Ceritasilat Novel Online

Gadis Bertudung Bambu 2

Pendekar Rajawali Sakti 103 Gadis Bertudung Bambu Bagian 2


Kipas Maut. Mereka juga seringkali disebut sebagai
Sepasang Pendekar Karang Setra.
"Kau tunggu di sini, Pandan. Aku akan masuk ke
dalam rumah ini," bisik Rangga, perlahan.
"Apa itu tidak berbahaya, Kakang?" tanya Pandan
Wangi, agak khawatir.
"Tenanglah. Aku hanya ingin mencari sedikit keterangan saja," sahut Rangga
kalem. Pandan Wangi hanya diam saja. Sementara, Rangga
sudah menyelinap ke bagian belakang rumah ini. Suara tangisan terisak memilukan
masih terdengar dari
dalam. Saat itu, Pendekar Rajawali Sakti sudah sampai
di depan pintu belakang. Diamatinya keadaan sekitar,
kemudian tangannya perlahan mengetuk pintu itu.
"Siapa...?"
Terdengar suara agak parau dari dalam rumah. Dari
suaranya, jelas kalau orang yang ada di dalam rumah
ini wanita. Rangga terdiam sejenak, sambil terus mengedarkan pandangan ke
sekeliling. "Aku, Nyi. Tolong buka pintunya," sahut Rangga
agak berbisik. "Kau dari istana...?" tanya wanita di dalam rumah
itu lagi. "Bukan, Nyi. Aku penduduk sini juga," sahut Rangga sedikit berbohong.
Tidak lama terdengar langkah kaki terseret, kemudian terdengar suara pintu
terbuka. Sedangkan Rangga masih menunggu dengan mata terus merayapi keadaan
sekitarnya. Dan dari balik pintu yang terbuka sedikit, muncul seraut wajah
wanita berusia sekitar lima
puluh tahun yang sangat kurus. Begitu kurusnya,
sampai tulang-tulang pipinya terlihat menonjol. Dan
kedua bola matanya juga sangat cekung. Tampak butiran air bening masih
mengambang di pelupuk matanya.
"Siapa kau..." Aku tidak mengenalmu," tanya wanita tua itu seraya merayapi
pemuda yang berada di depan pintu belakang rumahnya ini.
"Aku Rangga, Nyi. Aku pemuda dari padepokan
yang tidak jauh letaknya dari kota ini. Boleh aku masuk, Nyi...?" lembut sekali
suara Pendekar Rajawali
Sakti. Sebentar perempuan tua itu merayapi sekujur tubuh Pendekar Rajawali Sakti,
kemudian membuka pintunya lebar-lebar. Dibiarkannya Rangga masuk ke dalam,
kemudian ditutupnya pintu itu lagi, serta dikunci
dengan sebuah papan tebal.
"Mari ke dalam...," ajak wanita tua itu.
"Terima kasih, Nyi."
Rangga mengikuti wanita tua itu melangkah ke bagian tengah rumah ini. Di sana
terlihat dua orang gadis tengah menangis sesenggukan, duduk di atas balai-balai
bambu yang hanya beralaskan selembar tikar
lusuh. Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun tampak tertidur di
pangkuan salah seorang gadis
itu. Rangga menganggukkan kepalanya sedikit sambil
memberi senyum kecil. Sedangkan kedua gadis itu
hanya diam saja memandangi.
Dan perempuan tua itu duduk di sebuah kursi yang
kelihatannya sudah lapuk. Sedangkan Rangga hanya
berdiri saja di ambang pintu penyekat ruangan tengah
dengan bagian belakang.
"Silakan duduk, Anak Muda," kata perempuan tua
itu, menawarkan.
"Terima kasih, Nyi...," sahut Rangga.
Pendekar Rajawali Sakti kemudian duduk tidak
jauh, di seberang meja dekat perempuan tua ini. Sebentar dirayapinya keadaan di
dalam ruangan ini. Tidak ada yang bisa dikatakan. Sebuah rumah yang
sangat sederhana dengan segala perabotan yang kelihatannya sudah tua.
"Maaf, Nyi. Malam-malam aku mengganggumu,"
ucap Rangga tetap dengan suara dan sikap lembut.
"Kau kemalaman, Anak Muda?" tanya perempuan
tua itu. "Benar, Nyi," sahut Rangga. "Tapi sebenarnya, kedatanganku ke kota ini memang
sengaja." "Apa yang kau cari di kota ini, Anak Muda?"
"Maaf, Nyi...."
"Junta.... Orang-orang memanggilku Nyi Junta. Dan
mereka anak-anakku. Dewi dan Ratna. Yang kecil itu
cucuku. Namanya, Garda. Dia anaknya Dewi," perempuan tua itu mengenalkan diri
dan anak-anaknya.
Rangga mengangguk sambil tersenyum manis pada
kedua wanita yang masih tetap duduk di atas balaibalai bambu, tidak jauh di
depannya. Sedangkan kedua wanita anak Nyi Junta itu hanya memandangi saja, tanpa
membalas anggukan ramah Pendekar Rajawali Sakti.
"Aku dengar tadi di rumah ini ada yang menangis.
Ada apa, Nyi...?" tanya Rangga langsung.
"Kami baru saja terkena musibah, Anak Muda. Suamiku mati dibunuh prajurit.
Sedangkan menantuku
ditangkap. Aku sendiri, tidak tahu apa kesalahannya.
Prajurit-prajurit itu seperti gerombolan liar saja. Bukan hanya keluarga ini
saja yang kena, tapi banyak
yang lainnya," jelas Nyi Junta, agak tersendat.
"Itulah persoalannya, kenapa aku datang ke kota ini
malam-malam, Nyi," ujar Rangga.
"Oh.... Jadi kau sudah tahu apa yang terjadi siang
tadi di sini, Anak Muda...?"
Nyi Junta kelihatan agak terkejut.
"Benar, Nyi. Tapi aku belum tahu, apa persoalan
yang sebenarnya. Maka kedatanganku untuk menyelidiki, kenapa prajurit-prajurit
itu sampai bertindak kasar menyakiti rakyatnya sendiri. Aku ingin tahu, apa
ini memang perintah rajanya, atau hanya perintah
panglimanya saja," jelas Rangga tentang kedatangannya ke kotaraja ini.
"Gusti Prabu sendiri yang memerintahkannya...!"
selak salah seorang gadis yang bernama Ratna tibatiba.
"Ratna...!" sentak Nyi Junta kaget. "Jangan bicara
sembarangan. Dari mana kau tahu kalau Gusti Prabu
sendiri yang memerintahkannya...?"
"Kakang Rambika yang mengatakannya, Mak," sahut Ratna dengan suara terdengar
kesal. "Siapa itu Rambika, Anak Manis...?" tanya Rangga
lembut. Namun belum juga Ratna bisa menjawab....
"Kakang...."
"Eh..."!"
Nyi Junta dan kedua anaknya jadi terkejut, begitu
tiba-tiba saja terdengar suara agak berbisik dari luar,
tepat di balik jendela yang ada di ruangan ini. Suara
yang berbisik perlahan, namun terdengar begitu jelas.
*** "Tenang, Nyi. Itu adikku," kata Rangga langsung
menenangkan. Memang, wanita-wanita di dalam rumah ini terkejut
sekali begitu tiba-tiba terdengar suara dari balik jendela. Dan setelah Rangga
menjelaskannya, mereka baru
bisa bernapas lega. Sementara, Rangga sudah bangkit
berdiri dari kursi yang didudukinya. Tapi belum juga
membuka jendela, mendadak telinganya yang tajam
mendengar suara yang dirasakannya aneh.
Tring! "Pandan...!" desis Rangga jadi tersentak.
Bergegas Pendekar Rajawali Sakti membuka jendela. Dan kedua bola matanya jadi
terbeliak lebar, begitu
melihat Pandan Wangi tengah menghadapi keroyokan
lima orang prajurit bersenjata tombak. Maka seketika
itu pula tubuhnya melesat ke luar menerobos jendela.
Begitu sempurna ilmu meringankan tubuhnya, sehingga dalam sekejapan mata saja
sudah berada di luar.
Namun begitu kakinya menjejak tanah, pertarungan
sudah selesai. Tampak lima orang berseragam prajurit sudah bergelimpangan berlumuran darah.
Sedangkan Pandan
Wangi berdiri tegak di antara kelima orang prajurit itu
dengan kipas terkembang di depan dada. Tubuhnya lalu berbalik begitu mendengar
suara langkah kaki
menghampiri. "Kenapa kau bunuh mereka, Pandan...?" tegur
Rangga langsung.
"Terpaksa, Kakang. Mereka begitu ganas," sahut
Pandan Wangi memberi alasan.
Rangga tidak bisa lagi berkata-kata. Bergegas dihampirinya lima orang prajurit
yang sudah tidak bernyawa lagi. Lalu dipanggulnya dua orang prajurit di
pundaknya. Dan seorang lagi dikepit dengan tangan
kanan. Sebentar Pendekar Rajawali Sakti menatap
Pandan Wangi. "Ayo bantu aku. Singkirkan mereka semua dari sini," pinta Rangga.
Pandan Wangi hanya mengangkat pundak sedikit,
kemudian mengepit dua orang prajurit di tangan kanan dan kirinya. Dengan
mempergunakan tenaga dalam, dua tubuh yang pasti sangat berat itu bagaikan
segumpal kapas saja di tangan gadis yang berjuluk si
Kipas Maut ini. Dan tanpa bicara lagi, mereka langsung melesat cepat bagai kilat
membawa lima orang
prajurit yang sudah tidak bernyawa lagi.
Sementara semua yang dilakukan kedua pendekar
muda itu terus diperhatikan oleh Nyi Junta dari dalam
rumah. Perempuan tua itu sampai terlongong bengong
melihat kedua anak muda itu lincah sekali berlari secepat kilat, sambil membawa
beban yang tidak akan
mungkin bisa dilakukan orang biasa.
Begitu terkagumnya, sampai perempuan tua itu tidak menyadari kalau terus berdiri
di depan jendela
yang terbuka cukup lebar.
"Mak...."
"Oh..."!"
Nyi Junta baru tersadar saat anak gadisnya memanggil. Cepat tubuhnya berbalik.
Sementara, Rangga
dan Pandan Wangi sudah tidak terlihat lagi bayangannya. Entah pergi ke mana
kedua pendekar muda itu.
"Jendelanya, Mak...," Ratna mengingatkan.
"Oh.... Eh, iya...."
Nyi Junta jadi tergagap. Buru-buru tubuhnya diputar lagi, dan hendak menutup jendela. Tapi belum juga
bisa menutup jendela itu, mendadak saja Rangga dan
Pandan Wangi sudah berdiri di depan jendela itu. Akibatnya, Nyi Junta jadi
terpekik kaget.
"Oh.... Maaf, Nyi," ucap Rangga buru-buru, seperti
tidak sadar kalau kemunculannya mengejutkan perempuan tua itu.
Nyi Junta menarik napas panjang-panjang.
"Ayo cepat, masuk...," kata Nyi Junta setelah bisa
tenang. Kedua pendekar muda itu segera berlompatan masuk ke dalam rumah. Nyi Junta
bergegas menutup
jendela kembali. Kemudian nyala api pelita di dalam
ruangan ini dikecilkannya. Sementara Pandan Wangi
mengedarkan pandangan ke sekeliling, kemudian melangkah menghampiri dua orang
wanita muda yang
duduk di atas balai-balai bambu. Gadis itu langsung
mengenalkan diri dengan senyum dibuat sangat ramah.
"Maaf, Anak Muda. Sebenarnya siapa kalian ini...?"
tanya Nyi Junta, setelah cukup lama tidak ada yang
membuka suara. Pandan Wangi yang sudah membuka mulutnya
hendak menjawab, langsung mengatupkannya kembali
begitu melihat lirikan mata Rangga yang sangat tajam.
Dan gadis itu lalu duduk di tepi balai-balai bambu beralas tikar lusuh, di
sebelah kanan Ratna. Sedangkan
Rangga kembali duduk di kursi yang tadi didudukinya.
"Kami berdua bukan siapa-siapa, Nyi. Kami...."
"Kau jangan berdusta, Anak Muda. Suamiku dulu
juga orang persilatan. Dan sedikitnya, aku mengetahui
dunia persilatan. Kau pasti datang dari sana," potong
Nyi Junta cepat, memutuskan ucapan Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga hanya diam saja. Matanya lalu melirik sedikit pada Pandan Wangi yang juga
hanya diam membisu, berpura-pura tidak mendengarkan pembicaraan
itu. Memang kalau Rangga sudah melarang dengan lirikan saja, Pandan Wangi tidak
akan membuka mulut.
"Anak muda! Aku sudah puluhan tahun tinggal di
kotaraja ini. Dan aku tahu betul kalau tidak ada satu
padepokan pun yang berdiri di sekitar kota ini," kata
Nyi Junta lagi. "Jadi, kau tidak perlu menyembunyikan
diri dariku. Katakan saja yang sebenarnya. Kalau kau
memang bertujuan baik, sudah tentu aku juga tidak
akan membiarkanmu begitu saja. Dan aku akan membantumu, semampuku."
"Terima kasih, Nyi," ucap Rangga pelan, sambil
menghembuskan napas panjang.
Sejenak Pendekar Rajawali Sakti terdiam, lalu melirik Pandan Wangi lagi. Tapi
begitu dilirik, Pandan
Wangi langsung memandang ke arah lain, seakan tidak
ingin membantu Rangga yang sedang kelabakan ditodong dengan kata-kata yang tidak
mungkin bisa dielakkan lagi. Rangga hanya dapat menghela napas
panjang saja. Sikap Pandan Wangi seperti itu, memang
diperlukan. Tapi, terkadang juga sangat menjengkelkan. Dan Rangga tidak bisa
berbuat apa-apa lagi. Pertanyaan Nyi Junta harus dijawab seorang diri. Sedangkan
Pandan Wangi seakan sudah tidak mau peduli lagi
*** Rangga memang tidak punya pilihan lain lagi. Semula, dia dan juga Pandan Wangi
ingin merahasiakan
diri. Demikian pula keberadaannya di Kotaraja Jatigelang ini. Dan setelah Nyi
Junta mendesak dengan katakata dan pertanyaan memojokkan, Pendekar Rajawali
Sakti tidak dapat lagi berbuat apa-apa. Maka mau tak
mau dijelaskanlah dirinya yang sebenarnya, serta keberadaannya di kota ini.
Begitu tahu kalau pemuda itu adalah seorang pendekar pengembara, seketika raut
wajah Nyi Junta yang
tadi terselimut mendung, jadi bercahaya penuh harapan. Walaupun nyawa suaminya
yang mati dibunuh
para prajurit tidak bisa dikembalikan, tapi setidaknya
ada harapan kalau menantunya bisa kembali berkumpul di rumah ini.
"Jadi, kau di sini tidak hanya berdua, Rangga?" ujar
Nyi Junta setelah Rangga menyelesaikan bicaranya.
"Ya! Semula ada empat orang lagi. Tapi sekarang
aku tidak tahu di mana mereka berada. Kami berpisah
setelah terjadi keributan dengan para prajurit," jawab
Rangga. "Kota ini memang sudah berubah jauh, tidak seperti
dulu. Prajurit-prajurit dan panglimanya tidak lagi menjadi pelindung rakyat,


Pendekar Rajawali Sakti 103 Gadis Bertudung Bambu di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tapi sudah seperti gerombolan
liar saja. Kau sudah melihat perbuatan mereka, Rangga. Memang seperti inilah
keadaannya sekarang. Kehidupan kami semua jadi semakin sulit Dan kalau terjadi
sesuatu sedikit saja, tidak sedikit rakyat yang menjadi korban," keluh Nyi
Junta. "Sudah berapa lama keadaan seperti ini berlangsung, Nyi?" tanya Pandan Wangi,
yang sejak tadi diam
saja membisu. "Sejak Gusti Prabu Gelangsaka naik takhta," sahut
Nyi Junta pelan.
"Benar, Kak...," selak Ratna. "Dulu tidak begini. Sejak Gusti Prabu Gelangsaka
naik takhta, semua prajurit dan panglimanya jadi liar. Pajak- pajak juga
dinaikkan. Dan yang tidak bisa bayar, harta benda yang dimiliki langsung
dirampas. Kalau sudah tidak ada lagi
barang berharga yang bisa dirampas, prajurit-prajurit
itu menangkapnya. Kalau sudah begitu, kabarnya tidak akan pernah terdengar
lagi." "Benar, Rangga. Aku jadi khawatir terhadap keselamatan menantuku. Padahal, kau
lihat sendiri. Cucuku masih kecil. Dan aku tidak punya anak laki-laki.
Lalu, dari mana kami bisa hidup kalau begini terus
keadaannya...?" keluh Nyi Junta lagi.
"Dan yang lebih aneh lagi, sebenarnya bukan Prabu
Gelangsaka yang naik takhta. Tapi, Gusti Putri Rara
Ayu Diah Arimbi," sambung Ratna.
"Siapa itu Rara Ayu Diah Arimbi?" tanya Pandan
Wangi. "Putri tunggal Gusti Prabu Anom Kusuma. Raja
yang terdahulu, yang sekarang sudah mangkat," jelas
Ratna lagi. "Lalu, Prabu Gelangsaka itu...?" tanya Pandan Wangi lagi, semakin ingin tahu.
"Prabu Gelangsaka tadinya seorang patih. Waktu
Gusti Prabu Anom Kusuma mangkat, Putri Rara Ayu
Diah Arimbi belum cukup usia untuk naik takhta. Dan
yang menjadi kepercayaan Gusti Prabu, hanya Patih
Gelangsaka yang sekarang menjadi raja. Tidak ada
yang tahu, kenapa bisa begitu...," jelas Ratna gamblang.
"Hm.... Dari mana kau tahu semua ini, Ratna?"
tanya Rangga jadi tertarik juga.
"Aku tahu semua dari Bibi Layung."
"Siapa itu Bibi Layung?" desak Pandan Wangi.
"Adik kandung suamiku," sahut Nyi Junta. "Dia
menjadi emban pengasuh Putri Rara Ayu Diah Arimbi.
Sedangkan tadinya, suamiku seorang punggawa. Tapi
dia sudah berhenti, setelah Prabu Anom Kusuma
mangkat. Dan sampai sekarang, aku tidak pernah lagi
mendengar kabar Layung. Juga, Putri Rara Ayu Diah
Arimbi. Yaaah..., semua ini sudah berlangsung tiga tahun."
Rangga dan Pandan Wangi saling berpandangan.
Dan mereka semua jadi terdiam membisu, membuat
suasana di dalam ruangan ini jadi sunyi. Saat itu, terdengar suara langkahlangkah kaki di depan rumah
ini. Seketika tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suara. Mereka jadi saling
melemparkan pandangan, begitu suara langkah kaki yang terdengar dari
luar itu berhenti, tepat di depan rumah ini.
Rangga segera bangkit berdiri, lalu berjalan meninggalkan ruangan tengah ini
menuju ruangan depan.
Tapi tidak lama kemudian, Pendekar Rajawali Sakti
sudah kembali lagi.
"Panglima Sela Gading dan prajurit-prajurit- nya,"
ujar Rangga memberi tahu dengan berbisik pelan.
"Mau apa mereka ke sini...?" tanya Nyi Junta seperti
untuk diri sendiri.
Tapi belum ada yang menjawab pertanyaan perempuan tua itu, sudah terdengar
ketukan di pintu beberapa kali. Dan mereka seketika jadi saling berpandangan
lagi. Nyi Junta bergegas bangkit berdiri, dan melangkah ke ruangan depan setelah
menatap Pendekar
Rajawali Sakti sebentar. Sekilas saja, Nyi Junta sudah
menghilang di ruangan depan. Dan tak lama, terdengar
suara pintu dibuka.
"Malam-malam begini, kau belum juga tidur, Nyi?"
Terdengar suara berat seorang laki-laki. Jelas sekali
terdengar dari suaranya kalau orang itu Panglima Sela
Gading. "Belum," sahut Nyi Junta terdengar malas suaranya.
"Anakmu Dewi, apa sudah tidur?" tanya Panglima
Sela Gading lagi.
"Sudah," sahut Nyi Junta pendek.
"Tidurlah, Nyi. Tutup semua pintu dan jendela. Ada
pembunuh berkeliaran. Baru saja ada laporan, lima
orang prajuritku ditemukan mati di pinggiran kota.
Aku hanya memeriksa saja, Nyi. Yah.... Barangkali saja
kau melihat ada orang tidak dikenal di sekitar rumahmu ini," kata Panglima Sela
Gading, terdengar berat
sekali nada suaranya.
"Tidak ada apa-apa di sini, Gusti Panglima."
"Baiklah, Nyi. Aku permisi saja. Maaf sudah mengganggumu malam-malam."
Nyi Junta hanya mengangguk saja.
"Oh ya, Nyi. Salam untuk Dewi."
Lagi-lagi Nyi Junta hanya menganggukkan kepala
saja. Dan tidak lama kemudian, terdengar pintu ditutup, lalu terdengar suara
langkah-langkah kaki menjauh disertai hentakan kaki kuda. Nyi Junta kembali
lagi ke ruangan tengah, tapi tidak lagi menjumpai
Rangga dan Pandan Wangi di ruangan ini.
"Di mana mereka?" tanya Nyi Junta sambil memandangi kedua anak perempuannya.
"Pergi, lewat pintu belakang," sahut Dewi.
"Kenapa dibiarkan...?"
"Katanya, akan menghadang Panglima Sela Gading,"
sahut Dewi lagi.
"Edan...! Panglima Sela Gading bukan orang sembarangan. Dia membawa banyak
prajurit...!" desis Nyi
Junta, terperanjat.
"Biar saja, Mak. Aku senang kalau Panglima Sela
Gading mati malam ini. Aku benci melihatnya," dengus
Dewi. Nyi Junta hanya diam saja. Dia tahu, sudah sejak
lama Panglima Sela Gading ingin memperistri anak perempuannya ini. Walaupun Dewi sudah punya anak
satu, tapi Panglima Sela Gading seperti tidak peduli.
Bahkan terus saja mengejar, membuat Dewi jadi muak
melihatnya. Apalagi, Panglima Sela Gading sudah lima
orang istrinya. Maka semakin muak saja melihatnya.
Memang, kegemarannya adalah berburu wanitawanita, tidak peduli yang sudah punya
anak dan suami.
"Mudah-mudahan saja anak-anak muda itu bisa
mengatasinya...," desah Nyi Junta perlahan.
*** 6 Malam terus merayap semakin larut. Saat itu, Panglima Sela Gading bersama
sekitar lima puluh orang
prajurit dan lima orang punggawa tengah mengelilingi
kotaraja ini, mencari orang yang telah menewaskan lima orang prajuritnya. Semua
rumah digeledah, dan
semua penghuninya ditanyai. Sampai akhirnya, mereka tiba di pinggiran kota yang
sudah begitu jarang sekali terlihat rumah berdiri.
Keadaan sekitarnya begitu sunyi dan gelap. Malam
ini bulan memang tidak bersinar penuh. Langit tampak
menghitam kelam, tanpa satu bintang pun menghias.
Malam ini memang tidak seperti malam-malam sebelumnya. Angin berhembus begitu
dingin menusuk tulang, membuat tubuh jadi menggigil. Dan kesunyian
begitu terasa, sampai binatang malam pun seakan
enggan memperdengarkan suaranya. Panglima Sela
Gading memerintahkan prajuritnya untuk berhenti.
Kemudian, dia sendiri melompat turun dari punggung
kudanya. Namun baru saja kakinya menjejak tanah, tibatiba....
Wusss...! "Heh"! Ups...!"
Cepat-cepat Panglima Sela Gading memiringkan tubuhnya ke kanan, begitu terlihat
sebuah benda berwarna kuning keemasan meluncur deras ke arahnya.
Maka benda kuning keemasan itu hanya lewat sedikit
saja di depan dada Panglima Sela Gading yang miring
ke kanan, dan langsung menghantam dada seorang
prajurit yang berdiri tepat di belakangnya.
Jleb! "Aaa...!"
Jeritan panjang yang melengking tinggi, membuat
semua prajurit yang berada di belakang Panglima Sela
Gading jadi terperanjat kaget. Tanpa diperintah lagi,
mereka langsung saja menghunus senjata.
"Setan keparat! Keluar kau...!" teriak Panglima Sela
Gading lantang menggelegar.
Namun, jawaban yang datang justru adalah bendabenda berwarna kuning keemasan
yang meluncur cepat bagai kilat, berhamburan menghujani prajuritprajurit itu.
Dan seketika itu juga, kembali terdengar
jeritan-jeritan panjang melengking tinggi, disusul berjatuhannya Prajuritprajurit Kerajaan Jatigelang. Sedangkan Panglima Sela Gading terpaksa harus
berlompatan sambil cepat membabatkan pedangnya,
menghalau benda-benda bulat kecil seperti mata kucing berwarna kuning keemasan
itu. "Hap!"
Tap! "Yeaaah...!"
Begitu berhasil menangkap sebuah benda yang
menghujaninya, dengan kecepatan bagai kilat, Panglima Sela Gading melemparkannya
ke arah datangnya.
Srak! Slap! Tepat di saat benda bulat kecil berwarna kuning
keemasan itu menembus semak, terlihat sebuah
bayangan hijau berkelebat begitu cepat ke luar dari dalam semak. Dan bersamaan
dengan itu, serangan benda-benda kecil berwarna kuning keemasan juga berhenti.
Namun, sudah lebih dari setengah jumlah prajurit yang bergelimpangan saling
tumpang tindih tak
bernyawa lagi. "Hiyaaat...!"
Panglima Sela Gading langsung melesat tinggi ke
udara, mengejar bayangan hijau itu. Dan bagaikan kilat, pedangnya dibabatkan ke
arah bayangan hijau
yang masih berada di udara.
Wuk! Namun sabetan pedang Panglima Sela Gading
hanya mengenai udara kosong saja, karena bayangan
hijau itu sudah demikian cepat meluruk ke bawah.
Panglima Sela Gading bergegas turun. Dan begitu kakinya menjejak tanah, sekitar
satu batang tombak di
depannya sudah berdiri seorang wanita berbaju ketat
warna hijau muda. Kepalanya mengenakan tudung
bambu lebar, sehingga menutupi sebagian besar wajahnya.
"Siapa kau"!" bentak Panglima Sela Gading langsung bertanya.
"Aku pencabut nyawamu, Pengkhianat!" sahut wanita itu, dingin menggetarkan.
"Heh..."!"
Panglima Sela Gading jadi terperanjat mendengar
jawaban atas pertanyaannya tadi. Begitu terkejutnya,
sampai-sampai dia terlompat dua langkah ke belakang.
Dicobanya untuk melihat wajah di balik tudung bambu
itu. Malam yang gelap, dan wajah yang hanya bagian
bibir serta dagunya saja terlihat, memang sulit sekali
untuk bisa mengenali wanita ini.
"Siapa kau, heh..."!" bentak Panglima Sela Gading
lagi. "Sudah kukatakan, aku pencabut nyawamu, Panglima Sela Gading!" sahut wanita itu,
terdengar bernada kesal.
"Setan...! Berani kau menghinaku, heh...!"
"Tidak ada yang ditakutkan pada pengkhianat sepertimu, Panglima Sela Gading.
Yang pantas untukmu,
hanya lubang kubur!"
"Keparat! Kurobek mulutmu, Perempuan Setan!
Hiyaaat...!"
Panglima Sela Gading tidak dapat lagi menahan
kemarahannya. Sambil menggeram dahsyat, langsung
saja panglima itu menyerang dengan kecepatan tinggi
sekali. Pedangnya seketika berkelebat berputar begitu
cepat, langsung mengurung seluruh tubuh wanita bertudung bambu ini.
"Hup! Yeaaah...!"
Namun wanita bertudung bambu ini begitu gesit gerakannya. Sehingga, tebasan
pedang Panglima Sela
Gading tidak satu pun yang mengenai sasaran. Sementara prajurit-prajurit yang
mengiringi panglima itu sudah bergerak rapat mengepung. Mereka memang tinggal
menunggu perintah saja dari panglimanya.
"Hup...!"
Tiba-tiba saja Panglima Sela Gading melompat ke
belakang, langsung menghentikan pertarungannya.
Begitu ringan gerakannya. Sehingga ketika kedua kakinya menjejak tanah, sedikit
pun tidak menimbulkan
suara. Sementara, wanita bertudung bambu itu berdiri
tegak dengan sikap menantang, siap bertarung.
"Seraaang...!"
Panglima Sela Gading memberi perintah dengan suaranya yang lantang menggelegar,
bagai guntur membelah angkasa.
"Hiyaaa...!"
"Yeaaah...!"
Seketika itu juga, para prajurit yang memang sejak
tadi tinggal menunggu perintah, langsung berlompatan
menyerang wanita bertudung bambu ini.
"Hap! Hiyaaat...!"
Sret! Cring! Menghadapi keroyokan yang begitu banyak, tampaknya wanita ini tidak mau
mengambil akibat yang
lebih parah. Dengan cepat, pedangnya dicabut. Langsung saja tubuhnya berlompatan
membabatkan pedangnya dengan cepat, menghajar para prajurit. Dalam
beberapa gebrakan saja, sudah terdengar jeritanjeritan panjang melengking
tinggi, disusul ambruknya
tiga orang prajurit secara bersamaan.
"Hup! Hiyaaat...!"
Wanita bertudung bambu itu tidak berhenti sampai
di situ saja, setelah merobohkan tiga orang prajurit secara bersamaan. Sambil
berteriak nyaring, cepat dia
melompat ke kanan sambil memiringkan tubuhnya sedikit. Dan pedangnya seketika
berkelebat begitu cepat


Pendekar Rajawali Sakti 103 Gadis Bertudung Bambu di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membabat dada seorang prajurit yang berada dekat
dengannya. Begitu cepat sabetannya, sehingga prajurit
itu tidak dapat lagi menghindar.
Cras! "Aaa...!"
Kembali terdengar jeritan panjang melengking tinggi, diiringi ambruknya seorang prajurit dengan dada
terbelah menyemburkan darah segar.
"Hup! Yeaaah...!"
*** Wanita bertudung bambu itu segera menarik kakinya ke belakang satu langkah
sambil menarik tubuhnya hingga doyong ke belakang, begitu Panglima
Sela Gading menyerang dengan membabatkan pedang
ke arah dada. Dan sedikit saja ujung pedang Panglima
Sela Gading lewat di depan dada wanita ini.
"Hup!"
Cepat-cepat wanita bertudung bambu itu melompat
ke belakang. Tapi pada saat itu juga, salah seorang
punggawa yang berada di belakangnya melepaskan satu pukulan keras ke punggung.
Begitu cepat dan tidak
terduga sama sekali serangan punggawa itu, sehingga
wanita bertudung bambu ini tidak sempat lagi menghindar. Terlebih lagi,
keseimbangan tubuhnya belum
sempat dikuasai, akibat menghindari serangan Panglima Sela Gading. Dan pukulan
punggawa itu telah
menghantam punggungnya.
"Akh...!"
Wanita bertudung bambu itu jadi terpekik kecil, dan
tubuhnya kontan terdorong ke belakang tiga langkah.
Pada saat itu juga, Panglima Sela Gading sudah melompat menerjang sambil
melepaskan satu tendangan
keras menggeledek, disertai pengerahan tenaga dalam
tinggi. "Hiyaaa...!"
"Ikh..."!"
Wanita bertudung itu tampak terkejut. Maka cepatcepat tangan kirinya dikibaskan,
untuk melindungi
dadanya dari tendangan Panglima Sela Gading. Hingga.... Plak! "Akh...!"
"Ukh!"
Mereka sama-sama terpental ke belakang, begitu telapak kaki Panglima Sela Gading
menghantam lengan
wanita bertudung yang menyilang di depan dada itu.
Tampak panglima itu meringis menahan nyeri pada telapak tangan kanannya.
Sedangkan wanita bertudung
ini merasakan, seakan-akan tulang tangan kirinya remuk, akibat menangkis
tendangan bertenaga dalam
tinggi. "Hiyaaat...!"
Bet! Dan belum lagi wanita bertudung itu bisa menguasai keadaan, seorang prajurit
yang berada di sebelah
kiri sudah melompat, sambil menghunjamkan tombaknya yang panjang ke arah
lambung. "Hih!"
Wuk! Trak! Cepat sekali wanita bertudung bambu itu mengibaskan pedangnya, membabat tombak
prajurit ini. Seketika, tombak itu patah jadi dua bagian. Dan dengan
kecepatan bagai kilat, wanita itu mengibaskan pedangnya setengah berputar.
"Yeaaah...!"
Bret! "Aaa...!"
Jeritan panjang melengking tinggi kembali terdengar
menyayat. Prajurit yang menyerang dengan tombak tadi, kini terhuyung-huyung ke
belakang sambil mendekap dadanya yang terbelah mengeluarkan darah.
"Seraaang...!" teriak Panglima Sela Gading, memberi
perintah. "Hiyaaat...!"
"Yeaaah...!"
Kembali wanita bertudung bambu itu dikeroyok puluhan prajurit. Sementara,
Panglima Sela Gading sendiri terus menerjang, sambil berteriak-teriak memberi
semangat. Serangan dari segala arah ini membuat wanita itu jadi kelabakan juga.
Tubuhnya berlompatan
sambil memutar cepat pedangnya, untuk melindungi
diri dari sabetan pedang dan hunjaman tombak.
Namun di saat keadaannya tengah terdesak begitu
hebat, tiba-tiba saja terdengar jeritan-jeritan panjang
melengking tinggi yang saling susul dari bagian belakang para prajurit. Dan saat
itu juga, terlihat beberapa
prajurit yang mengeroyok wanita bertudung bambu ini
berpelantingan, roboh tak bangun-bangun lagi.
"Heh..."! Apa itu..."!" desis Panglima Sela Gading
terperanjat. Keterkejutan Panglima Sela Gading cepat terjawab
oleh terlihatnya sepasang anak muda yang tengah
mengamuk menghajar prajurit-prajurit. Amukan kedua anak muda itu membuat
kepungan prajurit ini jadi berantakan. Dan kesempatan yang hanya sedikit ini,
tidak disia-siakan wanita bertudung bambu itu. Dengan sisa-sisa tenaga dan
kekuatannya, dia melompat
sambil membabatkan pedangnya diiringi teriakan keras menggelegar.
"Hiyaaat...!"
Bet! Cras! "Aaa...!"
Jeritan-jeritan menyayat mengiringi kematian pun
semakin sering terdengar saling susul. Dan tubuhtubuh bersimbah darah semakin
banyak bergelimpangan di sekitar pertarungan. Sementara, Panglima Sela
Gading jadi terperangah melihatnya. Kini tinggal beberapa orang lagi prajuritnya
yang masih bertahan.
"Setan! Bisa mati aku, kalau begini terus...," dengus
Panglima Sela Gading. "Hup! Yeaaah...!"
Begitu merasa ada kesempatan, cepat sekali Panglima Sela Gading melompat keluar
dari kancah pertarungan. Dia langsung naik ke punggung kudanya, dan
cepat menggebahnya.
"Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"
Kuda coklat berbelang putih milik Panglima Sela
Gading segera melesat bagai anak panah lepas dari
busurnya. Sementara, sisa prajurit yang ditinggalkan
tidak dapat lagi menahan gempuran tiga orang lawannya yang memiliki tingkat
kepandaian tinggi. Hingga
dalam waktu tidak berapa lama saja, mereka semua
sudah bergelimpangan tak bangun-bangun lagi.
Kini di tempat pertarungan, terlihat seorang pemuda tampan berbaju rompi putih
berdiri tegak di samping kanan gadis cantik berbaju biru muda. Dan di depan
mereka, berdiri wanita bertudung bambu yang
mengenakan baju warna hijau muda ketat, sehingga
membentuk tubuhnya yang indah.
"Terima kasih, kalian sudah membantuku. Kalau tidak ada kalian, aku pasti sudah
mati tercincang," ucap
wanita bertudung bambu itu.
"Kebetulan saja kami berdua memang sedang mengejar mereka semua," kata Rangga.
"Oh..."! Apa persoalan kalian dengan Prajurit- prajurit Jatigelang?" tanya
wanita bertudung itu tampak
terkejut. "Hanya mencoba menghentikan tindakan liar mereka saja. Terutama sekali
panglimanya," sahut Rangga
kalem. "Sayang, dia bisa lolos," selak Pandan Wangi agak
mendengus. "Hm...," wanita bertudung bambu itu menggumam
kecil. *** Brak! "Goblok...!"
Sebuah meja dari kayu jati yang cukup tebal seketika hancur berkeping-keping,
terhantam pukulan keras
dari tangan yang kekar dan berotot. Tampak Prabu Gelangsaka berdiri tegak di
samping meja yang hancur
berantakan. Di depannya, terlihat Panglima Sela Gading duduk bersimpuh dengan
kepala tertunduk begitu
dalam, seakan tidak sanggup memandang wajah Prabu
Gelangsaka yang memerah menahan kemurkaannya.
"Berapa orang prajurit yang kau bawa, Panglima?"
tanya Prabu Gelangsaka.
"Sekitar lima puluh orang, Gusti Prabu," sahut Panglima Sela Gading.
"Lima puluh orang tidak sanggup menghadapi tiga
orang..."!" tinggi sekali nada suara Prabu Gelangsaka.
"Memalukan...! Kau tidak ada gunanya, Panglima."
"Tapi, Gusti.... Mereka sangat tangguh dan berkepandaian tinggi. Mereka bukan
tandingan para prajurit, Gusti."
"Aku tidak sudi mendengar alasan apa pun darimu,
Panglima! Sekarang juga, siapkan seribu prajurit. Bunuh mereka semua.
Mengerti..."!"
"Hamba, Gusti Prabu."
Setelah menyembah memberi hormat dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan
hidung, Panglima Sela Gading beranjak pergi meninggalkan Balai
Sema Agung Istana Jatigelang ini. Begitu berada di
luar, langsung ditemuinya para panglima lain yang kedudukannya masih berada di
bawahnya. Lalu, mereka
diperintahkan untuk mengumpulkan seribu orang prajurit secepatnya.
Tanpa ada yang membantah, enam orang panglima
itu segera meniup sangkala, untuk mengumpulkan seluruh prajurit di alun-alun
istana. Sebentar saja, alunalun yang luas itu sudah dipenuhi prajurit bersenjata
lengkap. Tampak Panglima Sela Gading didampingi
enam orang panglima bawahannya, berada di punggung kuda masing-masing. Mereka
memeriksa kesiapan para prajurit yang berjumlah sangat besar ini. Dari sekian
banyak prajurit, dia memilih seribu prajurit
yang kelihatan masih segar, kokoh, dan berhati baja.
Dengan jumlah seribu orang, mereka harus menghadapi tiga orang saja. Dan
sebenarnya pula, Panglima
Sela Gading merasa malu melakukannya. Tapi perintah Prabu Gelangsaka tidak bisa
ditolak lagi. Tiga
orang itu harus ditangkap dengan mengerahkan prajurit dalam jumlah sangat besar.
"Perintahkan mereka bergerak ke selatan!" perintah
Panglima Sela Gading.
Maka seketika iring-iringan para prajurit pun bergerak keluar dari lingkungan
benteng istana. Bumi serasa berguncang oleh derap langkah prajurit-prajurit
yang bagaikan sedang menuju medan perang. Mereka
terus bergerak cepat, menuju selatan. Sementara, Panglima Sela Gading yang
didampingi enam orang panglima bawahannya berkuda paling depan.
Kepergian prajurit-prajurit itu tidak terlepas dari
perhatian Prabu Gelangsaka dari balik jendela ruangan
Balai Sema Agung. Tampak jelas dari raut wajahnya,
terpancar kecemasan yang tidak dapat lagi disembunyikan. Hanya tiga orang saja
yang harus dihadapi, tapi harus mengerahkan prajurit dalam jumlah sangat
besar, seperti hendak berperang dengan kerajaan lain.
Dan yang tersisa di istana ini, hanya sekitar seratus
orang prajurit saja.
"Ayah...."
"Oh..."!"
Prabu Gelangsaka tersentak kaget, begitu tiba- tiba
terdengar suara dari belakangnya. Cepat tubuhnya
berputar berbalik. Entah kapan datangnya, tahu-tahu
di depannya kini sudah berdiri Rara Ayu Endang Witarsih.
"Ayah! Apakah tidak terlalu berlebihan dengan
mengerahkan begitu banyak prajurit, hanya untuk
menghadapi perampok-perampok itu...?" ujar Rara Ayu
Endang Witarsih.
"Memang, jumlah mereka hanya tiga orang, Witarsih. Tapi mereka bukan orang-orang
biasa. Aku yakin,
mereka bukan perampok biasa. Tapi, ada maksud tertentu di balik semua ini," kata
Prabu Gelangsaka.
"Maksud, Ayah...?"
"Hm.... Aku menduga, gadis bertudung itu adalah
Rara Ayu Diah Arimbi...," gumam Prabu Gelangsaka
perlahan, seakan bicara pada diri sendiri.
"Mustahil dia masih hidup, Ayah. Bukankah Paman
Panglima Sela Gading sendiri yang membawa mereka
ke dalam hutan, dan membunuhnya di sana bersama
Bibi Layung..." Jadi, mustahil kalau mereka masih hidup, Ayah," bantah Rara Ayu
Endang Witarsih.
Prabu Gelangsaka hanya diam saja, seperti ada
yang tengah dipikirkannya saat ini. Sesuatu yang
membuat hatinya jadi gelisah penuh kecemasan. Kakinya lalu melangkah perlahan,
dan menghenyakkan
tubuhnya di kursi panjang yang ada di dalam ruangan
berukuran besar ini. Sedangkan Rara Ayu Endang Witarsih masih tetap berdiri saja. Bahkan kini berdiri
membelakangi jendela berukuran besar yang terbuka
lebar, membuat cahaya matahari leluasa menerobos
masuk menerangi seluruh ruangan ini.
"Aku ingin istirahat dulu. Jangan ganggu aku, Witarsih," ujar Prabu Gelangsaka,
seraya beranjak pergi
meninggalkan ruangan itu.
Sementara Rara Ayu Endang Witarsih masih tetap
berdiri diam membelakangi jendela. Keningnya terlihat
agak berkerut, pertanda ada sesuatu yang tengah dipikirkannya. Perlahan kakinya
melangkah sambil menghembuskan napas panjang. Namun, ayunan kakinya
tiba-tiba saja terhenti. Dan....
Wusss...! Gadis itu cepat berbalik sambil memiringkan tubuhnya, tepat di saat sebuah benda
bulat kecil berwarna kuning keemasan melesat cepat menerobos dari
jendela. "Hap...!"
Slap! *** 7 Begitu tubuh Rara Ayu Endang Witarsih tegak, dari
luar seseorang berbaju ketat warna hijau muda melesat masuk melalui jendela.
Orang itu mengenakan tudung bambu yang menutupi hampir seluruh kepala
dan wajahnya. Tampak sebilah pedang yang masih berada di dalam warangka
tergenggam di tangan kiri.
"Siapa kau..."!" bentak Rara Ayu Endang Witarsih
agak terperanjat.
"Kau tentu masih mengenali suaraku, Witarsih...."


Pendekar Rajawali Sakti 103 Gadis Bertudung Bambu di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Diah Arimbi...," desis Rara Ayu Endang Witarsih,
langsung bisa mengenali wanita bertudung bambu itu.
"Aku senang kau masih ingat padaku, Witarsih,"
ujar wanita bertudung itu sambil membuka tudung
bambunya. Dan di balik tudung bambu itu, tersingkap seraut
wajah cantik. Bibirnya merah, dan kulit wajahnya putih agak kemerahan. Namun
sorot matanya begitu tajam, seakan hendak menelan Rara Ayu Endang Witarsih
bulat-bulat. Perlahan kakinya melangkah beberapa
tindak mendekati Rara Ayu Endang Witarsih. Tudung
bambunya dilepaskan begitu saja, hingga menggeletak
di lantai yang licin dan berkilat ini.
"Sulit sekali menemuimu, Witarsih. Kau bagai seorang putri raja yang selalu
dikelilingi banyak pengawal," ujar wanita bertudung bambu yang ternyata Diah
Arimbi, putri Raja Kerajaan Jatigelang terdahulu.
"Seharusnya kau sudah mati, Arimbi. Paman Panglima Sela Gading yang
mengatakannya padaku. Kau
mati di ujung pedangnya," agak bergetar terdengar suara Endang Witarsih.
"Hyang Widhi belum menghendaki nyawaku, Witarsih. Seseorang telah menyelamatkan
nyawaku. Sayang
orang sebaik itu juga harus cepat pergi. Aku tidak tahu, ke mana dia pergi. Tapi
aku yakin, keberadaannya
tidak jauh dari istana ini. Dan aku tidak akan mungkin dibiarkan seorang diri
datang ke sini untuk menghukummu. Juga ayahmu, Witarsih."
"A.... Apa yang akan kau lakukan padaku...?" suara
Endang Witarsih terdengar bergetar.
"Hutang nyawa harus dibayar nyawa, Witarsih. Kau
sudah meracuni ibuku sampai mati. Kemudian, kau
racuni juga ayahku. Dan sekarang, kau enak-enakan
menjadi putri raja. Kau telah merampas hakku, Witarsih. Tidak ada hukuman yang lebih pantas lagi untukmu, selain mati...,"
terdengar dingin sekali nada
suara Diah Arimbi.
Seketika wajah Endang Witarsih jadi memucat. Gadis itu langsung ingat peristiwa
beberapa tahun yang
lalu. Memang, dialah yang membubuhi racun ke dalam
minuman Gusti Permaisuri. Dan selang beberapa tahun kemudian, Raja Jatigelang
yang merupakan ayah
dari Diah Arimbi juga diracunnya.
Tapi, sebenarnya semua itu dilakukan atas perintah
ayahnya yang sekarang menjadi raja di Kerajaan Jatigelang ini. Dan dulu, ayahnya
hanya seorang patih.
Kemudian dengan cara yang sangat halus, mereka
berhasil merebut takhta kerajaan ini. Bahkan tidak
ada seorang pun yang mencurigainya. Tapi, dari mana
Diah Arimbi bisa mengetahui rahasia yang selama ini
tertutup rapat...."
Pertanyaan yang bergayut di benak Endang Witarsih cepat terjawab oleh munculnya
seorang laki-laki
tua berjubah putih. Dia masuk ke dalam ruangan ini
dari jendela, sama seperti ketika Diah Arimbi masuk
tadi. "Eyang Jamus...!" desis Endang Witarsih tercekat.
"Sejak semula sebenarnya aku sudah curiga waktu
kau meminta bubuk racun padaku, Witarsih. Tapi
sungguh tidak kusangka kalau racun itu kau gunakan
untuk membunuh Gusti Prabu dan Gusti Permaisuri.
Aku benar-benar menyesali tindakanmu, Witarsih. Rasanya memang tidak ada lagi
hukuman yang pantas
untukmu...," terdengar agak berat suara Eyang Jamus.
Memang setelah Raja Jatigelang yang sebenarnya
tewas diracun, patih yang bernama Gelangsaka merebut tahta dengan menyingkirkan
Diah Arimbi. Gadis
itu dibujuk untuk menuntut ilmu kedigdayaan, namun
di tengah hutan berusaha dibunuh oleh Panglima Sela
Gading. Dan ternyata pembunuhan itu gagal, karena
pada kenyataannya Diah Arimbi masih hidup. Hanya
Dayang Layung saja yang berhasil ditewaskan.
Diah Arimbi yang memang berhasil ditikam Panglima Sela Gading, dan disangka
telah mati, ternyata ditolong oleh seorang pertapa tua yang tinggal di Hutan
Jatiwengker. Dia berguru beberapa tahun, dan berhasil
mencapai tingkat kepandaian yang cukup tinggi.
Selama petualangannya, Diah Arimbi berhasil menguasai sekelompok perampok
setelah berhasil membunuh pemimpinnya. Agar tidak dikenali pihak kerajaan,
Diah Arimbi lalu berganti nama menjadi Nyi Ramit.
Namun, rupanya anak buahnya yang bernama Gondang mengkhianatinya. Padahal, Diah
Arimbi telah menyusun rencana untuk menebus dendamnya pada
Raja Jatigelang yang sekarang, Prabu Gelangsaka.
"Tidak...! Kalian semua sudah mati. Kalian tidak bisa membunuhku...!" jerit
Endang Witarsih, jadi kalap.
"Pergi kalian. Pergiii...!"
Memang Eyang Jamus yang disangka telah mati,
ternyata masih hidup. Waktu itu setelah berhasil
membunuh Raja Jatigelang yang dulu, Prabu Gelangsaka memerintahkan untuk
membunuh Eyang Jamus,
karena takut rahasianya akan terbongkar. Namun,
memang Eyang Jamus belum ditakdirkan mati.
Ketika tubuhnya dilemparkan ke jurang di pinggir
Hutan Jatiwengker, dia tersangkut di sebatang pohon
perdu. Akhirnya, Eyang Jamus berhasil keluar, dan
segera mengobati luka-lukanya akibat dikeroyok para
Panglima Kerajaan Jatigelang, yang termakan fitnah
kalau seakan-akan Eyang Jamuslah yang memberi racun pada ayahanda Diah Arimbi.
Setelah berhasil menyembuhkan luka-lukanya,
Eyang Jamus kemudian pergi ke dalam Hutan Jatiwengker, dan bertemu Diah Arimbi
atau Nyai Ramit. Di
situlah dia menceritakan segala rahasia yang ada di
Kerajaan Jatigelang kepada Diah Arimbi.
Jeritan Endang Witarsih rupanya terdengar beberapa prajurit yang berada tidak
jauh dari ruangan itu.
Dan tahu-tahu, sekitar sepuluh orang prajurit sudah
berada di dalam ruangan besar dan megah ini. Tapi,
mendadak saja wajah mereka jadi terlongong begitu
melihat Diah Arimbi. Tentu saja gadis cantik berbaju
hijau muda ini sudah tidak asing lagi bagi mereka. Walaupun mereka tidak kenal
dengan laki-laki tua yang
berada di sebelahnya.
"Bunuh mereka...!" teriak Endang Witarsih jadi kalap.
Tapi perintah gadis itu seperti tidak didengar oleh
sepuluh orang prajurit yang masih terlongong bengong
ini. Seakan-akan mereka tidak percaya oleh penglihatannya sendiri. Tak lama
kemudian, muncul prajuritprajurit lain ke dalam ruangan ini. Dan mereka juga
jadi terperanjat seperti mimpi, ketika melihat Diah
Arimbi. "Kenapa kalian jadi bengong, heh..."! Bunuh mereka kataku!" bentak Endang
Witarsih kalap.
Teriakan-teriakan Endang Witarsih, rupanya sampai juga ke telinga Prabu
Gelangsaka. Maka laki-laki
setengah baya yang masih kelihatan tegap itu segera
keluar dari kamar peristirahatannya, dan langsung
masuk ke dalam ruangan ini. Dan dia juga jadi terbeliak lebar, begitu melihat
Diah Arimbi ada di dalam
ruangan ini bersama Eyang Jamus.
"Arimbi...," desis Prabu Gelangsaka hampir tidak
terdengar suaranya.
*** Beberapa saat kesunyian melingkupi ruangan Balai
Sema Agung Istana Jatigelang ini. Tiga puluh lebih
prajurit sudah berada di dalam ruangan itu, tapi tidak
ada seorang pun yang berani bergerak dari tempatnya.
Sementara, Prabu Gelangsaka seperti terbius memandangi Diah Arimbi, tidak
percaya oleh penglihatannya
sendiri. "Tidak.... Kau sudah mati, Arimbi. Kau sudah mati...," desis Prabu Gelangsaka
seraya menggelengkan
kepala perlahan beberapa kali.
"Aku belum mati, Paman Gelangsaka. Dan sekarang, aku datang untuk meminta
tanggung jawabmu,"
ujar Diah Arimbi tegas.
"Tidak ada yang bisa kau tuntut dariku, Arimbi,"
desis Prabu Gelangsaka.
Sret! Prabu Gelangsaka langsung saja mencabut pedangnya. Sedangkan Endang Witarsih
sudah sejak tadi
menggenggam sebilah pedang pendek yang selalu terselip di pinggangnya.
"Kau sudah mati, Arimbi...," desis Prabu Gelangsaka agak bergetar.
Perlahan laki-laki setengah baya itu melangkah
menghampiri gadis berbaju hijau muda itu. Pedangnya
yang berkilatan terhunus lurus ke depan, ke dada Diah Arimbi.
"Mungkin waktu itu Panglima Sela Gading mendustaiku. Tapi sekarang, kau harus
mati di tanganku,
Arimbi." Semakin dekat saja jarak Prabu Gelangsaka dengan
Diah Arimbi. Tapi kelihatannya, gadis cantik ini tetap
tenang, tanpa bergeming sedikit pun juga. Padahal,
ujung pedang Prabu Gelangsaka sudah begitu dekat
dengan dadanya.
"Mampus kau, Arimbi! Hih...!"
"Haiiit...!"
Cepat sekali Diah Arimbi mengegoskan tubuhnya ke
kanan, tepat di saat Prabu Gelangsaka menusukkan
pedangnya. Dan mata pedang yang berkilatan itu
hanya lewat sedikit saja di depan dada Arimbi.
"Yeaaah...!"
Bagaikan kilat, Diah Arimbi menghentakkan kakinya. Langsung dilepaskannya
tendangan keras disertai pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi, dengan tubuh
masih tetap doyong ke kanan.
"Hih!"
Wut! Namun Prabu Gelangsaka memang bukan tokoh
kosong. Begitu kaki Diah Arimbi terhentak, cepat sekali pedangnya diputar ke
arah kaki. Arimbi jadi terhentak kaget, tidak menyangka. Cepat-cepat kakinya
ditarik pulang, dan melompat ke belakang dua langkah.
"Serang! Bunuh mereka...!" teriak Prabu Gelangsaka
keras menggelegar.
Tapi tidak ada seorang prajurit pun yang bergerak
menyerang, mematuhi perintah itu. Dan ini membuat
Prabu Gelangsaka jadi terhenyak. Cepat kakinya ditarik ke belakang tiga langkah.
Dipandanginya prajuritprajurit yang ada di sekitar ruangan ini yang hanya diam
saja seperti patung.
"Prajurit goblok! Sebaiknya kalian mampus saja semua! Hih...!"
Sambil mendesis geram, Prabu Gelangsaka cepat
menghentakkan tangan kirinya. Dan seketika itu juga,
melesat beberapa bilah pisau kecil ke arah para prajurit yang berada di sebelah
kirinya. Begitu cepatnya pisau-pisau kecil itu melesat, sehingga para prajurit
hanya bisa terbeliak, tanpa dapat menghindar lagi.
Crab! "Aaa...!"
Jeritan-jeritan melengking seketika terdengar menyayat, disusul robohnya
beberapa prajurit yang terkena sambaran pisau-pisau yang dilemparkan Prabu
Gelangsaka. "Witarsih! Bunuh mereka semua!" teriak Prabu Gelangsaka memerintah anak
gadisnya. "Hup! Hiyaaat...!"
Tanpa diperintah dua kali, Endang Witarsih langsung saja melompat menerjang para
prajurit yang tidak lagi mematuhi perintah ayahnya. Gerakan gadis
itu memang sangat luar biasa cepatnya. Sehingga dalam beberapa kibasan pedang
saja, sudah tergeletak
sekitar lima orang prajurit
"Hiyaaat..!"
Prabu Gelangsaka langsung melompat menyerang
Diah Arimbi. Pedangnya berputaran begitu cepat, mengibas mengurung setiap gerak
gadis ini. Sementara dari arah lain, jeritan-jeritan melengking tinggi terdengar
saling sambut, disusul ambruknya tubuh-tubuh berlumuran darah. Memang, Endang
Witarsih mengamuk
bagaikan singa betina yang terluka.
"Edan...! Benar-benar iblis mereka!" desis Eyang
Jamus yang sejak tadi hanya diam saja tanpa bertindak apa-apa.
Namun melihat keganasan Endang Witarsih, Eyang
Jamus tidak dapat lagi menahan diri. Dan....
"Mundur kalian semua...! Hup! Yeaaah!"
Sambil berteriak lantang menggelegar, Eyang Jamus
langsung saja melesat cepat bagai kilat menerjang Endang Witarsih. Dan secepat
itu pula dilepaskannya satu pukulan yang sangat keras, tepat mengarah ke kepala
gadis ini. "Haiiit...!"
Endang Witarsih memang bukan gadis lemah. Dengan sedikit mengegoskan kepala
saja, pukulan yang dilepaskan Eyang Jamus berhasil dihindari. Namun belum juga
kepalanya bisa ditarik tegak kembali, Eyang
Jamus sudah menyerang lagi dengan kecepatan luar
biasa. Wusss! Namun pada saat yang tepat, tiba-tiba saja Prabu
Gelangsaka menghentakkan tangan kirinya ke arah
Eyang Jamus. Padahal, saat itu dia sedang menghadapi Diah Arimbi. Maka seketika
sebilah pisau kecil melesat begitu cepat bagai anak panah terlepas dari busur.
Dan Eyang Jamus benar-benar tidak tahu akan
mendapat serangan dari belakang seperti itu. Karena
pada saat yang sama, dia tengah melancarkan serangan terhadap Endang Witarsih.
Sehingga.... Jleb! "Aaa...!"
*** "Eyang...!"
Diah Arimbi jadi terpekik, begitu melihat Eyang Jamus terhuyung-huyung setelah
punggungnya tertembus pisau kecil yang dilemparkan Prabu Gelangsaka
dari belakang. Dan tentu saja pekikan itu membuat
Diah Arimbi jadi lengah, sehingga kesempatan ini tidak
disia-siakan Prabu Gelangsaka. Maka dengan kecepatan kilat, dilepaskannya satu
pukulan yang sangat keras, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Begitu
cepat pukulannya, sehingga Diah Arimbi tidak dapat
lagi berkelit. Des! "Akh...!"
Diah Arimbi terpental deras sekali ke belakang, begitu pukulan Prabu Gelangsaka
mendarat telak di dadanya. Hampir saja punggung gadis itu menghantam
dinding. Untung saja sebuah bayangan putih tiba-tiba
saja berkelebat begitu cepat, dan langsung menyambarnya. Tampak seorang pemuda
tampan berbaju

Pendekar Rajawali Sakti 103 Gadis Bertudung Bambu di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

rompi putih tengah memeluk Diah Arimbi dari belakang. Dan tidak berapa lama
kemudian, terlihat seorang gadis berbaju biru muda, dengan paras wajah
cantik, muncul dari jendela. Gadis berbaju biru yang
tidak lain Pandan Wangi itu langsung menghampiri
pemuda berbaju rompi putih yang masih menyangga
tubuh Diah Arimbi. Pemuda tampan yang memang
Rangga, dan dikenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti
itu segera menyerahkan Diah Arimbi kepada Pandan
Wangi. Dan tampaknya, Diah Arimbi tidak sadar diri
setelah mendapat pukulan yang sangat keras dari Prabu Gelangsaka.
"Bawa keluar, Pandan," pinta Rangga.
Tanpa diminta dua kali, Pandan Wangi segera memapah tubuh Diah Arimbi yang
pingsan akibat terkena
pukulan keras di dadanya tadi. Langsung gadis itu melompat keluar melalui
jendela, setelah memanggul tubuh Diah Arimbi di pundaknya.
Sementara itu, terlihat Endang Witarsih sudah melompat sambil mengarahkan
pedangnya pada dada
Eyang Jamus yang masih terhuyung limbung.
"Hup! Yeaaah...!"
Slap! Melihat hal itu, cepat sekali Rangga melesat. Maka
langsung disambarnya tubuh Eyang Jamus. Dan secepat kilat pula dilepaskannya
satu pukulan yang tidak
begitu keras ke arah dada Endang Witarsih. Begitu cepat dan tiba-tiba sekali
datangnya, sehingga membuat
Endang Witarsih jadi terpekik kaget.
"Ikh"! Hup...!"
Cepat-cepat Endang Witarsih melompat ke belakang, membatalkan serangannya. Dan
pada kesempatan yang sangat sedikit ini, Rangga segera melesat pergi sambil
membawa Eyang Jamus di pundaknya. Begitu cepat dan sempurna ilmu meringankan
tubuhnya, sehingga belum juga ada yang bisa menyadari, bayangan tubuh Pendekar Rajawali
Sakti sudah lenyap tak
terlihat lagi. "Prajurit goblok! Cepat kejar...!" bentak Prabu Gelangsaka jadi berang pada
prajuritnya yang masih tersisa.
Tapi prajurit-prajurit itu hanya diam saja, seperti
tidak mendengar teriakan Prabu Gelangsaka. Dan ini
tentu saja membuat amarah Prabu Gelangsaka jadi
memuncak. "Keparat! Kalian sudah berani membangkang,
heh..."!" bentak Prabu Gelangsaka berang.
Prajurit-prajurit yang sebagian sudah bergelimpangan berlumuran darah akibat
amukan Endang Witarsih, malah bergerak maju mendekati Prabu Gelangsaka
dan anak gadisnya. Tampak berada paling depan adalah seorang punggawa berusia
muda. Pedang yang tergenggam di tangan kanannya terangkat naik perlahan,
dan ditujukan lurus ke wajah Prabu Gelangsaka. Akibatnya, laki-laki setengah
baya itu jadi terkesiap.
"Terbongkar sudah kelicikanmu, Gelangsaka. Sekarang juga kau harus turun
takhta...!" dingin sekali suara punggawa itu.
Kemunculan Diah Arimbi memang membuat prajurit-prajurit itu sudah mengerti, apa
yang sesungguhnya sedang terjadi di kerajaan ini. Dan mereka kini tahu, kalau
raja mereka yang terdahulu tewas akibat diracuni. Kata-kata yang diucapkan Diah Arimbi tadi,
seakan-akan membuat mata mereka terbuka.
"Setan keparat..! Mampus kalian semua. Hiyaaat..!"
Prabu Gelangsaka tidak dapat lagi menahan kemarahannya. Sambil memaki dan
berteriak keras menggelegar, kedua tangannya cepat dikibaskan, setelah
memasukkan pedangnya ke dalam warangka di pinggang.
Dan seketika itu juga, pisau-pisau kecil berhamburan
dari kedua telapak tangan Raja Jatigelang ini.
"Hiyaaat...!"
Pada saat yang bersamaan, Endang Witarsih melompat sambil cepat membabatkan
pedangnya bagai
kilat. Maka jeritan-jeritan mengiringi kematian pun
terdengar saling sambut, disusul ambruknya tubuhtubuh berlumuran darah tak
bernyawa lagi. Dan dalam waktu tidak berapa lama saja, mereka semua sudah
bergelimpangan tidak bernyawa lagi. Lantai yang
semula licin berkilat, kini tersiram darah menggenang.
"Huh...!"
Prabu Gelangsaka menghembuskan napas berat
sambil memandangi prajurit-prajuritnya yang bergelimpangan saling tumpang tindih
tak bernyawa lagi.
Sementara, Endang Witarsih menghampiri ayahnya
dan berdiri di sebelah kanannya.
"Kumpulkan orang-orang kita, Witarsih. Kita harus
siap menghadapi keparat-keparat itu. Akan kupenggal
leher mereka satu persatu!" perintah Prabu Gelangsaka dengan suara mendengus
berat. "Baik, Ayah," sahut Endang Witarsih.
*** 8 Sementara itu, Rangga dan Pandan Wangi yang
membawa Eyang Jamus dan Diah Arimbi tiba di rumah Nyi Junta, yang masih setia
pada keluarga kerajaan. Nyi Junta dan kedua anak perempuannya jadi
sibuk, membenahi tempat untuk pewaris tunggal Kerajaan Jatigelang ini. Mereka
memang gembira melihat
junjungannya masih hidup, tapi juga cemas melihat
keadaannya yang terluka dalam akibat terkena pukulan dahsyat bertenaga dalam
tinggi dari Prabu Gelangsaka.
Dengan penyaluran hawa murni yang sudah sempurna, Rangga mencoba menyembuhkan
luka dalam yang diderita Diah Arimbi. Sementara, Pandan Wangi
yang dibantu Ratna dan Dewi, merawat luka di punggung Eyang Jamus.
"Hhh...!"
Rangga menghembuskan napas panjang, setelah selesai menyalurkan hawa murni ke
tubuh gadis pewaris
takhta Kerajaan Jatigelang ini. Sementara, Diah Arimbi
sendiri langsung bersemadi begitu tersadar dari pingsannya. Dan Rangga kemudian
segera menghampiri
Eyang Jamus. Tidak lama Diah Arimbi bersemadi, kemudian sudah membuka matanya. Wajah cantik
yang tadi terlihat pucat, kini sudah kembali segar dan memerah.
Gadis itu lalu bangkit dari balai-balai bambu itu, dan
melangkah menghampiri Eyang Jamus.
"Bagaimana lukamu, Eyang?" tanya Diah Arimbi.
"Tidak parah. Untung hanya pisau biasa. Tidak beracun," sahut Eyang Jamus seraya
tersenyum. Diah Arimbi mengalihkan perhatiannya, menatap
Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri menghadap ke
jendela. Pemuda berbaju rompi putih itu hanya melirik
sekilas, dan kembali mengamati keadaan di luar dari
jendela yang terbuka sedikit. Saat itu terdengar suara
derap kaki kuda yang berjumlah sangat banyak dari
arah luar kota. Dan tidak lama kemudian, terlihat serombongan prajurit yang
dipimpin Panglima Sela Gading.
"Arimbi! Sebaiknya kita cegat mereka sebelum masuk ke dalam istana," kata
Rangga. "Jumlah mereka sangat banyak, Kakang Rangga,"
ujar Diah Arimbi, yang sudah membiasakan memanggil Pendekar Rajawali Sakti
dengan sebutan kakang.
"Yang kita hadapi hanya Panglima Sela Gading. Aku
yakin, prajurit-prajurit itu tidak akan berbuat apa-apa
setelah melihatmu, Arimbi. Kau bisa lihat sendiri, bagaimana sikap prajurit di
istana. Sikap mereka sudah
menunjukkan begitu merindukanmu, Arimbi," tegas
Rangga lagi. Diah Arimbi memandang sebentar pada Eyang Jamus. Dan laki-laki tua itu hanya
tersenyum saja, sambil menganggukkan kepala sedikit.
"Baiklah, Kakang. Ayo kita berangkat sekarang, sebelum mereka mendekati istana,"
kata Diah Arimbi
menyetujui. "Kau ikut, Pandan," ajak Rangga.
"Tapi, bagaimana dengan Eyang Jamus?" tanya
Pandan Wangi. "Aku tidak apa-apa, Nini Pandan. Hanya luka kecil
saja. Pergilah bersama mereka," kata Eyang Jamus
lembut. "Biar aku yang merawatnya, Kak Pandan," selak
Ratna, menawarkan.
Pandan Wangi tersenyum memandangi anak gadis
Nyi Junta itu, kemudian bergegas melangkah keluar,
menyusul Rangga dan Diah Arimbi yang sudah jalan
lebih dulu. Sementara Nyi Junta menutup kembali pintunya rapat-rapat.
"Mudah-mudahan saja perkiraan Pendekar Rajawali
Sakti benar...," desah Eyang Jamus perlahan, seakan
untuk diri sendiri.
Sementara itu Rangga, Pandan Wangi, dan Diah
Arimbi sudah berdiri tegak menghadang rombongan
prajurit Panglima Sela Gading di tengah jalan, jauh dari Istana Kerajaan
Jatigelang. Diah Arimbi sudah mengenakan lagi tudung bambunya yang lebar,
sehingga menutupi sebagian wajahnya. Malam yang sudah sejak
tadi menyelimuti seluruh wilayah Kerajaan Jatigelang
ini, membuat suasana terasa begitu sunyi. Hanya hentakan kaki-kaki kuda saja
yang terdengar, bersamaan
dengan ayunan langkah para prajurit yang berjalan
kaki. "Berhentiii...!" teriak Panglima Sela Gading sambil
mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke atas kepala, begitu melihat tiga
orang berdiri tegak di tengah
jalan dengan sikap menantang.
Dengan gerakan ringan sekali, Panglima Sela Gading melompat turun dari punggung
kudanya, diikuti
panglima-panglima lain yang menjadi bawahannya.
Mereka melangkah tegap mendekati tiga orang yang
berdiri menghadang di tengah jalan itu. Sementara, seluruh prajurit sudah siap
siaga tanpa diperintah lagi.
*** "Bagus.... Rupanya kalian memang mencari mati di
sini. Hhh...! Hanya tiga orang...," dengus Panglima Sela
Gading bernada mengejek.
"Walaupun bertiga, kami sanggup mengobrak-abrik
seluruh pasukanmu, Panglima. Tapi bukan mereka
yang kuinginkan. Hanya kau, Panglima Sela Gading...!"
terdengar sangat dingin nada suara Diah Arimbi.
"Ha ha ha...!"
Panglima Sela Gading jadi tertawa terbahak- bahak
mendengar kata-kata gadis yang selalu mengenakan
tudung bambu itu. Seakan-akan, ucapan Diah Arimbi
sangat menggelitik tenggorokannya, hingga jadi tertawa terbahak-bahak seperti
itu. "Nisanak! Kata-katamu seakan-akan aku punya hutang padamu," ujar Panglima Sela
Gading, setelah tawanya terhenti.
"Kau memang berhutang nyawa padaku, Panglima
Sela Gading," sahut Diah Arimbi dingin.
"Heh..."! Apa katamu..,."!"
"Kau berhutang nyawa padaku, Panglima. Dan sekarang, aku akan menagih nyawamu."
"Keparat...! Berani kau berkata begitu padaku,
heh...! Kurobek mulutmu, Bocah!" geram Panglima Sela Gading jadi berang
seketika. "Aku khawatir, justru mulutmu yang terobek nanti."
"Setan! Hiyaaa...!"
Sret! Cring! Sambil menggeram dahsyat, Panglima Sela Gading
langsung melesat cepat seraya mencabut pedangnya.
Langsung dihantamkannya pedang itu ke kepala gadis
bertudung bambu ini. Namun hanya menarik kakinya
ke belakang dua langkah, tebasan pedang panglima itu
tidak sampai mengenai sasaran. Dan gadis bertudung
bambu itu lalu meliukkan tubuhnya sambil membabatkan pedangnya ke atas.
Wut! "Aikh...!"
Panglima Sela Gading jadi terperanjat. Cepat- cepat
tubuhnya ditarik ke belakang menghindari serangan
balasan gadis bertudung bambu ini. Dan pada saat itu,
Rangga melompat cepat sambil berteriak keras menggelegar.
"Hentikan...!"
"Anak muda, minggir kau...!" bentak Panglima Sela
Gading lantang.
"Panglima Sela Gading, kau tahu siapa yang kau
hadapi ini"!" lantang suara Rangga.
"Phuih! Aku tidak peduli siapa dia!" sahut Panglima
Sela Gading seraya menyemburkan ludahnya.
Panglima itu sudah menyilangkan pedangnya di depan dada, seraya melirik sedikit
pada enam orang panglima yang berada di sebelah kanan agak ke belakang.
Enam orang panglima itu bergerak maju tanpa diminta
lagi dengan kata-kata.
"Tunggu...! Kalian jangan gegabah. Lihat, siapa yang
ada di depan kalian...!" seru Rangga cepat- cepat, begitu melihat gelagat yang
tidak menguntungkan.
Saat itu, Diah Arimbi yang selama ini selalu mengenakan tudung bambu berukuran
lebar, membuka tudungnya. Dan cahaya rembulan yang bersinar penuh
malam ini, langsung menerangi wajahnya yang cantik.
"Ohhh..."!"
Semua panglima, punggawa, dan prajurit jadi terlongong bengong begitu melihat
wanita itu membuka
tudungnya, sehingga seluruh wajahnya yang cantik
terlihat jelas. Bahkan Panglima Sela Gading sendiri
sampai terbeliak, seakan tidak percaya dengan apa
yang dilihatnya.
"Arimbi.... Tidak! Mustahil kau masih hidup...," desis Panglima Sela Gading
masih belum percaya dengan
penglihatannya sendiri.
"Aku memang Diah Arimbi, Paman Sela Gading.
Akulah yang kau tikam dengan pedangmu di hutan.
Tapi, Hyang Widhi belum menghendaki kematianku,"
terasa dingin sekali nada suara Diah Arimbi.
"Tidak.... Kau sudah mati, Arimbi. Kau sudah mati...."
Diah Arimbi melangkah perlahan-lahan, hingga berada di samping Pendekar Rajawali
Sakti. Sementara,
Panglima Sela Gading menarik kakinya ke belakang
beberapa langkah, dengan kepala bergerak menggeleng
beberapa kali. "Heh..."! Kenapa kalian diam saja" Cepat serang,
bunuh mereka...!" teriak Panglima Sela Gading tibatiba.
Tapi tidak ada seorang pun prajurit yang bergerak
mendengar perintah itu. Dan ini membuat Panglima
Sela Gading jadi kebingungan sendiri. Dia berteriakteriak memerintah, tapi tetap


Pendekar Rajawali Sakti 103 Gadis Bertudung Bambu di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

saja tidak ada seorang
pun yang bergerak. Mereka hanya memandangi Diah
Arimbi dan panglima itu bergantian.
"Goblok...! Dia bukan Putri Arimbi. Ayo, bunuh perempuan setan itu...!" teriak
Panglima Sela Gading lagi.
"Kau yang setan, Sela Gading...!"
Tiba-tiba saja salah seorang panglima menyelak
dengan ketus, dan langsung bergerak menghampiri
Panglima Sela Gading. Lima orang panglima lainnya
juga bergerak mengikuti, membuat wajah Panglima Sela Gading jadi memucat pasi
berkeringat dingin. Sementara para prajurit dan punggawa juga sudah mulai
bergerak mengurung panglima ini.
"Tunggu...!" sentak Rangga tiba-tiba.
Pendekar Rajawali Sakti cepat melompat ke depan
Panglima Sela Gading, karena tidak ingin terjadi pembunuhan kejam. Dia tahu,
para panglima, punggawa,
dan prajurit ingin menghukum Panglima Sela Gading.
Dan itu yang tidak diinginkannya.
"Kalian tidak bisa menjatuhkan hukuman begitu
saja. Biarkan dia mendapatkan keadilan dari segala
perbuatannya. Biar Putri Arimbi yang menentukan
hukumannya!" lantang sekali suara Rangga.
Saat itu, Panglima Sela Gading memang sudah tidak lagi bisa berbuat sesuatu.
Seluruh tubuhnya bergetar, sudah bersimbah keringat dingin. Dan wajahnya
kelihatan begitu pucat, seperti tidak pernah teraliri darah.
"Tangkap pengkhianat itu...!" seru Diah Arimbi
sambil menunjuk Panglima Sela Gading.
Dua orang panglima segera bergerak maju meringkus Panglima Sela Gading yang
tampaknya sudah pasrah, tidak ingin cari penyakit. Salah seorang mengambil
pedangnya, dan yang seorang lagi mengikat tubuhnya dengan rantai.
"Bagaimana sekarang, Kakang?" tanya Diah Arimbi
yang sudah berada di samping Rangga lagi.
"Langsung saja ke istana. Kita juga harus menangkap Prabu Gelangsaka dan
putrinya," sahut Rangga.
"Baiklah, Kakang."
Diah Arimbi kemudian memerintahkan pada salah
seorang panglima untuk bergerak ke istana secepatnya. Dan tanpa menunggu waktu
lagi, para panglima,
punggawa, dan prajurit langsung saja bergerak ke Istana Jatigelang. Mereka
bergerak cepat sambil bersorak-sorak mengelu-elukan gadis ini. Teriakan-teriakan
dan seruan-seruan keras, membuat seluruh rakyat di
Kotaraja Jatigelang ini jadi terbangun. Mereka terkejut
mendengar nama pewaris sah kerajaan disebut-sebut.
Dan begitu mengetahui para prajurit itu kini dipimpin
Diah Arimbi, semua rakyat keluar dari dalam rumah
dan langsung ikut bergabung.
Tidak berapa lama, mereka sudah sampai di depan
istana. Mereka langsung menerobos masuk istana tanpa mendapat halangan apa-apa.
Tampak Diah Arimbi
yang masih didampingi Rangga dan Pandan Wangi,
menerobos masuk paling depan. Mereka langsung menuju bangunan istana yang sangat
megah ini dan terus masuk sampai ke dalam.
Namun begitu mereka sampai di ruangan tengah istana, mendadak saja Endang
Witarsih sudah melompat dari atas langit-langit ruangan ini. Langsung pedangnya
disabetkan ke kepala Diah Arimbi.
"Hiyaaat...!"
"Arimbi, awas...!" seru Rangga memperingatkan.
"Hup! Yeaaah...!"
Diah Arimbi memang tidak punya lagi kesempatan
berkelit. Dan pada saat mata pedang Endang Witarsih
hampir membelah kepalanya, Rangga cepat melompat
menerjang Diah Arimbi. Akibatnya, mereka jatuh bergulingan di lantai. Pada saat
yang bersamaan pula,
Pandan Wangi sudah melesat cepat bagai kilat menyerang Endang Witarsih.
"Hiyaaat...!"
Bet! "Haiiit..!"
Trang! Pandan Wangi langsung mengebutkan kipas baja
putihnya, tapi Endang Witarsih manis sekali bisa menangkis dengan pedangnya.
Namun tanpa diduga sama sekali, Pandan Wangi cepat memutar tubuhnya
sambil melepaskan tendangan berputar yang dahsyat
dan mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Begitu cepat serangannya,
sehingga Endang Witarsih tidak sempat lagi berkelit Dan....
Des! "Akh...!"
Endang Witarsih jadi terpekik, begitu telapak kaki
Pandan Wangi menghantam telak dadanya. Dan gadis
itu seketika terpental ke belakang, lalu keras sekali
punggungnya menghantam dinding hingga bergetar
dan retak. Tapi Endang Witarsih hanya mengeluh sedikit saja. Disekanya darah
yang mengalir keluar dari
sudut bibirnya, lalu kembali melangkah terhuyung
menghampiri Pandan Wangi.
Sementara itu, Rangga dan Diah Arimbi sudah berdiri lagi. Diah Arimbi ingin
langsung menyerang Endang Witarsih, tapi Rangga sudah lebih cepat mencegah
dengan mencekal tangan gadis itu. Sedangkan
Pandan Wangi dan Endang Witarsih sudah kembali
bertarung sengit.
"Biarkan mereka bertarung. Sebaiknya, kita cari
Prabu Gelangsaka," kata Rangga.
"Kau tidak perlu mencari aku, Pendekar Rajawali
Sakti!" Sama sekali Rangga tidak terkejut, begitu tiba- tiba
Prabu Gelangsaka sudah muncul di dalam ruangan
ini. Hanya Diah Arimbi yang kelihatan tersentak kaget.
Namun baru saja Rangga memutar tubuhnya, Prabu
Gelangsaka sudah melesat cepat bagai kilat. Langsung
diterjangnya Pendekar Rajawali Sakti.
"Hiyaaa...!"
"Menyingkir, Arimbi. Hup...!"
Cepat Rangga melesat menyambut setelah meminta
Diah Arimbi menyingkir menjauh. Dan secara bersamaan, mereka melepaskan pukulan
keras menggeledek
sambil melayang di udara. Hingga....
Glarrr! Satu ledakan dahsyat seketika terdengar menggelegar, membuat seluruh dinding dan atap bangunan istana ini jadi bergetar, begitu
dua tangan mengandung
pengerahan tenaga dalam tinggi beradu tepat di udara.
Tampak Prabu Gelangsaka terpental deras ke belakang
sambil memekik tertahan.
Sementara, Rangga berputaran beberapa kali di
udara, lalu manis sekali menjejakkan kakinya di lantai
ruangan ini. "Keparat...!" geram Prabu Gelangsaka sambil menyeka darah yang mengalir di sudut
bibirnya. "Kubunuh kau, Bocah Setan! Hiyaaat...!"
Prabu Gelangsaka kembali melompat menerjang
sambil melepaskan beberapa pukulan beruntun yang
sangat cepat dan bertenaga dalam tinggi. Namun dengan menggunakan jurus
'Sembilan Langkah Ajaib',
Rangga bisa mudah menghindari semua serangan.
Dan tampaknya, Pendekar Rajawali Sakti tidak mau
berlarut-larut. Begitu memiliki kesempatan, cepat sekali dilepaskannya satu
pukulan keras dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Begitu cepat pukulannya,
sehingga Prabu Gelangsaka tidak dapat lagi menghindar.
Des! "Aaakh...!"
Kembali Prabu Gelangsaka terdorong ke belakang,
begitu dadanya terkena pukulan keras bertenaga dalam tinggi dari jurus 'Pukulan
Maut Paruh Rajawali'.
Dan tanpa disadari, justru Prabu Gelangsaka mendekati Diah Arimbi. Dan
kesempatan ini memang tidak
bisa disia-siakan begitu saja. Cepat sekali Diah Arimbi
menghunjamkan pedangnya ke punggung laki-laki setengah baya ini.
"Arimbi, jangan...!"
Tapi, seruan Rangga sudah terlambat. Maka....
Bres! "Aaa...!"
Jeritan panjang melengking tinggi terdengar begitu
menyayat. Tampak tubuh Prabu Gelangsaka terhuyung-huyung begitu Diah Arimbi
mencabut pedangnya kembali dari tubuh laki-laki setengah baya ini. Darah kontan
mengucur deras dari punggung, dada, dan
mulutnya. Dan sebentar kemudian, Prabu Gelangsaka
ambruk menggelepar ke lantai. Hanya sebentar saja
tubuhnya masih bergerak mengejang, kemudian diam
tidak bergerak-gerak lagi. Mati.
Jeritan kematian Prabu Gelangsaka, rupanya membuat perhatian Endang Witarsih
jadi terpecah. Dan gadis itu tampak begitu terkejut melihat ayahnya sudah
tergeletak bermandikan darah di depan Diah Arimbi.
"Ayah...!" jerit Endang Witarsih, kalap.
Gadis itu segera menghambur meninggalkan Pandan Wangi yang menjadi lawannya, dan
segera menubruk Prabu Gelangsaka yang tergeletak tak bernyawa
sambil menangis sesenggukan. Sementara itu dari
luar, muncul enam panglima yang diikuti beberapa
punggawa serta patih Kerajaan Jatigelang ini.
Mereka jadi terdiam melihat Endang Witarsih menangis, memeluk tubuh ayahnya yang
berlumur darah sudah tak bernyawa lagi.
"Panglima...," ujar Diah Arimbi seraya melangkah
pergi setelah memutar tubuhnya.
Enam orang panglima itu segera mendekati Endang
Witarsih. Dua orang memegangi lengan gadis itu. Sedangkan empat orang lagi
menggotong tubuh Prabu
Gelangsaka, dan membawanya keluar ruangan ini.
Dua orang panglima yang memegangi tangan Endang
Witarsih, membawanya juga keluar dari ruangan ini.
Sementara Diah Arimbi berdiri tegak mematung di depan jendela, memandang ke luar. Dirayapinya kerumunan prajurit dan rakyat yang
memadati alun-alun
istana ini. "Paman Patih...," ujar Diah Arimbi.
"Hamba, Gusti Putri," sahut salah seorang laki-laki
tua seraya melangkah mendekati.
"Tenangkan semua rakyat. Sebentar lagi, aku keluar," kata Diah Arimbi.
"Hamba, Gusti Putri."
Laki-laki tua itu segera bergerak ke luar. Sementara, Diah Arimbi masih berdiri
tegak menghadap ke jendela yang terbuka lebar. Sambil menghembuskan napas
panjang, tubuhnya berputar berbalik. Namun...
"Heh..."!"
Kedua bola mata gadis itu jadi terbeliak lebar. Ternyata di dalam ruangan ini
tidak lagi terlihat Rangga
dan Pandan Wangi. Diah Arimbi jadi celingukan sendiri. Tapi memang, kedua
pendekar muda itu sudah tidak ada lagi dan entah ke mana perginya.
"Hhh.... Kalian memang pendekar-pendekar sejati.
Terima kasih, Kakang Rangga.... Pandan Wangi..." desah Diah Arimbi cepat
menyadari. Kemudian gadis itu melangkah perlahan meninggalkan ruangan ini. Memang, tidak
ada seorang pun
yang menyadari kalau kedua pendekar muda itu bergabung dengan rakyat,
mendengarkan suara Diah
Arimbi yang kini sudah mengambil alih takhta yang
memang menjadi haknya.
Malam yang semula terasa dingin, kini jadi hangat
penuh teriakan-teriakan gegap gempita menyanjung
Putri Diah Arimbi.
Sementara, para prajurit mulai menjalankan tugasnya. Mereka berjaga-jaga agar
rakyat tidak menyerbu
untuk mengelu-elukan junjungannya. Dan dari tempat
yang agak jauh, dekat pintu gerbang istana ini, Rangga
dan Pandan Wangi terus memandangi dengan bibir
menyunggingkan senyum.
"Ayo, Pandan. Kita lanjutkan perjalanan," ajak
Rangga. Pandan Wangi hanya mengangguk saja. Dan mereka kemudian melangkah meninggalkan
alun-alun Istana Jatigelang. Sementara, suara-suara gaduh penuh
kegembiraan terus terdengar bagai hendak membelah
langit kelam di atas wilayah Kerajaan Jatigelang. Sedangkan dua pendekar muda
dari Karang Setra itu
semakin jauh meninggalkan istana ini.
SELESAI Scan: Clickers Juru Edit: Lovely Peace
PDF: Abu Keisel
https://www.facebook.com/pages/DuniaAbu-Keisel/511652568860978
Riwayat Lie Bouw Pek 11 Pendekar Bayangan Sukma Tiga Ksatria Bertopeng Peristiwa Merah Salju 9

Cari Blog Ini