Ceritasilat Novel Online

Gelang Naga Soka 2

Pendekar Rajawali Sakti 49 Gelang Naga Soka Bagian 2


nama Eyang Congkok sebagai sahabatnya. "Maaf. Seharusnya aku memang tidak perlu bertanya seperti itu padamu, Murasi.
Memang sebaiknya aku harus bertemu ibumu secara langsung," ucap Eyang Congkok
melihat Murasi terdiam saja, seperti keberatan menjawab pertanyaannya tadi.
"Sekarang ini ibu tidak Ingin diganggu," kata Murasi.
"Ah, sayang sekali. Kapan aku bisa menemui ibumu?"
ada nada kekecewaan di dalam suara Eyang Congkok.
"Aku tidak tahu. Nanti akan kutanyakan lebih dulu,"
sahut Murasi. "Terima kasih. Kalau begitu, sebaiknya aku pergi dulu,"
pamit Eyang Congkok.
"Tunggu dulu," cegah Murasi.
Eyang Congkok memandangi gadis cantik di depannya.
"Di mana aku bisa menemuimu nanti?" tanya Murasi.
"Kau tidak perlu bersusah payah, Murasi. Besok pagi aku akan datang lagi ke sini
menemuimu," sahut Eyang Congkok.
Setelah berkata demikian, Eyang Congkok langsung melesat pergi. Begitu cepatnya,
sehingga sebelum Murasi bisa membuka mulut, laki-laki tua bertubuh bungkuk itu
sudah lenyap dari pandangan. Murasi bukanlah seorang gadis manja yang tahunya
hanya bersolek saja. Dia sudah sering melihat tokoh rimba persilatan, terutama
sahabat-sahabat ayahnya yang memiliki ilmu olah kanuragan dan kesaktian tingkat
tinggi. Jadi lesatan yang dilakukan
Eyang Congkok barusan, baginya bukanlah sesuatu yang dirasakan aneh.
Murasi mengangkat bahunya. Gadis itu memutar
tubuhnya, lalu berjalan. Namun belum jauh melangkah, terlihat ibunya berjalan
menuju ke arahnya. Perempuan setengah baya yang masih kelihatan cantik itu
tersenyum manis
melihat putrinya yang berhenti melangkah menunggunya. "Tadi kulihat kau berbicara dengan seseorang. Siapa dia?" tanya Nyi Enoh begitu
dekat dengan Murasi.
Murasi tidak langsung menjawab. Agak terkejut juga hatinya
mendengar pertanyaan itu. Sungguh tidak disangka kalau ibunya tadi memperhatikan. Murasi memandang ke arah kamar ibunya
melalui bahu wanita setengah baya itu. Tampak jendela kamar itu sedikit terbuka.
Dari sana memang dapat melihat ke tempat pembicaraannya tadi dengan laki-laki
tua bungkuk yang mengaku bernama Eyang Congkok. Tapi memang tidak cukup jelas,
karena terhalang rimbunnya pohon kenanga.
"Aku tidak tahu siapa dia, Bu. Tapi, katanya sahabat ayah," sahut Murasi.
"Dia menyebutkan namanya?" tanya Nyi Enoh lagi.
"Iya," sahut Murasi seraya mengangguk pelan.
"Siapa?"
"Eyang Congkok."
"Siapa..."!" Nyi Enoh seperti tidak jelas mendengar penuturan anaknya tadi.
"Eyang Congkok," Murasi mengulangi dengan kening sedikit berkerut.
Gadis itu heran juga melihat ibunya terkejut ketika nama Eyang Congkok
disebutkan. Dipandanginya wanita setengah
baya itu dalam-dalam. Sedangkan yang dipandangi jadi terdiam disertai pandangan kosong lurus ke depan. Untuk beberapa
saat mereka terdiam membisu dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang ada
dalam kepala Nyi Enoh saat ini. Murasi tidak bisa menduganya.
Sedangkan dirinya sendiri jadi tidak mengerti, mengapa
ibunya terkejut seperti itu.
*** Nyi Enoh mengayunkan kakinya perlahan-lahan,
namun kepalanya sedikit tertunduk. Sedangkan Murasi hanya berdiri saja mengawasi
dengan kepala dipenuhi berbagai macam pertanyaan yang sukar dijawab. Nyi Enoh
menghembuskan napas panjang sambil menghempaskan tubuhnya di kursi bambu yang
ada di bawah sebatang pohon kamboja. Dipandanginya Murasi yang masih berdiri
saja di tempatnya.
"Apakah maksudnya datang ke sini diutarakan juga, Murasi?" tanya Nyi Enoh
setelah cukup lama berdiam diri saja.
"Tidak," sahut Murasi. "Tapi katanya dia akan datang lagi besok pagi dan ingin
bertemu Ibu."
"Hm...," Nyi Enoh bergumam saja sambil mengangguk-anggukkan kepala sedikit.
Kembali dipandanginya Murasi. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dan Murasi
tidak bisa mengetahui.
Sementara sinar mata ibunya begitu datar, meskipun raut wajahnya mencerminkan
adanya sesuatu yang sedang dipikirkan.
"Lalu, apa jawabanmu, Murasi?" tanya Nyi Enoh.
"Kukatakan, aku harus tanyakan pada Ibu dulu. Sebab, Ibu tidak mau diganggu saat
ini," sahut Murasi.
Nyi Enoh mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya, sudah. Besok kalau dia datang lagi, langsung beri tahu Ibu," pinta Nyi
Enoh. "Baik, Bu."
"Sekarang, pergilah kau keluar. Bantu kedua pamanmu.
Sudah banyak orang yang datang untuk menghadapi si Siluman Kera."
"Jadi..., Ibu jadi mengundang orang-orang persilatan untuk menghadapi si Siluman
Kera?" agak terkejut juga Murasi mendengarnya.
"Tidak ada lagi yang bisa ibu lakukan, Murasi. Toh
mereka akan dibayar mahal untuk ini."
"Seharusnya Ibu memilih para pendekar tangguh saja.
Kalau Ibu hanya memanggil orang-orang persilatan biasa saja, akan mengorbankan
nyawa sia-sia," Murasi agak menyesali tindakan ibunya yang mengundang orangorang persilatan berkemampuan tanggung untuk menghadapi si Siluman Kera.
"Kau harus bisa mengetahui lebih banyak tentang orang-orang persilatan, Murasi.
Para pendekar, jika tidak secara kebetulan, sulit mencarinya. Ibu tahu, para
pendekar tidak akan minta imbalan apa pun juga.
Sedangkan saat ini kita memerlukan banyak tenaga. Ah..., sudahlah. Kau lihat
saja mereka di luar sana. Tampaknya mereka juga memiliki kepandaian yang cukup
tinggi." "Tapi kabarnya si Siluman Kera mempunyai kesaktian yang sangat tinggi, Bu."
"Itu urusan mereka, Murasi. Mereka datang sendiri dan menerima pembayaran tanpa
ada paksaan. Kalau mereka tidak mau, aku juga tidak memaksa. Yang penting, aku
sudah mengatakan kalau yang akan dihadapi adalah si Siluman Kera."
"Terserah ibulah," Murasi mengangkat bahunya.
Gadis itu membalikkan tubuhnya, lalu melangkah pergi meninggalkan perempuan
setengah baya itu. Sedangkan Nyi Enoh masih tetap duduk di bangku bambu.
Sebentar dipandanginya anak gadisnya yang lenyap di balik pintu belakang rumah
besar ini. Terdengar hembusan napas panjang dan terasa berat sekali.
"Kau terlalu lembut, anakku. Kelembutan akan membawa penderitaan bagi dirimu sendiri. Kau tidak akan bisa
menghadapi kehidupan ganas ini dengan kelembutan," ujar Nyi Enoh setengah bergumam.
Kembali perempuan tua itu menarik napas. Dia jadi teringat pada masa gadisnya
dulu. Sifat dan tingkah lakunya, sangat jauh berbeda dengan Murasi. Dia sendiri
tidak tahu, sifat siapa yang menurun pada anaknya itu.
Padahal tidak ada seorang pun keluarganya yang memiliki
sifat serta tingkah laku seperti itu. Sedangkan dari keluarga suaminya pun,
tidak jauh berbeda dengan keluarganya yang lahir dan
tumbuh dari kalangan
persilatan. Tapi ada satu keistimewaan yang dimiliki Murasi. Gadis itu berotak cerdas, dan
terlalu kuat pendiriannya. Tidak heran jika dalam usia muda, Murasi sudah
memiliki kepandaian
tinggi. Terlebih lagi ayahnya memang menggembleng gadis itu dengan berbagai ilmu olah kanuragan dan kesaktian tingkat
tinggi. Bahkan Nyi Enoh sendiri sekarang ini merasa tidak akan mampu menandingi
anaknya. "Mudah-mudahan
gelang itu bisa dipertahankannya," desah Nyi Enoh lagi.
*** 4 "Hup! Hap! Yeaaah...!"
Glarrr! Sebuah ledakan keras terdengar menggelegar memecah kesunyian malam. Tampak api
menyemburat terang bersama hancurnya sebongkah batu sebesar kerbau yang hitam
berkilat tertutup lumut tebal. Di antara kilatan cahaya api, terlihat seorang
gadis mengenakan baju merah muda tengah berdiri tegak sambil merentangkan kedua
tangan lurus ke depan. Kedua telapak tangannya terbuka lebar dengan jari-jari
merapat menjadi satu.
Perlahan-lahan gadis berbaju merah muda itu menurunkan tangannya hingga menjuntai ke samping.
Dipandanginya dalam-dalam batu yang hancur berkeping-keping.
Bibir yang memerah dan agak tipis itu, menyunggingkan senyuman tipis. Sinar matanya berkilatan penuh kepuasan.
Plok! Plok...! "He...!" gadis itu terkejut ketika tiba-tiba saja terdengar tepukan tangan
beberapa kali dari belakang.
Tubuhnya langsung berbalik dengan tangan terkepal di sisi pinggang. Lalu dengan
cepat, tangan kanannya bergerak memutar hingga menyilang di depan dada.
"Hei, tunggu...!" terdengar sentakan keras bernada mencegah.
Sinar mata gadis itu demikian tajam kala melihat seorang laki-laki muda
mengenakan baju rompi putih tahu-tahu kini sudah berada di depannya. Perlahan
gadis itu menurunkan tangan kanannya yang telah menyilang di depan dada. Dan
perlahan pula kakinya dirapatkan kembali. Namun sikapnya masih tetap waspada,
dan ini terpancar jelas dari sinar matanya yang menyorot tajam.
"Siapa kau...?" tanya gadis itu ketus.
"Kau sendiri siapa" Dan kenapa berbuat gaduh di sini?"
pemuda berbaju rompi putih itu malah balik bertanya.
"He..."! Aku yang bertanya padamu!" bentak gadis itu keras.
"Maaf, Nisanak!" timpal pemuda berbaju rompi putih itu. "Terus terang saja, aku
hanya ingin mengatakan agar untuk sementara kau jangan membuat kegaduhan di
sini." "Kenapa"! Aku bisa bebas melakukan apa saja di sini.
Ini tanah milik ayahku, dan kau tidak berhak melarangku!
Tahu"!" ketus sekali nada suara gadis itu.
"Siapa pun dirimu, dan siapa pemilik daerah ini, kuminta kau jangan membuat
gaduh malam ini," tegas pemuda berbaju rompi putih itu.
"He.... Kenapa?" gadis berbaju merah
muda itu mendelik. "Aku lihat, kepandaianmu cukup tinggi. Jadi kau pasti tahu, bagaimana suasana
yang diinginkan seseorang jika sedang melaksanakan semadi."
Gadis itu mengernyitkan keningnya.
"Bukan aku yang bersemadi, tapi temanku," sambung pemuda itu memberi tahu.
"Kenapa bersemadi di tempat seperti ini?"
"Tidak ada waktu lagi. Dia terluka cukup parah, dan harus segera bersemadi untuk
menyembuhkan luka dalamnya."
Gadis itu mengayunkan kakinya mendekati pemuda itu, dan kini semakin jelas bisa
melihat. Agak tertegun juga hatinya begitu mengetahui kalau pemuda berbaju rompi
putih itu ternyata memiliki raut wajah tampan. Bentuk tubuhnya tegap berotot
terbungkus kulit yang kuning langsat bagai seorang putra bangsawan. Untuk sesaat
gadis itu memandangi sosok tampan di depannya.
"Kau pasti bukan dari Desa Banggal ini," tebak gadis itu. Kali ini nada suaranya
terdengar lebih lunak dan agak lembut.
"Benar. Aku berasal dari tempat yang jauh," sahut pemuda itu.
"Kau tadi mengatakan, temanmu sedang terluka dalam dan kini bersemadi. Di mana
semadinya?"
"Tidak jauh dari sini."
"Boleh kulihat?"
Pemuda berbaju rompi putih
itu tidak langsung
menjawab. Dipandanginya gadis cantik yang mengenakan baju merah muda di depannya
ini. Meskipun gadis itu tidak lagi berkata ketus, namun sorot mata pemuda itu
tetap mengandung kewaspadaan. Dan rupanya gadis itu mengetahui, maka langsung
memberi senyuman manis.
"Maaf atas kekasaranku tadi," ucap gadis itu lembut.
"Namaku Murasi. Aku tinggal tidak jauh dari sini."
Sebentar pemuda itu memandangi gadis berbaju merah muda
yang memperkenalkan namanya sambil menyodorkan tangan. Kemudian pemuda berbaju rompi putih itu menyambut uluran


Pendekar Rajawali Sakti 49 Gelang Naga Soka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tangan itu. Dan kini mereka berjabatan tangan beberapa saat.
"Rangga," pemuda berbaju rompi putih
itu juga memperkenalkan namanya.
Kemudian mereka sama-sama melepaskan jabatan
tangannya. Entah kenapa, tiba-tiba saja mereka sama-sama tersenyum. Mungkin
teringat kekasaran masing-masing yang baru saja terjadi. Untung saja satu sama
lain bisa menjaga diri, sehingga tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi.
"Kenapa temanmu terluka dalam?" tanya gadis berbaju merah muda yang mengaku
bernama Murasi.
"Bertarung," sahut Rangga singkat
"Parah sekali?"
"Kelihatannya. Mungkin baru besok pagi dia bisa bangun dari semadinya. Hanya
saja mungkin belum sembuh benar dari luka-luka dalamnya."
"Aku punya sedikit kebisaan tentang pengobatan luka dalam akibat pertarungan.
Mungkin dia bisa sedikit diobati," Murasi menawarkan jasa.
Sebentar Rangga berpikir menimbang-nimbang tawaran gadis yang baru dikenalnya
ini, kemudian mengangkat bahunya sedikit dan memutar tubuhnya. Pemuda berbaju
rompi putih itu melangkah, sementara Murasi mengikuti.
Langsung ayunan langkahnya disejajarkan di samping pemuda berbaju rompi putih
itu. *** Murasi memandangi seorang gadis yang duduk bersila dengan kedua tangan berada di
lututnya. Kedua mata gadis berbaju kuning itu terpejam rapat. Wajahnya kelihatan
memucat, dan bibirnya agak membiru. Perlahan Murasi menghampiri, sedangkan
Rangga hanya berdiri saja mengawasi.
Murasi meletakkan ujung jari tangannya di leher gadis berbaju kuning, tepat di
bawah rahangnya. Kepalanya menggeleng beberapa kali, lalu berpaling pada
Pendekar Rajawali Sakti yang mengawasi saja dari jarak yang tidak seberapa jauh.
"Sudah berapa lama dia terluka begini?" tanya Murasi.
"Baru kemarin," sahut Rangga.
"Kau pasti sudah memberikan hawa murni," tebak Murasi.
Rangga agak terkejut juga atas tebakan yang tepat itu, tapi kepalanya terangguk
sedikit. Dibenarkannya dugaan Murasi yang begitu tepat. Pendekar Rajawali Sakti
itu hanya diam saja memperhatikan Murasi yang mulai memeriksa bagian-bagian
tubuh gadis berbaju kuning.
"Siapa namanya?" tanya Murasi tanpa berpaling pada Rangga.
"Paranti. Itu juga katanya...," sahut Rangga.
"Katanya...?"
"Aku baru mengenalnya beberapa hari ini. Jadi, wajar kalau aku tidak begitu
jelas mengetahui tentang dirinya,"
jelas Rangga. "Baru kenal beberapa hari sudah mengakui teman...!"
gumam Murasi pelan.
Begitu pelannya, sehingga tidak bisa terdengar oleh Rangga. Sedangkan Pendekar
Rajawali Sakti itu sendiri sudah duduk, dan menyandarkan punggungnya pada
sebatang pohon yang tumbang dan sudah mengering.
Dipungutnya ranting kering dan dilemparkannya ke dalam api unggun. Terlihat
percikan api naik ke atas, saat ranting itu terjilat api yang berkobar tidak
terlalu besar. Rangga kembali memperhatikan Murasi yang kini sudah membaringkan
tubuh Paranti. Entah apa yang dilakukannya, karena gadis berbaju merah itu duduk bersila membelakangi. Tapi
terlihat kalau tangannya selalu bergerak-gerak. Dan terdengar beberapa kali
napas ditarik dalam-dalam.
Agak lama juga Murasi mencoba mengobati luka dalam yang diderita Paranti akibat
pertarungannya melawan si Siluman Kera. Dan luka yang dideritanya ini juga
akibat pukulan si Siluman Kera. Rangga mengangkat kepalanya sedikit ketika
Murasi bangkit berdiri dan
memutar tubuhnya. Kemudian kakinya melangkah menghampiri, lalu duduk di depan Pendekar
Rajawali Sakti.
"Maaf. Aku tidak bisa menyembuhkannya. Terlalu parah luka dalam yang
dideritanya," kata Murasi memberitahu sebelum ditanya.
Rangga hanya mengangkat bahunya sedikit. Pendekar Rajawali Sakti memang sudah
tahu kalau luka dalam yang diderita Paranti sangat parah. Dan luka dalam itu
hanya bisa disembuhkan oleh orang yang mengetahui ilmu pengobatan luka dalam.
Sedangkan dia sendiri, sama sekali tidak mengetahui ilmu pengobatan dalam
tingkat tinggi. Kalau yang sedang-sedang saja, mungkin bisa diobatinya. Tapi
luka yang diderita Paranti..., tidak sembarang orang bisa menyembuhkannya.
"Dengan luka seperti itu, kemungkinan dia hanya mampu bertahan dua atau tiga
hari," jelas Murasi lagi.
"Apa yang bisa kulakukan?" tanya Rangga.
"Hm...," Murasi menggumam kecil.
Cukup lama juga mereka berdiam diri dengan benak
berpikir keras untuk menyelamatkan Paranti yang kini terbaring,
beralaskan tumpukan rerumputan kering. Sebentar Murasi memandangi gadis berbaju kuning itu, kemudian kembali menatap
Pendekar Rajawali Sakti.
"Dalam keadaan seperti ini, segala kemungkinan harus dicoba dulu. Mungkin ibuku
bisa menyembuhkan," kata Murasi setelah cukup lama berdiam diri saja.
"Jauhkah rumahmu dari sini?" tanya Rangga.
"Tidak."
Rangga segera bangkit berdiri, kemudian menghampiri Paranti yang masih terbaring
tak sadarkan diri. Sebentar dipandanginya wajah pucat yang bibirnya agak membiru
itu. Kemudian tubuh ramping terbungkus baju kuning itu dipondongnya.
Perlahan kakinya terayun melangkah menghampiri Murasi yang sudah berdiri menanti.
"Kita berangkat sekarang," ajak Rangga.
"Lebih cepat, lebih baik," sahut Murasi.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka kemudian bergegas beranjak
pergi. Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh, mereka akan lebih cepat sampai di tempat kediaman gadis
berbaju merah muda itu.
*** Rangga berjalan mondar-mandir di ruangan depan
rumah Murasi yang cukup besar ini. Sedangkan Murasi hanya duduk di kursi yang
terbuat dari rotan berwarna coklat mahoni. Sementara malam terus merambat
semakin larut. Tak lagi terdengar suara, kecuali hembusan napas berat.
"Apa kau tidak bisa tenang sedikit, Rangga...?" tegur Murasi.
"Oh, maaf," ucap Rangga buru-buru.
Pendekar Rajawali Sakti itu menghempaskan tubuhnya di kursi, tepat di depan
Murasi. Hanya sebuah meja bundar yang tidak begitu besar menghalangi mereka.
"Kalau kau terus gelisah, aku jadi ikut gelisah," ungkap Murasi, mengakui.
Rangga hanya tersenyum saja. Diambilnya gelas perak yang berada di atas meja,
kemudian isinya diteguk hingga tandas. Pendekar Rajawali Sakti itu meletakkan
kembali gelas peraknya di atas meja di depannya. Murasi menuangkan kembali arak
ke dalam gelas itu dari guci tanah liat.
"Terima kasih," ucap Rangga seraya mengambil gelas yang
sudah penuh. Sebentar kemudian arak itu ditenggaknya kembali.
"Kenapa kau begitu gelisah" Apa dia teman istimewamu?" tanya Murasi dengan sinar mata penuh selidik.
"Bukan," sahut Rangga.
"Lalu...?" Murasi terus mendesak.
"Aku selalu begini kalau melihat orang yang sedang menghadap maut," Rangga
menjawab asal saja.
"Ibu mengenalimu, Rangga. Aku tidak percaya pendekar digdaya sepertimu selalu
gelisah menghadapi persoalan sepele seperti ini," kata Murasi tidak percaya.
Rangga hanya tersenyum saja untuk menghilangkan keterkejutannya.
Memang, Nyi Enoh langsung mengenalinya ketika baru bertemu tadi. Dia sendiri tidak tahu, dari mana
perempuan setengah baya yang masih kelihatan cantik itu bisa mengenalinya.
Padahal, baru kali ini mereka bertemu. Namun Rangga sendiri sama sekali tidak
mengenal perempuan itu.
"Aku juga sering mendengar tentang namamu, Rangga.
Terus terang, aku kagum terhadap segala tindakanmu yang tidak pernah memandang
orang yang kau tolong. Aku juga
ingin seperti itu. Menolong siapa saja yang membutuhkan," tekad Murasi.
"Kepandaianmu cukup tinggi. Pasti tidak terlalu sulit,"
Rangga membesarkan hati gadis ini.
"Memang kelihatannya tidak sulit, tapi aku tidak mungkin bisa melakukannya," ada sedikit keluhan pada suara Murasi.
"Kenapa?" tanya Rangga.
"Bagaimana mungkin
aku bisa mengembara dan
menumpas kejahatan, sedangkan menghadapi kemelut keluarga saja masih belum mampu
mengatasinya...?" kali ini jelas sekali kalau Murasi mengeluh.
"Oh, maaf. Aku menambah repot keluargamu saja,"
ucap Rangga langsung merasakan.
"Kau jangan selalu rendah diri begitu, Rangga. Sama sekali kau tidak merepotkan.
Bahkan tampaknya ibu senang atas kedatanganmu ke sini. Dan aku sendiri...,"
Murasi memutuskan kalimatnya.
"Kenapa denganmu?" desak Rangga.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kagum saja padamu," sahut Mutasi.
"Tidak ada yang bisa kau kagumi dariku, Murasi. Masih banyak
kekurangan pada diriku," lagi-lagi Rangga merendah. "Tidak ada seorang pun yang sempurna di mayapada ini, Rangga."
"Memang. Dan itu kusadari penuh. Makanya aku masih terus belajar dari pengalaman
yang kuperoleh selama dalam pengembaraan," kata Rangga lagi.
"Hebat...! Kau sudah memiliki hampir segalanya, tapi masih juga mau belajar,"
puji Murasi tulus.
Dan gadis itu semakin kagum saja pada sikap Pendekar Rajawali Sakti itu. Murasi
memang sering mendengar sepak terjang Pendekar Rajawali Sakti yang selalu
menumpas kejahatan dan keangkaramurkaan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Meskipun baru kali ini bertemu pendekar yang dikaguminya itu, tapi rasanya sudah
mengenal lama. Saat itu Nyi Enoh muncul dari dalam sebuah kamar.
Rangga langsung bangkit berdiri diikuti Murasi. Nyi Enoh tersenyum sedikit pada
Pendekar Rajawali Sakti yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala sedikit.
Nyi Enoh kini duduk di samping Murasi yang sudah duduk kembali. Rangga juga ikut
duduk di bangkunya semula.
Murasi menuangkan arak ke dalam gelas dari perak, dan
diberikan pada ibunya.
"Bagaimana?"
tanya Rangga setelah Nyi Enoh menghabiskan minumannya.
"Belum terlambat. Mudah-mudahan besok pagi dia bisa sadar. Tapi harus melakukan
semadi, paling tidak tiga hari lamanya," jelas Nyi Enoh.
Rangga menarik napas lega. Matanya sempat melirik Murasi yang saat itu juga
melirik kepadanya. Tampak ada suatu kilatan di mata gadis itu, yang sukar
diartikan. Hanya sayangnya, Rangga sudah kembali memandang perempuan setengah baya yang
masih kelihatan cantik di samping Murasi.
"Nak Rangga, apakah kau tahu, dengan siapa dia bertarung?" tanya Nyi Enoh.
"Aku kurang begitu jelas memperhatikannya," sahut Rangga.
"Dari luka-luka yang diderita, dia seperti baru bertarung melawan si Siluman
Kera," agak pelan suara Nyi Enoh.
"Siluman Kera...?" Murasi terperanjat.
Murasi segera memandangi ibunya dalam-dalam. Sungguh tidak disangka kalau Paranti bertarung dengan si Siluman Kera. Satu nama
yang kini menjadi momok bagi keluarga ini. Sedangkan Rangga sempat melihat
adanya keterkejutan pada raut wajah gadis itu.
"Siapa itu si Siluman Kera, Nyi?" tanya Rangga.
Nyi Enoh tidak langsung menjawab, dan hanya menarik napas dalam-dalam. Memang
jelas sekali, terasa adanya sesuatu yang mengganjal dada perempuan itu. Rangga
memandangi Nyi Enoh dan Murasi bergantian. Saat itu juga, benaknya bekerja. Dan
memang, terasa ada sesuatu yang tersembunyi, dan berhubungan langsung dengan
nama Siluman Kera yang baru saja disebut namanya oleh Nyi Enoh tadi.
*** Pagi-pagi sekali, selagi matahari belum menampakkan wajahnya, Nyi Enoh sudah
duduk di bangku taman
halaman belakang rumahnya yang besar. Perempuan tua itu seperti menanti sesuatu
di sana. Namun, tak ada seorang pun yang terlihat di taman itu. Dan hari ini
memang masih terlalu pagi.
Sedikit pun Nyi Enoh tidak bergeming, meskipun rona merah mulai menyemburat di
ufuk timur. Pandangannya lurus ke arah barat, seakan-akan begitu yakin kalau
sesuatu akan muncul dari arah sana. Nyi Enoh bangkit berdiri ketika sebuah
bayangan hijau berkelebat dari arah barat.
"He he he...."
Sebuah suara tawa terkekeh terdengar, bersamaan dengan
munculnya seorang laki-laki

Pendekar Rajawali Sakti 49 Gelang Naga Soka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tua bungkuk mengenakan jubah panjang berwarna hijau. Tubuhnya bungkuk, dan ada tonjolan pada
punggungnya. Sebatang tongkat tergenggam di tangan kanan, menyangga dia berdiri.
"Kau datang terlalu pagi, Eyang Congkok," kata Nyi Enoh menyambut kedatangan
laki-laki tua itu.
"He he he.... Rupanya kau belum lupa padaku, Nyi Enoh," terdengar serak dan
kering suara laki-laki tua bungkuk yang bernama Eyang Congkok itu.
"Tentu saja aku tidak akan lupa terhadap sahabat lama, kecuali kematian sudah
datang menjemputku," sahut Nyi Enoh kalem.
"Dan pasti kau juga tidak lupa pada junjunganku kali ini, bukan?"
"Tentu saja. Tapi sayang sekali, aku tidak memilikinya sekarang ini," sahut Nyi
Enoh langsung memahami.
"He he he...," Eyang Congkok terkekeh kering. "Kenapa kau masih saja
mempertahankan, Nyi" Benda itu tidak ada harganya
sama sekali bagimu. Bahkan selalu mendatangkan bencana. Aku hanya ingin menolongmu keluar dari bencana besar."
"Terima kasih. Hanya saja aku tidak bisa menolongmu kali ini, Eyang Congkok.
Kedatanganmu terlambat sekali."
"Terlambat..." Apa maksudmu, Nyi?"
"Gelang itu sudah tidak ada lagi di sini. Ada seseorang yang mencurinya
semalam." "Dusta...!" bentak Eyang Congkok, langsung menegang wajahnya.
"Aku berkata benar, Eyang Congkok. Semalam aku kedatangan seorang tamu. Dia
seorang pemuda berbaju rompi
putih. Pada punggungnya terdapat pedang bergagang kepala burung. Dan dia...."
"Cukup!" bentak Eyang Congkok memutuskan katakata Nyi Enoh. "Kau jangan coba-coba mengelabuiku, Nyi.
Aku tahu siapa yang kau maksud. Tidak mungkin
Pendekar Rajawali Sakti berbuat serendah itu!"
"Tapi yang jelas, Gelang Naga Soka sudah tidak ada lagi di tanganku."
"Memang bukan kau yang menyimpan. Tapi gelang itu dipakai anakmu!" dengus Eyang
Congkok. "Sudahlah, Nyi.... Aku tidak suka berdebat terlalu panjang denganmu.
Kau akan terbebas dari bencana bila menyerahkan gelang itu padaku," bujuk Eyang
Congkok. "Lalu, kau yang akan menghadapi bencana itu..." Ha ha ha...! Kelakuanmu belum
saja berubah sejak masa muda dulu, Eyang Congkok. Untuk apa kau selalu bersusah
payah mencari benda-benda yang bukan milikmu sendiri"
Apa tidak kau sadari kalau perbuatanmu itu akan mengakibatkan
bencana besar bagi keluarga dan keturunanmu kelak" Benda-benda seperti itu tidak akan membuat hidup kita tenang,
Eyang Congkok."
"Kedatanganku bukan untuk mendengar ocehanmu,
Nyi. Waktuku hanya sedikit. Berikan saja Gelang Naga Soka padaku!" sentak Eyang
Congkok, agak keras suaranya.
Nyi Enoh menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi laki-laki tua yang keras
kepala ini. Mereka memang sudah saling mengenal sejak lama. Bahkan sebelum Nyi
Enoh menikah dengan suaminya, mereka sudah saling mengenal dan sudah mengetahui
satu sama lain. Jadi, Nyi Enoh merasa maklum atas sikap Eyang Congkok yang
begitu kasar padanya. Mereka memang tidak pernah punya persoalan secara pribadi. Tapi,
semenjak suami perempuan itu memiliki Gelang Naga Soka yang menyimpan sebagian
jiwa si Siluman Kera, Eyang Congkok selalu saja mencari-cari persoalan untuk
mendapatkan gelang itu. Laki-laki tua itu memang suka memburu benda apa saja
yang dianggap memiliki sesuatu kekuatan. Sama sekali tidak dipedulikan kalau
benda itu ada yang punya.
"Berikan gelang itu padaku, Nyi. Atau terpaksa aku melupakan persahabatan
kita...?" desis Eyang Congkok.
"Otak dan hatimu benar-benar sudah terasuk keserakahan, Eyang Congkok."
"Cukup...!" bentak Eyang Congkok kasar.
Bet! Seketika itu juga, Eyang Congkok mengebutkan tongkatnya hingga tersilang di depan dada. Sementara kedua tangannya menggenggam
bagian tengahnya.
"Kau akan menyesal, Congkok," kata Nyi Enoh.
"Kau yang memaksaku, Enoh! Hiyaaat...!"
"Hap!"
*** 5 Nyi Enoh tidak bisa lagi membendung keserakahan Eyang Congkok untuk memiliki
benda-benda bertuah yang mempunyai kekuatan. Laki-laki tua itu memang terkenal
gemar mengumpulkan benda-benda bertuah. Apa saja akan dilakukannya. Bahkan tidak
memandang siapa pun untuk mendapatkan benda yang diinginkannya. Malah kalau
mungkin, saudara kandung sekalipun akan digempur bila mempertahankan benda yang diinginkannya. Antara Nyi Enoh dan Eyang Congkok, sebenarnya
sudah cukup lama bersahabat. Tapi semua persahabatan itu luntur setelah
terdengar kalau suami Nyi Enoh menyimpan suatu benda yang menyimpan jiwa si
Siluman Kera. Sebagai orang yang sudah puluhan tahun berkecimpung dalam rimba persilatan, Eyang Congkok tentu tahu siapa itu Siluman
Kera. Dan tentu saja jiwa Siluman Kera yang tersimpan di dalam Gelang Naga Soka
ingin dimilikinya. Namun beberapa kali dia gagal mendapatkannya. Dan, baru sekarang inilah dirinya mulai lagi gencar memburu
benda itu setelah mendengar kabar kalau Ki Enoh sudah tewas di tangan orangorang si Siluman Kera.
Pertarungan yang terjadi di halaman belakang rumah itu rupanya menarik perhatian
seluruh penghuni rumah ini. Bukan saja Murasi dan kedua pamannya yang datang ke
halaman belakang rumah itu, tapi juga Pendekar Rajawali Sakti dan beberapa orang
bayaran yang diundang Nyi Enoh untuk menghadapi anak buah si Siluman Kera.
"Siapa yang bertarung dengan Nyi Enoh?" tanya Rangga yang berdiri di samping Mu
rasi. "Eyang Congkok," sahut Murasi.
"Huh! Orang tua itu memang selalu bikin ulah...!"
dengus Paman Katir sambil memelintir kumisnya yang tebal seperti ijuk.
"Kalau saja dia bukan sahabat Kakang Enoh, sudah dari dulu kukirim ke neraka!"
sambung Paman Julak.
Sementara Rangga hanya mendengarkan saja gerutuan kedua laki-laki yang selalu
dipanggil pa man oleh Murasi itu. Sementara, matanya tidak berkedip memandang
jalannya pertarungan itu. Entah sudah berapa jurus berlalu. Padahal, matahari
semakin naik tinggi. Namun, kelihatannya
pertarungan itu masih akan terus berlangsung lama. Rangga bisa menilai kalau kekuatan mereka seimbang. Hanya
saja, ada kemungkinan Nyi Enoh kalah tenaga.
"Awas kepala...!" seru Eyang Congkok tiba-tiba.
Dan seketika itu juga, tongkatnya bergerak cepat mengibas ke arah kepala Nyi
Enoh. Wut! "Uts...!"
Buru-buru Nyi Enoh merundukkan kepalanya. Namun pada saat tongkat itu berada di
atas kepala, mendadak saja tangan kiri Eyang Congkok menghentak ke arah dada.
Begitu cepatnya sentakan tangan kiri itu, sehingga Nyi Enoh tidak sempat lagi
menghindar. Deghk! "Akh...!" Nyi Enoh memekik agak tertahan.
Perempuan yang mengenakan baju putih itu terhuyung-huyung ke belakang beberapa
langkah sambil mendekap dadanya. Namun sebelum keseimbangan tubuhnya sempat
terkuasai, Eyang Congkok sudah mengibaskan tongkatnya ke arah kaki.
Tak! "Aaakh...!" lagi-lagi Nyi Enoh menjerit keras.
Perempuan berbaju putih itu langsung jatuh terguling ketika tongkat Eyang
Congkok menghantam kakinya.
"Ibu..!" jerit Murasi.
Pada saat yang sama, Eyang Congkok sudah melompat menerjang perempuan setengah
baya yang masih kelihatan cantik itu. Tongkatnya diangkat tinggi-tinggi, dan
siap dihunjamkan ke tubuh Nyi Enoh yang terjajar di tanah.
"Hiyaaat...!"
"Hup! Yeaaah...!"
Bagaikan kilat, tahu-tahu Murasi sudah melesat cepat hendak menyelamatkan nyawa
ibunya yang tertawan.
Namun.... Crab! "Aaa...!"
"Hup...!"
"Ibuuu...!"
Bukan main terkejutnya Murasi begitu melihat ujung tongkat Eyang Congkok sudah
terbenam di dada Nyi Enoh.
Sedangkan laki-laki tua berjubah hijau itu cepat mencabut tongkatnya seraya
melompat mundur, tepat saat Murasi menerjang sambil mengirimkan
satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi. Maka pukulan gadis itu hanya mengenai angin kosong saja.
Dan kini Murasi tidak melanjutkan
serangannya kembali. Tubuhnya langsung berputar, dan menghambur memeluk ibunya yang
tergeletak di tanah dengan dada berlubang berlumuran darah segar. Murasi
langsung memeluk, lalu mengangkat tubuh ibunya. Gadis itu memang lebih
mementingkan keadaan ibunya daripada harus bertarung. Tapi yang jelas, rasa
dendam mulai menyelimuti hatinya.
"Ibuuu...," rintih Murasi tak dapat lagi membendung air matanya.
"Ha ha ha...!" Eyang Congkok tertawa terbahak-bahak.
"Keparat...!" desis Paman Katir menggeram.
"Iblis...!" geram Paman Julak.
Kedua laki-laki berusia sekitar empat puluh tahunan itu segera melesat cepat
bagaikan kilat menerjang Eyang Congkok. Golok mereka langsung dicabut, dan
dibabatkan ke tubuh laki-laki tua itu. Namun dengan tangkas sekali,
Eyang Congkok berkelit sambil menangkis satu serangan golok yang cepat datangnya
bagaikan kilat itu.
Trang! "Kubunuh kau, Iblis...!" bentak Paman Julak geram.
"Hiyaaa...!"
"Hup! Yeaaah...!"
*** Rangga mengangkat tubuh Nyi Enoh yang sudah tidak bernyawa lagi. Dibawanya tubuh
yang mulai dingin itu ke sebuah bangku panjang yang berada di bawah pohon
kamboja, lalu dibaringkan di sana. Sementara Murasi masih sibuk meredam isak
tangisnya. Rangga merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya, sehingga membuat
Murasi semakin kencang menangis sesenggukan.
Meskipun Murasi sejak kecil selalu dididik dan ditempa keras dalam berbagai ilmu
olah kanuragan dan kesaktian, namun menghadapi kenyataan pahit ini tidak akan
mungkin bisa tegar selamanya. Baru beberapa hari menyaksikan kematian ayahnya di
tangan si Siluman Kera, dan sekarang dia harus menghadapi kenyataan pahit lagi.
Kini ibunya juga tewas di depan matanya pula.
Sementara itu, Eyang Congkok sibuk menahan gempuran dua orang adik angkat Ki Enoh. Tampak laki-laki tua bungkuk itu
kewalahan juga. Terlebih lagi, orang-orang yang dibayar Nyi Enoh kini ikut
membantu. Maka tak heran kalau orang tua berjubah hijau itu semakin kewalahan
saja. "Edan...!" dengus Eyang Congkok.
Menyadari tidak akan mungkin bisa menandingi sekitar dua belas orang
berkemampuan cukup tinggi, Eyang Congkok berusaha mencari jalan untuk melarikan
diri. Dan jalan yang dicari itu ternyata datang tidak berapa lama. Tepat ketika golok
Paman Julak mengibas ke arah kakinya, Eyang Congkok melentingkan tubuhnya ke
atas. "Hup! Yeaaah...!"
Namun pada saat itu, seseorang telah lebih cepat
menusukkan tombaknya. Dan ini membuat Eyang Congkok sedikit bergetar hatinya. Namun tiba-tiba muncul cara terbaik, sehingga
membuatnya jadi tersenyum.
Dengan cepat sekali ujung tongkatnya menotok ujung tombak orang itu. Dan dengan


Pendekar Rajawali Sakti 49 Gelang Naga Soka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

meminjam tenaga, kembali tubuhnya melesat cepat keluar dari arena pertarungan.
"Hiyaaa...!"
"Kejar...! Jangan biarkan dia lolos...!" teriak Paman Katir keras.
Namun lesatan Eyang Congkok demikian cepat luar biasa. Sehingga dalam sekejap
saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik tembok halaman belakang rumah ini.
Sepuluh orang bayaran bergegas berlompatan mengejar. Gerakan mereka sungguh cepat dan ringan saat melompati tembok yang
cukup tinggi itu. Kemudian lenyap di balik tembok batu itu.
"Keparat...!" geram Paman Katir.
Sementara itu, Murasi baru saja bisa menguasai keadaan dirinya yang terguncang.
Gadis itu sudah tidak lagi berada di dalam pelukan Pendekar Rajawali Sakti.
Dengan punggung tangan, disekanya air mata yang membasahi wajahnya. Masih
terdengar suara isak yang kecil tertahan.
"Ibuuu...," lirih sekali suara Murasi.
Gadis itu memandangi mayat ibunya yang terbaring di bangku bambu panjang.
Sedangkan Rangga berada di sampingnya. Saat itu Paman Katir dan Paman Julak
sudah menghampiri, namun langsung dicegah Pendekar Rajawali Sakti. Rangga
mengajak kedua orang itu menjauh.
"Huh! Eyang Congkok benar-benar manusia keparat!
Manusia macam dia tidak lagi memandang sahabat pada Kakang Enoh. Tega sekali Nyi
Enoh dibunuhnya...!" desis Paman Katir dingin.
"Maaf, Paman. Siapa itu Eyang Congkok, dan kenapa membunuh istri sahabatnya
sendiri?" tanya Rangga, sopan.
"Dia manusia gila!" dengus Paman Katir.
"Eyang Congkok menginginkan Gelang Naga Soka yang berisi sebagian jiwa si
Siluman Kera. Manusia iblis itu akan mengejar benda apa saja yang bertuah, dan
tidak akan memandang saudara atau sahabat untuk memperoleh keinginannya. Dia tega membunuh siapa saja, asal bisa memperoleh yang
diinginkannya," jelas Paman Julak.
Rangga memandangi kedua laki-laki itu. Masih belum bisa dipahami keterangan
Paman Julak barusan, namun sudah bisa menangkap sedikit artinya. Rupanya semua
peristiwa ini berpangkal pada Siluman Kera. Pendekar Rajawali Sakti jadi
teringat dengan Paranti yang kini tengah bersemadi di dalam salah satu kamar di
rumah besar ini.
Menurut Nyi Enoh, Paranti terkena beberapa pukulan maut Siluman Kera. Akibatnya
dia menderita luka dalam yang sangat parah dan sukar disembuhkan. Hanya mereka
yang mengerti pengobatan luka dalam saja yang bisa menyembuhkannya. Itu juga
tergantung daya tahan si penderita. Kalau memang dugaan Nyi Enoh benar, tentu
Paranti juga mempunyai persoalan dengan si Siluman Kera itu. Tapi, persoalan
apa..." Sedangkan persoalan yang sedang dihadapi keluarga ini, sedikitnya Rangga
sudah bisa memahami.
"Sejak Kakang Enoh menyimpan Gelang Naga Soka, malapetaka seperti tidak pernah
jauh dari rumah ini.
Selalu saja ada kejadian yang meminta korban nyawa,"
jelas Paman Julak lagi. Kali ini nada suaranya seperti mengeluh.
"Kau jangan mengeluh, Julak. Kita harus mempertahankannya, apa pun yang akan terjadi. Terlebih lagi, gelang itu jangan
sampai jatuh ke tangan si Siluman Kera. Apa jadinya dunia ini kalau manusia
iblis itu bisa menyatukan jiwanya kembali...?" kata Paman Katir.
"Ya..., memang serba salah juga. Kita berikan gelang itu pada orang lain,
berarti sama saja menyebarkan bencana.
Yang pasti, si Siluman Kera akan membunuh siapa saja
yang pernah menyimpan sebagian jiwanya," kata Paman Julak lagi. Pelan sekali
suaranya. "Paman, sebaiknya kita urus dulu mayat Nyi Enoh.
Nanti kita bicarakan lagi persoalan ini," sela Rangga.
Kedua laki-laki itu memandang Pendekar Rajawali Sakti, kemudian bergegas
menghampiri mayat Nyi Enoh yang masih ditunggu anak gadisnya. Sementara Paman
Julak dan Paman Katir membawa mayat Nyi Enoh ke dalam rumah, Rangga membimbing
Murasi meninggalkan halaman belakang ini.
*** "Kakang...!"
Teriakan keras terdengar memecah kesunyian di pagi buta ini. Seluruh
penghuni rumah besar itu jadi terbangun. Tampak Murasi berdiri tegak di depan pintu sebuah kamar yang terbuka
lebar. Rangga yang langsung terbangun dari tidurnya, bergegas menghampiri
diikuti Paman Julak dan Paman Katir serta beberapa orang yang disewa untuk
mengamankan rumah ini.
"Ada apa?" tanya Rangga.
"Lihat tuh! Paranti sudah tidak ada lagi," sahut Murasi seraya menunjuk ke dalam
kamar. Rangga bergegas menerobos masuk ke dalam kamar.
Memang kamar ini digunakan Paranti untuk bersemadi dalam menyempurnakan kembali
kesehatan tubuhnya yang terluka dalam. Kamar itu memang sudah kosong, tak ada
lagi Paranti di sana.
Pendekar Rajawali Sakti itu mengedarkan pandangannya, dan langsung tertegun saat melihat ke atas atap yang jebol.
Ternyata Paranti kabur lewat atap, karena pintu kamar ini memang terkunci dari
luar. Sementara kuncinya dipegang Murasi setelah ibunya tewas di tangan Eyang
Congkok "Kenapa dia kabur, Kakang?" tanya Murasi tidak mengerti.
"Aku tidak tahu," sahut Rangga seraya mengangkat
bahunya. Pendekar Rajawali Sakti itu memang tidak tahu, mengapa Paranti kabur begitu
saja. Padahal menurut Nyi Enoh, Paranti baru bisa sembuh benar setelah bersemadi
selama tiga hari penuh. Dan ini baru semalaman saja Paranti bersemadi, tapi
gadis itu sudah kabur lewat atap yang dijebol.
"Aku akan mencarinya. Mungkin dia belum jauh dari sini," tegas Rangga.
"Biarkan saja dia pergi, Kakang. Orang tidak tahu berterima kasih!" dengus
Murasi agak kesal terhadap sikap Paranti yang ugal-ugalan.
"Maafkan atas kelakuannya, Murasi. Akulah yang membuatmu
jadi bertambah repot," ucap Rangga menyesali tindakan Paranti.
"Kau tidak perlu meminta maaf, Kakang. Huh..., sudahlah. Biarkan saja dia
pergi," kata Murasi seraya melangkah keluar dari kamar ini.
Sementara Paman Katir dan Paman Julak menyuruh yang lainnya meninggalkan tempat
ini. Mereka sendiri juga bergegas pergi. Sedangkan Rangga masih tetap berada di
kamar itu. Kembali pandangannya beredar ke sekeliling kamar ini. Tak ada yang
berubah, selain atap yang jebol.
Rangga semakin tidak mengerti atas sikap Paranti yang dirasakan sangat aneh itu.
Kemarin Pendekar Rajawali Sakti memang sempat melihat Paranti mengintip keluar
dari jendela ini, saat Nyi Enoh bertarung melawan Eyang Congkok. Apakah karena
pertarungan itu, maka dia pergi..." Rangga jadi menduga-duga. Kalau memang
benar, berarti gadis itu kenal Eyang Congkok. Atau paling tidak, tahu tentang
keluarga Nyi Enoh ini. Mustahil dia pergi begitu saja kalau tidak mengetahui
siapa sebenarnya Eyang Congkok dan Nyi Enoh.
Sukar bagi Pendekar Rajawali Sakti untuk mengetahui.
Memang sampai saat ini dia tidak tahu, apa sebenarnya yang tengah terjadi di
sini. Dan yang membuatnya semakin bertanya-tanya adalah tentang si Siluman Kera.
Dugaan Pendekar Rajawali Sakti jelas,
semua kejadian ini berpangkal dari orang yang berjuluk Siluman Kera itu.
Tapi apa hubungannya dengan Paranti"
Rangga keluar dari ka mar itu, dan jadi agak tertegun melihat Murasi masih
berada di depan kamar ini. Gadis itu berdiri saja dengan pandangan agak sayu
mengarah langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Siapa sebenarnya Paranti itu, Kakang?" tanya Murasi.
Nada suaranya seperti menyelidik. Atau mungkin juga curiga.
"Entahlah. Aku baru beberapa hari bertemu, dan tampaknya dia tertutup sekali,"
sahut Rangga perlahan.
"Kemarin kulihat dia mengintip dari jendela," kata Murasi lagi.
Rangga agak tertegun juga mendengar kata-kata gadis itu. Sungguh tidak disangka
kalau Murasi juga sempat melihat Paranti mengintip pertarungan kemarin dari
balik jendela. Dan rupanya gadis ini menaruh kecurigaan pada Paranti yang memang
kurang jelas asal-usulnya.
"Ibu mempercayaimu, Kakang. Bahkan kedua pamanku sering mendengar tentang
dirimu. Aku juga percaya padamu. Dulu sebelum tewas, ayah sering cerita tentang
sepak terjangmu. Hanya saja aku tidak mengerti, kenapa kau begitu mudah tertipu
oleh orang yang tidak dikenal sama sekali," tegas Murasi.
"Ditipu..." Aku tidak mengerti maksudmu, Murasi?"
Rangga keheranan mendengar kata-kata gadis itu.
"Gelang Naga Soka hilang," agak dalam nada suara Murasi.
"Apa..."!" bukan main terkejutnya Pendekar Rajawali Sakti kala mendengar ucapan
gadis itu. Untuk beberapa saat mereka terdiam.
"Aku sudah
perintahkan mereka untuk mencari.
Bahkan Paman Katir dan Paman Julak juga ikut mencari,"
jelas Murasi "Bagaimana kau bisa kehilangan gelang itu, Murasi?"
tanya Rangga. "Tanpa disadari, kita semua terkena aji sirep semalam, Kakang. Dan baru kusadari
kalau gelangku hilang.
Makanya aku langsung ke kamar ini, dan ternyata dugaanku tepat. Aku yakin, dia
hanya pura-pura saja terkena pukulan maut si Siluman Kera agar bisa bebas
mengambil gelang itu."
"Tapi kan pintunya terkunci...?"
"Tidak."
"Tidak..."!"
"Aku lupa menguncinya lagi ketika akan menengok keadaannya."
"Jagat Dewa Batara.... Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang, Murasi?"
"Mencegahnya memberikan gelang itu pada si Siluman Kera," tegas Murasi.
"Tapi kita tidak tahu, ke mana perginya."
Murasi tidak menjawab, dan jadi kebingungan sendiri.
Dia tidak tahu, ke mana arah perginya Paranti. Situasi yang dihadapi sekarang
ini semakin terasa sulit saja.
Gelang Naga Soka yang seharusnya dijaga baik, kini telah hilang. Dan mereka tahu
siapa yang mencurinya. Tapi apa hubungannya Paranti dengan Siluman Kera..." Lagi
pula, untuk apa gelang itu dicurinya jika tidak punya hubungan dengan si Siluman
Kera..." Terlalu banyak pertanyaan yang berkecamuk di benak Rangga. Dan belum
ada satu pun yang terjawab.
*** 6 "He he he.... Kau berhasil, Paranti?" tanya Eyang Congkok yang baru saja datang.
Gadis berbaju kuning yang tengah duduk menghadap api unggun kecil langsung
mengangkat kepalanya. Mulut yang sudah terbuka hendak menggigit daging kelinci
panggang, kembali tertutup. Dipandangnya laki-laki tua bungkuk berjubah hijau
yang tahu-tahu sudah duduk di depannya. Eyang Congkok mengambil sekerat daging,
langsung mengunyahnya.
"Tidak percuma bertahun-tahun aku mendidikmu,
ternyata kau punya otak yang cerdas juga," tegas Eyang Congkok.
"Tapi aku hampir saja gagal, Eyang," dengus Paranti dengan wajah tertekuk
memberengut. "He he he..., hanya tantangan kecil. Tidak ada artinya sama sekali bila
dibandingkan dengan keberhasilanmu.
Semadimu bisa kau teruskan di pondokku nanti. Biar nanti lukamu aku yang
menyembuhkan," Eyang Congkok kembali terkekeh.
Paranti kembali menikmati daging panggangnya. Sedangkan laki-laki tua bungkuk berjubah hijau itu menggeser duduknya di bawah
sebatang pohon rindang, sambil menikmati daging panggang. Malam memang sudah
demikian larut, dan udara dingin merasuk sampai ke tulang sumsum. Namun,
dinginnya udara malam ini seakan-akan tidak terasakan lagi. Bukan oleh nyalanya
api, tapi oleh kegembiraan karena Paranti berhasil mencuri Gelang Naga Soka.
"Mana gelang itu?" tanya Eyang Congkok. Matanya berbinar-binar seperti
mengandung sesuatu yang sukar
diartikan. "Ada," sahut Paranti ringan.
"Coba kulihat," pinta Eyang Congkok.
"Untuk apa" Eyang pasti ingin memiliki kalau sudah melihat."
"He he he.... Kau pikir aku berminat pada gelang itu"
Tidak sama sekali, Paranti. Gelang itu tidak ada apa-apanya tanpa jiwa Siluman
Kera." "Bukankah Eyang sudah lama ingin memilikinya"
Bahkan sampai membunuh sahabat baik!"
"Kau lupa, Paranti. Ini kulakukan demi pamanmu. Aku hanya sekadar membantu saja
untuk mendapatkannya. "
"Kalau begitu, biar aku saja yang menyerahkannya pada paman. Toh, tugas ini
dibebankan padaku. Buktinya, Eyang telah gagal selama ini."
"He he he.... Kau semakin pintar saja, Paranti. Baik, aku tidak akan memaksa.
Aku memang kalah cerdik darimu," Eyang Congkok menyerah. Namun di balik itu, ada
sesuatu yang harus dilaksanakan. Dan itu harus berhasil.
"Bukan cerdik, tapi licik."
Eyang Congkok dan Paranti terkejut ketika tiba-tiba mendengar suatu suara berat
yang terasa dingin. Mereka langsung
saja menggelinjang bangkit, dan saling menggeser kaki mendekat. Tak ada seorang pun terlihat di sekitar tempat ini,
tapi suara itu demikian jelas terdengar.
Eyang Congkok dan Paranti saling berpandangan.
"Siapa itu..."!" seru Eyang Congkok, agak keras suaranya.
Tidak ada sahutan sama sekali. Keadaan begitu sunyi.
Bahkan suara binatang malam pun tak terdengar, kecuali gemeretak ranting yang
termakan api karena ditimpa hembusan
angin yang

Pendekar Rajawali Sakti 49 Gelang Naga Soka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyebarkan udara dingin menggigilkan. Namun sebelum Eyang Congkok bisa membuka suara lagi, mendadak saja berlompatan
orang-orang berpakaian serba merah. Sebentar saja tempat itu sudah dikelilingi
manusia berbaju merah yang semuanya sudah menghunus golok. Paranti langsung
menggeser kakinya semakin mendekati laki-laki tua bungkuk berjubah hijau.
"Mereka orang-orang Siluman
Kera, Eyang," kata
Paranti berbisik.
"Aku tahu, hati-hatilah," sahut Eyang Congkok juga berbisik pelan.
Eyang Congkok mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dalam hati dihitungnya jumlah orang berbaju serba merah yang sudah
mengepung tempat ini. Ada sekitar tiga puluh orang jumlahnya. Dan laki-laki tua
bungkuk berjubah hijau itu merasakan kalau masih banyak lagi yang bersembunyi di
sekitarnya. Laki-laki tua itu melirik Paranti yang berdiri tidak jauh di sebelah kanannya.
Ada perasaan khawatir terhadap diri gadis ini. Meskipun tahu kalau Paranti tidak
bisa dianggap enteng dan sembarangan, namun gadis ini belum begitu sembuh benar
dari luka dalamnya. Dan juga belum berpengalaman dalam menghadapi berbagai
pertarungan dalam rimba persilatan. Paranti masih begitu polos, meskipun
sikapnya bisa dikatakan agak liar. Dia memang gadis nakal, dan masih suka
mempermainkan orang.
Berbagai akalnya bisa membuat orang lain kewalahan.
Dalam hal yang sebenarnya, hati Eyang Congkok tengah berkecamuk. Dia seperti
menyimpan sesuatu yang tidak mungkin
diungkapkan. Batinnya terpecah
oleh dua rencananya sendiri. Dan dia harus memilih salah satu.
Membantu Paranti, atau merampas Gelang Naga Soka.
Dan rupanya ada sifat bijaksana juga di dalam hatinya.
"Kau harus lari begitu ada kesempatan, Paranti. Mereka tidak bisa dilawan begitu
saja," kata Eyang Congkok setengah berbisik. Memang, niatnya untuk membantu
gadis itu timbul seketika.
"Eyang sendiri...?"
"Jangan hiraukan aku!" sentak Eyang Congkok pelan.
"Tapi mereka terlalu banyak, Eyang."
"Aku bisa mengatasi."
"Kalau Eyang bisa, aku juga bisa," bantah Paranti.
Eyang Congkok mendesis geram. Kenakalan Paranti mulai timbul lagi. Dan inilah
yang sebenarnya sangat dikhawatirkannya. Paranti tidak pernah
memandang sedikit pun pada lawan-lawannya. Semua lawannya selalu dianggap sama. Padahal
ilmu olah kanuragan dan ilmu-ilmu kesaktian yang dimilikinya belum seberapa bila
dibandingkan anak buah si Siluman Kera. Dan tentu saja yang datang kali ini,
ilmunya pasti cukup tinggi. Namun hal seperti itu tidak dihiraukan Paranti sama
sekali. "Kau jangan membantah, Paranti. Aku akan melemparkan mayatmu ke jurang jika mati di tangan mereka!" ancam Eyang Congkok.
Paranti bergidik juga mendengar ancaman laki-laki tua bungkuk berjubah hijau
itu. Dia tahu kalau Eyang Congkok sudah sampai mengeluarkan ancaman, itu berarti
tidak main-main lagi. Paranti langsung menyadari kalau situasi yang dihadapi
sekarang ini sangatlah gawat, dan tidak mungkin bisa dibantah lagi.
"Dengar! Begitu ada kesempatan, kau harus lari. Cepat temui pamanmu.
Mengerti..."!" kata Eyang Congkok menekankan.
"Baik, Eyang," sahut Paranti terpaksa.
*** Sementara itu, orang-orang
berbaju merah yang semuanya memegang senjata golok sudah mulai bergerak.
Golok mereka digerak-gerakkan di depan dada, dengan tatapan mata tajam menusuk.
Eyang Congkok menggeser kakinya sedikit ke depan, seperti ingin melindungi
Paranti yang diharapkan bisa meloloskan diri dari kepungan ini.
"Ikuti aku, Paranti. Hiyaaat..!"
Eyang Congkok seketika itu juga melompat cepat sambil mengebutkan tongkatnya ke
arah orang-orang berbaju merah di depannya. Begitu cepatnya gerakan laki-laki
tua bungkuk berjubah hijau itu, sehingga dua orang yang di depannya tidak bisa
lagi menghindari tebasan tongkat itu.
Des! Beghk! Seketika dua jeritan panjang langsung terdengar saat tongkat Eyang Congkok
menghantam dua orang itu. Pada saat yang bersamaan, orang-orang berbaju merah
menyala itu cepat berlompatan menerjang. Eyang Congkok yang baru saja merobohkan
dua orang sekaligus, jadi kelabakan juga menerima serangan gencar dari segala
penjuru. Terlebih lagi Paranti. Gadis itu terlambat mengikuti gerakan
Eyang Congkok, sehingga tidak bisa lagi menghindari bentrokan langsung. Sayangnya, gadis itu terpisah agak jauh dari
laki-laki tua bungkuk berjubah hijau itu.
"Celaka...," desis Eyang Congkok saat mengetahui jaraknya dengan Paranti semakin
jauh saja. Laki-laki tua berjubah
hijau itu terus berusaha
mendekati Paranti. Tapi kepungan yang dilakukan orang-orang berbaju merah
demikian ketat. Meskipun tidak sedikit yang bergelimpangan berlumuran darah,
tapi mereka tidak gentar. Bahkan seperti tidak mengenal kata takut.
Mereka terus saja merangsek dan semakin mendesak, merapatkan kepungan. Tentu saja hal ini membuat ruang gerak Eyang
Congkok semakin terasa sempit saja.
Saat melihat sedikit kesempatan, dengan cepat Eyang Congkok
melompat mendekati Paranti. Tongkatnya berkelebat bagai kilat, menciptakan jeritan-jeritan
melengking tinggi yang saling sambut. Hanya sekali lesatan saja, laki-laki tua
bungkuk berjubah hijau itu sudah mencapai tempat Paranti bertarung.
"Cepat kau tinggalkan tempat ini!" sentak Eyang Congkok.
"Tidak bisa...!" sahut Paranti agak terengah.
"Cepat..!"
Eyang Congkok mengamuk bagaikan banteng terluka.
Tongkatnya bergerak cepat luar biasa, membuka kepungan orang berbaju merah yang
jumlahnya kian bertambah saja.
Entah sudah berapa orang yang tergeletak tak bernyawa lagi. Sedangkan udara di
sekitar pertarungan itu sudah sesak oleh bau anyir darah yang mengalir dari
tubuh-tubuh bergelimpangan bersimbah darah.
"Sekarang...!" seru Eyang Congkok begitu melihat ada kesempatan
bagi Paranti untuk lari meninggalkan pertarungan. Paranti tak bisa lagi mengelak. Memang disadari kalau tak mungkin bertahan lama
dalam pertarungan seperti ini.
Tingkat kepandaian orang-orang berbaju merah itu sudah cukup tinggi apalagi
dalam jumlah begini banyak! Jadi, dia tak mungkin bisa bertahan terus.
"Hiyaaat..!"
Sambil berteriak keras melengking tinggi, gadis itu melompat cepat bagaikan
kilat, melewati beberapa kepala.
Pedangnya dikebutkan membabat orang-orang yang berusaha menghalanginya untuk keluar dari pertarungan ini. Setelah berputaran
beberapa kali di udara, kakinya hinggap di salah satu cabang pohon. Tanpa
menunggu waktu lagi, Paranti kembali melesat ke cabang pohon lainnya. Ilmu
meringankan tubuh yang dimiliki gadis itu memang sudah mencapai tingkatan yang
cukup tinggi. Tak heran kalau dia cepat sekali bisa meninggalkan arena
pertarungan itu.
Sementara Eyang Congkok masih terus sibuk menghadapi keroyokan orang berbaju merah. Namun bibirnya tersenyum juga saat
melihat Paranti sudah jauh meninggalkan tempat ini.
"Hiyaaa...!"
Tiba-tiba saja, Eyang Congkok berteriak keras menggelegar. Seketika itu juga, tubuhnya berputar, dan tongkatnya dikebutkan
dengan kecepatan luar biasa.
Kembali terdengar jeritan-jeritan
panjang melengking
tinggi. Disusul kemudian, terlihat beberapa tubuh berjatuhan dengan darah mengucur deras.
Trak! "Heh..."!" Eyang Congkok tersentak kaget ketika tibatiba tongkatnya terasa mendapat hentakan yang kuat hingga terpental balik.
Mata laki-laki tua bungkuk berjubah hijau itu seketika terbelalak lebar begitu
melihat seorang..., atau mungkin seekor kera, tahu-tahu sudah
berdiri di depannya.
Makhluk aneh bertubuh manusia, namun wajahnya
menyerupai kera itu mengenakan baju merah menyala.
Sedangkan pada bagian lehernya berwarna kuning keemasan. Sebatang tongkat kayu tergenggam di tangan yang berbulu, mirip tangan
kera. "Siluman Kera...," desis Eyang Congkok, agak bergetar suaranya.
Sementara orang-orang berbaju merah yang memegang senjata
golok, bergerak menyingkir. Namun tetap membentuk lingkaran mengepung tempat itu. Eyang Congkok
Naga Beracun 4 Rahasia Kampung Garuda Karya Khu Lung Pendekar Guntur 7

Cari Blog Ini