Ceritasilat Novel Online

Gelang Naga Soka 3

Pendekar Rajawali Sakti 49 Gelang Naga Soka Bagian 3


menggeser kakinya beberapa langkah ke belakang. "Kau benar-benar bajingan keparat yang tak bisa dipercaya, Congkok!" desis
manusia kera yang sukar untuk dikatakan
manusia ataupun binatang itu. Suaranya
terdengar kering dan dingin sekali.
"Aku..., aku...," Eyang Congkok jadi tergagap.
"Sudah!" bentak si Siluman Kera keras. "Tidak ada lagi alasan bagimu, Congkok!
Aku paling tidak suka melihat pengkhianat hidup lebih lama lagi!"
Eyang Congkok menelan ludahnya. Kata-kata si Siluman Kera demikian tegas, dan sudah bisa ditebak maksudnya. Meskipun disadari
kalau makhluk yang ada di hadapannya ini bukan manusia lagi, tapi Eyang Congkok
tidak ingin mati begitu saja tanpa perlawanan sama sekali.
Memang diakui dirinya telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Tapi semua
yang dilakukannya bukan karena tanpa sebab, dan memang disengaja dan sangat
disadari sekali. Itu tak lain untuk membantu Paranti.
Inilah sifat bijaksana yang dimiliki laki-laki tua itu.
"Aku menuntut janjimu sekarang, Congkok. Kau
bersedia mati jika melakukan kesalahan. Terlebih lagi bila
gagal menyerahkan Gelang Naga Soka padaku. Tapi kenyataannya, kau malah membantu
pencuri cilik itu membawa kabur Gelang Naga Soka!" tegas si Siluman Kera, tetap
dingin nada suaranya.
Siluman Kera memang mendapat kabar kalau Gelang Naga Soka telah hilang dicuri
oleh Paranti. Kabar itu didapat dari telik sandinya yang sangat dipercaya.
Itulah sebabnya, mengapa si Siluman Kera sekarang memburu Eyang Congkok. Dan
tentu saja, manusia kera itu tahu hubungannya antara Eyang Congkok dengan
Paranti. Maka pencariannya memang tidak salah.
"Tap, Siluman Kera.... Dia lebih memerlukannya," Eyang Congkok mencoba membela
diri. "Lebih penting mana, aku atau pencuri cilik itu, heh..."!" bentak si Siluman
Kera, berang. "Kau tahu, Congkok. Sebagian jiwa dan kehidupanku berada dalam
gelang itu. Dan aku tidak ingin selamanya begini. Kau paham, Congkok..."!"
Eyang Congkok hanya diam saja membisu. Semua itu memang sudah diketahuinya.
Tanpa jiwa dan kehidupan yang utuh, si Siluman Kera tidak akan bisa bertahan
hidup lebih lama lagi. Kalaupun dapat, selamanya dirinya akan berujud kera, dan
tak mungkin bisa kembali menjadi manusia lagi. Dia memang menganut satu ilmu
hitam yang berasal dari roh para siluman kera. Makanya saat di masa hidupnya
dulu, dia dikenal berjuluk Manusia Kera. Itu karena jurus 'Kera' yang
dimilikinya dahsyat sekali, dan sukar dicari tandingannya.
Sekarang pun, meskipun ujudnya sudah berubah
menyerupai kera, namun masih sukar untuk ditandingi.
Memang sukar sekali mengukur, sampai di mana tingkat kepandaian yang dimiliki si
Siluman Kera ini. Karena, sepertinya dia bisa menguasai segala jenis ilmu olah
kanuragan dan ilmu kesaktian yang ada di dunia ini.
Eyang Congkok memang seperti makan buah simalakama. Tidak dimakan, ibu mati. Dimakan, ayah mati. Sungguh dia menyesal
terperangkap dalam jebakan
si Siluman Kera. Itu terjadi karena ulah
seorang perempuan berjuluk si Mawar Beracun. Memang, wanita itu telah berhasil membujuk
Eyang Congkok untuk bergabung dengan si Siluman Kera. Tentu saja dengan imbalan,
tubuh wanita itu harus rela dinikmati oleh Eyang Congkok. Sementara, laki-laki
tua itu harus merebut Gelang Naga Soka dari sahabatnya, Nyi Enoh. Memang diakui,
dirinya sendiri sebenarnya juga ingin memiliki gelang itu.
Di lain hal, Paranti sendiri tidak tahu sama sekali kalau Eyang Congkok telah
berada di pihak musuh. Namun untung
saja, Eyang Congkok seketika merubah keputusannya. Biar bagaimanapun, dia lebih sayang pada muridnya sendiri.
"Nah! Sekarang bersiaplah untuk mati, Congkok...!"
desis Siluman Kera dingin.
Kembali Eyang Congkok menelan ludahnya. Pada saat itu, si Siluman Kera sudah
cepat memutar tongkatnya.
Dan sekarang, bentuk tongkat kayu itu jadi hilang. Yang terlihat kini hanyalah
sebuah bayangan lingkaran putih.
Mendadak saja, entah dari mana datangnya, tahu-tahu terdengar suara menggemuruh
bagai badai. Tapi di sekitar tempat ini masih terasa tenang, dan angin pun
bertiup seperti biasanya. Namun mendadak saja....
"Hiyaaa...!"
"Heh..."! Hup!"
Sambil berteriak keras menggelegar, si Siluman Kera menghentakkan tongkatnya ke
tanah. Hal ini membuat Eyang Congkok terkejut setengah mati. Mata laki-laki tua
itu makin terbeliak ketika tanah yang dipijaknya bergetar, lalu merekah
terbelah. Buru-buru tubuhnya melenting, berlompatan menghindari diri dari
perangkap yang bisa mengakibatkan tubuhnya terjerumus ke dalam tanah yang
merekah semakin lebar itu.
Pada saat yang bersamaan, orang-orang berbaju merah bergegas berlarian
menyelamatkan diri. Mereka berkumpul di belakang si Siluman Kera. Beberapa kali
Eyang Congkok berjumpalitan di udara. Namun setiap kali kakinya berpijak pada tanah, seketika
itu juga tanah yang dipijaknya merekah terbelah dengan cepat.
"Setan...!" geram Eyang Congkok.
*** Serangan yang dilakukan Siluman Kera memang bisa
membuat lawannya harus menguras tenaga. Bagaimana tidak" Untuk menghindari diri
dari kemungkinan terkubur hidup-hidup, harus memeras tenaga dengan berlompatan
sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Paling tidak harus berusaha untuk
bisa bertahan lama berada di udara.
Saat berada di udara seperti ini tenaga lebih banyak keluar, karena harus
mengimbangi daya tarik bumi. Dan Eyang Congkok menyadari akan hal itu. Namun
tidak mudah baginya untuk bisa terlepas dari seranganserangan ini. Wut! Wut..! Tiba-tiba saja Eyang Congkok yang masih berada di udara memutar tongkatnya di
atas kepala dengan cepat sekali. Kemudian, ujung tongkatnya langsung dihentakkan
ke arah si Siluman Kera.
"Hiyaaa...!"
Bet! Rrrt..! Tiba-tiba saja dari ujung tongkat laki-laki tua berjubah hijau itu meluncur
beberapa benda kecil yang halus berwarna hijau. Benda-benda yang bentuknya
seperti jarum itu meluruk deras menghujani si Siluman Kera.
"Ghraaaghk...!" si Siluman Kera meraung keras.
Seketika itu juga tubuhnya melenting ke atas sambil mengebutkan tongkat kayunya.
Cepat sekali gerakan yang dilakukan manusia kera itu, sehingga tiba-tiba saja
sudah melesat ke
arah Eyang Congkok yang baru saja mendaratkan kakinya di tanah berumput
"Uts...!"
Buru-buru Eyang Congkok merundukkan kepalanya
ketika tiba-tiba saja tongkat kayu si Siluman Kera meluruk deras mengibas ke
arah kepala. Namun belum juga laki-laki tua berjubah hijau itu bisa menegakkan
kepala kembali, mendadak si Siluman Kera menghentakkan kakinya. Diberikannya
satu tendangan keras menggeledek yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi
sekali. "Yeaaah...!"
Deghk! "Akh...!" Eyang Congkok memekik keras.
Tendangan yang tiba-tiba dan tidak terduga itu tak dapat dihindari lagi, tepat
mendarat di punggung Eyang Congkok. Seketika laki-laki tua bungkuk berbaju hijau
itu tersungkur ke tanah, namun cepat melompat bangkit berdiri. Dan sebelum dia
berdiri dengan tegak, kembali Siluman Kera melancarkan serangan. Kali ini ujung
tongkatnya meluruk deras ke arah dada. Sejenak Eyang Congkok terkesiap, lalu
bergegas memiringkan tubuhnya ke kiri.
Bet! Sungguh di luar dugaan sama sekali. Begitu tongkatnya lewat di samping tubuh
lawan, mendadak saja Siluman Kera cepat memutar tongkatnya, dan langsung
dikebutkan ke arah pinggang.
Buk! "Akh...!" lagi-lagi Eyang Congkok terpekik.
Tulang-tulang pinggangnya seperti remuk terhantam tongkat kayu yang kelihatannya
biasa itu. Kembali laki-laki tua bungkuk itu terjajar terhuyung-huyung beberapa
kali. "Sebut nama leluhurmu, Congkok! Yeaaah...!"
Kembali si Siluman Kera mengibaskan tongkatnya. Dan kali ini Eyang Congkok
benar-benar tidak mampu berkelit lagi. Tebasan tongkat kayu itu demikian cepat
dan deras sekali, karena mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi sekali.
Prak! "Aaa...!"
Seketika jeritan panjang melengking, terdengar menyayat saat tongkat kayu si Siluman Kera menghantam keras ke kepala laki-laki
tua berjubah hijau itu. Tampak Eyang
Congkok meraung-raung sambil memegangi kepalanya. Tubuh tua dan bungkuk itu terhuyung-huyung limbung.
Dan sebelum Eyang Congkok bisa menyadari apa yang terjadi, si Siluman Kera sudah
kembali menyodokkan tongkatnya. Dan sudah pasti sodokannya tak terbendung lagi,
tepat menghunjam dada laki-laki tua bungkuk itu.
Crab! "Aaa...!"
Satu jeritan melengking tinggi yang panjang dan menyayat mengakhiri perlawanan
Eyang Congkok untuk selama-lamanya. Laki-laki tua bungkuk itu hanya sebentar
saja masih mampu berdiri limbung, kemudian ambruk menggelepar di tanah. Dadanya
berlubang sebesar tongkat bambu.
Tampak darah mengucur dari dada yang berlubang dan dari kepalanya. Kepala Eyang Congkok retak terhantam tongkat kayu
milik Siluman Kera tadi.
"Ha ha ha...!"
Suara tawa si Siluman Kera yang keras dan lepas berderai itu mengiringi kematian
Eyang Congkok. Tubuh tua itu kini terbujur kaku. Sementara Siluman Kera bergegas
pergi diikuti orang-orangnya. Mereka tidak mempedulikan lagi mayat-mayat yang
bergelimpangan.
Bahkan sebagian sudah terkubur di dalam tanah yang tadi merekah, kemudian
tertutup kembali.
*** 7 Jeritan panjang Eyang Congkok yang terakhir, menyentakkan hati Paranti yang sudah jauh dari tempat pertarungan tadi. Gadis
itu menghentikan larinya seketika, lalu memutar tubuhnya. Kecemasan terpancar
jelas di seputar wajahnya. Jelas sekali kalau jeritan panjang melengking itu
adalah jeritan kematian Eyang Congkok.
Hati Paranti jadi diliputi kebimbangan. Tanpa disadari, dirabanya gelang hitam
berbentuk ular yang ekornya berwarna keemasan membelit kepala, di pergelangan
tangannya. Gelang ini rupanya sudah begitu banyak meminta korban nyawa. Dan baru
saja nyawa Eyang Congkok terbang melayang.
"Tidak...! Aku harus membawa gelang ini pada paman,"
Paranti berbicara sendiri.
Setelah memantapkan hatinya, tubuhnya kembali
diputar. Namun belum juga kakinya terayun melangkah, mendadak saja matanya
membeliak lebar. Entah kapan dan dari mana datangnya, tahu-tahu di depannya
sudah berdiri seorang pemuda berbaju rompi putih. Tampak gagang pedang yang
berbentuk kepala burung, menyembul dari balik punggungnya.
"Rangga...," desis Paranti mengenali pemuda berbaju rompi putih itu.
Pemuda tampan itu memang Rangga yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Rajawali
Sakti. Rangga mengayunkan kakinya beberapa langkah mendekati Paranti. Gadis itu
masih berdiri, namun hatinya tersekat rasa terkejut atas kemunculan Pendekar
Rajawali Sakti itu yang amat tiba-tiba. Sungguh tidak disangka kalau akan
secepat ini Rangga bisa mengetahuinya.
"Kenapa kau lari begitu saja, Paranti?" agak dingin nada suara Rangga.
"Aku tidak ingin menyusahkan orang lain," sahut Paranti.
"Kau sudah membuat susah orang lain, Paranti.
Sebaiknya kembalikan saja apa yang kau ambil dari Murasi," Rangga langsung saja
bicara pada pokok persoalannya.
"He...! Jangan menuduh sembarangan, ya...!" bentak Paranti, langsung membeliak
matanya. "Aku tidak akan berkata seperti itu kalau kau tidak memperlihatkan apa yang kau
ambil, Paranti."
Kali ini Paranti benar-benar terkejut. Buru-buru tangan kanannya disembunyikan
di balik tubuhnya. Baru disadari kalau sekarang telah memakai gelang yang
diambilnya dari Murasi. Hanya sebentar saja gadis itu gelagapan, namun cepat
bisa menguasai dirinya kembali.
"Kau akan menambah kesulitan. Bukan saja bagi
dirimu sendiri, tapi juga bagi orang lain, Paranti.
Sebaiknya, berikan saja gelang itu pada pemiliknya. Tidak ada gunanya bagimu,"
tegas Rangga lagi.
"Kalau aku tidak mau...?" ketus nada suara Paranti.
Percuma

Pendekar Rajawali Sakti 49 Gelang Naga Soka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

saja Paranti berbohong. Toh,
Pendekar Rajawali Sakti ini sudah mengetahui semuanya. Gadis itu tidak lagi
menyembunyikan tangannya di balik tubuh. Dan kini malah bertolak pinggang dengan
sikap menantang.
Wajah yang cantik, semakin terlihat cantik kalau menegang demikian.
"Gelang itu tidak ada gunanya bagimu, Paranti. Akan membuat kesulitan saja,"
bujuk Rangga. "Heh...! Enak saja kalau bicara. Apa kau kira si Murasi itu mampu mempertahankan
gelang ini dari si Siluman Kera..." Baru melihat tampangnya saja pasti sudah
pingsan," terdengar sinis kata-kata Paranti.
"Murasi memang tidak setangguh dirimu, Paranti. Tapi dia pemiliknya. Bisa atau
tidak mempertahankannya, itu terserah dia. Kau tidak berhak atas gelang itu."
"Siapa bilang..."! Semua orang berhak atas gelang ini.
Dan sekarang gelang ini sudah berada di tanganku. Itu berarti aku yang berhak
memilikinya. Kalau kau ingin memiliki, maka harus merebut dariku!" tegas sekali
kata-kata Paranti.
"Kau benar-benar gadis pembawa masalah," desis Rangga menggeram.
Kesabaran Pendekar Rajawali Sakti sudah hampir habis.
Namun, masih tetap bertahan untuk tidak terpancing atas sikap Paranti yang liar dan sedikit keras kepala itu.
"Ayo, rebut gelang ini dariku. Gelarmu Pendekar Rajawali Sakti, maka tentunya
bukan pendekar kosong yang hanya bisa bicara dan menggertak saja, bukan" Ayo,
serang dan rebut gelang ini dariku," tantang Paranti, pongah.
"Aku tidak ingin bertarung denganmu, Paranti," Rangga masih mencoba bersabar.
"Kenapa"! Kau bukan laki-laki pengecut, kan...?" ejek Paranti memanasi.
Rangga menggeleng-gelengkan
kepalanya. Pendekar
Rajawali Sakti benar-benar tidak ingin bertarung dengan gadis ini, karena tahu
kalau gelang itu diambil bukan untuk dirinya sendiri. Gelang itu untuk seseorang
yang dipanggilnya dengan sebutan paman. Memang Paranti tadi menyebut tentang
pamannya. Dan Rangga sudah sejak tadi mengikuti gadis ini. Bahkan mengetahui
pertarungan gadis itu yang ditemani seorang laki-laki tua berjubah hijau melawan
orang-orang Siluman Kera.
Pendekar Rajawali Sakti juga mendengar semua percakapan Paranti dengan Eyang Congkok. Bahkan ikut menyaksikan pertarungan
itu. Rangga langsung mengikuti Paranti, saat gadis itu berhasil keluar dan
melarikan diri dari kancah pertarungan. Rangga pun tahu kalau Eyang Congkok
pasti sudah tewas. Hanya saja dia tidak tahu, untuk apa orang yang selalu
dipanggil dengan sebutan paman itu menginginkan Gelang Naga Soka..."
"Baik. Kalau kau tidak ingin menyerang, aku yang akan menyerangmu," tegas
Paranti dingin.
"Jangan lakukan itu, Paranti. Tidak ada gunanya...,"
Rangga mencoba mencegah.
"Terlambat,
Pendekar Rajawali Sakti. Bersiaplah! Hiyaaat..!"
Paranti langsung saja melompat menerjang pemuda berbaju rompi putih itu.
Serangannya cepat luar biasa, dibarengi pukulan
beberapa kali yang mengandung
pengerahan tenaga dalam cukup tinggi.
"Heps...!"
Cepat-cepat Rangga mengegoskan tubuhnya, menghindari serangan-serangan
Paranti yang gencar sekali. Pendekar Rajawali Sakti itu langsung saja menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Tapi kali ini tujuannya lain dari
biasanya. Yang jelas, bukannya hendak mengukur kemampuan ilmu olah kanuragan
yang dimiliki gadis itu, tapi memang enggan bertarung.
*** Meskipun Paranti melontarkan pukulan-pukulan yang dahsyat dan mengandung
pengerahan tenaga dalam tinggi, namun tak membawa hasil sedikit pun. Rangga
selalu berhasil mengelak dengan mudah. Tampaknya, Pendekar Rajawali Sakti hanya
meliuk-liukkan tubuhnya saja, dan selalu menghindar tanpa membalas serangan.
"Jangan hanya bisa menghindar saja, Rangga!" bentak Paranti kesal.
Namun bentakan itu sama sekali tidak digubris
Pendekar Rajawali Sakti. Dan ini membuat Paranti semakin berang saja. Gadis itu
langsung meningkatkan serangan-serangannya. Namun sampai sejauh ini, belum juga
berhasil menyarangkan satu pukulan pun. Gadis itu bukan saja heran, tapi juga
penasaran, geram, dan entah apa lagi yang ada dalam hatinya. Padahal Paranti
sudah menghabiskan lebih dari sepuluh jurus, namun belum juga bisa mendesak
Rangga sedikit pun.
"Hup...!"
Tiba-tiba saja Paranti melompat mundur, dan seketika menghentikan serangannya.
Meskipun gadis itu memiliki kepandaian tinggi, namun belum cukup untuk
menandingi Pendekar Rajawali Sakti. Ilmu yang dimilikinya masih terlalu jauh di
bawah pemuda berbaju rompi putih itu.
Tidak heran, walaupun telah melampaui dua puluh jurus, namun belum juga bisa
mendesak pemuda itu.
"Sudah kukatakan, tidak ada gunanya berkeras kepala, Paranti," kata Rangga
seraya tersenyum.
"Huh! Aku belum kalah!" dengus Paranti, agak tersengal napasnya.
Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi kekerasan hati gadis ini. Namun
sesaat kemudian,
Pendekar Rajawali Sakti itu menyipitkan matanya kala Paranti meloloskan
pedangnya. Sret! Cring...!
"Kau harus mampus, Pendekar Rajawali Sakti. Kau adalah penghalangku yang paling
utama...!" desis Paranti dingin.
"Sarungkan kembali pedangmu, Paranti. Berbahaya menggunakan senjata," bujuk
Rangga. "Aku senang menentang bahaya. Terlebih lagi jika kau menikmati bahaya itu,
Pendekar Rajawali Sakti," balas Paranti sinis.
"Hm.... Sepertinya aku harus memberimu pelajaran, Paranti," gumam Rangga a gak
dalam. "Bagus! Sejak tadi aku menunggu pelajaran itu,"
sambut Paranti meledek.
Setelah berkata demikian, Paranti langsung saja
mengebutkan pedangnya sambil melompat. Ujung pedangnya tertuju lurus ke arah dada pemuda berbaju rompi putih itu. Namun
sedikit pun Rangga tidak berusaha mengelak. Bahkan sama sekali tidak bergeming.
Dan ini membuat Paranti jadi terkejut. Tapi, serangannya tak mungkin ditarik
kembali. "Hap...!"
Tap! Tepat ketika ujung mata pedang Paranti hampir
menghunjam di dada, Pendekar Rajawali Sakti cepat merapatkan kedua tangannya.
Seketika dijepitnya ujung pedang itu, kemudian dibawanya ke samping sambil
membungkukkan tubuh sedikit. Dan sebelum Paranti menyadari apa yang terjadi,
Rangga sudah memberi satu tendangan keras yang hanya sedikit disertai pengerahan
tenaga dalam. "Yeaaah...!"
Des! "Ughk..!" Paranti mengeluh pendek.
Tendangan kaki Pendekar Rajawali Sakti tepat menghantam perut Paranti, sehingga membuatnya terbungkuk. Tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang. Pegangannya pada
pedang langsung terlepas.
Paranti merasakan seketika perutnya jadi mual, dan ingin muntah rasanya.
Sementara Rangga sudah berdiri tegak sambil menggenggam pedang Paranti di tangannya. Pedang itu dilemparkan, dan langsung
menancap tepat di ujung kaki Paranti. Gadis itu terbeliak, sehingga kontan
mengangkat kepalanya. Ditatapnya Pendekar Rajawali Sakti dalam-dalam. Paranti
masih merasakan mual pada perutnya.
"Hup! Hesss...!"
Paranti menggerak-gerakkan tangannya di depan dada, kemudian menarik napas
dalam-dalam. Setelah ditahan sebentar,
napasnya dihembuskannya kuat-kuat. Dicobanya untuk mengusir rasa mual pada perutnya dengan mengerahkan hawa murni.
"Hih!"
Gadis itu kemudian mencabut pedangnya yang tertanam di tanah, dan digenggamnya erat-erat dengan tangan kanan. Sementara
Rangga hanya berdiri tegak sambil tersenyum.
"Kau harus mampus, Rangga...!" desis Pa ranti dingin.
Kemudian pedangnya dikebutkan, lalu disilangkan di
depan dada. Tatapan mata gadis itu demikian tajam menusuk. Bibirnya terkatup
rapat, menahan kemarahan dan rasa malu karena mudah sekali dapat diperdaya oleh
pemuda tampan berbaju rompi putih itu.
"Hiyaaat..!"
Sambil berteriak nyaring, Paranti kemudian melompat menerjang Pendekar Rajawali
Sakti. Pedangnya dikebutkan beberapa kali ke bagian-bagian tubuh Rangga. Namun
Pendekar Rajawali Sakti itu hanya meliuk-liukkan tubuhnya saja, sehingga tebasan pedang itu hanya mengenai angin kosong saja.
Kali ini Rangga dapat merasakan kalau serangan Paranti yang sekarang, mengandung
pengerahan tenaga dalam tinggi. Dan
nampaknya, Paranti benar-benar
mengeluarkan seluruh kemampuan untuk bisa merobohkannya. "Hiya! Hiyaaat...!"
"Uts...!"
Hampir saja mata pedang yang berkilatan itu menebas leher, kalau saja Rangga
tidak cepat-cepat menarik mundur kepalanya. Namun sebelum Pendekar Rajawali
Sakti itu bisa menarik pulang kepalanya, Paranti sudah memberi satu tendangan
cepat menggeledek.
"Hiyaaa...!"
Cepat sekali Rangga melompat ke samping, maka
tendangan Paranti kembali tidak mengenai sasaran. Pada saat
itu, Rangga mengayunkan kakinya setengah melingkar, mengarah ke pinggang. Namun dengan gerakan manis sekali, Paranti bisa
menghindari tendangan itu.
Bahkan dengan cepat sekali pedangnya ditebaskan.
"Heh..."!" Rangga tersentak kaget
Buru-buru kakinya ditarik pulang. Dan pada saat itu juga Pendekar Rajawali Sakti
langsung melompat ke samping. Dan gadis ini tidak menduga kalau Rangga bisa
memotong arus gerakan pedangnya tanpa sedikit pun membiarkan pedang itu
menyentuh ujung bajunya.
"Yeaaah...!"
Kembali kaki Rangga menghentak sebelum Paranti menarik pulang pedangnya.
Tendangan Rangga yang begitu cepat dan tidak terduga ini, membuat Paranti jadi
gelagapan. Gadis itu berusaha berkelit, namun....
Des...! "Akh...!" Paranti terpekik.
Tendangan Rangga tepat menghantam perut, dan
membuat gadis itu kembali terhuyung-huyung ke belakang sambil mendekap perutnya
yang kembali terasa mual seketika. Namun sebelum sempat gadis itu menguasai
dirinya kembali, Rangga sudah melontarkan satu pukulan keras disertai pengerahan
sedikit tenaga dalam. Memang Pendekar Rajawali Sakti benar-benar tidak ingin
melukai Paranti.
Paranti terjajar jatuh ke tanah dengan keras sekali.
Gadis itu meringis, berusaha menggelinjang bangkit berdiri. Namun sebelum mampu


Pendekar Rajawali Sakti 49 Gelang Naga Soka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bangkit berdiri, pedang Paranti sudah menyentuh leher tuannya sendiri. Paranti
benar-benar tidak berdaya sama sekali. Bahkan diam saja saat Rangga mencopot
gelang yang dipakainya. Pendekar Rajawali Sakti membuang pedang Paranti tidak
seberapa jauh, kemudian bergerak mundur beberapa langkah.
Sebentar Rangga memandangi gelang berbentuk seekor ular itu, kemudian
menyimpannya di dalam sabuk yang mengikat pinggangnya. Sementara Paranti sudah
mencoba bangkit berdiri. Tampak dari sudut bibirnya mengeluarkan darah sedikit.
"Aku akui, kau memang tangguh, Rangga," kata Paranti memuji.
"Terima kasih," ucap Rangga.
Pendekar Rajawali Sakti bergegas memutar tubuhnya, dan langsung saja berjalan
cepat. Begitu cepatnya, sehingga sebentar saja sudah jauh berjalan.
"Hei, tunggu...!" teriak Paranti langsung saja berlari mengejar sambil mendekap
perutnya yang masih terasa mual.
Namun Rangga seperti tidak mendengar teriakan itu.
Dia terus saja berjalan ringan, namun cepat sekali.
Meskipun kakinya bergerak melangkah, namun seolah-olah telapak kakinya tidak
menyentuh tanah.
*** Murasi gembira begitu Rangga kembali membawa
Gelang Naga Soka. Namun kegembiraan gadis itu lenyap saat melihat Paranti ikut
bersama pemuda itu. Kehadiran Paranti
benar-benar tidak diinginkan sama sekali. Memang, Murasi sudah telanjur tidak menyukainya.
"Apa maksudmu datang lagi ke sini" Akan mencari kesempatan lagi ya...?" sinis
sekali nada suara Murasi.
"Tidak. Aku hanya ingin membantumu menghadapi si Siluman Kera dan orangorangnya," tegas Paranti.
"Dia sudah berjanji padaku, Murasi," sergah Rangga sebelum Murasi sempat membuka
suara. "Kau percaya begitu saja, Kakang..?" Murasi masih tidak mempercayai sikap Rangga
yang begitu mudah telah diperdayai Paranti waktu itu.
Rangga mengangguk pasti. Pendekar Rajawali Sakti memang
mempercayai Paranti setelah gadis itu menceritakan sebabnya mencuri Gelang Naga Soka dari tangan Murasi. Gelang itu
memang bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk pamannya yang kini menunggu di
sebuah pertapaan yang cukup jauh dari Desa Banggal ini.
Paman Paranti ingin memusnahkan sebagian jiwa si Siluman Kera yang berada di
dalam gelang itu. Dia tahu kalau jiwa si Siluman Kera masih berada dalam Gelang
Naga Soka, maka siluman itu tidak akan mati sepanjang zaman. Dia akan tetap
hidup dalam ujud setengah kera dan setengah manusia, dan akan terus mengembara
mencari sebagian dari jiwanya yang hilang itu.
Dengan tulus Rangga memuji tujuan mulia itu, tapi cara yang ditempuh Paranti
sungguh tidak disukainya. Dan dia yakin kalau paman gadis itu tidak memberi
perintah untuk mencuri,
tapi meminta dengan menjelaskan semua persoalan dan keinginannya yang murni. Masalahnya cara
yang dilakukan Paranti bisa berakibat buruk pada diri gadis itu sendiri. Bahkan
bukannya tidak mungkin, keinginan suci pamannya akan ternoda.
Tidak ada cara lain bagi Rangga untuk meyakinkan niat suci Paranti dalam
memperoleh Gelang Naga Soka itu, kecuali menceritakan semuanya pada Murasi.
Memang tidak mudah, karena harus meyakinkan gadis yang sudah telanjur membenci
Paranti akibat kesembronoannya. Dan Rangga tidak bisa menyalahkan sikap Murasi
dalam hal ini. Karena gadis itu sendiri mendapat amanat untuk tetap
mempertahankan Gelang Naga Soka, walau apa pun yang terjadi.
"Mungkin kau bisa cepat mempercayainya, Kakang.
Tapi aku belum bisa percaya begitu saja," tegas Murasi setelah
Rangga menceritakan semua yang telah didengarnya dari Paranti sendiri.
"Itu hakmu. Tapi yang jelas, Paman Kumbara tidak bermaksud buruk. Paman Kumbara
tidak jahat!" celetuk Paranti sengit.
"Bagaimana
aku bisa mempercayaimu?"
tantang Murasi. "Terserah. Yang jelas aku harus kembali ke pertapaan sambil membawa gelang itu.
Kau berikan atau tidak, aku tetap akan berusaha mengambilnya sebelum si Siluman
Kera mendapatkannya!" tegas Paranti.
Sejenak Murasi mengerutkan keningnya. Kata-kata Paranti barusan, jelas bernada
tantangan yang tak akan pernah mengenal menyerah. Kali ini mungkin Paranti
menganggapnya gagal. Tapi di lain saat dia pasti akan mencoba lagi. Dan
tentunya, tidak akan berhenti sebelum memperoleh Gelang Naga Soka.
Satu tantangan terbuka telah digelar Paranti. Dan Murasi tidak mungkin hanya
mendiamkan saja. Hatinya langsung jadi panas. Matanya menatap tajam, menusuk
langsung ke bola mata Paranti. Sementara Paranti sendiri membalasnya tidak kalah
tajam. Untuk beberapa saat kedua gadis itu saling menatap tajam. Suasana semakin
bertambah panas.
"Hih! Yeaaah...!"
Tiba-tiba saja Murasi menghentakkan tangannya ke depan, memberi satu pukulan
lurus disertai pengerahan tenaga dalam cukup tinggi. Serangan yang dilakukan
Murasi demikian cepat dan mendadak sekali. Namun, Paranti yang memang sudah siap
sejak tadi, tidak kalah cepatnya. Langsung ditangkisnya serangan itu, sehingga
tangannya beradu dengan tangan Murasi.
Plak! Kedua gadis itu langsung terpental seketika. Mereka sama-sama berjumpalitan, dan
hampir bersamaan pula mendarat manis di lantai. Juga dalam waktu yang sama,
mereka melompat saling memberi serangan keras bertenaga dalam tinggi.
"Hiyaaat...!"
"Yeaaah...!"
Kembali pukulan-pukulan saling berbenturan di udara.
Namun kali ini mereka tidak terpental. Dan dengan telapak tangan menempel erat,
mereka sama-sama turun dan mendarat manis di lantai. Seketika itu juga, Paranti
melayangkan satu tendangan keras ke arah perut.
"Hih!"
"Ufs...!"
Plak! Murasi mengebutkan tangannya, menangkis tendangan Paranti. Kedua gadis itu
langsung saja terlibat pertarungan menggunakan jurus-jurus pendek dan cepat.
Jarak mereka begitu dekat, hanya sekitar satu langkah saja. Sementara Rangga,
Paman Katir, dan Pa man Julak yang menyaksikan pertarungan itu tak bisa berbuat
apa-apa. Mereka semua tadi mendengar kalau Paranti yang membuka tantangan.
Rangga menatap kedua laki-laki itu yang kemudian hanya dibalas dengan bahu yang
terangkat saja. Rangga sendiri jadi mengangkat bahu juga. Memang tak ada yang
bisa dilakukan. Mencegah pertarungan, sama saja menghina kedua gadis yang sedang bertarung. Rangga jadi
serba salah sendiri. Dia tidak menginginkan kedua gadis itu bertarung, tapi juga
tidak mungkin mencegah.
Sementara pertarungan terus berlangsung semakin sengit. Masing-masing berusaha
menjatuhkan lawan. Jurus demi jurus berlalu cepat. Dan pertarungan kini berpindah
ke halaman depan, setelah memporak- porandakan seluruh isi ruangan depan yang besar itu.
"Ha ha ha...!"
Tiba-tiba saja terdengar tawa menggelegar yang mengejutkan. Seketika itu juga, Paranti dan Murasi menghentikan
pertarungannya.
Mereka sama-sama berlompatan mundur, tepat pada saat mereka baru saja mencabut pedangnya. Saat
itu juga Rangga melompat cepat dan tahu-tahu sudah berdiri di antara kedua gadis
itu *** 8 "Awas...!" teriak Rangga tiba-tiba.
Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti melompat ke arah Murasi. Tepat ketika
sebuah benda bercahaya kemerahan meluncur deras ke arah gadis itu. Rangga
langsung menubruk Murasi, sehingga mereka jatuh bergulingan di tanah. Namun
Pendekar Rajawali Sakti itu cepat melompat bangkit, dan langsung membantu Murasi
berdiri. Sebentar Rangga melirik ke tanah, tempat Murasi berdiri tadi. Tanah itu
berlubang kecil sebesar lingkaran bambu. Tampak di dalam lubang itu terdapat
sebuah benda bulat berwarna merah. Benda itu mengepulkan asap tipis, dan terus
melesak masuk ke dalam tanah.
Bisa dibayangkan bila benda itu menghunjam tubuh orang. Jelas, akan terus amblas
dan menggerogoti daging!
Suatu bentuk kematian secara perlahan, setelah mengalami siksaan sakit yang amat sangat.
"Kau tunggu di sini," ujar Rangga.
"Mau ke mana...?"
Tapi pertanyaan Murasi tidak sempat terjawab, karena Pendekar Rajawali Sakti itu
sudah lebih dulu melesat ke atas atap. Rangga memang sempat melihat kalau benda
merah itu datang dari arah atap. Namun belum juga bisa mencapai tempat yang
dimaksud, mendadak saja sebuah bayangan merah berkelebat cepat menyambarnya.
"Hup...!"
Cepat Rangga memutar tubuhnya, sehingga bayangan merah itu tidak sampai
menyentuh dirinya, dan hanya lewat di bawah tubuhnya. Pada saat yang sama,
Rangga melontarkan satu tebasan tangan dari jurus 'Sayap Rajawali Membelah
Mega'. Bet! Deghk! "Akh...!" satu pekikan tertahan terdengar.
Saat itu juga, terlihat satu sosok tubuh mengenakan baju warna merah meluncur ke
bawah dengan cepat sekali.
Seketika tubuh berbaju merah itu keras menghantam tanah. Sebentar dia
menggeliat, kemudian diam tidak bergerak-gerak lagi. Darah langsung merembes
keluar dari sudut bibirnya.
Pada saat itu, Rangga sudah hinggap di atas atap. Dan saat kakinya menjejak
atap, dua bayangan merah kembali berkelebat
cepat menyambarnya. Bergegas Pendekar Rajawali Sakti melentingkan tubuhnya ke atas, lalu berputaran dua kali di udara.
Dan secepat kilat kakinya menghentak, menyambar dua bayangan merah yang lewat di
bawahnya. Des! Deghk! Seketika terdengar dua jeritan melengking saling susul.
Lalu, tampaklah dua sosok tubuh berbaju merah jatuh bergulingan di atap, dan
terus meluncur ke bawah. Begitu tubuh mereka sampai ke tanah, Paman Katir dan
Paman Julak langsung menyambutnya. Golok mereka berkelebat menyambar dua sosok
tubuh berbaju merah itu. Kembali terdengar jeritan-jeritan melengking tinggi.
Dua sosok tubuh itu seketika tewas bersimbah darah, terhajar babatan golok.
Rangga sudah kembali berdiri tegak di atap rumah yang besar ini. Pandangannya
langsung beredar ke sekeliling.
Sedangkan beberapa orang menunggu di bawah sana.
Mereka semua memperhatikan Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri tegak di atas
atap rumah. Pada saat itu Murasi melesat cepat, dan tahu-tahu sudah berdiri di
samping Pendekar Rajawali Sakti. Pada saat yang sama, Paranti juga melompat. Dan
kini kedua gadis itu sudah berada di samping Rangga.
Baru saja Murasi hendak membuka mulut, mendadak
dari segala penjuru bermunculan orang-orang berbaju merah yang langsung
mengepung rumah ini. Paman Julak dan Paman Katir yang berada di bawah bersama
orang-orang bayaran, langsung bersiap. Sementara tiga orang yang berada di atap
jadi bengong, karena tidak menyangka akan mendapat satu serangan yang begitu
mendadak. "Ha ha ha...!"
Rangga langsung berpaling ke kanan ketika tiba-tiba terdengar suara tawa
terbahak-bahak. Tampak di bawah pohon kamboja, tahu-tahu sudah berdiri sosok
makhluk yang sukar dijelaskan wujudnya. Apakah itu manusia, atau kera. Bentuk
badan dan tingginya, seperti manusia.
Tapi seluruh tubuhnya berbulu, dan wajahnya benar-benar mirip kera. Bajunya
warna merah dengan bagian leher berwarna kuning keemasan. Sebatang tongkat kayu
tergenggam di tangan kanan yang berbulu lebat.
"Itu dia si Siluman Kera," kata Paranti memberi tahu.
Pandangannya beredar ke sekeliling. Saat ini seluruh rumah besar ini sudah
terkepung oleh orang-orang berbaju merah yang semuanya sudah menghunus golok.
Jumlah mereka begitu banyak. Yang jelas, tak seimbang dengan orang-orang yang
disewa mendiang Nyi Enoh untuk menjaga keutuhan rumah ini.
"Paranti, turun kau...!" tiba-tiba si Siluman Kera berteriak keras menggelegar.
Sebentar Paranti menatap Rangga, kemudian langsung melompat turun. Gerakannya
begitu ringan, dan dengan manisnya menjejak tanah. Pada saat yang hampir
bersamaan, Rangga dan Murasi juga ikut melompat turun.
Mereka langsung mendarat di samping Paranti yang sudah berdiri di tanah lebih
dahulu. "Mana gelang itu...?" bentak Siluman Kera. Suaranya terdengar berat dan kasar
sekali. "Tidak ada padaku," sahut Paranti ketus.


Pendekar Rajawali Sakti 49 Gelang Naga Soka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Siluman Kera langsung menatap Murasi yang berdiri di samping
Rangga. Agak bergidik juga gadis itu mendapatkan sorot mata bulat memerah yang tajam itu.
"Kau...! Ke sini!" bentak Siluman Kera sambil menunjuk Murasi dengan ujung
tongkatnya. "Kau saja yang ke sini, Monyet!" balas Murasi tidak kalah ketusnya.
Si Siluman Kera menggeram marah mendengar penolakan yang tegas dari Murasi. Tatapannya semakin tajam pada gadis itu.
Sedangkan Murasi kini jadi berani membalas tatapan itu dengan tidak kalah
tajamnya. Bahkan malah bertolak pinggang, seakan-akan sengaja memamerkan Gelang Naga Soka
yang melingkar di
pergelangan tangannya.
"Berikan gelang itu padaku, Murasi," pinta Rangga setengah berbiak.
"Apa..."!" Murasi terkejut
"Berikan saja gelang itu padaku. Yang diinginkan hanya gelang itu. Dan aku akan
menantang bertarung agar tidak menimbulkan banyak korban," kata Rangga setengah
memaksa. "Tapi...."
"Tidak ada waktu untuk berdebat, Murasi," Rangga memutuskan ucapan Murasi.
Entah apa yang ada dalam hati gadis itu, tapi akhirnya melepaskan Gelang Naga
Soka yang berada di pergelangan tangannya. Rangga langsung merebut gelang itu,
lalu mengenakannya di pergelangan tangan kiri. Kemudian kakinya terayun ke depan
beberapa langkah. Pendekar Rajawali Sakti itu berhenti setelah jaraknya dengan
si Siluman Kera tinggal dua batang tombak lagi.
"Sekarang aku yang memiliki gelang ini. Siapa pun tidak kuizinkan menyentuhnya,"
tegas Rangga dengan suara dingin.
Siluman Kera menggeram agak tertahan mendengar kata-kata bernada tantangan dari
seorang pemuda yang berdiri sekitar dua tombak di depannya. Ditatapnya Pendekar
Rajawali Sakti dalam-dalam. Begitu tajamnya, seakan-akan sorot matanya akan
melumat Rangga hingga hancur jadi tepung.
"Siapa kau, Anak Muda?" dingin sekali nada suara si Siluman Kera.
"Rangga," sahut Rangga pendek. Suaranya terdengar datar, tanpa tekanan sama
sekali. "Kau tahu, dengan siapa kau berhadapan?"
"Monyet iblis yang sudah menggali kuburnya sendiri,"
sahut Rangga, tetap dingin suaranya.
"Ha ha ha...! Rupanya kau punya nyawa rangkap juga, Anak Muda. Bagus...! Itu
berarti akan semakin banyak darah membanjiri tempat ini."
"Tidak ada darah yang mengalir, kecuali darahmu, Monyet Iblis," desis Rangga
datar. Siluman Kera langsung terhenyak mendengar kata-kata yang begitu dingin dan
menusuk. Dipandanginya wajah Pendekar Rajawali Sakti dalam-dalam. Meskipun katakata itu diucapkan bernada datar, namun Siluman Iblis bisa menangkap maksudnya.
Dan hatinya agak terkejut juga.
Karena, selama ini tidak ada seorang pun yang berani menantangnya bertarung,
kecuali mereka yang terpojok dan nekat melawan.
Tapi pemuda berbaju rompi putih ini terang-terangan menantangnya, meskipun
diucapkan secara halus. Bahkan hampir tidak jelas maksudnya.
Siluman Kera mendesis kecil seraya memindahkan tongkat kayunya yang berwarna
putih, ke tangan kiri.
Pandangannya masih tajam, mengamati pemuda berbaju rompi putih di depannya.
"Apa yang aku andalkan untuk menantangku, Anak Muda?" tanya Siluman Kera,
bersikap meremehkan.
"Tidak ada," sahut Rangga singkat
"Phuih! Kau terlalu merendahkan aku, Anak Muda!"
dengus Siluman Kera seraya menyemburkan ludahnya.
"Di mataku, kau memang rendah sekali. Bahkan terlalu rendah untuk bisa berdiri
tegak," ejek Rangga datar.
"Keparat..!" geram Siluman Kera, langsung memuncak amarahnya.
Trap! Siluman Kera kembali memindahkan tongkatnya ke tangan kanan. Perlahan kakinya
bergeser ke kiri beberapa tindak. Tatapan matanya semakin menusuk langsung ke
bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan pemuda berbaju rompi putih itu
hanya berdiri tegak sa mbil tersenyum tipis. Dengan sudut ekor matanya, setiap
gerak yang dilakukan manusia setengah kera itu diawasi.
"Kau akan menyesal di neraka, Anak Muda," desis Siluman Kera dingin.
"Jangan takabur, Siluman Kera. Kita buktikan, siapa yang lebih dulu pergi ke
neraka," sambut Rangga.
"Bedebah...! Hiyaaat..!"
Siluman Kera tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Sambil berteriak keras menggelegar, dia langsung melompat menerjang sambil mengayunkan kakinya ke arah kepala Pendekar Rajawali
Sakti. Namun manis sekali, Rangga mengegoskan kepalanya sedikit. Maka ujung
tongkat kayu berwarna putih itu lewat di depan wajahnya.
Namun sebelum Rangga bisa menarik kembali kepalanya, satu pukulan tangan kiri yang cepat dan mengandung tenaga dalam
tinggi dilontarkan Siluman Kera ke arah dada.
"Uts...!"
Bergegas Pendekar Rajawali Sakti memiringkan tubuhnya ke kanan, maka pukulan itu lewat di depan dadanya. Seketika itu juga
Rangga menghentakkan kakinya. Diberikannya serangan
balasan lewat satu tendangan memutar sambil melompat sedikit
"Yeaaah...!"
Rangga menduga kalau si Siluman Kera itu akan
berkelit menghindari tendangannya. Namun tanpa diduga sama
sekali, manusia setengah kera itu malah membabatkan tongkatnya untuk menyampok kaki Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Bet!"
"Ufs...!"
*** Buru-buru Rangga menarik pulang serangannya, langsung memutar tubuhnya. Kembali dilontarkan satu kibasan tangan yang
merentang lurus dengan telapak merapat. Pendekar Rajawali Sakti langsung
mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Salah satu jurus dahsyat dari
rangkaian lima jurus 'Rajawali Sakti'.
Kedua tangan Rangga merentang lebar ke samping, lalu bergerak-gerak cepat
disertai pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai taraf kesempurnaan. Gerakan
tangan yang mengibas itu diimbangi gerakan tubuh dan kaki yang lincah serta
lentur bagai karet. Serangan yang dilancarkan Pendekar Rajawali Sakti sedikitnya
membuat repot si Siluman Kera.
"Hiya! Yeaaah...!"
Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak lagi memberi kesempatan pada si Siluman
Kera itu untuk balas menyerang.
Selesai dengan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega', langsung digantinya dengan jurus lain.
Pertarungan itu memang berjalan cepat dan dahsyat luar biasa. Bahkan kini satu
sama lain saling melancarkan serangan secara bergantian. Jurus demi jurus pun
berlalu cepat sekali. Sehingga tidak terasa, pertarungan sudah melewati lebih
dari lima belas jurus.
Namun tampaknya pertarungan itu masih berjalan cukup lama, belum ada tanda-tanda
kalau akan cepat berakhir. Bahkan tidak ada sedikit pun tanda-tanda bakal ada
yang akan terdesak. Sementara mereka yang menyaksikan jalannya pertarungan seringkali harus menahan napas. "Serang...!"
Tiba-tiba saja terdengar teriakan keras. Maka semua orang yang berada di halaman
depan rumah besar itu jadi terkejut bukan main. Ternyata tiba-tiba saja muncul
puluhan orang bersenjata segala macam, berlarian sambil berteriak-teriak
mengacungkan senjata di atas kepala.
"Paman Kumbara...," desis Paranti ketika matanya menangkap seorang laki-laki
setengah baya yang berlarian
cepat di antara orang-orang yang datang menyerbu itu.
Murasi yang berada di sebelah gadis itu, jadi tertegun sejenak. Ditatapnya
Paranti dalam-dalam. Sedangkan yang ditatap, malah tersenyum senang. Matanya
tidak berkedip memandang laki-laki setengah baya yang mengenakan jubah putih
sambil menghunus pedang.
"Serbuuu...!" tiba-tiba saja Paman Julak berseru keras memberi perintah.
Sekitar sepuluh orang bayaran yang disewa mendiang Nyai Enoh, seketika mencabut
senjata masing-masing.
Mereka langsung menerjang orang-orang berbaju merah yang kelihatannya jadi
kebingungan. Karena, sekarang giliran mereka yang terkepung.
Pertempuran massal pun tak terhindarkan lagi. Sebentar saja terdengar jeritan panjang melengking tinggi yang saling sambut,
mengiringi kematian. Tubuh-tubuh mulai bergelimpangan tewas berlumuran darah.
Sementara itu, pertarungan antara Pendekar Rajawali Sakti dan Siluman Kera sudah
mencapai taraf yang tertinggi. Masing-masing kini menggunakan ilmu-ilmu
kesaktian yang dahsyat. Cahaya-cahaya kilat bertebaran saling menyambar,
diselingi ledakan menggelegar yang amat dahsyat dan memekakkan telinga.
"Kau memang hebat, Anak Muda. Tapi cobalah ilmu pamungkasku yang terakhir!"
dengus Siluman Kera.
Makhluk setengah manusia dan setengah kera itu menggerakkan tangannya di depan
dada. Tampak begitu telapak tangannya merapat di atas kepala, seluruh tubuhnya
memancarkan cahaya kuning keemasan yang bercampur sinar merah bagai api berkobar
membakar tubuhnya.
"Hap...!"
Sret! Cring! Menyadari kalau ilmu pamungkas yang hendak dikeluarkan si Siluman Kera memiliki kekuatan dahsyat, Rangga tidak tanggungtanggung lagi. Segera diloloskan
pedangnya dari warangka di punggung, kemudian dilintangkan di depan dada. Telapak tangannya menempel pada mata pedang, dan
perlahan-lahan mulai bergerak menggosok mata pedang yang memancarkan cahaya biru
berkilau. "Hiyaaa...!" sambil berteriak keras menggelegar, Siluman Kera melompat menerjang
Pendekar Rajawali Sakti.
"Aji 'Cakra Buana Sukma'...! Yeaaah...!" teriak Rangga seraya melintangkan
pedangnya di depan dada.
Kemudian dengan kecepatan tinggi, Pendekar Rajawali Sakti itu memasukkan pedang
ke dalam warangkanya kembali. Dan pada saat itu, cahaya biru telah menggumpal
pada kedua tangannya. Secepat kilat Rangga menghentakkan tangannya ke depan, tepat ketika dua telapak tangan si Siluman
Kera hampir menghajar
dadanya. Glarrr...! Ledakan keras seketika terdengar bagai ledakan gunung berapi yang memuntahkan
laharnya. Seluruh mayapada ini berguncang dahsyat. Angin bertiup keras, dan
tanah bergetar bagai diguncang gempa. Sementara itu, dua pasang telapak tangan
telah menyatu rapat dalam selimut cahaya beraneka ragam. Siluman Kera dan
Pendekar Rajawali Sakti saling berdiri berhadapan dengan telapak tangan menyatu
rapat. Tampak tubuh mereka bergetar, berusaha menjatuhkan satu sama lain
sesingkat mungkin.
Ini bukan yang pertama kali Pendekar Rajawali Sakti bertarung mempergunakan aji
'Cakra Buana Sukma'. Tapi baru kali ini tahapan yang paling terakhir
dikerahkannya. Dan baru kali ini pula mendapat balasan yang kuat sehingga seluruh kekuatannya


Pendekar Rajawali Sakti 49 Gelang Naga Soka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

harus dikerahkan.
"Yeaaah...!" tiba-tiba Rangga berteriak keras.
Seketika itu juga, seluruh tubuhnya berselimut sinar biru yang terang dan
menyilaukan mata. Pendekar Rajawali Sakti membuka mulutnya lebar-lebar. Maka
dari dalam rongga mulutnya memancarkan cahaya biru yang langsung membelit tubuh
Siluman Kera, bagaikan seekor
ular saja. "Akh...!" Siluman Kera memekik agak tertahan.
Tubuh manusia kera itu menggeliat dan menggeletar.
Sepasang bola matanya semakin memancar memerah.
Sebentar kemudian terdengar suara raungan bagai binatang buas yang liar. Tampak seluruh tubuh Siluman Kera
semakin kuat menggeletar. Dicobanya untuk melepaskan diri dari pertarungan ini, namun kedua telapak tangannya tak bisa
lagi dilepaskan. Manusia setengah kera itu merasakan adanya tarikan kuat yang
menyedot kekuatannya. Dan semakin mencoba bertahan, semakin terasa kuat tarikan
itu. Sementara cahaya biru semakin tebal menyelimuti tubuh berbulu dengan wajah
seekor kera itu. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti semakin kuat mengerahkan
kekuatan aji 'Cakra Buana Sukma'. Dari mulutnya yang terbuka lebar, terus
mengeluarkan cahaya biru berkilauan yang menyilaukan mata.
"Hup! Yeaaah...!"
Cring! Bet! Tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti mencabut pedangnya, dan langsung
dibabatkan ke leher si Siluman Kera. Begitu cepatnya, sehingga Siluman Kera
tidak sempat lagi menghindar. Terlebih lagi, dia tengah berusaha keluar dari
pertarungan kekuatan ilmu kesaktian ini.
Sehingga.... Cras! "Aaakh....!" Siluman Kera menjerit melengking tinggi.
"Hup...!"
Rangga langsung melompat mundur sambil menarik kembali ajiannya. Tampak si
Siluman Kera berdiri tegak tak bergerak-gerak. Mulutnya terbuka lebar, dan
matanya mendelik memerah. Pendekar Rajawali Sakti memasukkan kembali pedang
pusaka ke dalam warangka di punggung.
Kemudian sambil berteriak keras menggelegar, Rangga melompat melontarkan satu
tendangan keras menggeledek.
"Hiyaaat..!"
Glarrr! Ledakan keras kembali terdengar bagai guntur di siang bolong,
begitu tendangan Pendekar Rajawali Sakti menghantam dada si Siluman Kera. Seketika itu juga, tubuh Siluman Kera hancur
berkeping-keping tanpa memperdengarkan suara lagi.
"Hhh...!" Rangga menghembuskan napas panjang.
Dipandanginya tubuh Siluman Kera yang hancur jadi tepung. Sementara itu,
pertarungan di tempat lain juga sudah berakhir. Tidak sedikit anak buah Siluman
Kera yang tewas, dan tidak sedikit pula yang sempat melarikan diri begitu
melihat pemimpinnya tewas. Tampak Murasi dan Paranti berdiri berdampingan di
depan seorang laki-laki setengah baya mengenakan jubah panjang berwarna putih.
"Kau percaya padaku, Murasi?" tanya Paranti seraya melirik gadis di sampingnya.
"Percaya. Tapi, gelang itu ada pada Kakang Rangga,"
sahut Murasi. "Hei..."! Di mana dia...?" seru Paranti.
Kedua gadis itu saling berpandangan, kemudian sama-sama mengedarkan pandangan ke
sekeliling. Pendekar Rajawali Sakti memang sudah tidak ada lagi. Entah kapan dan
ke mana perginya, tak ada yang mengetahui. Tapi di beranda depan rumah,
tergantung sebuah gelang hitam berbentuk seekor ular. Murasi cepat-cepat
mengambil gelang itu dan membawanya pada Paman Kumbara yang langsung menerimanya
disertai senyuman tersungging di bibir.
"Tidak ada gunanya lagi. Dia sudah memusnahkan sebagian jiwa Siluman Kera yang
ada dalam gelang ini,"
jelas Paman Kumbara.
"He..."! Bagaimana caranya, Paman?" tanya Paranti terkejut.
"Entahlah. Tapi yang jelas, tingkatan kepandaiannya lebih tinggi daripada
Siluman Kera. Hm..., seandainya aku
bisa berbicara dengannya...," nada suara Paman Kumbara seperti bergumam.
"Aneh juga, ya.... Kenapa dia pergi begitu saja...?"
gumam Paranti seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Begitulah
seorang pendekar sejati. Dia tidak memerlukan ucapan terima kasih ataupun balas jasa atas sumbangsihnya," jelas
Paman Kumbara. Ada nada kekaguman pada suara Paman Kumbara. Tapi di balik itu semua hatinya
juga menyesal. Karena, dia tidak sempat bertemu muka dan berbicara dengan
seorang pendekar sejati seperti Pendekar Rajawali Sakti.
"Sudahlah. Sebaiknya kita urus saja mayat-mayat ini.
Mudah-mudahan saja bisa bertemu lagi dengannya,"
Paman Kumbara seperti menghibur dirinya sendiri.
Kedua gadis itu saling melempar pandangan, kemudian sama-sama duduk di undakan
beranda depan. Paman Kumbara memperhatikan
sebentar, kemudian
hanya menggeleng-gelengkan kepala saja. Dia memang belum sempat bertemu pemuda yang
bernama Rangga itu. Tapi dari sikap kedua gadis ini, bisa ditebak kalau mereka
begitu kehilangan sekali. Dan yang pasti, pendekar muda itu telah menarik
simpati hati kedua gadis ini.
"Hhh..., anak muda...," desah Paman Kumbara seraya menggelengkan kepala.
SELESAI Pembuat Ebook :
Scan buku ke djvu : Abu Keisel
Convert : Abu Keisel
Editor : Clickers
Ebook oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
Pendekar Mata Keranjang 18 Dewa Linglung 28 Selubung Awan Hitam Pendekar Gunung Lawu 1

Cari Blog Ini