Ceritasilat Novel Online

Harpa Neraka 2

Pendekar Rajawali Sakti 211 Harpa Neraka Bagian 2


"Begitu berartikah kedua benda itu bagimu?"
"Benda itu seperti jiwaku. Seperti harpa ini!"
"Kalau begitu, kau boleh mengambilnya sendi?ri!" sahut Rangga sambil tersenyum-senyum.
"Jadi kau tak ingin selamat" Kau ingin mampus di sini"!"
"Siapa yang mau mampus" Yang jadi persoalan adalah, karena aku tak mempercayaimu!"
"Apa maksudmu?"
"Kau licik! Dan kau berhasil menangkapku karena kelicikanmu. Hmm.... Seumur hidup aku tak akan pernah mempercayaimu lagi. Kau suruh aku mencari kedua benda itu, dan membawa kedua pencurinya ke sini. Lalu setelah itu, kau berikan pemunah dan membiarkan aku pergi begitu saja. Ter?lalu mudah! Dan aku sama sekali tidak memper?cayaimu!" Rangga mencibir.
"Ha ha ha...! Bocah pintar. Tapi kau tak punya pilihan lain, atau..., mati sia-sia! Aku beri waktu sampai siang nanti. Kau bisa melihat cahaya matahari dari lubang angin itu!" tunjuk Ki Niti Sabdo.
Rangga menoleh sedikit. Memang hanya ada sedikit lubang angin sebesar ibu jari. Saat ini, ca?haya yang masuk amat terang. Itu menandakan ka?lau saat ini hampir tengah hari. Atau malah sudah tengah hari. Jadi kalau Ki Niti Sabdo memberi wak?tu sampai siang nanti, sama artinya dengan bergurau. Waktunya amat sedikit! "?
"Hei?"
Tapi ketika Rangga menoleh, Ki Niti Sabdo te?lah berlalu dari ruangan ini.
"Bangsat!" maki Pendekar Rajawali Sakti geram. Rangga menarik napas dalam-dalam. Bola matanya menerawang ke seluruh ruangan dan dahinya sedikit berkerut memikirkan bagaimana cara keluar dari tempat ini.
"Benar-benar brengsek dia! Ajiannya telah melumpuhkan tenagaku. Aku seperti penyakitan yang tak berdaya!" rutuk Rangga di hati. "Bahkan untuk melepaskan rantai besi ini saja, aku tak mampu. Dan yang lebih brengsek lagi, Raja Penyair. Dia telah menipuku mentah-mentah!"
Tengah Pendekar Rajawali Sakti memaki da?lam hati, mendadak....
"Psst!"
"Hei"!"
Terdengar bisikan seseorang, membuat Rangga tersentak. Kepalanya langsung dihadapkan ke lu?bang angin. Karena cahaya satu-satunya di ruangan ini, mendadak tertutup. Sebuah mata tampak mengintip dari luar.
"Kau mau bebas tidak"!" tanya sosok bersuara halus itu.
"Siapa kau?" Rangga malah bertanya.
"Sudah! Jangan banyak mulut. Aku ke sana sekarang juga!"
"Hei, tunggu!"
Percuma saja Rangga menahan, karena mata yang mengintip itu telah menghilang. Dan cahaya kembali masuk ke dalam ruangan dengan leluasa.
Rangga menunggu beberapa saat. Tak lama mendengar suara ribut di muka pintu. Lalu..., pintu terbuka. Tampak seraut gadis manis dengan rambut dikuncir agak ke atas muncul sambil tersenyum. Meski begitu, matanya masih kelihatan sembab se?perti habis menangis. Di tangannya tergenggam sebilah pedang bergagang kepala burung yang masih tersimpan dalam warangkanya.
"Ini pedangmu, bukan?" tanya gadis itu.
"Ya! Hati-hati menggunakannya. Salah-salah bisa celaka nanti!" ingat Pendekar Rajawali Sakti.
Sring! Tapi bukannya gadis itu hati-hati, malah pe?dang itu dicabut. Seketika terpancar sinar biru berkilau dari mata pedang. Dan mendadak gadis itu mengebutkannya
Swing! Tras! Melihat usianya yang masih muda belia, pantas rasanya kalau Rangga khawatir pada gadis itu. Apalagi ketika ujung pedang menyambar ke arahnya. Karuan saja dia berseru kaget. Namun ketika segalanya berakhir, dia tak merasakan kalau kepalanya putus. Malah kedua belenggu di tangannya yang putus.
"Satu lagi!" ujar gadis itu. Dan....
Wuuttt...! Cring! Pedang di tangan gadis ini kembali berkelebat, membabat belenggu yang mengikat kedua kaki Pendekar Rajawali Sakti hingga putus. Lalu secepatnya gadis itu memasukkan pedang ke dalam warangka kembali.
"Hebat! Hebat sekali...!" puji Rangga.
"Tak ada waktu untuk pujian. Simpan saja du?lu! Nih, pedangmu! Lekas pergilah dari tempat ini!" tukas gadis itu sambil menyerahkan Pedang Pusaka Rajawali Sakti milik Rangga.
Rangga menyambutnya cepat.
"Terima kasih, Adik Kecil! Aku tak akan melupakan budimu!" ucap pemuda ini.
"Jangan menyebutku adik kecil! Aku bukan adikmu!" dengus gadis ini ketus.
"Oh, maaf! Lalu aku harus panggil apa padamu?" tanya Rangga, halus.
"Namaku Lulur Herang...," sahut gadis ini.
"Wah, nama yang bagus! Terima kasih atas kebaikanmu, Lulur Herang. Aku pergi dulu!"
"Hei, tunggu!" cegah gadis yang ternyata Lulur Herang ketika Rangga melangkah keluar. "Apa kau mau mati konyol" Di luar banyak penjaga. Bila seorang mengetahui, maka segalanya akan sulit bagimu. Karena, kau akan terkurung."
"Apakah ada jalan rahasia di tempat ini?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.
? *** ? 'Tidak ada. Kau hanya perlu hati-hati dalam melewati tempat yang penjagaannya tidak terlalu ketat. Ingat! Keluar dari sini, beloklah ke kiri. Lalu ambil jalan lurus di belakang gubuk kecil. Berhentilah sebentar di dekat kamar mandi yang terbuat dari bilik bambu untuk mengamati penjagaan. Dan setelah merasa aman, ambil jalan ke kanan. Di sa?na, ada kebun kecil. Setelah berada di tengah, kau ambil jalan ke kiri. Dari situ, jalan terdekat menuju bukit. Selanjutnya tergantung dari usahamu sendiri. Sebagai langkah awal, telah kubereskan dua penja?ga di depan pintu! Ayo, lekaaas!" papar Lulur Herang.
"Kau sendiri bagaimana" Apakah kau tak ikut pergi bersamaku?" Rangga malah bertanya.
Gadis itu tertawa renyah.
"Aku lahir dan besar di sini. Pergilah sebelum diketahui oleh penjaga yang lain!" sahut Lulur Herang.
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik!"
Setelah berkata begitu, Rangga buru-buru kelu?ar. Sejenak dia mengamati keadaan di sekelilingnya. Masih sempat kepalanya menoleh pada Lulur Herang sebelum terus berlari kencang.
Jalan yang dikatakan gadis itu memang benar. Penjagaan di situ kurang ketat. Kalaupun ada gu?buk, ternyata hanya kandang kerbau berukuran be?sar. Kalaupun ada sumur dan kamar mandi yang dikatakannya, maka itu untuk keperluan hewan ternak. Ada dua orang yang tengah bercakap-cakap di dalam kandang. Dan dengan mengendap-endap, Pendekar Rajawali Sakti berhasil melewatinya tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Hup!"
Rangga melompati sebuah parit kecil, lalu tiba di sebuah kebun yang cukup luas.
Sampai di tengah kebun perjalanan Rangga aman-aman saja. Tapi ketika berbelok dan hampir mendekati kaki bukit....
"Tawanan lolos! Tawanan lolos...!"
Tong! Tong! Saat itu terdengar teriakan dan suara kentongan saling bersahutan. Orang-orang sibuk keluar dari rumah dan berlarian ke sana kemari.
Melihat itu, Rangga tak mau buang waktu lagi. Secepatnya seluruh sisa tenaganya dikerahkan un?tuk mendaki bukit. Sesekali tubuhnya menyelinap jika melihat beberapa orang penjaga yang berdiri di bukit-bukit pada bagian lain.
"Kurang ajar! Sampai di bukit-bukit tertinggi pun masih terdapat penjagaan. Padahal waktu kesini penjagaan tidak begitu ketat!" keluh Pendekar Rajawali Sakti. "Agaknya si tua licik itu memperhitungkan segalanya. Mungkin termasuk perlarian ku ini.
"Heh"!"
Tiba-tiba Pendekar Rajawali Sakti ingat sesuatu. Buru-buru diambilnya jalan lain di sisi bukit.
"Jangan-jangan gadis itu suruhan Harpa Nera?ka. Dia menggunakan akal licik untuk meloloskan ku dari kurungan. Entah apa yang direncanakannya. Tapi, aku mesti waspada!" duga Rangga.
"Hei, itu dia...!"
"Ohh"!"
Paras pemuda itu berubah ketika terdengar teriakan seseorang ke arahnya. Cepat kepalanya mendongak. Tampak seseorang siap melemparkan tombak ke arahnya dari atas lereng bukit. Tapi se?belum hal itu dilakukan, mendadak melesat bayangan hitam.
Dig! "Aaakh...!"
Orang yang hendak melempar tombak kontan tersungkur ke bawah, dan jatuh bergulingan sambil menjerit kesakitan.
"Hup!"
Bayangan hitam tadi tahu-tahu telah berada di depan Pendekar Rajawali Sakti. Kontan paras Rangga geram bukan main ketika melihat siapa gerangan penolongnya.
"Raja Penyair! Kau rupanya! Kukira kau telah mampus ditelan iblis!"
"Simpan dulu makianmu! Yang jelas, kita mesti pergi secepatnya dari sini. Ayo, lekas!" ujar bayang?an hitam yang ternyata Raja Penyair.
"Aku tak bisa berlari kencang...," keluh Pen?dekar Rajawali Sakti.
"Jangan bergurau! Ayo, cepaaat! Orang-orang itu mulai mengejar kita!" seru Raja Penyair.
"Harpa Neraka itu telah mengurung ku dalam sebuah ruangan, dan mempengaruhi ku dengan ajian 'Petikan Harpa Neraka'. Jadi, tenagaku saat ini betul-betul lemas,"
"Apa"! Kurang ajar! Betul-betul keparat dia! Ayo, cepat!" maki Raja Penyair.
"Hei, mau apa kau"!" seru Rangga kaget
Tanpa buang waktu lagi, Raja Penyair segera menyambar tubuh Rangga, membawanya kabur dari tempat itu dengan mendaki bukit di atas.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan"!" rutuk Rangga.
"Sudah, jangan banyak bicara! Yang penting kita selamat dulu. Kalau sampai tertangkap, kau akan celaka!"
"Bukan cuma aku. Tapi, kau juga! Bahkan kau yang lebih celaka!"
Raja Penyair terkekeh, tanpa menghiraukan rutukan Pendekar Rajawali Sakti.
? *** ? 6 ? Raja Penyair benar-benar mengerahkan selu?ruh kemampuan untuk mendaki lereng bukit di de?pan yang cukup terjal. Semakin tinggi, jalan yang dilalui semakin sulit. Bahkan untuk satu orang. Apa-lagi saat ini, dia memikul beban. Hanya orang-orang berkepandaian tinggi dan telah kenal betul dengan daerah sekitarnya yang mampu selamat da?ri tempat ini. Dan ternyata, Raja Penyair mampu melakukannya dengan baik. Sehingga, kini mereka sampai di bibir atas lereng!
"Mudah-mudahan mereka tidak nekat untuk mengejar sampai di sini...!" desah Raja Penyair penuh harap sambil menoleh ke bawah.
"Hei, turunkan aku!" pinta Rangga, yang sudah merasa jengkel terhadap Raja Penyair.
"Cerewet betul! Apa kau kira kita aman" Ini hutan kekuasaan Setan Belang Pemakan Tulang!" ingat Raja Penyair.
"Aku tak peduli! Ayo, turunkan aku!" sentak Rangga.
"Baik kalau itu maumu!"
Brukk! Dengan kasar Raja Penyair menghempaskan tubuh pemuda itu. Rangga kontan meringis. Sementara Raja Penyair sudah meninggalkan pemuda itu.
"Hei! Mau ke mana kau"!" tanya Rangga sam?bil meringis menahan nyeri di dadanya.
Mau tak mau terpaksa Rangga bangkit dan lari mengejar. Tapi dalam keadaan terluka dalam seper?ti ini, sulit baginya untuk bisa menyusul Raja Penyair. Sebentar saja bayangannya telah hilang. Dan pemuda itu kehilangan jejak.
"Brengsek!" umpat Rangga lagi sambil terus berjalan tersaruk-saruk dengan mulut meringis.
Tapi baru saja melangkah kembali beberapa tindak, mendadak mencelat dua sosok tubuh menghadang Pendekar Rajawali Sakti. Rangga menatap tajam dua laki-laki bertubuh kekar, dengan sebilah golok tajam yang diselempangkan hingga ke pundak masing-masing.
"Hm.... Aku yakin dia anak buah si Harpa Ne?raka, Adi Kudapaksi," gumam penghadang yang berbaju hitam.
"Tak salah, Kakang Jalak Ireng! Buktinya kulihat tadi arah kedatangannya dari sana," sahut laki-laki satunya yang dipanggil Kudapaksi.
"Hei, Anak Muda! Kau pasti kaki tangannya si Harpa Neraka. Hm.... Kalian telah membunuh saudara seperguruan kami...," tegur laki-laki berbaju hitam yang dipanggil Jalak Ireng.
"Maaf, Kisanak berdua. Aku tak mengerti maksud kalian," ucap Rangga halus.
"Jangan berlagak bodoh!" hardik Kudapaksi. "Barusan kau dari mana"!"
"Dari perkampungan...," sahut Rangga.
"Perkampungan mana"!" cecar Kudapaksi.
"Perkampungan Kidung Bahana!"
"Bagus! Kalau begitu kau harus mampus!" dengus Kudapaksi, seraya berkelebat sambil membabatkan golok besarnya ke leher Rangga.
"Hup!"
Dengan sejadi-jadinya, Pendekar Rajawali Sakti melompat ke belakang. Sehingga, luput dari tebasan.
"Harpa Neraka dan anak buahnya memang su?dah kelewatan. Mereka menganggap diri selalu he?bat sendiri. Hari ini jadi pelajaran berharga bagi yang lain! Agar mereka tidak lagi memandang enteng!" seru Jaka Ireng.
Selesai berkata begitu, laki-laki berbaju hitam itu langsung lompat menyerang. Dan Rangga cepat menghindarinya dengan mengerahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Memang, walaupun Rangga terluka dalam akibat pengaruh aji 'Petikan Harpa Neraka', namun untuk mengerahkan jurusnya tidak begitu mengalami kesulitan. Asal saja jangan sampai tenaga dalamnya diumbar terus-menerus. Dan untung saja daya tahan pemuda ini amat mengagumkan.
"Hhh.... Kalau terus begini aku bisa mampus!" keluh Rangga sambil terus meliuk-liukkan tubuhnya di antara kelebatan golok.
Saat itu, Kudapaksi telah kembali siap menebaskan goloknya ke leher. Maka tanpa buang waktu lagi, Rangga mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti.
Sring! Sinar biru berkilau langsung memendar dari mata pedang. Tepat ketika golok Kudapaksi sejengkal lagi menemui sasaran, Pendekar Rajawali Sakti mengibaskan pedangnya.
Wuutt! Trang! Terdengar benturan keras yang disertai percikan bunga api ke segala arah.... "Heh"!"
"Oh..."!"
Kudapaksi terperangah melihat goloknya putus. Sementara Rangga mengeluh, karena pedangnya terpental. Memang Pendekar Rajawali Sakti hanya sedikit mengerahkan tenaga dalam. Sehingga pegangan pada pedang tak begitu kuat. Tapi kalau seluruh tenaga dalamnya dikerahkan, justru keadaannya makin tambah parah.
"Pedang bagus! Ini untukku!" seru Jalak Ireng.
"Hei"!"
Bukan main kagetnya Rangga melihat laki-laki berbaju hitam akan memungut pedangnya. Pada?hal, jaraknya dengan pedang lebih jauh ketimbang jarak orang itu ke pedangnya. Dan kalau sampai pedangnya jatuh ke tangan lawan....
"Heaaa...!"
Pada saat yang gawat, mendadak melesat satu bayangan hitam ke arah Jalak Ireng yang akan me?mungut pedang. Begitu cepat gerakannya, sehing?ga....
Des! "Akh!"
? *** ? Ternyata bayangan yang baru muncul adalah sosok Raja Penyair. Tendangannya tadi langsung mampir ke punggung Jalak Ireng hingga jatuh bergulingan. Secepat kilat disambarnya pedang milik Rangga.
Pada saat yang sama, Kudapaksi meluruk hendak melepas serangan berupa tendangan terbang. Namun tanpa diduga, Raja Penyair berputar sambil membabatkan pedang milik Pendekar Rajawali Sakti.
"Heaaa...!"
Bret! Terdengar jerit kematian dari mulut Kudapaksi saat perutnya robek tersambar pedang. Tubuhnya langsung ambruk bersimbah darah dan tewas begitu menyentuh tanah.
Sementara, Jalak Ireng yang sudah bangkit jadi tertegun. Namun Raja Penyair tak mau membuang-buang kesempatan. Secepat kilat tubuhnya meluruk.
"Heaaa...!"
"Hei"!"
Jalak Ireng terkesiap kaget. Segera dia menghindar sejadi-jadinya, Hanya dua kali dia mampu menghindar, karena selebihnya....
Crasss!. "Aaa...!"
Pedang di tangan Raja Penyair berhasil menebas leher Jalak Ireng hingga putus! Laki-laki itu langsung tersungkur. Begitu kepalanya menggelinding, darah mengucur deras dari lehernya.
"Ayo, mari kita pergi sebelum yang lain kesini!" ajak Raja Penyair seraya menyerahkan pe?dang pada Rangga.
Begitu Pendekar Rajawali Sakti sudah memasukkan pedangnya, Raja Penyair sudah berkelebat cepat.
"Hup!"
Rangga sebisanya bangkit. Walaupun sambil meringis, dia berlari sekencang-kencangnya untuk mengikuti kecepatan lari Raja Penyair.
"Ayo, lebih cepat lagi!" teriak Raja Penyair.
"Brengsek! Mana bisa aku lebih kencang lagi dari ini!" umpat Rangga.
"Biar kugendong!"
"Tidak! Aku masih mampu berlari!"
"Kalau begitu ayo cepaaat!"
"Ini juga sudah cepat!"
"Lebih cepat lagi!"
"Sial!" umpat Rangga, kesal.
Mereka terus berlari hampir seharian. Peluh telah membasahi seluruh tubuh. Napas Rangga terengah-engah. Demikian pula halnya Raja Penya?ir. Menjelang sore baru mereka tiba di pinggiran hutan.
"Aku istirahat dulu! Napas ku mau putus rasanya...," keluh Rangga sambil menyandarkan diri di bawah sebatang pohon dan jatuh terduduk.
"Untuk seorang yang terkena aji 'Petikan Har?pa Neraka', kau termasuk yang paling hebat. Bah?kan sepintas tidak terlihat kalau kau terluka dalam!" puji Raja Penyair.
'Terima kasih atas pujianmu. Tapi bagaimanapun aku lebih suka untuk tidak terkena ajian ini!"
"Itu ajian yang sangat ampuh dan jarang sekali ada obatnya."
"Jarang katamu?"
"Ya!"
"Berarti bukan tak ada?"
"Ada. Dan itu hanya Ki Niti Sabdo yang memilikinya."
"Apakah kau tak tahu ramuannya?"
"Sayang sekali...," Raja Penyair menggeleng lemah. "Tapi kurasa ada berita gembira yang perlu kau ketahui."
"Kukira tak ada berita gembira. Yang ada ha?nya berita celaka!" gumam Rangga, tak suka.
"Jangan cepat putus asa...," ujar Raja Penyair, kalem.
"Aku bukan putus asa! Aku marah!" bentak Rangga, meninggi.
"Pada siapa?" tanya Raja Penyair, pura-pura pilon.
"Pada siapa lagi kalau bukan padamu"! Ini ha?nya karena aku ingin membalas budimu. Dan akibatnya aku! Heh"! Ngomong-ngomong, kau me?mang menginginkan kematianku, ya?" cibir Rang?ga
Raja Penyair terdiam. Kepalanya menoleh sejenak pada pemuda itu.
"Cabut pedangmu! Dan ini leherku. Dengan sekali tebas, maka kau bisa melampiaskan dendammu," ujar Raja Penyair sambil membungkuk sedikit, dan berlutut di depan pemuda itu.
Rangga diam membisu. Bergerak pun tidak.
"Kenapa kau diam saja?" tantang Raja Penyair.
"Aku tak pernah melakukan sesuatu dengan cara semudah itu...."
"Kalau begitu kesempatan masih ada. Saat sehat nanti, kau boleh mencariku dan melampias?kan dendam yang belum reda."
Rangga diam tak menjawab. Sementara Raja Penyair telah berdiri.
"Keadaan di sini sudah lebih aman. Kau bisa menentukan jalan mu sendiri...," kata Raja Penyair lagi.
"Sebelum aku pergi, ada yang hendak kutanyakan padamu...," ungkap Rangga.
"Tentang apa?"
"Kenapa kau memperalatku?"
"Karena kuanggap kau pintar. Dan yang terpenting..., kau hebat. Cukup untuk diandalkan un?tuk menahan mereka, sementara aku mengambil benda yang kuinginkan," sahut Raja Penyair terus-terang.
"Benda apa yang kau cari?"
"Kitab berisi tembang-tembang ampuh untuk melengkapi permainan rebab ku. Kitab itu bernama Kitab Dandang Gula Perapuh Jiwa."
"Lalu kenapa kau mesti membohongi ku?" kejar Rangga.
"Kalau berkata sejujurnya, apakah kau mau membantuku?" Raja Penyair malah balik bertanya.
"Lalu, apakah bantuanmu padaku hari yang lalu juga karena pamrih untuk melancarkan keinginanmu memperalatku?" tukas Rangga.
Raja Penyair menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Terus terang, tidak. Tapi ketika kau mengatakan akan membalas budi atas pertolonganku, maka aku memikirkan hal itu. Kau cukup hebat untuk kuandalkan," papar Raja Penyair.
"Kuanggap kau orang yang paling tega di dunia dengan menghalalkan segala cara. Tak peduli orang celaka. Tapi, kenapa kau mempertaruhkan diri dengan menuruni lereng itu kembali, setelah bebas dan bisa pergi jauh?"
"Aku merasa..., entahlah! Mungkin perasaan bersalah. Dan bermaksud kembali untuk menolongmu. Tapi kulihat, dari kejauhan kau malah telah berusaha meloloskan diri. Peranan ku amat kecil...," tutur Raja Penyair masyghul. "Siapa yang telah membebaskanmu" "
"Seorang gadis belia bernama Lulur He-rang...," sahut Rangga.
"Adik Lulur Herang" Sulit dipercaya! Dia adalah cucu kesayangan Ki Niti Sabdo!"
"Tapi, begitulah kenyataannya...."
"Yaaah, mungkin juga. Lulur Herang sering berbuat aneh. Dan adatnya pun kekanak-kanakan...."
Suasana hening beberapa saat.
"Mengapa kau melarikan diri...?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, memecah keheningan.
"Eh, apa"!" Raja Penyair tersentak.
"Mengapa kau melarikan diri dari perkampungan itu" Bukankah mereka semua menyayangi mu?"
? *** ? "Menyayangiku..." Ha ha ha...!" Raja Penyair tergelak mendengar kata-kata itu.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Rangga, heran.
"Aku hanya merasa geli karena kenyataan berbeda dengan apa yang kau katakan!"
"Apa maksudmu?"
"Kalau mereka menyayangi ku, mengapa aku melarikan diri" Eh, kau tentu tahu tentang aku. Ya, pasti si Tua Bangka itu telah cerita banyak...."
"Dari dia aku tahu kalau kau ternyata seorang gadis. Sifatmu nakal dan suka melawan. Bahkan selalu menyalahi aturan...," papar Rangga, terus terang.
"Ha ha ha...! Begitukah yang mereka katakan padamu?"
"Lalu bagaimana cerita yang sebenarnya?"
Raja Penyair terdiam. Dan dia merenung untuk sejurus lamanya.
"Itu mungkin cerita pribadi. Dan aku tak bermaksud mengusiknya...," ujar Rangga sambil duduk bersila.
"Tidak. Kurasa kau perlu tahu agar hatimu tidak memendam kecurigaan terhadapku...."
Raja Penyair terdiam, lalu menarik napas panjang.
"Puluhan tahun yang lalu, ada dua orang sahabat akrab. Yang satu kaya raya. Sedangkan se?orang lagi hidup biasa. Mereka sama-sama memiliki kepandaian tinggi. Tanpa perasaan apa-apa, orang yang kaya mengajak kawannya tinggal bersama. Tapi, siapa nyana kalau tiba-tiba kawannya yang hidup biasa berhasrat menyerakahi semua harta yang dimiliki. Maka pada suatu saat, keluarga kaya itu diracuni. Maka saat itu pula niat orang yang hi?dup biasa terlaksana. Namun ada seorang yang selamat, yaitu menantu si kaya yang saat itu tengah mengandung. Dengan bantuan seorang bujang setia, mereka melarikan diri. Hidup mereka telantar. Bahkan si menantu itu meninggal setelah melahirkan putrinya. Maka bersama bujang setia itu, bayi cilik itu berkelana dari tahun ke tahun. Sampai kemudian, bujang setia itu mati. Dan, bocah cilik yang telah berusia sepuluh tahun itu ditemukan seseorang...."
Raja Penyair terdiam sebentar. Rangga bisa melihat bola mata gadis di depannya berkaca-kaca. Namun begitu dia tak bermaksud melepaskan topeng untuk menyeka muka.
"Seseorang yang memungutnya itu kemudian merawatnya penuh kasih sayang. Tapi sayang, dia tidak tahu kalau bocah perempuan itu sejak bisa bicara oleh ibu dan bujang setianya selalu diberi ta?hu nama dan ciri-ciri pembunuh keluarga mereka. Maka, sadarlah bocah perempuan itu kalau saat ini hidup bersama pembunuh keluarganya. Dia mulai tak betah, dan berusaha untuk melarikan diri. Tapi akalnya berpikir lain. Dan ketika mulai mahir ilmu olah kanuragan, maka ditantangnya orang yang te?lah menolongnya...," lanjut Raja Penyair.
"Orang itu adalah Ki Niti Sabdo?" tebak Rang?ga.
Raja Penyair mengangguk.
"Dan bocah perempuan yang telah dewasa itu adalah kau sendiri?" "Benar...."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Aku gagal membalaskan dendam keluargaku. Dan secara terus terang, kukatakan niatku hendak membunuhnya. Ki Niti Sabdo menyesali perbuatannya dan meminta maaf. Dia meminta agar aku melupakan peristiwa itu, dan menyuruh tetap tinggal di perkampungan itu. Aku menolak, dan memilih pergi. Namun sebelumnya aku telah mencuri Rebab Swara Buana. Dan sejak saat itulah aku mengembara ke mana-mana...."
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?"
"Suatu saat aku akan menantangnya kembali.
Dia memiliki Harpa Neraka yang menjadi andalannya. Senjata itu bisa dilawan, dengan Rebab Swara Buana yang dipadu Kitab Dandang Gula Perapuh Jiwa. Kelak bila kuanggap ilmu silatku cukup, maka aku akan kembali menantangnya!"
"Jadi itukah sebabnya kau memperalat ku, lalu mencuri kitab itu?"
Raja Penyair mengangguk.
"Kenapa dulu kau tidak memintanya secara baik-baik?"
"Dia tak akan memberikannya. Orang tua itu kelewat pelit dengan pusaka-pusaka yang dimiliki!"
Tiba-tiba Raja Penyair memberi isyarat. Dan mereka beringsut ke rerimbunan semak.
Srak! "Tidak perlu bersembunyi! Aku mengetahui kehadiran kalian di sini!"
Terdengar satu suara bernada nyaring. Suara khas yang dimiliki gadis muda.
Dari balik semak-semak, Rangga dan Raja Pe?nyair berusaha mengintip. Dan terlihat seseorang tegak berdiri tidak jauh dari tempat persembunyian.
"Adik Lulur Herang!" seru Raja Penyair.
"Lulur Herang" Apa maunya?" tanya Rangga heran.
"Sebaiknya kita keluar. Karena dia telah mengetahuinya...."
Mereka segera keluar dari persembunyian. Apa yang dikatakan Raja Penyair memang benar. Gadis itu adalah Lulur Herang, yang telah menolong Rangga.
"Kakak Saraswati! Terimalah salam hormatku!" sambut Lulur Herang.
"Sudahlah. Jangan banyak peradatan segala. Aku kini orang luar dan terusir dari kampung. Kau tak perlu menghormatiku segala," tolak Raja Pe?nyair yang ternyata bernama Saraswati.
Memang orang tak akan menyangka kalau Raja Penyair adalah seorang gadis. Dadanya yang rata, serta penampilannya yang mengenakan topeng, membuat Saraswati lebih dikenal sebagai Raja Pe?nyair.
"Bagiku kau tetap seorang kakak yang kuhormati...!"
"Terima kasih! Sekarang, katakanlah. Apa keperluanmu menemui kami?"
"Ada permintaanku padanya!" tunjuk Lulur Herang pada Rangga.
"Aku" Apa yang bisa kubantu?" tanya Pen?dekar Rajawali Sakti.


Pendekar Rajawali Sakti 211 Harpa Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Angkin Naga adalah hadiah Kakek yang diberikan padaku. Tapi benda itu dirampas sese?orang. Maukah kau membawakannya untukku" Kalau kau setuju, maka sekarang juga akan kuberikan obat pemunah aji 'Petikan Harpa Neraka'," jelas Lulur Herang.
? ? *** ? Selanjutnya Bagian 7-8 (selesai)
? Harpa Neraka Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 . 211. Harpa Neraka ~ Bag. 7-8 (selesai)
2. August 2015 um 08:56
7 ? Selesai berkata begitu, Lulur Herang membuka telapak tangan kanan. Maka terlihat sebuah kendi kecil berisi tiga butir obat pulung berukuran kecil.
"Lulur Herang.... Tahukah kau akan perbuatanmu ini" Ki Niti Sabdo akan menghukum mu!" seru Raja Penyair mengingatkan.
"Aku tak peduli! Aku benci Kakek!" sungut gadis belia ini.,
"Kenapa" Apakah beliau memarahi mu?"
Dengan wajah cemberut gadis itu mengangguk.
"Kalau kau mencuri obatnya, maka beliau akan semakin marah padamu...."
"Biar saja! Aku tak peduli!"
Gadis itu masih menunjukkan wajah cemberut. Lalu wajahnya berpaling pada Rangga.
"Bagaimana" Apakah kau setuju?" tanya Lulur Herang.
Rangga menarik napas panjang. Dahinya sedikit berkerut memikirkan tawaran itu. Sebentar kepalanya menoleh pada Raja Penyair sebelum ke?mudian mengangguk.
"Bagus! Nah! Terimalah obat ini!" sahut Lulur Herang gembira sambil melemparkan kendi kecil dalam genggamannya. "Minum ketiganya sekaligus. Maka luka dalammu akibat aji 'Petikan Rebab Neraka' akan berangsur-angsur sembuh.
Tanpa banyak tingkah, Rangga menenggaknya sekaligus. Lalu diambilnya sikap semadi. Pikirannya dipusatkan sambil mengerahkan hawa murni. Matanya terpejam dengan napas diatur perlahan. Benar saja, sebentar kemudian Rangga merasakan ada sesuatu yang mendesak-desak dadanya. Perutnya terasa mulas seperti diaduk-aduk. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Lalu....
"Hoeeekh...!"
Rangga memuntahkan darah kental berwarna hitam. Namun sikapnya tak berubah, pikirannya tetap dipusatkan pada satu titik.
"Hoeeekh...!"
Kembali Pendekar Rajawali Sakti memuntah?kan darah kental. Namun kali ini warnanya merah segar.
"Bagus! Itu tandanya pengaruh aji 'Petik?an Harpa Neraka' mulai lenyap!" seru Lulur Herang.
"Adik Lulur Herang.... Kau tak perlu memberitahukannya. Rangga telah mengetahui semuanya...," ujar Raja Penyair.
"Tapi ini amat berbahaya, Kak...!" tangkis ga?dis belia itu.
"Orang seperti dia bukan sekali atau dua kali mengalami keadaan seperti ini. Dia akan tahu bagaimana cara menanggulanginya...."
"Yaaah! Terserah. Aku hanya sekadar ingin membantu!" sahut Lulur Herang sambil angkat bahu. Kemudian matanya melirik. "Kenapa Kakak sekarang memakai topeng segala" Wajah Kakak cu?kup cantik. Dan kalau semua pemuda melihatnya, mereka pasti berebutan memikat Kakak!"
"Aku tak bermaksud memikat siapa pun, Adik Lulur Herang...."
"Ya, memang! Tapi sebagai wanita kan ada kebanggaan tersendiri kalau banyak laki-laki yang mengagumi?"
"Kau pun cukup cantik. Dan kurasa, banyak laki-laki yang naksir padamu...!"
"Benarkah"!"
Wajah Lulur Herang tampak berseri-seri. Sementara Raja Penyair mengangguk untuk meyakinkan jawabannya.
'Tapi nyatanya tak ada seorang pemuda pun yang menyukaiku...!" cibir gadis belia ini, manja.
"Itu karena mereka takut."
"Ya, ya.... Aku sadar. Aku memang galak!"
"Bukan. Mereka bukan takut padamu!"
"Lalu takut pada siapa?"
"Pada kakekmu."
"Pada kakek" Hm, lucu! Apa yang mesti ditakutkan" Kakek bukan tukang makan orang seperti si Setan Belang Pemakan Tulang itu. Kenapa mesti takut segala padanya. Kakak juga tidak takut 'kan" Buktinya dulu pernah berkelahi dengan kakek."
"Kau cucu kesayangan beliau, Lulur Herang. Dan beliau amat menyayangi mu. Sehingga kau ti?dak merasakan apa yang dirasakan orang lain terhadap kakekmu...."
"Aku tidak mengerti maksud Kakak! Semuanya serba membingungkan!"
"Suatu saat, kau pasti akan mengerti...."
"Aku ingin mengerti sekarang saja! Ayolah, tolong jelaskan!" paksa gadis itu.
Raja Penyair belum sempat menjawab ketika terdengar keluh kesakitan dari mulut Pendekar Rajawali Sakti. Dari mulutnya kembali menyembur cairan kental berwarna merah. Tapi warna merahnya sudah benar-benar merah segar.
"Bagus! Kau berhasil membebaskan diri dari ajian itu!" kata Lulur Herang terus memberi semangat ketika Pendekar Rajawali Sakti terus melakukan beberapa gerakan untuk melancarkan peredaran darahnya.
"Ayo, kau pasti bisa! Lakukan dengan baik! Ayo, lekas!"
Melihat itu, Raja Penyair hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dia tak bermaksud melarang. Karena kalau pembicaraan tadi berlanjut, Lu?lur Herang akan terus memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan lain yang tak akan habis-habisnya.
Sementara itu wajah Pendekar Rajawali Sakti kelihatan pucat. Namun ketika kelopak matanya terbuka, terlihat sorot matanya tajam dan liar. Lalu tiba-tiba saja dia melompat bangkit.
"Aji 'Guntur Geni'...! Heaaa...!"
Sambil membentak nyaring, Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan tangannya ke depan.
Wusss...! Brakkk...! Sebatang pohon besar berukuran kurang le?bih sepelukan laki-laki dewasa kontan hancur berantakan terhantam sinar merah dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga tersenyum lega menyadari kesehatan dan tenaga dalamnya telah pulih. Tubuhnya lang?sung berbalik, menatap suka cita pada Lulur Herang.
"Sungguh aku berhutang nyawa padamu, Lu?lur! Dua kali kamu menolongku. Entah, bagaimana aku harus membalasnya," desak Pendekar Rajawali Sakti, penuh kebahagiaan.
"Simpan saja rasa terima kasihmu, Kakang. Yang penting tolong rebut Angkin Naga dari orang yang mencurinya," sahut Lulur Herang.
"Akan ku usahakan semampu ku!" tegas Rang?ga.
"Suiiittt...!
Pendekar Rajawali Sakti bersuit nyaring. Se?bentar saja, terlihat dari kejauhan seekor kuda hitam menghampiri.
"Hieee...!"
"Bagus, Dewa Bayu! Ternyata kau masih setia mengikutiku dari kejauhan. Mari kita pergi...," ujar Rangga sambil mengusap-usap leher tunggangannya. Dan dengan gerakan ringan, dia lompat ke punggung kuda hitam itu.
"Eee, mau ke mana kau"!" tahan Lulur Herang.
"Katamu tadi mencari Angkin Naga?" sahut Rangga.
"Aku ikut!" pinta gadis belia itu.
"Lebih baik jangan...."
"Tidak! Kau tidak tahu, mana angkin yang asli. Dan kau juga tidak tahu, bagaimana melumpuhkan kesaktian angkin itu. Kau akan dibuat repot seandainya memakai angkin itu," kilah Lulur Herang.
"Baiklah.... Kalau begitu, naiklah," ujar Pen?dekar Rajawali Sakti setelah bisa menerima alasan Lulur Herang.
"Hup!"
Dengan gerakan ringan pula, Lulur Herang lompat ke belakang pemuda itu. Dari gerakannya bisa ditebak kalau gadis ini cukup berisi juga.
"Apakah aku akan kalian tinggalkan begitu saja?" usik Raja Penyair.
"Kurasa kau tak ada sangkut-pautnya dengan hal ini. Keinginanmu telah tercapai. Biarlah kami berdua yang mengurusnya...," jawab Rangga, tegas.
"Kalau aku bersedia ikut dengan suka rela, apakah kau akan tetap melarangku?"
Rangga angkat bahu.
"Ya, apa boleh buat" Bagaimanapun, tenaga bertiga lebih baik ketimbang dua orang. Tapi menunggang kuda dengan dua orang gadis, bisa-bisa kepalaku makin besar saja...."
"Tidak usah merepotkan. Aku bisa menyusul kalian meski tanpa kuda!" sahut Raja Penyair meyakinkan.
"Aku tidak meragukan kemampuanmu. Tapi, rasanya kurang sopan. Biarlah aku yang berjalan kaki dan kalian berdua menunggang kuda!" kata Rangga.
"Kenapa kita tidak menuntunnya saja sekalian. Lalu, kita bertiga jalan kaki?" tanya Lulur Herang memberi usul.
"Baiklah. Begitu juga baik...," ujar Rangga.
Akhirnya mereka jalan kaki. Dan Rangga menuntun Dewa Bayu.
"Ke mana tujuan kita sekarang?" tanya Lulur Herang.
"Bukankah Angkin Naga dicuri Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa" Jadi tujuan kita adalah mencarinya," sahut Rangga.
"Siapa yang tahu di mana dia berada...?" tanya Lulur Herang lagi.
"Aku tahu!" sahut Raja Penyair pendek.
"Syukurlah. Berarti kita tak repot-repot lagi mencarinya...."
"Tempatnya agak jauh dari sini. Mendekati pantai selatan. Kita akan berminggu-minggu tiba di sana, kalau berjalan kaki seperti ini...," lanjut Raja Penyair.
"Nanti setiba di desa terdekat, kita membeli dua ekor kuda lagi. Dengan begitu perjalanan bisa dipercepat," usul Rangga.
"Begitu lebih baik."
"Tapi aku tak punya uang!" kata Lulur Herang lugu.
"Biar aku yang akan membelikannya!" jawab Rangga. "Ayo, sekarang percepat langkah. Mudah-mudahan sebelum malam, kita bisa tiba di desa terdekat. Sekalian mengisi perutku yang mulai berkukuruyuk!"
*** ? "Lepaskan aku! Lepaskan aku, Binatang! Aouw...! Terkutuk kau! Terkutuk kau...! Lepaskan aku! Lepaskaaan...!"
Terdengar jeritan-jeritan menyayat dari mulut seorang wanita. Jeritan yang berasal dari sebuah pondok itu tak membuat iba seorang laki-laki yang juga berada di dalam pondok itu.
"Ha ha ha...! Sampai kapan kau bisa bertahan dariku, Malini sayang?"
"Iblis terkutuk! Kau akan menyesal bila berani melakukannya padaku!" bentak gadis yang dipanggil Malini.
"Satu-satunya yang kusesali adalah kalau gagal bersenang-senang denganmu! Ayo, Malini. Percuma saja kau berteriak dan melawan. Tak ada seorang pun yang mampu menahan keinginanku. Tak seorang pun! Sia-sia saja kau mengharapkan pertolongan! Juga sia-sia saja seandainya berharap bisa lepas dariku...!"
"Aouuuw...!"
"Ha ha ha...!"
Perlahan-lahan gadis yang siap diterkam itu beringsut ke sudut ranjang dengan wajah penuh ketakutan. Tak ada lagi daya dan upaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman sosok yang bagaikan serigala lapar itu. Kalaupun sampai saat ini yang terdengar hanya suara jeritan dan suara tawa terbahak-bahak, barangkali si pemangsa sengaja mempermainkan korbannya lebih dulu. Tapi pada saat itu, mendadak....
"Iblis jahanam! Keluar kau! Perlihatkan batang hidungmu! Atau kuhancurkan kandang sapi ini...!"
Gadis yang merupakan putri Banghadur Gupta itu memang diculik oleh guru dari si Capung Hitam. Padahal, memang Malini sendiri yang mengundang lewat si Capung Hitam (Baca serial Pendekar Raja?wali Sakti dalam kisah : "Misteri Wanita Ber?topeng").
"Heh, kurang ajar! Siapa yang berani mengganggu kesenanganku"! Mau mampus barangkali!" dengus laki-laki yang berada dalam pondok sambil menyambar pakaiannya. "Capung Hitam! Di mana kau"! Bereskan manusia celaka itu!"
Namun tak ada sahutan. Dan ini membuat la?ki-laki itu kesal.
"Capung Hitam! Kau dengar kata-kataku"! Be?reskan orang itu!"
Bruakkk! Sebagai jawaban, malah terdengar suara keras dari pintu depan yang hancur berantakan. Bebe?rapa keping kayu dan batu melayang ke dalam ka?mar ini.
"Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa! Keluar kau! Keluar kau iblis pengecut...!" bentak suara tadi, dengan suara menggelegar.
"Kurang ajar! Ke mana perginya anak gendeng itu" Kalau ketemu, akan ku cekik sampai mampus!" dengus laki-laki yang disebut sebagai Manusia Tan?pa Rupa Tanpa Rasa seraya melayang keluar de?ngan ringan.
Di halaman depan terlihat seorang laki-laki kurus berkulit hitam dengan hidung mancung dan kelopak mata cekung. Dia bertelanjang dada, dan hanya mengenakan cawat yang terbuat dari lipatan selendang.
"Kecoa busuk! Mau apa kau mengganggu kesenangan orang"!" teriak Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa.
"Serahkan putri ku. Atau, ku ratakan tempat ini!" ancam laki-laki kurus yang tak lain Banghadur Gupta.
"Meratakan tempat ini" Ha ha ha...!" Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa yang bertu?buh besar dengan hidung pesek dan bibir nyaris tak terlihat tertawa lebar. Begitu tawanya berhenti, paras wajahnya berubah geram. Telapak tangan kanannya menghantam ke depan.
"Hiih! Cacing kurus, mampuslah kau!"
Wuusss...! Serangkum angin kencang laksana badai topan meluruk ke arah Banghadur Gupta. Namun dengan lincahnya, laki-laki bertelanjang dada itu berkelit ke samping. Dan seketika kedua tangannya menghentak, melepas pukulan jarak jauh.
Siutt..! Angin panas yang mampu membakar kulit menerpa ke arah Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa. Namun dengan sedikit mengibaskan tangan kiri, pukulan Banghadur Gupta rontok.
Sementara, orang asing berkulit legam itu tak tinggal diam. Tubuhnya mendadak melesat menye?rang disertai siulan yang panjang dan berirama tak teratur.
"Huh! Macam-macam saja kau!" dengus Ma?nusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa seraya mengibaskan kedua tangan.
Wuuttt...! Tubuh Banghadur Gupta mencelat ke atas menghindari terpaan tenaga dalam Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa. Kaki kanannya bergerak cepat ke wajah. Namun dengan gesit laki-laki bertubuh besar menangkis. Dan tahu-tahu, kepalan kirinya dengan mantap menghajar dada.
Jdeg! "Aahh...!"
Banghadur Gupta terjajar mundur beberapa langkah. Dari mulutnya keluar keluh kesakitan. Ini menandakan kalau tenaga dalam Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa berada setingkat di atasnya. Na?mun begitu dengan semangat berapi-api dia kem?bali menyerang.
"Heaaa...!"
Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa tidak beru?saha mengelak. Ditangkisnya semua serangan de?ngan penuh percaya diri. Bahkan balik menyerang, sampai-sampai Banghadur Gupta mesti menjaga ja?rak.
"Hiih!"
Ketika kepalan Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa menghantam ke dada, cepat Banghadur Gup?ta memutar tubuhnya sambil berusaha melakukan tendangan ke arah pinggang.
Tap! Tapi siapa sangka tiba-tiba tangan Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa bergerak cepat, menangkap kakinya. Kemudian dengan gaya khas, dilemparkannya Banghadur Gupta ke atas.
"Aaakh...!"
Banghadur Gupta menjerit. Tubuhnya melayang seperti layangan putus, lalu jatuh dengan keras ke tanah. Dari mulutnya menyembur darah segar.
"Huh! Cuma segitukah kemampuanmu berani berkoar-koar di hadapanku"!" dengus Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa mengejek. "Ilmu sihirmu tak berarti sama sekali bagiku. Bahkan saat ini aku bisa menyihirmu jadi tape!"
"Keparat! Aku belum kalah olehmu. Coba kau lihat ke sana!" dengus Banghadur Gupta.
"Hm!"
Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa melirik. Tampak sekawanan rajawali bergerak cepat menyambarnya. Sementara dari darat terlihat ratusan ular berbisa menyerbunya. Bahkan puluhan ban?teng siap melumatkannya.
"Itulah pasukanku yang akan melumatkanmu. He he he...!" kekeh Banghadur Gupta.
"Huh! Ini sama sekali tidak berarti bagiku!" de?ngus laki-laki tinggi besar itu.
? ? *** 8 ? Apa yang dikatakan Manusia Tanpa Rupa Tan?pa Rasa bukan isapan jempol belaka. Ketika tubuh?nya berputar, mendadak terlihat angin halus yang berubah cepat menjadi angin ribut yang menelan hewan-hewan itu. Suara teriakan rajawali, lenguh banteng, dan desis ular, semua tertelan oleh gemuruh angin kencang yang diciptakan Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa.
"Hah"!"
Bukan main kagetnya Banghadur Gupta melihat keadaan itu. Dan lebih kaget lagi ketika semua hewan-hewan yang tadi dipanggilnya habis tersapu bersih. Dan kini gilirannya!
"Celaka! Aku harus menyelamatkan diri!" keluh laki-laki berkulit hitam ini berusaha bangkit.
Tapi usaha Banghadur Gupta sia-sia saja. Ka?rena angin lesus itu telah melibatnya dengan cepat.
Wup! "Aaa...!"
Terdengar jeritan panjang menyayat, ketika tubuh Banghadur Gupta tertelan pusaran angin. Kemudian tercampak keras, membentur sebatang pohon besar hingga hancur.
Dan angin itu perlahan-lahan mereda. Menjadi bentuk aslinya, yaitu si Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa.
"Huh! Hanya segitukah kemampuanmu" Kau cari mati berani datang ke sini!" dengus laki-laki bertubuh besar ini.
Baru saja laki-laki itu akan melangkah, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari kejauhan.
"Hm!"
Secepatnya Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa menoleh, melihat tiga penunggang kuda mendatangi tempat ini. Satu pemuda berompi putih, dan seorang lagi seseorang berpakaian serba hitam, bertopeng, dan membawa harpa. Yang terakhir adalah gadis belia berwajah manis.
Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa tegak berdiri sambil berkacak pinggang, menghadang ketiga. pe?nunggang kuda itu.
"Berhenti...!"
Bentakan keras menggelegar membuat ketiga orang itu menghentikan laju kuda.
"Sebelum celaka, lekas minggat dari sini!" bentak laki-laki berhidung pesek itu garang.
"Kaukah yang bergelar Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa?" tanya pemuda berompi putih yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti.
"Kalau benar, kau mau apa"!" sahut laki-laki itu, bernada meremehkan.
"Aku mendapat pesan dari Ki Niti Sabdo untuk meminta Angkin Naga yang kau curi darinya!" sa?hut Rangga.
"Dia mengutus kalian"! Ha ha ha...! Sungguh gegabah Niti Sabdo! Sungguh gegabah...!"
"Lebih baik serahkan Angkin Naga itu pada?ku!" bentak gadis berusia muda dengan suara nya?ring.
"Siapa kau bocah manis?" tanya Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa, menatap penuh hasrat.
"Aku cucu kakek Niti Sabdo!" sahut gadis yang memang Lulur Herang, mantap!
"Kau cucunya" Hi hi hi...! Tua bangka itu pasti sudah kurang waras otaknya. Sampai-sampai tega mengirim cucunya sendiri!"
"Kisanak! Benda itu bukan milikmu! Serahkanlah padanya. Dia lebih berhak memilikinya ketimbang kau!" ujar Rangga.
"Tutup mulutmu, Bocah! Tahu apa kau"!" leceh Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa. "Apa pun yang kuinginkan, harus kumiliki. Dan benda itu te?lah jadi milikku. Maka tak seorang pun yang boleh merebutnya dariku kalau masih pingin hidup!"
"Kalau begitu kami terpaksa merebutnya de?ngan kekerasan!"
"Ha ha ha...! Sungguh lancang kalian. Baiklah! Hitung-hitung ingin kulihat, bekal apa yang kalian bawa hingga berani menyatroniku!"
Selesai berkata begitu, tiba-tiba saja Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa melompat menyerang. Yang ditujunya adalah Pendekar Rajawali Sakti. Ka?rena sejak tadi dia melihat pemuda ini memiliki kepandaian paling tinggi
"Hup!"
Rangga melenting dari punggung kudanya. Namun tak disangka Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa mengejar kelewat cepat sambil mengibaskan kedua tangannya. Sambil berputaran di udara, Pendekar Rajawali Sakti menangkis. Karena sudah tahu siapa Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa, Rang?ga langsung mengerahkan tenaga dalamnya hingga hampir puncaknya.
Plak! Plak! "Uhh...!"
Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa agaknya meremehkan Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga saat berbenturan tadi, tubuhnya sempat terlempar beberapa tombak. Untungnya dengan gerakan lincah dia bisa mendarat manis di tanah.
"Kurang ajar! Hebat juga rupanya kau...!"
Seketika Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa menyilangkan kedua tangan di dada.
"Heaaa...!"
Disertai bentakan keras, tubuh laki-laki itu berputaran. Kini wujudnya berubah bagaikan tiupan angin yang semula perlahan, mendadak berubah bagaikan topan menggila.
"Hmm...?"
*** ? Pendekar Rajawali Sakti segera membuat ge?rakan tangan dengan kuda-kuda kokoh. Tepat ke?tika serangan Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa satu tombak lagi tiba, kedua telapak tangan Rangga telah berada di sisi pinggang. Lalu....
"Aji 'Bayu Bajra'! Heaaa...!"
Kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti menghentak ke depan. Seketika tercipta angin kencang laksana badai topan, memapak serangan Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa.
Jderrr! Benturan antara dua tenaga dahsyat itu betul-betul menimbulkan suara ledakan dahsyat. Batu-batu sebesar kepala kerbau dan batang-batang pohon di sekitar tempat itu terpelanting kesana kemari. Dan bangunan rumah milik lawan, hancur berantakan! Lalu....
"Aaakh...!"
Kedua orang yang bertarung sama-sama terpental disertai jerit tertahan. Dari mulut Pendekar Rajawali Sakti meleleh darah segar. Wajahnya beru?bah pucat bagai mayat saat berusaha bangkit berdiri.
"Heaaa...!"
Sementara, Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa telah sejak tadi bangkit. Bahkan terus melesat me?nyerang.
"Gila! Tenaga dalamnya benar-benar dahsyat"!" gumam Rangga kaget.
"Yeaaa...!"
"Hiyaaat...!"
Sementara Raja Penyair dan Lulur Herang ti?dak tinggal diam. Melihat keadaan itu mereka lang?sung meluruk menghadang serangan Manusia Tan?pa Rupa Tanpa Rasa.
Laki-laki bertubuh besar itu mendengus geram. Seketika telapak tangan kirinya mengebut ke arah dua penyerangnya.
Dess...! "Aaakh...!"
Terjadi benturan dahsyat. Karena tenaga dalam Raja Penyair dan Lulur Herang masih terbatas, tak pelak lagi keduanya terpental ke belakang. Begitu mendarat, mereka sempoyongan dengan mulut me?ringis. Darah tampak meleleh dari sudut bibir.
Namun hal itu bukannya tanpa arti. Sebab se?rangan laki-laki berhidung pesek terhadap Pendekar Rajawali Sakti terhenti. Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa jatuh terduduk. Dari sudut bibirnya keluar tetesan darah. Namun buru-buru disekanya. Kini ma?tanya memandang geram ke arah Rangga.
"Bocah terkutuk! Kau akan mampus sekarang juga!" desis laki-laki itu penuh dendam.
"Aku pun telah siap menghadapimu!" sambut Rangga dingin.
Sring! Keadaan Rangga memang tidak menguntungkan. Tubuhnya malah gemetar ketika mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Meski begitu semangatnya dikuatkan. Rangga telah bertekad untuk pantang menyerah begitu saja.
"Heh"!"
Tapi sebelum Manusia Tanpa Rupa Tanpa Ra?sa menyerang, mendadak terdengar nada-nada har?pa dimainkan dari jarak jauh.
"Harpa Neraka...!" desis Rangga.
"Niti Sabdo! Akhirnya kau muncul juga di sini!" seru Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa.
"Aku datang karena dua hal, Bogatama! Pertama kau mencuri benda kesayanganku. Dan ke?dua, kau melukai cucuku. Untuk yang kesatu bisa ku maafkan. Tapi yang kedua sama sekali tak bisa kuampuni...," sahut satu suara tanpa wujud.
"Huh! Jangan kira aku takut denganmu! Perlihatkan dirimu sekarang juga!" bentak Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa yang ternyata bernama asli Ki Bogatama.
"Ha ha ha...! Bogatama, Bogatama...! Kau masih juga sombong seperti dulu meski usiamu te?lah keropos dimakan zaman."
"Perlihatkan dirimu!" bentak Ki Bogatama.
"Baiklah!"
Wusss...! Mendadak berkelebat satu bayangan hitam dari balik sebatang pohon. Dan tahu-tahu di depan Ki Bogatama berdiri seorang laki-laki tua berbaju serba putih. Jenggotnya panjang dengan rambut telah memutih. Di tangannya terdapat harpa yang siap dicabik.
Begitu melihat kemunculan sosok yang me?mang Harpa Neraka alias Ki Niti Sabdo, Ki Boga?tama langsung menyerang dengan serangan angin lesus. Tubuhnya berputaran, membentuk segulung?an angin topan yang bergerak ke arah Harpa Ne?raka.
"Ha ha ha...! Kau sungguh hebat, Bogatama!"
"Jangan banyak mulut! Hari ini kita tentukan. Kau atau aku yang mampus!" "Hup!"
Ki Niti Sabdo mencelat ke atas sambil memainkan harpanya. Tapi angin topan itu terus mengejar. Secepatnya Harpa Neraka mencelat turun. Be?gitu mendarat, tangan kirinya mengibas. Seketika bertiup angin lembut, langsung meredakan amukan angin lesus yang diciptakan Ki Bogatama.
Tapi, cuma sebentar. Karena berikutnya angin lisus itu semakin liar dan galak saja. Sementara Ki Niti Sabdo terus mengimbangi.
? *** ? Pertarungan aneh antara Ki Bogatama melawan Ki Niti Sabdo memang berjalan seru. Tapi Rangga bisa langsung menyimpulkan kalau Ki Niti Sabdo yang keluar sebagai pemenang. Berarti tak lama lagi Angkin Naga akan dimiliki orang tua itu lagi. Dia menyadari, kini kehadirannya di tempat ini tak diperlukan. Perlahan dia bangkit setelah menyarungkan pedangnya yang bersinar biru berkilau.
"Heh"! Ke mana si Raja Penyair?" gumam Rangga pendek ketika gadis berbaju hitam dan bertopeng itu telah lenyap dari tempatnya. "Hm..., aku tahu! Kurasa dia tak ingin bertemu dengan Ki Niti Sabdo..."
Dan seketika Rangga beralih pada Lulur Herang. Gadis belia itu tampak asyik menyaksikan pertarungan. Perlahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti melangkah ke arah Dewa Bayu. Dengan ge?rakan agak tersendat karena luka dalamnya, Rang?ga naik ke punggung Dewa Bayu.
"Ayo, Dewa Bayu! Kita tinggalkan tempat ini...," ujar Pendekar Rajawali Sakti.
Pelan-pelan Rangga meninggalkan tempat itu. Tapi belum begitu jauh, terlihat seseorang berdiri menghadang. Dan setelah dekat, Pendekar Raja?wali Sakti terkejut
"Malini...! Mau apa kau di sini...?" tanya Rang?ga.
Gadis itu diam tertunduk.


Pendekar Rajawali Sakti 211 Harpa Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ternyata kau tak apa-apa. Dan lagi-lagi, kau pandai bersandiwara!" sindir Rangga seraya menggebah kudanya perlahan.
"Kakang Rangga...!" panggil Malini.
"Apalagi maumu?" tanya Rangga, menghentikan kudanya.
"Kukira..., kukira kau datang ke sini untuk membebaskanku dari cengkeramannya...," kata gadis ini, tergagap.
"Apa maksudmu?"
"Yang menculikku adalah Manusia Tanpa Ru?pa Tanpa Rasa. Aku sendiri yang mengundangnya, karena dia guru si Capung Hitam. Sungguh aku tak menyangka akan begini jadinya. Baru saja ayahku tewas olehnya ketika Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa hendak menodaiku...."
Rangga terdiam beberapa saat.
"Lagi-lagi Kakang telah menyelamatkanku. Ta?pi hidupku telah tak berguna. Aku memiliki banyak noda yang menutupi sekujur tubuh. Kakang! Biarkanlah aku mengabdi dan menjadi budakmu seumur hidup. Budimu kelewat berat untuk kupikul. Dan aku tak bisa membayarnya!" kata gadis itu sambil berlutut dan memohon.
"Kenapa kau ingin menangkapku?" tanya Rangga, dingin.
"Eh, apa"!" Malini tergagap.
"Kenapa saat itu kau hendak menangkapku"!" ulang Rangga.
"Aku..., aku malu mengatakannya...."
"Katakanlah!"
"Kakang tidak marah?"
"Aku ingin dengar pengakuanmu yang jujur!"
"Baiklah, Kakang. Aku.., aku mencintaimu. Tapi untuk memiliki mu, rasanya tak mungkin. Jadi..., aku berharap bisa mendapat keturunan darimu melalui..., melalui...."
Putri Banghadur Gupta tak kuasa meneruskan kata-katanya. Kepalanya menunduk, lalu menangis terisak.
"Tahukah kau bahwa perbuatanmu itu salah" Kau telah memaksakan kehendakmu atas orang lain!"
"Kakang! Aku betul-betul bersalah! Ampunilah aku, Kakang! Kau hukum pun aku rela! Kakang, ampuni aku...!"
"Malini! Sebetulnya niatku bertemu denganmu, ingin menghukum mu. Tapi itu tak bisa kulakukan...."
"Kakang! Kau boleh menghukumku sekarang juga!" tukas gadis itu.
"Biarlah.... Biarlah karma yang menghukum? mu. Aku sudah cukup bahagia seandainya kau merubah jalan hidupmu...."
"Jadi, jadi kau memaafkan aku?"
"Yang Maha Kuasa saja mau memaafkan hambanya, apalagi aku yang hanya manusia biasa."
"Oh! Terima kasih, Kakang!"
"Nah, urusanku telah selesai. Selamat tinggal! Heaaa...!"
Malini yang hendak menubruk Rangga jadi terlongong saat Pendekar Rajawali Sakti menggebah kudanya dengan kencang.
"Kakang...! Kakang Rangga...!" teriak gadis itu memanggil.
Tapi sia-sia saja. Pemuda itu tak sedikit pun menoleh. Apalagi berhenti. Malini terduduk lesu de?ngan air mata mengalir membasahi pipi.
Dari jauh, samar-samar terdengar syair yang tengah dilantunkan.
? Sungguh malang nasibmu,
wanita mengharapkan cinta yang fana
Seperti rembulan dan matahari
Sia-sia bertemu
Dan meski dalam mimpi
Sang Pemuda tetap dalam kelana
Oh, ini cuma sekeping kisah
Seorang anak manusia yang dirundung duka,
karena cinta ? ? ? SELESAI ? ? Scan/E-Book: Abu Keisel
Juru Edit: Aura PandRa
? ? ? https://www.facebook.com/pages/Dunia-Abu-Keisel/511652568860978
? ? Harpa Neraka ? Daftar Isi Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 Alap Alap Laut Kidul 9 Pendekar Bodoh Karya Kho Ping Hoo Bentrok Rimba Persilatan 8

Cari Blog Ini