Ceritasilat Novel Online

Manusia Beracun 2

Pendekar Rajawali Sakti 33 Manusia Beracun Bagian 2


sekeliling. Tak ada seorang pun yang menjawab. Sembilan belas
orang anggota partai Golok Perak itu saling berpandangan
satu sama lainnya, kemudian sama-sama memandang Urawan
yang agak terpisah dari anak buahnya. Saat itu Rangga dan
Pandan Wangi menatap tajam Urawan yang melangkah
mundur beberapa tindak.
"Jangan hiraukan manusia-manusia iblis ini! Kalian semua
akan mati keracunan jika tidak membunuhnya!" seru Urawan
lantang. "Jika aku memang menyebarkan racun, kalian tentu tidak
akan melihat Ki Buyut hari ini. Juga, gadis ini" Rangga
menunjuk Pandan Wangi di sampingnya.
Sembilan belas orang itu kelihatan ragu-ragu dan bimbang,
setelah melihat kenyataan kalau Ki Buyut Kaweyan dan
Pandan Wangi masih hidup. Padahal orang itu selalu
berdekatan dengan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan
menurut kabar, siapa saja yang berdekatan dengan Pendekar
Rajawali Sakti akan mati ketika itu juga. Memang sudah tersiar
desas-desus kalau Pendekar Rajawali Sakti terkena racun
akibat bertarung melawan si Iblis Selaksa Racun. Bahkan
pemuda berbaju rompi putih ini sempat menghilang berapa
waktu. Setelah saling berpandangan sejenak, sembilan belas orang
bersenjata golok
itu bergegas pergi.
Mereka tidak mempedulikan Urawan yang berteriak-teriak memerintahkan
untuk tetap tinggal. Melihat sikap anak buahnya itu, Urawan
jadi gusar. Mulutnya menggeram, mengumpat, dan memaki
habis-habisan. oo)dw(oo 5 Merasa tidak ada lagi pengikutnya, Urawan jadi kelabakan
juga. Matanya berputar, merayap ke sekeliling mencari
sesuatu. Tapi yang diinginkan tidak ditemukan. Sebentar
dipandanginya Rangga, kemudian beralih pada Pandan Wangi.
Pandangannya lalu tertuju pada Ki Buyut Kaweyan yang sudah
berada di punggung kudanya.
Tak ada lagi yang bisa diharapkan Urawan. Untuk mundur
pun rasanya tidak mungkin lagi. Di mana akan ditaruh
mukanya" Posisi Urawan saat ini memang tidak menguntungkan sama sekali. Dan disadari kalau dirinya tidak
mungkin menghadapi ketiga orang itu. Hanya menghadapi
Pandan Wangi saja tidak mampu apalagi Pendekar Rajawali
Sakti. "Persetan...!" dengus Urawan.
Tiba-tiba saja laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu
melompat menerjang Pandan Wangi yang berada di samping
Rangga. Tentu saja perbuatan nekadnya membuat si Kipas
Maut terkejut. Demikia pula Rangga yang jadi terpana karena
tidak menyangka same sekali kalau Urawan akan berbuat
senekad ini. "Hiyaaa...!"
"Hait!"
Pandan Wangi cepat-cepat berkelit memiringkan tubuhnya
ke samping, menghindari pukulan Urawan yang begitu cepat
mengandung pengerahan tenaga dalam cukup tinggi. Tapi
mendadak saja Urawan merubah arah serangan, sebelum
pukulannya yang diarahkan pada Pandan Wangi mencapai
sasaran. Cepat sekali laki-laki itu memutar tubuhnya seraya
melayangkan satu tendangan kilat menggeledek ke arah
Rangga. "Hap!"
Tangkas sekali Rangga menarik tubuhnya ke belakang,
sehingga tendangan Urawan hanya berada beberapa jengkal
di depan dadanya. Secepat kilat Rangga melentingkan
tubuhnya, begitu kaki Urawan lewat. Dan bagai seekor
burung, Pendekar Rajawali Sakti itu menukik deras dengan
kaki berada di bawah. ternyata Rangga mengerahkan jurus
'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.
Gerakan kaki Pendekar Rajawali Sakti begitu cepat, disertai
lurukan yang tidak dapat diikuti pandangan mata biasa. Hal ini
membuat Urawan tidak sempat lagi menghindari serangan
balik pemuda berbaju rompi putih itu.
Des! Des! Prak! "Aaa...!" Urawan menjerit melengking tinggi.
Due kali kaki Rangga menyambar kepala Urawan hingga
pecah. Laki-laki hampir setengah baya itu langsung
menggelepar di tanah. Darah berlumuran deras keluar dari
kepala yang remuk terkena tendangan maut jurus 'Rajawali
Menukik Menyambar Mangsa'.
"Kakang...," panggil Pandan Wangi begitu Rangga
menjejakkan kakinya di tanah, tidak jauh dari Urawa yang
sudah tidak bergerak-gerak lagi.
Rangga berpaling, memandang si Kipas Maut yang sudah
berada di sampingnya kembali. Kedua pendekar itu
memandangi mayat Urawan yang kepalanya pecah berlumuran darah. Saat itu Ki Buyut Kaweyan juga,
menghampiri sambil menuntun dua ekor kuda milik dua
pendekar itu. Dia sendiri masih berada di punggung kudanya.
Luka di bahunya sudah terbalut kain yang berlumuran darah.
"Seharusnya kau tidak perlu membunuhnya, Kakang," kata
Pandan Wangi pelan.
"Aku muak medhat manusla berkepala dua seperti dia!"
sahut Rangga mendengus.
Pendekar Rajawali Sakti itu mengambil tali kekang kudanya
dari tangan Ki Buyut Kaweyan. Dengan satu loncatan indah
dan sangat ringan, Pendekar Rajawali Sakti itu naik ke
punggung kuda hitam yang bernama Dewa Bayu. Pandan
Wangi segera naik ke kuda putihnya sendiri, yang tinggi dan
tegap pemberian Rangga.
Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka menggebah kudanya
pelahan-lahan meninggalkan tempat itu. Rangga berkuda
paling depan, sedangkan Pandan Wangi berada di
belakangnya bersama Ki Buyut Kaweyan. Tak ada seorang pun
yang membuka mulut, masing-masing sibuk dengan
pikirannya sendiri. Jalan pikiran yang berbeda, namun menuju
pada titik yang sama. Tampak sekali kalau Pandan Wangi
selalu mendesah lirih manakala melihat punggung Rangga
yang kosong, tanpa sepucuk pedang pun.
"Ke mana tujuan kita sekarang, Ki?" tanya Pandan Wangi
setelah cukup lama juga berdiam diri.
"Entahlah. Aku menurut saja ke mana Den Rangga pergi,"
sahut Ki Buyut Kaweyan juga pelan.
Pandan Wangi menarik napas panjang dan terdengar berat.
Diliriknya kuda Ki Buyut Kaweyan yang membawa beban
cukup banyak juga. Entah apa yang dibawa laki-laki tua itu, Ki
Buyut Kaweyan hanya mengatakan kalau yang dibawa adalah
bekal untuk perjalanan. Gadis itu kembali mengalihkan
pandangannya ke arah Pendekar Rajawali Sakti yang berkuda
di depan. Ada jarak sekitar tiga batang tombak antara mereka.
Meskipun kelihatan laju kuda mereka sama, tapi Dewa Bayu
terlihat semakin membuat jarak saja. Kuda hitam itu memang
luar biasa, dan bukan kuda sembarangan.
o0dw0o Sudah tiga desa disinggahi, dan selalu saja terjadi masalah.
Sudah beberapa kali Rangga, Pandan Wangi, dan Ki Buyut
Kaweyan harus bentrok melawan orang-orang rimba persilatan
yang hendak membunuh Pendekar Rajawali Sakti itu. Entah
dari mana tersebarnya berita tentang diri Pendekar Rajawali
Sakti yang tercemar racun mematikan.
Tak ada seorang pun yang mau mendekat. Setiap kali
menjumpai seseorang dalam perjalanan, maka orang itu selalu
menghindar karena takut terkena racun yang menyebar dari
tubuh Rangga. Memang sanngat menyakitkan, tapi harus
dihadapi dengan tabah. Namun hal ini membuat Rangga jadi
berang juga. Sulit dimengerti, kenapa setiap orang yang
dijumpai selalu menghindar. Bahkan tidak sedikit tokoh rimba
persilatan yang mengejar hendak membunuhnya. Yang lebih
menyakitkan lagi, yang mengejar adalah tokoh-tokoh rimba
persilatan dari golongan putih. Hal ini membuat Rangga,
Pandan Wangi, dan Ki Buyut Kaweyan jadi serba salah. Karena
jelas, tidak mungkin memerangi orang-orang yang berada
satu jalur dalam memerangi kejahatan dan keangkaramurkaan.
"Setan...!" umpat Rangga ketika baru saja akan
menghampiri seorang laki-laki perambah hutan.
Laki-laki setengah tua dan berdada telanjang itu langsung
lari sambil berteriak-teriak minta tolong begitu melihat Rangga
yang selalu didampingi Pandan Wangi dan Ki Buyut Kaweyan
menghampiri. Entah dari mana sumbernya, hampir semua
orang yang dijumpai selalu mengenali Pendekar Rajawali Sakti
itu. Satu hal yang tidak biasanya terjadi. Rangga bukan saja
terkenal karena kedigdayaannya, tapi kini juga dikenal karena
menyebarkan maut. Pendekar Rajawali Sakti itu seperti
momok yang sangat menakutkan.
"Sabar, Kakang. Mereka yang tidak tahu apa-apa tidak bisa
disalahkan," kata Pandan Wangi meredakan amarah Pendekar
Rajawali Sakti itu.
"Tidak seharusnya mereka berbuat seperti itu padaku,
Pandan!" rungut Rangga gusar.
"Kehidupan tidak selamanya mengenakkan, Den Rangga.
Ada kalanya kita berada di atas, tapi juga ada kalanya berada
di bawah. Rasa manis tidak akan selamanya bisa dikecap.
Tentu ada juga pahitnya," Ki Buyut Kaweyan ikut berbicara.
Rangga menatap laki-laki tua yang selalu setia
mengikutinya sejak dari Desa Sanggung. Pendekar Rajawali
Sakti itu menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya kuat-kuat. Sebenarnya Rangga tidak
ingin menyusahkan Ki Buyut Kaweyan lagi. Apalagi sudah
terlalu banyak membuat kesulitan pada laki-laki tua itu.
Bahkan anak dan istri Ki Buyut Kaweyan tewas hanya karena
menolongnya dari kejaran orang-orang yang hendak
membunuhnya saat Rangga terluka berat.
Pendekar Rajawali Sakti itu kembali teringat pada
pertarungannya, yang benar-benar melelahkan dan sangat
menguras tenaga. Belum pernah dia bertarung hingga dua
hari dua malam penuh tanpa henti. Tapi kalau saja tidak
dicurangi, tentu lawannya bisa dikalahkan. Rangga mendesah
panjang, lalu mendongakkan kepalanya.
"Aku tidak tahu, bagaimana harus membalas budimu, Ki
Buyut," desah Rangga pelan.
"Tidak ada yang harus dibalas, Den. Semua yang kulakukan
atas dasar kerelaan. Bahkan anak dan istriku tersenyum
gembira bisa mengorbankan nyawan demi seorang junjungan," jawab Ki Buyut Kaweyan mantap.
"Junjungan..."!" Pandan Wangi mengerutkan keningnya,
lalu menatap dalam-dalam Ki Buyut Kaweyan.
"Pandan, Ki Buyut ini dulu seorang penasehat terpercaya
ayahku. Dia tahu kalau aku...," ucapan Rangga terputus.
"Semua kuketahui dari kalung yang dikenakannya. Hanya
ada tiga. Dan itu dikenakan oleh Rangga, Pati Permadi,
Danupaksi, dan Cempaka. Aku tahu semua itu. Bahkan juga
tahu kalau Karang Setra kini sudah menjadi kerajaan yang
besar," sambung Ki Buyut Kaweyan.
"Dan kau jangan sekali-kali memanggilku dengan sebutan
Gusti, Ki Buyut," selak Rangga cepat.
Ki Buyut Kaweyan hanya tersenyum saja. Sementara
Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak
disangka kalau Ki Buyut Kaweyan dulunya seorang penasehat
adipati di Kadipaten Karang Setra yang kini sudah menjadi
Kerajaan Karang Setra. Tidak heran kalau seorang penasehat
pribadi pasti mengetahui semuanya, termasuk kalung yang
merupaka pertanda keturunan sah Adipati Arya Permadi.
Dan Pandan Wangi tidak ingin bertanya, bagaimana Ki
Buyut Kaweyan meninggalkan Karang Setra lalu menetap di
Desa Sanggung. Padahal, desa itu jauh dari Kota Kerajaan
Karang Setra, meskipun masih termasuk wilayah kerajaan itu.
Seperti juga halnya bekas para pembesar kadipaten lainnya,
tentu Ki Buyut Kaweyan meninggalkan Karang Setra karena
tidak suka mengabdi pada Wira Permadi yang merebut
kekuasaan secara tidak sah (Untuk lebih jelas, baca Serial
Pendekar Rajawali Sakti. Dalam kisah, "Api di Karang Setra")
"Ayo, kita jalan lagi," ajak Rangga seraya menggebah
kudanya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan tanpa banyak
bicara lagi. Kali ini sengaja melintasi pemukiman penduduk,
untuk mencegah ketidakenakan di hati Pendekar Rajawali
Sakti. Masalahnya sudah jelas, bahwa kabar tentang diri
Rangga yang terjangkit racun mematikan sudah menyebar


Pendekar Rajawali Sakti 33 Manusia Beracun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

luas. Apalagi racun itu dapat menular dan bisa mematikan!
Bahkan bisa jadi kabar itu sudah sampai ke Kotaraja Kerajaan
Karang Setra. Dan inilah yang dikhawatirkan Pandan Wangi.
"Kakang, Kotaraja tidak jauh lagi dari s ini. Bagaimana kalau
singgah dulu di istana?" usul Pandan Wangi, bernada raguragu. "Untuk apa?" tanya Rangga enggan.
"Kau bisa menyebar telik sandi untuk mencari keterangan
sumber berita bohong ini, Kakang. Yang terpenting adalah
mencari si Iblis Selaksa Racun,." sahut Pandan Wangi
memberi alasan atas sarannya tadi.
Rangga hanya tersenyum saja. Dan memang, Pendekar
Rajawali Sakti itu telah merencanakan hendak kembali ke
istana untuk melihat keadaan selama ditinggalkan mengembara. Tapi sesuatu telah terjadi sehingga rencananya
terhalang. Bahkan sekarang ini sepertinya enggan menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya itu.
Belum berapa jauh mereka melanjutkan perjalanan,
mendadak dikejutkan suara gaduh dan jeritan-jeritan
melengking. Kadang-kadang bahkan juga terdengar keluhan
keras, disertai denting senjata beradu. Suara-suara itu datang
tidak jauh di depan mereka. Sebentar ketiga orang itu saling
berpandangan, lalu cepat menggebah kudanya menuju ke
arah suara tadi.
Meskipun sudah cepat menggebah kudanya, namun
Pandan Wangi dan Ki Buyut Kaweyan tertinggal jauh oleh
kuda hitam yang ditunggangi Pendekar Rajawah Sakti. Kuda
hitam yang bernama Dewa Bayu itu berlari bagaikan tarbang
saja. Sebentar saja sudah begitu jauh meninggalkan dua
orang penunggang kuda di belakangnya.
"Hiya! Hiya...!"
Rangga terus menggebah kudanya dencan cepat seakanakan lupa kalau masih ada dua orang yang tertinggal jauh di
belakang. Dewa Bayu terus berlari cepat meninggalkan debu
dan dedaunan kering yang mengepul membumbung tinggi ke
angkasa. "Oh, tidak...!" pekik Rangga tiba-tiba.
o0dw0o Apa yang disaksikan Pendekar Rajawali Sakti itu memang
sungguh sukar dipercaya. Suara-suara yang didengarnya
sudah tidak ada lagi, tepat pada saat dirinya tiba. Rangga
bergegas melompat turun dari punggung kudanya. Kedua bola
matanya membeliak tidak percaya, memandangi mayat-mayat
yang bergelimpangan tidak tentu arah.
Yang membuat pemuda berbaju rompi putih itu terbeliak,
ternyata mayat-mayat itu mengenakan seragam Prajurit
Karang Setra. Apalagi jumlahnya juga tidak sedikit. Sekitar
lima puluh orang bergelimpangan tanpa nyawa lagi. Rangga
benar-benar terpaku, karena tidak melihat setetes darah pun
yang mengalir membasahi tanah. Mayat-mayat yang
bergelimpangan dengan wajah membiru itu memang tidak
terluka. Pendekar Rajawali Sakti itu mendekati salah satu
mayat, dan memeriksanya.
"Tidak..! Tidak mungkin...!" Rangga mendesis seraya
menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sukar baginya untuk mempercayai kalau mayat-mayat
berseragam prajurit ini tewas karena keracunan. Tepat pada
saat Rangga bangkit berdiri, Pandan Wangi dan Ki Buyut
Kaweyan muncul. Mereka bergegas melompat turun dari
punggung kuda masing-masing, dan bergegas pula menghampiri Rangga yang tengah terpaku memandangi
mayat-mayat berseragam Prajurit Karang Setra.
"Kakang...," pelan suara Pandan Wangi, agak tarcekat di
tenggorokan. "Iblis Selaksa Racun...," desis Ki Buyut Kaweyan mengenali
ciri-ciri kematian para Prajurit Karang Setra.
"Oh, benarkah..."!" Pandan Wangi tersentak kaget,
setengah tidak percaya.
Pandan Wangi ingin memeriksa salah satu mayat di
dekatnya, tapi Rangga keburu mencegah dan menarik tangan
gadis itu. Cepat-cepat Rangga membawanya menyingkir jauhjauh. Demikian juga Ki Buyut Kaweyan yang bergegas
meninggalkan tempat itu sambil menuntun tiga ekor kuda.
"Ada apa, Kakang?" tanya Pandan Wangi.
"Aku tidak ingin kau mati seperti mereka, Pandan," sahut
Rangga. "Maksudmu...?" tanya Pandan Wangi tidak mengerti.
"Mereka semua tewas karena racun, yang tersebar dari
seluruh tubuh si Iblis Selaksa Racun. Sekali saja kau sentuh
tubuh mereka, maka racun yang ada akan berpindah
padamu," Rangga menjelaskan.
Pandan Wangi masih belum mengerti dan ingin bertanya
lagi, tapi tidak punya kesempatan karena Rangga sudah
mendekati mayat-mayat yang bergelimpangan itu. Gadis itu
hendak menghampiri, tapi Ki Buyut Kaweyan sudah keburu
mencegahnya. Dia hanya bisa melihat Pendekar Rajawali Sakti
yang tengah menumpuk mayat-mayat itu menjadi sepuluh
tumpukan. Kemudian ditimbunnya mayat-mayat itu dengan
ranting-ranting kering.
Tak berapa lama kemudian, api berkobar membakar tubuhtubuh prajurit yang bertumpukan tertimbun ranting kering.
Rangga bergegas menghampiri Pandan Wangi dan Ki Buyut
Kaweyan. Gadis itu hendak mendekati Rangga, tapi Ki Buyut
Kaweyan epat-cepat mencekal tangan gadis itu.
"Kenapa, Ki?" tanya Pandan Wangi.
"Jangan, Nini. Den Rangga baru saja menyentuh tubuh
mereka," tegas Ki Buyut Kaweyan agak khawatir juga.
"Jangan khawatir, Ki. Tidak ada sedikit racun pun yang bisa
bersarang di tubuhku," kata Rangga seraya rsenyum.
"Tapi...," Ki Buyut Kaweyan masih terlihat khawatir.
"Kakang Rangga kebal terhadap segala jenis racun, Ki,"
Pandan Wangi memberitahu.
"Racun itu sangat dahsyat dan mematikan, Den," masih
terdengar kekhawatiran dalam nada suara Ki Buyut Kaweyan.
"Memang benar, Ki. Dan aku sempat juga terbius.
Meskipun kebal terhadap segala jenis racun, tapi aku sempat
terbius karena terlalu banyak menghirup udara beracun
sewaktu bertarung dengannya. Aku sempat goyah dan
terjerumus ke dalam jurang setelah mendapat tiga pukulan
beruntun di dada," jelas Rangga.
"Oh! Kau sudah bisa mengingatnya, Kakang?" seru Pandan
Wangi gembira. Rangga hanya tersenyum saja. Memang, sedikit demi
sedikit Rangga mulai pulih kesadarannya. Dan itu terjadi
secara bertahap serta memerlukan waktu yang cukup lama.
Terlebih lagi, selama dalam perjalanan ini, secara tidak
langsung, beberapa peristiwa yang terjadi membangkitkan
ingatan Rangga kembali.
"Kakang, bagaimana awal mulanya hingga kau bisa
bertarung dengan Iblis Selaksa Racun?" tanya Pandan Wangi.
"Peristiwanya sendiri terjadi di Desa Sanggung. Waktu itu
aku menemukan banyak penduduk yang tewas akibat
keracunan. Kucoba untuk menyelidiki dan kutemukan
sumbernya dari mata air yang sudah tercemar racun akibat
Iblis Selaksa Racun sering mandi di situ. Aku memintanya
untuk meninggalkan Sanggung, tapi dia membangkang.
Bahkan mengancam hendak membunuh semua orang di
Kerajaan Karang Setra...," Rangga mulai mengisahkan.
"Dan akhirnya kau bertarung dengannya?" tebak Pandan
Wangi langsung.
"Benar. Aku tidak punya pilihan lain lagi. Orang itu sangat
berbahaya. Terlebih lagi ketika dengan kepala sendiri aku
melihat beberapa orang dari Partai Golok Perak tewas hanya
karena tersentuh sedikit saja."
"Kakang, apakah kepandalan manusia beracun sangat
tinggi?" tanya Pandan Wangi agak bergidik juga mendengar
Iblis Selaksa Racun mampu menewaskan orang hanya dengan
menyentuhkan sedikit saja ujung jarinya.
"Tidak. Bahkan boleh dikatakan dangkal. Tapi tidak mudah
untuk mendekatinya. Aku sendiri kesulitan untuk bisa
menyentuhnya. Racun yang tersebar dari seluruh tubuhnya
sangat dahsyat. Apalagi dia juga memiliki suatu ilmu yang
sangat aneh. Bisa menolakkan apa saja tanpa melakukan
sesuatu." "Maksudmu?" Pandan Wangi tidak mengerti.
"Dia seperti memiliki benteng yang mengelilingi tubuhnya.
Entah apa namanya, yang jelas tidak mudah ditembus,"
Rangga merasa sukar untuk menjelaskannya.
Meskipun masih belum begitu mengerti, tapi Pandan Wangi
tidak bertanya lagi. Dia tahu betul kalau Rangga mengalami
kesulitan untuk menjelaskannya. Memang Pendekar Rajawali
Sakti itu sendiri belum mengetahui ilmu yang digunakan Iblis
Selaksa Racun, sehingga memiliki suatu bentuk pertahanan
yang tidak terlihat dan sukar ditembus.
Mereka kembali meneruskan perjalanannya setelah api
yang membakar mayat-mayat Prajurit Karang Setra mengecil.
Angin yang berhembus agak keras siang ini menyebarkan
debu bekas bakaran. Mereka kembali menunggang kuda
pelahan-lahan, dan tak ada yang membuka suara sedikit pun.
"Uhk..!" tiba-tiba Ki Buyut Kaweyan mengeluh dan
terbungkuk sambil memegangi dadanya.
"Ki..!" Pandan Wangi yang berkuda di samping laki-laki tua
itu terkejut. Bruk! Mendadak saja Ki Buyut Kaweyan terguling jatuh dari
punggung kudanya. Pandan Wangi bergegas melompat turun
dan hendak menghampiri laki-laki tua itu. Tapi belum sempat
menyentuhnya, Rangga sudah mencegah lebih dahulu.
"Pandan, jangan...!"
"Tapi...," Pandan Wangi tidak jadi menyentuh tubuh Ki
Buyut Kaweyan yang mengerang dan merintih lirih sambil
memegangi dada.
"Mundur, kataku!" bentak Rangga seraya melompat turun
dari punggung Dewa Bayu.
Pandan Wangi tidak mengerti, tapi me langkah mundur
juga. Bergegas Rangga menghampiri Ki Buyut Kaweyan yang
menggeletak di tanah. Erangan dan rintihan lirih terdengar
dari bibir yang terlihat membiru. Rangga memeriksa dada lakilaki tua itu, lalu mengeluh panjang.
"Kakang, kenapa Ki Buyut?" tanya Pandan Wangi tidak
berani mendekat.
"Menyingkirlah lebih jauh, Pandan Wangi. Ki Buyut terkena
hawa beracun," sahut Rangga memperingatkan.
"Hawa beracun..."!" Pandan Wangi benar-benar, tidak
mengerti, tapi akhirnya melangkah mundur juga menjauhi
tempat itu. Sementara Rangga merobek baju yang dikenakan Ki Buyut
Kaweyan. Ditempelkan kedua te lapak tangannya di dada yang
mulai terlihat membiru itu, Pendekar Rajawali Sakti berusaha
menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh Ki Buyut Kaweyan.
"Tidak perlu, Den. Percuma...," rintih Ki Buyut Kaweyan
lirih. Rangga menghentikan usahanya. Pelahan dijauhkan kedua
telapak tangannya dari dada laki-laki tua itu. Sedangkan napas
Ki Buyut Kaweyan mulai tersengal. Wajahnya pun sudah mulai
membiru, dan bibirnya bergetar seolah-olah hendak
mengucapkan sesuatu. Rangga mendekatkan telinganya ke
bibir yang sudah membiru itu.
"Den..., pedang itu ada di...," terputus suara Ki Buyut
Kaweyan yang begitu lemah.
"Ki...," Rangga berusaha agar Ki Buyut Kaweyan bisa
bertahan untuk beberapa saat.
Sebentar Ki Buyut Kaweyan terbatuk sebelum melanjutkan
kata-katanya. Rangga semakin mendekatkan telinganya di
depan bibir laki-laki tua itu.
"Aku menyimpan pedangmu di Goa Kera..., akh!"
"Ki...!" sentak Rangga.
Tapi Ki Buyut Kaweyan sudah menghembuskan napasnya
yang terakhir. Seluruh wajah dan tubuhnya membiru. Dari
mulutnya keluar buih berwama kuning kehijauan. Rangga
berlutut sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sementara jauh di belakang Pendekar Rajawali Sakti itu,
Pandan Wangi hanya bisa memperhatikan.
"Begitu besar jasamu padaku, Ki. Semoga kau tenang di
samping Hyang Widi," desah Rangga lirih.
Dengan lesu, Pendekar Rajawali Sakti itu mengumpulkan
ranting kering, lalu menumpuknya di tubuh Ki Buyut Kaweyan.
Dengan batu pemantik api dinyalakan ranting-ranting kering
itu. Api cepat berkobar melahap ranting yang tertumpuk di
atas tubuh Ki Buyut Kaweyan. Pelahan-lahan Rangga
melangkah mundur menjauh. Hanya dengan cara itulah
pengaruh racun bisa dihilangkan.
"Kakang...," panggil Pandan Wangi, agak tersendat
suaranya. Rangga menoleh dan menghampiri gadis itu. Untuk
beberapa saat mereka hanya berhadapan saling pandang.
Rangga tidak tahu, apakah Pandan Wangi sudah tercemar
racun yang tersebar dari tubuh Iblis Selaksa Racun atau
belum. Tapi hatinya merasa khawatir juga.
"Kakang, apakah aku juga sudah terkena hawa racun itu?"
tanya Pandan Wangi seperti bisa membaca arti sorot mata
Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Entahlah," desah Rangga tidak yakin.


Pendekar Rajawali Sakti 33 Manusia Beracun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pandan Wangi menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya
kuat-kuat. Sementara Rangga menghempaskan tubuhnya, duduk bersandar pada sebatang
pohon yang cukup rindang untuk menaungi diri dari sengatan
matahari. Sementara Pandan Wangi hanya berdiri saja
memandangi api yang masih berkobar membakar tubuh Ki
Buyut Kaweyan. o0dw0o 6 Rangga menghentikan lari kudanya secara tiba-tiba.
Ternyata seorang perempuan tua mengenakan baju hitam
telah menghadang di tengah jalan. Tangan kanannya
memegang cambuk berbentuk ekor kuda. Jubah hitam yang
panjang, berkibar-kibar tertiup angin senja. Sementara
Pandan Wangi yang berkuda di samping Pendekar Rajawali
Sakti itu sudah mengenali perempuan tua itu, meskipun belum
tahu namanya. "Hhh...! Kau lagi, Cambuk Sakti!" dengus Rangga bernada
kurang senang me lihat perempuan tua itu menghadang
jalannya. "Hik hik hik.... Aku akan selalu ada selama kau belum
memenuhi tuntutanku, Pendekar Rajawali Sakti!" tegas
perempuan tua yang dikenal Rangga bernama si Cambuk
Sakti. "Kakang, apa maksudnya?" tanya Pandan Wangi setengah
berbisik. "Jangan dengarkan kata-katanya, Pandan, dia orang yang tidak waras!" sahut Rangga.
"Hik hik hik... Kau akan berkata lain tentang diriku,
Pendekar Rajawali Sakti. Kalau saja kau...."
"Persetan dengan cucumu, Cambuk Sakti!" sontak Rangga
memotong cepat.
"Sebenarnya aku tidak akan memaksamu, Pendekar
Rajawali Sakti. Kau telah memenangkan sayembara yang
kuadakan untuk cucuku Nilam Kencana. Hanya kau yang
cocok menjadi suaminya, karena berhasil mengalahkannya,"
tegas si Cambuk Sakti.
"Kakang, ada apa lagi ini?" tanya Pandan Wangi.
Rangga tidak menyahuti, tapi langsung me lompat turun
dari punggung kudanya. Ringan sekali gerakan Pendekar
Rajawali Sakti itu. Tak ada suara sedikit pun saat kakinya
menjejak tanah berumput di depan kuda hitam tunggangannya. Sementara Pandan Wangi bergegas melompat turun, tapi hanya berdiri saja di samping kuda
putihnya. Dia tidak mengerti, tapi berbagai macam dugaan
mulai memenuhi benaknya. Satu masalah belum lagi selesai,
kini muncul persoalan lagi.
"Cambuk Sakti, sebenarnya aku juga tidak ingin berurusan
denganmu. Sama sekali aku tidak pernah berniat mengikuti
sayembaramu. Bahkan mendengar pun tidak pernah. Nilam
Kencana sendiri yang tiba-tiba menyerangku tanpa alasan
pasti. Sungguh.... Aku tidak punya maksud apa-apa, dan tidak
melukainya sedikit pun. Aku hanya membuatnya tidak
sadarkan diri untuk beberapa saat," Rangga mencoba
menjelaskan duduk permasalahnnya.
"Aku tahu itu, Pendekar Rajawali Sakti. Dan tidak akan
pernah kusangkal. Tapi bagaimanapun juga, kau sudah
berhasil mengalahkan cucuku, dan sumpahku sudah jatuh.
Siapa saja yang berhasil mengalahkan Nilam Kencana, maka
dialah jodohnya. Dan kau harus menerimanya, Pendekar
Rajawali Sakti," jelas Cambuk Sakti.
"Tidak mungkin...!" dengus Rangga.
"Tidak ada waktu lagi untuk berdebat, Pendekar Rajawali
Sakti. Kau harus menikahi cucuku, atau memilih mati!" dingin
sekali suara si Cambuk Sakti bernada ancaman.
"Langkahi dulu mayatku, perempuan edan!" bentak Pandan
Wangi tiba-tiba.
Gadis itu jadi panas mendengar semua pembicaraan itu.
Rasa cemburunya menggelegak bercampur berang. Pandan
Wangi percaya betul kalau Rangga tak mungkin akan menoleh
pada wanita lain. Dan gadis itu sudah bisa menebak, apa yang
terjadi sebenarnya.
"Hik hik hik..," Cambuk Sakti terkikik "Bagus! Memang
hanya kau satu-satunya penghalang, Kipas Maut."
Sret! Pandan Wangi langsung saja mengeluarkan kipas baja
putihnya yang selalu terselip pada sabuk pinggang. Tapi kipas
itu belum juga dibuka, dan hanya digenggam dengan tangan
kanan. Pelahan kakinya melangkah menghampiri Rangga dan
berdiri tegak di samping pemuda itu.
"Kau masih kuberi kesempatan sekali lagi, Pendekar
Rajawali Sakti. Atau lebih senang jika gadis itu enyah lebih
dahulu?" ujar Cambuk Sakti seraya tersenyum sinis pada
Pandan Wangi. "Keparat..!" geram Pandan Wangi memuncak amarahnya.
Bagaikan seekor kijang, si K ipas Maut melompat menerjang
si Cambuk Sakti.
Rrrt...! Cepat sekali gadis yang berjuluk si Kipas Maut itu
mengebutkan kipasnya yang langsung terbuka lebar. Dengan
jurus-jurus pendek yang cepat, gadis itu menyerang Cambuk
Sakti. Tapi Pandan Wangi jadi tersentak juga, karena
perempuan tua itu bisa menghindari setiap serangannya.
Bahkan diiringi senyum sinis, dan kadang-kadang tawa terkikik
mengejek. Tentu saja hal ini membuat si Kipas Maut jadi
semakin gusar. "Hiya! Hiya! Hiyaaat...!"
Pandan Wangi meningkatkan serangan-serangannya yang
semakin dahsyat. Kipas baja putih yang ujung-ujungnya
runcing, berkelebatan cepat mengurung tubuh si Cambuk
Sakti. Namun setiap serangannya selalu dapat dihindari
dengan manis oleh Cambuk Sakti. Bahkan ttba-tiba saja....
"Lepas...!"
Tap! "Akh!" tiba-tiba saja Pandan Wangi memekik tertahan.
Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu tangan kiri si
Cambuk Sakti bergerak cepat menepak pergelangan tangan
kanan Pandan Wangi yang memegang kipas baja putih
kebanggaannya. Dan tanpa terbendung lagi, kipas baja putih
itu me layang terpental ke udara. Sejenak si Kipas Maut
terkesiap. Belum lagi Pandan Wangi sempat melompat ingin mengejar
senjata mautnya, si Cambuk Sakti sudah mengebutkan
senjatanya yang berbentuk cambuk ekor kuda.
Ctar! "Aaakh...!" Pandan Wangi menjerit keras.
Ujung cambuk yang berbulu halus itu tepat menghantam
dada Pandan Wangi. Akibatnya, gadis itu terpental ke
belakang sejauh beberapa tombak. Secepat itu pula si Cambuk
Sakti melompat sambil berteriak keras.
Buk! Satu tendangan keras bertenaga dalam tinggi mendarat di
tubuh Pandan Wangi sebelum menyentuh tanah. Tak pelak
lagi, gadis itu bergulingan beberapa kali sambil memekik keras
agak tertahan. Tendangan Cambuk Sakti tepat menghantam
perutnya. "Mampus kau! Hiyaaat...!" terlak Cambuk Sakti keras.
Bagaikan seekor macan betina, perempuan tua itu kembali
melompat sambil mengebutkan cambuknya ke arah tubuh
Pandan Wangi yang masih bergulingan di tanah.
"Hiyaaat... !"
Tiba-tiba saja Rangga melesat cepat bagaikan kilat. Kakinya
merentang lurus ke depan, Pendekar Rajawali Sakti itu
memotong arus si Cambuk Maut, dan sempat dikibaskan
tangannya ke arah dada.
"Uts!"
Buru-buru si Cambuk Sakti me lentingkan tubuhnya ke
belakang, lalu berputaran dua kali di udara. Dan manis sekali
kakinya mendarat di tanah. T epat pada saat itu, Rangga juga
sudah berdiri kokoh di atas sepasang kakinya membelakangi
Pandan Wangi yang tergeletak sambil merintih lirih.
"Huh! Rupanya kau lebih memilih mati daripada diberi
kesenangan hidup!" dengus si Cambuk Sakti sengit.
"Cambuk Sakti, kau jangan memaksakan kehendakmu.
Nilam Kencana belum cukup umur untuk memilih ca lon suami.
Dia baru berusia lima belas tahun, dan masih banyak yang
harus dilakukannya," ujar Rangga mencoba menyadarkan
kekeliruan perempuan tua itu.
"Jangan mencari-cari alasan, Pendekar Rajawali Sakti! Kau
tinggal pilih, menikahi Nilam Kencana atau mati!" bentak si
Cambuk Sakti. "Cambuk Sakti, sebaiknya persoalan ini tidak perlu
diperpanjang. Aku yakin, Nilam Kencana sendiri tidak
menyetujui rencanamu. Dia masih belum dewasa, dan masih
perlu banyak belajar untuk bekal hidupnya," Rangga tetap
berusaha menyadarkan perempuan tua berjubah hitam itu.
"Cerewet!" bentak si Cambuk Sakti geram.
Baru saja Rangga akan membuka mulut lagi, tiba-tiba saja
perempuan tua yang berjuluk Cambuk Sakti itu sudah cepat
menerjang. Mau tidak mau Rangga terpaksa melayani
perempuan tua itu. Dan, dipergunakanlah jurus 'Sembilan
Langkah Ajaib'.
o0dw0o Kemarahan si Cambuk Sakti semakin memuncak, karena
Rangga seperti bermain-ma in saja. Pendekar Rajawali Sakti itu
hanya berkelit dan menghindari setiap serangannya tanpa
membalas satu serangan pun. Bahkan gerakan-gerakannya
seperti mengejek.
Ctar! Ctar! Si Cambuk Sakti mengebut-ngebutkan cambukya beberapa
kali mengarah ke bagian-bagian tubuh Rangga yang
mematikan. Namun dengan gerakan yang manis sekali,
Pendekar Rajawali Sakti itu mampu berkelit. Bahkan tak satu
pun serangan si Cambuk Sakti yang menemui sasaran. Tentu
saja hal ini membuat perempuan tua berjubah hitam itu
semakin berang, karena merasa dipermainkan pemuda
berbaju rompi putih itu.
"Phuih! Tahan seranganku kali lni, bocah sombong!"
dengus si Cambuk Sakti geram.
Cepat sekali perempuan tua itu merubah jurusnya. Dan kali
ini Rangga tidak bisa lagi menggunakan jurus 'Sembilan
Langkah Ajaib'. Serangan-serangan yang dilancarkan Cambuk
Sakti kali ini sungguh dahsyat dan sulit diterka arahnya.
"Uts!"
Rangga merunduk ketika ujung cambuk berbentuk buntut
kuda itu menyambar kepalanya. Namun belum juga bisa
menegakkan kepalanya lagi, mendadak si Cambuk Sakti
melayangkan satu tendangan menyimpang mengarah ke
perut. Cepat dan tidak terduga sama sekali, sehingga Rangga
tidak sempat menghindarinya.
Buk! "Heghk..!"
Pendekar Rajawali Sakti itu terdorong beberapa langkah ke
belakang. Dan belum lagi bisa menguasai keseimbangan
tubuhnya, ujung cambuk buntut kuda itu sudah menggelegar
menjilat dada. "Akh...!." Rangga memekik keras.
Seluruh rongga dada Pendekar Rajawali Sakti itu bagai
terbakar, dan mendadak saja napasnya terasa sesak. Pada
saat itu, si Cambuk Sakti sudah menyerang kembali. Rangga
benar-benar tidak diberi kesempatan untuk bisa mengambil
napas barang sejenak.
Pendekar Rajawali Sakti yang baru saja pulih dari cedera
akibat bertarung melawan Iblis Selaksa Racun dan
membuatnya bagai hilang ingatan itu, jadi bulan-bulanan si
Cambuk Sakti, Rangga benar-benar tidak berdaya sama sekali.
Tubuhnya jadi sasaran empuk setiap pukulan dan tendangan
perempuan tua itu. Bahkan tidak terhitung lagi, berapa
cambukan mendarat di tubuhnya.
"Mampus kau, bocah keparat! Tidak ada yang boleh
menghina cucuku!" bentak si Cambuk Sakti sengit. "Hih,
hiyaaa...!"
Cambuk Sakti mengangkat tubuh Rangga, dan melayangkan pukulan kerasnya ke wajah pemuda berbaju
rompi putih itu. Kemudian disusul sebuah tendangan
bertenaga dalam tinggi, sehingga membuat tubuh Pendekar
Rajawali Sakti itu membumbung tinggi ke angkasa. Pada saat
yang bersamaan, tiba-tiba me luncur sebuah bayangan merah
ke arah Pendekar ajawali Sakti.
Belum lagi bayangan merah itu berhenti mencapai tubuh
Rangga yang masih melayang di angkasa, dari atas meluruk
deras seekor burung raksasa berwarna hitam berkilat. Cepat
sekali burung raksasa itu menyambar tubuh Rangga dan


Pendekar Rajawali Sakti 33 Manusia Beracun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membawanya pergi.
Pada saat tubuh Rangga dilemparkan ke udara oleh
Cambuk Sakti, terlihat sebuah bayangan merah meluncur ke
arah Pendekar Rajawali Sakti.
Belum juga bayangan merah itu berhasil mencapainya,
tiba-tiba dari atas meluruk deras seekor burung raksasa
berwarna hitam. Cepat sekali burung itu menyambar tubuh
Rangga dan membawanya pergi.
"Nilam...!" seru si Cambuk Sakti begitu mengenali
bayangan merah yang berkelebat hendak menyambar tubuh
Rangga tadi. Bayangan merah itu memang ternyata seorang gadis
berwajah cukup cantik. Bajunya merah ketat, sehingga
memetakan tubuhnya yang ramping dan indah. Setiap orang
yang melihatnya tidak akan percaya kalau gadis itu masih
berusia lima belas tahun. Memang, tubuhnya benar-benar
sudah berbentuk indah bagai seorang gadis dewasa.
"Nenek kejam! Kenapa ingin membunuh Kakang Rangga?"
rungut Nilam Kencana memberengut.
"Bocah keparat itu sudah sepantasnya mampus, Nilam!"
dengus si Cambuk Sakti.
"Tapi, Kakang Rangga calon suamiku, Nek," rengek Nilam
Kencana manja. "Lupakan saja, Nilam. "
"Tidak!" sentak Nilam Kencana keras.
Gadis itu memandang sosok tubuh ramping yang tergeletak
di tanah. Pada saat yang sama, Cambuk Sakti juga berpaling
menatap Pandan Wangi.
"Siapa dia, Nek?" tanya Nilam Kencana.
"Pandan Wangi. Dia kekasih Rangga," jawab si Cambuk
Sakti mantap. "Kekasih Kakang Rangga..."!"
"Benar. "
"Huh! Tidak ada seorang pun yang boleh merebut Kakang
Rangga dari tanganku!" dengus Nilam Kencana.
Mendadak saja gadis muda berbaju merah itu melompat
sambil berteriak keras. T angannya terkepal erat mengarah ke
kepala Pandan Wangi. Pada saat itu, Pandan Wangi tidak bisa
berbuat lain, dan hanya mampu membeliak saja dengan sikap
pasrah. Tapi belum juga Nilam Kencana berhasil menyarangkan pukulannya, tiba-tiba....
"Khraghk..!"
Wut! Mendadak seekor burung rajawali putih raksasa meluncur
deras menyambar tubuh Pandan Wangi yang tergolek di
tanah. Sehingga pukulan Nilam Kencana hanya mengenai
tanah tempat Pandan Wangi tadi terbaring tanpa daya.
"Heh...!" si Cambuk Sakti terkejut bukan main.Terlebih lagi
Nilam Kencana. Gadis itu jadi terlongong mendongak ke atas,
menatap burung rajawali putih raksasa yang membawa
Pandan Wangi dalam cakarnya. Kedua perempuan itu
terbengong beberapa saat sampai bayangan burung raksasa
itu lenyap dari pandangan.
"Apa arti semua ini...?" si Cambuk Sakti bertanya-tanya
sendiri. "Nek.., bagaimana ini?" rengek Nilam Kencana.
Si Cambuk Sakti tidak bisa menjawab.
"Nenek harus dapatkan Kakang Rangga untukku. Dia calon
suamiku, Nek...," rengek Nilam Kencana.
"Ayo kita pulang saja, Nilam," ajak si Cambuk Sakti.
"Tidak! Aku akan mencari Kakang Rangga! Dia harus
menikah denganku!" sentak Nilam Kencana seraya melesat
berlari cepat "Nilam...!"
Tapi Nilam Kencana sudah begitu jauh,
karena mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi.
"Dasar anak bengal!" gerutu si Cambuk Sakti.
Tapi perempuan tua berjubah hitam yang memegang
senjata cambuk buntut kuda itu bergegas mengejar cucunya.
Larinya begitu cepat karena mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sanga tinggi. Bahkan hampir
mencapai taraf kesempurnaan. Si Cambuk Sakti memang
seorang tokoh rimba persilatan yang cukup disegani baik
kaum golongan putih maupun hitam. Segala tindak dan
tingkah lakunya yang tidak beraturan membuat kesulitan dua
golongan dalam rimba persilatan untuk menentukan golongan
mana yang cocok untuknya.
"Nilam, tunggu...!" seru si Cambuk Sakti keras disertai
pengerahan tenaga dalam tinggi.
"Aku akan mencari Kakang Rangga, Nek!" sahut Nilam
Kencana juga keras.
"Kita cari sama-sama, Nilam!"
o0dw0o 7 "Ohhh...," Rangga merintih lirih.
Pendekar Rajawali Sakti itu tersentak saat membuka
matanya. Belum juga tubuhnya bisa bangkit berdiri, sebuah
tangan yang halus telah menahan dadanya. Maka pemuda
berbaju rompi putih itu putih itu pun kembali terbaring di atas
batu pipih yang beralaskan tikar. Rangga memandangi seraut
wajah cantik yang amat dikenalnya. Wanita itu mengenakan
baju hitam yang ketat, dan selembar cadar hitam melingkar
lehernya. "Intan...," pelan suara Rangga.
"Lukamu tidak tedalu parah, Kakang. Tapi berbaringlah
dulu agar jalan darahmu kembali normal," lembut suara
perempuan cantik berbaju hitam itu yang ternyata adalah
Intan Kemuning.
"Bagaimana kau bisa berada di sini?" tanya Rangga ingin
tahu. "Hanya kebetulan saja, Kakang. Kebetulan aku lewat, dan melihatmu bertarung me lawan seseorang.
Tampaknya kepandaian lawanmu cukup tinggi juga,
sehingga kau terdesak sekali," tutur Intan Kemuning.
Rangga menarik napas panjang, mencoba melonggarkan
rongga dadanya. Pelahan dia beranjak duduk. Intan Kemuning hendak mencegah, namun Pendekar
Rajawali Sakti itu menolak halus. Rangga duduk bersila, dan
kedua telapak tangannya berada di lutut.
Pendekar Rajawali Sakti itu memandangi Intan Kemuning
dalam-dalam. Entah sudah berapa lama mereka tidak
berjumpa lagi sejak peristiwa di Lembah Neraka (Baca Serial
Pendekar Rajawali Sakti. Dalam kisah, "Sabuk Penawar
Racun"). Rangga kemudian mengedarkan pandangannya ke
sekeliling. Dan baru disadari kalau tempat ini merupakan
sebuah goa yang tidak begitu besar. Cahaya matahari masih
bisa menerobos masuk menerangi bagian dalam goa ini.
"Di mana ini, Intan?" tanya Rangga.
"Goa Kera," sahut Intan Kemuning yang juga bernama Putri
Rajawali Hitam.
"Goa Kera..."!" Rangga terperanjat.
"Ada apa, Kakang" Kelihatannya kau terkejut sekali
mendengarnya,"
Intan Kemuning memandangi wajah Pendekar Rajawali Sakti itu dalam-dalam.
"Intan, apakah kau...."
"Jangan khawatir, Kakang. Pedangmu aman bersamaku,"
selak Intan Kemuning memotong kata-kata Rangga.
"Di mana kau simpan pedangku, Intan?"
"Itu."
Intan Kemuning menunjuk ke satu arah. Rangga langsung
melayangkan pandangannya ke arah yang ditunjuk gadis itu,
dan menjadi terpana. Memang Pedang Pusaka Rajawali Sakti
masih utuh tergantung di dinding bersama warangkanya.
Sungguh pedang itu tidak dilihatnya tadi, karena letaknya
memang cukup tersembunyi, terhalang dua buah batu yang
menjorok keluar dari dinding goa ini.
"Kebetulan pedangmu kutemukan di sini. Aku tidak
sengaja. Waktu itu aku mencari tempat untuk berteduh karena
hujan lebat. Ketika kulihat goa ini maka segera kumasukinya.
Terus terang, Kakang. Aku terkejut sekali melihat pedangmu
ada di sini, tapi kau sendiri tidak ada. Aku jadi penasaran dan
menunggumu sampai tiga hari, tapi kau tidak muncul juga,"
Intan Kemuning menjelaskan bagaimana dia bisa menemukan
Pedang Pusaka Rajawali Sakti.
"Jadi kau bukannya tidak sengaja menolongkukan?" tebak
Rangga langsung.
"Terus terang, iya. Aku memang sengaja mencarimu,
Kakang. Aku hanya ingin tahu, meagapa kai tinggalkan senjata
pusaka itu di tempat ini?"
"Aku tidak meninggalkannya di sini, Intan," pelan suara
Rangga. "Apa yang telah terjadi, Kakang" Mengapa sampai terpisah
dengan senjata pusakamu?" tanya Intan Kemuning.
Rangga menarik napas dalam-dalam. Dan tanpa ragu-ragu
lagi diceritakan semua yang terjadi. Mulai dari pertarungannya
dengan Iblis Selaksa Racun, hingga terjerumus ke dalam
jurang. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi. Bahkan tidak
tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Rangga memang tidak
tahu kalau saat terjerumus ke dalam jurang, dirinya ditolong
Ki Buyut Kaweyan. Dan laki-laki tua
itulah yang menyelamatkan Pedang Pusaka Rajawali Sakti ini, begitu
mengetahui pemiliknya kehilangan ingatan.
Tindakan Ki Buyut Kaweyan memang tepat. Jelas terlalu
berbahaya bagi Rangga jika masih membawa pedang pusaka
yang sangat dahsyat, sementara dia sendiri tidak tahu siapa
dirinya yang sebenarnya. Rangga menceritakan semua itu
sambil berusaha mengingat-ingat semua kejadian yang
dialam inya: Sedangkan Intan Kemuning mendengarkan penuh
perhatian. "Lalu, siapa yang bertarung denganmu?" tanya Intan
Kemuning. "Si Cambuk Sakti. Ah..., sebaiknya kau tidak perlu
mengetahui persoalannya, Intan," Rangga tidak ingin
persoalannya dengan si Cambuk Sakti diketahui gadis ini.
Intan Kemuning mengangkat bahunya saja. Dugaannya,
pasti pertarungan itu karena persoalan pribadi antara Rangga
dengan perempuan tua itu. Tapi hatinya masih penasaran,
karena Pendekar Rajawali Sakti bisa diperdaya. Bahkan dibuat
babak belur begini rupa.
"Kau seperti mengalah tadi, Kakang," pancing Intan
Kemuning. "Entahlah, Intan. Waktu itu tiba-tiba saja aku seperti lupa
pada semua jurus-jurusku. Bahkan sama sekali seperti tidak
tahu caranya bertarung," sahut Rangga.
"Mungkin pengaruh racun yang berada di jalan darahmu
masih tersisa, Kakang."
"Mungkin juga," desah Rangga.
"Tapi sekarang sudah tidak ada lagi pengaruh racun pada
dirimu. Rupanya senjata yang digunakan lawanmu membuyarkan racun yang mengendap dalam jalan darahmu,
Kakang. Aku sendiri tidak mengerti. Tapi tadi aku sempat
mencoba dan berhasil mengeluarkan sisa-sisa racun itu yang
bisa membuatmu tiba-tiba jadi hilang ingatan," Intan
Kemuning mencoba menjelaskan.
"Apa yang kau lakukan, Intan?" tanya Rangga ingin tahu.
"Aku hanya menyalurkan hawa panas saja. Itu kulakukan
setelah memeriksa bekas cambukan di tubuhmu yang seperti
melepuh bagai terkena besi panas," jelas Intan Kemuning lagi.
"Hm...," Rangga menggumam tidak jelas.
o0dw0o "Khraghk...!"
Rangga mendongakkan kepalanya saat mendengar suara
berkaokan keras dan agak serak. Pendekar Rajawali Sakti itu
tersenyum melihat Rajawali Putih menukik turun menghampirinya. Ringan sekali burung rajawali raksasa itu
mendarat di depan Rangga. Sementara di depan mulut goa,
Intan Kemuning memandangi di samping seekor burung
rajawali raksasa berwarna hitam pekat berkilat.
"Hup!"
Rangga melompat naik ke punggung Rajawali Putih.
Dipandanginya Intan Kemuning yang masih juga berdiri di
samping Rajawali Hitam.
"Pergilah, Kakang," ucap Intan Kemuning.
Rangga menepuk leher Rajawali Putih tiga kali.


Pendekar Rajawali Sakti 33 Manusia Beracun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Khraghk!"
Bagaikan kilat, Rajawali Putih melesat membumbung tinggi
ke angkasa. Sebentar saja burung raksasa itu sudah melayang
menembus awan. Setelah berputar tiga kali, burung raksasa
itu lalu meluncur deras menuju arah Utara. Sedangkan di
depan mulut Goa Kera, Intan Kemuning melangkah masuk ke
dalam goa. T inggal Rajawali Hitam yang masih mendekam di
samping mulut goa.
Sementara di angkasa, Rangga terus meluncur bersama
Rajawali Putih. Pandangannya tidak lepas mengamati setiap
jengkal tanah yang dilewatinya. Kali ini Pendekar Rajawali
Sakti benar-benar ingin mencari si Iblis Selaksa Racun. Tidak
ada cara lain untuk menghentikan manusia yang mengandung
racun di seluruh tubuhnya itu, selain melenyapkannya dari
muka bumi ini. "Rajawali, langsung ke Karang Setra!" seru Rangga.
"Khraghk!"
Rajawali Putih menambah kecepatan terbangnya menuju
Istana Karang Setra. Dari ketinggian seperti ini, bangunan
istana itu sudah terlihat, meskipun jaraknya masih jauh. Dan
Rangga memandanginya disertai perasaan rindu yang
mendalam. Semakin lama, semakin jelas terlihat bangunan
megah ya berdiri kokoh dikelilingi tembok benteng yang tinggi
dan kuat. Pendekar Rajawali Sakti itu mengerutkan keningnya saat
melihat penjagaan disekitar benteng begitu ketat. Bahkan
prajurit panah sudah siaga me luncurkan anak panah. Mereka
berbaris di atas tembok benteng. Demikian pula prajurit
berkuda yang sudah berbaris rapi di alun-alun istana. Belum
lagi prajurit jalan kaki dan beberapa kereta kuda. Suasana di
dalam benteng istana itu bagaikan sedang mempersiapkan
peperangan. "Aneh..., ada apa ini?" Rangga bertanya-tanya dalam hati.
Pendekar Rajawali Sakti itu memerintahkan Rajawali Putih
untuk mengelilingi sekitar bangunan istana. Setiap jengkal
tanah diperhatikan dengan seksama. Bahkan setiap bangunan
yang ada diteliti dari atas. Rangga benar-benar tidak mengerti,
suasana di Karang Setra bagaikan hendak perang saja!
"Rajawali, aku turun di belakang istana," pinta Rangga.
"Khraghk!"
Rajawali Putih meluruk deras ke bagian belakang istana itu.
Dan belum lagi burung raksasa itu mencapai tanah, Rangga
sudah melompat turun, mempergunakan ilmu meringankan
tubuh yang sudah sangat sempurna. Tiga kali Rangga
berputar di udara, kemudian manis sekali didaratkan kakinya
di tanah tanpa menimbulkan satu suara sedikit pun.
Sementara Rajawali Putih kembali membumbung tinggi ke
angkasa. Tapi burung raksasa itu tidak jauh-jauh meninggalkan Istana Karang Setra.
"Hup!"
Indah sekali Rangga melentingkan tubuhnya ke atas, dan
hinggap di atas atap bangunan istana. Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah
mencapai taraf kesempurnaan, Pendekar Rajawali Sakti itu
berlari lincah di atas atap bangunan megah ini.
Wut! Rangga meluruk turun begitu sampai di atas jendela kamar
Danupaksi. Pemuda berbaju rompi putih itu menjulurkan
kepalanya ke dalam melalui jendela kamar yang terbuka. Tak
ada siapa-siapa di dalam kamar ini. Pendekar Rajawali Sakti
itu kemudian melompat mendekati jendela kamar lainnya lagi.
Rangga tahu kalau kamar ini ditempati Cempaka.
Pendekar Rajawali Sakti itu menahan napas dan
merapatkan tubuhnya ke dinding ketika mendengar suara dari
dalam kamar. Jelas itu adalafhsuara Cempaka dan Danupaksi.
Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kemudian
melesat naik ke atas, dan hinggap pada balok yang melintang
di atas jendela. Dari sini bisa terlihat seluruh isi kamar tanpa
diketahui orang yang berada di dalam. Sengaja Rangga tidak
ingin memperlihatkan diri. Dia ingin tahu, apa sebenarnya
yang tengah terjadi di istana ini.
"Aku yakin, Kakang Rangga pasti tidak akan setuju
terhadap rencanamu ini, Danupaksi," terdengar suara
Cempaka. "Apa yang kulakukan ini demi keamanan seluruh negeri,
Cempaka. Meskipun hanya satu orang, tapi sangat berbahaya
dan sukar ditandingi. Hhh.... Kalau saja Kakang Rangga ada,
kita tidak mungkin kehilangan begitu banyak prajurit dan para
jawara istana, " sahut Danupaksi bernada mengeluh.
"Mungkin ini kenyataan dari mimpi-mimpi burukku,
Danupaksi," pelan suara Cempaka.
"Ya, mungkin juga," desah Danupaksi.
"Danupaksi, apakah Karang Setra akan hancur seperti yang
ada dalam mimpiku?" tanya Cempaka seperti untuk dirinya
seradiri. "Aku melihat Istana Karang Setra terbakar, dan
Kakang Rangga terlempar ke dalam api. Sedangkan kita
semua terkurung di dalamnya tanpa bisa melakukan apa-apa
lagi. Aku takut, Danupaksi. Aku takut mimpiku jadi
kenyataan," suara Cempaka terdengar agak bergetar.
"Tenanglah, Cempaka. Jangan panik. Mudah-mudahan saja
Kak Pandan bisa menemukan Kakang Rangga secepatnya,
sehingga kita semua tidak perlu mengorbankan begitu banyak
prajurit Yaaah.... Terus terang saja, aku merasakan akan siasia...," keluh Danupaksi.
"Danupaksi, apa tidak sebaiknya kita mendahului sebelum
dia menjarah ke sini?" usul Cempaka.
"Percuma saja, Cempaka. Lembah Mayat bukanlah tempat
yang mudah dijangkau. Bisa-bisa separuh prajurit akan tewas
sebelum sampai di sana," sahut Danupaksi.
'"Tapi, Kakang...."
"Kita tunggu saja di sini. Kalaupun mimpimu harus iadi
kenyataan, kuharap Kakang Rangga tidak ada di sini dan bisa
membalas," potong Danupaksi mendesah.
Tak ada lagi terdengar suara percakapan. Kini yang
terdengar suara-suara langkah keluar dari kamar itu.
Sementara Rangga yang berada di balok melintang di atas
jendela, bergegas meluruk turun. Sebentar tercenung di
depan jendela kamar Cempaka, kemudian dengan cepat dia
melesat ke bagian belakang istana. Pendekar Rajawali Sakti itu
mendongak, dan masih melihat Rajawali Putih berputar-putar
di atas sana. "Rajawali, ke sini!" panggil Rangga seraya melambaikan
tangannya. Rajawali Putih meluruk deras. Dan belum juga burung
raksasa itu mencapai tanah, Rangga sudah melenting tinggi,
langsung hinggap di punggung Rajawali Putih.
"Khraghk!"
Bagaikan kilat, Rajawali Putih me luncur deras melambung
tinggi ke angkasa membawa Rangga di punggungnya. Burung
raksasa itu masih berputar berapa kali mengelilingi bangunan
megah di Kerajaan Karang Setra itu.
"Ke Lembah Mayat, Rajawali Putih!" perintah Rangga.
"Khraghk!"
o0dw0o "Hup!" Rangga me lompat turun dari punggung Rajawali
Putih sebelum burung raksasa itu mendarat di tanah.
Sebentar Pendekar Rajawali Sakti itu memandang
sekitarnya. Daerah ini begitu sunyi tanpa adanya tanda-tanda
kehidupan. Lembah Mayat memang suatu tempat yang tidak
pernah didatangi orang. Bahkan kelihatannya sangat angker,
dan banyak dihuni ular berbisa dan binatang berbahaya
lainnya. Pelahan-lahan Rangga mengayunkan kakinya ke tengahtengah lambah ini. Begitu sunyi dan sangat mencekam sekali.
Bahkan angin pun seakan-akan enggan berhembus. Namun
demikian, Rangga masih merasakan hidungnya mencium bau
yang tidak sedap. Seperti bau bangkai buruk yang dapat
membuat perut jadi mual, bercampur bau amis memuakkan.
Hanya saja Pendekar Rajawali Sakti tidak menghiraukan
semua itu. "Heh...!" mendadak pemuda berbaju rompi putih itu
tersentak kaget.
Tiba-tiba saja terdengar suara seperti orang bertarung.
Pendekar Rajawali Sakti mengedarkan pandangannya berkeliling sekali
lagi. Segera ditajamkan telinganya,
mempergunakan ilmu 'Pembeda Gerak dan Suara'. Suara
pertempuran itu datang dari balik sebuah gundukan tanah
yang menyerupai bukit kecil di dalam lembah ini. Gundukan
tanah memanjang mirip sebuah kuburan raksasa. Di atasnya
terdapat dua buah batu menyembul pada bagian ujungnya.
Itulah sebabnya mengapa lembah ini disebut Lembah Mayat.
Apalagi ditambah aroma busuk yang selalu menyebar,
sehingga menambah keangkerannya.
"Hup!"
Hanya sekali lesatan saja, Rangga sudah berada di puncak
gundukan tanah bagai kuburan raksasa itu. Matanya seketika
terbeliak begitu melihat dua orang tengah bertarung sengit.
Rangga mengenali kedua orang itu, dan langsung menahan
napas. Ternyata orang berbaju hitam ketat seperti kewalahan
karena tidak bisa menjangkau orang yang mengenakan baju
merah ketat. Padahal, orang berbaju merah itu tidak
menggunakan senjata apa pun juga.
"Intan, mundur... !" seru Rangga seraya melentingkan
tubuhnya, meluruk mendekati tempat itu.
"Kakang...! Hup!"
Gadis berbaju hitam ketat yang ternyata memang Intan
Kemuning, bergegas melompat mundur mendekati Rangga.
Pendekar Rajawali Sakti itu sudah berdiri tegak, dan tanpa
berkedip menatap tajam seorang laki-laki yang kelihatan
masih muda. Seluruh wajahnya penuh bisul. Bahkan hampir
seluruh kulit tubuhnya mengeluarkan cairan kuning kental
yang menyebar bau tidak sedap. Rambutnya yang panjang,
dibiarkan meriap hampir menutupi wajahnya.
"He he he.... Akhirnya kau muncul juga, Pendekar Rajawali
Sakti," laki-laki berwajah buruk penuh bisul itu terkekeh
memperlihatkan baris-baris giginya yang hitam.
"Aku memang sengaja mencarimu, Iblis Selaksa Racun!"
dingin nada suara Rangga.
"He he he..., bagus. Hari ini kita tentukan, siapa yang akan
merajai rimba persilatan. Kau atau aku, Pendekar Rajawali
Sakti!" "Menyingkirlah kau, Intan," perintah Rangga tanpa
berpaling sedikit pun.
"Hati-hati, Kakang," bisik Intan Kemuning.
Rangga tidak menyahuti. Bukannya meremehkan peringatan gadis itu, tapi dia memang sudah tahu kalau Iblis
Selaksa Racun sukar ditaklukkan. Ilmu olah kanuragan yang
dimiliki laki-laki buruk penuh bisul itu memang tidak tinggi.
Bahkan bisa dikatakan sangat rendah. Namun ilmu
meringankan tubuhnya sungguh sempurna sekali.
Tapi yang terpenting adalah, Iblis Selaksa Racun memiliki
suatu ilmu yang bisa membentengi dirinya sehingga sukar
ditembus dan tidak terlihat oleh pandangan mata. Meskipun
Rangga mempergunakan aji 'Tatar Netra' ataupun aji 'Mata
Dewa', tetap saja tidak bisa melihat tabir yang menyelimuti
tubuh Iblis Selaksa Racun.
Pelahan-lahan Rangga menggeser kakinya ke samping
menjauhi Intan Kemuning. Tatapan matanya begitu tajam
menusuk. Seakan-akan sedang mengukur kesiapan dan
tingkat kepandaian yang dimiliki lawan, meskipun sudah tahu
kalau lawannya hanya memiliki kepandaian rendah. Tapi
Rangga harus hati-hati, dan tidak ingin membuat kesalahan
untuk kedua kalinya.
"Bersiaplah, Iblis Selaksa Racun! Hiyaaat...!" seru Rangga
keras. "Hait!"
Iblis Selaksa Racun menggeser kakinya sedikit ke samping
ketika Rangga melompat cepat menerjangnya. Dengan
gerakan lambat, laki-laki berbaju merah itu menghentakkan
tangannya ke depan. Dan....
"Uh!"
Buru-buru Rangga melentingkan tubuhnya ke atas ketika
dirasakan adanya hawa dingin meluncur ke arahnya. Begitu
jelas terasa kalau hawa dingin itu meluncur me lewati bawah
telapak kakinya. Dan Rangga tahu kalau hawa dingin itu
mengandung racun yang sangat berbahaya dan mematikan.
Dua kali Rangga berputaran di udara, dan manis sekali
mendarat di samping kanan Iblis Selaksa Racun. Secepat kilat
Pendekar Rajawali Sakti itu melayangkan kakinya, menendang
iga lawan. Dug! "Ikh... !" Rangga terperanjat bukan main.
Buru-buru Pendekar Rajawali Sakti itu me lompat mundur.
Sungguh tidak diduga sama sekali! Begitu kakinya
menghantam iga Iblis Selaksa Racun, dirasakan seperti
menendang segumpal karet sehingga tendangannya berbalik
arah. Hampir saja Rangga terkena arus tenaga dalamnya
sendiri kalau saja tidak cepat-cepat membuangnya ke arah
lain.

Pendekar Rajawali Sakti 33 Manusia Beracun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"He he he...," Iblis Selaksa Racun terkekeh.
o0dw0o 8 Sementara itu, tidak jauh dari Lembah Mayat, tampak
serombongan prajurit yang dipimpin Danupaksi dan Cempaka
bergerak menuju lembah yang mengandung hawa busuk itu.
Mereka bergerak hati-hati dan penuh kewaspadaan. Terlebih
lagi setelah memasuki daerah yang belum pernah dipijak
manusia sebelumnya, dan terkenal akan ular berbisanya.
Tapi tiba-tiba saja mereka dikejutkan sebuah bayangan biru
yang berkelebat menghadang. Tahu-tahu di depan mereka
sudah berdiri seorang gadis cantik mengenakan baju biru
ketat dengan sebuah kipas terbuka di depan dada. Danupaksi
dan Cempaka kenal, siapa gadis itu.
"Kak Pandan...!" seru Cempaka seraya bergegas melompat
turun dari punggung kudanya.
Danupaksi juga bergegas turun dari kudanya. Diperintahkan para prajuritnya untuk tetap berwaspada.
Mereka menghampiri Pandan Wangi yang sudah melipat
kembali kipas baja putihnya, dan menyelipkan di pinggang.
"Kalian mau ke mana?" tanya Pandan Wangi.
"Ke Lembah Mayat," sahut Danupaksi. "Kak Pandan sendiri,
kenapa berada di sini?"
"Aku memang sengaja mencegat kalian di sini," sahut
Pandan Wangi. "Mencegat kami..."!" Cempaka tidak mengerti.
"Sebaiknya kalian perintahkan para prajurit kembali ke
istana. Keamanan istana lebih penting daripada mengejar satu
orang yang kini sudah ditangani," kata Pandan Wangi.
"Kak Pandan tahu tentang Iblis Selaksa Racun?" tanya
Danupaksi. "Aku sudah tahu sebelum kalian tahu. Kembalilah ke istana
dan tunggu kami di sana," sahut Pandan Wangi.
Danupaksi dan Cempaka saling berpandangan. "Kak
Pandan sudah bertemu Kakang Rangga?" tanya Cempaka.
"Sudah," sahut Pandan Wangi tersenyum.
"Oh, di mana sekarang?" tanya Cempaka lagi. Hatinya
memang sudah demikian rindu ingin segera bertemu kakak
tirinya itu. "Ada," sahut Pandan Wangi. "Sekarang Kakang Rangga
sedang bertarung melawan Iblis Selaksa Racun di Lembah
Mayat. " "Apa..."!"
Danupaksi dan Cempaka benar-benar terkejut mendengarnya. Sungguh tidak disangka kalau Rangga kini
sedang bertarung melawan orang yang seluruh tubuhnya
mengandung racun dahsyat dan sangat mematikan itu.
Terlihat jelas pada raut wajah mereka, kecemasan yang amat
sangat. "Kita harus membantunya, Kak Pandan," kata Cempaka.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan, Cempaka. Kakang
Rangga sudah dibantu Putri Rajawali Hitam. Aku yakin mereka
berdua mampu menghadapi manusia beracun itu," tegas
Pandan Wangi mantap.
"Putri Rajawali Hitam..." Siapa dia?" tanya Danupaksi (Bagi
para pembaca yang mau tahu lebih jauh tentang Putri
Rajawali Hitam, silakan baca Serial Pendekar Rajawali Sakti
dalam episode "Sepasang Rajawali").
"Aku sendiri belum begitu tahu persis. Tapi ilmu
kepandaiannya tinggi sekali. Bahkan tampaknya sudah
mengenal dekat dengan Kakang Rangga. Demikian juga
sebaliknya, Kakang Rangga seperti sudah lama mengenal Putri
Rajawati Hitam," Pandan Wangi mencoba coba menjelaskan.
Cempaka memandangi Pandan Wangi dalam-dalam.
Sesama wanita, bisa dirasakan adanya sesuatu di dalam nada
suara Pandan Wangi. Dan Cempaka tahu perasaan apa itu.
Sedangkan Pandan Wangi membalikkan tubuhnya seraya
menarik napas panjang. Entah kenapa, mendadak saja
dirasakan dadanya menjadi sesak.
Terbayang kembali peristiwa yang hampir merenggut
nyawanya. Dirinya dibuat tidak berdaya oleh si Cambuk Sakti,
dan hampir saja mati. Juga, masih terlihat jelas dalam
bayangannya, bagaimana Rangga dibuat seperti barang
mainan oleh perempuan tua yang hendak menjodohkan
Pendekar Rajawali Sakti dengan cucunya. Untunglah Rangga
disambar oleh seekor burung rajawali hitam pada saat yang
kritis sekali. Pandan Wangi sendiri tidak mengerti, mengapa
Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak berdaya menghadapi si
Cambuk Sakti. Dan Pandan Wangi sendiri juga tertolong nyawanya oleh
Rajawali Putih. Gadis itu hampir tidak percaya kalau telah
dibawa ke belakang Goa Kera, dan dirawat oleh seorang gadis
cantik berbaju hitam yang mengaku bernama Putri Rajawali
Hitam. Di goa itu juga dilihatnya, bagaimana Putri Rajawali
Hitam merawat luka-luka yang diderita Rangga. Dan dia juga
melihat, kalau Putri Rajawali Hitam begitu akrab dan.., ah!
Pandan Wangi mendesah panjang, tidak ingin mengingat lagi
peristiwa itu. "Kak Pandan...," Cempaka menepuk pundak Pandan Wangi.
"Oh!" Pandan Wangi tersentak bangun dari lamunannya.
"Kenapa Kak Pandan menangis?" tanya Cempaka agak
kaget juga melihat ada titik air mata menggulir di pipi yang
halus itu, "Oh! Eh..., tidak... "
Buru-buru Pandan Wangi menyeka air mata yang tidak
terasa menggulir di pipinya. Beberapa kali ditariknya napas
panjang, mencoba melonggarkan rongga dadanya yang
mendadak terasa sesak.
"Kak...," lembut suara Cempaka.
"Pergilah kalian. Tinggalkan tempat ini," kata Pandan
Wangi. "Tapi, kenapa Kakak menangis?" tanya Cempaka.
"Tidak apa-apa, Cempaka. Aku hanya mengkhawatirkan
Kakang Rangga," sahut Pandan Wangi berusaha tersenyum.
"Apakah keadaan Kakang Rangga begitu gawat, Kak?"
tanya Cempaka. Pandan Wangi tidak menjawab. Diayunkan kakinya menuju
ke Lembah Mayat yang sudah terlihat di depan. Sementara
Cempaka dan Danupaksi saling berpandangan sesaat.
"Sebaiknya kau bawa saja para prajurit ke istana,
Danupaksi," usul Cempaka.
"Kau sendiri?"
"Aku akan bersama Kak Pandan."
Danupaksi segera memerintahkan para prajuritnya untuk
kembali ke istana, tapi dia memutuskan untuk tetap tinggal
bersama Cempaka. Tak ada para prajurit yang membantah,
dan sebenarnya mereka juga enggan datang ke tempat
angker itu. Bergegas mereka memutar arah kembali ke istana.
Danupaksi menghampiri adik tirinya yang sudah melangkah
mengikuti Pandan Wangi.
"Apa pun yang terjadi, kita harus selalu bersama-sama,
Cempaka," tegas Danupaksi setelah bisa mensejajarkan
langkahnya di samping gadis itu.
Cempaka hanya tersenyum tipis saja. Mereka kemudian
mempercepat langkahnya menyusul Pandan Wangi yang
sudah berjalan cukup jauh menuju Lembah Mayat. Mereka
bertiga berjalan berdampingan tanpa berkata-kata lagi.
Sesekali Cempaka memperhatikan wajah, yang kelihatan
tegang dan penuh berbagai macam perasaan, namun rasanya
tidak ingin banyak tanya. Cempaka bisa merasakan kalau
Pandan Wangi menyimpan api cemburu.
o0dw0o Sementarn itu pertarungan antara Rangga melawan Iblis
Selaksa Racun masih terus berlangsung sengit. Namun terlihat
jelas kalau pertarungan itu berjalan kurang menarik, karena
Rangga masih juga belum mampu memperpendek jarak
dengan lawannya. Beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti itu
terpental setiap kali mencoba menembus tirai halus yang
melindungi Iblis Selaksa Racun.
Sedangkan tidak berapa jauh dari tempat pertarungan itu,
terlihat Intan Kemuning memperhatikan disertai hati yang
penuh kecemasan. Kakinya melangkah mundur, karena daerah
sekitar pertarungan mulai terasa dingin. Dan dia tahu kalau
daerah itu sudah dipenuhi hawa beracun yang dapat membuat
orang mati seketika jika menghirupnya.
Intan Kemuning berpaling ketika mendengar suara langkah
kaki dari arah belakang. Bergegas Putri Rajawali Hitam itu
melompat menghampiri dan mencegah Pandan Wangi,
Cempaka, dan Danupaksi lebih mendekat.
"Tetap di sini, Pandan Wangi," kata Intan Kemuning.
"Kenapa?" tanya Pandan Wangi yang tidak ingin diatur oleh
seorang gadis yang mungkin sebaya dengannya.
"Udara beracun semakin menyebar. Terlalu berbahaya
bagi...," Intan Kemuning memutus kalimatnya. Dipandanginya
Cempaka dan Danupaksi.
"Mereka adik-adik Rangga," jelas Pandan Wangi memperkenalkan.
"Oh! Aku sahabat Kakang Rangga. Kalian boleh
memanggilku Intan," Intan Kemuning memperkenalkan diri.
Cempaka dan Danupaksi juga memperkenalkan diri.
Tampak sekali kalau Danupaksi merayapi terus wajah cantik
Putri Rajawali Hitam ini. Dan Intan Kemuning mengetahui hal
itu. Buru-buru dialihkan pandangannya pada Pandan Wangi.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Intan Kemuning.
"Baik. Terima kasih atas pertolonganmu," sahut Pandan
Wangi tanpa tersenyum sedikit pun.
Intan Kemuning mengajak Pandan Wangi menjauh dari
Cempaka dan Danupaksi. Sebentar Pandan Wangi memandang kedua adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu,
kemudian mengikuti Intan Kemuning.
"Kenapa kau bawa mereka ke sini" Terlalu berbahaya,
Pandan," tegur Intan Kemuning.
"Aku tidak bisa mencegah, Intan. Mereka juga punya hak
untuk mempertahankan Karang Setra. Kaukan tahu, kalau Iblis
Selaksa Racun ingin menghancurkan Karang Setra hanya
karena merasa terusik oleh Kakang Rangga," jawab Pandan
Wangi agak ketus.
Intan Kemuning mengangkat bahunya. Memang tidak
mungkin Pandan Wangi mencegah kedatangan mereka ke
tempat ini, meskipun daerah ini sangat berbahaya. Terlebih
lagi akibat pertarungan itu hawa beracun memenuhi daerah
ini, dan semakin menyebar luas.
o0dw0o "Hiyaaa... !"
Tiba-tiba saja Rangga berteriak keras menggelegar.
Seketika itu juga tubuhnya melenting tinggi ke atas, lalu
bagaikan kilat Pendekar Rajawali Sakti itu menukik deras
sambil mencabut pedang pusakanya. Saat itu juga cahaya biru
berkilau menyemburat menerangi daerah Lembah Mayat ini.
Wut! Wut! Dua kali pedang Rangga dikebutkan kuat-kuat, lalu dengan
cepat ditusukkan ujungnya tepat mengarah ke ubun-ubun
kepala Iblis Selaksa Racun.
"Hup! Hiyaaa...!"
Cepat sekali Iblis Selaksa Racun menjatuhkan dirinya dan
bergulingan di tanah, menghindari ujung pedang Pendekar
Rajawali Sakti yang mengancam ubun-ubun kepalanya.
Namun belum juga sempat bangkit berdiri, Rangga sudah
menerjang kembali sambil mengebutkan pedangnya beberapa
kali. Dengan mempergunakan jurus 'Pedang Pemecah Sukma',
Pendekar Rajawali Sakti mencoba membuka pertahanan Iblis
Selaksa Racun yang begitu kokoh.
"Keparat...!"
geram Iblis Selaksa Racun sambil berlompatan, menghindari tebasan-tebasan pedang Rangga
yang begitu cepat.
"Awas kaki...!" seru Rangga tiba-tiba.
Wut! Cepat sekali Rangga mengibaskan pedangnya ke arah kaki.
Iblis Selaksa Racun terperanjat. Ternyata pedang itu mampu
menembus tabir yang membentengi tubuhnya. Buru-buru dia
melompat ke atas, menghindari tebasan pedang yang
memancarkan cahaya biru itu.
Tapi pada saat yang bersamaan, Rangga melontarkan satu
pukulan keras bertenaga dalam sempurna dari jurus 'Pukulan
Maut Paruh Rajawali' sambil melesat ke atas mengikuti lesatan
Iblis Selaksa Racun.
Des! "Akh...!" Iblis Selaksa Racun memekik keras tertahan.
Hantaman jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat
terakhir itu mendarat telak di dada Iblis Selaksa Racun. Jurus
yang sangat dahsyat dan mengandung hawa panas luar biasa
itu membuat tubuh Iblis Selaksa Racun terpental beberapa
tombak ke belakang.
Beberapa kali Iblis Selaksa Racun bergulingan di tanah.
Pada saat itu, pedang Rangga sudah melintang di depan dada,
sedangkan kedua kakinya berpijak merentang agak tertekuk di


Pendekar Rajawali Sakti 33 Manusia Beracun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tanah. Digosoknya mata pedang dengan telapak tangan
kirinya. Sesaat kemudian, cahaya biru menggumpal di ujung
pedang membentuk bulatan seperti bola sebesar kepala
manusia dewasa.
"Aji 'Cakra Buana Sukma'! Hiyaaaa...!"
Tepat pada saat Iblis Selaksa Racun baru berdiri, Rangga
menghentakkan bola biru terang. Bagaikan kilat, cahaya biru
itu meluncur deras dan langsung menghajar tubuh Iblis
Selaksa Racun. Sebentar saja seluruh tubuh laki-laki berbaju
merah itu sudah terselubung cahaya biru yang memancar dari
Pedang Rajawali Sakti.
"Ugh ! Akh... !"
Iblis Selaksa Racun menggeliat-geliat,
berusaha membebaskan diri dari selubung cahaya biru yang
menyelimuti seluruh tubuhnya. Sementara Rangga pelahanlahan menggeser kakinya mendekati. Namun tiba-tiba saja....
Blarrr... ! "Akh...!" Rangga memekik keras tertahan.
Mendadak saja tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu terpental
ke belakang. Sedangkan Iblis Selaksa Racun telah terbebas
dari selubung cahaya biru. Tapi laki-laki berbaju merah yang
seluruh wajah dan tubuhnya penuh bisul itu jatuh berlutut di
tanah. Rupanya seluruh kekuatannya telah dikeluarkan untuk
melawan aji 'Cakra Buana Sukma'.
Sementara Rangga bergulingan beberapa kali di tanah.
Namun Pendekar Rajawali Sakti itu bergegas melompat
bangkit berdiri, dan langsung melesat cepat ke arah Iblis
Selaksa Racun. Pada saat yang bersamaan, Iblis Selaksa
Racun juga sudah bisa bangkit berdiri. Segera dihentakkan
tangannya ke depan.
"Hiyaaa...!"
"Hait!"
Rangga mengebutkan pedangnya beberapa kali sambil
tubuhnya berputaran di udara. Dan dia terus meluruk deras
mengarah pada Iblis Selaksa Racun.
"Mampus kau! Hiyaaa...!"
teriak Rangga keras menggelegar. Wut! Cras...! "Aaa...!"
Iblis Selaksa Racun tidak bisa lagi menghindari tebasan
pedang yang bersinar biru itu. Hanya sebentar laki-laki penuh
bisul itu mampu menjerit melengking tinggi, kemudian berdiri
tegak tak bergeming.
"Hih!"
Rangga menendang dada laki-laki berbaju merah itu.
Seketika Iblis Selaksa Racun terguling ambruk, dan kepalanya
menggelinding terpisah! Darah langsung muncrat keluar dari
leher yang terpenggal buntung. Rangga menarik napas
panjang dan memasukkan kembali Pedang Rajawali Sakti ke
dalam warangkanya di balik punggung. Dia berbalik begitu
mendengar suara-suara langkah kaki menghampiri.
"Jangan dekat!" seru Rangga keras begitu melihat Cempaka
dan Danupaksi mendekati.
Kedua adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu berhenti
melangkah seketika. Pandan Wangi bergegas menghampiri
Cempaka dan Danupaksi, lalu membawa mereka menjauh.
Tentu saja kedua adik tiri Rangga itu jadi kebingungan, tapi
akhirnya mundur juga menjauh.
"Pandan, bawa mereka pulang," tegas Rangga.
"Kakang...!" agak tersendat suara Cempaka.
"Jangan membantah, Cempaka!" bentak Rangga.
Rangga mengambil sulur pohon yang kuat dan cukup
besar, kemudian bersiul keras melengking tinggi. Tak berapa
lama kemudian dari angkasa meluruk seekor burung rajawali
putih raksasa. Dengan mengerahkan tenaga dalam, Pendekar
Rajawali Sakti itu melemparkan sulur kayu itu, dan cakar
Rajawali Putih pun langsung menangkapnya.
"Cepat, Rajawali!" seru Rangga keras.
"Khraghk...!"
Cepat sekali burung rajawali raksasa itu melesat ke
angkasa membawa Rangga yang tergantung berpegangan
pada sulur kayu. Sekejap saja bayangan mereka sudah lenyap
ditelan kabut yang mulai turun menutupi sekitar Lembah
Mayat ini. Sementara yang ditinggalkan hanya memandangi
saja. Terutama Cempaka dan Danupaksi yang tidak mengerti,
mengapa Rangga begitu tergesa-gesa meninggalkan mereka.
Bahkan tidak ingin didekati.
"Ayo pulang, Cempaka, Danupaksi," ajak Pandan Wangi.
Pandan Wangi sempat melirik pada Intan Kemuning yang
hanya berdiri saja. Intan Kemuning tersenyum, kemudian
berbalik dan cepat sekali melesat pergi. Begitu tinggi ilmu
meringankan tubuh yang dimiliki Putri Rajawali Hitam itu,
sehingga dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan
mata. "Kak Pandan, ada apa dengan Kakang Rangga?" tanya
Cempaka tidak bisa menyimpan rasa penasarannya.
"Kakang Rangga hendak membuang racun yang berada di
tubuhnya," jelas Pandan Wangi.
"Apakah Kakang Rangga tidak apa-apa?" tanya Danupaksi
yang juga tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.
"Tidak."
"Sungguh?"
Pandan Wangi hanya bisa mengangguk dan tersenyum
tipis. Padahal dia sendiri sebenarnya juga mengkhawatirkan
keadaan Rangga yang tentu saja kini tengah berjuang
melawan racun yang disebarkan Iblis Selaksa Racun. Meskipun
Pendekar Rajawali Sakti itu memiliki kekebalan terhadap
segala jenis racun, tapi bisa jadi berbahaya. Sebab, racun
yang berada di tubuhnya bisa menyebar dan membahayakan
orang lain. Kalau toh Pendekar Rajawali Sakti tadi bisa
bertarung melawan Iblis Selaksa Racun, tanpa terbius, itu
karena Rangga selalu memperhatikan keseimbangan pengerahan hawa murninya. Dulu, waktu bertarung pertama
kali melawan laki-laki beracun itu, Rangga sama sekali tidak
memperhatikan. Baru setelah Rajawali Putih mengajarkan,
Pendekar Rajawali Sakti itu menyadarinya. Dan kini Rangga
perlu waktu untuk menghilangkan racun itu. Tak ada yang
tahu, di mana Pendekar Rajawali Sakti itu menyembuhkan
dirinya. Hanya dirinya dan Rajawali Putih yang tahu.
SELESAI Pembuat Ebook :
Editor & Ebook pdf oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/
Bencana Patung Keramat 1 Pendekar Hina Kelana 23 Satria Pedang Asmara Pendekar Penyebar Maut 2

Cari Blog Ini