Ceritasilat Novel Online

Bidadari Dasar Neraka 1

Pendekar Rajawali Sakti 93 Bidadari Dasar Neraka Bagian 1


BIDADARI DASAR NERAKA Oleh Teguh Suprianto
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting: Puji S.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin
tertulis dari penerbit
https://www.facebook.com/pages/DuniaAbu-Keisel/511652568860978
1 Dua orang pemuda terlihat berlari kencang, seperti
dikejar setan. Entah sudah berapa kali mereka menoleh ke belakang, seakan-akan ingin meyakinkan diri
kalau tidak ada yang mengejar. Keringat telah mengucur deras membasahi baju,
tapi mereka terus saja berlari tanpa mempedulikan keadaan. Tiba di suatu tempat yang agak sepi di pinggir hutan, pemuda yang
usianya lebih muda menghentikan larinya dengan napas tersengal memburu. Yang seorang lagi ternyata ju-ga menghentikan larinya.
Tampak jelas sekali raut wajahnya mencerminkan kecemasan yang amat sangat.
"Jangan berhenti di sini, Jaran. Kita harus secepatnya tiba di desa yang
terdekat. Kalau tidak, perempuan iblis itu tentu akan mengejar kita!"
"Aku sudah tidak kuat lagi, Pingkal! Napas ku akan
putus rasanya!" sahut pemuda yang bernama Jaran
dengan suara terputus dan tersengal memburu cepat
"Kau ini bagaimana, Jaran..."! Kita harus secepatnya pergi dari tempat ini. Kalau sampai kita ditemukannya akan celakalah
jadinya!" tegas pemuda yang
lebih muda, dan bernama Pingkal. Nada bicaranya terdengar setengah memaksa.
Jaran menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya kuat-kuat. Dicobanya untuk menguatkan
diri, mengikuti temannya yang telah lebih dulu kembali berlari. Tapi baru saja
berlari beberapa tombak, Jaran sudah berhenti lagi. Sedangkan Pingkal mulai
tidak sabar melihat temannya ini.
"Ayo...! Kuatkan semangatmu, Jaran. Kumpulkan
semua tenaga yang kau miliki. Ingat! Kita terancam
bahaya!" seru Pingkal memberi semangat.
"Aku tidak kuat lagi, Pingkal...."
"Jangan mengikuti kehendakmu, Jaran! Paksakan
terus," desak Pingkal.
Jaran benar-benar merasa sudah tidak kuat berlari
lagi. Tapi mengingat bahaya yang masih terus mengancam, mau tak mau dia harus
memaksakan diri kembali berlari. Namun baru saja berlari beberapa langkah, tiba-tiba saja....
"Hi hi hi...!"
"Heh..."!"
"Hah..."!"
Kedua anak muda itu jadi kaget setengah mati, begitu tiba-tiba terdengar suara tawa mengikik yang
mendirikan bulu kuduk. Seketika, wajah mereka jadi
pucat pasi. Dan mereka langsung berhenti berlari, berdiri merapat.
"Kalian pikir bisa menghindar dariku" Jangan harap, Cah Bagus!"
"Heh..."!"
"Celaka...!" desis Pingkal memaki.
Belum lagi hilang rasa terkejut mereka, tiba-tiba sa-ja berkelebat sebuah
bayangan begitu cepat. Dan
tahu-tahu di depan mereka sudah berdiri seseorang
bertubuh ramping. Wajah cantik bagai bidadari baru
turun dari kayangan. Suara tawanya yang nyaring melengking tinggi terus terdengar menyakitkan telinga.
Perempuan itu mengenakan baju yang sangat tipis,
hingga tembus pandang. Bibirnya yang berbentuk indah dan berwarna merah merekah, selalu menyunggingkan senyuman genit memikat. Tampak di pinggangnya yang ramping indah, terselip sepasang pedang pendek dari perak.
Rambutnya yang hitam panjang
dan lebat, dibiarkan terurai hingga ke pinggul.
Sesaat kedua pemuda itu menelan ludah. Sepintas
saja setiap laki-laki akan terpesona melihat kecantikannya. Bahkan siapa pun
bakal tergoda untuk memiliki. Namun, berbeda dengan mereka. Wajah Jaran dan Pingkal terlihat pucat pasi
memancarkan ketakutan.
Golok di pinggang mereka langsung dicabut, siap
menghadapi perempuan itu. Sepertinya, mereka sedang menghadapi musuh besar yang akan mengancam
keselamatan. "Hi hi hi...! Kenapa mesti main-main dengan benda
berbahaya itu, Cah Bagus" Kemarilah.... Tidakkah kalian ingin bersenang-senang
denganku?" terdengar
lembut dan genit sekali nada suara wanita cantik bagai bidadari itu.
"Perempuan iblis! Enyah kau dariku! Kalau tidak,
golok ini yang akan bicara!" ancam Pingkal membentak garang.
Jaran pun ikut-ikutan memperlihatkan wajahnya
yang tidak senang sambil mendengus sinis. Tapi perempuan berwajah cantik itu hanya tertawa kecil. Sedikit pun tidak terlihat
perasaan takut di wajahnya melihat kedua pemuda itu sudah menggenggam golok
masing-masing. Bahkan bibirnya yang merah menyala
terus mengukir senyum begitu manis dan menggoda.
Dan setiap mata laki-laki yang memandangnya, pasti
akan menelan air liur. Tapi, tidak demikian halnya Jaran dan Pingkal. Bagi
mereka, senyuman itu terlihat bagaikan sebuah seringai serigala yang hendak mengoyak tubuh mereka sampai lumat.
"Hi hi hi...! Agaknya kalian tidak bisa dibujuk seca-ra halus. Tapi, biarlah.
Kali ini, aku harus sedikit memaksa agar kalian tahu kalau Bidadari Dasar Neraka
tidak main-main dengan niatnya. Apa yang kuinginkan, jangan harap tidak kudapatkan. Salah seorang
dari kalian harus menemaniku. Malah, keduakeduanya lebih bagus!" perempuan yang menjuluki dirinya Bidadari Dasar Neraka menunjukkan wajah kesal. Kemudian, tiba-tiba saja tubuh Bidadari Dasar Neraka sudah melesat ringan
sekali ke arah kedua pemuda itu. Begitu cepat dan ringan gerakannya, sehing-ga membuat kedua pemuda itu
jadi terperangah sesaat. Namun....
"Hati-hati, Jaran!" teriak Pingkal memperingati.
"Yeaaah...!"
"Hup!"
Kedua pemuda itu cepat-cepat berlompatan, menghindari terjangan wanita cantik yang menjuluki dirinya Bidadari Dasar Neraka.
Namun tanpa diduga sama sekali, Bidadari Dasar Neraka merubah gerakannya dengan kecepatan sulit sekali diikuti pandangan mata biasa. Dan belum lagi kedua
pemuda itu bisa menyadari, tahu-tahu....
Tap! "Akh...!"
Kecepatan bergerak Bidadari Dasar Neraka sangat
sulit diimbangi kedua orang pemuda itu. Dan tiba-tiba saja terasa ada angin
menderu dan menghantam tubuh mereka. Saat itu juga, tubuh mereka terasa seper-ti
dihantam sesuatu yang keras sekali.
Des! Plak! "Akh...!"
"Ugkh!"
Jaran dan Pingkal terjungkal sambil mendekap dadanya yang terasa nyeri. Golok di tangan juga sudah terlepas entah ke mana.
Tapi, mereka cepat melompat bangkit berdiri lagi. Dan pada saat yang bersamaan,
perempuan berwajah cantik itu sudah melompat begitu cepat, hingga tahu-tahu
sudah berada di depan kedua
pemuda itu lagi. Bibirnya yang merah, terus tersenyum manis memikat. Tampak pada
kedua tangannya tergenggam dua bilah golok kedua anak muda itu.
"Kau, ikut denganku!" Bidadari Dasar Neraka menudingkan kedua golok itu ke arah Jaran.
"Huh! Lebih baik mati daripada melayani perempuan iblis sepertimu!" dengus Jaran sengit, sambil
menyemburkan ludahnya dengan wajah garang.
"Hi hi hi...!"
Sambutan Jaran yang begitu ketus, hanya disambut tawa terkikik.
*** "Hup!"
Baru saja Jaran mengatupkan bibirnya, tiba-tiba
saja tubuh Bidadari Dasar Neraka sudah bergerak begitu cepat menyambar pemuda ini. Seketika Pingkal
bermaksud menghalangi dengan mengayunkan sebelah kakinya, tapi tangan perempuan itu langsung
menghantam tulang keringnya.
"Hiyaaa...!"
"Hih!"
Plak! "Akh...!"
Pingkal menjerit kesakitan. Bekas hantaman Bidadari Dasar Neraka pada kakinya kelihatan berwarna
merah kebiruan dan terasa sangat sakit. Mungkin tulangnya ada yang patah. Tapi dalam keadaan begitu,
keselamatan temannya masih sempat dipikirkan. Dia
berusaha bangkit, walaupun tertatih- tatih.
"Jaran...!"
Pingkal jadi celingukan mencari-cari temannya.
Ternyata Jaran sudah tidak ada di tempatnya lagi.
Begitu juga Bidadari Dasar Neraka. Mereka lenyap begitu cepat tanpa bekas sedikit pun juga. Seakan-akan, mereka adalah segumpal
asap yang tersapu angin.
Memang sungguh luar biasa kecepatan gerak Bidadari Dasar Neraka. Begitu tinggi ilmu meringankan tubuhnya, sehingga bisa
bergerak secepat angin. Dan dalam sekejap mata saja, sudah tidak terlihat lagi
hanya dengan sekali lesatan saja. Bahkan sambil menghalau Pingkal tadi, wanita
itu cepat sekali menyambar tubuh Jaran. Lalu, Jaran dibawa pergi, sebelum
Pingkal bisa menyadari.
"Perempuan keparat! Kembalikan temanku...!" teriak Pingkal keras.
Pingkal mencari-cari di sekitar tempat itu. Dia tahu betul, selain ilmu silatnya
rendah, Jaran sebenarnya seorang pengecut. Apalagi setelah menyaksikan kesadisan perempuan itu.
Kedua pemuda itu adalah murid Perguruan Silat
Kembang Putih yang dipimpin Ki Balung. Tadi, mereka sedang dalam perjalanan
pulang ke padepokan, setelah tugas mengantar surat undangan kepada Ki Bangkala
yang mengetuai Padepokan Pedang Kilat.
Di tengah perjalanan, mereka melihat seorang perempuan cantik sedang membasmi habis suatu rombongan orang berpedati. Tadinya, mereka akan berlalu saja. Tapi kelakuan
perempuan itu yang sungguh
aneh, membuat mereka seperti terpaku untuk menyaksikannya. Mereka melihat, Bidadari Dasar Neraka menangkap seorang pemuda
tanggung berwajah tampan. Kemudian di balik semak- semak, pemuda itu dipaksa untuk berbuat cabul. Pemuda itu menjerit-jerit seperti orang kesakitan,
dan kesudahannya diam tidak bergerak. Lalu, perempuan berwajah cantik itu
tertawa puas sambil membenahi bajunya yang tipis tembus
pandang. Dan saat itulah dia melihat Jaran dan Pingkal. Merasa tidak unggulan setelah melihat kedahsyatan perempuan itu, keduanya
langsung kabur menyelamatkan diri. Hingga akhirnya, terjadi hal seperti tadi.
Pingkal tidak tahu, apa yang harus dilakukannya.
Hari semakin senja, dan sebentar lagi malam akan ti-ba. Disertai rasa putus asa,
pemuda itu kembali ke
padepokan. Ayunan kakinya tampak jadi terpincangpincang akibat terkena pukulan Bidadari Dasar Neraka tadi.
"Huh! Apa pun yang akan terjadi, hal ini harus kulaporkan secepatnya...," dengus Pingkal.
Meskipun tertatih dan terasa nyeri, tapi pemuda itu terus saja berjalan cepat.
Dengan sebatang tongkat
kayu yang ditemukan di tengah jalan, ayunan kakinya jadi semakin cepat. Dan dia
terus berjalan tanpa
menghiraukan lagi rasa nyeri di kakinya akibat terkena pukulan Bidadari Dasar
Neraka. *** Malam sudah cukup larut menyelimuti sebagian
permukaan bumi ini, Ketika Pingkal sampai di padepo-kannya. Saat itu, Ki Balung
menyambutnya dengan
heran. Apalagi, ketika tidak melihat Jaran bersamanya. Setelah meminum secentong air dingin untuk
melepaskan dahaganya, Pingkal menceritakan semua
yang dialaminya. Semua diceritakan panjang lebar dan jelas.
"Apa"! Bidadari Dasar Neraka katamu"!"
Sepasang alis orang tua berusia sekitar enam puluh
tahun itu terangkat tinggi menandakan keheranan dan rasa terkejutnya.
Pingkal mengangguk cepat Beberapa orang murid
yang berada di ruangan itu tidak mengerti melihat keterkejutan guru mereka
ketika mendengar julukan
yang disebut Pingkal. Apakah tidak terbalik" Bukankah seharusnya Ki Balung mencemaskan nasib Jaran"
Kenapa malah perhatian utamanya tertuju pada Bidadari Dasar Neraka..."
"Katakan! Bagaimana ciri-ciri perempuan yang menjuluki diri Bidadari Dasar Neraka itu, Pingkal?" pinta Ki Balung.
Raut wajah orang tua itu seperti memancarkan ketidakpuasan terhadap cerita yang dituturkan Pingkal barusan. Dan sorot matanya
terlihat begitu tajam me-rayapi wajah muridnya yang sedikit tertunduk. Pingkal
sendiri seperti tidak sanggup menentang sorot mata gurunya yang begitu tajam.
Bahkan sampai membuatnya jadi membisu, seakan lidahnya jadi kelu dan sulit
diajak bicara. "Katakan ciri-cirinya, Pingkal," desak Ki Balung tidak sabar lagi.
Sebentar Pingkal masih terdiam. Ditariknya napas
beberapa kali, mencoba menenangkan diri. Sementara, murid-murid Ki Balung yang
lain juga terdiam membisu, menunggu penuturan Pingkal.
"Wajahnya muda dan cantik, seperti gadis berusia
tujuh belas tahun. Panjang rambutnya sepinggul. Dia memakai baju tipis, hingga
terlihat jelas lekuk-lekuk tubuhnya. Senjatanya berupa sepasang pedang pendek
dan terbuat dari perak terselip di pinggangnya. Ilmu silatnya sangat tinggi, Ki.
Kami bahkan tidak bisa melihat kapan gerakannya...," jelas Pingkal lagi.
Suaranya terdengar perlahan-lahan dan agak terputus.
Ki Balung terdiam. Keningnya tampak berkerut begitu dalam, pertanda tengah berpikir keras.
"Kenapa, Ki" Apakah kau mengenalnya, Ki...?"
tanya Pingkal hati-hati.
"Beberapa puluh tahun yang lalu, ada seorang perempuan berwajah jelita julukannya Bidadari Dasar
Neraka. Ciri-cirinya persis dengan yang kau tuturkan barusan, Pingkal. Dan
senjatanya pun sama pula. Kepandaiannya memang sangat tinggi dan sulit diukur


Pendekar Rajawali Sakti 93 Bidadari Dasar Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tingkatannya. Tapi..., ah! Aku tidak yakin dia orangnya. Gadis itu pasti
muridnya!"
"Kita harus mencari Jaran, Ki!" selak Pingkal cepat mengingatkan.
"Betul, Ki. Siapa tahu, perempuan itu mempunyai
maksud-maksud tertentu padanya. Kasihan, Jaran
masih kecil dan tidak memiliki kepandaian cukup untuk membela diri," timpal seorang muridnya yang lain.
"Tentu! Kita akan mencarinya...," sahut Ki Balung.
Orang tua itu kemudian cepat bangkit, dan mencabut golok pusakanya yang tergantung di dinding.
"Kau di sini saja, Pingkal. Aku akan mencari Jaran.
Mudah-mudahan saja aku masih sempat menolongnya
segera!" "Baik, Ki," sahut Pingkal seraya mengangguk.
"Ayo berangkat!" ajak Ki Balung pada empat orang
muridnya yang mempunyai kepandaian lumayan.
"Ke mana kita akan mencarinya, Ki?" tanya Mardi,
salah seorang murid yang mempunyai ilmu silat paling tinggi di antara yang lain.
Ki Balung berpikir sejenak. Selama puluhan tahun,
tempat persembunyian Bidadari Dasar Neraka tidak
pernah diketahui orang. Banyak kabar burung yang
terdengar, namun tidak ada satu pun yang benar. Perempuan itu memang sering berpindah-pindah tempat
Dan kini, telah lama sekali kabar Bidadari Dasar Neraka tidak terdengar. Dan dia
tidak yakin bisa menemukan persembunyian perempuan iblis itu.
"Kita akan berjalan ke mana saja...," kata Ki Balung pelan.
Keempat muridnya mengikuti tanpa banyak bicara.
Mereka terus saja berjalan meninggalkan padepokan.
Sementara, Pingkal yang tetap tinggal segera mengatur murid-murid padepokan
untuk berjaga-jaga. Hatinya
benar-benar khawatir kalau sampai Bidadari Dasar
Neraka datang ke padepokan ini. Sedangkan gurunya
sudah pergi bersama empat orang murid yang berkepandaian cukup.
*** Ki Balung dan empat orang muridnya terus berjalan
semakin jauh meninggalkan padepokan. Tidak dipedulikan lagi malam yang semakin larut dan hembusan
angin yang menyebarkan udara dingin menusuk tulang. Dan ketika menjelang tengah malam, mereka baru sampai di sebuah padang ilalang di bawah bukit
yang banyak ditumbuhi pepohonan.
Walaupun malam terasa semakin dingin, namun Ki
Balung dan empat orang muridnya memilih beristirahat di padang ilalang itu. Jejak yang ditunjukkan
Pingkal telah dilalui. Namun sedikit pun tidak ditemukan petunjuk, di mana
Bidadari Dasar Neraka berada.
Setelah cukup melepaskan lelah, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dan sekarang, mereka menuju
tempat penghadangan rombongan pedati oleh Bidadari
Dasar Neraka. Di tempat ini, banyak ditemukan
mayat-mayat bergelimpangan. Dengan memperkirakan
arah datangnya, Ki Balung mengajak murid-muridnya
terus menyelusuri jejak perempuan setan itu. Namun, itu pun tidak juga membawa
hasil. Malah, keempat
orang muridnya mulai lelah. Maka, diputuskannya untuk istirahat dan melanjutkan pencarian esok harinya.
Sementara keempat muridnya tampak tertidur pulas, Ki Balung berjaga-jaga. Tadi, muridnya yang bernama Mardi telah menawarkan
diri untuk berjaga, dan menyuruhnya beristirahat. Tapi, Ki Balung merasa kalau
tubuhnya belum letih. Apalagi, dia memang selalu menyayangi murid-muridnya. Di
samping itu, sepi begini sangat baik baginya untuk bersemadi.
Dengan duduk bersila sambil bersandar di bawah
sebatang pohon, Ki Balung memejamkan matanya.
Pendengarannya dibuka lebar-lebar sambil melatih
pernapasan. Namun baru saja sekejap melakukan sikap demikian, sekonyong-konyong orang tua itu bergerak cepat. Api unggun di
dekatnya seketika padam dihantam pukulan jarak jauhnya yang menimbulkan desiran angin kencang.
"Siapa itu..."!" agak keras suara Ki Balung terdengar . "Hi hi hi...! Tua bangka ubanan! Agaknya telingamu
cukup tajam juga untuk mengetahui kehadiranku di
sini!" Terdengar satu suara nyaring yang disusul berkelebatnya sebuah bayangan, tepat di depan laki-laki tua itu. "Siapa kau"!" bentak
Ki Balung dengan garang.
Pandangan Ki Balung yang tajam, bisa mengetahui
kalau sesosok tubuh itu adalah perempuan muda berambut panjang. Pakaiannya tipis, hingga tembus
pandang. Walau cahaya bulan amat redup, namun matanya mampu melihat sepasang pedang pendek yang
berkilauan di pinggang sosok yang ternyata seorang
gadis. Ki Balung cepat menduga, perempuan inilah
yang sedang dicarinya.
Mendengar ribut-ribut, keempat muridnya langsung
terjaga dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Tangan mereka langsung memegang gagang golok masing-masing.
"Aku gadis malang yang tersasar. Rumahku jauh
dari sini, dan tidak tahu jalan pulang. Karena hari telah larut malam, aku
berteduh di sebatang pohon. Kemudian, aku melihat kalian di kejauhan. Sudikah
ka- lian menolong mengantarkan ku pulang?" lembut sekali suara gadis itu terdengar.
Suara gadis itu dikeluarkan seperti meleceh. Dan Ki Balung bersama keempat
muridnya sama sekali tidak
percaya. Apalagi, melihat gerak-gerik genit perempuan itu. Senyumnya selalu
terkembang merekah, dengan
kerlingan mata yang sanggup menggetarkan jantung
siapa saja yang melihatnya.
"Nisanak! Jangan coba mengalihkan perhatian dengan segala omong kosongmu. Bukankah kau yang bernama Bidadari Dasar Neraka"!" tegas Ki Balung langsung, dan agak ketus.
"Hi hi hi...! Agaknya Bidadari Dasar Neraka betulbetul tidak mampu mengelabui Ki Balung. Nah, Orang
Tua. Kau telah tahu, siapa aku. Tentu, kau mengerti juga, apa yang kuinginkan.
Aku memerlukan bantuan
empat orang pemuda yang di belakangmu itu!"
"Bidadari Dasar Neraka! Jangan coba berbaik-baik
denganku dan tidak perlu mengancam. Kedatangan
kami ke sini sudah jelas kau ketahui. Maka, kembalikan seorang muridku yang tadi
kau culik!"
Ki Balung agaknya tidak mau berbasa-basi lagi dengan perempuan itu.
"Muridmu kuculik" Sejak kapan aku jadi penculik?"
"Jangan pura-pura! Tadi sore, dua orang pemuda
telah memergoki perbuatan cabul mu. Salah seorang
kemudian kau bawa kabur, dialah muridku. Kuminta
baik-baik, kembalikan muridku. Atau, aku harus memaksamu dengan cara kekerasan!"
"Hi hi hi...! Dasar tua bangka pikun. Bicaramu seenaknya saja. Mana mungkin aku menculik muridmu.
Dialah yang mengejar-ngejar ku. Dan malah, kini tidak mau pulang!" sahut
Bidadari Dasar Neraka seenaknya.
"Dasar perempuan cabul! Rupanya kau memang
harus dipaksa!" dengus Ki Balung jadi geram.
"Hi hi hi...!"
Bidadari Dasar Neraka hanya tertawa saja mendengar kata-kata yang terasa ketus itu.
Sementara, Ki Balung sudah siap dengan golok tergenggam erat di tangan kiri, walaupun belum juga dicabut dari warangkanya. Tapi,
sorot matanya terlihat begitu tajam, ke arah sepasang bola mata yang indah dan
memikat, seakan hendak menembus langsung ke
jantung. *** Kau memang tidak bisa diajak bicara baik-baik, Perempuan Iblis! Terimalah seranganku.
Hiyaaat...!"
Selesai berkata demikian, tubuh Ki Balung bergerak
menyerang perempuan itu. Dia ingin menguji, sampai
sejauh mana kemampuan Bidadari Dasar Neraka yang
satu ini. Satu pukulan yang disertai pengerahan tena-ga dalam tinggi, langsung
dilepaskan tepat mengarah ke dada Bidadari Dasar Neraka.
"Haiiit..!"
Namun manis sekali Bidadari Dasar Neraka mengegoskan tubuhnya. Dan bagaikan kilat, tangan kirinya
dikibaskan untuk menyambut pukulan yang dilepaskan Ki Balung.
Ki Balung jadi tersentak kaget setengah mati. Tangan Bidadari Dasar Neraka yang halus dan gemulai
tampak jelas akan menangkis kepalan tangannya yang
kasar dan berat Pikirnya, sungguh berani perempuan
itu. Pasti dalam sekejap, dia akan terjungkal sambil mengeluh kesakitan.
Plak! "Heh..."!"
Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Telapak
tangan Bidadari Dasar Neraka ternyata seperti benteng baja cina tidak bergeming
sedikit pun. Namun Ki Balung tidak mau membuang waktu. Meskipun belum
percaya betul kalau perempuan di depannya ini adalah Bidadari Dasar Neraka, yang
jelas kepandaian wanita itu tidak bisa dianggap enteng. Maka cepat dia melompat
mundur. Dan saat itu juga kaki kirinya langsung melayang menghantam ke arah
kepala. "Yeaaah...!"
"Hup!"
Bidadari Dasar Neraka cepat menundukkan kepala,
dan tubuhnya berputar seperti menari. Sesaat, Ki Balung jadi terpana. Kesempatan
itu cepat digunakan Bidadari Dasar Neraka untuk bergerak cepat menyambar
mukanya dengan ayunan kaki yang menimbulkan angin serangan kencang. Ki Balung buru-buru membuang diri ke samping, dan bergulingan beberapa kali.
Lalu cepat dia melompat bangkit berdiri lagi dengan kedua kaki kembali menjejak
mantap di tanah. Sementara Bidadari Dasar Neraka terlihat berdiri tegak dengan
wajah kelihatan meregang seperti menahan marah.
"Sial!" dengus Ki Balung, yang hampir saja terkena
serangan balik wanita itu.
"Hi hi hi...! Tua bangka keparat! Kau meremehkan
Bidadari Dasar Neraka, heh"! Terimalah akibatnya
nanti!" dengus Bidadari Dasar Neraka.
"Huh! Kau pikir dengan kepandaian secuil itu akan
bisa menakut-nakuti Ki Balung" Meski gurumu sendiri, aku tidak bakal gentar!"
"Jangan bawa-bawa nama guruku! Aku saja sudah
cukup untuk menghajar mulut lancang mu!" sentak
Bidadari Dasar Neraka berang.
"Gadis sombong! Mulutmulah yang perlu dihajar!" *
"Hi hi hi...! Kita akan buktikan sekarang, Tua Bang-ka!"
"Jangan banyak omong kau! Hiyaaa...!"
Ki Balung langsung melipatgandakan tenaga dalamnya. Dia tidak ingin lagi kecolongan seperti tadi.
Dengan kecepatan bagai kilat, kembali diterjangnya
wanita berwajah cantik bagai bidadari itu.
Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Bidadari
Dasar Neraka bergerak bagai tiupan angin. Tubuhnya bergerak cepat dan gerakannya
betul-betul sulit diikuti mata. Apalagi, untuk menduga arah serangannya.
Sambil membentak keras, tubuhnya yang melayang di
atas tiba-tiba menukik tajam dengan satu pukulan jarak jauh yang menimbulkan
angin panas membakar.
Ki Balung cepat-cepat melompat ke samping sambil
membalas dengan pukulan andalan yang mengeluarkan sinar kuning dari telapak tangannya. Seekor kerbau kuat dan besar pun akan
tewas seketika dihantam pukulan yang bernama 'Pukulan Tapak Kuning' itu.
Gktaar! Satu ledakan dahsyat terjadi, ketika dua pukulan
dahsyat beradu. Dan pada saat itu juga tanpa diduga sama sekali, Bidadari Dasar
Neraka memutar tubuhnya dengan kecepatan sangat tinggi di udara. Lalu bagaikan kilat tubuhnya menukik deras. Dan....
"Yeaaah...!"
Wuk! Cres! "Aaakh...!"
Ki Balung terpekik nyaring. Tubuhnya kontan terpental sejauh dua tombak dengan tangan sebatas siku buntung. Cepat-cepat
ditotoknya aliran darah di sekitar siku, agar darah tidak banyak keluar. Dari
mulutnya tampak meleleh darah segar. Dan seketika, keempat orang muridnya langsung memburu ke arahnya.
"Ki...!"
Ki Balung kini memuntahkan darah segar. Nafasnya
tampak megap-megap. Dengan susah payah, dia berusaha bangkit. Pandangannya yang tajam menusuk, diarahkan ke Bidadari Dasar Neraka yang tersenyumsenyum sinis sambil menimang-nimang pedang pendek
yang telah berada di kedua belah tangannya.
Memang sungguh cepat gerakan yang dilakukan Bidadari Dasar Neraka tadi. Sehingga, sangat sulit diikuti pandangan mata biasa.
Ki Balung sendiri tidak tahu, kapan wanita itu mencabut pedangnya, dan kapan pula membabatkannya. Sampai-sampai, tangannya tidak
bisa lagi dipertahankan. Sekali tebas saja, tangannya sudah buntung.
"Nisanak! Ku tahu, jurus yang kau gunakan itu
adalah jurus 'Kupu-kupu Menari di Atas Bunga'. Tapi pengerahan tenaga dalam yang
hebat begitu hanya bi-sa dilakukan oleh si Bidadari Dasar Neraka. Mustahil kalau
kau adalah Bidadari Dasar Neraka yang pernah
kukenal puluhan tahun yang lalu. Tapi, wajahmu mirip sekali dengannya. Dan mustahil pula kalau kau pu-trinya. Setahuku, Bidadari
Dasar Neraka tidak pernah memiliki keturunan. Bahkan kau juga lebih pintar jika
mengaku sebagai muridnya. Siapa kau sebenarnya"!
Dan apa maksudmu menculik muridku?"
Suara Ki Balung terdengar tenang. Namun di balik
itu, tersirat ancaman halus yang lahir dari rasa pena-sarannya. Sesekali
mulutnya meringis menahan perih
pada tangannya yang buntung dan terus mengucurkan
darah segar. "Hi hi hi...!"
Namun Bidadari Dasar Neraka hanya tertawa mengikik saja. Begitu mengerikan suara tawanya, sehingga membuat bulu kuduk jadi
meremang. * * * 2 Bidadari Dasar Neraka tertawa nyaring, tapi kemu

Pendekar Rajawali Sakti 93 Bidadari Dasar Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dian melotot garang tanpa mempedulikan ocehan Ki
Balung. Kedua bola matanya terbeliak lebar, dan bibirnya terkatup rapat Raut
wajahnya begitu kaku, memancarkan kebengisan. Bahkan lebih mirip seekor serigala yang melihat domba sangat gemuk, sehingga
membuat air liur menetes karena membayangkan kenikmatan. "Tua bangka...! Aku tidak peduli segala yang kau
katakan! Kau bersedia serahkan empat anak muda itu
atau tidak"!" bentak Bidadari Dasar Neraka garang.
Suaranya terdengar begitu keras dan lantang.
"Ki! Biar kurobek saja mulut perempuan lancang
itu!" Mardi yang sejak tadi sudah geram, minta izin pa-da gurunya untuk
menghajar perempuan itu.
Dan belum lagi Ki Balung berkata apa-apa, Mardi
sudah mencelat dengan golok di tangan menerjang Bidadari Dasar Neraka. Begitu cepat lesatannya, sehing-ga membuat Bidadari Dasar
Neraka jadi terperangah
tidak menyangka.
"Perempuan cabul! Hadapi aku! Hiyaaa...!"
"Heh..."! Upts!"
Cepat sekali Bidadari Dasar Neraka menghindari tebasan golok Mardi. Maka, hanya sedikit saja golok
yang berkilatan tajam itu lewat di depan tenggorokannya. Lalu dia cepat melompat
mundur, menjaga jarak
sekitar setengah batang tombak.
"Hi hi hi...! Bocah bagus! Kau pikir bisa berbuat apa padaku" Sepuluh orang
seperti gurumu pun, belum
tentu mampu mengalahkanku. Dan lebih baik, ikutlah
baik-baik denganku. Atau, harus ku paksa lebih dulu,"
kata Bidadari Dasar Neraka agak dingin nada suaranya. "Phuih...!" Mardi hanya menyemburkan ludahnya
dengan sengit "Mardi, hati-hati!" Ki Balung memperingatkan.
Belum lagi suara peringatan Ki Balung hilang, Mardi sudah kembali melompat menyerang wanita cantik
yang bernama Bidadari Dasar Neraka.
"Hup! Hiyaaat..!"
"Haiiit!"
"Mampus kau!"
Bet! Kembali Mardi cepat menyerang. Goloknya dikebutkan beberapa kali secara beruntun, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.
Tapi dengan liukan-liukkan tubuh yang sangat indah, Bidadari Dasar Neraka bisa
menghindarinya.
"Hm.... Agaknya guru dan murid sama saja. Cepat
panas dan naik darah. Untung saja wajahmu tampan,
hingga aku tidak sampai hati melukaimu. Tapi kalau
caramu terus begini, terpaksa aku harus melumpuhkanmu terlebih dahulu," gumam Bidadari Dasar Neraka pelan, seperti bicara pada diri sendiri.
"Jangan banyak mulut kau, Perempuan Cabul! Kau
pikir, aku keledai yang seenaknya bisa dilumpuhkan!
Hiyaaat..!" sentak Mardi semakin geram.
"Haiiit..!"
Kembali Mardi menyerang dengan tebasan-tebasan
golok yang sangat cepat luar biasa. Tapi, tetap saja Bidadari Dasar Neraka hanya
melayani dengan senyuman tersungging di bibir. Sikapnya terlihat jelas kalau meremehkan pemuda ini.
Namun sebagai murid utama Ki Balung, kepandaian
Mardi memang hampir menyamai gurunya. Apalagi,
ketika memainkan jurus 'Berputar Mengelilingi Bumi'.
Jurus itu sangat hebat dan dahsyat bila dimainkan
dengan golok. Ditambah lagi oleh pengerahan tenaga
dalamnya yang sudah tinggi. Agaknya, Mardi betulbetul ingin membuktikan kalau tidak semudah itu dapat ditaklukkan Bidadari Dasar Neraka.
Tapi yang dihadapinya kali ini bukanlah tokoh sembarangan. Nama Bidadari Dasar Neraka sudah puluhan tahun sangat disegani oleh semua golongan. Tidak sembarangan orang berani
mencari perkara dengannya. Ki Balung sendiri meyakini hal itu. Dan diyakini pula
kalau perempuan ini sesungguhnya adalah Bidadari Dasar Neraka yang dikenalnya
dahulu. Hanya saja yang sulit dimengerti, kenapa perempuan itu masih
awet muda"
"Yeaaah...!"
Pertarungan antara Mardi melawan Bidadari Dasar
Neraka terus berlangsung sengit. Jurus demi jurus
berlalu cepat Entah sudah berapa jurus Mardi menyerang, tapi tetap saja dilayani Bidadari Dasar Neraka
hanya dengan liuk-liukkan tubuh saja. Namun begitu, masih terlalu sulit bagi
Mardi untuk menyarangkan serangan-serangan ke tubuh yang indah menggiurkan
ini. Dan hingga pada satu kesempatan....
"Hih!"
Plak! "Awas, Mardi!"
Ki Balung berteriak memperingatkan, ketika telapak
tangan Bidadari Dasar Neraka menangkis pergelangan
tangan Mardi yang sedang mengayunkan goloknya ke
arah kepala. Tapi pemuda itu tidak cepat mengerti. Sebab kemudian, seperti ular saja tangan perempuan itu sudah
menangkap pergelangan tangannya. Langsung ditariknya tubuh Mardi ke arahnya dengan pengerahan tenaga dalam penuh.
"Ikh...!"
Mardi berusaha bertahan sambil mengayunkan kakinya ke perut lawan. Namun, tubuh Bidadari Dasar
Neraka cepat mencelat ke atas sambil berteriak nyaring. Entah bagaimana
perempuan cantik itu melakukannya, tahu-tahu golok di tangan Mardi terlepas.
Bahkan tubuh Mardi tahu-tahu lemas seperti tidak
bertenaga, hingga langsung ambruk ke tanah.
"Hi hi hi...! Dalam keadaan begini, tentu kau akan lebih jinak padaku!"
"Perempuan cabul, lepaskan muridku!" bentak Ki
Balung geram. Ketiga orang murid Ki Balung yang lain segera melompat menghadang Bidadari Dasar Neraka. Dan tanpa
diperintah lagi, mereka langsung saja menyerang cepat dari tiga jurusan.
"Hiyaaa...!"
"Yeaaah...!"
Namun, serangan mereka hanya dilayani dengan
gerakan-gerakan sangat indah dan ringan. Sementara
bibir wanita cantik itu terus menyunggingkan senyuman. Kenyataannya, satu pun dari serangan mereka
yang berhasil menyentuh kulit tubuhnya. Dan memang, mereka bukanlah tandingan Bidadari Dasar Neraka. "Hi hi hi...! Sungguh garang murid-muridmu, Tua
Bangka! Tapi sayang, aku tidak berselera pada mereka.
Ku tarik kembali ucapanku. Aku hanya memerlukan
seorang muridmu yang ini saja!" ujar Bidadari Dasar Neraka sambil memanggul
Mardi yang tidak berdaya di pundaknya.
Bidadari Dasar Neraka berusaha kabur, tapi ketiga
murid Ki Balung tentu saja tidak membiarkan begitu
saja. Serentak mereka membentuk barisan, dan kembali menyerang dari tiga jurusan. Kelebatan pedang
mereka terdengar mendesing, mengancam keselamatan
perempuan itu. Namun Bidadari Dasar Neraka hanya
tertawa, seperti menganggap remeh serangan itu. Tubuhnya lalu melayang tinggi ke atas cabang pohon
dengan ringan, tapi ketiga murid Ki Balung terus saja mengejarnya. Bidadari
Dasar Neraka kemudian mencelat sambil berputar dua kali di udara. Dan disertai
teriakan keras, kedua kakinya melayang menghajar dua
orang lawan yang terdekat. "Hih!"
Duk! "Aaakh...!"
"Menyingkir, Raga!" Ki Balung langsung membentak. Kedua murid Perguruan Kembang Putih itu langsung menjerit kesakitan. Golok mereka terpental, dengan pergelangan tangan patah
dihantam tendangan
Bidadari Dasar Neraka yang sangat kuat Perempuan
itu terus bergerak cepat mengayunkan tangan kirinya, menghantam kepala lawannya
yang tersisa. Saat itu
juga dengan sisa tenaganya, Ki Balung melompat menyerang Bidadari Dasar Neraka, setelah terlebih dahu-lu memperingatkan muridnya.
"Hiyaaat..!"
"Tua bangka keparat...! Mampuslah kalau memang
itu yang kau inginkan! Hiyaaat...!"
Bidadari Dasar Neraka membentak sambil menghantamkan satu pukulan yang mengeluarkan sinar
kuning kemerahan bagai nyala api.
"'Pukulan Api Kematian'"!" Ki Balung mendesis terkejut. *** Cepat-cepat Ki Balung bergerak mengegoskan tubuhnya, sambil membalas dengan pukulan andalan
'Rase Kuning'. Tapi ternyata Bidadari Dasar Neraka sudah bergerak cepat. Dan
ketika kakinya baru saja menjejak tanah, seorang murid Ki Balung langsung
membabatkan goloknya ke arah pinggang perempuan
itu. Meski masih membopong tubuh Mardi di pundak,
tapi Bidadari Dasar Neraka masih mampu bergerak gesit bagai burung walet. Tubuhnya tampak berputaran
bagai gasing dan bergerak cepat membalas serangan
lawan. Akibatnya, tiba-tiba saja orang itu terpekik. Tubuhnya kontan terlempar
sejauh lima tombak, dan
langsung memuntahkan darah kental kehitamanhitaman. Ternyata, tadi Bidadari Dasar Neraka menghantamnya dengan tendangan geledek. Bahkan bukan
saja membuat tulang dadanya remuk, tapi nyawanya
pun langsung melayang saat itu juga.
"Aaa...!"
"Keparat! Mampuslah kau, Perempuan Laknat!"
Secarik sinar kuning dari pukulan maut Ki Balung
langsung menderu kencang, menyambar Bidadari Dasar Neraka. "Mampuslah kau, Tua Bangka Busuk! Hih...!"
Bidadari Dasar Neraka dengan geram, membalasnya. Cepat dilepaskannya 'Pukulan Api Kematian' disertai penggunaan tenaga dalam
penuh. Kedua pukulan itu bertemu dan menimbulkan suara ledakan keras menggelegar yang sangat dahsyat sekali, disusul percikan bunga
api dan asap tebal membubung.
Glaaar! "Aaakh...!"
Ki Balung memekik kesakitan. Tubuhnya langsung
terlempar membentur sebatang pohon. Dari mulutnya
tampak meleleh darah kental kehitam-hitaman. Orang
tua itu cuma menggelepar sesaat, kemudian tidak bergerak lagi. Nyawanya putus
saat itu juga. "Ki...!"
Kedua orang murid Ki Balung langsung memburu
dan memeriksa keadaan orang tua itu. Tapi, nyawa Ki Balung sudah tidak tertolong
lagi. Tenaganya kalah
jauh dalam adu kekuatan tadi. Bukan saja pukulan
mautnya yang buyar, tapi pukulan lawan terus menderu menghantam tubuhnya tanpa dapat ditahan. Tubuh
Ki Balung tampak seperti terbakar kepanasan, hangus menghitam.
"Perempuan keparat! Kami akan mengadu jiwa denganmu!" bentak salah seorang murid Ki Balung geram.
"Hiyaaat..!"
"Yeaaah...!"
Dengan wajah garang, mereka langsung melesat
hendak menyerang. Tapi belum juga sampai, mendadak saja Bidadari Dasar Neraka sudah raib dari tempat itu. Keduanya cepat
menajamkan pendengaran, namun jejak dan suara perempuan itu betul-betul tidak
terdengar lagi. Dengan hati kesal bercampur dendam, dua murid Ki Balung itu
kembali pulang membawa je-nazah gurunya dan seorang murid lain.
Sementara itu, Bidadari Dasar Neraka tengah tertawa-tawa nyaring di kejauhan sambil mengerahkan ilmu lari cepat. Tubuhnya seperti dibungkus angin, terus bergerak ke arah utara.
Sesudah beberapa saat berlari, gadis berwajah cantik bagai bidadari itu sampai di depan sebuah kuburan tua yang terletak persis
di kaki sebuah bukit curam.
Bidadari Dasar Neraka terus melangkah pelan, dan
berhenti di depan sebuah kuburan yang sudah rata
dengan tanah. Di depannya, tampak dua buah tiang
setinggi setengah tombak, terbuat dari bata. Dindingnya sudah rusak dan
ditumbuhi lumut Ditekannya bagian atas tiang yang berada di sebelah kanan. Perlahan-lahan, dinding bukit
sejauh dua tombak di depan makam itu terlihat terbuka lebar. Kelihatannya, cukup
dimasuki dua orang dewasa. Bidadari Dasar Neraka
cepat-cepat masuk ke dalam, maka pintu itu tertutup kembali.
Di dalamnya, tampak sebuah ruangan yang cukup
luas, diterangi beberapa buah obor yang tergantung di dinding. Di ujung kiri dan
kanannya terdapat dua
buah kamar. "Gondo Keling, dan kau Raja Manik! Ke mana kalian"!" teriak Bidadari Dasar Neraka.
Dari pintu kiri tampak keluar dua sosok tubuh yang
sangat berlawanan. Yang satu bertubuh pendek gemuk
dengan rambut pendek berdiri ke atas. Di pinggangnya melingkar sebuah cambuk
berduri. Di sebelahnya lagi,
berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus. Tangan kanannya memegang sebuah
gada berduri yang cukup
besar. Mereka berdua memberi hormat pada perempuan cantik ini.
*** Bidadari Dasar Neraka memperhatikan seksama ke
arah mereka. Di mulut laki-laki pendek gemuk itu masih terlihat bekas-bekas
makanan. Sedang baju lakilaki tinggi kurus terkesan kurang rapi, seperti buru-buru dibereskan. Perempuan
itu menggeleng kecil
sambil tersenyum.
"Sedang apa kalian?" tanya Bidadari Dasar Neraka
pura-pura tidak tahu.
Kedua orang itu saling berpandangan satu sama
lain. "Goblok! Apakah telinga kalian tuli"!"
"Eh, ng.... Biasa, Nyai Nilawati...," jawab laki-laki tinggi kurus sambil senyum


Pendekar Rajawali Sakti 93 Bidadari Dasar Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

malu. "Hmmm. Kau tadi keluar, Raja Manik" Dan kini perempuan itu kau peram di dalam"!"
"Dia tidak tahu tempat ini, Nyai. Hamba membawanya dalam keadaan tidak sadar. Dan sesudah itu...,"
kata Raja Manik sambil memberi isyarat dengan tangannya menyilang di atas tangan yang satunya.
"Bagus! Kau harus pastikan, kalau dia sudah mampus sebelum meninggalkannya!"
Raja Manik mengangguk cepat.
"Dan kau, Gondo Keling! Apa saja kerjamu selain
mengenyangkan perutmu"! Kalau sampai jadi kerbau
besar yang dungu, kupecahkan perutmu!"
Si pendek gemuk tersenyum sambil terkekeh. Kedua bola matanya berputaran memandangi wajah cantik di depannya. Sedangkan Bidadari Dasar Neraka
masih tetap memasang wajah angker.
"Percayalah, Nyai. Hamba tetap mampu bergerak
gesit walau makan sebakul sekalipun...."
"Hmmm, sudahlah. Kalian urus pemuda ini. Hatihati. Kepandaiannya cukup lumayan, antarkan padaku nanti malam. Sekarang, aku ingin istirahat dulu!"
ujar Bidadari Dasar Neraka yang dipanggil Nilawati
oleh kedua orang itu.
Tubuh Mardi yang berada dalam bopongan melayang ke arah Gondo Keling dan Raja Manik. Mereka
cepat menangkap dan membawanya ke sudut ruangan.
Lalu, diikatnya pemuda itu dengan tali yang kuat dalam keadaan berdiri.
Bidadari Dasar Neraka sendiri menuju kamarnya
yang terletak di sudut kanan ruangan itu. Di dalam
kamarnya, terdapat sebuah ranjang empuk berukir indah dengan kelambu cerah warna merah jambu, juga
terdapat seperangkat alat-alat makan, dan rak-rak kecil yang menempel di dinding
berisi buku-buku yang
sudah lusuh. Sebuah obor kecil menerangi ruangan
ini. Di atas meja dekat tempat tidur, tersedia sepiring besar buah-buahan ranum
yang menimbulkan selera.
Di sisi yang agak kosong di samping ranjang, juga terlihat seutas tali yang
diikatkan dari dinding yang satu ke dinding di depannya.
"Hari ini tenagaku banyak terkuras. Aku harus
memulihkannya kembali sebelum...," gumam Bidadari
Dasar Neraka sambil tersenyum-senyum sendiri.
Mungkin perempuan itu tengah membayangkan suasana indah nanti. Entah, apa yang ada dalam benaknya saat ini. Matanya terus menerawang, bercahaya
indah bergemerlapan bagai bintang di langit
"Pemuda itu cukup tampan dan gagah. Tapi sayang,
sedikit tua. Mungkin sudah tidak perjaka lagi. Tapi tidak apalah untuk pemuas
dahagaku...," lanjut Bidada-ri Dasar Neraka sambil merebahkan diri.
Apa yang dilakukan perempuan itu sangat aneh. Tidurnya tidak di atas ranjang, melainkan di atas seutas tali yang menggantung di
samping ranjang. Padahal,
tali itu lebih kecil daripada jari telunjuknya. Dan yang pasti, tidak akan kuat
menahan berat tubuhnya. Tapi kenyataannya, tali itu tidak putus. Dan ini
menandakan kalau ilmu meringankan tubuhnya sudah demikian tinggi. Tapi bagi Bidadari Dasar Neraka, hal ini merupakan
suatu latihan ilmu meringankan tubuh yang tiada taranya. Dan dilakukan terus-menerus oleh Bidadari
Dasar Neraka. Kalau saja tali itu sampai tidak melengkung ke bawah, maka boleh
dikatakan ilmu meringankan tubuhnya sulit ditandingi siapa pun. Namun tali yang tadi terentang kaku,
kini hanya melengkung ke
bawah kira-kira setengah jengkal. Itu pun sudah sangat hebat! Bahkan mampu tidur
seenaknya di atas tali itu saja, sudah terbilang langka. Mengingat, tali itu
kelihatan lapuk dan diikat seadanya pada dinding ruangan.
*** Desa Jambu Pasir tampak sangat ramai siang hari
ini. Seperti hari-hari biasanya, terlihat banyak kesibu-kan para pedagang yang
lalu lalang. Tempat ini sebenarnya tidak layak lagi disebut desa. Tetapi lebih
tepat bila disebut sebuah kota yang cukup ramai dengan
bangunannya yang indah dan megah. Bahkan tempat
hiburan banyak terdapat di setiap pelosok. Kehidupan para penduduk lebih banyak
sebagai pedagang. Dan
mereka yang bertani hanya terdapat jauh di luar desa.
Hanya saja, penduduknya lebih suka menyebut tempat
tinggal mereka sebagai desa.
Tempat ini memang bersejarah. Pada zaman dahulu, desa ini adalah daerah taklukan sebuah kerajaan besar. Mereka mendirikan
benteng-benteng pertahanan, yang sampai sekarang masih dapat terlihat. Dan
ketika kerajaan itu dapat dikalahkan oleh kerajaan
lain, daerah ini seperti tenggelam begitu saja.
Tapi, tempat ini tidak langsung dilupakan orang begitu saja. Raja yang sekarang sudah menetapkannya
sebagai daerah perdagangan, yang kemudian banyak
dikunjungi pendatang dari berbagai tempat Di daerah ini juga terdapat sebuah
padepokan, tempat penggem-blengan prajurit-prajurit kerajaan yang bernama
Tirtaloka. Padepokan ini dipimpin seorang panglima perang, bernama Ki Wisnu
Perkasa. Beliau memang sudah la-ma mengundurkan diri dari jabatan panglima
perang kerajaan, tetapi raja tetap membutuhkan tenaganya
untuk melatih para prajurit Usianya sudah lanjut, sekitar tujuh puluh tahun.
Namun ilmu silatnya cukup
tinggi, sehingga sangat disegani semua golongan.
Di siang yang cukup terik itu, Ki Wisnu Perkasa kedatangan tamu yang bernama Panglima Sudra Wulung, yang saat ini memimpin seluruh pasukan kerajaan. Dalam kunjungan itu, dia menyampaikan amanat kalau Gusti Prabu tengah membutuhkan lebih dari dua puluh orang prajurit
pilihan untuk menambah
jumlah pasukan yang sudah ada.
"Ada apa sebenarnya, sehingga Gusti Prabu begitu
terburu-buru meminta prajurit pilihan, Tuan Panglima?" tanya Ki Wisnu Perkasa.
"Perlu Kisanak ketahui, baru-baru ini Gusti Prabu
mendapat kabar kalau pasukan asing sudah mendarat
di Pantai Timur wilayah kerajaan kita. Beberapa orang telik sandi menyaksikan,
kekuatan mereka cukup banyak dan bersenjata lengkap. Gusti Prabu hanya ingin
berjaga-jaga, sebab kedatangan mereka sama sekali tidak diketahui kerajaan,"
jelas Panglima Sudra Wulung.
Ki Wisnu Perkasa menganggukkan kepala.
"Hmmm..., begitu kiranya. Baiklah. Hari ini juga,
Kisanak akan ditemani dua puluh lima tamtama pilihan," kata Ki Wisnu Perkasa sambil menoleh pada salah seorang pemuda yang berada di sebelahnya.
"Sadewo! Hari ini kau ku pilih untuk berangkat ke
istana bersama Panglima Sudra Wulung. Bawalah dua
puluh empat orang tamtama terbaik bersamamu!" lanjut Ki Wisnu Perkasa.
Pemuda yang dipanggil Sadewo cepat memberi hormat pada Ki Wisnu Perkasa. Memang, dia adalah orang kepercayaannya. Usianya
masih amat muda, sekitar
delapan belas tahun. Parasnya tampan dan penampilannya gagah. Dadanya lebar dan bidang menandakan
tubuhnya yang sehat dan kuat.
"Ini suatu kehormatan bagiku bisa mengabdi pada
kerajaan. Mohon doa restunya, Ki!"
Ki Wisnu Perkasa mengangguk ramah. Sesudah
memberi hormat, pemuda itu bangkit keluar. Sedangkan orang tua itu mengikuti dari belakang bersama
Panglima Sudra Wulung.
Di halaman depan, terlihat murid-murid padepokan
yang tengah berlatih ilmu silat, perang-perangan di atas kuda, dan ilmu olah
kanuragan lainnya.
Sadewo tampak berdiri tegak, kemudian berteriak
keras memanggil satu persatu di antara murid-murid
yang tengah berlatih. Dalam sekejap saja, sudah berkumpul dua puluh empat orang kawannya yang langsung berbaris rapi.
"Kisanak semua! Hari ini, aku mendapat perintah
dari Ki Wisnu Perkasa untuk memanggil kalian. Saat
ini kerajaan membutuhkan tenaga kita. Dan bila di antara kalian ada yang tidak
terpilih, bukan berarti aku pilih kasih atau membeda-bedakan. Hal ini sematamata, hanya yang ulet, trampil, serta memiliki kepandaian lebihlah yang berhak
menjalankan tugas ini. Tak ada seorang pun yang boleh iri hati atas terpilihnya
beberapa orang di antara kalian," kata Sadewo keras.
Kedua puluh empat orang pemuda itu tampak mengangguk. Dan yang lain pun ikut mengangguk ketika
mendengarkan kata-katanya. Mereka agaknya patuh
dan penuh pengabdian diri. Dan semua itu tidak lepas dari pengaruh Ki Wisnu
Perkasa yang mendidik selama ini. Buktinya tak seorang pun yang menunjukkan
wajah cemburu atau iri.
Semua murid-murid yang berada di padepokan, rata-rata berusia muda dan memiliki tubuh sehat dan
kuat. Dan kalau pun ada yang berbeda, itu adalah lima orang pelatih yang berusia
di atas empat puluh tahun.
Sesudah memberi wejangan sebagaimana mestinya,
Ki Wisnu Perkasa melepaskan mereka. Kini kedua puluh lima orang pemuda itu langsung naik ke punggung kuda masing-masing. Dan
bersama Panglima Sudra
Wulung serta empat orang pengiringnya, mereka kini
siap berangkat. Tapi pada saat yang bersamaan, terdengar suara tawa nyaring yang
memekakkan telinga.
Seketika semua orang yang berada di situ langsung
bersiaga, melihat sesosok tubuh ramping sudah berdiri di halaman depan
padepokan. * * * 3 Seorang gadis berwajah cantik jelita tersenyum genit sambil menggerak-gerakkan tubuhnya seperti perempuan penghibur. Rambutnya panjang terurai sampai pinggul. Bajunya sangat tipis, hingga lekuk- lekuk tubuh bagian dalamnya
terlihat jelas. Dan ini membuat semua pemuda yang berada di situ menarik napas, menyaksikan kemolekan tubuhnya. Di pinggangnya tampak terselip sepasang pedang pendek dari perak. Matanya jalang menatap beberapa orang pemuda
berwajah tampan dan gagah. Bibirnya lalu tersenyum
manis pada mereka, tanpa mempedulikan yang lain.
Sekilas saja, Ki Wisnu Perkasa dapat menduga kalau perempuan itu bukan gadis sembarangan. Tapi
melihat parasnya, pasti usianya masih belia. Meski
memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat, namun
kelakuannya sangat buruk. Terutama, bila dipandang
dari segi kesopanan. Pakaiannya terlihat tak senonoh.
Dan lebih dari itu, di tempat ini sebenarnya seorang gadis dilarang berkeliaran.
Buktinya tak terlihat seorang perempuan pun sejak tadi. Tapi sebagai tuan rumah,
tentu saja Ki Wisnu Perkasa ingin memperlihatkan keramahannya.
"Nisanak, siapakah dirimu. Dan apa keperluanmu
singgah di tempatku?" tanya Ki Wisnu Perkasa ramah.
Gadis itu tak menjawab. Malah terlihat begitu asyik memperhatikan Sadewo. Dan
pemuda itu pun keliha-tannya terpesona melihat kecantikan gadis itu.
"Nisanak..!"
"Eh! Apakah kau bicara padaku?" gadis itu purapura terkejut Ki Wisnu Perkasa tersenyum kecil.
"Apa keperluanmu datang ke sini. Dan, siapa kau
sebenarnya?"
"Aku..., ng.... Hanya seorang gadis desa dan ingin
melihat-lihat sekaligus ingin menemuinya!" tunjuk gadis itu ke arah Sadewo.
Ki Wisnu Perkasa curiga. Apakah gadis itu kekasih
Sadewo" Diliriknya pemuda itu seperti ingin minta
penjelasan. Tapi, Sadewo sendiri terlihat bingung.
"Kakang! Apakah kau malu mengakui ku sebagai
kekasihmu?" kata gadis itu, sudah langsung memojokkannya sambil tersenyum genit.
"Eh, aku.... Aku ..."
"Sadewo! Siapa gadis ini sebenarnya" Apakah dia
kekasihmu?" desak Ki Wisnu Perkasa tegas.
"Ki Wisnu! Aku..., aku...."
"Sudahlah, Kakang Sadewo. Kalau kau memang
malu mengakui ku sebagai kekasihmu, aku tak menyalahkan. Aku tahu kau kini telah mendapat kedudukan yang baik. Dan tak heran kalau kau tak mengenalku lagi...," sahut gadis itu terdengar sedih.
Ki Wisnu Perkasa kembali mendakwa pemuda lugu
itu dengan tatapan tajamnya.
"Orang tua! Biarlah aku pergi membawa duka dan
anak dalam kandungan ku ini. Kakang Sadewo sudah
tak mengenaliku lagi kiranya...," sahut gadis itu sambil menunjukkan wajah duka.
"Dusta!" sentak Sadewo ketika semua mata tertuju
ke arahnya. Dalam padepokan itu, ada peraturan yang melarang
murid-murid untuk menikah lebih dulu. Sebab selepas dari sini mereka akan
menjadi tamtama yang kemudian akan mengabdi pada kerajaan. Siapa yang melanggar peraturan ini, akan dikeluarkan dari padepokan saat itu juga. Apalagi
sampai menghamili gadis di
luar nikah. Jelas itu adalah perbuatan yang memalukan nama baik perguruan. Sangsinya, bukan saja
akan dikeluarkan dari perguruan, tapi juga mendapat hukuman berat! Memang,
selama ini Ki Wisnu Perkasa
selalu mengajarkan tata susila pada murid-muridnya.
Sebenarnya, hari ini nasib baik Sadewo mulai berjalan. Bila kerajaan memanggil, maka selanjutnya kedudukan serta derajatnya akan
naik. Tapi mendengar ka-ta-kata gadis yang sama sekali tak dikenalnya, tentu
saja tegas-tegas dibantahnya. Siapa sudi jerih payah-nya selama ini musnah
begitu saja dalam sekejap. Walaupun, tak dipungkiri Sadewo memang terpesona melihat kecantikan gadis itu.
"Ki Wisnu Perkasa! Aku tak kenal gadis ini. Dia berdusta, dan mulutnya berbisa!"
"Hi hi hi...! Begitukah sikapmu, Kakang Sadewo"
Setelah mengecap manisnya, lalu akan membuangku
seenaknya" Bahkan tak mengakui perbuatanmu"! Bagaimana orang sepertimu bisa dipilih kerajaan?"
"Perempuan keparat! Apa maksudmu"! Jangan
mengada-ada. Kenal denganmu saja, baru hari ini!
Bahkan aku tak tahu, siapa dirimu dan dari mana
asalmu!" Gadis itu tak mempedulikan kemarahan Sadewo.
Sambil tersenyum manis, kembali kepalanya menoleh
ke arah Ki Wisnu Perkasa.


Pendekar Rajawali Sakti 93 Bidadari Dasar Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Orang tua, bagaimana pendapatmu?"
Ki Wisnu Perkasa menghela napas panjang. Ditatapnya Sadewo sekilas. Dia tahu, bagaimana tabiat
pemuda itu. Selama ini, Sadewo sangat dipercaya.
Bahkan merupakan murid kesayangannya. Jadi, rasanya mustahil bila apa yang dituduhkan gadis itu dilakukannya. Tapi tak mungkin
juga membelanya, tanpa bukti kuat "Nisanak! Dia akan mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya, tapi setelah terbukti bersalah. Dapatkah kini kau
buktikan perbuatannya yang
tak senonoh padamu?"
"Hi hi hi...! Seorang guru tentu saja akan melindun-gi muridnya, sekalipun
tindakannya tak terpuji. Aku pun memakluminya. Dan untuk meyakinimu, akan
kubuktikan perbuatannya. Biar semua mata yang berada di sini menyaksikan, bagaimana buruknya kelakuan muridmu itu," kata gadis itu, tenang.
"Ki Wisnu! Jangan percaya ucapannya! Dia berdusta! Aku sama sekali tidak mengenalnya!"
"Diamlah, Sadewo! Aku tak bisa memutuskan benar
atau salah, jika bukti-bukti tidak ada!" bentak Ki Wisnu Perkasa, tegas.
Sadewo terdiam dengan hati geram. Dan ketika Ki
Wisnu Perkasa mempersilakan gadis itu untuk membuktikannya, semua mata menatap ke arah gadis berwajah jelita itu. Dan tampaknya gadis itu seperti ingin mempermainkan mereka.
Diam beberapa saat seperti
sedang berpikir.
"Kebakaran...! Kebakaran...!" teriak seseorang tiba-tiba, sambil berlari ke
depan. Semua mata berpaling. Dan di barak belakang, terlihat asap hitam membubung tinggi. Sedangkan muridmurid lain terlihat sibuk, berlari serabutan ke arah barak yang terbakar dan
membantu memadamkan api
secepatnya. Ki Wisnu Perkasa bukanlah orang lalai dan cepat
melupakan urusan. Ketika matanya cepat kembali
berpaling, kiranya perempuan itu telah lenyap. Begitu juga Sadewo.
Apa yang terjadi sebenarnya tak ada yang tahu, kecuali gadis itu. Dia memang tak mau menyia-nyiakan
kesempatan. Begitu semua mata berpaling ke arah
sumber api, maka secepat itu pula tubuhnya bergerak menyambar Sadewo seraya
menotok urat geraknya.
Kemudian gadis itu kabur dengan kecepatan sulit diikuti mata. Kini tahulah orang tua itu, kalau telah kena diakali.
Kemarahannya langsung memuncak. Bahkan kepercayaannya terhadap Sadewo lenyap seketika. Dalam
pikirannya, cepat menduga kalau Sadewo ada di balik semua ini. Maka hari itu
juga, semua muridnya diperintahkan mencari Sadewo untuk dihadapkan pada Ki
Wisnu Perkasa. Orang tua itu telah menetapkan hukuman berat padanya. Sedangkan sebagai pengganti
Sadewo, telah diangkat wakilnya.
Ki Wisnu Perkasa kini hanya bisa menggelengkan
kepala dengan hati tak percaya. Salahkan penilaiannya selama ini terhadap
Sadewo" Kalau dia melarikan diri dari hukuman, berarti memang betul melakukan
kesalahan. Tindakannya begitu pengecut Padahal, hal itu tak pernah diajarkan
pada murid-muridnya. Kalau sa-ja nanti, murid-muridnya yang lain menemukan Sadewo, dia hanya bisa berharap agar tak terjadi pertum-pahan darah di antara
mereka. Sebenarnya, Sadewo adalah murid berbakat. Dia
cerdas, kuat, dan tangkas. Tak sembarangan orang
mampu mengalahkannya. Bahkan tak seorang pun dari murid-muridnya yang lain mampu menandingi ilmu
silat yang dimiliki. Termasuk, para pelatih sekalipun.
Memang, Sadewo langsung berada di bawah didikan Ki
Wisnu Perkasa. *** Perempuan itu tertawa-tawa kecil sambil sesekali
melirik nakal pemuda yang sedang dibopongnya. Sementara, berlari di sebelahnya adalah dua orang bertubuh aneh. Yang seorang
pendek gemuk berambut
berdiri kaku. Di pinggangnya tampak melingkar sebuah cambuk berduri. Sementara, seorang lagi bertubuh tinggi kurus membawa gada berduri di tangannya.
"Bagus sekali pekerjaan kalian!" kata wanita itu
memuji kedua orang anak buahnya.
"He he he...! Membakar beberapa buah barak bukanlah pekerjaan sulit," sahut laki-laki tinggi kurus sambil tersenyum simpul.
"Sayang, di sana makanannya tak ada yang enak!"
gerutu laki-laki pendek gemuk itu.
"He, Gondo Keling! Apakah kau tak membantu Raja
Manik"!" perempuan itu tampak marah.
Si pendek gemuk yang dipanggil Gondo Keling mengerjap-ngerjapkan mata dengan wajah takut.
"Eh..., hamba turut membantu juga, Tuan Putri.
Tapi setelah itu, hamba memang ke bagian dapur dan
mencari makanan...."
"Sial! Untung mereka tak menangkapmu!"
"Huh! Mana mungkin kroco-kroco itu bisa menangkapku!" Gondo Keling membusungkan dada.
"Jangan menganggap rendah. Mereka bukan calon
prajurit biasa, tapi tamtama pilihan.... Hei, kenapa kau diam saja dari tadi,
Sayang" Tidakkah kau ingin ber-mesraan denganku?" kata gadis itu, seraya membuka
urat suara pemuda yang dibopongnya dengan totokan.
"Perempuan iblis! turunkan aku. Orang sepertimu
mestinya dihajar sampai mampus!"
"Kakang Sadewo" Kenapa kau jadi galak sekali padaku...?" "Perempuan rendah! Kau pikir aku suka padamu"!
Phuih! Kau telah menghancurkan jerih payah ku selama ini dalam sekejap. Mereka tentu kini sedang mencariku, karena dianggap bersalah telah melarikan diri dari tanggung jawab. Aku
bersumpah! Bila ada kesempatan, kau akan kubunuh!"
"Hi hi hi...! O, begitu" Jadi, saat ini mereka menca-ri-cari mu" Hi hi hi...!
Jangan terlalu galak, Kakang Sadewo. Kau tak akan memiliki sedikit pun
kesempatan untuk melakukan hal itu padaku...."
Perempuan yang sudah pasti berjuluk Bidadari Dasar Neraka itu menghentikan tawanya. Dengan isyarat, diperintahkannya dua orang
anak buahnya untuk berhenti melangkah. Dan memang, dari kejauhan terlihat suatu
rombongan melewati jalan utama. Jumlah mereka sekitar sepuluh orang, dan
dipimpin seorang penunggang kuda di depan. Perempuan itu menajamkan
pandangannya, kemudian tersenyum sendiri.
"Gondo Keling, Raja Manik! Bawa dulu pemuda ini
ke sarang. Aku akan menyusul!" ujar Bidadari Dasar
Neraka sambil melemparkan tubuh Sadewo pada kedua orang itu. "Tapi, Tuanku ..."
"Jangan suka membantah! Kerjakan saja apa yang
kuperintahkan!"
Mereka mengangguk. Ketika perempuan itu telah
melesat ke arah rombongan, kedua anak buahnya
langsung melangkah sambil mengerahkan ilmu lari cepat Melihat caranya berlari, agaknya mereka bukanlah orang sembarangan. Lebihlebih laki-laki yang bertubuh pendek gemuk. Meski tubuhnya berat, tapi gerakannya enteng dan gesit
"Keledai-keledai dungu! Turunkan aku cepat! Kalian
akan kuhajar karena berani memperlakukan aku begini!" Gondo Keling dan Raja Manik saling berpandangan, kemudian menghentikan
langkah dan memandang ke
arah pemuda yang sedang dipanggul Raja Manik. Lakilaki tinggi kurus itu tampaknya kesal. Masih dalam keadaan tertotok, pemuda itu
lalu dihempaskannya ke tanah.
"Keparat! Kalau bebas, akan kuhajar kalian berdua
sampai babak belur!" maki Sadewo.
"Eh, Bocah Sombong! Jangan banyak bicara! Kalau
sampai kesabaranku habis, kau akan mampus seketika!" desis Raja Manik menahan geram.
"Phuih! Apa yang ku takutkan dari keledai-keledai
dungu seperti kalian"!"
"Bangsat!"
Begkh! "Akh...!"
Kaki Raja Manik langsung menghajar perut pemuda
itu. Maka, Sadewo langsung mengeluh menahan rasa
sakit. Matanya terbelalak garang dengan urat-urat ka-ku penuh kegeraman.
"Keledai dungu! Ternyata aku salah kira. Kalian bukan saja dungu, tapi juga pengecut Kegarangan kalian hanya ditunjukkan pada
lawan yang tak berdaya...."
"Hup!"
Tek! "Raja Manik...?" seru Gondo Keling kaget
Apa yang diperbuat kawannya, sungguh mengejutkan Gondo Keling. Ternyata totokan pemuda itu di-bebaskannya. Kalau sampai
perempuan tadi tahu perbuatannya, Raja Manik pasti tak akan selamat dari
hukuman. "Diamlah, Gondo Keling! Ingin kulihat, sampai di
mana kesombongan bocah ini. Agaknya, dia terlalu yakin dengan kepandaian yang
dimiliki. Nah, Bocah! Kini
kau bebas. Maka, tahanlah seranganku!"
Begitu terbebas dari totokan, Sadewo langsung
bangkit dan bersiap menghadapi lawan. Sementara,
Raja Manik tak mau menyia-nyiakan waktu. Langsung
dia berteriak nyaring sambil menyerang pemuda itu.
"Yeaaa...!"
"Hup!"
Dengan mantap, Sadewo memasang kuda-kuda dan
menangkis serangan lawan.
Plak! "Hih!"
Wajah pemuda itu tampak berkerut ketika tangan
mereka beradu. Tak disangka kalau laki-laki tinggi kurus itu memiliki lengan
sekeras baja. Tapi saat itu ju-ga, kaki kanannya menendang ke perut lawan. Tubuh
Raja Manik langsung terangkat tinggi. Dan sambil berputaran, sebelah tangannya
melesat cepat ke dada Sadewo.
"Hiyaaat..!"
"Uts!"
Plak! Sadewo berkelit ke samping. Namun tak urung,
tangan lawan mesti di tangkis, karena nyaris menghantam dada. Serangan itu sulit dielakkan, karena
saking cepatnya. Dan, saat itulah kepalan kiri Raja Manik menyodok lambung
pemuda itu. Sadewo kontan
terpekik Tubuhnya terjengkang ke belakang sejauh
dua tombak dengan napas megap- megap.
"Hanya sedemikiankah kepandaian yang kau banggakan?" ejek Raja Manik sambil bertolak pinggang.
"Keparat! Aku belum kalah!"
Sadewo cepat bangkit Dan dengan penuh nafsu,
kembali diserangnya Raja Manik. Sedangkan laki-laki tinggi kurus itu tampak
kesal. Wajahnya mulai beringas, dan tangannya diangkat tinggi. Melihat itu, Gondo Keling tahu apa yang akan
diperbuat kawannya.
"Raja Manik! Tahan amarah mu! Kalau sampai pemuda ini mampus di tanganmu, kau akan celaka sendiri!" "Yeaaa...!"
Tapi Raja Manik agaknya tak mempedulikan peringatan kawannya. Sambil berteriak nyaring, kepalan
tangannya yang mulai menghitam melayang ke arah
lawan. Melihat hal ini, Sadewo terkejut. Hawa panas menyengat berasal dari angin
serangan lawan terasa
menyengat kulitnya. Bahkan kini, gerakan lawan tampak lebih gesit. Terpaksa Sadewo menghindar untuk
melepaskan diri dari kejaran serangan lawan. Nafasnya mulai memburu dan sesak,
serta keringat mulai ber-cucuran. Tapi, lawannya seperti tak ingin memberi
kesempatan sedikit pun. Dengan kemampuan yang dimiliki, Sadewo terus berusaha menyelamatkan selembar
nyawanya. Tapi pada jurus berikut, pemuda itu mulai kehilangan kepercayaan diri. Bahkan kepalan tangan Raja
Manik nyaris menyerempet tubuhnya setiap kali tubuhnya bergerak. Bisa dipastikan, tiga kali lagi serangan beruntun dilancarkan,
dia akan tewas dihajar pukulan lawan yang ganas.
Plak! Begkh! "Akh!"
"Mampusss...!"
Ketika Sadewo bergerak ke samping, kaki lawan
mengait keras. Akibatnya, tubuhnya limbung. Sementara itu sebelah kaki Raja Manik cepat menghantam
dadanya. Sadewo menjerit kesakitan dan pertahanannya terbuka lebar. Dan saat itulah lawan mengejar
sambil menyodokkan pukulan maut ke arah dadanya.
Tap! Plak! "Heh!"
* * * 4 Raja Manik terkejut. Pada saat-saat terakhir, tibatiba saja satu bayangan putih melesat cepat menarik tubuh Sadewo seraya
menangkis pukulan yang dilepaskannya. Sebenarnya, pukulan Raja Manik yang
bernama Tapak Arang, sangat hebat dan kuat. Batang
pohon besar sekalipun, akan hancur bila terkena pukulan itu. Tapi, ternyata bayangan tadi seenaknya saja menangkis, seperti tidak
terpengaruh apa-apa pada
tangannya. Malah, justru dia sendiri yang merasa
mendapat tekanan hebat hingga membuat tulang lengannya terasa ngilu.
Di depan Raja Manik, kini telah berdiri seorang pemuda tampan berambut gondrong terurai. Bajunya
rompi putih, dengan sebilah pedang bergagang kepala burung tersampir di
punggungnya. Sadewo sendiri, terlihat terduduk dengan napas sesak di belakang
pemu- da yang kalau melihat ciri-cirinya adalah Pendekar Rajawali Sakti.
"Siapa kau"!" bentak Raja Manik garang.
"Siapa aku, bukan persoalan. Tapi persoalannya
adalah, mengapa di antara kalian saling hendak membunuh?" "Sial! Kau pikir, apa sudah merasa hebat setelah


Pendekar Rajawali Sakti 93 Bidadari Dasar Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyelamatkan bocah sombong itu"!"
"Hm...," gumam pemuda yang tidak lain Rangga,
atau yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Rajawali
Sakti. Tampak Raja Manik mengambil sebuah gada berduri yang sejak pertarungan dengan Sadewo tadi, dititipkan pada Gondo Keling. Laki-laki tinggi kurus itu kemudian melangkah lebar ke
arah Rangga dan berhenti pada jarak satu tombak Gada berduri di tangannya
langsung ditudingkan ke arah Pendekar Rajawali
Sakti. "Cabutlah pedangmu. Dan, tunjukkan padaku kepandaian yang kau miliki!"
Rangga tersenyum kecil.
"Begitukah yang kau inginkan" Padahal, aku hanya
bertanya. Lalu, mengapa tiba-tiba kau terlihat marah, dan mengajakku berkelahi,
Kisanak" Tidak bisakah
kau bicara baik-baik dan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya?"
"Inilah pembicaraan kita!" sentak Raja Manik, sambil mengayunkan senjata ke arah Pendekar Rajawali
Sakti. "Uts!"
"Modar!"
Gada berduri Raja Manik yang kelihatan berat, melesat cepat menimbulkan angin kencang menyambarnyambar. Disadari betul, kalau lawan sudah berani
menangkis pukulan 'Tapak Arang', maka pastilah bukan orang sembarangan. Maka, Raja Manik tidak mau
meladeninya setengah hati. Itulah sebabnya, senjata andalannya langsung
digunakan sambil memainkan
jurus terhebat yang diberi nama 'Angin Puyuh Mengejar Maut'. Rangga sendiri merasakan tekanan berat dari serangan lawan. Meski terkejut, tapi serangan itu tidak mungkin diladeni dengan
sembarangan kalau tidak ingin nyawanya melayang. Di samping itu Pendekar Rajawali Sakti tidak mungkin terus menghindar. Bahkan hatinya mulai kesal, karena
didesak terus. Maka dengan satu bentakan nyaring, mulai dibalasnya serangan
lawan. "Hiyaaat"
Wut! "Uts!"
"Yeaaah...!"
Raja Manik sedikit terkejut. ketika gada berdurinya menyambar ke arah pinggang,
lawannya bersalto ke
depan. Dan dengan kedua tangan terentang, Rangga
berusaha menghantam batok kepala Raja Manik. Buru-buru laki-laki kurus itu menyelamatkan diri. Tubuhnya bergerak mundur ke belakang sambil mengibaskan senjata ke dada lawan. Mendapat serangan berikut, Rangga bergerak ke samping menghindari. Lalu sebelah kakinya cepat
menendang bagian belakang
pinggang lawan. Raja Manik terkejut, dan tidak sempat berkelit lagi.
Begkh! "Akh!"
Laki-laki tinggi kurus itu mengeluh kesakitan sambil memegangi pinggangnya yang terasa akan patah.
Sambil mendelik garang, kembali senjatanya ditudingkan ke arah lawan. Wajahnya
tampak semakin beringas. "Kuhajar kau! Bocah keparat! Heaaat...!"
"Hm.... Bandel juga kau rupanya...."
Kepalan kiri Raja Manik yang meluncur cepat, ditangkis Pendekar Rajawali Sakti dengan mudah. Sementara, senjata gadanya menderu mengincar kepala
lawan. Rangga cepat memutar tubuh ke kiri, sambil
cepat mengayunkan kaki depannya menghantam perut
Raja Manik yang belum sempat memperbaiki keadaannya. Des! "Akh...!"
Seketika tubuh laki-laki tinggi kurus itu terjerembab sejauh dua tombak, disertai jeritan kesakitan. Dan dari mulutnya, tampak
memuntahkan darah kental
kehitam-hitaman.
"Raja Manik...!" Gondo Keling berseru kaget melihat keadaan kawannya. Lalu,
wajahnya berpaling ke arah
Pendekar Rajawali Sakti.
"Keparat! Kuhajar kau, Bocah Sinting...!"
Raja Manik merasakan nafasnya jadi sesak dan isi
perutnya terasa remuk terkena tendangan geledek
Pendekar Rajawali Sakti. Kalau saja pemuda itu berha-ti kejam, tentu sudah sejak
tadi Raja Manik tewas. Ta-pi mana mau hal itu dilakukannya. Dengan susah
payah, dia berusaha bangkit dengan hati geram bercampur dendam. Ctaaar! Tiba-tiba, cambuk berduri Gondo Keling melecut ke
angkasa menimbulkan suara yang menyakitkan telinga. Wajahnya tampak garang penuh kemarahan.
"Gondo Keling! Menepilah kau! Bocah ini bagianku!"
bentak Raja Manik.
"Tidak! Tanganku pun sudah gatal melihat kesombongannya!"
"Gondo Keling! Jangan campuri urusanku!"
Tapi sebagai jawabannya, laki-laki pendek gemuk
itu malah menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan
ganas. Bukan main geramnya Raja Manik melihat kelakuan kawannya. Tapi amarah dan dendamnya yang
memuncak pada pemuda itu, lebih menguasai pikirannya. Sehingga tanpa mempedulikan perbuatan lancang
yang dilakukan Gondo Kelir...!, langsung diserang
kembali Pendekar Rajawali Sakti.
"Bocah keparat! Mampuslah kau sekarang...!"
*** Melihat hal ini, Rangga mendengus garang. Serangan kedua lawannya kali ini terasa berat dan menekan.
Lebih-lebih senjata mereka semakin berbahaya saja
mengancam keselamatan jiwanya.
"Kisanak, jangan takut! Aku akan membantumu!"
Sadewo tiba-tiba bangkit dan ikut membantu Pendekar Rajawali Sakti.
"Bocah bermulut besar! Kau pikir bisa berbuat apa,
heh"!" Raja Manik mengayunkan gada berdurinya ke
arah lawannya. Rangga berkelit. Dan dia terus melompat tinggi ketika pecut Gondo Keling menyambar ulu hati Sadewo.
Cepat Pendekar Rajawali Sakti meluncur turun sambil mengayunkan pukulan ke
tulang kering tangan kanan
Gondo Keling. "Sial!" Gondo Keling menekuk lutut.
Nyaris tulang kering tangan kanannya patah kalau
saja tidak cepat bergerak. Dengan kemarahan yang
meluap, kali ini serangannya lebih banyak dicurahkan ke arah Rangga. Sedangkan
Raja Manik menghadapi
Sadewo. Kali ini, Sadewo harus lebih berhati-hati lagi. Dan senjata lawan dihadapinya
dengan keris yang sejak ta-di berada di pinggang.
Sementara itu, gada berduri Raja Manik telah menderu keras disertai pengerahan tenaga dalam penuh.
Melihat hal ini, Sadewo cukup terkejut langsung dipapaknya serangan itu dengan senjata kerisnya.
"Yeaaah...!"
Prak! Ternyata, keris Sadewo patah jadi dua. Bahkan telapak tangannya terkelupas. Dan belum lagi Sadewo
dapat berbuat sesuatu, kepalan tangan kiri Raja Manik langsung menyodok ke arah
dadanya. Tak ada kesempatan lagi bagi Sadewo untuk berkelit Dan....
Des! "Aaakh!"
Sadewo kontan memekik keras. Tubuhnya terjengkang dua tombak sambil memuntahkan darah segar.
Bahkan tulang rusuknya patah beberapa buah. Sadewo berusaha bangkit, tapi saat itu juga Raja Manik telah melesat ke arahnya
dengan serangan mematikan.
"Bocah sombong, mampuslah kau sekarang!"
Pada saat yang bersamaan, ujung cambuk Gondo
Keling tampak seperti ular terbang, terus- menerus mengejar Pendekar Rajawali
Sakti. Sepertinya Rangga agak kesulitan jika begini terus. Apalagi, teriakan
Sadewo seketika mengusik hatinya. Maka tanpa membuang waktu lagi, pedang pusakanya langsung dicabut Seketika seberkas sinar biru
menerangi tempat itu sesaat
Rupanya, adanya sinar biru berkilauan, membuat
semua orang yang ada di situ terperanjat Bahkan Raja Manik yang telah siap
mencabut nyawa Sadewo jadi
menghentikan serangannya. Maka mendapat kesempatan demikian, Pendekar Rajawali Sakti langsung bergerak cepat menyerang. Tak
tanggung-tanggung, dua
orang sekaligus yang menjadi sasarannya. Gondo Keling, kemudian ke arah Raja Manik.
"Hiyaaat..!"
Tes! Des! Begkh! "Akh...!"
Gondo Keling dan Raja Manik kontan menjerit keras. Mereka terjungkal, dan senjata masing- masing putus menjadi beberapa
potong. Kecepatan Pendekar
Rajawali Sakti menyerang sungguh mengejutkan. Lebih-lebih, kedahsyatan Pedang Pusaka Rajawali Sakti.
Tapi waktu yang sesaat itu, sudah cukup membuat
mereka harus menanggung akibat yang cukup parah!
Pendekar Rajawali Sakti kini telah menyarungkan
kembali pedang pusakanya, sambil melihat kedua lawan yang megap-megap tidak berdaya. Dari mulut mereka, tidak henti-henti menetes darah kental. Keduanya berusaha bangkit dengan
wajah pucat pasi bagaikan mayat hidup.
"Kisanak! Aku tidak punya urusan dengan kalian.
Tapi karena kalian nekat, terpaksa aku harus membela diri!"
"Huh! Kami tidak akan menerima kekalahan ini begitu saja. Suatu saat, kau akan mendapatkan balasan setimpal!" desis Raja Manik
penuh dendam. "Aku akan menunggu kapan saja, silakan kalian
buat perhitungan!"
"Sebutkan julukanmu agar kami lebih mudah
membuat nisan mu kelak!"
"Pendekar Rajawali Sakti tidak akan lari dari semua ini!"
"Hm.... Jadi kau bergelar Pendekar Rajawali Sakti"
Baik! Tunggulah balasan kami!" dengus Raja Manik
sambil mengajak Gondo Keling meninggalkan tempat
itu. Nama Pendekar Rajawali Sakti sudah tidak asing la-gi bagi kalangan tokoh
persilatan. Dan melihat tidak ada rasa kaget sedikit pun, jelas kalau Gondo
Keling dan Raja Manik belum pernah mendengar julukan
Pendekar Rajawali Sakti sebelumnya. Tapi, Rangga tidak mempedulikan hal itu.
Kini kakinya melangkah
mendekati Sadewo.
"Kisanak, kau tidak apa-apa...?"
"Dadaku terasa nyeri. Tapi, rasanya nanti akan
sembuh. Terima kasih atas pertolonganmu, Kisanak.
Namaku Sadewo. Benarkah kau Pendekar Rajawali
Sakti yang kesohor itu" Kalau benar, guruku sering
menceritakan tentang kehebatanmu!"
Wajah Sadewo tampak cerah, sehingga rasa sakit
yang diderita seperti tidak dirasakannya.
"Kisanak! Aku hanya orang biasa seperti yang lainnya. Panggil aku Rangga saja kalau tidak keberatan, coba kulihat luka dalammu."
Rangga memeriksa luka dalam di tubuh Sadewo.
Sebentar kemudian, Pendekar Rajawali Sakti mendesah sambil menggelengkan kepala.
"Kisanak, beberapa tulang rusukmu patah. Kau harus secepatnya diobati. Kalau tidak, mungkin nanti
akan berakibat parah."
Sadewo menggeleng lesu.
"Lengkaplah sudah penderitaanku," desah Sadewo
lirih. "Penderitaan" Penderitaan apakah yang kau alami?"
Sadewo menghela napas beberapa saat sebelum
menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Rangga
mendengarkan penuh perhatian, sambil sesekali Rangga menggeleng-gelengkan kepala. Wajahnya terlihat geram penuh kekesalan.
"Apakah kau memang betul-betul tidak mengenal
gadis itu?"
"Tidak! Jangankan menandainya, kenal saja baru
sekali. Aku sendiri heran, apa maksudnya dia mempermalukan aku di hadapan kawan-kawan dan guruku
sendiri." "Sekarang, lebih baik kau kembali ke padepokan.
Jelaskanlah semua persoalan kepada gurumu!" ujar
Pendekar Rajawali Sakti.Sadewo menggeleng lesu.
"Kejadian itu begitu cepat Tiba-tiba, gadis itu telah menyambarku setelah
melepaskan totokan. Semuanya
pasti mengira aku kabur karena takut rahasiaku terbongkar. Mereka mengira aku bersalah, dan lari dari tanggung jawab. Saat ini,
mungkin mereka sedang
mencariku untuk dihadapkan pada guru yang akan
memberiku hukuman berat..."
"Biarlah aku ikut denganmu. Dan nanti, akan kujelaskan pada gurumu!"
"Tidak mungkin. Guruku mempunyai sifat yang
sangat tegas...."
"Ada baiknya kita coba dulu. Kalau kemudian beliau tetap pada pendiriannya, hadapilah dengan jiwa ksatria. Tunjukkan bahwa kau
sesungguhnya calon
tamtama sejati. Bagaimana?"
Sadewo berpikir sejenak, sebelum menganggukkan
kepala. "Baiklah...."
"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang!"
Mereka kemudian meninggalkan tempat itu. Langkah mereka tidak terlalu cepat, karena memang dada


Pendekar Rajawali Sakti 93 Bidadari Dasar Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sadewo terasa sakit bila dibawa berlari. Sepanjang perjalanan, mereka banyak
bercerita dan saling bertukar pengalaman. Terlihat dari setiap ucapannya bahwa
Sadewo begitu mengagumi pemuda itu. Tapi, memang
sifat Rangga yang selalu rendah hati, sehingga tidak nampak kesombongan sedikit
pun. Sungguh tak dinyana kalau mereka kemudian bertemu murid-murid Padepokan Tirtaloka! Murid yang
berjumlah sepuluh orang itu memang diperintah Ki
Wisnu Perkasa untuk mencari Sadewo, dan dipimpin
oleh seorang laki-laki berusia empat puluh tahun. Sadewo mengenalinya sebagai
salah seorang pelatih di
padepokan mereka. Namanya, Ki Sapta Ireng.
"Sadewo! Aku membawa perintah dari Ki Wisnu
Perkasa untuk menangkapmu!" kata Ki Sapta Ireng,
begitu mereka telah berjarak beberapa tombak
Sadewo cukup terkejut, walaupun sudah menduga
hal itu. Wajahnya yang tadi kelihatan cerah, kini berubah menjadi pucat pasi.
Langkahnya pun kontan terhenti. "Kisanak! Maafkan kelancanganku. Sadewo adalah
sahabatku. Jika kalian tidak keberatan, bolehkah aku bertemu Ki Wisnu Perkasa"
Aku ingin berbicara langsung pada beliau, untuk menjelaskan duduk persoalan yang
sebenarnya," sela Rangga dengan suara ramah
dan sopan. "Maaf Kisanak. Ini adalah urusan dalam. Cukup
kuhargai sikapmu. Tapi, kami mempunyai peraturan
tersendiri. Saat ini juga, Sadewo harus menghadap
guru kami untuk menerima hukuman yang harus dijalaninya!" tegas Ki Sapta Ireng.
"Ki Wisnu Perkasa pastilah orang bijaksana lagi murah hati. Dan aku menghormati beliau. Tapi, aku tidak percaya kalau pikiran
beliau begitu sempit dengan
menjatuhkan hukuman pada muridnya yang belum
tentu bersalah. Jadi, sudilah Kisanak mempertimbangkan kembali permintaanku tadi," lanjut Rangga,
tenang. "Kisanak! Aku tidak perlu cerewet menolak permintaanmu. Peraturan kami jelas dan tegas. Sekali Ki
Wisnu Perkasa mengeluarkan kata-kata, itu adalah perintahnya yang tidak bisa dibantah! Maka sebelum
kami berlaku keras padamu, kuperingatkan jangan
ikut campur masalah ini!" tandas Ki Sapta Ireng, mulai tidak senang.
"Sudahlah Rangga. Kalau mereka tetap pada pendiriannya, aku tidak akan membantah. Biarlah aku ikut dengan mereka...."
"Tidak, Sadewo! Kau harus bicara lebih dulu pada
gurumu, dan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Kalau ternyata beliau masih juga berkeras pada keputusannya, biar aku
yang akan jadi sak-sinya!"
"Sadewo! Kami tidak punya waktu! Kau harus ikut
sekarang juga!" bentak Ki Sapta Ireng, sambil memberi isyarat pada dua orang
Cinta Dalam Kutukan 2 Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari Karya Arief Sujana Pedang Hati Suci 11

Cari Blog Ini