Ceritasilat Novel Online

Singa Gurun 2

Pendekar Rajawali Sakti 136 Singa Gurun Bagian 2


ke belakang. Langsung dijauhi lawannya Dia langsung
berdiri tegak, berjarak sekitar satu batang tombak.
*** 5 "Kenapa kau berhenti, Ki?" kata Pendekar Rajawali Sakti
terasa datar sekali.
Singa Gurun tidak menyahuti. Dipandanginya Pendekar
Rajawali Sakti tajam-tajam dari balik kain hitam yang
menutupi seluruh kepala dan wajahnya ini. Seakan masih
belum percaya kalau lawan yang masih berusia muda itu
bisa menahannya dalam pertarungan sepuluh jurus.
Sedangkan selama ini, tidak ada seorang lawan pun yang
mampu bertahan lebih dari lima jurus. Padahal semua
lawannya tidak bisa dipandang sebelah mata saja. Tapi
nyatanya, Rangga sanggup bertahan sampai sepuluh jurus.
Bahkan belum satu serangan pun yang dilancarkan Singa
Gurun mendarat di tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Sudah
barang tentu, si Singa Gurun seperti tidak percaya melihat
kenyataan ini. "Anak Muda, siapa kau sebenarnya?" Singa Gurun
malah melontarkan pertanyaan. Nada suaranya terdengar
begitu dalam. "Namaku Rangga. Aku hanya pengembara yang berasal
dari Karang Setra. Dan aku salah seorang ksatria Karang
Setra," sahut Rangga tegas. "Kalau kau tidak mampu
menghadapiku, jangan harap bisa bertemu Raja Karang
Setra. Karena, kau akan berhadapan dengan para ksatria
Karang Setra yang kemampuannya lebih tinggi dariku."
"Hm.... Sikap dan cara bicaramu menunjukkan kalau
kau bukan seorang ksatria biasa. Aku yakin, kau seorang
putra bangsawan. Atau...," Singa Gurun tidak melanjutkan
ucapannya. Sedangkan Rangga jadi terdiam membisu. Sungguh tidak
disangka kalau orang yang berada di depannya ini bukan
hanya memiliki kepandaian tinggi, tapi juga mampu
menilai seseorang dari segala sudut pandang. Bahkan
Rangga sudah bisa menduga kalau si Singa Gurun ini tidak
akan percaya begitu saja dengan keterangan yang
diberikannya tadi.
"Kau tidak berkata yang sebenarnya, Anak Muda. Aku
ingin tahu, sampai di mana kekerasan kepalamu," desis
Singa Gurun dingin menggetarkan.
Dan selesai berkata begitu, si Singa Gurun langsung
menggerakkan kedua tangannya untuk membuka jurus
kembali. Sedangkan Rangga hanya diam saja memperhatikan, dengan mata tidak berkedip sedikit pun
juga. Dia tahu, laki-laki yang tidak kelihatan wajahnya ini
akan mengerahkan jurus-jurus ampuh andalannya. Paling
tidak untuk mendesak agar Pendekar Rajawali Sakti ini
mau mengakui terus terang tentang dirinya. Entah, apa
yang mendesak Singa Gurun berlaku seperti itu. Tapi yang
jelas, kedua kepalan tangannya sudah terlihat berwarna
merah membara seperti terbakar.
Seketika Rangga jadi terhenyak kaget. Kedua tangan
yang membara itu sama seperti bila dia mengerahkan jurus
'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir. Tapi
gerakan-gerakan Singa Gurun ini memang berbeda. Dan di
saat Pendekar Rajawali Sakti tengah tertegun, tiba-tiba saja
si Singa Gurun sudah berteriak lantang menggelegar sambil
cepat menghentakkan kedua tangannya.
'Yeaaah...!"
Slap! "Heh..."! Hup!"
Rangga jadi tersentak kaget setengah mati. Cepat-cepat
dia melompat ke atas, menghindari serangan yang sangat
dahsyat itu. Hingga pukulan jarak jauh yang dilancarkan
Singa Gurun hanya menghantam tanah kosong, tempat tadi
Pendekar Rajawali Sakti berdiri. Begitu dahsyatnya pukulan
jarak jauh itu, membuat tanah yang terkena hantamannya
seketika itu juga terbongkar, menimbulkan ledakan dahsyat
menggelegar. Sementara, Rangga sendiri harus berputaran
beberapa kab di udara, sebelum menjejakkan kakinya
kembali di tanah dengan mantap.
"Hiyaaa...!"
Tapi belum juga Pendekar Rajawali Sakti bisa
menegakkan tubuhnya, si Singa Gurun sudah melancarkan
serangannya kembali. Tangan kirinya cepat dihentakkan ke
depan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi. Seketika,
cahaya merah yang membara seperti api membakar
tangannya melesat begitu cepat bagai kilat menerjang ke
arah Pedekar Rajawali Sakti.
"Hap!"
Tapi kali ini Rangga hanya memiringkan tubuhnya
sedikit, hingga serangan si Singa Gurun kembali tidak
menemui sasaran. Dan saat itu juga, Rangga langsung
meliukkan tubuhnya. Lalu cepat sekali tangan kanannya
ditarik hingga sejajar pinggang. Dan dengan kecepatan
bagai kilat tangannya dihentakkan ke depan, sambil
berteriak keras sambil menegakkan tubuh kembali.
"Yeaaah...!"
Splashr..! Seleret sinar merah seketika itu juga melesat cepat sekali,
meluruk deras mengarah ke dada si Singa Gurun. Saat itu,
laki-laki berbaju serba hitam ini jadi terperanjat setengah
mati. Tidak disangka kalau pemuda tampan yang menjadi
lawannya ini bisa mengimbangi serangannya dengan jurus
yang hampir serupa. Maka cepat-cepat dia melompat ke
belakang sambil memutar tubuhnya sekali. Sehingga cahaya
merah yang melesat bagai kilat itu lewat sedikit di dalam
gulungan putaran tubuh si Singa Gurun ini, dan langsung
menghantam sebatang pohon yang berada tepat di
belakangnya. Seketika itu juga, pohon yang sangat besar itu
hancur berke-ping-keping menimbulkan ledakan dahsyat
menggelegar. "Dari mana kau dapatkan jurus 'Pukulan Maut Paruh
Rajawali', Anak Muda..."!" bentak Singa Gurun tiba-tiba.
"Heh..."!"
Kali ini Rangga benar-benar tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, mendengar bentakan
lawannya. Sungguh tidak disangka kalau Singa Gurun bisa
mengetahui jurus yang dikerahkannya. Padahal, Pendekar
Rajawali Sakti sama sekali tidak menyebutkannya. Tapi,
ternyata Singa Gurun bisa cepat mengetahuinya dan tepat
sekali. "Jawab pertanyaanku, Anak Muda. Dari mana kau
peroleh jurus dahsyat itu?" tanya Singa Gurun lagi, dengan
suara diperhalus.
"Dari guruku," sahut Rangga, agar datar nada suaranya
terdengar. "Gurumu..." Siapa gurumu?" desak Singa Gurun.
Dan Rangga tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tidak
mungkin dia mengatakan yang sebenarnya, dari mana
mendapatkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang
tadi digunakan.
"Baik, Anak Muda. Kalau kau tidak ingin mengatakannya, terpaksa aku harus mendesakmu agar
bicara," desis Singa Gurun dingin.
Dan belum juga Rangga bisa membuka suara, si Singa
Gurun sudah melesat cepat sekali menyerang Pendekar
Rajawali Sakti ini dengan jurusnya yang cepat dan dahsyat
Dan Rangga terpaksa harus berjumpalitan menghindarinya.
Beberapa kali pukulan yang dilancarkan si Singa Gurun
tidak bisa dihindari. Hingga Rangga terpaksa harus
memapaknya dengan pengerahan tenaga dalam sempurna.
Dan setiap kali mereka beradu tenaga dalam, tampak
Singa Gurun melenguh kecil sambil mengeluarkan
gerengan seperti seekor singa. Sedangkan Rangga sendiri
selalu merasakan gentaran yang hebat, setiap kali menahan
pukulan lawannya. Dan kini Pendekar Rajawali Sakti sudah
bisa tahu, sampai di mana tingkat kekuatan tenaga dalam
yang dimiliki si Singa Gurun. Dan Rangga kini tidak mau
lagi gegabah memapak setiap serangan yang dilancarkan si
Singa Gurun. Dia berusaha terus menghindar, sambil
sesekali melancarkan serangan balasan yang tidak kalah
dahsyatnya. Kali ini Rangga terpaksa harus mengeluarkan rangkaian
lima jurus 'Rajawali Sakti' yang dipadukan menjadi satu.
Begitu cepat pergantian setiap jurusnya, membuat seakanakan lima jurus itu hanya menjadi satu jurus saja. Tapi
setiap kali Pendekar Rajawali Sakti melancarkan serangan
balasan, si Singa Gurun jadi kelabakan menghindarinya.
Dan beberapa kali terpaksa harus memapak serangan yang
dilancarkan Pendekar Rajawali Sakti.
*** Jurus demi jurus berlalu cepat. Tanpa terasa pertarungan
sudah berlangsung lebih dari lima belas jurus. Tapi, belum
ada tanda-tanda kalau pertarungan akan berakhir. Mereka
terus melepaskan serangan-serangan dahsyat dan cepat luar
biasa. Hingga, gerakan-gerakan mereka jadi sulit diikuti
pandangan mata biasa. Dan hanya kelebatan bayangan
putih serta hitam saja yang terlihat, saling menyambar dan
menghindar. Teriakan teriakan keras pun bagai hendak memecah
kesunyian malam ini, disertai ledakan keras menggelegar
yang terdengar sesekali, setiap kali mereka saling beradu
kekuatan tenaga dalam. Percikan bunga api dan kilatan
cahaya merah menyebar ke segala arah. Entah, berapa
puluh pohon yang sudah rum bang akibat terkena sasaran
dari pukulan serta tendangan dahsyat yang tidak tepat
mengenai sasaran. Bahkan tidak sedikit baru-batu yang
hancur terkena sambaran pukulan mereka. Debu berterbangan ke angkasa, bercampur daun-daun kering.
Begitu dahsyat pertarungan itu, membuat hutan yang
menjadi tempat ajang pertarungan jadi porak poranda,
bagai diterjang amukan puluhan ekor gajah.
"Hup! Yeaaah...!"
Tiba-tiba saja terlihat bayangan hitam berkelebat cepat
sekali keluar dari ajang pertarungan itu. Dan pada saat yang
bersamaan, terlihat Rangga juga menghenrjkan pertarungannya. Dan kini mereka terlihat berdiri saling
berhadapan dengan jarak sekitar satu setengah batang
tombak. Tidak ada seorang pun yang membuka suara lebih
dulu. Dengusan napas mereka begitu cepat memburu.
Kali ini, Rangga benar-benar mendapatkan lawan
tangguh, hingga terpaksa harus menguras
seluruh kemampuan yang dimilikinya. Keringat terlihat menitik
keluar membasahi sekujur tubuhnya. Tapi, tidak berbeda
jauh keadaannya dengan si Singa Gurun yang juga merasa
kalau lawannya kali ini sangat tangguh luar biasa. Dan
sepertinya, dia sudah kehilangan akal untuk bisa
mengalahkan pemuda yang menjadi lawannya. Sedangkan
sudah hampir semua jurus tingkat tinggi yang dimiliki
dikeluarkan dalam pertarungan tadi. Tapi, belum juga bisa
mendesak Pendekar Rajawali Sakti.
Singa Gurun merasa kalau akan mendapat kesulitan
untuk menjatuhkan lawannya. Bahkan menjadi ragu,
apakah mampu mengalahkan pemuda tampan berbaju
rompi putih yang mengaku bernama Rangga, ksatria dari
Karena Setra ini.
"Aku tawarkan perjanjian padamu, Anak Muda...," kata
Singa Gurun memecah kebisuan yang terjadi di antara
mereka. "Hm, apa tawaranmu?" sambut Rangga datar.
"Kita tentukan, siapa di antara kita berdua yang lebih
unggul...."
"Lalu...?"
"Yang lebih unggul, bisa meminta apa saja. Nyawa
sekalipun harus diserahkan. Atau yang lebih pahit lagi,
yang kalah menjadi budak seumur hidup. Bagaimana ..?"
Singa Gurun langsung menawar-kaa
Sejenak Rangga jadi terdiam, mendengar tawaran yang
dirasakan sangat berat Kalau saja ke-pandaian Singa Gurun
berada jauh di bawahnya, sudah tentu tawaran akan
langsung diterima. Tapi, Rangga sudah bisa mengukur
sampai di mana tingkat kepandaian Singa Gurun ini Dan
dia tidak bisa bertindak gegabah dalam merentukan sikap.
Tawaran itu memang sangat berat. Tapi bagi seorang
pendekar, sangat pantang untuk menolaknya.
"Baik! Tawaranmu kuterima,"
sahut

Pendekar Rajawali Sakti 136 Singa Gurun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Rangga memutuskan. "Bagus! Sekarang gunakan seluruh kepandaianmu, Anak
Muda. Gunakan senjata yang kau miliki," kata Singa Gurun
mantap. "Kau tidak bersenjata, Ki. Pantang bagiku menggunakan
senjata terhadap lawan yang tidak bersenjata," sahut
Rangga tidak kalah tegasnya.
"Kau memang memiliki jiwa ksatria, Anak Muda. Aku
memujimu setulus hati. Tapi sayang, aku tidak memiliki
senjata satu pun juga," kata Singa Gurun tulus.
"Kalau begitu, aku juga tidak akan menggunakan
senjata," balas Rangga.
Tanpa membuang waktu lagi, Rangga segera melepaskan
pedang pusaka yang sejak tadi tersampir di punggung. Dan
hati-hati sekali dia meletakkannya di bawah pohon.
Kemudian kakinya melangkah menghampiri lawannya.
Dan langkahnya baru berhenti setelah jaraknya tinggal
sekitar lima tindak lagi.
"Kita teruskan pertarungan dalam jurus, atau akan
menggunakan ilmu kesaktian, Ki...?" tanya Rangga
menawarkan. "Hm.... Sebaiknya gunakan saja ilmu kesaktian," sahut
Singa Gurun langsung memilih.
"Baik..."
Dan mereka kini tidak ada lagi yang berbicara, saling
berdiri berhadapan dengan jarak sangat dekat Saat Singa
Gurun mulai bergerak menyiapkan ilmu kesaktian, Rangga
langsung merapatkan kedua telapak tangan di depan dada.
Dan perlaKan kedua kakinya direnggangkan ke samping.
Lalu tubuhnya bergerak meliuk ke kiri, dan perlahan-lahan
ditarik hingga miring ke kanan. Dan ketika tubuhnya
kembali tegak dengan kedua kaki masih merentang lebar,
tampak semburat cahaya biru memancar dari kedua telapak
tangan Pendekar Rajawali Sakti yang menyatu rapat di
depan dada. Perlahan-lahan Rangga kembali merapatkan
kedua kakinya. Sedangkan Singa Gurun tampaknya juga
sudah siap dengan ilmu kesaktian pemungkasnya.
Seluruh tubuhnya kini memancarkan cahaya merah yang
membara. Seakan-akan, seluruh tubuhnya mengeluarkan
api yang panas menyengat Begitu panasnya, Rangga merasa
dirinya seperti berada di dalam lingkungan api yang
berkobar bagai hendak menghanguskan seluruh tubuhnya.
Dan untuk beberapa saat, mereka kembali terpaku diam
dalam suasana yang begitu tegang mencekam.
"Bersiaplah, Anak Muda! Hiyaaa...!"
"Aji 'Cakra Buana Sukma'.. Yeaaah...!"
Secara bersamaan mereka saling membentak keras
menggelegar dengan kedua tangannya sama-sama menghentak ke depan disertai pengerahan ilmu kesaktian
masing-masing. Seketika itu juga, dua cahaya yang saling
berlawan melesat cepat bagai kilat, hingga bertemu tepat di
tengah-tengah. Dan....
Glarrr...! *** Satu ledakan dahsyat seketika itu juga terjadi, tepat
ketika cahaya merah yang memancar dari kedua telapak
tangan Singa Gurun berbenturan dengan cahaya biru yang
memancar dari kedua telapak tangan Rangga. Tampak
mereka sama-sama terdorong ke belakang. Tapi, Rangga
hanya bergeser satu langkah saja ke belakang. Sedangkan si
Singa Gurun sampai terdorong lima langkah. Sementara
cahaya merah yang memancar menyelimuti tubuhnya
seketika berpendar ke segala arah.
"Hiyaaa...!"
Pada saat itu juga, Rangga kembali menghentakkan
kedua tangannya ke depan, sambil berteriak keras
menggelegar bagai guntur membelah angkasa. Dan seketika
itu juga, cahaya biru yang memancar dari kedua telapak
tangannya meluruk bagai kilat ke depan. Begitu cepat
lesatannya, membuat Singa Gurun tidak sempat lagi
menghindarinya. Terlebih lagi, dia masih berusaha
menguasai keseimbangan tubuhnya. Hingga tidak pelak
lagi, cahaya biru yang memancar dari telapak tangan
Pendekar Rajawali Sakti langsung menghantam tubuhnya.
Splash! "Akh...!"
Singa Gurun jadi terpekik, dengan tubuh terpental ke
belakang sejauh satu batang tombak. Tapi dia tetap berdiri
tegak, walaupun seluruh tubuhnya kini terselubung cahaya
biru yang terus memancar dari kedua telapak tangan
Pendekar Rajawali Sakti.
"Ikh..."!"
Singa Gurun jadi terperanjat setengah mati. Cepat
seluruh kekuatan tenaga dalamnya dikerahkan untuk
melepaskan diri dari belenggu cahaya biru ini Tapi hatinya
semakin terperanjat setengah mati, begitu merasakan aliran
yang sangat dahsyat menyedot keluar tenaga dan
kekuatannya. Cepat-cepat dia berusaha menahan aliran
kekuatan yang tersedot keluar itu, begitu menyadari apa
yang terjadi. Tapi semua sudah terlambat Tenaga dan
kekuatannya terus mengalir keluar tanpa dapat dicegah lagi.
Dan semakin kuat dia bertahan, semakin deras saja
kekuatannya mengalir keluar.
"Hih! Yeaaah...!"
Tiba-tiba saja si Singa Gurun berteriak keras menggelegar, sambil menghentakkan kedua tangannya ke
samping. Dan seketika itu juga, dari seluruh tubuhnya
memancar cahaya merah yang seakan ingin mendesak
cahaya biru yang menyelubungi sehiruh tubuhnya ini.
Tampak seluruh tubuh Rangga jadi bergetar. Dan Pendekar
Rajawali Sakti langsung menghentakkan kedua tangannya
sambil berteriak keras menggelegar, membuat seluruh tubuh
Singa Gurun jadi menggeletar hebat bagai terserang
demam. Seketika itu juga, cahaya merah yang tadi tiba-tiba
memancar dari seluruh tubuhnya, lenyap dari pandangan
mata. "Aaakh...!"
Singa Gurun jadi berteriak keras, saat merasakan seluruh
otot tubuhnya bagai terhentak Seakan-akan, tubuhnya akan
meledak hancur, dengan kekuatan terus mengalir deras
tanpa dapat ditahan lagi. Sementara, Rangga semakin kuat
mengerahkan aji kesaktiannya yang sangat dahsyat dan
belum pernah tertandingi. Tapi Pendekar Rajawali Sakti
juga merasakan adanya perlawanan yang begitu kuat,
membuat seluruh kekuatannya terpaksa harus dikerahkan
untuk terus membelenggu lawannya yang sangat tangguh
dan tidak mengenal menyerah ini.
"Hup! Hiyaaa...!"
Tiba-tiba saja Rangga berteriak keras menggelegar. Dan
bersamaan dengan itu, tubuhnya langsung melesat cepat
sekali. Bagaikan kilat tangannya ditarik ke atas. Dan
secepat kilat pula, dada lawannya digedor dengan hentakan
tangannya. Begitu cepat gerakan Pendekar Rajawali Sakti,
membuat si Singa Gurun tidak sempat lagi berkelit. Dan...
Jder! "Akh...!"
Kembali Singa Gurun memekik keras, begitu gedoran
kedua tangan Rangga yang terkembang tepat menghantam
dadanya. Seketika itu juga tubuh Singa Gurun terpental
deras ke belakang. Dan dua batang pohon yang berada tepat
di belakangnya langsung hancur berkeping-keping terlanda
tubuhnya. Bruk! Keras sekali tubuh berbaju hitam pekat itu menghantam
tanah, membuat pekikan tertahan kembali terdengar.
Tampak si Singa Gurun bergulingan beberapa kali di antara
pecahan batang pohon yang terlanda tubuhnya tadi.
Sementara, Rangga hanya memperhatikan dengan kedua
kaki berdiri tegak di atas tanah agak terentang sedikit
Sedangkan kedua telapak tangannya sudah kembali
menyatu rapat di depan dada. Sementara cahaya biru masih
terlihat memancar dari sela-sela telapak tangan yang
menyatu rapat itu.
Sementara si Singa Gurun tampak berusaha bangkit
berdiri kembali. Tapi baru saja mengangkat tubuhnya,
segumpal darah kental berwarna kehitaman terpental keluar
dari dalam mulutnya. Dan kembali tubuhnya jatuh
terguling ke tanah. Seakan-akan seluruh tulang tubuhnya
terasakan sudah tercabut keluar. Dan tenaganya benarbenar terkuras habis. Hingga, dia tidak mampu lagi
mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Namun Singa Gurun
masih terus berusaha bangkit berdiri kembali. Dan dengan
susah payah, akhirnya dia bisa juga berdiri, walaupun agak
limbung seperti pohon tertiup angin kencang.
Sementara Rangga yang melihat lawannya tidak akan
mampu lagi meneruskan pertarungan, segera mencabut
kembali aji kesaktiannya yang sangat dahsyat. Perlahan
kedua tangannya yang tadi menyatu di depan dada
diturunkan, setelah tidak terlihat lagi cahaya biru.
"Kau sudah kalah, Ki...," ujar Rangga datar, tanpa
sedikit pun hendak mengecilkan lawannya.
"Kuakui kau memang tangguh, Anak Muda. Aku
memang kalah darimu," sahut Singa Gurun langsung
mengakui kekalahannya.
Rangga jadi terdiam, begitu teringat perjanjian yang
ditawarkan si Singa Gurun sendiri, sebelum memulai
pertarungan. "Mulai sekarang aku menjadi budakmu, Anak Muda.
Dan akan menuruti apa saja perintahmu," kata Singa
Gurun sambil menjatuhkan diri berlutut di depan Pendekar
Rajawali Sakti.
"Bangunlah, Ki. Tidak pantas berlaku seperti itu
padaku," ujar Rangga jadi merasa jengah sendiri atas sikap
lawannya yang kini akan mengabdikan diri padanya.
'Tapi kau sekarang majikanku, Anak Muda. Dan aku
harus selalu berada di bawah perintahmu," kata Singa
Gurun, tetap berlutut Bahkan kini sudah duduk bersila
dengan kepala tertunduk menekuri tanah.
Dan Rangga semakin jengah mendapati sikap seperti ini.
Dia tidak pernah memperbudak manusia, dan tidak ingin
tersanjung seperti ini. Walaupun si Singa Gurun sendiri
sudah mengakui kekalahannya. Bahkan langsung menepati
janji yang dibuatnya sendiri sebelum berlangsung pertarungan adu ilmu kesaktian yang membuatnya harus
menjadi budak Pendekar Rajawali Sakti.
*** 6 Rangga jadi kebingungan sendiri melihat sikap si Singa
Gurun yang tetap akan mengabdi padanya, karena sudah
kalah bertarung. Sedangkan Rangga sendiri tidak menginginkan semua ini, tapi juga tidak bisa berbuat apaapa. Kalau sampai menolak, sudah barang tentu si Singa
Gurun ini akan menghabisi nyawanya sendiri, karena
merasa tidak lagi pantas untuk hidup. Apalagi sampai
mengingkari perjanjian yang sudah diucapkannya bersama
Pendekar Rajawali Sakti.
"Ki, bangkitlah. Aku tidak ingin kau bersikap begitu
padaku," kata Rangga meminta.
'Tapi kau sekarang junjunganku, Anak Muda. Sudah
sepantasnya aku merendahkan diri padamu," sahut Singa
Gurun dengan kepala masih tertunduk menekuri tanah.
'Tidak, Ki. Aku bukan junjunganmu. Kau orang yang
bebas, seperti yang lain. Bangunlah..., Ki. Kalau kau
memang menganggapku sebagai junjungan, turutilah
permintaanku ini," kata Rangga lembut, sambil mengambil
pedangnya yang tadi diletakkan di bawah pohon dan
langsung dikenakan kembali di punggungnya.
"Baik, Gusti," sahut Singa Gurun.
Rangga jadi tersenyum dipanggil Gusti. Tapi, Rangga
pantas dipanggil sebutan itu, karena sebenarnya memang
seorang Raja Karang Setra. Hanya saja, tidak pernah mau
dipandang sebagai raja, kalau sedang mengembara seperti
ini. Sayangnya, kali ini Pandan Wangi tidak ikut
mengembara bersamanya. Pandan Wangi sekarang masih
berada di Istana Karang Setra.
Sementara itu, si Singa Gurun sudah bangkit berdiri
kembali. Dan Rangga memandanginya dengan kelopak
mata tidak berkedip sedildt pun juga. Ada sesuatu yang
dirasakan amat janggal dalam hatinya melihat Singa Gurun
yang semula tegar, gagah, dan pemberang, kini begitu layu
seperti seorang pesakitan yang harus menjalani hukuman
pancung. "Ki, aku ingin tahu siapa namamu yang sebenarnya.
Kalau kau tidak keberatan, sebutkan namamu," pinta
Rangga lagi dengan nada suara lembut sekali.
"Apakah itu penting, Gusti?" tanya Singa Gurun seakan
enggan untuk menyebutkan nama yang sebenarnya.
"Ya! Sangat penting bagiku. Kau sudah menya-takan
pengabdiannya padaku. Rasanya sangat janggal kalau aku


Pendekar Rajawali Sakti 136 Singa Gurun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tidak tahu namamu," sahut Rangga berlasan.
Sejenak Singa Gurun terdiam, seakan tengah memikirkan permintaan Rangga barusan. Belum pernah
ada orang yang menanyakan nama aslinya.
Dia sendiri hampir melupakannya, setelah terjun dalam
rimba persilatan dan setelah puluhan tahun menyendiri di
daerah gurun pasir yang gersang dan tidak ada kehidupan
sama sekali. Itu sebabnya, dia selalu dipanggil Singa Gurun.
Karena memang berasal dari daerah gurun yang gersang.
Bahkan segala tindakannya seperti seekor singa yang tidak
pernah memberi ampun sedikit pun pada siapa saja yang
mencoba menjajal kepandaiannya. Tapi memang baru kali
ini dia dapat ditaklukkan.
"Kau keberatan memberitahukan namamu, Ki...?" desak
Rangga tetap lembut nada suaranya terdengar.
"Bramasati...," sahut Singa Gurun pelan, me-nyebutkan
namanya. Begitu pelannya, hampir suaranya tidak terdengar telinga
Rangga. Tapi itu pun sudah cukup jelas bagi Pendekar
Rajawali Sakti. Hanya saja, rasanya masih ada ganjalan
yang mengganggu hati Pendekar Rajawali Sakti, walaupun
sudah tahu nama sebenarnya dari si Singa Gurun ini. Dan
Rangga sendiri tidak ingin terus memendam ganjalan dalam
hatinya. Terlebih lagi, dia memang ingin tahu siapa
sebenarnya laki-laki yang kini sudah menyatakan diri
menjadi abdi setianya.
"Ki, aku ingin menguji kesetiaanmu sekali lagi. Kalau
kau memang benar ingin mengabdikan hidupmu padaku,
kau harus memenuhi permintaanku yang terakhir...," kata
Rangga berhati-hati.
"Apa pun permintaanmu akan kuturuti," sahut Bramasati
yang selama ini selalu dikenal sebagai Singa Gurun.
"Hm.... Kau selalu menutupi wajahmu dengan kain. Apa
aku tidak boleh melihat barang sebentar saja...?" pinta
Rangga langsung.
"Oh..."!"
Kali ini Bramasati tidak dapat lagi menyembunyikan
rasa keterkejutannya mendengar permintaan Rangga yang
sama sekali tidak diduga. Hingga untuk waktu yang cukup
lama, Bramasati jadi terdiam membisu. Dipandanginya
wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti dari balik kain
kerudung hitam yang menutupi seluruh kepala dan
wajahnya. Dalam keadaan malam yang gelap ini, memang
sulit bisa melihat wajah si Singa Gurun ini, kecuali
sepasang bola matanya saja yang berwarna kuning
kehijauan seperti mata kucing.
"Gusti... Sejak lahir, aku sudah terasing. Dan aku
dirawat oleh seseorang yang tidak pernah menunjukkan
wajahnya. Sampai dia meninggal pun, aku tidak pernah
melihat wajahnya. Sedangkan aku sendiri..."
Bramasati tidak meneruskan kata-katanya. Seakan, dia
begitu berat untuk memperlihatkan wajahnya pada
Pendekar Rajawali Sakti.
"Kau sendiri kenapa, Ki...?" desaknya.
"Aku..., aku juga tidak pernah melihat wajahku sendiri
selama hidup. Apa lagi memperlihatkannya pada orang
lain. Aku tidak tahu, seperti apa wajahku ini. Tapi ayah
angkatku yang juga guruku, sudah mengatakan kalau aku
tidak seperti manusia pada umumnya. Ada kelainan pada
diriku yang tidak boleh diperlihatkan pada orang lain. Dan
kelainanku ini akan membawa bencana besar bagi diriku.
Tapi, ayah angkatku itu telah berpesan agar aku pergi ke
Karang Setra dan langsung menemui rajanya di sana.
Katanya, darinya aku bisa memperoleh perlindungan yang
tidak akan didapat dari orang lain," jelas Bramasati panjang
lebar. "Perlindungan apa yang kau harapkan, Ki?" tanya
Rangga jadi semakin ingin tahu.
"Hidup, Gusti," sahut Bramasati.
"Hidup...?" kening Rangga jadi berkerut
"Benar, Gusti. Dari Raja Karang Setra aku bisa
memperoleh kedamaian hidup, tanpa merasa terasing lagi
dari dunia ramai. Dan aku harus mengabdi padanya nanti.
Tapi sekarang..., semua sudah musnah. Kau dapat
mengalahkanku. Dan aku harus mengabdi padamu.
Padahal, ayah angkatku mengatakan kalau hanya Raja
Karang Setra saja yang bisa mengalahkanku. Bukan orang
lain...," jelas Bramasati lagi.
"Kau akan mendapatkan semua keinginanmu itu, Ki.
Aku jamin Raja Karang Setra akan menerimamu, kalau
memang kau akan mengabdikan hidup padanya," kata
Rangga memberi harapan.
"Oh! Lalu..., bagaimana denganmu, Gusti?" tanya
Bramasati seperti tidak percaya dengan pen-dengarannya
sendiri. "Kau mengabdi padaku, atau Raja Karang Setra sama
saja, Ki. Aku juga berasal dari sana. Dan salah satu dari
sekian banyak ksatria yang ada di sana adalah aku sendiri.
Jadi, tak ada bedanya kalau kau mengabdi padaku atau
pada Raja Karang Setra. Tapi memang, sebaiknya kau
teruskan semua impianmu itu, Ki. Aku akan mengantarkanmu sampai ke pintu gerbang kota Karang
Setra. Bagaimana...?" ujar Rangga memberi harapan pasti.
"Oh... Terima kasih, Gusti. Hatimu sungguh mulia,"
ucap Bramasati terharu. "Aku berjanji, tidak akan
melupakan jasamu ini. Aku akan mempertaruhkan
nyawaku untukmu, Gusti...."
"Ah, sudahlah...," desah Rangga jadi jengah.
Dan kembali mereka terdiam beberapa saat.
"Sudah terialu larut malam. Sebaiknya kita beristirahat
saja di sini, Ki. Besok pagi, baru kita pergi ke Karang
Setra," kata Rangga memecah kebisuan yang terjadi sesaat.
"Baik, Gusti," sahut Bramasati dengan sikap hormat
Rangga jadi tersenyum kemudian melangkah menghampiri sebatang pohon yang tumbang. Dan
tubuhnya dihentakkan di sana, bersandar pada batang
pohon itu. Sementara Bramasati mengumpulkan rantingranting kering, lalu membuat api unggun untuk mengusir
udara malam yang semakin terasa dingin menusuk tulang.
*** Semalam penuh Rangga sama sekali tidak bisa
memicingkan matanya. Sedangkan Bramasati yang selama
ini selalu dikenal sebagai Singa Gurun langsung terlelap
dalam buaian mimpi. Hingga matahari menampakkan diri
di ufuk timur, sama sekali Rangga tidak bisa memejamkan
mata. Dan dia hanya menyegarkan wajahnya dengan air
embun yang menempel pada permukaan dedaunan.
Pendekar Rajawali Sakti hanya melirik sedikit, saat
Bramasati menggeliat bangun. Dia tampak terkejut juga
melihat Rangga sudah duduk bersila di bawah pohon,
seperti sedang bersemadi.
"Kau tidak tidur semalam, Gusti...?" tegur Bramasati.
"Tidak," sahut Rangga singkat
Sedikit Pendekar Rajawali Sakti mengangkat kepaianya,
langsung menatap Bramasati yang berdiri tidak jauh di
depannya. "Ki Bramasati.... Sebaiknya kau tidak memanggilku
dengan sebutan gusti. Panggil saja aku Rangga," pinta
Rangga. 'Tapi, Gusti.... Kau adalah junjunganku sekarang."
"Bagiku, tidak ada junjungan atau apa pun juga. Aku
ingin antara kita terjalin satu persahabatan. Bahkan kalau
perlu mengikat tali persaudaraan. Itu lebih baik daripada
kau menganggapku junjungan," jelas Rangga meminta lagi.
Bramasati jadi terdiam.
"Baiklah, kalau memang itu yang kau inginkan,
Rangga," ujar Bramasati.
Rangga tersenyum dan menganggukkan kepala sedikit.
Kemudian Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri, dan
merapikan diri sebentar. Sejenak ditatapnya Bramasati yang
masih tetap menunggu dengan setia. Kemudian, sebentar
ditatapnya matahari yang kini sudah naik cukup tinggi,
membuat keadaan di dalam hutan ini jadi terang benderang.
Agak terkejut juga Rangga melihat keadaan hutan yang
hancur porak poranda, akibat pertarungan dengan si Singa
Gurun itu semalam.
"Ayo, Ki. Aku akan mengantarkanmu sampai ke gerbang
masuk kota Karang Setra," ajak Rangga.
Bramasati hanya menganggukkan kepala saja. Kemudian, mereka berdua berjalan bersisian tanpa
mengeluarkan suara lagi. Mereka berjalan dengan
mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi
sehingga dalam waktu sebentar saja, sudah sangat jauh
meninggalkan hutan yang hancur porak poranda itu. Cepat
sekali mereka berjalan, seakan tidak menjejak tanah sedikit
pun juga. Hingga sebentar saja, mereka sudah keluar dari
dalam hutan ini.
Tapi belum jauh mereka keluar dari dalam hutan,
mendadak saja bermunculan orang-orang dari balik semak
belukar dan pepohonan. Cukup lama juga jumlahnya. Dan
dalam waktu singkat, mereka sudah terkepung rapat.
Sehingga, tidak ada celah sedikit pun untuk bisa meloloskan
diri. Baik Rangga maupun Bramasati sudah bisa tahu apa
maksud orang-orang ini mengepungnya. Dari sikap mereka
pun sudah bisa dipastikan, kalau mereka sama sekali tidak
bermaksud bersahabat. Terlebih, mereka semua sudah
menghunus senjata masing-masing.
"Tampaknya, di mana pun kau berada sudah dinanti,
Ki," kata Rangga agak berbisik suaranya terdengar.
"Ya.... Aku sendiri tidak tahu, kenapa mereka begitu
benci dan memusuhiku. Padahal, aku sama sekali tidak
pernah merugikan orang lain. Aku membunuh hanya
karena membela diri," sahut Bramasati bemada mengeluh.
"Aku mengerti, Ki. Tapi, mungkin latar belakangmu
membuat mereka ingin melenyapkanmu," kata Rangga
menduga-duga. "Entahlah.... Aku sendiri tidak tahu," sahut Bramasati
mendesah. Sementara orang-orang yang tampaknya dari kalangan
rimba persilatan itu mulai bergerak mendekati, hingga
kepungan semakin bertambah rapat saja. Tidak ada seorang
pun yang berbicara. Tapi dari pandangan mata yang tajam,
begitu jelas tersirat kalau mereka ingin membunuh si Singa
Gurun Dan tiba-tiba saja...
"Seraaang...!"
"Hiyaaa...!"
"Yeaaah...!"
Begitu salah seorang berteriak memberi perintah,
seketika itu juga mereka berlompatan sambil berteriak-teriak
menyerang serentak dari segala arah. Dan untuk sesaat
Rangga maupun Bramasati jadi terhenyak kaget Tapi, tidak
ada waktu lagi untuk mencegah pertumpahan darah ini.
Mereka segera berlompatan memisahkan diri, menyambut
serangan orang-orang yang berjumlah lebih dari dua puluh
orang ini. "Buat mereka lumpuh saja, Ki...!" seru Rangga keras,
sambil merundukkan kepala raenghindari sambaran sebuah
golok yang berkelebat cepat mengarah ke kepalanya.
Bet! "Hih...!"
Cepat sekali Rangga mengibaskan tangan kiri-nya, dan
langsung menghajar perut orang yang menyerangnya.
Begitu cepat kibasan tangan Pendekar Rajawali Sakti,
hingga tidak dapat dihindari lagi. Seketika orang itu
melenguh pendek, terhuyung-huyung ke belakang dengan
tubuh terbungkuk. Pada saat itu, Rangga sudah melayangkan satu pukulan keras yang tak disertai
pengerahan tenaga dalam sedikit pun juga. Dan pukulan itu
tepat menghantam wajah orang ini. Seketika terdengar
jeritan kesakitan dari orang yang menutupi wajahnya akibat
terhantam pukulan Pendekar Rajawali Sakti. Tampak darah
merembes keluar dari sela-sela jari tangannya. Walaupun
tjdak disertai pengerahan tenaga dalam, tapi pukulan
Rangga memang sangat keras!
"Hiyaaat..!"
Rangga tidak berhenti sampai di situ saja. Kembali
tubuhnya melesat cepat sambil melepaskan beberapa kali
pukulan yang keras, diselingi tendangan dahsyat. Rangga
memang sengaja hanya ingin melumpuhkan lawanlawannya, tanpa harus membunuh.
Sementara di tempat lain, tampak Bramasati juga tidak
bisa lagi dibendung lawan-lawannya. Gerakannya begitu
cepat dan sulit diikuti pandangan mata biasa. Setiap
pukulan maupun tendangannya, tidak dapat lagi dihindari.
Tapi, tampaknya dia tidak menghiraukan peringatan
Rangga. Semua lawannya dihajar habis tanpa sedikit pun


Pendekar Rajawali Sakti 136 Singa Gurun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

diberi ampun. Semua pukulan dan tendangannya mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi, sehingga
tidak ada seorang pun yang bisa bangkit kembali terkena
hajaran si Singa Gurun ini. Begitu tangguhnya dia, hingga
dalam waktu yang tidak begitu lama sudah tidak ada
seorang lawan pun yang bisa bangkit berdiri. Mereka semua
tewas dengan luka mengerikan dan tubuh bersimbah darah.
Sedangkan tidak ada satu pun dari lawan Pendekar
Rajawali Sakti yang tewas. Mereka hanya dibuat lumpuh
untuk sementara, hingga tidak dapat lagi meneruskan
pertarungan. "Kenapa kau bunuh mereka, Ki...?" tegur Rangga saat
pertarungan sudah berakhir.
"Kalau bukan mereka yang mati, tentu aku yang akan
mati, Rangga," sahut Bramasati agak ketus nada suaranya.
"Tapi kau bisa membuat mereka tidak berdaya saja, Ki.
Lumpuhkan saja mereka dan tidak perlu membunuh," kata
Rangga lagi. Bramasati terdiam membisu. Dipandanginya lawanlawannya yang sudah bergelimpangan tidak bernyawa lagi.
Dan ketika melihat pada lawan-lawan Pendekar Rajawali
Sakti, terdengar suara dengusan kecil dari hidungnya. Tidak
satu pun dari mereka yang terlihat mati. Mereka hanya
dibuat tidak berdaya, dan masih dalam keadaan hidup.
"Ayo, kita tinggalkan tempat ini," ajak Rangga.
Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun juga, Bramasati
langsung saja mengayunkan kakinya mengikuti Rangga
yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkan tepian hutan
yang menjadi ajang pertarungan tadi. Mereka memang
tidak tahu, siapa orang-orang yang menyerang itu. Dan itu
sebabnya, kenapa Rangga tidak ingin mereka mati. Rangga
tahu, mereka hanya terpengaruh omongan orang, kalau si
Singa Gurun adalah makhluk ganas yang harus dibasmi.
Mereka tidak tahu, siapa sebenarnya si Singa Gurun ini.
Dan Rangga sudah bisa mendapatkan cara untuk
melenyapkan anggapan buruk semua orang pada si Singa
Gurun ini. "Ki.... Boleh aku bertanya sedikit padamu...?" ujar
Rangga meminta, setelah mereka berjalan cukup jauh.
"Apa yang ingin kau ketahui, Rangga?" tanya Bramasati
datar suaranya.
"Sudah berapa lama kau tinggalkan tempat tinggalmu di
padang pasir?" tanya Rangga langsung mengemukakan rasa
ingin tahunya. "Lebih dari satu tahun," sahut Bramasati.
"Hm.... Selama itu, kau mengembara untuk ke Karang
Setra...?"
"Ya."
"Lalu, kau tahu di mana letaknya Kerajaan Karang
Setra?" Bramasati hanya menggelengkan kepala.
"Karang Setra sudah tidak jauh lagi dari sini, Ki. Hanya
membutuhkan tiga hari perjalanan saja, dan kau akan
sampai di sana," kata Rangga memberitahu.
"Hm...," Bramasati menggumam sedikit
"Dan selama tiga hari sebelum sampai di Karang Setra,
rasanya masih banyak rintangan yang akan kau hadapi.
Melihat dari banyaknya orang yang datang mencarimu dan
ingin membunuhmu, aku merasa ada sesuatu yang
membuat mereka begitu menginginkan kematianmu. Kau
tahu, apa sebabnya mereka selalu memburu dan ingin
membunuhmu...?"
ujar Rangga kembali bertanya menyelidik ingin tahu.
Dan Bramasati tidak langsung menjelaskan. Dia terdiam
beberapa saat, seperti tengah memikirkan jawaban yang
akan diberikan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan
Rangga tetap menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi.
Dia memang harus tahu semua persoalannya, untuk bisa
menolong si Singa Gurun. Terlebih lagi, namanya sudah
begitu rusak. Sehingga, semua orang hanya tahu kalau si
Singa Gurun ini adalah yang harus dilenyapkan dari muka
bumi. Mereka menganggap, Singa Gurun adalah sosok
makhluk setengah iblis yang datang dari neraka. Tapi
anehnya justru mereka yang memburu adalah orang-orang
rimba persilatan yang golongan hitam. Dan hanya beberapa
orang saja yang berasal dari golongan putih.
"Terus terang, Rangga. Aku sendiri tidak tahu, kenapa
semua orang membenciku dan ingin mem-bunuhku. Sejak
meninggalkan gurun pasir tempat tinggalku, mereka
langsung memburuku. Sepertinya, aku ini binatang buruan
yang sangat berbahaya bagi manusia. Aku benar-benar
tidak tahu, Rangga. Semula, aku memang tidak ingin
membunuh mereka. Tapi semakin banyak saja yang
memburuku, dan benar-benar ingin membunuhku. Dan ini
membuatku kesal, hingga tidak mau lagi membiarkan
mereka hidup," jelas Bramasati.
"Selama pergi mengembara, tentu sudah banyak
lawanmu yang mati. Dan, tidak sedikit dari mereka adalah
tokoh-tokoh persilatan tingkat tinggi. Maka sudah tentu
yang lain jadi penasaran, ingin mencoba kedigdayaanmu,
Ki. Coba kau sedikit menahan diri, dan tidak perlu
membunuh semua lawan yang dihadapi. Tentu pandangan
orang pada dirimu akan lain. Dan aku percaya, tidak sedikit
orang yang berada di pihakmu," kata Rangga seperti
menyesali perbuatan si Singa Gurun.
"Aku kesal, Rangga," dengus Bramasati.
"Aku bisa mengerti perasaanmu, Ki. Tapi, cobalah.
Selama aku bersamamu, bisa kendalikanlah sedikit
perasaan amarahmu. Kalau nanti ada lagi orang yang ingin
mencoba kedigdayaanmu, buat lumpuh saja. Jangan
dimatikan," kembali Rangga menasihati. "Semua lawanmu
pasti akan berpikir lain. Dan mereka tentu tidak akan berani
lagi menantangmu. Percayalah padaku, Ki.... Aku yakin,
kau akan bisa hidup damai tanpa harus mengotori
tanganmu dengan darah secara percuma."
"Kau masih muda, Rangga. Tapi arif sekali Beruntunglah
aku bisa menjadi sahabatmu," ujar Bramasati.
"Ah, sudahlah... Yang penting sekarang, kau harus bisa
merubah semua sikap dan tindakanmu Tunjukkan kalau
kau tidak seburuk yang disangka orang. Tunjukkan kalau
kau bisa berguna. Apalagi, kalau bisa bersikap seperti
layaknya seorang pendekar, yang selalu membela kaum
lemah. Orang akan berbalik memandangmu, Ki "
Bramasati hanya diam saja mendengarkan semua petuah
Pendekar Rajawali Sakti. Mungkin dia sedang memikirkan
semua kata-kata yang diucapkan Rangga barusan. Katakata yang memiliki arti sangat dalam jika direnungkan.
Tampak kepalanya periahan bergerak terangguk-angguk.
Dan Rangga juga tidak berbicara lagi. Mereka terus
mengayunkan kakinya perlahan-lahan, semakin jauh
meninggalkan hutan. Sementara, matahari terus bergerak
naik semakin tinggi, memancarkan cahayanya yang begitu
terik menyengat kulit.
"Tidak jauh lagi, di depan sana ada desa. Kita bisa
beristirahat dan mengisi perut," kata Rangga memberitahu,
sambil menunjuk ke sebuah bukit kecil yang menghadang di
depan dan tidak tahu lagi jaraknya.
"Apa ada jalan lain lagi, Rangga?" tanya Bramasati.
"Maksudmu...?" Rangga tidak mengerti.
"Aku selalu menghindari desa mana pun juga."
"Kenapa?"
"Semua orang yang melihatku selalu ketakutan. Dan
setiap desa yang kumasuki, selalu terjadi keributan. Semua
orang membenciku, Rangga. Aku tidak ingin terjadi lagi
pertumpahan darah dari orang-orang desa," jelas Bramasati.
'Tapi kenapa mereka membencimu, Ki" Apa kau...?"
Rangga tidak meneruskan pertanyaannya.
Pendekar Rajawali Sakti langsung berhenti melangkah,
dan memutar tubuhnya sedikit Dipandanginya bagian
kepala si Singa Gurun yang selalu tertutup kain hitam ini.
Tampak kening Pendekar Rajawali Sakti berkerut, seakan
ingin menembus selubung kain hitam yang menutupi
seluruh kepalanya dan wajah si Singa Gurun itu. Tapi
hanya bayangan hitam saja yang terlihat.
"Kau akan tahu jawabannya kalau sudah tahu seperti apa
aku ini, Rangga," kata Bramasati agak dalam nada
suaranya. "Kau berjalan dengan dua kaki dan memiliki tangan.
Kau juga bisa berbicara. Apa anehnya pada dirimu, Ki...?"
ujar Rangga semakin tidak mengertj.
"Kau lihat ini, Rangga..."
"Oh..."!"
*** 7 Kedua bola mata Rangga kontan jadi terbeliak dengan
mulut temganga. Seakan tidak dipercayai apa yang
disaksikan ini. Bramasati yang dikenal berjuluk Singa
Gurun dan selalu mengenakan kain selubung hitam itu, kini
membuka kain hitam yang menutupi seluruh kepala dan
wajahnya. Hingga kini, tampak jelas seperti apa raut
wajahnya. Inilah yang membuat Rangga jadi terperanjat
setengah mati. Tidak disangka kalau kepala dan wajah
Bramasati bukan kepala dan wajah manusia, melainkan
kepala dan wajah seekor singa yang sangat menyeramkan.
Meskipun, seluruh tubuhnya berbentuk manusia.
Hanya sebentar saja Bramasati membuka kain hitam
yang menyelubungi seluruh kepala dan wajahnya yang
mengerikan. Kembali dikenakannya kain hitam itu untuk
menutupi wajahnya. Tapi itu sudah membuat Rangga jadi
terpana, tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata sedikit pun.
Hingga untuk beberapa saat, Pendekar Rajawali Sakti jadi
terdiam membisu. Dan terus memandangi si Singa Gurun
ini, seakan masih belum percaya dengan apa yang baru saja
dilihatnya tadi. Sungguh sukar diterima akal pikiran
manusia biasa. Bramasati yang bertubuh manusia dan
memiliki kepandaian seperti layaknya manusia, tapi kepala
dan wajahnya adalah seekor singa mengerikan.
"Sekarang kau sudah tahu, kenapa aku selalu
menghindari orang, Rangga. Wajahku yang tidak seperti
layaknya orang kebanyakan inilah yang membuatku tidak
bisa hidup layak," kata Bramasati datar.
Sedangkan Rangga hanya bisa diam membisu. Dia tidak
tahu apa yang akan dikatakannya, karena sama sekali tidak
menduga kalau Bramasati adalah manusia setengah singa.
Semula Rangga hanya menduga kalau julukan Singa Gurun
hanya berupa julukan belaka, seperti layaknya para tokoh
rimba persilatan. Tapi, rupanya julukan itu karena memang
seluruh kepala dan wajah Bramasati adalah berbentuk
kepala singa yang sangat mengertikan.
"Kelainan yang ada pada diriku inilah yang membuat
semua orang memusuhiku. Mereka menganggap, aku ini
jelmaan iblis yang akan menghancurkan dunia. Padahal,
aku sama seperti mereka. Aku hanya manusia biasa. Hanya
kepalaku saja yang berupa kepala singa," sambung
Bramasati, seakan mengeluh dengan keadaannya yang tidak
wajar ini. "Aku bisa merasakan penderitaanmu, Ki," desah Rangga
pelan. "Sebenarnya, aku ingin seperti manusia wajar. Aku juga
tidak ingin mempunyai kepala singa seperti ini," keluh
Bramasati lagi.
"Tapi itu sudah takdir, Ki. Baik maupun buruk, kau
harus menerimanya."
"Ya! Aku memang harus menerima kenyataan ini.
Dengan kepala singa, aku harus bisa bertahan hidup.
Walaupun, tidak ada seorang pun yang mau menerimaku.
Tapi aku punya harapan untuk bisa kembali wajar seperti
orang lain, Rangga," kata Bramasati lagi.
"Kau bisa merubah wajahmu, Ki...?"
"Ya.... Dengan bantuan Raja dari Karang Setra," sahut
Bramasati mantap.
"Raja Karang Setra...?"
Entah kenapa, detak jantung Rangga tiba-tiba jadi lebih
cepat dari semula. Dan seluruh aliran darahnya terasa
berdesir cepat, mendengar penuturan si Singa Gurun.
"Raja Karang Setra hanya manusia biasa, Ki. Rasanya
tidak mungkin bisa merubah wajahmu," kata Rangga,
dengan dada masih berdebar.
"Tapi ayah angkatku mengatakan, kalau wajahku ini
bisa berubah dengan bantuan Raja Karang Setra, Rangga.
Dan aku harus menemuinya, sebelum mati tercincang oleh
orang-orang yang membenciku," kata Bramasati tegas.
"Dengan cara apa dia bisa merubah wajahmu, Ki?" tanya
Rangga jadi ingin tahu.
"Menurut ayah angkatku, memang bukan Raja Karang
Setra sendiri yang melakukannya. Tapi, gurunya yang
sudah meninggal seratus tahun lalu," sahut Bramasati.
"Orang yang sudah mati tidak akan bisa berbuat apa-apa,
Ki." "Tapi dia tidak, Rangga. Dia seorang manusia sakti
laksana dewa. Kalau aku sudah bertemu Raja Karang Setra,
aku akan memintanya untuk membawaku pada makam
gurunya di Lembah Bangkai."
"Ah! Tampaknya kau sudah tahu banyak tentang dia,
Ki," desah Rangga.
"Tidak begitu banyak, Rangga."
"Lalu, apa kau tahu namanya?" tanya Rangga lagi.
Bramasati menggeleng sambil menghembuskan napas
panjang terasa begitu berat. Beberapa saat dia terdiam.
Sementara, Rangga masih menunggu jawaban dari
pertanyaannya tadi.


Pendekar Rajawali Sakti 136 Singa Gurun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Sayang, ayah angkatku tidak mengatakan siapa
namanya. Tapi aku tahu, dia bukan hanya seorang raja. Dia
juga seorang pendekar yang tangguh dan digdaya. Kalau
tidak salah dengar, julukannya Pendekar Rajawali Sakti,"
kata Bramasati, agak ragu-ragu.
Saat itu Rangga jadi terdiam. Entah, apa yang ada dalam
benaknya saat ini. Tapi yang jelas, terbetik tekad untuk
membantu si Singa Gurun ini mewujudkan impiannya.
Hanya saja, dia sulit menentukan, apakah akan membawa
si Singa Gurun ini ke makam Pendekar Rajawali yang
sudah meninggal seratus tahun lahi..." Sedangkan selama
ini, tidak ada seorang pun yang tahu. Dan Rangga sendiri
tidak pernah menceritakan tentang maka di Lembah
Bangkai pada siapa pun juga. Dia terus merahasiakannya
sampai saat ini, karena tidak ingin ada tangan-tangan kotor
yang merusak kedamaian makam gurunya. Sedangkan dia
sendiri, memperoieh ilmu-ilmu Rajawaii Sakti tidak
langsung dari pemiliknya. Rangga hanya mempelajari dari
kitab-kitab yang ditemukannya di dasar Lembah Bangkai.
Dan hanya seekor burung rajawali raksasa saja yang
menjadi pembimbingnya.
"Ki Bramasati.... Bila kau memang benar percaya kalau
Raja Karang Setra mau mengantarkanmu ke Lembah
Bangkai, tentunya kau sudah memiliki persiapan cukup,"
ujar Rangga berhati-hati.
"Apa pun yang diinginkannya, aku bersedia melaksakan,
Rangga," sahut Bramasati mantap.
"Tapi yang kutahu, tidak mudah untuk bisa sampai ke
sana, Ki. Sedangkan selama ini, tak ada seorang pun yang
bisa mencapai dasar Lembah Bangkai," kata Rangga
menjelaskan. "Rintangan apa pun akan kuhadapi, Rangga. Berbulanbulan aku menjelajah, hanya untuk bertemu Raja Karang
Setra. Dan aku tidak ingin mati di tengah jalan. Aku sudah
bertekad harus berhasil..."
"Kalau memang itu tekadmu, aku tidak bisa berbuat apaapa. Tapi, sebaiknya kau tidak perlu menemui Raja Karang
Setra, Ki," ujar Rangga.
"Kenapa...?" tanya Bramasati.
"Sekarang, dia tidak ada di istananya. Dia sedang
mengembar entah ke mana. Tapi kalau kau memang ingin
ke Lembah Bangkai, aku bisa mengantarkanmu ke sana.
Hanya saja, aku tidak bisa terus mengikutmu menuruni
lembah itu," kata Rangga lagi.
"Aku akan berterima kasih sekali, kalau kau bersedia
mengantarkanku ke sana, Rangga. Bagiku, siapa pun yang
tahu letak Lembah Bangkai, tidak menjadi persoalan.
Asalkan, aku bisa sampai ke sana dan merubah wajahku
yang memuakkan ini," kata Bramasati mantap.
"Baiklah, Bramasati. Ayo, kuantarkan kau ke sana," ajak
Rangga agak mendesah suaranya.
Dan mereka kembali melangkah tanpa berbicara lagi.
Tapi, terlihat kening Rangga sedikit berkerut, pertanda
sedang meruikirkan sesuatu. Entah apa yang menjadi beban
pikirannya saat ini. Sedangkan Bramasati juga tidak
berbicara lagi, dan terus berjalan mantap. Keyakinannya
begitu kuat untuk bisa mengembalikan wajahnya agar
seperti orang sebagaimana mestinya. Tidak dengan wajah
singa seperti sekarang ini.
*** Memang tidak mudah untuk bisa sampai ke Lembah
Bangkai. Bukan hanya jalannya yang suht dilalui, tapi
masih saja ada orang-orang yang menginginkan kematian si
Singa Gurun ini. Hingga setiap saat mereka berdua harus
bertarung, mem-pertahankan selembar nyawa. Tapi kali ini,
Bramasati mengikuti perkataan Rangga untuk tidak
membunuh setiap lawan. Mereka hanya dibuat lumpuh,
untuk sementara waktu saja.
Namun semakin dekat ke Lembah Bangkai, semakin
jarang rintangan yang didapati dari orang-orang yang
menginginkan kematian si Singa Gurun ini Entah kenapa,
nama Lembah Bangkai terasa begitu mengerikan bagi
semua orang. Bahkan tokoh-tokoh persilatan kelas tinggi
pun enggan untuk menginjakkan kakinya di sekitar lembah
yang angker ini. Dan setelah mereka menempuh perjalanan
selama tujuh hari, baru tiba di Lembah Bangkai yang
merupakan sebuah jurang yang sangat dalam bagai tidak
ada dasarnya. Kabut tebal yang menyelimuti lembah itu membuat
keadaannya semakin mengerikan. Bramasati sendiri terlihat
ragu-ragu untuk menuruni lembah itu. Teriebih lagi, saat ini
senja sudah jauh merayap turun ke kaki langit. Dan tidak
lama lagi, matahari akan tenggelam, mengakhiri masa
tugasnya dalam menerangi mayapada ini. Suasana yang
temaram membuat keadaan di pinggiran jurang Lembah
Bangkai semakin menyeramkan. Jeritan binatang malam
pun mulai terdengar, membuat jantung Bramasati semakin
cepat berdetak. Sedangkan Rangga sejak tadi hanya diam
saja, seperti ada sesuatu yang terus mengganjal dalam
hatinya. "Di dalam jurang ini letak makam Pendekar Rajawali,"
ujar Rangga pelan memberitahu.
"Ya.... Keadaannya sama seperti yang ada dalam
mimpiku," desah Bramasati.
"Mimpi...?" kening Rangga jadi berkerut
"Sebelum ayah angkatku meninggal, aku selalu bermimpi
bertemu seseorang di tempat ini. Begitu seringnya, hingga
aku hafal berul seluk beluknya. Dialah yang menuntunku
masuk ke dalam jurang ini. Di sana nanti, aku bisa merubah
wajahku agar kembali menjadi manusia biasa," jelas
Bramasati. "Seperti apa rupa orang yang ada dalam mimpimu?"
tanya Rangga dengan dada berdebar ken-cang.
"Sepertimu, Rangga," sahut Bramasati. "Tapi dia
memakai jubah putih panjang, dan tidak membawa pedang.
Dan di kepalanya mengenakan mahkota yang sangat indah.
Dia seorang raja, juga seorang pendekar digdaya yang sulit
dicari tandingannya. Sayangnya, orang itu tidak banyak
bicara, dan hanya mengatakan kalau diririya adalah seorang
Raja Karang Setra. Katanya, dia yang akan membawaku
menemui mendiang Pendekar Rajawali. Di sana nanti, aku
akan bertemu Pendekar Rajawali, setelah melakukan
semadi selama tujuh hari," jelas Bramasati.
Rangga kembali terdiam, semakin tidak mengerti semua
kejadian ini" Jelas sekali kalau orang yang berada dalam
mimpi Bramasati adalah dirinya sendiri. Dan Rangga
memang selalu mengenakan jubah putih panjang, kalau
sedang bersemadi untuk menyempumakan kekuatan tenaga
dalamnya. Dia juga mengenakan mahkota, kalau berada di
Istana Karang Setra. Karena selain pendekar, Rangga juga
Raja Karang Setra. Tapi apakah memang Rangga yang
akan menunjukkan jalan untuk masuk ke dalam jurang
Lembah Bangkai ini pada Bramasati..." Rangga sendiri
tidak tahu, karena juga belum meminta izin pada gurunya
untuk membawa Bramasati memasuki jurang di Lembah
Bangkai. Sedangkan Bramasati sendiri begitu yakin, kalau akan
kembali wajar menjadi manusia seutuhnya di Lembah
Bangkai ini. Hanya berbekal mimpi dan petunjuk mendiang
ayah angkatnya, Singa Gurun melakukan perjalanan jauh
yang panjang dan melelahkan. Bahkan sampai menghadapi
segala macam bentuk rintangan yang menghadang. Dan
sekarang, dia sudah berada di tempat yang selalu hadir
dalam mimpinya. Tempat yang akan membuatnya jadi
manusia biasa, tidak dengan kepala singa yang mengerikan.
Dan itu membuat hati Rangga jadi tersentuh. Sebagai
seorang pendekar, tentu Rangga akan berbuat apa saja demi
membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Walau,
apa pun tantangan yang akan dihadapi. Nyawa sekalipun
akan dipertaruhkan.
"Ki Bramasati... Aku sudah memenuhi janjiku untuk
membawamu ke Lembah Bangkai ini. Sekarang, aku
mohon kau rela melepaskanku pergi,." ujar Rangga
meminta diri. "Kau akan ke mana, Rangga?" tanya Bramasati, seperti
berat melepaskan Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga tersenyum sambil menepuk bahu orang
berkepala singa ini. Walaupun sekarang Bramasati sudah
tidak lagi mengenakan kain kerudung hitamnya, tapi kini
kepala yang menyerupai singa itu tidak lagi mengerikan di
mata Rangga. Bahkan kini sangat akrab dalam pandangan
Pendekar Rajawali Sakti.
"Baiklah, Rangga. Aku bisa mengerri. Memang tidak
sembarang orang bisa masuk ke dalam jurang ini. Aku
sendiri belum tentu, apa yang akan terjadi pada diriku.
Tapi, aku akan menunggu sampai orang yang ada dalam
mimpi itu muncul dan membawaku ke sana," kata
Bramasati bisa memahami.
"Aku pergi dulu, Sahabat Aku berharap, kita bisa
bertemu lagi kelak," ujar Rangga.
Mereka saling berpelukan dengan hati sudah terpaut
bagai dua orang saudara. Terasa berat sekali mereka
melepaskan pelukan. Dan beberapa saat, mereka saling
berpandangan tanpa ada seorang pun yang berkata-kata.
Dan Rangga cepat memutar tubuhnya berbalik, sebelum
ada pikiran lain yang melintas di dalam benaknya. Cepat
sekali Pendekar Rajawali Sakti melesat pergi, hingga dalam
sekejapan mata saja sudah lenyap dari pandangan mata si
Singa Gurun. "Aku tidak bisa membalas budi baikmu, Rangga. Biarlah
sang Hyang Widhi yang membalas semua kebaikanmu...,"
desah Bramasati pelan.
Beberapa saat si Singa Gurun masih berdiri diam seperti
patung, memandang ke arah kepergian Rangga tadi
Walaupun, bayangan tubuh Pendekar Rajawali Sakti sudah
lenyap tidak terlihat lagi. Kemudian pandangannya beredar
ke sekeliling, lalu melangkah mendekati sebuah batu besar
yang permukaannya datar. Bramasati naik ke atas batu itu,
lalu duduk bersila di sana. Sebentar jalan pemapasannya
diatur, kemudian mulai melakukan semadi untuk menunggu orang yang selalu hadir dalam mimpinya, yang
akan membawanya masuk ke dalam jurang Lembah
Bangkai. *** Sementara itu Rangga sendiri sebenarnya tidak pergi dari
Lembah Bangkai ini. Dari tempat yang tersembunyi,
Pendekar Rajawali Sakti terus memperhatikan Bramasati
yang kini sudah duduk bersemadi di atas sebongkah batu
besar yang datar permukaannya. Cukup lama juga Rangga
memperhatikan dengan pikiran terus berkecamuk tidak
menentu. Sementara, suasana di Lembah Bangkai ini sudah mulai
diselimuti kegelapan. Langit pun mulai ditaburi cahaya
bintang dan rembulan. Angin yang bertiup mulai terasa
dingin, membawa butir-butir embun yang membasahi
permukaan dedaunan. Namun, Rangga melihat kalau si
Singa Gurun masih saja tetap duduk bersila melaksanakan
semadi di atas batu pipih, dekat bibir jurang di Lembah
Bangkai ini. Terasa begitu sunyi keadaannya, hingga gerit serangga
malam terdengar jelas bercampur raungan anjing-anjing
hutan kelaparan. Suasana di Lembah Bangkai ini memang
sangat mengerikan, hingga tidak ada seorang pun yang
bemiat datang ke tempat ini. Jangankan malam hari, siang
hari pun tidak ada yang suka menginjakkan kakinya ke
tempat ini. Entah, apa yang ditakutkan. Mungkin karena
keadaannya yang memang sangat mengerikan.
"Kasihan juga dia. Apa yang harus kuperbuat
sekarang..."
Dia tidak mungkin bisa mewujudkan impiannya tanpa bantuanku. Tapi, apa mungkin aku
membawanya menemui Eyang Guru Rajawali...?" desis
Rangga bicara pada diri sendiri di dalam hati
Memang sangat sulit pilihan yang harus dihadapi
Rangga saat ini. Dalam hati sanubarinya, dia memang tidak
tega melihat Bramasati. Tapi juga kagum melihat
kegigihannya untuk menjadi manusia wajar, seperti
layaknya manusia di dunia ini. Tapi Rangga tidak bisa
sembarangan begitu saja, membawa orang lain ke dasar
jurang Lembah Bangkai. Walaupun Rangga sudah bisa
menilai wataknya, tapi tetap tidak bisa berbuat semaunya
sendiri. Dia sangat menghormati pusara gurunya. Bahkan
tidak ingin ada orang lain yang datang ke sana, apa lagi
dengan maksud buruk.
"Ah! Apa tidak lebih baik aku tanyakan dulu pada
Rajawali Putih...?" desah Rangga lagi di alam hati.
Mendapat pikiran seperti itu, Rangga segera melangkah
mendekati bibir jurang dari arah lain, dan cukup jauh dari
tempat Bramasati bersemadi. Tapi sejenak Pendekar
Rajawali Sakti terdiam termangu, memandang ke dalam
jurang. Tidak mungkin memanggil Rajawali Putih dengan
siulannya yang mungkin bisa membangunkan semadi
Bramasati. Sedangkan untuk turun sendiri ke dalam jurang
ini, Rangga belum pernah melakukannya secara sengaja.
Dia merasa tidak mungkin bisa mencapai ke dasar jurang
yang sangat dalam ini dengan selamat, kalau tetap mencoba
untuk turun. Rangga jadi kebingungan sendiri, tidak tahu apa yang
harus dilakukannya. Walaupun Rangga besar di dalam
jurang ini, tapi berada di sana bukan karena keinginannya
sendiri. Peristiwa pahit yang membuatnya terlempar jatuh
ke dalam jurang Lembah Bangkai ini tidak akan pernah


Pendekar Rajawali Sakti 136 Singa Gurun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terlupakan seumur hidupnya. Meski semua perlakuan si
Iblis Lembah Tengkorak pada ibunya sudah dibalas, tapi
tetap terbayang jelas di pelupuk matanya.
Dan di saat Pendekar Rajawali Sakti tengah kebingungan, dan terbayang kembali peristiwa pahit di
masa kecilnya di lembah ini, tiba-tiba saja terlihat sebuah
bayangan putih yang besar melesat keluar dari dalam jurang
di depannya. Seketika Rangga jadi tersentak kaget, tapi
cepat bisa menguasai keterkejutannya. Kini dia tahu, apa
yang melesat keluar bagai kilat dari dalam jurang.
"Rajawali Putih..," desis Rangga.
"Khrrrkh...!"
"Oh...! Rupanya kau bisa merasakan bisikan hatiku,
Rajawali. Terima kasih... Aku memang membutuhkan
pertolonganmu. Tapi, kali ini tidak seperti biasanya," ujar
Rangga seakan bisa memahami arti suara burung rajawali
putih raksasa itu.
"Khrgkh...!"
"Oh, Eyang Guru sudah menungguku...?"
Rangga tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya. Dan dia cepat melompat, naik ke punggung burung rajawali raksasa ini setelah diminta naik. Dan
sebentar kemudian, mereka sudah meluruk turun, masuk ke
dalam jurang yang sangat dalam dan selalu terselimut kabut
tebal. Dan kini mereka sudah tenggelam, tidak terlihat lagi.
*** 8 Rangga jadi terkejut setengah matj, begitu keluar dari
dalam jurang Lembah Bangkai bersama Rajawali Putih. Di
pinggiran jurang itu, terlihat Bramasati sedang bertarung
menghadapi keroyokan puluhan orang yang ingin
membunuhnya. Tampak kalau si Singa Gurun itu sangat
terdesak dikeroyok puluhan tokoh persilatan tingkat tinggi.
Bahkan sudah terdesak sampai ke bibir jurang.
"Enyahkan mereka, Rajawali! Hiyaaat...!" seru Rangga
sambil melompat dari punggung burung rajawali raksasa
yang ditunggangi.
"Khraaagkh...!"
Kemunculan Rangga yang menunggang burung rajawali
raksasa, tentu saja membuat semua orang jadi tersentak
kaget setengah mati. Bahkan Bramasati sendiri jadi
terlongong bengong, seakan tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Dan sebelum ada seorang pun yang
terbangun dari keterkejutannya, Rangga sudah melesat
cepat menerjang. Bahkan Rajawali Putih juga ikut
menerjang dengan dikepakkan kedua sayapnya yang kuat,
sambil berteriak-teriak keras menggelegar, memekakkan
telinga. "Pergi kalian! Jangan kotori tempat ini...!" bentak
Rangga lantang menggelegar.
Dan orang-orang yang tadi mengerpyok Bramasati,
seketika jad; kelabakan menghindari terjangan Rangga dan
Rajawali Putih tunggangannya. Sementara Bramasati jadi
terdiam, karena tidak ada seorang pun yang menyerangnya
kembali. Dan dia hanya bisa berdiri terpaku, memandangi
sepak terjang Rajawali Putih dan Rangga yang kini
mengenakan baju jubah putih panjang seperti pertapa, tanpa
pedang lagi tersampir di punggung. Begitu hebatnya
terjangan mereka, membuat orang-orang itu tidak dapat lagi
membendung. Dan mereka seketika berhamburan, berlari
meninggalkan Lembah Bangkai.
"Hhh...!"
Rangga menghembuskan napas berat, setelah tidak ada
seorang pun di sekitar Lembah Bangkai ini lagi. Tubuhnya
segera berbalik, langsung menatap Bramasati yang masih
tetap berdiri mematung memandanginya di bibir jurang.
Sementara, Rajawali Putih sudah berdiri angker di
belakang Pendekar Rajawali Sakti yang kini mengenakan
jubah putih panjang, tanpa pedang yang ditinggalkan di
dasar jurang Lembah Bangkai. Perlahan Rangga melangkah
menghampiri si Singa Gurun yang masih terpana, seakan
sedang bermimpi melihat Rangga datang dengan rupa sama
persis seperti yang ada dalam mimpinya.
"Eyang..., terimalah sembahku ini," ucap Bramasati
sambil menjatuhkan diri berlutut, merapatkan kedua
telapak tangan di depan hidung.
'Tidak perlu kau bersikap begitu padaku, Ki. Pandanglah
aku baik-baik. Siapa aku ini...," ujar Pendekar Rajawali
Sakti lembut, sambil tersenyum manis.
Bramasati jadi terkejut, mendengar suara yang sudah
sangat dikenalnya. Dan matanya jadi terbeliak, begitu
wajahnya terangkat, memandang wajah Pendekar Rajawali
Sakti. Sungguh tidak disangka kalau yang berdiri di
depannya ternyata Rangga yang sudah dikenalnya. Hanya
saja sekarang, pemuda itu muncul dengan mengenakan
jubah putih panjang seperti dewa yang turun dari langit,
menunggang seekor burung rajawali raksasa.
"Kau...."
"Ya.... Aku Rangga sahabatmu, Ki," ujar Rangga
tersenyum manis.
Perlahan Bramasati bangkit berdiri, dengan pandangan
tidak lepas merayapi sekujur tubuh Rangga. Seakan masih
belum dipercayai, kalau semua ini benar-benar kenyataan.
Semua yang terjadi di dalam mimpinya, kini menjadi
kenyataan. Hanya saja, Rangga muncul dengan menunggang burung rajawali raksasa.
"Ayo, Ki. Guruku sudah menunggu," ajak Rangga.
"Bagaimana kita bisa ke sana, Rangga?" tanya Bramasati.
Rangga hanya tersenyum saja. Sementara, kepalanya
segera berpaling sedikit memandang Rajawali Putih yang
berada tepat di belakangnya. Saat itu juga, kedua bola mata
Bramasati jadi terbeliak lebar. Sama sekali tidak pernah
terlintas di dalam benaknya, kalau dia akan menunggu
seekor burung rajawali raksasa.
"Ayo, Ki. Jangan membuang-buang waktu lagi. Tidak
banyak waktu yang dimiliki guruku," ajak Rangga lagi.
Belum juga Bramasati bisa menjawab, Rangga sudah
melompat naik ke punggung Rajawali Putih dengan
gerakan indah dan ringan sekali. Sedangkan Bramasati
masih tetap berdiri diam terpaku. Sepertinya, dia masih
merasa kalau semua ini hanya sebuah mimpi belaka. Dan
Rangga jadi menggelengkan kepala melihat si Singa Gurun
itu tidak juga mendekat.
"Ayo, Ki...!" seru Rangga mendesak
"Oh..."! Iya...," suara Bramasati jadi tergagap.
Dengan sikap ragu-ragu, Bramasati melangkah menghampiri burung rajawali putih raksasa. Sejenak
dipandanginya burung raksasa itu. Dan Rangga kembali
mendesak, agar si Singa Gurun cepat naik. Masih dengan
hati diliputi berbagai macam perasaan, Bramasati melompat
naik ke punggung Rajawali Putih, lalu duduk di belakang
Rangga yang sejak tadi sudah ada di sana.
"Bawa aku menemui Eyang Guru, Rajawali," pinta
Rangga. Sambil berteriak keras, Rajawali Putih mengembangkan
sayapnya, langsung melesat masuk ke dalam jurang yang
sangat lebar dan dalam ini. Saat itu juga, kabut yang
memenuhi relung jurang ini menyelimuti mereka. Udara
yang memang sudah terasa dingin, semakin menggigilkan
tubuh, saat berada dalam jurang yang sangat dalam bagai
tidak ada akhirnya. Bramasati sempat memejamkan
matanya, saat Rajawali Putih melesat cepat tadi. Seolaholah jantungnya terasakan berhenti berdetak seketika.
Tapi hanya sebentar saja Rajawali Putih sudah mendarat
di dasar jurang yang gelap dan terselimut kabut tebal ini.
Rangga cepat melompat turun, diikuti Bramasati tanpa
diminta lagi. Sedangkan Rajawali Putih sudah mendekam,
dengan kepala menjuntai ke bawah. Tidak ada yang dapat
dilihat di dasar jurang Lembah Bangkai ini, kecuali
kegelapan saja yang ada di sekeliling mereka. Udara yang
sangat dingin, membuat seluruh tubuh Bramasati jadi
bergidik menggigil.
"Ikuti aku, Ki," ajak Rangga.
Bramasati hanya mengangguk saja. Dan bergegas
kakinya diayunkan mengikuti Rangga yang sudah berjalan
lebih dulu. Belum juga mereka berjalan, Bramasati sudah
melihat sebuah mulut goa yang sangat besar tidak jauh di
depannya. Dan memang tepat dugaannya, Rangga
membawanya masuk ke dalam goa itu. Aneh! Keadaan di
dalam tak gelap seperti di luar tadi. Entah, dari mana
sumbernya. Yang jelas, goa ini bermandikan cahaya yang
sangat terang, hingga setiap relungnya bisa terlihat dengan
jelas. Bramasati tidak bersuara sedikit pun juga. Kakinya terus
melangkah, mengikuti Rangga yang berjalan lebih dulu di
depan. Goa yang sangat besar ini ternyata tidak begitu
dalam. Dan mereka kembali keluar, setelah melewati satu
tikungan. Kedua bola mata Bramasati jadi terbeliak lagi,
begitu melihat di luar goa seperti siang hari saja
keadaanhya. Dia dapat melihat jelas semua pepohonan dan
batu-batuan yang ada di sekitarnya. Dan tidak jauh dari goa
itu, terlihat sebuah makam yang bercungkup sangat indah
dan bersih. Di atas makam, terlihat berdiri seorang laki-laki
tua berjubah putih yang semua rambut dan jenggotnya
sudah memutih. Dia berdiri tegak di atas makam yang terus
mengepulkan asap putih yang sangat tebal, hingga kedua
kakinya tidak terlihat.
*** Dari Rangga, Bramasati tahu kalau laki-laki tua itu
adalah Pendekar Rajawali yang hidup seratus tahun lalu.
Dan sebenarnya, dia sudah meninggal. Tapi, Pendekar
Rajawali bisa muncul kembali dalam bentuk roh yang bisa
terlihat oleh mata biasa. Bramasati mengikuti Rangga,
duduk bersila di depan orang tua yang berdiri di atas
makamnya sendiri. Dan untuk beberapa saat, mereka
semua terdiam, tidak bersuara sedikit pun juga. Sedangkan
Bramasati terus menundukkan kepala, seakan tidak sanggup
memandang roh Pendekar Rajawali yang berdiri di atas
makamnya sendiri.
"Aku sudah tahu maksud kedatanganmu datang ke sini,
Bramasati. Rangga sudah bercerita banyak tentang dirimu
padaku," kata Pendekar Rajawali memecah kebisuan.
"Tolonglah aku, Eyang. Aku ingin seperti manusia
sebagaimana mestinya tidak dengan kepala singa seperti
ini," pinta Bramasati berharap, dengan sikap sop an.
"Memang dengan keadaanmu seperti ini, kau sangat sulit
berada di tengah-tengah manusia lainnya. Walaupun
hatimu bersih, mereka tentu akan memandangmu lain. Kau
memang malang, Bramasati...," ujar Pendekar Rajawali,
seakan bisa mera-sakan penderitaan si Singa Gurun.
"Apa pun syaratnya, aku akan melaksanakannya, Eyang.
Asal bisa menjadi manusia utuh sebagaimana mestinya,"
harap Bramasati lagi.
"Aku tidak bisa memenuhi semua keinginanmu,
Bramasati. Tapi Hyang Widhi sudah memerintahkan, agar
aku membantu sebatas kemampuan yang kumiliki. Hanya
saja, kau harus bersabar. Karena, semua ini tidak mudah
dilakukan. Dan untuk waktu yang lama, kau harus tinggal
di sini. Bagaimana...?" kata Pendekar Rajawali masih
memberi pertimbangan pada si Singa Gurun ini.
"Apa pun yang harus kulakukan, aku akan lakukan
dengan sepenuh hati, Eyang," sahut Bramasati mantap.
"Baiklah kalau tekad hatimu sudah bulat. Nah! Sekarang,
kau bersemadilah di dalam goa. Tapi, aku tidak bisa tahu
sampai berapa lama kau harus bersemadi. Hyang Jagad
Nata sendirilah yang akan memberitahukanmu. Dan hanya
dia yang bisa merubah wajahmu nanti. Sedangkan aku
hanya sebagai perantara saja," jelas Pendekar Rajawali.
Kemudian, Pendekar Rajawali berpaling menatap
Rangga yang duduk bersila di samping Bramasati.
"Rangga...."
"Ya, Eyang," sahut Rangga seraya memberi sembah
hormat dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan
hidung. "Kembalilah
ke atas. Minta Rajawali Putih mengantarkanmu. Masih banyak yang harus kau kerjakan
di sana," kata Pendekar Rajawali memberi perintah.
"Baik, Eyang," sahut Rangga dengan sikap hormat.
Pendekar Rajawali kembali menatap Bramasati.
"Kau ikut Rangga, Bramasati. Dia akan menunjukkan
tempatmu bersemadi."
Bramasati hanya mengangguk kepala saja. Dan saat itu


Pendekar Rajawali Sakti 136 Singa Gurun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

juga, tiba-tiba terdengar ledakan guntur membelah angkasa,
diikuti terlihatnya cahaya kilat menjilat. Dan seketika itu
juga, dari makam ber-cungkup indah itu mengepul asap
sangat tebal, hingga menutupi seluruh tubuh roh Pendekar
Rajawali. Tapi hanya sesaat saja, asap itu kembali lenyap
tidak berbekas sama sekali. Sedangkan wujud Pendekar
Rajawali pun lenyap dari pandangan. Rangga dan
Bramasati langsung memberi sembah dengan merapatkan
kedua telapak tangan di depan hidung. Dan kini mereka
kemudian bangkit berdiri.
"Ayo, aku akan mengantarkanmu ke tempat semadi,"
ajak Rangga. Bramasati tidak bersuara sedikit pun juga. Kepalanya
hanya mengangguk dan mengikuti Rangga yang sudah
melangkah lebih dulu. Kali ini, mereka tidak memasuki goa
yang tadi dilewati. Rangga . memlawa si Singa Gurun ini ke
dalam sebuah goa yang lebih kecil. Sebuah goa batu yang
memang untuk bersemadi.
"Di sana, biasanya aku melakukan semadi, Ki," kata
Rangga memberitahu sambil menunjuk sebuah batu yang
datar permukaannya, dan terletak di tengah-tengah goa ini.
"Terima kasih, Rangga," ucap Bramasati.
"Aku berharap, kau bisa memperoleh semua yang kau
inginkan di sini, Ki," ujar Rangga sambil menepuk pundak
si Singa Gurun.
Tapi, Bramasati malah merengkuh Pendekar Rajawali
Sakti dalam pelukannya. Dan Rangga membalas pelukan
itu dengan perasaan persahabatan dan persaudaraan
mendalam. Cukup lama juga mereka berpelukan, kemudian
Rangga melepaskannya dengan hati-hati. Dan mereka
saling berpandangan beberapa saat. Bramasati kemudian
berbalik, melangkah menghampiri batu yang sering
digunakan Rangga bersemadi, ketika masih tinggal di dasar
jurang Lembah Bangkai.
"Aku tinggal dulu, Ki. Maaf, aku tidak bisa
menemanimu di sini. Tapi, kau tidak perlu khawatir. Tidak
akan ada seorang pun. yang mengganggumu di sini," kata
Rangga berpamitan.
"Terima kasih, Rangga. Aku tidak akan melupakan
semua kebaikanmu ini," ucap Bramasati terharu.
Rangga hanya tersenyum saja sedikit. Kemudian
tubuhnya berbalik, dan terus melangkah keluar dari dalam
goa ini. Pendekar Rajawali Sakti berhenti sebentar, saat
melewati makam gurunya yang kini tenang berselimut
kabut tipis. Dan kembali kakinya terayun, masuk kembali
ke dalam goa yang terang benderang keadaannya. Di sana,
dia kembali mengganti jubahnya dengan baju rompi putih
yang biasa dikenakan. Bibirnya tersenyum saat meraih
pedang pusakanya. Dikenakannya kembali pedang itu di
punggung, lalu terus melangkah keluar dari dalam goa ini.
"Antarkan aku kembali keluar, Rajawali," pinta Rangga,
setelah berada kembali di depan burung rajawali putih
raksasa tunggangannya.
"Khraaagkh...!"
"Hup! Dengan gerakan sangat indah, Rangga melompat naik ke
atas punggung rajawali raksasa ini. Dan tanpa diminta lagi,
Rajawali Putih langsung melesat tinggi, keluar dari dalam
jurang Lembah Bangkai yang selalu berselimut kabut tebal
ini. "Khraaagkh...!"
SELESAI Manusia Srigala 18 Dewa Arak 38 Neraka Untuk Sang Pendekar Seruling Samber Nyawa 2

Cari Blog Ini