Ceritasilat Novel Online

Prahara Gadis Tumbal 3

Pendekar Rajawali Sakti 6 Prahara Gadis Tumbal Bagian 3


kemanjaan dan daya pikarnya, digelayutkan tangannya di leher Rawusangkan. Bola
matanya berputar-putar merayapi wajah tampak yang berada dekat dengan wajahnya.
Sangat dekatnya, sehingga desah irama nafasnya menerpa hangat pada kulit wajah
Rawusangkan. Rawusangkan melepaskan pelukan Rara lnten pada
lehernya lalu mundur dua tindak. Pandangan matanya tidak lagi setajam tadi.
Kecantikan dan daya pikat Rara lnten membuat dingin hatinya. Kemarahannya
berangsur-angsur surut
Desahan keras terdengar ketika Rara lnten mulai melepas pakaiannya satu persatu.
Mendadak Rawusangkan merasakan dadanya sesak. Tubuh indah yang kini polos tanpa
selembar benang yang melekat membuat dadanya bergemuruh. Rara lnten melenggang
gemulai menuju ke kamar yang pintunya terbuka sedikit Tangannya mendorong pintu
dan terus melangkah masuk. Dibiarkannya pintu terbuka lebar Dengan gerakan
lembut, dibaringkan tubuhnya yang polos di pembaringan. Kepalanya menoleh,
memandang Rawusangkan yang masih berdiri me-mandangnya.
"Marilah, Kakang. Kita nimati malam ini berdua.
Biarkan mereka bergelimang darah dan amarah," lembut suara Rara lnten terdengar.
Rawusangkan melangkah menuju kamar. Tangannya
segera menutup pintu setelah kakinya melewati ambang pintu. Sebentar saja di
dalam kamar hanya terdengar desah nafas disertai rintihan mengerang lirih dan
men-dirikan bulu roma.
*** Desa Paste Batang malam itu tampak tenang Lam pu
pefita kelap kelip di rumah rumah penduduk yang
lenggang. Namun ketenangan itu tidak dapat dinikmati oleh Ki Gandara yang duduk
termenung di tangga pendopo Padepokan Pasir Batang. Pikirannya masih terpusat
pada Wratama yang tewas mengerikan di halaman belakang rumahnya.
Sementara Sangkala yang berdiri di depannya agak ke samping, tidak habis
mengerti dengan sikap Wratama yang bersekutu dengan Raja Dewa Angkara. Sedankan
Rangga berdiri bersandar pada tiang pendopo, memperhatikan dua orang yang sedang
digeluti pikiran masing masing.
Menurut cerita Ki Gandara, ayah Wratama mati terbunuh saat masih menjabat kepala
desa. Kematiannya membuat Wratama seperti kehilangan tongkat pegangan dan
kendali hidup. Sejak itulah dia menghilang beberapa tahun lamanya. Kabar
terakhir didapat, Wratama telah jadi punggawa kerajaan. Tapi itu tidak lama,
karena Wratama kalah dalam adu ilmu dengan seorang pertapa tua dari Gunung
Kidul. Sejak itu Wratama berguru pada pertapa tua itu. Semua yang diceritakan Ki
Gandara sama persis dengan cerita Sawung Bulu.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, siapa yang membunuh ayah Wratama" Sampai
sekarang tidak ada yang tahu. Hingga Wratama muncul di desa ini sebelas tahun
yang lalu, keterangan tentang pembunuh orang tuanya masih gelap. Setahun setelah
Wratama kembah ke Desa Pasir Batang, terjadi kegemparan dengan munculnya nama
Raja Dewa Angkara.
"Aku tidak menduga sama sekali kalau kejadian Ini buntut dari peristiwa dua
puluh tahun lalu," gumam Ki Gandara pelan.
Peristiwa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu itu rupanya terpendam dalam
benak Wratama menjadi
dendam. Pada waktu itu usianya sekitar lima belas tahun
"Apakah Wratama mengira pembunuh ayahnya ada di desa ini, Kl?" tanya Sangkala'.
"Entahlah," desah Ki Gandara. "Sejak kematian Ardareja, Brajananta menggantikan
kedudukannya sampai sekarang. Dua sepupu itu memang selalu berselisih. Jalan
hidup mereka berlawanan sekali. Ardareja menggunakan kekuasaan dan kekayaan
untuk memuaskan nafsunya."
Rangga kian tertarik mendengarnya. Dia mendekat dan duduk di samping Ki Gandara.
Otaknya langsung bekerja mencerna dan merangkai setiap cerita yang pernah
terjadi di Desa Pasir Batang.
"Ardareja selalu memaksakan kehendaknya bila menginginkan seorang gadis yang
menarik hatinya. Bukan saja gadis-gadis Desa Pasir Batang yang jadi korban nafsu
setannya. Gadis-gadis desa Iain pun tidak lepas dari perhatiannya. Meskipun
sudah mempunyai tiga istri, Ardareja masih saja mencari gadis-gadis cantik.
Belum lagi tindakannya yang selalu menyengsarakan rakyat"
"Selain Wratama, siapa lagi anaknya?" tanya Rangga.
"Sebenamya Wratama punya kakak laki-laki. Tetapi sejak lahir anak itu diambil
oleh seorang pengembara yang adiknya jadi korban nafsu Ardareja."
"Siapa pengembara itu?" tanya Rangga lagi.
"Pengembara itu dikenal dengan nama Raja Obat,"
sahut Ki Gandara. "Dia seorang tokoh sesat Tapi sejak dia menculik bayi pertama
Ardareja, namanya tidak pernah terdengar lagi."
Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini jelas sudah kalau peristiwa yang
terjadi sepuluh tahun ini, didasari oleh peristiwa-peristiwa sebelumnya.
Kejadian berantai yang tak berkesudahan. Kejadian yang dilumuri dendam buta
tanpa sasaran yang pasti.
Tiba-tiba Rangga teringat dengan Rawusangkan,
Bagaspati, dan Paralaya. Seluruh penduduk Desa Pasir Batang menganggapnya
sebagai sesepuh dan tetua desa.
Tapi kedudukannya belum jelas bagi Rangga.
"Ki Gandara dapat menjelaskan tentang Rawusangkan, Bagaspati, dan Paralaya?"
pinta Rangga. Ki Gandara tidak segera menyahuti, tapi hanya
menatap Pendekar Rajawali Sakti itu dengan tatapan tak mengerti.
"Terus terang, aku curiga pada mereka bertiga," kata Rangga bisa mengerti arti
pandangan Ki Gandara.
"Mereka orang-orang terpandang di desa ini, dan desa-desa lainnya di sekitar
lereng Gunung Balakambang," kata Sangkala dengan nada seakan tidak senang dengan
kecurigaan Rangga itu.
"Apakah mereka berasal dari desa ini juga?"
Rangga tidak peduli dengan kebdaksukaan Sangkala pada pertanyaannya tadi.
"Tidak!" lagi-lagi Sangkala yang menyahut
"Aneh, sungguh aneh," Rangga bergumam "Bagaimana mungkin orang yang tidak
diketahui asal usulnya bisa jadi panutan dan sesepuh desa" Bukankah ini satu hal
yang tidak wajar?"
Ki Gandara dan Sangkala tersentak seperti baru ter-sadar dari sebuah mimpi buruk
yang panjang. Kata-kata Rangga yang bernada seperti pertanyaan itu membuat dua
orang terpandang di Desa Pasir Batang ini terdiam seribu bahasa. Kata-kata itu
sungguh tepat menyentuh sudut hati mereka yang paling dalam.
Kecurigaan itu memang beralasan. Tidak seorang pun penduduk desa ini yang tahu
asal-usul tiga orang itu.
Apaiagi mereka datang bertepatan dengan munculnya Wratama di desa ini Dan
setahun kemudian terjadilah kegemparan di seluruh desa di lereng Gunung
Balakambang. Saat mereka diam tercekam oleh pikiran masing
masing, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan teriakan tenakan dari arah
Timur Desa Pasir Batang. Ketiga orang itu terdongak dan terkejut melihat kilauan
api yang mem-besar seketika. Tanpa banyak bicara lagi, Rangga segera melompat
bagai kilat melewati tembok padepokan yang tinggi. Dalam sekejap saja Pendekar
Rajawali Sakti telah lenyap dari pandangan mata.
"Kumpulkan anak-anak, atur penjagaan!' perintah Ki Gandara.
"Ki..!"
Suara Sangkala terputus karena Ki Gandara telah lebih cepat melompati tembok
yang mengelilingi padepokan.
Sangkala kebingungan. Bergegas dia berteriak memanggil semua murid padepokan
Pasir Batang. Segera murid-murid padepokan diperintahkan berjaga-jaga di sekitar
padepokan, dan sebagian mengikutinya menuju luar desa.
Sementara itu di bagian Timur Desa Pasir Batang
terlihat kobaran api yang makin lama makin besar. Suara suara gaduh dan jeritjerit kematian makin ramai terdengar. Malam yang semula tenang, berubah seketika
menjadi hiruk-pikuk yang memilukan
*** Segerombolan orang berpakaian serba hitam mengamuk membantai siapa saja yang teriihat. Mereka tidak memandang baik laki-laki,
perempuan, tua, muda, bahkan anak-anak pun mereka bunuh. Tanpa betas kasihan
sama sekali. Dalam waktu sekejap saja sudah banyak mayat bergelimpangan memenuhi
jalan Desa Pasir Batang
Beberapa rumah terbakar, bahkan beberapa di antaranya sudah roboh rata dengan
tanah. "Setan! Biadab!" dengus Rangga yang baru tiba di tempat kerusuhan itu.
Seketika saja darah Pendekar Rajawali Sakti bergolak mendidih.
Sret! Pedang pusaka yang terhunus telah tercabut oleh
Pendekar Rajawali Sakti. Cahaya biru pun membias seolah ingin mengalahkan sinar
api yang mengganas melahap rumah-rumah penduduk.
Tanpa mempedulikan lagi kalau orang-orang yang melakukan kebiadaban itu di luar
kesadarannya sendiri, Rangga melompat sambil mengibaskan pedang pusaka Rajawali
Sakti. Sinar biru berkelebat cepat diiringi teriakan yang tinggi. Dua orang
berpakaian serba hitam langsung roboh terkena sambarannya.
"Kepung! Bunuh dia!" tiba-tiba terdengar teriakan keras memberi perintah.
Baru saja hilang suara perintah itu, enam orang berpakaian serba hitam segera
mengepung Pendekar Rajawali Sakti. Hal ini membuat Rangga kian geram. Sambil
mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega', dia bergerak cepat mengibaskan
pedang pusakanya.
"Minggir, kalian tidak sadar! Minggir!" teriak Rangga keras.
Pedang terus berputar berkeliling menangkis hujaman tombak hitam yang datang
dari segala arah. Tombak tombak itu segera patah jadi dua terkena sabetan pedang
Pendekar Rajawali Sakti. Secepat kilat kaki-kakinya bergerak seraya jari-jari
tangan kirinya menotok jalan darah utama lawan lawannya Dalam satu gebrakan
saja, empat orang yang mengepungnya roboh kena totokan di bagian tubuhnya.
Sengaja Rangga tidak membunuh. Dia hanya membuat lawan lawannya lemas tak
bertenaga. Gerakan-gerakan kaki Pendekar Rajawali Sakti begitu cepat dan lincah,
sehingga seakan-akan melayang di atas tanah. Sementara pedangnya berkelebat,
tangan kirinya mengincar jalan darah lawan.
"Jangan bunuh mereka!" teriak Rangga ketika melihat beberapa murid Padepokan
Pasir Batang berdatangan hendak membunuh orang-orang yang sudah tak berdaya
terkena totokan.
Mendengar teriakan itu, murld-murid Padepokan Pasir Batang segera berhenti.
Mereka hanya membuat lingkaran dipimpin oleh Sangkala, melindungi penduduk yang
berlarian mencari selamat.
"Rangga, mengapa kau tidak bunuh mereka?" tanya Ki Gandara ketika melompat ke
dekat Rangga. "Mereka tidak berdosa, Ki. Nanti aku jelaskan!" jawab Rangga.
Ki Gandara tidak bisa bertanya lagi karena sebatang tombak meluncur deras ke
arahnya. Dengan cepat di-miringkan tubuhnya menghindari ancaman ujung tombak
itu. Dengan satu tipuan yang manis, tangan kirinya terulur menotok bagian pundak
orang yang menyerangnya.
Seketika lemas dan jatuhlah orang itu. Ki Gandara mengikuti anjuran Pendekar
Rajawali Sakti untuk membuat lumpuh saja lawan lawan mereka.
Dalam waktu yang tak lama, separuh dari jumlah lawan telah roboh lemas tak
bertenaga. Sisanya yang berjumlah kira-kira dua puluh orang segera memusatkan
perhatian pada dua orang tangguh ini. Mereka seperti tidak peduh lagi dengan
penduduk yang telah terlindung aman di belakang murid-murid Padepokan Pasir
Batang. Dalam keadaan yang kacau seperti ini, Pendekar
Rajawali Sakti masih bisa memperhatikan dua orang yang kelihatannya lebih
menonjol daripada yang lain. Meskipun pakaian mereka sama, tapi dari gerakangerakannya dapat dibedakan. Tetapi Pendekar Rajawali Sakti tidak dapat
memusatkan perhatian lebih lama lagi karena terhalang oleh yang lain. Serangan
serangan mereka makin menghebat, namun satu dua orang masih bisa dilumpuhkan.
"Mundur...! " tiba-tiba terdengar teriakan keras.
Mendengar komando itu, seketika orang-orang berpakaian serba hitam berlompatan. Gerakan mereka cepat dan ringan, sebentar saja
mereka telah hilang di kegelapan malam. Rangga memasukkan pedangnya kembali ke
sarungnya di punggung. Nyala api yang melahap rumah-rumah penduduk masih membuat
keadaan terang Tiba-tiba Ki Brajananta datang tergopoh-gopoh menghampiri. Napasnya masih
memburu terengah-engah meskipun sudah berdiri di depan Pendekar Raja wah Sakti.
"Dewi Purmita..., putriku...," terputus-putus Ki Brajananta berkata.
'Tenang, Ki. Apa yang terjadi dengan putrimu?" tanya Rangga.
"Putriku..., putriku diculik!" sahut Ki Brajananta masih tersengal.
"Setan!" Sangkala mengeram. Giginya bergemelutuk menahan marah
"Ki Gandara, tolong jaga mereka. Jangan ada yang dilepaskan totokannya," kata
Rangga. "Kau akan ke mana?" tanya Ki Gandara.
"Aku harus segera ke sana! Mereka terlalu berbahaya jika dibiarkan hidup!" sahut
Rangga. "Sangkala, kau ikut temani," perintah Ki Gandara.
'Tidak usah, Ki. Sebaiknya Sangkala menjemput
Sawung Bulu di goa baru dekat sungai. Ada seorang lagi dari mereka! Kalian semua
pasti mengenalinya."
Ki Gandara akan berkata, tiba-tiba Pendekar Rajawali Sakti telah lenyap. Ki
Gandara bergumam memuji
kesempurnaan ilmu meringankan tubuh pendekar muda itu. "Bagaimana, Ki?" tanya
Sangkala. "Sebaiknya kau segera menemui Sawung Bulu. Bawa empat orang untuk menemanimu.
Jika telah bertemu, kau bersama Sawung Bulu ikuti pendekar itu. Biarkan empat
orang murid kita membawa orang di katakan pendekar itu,"
kata Ki Gandara.
"Baik, Ki!" sahut Sangkala.
Bersama empat orang yang ditunjuk Sangkala, mereka segera bergerak ke arah yang
ditunjuk Rangga. Sementara itu Ki Gandara memerintahkan murid muridnya untuk
membawa tawanan mereka yang kini tak berdaya.
Sedangkan Ki Brajananta memerintahkan penduduk yang masih hidup untuk mengurus
mayat-mayat yang bergelimpangan.
"Adik Brajananta, kita tidak bisa tinggal diam di sini,"
kata Ki Gandara.
"Maksud Kakang?" tanya Ki Brajananta.
"Kita harus ke Gunung Balakambang."
"Untuk apa" Bukankah pendekar itu ingin menye-lesaikannya sendni?"
"Apa kau tidak ingin mengetahui siapa Raja Dewa Angkara sebenarnya" Apakah kau
tidak khawatir dengan keselamatan putrimu?" Ki Gandara jadi gusar juga.
Ki Brajananta tersentak, lalu cepat-cepat melangkah. Ki Gandara tersenyum dengan
gelengan kepala beberapa kali. Dia menggerundel dalam hati melihat kelakuan Ki
Brajananta yang tidak berubah sejak muda dulu. Selalu harus dipecut dulu sebelum
bertindak. Tidak heran kalau selaku kepala desa dia tidak bisa bertindak tegas,
mudah dipengaruhi orang lain.
Kelemahan inilah yang membuat Raja Dewa Angkara
mudah menguasai Desa Pasir Batang.
*** 7 "Sawung Bulu, di mana kau...!"
Teriakan yang keras dan menggema itu membuat
Sawung Bulu tersentak kaget. Bergegas dia bangun dari tidurannya Teriakan itu
terdengar sangat dekat dan berulang-ulang. Dia kenal dengan suara itu.
"Paman Sangkala...," desis Sawung Bulu. "Bagaimana mungkin dia tahu aku ada di
sini?" Sawung Bulu sedikit ragu-ragu untuk ke luar goa.
Matanya sempat melirik Melati yang masih tergolek lemas di atas hamparan
dedaunan. Rupanya Melati juga mendengar suara itu, namun karena pengaruh totokan
pada tubuhnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sawung Bulu...!"
Terdengar lagi suara panggilan yang keras. Pelan-pelan Sawung Bulu mendekati
mulut goa. Tangannya menyibakkan sedikit semak-semak rimbun yang menutupi mulut
goa. Jelas terlihat Sangkala bersama empat orang lainnya berdiri di depan mulut
goa dengan mata beredar mencari-carl "Paman.... Paman Sangkala" panggil Sawung
Bulu sambil menguakkan semak-semak.
Sangkala langsung menoleh dan berlari ketika melihat Sawung Bulu muncul dari
rimbunan semak. Sesaat mereka saling bertatapan, lalu berpelukan hangat.
"Aku tak mengira kau masih hidup, Sawung Bulu," kata Sangkala penuh rasa haru.
"Pendekar Rajawali Sakti telah menyelamatkan hidup-ku, Paman," sahut Sawung Bulu
sambil melepaskan pelukannya.
Kembali mereka saling tatap, penuh rasa haru.


Pendekar Rajawali Sakti 6 Prahara Gadis Tumbal di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Bagaimana Paman bisa tahu aku ada di sini?" tanya Sawung Bulu.
"Pendekar yang menolongmu memberitahuku," sahut Sangkala.
"Maksud Paman, Pendekar Rajawali Sakti?" Sawung Buhl belum yakin.
"Benar."
"Lalu, di mana dia sekarang?"
"Ke puncak Gunung Balakambang."
"Celaka!" Sawung Bulu terkejut Wajahnya seketika menyiratkan kecemasan. "Ayo,
Paman. Kita harus bantu dia!"
"Tunggu dulu, Sawung. Aku juga akan ke sana, tapi aku harus membawa dulu orang
yang bersamamu di sini."
Sawung Bulu menepuk keningnya sendiri. Dia teringat Melati yang masih tergolek
lemas di dalam goa. Cepat-cepat Sawung Bulu mengajak pamannya ke dalam goa batu
ini Betapa terkejutnya Sangkala ketika melihat Melati terbaring lemas di atas
tumpukan daun-daun kering Pakaian hitam ketat masih membungkus tubuh yang
ramping. "Melati...," desis Sangkala setengah tidak percaya.
"Benar, Paman. Dia Melati putri Kepala Desa Karang Sewu," Sawung Bulu
membenarkan. "Bagaimana mungkin" Bukankah sudah dijadikan korban persembahan tiga tahun yang
lalu?" Sangkala masih belum percaya.
"Tidak salah Paman. Tiga tahun yang lalu Melati memang dijadikan korban
persembahan untuk Raja Dewa Angkara."
Sawung Bulu menjelaskan semuanya yang didapat dari Pendekar Rajawali Sakti.
Tidak lupa juga tentang kekuatan yang mempengaruhi semua korban korban
persembahan, sehingga mereka tidak ingat akan diri masing masing Raja Dewa
Angkara juga menjadikan gadis-gadis itu sebagai iaskar yang tangguh.
Sangkala mendengarkan dengan penuh perhatian.
Pantas saja Pendekar Rajawali Sakti melarang membunuh Iaskar Raja Dewa Angkara
yang telah mengganas membantai penduduk desa. Rupanya memang orang-orang itu
tidak berdosa, yang jiwanya dalam pengaruh kekuatan Raja Dewa Angkara.
"Hm..., siapa Raja Dewa Angkara itu sebenarnya?"
Sangkala seolah bertanya pada dirinya sendiri
"Orang-orang yang selama ini kita hormati, Paman,"
sahut Sawung Bulu
"Maksudmu?" tanya Sangkala tidak mengerti.
"Rawusangkan, Wratama, Bagaspati, dan Paralaya.
Merekalah yang menamakan diri sebagai Raja Dewa
Angkara." Bagai disambar petar rasanya Sangkala saat ini. Bola matanya menatap tajam
Sawung Bulu. Dia masih belum percaya dengan pendengarannya sendiri. Apakah
Sawung Buki tidak main-main" Mereka adalah orang-orang yang sangat dihormati,
karena mereka orang kerajaan yang menguasai seluruh desa di sekitar lereng
Gunung Balakambang. Lebih-lebih Rawusangkan yang sampai saat ini
sebenarnya masih menjabat patih. Juga Bagaspati dan Paralaya yang merupakan
punggawa pilihan. Sedangkan Wratama bekas punggawa yang sudah beralih jadi tabib
yang sangat terkenal.. Tetapi untuk Wratama sendiri, Sangkala tak ambil peduli.
Orangnya telah tewas di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Menurut Pendekar itu
pula, Wratama adalah salah satu dari orang-orang Raja Dewa Angkara. Hanya yang
masih belum dipercaya adalah ketiga orang itu.
"Aku sendiri hamptr tidak percaya kalau mereka berada di belakang layar selama
ini. Tetapi setelah kubuktikan dengan mata kepalaku sendiri, baru aku bisa
percaya," kata Sawung Bulu.
"Bagaimana kau bisa tahu semua ini?" tanya Sangkala ingin tahu.
"Dengan itu," Sawung Bulu menunjuk seonggok baju hitam yang tergeletak di pojok
gua. Sangkala menghampiri baju itu, dan mengambilnya.
Baju itu sama persis dengan yang dikenakan Melati, serta orang-orang Raja Dewa
Angkara lainnya.
Sangkala memandang keponakannya untuk minta
penjelasan. 'Tadi pagi ketika berburu, aku menemukan beberapa mayat yang seluruhnya
mengenakan baju hitam. Saat itulah akalku berjalan. Kulepaskan salah satu baju
mayat itu yang masih utuh. Dengan baju itu aku menyamar sehingga dapat menyusup
ke sarang Raja Dewa Angkara,"
Sawung Bulu menjelaskan.
"Lalu, apa yang kau dapat dari sana?" tanya Sangkala.
"Raja Dewa Angkara menggunakan kekuatan bathin untuk mempengaruhi gadis-gadis
korban persembahan untuknya sekaligus menjadikan mereka laskar yang tangguh dan
perkasa." Sangkala mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam
hati memuji kecerdikan keponakannya ini.
"Yang jadi biang keladi semua ini adalah Rara Inten."
"Rara lnten..."!" Sangkala terkejut. "Bukankah Rara lnten istri ketiga Ki
Ardareja?"
"Benar, Paman. Selama ini kita tidak mengetahui kalau Rara lnten mempelajari
ilmu kekuatan bathin. Rara lnten pun tahu betul semua peristiwa yang terjadi dua
puluh tahun yang lalu. Ketika dia tahu kalau Rawusangkan sebenarnya adalah kakak
Wratama, anak istri pertama Ki Ardareja, maka dengan kekuatan bathin itulah jiwa
mereka dipengaruhi. Tak ketinggalan dua punggawa kepercayaan Rawusangkan ikut
dipengaruhi kekuatan bathin itu."
"Hm...," Sangkala mengguman dengan kepala ter-angguk-angguk.
"Sebenarnya pula Rara lnten yang membunuh Ki Ardareja. Dia menunggu saat yang
tepat untuk melancarkan fitnah. Dipengaruhilah Wratama dan Rawusangkan dengan
mengatakan kalau yang membunuh ayah mereka adalah Ki Brajananta."
"Kenapa Rara lnten melakukan semua itu?" tanya Sangkala.
"Rara lnten mencintai Ki Brajananta, namun cintanya tak pemah kesampaian. Dia
dendam dan melarikan diri ketika bayi pertama Ki Ardareja hilang. Kemudian dia
menyepi di puncak Gunung Balakambang sambil mempelajari semua ilmu-ilmu
kebathinan dari buku-buku peninggalan kakeknya."
"Ya, aku tahu itu. Ki Gandara pernah cerita kalau kakek Rara lnten seorang ahli
kebathinan di samping jadi tabib.
Hm..., tidak mustahil kalau Wratama dan Rawusangkan tidak mengenalnya. Yang
pasti Rara lnten sekarang sudah tua," pelan suara Sangkala terdengar.
"Paman salah duga. Rara lnten masih kelihatan muda dan cantik," selak Sawung
Bulu. "Oh...!"
"Dengan ramuan ramuan yang dikuasainya, Rara lnten bisa membuat dirinya jadi
awet muda dan tetap kelihatan cantik."
Sangkala menggeleng-gelengkan kepalanya, setengah tidak percaya. Tapi dalam
dunia ketabiban, hal itu mungkin saja bisa terjadi. Tidak mustahil, sebelum
meninggal kakek Rara lnten menurunkan ilmu-ilmunya pada sebuah buku yang kini
sudah dikuasai betul oleh Rara lnten.
"Menakjubkan," gumam Sangkala. "Apa yang dicari Rara lnten sebenarnya?"
"Menguasai seluruh rimba persilatan."
"Edan!"
*** Sementara itu di puncak Gunung Balakambang, Rara
lnten tergolek di pembaringan. Butir-butir keringat masih mem-basahi tubuh yang
hanya ditutupi selembar kain sutra tipis biru muda. Lampu pelita yang menerangi
kamar menembus kain sutra tipis, sehingga bayangan lekuk-lekuk tubuh indah
tergambar di baliknya.
Sepasang bola mata Rara lnten yang indah menatap Rawusangkan yang berdiri
membelakanginya di depan jendela. Dia beringsut sambil melilitkan kain sutra
biru muda ke tubuhnya, lahi duduk bersandar membiarkan bagian pahanya
tersingkap. Cahaya api pelita membias menjilati paha yang putih mulus itu.
"Apa yang kau pandangi, Rawusangkan?" tanya Rara lnten dengan suara halus lembut
Rawusangkan menoleh dan tersenyum.
"Kau kelihatan murung dan tidak bergairah sekali malam ini Ada apa?" masih
terdengar lembut suara Rara lnten.
"Entahlah," desah Rawusangkan. "Rasanya hatiku tidak enak malam ini."
"Kau sudah tidak sabar menunggu Dewi Purmita?" Rara Inten menebak
Rawusangkan hanya tersenyum saja. Bayangan Dewi
Purmita mendadak berkelebat di matanya.
"Sabarlah. Tidak lama lagi dia akan tunduk padamu.
Kau bisa menjadikannya kelinci cantik mainanmu.
Lagi-lagi Rawusangkan hanya tersenyum hambar Dia memang tak sabar menunggu Dewi
Purmita. Tetapi ada hal Iain yang mengganggu pikirannya. Kemunculan Pendekar
Rajawali Sakti di Desa Pasir Batang inilah yang menjadi beban pikirannya.
Tidak sedikit gadis-gadis Iaskar Raja Dewa Angkara tewas di tangan pendekar itu.
Dan malam ini seperti ada firasat kalau pendekar itu akan menghalangj gerakan
Raja Dewa Angkara. Tidak biasanya, anak buahnya begitu lama menjalankan tugas
membumihanguskan satu desa saja.
Rara Inten beringsut turun dari pembaringan. Langkahnya gemulai menghampiri
Rawusangkan yang masih di tempatnya. Wanita itu langsung mebngkarkan tangannya
ke leher Rawusangkan.
Tanpa maksud menyinggung perasaan Rara Inten,
Rawusangkan melepaskan pelukan di lehernya. Tentu saja wanita itu makin heran
dengan sikap Rawusangkan yang tidak seperti biasanya. Tadi dia pun sangat kecewa
karena Rawusangkan tidak dapat memuaskan dirinya di atas ranjang. Kini dia
menolak meskipun dengan cara halus.
"Kau kelihatan lain sekali malam ini. Apa yang kau pikirkan?" tanya Rara Inten.
"Hhh...," Rawusangkan mendesah panjang "Tidak biasanya mereka menjalankan tugas
begini lama."
"Ah, barangkali saja mereka mendapat halangan," Rara Inten mencoba untuk
menenangkan kegalauan hati laki-laki ini.
"Halangan itu yang kini jadi beban pikiranku."
Rara Inten merayapi wajah Rawusangkan. Kekuatan
bathinnya langsung bekerja menerobos ke dinding hati laki-laki ini melalui sinar
matanya. Rara Inten melangkah mundur dua tindak Seketika wajahnya berubah agak
menegang. Pelan-pelan mata Rara Inten terpejam. Kepalanya
sedikit terdongak Lalu dibuka lagi matanya, dan segera menatap ke luar melalui
jendela yang terbuka lebar. Raut wajahnya makin jelas kelihatan menegang.
"Setan!" dengus Rara Inten tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Rawusangkan.
"Cepat berpakaian, kumpulkan semua anak-anak!"
tegas suara Rara Inten.
Rawusangkan tidak membantah. Bergegas dirapikan
pakaiannya, lalu melangkah menghampiri pintu. Rara Inten menoleh
Rawusangkan belum sempat sampai pintu, mendadak
terdengar suara ketukan beruntun. Kedengarannya seperti terburu-buru. Bergegas
Rawusangkan membukanya.
Tampak Bagaspati berdiri dengan peluh bercucuran di vvajahnya.
"Celaka..., celaka Kakang," terputus-putus suara Bagaspati.
"Apa yang terjadi?" tanya Rawusangkan.
"Aku tidak butuh laporanmu. Cepat kumpulkan anak-anak, setan keparat itu sudah
dekat!" potong Rara lnten.
Bagaspati menelan ludahnya ketika melihat Rara Inten hanya terbungkus sutra
tipis pada tubuhnya. Bayangan lekuk-lekuk tubuh indah itu menggijurkannya.
Rawusangkan mendorong Bagaspati, dan segera
menutup pintu. Sementara Rara Inten memungut pakaiannya yang teronggok di lantai
kamar beralaskan anyaman bambu halus. Tenang sekali mengenakan pakaiannya.
Pakaian serba hitam yang ketat memetakan bentuk tubuhnya yang ramping indah.
Dengan langkah tenang, dia ke luar kamar.
Belum sempat Rara Inten mencapai pintu ke luar
rumahnya, tiba-tiba terdengar ribut-ribut diikuti jeritan-jeritan perkelahian.
Denting senjata beradu terdengar beberapa kali.
"Huh!" Rara Inten mendengus.
Sekali hentak saja, tubuhnya meluncur deras ke luar dari rumah yang paling besar
cfi antara rumah rumah lain cfi puncak Gunung Balakambang Dijejakkan kakinya di
tanah dengan manis. Seketika rahang Rara Inten
menggeletuk saat melihat kilauan sinar biru di antara ujung-ujung batang tombak
hitam yang mengurung
"Setan!" geram Rara Inten saat mengetahui beberapa anak buahnya rubuh terkena
totokan. Dalam beberapa gebrakan saja sekitar dua puluh orang berpakaian serba hitam
menggeletak dengan totokan pada jalan darahnya. Pendekar Rajawali Sakti sengaja
untuk tidak melukai, apalagi membunuh mereka. Hati
kependekarannya tidak mengijinkan membantai orang-orang yang tengah dipengaruhi
jiwanya Kian lama serangan-serangan mereka kian tajam dan berbahaya dan datang dari
segala arah. Bagai air bah yang siap menghanyutkan. Pendekar Rajawali Sakti
tampak sedikit kewalahan menghadapinya. Ruang geraknya begitu sempit. Dalam
keadaan yang terdesak, Pendekar Rajawali Sakti sempat melihat sesosok tubuh
berdiri agak Jauh, tengah menggerak-gerakkan tangannya.
"Hm..., rupanya dia yang menggerakkan gadis-gadis ini,"
gumam Rangga atau Pendekar Rajawali Sakti dalam hati.
Gelombang kekuatan bathin mulai dapat dirasakan.
Kian lama kian kuat Rangga mulai merapal ajian Bayu Braja, satu ajian yang dapat
menimbulkan angin topan yang sangat dahsyat
"Tidak!" tiba-tiba Rangga tersentak. Segera dicabutnya lagi ajian itu.
Ajian 'Bayu Braja' yang sangat dahsyat ini dapat berakibat fatal bagi mereka
yang tidak berdosa. Mereka dapat terhempas ke pohon-pohon atau batu-batu cadas!
Sedangkan bagi yang memiliki tenaga dalam cukup, akan semakin parah jika mencoba
melawan kekuatan ajian ini Bisa bisa mereka akan tewas dengan luka dalam yang
sangat parah. "Hiya...!"
Tiba-tiba Rangga berteriak kuat Secepat kilat dirubah jurusnya menjadi 'Sayap
Rajawali Membelah Mega'. Sambil memutar pedangnya, Rangga melompat tinggi ke
udara Namun tampaknya lawan lawan tidak membiarkannya
loJos. Seperti ada yang memberi komando serentak dilemparkan tombak-tombak itu
ke arah Pendekar Rajawali Sakti.
Melihat beberapa tombak meluncur ke arahnya
secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti memutar pedangnya.
Tombak-tombak hitam pekat itu patah terbabat pedang pusaka Rajawali Sakti. Tiga
kali Pendekar Rajawali Sakti berputar di udara, lalu meluruk cepat ke arah sosok
tubuh ramping berpakaian serba hitam.
Kaki-kaki Rangga bergerak cepat meluruk tepat di atas kepala sosok yang tak Iain
adalah Rara lnten. Begitu cepat dan mendadaknya serangan itu, sehingga Rara
lnten kelabakan. Dihempaskan tubuhnya, lalu bergulingan di tanah menghindarl
terjangan Pendekar Rajawali Sakti yang dahsyat.
"Bedebah! Setan keparat!" umpat Rara lnten seraya melenting, dan berdiri lagi
dengan kokoh. Rangga menjejakkan kakinya di tanah dengan manis.
Dimasukkan pedang pusaka ke dalam sarung di punggungnya. Kedua kakinya
terbentang lebar. Sepasang bola matanya memandang tajam ke arah lawan.
"Angkara murkamu sudah berakhir. Raja Dewa
Angkara," dingin suara Rangga.
"Nama besarmu yang berakhir, Pendekar Rajawali Sakti," suara Rara lnten tidak
kalah dingjn. "Lihat, orang-orangmu sudah tidak bersenjata lagi. Aku dapat membunuh mereka
semudah membalikkan tangan.
Tetapi mereka tidak berdosa. Kau harus bertanggung jawab!" keras suara Rangga.
"Mereka bukan orang-orang yang takut mati, dan aku belum kalah!" sahut Rara
Intea Selesai berkata demikian, mendadak Rara lnten mendorong kedua tangannya yang
terbuka ke depan. Secercah sinar merah meluncur deras dari kedua telapak
tangannya Begitu pesatnya, sehingga membuat Pendekar Rajawali Sakti terkesiap.
Tidak ada waktu lagi untuk menghindari.
"Hih!"
Rangga terpaksa segera mengerahkan aji 'Bayu Braja', tapi terlambat Sinar merah
itu cepat membentur dadanya.
Tak pelak lagi, tubuh pendekar muda itu terjengkang ke belakang sekitar tiga
batang tombak jauhnya.
"Hoek...!" Rangga memuntahkan darah kental dari mulutnya
Akibat terhantam oleh sinar merah Rara lnten, mendadak tubuh Rangga terserang


Pendekar Rajawali Sakti 6 Prahara Gadis Tumbal di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

hawa panas. Cepat-cepat digerakkan kedua tangannya ke atas, lalu turun sampai di
depan dada. Kakinya dipentang lebar ke samping dengan lutut ditekuk. Pendekar
Rajawali Sakti lalu mengerahkan hawa mumi untuk mengusir hawa panas itu.
Sebentar saja hawa murni itu lenyap dari tubuhnya.
Rangga mengepalkan tangan kiri dan diletakkan persis di tengah-tengah telapak
tangan yang terbuka. Pelan-pelan (digeser tangannya ke kanan, lalu didorong lagi
ke kiri. Itulah pembukaan jurus 'Pukuian Maut Paruh Rajawali'.
Rangga yang sudah muak dengan kekejaman Raja
Dewa Angkara, tidak segan segan lagi menumpasnya.
Langsung dikerahkannya jurus andalan keempat dari rangkaian jurus maut 'Rajawali
Sakti'. Begitu dibuka jurus itu, seketika saja kedua kepalan tangannya berubah
merah menyala "Huh! Ilmu setan apa yang dikeluarkannya?" dengus Rara Inten.
Wanita itu sebenarnya terkejut juga melihat Pendekar Rajawali Sakti tidak cedera
terkena ajian mautnya. Biasanya, tak ada seorang pun yang sanggup berdiri lagi
jika terkena ajian 'Tapak Dewi Maut.'
''Tampaknya ilmu yang dimiliki sangat berbahaya. Hm..., aku harus menandinginya
dengan aji 'Kala Seribu'," gumam Rara lnten.
Segera saja Rara lnten merapalkan ajian maut itu.
Setelah selesai merapal seketika kuku-kuku jarinya berubah berwarna hijau
menyala. Rara lnten yang telah merasa mendapat lawan tangguh, segera mengambil
inisiatif menyerang lebih dulu. Dan dengan cepat kedua tangannya dihentakkan ke
depan. "Hiya...!"
"Ya...l"
Teriakan teriakan keras terdengar saling sahut. Dari jari-jari tangan Rara lnten
meluncur sinar-sinar hijau yang membentuk menyerupai binatang kalajengking yang
sangat banyak. Ajian ini sangat di bangga banggakan Rara lnten. Lawan yang
terkena dalam sekejap pasti tewas dengan tubuh penuh hibang, bagai habis tersengat ribuan kalajengking.
Tapi, apakah ajian itu mampu menandingi jurus
'Pukuan Maut Paruh Rajawali', yang sekaligus dibarengi dengan pengerahan aji
'Bayu Braja'"
Kini kedua tokoh sakti berbeda aliran sudah saling menyerang. Mereka kerahkan
sekuruh kesaktian masing-masing. Dua ilmu kesaktian yang berbeda aliran kini
bertemu. Sementara semua orang yang saat itu menyaksikan, hanya dapat menahan
nafas. Ki Gandara, Ki Brajananta, Sangkala, dan Sawung Bulu, pun telah datang ke puncak
Gunung Balakambang. Mereka datang tepat ketika dua tokoh sakti itu saling
berhadapan. Mata mereka tidak berkedip menyaksikan pertarungan itu.
Dua kelompok yang saling bermusuhan itu terpusat penuh perhatiannya pada
Pendekar Rajawali Sakti dan Rara lnten.
*** 8 Secercah sinar hijau meluruk deras ke arah Pendekar Rajawali Sakti Pada saat
yang sama, pendekar muda itu menghentakkan tangannya. Seberkas cahaya merah
meluruk membendung serangan aji 'Kala Seribu' yang dilepaskan Rara Inten. Cahaya
merah itu mengandung hawa panas luar biasa disertai hembusan angin deras menderu
bagai terjadi badai topan seketika
Dua sinar berbeda saling berbenturan di udara.
Kekuatan itu saling mendorong dan saling mengungguli.
Hawa panas menyebar menusuk kulit, membuat orang-orang di sekitar tempat itu
mengerahkan tenaga dalam untuk menghindari hawa panas yang menyengat Ditambah
lagi dengan hembusan angin keras bagai topan.
"Kalian berdua, cari Dewi Purmita," kata Ki Gandara pada Sawung Bulu dan
Sangkala. Ki Gandara melihat kesempatan baik untuk membebaskan Dewi Purmita. Tanpa mengucapkan satu kata pun, dua murid tangguh
Padepokan Pasir Batang itu pun segera bergerak menyelinap cepat. Gerakan yang
disertai pengerahan ilmu meringankan tubuh itu tidak diketahui sama sekali oleh
orang-orang Raja Dewa Angkara. Mereka terlalu terpaku pada pertarungan adu ilmu
tingkat tinggi itu. Sementara itu, Pendekar Rajawali Sakti mulai menggeser
kakinya sedikit demi sedikit maju ke depan. Rara Inten juga melangkah maju
sambil terus melepaskan aji
'Kala Seribu'. Wajah wajah mereka telah kelihatan merah menegang. Hingga tiba
waktunya, secara bersamaan kedua tokoh itu berteriak nyaring sambil melompat
cepat ke depan.
Ledakan keras menggelegar memekakkan telinga terjadi ketika dua pasang telapak
tangan beradu di udara.
Rara Inten terdorong keras ke belakang, hingga punggungnya membentur baru
karang. Sementara itu Pendekar Rajawali Sakti terjengkang deras membentur
pepohonan hingga tumbang
"Uhk, hoek...'"
Hampir bersamaan kedua tokoh sakti itu memuntahkan darah kental kehitaman. Hampir bersamaan pula mereka segera bangkit kembali.
Rangga menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Matanya merah tajam
menatap lurus Rara Inten. Rara Inten tak mau kalah.
Ditatapnya Pendekar Rajawali Sakti dengan mata menyala penuh kebencian.
"Keluarkan senjatamu, bangsat!" dengus Rara Inten, geram.
Selesai berkata demikian, Rara Inten mencabut
senjatanya berupa tongkat pendek berwarna hitam dari batik bajunya. Tongkat itu
memiliki ujung yang bermata merah membara. Pamomya sungguh dahsyat memancarkan
sinar merah menyala.
Sret! Rangga tidak segan-segan lagi mencabut.
Pedang pusakanya Seketika kegelapan malam yang
menyelimuti puncak Gunung Balakambang menjadi terang benderang oleh sinar biru
kemilau yang meman car dari pedang Pendekar Rajawali Sakti. Rangga menyilangkan
pedangnya di depan dada. Matanya tetap tajam menatap lurus ke depan.
Dengan satu teriakan, Rara lnten menerjang sambil mengibaskan tongkat pendeknya.
Rangga hanya memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri. Pedangnya berkelebat cepat
menghalau ujung mata tongkat pendek yang mengancam iga. Trang! Dua senjata
beradu keras menimbulkan pijaran api dahsyat Rangga yang mengira senjata lawan
akan patah, tersentak kaget Dengan gerakan yang cepat tidak terduga, Rara lnten
memutar tongkat pendeknya.
Rangga menarik tubuhnya ke belakang, maka ujung
tongkat itu berkelebat di depan lehemya Pada saat yang bersamaan, pedang
Pendekar Rajawali Sakti terayun membabat ke arah perut lawan. Rara lnten yang
tengah memusatkan pada serangannya, terkejut karena tidak menyangka Pendekar
Rajawali Sakti bisa berkelit sambil melancarkan serangan balasaa
Dengan cepat dUentingkan tubuhnya menghindari
sabetan pedang pada perutnya. Dua kali berputar di udara, kemudian kembali
meluruk dengan ujung tombak
terhunus. Melihat begitu cepatnya serangan datang, Rangga melompat sambil
membabatkan pedang ke bawah Trang!
Lagi-lagi dua senjata beradu keras. Rangga berputar melewati kepala Rara lnten,
dan menjejak manis di tanah.
Baru saja akan berbalik, sekonyong-konyong Rara lnten sudah berputar seraya
mengelebatkan tongkat pendeknya.
Cras! "Akh!" Rangga berseru tertahan.
Ujung tongkat berwama merah menyala itu langsung menggores pangkal lengan kiri
Pendekar Rajawali Sakti.
Darah segar mengalir deras dari luka goresan yang cukup panjang dan dalam.
Rangga melompat mundur dua
langkah ke belakang.
Sesaat dilihat luka pada pangkal lengannya. Geraham-nya bergemeletuk menahan
geram Segera ditotok
beberapa jalan darah di sekitar lukanya. Seketika itu juga darah berhenti
mengalir. Kembali matanya menatap tajam pada Rara lnten yang berdiri angkuh
penuh ejekan. Rara lnten mengangkat tangan kirinya, lalu dibukanya kedok kain hitam tipis yang
menutupi seluruh kepalanya.
Kini terlihat seraut wajah cantik tersenyum mengejek.
Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai lepas
"Rara lnten...," desis Ki Brajananta terkejut begitu mengenali wajah wanita yang
selama ini menjadi momok.
"Hmmm...," Rangga bergumam tidak jelas. Sama sekali tidak disangka kalau lawan
yang dihadapinya seorang wanita cantik.
"Rara Inten, tidak kusangka kau yang jadi biang keladi kerusuhan ini!" dengus Ki
Brajananta. Rara Inten hanya mendengus melirik laki-laki tua yang masih kelihatan gagah ini.
Laki-laki yang dulunya dicintai-nya setengah mati. Kini laki-laki itu sudah tua,
tidak berguna lagi bagi dirinya. Mendadak Rara Inten mengibaskan tangannya ke
arah Ki Brajananta.
Selarik sinar hijau meluncur deras. Sinar hijau yang berbentuk seekor kala
berbisa itu meluruk deras ke arah Ki Brajananta.
"Awas...!" teriak Rangga.
Terlambat! "Aaaakh...!" Ki Brajananta menjerit panjang Sinar hijau itu menghujam dalam di
dada Ki Brajananta. Dia terjengkang ke belakang sejauh satu tombak. Tampak bagian
dadanya berlubang, tembus
sampai ke punggung. Ki Brajananta hanya menggeliat sebentar, kemudian tak
bergerak-gerak lagi.
"Iblis, kejam!" desis Rangga menggeram murka.
Rara Inten hanya tertawa mengikik
"Kubunuh kau, iblis!" geram Ki Gandara.
Baru saja Ki Gandara hendak melompat, tiba-tiba berkelebat tiga sosok berpakaian
serba hitam menghadang Mereka segera membuka kedok hitam dari kain sutra tipls
yang melekat pada wajah. Ki Gandara tersentak kaget saat mengenali wajah tiga
orang yang kini berdiri menghadang di depannya
"Kalian..., ternyata kalian manusia-manusia busuk!"
geram Ki Gandara
"Tidak lebih busuk daripadamu, Ki Gandara. Penghasut!
Mencari muka dengan memperalat Ki Brajananta untuk membunuh ayahku!" sahut
Rawusangkan dingin.
"Siapa kau sebenarnya"!" tanya Ki Gandara diiringi rasa geram.
"Aku putra pertama Ardareja!"
"Kau..."!" Ki Gandara seakan bdak percaya dengan pendengarannya
Belum lagi hilang rasa terkejut dan rasa bdak percaya-nya, tiba-tiba Ki Gandara
memekik tertahan. Dia kaget setengah mati karena secara tiba-tiba Rawusangkan
sudah melompat menyerang.
Buru-buru laki-laki tua itu menggeser tubuhnya ke samping. Tangan kanannya
mengibas mematahkan
serangan Rawusangkan. Dengan cepat Rawusangkan
menarik tangannya menghindari benturan dengan tangan Ki Gandara.
"Tunggu!"
Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras disertai pengerahan tenaga dalam.
Secepat itu pula Rawusangkan melompat mundur.
Matanya mendelik melihat Sangkala dan Sawung Bulu membawa Dewi Purmita.
Rawusangkan memandang pada Paralaya yang ditugaskan untuk menyembunyikan Dewi
Purmita. Belum juga Paralaya membuka mulut, Sangkala telah lebih dulu berkata.
"Rawusangkan, jiwamu sudah terpengaruh oleh Rara lnten. Dia itu istri ketiga
ayahmu, yang juga membunuh ayahmu pula! Lihat ini, senjata yang digunakannya
untuk membunuh Ki Ardareja!"
Sangkala melempar sebatang tongkat sepanjang
lengan berwarna hitam kelam dengan ujung merah.
Senjata itu sama persis dengan yang dipegang Rara lnten.
Rawusangkan memandang senjata yang tergeletak di tanah. Kemudian ditatapnya
Sangkala. "Ayahmu dibunuh karena beliau tidak bersedia menceraikan ibumu yang saat itu kau
berada dalam kandungannya. Rara lnten tidak mau ada bayi lahir selain dari
dirinya. Ibumu pun perah akan dibunuhnya, tapi Ki Brajananta berhasil
menyelamatkan. Dari situ timbul dendam. Dia memperalat dirimu dengan menjadikan
kau Raja Dewa Angkara, sebagai pelampiasan keinginannya menghancurkan desa
kelahiranmu sendiri!"
"Bohong! Itu dusta!" pekik Rara lnten kalap.
"Rara lnten, semua akal busukmu sudah terbongkar.
Tidak ada gunanya lagi kau mengelak," dengus Sawung Bulu. Rawusangkan memandang
Rara lnten, kemudian matanya menatap orang-orang di sekelilingnya Dari sinar
matanya, terlihat kebimbangan yang membias di wajahnya.
"Ayah...," desis Dewi Purmita ketika matanya menangkap tubuh ayahnya yang sudah
tak bernyawa lagi.
Semua perhatian sekejap tertumpah pada gadis itu.
Namun semuanya hanya sekejap saja, karena tiba-tiba Rara lnten mencelat ke arah
Dewi Purmita dengan senjata terhunus.
"Purmita, awas!" teriak Sawung Bulu.
Seketika Sawung Bulu melompat mencoba
menyelamatkan kekasihnya. Dia tidak peduli lagi dengan ujung tongkat yang
bergerak cepat menghujam.
"Aaakh...!" Sawung Bulu menjerit kesakitan ketika merasakan iganya sobek
mengucurkan darah.
Kejadian itu sangat cepat sekali, sehingga membuat orang-orang di selatarnya
terpana. Tubuh Sawung Bulu jatuh meluruk.
"Iblis," desis Rangga geram.
Dengan satu teriakan menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti melompat cepat seraya
mengibaskan pedangnya pada Rara lnten. Secepat kilat Rara lnten berputar
menangkis serangan mendadak dari Rangga.
Trang! Kembali dua senjata sakti berbenturan keras. Namun kali ini Rara lnten
tersentak. Tubuhnya terdorong tiga langkah ke belakang. Tangannya terasa
kesemutan saat senjatanya membentur pedang Pendekar Rajawali Sakti.
Dalam keadaan marah yang meluap, Rangga mengerahkan sehjruh tenaga dalam sambil mengeluarkan jurus andalan yang terakhir
dari lima rangkaian jurus
'Rajawab Sakti.' Jurus 'Rajawali Seribu' yang jarang digunakannya jika tidak
dalam keadaan terpaksa sekali.
Pedang pusaka Pendekar Rajawali Sakti berkelebat cepat ditimpafi dengan gerak
kaki dan tubuh yang tidak kalah cepat pula. Dalam sekejap saja tubuh Pendekar
Rajawali Sakti bagaikan terpecah-pecah menjadi seribu banyaknya. Semua orang
yang menyaksikan menjadi
tercengang melihat pendekar muda itu menjadi
sedemikian banyak mengurung rapat Rara Inten.
"Setan! Ilmu apa yang dikeluarkannya?" dengus Rara Inten. Dia jadi kelabakan
menangkis setiap serangan yang datang sangat cepat dari segala penjuru.
Gerakan-gerakan tubuh Pendekar Rajawali Sakti kian lama kian tidak beraturan.
Hal ini membuat bingung Rara Inten. Wanita ini sudah tidak bisa lagi membaca
setiap gerakan dan arah tujuan jurus itu. Dia jadi senewen. Setiap akan
menangkis pedang Pendekar Rajawali Sakti, sekejap saja pedang itu sudah berbelok
arah. "Akh!" tiba-tiba Rara Inten memekik tertahan Betapa kagetnya Rara Inten ketika
dengan cepat pedang Pendekar Rajawali Sakti menyodok iganya. Cepat-cepat Rara Inten
mengibaskan tongkat pendeknya untuk menangkis. Namun kali ini pun tertipu.
Ternyata sodokan pedang itu malah menyabet turun ke bawah. Dan dengan kecepatan
tinggi, pedang itu berputar arah menyamping.
"Aaakh...!" Rara Inten menjerit keras.
Tanpa bisa dicegah lagi, mata pedang Pendekar
Rajawali Sakti merobek dadanya. Darah menyembur dari dada yang terbelah panjang
dan dalam. Tubuh Rara Inten sempoyongan. Tetapi sebelum disadari apa yang
terjadi, tiba-tiba pedang itu kembali berkelebat.
Cras! Rara Inten tidak mampu lagi bersuara. Sebentar tubuhnya berdiri tegak, lalu
rubuh dengan kepala terpisah dari badan. Pedang pusaka Pendekar Rajawali Sakti
membabat bagaikan menebang batang pisang saja. Rangga memasukkan pedangnya
kembali. Sebentar pendekar muda itu berdiri tegak memandang tubuh Rara Inten yang
menggeletak tanpa kepala. Rangga mendesah panjang lalu menoleh ke arah Dewi


Pendekar Rajawali Sakti 6 Prahara Gadis Tumbal di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Purmita yang menangis memeluk tubuh Sawung Bulu. Pendekar Rajawali Sakti segera
menghampiri mereka, lalu jongkok di samping Sawung Bulu.
"Hm, hanya luka biasa," gumam Rangga setelah memeriksa luka di iga Sawung Bulu
Rangga tersentak ketika mendengar suara teriakan marah yang datang dari arah
belakang Ketika ia menoleh, terlihatlah Sangkala tengah menerjang Rawusangkan
dan dua orang lainnya dengan trisula kembar di tangan.
"Sangkala, jangan...!" teriak Rangga.
Terlambat! Serangan Sangkala yang dipenuhi amarah meluap dalam dada tidak bisa
dibendung lagi. Trisula kembar menyambar cepat menusuk dada Rawusangkan.
Sebuah lagi dilemparkan ke arah Paralaya.
"Aaakh...!" Rawusangkan yang tidak menyadari akan menerima serangan mendadak,
tidak dapat mengelak lagi Tiga ujung trisula, senjata kebanggan Sangkala
menancap telak di dada Rawusangkan. Sedangkan trisula lainnya tepat menembus
kepala Paralaya yang juga terkejut tidak mampu lagi menghindar.
Melihat dua orang temannya rubuh, Bagaspati
langsung mengambil langkah seribu. Tak ada lagi yang dapat dijadikan pelindung
kekuatannya Semuanya kini roboh tanpa nyawa. Tetapi baru saja Bagaspati berlari
sejauh lima tombak, orang-orang berpakaian serba hitam sudah mengepungnya.
Mereka serentak mencopot topeng hitam yang menutupi kepala masing-masing.
Bagaspati yang sudah kehilangan nyali, jadi gemetaran Gadis-gadis yang selama
ini diperbudak dan dipengaruhi jiwanya, semakin rapat mengepung. Mereka semua
sadar seketika setelah Rara lnten tewas. Pengaruh kekuatan bathin Rara lnten
lenyap saat itu juga.
"Aaa...!" jeritan menyayat terdengar dari mulut Bagaspati. Gadis-gadis yang
selama bertahun-tahun terjajah jiwanya, bagaikan kesetanan mencincang tubuh
Bagaspati. Sebagian lagi memburu Paralaya dan Rawusangkan. Maka tiga tubuh itu
pun tiada ampun lagi tercincang bagai dendeng.
Sangkala, Ki Gandara, dan Pendekar Rajawali Sakti tidak dapat mencegahnya lagi.
Mereka hanya menyaksikan dengan kengerian yang amat sangat Belum puas gadisgadis itu mencincang tubuh tiga laki-laki itu, mereka menghampiri mayat Rara
lnten, lalu mencincangnya. Beberapa gadis malah telah membakar rumah-rumah di
Puncak Gunung Balakambang ini.
''Tamat sudah riwayat Raja Dewa Angkara," gumam Ki Gandara.
Laki-Iaki tua Guru Besar Padepokan Pasir Batang itu menoleh ke arah Rangga
berdiri. Betapa tercengangnya dia ketika Pendekar Rajawali Sakti sudah tak
tertihat lagi. Matanya beredar mencari-cari, namun sia-sia. Ki Gandara menghampiri Sawung Bulu
yang sudah berdiri dipapah Dewi Purmita.
"Kau lihat di mana Pendekar RajawaB Sakti?" tanya Ki Gandara.
"Tidak, Ki. Tadi..., tadi ada di sini," sahut Sawung Bulu.
"Ah, sungguh luhur jiwanya. Memberantas kejahatan tanpa mengharapkan pamrih,"
gumam Ki Gandara.
"Dia sudah pergi, Ki," kata Sangkala sambil mendekat
"Kau lihat?" tanya Ki Gandara.
"Ya, dia pergi ke arah Selatan," sahut Sangkala.
Ki Gandara mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya kemudian menatap gadis-gadis yang sudah berkerumun di depannya. Jumlah mereka tidak kurang dari lima puluh orang. Semuanya
masih muda dan cantik.
Tetapi sinar mata mereka mengharapkan perlindungan dari Ki Gandara.
Matahari mulai menampakkan diri ketika mereka
menuruni Gunung Balakambang. Ki Gandara berjalan di depan didampingi Sangkala.
Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, namun tampak jelas kecerahan
membias di wajah mereka. Kecerahan dan harapan baru semua warga Desa Pasir
Batang. TAMAT Suramnya Bayang Bayang 13 Delapan Kitab Pusaka Iblis Kwi Po Cin Keng Pat Karya Rajakelana Pisau Terbang Li 2

Cari Blog Ini