Ceritasilat Novel Online

Prahara Mahkota Berdarah 2

Pendekar Rajawali Sakti 120 Prahara Mahkota Berdarah Bagian 2


tangan membunuh
seseorang. Tapi kalau kalian ternyata memang mencari susah, jangan salahkan
kalau kami bertindak tegas!"
Mendengar itu, rasa tidak senang Rangga mulai membakar darahnya. Dia mendengus
kesal sambil tetap mencekal pergelangan tangan gadis disebelahnya. Kemudian
terdengar suaranya yang bernada dingin.
"Akupun tidak ingin kesalahan tangan untuk membunuh orang. Pakailah akal sehat
kalian untuk menilai orang. Aku dan gadis ini akan pergi. Dan ingin kulihat
siapa yang menghalangi...!" tegas Rangga.
"Tangkap mereka...!"
Mendengar kata-kata pemuda yang mengenakan baju rompi putih itu, bukan main
kesalnya laki-laki ini. Dia bukannya berpikir, tapi langsung saja memberi
perintah pada anak buahnya.
Dan saat itu juga semua orang yang berada di tempat itu sudah bersiap akan
menghunuskan senjata ke arah mereka berdua. Tapi pada saat itulah si gadis
berkata dengan suara sedikit keras.
"Paman Bandang Ireng, hentikan semua ini...!?"*
* *" ?"Heh..."!"
Orang-orang itu langsung saja memalingkan perhatiannya dan menatap gadis ini
dengan penuh tanda tanya. Gondo mengangkat bahu saat seorang laki-laki bertubuh
tegap dengan wajah keras, yang tadi memberi perintah menangkap kedua orang asing
ini memandang padanya.
"Aku tidak memberitahukan apa-apa tentang kita," kata Gondo sebelum temantemannya menuduhnya mengkhianati mereka.
"Paman Gondo tidak perlu memberitahukannya. Aku kenal dengan kalian semua," kata
gadis itu pelan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya orang yang tadi dipanggil dengan nama Bandang
Ireng dengan suara lunak.
Gadis itu tidak banyak bicara. Tangannya bergerak ke muka dan mendekap wajahnya.
Lalu.... "Dia menggunakan topeng...!" desis salah seorang.
Semua yang berada di situ menanti dengan wajah tidak sabar. Begitu juga dengan
Rangga. Betul-bctul dia tidak menyadari kalau gadis itu mengenakan topeng
yang amat sempurna sekali. Hingga sulit untuk membedakannya.
"Putri Selari...."
"Benar, dia Putri Selari...!" desis yang lainnya.
"Be..., betulkah kau Putri Selari, junjungan kami...?" tanya Bandang Ireng
seperti tidak yakin akan penglihatannya sendiri.
"Paman, apa yang kalian lihat semuanya benar. Akulah Putri Selari. Putri Prabu
Satya Wardhana Putra," kata gadis itu lembut.
"Oh, Kanjeng Gusti.... Maafkan kelancangan kami."
Orang-orang itu kemudian membungkukkan tubuhnya sambil memberi hormat yang
dalam. Rangga bingung sendiri sejak tadi. Wajahnya di balik topeng yang
mengerikan itu, bertolak belakang sekali dengan aslinya. Gadis buruk rupa dengan wajah
mengerikan, kini menjelma menjadi gadis cantik jelita dengan kulit kuning
langsat yang begitu halus sekali. Sepasang alisnya tebal bagaikan semut beriring. Dan
hidungnya kecil mancung dengan bibir tipis merah delima yang selalu
menyunggingkan senyuman manis.
"Bangunlah, Paman. Masa itu telah berakhir. Dan kini aku bersama dengan kalian,"
kata Putri Selari.
"Tidak, Kanjeng Gusti. Bagi kami kau tetaplah junjungan yang harus kami hormati.
Dan kau berhak atas tahta kerajaan yang direbut oleh si jahanam itu," sahut
Bandang Ireng. "Paman, aku terharu atas kesetiaan kalian semua. Tapi masa itu telah berakhir.
Dan aku tidak ingin mengungkit-ungkit lagi," kata Putri Selari tetap lembut
suaranya. "Apa maksud, Kanjeng Gusti" Tidak tahukah kalau kami sudah lama mencarimu dan
terus mempersiapkan diri agar tahta itu bisa kembali ketanganmu. Dan kali
ini rencana besar itu akan berjalan lancer. Kami akan mendapat bantuan dari
orang-orang yang bisa dipercaya," kata Bandang Ireng.
"Paman Bandang Ireng, apa maksudmu...?" tanya Putri Selari heran.
Paman Bandang Ireng tidak langsung menjawab. Sebaliknya memandang pada Rangga
yang sejak tadi hanya diam saja membisu, dengan sinar mata memancarkan
kecurigaan. Gadis yang sebenarnya adalah Putri Selari, bisa cepat mcnangkap gelagat yang
tidak mengenakkan ini. Tapi Rangga sudah lebih cepat lagi tanggap akan
kecurigaan Bandang Ireng padanya.
"Kalau memang kehadiranku mengganggu, bolehkah aku meninggalkan tempat ini
sekarang...?" pinta Rangga sopan.
"Sebentar, Rangga. Aku percaya padamu dan kau boleh duduk di sini mendengarkan,"
cegah Putri Selari tegas.
"Tapi, Kanjeng Putri...."
"Paman, aku mempercayainya," kata Putri Selari cepat, membungkam beberapa kata
Bandang Ireng sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Ini persoalan hidup dan mati. Dan kita harus menjaganya erat-erat dari orang
luar." "Aku pertaruhkan nyawaku untuk itu."
"Kenapa Kanjeng Gusti berkata begitu...?"
"Sebab dia pun telah bertarung nyawa pada saat menyelamatkan nyawaku." sahut
Putri Selari tegas.
Bandang Ireng memandang berkeliling pada teman-temannya. Kelihatan dari raut
wajah mereka, seolah menyerahkan keputusan di tangannya. Sambil menghela napas
pendek, dia berkata lirih.
"Kami mendapatkan tenaga bantuan untuk menggulingkan tahta kerajaan...." kata
Bandang Ireng pelan.
"Bantuan dari mana?" tanya Putri Selari.
"Dari orang-orang yang mencintai Gusti Prabu Satya Wardhana Putra," sahut
Bandang Ireng. "Apakah mereka orang-orang yang kalian kenal baik sebelumnya?" tanya Putri
Selari lagi. Bandang Ireng menggeleng lemah.
"Kami memang belum mengenai baik, tapi utusan mereka datang ke kotaraja dan
mencari kami untuk menawarkan bantuan."
"Tahukah Paman. siapa yang mengirim utusan itu" Maksudku, siapa tokoh yang
berpengaruh terhadap orang-orang yang akan membantu kalian semua?" tanya Putri
Selari. "Kalau tidak salah, Ki Sobrang dan Ki Degil." sahut Bandang Ireng.
"Apa...?"
Bukan main terkejutnya Putri Selari mendengar nama yang baru saja disebutkan
Bandang Ireng. Dia langsung menatap tajam pada laki-laki didepannya ini.
Kemudian berpaling menatap Rangga yang masih berada disampingnya.
"Kenapa Gusti Kanjeng" Apakah mengenal kedua orang itu?" tanya Bandang Ireng
heran. "Paman, tahukah paman apa yang terjadi padaku saat kerusuhan yang menimpa
kerajaan..." Paman Gondo berusaha menyelamatkan aku. Usiaku saat itu belum lagi
genap delapan tahun. Namun prajurit-prajurit kerajaan mengetahui dan berusaha
menangkapnya. Aku bisa mengerti ketika Paman Gondo meninggalkan aku pada
seseorang untuk menyelamatkan aku. Saat itu aku hidup bergelandang dari satu
tempat ke tempat lain. Dan sampai seseorang memungutku menjadi anak, sekaligus
muridnya," ujar Putri Selari mengisahkan perjalanan hidupnya.
"Maafkan hamba, Kanjeng Gusti. Dengan menitipkan Kanjeng Gusti pada gembel itu.
Hamba berharap Kanjeng Gusti lolos dari kejaran mereka. Sebab bukan hamba
yang mereka incar. Tapi Kanjeng Gusti yang akan mereka binasakan. Ketika keadaan
agak sedikit reda, hamba berusaha mencari gembel itu. Namun tidak juga
bertemu. Lalu hamba terus mencari kemana-mana," selak Gondo dengan sikap yang
sangat hormat sekali.
"Sudahlah, Paman Gondo. Aku mengerti apa maksudmu saat itu. Nah, begitulah,
Paman. Karena kedudukan sebagai satu-satunya pewaris tahta kerajaan yang diburu
oleh para prajurit, keadaanku tidak aman sama sekali. Guruku kemudian membuatkan
sebuah topeng yang amat bagus agar orang-orang tidak mengenaliku lagi,"
kata Putri Selari menjelaskan perjalanan hidupnya secara singkat."*
* * " ?"Tapi apa hubungannya dengan kedua orang itu, Kanjeng Gusti?" tanya salah
seorang ingin tahu.
"Selama dalam pengembaraanku itulah aku banyak tahu tentang kehidupan rakyat.
Perkembangan dunia luar dan lain-lainnya. Paman, masih ingatkan kerusuhan
yang terjadi pada saat pemerintahan Ayahandaku..." Nah, orang-orang
dibelakangnya adalah mereka berdua. Mereka bukan orang baik-baik, Paman. Mereka
menggunakan kesempatan ini untuk membujuk paman-paman semua dengan dalih membantu. Padahal
mereka sebenarnya yang mempunyai kepentingan. Merekalah yang ingin menggulingkan
pemerintahan," kata Putri Selari menjelaskan.
"Dari mana Kanjeng Gusti mengetahuinya...?" tanya Bandang Ireng.
Putri Selari kemudian menceritakan kejadian yang menimpanya belakangan ini.
Sampai kematian gurunya dan pertemuannya dengan Rangga.
"Nah, begitulah ceritanya, Paman...."
"Keparat...! Licik! Orang-orang itu perlu diberi pelajaran!" umpat Bandang Ireng
geram. "Betul! Kita harus memberi pelajaran pada mereka. Apa lagi kalau sampai mereka
menyebar berita tentang kita, keadaan kita akan semakin gawat," desis salah
seorang dengan wajah ccmas.
"Paman-paman..., tenanglah. Tidak perlu terburu-buru. Lagi pula, tidak mudah
mendekati kedua orang itu. Selain mereka berilmu tinggi, banyak dikelilingi
oleh tokoh-tokoh sakti yang saat ini terus mengalir dan berdatangan untuk
membantunya," kata Putri Selari menenangkan.
"Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang, Kanjeng Gusti?" tanya Bandang Ireng.
"Kanjeng Gusti, selama ini kami seperti anak ayam yang kehilangan induk. Kini
Kanjeng Gusti telah berada diantara kami. Pimpinlah kami dan beri petunjuk.
bagaimana mestinya yang harus kami kerjakan saat ini," kata salah seorang menyelak. "Benar, Kanjeng Gusti. Berilah petunjuk bagaimana dan apa yang harus kami
lakukan sekarang," timpal Gondo.
"Selama ini kami memang selalu menantikan kehadiran Kanjeng Gusti untuk memimpin
kami, setelah Gusti Prabu Satya Wardhana Putra tiada," lanjut Bandang Ireng.
Putri Selari sedikit rikuh mendapatkan desakan seperti itu. Dia tidak biasa
selama ini mendapatkan penghormatan seperti itu. Kalaupun ada, Itu hanya sisasisa kenangan masa kccilnya saja. Masa lalunya. Tapi yang paling banyak mempengaruhi
kehidupannya adalah kehidupan nyata yang dialaminya tahun-tahun belakangan
ini. Kepahitan, kesengsaraan, kemudian terbiasa menjadi rakyat jelata.
"Rangga, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Putri Selari pelan.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Tapi kurasa kau tahu apa sebaiknya yang
harus kau lakukan," sahut Rangga.
"Tapi aku tidak bisa mengikuti kehendak mereka." kata Pulri Selari lagi.
"Apa sebenarnya kehendak mereka?" tanya Rangga.
"Apakah kau tidak mengerti juga" Mereka menginginkan aku menjadi pewaris tahta
kerajaan. Tapi itu tidak mungkin...," keluh Putri Selari.
"Kanjeng Gusti, kami rela mengorbankan nyawa untuk itu," selah Bandang Ireng
tegas. "Aku mengerti, Paman. Tapi pemerintahan yang sekarang kunilai cukup adil dan
tidak menyengsarakan rakyat. Biarlah mereka berjalan sebagaimana mestinya.
Tidak usah diungkit-ungkit masa lalu. Kalian boleh mencari penghidupan baru yang
damai dan tentram. Merebut kembali tahta kerajaan, hanya akan menimbulkan
pertumpahan darah. Dan rakyatlah yang akan menjadi sengsara," kata Pulri Selari
agak pelan terdengar suaranya.
"Kanjeng Gusti, hal itu tidak boleh terjadi. Tidakkah Kanjeng dan pembesarpembesar kerajaan terus menimbun harta bagi kepentingan mereka sendiri..."
Mereka sama sekali tidak mempedulikan kesejahteraan rakyat jelata?" jelas Bandang
Ireng. "Begitukah, Paman...?" tanya Putri Selari ragu-ragu.
"Kanjeng Gusti, kami berkata yang sebenarnya." tegas Bandang Ireng lagi.
"Entahlah..., tapi yang jelas, aku mesti membuat perhitungan lebih dulu pada
Sepasang Naga Pertala," kata Putri Selari pelan.
"Kanjeng Gusti, kami berdiri dibelakangmu, kemanapun kau pergi. Dan berada
paling depan unluk membantumu." kata Bandang Ireng cepat.
Yang lain langsung menyambutnya dengan penuh semangat pula.
"Terima kasih, Paman. Tapi aku tidak yakin...," ucap Putri Selari.
"Kenapa Kanjeng Gusti berkata begitu?"
"Mereka sangat kuat dan berjumlah banyak, Paman. Aku khawatir tidak mampu
menghancurkan mereka."
"Kanjeng Gusti, meski kepandaianku tidak seberapa, aku bersedia membantumu,"
selak Rangga. Gadis itu tersenyum kecil.
"Terima kasih, Rangga. Aku telah banyak me-repotkanmu," ucapnya pelan.
"Tidak. Aku merasa punya kewajiban untuk membantu orang-orang seperti kalian.
Nah, sebaiknya memang kita tentukan rencana selanjutnya," tegas Rangga.
"Baiklah. Tapi ada satu hal yang pertama kuminta darimu," kata Putri Selari.
"Hm, apa itu...?"
"Jangan panggil aku Kanjeng Gusti. Kau adalah sahabatku dan diantara kita tidak
ada perbedaan derajat," pinta Putri Selari.
"Tapi...," Rangga ingin menolak.
"Kau menerima permintaanku, bukan...?" potong Putri Selari cepat.
"Baiklah, kalau memang itu keinginanmu," sahut Rangga menyetujui dengan perasaan
berat. "Terima kasih, Rangga."
Gadis itu kemudian memandang pada orang-orang yang berada didepannya. Kemudian
lanjutnya dengan suara yang pelan, namun terdengar cukup jelas.
"Paman, terima kasih atas dukungan kalian semua padaku. Aku akan memuluskan soal
tahta kerajaan dan perjuangan kita untuk merebutnya kembali pada saat yang
tepat. Kali ini aku tidak bisa memutuskan soal itu. Tapi kalau kalian benarbenar bermaksud hendak membantuku, aku bermaksud menghancurkan orang-orang
seperti Ki Sobrang dan Ki Degil. Siapa yang tidak setuju boleh mundur!"
"Kanjeng Gusti, kami akan mengikutimu," sahut Bandang Ireng tegas.
"Betul! Apapun yang diputuskan, kami akan menjunjung tinggi!" sambut yang
lainnya serempak.
Dan suasana kembali ramai. Bukan oleh keragu-raguan lagi, atau rasa curiga
seperti tadi. Tapi oleh semangat yang menyala-nyala di dalam hati setiap orang
untuk mendukung rencana Putri Selari."6
"Perjalanan ke tempat tujuan memakan waktu kurang lebih dua hari perjalanan.
Namun jarak yang jauh itu seolah tidak dirasakan oleh mereka. Terutama sekali
pada Putri Selari. Hatinya betul-betul telah bulat untuk menghancurkan Sepasang
Naga Pertala. Meskipun dia mengatakan kalau da-sar tujuannya adalah untuk
kebaikan, namun tidak bisa dipungkiri kalau hal itu dilakukannya untuk
membalaskan dendam atas terbunuhnya Ki Ageng Tebung, gurunya sendiri.
Pada hari pertama mereka tiba di sebuah tempat yang bernama Pamekasan. Daerah
ini sebenarnya dikuasai oleh Adipati Sentanu. Namun yang terlihat di sepanjang
perjalanan, banyak orang-orang berwajah kasar dengan senjata tajam yang tidak
terpisah dari tubuhnya. Sikap mereka ugal-ugalan seperti layaknya kawanan
perampok. Beberapa orang terlihat sedang berpesta pora di tepi jalan sambil
tertawa terbahak-bahak. Bau arak langsung tercium begitu mereka melewatinya.
"Untung kiia berpencar dua, tidak jalan berombongan. Kalau tidak, tentu mereka
akan mencari urusan," kata Putri Selari pada Rangga.
"Ya, untung juga kau sudah mengenakan topeng itu lagi. Kalau tidak, pasti sudah
ada keributan sejak tadi," sahut Rangga kalem.
Gadis itu hanya tersenyum saja. Lima orang yang berjalan didekat mereka,
bersikap waspada. Orang ini adalah sebagian abdi kerajaan yang masih setia pada
Putri Selari. Rombongan mereka memang terbagi menjadi tiga bagian. agar tidak
menarik perhatian penduduk desa ini.
"He, gadis buruk! Enyah kau dari hadapanku! Kami jijik melihat mukamu itu!"
bentak salah seorang yang mcnggenggam kendi berisi arak.
Teman-temannya yang lain terkekeh sambil melambai-lambaikan tangan. Salah


Pendekar Rajawali Sakti 120 Prahara Mahkota Berdarah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seorang malah bangkit berdiri dan berjalan mendekati gadis ini. Tubuhnya kurus,
dan bola matanya terlihat marah. Dia berjalan terhuyung-huyung sambil terkekehkekeh kecil memuakkan.
"Apa yang harus kita lakukan, Rangga?" tanya Putri Selari meminta pendapat
Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Tenang saja, terus jalan pelan-pelan," sahut Rangga agak berbisik.
"Hei...! Mau kemana kau bidadariku..." Kesinilah temani aku minum sambil
berjalan-jalan di taman yang indah. He he he he...!" teriak orang bertubuh kurus
itu sambil berusaha mencekal tangan Putri Selari.
"Huh!"
"Aduh.... Galak sekali kau. Tapi dasar si Bengkung matanya picak. Gadis
secantikmu dikatakan buruk," ujar laki-laki kurus itu meracau tidak karuan.
Sekali lagi dia berjalan cepat dan berusaha mencekal pergelangan tangan gadis
ini. Putri Selari merasa jengkel juga. Untung tadi dia cepat menepiskan tangan
hingga orang itu tidak sempat mencekalnya. Tapi kali ini agaknya laki-laki itu
bertambah penasaran. Dia melompat dengan gerakan yang ringan hendak memeluk
tubuh Pulri Selari.
"Bangsat rendah! Hentikan perbuatan busukmu!"
"Heh..."! Upps!"
"Yeaaah...!"
Dua orang yang berada di belakang gadis itu agaknya tidak kuat lagi menahan
geram, melihat Putri Selari hendak dipermainkan begitu rupa. Sambil membentak
keras, keduanya serentak mengayunkan pukulannya dengan cepat dan keras. Tapi
laki-laki bertubuh kurus itu agaknya bukan orang sembarangan juga. Tubuhnya
langsung meliuk cepat menghindari serangan dua orang ini. Dan tiba-tiba saja
sudah kembali mencekal sambil mengirimkan tendangan yang kelihatan ringan.
"Kecoa busuk! Kalian kira bisa bertingkah didepanku, heh....'!"
"Hup!"
Plak! "Ukh...!"
Salah seorang berhasil mengelak dengan gesit. Tapi yang seorang lagi betul-betul
gemas, dan menganggap enteng lawannya. Sambil mengerahkan tenaga dalam
sekuat-kuatnya, dia menangkis tendangan lawan dengan ayunan kakinya juga. Tapi
kesudahannya, dia menjerit kesakitan sambil terpincang-pincang memegangi
tulang kakinya yang mulai membiru.
"Ha ha ha ha...! Menganggap remeh, he..." Kau pikir siapa dirimu, berani
menangkis seranganku..."!"
"Bondowoso, kenapa kau ini" Segala cacing-cacing busuk tidak berguna malah kau
permainkan." teriak salah seorang temannya sambil terlawa mcngejek.
"Barangkali kebiasaanmu cuma pada kecoa-kecoa busuk!" sahut yang lainnya
menimpali. Teman-temannya terkekeh mendengar kata-kata yang menyakitkan telinga ini. Tapi
laki-laki kurus yang dipanggil Bondowoso itu sama sekali tidak marah. Dia
malah ikut-ikutan terlawa terkekeh.
"He he he he...! Siapa yang peduli pada mereka...?"
Setelah berkata begitu, Bondowoso kembali hendak bergerak memeluk Putri Selari.
Namun sebelum hal itu dilakukannya, Rangga sudah lebih dulu bertindak sambil
merentangkan tangan kirinya.
"Sabar. Ki sanak. Tidakkah kau merasa malu" Kau bisa mendapatkan wanita yang
lebih cantik dari pada istriku ini. Bahkan dengan parasmu yang tampan itu,
kau bisa mendapatkannya lebih dari seorang. Kenapa malah yang buruk seperti ini
kau kehendaki" Biarlah dia menjadi milikku saja," kata Rangga mencoba mencegah
maksud Bondowoso.
"Aaah...! Tahu apa kau akan seleraku!" dengus Bondowoso sambil mencoba
menghantam tangan Rangga.
Tapi rentangan tangan pemuda itu sama sekali tidak bergeming sedikitpun juga.
Dengan gusar dia memukulnya lebih keras lagi. Namun akhirnya dia sendiri yang
menjerit kesakitan. Matanya terbeliak lebar, dengan wajah berkerut menahan
sakit. "Phuihhh! Pantas kau berani bertingkah. Agaknya kau baru sedikit mempunyai
kepandaian dan sudah mau mencoba pamer didepanku. Minggir...! Atau kuhajar kau!"
bentak Bondowoso mencoba mengancam.
"Ki sanak, kami sama sekali tidak ingin mencari keributan dengan kau. Tapi kau
terlalu me...."
"Aaah... mampus kau! Hih!"
"Upts...!"
Rangga tidak sempat meneruskan kata-katanya ketika Bondowoso langsung
mengayunkan satu pukulan ke arah mukanya. Terpaksa dia berkelit menghindar
dengan mengegoskan kepalanya sedikit. Tapi orang itu bukannya berhenti, malah semakin
gencar saja menyerang. Seperti menghadapi musuh besar yang berkepandaian
tinggi. Tapi ketika melihat kalau serangan-serangannya dengan mudah dihindari
lawan, membuatnya semakin kalap saja dan penasaran setengah mati.
Sebaliknya hal itu malah membuat teman-temannya terkekeh seakan mengejek seperti
sedang melihat sebuah pertunjukkan yang menggembirakan. Namun ketika satu
saat Rangga berteriak keras, dan tubuhnya melompat cepat, tahu-tahu Bondowoso
terlempar dua tombak sambil menjerit keras kesakitan. Tubuhnya tersungkur
tanpa bisa menguasai diri lagi. Teman-temannya tersentak kaget, dan sudah
langsung bangkit berdiri. Beberapa orang langsung mendekati Bondowoso dan
membantunya berdiri. Sedangkan dua orang diantaranya langsung saja menghampiri Pendekar
Rajawali Sakti ini.
"Bocah! Siapa kau sebenarnya, heh!" bentak salah seorang yang sebelah matanya
sipit dengan suara penuh selidik.
Namun sebelum Rangga bisa menyahuti, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara yang
begitu keras dan menggema, seperti dikeluarkan dengan pengerahan tenaga
dalam yang sudah tinggi sekali tingkatannya.
"Dasar kerbau-kerbau dungu! Tidak tahukah kalau kalian sedang berhadapan dengan
Pendekar Rajawali Sakti...?"
"Heh! Siapa itu...?"
"Apa" Pendekar Rajawali Sakti...?"
Orang-orang itu jadi terkejut setengah mati begitu mendengar suara yang
mengatakan kalau mereka sedang berhadapan dengan seorang pendekar besar yang
sudah begitu kondang namanva. Dan suara itu juga mengejutkan Putri Selari serta
beberapa orang yang menyertai mereka. Tapi keterkejutan itu cepat tertindih
ketika seorang pe-rempuan tua bertubuh kurus yang sangat dikenalnya tahu-tahu sudah
berada dilempat itu, bersama dua orang laki-laki yang dulu ikut membinasakan
gurunya. "Nyai Sukesih..." desis Putri Selari dengan nada suara terdengar geram.
"Hi hi hi hi...! Ternyata kau masih mengenaliku. Bocah. Bagus...! Sekarang kau
datang untuk menuntut balas dengan mengandalkan Pendekar Rajawali Sakti.
Huh...! Apa kau pikir aku takut dengan segala macam bocah bau kencur seperti
dia...?" "Siapa perempuan tua itu" Kau mengenalnya...?" tanya Rangga setengah berbisik.
"Dialah yang menewaskan guruku dan Adipati Mungkaran." sahul Putri Selari.
Rangga mendengus kecil sambil memandang tajam pada perempuan tua itu, yang
didampingi laki-laki bertubuh pendek dan seorang laki-laki lagi yang mukanya
seperti tikus. "Nyai, siapa kau dan apa hubunganmu dengan orang-orang ini?" tanya Rangga dengan
nada suara terdengar menyelidik ingin tahu.
"Mereka adalah anak buahku. Kau mau apa...?" sahut Nyai Sukesih dengan nada
ketus sambil berkacak pinggang.
"Hm, bagus...! Anak buahnya berkelakuan seperti gembel busuk. Sudah tenlu
majikannya mempunyai sifat yang lebih buruk lagi."
"Huh! Kau tidak perlu membakar amarahku dengan cara itu, Bocah! Apa kau pikir
kau sudah begitu hebat dan berani mencari gara-gara denganku..." Kau cuma
akan mcngantarkan nyawa secara percuma!" dengus Nyai Sukesih. sambil mendekati
pemuda ini. Dan berdiri tegak pada jarak lebih kurang lima langkah lagi.
"Biarlah kita lihat, siapa yang akan mengantarkan nyawanya secara percuma. Nyai
Sukesih, tidak usah banyak bicara. Kemana Ki Sobrang dan Ki Degil itu" Suruh
mereka keluar dan aku ingin belajar kenal dengannya."
Kata-kata yang diucapkan Rangga memang berkesan sombong. Tapi dengan begitu, dia
sengaja membakar amarah perempuan tua ini. Kalau dengan umpatan atau ejekan.
agaknya perempuan tua ini tidak akan bisa terpancing. Jalan yang terbaik, memang
sengaja diremehkan. Dan usahanya itu ternyata membawa hasil juga. Wajah
Nyai Sukesih jadi kelihatan berkerut, dengan mata nyalang dan dengus nafas yang
mulai cepat memburu.
"Bocah lancang! Ingin kulihat sampai di mana kepandaianmu yang digembargemborkan itu!" dengus Nyai Sukesih berang.
Selesai berkata begitu, Nyai Sukesih langsung saja melompat dan menyerang
Pendekar Rajawali Sakti ini dengan jurus yang disebut Kupu-Kupu Terbang di Atas
Rumput. Ini adalah suatu serangan yang sebenarnya terlihat tidak terlalu
berbahaya. Dan hal itulah yang sebenarnya mengecohkan lawan. Sebab meskipun
gerakannya terlihat lemah gemulai dan sedikit lambat, tapi dalam sekejapan saja bisa
berubah begitu cepat sekali bagai kilat. Dengan pengerahan tenaga dalam yang
sangat dahsyat sekali. Jurus ini juga sangat lincah dan sekaligus membuktikan
kalau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sudah mencapai tingkatan yang
sangat tinggi sekali. Begitu ringannya, se-hingga dapat melayang dengan lincah,
mengejar lawan yang terus bergerak menghindari setiap serangan yang
dilancarkannya.
Hup! "Yeaaah...!"
Upts! Dengan mengerahkan jurus Sembilan Langkah Ajaib, dengan mudah sekali Rangga bisa
menghindari serangan-serangan lawannya yang sangat gencar ini. Tapi meskipun
terlihat kalau dia seperti bermain-main dalam menghadapi lawannya, sesungguhnya
hal itu hanya gerakan-gerakan dari jurusnya saja. Dan membuat lawannya
semakin geram. Lalu dengan demikian, akan membuat pertahanannya terbuka. Dan
dengan begitu, di saat itulah dia akan menghajar lawannya dengan jurus lain.
Perkiraan Pendekar Rajawali Sakti ini memang tidak salah. Melihat seranganserangannya tidak ada yang membawa hasil. Nyai Sukesih semakin geram saja. Pada
saat itulah Rangga menggebrak dan memainkan jurus Rajawali Menukik Menyambar
Mangsa. "Hup! Hiyaa...!"
"Heh...!"
Nyai Sukesih jadi terperanjat, begitu tiba-tiba saja Rangga melenting tinggi ke
atas, lalu dengan kecepatan bagai kilat, Pendekar Rajawali Sakti itu menukik
deras dengan kedua kaki berputar sangat cepat sekali. Dan belum lagi hilang rasa
keterkejutannya, tiba-tiba saja....
Plak! Begkh! "Akh...!"
Nyai Sukesih jadi terpekik. Cepat-cepat dia melompat mundur sambil menguasai
keseimbangan tubuhnya.
"Kurangajar kau akan mampus di tanganku, Bocah!" bentak Nyai Sukesih memaki
geram. Bukan main geramnya perempuan tua itu. Dengan tidak terduga sama sekali, Rangga
mencuri kesempatan dan langsung menyerangnya dengan sangat tiba-tiba dari
atas. Nyai Sukesih berbalik dan menghantamkan telapak tangannya. Namun dengan
gesit sekali Rangga melompat ke depan, dan menyodokkan tangannya ke dada.
Tubuh perempuan tua itu jadi terhuyung-huyung sambil menjerit kesakitan. Namun
dia cepat bangkit dan memasang kuda-kudanya dengan kedua tangan tersilang
di depan dada. Mulutnya bergerak-gerak kecil seperti tengah mengucapkan sesuatu
dengan menggumam.
"Rangga, hati-hati. Dia akan mengeluarkan pukulan beracun...!" teriak Putri
Selari. Sebenarnya, tanpa diperingatkan gadis itu, Rangga sudah bisa menduga apa yang
akan dilakukan Nyai Sukesih. Namun dengan adanya peringatan Putri Selari,
dugaannya semakin terarah saja. Apa lagi setelah melihat kedua belah tangan
lawan sebatas siku sudah beruhah ungu secara perlahan-lahan. Dan mengepulkan
asap tipis. "Mampus kau! Hiyaaat...!"
"Upts! Yeaah...!"
Wut!"* * * " "Rangga dapat merasakan hawa racun yang luar biasa sekali dari serangan lawannya.
Lagi pula pada jarak yang dekat, kulit tubuhnya terasa terbakar akibat
pengaruh kedua tangan lawannya. Diam-diam Pendekar Rajawali Sakti itu menggeram.
Tubuhnya melesat tinggi ke udara sambil bergulung-gulung. Kemudian menukik
dengan tajam sekali sambil membentak keras menggelegar.
"Yeaaah...!"
"Hiyaaat...!"
Glaaar! "Aaaakh...!"
Pada saal tubuhnya menukik ke bawah, Pendekar Rajawali Sakti itu mengerahkan
jurus Pukulan Maut Paruh Rajawali yang terakhir. Dan dari lelapak tangannya
melesat secercah sinar merah yang langsung menghantam perempuan tua ini. Namun
pada saat yang bersamaan pula. Nyai Sukesih memang sudah bersiap menghajar
lawan dengan pukulan mautnya itu. Dan kedua pukulan itu beradu dan tidak dapat
terelakkan lagi. Hingga menimbulkan suara ledakan keras menggelegar.
Namun sinar merah dari pukulan Rangga terus melesat menghantam tubuh perempuan
tua ini. Hingga Nyai Sukesih jadi terpekik dan tubuhnya terpental ke belakang.
Dari mulutnya terlihat darah muncrat ke luar. Dan dia tewas seketika begitu
tubuhnya menghantam tanah.
"Keparat...! Kau harus mampus, Bocah!" geram laki-laki bertubuh cebol.
"Hajar dia...!" teriak si muka tikus memberi perintah pada yang lainnya.
Tanpa diperintah dua kali, mereka langsung saja mengurung Pendekar Rajawali
Sakti ini. Tapi hal itu tentu saja tidak bisa dibiarkan saja oleh Putri Selari.
Dia dan lima orang pengikutnya yang setia, langsung berlompatan dan bergabung
dengan Pendekar Rajawali Sakti ini.
"Anjing-anjing busuk! Majulah kalian...!" seru Putri Selari sudah muak.
"Perempuan buruk! Kau akan mampus di tanganku! Hari ini tidak akan kubiarkan kau
lolos lagi!" bentak si cebol sambil melompat menyerang.
"Hiyaaa...!"
Tindakan si cebol itu agaknya sekaligus merupakan perintah bagi yang lainnya
unluk menyerang. Dan pertarungan diantara mereka tidak dapat dielakkan lagi.
Namun ada hal yang tidak disadari Pcndekar Rajawali Sakli dan yang lainnya.
Teriakan-teriakan itu ternyata mengundang orang-orang mcnghampiri tempat ini.
Dan satu per satu mereka ikut ambil bagian menyerang. Jumlah mereka semakin
bertambah banyak saja. Dan membuat Rangga mulai berpikir. Tadinya dia menduga
kalau mereka hanya penduduk desa biasa. Tapi kenapa ikut-ikutan menyerang..."
Dan melihat cara mereka bertarung, agaknya mereka memang bukan penduduk biasa.
Tapi orang-orang yang betul-betul sudah mengerti ilmu olah kanuragan. Apakah
desa ini sudah dikuasai oleh kaki tangan Sepasang Naga Pertala..."
Tapi tidak ada kesempatan bagi Rangga untuk berpikir lama-lama. Mereka semakin
terdesak saja. Dan para pengikut Putri Selari banyak yang terluka cukup berat.
Gadis itu sendiri sudah mulai terdesak. Tanpa berpikir panjang lagi, Rangga
mencabut pedang pusakanya. Seketika itu juga cahaya biru terang menyilaukan
mata memancar dari batang pedang itu. Menerangi tempat ini.
"Majulah kalian semua! Hiyaaa...!"
Rangga jadi geram setengah mati, melihat keadaan semakin bertambah buruk saja.
Dan mereka yang mengeroyoknya jadi terkejut setengah mati, begitu melihat
kehebatan pamor pedang Rajawali Sakti di tangan pemuda berbaju rompi putih ini.
Tapi hal itu hanya berlangsung beberapa saat saja.
"Huh! Siapa peduli pada segala ilmu sihir! Ayo, hajar mereka. Jangan biarkan
mereka hidup...!"
"Habisi mereka!"
"Hiyaaat...!"
Sambil berteriak-teriak tidak karuan, orang-orang itu terus berlompatan
menyerang. Rangga jadi mendengus geram. Sambil membentak keras menggelegar, dia
melesat dan mengayunkan pedangnya dengan kecepatan bagai kilat.
"Hiyaaat...!"
Bet! Cras! "Aaaakh...!"
"Aaa...!"
Jeritan-jeritan tertahan sekelika itu juga terdengar. Dan wajah-wajah terkejut


Pendekar Rajawali Sakti 120 Prahara Mahkota Berdarah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seketika membayang. Lebih-lebih setelah melihat beberapa orang ambruk dengan
tubuh bersimbah darah. Tidak satu senjatapun yang bisa menahan serangan Pedang
Rajawali Sakti yang berkelebatan begitu cepat sekali bagai kilat. Semuanya
putus seperti batang pisang terbabat golok.
Pada mulanya kejadian itu membuat mereka semakin geram dan lebih bernafsu lagi
hendak membunuh pemuda ini. Tapi tidak seorangpun yang selamat kalau mendekati.
Hingga akhirnya membuat nyali mereka jadi kecut. Terlebih lagi semakin banyak
saja yang ambruk bermandikan darah. Jeritan-jeritan melengking tinggi terus
terdengar semakin sering. Sementara Rangga terus berlompatan dengan pedang di
tangan berkelebatan begitu cepat sekali bagai kilat. Hingga bentuk tubuh
dan pedangnya tidak terlihat lagi. Dan hanya kilatan-kilatan cahaya biru saja
yang terlihat berkelebatan begitu cepat bagai kilat.
Gerakan-gerakan yang begitu cepat dari Pendekar Rajawali Sakti itu, hingga sulit
sekali diikuti dengan pandangan mata biasa. Dan hanya kilatan-kilatan cahaya
biru saja yang terlihat berkelebatan begitu cepat sekali. Setiap kali terlihat
kelebatan cahaya biru, terdengar suara jeritan melengking tinggi, yang disusul
dengan ambruknya dua atau tiga orang dari mereka. Dan tentu saja ini membuat
orang-orang yang mengeroyoknya jadi gentar. Dan mereka cepat- cepat berlompatan
mundur. Hingga tidak ada seorangpun yang berada lagi di dekat Pendekar Rajawali
Sakti itu. Melihat tidak ada seorangpun yang berada didekatnya, Rangga menghentikan
gerakan-gerakannya. Dia berdiri tegak dengan pedang pusakanya tersilang di depan
dada. Cahaya biru yang memancar dari pedang pusaka Rajawali Sakti itu membuat
sosok tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu bagaikan malaikat maut yang akan
mencabut nyawa siapa saja didekatnya.
"Hei! Maju...! Kenapa diam'' Ayo, maju kalau ingin kepala kalian terpisah!"
bentak Rangga seperli menakut- nakuti.
Tidak ada seorangpun yang berani mendekat lagi. Tapi tiba-tiba saja....
"Pendekar Rajawali Sakti, kau boleh memancung kepala kami berdua."
"Heh..."!"
"Oh...!"
7"Semua orang yang berada di situ memalingkan perhatian. Para pengeroyok mereka
tampak memberi hormat. Lalu buru-buru menyingkir seperti memberi kesempatan
pada dua orang laki-laki bertubuh tegap yang baru sampai di tempat itu. Yang
seorang sedikit lebih tinggi, dengan kumis melintang dan sepasang mata cekung.
Orang ini bernama Sobrang. Seorang lagi yang berkulit agak putih, dengan rambut
panjang terurai, bernama Degil. Mereka berdua yang disebut sebagai Sepasang
Naga Pertala. Bersama dengan mereka terlihat beberapa orang tokoh persilatan
mengiringi dari kiri dan kanan. Satu diantaranya dikenal Rangga sebagai orang
yang pernah dipencudanginya ketika beberapa hari lalu menolong Putri Selari.
"Hm, apakah kalian berdua yang dikenal dengan nama Sepasang Naga Pertala?" tanya
Rangga dengan nada dingin.
"Oh, lumayan juga ternyata kau mengenal kami. Lama sudah kudengar kehebatan nama
Pendekar Rajawali Sakti, dan tidak sangka hari ini aku telah membuktikannya
sendiri. Hm, orang-orang sepertimulah yang kuinginkan untuk menjadi sahabat
terbaikku," ujar Ki Sobrang dengan nada suara dibuat manis.
"Apa maksudmu?" tanya Rangga seperti tidak mengerti.
"Seperti kau lihat. Desa ini telah kukuasai dengan penuh. Dan lebih dari lima
desa yang berada dan berbatasan dengan tempat ini telah dikuasai orang-orangku.
Kemudian tidak berapa lama lagi, tentu saja aku bermaksud unluk merebut kotaraja
dan menyingkirkan raja yang telah menyengsarakan rakyat jelata. Orang-orang
seperti dia tidak layak menjadi raja, dan rakyat berdiri di belakang kami
memberi dukungan. Nah, Pendekar Rajawali Sakti, Aku akan sangat senang sekali
kalau kau dan teman-temanmu itu bersedia membantu kami. Aku akan melupakan apa
yang telah terjadi tadi," kata Ki Sobrang lagi, mencoba membujuk.
"Aku mengerti maksudmu. Ki sanak. Tapi sayang sekali, aku adalah orang bebas dan
tidak suka terikat oleh apapun juga. Apalagi mesti berada di bawah perintah
seseorang. Apalah arti hidup bagiku..." Dengan sangat menyesal sekali aku tidak
bisa memenuhi permintaanmu," sahut Rangga, juga dibuat sopan nada suaranya.
Tapi dengan suara yang terdengar tegas.
"Kau salah mengerti, Pendekar Rajawali Sakti. Apa yang telah kulakukan sekarang
ini sama sekali tidak menyengsarakan rakyat. Mereka mendukungku. Lagi pula,
siapa yang hendak mengikatmu" Kau bebas melakukan apa saja yang kau sukai.
Dan tentu saja aku berharap semua hal ini adalah membantu perjuangan kami," kata
Ki Sobrang lagi.
"Maaf, Ki sanak. Aku tidak bisa. Juga teman-temanku," tolak Rangga tegas.
"Kalau begitu, kau harus memperhitungkan nyawa teman-teman kami," sahut Ki
Sobrang mulai sinis.
"Itu bukan kesalahanku."
"Siapa yang peduli...?"
Setelah berkata begitu, terlihat beberapa orang yang berada didekat Ki Sobrang
sudah bergerak hendak menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Tapi Ki Degil dan
Ki Sobrang sudah cepat mencegahnya. Mereka melangkah pelan mendekati pemuda
berbaju rompi putih itu dengan sorot mata yang tajam, menusuk langsung ke bola
mata pemuda didepannya ini.
"Biarlah kami belajar kenal dengan seorang pendekar ternama sepertimu." kata Ki
Degil dengan suara terdengar mengejek, dan senyuman sinis terkembang dibibirnya.
"Ya, kami sudah lama ingin lebih mengenal dirimu, Pendekar Rajawali Sakti,"
timpal Ki Sobrang juga tersenyum sinis.
Rangga hanya tersenyum saja. Dia tahu kalau kedua orang ini ingin bertarung
dengannya. Sikap mereka memang seperti orang baik-baik yang sangat ramah sekali.
Tapi dari sorot matanya tersembunyi kekejaman. Dan orang-orang seperti mereka
inilah yang sangat berbahaya sekali. Kelihatan sekali kalau mereka penuh
percaya diri, dan sama sekali tidak berkesan menyombongkan diri. Tapi juga tidak
terlihat kalau mereka gentar berhadapan dengan Pendekar Rajawali Sakti.
Padahal dari ucapannya, sudah jelas sekali kalau mereka mengetahui siapa pemuda
didepannya ini sebenarnya. Dengan segala sepak terjang yang telah mereka
dengar selama ini.
"Hm, kalau memang begitu, tidak ada jalan lain lagi. Silahkan. Sebagai tamu aku
tentu harus berbuat sopan," sambut Rangga sopan.
"Bagus! Terimalah ini, Bocah! Hiyaaat...!"
Ki Sobrang sudah melompat begitu cepat sekali sambil mengirimkan satu tendangan
keras menggeledek yang mengarah ke kepala. Dan bersamaan dengan itu pula,
tubuh Ki Degil melesat ke udara dan berputaran beberapa kali. Lalu dengan cepat
sekali dia menyambar dada Pendekar Rajawali Sakti dengan satu sodokan yang
begitu cepat dan keras sekali.
"Hap!"
Wui: Uptsss...! Kaki kanan Rangga melangkah ke belakang satu tindak. Dan kedua lulutnya langsung
ditekuk sedikit. Beberapa saat kemudian, dia bergerak ke kiri sambil memiringkan
tubuhnya. Dan kaki kanannya begitu cepat sekali menyambar Ki Sobrang, sambil
memutar tubuh. Saat itu juga, kaki kirinya berputar mcnyambut serangan Ki
Degil. "Yeaaah...!"
Namun alangkah terkejutnya Pendekar Rajawali Sakti itu, ketika menyadari kalau
lawan-lawannya menyerang dengan gencar dan mengandung pengerahan tenaga dalam
yang sangat tinggi sekali tingkatannya. Dan lagi terasa kalau pukulan mereka
sangat berat dan mematikan.
"Jangan anggap enteng, Ki sanak. Kau akan jatuh sebelum dua jurus berlangsung!"
dengus Ki Sobrang memperingatkan.
Apa yang dikatakan Ki Sobrang barusan memang sangat beralasan sekali. Dan Rangga
sendiri sudah mengalaminya tadi. Kedudukannya benar-benar terjepit. Kepandaian
dua orang ini sungguh tinggi sekali dan tak bisa dipandang enteng. Seranganserangan mereka sangat cepat dan saling mengisi. Sehingga setiap gerakan yang
dilakukan seperti lanjutan dari gerakan yang pertama. Dan sedikit pun tidak ada
yang kosong dalam serangannya. Semuanya mengutamakan gebrakan-gebrakan
bercampur tipuan yang cukup menyulitkan.
"Hup! Yeaaah...!"
"Hiyaaat...!"
"Heh..."!"
Kembali Rangga jadi tersentak kaget. Satu pukulan yang memancarkan cahaya
kelabu, bergerak begitu cepat sekali kearahnya. Masih untung Pendekar Rajawali
Sakti itu bisa menghindar dengan cepat. Namun akibatnya yang ditimbulkan pukulan
itu sungguh dahsyat sekali. Sebuah lubang besar dan sangat dalam membongkar
tanah yang tadi dipijak Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Gelap Ngampar..." desis Rangga.
"Bagus! Rupanya kau sudah mengenal jurus pukulan kami. Coba kau tahan ini!"
bentak Ki Degil.
"Yeaaah...!"
"Upts! Yeaaah...!"
Glaaar! "Akh...!"
"Hm, Gelap Sayuto," desis Rangga lagi."*
* * " "Pendekar Rajawali Sakli jadi sedikit bergidik juga. Angin pukulan Ki Degil pada
jarak dua langkah, masih terasa menyengat kulit dan membakar jantungnya.
Apalagi pukulan yang dilancarkan Ki Degil tadi, berwarna putih kekuningkuningan. Dan lesatan sinarnya mengandung hawa panas ke-kuning-kuningan. Dan
lesatan sinarnya mengandung hawa panas dingin yang sangat tajam menyengat. Akibat yang
ditimbulkannya juga sungguh sangat kejam sekali. Seorang anak buah mereka
yang berada di belakang Pendekar Rajawali Saki itu sampai menjadi korban, ketika
pemuda itu melompat menghindari pukulan Ki Degil tadi. Tubuh orang itu
pecah dengan darah berkubang disekujur tubuhnya yang sudah tidak berbentuk lagi.
"Hiyaaa...!"
Bukan main geramnya pemuda itu melihat kedua lawannya ingin segera mencabut
nyawanya. Tidak ada jalan lain lagi selain membalas. Begitu yang bergejolak
di dalam hati Pendekar Rajawali Sakti ini. Sambil menggeram hebat, dia
melentingkan tubuhnya dengan kecepatan bagai kilat. Ke-mudian membentak nyaring
sambil menghantamkan satu pukulan yang diambilnya dari jurus Pukulan Maut Paruh
Rajawali, dan tepat diarahkan kepada dua orang lawannya ini.
Bet! Wuk! "Heh..."!"
Rangga seperti tidak percaya pada penglihatannya sendiri. Mereka sama sekali
tidak berusaha menghindar sedikitpun dari serangannya. Dan yang lebih
mengherankan lagi, pukulannya tadi seperti tenggelam begitu saja di dalam tubuh kedua orang
ini, tanpa menimbulkan akibat apapun juga. Seperti tertimpa sinar biasa
saja. "Ha ha ha ha...! Kau boleh menghambur-hamburkan semua kepandaianmu, Bocah. Tapi
jangan harap kau bisa melukai, apalagi menghancurkan kami." ujar Ki Sobrang,
sambil terlawa terbahak-bahak mengejek.
"Hiyaaa...!"
"Upts!"
Lain lagi dengan Ki Degil. Dia langsung saja menggunakan kesempatan ini untuk
menyerang dengan sengit tanpa berbasa-basi lagi. Sikapnya itu kemudian diikuti
oleh Ki Sobrang, setelah puas tertawa mengejek. Kembali Pendekar Rajawali Sakti
itu harus menghadapi dua serangan dari kanan dan kirinya.
Meskipun dia memainkan jurus Sembilan Langkah Ajaib pada tingkatan yang sudah
sangat tinggi sekali, tapi serangan-serangan kedua orang ini semakin gencar
saja. Kecepatan gerak mereka juga tidak berada di bawah kecepatan yang dimilikinya. Sehingga membuat Rangga semakin kelihatan kewalahan. Beberapa kali
dia berusaha melakukan serangan balasan. Tapi serangannya tidak pernah membawa
hasil yang diinginkan. Walaupun tenaga dalam yang dikerahkan sudah sangat
sempurna sekali tingkatannya.
"Sepasang Naga Pertala, maaf. Kalian memang hebat. Tapi aku juga harus
mempertahankan diri. Jangan salahkan kalau kalian ingin celaka ditanganku!" ujar
Rangga agak keras suaranya.
Dan setelah berkata begitu, dia langsung saja mencabut pedang pusakanya.
"Kenapa sungkan-sungkan" Silahkan saja.... Gunakan apa saja yang kau miliki,
Pendekar Rajawali Sakti. Biar kami bertangan kosong saja." sambut Ki Sobrang
angkuh. Kata-kata Ki Sobrang itu memang tidak enak sekali didengar telinga. Tapi Rangga
seperti tidak peduli. Dan dia tidak ingin terpancing dengan sikap lawan
yang seakan-akan meremehkannya. Pendekar Rajawali Sakti itu langsung saja
melesat cepat sambil mengebutkan pedangnya yang meman-carkan cahaya biru
berkilauan menyilaukan mata itu. Membuat sekeliling tempat pertarungan itu jadi terang
benderang. Namun baru beberapa kali gerakan yang dilakukan Pendekar Rajawali
Sakti itu, tiba-tiba saja....
Bet! "Heh..."!"
Seperti tadi, kedua laki-laki itu sama sekali tidak berusaha mengelak sedikitpun
juga dari serangan Pendekar Rajawali Sakti ini. Kulit tubuh mereka hanya
tergores sedikit saja, dan sinar biru yang memancar dari pedang pusaka Rajawali
Sakti itu menyelubungi tubuhnya. Rangga mendesah kecil, merasa heran karena
kedua lawannya sama sekali tidak berusaha mengelak sedikitpun juga. Padahal
selama ini, tidak seorangpun yang mampu selamat dari pedangnya. Tapi yang
terlihat kemudian, sungguh mengagetkan sekali. Matanya jadi terbeliak lebar, seolah-olah
tidak percaya dengan pandangannya sendiri. Kedua orang itu tidak terpengaruh
sedikitpun akibat babatan pedangnya. Bahkan luka kecil akibat goresan pedangnya
tadi, begitu cepat sekali lenyap tak berbekas sama sekali.
"Gila.."! Ilmu apa yang digunakan...?" desis Rangga keheranan tidak mengerti.
"Yeaaah...!"
"Uts!"
Begkh! "Akh...!"
Dalam keterkejutannya itu. Pendekar Rajawali Sakti menjadi lengah. Dan satu
pukulan telak yang dilakukan Ki Degil, membuat pemuda itu terjungkal ke
belakang. Rangga berusaha menguasai diri dengan cepat. Tapi kedua lawannya seperti tidak
memberi sedikitpun kesempatan padanya. Terpaksa Pendekar Rajawali Sakti
itu jungkir balik dengan mengerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuh
yang dimilikinya, menghindari serangan-serangan yang sangat gencar dan dahsyat
ini. Plak! Des! "Akh...!"
"Rangga...!"
Putri Selari jadi terpekik begitu melihat Rangga terkena dua pukulan sekaligus
dari kedua lawannya. Hatinya mulai cemas melihat Pendekar Rajawali Sakti
itu kini menjadi bulan-bulanan lawannya. Meski bersenjata dan sesekali berhasil
menebas tubuh lawan, namun tetap saja tidak berpe-ngaruh apa-apa pada Sepasang
Naga Pertala ini. Tentu saja hal itu membuat keadaan Rangga jadi semakin
mcncemaskan. Baginya, memakai senjata atau tidak, sama saja artinya. Dan ketika pemuda itu
menyarungkan kembali pedang pusakanya ke dalam warangkanya di punggung dia
terlihat berusaha membendung serangan-serangan lawannya dengan jurus-jurus
tangan kosong. Namun tidak membuat kekhawatiran Putri Selari berkurang. Bahkan
semakin ber-tambah cemas saja, melihat Rangga seperti terus terdesak.
"Oh, aku harus menolongnya," desis Putri Selari khawatir.
Namun baru saja dia hendak bergerak, beberapa orang anak buah Sepasang Naga
Pertala sudah bergerak menghadang. Dan para pengikutnya juga mencoba untuk
menahan gadis ini. "Kanjeng Gusti Putri, tahanlah amarah. Mereka bertarung dengan jujur. Dan
semestinya kitapun bersikap begitu. Lagi pula, percuma saja kalau Kanjeng Putri
turun tangan. Keadaan akan semakin bertambah buruk."
"Tapi dia memerlukan pertolongan. Paman. Coba lihat, keadaannya sangat
mengkhawatirkan sekali. Kalau terus begini, bisa jadi dia akan tewas," kata
Putri Selari. "Sabarlah, Kanjeng Gusti. Dia seorang pendekar ternama yang hebat. Dia pasti
mampu mengatasinya sendiri."
Namun pada saat itu.....
"Yeaaaah...!"
"Heh! Suara apa itu..."!"


Pendekar Rajawali Sakti 120 Prahara Mahkota Berdarah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Prajurit kerajaan...!?"*
* *" "Pada saat-saat yang kritis bagi keselamatan Rangga, saat itu dari kejauhan
menderu pasukan berkuda yang bergerak mendekati tempat ini dengan cepat. Derap
langkah kaki kuda bercampur debu yang mengepul di udara terlihat begitu jelas
sekali. Beberapa orang anak buah Sepasang Naga Pertala, memberitahukan kalau
mereka yang baru datang itu berasal dari kerajaan. Ki Sobrang dan Ki Degil
langsung saja menghentikan perlarungannya.
"Pendekar Rajawali Sakti, urusan ini belum selesai. Hari ini biarlah kutunda
nyawamu yang tak berharga itu. Tapi setelah kejadian ini, kau tidak akan selamat
dari kami!" seru Ki Sobrang mengancam.
Setelah berkata begitu dia memberi perintah pada semua anak buahnya untuk
bersiap menghadapi para prajurit itu. Sedangkan Putri Selari buru-buru
menghampiri Rangga dan membantu pemuda itu untuk bangkit sambil menyeka tetesan darah disela
ujung bibirnya.
"Rangga, lekas kita menyingkir dari tempat ini. Sebentar lagi akan ada
pertarungan besar." kata Putri Selari mengingatkan.
Rangga seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Hanva menurut saja ketika gadis
itu memapahnya untuk menjauh dari tempat ini. Sementara para pengikut gadis
itu mengikutinya dari belakang. Mereka terus berjalan dengan pelan, ke luar dari
desa ini. Sepanjang perjalanan, pemuda itu hanya diam saja membisu. Tidak
banyak bicara. "Sudahlah, Rangga. Kalah dan menang dalam pertarungan itu sudah biasa. Dan tidak
perlu dipersoalkan lagi." hibur Putri Selari.
Rangga hanya tersenyum kecil saja.
"Aku pernah mengalami peristiwa seperti ini sebelumnya. Barangkali apa yang kau
katakan memang benar. Tapi ini justru membuatku jadi scemakin penasaran."
"Kau akan menantang mereka lagi?"
"Entahlah..." desah Rangga.
Mereka kembali terdiam dan mengikuti sebuah aliran sungai yang tidak begitu
besar sampai ke hulu.
"Kita istirahat saja dulu di sini," kata Putri Selari.
"Aku merasa tidak berguna, ya..." ujar Rangga lirih.
"Jangan bicara begitu. Rangga. Kau sudah membantu kami sekuat tenaga dan
kemampuanmu," kata Putri Selari menghibur.
"Apa yang kalian lakukan sekarang?" tanya Rangga lagi.
"Entahlah, aku juga jadi bingung." sahut Putri Selari.
"Kanjeng Gusti, kita harus memberitahukan ini pada yang lain. Mereka mungkin
sudah berjalan terus ke tempat kediaman kedua orang itu." salah seorang pengikut
mereka menyelak.
"Ya, kita akan berkumpul di sini. Siapa yang akan berangkat menemui mereka?"
sambut Putri Selari.
Dua orang segera berdiri, dan menyatakan kesediaannya. Setelah memohon restu
dari gadis itu, mereka segera berangkat saat itu juga.
"Paman, adakah yang bersedia membantuku untuk mengawasi desa itu?" pinta Putri
Selari. "Untuk apa, Kanjeng Gusti?" tanya salah seorang.
"Kita harus tahu kalau orang yang kita cari berada di sana. Dan saat ini terjadi
perang antara prajurit kerajaan dengan mereka. Sudah sepatutnya kita mengetahui
perkembangan ini."
"Hm, kalau begitu, biarlah hamba yang melakukannya," sahut salah seorang dan
langsung bangkit berdiri.
Agaknya orang-orang ini betul-betul menganggap gadis itu adalah junjungannya
saja. Sehingga sikap mereka seperti seorang hamba yang sedang berhadapan dengan
majikannya. Padahal gadis itu berulang kali memperingatkan kalau kedudukan
mereka semua sederajat. Tapi peringatan itu tidak diperhatikan sama sekali.
"Kanjeng Gusti, mereka telah mendapat tugas. Lalu tugas apa yang bisa kami
lakukan?" tanya salah seorang dari dua orang yang tersisa.
Putri Selari tersentak dan untuk beberapa saat diam tidak menjawab. Dia belum
terbiasa dengan cara-cara mereka dan sama sekali tidak menyadari kalau mereka
dengan sepenuh hati menganggapnya seorang ratu yang patut dihormati dan dilayani
sebagaimana layaknya seorang pewaris tahta kerajaan. Tapi gadis ini cepat
menyesuaikan diri, dan kemudian terlihat dia tersenyum kecil.
"Paman, dengan adanya kalian di sini, bukankah itu sudah suatu tugas bagi
kalian" Kami merasa dilindungi," kata Putri Selari lembut.
"Tapi, Kanjeng Gusti...."
"Sudahlah, Paman. Bagaimanapun masing-masing kita mempunyai tugas dan kewajiban.
Dan harus menerima apa adanya. Begitu pula dengan kalian."
"Baiklah, Kanjeng Gusti."
Putri Selari memalingkan mukanya. Dilihatnya Rangga masih tetap duduk merenung
sambil menggigit-gigit sebatang rumput kecil.
"Kau masih memikirkan pertarunganmu tadi, Rangga...?" tegur Putri Selari.
Pendekar Rajawali Sakti itu hanya tersenyum saja sedikit. Luka dalam yang
dideritanya kalah sakit dengan dibandingkan kekalahan yang diterimanya dari
Sepasang Naga Pertala. Tapi memandang wajah gadis itu yang masih mengenakan topeng, mau
tidak mau terhibur juga hatinya. Bagaimana mungkin bisa berbalik begini..."
Padahal di balik topeng yang menjijikkan itu, terdapat seraut wajah yang sangat
cantik jelita. Tanpa sadar Rangga jadi tersenyum sendiri.
"Kenapa tersenyum...?"
Perlahan Rangga bangkit berdiri.
"Kalian di sini saja. Aku hendak bersemadi sebentar. Jangan jauh-jauh dari
sini," kata Rangga berpesan, tanpa menghiraukan pertanyaan Putri Selari tadi.
"He! Kau belum jawab penanyaanku! kenapa tiba-tiba tersenyum tadi..." Kau
seperti mentertawakan aku!" seru Putri Selari tidak puas.
"Tidak. Tidak ada apa-apa," sahut Rangga, terus saja melangkah pergi.
Putri Selari hanya bisa diam memandangi dengan sorot mata kelihatan tidak puas
dengan jawaban Rangga barusan. Kemudian dia memutar tubuhnya berbalik, dan
diam membisu diantara dua orang pengikutnya yang masih setia menemani.
8"Tidak terasa lebih dari tiga hari mereka terus berpindah-pindah tanpa harus
melakukan apa. Rangga semakin putus asa, sementara Putri Selari dan para
pengikutnya semakin gelisah saja. Beberapa kali mereka mendesaknya untuk mengambil
keputusan. Bahkan Rangga sendiri menyerahkan persoalan kepadanya.
"Aku setuju dengan usul Paman Bandang Ireng. Kau boleh mcngambil keputusan saat
ini juga. Keadaan semakin gawat dan pasukan mereka telah berhasil menguasai
beberapa tempat serta memukul mundur pasukan kerajaan, tidak lama lagi mereka
tentu akan menyerbu kotaraja," kata Rangga.
"Apa yang harus kulakukan. Rangga'' Apakah mengerahkan pasukan yang sedikit ini
ataukah membangkitkan semangat rakyat untuk mengadakan perlawanan...'' Itu
suatu pekerjaan yang sia-sia. Mereka sangat kuat dan rakyat akan sengsara
sementara tujuan ke depan belum pasti," kata I'utri Selari sedikit kesal.
"Kanjeng Gusti Putri, setiap perjuangan itu memerlukan pengorbanan. Bisa kecil,
bisa juga besar. Rakyat merasa tertindas dan sepanjang tempat yang kami
lewati, pasukan Ki Sobrang dan Ki Degil sering berbuat sesuka hati mereka.
Merampok harta benda penduduk, menodai perempuan-perempuan desa, dan tidak
segan-segan membunuh mereka yang mencoba melawan. Itukah yang mereka katakan kalau rakyat
menyetujui perjuangan mereka" Sesungguhnya mereka bukan pejuang, melainkan
perampok!" kata Bandang Ireng menjelaskan lebih lanjut.
"Betul, Kanjeng Gusti. Hamba sendiri mengenali pasukan mereka. Orang-orang itu
tidak lain dari para perampok dan penjahat yang sering mengganggu ketentraman
rakyat. Kita harus bertindak apapun caranya." sambung salah seorang mcnimpali.
"Aku setuju saja. Kita harus berupaya sekuat tenaga untuk menghancurkan mereka,
sahut Rangga langsung menyetujui.
"Aku tidak meragukan untuk menghancurkan mereka, Rangga. Tapi yang kupikirkan
adalah apakah pengorbanan kita ini ada artinya" Kau sendiri mengetahui kalau
selain jumlah mereka yang banyak, mereka juga kuat dan sulit dikalahkan kata
"Putri Selari.
"Tapi kita tidak bisa berpangku tangan saja. Setidaknya ada sedikit yang bisa
kita lakukan dan mematahkan perlawanan mereka," kata Rangga lagi.
"Betul, Kanjeng Gusti. Hamba telah memikirkan hal itu. Kita tidak akan menyerang
mereka secara terbuka, melainkan secara bersembunyi-sembunyi. Dengan begitu,
sedikit demi sedikit kita akan mengikis kekuatan mereka, sambil mem-bangkitkan
semangat rakyat." jelas Bandang Ireng.
Putri Selari berpikir sesaat. Keputusan saat ini memang berada ditangannya.
Kemudian dipandanginya Bandang Ireng, lalu berkata dengan suara yang pelan,
namun mengandung nada yang tegas sekali.
"Paman Bandang Ireng, pada masa Ayahandaku masih ada, kau adalah panglima ketiga
yang perkasa. Kini kuangkat kau menjadi panglima utama. Pimpinlah mereka
untuk mengadakan perlawanan."
"Hamba. Kanjeng Gusti Putri. Mohon restu agar berhasil." sahut Bandang Ireng
sambil memberi normat.
Putri Selari mengangguk perlahan. Pada saat itu datang seseorang, dan langsung
melapor pada gadis yang selalu mengenakan topeng berwajah buruk menjijikkan
ini. "Ada apa'.'" tanya Putri Selari.
"Seorang laki-laki tua ingin bertemu dengan Pendekar Rajawali Sakti. Katanya ini
soal penting." sahut orang itu.
"Heh..."!"
"Kenapa. Rangga?" tanya Putri Selari.
"Dari mana dia mengetahui persembunyian kita di sini...?" tanya Rangga raguragu. Tapi begitu mendengar kata-katanya, serentak yang lainnya bersiaga. Rangga
menyuruh orang yang membawa berita itu untuk membawa tamunya ke sini. Tidak
berapa lama orang itu pergi, sudah kembali lagi dengan membawa seorang laki-laki tua
bertubuh bungkuk, dengan pakaian lusuh, berjalan perlahan mendekati Pendekar
Rajawali Sakti. Wajahnya kelihatan hitam, penuh dengan kerut-kerut. Rambut,
kumis dan jenggotnya pendek yang telah memutih semua. Tubuhnya kurus seperli
kulit pembalut tulang. Sekilas pemuda itu bisa menilai lewat sorot matanya,
kalau orang tua ini memiliki tenaga dalam yang kuat luar biasa. Tidak terasa
timbul rasa hormat dan segan padanya.
"Ki sanak, silahkan duduk. Adakah sesuatu yang bisa kubantu...?" ujar Rangga
ramah. "Anak muda, kaukah yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti?" tanya orang tua itu,
tanpa menghiraukan ucapan Rangga tadi.
"Benar. Ki sanak," sahut Rangga tetap ramah.
"Beruntunglah...." desah orang tua itu.
"Namaku Suma Eling. Aku adalah guru Sobrang dan Degil...."
Mendengar orang tua itu berkata demikian, seketika mereka semua langsung
bergerak hendak menyerang. Tapi Rangga lebih cepat lagi mencegah.
"Jangan berbuat sesuatu tanpa perintahku!" terdengar lantang suara Pendekar
Rajawali Sakti ini.
"Tapi...." Bandang Ireng terputus suaranya.
"Turuti keinginannya!" sentak Putri Selari cepat.
Terpaksa mereka semua melangkah mundur beberapa tindak. Namun masih dalam sikap
yang siap menyerang. Kalau kedua muridnya sudah begitu tangguh, tentu saja
gurunya lebih luar biasa lagi. Tapi mau apa dia ke sini..." Pertanyaan itu yang
terus menghantui benak mereka.
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, Pendekar Rajawali Sakti," kata orang
tua yang tadi mengaku bernama Suma Eling, dan juga mengaku guru dari Ki Sobrang
dan Ki Degil ini.
"Silahkan, Eyang," sambut Rangga dengan sikap masih menghormati. Bahkan
memanggilnya dengan sebutan Eyang.
Sebuah sebutan bagi orang tua yang berarti Pendekar Rajawali Sakti itu sangat
menghormatinya. Dan laki-laki tua itu jadi tersenyum. Kepalanya bergerak
terangguk-angguk
beberapa kali. Sinar matanya kelihatan begitu cerah sekali, merayapi wajah
tampan pemuda didepannya ini.
"Tapi aku minta tidak disini mengatakannya. Ini hanya antara kita berdua saja.
Ikuti aku...,' kata Eyang Suma Eling.
Setelah berkata begitu, dengan cepat sekali dia bangkit berdiri dan memberi
hormat pada Putri Selari. Lalu bagaikan kilat dia melesat pergi. Begitu
cepatnya, hingga dalam sekejapan mata saja sudah lenyap dari pandangan. Rangga juga segera
bangkit berdiri.
"Selari, aku pergi dulu." kata Rangga berpamitan.
"Rangga, jangan...!"
Tapi Rangga sudah tidak lagi mendengar cegahan gadis itu. Dengan kecepatan bagai
kilat, Pendekar Rajawali Sakti itu melesat menyusul Eyang Suma Eling yang
sudah lenyap tak terlihat lagi. Sementara Putri Selari kelihatan begitu cemas
sekali. Terbayang dugaan keras kalau Pendekar Rajawali Sakti itu pasti terkena
pancingan."*
* * " "Kepergian Rangga ternyata hanya sebentar saja. Tak lama kemudian dia telah
kembali dan bertemu dengan mereka di perjalanan, wajahnya terlihat cerah dan
tidak kurang suatu apapun juga.
"Kenapa kalian ada di sini...?" tanya Rangga langsung.
"Kami mengkhawatirkanmu, Rangga," sahut Putri Selari agak tergagap.
"Aku tidak apa-apa. Ayo. kita kembali ke tempat tadi," ajak Rangga.
"Kau tidak apa-apa. Rangga...?" tanya Putri Selari lagi. Masih kelihatan heran
dan cemas. "Seperti yang kau lihat, aku tidak apa-apa." sahut Rangga.
"Kenapa kau percaya begitu saja pada orang tua itu tadi" Padahal, dia sudah
menyebutkan dirinya guru Ki Sobrang dan Ki Degil." kata Putri Selari ingin tahu.
"Aku hanya melihat kalau sorot matanya mengandung kejujuran dan kebijaksanaan.
Bukan tipu daya yang ada. Dan aku merasa ada sesuatu yang sangat penting
hendak disampaikan. Itu yang membuatku percaya padanya," kata Rangga
menjelaskan. "Apa yang diinginkannya darimu''" tanya Putri Selari lagi.
"Melenyapkan kedua muridnya," sahut Rangga kalem.
"Gila..."! Bagaimana mungkin...?" desis Putri Selari terkejut.
"Kenapa tidak" Kau meragukan kemampuanku, Selari?"
Gadis itu tidak sampai hati mengungkit-ungkit kekalahan yang diderita Rangga
pada dua orang murid Eyang Suma Eling beberapa hari yang lalu. Pasti akan
membuat Pendekar Rajawali Sakti itu jadi berduka. Tapi dia melihat sendiri kalau Rangga
sama sekali tidak berdaya menghadapi mereka. Lalu cara apa yang akan
dilakukannya nanti" Padahal segala kepandaian yang dimiliki telah dikerahkannya. Dan ternyata
memang Ki Sobrang dan Ki Degil sulit sekali dikalahkan.
"Kenapa dia menginginkan kematian muridnya, Rangga?" tanya Putri Selari jadi
penasaran ingin tahu.
"Mereka berdua telah berkhianat, dan melanggar sumpahnya. Mereka membunuh rakyat
yang tidak berdosa dan membiarkan anak buahnya membuat kekacauan dengan
sengaja. Mereka telah mengangkat para perampok dan penjahat sebagai prajuritnya.
Dan kini dengan keinginannya yang gila, mereka ingin menjadi raja atas
kerajaan ini. Tentu akan semakin parah saja penderitaan rakyat kalau sampai
impian mereka terwujud. Sudah beberapa kali orang tua itu mengirimkan utusan
untuk menyadarkan mereka. Tapi selalu saja utusan itu tidak pernah kembali,
karena dibunuh mereka. Dengan demikian mereka sama sekali tidak memperdulikan
Eyang Suma Eling sebagai gurunya lagi," Rangga menjelaskan dengan singkat.
"Tapi, kenapa harus kau yang mengadapinya...?"
"Eyang Suma Eling merasa hanya akulah satu-satunya orang yang bisa melakukannya.
Dia sendiri sudah terikat sumpah, dan tidak akan mencampuri urusan keduniawian.
Dan tidak akan menumpahkan darah dengan membunuh siapapun juga. Kalau saja aku
mengetahui kelemahan Aji Sakadewa yang membuat mereka kebal terhadap pukulan
apapun dan kebal pada senjata apapun juga, mereka sama sekali tidak berarti,"
kata Rangga menjelaskan lagi.
"Lalu, orang tua itu memberitahukan kelemahannya?" tanya Putri Selari lagi.
Rangga hanya menganggukkan kepalanya saja, seraya memberikan senyuman yang
manis. Putri Selari menarik nafas panjang. Dia juga tersenyum. Dia tidak banyak
bertanya lagi. Pada dasarnya, dia memang tidak cerewet. Setelah mengetahui kalau
Pendekar Rajawali Sakti ini yakin dapat menghadapi kedua lawan tangguhnya
nanti, berarti keselamatannya sendiri tidak begitu mengkhawatirkan seperti
sebelumnya. "Kanjeng Gusti Putri, celaka ! Ada berita penting yang hendak hamba "sampaikan...!" teriak seseorang yang tiba-tiba saja datang dengan menunggang
kuda. "Berita apa, Paman?" tanya Putri Selari.


Pendekar Rajawali Sakti 120 Prahara Mahkota Berdarah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Pasukan mereka kini menyerbu kotaraja. Dan terjadi pertempuran besar di sana.
Sebelum hamba ke sini, terlihat pasukan kerajaan terdesak hebat," sahut orang
itu menjelaskan.
"Ayo kita cepat ke sana," ajak Rangga.
"Untuk apa?" tanya Putri Selari.
"Mengangkat Putri Selari sebagai ratu." sahut Rangga sedikit bergurau. Mendengar
kata-kata itu, yang lainnya langsung bersorak gembira sambil mengangkat
tangannya ke atas kepala. Putri Selari langsung memerah wajahnya. Tidak tahu,
apa yang harus dilakukannya. Dan dia juga tidak tahu apa yang ada di dalam
kepalanya saat ini. Raut wajahnya kelihatan bingung.
"Tenang saja, Selari. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Paman Bandang Ireng dan
yang lainnya, mari kita berangkat sekarang juga. Aku punya rencana dan
akan kubeberkan sepanjang perjalanan nanti. Ayo cepat.... Jangan sampai kita
kehilangan kesempatan untuk ikut dalam pertempuran ini." kata Rangga
membangkitkan semangat. Seruan Pendekar Rajawali Sakti itu langsung disamhut dengan gegap gempita. Dan
tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka segera berangkat ke kotaraja. Tidak
ada seorangpun yang berjalan kaki. Mereka semua mcnunggang kuda, dan memacu
kudanya dengan cepat seperti dikejar setan. Membuat debu membumbung tinggi
ke angkasa. Membuat bumi bergetar bagai diguncang gempa.
"* * * ?" " Apa yang dikatakan oleh salah seorang pengikut Putri Selari tadi, memang benar
kenyataannya. Kotaraja terlihat sepi dari para penduduk yang mengunci pintu
rumahnya rapat-rapat. Segala kegiatan terhenti, karena disepanjang jalan menuju
ke istana kerajaan terjadi pertempuran hebat antara prajurit kerajaan dengan
orang-orang yang dipimpin Ki Sobrang dan Ki Degil.
Saat mereka sampai disana, keadaan semakin memprihatinkan. Kedua belah pihak
banyak yang sudah jatuh korban. Sepanjang perjalanan menuju bangunan istana
kerajaan, mayat-mayat bergelimpangan bermandikan darah. Namun dari penglihatan
sekilas, prajurit kerajaan memang terdesak hebat. Mereka bertahan di dalam
bangunan istana. Namun orang-orangnya Ki Sobrang dan Ki Degil terus menerus
mendesak dan mampu menjebol pintu gerbang. Bagai tanggul jebol, mereka terus
menerobos masuk ke dalam.
"Jahanam! Keparat-keparat itu berhasil melarikan diri! Katakan pada yang lain
agar sebagian mereka mengejar. Tangkap dan bunuh mereka semua !" teriak Ki"Sobrang kesal, begitu mengetahui kalau raja yang berkuasa sudah melarikan diri
lewat jalan belakang.
Beberapa orang langsung saja bergerak cepat memburu rombongan prajurit kerajaan
yang tetap mengadakan perlawanan dengan gigih. Diantara mereka, cukup banyak
terdapat orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. sehingga menimbulkan
semangat prajurit yang lainnya.
Namun orang-orang yang mereka hadapi juga bukanlah orang-orang sembarangan. Apa
lagi ketika Ki Sobrang dan Ki Degil ikut turun tangan, dalam waktu yang
sangat singkat saja mereka dapat dihabisi. Tapi sebelum kedua orang itu
menguasai keadaan, mereka dikejutkan dengan datangnya seseorang yang tiba-tiba
saja mengamuk dan menyerang anak buah Ki Sobrang dan Ki Degil. Dan hal itu cukup
merepotkan, karena orang itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali.
Hingga dalam waktu sebentar saja sudah tidak terhitung lagi yang menjadi
korbannya. "Keparat! Punya nyali juga dia datang ke sini. Mau mampus orang itu...!" dengus
Ki Sobrang, ketika mengetahui siapa orang yang membantai anak buahnya.
"Biar aku yang akan memecahkan batok kepalanya." sambut Ki Degil cepat.
"Sebaiknya kita berdua saja, Degil. Kau sendiri tidak akan mampu menghadapinya.
Tapi kalau berdua, dia tidak akan berkutik." kata Ki Sobrang.
Kedua orang itu langsung saja melompat ke arah pemuda berbaju rompi putih yang
masih mengamuk menghajar mereka yang menyerang para prajurit.
"Pendekar Rajawali Sakti! Bagus kau berani mencari kematianmu di sini!"
Mendapat teguran keras begitu, pemuda berbaju rompi putih yang ternyata memang
Rangga, langsung berhenti mengamuk dan berpaling ke arah datangnya suara
yang keras mengejutkan tadi. Dia berdiri tegak sambil tersenyum begitu melihat
Ki Sobrang dan Ki Degil menghampiri.
"Hm, Sepasang Naga Pertala. Sungguh gembira sekali bisa bertemu lagi dengan
kalian. Memang betul aku akan mencari kematian. Tapi kematian kalian berdua,"
sambut Rangga dingin.
Mendengar kata-kata itu, meledaklah tawa mereka. Tentu saja mereka menganggap
kalau apa yang diucapkan Rangga hanya sesumbar saja. Mana mungkin pemuda itu
bisa mengalahkan mereka, apa lagi sampai menewaskannya. Pada pertarungan yang
lalu. Rangga memang sama sekali tidak berdaya. Dan hampir saja tewas kalau
para prajurit kerajaan tidak segera datang menyerang.
"Bersiaplah kalian. Naga Pertala..!" desis Rangga dingin.
Langsung saja Pendekar Rajawali Sakti itu mencabut pedang pusakanya. Dan
seketika itu juga cahaya biru berkilauan menyemburat menerangi sekitarnya. Namun
Ki Sobrang dan Ki Degil hanya tertawa saja terkekeh, seperti meremehkan pedang
bercahaya biru di tangan Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Hiyaaat...!"
Tanpa membuang-buang waktu lagi. Rangga langsung saja melompat bagai kilat, dan
membabatkan pedangnya ke arah dada kedua orang ini. Namun kedua orang itu
telap berdiri tegak, seperti tidak memperdulikan serangan Pendekar Rajawali
Sakti itu. Namun dua jengkal lagi ujung pedang akan menyambar tubuh mereka, tiba-tiba saja
Rangga membelokkan serangannya. Dan langsung menghantam bayangan mereka
pada saat yang bersamaan. Tepat pada bayangan dibagian tengah dada di tanah.
Kedua laki-laki itu tampak terkejut setengah mati. Tapi tidak ada waktu lagi
untuk bisa menghindar. Begitu cepat sekali gerakan yang dilakukan Pendekar
Rajawali Sakti itu, sehingga....
Bres! Cras! Aaaakh!" "Aaaa...!"
Dua jeritan panjang seketika terdengar begitu menyayat sekali. Tampak kedua
orang laki-laki setengah baya itu menggelepar di tanah sambil melolong panjang.
Tubuh mereka seketika diselubungi cahaya biru yang memancar dari pedang pusaka
Rajawali Sakti. Dan dalam sekejap mata saja, hancur berkeping keping bagai
tepung. Jeritan panjang yang melengking tinggi mengantarkan kematian dua orang itu,
membuat perhatian yang lainnya jadi terbagi. Dan mereka sama-sama terkejut
begitu melihat Rangga dapat menghancurkan Ki Sobrang dan Ki Degil hanya dengan satu
gerakan yang sama sekali sulit untuk diduga tadi. Dan seketika itu juga,
pertarungan jadi terhenti. Mereka semua jadi mengarahkan pandangannya pada Pendekar Rajawali
Sakti ini. "Atas nama Putri Selari. Putri Gusti Prabu Satya Wardhana Putra, aku
memerintahkan kalian semua untuk meletakkan senjata. Hentikan pertempuran.
Seluruh tempat ini sudah terkepung...!" lantang sekali suara Rangga, hingga terdengar
begitu jauh. Serentak kedua belah pihak saling memalingkan perhatian. Apa yang mereka lihat
memang benar. Ribuan orang sudah mengepung istana ini. Dan mereka semua adalah
rakyat serta para pengikut Putri Selari. Tampak diantara mereka, terlihat
seorang gadis berwajah cantik, menunggang kuda yang didampingi beberapa orang
laki-laki bertubuh tegap. Diantara mereka juga terlihat Bandang Ireng.
"Aku Bandang Ireng. Panglima Gusti Prabu Satya Wardhana Putra, bersumpah kalau
gadis yang berada disampingku ini adalah Puiri Selari. Yang berhak atas tahta
kerajaan. Dengan ini pula, aku memerintahkan pada kalian semua untuk meletakkan
senjata...!" terdengar lantang suara Bandang Ireng.
Mendengar kata-kata itu, tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk melawan. Dan
dengan serentak mereka meletakkan senjatanya. Panglima Bandang Ireng
memerintahkan anak buahnya untuk menggiring mereka ke dalam penjara. Sementara Putri Selari
mengatakan kalau tidak semuanya akan diadili. Terutama para prajurit kerajaan.
Terlihat rakyat bersorak gembira menyambut kedatangan ratu mereka. Sikap mereka
tentu saja membuat Putri Selari jadi berkaca-kaca terharu. Ini membuktikan
kalau sebenarnva rakyat masih mengharapkan kehadiran pewaris sah tahta kerajaan.
Begitu larutnya dia, sampai lupa pada Pendekar Rajawali Sakti. Dan baru
teringat setelah berada di ujung tangga istana.
"Paman Gondo, kemana Rangga...?" tanya Putri Selari.
"Eh, tadi ada di sini...!" sentak Paman Gondo juga seperti baru tersadar.
"Tolong carikan dia. Paman." pinta Putri Selari.
"Baik, Kanjeng Gusti Putri."
Gondo bersama yang lainnya segera mencari Pendekar Rajawali Sakti itu. Tapi
mereka sama sekali tidak menjumpainva. Rangga benar-benar telah pergi, tanpa
ada seorangpun yang mengetahui. Gondo segera melaporkan kalau Rangga sudah pergi
entah kemana. Putri Selari merasa begitu cemas sekali. Dia tidak ingin
lagi kehilangan pemuda itu.
"Paman, tolong kerahkan orang untuk mencarinya. Aku tidak ingin dia pergi...,"
kata Putri Selari.
Paman Gondo tidak bisa lagi membantah. Walaupun dia yakin Rangga tidak akan
mungkin bisa ditemukan lagi, tapi dia tidak ingin mengecewakan gadis yang akan
dinobatkan menjadi ratu itu. Dan di dalam hatinya memang dia mengakui kalau
Putri Selari sangat cocok sekali jika berdampingan dengan Pendekar Rajawali
Sakti itu. Selain tampan dan gagah, juga memiliki kepandaian yang sangat tinggi
sekali. Pasti kerajaan ini akan damai kalau dipimpin oleh dua orang yang
memiliki kepandaian sangat tinggi.
Tapi kemana harus mencari..." Sementara semua orang tahu kalau Rangga seorang
pendekar kelana yang tidak tahu dimana tempat tinggalnya. Dan Putri Selari
juga tidak bisa memaksa lagi untuk bertemu dengan Pendekar Rajawali Sakti itu.
Dia menyadari kalau Rangga seorang pendekar sejati yang tidak memerlukan
balas jasa pada apa yang telah dilakukannya. Dia hanya berharap, kelak bisa bertemu lagi dengan Pendekar Rajawali Sakti
itu.?"TAMAT
?"Scan by Ryan Clickers
Edit by Lovely Peace
"www.duniaabukeisel.blogspot.com
Rahasia Kunci Wasiat 4 Pendekar Mabuk 08 Istana Berdarah Hina Kelana 21

Cari Blog Ini