Ceritasilat Novel Online

Istana Goa Darah 2

Pendekar Rajawali Sakti 152 Istana Goa Darah Bagian 2


Sekarang perhatian Raja Pembual tertuju ke arah Lembah Putus Nyawa yang terletak tidak be-gitu jauh dari tempatnya berada. Di hatinya timbul keyakinan bahwa di dalam lembah tersebut hidup berbagai jenis ular berbisa. Ini terbukti dengan terciumnya bau amis khas ular berbisa.
"Para dedemit itu ternyata cukup licik juga! Mereka memaksaku agar turun ke Lembah Putus Nyawa, untuk sampai ke Istana Goa Darah. Sung-guh undangan ini dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab," gerutu Raja Pembual kesal.
Sekali lagi, Raja Pembual melayangkan pandangan ke arah pintu-pintu goa yang berwarna merah darah. Paling tidak, jarak antara tebing lembah dengan pintu goa sekitar empat puluh batang tombak. Mustahil bagi Raja Pembual yang memiliki nama asli Baskara ini dapat melompati tebing lembah yang demikian lebar.
"Eh...! Aku seperti mendengar langkah-langkah kaki mendekat kemari! Orangnya memang belum kelihatan. Tapi, bau busuknya sudah tercium sampai kemari. Jangan-jangan, kucing kurapan yang datang kemari?" gumam Raja Pembual tanpa kehilangan watak konyolnya.
Pendengaran Raja Pembual yang tajam memang tidak dapat tertipu. Tidak lama kemudian, segera terlihat dua orang bertampang angker berbaju putih bersimbah darah. Tidak jauh di belakang kedua laki-laki itu, muncul lima orang laki-laki lain berbaju mirip pengawal kerajaan.
"Hm, bukan kucing kurapan. Ternyata yang datang iblis haus darah. Eh...! Darah tuaku mana enak. Rasanya paling pahit. Dan celakanya lagi, aku mengidap penyakit Malaria.
Raja Pembual menggaruk-garuk hidungnya yang berwarna kemerahan beberapa kali. Sikapnya tetap duduk tenang-tenang di atas cabang pohon. Sementara tangannya yang memegang tongkat telah berhenti mengetuk.
"Terus cari! Aku yakin, ada orang lain yang bukan anggota kita telah bersembunyi di sekitar sini!" ujar Hantu Pencabut Nyawa pada lima orang pengawal bersenjata tombak yang menyertainya.
Lima orang pengawal langsung menyebar Hantu Pencabut Nyawa dan Iblis Wajah Sebelah juga mulai memeriksa tempat-tempat yang dicuri-gai.
Tapi setelah sekian lama mencari-cari, mereka tidak menemukan apa-apa. Raja Pembual yang duduk uncang-uncang kaki di atas pohon, terus memperhatikan orang-orang Istana Goa Darah sambil tersenyum-senyum.
"Ternyata, iblis bukan harimau. Kalau pen-ciuman mereka tajam, tentu sudah menemukan aku di sini!" gumam Raja Pembual, pelan saja.
Tapi, salah seorang laki-laki berwajah angker rupanya sempat mendengar gumaman Raja Pem-bual. Maka dengan curiga dia pun memandang ke atas, merayapi cabang-cabang pohon yang terdapat di sekitarnya.
"Itu dia monyetnya!" teriak Iblis Wajah Sebelah sambil menunjuk ke arah salah satu cabang pohon yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, secara ham-pir bersamaan Hantu Pencabut Nyawa dan Iblis Wajah Sebelah langsung mengeruk kantong celananya. Kemudian, tangan mereka mengibas ke arah Raja Pembual yang duduk terkantuk-kantuk.
Seketika seleret sinar putih keperakan langsung melesat ke arah kakek berjenggot putih ini. Itulah senjata-senjata rahasia yang berupa bintang segi empat yang dimiliki para pembantu Gusti Ratu Penguasa Istana Goa Darah.
Namun Raja Pembual dengan seenaknya langsung bangkit berdiri. Sementara tongkat di tangannya dikibaskan ke depan, kemudian langsung diputar sedemikian rupa. Maka sinar hitam dari tongkatnya yang menimbulkan suara angin menderu-deru, langsung menahan serangan senjata-senjata rahasia yang dilemparkan kaki tangan Penguasa Iblis Goa Darah itu.
Trang! Terdengar suara berdentang berturut-turut di-sertai berpijarannya bunga api, ketaka tongkat hitam di tangan Raja Pembual menghantam runtuh senjata rahasia milik lawannya. Bahkan beberapa diantaranya langsung berbalik menyerang pemiliknya. Jika Iblis Wajah Sebelah dan Hantu Pencabut Nyawa tidak membuang tubuh ke tanah. Niscaya termakan senjata milik mereka sendiri Tapi"
Crap...! "Aaa...!"
Tidak jauh di belakang mereka, terdengar pekik dan jerit kematian. Rupanya, ada senjata rahasia yang mengarah dan menghantam tubuh dua pengawal yang berdiri tak jauh di belakang kedua tokoh Istana Goa Darah. Tubuh mereka kontan ambruk. Tangan yang memegang tombak langsung mendekap perut yang tertembus senjata milik pimpinan mereka. Kedua pengawal berbadan tegap ini berkelojotan sebentar, lalu terdiam untuk selama-lamanya.
Iblis Wajah Sebelah dan Hantu Pencabut Nyawa terkejut bukan main. Terlebih-lebih setelah melihat kematian dua orang pengawal mereka. Ketaka mereka memandang ke atas pohon. Raja Pembual tampak mengumbar tawanya.
"Manusia keparat! Cepat turun dari pohon itu! Atau, aku yang akan menyeretmu kemari!" bentak, Hantu Pencabut Nyawa sudah tidak mampu lagi mengendalikan amarahnya.
Raja Pembual menghentakan tawanya.
"Bicaramu kasar seperti monyet kebakaranjenggot, Kisanak! Sebagai tuan rumah, seharusnya kau menyambutku dengan ramah. Mana ada tamu disuruh makan benda keras seperti tahi binatang tadi?" ejek laki-laki berambut jarang ini sambil menggosok-gosok hidungnya yang berwarna kemerahan.
Kedua rahang Hantu Pencabut Nyawa langsung menggembung. Kalau saja tidak ditahan Iblis Wajah Sebelah, sejak tadi dia sudah melabrak Raja Pembual.
Iblis Wajah Sebelah maju dua langkah. "Rupanya, Kisanak tamu kehormatan kami. Maafkan kawanku ini, karena kurang mengenal mana tamu dan mana yang bukan tamu! Turunlah dari pohon itu, Kisanak. Kita dapat membicarakan se-gala sesuatunya di dalam Istana Goa Darah!" ujar laki-laki yang sebagian wajahnya bersimbah darah kering.
"Huh! Siapa yang mau percaya dengan mulut manis manusia iblis" Aku sudah tahu tipu muslihat kalian. Raja Pembual jangan dibodoh-bodohi!" dengus laki-laki tua berambut jarang ini dalam hati.
"Bagaimana, Kisanak" Mengapa hanya diam saja di situ" Turunlah.... Semua hidangan telah dipersiapkan sebagaimana mestinya!" Iblis Wajah Sebelah terus berusaha membujuk, sehingga membuat kesal Hantu Pencabut Nyawa.
"Ucapanmu memang sangat sopan, Iblis Muka Belang. Tapi kalau boleh tahu, apakah wajahmu yang kemerahan itu kau lumuri tahi kuda atau darah monyet?" selak Raja Pembual sambil tertawa terpingkal-pingkal.
? *** ? Merah muka Iblis Wajah Sebelah mendengar penghinaan Raja Pembual. Sekujur tubuhnya tampak bergetar hebat, menahan amarah. Sementara Hantu Pencabut Nyawa yang berdiri di sampingnya sudah tidak sabar lagi dan ingin cepat-cepat melepaskan pukulan dahsyat. Tapi sebagaimana tadi, Iblis Wajah Sebelah menahannya dengan gelengan kepala.
Rupanya, Hantu Pencabut Nyawa tidak me-ngerti kalau sekarang sedang berhadapan dengan salah satu tokoh rimba persilatan yang memiliki ilmu olah kanuragan sulit dijajaki. Bahkan juga merupakan seorang tokoh yang mempunyai segudang pengalaman dalam bertarung.
"Maafkan aku, Kisanak. Wajahku memang buruk begini rupa sejak dilahirkan orangtuaku. Ter-kadang, aku pun menyesal mengapa terlahir seperti ini Tapi..., kalau boleh tahu, apakah Kisanak yang berjuluk Raja Pembual?" tanya Iblis Wajah Sebelah.
Sementara, di hatinya dia berusaha mati-matian menahan amarah.
"Aku memang raja di atas raja. Walaupun ha-nya seorang Raja Pembual. Tapi mengenai keadaan dirimu, kurasa kau tidak akan menyesal jika mau bunuh diri di depan mayat orang-orang yang telah kau culik!" bentak Raja Pembual, sehingga membuat Iblis Wajah Sebelah tersentak kaget.
Saat itu juga, Hantu Pencabut Nyawa melentingkan tubuhnya ke udara. Dan seketika satu pukulan jarak jauh dilepaskannya ketika tubuhnya berjumpalitan di udara.
Seketika seleret sinar hitam menebar bau busuk dan berhawa dingin luar biasa menderu ke arah Raja Pembual. Namun laki-laki tua ini sambil tertawa-tawa segera mengebutkan tongkat di tangannya. Maka dari ujung tongkat Raja Pembual, melesat secepat kilat dua leret sinar kuning menerjang ke arah sinar hitam yang melesat dari telapak tangan Hantu Pencabut Nyawa.
Glar! "Akh...!"
Hantu Pencabut Nyawa memekik kaget, ketika suara ledakan keras akibat dua tenaga dalam tingkat tinggi bertemu. Pukulan 'Pelepas Sukma' dari Hantu Pencabut Nyawa yang berhawa dingin membekukan, ternyata berbalik oleh satu kekuatan berhawa panas yang melesat dari ujung tongkat Raja Pembual. Laki-laki yang wajahnya bersimbah darah masih dapat menjejakkan kedua kakinya di atas tanah, walaupun terhuyung-huyung.
Melihat kenyataan ini, Iblis Wajah Sebelah tampak kaget bukan main. Tiba-tiba dari atas pohon, Raja Pembual melompat turun. Begitu kedua kakinya menjejak tanah, maka tiga orang pengawal Istana Goa Darah langsung mengurung dengan tombak menderu.
Raja Pembual tertawa terkekeh. Tongkat di tangan kirinya cepat berkelebat kian kemari.
Sementara, dua batang tombak di tangan pengawal menyodok ke bagian perut Raja Pembual. Sedangkan tombak di tangan pengawal yang satu-nya lagi, menghantam bagian punggung. Kakek tua berambut jarang ini cukup melompat ke samping kiri sejauh dua langkah dengan tangan kiri menghantam dada salah seorang pengawal. Sedangkan ujung tongkat di tangannya mengibas ke arah dua batang tombak yang menusuk ke perut.
Trak! Trak! Tombak di tangan dua pengawal ini terpental dan patah menjadi dua. Dua orang pengawal me-mekik kaget sambil memegangi tangannya yang sempat bergetar dan sakit bukan main. Kesempatan ini tidak disia-siakan Raja Pembual. Tongkat ditangannya langsung berkelebat lagi ke dua arah secara berturut-turut.
Cras! Cras! "Aaa...!"
Kedua pengawal itu menjerit setinggi langit. Tubuh mereka mengejang. Bagian perut yang ter-luka parah akibat sabetan tangan Raja Pembual tampak mengucurkan darah yang tidak henti-hentinya. Tubuh mereka sebentar saja telah jatuh tergelimpang di tanah tanpa mampu bangkit kembali.
Melihat keadaan dua orang tewas secara mengenaskan, pengawal yang satu lagi bukannya ciut nyalinya. Sebaliknya malah melesat laksana kilat ke arah Raja Pembual dengan teriakan menggetarkan. Tombak di tangannya menghantam ke bagian leher laki-laki tua itu. Walaupun gerakan yang dilakukan pengawal ini termasuk cepat luar biasa, namun dengan hanya merundukkan kepala, serangan itu melenceng satu jengkal di atas kepala Raja Pembual. Ketika tubuh pengawal itu masih melayang di udara, Raja Pembual cepat mengirimkan satu pukulan menggeledek ke arah dada.
Buk! Krak! "Aaa...!"
Pengawal itu langsung jatuh terbanting di atas tanah. Tulang iganya yang terhantam tinju Raja Pembual kontan patah disertai suara berderak ke-ras. Darah menyembur dari mulut pengawal ini. Tubuhnya berkelojotan sebentar, kemudian terdiam untuk selama-lamanya.
Mata Hantu Pencabut Nyawa dan Iblis Wajah Sebelah tampak terbeliak lebar. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang dilihat. Hanya dalam waktu sebentar saja, lima orang pengawalnya tergelimpangan roboh tanpa nyawa.
"Sekarang hanya kalian berdua!" dengus Raja Pembual dengan wajah tampak berubah kelam. Tongkatnya sudah melintang di depan dada. "Aku yakin kau dan kawanmu merupakan pembantu utama ratumu yang keparat itu! Tinggal kalian pilih saja, kematian bagaimana diinginkan?"
"Mulutmu kelewat takabur, Tua Renta! Heaaa...!" teriak Hantu Pencabut Nyawa.
Laksana kilat, tubuh Hantu Pencabut Nyawa melesat ke depan. Satu serangan beruntun dengan tangan kosong dilakukan. Sementara itu, dari arah samping kiri Iblis Wajah Sebelah juga tidak tinggal diam. Baju putihnya yang longgar dan bersimbah darah dikebutkan. Maka, seketika melesat tiga leret sinar berwarna putih keperakan ke arah Raja Pembual.
Menghadapi serangan yang datangnya dari dua arah, Raja Pembual terkesiap. Tangan Hantu Pencabut Nyawa yang terpentang dan mencengkeram ke arah perutnya juga sangat berbahaya. Terlebih-lebih, setelah melihat tangan laki-laki berwajah aneh itu telah berubah berwarna hitam. Pertanda, jari-jari tangan itu mengandung racun yang sangat keji. Sedangkan dari arah samping, senjata rahasia berbentuk bintang segi empat juga tidak dapat dianggap enteng.
Satu-satunya yang dapat dilakukan Raja Pembual adalah dengan melompat mundur ke belakang. Tongkat di tangan dikibaskan ke arah tangan Hantu Pencabut Nyawa. Kemudian, tubuhnya terus berputar ke samping kiri, menyongsong datangnya senjata rahasia yang dilemparkan Iblis Wajah Sebelah.
"Uts!"
Hantu Pencabut Nyawa terpaksa menarik balik tangannya.
Trak! Trak! Senjata rahasia berbentuk bintang sepi empat yang dilemparkan Iblis Wajah Sebelah runtuh terhantam tongkat di tangan Raja Pembual.
? *** ? Hantu Pencabut Nyawa terkejut setengah mati melihat kehebatan yang dimiliki laki-laki bernama asli Baskara ini. Tapi dia merasa tidak punya waktu lebih banyak lagi untuk memikirkan segala sesuatu yang telah terjadi. Sekali ini, Hantu Pencabut Nyawa langsung mencabut pedang pendek dari warangkanya.
Sret! Bet! Ketika pedang Hantu Pencabut Nyawa dikibas-kan ke udara, maka terdengar suara mendengung disertai berkelebatnya sinar merah menyilaukan mata. Raja Pembual sempat terkesiap sambil menggumam tidak jelas. Tidak sampai sekedipan mata, Hantu Pencabut Nyawa telah melompat ke arah laki-laki itu sambil menyodokkan pedang pendek berwarna merah di tangannya.
Serangan ganas dan berlangsung sangat cepat ini tidak mungkin dapat dihindari Baskara alias Raja Pembual. Cepat tongkatnya dihantamkan ke bagian pergelangan tangan Hantu Pencabut Nyawa dengan maksud membuat jatuh pedang milik lawannya
Wut! Slap! "Heps!"
Lebih cepat lagi, Hantu Pencabut Nyawa me-narik pedangnya. Begitu tongkat di tangan Baskara lewat di bawahnya, dia melakukan satu tusukan menyilang.
"Akh...!"
Raja Pembual walaupun sudah berusaha menghindar, tetap saja dadanya tergores ujung pedang Hantu Pencabut Nyawa. Dengan terhuyung-huyung, Baskara melompat ke belakang. Luka yang ditimbulkan akibat tusukan pedang Hantu Pencabut Nyawa, menimbulkan rasa sakit bukan main. Sadarlah Raja Pembual kalau senjata itu mengandung racun keji.
Raja Pembual menotok jalan darah dekat luka untuk menghindari penyebaran racun lebih cepat lagi.
"Sekali lagi kau tidak akan lolos dari kematian, Raja Pembual!" teriak Ibhs Wajah Sebelah.
Sret! "Hiyaaa...!"
Dengan tombak pendek berbentuk pipih dan bermata tiga di tangannya, Iblis Wajah Sebelah menerjang ke depan sambil menyodokkan tombak di tangannya. Gerakannya sangat cepat dan sulit diduga.
Bet! "Yeaaah...!"
Walaupun dalam keadaan terluka. Raja Pembual masih mampu menahan serangan Iblis Wajah Sebelah. Tongkat di tangannya didorong ke depan untuk menyambut kedatangan tombak yang mikian cepat.
Trak! "Hap...!"
? *** ? 6 ? Tongkat di tangan Baskara alias Raja Pembual terjepit di tengah-tengah mata tombak yang bercabang tiga milik Iblis Wajah Sebelah. Raja Pembual berusaha menarik lepas tongkatnya yang terjepit, namun sangat sulit dilakukan. Dengan geram Baskara mengerahkan tenaga dalamnya. Tapi, celaka! Tenaga dalam yang dimiliki tidak dapat bekerja sebagaimana yang diinginkannya. Sementara pada saat yang sama, Hantu Pencabut Nyawa telah menyerang kembali sambil mengibaskan pedang pendek berwarna merah di tangan.
"Hiyaaa...!"
Bet! Slap! Dengan terpaksa, Raja Pembual melepaskan tongkatnya. Kemudian tubuhnya dibanting ke tanah sambil melepaskan satu tendangan telak ke bawah perut Hantu Pencabut Nyawa.
Buk! "Hugkh...!"
Hantu Pencabut Nyawa merasa bagian bawah perutnya seperti remuk. Napasnya tiba-tiba terasa sesak. Tubuhnya bergetar hebat, walaupun tidak sampai terpelanting.
Dengan pedang masih tergenggam di tangan, Hantu Pencabut Nyawa melompat mundur. Se-mentara, Iblis Wajah Sebelah malah melompat ke depan sambil menghantamkan tombak pendek dan tongkat yang berhasil dirampas dari tangan Raja Pembual dengan gerakan menyilang.
Bet! Bet! "Edan...!" maki Raja Pembual.
Tubuh orang tua ini melenting ke udara. Serangan tombak pendek dari Iblis Wajah Sebelah luput dari sasaran. Namun serangan tongkat yang dilakukan dengan gerakan tidak mengenal henti, membuat Raja Pembual jadi terdesak juga.
"Keparat! Masa' aku harus mati termakan sen-jataku sendiri"!" gerutu Raja Pembual sambil terus berusaha menghindari serangan dahsyat Iblis Wajah Sebelah.
"Kau hanya mengulur-ulur kematianmu saja, Raja Pembual!" teriak Hantu Pencabut Nyawa yang sudah bergabung kembali, menyerang Raja Pembual.
Semakin lama serangan-serangan semakin ga-nas dan berbahaya. Raja Pembual menyadari kalau dirinya dalam keadaan terancam. Maka kini dia mulai bersiap melepaskan pukulan 'Seribu Cara Menaklukkan Iblis'.
Ketika Raja Pembual mengerahkan tenaga dalam, maka kedua tangannya dalam waktu seke-jap saja telah berubah putih laksana perak.
Hantu Pencabut Nyawa dan Iblis Wajah Sebelah rupanya tidak menyadari kalau Raja Pembual telah bersiap-siap melepaskan pukulan yang sangat diandalkan. Mereka terus melancarkan serangan-serangan dahsyat, ke mana pun Raja Pembual berusaha berkelit dan menghindar.
Kakek berambut jarang ini tiba-tiba berbalik dan melepaskan pukulannya berturut-turut ke dua arah. Seketika dua leret sinar berwarna putih laksana perak menderu, mengancam keselamatan dua tokoh dari Istana Goa Darah.
Iblis Wajah Sebelah melompat ke samping kiri. Sedangkan Hantu Pencabut Nyawa melenting ke udara. Sehingga serangan itu luput. Saat itu juga tubuh Hantu Pencabut Nyawa terus bersalto, mendekati ke arah Raja Pembual. Setelah dekat. pedang pendeknya cepat dikibaskan.
Bet! "Uts...!"
Bret! "Akh...!"
Raja Pembual terpekik kesakitan ketika bahunya tersambar ujung pedang Hantu Pencabut Nyawa, meskipun telah berusaha menghindar. Dengan geram dilepaskannya satu pukulan dahsyat ke arah Hantu Pencabut Nyawa.
Laki-laki yang wajahnya bersimbah darah kering ini sudah tidak mungkin lagi menghindari pukulan 'Seribu Cara Menaklukkan Iblis' yang di lepaskan Raja Pembual. Akibatnya"
Glar! Walaupun Hantu Pencabut Nyawa telah me-mutar pedang pendek di tangannya unruk membentuk perisai diri, tetap saja pertahanan yang di buatnya tidak mampu menahan gelombang hawa panas yang melesat dari telapak tangan Raja Pembual.
Tubuh Hantu Pencabut Nyawa kontan terbanting ke tanah dengan mulut dan hidung mengucurkan darah. Laki-laki itu merasa sekujur tubuhnya seperti terbakar. Melihat kesempatan ini, Raja Pembual bermaksud menghabisinya. Tapi tanpa disadari, dari bagian kanan Iblis Wajah Sebelah sudah menusukkan ujung tombak bermata tiga miliknya.
"Uh! Kurang ajar!" maki Raja Pembual. Dengan tangan kiri Raja Pembual berusaha menepis senjata berujung runcing ini. Namun, mendadak Iblis Wajah Sebelah membelokkan serangannya. Sehingga, gerakan menangkis yang dilakukan Baskara hanya sia-sia saja. Bahkan tidak terduga, tongkat milik Raja Pembual yang berada di tangan kiri Iblis Wajah Sebelah cepat menyodok ke perutnya.
Cras! "Aaa...!"
Raja Pembual menjerit setinggi langit, begitu tongkat miliknya sendiri menyambar perutnya. Isi perutnya terburai keluar. Matanya tampak melotot, seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tubuhnya kemudian ambruk tanpa mampu berkutik lagi.
Seketika, Iblis Wajah Sebelah tergelak-gelak melihat kematian Raja Pembual.
"Siapa sangka kalau manusia gombal yang satu ini mati termakan senjata sendiri"!" sentak Iblis Wajah Sebelah sambil memperhatikan ujung tongkat di tangannya yang berlumuran darah.
"Hm.... Satu persatu tokoh persilatan kita lenyapkan dari muka bumi ini. Tapi masih ada be-berapa orang lagi yang patut diperhitungkan!" gu-mam Hantu Pencabut Nyawa.
"Mengapa harus takut" Cepat atau lambat, kita dapat melenyapkan mereka satu persatu! rungut Iblis Wajah Sebelah, bangga.
"Kau betul, Sahabatku. Sekarang lebih baik kita laporkan kejadian ini pada Gusti Ratu!" saran Hantu Pencabut Nyawa. Suaranya pelan, namun jelas terdengar.
Kedua manusia bertampang angker ini kemudian berbalik langkah, menuju bibir Lembah Putus Nyawa.
? *** ? "Aku tidak tahu, apa tujuan orang-orang Istana Goa Darah menculik dan membunuh tokoh-tokoh persilatan" Lebih celaka lagi, aku tidak tahu yang mana kawan dan mana lawan. Aku patut merasa curiga pada semua orang yang kujumpai!" gumam seorang laki-laki berpakaian serba putih, sambil terus melangkah menuju Istana Goa Darah.
Dan tiba-tiba saja, laki-laki tua berusia enam puluh tiga tahun itu menghentikan langkahnya. Pendengarannya yang tajam, sebentar tadi sempat mendengar suara mencurigakan di samping kanan.
'Siapa yang bersembunyi lekas tunjukkan diri!" bentak laki-laki berbaju putih ini. Suaranya pelan, tapi jelas terdengar.
Sesaat menunggu tidak ada jawaban apa-apa. Tapi laki-laki tua itu tetap merasa yakin ada orang lain berada di tempat ini. Maka tanpa bicara apa-apa lagi, langsung dilepaskannya satu pukulan jarak jauh ke arah terdengamya suara tadi.
Seketika seleret sinar berwarna merah seperti bara menderu ke arah semak-semak yang terdapat di samping kanan.
Glar! Terjadi satu ledakan dahsyat, ketika pukulan jarak jauh yang dilepaskan laki-laki tua ini menghantam semak-semak di sampingnya. Api kemudian berkobar. Tak lama, dua bayangan putih dan hitam tampak melesat dari dalam semak-semak yang terhantam pukulannya.
"Tunggu! Jangan serang...!"
Sebuah suara terdengar memperingatkan, begitu kedua bayangan tadi telah berdiri dua batang tombak di depan laki-laki tua itu.
"Hm... Siapa bisa percaya omongan kalian! Heaaa...!" teriak laki-laki berbaju putih ini, langsung melepaskan pukulannya ke arah dua sosok yang ternyata pemuda berompi putih dan laki-laki berbaju hitam secara susul-menyusul.
Kedua orang itu terpaksa menghindari serangan ganas laki-laki tua ini.
"Huh...! Kalau kalian punya kepandaian, lebih baik keluarkan segera! Aku akan membunuh siapa pun yang kucurigai!" dengus laki-laki tua berpakaian serba putih ini, seraya mengibaskan tangannya berturut-turut ke arah pemuda berbaju rompi putih yang tak lain dari Pendekar Rajawali Sakti.
"Manusia edan! Tunggu! Aku ingin menjelas-kan sesuatu padamu, Ki!" teriak Rangga, sambil berusaha menghindari serangan-serangan ganas yang dilancarkan laki-laki tua itu.
"Siapa yang sudi dengar ocehan begundalnya Ratu Istana Goa Darah...!" sentak laki-laki berbaju putih ini.
Sekali lagi, laki-laki tua itu menyerang Rangga dengan tendangan-tendangan menggeledek. Sadar kalau lawan tidak gampang diajak berpikir dingin, Pendekar Rajawali Sakti segera mempergunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Kedua kakinya langsung bergerak lincah dengan tubuh meliuk-liuk. Sehingga, membuat serangan gencar laki-laki tua itu luput dari sasarannya.
Rupanya kenyataan yang dialami membuat laki-laki tua itu semakin bertambah penasaran. Walau disadari tidak sekalipun Rangga membalas serangan-serangan dahsyat yang dilakukannya, namun rasa curiga di hatinya telah membuatnya hampir tidak dapat membedakan mana kawan dan mana lawan.
"Kau boleh mengelak terus, Anak Muda! Jangan salahkan jika nyawamu melayang di ta-nganku!" dengus laki-laki tua berbaju putih itu sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara.
"Kuharap kau dapat berpikir sehat, Kisanak! Ketahuilah! Aku dan Ketua Padepokan Pedang Bayangan ini sedang menunggu kemunculan para pembantu Ratu Istana Goa Darah yang telah melakukan penculikan atas murid-murid padepokan dan juga membunuh tokoh-tokoh golongan putih. Lalu, kau muncul! Karena tidak mengenalmu, maka kami ingin memastikannya dari tempat persembunyian!" jelas Rangga.
"Eeeh...!"
Laki-laki tua itu surut mundur tiga langkah. Rupanya setelah mendengar kata-kata Pendekar Rajawali Sakti yang lembut dan sopan dia mulai sadar. Ternyata Pendekar Rajawali Sakti bukan orang yang dicari-carinya.
"Siapa kau"!" tanya laki laki berbaju putih ini sambil menarik tangannya. Tatapan matanya me-mandang silih berganti pada Rangga dan laki-laki bernama Ki Subrata yang berdiri tidak jauh di belakang Pendekar Rajawali Sakti.
Ketua Padepokan Pedang Bayangan itu kemudian menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Kemudian, dia menjura hormat pada laki-laki tua berbaju serba putih.
"Aku tidak habis pikir, mengapa kau menyerang orang sendiri, Penghuni Lereng Gunung Di-eng! Apakah kau sudah tidak mengenaliku"!" sindir Ki Subrata.
Laki-laki tua yang berasal dari Gunung Dieng dan berjuluk Pendekar Bayangan Malaikat ini me-neliti laki-laki berbaju hitam di depannya dengan kemng berkerut. Tiba-tiba dia tertawa lebar.
"Ah...! Sobatku, Ki Subrata! Maaf... Mataku yang lamur ini sudah tidak awas lagi mengenalimu!" ujar Pendekar Bayangan Malaikat. Kemudian Pendekar Bayangan Malaikat menghambur ke depan, memeluk Ki Subrata sahabat lamanya. Setelah agak lama berpelukan, mereka saling melepaskan. Dan Ki Subrata segera menoleh ke arah Rangga.
"Siapa pemuda itu?" tanya laki-laki berbaju putih ini, sambil memandang tajam pada Rangga.
"Dia Pendekar Rajawali Sakti!" jelas Ki Subrata.
Rangga tersenyum ramah. Sementara kening Pendekar Bayangan Malaikat berkerut dalam.
"Aku sering mendengar namamu disebut-sebut orang, Anak Muda! Tidak kusangka, hari ini kita bertemu di sini!" suara Pendekar Bayangan Malaikat pelan penuh persahabatan.
"Kisanak terlalu berlebih-lebihan," gumam Rangga tersenyum.
"Sebenarnya, apakah kalian juga ingin pergi ke Istana Goa Darah" Tapi, mengapa menunggu disini terlalu lama?" tanya Pendekar Bayangan Malaikat, heran.
"Memang kami akan pergi ke sana, Sahabat. Tapi, kami tidak ingin bertindak gegabah. Kami sedang mengatur siasat, bagaimana caranya me-mancing keluar Ratu Istana Goa Darah!" jelas Ki Subrata pada sahabatnya yang berasal dari Gunung Dieng.
"Mengapa hanya membuang-buang waktu" Lebih baik serbu saja Istana Goa Darah. Setelah itu, kita hancurkan," tanya Pendekar Bayangan Malaikat, seakan tidak sabar.
Ki Subrata yang tahu lebih banyak tentang Istana Goa Darah hanya tersenyum.
"Terlalu berbahaya, Paman," ujar Rangga yang telah menyebut 'paman' pada Pendekar Bayangan Malaikat. "Penghuni Istana Goa Darah tidak mungkin dibunuh, jika masih berada dalam istananya."
"Memang kenapa?" tanya Pendekar Bayangan Malaikat, tidak mengerti.
"Di dalam istana itu, sangat banyak kekuatan yang bersifat gaib. Jika dapat menyerang ke sana, belum tentu kita keluar dalam keadaan hidup!" jelas Ki Subrata. "Lagi pula, untuk mencapai pintu Istana Goa Darah, kita harus melewati lembah yang memisahkannya dari dunia luar. Sedangkan, jembatan untuk sampai di istana itu adalah jembatan gaib yang bernama Jembatan Penghubung Sukma. Hanya pada waktu dibutuhkan orang-orang dalam istana, jembatan itu baru ada. Sedangkan orang luar tidak dapat memakainya."
"Kalau begitu sulit juga!" gumam Pendekar Bayangan Malaikat kesal. "Tapi aku tidak punya banyak waktu berada di luaran ini. Aku harus kembali ke Gunung Dieng secepatnya."
"Jadi, kau akan membatalkan niatmu pergi ke Istana Goa Darah yang sudah tidak seberapa jauh lagi jaraknya dari sini?" tanya Ki Subrata, heran.
"Tentu saja tidak! Maksudku, aku tidak dapat menyertai kalian! Aku harus berangkat ke Istana Goa Darah sekarang juga...!" tandas laki-laki berbaju putih ini, langsung bergerak cepat.
Hanya sekali berkelebat saja, Pendekar Bayangan Malaikat telah jauh dari pandangan mata. Pertanda ilmu meringankan tubuhnya sudah sangat tinggi.
"Kembali! Tunggu, Kisanak!" pinta Rangga, keras.
"Aku tidak dapat menunggu kalian! Sampai bertemu nanti di akherat"!" sahut Pendekar Ba-yangan Malaikat, sayup-sayup dari kejauhan Sana.
"Manusia angin-anginan itu memang sulit diberi nasihat! Aku khawatir, terjadi apa-apa dengannya," keluh Ki Subrata.
Ki Subrata memandang ke arah perginya Pendekar Bayangan Malaikat. Dan rasa cemasnya pun semakin menjadi-jadi.
"Lalu bagaimana, Ki...?" desah Rangga, kemudian menarik napas dalam-dalam. Wajahnya tertunduk lesu.
"Kita tidak mungkin mengejar dan mencegah manusia bayangan itu. Ilmu meringankan tubuhnya tidak dapat ditandingi. Mungkin saat ini, dia telah sampai di pinggir Lembah Putus Nyawa!"
"Kalau begitu, dia juga memiliki kesaktian yang sangat luar biasa!" desis Rangga berusaha menutupi keterkejutannya.
Ki Subrata hanya mengangguk pelan.
"Memang benar. Tapi..., dalam menghadapi orang-orang Istana Goa Darah, dia tidak bisa ber-tindak gegabah," sahut Ki Subrata.
"Kalau begitu, mari kita susul...!"
Ki Subrata mengangguk setuju. Kemudian, mereka menghampiri Dewa Bayu yang ditambat-kan di balik semak-semak belukar.
? *** ? Memandang jauh ke tengah-tengah Lembah Putus Nyawa, memang merupakan satu peman-dangan yang menyeramkan.? Tidak seorang punyang dapat memastikan berapa kedalamannya.
Sepanjang hari, kabut tipis tampak menyelimuti lembah ini. Pucuk-pucuk pohon meranggas gersang, pertanda di dalam lembah dihuni berbagai jenis ular berbisa.
Sementara itu, Pendekar Bayangan Malaikat sekarang memang baru menyadari kebenaran ucapan Ki Subrata sahabatnya. Tidak ada satu jembatan pun untuk sampai ke mulut goa berwarna merah darah yang terletak di seberang sana.
Jadi apa yang kudengar selama ini ternyata bukan kabar kosong belaka" gumam Pendekar Bayangan Malaikat. "Sampai tua aku tidak akan menemukan apa-apa Sebaiknya kucari akal lain...!" gerutu laki-laki berbaju putih ini.
Laki-laki dari Gunung Dieng itu kemudian berbalik dan menelusuri pinggiran tebing lembah. Sampai di satu tempat, tiba-tiba saja langkahnya berhenti. Tatapan matanya memandang ke arah bagian samping kanan, di mana terlihat sebuah pemandangan yang cukup menyeramkan.
Pohon-pohon tampak porak-poranda. Tampaknya, seperti telah terjadi pertempuran di situ. Pendekar Bayangan Malaikat bergerak mendekat sambil meneliti.
Dan laki-laki tua itu lebih terkejut lagi, ketika melihat lima mayat berseragam pengawal kerajaan bergeletakan tumpang tindih.
"Ya, Tuhan! Apa yang telah terjadi di sini?" desis Pendekar Bayangan Malaikat.
? *** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 " 152. Istana Goa Darah Bag. 7 dan 8 (Selesai)
25 ?"?"?"" 2014 ". " 7:46
7 ? Pendekar Bayangan Malaikat menumpahkan seluruh perhatiannya ke arah sosok tubuh berbaju putih lusuh. Melihat keadaannya, tampak jelas kalau sosok yang terkapar dekat akar pohon, bukan kawan orang-orang yang berpakaian pengawal. Karena badannya tertelungkup, maka Pendekar Bayangan Malaikat tidak dapat mengenali.
"Dia pasti sudah tewas! Namun tidak salah jika aku memeriksanya," gumam laki-laki berbaju putih ini, seraya menghampiri.
Setelah tubuh yang menelungkup itu ditelen-tangkan, maka terkejutlah Pendekar Bayangan Malaikat.
"Raja Pembual!" pekik Pendekar Bayangan Malaikat terkejut bukan main.
Laki-laki tua berbaju putih itu segera ber-jongkok. Langsung diperiksanya keadaan luka di tubuh Raja Pembual yang telah kaku menjadi mayat.
"Dia seperti terbunuh oleh senjatanya sendiri!" sentak tokoh dari Gunung Dieng ini seakan tidak percaya. "Para pengawal itu pastilah Raja Pembual yang telah membunuhnya. Tapi siapa yang telah membunuhnya?"
Belum sempat Pendekar Bayangan Malaikat berpikir lebih lanjut, mendadak...
Wus! Slap! Tiba-tiba Pendekar Bayangan Malaikat dikejut-kan oleh suara mendesing dari arah belakang.
"Pembokong pengecut!" teriak Pendekar Bayangan Malaikat sambil mengibaskan tangannya yang telah teraliri tenaga dalam ke arah datangnya suara tadi.
Seketika angin kencang laksana topan menderu ke arah datangnya senjata rahasia yang meluncur deras ke arah Pendekar Bayangan Malaikat. Senjata rahasia berupa bintang segi empat tertahan di udara. Bahkan ketika Pendekar Bayangan Malaikat mengebutkan tangannya kembali, senjata yang mengambang di udara ini berbalik menyerang ke arah pemiliknya.
"Hih...! Uts!" Terdengar seruan terkejut yang disertai mele-satnya dua sosok bayangan putih loreng-loreng ke arah Pendekar Bayangan Malaikat.
Laki-laki dari Gunung Dieng itu secepat kilat berbalik arah. Dan dia segera melihat kehadiran dua orang laki-laki bertampang angker bersenjata tombak bermata tiga. Sedangkan yang satunya lagi bersenjata pedang pendek.
Sekali melihat saja Pendekar Bayangan Malaikat sudah tahu kalau mereka ini tidak lain adalah orang-orang dari Istana Goa Darah.
"Kalian pasti tokoh-tokoh dari Istana Goa Darah!" dengus Pendekar Bayangan Malaikat sambil melolos senjata andalannya berupa rantai pan-jang yang diganduli bola baja berduri. "Coba ka-takan, siapa yang telah membunuh Raja Pembual, sahabatku!"
Hantu Pencabut Nyawa dan Iblis Wajah Sebelah saling berpandangan. Kemudian, menggemalah suara tawa mereka. Sehingga, membuat Pendekar Bayangan Malaikat menjadi sangat marah.
"Rupanya kalian para iblis yang ingin mencari mampus!" bentak Pendekar Bayangan Malaikat gusar.
Iblis Wajah Sebelah maju ke depan.
"Sobat! Bukankah kau yang berjuluk Pendekar Bayangan Malaikat?" tanya laki-laki yang sebagian wajahnya dibaluri darah mengering. Nada suaranya sengaja diramah-tamahkan.
Pendekar Bayangan Malaikat jika tidak melihat kematian kawannya, tentu ikut bersikap ramah. Bahkan mungkin pula terjebak oleh mulut manis Iblis Wajah Sebelah. Tapi, sekarang suasananya benar-benar telah berubah. Kematian Raja Pembual baginya sudah cukup sebagai bukti, bahwa apa pun tujuan undangan yang diterimanya dari ratu Istana Goa Darah, segera akan berakhir dengan pembunuhan keji.
"Kalau benar, kau mau apa" Dan kalau tidak mau apa?" dengus laki-laki berbaju putih ini ketus.
Iblis Wajah Sebelah menyeringai.
"Kalau kau memang benar Pendekar Bayangan Malaikat Gunung Dieng, Gusti Ratu kami telah menunggu kedatanganmu!" tegas tokoh ketiga Istana Goa Darah.
"Benar! Ratu kami telah menunggu kedatanganmu," dukung Hantu Pencabut Nyawa.
"Siapa bisa percaya dengan kata-kata manusia iblis!" bentak Pendekar Bayangan Malaikat.
"Mengapa kau berkata begitu?" tanya Iblis Wajah Sebelah, sambil berusaha menahan amarah-nya.
"Agar kalian tahu! Raja Pembual adalah manusia polos. Dia sama sekali tidak pernah peduli kelicikan orang lain. Jika sampai tewas di tempat ini, jelas pembunuhnya tidak lain adalah kalian sendiri!" tegas tokoh dari Gunung Dieng ini berapi-api.
Wajah mereka yang tertutup darah kering itu tampak memerah. Jelas tidak ada cara lain untuk menjebak Pendekar Bayangan Malaikat terkecuali membunuhnya secara terang-terangan.


Pendekar Rajawali Sakti 152 Istana Goa Darah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Jadi, kau benar-benar tidak mau mengikuti kehendak kami!" desis Hantu Pencabut Nyawa, di ngin.
"Siapa yang sudi ikut"! Justru kedatanganku kemari, semata-mata karena ingin membunuh seluruh penghuni Istana Goa Darah!" sentak Pendekar Bayangan Malaikat.
"Begitukah?" gumam Hantu Pencabut Nyawa, tersenyum mengejek. "Apakah kau kira dapat keluar dari tempat ini dengan selamat?"
"Tentu saja! Karena kedatanganku kemari semata-mata ingin menghancurkan Istana Goa Darah dan seluruh penghuninya!" dengus Pendekar Bayangan Malaikat.
Melihat kenyataan ini, Iblis Wajah Sebelah segera menganggukkan kepala sebagai tanda untuk melakukan serangan.
"Hiyaaa...!"
Laksana kilat, Hantu Pencabut Nyawa melesat ke depan sambil melepaskan satu jotosan berisi tenaga dalam penuh. Ketika angin kencang berhembus menyertai berkelebatnya tubuh Hantu Pencabut Nyawa, segera tercium bau busuk bangkai yang terasa menyesakkan dada.
Namun Pendekar Bayangan Malaikat cepat menggeser langkahnya ke samping kiri dua tindak.
Kemudian dikerahkannya jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', salah satu jurus menghindar yang juga bisa melakukan serangan balik.
Serangan berupa jotosan yang mengarah pada bagian wajah Pendekar Bayangan Malaikat, mengenai tempat kosong. Bahkan tangan kanan laki-laki berbaju putih berikat kepala merah ini segera terjulur, dan langsung menangkap pergelangan tangan Hantu Pencabut Nyawa. Selanjutnya, tangan kirinya yang setengah menekuk menghantam dada dengan telak sekali.
Buk! "Hukh!"
Hantu Pencabut Nyawa mengeluh tertahan. Bahkan kembali satu tendangan kaki Pendekar Bayangan Malaikat menghantam perutnya.
Des! "Akh"!"
Sambil menjerit kesakitan Hantu Pencabut Nyawa jatuh terguling-guling. Dari mulutnya langsung menyembur darah kental. Dan dengan susah payah, dia berusaha bangkit berdiri.
Melihat kawannya dapat dibuat jatuh bangun hanya dalam dua gebrakan saja, Iblis Wajah Sebelah tampak marah sekali. Maka dengan mengandalkan jurus 'Tipuan Iblis', laki-laki berbaju putih bersimbah darah ini langsung melompat ke depan. Kedua tangannya yang berbentuk cakar dan berwarna hitam, menghantam ke dada Pendekar Bayangan Malaikat.
Namun masih dengan mempergunakan jurus 'Seribu Bayang-Bayang', Pendekar Bayangan Malaikat segera menyambut datangnya serangan, Tubuhnya cepat melenting ke udara. Setelah berputaran beberapa kali, tubuhnya melesat lagi ke bawah dengan satu hantaman bola baja berduri ke bagian dada Iblis Wajah Sebelah.
"Heh"!"
Terdengar seruan kaget. Tokoh ketiga dari Istana Goa Darah ini terpaksa menarik balik serang annya, dan menjatuhkan diri sambil terus berguling-guling menyelamatkan diri dari sambaran senjata bola berduri.
Glar! Glar! Terdengar ledakan berturut-turut pada saat senjata di tangan Pendekar Bayangan Malaikat menghantam tanah berbatu, di sebelah Iblis Wajah Sebelah.
Sementara dengan muka berubah pucat seputih kertas, Iblis Wajah Sebelah bangkit berdiri.
"Mari kita bantai manusia sinting ini beramai-ramai, Sobatku!" teriak Hantu Pencabut Nyawa pada Iblis Wajah Sebelah.
Sret! Segera Hantu Pencabut Nyawa mencabut pedang pendeknya yang berwarna merah darah.
Bet! "Heaaa...!"
Sambil berteriak nyaring, Hantu Pencabut Nyawa mengibaskan senjata di tangannya ke arah dada Pendekar Bayangan Malaikat. Tapi serangan mempergunakan senjata beracun itu segera terhalang oleh senjata bola baja berduri yang mengeluarkan suara menderu-deru.
Trak! Tubuh Hantu Pencabut Nyawa tergetar hebat, ketika pedang di tangannya membentur bola berduri di tangan Pendekar Bayangan Malaikat. Bunga api tampak memijar. Sementara Pendekar Bayangan Malaikat sendiri sempat tersentak kaget.
"Hiyaaa...!"
Saat itu juga dari arah lain Iblis Wajah Sebelah yang telah mengeluarkan senjatanya yang berupa tombak pendek bermata tiga, mengirimkan satu tusukan ke bagian lambung Pendekar Bayangan Malaikat.
Laki-laki dari Gunung Dieng ini sadar betul betapa berbahayanya senjata di tangan Iblis Wajah Sebelah ini. Untuk itu, dia melompat mundur sejauh tiga langkah ke belakang. Kemudian, bola baja berduri yang berantai panjang diputar sedemikian rupa, membentuk perisai.
Wus! Wus! "Gila!" maki Iblis Wajah Sebelah sambil menyodokkan tombak pendek bermata tiga di tangan-nya.
Namun dengan gesit, Pendekar Bayangan Malaikat berkelit. Tapi, terlambat. Karena....
Cras! "Akh"!"
Laki-laki berbaju putih ini terpekik, begitu ba-hunya sempat tergores ujung tombak Iblis Wajah Sebelah. Namun pekikannya segera melenyap. Walaupun bahunya telah mengucurkan darah dan menimbulkan rasa sakit sangat luar biasa, dia tetap juga mengayunkan senjata di tangannya begitu cepat ke arah bahu Iblis Wajah Sebelah. Dan....
Wus! Crak! "Hugkh!"
Iblis Wajah Sebelah tampak terhuyung-huyung begitu bola berduri Pendekar Bayangan Malaikat sempat mendarat di bahunya. Bajunya yang terobek besar mengalirkan darah kental.
Kedua laki-laki ini sama-sama melompat mun-dur ke belakang sejauh tiga batang tombak. Namun dari arah lain, Hantu Pencabut Nyawa yang merasa penasaran, telah melepaskan satu pukulan dahsyat jarak jauh ke arah Pendekar Bayangan Malaikat.
Seketika seleret sinar berwarna hitam pekat dan menebar baru busuk bangkai langsung melesat ke arah Pendekar Bayangan Malaikat. Udara di sekitarnya terasa dingin menyesakkan dada. Pendekar Bayangan Malaikat terkesiap, namun cepat mengerahkan tenaga dalamnya. Dia bersiap siap melepaskan pukulan 'Bakti Malaikat Putih'
Maka seketika tangan tokoh dari Gunung Dieng ini dikibaskan ke depan, dua leret sinar putih menyilaukan mata langsung menderu disertai gelombang angin kencang yang sangat panas menghanguskan.
Glar! Terjadi benturan yang sangat dahsyat disertai ledakan dahsyat menggelegar. Suasana di sekitar pertempuran menjadi porak-poranda. Pohon-pohon bertumbangan dan terbakar. Sementara Hantu Pencabut Nyawa dan Pendekar Bayangan Malaikat sama-sama terpelanting roboh.
Dari mulut masing-masing tampak mengucur darah kental. Hantu Pencabut Nyawa bahkan merasa dadanya seperti remuk.
Sementara itu, Pendekar Bayangan Malaikat sudah bangkit berdiri. Dengan mulut menyeringai menahan sakit di bagian bahunya, dia segera menghadapi serangan-serangan ganas Iblis Wajah Sebelah yang bahunya telah terluka, terkena sabetan bola berduri Pendekar Bayangan Malaikat.
"Uts! Setan...!" dengus Pendekar Bayangan Malaikat ketika melihat tombak pendek bermata tiga di tangan Iblis Wajah Sebelah sudah menyodok ke bagian perutnya.
"Hiya...!"
Pendekar Bayangan Malaikat berteriak nyaring. Tubuhnya langsung melenting ke udara. Sementara seperti anak panah terlepas dari busurnya, Iblis Wajah Sebelah telah mengejarnya. Masih sama-sama berada di udara, Iblis Wajah Sebelah mengibaskan tombak di tangannya yang menimbulkan angin kencang.
Pendekar Bayangan Malaikat menarik kakinya yang menekuk dalam-dalam. Sehingga, serangan Iblis Wajah Sebelah luput. Lalu laksana kilat, rantai besi berujung bola baja berduri diayunkan ke arah Iblis Wajah Sebelah.
Iblis Wajah Sebelah tampak sudah tidak mungkin menghindari serangan yang tidak terduga. Walaupun telah berusaha menghindari, tapi gerakan meluncur Pendekar Bayangan Malaikat terasa lebih cepat lagi. Akibatnya...
Wus! Cras! "Akh...!"
Iblis Wajah Sebelah berteriak melengking kesakitan. Sebagian wajahnya yang terkena sambaran bola baja berduri tampak hancur mengucurkan darah. Sebelah matanya bahkan keluar dari dalam rongganya.
Iblis Wajah Sebelah meraung-raung seperti orang gila. Dan tanpa menghiraukan keadaan di-rinya sendiri, dia menerjang ke arah Pendekar Bayangan Malaikat secara membabi buta.
Pada saat itu, Pendekar Bayangan Malaikat sendiri mulai merasakan pengaruh racun akibat tusukan tombak di tangan Iblis Wajah Sebelah tadi. Tubuhnya tampak terhuyung-huyung, dan pandangan matanya jadi berkunang-kunang. Walau begitu, dia masih mampu menghindari serangan membabi buta yang dilakukan Iblis Wajah Sebelah.
Bet! Slap! Tokoh dari Gunung Dieng ini memiringkan tubuhnya ke kiri. Maka tombak Iblis Wajah Sebelah yang menusuk ke bagian leher lewat hanya setengah jengkal. Dan seketika itu pula, Pendekar Bayangan Malaikat menghantamkan rantai bola berduri di tangannya ke bagian perut Iblis Wajah Sebelah. Begitu cepat gerakannya, sehingga...
Bret! "Aaa...!"
Iblis Wajah Sebelah berteriak setinggi langit, begitu bola berduri Pendekar Bayangan Malaikat menghajar telak perutnya. Tubuhnya mengejang. Isi perutnya terburai keluar disertai cucuran yang tidak ada henti-hentinya. Senjata Iblis Wajah Sebelah terlepas dari tangan. Tubuhnya tersungkur ke depan, lalu terdiam untuk selama-lamanya.
Hantu Pencabut Nyawa tampak terkejut melihat kematian kawannya. Dia segera melompat ke depan dengan senjata terhunus di tangan kanan.
Pendekar Bayangan Malaikat sendiri saat ini makin merasakan hebatnya pengaruh racun yang mengeram di tubuhnya. Pandangan matanya berubah menjadi gelap. Kemudian, dia jatuh terjengkang tidak sadarkan diri.
Hantu Pencabut Nyawa langsung tergelak-ge-lak melihat Pendekar Bayangan Malaikat roboh pingsan. Pedang pendek di tangannya yang berwarna merah darah, diangkatnya tinggi-tinggi ke udara.
"Aku baru merasa puas setelah mencincang tubuhmu, Pendekar Bayangan Malaikat! Hiyaaat...!" teriak Hantu Pencabut Nyawa.
Tubuh Hantu Pencabut Nyawa melesat ke depan dengan pedang terangkat tinggi-tinggi itu ke jantung Pendekar Bayangan Malaikat yang tergolek tidak sadarkan diri.
Namun di tengah saat-sat yang sangat mene-gangkan, tiba-tiba menderu angin kencang seperti topan, menahan gerakan Hantu Pencabut Nyawa di udara. Tidak lama kemudian, dari arah datangnya angin kencang tadi tampak berkelebat dua sosok bayangan putih dan hitam.
Sosok bayangan hitam langsung menyambar tubuh Pendekar Bayangan Malaikat. Sedangkan sosok bayangan putih langsung menghantam dada Hantu Pencabut Nyawa.
Belum hilang keterkejutan Hantu Pencabut Nyawa, tahu-tahu satu pukulan yang sangat keras menghantam dadanya.
Des! "Aaakh...!"
Laki laki ini terbanting keras menghantam pohon di belakangnya. Pohon sebesar pelukan orang dewasa itu tumbang menimbulkan suara gaduh.
"Hugkh!"
Hantu Pencabut Nyawa merintih kesakitan. Dengan tertatih-tatih dia berusaha bangkit berdiri. Perlahan matanya memandang ke depan. Dan tahu-tahu, di situ telah berdiri seorang pemuda berwajah tampan berompi putih yang menatap dingin.
Hantu Pencabut Nyawa terkejut bukan main. Terlebih-lebih setelah melihat Ki Subrata juga telah hadir di situ, memberi pertolongan pada Pendekar Bayangan Malaikat yang keracunan. Untuk menutupi rasa terkejutnya, Hantu Pencabut Nyawa langsung tertawa terbahak-bahak.
"Akhirnya kau datang juga memenuhi undangan kami, Pendekar Rajawali Sakti! Tapi jika beberapa waktu yang lalu kau dapat meloloskan diri, maka sekarang jangan harap lagi!" dengus Hantu Pencabut Nyawa sambil menyeringai mengejek.
"Hm. Bicaralah sesukamu! Aku pun telah siap menghadapimu sampai titik darah terakhir!" desis Rangga, dingin.
"Lihat serangan!" teriak Hantu Pencabut Nyawa.
Tubuh laki-laki yang selalu menebar bau busuk mengganggu pernapasan ini melesat ke depan. Pedang merah di tangannya mengibas ke depan, sambil menyodok ke bagian perut Pendekar Rajawali Sakti.
Saat itu juga, Rangga meliukkan tubuhnya, mempergunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Ini adalah salah satu jurus yang sering dipergunakan Rangga, untuk memancing dan mengamati tingkat kepandaian lawan.
"Setan keparat!" geram Hantu Pencabut Nyawa begitu melihat serangan-serangan gencar yang dilakukannya luput dari sasaran.
Dengan perasaan jengkel,? Hantu Pencabut Nyawa segera mengerahkan jurus pedang Pe-rangkap Iblis'. Salah satu jurus paling dahsyat, yang diwariskan Dewi Kemuning Penguasa Istana Goa Darah.
Jurus jurus yang dimainkan Hantu Pencabut Nyawa tampak berubah menyolok. Pedang di tangannya menderu-deru, mencecar pertahanan Rangga. Dalam hati, Pendekar Rajawali Sakti me-muji kehebatan jurus andalan yang dimainkan lawannya. Tapi berkat jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', semua serangan yang sangat gencar masih dapat dipatahkan.
"Hiya!"
Wut! Slap! "Curang!" teriak Rangga.
Saat itu Pendekar Rajawali Sakti melihat, sambil menyerang dengan pedang pendeknya. Hantu Pencabut Nyawa juga melemparkan senjata rahasianya yang berupa bintang segi empat.
Rangga terpaksa melenting ke udara. Maka serangan senjata rahasia itu luput, dan terus menderu. Kemudian senjata rahasia itu menghantam beberapa batang pohon yang terdapat di belakang Rangga.
*** ? 8 ? Menyadari kalau serangan senjata rahasia sia-sia saja, Hantu Pencabut Nyawa segera melepaskan pukulan dahsyat ke arah Pendekar Rajawali Sakti dengan hentakan kedua tangannya. Seketika seleret sinar hitam berbau busuk menyesakkan melesat cepat seperti kilat ke arah pemuda berompi putih ini. Ki Subrata yang melihat serangan keji ini, langsung berteriak memberi peringatan.
"Awas, Rangga!"
Namun Pendekar Rajawali Sakti rasanya tidak perlu diberi peringatan lagi. Karena saat itu juga dia telah melepaskan 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Kedua telapak tangannya yang telah berwarna merah seperti bara, langsung didorongkan ke depan.
Seketika seleret sinar merah melesat dari telapak tangan Rangga, langsung memapak sinar hitam yang melesat dari telapak tangan Hantu Pencabut Nyawa. Dan....
Glar! Glar! "Akh...!"
Untuk kedua kalinya, terdengar jeritan Hantu Pencabut Nyawa. Tubuhnya kontan hangus terbakar terhantam pukulan Pendekar Rajawali Sakti yang dikerahkan pada tingkat terakhir. Bahkan Hantu Pencabut Nyawa juga terkena pukulannya sendiri yang membalik.
Rangga sendiri sempat jatuh terguling-guling. Bagian dadanya berdenyut-denyut nyeri. Namun pemuda berompi putih ini cepat duduk bersila dengan sikap semadi. Kemudian disalurkannya hawa murni ke bagian dada. Sehingga, rasa sesak itu hilang dengan sendirinya.
Tidak lama Pendekar Rajawali Sakti sudah bangkit berdiri. Matanya memandang dingin ke arah tubuh Hantu Pencabut Nyawa yang tergeletak tanpa nyawa, tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Hm... Kurasa sekarang para pembantu Dewi Kemuning sudah tidak ada lagi! Aku masih tidak tahu, bagaimana caranya memancing Penguasa Istana Goa Darah keluar dari singgasananya?" gu-mam Rangga.
Beberapa saat kemudian Pendekar Rajawali Sakti sudah menghampiri Ketua Padepokan Pedang Bayangan yang baru saja selesai membalut luka-luka di tubuh Pendekar Bayangan Malaikat.
"Bagaimana keadaannya, Ki...?" tanya Rangga, seraya duduk di samping Ki Subrata. Diper-hatikannya Pendekar Bayangan Malaikat yang masih belum sadarkan diri.
"Untung kita cepat datang. Jika tidak, nya-wanya pasti tidak akan tertolong!" jelas Ki Subrata.
"Syukurlah jika Ki Subrata telah menolongnya. Lebih baik kita sembunyikan Pendekar Bayangan Malaikat ini ke sebuah tempat yang aman!" usul Rangga.
"Tidak perlu!" sergah Ki Subrata. "Sebentar lagi, dia pasti sadar kembali. Satu hal yang harus kita lakukan sekarang ini adalah, memanggil Dewi Kemuning keluar dari istananya."
'Tapi, bagaimana caranya, Ki?" tanya Rangga tidak mengerti.
"Sebagai bekas istriku tentu saja aku tahu dasar-dasar ilmu sesat yang dimilikinya. Kau lihat mayat Hantu Pencabut Nyawa dan mayat Iblis Wajah Sebelah?" tanya Ki Subrata, sambil memandang ke arah kedua mayat itu.
"Apa hubungannya dengan mayat-mayat itu?" desah Rangga, semakin bingung.
"Tentu saja ada hubungannya. Dewi Kemuning tentu saja mempunyai pertalian batin dengan se-mua orang-orang kepercayaannya," tambah Ki Subrata pelan.
Tanpa bicara apa-apa, Ketua Padepokan Pedang Bayangan segera bangkit berdiri. Kakinya melangkah mendekati mayat Hantu Pencabut Nyawa. Rangga memperhatikan semua tingkah Ki Subrata dengan tatapan tidak mengerti.
Ki Subrata memungut pedang pendek milik Hantu Pencabut Nyawa. Pedang itu kemudian di kibaskan ke bagian leher mayat Hantu Pencabut Nyawa.
Cras! Sekali tebas, maka kepala Hantu Pencabut Nyawa menggelinding terpisah dari badan. Bersamaan dengan itu, terdengar jerit seorang perempuan yang seakan datang dari sebuah tempat yang sangat jauh. Lalu, jeritan itu disusul oleh terdengarnya suara gemuruh yang berasal dari pintu goa di seberang lembah.
Rangga ternganga melihat keanehan ini. Rupanya, Ki Subrata begitu banyak mengetahui kekuatan yang dimiliki bekas istrinya.
Di seberang lembah, tampak pintu goa terbuka dengan sendirinya. Lalu terlihat tiga leret sinar merah biru melesat ke seberang lembah. Sinar itu memipih, membentuk sebuah jembatan. Itulah Jembatan Gaib Penghubung Sukma.
"Lihatlah ke arah itu, Rangga! Ratu Istana Goa Darah sebentar lagi segera keluar!" jelas Ki Subrata, yang telah bergabung lagi bersama Rangga.
Apa yang dikatakan Ki Subrata ternyata memang benar. Dari dalam Istana Goa Darah, tampak keluar seorang perempuan cantik berpakaian ketat, memakai tiga buah tusuk konde di atasnya. Tidak jauh di belakangnya tampak mengiringi lebih kurang sepuluh orang pengawal bersenjata lengkap.
Pendekar Rajawali Sakti yang melihat semua itu jadi mengerutkan keningnya. Tatapan matanya tidak berkedip sedikit pun, saat melihat Penguasa Istana Goa Darah menyeberangi jembatan.
"Menurut Ki Subrata, bekas istrinya itu telah berusia enam puluh tahun. Tapi kenyataan yang kulihat, perempuan itu seperti baru berumur sembilan belas tahun!" kata Rangga dalam hati.
"Tidak usah heran, Rangga. Dia tetap tampak cantik, karena telah mengambil sari hidup laki-laki yang ditidurinya. Kurasa kedua muridku saat ini telah menjadi seorang kakek renta!" desah Ki Subrata, ketika melihat keheranan Rangga.
Ketika itu, Dewi Kemuning telah sampai di seberang lembah bersama sepuluh orang pengawal-nya. Dia tampak terkejut melihat kehadiran Ki Subrata dan Pendekar Rajawali Sakti.
"Kkk..., kau rupanya...!" desis Dewi Kemuning, begitu tiba dekat Ki Subrata dan Rangga berdiri.
Sementara sepuluh orang pengawal langsung mengurung Rangga dan Ki Subrata.
"Kau pasti heran, mengapa aku dapat menge-tahui rahasiamu, bukan?" pelan suara Ki Subrata.
"Jadi, kaulah yang telah memancingku keluar dengan cara memenggal leher orang kepercaya anku!" sentak Dewi Kemuning, penuh permusuhan.
"Benar! Karena hanya dengan cara itulah, kau baru mau keluar dari tempat persembunyianmu!" sahut Ki Subrata, tidak kalah sengit.
"Kejahatan yang kau lakukan melebihi iblis, Nisanak!" Rangga menimpali.
Dewi Kemuning mengalihkan pandangan pada Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri tidak jauh di sebelah Ki Subrata.
"Mulutmu terlalu lancang! Kau memanggilku Nisanak. Apakah kau tidak tahu, kalau aku seorang ratu yang sangat dihormati!" bentak Dewi Kemuning berapi-api.
Rangga hanya tersenyum mencibir.
"Kau hanya ratu cabul yang mempunyai ren-cana muluk untuk menguasai seluruh rimba persilatan! Apakah kau layak dihormati?" sahut Rangga kalem.
Semakin bertambah memerah wajah Dewi Kemuning yang cantik ini.
"Kau manusia keparat yang harus mampus di daerah kekuasaanku ini! Pengawal! Bunuh mereka...!" perintah Dewi Kemuning pada sepuluh orang pengawal yang menyertai.
? *** ? Sepuluh orang pengawal langsung menyerbu Pendekar Rajawali Sakti dan Ki Subrata. Senjata di tangan mereka menderu-deru. Beberapa batang tombak bahkan telah menghantam dada dan perut Rangga. Sementara, Ki Subrata sendiri tampak sibuk menghadapi serangan para pengawal yang bersenjata pedang berwarna hitam.
Pada umumnya, para pengawal yang menyerang Rangga dan Ki Subrata memiliki kepandaian tinggi. Tapi sebaliknya, Pendekar Rajawali Sakti dan Ki Subrata memiliki kesaktian yang sangat sulit dijajaki. Jadi walaupun serangan para pengawal itu cukup ganas dan berbahaya, sampai lima belas jurus pun mereka belum mampu mendesak.
Bahkan Pendekar Rajawali Sakti sekarang tampak melenting ke udara. Tubuhnya berputar ke atas. Dan ketika bergerak meluncur ke bawah, pemuda berompi putih ini sudah mempergunakan jurus 'Rajawali Menukik Mengejar Mangsa'. Dan tiba-tiba kakinya dengan telak menghantam kepala lawan-lawannya.
Des! Prak! "Aaa...!"
Tiga orang pengawal bersenjata tombak menje-rit keras. Kepala mereka pecah terhantam kaki Pendekar Rajawali Sakti. Darah kontan mengucur dari bagian kepala yang remuk. Tidak ayal lagi, tubuh mereka yang bermandi darah ambruk ke tanah tanpa mampu bergerak lagi.
Dewi Kemuning terkejut setengah mati Matanya terbelalak lebar. Seakan dia tidak percaya melihat kenyataan kalau dalam waktu yang sangat singkat para pengawalnya telah bergelimpangan roboh.
Sementara itu, Ki Subrata rupanya juga telah mengeluarkan pedang pusakanya dalam menghadapi gempuran ganas yang dilancarkan lima orang pengawal bersenjata pedang.
"Hiya!"
Bet! Sambil berteriak keras, Ki Subrata mengebut-kan pedang di tangannya. Selama ini, Padepokan Pedang Bayangan sangat dikenal dan disegani baik oleh kawan maupun lawan, karena kecepatannya dalam mempergunakan pedang. Apalagi, saat ini Ki Subrata telah mengerahkan jurus pedang 'Menyibak Awan Menyongsong Hujan'. Pedang di tangannya menderu. Terkadang menyodok ke bagian perut, atau menebas ke bagian leher. Tak jarang, juga membabat ke arah tulang rusuk.
Mati-matian kelima pengawal ini memperta-hankan diri. Setelah Ki Subrata mengeluarkan pe-dangnya, maka tidak sekalipun para pengawal Ratu Dewi Kemuning dapat membalas.
Beberapa saat kemudian, bahkan pedang di tangan Ki Subrata mulai mengambil korban secara berturut-turut.
Cras! Cras! "Aaa...!"
Tiga orang pengawal roboh dengan perut me-nyembur darah. Tidak sampai di situ saja. Bahkan Ki Subrata bergerak cepat, menghadang dua pengawal lainnya. Pedang di tangannya berkelebat menimbulkan angin dingin menggidikkan. Dua pengawal terkesiap. Mereka cepat menghentakkan pedang, menangkis pedang di tangan orang tua berbaju hitam ini.
Trang! "Uts! Kurang ajar!" maki pengawal itu, ketika melihat pedangnya patah menjadi dua bagian. Belum sempat dia berbuat sesuatu, pedang di tangan Ki Subrata berkelebat membabat leher.
Bret! Cres! "Hugkh...!"
Dua orang pengawal lagi roboh bermandikan darah. Pada saat yang sama pula, tidak jauh di sebelah Ki Subrata terdengar jeritan kematian para pengawal yang menyerang Rangga. Tubuh para pengawal itu berkelojotan meregang ajal, lalu terdiam untuk selama-lamanya.
Dewi Kemuning terkesiap melihat seluruh pe-ngawalnya tewas dalam keadaan sangat menyedihkan.
"Setan...!" geram Penguasa Istana Goa Darah.
"Tidak perlu marah-marah, Perempuan Pe-lacur!" dengus Ki Subrata.
Laki-laki itu tiba-tiba melompat ke depan, langsung berdiri tegak sambil menyilangkan senjata di depan dada.
Rangga terkejut melihat kenekatan Ketua Padepokan Pedang Bayangan ini. Tapi untuk mencegah, takut menyinggung perasaan Ki Subrata. Mau tidak mau didiamkan saja orang tua itu sambil bersikap waspada menjaga setiap kemungkinan.
"Karena ulahmu telah membocorkan hampir seluruh rahasia yang kumiliki, maka kau harus menebusnya dengan nyawa!" teriak Penguasa Istana Goa Darah.
"Hm...!" gumam Ki Subrata tidak jelas.
Dewi Kemuning tiba-tiba merentangkan kedua tangannya di atas kepala. Bibirnya mendesis, dan tampak berkomat-kamit seperti membaca sesuatu.
Ki Subrata sadar, perempuan itu bersiap-siap mengerahkan kekuatan gaibnya. Maka tanpa menunggu lagi, langsung dia melompat ke depan sambil menusukkan pedang ke perut Dewi Kemuning.
Tapi sungguh mengejutkan. Dengan gerakanmeliuk sangat aneh, pedang itu dapat dihindari Dewi Kemuning. Bahkan ketika berbalik Dewi Kemuning sudah menghantam punggung Ki Subrata.
Buk! "Aaakh...!"
Akibatnya Ketua Padepokan Pedang Bayang an ini jatuh tersungkur. Tulang punggungnya terasa seperti remuk. Sehingga, membuat Ki Subrata merasa sulit untuk bangkit berdiri.
"Mampuslah kau, Tua Bangka!" teriak Dewi Kemuning sambil mengibaskan pedang pendek berwarna merah darah di tangannya.
Ki Subrata tidak dapat lagi menghindari serangan yang sangat ganas ini. Namun pada saat-saat yang menegangkan, Pendekar Rajawali Sakti telah melompat ke depan sambil menghentakkan tangannya.
"Aji 'Guntur Geni"! Hiyaaa...!"
Seleret sinar merah dari tangan Pendekar Rajawali Sakti yang disertai suara menggeledek, menyambar tubuh Dewi Kemuning. Perempuan cantik ini terperanjat. Namun, dengan cepat dia berusaha melompat menghindari pukulan yang meluruk ke arahnya. Namun walau telah berusaha menghindar, tetap saja tubuh Dewi Kemuning tersambar pukulan Pendekar Rajawali Sakti.
Glar! "Hugkh...!"
Dewi Kemuning memekik kaget, bersamaan terdengarnya suara ledakan dahsyat. Tubuhnya terus terguling-guling. Tapi sungguh luar biasa ke hebatan perempuan ini. Jangankan tubuhnya. Sedangkan pakaiannya saja, tidak hangus sedikit pun.
Sekarang, giliran Rangga yang dibuat terpera-ngah.
"Dia benar-benar manusia iblis yang memiliki kesaktian luar biasa sekali," kata batin Rangga.
"Hi hi hi...! Keluarkan seluruh kepandaian yang kau miliki, Pendekar Rajawali Sakti...!" dengus Dewi Kemuning sambil terus tertawa terbahak bahak, setelah bangkit berdiri.
"Hm...!" Rangga menggumam tidak jelas.
Sekarang, ingatlah Pendekar Rajawali Sakti dengan kata-kata Ki Subrata, tentang rahasia kelemahan Dewi Kemuning. Dia harus mencabut konde emas yang terselip di atas sanggul Dewi Kemuning. Karena, sanggul itulah pusat seluruh kekuatan gaib dan kesaktiannya.
"Hiya!"
Rangga tiba-tiba melompat ke depan. Tepat pada saat itu, Dewi Kemuning juga sedang mengibaskan pedang pendeknya ke dada Rangga.
Bet! Rangga berkelit menghindar sambil melepaskan satu tendangan ke bagian perut Dewi Kemu-ning. Tapi, perempuan ini ternyata sangat licik. Sengaja pinggulnya digoyangkan sambil meliuk-liukkan sekujur tubuhnya, membentuk gerakan sangat merangsang. Itulah salah satu jurus 'Tarian Bidadari', dari sekian jurus yang dimiliki Penguasa Istana Goa Darah.
Sesaat Rangga memang sangat terkesiap. Da-rahnya seakan berhenti mengalir, ketika melihat gerakan wanita ini yang sangat mendebarkan dada. Namun secepat itu pula Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan hawa murninya. Bahkan laksana kilat, Pedang Pusaka Rajawali Sakti segera dicabut dari warangkanya.
Cring! Bet! Dewi Kemuning langsung terkesiap, ketika melihat Pedang Pusaka Rajawali Sakti di tangan Pendekar Rajawali Sakti yang memancarkan sinar biru menyilaukan mata. Dan lebih kaget lagi, ketika Pendekar Rajawali Sakti langsung mengerahkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Suatu jurus andalan terakhir dari seluruh jurus yang dikuasainya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Dewi Kemuning langsung memutar pedang di tangannya sambil melancarkan serangan-serangan yang sangat ganas. Namun kenyataannya. Penguasa Istana Goa Darah ini seperti hilang semangat bertarungnya. Bahkan dia merasa jiwanya seperti terpecah-pecah.
"Keparat!" maki Dewi Kemuning ketika menyadari kalau semangatnya seperti hilang begitu saja. Dan dia tidak tahu kalau itu adalah akibat pengaruh jurus 'Pedang Pemecah Sukma' milik Pendekar Rajawali Sakti.
"Hiya!"
Dewi Kemuning berusaha mengempos semangatnya, kemudian melompat ke depan. Lalu, senjata di tangannya dikibaskan ke bagian dada Rangga. Namun, pemuda berompi putih itu sudah menggeser langkahnya ke kanan, sejauh dua tindak. Bahkan pedangnya yang memancarkan cahaya biru menyilaukan itu cepat bergerak ke depan.
Trang! "Ihhh...!"
Dewi Kemuning memekik kaget begitu pedang nya berbenturan dengan pedang Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan tubuhnya terhuyung tak menentu.
"Kurang ajar!"
Makian wanita itu pun segera terdengar, ketika melihat pedang pendeknya telah patah menjadi dua. Dalam keadaan termangu itulah, Pendekar Rajawali Sakti segera melesat ke udara. Dan dengan mempergunakan jurus 'Rajawali Menukik Mengejar Mangsa', kaki kanannya menyambar ke bagian kepala Dewi Kemuning.
Dewi Kemuning hanya sempat merasakan sambaran angin dingin menerpa rambutnya. Dan ketika Rangga menjejak tanah, ujung kakinya segera digerakkan ke bagian tangan. Tiga buah tusuk konde emas sekarang telah berada dalam genggaman Pendekar Rajawali Sakti.
Melihat semua ini, Dewi Kemuning tampak kaget. Segera sanggulnya diraba. Dan wajahnya seketika berubah pucat seperti mayat, ketika menyadari tusuk konde miliknya telah berpindah tangan.
"Kembalikan! Pencuri busuk!" teriak Dewi Kemuning, sambil berusaha merampas tusuk konde di tangan Rangga.
Tapi, Pendekar Rajawali Sakti terus berkelit sambil mengibaskan pedangnya ke dada Dewi Ke-muning. Secepat itu pula perempuan berwajah cantik ini mengurungkan niatnya. Dia melompat mundur ke belakang, sambil mencari cara untuk mendapatkan tusuk konde sakti miliknya.
"Kau tidak akan mendapatkannya, Dewi Kemuning!" desis Rangga, dingin.
Tiba-tiba tubuh Pendekar Rajawali Sakti melesat ke arah Dewi Kemuning. Gerakannya sangat cepat laksana kilat. Bahkan sinar biru tiba-tiba berkelebat menyambar.
Dewi Kemuning tidak sempat lagi menghindari serangan yang tidak disangka-sangka ini. Apalagi, perhatiannya saat ini tengah tertuju pada tusuk konde di tangan Rangga. Akibatnya"
Cras! "Aaa...!"
Diiringi jentan melengking tinggi, tubuh Dewi Kemuning Penguasa Istana Goa Darah mengejang kaku dengan mata terbeliak. Tepat ketika Pendekar Rajawali Sakti menjejak tanah, Penguasa Istana Goa Darah itu ambruk menggelepar. Darah langsung memuncrat dan lehernya yang hampir putus terbabat Pedang Pusaka Rajawali Sakti.
Crek! Rangga memasukkan kembali Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangka di bagian punggung dengan tatapan tetap tertuju pada mayat Dewi Kemuning. Dihembuskannya napas lega. Tapi...
"Heh"!
Pendekar Rajawali Sakti terkejut setengah mati ketika melihat mayat Dewi Kemuning yang telah berubah menyusut, menimbulkan keriput di sana sini. Dewi Kemuning yang semula cantik menggiurkan berubah menjadi seorang nenek tua keriput berusia sama dengan Ki Subrata.
Teringat Ki Subrata, Rangga berpaling ke arah laki-laki tua berbaju hitam itu. Tapi, Ketua Pade-pokan Pedang Bayangan ternyata sudah tidak ada di tempat. Ketika Rangga melirik ke bawah pohon, Pendekar Bayangan Malaikat yang tadi dalam keadaan pingsan juga sudah tidak ada. Dan mendadak saja"
"Kami terpaksa pergi tanpa pamit, Rangga! Ki Subrata juga perlu diobati. Hitung-hitung, aku membayar hutang padanya. Kau sendiri, silakan pandangi mayat nenek cantik yang kau bunuh itu!"
Sayup-sayup, Pendekar Rajawali Sakti men-dengar suara Pendekar Bayangan Malaikat dari kejauhan. Dan Rangga hanya menggelengkan ke-pala berulang-ulang. Kemudian tubuhnya berbalik, dan terus melanjutkan perjalanan ke arah matahan terbit.
? SELESAI ? ? Scan by Clickers
Edited by Lovely Peace
Pdf by Abu Keisel
? www.duniaabukeisel.blospot.com
Pendekar Rajawali Sakti
?"?"?"" Pendekar Rajawali Sakti
? 2017 Petualang Asmara 17 Tangan Berbisa Karya Khu Lung Rahasia Sendang Bangkai 2

Cari Blog Ini