Ceritasilat Novel Online

Misteri Rimba Keramat 2

Pendekar Rajawali Sakti 132 Misteri Rimba Keramat Bagian 2


"Yah! Paling tidak, kau punya pendirian. Dan kalau memang dianggap benar, maka wajib dipertahankan...," desah Rangga.
"Terima kasih, Kakang...," sahut si gadis dengan wajah cerah dan senyum indah.
*** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 . 132. Misteri Rimba Keramat Bag. 5
16. Oktober 2014 um 10:43
5 ? Kabar mengenai keangkeran Rimba Keramat telah banyak diketahui orang. Dan selama ini, berita itu diterima dengan simpang siur. Sebagian orang mempercayai kalau Rimba Keramat dihuni makhluk halus yang buas dan kejam. Sementara yang lainnya, berpendapat kalau ada sesuatu, yang disembunyikan di dalam Rimba Keramat. Dan pendapat yang belakangan itulah agaknya yang menyebabkan kehadiran banyak tokoh persilatan di tempat ini.
Kini lebih dari dua puluh orang tokoh persilatan telah mengepung Rimba Keramat. Beberapa orang berkumpul menjadi satu kelompok. Sementara yang lain berpencar. Ada yang sendiri-sendiri, ada yang berdua. Untuk sesaat agaknya tidak ada seorang pun yang akan melakukan tindakan. Sedangkan dari arah lain juga mulai berdatangan tokoh-tokoh persilatan. Mereka datang bersama. Suatu harapan bahwa di dalam Rimba Keramat tersimpan harta karun yang tiada terkira nilainya. Dan memang, berita ini pernah dihembus-hembuskan beberapa orang secara rahasia. Dan akhirnya, menjadi kabar burung.
"Hm.... Lebih baik kita mulai! Kalau tidak mereka akan mendahuluinya!" desis salah seorang. Dia tergabung dalam suatu kelompok yang berjumlah sembilan orang.
"Betul katamu, Cakra! Sebaiknya kita lebih dulu ke dalam, sebelum yang lainnya mendahului!" sahut seorang yang bertubuh jangkung, berpakaian coklat.
"Bagaimana dengan para penghuni rimba ini?" tanya kawannya yang bertubuh lebih kecil, dengan wajah khawatir.
"Sukma Gering! Kau boleh pulang dan tidur terus sambil memeluk istrimu kalau masih takut cerita-cerita gila mengenai hantu penghuni rimba ini!" sahut laki-laki yang dipanggil Cakra geram.
"Tapi...," orang yang dipanggil Sukma Gering hendak berkilah.
"Aaah, sudahlah! Kita dibayar Ki Wibisana bukan untuk berdebat, tapi mendapatkan harta karun itu!" potong Cakra.
"He he he...! Sungguh mulia hatimu. Cakra. Betulkah bila harta karun itu didapat, lalu akan diserahkan pada Ki Wibisana?" ejek salah seorang yang bertubuh bulat, terbungkus pakaian biru.
"Sial kau, Tambak Wulung! Kau kira aku begitu dungu, hingga mau menyerahkan harta berlimpah ruah di dalam hutan sana pada si tua bangka bodoh itu" Huh! Dia boleh menunggu sampai kiamat!" sahut Cakra memaki, seraya melangkah mendekati hutan.
Laki-laki bertubuh bulat yang dipanggil Tambak Wulung, kemudian melangkah lebar, mengikuti Cakra yang telah lebih dulu menerobos semak-semak di pinggir hutan.
Melihat apa yang dilakukan kesembilan orang itu, yang lain segera menyusul satu persatu dari arah yang sedikit berbeda. Mereka tampak siap dengan senjata masing-masing. Sikap mereka juga tampak siaga akan segala kemungkinan buruk yang akan menimpa.
"Huh, Setan! Kuntilanak dan segala hantu keparat! Hanya orang-orang dungu yang mempercayai takhyul...!" dengus Cakra berkali-kali, untuk membakar semangat sebagian kawan-kawannya yang mulai ketakutan begitu telah semakin masuk ke dalam Rimba Keramat.
"He he he...! Sebaiknya memang ada kuntilanak. Tapi, berwajah seperti bidadari. Jadi aku akan betah berada di rimba ini meski harus sepuluh abad!" timpal Tambak Wulung.
"Jangan berkata begitu. Setan-setan suka marah kalau kita menganggap rendah...!" kata Sukma Gering mengingatkan.
"Sukma Gering! Kenapa kau tadi ikut, heh"! Bukankah lebih baik mendekap istrimu yang montok itu"!" ejek yang lain.
Mereka semua tertawa terbahak. Namun Sukma Gering sama sekali tidak tersinggung. Matanya jelalatan memandang ke kiri dan kanan, lalu ke atas dan ke bawah. Dia selalu bersiaga akan segala kemungkinan dengan tangan kanan tidak lepas dari hulu goloknya.
"Tenanglah, Sukma Gering. Tidak ada apa-apa di hutan ini, selain harta karun yang akan kita peroleh. Kau tidak perlu takut Jika ada hantu yang akan mengganggumu, biar akan kucekik sampai mati!" kata seorang kawannya.
Dan baru saja orang itu selesai bicara, mendadak.
"Uhhh!"
Laki-laki bertubuh sedang berpakaian merah itu kontan mengeluh kesakitan. Tubuhnya ambruk dan langsung membiru. Di lehernya terlihat semacam buluh bambu yang halus. Nyawanya seketika melayang dari tubuhnya!
"Hei..."!"
Bukan main terkejutnya delapan orang yang lain, melihat keadaan itu. Cakra dan beberapa orang memeriksa keadaan kawannya yang tewas. Sementara tiga orang lainnya berjaga-jaga dengan sikap waspada. Benar saja! Karena....
Set! Set! Tap! "Aaa...!"
Seketika terdengar tiga jeritan saling sambut, disusul robohnya tiga orang lagi. Mereka langsung meregang nyawa seraya memekik tertahan. Bahkan tubuh mereka kontan membiru terkena serangan senjata berupa buluh bambu yang berisi racun ganas!
"Keparat! Siapa yang berani berbuat begini, heh"! Keluar dan tunjukkan tampangmu...!" bentak Cakra garang.
Belum saja kering bentakan Cakra, mendadak....
Plup! "Heh"!"
Cakra cepat bagai kilat melompat ke samping, ketika terasa angin mendesir halus ke arahnya. Sebagai orang berpengalaman dalam rimba persilatan, dia bisa merasakan serangan gelap ini sangat berbahaya. Benar saja. Baru saja dia menghindar....
"Aaakh...!"
Akibatnya sungguh hebat. Dua orang yang berada di belakang Cakra langsung menjerit kesakitan dan ambruk di tanah terkena serangan gelap itu. Mereka langsung meregang nyawa seperti tiga orang sebelumnya.
"Haram jadah! Waspada! Kita menghadapi serangan gelap dari pengecut-pengecut yang tidak berani menunjukkan mukanya!" desis Cakra geram memperingatkan dua orang kawannya yang tersisa, begitu telah bersiaga kembali.
"Aaakh...!"
"Hei..."!"
Pada jarak yang tidak begitu jauh, terdengar beberapa jeritan panjang saling susul. Agaknya, bukan hanya rombongan mereka saja yang mengalami musibah. Tapi, juga menimpa tokoh lain yang sama-sama memasuki Rimba Keramat ini. Beberapa orang yang melihat keadaan itu sudah menjadi ciut nyalinya. Mereka langsung mengambil langkah seribu dengan meninggalkan tempat ini. Namun orang macam Cakra justru malah semakin penasaran. Mereka jadi ingin secepatnya menyingkap latar belakang pembunuhan-pembunuhan yang terjadi.
"Hiiih...!"
Di tengah-tengah rasa penasarannya, mendadak sesosok tubuh berpakaian hitam terkesiap sebentar, namun cepat melesat bagai kilat menyambar ke arah Cakra. Sehingga menimbulkan desir angin kencang. Cakra berkelit ke samping. Dan belum juga dia bersiap, kembali berkelebat bayangan hitam disertai satu sambaran benda berkilatan ke pinggang. Bukan main terkejutnya laki-laki ini melihat serangan sosok bayangan itu yang cepat bukan main. Langsung dia menjatuhkan diri ke tanah. Namun sesuatu benda keras masih sempat menghantam perutnya bagian kiri.
Tak! "Aaakh...!"
Cakra menjerit kesakitan sambil terus bergulingan di tanah.
"Cakra, aku tidak bisa ikut. Aku kembali pulang...!" teriak kawannya yang tak lain Sukma Gering.
Laki-laki itu langsung lari terbirit-birit meninggalkan Cakra yang tengah bergulingan. Dan begitu Cakra bangkit berdiri, langsung datang serangan bertubi-tubi dari sosok tubuh berpakaian hitam.
Sementara itu, Sukma Gering yang telah berlari terbirit-birit, mendadak terjungkal ke tanah disertai jerit kesakitan. Karena ternyata, walaupun tengah menyerang Cakra, sosok berpakaian hitam itu sempat memainkan senjatanya. Seketika, tubuh Sukma Gering membiru terkena racun ganas dari senjata orang berpakaian serba hitam itu.
*** Begitu buruannya tewas, sosok berpakaian hitam itu langsung melenting ke belakang dengan gerakan cepat. Lalu manis sekali kakinya mendarat di tanah, untuk menjaga jarak kalau-kalau lawan yang lainnya melancarkan serangan.
Kini di hadapan Cakra, berdiri sesosok tubuh pendek sebatas pinggang berpakaian serba hitam. Kepalanya agak besar dan rambutnya panjang sepunggung. Tangan kanannya menggenggam sebatang tongkat kecil dari perak, sebesar jari kelingking. Pada ujung-ujungnya mempunyai lubang, hingga tongkat itu seperti berongga. Bisa diduga, apa yang menyebabkan kematian orang-orang itu. Jelas, itu adalah senjata sumpit beracun dari perak yang digunakan manusia bertubuh cebol.
"Pengecut cebol! Kau telah membunuh kawan-kawanku! Kini, terima bagianmu...!" desis Cakra garang.
Tanpa peduli lagi. Cakra langsung menyerang dengan satu kibasan tangan. Sementara manusia cebol itu agaknya tidak banyak bicara. Sama sekali tidak ditimpalinya kata-kata itu. Namun tubuhnya cepat mengegos ke kanan, lalu mengayunkan tangannya menghantam ke arah kepala Cakra sambil melompat.
Wuttt! "Uts!"
Cakra cepat bagai kilat menundukkan kepala. Namun masih terasa angin serangan yang berdesir menyambar di atasnya. Lalu tubuhnya dijatuhkan ke tanah dan bergulingan, seraya mencabut goloknya. Dia langsung berdiri, bersiap menghadapi serangan berikut.
Benar saja. Sosok bertubuh cebol itu sudah mengejarnya, dengan satu tendangan bertenaga dalam tinggi. Melihat hal ini Cakra segera bertindak cepat. Langsung goloknya dikelebatkan, mengincar kaki laki-laki cebol itu.
Bet! "Uts!"
Cepat sekali si cebol menarik pulang serangannya. Dan dia langsung berputaran menghindari tebasan golok Cakra. Bahkan tangan kanannya cepat merogoh ke satu baju bagian dalam. Dan sambil melayang di udara, dimasukkan sesuatu ke dalam sumpitnya. Lalu....
Plup! Plup! Maka seketika itu juga jarum-jarum yang sangat halus melesat ke arah Cakra. Laki-laki itu cepat menjatuhkan diri ke tanah, langsung bergulingan menghindari senjata rahasia ini. Beberapa kali dia memang bisa menghindari. Tapi....
Clap! "Uhhh...!"
Tidak urung beberapa buah jarum beracun menancap di punggung kiri Cakra. Laki-laki itu kontan mengeluh tertahan. Namun dia berusaha bangkit berdiri. Dan belum juga berdiri kokoh, laki-laki cebol yang telah mendarat di tanah, langsung melepaskan tendangan ke arah dadanya. Begitu cepat gerakannya, sehingga....
Desss...! "Aaa...!"
Tubuh Cakra terjungkal beberapa langkah diiringi jerit kematian begitu dadanya terhantam tendangan bertenaga dalam tinggi. Dan ketika ambruk di tanah, tubuhnya langsung membiru tanpa bergerak-gerak lagi. Mati!
"Huh! Hanya memiliki kepandaian rendah saja sudah mau berlagak di Rimba Keramat!" dengus si manusia cebol itu.
Sebentar laki-laki yang usianya sudah cukup tua itu memandang ke sekeliling. Dan telinganya pun mendengar beberapa jerit kematian saling susul. Tampak orang-orang yang tadi banyak menuju hutan ini, sekarang lari ketakutan menyelamatkan diri.
*** "Setan! Agaknya mereka telah mencium harta karun di Rimba Keramat ini...!" dengus seorang laki-laki bertubuh besar, berpakaian hitam juga. Senjatanya berupa golok besar. Wajahnya tampak berkerut geram dan sepasang matanya melotot lebar. Usianya kira-kira lima puluh lima tahun.
"Benar, Ki Warkolo. Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya seorang laki-laki bersenjatakan kapak. "Sebaiknya, kita tanyakan pada Ki Boncel," ajak laki-laki bertubuh besar dan berpakaian hitam yang dipanggil Ki Warkolo.
Manusia cebol yang ternyata bernama Ki Boncel itu terdiam beberapa saat. Tangan kirinya mengusap dagunya yang dihiasi beberapa jenggot menjuntai.
"Hm.... Sesudah ini, pasti akan banyak lagi yang bermunculan. Sementara ini kita belum juga menemukan harta karun itu...," gumam Ki Boncel pelan. "Ki Yudha Paksa! Coba keluarkan petunjuk itu!"
Laki-laki setengah baya dengan kepala memakai blangkon yang dipanggil Ki Yudha Paksa itu mengeluarkan selembar kulit kambing dari saku baju. Diperhatikannya dengan seksama gambar-gambar yang tertera di atasnya. Serentak yang lain segera mendekati Ki Yudha Paksa yang menyandang senjata keris itu. Sementara laki-laki bersenjata kapak. Yang oleh kawan-kawannya sering dipanggil Baureksa tampak mengerutkan keningnya. Dia berdiri di sebelah saudara kembarnya yang bernama Baugorha yang bersenjatakan gada berduri.
Kelima orang ini sebenarnya tidak dikenal dalam dunia persilatan. Sepak terjang mereka pun belum pernah terdengar. Bahkan kehadiran mereka agaknya baru diketahui hari ini oleh para tokoh persilatan, setelah terdengar kabar kalau di Rimba Keramat terdapat harta karun.
"Huh! Sudah tujuh tahun kita berusaha memecahkan rahasia peta harta karun itu. Tapi, belum juga menemukan titik terang!" Ki Warkolo bersungut-sungut kesal.
"Hm.... Aku tetap yakin kalau harta itu berada di dekat lumpur maut. Tepatnya, di sekitar pohon beringin besar, tidak jauh dari situ...," gumam Ki Yudha Paksa, seperti tidak menghiraukan kekesalan kawannya.
"Sejak dulu kau selalu berkata seperti itu. Tapi, mana hasilnya"! Entah sudah berapa kali kita jelajahi daerah itu, tapi hasilnya tetap nihil!" sahut Ki Warkolo.
"Aku hanya tidak tahu, apa arti panah yang menunjuk ke atas ini" Apa kita harus mencarinya ke langit" Di atas pohon beringin ini, jelas tidak ada apa-apa selain sarang burung liar...," lanjut Ki Yudha Paksa seperti pada diri sendiri.
Dan belum juga habis beda pendapat itu, mendadak Ki Boncel memberi isyarat pada keempat kawannya dengan menempelkan telunjuk ke bibir. Seketika mereka segera bersiaga sambil menajamkan pendengaran. Memang saat itu terdengar gemerisik dedaunan. Dan bersamaan dengan itu, berkelebat tiga sosok tubuh dengan ringan, lalu mendarat manis beberapa tombak di depan mereka.
"Ha ha ha...! Jadi inikah hantu-hantu yang berkeliaran di Rimba Keramat..."!" kata seseorang sambil memperdengarkan tawa nyaring.
Kini tiga orang laki-laki bertubuh tegap dan bersenjatakan pedang berdiri tegak dengan mata menyorot tajam. Rata-rata usia mereka tiga puluh tahun.
"Hm.... Tiga Pedang Bermata Perak...! Apa yang kalian lakukan, sehingga jauh-jauh datang ke Rimba Keramat...?" tanya Ki Boncel, sinis.
"Ha ha ha...! Manusia cebol! Agaknya kau kenal juga dengan kami. Hm, bagus! Terus terang, kedatangan kami ke sini karena mendengar bahwa rimba ini dihuni hantu-hantu kejam. Tapi, mana mungkin Tiga Pedang Bermata Perak akan percaya"! Dan kabar lain yang terdengar, ratusan tahun lalu, Ki Welas Asih meninggalkan harta kekayaan yang berlimpah ruah. Dan konon katanya, harta itu ditinggal di rimba ini...!" sahut satu dari tiga laki-laki berjuluk Tiga Pedang Bermata Perak mewakili kedua kawannya.
Laki-laki itu bertubuh agak tinggi. Namanya, Sutageling. Sementara yang berkumis tipis, bernama Sampu Awang. Sedangkan yang terakhir sering dipanggil Somadipura. Nama-nama asli itu agaknya jarang dikenal oleh kalangan persilatan, kecuali julukan mereka sebagai Tiga Pedang Bermata Perak!
"Jadi kalian mengincar harta itu, heh"!" tuding Ki Boncel tanpa basa-basi.
"Pintar juga rupanya kau! Kudengar, harta itu konon tidak akan bisa dimakan tujuh turunan. Bagaimana kalau kita bekerjasama. Dan setelah ditemukan, kita bagi rata...?" tawar Sutageling.
"Tiga Pedang Bermata Perak! Huh! Sebaiknya kalian lekas tinggalkan tempat ini! Kami tidak sudi bekerjasama dengan kalian! Apa yang kau katakan hanya omong kosong belaka. Tahu apa kau dengan segala cerita harta karun itu!" tukas Ki Warkolo, sebelum Ki Boncel menjawab tawaran itu.
"Hm.... Kawanmu ini rupanya memang bodoh, Cebol!"
"Kisanak! Apa yang dikatakannya benar. Kalianlah yang bicara ngawur. Dalam hal ini tidak ada kerjasama. Dan oleh karena itu, tidak ada pula yang perlu dibagi...," sanggah Ki Boncel.
Mendengar itu, wajah Tiga Pedang Bermata Perak tampak berubah. Jelas, mereka agaknya tidak bisa menerima begitu saja jawaban Ki Boncel.
"Kisanak! Jangan main-main denganku! Sekali kami mengatakan kerjasama, tapi kalian telah menampiknya. Itu penghinaan! Dan siapa pun yang berani menghina kami, tidak akan selamat!" geram Sutageling.
"Ha ha ha...! Tiga Pedang Bermata Perak bisanya hanya menakuti orang!" ejek Ki Yudha Paksa sambil ketawa lebar.
"Tiga cacing kurap, pergilah kalian! Perutku mual melihat tingkah kalian yang sok jago!" timpal Baureksa sudah tidak bisa menahan jengkel.
Mendengar kata-kata bernada menghina. Tiga Pedang Bermata Perak semakin marah dengan dada bergemuruh. Baru kali ini mereka dihina sedemikian rupa. Begitu marahnya, sehingga napas mereka sampai mendengus-dengus.
"Setan! Kalian telah berani menghina Tiga Pedang Bermata Perak! Hanya orang-orang sudah bosan hidup yang berani menghina kami!" dengus Sutageling.
"Kalian yang bosan hidup!" sergah Ki Warkolo.
"Rimba Keramat adalah kekuasaan kami. Dan tidak ada seorang pun yang selamat bila telah memasukinya. Tidak juga cacing-cacing kurap seperti kalian!"
"Keparat! Ingin mampus rupanya, heh..."!" Sutageling menggeram seraya mencabut pedang.
Sring! Tindakan itu diikuti Sampu Awang dan Somadipura. Dan tentu saja Ki Boncel dan kawan-kawan tidak mau tinggal diam. Mereka langsung melompat, membuat barisan teratur. Mereka sudah mengepung, dan siap dengan senjata masing-masing.
Sebenarnya, nama Tiga Pedang Bermata Perak cukup menggetarkan kalangan persilatan. Mereka bertiga yang berasal dari Gunung Kampret ini memiliki kepandaian cukup tinggi. Bahkan bisa disejajarkan dengan tokoh-tokoh kelas satu. Maka tidak heran kalau Tiga Pedang Bermata Perak begitu menganggap enteng kelima lawannya.
Dan kelima penghuni Rimba Keramat bukannya tidak menyadari. Namun mereka agaknya ingin memetik keuntungan dari kelengahan Tiga Pedang Bermata Perak yang terlalu menganggap rendah. Ki Boncel dan kawan-kawannya, memang bukanlah tokoh tersohor di kalangan rimba persilatan. Namun, bukan berarti kepandaiannya dianggap rendah!
"Yeaaah...!"
Tiga Pedang Bermata Perak melompat bersamaan membentuk jurus serangan yang disebut 'Pedang Perak Membelah Bumi'. Jurus ini amat mengandalkan kekompakan penyerangan. Dan masing-masing, memiliki serangan hebat dan mengandalkan kegesitan bergerak. Bila salah seorang gagal menyerang, maka yang lain segera melompat menyerang.
Trang! Wuuut! Beberapa saat saja pertarungan tidak dapat dihindari lagi. Tampak Ki Boncel dan kawan-kawannya terpontang-panting menyelamatkan diri menghadapi jurus 'Pedang Perak Membelah Bumi'.
"Ha ha ha...! Hanya begini kemampuan penguasa Rimba Keramat"! Tapi masih ada kesempatan untuk menerima tawaranku, sebelum kalian celaka!" ejek Sutageling sambil terus menyerang.
"Phuih! Apa hebatnya jurusmu"! Kau akan lihat, bagaimana kami mematahkannya!" dengus Ki Boncel menyahut.
Manusia cebol itu lalu melenting ke belakang untuk mendapatkan jarak, diikuti keempat kawannya.
"Kawan-kawan! Perlihatkan pada mereka, bagaimana kehebatan jurus 'Iblis Membelah Awan'...!"
Keempat kawan Ki Boncel segera merubah serangan. Kali ini, mereka memusatkan perhatian pada lawan masing-masing. Ki Boncel menghadang Sutageling. Ki Warkolo dan Ki Yudha Paksa bersiap menerima serangan Sampu Awang. Sedangkan si kembar Baureksa dan Baugorha, menghadapi Somadipura.
"Yeaaa...!"
*** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 " . 132. Misteri Rimba Keramat Bag. 6
16. Oktober 2014 um 10:44
6 ? Dengan jurus 'Iblis Membelah Awan', kali ini keadaan jadi berbalik. Tampak Tiga Pedang Bermata Perak perlahan-lahan mulai kerepotan. Serangan-serangan yang semula kompak, ternyata dapat dipatahkan Ki Boncel dan kawan-kawan. Dan tentu saja hal ini membuat Sutageling marah bukan main. Dia mendengus geram, seraya mencoba memperhebat serangan. Namun sampai sejauh ini dia belum bisa menekan manusia cebol itu.
"He he he...! Kukira kepandaian Tiga Pedang Bermata Perak sangat hebat. Nyatanya, hanya setahi kuku...!" ejek Ki Boncel sambil sesekali melepaskan senjata rahasia yang mengandung racun itu.
Plup! "Uts...!"
Senjata rahasia Ki Boncel memang amat merepotkan Sutageling. Sebab sedikit saja terkena, akibatnya sangat parah. Itu bisa dirasakan dari angin sambarannya yang terasa panas bukan main. Dan ini membuat Sutageling harus berjumpalitan di udara, untuk menghindarinya.
"Kurang ajar! Kau kira aku tidak bisa memecahkan batok kepalamu, heh!" dengus Sutageling, begitu mendaratkan kakinya di tanah.
"He he he...! Kini bertambah lagi kepandaian Tiga Pedang Bermata Perak, menjadi bermulut besar...," sahut Ki Boncel terkekeh-kekeh.
Tubuh cebol itu tiba-tiba melesat cepat, melepaskan tendangan menggeledek bertenaga dalam dahsyat.
"Keparat!" maki Sutageling.
Seketika tubuh Sutageling melompat ke belakang untuk menghindari satu tendangan keras Ki Boncel. Dan begitu kakinya kembali mendarat di tanah, langsung kedua tangannya dihentakkan. Maka terlepaslah pukulan jarak jauh yang amat diandalkan Sutageling.
"Yeaaa...!"
Prasss! Tampak selarik cahaya keperakan meluruk kencang ke arah Ki Boncel. Laki-laki bertubuh kerdil itu sempat terkejut. Namun, dia buru-buru menjatuhkan diri dan terus bergulingan. Rupanya, serangan Sutageling tidak berhenti begitu saja. Pukulan jarak jauhnya terus dilontarkan. Dan ini membuat Ki Boncel harus melenting ke atas. Akibat yang ditimbulkannya sungguh hebat Tanah tempat Ki Boncel bergulingan langsung berlubang besar, menimbulkan ledakan dahsyat terkena pukulan jarak jauh itu.
Begitu berada di udara, Ki Boncel menggeram. Langsung dia melepaskan senjata rahasia lewat sumpit peraknya. Melihat hal itu, Sutageling menghentikan serangan jarak jauh. Tubuhnya langsung berputaran untuk menghindari senjata beracun itu. Namun kesempatan yang hanya sebentar itu tidak disia-siakan Ki Boncel. Dan....
"Hiiih...!"
Ki Boncel langsung menghentakkan telapak tangan kanannya yang terbuka, begitu mendarat di tanah. Seketika dari telapaknya meluncur cahaya kemerahan yang menderu deras ke arah Sutageling. Laki-laki itu terkejut bukan kepalang. Untuk menghindari, jelas tidak mungkin. Apalagi tubuhnya tengah berada di udara. Maka dipapaknya sinar kemerahan itu dengan pukulan jarak jauhnya.
"Heyaaa...!"
Sutageling langsung menghentakkan tangan kanannya ke depan. Maka dari telapaknya yang terbuka meluruk cahaya keperakan yang menyambut sinar kemerahan yang dilepaskan Ki Boncel.
Glarrr! Ledakan keras terdengar menggelegar, begitu dua sinar berbeda jenis bertemu di tengah-tengah. Begitu dahsyatnya sampai tubuh Sutageling terlempar beberapa tombak. Sedangkan Ki Boncel hanya terjajar beberapa langkah.
Untung saja, Sutageling mampu mematahkan daya lontar tubuhnya, hingga tidak sampai menabrak pohon di belakangnya. Dan dia berhasil menjejak tanah dengan geraian indah dan mantap.
"Setan!" maki Sutageling geram. Langsung pedangnya dikibaskan, kembali melancarkan serangan.
"Uts!"
Sementara Ki Boncel melenting ke atas, juga melancarkan serangan. Namun, rupanya Sutageling ingin bertindak hati-hati dengan tidak melayani serangan balik laki-laki bertubuh cebol itu. Maka serangannya langsung ditarik kembali. Kemudian cepat menjatuhkan diri ke tanah dan bergulingan beberapa kali.
Sebatang pohon besar kontan tumbang hancur berantakan, terkena pukulan Ki Boncel yang berhasil dihindari Sutageling. Namun sebelum Sutageling bangkit berdiri, Ki Boncel sudah cepat menempelkan senjatanya di mulut. Sehingga....
Plup! "Aaakh...!"
Kali ini serangan Ki Boncel tidak mampu dihindari. Sutageling langsung menjerit keras begitu jarum-jarum halus beracun menghantam dada kirinya. Namun, ternyata jarum-jarum beracun itu telah menembus kulit tubuhnya, dan langsung menyerang jantung. Ki Sutageling hanya mampu menggelepar beberapa saat, kemudian nyawanya melayang!
"Heh"!"
Sampu Awang dan Somadipura terkejut bukan main melihat kematian Sutageling.
"Setan cebol, kubunuh kau...!" bentak Sampu Awang geram. Tanpa mempedulikan lawannya, dia melompat menyerang Ki Boncel.
Tapi tentu saja Ki Warkolo dan Ki Yudha Paksa yang menjadi lawan-lawan. Sampu Awang tidak membiarkannya begitu saja. Golok Ki Warkolo dikelebatkan ke arah perut. Sementara, keris Ki Yudha Paksa menusuk ke leher.
"Uts...!"
Meski dalam keadaan seperti itu, namun Sampu Awang masih mampu menghindari dua serangan yang datang ke arahnya. Tubuhnya cepat meliuk. Namun sebelum dia bersiap kembali sumpit perak Ki Boncel telah menunggu. Maka seketika terdengar desir halus berhawa panas yang meluncur ke arah Sampu Awang. Dan....
"Aaakh...!"
Sampu Awang menjerit kesakitan, begitu dadanya tertembus jarum-jarum halus yang dilepaskan Ki Boncel. Tenaganya seketika menjadi lemah sekali. Tubuhnya langsung terhuyung ke belakang lalu roboh tak berkutik lagi.
"Mampus...!" dengus Ki Boncel sinis. "Bereskan yang satu ini secepatnya!" Ki Boncel langsung melompat menyerang Somadipura yang tinggal seorang diri. Sementara Ki Warkolo dan Ki Yudha Paksa menyusul, dan ikut mengeroyok. Tentu saja hal ini membuat Somadipura kerepotan. Menghadapi Baureksa dan Baugorha saja, sudah membuatnya harus berjuang mati-matian. Dan kini harus menghadapi lima orang sekaligus. Maka dalam waktu sekejap saja, mudah sekali Somadipura terdesak.
Tampak tubuh Somadipura bergulingan menghindari sambaran keris Ki Yudha Paksa. Dan belum juga bisa bangkit berdiri kembali datang sambaran golok Ki Warkolo. Kembali tubuhnya digulingkan menjauhi lawan. Dan begitu mendapat kesempatan, dia segera bangkit berdiri. Namun baru saja kedua kakinya menjejak tanah, Ki Boncel telah melepaskan jarum-jarum beracun yang dilepaskan lewat sumpit peraknya ke arah dada. Bersamaan itu pula, hantaman kapak Baureksa meluruk ke arah leher. Maka....
Plup! Cras! "Aaa...!"
Somadipura langsung memekik kesakitan dengan leher nyaris putus tersambar kapak Baureksa. Darah langsung menyembur keluar membasahi bumi. Dan begitu ambruk ke tanah dia tewas saat itu juga. Bahkan tubuhnya langsung membiru akibat jarum beracun yang dilepaskan Ki Boncel.
"Huh! Hanya segitu kemampuan mereka...!" dengus Ki Boncel seraya menatapi tubuh-tubuh orang yang menjadi lawan mereka. Lalu diajak keempat kawannya untuk meninggalkan tempat itu.
Dalam sekejap tempat ini menjadi sepi, setelah kelima orang itu berkelebat cepat dan hilang di kerimbunan pohon. Hanya mayat-mayat manusia yang bergeletakan, menyebarkan bau anyir darah yang bercampur hawa racun menusuk hidung!
*** Wajah Ki Wibisana jelas kurang senang menerima laporan yang diberikan oleh orang-orang suruhannya. Berkali-kali dia mendesah kesal. Namun keempat orang suruhannya tenang-tenang saja. Malah, sama sekali tidak merasa kalau apa yang dijelaskan menjadi beban bagi diri sendiri.
"Pendekar Rajawali Sakti..." Hm.... Apa maunya ikut campur dalam urusanku ini...?"
"Ki Wibisana! Pendekar Rajawali Sakti sendiri mengatakan kalau tidak ikut campur. Dan Andini juga menegaskan, bahwa tidak akan pulang sebelum kau membah pendirian...," sahut salah seorang.
"Huh! Apa bedanya" Dengan melindungi putriku, sama artinya mencampuri urusan orang. Seharusnya kau memaksa Andini pulang jika Pendekar Rajawali Sakti telah menyerahkan urusan padanya. Kau tahu apa yang harus kukatakan pada Panglima Balung Geni kalau begini jadinya"!" tegas Ki Wibisana, agak keras.
"Dengan kata lain, kau menyuruh kami memaksanya dengan cara apa pun...?" tanya salah seorang lagi, seperti ingin menegaskan.
"Hei, Gandi Sumangsa! Apa kau tuli" Aku tidak peduli, bagaimana cara kalian membawanya ke sini. Asal, tidak melukainya. Titik!" nada bicara Ki Wibisana mulai agak keras.
Mereka yang melapor pada Ki Wibisana memang Gandi Sumangsa dan ketiga kawannya. Mereka sebenarnya memang bukan suruhan orang tua itu. Mereka hanya terikat bayaran, selagi pekerjaan yang dibebankan belum selesai. Jadi bukan berarti bisa dikasari begitu rupa. Apalagi nada bicara orang tua itu mulai keras. Bagaimana pun mereka adalah orang-orang bebas yang mempunyai pergaulan kasar.
Gandi Sumangsa segera berdiri. Lalu dikeluarkannya kantung berisi uang yang diberikan Ki Wibisana sebagai upah untuk membawa pulang putrinya. Diletakkannya kantung uang itu di meja dekat Ki Wibisana.
"Ki Wibisana! Kau boleh berkata apa saja. Tapi, ingat! Kami bukan bawahanmu. Dan kami tidak makan gaji buta yang kau berikan setiap bulan. Kalau tidak suka hasil kerja kami, kau boleh terima uangmu kembali!"
Apa yang dilakukan Gandi Sumangsa diikuti ketiga kawannya sambil mendengus sinis. Mereka segera berbalik hendak meninggalkan ruangan. Namun, Ki Wibisana segera menyadari kekeliruannya. Maka dia cepat bangkit.
"Gandi Sumangsa! Ah, maafkan kata-kataku yang terdengar kasar. Tapi, percayalah. Aku tidak bermaksud begitu. Ayo, duduklah kembali. Karena, masih banyak yang akan kita bicarakan. Lupakan soal tadi. Dan, terimalah hak kalian ini kembali...," bujuk Ki Wibisana sambil tersenyum bebas. Segera diserahkannya kantung uang pada masing-masing orang itu.
Gandi Sumangsa diam saja. Sedangkan ketiga kawannya mendengus kesal. Namun, Ki Wibisana agaknya pandai mengambil hati. Wajahnya dibuat semanis mungkin, seolah-olah kekesalan dan kemarahannya tadi sirna tanpa bekas.
"Ayo, duduklah kembali! Ayo, Maung Lugai. Juga kau, Seta dan Wikura...!" lanjut orang tua itu mempersilakan mereka kembali ke tempat duduknya semula.
Keempat orang itu agaknya tidak kuasa menolak. Mereka menurut saja meski di hati mereka masih menyimpan rasa jengkel melihat perubahan sikap orang tua itu yang demikian cepat. Baru saja tad memperlihatkan air muka kesal dan marah, kini berubah ramah penuh senyum.
"Ki Wibisana! Apa lagi yang ingin kau bicarakan" Bukankah kami sudah tidak mampu menjalankan tugas yang kau berikan...?" tanya Gandi Sumangsa.
"Ah, tenanglah. Sebaiknya kita lupakan soal putriku. Lagi pula, dia berada di tangan yang aman. Nah! Aku punya tugas baru bagi kalian...."
"Tugas apa?" tanya Gandi Sumangsa.
"Mengantar kami ke Rimba Keramat."
"Apa"!"
Gandi Sumangsa dan tiga kawannya sedikit terkejut mendengar keinginan orang tua itu.
"Kenapa" Kenapa kalian kaget" Apakah ada sesuatu yang aneh dengan tugas itu?"
"Ki Wibisana! Belakangan ini tempat itu banyak didatangi kaum rimba persilatan, setelah terdengar kabar burung yang mengatakan kalau di dalam Rimba Keramat tersimpan harta karun yang tiada ternilai harganya. Tapi, tidak semudah itu untuk mendapatkannya. Sepanjang yang kuketahui, telah banyak korban sebelum mereka berhasil menemukan harta karun itu. Mereka tewas dibunuh penghuni Rimba Keramat. Dan belakangan, jumlah yang tewas semakin banyak, bersamaan dengan semakin santernya berita mengenai harta karun itu, Ki Wibisana! Kau tidak kekurangan harta benda. Lalu, apa yang ingin kau kerjakan di sana?"
"Tidak tahukah kalian kalau aku bekerja pada Panglima Balung Geni...?" sahut Ki Wibisana, balik bertanya seraya tersenyum lebar.
"Tentu saja kami tahu...."
"Nah, Panglima Balung Geni melihat kalau kejadian di tempat itu sudah tidak benar lagi. Bahkan hanya mengantar nyawa percuma. Tempat itu akan terus menjadi kolam darah, sebelum segala sesuatunya dibereskan. Nah! Untuk itu, beliau merasa terpanggil dan ingin membereskannya. Beliau ingin membuktikan kalau tempat itu memang menyimpan harta karun atau bukan. Setelah mengetahuinya, tentu pertumpahan darah bisa dihentikan...," jelas Ki Wibisana.
"Rimba Keramat tidak begitu jauh. Dan rasanya, seluruh kawula di kadipaten ini tahu tempatnya. Lalu, untuk apa lagi tugas kami?"
"Tentu saja sebagai pengawal kami!"
"Kami?"
"Ya! Aku dan sang Panglima."
Wajah Gandi Sumangsa tampak semakin bingung mendengar jawaban orang tua itu.
"Bukankah Kanjeng Panglima mempunyai prajurit yang terlatih dan berjumlah banyak" Mereka tentu diikutsertakan, karena ini tugas negara. Kenapa masih membutuhkan pengawal kami?"
"Pihak kadipaten tidak ingin terlihat menyolok. Dan sebelumnya, ingin mengetahui apakah berita itu benar atau tidak. Maksudnya agar tidak terjadi salah paham di mata kawula terhadap kadipaten. Untuk itu kita melakukan perjalanan seperti orang biasa. Kanjeng Panglima hanya dikawal beberapa prajurit kadipaten yang berpakaian seperti tokoh persilatan," jelas Ki Wibisana.
"Ya, ya.... Aku mengerti...," potong Gandi Sumangsa seraya mengangguk.
"Syukurlah kalau begitu...."
"Lalu, kapan kita berangkat?"
"Persiapkan diri kalian besok pagi. Sore nanti, aku akan menghadap Kanjeng Panglima untuk membicarakan soal ini!"
"Baiklah...," sahut Gandi Sumangsa seraya berdiri.
Keempat orang itu segera menjura, lalu berbalik. Sebentar kemudian mereka pergi dari ruangan itu. Namun sesaat orang-orang suruhannya menghilang di balik pintu ruangan, wajahnya kembali kusut sambil mendesah kesal berkali-kali.
*** Andini sebenarnya tidak menyetujui usul Rangga yang akan mendatangi Adipati Lokawarman. Karena menurutnya, itu hanyalah pekerjaan sia-sia. Bahkan sama artinya menyerahkan diri, setelah bersusah-payah terus menghindar dari kejaran anak buah Panglima Balung Geni yang selalu berada di mana-mana.
"Kakang! Jika kau memang tidak suka lagi kuikuti, aku bisa berjalan sendiri...," kata gadis itu lirih, sekaligus menyatakan ketidaksetujuannya terhadap niat Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga tersenyum manis. Dia mengerti, apa yang dipikirkan gadis itu. Tapi Pendekar Rajawali Sakti memang tidak punya pilihan lain. Karena meninggalkan Andini, sama saja melepaskan anak kijang yang belum mengerti ganasnya rimba. Jelas, gadis itu bisa celaka. Tapi mengajaknya ikut serta, itu lebih menyiksa perasaan Pendekar Rajawali Sakti. Andini selalu berusaha mendekatkan diri dan menunjukkan perhatian selama beberapa hari ini. Tentu saja Rangga mengerti apa arti semuanya itu. Tapi mana mungkin pemuda ini bisa terus-terusan bertahan" Apalagi, ada Pandan Wangi yang selalu setia menantinya di Karang Setra.
"Nini Andini, aku akan coba bicara dengan Adipati Lokawarman...," tandas Rangga untuk melunakkan pendirian gadis itu. "Siapa tahu sang Adipati sudi mendengar, lalu mencari jalan untuk memecahkan persoalan...."
"Percuma saja. Panglima Balung Geni amat dekat dengan beliau. Dia tentu tidak membiarkan Kakang berlalu begitu saja menghadap Adipati, tanpa berurusan dengannya!" sanggah Andini ketus.
"Bukankah itu sangat kebetulan?"
"Kebetulan bagaimana" Kau bisa celaka, Kakang. Panglima Balung Geni bukanlah orang baik-baik. Dia kejam dan suka berbuat seenak hati. Kau dengar sendiri, rakyat di seluruh kadipaten ini amat membencinya. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa...," ujar Andini berapi-api.
"Apakah Adipati Lokawarman membiarkannya begitu saja?"
"Siapa yang tahu" Mungkin iya, mungkin juga tidak...."
"Bagaimana bisa begitu?"
"Yaaah.... Mungkin beliau tahu dan mendiamkannya saja. Berarti beliau setuju. Dan dengan begitu, jelas dia juga berwatak buruk. Yang kedua, beliau tidak mengetahui apa yang dilakukan panglimanya. Jadi, hanya menerima laporan-laporan yang baik saja," jelas gadis itu.
"Apakah Adipati Lokawarman sering turun menemui rakyatnya....?"
Andini menggeleng cepat.
"Selama sepuluh tahun aku mengerti soal kehidupan, bisa dihitung dengan jari satu tangan, berapa kali beliau menemui kawulanya...."
"Hm.... Dia bukanlah adipati yang bijaksana, meski belum tentu buruk," gumam Rangga.
"Ha ha ha...! Kau ini seperti seorang raja yang hendak memecat bawahan saja! Apa yang bisa kita lakukan kalau memang adipati itu bersikap demikian?" kata Andini yang diiringi tawa gelak.


Pendekar Rajawali Sakti 132 Misteri Rimba Keramat di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Yang jelas dia harus diganti!" sahut Rangga enteng, seperti menyambut ejekan gadis itu. Namun pada dasarnya Pendekar Rajawali Sakti berkata sungguh-sungguh.
Dan hal itu sudah membuat tawa Andini semakin panjang saja.
"Apakah kau tidak yakin kalau raja yang berkuasa di negeri ini mengetahui perbuatan adipati itu?" tanya Rangga, setelah gadis itu selesai dengan tawanya.
"Raja" Apa kau kira begitu mudah mengabarkan kebobrokan seorang pejabat. Hm.... Jangan-jangan baginda raja pun mungkin tengah bersenang-senang dengan selirnya yang cantik-cantik!" kata-kata Andini terdengar sinis.
"Dari mana kau tahu" Apakah kau pernah bertemu sendiri dengan rajamu?" tanya Rangga tersenyum kecil.
Gadis itu menggeleng.
"Apa bedanya dengan raja-raja yang lain" Bukankah perbuatan yang mereka lakukan hampir sama?"
Hampir-hampir kuping Rangga merah mendengar kata-kata Andini yang terdengar keras. Jelas Andini seperti menyamaratakan tingkah polah semua raja. Dan Rangga sendiri adalah Raja Karang Setra yang tak ingin disamakan dengan raja-raja lain di seluruh jagad ini.
"Seorang raja yang baik, harus tahu apa yang dialami rakyatnya. Dan untuk itu, dia harus terjun sendiri melihat rakyatnya, serta tidak mengandalkan laporan-laporan bawahannya!" tukas Pendekar Rajawali Sakti.
"Sudahlah, Kakang. Bicaramu membuatku semakin gila saja...," desah Andini.
"Tapi kau tidak bisa menjawab. Dan itu berarti benar. Maka, ikutlah ke kadipaten. Dan biarkan, aku menjelaskannya pada sang Adipati. Mudah-mudahan beliau mau mendengar kata-kataku...."
Andini terdiam, lalu memandang pemuda itu beberapa saat.
"Kakang! Tahukah kau, betapa bahayanya bila kita berada di sana" Panglima Balung Geni tentu tidak akan membiarkanmu begitu saja. Apalagi kehadiranmu bersamaku...," ujar gadis itu.
"Itulah yang kuinginkan. Aku ingin tahu, apakah Panglima Balung Geni akan mempersoalkan ini di hadapan Adipati Lokawarman. Ingin kulihat, bagaimana sikapnya nanti. Nah! Tenang saja. Biar kubereskan semua ini!" tandas Rangga.
Andini diam saja tidak menjawab.
"Itu berarti kau setuju, kan" Nah! Ayo kita berangkat sekarang juga...," ajak Rangga seraya tersenyum kecil.
*** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 " . 132. Misteri Rimba Keramat Bag. 7
16. Oktober 2014 um 10:45
7 ? Rangga bukannya tidak memikirkan kekhawatiran Andini, bila Panglima Balung Geni melihat kehadiran mereka! Andini khawatir, akan terjadi pertumpahan darah. Kini tampak Rangga datang menghampiri Andini, setelah tadi ditinggalkannya untuk beberapa saat di depan bangunan megah Kadipaten Piyungan. Bibir Rangga tersenyum-senyum, seperti telah mendapat suatu rencana.
"Kenapa Kakang tersenyum-senyum begitu...?" tanya Andini.
"Apakah kau lebih suka aku marah...?" sahut pemuda itu menggoda.
"Maksudku, sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakan. Atau...."
Bola mata gadis itu agak membesar. Dan meski Andini tersenyum mengejek, namun Rangga bisa menduga apa yang hendak dikatakan gadis itu.
"Kau curiga padaku kalau aku memberitahukan mata-mata Panglima Balung Geni untuk menangkapmu dengan mengharap imbalan hadiah?" ledek Pendekar Rajawali Sakti.
"Siapa tahu!"
Belum juga pembicaraan itu berakhir. Rangga dan Andini segera berpaling ketika pintu gerbang bangunan megah yang dikelilingi pagar tinggi ini terbuka. Bergegas Pendekar Rajawali Sakti dan Andini melompat turun dari kuda masing-masing. Lalu, dihampirinya dua orang pengawal yang berpakaian prajurit menyambut dengan hormat.
"Silakan, Gusti Prabu. Kanjeng Adipati telah menunggu...," kata mereka.
"Terima kasih...," sahut Rangga. Sementara itu dua orang pengurus kuda di kadipaten ini telah membawa kuda-kuda mereka untuk dibawa ke istal di samping istana.
"Kakang...."
"Ssst...!" Rangga memberi isyarat agar gadis itu tidak banyak bicara.
"Kakang! Mengapa mereka kelihatan hormat betul padamu?" tanya Andini membandel. Tidak dipedulikan peringatan Rangga.
"Aku hanya memberitahu pada adipati secara diam-diam, agar Panglima Balung Geni tidak mencegat kita. Tapi mana kutahu soal penyambutan ini...," bisik Rangga pelan seraya tersenyum kecil.
Sebenarnya Rangga tadi meninggalkan Andini di depan istana kadipaten memang untuk memberitahukan kehadirannya pada Adipati Lokawarman. Dan agar rahasia sebagai Raja Karang Setra tidak diketahui Andini, Rangga meminta agar penyambutan itu dilakukan biasa-biasa saja. Tapi nyatanya, apa yang didapat Rangga malah sebaliknya.
Sementara itu dari istana keluar seorang laki-laki setengah baya berpakaian indah. Dia didampingi seorang laki-laki berpakaian panglima dan dua orang laki-laki berusia lanjut. Siapa lagi mereka kalau bukan Adipati Lokawarman, Panglima Balung Geni, dan dua orang penasihat kadipaten. Wajah adipati itu tampak cerah. Namun ketika pemuda berbaju rompi putih itu semakin mendekat, mendadak wajahnya pucat pasi. Demikian pula kedua penasihatnya. Sedangkan Panglima Balung Geni sama sekali tidak mengerti, kenapa Adipati Lokawarman terlihat amat ketakutan. Bahkan malah bersujud bersama kedua penasihatnya, diikuti yang lain.
Memang, Kadipaten Piyungan ini masih termasuk wilayah Karang Setra. Tak heran kalau Adipati Lokawarman begitu hormat pada Rangga yang memang sudah dikenalnya. Sedangkan Panglima Balung Geni sendiri belum pernah melihat wajah Raja Karang Setra itu. Dan dia memang tergolong panglima baru di Kadipaten Piyungan.
"Kanjeng Gusti Prabu, maafkan hamba yang hanya menyambut seadanya. Ampuni kesalahan kami...!" ratap Adipati Lokawarman dengan nada memelas.
Sementara itu Andini memandang heran. Dia seperti tidak percaya. Tampak pemuda itu menurunkan tangan kanannya, untuk mengangkat bahu Adipati Lokawarman.
"Paman Adipati Lokawarman, bangunlah. Sebaiknya jangan bersikap begitu!" seru pemuda itu dengan suara lembut berwibawa.
"Kanjeng Gusti Prabu, hamba tidak bisa berpura-pura. Hamba siap melayani Paduka!" tegas Adipati Lokawarman cepat seraya mempersilakan tamunya masuk ke dalam.
Kemudian laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu segera memberi perintah pada bawahannya untuk segera menyiapkan segala perjamuan besar-besaran bagi tamu agungnya. Dan segera ditemaninya Rangga masuk ke dalam disertai kedua penasihatnya. Sementara Panglima Balung Geni yang sejak tadi membisu menundukkan kepala, juga bergegas mengikuti.
"Kanjeng Gusti Prabu, hari ini merupakan kehormatan bagi hamba menerima kedatanganmu. Tapi, mengapa Kanjeng Gusti Prabu berpakaian seperti seorang pendekar begini...?" tanya Adipati Lokawarman.
"Apakah aku tidak boleh berpakaian seperti ini?" tanya Rangga seraya tersenyum.
"Ah! Tentu saja Paduka lebih mengetahui maksudnya. Hamba hanya sama sekali tidak menyangka kalau Kanjeng Gusti Prabu yang bakal datang. Dan karena caranya seperti ini, pasti ada sesuatu yang salah pada hamba. Mohon petunjuk. Kanjeng Gusti Prabu...!" ujar Adipati Piyungan ini.
Rangga kembali tersenyum.
"Paman Adipati! Tidak sia-sia kau menjabat kedudukan ini. Karena selain cepat tanggap, kaupun berotak cerdik. Tapi nyatanya kau terlalu sibuk dengan urusanmu, sehingga melupakan rakyatmu. Lalu apakah seorang yang bersifat demikian patut menjadi seorang adipati...?"
Wajah Adipati Lokawarman tertunduk lesu dengan keadaan pucat.
"Kanjeng Gusti Prabu, mohon petunjuk serta ampunan darimu...!"
"Hm.... Kau tahu, siapa gadis yang bersamaku ini...?"
"Eh"! Hamba pernah dengar sedikit. Apakah dia Gusti Ayu Pandan Wangi...?"
*** Andini yang sejak tadi membisu, tidak mampu berkutik menghadapi keadaan ini. Bahkan semakin kaget lagi ketika menyadari siapa sebenarnya pemuda berbaju rompi putih ini. Dia tidak berani mengangkat wajahnya dan tetap menunduk seribu bahasa. Tidak pernah disangka kalau pemuda yang selama beberapa hari ini berada di dekatnya, adalah penguasa negeri ini.
Sementara Rangga hanya tersenyum mendengar dugaan Adipati Lokawarman.
"Bukan. Dia adalah salah satu contoh kesewenang-wenangan bawahanmu!" tandas Rangga.
Mendengar kata-kata Raja Karang Setra ini, Panglima Balung Geni semakin tidak berani mengangkat wajahnya. Dia merasa pasti, lambat laun kata-kata pemuda itu akan tertuju padanya. Dan baru disadari kalau pemuda itu adalah Raja Karang Setra.
"Kanjeng Gusti Prabu! Hamba semakin tidak mengerti. Mohon penjelasan Paduka...," desah Adipati Lokawarman.
"Paman Adipati, gadis ini kutolong karena seseorang hendak memaksanya untuk dijadikan istri. Orangtua Andini agaknya setuju. Namun, gadis ini sama sekali tidak menyukainya. Aku bukan membela, namun tidak menyukai sikap kesewenang-wenangan yang ditunjukkan pemuda yang hendak memaksanya. Tahukah, ternyata bukan hanya pemuda itu yang suka berbuat sesuka hatinya. Melainkan juga bapaknya. Banyak rakyat yang bercerita padaku kalau mereka bagai raja kecil yang berkuasa. Dan orang seperti itu sudah sepatutnya mendapat hukuman setimpal. Coba katakan padaku, hukuman apa yang pantas bagi seorang pejabat yang bertindak sewenang-wenang..."!" tegas Rangga, berapi-api.
"Kanjeng Gusti Prabu! Orang itu benar-benar tidak layak dan patut mendapat hukuman berat!" sahut adipati itu cepat.
"Nah! Tahukah kau, siapa orang yang kumaksud?"
Adipati Lokawarman menggeleng.
"Tangkaplah panglimamu ini. Dan, hukumlah dia sesuai kesalahannya!"
Mendengar kata-kata Rangga, bukan main kagetnya Adipati Lokawarman. Demikian juga semua orang yang hadir dalam ruangan utama kadipaten. Terlebih-lebih, Panglima Balung Geni sendiri. Selama ini. Panglima Balung Geni dikenal tegas dan tidak segan-segan menindak mereka yang berbuat salah. Bagaimana mungkin pemuda itu bisa menudingnya demikian" Tapi, mana mungkin perintah Raja Karang Setra bisa ditolak. Maka adipati itu langsung memerintahkan para prajurit untuk menangkap Panglima Balung Geni.
"Tangkap Panglima Balung Geni...!"
Semua orang yang berada di ruangan ini serentak menolehkan kepala ke arah Panglima Balung Geni. Sementara, beberapa pengawal telah mulai bergerak, hendak meringkus panglima itu.
"Tidak! Siapa pun yang ingin mampus, boleh coba menangkapku!" sergah Panglima Balung Geni.
Panglima Kadipaten Piyungan itu langsung melompat dari kursinya. Pedangnya sudah terhunus dengan sikap mengancam. Wajahnya garang penuh kemarahan. Dan sepasang matanya menatap tajam penuh kebencian pada pemuda berbaju rompi putih yang amat disanjung tinggi oleh semua orang yang ada di kadipaten ini.
Tidak heran bila Panglima Balung Geni berani berbuat gegabah seperti itu. Karena dia yakin, meski seluruh prajurit kadipaten dikerahkan, belum tentu mampu menangkapnya. Panglima ini tahu betul, sampai di mana kekuatan seluruh prajurit kadipaten. Dan meski pemuda berbaju rompi putih ini seorang raja yang berkuasa, tapi kelihatannya biasa-biasa saja kemampuannya. Apalagi kalau sampai bisa menangkapnya.
Berpikir demikian tubuh Panglima Balung Geni langsung melompat hendak menangkap Rangga.
"Yeaaa...!"
Namun perhitungan panglima itu agaknya salah besar. Dikira, pedang pemuda itu sekadar hiasan belaka. Dan kalaupun memiliki kepandaian, paling hanya seujung kuku. Maka dengan seluruh tenaga dalam yang dimiliki, dia bermaksud menjatuhkan Rangga hanya sekali gebrak.
Nyatanya, Pendekar Rajawali Sakti cepat berdiri. Langsung dicengkeramnya kedua tangan panglima itu dengan ketat Lalu dipelintirnya ke belakang. Dan seketika lutut kanan Rangga menghantam telak ke punggung.
Tap! "Aaakh...!"
Panglima Balung Geni kontan menjerit kesakitan. Tubuhnya jatuh terduduk, dengan mulut meringis.
"Adipati! Beginikah sikap panglimamu" Jika benar dia tidak bersalah, tentu tidak akan keberatan ditangkap. Dan aku tidak pernah menghukum seseorang tanpa alasan yang kuat Hm.... Panglima ini sudah kelewat batas. Tentukanlah hukuman yang setimpal atas perbuatannya itu!" ujar Rangga sambil tetap memelintir tangan Panglima Balung Geni.
"Ampun, Kanjeng Gusti Prabu. Hamba akan melaksanakan segala titah sebaik-baiknya!" sahut Adipati Lokawarman cepat dengan wajah murka melihat perbuatan panglimanya.
Dengan segera Adipati Lokawarman memerintahkan prajurit-prajuritnya mengambil Panglima Balung Geni yang kini telah ditotok Rangga dengan kuat Dengan cepat para prajurit meringkus panglima itu, dan membawanya ke penjara bawah tanah. Kini suasana kembali tenang, ketika para prajurit yang membawa Panglima Balung Geni menghilang dari ruangan ini.
"Paman Adipati! Sebagai pejabat yang bertanggung jawab terhadap keamanan daerahnya, kau telah gagal menjalankan kewajibanmu. Para rakyat resah. Dan kini, terbetik berita kalau daerah di sebelah selatan wilayahmu menjadi ajang perebutan sesuatu yang sia-sia. Manusia mengantar nyawa secara percuma. Tidakkah kau mengetahuinya. Dan di mana tanggung jawabmu"!" tanya Rangga, setelah kembali duduk di kursinya.
"Ampun, Paduka Yang Mulia. Hamba..., hamba mengaku salah...," sahut Adipati Lokawarman dengan wajah semakin pucat dan tubuh gemetar.
"Hm.... Kudengar daerah itu disebut Rimba Keramat. Dan konon, belakangan ini banyak orang berdatangan setelah mendengar kabar kalau di sana tersimpan harta karun yang melimpah ruah. Akibatnya, sungguh hebat. Karena, orang berduyun-duyun untuk mendapat bagian dari harta yang belum tentu benar...," gumam Rangga, seperti bicara sendiri.
"Kanjeng Gusti Prabu.... Hamba baru saja hendak mengerahkan para prajurit untuk membereskan soal itu...," desah Adipati Lokawarman.
"Bagus! Lakukanlah segera!" sahut Rangga sambil tersenyum lebar.
"Baik, Kanjeng Gusti Prabu...!" sahut adipati itu cepat.
Namun akhirnya Adipati Lokawarman kebingungan sendiri. Siapa yang akan memimpin para prajurit kadipaten untuk mengamankan daerah itu, jika Panglima Balung Geni telah ditangkap" Tapi, Adipati Lokawarman tidak kehilangan akal. Maka langsung dipanggilnya tangan kanan Panglima Balung Geni untuk diberi tugas mengamankan daerah di sekitar Rimba Keramat.
*** "Kanjeng Gusti Prabu, ampunkan segala kesalahan hamba...," ratap Adipati Lokawarman seraya bersujud beberapa kali, ketika di ruang utama kadipaten ini tinggal Rangga, Adipati Lokawarman, dan Andini.
"Paman Adipati. Bangunlah! Tidak patut berbuat begitu sampai berkali-kali. Purnama bulan depan, datanglah ke istana kerajaan. Hari itu aku akan putuskan, apa yang harus kulakukan terhadapmu!" ujar Pendekar Rajawali Sakti.
Adipati Lokawarman segera bersimpuh kembali, dan mengangguk cepat. Sementara, Rangga segera berdiri, sambil mengajak berdiri Adipati Piyungan ini dengan menyentuh bahunya. Laki-laki setengah baya itu juga lantas berdiri, dan langsung melangkah ketika Rangga sudah mengayunkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu. Langsung disejajarkannya langkah pemuda itu sampai di depan halaman kadipaten ini.
"Jangan lupa! Antarkan gadis ini ke rumah orangtuanya. Dan, titipkan pesanku padanya, agar tidak memaksakan kehendak pada anak gadisnya. Andini berhak menentukan pilihan sendiri!" lanjut Rangga, langsung menghampiri kudanya yang telah disediakan pengurus kuda istana.
"Baik, Kanjeng Gusti Prabu...."
Sementara itu, Andini sudah pula berdiri di samping Adipati Lokawarman.
Rangga memandang sejenak ke arah gadis itu.
"Andini, kembalilah ke rumah orangtuamu. Hidup di luaran tidak mudah dan banyak ancaman...," ujar Rangga, seraya melompat ke punggung kudanya.
"Baik, Kanjeng Gusti Prabu...," sahut Andini, tanpa mengangkat wajahnya sedikit pun. Nada suaranya halus dan pelan sekali. Bahkan nyaris tidak terdengar.
"Syukurlah. Rukun-rukunlah bersama orangtuamu. Nah! Aku pergi dulu...," pamit Rangga seraya menghela kudanya. Seketika kuda hitam bernama Dewa Bayu melesat kencang dari tempat itu, meninggalkan beribu pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh mereka yang berada d situ. Terlebih-lebih, bagi Andini dan Adipati Lokawarman sendiri.
Andini tidak menyangka kalau pemuda yang beberapa hari ini bersamanya dan diam-diam telah memikat hatinya, adalah penguasa negeri ini! Siapa yang bisa menahan kejutan begitu hebat" Padahal, di hatinya semula penuh dengan bunga-bunga. Dan kini... terasa sepi, kosong, lalu hening!
Sementara Adipati Lokawarman sendiri merenungi nasibnya. Apa yang akan diterimanya nanti" Berapa lama dia akan menjabat sebagai adipati" Mimpi apa dia, sehingga semua ini berlangsung begitu mendadak"
*** Peristiwa yang terjadi di Rimba Keramat memang sangat santer. Berapa banyak tokoh persilatan yang tewas sia-sia memperebutkan harta karun yang belum terbukti keberadaannya. Dan hal itu tak membuat surut nyali mereka. Bahkan semakin banyak tokoh persilatan yang berkumpul untuk mengadu nasib. Malah, tidak jarang di antara sesama turut berkelahi, untuk memperebutkan kesempatan lebih dulu masuk ke dalam Rimba Keramat.
Kini, tampak dua orang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun melompat ringan di antara cabang pepohonan di dekat Rimba Keramat. Dan kedua orang itu adalah sekian dari banyaknya tokoh persilatan yang hendak memburu harta karun di Rimba Keramat. Tak ada seorang pun yang tahu, apa yang mereka lakukan. Ilmu meringankan tubuh yang mereka pergunakan luar biasa. Padahal, beberapa tokoh persilatan yang banyak berkumpul di dekat Rimba Keramat ini bukan orang sembarangan. Rata-rata mereka telah memiliki nama besar di kalangan persilatan.
Yang seorang bersenjata tongkat baja berujung lancip. Kelihatan tak ada yang aneh dengan senjatanya. Di kalangan rimba persilatan, orang ini bernama Sadewa. Sementara itu, kawannya yang melesat di sebelahnya memiliki kumis agak tebal. Wajahnya gagah. Tangannya memegang batang bambu kuning sepanjang lima jengkal. Seperti Sadewa, senjata yang digenggamnya lebih mirip pikulan. Orang ini dikenal bernama Sudewo. Meski memiliki nama yang hampir mirip, tapi mereka bukanlah saudara kembar. Kalangan persilatan mengenal mereka sebagai Iblis Tunggal Bermuka Dua. Karena, ke mana-mana mereka selalu berdua. Begitu juga kalau tengah bertarung.
"Biarkan saja mereka saling membunuh satu sama lain. Mereka memang orang-orang tolol yang tidak punya otak!" desis Sadewa, seraya menyeringai lebar.
Memang dia telah mendengar kalau beberapa orang mulai saling bunuh satu sama lain untuk memperebutkan harta karun yang belum lagi diperoleh.
"Hi-hi-hi...! Keledai-keledai dungu yang malang. Mereka kira bisa memiliki harta pusaka itu...," sahut Sudewo.
"Hati-hati, Sudewo! Jangan sampai kelima penunggu Rimba Keramat ini mengetahui kehadiran kita. Pasang pendengaranmu tajam-tajam, lalu kerahkan ilmu 'Cecak Terbang' pada tingkat tertinggi...!" Sadewa memperingatkan.
"Beres. Jangan khawatir...!"
Pada suatu tempat yang tidak begitu luas di tengah Rimba Keramat, mereka berhenti melesat. Lalu, mereka melayang turun dengan ringan. Keduanya memperhatikan ke sekelilingnya. Dan setelah mengetahui keadaan telah aman, maka Sadewa melangkah mendekati pohon beringin yang tidak jauh dari tempat itu. Ditelitinya satu persatu akar-akar yang menonjol di permukaan tanah. Lalu ketika menemukan sebuah akar yang berbentuk busur, diperhatikannya sejenak ke kanan pada jarak tiga langkah. Kemudian, mereka sama-sama berjongkok, dan meraba akar-akar itu.
"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Sudewo ragu.
"Jangan khawatir, Sobat. Masa kanak-kanakku banyak kuhabiskan di hutan ini, sebelum ayahku terbunuh. Dari beliaulah aku tahu tentang harta karun itu," sahut Sadewa.
Bola mata Sudewo berbinar gembira mendengar jawaban kawannya.
"Hm.... Gum tentu akan gembira bila kita memberikan sebagian harta itu padanya. Bukankah kau ingin sekali membalas budi kebaikannya yang telah mengangkatmu menjadi murid, setelah sekian tahun menjadi gembel" Heh"! Aku tidak sabar untuk melihat harta itu. Tapi, apakah benar-benar harta itu ada" Apakah dulu semasa ayahmu hidup kau pernah melihatnya?" kata Sudewo.
Sadewa menggeleng lemah, sambil menarik akar yang lebih kecil perlahan-lahan. Dan tiba-tiba pada jarak tiga langkah di sebelah kanannya terlihat tanah melesak ke dalam, bagaikan ruang bawah tanah yang memiliki dua daun pintu.
Sadewa buru-buru menghampiri langsung dikuaknya lubang itu lebih lebar. Kini tampak sebuah lubang sedalam satu kaki, di bawah dua buah daun pintu yang terbuat dari batu setebal setengah jengkal. Dengan terburu-buru tangan kanannya merogoh ke dalam. Dan seketika wajahnya berbinar girang, ketika berhasil menggapai sebuah peti kecil. Begitu tangannya dibawa keluar, tampak sebuah kotak kecil berukir seluas satu kali satu setengah jengkal. Tebalnya, setengah jengkal.
"Ha ha ha...! Akhirnya harta ini akan kita miliki juga...!" teriak Sadewa kegirangan, seraya bangkit berdiri.
"Ayo, lekas kita kembali dan keluar dari sini!" ajak Sudewo.
"Pergilah kau lebih dulu, Sudewo...," ujar Sadewa sambil terus memperhatikan peti dalam genggamannya.
"Heh" Lalu, apa yang akan kau lakukan di sini?" tanya Sudewo, heran.
"Aku...." Sadewa terdiam sejenak, "Aku ingin mengenang arwah ayahku lebih dulu...."
"Hm.... Kalau begitu, biarlah kutemani!" sahut Sudewo cepat.
"Tidak! Aku ingin sendiri. Pergilah kau lebih dulu, nanti aku akan menyusul."
"Tapi...."
"Tidak apa-apa. Aku bisa menjaga diriku sendiri...."
"Sadewa! Kelima orang itu amat berbahaya. Apalagi, kalau mereka memergokimu. Kau akan kewalahan menghadapi mereka berlima...," wajah Sudewo tampak cemas.
"Percayalah, aku bisa mengatasi mereka. Nah, pergilah cepat!"
"Baiklah...," sahut Sudewo dengan berat hati.
Sudewo sama sekali tidak menyadari niat jahat Sadewa yang mulai menari-nari, ketika peti itu telah ditemukannya. Memang sebenarnya Sadewa sendiri yang akan memiliki peti itu sendiri. Dan mereka tidak akan pernah kembali ke tempat yang telah ada dalam perjanjian mereka semula. Dengan demikian terlintas dalam benaknya untuk menguasai harta itu seorang diri.
Namun sebelum Sudewo melangkah, mendadak....
"Keparat busuk! Bagus! Kalian telah bekerja penuh semangat. Nah, kini berikan peti itu!"
Tiba-tiba terdengar bentakan garang yang disusul berkelebat lima sosok tubuh. Dan seketika Sudewo dan Sadewa diserang dengan ganas.
"Yeaaa...!"
Plup! *** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 . 132. Misteri Rimba Keramat Bag. 8 (Selesai)
16. Oktober 2014 um 10:47
8 ? Sudewo dan Sadewa cepat melompat sambil mengibaskan senjata masing-masing.
"Hiiih!"
"Sadewa, awas..! Perhatikan orang yang menggunakan senjata sumpit beracun...!" teriak Sudewo, memperingatkan setelah terbebas.
"Ya, aku tahu!"
"Keparat! Berikan peti itu padaku...!" teriak seorang laki-laki cebol. Dia tak lain dari Ki Boncel bersama keempat kawannya, yakni Ki Warkolo, Ki Yudha Paksa, Baureksa, dan Baugorha.
Dengan golok besarnya Ki Warkolo bersama Ki Yudha Paksa mendesak Sudewo mati-matian, dan langsung mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki. Sedangkan Ki Boncel yang dibantu si kembar Baureksa dan Baugorha, mengerubuti Sadewa.
Wuuut! Tongkat baja berujung runcing di tangan Sadewa berputaran sedemikian rupa untuk menghalau serangan sambil menyerang balik. Angin sambaran senjatanya demikian kuat. Ujungnya yang runcing tampak berkelebat-kelebat seperti hendak merobek kulit. Dan ini membuat ketiga lawannya terkejut bukan main. Maka Baureksa dan Baugorha mencoba menangkisnya.
Trak! Trak! "Uhhh...!"
Kembali kedua laki-laki kembar itu terkejut. Tangan mereka terasa kesemutan hebat, begitu kedua senjata beradu. Kalau saja tidak buru-buru melompat ke samping, niscaya ujung tongkat Sadewa akan merobek dada. Untung saja, serangan Ki Boncel banyak membantu. Apalagi, sumpit perak beracunnya amat merepotkan Sadewa.
Plup! "Uts...!"
Nyaris jarum-jarum halus beracun itu menyambar ke tengkuk Sadewa kalau saja tidak cepat menghindar dengan membungkukkan kepala. Sementara pada saat itu juga, kapak di tangan Ki Baureksa menderu ke pinggang.
"Yeaaa...!"
Sadewa cepat menangkis dengan tongkatnya.
Trak! "Hiiih!"
Dan dia bermaksud balas menyerang. Namun, Baugorha telah melepaskan satu hantaman berupa pukulan jarak jauh. Maka dengan terpaksa Sadewa melompat ke atas, menghindar.
Sementara itu agaknya Ki Boncel menunggu-nunggu saat seperti itu. Seketika tubuhnya langsung mencelat mengejar Sadewa yang berjumpalitan di udara, sambil melepaskan sumpit beracun. Sedang di belakangnya menyusul Baureksa dengan kapak mautnya.
Plup! Werrr! Sambil berputaran di udara, Sadewa menghentakkan kedua tangannya ke arah jarum-jarum beracun yang mengancamnya. Angin menderu kencang langsung meluruk, ketika tangan Sadewa terhentak ke depan dalam melepaskan pukulan jarak jauh. Seketika jarum-jarum beracun itu terpental. Bahkan sebagian mengancam Baureksa.
Cras! "Aaakh...!"
Baureksa menjerit, namun masih sempat melemparkan kapaknya. Begitu cepat gerakannya, sehingga Sadewa tak mampu menghindari. Dan....
Crap! "Aaakh...!"
Sadewa kontan menjerit kesakitan, begitu kapak Baureksa membobol perutnya. Tangan kanan yang memegang senjata langsung mendekap luka yang mengucurkan darah. Sedang tangan kirinya terus menjepit peti. Tubuh Sadewa terhuyung-huyung ke belakang. Keadaannya betul-betul sulit. Dan dia terus melompat ke sana kemari, menghindari serangan Baugorha dan Ki Boncel.
Sementara itu tubuh Baureksa telah sempoyongan. Dan begitu ambruk di tanah dia menggelepar-gelepar menahan racun ganas yang merambat cepat ke seluruh aliran darah dan jantung. Dalam sekejap saja, tubuhnya diam tidak berkutik. Nyawanya pun melayang dengan tubuh membiru!
Melihat Baureksa tewas, Baugorha semakin geram. Dia langsung melompat, mendesak Sadewa yang sudah terluka. Dan memang, saat inilah yang ditunggu Ki Boncel.
"Yeaaa...!"
Namun, Sadewa menyadari kalau tidak akan luput dari serangan. Maka dia bertekad mati bersama. Sehingga ketika Baugorha melompat sambil menghantamkan gadanya, Sadewa langsung menunduk. Lalu seketika tongkatnya dikebutkan ke arah pinggang. Begitu cepat gerakannya, dan....
Bret! "Aaa...!"
Baugorha kontan memekik nyaring begitu tongkat Sadewa menyambar pinggangnya hingga nyaris putus. Tubuhnya langsung ambruk bermandikan darah, dan tewas beberapa saat kemudian.
Sementara itu, Sadewa sudah langsung melemparkan tongkatnya ke arah Ki Boncel. Namun laki-laki cebol itu mudah menghindarinya dengan melenting ke atas. Bahkan langsung balik menyerang.
Plup! Wusss...! Begitu cepat serangan sumpit Ki Boncel, sehingga Sadewa yang baru saja melepaskan serangan, tidak mampu bangkit lagi. Maka....
Clap! "Aaakh...!"
Sadewa langsung menjerit keras dengan tubuh terhuyung-huyung, ketika jarum-jarum beracun menembus jantungnya. Tepat ketika Ki Boncel mendarat manis di tanah, Sadewa ambruk dengan tubuh membiru. Begitu mendarat Ki Boncel segera melompat. Langsung direbutnya peti di tangan Sadewa.
"Ha ha ha...! Akhirnya harta karun itu menjadi milikku! Ha ha ha...!"
Manusia cebol itu terus ketawa kegirangan, seperti anak kecil yang baru mendapat mainan kesukaannya. Namun ketika hendak melompat meninggalkan tempat itu, tiba-tiba berkelebat satu bayangan putih yang begitu cepat.
"Kisanak! Hentikan pertumpahan darah ini! Kalian hanya memperebutkan pepesan kosong belaka!"
Terdengar bentakan keras menggelegar, ketika bayangan putih itu telah mendarat tepat dua tombak di hadapan Ki Boncel.
*** Seketika, pertarungan yang terjadi antara Sudewo melawan Ki Warkolo dan Ki Yudha Paksa terhenti. Dan mereka semua yang hadir langsung mengalihkan perhatian ke arah asal suara. Terlebih lagi, Ki Boncel. Laki-laki cebol itu kontan berubah geram melihat ada orang usil di depannya.
"Kurang ajar! Siapa kau..."!" bentak Ki Boncel geram, sambil mengamati seorang pemuda tampan berbaju rompi putih, dengan pedang berhulu kepala burung rajawali di punggung. Mata laki-laki kerdil itu terus merayap dari ujung kaki, sampai ujung rambut.
"Kisanak! Namaku, Rangga. Kedatanganku hanya untuk mengingatkan kalau kalian hanya memperebutkan harta benda yang tiada artinya!" ujar pemuda yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti lantang.
"Huh! Manis benar bicaramu! Kau kira aku bisa percaya begitu saja" Peti ini berisi harta yang tak ternilai harganya. Tujuh tahun aku mencarinya. Dan setelah kutemukan, enak saja kau berkata begitu. Kau pasti salah satu di antara mereka yang ingin mengincar harta ini. Kusarankan, sebaiknya pergi dari sini sebelum mampus!" ancam Ki Boncel geram.
Belum sempat Rangga menjawab terdengar suara teriakan-teriakan yang saling susul-menyusul. Rupanya, orang-orang rimba persilatan yang mengincar harta karun mulai banyak berkumpul di tempat ini. Bahkan mereka langsung mengepung Rangga. Memang, agaknya sebagian besar mengenal betul pemuda berbaju rompi putih itu.
"Hei" Bukankah itu Pendekar Rajawali Sakti"!" seru seseorang.
"Betul! Mau apa dia ke sini?" sahut seseorang.
"Mungkin dia mengincar harta itu juga!" jawab yang lain.
"Celaka! Saingan kita bertambah berat kali ini!" celoteh yang lain, menggerutu kesal.
"Huh! Persetan dengan Pendekar Rajawali Sakti! Biar mereka saling bunuh, dan kita akan memetik hasilnya!" timpal yang lain, sambil mendengus geram.
Agaknya kata-kata terakhir orang tadi, membuat yang lain tidak segera turun tangan untuk merebut peti dalam genggaman Ki Boncel. Mereka sadar kalau pemuda berbaju rompi putih itu memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Demikian pula laki-laki cebol itu, dan dua orang temannya yang tersisa. Kalau mereka saling bunuh, tentu kesempatan akan terbuka lebih lebar. Sebab, saingan yang memiliki kepandaian tinggi akan berkurang.
"Hm.... Jadi kau Pendekar Rajawali Sakti" Bocah! Pergilah kau! Meski namamu setinggi langit, tidak bakalan aku takut padamu. Sebaiknya, sayangi jiwamu. Nah, pergilah sebelum terlambat!" ujar Ki Boncel seraya mendengus sinis.
"Kisanak! Harap tidak salah menduga. Aku sama sekali tidak menginginkan harta yang kau katakan. Tapi melihat banjir darah hanya karena memperebutkan pepesan kosong, adalah suatu tindakan keji dan sia-sia...," sahut Rangga.
"Lalu, apa maumu?" tantang Ki Boncel.
"Bukalah peti itu. Dan, tunjukkan pada semua orang yang berada di sini bahwa sebenarnya kalian mengorbankan nyawa sia-sia...."
"Ha ha ha...! Enak saja bicaramu. Bocah. Setelah kubuka peti ini, maka kau akan merampasnya dariku. Huh! Langkahi mayatku lebih dulu!" dengus Ki Boncel sinis.
"Biar kubereskan orang ini, Ki!" geram Ki Warkolo yang agaknya sudah naik pitam mendengar tingkah Pendekar Rajawali Sakti.
"Ya, ya.... Bereskan cepat! Setelah itu, kau susul aku ke tempat persembunyian kita. Harta ini akan kita bagi berdua," sahut Ki Boncel cepat.
"Yeaaa...!"
Belum juga kering kata-kata Ki Boncel, Ki Warkolo langsung menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Golok besar di tangannya cepat menyambar ganas seperti hendak mencincang pemuda itu.
"Uts!"
Rangga menghindar dengan melompat ke atas cepat bagai kilat Sehingga serangan itu hanya menyambar angin. Namun, rupanya Ki Warkolo terus mengejar. Pendekar Rajawali Sakti sadar kalau lawannya ini memiliki kepandaian tinggi. Sehingga dia tidak ragu-ragu lagi mengerahkan gabungan dari lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Maka begitu kedua kakinya menyentuh tanah, saat itu juga tubuhnya kembali mencelat sambil mengayunkan tendangan keras. Begitu cepat gerakannya, sehingga Ki Warkolo yang masih mengejar jadi terkesiap. Karena untuk menghindar sudah tak mungkin lagi, maka buru-buru tangannya mengibas hendak memapak tendangan Pendekar Rajawali Sakti.
Plak! Ki Warkolo menjerit keras begitu tangannya yang memegang golok membentur kaki Pendekar Rajawali Sakti yang berisi tenaga dalam tinggi. Seketika golok itu terlepas dari genggaman dan mencelat entah ke mana. Dan belum lagi habis rasa terkejutnya, kaki Rangga kembali menyapu keras ke arah dada.
Des! "Aaakh...!"
Tidak ampun lagi Ki Warkolo kembali menjerit keras. Tubuhnya kontan terjungkal beberapa langkah disertai semburan darah segar. Dan begitu ambruk di tanah, Ki Warkolo tidak berkutik lagi. Mati!
Melihat Ki Warkolo tewas, Ki Boncel hendak melarikan diri. Namun belum juga jauh berkelebat, Pendekar Rajawali Sakti sudah melenting kembali dengan gesit. Seketika Rangga menghadang jalan manusia cebol yang tampak begitu terkejut.
"Aku tidak ingin bertindak keras padamu. Maka selesaikanlah persoalan ini dengan baik. Buka peti itu, dan perlihatkan pada semua orang bahwa di dalamnya tidak terdapat apa-apa!" ujar Pendekar Rajawali Sakti menegaskan.
"Persetan dengan ocehanmu...! Hiyaaat..!" bentak Ki Boncel.
Laki-laki cebol itu langsung menghantam Pendekar Rajawali Sakti dengan pukulan mautnya.
"Uts...!"
Rangga cepat bagai kilat melompat sehingga pukulan itu terus menghantam sebatang pohon hingga hancur berantakan.
Namun serangan Ki Boncel tidak berhenti sampai di situ. Begitu serangannya gagal, dia langsung melompat menerjang. Bahkan langsung mengerahkan tenaga dalam tinggi dalam pukulannya.
Bagaimanapun laki-laki cebol ini menyadari kalau Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa dipandang enteng. Maka untuk itu, dia tidak mau berlaku ayal-ayalan. Sedikit saja lengah, bukan tidak mungkin pemuda itu akan menjatuhkannya. Sehingga harta karun yang sudah tujuh tahun diburu, harus lepas begitu saja dalam sekejap" Maka tidak heran bila Ki Boncel menggunakan segala cara untuk menghabisi pemuda itu secepat mungkin.
Tampak Pendekar Rajawali Sakti kerepotan juga menghadapi amukan Ki Boncel yang mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki. Dan ini agaknya membuat Rangga menjadi kesal juga.
"Kisanak! Kau terlalu memaksaku. Maaf, aku harus mempertahankan diri...," sentak pemuda itu seraya mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti.
Sring! "Heh"!"
*** Seberkas sinar biru seketika terpancar dari batang pedang Pendekar Rajawali Sakti. Dan ini sungguh membuat Ki Boncel terkejut bukan main. Demikian pula mereka yang menyaksikan. Mereka semua terlongong bengong, tanpa ada seorang pun yang berani mampu untuk mengeroyok Pendekar Rajawali Sakti.


Pendekar Rajawali Sakti 132 Misteri Rimba Keramat di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ternyata sinar kebiruan yang memancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti membuat Ki Boncel menjadi lengah. Tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan Pendekar Rajawali Sakti. Maka dengan tiba-tiba. Rangga cepat berkelebat sambil membabatkan pedangnya dengan gerakan cepat bukan main. Ki Boncel jadi terkesiap. Untuk mengelak, rasanya memang tidak mungkin. Maka dengan sebisanya, dipapaknya kibasan pedang bercahaya biru berkilauan itu dengan sumpit peraknya.
Tras! Ki Boncel semakin terkesiap ketika sumpit perak di tangannya kontan putus sebatas genggaman, begitu menghantam pedang Pendekar Rajawali Sakti. Dan belum habis rasa terkejutnya, satu tendangan keras bukan main telah menghantam dadanya.
Dugkh! "Aaakh...!"
Ki Boncel memekik keras dengan tubuh terjungkal dua tombak, begitu tendangan Pendekar Rajawali Sakti telak menghantam dadanya. Tampak darah menggelegak dari mulutnya yang ternganga. Peti di tangannya pun langsung terlepas dan jatuh ke tanah. Begitu ambruk di tanah, Ki Boncel langsung menggelepar-gelepar meregang nyawa. Sebentar kemudian, tubuhnya diam tak berkutik lagi.
Sementara itu Rangga segera menghampiri peti yang tergeletak di tanah. Kemudian dia berdiri tegak dengan tangan kiri mengacungkan peti yang baru saja dipungutnya sambil memandang ke sekeliling. Tangan kanannya memasukkan pedang ke warangkanya. Maka, sinar biru berkilauan kini tenggelam kembali dalam sarungnya.
"Kisanak semua! Hari ini kita akan melihat benda yang selama ini menjadi rebutan dan telah mengorbankan begitu banyak jiwa. Kalau benar peti ini berisi harta karun, maka aku bersumpah akan membagikannya pada orang miskin. Dengan begitu, mudah-mudahan pertumpahan darah bisa dihindari...!" teriak Rangga lantang.
Rangga langsung membuka peti di tangannya yang terkunci rapat. Dan dengan sekali sentak, kunci yang terbuat dari baja itu putus. Seketika, dibukanya tutup peti lebar-lebar. Lalu, ditunjukkannya isi peti pada semua orang yang ada di tempat ini.
"Heh" Kosong..."!" mereka tersentak-kaget.
"Kosong" Mustahil...!" desis yang lain tidak percaya.
Rangga tersenyum kecil. Lalu diraihnya secarik kulit kambing yang berada di dalam peti itu. Diperhatikan sesaat secarik kulit binatang yang berisikan tulisan tangan.
? Harta yang paling berharga ada pada orang yang berbudi, tidak sombong dan serakah, serta saling tolong terhadap sesama. Selalu tunduk dan patuh pada perintah dan larangan Yang Maha Kuasa.
?? ttd. Ki Welas Asih ? Rangga membaca tulisan itu keras-keras, sehingga membuat yang lain semakin kaget bukan main.
"Apa"! Mustahil! Tidak mungkin!" teriak salah seorang seraya merampas tulisan berikut isi peti itu dari tangan Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga membiarkannya saja. Diperhatikannya orang itu meneliti isi tulisan dengan seksama. Kemudian, matanya memandang geram. Dan tiba-tiba saja, dibantingnya peti itu keras-keras.
"Tidak mungkin! Kalian semua gila!" teriak orang itu.
"Itulah harta karun yang ditinggalkan Ki Welas Asih. Siapa berminat boleh mengambilnya. Dan yang tidak, harap segera meninggalkan tempat ini...!"
Tanpa bicara satu persatu segera melangkah gontai meninggalkan Rimba Keramat. Dan kini Rimba Keramat kembali sepi, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Hanya mayat-mayat yang bergeletakan di tanah yang menjadi saksi bisu atas segala yang terjadi di Rimba Keramat.
? SELESAI ? Scanned by Clickers
Edited by Lovely Peace
PDF: Abu Keisel
? www.duniaabukeisel.blogspot.com
Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 Nona Berbunga Hijau 3 Pendekar Mabuk 015 Pawang Jenazah Pendekar Buta 5

Cari Blog Ini