Ceritasilat Novel Online

Putri Randu Walang 2

Pendekar Rajawali Sakti 148 Putri Randu Walang Bagian 2


? *** ? Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 . 148. Putri Randu Walang Bag. 5 dan 6
11. Dezember 2014 um 08:11
5 ? Belum begitu lama para prajurit Kerajaan Ca?das Walang berangkat, terjadi hal yang amat mengejutkan Gusti Prabu Arya Turangga Waskita. Lebih dari tujuh puluh orang prajuritnya, melucuti senjata-senjata kawannya sendiri. Keadaan itu berlangsung demikian cepat. Bahkan permaisuri, selir-selir, Panglima Kurata, dan Patih Gora langsung ditawan tanpa perlawanan.
"Apa-apaan ini" Hei"! Tahukah, apa yang te?ngah kalian lakukan"! Kalian bisa dihukum jerat atas perbuatan lancang ini!" sentak Gusti Prabu Arya Turangga Waskita berkali-kali.
"Percuma saja! Sebab hari ini, mereka tidak akan mematuhi perintahmu lagi," sahut Kanjeng Gusti Ayu Rara Ningrum disertai senyum kecil.
"Rara Ningrum, apa maksudmu"! Apa maksud semua ini..."!" hardik Gusti Prabu Arya Turangga Waskita dengan wajah bingung. Sepasang matanya tampak membelalak lebar.
"Maksudku, kekuasaanmu telah berakhir. Dan sebentar lagi, akan kuumumkan pada seluruh rakyat bahwa Pangeran Sodong Palimbanan yang akan menggantikanmu!" tandas Kanjeng Gusti Ayu Rara Ningrum.
"Kau..., kau, apa maksudmu" Apa yang kau lakukan ini"! Tahukah kau, betapa kejinya dirimu jika benar kau yang merencanakan pemberontakan ini"!" kata Gusti Prabu Arya Turangga Waskita, seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Prabu Arya Turangga Waskita yang malang, ternyata kau tidak bodoh. Memang, akulah yang merencanakan semua ini. Bahkan aku merencanakannya dari jauh-jauh hari. Para prajurit ini tahu kalau mengabdi denganmu, mereka tidak mendapat apa-apa. Tapi mengabdi padaku, mereka akan mendapat harta serta derajat yang lebih tinggi."
"Perempuan hina! Tidak kusangka hatimu be?gitu keji. Apa yang mendorongmu berbuat seperti ini"!" dengus Penguasa Kerajaan Cadas Walang itu.
"Kau terlalu pilih kasih pada anak-anakmu. Aku ingin Sodong Palimbanan yang menjadi penggantimu, tapi kau malah meneruskan niat gilamu. Padahal, mana pantas seorang perempuan memerintah negeri"! Nah! Kau sudah dengar, bukan" Jadi, jangan berpikir aku berniat jahat. Sebab yang ku-lakukan sudah semestinya Sodong Palimbanan akan menjadi raja. Dan kau akan mengumumkan hal itu di tengah upacara penobatannya beberapa hari lagi," sahut Kanjeng Gusti Ayu Rara Ningrum dengan senyum mengejek.
"Tidak! Kau tidak akan bisa memaksaku dengan cara seperti itu"!" sentak Gusti Prabu Arya Turangga Waskita tegas sambil mendengus geram.
"Hm, kau menolak" Tahukah kau apa yang kumiliki saat ini" Putri Randu Walang berada pada orang-orangku. Bila kau memang menyayanginya, maka nobatkan putraku menjadi penguasa kerajaan ini!" ancam Kanjeng Gusti Ayu Rara Ningrum.
"Putriku, oh..."!"
Wajah Permaisuri Kembang Sari tampak semakin kaget mendengar berita itu. Demikian pula sang prabu serta yang lainnya. Sama sekali tidak diduga kalau Kanjeng Gusti Ayu Rara Ningrum mendalangi semua tindakan mahar yang terjadi di kerajaan ini.
"Rara Ningrum! Kau sungguh-sungguh berhati keji! Terkutuklah kau!" dengus Gusti Prabu Arya Turangga Waskita.
"Hi hi hi...! Makilah aku sepuasmu. Tapi, jangan harap aku akan surut dari niatku. Bila kau tidak menobatkan putraku, maka selain Putri Randu Walang, yang lainnya secara satu persatu akan binasa di hadapanmu!" sahut Kanjeng Gusti Ayu Ra?ra Ningrum, mengancam.
"Lalu, akan kau apakan kami semua...?" tanya Patih Gora.
"Hi hi hi...! Pertanyaan yang bagus, Paman Patih. Yang kubutuhkan saat ini sampai penobatan putraku adalah, kehadiran kalian semua. Dan sete?lah hal itu selesai, maka ..."
"Kau akan menghabisi kami satu persatu?" potong laki-laki tua itu.
"Hm.... Ternyata otakmu masih cerdik, Paman Patih! Kalian nanti hanya sebagai kedok saat penobatan putraku, agar rakyat tidak curiga. Lalu setelah itu, aku tidak memburuhkan kalian lagi!"
"Kalau boleh kutahu, dengan siapa kau beker?jasama" Aku tidak yakin, kalau kau bekerja se?orang diri...," pancing Patih Gora.
"Kau cerdik sekali, Paman Patih! Tidak ada salahnya kuberitahu. Toh, kalian tidak akan mampu berbuat apa-apa lagi. Aku bersekutu dengan sauda?ra misanku, yaitu Ki Torogongan" Kau kenal bu?kan" Atau, barangkali Panglima Kurata yang mengenalnya" Dia lebih dikenal sebagai Gendoruwo Samber Nyawa."
"Gendoruwo Samber Nyawa" Astaga! Kau bersekutu dengan penjahat terbesar di negeri ini"!" se?ntak Panglima Kurata kaget mendengar penjelasan wanita itu.
"Tidakkah kalian dengar" Dia bukan saja sekutuku. Tapi, juga saudara sepupuku. Kami telah lama merencanakan ini, sejak kakek kami dihukum mati oleh raja negeri ini!" desis Kanjeng Gusti Ayu Rara Ningrum, dengan wajah geram.
"Rara Ningrum... Kau..., kau telah mengecohku selama ini..."!" Gusti Prabu Arya Turangga Waskita berseru kaget.
"Sayang sekali, Paduka. Kau baru tahu hari ini. Tapi, segalanya sudah terlambat. Dan kau akan merasakan hukumanmu bersama yang lain."
Setelah berkata begitu, Kanjeng Gusti Ayu Rara Ningrum langsung memberi perintah pada para prajurit kerajaan yang berpihak padanya.
"Bawa mereka! Dan, kumpulkan dalam satu penjara!"
"Baik, Kanjeng Gusti Ayu...!"
Gusti Prabu Arya Turangga Waskita meman?dang sekilas selirnya yang telah jadi pemberontak dengan sorot mata tajam, penuh amarah dan dendam.
"Rara Ningrum! Kau akan mendapat balasan setimpal atas perbuatanmu hari ini!" dengus Gusti Prabu Arya Turangga Waskita tajam sebelum berlalu dari balairung ini.
Kanjeng Gusti Ayu Rara Ningrum hanya terse?nyum. Sama sekali tidak dipedulikannya ancaman sang prabu.
? *** ? Sesosok tubuh tegap berlari-lari kencang de?ngan napas tersengal. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang. Rasanya, derap beberapa ekor kuda sudah semakin dekat di belakangnya. Menyadari hal itu, dia tidak mempedulikan napasnya yang hampir putus dan terus berlari. Beberapa kali dia tersungkur jatuh, namun cepat bangkit kembali. Dan terakhir, tubuhnya tersungkur ke dataran yang agak menurun. Tubuhnya bergulingan beberapa kali. Dia tidak mampu langsung bangkit. Tenaganya seperti terkuras habis seperti seluruh pakaiannya yang robek-robek.
"Kau kira bisa lari seenakmu saja, he"!"
"Ohhh...!"
Sosok laki-laki bertubuh tegap itu terkejut. Mukanya pucat ketika seseorang berkata bernada dingin. Cepat menoleh dan melihat sepuluh pe?nunggang kuda berseragam prajurit kerajaan telah mengelilinginya.
'Tangkap dia. Dan, bunuh saja kalau mela?wan!" teriak salah seorang memberi perintah.
"Huh!"
Mereka bersiap hendak meringkus, namun saat itu juga muncul beberapa orang bersenjata yang langsung melindungi.
"Tahan! Mengapa kalian hendak menangkapnya?" tanya salah seorang yang baru datang, dan langsung melindungi sosok yang tadi dikejar-kejar.
"Siapa kau"!" balas salah seorang prajurit berkuda yang mengepalai pasukan berkuda ini.
"Kisanak! Orang ini adalah Ki Srengseng. Beliau merupakan tangan kanan Panglima Kurata," jelas salah seorang prajurit berkuda yang agaknya mengenali wajah laki-laki berpakaian biasa itu.
"Hm... Jadi kau salah satu kaki tangan Pang?lima Kurata. Dan berarti, kau adalah orangnya Gusti Prabu Arya Turangga Waskita!"
"Heh"! Mengapa kau berkata seperti itu" Siapa kau sebenarnya"!" bentak Ki Srengseng.
"Aku Jarot, anak buah Gendoruwo Samber Nyawa! Dan kau jangan banyak mulut! Ringkus mereka...!" teriak Jarot, kepada pasukan prajurit berkuda yang ternyata anak buah Gendoruwo Samber Nyawa.
"Yeaaa...!"
Ki Srengseng dan anak buahnya terkejut. Para prajurit berkuda itu cepat bergerak. Sama sekali mereka tidak menduga akan diserang oleh prajurit-prajurit kerajaan yang dianggap kawan sendiri. Sehingga dengan sekali gebrak, tiga anak buah tangan kanan Panglima Kurata ini tewas berman-dikan darah disabet pedang prajurit.
"Kurang ajar! Jadi kalian benar-benar pasukan pemberontak, he"!" sepasang mata Ki Srengseng melotot garang penuh amarah.
"He he he...! Bukan! Sekarang kami adalah prajurit-prajurit kerajaan. Kalianlah sebagai pem?berontak. Dan sebagai pemberontak, sudah sewajibnya diringkus!"
"Apa yang telah kalian lakukan terhadap Gusti Prabu dan yang lainnya?"
"Dia telah meringkuk dalam penjara!"
"Bedebah! Siapa yang menjadi dalang pemberontakan ini"!"
"Ha ha ha...! Kau begitu ingin tahu, he" Tidak apa. Sebab, sebentar lagi toh ajalmu akan tiba. Semua ini tidak lain dari perbuatan...."
Jarot tidak melanjutkan kata-katanya. Dan bibirnya malah tersenyum mengejek.
"Katakan, siapa"!"
"Ha ha ha...! Rasa penasaranmu boleh kau bawa ke akherat, karena tidak tahu siapa yang kini menjadi raja negeri ini!" ejek Jarot.
"Bajingan keparat! Kaulah yang akan kukirim ke akherat!" dengus Ki Srengseng langsung mencabut pedang dan menyerang ganas.
Selama ini, kepandaian Ki Srengseng boleh di?bilang melampaui semua kawan-kawannya seangkatan. Di bawah Panglima Kurata, terdapat bebera?pa orang panglima yang memimpin beberapa pasu?kan. Dan semuanya, segan terhadapnya. Dan me?mang, tentang laki-laki bernama Jarot ini, dia sama sekali tidak mengenalnya. Jelas saja, sebab Jarot adalah anak buah Gendoruwo Samber Nyawa yang menyusup menyamar sebagai prajurit atas bantuan Kanjeng Gusti Ayu Rara Ningrum.
Sementara itu kepandaian Jarot ternyata juga sangat hebat dan tidak berada di bawahnya. Bahkan kelihatannya, dia tidak bersungguh-sungguh dalam bertarung menghadapinya. Sudah ba?rang tentu hal ini membuat Ki Srengseng bertanya-tanya.
"Bedebah! Kau memang bukan prajurit kera?jaan!"
"Ha ha ha...! Tadi sudah kukatakan, aku anak buah Gendoruwo Samber Nyawa! Sudahlah yang jelas, ajalmu sudah dekat, seperti anak buahmu. Bersiaplah!" dengus Jarot.
Ki Srengseng berpaling. Hatinya tampak semakin geram bercampur amarah. Anak buahnya sama sekali tidak berkutik menghadapi prajurit-prajurit kerajaan. Ini hal yang mustahil. Sebab, anak buah?nya adalah prajurit-prajurit pilihan. Tapi, kenapa mereka dibuat jatuh bangun oleh kawan-kawannya sendiri yang bukan prajurit pilihan"
"Mereka pasti juga bukan prajurit-prajurit asli!" duga Ki Srengseng menyimpulkan.
Sementara itu Jarot menggerak-gerakkan ke?dua tangannya ke dada berkali-kali, membentuk gerakan cepat yang sulit diikuti pandangan mata orang-orang awam.
"Haaat! Heaaat! Yeaaa"!"
Wuuur! ? *** ? Jarot bergerak cepat. Tubuhnya langsung mencelat ke arah Ki Srengseng. Untuk sekilas, Ki Sreng?seng tidak mampu berbuat apa-apa, selain bergulingan untuk menghindari serangan gencar. Namun Jarot terus mencecarnya. Sehingga suatu ketika, baru saja Ki Srengseng melenting dan menjejak tanah, satu tendangan mendarat di dadanya.
Duk! "Aaakh...!"
Ki Srengseng terhuyung disertai jerit kesakitan. Dia berusaha menjaga keseimbangan tubuh. Na?mun satu sodokan kepalan tangan kanan Jarot kembali menghantam dada.
Desss! "Aaakh...!"
Tubuh tangan kanan Panglima Kurata itu terjungkal roboh dengan wajah berkerut menahan rasa nyeri. Pedangnya terlempar dari genggaman. Satu sodokan keras menghantam dada, membuat isi dadanya seperti remuk.
"Hiiih! Mampus...!" desis Jarot. Langsung dihantamnya tubuh Ki Srengseng.
Sementara, tangan kanan Panglima Kurata ini tengah menggeliat menahan rasa sakit. Dia beru?saha bangun dengan tertarih dan napas megap-megap.
Ki Srengseng mengeluh tertahan. Matanya sudah dipejamkan dan menarik napas panjang. Percuma saja dia berusaha menghindar. Sebab kecepatan pukulan jarak jauh yang dilepaskan Jarot ini tidak akan mampu diimbangi oleh kecepatan geraknya dalam menghindar. Dia hanya bisa pasrah menerima nasib. Dan...
"Heaaat!"
Glerrr...! "Uhhh...!"
Pada saat-saat yang gawat, melesat sekelebatan cahaya merah memapak pukulan yang di?lepaskan Jarot. Sesaat terdengar letupan kecil. Na?mun tampak tubuh Jarot terhuyung-huhung ke belakang sambil mendekap dadanya.
"Siapa kau"! Kurang ajar! Berani mencampuri urusan orang! Kau akan cari mati sendiri!" bentak Jarot dengan wajah garang dan pandangan mata tajam.
Tidak jauh di depan anak buah Gendoruwo Samber Nyawa, berdiri seorang pemuda berwajah tampan berambut panjang. Pemuda yang menyandang sebilah pedang bergagang kepala burung ra?jawali itu memakai rompi putih. Dan di dekatnya, terlihat seekor kuda berbulu hitam.
"Kau... oh! Bukankah kau Rangga?" seru Ki Srengseng dengan perasaan kaget bercampur gem?bira.
Sebaliknya pemuda itu tersenyum kecil. Lalu kepalanya mengangguk kecil.
"Benar, Kisanak. Ingatanmu sungguh tajam."
'Bedebah! Siapa kau monyet kecil"! Tahukah kau, tengah berhadapan dengan siapa saat ini"!" hardik Jarot merasa dianggap angin oleh pemuda yang tak lain dari Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.
"Monyet besar! Tentu saja aku tahu, siapa kau"
"Setan!" Jarot menggeram.
Pendekar Rajawali Sakti menyahut asal-asalan, dan seperti menganggap enteng. Agaknya Jarot tidak bisa menerima hal itu. Dia langsung melompat menyerang dengan golok terhunus.
Srak! "Mampus kau keparat!"
Bet! Bet! Senjata laki-laki bertampang seram ini bergerak cepat menyambar kian kemari. Namun Rangga gesit sekali menghindari serangan dengan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Bahkan Jarot sampai terkecoh dan semakin geram saja. Sebab, semua serangannya dapat dipatahkan Rangga.
Wuuut! Klap! Duk! Satu sabetan golok ke arah bahu kanan, dihindari Pendekar Rajawali Sakti dengan bergerak ke kanan sambil berbalik Tangan kanannya lang?sung menangkap pergelangan tangan Jarot. Dan dengan kuat disentaknya ke depan setelah sikut tangan kanannya menyodok ke dada anak buah Gendoruwo Samber Nyawa ini.
"Ugkh...!"
Jarot mengeluh tertahan. Tubuhnya langsung terbanting keras. Dia berusaha bangkit, tapi saat itu juga kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti telah bergerak ke arah leher dan menekannya kuat-kuat.
"Jangan berbuat macam-macam! Sedikit saja bergerak, maka kau akan mampus dengan leher patah!" ancam Rangga, garang.
"Bedebah! Apa maumu"!"
"Perintahkan anak buahmu menghentikan pertarungan! Cepat!"
Sambil mendengus geram, Jarot berteriak kencang. Para anak buahnya segera menghentikan pertarungan. Wajah mereka terkejut. Dan di antaranya tampak berkerut geram.
"Sekarang berbarislah di sebelah kanan!" tambah Rangga, memberi perintah.
Dengan kesal mereka mengikuti perintah Pen?dekar Rajawali Sakti, melangkah mendekati tempat yang ditunjuk.
"Hiiih! Mampus kau...!" dengus seseorang.
Diam-diam, orang itu melepaskan dua buah pisau kecil yang amat beracun ke arah tenggorokan dan jantung Pendekar Rajawali Sakti
Set! Set! "Heh..."!"
Bukan main terkejutnya Rangga melihat serangan gelap itu. Tubuhnya langsung mencelat ke atas, seraya membuat gerakan jungkir balik untuk menghindarinya. Bersamaan dengan itu, secepat kilat Jarot bangkit dan mengeluarkan dua bilah pisau beracun dari balik bajunya untuk menghabisi Rangga secara membokong.
Tapi tindakan Pendekar Rajawali Sakti sungguh luar biasa. Saat tubuhnya jungkir balik menghindari serangan gelap. Kedua tangannya cepat menangkap kedua gagang pisau. Lalu dengan cepat dilepaskannya satu pisau ke arah Jarot yang belum sempat bertindak. Sementara sebuah lagi ke arah prajurit yang pertama melepaskan pisau-pisau tadi.
Crap! Cras! "Aaa...!"
"Aaakh...!"
Jarot memekik setinggi langit. Tubuhnya terjungkal roboh dengan tangan kanan menggenggam dua bilah pisau kecil. Sementara tepat di dada kirinya, menancap sebilah pisau dengan jenis sama. Bersamaan itu, salah seorang prajurit yang tadi melemparkan pisau, terjungkal dengan dahi tertancap pisaunya sendiri. Kedua orang itu tewas seketika dengan tubuh membiru!
Semua yang ada di tempat ini terkejut. Sebagian merasa heran dengan apa yang terjadi. Namun di antara mereka menatap Rangga dengan wajah tidak percaya.
"Siapa lagi yang hendak menyusul"!" teriak Rangga lantang seraya memandang anak buah Ja?rot satu persatu dengan tatapan menyelidik.
Tak ada seorang pun yang berani membalas tatapan itu. Semuanya diam tertunduk. Apa yang terjadi terhadap Jarot dan kawannya, telah cukup membuat nyali mereka ciut.
? *** ? 6 ? Pendekar Rajawali Sakti memperhatikan pra?jurit-prajurit pemberontak yang kini telah diringkus oleh anak buah Ki Srengseng dengan pandangan tajam. Di bawah todongan senjata, agaknya mereka tidak akan berbuat macam-macam lagi.
"Rangga.... Kami mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang kau berikan. Kau muncul begitu saja seperti dewa yang turun dari langit," ucap Ki Srengseng.
"Ki Srengseng.... Kebetulan saja aku tertarik dengan kejadian yang menimpa kerajaanmu ini, kata Rangga.
"Apakah kau juga telah tahu tentang kejadian yang menimpa kerajaan saat ini?" tanya Ki Sreng?seng, lebih lanjut.
"Hal itulah yang membuatku tertarik."
'Tahukah kau, siapa yang menjadi biang keladi semua ini?"
"Kau bisa tanyakan pada mereka!" tuding Rangga pada para prajurit pemberontak.
"Betul juga saranmu!"
Dengan wajah geram Ki Srengseng menghampiri para prajurit itu. Kemudian dia berkacak ping?gang.
"Katakan padaku! Siapa kalian"! Dan, siapa pula yang menjadi biang keladi pemberontakan ini"!" hardik Ki Srengseng penuh amarah.
"Eh! Kami..., kami..!" sahut salah seorang. Na?mun suaranya tergagap. Dan berkali-kali kepalanya menoleh ke arah kawan-kawannya.
"Apa yang kau tunggu"!" hardik Ki Srengseng lagi.
"Eh! Aku..., aku?"
"Dengar! Aku tidak akan segan-segan membunuhmu. Bicaralah! Atau, kau akan mampus seka?rang juga!"
Wajah prajurit itu tampak pucat menahan rasa takut. Bukan saja takut oleh ancaman Ki Srengseng, tapi juga seperti takut pada sesuatu yang kelak dihadapi bila berani buka mulut. Dan mendadak saja...
Set! Set! "Awas...!" Rangga berteriak memberi peringatan, begitu melihat beberapa sinar putih keperakan yang meluncur ke arah mereka.
Crab! Crab! "Aaa...!"
Sayang, sinar-sinar putih keperakan dari bebe?rapa bilah pisau itu meluncur begitu cepat. Dan sa?lah satu di antaranya. menancap di dahi prajurit yang tengah bicara tanpa dapat dicegah lagi.
Tiga orang prajurit pemberontak langsung roboh dan tewas tertancap pisau. Sedangkan Pen?dekar Rajawali Sakti dan Ki Srengseng sendiri telah sibuk menghadapi tiga bilah pisau yang melesat kearah mereka.
"Uts!"
Rangga bergerak sedikit ke samping dengan kedua tangan bergerak lincah. Langsung ditangkapnya dua bilah pisau yang mengancam keselamatannya.
Tap! "Yeaaa...!"
Begitu tertangkap, Rangga cepat melemparkan kembali ke arah datangnya pisau-pisau tadi.
Sebentar saja, dari semak-semak tak jauh dari situ melompat sesosok tubuh ke udara menghindari pisau-pisau yang dilepaskan Rangga. Setelah jung?kir balik beberapa kali, sosok itu mencelat ke arah Pendekar Rajawali Sakti.
"Ha ha ha...! Siapa nyana kalau Pendekar Rajawali Sakti ternyata ikut campur dalam urusan ini!" ujar orang itu, begitu mendarat di hadapan Rangga.
Pendekar Rajawali Sakti tersenyum, memperhatikan orang yang bertelanjang dada di depannya. Wajah orang itu ditutupi kain hitam. Hanya terdapat dua lubang pada bagian matanya. Di pinggangnya terselip sebilah golok agak panjang, yang diiilit kain sarung kotak-kotak hitam dan putih. Orang ini hanya memakai celana pangsi hitam, yang panjang-nya sedikit di bawah lutut.
"Oh! Jadi, kaukah si Pendekar Rajawali Sakti" Benarkah itu, Rangga"!" Ki Srengseng memandang Rangga dengan wajah heran dan tidak percaya.
"Ha ha ha...! Jadi kau belum tahu, Ki Sreng?seng" Hm, sungguh mengherankan!" kata orang bertopeng itu.
"Siapa kau sebenarnya"! Buka topengmu, jika benar ksatria. Dengan demikian, aku bisa melihat wajah pengecutmu!" sentak Ki Srengseng tidak mempedulikan ocehan orang itu.
"He he he...! Kau katakan aku pengecut karena membunuh para prajurit tolol ini, dan sekaligus me?nyerang kalian"! Topeng ini bukan sekadar menutupi wajah. Tapi lebih merupakan ciri khas kawanan kami. Kau tentu bisa menduganya bukan?"
"Hm, kalau tidak salah kau anak buah Gen?doruwo Samber Nyawa?" tebak Ki Srengseng.
"He he he..! Ternyata ingatanmu tajam juga, Ki Srengseng!"
"Ada urusan apa kau ke sini"!" tanya Ki Sreng?seng, ketus.
Sikap Ki Srengseng memang beralasan, karena kawanan Gendoruwo Samber Nyawa bukanlah ka?wanan baik-baik. Mereka merupakan kawanan penjahat, perampok, dan pembuat kekacauan. Selama ini, pihak kerajaan sudah cukup kerepotan menghadapinya. Bukan saja tiap anggotanya memiliki kepandaian cukup hebat. Tapi mereka juga memi?liki sikap licik dan cerdik. Bila pasukan kerajaan mengejar, mereka sembunyi dan menyerang tiba-tiba. Sehingga tidak jarang para prajurit kerajaan menjadi geram. Sebab korban di pihak mereka terlalu banyak yang jatuh, ketimbang korban yang diderita kawanan itu.
"Urusan apa"! Ha ha ha...! Tidak tahukah bah?wa kini kau dan anak buahmu adalah pemberon?tak" Dan aku ditugaskan menangkap kalian!"
"Jangan bicara ngawur! Jaga sikapmu terhadap prajurit kerajaan. Kalau tidak, kau akan kena hukuman berat!" desis Ki Srengseng, mengancam.
"Ha ha ha...! Bicaramu boleh juga. Tapi harap kau ketahui, saat ini kerajaan berada di tangan Kan?jeng Gusti Ayu Rara Ningrum. Beliau bekerjasama dengan kami dalam menggulingkan rajamu. Maka tidak heran kalau kawan-kawanmu mudah sekali kami tangkap, meskipun menyamar dengan berpa?kaian biasa," jelas orang bertopeng itu.
"Kurang ajar! Pantas perempuan itu begitu berkeras dengan usulannya. Kiranya dia menyimpan niat busuk! Huh! Kurang ajar!" geram Ki Sreng?seng seraya mengepalkan kedua tangan.
"Hm... Kau menambah kesalahan lagi, de?ngan memaki junjungan kami. Maka kau patut mendapat hukuman mati"
"Bangsat bertopeng! Kau yang harus mampus di tanganku!" hardik Ki Srengseng.
"Budak hina, mampuslah kau!"
? *** ? Mendadak saja, orang bertopeng itu menghentakkan tangan kanannya ke arah Ki Srengseng, melepaskan pukulan jarak jauh. Ki Srengseng sama sekali tidak menduga kalau orang ini mampu menyerangnya secepat itu. Tiba-tiba saja selarik ca?haya kehitaman sudah melesat bagaikan kilat. Diaberusaha menghindar dengan membuang diri ke samping. Namun bersamaan dengan itu, orang ber?topeng ini meluruk, melepaskan satu tendangan ke?ras.
Begkh! "Aaakh!"
Ki Srengseng menjerit keras begitu perutnya terhantam kaki orang bertopeng itu. Belum sempat dia berbuat sesuatu, orang bertopeng itu sudah menyerang secara beruntun. Terpaksa tangan ka?nan Panglima Kurata ini bergulingan menghindarinya. Begitu mendapat kesempatan, Ki Srengseng cepat bangkit dengan satu lentingan indah.
Orang bertopeng itu menggeram. Sebelah kakinya langsung menyapu pinggang. Ki Srengseng berusaha menghindari dengan melompat ke atas. Tapi saat itu juga lawannya mengejar dengan kepalan tangan kanan menghantam ke arah dada. Begitu cepat gerakannya, sehingga Ki Srengseng tak sempat menangkis.
Buk! "Hugkh!"
"Mampuslah kau!"
Orang bertopeng itu menggeram. Langsung diayunkannya satu tendangan saat Ki Srengseng terhuyung-huyung.
Des...! "Aaakh...!"
Ki Srengseng terjungkal, tidak mampu bangkit. Sementara orang bertopeng itu sudah bergerak cepat dengan satu injakan kaki untuk menghabisinya.
"Hiiih!"
Mendadak saja, berkelebat satu bayangan putih yang langsung memapaki injakan kaki orang berto?peng itu.
Plak! "Hm...!"
Orang bertopeng itu mendengus dingin. Dia langsung melompat ke belakang dan berdiri tegak mengawasi bayangan putih yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti.
"Sudah kuduga, kau akan mencampuri urusan ini!" dengus orang bertopeng itu.
"Maaf, Kisanak. Aku telah mencampuri urusan ini sejak semula. Kepalang basah. Maka lebih baik mandi sekalian. Lagi pula apa yang kalian lakukan adalah satu tindakan pemberontakan terhadap ke?rajaan. Kawanan Gendoruwo Samber Nyawa hen?dak memimpin kerajaan" Hm... Rakyat akan terancam bahaya bila dibiarkan!"
"Pendekar Rajawali Sakti! Kuhormati kau, ka?rena nama besar. Tapi bukan berarti aku takut berhadapan denganmu. Pergilah! Dan, jangan campuri urusan ini. Sesungguhnya aku tidak ingin terlibat perkelahian denganmu!" ujar orang ber?topeng itu lantang.
'Terima kasih. Tapi kau salah alamat bila menghormatiku. Tapi bila betul-betul ingin menghormatiku, maka hormati dulu nasib rakyat jelata. Bukan pada nama besarku!" sahut Rangga mantap.
"Hm... Kalau demikian, rasanya tidak ada ja?lan lain. Aku harus melenyapkan semua penghalang. Itulah sumpah kami!" dengus orang bertopeng itu, dingin.
"Kisanak! Tidak usah sungkan. Seperti apa yang kau inginkan, maka sekeras itu pula niatku. Aku tidak surut dari apa yang telah keluar dari mulutku!"
"Kalau begitu, bersiaplah! Aku tidak akan bertindak setengah-setengah padamu, Pendekar Rarajali Sakti!"
Setelah berkata begitu, orang bertopeng ini membentuk jurus. Kedua tangannya bergerak cepat di sekitar perut dan dada. Dia mendengus dingin. Kemudian tubuhnya menggelinjang dan meliuk-liuk dengan kedua kaki bergerak lincah.
"Yeaaa...!"
Sambil melangkah keras, orang bertopeng itu melakukan sodokan lewat kepalan tangan kanan ke arah dada. Dan Rangga cepat berkelit ke kiri. Tanpa diduga cepat sekali kepalan kiri orang ber?topeng itu menyusul dari bawah. Unrung saja Pendekar Rajawali Sakti cepat membuat lompatan ke samping kanan. Sementara, orang bertopeng itu terus bergerak menggelinjang. Kemudian mencelat melewati kepala Rangga sambil melepaskan be?berapa hantaman ke kepala.
Plak! Plak! Rangga yang memainkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' cepat mengangkat tangannya memapak pukulan yang hendak membelah kepalanya.
Beberapa kali mereka beradu pukulan. Dan sejauh itu, belum terlihat tanda-tanda siapa yang lebih unggul. Sepintas lalu, memang terlihat Pendekar Rajawali Sakti agak keteter menghadapi serangan-serangan gencar yang dilancarkan lawannya.
"Hup! Yeaaa...!"
Begitu orang bertopeng itu mendarat, ganti tubuh Pendekar Rajawali Sakti yang mencelat ke atas. Setelah berputaran beberapa kali tubuhnya cepat menukik turun dengan kedua telapak terbuka lebar. Bersamaan dengan itu, agaknya orang ber?topeng ini telah bersiap pula memapaki mengerah?kan tenaga dalam tinggi.
Plak! Plak! "Uhhh...!"
Orang bertopeng itu mengeluh tertahan setelah memapak kibasan tangan Pendekar Rajawali Sakti. Terasa kalau tenaga dalam pemuda itu lebih tinggi. Bahkan tubuhnya sampai terhuyung-huyung ke belakang.
Sementara Rangga kembali melompat menerjang. Dan sepertinya, dia tidak mau memberi kesempatan sedikit pun. Orang bertopeng itu men?dengus geram. Bahkan segera mengeluarkan sesuatu dari balik sarung yang melekat di pinggangnya, dan secepat itu dilemparkan ke arah Rangga.
Set! Set! "Uts!"
Pendekar Rajawali Sakti bergerak gesit meng?hindari dua bilah pisau yang menderu kencang ke arahnya. Bersamaan dengan itu, agaknya orang bertopeng ini menggunakan kesempatan untuk menghantam Pendekar Rajawali Sakti dengan me?ngerahkan seluruh tenaga dalamnya.
"Heaaa! Mampuslah kau, Bocah Busuk!"
Werrr! Tubuh Rangga melenting indah, menggunakan jurus "Sayap Rajawali Membelah Mega'. Sehingga, pukulan orang bertopeng itu mengenai tempat kosong. Begitu berada di udara, Pendekar Rajawali Sakti cepat merubah jurusnya. Kedua kakinya lang?sung bergerak lincah, dengan kedua tangan membentang membuat gerakan indah. Dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' yang seka?rang dikeluarkan, tiba-tiba Rangga menukik tajam ke arah orang bertopeng itu.
Huk! Desss! "Aaakh...!"
Tahu-tahu saja ujung kaki kiri Pendekar Raja?wali Sakti menghantam dahi. Kemudian kaki ka?nannya menyapu muka. Orang bertopeng itu terjungkal roboh disertai pekik kesakitan. Dengan terhuyung-huyung dia berusaha bangkit. Untung saja Rangga hanya mengeluarkan seperempat dari selu?ruh kemampuannya. Tapi kalau kepandaian lawan?nya pas-pasan, jelas kepalanya sudah hancur terhantam kaki Pendekar Rajawali Sakti.
Begitu bangkit, orang bertopeng itu melemparkan pisau beracun ke arah Rangga yang baru saja mendarat di tanah.
Wuuut! Tap! Dua buah berhasil dielakkan Rangga dengan memiringkan tubuh ke kanan. Sementara, pisau yang sebuah lagi ditangkap. Dengan gemas, pisau itu dilemparkan Rangga, hingga melesat tidak tertahankan. Dan...
Crab! "Aaa...!"
Orang bertopeng itu menjerit keras, tidak bisa menghindari pisau yang dilemparkan Rangga. Kem?bali dia roboh. Dan kali ini tubuhnya menggelepar tidak menentu, karena dahinya tertancap sebilah pisau miliknya sendiri. Hanya beberapa saat tubuh?nya menggelepar. Kemudian dia meregang kaku, dengan wajah membiru. Racun di pisau itu bekerja cepat membunuh majikannya sendiri.
? *** ? Sepak terjang Pendekar Rajawali Sakti mem?buat para prajurit pemberontak bergidik. Pemuda ini telah membunuh dua orang berkepandaian hebat dalam waktu singkat. Dan kalau mau, dia bisa membunuh mereka semua. Itulah yang ditakuti ka?wanan yang bersegaram prajurit kerajaan ini. Sebab jelas sudah, kalau pemuda berjuluk Pendekar Raja?wali Sakti berpihak pada Ki Srengseng.
"Bukankah kalian termasuk kawanan Gen?doruwo Samber Nyawa"!" tanya Rangga dingin.
"Eh! Bu..., bukan. Kami prajurit-prajurit kera?jaan!"


Pendekar Rajawali Sakti 148 Putri Randu Walang di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Betul! Kami prajurit-prajurit kerajaan...!" timpal yang lain, cepat.
"Jika benar kalian prajurit-prajurit kerajaan, berarti harus mati di tanganku!" desis Rangga de?ngan nada mengancam.
Wajah Pendekar Rajawali Sakti tampak penuh perbawa dengan sepasang mata tajam mengawasi para prajurit satu persatu. Perlahan-lahan dihampirinya mereka. Dan hal itu membuat para prajurit kerajaan ini menjadi salah tingkah. Beberapa orang di antaranya tampak pucat.
"Jawab yang benar!" bentak Rangga, lantang.
"Eh! Benar, Kisanak. Kami memang kawanan Gendoruwo Samber Nyawa!" sahut seseorang mewakili kawan-kawannya.
"Bagus! Kalau demikian kalian tahu, di mana para prajurit kerajaan lainnya yang hilang secara aneh?"
'Mereka ditawan kawan kami."
"Tunjukkan padaku, di mana tempatnya!"
"Kau akan celaka berani memasuki sarang kami."
"Kau dan kawan-kawanmu yang akan lebih dulu celaka, sebelum menunjukkan di mana para prajurit kerajaan yang tengah menjalankan tugas itu kalian tawan!" desak Rangga mengancam.
"Hm" Terserah padamu saja. Kalau memang kau menginginkan kematianmu tentu saja akan kutunjukkan."
"Bagus! Satu lagi pertanyaanku! Apakah Putri Randu Walang kalian sembunyikan di tempat yang sama?"
Prajurit itu diam tidak menjawab. Dia memandang pada kawan-kawannya dengan gelisah.
"Jawab!" hardik Rangga, seraya mencengkeram leher orang itu dengan kuat.
"Eh! Oh..., iya! Iya...!"
"Apakah keadaannya aman?"
"Dia selamat, selama penobatan itu belum di-langsungkan. Namun bila lewat dari waktu itu, ma?ka dia tidak diperlukan. Ketua kami berpesan begitu untuk berjaga-jaga bila istana kerajaan tidak aman, sehingga sang putri akan dijadikan sandera," jelas prajurit itu.
"Siapa yang akan dinobatkan menjadi raja?"
"Putra Kanjeng Gusti Ayu Rara Ningrum, yaitu Pangeran Sodong Palimbanan."
"Kapan acara penobatan itu dilakukan?"
"Esok hari, saat matahari terbit"
"Nah! Jangan buang waktu lagi. Kau ikat kawanmu. Dan yang lainnya saling mengikat. Bila be?rani membantah, aku tidak akan segan-segan mem?bunuh. Lalu naik ke kuda masing- masing dan kita berangkat sekarang ke sarang kalian!" sentak Rang?ga memberi perintah.
Para prajurit itu bekerja saling mengikat sehing?ga mereka membentuk semacam rantai yang saling berkaitan. Sementara mereka tengah bekerja, Ki Srengseng mendekati Pendekar Rajawali Sakti.
"Rangga.... Sekali lagi, aku atas nama para prajurit kerajaan, mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu!"
"Ki Srengseng, simpan saja terima kasihmu itu untuk nanti. Pekerjaan kita belum selesai," ujar Rangga tersenyum.
"Rasanya tidak bisa kupercaya kalau kau mun?cul begitu saja dan membantu memecahkan kemelut ini. Benarkah kau betul-betul mengetahui ke?jadian buruk yang menimpa istana kerajaan?" tanya Ki Srengseng, seperti tak percaya.
"Saat itu hanya kebetulan saja. Bermula dari kerusuhan yang menimpa peserta sayembara. Aku kebetulan lewat di tempat itu, dan ingin melihat-lihat keramaian. Dan ketika kerusuhan terjadi, aku sempat bentrok dengan salah seorang anak buah kawanan Gendoruwo Samber Nyawa. Maka sejak itu, aku merasa penasaran karena ada yang tidak beres di kerajaanmu. Kemudian dalam waktu yang berbeda sedikit, putri yang disayembarakan itu diculik. Aku mengejarnya dan terlibat duel sampai dikacaukan oleh kalian...," jelas Rangga.
"Maafkan aku, Rangga. Aku sama sekali tidak bermaksud..."
"Sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Sejak itu, aku semakin tertarik. Dan, istana kerajaan selalu kuawasi. Termasuk saat kalian keluar dari istana kerajaan dengan cara menyamar. Padahal, saat itu aku ingin memberitahu kalau di belakang istana te?lah berkumpul kawanan Gendoruwo Samber Nya?wa yang siap melakukan pemberontakan, begitu kalian berlalu. Tapi aku tidak tahu, siapa yang bisa kupercaya. Prajurit-prajurit kerajaan telah banyak yang berpihak pada pemberontak," jelas Rangga lagi.
"Lalu bagaimana caramu hingga tiba di sini?"
"Saat itu, kuputuskan untuk mengikuti kalian. Dan sungguh tidak terduga kalau kawanan itu bermaksud menyergap kalian yang telah berpencar dalam kelompok-kelompok kecil. Dua kelompok berhasil kuselamatkan. Dari mereka, aku tahu ke mana tujuan ketiga kelompok yang lain. Dua ke?lompok tidak berhasil kutemui. Dan aku berpikir, mereka telah dibunuh oleh kawanan itu atau mungkin ditawan. Lalu kupuruskan untuk mengikuti arah yang kalian ambil," jelas Rangga.
"Rangga, apakah kau memiliki langkah selan?jutnya untuk membantu kami" Maaf, tidak seharusnya aku bertanya begitu. Tapi, saat ini hanya kaulah yang bisa kupercaya, sekaligus mampu membantu kami menghajar para pemberontak itu," pinta Ki Srengseng, berharap.
'Tidak perlu bicara seperti itu, Ki Srengseng. Rasanya sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk saling tolong-menolong. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menyelamatkan sang putri."
"Membebaskannya dari sarang kawanan Gen?doruwo Samber Nyawa" Astaga! Itu bunuh diri. Kau tidak mengetahui kekuatan mereka"!"
'Tenang saja! Semuanya sudah kupikirkan."
"Hhh..., entahlah. Tapi aku percaya dengan kepandaianmu. Ada hal yang kulupa, yaitu tentang kedua pasukan prajurit kerajaan yang berhasil kau selamatkan.... Ke mana mereka" Kenapa tidak bergabung denganmu?"
"Mereka tengah menjalankan tugasnya masing-masing. Pasukan yang dipimpin Panglima Palaseha mengawasi keadaan istana kerajaan. Sementara pa?sukan yang dipimpin Panglima Dasmuka kusuruh mengawasi jalan masuk menuju Hutan Genjing."
"Hutan Genjing?" tanya Ki Srengseng dengan dahi berkerut heran.
"Ya! Sarang Gendoruwo Samber Nyawa!"
"Heh"! Jadi, kau telah mengetahui sarang me?reka. Buat apa memaksa mereka."
Kata-kata Ki Srengseng yang diucapkan de?ngan wajah kaget, seketika terhenti saat pemuda itu memberi isyarat.
"Ssst! Sudahlah. Tidak usah banyak bicara. Lihat, mereka telah selesai! Ayo kita berangkat!" ajak Rangga.
Ki Srengseng hanya bisa mengikuti, dengan langkah bingung!
? *** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 " . 148. Putri Randu Walang Bag. 7 dan 8 (Selesai)
11. Dezember 2014 um 08:14
7? ? Satu sosok bertubuh ramping tampak pucat dan kotor dengan kedua tangan dan kaki terikat pada sebuah tonggak kayu di sebuah ruangan tertutup. Tubuhnya sedikit kurus dan matanya sendu. Tidak jauh dari tempat sosok yang ternyata seorang gadis, dua lelaki bertelanjang dada mengawasi. Masing-masing berusia dua puluh lima tahun dan tiga puluh tahun.
'Tuan Putri. Lebih baik makan. Jatahmu se?dikit. Dan bila kau sia-siakan, maka tubuhmu makin kering kerontang!" ujar laki-laki yang berusia dua puluh lima tahun.
"Cuih! Siapa sudi menyentuh makanan busuk ini"! Lepaskan aku! Lepaskan...! Kalian bajingan-bajingan terkutuk! Apa yang kalian inginkan dariku"!" sentak gadis itu dengan suara serak dan mata melotot garang.
"Ha ha ha...! Sudah kukatakan berkali-kali padamu, tak ada gunanya berteriak. Kau hanya membuat tenggorokanmu kering. Sabarlah, sebab nasibmu akan ditentukan esok hari ..." lanjut pemuda itu.
"Eh. Kiman! Bagaimana menurutmu" Setelah dia tidak diperlukan lagi, apakah kau tidak memohon pada ketua untuk memilikinya?" tanya laki-laki yang berusia lebih tua daripada pemuda bernama Kiman.
"Seandainya saja aku bisa, ah! Rasanya tidak mungkin, Balung! Ketua agaknya akan menggarap gadis ini sendiri untuknya," sahut Kiman masghul.
"Hm, sayang sekali. Tapi masih ada jalan lain kalau memang kau betul-betul menginginkannya!" kata laki-laki yang bemama Balung.
"Apa"!" Kiman langsung berpaling dengan wajah bersinar gembira.
"Ini kesempatan, selagi ketua tidak ada di sini!" kata Balung lagi.
"Coba katakan, apa rencanamu?"
"Sini, kubisikkan!"
Kiman mendekatkan telinganya.
Balung membisikkan sesuatu ke telinga kawannya untuk sesaat. Namun kesudahannya, Kiman terkejut setengah mati dan memandang kawannya dengan wajah kaget.
"Gila! Kau hendak menjerumuskan aku, he"! Sial, kau!"
"Eh, tunggu dulu! Jangan lekas marah. Ketua tidak akan tahu apakah dia masih perawan atau tidak," kilah Balung.
"Tidak! Aku tidak berani menanggung akibatnya. Ketua hanya menyuruh menjaga dan memberinya makan. Tidak lebih! Aku tidak berani macam-macam!" sahut Kiman tegas.
"Bodoh kau! Tidakkah kau menyadari" Di luar saja, puluhan ksatria dan putra raja berjuang mati-?matian untuk mendapatkannya" Kini dia sudah berada di tempat kita. Maka bodoh sekali kalau kita hanya mendiamkannya saja," desah Balung.
Kiman terdiam, memikirkan kata-kata kawan?nya.
"Ayolah. Yang kita hadapi ini bukan gadis sembarangan. Dia putri raja, dan sekaligus wanita tercantik di seluruh negeri. Jarang ada kesempatan seperti ini yang datang dua kali dalam seumur hidup. Jika kau tidak segera menikmatinya, maka akan menyesal selamanya!" bujuk Balung me-manas-manasi.
'Tapi..., bagaimana kalau Ketua tahu...?"
"Jangan takut! Ketua tidak akan tahu bila kita tidak memberitahukannya. Dia akan menilai gadis ini sudah tidak perawan lagi!" desah Balung dengan suara semakin berbisik.
'Tapi... Aku masih takut. Lung. Ketua akan marah besar bila mengetahui kalau kita melanggar tugas. Dia amat keras. Dan salah-salah, kita akan binasa dihukumnya."
"Ketua tidak peduli. Lagi pula seperti kebiasaannya, dia hanya memakainya sekali. Dan selan?jutnya, kita yang menikmati. Dia tidak akan menghiraukan apakah gadis itu pernah dipakai sebelumnya atau belum sama sekali!"
Kiman terdiam kembali.
"Ayolah! Kapan lagi kita akan mendapat ke?sempatan seperti ini?" desak Balung.
Kiman menoleh. Dan pandangan matanya menelusuri lekuk-lekuk tubuh gadis itu. Sama sekali tidak dihiraukannya gadis ini tengah memelototinya. Terbayang di benaknya tubuh gadis itu yang amat menggiurkan di balik pakaiannya. Tanpa sadar Kiman menelan ludah.
"Bagaimana...?" Balung menunggu jawaban sambil cengar-cengir.
"Kau yakin ketua tidak akan mengetahuinya...?" tanya Kiman berusaha meyakinkan.
"Percayalah! Dia tidak akan mempedulikan soal itu!"
"Tapi..., siapa yang lebih dulu...."
"Eee! Karena aku yang mengusulkan, maka aku yang harus lebih dulu. Sesudah itu, barulah giliranmu...!"
Kiman hanya bisa mengangguk lemah, seraya menelan ludah. Dia hanya mampu memandangi kawannya yang langsung bangkit menghampiri gadis itu dengan cengar-cengir.
"He he he...! Putri cantik... Hari ini kita akan bersenang-senang sejenak. Dan kau akan menikmatinya nanti...," kata Balung, tersedak.
"Cuih! Bajingan keparat! Mau apa kau dekat-dekat denganku"! Pergi! Pergi...!" teriak gadis itu seraya meludah.
Balung mendengus geram. Wajahnya yang tadi menyeringai, kena diludahi gadis itu. Seketika dia mencengkeram leher gadis itu. Sementara tangan kirinya merobek baju bagian dada gadis itu. Dan tubuhnya pun merapat dengan cepat.
"Ouw! Bajingan terkutuk! Apa yang kau laku?kan padaku"! Setan! Pergi! Pergiii...!" maki gadis itu dengan amarah meluap.
"Huh! Kau kira dirimu siapa saat ini" Kau hanya tawanan yang menunggu waktu ajalmu. Akan kuperlihatkan, bagaimana kami mengurus tawanan!" dengus Balung.
Lelaki itu kembali menyeringai. Dan perlahan-lahan tangannya hendak meremas kedua payudara gadis itu yang membusung menantang, setelah bajunya dirobek laki-laki ini. Gadis itu terus berteriak memaki dan berusaha melepaskan diri. Namun sia-sia saja. Karena, ikatan itu kuat sekali. Dia ingin meludah, namun wajah laki-laki itu telah merapat di mukanya dengan tangan kiri mendekap mulutnya. Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain memejamkan mata, menangis, dan berdoa dalam hati.
*** "Buka pintu!"
Tiba-tiba terdengar bentakan dari luar yang diikuti gedoran kuat di pintu.
Kiman terkejut. Demikian pula Balung. Mereka menoleh dan memaki kesal ketika melihat seraut wajah bertopeng hitam di balik jeruji kecil yang ada di atas pintu masuk.
"Ada apa"!" tanya Balung, membentak.
"Ketua menyuruhku membawa tawanan!" sa?hut orang bertopeng di balik pintu.
"Tidak bisa! Tawanan akan ditentukan nasibnya esok hari. Ketua tidak pernah membatalkan keputusan!" bantah Balung.
'Kurang ajar! Berani kau membantah perintah ketua"!"
Sepasang mata orang bertopeng itu mendelik lebar menandakan kalau tengah marah besar.
Balung termangu. Sedangkan Kiman ciut nyalinya. Melihat kemarahan orang itu, mereka merasa yakin akan kesungguhan berita yang dibawanya.
"Buka pintunya!" perintah Balung.
Dengan terburu-buru, Kiman membuka pintu. Kini tampak jelas seseorang yang memakai baju rompi putih tergesa-gesa masuk dan bermaksud membebaskan gadis itu.
"Tunggu! Sejak kapan kau boleh memakai baju seperti itu"!" hardik Balung yang masih merasa ke?sal, karena niatnya terhalang sehingga mencari-cari kesalahan orang ini.
"Apa urusannya denganmu"! Aku dari istana kerajaan, sedang terburu-buru. Dan ketua memintaku cepat kembali, jangan kau mempersoalkan pakaian segala! Tidakkah kau tahu kalau kawan-kawan yang lain justru lebih hebat, karena memakai seragam prajurit"!" bentak orang bertopeng yang memakai baju rompi putih itu.
Balung terdiam. Demikian pula Kiman. Mereka tidak bisa membantah lagi, saat gadis itu dilepaskan dari ikatan.
"Bajingan! Mau kau apakan aku"! Lepaskan! Lepaskan...!" teriak gadis itu kalap, berusaha memukul ketika ikatannya terlepas.
"Gadis liar! Sebaiknya kutenangkan dulu kau!" dengus orang bertopeng ini, sambil menotok.
Dan kini, gadis itu lemas tak berdaya.
"Aku harus pergi buru-buru!" lanjut orang ber?topeng itu setelah membopong gadis ini.
Baru saja orang bertopeng itu akan keluar pin?tu, mendadak terdengar teriakan dari lorong di de?pan
"Pengacau! Ada pengacau..:!"
"Heh..."!"
Balung dan Kiman saling berpandangan de?ngan wajah terkejut. Demikian pula orang ber?topeng itu. Kedua anak buah Gendoruwo Samber Nyawa langsung bisa menduga. Dan mereka seketika makin curiga terhadap orang bertopeng berbaju rompi putih ini.
Balung mendengus geram seraya mengepalkan kedua tangannya. Dia menatap tajam pada orang bertopeng yang memakai baju rompi putih itu.
'Tunggu! Aku harus periksa, siapa kau! Jangan-jangan, kau malah salah seorang dari penga?cau. Buka selubung topengmu!" sentak Balung.
"He, kau berani mencegahku" Aku utusan langsung dari ketua!"
"Aku tidak peduli! Buka topengmu! Atau, kubuka dengan paksa"!"
"Baiklah kalau itu maumu. Tapi, ingat. Jangan menyesal! Aku akan laporkan pada ketua kalau kau menghambat perjalananku. Dia akan marah besar. Dan kau akan dihukum berat...!" sahut orang ber?topeng itu, seraya meletakkan gadis yang dipondongnya di bawah.
"Ketua akan berterima kasih bila ternyata kau seorang pengacau! Aku kenal semua anggota kawanan ini. Termasuk suaranya. Tapi kau membuatku curiga. Sebab aku belum pernah mendengar suaramu sebelumnya. Buka topengmu, cepat!" de?ngus Balung, memerintah.
"Baik! Lihat...!"
Orang itu membuka topengnya. Namun ber?samaan dengan itu kaki kanannya menghantam ke arah perut.
"Uts! Kurang ajar...!"
Balung memaki geram. Untung dia mampu bergerak ke samping menghindari tendangan. Na?mun orang bertopeng yang ternyata seorang pe?muda tampan itu tidak memberi kesempatan. Ke?palan tangan kanannya menyusul cepat menghan?tam ke dada.
Wuuut! Sodokan itu berhasil dihindari Balung dengan melompat ke atas. Namun pemuda yang kini telah membuka topengnya itu mengikuti gerakannya dan sempat mengayunkan satu tendangan, tepat ke dadanya.
Bugkh! "Aaakh...!"
Balung memekik tertahan. Tubuhnya terlempar dan membentur dinding, lalu ambruk tidak berkutik.
"Siapa kau sebenarnya"!" hardik Kiman berang, ketika melihat seraut wajah tampan berambut panjang.
"Aku malaikat maut yang datang menjemputmu!" dengus pemuda itu.
Pemuda itu bergerak cepat, mengayunkan ten?dangan. Namun Kiman cepat melompat ke atas, langsung mencabut pisau yang terselip di pinggang. Dua buah senjata rahasia itu seketika melesat kencang. Cepat bagai kilat, pemuda itu menjatuhkan diri dan lawan bergulingan menghindarinya. Se?hingga senjata itu menancap di tonggak kayu. Dan seketika pemuda itu melenting, bangkit berdiri.
Belum sempat Kiman melancarkan serangan kembali, pemuda itu telah menyodok ulu hatinya. Cepat bagai kilat, Kiman bergerak ke samping se?dikit. Masih sempat tangannya dikibaskan untuk menangkis tendangan pemuda itu yang menyusul cepat. Tapi....
Plak! Krak! Selanjutnya Kiman memekik keras saat tangan?nya membentur kaki pemuda itu yang dialiri tenaga dalam tinggi. Terdengar tulang berderak patah di pangkal lengannya.
Belum sempat Kiman menghilangkan rasa sakitnya, mendadak satu hantaman keras di perut membuatnya terjungkal roboh dan tidak mampu bangkit lagi.
Begkh! "Ugkh!"
"Huh!"
Pemuda itu mendengus dingin. Lalu dihampirinya kedua lawannya. Dia merogoh sesuatu di pinggang mereka, mengambil beberapa bilah pisau kecil. Kemudian dengan terburu-buru dihampirinya gadis itu.
"Kaukah Putri Randu Walang...?"
"Eh, iya.... Siapakah kau?" tanya sang putri, setelah cukup lama terkesima memandangi penolongnya.
"Namaku Rangga. Tidak usah takut. Aku datang ke sini bersama pasukan kerajaan. Jangan ba?nyak membantah, karena kau akan mendengar sendiri ceritanya nanti. Sekarang yang terpenting, kita harus keluar dari sini secepatnya," ujar pemuda yang ternyata Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.
"Eh! Ba.." baik..."
"Maaf!" Rangga berujar pendek, lalu membopong tubuh Putri Randu Walang keluar dari ruang?an ini.
"Hei, siapa itu"!"
Mendadak terdengar bentakan keras dari se?buah lorong.
"Heh"!"
? *** ? Lebih dari sepuluh kawanan Gendoruwo Sam?ber Nyawa langsung melompat dan bermaksud menghadang Pendekar Rajawali Sakti. Tapi...
"Hiiih!"
Pendekar Rajawali Sakti cepat mengibaskan tangannya yang memegang pisau.
Crab! Crep! "Aaa...!"
Tiga orang kontan roboh disertai jeritan keras. Dahi mereka tertancap pisau-pisau yang dilepaskan Rangga.
"Kurang ajar! Siapa kau..."!" bentak orang-orang yang mampu menghindari dari sambaran pisau-pisau tadi.
Dua orang dari mereka langsung menerjang dengan golok terhunus ke arah Pendekar Rajawali Sakfi.
"Yeaaa...!"
"Sial!" rutuk Rangga geram.
Dalam keadaan begini, Pendekar Rajawali Sak?ti tidak mau berpikir panjang lagi. Sehingga dengan sekali sentak, tangan kanannya mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang tersampir di punggung. Maka seketika memancar sinar biru berkilau dari batang pedang.
Cahaya biru terang itu membuat dua orang yang berada di dekatnya terkesima. Cahaya itu ber?gerak cepat, langsung memapas putus kedua golok mereka.
Trang! Kesempatan itu digunakan Rangga sebaik-baiknya. Kakinya cepat bergerak menghantam kedua lawannya sekaligus.
Duk! Des! "Aaakh...!"
Kedua orang itu menjerit kesakitan dan terjungkal menghantam dinding ruangan yang tidak begitu luas. Mereka langsung ambruk tak berdaya!
"Siapa yang mencoba menghalangiku, boleh menemui ajal!" desis Pendekar Rajawali Sakti ga?rang penuh ancaman.
Kawanan yang tersisa memandang ragu ke arah Rangga. Kedua orang yang tadi maju lebih dulu, memiliki tingkat kepandaian di atas mereka. tapi dengan mudah, pemuda itu menjatuhkannya. Lalu, apa artinya jumlah mereka saat ini"
"Bagus! Agaknya kalian masih sayang nyawa. Ayo, masuk! Masuk ke dalam penjara itu! Kalian akan bergabung dengan yang lain. Bawa kedua orang ini! Cepaaat!" hardik si Pendekar Rajawali Sakti.
Delapan orang itu bekerja cepat mematuhi perintah Pendekar Rajawali Sakti. Satu persatu mereka masuk ke dalam ruangan, tempat Putri Randu Walang tadi dikurung. Dua orang dari mere?ka menggotong dua kawannya yang tadi dijatuhkan Pendekar Rajawali Sakti. Tapi mendadak saja...
"Hiiih!"
Dua orang coba-coba membokong Rangga de?ngan mengibaskan tangannya. Seketika, melesat sinar-sinar keperakan dari pisau-pisau yang dilepaskan.
"Hup...!"
Bola mata Pendekar Rajawali Sakti melotot. Seketika dia melompat gesit sambil mengibaskan pedang.
Trang! Trang! Pisau-pisau itu berhasil dipatahkan Rangga dengan pedangnya. Dan seketika, Pendekar Raja?wali Sakti melompat mendekati dua orang yang melakukan serangan gelap.
Cras! Bruesss! "Aaa...!"
Seorang dari kawanan ini nyaris putus lehernya. Sementara yang seorang lagi ususnya terburai keluar. Tubuh keduanya kontan menghitam. Terutama pada bagian yang terkena luka sambaran pe?dang Pendekar Rajawali Sakti. Mereka langsung ambruk dengan nyawa melayang!
"Jangan coba-coba membokongku. Dan aku tidak segan-segan bertindak keras pada kalian!" dengus Rangga geram.
Tidak ada seorang pun yang berani membantah. Mereka langsung masuk ke dalam ruangan dengan wajah pucat dan tubuh gemetar membayangkan bagaimana pemuda itu mampu bertindak kejam.
"Bersenang-senanglah kalian di dalam!" lanjut Rangga seraya mengunci ruangan dari luar.
Setelah itu, Pendekar Rajawali Sakti membuka totokan Putri Randu Walang dan bergegas keluar dari tempat ini. Setelah melewati lorong ini, di ruangan depan Pendekar Rajawali Sakti bertemu Ki Srengseng yang telah membebaskan dua pa?sukan anak buahnya.
"Bagaimana?" tanya Ki Srengseng setelah berseru girang, melihat Putri Randu Walang selamat.
"Mereka telah kubereskan! Sekarang kita harus bergegas ke istana untuk membuat rencana serangan!" lanjut Rangga.
"Rangga... Aku kagum padamu. Kau bertin?dak cepat dan perhitunganmu tepat. Kau seperti bukan orang sembarangan. Dan kelihatannya kau mengerti betul soal peperangan...!" puji Ki Sreng?seng.
"Ki Srengseng, jangan terlalu memuji. Itu tidak ada gunanya. Lebih baik, kita bahas soal serangan ke istana kerajaan."
"Baiklah. Apakah kau punya usul?" tanya Ki Srengseng.
"Begini. Jumlah kita saat ini kurang dari lima puluh. Bentuk pasukan kecil seperti semula."
"Lalu?"
"Bagi-bagi tugas pada tiap pasukan itu! Satu pasukan bertugas menyebar ke beberapa wilayah. Bujuk rakyat untuk berjuang. Dua pasukan ikut denganku, menyerang dari depan. Dan dua pa?sukan yang tersisa, kau pimpin dari belakang. Ke-jutkan mereka dengan segera. Jangan ragu-ragu! Hajar siapa pun yang coba menghalangi! Menger?ti"!" jelas Rangga.
"Aku bisa mengerti. Tapi ada usul yang mung?kin bagus!" sahut Ki Srengseng.
"Bagaimana?"
"Ada jalan rahasia yang menembus ke gudang persenjataan. Rahasia ini hanya diketahui Gusti Prabu Arya Turangga Waskita dan beberapa orang yang terpercaya termasuk aku. Bagaimana kalau kami masuk dari sana dan mengejutkan mereka?"
"Itu usul yang baik! Ada usul lain?"
Semua terdiam. Maka atas usul Rangga, Ki Srengseng segera membagi tugas. Dan setelah se?mua sepakat, mereka bergerak cepat meninggalkan tempat ini
? *** ? 8 ? Hari mulai gelap. Burung-burung mulai pulang ke sarang masing masing. Di langit terlihat awan hitam bergerumbul. Sebentar lagi, kelihatan akan hujan. Rumah-rumah penduduk terlihat sepi.
Sementara itu penjagaan di istana kerajaan tampak ketat. Tidak mengherankan, sebab esok hari Pangeran Sodong Palimbanan akan dinobatkan menjadi raja negeri ini. Pengumuman telah disebarkan siang tadi. Keributan kecil pun muncul. Rakyat kelihatan gelisah. Namun para prajurit kerajaan bertindak cepat. Mereka meringkus dan menggiring ke penjara siapa saja yang terlihat tidak setuju. Hal itu menimbulkan ketakutan di hati setiap penduduk kotaraja. Sehingga, mereka hanya diam membisu, tidak berani menunjukkan ketidakse-nangannya.
Lima orang prajurit mondar-mandir di gerbang depan. Namun mereka sama sekali tidak memperhatikan beberapa orang yang mengendap-endap di balik semak-semak. Tiba-tiba"
Set! Set! Mendadak, melesat sinar putih keperakan ke arah prajurit-prajurit itu.
Crab! "Aaakh...!"
Tiga orang langsung ambruk dan tewas seketika begitu beberapa pisau melayang dan menancap tepat di tenggorokan. Dua orang prajurit lain terkejut. Namun sebelum mereka berbuat sesuatu, dua bilah pisau lain menancap di punggung. Kedua orang itu menjerit tertahan dan langsung ambruk. Bersamaan dengan itu beberapa sosok tubuh ber?topeng hitam mendekat dengan gerakan cepat.
"Apa itu"! Hei, Jawab! Siapa..."!" bentak dua orang prajurit yang berjaga di atas tembok pagar. Tapi....
Set! Crab! "Aaakh...!"
Dua bilah pisau melesat ke arah dua prajurit. Satu menancap di dahi, serta sebuah lagi menancap di jantung. Dua orang itu langsung ambruk disertai jeritan keras. Dan itu menimbulkan kekagetan terhadap prajurit lain.
"Ada pengacau! Awas, ada pengacau...!" teriak beberapa prajurit, langsung berlarian ke sana kemari memberitahukan kawan-kawannya.
Bruak...! "Heaaa...!"
Saat itu juga, pintu gerbang yang terbuat dari kayu tebal dan amat kuat hancur berantakan oleh hantaman tenaga yang amat dahsyat. Beberapa orang yang berada di luar langsung mencelat ke dalam, menyerang para prajurit kerajaan dengan ganas.
Kejadian itu berlangsung cepat sekali. Sekitar dua puluh orang bertopeng hitam bergerak cepat, sehingga beberapa prajurit kerajaan langsung am?bruk dan tewas. Begitu menghabisi lawannya, orang-orang itu terus menerobos ke dalam bangun?an istana. Ada yang menerobos jendela, dan ada pula yang mendobrak pintu. Malah ada pula yang masuk lewat atap.
Istana Kerajaan Cadas Walang heboh. Semen?tara prajurit-prajuritnya seperti tersengat hebat. Me?reka kalang-kabut berusaha menghalau serangan yang berada di depan. Namun saat perhatian tertuju ke depan, serangan gencar kembali berlangsung dari bagian belakang bangunan istana. Sehingga, membuat para prajurit menjadi kacau balau.
"Kurang ajar! Siapa yang berani berbuat keji..."!" dengus seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun.
Tubuh orang itu kekar, bertelanjang dada. Rambutnya yang panjang dan sebagian telah memutih, dibiarkan awut-awutan begitu saja. Dia mengenakan celana pangsi hitam. Sebuah sarung tampak melilit pinggangnya yang juga terselip sebilah golok agak panjang.
"Heaaa...!"
Begitu melihat dua orang bertopeng mene?robos kamarnya lewat atap, orang tua itu langsung menghentakkan telapak tangannya ke atas.
"Kisanak.' Akulah lawanmu!" bentak seseorang seraya memapak serangan itu.
Bluerrr! "Uhhh...!"
Orang tua itu terkejut. Wajahnya jelas mem?bayangkan kekagetannya. Bahkan tubuhnya sam?pai terhuyung-huyung ke belakang.
"Kurang ajar! Siapa kau"!" bentak orang tua berambut awut-awutan itu, garang.
"Kau tidak perlu tahu. Bersiaplah! Karena aku hanya memberi dua pilihan padamu. Menyerah, atau mampus di tanganku!" jawab sosok berbaju rompi putih yang telah mendaratkan kakinya di ha?dapan orang tua itu.
"Setan! Bocah busuk, kau tengah berhadapan dengan Gendoruwo Samber Nyawa!" geram orang tua itu dengan sepasang mata mendelik garang.
"Aku tidak peduli! Kau masih punya waktu untuk menyerah. Tempat ini telah terkepung rapat. Dan, tidak ada jalan keluar bagimu!" tandas pemu?da yang tak lain dari Pendekar Rajawali Sakti.
"Bangsat! Kau betul-betul tidak memandang sebelah mata padaku, he"!" dengus laki-laki beram?but acak-acakan yang memang Gedoruwo Samber Nyawa, menggeram hebat.
Tiba-tiba saja Gendoruwo Samber Nyawa mendengus geram. Lalu tangan kanannya mencengkeram cepat ke muka Pendekar Rajawali Sakti.
"Yeaaa...!"
? *** Gendoruwo Samber Nyawa menyerang cepat disertai tenaga dalam tinggi. Agaknya panas betul hatinya mendengar ejekan pemuda itu. Sehingga, dia bermaksud menghabisi secepatnya.
Pendekar Rajawali Sakti agaknya yakin betul akan mampu mengatasi Gendoruwo Samber Nya?wa. Maka tak ragu-ragu lagi, dtangkisnya cengkeraman tangan Gendoruwo Samber Nyawa.
Dengan menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' Pendekar Rajawali Sakti mampu mengandaskan serangan-serangan lawannya. Tubuh?nya meliuk-liuk dengan gerakan kedua kaki lincah. Tapi, Rangga tidak mau berhenti sampai disitu. Agaknya, dia tidak mau bermain-main terlalu lama. Sehingga sesaat kemudian, jurusnya dirubah.


Pendekar Rajawali Sakti 148 Putri Randu Walang di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Yeaaa...!"
Sring! Bukan main kagetnya Gendoruwo Samber Nyawa ketika Pendekar Rajawali Sakti mencabut Pedang Pusakanya. Laki-laki tua itu sampai terkesiap melihat perbawa Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Bahkan dia hampir tersambar cahaya biru yang berkelebat cepat. Untung dia cepat tersadar. Dengan mengerahkan seluruh kemampuannya, orang tua itu berusaha menghindar.
"Kurang ajar! Bocah busuk, aku baru ingat sekarang Ternyata kau Pendekar Rajawali Sakti, he"!" dengus, Gendoruwo Samber Nyawa setelah mampu menghindari kebutan senjata pedang itu.
"Bagus! Agaknya penglihatanmu sudah mulai tajam. Nah. sekarang lebih baik pikirkan keselamatan dirimu!" ujar Rangga, tanpa bermaksud menyombongkan diri.
"Huh! Segala bocah bau kencur mau menakut?-nakuti aku! Kau kira dengan menggunakan nama besarmu, bisa menjatuhkan semangatku" Kau salah besar, Kunyuk!" maki Gendoruwo Samber Nyawa.
Setelah berkata begitu, Gendoruwo Samber Nyawa mencabut golok. Dia bermaksud balas menghajar lawan. Gerakannya sungguh indah dan cepat sekali. Dan yang lebih hebat, dalam ruangan yang tidak begitu luas, dia mampu menghindar dengan kedua telapak kaki menempel di dinding ruangan.
"Yaaat!"
Golok Gendoruwo Samber Nyawa meliuk, ber?usaha menerobos pertahanan Pendekar Rajawali Sakti. Namun, Rangga agaknya tidak sebodoh itu. Dia tahu betul kalau laki-laki itu berusaha menghin?dari bentrokan senjata.
Gendoruwo Samber Nyawa gemas sendiri. Dia mencoba cara lain dengan mengecoh pemuda itu lewat serangan gelap berupa lemparan-lemparan pisau beracunnya. Tapi semua itu dapat ditebas Rangga yang sama sekali. Tidak mengurangi kewaspadaannya.
"Huh! Aku tidak ada waktu bermain-main denganmu! Rasakan pukulan 'Guntur Geni' ini!" dengus Gendoruwo Samber Nyawa, segera menyatukan telapak tangan kirinya pada telapak tangan kanan yang masih menggenggam golok.
Rangga bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dilihatnya kedua tangan laki-laki tua itu bercahaya merah. Dan sedikit demi sedikit, warna merah itu semakin menyala laksana cahaya bara.
Pemuda itu mendengus pelan, segera pedangnya dihadapkan ke wajah. Sehingga, cahaya biru itu menyapu mukanya yang mulai berkerut menahan amarah. Lalu, tangan kirinya mengusap pedahan batang pedang itu.
Sinar biru itu perlahan-lahan mengalir ke kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti. Perlahan-lahan pula, sinar biru itu membentuk dua bulatan bagai bola yang menyelimuti kedua tangan Rangga. Ke?mudian dengan gerakan cepat dan indah, Pendekar Rajawali Sakti memasukkan pedangnya ke dalam warangka di punggung.
"Yeaaa...!"
Sementara Gendoruwo Samber Nyawa sudah membentak keras. Sehingga, ruangan ini bergetar laksana dilanda topan prahara. Selarik cahaya kekilatan laksana petir seketika keluar dari telapak tangan kirinya, langsung melesat kencang menyam?bar Pendekar Rajawali Sakti.
"Aji 'Cakra Buana Sukma'...!"
Pada saat yang sama Rangga berteriak keras menggelegar, seraya mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan.
Bluerrr...! Terdengar ledakan keras, saat kedua cahaya berlainan warna beradu. Cahaya biru dari ajian ciptaan Pendekar Rajawali Sakti kontan menyelubungi cahaya pukulan Gendoruwo Samber Nya?wa. Bahkan cahaya biru itu bergerak cepat melindas, kemudian terus menghantam Gendoruwo Samber Nyawa.
"Huaaa...!"
Tubuh Gendoruwo Samber Nyawa mendadak terjungkal menghantam dinding sampai jebol. Dan dia hanya mampu berteriak tertahan.
Rangga menarik napas dalam-dalam. Kemu?dian kakinya melangkah mendekati tubuh Gen?doruwo Samber Nyawa. Yang kini mengepul asap tipis berbau sangit. Ternyata Gendoruwo Samber Nyawa telah tewas dan tubuh hangus!
Pemuda itu tersentak, begitu dari arah luar terdengar teriakan-teriakan membahana.
"Hm.... Rakyat agaknya telah tiba. Kejatuhan mereka tinggal menunggu waktu. Sebaiknya, kuselamatkan yang lainnya," gumam pemuda itu.
Berpikir begitu, Pendekar Rajawali Sakti lang?sung melompat dan berlari kencang mencari-cari ruang penjara. Sepanjang yang dilewatinya, terlihat para prajurit kerajaan terdesak hebat. Beberapa orang dari para penduduk yang bersenjata apa adanya, telah menerobos ke dalam istana dan mengeroyok para prajurit yang tersisa.
Setiba di ruang penjara, Pendekar Rajawali Sakti terkejut dan cepat bersembunyi. Beberapa prajurit telah membuka pintu penjara dan menyandera raja, permaisuri, dan yang lain.
"Rara Ningrum! Kau akan merasakan akibatnya atas perbuatanmu ini!" dengus Gusti Prabu Arya Turangga Waskita.
"Tutup mulutmu!" sentak seorang pemuda yang menempelkan pedang ke leher Penguasa Ca?das Walang ini.
"Sodong! Kau betul-betul anak durhaka! Aku bersumpah dan mengutukmu! Mulai hari ini kau bukan lagi putraku!" teriak sang prabu, gusar.
Sodong Palimbanan mendengus sinis.
"Kau tidak akan...."
Belum habis kata-kata pemuda itu.
"Hiaaa...!"
Terdengar teriakan keras, membuat Sodong Palimbanan dan yang lain terkejut. Dan tahu-tahu sesosok tubuh melesat cepat ke arah mereka, bersama satu lesatan sebuah pisau kecil.
Crap! "Aaakh...!"
Pisau itu menancap persis di tenggorokan Sodong Palimbanan. Pemuda itu memekik keras, dan ambruk seketika. Belum lagi yang lain sempat berbuat sesuatu apa pun, sosok bayangan itu lang?sung menghajar para prajurit kerajaan.
Duk! Des! Begitu tiga orang prajurit roboh, bayangan putih itu terus berkelebat ke arah Kanjeng Gusti Ayu Rara Ningrum. Langsung disanderanya selir telengas ini dengan sebilah pedang yang dirampas dari salah seorang prajurit.
"Letakkan senjata kalian dan menyerahlah!" bentak bayangan yang ternyata seorang pemuda.
Tujuh prajurit kerajaan yang berada di tempat itu terkejut. Sementara wajah Kanjeng Gusti Ayu Rara Ningrum seketika pucat. Mereka bangkit perlahan sambil menahan rasa sakit akibat hajaran pemuda itu.
"Aku tidak main-main dengan kata-kataku! Bila seorang dari kalian ada yang berani berbuat macam-macam, maka leher wanita ini akan menggelinding! Sekarang, masuk ke dalam penjara ini! Ayo, cepat masuk...!" hardik pemuda yang memang Rangga.
Tanpa banyak membantah, mereka segera ma?suk ke dalam penjara. Dan Pendekar Rajawali Sakti langsung menguncinya.
"Panglima Kurata! Kuserahkan wanita ini padamu. Uruslah dia! Di luar sana, prajurit-prajurit kerajaan yang dipimpin Ki Srengseng dengan dibantu rakyat, kurasa telah menguasai keadaan!" ujar Pendekar Rajawali Sakti.
"Eh! Baik..., baik. Tapi tunggu dulu! Siapa kau sebenarnya..."!" sahut Panglima Kurata.
Pendekar Rajawali Sakti tidak mempedulikannya. Dia berlalu cepat dari ruangan ini, melewati jalan samping. Lalu Rangga menerobos langit-langit ruangan dan menghilang di keremangan senja.
Baru saja pemuda itu berlalu, terdengar langkah kaki mendekati ruangan ini. Tampak seorang gadis berlari kecil seraya berseru haru!
"Ayaaah...! Ibuuu...!"
"Anakku Randu Walang...!"
Permaisuri Kembang Sari berseru girang, dan langsung menghambur menyambut putrinya.
Mereka berpelukan lama sekali saling menumpahkan perasaan rindu dan haru. Sang prabu sen?diri mendekat seraya mengelus-elus rambut putrinya.
Sementara itu, di belakang sang putri, Ki Sreng?seng bersama para praruritnya menghadap Pang?lima Kurata dan melaporkan keadaan di istana ke?rajaan.
"Jadi, istana telah kalian kuasai?"
"Sudah, Kanjeng Panglima!"
"Hm... Bagus sekali kerjamu, Srengseng!" puji Panglima Kurata.
'Tapi semua ini tidak mutlak kerja hamba, Kanjeng Panglima."
"Lho" Apa maksudmu?"
"Hamba dibantu seseorang..."
"Seseorang" Siapa dia"!"
"Namanya Rangga. Dan dia berjuluk Pendekar Rajawali Sakti. Gendoruwo Samber Nyawa telah tewas. Kurasa, itu perbuatannya Tapi, kini dia telah pergi entah ke mana..."
"Maksudmu, pemuda berbaju rompi putih dan berambut panjang itu?"
"Betul! Apakah Kanjeng Panglima melihatnya?"
"Dia baru saja pergi, setelah membereskan para prajurit itu dan meringkus Rara Ningrum...!" jelas Panglima Kurata, dengan tangan menunjuk penjara.
"Lalu, ke mana dia sekarang?"
Panglima menunjuk pada langit-langit ruangan yang jebol.
"Dia pergi begitu saja tanpa pamit melewati jalan itu..."
"Sayang sekali. Kita tidak sempat berterima kasih padanya...," gumam Ki Srengseng.
"Ki Srengseng! Apa yang telah terjadi" Dan, bagaimana kalian melakukan semua ini...?" tanya Gusti Prabu Arya Turangga Waskita.
Ki Srengseng segera menceritakan peristiwa yang dialaminya sampai pertemuannya dengan Rangga.
"Hm.... Pemuda itu telah banyak membantu kita. Entah bagaimana caranya kita berterima kasih padanya..."
"Ampun, Gusti Prabu! Pemuda itu memang banyak berjasa pada kita. Dan sepertinya, dia bukan orang sembarangan...."
"Tentu saja. Dia berhasil membunuh Gendo?ruwo Samber Nyawa, maka sudah jelas bukan orang sembarangan. Pemuda itu pasti tokoh hebat dalam dunia persilatan...!" sahut Panglima Kurata.
"Bukan begitu maksud hamba, Kanjeng Pang?lima...!"
"Lalu, apa?"
"Dia bukan seperti tokoh silat kebanyakan. Pemuda itu berbakat memimpin. Dan tindakannya begitu meyakinkan. Dia bahkan lebih pantas men?jadi panglima kerajaan, ketimbang tokoh persi?latan...!" tandas Ki Srengseng.
"Maksudmu, dia memang berasal dari kerajaan?"
"Entahlah, Kanjeng Panglima. Tapi dengan wajah dan wataknya yang demikian, dia pasti bukan orang sembarangan. Aku yakin betul. Caranya mengatur dan bertindak, sangat cepat serta tepat!" puji Ki Srengseng.
Pada saat itu Permaisuri Kembang Sari dan Putri Randu Walang mendekat.
"Ayah ... Pemuda itu telah berjasa banyak bagi kita, bukan" Apakah Ayahanda tidak berbuat sesuatu unluk membalas budi baiknya?"
"Tentu saja, Anakku. Tapi, bagaimana cara kita membalas budi baiknya" Dia pergi begitu saja. Dan, tak ada seorang pun tahu, di mana dia berada...," sahut Gusti Prabu Arya Turangga Waskita.
'Orang sepertinya amat sulit dicari. Dia seperti malaikat yang bisa datang pergi sesuka hatinya...," tambah Ki Srengseng.
"Tapi Ayah tidak bisa diam saja. Carilah dia. Dan, kerahkan para prajurit untuk berupaya menemukannya! Kalau tidak demikian, kita akan merasa berhutang budi selamanya!" sahut Putri Randu Walang berkeras.
"Tapi, ke mana Ayah harus mencarinya?"
"Ke mana saja! Pokoknya Ayahanda harus menemukan pemuda itu!"
Sang prabu menggeleng lemah seraya mendesah kecil.
"Gusti Prabu, biarlah hamba yang akan men?carinya!" sahut Ki Srengseng.
"Baiklah. Kau cari pemuda itu sampai dapat. Dan katakan padanya, aku mengundangnya ke sini dengan segala hormat. Lalu, bawalah beberapa orang prajurit untuk menyertaimu!" ujar Gusti Prabu Arya Turangga Waskita.
"Segala titah Gusti Prabu akan hamba junjung tinggi! Hamba berangkat sekarang, Gusti Prabu!"
Gusb Prabu Arya Turangga Waskita mengangguk.
Ki Srengseng segera berlalu bersama beberapa orang prajurit pilihan. Sementara itu, Panglima Kurata menyelesaikan para tawanan dan memberi perintah untuk mengurusi istana kerajaan yang porak-poranda.
"Anakku. Kau kelihatan berkeras sekali menyuruh Ayahandamu mencari pemuda itu" Ada apa gerangan" Tidak biasanya kau bersikap begitu?" tanya Permaisuri Kembang Sari sambil menggandeng putrinya dan berlalu dari tempat ini.
"Tidak ada apa apa, lbunda..."
Permaisuri Kembang Sari tersenyum.
"Kau tidak bisa membohongiku, Nak. lbu bisa merasakan kecemasan dan pengharapan pada tatapan matamu. Ceritakanlah. Adakah sesuatu yang kau pendam di hatimu?" desak wanita setengah baya pada putrinya.
Putri Randu Walang terdiam beberapa saat. Bahkan ketika wanita itu telah mengantarnya ke kamar.
"Apakah kau tidak mau berbagi perasaan dengan lbumu?"
Putri Randu Walang masih terdiam. Dan dia duduk termenung di tepi tempat tidur.
"Ibu... Pernahkah kuceritakan tentang pe?muda dalam impianku itu?" tanya Putri Randu Walang lirih.
'Ya.... Ibu ingat," desah Permaisuri Kembang Sari.
"Pemuda itulah yang kumaksudkan..."
"Benarkah"!"
Wajah sang ibu tampak kaget.
"Benar, lbunda...," sahut Putri Randu Walang lirih". Aku tidak tahu, apakah dia pun merasakan hal yang sama. Tapi, kelihatannya dia sama sekali tidak mempedulikanku... "
"Anakku....? Mungkin kau salah mengenali orang..."
"Tidak, lbunda. Aku yakin betul!"
"Hm...? Biarlah para prajurit kerajaan akan mencarinya sampai dapat!"
"Kurasa impian itu memang bunga tidur. Se?bab, bila menjadi kenyataan, dia tentu tidak akan meninggalkanmu begitu saja...," hibur Permaisuri Kembang Sari.
Permaisuri Kembang Sari tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Tapi dia merasakan kalau hati putrinya ini amat gundah dan resah. Dia hanya mampu membelai rambutnya, kemudian mencium lembut keningnya.?????
? SELESAI ? Scan by Clickers
Edited by Lovely Peace
Pdf by Abu Keisel
? www.duniaabukeisel.blospot.com
Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 Batu Lahat Bakutuk 2 Persekutuan Tusuk Kundai Kumala Karya Wo Lung Shen Pendekar Pengejar Nyawa 24

Cari Blog Ini