Ceritasilat Novel Online

Geger Di Telaga Warna 2

Pendekar Rajawali Sakti 185 Geger Di Telaga Warna Bagian 2


Maka tak heran pula kalau di sekitar Bukit Ungaran kini telah berkumpul beberapa tokoh persilatan. Mereka datang ada yang atas nama pribadi, dan ada pula yang mengatas namakan perguruan. Bahkan ada pula yang disertai pengiring yang membawa umbul-umbul lambang perguman. Di antara yang nampak adalah umbul-umbul yang bergambar seekor ikan pesut berwarna putih. Orang persilatan mengenai mereka dari Perguruan Pesut Baja, yang diketuai Gembili.
Perguruan lainnya adalah Perguruan Elang Putih. Itu terlihat dari umbul-umbul bergambar seekor elang berwarna putih. Para tokoh persilatan mengenai ketua perguruan itu dengan nama Ki Tambak Yoso.
Agaknya mereka ingin benar-benar mengadu nasib dengan tetap menunggu di tempat ini, sampai bunga yang dihebohkan itu mekar.
"Hik hik hik...! Segala kutu sayur mau ikut memperebutkan Bunga Nirwana.... Daripada membuat repot, lebih baik kembali saja ke akherat..."
Mendadak terdengar sebuah suara mengejek disertai tawa mengikik memecah kesunyian dan menggetarkan dada. Sehingga siapa saja yang mendengar kakinya menjadi lemas, dan seakan-akan tidak bertulang.
Mendengar suara tersebut, para tokoh persilatan langsung mengerahkan tenaga dalam. Karena terlambat sedikit saja mereka akan mendapat luka dalam. Namun baru saja mereka bertindak, melesat sebuah benda, dan....
Blarrr...! Benda itu langsung meledak tepat di tengah-tengah para tokoh persilatan yang sedang berkumpul.
"Ugh!"
Para tokoh persilatan yang mengisap asap tersebut langsung sama-sama pening dan sesak napas. Pandangan mereka juga menjadi gelap. Bumi yang dipijak seakan berputar. Gepat mereka mengatur napas, agar tidak sampai menghisap asap beracun itu.
Set! Set! Set! Pada saat yang berbahaya, kembali melayang puluhan benda yang ternyata kelabang dan kala-jengking. Tidak ampun lagi mereka jadi kalang kabut begjtu binatang-binatang itu langsung menyengat. Mereka kontan ambruk dengan tubuh kaku dan bersemu hitam. Binasa di tempat itu juga.
Kebetulan, kejadian mengenaskan terhadap para tokoh persilatan itu cukup jauh dari tempat rombongan Perguruan Pesut Baja dan Perguruan Elang Putih. Maka begitu terdengar teriakan menyayat, kedua ketua perguruan itu melesat ke tempat kejadian. Sedangkan para murid dari dua perguruan segera menyusul dari belakang, walaupun sudah tertinggal jauh.
Dan betapa tercekatnya Ki Gembili dan Ki Tambak Yoso melihat mayat-mayat bergelimpang-an tak tentu arah, begitu tiba di tempat kejadian.
"Bangsat...! Keluarlah kau! Jangan main sem-bunyi, Pengecut!" teriak Ketua Perguruan Elang Putih sambil memutar pedang tipisnya bagai baling-baling. Suara babatan pedang terdengar bersiutan.
Sementara Perguruan Pesut Baja segera meloncat ke atas pohon sambil mengebutkan cambuk berdurinya berkali-kali. Matanya mengawasi ke sana kemari mencari orang yang mengeluarkan suara tawa tadi.
Tak lama dari balik semak yang rimbun melesat sesosok bayangan hijau. Gerakannya gesit sekali, bagaikan camar di lautan.
"Ciaaat!"
"Haaat!"
Begitu sosok itu mendarat, Ketua Perguruan Elang Putih dan Ketua Perguruan Pesut Baja segera menerjang. Pedang tipis yang tajam dan cambuk berduri yang mengerikan berdesingan ke arah tubuh sosok berwajah tengkorak yang tak lain si Manusia Tengkorak. Tetapi dengan gerakan cepat dan ringan sosok berwajah tengkorak masih dapat menghindari setiap serangan.
Menghadapi kedua orang yang berilmu cukup tinggi ini, si Manusia Tengkorak cukup kerepotan. Sambil berteriak keras, tangannya melempar ben-da-benda kecil sebesar melinjo yang dapat meledak dan mengepulkan asap beracun.
Siuuut! Blarrr! "Hup...!"
Bagai kilat, kedua ketua perguruan itu melenting ke belakang dan berjumpalitan menjauhi lawannya. Begitu menyentuh tanah, mereka mengirimkan serangan jarak jauh dengan tenaga dalam penuh.
Namun kali ini si Manusia Tengkorak menyambutinya dengan pukulan jarak jauh pula. Sehingga, mereka jadi bergetar dan terjajar mundur beberapa langkah.
? *** ? Untuk sementara waktu pertarungan terlihat semakin seru. Kelebihan kedua ketua perguruan itu lambat laun dapat diatasi si Manusia Tengkorak dengan lemparan binatang beracun yang mematikan.
Sehingga dalam waktu yang cukup panjang, barulah manusia berwajah tengkorak itu berhasil mendesak.
Pada saat yang sama, para murid dua perguruan itu telah tiba di tempat pertarungan. Mereka langsung membuat lingkaran, mengelilingi pertarungan. Sepertinya mereka tak ingin membuat celah sedikit pun bagi si Manusia Tengkorak yang sudah terkenal kebiadabannya.
Pada suatu kesempatan, pedang tipis Ki Tambak Yoso membabat ke arah leher. Namun dengan cepat si Manusia Tengkorak menundukkan kepala. Dan tiba-tiba ditepisnya pergelangan tangan Ketua Perguruan Elang Putih itu.
Plak! Begitu terjadi benturan, si Manusia Tengkorak menyodokkan kedua tangannya disertai tenaga dalam tinggi. Begitu cepat gerakannya, sehingga....
Desss...! "Huaaagkh!"
Tanpa dapat ditahan lagi tubuh Ki Tambak Yoso jatuh telentang begitu perutnya terhantam pukulan si Manusia Tengkorak. Dari sudut bibimya tampak mengucurkan darah berwarna kehitaman.
"Heaaa...!"
Di saat yang gawat para murid Perguruan Elang Putih menerjang secara serentak. Tetapi, terjangan mereka disambut lemparan binatang-binatang berbisa.
Set! Set! "Aaa...!"
Karena jaraknya terlalu dekat, para murid ini tidak dapat mengelakkan serangan. Maka jeritan kematian segera menggema membelah langit.
Sementara Ketua Perguruan Pesut Baja kini menyadari, kalau pertarungan ini dilanjutkan pasti akan membuang nyawa percuma. Namun menyaksikan betapa kejamnya si Manusia Tengkorak itu akhirnya dia jadi nekat.
"Hiaaat!"
Ctar! Ctar! Cambuk berduri di tangan Ki Gembili, bersiutan di sekeliling tubuh si Manusia Tengkorak. Ketika tokoh kejam ini membuang diri ke belakang, ujung cambuk berbunyi keras di samping telinganya. Kalau kurang cepat, tentu pelipisnya akan pecah terkena hantaman cambuk.
Cepat si Manusia Tengkorak menjatuhkan diri ke tanah. Setelah bergulingan, dilepaskannya tendangan melingkar ke arah kaki.
"Hup!"
Dengan melenting ke atas Ketua Perguruan Pesut Baja berhasil mengelakkan serangan. Namun baru saja mendarat, pukulan si Manusia Tengkorak bertubi-tubi menghujani.
Sejenak Ki Gembili terkesiap. Namun dengan cepat mengegos ke kiri dan kanan. Akibatnya, setiap pohon yang terhantam pukulan nyasar langsung roboh dengan batang hangus.
Yeaaa!" Ctarrr! Sambil mengelakkan serangan, Ketua Perguruan Pesut Baja ini cepat menyabetkan pecutnya.
Set! Set! Pada saat yang sama segenggam binatang beracun terlontar ke arah pecutnya. Namun seba-gian lagi langsung mendarat di tubuhnya.
"Wuaaakh...!"
Ki Gembili berteriak keras begitu binatang-binatang beracun itu menyengat. Cepat Ketua Perguruan Pesut Baja ini menyalurkan hawa murni untuk menahan menjalamya racun yang masuk ke dalam tubuh. Namun hasilnya nihil. Tetap saja Ki Gembili ambmk, walaupun nyawanya masih tetap bersemayam di badan.
Si Manusia Tengkorak hanya mengawasi dengan anar mata dingin menyiratkan kekejamannya.
"Hik hik hik...! Sekarang buat beberapa buah lubang! Cepat laksanakan perintahku...!" ujar si Manusia Tengkorak.
"Manusia iblis...! Siapa yang mau menuruti perintahmu..."!" tolak salah seorang murid Pergu-man Pesut Baja sambil menudingkan pedangnya.
Sebelum gema suara itu lenyap, si Manusia Tengkorak langsung melemparkan kelabang merah dan kalajengking.
Set! Set! "Aaa...!"
Dengan teriakan menyayat, tahu-tahu murid Perguman Pesut Baja yang bemsaha membantah itu sudah memegangi tenggorokannya yang terse-ngat binatang-binatang berbisa itu. Melihat hal ini tak seorang murid pun yang berani bergerak lagi.
"Baiklah.... Kau menang.....Apa yang harus kami lakukan.,."!" tanya salah seorang murid dengan wajah agak pucat.
"Hik hik hik...! Bila kalian tidak membantah, tentu tidak akan jadi korban lagi...! Sekarang cepat gali lubang yang besar dan cukup untuk beberapa orang...!" perintah si Manusia Tengkorak.
"Untuk apa kami menggali lubang kubur...?" sela salah seorang murid dengan perasaan curiga.
"Kalian terlalu cerewet! Aku tidak suka orang macam kalian. Lebih baik, kembali saja ke akhe-rat...!" desis si Manusia Tengkorak.
"Hiih...!"
Cepat sekali gerakan si Manusia Tengkorak ketika menyabetkan tangannya. Seketika bertaburan bubuk berwarna hijau yang berbau busuk ke arah orang yang membantah tadi.
Werrr...! "Aaa...!"
Orang itu kontan berteriak dengan mata terbe-lalak. Kedua tangannya memegangi leher, seakan-akan napasnya tersumbat. Dalam waktu singkat saja tubuhnya ambruk dengan wajah berubah kehitaman. Dia mati secara mengenaskan.
"Coba katakan, siapa yang mau mati seperti itu..."!" desis si Manusia Tengkorak.
"Baik.... Baiklah! Kau menang.... Kami akan menuruti perintahmu...!" kata salah seorang murid dengan suara bergetar.
Kemudian tanpa banyak cakap lagi, para murid Perguman Pesut Baja mulai menggali dengan peralatan seadanya. Karena mereka memiliki tenaga lumayan dan dikerjakan beramai-ramai, maka tiga kuburan besar telah tergali rapi.
? *** ? Si Manusia Tengkorak telah menotok Ketua Perguruan Pesut Baja yang memang sudah tak berdaya. Kini tubuh Ki Gembili jadi kaku dan tidak dapat digerakkan lagi. Lalu dengan sekali dorong, tubuh laki-laki berusia lima puluh lima tahun itu jatuh ke dalam lubang besar yang dibuat murid-muridnya sendiri.
"Timbuni dia dengan tanah, cepat! Atau, kalian akan kusiksa seperti dia...!" hardik si Manusia Tengkorak, menunjuk ke arah Ki Gembili.
"Heaaat...!"
Menyaksikan kekejaman si Manusia Tengkorak, Ketua Perguruan Elang Putih yang sudah terluka segera menerjang dengan maksud mengadu jiwa. Pedang tipisnya disabetkan menyilang.
Mendapat serangan, si Manusia Tengkorak tetap tenang saja. Namun begitu serangan dekat, tubuhnya meliuk seperti menggeliat ke kiri dan kanan.
Serangan pedang itu luput dari sasaran. Bersamaan dengan lewatnya serangan Ki Tambak Yoso, tangan si Manusia Tengkorak menyodok iga.
Desss...! "Aaakh...!"
Tak ampun lagi, Ki Tambak Yoso jatuh persis ke dalam lubang, dan bersatu dengan Ketua Perguruan Pesut Baja.
"Cepat timbuni! Atau kubuktikan dulu ancam-anku tadi," desis si Manusia Tengkorak, dingin.
Dengan terpaksa, murid-murid dari kedua perguruan itu mulai menimbuni guru mereka. Dalam hati mereka merintih pedih. Tetapi apa daya untuk melawan perintah si Manusia Tengkorak yang berkepandaian amat tinggi.
"Jangan..., jangan lakukan itu.... Kalian benar-benar hendak jadi pengkhianat rupanya...," teriak kedua ketua perguruan ini. Mereka pun rupanya merasa ngeri bila harus mati secara menyedihkan ini. Keduanya lebih suka mati dalam pertempuran daripada harus mati seperti itu.
Dalam keadaan yang gawat bagi kedua ketua perguruan itu, mendadak....
"Ha ha ha...! Rasanya dunia ini sangat sempit. Walaupun berada di mana pun, selalu berjumpa denganku...! Memang manusia telengas tidak pantas hidup dalam dunia ini."
Terdengar suara mengejek yang disusul dengan terciumnya bau tuak. Begitu si Manusia Tengkorak menoleh, tak jauh di depannya telah berdiri seorang laki-laki tua berambut putih dengan guci arak di tangan. Ternyata dia adalah si Pemabuk Dari Gunung Kidul yang terkenal suka bertindak ugal-ugalan.
Saat itu juga para murid dari kedua perguruan menghentikan pekerjaannya, menimbuni kedua guru masing-masing.
"Keparat...! Kiranya kau lagi yang mencampuri urusanku! Kali ini kau tidak akan kubiarkan lolos dalam keadaan hidup-hidup," "desis si Manusia Tengkorak dengan geram.
"Aaah...! Yang benar saja" Masa' aku yang sudah setua ini hendak ditamatkan dari dunia ini...?" sahut Ki Demong. Lalu kepalanya menoleh ke arah murid-murid Perguruan Pesut Baja dan Perguruan Elang Putih. "Hei...! Kalian mengapa diam saja macam ayam sakit" Lekas keluarkan guru kalian.... Apa kalian suka guru kalian jadi raja cacing"! Cepat kerjakan! Jangan takut ada aku di sini...!"
Bagai disadarkan para murid kedua perguruan itu beramai-ramai segera mengeluarkan guru mereka dari lubang yang baru sebagian tertimbun.
Melihat keadaan itu sambil menggerung gusar si Manusia Tengkorak menerjang.
"Heaaa...!"
Namun dengan tak kalah sigap, Ki Demong segera meluruk berusaha memapak.
Dar! Dar! Benturan dahsyat terdengar berkali-kali. Keduanya tergetar mundur beberapa langkah. Sambil memaki kalang kabut, si Manusia Tengkorak melemparkan beberapa binatang beracun ke arah si Pemabuk Dari Gunung Kidul.
"Fhruuhhh...!"
Namun dengan sekali sembur, tuak merah Ki Demong berhasil merontokan binatang-binatang berbisa itu.
Set! Set! "Fruuuhh...!"
Ketika beberapa binatang beracun kembali menyerbu, Ki Demong menyemburkan tuaknya kembali. Kali ini semburannya menimbulkan api yang berkobar-kobar dan langsung membakar hangus binatang beracun itu.
"Ha ha ha...! Lagu lama macam itu tidak perlu dipamerkan di depanku.... Coba cari yang lebih dahsyat dari itu," ejek si Pemabuk Dari Gunung Kidul.
"Ciaaat"!"
Begitu kata-kata Ki Demong tuntas, si Manusia Tengkorak kembali meluruk dengan pukulan bertubi-tubi.
Zeb! Zeb! Zeb! Tetapi dengan langkah tidak beraturan bagaikan orang mabuk, Ki Demong berhasil mengelak-kan serangan. Bahkan dengan serakan memutar, guci tuaknya berkelebat cepat, tak tertahankan lagi. Hingga....
Buuug!?? "Aaakh!"
Telak sekali dada si Manusia Tengkorak ter-hajar guci. Walaupun tidak sampai jatuh, tetapi dari bibirnya menetes darah kental pertanda terluka dalam cukup parah. Menyadari tak bakal menandingi pemabuk itu, dilemparkannya benda sebesar melinjo dari tangannya.
Blusss! Ki Demong segera loncat mundur begitu benda itu meledak, menimbulkan asap pekat berbau wangi. Pemabuk Dari Gunung Kidul tahu, asap itu mengandung racun jahat.
Mendapat kesempatan baik, si Manusia Tengkorak capat memanfaatkannya dengan melesat pergi. Dalam sekejap mata saja, tubuhnya telah hilang dari pandangan mata.
Setelah yakin lawannya pergi, Ki Demong segera menghampiri kedua ketua perguruan yang mendapat luka untuk diobati.
? *** ? 6 ? Di langit bulan setengah lingkaran tertutup awan. Malam yang gelap jadi bertambah gelap. Angin bertiup keras membuat udara bertambah dingin. Di dalam pondok kayu di ujung jalan yang mendaki tak begitu jauh dari Bukit Ungaran, si Manusia Tengkorak duduk berhadapan dengan seorang wanita tua berdandan bagai seorang gadis saja. Sikap perempuan tua itu tampak genit. Wajahnya dihiasi pupur dan gincu.
"Kau memang pantas menjadi murid kepo-nakanku.... Kau berhasil membawakan aku sekotak permata yang sangat berharga.... Di samping itu, kau berhasil membawa seorang pemuda tampan untukku...," puji wanita tua genit ini sambil mempermainkan seekor ular berbisa yang berwarna merah keemasan di tangannya.
"Apa pun yang menjadi kesenangan Bibi Guru, akan kubawakan kemari.... Asalkan, kau mau membantuku menghadapi lawan-lawanku yang rata-rata berilmu tinggi...," tukas si Manusia Tengkorak itu.
"Bagus..., bagus...! Kau taruh di mana pemuda itu, Rara Wulan?"
"Di kamar sebelah Bibi...," sahut si Manusia Tengkorak yang ternyata bernama asli Rara Wulan. Jelas, dia adalah seorang wanita.
"Apakah dia telah kau berikan obat 'Api Sur-ga'...?" tanya wanita tua ini penuh gairah.
"Pokoknya, Bibi Guru tinggal masuk saja...," jawab si Manusia Tengkorak sambil membuka to-peng berbentuk tengkorak.
"Hik hik hik...! Kalau begitu tunggulah di luar, Rara Wulan. Biar kunikmati dulu pemuda itiu...."
Setelah si Manusia Tengkorak keluar, perempuan tua itu segera masuk ke dalam kamar, cepat ditutupnya pintu kayu kamar ini. Perempuan tua ini berbinar-binar melihat seorang pemuda bertubuh tinggi besar sedang duduk di atas balai-balai kayu. Wajah pemuda itu tampan, sehingga membangkitkan gairah perempuan tua ini.
"Siapa namamu, Cah Bagus?" tanya perempuan tua ini, seraya menghampiri.
"Oh..." Aku..., aku.... Wisnupati, Nek," sahut pemuda gagah yang ternyata Wisnupati, putra Ki Waredeng Kepala Desa Karang Sekalor.
"Bagus, bagus. Mendekatlah, Sayang.... Mari kita reguk kenikmatan ini. Hi hi hi...!"
Seperti terkena sihir, Wisnupati mendadak jadi beringasan. Dan tanpa malu-malu lagi, langsung ditubruk dan dipeluknya perempuan tua itu bagaikan sedang menghadapi kekasihnya yang telah lama tidak bertemu.
Suara tawa cekikikan dan napas memburu terdengar jelas sampai di luar pondok. Sementara si Manusia Tengkorak hanya tersenyum-senyum penuh arti. Setelah mengenakan topeng tengkoraknya laigi. Namun mendadak senyumnya lenyap ketika.....
"Heh"!"
Si Manusia Tengkorak tersentak begitu tercium bau tuak yang menyebar ke tempat ini. Belum habis rasa terkejutnya....
"Ha ha ha...! Kembali kita bertemu, Iblis Be-tina.... Di mana saja kau berada, selalu membuat kejahatan. Kali ini, tak akan kubiarkan kau mengacau dunia persilatan lagi."
Si Manusia Tengkorak makin terkejut ketika tahu-tahu berkelebat satu sosok bayangan, dan berhenti dua tombak di depannya. Ternyata yang muncul adalah Pemabuk Dari Gunung Kidul yang selalu membuntuti kepergian si Manusia Tengkorak.
"Keparat...! Kau selalu usil dengan urusanku! Justru kali ini kau akan mati di tempat ini...!"
Sehabis berkata demikian, tangan si Manusia Tengkorak menghentak ke depan.
Wesss...! "Hei...! Dalam waktu sesingkat ini, dia telah berhasil menyembuhkan luka dalamnya" Tentu ada yang telah menolongnya...," gumam Ki Demong dalam hati, seraya melenting ke atas menghindari serangan angin berhawa panas.
Dalam waktu singkat kedua musuh bebuyutan sudah saling serang dengan mengerahkan tenaga penuh. Mereka bertamng dalam tempo cepat dan dahsyat. Lengah sedikit kematian akan menjemput.
"Ciaaat!"
"Haiiit!"
Biar! Berkali-kali mereka beradu tenaga. Hasilnya selalu sama, karena tenaga dalam mereka tampaknya seimbang. Perkelahian jadi berlangsung seru dan menegangkan. Namun....
"Kreaaakh...!"
Mendadak terdengar sebuah suara menggele-gar dari angkasa, yang disusul berkelebatnya satu bayangan besar. Bahkan tak lama, terasa angin keras menerpa dahsyat. Batu kecil dan dedaunan berterbangan terkena putaran angin yang kencang ini. Bahkan yang sedang berkelahi sampai bergetar dengan napas sesak.
Sebelum bayangan itu hinggap di tanah, sesosok pemuda tampan meloncat turun dengan gerakan indah sekali.
"Rajawali Putih...! Robohkan pondok itu...!" seru pemuda yang ternyata Pendekar Rajawali Sakti.
Tanpa diminta dua kali, sosok bayangan besar yang ternyata seekor burung rajawali berukuran raksasa itu mengepakkan sayapnya. Begitu berada di udara, tubuhnya yang besar meluruk dengan cakar tertuju ke arah pondok. Langsung dicengkeramnya pondok itu, hingga porak poranda.
Sementara di dalam rumah tergeletak dua sosok tubuh. Yang seorang adalah pemuda bertubuh tinggi besar yang tak lain Wisnupati. Sedangkan yang seorang lagi perempuan tua yang memeluki pemuda itu. Tampaknya Wisnupati sudah tidak menyadari keadaannya lagi, hingga mau melayani keinginan perempuan tua yang memang mempunyai kelainan jiwa itu.
Putra Kepala Desa Karang Sekalor itu memang tertawan oleh si Manusia Tengkorak. Waktu itu, dia hendak menyusul Pemabuk Dari Gunung Kidul. Namun sialnya, dia bertemu si Manusia Tengkorak yang berhasil mengalahkannya lewat pertarungan sengit. Setelah berhasil ditotok, Wisnupati dijejali obat 'Api Surga', hingga sampai hilang kesadarannya. Baru kemudian dia dibawa ke hadapan perempuan tua itu untuk disuguhkan.
? *** ? Menyadari kini berada di tempat terbuka, perempuan tua itu jadi gelagapan. Cepat bagai kilat disambarnya pakaian yang ada di situ guna untuk menutupi tubuhnya yang bugil. Setelah mengenakan pakaian, mata mencorong tajam, mengawasi Rangga dari atas sampai ke bawah.
"Hik hik hik...! Bocah tidak tahu diri.... Kau akan menyesal telah berani berbuat seperti ini pada Bidadari Pelahap Kumbang! Kecuali..."
"Kecuali apa..."!" potong Pendekar Rajawali Sakti.
"Kecuali kau bersedia menggantikan pemuda itu...," sahut perempuan tua yang ternyata berjuluk Bidadari Pelahap Kumbang.
Melihat keadaan Wisnupati, Rangga segera tahu apa yang dimaksud perempuan tua itu. Kea-daan putra Kepala Desa Karang Sekalor itu bagaikan boneka hidup yang mudah dikendalikan. Bahkan dengan tidak tahu malu ditubruknya perempuan tua ini.
"Kau mau pergi ke mana.... Bidadariku..." Kemarilah.... Sayang...."
Dengan terhuyung-huyung Wisnupati menghampiri Bidadari Pelahap Kumbang dan bermaksud memeluknya.
"Hiaaa...!"
Mendadak saja Pendekar Rajawali Sakti berkelebat cepat, menyambar tubuh Wisnupati. Dan seketika, ditotoknya urat gerak pemuda itu.
Tuk! Tuk! Wisnupati mendesah lirih tanpa dapat bergerak lagi. Hanya matanya saja yang melirik ke sana kemari begitu diletakkan Rangga di tanah.
Melihat semua itu tangan Bidadari Pelahap Kumbang jadi bergetar, pertanda mulai berang.
"Bangsat! Rupanya kau bosan hidup, Bocah..."!" desis perempuan tua ini.
Sambil berteriak memekakkan telinga, Bidadari Pelahap Kumbang menyerang Rangga dengan ular hidup berwarna merah keemasan. Ular yang dipegang pada ekornya itu ikut mematuk, bahkan menyemburkan racun. Sehingga Rangga seperti menghadapi dua serangan sekaligus.
"Haiiit!"
Zeb! Zeb! Pendekar Rajawali Sakti berusaha menghan-curkan kepala ular beracun dengan hantaman ta-ngannya. Namun ular hidup itu bergerak terus, sehingga sulit dihancurkan. Bahkan serangan balik yang tidak terduga hampir membuatnya-celaka.
"Hup!"
Rangga menggulingkan dirinya untuk menghindari patukan ular beracun ini. Begitu bangkit, Bidadari Pelahap Kumbang telah meluruk dengan ular beracun tertuju ke dada.
"Hup!"
Pendekar Rajawali Sakti cepat mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Tubuhnya seketika melenting. Dan begitu meluruk, kakinya berputaran mengancam kepala Bidadari Pelahap Kumbang.
Di luar dugaan perempuan tua itu merunduk-kan tubuhnya dengan tangan memapak kaki Rangga.
Plak! "Uhh...!"
Rangga meringis kesakitan. Kakinya seolah-olah membentur benda keras yang terbuat dari besi. Begitu mendarat Pendekar Rajawali Sakti mengusap-usap kakinya.
Pendekar Rajawali Sakli kini tak mau main-main lagi. Disadari kalau lawannya berkepandaian tinggi. Serangannya harus segera ditingkatkan.
Pada saat yang sama, Bidadari Pelahap Kumbang yang ternyata memiliki ilmu tinggi ini kembali meluruk.
"Hiaaat...!"
Bagaikan gelombang di lautan, mulut ular di tangan Bidadari Pelahap Kumbang mengikuti ke mana saja tubuhnya bergerak.
Rangga terpaksa mengerahkan segenap kemampuannya. Bahkan tangan kanannya menghentak dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' ketika Bidadari Pelahap Kumbang telah melepaskan pukulan jarak jauhnya.
Darrr...! Dua pukulan keras bertemu. Kali ini Bidadari Pelahap Kumbang terhuyung-huyung dengan ta-ngan terasa ngilu dan panas bukan main. Dari bibirnya menetes darah kental. Jelas, dia telah mendapat luka dalam yang lumayan. Matanya tajam mengawasi Pendekar Rajawali Sakti yang hanya terjajar beberapa langkah.
"Keparat...! Kalau melihat pedangmu jelas kau adalah Pendekar Rajawali Sakti.... Tetapi, jangan menepuk dada dulu, Bocah! Karena, aku masih belum kalah.... Bersiaplah untuk mengadu jiwa...! Hiaaa...!"
Disertai teriakan membahana, Bidadari Pelahap Kumbang melesat dengan kecepatan tinggi. Dan seketika kedua telapak tangannya yang terbuka, menghentak ke depan.
Werrr...! "Hup!"
Rangga melenting ke atas, seraya membuat putaran beberapa kali. Dan inilah yang dikehendaki perempuan tua itu. Tanpa terduga, ular hidup di tangan kanannya dijulurkan ke atas.
Tuk! "Aaa...!"
Rangga terpekik tertahan begitu tangannya terpatuk ular. Begitu mendarat, ditotoknya tangan yang terluka agar darah berhenti mengalir.
Buat Rangga, racun ular seganas apa pun tak mempengaruhi dirinya. Karena, sejak kecil dia telah memakan sejenis jamur di Lembah Bangkai yang mampu membuat tubuhnya kebal racun.
"Ki Demong! Cepat bawa Wisnupati pergi dari tempat ini...! Biar kedua orang itu bagianku," ujar Rangga pada Ki Demong, begitu mendarat.
"Baiklah.... Jaga dirimu baik-baik! Mereka memang orang licik...!" jawab Ki Demong sambil menyambar tubuh Wisnupati yang masih tergeletak di tanah.
"Haiii.... Mau lari ke mana kau, Tua Bangka Busuk...?" teriak si Manusia Tengkorak sambil mengejar Ki Demong yang telah melesat.
Terpaksa laki-laki tua pemabukan itu menghentikan lesatannya. Tubuhnya berbalik, menyemburkan tuak merah.
"Fmuuhhh...!"
Si Manusia Tengkorak terpaksa melenting ke belakang kalau tak ingin tersambar tuak merah yang berisi tenaga dalam tinggi ini.
Kesempatan itu digunakan Ki Demong untuk kembali melesat disertai ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat tinggi. Sehingga ketika si Manusia Tengkorak bisa menguasai keadaan, tubuh laki-laki tua pemabukan itu telah lenyap bersama Wisnupati.
Tinggalah si Manusia Tengkorak yang mende-ngus geram. Berkali-kali kakinya menghentak ta-nah, melampiaskan kekesalannya, karena buruannya hilang.
? *** ? Kali ini Pendekar Rajawali Sakti benar-benar mendapat lawan tangguh. Disadari gerakan Bida-dari Pelahap Kumbang capat dan kuat luar biasa.
"Hik hik hik...! Kali ini kau bertemu hari naasmu, Pendekar Rajawali Sakti...," ejek Bidadari Pelahap Kumbang dengan tawa jumawa.
Pendekar Rajawali Sakti hanya menatap dingin dengan perbawa menggetarkan. Dia merasa, saat inilah waktunya untuk menyudahi pertarungan. Maka secepat kilat dicabutnya Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang tersampir di punggung.
Sring! Saat itu juga, sinar biru berkilauan memancar dari batang pedang yang memiliki pamor dahsyat. Bidadari Pelahap Kumbang sampai terpaku memandangi cahaya yang ditimbulkan pedangnya.
"Heaaat...!"
Setelah menekan kegentarannya dengan teriakan keras, Bidadari Pelahap Kumbang meluruk sambil memainkan jurus aneh yang menggunakan ular hidup. Serangannya mengarah ke seluruh tubuh Rangga. Pada saat yang sama, rupanya si Manusia Tengkorak tak ingin bibi gurunya celaka. Maka tubuhnya juga turut meluruk menggempur Pendekar Rajawali Sakti.
"Ciaaat!"
Semakin lama pertarungan jadi semakin sengit. Rangga segera mengerahkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Setiap kelebatan pedangnya, langsung menimbulkan hawa aneh yang membuat pikiran lawannya melayang.
"Shat!"
Bidadari Pelahap Kumbang dan si Manusia Tengkorak jadi terdesak. Apalagi jurus 'Pedang Pemecah Sukma' khusus ditujukan pada perempuan tua itu. Akibatnya, Bidadari Pelahap Kumbang jiwanya bagai terpecah-pecah. Semangat bertarungnya kontan kendor.
Secara tiba-tiba, tubuh Rangga melenting ke udara. Begitu menukik turun dilancarkannya jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' disertai sabetan pedang mengarah kepala Bidadari Pelahap Kumbang yang tak sempat menghindar. Dan....
Cras! "Aaa...!"
Kepala Bidadari Pelahap Kumbang yang menjadi Bibi Guru si Manusia Tengkorak kontan menggelinding ke tanah tersabet pedang Pendekar Rajawali Sakti. Darah menyembur dari lukanya. Tubuhnya kontan ambruk tak berdaya dan menggelepar-gelepar.
Bahkan sebelum tubuh tua itu jatuh, Rangga cepat menyabetkan pedangnya ke arah ular ber-warna merah keemasan.
Tas! Tas! Kontan ular itu terpotong menjadi tiga bagian.
"Heaaa...!"
Namun baru saja Rangga hendak mendarat kembali, si Manusia Tengkorak telah menghantamkan pukulan jarak jauh yang cepat bagai Wlat, tanpa mampu dicegah. Hingga....
Desss...! "Aaakh...!"
Pendekar Rajawali Sakti kontan terkapar tak berdaya dengan pedang terlepas dari tangan.
Cepat bagai kilat, si Manusia Tengkorak berkelebat menyambar pedang itu sebelum jatuh ke tanah.
"Dengan pedangmu sendiri, kau akan mati di tanganku, Pendekar Rajawali Sakti...! Heaaat..!"
"Kraaakh...!"
"Heh..."!"
Si Manusia Tengkorak menghentikan serangannya dengan hati tercekat ketika tiba-tiba sebuah bayangan besar meluruk dari angkasa. Begitu cepat bayangan itu melesat, tahu-tahu Pendekar Rajawali Sakti telah lenyap tersambar.
Ketika si Manusia Tengkorak mendongak, tampak seekor rajawali raksasa tengah membawa Pendekar Rajawali Sakti dengan cakarnya yang tajam. Hatinya bergidik juga melihat burung raksaa yang baru pertama kali dilihatnya.
Baru kemudian, si Manusia Tengkorak menoleh ke arah mayat Bidadari Pelahap Kumbang.
"Bigi Guru...!"
Disertai teriakan keras, Rara Wulan menghambur ke arah mayat bigi gurunya.
"Bibi..., maafkan aku.... Aku tak sempat menyelamatkan nyawamu... Biarlah, akan kubalaskan dendammu dengan pedang ini...!" desis si Manusia Tengkorak dengan airmata mulai bergulir dari sudut-sudut matanya.
?

Pendekar Rajawali Sakti 185 Geger Di Telaga Warna di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

*** ? 7 ? "Hoaaagkh!"
Dari mulut Pendekar Rajawali Sakti keluar darah berwarna hitam setelah selesai bersemadi. Hingga darahnya berwarna merah segar. Baru Rangga selesai menyalurkan hawa murninya.
Pendekar Rajawali Sakti memang baru saja menderita luka dalam lumayan, hingga membuat-nya pingsan, setelah dibokong oleh si Manusia Tengkorak. Untung saja, Rajawali Putih cepat menolongnya, dan membawanya ke sebuah gua di sekitar Bukit Ungaran.
"Hm.... Pedangku berhasil terampas oleh perempuan keparat itu.... Biarlah, entah bagaimanapun caranya pedang itu pasti akan kembali padaku...," gumam Rangga.
Pendekar Rajawali Sakti kembali mengingat-ingat pertarungan dengan dua perempuan berhati iblis itu. Dia ingat betul kalau waktu itu terbokong, sehingga pedangnya terlepas. Dan akhirnya Rajawali Putih berhasil menolongnya.
"Hm.... Kepandaian mereka benar-benar he-bat, " gumam Rangga. Masih dengan langkah tertatih-tatih, Rangga meninggalkan gua itu untuk mencari makanan, karena mendadak perutnya menjerit-jerit minta diisi.
? *** ? Pada saat yang sama Ki Demong juga berhasil menyembuhkan Wisnupati. Pemuda tinggi besar itu tidak henti-hentinya menyesali apa yang telah dilakukannya. Untung saja Pendekar Rajawali Sakti cepat menyelamatkannya dari kenistaan yang lebih dalam dan sangat memalukan.
Setelah dirasakan sehat kembali, Wisnupati dan si Pemabuk Dari Gunung Kidul mencari Pendekar Rajawali Sakti.
Mereka berdua yakin, Rangga pasti menuju ke Bukit Ungaran. Maka langkah mereka pun di-tujukan ke arah sana.
Masih di sekitar Bukit Ungaran, seorang wanita cantik berpakaian serba hijau berlari cepat. Ilmu meringankan tubuhnya termasuk tingkat tinggi. Di punggungnya tersembul gagang pedang berhulu kepala burung.
Dari arah yang diambilnya, jelas wanita cantik itu menuju ke Bukit Ungaran. Tampaknya dia sengaja menghindari orang-orang persilatan. Maka diambilnya jalan yang jarang dilalui umum.
Tanpa diketahui, dari tempat yang tersembunyi sepasang mata memperhatikan wanita itu dengan seksama. Dari bentuk pakaian dan penampilannya, jelas orang yang tengah bersembunyi itu dari daratan Cina. Pakaiannya serba hijau tua. Usianya sekitar dua puluh enam tahun. Masih tergolong muda.
Di pinggang pemuda itu menggantung sebuah pedang yang diberi ronce-ronce dari benang sutera indah berwara-warni. Pada wajahnya yang cukup tampan, terdapat belas luka yang memanjang. Dagunya tumbuh janggut panjang macam kambing. Tampaknya, dia adalah tokoh persilatan dari Cina.
Ketika wanita cantik yang juga berpakaian serba hijau melintas, cepat bagaikan gerakan kijang pemuda Cina itu berkelebat. Tangannya membentuk cakar dan bergerak ke arah punggung untuk merampas pedang yang dibawa wanita itu.??
"Hup...!"
Namun wanita itu juga bukan orang sembarangan. Dengan cepat dia mengegos ke samping, lalu tangannya menyampok cengkeraman yang mengarah ke punggungnya.
Plak! Benturan keras terjadi. Masing-masing kontan tergetar mundur beberapa langkah. Tetapi, secepat itu pula keduanya memperbaiki keseimbangan masing-masing dengan tatapan tajam.
? *** ? "Siapakah kau..." Rasanya aku tidak punya urusan dengan orang asing sepertimu...," tegur wanita cantik ini, yang tak lain Rara Wulan.
"He he he...! Namaku Kwe Ceng Kian! Orang di daratan Cina menjuluki aku si Kuda Terbang...," jawab pemuda asing yang terus mengawasi pedang di punggung Rara Wulan. Sebuah pedang pusaka yang berhasil dicuri wanita itu dari Pendekar Rajawali Sakti.
"Kalau kau tidak ada urusan, aku hendak me-neruskan perjalananku kembali," tukas Rara Wulan.
"Kalau mau lewat silakan saja. Tetapi, serahkan dulu pedang yang berada di punggungmu...."
"Keparat..! Jangan harap kau dapat berbuat sesukamu...!" desis wanita ini.
"Ha ha ha...! Buktikan saja, apakah aku tidak dapat berbuat sesuka hatiku..."!" ejek pemuda Cina yang bernama Kwe Ceng Kian.
Sambil berkata tangan pemuda Cina ini kembali mencengkeram ke arah dada Rara Wulan. Namun wanita itu cepat mengelak ke samping. Bahkan seketika melepas serangan dengan dua jari tangan menotok ke arah pergelangan tangan Kwe Ceng Kian.
Pemuda Cina itu tidak mau gegabah dan menganggap remeh. Cepat tangannya ditarik. Tubuhnya bergeser ke samping sambil mengibaskan telapak tangan terbuka.
"Sheaaat!"
"Haet! Kedua tokoh persilatan yang sama-sama berpakaian serba hijau itu saling serang dengan sengit. Yang satu menghendaki pedang pusaka, yang lain mempertahankan mati-matian.
Pada satu kesempatan Rara Wulan melempar sebuah benda sebesar melinjo. Namun, dengan cepat Kwe Ceng Kian melenting ke atas.
Blushhh...!"
Ketika menyentuh tanah, benda sebesar melinjo itu langsung meledak, mengeluarkan asap berbau busuk.
Menyadari asap itu mengandung racun yang jahat, Kwe Ceng Kian segera menutup pernapasannya.
"Huaet!"
Set! Set! Baru saja pemuda Cina itu mendarat di tanah. Kembali meluruk beberapa benda yang bergerak-gerak, melayang ke arahnya. Benda yang ternyata binatang-binatang beracun yang bisanya sangat mematikan itu meluruk cepat. Maka tanpa banyak pikir lagi, Kwe Ceng Kian menghentakkan kedua tangannya disertai pengerahan tenaga dalam tinggi"Yeaaa!"
Zeb! Zeb! Zeb! Berkali-kali pukulan jarak jauh Kwe Ceng Kian yang mengeluarkan sinar kehijauan melesat, memapaki binatang-binatang beracun itu. Bahkan begitu mendapat kesempatan, pemuda Cina ini terus mendesak Rara Wulang dengan pukulan jarak jauh pula.
Wanita cantik itu lambat laun merasakan tekanan yang semakin berat. Seketika dikeluarkannya selendang hijau yang melilit pinggangnya. Ketika dikebutkan mengeluarkan bau harum yang menyengat.
Kwe Ceng Kian sadar, seluruh benda yang ada pada wanita itu semuanya mengandung racun. Maka dia tidak berani berlaku sembrono. Maka dicabutnya pedang yang tergantung dipinggangnya. Dengan segera dimainkan jurus-jurus yang menjadi andalannya.
Menghadapi jurus dan gerakan silat yang baru dilihatnya, Rara Wulan agak sibuk menghadapi-nya.
Sementara Kwe Ceng Kian sendiri, cepat mem-pergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang menjadi andalan utamanya, sehingga dijuluki Pendekar Kuda Terbang.
Kali ini seolah-olah tubuh pemuda Cina itu berubah menjadi puluhan. Bahkan pada suatu kesempatan, tangan Kwe Ceng Kian berhasil merampas pedang di punggung.
Rara Wulan geram bukan main. Selendangnya cepat disabetkan ke belakang. Pada saat yang sama tangannya juga melemparkan segenggam kelabang dan kalajengking beracun.
Set! Set! Bletar! "Aaakh...!"
Selendang Rara Wulan yang selama ini dikenal bernama si Manusia Tengkorak tepat mengenai pundak Kwe Ceng Kian.
Kwe Ceng Kian berteriak cukup keras tatkala sabetan selendang mengenai pundaknya. Selagi tubuhnya terjajar seekor kelabang mendarat di lengan dan langsung menyengat. Namun mendadak pemuda Cina itu melenting ke belakang dengan gerakan lincah. Begitu mendarat tangan kirinya langsung dihentakkan.
"Hiih...!"
Wesss...! Seketika melesat sinar kehijauan dari telapak kiri Kwe Ceng Kian.
Rara Wulan terkesiap. Namun dia segera melenting ke belakang, sehingga serangan itu luput. Kesempatan itu segera digunakan Kwe Ceng Kian untuk berbalik dan melarikan diri. Tepat ketika wanita itu mendarat pemuda Cina itu telah lenyap bagai di telan bumi.
"Keparat...! Pedang milik Pendekar Rajawali Sakti yang kucuri telah terampas pula dari ta- nganku...!" dengus wanita cantik berpakaian hijau itu.
Kendati membawa kekesalan, Rara Wulan segera meneruskan langkahnya ke arah Bukit Ungaran.
? *** ? Semakin lama, orang yang datang ke Bukit Ungaran semakin banyak juga. Bahkan sudah ada yang mendirikan kemah-kemah kecil di pinggiran Telaga Warna yang terletak dl sebelah Bukit Ungaran.
Penghuni Pesanggrahan Telaga Warna bukan-nya tidak tahu kalau tempat mereka telah dikurung puluhan orang persilatan. Tetapi, mereka tetap tenang. Seolah-olah, puluhan orang itu tidak dianggap sama sekali. Walau sebenarnya kewaspadaannya tak pernah ditinggalkan.
Malam hari di sekitar Bukit Ungaran tampak pemandangan indah. Dari tiap kemah, obor ber-kelap-kelip bagaikan kunang-kuriang. Seperti pada malam itu, angin bertiup kencang. Lolongan serigala di kejauhan dan bunyi serangga malam membuat maraknya suasana malam.
Dalam ke sunyian itu lima sosok tubuh meng-endap-endap menembus kegelapan malam di pinggir Telaga Warna.
"Malam ini, adalah saat yang paling tepat untuk bertindak. Suasana buruk dan keadaan saat ini memungkinkan kita untuk bergerak menuju ke tengah telaga...," kata salah satu sosok.
"Benar, Kakang Rumongso. Pada saat dan waktu begini, mereka masih tertidur lelap dibuai mimpi...," dukung sosok lain.
"Bukan aku mengecilkan semangat kita ber-lima. Walau bagaimana, mereka semua adalah to-koh-tokoh persilatan...," sela yang lain perlahan.
"Apa maksudmu, Jalatunda...?" potong laki-laki yang dipanggil Rumongso sambil mengerutkan kening.
"Maksudku, dalam setiap langkah, kita harus hati-hati dan jangan bertindak sembarangan. Yang paling penting, jangan merasa paling kuat dan hebat. Sebab, merasa paling pintar sendiri akan menjadi senjata makan tuan bagi kita...," jelas laki-laki yang dipanggil Jalatunda.
"Kau benar, Jalatunda...."
"Sudahlah.... Ini sudah lewat tengah malam.... Apakah sampannya dapat dibawa sekarang...?" tanya yang lain.
"Ayolah kita bawa sampan itu dan masukkan ke telaga.... Perlahan-lahan sajalah. Jangan sampai membuat mereka curiga. Sementara yang lain mengawasi sekeliling tempat ini...!" perintah Rumongso.
Dengan berjingkat-jingkat tiga orang membawa sebuah sampan, dan memasukkannya ke dalam.
Tak lama dalam kegelapan malam sebuah sampan sudah melaju di telaga yang jernih dan berair tenang itu. Dengan hati-hati, kelima sosok itu terus mengayuh sampan menuju ke tengah Telaga Warna. Di sanalah Pesanggrahan Telaga Warna berada.
? *** ? 8 ? Sampan terus meluncur semakin ke tengah. Namun tanpa disadari dari dalam telaga bergulung-gulung riak kecil keluar, menghampiri sampan yang dinaiki kelima orang itu. Ketika dekat riak-riak air bersatu dengan yang lain, membuat air telaga seakan-akan ikut bergelombang.
Beberapa saat kemudian riak-riak kecil bersatu, dan seolah-olah membentuk sebuah pulau berwarna merah darah. Bahkan kumpulan riak itu tampaknya seperti mengandung minyak, karena berkilat-kilat bila terkena cahaya terang. Dan tampaknya seperti hidup!
"Hei...! Apa itu...?" tanya Rumongso heran ketika memandang ke permukaan telaga.
"Entahlah.... Seperti sisa minyak yang dibuang ke telaga ini.... Tetapi, warnanya sangat menyeramkan...," sahut Jalatunda.
"Iya.... Air yang berwarna merah itu sepertinya bernyawa, dan sedang memperhatikan kita semua...," timpal yang lain.
"Ah.... Jangan berkata yang tidak-tidak, Ce-ger!" sergah Rumongso.
"Aku tidak main-main! Lihatlah air yang berwarna merah itu bergerak terus mengelilingi sampan kita...," seru laki-laki yang dipanggil Ceger dengan wajah agak pucat.
"Iya.... Aku juga melihat keanehan ini...."
Prasss! Baru saja selesai orang itu berkata, tiba-tiba gelombang besar datang menerjang perahu kecil itu hinggga terguncang cukup keras. Lima penumpangnya sampai berpegangan pada pinggiran sampan, agar tidak terbalik.
"Ih...! Dari mana datangnya gelombang tadi...?" tanya Rumongso kembali. Kali ini dia merasakan adanya keganjilan di telaga ini.
"Ini benar-benar gila! Tak mungkin air dalam telaga bisa bergelombang sendiri...," potong yang laki-laki lain sambil memperhatikan air telaga. Dia dikenal bernama Barep.
"Kalau begitu, ayo cepat kita dayung agar cepat sampai ke tepian!" perintah Rumongso seraya mendahului mendayung.
Tetapi, baru saja sampan bergerak agak cepat...
Pyarrr...!?? ?"Ohh...!"
Sebuah gelombang kecil telah melontarkan percikan air ke dalam sampan, dan tepat mengenai kaki salah seorang. Anehnya, air dari telaga itu semakin banyak yang naik, dan masuk ke dalam sampan.
Semua penumpang sampan hanya terkesima dengan mata terbeliak. Tak seorang pun yang bertindak, seakan-akan gerakan mereka bagai ter-kunci. Bahkan orang yang ditempeli air telaga seperti tak mampu berbuat apa-apa.
Bagaikan hidup, air yang berwarna merah itu terus menempel dan melibat kaki orang tadi yang masih terkesima. Baunya amis dan kental sekali. Anehnya bagaikan nyawa, air itu terus melibat kaki orang yang ditempeli. Bahkan menyedot serta menarik tubuhnya ke dalam telaga.
"Wuaaakh...!"
Byuuurrr...! Tanpa dapat ditahan lagi, orang itu jatuh ke dalam air dan terseret masuk ke dalam telaga yang tampak bergolak hebat seperti sedang terjadi perkelahian di dalamnya.
Sesaat kemudian, kepala orang yang tercebur tampak menyembul. Namun, keadaan benar-benar menyeramkan! Wajahnya tampak pucat dan penuh darah, seolah-olah tersedot air yang kental tadi.
Blup! Kembali orang yang tampaknya telah tewas itu terseret ke dalam air. Dan kali ini, dia tak muncul lagi. Hanya riak dari dalam telaga itu saja yang bertambah besar.
Kejadian itu hanya berlangsung sekejap. Yang lain tidak dapat berbuat apa-apa untuk meno-longnya dari kematian.
"Keparat...! Pertanda apa pula ini..."!" desis Rumongso.
"Sepertinya dalam telaga yang tenang ini ada sesuatu yang menakutkan. Dan maut tengah mengancam kita semua...," gumam Ceger dengan jantung berdetak keras.
"Shet...! Diamlah, lihat itu...! Air kental yang berwarna merah sedang menuju kemari lagi...!" teriak Barep gugup.
Weeerst...! Cepyaaarrr...! "Aaa...!"
Kembali air telaga masuk ke dalam sampan. Dan kali ini Barep dan Ceger yang terseret masuk ke dalam air. Mereka kontan berteriak-teriak dan menggelepar bagai ayam disembelih, kemudian terseret ke dalam telaga.
Begitu kedua orang itu timbul lagi yang tersisa hanya tulang-belulang saja. Lalu, tulang-belulang itu tenggelam kembali.
"Gila...! Ini tidak masuk akal! Kini kita tinggal berdua. Apakah kita juga harus mati di sini, Ja-latunda"! Sia-sia saja kita datang kemari!" desis Rumongso.
"Kakang Rumongso! Apa yang harus kita lakukan sekarang...?" tanya Jalatunda.
"Kepalang basah! Kita mandi saja sekalian...!" ujar Rumongso.
Dengan cepat keduanya mendayung sampan menuju tepian. Tetapi, kembali air berwarna merah dan kental itu bergerak mengelilingi sampan. Karena marahnya, Rumongso memukul air dengan pendayung yang ada di tangannya.
Plarrr! "Waaa...!"
Bagai memukul karet yang kenyal dan lengket pendayung itu tidak dapat ditarik kembali. Bahkan secara tiba-tiba, air itu menarik Rumongso.
"Hup!"
Tap!' Dengan cepat Jalatunda menyambar tangan Rumongso. Dia berusaha mempertahankan, agar kawannya tidak terseret ke dalam air yang menakutkan itu.
"Aaa...!"
"Wuaaa...!"
Tetapi, lebih celaka lagi. Mereka bagaikan tersentak deh tenaga raksasa, jatuh ke dalam air....
Byurrr...! "Tolong...! Aku tidak mau mati seperti ini.... Tolooong...!" teriak Rumongso setinggi langit.
Tetapi, teriakan laki-laki itu tidak ada gunanya sama sekali. Mereka tenggelam dan menggelepar-gelepar dalam air yang menarik sampai ke dasar.
Ketika muncul kembali, mereka tinggal tulang-belulang saja, dan tenggelam kembali untuk selamanya.
Kini hanya tinggal sampan yang terguncang ke sana kemari, karena para penumpangnya mengalami nasib naas di Telaga Warna. Anehnya, sampan itu terhempas kembali ke tepian sana.
Karena mendengar teriakan-teriakan keras tadi, orang-orang yang berada di tepi telaga jadi terbangun. Mereka keluar sambil membawa obor untuk melihat apa yang tengah terjadi. Sehingga dalam waktu singkat saja, tempat itu telah terang-benderang bagaikan siang hari.
Betapa terkejutnya mereka ketika melihat sebuah sampan kosong yang dipenuhi cipratan darah terdampar di pinggir telaga. Tetapi, tidak terlihat seorang korban pun dalam sampan.
Dalam keramaian orang itu tampak Pendekar Rajawali Sakti sedang memandang ke tengah telaga. Dia sendiri merasa heran atas kejadian ini.
? *** ? Waktu terus berlalu. Sang Mentari mulai menunaikan tugasnya. Suara burung di atas dahan menimbulkan suasana yang damai dan indah di bumi persada. Suara kokok ayam jantan saling bersahutan.
Tetapi semua itu tidak ada artinya bagi kaum persilatan yang berada di tepi Telaga Warna. Mereka tengah diliputi keheranan dan tanda tanya, apa yang terjadi di tengah telaga tadi malam" Dan siapa yang berteriak-teriak sehingga mengejutkan semua orang yang berada di tepian ini"
"Ada apa, ya...?" tanya seseorang dengan wajah kebingungan.
"Entahlah.... Mungkin mereka telah melihat setan...," jawab seorang secara seenaknya.
"Sialan...! Kalau bicara pikir dulu! Jangan asal buka mulut saja.... Kutampar tahu rasa kau...!"
"Jangan galak-galak, ah...!"
Didasari rasa penasaran, dua orang tokoh persilatan menaiki sampan itu dan mendayungnya ke tengah telaga. Gerakan mereka sangat cepat dan terlatih pertanda memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna. Yang lain tidak sempat mencegah. Bahkan ada pula yang menyusul dengan perahu.
Maka ramailah Telaga Warna yang berada di sebelah Bukit Ungaran itu. Tampak beberapa perahu meluncur seperti menantang dan yang terdepan terlihat sebuah sampan meluncur dengan kecepatan kilat.
Mereka semua mempunyai tujuan sama, yaitu ingin mencapai tepian di seberang sana, dan menguasai Pesanggrahan Telaga Warna. Yang mereka ketahui, di depan pesanggrahan itulah terdapat bunga langka yang saat ini tengah diperebutkan banyak orang persilatan.
"Kakang Kalingga! Lihat di belakang kita banyak yang menyusul dengan perahu...!" ujar orang yang berada dalam sampan terdepan.
"Biarkan saja, Kalpitu. Mereka tidak mungkin dapat menandingi kita dalam bermain-main di air...!" jawab laki-laki bernama Kalingga.
Baru saja selesai ucapan Kalingga, dari dasar telaga tampak air beriak dan bergolak. Air itu berwarna merah dan tampak seperti berminyak dalam pantulan sinar matahari pagi. Air kental itu terus berputar-putar, mengitari sampan yang dinaiki Kalingga dan Kalpitu.
"Lihat, Kang Kalingga. Apa itu...?" tanya Kalpitu.
"Tak tahulah. Mungkin kotoran telaga yang naik ke atas...," jawab Kalingga secara seenaknya saja.
Kalpitu tidak bertanya lagi. Dia hanya terus mendayung sekuatnya saja.
Pyarrr...! Mendadak datang gelombang besar. Airnya sempat memasuki sampan. Bahkan sampai mengenai kaki kedua tokoh persilatan itu. Namun Kalingga dan Kalpitu tenang saja.
"Heh"!"
Barulah mereka terkejut ketika air itu menyedot darah, dan menarik keduanya untuk masuk ke dalam telaga.
"Wuaaa...! Apa ini..."!" tanya Kalingga.
"Tidak tahu...! Tetapi..., air ini seperti lintah...! Dia..., dia telah menyedot darahku kuat sekali...!" teriak Kalpitu tergagap.
"Aaakh...!"
Byurrr! Byurrr...!
Kedua orang itu meronta-ronta dalam usaha menahan tarikan air. Namun tetap saja mereka tidak kuasa menahan tarikan. Darah mereka tersedot habis, lalu tercebur ke dalam telaga maut yang penuh teka-teki itu. Yang tersisa hanyalah teriakan menggema sampai ketepian telaga.
? *** "Apa yang telah terjadi dengan mereka berdua, Kendil?" tanya tokoh persilatan yang tengah menyusul sampan yang ditumpangi Kalingga dan Kalpitu.
"Tampaknya mereka berdua terjun ke dalamtelaga, Karpu. Tetapi mereka malah berteriak seperti ada sesuatu yang menyerangnya...," sahut laki-laki bernama Kendil.
"Mungkin mereka yang berada dalam Pesanggrahan Telaga Warna telah waspada akan keadaan di sini. Dan mereka mulai mengadakan penyerangan pada setiap orang yang berusaha mendekati tempat mereka...," jawab seorang lagi, menduga-duga.
Percakapan mereka jadi terhenti. Karena, mereka merasa perahu yang dinaiki berguncang keras. Kedelapan orang penumpang, segera melongok ke dalam air. Tetapi, di sana tidak tampak sesuatu apa pun. Hanya gumpalan air kental berwarna merah darah, tampak berputar-putar mengelilingi perahu yang dinaiki.
Secara iseng, seseorang memegang air yang bergerak-gerak. Tetapi, di situlah letak kesalahannya. Karena....
"Heh"!"
Orang itu merasa tangannya yang menyentuh air bagaikan ditarik sesuatu yang kuar luar biasa. Tubuhnya kontan miring ke telaga. Dia akan tercebur kalau tidak dipegang teman-temannya.
"Ih...! Setan apa pula ini...?" tanya salah seorang sambil mempertahankan orang yang hendak tercebur ke telaga.
Tarik menarik segera terjadi. Tangan orang itu terdengar berkerotokan, pertanda tulang-belulangnya patah.
"Aaa...!"
Jeritan panjang terdengar. Perahu yang mereka naiki tampak miring. Dan tanpa dapat dicegah lagi, mereka terguling masuk telaga yang berkilat-kilat tersaput pantulan sinar matahari.
"Wuaaakh...!"
"Aaakh...!"
Byurr...! Bersamaan tergulingnya perahu itu, mereka berteriak secara serentak. Air telaga bagaikan mengamuk, bergulung-gulung menarik mereka semua ke dasar. Tidak lama, mereka semua timbul dalam keadaan mati dan tinggal tulang-belulangnya saja, Sesaat kemudian, mereka tenggelam lagi untuk selama-lamanya.
Perahu lain yang berada tepat di belakang perahu naas itu segera berhenti. Karena para penumpangnya menghentikan kayuhannya. Mereka terkejut melihat kejadian di depan. Lalu, dengan cepat mereka memutar kembali perahunya, dan berusaha kembali ke tempat semula.
"Balik...! Ada sesuatu yang tidak beres di depan kita...!"
Baru saja mendayung beberapa kali, mereka tersentak. Entah bagaimana perahu mereka berhenti secara mendadak, seolah-olah terhalang sesuatu benda lunak, dan menarik kembali ke belakang. Ketika diteliti, ternyata tangan salah seorang secara tidak sengaja telah menyentuh air kental yang berwarna merah darah!
"Aaa...!"
"Kau kena apa..."!"
"Aduuuh.... Tanganku, tolooong...! Cepat lepaskan tanganku ini!" teriak orang itu dengan wajah pucat pasi.
Mereka berusaha menolong dengan menarik orang itu. Tapi satu sentakan kuat kembali mengejutkan mereka. Dan....
"Aaa...! Byuurrr...! Jeritan demi jeritan yang terdengar sangat memelas dan menggiriskan. Tetapi tidak ada yang dapat menolong mereka, karena tidak ada yang tahu makhluk atau benda apa yang telah menyebabkan mereka semua binasa secara mengerikan.
Bahkan lebih mengenaskan lagi, tidak ada seorang pun yang dapat lolos dan keluar hidup-hidup dari telaga itu. Mereka semua mati tanpa liang kubur. Yang tertinggal hanyalah perahu yang terdampar balik di tepi telaga tempat mereka berangkat.
Saat ini tidak ada seorang pun yang berani menyeberang lagi. Mereka semua merasa heran. Otak mereka dipenuhi tanda tanya. Mungkinkah itu sebuah jebakan yang sengaja dipasang orang-orang dari Pesanggrahan Telaga Wama"
Kalau benar demikian, berarti mereka benar-benar hebat dan perlu diperhitungkan masak-masak! Rangga yang terkenal cerdik, belum dapat memecahkan teka-teki yang terjadi di telaga itu.
"Bagaimana ini, Kakang Samba..." Mereka tampaknya mulai tidak sabar dan mulai berusaha menyeberang kemari...," ujar seorang perempuan tua yang masih kelihatan cantik di depan Pesanggrahan Telaga Warna.
"Biarkan saja.... Saat ini air penghisap darah dari telaga sedang bangun, dan pasti melahap apa saja yang mengandung darah.... Air itu tidak peduli, siapa saja yang berada di atas telaga. Apalagi bila tangannya menyentuh air. Tentu mereka akan ditariknya masuk dan disedot sanipai mati...," jawab laki-laki tua berkumis dan berjenggot putih semua. Dialah Samba yang berjuluk Lutung Pancasona. Sedangkan perempuan di sebelahnya adalah Rukmini yang berjuluk Bidadari Tongkat Hijau.
Pada punggung Lutung Pancasona tersembul sepasang pedang yang dihiasi indah. Sedangkan Rukmini tampak memegang sebatang tongkat berwarna hijau. Di situ, ada lagi tiga dara cantik yang menjadi anak sepasang tokoh persilatan ini.
"Kakang Samba.... Apakah air telaga benar-benar dapat dijadikan pelindung bagi kita...?" tanya Rukmini.
"Tenang sajalah, Istriku. Selama tiga pekan lagi, apa saja yang mengandung darah bila berani masuk telaga pasti akan jadi korban. Tidak peduli mereka berada dalam perahu atau rakit. Kau sendiri sudah tahu, akan hal itu, bukan..." Aku sendiri yang sudah hidup di sini sejak lahir, baru sekali melihat keganasan air telaga itu. Termasuk kau sendiri, bukan...?"
"Iya, Kang! Itu pulalah sebabnya kita aman tinggal di sini sampai ratusan tahun dan turun-temurun. Karena, hanya kitalah yang tahu kapan dan bagaimana telaga itu mengamuk serta tenang kembali. Padahal, kita sendiri bila salah hitung dan masuk ke telaga pada saat mengamuk, tentu tidak luput pula dari kematian secara mengenaskan seperti mereka...," desah Rukmini perlaan.
"Kau benar, Istriku! Selama tiga pekan ini, kita masih aman dan dapat berlega hati.... Kecuali, tiga pekan yang berikutnya, saat itu air telaga sedang tidur dan biasa kembali... Kita harus berjaga-jaga dan waspada pada saat itu. Aku sendiri tidak tahu, apa yang akan terjadi...?"
Rukmini dan ketiga anaknya mengangguk tanda mengerti. Untuk sementara, mereka benar-benar aman. Karena keadaan alam turut membantu. Padahal mereka sendiri tidak tahu, mengapa air telaga itu sewaktu-waktu dapat mengamuk dan meminta korban manusia" Mereka sendiri tahu semua itu dari kakek dan nenek mereka secara turun-temurun.
Di tepian telaga sebelah sana, para tokoh persilatan tidak ada lagi yang turun ke telaga. Mereka hanya memperhatikan dengan benak penuh tanda-tanya, tentang teka-teki yang terjadi di Telaga Warna.
Ada apa sebenarnya di Telaga Warna" Apa yang akan diperbuat penghuni Pesanggrahan Telaga Warna bila para tokoh persilatan berhasil sampai ke tempat itu" Bagaimana sepak terjang si Manusia Tengkorak selanjutnya" Apakah Pendekar Rajawali Sakti berhasil menuntaskan persoalan yang terjadi di dunia persilatan sekarang ini" Apalagi Pedang Pusaka Rajawali Sakti tidak berada di tangannya..." Masih banyak teka-teki yang belum terjawab.
? SELESAI ? Ikutilah kelanjutan cerita ini dalam episode:
PESANGGRAHAN TELAGA WARNA
? www.duniaabukeisel.blogspot.com
www.jagatsatria.com
Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 Golok Sakti 5 Pendekar Cambuk Naga 11 Istana Langit Perak Hina Kelana 17

Cari Blog Ini