Ceritasilat Novel Online

Geger Putri Istana 3

Pendekar Rajawali Sakti 68 Geger Putri Istana Bagian 3


pasti Rangga, seorang pemuda tampan dan bergelar Pendekar Rajawali Sakti, dan juga Raja Karang
Setra. "Biarkan dia masuk ke sini," perintah Dewi, Anjungan.
"Baik, Gusti Ratu."
Laki-laki bertubuh tinggi besar itu segera
membungkuk memberi hormat, kemudian berbalik
dan melangkah keluar dari ruangan itu. Pintu
kembali tertutup rapat. Dewi Anjungan cepatcepat membenahi dirinya. Sengaja bagian bawah
pakaiannya dibiarkan tersingkap, sehingga menampakkan sebentuk paha yang putih dan indah
sekali. Bagian dadanya juga dibiarkan agak terbuka. Padahal pakaian yang dikenakannya juga sudah begitu tipis sekali.
Tidak lama dia menunggu, kemudian pintu
ruangan itu kembali terbuka. Tapi, Dewi Anjungan
jadi terbeliak. Ternyata yang muncul di ruangan
ini bukan Rangga, melainkan seorang laki-laki
muda yang kulitnya hitam, seperti arang. Wajahnya begitu buruk. Bahkan mata sebelah kirinya tidak memiliki kelopak, sehingga terbuka lebar dan
memerah. Rambutnya yang panjang dan melingkar, dibiarkan teriap. Sehingga penampilannya
semakin mengerikan saja. Dewi Anjungan cepatcepat menarik selembar kain tebal di sampingnya,
dan langsung menutupi tubuhnya yang tadi sengaja agak terbuka.
"Mau apa kau datang ke sini, Naga Ireng...?"
sentak Dewi Anjungan mendelik tidak senang.
"Aku tidak tahan lagi, Dewi. Aku ingin cepatcepat bersanding dengan keponakanmu," sahut
laki-laki hitam bermuka buruk itu.
"Dia belum siap!" dengus Dewi Anjungan.
"Lalu, kapan siapnya..." Kau sudah janji, Dewi.
Dan seharusnya, kemarin kau sudah menyerahkannya padaku. Aku tidak ingin kau ingkar janji
lagi. Aku sudah membantumu mengembalikan istana ini. Bahkan sudah membuat para prajuritmu
melebihi manusia biasa. Aku sekarang menagih
janjimu, Dewi. Aku akan membawa Cempaka sekarang juga" tegas Naga Ireng.
"Sudah kukatakan, dia belum siap!" sentak
Dewi Anjungan. "Kalau dia sudah siap, pasti akan kuantarkan padamu."
"Kau jangan mempermainkan aku, Dewi. Ingat
kau sudah ingkar dua kali. Dan aku tidak mau
kau ingkar lagi," desak Naga Ireng. "Katakan saja terus terang, Cempaka itu
keponakanmu atau bukan..." Atau kau hanya mempermainkan aku saja...?" "Setan...! Dia sudah ada di sini, tahu..."! Tapi dia belum siap menemuimu."
"Kalau sudah ada, kenapa masih juga belum
ditunjukkan padaku, Dewi?"
"Belum waktunya"
"Kau sudah membuat kepercayaanku hilang,
Dewi Anjungan. Aku tahu, sebenarnya Cempaka
bukan keponakanmu. Dan kau hanya mempermainkan aku saja. Kau harus mengganti semuanya, Dewi. Kau harus jadi istriku!" desis Naga
Ireng dingin. "Setan keparat...! Lancang benar mulutmu,
Naga Ireng"! Apa kau tidak bisa melihat dirimu
sendiri, heh..."! Apa pantas aku berdampingan
denganmu"! Bahkan kau lebih pantas berdampingan dengan monyet!" geram Dewi Anjungan merasa terhina. "Perempuan setan! Licik...!" geram Naga Ireng langsung memuncak kemarahannya.
Laki-laki bertubuh hitam dan berwajah buruk
itu benar-benar tidak dapat lagi menahan kemarahannya, setelah mendapat penghinaan yang begitu menyakitkan. Padahal dia sudah bersusah
payah memenuhi keinginan Ratu Lembah Neraka
untuk mengembalikan istananya. Bahkan menjadikan seluruh prajurit Istana Neraka berukuran
dua kali dari manusia biasa. Meskipun tingkat kepandaiannya tidak bisa ditinggikan lagi, tapi itu
sudah lebih memperkuat wanita ini untuk menguasai seluruh daerah sekitar Lembah Neraka.
Semua itu dilakukan, karena Dewi Anjungan
menjanjikan akan memberikan Cempaka pada Naga Ireng ini. Tapi, sudah dua kali Ratu Lembah
Neraka itu ingkar janji. Bahkan ini yang ketiga kalinya Naga Ireng menagih janji. Tapi, tampaknya
Dewi Anjungan juga tidak mau memberikan keponakannya pada laki-laki hitam bermuka buruk itu.
Hal inilah yang membuat Naga Ireng jadi tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Dia merasa hanya
dipermainkan Dewi Anjungan saja.
"Aku tidak akan memperistrimu, Dewi. Kau lebih pantas menjadi budakku. Dan kau harus menuruti semua kehendakku!" desis Naga Ireng
menggeram sengit.
"Keparat...! Keluar kau!" bentak Dewi Anjungan langsung meluap amarahnya.
Cepat wanita itu melompat bangkit berdiri, dan
tidak mempedulikan keadaan dirinya yang hanya
mengenakan baju tipis. Sehingga, bentuk tubuhnya membayang jelas dari pakaian yang dikenakan. Dan ini membuat bola mata Naga Ireng jadi
terbeliak. Terpaksa ludahnya harus ditelan, melihat tubuh wanita yang sangat indah dan menggairahkan itu. "Apa yang kau pandangi, heh..."!" bentak Dewi Anjungan mendelik berang.
"Rasanya tidak ada ruginya kalau malam ini
kau mau tidur bersamaku, Dewi. Biarlah semua
hutangmu lunas malam ini. He he he...," Naga
Ireng terkekeh.
"Keparat...! Hiyaaat!"
Dewi Anjungan benar-benar berang setengah
mati. Langsung saja dia melompat sambil melepaskan satu pukulan keras yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Begitu cepat serangannya, sehingga membuat Naga Ireng jadi terperangah sesaat. "Hiaat...!"
Cepat-cepat Naga Ireng meliukkan tubuh, sehingga serangan Dewi Anjungan dapat dihindari.
Dan pada saat itu, tangan kanan Naga Ireng bergerak cepat ke arah dada Ratu Lembah Neraka.
"Kurang ajar...! Hih!"
Dewi Anjungan jadi geram setengah mati. Buru-buru tangan kirinya dikebutkan, menepak tangan yang hendak menjamah dadanya yang membusung indah itu. Cepat sekali gerakan tangan kiri
Dewi Anjungan, sehingga Naga Ireng tidak sempat
lagi menarik tangan kanannya yang sudah terulur
ke depan itu. Plakkk! "Akh...!" Naga Ireng jadi terpekik.
Cepat-cepat pemuda hitam itu melompat ke
belakang sambil memegangi tangan kanannya
yang terasa begitu panas, bagai tersengat ribuan
kala berbisa. Memang, tepakan tangan Dewi Anjungan mengandung pengerahan tenaga dalam
yang sangat tinggi, sehingga hampir saja meremukkan tulang-tulang tangan laki-laki bertubuh
hitam itu. "Mampus kau, Jelek! Hiyaaat...!"
Dewi Anjungan tidak ingin lagi memberi kesempatan pada laki-laki bertubuh hitam itu. Dengan cepat sekali wanita itu melompat sambil
memberi beberapa pukulan keras yang beruntun.
Serangan wanita bergelar Ratu Lembah Neraka itu
membuat Naga Ireng jadi kelabakan setengah mati. Dia berlompatan dan berjumpalitan, sambil meliuk-liukkan tubuh menghindari setiap pukulan
yang meluruk deras di sekitar tubuhnya.
Di dalam ruangan yang berukuran sangat besar dan megah itu, Dewi Anjungan terus mencecar
Naga Ireng dengan jurus-jurus dahsyat. Setiap
pukulan yang terlontar, mengandung pengerahan
tenaga dalam tinggi. Sehingga, menimbulkan angin pukulan yang menderu keras bagai topan. Sedikit pun Naga Ireng tidak diberi kesempatan untuk balas menyerang. Terpaksa laki-laki bertubuh
hitam itu berjumpalitan sambil menyumpah serapah. Entah sudah berapa jurus berlalu. Yang jelas,
keadaan di dalam ruangan yang semula sangat indah kini sudah porak poranda akibat pertempuran. Namun Dewi Anjungan masih juga belum bisa
merobohkan lawannya, meskipun sudah begitu
keras berusaha, dengan mengerahkan jurus-jurus
mautnya. "Ha ha ha...! Kau tidak akan bisa mengalahkan
aku, Dewi. Ingat, kau masih lemah dan belum
sempurna...!" ejek Naga Ireng, pongah.
"Phuih!"
Setelah mengeluarkan kata-kata ejekan yang
membuat wajah Dewi Anjungan jadi memerah, tiba-tiba saja....
"Hiyaaa...!"
Bagaikan kilat dan tanpa diduga sama sekali,
tiba tiba saja Naga Ireng melenting ke udara. Lalu,
secepat kilat pula dilepaskannya satu pukulan keras disertai pengerahan tenaga dalam yang begitu
tinggi. Sehingga, angin pukulannya jadi berwarna
merah bagai api.
"Ufffs...!"
Dewi Anjungan jadi tersentak setengah mati.
Buru-buru dia melompat ke belakang, dan menjatuh kan diri ke lantai. Beberapa kali Ratu Lembah
Neraka itu bergelimpangan di lantai, menghindari
pukulan-pukulan yang dilancarkan secara beruntun dari atas itu. Dan ketika melompat bangkit
berdiri, mendadak saja....
"Yeaaah...!"
"Heh..."!"
Dewi Anjungan hanya mampu terbeliak, ketika
Naga Ireng meluruk deras dengan tangan kiri menjulur lurus ke depan. Sedangkan saat itu, keseimbangan tubuhnya masih belum bisa dikuasai. Sehingga, tak ada lagi kesempatan baginya untuk bisa menghindari serangan Naga Ireng itu.
Desss! "Akh...!" Dewi Anjungan terpekik agak tertahan.
Satu pukulan yang cukup keras, telak bersarang di dada Ratu Lembah Neraka itu. Akibatnya
wanita itu terpental ke belakang, sampai punggungnya menghantam dinding cukup keras juga.
Dewi Anjungan kembali terpekik begitu merasakan
kerasnya dinding batu kamar ini. Sementara itu,
Naga Ireng sudah kembali bersiap melancarkan
serangan. Dan....
"Hiyaaa...!"
Bettt! Wusss...! Begitu tangan kanan Naga Ireng mengebut ke
depan, seketika itu juga meluncur secercah cahaya kuning keemasan dari telapak tangannya.
Dan tak pelak lagi, cahaya itu langsung menghantam bawah dada Dewi Anjungan. Akibatnya wanita
cantik itu terpekik keras dan kedua bola mata terbeliak lebar. Seketika tubuh yang indah dan menggairahkan itu jatuh tersuruk ke lantai. Namun, Dewi Anjungan masih bisa bergerak, meskipun sangat lemah sekali. Hanya saja, dia sudah tidak sanggup
lagi berdiri. Kedua kakinya terasa begitu lemas,
dan sepertinya mengalami kelumpuhan dari bagian pinggang ke bawah.
"Ha ha ha...! Tidak terlalu sukar melumpuhkanmu, Dewi. Ha ha ha...!" Naga Ireng tertawa terbahak-bahak.
"Setan...! Bunuh aku, Naga Keparat!" sentak Dewi Anjungan menggeram berang.
"Kau terlalu nikmat kalau mati begitu saja,
Dewi. Dan tentu saja, aku akan merasa rugi sekali
kalau membiarkan kau mati begitu saja. Mulai sekarang, kau harus melayaniku sampai benarbenar tidak mampu lagi, Dewi Manis...," ujar Naga Ireng seraya diiringi tawanya
yang begitu keras
menggelegar. "Setan keparat...!" geram Dewi Anjungan berusaha menggerakkan kakinya.
Tapi, kedua kakinya benar-benar sudah lumpuh. Bahkan kedua tangannya saja hanya dapat
digerakkan sedikit sekali. Begitu lemah tanpa ada
daya sedikit pun juga. Dewi Anjungan benarbenar berang mendapati keadaan dirinya yang sudah tidak lagi memiliki daya. Sementara itu, Naga
Ireng melangkah menghampiri sambil menyeringai
terkekeh. "Penjaga...!" teriak Dewi Anjungan sekuatkuatnya. "He he he..., mereka tidak ada lagi yang mengabdi padamu, Dewi. Mereka semua adalah ciptaanku. Dan tentu saja sangat mudah bagiku untuk bisa membungkam mereka selamanya," ujar
Naga Ireng diiringi tawanya yang terkekeh.
"Setan...! Kubunuh kau, Naga Keparat!" maki Dewi Anjungan bertambah berang.
"He he he.... Kau semakin menggairahkan kalau marah begitu, Dewi."
"Setan! Keparat...! Kubunuh kau, Setan...!"


Pendekar Rajawali Sakti 68 Geger Putri Istana di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ha ha ha...!"
*** 7 Dewi Anjungan terus berteriak-teriak sambil
berusaha bergerak. Sedangkan Naga Ireng sudah
semakin dekat saja, sambil tertawa terkekeh dan
menyeringai lebar. Bola matanya tak berkedip
menjilati tubuh Dewi Anjungan yang indah dan
menggairahkan itu. Terlebih lagi, pakaian tipis
yang dikenakannya sudah, tidak karuan lagi. Maka beberapa bagian tubuhnya jadi terbuka lebar,
membuat napas Naga Ireng semakin keras memburu. "Ah..., kau cantik sekali, Dewi. Sungguh menggairahkan sekali...," desah Naga Ireng jadi tersengal napasnya.
"Akh...!"
Dewi Anjungan jadi terpekik ketika tiba-tiba
saja Naga Ireng menubruk, dan langsung memeluknya. Nafsunya benar-benar menggejolak tak
tertahankan lagi. Dewi Anjungan terus berusaha
meronta, sambil menjerit-jerit sekuatnya. Namun,
dia memang sudah tidak lagi memiliki tenaga untuk berbuat lebih banyak. Sedangkan Naga Ireng
semakin bertambah liar saja. Tubuh Dewi Anjungan yang menggeliat-geliat di bawah himpitan tubuhnya, membuat gairah Naga Ireng semakin
menggelora tak tertahankan lagi.
"Keparat! Kurang ajar...! Lepaskan, Setan Jelek...!" maki Dewi Anjungan habis-habisan.
Naga Ireng sudah tidak mempedulikan lagi
makian Ratu Lembah Neraka ini. Bahkan makian
dan jeritan Dewi Anjungan, semakin membuatnya
bergairah saja. Dewi Anjungan terpekik ketika
dengan kasar sekali, Naga Ireng merenggut pakaian yang dikenakannya. Sehingga, kini tak ada
lagi selembar kain pun yang menutupi tubuh wanita itu. "Lepaskan, Biadab...!"
"Heh..."!"
Naga Ireng tersentak kaget setengah mati, ketika tiba-tiba saja terdengar bentakan yang begitu
keras dan menggelegar. Bahkan bentakan itu
membuat seluruh dinding dan lantai ruangan ini
jadi bergetar seperti diguncang gempa.
Dan belum lagi hilang rasa keterkejutannya,
tiba-tiba saja terlihat sebuah bayangan putih yang
berkelebat begitu cepat sekali bagai kilat. Belum
juga Naga Ireng bisa berbuat sesuatu, tahutahu.... Begkh! "Akh...!"
Tubuh Naga Ireng tahu-tahu terpental ke udara, lalu keras sekali terbanting di lantai hingga
bergulingan beberapa kali. Sebuah meja kecil dari
kayu jati seketika hancur terlanda tubuh pemuda
hitam itu. Namun, Naga Ireng cepat bisa melompat
bangkit berdiri. Dan matanya jadi terbeliak, begitu
tahu-tahu di dekat tubuh Dewi Anjungan sudah
berdiri seorang pemuda berwajah tampan. Dia
mengenakan baju rompi putih, dengan sebuah gagang pedang berbentuk kepala burung tersembul
dari balik punggungnya.
"Pendekar Rajawali Sakti...," desis Naga Ireng langsung mengenali.
"Rangga..., oh..," Dewi Anjungan juga mendesah lega begitu melihat pemuda
berbaju rompi putih menolongnya dari nafsu si Naga Ireng.
Pada saat itu, dari pintu yang terbuka lebar
muncul seorang gadis cantik mengenakan baju
berwarna biru muda yang agak ketat. Sebuah pedang tersampir di punggung. Dan di balik ikat
pinggangnya, terselip sebuah kipas berwarna putih keperakan. Gadis itu langsung mengambil selembar kain yang tergolek di lantai, dan langsung
menghampiri Dewi Anjungan. Ditutupinya tubuh
Dewi Anjungan yang polos dengan kain itu.
"Bawa dia menyingkir, Pandan," ujar Rangga.
"Baik, Kakang," sahut Pandan Wangi.
Tanpa menunggu lagi, Pandan Wangi segera
memondong Dewi Anjungan, dan membawanya
keluar dari ruangan ini. Sementara Rangga melangkah beberapa tindak mendekati Naga Ireng.
"Siapa kau, Kisanak"! Apa yang kau lakukan
pada Dewi Anjungan?" tanya Rangga agak dingin
nada suaranya. "Itu bukan urusanmu!" sentak Naga Ireng menyahut.
"Dewi Anjungan adalah bibi dari Cempaka,
adikku. Dan itu berarti dia bibiku juga. Jadi, yang
kau lakukan barusan menjadi urusanku juga!"
dengus Rangga menjelaskan.
"O..., kebetulan sekali kalau begitu," ujar Naga Ireng,
"Apa maksudmu, Kisanak?" tanya Rangga jadi berkerut keningnya.
"Sudah terlalu lama aku menunggu. Kau pasti
tahu, di mana Cempaka sekarang berada. Katakan, aku akan membawanya sekarang," kata Naga
Ireng. "Heh..."! Siapa kau ini sebenarnya?" tanya Rangga jadi terkejut.
"Aku Naga Ireng. Cempaka harus menjadi istriku. Dan itu sudah menjadi kesepakatan bersama," sahut Naga Ireng menjelaskan.
"Kesepakatan..." Kesepakatan apa?"
"Sepuluh tahun lebih Dewi Anjungan dan istananya ini terbelenggu kekuatan batin oleh gabungan tujuh ilmu kesaktian dari tujuh orang. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi untunglah, aku bisa menolongnya dengan satu syarat. Keponakannya harus diserahkan untuk kujadikan istri. Dan
itu telah disetujuinya. Tapi, sudah dua kali dia ingkar setelah terbebas dari belenggu itu. Dan sekarang aku ingin menagih janjinya, Pendekar Rajawali Sakti," Naga Ireng menjelaskan lagi.
"Lalu, kenapa kau tadi akan memperkosa Dewi
Anjungan?"
"Dia sudah ingkar tiga kali dan harus membayarnya, Pendekar Rajawali Sakti. Dia harus
menggantikan Cempaka," sahut Naga Ireng.
"Aku tahu semuanya, Naga Ireng. Tapi kau tidak bisa menuntut apa-apa darinya. Kau tidak
berbuat apa-apa," dingin sekali nada suara Rang-ga. "Setan...! Jangan coba-coba
membela perem- puan jalang itu, Pendekar Rajawali Sakti!"
"Aku tidak membelanya. Tapi, aku akan melindungi adikku dari tangan-tangan kotor sepertimu!"
"Kurang ajar...!" desis Naga Ireng menggeram.
"Aku harap, kau segera angkat kaki dari sini,
Naga Ireng. Kau tidak melakukan apa pun untuk
melepaskan Dewi Anjungan dari belenggunya. Belenggu itu hilang dengan sendirinya setelah pemegang kuncinya meninggal. Jadi, kau tidak ada hak
untuk menuntut apa-apa, Naga Ireng. Dan kau tidak bisa mengelabuiku, karena aku tahu semuanya," sergah Rangga kalem.
"Setan...!" geram Naga Ireng. Wajah yang hitam seperti arang. Kini semakin
kelihatan hitam, karena kebohongannya terbongkar Pendekar Rajawali
Sakti itu. Naga Ireng memang tidak melakukan
apa pun juga, dan memang tidak bisa melepaskan
belenggu yang diderita Dewi Anjungan. Karena,
kesaktiannya memang kalah jauh dibanding tujuh
orang yang menggabungkan kesaktiannya untuk
membelenggu Dewi Anjungan dan istananya ini
dari dunia luar.
Keinginannya untuk mendapatkan Cempaka
yang sudah begitu lama dinantikan jadi terbuka
lebar, begitu tahu Dewi Anjungan sudah terbebas
dari belenggu batin. Terutama setelah Eyang Resi
Wanapati yang memegang kuncinya tewas oleh gerombolan Partai Tengkorak di Gunung Puting. Kesempatan ini benar-benar dimanfaatkan dengan
baik. Tapi tanpa disangka sama sekali, Pendekar
Rajawali Sakti sudah mengetahui semua itu. Dan
Naga Ireng tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
*** "Sekarang, kuminta kau pergi dari sini, Naga
Ireng," usir Rangga langsung.
"Phuih! Seenaknya saja kau mengusirku, Pendekar Rajawali Sakti!" dengus Naga Ireng.
Srettt! Naga Ireng tiba-tiba saja mencabut pedangnya.
Dan tindakan itu membuat Rangga harus melangkah mundur dua tindak. Kelopak mata Pendekar
Rajawali Sakti jadi menyipit, melihat pedang yang
berwarna hitam pekat dan berkeluk seperti tikus
itu, Pegangannya berbentuk kepala seekor naga
berwarna hitam, hampir mirip dengan pedang
yang dimiliki Pandan Wangi.
"Aku akan pergi bersama Cempaka atau perempuan jalang itu. Dan kau tidak bisa menghalangiku, Pendekar Rajawali Sakti!" desis Naga
Ireng seraya menyilangkan pedang yang berkeluk
seperti keris itu di depan dada.
"Kau sudah keterlaluan, Naga Ireng," desis Rangga mulai bangkit marahnya.
"Hhh!"
"Sebaiknya kau cepat pergi sebelum pikiranku
berubah, Naga Ireng," desis Rangga datar.
"Berikan dulu Cempaka padaku, baru aku pergi dari sini," tantang Naga Ireng semakin berani.
"Kurang ajar...," desis Rangga langsung mendidih darahnya.
Kata-kata Naga Ireng benar-benar menyakitkan, dan sama sekali tidak memandang sebelah
mata pada Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan dengan beraninya menghina dan merendahkan Cempaka di depan Pendekar Rajawali Sakti. Meskipun
Rangga hanya kakak tiri saja, tapi begitu menyayangi dan mencintai Cempaka. Jelas, dia tidak
rela kalau adik tirinya itu mendapat penghinaan
seperti ini. "Kau sudah keterlaluan, Naga Ireng...," desis Rangga masih mencoba menahan
kesabarannya. "O, ya..." Kenapa kau tidak serang aku, Pendekar Rajawali Sakti...?" tantang Naga Ireng men-gejek.
Rangga menatap tajam tanpa berkedip. Kemudian tubuhnya diputar berbalik, dan melangkah
ke pintu hendak meninggalkan laki-laki bertubuh
hitam bagai arang itu. Sikap Rangga yang seperti
tidak mempedulikan ini, membuat Naga Ireng jadi
tersinggung. Jelas, dia marah bukan main, karena
merasa tidak dihargai sama sekali.
"Kembali kau...!" bentak Naga Ireng berang setengah mati.
Namun Rangga terus saja melangkah hampir
mencapai pintu keluar ruangan ini.
"Setan...! Hiiih!"
Bettt! Slap...! Cepat sekali Naga Ireng mengebutkan tangan
kirinya. Dan seketika itu juga, dari telapak tangannya melesat sebuah pisau kecil yang langsung
mengarah deras ke arah punggung Pendekar Rajawali Sakti. "Hup!"
Manis sekali Pendekar Rajawali Sakti memiringkan tubuhnya ke kanan, sehingga pisau kecil
itu hanya lewat saja di samping bahunya. Begitu
kuatnya tenaga dalam yang dikerahkan Naga Ireng
dalam melemparkan pisau kecilnya, sehingga pisau yang hanya sepanjang jari tangan itu sampai
tembus ke dinding batu ruangan ini.
Perlahan Rangga memutar tubuhnya, kembali
menghadap Naga Ireng. Sorot matanya begitu tajam, tertuju lurus ke bola mata laki-laki hitam itu.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja dariku, Pendekar Rajawali Sakti. Tak ada seorang pun yang
boleh memandang sebelah mata padaku!" desis
Naga Ireng dingin.
"Tidak ada gunanya membuang nyawa percuma, Naga Ireng," kata Rangga datar.
"Phuih! Kau terlalu angkuh, Pendekar Rajawali
Sakti. Kau akan menyesal telah merendahkan Naga Ireng!"
"Hmmm...," Rangga hanya menggumam perlahan saja. "Kau harus merasakan Pedang Naga Hitamku
ini, Pendekar Rajawali Sakti. Pedangku ini tidak
akan kalah dengan pedang kebanggaanmu!" desis
Naga Ireng lagi.
"Hmmm...," lagi-lagi Rangga hanya menggumam saja. "Bersiaplah, Pendekar Rajawali Sakti!
Hiyaaat..!"
Sambil berteriak keras menggelegar, Naga
Ireng melompat cepat bagai kilat sambil mengebutkan pedang ke arah kepala Pendekar Rajawali
Sakti. Sesaat Rangga hanya diam saja, memandangi gerakan pedang berwarna hitam pekat itu.
Lalu di saat mata pedang itu tepat mengarah ke
kepalanya, cepat sekali kepalanya ditarik ke belakang. Sehingga, ujung pedang hitam yang berkeluk seperti keris itu hanya lewat saja di depan wajahnya. "Uts...!"
Rangga jadi terkesiap. Cepat-cepat kakinya
melangkah mundur beberapa tindak. Dan ketika


Pendekar Rajawali Sakti 68 Geger Putri Istana di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ujung pedang itu lewat di depan hidungnya, Pendekar Rajawali Sakti langsung bisa merasakan
adanya hawa racun ganas dan sangat mematikan
pada pedang itu.
"Hiyaaat...!"
Pada saat itu, Naga Ireng sudah kembali melompat melakukan serangan. Maka Rangga cepatcepat mengerahkan jurus 'Sembilan Langkah
Ajaib'. Tebasan dan tusukan pedang Naga Ireng
manis sekali dapat dihindari Rangga. Gerakangerakan tubuh Pendekar Rajawali Sakti memang
cepat dan indah sekali. Bahkan masih diimbangi
gerakan kaki yang begitu lincah, mengikuti gerak
tubuh yang meliuk-liuk seperti belut.
Entah sudah berapa kali Naga Ireng melancarkan serangan, tapi tak satu pun yang berhasil disarangkan ke tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Jurus demi jurus dikeluarkan Naga Ireng, namun
pertahanan Pendekar Rajawali Sakti memang terlalu sulit ditembus. Bahkan terkadang, Rangga
melakukan gerakan-gerakan aneh, seperti bukan
gerakan orang yang sedang bertarung. Dan ini
membuat Naga Ireng jadi semakin berang saja.
Harga dirinya benar-benar merasa direndahkan
Pendekar Rajawali Sakti.
"Hiyaaat...!"
Tiba-tiba saja Naga Ireng melenting ke belakang. Dan begitu kakinya menjejak lantai, langsung pedangnya dipindahkan ke tangan kiri. Dan
seketika itu juga, tangan kanannya menghentak
ke depan sambil berteriak keras menggelegar.
"Yeaah...!"
"Ufs...!"
Cepat-cepat Rangga melompat ke atas, begitu
dari kepalan tangan Naga Ireng keluar secercah
sinar merah yang begitu deras bagai kilat. Cahaya
merah itu lewat di bawah kaki Pendekar Rajawali
Sakti, dan langsung menghantam dinding ruangan
yang terbuat dari batu ini.
Glarrr...! Ledakan keras menggelegar terdengar begitu
dahsyat sekali. Tampak dinding batu yang tebal
itu hancur berkeping-keping, mengepulkan debu
yang membuat ruangan ini jadi pengap seperti terselimut kabut tebal.
"Hiyaaa...!"
Kembali Naga Ireng melepaskan satu pukulan
jarak jauhnya yang sangat dahsyat, tepat ketika
Rangga baru saja menjejakkan kakinya di lantai.
Tak ada lagi kesempatan bagi Pendekar Rajawali
Sakti itu untuk menghindari serangan dahsyat
Naga Ireng itu. Sehingga, terpaksa harus dipapak
dengan mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh
Rajawali' tingkat terakhir.
"Yeaaah...!"
Wukkk! Begitu kedua tangannya menghentak ke depan, dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti
memancar sinar merah bagai api yang langsung
menghantam sinar merah yang juga keluar dari
tangan Naga Ireng. Tak dapat dihindari lagi. Dua
sinar merah beradu di tengah-tengah, sehingga
menimbulkan ledakan keras menggelegar.
Seluruh dinding, atap, dan lantai ruangan ini
bergetar hebat, seakan-akan hendak runtuh ketika terjadi ledakan yang begitu dahsyat akibat benturan dua cahaya merah tadi. Tampak Naga Ireng
terpental ke belakang begitu keras. Sedangkan
Rangga hanya terdorong dua langkah saja ke belakang. Punggung Naga Ireng menghantam dinding
begitu keras, sehingga mengeluarkan pekikan
agak tertahan. "Setan keparat...!" geram Naga Ireng berang.
"Hiyaaat.,.!" Wukkk!
Naga Ireng langsung saja kembali melakukan serangan cepat, sambil mengebutkan pedangnya beberapa kali. Sedangkan Rangga masih tetap berdiri
tegak. Cepat tubuhnya meliuk, begitu pedang hitam Naga Ireng berkelebat di sekitar tubuhnya.
Beberapa kali Naga Ireng mengebutkan pedangnya, tapi tak satu pun yang berhasil mengenai sasaran. Bahkan tanpa diduga sama sekali, tiba-tiba
saja... "Lepas! Yeaah...!"
Sambil berteriak keras, tiba-tiba saja Pendekar
Rajawali Sakti menghentakkan tangan kiri ke atas,
tepat ketika Naga Ireng baru saja membalik arah
pedangnya menuju kepala. Begitu cepatnya gerakan tangan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga Naga Ireng tidak sempat lagi menyadari. Terlebih lagi, saat itu serangannya sedang
terpusat pada pedang. Dan sebelum disadari apa yang dilakukan
Pendekar Rajawali Sakti, tahu-tahu...
Bettt! Plakkk! "Akh...!"
Begitu kerasnya tamparan Rangga pada pergelangan tangan, hingga membuat Naga Ireng tak
dapat lagi menguasai pedangnya yang langsung
mencelat tinggi ke udara. Naga Ireng melompat,
hendak mengejar pedangnya. Namun pada saat
yang bersamaan, Rangga juga melenting ke udara
sambil melepaskan satu tendangan keras disertai
pengerahan tenaga dalam tidak begitu penuh.
"Yeaaah...!"
Desss! "Akh...!" t
Lagi-lagi Naga Ireng terpekik, terkena tendangan cukup keras pada dadanya. Akibatnya, dia jatuh tersuruk begitu keras sekali ke lantai batu
yang keras dan licin berkilat itu. Naga Ireng bergulingan beberapa kali, namun cepat bangkit berdiri.
Dari mulutnya tampak mengeluarkan darah yang
agak kental. Sementara itu, Rangga manis sekali
menjejakkan kakinya di lantai, sekitar satu tombak jauhnya dari laki-laki berkulit hitam itu Dan
di tangan Pendekar Rajawali Sakti kini telah tergenggam pedang Naga Ireng.
Pada saat itu, Pandan Wangi yang tadi membawa Dewi Anjungan keluar sudah muncul lagi di
ambang pintu. Gadis itu tampak terlongong melihat keadaan kamar ini begitu berantakan. Dia
langsung tahu, kalau tadi baru saja terjadi pertempuran di dalam ruangan ini. Perlahan Pandan
Wangi menghampiri Rangga yang berdiri tegak,
memegang pedang lawannya.
"Kakang...," ujar Pandan Wangi begitu berada di samping kanan Pendekar Rajawali
Sakti. "Bagaimana keadaan Dewi Anjungan?" tanya
Rangga tanpa berpaling sedikit pun dari Naga
Ireng yang masih berusaha menguasai pernapasannya yang sesak, akibat tendangan cukup keras
pada dadanya tadi.
"Tidak terlalu parah. Dia sekarang sedang bersemadi," sahut Pandan Wangi menjelaskan keadaan Ratu Lembah Neraka.
"Sudah kau tanyakan, di mana Eyang Balung
Gading?" tanya Rangga lagi.
"Belum," sahut Pandan Wangi polos. "Dia langsung bersemadi, setelah kubebaskan
dari kelum- puhannya. Aku tidak bisa mengganggunya, Kakang." "Ya, sudahlah. Nanti bisa kutanyakan," ujar Rangga.
Sementara itu Naga Ireng sudah pulih kembali
keadaannya. Sorot matanya yang tajam langsung
tertuju pada Pendekar Rajawali Sakti yang kini didampingi si Kipas Maut. Namun dari sorot mata
yang tajam penuh dendam dan ketidakpuasan,
terbersit nada kegentaran.
"Aku rasa tidak perlu lagi diperpanjang persoalan ini, Naga Ireng. Dan kuminta kau segera angkat kaki sebelum pikiranku berubah," kata Rangga agak dingin nada suaranya.
Naga Ireng hanya diam saja, menatap tajam
Pendekar Rajawali Sakti. Walaupun terbersit kegentaran di harinya, tapi tidak menujukkan sikap
takluk. Padahal sudah jelas. Kalau Rangga mau,
mudah sekali menewaskannya. Tapi, Pendekar Rajawali Sakti masih memberi kesempatan pada lakilaki bertubuh hitam itu untuk bisa melihat matahari esok pagi.
"Ini pedangmu...!"
Rangga melemparkan pedang di tangannya,
dan tepat jatuh di ujung jari kaki Naga Ireng. Perlahan Naga Ireng membungkuk, memungut pedangnya yang menggeletak di lantai. Kemudian
pedang itu disarungkan kembali di pinggangnya.
Sebentar ditatapnya Pendekar Rajawali Sakti itu.
Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, Naga Ireng
langsung melangkah cepat meninggalkan ruangan
yang sudah porak poranda itu.
Sementara Rangga dan Pandan Wangi mengiringinya dengan pandangan mata, sampai laki-laki
hitam itu tidak terlihat lagi. Sejenak Rangga
menghembuskan napas panjang, lalu menatap
Pandan Wangi yang kini sudah berada di depannya. Gadis itu juga memandangnya dengan mata
tidak berkedip.
"Ayo, kita temui Dewi Anjungan," ajak Rangga.
Pandan Wangi tidak berkata sedikit pun. Diikutinya saja saat Rangga melangkah meninggalkan ruangan yang sudah hancur berantakan itu.
Mereka terus berjalan tanpa ada yang bicara lagi.
Pandan Wangi menunjukkan ruangan di mana
Dewi Anjungan yang sedang bersemadi ditinggalkan. Hanya melewati satu ruangan saja, mereka
sudah sampai di salah satu ruangan di situ, tadi
Pandan Wangi memang meninggalkan Dewi Anjungan. Tapi....
"Heh.... Mana dia..."!" Pandan Wangi jadi terkejut.
*** 8 Dewi Anjungan memang sudah tidak ada lagi
di sana. Dan ini membuat Rangga jadi sedikit geram juga pada wanita yang dijuluki Ratu Lembah
Neraka itu. Kamar yang berukuran tidak begitu
besar itu dalam keadaan kosong. Tak ada seorang
pun terlihat di sana. Benar-benar kosong. Sedangkan Pandan Wangi begitu yakin, kalau tadi meninggalkan Dewi Anjungan yang sedang bersemadi
di dalam kamar ini.
"Sebaiknya kau keluar, Pandan. Tunggu aku di
depan," kata Rangga.
"Kau sendiri...?" tanya Pandan Wangi.
"Aku akan memeriksa seluruh ruangan di sini," sahut Rangga.
"Kenapa tidak berpencar saja, Kakang?"
"Jangan.... Istana ini terlalu penuh jebakan.
Maaf, bukannya aku merendahkanmu. Tapi kupikir, sebaiknya aku saja sendiri yang memeriksa
seluruh bagian istana ini," kata Rangga memberi alasan.
"Baiklah, aku menunggumu sampai fajar,"
Pandan Wangi mengalah. "Aku masuk ke sini. Kalau kau tidak keluar sampai fajar besok."
Rangga hanya mengangguk saja, kemudian
melangkah meninggalkan Pandan Wangi yang juga
terus berjalan keluar dari istana ini. Gadis itu melalui jalan yang sama, ketika masuk bersama
Rangga tadi. Dan memang, tadi Pandan Wangi
sempat dibuat repot oleh berbagai macam jebakan.
Tapi untung saja Rangga berhasil menjinakkan
semua jebakan yang terpasang pada setiap ruangan di dalam istana ini.
Sementara itu, Rangga terus mengayunkan
kakinya memeriksa setiap ruangan yang ada di dalam istana ini. Entah, sudah berapa ruangan diperiksa. Namun, tak ada satu pun jebakan yang ditemuinya. Bahkan untuk menemukan jejak Dewi
Anjungan saja, rasanya terlalu sulit di dalam istana yang besar ini, penuh ruangan besar-kecil dan
lorong yang panjang berliku.
Sampai seluruh pelosok diperiksa, tapi tidak
juga ditemukan tanda-tanda Dewi Anjungan. Dan
Pendekar Rajawali Sakti kini berada di dalam sebuah beranda atas bangunan istana ini. Sebuah
beranda yang cukup luas, dan bisa langsung melihat ke halaman depan Istana Neraka ini. Dan ketika Pendekar Rajawali Sakti mengarahkan pandangan ke halaman depan, mendadak saja....
"Heh..."!"
Kedua bola mata Pendekar Rajawali Sakti jadi
terbeliak lebar, begitu melihat ke halaman depan
bangunan istana di Lembah Neraka ini. Tampak
jelas di dalam keremangan sinar bulan, terlihat
dua orang sedang bertarung di halaman itu. Dan
Rangga langsung mengenali, kalau mereka yang
sedang bertarung adalah Pandan Wangi dan Dewi
Anjungan. Sedangkan tidak seberapa jauh dari
tempat pertarungan, terlihat Eyang Balung Gading
dan Cempaka terduduk di tanah dengan seluruh
tubuh terikat rantai.
"Gila...! Apa-apaan ini..."!" desis Rangga.


Pendekar Rajawali Sakti 68 Geger Putri Istana di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tanpa menunggu waktu lagi, Rangga cepat
berlari ke tepi beranda ini. Memang tinggi sekali,
dan rasanya tidak akan mungkin ada orang yang
bisa selamat kalau melompat dari ketinggian seperti ini. Rangga jadi berpikir juga, walaupun memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat sempurna. Tapi ketika melihat Pandan Wangi terus terdesak, Rangga jadi cemas juga.
Sehingga.... "Hup! Yeaaah...!"
Tanpa menghiraukan kalau tempat ini begitu
tinggi, Rangga langsung saja melompat sambil
mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya. Begitu ringan Pendekar Rajawali Sakti melayang di udara. Kedua tangannya dikembangkan
seperti seekor burung rajawali yang sedang melayang di angkasa.
Pada saat itu, selembar daun kering melayang
di dekatnya. Rangga cepat menangkap daun kering itu, kemudian melemparkannya ke bawah kaki. Dengan ujung jari kaki, ditotoknya daun kering
tadi, untuk melenting dan berputaran beberapa
kali. Lalu, manis sekali, kakinya menjejak tanah,
tidak jauh dari pertarungan antara Pandan Wangi
dan Dewi Anjungan.
"Kakang Rangga...," desah Cempaka yang langsung melihat kemunculan Pendekar
Rajawali Sak- ti. Begitu gembiranya Cempaka melihat kedatangan
Rangga. Kalau saja tidak terbelenggu rantai barang kali gadis itu sudah menghambur, memeluk
Pendekar Rajawali Sakti. Tapi rantai yang mengikat seluruh tubuhnya, membuatnya hanya bisa
memandangi pemuda tampan berbaju rompi putih
itu dengan sinar mata berbinar. Dan Eyang Balung Gading hanya mendesah lega, melihat Rangga
datang, tepat di saat Pandan Wangi benar-benar
sudah kewalahan menghadapi Dewi Anjungan.
"Hiyaaa...!"
Desss! "Akh...!"
Pada saat itu, satu pukulan yang dilepaskan
Dewi Anjungan tepat menghantam dada Pandan
Wangi. Akibatnya si Kipas Maut itu jadi terhuyung-huyung ke belakang. Kalau saja Rangga
tidak cepat menangkapnya, barangkali gadis itu
sudah tersuruk jatuh. Pandan Wangi agak terkejut
juga. Tapi begitu mengetahui orang yang menyangga tubuhnya, hatinya jadi gembira dan tersenyum lebar. "Kakang...," desah Pandan Wangi gembira.
"Rangga..,"!" desis Dewi Anjungan terkejut melihat Rangga.
"Kau tidak apa-apa, Pandan?" tanya Rangga.
"Tidak. Hanya, dadaku sesak sedikit," sahut Pandan Wangi.
"Menyingkirlah. Bebaskan Eyang Balung Gading dan Cempaka," kata Rangga.
"Hati-hati, Kakang. Dia tangguh sekali," Pandan Wangi memperingatkan.
Rangga hanya tersenyum saja, kemudian melepaskan rangkulannya pada gadis itu. Sementara
Pandan Wangi bergegas menyingkir menghampiri
Eyang Balung Gading dan Cempaka yang masih
terduduk di tanah, dengan seluruh tubuh terikat
rantai baja yang sangat kuat.
*** "Tidak kusangka. Wajahmu yang cantik, tutur
katamu yang lembut, ternyata menyimpan secawan racun...," ujar Rangga mendesis dingin.
"Rangga! Bukankah kau katakan kalau aku
punya hak atas Cempaka..." Aku hanya menuntut
hakku! Dia keponakanku, anak dari kakak kandungku. Apa aku salah kalau ingin menyayangi
dan mewariskan semua yang kumiliki padanya..."
Kau seorang raja, Rangga. Seorang pendekar....
Seharusnya kau bisa melihat yang ada di sekelilingmu. Ingat, Rangga... Kau juga masih terhitung
keponakanku. Aku ingin tahu, di mana kau berdiri
saat ini...?" lantang sekali suara Dewi Anjungan.
"Aku berada di jalan keadilan, Dewi Anjungan,"
sahut Rangga kalem.
"Keadilan.... Hhh! Apa ini namanya keadilan,
heh..?" "Aku tahu, kau memang berhak atas diri Cempaka, Dewi Anjungan. Dan aku juga tidak akan
menghalangi. Tapi, jika kau melakukannya secara
benar." "Apa kau anggap aku ini salah" Aku merasa
harus mengganti kedudukan ibunya. Dan seorang
ibu akan melakukan apa saja untuk mendapatkan
kembali anaknya yang hilang. Walau nyawa sekalipun taruhannya. Hhh!..! Aku tahu, kau pasti sulit mengerti perasaan wanita, Rangga. Kau pasti
sudah terpengaruh cerita Balung Gading. Kau pasti menganggap diriku sebagai wanita rendah, kotor, dan hina! Wanita berhati iblis...!" agak tertahan nada suara Dewi Anjungan.
Rangga jadi terdiam, dan benar-benar merasa
serba salah sekarang ini. Dan di satu pihak, dia
harus menjaga dan membela Cempaka. Tapi di pihak lain, dia tidak bisa mengingkari kalau wanita
yang dihadapinya masih terhitung bibinya juga.
Karena, Dewi Anjungan adalah adik kandung dari
Cempaka. Sedangkan Cempaka adalah adik tirinya. Memang sulit bagi Rangga dalam menghadapi
persoalan ini. Dan dia merasa sedang menghadapi
satu tuntutan untuk bertindak adil dan bijaksana.
Rangga menyadari, kalau menggunakan ilmu kedigdayaan dan kesaktian bukanlah jalan terbaik
dalam penyelesaian persoalan ini. Bahkan bukan
tidak mungkin malah akan menambah buruk keadaannya. Sementara itu, Pandan Wangi sudah berhasil
memutuskan rantai yang membelenggu Cempaka
dan Eyang Balung Gading mempergunakan Pedang Naga Geni. Mereka mendengar semua pembicaraan antara Rangga dengan Dewi Anjungan tadi.
Pandan Wangi yang sudah mengerti seluruhnya,
dan menyadari akan keadaannya, tidak mau jauh
dari Cempaka. Bisa dirasakan, apa yang sedang
dirasakan hati gadis ini. Cempaka memang membenci Dewi Anjungan. Tapi, nalarnya harus menerima kalau wanita itu adalah bibinya. Adik kandung ibunya sendiri, walau yang sudah dilakukannya sungguh sangat menyakitkan hati.
"Rangga! Kupikir sudah saatnya menentukan,
siapa yang berhak memiliki Cempaka! Kau, atau
aku...," tegas Dewi Anjungan.
"Apa maksudmu, Dewi Anjungan?" tanya
Rangga agak terkejut mendengar keputusan Ratu
Lembah Neraka itu.
"Siapa yang lebih digdaya di antara kita, dialah yang berhak atas Cempaka,"
tegas Dewi Anjungan.
Rangga jadi terlongong tidak mengerti keinginan Ratu Lembah Neraka itu. Walaupun sudah
diduga, tapi tetap saja terkejut mendengar katakata bernada tegas itu. Sekilas matanya melirik
Cempaka yang berdiri diapit Pandan Wangi dan
Eyang Balung Gading. Tampak jelas raut wajah
Cempaka memancarkan kecemasan. Kata-kata
yang diucapkan Dewi Anjungan tadi, memang terdengar lantang dan jelas sekali. Sudah barang tentu, mereka semua tahu artinya. Rupanya Dewi Anjungan sudah melemparkan satu tantangan pada
Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Bersiaplah, Rangga. Hadapilah aku...!" desis Dewi Anjungan dingin menggetarkan.
"Hap...!" Ratu Lembah Neraka langsung saja membuka satu jurusnya. Sedangkan
Rangga masih tetap berdiri tegak, seperti tidak ingin melayani tantangan wanita
cantik itu. Sedangkan Dewi Anjungan tampak tidak peduli atas sikap Rangga.
"Tahan seranganku, Rangga! Hiyaaat..!"
Sambil berteriak keras menggelegar, Ratu
Lembah Neraka melompat begitu cepat bagai kilat
sambil melontarkan satu pukulan menggeledek
disertai pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi.
Sementara, Rangga masih tetap berdiri tegak. Dan
ini membuat Dewi Anjungan jadi terkejut.
"Cepat menyingkir...!" seru Dewi Anjungan ti-ba-tiba.
Tapi memang sudah terlambat. Ternyata tadi
Dewi Anjungan sudah melakukan serangan yang
sudah tidak dapat ditarik kembali. Bahkan pukulannya sudah terlontar begitu cepat. Sehingga....
"Kakang...!" jerit Cempaka.
Glarrr...! "Oh, tidaaak...!" jerit Pandan Wangi.
Memang sukar bisa dipercaya, kalau Rangga
tetap diam menerima pukulan maut bertenaga dalam tinggi yang dilepaskan Dewi Anjungan. Bahkan Ratu Lembah Neraka itu sendiri jadi terkejut
setengah mati, karena serangannya juga tidak bisa
lagi dihentikan. Sehingga, telak sekali pukulan
yang dilepaskan menghantam dada Rangga yang
sama sekali tidak terlindungi.
Ledakan keras menggelegar terdengar begitu
dahsyat, ketika pukulan yang dilepaskan Dewi Anjungan menghantam dada Pendekar Rajawali Sakti. Dan pada saat yang bersamaan, memercik bunga api disertai gumpalan asap tebal yang langsung
menyelimuti seluruh tubuh Rangga. Sementara,
Dewi Anjungan cepat-cepat melompat ke belakang
beberapa langkah. Dan ketika asap yang menyelimuti seluruh tubuh Pendekar Rajawali Sakti memudar.... "Kakang...!" jerit Cempaka.
"Tidaaak...!" Pandan Wangi juga memekik menyayat.
Kedua gadis itu langsung menghambur, berlari
ke arah Rangga yang tampak tergolek di tanah.
Sementara, Dewi Anjungan jadi tertegun memandangi tubuh Rangga yang terbujur tidak bergerakgerak sedikit pun juga. Sungguh tidak disangka
sama sekali kalau Rangga akan berbuat seperti
itu. Tubuhnya dibiarkan menjadi sasaran, tanpa
melakukan perlawanan sedikit pun juga.
Sementara, Pandan Wangi dan Cempaka sudah memeluk tubuh Rangga yang masih terbujur
tidak bergerak sedikit pun juga. Sedangkan Dewi
Anjungan masih tetap berdiri terpaku, tidak dapat
lagi berbuat sesuatu. Sedangkan Eyang Balung
Gading tampak berdiri tegak di belakang Cempaka. Tatapan matanya begitu tajam, menusuk langsung pada Dewi Anjungan yang berdiri mematung
memandangi Rangga yang kini berada dalam pelukan amarahnya. Tiba-tiba saja gadis yang berjuluk si Kipas
Maut itu bangkit berdiri. Langsung kedua senjata
pusakanya dicabut. Pedang Naga Geni berada di
tangan kanan, Kipas Maut Baja Putih terkembang
di tangan kiri. Napasnya mendengus memburu.
Sinar matanya begitu tajam menatap langsung
Dewi Anjungan. "Hiyaaat...!"
Bagaikan kilat, tiba-tiba saja Pandan Wangi
melompat menyerang Ratu Lembah Neraka. Kedua
senjata pusakanya berkelebat cepat sekali, membuat Dewi Anjungan jadi terperangah sesaat. Namun cepat-cepat tubuhnya meliuk, sambil menarik kakinya ke belakang menghindari serangan
gencar yang dilancarkan si Kipas Maut itu.
Sementara, Cempaka juga sudah bangkit berdiri setelah meletakkan tubuh Rangga yang masih
terbujur dengan mata terpejam. Gadis itu melangkah perlahan menghampiri Pandan Wangi yang
sudah bertarung kembali melawan Dewi Anjungan. Tatapan matanya begitu tajam, tertuju langsung pada pertarungan itu. Sedangkan Eyang Balung Gading jadi merasa serba salah. Bergantiganti ditatapnya Rangga yang terbaring di tanah,
lalu beralih ke arah dua wanita yang bertarung.
Juga, ke arah Cempaka yang terus melangkah
mendekati pertarungan.
"Hentikan pertarungan itu, Eyang...."
"Heh..."!"
Eyang Balung Gading jadi terkejut setengah
mati. Cepat kepalanya menoleh ke arah Rangga.
Tampak Pendekar Rajawali Sakti sedang duduk
dengan bibir tersenyum. Dan ini membuat lakilaki tua itu jadi ternganga. Sungguh tadi disangkanya kalau Pendekar Rajawali Sakti mati, tapi
kenyataannya masih kelihatan segar, tanpa kurang suatu apa pun juga. Bahkan dengan enak
sekali Rangga bangkit berdiri.
"Kau.... Kau masih hidup, Rangga...?" agak tergagap suara Eyang Balung Gading.
"Ya! Aku tidak apa-apa," sahut Rangga tetap tersenyum.
"Tapi tadi...."
"Aku tahu, Eyang. Aku memang sengaja tidak
menghindar. Seluruh jalan darah dan pernapasan
kututup ketika Dewi Anjungan memukulku tadi.
Dan lagi aku tahu, kalau kekuatan wanita itu tidak ada setengahnya lagi. Tapi kuakui, dia memang wanita luar biasa. Hampir saja aku tidak
kuat menahannya," ujar Rangga menjelaskan.
"Kau..., kau tidak menggunakan ilmu apa-apa,
Rangga?"

Pendekar Rajawali Sakti 68 Geger Putri Istana di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Rangga tidak menjawab, dan hanya tersenyum
saja sambil melayangkan pandang ke arah pertarungan antara Pandan Wangi dan Dewi Anjungan.
Tentu saja Rangga tidak akan mengatakan kalau
tadi mengerahkan satu ilmu yang didapat dari Satria Naga Emas. Sebuah ilmu yang sangat langka
dan tidak pernah digunakan selama ini. Sementara itu, Cempaka hanya berdiri saja tidak jauh dari
pertarungan itu. Sepertinya Cempaka jadi bimbang, harus berpihak pada siapa.
"Berhenti, kalian...!" seru Rangga tiba-tiba.
Suara Rangga yang begitu keras menggelegar,
seketika membuat pertarungan berhenti. Dan mereka langsung berpaling. Betapa terkejutnya ketiga
wanita itu, ketika melihat Rangga berdiri tegak,
dan tampak segar. Mereka hampir tidak percaya
kalau Pendekar Rajawali Sakti masih hidup. Sedangkan tadi, sama sekali Rangga tidak bergerak
sedikit pun juga. Bahkan detak jantungnya saja
tidak terdengar sama sekali.
"Kakang, kau...," desis Pandan Wangi tertahan.
"Kakang...!" seru Cempaka gembira.
Kedua gadis itu langsung berlari menghampiri
Rangga, dan melupakan Dewi Anjungan yang berdiri saja memandangi. Wanita itu masih belum
percaya dengan apa yang terjadi. Padahal, dia tadi
begitu yakin kalau Rangga sudah tewas akibat pukulannya yang telak mengenai dada. Tapi sekarang..., Pendekar Rajawali Sakti masih tetap tegar,
tak kurang suatu apa pun juga. Sementara Pandan Wangi dan Cempaka memeluk Pendekar Rajawali Sakti secara bersamaan, sehingga Rangga
jadi kewalahan juga.
Perlahan Rangga melepaskan kedua pelukan
gadis itu, kemudian melangkah menghampiri Dewi
Anjungan yang masih berdiri tegak memandanginya dengan sinar mata mengandung ketidakpercayaan. "Kenapa kau berpura-pura, Rangga" Kau ingin
mempermainkan aku, ya..."!" sentak Dewi Anjungan jadi geram.
"Tunggu dulu..., aku tidak bermaksud mempermainkanmu. Aku hanya ingin menyelesaikan
persoalan ini tanpa harus ada pertumpahan darah
di antara kita. Bagaimanapun juga, kita harus
bersaudara," kata Rangga menenangkan.
"Apa maksudmu, Rangga?"
"Kau tentu menyayangi Cempaka, karena memang keponakanmu. Dan aku juga menyayanginya, karena memang adikku. Kita sama-sama
menyayangi Cempaka, jadi tidak seharusnya ada
pertengkaran di antara kita. Dan kurasa, biarlah
Cempaka sendiri yang memutuskannya," kata
Rangga memberi pilihan.
Dewi Anjungan terdiam. Sebentar dipandanginya Rangga, kemudian beralih pada Cempaka
yang berdiri didampingi Pandan Wangi dan Eyang
Balung Gading. Beberapa saat lamanya Ratu Lembah Neraka itu terdiam. Tampak sekali kalau katakata yang diucapkan Rangga tadi tengah dipertimbangkannya. Sementara itu Cempaka melangkah
menghampiri. Dan kini gadis itu berdiri di tengahtengah, antara Rangga dan Dewi Anjungan. Sedangkan Pandan Wangi dan Eyang Balung Gading
sudah berada di belakang Pendekar Rajawali Sakti. "Dengar! Aku ingin memutuskan masalah ini.
Dan tak ada seorang pun yang bisa merubah keputusanku," tegas Cempaka.
Semua perhatian tertuju pada gadis itu, dan
tak ada seorang pun yang membuka suara.
"Aku tetap tinggal di Istana Karang Setra. Dan
aku berjanji, selama tiga hari setiap bulan purnama akan tinggal di sini bersamamu, Bibi Dewi. Tapi, kau harus berjanji untuk membuang segala
perbuatan buruk yang merugikan orang banyak.
Aku bersedia menerima ilmu-ilmu yang akan diajarkan, asal kau sudi berdiri di atas keadilan dan
membela orang-orang yang lemah, serta memerangi kejahatan. Bagaimana...?"
Dewi Anjungan tersenyum lebar, kemudian
menghampiri Cempaka. Langsung direngkuhnya
gadis itu ke dalam pelukan. Hal ini membuat
Rangga, Pandan Wangi, dan Eyang Balung Gading
tersenyum lega. Kini tak ada lagi pertentangan di
antara mereka semua.
"Di dalam keterasingan bertahun-tahun, aku
sudah banyak merenung. Dan aku memang berjanji untuk meninggalkan semua kebiasaan burukku selama ini. Dan aku akan belajar pada kakakmu, Pendekar Rajawali Sakti," ujar Dewi Anjungan. "Oh, Bibi...."
Cempaka membalas pelukan wanita cantik
yang selama ini dijuluki Ratu Lembah Neraka.
Agak lama juga mereka berpelukan, kemudian
Dewi Anjungan melepaskan pelukannya. Ditatapnya Rangga, Pandan Wangi, dan Eyang Balung
Gading bergantian.
"Bagaimana kalau kalian kuundang ke istanaku...?" ujar Dewi Anjungan.
"Dengan satu syarat, jangan ada jebakan di dalam istanamu," sambut Eyang Balung Gading.
Dewi Anjungan tertawa terbahak-bahak. dan
mereka semua jadi tertawa mendengar kelakar
Eyang Balung Gading. Sementara itu, matahari
sudah mulai menyemburatkan cahayanya di ufuk
Timur. Begitu cerah, secerah wajah-wajah yang
berjalan menuju Istana Neraka. Di mata mereka,
bangunan tua itu tidak lagi terlihat angker. Bahkan lembah ini juga terlihat begitu indah. Seindah
hati Rangga yang telah berhasil menyatukan Cempaka dengan bibinya.
SELESAI Scan/E-Book: Abu Keisel
Juru Edit: Aura PandRa
http://duniaabukeisel.blogspot.com
Wanita Iblis 7 Sepasang Pendekar Kembar Ouw Yang Heng-te Karya Kho Ping Hoo Suling Emas Dan Naga Siluman 28

Cari Blog Ini