak dapat berpikir panjang.
Ke mana sebenarnya Ki Pungkur" Tidak ada seorang pun yang tahu. Terakhir, Ki
Pungkur meninggalkan Desa Kali Anget setelah dia berselisih paham dengan
kakaknya. Sedang dia pergi dengan membawa kekecewaan yang
dalam. Dia amat menyesali sikap kakaknya yang terlalu mengikuti nafsu dendam
lama, dan terpengaruh pada bujuk rayu Telasih.
Saat ini, Ki Pungkur ternyata telah menyaksikan sepak terjang Pendekar Rajawali
Sakti yang membumi hanguskan padepokannya. Sebuah padepokan yang ia rintis
bertahun-tahun, musnah dalam sekejap mata. Dia mengamati dari tempat yang cukup
jauh dan terlindung. Dia sadar betul bahwa kakaknya, Ki Karangseda telah berbuat
salah dan terlalu berambisi besar.
"Yaaah, semoga dengan kejadian ini Desa Kali Anget menjadi tenang kembali dan
tentram seperti sediakala,"
harap Ki Pungkur dalam hati. Lalu dia beranjak pergi dan berniat mengasingkan
diri ke tempat sepi yang jauh dari orang-orang yang hanya mengumbar nafsu
duniawi belaka.
Sementara itu, tujuh orang yang berada di Lembah
Ngarai, sudah kembali menaiki kudanya masing-masing.
Namun mereka belum berangkat meninggalkan tempat itu.
Mereka masih memandangi api yang berkobar melahap bangunan padepokan itu.
"Sebaiknya kalian kembali ke desa, aku dan Pandan Wangi akan meneruskan
perjalanan," kata Rangga.
"Sebaiknya kau...."
"Terima kasih," potong Rangga cepat-cepat. "Sampaikan saja salamku untuk
ayahmu." Jaka Wulung tidak bisa mencegah lagi. Rangga telah menggebah kudanya dengan
diikuti Pandan Wangi. Untuk beberapa saat, Jaka Wulung belum rneninggalkan
tempat itu. Dia masih tertegun dengan kepergian Rangga dan Pandan Wangi.
"Jaka...," panggil Suryadenta.
"Oh!" Jaka Wulung tersentak.
"Ayo kita pulang!" ajak Suryadenta sambil menggebah kudanya.
Lima orang tulang punggung Desa Kali Anget itu pun memacu kudanya perlahanlahan. Sementara api yang berkobar itu semakin mengecil, karena tidak ada lagi
yang bisa dilahap.
"Boleh aku memanggil kalian dengan sebutan Paman dan Bibi?" pinta Jaka Wulung
tiba-tiba. "Kenapa tidak" Kau lebih pantas kalau menjadi keponakan kami," sahut Suryadenta.
"Terima kasih..., Paman," ucap Jaka Wulung.
"Ha ha ha...!"
TAMAT Pembuat Ebook :
Scan buku ke djvu : Abu Keisel
Convert : Abu Keisel
Editor : Deeemart86
Ebook pdf oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/
Neraka Hitam 3 Dewa Arak 54 Kabut Di Bukit Gondang Tabir Asmara Hitam 2

Cari Blog Ini