Ceritasilat Novel Online

Bencana Tanah Kutukan 2

Pendekar Rajawali Sakti 200 Bencana Tanah Kutukan Bagian 2


-perwira tinggi tidak mengenai sasaran. Ketiga binatang itu makin mengamuk. Maka
saat itu pula enam orang prajurit yang sudah sangat terlatih langsung
mengurungnya. "Hiyaaa...!"
Serentak mereka menerjang ke depan sambil
mengibaskan pedang. Senjata senjata itu berkelebat ke bagian kepala dan perut
-banteng banteng liar.
-Del! Del! "Heh..."!"
Keenam prajurit langsung melompat mundur ketika mata pedang tidak berhasil
menembus kulit. Sebaliknya, banteng banteng liar ini semakin mengamuk. Kedua -tanduknya yang panjang dan running terus mencari sasaran. Sedangkan kaki
depannya menendang ke kiri atau ke kanan, dengan gerakan tidak terduga duga.
-Tampaknya ketiga ekor banteng ini seperti bersatu untuk menghancurkan lawan
-lawannya. Sementara
prajurit prajurit kerajaan yang mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya selalu
-berusaha menghindari setiap datangnya serangan.
Namun salah satu banteng yang tidak terluka
berhasil mendesak salah seorang prajurit yang terus bergerak mundur menghindar.
Di luar dugaan, prajurit wanita ini terjatuh ketika kakinya tersandung sebatang
kayu. Akibatnya banteng liar itu langsung menginjak-injak. Sehingga....
Krak! Krak! "Aaa...!"
Prajurit malang itu menjerit keras ketika tulang dada dan tulang punggungnya
remuk terinjak kaki depan banteng liar. Melihat kenyataan ini, Panglima Mira
segera melepaskan panah beracunnya ke arah banteng.
Memang panglima perang ini sangat ahli dalam mempergunakan panah beracun. Tak
heran kalau dia tidak merasa khawatir walaupun anak buahnya berada di sekeliling
banteng. Yang jelas anak panahnya pasti akan menemui sasaran tanpa khawatir
mengenai prajuritnya sendiri.
Set! Dua batang anak panah dilepaskan Panglima Mira sekaligus. Karena setengah dari
tenaga dalamnya dikerahkan. Maka anak panah jadi melesat bagaikan kilat.
Lalu.... Crak! "Hossh! Oeeek...!"
Serangan anak panah langsung menghantam batok kepala banteng, hingga meringkik
keras dan terus menyeruduk ke depan. Binatang ini sudah kehilangan kendali, lalu
roboh ke tanah sambil terus berkelojotan.
Tidak lama kemudian banteng itu tak bergerak lagi akibat racun ganas yang
terkandung pada bagian mata anak panah.
Melihat keberhasilan panglima perangnya, saat itu juga, empat orang perwira
tinggi langsung memerintah-kan lima orang prajurit segera mundur. Dan ketika
lima prajurit itu berlompatan menjauh....
"Panah...!"
Terdengar teriakan bernada memerintah. Seketika perwira perwira ini segera
-menarik busur.
Set! Set! Sebentar saja, beberapa anak panah melesat ke arah banteng banteng liar itu. -Namun walaupun sudah terluka, sambil tetap melakukan serangan kedua banteng. itu
berusaha menghindari terjangan anak panah.
Dan karena para perwira itu melepaskan anak anak panah secara terus menerus, tak
- -urung beberapa di antaranya ada yang menembus perut maupun jantung kedua banteng
itu. Jress! Bresss! "Opuueekh...!"
Kedua banteng itu langsung tersungkur. Napasnya mendengus dengus. Lidahnya yang
-berlumur darah terjulur, sedangkan matanya yang kemerahan terbuka.
Binatang liar itu kemudian tidak bergerak gerak lagi, setelah banyak kehilangan
-darah. Baru saja Panglima Mira hendak meluapkan rasa gembira melihat ketiga binatang
liar itu dapat di bunuh, tiba tiba muncul lima laki laki bermuka rusak yang
- - -sekujur tubuhnya menebarkan bau bangkai. Bahkan salah seorang langsung
menghampiri mayat salah seorang prajurit yang terinjak injak banteng tadi.
-Pakaian mayat prajurit wanita itu segera dicabik
-cabiknya. Lalu dengan rakus disantapnya mayat itu.
Melihat daging segar dan darah yang berceceran, rupanya dua orang lainnya
tergiur juga. Mereka segera memperebutkan mayat prajurit wanita tadi, dan
memakannya dengan rakus!
Panglima Mira dan semua bawahannya bergidik
ngeri melihat pemandangan ini. Namun, mereka juga menjadi sangat marah.
"Manusia kutukan! Kiranya kalian sudah berubah menjadi buas seperti binatang!"
geram Panglima Mira.
"Perwira! Panah mereka!"
Begitu mendapat perintah empat perwira tinggi Kerajaan Pasai langsung melepaskan
anak panah ke arah tiga laki laki yang sedang berebut mayat.
-Set! Set! Panah panah -itu langsung meluncur deras ke arah sasaran. Namun sejengkal lagi anak anak -panah menghujam sasaran, ketiga orang berwajah mengerikan itu langsung
menggerakkan tangannya.
Tak! Tak! Tak! Anak anak panah itu kontan berpentalan ke segala penjuru, begitu menyentuh
-tangan orang orang berbau busuk itu. Dan ini membuat para perwira tampak
-terkejut. "Anak panah kalian tak mungkin menembus kulit Pala Tundra dan anak buahnya!
Kalian semua akan menjadi makanah yang paling lezat bagi kami!" dengus laki laki
-bernama Pala Tundra yang menjadi pimpinan manusia buas itu. Tubuhnya tinggi
besar dengan otot-otot kekar.
"Bangsat rendah! Jangan bermimpi kalian! Hiyaaa...!" teriak Panglima Mira.
Gadis ini langsung menerjang ke arah Pala Tundra dengan jurus jurus tangan
-kosong yang cukup berbahaya. Namun laki laki itu tentu saja tidak tinggal diam.
-Disambutnya serangan sambil terkekeh kekeh.
-Hanya dalam waktu singkat, terjadilah pertempuran sengit di tempat itu. Prajurit
dan perwira bahu-membahu mengatasi empat laki laki berwajah buruk.
-Sedangkan Panglima Mira terus berusaha mendesak Pala Tundra yang menjadi
pimpinan orang orang buas itu.
-Namun, ternyata Pala Tundra adalah orang Tanah Kutukan yang mempunyai kepandaian
tinggi. Sehingga tidak mudah bagi Panglima Mira untuk menjatuhkannya secepat
itu. "Hiyaaa.,.!" teriak Panglima Mira seraya mengerahkan aji 'Bidadari Tangan Emas'.
Disertai teriakan keras, kedua tangan Mira yang telah berubah berwarna kuning
itu mengibas ke depan.
Seketika seleret sinar kuning meluncur deras ke arah Pala Tundra.
Laki laki yang sekujur tubuhnya membusuk itu tidak tinggal diam. Saat merasakan
-adanya hawa panas datang menyengat, mulutnya dikembungkan lalu
ditiupnya sekeras kerasnya.
-"Puuuhhh...!"
Hembusan Pala Tundra yang disertai pengerahan tenaga dalam menimbulkan suara
bergemuruh. Dan ketika dua kekuatan serangan bertemu di udara....
Glar! Glarrr! "Wuakh...!"
Diiringi suara keras bagai ledakan, tampak dua sosok tubuh terpelanting beberapa
batang tombak ke belakang. Panglima Mira segera bangkit berdiri.
Dadanya terasa sesak sekali. Sudut sudut bibirnya meneteskan darah.-Sebaliknya Pala Tundra tidak mengalami akibat apa-apa. Laki laki ini segera
-berdiri. Cepat dia bangun serangan baru dengan gerakan sangat cepat dan
berbahaya. Sementara itu, pertarungan antara perwira kerajaan dan prajurit melawan anak
buah Parta Widura tampaknya memang tidak kalah sengit.
Namun memasuki jurus ke enam puluh dua,
keempat laki laki itu terus berusaha mendesak para perwira tinggi dan para
-prajurit "Ciaaat...!"
Dua orang prajurit tiba tiba menerjang ke depan.
-Tangan mereka meluncur ke arah dua sasaran sekaligus.
Namun di luar dugaan, orang orang Tanah Kutukan itu menggeser ke samping dengan
-tangan secepat kilat menyambar bahu.
Tep! Tep! Sekejap saja, dua orang prajurit telah tertangkap oleh orang orang Tanah
-Kutukan. Secepat kilat tangan mereka menghujam ke bagian tenggorokan.
Crep! Crep! "Aakh...!"
"Aaa...!"
Dengan sekali betot tenggorokan kedua prajurit itu pun putus menyemburkan darah.
Tanpa membuang waktu lagi, darah itu langsung disedot orang orang
-Tanah Kutukan dengan mulut.
"Hiaaa...!"
Melihat kejadian ini, empat perwira tinggi langsung menghujamkan pedang ke
bagian punggung orang-orang yang sedang menghisap darah dua prajurit. *
Crak! "Hrakh...!"
Dua orang Tanah Kutukan kontan menjerit keras ketika sebuah pedang menancap di
punggung masing-masing. Mau tak mau, pegangan mereka pada kedua prajurit yang
hampir menjadi santapan terlepas. Namun tetap saja kedua prajurit yang
tenggorokannya putus itu mati.
Sementara itu dua orang Tanah Kutukan yang
tertancap pedang sudah bergelimpangan roboh dengan luka tusuk di punggung.
Melihat dua orang kawan mereka tewas di tangan perwira tinggi kerajaan, dua
orang lainnya segera mencabut kapak dari pinggang. Begitu kapak itu diayunkan
dengan gerakan cepat, terdengar desir angin menderu tajam menyakitkan telinga.
"Haiiit...!"
Serentak keempat perwira itu mengibaskan pedang,
menyambut datangnya luncuran kapak. Trang!
"Heh..."!"
Sekejap setelah terjadi benturan senjata, empat orang perwira dengan terkejut
berlompatan mundur.
Mereka tadi menangkis secara bersamaan. Tapi justru mereka sendiri yang bergetar
dadanya. Jelas, keempat perwira ini masih kalah dalam hal tenaga dalam.
Tiga orang prajurit yang melihat kesempatan segera
menerjang ke depan sambil menusukkan pedang ke arah perut anak buah Pala Tundra.
Namun, kedua laki-laki itu memutar kapaknya begitu cepat. Sehingga....
Trang! Trang! Pedang di tangan prajurit prajurit itu berpentalan begitu membentur kapak. -Mereka terkesiap. Namun mereka juga sudah tidak sempat lagi menghindar, ketika
mata kapak kapak itu menghantam dada dan leher.
-Cras! "Aaa...!"
Ketiga prajurit wanita itu kontan menjerit keras dengan tubuh terpelanting
roboh. Darah mengalir dari setiap luka di tubuh mereka. Mereka kelojotan
sebentar, lalu terdiam mati.
*** Empat perwira tinggi Kerajaan Pasai terkejut melihat keganasan orang orang Tanah
-Kutukan. Namun mereka sudah tidak sempat berpikir lebih jauh lagi, karena saat
itu kedua orang telah melakukan serangan secara membabi buta. Rupanya setelah
-melihat darah korbannya, orang orang Tanah Kutukan ini menjadi beringas dan
-bersemangat untuk menghabisi secepat mungkin.
Pada saat yang sama, Panglima Perang Kerajaan Pasai juga sedang mengalami
tekanan tekanan yang cukup berat. Terpaksa dikerahkannya ilmu meringankan tubuh
-untuk menghindari tendangan dan pukulan yang dilepaskan lawan.
Begitu kian terdesak, Panglima Mira segera mengerahkan jurus 'Tipuan Bidadari Di
Taman Bunga'. Tubuhnya tiba tiba meliuk liuk melakukan gerakan-gerakan cukup merangsang.- -Pala Tundra terkesiap. Apalagi sejurus kemudian setiap serangannya tidak
mengenai sasaran. Namun laki laki bertampang mengerikan ini tidak putus asa.
-"Hiih...!"
Tiba tiba Pala Tundra melompat ke depan kembali sambil menghantamkan tangan
-kanan ke bagian perut.
Seketika Panglima Mira meliukkan tubuhnya dengan gerakan gemulai.
Wuuut! Kembali serangan Pala Tundra luput Sementara Panglima Mira secepat kilat memutar
tubuhnya, dengan kaki meluncur cepat ke punggung.
Buk! "Huaagkh...!"
Pala Tundra memekik keras ketika punggungnya terhantam tendangan berputar gadis
itu. Dia jatuh terguling guling disertai pekik kesakitan.
-Melihat laki laki itu dalam keadaan tunggang langgang, Panglima Mira cepat
-memburu dengan tusukan pedang.
"Uts!"
Tidak disangka sahgka, walaupun Pala Tundra dalam keadaan terluka sempat
-menghindar dengan menjatuhkan diri. Dan sambil berguling gulingan dilempar-kannya pisau kecil berwarna hitam ke arah Panglima Mira.
Serangan mendadak ini membuat Panglima Perang Kerajaan Pasai terkejut. Segera
ditangkisnya pisau itu dengan pedangnya.
Tring! Dua bilah pisau kecil itu kontan melesat ke arah lain.
Dan justru luncurannya menuju perut dua perwira tinggi yang sedang bertarung
melawan dua orang anak buah Pala Tundra.
Cep! "Aaa...!"
Naasnya, kedua pisau itu langsung menembus perut
perwira tinggi, hingga tersungkur disertai jerit kesakitan Hanya dalam waktu
singkat tubuhnya telah membiru.
Dia tewas seketika itu juga.
Panglima Mira sangat terkejut melihat kejadian yang berlangsung cepat itu. Dan
keterkejutannya melahirkan kelengahan. Saat itu juga, Pala Tundra memanfaatkannya dengan lemparkan pisau kecilnya lagi.
Set! Set! Set! Secepat kilat pisau itu meluncur ke arah sasaran.
Untung Panglima Mira segera menyadari datangnya bahaya ini. Tubuhnya cepat
melenting ke udara.
Serangan itu memang berhasil dihindarinya. Namun serangan susulan kembali datang
begitu cepat. Dan....
Crep! "Aduuhhh...!"
Panglima Mira yang berada di udara tak mungkin lagi menghindar. Dia langsung
mengeluh ter tahan ketika lengannya tertembus mata pisau hitam milik Pala -Tundra. Bahkan kemudian, daya kerja racun yang terkandung dalam pisau ternyata
sangat cepat. Begitu mendarat, Panglima Mira segera menotok jalan darahnya untuk menghindari
menebarnya racun ke seluruh tubuhnya.
Melihat Panglima Perang Kerajaan Pasai terluka, Pala Tundra semakin bersemangat
untuk membunuhnya.
Dicabutnya clurit hitam yang tergantung di pinggang-nya.
Cring! "Sekarang saatnya bagimu untuk menjadi santapan-ku! Hiyaaa...!" teriak Pala
Tundra keras. Dengan clurit terhunus, laki laki ini menerjang ke arah Panglima Mira. Senjata
-itu meluncur ke kiri dan kanan. Inilah saat yang sangat membahayakan jiwa gadis
ini. Karena di saat itu, tubuhnya tiba tiba terasa lemas.
-Sedangkan pandangan matanya mulai mengabur, akibat pengaruh racun yang mulai bekerja dalam darahnya.
Namun pada saat saat yang sangat gawat, mendadak
-berkelebat sesosok tubuh berbaju rompi putih ke arah Pala Tundra, disertai
kelebatan sinar biru yang langsung menghantam clurit hitam itu.
"Heaaa...!"
Trang! Clurit hitam di tangan Pala Tundra kontan hancur menjadi beberapa bagian, ketika


Pendekar Rajawali Sakti 200 Bencana Tanah Kutukan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terhantam sinar biru yang memancar dari senjata sosok berbaju rompi putih.
Tidak sampai di situ saja. Sinar biru itu bahkan berbalik kembali, laksana kilat
langsung menembus dada Pala Tundra. Cres!
"Hegkh...!"
Pekik tertahan disertai mengucurnya darah dari luka tertembus senjata,
mengiringi jatuhnya Pala Tundra.
Sebentar laki laki ini meregang nyawa, lalu diam untuk selama lamanya.- -"Rangga...!" seru Panglima Mira. Baru menyebut satu kata Panglima Perang
Kerajaan Pasai ini sudah keburu pingsan. Rangga segera bergerak menolong
Panglima Mira yang keracunan.
Sementara perkelahian antara dua anak buah Pala Tundra yang tersisa dengan
perwira tinggi kerajaan terus berlangsung semakin seru.
*** 6 Melihat kehadiran Pendekar Rajawali Sakti, rupanya semangat perwira tinggi
kerajaan yang terdiri dari gadis-gadis cantik ini terbangkit kembali Mereka
bahu-membahu menerjang kedua orang Tanah Kutukan.
Pedang di tangan mereka semakin ganas berkeiebat, meneari sasaran.
Kedua laki laki dari Tanah Kutukan berusaha
-melakukan perlawanan dengan melepaskan pukulan-pukulan dahsyat. Namun serangan
mereka selalu dapat dipatahkan. Dan lambat laun kedua laki laki yang tubuhnya
-menebarkan bau busuk ini menjadi putus asa.
Apalagi, mengingat pimpinan mereka telah tewas di tangan Pendekar Rajawali
Sakti. Dan tiba tiba mereka berubah nekat.
-"Heaaa..,!"
Diseretai teriakan keras, kedua orang ini melompat ke depan dengan tangan
meluncur deras ke arah lambung.
"Ciaaat...!"
"Hiyaaa...!"
Ketiga perwira itui tidak tinggal diam. Pedang mereka langsung mengibas sambil
menghindari serangan dengan mengegos ke samping.
Wuuut! Mendapat serangan balik seperti ini, kedua orang Tanah Kutukan cepat menarik
serangan. Saat itu mereka bersalto ke depan untuk membuat jarak.
Namun, ketiga perwira itu terus mengejar dengan pedang berkelebatan. Begitu
cepat serangan ini, hingga....
Crep! "Aaa...!"
Tepat sekali ujung ujung pedang menghujam dada dan perut kedua laki laki dari - -Tanah Kutukan. Mereka menjerit keras, lalu ambruk dan berkelojotan. Mati.
Darah berwarna kehitam hitaman seketika membanjir, menggenangi mayat mayat
- -mereka. Ketiga perwira ini segera menghampiri Panglima Mira. Tetapi mereka hanya bisa
memandang pimpinan mereka yang sedang diobati Pendekar Rajawali Sakti lewat
pengerahan tenaga dalam dan hawa murni.
"Hampir saja nyawanya tidak tertolong! Kalian terlalu gegabah berani datang ke
Tanah Kutukan ini!"
desah Rangga yang baru saja selesai mengeluarkan racun dari tangan Panglima
Mira. "Kami hanya mengikuti perintahnya, Pendekar Rajawali Sakti!" sahut salah seorang
perwira ketakutan.
"Keberanian kalian memang patut dihargai. Tetapi melakukan penyerbuan tanpa
persetujuan Ratu Andilini tetap tindakan gegabah. Apa yang kalian lakukan hampir
mencelakan diri kalian sendiri!" kata Pendekar Rajawali Sakti.
"Lalu apa yang harus kami lakukan, Pendekar Rajawali Sakti?" tanya seorang
perwira lainnya sungkan.
"Kalian bertiga tolong bawa panglima perang ini kembali ke kerajaan. Dan, jangan
ada yang mencoba bergerak ke mana mana kecuali ada perintah dariku!"
-tegas Rangga. Tanpa berani membantah lagi, ketiga perwira
Kerajaan Pasai itu segera membawa Panglima Mira kembali ke kerajaan. Sedangkan
Rangga sendiri meneruskan perjalanannya menuju ke tempat ke-diaman Parta Widura
di salah satu gua yang terdapat di Tanah Kutukan.
*** Parta Widura benar benar merasa tertipu mentah
- -mentah. Sungguh tidak disangka kalau gadis yang memakai mahkota itu ternyata
bukan Ratu Andilini, melainkan Patih Dewi Melur. Dia langsung menduga kalau
orang orang di Istana Kerajaan Pasai mengerti semua rencana yang sedang -dijalankannya.
Merasa penasaran, Parta Widura segera me
-merintahkan Ranca Praba dan anak buahnya untuk menghancurkan Kerajaan Pasai,
sekaligus Ratu Andilini yang sesungguhnya. Sedangkan dia sendiri ditemani Dadung
Ampel tetap berada di Tanah Kutukan.
"Aku tidak percaya Iblis Merah bisa salah mengambil orang, Dadung Ampel" Apa
jawabmu?" tanya Parta Widura sengit, di salah satu ruangan gua.
"Setiap iblis yang mengerjakan perintah, pasti selalu berpegangan bahwa yang
memakai mahkota itulah Ratu atau Raja. Mana aku tahu mereka mengetahui rencana
kita?" tukas Dadung Ampel, berkilah.
"Untung saja, penculikan terhadap Ki Londa berhasil.
Dan dia memang membawa Kitab Panca Sona. Yang sekarang sudah selesai kupelajari.
Aku menginginkan agar dia segera dibunuh!" desis Parta Widura.
"Lalu, bagaimana dengan patih kerajaan itu?" tanya Dukun Sakti.
"Ha ha ha...! Kepalang basah! Dewi Melur berani berkorban untuk melindungi
ratunya. Jadi, apa salah jika aku memanfaatkan kehangatan tubuhnya untuk
mengurangi penderitaannya selama bertahun tahun ini?"
-"Kau sekarang telah memiliki ilmu 'Panca Sona'. Aku kagum melihatmu begitu cepat
mempelajari kitab itu.
Tetapi, aku akan lebih bangga lagi jika mendapat bayaranmu setelah nanti
bersenang senang dengan gadis itu! Sekarang, tunggu apa lagi" Kau kerjakan apa
-yang seharusnya kau lakukan. Sedangkan urusan Ki Londa menjadi bagianku!" ujar
Dadung Ampel. "Ternyata kau seorang sahabat yang cukup pengertian juga. Aku merasa tersanjung.
Mari kita selesaikan apa yang menjadi tugas masing masing!"
-sahut Parta Widura sambil tertawa tawa.
-Dadung Ampel segera menuju ke dalam ruangan tempat penyekapan Ki Londa.
Sedangkan Parta Widura menuju ke kamar tempat penyekapan Dewi Melur.
*** Dewi Melur yang sudah dalam keadaan tertotok
hanya dapat memandangi wajah Parta Widura yang rusak berlendir, mengeluarkan bau
busuk. Laki laki berusia sekitar empat puluh lima tahun ini terkekeh, melihat
-calon korbannya dalam keadaan ketakutan!
"Aku telah membiarkanmu selama hampir setengah purnama, Patih Kerajaan Pasai!
Hmm.... Bukan berarti
aku tidak menyukaimu. Tapi aku terlalu sibuk dengan Kitab Panca Sona. Dan
sekarang, ilmu 'Panca Sona' telah kumiliki. Aku membutuhkan dirimu!" desis Parta
Widura seraya secepat kilat tangannya bergerak menyambar baju Dewi Melur yang
terbaring. Bret! Bret! "Auuhh...!"
Gadis yang tidak tertotok pada urat bicaranya ini menjerit ketika pakaiannya
dicabik cabik Parta Widura; Laki laki terkutuk itu tertawa tawa, ketika melihat - - -tubuh menggiurkan berkulit kuning langsat berpinggul padat dan berbadan kenyal
itu. "Aaii.... Keparat...! Lepaskan aku, lebih baik kita bertarung sampai mampus...!"
teriak Dewi Melur tanpa pernah mampu menghindari tangan nakal Parta
Widura. "Bukan main bagusnya tubuhmu. Aku yakin kau pasti belum pernah dijamah laki laki
-mana pun. Ha ha ha...!"
"Manusia keji! Bebaskan aku! Bunuh saja aku!" desis Dewi Melur dengan wajah
berubah pucat. "Mari bagimu terlalu enak. Dulu, Raja La Dangga membuat hidupku menderita sampai
saat ini. Semula, kuharapkan aku akan mendapat kesembuhan dari kutukan Raja La
Dangga setelah bercinta dengan putrinya. Tetapi, kau begitu bodoh dan mau
menggantikan Andilini! Sekarang, mengapa kau ingin bebas"
Bukankah kau telah siap segala galanya?" desis Parta Widura sengit.
-Dewi Melur hanya diam membisu. Matanya mulai merembang, membayangkan nasib buruk
yang bakal menimpa. Tapi dia tidak dapat menyalahkan Ratu
Andilini atau Pendekar Rajawali Sakti atau Ki Belamparan. Karena, memang dia
sendirilah yang ber-sikeras ingin menggantikan Ratu Andilini saat mendengar
rencana penculikan sang Ratu. Dan sekarang dia harus menanggung akibatnya
sendiri. "Ha ha ha...! Sekarang segala galanya akan kita mulai!" desis Parta Widura.
-Tiba tiba saja Parta Widura mencium Dewi Melur.
-Sementara, gadis itu tidak bisa berbuat apa apa kecuali menjerit ketakutan.
-Tapi, suara jeritan nya bagi Parta Widura hanya menambah gairahnya. Lendir
- -lendir di wajahnya mulai menodai tubuh korbannya. Sedangkan kedua tangannya
dengan leluasa menggerayangi
bagian bagian terlarang yang dimiliki gadis itu.
-Untuk melampiaskan nafsu setannya, laki laki
-penghuni gua di Tanah Kutukan itu kemudian menotok urat bicara Dewi Melur.
Sementara Dewi Melur hanya dapat meneteskan air
matanya ketika Parta Widura mulai mengumbar nafsu bejadnya.
*** Parta Widura bermandikan keringat telah terkulai di
samping Dewi Melur yang bibirnya menyungging senyum puas. Pada saat itu juga dia
merasa seperti ada yang berubah pada dirinya. Luka luka di tubuhnya mendadak -saja mengering. Bahkan tidak lagi merasa sakit pada setiap luka yang
dideritanya. Seketika Parta Widura beringsut bangkit Sambil berjingkrak jingkrak, dia
-meneliti tubuhnya sendiri. Kini
terbukti, darah perawan Patih Kerajaan Pasai itu membawa khasiat untuk
menyembuhkan dirinya dari penyakit kutukan. Walaupun anak buahnya belum
tersembuhkan, namun hatinya merasa senang karena sekarang sudah terbebas dari
penyakit kutukan.
"Aku telah bebas! Aku bebas...!" teriak Parta Widura senang.
"Benar kau benar. Tapi, jika kau bisa mendapatkan Andilini, tentu semua anak
buahmu terbebas dari kutukan pula. Karena, hanya dia yang memiliki kemampuan
besar untuk menghilangkan kutukan
almarhum ayahnya!"
Ketika Parta Widura menoleh terdengar suara
sahutan. Ternyata, di depan pintu telah berdiri seorang laki laki tua berambut
-putih dan berjenggot putih pula.
"Paman Koswara! Sebaiknya Paman keluar dulu. Aku mau berpakaian!" ujar Parta
Widura, pada laki laki tua yang baru muncul.
-"Ki Koswara! Tidak kusangka ternyata kau seorang pengkhianat!" desis Dewi Melur
yang baru saja terbangun dari pingsannya. Matanya telah sembab, terlalu banyak
merigeluarkan air mata. Suaranya bergetar, penuh kebencian.
Laki laki yang ternyata Ki Koswara, guru dari Ratu Andilini tertawa lebar.
-"Seorang Paman pada akhirnya harus memilih, mana yang harus dibela walaupun
keponakannya seorang iblis keji! Selama ini aku merasa telah berpihak pada orang
yang salah, Patih! Jadi, kau tidak usah kaget!" dengus Ki Koswara.
"Kau...!"
Ucapan Dewi Melur terhenti, tiba tiba Parta Widura melompat seraya menghujamkan
-pedang pendek yang begitu cepat dicabutnya. Lalu....
Crep! "Aaakh...!"
Tepat sekali tenggorokan Dewi Melur tertembus pedang pendek. Maka, tewaslah
Patih Kerajaan Pasai itu tanpa sempat melaporkan tentang pengkhianatan Ki
Koswara yang rupanya masih merupakan paman dari Parta Widura sendiri!
*** Sementara itu Dadung Ampel yang ditugaskan untuk
membunuh Ki Londa sudah memasuki ruangan tahanan
Ki Londa. Saat itu, tokoh dari daerah Rangkas ini berdiri dalam keadaan terikat
baik tangan maupun kakinya.
Sehingga, dia tidak dapat bergerak sedikit pun.
"Selamat bertemu kembali, Manusia Bau Tanah. Aku datang kemari untuk membunuhmu!
Itulah perintah yang kudapat dari sahabatku Parta Widura," desis Dukun Sakti
disertai senyum kemenangan.
"Kau mau membunuhku" Apakah kau mampu
melakukannya?" ejek Ki Londa.
Ternyata walaupun jiwanya dalam keadaan ter-ancam, laki laki tua ini masih bersikap tenang tenang saja.
- -"Mengapa tidak" Kau tidak bedanya dengan tikus di dalam perangkap. Hanya sekali
gebuk saja, maka mampuslah kau!"
"Ha ha ha...! Bagiku kematian bukan sesuatu yang
mengerikan. Sebab, kukira dosa dosaku sangat sedikit.
-Tetapi sebelum kau membunuhku, aku punya satu pertanyaan untukmu," sahut Ki
Londa, enteng. "Apa pertanyaanmu" Mengingat kau akan mati, tentu aku menjawabnya dengan senang
hati!" "Apakah kau yang membuka Tabir Gaib yang melindungi Kerajan Pasai dari
penglihatan orang lain?"
"Betul!" jawab Dadung Ampel.
"Melalui bantuan Iblis Mesrah, kau juga yang menculik kami ke Tanah Kutukan
ini?" tanya Ki Londa.
"Juga betul!" sahut Dadung Ampel.
"Bagus! Kematianmu pasti akan sangat tersiksa sekali. Sungguh aku merasa sangat
prihatin atas pen-deritaanmu nanti!" gumam Ki Londa.
"Bangsat! Orang yang sudah mau mati memang selalu banyak tingkah...!" dengus
Dadung Ampel geram.
Sring! Tiba tiba laki laki tua berbadan bungkuk berbaju hitam ini mencabut pedang
- -pemberian Parta Widura.
Bibir tersenyum dingin. Sedangkan pedang di tangan ditimangnya berulang ulang. -Tampaknya, dia sengaja membuat Ki Londa ketakutan.
Namun, siapa sangka kalau Ki Londa sama sekali tidak memperlihatkan tanggapan
apa apa" -"Aku punya ajian 'Panca Sona'. Kau tidak akan berhasil membunuhku, Dadung
Ampel!" desis Ki Londa.
"Siapa bilang" Jika kepalamu kupenggal, kau pasti segera mari!" dengus Dadung
Ampel. Laki laki tua berbadan bungkuk itu langsung
-mengayunkan pedang ke batang leher Ki Londa.
Wuuut! Cras! Karena pedang itu sangat tajam, maka dengan sekali kibas tanggallah kepala Ki
Londa dari badannya. Tidak terdengar keluhan atau jerit kesakitan. Kepala itu
menggelinding dekat kaki Dadung Ampel.
Leher tanpa kepala itu dalam pemandangan Dadung
Ampel menyemburkan darah. Sehingga, baju merah yang dipakai Ki Londa semakin
bertambah merah!
Begitu Dadung Ampel membuka ikatan dari oyot-oyot kuat yang membelenggu Ki
Londa, tubuh laki laki tua berbaju merah itu tersungkur ke tanah. Tubuhnya
-terdiam tidak bergerak gerak lagi. Dukun Sakti tersenyum puas.
-"Tidak ada orang yang dapat hidup kembali, setelah kepalanya kupisahkan dari
badannya!" dengus Dadung Ampel, sambil meninggalkan ruangan tempat pem-bantaian.
Benarkah apa yang dikatakan Dadung Ampel untuk orang yang memiliki ajian 'Panca
Sona' yang telah mencapai tingkat paling tinggi" Ternyata, kepala Ki Londa yang
terpisah dari badannya tampak bergerak.
Matanya yang tertutup, sekarang terbuka kembali.
Sedangkan tubuhnya bergerak gerak. Tubuh tanpa kepala itu lantas bangkit
-berdiri, dan berjalan mendekati kepala yang tergeletak di atas tanah.
Lalu, tangan yang berlumur darah itu mengga pai kepala yang kemudian diletakkan
-di pangkal leher yang berlumuran darah.
Crep! Dan kepala Ki Londa pun melekat kembali ke tempat semula. Ketika tangannya
mengusap bekas tebasan di leher,
maka lukanya langsung hilang tanpa meninggalkan bekas sedikit pun juga.
Ki Londa sambil tersenyum senyum meninggalkan ruangan untuk menyusun rencana -selanjutnya. Namun di sisi lain, hatinya merasa terpukul. Dia tadi sempat
mendengar jeritan Dewi Melur, pasti jiwa gadis itu sudah tidak tertolong lagi.
Begitu dugaannya.
***

Pendekar Rajawali Sakti 200 Bencana Tanah Kutukan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dadung Ampel segera menjumpai Parta Widura. Dan
hatinya agak terkejut ketika melihat Ki Koswara tampak sedang berbincang bincang
-dengan sahabatnya.
Dadung Ampel memang tidak pernah bertemu orang
tua yang satu ini, karena sebelumnya Parta Widura memang tidak pernah bercerita.
"Sahabatku, kemarilah! Oh, ya.... Apakah kau telah melaksanakan tugasmu?" sambut
Parta Widura yang baru saja terbebas dari kutukan almarhum Raja La Dangga,
setelah menyetubuhi Dewi Melur.
"Tugas yang kau berikan padaku telah kulaksanakan dengan baik. Kepala Ki Londa
sudah kupenggal!" jawab Dadung Ampel, lantang.
"Sekarang perkenalkan. Ini pamanku, Paman Koswara! " ujar Parta Widura.
Dadung Ampel menjura hormat. Demikian juga Ki Koswara.
"Sejak mengenalku, kau tidak pernah bercerita tentang pamanmu, Parta Widura. Ada
apa rupanya?"
tanya laki laki tua bungkuk itu curiga.
-Ki Koswara tersenyum. Kepalanya dianggukkan pada
Parta Widura. Dari isyarat itu bisa ditebak kalau dia
meminta keponakannya untuk menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya.
"Selama ini, aku tidak pernah meayinggung tentang keberadaan pamanku. Karena,
beliau ini sedang menyusup ke Kerajaan Pasai. Paman mengajari Andilini dalam hal
ilmu olah kanuragan sejak Raja La Dangga tewas di tanganku. Antara kami waktu
itu terjadi kesalahpahaman. Tetapi setelah melihat penderitaanku, karena kutukan
yang dijatuhkan almarhum Raja La Dangga, rupanya pamanku merasa prihatin.
Sehingga, akhirnya dengan suka rela memilih membantu
keponakannya sendiri!" jelas Parta Widura.
"Aku merasa senang. Dan perlu kutekankan, bagaimana pun kita harus membela darah
daging sendiri. Apalagi dalam keadaan tidak menguntungkan seperti sekarang ini!"
gumam Dadung Ampel, tanpa maksud menyinggung perasaan Ki Koswara.
"Ya..., aku baru menyadarinya kini. Jika Ratu Andilini kubela mati matian, walau-bagaimanapun mereka tetap orang lain. Rasanya sangat memalukan jika aku memusuhi
keponakanku sendiri," desah Ki Koswara malu malu.
-"Aku merasa bersyukur karena ternyata Paman kini mau menyadarinya," timpal Parta
Widura. "Sudahlah, Parta Widura. Sekarang kita harus merencanakan sesuatu!" sergah
Dadung Ampel. Sejenak lamanya Parta Widura terdiam. Tampaknya dia sedang memikirkan apa yang
akan dilakukan selanjutnya.
"Begini saja. Jika sampai besok anak buahku yang dipimpin Ranca Praba tidak
kembali, maka kita bertiga
segera menyusul dan menghancurkan Istana Kerajaan Pasai!" tandas Parta Widura.
"Kalau itu rencanamu, aku akan setuju!" sambut Dadung Ampel. Laki laki bungkuk
-ini memang menginginkan seluruh penghuni istana yang cantik-cantik itu, terkecuali Ratu
Andilini yang memang menjadi bagian Parta Widura.
*** 7 Setelah tidak menemukan jejak Ki Koswara, Kesuma dan Dewi Harnum memutuskan
untuk segera kembali ke Kerajaan Pasai. Diam diam hati mereka khawatir akan
-terjadi penyerangan yang dilakukan Parta Widura.
Kekhawatiran itu beralasan, mengingat 'Tabir Gaib'
telah terbuka lebar lebar. Sehingga, memungkinkan adanya serangan dari celah
- -celah di segala penjuru.
Setelah hampir sehari penuh menggebah kuda,
menjelang senja kedua orang ini sampai di pintu gerbang Kerajaan Pasai. Dan
mereka jadi kaget, ketika melihat pertempuran sedang berlangsung sengit Beberapa
orang perwira tinggi kerajaan tersungkur roboh. Banyak prajurit istana telah
menjadi mayat. Namun patut diakui, pihak penyerang pun juga ada yang tewas.
Sementara Dewi Harnum jadi berkerut keningnya, ketika tidak melihat Panglima
Perang Mira yang seharusnya memimpin pertarungan. Yang kelihatan saat itu hanya
Ki Belamparan dan Ratu Andilini. Itu pun mereka sudah dalam keadaan terdesak.
Saat itu juga, Dewi Harnum yang dibantu Kesuma segera menerjang ke tengah tengah
- pertempuran. "Ke mana Panglima?" tanya Dewi Harnum, ditujukan pada Ki Belamparan.
"Panglima baru saja kembali. Tetapi kesehatannya tidak memungkinkan. Dia terluka
terkena pisau beracun!" jelas Ki Belamparan sambil memutar toya di
tangan untuk menangkis serangan.
"Jangan beri kesempatan pada mereka untuk meloloskan diri!" teriak Kesuma.
Pemuda ini dengan gagah berani langsung mencabut
pedang. Lawan yang dihadapinya adalah Ranca Praba, yang menjadi pimpinan dalam
penyerangan ini.
Ranca Praba, yang bersenjata clurit segera
menerjang Kesuma. Jurus jurus simpanannya dikerahkan untuk membunuh pemuda murid-Ki Londa itu.
Sebaliknya, Kesuma yang mempergunakan jurus
'Tendangan Badak Kulon' langsung menahan gempuran itu. Hanya dalam waktu sebelas
jurus saja pertempuran sudah berlangsung seru.
Tampaknya Ranca Praba tidak puas melihat
serangannya tidak satu pun yang mengenai sasaran.
Sekejap saja cluritnya sudah meluncur deras, mencari sasaran.
"Haiiit!"
Disertai teriakan keras, Kesuma menggerakkan
pedangnya untuk menghalau luncuran clurit. Maka, benturan keras tidak dapat
dihindari lagi. Trang!
"Heh..."!"
Kesuma terkejut dengan tubuh terhuyung huyung ke
-belakang. Benturan barusan memberi peringatan kalau tenaga dalam lawannya lebih
unggul. Dan belum juga dia mampu menghilangkan keterkejutannya, pada saat itu
pula tendangan Ranca Praba menghantam tulang rusuknya.
Duk! "Hugkh...!"
Kesuma terjajar hingga membentur tembok istana.
Dadanya terasa sesak bukan main. Sedangkan dari sudut sudut bibirnya meneteskan
-darah. Melihat semua ini, Ranca Praba merasa berada di atas angin. Seketika cluritnya
segera dikibaskan kembali.
Ketika clurit itu sejengkal lagi menebas kepala, Kesuma membungkukkan tubuhnya
serendah mungkin.
Begitu tebasan clurit lewat di atas kepalanya, saat itu pula Kesuma menyodokkan
pedang di tangan.
Secepatnya Ranca Praba menggeser tubuhnya ke samping. Namun....
Cres! "Aaakh...!"
Ranca Praba mengeluh tertahan, ketika pedang itu sempat mengenai bahunya. Dengan
cepat ditotoknya jalan darah dekat bagian luka. Dan seketika, kaki begundal
Parta Widura ini segera membangun serangan kembali.
Sementara itu pertempuran antara Ratu Andilini, Dewi Harnum, dan Ki Belamparan
melawan anak buah Ranca Praba telah mencapai tingkat yang paling membahayakan.
Anak buah Ranca Praba yang hanya tinggal empat orang tampaknya telah mengerahkan
segenap kemampuan. Namun tampaknya mereka tetap
saja terdesak, mengingat Dewi Harnum dan Ratu Andilini telah mempergunakan
jurus jurus pedang yang paling tinggi.-"Haiiit!"
Disertai teriakan keras orang orang Tanah Kutukan itu melompat ke depan sambil
-menusukkan tombak.
Salah satu serangan jelas ditujukan pada Ki Belamparan.
Namun laki laki tua berselempang ini tidak tinggal diam. Tubuhnya cepat
-melenting ke udara. Setelah berputaran dua kali tubuhnya meluncur deras ke
bawah. Dan secepat kilat dilepaskannya tendangan ke dada yang disertai tenaga
dalam penuh. Lalu.... . Buk!
Krak! "Aaa...!"
Salah seorang anak buah Ranca Praba menjerit sekeras kerasnya. Tulang dadanya
-hancur, hingga melesak ke dalam. Tubuhnya jatuh terpelanting dengan darah
menyembur dari mulutnya. Orang dari Tanah Kutukan ini terkapar, tidak bangkit
lagi selama lamanya.
-Bersamaan dengan itu pula Ratu Andilini juga sedang berusaha menghabisi lawan
yang dihadapi. Namun kiranya lawan yang dihadapi cukup cerdik juga. Orang dari Tanah Kutukan
itu terus melompat mundur sambil menggerakkan mata tombaknya.
Wut! Wut! "Hup...!"
Tepat ketika orang dari Tanah Kutukan menusukkan tombaknya, Ratu Andilini
mendadak melompat. Begitu berada di udara, tubuhnya meluncur dengan tusukan
pedang ke arah sasaran. Orang dari Tanah Kutukan itu rupanya tidak sempat
menghindari gerakan yang sangat cepat ini. Sehingga tanpa ampun....
Cras...! "Aaa...!"
Tusukan senjata Ratu Andilini tepat mengenai dada kiri laki laki itu hingga -kontan melotot. Mulutnya menyeringai menahan rasa sakit yang tak terkira.
Tangan kirinya mendekap bagian lukanya yang
mengucurkan darah,
Tepat ketika Ratu Andilini menarik pedangnya kembali, robohlan laki laki
-berwajah penuh koreng ini.
Tubuhnya berkelojotan sekejap, lalu diam membeku.
"Dewi Harnum! Ki Belamparan! Habisi lawan-lawanmu secepatnya!" teriak Ratu
Andilini. Tanpa diberi aba aba sekalipun sebenarnya Dewi Harnum maupun Ki Belamparan yang
-hanya tinggal menghadapi seorang lawan sudah bermaksud menghentikan perlawanan.
Terbukti, kedua orang ini kemudian tampak mendesak lawannya dari dua arah secara
bersamaan. Ki Belamparan memutar tombaknya hingga menimbulkan suara menderu deru, membentuk per-tahanan diri. Namun di lain waktu,
-tongkatnya dikibaskan ke bagian kepala.
Namun ternyata orang yang dihadapi Ki Belamparan
masih sempat menusukkan tombak setelah menahgkis tongkat yang meluncur deras ke
bagian kepala. Bret! "Aiih...!"
Ki Belamparan mengeluh tertahan. Mulutnya
meringis menahan perih. Bagian dadanya sempat tergores mata tombak lawannya.
Sedangkan tongkatnya hampir saja terlepas dari genggaman tangannya.
Untung tadi dia sempat melompat ke belakang.
*** Ki Belamparan menggeram marah. Setelah menyeka
darah yang menetes dari luka, laki laki tua ini kembali-melancarkan serangan gencar. Kali ini, juga dilepaskannya tendangan tendangan
-berbahaya. Anak buah Ranca Praba itu tampak terdesak.
Sementara Ki Belamparan tampaknya memang sudah tidak memberi kesempatan lagi.
Sekuat tenaga tongkat di tangannya dikibaskan ke kepala.
Prak! "Huaagkh...!"
Teriakan keras disertai menyemburnya cairan otak bercampur darah mengiringi
kematian laki laki dari Tanah Kutukan itu. Tubuhnya terhuyung huyung lalu jatuh
- -terkapar. Kini yang masih terlibat pertempuran hanya tinggal Kesuma dan Dewi Harnum saja.
Namun, orang yang dihadapi Dewi Harnum ternyata memiliki ilmu olah kanuragan
cukup lumayan juga. Sehingga wanita itu merasa agak kerepotan untuk
menjatuhkannya.
Setelah mengambil jarak dengan melompat ke
belakang, gadis itu mengerahkan tenaga dalam ke bagian telapak tangannya. Tidak
lama setelah itu....
"Pukulan 'Bidadari Sakti'! Hiyaaa...!"
Sambil melompat ke depan Dewi Harnum berteriak keras. Dan seketika kedua
tangannya didorongkan ke depan.
Sekejap saja tampak melesat seleret sinar kuning berkilauan ke arah orang dari
Tanah Kutukan. Namun dengan membuang diri ke samping, orang itu berhasil
menghindari serangan yang menimbulkan hawa dingin tersebut. Sehingga....
Blarrr! Serangan Dewi Harnum menghantam batu besar
yang terdapat di belakang laki laki itu. Tetapi, gadis berbaju putih ini tidak
-menunggu lebih lama lagi. Segera pukulannya dilepaskan kembali.
Wuuutt! Glar! Glar! "Aaa...!"
Ledakan dahsyat diiringi jeritan menyayat terdengar mengeringi kematian laki
-laki dari Tanah Kutukan itu.
Sosok tubuhnya terpelanring ke belakang. Ketika jatuh, nyawanya sudah lepas dari
raganya. Dewi Harnum menarik napas lega. Segera dia
bergabung dengan Ratu Andilini dan Ki Belamparan.
Mereka terus mengawasi jalannya pertarungan antara Kesuma dan Ranca Praba yang
masih berlangsung sengit.
"Nyawamu tidak sampai tiga jurus lagi!" desis Ranca Praba.
"Hm...." Kesuma menggumam tidak jelas.
Ranca Praba tiba tiba menerjang ke depan. Gerakannya sangat sulit dibaca, ketika-mengerahkan jurus tingkat paling tinggi. Bahkan tiba tiba clurit di tangannya
-menderu secara menyilang.
Kesuma segera mengibaskan pedangnya untuk
menangkis. Tring! "Heh..."!"
Tanpa dapat menutupi rasa kaget, mereka sama-sama terhuyung huyung ke belakang.
-Belum sempat Kesuma memperbaiki keseimbangannya, Ranca Praba cepat menerjang
lagi dengan senjata meluncur ke bagian leher.
Semua orang yang melihat kenyataan ini hanya dapat menahan napas. Sulit
dibayangkan, apa yang bakal terjadi pada Kesuma. Namun pada saat saat yang
-sangat gawat, mendadak Kesuma merundukkan kepala serendah mungkin. Sedangkan
pedang di tangannya meluncur deras ke bagian perut Ranca Praba.
Wesss! Tebasan senjata Ranca Praba yang meluncur ke arah batang leher tidak mengenai
sasaran. Sebaiknya, pedang Kesuma menembus perut Ranca Praba sambil ke punggung.
"Huaaagkh...!"
Ranca Praba memekik tertahan. Matanya mendelik, seakan tidak percaya dengan apa
yang telah terjadi pada dirinya. Sebelum Ranca Praba roboh, secepat kilat Kesuma
mencabut senjatanya, lalu mengibaskannya ke bagian kepala.
Crak! Saat itu juga terbelahlah kepala Ranca Praba. Laki-laki ini roboh dengan kepala
pecah dan perut tertembus pedang.
"Aku tidak tahu, bagaimana nasib guruku. Jika beliau sampai tewas, aku bersumpah
akan membelah kepala Parta Widura!" desis Kesuma disertai suara gumaman.
Lalu diikutinya Ratu Andilini dan yang lain lain memasuki istana.
-*** Di dalam ruangan pertemuan kerajaan, Ratu Andilini,
Ki Belamparan Kesuma, dan Dewi Harnum berkumpul.
Tampak baik Ratu Andilini mau pun yang lain lainnya sedang memikirkan langkah - -apa yang harus ditempuh.
"Apa keputusanmu, Paman Belamparan?" tanya Ratu Andilini.
Ki Belamparan tidak langsung menjawab. Dan
matanya malah memandang tajam pada Kesuma.
"Apa pendapatmu, Kesuma" Apakah kita tetap berdiam di sini atau menyusul
Pendekar Rajawali Sakti ke Tanah Kutukan?"
"Maafkan aku, Ki. Bagiku keselamatan kerajaan memang penting. Namun keselamatan
guruku dan, Dewi Melur, juga sangat penting. Lagi pula kita tidak bisa
membiarkan Rangga berjuang seorang diri. Aku curiga, jangan jangan Ki Koswara
-berada di sana," ucap Kesuma, lirih.
"Dugaanmu terlalu berlebihan, Kesuma! Mustahil guruku bergabung, dengan manusia
sesat seperti Parta Widura. Sungguh tidak bisa kuterima!" bantah Ratu Andilini
polos. "Kemungkinan itu bisa saja terjadi pada siapa pun, Ratu," sergah Ki Belamparan
tanpa bermaksud membela Kesuma. "Apa yang dikatakan Kesuma rasanya memang masuk


Pendekar Rajawali Sakti 200 Bencana Tanah Kutukan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

akal. Pertama, mengapa di saat Ratu menghadapi persoalan begini rumit, Ki
Koswara malah menghilang begitu saja. Sedangkan yang kedua, dia datang dan pergi
ketika kerajaan masih dilindungi Tabir Gaib. Lalu, ke mana perginya?"
"Benar, Gusti Ratu. Hamba pernah melihat Ki Koswara keluar secara diam diam
-melalui pintu rahasia dan kembali setelah menjelang subuh!" Dewi Harnum
menimpali. "Namun hamba tak menduga atau ber
-prasangka buruk padanya. Hanya saja bila melihat kenyataan ini, hamba jadi yakin
kalau Ki Koswara telah membelot. Keyakinan hamba didasari, mengingat dia masih
ada hubungah paman dengan Parta Widura...."
"Lalu bagaimana pendapatmu, Panglima?" tanya Ratu Andilini ditujukan pada Mira.
Gadis yang belum sepenuhnya sembuh dari luka beracun yang diderita ini tidak
segera menjawab. Dalam hati, dia tidak ingin Ratu Andilini ikut serta. Walau
bagaimanapun, Parta Widura memang mengincar
dirinya. Selain itu Tanah Kutukan juga sangat berbahaya, karena sewaktu waktu
-bencana dapat saja menimpa.
"Gusti Ratu, sebenarnya masalah pertempuran ini merupakan tanggung jawabku.
Jadi, hamba sarankan sebaiknya biar kami saja yang menyusul Pendekar Rajawali
Sakti," tandas Panglima Mira.
Ratu Andilini tampak gusar sekali mendengar ucapan panglima perangnya. Sebagai
pimpinan kerajaan, mana mungkin dia harus berdiam diri dan tinggal berpangku
tangan menunggu nasib" Sementara, seluruh pembantunya berjuang mati matian
-membela kerajaan"
"Aku tidak dapat menerima usulmu! Lagi pula, kau belumlah sembuh benar. Aku
harus ikut ke Tanah Kutukan walau apa pun yang terjadi!" sentak Ratu Andilini.
Keputusan Ratu Andilini tentu mengejutkan semua pihak yang berada dalam ruangan
pertemuan ini. Mereka semakin bertambah khawatir dengan ke-selamatan Penguasa Kerajaan Pasai ini. Walau bagaimanapun, mereka sama sama
-tidak mengetahui
seberapa hebat kekuatan Parta Widura. Adalah sesuatu yang sangat merepotkan,
jika sambil bertempur mereka harus melindungi Ratu Andilini.
"Sebaiknya pertimbangkan kembali keinginan untuk ikut serta ke Tanah Kutukan,
Gusti Ratu"!" ingat Ki Belamparan.
"Kalian semua meragukan aku" Aku adalah pimpinan di Kerajaan Pasai ini. Jadi,
betapa malunya jika aku terus berpangku tangan di sini!"
"Tapi, Parta Widura menginginkan Gusti Ratu untuk membebaskan kutukan yang
dideritanya selama bertahun tahun!" sergah Panglima Mira.
-Apa yang dikatakan Panglima Mira memang benar.
Sebenarnya, Ratu Andilinilah kunci dari semua kemelut yang sedang dihadapi.
Parta Widura menginginkan dirinya untuk mendapatkan kehormatanrtya. Dan ini
merupakan sesuatu yang menakutkan bagi Ratu Andilini sendiri.
Namun kalau dipikir lagi, bagaimana jika seluruh pembesarnya terbunuh. Bukankah
dia nantinya juga akan dijadikan korban oleh Parta Widura" Rasanya lebih baik
berbuat sebelum terlambat, daripada tidak sama sekali!
"Keputusanku tetap sama. Sekarang persiapkan segala sesuatunya yang akan kita
butuhkan dalam perjalanan!" tegas Ratu Andilini.
Kini tidak seorang pun yang berani membantah keputusannya. Mereka, terutama
Panglima Mira, segera mempersiapkan semua keperluan.
*** Pendekar Rajawali Sakti cukup kerepotan juga mendobrak pintu gua yang dijadikan
tempat tinggal Parta Widura. Sebenarnya, bisa saja pintu baru itu dlhancurkan
dengan mempergunakan pukulannya.
Tetapi dia khawatir suara ledakan yang ditimbulkan hanya akan menarik perhatian
Parta Widura dan kawan-kawannya.
Rangga kemudian berputar untuk mencari jalan lain agar dapat memasuki gua
tersebut. Tetapi tiba tiba....
-"Pendekar Rajawali Sakti!"
Mendadak terdengar panggilan dari batik batu di depannya. Dengan sangat berhati
- hati pemuda memakai baju rompi putih ini segera datang menghampiri. Dan dia menjadi terkejut
ketjka melihat Ki Londa tersenyum kepadanya.
"Ki! Bagaimana kau dapat keluar dari dalam gua itu?"
tanya Rangga terheran heran.-"Kepalaku sempat dipenggal Dadung Ampel. Tapi, aku punya aji 'Panca Sona'. Oh,
ya.... Aku keluar dari belakang gua ini. Di sana ada pintu rahasia," jelas Ki
Londa. "Bagaimana dengan Dewi Melur?" tanya Rangga.
"Sangat disayangkan, aku tidak bisa menolongnya.
Dia tewas menjadi korban kebiadaban Parta Widura.
Dia telah berkorban untuk Ratu Andilini. Sungguh mengenaskan nasib gadis itu,"
desis Ki Londa.
"Bagaimana kau tahu?"
"Aku berhasil menyelinap ke kamar Parta Widura dan mendapatkan jasad Dewi Melur
polos dalam keadaan tidak bernyawa.
"Hmm," gumam Rangga tidak jelas.
Memang, betapa mengenaskannya nasib patih
kerajaan itu. Rangga sangat menyesal karena tidak bisa mencegah perbuatan Parta
Widura. Kedatangannya ke Tanah Kutukan terlambat. Dan akibatnya, sangat
menyedihkan. "Ki Londa! Apakah Parta Widura sekarang telah terbebas dari kutukan?" tanya
Pendekar Rajawali Sakti, menyelidik.
"Betul! Karena, dia telah meniduri Dewi Melur. Tapi kutukan yang terjadi pada
diri anak buahnya tidak bisa dipunahkan, mengingat khasiat yang diperoleh dari
darah perawan Dewi Melur sangat terbatas. Lain lagi jika berhasil mendapatkan
darah perawan Ratu Andilini," jelas Ki Londa.
"Berapa kekuatan di dalam sana" Apakah Ki Koswara juga ada bersama Parta
Widura?" "Mereka hanya bertiga. Dan ternyata, Ki Koswara merupakan paman dari Parta
Widura." "Gila! Kita kecolongan!" desis Rangga.
Terdorong rasa penasarannya, Rangga memutuskan untuk segera menyelinap ke dalam
gua. Tetapi pada Saat yang bersamaan, terdengar suara bergemuruh pada bagian
pintu depan gua. Mau tidak mau, Rangga memusatkan perhatiannya ke arah pintu,
setelah cepat menyelinap kembali.
8 Batu besar yang menutupi gua terbuka. Dari dalamnya muncul Parta Widura yang
ditemani seorang laki laki tua berbadan bungkuk dan seorang laki laki tua - -berambut putih berbaju ungu.
Ki Londa mengenali laki laki tua berambut putih yang menyandang pedang di
-pinggang. Dia tidak lain dari Ki Koswara.
"Kau lihat, Rangga! Ki Koswara guru Ratu Andilini ternyata seorang pengkhianat!
Dia memilih membela keponakannya yang sesat, daripada berpihak pada kebenaran,"
bisik Ki Londa dekat telinga Rangga.
"Hendak ke mana mereka?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.
"Ke mana lagi, kalau bukan ke Kerajaan Pasai. Yang jelas, dia masih tetap
bertekad untuk memiliki Ratu Andilini. Apalagi sekarang dibantu Dadung Ampel dan
Ki Koswara. Tentu, dia semakin besar kepala," jelas Ki Londa.
"Kita harus mencegahnya!" tegas Rangga.
Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti berkelebat, lalu mendarat manis di depan
ketiga orang irii. Gerakannya disusul oleh kelebatan tubuh Ki Londa, yang
langsung mendarat di sisi Pendekar Rajawali Sakti.
"Para sekutu manusia iblis terkutuk! Kalian hendak pergi ke mana?" tegur Rangga,
kalem. Ketiga laki lakiyang telah bersiap siap meninggalkan gua itu tampak terkejut,
- -melihat kehadiran Rangga. Dan
Dadung Ampel pun tampak lebih terkejut lagi, melihat Ki Londa.
"Siapa kau?" dengus Parta Widura.
"Itulah pemuda keparat yang pernah kuceritakan waktu itu," tuding Dadung Ampel.
"Pendekar Rajawali Sakti!" timpal Ki Koswara.
"Dan, mengapa orang tua itu tidak mati, Dadung Ampel?" tanya Parta Widura agak
kaget "Aku yakin karena ajian 'Panca Sona', Sahabatku!"
sahut Dukun Sakti gugup.
"Oho...! Kebetulan sekali, aku telah mengamalkan ajian 'Panca Sona'. Tidak
kusangka keberangkatan kita jadi tertunda, karena kehadiran mereka ini, Paman
Koswara," oceh Parta Widura.
"Kita bereskan kedua kutu busuk ini dulu. Jika semuanya sudah mampus tentu
rencana kita dapat dijalankan tanpa halangan apa pun lagi!" tandas Ki Koswara,
memandang rendah lawan lawannya.
-"Ki Koswara! Rupanya hatimu telah tertutup oleh rayuan iblis, sehingga tak bisa
lagi membedakan mana kejahatan dan mana kebenaranl" tegur Rangga, dingin.
"Kau masih kuberi kesempatan, Ki. Bertobatlah. Tapi kalau kau membangkang, hanya
sia sia yang kau dapatkan...!"-"Betul! Hm.... Dukun kampret akan menjadi bagianku, Rangga!" tambah Ki Londa.
"Huh! Bicaramu seperti dewa saja, Anak Muda!
Rupanya kalian belum tahu, siapa yang dihadapi!"
dengus Ki Koswara.
"Paman dan sahabatku Dadung Ampel! Jangan banyak bicara! Bunuh mereka segera!"
perintah Parta Widura tegas. "Baiklah.... Kau tidak usah turun tangan, Parta Widura! Biarkan kami yang
membereskan mereka!
Hiyaaa...!"
Disertai teriakan keras, Ki Koswara segera menerjang ke depan. Melihat sekutunya
sudah melakukan
serangan, maka Dadung Ampel segera menyerang Ki Londa. Tidak dapat dihindari
lagi, terjadilah perkelahian cukup seru. Masing masing berusaha mengeluarkan
-jurus simpanannya.
Rangga segera melakukan serangan serangan
-gencar. Berulang kali tangannya yang terkepal menghantam ke arah sasaran.
Sedangkan kaki kanannya sesekali melepaskan tendangan ke beberapa bagian
mernatikan. Namun, ternyata Ki Koswara yang pernah men
-dengar kehebatan Pendekar Rajawali Sakti ini segera mengerahkan jurus andalan
yang dipergunakan untuk menghadapi dan melakukan serangan balik.
Jotosan jotosan Rangga yang berisi tenaga dalam tidak mengenai sasarannya.
-Ketika serangan kaki Pendekar Rajawali Sakti menghantam ke bagian kepala, Ki
Koswara menangkis dengan sikunya.
Duk! "Ufh...!"
Rangga terhuyung beberapa langkah ke belakang.
Sedangkan Ki Koswara merasa sikunya seperti remuk.
Tubuhnya bergetar, dan rasa panas menjalar dari bagian sikunya yang berbenturan
dengan kaki pemuda tadi.
"Pemuda ini ternyata mempunyai tenaga dalam dua tingkat di atasku. Jika tidak
cepat kuatasi, bukan
mustahil aku yang mati!" pikir Ki Koswara.
"Hup...!"
Laki laki berambut putih ini melompat ke depan.-Seketika tangannya mendorong ke arah Rangga disertai tenaga dalam tinggi.
"Hiyaaa...!" teriak Ki Koswara seraya mengerahkan pukulan 'Dewa Mayat Biru'.
Wuusss...!. Seketika itu juga meluncur dua larik sinar hijau menebarkan bau busuk ke arah
Rangga. Merasakan desir angin halus yang bersumber dari pukulan lawan, Pendekar Rajawali
Sakti segera menyadari bahaya mengancam. Segera tenaga dalamnya disalurkan ke
bagian telapak tangan. Lalu laksana kilat, tangannya dikibaskan ke arah
datangnya sinar hijau itu.
"Aji 'Guntur Geni'! Hiyaaa...!"
Seketika meluruk dua sinar merah membara,
langsung memapas. maka benturan kedua tenaga sakti itu tidak dapat dihindari
lagi.... Glar! Glar! "Hukh...!"
Diawali dua ledakan keras dua sosok tubuh tampak terlempar ke belakang. Rangga
meringis menahan sakit.
Jelas, dia menderita luka dalam akibat benturan kedua tenaga sakti tadi. Namun
segera Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri.
Sedangkan Ki Koswara terpaksa mengerahkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka
dalamnya. Darah kental tampak menetes dari sudut sudut bibirnya.
-Segera bangkit laki laki berambut putih ini ketika
-sedikit merasa segar kembali. Wajahnya yang pucat tampak menyunggingkan seulas
senyum dingin. Bahkan kepalanya menggeleng ketika Parta Widura bermaksud turun
tangan untuk membantu.
Set! Sring! Ki Koswara mendadak mencabut pedang dan
kebutan dari kain berwarna hitam. Begitu menerjang kembali, pedang dan kebutan
itu dikibaskan secara bergantian. Atau bahkan dipergunakannya secara bersamaan.
Kenyataan ini tentu saja membuat Rangga jadi terdesak. Terpaksa Pendekar
Rajawali Sakti melompat mundur. Apalagi kebutan itu terus melecut, meliuk, atau
mematuk seperti seekor ular. Sampai kemudian salah satu senjata itu secara
berbareng menghantam pundaknya.
Tes! "Auuh...!"
Rangga memekik tertahan. Tampak darah mengucur
dari luka di bahunya. Namun Pendekar Rajawali Sakti cepat menotok urat untuk
menghentikan aliran darahnya.
Pada saat itu Ki Koswara kembali mendesak dengan serangan serangan mematikan. -Dan Rangga pun tidak mau bersikap sungkan sungkan lagi. Segera dipergunakannya
-jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'.
Dengan cepat tubuh Rangga meliuk liuk menghindari serangan. Sedangkan kakinya
-bergerak lincah untuk menopang gerakan tubuhnya.
Perubahan jurus yang dimainkan Pendekar Rajawali
Sakti membuat terkejut Ki Koswara. Dengan penasaran pedangnya ditusukkan ke
bagian lambung. Sedangkan dari arah kanan senjata ke butannya dikibaskan pula.
Rangga agak kerepotan untuk mengatasi serangan yang datangnya secara bersamaan
itu. Tiba tiba Pendekar Rajawali Sakti melenting ke udara. Beberapa kali
-tubuhnya berputaran, lalu meluncur ke bawah dengan jurus 'Rajawali Menukik
Menyambar Mangsa'
dengan kaki mengayun deras ke bagian kepala.
Ki Koswara tidak pernah menduga kalau pemuda itu
mampu melakukan serangan dari atas. Dia berusaha menundukkan kepala untuk
menghindar, namun
gerakannya kalah cepat.
Prak! "Aaa...!"
Ki Koswara menjerit menyayat ketika kepalanya terhantam kaki Pendekar Rajawali
Sakti. Isi kepalanya kontan berhamburan. Bahkan tubuhnya sempat
berputar beberapa kali bagai orang bingung, sebelum akhirnya jatuh ke tanah
tanpa bangun bangun lagi.
-"Paman Koswara!" pekik Parta Widura, begitu terkejut melihat kematian pamannya.
Laki laki ini langsung memburu Ki Koswara. Tapi hanya bisa memeluk jazad lelaki
-itu dan me-mandangnya termangu mangu. Satu hal yang membuatnya sangat
-terguncang, sungguh tidak disangka kalau pemuda memakai baju rompi putih itu
mampu membuat kepala pamannya hancur! Dengan penuh kegeraman, Parta Widura
bangkit berdiri dan langsung menghadap Rangga.
"Manusia keparat' Aku akan mengadu jiwa atas
kematian pamanku! Heaaa...!" pekik Parta Widura.
Dengan ganas laki laki Penguasa Tanah Kutukan itu menerjang. Tinjunya meluncur -deras menghantam bagian kepala Pendekar Rajawali Sakti.
Tetapi Rangga dengan gesit segera menghindar, dan langsung melancarkan serangan
balasan. Sementara itu, Ki Londa yang sedang berhadapan dengan Dadung Ampel tampaknya
juga sedang mendapat tekanan cukup berat. Dukun Sakti dengan pendupaan yang mengepulkan asap
serta keris pendek di tangannya tampak lebih ganas dalam melakukan serangan.
Celakanya setiap keris itu diadu dengan pendupaan di tangan kiri, pasti
mengeluarkan suara yang sangat menyakitkan telinga.
Tuoeng! Ki Londa terpaksa menutupi telinganya. Tetapi, hal seperti itu tidak dapat
dilakukannya secara terus-menerus. Maka terpaksa tenaga dalamnya dikerahkan
untuk menutup indera pendengarannya. Terlebih lebih ketika tusukan keris maupun


Pendekar Rajawali Sakti 200 Bencana Tanah Kutukan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

-kemplangan pendupaan datang menghantam secara bertubi tubi.
-Ki Londa tidak disangka sangka melompat mundur.
-Bibirnya menyeringai. Entah tersenyum entah kesal.
"Dukun cabul! Kau ini memang bangsat sialan!
Kuperintahkan, buang pendupaan setanmu! Atau, akan kupotong hidung dan telingamu
dengan pedangku...!"
ancam Ki Londa,
"Ha ha ha ...! Manusia pikun tukang ngiler. Lihat!
Pendupaanku segera kuserahkan padamu! Terimalah!"
dengus Dadung Ampel.
Entah apa yang dibacanya, yang jelas ketika
pendupaan yang mengepulkan asap tebal itu
dilemparkan ke arah Ki Londa, tanpa disangka sangka berubah menjadi besar.
-Semakin lama pendupaan itu semakin mendekati Ki Londa. Namun besarnya juga
semakin menjadi jadi.
-Laki laki tua berbaju merah itu terkejut, Matanya melotot seperti melihat setan.
-*** Ketika pendupaan hampir menghantam remuk
mulutnya, Ki Londa segera membuang diri dan berguling guling ke samping. Lalu -dengan cepat pedangnya dicabut dan langsung dikibaskan ke arah pendupaan.
Aneh...! Seperti mempunyai mata saja, pendupaan yang telah berubah dua kali
lebih besar dari Ki Londa bisa mengelak.
"Masa' kau dapat menghindari jurus 'Tendang an Badak Kulon'!" pikir Ki Londa.
-"Hiyaaa...!"
Tiba tiba laki laki tua berjubah merah ini melakukan sabetan menyilang. Dengan
- -gerakan mengagumkan, pendupaan itu meluncur ke samping. Tetapi, secepat kilat Ki
Londa memutar pedangnya dan membabat-kannya ke samping pula. Akibatnya.... Plak!
Pendupaan itu kontan hancur berantakan. Sementara Dadung Ampel terkejut sekali melihat pen-dupaannya hancur.
"Sekarang, permainan apa lagi yang ingin kau tunjukkan padaku, Dukun Gendeng?"
ejek Ki Londa. "Huh...!"
Dadung Ampel hanya mendengus saja. Kemudian
keris hitam berlekuk tiga miliknya diacungkan tegak di udara. Mulutnya berkemak
-kemik. Tak lama, sekujur tubuhnya pun terguncang keras.
Hanya dalam sekedipan mata saja tubuh Dadung Ampel telah bertambah. Dan kini
menjadi tiga orang!
Rupanya dia mengeluarkan sebuah ilmu yang langka.
Ki Londa sadar betul, ada tiga Dadung Ampel. Dan di antaranya palsu. Sementara
Dadung Ampel yang sesungguhnya harus dihancurkannya. Untuk itu segera diterapkan
ajian 'Panca Sona' untuk mencegah hal hal yang tidak diinginkan.
-Benar saja. Pada saat yang bersamaan, Dadung Ampel menghunuskan kerisnya ke
bagian perut Ki Londa. Tiga Dadung Ampel menyerang secara
bersamaan yang tentu saja sangat ganas karena ke-pandaiannya memang sangat
tinggi. Namun Ki Londa cepat berusaha menghindar sambil
melepaskan tendangan dan menghantamkan pedang di
tangannya. Wuuut! Besss! Ternyata Ki Londa menghantam Dadung Ampel yang
palsu. Sedangkan dari arah samping, Dadung Ampel lainnya menusukkan keris ke
perut. W Londa makin terpojok, karena dari samping kanan Dadung Ampel lainnya
menusukkan senjata yang sama.
Tiba tiba saja....-Crasss!
"Auugkh...!"
Ki Londa menjerit keras ketika perutnya tertusuk keris yang beracun itu. Laki
-laki tua ini jatuh berguling
-guling. Melihat ini, Dadung Ampel yang telah mengembar menjadi tiga orang ini
segera memburu dengan maksud menyudahi pertarungan.
Namun pada saat saat yang sangat menentukan, dari arah belakang berkelebat
-bayangan kuning ke arah salah satu Dadung Ampel yang menyerang Kil Londa.
Karena nafsunya untuk membunuh Ki Londa demikian besar, akibatnya Dadung AmpeI
yang jadi sasaran tak menyadari datangnya bahaya. Dan....
Crak! "Aaa...!"
Sungguh suatu kebetulan bagi bayangan kuning. Saat pedangnya dihujamkan,
ternyata sasaran adalah Dadung Ampel yang asli. Disertai jeritan yang sangat
keras, Dukun Sakti ini terpelanting roboh dengan punggung tertembus pedang.
Kiranya bayangan kuning yang tidak lain Kesuma ini mengerahkan seluruh tenaga
dalam yang dimiliki ke bagian hulu pedangnya, ketika melihat gurunya dalam
keadaan terancam! Sehingga, akibatnya Dadung Ampel begitu jatuh ke tanah sudah
tidak dapat bangkit lagi. Dia tewas saat itu juga. Saat Dukun Sakti tewas,
kembarannya pun lenyap pula.
Kesuma segera menghampiri Ki Londa yang saat itu sedang menelan beberapa butir
obat pulung. "Guru bagaimana keadaanmu?" tanya Kesuma, langsung memeriksa keadaan luka
gurunya. Ternyata, luka itu cukup berbahaya. Tetapi, laki laki tua berbaju merah ini
-malah tertawa.
"Ha ha ha...! Mengapa kau jadi pikun" Bukankah kita punya ajian 'Panca Sona'?"
ucap Ki Londa. Saat itu juga Ki Londa mengusap bekas tusukan keris
lawannya. Tiga kali usapan, luka itu lenyap tanpa menimbulkan bekas.
"Bagaimana" Bukankah aku tidak apa apa?" tukas Ki Londa.-Laki laki tua ini mengedarkan pandangan. Tidak jauh di sebelah kanan, ternyata
-Rangga masih terlibat pertempuran sengit melawan Parta Widura. Sedangkan ketika
melirik ke arah timur, di sana rombongan Istana Kerajaan Pasai sudah tiba.
Mereka langsung berjaga-jaga dengan perasaan cemas.
"Panglima perang itu memang pantas berjodoh denganmu, Kesuma!"
Tanpa sebab tiba tiba Ki Londa bicara tentang Mira, sehingga membuat Kesuma jadi
-malu. "Guru masih bisa saja bercanda. Kita sekarang harus menolong Pendekar Rajawali
Sakti. Parta Widura ternyata sangat sakti!" kata Kesuma, mengalihkan
pembicaraan. "Seorang pendekar akan merasa tersinggung bila kita membantunya. Kita lihat saja
dulu, apa yang bakal terjadi!" sergah Ki Londa.
Mereka kemudian bergabung dengan Ratu Andilini sambil berjaga jaga,
-Apa yang dikatakan Kesuma ternyata memang
benar, Parta Widura ternyata cukup alot juga. Bahkan tubuh laki laki itu sempat
-terkapar roboh ketika ajian
'Bayu Bajra' yang dilepaskan Rangga menghantam tubuhnya. Namun tidak lama
kemudian, Parta Widura hidup kembali. Langsung dia melakukan serangan balasan
yang tidak kalah hebatnya!
"Aku tidak mungkin dapat membunuhnya jika tidak
tahu cara dan di mana kelemahannya!" gumam Rangga.
Belum sempat Pendekar Rajawali Sakti berbuat apa
-apa, tiba tiba Parta Widura mendorongkan kedua tangannya ke arah Rangga.
-"Hiyaaa...!" teriak Parta Widura seraya mengerahkan aji 'Delapan Penjuru Neraka
Dunia'nya. Dua sinar hitam langsung meluncur deras menghantam.
Pendekar Rajawali Sakti secepatnya bersalto ke udara, membuat serangan Parta
Widura hanya lewat sejengkal di bawah kakinya.
Blarrr! Batu di belakang Pendekar Rajawali Sakti hancur.
Dan begitu menjejak tanah, Rangga segera membuat gerakan tangan dengan kuda kuda
-kokoh. Sementara tubuhnya miring ke kiri, lalu ke kanan. Tepat ketika tegak
kembali kedua telapak tangan yang telah terselimut cahaya biru sudah merangkap
di depan dada. Pada saat yang sama, Parta Widura telah
menghentakkan tangannya, melepas ajian 'Delapan Penjuru Neraka Dunia' kembali.
Seketika dua sinar hitam kembali meluruk ke arah Pendekar Rajawali Sakti.
Namun.... "Aji 'Cakra Buana Sukma'...!"
Disertai teriakan menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan kedua
tangannya yang terselubung sinar biru berkilau, disertai tenaga dalam tinggi.
Saat itu juga, melesat sinar sinar biru memapak datangnya serangan Parta Widura.-Dan....
Blarrr...! Terdengar ledakan dahsyat akibat pertemuan dua
kekuatan bertenaga dalam tinggi. Namun, ternyata sinar
biru itu terus menerobos, mengancam keselamatan Parta Widura yang terkesiap, tak mampu menghindar. Dan....
Glarrr...! "Aaa...!"
Parta Widura menjerit tertahan. Tubuhnya kontan hancur menjadi serpihan daging.
Sedangkan tulang-belulangnya sudah tidak dapat dipungut lagi. Debu dan pasir
serta batu batu kecil berterbangan, memenuhi angkasa. Tanah di sekitamya
-terguncang. Semua orang yang ada terpana.
Aji 'Panca Sona' mustahil dapat mengembalikan Parta Widura dalam keadaan seperti
sediakala, karena jantungnya yang menjadi pusat kehidupannya ikut hancur. Itulah
kelamahan aji 'Panca Sona'.
Ketika debu telah menghilang dari pandangan mata, orang orang Kerajaan Pasai
-tidak melihat lagi Pendekar Rajawali Sakti berada di situ.
"Maafkan aku.... Aku tidak bisa menemani kalian untuk memeriahkan pesta
kemenangan. Tetapi
kuharap, semoga untuk waktu yang mendatang
Kerajaan Pasai mempunyai kekuatan. Kurasa, Kesuma pantas berada di tengah tengah
-kalian!" Mendadak terdengar suara yang dikirimkan lewat pengerahan ilmu
'Mengirimkan Suara'. Dan, yang baru saja bicara tidak lain dari Pendekar
Rajawali Sakti!
"Dia pergi secepat itu!" keluh Dewi Harnum, menyesalkan.
Siapa pun tidak menyangka kalau gadis jelita ini diam diam jatuh hati pada
-Rangga. Sayangnya, dia
selalu kehilangan kesempatan untuk bersama pemuda itu.
"Kesaktiannya tidak dapat diragukan. Dia pantas menjadi raja atau paling tidak
panglima perang yang tangguh!" puji Ratu Andilini tanpa sadar.
"Sebaiknya, kita kembali ke kerajaan. Walaupun kita tidak dapat membalas budi
baiknya, paling tidak jika kita patuhi amanatnya, itu sudah cukup sebagai
penghargaan baginya," ujar Ki Londa.
"Maksudmu, Ki?" tanya Ratu Andilini.
"Maksudnya, Kesuma ini pantas berjodoh dengan salah satu di antara kalian!" kata
Ki Belamparan terus terang.
Ucapan Ki Belamparan disambut tawa Ki Londa dan Ratu Andilini.
"Nanti kita putuskan!" kata Penguasa Istana Kerajaan Pasai ini.
SELESAI Segera menyusul:
PEDANG KILAT BUANA
Created ebook by
Scan & Compile to djvu (adilbaco)
Edit Teks & Compile to Pdf(syauqy_arr)
Weblog, http://hanaoki.wordpress.com
Thread Kaskus: http://www.kaskus.us/showthread.php"t=B97228
Kuda Besi 7 Pendekar Naga Putih 06 Penghuni Rimba Gerantang Pendekar Patung Emas 17

Cari Blog Ini