Ceritasilat Novel Online

Pulau Kematian 2

Pendekar Rajawali Sakti 129 Pulau Kematian Bagian 2


? *** Pendekar Rajawali Sakti
Notes by Pendekar Rajawali Sakti
Bahasa Indonesia
?"" ?"?"?""
s ? 2017 " . 129. Pulau Kematian Bag. 5
8. Oktober 2014 um 10:21
5 ? ? Setelah tahu apa yang membuat semua orang di perkampungan ini begitu aneh sikapnya, Pandan Wangi langsung mendesak Arya Bangal agar mengantarkannya ke pulau kerajaannya. Semula Arya Bangal tidak ingin menuruti. Tapi karena Pandan Wangi terus mendesak, akhirnya tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Bahkan dia sendiri yang akan mengantarkannya bersama enam orang pengawal setianya. Tapi karena malam sudah begitu larut, Arya Bangal meminta untuk berangkat besok pagi saja. dan Pandan Wangi menyetujui usul itu.
Namun malam ini, Pandan Wangi menyempat-kan diri menemui Dayang Suri yang selalu men-dampingi Arya Bangal, sampai mengurus segala sesuatunya. Gadis yang seusia dengannya itu semula agak takut. Tapi setelah Pandan Wangi menunjukkan sikap lembutnya. akhirnya gadis berkulit hitam manis ini jadi terbiasa juga. Bahkan setelah bebe?rapa saat mereka berbicara, gadis yang selalu dipanggil Dayang Surii itu seperti sudah kenal lama dengan Pandan Wangi.
"Suri" Kau ingin kembali ke kampung ha?lamanmu...?" tanya Pandan Wangi, setelah cukup lama berbincang-bincang.
"Tentu... Aku sering merindukannya," sahut Dayang Suri pelan, dengan mata menerawang jauh ke depan, memandang lautan lepas. "Tapi apa mungkin...?"
"Kenapa tidak..." Aku yakin, kau pasti akan kembali pulang dan hidup seperti biasanya," kata Pandan Wangi meyakinkan.
"Ah...! Jangan menghiburku, Nini Pandan. Mana mungkin aku bisa kembali lagi " Sedangkan Gusti Arya Bangal saja masih tetap di sini," kata Dayang Suri.
Entah kenapa, Pandan Wangi jadi tersenyum. Ditepuknya pundak gadis berkulit hitam manis ini beberapa kali. Kemudian Pandan Wangi bangkit berdiri, dan melangkah beberapa tindak ke depan. Sedangkan Dayang Suri tetap duduk memeluk lututnya di atas rerumputan, dengan punggung sedikit bersandar pada batang pohon tumbang.
"Tidak lama lagi, kau dan yang lain akan kem?bali ke pulau yang begitu kalian cintai. Dan bukan lagi Pulau Kematian yang selama ini kalian sebut," kata Pandan Wangi, begitu yakin nada suaranya.
"Bagaimana kau bisa begitu yakin, Nini Pandan" Kau tidak tahu ada apa di sana. Kau hanya mendengar dari Gusti Arya Bangal, dari aku dan yang lain. Kau belum tahu, bagaimana keadaan disana, Nini Pandan. Tidak mudah mengusir mereka dari pulau...," kata Dayang Suri tidak percaya terhadap keyakinan si Kipas Maut.
"Aku yang akan mengusir mereka dari sana, Suri," kata Pandan Wangi mantap.
"Hanya kau sendiri...?"
Pandan Wangi hanya mengangkat bahu saja, tidak menjawab pertanyaan itu. Sedang Dayang Suri semakin tidak percaya saja, kalau Pandan Wa?ngi bisa mengusir orang-orang yang menguasai pu?lau bila hanya seorang diri saja. Walaupun Pandan Wangi sudah mengalahkan Arya Bangal, tapi itu bukan satu ukuran untuk bisa membebaskan Pulau Kematian dari orang-orang yang menguasainya.
"Besok, pagi-pagi sekali aku berangkat. Per-cayalah, aku akan datang kembali lagi ke sini untuk membawa kalian semua pulang," kata Pandan Wa?ngi tetap mantap suaranya.
Sedangkan Dayang Suri hanya bisa berdiam saja memandangi gadis cantik yang dikenal berjuluk si Kipas Maut. Dia masih belum percaya kalau Pandan Wangi dapat melakukan semua itu. Padahal yang diketahuinya, entah sudah berapa pen?dekar tangguh yang sudah dikirim ke pulau itu, tapi sampai sekarang tidak ada seorang pun yang kem?bali dalam keadaan hidup. Kalaupun ada orang itu langsung tewas begitu sampai di pesisir pantai ini. Dan orang itu membawa selongsong bambu dari Pulau Kematian, yang kini berada di tangan Arya Bangal. Selongsong bambu itu memang berisi lembaran kulit yang tertera sebuah peta, penujuk arah untuk bisa mencapai tempat penyimpanan harta kekayaan di Pulau Kematian. Bahkan harta kekayaan itu tidak ternilai harganya, dan tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Makanya, pulau itu jadi rebutan.
Benar apa yang dikatakan Pandan Wangi. Gadis itu kini meninggalkan perkampungan sebe-lum matahari menampakkan diri. Pandan Wangi diantar Arya Bangal, bersama enam orang penga-walnya sampai luar batas perkampungan ini. Gadis itu menolak diberikan kuda, karena lebih senang berjalan kaki menuju pantai, untuk kemudian menyeberang menuju Pulau Kematian.
? *** ? Matahari belum lagi naik tinggi, saat Pandan Wangi tiba di tepi pantai yang landai. Bibirnya tersenyum melihat sebuah perahu sudah tertambat di sana. Sebuah perahu yang tidak besar, dan bisa digunakan hanya seorang saja. Dengan ayunan kaki mantap, Pandan Wangi melangkah mendekati pe?rahu itu. Tapi belum juga sampai, tiba-tiba saja"
"Pandan...!"
"Oh..."!"
Pandan Wangi tersentak kaget, ketika tiba-tiba terdengar panggilan. Lebih terkejut lagi, suara itu dikenalnya betul. Cepat tubuhnya berbalik. Dan mulutnya jadi ternganga, melihat seorang pemuda tampan berbaju rompi putih, sudah berdiri tidak jauh di belakangnya. Tampak dua ekor kuda berada di belakangnya. Pemuda itu berdiri tegak membelakangi gerumbulan pohon bakau yang banyak tumbuh di sekitar pantai ini.
Kakang Rangga...," desis Pandan Wangi begitu hilang rasa terkejutnya.
Pemuda berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung di punggung itu memang Rangga. Dia lebih dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti di kalangan persilatan. Pemuda itu melangkah mantap, menghampiri gadis cantik yang sedang dicari-carinya. Sementara Pandan Wangi menunggu sampai Pendekar Rajawali Sakti dekat.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada di sini, Kakang?" tanya Pandan Wangi langsung, begitu Rangga sudah di depannya.
"Tidak sulit untuk menemukanmu, Pandan," sahut Rangga agak datar nada suaranya.
Pandan Wangi mengangkat bahunya sedikit, kemudian berbalik. Lalu kakinya melangkah men?dekati perahu yang sudah tersedia untuknya. Rang?ga mengikuti dari belakang, lalu mensejajarkan ayunan kakinya di samping kanan gadis ini. Sesaat mereka tidak ada yang bicara, hingga sampai ke bagian sisi perahu di tepi pantai ini.
"Mau pergi ke mana kau?" tanya Rangga, be?gitu melihat Pandan Wangi melepaskan tali ikatan perahu itu pada tonggak kayu yang tertanam dalam di pasir.
"Ke pulau," sahut Pandan Wangi singkat.
"Hup!"
Ringan sekali gadis itu melompat naik ke atas perahu yang sudah bergoyang-goyang dipermain-kan ombak. Sementara Rangga masih tetap diam berdiri di tepi pantai. Sedangkan Pandan Wangi sudah berdiri tegak di sebelah tiang perahu ini.
"Kau mau ikut?" Pandan Wangi langsung me-nawarkan.
"Ke mana?" tanya Rangga.
"Ke pulau," sahut Pandan Wangi singkat saja.
"Pulau apa?"
"Pulau Kematian."
Kening Rangga jadi berkerut mendengar jawaban si Kipas Maut itu. Dipandanginya gadis itu dalam-dalam beberapa saat. Tapi yang dipandangi malah tersenyum-senyum saja. Saat itu, Rangga melihat tidak ada lagi selongsong bambu terselip di pinggang si Kipas Maut ini. Tapi, hal itu tidak langsung ditanyakannya. Dia ingin tahu, apa sebenarnya yang sedang terjadi. Sampai-sampai Pandan Wangi ingin menyeberangi lautan, dan menuju ke sebuah pulau yang dikatakanya tadi bernama Pulau Kematian.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Pandan?" Rang?ga langsung meminta penjelasan.
"Nanti kujelaskan di perjalanan. Sekarang do-ronglah perahu ini ke tengah, lalu cepat naiklah," sahut Pandan Wangi begitu ringan kata-katanya.
Sebentar Rangga memandangi, kemudian mendorong perahu itu hanya dengan tangan kiri saja. Perahu itu bergerak melaju. Lalu dengan ge-rakan sangat ringan dan cepat, Rangga melompat naik ke atas perahu yang sudah melaju terbawa angin. Layar perahu menggelembung tertiup angin. Dan kedua pendekar muda dari Karang Setra itu duduk saling berhadapan di atas perahu yang terus melaju semakin cepat ke tengah laut. Dan untuk beberapa saat, mereka masih terdiam membisu. Mereka hanya saling berpandangan saja, tanpa mengucapkan satu kata pun.
"Pulau apa yang kau tuju sekarang, Pandan?" tanya Rangga setelah cukup lama berdiam diri.
"Pulau Bidadari," sahut Pandan Wangi. "Tapi, beberapa hari ini selalu disebut Pulau Kematian."
"Kau tahu letaknya?" tanya Rangga lagi. Pen?dekar Rajawali Sakti tahu, Pandan Wangi belum pernah pergi sampai menyebrangi lautan seperti ini.
"Tahu," sahut Pandan Wangi seraya mengangguk.
"Dari mana?"
"Dari orang yang berhak memiliki peta itu. Kakang," sahut Pandan Wangi.
"Pemilik peta...?"
"lya "
Kening Rangga jadi berkerut. Masih belum bisa dicerna kata-kata yang diucapkan Pandan Wangi barusan. Sungguh tidak dimengerti, apa yang di maksudkan Pandan Wangi dengan orang yang berhak atas peta dalam selongsong bambu itu. Dan kebingungan Rangga rupanya bisa cepat dipahami Pandan Wangi.
Sebelum Rangga meminta, Pandan Wangi sudah langsung menceritakan semua yang terjadi dan dialami dalam beberapa hari ini. Semua jelas di tuturkannya, sampai pada hal yang terkecil sekali pun. Sementara Rangga mendengarkan penuh perhatian.
Memang, sudah hampir tiga hari ini Pendekar Rajawali Sakti berada di sekitar pesisir pantai. Tapi Rangga tidak tahu, kalau ada sebuah perkampungan tidak jauh dari pantai itu. Sedangkan kuda putih tunggangan Pandan Wangi yang ditemukan, juga tidak bisa menunjukkan adanya gadis ini. Hingga akhirnya, Rangga sendiri yang melihat Pandan Wangi keluar dari dalam hutan dekat pantai tadi, dan langsung saja mendatanginya.
"Kau tahu, Kakang...," kata Pandan Wangi di akhir penuturannya.
"Tahu apa" ?" tanya Rangga tidak mengerti. Peta itu sebenarnya menunjukkan letak harta kekayaan Pulau Bidadari. Arya Bangal sendiri yang mengatakannya padaku. Peta itu sudah ada sebelum dia sendiri lahir. Entah, siapa yang membuatnya. Dan yang jelas, peta itu sudah menjadi semacam benda pusaka turun-temurun yang selalu berada di tangan Penguasa Pulau Bidadari," jelas Pandan Wangi lagi.
"Dan kau ingin ke pulau itu dengan tujuan mencari harta...?" pancing Rangga.
"Harta..." Ha ha ha...!"
Pandan Wangi jadi tertawa mendengar per-tanyaan Pendekar Rajawali Sakti barusan. Sedang?kan Rangga sendiri hanya diam saja, memandangi gadis yang duduk tepat di depannya. Sementara perahu yang ditumpangi terus melaju dengan kecepatan tinggi bagai hendak membelah lautan luas bagai tidak bertepi.
"Aku sudah berjanji pada mereka untuk meng-enyahkan manusia-manusia serakah di pulau itu, Kakang. Mereka harus kembali ke tanah kelahirannya. Dengan peta itu, keselamatan mereka sudah tentu terancam. Apalagi, kalau sampai ada yang tahu kalau mereka sekarang memiliki peta petunjuk penyimpanan harta yang tidak akan habis di makan tujuh turunan itu, Kakang," jelas Pandan Wangi tentang tujuannya ke Pulau Bidadari yang kini selalu disebut Pulau Kematian itu.
"Kau percaya pada mereka?" tanya Rangga kembali bemada memancing.
"Tentu saja, Kakang. Mereka tampaknya orang-orang jujur. Bahkan raja mereka sendiri mengatakan secara terbuka. Dari dia aku tahu, bagaimana keadaan di Pulau Bidadari saat ini. Kau tidak inginkan, aku mengingkari janji..." Apa pun yang akan terjadi nanti, aku harus sampai ke pulau itu. Kemudian mengusir orang-orang yang menguasai Pulau Kematian," kata Pandan Wangi tegas.
Sementara perahu yang mereka tumpangi se?makin jauh meninggalkan pantai. Bahkan kini, tepian pantai sudah tidak terlihat lagi. Sejauh mata memandang, hanya riak air laut saja yang terlihat membiru. Kulit mereka pun sudah mulai terasa pedih, terbakar matahari yang siang ini bersinar begitu terik. Namun pulau itu belum juga kelihatan.
"Pandan! Kau tidak curiga kalau ini hanya je-bakan saja?" tanya Rangga lagi, setelah cukup lama terdiam membisu.
"Tidak ada alasan untuk mengatakan mereka penipu, Kakang. Sikap mereka pada Arya Bangalbegitu hormat. Bahkan di perkampungan itu, bukan hanya orang-orang dewasa saja yang terlihat. Mereka orang-orang yang perlu mendapat pertologan, Kakang. Tidak pantas kalau mencurigai orang seperti mereka...," bantah Pandan Wangi tegas.
"Tampaknya kau begitu yakin, Pandan," ujar Rangga.
"Aku selalu yakin pada pendirianku, Kakang "
"Kalau begitu, kita cari pulau itu sampai dapat"
"Jadi, kau ingin membantuku...?"
Rangga tersenyum saja.
"Terima kasih, Kakang," ucap Pandan Wangi senang.
"Tapi kurasa, dengan perahu ini sulit menemukan pulau ini, Pandan," kata Rangga.
"Maksudmu?"
"Kita harus kembali ke pantai. Kurasakan akan lebih cepat kalau meminta bantuan Rajawali Putih "
"Kalau memang begitu, kenapa tidak panggil saja Rajawali Putih ke sini" Biar dia yang menunjukkan dari atas. Kita tinggal ikuti saja, ke mana arahnya, Kakang," usul Pandan Wangi.
Rangga hanya tersenyum saja mendengar usul si Kipas Maut ini. Tapi, memang tidak ada salahnya. Daripada mereka harus kembali lagi ke pantai yang sudah begitu jauh ditinggalkan. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, Rangga segera memanggil burung rajawali raksasa itu dengan siulannya yang bernada aneh.
? *** ? Seharian penuh, kedua pendekar dari Karang Setra itu berlayar dengan bantuan petunjuk Raja?wali Sakti yang melayang di angkasa. Dan kini, me?reka bisa melihat pulau yang dicarinya ketika matahari sudah hampir tenggelam. Sebuah pulau can?tik yang dihiasi lengkungan pelangi, seperti sebuah gerbang untuk masuk ke dalamnya. Tidak salah ka?lau dinamakan Pulau Bidadari. Memang, pulau itu begitu indah dan cantik. Tapi, sekarang pulau itu sangat ditakuti. Bahkan kini disebut Pulau Kematian.
Perahu kecil itu perlahan-lahan merapat ke pantai yang landai dan berpasir putih. Rangga langsung melompat turun, dan menarik perahu itu hingga dasarnya menyentuh pasir di pantai. Diikatkannya tambang yang digunakan untuk menarik perahu pada sebatang pohon kelapa.
Pandan Wangi segera melompat turun dari dalam perahu ini. Saat itu, Rangga mendongakkan kepala ke atas. Tampak Rajawali Putih masih melayang terputar-putar di angkasa.
"Kemari, Rajawali.!" seru Rangga memanggil, seraya melambaikan tangan ke atas.
"Khraaagkh...!"
Mendengar seruan Rangga. Rajawali Putih se?gera menukik turun dengan deras sekali. Begitu cepatnya, sehingga sebentar saja sudah mendarat ti?dak jauh di depan pemuda berbaju rompi putih ini. Rangga segera menghampiri, diikuti Pandan Wangi. Sebentar dipeluknya leher Rajawali Putih, kemu?dian dipandanginya sejenak.
"Ayo, Pandan. Kita kelilingi pulau ini dari atas," ajak Rangga.
"Hup!"
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Rajawali Sakti melompat naik ke punggung burung rajawali raksasa yang bukan hanya menjadi tung?gangannya saja, tapi juga sebagai gurunya. Sementara, Pandan Wangi masih tetap diam memandangi Rangga yang sudah berada di punggung burung rajawali raksasa itu. Walaupun sudah sering kali melihat dan menungganginya, tapi tetap saja masih ada rasa takut terselip di dalam hati gadis ini setiap kali akan menunggangi Rajawali Putih.
"Ayo, Pandan. Jangan buang-buang waktu. Sudah hampir malam !" seru Rangga tidak sabar.
Pandan Wangi masih kelihatan ragu-ragu. Tapi, tidak lama kemudian, kakinya melangkah mende?kati burung rajawali raksasa itu. Cepat gadis itu melompat naik dengan lesatan yang begitu indah. Dan Pandan Wangi langsung duduk di belakang Pen?dekar Rajawali Sakti ini.
"Ayo, Rajawali. Selidiki pulau ini dari atas," pinta Rangga sambil menepuk leher burung rajawali raksasa.
"Khraaagkh..!"
Sambil mengeluarkan suara serak dan keras menggelegar bagai guntur, Rajawali Putih mengepakkan sayapnya yang lebar dan berbulu pubh keperakan. Sekali kepak saja, burung raksasa itu sudah melesat tinggi ke angkasa, dengan kecepatan bagai kilat. Sebentar saja, tunggangan Pendekar Rajawali Sakti itu melambung tinggi di atas awan. Pandan Wangi sempat memejamkan matanya. Dan dirasakan jantungnya seakan berhenti berdetak untuk sesaat. Sementara, Rangga harus mengerahkan aji 'Tatar Netra' untuk mengawasi ke bawah angkasa. Dengan aji kesaktiannya itu, Pendekar Rajawali Sakti bisa melihat jelas, walaupun dalam jarak yang begitu jauh.
"Kelilingi pulau ini, Rajawali. Jangan terlewat setapak pun juga," pinta Rangga dengan suara di keraskan, untuk mengalahkan deru angin yang begitu keras di atas ini.
"Khraaagkh...!"
Baru beberapa saat saja di angkasa, Rangga sudah melihat sebuah bangunan istana yang seluruhnya terbuat dari batu, berdiri di atas sebongkah bukit yang tidak begitu tinggi. Dan di sekitar bangunan itu berdiri rumah-rumah yang saling berjauhan letaknya. Bahkan rumah-rumah itu terhampar sampai jauh dari bukit ini.
"Lebih rendah lagi, Rajawali," pinta Rangga.
"Khraaagkh...!"
Rajawali merendahkan terbangnya, hingga Rangga bisa melihat lebih jelas lagi. Agak berkerut juga keningnya, ketika melihat keadaan di bawah sana begitu sunyi. Bahkan tidak terlihat seorang pun di sana. Tapi di sekitar istana yang dikelilingi benteng, banyak terdapat orang berpakaian serba merah seperti sedang berjaga-jaga. Dan mereka rata-rata memegang sebatang tombak berukuran cu?kup panjang.
Beberapa saat Rangga mengamati, kemudian meminta Rajawali Putih untuk kembali melambung tinggi ke angkasa. Sementara itu, matahari sudah tenggelam di balik peraduannya. Dan kegelapan pun langsung menyelimuti pulau ini.
Rangga meminta Rajawali Putih kembali ke pantai, dan turun di sana. Maka burung raksasa itu mengikuti saja keinginan pemuda ini. Dia langsung melesat cepat sekali menuju pantai yang tadi. Sementara Pandan Wangi masih belum juga membuka matanya yang terus terpejam. Tidak sanggup gadis itu membayangkan berada di angkasa, duduk di atas punggung seekor burung rajawali raksasa, bersama Pendekar Rajawali Sakti.
Sebentar saja, mereka sudah kembali ke pantai itu lagi. Rangga langsung melompat turun dengan gerakan indah dan ringan sekali. Pandan Wangi bergegas mengikuti, melompat turun dari punggung rajawali raksasa ini Dan kakinya menjejak tepat di sebelah kiri Pendekar Rajawali Sakti.
"Kita bermalam dulu di sini, Pandan. Besok pagi baru ke istana itu," kata Rangga sambil menunjuk ke sebuah bukit yang terlihat tidak begitu jauh dari pantai ini.
Pandan Wangi hanya mengangguk saja. Se?mentara Rangga terus memandangi puncak bukit yang terdapat istana. Dan kata Pandan Wangi, is?tana itu milik Arya Bangal dan rakyatnya, yang kini berjumlah sangat kecil.
Beberapa saat mereka terdiam membisu. Se?mentara Pandan Wangi membuat api unggun dari ranting kering yang banyak tersebar di pesisir pantai ini. Sementara, Rangga tetap berdiri tegak memandangi bukit yang bagai pembantas antara daerah pantai ini dengan daratan.
Sampai jauh malam, mereka tidak bicara sedikit pun juga. Entah apa yang ada dalam pikiran masing-masing. Tapi perhatian mereka selalu tertuju ke puncak bukit yang letaknya tidak begitu jauh dari pantai ini.
? *** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 " . 129. Pulau Kematian Bag. 6
8. Oktober 2014 um 10:22
6 ? ? Pagi-pagi sekali, Rangga dan Pandan Wangi baru meninggalkan pantai, menembus hutan yang cukup lebat ini. Sementara di angkasa, Rajawali Putih terus berputar-putar mengawasi kedua pen?dekar muda dari Karang Setra yang terus bergerak cepat menembus hutan ini. Begitu cepat dan ringan gerakan mereka. Sehingga dalam waktu tidak be?gitu lama, mereka sudah tiba di kaki bukit yang memanjang melingkar seperti cincin raksasa.
Rangga jadi agak tertegun juga melihat kea?daan bukit ini. Begitu mirip keadaannya dengan bukit-bukit yang ada di Kadipaten Balakarang. Bukit-bukit memanjang dan melingkar, bagai sebu?ah benteng pertahanan yang melindungi seluruh penghuni kota itu. Tapi lingkaran bukit ini memang lebih kecil dari pada bukit yang ada di Kadipaten Balakarang.
"Hati-hati, Pandan. Keadaan yang sunyi begini, biasanya lebih berbahaya," kata Rangga memperingatkan.
Pandan Wangi hanya diam saja. Beberapa ru?mah sudah terlewati, dan keadaannya seperti tidak berpenghuni. Pintu dan jendela-jendelanya terbuka lebar. Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu terus melangkah perlahan-lahan, mendekati bangunan istana yang tidak berpagar ini. Dari bentuk istananya saja, Rangga sudah bisa menduga kalau keadaan di pulau ini semula begitu damai dan tenteram. Sehingga, penguasanya merasa tidak perlu membentengi istananya. Tapi justru keadaan itu yang membuat mereka jadi lengah, hingga mudah diserang dari luar.
Mereka terus berjalan semakin dekat dengan bangunan istana. Kening Rangga jadi berkerut juga, melihat keadaan istana ini tidak seperti yang di lihatnya semalam. Tidak ada seorang pun terlihat. Padahal semalam, Rangga melihat cukup banyak orang berbaju merah yang berjaga-jaga di sekitar bangunan istana ini. Rangga langsung merasakan adanya satu keanehan yang membuatnya semakin meningkatkan waspada.
Namun begitu mereka dekat dengan pintu depan bangunan istana itu, tiba-tiba saja dari dalam bermunculan orang-orang berpakaian serba merah yang semuanya bersenjatakan tombak. Rangga dan Pandan Wangi langsung menghentikan langkahnya. Orang-orang berpakaian serba merah itu berdiri berjajar di ujung undakan istana ini. Rangga memperkirakan jumlah mereka ada sekitar lima puluh orang. Dan ketika kepalanya berpaling ke belakang, seketika jantungnya serasa berhenti berdetak.
Ternyata di belakang kini sudah berdiri berjajar puluhan orang berpakaian serba merah yang semuanya menggenggam tombak. Entah kapan me?reka muncul, sama sekali Pendekar Rajawali Sakti tidak tahu. Mereka begitu tiba-tiba saja muncul, seperti keluar dari dalam tanah.
"Sambutan yang luar biasa"," desah Rangga pelan, seperti bicara pada diri sendiri.
Saat itu, dari belakang orang-orang yang ada di beranda depan istana, terlihat seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun. Baju agak ketat berwarna merah, hingga hampir membentuk tubuh?nya yang tegap, dengan otot-otot bersembulan ke luar. Dia memegang sebatang tombak panjang yang pada ujungnya mempunyai tiga buah mata. Kakinya lantas melangkah menuruni anak-anak tangga dengan ayunan begitu tegap dan mantap. Dan ber?henti setelah jaraknya tinggal sekitar enam langkah lagi di depan kedua pendekar muda ini.
"Kalian siapa" Dan, mau apa datang ke sini...?" tanya laki laki setengah baya itu.
Suara orang itu terdengar besar dan begitu dalam, memperlihatkan kewibawaannya yang begi?tu besar. Dan tatapan matanya juga sangat tajam. Benar benar sosok seorang pemimpin yang berpengaruh besar dan berwibawa tinggi. Rangga sendiri sempat tertegun memandangnya.
"Namaku Rangga. Dan ini adikku, Pandan Wa?ngi. Kami berdua datang untuk mengusir kalian se?mua dari pulau ini," sahut Rangga tegas, tidak mau kalah wibawa.
"Ha ha ha...!"
Laki-laki berusia setengah baya itu jadi tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Rangga yang langsung dan tegas. Tanpa basa-basi lagi, maksud tujuannya datang ke pulau ini langsung dikatakannya. Suara tawa laki-laki setengah baya itu disusul tawa yang lain. Sehingga dari segala penjuru terdengar suara tawa yang lepas bergelak. Namun Rangga dan Pandan Wangi hanya diam saja, tidak terpengaruh sedikit pun. Dan tidak lama kemudian, keadaan kembali sunyi tanpa seorang pun yang mengeluarkan suara lagi. Kini hanya desir angin dari pantai saja yang terasa begitu kuat menerpa tubuh mereka semua.
"Dengar, Anak-anak Muda Pemberani. Aku kagum dengan keberanian kalian datang ke sini. Kalian tahu, aku Bratasena Penguasa Pulau Bida?dari ini. Tapi sekarang, aku menamakannya Pulau Kematian. Sudah banyak orang yang mencoba mengusirku dari pulau ini. Tapi, tidak seorang pun yang kubiarkan keluar hidup-hidup. Dan kalian berdua juga tidak akan selamat keluar dari sini," tegas laki-laki setengah baya yang menamakan diri Bratasena ini.
"Aku berani bertaruh. kau yang akan keluar dari pulau ini, Kisanak," tegas Rangga menantang.
"Ha ha ha!"
? *** ? Merasa tidak ada cara lain lagi, Rangga langsung saja membuka tantangan. Dan ini membuat Pandan Wangi segera mencabut senjata kipas yang langsung dikembangkan. Ujung-ujung kipas yang runcing berbentuk mata anak panah itu kini terkembang di depan dada. Sedangkan Rangga masih tetap diam belum mencabut pedang pusakanya yang dahsyat dan tiada tandingannya.
Tantangan Rangga membuat Bratasena jadi tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya. Tapi tawanya juga membuat seluruh raut wajahnya memerah, seperti besi yang terbakar dalam tungku. Jelas sekali kalau Bratasena berusaha menahan kemarahannya yang sudah menggelegak dalam dada, akibat tantangan Rangga yang begitu terbuka dan langsung diutarakan. Perlahan Bratasena melangkah mundur, hingga meniti kembali anak-anak tangga yang langsung menuju ke beranda depan istana ini. Dan begitu sudah berada di ujung tangga istana itu...
"Seraaang...!"
Seketika itu juga, Bratasena berteriak lantang menggelegar, memberi perintah untuk menyerang kedua pendekar muda yang menantangnya. Dan belum juga teriakannya menghilang dari pende-ngaran, semua orang berpakaian serba merah yang memang sudah menunggu perintah itu sejak tadi, langsung berhamburan. Mereka berteriak-teriak ke?ras, membuat tanah di pulau ini jadi bergetar bagai diguncang gempa.
"Cepat ke belakangku, Pandan!" seru Rangga.
Dan begitu Pandan Wangi melompat ke bela?kang, Rangga langsung menarik kedua tangannya terkepal ke pinggang. Kedua kakinya juga dipen-tang lebar ke samping. Saat itu juga"
"Aji 'Bayu Bajra'! Yeaaah...!"
Memang tidak ada lagi pilihan bagi Pendekar Rajawali Sakti, kecuali menghadap lawan yang berjumlah besar seperti ini. Tanpa membuang buang waktu lagi, langsung saja dikerahkannya aji 'Bayu Bajra'! Sebuah ajian yang bisa menimbulkan badai topan sangat dahsyat. Dan hempasan badai itu, seketika menghantam orang orang berbaju merah, begitu kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti terkembang lebar ke samping.
Hempasan angin badai yang begitu kuat, mem?buat orang-orang berbaju serba merah itu menjerit kaget setengah mati. Namun belum sempat disadari apa yang terjadi, angin badai ciptaan Pendekar Rajawali Sakti sudah menerbangkan tubuh-tubuh mereka bagai segumpal kapas dipermainkan angin.
Suara angin yang menderu-deru, membuat jantung Pandan Wangi jadi bergetar. Sering gadis itu melihat Rangga mengeluarkan aji 'Bayu Bajra'! Ta?pi, tetap saja selalu merasa ngeri melihat akibatnya.
Tidak ada seorang pun yang sanggup bertahan dari gempuran aji kesaktian yang sangat dahsyat itu. Dan hanya Bratasena saja yang masih tetap berta?han walau sedikit demi sedikit terdorong ke belakang. Bahkan bangunan istana itu juga sudah mulai berderak, seakan tidak sanggup lagi menahan gem?puran badai ciptaan Pendekar Rajawali Sakti.
"Sudah, Kakang. Kau bisa menghancurkan istana itu...!" seru Pandan Wangi memperingatkan.
Rangga memang melihat bangunan istana itu sudah mulai bergetar, memperdengarkan suara ber?derak seperti hendak runtuh. Bahkan dinding-dindingnya sudah mulai retak. Dua buah pilar di beranda depan istana itu sudah roboh, menghantam be?berapa orang yang berada di dekatnya. Dan...
"Hap!"
Rangga cepat menarik kedua tangannya, hing?ga tersilang di depan dada. Lalu perlahan tangannya diturunkan, bersama berhentinya badai ciptaannya. Sebentar pandangannya beredar ke sekeliling. Tidak ada lagi pengikut Bratasena yang masih bisa berdiri dengan tegak. Suara-suara rintihan terdengar lirih dari segala arah. Sementara, Bratasena sendiri terlihat seperti masih terpana mendapat kejadian yang sama sekali tidak diduganya. Sungguh tidak disangka kalau pemuda berbaju rompi putih itu bisa menciptakan badai topan yang begitu dahsyat dan hampir tidak bisa ditahannya lagi.
Bratasena tidak dapat lagi menyembunyikan keterkejutannya, begitu mengetahui tidak ada lagi pengikutnya yang masih bisa berdiri tegak. Memang, tidak semua tewas. Tapi mereka yang masih hidup, sudah tidak bisa lagi diharapkan untuk bertarung. Untuk berdiri saja, kelihatan begitu sulit. Bratasena jadi geram, menyadari kini tinggal sendirian dan harus menghadapi sepasang pendekar muda ini.
"Aku belum kalah, Anak Muda. Tunggu pem-balasanku...!" desis Bratasena dingin menggetar-kan.
"Hup!"
Ringan sekali gerakan laki-laki berusia setengah baya itu melompat. Dan tanpa sedikit pun menimbulkan suara, kedua kakinya mendarat tepat sekitar tiga langkah di depan Pendekar Rajawali Sakti. Saat itu juga diberikannya satu sodokan yang begitu cepat ke arah perut dengan tangan kiri.
"Hap!"
Namun hanya sedikit saja Rangga mengegoskan tubuh, sodokan Bratasena berhasil dihindari. Cepat Rangga menarik kakinya ke kanan. Lalu dengan tubuh sedikit berputar, Pendekar Rajawali Sakti melepaskan satu tendangan menyamping yang begitu cepat, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi
"Hap! Yeaaah...!"
Tendangan Rangga hanya mengenai angin sa?ja. ketika Bratasena melenting ke atas. Namun pada saat yang bersamaan, Rangga juga melesat ke atas sambil melepaskan satu pukulan keras dan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.
"Yeaaah...!"
Begitu cepatnya serangan yang dilancarkan Pendekar Rajawali Sakti, membuat Bratasena tidak sempat lagi menghindarinya. Dan"
Diegkh! "Akh .!"
Bratasena jadi terpekik. Tubuhnya kontan ter-pental jauh ke belakang, lalu keras sekali jatuh menghantam lantai beranda depan istana yang sangat megah ini. Beberapa kali tubuhnya bergulingan di lantai yang terbuat dari baru pualam putih dan licin berkilat. Namun dia cepat bangkit berdiri sambil memegangi dadanya yang terkena pukulan cukup dahsyat dari Pendekar Rajawali Sakti tadi. Tampak darah menetes keluar dari sudut bibirnya
Beberapa saat Bratasena diam memandangi Pendekar Rajawali Sakti dengan sinar mata begitu tajam menusuk. Seakan-akan hendak membakar seluruh tubuh pemuda itu dengan sorotan matanya yang bagai bola api itu. Dan tiba-tiba saja, tangan kanannya bergerak menghentak ke bawah. Seke?tika itu juga"
Brus! "Heh..."!"
Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu jadi terkejut, ketika tiba-tiba di depan Bratasena mengepul asap tebal berwarna kemerahan. Kepul-an asap itu seakan muncul dari dalam lantai be-randa depan istana ini. Dan ketika asap yang menggumpul lenyap terbawa angin, Bratasena juga lenyap tidak berbekas lagi.
"Ke mana dia...?"
"Hup!"
Sementara Pandan Wangi bertanya-tanya he-ran. Rangga sudah melesat cepat ke beranda ini. Pendekar Rajawali Sakti jadi celingukan, karena tidak menemukan jejak sedikit pun di sini. Brata?sena benar-benar lenyap tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Kakang mereka kabur"!" teriak Pandan Wangi tiba-tiba.
Rangga langsung mengangkat kepalanya. Tampak orang-orang berpakaian serba merah itu berusaha lari dengan tertatih-tatih, meninggalkan istana ini. Pendekar Rajawali Sakti hanya diam saja melihat mereka terus belari berusaha menyelamatkan selembar nyawa.
Pandan Wangi juga tidak bertindak apa-apa. Sementara Rangga melangkah menuruni anak-anak tangga yang terbuat dari batu pualam putih ini, menghampiri Pandan Wangi yang masih tetap berada di halaman depan istana itu. Dan kini me?reka berdiri berdampingan, memandangi orang orang berpakaian serba merah yang sudah hampir lenyap ditelan lebatnya hutan.
"Ayo, Pandan. Kita bersihkan pulau ini dari tangan-tangan kotor mereka," ajak Rangga.
"Apa yang akan kau lakukan, Kakang?" tanya Pandan Wangi.
"Jangan sampai ada seorang pun dari mereka yang masih tinggal di pulau ini. Kita harus menggiring mereka ke pantai, dan mengusir keluar dari pulau ini," kata Rangga menjelaskan.
"Caranya?"
Rangga hanya tersenyum saja. Lantas kepalanya mendongak ke atas. Pandan Wangi tahu, Rangga akan menggunakan Rajawali Putih untuk menggiring orang-orang itu ke pantai. Dan entah kenapa, Pandan Wangi merasakan darahnya jadi berdesir begitu cepat.
"Suiiit...!"
Tanpa bicara lagi, Rangga memanggil Rajawali Putih yang terlihat melayang di angkasa.
"Khraaagkh...!"
? *** ? Tidak terlalu sulit bagi Rangga untuk menggi-ring orang-orang itu ke pantai dengan bantuan Rajawali Putih. Terlebih lagi, pulau ini memang tidak besar. Sehingga dalam waktu tidak begitu lama, mereka semua sudah terkumpul di pantai, tidak jauh dari sebuah perahu besar yang tertambat di dermaga. Rangga cepat melompat turun dari pung?gung Rajawali Putih yang sudah mendarat di pantai berpasir putih ini.
"Dengar...! Kalian akan selamat kalau me?ninggalkan pulau ini. Kembalilah kalian ke asal masing-amsing sekarang juga...!" seru Rangga. Suaranya keras menggelegar, bagai guntur mem-belah angkasa.
Tidak ada seorang pun yang berani menentang lagi. Mereka langsung berserabutan saling mendahului naik ke perahu besar itu. Sebentar saja, tidak ada seorang pun yang tertinggal lagi. Dan perahu bertiang tiga itu segera bergerak perlahan-lahan menjauhi pulau ini. Sementara, Rangga berdiri tegak di ujung dermaga, memandangi perahu yang semakin cepat melaju mengarungi lautan lepas yang bagaikan tak bertepi ini. Sedangkan Pandan Wangi tetap duduk di punggung Rajawali Putih.
Rangga tersenyum melihat perahu itu semakin jauh dan menghilang di batas cakrawala lautan lepas. Tubuhnya baru berbalik, setelah tidak terlihat lagi perahu itu di lautan. Dengan bibir tersenyum, Rangga menghampiri Rajawali Putih. Dan tanpa bicara lagi, Pendekar Rajawali Sakti melompat naik ke punggung burung rajawali raksasa ini
"Ayo, Rajawali. Tinggalkan pulau ini."
"Khraaagkh...!"
Tapi, Rajawali Putih seperti tak mendengarkan permintaan pemuda itu. Burung raksasa itu belum juga meninggalan pulau ini, membuat Rangga jadi tidak mengerti.
"Ada apa, Rajawali?" tanya Rangga.
"Khraaagkh...!"
"Apa..."!"
Rangga memandangi wajah burung rajawali raksasa itu dengan kelopak mata agak menyipit. Sementara, Rajawali Putih memperdengarkan suara mengkirik yang begitu pelan.
"Ada apa, Kakang?" tanya Pandan Wangi yang berada di belakang Rangga.
"Rajawali memberi tahu sesuatu padaku, Pan?dan," sahut Rangga.
"Khraaagkh...!"
"lya! Sebentar, Rajawali. Hup !"
Rangga langsung melompat turun dari punggung burung raksasa itu. Dan tepat di saat kedua telapak kaki Pendekar Rajawali Sakti menjejak tanah berpasir putih di sepanjang pantai ini, burung rajawali raksasa berbulu putih itu langsung mengembangkan sayapnya. Dan...
"Khraaagkh...!"
Wusss"!"
"Kakang...!"
Terdengar jeritan Pandan Wangi begitu melengking, saat Rajawali Putih melesat ke angkasa dengan kecepatan bagai kilat. Pandan Wangi me?mang masih berada di punggung burung raksasa ini. Sementara Rangga hanya bisa memandangi sa?ja dari bawah. Samar-samar masih terdengar teriakan Pandan Wangi yang ketakutan berada di angkasa seorang diri, terbawa terbang Rajawali Putih.
Namun jeritan Pandan Wangi langsung menghilang dari pendengaran, bersamaan lenyapnya Rajawali Putih dari pandangan pemuda berbaju rompi putih ini. Dan untuk beberapa saat. Rangga masih tetap berdiri mematung dengan pandangan tertuju ke langit yang tampak memerah membiaskan cahaya matahari senja.
"Hm, Rajawali benar. Pulau ini memang belum bersih. Dan aku harus membersihkannya dulu, sebelum Arya Bangal dan rakyatnya kembali ke pu?lau ini," gumam Rangga bicara pada diri sendiri. 'Mudah-mudahan Pandan Wangi mau mengerti..."
Memang hanya Rangga saja yang bisa mengerti bahasa Rajawali Putih. Rangga tadi langsung me?lompat turun, begitu Rajawali Putih memberi tahu kalau pulau ini harus dibersihkan dulu. Karena me?mang, Bratasena masih berada di pulau ini, wa?laupun semua pengikutnya sudah pergi meninggalkannya.
Hanya saja Rangga tidak tahu, ke mana harus mencari Bratasena di Pulau Kematian ini. Bratasena lenyap begitu saja, bersamaan munculnya asap yang berkepul tebal dari dalam lantai beranda Is?tana Pulau Bidadari ini. Sedikit pun tidak ada jejak yang bisa dijadikan petunjuk. Tapi, Rangga harus bisa menemukan laki-laki setengah baya itu, dan mengusirnya dan pulau ini selama-lamanya.
"Baik. Akan kuperiksa istana ini lebih dulu," gumam Rangga langsung memutuskan.
Sepasang kaki Rangga langsung melangkah mantap, kembali menuju istana yang kini sudah kosong ditinggalkan penghuninya. Rangga terus berjalan dengan ayunan begitu mantap, dengan tujuan sudah tergambar jelas dalam kepalanya.
? *** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 "

Pendekar Rajawali Sakti 129 Pulau Kematian di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

. 129. Pulau Kematian Bag. 7
8. Oktober 2014 um 10:23
7 ? Sudah seluruh bagian istana ini diperiksa, tapi Rangga belum juga menemukan jejak Bratasena. Laki-laki berusia setengah baya itu benar-benar lenyap, bagai ditelan bumi saja. Bahkan sampai Rangga memeriksa keluar bangunan istana ini, tetap saja tidak bisa menemukan jejak Bratasena.
Pulau Kematian ini benar-benar tidak berpenghuni sekarang. Rangga merasakan kalau tempat ini sekarang pantas kalau disebut Pulau Kematian. Begitu sunyi, tanpa ada seorang pun terlihat. Agaknya, hanya dia sendiri yang berada di pulau ini. Dan saat ini Pendekar Rajawali Sakti berdiri di atas atap bangunan istana yang tertinggi. Dari sini seluruh daerah pulau ini bisa terlihat jelas.
"Heh..."!"
Slap! Rangga cepat melenting ke atas dan berputaran di udara, ketika tiba-tiba saja sebuah bulatan merah bagai bola api meluncur cepat bagai kilat ke arahnya. Dan bulatan bola api itu langsung menghantam atap istana ini, hingga menimbulkan ledakan dahsyat menggelegar.
Beberapa kali Rangga berputaran di udara, ke?mudian manis sekali menjejakkan kakinya di tanah yang berpasir ini, tepat di depan tangga beranda dengan bangunan istana itu. Namun belum juga Rangga bisa menegakkan tubuhnya, bulatan bola api itu sudah kembali terlihat meluncur deras ke arahnya.
"Hup! Yeaaah"!"
Kembali Rangga harus melenting dan berpu?taran di udara dengan cepat. Sehingga bulatan bola api itu hanya menghantam tanah, tempat Pendekar Rajawali Sakti itu tadi berdiri. Dan....
Glarrr...! Kembali terdengar ledakan dahsyat mengge?legar, membuat seluruh pulau kecil ini jadi bergetar bagai diguncang gempa. Sementara, Rangga kem?bali menjejakkan kakinya di tanah, agak jauh dari gumpalan debu yang membubung tinggi ke angka?sa akibat terhantam bola api tadi. Tampak tanah yang terhantam bulatan bola api itu kontan terbongkar seperti sebuah sumur.
"Hm..."
Rangga menggumam pelan. Matanya beredar berkeliling, memandangi sekitarnya yang masih te?tap kelihatan begitu sunyi. Dan tatapan matanya langsung tertuju pada segerumbulan semak belukar yang tiba-tiba saja bergerak sedikit. Namun belum juga Pendekar Rajawali Sakti bisa berpikir lebih jauh lagi, mendadak saja"
Srak! "Hap!"
Cepat Rangga meliuk ke kanan sambil mengi-baskan tangan kiri, ketika dari dalam semak belukar itu meluncur sebuah tombak ke arahnya. Dan tom?bak itu langsung terhantam tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti tepat di bagian tengahnya. Seketika tombak itu patah menjadi dua bagian, dan jatuh tidak jauh dari Pendekar Rajawali Sakti berdiri.
"Hap! Yeaaah...!"
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rangga segera mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir, disertai pengerahan tenaga dalam sempurna dengan tangan kanan. Maka seketika itu juga, dari kepalan tangan kanan Pen?dekar Rajawali Sakti melesat cepat bagai kilat secercah cahaya merah bagai api yang meluncur ke arah semak belukar itu.
Glarrr...! Terdengar ledakan dahsyat, bersamaan mele-satnya cahaya merah itu ke dalam semak. Tampak semak itu terbongkar ke segala arah, menimbulkan kepulan asap kemerahan yang bercampur debu ke angkasa. Tepat pada saat itu, terlihat sebuah bayangan merah berkelebat begitu cepat dari dalam semak belukar yang terbongkar.
"Hup! Hiyaaa...!"
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rangga langsung melenting ke angkasa, mengejar bayang-an merah itu. Lalu bagaikan kilat, dilesatkannya satu pukulan keras, dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir.
"Yeaaah...!"
Slap! Secercah cahaya merah kembali meluncur deras, mengarah pada sosok tubuh tegap berbaju me?rah yang berputaran di angkasa. Tapi serangan Pendekar Rajawali Sakti bisa dihindarinya. Dan bayangan itu langsung meluruk turun cepat sekali. Begitu kedua telapak kaki Rangga menjejak tanah berpasir putih ini, orang berbaju serba merah itu juga menjejakkan kakinya, tepat sekitar satu batang tombak di depan Pendekar Rajawali Sakti.
"Hm...!"
Rangga tersenyum kecil sambil memperdengarkan gumaman pelan, begitu mengenali orang berpakaian serba merah ini. Dia memang tidak lain dari Bratasena, orang yang memang sedang dicarinya dan hendak dipaksa keluar meninggalkan pulau ini.
"Ki Bratasena! Sebaiknya tinggalkan pulau ini, selagi bisa. Aku memberi kesempatan padamu ha?nya satu kali saja...," desis Rangga dengan nada suara terdengar begitu dingin.
"Phuih! Tidak semudah itu kau bisa mengu-sirku, Anak Muda!" dengus Bratasena sambil me-nyemburkan ludahnya dengan sengit." Justru aku yang akan mengusirmu keluar dari pulau ini. Atau mungkin, aku akan hanyutkan tubuhmu di laut!"
"Hanya satu kali aku memberi kesempatan, Ki Bratasena Tidak ada kesempatan kedua"," desis Rangga memperingatkan.
"Ha ha ha...!"
Bratasena jadi tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Rangga sendiri hanya diam saja. Matanya menatap dengan sinar tajam sekali, langsung menembus ke bola mata lelaki setengah baya bertubuh tegap di depannya.
? *** ? "Anak muda"! Belum pernah aku dipermalukan seperti ini. Kau hancurkan semua anak buahku. Kau buat aku malu di depan mereka. Bagiku... pantang hidup menanggung malu. Aku lebih suka mati, daripada harus menanggung beban seumur hidup," tegas Bratasena lantang dan menggelegar.
Rangga hanya diam saja. Bisa dimengerti maksud kata-kata yang diucapkan Bratasena barusan.
Memang tidak bisa dipungkiri lagi. Kejadian tadi membuat Bratasena tidak akan berhenti begitu saja. Apapun yang akan terjadi, Bratasena tetap akan menantang sampai pada titik darah penghabisan.
"Bersiaplah, Anak Muda. Kita bertarung sam?pai salah satu di antara kita ada yang mati," sam-bung Bratasena, langsung membuka tantangan.
Rangga tetap diam membisu. Bahunya diang-kat sedikit, tidak dapat lagi menghindari tantangan itu. Dia juga tidak ingin mengecewakan penantangnya. Di dalam rimba persilatan, sebuah tantangan yang sudah diucapkan, pantang dihindari lagi. Nama besarnya akan jatuh seketika itu juga, jika menghindari tantangan yang diucapkan secara terbuka!
Sret! Bratasena langsung mencabut pedangnya yang tergantung di pinggang. Suara kebutan pedangnya, sempat menggetarkan dada Pendekar Rajawali Sakti. Jelas sekali kalau Rangga tidak bisa memandang ringan lawannya.
"Cabut pedangmu, Anak Muda!" bentak Brata?sena lantang.
"Maaf... Aku tidak biasa menggunakan senjata tanpa alasan," sahut Rangga tanpa bermaksud merendahkan.
"Phuih! Sombong...!" dengus Bratasena, mera-sa diremehkan.
"Hm... "
"Jangan menyesal kalau kau mati tanpa sempat mencabut senjata, Anak Muda."
"Silakan, aku tidak akan menyesal," sambut Rangga ringan.
"Phuih"!"
Kembali Bratasena menyemburkan ludahnya dengan sengit. Perlahan kakinya bergeser ke kanan, sambil mempermainkan pedangnya di depan dada. Sedangkan Rangga tetap berdiri tegak, mengamati setiap gerak laki-laki setengah baya itu dengan sinar mata tajam, tanpa berkedip sedikit pun juga.
"Tahan seranganku! Hiyaaa...!"
Bet! Cepat sekali Bratasena melompat sambil mengebutkan pedangnya, tepat mengarah ke bagian kepala Pendekar Rajawali Sakti.
"Haps!"
Namun hanya sedikit saja Rangga mengegos-kan kepala. tebasan pedang lawannya bisa dihin-dari. Dan cepat kakinya ditarik ke belakang, begitu Bratasena langsung melepaskan satu tendangan menggeledek dengan tubuh berputar di udara. Kembali serangan laki-laki setengah baya itu tidak mengenai sasaran.
"Phuih!"
Bratasena kembali menyemburkan ludahnya dengan sengit, begitu kakinya menjejak kembali di tanah berpasir ini. Sementara. Rangga kembali berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Begitu tenang sikap Pendekar Rajawali Sakti, tanpa sedikit pun merasa dia terpancing. Bahkan Bratasena sendiri yang jadi geram melihat ketenangan pemuda lawannya.
"Hap...!"
Bratasena langsung mempersiapkan jurus yang kedua, setelah jurus pertamanya tidak membawa hasil. Pedangnya berkelebat begitu cepat di depan dadanya sendiri sambil menggeser kaki yang begitu cepat dan ringan. Sementara Rangga masih tetap diam, menanti dengan mata tidak berkedip. Terus diperhatikannya setiap gerak lawannya ini.
"Hup! Yeaaah"!"
Sambil membentak keras, Bratasena langsung melompat menyerang. Pedangnya berkelebatan begitu cepat dan beruntun beberapa kali. Setiap sabetannya, mengarah ke bagian tubuh lawan yang mematikan. Namun dengan gerakan gesit dan ri?ngan, Rangga berhasil menghindari semua serangan cepat dan beruntun ini. Saat itu Pendekar Ra?jawali Sakti mengerahkan jurus Sembilan Langkah Ajaib". Sebuah jurus yang hanya digunakan untuk menghindari serangan lawan, tanpa harus balas menyerang.
Bratasena terus menyerang gencar, mengerah?kan jurus-jurus pedangnya yang sangat cepat dan berbahaya. Beberapa kali pedangnya hampir me-nebas bagian tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Tapi dengan gerakan tubuh indah sekali, Rangga selalu bisa menghindarinya. Bahkan gerakan-gerakan tubuh Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak beraturan sama sekali, membuat Bratasena jadi tidak mengerti dan sulit memasukkan serangan.
"Hiya! Hiya! Yeaaah...!"
Jurus demi jurus berlalu cepat. Sementara Bra?tasena semakin meningkatkan serangannya Na?mun sampai enam jurus berlalu, belum juga bisa memasukkan serangannya. Bahkan semakin sulit saja untuk bisa menjamah tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan gerakan-gerakan Rangga dalam menghindari serangan-serangan memang semakin sulit dimengerti. Malah sama sekali bukan gerakan-gerakan ilmu olah kanuragan, tapi lebih mirip gerakan orang yang terlalu banyak menenggak minuman arak. Namun semakin tidak beraturannya gerakan-gerakan Pendekar Rajawali Sakti, semakin sulit saja untuk bisa menjamahnya.
"Setan...! Hup!"
Bratasena jadi putus asa. Cepat dia melompat ke belakang dan berputaran tiga kali di udara, se-belum kedua kakinya menjejak tanah berpasir putih di halaman depan Istana Pulau Bidadari ini. Hingga antara mereka, kini terjaga jarak sejauh satu batang tombak
Laki-laki setengah baya itu sudah menyilang-kan pedangnya. Tampak tarikan napasnya begitu cepat memburu. Dan titik-titik keringat mulai terlihat membasahi wajah dan lehernya. Sedangkan Rang?ga tetap kelihatan tenang, dengan napas tetap teratur lembut. Sedikit pun tidak terlihat titik keringat di wajahnya. Malah bibirnya mengembangkan senyum yang sangat manis.
? *** ? "Kau memang tangguh, Anak Muda. Tapi itu baru permulaan saja. Hadapilah jurus-jurus pamungkasku ini...!" desis Bratasena dengan suara dingin menggetarkan.
"Hm..."
Rangga hanya menggumam saja sedikit. Se?mentara, Bratasena sudah membuat beberapa gerak pedang, mempersiapkan jurus andalan. Setiap kebutan pedangnya kali ini, menimbulkan gemuruh topan yang mengamuk di lautan. Dan saat itu juga, Rangga merasakan adanya hempasan hawa panas dari tiupan angin yang keluar dari gerakan-gerakan pedang itu.
"Hm..."
Kembali Rangga menggumam sedikit. Lalu kakinya ditarik ke belakang dua langkah. Kedua tangannya yang sudah terkepal erat, tersilang di de?pan dada. Sorot matanya terlihat begitu tajam memperhatikan setiap gerakan pedang yang dimainkan lawannya. Sebentar kemudian perlahan-lahan Rangga menggerakkan kedua tangannya, hing?ga turun sejajar pinggang. Dan saat itu juga kedua kepalan tangannya jadi berwarna merah, bagai besi terbakar dalam tungku. Jelas sekali kalau pemuda itu sudah mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir. Sebuah jurus dari lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti' yang dahsyat dan sukar dicari tandingannya.
"Tahan seranganku, Anak Muda! Hiyaaat...!"
Sambil membentak keras menggelegar, Brata sena melompat cepat. Langsung pedangnya dike-butkan begitu cepat seperti membuat putaran. Se?hingga, hanya lingkaran putih keperakan saja yang terlihat, seperti sebuah perisai melindungi dirinya. Namun pada saat itu juga...
"Yeaaah...!"
Rangga langsung menghentakkan kedua tangannya yang sudah terkepal ke depan, sambil menarik kedua kakinya, hingga terpentang cukup lebar ke samping. Dan seketika itu juga, dari telapak tangannya yang langsung terbuka melesat dua buah sinar merah yang begitu cepat bagai kilat. Sinar itu langsung menghantam bagian tengah lingkaran putih dari putaran pedang Bratasena yang cepat itu. Dan...
Splash! "Akh...!"
Trang! Bratasena terpekik agak tertahan. Tubuhnya langsung terpental ke belakang. begitu cahaya me?rah yang melesat dari kedua telapak tangan Pende?kar Rajawali Sakti menghantam lingkaran pedang?nya. Dan terlihat pedang itu terpental jatuh ke tanah berpasir putih ini, tepat di ujung jari kaki Pendekar Rajawali Sakti. Sementara, Bratasena sendiri terhuyung-huyung sambil memegangi tangan kanannya yang berdarah.
"Setan keparat...!" desis Bratasena geram sete?ngah mati.
"Ini pedangmu, Ki," kata Rangga sambil menyepak pedang yang tergeletak di depan ujung jari kakinya.
Pedang itu langsung melayang deras ke arah Bratasena.
"Phuih!"
Tap! Dengan tangan kiri, Bratasena menangkap pedang itu. Meskipun geram, tapi hatinya memuji kesatriaan pemuda yang menjadi lawannya. Belum pernah dia menemukan lawan seperti pemuda itu. Begitu jantan, dan tidak sudi mengambil keuntungan untuk memenangan sendiri, di saat lawannya sudah tidak berdaya. Bahkan memberinya kesem?patan untuk kembali melanjutkan pertarungan seca?ra ksatria.
"Kemenanganmu belum tiba, Anak Muda... Aku masih menyimpan ilmu kesaktian yang tidak bisa kau hadapi lagi," desis Bratasena dingin menggetarkan.
"Hm...," Rangga hanya menggumam saja se?dikit.
Cring! Bratasena menyarungkan kembali pedangnya di pinggang. Kemudian dia membuat beberapa ge-rakan dengan gerakan perlahan. Sedangkan Rang?ga hanya memperhatikan saja dengan kelopak mata agak menyipit. Sesaat kemudian, Pendekar Raja?wali Sakti jadi terkesiap begitu melihat seluruh tu?buh Bratasena memancarkan cahaya merah, seper?ti terbakar. Rangga langsung melangkah ke bela?kang beberapa tindak. Sementara, Bratasena yang seluruh tubuhnya sudah bercahaya merah, berdiri tegak dengan kedua tangan terkepal erat di samping pinggang.
"Yeaaah...!"
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Bratasena langsung menghentakkan kedua tangannya ke de?pan, sambil berteriak keras menggelegar. Maka seketika itu juga, dari kepalan kedua tangannya melesat dua cahaya merah yang langsung meluruk bagai kilat menerjang Pendekar Rajawali Sakti.
"Haup!"
Cepat-cepat Rangga melenting ke samping, dan langsung menjatuhkan diri ke tanah. Sehingga, serangan Bratasena tidak sampai mengenai tubuhnya. Dua cahaya merah bagai api itu menghantam tanah kosong, hingga menimbulkan ledakan sangat dahsyat menggelegar. Debu kontan beterbangan ke angkasa beberapa kali di tanah berumput ini. Dan cepat Pendekar Rajawali Sakti melompat bangkit berdiri, dengan gerakan begitu indah.
Namun saat itu juga, Bratasena sudah menghentakkan kedua tangannya kembali ke arah Pendekar Rajawali Sakti sambil berteriak keras meng?gelegar.
"Yeaaah...!"
"Hap!' Kembali Rangga terpaksa harus melenting ke belakang, sambil berputar dua kali di udara untuk menghindari serangan itu. Lalu manis sekali Pende?kar Rajawali Sakti hinggap di atas sebatang pohon yang tidak begitu tinggi. Tapi pada saat itu juga, Bratasena sudah melancarkan serangan kembali yang sangat dahsyat. Sehingga, Rangga kembali harus melesat menghindarinya. Suara ledakan pun kembali terdengar begitu dahsyat, membuat pohon itu seketika hancur berkeping-keping terhantam cahaya merah bagai api.
"Hap!"
Manis sekali Rangga menjejakkan kakinya kem?bali di tanah. Dan pada saat itu, Bratasena sudah siap hendak menyerangnya kembali. Sudah tiga kali serangan yang dilancarkan, tapi tidak satu pun yang berhasil mengenai sasaran. Rangga selalu bisa menghindari serangan itu dengan gerakan manis sekali.
"Hiyaaa...!"
Tapi serangan yang dilancarkan Bratasena kali ini, Rangga sama sekali tidak berusaha menghin-darinya. Ditunggunya sampai cahaya merah bagai api itu dekat dengan dirinya. Lalu...
"Yeaaah ..!"
Cring! Bet! Clarks! "Heh..."!"
Bratasena jadi tersentak kaget setengah mati, begitu tiba-tiba Rangga mencabut pedang pusa-kanya, dan langsung dikebutkan ke depan untuk menangkis serangannya. Kedua cahaya merah yang dilepaskannya terpental balik, begitu menghantam Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang memancarkan cahaya biru terang berkilauan menyilaukan mata.
Untung saja Bratasena cepat melompat, hingga tidak sampai tersambar cahaya merah yang dilepas?kannya sendiri. Dan dia cepat berputaran beberapa kali di udara, sebelum kedua kakinya menjejak tanah kembali. Sementara. Rangga sudah menggenggam pedang pusakanya. Senjata yang memancarkan cahaya biru terang itu kini tersilang di depan dada. Pamor pedang itu memang sangat dahsyat, membuat kedua bola mata Bratasena jadi terbeliak lebar. Belum pernah disaksikannya sebilah pedang yang berpamor begitu dahsyat. Bahkan bisa me?ngeluarkan cahaya terang yang begitu menyilaukan mata!
Sret! Cring...! Bratasena langsung mencabut pedangnya kem?bali, dan digenggam dengan tangan kanan. Pedang itu juga kini berwarna merah, bagai mengeluarkan api. Sementara Rangga sudah menyilangkan pe?dangnya di depan dada. Sementara telapak tangan kirinya menempel pada mata pedang yang memancarkan cahaya biru terang menyilaukan mata. Ta?tapan matanya begitu tajam, tertuju lurus pada bola mata lawannya yang berada sekitar satu batang tombak di depannya. Untuk beberapa saat, mereka terdiam saling berdiri berhadapan dan saling berpandangan tajam. Seakan-akan, mereka sedang mengukur tingkat kapandaian masing-masing.
"Mampus kau, Anak Muda Keparat! Hiyaaat...!"
"Hap!"
? *** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 " . 129. Pulau Kematian Bag. 8 (Selesai)
8. Oktober 2014 um 10:25
8? ? ? Bratasena seakan tidak memberi kesempatan pada Pendekar Rajawali Sakti untuk mempersiap-kan aji kesaktian juga. Begitu melihat pamor pedang pusaka pendekar muda itu demikian dahsyat, darahnya jadi berdesir cepat sekali. Maka langsung saja dilancarkannya serangan-serangan secara be?runtun dan cepat sekali. Dan ini membuat Rangga terpaksa harus berjumpalitan di udara menghindarinya.
"Hih!"
Splash...! Bahkan beberapa kali Pedang Pusaka Rajawali Sakti menghantam cahaya merah yang menyerang pemuda itu. Sehingga, beberapa kali pula Brata?sena terpaksa harus melompat menghindari cahaya merahnya sendiri, yang terpantul balik menyerangnya. Sementara, Rangga terus berjumpalitan di udara, menghindari setiap serangan lawannya yang gencar dan beruntun.
"Hiya! Yeaaah...!"
Bratasena terus menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan gencar dan beruntun. Begitu cepat serangannya, hingga membuat Rangga begitu sulit memberi serangan balasan. Dan Pendekar Rajawali Sakti terpaksa harus terus menggunakan jurus Sembilan Langkah Ajaib' untuk menghindarinya. Sehingga, tidak ada satu serangan pun yang dilan?carkan Bratasena tepat mengenai sasaran. Gerak?an-gerakan Rangga begitu sulit diterka arahnya. Bahkan pedang yang tergenggam di tangannya beberapa kali bisa menangkis serangannya, tanpa mendapatkan pengaruh apa-apa.
Menyadari akan kedahsyatan pedang Pendekar Rajawali Sakti, Bratasena kini menyerang sambil berlompatan memutari lawannya. Bahkan kini se?makin memperpendek jarak saja. Dan akhirnya, Bratasena menggunakan pedang begitu jaraknya sudah demikian dekat.
"Hiya! Yeaaah? !"
Bet! Wut! "Haiiit"!"
Rangga kembali harus berjumpalitan, sambil meliuk-liukkan tubuhnya dengan pengerahan jurus Sembilan Langkah Ajaib', dalam menghindari se?rangan-serangan lawannya. Dan sekarang mereka bertarung dari jarak dekat. Walaupun kini Bratasena menggunakan pedangnya, tapi tetap masih saja melepaskan cahaya-cahaya merah bila me?mang memiliki kesempatan, dan setiap kali Rangga berusaha memperpanjang jarak.
"Gila...! Dia benar-benar tidak memberiku ke?sempatan!" dengus Rangga dalam hati. "Hup! Yeaaah...!"
Bratasena memang tidak memberi kesempatan sedikit pun pada Pendekar Rajawali Sakti untuk bisa membalas menyerang. Dan terus dilancarkannya serangan-serangan dahsyat dengan gencar. Tentu saja, ini membuat Rangga tampak kewalahan juga menghadapinya. Tapi dengan pedang pusaka berada dalam genggaman tangan, Rangga masih bisa bertahan dan terus mengimbangi serangan la?wan.
"Hih! Yeaaah. !"
"Hih!"
Trang! Rangga berhasil menangkis sambaran pedang Bratasena yang berkelebat begitu cepat mengarah ke kepalanya dengan pedangnya. Begitu kerasnya, hingga menimbulkan percikan pijaran bunga api yang menyebar ke segala arah. Dan di saat pedang Bratasena terpental balik, Rangga merasa memiliki kesempatan untuk memberi serangan balasan. Dan ketika itu juga, tubuhnya berputar sambil melepas?kan satu tendangan yang begitu cepat disertai pengerahan tenaga dalam sempurna.
"Hiyaaa ...!"
Begitu cepat serangan balik Pendekar Rajawali Sakti, sehingga Bratasena sama sekali tidak dapat lagi berkelit menghindarinya. Terlebih lagi, saat itu harus menahan pedangnya agar tidak terlepas, ke?tika berbenturan dengan pedang pusaka pemuda lawannya. Hingga....
Bekh! "Akh...!"
Hup"!' Bratasena jadi terpekik, begitu tendangan Rangga tepat menghantam dadanya. Dan pada saat yang bersamaan, Pendekar Rajawali Sakti melen?ting dan berputaran beberapa kali ke belakang, menjauhi lawannya. Cepat sekali gerakan yang dilakukan Pendekar Rajawali Sakti, lalu manis sekali menjejakkan kakinya di tanah.
"Hap!"
Sementara itu Bratasena masih terhuyung-hu-yung ke belakang, sambil mendekap dada dengan tangan kanannya yang terluka, akibat terkena se?rangan jarak jauh jurus 'Pukulan Maut Paruh Ra?jawali' tadi. Dan pada saat itu, Rangga sudah me-nyilangkan pedangnya di depan dada. Kedua kaki?nya sudah ditarik hingga terpentang lebar ke sam?ping. Sedangkan telapak tangan kirinya sudah menempel pada mata pedang yang memancarkan ca?haya biru terang itu.
"Hhh...!"
Sambil menghembuskan napas pendek yang terdengar berat, Rangga langsung menggosok ma?ta pedang itu dengan telapak tangan kiri. Lalu tu?buhnya bergerak meliuk beberapa kali. Dan begitu kedua kakinya kembali merapat, tampak cahaya biru yang memendar pada pedang itu kini menggumpal di ujungnya.
Sementara, Bratasena sudah bersiap kembali melakukan pertarungan yang sempat terhenti se?bentar ini. Tampaknya laki-laki setengah baya itu juga sudah siap melakukan serangan dengan jurus ilmu pamungkasnya yang dahsyat.
"Mampus kau, Anak Muda! Hiyaaa...!"
Bersama terdengarnya bentakan keras yang dilanjutkan satu serangan cepat dan dahsyat, seketika itu juga Rangga berteriak keras menggelegar. Suaranya bagai guntur memecah angkasa malam gelap gulita...
"Aji 'Cakra Buana Sukma'! Yeaaah...!"
Bet! Slap! Tepat di saat Rangga menghentakkan pedang?nya ke depan, seketika itu juga bulatan cahaya biru yang menggumpal di ujung pedangnya melesat bagai kilat, menyambut serangan Bratasena. Begitu cepatnya masing-masing melancarkan serangan, sehingga"
Glarrr...! Akh...!" Kembali Bratasena menjerit melengking, begitu cahaya biru yang memancar dari ujung Pedang Pusaka Rajawali Sakti menghantam tubuhnya yang sedang meluncur di udara untuk melakukan serang?an. Dan terjangan cahaya biru itu membuat tubuh laki-laki setengah baya itu terpental deras ke belakang. Lalu, keras sekali punggungnya menghantam sebatang pohon beringin yang begitu besar. Akibatnya pohon itu hancur berkeping-keping, memperdengarkan ledakan keras menggelegar. Bahkan sampai membuat tanah di pulau ini bergetar bagai diguncang gempa.
Bruk! Bratasena jatuh keras sekali dan langsung bergulingan di tanah. Sampai-sampai terdengar pekikan agak tertahan dari bibirnya. Beberapa kali Bratasena bergelimpangan di tanah, di antara pecahan kayu pohon yang terlanda tubuhnya tadi.
"Hap!"
Rangga langsung menarik kembali aji kesaktiannya yang sangat dahsyat, begitu melihat lawan?nya terpental cukup jauh ke belakang. Dan cahaya biru kembali memancar di seluruh mata pedang itu.
"Hoeeekh...!"
Bratasena tampak memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Hm..."
Sementara itu, Rangga tampak berdiri tegak dengan pedang pusaka tersilang di depan dada. Saat itu, Pendekar Rajawali Sakri bagai sosok malaikat maut pencabut nyawa dengan pedang bercahaya biru tergenggam di tangan kanan. Sedangkan Bra?tasena tampak sedang berusaha bangkit berdiri walaupun susah payah. Tapi akhirnya dia juga berdiri, walaupun tubuhnya gontai dengan pakaian koyak dan berlumur darah.
Memang, dari mulut laki-laki setengah baya itu terus mengeluarkan darah kental berwarna agak kehitaman. Bahkan beberapa pecahan kayu pohon yang dilandanya tadi, ada yang merobek kulit tu?buhnya. Sampai-sampai tubuhnya mengeluarkan darah yang mengotori pakaian. Cahaya merah tidak lagi terlihat menyelubungi tubuh laki-laki berusia setengah baya ini. Cahaya itu memang sudah lenyap, ketika kilatan cahaya biru yang memancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti menghantamnya tadi. Dan untuk sesaat, pertarungan kembali terhenti.
"Ini yang terakhir, Anak Muda.... Kita tentukan sekarang. Siapa di antara kita yang harus menghuni lubang kubur...," desis Bratasena dingin menggetarkan.
Rangga hanya diam saja. Dia tidak tahu lagi, apa yang harus dilakukannya untuk menghentikan pertarungan ini. Kalau saja ada orang lain lagi yang menyaksikan, sudah barang tentu akan menilai kalau Pendekar Rajawali Sakti sudah memenangkan pertarungan. Tapi, tampaknya Bratasena tidak peduli dengan keadaan dirinya yang sudah tidak mampu lagi melanjutkan pertarungan. Dan dia terus membuka tantangan pada pemuda berbaju rompi putih ini.
Cring! Rangga memasukkan kembali Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangka di punggung. Maka seketika cahaya biru lenyap, begitu pedang pusaka berpamor dahsyat itu tersimpan kembali di dalam warangka. Dan pada saat itu, terlihat Brata?sena sudah melangkah dengan kaki terseret men?dekati Pendekar Rajawali Sakti. Dari bibirnya yang penuh darah, terdengar suara mendesis seperti seekor ular. Sedangkan Rangga tetap berdiri tegak, menanti lawannya sampai dekat.
"Mampus kau! Hiyaaat...!"
Sambil membentak geram, Bratasena kembali melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Dan pedangnya langsung dikibaskan ke kepala pemuda tampan berbaju rompi putih itu.
Bet! "Hap!"
Cepat Rangga memiringkan kepalanya. Maka tebasan pedang itu tidak sampai mengenainya. Dan pada saat tubuh lawannya doyong ke depan, cepat sekali Rangga melepas satu tendangan kaki kanan disertai pengerahan tenaga dalam sempurna, sambil memutar tubuhnya sedikit ke kiri.
"Yeaaah...!"
Begitu cepat tendangan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga Bratasena tidak dapat lagi berkelit menghindarinya. Dan...
Begkh! "Aaakh..!"
"Hiyaaa...!"
Tepat ketika tubuh Bratasena terbungkuk, Rangga langsung melepaskan satu pukulan dahsyat dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir. Dan pukulan itu tepat menghantam wajah laki-laki berusia setengah baya ini.
Jder! "Aaa...!"
Seketika itu juga, terdengar jeritan panjang melengking tinggi yang begitu menyayat. Tampak Bratasena terhuyung-huyung dengan tubuh berpu?taran ke belakang, sambil mendekap wajahnya. Tapi tak lama kemudian, laki-laki berusia setengah ba?ya itu jatuh menggelepar ke tanah berumput di halaman depan Istana Pulau Bidadari ini. Tampak da?rah mengalir deras dari wajah yang remuk, terkena pukulan dahsyat Pendekar Rajawali Sakti tadi.
Hanya sebentar saja Bratasena menggelepar meregang nyawa, kemudian tubuhnya mengejang kaku disertai rintihan kecil yang tertahan. Dan sesaat kemudian, laki-laki setengah baya itu me?ngejang, lalu diam tidak bergerak-gerak lagi. Nya-wanya seketika melayang dengan dada melesak ke dalam dan tulang wajah remuk berlumur darah.
"Hhh...!"
Rangga menghembuskan napas panjang-pan-jang, begitu melihat lawannya sudah tidak ber-nyawa lagi. Dan pada saat itu, terdengar teriakan serak yang begitu keras dari angkasa. Rangga lang?sung mendongakkan kepala ke atas, saat mendengar suara yang begitu dikenalnya. Dan pada saat itu, dari angkasa meluruk deras seekor burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan. Sebentar saja, burung rajawali raksasa itu sudah mendarat tidak jauh dari depan pemuda ini. Dan Rangga pun bergegas menghampiri. Dan di punggung burung raksasa itu, terlihat Pandan Wangi duduk di sana. Tanpa bicara lagi, Pendekar Rajawali Sakri lang?sung melompat naik dan duduk di depan Pandan Wangi, tepat di bagian lekuk antara leher dan punggung burung rajawali raksasa ini.
"Tinggalkan pulau ini, Rajawali," pinta Rangga.
"Khraaagkh...!"
Hanya sekali mengepakkan sayapnya saja, Rajawali Putih sudah langsung melambung tinggi ke belakang, menembus awan. Dan dari angkasa ini, Rangga bisa melihat beberapa buah perahu me-rapat di pantai. Dari dalam perahu itu, keluar Arya Bangal bersama para pengawal dan rakyatnya yang tinggal sedikit. Rangga tersenyum melihat mereka sudah kembali lagi ke tanah kelahirannya aman.
"Kau yang memberi tahu mereka, Pandan?" tanya Rangga.
"Ya! Dan aku langsung ke sini menjemputmu," sahut Pandan Wangi.
"Mereka tahu tentangku?" tanya Rangga lagi.
"Tidak," sahut Pandan Wangi tegas. "Mereka juga tidak tahu tentang Rajawali Putih."
"Hm...," Rangga hanya menggumam saja sedi?kit.
"Kakang! Kau tahu, kenapa peta penyimpanan harta kekayaan Pulau Bidadari berada di tangan utusan Adipati Krasana?" tanya Pandan Wangi.
"Tidak," sahut Rangga, seraya menggeleng pelan.
"Peta itu terjatuh ketika pasukan Kadipaten Balakarang menyerang mereka di perbatasan. Dan peta itu ditemukan salah seorang punggawa Adipati Krasana. Tapi, seorang prajurit utusan melihatnya dan mencurinya dari tempat penyimpanan benda berharga di istana kadipaten. Dia berusaha lari membawa peta itu, tapi prajurit Adipati Krasana mengejarnya. Utusan itu berhasil dibunuh, tapi peta terjatuh. Dan, mereka tidak menemukannya," jelas Pandan Wangi.
Rangga hanya mengangguk-angguk saja.
"Tapi sekarang, tidak ada lagi persoalan, Ka?kang. Tidak ada yang tahu tentang pulau itu lagi. Mereka bisa hidup damai. untuk membangun bangsanya kembali," sambung Pandan Wangi.
"Ya...," Rangga hanya mendesah saja sedikit.
Dan Pendekar Rajawali Sakti meminta Rajawali Putih untuk mengantarkannya kembali pulang.
"Khraaagkh...!"
? SELESAI ? ? ? ? ? Scan by Clickers
Edit by Lovely Peace
? www.duniaabukeisel.blogspot.com
Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 Sepasang Garuda Putih 4 Dewa Arak 94 Pendekar Gunung Bromo Pendekar Riang 2

Cari Blog Ini