Ceritasilat Novel Online

Iblis Pemenggal Kepala 1

Pendekar Rajawali Sakti 198 Iblis Pemenggal Kepala Bagian 1


IBLIS PEMENGGAL KEPALA
oleh Teguh Suprianto
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting : Puji S.
Hak cipta pada Penerbit Diiarang mengcopy
atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari
penerbit Teguh Suprianto
Serial Pendekar Rajawali Sakti
dalam episode :
Iblis Pemenggal Kepala
128 hal. ; 12 x 18 cm
Pembuat Ebook :
Scan buku ke djvu : Abu Keisel
Convert : Abu Keisel
Editor : Dhee_mart
Ebook pdf oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/
1 Malam baru saja beranjak. Namun Desa
Ketawang sudah nampak sepi. Kendati demikian,
masih saja ada dua orang yang berjalan berangkulan, seperti tak ingin
terpisahkan. "Apa yang sebenarnya yang hendak Kakang
Soma bicarakan?" tanya sosok yang berada di kanan, dan ternyata seorang gadis.
"Kita ke sana, Narti," tunjuk pemuda yang dipanggil Soma.
"Kakang! Ini sudah cukup jauh dari rumah!"
sahut gadis bernama Narti.
"Ya! Tapi, belum cukup jauh dari rumah
tetanggamu."
"Apa maksud Kakang sebenamya?" tanya Narti curiga, ketika pemuda itu terus
menyeretnya agak jauh dari pemukiman penduduk.
"Kenapa" Apakah kau takut padaku, Narti?"
tukas Soma. "Tapi, Kakang...?"
"Kau tidak mencintaiku lagi?"
"Jangan berkata begitu, Kang! Kau tahu,
betapa aku sangat mencintaimu."
"Nah! Kalau begitu, jangan banyak tanya-tanya lagi!"
"Tapi, mau dibawa ke mana aku" Tidak
biasanya Kakang bersikap seperti ini. Kalau sekadar ngobrol, kita bisa
melakukannya di rumah. Atau
barangkali...."
Narti bergidik ngeri membayangkan apa yang
ada di benaknya. Bagaimana kalau Soma memperkosanya" Meskipun dia kekasihnya, tapi hal itu belum pantas dilakukan!
Apalagi melihat gelagat pemuda itu yang aneh dan mencurigakan. Tapi gadis ini
takut menduga seperti itu. Dia berharap, Soma tidak bermaksud buruk. Itulah
sebabnya, dia tak mau meneruskan kata-katanya.
"Apa" Kau mulai takut padaku, Narti" Kau
tak percaya lagi padaku"!"
Tiba-tiba saja mereka berhenti. Soma memandang geram pada Narti. Hela napasnya
laksana seekor harimau yang siap menerkam mangsa.
Dan ini membuat gadis itu bergidik ngeri. Apalagi ketika tiba-tiba saja Soma
memeluknya kuat-kuat, membuat tulang-belulangnya terasa mau patah.
"Kakang, lepaskan aku! Kau menyakitiku!"
teriak Narti. "Kau ingin lepas" Ingin bebas dariku"! He he he...! Dengan senang hati akan
kulakukan! Ha ha ha...!"
Mendadak Soma berubah liar. Bola matanya
membulat dan kelihatan garang. Dan tiba-tiba pula dirobeknya pakaian gadis itu
sambil tertawa-tawa kegirangan.
Bret! Bret! "Ha ha ha...!"
"Kakang! Apa yang hendak kau lakukan" Oh!
Kau keterialuan, Kakang! Lepaskan aku! Lepaskan aku, Kakang Soma!" teriak Narti,
berusaha berontak melepaskan diri.
"He he he...! Kau mau melepaskan diri dariku"
Tidak akan bisa! Tidak akan bisa...!" desis Soma, terkekeh.
"Kakang, sadarlah! Apa yang tengah kau
perbuat padaku"! Kakang Soma, kumohon sadarlah!
Urungkan niatmu!" teriak Narti.
Tapi percuma segala teriakan Narti. Pemuda
itu seperti kesurupan setan. Dia bukan saja
merobek-robek pakaiannya, tapi juga menyumpal
mulut gadis itu dengan kain. Bahkan dengan
gerakan cepat dia mengikat kedua tangan dan kaki Narti.
"Kini apa dayamu" Kau tak akan mampu
berbuat apa-apa?" desis pemuda itu dengan tatapan dingin dan seringai
menyeramkan. "Ehmm...! Hmmm...!"
Bola mata gadis itu melotot garang. Meski
mulutnya tersumpal, dia berusaha memaki-maki
pemuda itu. "Ha ha ha...! Terserah apa yang kau katakan.
Mungkin kau samakan aku dengan bajingan atau
apa, terserah. Yang jelas, pestaku kali ini tak akan terganggu. Ayo! Mari kita
rayakan, Sayang. Di suatu tempat yang pasti kau sukai!"
Sqtelah itu, Soma memondong Narti dan
berkelebat cepat dari tempat itu disertai suara terkekeh.
*** "Brengsek! Brengsek! Kalau begini jadinya tak ada yang bisa kuajak bertanding!"
Saya baru saja akan rebah. Matahari bersiapsiap pulang ke peraduan. Seorang laki laki tua
berambut putih sebahu terlihat uring-uringan
sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Mulutnya tak henti-hentinya mengomel. Sementara tidak jauh darinya seorang
pemuda tampan tengah terduduk di bawah pohon tanpa bisa bergerak
sedikit pun. "Rasakan sendiri!" sahut pemuda itu.
"Diam kau, Jaka Tawang! Kalau terus
mengomel, maka sampai seharian kau akan terus
tertotok begitu!" bentak laki-laki tua ini.
"Apa hebatnya" Aku justru merasa enak
begini...," sahut pemuda yang ternyata Jaka Tawang. Dan orang tua yang mengomel
tak lain dari Ki Sabda Gendeng gurunya sendiri.
"Enak katamu" Huh! Apa enaknya orang
ditotok?" tukas Ki Sabda Gendeng.
"Bagi orang-orang mungkin siksaan. Tapi
bagiku, ditotok seperti ini bagai berada di surga.
Tak perlu mencarikan makanan, serta tak perlu
bertanding catur melawan Guru...!" kilah Jaka Tawang.
Murid dan guru itu memang sama sablengnya.
Bila Jaka Tawang sering membantah gurunya yang
selalu mengajaknya main catur, maka hukumanlah
yang harus diterimanya. Sementara, Ki Sabda
Gendeng sendiri juga keterlaluan. Kalau bertanding main catur, dia maunya menang
melulu. Dan bila
Jaka Tawang mengalahkannya, laki-laki tua ini akan marah tak karuan. Tapi bila
Jaka Tawang sengaja mengalah, Ki Sabda Gendeng akan menghinanya
terus menerus. "Tidak makan selama beberapa hari, kau tentu akan merasa lebih enak!" dengus
laki-laki tua yang gila catur itu.
"Lebih baik ketimbang disuruh main catur
dengan orang goblok!" balas Jaka Tawang.
"Eee...! Kau bilang aku goblok"! Murid kurang ajar! Kukemplang kepalamu berhenti
jadi orang kau!" Mata Ki Sabda Gendeng melotot. Tangannya
terangkat, siap mengemplang. Namun Jaka Tawang
tak terpengaruh sedikit pun. Wajahnya tetap ceria dengan bibir selalu tersenyum.
"Lho" Kok Guru jadi sewot" Siapa yang bilang guru, goblok?"
"Itu tadi"!"
"Aku kan hanya mengatakan, lebih enak tak
makan ketimbang disuruh main catur dengan orang goblok!"
"Nah, itu berarti aku!" serobot Ki Sabda Gendeng.
"Apakah Guru merasa sebagai orang goblok?"
tukas Jaka Tawang.
"Tentu saja tidak!"
"Nah! Berarti kata-kataku bukan ditujukan
pada Guru!" tandas Jaka Tawang.
"Jadi pada siapa?" tanya Ki Sabda Gendeng.
"Ya, pada orang goblok tentunya," sahut pemuda itu sekenanya.
'Tapi, kau main catur hanya denganku saja.
Maka tak ada orang lain yang bisa dikatakan
go?blok, selain aku!"
"Kenapa Guru begitu ngotot"! Apa itu artinya Guru memang senang dikatakan
goblok"!" tukas Jaka Tawang menyudutkan.
"Tentu saja tidak, Murid Gendeng!"
"Ya, sudah! Kalau Guru memang tidak goblok, berarti aku menujukannya pada orang
lain. Kecuali, kalau Guru memang merasa goblok."
"Sialan! Pintar saja kau bersilat lidah!"
Jaka Tawang terkekeh. Matanya berbinarbinar karena bisa mengerjai gurunya. Itu memang selalu diharapkan, karena selama
ini selalu dikerjai Ki Sabda Gendeng.
"Jadi, kau sungguh-sungguh lebih enak
begini"!" tanya Ki Sabda Gendeng.
"Yaaah.... Ketimbang minta dibukakan, tapi tidak juga dikabulkan...," desah Jaka
Tawang, sambil menengadah ke atas. Dari celah-celah
dedaunan pepohonan terlihat kalau.langit mulai
gelap. Sementara di ufuk barat sana, sinar merah jelaga nampak membias.
"Itu karena kau tak mau main catur
denganku!" sentak Ki Sabda Gendeng, membuat Jaka Tawang menoleh lagi ke arahnya.
"Buat apa" Kalau kalah, Guru tak mau terima.
Dan maunya aku yang terus kalah. Mana ada
permainan catur seperti itu!"
"Jangan suka buat alasan. Itu karena kau saja yang tolol!"
"Hm.... Biasanya orang yang suka main dengan orang tolol, sebenamya dia tolol
juga," sahut Jaka Tawang, kalem.
"Brengsek! Kau berani mengatakan aku tolol"!"
bentak Ki Sabda Gendeng dengan mata mendelik
lebar. "Eeeh, nanti dulu! Siapa yang mengatakan
Guru tolol?" tukas Jaka Tawang berkelit.
"Jangan berdalih lagi! Baru saja kau menga?takan begitu!"
"Nah! Ini seperti tadi. Guru tidak menyimak dengan
teliti, dan akibatnya timbul salah pengertian. Aku hanya mengatakan, biasanya orang yang ber-main dengan orang
tolol, sebenamya tolol juga. Dan itu berarti bukan aku mengatakan Guru tolol."
Laki-laki tua yang gila catur ini mendengus
beberapa kali. "Huh! Sekarang ini apa otakku yang butek,
atau dia yang licik" Sebenarnya bocah ini
melecehkan aku. Tapi setelah diteliti, dia memang mengatakan yang sebenarnya.
Huh! Bagaimana ini?"
gerutunya sambil menepuk-nepuk jidat
"Aku bisa menjawabnya!" selak Jaka Tawang.
"Aku tidak bicara denganmu!" sentak Ki Sabda Gendeng.
'Tapi ini menyangkut persoalanku, bukan"
Nah, berarti aku yang bisa menjawabnya."
"Benarkah?"
Jaka Tawang mengangguk cepat. "Kalau
begitu, katakanlah!"
'Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Bebaskan totokanku dulu."
"Hm.... Kau mau mengakaliku, bukan?" cibir Ki Sabda Gendeng.
"Ya, itu sih terserah Guru saja. Kalau
totokanku dibuka, maka aku bisa menerangkannya
dengan leluasa. Tapi kalau tidak, mana mungkin bisa jelas menerangkannya."
"Baiklah...."
Ki Sabda Gendeng menyetujui setelah berpikir
sebentar. Dia bangkit, lalu menghampiri Joko
Tawang. Sebentar saja totokan di tubuh pemuda
itu telah dibebaskannya.
"Ayo, katakan!" lanjut Ki Sabda Gendeng.
"Sebentar...."
Jaka Tawang menggerak-gerakkan badannya.
Tubuhnya terasa pegal setelah sekian lama jadi
patung. Dan dia mesti melemaskan otot-ototnya.
"Kalau coba menggunakan akal bulusmu, akan kuhajar kau!" desis Ki Sabda Gendeng.
Pemuda itu tersenyum.
Tapi belum lagi Jaka Tawang mulai menjelaskan, mendadak beberapa orang menghampiri dengan wajah garang. Di tangan
mereka tergenggam beberapa macam senjata tajam.
Ada apa dengan Ki Sabda Gendeng dan Jaka
Tawang" *** 2

Pendekar Rajawali Sakti 198 Iblis Pemenggal Kepala di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ki Sabda Gendeng dan Jaka Tawang menoleh
dengan kening berkerut Hati mereka bertanyatanya, mengapa orang-orang itu mendatangi dengan wajah tak bersahabat" Namun
belum sempat terjawab pertanyaan itu.
"Huh! Kurung mereka! Kita harus menghukumnya!" perintah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun berpakaian
ketat warna merah.
Wajahnya kokoh. Agaknya, dialah yang memimpin
orang-orang ini.
"Kurasa itu tidak adil. Mereka harus ditanyai dulu," sergah seorang laki-laki
tua berpakaian putih.
Wajahnya berwibawa, namun penuh kehati-hatian.
"Ki Jumanta" Kenapa kau bersikap lemah"
Aku melihat mereka sudah dua hari berada di Desa Ketakus ini. Sikap mereka
sangat mencurigakan!
Apa maunya kalau bukan mencari mangsa?" dengus laki-laki lain yang berusia tiga
puluh tahun. "Aku mengerti, Praba! Tapi kita perlu
meneliti, agar tidak salah menghukum orang...,"
sahut laki-laki tua yang dipanggil Ki Jumanta.
"Sebagai kepala desa, kau terlalu lunak! Tapi, kami tak bisa mengikuti caramu,"
dengus laki-laki bemama Praba.
Ki Jumanta hanya menghela napas saja.
Kepalanya menggeleng-geleng penuh penyesalan
melihat sikap warganya yang susah diajak berpikiran dingin.
Sementara, Ki Sabda Gendeng dan Jaka
Tawang hanya memperhatikan dan sesekali saling
berpandangan. Sungguh mereka tak mengerti, ada
apa sebenamya! "Aku tidak peduli! Mereka berdua akan
kubunuh dengan golokku ini!" dengus laki-laki berpakaian merah.
'Tahan, Ketawang! Jangan main hakim
sendiri...!" seru Ki Jumanta.
Tapi laki-laki berpakaian merah yang bemama
Ketawang telah mengacung-acungkan
golok. Bahkan telah melompat sambil
menebaskan goloknya ke arah Jaka Tawang yang berada di
dekatnya. "Yeaaa...!"
"Uts! Hei"! Apa-apaan ini"!" seru Jaka Tawang kaget sambil melompat ke belakang.
Setelah berputaran dua kali, dia mendarat kokoh di tanah.
"Jangan banyak omong! Kalian pembunuh keparat! Dan hari ini, harus mati di tanganku!" bentak Ketawang, sengit.
"Pembunuh" Kurang ajar! Jangan seenaknya
kau menuduh!" dengus Jaka Tawang, geram.
"Banyak bacot!"
Saat itu juga Praba dan beberapa orang lain
ikut menyerbu. Tidak tanggung-tanggung, kini lima orang yang mengeroyok Jaka
Tawang dengan penuh
nafsu untuk segera menghabisinya.
Sedangkan Ki Jumanta sambil menghela napas
kesal, beringsut ke belakang dengan sikap serba salah. Sebagai kepala desa dia
memang harus mengayomi dan melindungi rakyatnya. Tapi bila
rakyatnya main hakim sendiri, setelah tanpa alasan kuat?"Kami sudah cukup lama
bersabar! Tapi kali ini, jangan harap akan kami diamkan. Pembunuh
keparat sepertimu mesti dilenyapkan sekarang juga!"
dengus Ketawang, setelah ikut ambil bagian lagi dalam menjatuhkan Jaka Tawang.
"Terkutuk! Gadis itu masih belia! Kau penggal kepalanya, setelah kau nodai!"
timpal yang lain.
"Dasar sinting! Kapan aku pemah menodai
seorang gadis" Kapan pula aku pernah memenggal
kepala orang?" tukas Jaka Tawang membela diri mati-matian.
Kata-kata murid Ki Sabda Gendeng disambut
dengan kelebatan golok yang silih berganti
mengancam keutuhan lehernya. Para pengeroyok
betul-betul tidak memberi kesempatan padanya
untuk mengetahui duduk persoalan yang sebenamya. "He he he...! Itu hukum karma namanya!" ejek Ki Sabda Gendeng. "Kau mengakali
gurumu. Sekarang, orang-orang ini membalaskannya untukku!" Laki-laki tua gila catur ini sama sekali tidak
bermaksud membantu. Dia malah enak-enakan
menenggak tuak di bumbung bambu sambil duduk
kembali menghadapi papan catur di depannya.
"Jangan tertawa dulu, Orang Tua! Kau sama
saja dengannya!"
Mendadak seorang pengeroyok lain menyerang
Ki Sabda Gendeng dengan tusukan golok.
Siuuut! "Eh!"
Ki Sabda Gendeng mengegos ke kiri, sehingga
tusukan sebilah golok dapat dihindarinya. Orang itu terus bergerak terbawa
luncuran tubuhnya. Dan Ki Sabda
Gendeng tinggal menggaet kakinya, sehingga.... Brukkk...! Orang itu jatuh tersungkur. Pada saat yang
sama, para pengeroyok lain tidak berdiam diri,
Mereka langsung meluruk ke arah Ki Sabda
Gendeng yang telah bangkit dengan sikap waspada.
"Ha ha ha...! Inikah yang Guru katakan hukum karma" Temyata kita sama-sama
merasakannya!"
teriak Jaka Tawang mengejek.
"Sialan!"
Ki Sabda Gendeng hanya bisa mengumpat.
Dengan tangan kiri mengepit bumbung bambu di
tangan kanannya mencoba dibantu kedua kakinya.
Begitu cepat gerakan laki-laki tua ini. Bahkan
belum sempat disadari para pengeroyok, tubuhnya cepat bergerak melakukan
serangan balasan.
Buk! Des! "Aaakh...!"
Dua pengeroyok menjerit kesakitan saat kaki
dan tangan Ki Sabda Gendeng berhasil menghantam dada serta perut mereka. Pada
saat yang sama seorang pengeroyok meluruk sambil menebaskan
golok.Ki Sabda Gendeng berkelebat. Tangan
kanannya cepat mencengkeram leher baju penyerangnya. Krep! Wuuut! "Aaa...!"
Orang itu berteriak ketakutan Ki Sabda
Gendeng melemparkannya ke udara. Tubuhnya
melayang dan jatuh dengan keras ke bawah.
Belum sempat Ki Sabda Gendeng menarik
napas lega, dua pengeroyok telah menyerangnya
sekaligus. Namun dengan tenangnya, laki-laki tua ini memutar tubuhnya. Dan
seketika disambarnya
bumbung bambu yang tadi dikempit di ketiak.
Lalu.... Bletak! Tak! "Aaakh...!"
Kedua orang itu menjerit sambil memegangi
kepalanya yang benjol dihantam bumbung bambu.
"Jaka Tawang! Apa kau mau seharian
meladeni yang tak berguna ini"!" teriak Ki Sabda Gendeng, seraya melompat ke
belakang. "Tidak, Guru!" sahut Jaka Tawang.
"Lalu kenapa masih di sini?" Sehabis berkata demikian, Ki Sabda Gendeng melesat
kabur. "He he he...! Kalau begitu kemauan Guru,
mana berani aku membantahnya?"
Setelah melihat tindakan gurunya, pemuda itu
mencelat ke belakang. Disambarnya tongkat
bambunya yang diletakkan di bawah pohon, lalu
diputar-putar untuk menghalau serangan. Kemudian dengan ringan tubuhnya berkelebat
mengikuti gurunya yang telah lebih dulu kabur.
"Kejaaar...!" teriak Ketawang. "Jangan biarkan lolos!" Tapi percuma saja mereka
mengerahkan seluruh tenaga untuk mengejar. Murid dan guru itu
telah berkelebat cepat Dan sebentar saja, mereka tidak kelihatan lagi batang
hidungnya. Orang-orang itu memang tidak tahu kalau dua
orang yang barusan dikeroyok adalah dua orang
tokoh persilatan yang namanya mulai diperhitungkan para tokoh hitam. Murid dan
guru itu bukannya takut menghadapi para pengeroyok tadi, tapi hanya sekadar menghindari
dari kesalah pahaman yang bisa berakibat jatuhnya korban.
*** "Guru, tunggu! Tunggu dulu! Mereka sudah
jauh dan tidak mungkin bisa mengejar kita!" teriak Jaka Tawang sambil mengejar
Ki Sabda Gendeng
yang tak juga menghentikan larinya.
"Benarkah?"
Ki Sabda Gendeng menghentikan larinya.
Kepalanya menoleh ke belakang. Meski telah berlari sekian jauh, tapi tidak
terlihat kalau laki-laki tua urakan megap-megap. Dadanya mengembang seperti
biasa, sebagai tanda mahir menguasai pernapasan.
Dan orang seperti itu biasanya memiliki tenaga
dalam hebat! "Aku tidak mengerti, kenapa mereka tiba-tiba saja mengamuk dan menuduh kita
pembunuh...,"
gumam Jaka Tawang, seperti berkata sendiri.
"Kau kira aku mengerti?" Ki Sabda Gendeng melotot
"Mereka orang-orang desa yang polos, Guru.
Pasti ada sesuatu yang menimpa mereka. Kita mesti membantunya," jelas Jaka
Tawang. "Polos katamu" Leherku hampir saja terpisah!
Dan kita mesti membantu orang-orang yang nyaris menebas leherku" Huh! Kurasa
malaikat pun tidak akan berbuat sebaik pikiranmu itu!" dengus laki-laki tua itu.
"Tapi mereka berbuat begitu karena kalap dan tidak tahu, Guru. Kita mesti
memakluminya...."
"Ah..., kau saja yang memaklumi!"
"Jadi Guru tidak mau membantu?"
'Tidak!" sahut Ki Sabda Gendeng, seraya
melengos dengan tangan bersedekap.
"Kalau begitu, Guru bukan pendekar sejati!"
tuding Jaka Tawang.
"Dasar bocah tolol!" Ki Sabda Gendeng menatap muridnya. "Sejak kapan aku mimpi
jadi pendekar sejati" Kesukaanku hanya main catur. Nah! Kalau menjadi pemain
catur sejati, tentu saja aku mau."
"Sama saja!"
"Apa?"
"lya! Main catur dengan dunia kependekaran, toh tiada jauh berbeda. Sama-sama
berusaha mengalahkan lawan secepatnya."
"lya, ya! Benar juga kau...!"
Ki Sabda Gendeng mengangguk-anggukkan
kepala. "Maka Guru harus menjunjung tinggi sifatsifat seorang pendekar. Yaitu, menolong orangorang yang kesusahan, salah satunya...."
"Tentu saja! Selama ini aku selalu berbuat seperti itu!" kilah Ki Sabda Gendeng.
"Nah! Hari ini, kita lihat penduduk desa itu te-ngah kesusahan. Mereka mengira
kita sebagai pem?bunuh. Kita harus menangkap si pembunuh
yang sebenarnya, dan menyerahkannya kepada
mereka. Dengan begitu kita menjunjung sifat-sifat seorang pendekar," kata Jaka
Tawang memberi pengertian.
"Betul, apa yang kau katakan itu!" sambut laki-laki tua gila catur ini.
"Nah! Berarti Guru setuju, bukan?"
"Tentu saja!"
"Kalau begitu, tunggu apa lagi" Ayo kita can"
pembunuh keparat itu!"
"Untuk membantu mereka?"
"Tentu saja!"
"Tidak! Sudah kukatakan, aku tidak mau
membantu mereka."
"Lho" Bukankah Guru mengatakan setuju
untuk membantu mereka yang kesusahan?"
"Tentu saja! Tapi sekarang yang susah mereka atau kita" Kita dikejar-kejar
dengan puluhan golok terhunus. Lalu, kita mesti membantu mereka. Huh!
Orang sinting sepertiku saja bisa membedakan,
mana yang mesti dibantu dan mana yang tidak!"
"Ah, sudahlah! Percuma berdebat dengan
Guru. Kalau tak mau membantu, biar aku saja yang ke sana!"
Disertai napas kesal, Jaka Tawang berbalik.
Kakinya langsung melangkah lebar ke arah Desa
Ketakus lagi. "Eee.... Mau ke mana kau"!" sentak Ki Sabda Gendeng seraya melangkah menghampiri
Jaka Tawang yang sudah berhenti lagi.
"Membantu mereka menangkap pembunuh


Pendekar Rajawali Sakti 198 Iblis Pemenggal Kepala di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sebenarnya," sahut Joko Tawang disertai desahan napas kesal.
"Kalau kau mendekati orang-orang itu,
memang akan sangat membantu. Membantu mereka
dalam menangkapmu!" ejek Ki Sabda Gendeng, meremehkan.
"Aku tidak akan sebodoh itu!" desis pemuda ini.
"Hm..., apa maksudmu?"
"Aku akan menyamar, sehingga mereka tidak
mengenalinya. Dengan begitu, aku bisa leluasa
mencari keterangan."
"Gigih juga semangatmu. Tapi, mau menyamar jadi apa?" tanya Ki Sabda Gendeng
bemada meremehkan. "Jadi apa saja yang tidak dicurigai! Jadi orang tua, atau jadi perempuan juga
bisa!" sahut Jaka Tawang sekenanya.
"Ha ha ha...!"
Jaka Tawang menatap gurunya dengan sinar
mata tidak suka. Dia merasa gurunya seperti
meremehkan apa yang jadi rencananya.
"Kenapa Guru tertawa?"
"Kalau jadi perempuan, kau tak perlu
menyamar. Karena, sekarang pun sudah mirip,"
ledek Ki Sabda Gendeng, tak menghiraukan
tatapan muridnya.
"Brengsek!" maki Jaka Tawang. Tapi tentu saja makian itu hanya di hati, karena
kalau sampai terlontar dari mulutnya, akan timbul masalah lagi.
Ki Sabda Gendeng memang sedikit curang.
Kalau dirinya boleh memaki seenaknya. Tapi giliran dimaki, maka akan blingsatan.
Tangannya gatal-gatal kalau tidak menghajar orang yang memakinya.
Meskipun, itu murid sendiri. Dan Jaka Tawang
paham betul akibat gurunya.
"Aku pergi dulu," kata pemuda itu pendek, langsung melangkah.
"He he he...!"
Ki Sabda Gendeng terkekeh. Tapi tiba-tiba
dia teringat sesuatu. Dan secepat itu tawanya sima.
"Sial! Kenapa dia enak-enakan membantu
orang lain" Bukankah sebaiknya membantuku" Main catur, misalnya" Hei, Jaka
Tawang! Berhenti kau!
Berhentiii...!" teriaknya mengejar.
Jaka Tawang agaknya mengerti gelagat. Meski
jaraknya cukup jauh, namun telinganya masih
mampu mendengar teriakan gurunya. Kalau sudah
begitu, pasti urusannya jadi lain. Gurunya teringat akan catur dan pasti akan
memaksanya main. Ini
berabe, dan bisa mengganggu rencananya. Kalau
lari, orang tua itu pasti bisa mengejar. Maka jalan terbaik adalah bersembunyi.
Jaka Tawang langsung berkelebat ke samping,
lalu menghilang di lebatnya hutan kecil ini.
"Keluar kau, Jaka Tawang! Aku tahu kau
mendengar teriakanku! Ayo, keluar!" ujar Ki Sabda Gendeng begitu tiba di tempat
Jaka Tawang menghilang tadi.
Tapi mana mau pemuda itu menuruti
permintaan gurunya. Kalau dia keluar, tentu akan mendapat hukuman. Dan hukuman
yang paling membuatnya kesal adalah disuruh bermain catur!
"Ayo keluar kau, Bocah Edan! Kalau sampai
kutemukan, kubuat kau jadi patung seumur hidup!"
ancam Ki Sabda Gendeng.
Baru saja gema suara laki-laki tua itu lenyap.
Tak! Mendadak terdengar suara ranting patah dari
belakang. Tanpa menoleh lagi, Ki Sabda Gendeng
mendengus. "Akhirnya kau muncul juga, Bocah Edan!
Ja?ngan harap kau lolos dari hukuman!"
"Hei, Orang Tua Sinting! Kini kau tidak bisa lari lagi!"
Ki Sabda Gendeng berbalik. Wajahnya kontan
merah karena marah. Dikira yang muncul Jaka
Tawang yang sudah amat kelewatan. Tapi keningnya langsung berkerut, ketika
melihat sosok lain telah tegak berdiri mengawasinya dengan wajah geram.
Sosok itu adalah seorang laki-laki muda berbadan tegap terbungkus pakaian
kuning. Rambutnya
sepanjang pundak dibiarkan lepas begitu saja. Bola matanya tajam memandangnya.
Di pinggang kiri
terselip sebilah kapak.
Hei"! Siapa kau, Bocah"!" tegur Ki Sabda
Gendeng. "Aku malaikat maut yang akan mencabut
nyawamu!" "Brengsek! Kau kira aku bocah ingusan yang bisa ditakut-takuti, he"!" hardik Ki
Sabda Gendeng. "Kau pembunuh biadab! Dan aku tidak akan
melepaskanmu sebelum menebas lehemnu!" balas pemuda yang baru datang ini.
"Edan! Galak juga rupanya kau. Hei"! Apa
orang tuamu tidak mengajarkan sopan-santun"
Tahukah kau, tengah berhadapan dengan siapa saat ini" Salah-salah malah kepalamu
yang bisa kutebas!"
maki Ki Sabda Gendeng.
"Iblis terkutuk! Cabut senjatamu sebelum ka-pakku menebas lehermu!"
Pemuda tegap itu mendengus garang. Lalu
secepat kilat mencabut senjata kapaknya.
"Yeaaa...!"
Disertai teriakan menggetarkan, pemuda itu
melompat dengan babatan kapak.
"Sial! Mimpi apa aku semalam" Hari ini kok, apes bener!" umpat lelaki tua gila
catur ini seraya mengibaskan tongkat bambu hitam ke arah kapak
pemuda itu. Trak! "Hiih!"
Meski tongkat Ki Sabda Gendeng membentur
kapak baja, namun sama sekali tidak bergeming.
Malah pemuda itu yang merasakan suatu tenaga tak tampak, yang membuat tangannya
bergetar. Tapi mana mau pemuda ini mengalah begitu saja. Kaki
kirinya langsung menyodok ke perut.
"Hup!"
Namun Ki Sabda Gendeng cepat mencelat ke
atas. Sambil berputar, pemuda itu menyabetkan
kapaknya ke atas, membuat Ki Sabda Gendeng
harus cepat memalangkan tongkatnya ke atas.
Trak! Dari benturan barusan, Ki Sabda Gendeng
mempergunakan kekuatan benturan untuk melenting ke belakang. Dan indah sekali kakinya mendarat di tanah.
"Bocah edan! Jangan memaksaku untuk
memecahkan batok kepalamu, he"!" maki Ki Sabda Gendeng dengan mata melotot,
setelah menyadari
kalau pemuda ini benar-benar menginginkan
nyawanya. "Orang tua busuk! Jangan banyak omong!
Nyawamu berada di tanganku. Lebih baik berdoa,
mudah-mudahan dosa-dosamu diampuni Yang Maha
Kuasa!" balas pemuda ini.
"Dasar gendeng!" maki Ki Sabda Gendeng.
Dan pemuda berbaju kuning itu tak peduli
kelihatannya. Dia betul-betul ingin membuktikan kata-katanya. Begitu tubuhnya
meluruk, maka serangan yang dilancarkannya sekarang makin
berlipat ganda. Bahkan kapaknya terus menerus
mengancam keselamatan Ki Sabda Gendeng.
Sampai beberapa jurus Ki Sabda Gendeng
ti?dak berusaha membalas, melainkan hanya menghindar. Tapi, kesabaran orang tua itu mulai habis.
Dan sebenarnya sifatnya bukanlah orang sabar.
Hanya saja karena di hatinya masih tersisa
pertimbangan kalau pemuda ini salah paham, maka tangan kejamnya tidak berusaha
diturunkan. Tapi, sekarang persoalan sudah lain. Pemuda
itu tak memberinya kesempatan. Dan dia pun mulai tak peduli. Maka, tongkat
bambunya yang semula
cuma menangkis, kini balas menyerang.
Trak! "Uhh...!"
Sekali membentur kapak, maka ujung tongkat
Ki Sabda Gendeng terus menyodok ke leher.
Pe?muda itu tercekat Matanya melotot kaget,
karena tak menyangka laki-laki tua lawannya mampu bergerak secepat itu.
"Hiih!"
Ki Sabda Gendeng tak meneruskan serangan.
Tubuhnya berbalik sambil melepaskan sepakan ke
dada.Desss...! "Ughh...!"
Pemuda itu kontan tersungkur sambil
mengeluh kesakitan. Tangan kirinya mendekap
dadanya yang terasa sesak dan nyeri. Dan dengan wajah garang dia bangkit
kembali. "Iblis terkutuk, aku akan mengadu jiwa
denganmu! Heaaa....!"
Diiringi teriakan keras, pemuda itu menerjang
penuh nafsu. "Bocah semprul! Dikasih hari, malah minta jantung Kau kira aku jangkrik yang mau
diadu-adu"!"
maki Ki Sabda Gendeng.
Tapi pemuda itu tak mempedulikannya. Dia
terus menyerang dengan sambaran kapaknya.
Wuuuttt...! Sementara, Ki Sabda Gendeng benar-benar
habis kesabarannya. Tongkatnya cepat berputar,
menangkis sambaran kapak.
Trak! Begitu terjadi benturan, tongkat itu bergerak
cepat menyambar pergelangan tangan pemuda
berbaju kuning ini. Namun tongkat bambu Ki Sabda Gendeng menyambar angin, ketika
pemuda ini menarik tangannya.
Sayang di luar dugaan, tongkat yang
menyambar angin tahu-tahu telah berbalik dengan kecepatan dahsyat, menuju perut.
Lalu.... Duk! "Aaakh...!"
Pemuda itu terpekik ketika perutnya terhantam tongkat. Tubuhnya terjajar mundur
beberapa lang-kah.
"He he he...! Kau kira bisa menganggap enteng padaku?"
ejek Ki Sabda Gendeng, seraya melanjutkan serangan langsung menghantam tangan pemuda itu dengan tongkatnya.
Tak! "Aaakh...!"
Kembali pemuda itu mengeluh tertahan.
Sebe?lum dia sempat berbuat apa-apa, pergelangan ta?ngannya seperti kaku,
sehingga kapaknya
terlepas dari genggaman. Hajaran tongkat itu kuat bukan main. Terasa kalau
tulang pergelangan
tangannya retak.
Namun sebelum laki-laki gila catur itu
meneruskan serangan....
"Sabda Gendeng! Hentikan seranganmu!"
Terdengar satu suara, membuat Ki Sabda
Gendeng terkejut dan langsung menoleh.
"Hem!"
Ki Sabda Gendeng mendelik garang ketika
melihat kemunculan seorang laki-laki tua berjubah putih. Rambutnya panjang yang
sebagian telah ubanan. Tubuhnya kurus. Berdirinya seolah melayang-layang
diterpa angin. Namun dari pancaran sorot matanya, orang akan merasakan
suatu kekuatan dahsyat dalam dirinya.
"Kukira siapa. Kau rupanya, Sampagul. Apa
maumu"!" tegur Ki Sabda Gendeng.
"Jangan beraninya pada muridku. Hadapi aku!"
dengus orang tua yang dipanggil Sampagul.
"Ha ha ha...! Jadi, bocah semprul itu
muridmu" Pantas! Pantas rasanya, aku memang pemah
mengenal ilmu silat yang dimainkannya."
"Jangan banyak omong! Bersiaplah untuk
menghadapiku!"
"Hee, tunggu dulu! Aku mesti mengerti, apa persoalannya
sehingga bocah semprul itu menyerangku!"
"Kau orang tua ugal-ugalan! Siapa pun tahu, kau suka mencari gara-gara! Ayo,
lekas perlihatkan jurus-jurusmu!"
"Dasar muridnya geblek, gurunya pun pasti
biangnya!" umpat Ki Sabda Gendeng.


Pendekar Rajawali Sakti 198 Iblis Pemenggal Kepala di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Keparat!"
*** 3 "Yeaaa...!"
Ki Sampagul tidak dapat lagi menahan diri.
Langsung diserangnya Ki Sabda Gendeng.
"Eee, nekat juga!"
"Jangan banyak omong, Pengecut! Akan
kuberi kau pelajaran yang tak akan terlupakan
seumur hidup!" dengus Ki Sampagul, langsung menjotos.
Dengan indah sekali, Ki Sabda Gendeng
berkelit ke samping. Tangan kirinya langsung
bergerak memapak.
Plak! Ki Sampagul dan Ki Sabda Gendeng samasama terjajar. Namun, Ki Sabda Gendeng telah
cepat memutar tubuhnya sambil melepas tendangan berputar ke perut.
"Hup...!"
Ki Sampagul melenting ke atas. Dan tahutahu kakinya telah terjulur, mengancam dada Ki
Sabda Gendeng. Namun laki-laki tua gila catur ini agaknya
tidak semudah itu dipecundangi. Tubuhnya tibatiba mencelat ke samping sambil mengibaskan
tongkat, mengarah ke kaki.
Ki Sampagul semakin kalap. Cepat kakinya
ditarik pulang sambil mencabut kapak perak yang terselip di pinggang.
"Heaaa...!"
Dengan memutar tubuhnya di udara, Ki
Sampagul menghantamkan tongkat menggunakan
kapak.Trak! Dengan menggunakan daya lontaran tubuhnya, Ki Sampagul memutar tubuhnya kembali
ke. belakang. Lalu, manis sekali kakinya mendarat di tanah. Sementara Ki Sabda
Gendeng terjajar
mundur. Kini kedua tokoh tua itu telah siap saling
gebrak lagi. Sorot mata mereka sama-sama tajam, seperti hendak menembus jantung
lewat bola mata.
"Heaaa...!"
"Hiaaa...!"
Dan pertarungan itu agaknya memang tak
terhindarkan lagi dan semakin seru. Gerakan
mereka begitu cepat sehingga yang terlihat hanya kelebatan bayangan saja. Bahkan
tenaga dalam yang ditimbulkan dari setiap benturan yang terjadi
mampu menggetarkan daerah di sekitarnya. Itu
menandakan kalau keduanya memiliki tenaga dalam hebat.
"Sampagul! Sesinting-sintingnya aku, masih bisa membedakan mana kawan dan mana
lawan...,"
teriak Ki Sabda Gendeng di tengah pertarungan.
"Kau lawanku! Jangan banyak mulut, Setan!"
semprot Ki Sampagul.
"Brengsek! Dasar orang tua bau tanah!"
"Bajingan! Apa kau kira hanya aku yang bau tanah"!
Kalau aku mau, sebentar lagi kau malah bisa
bersatu dengan tanah. Bahkan namamu juga bisa
ikut terkubur di tanah!"
"Huh! Kenapa tidak dari tadi dibuktikan"
Jangan-jangan cuma mulut besarmu saja."
"Kurang ajar! Kau boleh rasakan ini! Yeaaa...!"
Ki Sampagul menggeram marah karena diremehkan.
Dia menyerang sekuat tenaga, mengeluarkan semua jurus terhebat yang dimiliki.
Tapi Ki Sabda Gendeng pun bukanlah tokoh
kemarin sore. Sehingga pertarungan mereka bukan lagi pertarungan biasa, tapi
berlanjut menjadi
pertarungan hidup mati.
Pada saat pertarungan telah mencapai puncaknya, mendadak sebuah bayangan putih berkelebat masuk ke dalam celah dua sosok yang
bertarung. Plak! Plak! "Heh..."!"
Kedua tokoh itu sama-sama terjajar mundur
dengan wajah tersentak kaget ketika tangan
mereka terhantam bayangan putih yang sudah
berdiri di tengah tengah.
"Kalian bukanlah tokoh kemarin sore yang
penuh pertimbangan dalam bertindak. Mengapa
saling baku hantam sampai sehebat ini"!" tegur sosok bayangan putih yang temyata
seorang pemuda tampan berbaju rompi putih. Di punggungnya
tersampir sebilah pedang bergagang kepala burung.
"Hei, Kisanak!
Sebaiknya jangan
turut campur!" sahut pemuda murid Ki Sampagul yang tadi dihajar Ki Sabda Gendeng.
"Siapa kau?" tanya pemuda berbaju rompi putih.
"Aku Sumantri, murid Ki Sampagul," sahut pemuda murid Ki Sampagul yang bemama
Sumantri. "Aku kenal gurumu. Dia bukan tokoh jahat.
Kenapa kau malah membiarkannya menempur Ki
Sabda Gendeng mati-matian?" tegur pemuda
berbaju rompi putih.
"Orang tua pemabuk itu pembunuh terkutuk!"
tuding Sumantri
"Pembunuh terkutuk" Apa maksudmu?"
"Dia bukan manusia, tapi iblis. Telah banyak gadis yang menjadi korban
kekejiannya. Mereka
mati dengan leher putus setelah terlebih dahulu dinodai."
"Hm.... Aku tidak yakin, itu perbuatan Ki
Sabda Gendeng..."
"Tapi buktinya orang-orang desa yakin, kalau dia pelakunya."
"Berarti kau tidak melihat sendiri kalau dia pelakunya, bukan?"
"Aku percaya dengan tuduhan orang-orang
desa itu!"
"Menuduh seseorang tanpa bukti, namanya
fitnah. Dan selamanya fitnah itu amat buruk dan keji!" "Tidak usah banyak
bicara. Katakan saja kalau kau hendak membelanya!" bentak Sumantri.
"Bocah edan! Rupanya kau kawan si Bajingan ini, he"!" bentak Ki Sampagul.
"Ki Sampagul, tenanglah! Aku tidak bermaksud ikut campur.
Tapi kulihat ada
kesalahpahaman di antara kalian. Dan aku
bermaksud menengahinya...," kilah pemuda berbaju rompi putih.
"Tidak perlu! Kau kira dirimu siapa" Dasar bocah tak tahu diri!" dengus Ki
Sampagul. "He he he...! Sekarang kau kena batunya,
Rangga!" kata Ki Sabda Gendeng, sambil terkekeh.
"Mereka memang kepala batu.... Susah diberi pengertian...."
"Hm, pantas! Rupanya kalian saling berkawan, he"!" dengus Ki Sampagul. "Tapi
jangan kira aku takut, meski kalian mengeroyokku. Ayo, maju. Dan seranglah aku!
Akan kuhajar kalian sekaligus!"
"Dasar orang tua sinting! Aku tak perlu main keroyok untuk menghajar kunyuk
sepertimu"!"
semprot Ki Sabda Gendeng.
"Bajingan pemabuk! Kurang ajar kau! Dan kau, Bocah Edan! Tunggulah bagianmu!
Biar kubereskan bajingan ini lebih dulu. Atau bila kau tak sabaran, silakan maju
mengeroyokku!"
Pemuda berbaju rompi putih yang ternyata
Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti hanya menghela napas pendek. "Susah...."
Dan baru saja Ki Sabda Gendeng dan Ki
Sampagul memasang kuda-kuda, mendadak muncul
beberapa orang penduduk ke tempat itu. Seorang
yang berusia sekitar enam puluh tahun berjalan
paling depan. "Kisanak semua...! Aku Ki Jumanta atas nama seluruh penduduk Desa Ketakus
memohon agar kalian segera menghentikan pertarungan!"
Namun seruan laki-laki tua yang ternyata Ki
Jumanta sama sekali tidak digubris. Karena, kedua tokoh tua itu langsung saling
gebrak. Dan laki-laki Kepala Desa Ketakus itu hanya menarik napas.
Namun kemudian kedua tangannya diangkat
ke dada. Telapaknya menghadap ke atas, dan sisinya merapat ke dada. "Heaaa...!"
Dengan satu bentakan kuat, Ki Jumanta yang
ternyata punya kepandaian pula menghentakkan
kedua tangannya.
Wuuusss! "Heh"!"
Serangkum angin kencang langsung meluruk
ke arah dua orang yang tengah berkelahi. Meski
keduanya berilmu tinggi, tapi serangan itu cukup membuat kaget. Mereka cepat
melompat bersamaan ke belakang.
Pada saat itulah Ki Jumanta mencelat dan
tegak berdiri di tengah-tengah.
"Kisanak semua! Hentikanlah pertarungan sia-sia ini. Kalian berkelahi tanpa
dasar yang kuat!"
bentak Ki Jumanta.
"Siapa kau"! Jangan ikut campur urusan kami.
Atau, kau akan mendapat bagian juga"!" bentak Ki Sampagul.
"Sabar, Kisanak! Aku mewakili orang-orang
desa hendak menjelaskan persoalan yang tengah
diributkan," ujar Ki Jumanta.
"Apa maksudmu?"
tanya Ki Sampagul. Matanya melotot tajam.
"Kudengar kalian ribut karena salah paham.
Makanya, aku ke sini untuk menjernihkannya...."
"Hm...!"
"Ki Sabda Gendeng bukanlah pembunuh yang
kami maksudkan," lanjut Jumanta.
"Lalu, siapa pembunuh sebenamya?" sela Sumantri.
"Itulah yang sedang kami cari."
Mendengar itu, Sumantri jadi salah tingkah.
Tapi dasar pemuda keras kepala, dia tidak sudi
minta maaf pada Ki Sabda Gendeng. Begitu juga
gurunya. "Dari mana kau tahu kalau si tua pemabukan ini bukan pembunuhnya?" tanya Ki
Sampagul, penasaran.
"Ada saksi yang menguatkan. Baru saja kami menemukan mayat salah seorang
penduduk desa ini.
Namanya, Narti. Dia guru Nyi Sumbi. Seperti biasa, kepalanya terpenggal dan
tubuhnya telanjang
seperti..., maaf, habis diperkosa...."
'Terkutuk!" desis Ki Sabda Gendeng.
Ki Sampagul dan muridnya mendengus.
"Alangkah baiknya kalau pertikaian kalian
dialihkan menjadi sesuatu yang berguna. Yaitu,
mem?bantu kami menangkap pembunuh itu.
Daripada tenaga dibuang pecuma untuk persoalan
sia-sia...," lanjut Ki Jumanta.
"Ya, ya...! Aku setuju! Orang itu memang
bukan manusia, tapi iblis! Iblis terkutuk yang mesti dilenyapkan dari muka bumi
ini!" timpal Ki Sabda Gendeng.
"Bagaimana denganmu, Ki...?" Ki Jumanta menatap Ki Sampagul.
"Panggil aku Ki Sampagul. Dan kehadiranku di sini bahkan untuk membunuh keparat
itu. Kenapa masih diragukan lagi?"
"Syukurlah kalau memang begitu...."
"Hm.... Ki Jumanta.... Kalau tidak keberatan, bolehkan kau mempertemukanku
dengan Nyi Sumbi?" Rangga buka suara.
"Apakah kau hendak menimang nenek itu,
Kecil?" goda Ki Sabda Gendeng.
Rangga hanya tersenyum, tak meladeni
gurauan sobat lamanya.
"Nyi Sumbi tengah bersedih. Tapi apa
keperluanmu bertemu dengannya, Anak Muda?"
tanya Ki Jumanta.
"Aku ikut bersama kalian untuk mencari
pembunuh terkutuk itu! Dan mungkin keterangan
Nyi Sumbi bisa membantu untuk mendapatkan jejak si pembunuh...," sahut Pendekar
Rajawali Sakti.
'Terima kasih atas kesediaanmu membantu
kami, Nak...."
"Rangga. Panggil saja begitu...."
"Baik, Rangga. Tentu saja dengan senang hati kami menerima kesediaanmu. Mudahmudahan Nyi Sumbi mau bertemu denganmu. Kalaupun tidak,
kuharap kau bisa mengerti. Narti adalah cucu satu satunya. Dan, amat
disayanginya...," ucap Ki Jumanta.
"Ya. Aku bisa merasakannya. Dia pasti amat terpukul...."
Ki Jumanta mengangguk. "Rangga, mari ikut
denganku!"
Bersama Rangga, Ki Sabda Gendeng pun
mengikuti dari belakang. Disusul orang-orang desa lainnya. Lalu..., Ki Sampagul
dan Sumantri. *** Wajah perempuan tua bemama Nyi Sumbi
masih kelihatan muram. Kelopak matanya terlihat sembab.
Suaranya pun serak, tercekat di tenggorokan. Namun begitu dia agaknya tidak
keberatan bertemu Rangga. Terutama, karena
mendengar dari Ki Jumanta kalau pemuda berbaju


Pendekar Rajawali Sakti 198 Iblis Pemenggal Kepala di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

rompi putih itu hendak membantu meringkus
pembunuh cucunya.
"Nyi Sumbi, inilah pemuda yang kuceritakan tadi. Namanya Rangga. Dan yang ini Ki
Sabda Gendeng," jelas Ki Jumanta.
"Hm... ya. Mari silakan masuk. Jangan
sungkan-sungkan," sambut Nyi Sumbi.
"Terima kasih, Nek," ucap Pendekar Rajawali Sakti begitu kedatangannya diterima
Nyi Sumbi. "Aku menunggu di luar saja, Sobat!" seru Ki Sabda Gendeng, seraya berbalik dan
melangkah keluar. Rangga mengangguk. Di temani Ki Jumanta
Pendekar Rajawali Sakti duduk saling berhadapan dengan Nyi Sumbi di ruang tamu.
Tak banyak perabotan di tempat ini. Hanya kursi dan meja,
serta lemari kecil.
Bola mata wanita tua itu kelihatan berkacakaca. Untuk sesaat, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Nek.... Kalau ini terasa berat, aku tak
bermaksud memaksamu...."
"Tidak. Tidak apa, Rangga. Silakan, apa yang hendak kau tanyakan?"
"Sebelum Narti ditemukan tewas..., apakah
ada peristiwa lain?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, memulai.
"Ya! Seorang pemuda membawanya keluar.
Kukira sebentar. Namun sampai aku bangun pagi
harinya, mereka belum juga kembali. Dan..., dan tadi barulah kudengar peristiwa
naas yang menimpa Narti...," tutur Nyi Sumbi terputus, lalu menangis sesegukan.
Rangga menunggu beberapa saat, sampai
tangis Nyi Sumbi reda.
"Nenek kenal pemuda itu?"
"Dia pemah berkunjung ke sini beberapa kali.
Anaknya kelihatan sopan, dan baik. Aku tak yakin kalau dia pembunuhnya...."
"Bisakah kau gambarkan ciri-ciri pemuda itu, Nek?""Aku tidak begitu ingat Tapi
dia tampan. Kulitnya sawo ma tang, bersih, dan..., seperti
terpelajar...."
"Adakah ciri-ciri khusus yang kau ingat, Nek?"
"Ng..., sebentar. Hm, ya. Aku ingat! Dia
memiliki tahi lalat di sudut bibir kirinya. Tidak berapa besar. Tapi kalau kita
melihatnya dari dekat, akan terlihat jelas," urai Nyi Sumbi.
"Apakah kau menduga kalau pemuda itu
pelakunya?" tanya Ki Jumanta.
"Pemuda itu tidak tewas seperti Narti,
bukan?" "Pembunuhan seperti ini telah teriadi kurang lebih sebulan belakangan. Dan,
telah memakan korban sebanyak dua puluh orang. Di desa ini saja ditemukan lima korban.
Termasuk, Narti. Dan
semuanya gadis belia. Iblis itu sepertinya tidak bernafsu membunuh orang selain
gadis-gadis belia,"
jelas Ki Jumanta.
"Tapi bukan berarti dia tak mau melakukannya, bukan?"
Ki Jumanta terdiam.
"Adakah yang tahu, di mana pemuda itu
berada?" tanya Rangga.
"Aku baru sekali bertemu. Itu pun ketika
Narti mengantarkannya keluar pagar. Orangnya
cukup sumringah. Dan seperti yang dikatakan Nyi Sumbi, dia terpelajar dan sopan.
Tapi, aku belum pemah kenal sebelumnya. Apalagi mengetahui
keberadaannya," sahut Ki Jumanta.
"Aku sendiri tak banyak bertanya...," desah Nyi Sumbi.
Rangga terdiam sebentar. Dicobanya merekam
ciri-ciri pemuda itu di benaknya.
"Kenapa, Rangga" Apakah kau pemah mengenalnya?" tanya Ki Jumanta.
"Hm, tidak!" sahut Rangga.
Meski begitu, Ki Jumanta memandangnya
curiga. Dia tak yakin dengan jawaban pemuda itu.
Tapi, juga tak mau mendesaknya.
"Nek, aku berjanji akan mencari pembunuh
cucumu. Berdoalah. Mudah-mudahan cepat berhasil. Dan orang itu pasti akan mendapat
balasan setimpal atas perbuatannya."
Nyi Sumbi mengangguk.
'Tangkaplah pembunuh itu, Rangga. Aku ingin
dia merasakan hukuman yang setimpal atas
perbuatannya."
"Jangan khawatir, Nyi Sumbi. Bukan hanya
Rangga yang akan meringkus iblis keparat itu. Tapi, seluruh warga desa dan yang
lainnya akan berusaha meringkusnya."
"Terima kasih...."
Wajah perempuan tua itu sedikit cerah.
Namun, tak mampu menghapus awan kelabu yang
menyelimuti hatinya.
Rangga dan Ki Jumanta beranjak bangkit
Mereka melangkah keluar rumah diiringi Nyi Sumbi sampai di depan pintu.
"Ki Jumanta, aku permisi dulu," kata Rangga setelah berada di luar rumah yang
tak terialu besar ini. "Apa selanjutnya yang akan kau lakukan, Rangga?" tanya Ki
Jumanta. "Aku belum tahu. Tapi, ada seseorang yang
mesti kutemui," sahut Pendekar Rajawali Sakti.
"Siapa?"
Rangga tersenyum memandang Ki Jumanta.
"Kukira kau punya cara lain untuk menangkap pembunuh itu, Ki...."
"Oh, maaf! Sepertinya aku mencampuri
urusan. Maaf, Rangga. Aku hanya merasa kalau kita sebaiknya bekerjasama untuk
menangkap pembunuh
itu," ucap Ki Jumanta, merasa tidak enak hati.
"Ya, itu baik. Tapi aku punya cara sendiri.
Mungkin kurang berkenan di hatimu, Ki. Dan aku
tak bermaksud merepotkan orang lain. Maaf, aku
harus segera pergi dari sini."
Rangga sengaja tak mau banyak omong. Dan
setelah menjura hormat, dia segera angkat kaki. Ki Sabda Gendeng yang ada di
belakangnya segera
mengikuti. "Silakan, Rangga! Silakan...!"
Ki Jumanta pun tak bisa mencegah lagi.
Bibirnya tersenyum hambar. Beberapa saat dia
berdiri sambil mengawasi kedua orang tadi sampai hilang dari pandangan.
*** 4 "Aku tak percaya dengan mulut manis si tua tadi!" dengus Ki Sabda Gendeng,
ketika bersama Rangga telah tiba di luar batas Desa Ketakus.
"Siapa yang kau maksudkan?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, langsung menghentikan
langkah. "Si Jumanta!" dengus Ki Sabda Gendeng, juga menghentikan langkah.
"Kenapa rupanya dengan dia" Apakah kau
pernah bertemu sebelumnya, Ki?"
"Orang lain boleh tertipu. Tapi, mata tuaku tidak. Aku bisa merasakan sorot
matanya menyimpan sesuatu. Entah apa. Tapi semacam
rahasia. Dia mungkin juga, berkaitan dengan soal pembunuhan itu!"
Ki Sabda Gendeng menatap Rangga penuh
kesungguhan. Sepertinya, dia ingin minta dukungan Rangga atas pendapatnya.
"Tidak baik mencurigai orang tanpa bukti...."
Rangga malah memberi tanggapan yang tak
diharapkan. "Aku bukan mencurigai. Tapi menuduh?" tandas Ki Sabda Gendeng.
"Menuduh bagaimana?"
tukas Pendekar Rajawali Sakti.
"Dialah pembunuh keji itu!" Rangga tersenyum. "Kenapa" Kau tak percaya"!" sentak laki-laki tua gila catur ini.
"Apa alasannya?".
"Mungkin sebagai lumbal ilmu sesat, atau
sekadar melampiaskan nafsu iblis yang bergejolak dalam dadanya!"
Rangga terdiam. Namun keningnya sedikit
berkerut. "Nah! Kau percaya, bukan!" sela Ki Sabda Gendeng.
"Ya!" sahut Rangga, pendek.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi"! Ayo, kita ringkus dia!" desak Ki Sabda Gendeng.
"Ki Jumanta?"
"Siapa lagi"!"
"Aku percaya ceritamu, Ki. Tapi bukan
berarti aku mempercayai tuduhanmu pada Ki
Jumanta," jelas Rangga, kalem.
"Lalu kalau bukan dia, siapa"!" tukas laki-laki tua ini, sedikit kesal.
"Itulah yang tengah kucari."
"Bagaimana caramu mencarinya"!"
"Aku akan menemui seseorang untuk mencocokkan cerita Nyi Sumbi tadi"
"Siapa orang yang kau maksud?" cecar Ki Sabda Gendeng.
"Pembunuh itu, mungkin...."
"lya, siapa"! Dia kan punya nama!"
Pendekar Rajawali
Sakti tak langsung menjawab. Bibirnya
malah tersenyum
seraya memandang Ki Sabda Gendeng.
"Maaf.... Untuk saat ini tak bisa kukatakan, Ki...," ucap Pendekar Rajawali
Sakti, perlahan.
"Kau tak percaya padaku?"
"Bukan itu."
"Lalu apa" Apa karena kau tak menyertakanku untuk menangkapnya" Merasa
kepandaianmu lebih
tinggi dariku, he"!" desis laki-laki tua ini.
Rangga tergelak.
"Ki Sabda Gendeng.... Jangan berprasangka
buruk. Aku sama sekali tidak berpikir begitu. Ini semata-mata
demi kerahasiaan saja. Kalau kukatakan, mungkin kau akan kaget dan berbalik
mencurigaiku. Oleh karenanya, lebih baik tidak
kukatakan," kilah Pendekar Rajawali Sakti.
"Siapa bilang aku pengaget"!" dengus Ki Sabda Gendeng. "Berita apa pun, tidak
akan membu-atku kaget."Rangga tidak menyahut. Dia bersuit nyaring.
"Suiiit!"
"He"!
Kau sungguh-sungguh
tak mau mengatakannya"!" bentak Ki Sabda Gendeng.
Pada saat yang sama, muncul seekor kuda hitam langsung mendekati Pendekar Rajawali Sakti.
Sebentar Rangga mengusap-usap leher kudanya, lalu dengan sigap melompat ke
punggungnya. "Bocah semprul! Kau betul-betul tidak
menganggap sebelah mata padaku, he"!" maki Ki Sabda Gendeng, kalap.
"Kau betul-betul ingin tahu?" tanya Rangga.
"Tentu saja! Ayo, lekas katakan"!" desak laki-laki tua itu.
"Betul-betul tidak kaget?"
"Sialan! Kau kira aku band"!"
"Orangnya adalah..., kau sendiri! Heaaa...!"
Setelah berkata begitu Rangga menggebah
kuda bemama Dewa Bayu itu kuat-kuat. Seketika,
kuda yang bukan kuda sembarangan itu melesat
cepat bagai kilat.
"Hei, apa maksudmu aku"! Bocah semprul,
berhenti kau! Berhentiii...!" teriak Ki Sabda Gen?deng, seraya menggenjot tubuh,
hendak menyusul pemuda itu.
"Ayo, Ki! Hitung-hitung mengencangkan otot-otot yang kendor!"
"Brengsek kau, Bocah! Kalau dapat, kubeset mulutmu!"
"Ha ha ha...!"
Ilmu meringankan tubuh Ki Sabda Gendeng
memang sudah mencapai tingkat tinggi. Tapi Dewa Bayu yang ditunggangi Rangga
adalah kuda pemberian para dewa. Larinya begitu cepat, jauh di atas kuda-kuda tunggangan
lain. Pada saat Rangga mengendorkan lari kudanya, Ki Sabda Gendeng
berhasil mendekatkan jarak. Tapi lambat laun dia mulai tertinggal. Dan akhirnya
jauh tertinggal di belakang Dewa Bayu.
"Keparat kau, Bocah Semprul!" maki laki-laki tua ini.
Sambil mengatur jalan napasnya, Ki Sabda
Gendeng memandang ke depan. Dia berharap
pemuda itu akan berbalik. Dan bila itu terjadi, maka akan dihajarnya habishabisan. "Biar tahu rasa!" rutuknya.
Tapi harapan tinggal harapan. Karena, Rangga
dan kudanya malah semakin jauh. Dan entah ke


Pendekar Rajawali Sakti 198 Iblis Pemenggal Kepala di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mana mereka pergi. Sementara Ki Sabda Gendeng
hanya bisa memaki, lalu sesekali menenggak tuak di dalam bumbung bambu.
"Kodok bunting! Kadal bengek! Tikus kudisan! Kalau ketemu biar kujitak sampai benjol tiga belas...! Bocah semprul!
Edan...! Sialan...!" maki laki-laki ini, tak karuan.
*** Keadaan kotaraja seperti biasa. Tiada yang
istimewa dibanding hari biasa. Peristiwa pembunuhan yang belakangan ini merajalela, seperti tidak membuat resah penduduk
kotaraja. Demikian pula keadaan di Istana Kerajaan Swama Pura.
Penjagaan tetap ketat seperti biasa. Para prajurit bersiaga penuh.
Rangga turun dari kuda. Sambil menuntun
Dewa Bayu, kakinya melangkah pelan mendekati
pintu gerbang. Dua penjaga menghampiri, lalu
membungkuk hormat.
"Pendekar Rajawali Sakti.... Selamat datang kembali di Istana Swarna Pura!" sapa
seorang prajurit. "Mudah-mudahan kau selalu sehat dan pan-jang umur!"
"Terima kasih, Kisanak. Mudah-mudahan
kalian pun demikian. Aku ingin bertemu Gusti
Prabu Arya Dwipa. Apakah beliau ada?"
"Kebetulan
Gusti Prabu ada. Biar kuberitahukan pada beliau!"
Seorang prajurit buru-buru ke dalam. Prajurit
yang seorang lagi mempersilakan Rangga masuk.
Sampai di dalam, prajurit ini memanggil seorang prajurit lain untuk mengurusi
Dewa Bayu yang ditinggalkan di halaman.
Rangga tidak lama menunggu, karena sesaat
kemudian Gusti Prabu Arya Dwipa sendiri yang tergopoh-gopoh menyambutnya bersama
beberapa perwira kerajaan lain. Di antaranya sudah dikenalnya, mereka adalah Ki Sedopati,
Ki Jayawane, Ki Pranajaya dan Ki Lola Abang (Untuk lebih jelas
tentang Gusti Prabu Arya Dwipa dan perwiraperwira kerajaan ini, silakan baca episode : "Utusan Dari Andalas").
"Saudaraku, Rangga! Angin apa gerangan yang membuat langkahmu ke sini"! Hm....
aku gembira sekali! Silakan masuk!" sambut Gusti Prabu Arya Dwipa dengan senyum lebar.
"Terima kasih, Gusti Prabu!"
Gusti Prabu Arya Dwipa membawa Rangga ke
balairung pribadi, yang biasa digunakan menyam-but tamu-tamu penting yang
sifatnya pribadi. Di tempat itu pengawalan tidak begitu ketat Di dalamnya, dia
ditemani beberapa pejabat kerajaan ter-dekat.
"Silakan, Rangga!"
Pendekar Rajawali Sakti mengambil tempat di
dekat Gusti Prabu Arya Dwipa. Sementara yang
lainnya berjejer duduk di sebelah kanan dan kiri dari hadapan Gusti Prabu Arya
Dwipa. "Silakan dicicipi hidangannya, Rangga...."
'Terima kasih. Aku selalu teringat kalau
makanan di tempat ini lezat-lezat," ucap Pendekar Rajawali Sakti.
"Ha ha ha...! Bisa saja kau, Sobat!"
"Gusti Prabu.... Aku tidak melihat putraputrimu berada di tempat ini. Apakah mereka
tengah bepergian?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.
"Ada. Apakah kau hendak bertemu mereka?"
sahut Gusti Prabu Arya Dwipa seraya balik
bertanya. "Kurasa kedatanganku ke sini tidak menyampaikan pesan khusus yang berkaitan dengan kepentingan kerajaan. Ini hanya
kunjungan biasa antara seorang kawan. Oleh karenanya, kuanggap
kehadiran kerabat dekat kerajaan adalah hal wajar, sejauh mereka adalah
keluargamu atau kawan-kawan dekat"
"He he he...! Kau benar, Sobat."
Gusti Prabu Arya Dwipa lantas bertepuk
sekali. Tak lama, seorang prajurit buru-buru masuk sambil menyembah hormat.
"Panggil putra-putriku ke sini! Katakan,
mereka mesti menemui kawan karibku!"
"Daulat, Gusti!"
Putra-putri Gusti Prabu Arya Dwipa ada
empat Yang sulung bemama Wiraguna. Usianya
hampir sebaya dengan Rangga. Sementara yang
kedua, Jayalaksana. Ketiga Jayadilaga. Dan yang bungsu, bernama Mayang. Selisih
usia mereka sekitar setahun setengah. Sehingga jika berdiri bersamaan, akan terlihat kalau
keempatnya seperti sebaya.
Rangga tidak menunggu lama, karena tiga dari
empat putra Gusti Prabu Arya Dwipa segera
muncul. Setelah memberi salam hormat, mereka
segera mengambil tempat di dekat Gusti Prabu
Arya Dwipa. Persis di depan Rangga. Dan Pendekar Rajawali Sakti pun dapat
memperhatikan dengan
jelas. "Gusti Prabu mengapa tidak kulihat Pangeran Jayadilaga di antara mereka. Ke mana
gerangan dia?" Gusti Prabu Arya Dwipa melirik pada prajurit tadi yang disuruh memanggil.
"Ampun, Gusti Prabu! Hamba tidak menemukan Gusti Pangeran di tempatnya!"
"Kakang Jayadilaga tengah bepergian...,"
sahut Mayang. "Bepergian ke mana" Dan mengapa tidak
memberitahu Ayah sebelumnya?" tanya Gusti Prabu Arya Dwipa dengan kening
berkerut "Ayahanda.,.. Aku..., aku tidak tahu...," sahut Mayang, agak gugup.
"Gusti Prabu, sudahlah. Kalau memang
Pangeran Jayadilaga tak ada, tidak jadi masalah.
Jangan dibesarkan-besarkan persoalan ini," ujar Pendekar Rajawali Sakti.
Gusti Prabu Arya Dwipa menarik napas
panjang. Kelihatan kalau hatinya memendam
perasaan kesal. Kalau sampai seorang ayah tidak mengetahui anaknya pergi atau
tidak, itu sangat memalukan. Terutama, di depan orang yang menjadi sahabatsahabat dekatnya.
"Sebenarnya kepentinganku pun hanya pada
Gusti Prabu. Jadi, ketidak hadiran Pangeran
Jayadilaga sama sekali bukan masalah...," tambah Rangga.
"Rangga.... Kabar apa yang akan membawamu
ke sini?" tanya Ki Pranajaya.
Laki-laki tua itu cepat mengambil sikap,
melihat suasana kaku yang menyelimuti tempat ini.
"Sebenarnya
bukan kabar penting, Ki Pranajaya. Dari jauh, masih terus kupantau
keadilan serta kebijaksanaan Gusti Prabu. Hatiku tersentuh. Dan seorang raja
yang demikian amatlah langka. Sehingga, aku perlu mengunjunginya sekali lagi.
Entah berapa kali lagi untuk menatap beliau sepuas hati. Bahkan menjadikannya
sahabat sejatiku...," sahut Rangga, memuji.
"Rangga, aku atas nama seluruh kerajaan, juga atas nama pribadi Gusti Prabu Arya
Dwipa, mengu-capkan terima kasih atas pujianmu. Pujian itu
mungkin berlebihan, karena Gusti Prabu adalah
manusia biasa, yang..., bisa saja berbuat salah atau khilaf. Oleh karena itu
sudilah kiranya kau terus memperingatkan beliau. Atau memperingatkan kami pada
umumnya." "Ki Pranajaya.... Perkataanmu benar sekali.
Aku setuju."
Kemudian Rangga berpaling pada Gusti Prabu
Arya Dwipa "Gusti Prabu, maukah mendengar sebuah
cerita yang disampaikan orang tua hamba?"
"Sobat! Kau terialu banyak peradatan padaku.
Aku adalah kawanmu. Maka, bersikaplah sebagai
seorang kawan," tandas Gusti Prabu Arya Dwipa.
"Terima kasih atas penghargaan itu, Gusti
Prabu." "Nah! Cerita, apa yang hendak kau sampaikan padaku" Aku tentu senang sekali
mendengamya,"
ujar Gusti Prabu Arya Dwipa lagi.
"Cerita ini mengenai anak harimau yang
menyamar sebagai kijang jantan yang cantik dan
gagah," jelas Pendekar Rajawali Sakti.
Ceritakanlah! Bagaimana kisah itu!"
"Alkisah, terdapatlah seekor harimau yang
pernah berjanji untuk memerintah kerajaannya
dengan aman dan tenteram...," Rangga memulai.
Orang-orang yang berada di ruangan ini
mendengarkan dengan seksama. Ini peristiwa yang menarik. Karena Rangga dikenal
bukan seorang pendongeng. Semua yang ada di sini tahu, kalau
Rangga adalah seorang pendekar yang disegani.
Kalau pemuda itu mendongeng, maka bisa saja ada se-suatu yang hendak
disampaikannya.
*** "Harimau itu memegang teguh janjinya,
sehingga rakyatnya pun merasa tenteram dan tidak was-was. Bila ada kesalahan
dari para pembantunya, maka rakyat tidak segan-segan melapor pada beliau.
Sampai pada suatu ketika, salah seorang anak sang harimau merasa tak tahan
mengendalikan diri.
Maka dengan bersembunyi di balik baju seekor
kijang, dia mulai berbuat kejahatan di mana-mana.
Tahukah Gusti Prabu, kenapa dia berbuat seperti itu?" tutur Pendekar Rajawali
Sakti yang diakhiri dengan pertanyaan.
"Karena menuruti naluri seekor harimau yang buas dan haus darah," jawab Gusti
Prabu Arya Dwipa.
"Hampir tepat! Tapi sebenarnya tidak begitu."
"Sang anak mempunyai maksud tertentu?"
duga Ki Pranajaya.
"Apakah maksud sang anak sebenamya?" tanya Ki Lola Abang.
"Untuk memuaskan hawa nafsunya?" tebak Gusti Prabu Arya Dwipa.
"Benar, Gusti Prabu!" sahut Pendekar
Rajawali Sakti. Sang anak berkeliaran mencari
mangsa untuk memuaskan nafsu pribadinya. Bukan
karena dia keturunan seekor harimau, atau
keturunan orang berkuasa yang bisa berbuat sesuka hati. Sebab ayahandanya sangat
keras pada peraturan. Tidak peduli kepada anak sendiri. Itulah sebabnya, dia perlu menyamar
sebagai seekor kijang agar tidak seorang pun yang mengetahui. Tidak
ayahnya, tidak pula rakyatnya. Yang dirugikan
adalah rakyat karena, dicekam ketakutan."
"Mengapa rakyatnya tidak melapor pada sang harimau itu?" tanya Gusti Prabu Arya
Dwipa. "Bukankah katamu mereka tidak sungkan-sungkan untuk melaporkan segala peristiwa
padanya?" "Itu pertanyaan bagus, Gusti Prabu. Hamba
pun dulu bertanya pada si empunya cerita. Tapi, tahukah Gusti Prabu, apa jawaban
si empunya ceritanya?" tukas Pendekar Rajawali Sakti.
"Apa jawabannya?" tuntut Gusti Prabu Arya Dwipa.
"Beliau menyerahkan jawaban pada orang yang tengah diceritakan," jelas pemuda
berbaju rompi putih, membingungkan.
"Kenapa begitu?" tanya Gusti Prabu Arya Dwipa lagi.
"Sebab orang yang tengah diceritakan mempunyai tanggung jawab untuk menjawabnya
sendiri. Mengapa mereka tak mengadukannya pada
sang harimau" Apakah karena mengetahui kalau
kijang cantik itu putra sang harimau" Atau sang kijang menyebar kaki tangan
untuk menakut-nakuti mereka?" jawab Rangga, seperti memberi teka-teki.
"Hm, ya. Aku paham ceritamu," gumam Gusti Prabu Arya Dwipa.
"Syukurlah kalau demikian," kata Pendekar Rajawali Sakti.
'Tapi apa pelajaran yang bisa diberikan pada
cerita ini, Rangga?" tanya Ki Lola Abang.
"Ya! Cerita biasanya mempunyai pelajaran
tersembunyi. Pelajaran apa yang bisa diperoleh dari ceritamu tadi?" timpal Ki
Pranajaya. "Cerita itu sebenamya tidak mempunyai
pelajaran tersembunyi, melainkan terang-terangan.
Dan ujungnya, adalah sebuah tantangan."
"Apa maksudnya, Sobat?" tanya Gusti Prabu Arya Dwipa, dengan kening berkerut
"Ya, jelaskanlah pada kami!" selak Ki Pranajaya.
"Tantangannya adalah, sikap apa yang akan
diambil sang harimau jika mengetahui kalau
putranya melakukan kejahatan!" sahut Pendekar Rajawali Sakti, tandas.
"Aku yakin, harimau itu akan menindak tegas anaknya!" sahut Gusti Prabu Arya
Dwipa. "Ya. Mestinya begitu!" timpal Ki Pranajaya.
"Bagaimana
kalau seandainya keadaan demikian menimpa Kisanak semua?" Rangga kembali seperti memberi teka-teki.
Untuk sesaat ruangan itu sepi. Mereka
mungkin telah menduga kalau Rangga berpikir
begitu. Namun sama sekali tidak mengira kalau
pemuda itu mengatakannya terang-terangan di
depan mereka semua. Ini mencurigakan. Paling
tidak, itu yang di-rasakan semua yang hadir.
Sehingga sebagian dari mereka memandang Gusti
Prabu Arya Dwipa, lalu berganti kepada Rangga.
"Apakah ceritaku itu menyinggung perasaan, sehingga ruangan ini mendadak sepi?"
usik Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti 198 Iblis Pemenggal Kepala di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Rangga! Sudikah kau menjelaskan dengan
jelas, ditujukan kepada siapa cerita tadi?" tanya Ki Sedopati yang sejak tadi
berdiam diri. Rangga
menoleh pada Ki Sedopati. "Ceritaku bukan
ditujukan pada siapa-siapa. Tapi, kepada kita
semua. Yang kuingin dengar adalah sikap kalian
semua. Juga, kepada Gusti Prabu khususnya. Apa
sikap Gusti Prabu seandainya hal itu menimpa
Gusti?" "Rangga! Kau terlalu lancang bertanya begitu pada Gusti Prabu!" bentak Ki
Sedopati dengan wajah tidak senang. Bahkan sempat berdiri dari
kursinya. "Maaf, Ki Sedopati. Kurasa kau salah dengar.
Sebab, aku bertanya pada Gusti Prabu. Bukan
kepadamu!"
Mendengar jawaban pedas itu, telinga Ki
Sedopati memerah menahan malu dan geram.
Namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Sambil
menahan amarah, dia kembali duduk.
Rangga segera bangkit berdiri. Dia segera
memberi hormat pada yang lainnya. Juga, kepada
Gusti Prabu Arya Dwipa.
"Gusti Prabu dan kisanak semua. Maafkan
jika pertanyaanku menyinggung perasaan. Kita
harus membuat terang semua persoalan dari awal, sebelum terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan. Kalau memang pertanyaanku tadi dianggap lancang, aku
tak bisa berkata yang lebih halus lagi. Maaf! Aku mohon diri dulu!" ucap
Pendekar Rajawali Sakti.
"Rangga, tunggu!" cegah Gusti Prabu Arya Dwipa.
"Hm.... Ada apa, Gusti Prabu?"
"Aku ingin mendengar jawaban langsung
darimu. Apakah kau menuduh salah seorang
putraku berbuat kejahatan tanpa sepengetahuanku?" tuntut Gusti Prabu Arya
Dwipa. "Aku tidak berani berkata begitu. Pertanyaan harus dibuktikan dengan kenyataan.
Tanpa bukti, berarti fitnah namanya!"
Setelah berkata begitu, Rangga segera mohon
diri secepatnya.
"Hmm.... Jayadilaga tidak ada di tempat... Dan Gusti Prabu Arya Dwipa tidak
tahu.... Mungkinkah dia...?" gumam Pendekar Rajawali Sakti, ketika keluar dari
Istana Kerajaan Swama Pura.
Pendekar Rajawali Sakti masih menjalankan
Dewa Bayu perlahan-lahan. Bermacam-macam
pertanyaan menggayut di hatinya. Dia berusaha
menghubung-hubungkan cerita yang satu dengan
yang lain. "Aku yakin, Iblis Pemenggal Kepala dalang
dari semua ini. Para korban pembunuhan dan
perkosaan memiliki cara kematian yang sama.
Kepalanya terpenggal. Dan itu pemah dilalukan oleh Iblis Pemenggal Kepala.
Hmm.... Walaupun dia
ditawan di Kerajaan Swama Pura, tidak mustahil
bisa keluyuran. Bisa jadi ada persekongkolan di kerajaan itu. Atau bisa jadi
orang lain yang
melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, namun
masih ada hubungannya dengan tokoh sesat itu!
Hm.... Kedatanganku ke Kerajaan Swama Pura
sebenarnya hendak melihat dan membuktikan
apakah tokoh sesat itu masih ada atau tidak. Tapi ketika aku bertanya tentang
putra-putri Gusti
Prabu Arya Dwipa, entah kenapa aku punya
pemikiran seperti itu.... Hm.... Jayadilaga."
Pendekar Rajawali Sakti benar-benar dibuat
pusing tujuh keliling. Sampai saat ini dia masih meraba-raba dengan
dugaannya. Belum bisa diputuskan, apa yang hams diperbuat. Namun
bayangan tentang si pembunuh mulai terlihat di
benaknya. "Heaaa...!"
Tidak ada halangan yang menimpanya ketika
Pendekar Rajawali Sakti melewati kotaraja. Namun ketika
berada di pinggiran kota, naluri kependekarannya mengatakan kalau ada beberapa
orang yang mengikuti dari belakang. Sejenak Rangga melirik ke belakang.
"Hmm.... Kalian mau coba-coba padaku" Boleh saja!"
Rangga tetap memperlambat lari kuda hingga
tiba di pinggiran sebuah hutan. Dengan ilmu 'Pembeda Gerak Dan Suara' yang
dimilikinya, Pendekar Rajawali Sakti yakin kalau orang-orang tadi masih
mengikuti. "Apa yang mereka inginkan" Kenapa belum
bertindak juga?"
Tapi Rangga agaknya tidak perlu menunggu
terlalu lama atas pertanyaannya. Tidak berapa lama, tidak jauh di depan terlihat
sepuluh penunggang kuda berpakaian serba hitam dan memakai topeng
hitam pula telah mencegatnya. Dan ketika menoleh ke belakang, kurang lebih lima
belas penunggang kuda lain telah berpacu ke arahnya. Begitu dekat, jelas kalau
semuanya memakai topeng hitam! Dan
kini mereka berhenti pada jarak sepuluh tombak di belakang Rangga.
Pendekar Rajawali Sakti menghentikan Dewa
Bayu, namun tetap berada di punggungnya.
Diawasinya orang-orang yang menghadang dengan
tenang. Sepasang matanya menyipit, melihat salah seorang penunggang kuda paling
depan. Penunggang kuda paling depan yang agaknya
menjadi pemimpin ini mendekat. Hingga jaraknya
dengan Rangga terpaut lima langkah.
"Kudengar kau seorang pendekar ternama,"
tegur orang bertopeng itu.
"Kau salah dengar. Aku hanya manusia biasa yang tak berkepandaian apa-apa,"
sahut Pendekar Rajawali Sakti datar.
"Hmm! Tidak perlu menutupi diri. Aku tahu, siapa kau sebenamya. Kalau saja kau
tidak terlalu usil mencampuri urusan orang lain, mungkin
hidupmu akan lebih panjang," gumam orang
bertopeng itu mengancam.
"Syukurlah kalau kau tahu siapa aku. Berarti, kau pun tahu kalau hidupku bukan
Buddha Pedang Dan Penyamun Terbang 4 Pendekar Mabuk 056 Pembantai Raksasa Naga Sasra Dan Sabuk Inten 45

Cari Blog Ini