Ceritasilat Novel Online

Teror Manusia Bangkai 2

Pendekar Rajawali Sakti 149 Teror Manusia Bangkai Bagian 2


Manusia Bangkai tampaknya terkejut sekali melihat kenyataan di depan matanya. Sama sekali tidak disangka kalau lawannya masih dapat menghindari serangannya. Bahkan sekarang telah berusaha mendesaknya dengan serangan kapak di tangan yang demikian gencar.
"Hiyaaa...!"
Batu Kumbara berteriak nyaring. Tangan ki rinya dengan nekat bermaksud mencengkeram senjata lawannya. Namun dengan gerakan sangat tak terduga, Ki Bagas Salaya membelokkan serangan ganas ke bagian perut.
Manusia Bangkai berteriak nyaring. Tangan kirinya bergerak cepat ingin menyambar senjata lawan. Namun dengan gesit, Ketua Padepokan Kapak Sakti berhasil menarik senjatanya. Bahkan langsung bergerak mendesak dengan serangan kapaknya yang cukup gencar!
Crak! "Eeeh...!"
Ketua Padepokan Kapak Sakti ini jadi terkejut setengah mati. Dan dengan cepat dia melompat mundur sejauh tiga batang tombak. Tangannya yang memegang gagang kapak terasa kesemutan. Sementara, perut lawan yang dihantam dengan kapaknya sedikit pun tidak mengalami akibat apa-apa.
"Bangsat! Ternyata dia kebal senjata tajam!" laki-laki renta itu memaki panjang pendek.
Namun Ki Bagas Salaya tidak punya kesem-patan lagi untuk berpikir lebih jauh. Karena pada saat itu, Batu Kumbara disertai teriakan melengking tinggi sudah menerjang ke depan. Sementara, kedua matanya yang memerah laksana bara sudah berkedip.
Lagi-lagi, dua leret sinar merah menerjang ke arah Ketua Padepokan Kapak Sakti. Namun Ki Bagas Salaya yang telah mempunyai segudang pengalaman di rimba persilatan, bertindak cukup hari-hati. Begitu melihat serangan yang sangat mematikan itu, tubuhnya melompat ke samping kiri sambil menjatuhkan tubuhnya dan terus berguling-guling.
"Manusia keparat! Alot juga kau rupanya!" teriak Batu Kumbara, geram bukan main.
Kemudian tubuh Batu Kumbara melesat ke depan melepaskan satu pukulan jarak jauh. Seketika seleret sinar hitam yang menebarkan hawa dingin membekukan kembali melabrak Ketua Padepokan Kapak Sakti.
Ki Bagas Salaya terkesiap. Segera kapak di tangannya dikebutkan sambil melepaskan satu pukulan tangan kosong.
Langkah Batu Kumbara tersurut. Sementara pukulan yang dilepaskannya terus melesat, mene-barkan hawa dingin membekukan. Pada saat yang sama pukulan 'Inti Surya' yang dilepaskan Ki Bagas Salaya meluncur deras. Dan...
Glar! Blar! Dentuman-dentuman dahsyat terdengar begitu dua pukulan itu beradu. Baik Batu Kumbara maupun Ki Bagas Salaya sama-sama terpelanting roboh. Tapi, rupanya bagi Batu Kumbara hal ini tidak membawa akibat apa-apa.
Lain halnya yang terjadi terhadap Ketua padepokan Kapak Sakti ini. Dada Ki Bagas Selaya se-perti mau pecah. Dari mulut serta hidungnya me-ngucur darah kental yang sangat banyak.
Dengan tertatih-tatih, Ki Bagas Salaya beru-saha bangkit berdiri, kendati terhuyung-huyung. Wajahnya yang pucat tampaknya sudah tidak di-hiraukan lagi.
Melihat keadaan lawannya, Batu Kumbara me-nyeringai kejam.
"Ajal bagimu sudah hampir tiba, Kakek Renta! Seperti apa yang kukatakan pertama tadi, sekarang bersiap-siaplah menyongsong ajal!" desis Manusia Bangkai.
Ki Bagas Salaya sama sekali tidak menyahut. Saat itu, mata iblis Batu Kumbara telah berkedip. Sekali ini, tampak cahaya terang menyilaukan mata menderu ke arah Ketua Padepokan Kapak Sake. Akibat luka dalam yang cukup parah, rupanya Ki Bagas Salaya merasa tidak mampu menghindari serangan yang sangat mematikan itu. Sehingga, hanya mampu memutar senjata di tangannya untuk melindungi diri.
Wus! "Heaaa...!"
Kapak berbentuk pipih itu menderu, menim-bulkan sinar putih bergulung-gulung menyilaukan mata. Pada saat itu, sinar merah membara yang melesat dari kedua mata Batu Kumbara langsung menghantam pertahanan Ki Bagas Salaya.
Glar! Terjadi benturan yang sangat hebat. Ki Bagas Salaya langsung menjerit sambil melepaskan kapaknya yang meleleh seperti air. Tubuhnya terpelanting roboh. Sekujur tubuhnya. tampak melepuh, bagai tersiram air panas. Sambil mengerang kesakitan, dilepaskannya pukulan terakhir ke arah Batu Kumbara yang sedang bergerak mendekati.
"Manusia setan!" teriak Batu Kumbara ketika melihat datangnya sinar putih mengancam ke arahnya.
Batu Kumbara kembali mengedipkan matanya. Sehingga, kembali meluncur sinar hitam. Akibatnya, pukulan yang dilepaskan Ki Bagas Salaya langsung berbalik. Bahkan langsung menghantam Ketua Padepokan Kapak Sakti itu.
"Aaa...!"
Terdengar suara teriakan yang menyayat hati. Tubuh Ketua Padepokan Kapak Sakti ini ambruk, dan tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lama-nya.
"Ha ha ha...! Mampus juga akhirnya orang-orang tidak berguna sepertimu! Rasa sakit hati ini belum terbalas, selama aku belum membasmi Padepokan Golok Perak. Dananjaya adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam penderitaan yang kualami selama ini! Tunggu.... Aku akan mencabut nyawa kalian!" teriak Batu Kumbara. melengking tinggi. Kemudian tubuhnya berkelebat ke satu arah tanpa menghiraukan mayat-mayat yang bergelimpangan.
? *** ? "Hiya! Hiyaaa...!"
Rangga menggebah kudanya melewati jalan berbatu yang membentang di depannya. Sementara di belakangnya, duduk seorang gadis cantik bertahi lalat di dagu. Gadis berbaju kuning gading ini, tidak lain dari Dewi Palasari, Ketua Padepokan Merak Emas.
"Kita sudah hampir sampai, Kakang! Rumah di atas bukit itu adalah Padepokan Kapak Sakti!" jelas Dewi Palasari sambil memegangi pinggang Rangga.
"Hm...!" gumam Rangga tidak jelas.
Mata Pendekar Rajawali Sakti menyipit. Ada rasa heran terpancar lewat tatapan matanya. Semakin mendekati bangunan yang terbuat dari kayu jati berukir indah itu, maka keheranan di hati Rangga semakin bertambah besar.
"Tampaknya, ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi di sini!" kata Rangga, pelan suaranya.
"Apa maksud Kakang?" tanya Dewi Palasari, tidak mengerti.
"Lihatlah di sana!"
Rangga menunjuk ke satu tempat.
"Hooop...!"
Rangga menarik tali kekang, membuat kuda itu meringkik keras. Pemuda berompi putih ini menepuk-nepuk punggung Dewa Bayu.
"Tenang-tenanglah kau di sini, Dewa Bayu!" ujar Rangga.
Rangga dan Dewi Palasari melompat dari punggung Dewa Bayu. Tidak lama kemudian, mereka sudah berlari-lari kecil mendekati bangunan besar itu.
"Sepi...!" desah Dewi Palasari. Pandangannya beredar ke sekeliling.
"Kakang! Telah terjadi pembantaian di sini!" kata Dewi Palasari dengan perasaan gelisah.
"Gila! Tidak seorang pun murid padepokan Kapak Sakti yang tersisa. Melihat luka-lukanya, pastilah semua ini hasil perbuatan Manusia Bangkai!" dengus Rangga, menggeram marah. Wajahnya berubah merah, dengan geraham bergemelutuk. Kemudian kepalanya menoleh pada Dewi Palasari yang sibuk memeriksa mayat-mayat yang bergelimpangan itu. "Apakah kau dapat memastikan bahwa ketua padepokan ini ada di antara mereka?"
"Tunggu, Kakang! Aku sedang berusaha menelitinya," sahut Ketua Padepokan Merak Emas sambil terus memeriksa mayat-mayat itu satu per satu.
Sampai di satu tempat yang agak terpisah, Dewi Palasari memperhatikan keadaan satu sosok di depannya lebih teliti lagi.
"Aku telah menemukannya, Kakang!" teriak gadis itu dengan suara bergetar.
Dengan tergesa-gesa, Rangga datang meng-hampiri. Dia berdiri tegak di samping Dewi Palasari.
"Keadaannya jauh lebih mengenaskan bila di-bandingkan mayat-mayat lainnya. Dugaanmu ter-bukti. Tanpa sengaja, aku telah memberi kesempatan pada manusia iblis itu menebar kematian di mana-mana," desah Rangga menyesali.
"Jangan berkecil hati, Kakang! Masih ada kesempatan bagi kita untuk menghancurkan Manusia Bangkai di puncak Gunung Kelud!"
"Ya.... Kata-katamu memang benar. Tapi, kurasa korban akan berjatuhan lagi."
"Memang! Hanya, kita tidak punya kesempatan untuk melakukan pengejaran. Di sini tidak ada seorang pun, selain kita berdua. Kita harus menguburkan mayat-mayat ini secara layak!"
Rangga terdiam untuk beberapa saat. Tam-paknya, ada sesuatu yang sangat merisaukan hatinya.
"Dewi!" suara Rangga hampir tidak terdengar.
?Dewi Palasari menoleh.
"Ada apa, Kakang?"
"Batu Kumbara membunuh ketua dan seluruh murid Padepokan Kapak Sakti ini. Menurutmu, apakah di antara mereka ada persoalan tertentu?"
Dewi Palasari yang mengetahui banyak tentang peristiwa hukuman yang dijatuhkan orang-orang persilatan terhadap manusia iblis ini, tanpa ragu segera menjawab.
"Memang benar, Kakang. Tiga tahun yang lalu, Bagas Salaya termasuk salah satu tokoh yang ikut menentukan pilihan terhadap hukuman yang pantas dijalani Batu Kumbara...."
"Pantas!" kata Rangga, baru mengerti duduk persoalan yang sebenarnya.
"Selain itu, masih ada satu tokoh lagi yang paling bertanggung jawab. Dia adalah Ketua Padepokan Golok Perak yang bernama Ki Dananjaya. Bahkan dia pula yang mengepalai rombongan, dan menyeret Batu Kumbara ke Lembah Batang," jelas gadis berbaju kuning dari bahan sutera ini.
"Hm.... Kalau begitu, korban Manusia Bangkai berikutnya adalah Padepokan Golok Perak! Bagai-mana" Apakah kita harus ke sana atau mengu-burkan mayat-mayat ini?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, seakan minta pendapat.
Dewi Palasari tercenung sejenak.
"Padepokan Golok Perak terletak di daerah Wales. Kita memerlukan waktu sepekan untuk sampai ke sana. Selain itu, kita sudah tidak punya kesempatan untuk kembali ke sini. Kalaupun ada, mayat-mayat mereka sudah telanjur busuk. Atau mungkin, hanya tinggal tulang-belulang saja. Menurutku, alangkah lebih baik jika mengurus mayat-mayat ini lebih dahulu baru setelah itu, kita langsung ke puncak Gunung Kelud!"
Rangga akhirnya mengalah. Mereka dengan mempergunakan peralatan seadanya mulai mela-kukan penggalian.
? *** ? Malam ini suasana di Padepokan Golok Perak tampak sunyi sekali. Murid-murid padepokan tampak duduk-duduk di pendopo depan. Berbeda dengan padepokan lain di seluruh tanah Jawa yang rata-rata memiliki murid cukup banyak, Padepokan Golok Perak yang dipimpin seorang laki-laki setengah baya yang bernama Ki Dananjaya itu, hanya mempunyai murid sebanyak sepuluh orang saja. Dan patut diketahui, walaupun Padepokan Golok Perak memiliki murid tidak begitu banyak, namun dapat diandalkan Rata-rata muridnya memiliki kepandaian tinggi.
"Malam ini udara terasa sangat dingin, Kakang Rahasta!" celetuk salah seorang murid yang sedang berkumpul di ruangan pendopo.
"Memang tampaknya demikian, Durutama. Pa-dahal, sudah lama sekali tidak turun hujan," sahut orang yang dipanggil Rahasta.
Kemudian ruangan berubah menjadi sunyi kembali. Namun di lain saat, mereka saling berpandangan. Ada keheranan menyelinap di hati masing-masing.
"Apakah Kakang mencium bau sesuatu?" ta-nya pemuda bernama Durutama, pada Rahasta yang duduk tidak jauh di depannya.
"Bau busuknya bangkai!" desis Rahasta sambil mengendus-endus.
Bau busuk yang tercium semakin lama semakin kuat. Terlebih-lebih ketika angin, dari arah utara berhembus kencang.
"Aneh! Padahal di sekitar sini tidak ada bina-tang atau ayam mati..!" desis Durutama.
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya, Durutama?" tanya Rahasta sambil memandang tajam pada adik seperguruannya dengan tatapan penuh selidik.
"Siang tadi, aku keliling kebun. Dan aku tidak menemukan bangkai apa pun."
Rahasta yang merupakan murid tertua merasa curiga. Sekejap kemudian, dia sudah bangkit berdiri. Matanya memandang ke arah kegelapan malam yang sunyi. Setelah itu, dia melompat dari ruangan pendopo.
Sementara itu, dari bawah pohon tampak sepasang mata berkilat-kilat tajam mengawasi gerak-gerik Rahasta. Bibirnya yang rusak menyunggingkan seulas senyum mengejek. Sementara, matanya tampak berbinar-binar liar bercampur dendam.
"Hiruplah napas sepuas kalian. Sebentar lagi, Padepokan Golok Perak hanya tinggal nama saja!" dengus orang itu sambil meludah ke tanah.
Suara mendesah tadi ternyata sempat terdengar oleh murid murid Padepokan Golok Perak ini.
"Eeeh! Apakah kalian mendengar sesuatu?" tanya Rahasta, curiga.
"Seperti orang meludah, Kakang!" sahut yang lainnya.
Mereka mulai ikut-ikutan turun dari pendopo, kemudian menyapu pandang ke sekelilingnya.
"Nyalakan api!" perintah Durutama pada salah seorang saudara seperguruan yang berdiri tegak tidak jauh di sampingnya.
Pemuda itu langsung menghampiri sebuah obor, kemudian menyerahkan obor yang telah me-nyala pada Durutama.
Pada saat itulah terdengar suara tawa tinggi melengking yang terasa mengguncangkan gendang telinga. Murid-murid Padepokan Golok Perak terkesiap. Mereka segera mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi diri dari pengaruh suara tawa.
"Ha ha ha...! Kalian semuanya memang memiliki pendengaran yang tajam. Tidak salah jika kalian menjadi anjing-anjing yang bakal menghuni lubang kubur!"
Belum lagi lenyap gema suara yang sangat menyeramkan, tiba-tiba dan kegelapan malam melesat sosok tubuh bertelanjang dada. Sekujur tubuhnya yang dalam keadaan rusak dan dipenuhi luka, membuat penampilannya semakin bertambah angker!
"Batu Kumbara!" desis Rahasta.
Beberapa hari belakangan, Rahasta memang telah mengetahui kalau laki-laki yang menjalani hukuman di Lembah Batang ini dapat meloloskan diri. Bahkan dia sendiri yang menemukan mayat adik seperguruannya di tempat itu dalam keadaan rusak.
"Hm. Rupanya, matamu lebih awas dan me-ngenali siapa aku, Rahasta?" dengus Manusia Bangkai sambil menyeringai lebar.
"Siapa yang tidak kenal manusia busuk durjana sepertimu" Setan-setan kuburan pun pasti mengenalmu!" bentak murid tertua Padepokan Golok Perak ini, berang.
? *** ? 6 ? Sepasang mata Batu Kumbara tampak berubah bengis. Dipandanginya Rahasta tanpa berkedip sedikit pun. Seingatnya, pemuda yang satu ini dulu sering bergantian dengan Sapta Renggi dalam melihat keadaannya di Lembah Batang. Dan Rahasta juga pernah melukai kulit dadanya, kemudian menyiram luka yang dideritanya lengan air jeruk nipis hingga menimbulkan rasa perih yang menusuk. Mengingat itu, tiba tiba Manusia Bangkai ini menggeram marah.
"Kau...!" Batu Kumbara menunjuk Rahasta. "Dulu kau juga pernah ikut menyiksaku. Tahukah kau, apa yang akan kulakukan padamu?"
"Setelah melihat kematian adik seperguruan kami Sapta Renggi, tentu saja aku tahu pa tujuanmu kemari. Tapi, ingat! Waktu itu aku hanya menjalankan perintah. Jika kau kini ingin membalas dendam, apakah dikira aku takut padamu?" kata Rahasta tanpa mengenal rasa gentar sedikit pun.
"Ha ha ha...! Kalau kepandaianmu hanya se-tahi kuku, jangan sekali-kali jual lagak di depanku! Rasakanlah...!" teriak Batu Kumbara.
Tubuh Manusia Bangkai laksana kilat melesat ke depan sambil melepaskan satu jotosan meng-geledek. Namun di luar dugaan dari arah samping menderu sambaran golok ke arah kaki Batu Kum-bara.
Sambil memaki panjang pendek, Batu Kumbara menarik balik serangannya. Kemudian dilepaskan satu tendangan menggeledek ke arah murid-murid Padepokan Golok Perak. Tendangan yang dilakukan secara beruntun itu disertai pe-ngerahan ilmu 'Iblis Gentayangan' yang dipela-jarinya dari Makhluk Kegelapan.
Seketika angin kencang menderu. Sehingga, membuat sesak dada para pengeroyok. Bahkan tidak lama kemudian, terdengar jerit kesakitan ketika tendangan Batu Kumbara menghantam re-muk dada salah seorang murid.
Melihat kematian saudara seperguruan, yang lain bukan semakin lumer nyalinya. Sebaliknya. sembilan orang lain langsung menyerbu dengan senjata terhunus. Secara serentak, mereka segera mempergunakan jurus 'Mengusir Awan Kelabu'.
Bukan main hebat dan cepatnya serangan yang dilakukan murid-murid Padepokan Golok Perak ini. Sehingga hanya dalam waktu sangat singkat, pertarungan seru pun terjadi.
Tapi Batu Kumbara tidak bisa dianggap enteng Dengan mempergunakan jurus tangan kosong 'Menipu Para Dewa', sambaran golok lawan lawannya selalu dapat dihindari. Walaupun begitu, dia harus bertindak sangat hati-hati. Karena di antara sekian banyak serangan yang menggempur pertahanan tubuhnya, serangan Rahasta dan Durutama perlu diperhatikan.
Setelah memasuki jurus yang kedua puluh, Batu Kumbara mulai kelihatan terdesak. Bahkan golok di tangan Durutama beberapa kali menghantam bagian tubuhnya. Sebaliknya, tendangan yang dilancarkan Rahasta secara berturut-turut menghantam perutnya.
Namun, tidak urung murid Padepokan Golok Perak dibuat terkejut, ketika melihat kenyataan yang membelalakkan mata. Ternyata Manusia Bangkai selain kebal terhadap pukulan, juga kebal terhadap serangan senjata tajam.
"Gila! Orang ini benar-benar mengalami pe-rubahan luar biasa. Dengan siapakah dia berguru?" kata Rahasta dalam hati.
Dengan penasaran, murid tertua Padepokan Golok Perak ini menghantamkan goloknya ke bagian kepala Batu Kumbara Serangan yang dilakukannya bukan serangan biasa, karena tiga perempat tenaga dalam yang dimilikinya dikerahkan.
Crak! Namun yang terjadi justru sebaliknya, Rahasta malah terhuyung-huyung. Golok di tangannya nyaris terlepas. Sementara itu, bagian tangannya terasa sakit berdenyut-denyut.
Sementara dalam waktu yang bersamaan, ter dengar pula jerit kematian di sana sini. Korban di pihak Padepokan Golok Perak terus berjatuhan Kenyataan ini membuat Rahasta dan Durutama semakin bertambah berang.
Kedua pemuda ini melompat mundur. Sedangkan Batu Kumbara tertawa tergelak-gelak. Dan dia terus menyerbu ke arah adik seperguruan Rahasta yang hanya tinggal bersisa empat orang lagi. Memang, apa yang diucapkan Manusia Bangkai segera menjadi kenyataan. Ketika melepaskan pukulan 'Langkah Sang Iblis', dua murid padepokan itu jatuh terjengkang meregang ajal.
"Manusia terkutuk!" teriak Durutama, melihat kematian adik seperguruannya yang sangat mengenaskan.
Kini Durutama telah bersiap-siap melepaskan pukulan 'Halilintar' ke arah Batu Kumbara. Dan ketika tangan yang telah teraliri tenaga dalam berkilat, seleret sinar berwarna putih dan kuning menderu ke arah Batu Kumbara.
Namun laki-laki bertampang angker ini hanya tersenyum mengejek. Lalu dengan gerakan sangat cepat tangannya dilambaikan menyongsong pukulan yang dilepaskan Durutama.
Glar! "Wuagkh...!"
Durutama kontan jatuh terguling-gulingan begitu pukulan jarak jauhnya membentur papakan Manusia Bangkai. Sebaliknya Batu Kumbara hanya tergetar saja tubuhnya. Scdangkan dari mulut Durutama mengucur darah segar, merupakan satu tanda kalau menderita luka dalam yang tidak ringan.
Melihat kenyataan yang dialami Durutama, tentu saja Rahasta tidak dapat tinggal diam. Segera dilepaskannya pukulan 'Halilintar' ketika melihat Batu Kumbara bersiap-siap ingin mengakhiri kehidupan saudara seperguruannya.
Pukulan yang dilepaskan dari arah samping ini, tidak dapat lagi dihindari Manusia Bangkai. Dengan telak, pukulan itu pun menghantam punggung Batu Kumbara. Tubuhnya langsung jatuh terjengkang. Punggungnya terasa panas bagai terbakar. Tapi anehnya, tidak membawa akibat apa-apa bagi Batu Kumbara. Malah ketika bangkit dan berbalik, sepasang matanya telah berubah merah membara.
Rahasta terkesiap! Mata Batu Kumbara mendadak berkedip. Maka sinar merah menghanguskan langsung meluruk ke arah tubuh Rahasta. Begitu cepat serangan itu, membuat Rahasta tak bisa berbuat apa apa.
Blar! "Hugkh...!"
Rahasta jatuh terhempas, begitu tubuhnya terhantam sinar merah dari mata Batu Kumbara. Sekujur tubuhnya tampak melepuh seperti orang yang menderita luka bakar. Dia berusaha bangkit berdiri. Tapi rasa sakit di dadanya sudah tidak tertahankan lagi.
Sementara itu, Batu Kumbara sudah bersiap-siap mengedipkan matanya ke arah Rahasta dan Durutama sekaligus. Sedangkan kedua pemuda yang menderita luka cukup parah ini, dengan si-sa-sisa tenaga yang dimiliki berusaha menghindari sinar merah yang melesat dari mata Batu Kumbara. Tapi, gerakan mereka tampaknya sangat lamban.
"Matilah kalian!" desis Batu Kumbara.
Durutama dan Rahasta salmg berpandangan. Mereka sudah merasa tidak punya kesempatan lagi untuk menyelamatkan diri. Namun dalam saat-saat yang sangat menegangkan, dari bagian depan ruangan pendopo terdengar bentakan yang disertai melesatnya cahaya kuning dan putih menyilaukan mata.
Batu Kumbara tersentak kaget ketika sinar yang melesat dari arah bagian pendopo itu memotong jalannya sinar yang keluar dari kedua matanya.
Glar! Glar! Dua kali ledakan dahsyat terdengar. Tanah tempat mereka berpijak seperti dilanda gempa. Debu dan pasir beterbangan, sehingga membuat suasana di sekitarnya semakin bertambah gelap.
Tidak lama setelah keadaan di sekitarnya telah berubah seperti biasa kembali, tidak jauh di depan Manusia Bangkai berdiri seorang laki-laki setengah baya. Pakaiannya merah darah. Wajahnya lonjong. Tatapan matanya memancarkan kewibawaan. Di bagian pinggang laki-laki berkumis dan berjenggot panjang ini tersandang sebilah golok besar.
"Malam-malam begini manusia iblis sepertimu mengacau kediaman orang lain! Dan..., heh"! Rupanya kau telah membunuh delapan orang mu-hdku?" desah laki-laki berbaju merah yang tidak lain Ketua Padepokan Golok Perak.
Batu Kumbara tertawa mengekeh.
"Pandanglah baik-baik wajahku yang rusak ini, Dananjaya"!" kata Batu Kumbara sengit. "Kawanmu Bagas Salaya telah kukirim ke neraka bersama seluruh muridnya. Apakah kau sudah mendengar kabar ini?"
Laki-laki bernama Ki Dananjaya ini jelas-jelas sangat terkejut. Kalau tidak melihat sendiri apa yang dilakukan oleh laki-laki yang berdiri di hadapannya ini terhadap murid-muridnya, tentu tidak akan percaya.
Bagaimana tidak" Ki Bagas Salaya sahabatnya adalah seorang tokoh golongan putih yang memiliki kepandaian tinggi. Dia sangat disegani kawan maupun lawan, karena kehebatannya dalam mempergunakan kapak senjata andalannya. Jika manusia setan yang hampir mencelakakan Durutama dan Rahasta ini mampu membunuhnya, maka sama artinya laki-laki bertampang angker itu memiliki ilmu kepandaian yang sangat sulit dijajaki.
"Siapa kau, Kisanak?" tanya Ki Dananjaya. Suaranya jelas-jelas mengandung teguran.
"Ha ha ha...! Apakah kau benar-benar sudah tidak dapat mengenaliku lagi, Dananjaya" Apakah kau juga lupa dengan apa yang kau lakukan pada seseorang tiga tahun yang lalu?"
Ketua Padepokan Golok Perak tampak ter-kejut. Sampai-sampai, kakinya tersurut mundur sejauh dua langkah. Siapa yang tidak ingat kejadian di Lembah Batang, di mana seorang laki-laki durjana menjalani hukuman atas keputusannya, dan juga keputusan kalangan persilatan"
"Hm... Jadi kau orangnya yang telah man-bunuh muridku dan juga kawan-kawanku. Batu Kumbara... Hukumanmu memang sepatutnya kau terima. Kejahatanmu setinggi langit, sampai tembus ke bumi. Sangat wajar bila hal itu harus terjadi padamu!" sahut Ki Dananjaya.
"Keparat! Seenaknya kau bicara! Kau tidak pernah merasakan betapa pedihnya terpanggang di panas matahari. Kau juga tidak pernah merasakan betapa dinginnya angin malam!"
"Lalu, apa yang kau inginkan?" tanya Ki Dananjaya, tersenyum dingin.
"Yang kuinginkan sudah sangat jelas, Dananjaya. Aku menghendaki nyawamu!" sentak Batu Kumbara berapi-api.
"Hm.... Nyawaku hanya nyawa titipan Tuhan. Jika kau menghendakinya, aku harus minta izin pada Tuhan!"
"Jangan banyak cingcong! Heaaa...!"
Batu Kumbara tiba-tiba membuat salto ke depan. Gerakannya sangat cepat dan tidak dapat terduga. Di lain kejab, dia telah sampai persis di depan Ki Dananjaya. Langsung tinjunya dihantamkan ke dada Ki Dananjaya.
Namun dengan gesit Ki Dananjaya, menepis. Sehingga, benturan tenaga dalam pun tidak dapat dihindari lagi.
Plak! Batu Kumbara tersurut mundur. Sebaliknya, Ki Dananjaya tampak tergetar tubuhnya. Ujung-ujung jemari tangannya terasa sakit seperti ditusuk-tusuk jarum.
*** ? "Hiyaaa...!" teriak Batu Kumbara, langsung menerjang ke depan.
Laki-laki yang telah dirasuki dendam kesumat ini tak ingin lagi membuang-buang waktu lebih lama. Langsung dikerahkannya jurus 'Menipu Para Dewa' yang sangat hebat itu. Dengan gencar, dilancarkannya serangan ke arah Ki Dananjaya.
Tapi walau bagaimanapun, Ki Dananjaya adalah seorang tokoh persilatan yang telah memiliki banyak pengalaman. Sehingga untuk menjatuhkannya, tidak mudah bagi Batu Kumbara. Maka tidak dapat dihindari lagi, pertarungan pun berlangsung seru dan seimbang.
"Heaaa...!"
Sambil berteriak melengking tinggi, Ki Dananjaya, mengerahkan jurus 'Mengusir Awan Kelabu'. Karena jurus ini dimainkan penciptanya, maka tidak dapat disangkal akan sangat berbahaya karena mengandung tipu daya yang sangat memarikan.
"Hup!"
"Hap...!"
Tidak kalah sengitnya, Batu Kumbara mem-balas serangan-serangan gencar Ki Dananjaya. Tapi setiap serangan Manusia Bangkai ini selalu kandas, sebelum sampai sasarannya. Bahkan setelah Ki Dananjaya mengeluarkan golok pusakanya, pertempuran pun menjadi berat sebelah. Beberapa kali golok di tangan laki-laki itu menghantam dada dan perut Batu Kumbara. Tapi, tidak satu pun tebasan golok yang mengenai sasarannya mampu menembus tubuh Manusia Bangkai ini.
"Manusia iblis itu kebal terhadap senjata tajam. Guru!" teriak Durutama memberi peringatan.
"Muridku, benar. Jika aku tidak dapat mene-mukan titik kelemahannya, bukan tidak mungkin akan menerima nasib konyol seperti yang dialami Ki Bagas Salaya sahabatku!" kata batin Ki Danan jaya.
"Manusia busuk! Jika kau punya senjata dan pukulan yang diandalkan, cepat-cepat keluarkan!" teriak Batu Kumbara.
Sepasang mata laki-laki iblis ini sekarang telah berubah memerah. Dengan geram mata iblis dikedipkan ke arah Rahasta dan Durutama yang masih terbaring di tempatnya semula.
Seketika seleret sinar merah laksana bara datang ke arah kedua murid Padepokan Golok Perak disertai suara menggemuruh. Ki Dananjaya yang baru saja mengerahkan tenaga dalam ke bagian telapak tangannya, sudah tidak sempat mencegah sinar merah yang meluruk ke arah murid-muridnya, kecuali teriakan peringatan.
"Awaaas...!"
Glar! Glarrr...!
Terlambat sudah. Sinar merah yang melesat dari kedua bola mata Batu Kumbara telah telak sekali menghantam Rahasta dan Durutama.
"Aaa...!"
Dalam waktu bersamaan, terdengar jeritan menyayat. Tubuh Rahasta dan Durutama tumpang tindih dalam keadaan hangus menyedihkan. Tercium bau daging busuk terbakar. Melihat keadaan murid-muridnya yang sangat mengenaskan ini, Ki Dananjaya tampak menggerung-gerung seperti harimau terluka.
"Ka..., kau telah membunuhnya?" jerit Ki Dananjaya sambil melepaskan pukulan dahsyat ke arah Batu Kumbara.
Kembali seleret sinar berwarna putih dan ku-ning menderu dahsyat ke arah Batu Kumbara. Namun, laki-laki ini malah tertawa. Kemudian matanya dikedipkan berturut-turut.
Wus! Wer! Dua leret sinar meluruk seperti saling berlom-ba-lomba, menyongsong datangnya sinar lain. Suasana di sekitar pertempuran berubah terang benderang. Kemudian, terdengar dentuman yang sangat menyakitkan gendang telinga.
"Wuagkh...!"
Baik Ki Dananjaya maupun Batu Kumbara sendiri sama-sama menjerit kesakitan. Tubuh mereka terlempar sejauh tiga batang tombak. Dari mulut Batu Kumbara mengalir darah kental. Demikian juga yang terjadi terhadap Ki Dananjaya.
Tanpa menghiraukan luka dalam yang diderita, Ki Dananjaya bangkit berdiri. Dan dengan golok terangkat tinggi-tinggi di tangan, tubuhnya meluruk memburu ke arah Batu Kumbara yang baru saja berusaha bangkit berdiri.
"Matilah kau...!" teriak Ketua Padepokan Golok Perak itu, keras.
Crok! Golok pusaka di tangan Ki Dananjaya kontan terpental dan entah jatuh ke mana, begitu meng-hantam Manusia Bangkai itu. Sebaliknya Baru Kumbara yang hanya berpura-pura sempat mengirimkan tendangan 'Iblis Gentayangan' ke perut Ketua Padepokan Golok Perak ini.
Des! Des! Ki Dananjaya jatuh terjungkal. Pada saat itu pula, Batu Kumbara kembali mengedipkan matanya. Maka dua leret sinar merah terang benderang meluruk menghantam Ki Dananjaya. Ketua Padepokan Golok Perak itu tak sempat mengelak lagi. Jiwanya melayang seketika itu juga.
Batu Kumbara alias Manusia Bangkai terse-nyum puas. Diinjaknya tubuh yang sudah tak bernyawa dalam keadaan hangus.
Hampir semua orang yang membuatku seng-sara, telah menebus kesalahannya. Tapi", aku Manusia Bangkai tidak akan berhenti sampai di sini saja. Beberapa hari lagi, akan ada pertandingan partai persilatan golongan putih untuk menggantikan pimpinan yang lama. Hm" Jika selama bertahun-tahun kebiasaan seperti itu berlangsung aman-aman saja, maka jangan harap kali ini! Puncak Gunung Kelud akan bersimbah darah!"
? *** ? Panas terik yang menyengat tidak dihiraukan seorang laki-laki tua yang terus berjalan menuju ke arah timur. Sesekali tongkat hitam di tangannya bergerak ke depan. Dan mendadak, langkahnya terhenti. Wajahnya yang kemerah-merahan, mendongak ke langit. Matanya yang keselunihan berwarna putih tampak berkeriapan.
"Aha" Duniaku gelap sekali. Sejak dulu hing-ga sekarang, tidak pernah kulihat di mana matahari. Tapi..., aku telah merasakan kehadirannya. Terasa panas menyengat. Orang-orang kalap berlari kencang seperti setan. Cepat atau lambat, pasti akan sampai di puncak Gunung Kelud. Kulihat dia kebal senjata dan pukulan. Tapi bukan berarti kekebalan tidak ada titik kelemahannya!" gumam kakek buta yang tidak lain Peramal Tuna Netra.
Sementara itu, di kejauhan terdengar suara derap langkah kaki kuda. Semakin lama, semakin mendekati Peramal Tuna Netra.
"Kuda dengan penunggangnya Dua orang! Tega-teganya orang itu berbuat begitu?"
Kenyataannya, memang saat ini tampak seekor kuda berbulu hitam sedang berlarian cepat ke arahnya. Penunggangnya, yang satu seorang pemuda berompi putih. Sedangkan di belakangnya duduk membonceng seorang gadis cantik berpakaian ringkas warna kuning.
Jika Peramal Tuna Netra yang buta dapat me-mastikan tanpa melihat berapa orang yang duduk di atas punggung kuda, ini merupakan satu tanda kalau pendengarannya sangat tajam.
Tidak lama, terdengar ringkikan di belakang Peramal Tuna Netra yang bernama asli Ki Kambaya.
"Peramal Tuna Netra!" sapa pemuda berbaju rompi putih itu.
Ki Kambaya memutar tubuhnya Keningnya berkerut dalam.
"Kau Rangga, bukan?"
"Benar, Ki...!" sahut pemuda yang memang Rangga kalem. Sedangkan gadis yang tak lain Dewi Palasari hanya memandang terkejut. Karena tanpa melihat, kakek itu mampu menebak siapa yang datang.
"Kudengar kudamu mendengus-dengus seperti akan mati! Apakah gadis yang duduk di belakang-mu Ketua Padepokan Merak Emas?" tanya Ki Kambaya.
Kembali Dewi Palasari dibuat terkejut! Bahkan Rangga pun sampai memuji dalam hati terhadap kepandaian Peramal Tuna Netra.
? *** ? Kembali ke Bagian 1-3
? Selanjutnya Bagian 7-8 (selesai)
Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 . 149. TEROR MANUSIA BANGKAI Bagian 7-8 (selesai)
14. Dezember 2014 um 07:31
7 ? Rangga dan Dewi Palasari saling berpandang-an.
"Hei" Mengapa kalian diam semuanya" Coba katakan! Apakah gadis yang bersamamu itu Dewi Palasari, Ketua Padepokan Merak Emas, Rangga...?" Peramal Tuna Netra mengulangi pertanyaannya.
"Benar, Ki...!" sahut Rangga.
"Korban berjatuhan sudah semakin banyak Tapi, kalian malah hanya berdua-duaan saja."
Wajah Dewi Palasari bersemu merah.
"Maafkan kami, Kakek Peramal. Bukannya ka-mi membawa maksud buruk. Pendekar Rajawali Sakti telah menolongku dari rasa malu, dan mem-bebaskan dari kematian. Bukankah semua itu atas perintah Kakek..?" sahut Dewi Palasari dengan wajah bersemu merah dadu.
"Ha ha ha! Memang benar! Tapi, tindakan kalian terlalu lama untuk menghentikan manusia durjana itu!"
"Dia kebal terhadap senjata dan pukulan, Ki. Apakah sebagai seorang peramal, kau tidak dapat mengetahuinya?" Rangga membela diri.
"Tentu saja aku tahu! Untuk itulah aku me-nunggu kalian di sini," ujar Peramal Tuna Netra kalem.
"Menurutmu, apakah kekebalan Manusia Bangkai tidak ada titik kelemahannya, Ki...?"
Peramal Tuna Netra tertawa aneh.
"Jika semua orang yang hidup ini mengalami mati, maka setiap kekebalan pasti ada titik kele-mahannya. Menusia Bangkai memiliki sumber ke-kuatan di bagian matanya. Menurut penglihatanku, titik kelemahannya juga ada di situ," jelas Ki Kambaya.
"Jika dapat menghancurkan matanya, maka kita dapat membunuhnya, Ki...?" Rangga menduga-duga.
"Betul.... Betul sekali...! Sekarang jangan banyak Tanya. Sudah saatnya kita berangkat!"
"Ki...!"


Pendekar Rajawali Sakti 149 Teror Manusia Bangkai di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Suara Rangga tertahan. Namun Peramal Tuna Netra telah berkelebat lenyap dari depan mereka. Pendekar Rajawali Sakti hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.
"Sungguh orang tua aneh, tapi menakjubkan!" desah Dewi Palasari kagum.
? *** Ketika Peramal Tuna Netra tiba, lereng Gunung Kelud, telah dipenuhi para pendatang yang berasal dari berbagai padepokan di tanah Jawa. Sebuah arena yang cukup besar sebagaimana biasanya telah disediakan.
Ketua Padepokan Naga Merah yang selama empat tahun ini memimpin seluruh partai aliran putih di seluruh tanah Jawa, hadir bersama enam orang muridnya. Terlihat pula seorang laki-laki berbadan jangkung dengan baju warna hitam. Laki-laki setengah baya berkapala botak ini datang mewakili Partai Giling Wesi, bersama dua puluh orang muridnya. Di samping itu ada lagi enam partai kecil lainnya. Dan mereka semua datang sebagai peninjau.
Di antara mereka yang hadir, ada tiga padepokan lagi yang belum kelihatan batang hidungnya. Mereka adalah Padepokan Merak Emas, Padepokan Golok Perak, dan juga Padepokan Kapak Sakti.
Ketua Padepokan Naga Merah yang bernama Daeng Saka tampaknya menjadi resah ketika melihat ketidakhadiran mereka ini. Bagaimanapun. Ki Bagas Salaya, Ki Dananjaya, dan Dewi Palasari masih merupakan sahabat-sahabatnya. Jika mereka tidak hadir di situ, bisa diduga ada halangan yang sangat berarti.
"Kudengar-dengar manusia iblis Batu Kumbara telah berhasil meloloskan diri dari Lembah Batang.
Ah...! Kuharap saja ketiga sahabatku itu tidak mengalami nasib celaka. Aku jadi khawatir, Manusia Bangkai itu mengacaukan suasana tempat ini...," desah Daeng Saka, cemas.
Karena waktu semakin mendesak dan para hadirin mulai berteriak-teriak pula, akhirnya Daeng Saka naik ke arena tempat mengadu kehebatan masing-masing. Dan kini, suasana di sekelilingnya barubah menjadi tenang.
"Saudara-saudara sekalian!" Daeng Saka me-inulai ucapannya. "Sebagai mana biasa yang terjadi empat tahun sekali, maka di sini kita selalu mengadakan pemilihan ketua partai aliran putih yang baru. Aku sebagai ketua yang lama, telah siap menerima pergantian. Hanya saja yang merisaukan hatiku, sampai acara ini dibuka, tiga padepokan terkuat yang seharusnya ikut ambil bagian penting masih belum hadir. Padahal, selama ini kejadian seperti itu belum pernah terjadi. Maka untuk menunggu kedatangan mereka, alangkah baiknya jika diadakan pertandingan selingan untuk mengisi acara yang kosong!"
Daeng Saka kemudian memberi isyarat kepada salah seorang muridnya, dan juga pada murid Partai Giling Wesi.
Mendapat isyarat itu, kedua murid yang dimaksud segera melompat ke atas arena. Dan mereka langsung menjura hormat pada Daeng Saka.
"Nah, Saudara-saudar sekalian. Kita mulai saja babak pemanasan ini antara muridku Somali, melawan murid Partai Giling Wesi yang bernama Barata...!"
Daeng Saka kemudian mempersilakan kedua pemuda gagah yang masing-masing berbaju hitam dan putih ini saling berhadapan. Sementara, dia sendiri segera meninggalkan arena dan mulai bergabung bersama Ketua Partai Giling Wesi.
Di atas arena, pertandingan pun dimulai Masing-masing murid padepokan mengerahkan jurus-jurus tangan kosong yang menjadi kebanggaan padepokannya. Dan sebagaimana peraturan yang telah ditetapkan, mereka tidak diperkenankan mempergunakan senjata. Jadi, mereka harus saling menyerang mempergunakan jurus-jurus tangan kosong.
"Hiyaaa...!"
"Heaaa...!"
Baik Barata maupun Somali sama-sama mem-bentak. Kemudian tubuh mereka berkelebat, me-lancarkan serangan-serangan ganas ke arah ba-gian bagian terlemah. Somali tampaknya tidak mau kalah. Walau bukan murid tertua, namun Somali memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi. Tak heran kalau dengan gesit serangan-serangan gencar Barata baik yang berupa tendangan kaki maupun jotosan berisi tenaga dalam itu dapat dihindarinya.
Dan Barata sendiri tampaknya menjadi sangat penasaran. Tiba-tiba dia melompat ke belakang sejauh tiga batang tombak. Kaki kanannya ter-angkat ke atas. Sedangkan kedua tangannya me-nyilang di depan dada. Rupanya, Barata saat itu telah bersia-siap mengerahkan jurus 'Besi Baja Membentur Karang'.
Somali dari Padepokan Naga Merah menyadari betapa berbahayanya jurus yang digunakan lawan tandingnya. Sehingga dia pun tidak mau bertindak gegabah. Seketika dipergunakannya jurus 'Mengusir Lalat Menggapai Matahari'.
Wut! Bet! Kedua tangan Somali bergerak lincah. Kaki ka-nan bergerak menggeser geser sedemikian rupa. Sampai kemudian, dia bersalto ke depan. Tangannya yang terpentang, menghantam ke bagian perut dengan kaki depan ditekuk.
"Uph...!"
Barata berkelit. Serangan pertama dapat dihindarinya. Tapi karena kedua tangan Somali seakan mengejar terus, tepaksa dia menangkis.
Splak! Duk! Kedua orang itu sama-sama jatuh terjengkang.
Barata merasa dadanya seperti remuk. Sebaliknya, Somali juga sempat merasakan tangannya seperti membentur batu karang.
Dengan cepat, mereka bangkit berdiri dan kembali saling serang tidak ubahnya bagai dua musuh bebuyutan.
Masih mempergunakan jurus yang sama, kedua pemuda itu memperhebat serangannya. Gerakan mereka sangat lincah dan gesit sekali. Sehingga. para hadirin yang ikut menyaksikan pertarungan berdecak kagum.
? *** ? Pada saat itu, Rangga dan Dewi Palasari yang baru saja sampai di puncak Gunung Kelud segera menghampiri Peramal Tuna Netra yang tampak berdiri tegak tidak jauh dari arena laga.
"Kalian yang berkuda baru sampai rupanya. Aku sendiri yang hanya jalan kaki, sudah sampai di sini sejak pagi. Bahkan sekarang sudah setengah bosan melihat pertarungan laga itu," desah Ki Kambaya sambil mengelus-elus jenggotnya yang panjang.
"Ah! Kakek ini ada-ada saja. Kenapa tidak segera memberitahu ketua Padepokan Naga Merah" Bukankah beliau yang mengatur acara di depan sana?" tanya Dewi Palasari, sambil meman-dang ke arah deretan bangku panjang paling depan, di mana Daeng Saka dan Gempita Soka, Ketua Partai Giling Wesi sedang berbincang-bincang.
"Aku yang buta ini, mana dapat melihat di mana Daeng Saka berada. Lagi pula aku tidak dapat memastikan, apakah Daeng Saka orangnya berkepala botak seperti tuyul, atau tanpa kumis seperti banci!" dengus Ki Kambaya bersungut-sungut.
Pendekar Rajawali Sakti dan Dewi Palasari hanya mampu menahan tawa.
"Semestinya dengan tongkatmu itu, kau dapat menggebuk setiap orang, Ki. Jika orang yang kau gebuk menjerit dan menyebutkan namanya, nah! Berarti kau tidak keliru lagi. Itulah orangnya yang bernama Daeng Saka".!"
"Kalau yang kugebuk mengeluarkan bunyi mencericit?" tanya Peramal Tuna Netra.
'Wah itu sih tikus kurapan," sahut Rangga sambil tertawa.
"Sudah..., sudah... Jangan bercanda lagi. Kita sekarang menghadapi persoalan yang sangat rumit. Lebih baik, kita bicarakan masalah ini dengan ketua partai yang lama,' Dewi Palasari menengahi.
"Silakan kalian bicara. Tapi, aku tetap di sini saja," kata Peramal Tuna Netra bersikeras.
"Memang kenapa, Ki?" tanya Rangga dan Dewi Palasari saling berpandangan. Ada keheranan di mata mereka.
"Aku tidak ingin membicarakan apa-apa. Aku hanya menunggu kehadiran manusia gila itu...!"
"Baiklah, Kek. Kami tidak akan memaksa...."
Dewi Palasari akhirnya mengalah. Tanpa bicara apa-apa lagi, Rangga dan Dewi Palasari berlalu meninggalkan Ki Kambaya.
Dewi Palasari diikuti Rangga, terus berjalan di tengah-tengah tepuk sorak orang-orang yang sedang menyaksikan pertarungan. Sebentar saja mereka sampai di tempat Daeng Saka berada.
"Ketua Padepokan Merak Emas"!" seru Daeng Saka dan Gempita Soka hampir bersamaan, begitu mereka melihat kehadiran Dewi Palasari yang ditemani Pendekar Rajawali Sakti. Tampak kegembiraan di wajah mereka. Lalu mereka memandang Pendekar Rajawali Sakti.
"Siapakah Kisanak ini?" tanya Daeng Saka.
"Dia Pendekar Rajawali Sakti!" jawab Dewi Palasari.
Tampak keterkejutan di mata Daeng Saka dan Gempita Soka. Mereka sering mendengar sepak terjang pendekar gagah ini dalam membasmi golongan hitam. Tapi sungguh tidak disangka hari ini mereka bertemu pendekar sakti itu!
"Kami gembira bertemu denganmu, Pende-kar...!"
"Rangga. Panggil saja namaku begitu!" ujar pemuda berompi putih ini sambil tersenyum ramah.
"Benar Kami sangat senang bertemu dengan-mu, Rangga. Tapi, ada apa pendekar kondang se-pertimu sampai menyempatkan diri menghadiri pemilihan ketua partai aliran putih yang sangat kecil artinya ini?" tanya Gempita Soka, merendah.
"Bukan aku saja yang datang menyempatkan diri kemari. Tapi, juga seorang peramal dari Ung-garan di daerah selatan telah hadir di sini!" tegas Rangga.
Daeng Saka dan Gempita Soka semakin terkejut.
"Peramal Tuna Netra, maksudmu?"
"Benar, Paman Daeng Saka!" jawab Rangga.
Daeng Saka dan Gempita Soka berpaling pada Dewi Palasari, seakan menuntut penjelasan.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Dewi Palasari segera menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Termasuk, kematian Ki Bagas Salaya dan juga Ketua Padepokan Golok Perak beserta murid-muridnya.
"Keparat betul! Rupanya itulah sebabnya, mengapa Ki Bagas Salaya dan Ki Dananjaya tidak muncul kemari" Kiranya Manusia Bangkai telah membunuh mereka secara keji!" dengus Daeng Saka, tampak gusar bukan main.
"Aku bersumpah untuk mencincang Batu Kumbara jika sampai bertemu dengannya!" geram Gempita Soka, tidak kalah gusarnya.
"Sudahlah, Paman berdua. Aku dan Peramal Tuna Netra datang ke sini juga dengan maksud ingin menghentikan sepak terjang Manusia Bangkai Kuharap, Paman dapat menahan diri. Karena, Batu Kumbara ternyata selain sangat sakti, juga kebal terhadap senjata tajam dan pukulan..."
"Eee.... Jadi, bagaimana kita dapat menghan-curkannya jika tidak tahu titik kelemahannya?" Daeng Saka mulai merasa sangsi
"Peramal Tuna Netra sudah menjelaskan pada Pendekar Rajawah Sakti, di mana titik kelemahan Batu Kumbara. Untuk itu, Paman berdua diharap dapat menahan diri!" tegas Dewi Palasari pada sa-habat-sahabatnya.
Baik Daeng Saka maupun Gempita Soka tampak sama-sama terdiam. Mereka maklum, siapa pemuda berompi putih yang berdiri tegak tidak jauh di samping Ketua Padepokan Merak Emas itu.
Pada saat yang sama, di atas arena laga pertarungan antara Barata dan Somali tampak ber-langsung semakin sengit. Kedua-duanya sama-sama menderita luka dalam yang tidak ringan. Kenyataan ini, rupanya sempat dilihat Daeng Saka dan Gempita Soka. Sehingga, mereka sama-sama melambaikan kain putih ke udara.
Baik Barata maupun Somali sama-sama tahu, apa arti lambaian kain putih itu. Sebelum melompat turun dari arena, Somali sempat mendengus sinis.
"Sayang, guru memanggilku. Jika tidak, aku punya kesempatan besar untuk menjatuhkanmu!"
"Kita hanya bertanding! Bukan untuk saling membunuh, tapi untuk mempererat persaudaraan!" desis Barata tidak mau kalah.
"Oh, iya! Aku lupa...!" kata Somali sambil menepuk keningnya beberapa kali. Keduanya lalu melompat turun.
Dari bagian bawah panggung arena, tampak melesat dua sosok tubuh menggantikan Somali dan Barata. Daeng Saka yang sudah mendapat penjelasan dari Pendekar Rajawali Sakti, segera naik pula ke arena. Maka tepuk sorak terdengar riuh kembali.
"Saudara-saudara sekalian. Sekarang sudah tiba waktunya mempertemukan dua murid utama Yang satu Partai Giling Wesi, sedangkan yang lainnya dari Padepokan Naga Merah!" kata Daeng Saka dengan suara keras.
"Tiga partai lainnya sudah mati. Masa' mereka bisa bangkit ikut ambil bagian dalam pertandingan konyol ini. Semua ini pasti akal Pendekar Rajawali Sakti!" celetuk Peramal Tuna Netra yang berdiri pada deretan paling belakang.
"Inilah Kala Demit dari Partai Giling Wesi dan Surya Praga dari Padepokan Naga Merah!" teriak Daeng Saka yang segera disambui tepuk tangan hadirin.
"Ingat! Ini hanya untuk menunjukkan keahlian masing-masing. Bukan untuk saling membunuh!" ujar Kala Demit.
"Beres! Aku sudah tahu peraruran di sini sejak kecil!" Surya Praga menimpali.
"Sialan...!" maki pemuda berwajah muram itu, sambil bersiap-siap melakukan serangan.
Surya Praga segera mengerahkan jurus 'Meng-usir Lalat Menggapai Matahari' pada tingkat lebih tinggi. Sedangkan Kala Demit mengerahkan jurus 'Di bawah Pancuran Menghantam Setan'. Inilah jurus yang paling berbahaya dari Partai Giling Wesi. Sehingga Surya Praga tidak dapat bersikap gegabah dalam menghadapi serangan-serangan gencar lawannya.
"Hiyaaa...!"
Surya Praga menenang ke depan. Satu tendangan menyilang dilancarkannya. Tapi, serangan itu dapat mudah dihindari Kala Demit. Malah setelah menggeser langkahnya ke samping kiri, Kala Demit menghantamkan kaki dan tangannya ke bagian dada dan perut Surya Praga secara beruntun dan cepat bukan main.
Surya Praga mencoba berkelit dengan melompat mundur sejauh satu batang tombak. Maka se-rangan kaki Kala Demit luput. Tapi tangan kanannya terus bergerak menjangkau ke depan. Dan....
Buk! "Wuagkh...!"
Surya Praga berteriak kesakitan. Dari mulutnya menyembur darah kentat. Semua orang yang menyaksikan pertarungan terkesiap. Tapi, tidak seorang pun yang hadir menghentikan pertarungan. Karena, mereka menilai masih dalam batas- batas yang wajar.
Dengan langkah terhuyung-huyung, Surya Praga bangkit berdiri. Kedua rahangnya tampak menggembung. Dia sendiri sesungguhnya merasa heran terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya.
Terpukul atau sampai roboh dalam satu per-tandingan adalah yang sangat biasa. Tapi sekarang, dia menjadi marah" Surya Praga tidak sempat lagi memikirkan keanehan yang terjadi pada dirinya. Satu-satunya yang terlintas dalam pikirannya adalah, bagaimana membunuh lawan tandingnya secepat mungkin!
Sebaliknya, yang terjadi terhadap Kala Demit juga tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Surya Praga. Dia merasa pemuda yang berdiri tegak di depannya bukan lagi sebagai lawan tanding. Tapi, merupakan musuh bebuyutan yang harus dibunuh! Bedanya, Kala Demit masih berusaha menghilangkan pengaruh bisikan-bisikan seseorang yang terus mengacaukan pikirannya.
Kala Demit menggelengkan kepala berulang-ulang. Tapi pengaruh bisikan yang menganjurkan agar mereka saling bunuh, tak juga hilang dari telinganya.
"Keparat! Siapa yang mengacaukan semua ini!" desis Kala Demit.
Rupanya, Surya Praga mendengar makian Kala Demit yang disangka ditujukan pada dirinya. Maka, pemuda ini pun mendengus geram.
"Bangsat! Kau memakiku! Rasakan pembalas-anku!"
Baru selesai Surya Praga berkata seperti itu, tubuhnya telah melesat ke depan menerjang Kala Demit dengan gencarnya.
? *** ? 8 ? Kala Demit terkesiap. Terlebih-lebih, setelah melihat bahwa Surya Praga telah bersiap-siap me-lepaskan pukulan ke arahnya. Maka Kala Demit tidak ingin berlaku ayal-ayalan. Begitu melihat ta-ngan Surya Praga berkelebat ke depan, maka saat itu juga kedua tangannya yang telah teraliri tenaga dalam penuh didorongkan.
Seketika seleret sinar berwarna biru melesat dari telapak tangan Kala Demit. Sebaliknya dari telapak tangan Surya Praga, melesat sinar putih menyilaukan mata. Suasana di tengah-tengah arena berubah menjadi panas sekali. Ketika kedua pukulan itu saling bertemu di udara, maka terdengar ledakan menggelegar. Tubuh Surya Praga dan Kala Demit sama-sama terlempar keluar dari arena!
Seketika gemparlah tempat itu akibat ulah dua murid padepokan yang tampaknya ingin saling membunuh. Daeng Saka dan Gempita Soka, bahkan segera naik ke arena laga. Paras mereka berubah pucat melihat kelalaian yang terjadi.
Bagaimana tidak" Mereka yang terlibat adu kepandaian adalah murid tertua yang sudah sama-sama mengetahui aturan yang berlaku. Tak seorang pun yang bertanding diperkenankan mempergunakan pukulan jarak jauh dan senjata. Tapi, Surya Praga dan Kala Demit telah melanggar aturan itu.
Pada saat itu, baik Surya Praga maupun Kala Demit telah naik kembali ke tengah-tengah arena. Dari sudut sudut bibir mereka, tampak mengucur darah kental, pertanda keduanya menderita luka dalam yang tidak ringan.
"Hei... tolol...! Apa yang kalian lakukan...!" bentak Daeng Saka ketika melihat kedua muridnya hendak saling serang kembali.
"Mereka semua telah berubah menjadi gila!" desis Gempita Soka tidak kalah gusarnya.
"Pasti telah terjadi sesuatu yang tidak beres di tempat ini, Paman...!" kata Rangga pelan.
"Maksudmu"!" Daeng Saka tidak mengerti.
"Seseorang telah mempengaruhi jalan pikiran mereka, melalui ilmu mengacaukan akal. Dengan begitu baik Kala Demit maupun Surya Praga me-rasa kalau orang yang dihadapi adalah lawan yang harus dibinasakan," jelas Rangga.
Belum sempat Daeng Saka bertanya lebih lan-jut, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tak ubahnya seperti nyanyian. Kemudian, tercium bau bangkai yang sangat menusuk hidung. Angin tiba-tiba berhembus. Di tengah-tengah hembusan angina yang menebar bau busuk itu, terdengar pula suara seperti orang yang sedang melantunkan bait-bait syair.
Gunung Kelud arena laga. Tempat orang-orang tolol menentukan ketua partai yang baru. Di sini ini, kebiasaan leluhur berlangsung secara turun- temurun. Tapi, kali ini keadaan akan berubah lain. Tercatat atau tidaknya dalam sejarah, Manusia Bangkai akan mengukir sebuah kejayaan dengan tinta darah! Orang-orang tolol. Tidak ada yang lebih baik dan kalian, selain kidung kematian. Lereng Kelud akan bersimbah darah. Hingga hati dan penderitaan ini jadi terpuaskan.
Sepi seketika terasa menghentak. Semua orang yang berada di lereng Gunung Kelud seakan tersirap oleh makna syair yang baru saja dilantunkan oleh seseorang yang bersembunyi di balik batu-batu besar. Namun pada saat itu, kesunyian segera terpecahkan oleh suara tawa seseorang. Semua mata sekarang tertuju ke arah terdengamya suara tawa.
"Peramal Tuna Netra...!" desis Rangga dan Dewi Palasari hampir bersamaan.
"Kehadiranmu sudah kami ketahui, Manusia Bangkai! Janganlah mengumbar syair murahan tanpa berani tunjukkan diri! Tunjukkan tampangmu. Kami semua telah mempersiapkan diri untuk menyambut kematian yang kau janjikan!" kata Ki Kambaya, ketika suara tawa terhenti. Ucapannya disertai tenaga dalam tinggi.
"Wah! Ki Kambaya bicara ngaco. Barangkali dia yang menginginkan kematian. Tapi..., kalau aku nanti dulu!" Rangga menimpali.
Meskipun dalam suasana tegang, mau tidak mau Dewi Palasari tersenyum juga mendengar ucapan Rangga yang diam-diam telah menarik perhatiannya.
Tidak lama setelah ucapan Peramal Tuna Netra, dari balik batu-batu besar muncul sosok tubuh yang sudah sangat dikenal Dewi Palasari maupun Rangga.
"Manusia durjana! Jangan terlalu lama berdiri di situ. Tanganku sudah sangat gatal ingin mencabik-cabik tubuhmu!" teriak Dewi Palasari yang memang memiliki dendam pribadi terhadap Manusia Bangkai.
Manusia Bangkai tertawa-tawa. Tubuhnya berkelebat laksana kilat Di lain kejap dia telah berdiri di ujung arena laga, sambil memandang tajam pada Dewi Palasari.
"Bicaramu terlewat takabur, Gadis Cantik. Ka-lau dulu pemuda di sampingmu tidak datang menolongmu, mungkin saat ini kau sudah menjadi istriku yang paling setia!"
"Cis! Siapa sudi menjadi istrimu" Kau ber-hutang darah dan kehormatan padaku. Bersiap-siaplah untuk menerima kematian!" teriak Dewi Palasari.
Tanpa dapat dicegah lagi, dengan pedang ter-hunus Dewi Palasari meneriang Batu Kumbara Namun, laki-laki berwajah angker seperti iblis ini hanya tertawa ganda. Tubuhnya berkelit ke samping. Dalam keadaan seperti itu, dia masih sempat melepaskan 'Tendangan Iblis Gentayangan' yang sangat berbahaya.
Temyata, Dewi Palasari yang memiliki penga-laman luas ini cepat menarik balik serangannya. Sementara pedang pusakanya kemudian diarahkan ke bagian mata Batu Kumbara.
Manusia Bangkai terkejut setengah mati. Kaki-nya cepat ditarik balik. Dan walaupun dapat menyelamatkan matanya dari ancaman pedang, tidak urung dadanya masih sempat tersambar senjata di tangan gadis itu.
Crak! Batu Kumbara terhuyung-huyung terhantam senjata Dewi Palasari. Tapi, sambaran pedang itu tidak membawa akibat apa-apa. Sebaliknya, sambil memaki dikerahkannya jurus 'Menipu Para Dewa'. Tangan kanan Manusia Bangkai terjulur ke depan, mencengkeram bagian dada Dewi Palasari. Gadis ini terkejut setengah mati, dan cepat melompat mundur dengan wajah bersemu merah.
"Manusia terkutuk!" maki Dewi Palasari, geram bukan main.
Cengkeraman itu tidak mengenai sasaran. Tapi, tendangan susulan yang dilakukan Batu Kumbara berhasil menghantam perut Dewi Palasari.
"Wuaagkh...!"
Ketua Padepokan Merak Emas itu menjerit kesakitan. Tubuhnya terlempar dan jatuh persis di depan kaki Daeng Saka. Wajah gadis itu berubah pucat seketika. Dari mulut dan hidungnya mengucur darah kental, pertanda menderita luka dalam yang cukup parah.
Melihat kenyataan ini, Daeng Saka melompat ke depan. Pedang di tangannya sudah melintang di depan dada.
"Manusia iblis! Akulah lawanmu!" dengus Ketua Padepokan Naga Merah sambil bersiap-siap mengerahkan jurus. 'Menggulung Topan Samu-dera', salah satu jurus yang menjadi andalan Pa-depokan Naga Merah.
"Manusia jelek! Coba sebutkan namamu, sebelum aku membunuhmu!" bentak Batu Kumbara. Keparati Kau tidak layak mengetahui siapa aku!"
"Kalau begitu, kau akan mati penasaran!" desis Manusia Bangkai.
Segera Batu Kumbara menghindari serangandahsyat yang dilakukan Daeng Saka. Tapi, anehnya serangan yang dilakukan Daeng Saka seakan tidak ada habis-habisnya. Apalagi pedang di tangannya seakan berubah semakin banyak, mengurung ruang gerak Batu Kumbara. Tidak pelak lagi, beberapa kali pedang di tangan Daeng Saka berhasil menerobos pertahanan Manusia Bangkai. Tapi sebagaimana yang dialami Dewi Palasari, kali ini pun serangan itu tidak membawa hasil apa-apa.
"Hiyaaa...!"
Batu Kumbara mengeluarkan bentakan keras. Tubuhnya melompat ke depan dengan gerakan melayang. Laksana kilat, diserangnya Daeng Saka dengan totokan-totokan mematikan. Di lain saat, secara aneh pedang di tangan Daeng Saka telah berpindah tangan. Ciutlah hati Daeng Saka, melihat kehebatan lawannya. Dan sebelum rasa terkejut ini hilang, pedang Daeng Saka yang telah berpindah ke tangan lawannya menusuk ke bagian dada, tepat menembus janrung.
"Aaa...!"
? *** ? Tubuh Daeng Saka yang tertusuk pedang hingga tembus ke bagian punggung tampak terhuyung-huyung. Mata Ketua Padepokan Naga Merah tampak melotot seperti akan melompat keluar. Sementara dari bagian dadanya, darah terus mengucur tidak ada henti-hentinya.
Ketika Batu Kumbara menyentakkan pedang itu secara keji, maka tubuh Daeng Saka langsung ambruk di lantai arena laga. Sosok yang telah berlumuran darah ini tidak berkutik lagi. Sedangkan Batu Kumbara tergelak-gelak melihat kematian lawannya.
Dewi Palasari tampak berusaha bangkit berdiri. Tapi, bahunya segera ditahan Rangga. Sementara itu, Gempita Soka telah melompat ke depan dengan senjata anehnya yang berupa pisau berlekuk tiga.
"Hm... Rupanya masih ada lagi yang ingin minta mati. Baiklah.... Aku akan mengirimmu ke neraka!"
"Manusia iblis! Kaulah yang harus merasakan ketajaman senjataku ini...!" bentak Gempita Soka.
Sebelum Batu Kumbara sempat melepaskan pukulan iblisnya, pisau di tangan Gempita Soka sudah menderu dan mengarah pada bagian mata.
"Keparat...!" maki Batu Kumbara sambil ber-salto ke belakang untuk menyelamatkan matanya.
Belum sempat laki-laki berwajah angker dan menebar bau bangkai ini berbuat sesuatu, Gempita Soka sudah mengejarnya. Dan untuk yang kedua kali, pisau itu menderu ke arah mata.
Batu Kumbara merasa sudah tidak mungkin mampu lagi menghindarinya. Maka demi menye-lamatkan mata, langsung ditangkisnya serangan itu dengan telapak tangan terkembang.
Plak! Des! "Wuakh...!"
Gempita Soka memekik kesakitan. Tangan ka-nannya yang memegang senjata tampak remuk terhantam pukulan tangan Manusia Bangkai yang telah berubah mengeras laksana baja. Sedangkan pisau berlekuk di tangannya terpental.
Ketua Partai Giling Wesi ini terus bergerak mundur, ketika Manusia Bangkai melakukan serangan balasan yang jauh lebih dahsyat.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini, Rangga segera menghadang ke depan dan langsung mementahkan serangan Batu Kumbara dengan mempergunakan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.
Serangan Pendekar Rajawali Sakti memang jauh lebih berbahaya lagi. Karena yang diincar bagian mata Batu Kumbara.
Sambil memekik kaget Manusia Bangkai me-malingkan wajahnya ke arah lain. Dan dengan cepat pula, dia melompat ke belakang. Dalam jarak lima batang tombak, Batu Kumbara memperhatikan Rangga dengan perasaan geram.
Pada saat itu, Peramal Tuna Netra sudah melompat ke arena laga. Dengan seenaknya, tenaga dalamnya dikerahkan ke bagian punggung Dewi Palasari yang tengah menderita luka dalam.
"Kalau saja mataku tidak buta, tentu aku akan senang melihatmu mengorek mata Manusia Bangkai yang menjadi sumber malapetaka itu, Rangga...!" desis Ki Kambaya dengan sikap acuh.
Sebaliknya Batu Kumbara semakin bertambah kaget saja. Kepalanya langsung berpaling ke arah Peramal Tuna Netra. Dan hatinya makin heran, begitu melihat mata si kakek sama sekali tidak dapat melihat.
"Siapakah kau" Apakah kau ingin cepat-cepat mampus?" bentak Batu Kumbara merasa tersing-gung.
"Diamlah kau, Manusia Busuk dan Jelek! Jika kau berhasil mengalahkan dan membunuh Pendekar Rajawali Sakti, barulah aku akan memberitahu padamu, siapa aku yang sebenarnya!" sahut Peramal Tuna Netra, enteng.
"Keparat! Kalian memang pantas mampus se-muanya di tanganku!" Kemudian dia menoleh ke arah Rangga. "Anak muda! Kau tidak bakal me-nang melawanku!"
"Biar tidak menang, asal aku dapat mencong-kel matamu!" sahut Rangga tenang.
Semakin bertambah gusarlah Manusia Bangkai mendengar jawaban Pendekar Rajawali Sakti. Maka tiba-tiba secara curang tangannya dihantamkan ke depan. Rupanya, sejak tadi, Batu Kumbara telah bersiap-siap melepaskan pukulannya.
Sekerika dua leret sinar hitam menebarkan bau busuk menyesakkan pernapasan menderu ke arah Rangga. Udara di sekitarnya kontan berubah dingin luar biasa.
Pendekar Rajawali Sakti terkesiap begitu me-rasakan angin sambaran serangan Batu Kumbara. Tapi dengan cepat tangannya menghentak ke depan, melepaskan pukulan dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir.
Seketika dari telapak tangan Pendekar Rajawali Saka melesat sinar kemerahan berhawa panas menghanguskan, menyongsong pukulan Batu Kumbara.
Glar! Terdengar dentuman yang seakan menghan-curkan gendang telinga. Arena laga kontan hancur berantakan. Sementara, Pendekar Rajawali Sakti dan Batu Kumbara sendiri jatuh berdebuk keras di tanah.
Rangga merasa bagian dalam dadanya seperti hancur. Tapi tanpa menghiraukan keadaannya sendiri, dia telah melompat ke atas arena laga yang berantakan.
Sementara Batu Kumbara rupanya memang tidak mengalami akibat apa-apa. Bibirnya tampak menyeringai. Namun seringainya melenyap, ketika melihat tubuh Pendekar Rajawali Sakti sudah berkelebat cepat. Dia merasa ada satu keanehan yang terjadi. Di matanya, tubuh pemuda itu seakan berubah menjadi banyak. Yang lebih mengherankan lagi, tangan-tangan Pendekar Rajawali Sakti yang seakan menjadi puluhan, hampir keseluruhannya terarah pada bagian matanya. Sehingga, membuat Manusia Bangkai mati-matian menyelamatkan matanya yang menjadi sumber kekuatan dan kelemahan selama ini.
Kenyataan yang dirasakan Batu Kumbara memang tidak dapat dipungkiri. Karena, Rangga saat ini telah mengerahkan jurus 'Seribu Rajawali'.
Dengan bersusah payah, Batu Kumbara meng-hindari serangan Rangga. Sama sekali Batu Kumbara tidak diberi kesempatan mengedipkan matanya. Sedangkan Rangga terus bergerak mengejarnya dengan serangan-serangan dahsyat yang terus mencecar bagian mata.
"Kurang ajar!" maki Batu Kumbara ketika mu-lai menyadari, betapa berbahayanya serangan gencar pemuda itu, jika terus berusaha menghindar.
Diawali satu bentakan keras, Manusia Bangkai melompat ke belakang. Matanya yang telah berubah merah membara langsung berkedip.
Hampir bersamaan waktunya, Rangga menca-but pedang pusaka dari warangka. Seketika sinar biru menyilaukan mata memancar, begitu Rangga mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian gagang pedang. Sementara tangan kirinya melepaskan pukulan jarak jauh dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.
Dua leret sinar merah yang melesat dari mata Batu Kumbara datang menggebu. Di depannya, menyongsong sinar merah yang juga sama-sama menebarkan hawa panas menghanguskan!
Orang-orang yang berdiri di sekeliling arena langsung berserabutan menjauhkan diri dari arena. Dan ketika dua leret sinar berwarna merah itu bertemu di udara, terjadilah satu ledakan yang sangat dahsyat.
Blarrr...!"
Rangga jatuh terguling-guling dengan pedang masih tergenggam di tangan. Dari mulutnya tampak mengucur darah kental. Dengan terhuyung-huyung pemuda ini bangkit berdiri.
Sementara, Manusia Bangkai telah berdiri tidak jauh di depannya. Matanya yang berubah merah seperti mata iblis itu memandang ke arah Rangga dengan kemarahan berkobar.
"Bangsat! Rupanya nyawamu benar-benar alot juga!" dengus Batu Kumbara geram.
Pendekar Rajawali Sakti hanya diam dengan pandangan tajam. Wajahnya berubah geram penuh perbawa, bagai malaikat maut yang siap menjemput. Kemudian pedang di tangannya diputar sedemikian rupa.
Tidak salah lagi. Saat ini Rangga telah mengerahkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma', salah satu jurus yang sangat diandalkan.
Manusia Bangkai sendiri terkesiap. Tiba-tiba saja jiwanya terasa terpecah-pecah. Bahkan dia tidak tahu, apa yang harus dilakukannya sekarang. Manusia Bangkai hanya merasa, semangat bertempurnya hilang begitu saja.
"Hiyaaa...!"
Rangga tiba-tiba melesat ke depan. Pedang di tangannya mendadak menusuk ke mata kiri Manusia Bangkai yang hanya terpaku.
Untung saja Batu Kumbara cepat-cepat meng-gelengkan kepala, mengusir keanehan yang terjadi. Lalu, kepalanya ditarik ke belakang. Sementara, tangan kanan menepis tusukan pedang di tangan Pendekar Rajawali Sakti.
Trak! Tubuh Pendekar Rajawali Sakti bergetar hebat. Sebaliknya, Manusia Bangkai tampak terhuyung-huyung.
Belum siap Batu Kumbara pada kuda kudanya, Rangga telah menyerangnya kembali dengan kecepatan berlipat ganda. Pedang di tangannya menusuk ke bagian perut. Tapi ketika jaraknya hanya tinggal dua jengkal saja, Pendekar Rajawali Sakti membelokkan serangan ke bagian mata kiri Batu Kumbara.
Cras! "Wuagkh...!"
Batu Kumbara menjerit setinggi langit begitu mata kirinya mengucurkan darah akibat tertembus Pedang Pusaka Rajawali Sakti.
Ketika musuhnya masih sibuk mendekap mata kirinya yang terluka, pedang di tangan Rangga kembali menderu. Dan kali ini, langsung menusuk mata kanan Batu Kumbara.
Manusia Bangkai ini tidak punya kesempatan untuk menyelamatkan matanya. Apalagi serangan Rangga cepat bukan main. Maka...
Cres! Untuk kedua kalinya, terdengar lolongan Manusia Bangkai yang begitu menyayat. Tubuhnya terhuyung-huyung. Belum juga tubuhnya ambruk, dari arah samping kiri tiba- tiba melesat sesosok berbaju kuning ke arah Batu Kumbara. Bahkan langsung membabatkan pedang ke bagian perut Manusia Bangkai ini.
Cras! Cras! Sambil menjerit jerit kesakitan, Batu Kumbara terhempas ke lantai arena. Darah menyembur dari perut dan dadanya. Memang setelah titik kelemahan Batu Kumbara yang terletak pada matanya tertembus pedang, maka musnahlah seluruh ilmu kebalnya.
Sementara Dewi Palasari tidak puas sampai di situ saja. Gadis itu terus mencincang tubuh orang yang hampir merenggut kehormatannya. Sehingga tubuh Manusia Bangkai kini sangat sulit dikenali lagi.
"Sudah, Dewi...!" cegah Rangga seraya me-nangkap gerakan tangan Dewi Palasari yang mengayunkan pedang. "Tidak ada gunanya berbuat seperti itu. Dia sudah mati."
Dewi Palasari menghentikan gerakannya. Bibirnya tampak cemberut. Rangga hanya menggelengkan kepala.
"Ah.... Kalau bukan dia yang melarangku, tidak mungkin aku menurutinya...!" desah Ketua Padepokan Merak Emas yang diam-diam telah jatuh hati pada Rangga.
"Mari kita urus mayat Daeng Saka Dan... eh! Ke mana perginya Gempita Soka dan Peramal Tuna Netra itu...?" tanya Rangga, mencari-cari.
'Yang satu buta. Yang lain menderita luka dalam. Mungkin mereka saling bahu-membahu untuk menyembuhkan luka dan penyakit masing-masing.
Rangga hanya tersenyum mendengar ucapan Dewi Palasari yang mengerling manja.
? SELESAI ? ? Scan by Clickers
Kembali ke Bagian 4-6
Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 Aji Wisa Dahana 2 Gento Guyon 7 Topeng Setan Harpa 14

Cari Blog Ini