Ceritasilat Novel Online

Dendam Berkubang Darah 2

Pendekar Rajawali Sakti 189 Dendam Berkubang Darah Bagian 2


Merah geram. "Kerbau dungu sepertimu, meski seratus orang tidak akan membuatku mundur."
"Keparat! Yeaaa...!"
Disertai bentakan keras, Ki Jatmika melompat
menyerang. Hatinya panas bukan main dianggap remeh.
Saat itu juga, gada raksasanya menggebuk dengan tenaga dahsyat. Namun orang
bertopeng selalu menghindar dengan mudah. Tubuhnya mencelat ke atas, seraya
berputaran. Begitu meluruk, pedangnya siap menebas tengkuk. Padahal Ki Jatmika
belum sempat berbalik.
"Heaaat..!"
Di saat yang gawat, mendadak melesat si Tombak Maut yang langsung menghalau
serangan orang bertopeng yang bermaksud memenggal kepala Ki Jatmika.
Kalau saja orang bertopeng itu berhadapan satu lawan satu dengan si Tombak Maut,
rasanya tidak akan kalah.
Tapi ditambah si Raksasa Hati Merah, yang meski kegesitannya jauh di bawahnya,
membuatnya kerepotan juga.
Wuuut! "Uhhh...!"
Baru saja orang bertopeng ini melompat samping
menghindari sabetan gada Ki Jatmika, tombak Ki Lola Abang langsung menyodok ke
perut. Terpaksa dia melompat ke atas sambil menangkis.
Trang! Trang! Dua kali orang bertopeng ini menangkis sambaran tombak dengan pedangnya. Namun
saat itu juga Ki Lola Abang menyusuli dengan tendangan tepat menghajar perut.
Desss...! "Hekh...!"
Orang bertopeng itu kontan terhuyung-huyung ke
belakang sambil mengeluh tertahan.
"Heaaa!"
Belum sempat orang bertopeng ini menguasa diri, si Tombak Maut telah melesat.
Bahkan si Raksasa Hati Merah juga menyusuli dengan ayunan gada.
Orang bertopeng itu mengibaskan pedang menangkis serangan Ki Jatmika, lalu
mencelat ke belakang menghindari sambaran tombak Ki Lola Abang. Namun baru saja
kakinya mendarat, si Dewa Api telah melesat dengan pedang terhunus.
"Heh"!"
Orang bertopeng itu terkejut. Cepat pedangnya diputar mencoba menahan serangan
pedang di tangan si Dewa Api. Trang...!
Karena belum keadaan siap betul, orang bertopeng itu terjajar beberapa langkah
ketika terjadi benturan senjata.
Dan kesempatan itu tidak disia-siakan si Tombak Maut.
Cepat tubuhnya meluruk melepas tendangan ke dada.
Duk! "Aaakh...!"
*** Tubuh orang bertopeng kontan terhuyung-huyung
dengan keluhan tertahan. Belum juga dia bisa berbuat apa-apa si Dewa Api
menambahkan dengan kepalan kiri yang menghantam perut.
Buk! "Hekh...!"
Orang bertopeng itu kembali menjerit kesakitan dan terjungkal deras ke tanah.
Tak! "Biar kuhabisi dia!" desis Ki Jatmika, ketika Tombak Maut menghantam pedang di
tangan orang bertopeng sampai terlepas dari genggaman.
"Jangan...!" tahan si Dewa Api, seraya menyambar tubuh orang bertopeng itu.
Sementara Raksasa Hati Merah terus saja menghantamkan gadanya
Jderrr...! Di tempat orang bertopeng tadi, terlihat permukaan tanah melesak dalam, bekas
hantaman ga da si Raksasa Hati Merah.
"Kakang Pranajaya jangan halangi niatku!" sentak laki-laki bertubuh amat besar
itu, kesal. "Sabar, Jatmika. Jangan bertindak bodoh." ujar Dewa Api seraya bangkit setelah
menotok orang bertopeng.
"Dia telah membunuh Gusti Suwandana. Orang ini mesti mati!" tuntut Raksasa Hati
Merah. "Kalau dia mati, maka putuslah harapan kita untuk mengetahui pembunuh yang
sebenarnya," kilah si Dewa Api. "Apa maksud, Kakang?"
"Orang ini cuma suruhan saja, Jatmika. Kita perlu tahu, siapa yang telah
menyuruhnya." jelas Ki Lola Abang.
"Hhh...!"
Si Raksasa Hati Merah menggeram marah. Tapi meski begitu, dia mau mengerti juga.
"Tahanlah amarahmu. Bukankah ini demi Juragan Suwandana juga?" lanjut si Tombak
Maut. "Baiklah...," sahut Ki Jatmika menahan geram.
Bret! Dewi Api langsung merobek topeng yang menutupi
wajah orang itu, sehingga terlihat seraut laki-laki berwajah sedikit tampan.
Usianya sekitar dua puluh lima tahun dengan kumis tipis.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Ki Pranajaya alias si Dewa Api.
"Huh! Aku tak perlu disuruh siapa pun untuk membunuh si Keparat Suwandana!"
dengus pemuda itu.
"Phuih...?"
Si Raksasa Hati Merah tidak tahan lagi hendak
memuntahkan amarah. Maka dari mulutnya langsung muncrat ludahnya, mengotori muka
pemuda. "Babi busuk! Apa kau takut membunuhku" Ayo, bunuh aku! Bunuh kalau kau berani!"
dengus pemuda itu.
"Hhh...!"
Ki Jatmika alias Raksasa Hati Merah menggeram buas.
Langsung kepalan kanannya diayunkan ke muka pemuda itu. Tapi....
Tap! "Tahan amarahmu, Jatmika. Jangan terpancing. Dia sengaja memancing amarah, agar
membunuhnya. Membunuh manusia busuk ini memang mudah. Tapi dengan begitu,
pembunuh yang sebenarnya akan bebas
berkeliaran. Kita mau Juragan Suwandana tenang dengan menghukum dalang yang
sebenarnya, bukan?" ujar si Tombak Maut, menahan kepalan Ki Jatmika.
Laki-laki bertubuh raksasa itu menarik napas panjang sambil mengangguk.
"Huh! Babi busuk! Ternyata kau memang penakut!
Badanmu saja yang sebesar gajah. Tapi nyalimu ciut seperti tikus!" ejek pemuda
itu lagi. Ki Jatmika naik lagi darahnya. Tapi sebelum mengacau, si Tombak Maut buru-buru
menariknya menjauh dari pemuda itu.
"Jangan dengarkan dia. Orang itu tahu kelemahanmu.
Dan dia manfaatkan, agar majikannya tetap tidak diketahui. Kalau kau membunuhnya
maka kita akan kehilangan jejak. Mengerti?"
Ki Jatmika mengangguk.
"Di sinilah dulu. Dan, jangan hiraukan dia."
"Ya...."
Lalu, si Tombak Maut kembali menemui si Dewa Api.
"Dia masih belum mengaku?"
"Sebentar lagi...."
"Huh! Kalian tak dapat apa-apa dariku!"
"Jangan yakin dulu. Kalau kau kenal aku, maka tentu tahu pula kalau aku memiliki
aji 'Pecut Jiwa'."
Pemuda itu hanya mendengus sinis.
"Kakang hendak menggunakan aji itu?" tanya Lola Abang meyakinkan.
"Kenapa tidak?"
Dewa Api menarik tangan kanan dan mengacungkan
dua jari sebatas dada. Lalu....
Tuk! Dua jari si Dewa Api menusuk ke perut pemuda hingga terhenyak, merasakan sakit
seperti disodok benda tumpul.
Tapi rasa sakitnya itu terus berlanjut, ketika hawa panas mengalir dan berputarputar di bawah pusarnya.
"Aaakh...!"
"Hawa panas itu merusak tenaga dalammu. Dan dalam tempo singkat, maka kau
menjadi laki-laki biasa tanpa kehebatan apa-apa. Kemudian setelah itu, akan
merusak jaringan saraf dan aliran darah. Kau akan tetap hidup, tapi menjadi
manusia tak berguna. Bahkan tak tahu siapa dirimu sendiri!" jelas si Dewa Api,
mendengus. "Oh, hentikan! Hentikan...!" teriak pemuda itu.
"Hm, boleh saja asal kau mau buka mulut!"
"Baiklah. Baik..."
"Hmm!"
Si Dewa Api menarik kedua jarinya yang tadi masih menempel di perut pemuda ini.
"Ohhh...!"
Pemuda itu mengatur napasnya yang kalang kabut.
Rasa sakit di bawah pusarnya perlahan-lahan berkurang, kemudian habis sama
sekali. "Bicaralah!"
"Sebaiknya tidak di sini..."
"Jangan cari-cari kesempatan!" bentak si Dewa Api.
"Seseorang akan membunuhku, kalau mereka
mengetahui kalian telah berhasil meringkusku," jelas pemuda itu.
"Hmm!"
"Kurasa ada benarnya juga, Kakang..." kata si Tombak Maut.
"Baiklah. Kita bawa dia ke tempat lain."
Si Tombak Maut mengajak si Raksasa Hati Merah.
Dengan hati-hati dan kewaspadaan penuh mereka
meninggalkan tempat itu.
*** Dewi Kencana masih berada di kamarnya seorang diri.
Orang-orang yang ada di tempat itu bisa merasakan, bagaimana kesedihan hatinya.
Ditinggal suami yang baru saja mendampinginya.
Kini kamarnya dijaga ketat baik dari dalam maupun luar. Mereka beralasan sebagai
pengawal jika pembunuh itu datang lagi. Tidak sembarang orang diperkenankan
masuk. Hanya orang-orang tertentu saja.
Saat itu seorang wanita muda berdiri di ambang pintu.
Kedua penjaga mengenalinya, sebagai kenalan Dewi Kencana yang memang biasa
berkunjung ke tempatnya.
"Silakan masuk, Nisanak!"
"Terima kasih..."
Wanita itu menutup pintu kembali, dan menguncinya dari dalam. Dia berdiri
sebentar, lalu menghampiri Dewi Kencana yang terisak di tempat tidurnya.
"Sudah, hentikan tangismu," ujar wanita itu.
Dewi Kencana menoleh. Dan seketika isak tangisnya terhenti.
"Dia sudah kembali, Parwati?" tanya Dewi Kencana.
"Belum...," sahut wanita bernama Parwati, pendek.
"Aku khawatir," desah Dewi Kencana.
"Dia orang pilihan. Jangan khawatir," tegas Parwati.
Wanita yang baru masuk itu menghampiri peti mati yang terbuka lebar, lalu
melongoknya sekilas.
"Bangsat ini mempunyai kaki tangan yang cukup bisa diandalkan," desis Parwati.
"Sejauh ini tidak diketahui. Buktinya, mereka tak sanggup menahannya."
"Kau tak mengerti. Kaki tangannya tidak semua hadir di sini."
"Maksudmu?" tanya Dewi Kencana.
"Ada beberapa orang yang masih berkeliaran di luar.
Aku punya dugaan, dia telah mencium rencana kita, lalu menempatkan kaki
tangannya untuk berjaga-jaga di luaran sana," jelas Parwati.
"Kenapa tidak disusul saja" Aku khawatir kalau tertangkap, dia malah buka
mulut," tukas Kencana.
"Ya. Aku memang tengah berpikir begitu. Kau bersiaga di sini. Dan kalau ada
sesuatu yang mencurigakan, lekas bereskan!" ujar Parwati.
"Jangan khawatir!"
"Aku pergi dulu!"
Dewi Kencana hanya mengangguk sebagai jawaban.
Wanita ini keluar. Dan isak Dewi Kencana kembali terdengar meski halus.
Sementara Parwati telah menyelinap di antara tamu-tamu dan terus ke dapur. Dari
sana. dia menghilang lewat pintu belakang. Tidak jauh dari kebun di belakang
rumah ini, wanita itu bersiul pelan. Dan tak lama beberapa sosok tubuh ramping
menghampirinya.
"Gusti Ratu! Kami datang memenuhi panggilanmu!"
"Hmm!"
Parwati berkacak pinggang, memandang lima wanita berpakaian serba ketat berwarna
hitam, rambut mereka panjang dibiarkan terlepas sampai pinggang. Dan sepasang
mata mereka dihiasi topeng kecil berwarna hitam. Di situ, ada bolong kecil agar
penglihatannya tidak terganggu.
"Ada berita dari orang itu?" tanya Parwati.
"Gusti Ratu, kami berusaha mencari-carinya, tapi kehilangan jejak," sahut salah
seorang. "Kalian bertujuh. Ke mana empat orang lagi?"
"Dua berjaga-jaga di depan, berpakaian biasa, seorang di dalam rumah untuk
memantau keadaan. Sementara seorang lagi belum kembali."
"Belum kembali" Apa maksudmu?"
"Dia penasaran dan ingin mencari orang itu sampai ketemu."
"Hmm!"
"Gusti Ratu, hamba datang menghadap!"
Terdengar sebuah suara, lalu dari kegelapan muncul sesosok tubuh ramping
lainnya. Orang itu langsung berlutut di depan Parwati.
"Berdiri! Dan, ceritakan apa yang kau bawa," ujar Parwati.
"Celaka, Gusti! Orang itu tertangkap tiga orang tokoh.
Salah seorang hamba kenal. Dia berjuluk Dewa Api."
"Bagaimana yang dua?"
"Satu bertubuh amat besar bersenjata gada. Dan seorang lagi bersenjata tombak.
Rata-rata mereka berusia sekitar dari lima puluh tahun."
"Hmm! Orang itu adalah si Raksasa Hati Merah dan si Tombak Maut. Mereka adalah
orang-orang terdekat si Suwandana."
"Maaf, Gusti. Saat itu hamba tak bisa bertindak."
"Aku tidak menyalahkanmu. Mereka memang tidak bisa dipandang enteng."
"Lalu, bagaimana selanjutnya, Gusti?"
"Tunjukkan pada kami, ke mana mereka pergi."
"Baik, Gusti!"
"Ayo, bersiap semua! Kita akan menyergap sebelum mereka mendahului."
"Tapi, Gusti...."
Wanita yang belakangan muncul agak ragu untuk
melanjutkan kata-katanya.
"Ada apa?" tanya Parwati.
"Tempat itu dijaga ketat. Gusti." sahut wanita yang baru muncul.
"Hmm.... Itu tidak jadi masalah. Kita bereskan semuanya!"
"Baiklah, Gusti."
"Kita berangkat sekarang."
Parwati segera mencelat lebih dulu. Sementara yang lain menyusul cepat. Sebentar
saja, mereka telah menghilang di kegelapan malam.
*** 6 Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi sejak tadi terkekang kebisuan. Sesekali
Rangga melirik. Namun si Kipas Maut agaknya masih tengah memendam
kejengkelan. Sudah jemu rasanya Rangga menghibur, namun tetap saja gadis itu me
masang muka cemberut.
"Kita cari penginapan di desa ini saja, ya?" ajak Rangga, berusaha lembut.
Pandan Wangi tak menjawab. Matanya lurus memandang ke depan.
"Tempat ini kelihatan ramai. Banyak umbul-umbul dipasang seperti kedatangan tamu
agung...," gumam Rangga.
Pandan Wangi tetap membisu.
"Bicaralah, Pandan. Jangan membisu terus... "
"Aku tak tahu, harus bicara apa."
"Nah, itu kan bicara namanya!" seru Rangga dengan wajah sedikit berseri.
Si Kipas Maut tersenyum. Hambar!
Rangga turun dari punggung kudanya. Dihampirinya seorang penduduk yang berdiri


Pendekar Rajawali Sakti 189 Dendam Berkubang Darah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tak jauh dari situ.
Sementara Pandan Wangi pun mengikuti tindakannya. Kini kedua anak muda itu hanya
menuntun kuda masing-masing.
"Kisanak.... Di mana kami bisa mendapatkan rumah penginapan?" tanya Pendekar
Rajawali Sakti ramah.
"Kalian hendak menginap?" tanya pemuda berusia sekitar tiga puluh tahun.
"Benar."
"Wah, sayang sekali! Kalian terlambat"
"Terlambat" Mengapa?" tanya Pendekar Rajawali Sakti dengan kening berkerut.
"Semua tempat penginapan di desa ini telah penuh diisi para tamu Dewi Kencana,"
jelas pemuda itu.
"Tamu Dewi Kencana! Siapa dia?"
"Dia adalah wanita terhormat, sekaligus terkaya di desa ini. Hari ini dia
melangsungkan pernikahan dengan Juragan Suwandana. Tapi sayang, suaminya
terbunuh belum lama ini. Dewi Kencana menjanda lagi untuk yang kesekian kalinya," sahut pemuda itu nyerocos
sendiri tanpa diminta.
"Siapa yang membunuhnya?" cecar Rangga.
"Entah!" pemuda itu mengangkat bahu. "Orang itu amat lihai. Berbaju serba hitam
dan bertopeng. Banyak yang mati olehnya."
"Hm!"
"Baiknya kau juga hati-hati, Kisanak. Kulihat kalian orang asing. Kalau kalian
tamu Dewi Kencana mungkin selamat. Tapi kalau orang asing, maka kalian akan
dicurigai mereka." jelas pemuda itu mengingatkan.
"Dicurigai mereka" Siapa mereka?"
"Orang-orangnya Dewi Kencana. Juga orang-orangnya Juragan Suwandana."
"Hm.... aneh?"
"Kalau yang tewas orang biasa mungkin aneh Kisanak.
Tapi Juragan Suwandana punya hubungan keluarga
dengan pihak kerajaan. Siapa pun pembunuhnya, pasti tidak akan selamat. Dan
mereka tetap akan mengusutnya sampai tuntas. Eh, mereka datang! Aku harus buruburu pergi. Cari penyakit berurusan dengan mereka!" lanjut pemuda buru-buru
angkat kaki ketika melihat beberapa orang menghampiri.
Rangga dan Pandan Wangi lantas melangkah tenang sambil menuntun kuda ketika
orang-orang itu melewati sambil melirik tajam. Tapi baru beberapa langkah
berpapasan.... "Berhenti!" bentak salah seorang, membuat Rangga dan Pandan Wangi berhenti
melangkah. "Hm... ada apa, Kisanak?" tanya Rangga setelah berbalik.
Orang yang membentak tadi memperhatikan kedua
anak muda itu dengan seksama. Wajahnya terlihat paling galak.
"Kalian bukan penduduk desa ini!" duga orang itu.
"Benar! Kami dua pengelana dan kebetulan singgah di desa ini mencari
penginapan," sahut Pendekar Rajawali Sakti.
"Hmm!"
Orang itu kembali memperhatikan Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi.
"Ikut kami!" ujar laki-laki bertampang galak.
"Ke mana?" tukas Pendekar Rajawali Sakti.
"Jangan banyak tanya! Ikut kami, atau aku terpaksa memaksamu!"
"Kisanak... Aku tidak kenal denganmu. Dan tiba-tiba saja kami diminta mengikutimu.
Apa dikira kami percaya kalau kau bermaksud baik?"
"Mestinya aku yang bertanya pada kailan! Apa kalian bermaksud baik, atau purapura baik" Misalnya, menjadi pengelana setelah membunuh seseorang!" sentak orang
itu. "Hei, apa maksudmu"! Jangan sembarangan bicara!"
hardik Pandan Wangi geram.
"Maksudku, jelas! Kalian patut dicurigai! Dan kewajiban-ku berbuat begitu,
karena aku adalah kepala keamanan di desa ini. Sekarang ikut kami untuk
diperiksa!"
"Kalau kami menolak?" dengus Pandan Wangi sinis.
"Kami terpaksa memaksa!" tegas laki-laki yang ternyata adalah kepala keamanan.
"Huh! Kalian kira bisa seenaknya saja memaksa orang"!"
"Nisanak! Kuharap kalian tidak membuat masalah. Di desa ini baru saja terjadi
kekacauan. Siapa pun pendatang asing di tempat ini, kecuali tamu-tamu yang kami
kenal, maka patut dicurigai!" kata laki-laki berusia empat puluh tahun itu
tegas. "Kami tidak ada sangkut-pautnya dengan kekacauan yang kau sebutkan! Dan karena
itu kami tidak sudi diperiksa!" dengus Pandan Wangi.
"Pandan, jangan begitu. Tidak ada salahnya mereka memeriksa kita. Kalau terbukti
tak bersalah toh mereka bisa percaya pada kita...," ujar Rangga.
"Tidak, Kakang! Aku tidak percaya pada mereka! Kalau kau mau digiring seperti
kerbau, silakan sendiri! Tapi kalau mereka berani coba-coba padaku, tahu sendiri
akibatnya!"
tandas Pandan Wangi.
"Pandan...."
"Tidak! Sekali kataku tidak, maka tidak. Aku tidak sudi dicurigai. Ayo, majulah
kalian jangan coba paksa aku!"
bentak gadis itu seraya mencabut kipas bajanya.
Srak! *** Melihat sikap Pandan Wangi, para laki-laki yang
mengaku sebagai tukang pukul Dewi Kencana langsung bersiaga. Rangga sudah hendak
membujuk gadis itu lagi, namun kepala keamanan desa yang tadi bicara dengannya
sudah langsung memberi perintah.
"Tangkap mereka!"
Serentak beberapa orang menyergap sambil mencabut senjata.
Srak! "Yeaaa...!"
Saat itu juga, mereka menyerang Rangga dan Pandan Wangi. Namun tentu saja
sepasang pendekar dari Karang Setra ini tidak tinggal diam. Paling tidak,
menghindar sebisa mungkin. Sementara si Kipas Maut sudah
berjumpalitan, menghindari tebasan golok.
"Hup!"
Tiba-tiba kedua kaki si Kipas Maut bergerak cepat menyodok leher salah seorang
pengeroyok. Duk! "Aaakh!"
Orang itu menjerit kesakitan, langsung roboh terjungkal ke belakang.
"Kurang ajar! Dia telah mencelakai Sawung. Mereka jelas tak bisa dianggap
enteng. Kita mencari bantuan!"
dengus kepala keamanan.
"Biar aku yang memberitahukan lainnya!" sahut seorang pengeroyok.
Orang itu seketika kabur secepatnya dari pertarungan sambil berteriak-teriak.
"Ada pengacau! Ada pengacaaaauuu...!"
"Brengsek!" dengus Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga cepat memutar tubuhnya menghindar dua
tebasan golok. Lalu dia berjongkok, seraya menyambar kerikil. Seketika,
tangannya mengibas.
Wuut! Saat itu juga, kerikil yang dilemparkan Rangga disertai tenaga dalam tinggi
meluncur dahsyat. Dan....
Tuk! "Ekh...!"
Laki-laki yang lari sambil berteriak mencari bantuan itu roboh dengan suara
tercekat. Ternya kerikil yang dilemparkan Rangga menghajar tengkuknya.
Tapi suara orang itu telah mengagetkan penduduk desa yang melihat kejadian itu.
Mereka langsung mengambil tindakan dengan memukul kentongan bertalu-talu.
"Pandan! Kita tidak bisa terus begini! Ayo tinggalkan tempat ini!" ajak Rangga
setelah merobohkan dua pengeroyok terdekat.
Setelah berkata begitu, Rangga melompat ke punggung kudanya.
"Ayo Pandan, cepat!"
"Sebentar, Kakang...!"
Pandan Wangi tiba-tiba menyabetkan kipasnya. Dua orang coba menangkis dengan
golok. Tapi gadis itu menarik pulang serangannya. Tubuhnya mendadak berbalik
seraya mengayunkan tendangan berputar.
Diegkh! Desss...!
"Aaakh!"
"Hup!"
Setelah merobohkan dua orang lawannya, si Kipas Maut mencelat ke punggung kuda
dan langsung menggebahnya.
"Heaaa...!"
"Mereka berusaha kabur! Jangan biarkan lolos!
Kejaaar...!" teriak beberapa orang.
Tidak berapa lama terdengar derap langkah kaki kuda untuk memberi bantuan. Lebih
dari dua puluh orang berkuda segera mengejar sepasang pendekar dari Karang Setra
itu. "Heaaa..!"
Sementara itu, meski sudah agak jauh dari pengejarnya, Pendekar Rajawali Sakti
dan Pandan Wangi tetap tidak berhenti. Mereka terus memacu kuda tunggangannya.
Baru setelah merasa aman mereka memperlambat lari kuda dan mengendalikan dengan
santai. "Mimpi apa aku semalam" Kok hari ini kita apes terus?"
keluh Pandan Wangi.
"Sulit jalan denganku, bukan?" tukas Pendekar Rajawali Sakti.
"Lebih sulit lagi kalau tidak."
"Kenapa?"
"Membayangkan kau berjalan bersama wanita lain.
Entah, berapa gadis yang telah menemanimu!" cibir Pandan Wangi.
"Pandan, jangan mulai lagi...," desah Pendekar Rajawali Sakti.
"Mulai apa"! Aku bicara tentang kebenaran kok!" sentak gadis itu.
Rangga diam saja. Kalau ditimpali, pasti gadis itu akan terus nyerocos.
"Dan kau akan semakin keenakan jalan sendiri terus!
Tidak mau ajak-ajak aku lagi!" cetus Pandan Wangi lagi.
"Sekali diajak kau terus menggerutu. Capek, bosan, tak bisa diatur!" balas
Rangga. "Kalau yang lain tidak capek! Tidak bosan, dan bisa diatur, kan"!"
Rangga kembali membisu.
"Kenapa diam" Ayo, jawab!" sentak Pandan Wangi.
Tapi Rangga memilih diam. Dibiarkannya gadis itu menumpahkan kekesalannya.
"Hei, tunggu dulu!" seru Rangga tiba-tiba.
"Tidah usah mengalihkan perhatian!" desis Pandan Wangi.
"Tidak! Kita berhenti dulu. Aku mendengar suara pertempuran tidak jauh dari
sini," sergah Rangga.
Meski hatinya kesal, tapi Pandan Wangi menurut juga.
Karena dia tahu, Rangga tidak berbohong. Pendekar Rajawali Sakti memang memiliki
aji 'Pembeda Gerak dan Suara' yang membuatnya mampu mendengar suara-suara meski
jaraknya cukup jauh.
"Aku tidak ingin mencampuri urusan orang!" ketus Pandan Wangi menegaskan.
"Ya. Kita cari jalan lain saja."
Baru saja hendak menggebah kuda kembali, mendadak Rangga mengajak gadis itu
bersembunyi balik semak-semak yang cukup rimbun.
"Ada apa?" tanya Pandan Wangi, kesal.
"Seseorang menuju kemari," sahut Rangga, segera menggiring Dewa Bayu ke balik
semak. Demikian pula Pandan Wangi
"Siapa?"
*** Rangga tak sempat menjawab, karena suara yang baru saja didengarnya semakin
dekat. Bahkan dalam waktu singkat, tampak dua orang tengah melesat dengan
gerakan ringan, seperti tengah berkejar-kejaran.
"Guru, jangan kencang-kencang! Perutku sakit nih...!"
teriak seorang pemuda yang tengah mengejar.
"Makanya kalau makan jangan banyak-banyak!" omel orang yang dikejar.
Yang berada di depan adalah seorang laki-laki tua membawa tongkat bambu hitam.
Di punggungnya bergantung bumbung bambu berisi tuak. Dalam dunia persilatan, dia dikenal
sebagai Ki Sabda Gendeng.
Sedangkan yang mengejarnya adala muridnya sendiri yang bernama Jaka Tawang. Dia
adalah seorang pemuda
bertubuh agak kekar membawa tongkat bambu merah.
"Kalau tidak makan banyak, mana bisa berpikir!" teriak Jaka Tawang.
"Kalau begitu kau sama dengan kerbau. Binatang itu makan banyak dan tetap
tolol!" ejek Ki Sabda Gendeng.
"Tapi, aku lebih baik ketimbang Guru."
"Huh! Mana mungkin!"
"Buktinya Guru belum mampu mengalahkanku main catur."
"Itu soal lain!" dengus Ki Sabda Gendeng.
"Dan makan juga soal lain," balas Jaka Tawang.
"Brengsek kau!"
Jaka Tawang tertawa mengikik.
Agaknya mereka tidak sembarang jalan. Karena, keduanya segera menghampiri suara
pertempuran yang tadi didengar Rangga.
"Siapa?" tanya Pandan Wangi.
"Ki Sabda Gendeng dan Jaka Tawang, muridnya," jelas Rangga.
"Kakang kenal mereka?"
"Iya. Aku ingin tahu, apa yang mereka kerjakan di sini.
Baiknya kita ke sana," ajak Rangga, segera menggebah kudanya, keluar dari
persembunyian. "Eee, sudah cukup mau mengalami siksaan seperti ini!
Nasib kita lagi apes. Dan aku tak mau bertambah apes lagi," rutuk Pandan Wangi,
juga keluar dari persembunyian.
"Mungkin ada hubungannya dengan orang-orang yang belakangan ini memburuku...?"
kata Rangga, mempercepat langkah kudanya.
"Bagaimana mungkin" Jangan mengada-ada. Apa lagi mengaitkan persoalan yang belum
jelas!" bentak Pandan Wangi, seraya mengikuti Rangga.
"Aku merasa yakin. Siapa tahu saja! Kalaupun tidak, ya kita buru-buru menyingkir
lagi!" "Huh!"
Pandan Wangi mencibir.
Suara pertarungan itu semakin dekat terdengar
Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi segera meng-hentikan lari kuda masingmasing. Dengan gerakan ringan, mereka turun dari kuda yang segera ditambatkan di
tempat yang tersembunyi. Kemudian mereka mengendap-endap mendekati pertarungan.
Cahaya bulan yang menerangi bumi, membuat penglihatan sedikit jelas. Delapan wanita muda rambut panjang bersenjata pedang dan
seorang berbaju sutera kuning bercampur hitam tengah berhadapan dengan tiga
orang laki-laki berusia rata-rata setengah baya. Yang seorang bersenjata pedang.
Seorang lagi membawa tombak. Dan yang terakhir bersenjata gada besar. Tidak jauh
dari pertarungan, terlihat sesosok tubuh berpakaian serba hitam terkulai di
bawah sebatang pohon.
"Mana Ki Sabda Gendeng dan muridnya?" tanya Pandan Wangi.
"Mungkin sembunyi juga seperti kita," sahut Pendekar Rajawali Sakti, menduga.
"Hmm."
"Rasa-rasanya aku seperti kenal wanita berbaju kuning bergaris-garis hitam...,"
gumam Rangga. "Ya. Tentu saja! Kau pasti kenal dengan semua gadis cantik!" timpal Pandan Wangi
mendongkol. "Bukan begitu. Pandan. Gadis itu..., hm.... Dari sini agak samar. Lagi pula kita
membelakanginya. Rasanya pun aku kenal dengan lawan mereka yang bersenjata
pedang itu...."
Pandan Wangi tak menyahut.
"Ah, ya! Dia si Dewa Api!" seru Rangga, berbisik. "Ya..., dia ayah gadis bengal
itu!" Rangga mendadak menyadari kekeliruannya. Buru-buru telapak tangannya menutup
mulut seraya melirik Pandan Wangi. Sementara gadis itu melotot garang.
"Betul kataku kan?" cibir Pandan Wangi.
Rangga tak perlu menjawab lagi, karena sesaat
kemudian terdengar suara seorang gadis yang langsung terjun dalam pertarungan.
"Ayah! Aku akan membantumu...!"
''Ratmi! Apa yang kau lakukan di sini"!" teriak si Dewa Api. "Aku mengikutimu
dari istana sampai ke sini," jelas gadis berbaju merah itu.
"Gadis itu, bukan?" cibir Pandan Wangi.
"Namanya Ratmi. Kami tidak punya hubungan apa-apa, Pandan. Percayalah! Bagaimana


Pendekar Rajawali Sakti 189 Dendam Berkubang Darah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

aku mesti meyakinkan-mu?" jelas Pendekar Rajawali Sakti menegaskan.
"Tidak apa. Aku mengerti."
"Oh, syukurlah...," sahut Rangga lega.
"Aku mengerti bukan berarti aku menerima!" lanjut Pandan Wangi kesal. "Aku
mengerti, karena tahu kalau kau tak bisa lihat wanita cantik dan sudah langsung
ingin menggaetnya!"
"Ya, ampuuun! Kenapa malah berpikir begitu. Satu saja bagiku sudah cukup. Kalau
kau tahu apa yang ada di dadaku, maka akan terlihat kalau hanya namamu yang
terukir," kata Rangga dengan lagak seorang penyair yang tengah kasmaran.
"Huh! Rayuan gombal!"
"He he he...! Di sana seru-serunya saling kemplang, eh, di sini juga tengah
seru-serunya bermesraan!"
Mendadak terdengar satu suara dari cabang pohon yang tak jauh dari tempat mereka
bersembunyi. Kontan keduanya menoleh agak mendongak. Tampak
Ki Sabda Gendeng dan muridnya enak-enakan nangkring di atas pohon.
"Ki Sabda Gendeng! Apa yang sedang kau lakukan di atas sana?" tanya Rangga
dengan suara berbisik.
"Kau lihat kami sedang apa, Bocah?"
*** 7 Rangga memperhatikan seksama Ki Sabda Gendeng dan Jaka Tawang. Mereka duduk
bersila di cabang yang agak besar. Saling berhadapan dengan perhatian tertuju
pada papan catur yang tengah dimainkan. Pendekar Rajawali Sakti menggelenggelengkan kepala ketika mengetahui apa yang tengah mereka lakukan.
"Daripada kalian ribut mengganggu kami, kenapa tidak ribut-ribut di sana"
Hitung-hitung melampiaskan ke-tegangan otak," lanjut Ki Sabda Gendeng, tanpa
menoleh ke bawah.
Rangga akan menjawab, tapi....
"Hooiii, kalian yang berkelahi!" teriak Ki Sabda Gendeng mengundang perhatian
mereka yang tengah bertempur.
"Ini masih ada dua orang lagi. Kenapa tidak sekalian diajak"! Yang satu Pendekar
Rajawali Sakti dan satu lagi kekasihnya...!"
"Sial!" gerutu Rangga.
"Kurang ajar...!" maki Pandan Wangi, geram.
Bagi Rangga yang tahu benar kelakuan Ki Sabda
Gendeng, paling hanya bisa menarik napas sambil menggeleng-geleng. Tapi tidak
dengan Pandan Wangi.
Gadis itu bukan sekadar jengkel, tapi juga marah. Apalagi ketika orang tua itu
terkekeh-kekeh kegirangan. Segera tubuhnya membungkuk, menarik dua buah batu
sebesar kepalan tangan.
"Orang tua brengsek! Rasakan olehmu!" dengus si Kipas Maut seraya melempar dua
buah batu sebesar kepalan tangan.
Siut! Siut! Batu-batu itu meluncur deras. Namun dengan sekali mengayunkan tongkat, kedua
batu itu ditepis dengan mudah oleh Ki Sabda Gendeng.
Tak! Tak! Tapi bukan namanya Pandan Wangi kalau menyerah
begitu saja. Gadis itu memungut batu-batu yang lain. Kali ini dalam jumlah
banyak. Segera dilemparkannya satu persatu dengan cepat, sehingga Ki Sabda
Gendeng kerepotan.
Tak! Tak! "Hei, apa-apan kau ini"! Berhenti! Berhenti! Atau barang-kali mau kukemplang"!"
"Ayo turun kau. Brengsek! Kaulah yang akan kukemplang!" balas Pandan Wangi.
"Eee, dasar perempuan edan!" maki Ki Sabda Gendeng.
"Orang tua brsengsek!"
"Biar aku brengsek, tapi kau edan!"
"Kaulah yang edan!"
"Mati...!" teriak Jaka Tawang.
Pemuda itu sejak tadi diam saja merenungi buah catur di depannya. Tak peduli
gurunya berteriak-teriak. Juga tak peduli gurunya tengah bertengkar. Tapi kini
wajahnya berseri-seri, membuat Ki Sabda Gendeng terpaksa menoleh. Sedangkan saat
itu Pandan Wangi belum berhenti melemparinya.
Pletak! Duk! "Adaooouww...!"
Ki Sabda Gendeng menjerit kesakitan ketika sebuah batu tepat mengenai punggung
dan pinggang belakang.
Tubuhnya jungkir balik ke atas, lalu mencelat turun ke bawah sambil memutar
tongkat bambu. "Bocah liar, kukemplang kau!" bentak laki-laki tua gila catur.
"Guru! Jangan cari-cari alasan! Kali ini kau kalah lagi!"
teriak Jaka Tawang.
"Aku belum kalah! Nanti setelah kujitak anak ini, baru kita lanjutkan
permainan!"
"Seenaknya saja! Kau kira aku takut padamu"!" dengus Pandan Wangi seraya
mencabut senjata kipasnya.
Srak! "Pandan, jangan begitu...!" larang Rangga Tapi, mana mau gadis itu mendengarnya
dalam keadaan seperti ini. Boro-boro niat diurungkan, tapi malah melompat menyambut
serangan Ki Sabda Gendeng.
Trak! Bet! Bet! Kedua senjata mereka beradu. Tapi secepat itu, kipas di tangan Pandan Wangi
bergerak memapas leher dua kali berturut-turut.
Ki Sabda Gendeng membungkuk ke belakang, lalu
melompat ke samping seraya menyodokkan tongkat
bambu melewati selangkangannya menuju ke perut.
"Jebol perutmu!"
"Tidah semudah itu, Orang Tua Brengsek!" ejek Pandan Wangi, seraya mengegos
sedikit ke samping.
Ujung tongkat itu luput dari sasaran. Tapi, Ki Sabda Gendeng tidak berhenti
sampai di situ. Tongkatnya berputar, membuat serangan berbentuk lingkaran yang
langsung mengurung ruang gerak Pandan Wangi.
"Dengan jurus 'Kodok Menari di Terang Bulan Purnama'
ini akan kubuat kau tak berkutik, Bocah!" ancam Ki Sabda Gendeng.
"Ini jurus tandingannya! 'Mengemplang Orang Tua Brengsek'!" kata Pandan Wangi
asal-asalan menyebut jurusnya.
"Mana ada jurus seperti itu"!"
"Biar saja!"
Sementara mereka saling berkelahi. Jaka Tawang
melompat turun. Dia bingung sendiri mau berbuat apa.
Sama halnya Rangga.
Tapi tidak berapa lama, si Dewa Api dan dua kawannya yang tak lain si Tombak
Maut dan Raksasa Hati Merah muncul di tempat itu. Juga bersama gadis berbaju
ketat warna merah.
"Hm.... Kukira siapa" Rupanya tokoh-tokoh kelas atas telah berada di tempat
ini!" kata si Dewa Api sambil menjura hormat pada Pendekar Rajawali Sakti serta
yang lain. Pertarungan antara Pandan Wangi Sabda Gendeng pun seketika terhenti.
"Kakang Rangga...! Oh, syukurlah kau baik-baik saja.
Selama ini aku cemas memikirkan keadaanmu...!" seru Ratmi.
Gadis berbaju merah itu berlari mendapati Pendekar Rajawali Sakti, dan
memeluknya dengan perasaan haru.
Baginya mungkin hal itu tidak apa-apa. Tapi bagi Rangga, sungguh luar biasa!
Apalagi Pandan Wangi!
*** "Kakang Rangga, singkirkan perempuan itu atau kuhajar dia?" bentak Pandan Wangi
gregetan. "Hmm!"
Ratmi terkesiap dan memandang dingin pada Kipas Maut
"Nisanak, apa maumu"! Kau boleh saja tak suka padaku. Tapi caramu itu
kelewatan!" dengus Ratmi.
"Huh! Yang kelewatan itu kau atau aku?" tukas Pandan Wangi.
"Apa maumu sebenarnya"!"
"Enyahlah kau dari hadapannya!"
"Kau cemburu, bukan?" tebak Ratmi, sambil tersenyum mengejek.
"Ya. Aku memang cemburu!"
"Padahal kau tak berhak merasa cemburu. Apakah kau tidak malu pada dirimu
sendiri" Kakang Rangga adalah kekasihku!"
"O, jadi dia kekasihmu, he"! Coba, ingin kudengar dari mulutnya!" desis Pandan
Wangi, seraya memandang geram kepada Rangga. "Katakan di depanku, Kakang Rangga!
Apakah dia kekasihmu"!"
"He he he...! Bocah galak, sekarang kau kena batunya!"
ejek Ki Sabda Gendeng.
Tapi Pandan Wangi tak bergeming Dia tak mau
meladeni ejekan orang tua itu. Matanya menatap lurus ke depan, menanti jawaban
Rangga. "Pandan... Ini salah paham. Antara aku dan Ratmi tidak ada hubungan apa-apa. Dia
kuanggap sebagai adikku."
"Kakang Rangga! Kau... kau..."!"
Ratmi seperti terhenyak mendengar jawaban Pendekar Rajawali Sakti.
"Ratmi... Seingatku aku belum pernah menganggapmu sebagai kekasihku...," kata
Rangga hati-hati.
"Tapi bukankah dulu kau pernah menyinggungnya?"
tukas Ratmi. Rangga berpikir sebentar, lalu memandang tajam gadis itu. "Mungkin aku lupa.
Tapi, coba tolong diingatkan," pinta Rangga.
"Kau katakan saat itu kalau kekasihmu cantik galak, dan memiliki ilmu silat
cukup hebat. Bukankah..., bukankah itu ditujukan padaku"!"
Rangga tersenyum.
"Ya! Aku ingat itu, Ratmi. Tapi bukan kutujukan padamu, melainkan pada Pandan
Wangi. Sepintas lalu, kalian memiliki watak sama. Kau hebat. Dan dia pun hebat.
Tapi bukan berarti aku menganggapmu sebagai kekasihku..."
jelas Rangga, hati-hati.
"Ohh...!"
Ratmi tidak kuasa menahan gejolak di hati. Wajahnya yang tadi termangu mendengar
penjelasan pemuda itu, seperti sebuah gunung berapi yang siap memuntahkan lahar.
Meledak dalam bentuk tangisan! Tidak kuasa dia menahannya. Maka sambil
sesunggukan, ditinggalkannya tempat ini dengan berlari kencang.
Tidak ada yang bisa diperbuat Rangga untuk mencegah-nya. Pemuda itu cuma
memandang si Dewa Api dengan perasaan bersalah.
"Ki Pranajaya, maafkan. Aku sama sekali tidak bermaksud melukai perasaan
putrimu. Percayalah.... Selama ini, aku tidak pernah menunjukkan sikap sebagai
seorang kekasih. Malah dia kuanggap sebagai adikku sendiri...."
ucap Rangga ''Ratmi memang keras kepala dan selalu mau menang sendiri," sahut laki-laki
setengah baya itu lemah.
"Kenapa tidak disusul saja, Kang?" saran si Tombak Maut.
"Dia keras kepala, Lola Abang. Percuma saja membujuk-nya. Anak itu memang sulit
diatur..." sahut Ki Pranajaya alias si Dewa Api masygul.
"Hmm... Kalau tidak salah, kisanak bertiga tengah berhadapan dengan musuh. Ke mana
mereka sekarang?"
tanya Rangga coba mengalihkan perhatian.
"Mereka telah kabur ketika Ki Sabda Gendeng berteriak," jelas Ki Lola Abang.
"Membawa seorang tawanan kami." timbal Raksasa Hati Merah.
"Siapa sebenarnya mereka?"
"Kami tengah menyelidiki kematian seorang sahabat kami, yaitu Ki Suwandana.
Beliau tewas belum lama setelah melangsungkan pesta perkawinannya dengan seorang
wanita di Desa Senggapring." jelas Ki Lola Abang.
"Desa Senggapring" Kami baru saja dari sana. Dan orang-orang itu mencurigai
kami!" kata Rangga.
"Hm.... Agaknya mereka salah menuduh orang. Pembunuh sebenarnya telah kami
tangkap. Namun sayang, kawan-kawannya menyusul dan berusaha membebas-kannya
ketika kami hendak membawanya kembali ke Desa Senggapring untuk membuktikan
kalau dia bekerja pada seseorang."
"Jadi pembunuh itu tidak sendiri" Lantas kenapa mesti dibawa ke Desa
Senggapring?"
"Menurutnya di sana dia bisa berjumpa dengan majikannya, yang menyuruh membunuh
Ki Suwandana"
Rangga mengangguk mengerti
"Tapi kami telah mendapatkan titik terang, siapa pembunuh itu. Dan sebentar
lagi, dia akan kami tangkap!"
timpal Ki Lola Abang.
"Huh! Aku sudah tidak sabar ingin memecahkan batok kepalanya!" dengus Ki
Jatmika. "Siapa sebenarnya orang itu?" tanya Rangga penasaran.
"Dewi Kencana, istrinya sendiri," sahut Ki Pranajaya.
"Hm ... Apa sebenarnya yang dicari wanita itu, sehingga tega membunuh suaminya
sendiri?" "Kekayaan. Agaknya, hal itu bukan yang pertama kali.
Mereka menumpuk kekayaan dengan satu maksud, yaitu menyewa tenaga-tenaga bayaran
berilmu tinggi. Dan...
Rangga! Kau akan kaget kalau mengetahui maksud
mereka yang sesungguhnya!" jelas Ki Pranajaya.
"Melakukan keonaran dengan merebut kekuasaan raja yang sah?" duga Rangga.
"Hm, itu masih cukup bagus. Tapi, ini lebih keterlaluan lagi."
"Aku tidak mengerti?"
"Mereka ingin melenyapkanmu!"
"Aku"!"
"Ya! Sebenarnya kaulah sasaran utama mereka. Kau menghadapi masalah sulit,
Rangga." Rangga terhenyak untuk beberapa saat. Dicobanya mengingat-ingat, siapa
gerangan musuhnya yang mempunyai dendam begitu
hebat sehingga memiliki rencana gila yang banyak mengorbankan orang lain"
"Rangga, kami menawarkan kerja sama padamu."
"Apa itu"
"Kita sama-sama menghadapi mereka."
*** "Ki Pranajaya.... Kurasa ini persoalan pribadi, meski aku sendiri tak tahu siapa
orangnya. Rasanya merepotkan kalau Kisanak ikut membantu...."
"Jangan salah! Ki Suwandana itu kawan baikku. Maka siapa pun pembunuhnya, mesti
bertanggung jawab. Lagi pula..."
Ki Pranajaya tak melanjutkan kata-katanya.
"Ada apa, Ki Pranajaya" Sepertinya ada yang hendak kau ceritakan."
"Aku tidak meragukan kehebatanmu. Tapi, musuhmu bukan orang sembarangan. Lebih
dari itu, dia memiliki jago-jago silat bayaran dalam jumlah banyak. Kau akan
kerepotan kalau menghadapinya seorang diri. Itulah sebabnya, kutawarkan kerja
sama. Saling membantu untuk kepentingan bersama. Karena, musuh kita ternyata
orang yang sama."
Rangga berpikir beberapa saat.
"Baiklah. Langkah apa yang pertama kali mesti kita lakukan"'' tanya Pendekar
Rajawali Sakti, setelah menyetujui.
"Kami tengah menunggu prajurit kerajaan tiba, untuk menggempur Desa Senggapring.
Di sana kekuatan Dewi Kencana berada. Dan di sana pula berkumpul jago-jago silat
bayarannya," jelas Ki Pranajaya.
"Berapa lama para prajurit itu akan tiba?" tanya Rangga.
"Menjelang fajar mereka akan tiba di sini. Jumlah mereka memang tidak banyak,
karena yang kuminta untuk menggempur desa itu adalah para prajurit yang berada
di beberapa kadipaten. Kita mesti bergerak cepat. Sebab kalau sedikit terlambat,
maka para prajurit yang ada di Desa Senggapring akan mereka bunuh."
"Jadi di Desa Senggapring telah ada prajurit lainnya?"
"Mereka datang ke sana sebagai tamu. Dan saat kekacauan terjadi, mereka masih di
sana. Berita ini mungkin tidak akan diketahui. Mereka tidak menyadari kalau
musuh yang sebenarnya berada di depan mata."
"Sayang, Ki Sabda Gendeng agaknya tidak tertarik soal ini..." sesal Ki Lola
Abang. Kalau saja laki-laki setengah baya itu tidak menyinggung soal Ki Sabda Gendeng,
mungkin Rangga tidak menyadari kalau Ki Sabda Gendeng dan muridnya telah
meninggalkan tempat ini secara diam-diam.
"Orang tua itu memang sulit dimengerti."


Pendekar Rajawali Sakti 189 Dendam Berkubang Darah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Apa kita akan menunggu semalaman di sini?" tanya Pandan Wangi yang sejak tadi
berdiam diri. "Kami telah berjanji pada para prajurit itu untuk menunggu di sini," jelas Ki
Pranajaya. "Kuharap kau bisa bersabar, Nisanak." lanjut Ki Lola Abang.
"Kisanak semua! Agaknya kita tak bisa berlama-lama di sini," kata Rangga.
"Apakah kau sudah tidak tidak sabaran?" tanya Ki Pranajaya.
"Bukan itu, Ki. Tapi tampaknya para pengejarku sebentar lagi tiba di sini.
Seperti yang kuceritakan, orang-orang desa itu menyangka kalau kami pelaku
pembunuhan terhadap Ki Suwandana. Mereka mengejar dalam jumlah yang cukup
banyak. Dan aku mulai mendengar derap langkah kawanan hewan itu menuju ke sini,"
jelas Rangga. "Hm, ini keadaan yang sulit bagi kita!"
"Kisanak semua! Saat ini lebih baik kita bersembunyi dan menghindar dulu dari
mereka." "Bagaimana kalau para prajurit itu muncul" Mereka akan diserang tiba-tiba.
Dan..., akan jatuh korban banyak di pihak mereka." kata Ki Lola Abang cemas.
"Mereka datang untuk berperang. Maka sebelum mereka sampai di sini, kita akan
menggempur para pengejarku. Salah seorang memberitahu para prajurit, sehingga
mereka tidak salah membunuh orang. Ini juga kalau para pengejarku masih berada
di sini. Tapi kalau mereka jalan terus, maka aku akan membuntutinya," kata
Rangga. "Biar aku yang akan membuntuti mereka!" cetus si Raksasa Hati Merah.
"Jangan, Jatmika. Biar aku saja," kata Ki Lola Abang.
Bukan tanpa alasan Ki Lola Abang berkata begitu. Ki Jatmika bukan jenis orang
yang sabar, sedangkan membuntuti seseorang, dibutuhkan kesabaran. Tanpa
kesabaran, mereka akan mudah kesal dan marah. Sifat yang terakhir itu ada pada
Ki Jatmika. Ki Jatmika baru mau mengungkapkan ketidaksenangannya....
"Menyerahlah kalian kalau ingin selamat!"
"Hmm!"
Terdengar bentakan nyaring, membuat orang-orang itu tersentak kaget. Dan
secepatnya mereka hendak bergerak bersembunyi.
"Tidak perlu kalian menyelamatkan diri. Tempat ini telah terkepung rapat!"
teriak suara tadi.
"Hm.... Agaknya rencana kita tidak berjalan mulus, Rangga!" desah Ki Lola Abang.
"Ya. Kita tidak punya pilihan...."
"Huh! Akan kulumatkan mereka semua!" desis Ki Jatmika.
"Bersiaplah. Sebaiknya kita coba melawan dalam kegelapan. Untung, kalau kita
selamat Tapi kekhawatiran juga ada. Takutnya, mereka terlatih bertarung dalam
gelap." kata Rangga.
"Tapi bulan bersinar terang. Mereka pasti akan menemukan kita!" keluh Ki Lola
Abang. "Tempat ini dekat hutan. Kita bisa ke sana."
"Jangan berlama-lama lagi! Kita ke sana secepatnya!"
ajak si Dewa Api.
Maka tanpa banyak bicara lagi, mereka menuju semak-semak serta pepohonan yang
lebat untuk bertahan menghadapi serangan nanti.
"Habisi mereka...!" teriak suara itu kembali
"Yeaaa...!"
*** 8 Tapi para penyerang pun tidak bodoh. Beberapa saat sebelum menyerang, terlihat
beberapa bayang panah api menyala, melesat ke arah Rangga dan kawan-kawannya.
Seketika lidah-lidah api dengan cepat membakar ranting-ranting kering. Sia-sia
saja mereka berusaha memadam-kannya, karena puluhan anak panah api yang lain
segera menyusul cepat laksana derasnya air hujan.
"Itu mereka! Seraaang...!" teriak satu suara Memberi perintah.
Rangga dan yang lain tak bisa bersembunyi lagi.
Suasana gelap kini berubah terang-benderang oleh nyala api yang membakar
pepohonan. "Heaaa...!"
Si Raksasa Hati Merah lebih dulu menyambut serangan dengan ayunan gadanya. Baru
kemudian disusul yang lain.
Trang! Trak! Pertempuran pun berlangsung. Dari pihak penyerang, berusaha menghabisi lawan
secepatnya. Sedangkan dari pihak yang diserang berusaha bertahan mati-matian.
"Kakang! Agaknya mereka bukan orang-orang sembarangan!" keluh Pandan Wangi.
"Ya. Aku mengerti, Pandan!"
Sring! Pendekar Rajawab Sakti segera mencabut pedangnya yang bersinar biru berkilauan.
Tubuhnya langsung berkelebat cepat membabat musuh yang berada di dekatnya.
Tras! Trak! Bret! "Aaa...!"
Senjata Rangga memapas beberapa buah senjata
pengeroyoknya. Dua orang berhasil menghindar. Namun salah seorang memekik ketika
ujung pedang Rangga berhasil menebas perutnya.
"Hm... itu bagianku! Menyingkirlah kalian...!" dengus seorang berbaju serba hitam
dan memakai topeng hitam pula.
Orang berbaju serba hitam itu berdiri tegak di depan Pendekar Rajawali Sakti.
Sesaat terdengar suara yang dingin.
"Kudengar kau berilmu tinggi, Bocah. Bahkan seorang muridku tewas di tanganmu.
Akan kulihat sampai di mana kehebatanmu!"
Selesai berkata begitu, orang bertopeng ini langsung mengayunkan pedangnya yang
tidak terlalu besar namun agak panjang. Kelihatannya rapuh. Namun, sesungguhnya
amat lentur dan kuat.
Bet! Trang! "Hiih!"
Rangga terpaksa meladeni permainan pedang lawan Hampir saja dia terkejut,
melihat senjata orang bertopeng itu berkelebat laksana kilat. Kalau tidak cepat
melompat ke belakang, niscaya lehernya akan putus tersambar.
"Aku bersungguh-sungguh, Bocah! Jangan main-main denganku. Keluarkan semua
kepandaianmu. Karena hari ini, akan kita tentukan siapa yang akan mati!" dengus
orang bertopeng itu.
"Yeaaa...!"
Orang bertopeng itu kembali bergerak menyerang.
Sambaran pedangnya cepat bagai kilat. Dan gerakan jubahnya lincah laksana seekor
walet. Beberapa kali Rangga dibuat kebingungan. Sekali dia menangkis, maka
berikutnya ujung pedang lawan nyaris merobek dada atau lehernya. Bahkan di lain
kesempatan mengancam perut dan pinggangnya.
Trang! Trang! "Ini jurus 'Badai Topan Melanda Bumi'!" dengus orang bertopeng, menyebutkan nama
jurusnya. "Aku seperti pernah mengenal nama jurus itu..."
Ucapan Pendekar Rajawali Sakti terhenti ketika ujung pedang orang bertopeng itu
meluruk ke dadanya. Untung dia melompat ke belakang untuk mengatur jarak.
"Ya...! Aku kenal! Kau adalah Raja Pedang Tanpa Tanding!" teriak Rangga.
"Ha ha ha...!"
Orang bertopeng itu tak menyahut, melainkan tertawa lebar. Lalu diserangnya
Pendekar Rajawali Sakti kembali.
"Huh!"
Pendekar Rajawali Sakti menggeram. Pedangnya
dikibaskan, lalu melompat ke depan memapaki serangan.
Trang!Wut! Sret! Dua kali senjata mereka beradu, menimbulkan percik bunga api. Lalu disusul ujung
pedang orang bertopeng menyambar ke leher. Cepat bagai kilat pemuda itu mencelat
ke atas. Ujung pedangnya melesat ke muka.
Orang bertopeng itu terkesiap. Rasanya, mata pedang Pendekar Rajawali Sakti
bergerak dekat sekali ke sekelilingnya. Dan tahu-tahu baru disadari kalau
penutup mukanya lepas. Kini terlihatlah wajah di balik selembar kain hitam itu.
Seorang laki-laki tengah baya berkumis tipis yang tersenyum mengejek pada
Pendekar Rajawali Sakti.
"Ha ha ha...! Ternyata apa yang kudengar tidak semua bohong. Kau memang hebat,
Bocah, tapi bukan jaminan kalau bisa lolos dariku!" gertak laki-laki setengah
baya ini. "Di antara kita tidak ada saling permusuhan. Kenapa kau ingin membunuhku?" tanya
Pendekar Rajawali Sakti.
"Kenapa itu yang kau tanyakan" Sebaiknya tanyakan dirimu sendiri, apakah kau
bisa lolos dariku atau tidak?"
Dan laki-laki berusia setengah baya bergelar Raja Pedang Tanpa Tanding kembali
melesat menyerang.
"Yeaaa...!"
"Hiih!"
Mengetahui siapa lawan sebenarnya. Rangga tidak mau menganggap enteng. Maka
langsung digunakan jurus lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti' disertai
permainan pedangnya.
Dengan jurus itu, mulai terlihat kalau Raja Pedang Tanpa Tanding kerepotan.
Beberapa kali dia berusaha balas menyerang setiap kali terjadi benturan senjata,
tapi selalu dikandaskan pertahanan Pendekar Rajawali Sakti.
Bahkan dia sendiri yang terkejut mendapat serangan balasan lawan yang tiba-tiba,
menusuk tajam tanpa diduga.
*** "Aaakh...!"
"Heh"!"
Saat itu juga. Rangga terkejut ketika mendengar jeritan panjang di dekatnya.
Pemuda itu mencelat ke belakang, untuk mengatur jarak dan melirik ke samping.
Tampak si Raksasa Hati Merah ambruk bermandi darah. Kedua tangannya putus. Dan
dari dadanya menyembur darah segar. Raksasa itu menggelepar-gelepar tak berdaya,
seperti ayam disembelih.
"Terkutuk kalian!"
Pedang Pendekar Rajawali Sakti kembali bergerak cepat memburu dua orang yang
menghabisi laki-laki bertubuh raksasa itu. Namun, Raja Pedang Tanpa Tanding
secepat kilat memapak gerakannya.
Trang! "Dia bukan lawanmu. Aku lawanmu!" dengus Raja Pedang Tanpa Tanding.
"Hiyaaa!"
Rangga merangsek gemas. Pedangnya seketika
meluruk beberapa kali dengan gencar. Dan sejauh itu Raja Pedang Tanpa Tanding
meladeninya dengan tenang.
"Bagus! Kau mulai galak. Jadi aku akan melihat pertarungan yang sesungguhnya!"
ejek Raja Pedang Tanpa Tanding.
Pendekar Rajawali Sakti tidak banyak omong. Yang ada di benaknya saat ini
adalah, bagaimana melenyapkan musuh secepatnya. Hatinya tidak tenang melihat
yang lainya bertarung dengan lawan yang tidak seimbang.
Setelah kematian Ki Jatmika, yang lainnya memang sering mengeluh kesakitan.
Apalagi kalau memikirkan keselamatan Pandan Wangi.
"He he he...! Dasar bocah geblek. Ada pesta kenapa tidak bilang-bilang padaku"!"
Mendadak terdengar satu suara lantang yang memenuhi tempat itu.
"Ki Sabda Gendeng...!"
Rangga berseru girang ketika mengetahui siapa vang muncul.
Orang tua itu muncul bersama muridnya, Jaka Tawang.
Kehadiran mereka seperti embun penyejuk yang melega-kan tenggorokan kering.
"Hei, Setan Rompi Putih! Kau membohongi aku, ya"!"
Kembali terdengar suara lantang lainnya.
"Hm, Ki Demong...!" seru Pendekar Rajawali Sakti girang. "Sobat! Hari ini aku
tidak sempat ramah-tamah denganmu. Kau lihat aku tengah repot! Kenapa malah
berdiam diri?"
"Siapa sudi capek-capek berkeringat" Mending aku nonton! Seharian aku dikejar
Nenek Penyihir itu gara-garamu!" umpat Ki Demong.
Orang tua berjuluk Pemabuk Dari Gunung Kidul muncul bersama muridnya. Berbeda
dengannya yang duduk di atas batu sambil menonton pertarungan seru itu, murid Ki
Demong malah langsung turun ke arena pertarungan sambil mencabut clurit
peraknya. Rangga tidak berharap terlalu banyak kalau Ki Demong akan menolongnya. Watak
orang tua itu ugal-ugalan. Dia tak bisa disuruh, apalagi dipaksa. Tapi dia
yakin, kalau keadaan semakin bahaya pasti orang tua itu turun tangan.
Bagaimanapun, Ki Demong bukan orang jahat dan tidak suka kawannya babar belur
dipukuli lawan.
Pletak! "Adaouuwww...!"
Tengah enak-enaknya menenggak tuak, mendadak Ki Sabda Gendeng muncul di depan
dan mengemplang
kepala Ki Demong.
"Ngapain duduk di situ kayak tuan besar"!" bentak Ki Sabda Gendeng.
"Eh, kurang ajar! Dikira tikus eee..., tidak tahunya memang tikus betulan!" ejek
Ki Demong. "Sialan!"
Ki Sabda Gendeng menggeram. Tongkat bambunya
kembali mengemplang batok kepala Ki Demong. Tapi dua orang tua pemabuk itu tidak
mau benjol dua kali. Tubuhnya dimiringkan, lalu mencelat ke belakang.
Ki Sabda Gendeng berbalik dan cepat mengejar.
Tongkat bambunya kembali menghajar. Tapi, Pemabuk Dari Gunung Kidul itu gesit
sekali menghindar. Walhasil musuh yang berada di belakang Ki Demong yang kena
hajar. Bletak! "Aaa...!"
Kepala orang yang jadi sasaran kontan retak. Dia langsung ambruk dengan nyawa
melayang. Itu membuktikan kalau pukulan Ki Sabda Gendeng bukan main kerasnya.
"Brengsek kau, Gendeng! Bisa modar aku kau kemplang!" omel Ki Demong.
Sambil melompat ke belakang, Ki Demong menenggak tuak. Lalu disemburkannya ke
arah Ki Sabda Gendeng.
"Rasakan jigongku...! Fruiihhh!"
"Huh! Jigong bau begitu siapa sudi menelannya!" ejek Ki Sabda Gendeng seraya
berkelit ke samping.
Akibatnya sungguh hebat. Luncuran tuak yang disemburkan Ki Demong menghantam
wajah dua orang berpakaian serba hitam. Keduanya menjerit kesakitan sambil
bergulingan. Semua itu tidak lepas dari perhatian Rangga. Disadari kalau kedua orang tua aneh
itu tidak bermusuhan. Mereka malah berkawan akrab. Dan dengan cara itulah
agaknya mereka menolong untuk menghajar musuh-musuhnya.
Kehadiran empat tokoh itu memang membantu sekali.
Gebrakan mereka saja berhasil memakan korban yang cukup banyak. Dan ini membuat
Dewa Api dan si Tombak Maut serta Pandan Wangi semakin bersemangat.
"He he he..! Lumayan juga kawan-kawanmu, Bocah. Tapi jumlah kami lebih banyak.
Dan harus diingat, mereka bukan orang-orang sembarangan!" ejek Raja Pedang Tanpa
Tanding. Rangga menyadarinya. Maka dia tak banyak omong.
Hanya pedangnya yang semakin gencar mencecar.
Dan meski lawan berusaha memperbaiki sikap serta jurus-jurusnya, namun hal itu
agak terlambat. Rangga tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada laki-laki
setengah baya itu. Ujung pedangnya terus mengejar ke mana saja Raja Pedang Tanpa
Tanding bergerak.
Trang! Trang! Sret! "Uhh...!"
*** Raja Pedang Tanpa Tanding mengeluh tertahan. Dalam keadaan terdesak, ujung
pedang Pendekar Rajawali Sakti berhasil merobek bagian ketiak baju sebelah kiri
dan melukai kulitnya sedikit. Meski sedikit, namun cukup menimbulkan hawa panas
menyengat. Kesempatan itu tidak disia-siakan Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya berputar
cepat dengan kaki kiri menyepak ke dada.
Begkh! "Aakh...!"
Raja Pedang Tanpa Tanding kontan menjerit kesakitan.
Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Kedua pipinya menggembung, menahan darah


Pendekar Rajawali Sakti 189 Dendam Berkubang Darah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang terkumpul di mulut.
Tapi akhirnya jebol juga ketika dari perutnya bergerak-gerak menekan ke atas.
"Hoekhhh...!"
Rangga mengawasi dengan seksama, memberi kesempatan pada laki-laki itu untuk bersiap kembali.
"Heaaa...!"
"Hm."
Keduanya berpaling, ketika mendengar teriakan
panjang. Tampak lebih dari lima puluh pasukan ber-seragam dari kerajaan menyerbu
tempat itu. Si Dewa Api dan si Tombak Maut berteriak memberi isyarat, sehingga
para prajurit kerajaan tahu siapa lawan mereka.
Para prajurit kerajaan mungkin memiliki ilmu silat yang rata-rata rendah. Tapi
kehadiran mereka dalam jumlah cukup banyak benar-benar mengejutkan pihak musuh.
Dan kesempatan itu dipergunakan si Dewa Api serta yang lain untuk membabat
mereka dengan cepat. Sehingga kontan yang jatuh semakin banyak.
"Rangga! Kali ini kau beruntung karena adanya bantuan. Tapi di lain waktu, aku
akan datang menyam-bangimu satu lawan satu. Saat itu, akan kita lihat siapa yang
unggul!" kata Raja Pedang Tanpa Tanding seraya mencelat cepat dari tempat sambil
bersuit nyaring.
Mendengar suitan, anak buah Raja Pedar Tanpa
Tanding segera berlompatan dan kabur secepatnya dari tempat itu. Meski begitu,
satu dua orang masih sempat dihajar Pandan Wangi dan Tombak Maut.
"Sudah! Sudah...! Aku sudah capek. Lagi pula, mereka sudah kabur. Jadi
pertarungan kita kurang seru!" kata Ki Sabda Gendeng.
"Terserahmu saja...!" sahut Ki Demong.
Pemabuk Dari Gunung Kidul baru saja hendak
menenggak tuak ketika....
"Pemabuk edan! Awas kau...! Ke mana pun kau bersembunyi, pasti akan kukejar...!"
"Sial! Si Nenek Penyihir itu rupanya mengikuti aku ke sini!" rutuk Ki Demong.
Begitu terdengar bentakan lantang, tanpa pamit pada siapa pun Pemabuk Dari
Gunung Kidul cepat-cepat kabur, disusul muridnya dari belakang.
"Guru, tunggu aku...!"
"Kurang ajar! Kenapa kau berteriak" Dia akan tahu di mana kita!"
"Oh, maaf! Aku tidak akan berteriak...!" seru Wisnupati dengan suara lantang.
"Dasar murid tolol!" umpat Ki Demong dari kejauhan.
Sementara melihat Ki Demong kabur. Ki Sabda
Gendeng tenang-tenang saja. Malah dikeluarkannya papan catur seraya mendekati
muridnya. "Ayo, Jaka Tawang! Kau harus hadapi aku lagi! Kali ini kau pasti kalah!" ajak Ki
Sabda Gendeng. "Aduh, Guru! Aku lagi malas!" tolak Jaka Tawang.
"Brengsek! Hadapi aku atau kujitak kau"!"
"Dua-duanya tidak mau!"
"Kalau begitu, akan kutotok kau. Dan tidak akan ku-lepaskan selama dua hari dua
malam " Setelah berkata begitu, Ki Sabda Gendeng menjulurkan ujung tongkat bambunya.
Tapi, Jaka Tawang dengan cepat menangkis.
Tak! "Eee..., berani melawan, ya?"
"Perjanjian kita akan main besok pagi. Tapi sekarang, belum pagi. Aku harus
patuh pada perjanjian yang dibuat Guru!" kilah Jaka Tawang.
"Perjanjian itu kubuat, maka bisa pula kuhapus,"
dengus Ki Sabda Gendeng.
"Guru selalu menghukum kalau aku tidak mematuhi peraturan."
"Kali ini tidak!"
"Tidak!"
"Ayo main"!"
"Besok pagi!"
"Brengsek!"
Ki Sabda Gendeng mengayunkan tongkatnya, Tapi
pemuda itu menghindar. Hal ini membuat orang tua itu kalap. Sementara, Jaka
Tawang sudah ambil jurus langkah seribu. Tapi, gurunya terus mengejar.
"Setan cilik! Mau ke mana kau, he"! Akan kutotok kau lalu tidak kuberi makan."
"Biar! Berarti aku bebas tidak meladeni Guru main catur."
"Brengsek!" Ki Sabda Gendeng mengumpat-umpat dan terus mengejar muridnya sampai
hilang dari pandangan orang-orang yang berada di tempat itu.
Rangga dan yang lain menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Rangga.... Pandan Wangi, aku mewakili mereka meng-ucapkan terima kasih atas
pertolongan yang kalian berikan...," ucap Ki Pranajaya.
"Jangan merendah begitu, Ki. Mestinya aku yang ber-terima kasih atas bantuan
yang berharga ini"
"Kau terlalu merendah. Hm! Aku berhasil menangkap salah seorang dari mereka
hidup-hidup. Orang itu mengatakan, kalau pemimpin mereka sebenarnya bernama
Anjani. Sedang Dewi Kencana yang nama aslinya Ambar, adalah sahabatnya. Mereka
bekerjasama dengan baik. Dan yang terpenting, mereka mempunyai tujuan sama,
yaitu membunuhmu! Apakah kini kau kenal mereka, Rangga?"
Rangga tertegun Ambar dan Anjani" Tentu saja Rangga kenal mereka. Ambar kekasih
Kuntadewa, yang terbunuh olehnya. Sedangkan Anjani adik kandung pemuda itu.
Tidak disangka, mereka begitu mendendam padanya demikian hebat.
"Kau sungguh-sungguh tidak kenal mereka, Kakang?"
Pandan Wangi coba meyakinkan.
"Tidak...," sahut pemuda itu berbohong.
"Keduanya mungkin melarikan diri. Tapi dengan dendam yang dibawa, sewaktu-waktu
keduanya akan mencarimu lagi."
"Ya...."
Pandan Wangi memandang Rangga berkali-kali. Dia curiga. Rangga tidak mengenal
kedua gadis itu. Tapi, kekasihnya itu selalu menjawab pendek setiap kali
ditanya. Seperti enggan untuk bercerita padanya.
Dan sebenarnya, Rangga memang enggan. Karena
hatinya khawatir akan menimbulkan kecemburuan pada diri Pandan Wangi. Urusan
dengan Ratmi belum selesai, sudah akan bertambah dengan urusan lain!
SELESAI Created by syauqy_arr (Scan & convert to pdf)
fujidenkikagawa (edit teks)
Weblog, http://hanaoki.wordpress.com
Visit us on the kaskus
http://www.kaskus.us/showthread.php"t=1397228
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari 1 Putri Ular Putih Karya Zhang Hen Shui Memburu Iblis 3

Cari Blog Ini