Ceritasilat Novel Online

Pengantin Berdarah 1

Pendekar Rajawali Sakti 10 Pengantin Berdarah Bagian 1


1 Senja mulai turun merayap mendekatj malam. Matahari semakin condong ke ufuk
Barat Sinarnya yang lembut kemerahan membias indah menanti datangnya rembulan
Seorang pemuda berkulit kuning langsat, duduk berjongkok di pinggir gundukan
tanah merah. Keadaan sekitarnya sepi dan mulai gelap.
Matanya merembang sayu menatap pada batu pi pih yang tertanam di atas gundukan
tanah di depan nya. Entah sejak kapan pemuda itu duduk berjongkok di sana. Raut
wajahnya terlihat sedih dan matanya sembab seperti bekas tangisan.
"Aku yakin kau menderita di alam sana. Maafkan aku baru bisa mengunjungimu hari
ini, mudah-mudahan kau senang dengan kedatanganku," pelan dan lirih dia
bergumam. Pemuda itu menarik napas panjang dan berat, lalu pelahan lahan dia mengangkat
kepalanya. Sejenak dia menatap sang surya yang hampir tenggelam di ufuk Barat Di
sini, di tempat sepi ini segalanya pernah terjadi.
Peristiwa yang tak akan pemah terlupakan sepanjang hidupnya Peristiwa yang
terjadi lima belas tahun silam, di mana saat itu dia masih seorang bocah berumur
sepuluh tahun Ingatannya kembali pada peristiwa yang begitu
membekas di hatinya dan menimbulkan api dendam yang selalu membara Saat di mana
dia dengan kakak
perempuannya baru pulang mencari kayu bakar. Dan di jalan yang agak sepi dan
tersembunyi, keduanya berhenti sejenak melepaskan lelah dan penat
"Kau masih punya makanan, Dimas?"
"Kak Surti sudah lapar, ya?"
Gadis yang berkulit kuning langsat itu tersenyum dan mengangguk. Dia menurunkan
kayu bakar dan punggungnya kemudian duduk di bawah sebuah pohon yang rindang.
Bocah kecil yang dipanggil Dimas itu mendekat. Dan menyerahkan bungkusan daun
kepada Surti, kakaknya.
"Hayo Dimas, kita makan sama-sama," Surti me-nawarkan bekal itu setelah
membukanya. "Kakak sajalah, aku belum lapar," tolak Dimas seraya duduk menghadapi kakaknya.
Ketika Dimas tengah memperhatikan kakaknya yang sedang makan, mendadak muncul
lima orang laki-laki bertubuh kekar dengan wajah seram, dan segera mendekati
mereka. Kelimanya menyandang senjata di pinggang masing-masing senjata berbentuk
golok besar dan bergagang hitam pekat
Seketika Surti langsung menghentikan makannya dan segera bangkit menarik tangan
adiknya. Lima orang asing di hadapan mereka itu tertawa terkekeh-kekeh. Sinar
matanya liar memandangi wajah dan tubuh Surti. Perlahan-lahan kelimanya
melangkah semakin dekat
Tiba-tiba saiah seorang meloncat, dan mencekal
tangan Surti. Gadis itu kontan menjerit dan meronta berusaha melepaskan diri.
Dimas, bocah tanggung yang baru berusia sepuluh tahun itu, segera menyadari
kalau mereka terancam bahaya. Kedua tangannya langsung men-cengkeram dan menarik
tangan kasar yang mencekal tangan kakaknya.
"Setan!" geram laki-laki itu.
Kaki kanannya menyepak lambung Dimas, sehingga
tubuh bocah itu terlempar ke samping.
"Akh, jangan...!" jerit Surti begitu rubuhnya tertarik dan mukanya membentur
dada orang yang mencekal tangannya. Orang itu seperb sengaja melepaskan
cekalannya dan Surti langsung berlari mendekati adiknya. Namun sebentar kemudian
pundaknya kembali dicekal keras sehingga tubuh Surti pun tersentak ke belakang
Dan sebelum tubuhnya jatuh terjengkang, sepasang tangan kekar telah memeluknya.
Surti menjerit-jerit melepaskan diri, namun pelukan laki laki itu terlalu kuat
dia rasakan. "He... he... he..., diamlah Cah Ayu," orang itu terkekeh.
Bret! "Auh!" Surti memekik kaget, wajahnya jelas menampakkan kengerian
Orang itu membuka bajunya dengan kasar. Tubuh yang terbalut kain kuning halus
itu pun terbuka lebar. Lima orang lelaki itu serempak tertawa penuh nafsu,
melihat tubuh indah berlarian berusaha menyelamatkan diri.
Langkah kaki Surti terhenti begitu salah seorang dari mereka melompat
menghadangnya. "He... he... he...!"
"Akh..., jangan! Aku mohon, jangan...," rintih Surti memelas.
"Kemarilah, anak manis. He... he... he..., kau cantik dan menggairahkan."
"Tidak...."
Nasib Surti benar-benar seperti mainan, dirinya di dorong dan dioperkan ke sana
kemari bagai bola. Pakaiannya sudah tak karuan lagi robek di sana-sini. Beberapa
bagian tubuhnya tersembul ke luar, membuat mata jalang lima laki laki itu
semakin liar dan buas.
Surti menjerit-jerit, meronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman salah
seorang yang memeluknya dan belakang. Belum lagi gadis itu melepaskan diri,
salah seorang lainnya sudah menarik tangannya. Tubuh Surti sempoyongan, dan
jatuh terguling ke tanah. Gadis itu memekik keras begitu salah seorang lagi
menindih tubuhnya. "Ehhh..., lepaskan! Jangaan..!" teriak Surti merintih.
Tenaga Surti tak bisa menandingj laki laki kekar dan kasar itu. Surti sudah
tidak berdaya lagi. Laki laki itu semakin liar, sia-sia saja dia meronta dan
mencakar. Laki laki itu menarik kasar sisa kain yang dipakainya.
"Akh!" Surti memekik kaget.
"He... he... he...!" lima orang laki-laki berandal itu tertawa liar.
Mereka segera mendekati Surti yang terus meronta-ronta di bawah himpitan salah
seorang dari mereka. Surti sudah tak punya kekuatan lagi. Kedua tangannya dipegangi. Tubuhnya sudah polos tanpa selembar kain pun.
Air matanya mengalir deras menangisi nasibnya. Dia hanya bisa merintih dan
memohon, namun semuanya sia-sia belaka.
"Aaakh...!" Surti menjerit keras begitu merasakan sesuatu yang belum pernah dia
rasakan sebelumnya.
Mata gadis itu terpejam, tak sanggup lagi menyaksikan wajah-wajah kasar yang
tersenyum menyeringai di atas tubuhnya. Belum lagi dia menarik napas lega
setelah laki laki yang berada di atasnya bangkit, tubuhnya kembali ditindih oleh
seorang lainnya. Kembali Surti menjerit keras, lalu pingsan tak tahan lagi
menerima cobaan yang bertubi-tubi itu. Tubuhnya yang sudah tergolek pingsan pun
kembali digilir oleh tiga orang berikutnya.
"Tidaaak...!" Dimas menjerit keras.
Tubuh anak muda itu jatuh lemas memeluk gundukan tanah di depannya. Air matanya
jatuh bergulir di pipi, tak sanggup lagi dia membayangkan peristiwa keji yang
memmpa kakaknya lima belas tahun silam. Lima orang yang kerasukan iblis
memperkosa kakak perempuannya secara bergiliran, dan membunuhnya setelah puas.
"Akan kucari mereka, akan kubunuh mereka semua.
Percayalah, Kak. Aku akan membalaskan sakit hatimu!"
geram Dimas. Kedua telapak tangannya saling terkatup mengepal.
Pelahan-lahan Dimas bangkit, dan menyeka air matanya. Lalu kembali dia menatap
pusara Surti, dan menarik napas panjang dan berat
"Mereka harus mati! Mati...!" teriak Dimas keras, penuh dendam.
Suara teriakan yang keras itu menggema, terpantul oleh pepohonan dan bukit-bukit
batu. Teriakannya yang disertai tenaga dalam itu membuat alam sekitarnya seolah
bergetar ikut merasakan getaran hatinya yang penuh bara dendam.
"Aku bersumpah, mereka harus mati di tanganku!"
*** Sementara itu di sebuah perkampungan kecil di antara perbukitan, seorang gadis
bertubuh sintal dan berkulit hitam manls, tengah duduk merenung di atas dipan
kayu di teras rumahnya Wajahnya murung dan pandangan matanya tampak kosong.
Bibimya yang mungil dan tipis kemerahan, terkatup rapat
"Wulan...," terdengar suara lembut memanggil.
Gadis itu menoleh, pandangannya langsung tertuju pada perempuan tua yang berdiri
di ambang pintu. Tapi bibir mungil indah itu tak menjawab sedikit pun, dia
kembali menatap kosong ke depan. Perempuan tua yang tak lain ibu si gadis itu
melangkah mendekati, dan duduk di samping anaknya. Jari-jari tangan tuanya yang
kurus dan berkenput membelai-belai rambut Wulan.
"Kenapa Ayah menerima pinangan tua bangka itu, Bu?"
pelan dan lirih suara Wulan bertanya.
"Ayahmu tidak bisa berbuat a pa-apa anakku."
"Orang itu sudah punya banyak istri, Bu! Lagi pula aku tidak pantas jadi
istrinya. Dia terlalu tua, lebih tua dari Ayah!"
"Kau harus mengerti, Wulan. Tidak seorang pun yang bisa menolak keinginan Gusti
Wira Perakin. Apa kau rela melihat Ayahmu mati di tiang gantungan" Sementara kau
sendiri...," perempuan tua itu tak bisa lagi membayangkan dan meneruskan kata
katanya Wulan terdiam mematung. Dia hanya menoleh pada
ibunya sesaat, lalu menatap kembali jauh ke depan.
Sementara itu langit mendung, awan tebal menghitam seolah turut merasakan hati
gadis yang tengah diliputi kegalauan itu. Nyi Sukirah menepuk lembut bahu
anaknya. dan mengajaknya masuk ke dalam begitu dia menyadari akan turun hujan.
Keduanya duduk berdampingan di balai-balai bambu di dalam ruangan depan rumahnya
Di sudut balai-balai bambu itu tergeletak sekotak kayu berukir indah. Wulan
memandangi benda itu dengan perasaan yang dipahami benar oleh ibunya. Sekotak
kayu yang berisi perhiasan emas! Tanda ikatan pinangan yang jumlahnya baru
sekali ini dia lihat selama hidupnya!
Wulan tak sanggup membayangkan, bagaimana
perasaan kekasihnya bila mengetahui dirinya telah dipinang lelaki tua bangka,
yang lebih pantas menjadi ayahnya daripada menjadi suaminya. Laki laki yang berkuasa dan amat ditakuti oleh seluruh penduduk desa ini.
Tidak ada seorang pun yang berani menentangnya! Ya..., tidak seorang pun!
"Hhh...!" Wulan mendesah panjang. Nadanya gusar.
"Pulangkan saja tanda ikatan pinangan itu, Bu!"
"Wulan...!" Nyi Sukirah tersentak kaget
"Aku tidak mau, Bu. Aku tidak bisa mengkhianati Kang Dimas. Aku sudah berjanji
akan setia sampai menunggu Kang Dimas kembali. Kembalkan saja tanda ikatan
pinangan itu, Bu," Wulan merajuk.
"Wulan..., kau tahu apa akibatnya menolak pinangan Gusti Wira Perakin" Tidak,
Nak! Jangan bawa orang tuamu ke tiang gantungan! Aku mohon, jangan," Nyi Sukirah
tak bisa lagi membendung air matanya. Dia memeluk bahu putrinya.
"Kita bisa meninggalkan desa ini, Bu. Di sini kita juga tidak mempunyai apa-apa.
Semuanya dikuasai si Tua Bangka itu. Seumur hidup kita dililit hutang yang
semakin membengkak!" makin meninggi suara Wulan.
"Gusti Wira Perakin akan membebaskan semua hutang-hutang ayahmu, Wulan. Bahkan
dia akan menyerahkan kembali tanah milik ayahmu. Dia akan menjamin
kehidupan kita," bujuk Nyi Sukirah. "Berbaktilah pada orang tuamu, Wulan."
"Tidak, Bu! Diriku bukan untuk dijual!" tegas Wulan.
"Wulan...!" Nyi Sukirah tak mampu lagi bersuara.
Wulan bangkit berdiri, lalu dia mengambil kotak kayu yang ada di sudut balaibalai bambu itu. Dia tercenung sebentar, lalu berbalik dan duduk kembali di
samping ibunya. Tangannya terulur ke depan menyerahkan kotak perhiasan itu
kepada orang tuanya. Nyi Sukirah hanya menatap kosong. Menahan kegetiran
hatinya. "Kalau Ibu atau Ayah tidak mau mengembalikan perhiasan ini, biar aku yang
mengembalikan sendiri," kata Wulan tegas.
"Wulan...!"
Wulan meletakkan kotak perhiasan itu di pangkuan ibunya, kemudian dia melangkah
mendekati jendela yang masih terbuka lebar. Nyi Sukirah tak tahu lagi apa yang
mesti dia perbuat Dia bangkit dan melangkah masuk ke kamarnya membawa kotak
perhiasan itu. Pintu kamar berderit pelan, lalu tertutup rapat
"Maafkan aku, Ibu..., Ayah," bisik Wulan lirih.
"Tidak mungkin!" dengus Ki Sukirah kencang.
Laki laki tua yang rambutnya telah memutih itu, menatap kotak kayu berukir di
tangan istrinya. Kepalanya tergeleng-geleng seakan tidak percaya kalau Wulan
menolak pinangan yang sudah diterimanya.
"Wulaaan...!" panggil Ki Sukirah keras.
"Pak...," Nyi Sukirah gemetaran melihat suaminya begitu marah.
Pintu kamar terkuak pelahan lahan, dan dari balik pintu itu muncul gadis ayu
berwajah sendu. Sejenak dia memandang kedua orang tuanya yang duduk di tepi
pembaringan. Pelahan lahan sekali dia melangkah mendekati.
"Duduk!" perintah Ki Sukirah.
Bibir Wulan tak menjawab sedikit pun. Dia duduk di samping ayahnya dengan kepala
tertunduk dalam-dalam.
Tidak berani memandang wajah lelah tua di hadapannya.
Gadis itu menyadari benar apa yang tengah berkecamuk di dada orang tuanya.
"Apa maksudmu mengembalikan tanda pinangan ini, Wulan?" tanya Ki Sukirah mencoba
menahan amarahnya.
"Membatalkan pinangan itu, Ayah," sahut Wulan lirih.
"Dan kau tahu, apa akibatnya?"
Wulan mengangguk pasti. Keberaniannya untuk menentang ayahnya mendadak bangkit. Tatapan matanya langsung ke bola mata ayahnya
yang memerah. Ki Sukirah menatap tajam anak gadisnya ini. Dia sangat heran melihat begitu
tegarnya Wulan!
"Pikirkan kembali matang-matang, Wulan. Ayah dan ibumu hanya orang kecil, tak
punya kekuatan apa-apa,"
pelan suara Nyi Sukirah mencoba menengahi.
"Gusti Wira Perakin sudah membawakan tanda lamarannya, Wulan. Aku sudah
menerimanya. Tidak mungkin aku mengembalikannya lagi. Kau tahu itu, Wulan,"
sambung Ki Sukirah. Amarahnya tampak mulai surut Sejenak suasana di kamar itu
hening sesaat "Aku sudah menyatakan tadi, kalau Ayah dan Ibu tidak mau
mengembalikan, biar aku sendiri yang mengembalikannya,"
pelan dan mantap suara Wulan.
"Wulan! Kau sadar mengatakan itu!" sentak Ki Sukirah.
"Aku sadar, Ayah! Justru aku sadar makanya kutolak pinangan si Tua Bangka itu!"
Ki Sukirah terdiam dan menatap anak gadisnya dengan gusar.
"Aku yakin, di dalam hati Ibu maupun Ayah tentu tidak menerimanya. Jujur saja
Ayah, aku ingin bertanya apakah Ayah senang?"
Ki Sukirah dan istrinya terhenyak. Kata-kata anak gadisnya menghunjam tepat
dalam hati dan perasaan mereka yang paling dalam. Mereka mengakui kebenaran
ucapan anaknya, dan tak mungkin lagi mereka bersitegang mempertahankan
pendiriannya, yang hanya didasari rasa ketakutan mereka pada kekejaman Wira
Perakin dan orang-orangnya. Suasana di dalam kamar itu tercekam kebisuan
sepeninggal Wulan yang telah melangkahkan kakinya ke luar.
2 Matahari belum lagi condong ke Barat, ketika utusan Wira Perakin itu tiba.
Rombongan itu terdiri dari delapan orang, dan dipimpin oleh Jaran Kedung. Wajahwajah mereka tampak kasar dan bengis.
Ki Sukirah menyambut mereka dengan tergopoh gopoh.
Tubuhnya terbungkuk-bungkuk merendahkan dari. Sedangkan Nyi Sukirah hanya
memandangjnya dari ambang pintu.
Wajah perempuan itu jelas memancarkan ketakutan yang teramat sangat. Kedatangan
delapan orang berkuda itu menunjukkan Wira Perakin tidak main-main dengan
niatnya mengambil Wulan. Dan kedatangan mereka pastilah karena penguasa desa itu
menginginkan ketetapan waktu pelaksanaannya
"Oh, silakan. Silakan Tuan-tuan ke dalam," sambut Ki Sukirah membungkuk hormat
"Hm...," Jaran Kedung mendengus sombong.
Laki-laki bertubuh tinggj kekar itu mdompat turun dari punggung kuda, dan
ketujuh orang lainnya pun mengikutinya. Jaran Kedung melangkah tegap mengikuti
Ki Sukirah yang berjalan mendahuluinya. Sementara Nyi Sukirah sudah menghilang
dari ambang pintu.
Hanya dua orang yang mengjkuti Jaran Kedung masuk ke dalam rumah. Ki Sukirah
duduk bersila didampingi istrinya. Sementara kebga orang utusan Wira Perakin itu
duduk di kursi. Berbeda dengan istrinya yang tampak begitu cemas, Ki Sukirah
seolah siap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Ucapan dan sikap Wulan telah
menyadarkan dirinya untuk tidak menyerah begitu saja pada nasib yang akan
menimpanya. "Aku datang atas perintah Gusti Wira Perakin. Beliau menginginkan perkawinannya
dengan putrimu dipercepat,"
kata Jaran Kedung membuka suaranya lebih dulu.
Ki Sukirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan istrinya semakin mengkeret
ketakutan. Nyi Sukirah gelisah dan duduk dengan sikap yang serba salah. Tatapan
matanya tak lepas dari lantai di seputar dia duduk, tak berani dia menatap tamutamu yang tidak diharapkan kedatangannya ini
"Kau harus memutuskan sekarang juga, kapan perkawinan itu akan dilaksanakan!"
sambung Jaran Kedung.


Pendekar Rajawali Sakti 10 Pengantin Berdarah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Maaf, Gusti Jaran Kedung. Bukannya aku tidak meng-hormati. Gusti Wira Perakin.
Tapi aku gagal membujuk anakku," sahut Ki Sukirah pelahan.
"Ki Sukirah!" sentak Jaran Kedung keras. Urat-urat matanya berkerut dengan
tatapan yang tajam.
"Sekali lagi, aku mohon maaf. Anakku telah punya calon piihannya sendiri,
dan...." "Phuih!" dengus Jaran Kedung memotong ucapan lelaki tua itu. Dia berdiri
bertolak pinggang mendekati Ki Sukirah dan istrinya. "Aku tidak peduli anakmu
mau atau tidak!
Tujuh hari lagi kau harus menyerahkan anakmu! Aku yang akan menjemputnya!"
"Tapi, Gusti...."
"Tidak ada alasan! Gusti Wira Perakin telah menyiapkan pesta perkawinannya
dengan anakmu, dan Gusti-ku telah mengundang kerabat kerabatnya'"
Jaran Kedung langsung melangkah keluar diikuti dua orang pengawalnya. Ki Sukirah
tergopoh-gopoh beranjak ke luar membawa kotak kayu berisi perhiasan tanda
pinangan Wira Perakin pada putrinya.
"Gusti...." panggil Ki Sukirah.
Langkah Jaran Kedung tertahan. Tubuhnya urung
meloncat ke atas punggung kudanya. Dia membalikkan wajahnya memandang Ki Sukirah
yang menghampirinya.
"Aku mengembalikan ini pada Gusti Wira Perakin," kata Ki Sukirah menyodorkan
kotak kayu berukir itu.
Jarang Kedung mendelik geram Dia membalikkan
tubuhnya dan segera merampas kotak kayu itu dari tangan lelaki tua yang ada di
hadapannya. Kemudian dia mengegoskan kepalanya sedikit sebelum naik ke punggung
kudanya. Dua orang bertubuh kekar yang tadi mengikutinya langsung mendekati Ki
Sukirah. Sret! Hampir bersamaan dua orang itu mcncabut goloknya yang terselip di pinggang. Ki
Sukirah terkejut, dia melangkah mundur dengan tubuh agak gemetar. Dua buah golok
itu berkilatan tertimpa sinar matahari. Pelahan-lahan dua orang itu menghampiri
Ki Sukirah yang terus melangkah mundur. Tubuh lelaki tua itu mulai basah oleh
keringat "Orang tua bodoh! Mau dikasih enak, malah minta penyakit!" dengus salah seorang.
Ki Sukirah tersentak begitu salah seorang lainnya melompat sambil mengibaskan
goloknya. Ki Sukirah berkelit sedikit. Ilmu olah kanuragan yang pernah sedikit
dipelajarinya kini tidak percuma. Tebasan golok itu hanya menyambar angin.
Bahkan tanpa diduga sama sekali, kaki kanan Ki Sukirah melayang cepat menghantam
bagian perut penyerangnya.
"Hugh!" orang itu mengeluh pendek.
Orang bertubuh tinggi besar itu melangkah mundur dua bndak, bibimya menyeringai
dan matanya menatap tajam Ki Sukirah.
"Minggir...!" mendadak Jaran Kedung melompat cepat dan punggung kudanya.
Tangannya memutar mutar tambang di samping
kanannya. Sepasang kakinya bergerak menyusur tanah mengitari Ki Sukirah, dan
tujuh orang lainnya segera berlompatan mengurung tubuh lelaki tua itu.
Wuuut..! Jaran Kedung mengebutkan tambangnya. Ki Sukirah segera berkelit menghindari
ujung tambang. Namun tambang itu bagai bermata, ujungnya meliuk liuk mengikub ke
mana lelaki tua itu berkelit menghindar.
Ki Sukirah memang bukan tandingan Jaran Kedung.
Dalam beberapa gebrakan saja, tambang itu berhasil membelit pergelangan
tangannya. Ki Sukirah kuat tenaga berusaha melepaskan belitan itu, namun ujung
tambang satunya segera menyambar pergelangan tangan kinnya Jaran Kedung membetot
keras, dan tubuh Ki Sukirah tersentak jatuh bergulingan di tanah.
"Hiyaaa...!" Jaran Kedung berteriak kencang.
Bersamaan dengan itu, tubuhnya berlompatan
mengitari tubuh Ki Sukirah yang bergulingan di tanah.
Tambang di tangan Jarang Kedung membelit kedua ngan lelaki tua itu. Gerakan
tubuh Jaran Kedung lalu terhenti.
Dia berdiri tegak memegangi satu ujung tambang. Matanya tajam menatap Ki Sukirah
yang telentang di tanah dengan kedua tangan terikat.
"Seret orang ini!" perintah Jaran Kedung. Dia melemparkan tambang yang
dipegangnya pada salah seorang yang terdekat.
Orang yang menangkap tambang Itu segera melompat ke punggung kuda. K Sukirah
ikut tersentak ketika kuda digebah dengan kencang. Tapi tiba-tiba.
Tasss! *** Tambang yang mengikat kedua tangan Ki Sukirah itu
terputus. Dan bersamaan dengan itu pula sebuah
bayangan putih berkelebat cepat menyambar Ki Sukirah, langsung dibawanya tubuh
laki-laki itu ke beranda rumah.
Beberapa saat Jaran Kedung dan orang-orangnya hanya bisa terperangah kaget
Nyi Sukirah menghambur ke luar, menubruk tubuh
suaminya. Di belakang perempuan itu, berdiri seorang gadis ayu berbaju biru muda
dengan isak tangi tertahan.
"Ayah...," isak Wulan langsung berlutut Wulan mendongakkan kepalanya memandangi
pemuda tampan berbaju rompi putih yang tengah berdiri di dekat ayahnya yang terbaring
Di punggungnya tersandang pedang bergagang kepala burung. Sinar matanya tajam
tapi menyiratkan kearifan.
Pemuda yang tak lain Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti itu tak lama beradu
pandang dengan anak gadis Ki Sukirah. Dia lalu membalikkan badannya dan menatap
tajam Jaran Kedung dan orang-orangnya. Kedelapan orang itu sudah menghunus
pedangnya masing-masing. Tampak Jarang Kedung menggeram menahan amarah.
"Siapa kau, berani mencampuri urusanku"!" Jaran Kedung menyentak.
"Kau tak perlu tahu siapa aku," sahut Rangga dingin.
"Gembel busuk! Buka matamu lebar lebar dengan siapa kini kau berhadapan?"
"Aku tahu, kau adalah orang yang tak pantas hidup di dunia."
"Setan belang! Bunuh gembel busuk itu!" teriak Jaran Kedung gusar.
Serentak tujuh orang anak buahnya berlompatan
mengurung Rangga. Pendekar Rajawali Sakti itu tampak tenang menghadapi musuh
musuhnya dia hanya melompat ringan menjauhi beranda. Kedua matanya tajam
merayapi tujuh orang yang bergerak memutari sambil membuka jurus-jurusnya
"Seraaang...!" perintah Jaran Kedung keras.
Serentak ketujuh orang bersenjata pedang itu
menerjang Rangga. Sinar keperakan dari pedang itu berkelebat cepat menyambar dan
memburu tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu dari setiap sudut. Rangga dengan manis
dan lincah menghindari setiap serangan yang datangnya beruntun.
"Huh! Mereka tidak boleh dibiarkan keenakan me-nyerangku!" dengus Rangga dalam
hati. Rangga langsung mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali.' Seketika itu
juga tangannya menjadi merah bagai terbakar. Sambil berteriak nyaring, dia
menerjang sambil melontarkan pukulan mautnya. Dua orang dari ketujuh
pengepungnya itu langsung menjerit keras begitu terhantam pukulan maut yang
dilepaskan Rangga.
Dua orang itu langsung menggelepar dengan dada
melesak ke dalam. Dari mulut dan hidungnya mengucur darah segar. Kelima orang
lainnya, tak terkecuali Jaran Kedung, terperangah takjub menyaksikan pukulan
itu. Belum hilang perhaban mereka dari kejadian itu, mendadak Rangga bergerak cepat
seraya melontarkan
beberapa pukulan.
Jeritan dan erangan panjang terdengar saling sahut menyahut Tubuh tubuh itu
menggelepar tak berdaya lalu satu per satu nyawa mereka melayang dari badan.
Jaran Kedung yang menyaksikannya melompat mundur beberapa langkah. Rangga
berdiri tegak memandangi dengan sorot mata yang tajam bagai burung rajawali
"Sekarang giliranmu, lblis!" geram Rangga.
"Phuih!" Jaran Kedung menyemburkan ludahnya.
Perlahan-lahan Rangga mendekati, kedua tangannya yang berwarna merah menyala
terkepal erat "Hiyaaa...!" teriakan Rangga terdengar melengking tinggi
Bersamaan dengan itu, kedua tangannya menghentak ke depan, sinar merah meluncur
deras ke arah Jaran Kedung. Anak buah Wira Perakin itu menghindar dengan cepat,
hingga sinar merah itu melesat mengenai sebuah pohon besar di belakang Jaran
Kedung. Ledakan keras begitu jelas terdengar memekakkan telinga, lalu disusul
robohnya pohon besar itu. Jaran Kedung terpana menyaksikan pohon besar itu
hancur berkeping keping, nyalinya pun mulai surut
Belum lagi hilang rasa kagetnya, mendadak Rangga sudah melontarkan lagi pukulan
jarak jauhnya. Jaran Kedung cepat menyadari keadaan, dia berlompatan menghindari
pukulan yang mulai datang bertubi-tubi.
"Gila! Aku tak mungkin bisa menandingi orang ini,"
dengus Jaran Kedung dalam hati.
Tepat ketika Rangga melesat hendak menerjangnya, Jarang Kedung langsung melompat
dan menggebah punggung kudanya. Rangga berdiri tegak memandangi kepergian Jarang Kedung yang
sudah hilang keberaniannya itu, dan tidak berniat mengejarnya.
Pendekar Rajawali Sakb itu menoleh ketika mendengar suara langkah langkah kaki
menghampiri dari belakang.
Tampak Ki Sukirah bersama istri dan anaknya berlarian menghampiri. Mereka
berhenti di depan pendekar muda itu. Sejenak Rangga memandang dua orang yang
membungkuk memberi hormat padanya, lalu tatapannya beralih pada seorang gadis
ayu yang hanya berdiri tegak me-mandangnya dengan sinar mata yang aneh.
"Terima kasih, Tuan Pendekar," ucap Ki Sukirah.
"Tapi, sebaiknya kau cepat tinggalkan desa ini,"
sambung Wulan. "Wulan...!" sentak Nyi Sukirah tertahan.
"Tua bangka itu pasti marah. Lebih-lebih tujuh orangnya mati di sini," kata
Wulan lagi. "Sebenarnya apa yang terjadi di sini! Maksudku, kenapa Bapak sampai disiksa
mereka?" Rangga bertanya sopan. Bibirnya menyunggingkan senyuman ramah.
"Ini adalah persoalan pribadi, dan kau tidak perlu ikut campur. Terima kasih
atas pertolonganmu!" Wulan yang menyahut, nada suaranya terdengar ketus dan tak
senang. Rangga mengernyitkan keningnya. Matanya agak
menyipit memandang gadis manis di depannya. Sungguh baru kali ini dia menemui
sikap seorang gadis yang seperti itu, sikap yang tak ramah bahkan menjurus
kasar. Rangga menarik napas panjang, wajahnya pun kembali menyiratkan keramahan
"Baiklah, maafkan kalau aku telah mencampuri urusan kalian, aku permisi."
Rangga berbalik dan segera melangkah pergi. Dalam sekejap saja tubuh pendekar
muda itu lenyap di balik pepohonan. Ki Sukirah dan istrinya memandangi ke arah
mana tubuh anak muda yang telah menolongnya itu berlalu. Lalu hampir berbarengan
keduanya menoleh ke arah Wulan. Sinar mata mereka menunjukkan kedongkolan karena
merasa malu atas sikap anak gadisnya.
"Keterlaluan kau, Wulan!" bentak Ki Sukirah tertahan.
"Aku tidak percaya dia orang baik-baik. Ayah. Bisa saja dia pura-pura menolong,
tapi menyimpan maksud tertentu yang kita tidak tahu," sahut Wulan mempertahankan
sikapnya. "Tapi tidak seharusnya kau bersikap begitu, dia sudah mempertaruhkan
nyawanya untuk membela ayahmu,"
tandas Nyi Sukirah.
"Kalau hanya menghadapi begundal-begundal Itu, aku rasa Kakang Dimas juga bisa.
Bahkan si Wira Perakin itu tak akan mampu menghadapi Kang Dimas!" ada nada
kebanggaan pada suara Wulan.
"Ah! Sudahlah, Wulan. Kau terlalu berharap dia pulang.
Dimas tidak akan kembali lagi ke sini, dia tengah pergi menuntut balas pada
nasib kakaknya yang diperkosa dan dibunuh oleh orang-orang yang dia sendiri
tidak tahu ke mana harus mencarinya," kata Ki Sukirah menenangkan gejolak hati
anak gadisnya. Wulan memberengut kesal, laki berbalik dan berlari masuk ke dalam rumah. Ucapan
ayahnya telah mematah-kan harapannya akan kedatangan Dimas, lelaki muda dan
gagah tambatan hatinya. Ki Sukirah menggeleng-gelengkan kepalanya pelahan, dia
menyadari benar kalau anak gadisnya telah terpikat daya asmara, suatu daya yang
membuat dia dan istnnya dalam keadaan sulit, yaitu ancaman dari Wira Perakin dan
kaki tangannya.
Suami istri itu beberapa saat lamanya hanya diam terpaku. Sinar matahari yang
panas menyengat seolah menyadarkan mereka, bahwa masih banyak yang harus mereka
kerjakan, termasuk mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan di hadapan mereka.
*** Brak! Satu kepalan tangan menggebrak meja dengan keras.
Bola mata Wira Perakin merah menatap Jaran Kedung yang berdiri tertunduk di
depannya. Belum pemah ada orang yang berani menentangnya. Belum ada seorang
gadis pun yang menolak pinangannya! Dan laporan Jaran Kedung akan penolakan anak
gadis Ki Sukirah benar-benar membuatnya murka!
"Seharusnya kau tidak perlu kembali, Jaran Kedung.
Aku lebih suka melihatmu mati bersama yang lain!" dingin dan datar suara Wira
Perakin. "Ampun, Gusti. Orang itu amat sakti, hamba tidak sanggup menandinginya," sahut
Jaran Kedung bergetar.
"Siapa dia?"
"Orangnya masih muda, Gusti Ada pedang bergagang kepala burung di punggungnya.
Rambutnya panjang terikat, dan berbaju rompi putih. Rasanya hamba belum pernah
bertemu dia sebelumnya, Gusti."
Wira Perakin memandang laki laki tua berbaju merah yang duduk di samping
kanannya, seorang laki-laki tua dengan ramburnya yang memutih dan di tangan
kanannya tergenggam tongkat hitam berkepala bundar. Tampak bulatan hijau
bercahaya di kepala tongkat itu. Raut wajah orang itu menampakkan kekalutan dan
juga kebengisan.
"Demung Pari, kau cari anak muda itu. Bawa kepalanya ke sini," perintah Wira
Perakin. "Hamba laksanakan, Gusti," jawab laki-laki berbaju merah yang dipanggil Demung
Pari itu. Dia segera bangkit berdiri dan membungkuk hormat
Demung Pari menatap Jaran Kedung yang tetap berdiri menundukkan kepala. Kemudian
dia memandang dua
orang lainnya yang berdiri di belakang Jaran Kedung.
"Kalian bertiga ikut aku!" kata Demung Pari.
Ketiga orang itu membungkuk memberi hormat, lalu bergegas mengikuti langkah
Demung Pari. Wira Perakin menjatuhkan tubuhnya di kursi sepeninggal mereka.
Matanya memandangi empat orang yang masih terduduk di kursi.
"Kebo Rimang," panggil Wira Perakin.
"Hamba Gusti," sahut laki-laki bertubuh tinggi besar.
Wajahnya penuh berewok kasar dengan sebelah matanya terdapat luka gores
memanjang hingga ke pipi. Kakinya terbungkus celana hitam sebatas lutut Dadanya
yang terbuka lebar, memamerkan bulu-bulu kasar yang hitam pekat
"Kau pergi ke rumah Ki Sukirah! Bawa orang tua itu ke sini. Ingat! Jangan sakiti
dia dan bawa dengan cara baik-baik," perintah Wira Perakin lagi.
"Baik, Gusti," sahut Kebo Rimang seraya bangkit berdiri.
"Bawa beberapa orang, sediakan kuda untuk Ki Sukirah."
Wira Perakin menarik napas panjang, kemudian
bangkit berdiri. Kakinya terayun ringan mendekati pintu depan. Rasa cemas dan
dongkol berbaur jadi satu di benaknya. Hal itu tersirat pada wajahnya yang
berkerut tegang.
*** 3 Sinar rembulan di keheningan malam yang menyelimuti alam tampak begitu indah dan
mengundang sejuta pesona.
Namun sayang, rembulan yang bersinar penuh itu tak mampu lagi mengundang minat
penduduk desa itu untuk menikmatinya Mereka telah berangkat dan berlabuh di alam
mimpi, kecuali seorang pemuda tampan yang berdiri menatap ke luar dari jendela
kamar penginapannya yang terbuka lebar.
Dengan matanya yang bersinar bening, pemuda itu memandang wajah sang rembulan
yang memancarkan
sinar keemasan. Sesekali terdengar desahan napasnya yang terdengar panjang dan
berat "Sejak tadi kau berdiri di situ. Ada yang mengganggu pikiranmu, Kakang?" suara
Pandan Wangi yang lembut memecah kesunyian kamar penginapan itu.
Pemuda tersebut membalikkan tubuhnya membelakangi jendela, seulas senyum bermain di bibimya.
Matanya memandang Pandan Wangi yang tergolek di pembaringan. Rambut hitam lebat


Pendekar Rajawali Sakti 10 Pengantin Berdarah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

panjang, terurai indah menambah pesona yang telah dimiliki gadis itu. Pandan
Wangi membalas senyuman itu, dan sinar matanya
menampakkan kehangatan. Kebersamaan yang selalu dilaluinya, membuat gadis itu
tak lagi merasa malu dan kikuk berduaan di kamar bersama pemuda tampan yang tak
Iain adalah Rangga. Dia merasa tak memiliki jarak lagi dengan lelaki tersebut.
Dia juga tak akan menolak jika Rangga mencumbunya. Namun setiap kali perasaan
itu bergejolak dan menggoda di dadanya setiap kali itu pula dia harus menelan
kekecewaannya. Rangga seolah tak punya
keinginan sedikit pun untuk melakukannya.
Pandan Wangi menggerakkan tubuhnya. Gerakan
tubuh yang gemulai itu sedikit membuat jantung Rangga berdetak kencang. Pandan
Wangi seperti sengaja berbaring miring, hingga lekuk pinggulnya begitu indah
dipandang mata. Seperti sengaja pula, gadis itu membiarkan bagian belahan baju
di dadanya sedikit terbuka.
Buah dadanya yang mengembung mengintip ke luar
mengundang gairah.
"Kalau sudah mengantuk, tidur saja," kata Rangga mencoba mengalihkan
perasaannya. "Kau tidak tidur, Kakang?" lembut suara Pandan Wangi
"Tidak," Rangga menjawab pelahan.
Pendekar Rajawali Sakti itu membalikkan tubuhnya, kembali menatap ke luar.
"Sejak kembali siang tadi, kau kelihatan berubah. Aku yakin ada sesuatu yang kau
pikirkan," kata Pandan Wangi seraya beringsut. Dia duduk memeluk lututnya di
tepi pembaringan.
"Kau yakin?" tanya Rangga sambil membalikkan badannya kembali
"Apa aku harus menebak?"
Rangga mengangkat bahunya, dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap jendela.
Kedua tangannya ber-topang pada kayu jendela yang terbuka. Apa yang tersirat di
hatinya adalah mengakui kebenaran dugaan Pandan Wangi.
Peristiwa yang dialami Ki Sukirah masih membekas dan membayang di hatinya, belum
lagi sikap anak gadisnya yang ketus dan seperti tak menganggap apa yang telah
dia lakukan untuk ayahnya.
Dan semua yang mengganggu pikirannya, diperhatikan benar oleh Pandan Wangi.
Gadis itu mempunyai naluri dan perasaan yang tajam. Kebersamaan telah membuahkan
perasaan seperti itu di antara mereka.
"Sore tadi aku mendengar ada beberapa orang mencarimu, Mereka memang tidak
menyebutkan namamu, tapi dari ciri-ciri yang mereka katakan, aku yakin, Kakanglah yang telah mereka cari!" kata Pandan Wangi.
"Berapa orang?" tanya Rangga tetap memandang ke luar lewat jendela.
"Banyak juga, ada sekitar sepuluh orang."
Gadis itu bangkit dan menghampiri Rangga. Dia berdiri di samping Pendekar
Rajawali Sakti itu. Pandangannya juga mengarah ke luar yang diliputi sinar
rembulan yang tampak mulai redup. Sunyi, tak terlihat seorang pun di luar sana.
Hanya pelita kecil saja yang kelihatan berkelap-kelip dari rumah-rumah di
sekitar penginapan ini.
Kesunyian malam itu mendadak terpecah oleh suara derap langkah kaki kuda. Dan
tempat Rangga dan Pandan Wangi berdiri, terlihat jelas serombongan orang berkuda
seperti mengontrol dan mengawasi keadaan di sekitarnya Rombongan orang berkuda
itu berhenti tepat di depan penginapan. Terlihat oleh dua pendekar muda itu,
salah seorang dari mereka melompat turun dari punggung kudanya. Laki-laki tua
yang berbaju merah itu melangkah masuk ke penginapan. Sementara yang lainnya
menunggui di atas punggung kudanya masing masing. Beberapa saat lamanya suasana
di luar penginapan itu hening. Rangga terus memperhatikannya hingga lelaki itu
ke luar lagi diringi pemilik penginapan.
"Ayo, kita kembali. Anak setan itu tidak ada di sini!"
kata laki-laki tua berbaju merah yang tak lain Demung Pari.
"Ingat, Ki Parung. Kalau kau melihat orang yang telah ku-sebutkan ciri-cirinya
tadi, cepat kau beritahu aku, mengerti"!"
"Hamba pasti akan melaporkannya, Gusti," sahut Ki Parung, pemilik rumah
penginapan itu.
Demung Pari melompat ringan ke atas punggung kudanya. Rombongan yang berjumlah
sepuluh orang itu segera menggebah kudanya meninggalkan Ki Parung yang masih
berdiri memandang kepergian mereka.
"Mereka mencarimu, Kakang," kata Pandan Wangi yang sejak tadi turut
memperhatikan. "Hm...," Rangga hanya bergumam pendek.
Dalam keremangan cahaya rembulan, Rangga masih
bisa mengenali kalau salah seorang di antara mereka adalah orang yang sempat
bentrok dengannya, setelah gagal menganiaya Ki Sukirah. Rangga mengerutkan
keningnya. Dilihat dari pakaiannya, mereka seperti para prajurit kerajaan.
Apakah mereka orang-orang kerajaan" Kerajaan
mana" Perkampungan ini tak lebih dari sebuah kadipaten.
"Tentu ada persoalan, hingga mencarimu," kata Pandan Wangi setengah bergumam.
"Memang...," desah Rangga pelahan.
"Kenapa tidak kau ceritakan?"
Rangga lagi lagi tersenyum, senyum yang menampakkan godaan. Seolah-olah
memberikan teka-teki yang harus ditebak sendiri oleh Pandan Wangi. Dia berbalik
dan melangkah mendekati pembaringan. Sambil mendesah
panjang, Pendekar Rajawali Sakti itu membaringkan tubuhnya di pembaringan yang
beralaskan kain merah muda.
"Besok aku ceritakan, sekarang aku mau tidur," kata Rangga seraya memejamkan
matanya. "Hehhh...," Pandan Wangi menaikkan pundaknya. Dia pun segera melangkah mendekati
pembaringan. *** Sementara itu di rumah Ki Sukirah, hujan tangis
terdengar memilukan. Wulan menangis di tempat tidurnya, juga Nyi Sukirah yang
terduduk di tepi pembaringan. Orang yang begitu mereka cintai dan menjadi
tumpuan hidup mereka, diseret paksa oleh orang orang Wira Perakin.
Ki Sukirah tak berdaya. Dia mencoba menentang apa yang diperbuat Kebo Rimang
yang menyuruhnya menghadap Wira Perakin, dan akibatnya, tubuh laki-laki tua itu
tak henti-hentinya menerima pukulan dan tendangan.
"Itu semua gara-gara aku...," rintih Wulan di sela-sela tangisnya.
"Sudahlah, Wulan," Nyi Sukirah terisak. "Kau benar, kita memang orang kecil.
Tapi kita punya harga diri. Ibu sendiri sebenarnya tidak rela kalau kau menerima
pinangan Gusti Wira Perakin."
"Tapi, Bu.... Ayah...," suara Wulan tersekat di tenggorokan.
"Ayahmu memang laki-laki ksatria. Dia rela mati demi membela kehormatan
keluarganya. Sebaiknya kita berdoa saja agar ayahmu selamat," kata Nyi Sukirah
mencoba tabah. "Bu...," Wulan bangkit dan memeluk ibunya. Kembali tangisnya pecah di pelukan
ibunya. Nyi Sukirah membiarkan anak gadisnya menangis.
Sementara air mata Nyi Sukirah kering sudah, tak ada lagi yang bisa mengalir
membasahi pipinya. Pengalaman hidup dan penderitaan panjang yang telah
dilaluinya bersama suaminya, membuatnya tak bisa lagi menangis terlalu lama!
Perlahan-lahan Wulan melepaskan pelukannya. Dia menyusut air matanya dengan
ujung baju. Mata yang sembab memerah, menatap lurus ke bola mata
perempuan tua yang telah melahirkan dan membesarkannya. Tak terdengar lagi isak
tangis dari bibirnya.
Ketabahan hati ibunya seolah menyadarkannya bahwa nasib tak perlu ditangisi,
melainkan harus diubah sekuat tenaga dengan kemampuan sendiri!
"Keringkan air matamu, Wulan. Tegarkan hatimu menerima cobaan hidup. Ibu yakin,
Tuhan Yang Maha Kuasa akan menolong umatnya yang Iemah," kata Nyi Sukirah pelan.
Bibirnya yang keriput pucat, menyunggingkan senyum bergetar.
Lagi-lagi Wulan menyusut air matanya. Sekuat tenaga dia mencoba untuk tidak
menangis lagi. Kata-kata lembut ibunya seperti membuarnya terbangun dari mimpi
buruk. Dia sadar, tak seharusnya dia menangis terus Karena semua yang terjadi berawal
dari dirinya sendiri. Seharusnya dialah yang lebih tabah dan tegar menghadapi
semua ini. Wulan menguruki dirinya sendiri yang begitu lemah. Berani mengambil dan
menentukan sikapnya tapi tak berdaya dan lemah akan akibatnya.
"Maafkan Wulan, Bu," desah Wulan lirih.
"Sudahlah, cepat atau lambat Wira Perakin pasti akan membawamu juga."
"Tidak! Lebih balk aku mati daripada menjadi istri tua bangka Wira Perakin,"
geram Wulan. "Itu bukan jalan yang terbaik, Wulan. Apa pun alasanmu perbuatan nekad seperti
itu jelas tak akan membuat lega orang yang kau tinggalkan."
"Lalu, apa yang harus kuperbuat, Bu?"
"Entahlah, Wulan. Mungkin yang terbaik berserah diri pada kekuasaan Tuhan."
"Aku akan melawan mereka, Bu," tegar nada suara Wulan.
"Dengan cara apa?" tanya Nyi Sukirah.
Wulan terdiam. Dia sendiri tidak tahu apa yang diperbuatnya. Dia sadar benar
siapa dirinya, seorang gadis dusun yang tak punya kekuatan dan kesaktian apaapa. Nyi Sukirah pun terdiam. Dia memaklumi benar kalau ucapan anaknya keluar
dari hatinya yang kalut.
Wulan bangkit dari pembaringan. Dia melangkah mendekati jendela yang terbuka
sebagian. Tangannya mendorong daun jendela agar terbuka lebih lebar. Kedua bola
matanya menatap lurus pada sang dewi malam yang bersinar penuh memancarkan
cahaya indah keemasan.
Namun di mata Wulan, cahaya bulan itu begitu redup, seakan ikut berduka akan
nasib yang menimpa dirinya.
"Kang Dimas...," Wulan mendesis lirih.
Gadis itu teringat satu nama. Ya..., hanya pada Dimas dia bisa mengadu. Hanya
pada pemuda yang dicintainya itu dia bisa berlindung. Hanya Dimas satu-satunya
harapan Wulan yang akan bisa mengatasi kemelut yang kini tengah menimpa dirinya.
"Bu...," panggil Wulan seraya berbalik.
Nyi Sukirah memandang wajah putrinya yang kini mulai nampak bersinar dan ada
cahaya harapan. Dia sudah mantap dengan kata-kata hatinya yang mendadak saja
muncul begitu nama Dimas bergetar di lidahnya.
"Ada apa?" tanya Nyi Sukirah lembut
"Kira-kira Kang Dimas di mana ya?" Wulan seperti bertanya pada dirinya sendiri.
"Untuk apa kau bertanya begitu?" Nyi Sukirah bertanya tak mengerti. Tapi hati
perempuan itu sudah bisa meraba ke mana arah ucapan anaknya.
"Aku ingin mencarinya, Bu," kata Wulan.
"Wulan...," Nyi Sukirah menggeleng-gelengkan kepalanya. Naluri keibuannya begitu
tersentuh oleh tekad anaknya yang muncul tiba-tiba.
Hubungan antara Wulan dan Dimas memang bukan
rahasia lagi. Semua orang tahu itu. Juga mereka tahu sejarah hidup Dimas yang
kelam. Kakak perempuan satu-satunya pengganti orang tuanya yang telah tiada,
mati ter-bunuh setelah lebih dulu diperkosa secara bergiliran oleh lima lakilaki berandal. Tidak ada yang melihat kejadi-an itu, kecuali Dimas sendiri.
Sejak peristiwa naas yang menimpa kakak perempuan satu-satunya itu, Dimas lantas
menghilang dari desa ini.
Dan saat orang sudah melupakan peristiwa lima belas tahun yang silam itu, Dimas
muncul kembali. Dia datang pada Ki Sukirah dan keluarganya, keluarga yang
memberi-nya hidup, meskipun hanya untuk sekedar sesuap nasi.
Ki Sukirah puluhan tahun silam memang termasuk
orang yang cukup berada dan terpandang di desanya.
Namun nasib hidupnya benar benar bagai roda pedati yang berputar. Nasib tragis
menimpa dirinya, dia jatuh miskin setelah hartanya dirampas oleh Wira Perakin
dan orang-orangnya. Dia tak punya daya untuk melawan. Rumahnya kini dijadikan
tempat tinggal Wira Perakin, dan terpaksa Ki Sukirah dan keluarganya menempati
gubuk reot yang dulunya ditempati Dimas dan kakak perempuannya.
Mengingat kejadian itu, hati Nyi Sukirah kembali terasa remuk redam. Ingin
rasanya dia berbuat yang sama seperti yang diinginkan anaknya, mati meninggalkan
dunia yang begitu kejam menderanya. Dan itu memang kesalahan suaminya, Ki
Sukirah kalah main judi dengan Wira Perakin, terus kalah dan kalah, hingga
kemiskinan kini setia menemani kehidupannya. Dan kini keganasan siap
menerkam mereka, keangkaramurkaan Wira Perakin atas penolakan pinangannya pada
Wulan.... *** Sepanjang malam yang larut hingga menjelang dini
hari, tak sekejap pun Wulan bisa memejamkan matanya.
Seperti ada kekuatan dan dorongan yang menggerakkan hatinya, manakala benaknya
terisi oleh bayangan Dimas, kekasih hatinya. Ya, kekuatan dan dorongan untuk
lari dari kenyataan yang tak berapa lama lagi akan dihadapinya, menjadi istri
Wira Perakin. Tepat ketika terdengar oleh telinganya suara ayam jantan berkokok, Wulan
merangkak turun dari pembaringan. Sebentar dia duduk di tepi pembaringan,
kemudian melangkah turun mendekati lemari kayu. Pelan-pelan Wulan membuka lemari
pakaiannya, lalu mengeluarkan beberapa potong pakaian, dan mem-buntalnya dengan
kain. Hatinya sudah bulat, dia harus meninggalkan tanah kelahlrannya,
meninggalkan kedua orang tua yang teramat dicintainya!
Pelan-pelan Wulan melangkah ke luar dari kamarnya.
Buntalan pakaian dan sedikit bekal tersandang di bahunya.
Dia terus melangkah dan berhenti di depan kamar ibunya.
Wulan sejenak terpaku di depan pintu kamar itu.
"Maafkan Wulan, Bu. Terpaksa Wulan meninggalkan Ibu," bisiknya pelan.
Gadis itu menempelkan tangannya pada daun pintu, kemudian dia berbalik dan
melangkah ke luar. Udara dingin berseiimut kabut menyongsong tubuh gadis ramping
itu, begitu kakinya menjejak tanah di luar rumah. Dengan kebulatan hatinya,
Wulan berjalan cepat-cepat meninggalkan rumahnya.
Sebentar dia berhenta dan menoleh ke belakang,
kemudian terus beriari ke arah Utara, ke arah mana dulu kekasihnya pergi. Pergi
meninggalkan dirinya untuk membalaskan kematian kakaknya.
Kegelapan malam masih menyelimuti sekitarnya.
Matahari belum lagi menampakkan diri. Wulan melangkah pelan begitu sampai di
tepi hutan yang meng hadang di depan. Kakinya bergetar begitu melangkah memasuki
hutan yang lebat dan terselimuti kabut tebal.
"Grrr...!"
"Akh...!" Wulan terpekik ketika tiba-tiba terdengar suara menggeram keras.
Gadis itu berdiri terpaku. Kedua matanya membelalak lebar menembus kegelapan
malam di pagi buta ini.
Seluruh tubuhnya gemetaran bersimbah peluh. Suara menggeram itu semakin keras
dan jelas, seakan-akan begitu dekat dengan dirinya.
"Oh!" Wulan semakin ketakutan begitu dari semak belukar terlihat sepasang bola
mata bersinar bergerak maju ke arahnya.
Semakin lama semakin jelas terlihat. Dua bola mata yang bersinar itu ternyata
sepasang mata seekor harimau besar! Binatang buas itu menggeram beberapa kali,
membuat Wulan semakin lemas gemetaran. Harimau itu mendekam, tapi sepasang bola
matanya tetap menatap Wulan yang semakin lemas ketakutan.
Wulan menguatkan hatinya untuk melangkah mundur, tapi raja hutan itu menggeram
bangun melihat calon mangsanya bergerak. Lagi-lagi gadis itu memekik tertahan.
Kedua lututnya terasa lemas tak bisa digerakkan. Keringat dingin bercucuran
membasahi tubuhnya. Wulan sudah pasrah akan apa yang terjadi pada dirinya.
"Auuummm...!" Harimau itu mengaum dahsyat.
"Tolooong...!" jerit Wulan melengking. "Tolooong...,"
Wulan merasakan sekujur tubuhnya mengeluarkan
keringat dingin. Dia benar-benar takut melihat harimau itu berjalan
menghampirinya. Lalu....
Binatang buas itu benar-benar melompat ke arah
Wulan yang sudah sangat ketakutan! Dan... gadis itu terjatuh lemas sebelum sang
raja rimba mencapai tubuhnya....
Bug! Sebuah baru sebesar kepala bayi menimpa kepala
harimau, tepat ketika cakarnya nyaris merobek kulit tubuh Wulan yang tergeletak
pingsan! Si raja rimba itu menggeram sesaat, lalu tubuhnya terjajar ke samping,
dan secepat kilat sesosok bayangan putih berkeiebat menyambar tubuh Wulan.
"Grrr...!" Harimau itu menggeram keras.
*** 4 Sinar matahari yang menyeruak masuk melalui pintu yang tak tertutup rapat itu
menerpa wajahnya. Kehangatan yang dia rasa kan mulai membangunkan kesadarannya
dari pingsan yang cukup panjang. Wulan pelahan-lahan membuka matanya, dan dia
begitu terkejut menyadari keberadaannya di tempat asing yang belum pernah dia
kenal sama sekali.
Pikiran Wulan mulai meraba-raba. Dia mulai teringat kejadian yang terakhir kali
dialaminya, dan tahu-tahu dia sudah berada di tempat ini Sedikit demi sedikit


Pendekar Rajawali Sakti 10 Pengantin Berdarah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

gadis itu beringsut bangun, dan duduk di tepi balai-balai bambu itu.
Sepasang matanya menangkap buntalan kain yang dibawanya dari rumah. Gadis itu
mengerutkan keningnya. Hatinya diliputi tanda tanya, siapa gerangan orang yang
telah menyelamatkan nyawanya dan membawanya kemari.
Belum lagi dia sempat menduga duga, pintu bilik yang tak tertutup rapat itu
pelahan-lahan terkuak. Wulan beringsut ke sudut. Tangannya mendekap buntalan
berisi kain dan sedikit bekalnya Pintu bilik itu semakin terbuka lebar. Dan di
ambang pintu itu berdiri seorang lelaki muda dan tampan dengan pakaiannya serba
putih dan ketat, hingga postur tubuhnya yang tegap dan kekar begitu mudah
dikenali oleh Wulan.
"Kang...!" desis Wulan begitu mengenali laki-laki itu, Wulan segera melompat dan
menubruk pemuda
tampan itu. Air matanya seketika tumpah di dada lelaki muda itu, yang tak lain
adalah Dimas. Pemuda tampan itu hanya membelai-belai rambut kekasihhnya.
Beberapa saat lamanya mereka hanya saling perpelukan, diselingi oleh isak tangis
sang gadis. Dimas melepaskan pelukan gadis itu, dan membawanya duduk di tepi pembaringan.
Sejenak mereka hanya saling pandang. Dengan lembut Dimas mengusap air mata di
pipi yang halus kemerahan itu Wulan membiarkan saja jari-jemari kekasihnya
menghapus air matanya.
"Ke mana saja kau, Kakang" Kenapa tidak pulang pulang?" tanya Wulan lirih
suaranya. "Maafkan aku, Wulan. Bukan aku tak rindu padamu, tapi pekerjaanku belum
selesai," sahut Dimas lembut
"Aku tidak tahan lagi, Kakang. Aku terpaksa kabur dari rumah, aku ingin
bersamamu," rintih Wulan kembali terisak.
"Sudahlah sekarang kau sudah aman bersamaku. Kita bisa hidup damai dan tenteram
di ani," hibur Dimas tetap lembut
Secercah senyum kini tersungging di bibir gadis itu.
Dimas membalasnya dengan manis pula. Pelahan-lahan wajah mereka yang saling
beradu pandang itu semakin mendekat, hingga desah napas Dimas menerpa hangat di
seputar wajah Wulan. Kedua pasang mata mereka saling bertatapan dengan mesra
"Wulan...," desah Dimas bergetar.
"Kakang...!"
Pelan dan lembut sekali Dimas menempelkan bibimya ke bibir gadis itu yang
terbuka merekah. Mata Wulan terpejam merasakan kehangatan yang mulai menjalari
tubuh dan urat syarafnya. Tangannya melingkar di leher Dimas, dan menekannya
kuat-kuat, hingga bibir mereka bersatu dalam gairah yang semakin menggelegak.
Tak ada lagi kata kata yang terucap. Tak ada isak tangis keharuan, yang ada kini
hanyalah rasa cinta dan kerinduan yang menyatu dalam daya asmara yang semakin
memburu. Wulan merintih merasakan kenikmatan yang membawanya melayang layang
terbang mengarungi lautan asmara. Mata gadis itu terbuka dan tertutup,
menandakan hasrat birahinya yang sangat mendidih.
"Kakang...!" tiba-tiba Wulan tersentak begitu merasakan jari-jari tangan Dimas
menyentuh bagian dari tubuhnya yang sangat peka.
Seketika itu juga Wulan menyentakkan tubuh Dimas.
Gadis itu begitu terkejut menyadari hampir seluruh pakaiannya terlepas. Bergegas
gadis itu membereskan pakaiannya yang sudah tak karuan dan nyaris membuatnya
telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Wulan bergetar.
"Wulan..., aku mencintaimu," bisik Dimas seraya mendekat
"Tapi...," suara Wulan tersekat di tenggorokan.
"Kau mencintaiku juga, kan?"
Wulan tidak bisa menjawab. Tak mungkin dia akan pergi dari rumah dan sampai ke
tempat ini kalau dia tak mencintainya. Tapi apakah yang barusan diinginkan oleh
Dimas itu ukuran dari perasaan cinta dan kasih sayangnya.
Tidak, bisiknya dalam hati. Ia tak mau melakukan hal ter-larang itu sebelum
mereka terikat resmi menjadi suami istri. Wulan tak ingin penderitaan hidupnya
terus ber-kepanjangan, hanya karena menuruti nafsu birahi sesaat.
"Aku mencintaimu, Wulan. Aku berjanji, kalau tekadku sudah tercapai, aku pasti
akan menikahimu," Dimas berucap lembut.
"Kakang...," suara Wulan kembali tersekat di tenggorokan.
"Baiklah...," desah Dimas mengalah.
Wulan hanya memandangi Dimas yang mengenakan
pakaiannya kembali, kemudian pemuda itu ke luar kamar tanpa berkata apa-apa
lagi. Wulan duduk tepekur di balai-balai bambu. Dia sadar penolakannya telah
mengecewa-kan hati Dimas.
"Ah.., Dimas..., maafkan aku," desah Wulan lirih.
Pelahan-lahan pintu gubuk kecil itu terbuka. Tampak Wulan melangkah ke luar
setengah menundukkan kepalanya. Sebentar dia mengamati keadaan sekitarnya, dan
dia agak terkejut begitu menyadari dirinya berada di tengah-tengah hutan lebat
dengan satu gubuk kecil yang tersembunyi di antara lebatnya pepo-honan.
Seekor kera hitam bergelantungan dari dahan pohon yang satu ke dahan lainnya.
Suaranya memecah kesunyian pagi di sekitar gubuk kecil itu. Bersama burungburung yang berkicau saling bersahutan.
"Ah, seandainya aku bisa bebas seperti mereka...,"
desah Wulan lirih.
"Kau sudah bebas, Wulan," terdengar suara lembut dari belakang.
"Oh!" Wulan tersentak kaget. Buru-buru dia membalikkan tubuhnya.
Dimas tampak duduk di akar pohon yang menyembul ke luar dari dalam tanah.
Tangannya sibuk membuat anak panah. Beberapa anak panah menggeletak di
sekitamya. Dan sebuah busur besar tersandar di pohon. Wulan menghampiri dan duduk di
samping pemuda itu.
"Maafkan aku, Kakang. Aku tidak bermaksud mem-buatmu kecewa," kata Wulan pelan.
"Ah, sudahlah. Lupakan soal itu," sahut Dimas tenang.
Sesaat mereka terdiam, dan hanya saling berpandangan dengan sinar mata penuh cinta.
"Kenapa kau meninggalkan orang tuamu?" tanya Dimas.
"Terpaksa," sahut Wulan. Kepalanya tertunduk, dan ada kesenduan membayang di
wajahnya. Dimas tahu itu.
"Ceritakan, Wulan. Ada apa"!" desak Dimas. Tangan kanan pemuda itu memegangi
bahu Wulan. "Kau jangan marah, Kakang.... Aku terpaksa meninggalkan mereka, karena aku tak
mau menjadi istri si Tua Bangka itu!" Wulan menghentikan ucapan-nya, air matanya
yang bening bergayut di sudut matanya. "Dan ayahku, Kakang... dia menerima
akibat dari sikapku. Kaki tangan Wira Perakin telah menahannya," Wulan mencoba
menahan tangisnya, tapi sia-sia. Kecemasan akan nasib ayah dan ibunya sangat mem
belenggu babnnya.
Dimas menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
Hatinya benar-benar ikut tercabik oleh penderitaan yang dialami Wulan.
"Wira Perakin...," gumam Dimas lirih, tangannya membelai-belai rambut gadis itu.
"Bagaimana dengan ayahmu, Wulan" Maksudmu beliau...."
"Tidak, Kakang," sahut Wulan. "Wira Perakin tak mungkin membunuh Ayah, selagi
masih ada yang di-harapkannya.... Tapi sekarang... aku tak tahu, Kakang!"
"Kau tunggu saja di sini, Wulan," kata Dimas seraya bangkit melepaskan
pelukannya. "Kakang mau ke mana?"
"Aku akan membawa ayah dan ibumu ke sini. Aku tidak akan lama, Wulan, kau tak
usah cemas," sahut Dimas seraya menjumput anak-anak panah dan memasukkannya ke
dalam kantung kulit
Dimas mengikatkan kantung penuh anak panah itu di pinggang, kemudian dia
mengambil pedang dan
menyandangkannya di punggung. Tangan kirinya menggenggam busur besar yang
sedikit terukir di bagian tengah-nya. Wulan berdiri dan menghadang langkah
pemuda itu dengan wajah penuh kecemasan.
"Kakang...," serak dan lirih suara Wulan.
"Kau jangan pergi ke mana-mana Wulan. Tempat ini tidak ada yang tahu selain
aku," pesan Dimas.
Sesaat mereka safing tatap, kemudian Dimas
mengecup lembut bibir gadis Itu. Dia berbalik, langsung melangkah cepat tanpa
menoleh lagi. Wulan memandangi tanpa berkedip, sampai punggung lelaki pujaannya
itu hilang dari pandangan.
*** Nyi Sukirah langsung terlonjak terbangun dari tidurnya.
Suara pintu didobrak sangat mengagetkannya. Pintu kamar itu hancur berantakan.
Nyi Sukirah menjerit tertahan melihat seorang laki-laki tinggi besar berdiri di
ambang pintu yang hancur Di belakang laki-laki yang bertampang seram itu,
berdiri beberapa orang berpakaian seragam kuning keemasan seperti prajurit
kerajaan. Nyi Sukirah tahu, orang yang berdiri congkak di ambang pintu itu adalah Kebo
Rimang, tangan kanan Wira Perakin.
Ya, orang itulah yang turut merampas rumahnya dulu bersama Wira Perakin. Dan
kini, sejarah hidupnya kembali terulang. Orang yang terkenal kejam itu kini siap
menghancurkan hidupnya kembali
"Seret perempuan ini ke luar! Cepat!" perintah Kebo Rimang. Suaranya terdengar
keras dan kasar. Kedua matanya menatap tajam dan memerah.
Dua orang anak buahnya langsung bergerak maju ke dalam kamar yang pintunya jebol
berantakan. Tanpa banyak bicara lagi, dua orang itu langsung menyeret Nyi
Sukirah. "Akh...!" Nyi Sukirah memekik keras begitu tubuhnya dicampakkan.
Perempuan tua itu jatuh bergulingan di tanah. Kulit tangannya yang keriput,
tergores mengeluarkan darah. Nyi Sukirah berusaha bangkit berdiri, tapi salah
seorang yang menyeretnya segera menendang keras. Kembali tubuh perempuan tua itu
bergulingan di tanah. Dadanya terasa sesak sekali dan rintihannya terdengar
memelas "Di mana anak gadismu. Perempuan Tua?" tanya Kebo Rimang datar.
Nyi Sukirah tidak menyahut, hanya suara rintihannya yang menyayat dan terdengar
memilukan. Beberapa kepala bersembulan ke luar dari rumah rumah di sekitar rumah
Nyi Sukirah. Tidak ada seorang pun yang berani ke luar rumah, apalagi mencampuri
urusan ini. Mereka semua hanya bisa mengurut dada, iba melihat nasib keluarga Ki
Sukirah. "Di mana anakmu, Nyi Sukirah?" Kebo Rimang meng-ulangi lagi pertanyaannya.
Tetap saja Nyi Sukirah tidak menjawab. Dia malah membalas tajam tatapan mata
Kebo Rimang. Dia seperti mendapatkan kekuatan bathin, tak sedikit pun ada rasa
gentar di hati perempuan ini.
"Setan!" geram Kebo Rimang. "Geledah rumahnya!"
Lima orang pengikutnya segera beranjak masuk ke dalam rumah itu. Tak lama
kemudian mereka sudah ke luar lagi. Salah seorang mendekati Kebo Rimang yang
berdiri angker memandang tajam pada Nyi Sukirah.
"Tidak ada, Gusti," lapor orang itu.
"Kurang ajar!" geram Kebo Rimang gusar. "Bakar...!"
perintah Kebo Rimang kalap.
"Oh, jangaan..!" sentak Nyi Sukirah terkejut.
Tapi permintaan itu sama sekali tidak digubris. Salah seorang anak buah Kebo
Rimang sudah mencabut obor yang tertancap di bang penyangga beranda. Kemudian
melemparkannya ke atas atap, api langsung berkobar besar melahap atap rumah yang
terbuat dari daun rumbia kering itu. Nyi Sukirah merintih dan terus meratap. Dia
hanya bisa melihat api yang terus melahap rumah tempat tinggal satu-satunya itu.
Kejam! Kalian semua kejam! Binatang!" geram Nyi Sukirah di sela isak tangisnya.
"Kau manusia tidak tahu diuntung, Perempuan Tua!
Gusti Wira Perakin sudah terlaiu baik padamu. Membiarkan kau, suamimu dan anakmu
hidup. Tapi masih juga kau mau bertingkah macam-macam," ujar Kebo Rimang dingin.
"Phuih! Kalian anjing-anjing keparat!"
"Kurang ajar...!"
Plak! "Akh!"
Nyi Sukirah terpelanting keras ke tanah begitu tangan kanan Kebo Rimang
menghajar pipinya. Perempuan tua itu jatuh pingsan. Tamparan Kebo Rimang begitu
keras. "Ikat perempuan tua itu! Seret dengan kuda!" perintah Kebo Rimang kalap.
Salah seorang segera maju mendekati Nyi Sukirah yang tergeletak pingsan. Orang
itu mengeluarkan tambang dari balik bajunya, kemudian mengikat tangan Nyi
Sukirah, lalu melemparkan satu ujung tambang itu pada temannya yang menunggang
kuda. Kebo Rimang melompat tangkas ke atas punggung
kuda hitam tunggangannya. Orang-orang Wira Perakin yang jumlahnya tidak kurang
dari sepuluh orang itu, segera berlompatan naik ke punggung kudanya ma singmasing. "Jalan!" perintah Kebo Rimang.
Baru saja mereka menggebah kuda, tiba-tiba.
Wuuut, tras...!
Tambang yang mengikat tangan Nyi Sukirah putus.
Sebatang anak panah tertancap di tanah, tak jauh dari tubuh perempuan tua yang
masih pingsan dengan kedua tangannya terikat itu. Kebo Rimang dan sepuluh orang
pengikutnya terkejut setengah mati. Bergegas mereka berlompatan turun.
Tampak seorang pemuda tampan berbaju pubh ketat berdiri tegak. Busur besar
dengan anak panah tergenggam di tangannya. Dan tiba-tiba saja dia menarik tali
busur itu, dan....
Wuuut! "Aaakh...!" salah seorang menjerit keras.
Anak panah yang dilepaskan Dimas menancap tepat menembus leher orang itu.
Tubuhnya seketika terjajar ke belakang, lalu ambruk mencium tanah Belum lagi
hilang rasa terkejut mereka, Dimas sudah melepaskan lagi tiga anak panah secara
beruntun dan cepat. Tiga orang langsung menyusul temannya, bergulingan jatuh
bersimbah darah
"Kurang ajar!" geram Kebo Rimang. Secepat kilat laki-laki bertubuh bnggi besar
dengan luka codet di wajahnya itu, melompat begitu Dimas kembali menghujaninya
dengan anak-anak panah. Kebo Rimang berkelebatan cepat menyambar anak-anak panah
yang datangnya bagaikan hujan itu.
"Phuih!" Kebo Rimang menyemburkan ludahnya sengit Laki-laki kasar itu berdiri
tegak dengan sikap meremeh-kan. Puluhan batang anak panah tergenggam di kedua
tangannya. Sedangkan kantung anak panah di pinggang Dimas sudah kosong. Pemuda
itu membuang busumya.
Kagum juga dia pada Kebo Rimang yang begitu tangkas bisa menangkap semua anak
panah yang dilepaskannya Kebo Rimang menjuiurkan kedua tangannya ke depan, lalu
meremas anak panah di tangannya hingga hancur.
Semua mata memandang kagum pada ketinggian ilmu tenaga dalam yang dimiliki Kebo
Rimang. "Siapa kau, Anak Muda" Mengapa kau mencampuri urusanku!" dengus Kebo Rimang
menggeram. "Kau tidak perlu tahu siapa aku! Aku datang untuk membasmi anjing-anjing Wira
Perakin," balas Dimas tak kalah sengitnya.
"Setan! Apa kau sudah punya nyawa pengganti, heh"
Berani-beraninya sesumbar di depanku!"
"Nyawaku cuma satu, tapi aku mampu menyumbat kesombonganmu!"
"Anjing geladak! Hiyaaa...!" Hup!
Kebo Rimang segera membuka jurus jurusnya. Dimas melirik enam orang yang sudah
menghunus pedangnya masing masing Dari bentuk senjata mereka yang beraneka
ragam, bisa diketahui kalau mereka bukanlah prajurit kerajaan. Mereka orangorang rimba persilatan yang mengenakan seragam seperti prajurit.
Kebo Rimang melompat menerjang Dimas. Pertempuran tidak bisa lagi dihindarkan. Dua orang yang masing masing memiliki
kepandaian yang cukup tinggi itu saling menyerang menggunakan jurus jurus maut
mereka yang berbahaya.
Dalam waktu singkat saja, tidak kurang dari sepuluh jurus telah mereka kerahkan.
Namun belum terlihat siapa yang lebih unggul atau terdesak. Mereka kelihatan
sama-sama tangguh dengan gerakan jurus-jurusnya yang cepat Enam orang lainnya,
dan orang-orang yang mengintip dari celah-celah rumah mereka di sekitarnya,
seolah terpaku menyaksikan pertarungan itu.
"Hiyaaa...!" tiba-tiba Kebo Rimang berteriak nya-ring.
Seketika itu juga tubuhnya melenting ke udara, dan pada waktu yang bersamaan,
Dimas juga berbuat yang sama.
Keduanya telah mencabut senjata masing masing. Kini di tangan Dimas tergenggam
sebilah pedang yang panjang dan tipis keperakan. Sedang lawannya menggenggam dua
buah tongkat besi kecil bercabang dua. Tongkat itu berwama kuning keemasan.
Trang, trang Dua senjata beradu keras di udara. Dua tubuh di angkasa itu sama-sama terpental.
Tubuh Kebo Rimang jatuh berdebum keras di tanah, lalu bergulingan sejauh tiga
ujung tombak. Dimas juga mengalami nasib yang sama, tapi dia masih sanggup
berdiri kembali dengan cepat Sementara Kebo Rimang berusaha bangkit, enam


Pendekar Rajawali Sakti 10 Pengantin Berdarah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

orang pengikutnya langsung berlompatan mengurung Dimas. Senjata mereka
berkelebatan di depan dada.
Dimas memandangi enam orang itu dengan mata merah menahan geram.
"Jaring berantai!" teriak Kebo Rimang tiba-tiba.
Enam orang itu langsung memasukkan senjata masing masing ke dalam tempatnya
Kemudian dengan cepat mereka mengeluarkan tambang bersimpul dari bafik baju
masing-masing. Mereka memutar-mutar tambang bersimpul itu di atas kepala. Kakikaki mereka bergerak lincah mengitari tubuh Dimas.
Dimas jadi kebingungan juga menghadapi enam orang yang memutar-mutarkan tambang
bersimpul mengelilingi dirinya. Kakinya segera bergerak lincah mengikuti arah
putaran enam orang itu. Kedua matanya tajam mengawasi setiap gerakan yang
dilakukan enam orang lawan lawannya Dan tiba-tiba salah seorang melemparkan
tambang ke atas, jauh di atas kepalanya.
Hampir bersamaan waktunya, seorang lagi melemparkan tambangnya, lalu disusul
berganban oleh yang lain.
Dimas benar-benar tak tahu maksudnya. Dia terkejut begitu tiba-tiba enam orang
itu serempak berlompatan ke udara.
Tap, tap...! Enam orang berseragam bagai prajurit itu menangkap ujung uung tambang yang
saling teriempar ke atas. Lalu dengan gerakan manis dan cepat sekali, mereka
meluruk turun. Dimas yang belum menyadari tidak dapat berbuat apa-apa. sekebka
itu juga tubuhnya terjerat enam utas tambang.
"Hih!" Dimas berkutat berusaha melepaskan diri dari jeratan yang membelit
tubuhnya. Tapi, keenam orang itu lebih cepat lagi bergerak memutar mengelilingi. Dimas
benar-benar tak berdaya lagi sekarang Pemuda itu jatuh berdebum ke tanah dengan
seluruh tubuhnya terikat tambang. Pedangnya ikut terikat menempel di paha
kakinya. Keenam orang berseragam kuning keemasan itu, terus memegangi ujungujung tambang. "Ha... ha... ha...!" Kebo Rimang tertawa terbahak-bahak.
Namun seketika tawanya terhenb sebuah bayang-an pubh lain tiba-tiba bergerak
cepat membabat putus tambang-tambang yang membelit tubuh Dimas. Belum lagi Kebo
Rimang hilang rasa terkejutnya, muncul lagi satu bayangan biru menghajar enam
orang berseragam itu.
Jeritan kematian terdengar melengking bersahutan.
Tubuh enam orang yang memegangi tambang itu, langsung bergelimpangan di tanah.
Sebentar mereka menggelepar, lalu diam tak bemyawa lagi. Darah segar membanjiri
tanah, menyebarkan aroma anyir menusuk hidung.
Kini di depan Kebo Rimang berdiri dua orang anak muda. Seorang laki-laki berbaju
rompi pubh, dan seorang perempuan cantik mengenakan pakaian biru ketat Mereka
tak lain adalah Rangga dan Pandan Wangi, dua pendekar muda yang berjuluk
Pendekar Rajawali Sakti dan Kipas Maut. Pandan Wangi mengebut-ngebutkan kipas
baja putihnya di depan dada. Pandangan matanya tajam menatap Kebo Rimang.
"Monyet busuk! Siapa kalian?" geram Kebo Rimang membentak.
Mata Kebo Rimang tak lepas memandang Pendekar
Rajawali Sakti. Dia jadi teringat dengan cerita Jaran Kedung. Semua ciri-ciri
yang diceritakannya ada pada orang di hadapannya.
"Ooo..., rupanya kau yang membunuh tujuh orang anak buahku kemarin?" dengus Kebo
Rimang tetap memandang tajam pada Rangga.
"Benar! Dan hari ini giliranmu yang mampus!" sahut Rangga tak kalah gertak.
"Setan alas! Rupanya kau sudah bosan hidup, hingga berani mengusik macan, heh"!"
"Macan ompong...!" ejek Pandan Wangi sengit.
Kebo Rimang mendelik lebar menerima ejekan itu.
Matanya menyipit. Kini di hadapannya berdiri tiga orang anak muda menantangnya.
Dimas berdiri di samping Pendekar Rajawali Sakti. Di tangan kanannya tergenggam
sebuah pedang. Kebo Rimang mulai surut nyalinya. Dia telah jelas-jelas melihat kalau ketiga
orang anak muda itu memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi, dan tak
mungkin baginya untuk bisa menandingi.
Tanpa malu-malu lagi, Kebo Rimang melompat ke atas punggung kudanya. Kuda tinggi
besar itu bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya, berlari
cepat hingga dalam sekejap saja telah hilang dari pandangan.
"Pengecut!" dengus Dimas menggeram.
"Sebaiknya kau urus saja orang tuamu," kata Rangga mengingatkan.
Dimas tersentak, buru-buru ia menghampiri Nyi Sukirah yang masih tergolek
pingsan. Pemuda kekasih Wulan itu sekilas menatap rumah yang kini tinggal puingpuing membara mengepulkan asap tipis. Dimas lalu membopong tubuh perempuan tua
itu, dan membawanya ke suatu tempat yang teduh Dimas memeriksa keadaannya. Dia
menoleh pada Rangga dan Pandan Wangi yang juga sudah berlutut di samping tubuh
Nyi Sukirah. "Bagaimana?" tanya Pandan Wangi.
"Hanya pingsan, tidak ada luka yang serius," sahut Dimas.
Pemuda itu memandangi Rangga dan Pandan Wangi.
Dia agak berkerut juga keningnya, sama sekali dia belum pernah melihat dua orang
yang telah menolongnya ini.
Rangga mengerti arti pandangan Dimas, dia tersenyum dan menepuk pundak pemuda
itu dengan sikap bersahabat
"Terima kasih atas pertolongan kalian," ucap Dimas membalas senyuman Rangga.
"Ah, lupakan saja," sahut Rangga.
*** 5 Apa yang menjadi firasatnya selama dua hari ini, sekarang menjadi kenyataan.
Orang-orang Wira Perakin telah mem-bumihanguskan rumahnya dan tega pula menyiksa
istrinya. Semua itu dia ketahui dari penjaga kamar tahanan di mana kini dia berada, yang
terus mencoba menjatuhkan mental-nya dan memancing agar dia mau menunjukkan di
mana anak gadisnya kini berada.
Ki Sukirah menarik napas panjang, lalu berjalan mondar-mandir di kamar
tahanannya yang pengap dan sempit. Dia memandangi kamar kecil yang terbuat dari
dinding baru itu Hanya lubang kecil pada pintu, dan dua orang penjaga bersenjata
selalu berjaga-jaga di depan pintu. Tidak ada sedikit pun celah untuk meloloskan
diri. Pintu kamar itu terbuka pelahan-lahan Ki Sukirah berdiri tegak, menanti siapa
yang datang. Dia sudah pasrah dengan apa yang akan teijadi pada dirinya, walau
harus mengorbankan nyawa sekalipun! Akhir-akhir ini dia baru sadar, bahwa
putrinya berada di jalan yang benar! Dan memang lebih baik mati daripada harus
menyerahkan kehormatan pada si Tua bangka itu! Pintu kamar semakin terbuka
lebar. Wira Perakin melangkah masuk, diikuti oleh Arya Mahesa dan Cakala Pati.
Sedang dua orang lainnya, Antasuro dan Galang Gembul menunggu di luar pintu ber sama dua orang penjaga bersenjata
tombak. "Sukirah, aku masih bisa bersabar padamu. Kuberi kau kesempatan untuk hidup
sekali lagi," kata Wira Perakin datar suaranya.
"Hm...," Ki Sukirah cuma bergumam sambil menarik napas panjang. Dia sudah bisa
menduga apa yang akan dikatakan Wira Perakin padanya. Dia tahu maksud terselubung dari kesempatan yang diberikan saat ini.
"Hari ini juga kau kubebaskan, tapi kau harus mencari di mana anak dan istrimu
berada. Juga tiga anak muda yang telah membunuh orang-orangku," lanjut Wira
Perakin. Ki Sukirah bersyukur dalam hati, karena anak dan istrinya masih selamat. Hanya
saja dia tidak mengerti tentang tiga anak muda yang barusan disebutkan Wira
Perakin. Tapi bagaimanapun dia merasa lega, hatinya ter-senyum penuh kemenangan.
"Penjaga...!" panggil Wira Perakin.
"Hamba, Gusti," seorang penjaga segera meng-hamplrinya.
"Buka rantai itu!"
"Hamba laksanakan, Gusti."
Penjaga itu segera melaksanakan perintah majikannya. Dia membuka rantai rantai yang mengikat tangan dan kaki Ki Sukirah.
Setelah itu dia kembali ke luar. Ki Sukirah mengurut-urut pergelangan tangannya
yang terasa pegal oleh rantai yang membelitnya selama bga hari ini.
"Kau bebas sekarang, Sukirah. Tapi ingat, kau harus menemukan istri dan anakmu.
Bawa mereka padaku. Juga tiga anak muda yang telah berani melawan kekuasaanku!"
tegas kata-kata yang keluar dari mulut Wira Perakin.
Ki Sukirah tidak menyahut, dia hanya menganggukkan kepalanya. Dia tahu benar
arti kebebasan yang akan dinikmatinya. Kebebasan yang akan menyebabkan nyawanya
melayang jika tak menemukan dan menyerahkan anak gadisnya, juga tiga anak muda
yang dia sendiri merasa tak mengenalnya. Ki Sukirah hanya pasrah, tapi hatinya
masih berharap, semoga tiga anak muda yang disebutkan tadi bisa menjadi dewa
penolong bagi keluarganya.
"Nah! Kau boleh keluar sekarang," kata Wira Perakin lagi. Ki Sukirah
melangkahkan kakinya keluar dari kamar tahanan yang pengap dan sempit itu.
Kakinya terus terayun tanpa menoleh lagi. Dua orang penjaga mengawalnya sampai
di pintu gerbang.
"Kenapa kau bebaskan orang itu, Kakang Wira Perakin?" tanya Cakala Pati.
"Itu cuma pancingan saja," sahut Wira Perakin tenang.
"Maksudmu?" tanya Antasuro yang sudah mendekat, bersama Galang Gembul.
"Aku berharap tiga pendekar yang membantu keluarga Sukirah muncul, dan mengira
orang tua itu masih berada di sini."
"Kalau mereka tahu Sukirah sudah dibebaskan?"
celetuk Cakala Pab lagi
"Kita bisa menguntitnya, ke mana mereka membawa Sukirah pergi. Aku yakin, mereka
pasti membawa ke tempat persembunyian anak dan istrinya."
"Kalau begitu, kau harus sebarkan beberapa orang untuk mengawasinya," sambung
Antasuro yang sudah bisa mengerti tujuan Wira Perakin.
"Semuanya sudah kupikirkan. Setiap langkahnya selalu diawasi oleh orang Tengkorak Maut 1 Pedang Bengis Sutra Merah ( Tan Ceng In) Karya See Yan Tjin Djin Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 1

Cari Blog Ini