Ceritasilat Novel Online

Kelelawar Hijau 1

Pendekar Rajawali Sakti 191 Kelelawar Hijau Bagian 1


Ser i al Pe ndeka r Raj awal i Sak t i Epi s ode Kelelawar Hijau
Pembuat Ebook :
Scan buku ke djvu : Novo
Convert & Editor : Raynold
(www.tagtag.com/tamanbacaan)
Ebook pdf oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
PENDEKAR RAJAWALI SAKTI
KELELAWAR HIJAU
oleh Teguh Suprianto
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting : Puji S.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
Teguh Suprianto
Serial Pendekar Rajawali Sakti
dalam episode :
Kelelawar Hijau
128 hal. ; 12 x 18 cm
0odwo0 1 "Hauuungngng... !"
Suara lolongan anjing yang terdengar menyayat, memecah
keheningan malam yang begitu sunyi mencekam di Desa
Susukan. Malam tampak pekat, karena bulan yang sebenarnya
telah waktunya untuk menampakkan diri, kali ini tertutup
awan hitam menggumpal.
Desa yang terletak di pantai Laut Utara ini semakin terlihat
bagai desa mati. Tak seorang penduduk pun berani keluar
rumah. Sejak sore tadi, mereka telah mengunci pintu dan
jendela rapat-rapat. Sepertinya mereka telah tahu betul
dengan ciri lolongan anjing di malam ini. Sebuah malapetaka!
"Aaa...!"
Benar saja. Baru beberapa kejapan gema lolongan anjing
menghilang, terdengar jeritan kematian. Suara itu datangnya
dari rumah yang paling besar di desa ini. Rumah siapa lagi
kalau bukan rumah Kepala Desa Susukan itu sendiri"
Beberapa tarikan napas kemudian, dari dalam rumah
kepala desa itu tampak berkelebat keluar sebuah bayangan
yang langsung berlari menuju kegelapan malam.
Para penjaga rumah kepala desa sebagian menyerbu ke
dalam untuk melihat keadaan keluarga kepala desanya,
sebagian langsung melakukan pengejaran begitu melihat satu
bayangan berkelebat.
Mereka langsung berteriak-teriak
membangunkan penduduk di sekitarnya. Sebentar saja, para penduduk yang
terdiri dari kaum laki-laki segera keluar dengan senjata
terhunus. "itu dia orangnya! Tangkap! " teriak salah seorang
penduduk sambil terus mengejar.
Tidak disangka-sangka, bayangan yang dikejar berbalik.
Sambil menggeram, tangannya mengebut ke arah pengejarnya. Zing! Zing! Terdengar suara mendesing disertai meluncurnya sinar
berwarna hijau. Lalu...
Crep! Creppp! "Aaa...l"
Para penduduk yang mengejar paling depan kontan roboh
terhantam sinar hijau yang melesat begitu cepat laksana kilat.
"Gali.... Garda...!" pekik pengejar yang berada di belakang.
Kedua laki-laki yang terhantam sinar hijau ini hanya mampu
mengerang. Sekujur tubuh mereka berwarna hijau. Tidak
lama, mereka pun tewas dalam pelukan kawan-kawannya.
Sementara bayangan tadi telah kembali melesat meninggalkan
korban-korbannya.
Para pengejar yang datang semakin ramai. Setelah melihat
nasib Gali dan Garda, kini ketakutan membayang di wajah
para penduduk. "Sebaiknya sebagian ke rumah Ki Pangestu untuk melihat
keadaannya. Dan sebagian lagi mengurus mayat Gali dan
Garda. Antarkan mayat-mayat itu pada keluarga masingmasing." 0odwo0 Para penduduk Desa Susukan menjadi gempar ketika
mengetahui K i Pangestu yang menjadi kepala desa ini beserta
istri dan anak satu-satunya tewas
dalam keadaan menyedihkan. "Lihatlah senjata ini, Ki Belalang! Pelakunya tidak lain
adalah si Kelelawar Hijau! Kita harus mencarinya!" tunjuk
seorang pemuda berbadan tinggi tegap. Wajahnya tegang,
penuh amarah. Sementara seorang laki-laki tua berpakaian jubah putih
yang berdiri tidak jauh dari pemuda itu datang menghampiri.
Segera diperiksa nya senjata rahasia yang dipegang pemuda
itu. Senjata itu seperti mata pisau yang berujung runcing.
Hanya saja, pada bagian hulunya berbentuk kelelawar
berwarna hijau.
"Kelelawar Hijau?" desis laki-laki tua berjubah putih yang
dipanggil Ki Belalang. "Lima korban terdahulu juga terbunuh
dengan senjata sama. Hm.... Sebaiknya kita hubungi kawankawan terdekat kita untuk mencari pembunuh keji itu.
Wisesa!" "Bagaimana kalau mereka tidak mau, Ki Belalang?" tanya
pemuda tinggi tegap bernama Wisesa khawatir.
"Mereka adalah kawan lama yang dulu pernah tinggal di
daerah kita. Jadi, mustahil kalau menolak," jawab Ki Be lalang.
Wisesa langsung terdiam. Ada sesuatu yang mengganjal
dalam pikirannya. Beberapa hari yang lalu di desa tetangga
juga terjadi pembunuhan seperti ini. Dan konon pelakunya
berjuluk Kelelawar Hijau. Apa yang ingin dicari tokoh itu,
hingga harus membunuh penduduk desa" Yang lebih
menggemaskan lagi, Kelelawar Hijau pun memperkosa gadisgadis, setiap menyatroni suatu desa. Setelah diperkosa. lalu
dibunuh. "Wisesa, besok pagi mintalah bantuan tokoh persilatan di
Pulau Karimun. Katakan pada para tokoh persilatan di sana,
keadaan Desa Susukan sedang kacau...," ujar Ki Belalang.
"Baik, Ki!" sahut Wisesa.
0odwo0 Ki Belalang duduk mencangkung di depan rumahnya. Udara
pantai yang dingin tidak membuat menggigil tubuhnya yang
renta. Tatapan matanya menerawang jauh ke depan.
Pikirannya kacau. Berbagai pertanyaan membebani hatinya.
"Sepanjang hidupku, rasanya di pantai Laut Utara pernah
ada kejadian begini rupa yang pertama kejadiannya juga
menimpa Puri Kambangan yang sempat porak-poranda.... Kini
Desa Susukan kembali tertimpa petaka. Hm.... Kelelawar Hijau
bisa muncul begitu saja tanpa sebab-sebab yang jelas. Entah,
apa yang dicarinya. Hhh.... Apakah memperkosa gadis-gadis
yang merupakan kesenangannya, atau merupakan suatu
syarat untuk menyempurnakan ilmu hitam yang diyakininya?"
pikir Ki Belalang.
Ki Belalang menarik napas dalam-dalam. Dia jadi teringat
dengan pembunuhan dan perkosaan yang terjadi secara
beruntun di Desa Susukan ini, hampir sama dengan kejadian
sepuluh tahun lalu. Hanya saja kejadian pertama yang
menimpa Puri Kambangan yang terletak di Pulau Kambangan.
Saat itu seorang ahli sihir menguasai puri tersebut dan
memorak-porandakan Desa Susukan.
Ki Be lang tahu benar, bahwa seluruh penghuni puri saat itu
tewas di tangan Bagas Pati yang berjuluk Raja Penyihir,
kecuali dua orang. Sang Penguasa Puri dan seorang anak
angkatnya yang masih kecil.
Kemudian tokoh peny ihir itu menetap di Pulau Karang
Hantu dan hidup bersama istrinya. Jadi, mustahil apa yang
terjadi di Desa Susukan sekarang ini adalah akibat ulah Bagas
Pati. Tapi kalau bukan dia pelakunya, lalu siapa" Sebab bisa
saja dia merubah julukannya menjadi Kelelawar Hijau"
Belum tuntas lamunan Ki Belalang, tiba-tiba saja terlihat
satu bayangan berkelebat di samping rumahnya. Kemudian,
hidungnya mengendus bau yang begitu busuk Ki Belalang
mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dan dia jadi tersentak
kaget. Keningnya berkerut melihat satu sosok bayangan yang
tahu-tahu berdiri di depannya, di dalam kegelapan.
"Hik hik hik...! Semakin tua. otakmu ternyata semakin
tumpul saja. Belalang Sentadu! Lupakah kau pada bauku?"
Terdengar suara nyaring dari kegelapan. Jelas suara
seorang wanita.
"Sekar Tanjung!" sebut Ki Belalang begitu mengenali suara
orang di depannya. "Mata tuaku sudah mulai lamur.
Penciumanku sudah tumpul. Dan otakku hampir beku dimakan
usia. Kemarilah...!"
"Hik hik hik..! Aku tahu pikiranmu sedang pusing. Aku
orang lama harus menyambangimu. Dan juga akan memberi
beberapa nasihat!" sahut sosok yang dipanggil Sekar T anjung.
seraya melangkah menghampiri.
Hanya dalam waktu sekedipan mata saja, satu tombak di
depan laki-laki tua yang bernama asli Belalang Sentadu telah
berdiri seorang perempuan renta berbadan bungkuk.
Wajahnya dipenuhi keriput. Bibirnya begitu besar. Hidungnya
sumplung, sehingga ketika bicara suaranya terdengar sengau.
Ki Belalang lantas beringsut dari duduknya, lalu duduk
bersila di pendopo rumahnya. Sementara Nyai Sekar Tanjung
telah menaiki pendopo, dan duduk bersila di hadapan laki-laki
tua itu. "Sampai sekarang kau masih bertahan, Sekar Tanjuung.
Kalau dihitung, sudah berapakah umurmu?" tanya Ki Belalang,
seraya menatap gembira pada perempuan itu.
"Hik hik hik...! Umur kau tanya-tanya! Aku sudah seratus
delapan puluh tahun. Ada apa rupanya...?" tukas Nyai Sekar
Tanjung. "Sebagai orang yang sudah tidak asing di Desa Susukan ini,
tentu kau tahu semua kejadian di sini. Baru saja Ki Pangestu,
kepala desa ini tewas bersama anak gadisnya. Kudengar,
pelakunya adalah Kelelawar Hijau yang pernah melakukan
pembunuhan dan pemerkosaan beberapa hari yang lalu!" jelas
Ki Belalang. "Tapi aku sangsi, apakah benar Kelelawar Hijau
yang melakukannya" Karena bisa jadi Raja Penyihir yang
melakukannya. Atau kedua julukan itu orangnya tetap sama."
"Kau menyuruhku untuk menyelidiki siapa sesungguhnya
yang telah melakukan pembunuhan itu, bukan?" tebak Nyai
Sekar Tanjung. "Masalahnya, kejadian seperti ini hampir sama dengan
peristiwa sekitar sepuluh tahun yang lalu?" tukas Ki Belalang
mengingatkan. "Hik hik hik...! Apa yang kau katakan memang betul,
Belalang! Ketika itu Bagas Pati pelakunya. Dia adalah Raja
Penyihir yang dengan kesaktiannya mampu menundukkan
Ketua Puri Kambangan. Bahkan konon karena Ketua Puri
Kambangan itu tidak mau dijadikan istri, anak angkatnya
disihir menjadi ular jejadian"!"
"Menurutmu, mungkinkah Raja Penyihir itu masih hidup
hingga saat ini?" tanya Ki Belalang. "Dan kini dia kembali menguasai Pulau
Kambangan berikut Puri Kambangan?"
"Bagaimana aku tahu?" tukas Nyai Sekar Tanjung
menggaruk kepalanya yang hampir botak.
"Kau seorang peramal yang dapat melihat masa lalu. Untuk
urusan sekecil ini apakah kau tidak mampu melakukannya,
Sobatku?" Ki Belalang tersenyum mencibir.
Wajah Nyai Sekar Tanjung memerah. Sejak dulu hingga
sekarang, Ki Belalang memang tidak pernah jera mengujinya.
Padahal untuk urusan ramal-meramal dia sebenarnya sudah
tidak mau melakukannya lagi mengingat usianya yang sudah
teramat tua. "Bagaimana, Sekar" Kalau tidak mau melakukannya, berarti
kau suka melihat penduduk di desa ini tewas setiap hari di
tangan Kelelawar Hijau."
"Kau selalu mendesakku. Tapi baiklah. Mengingat
hubungan baik di antara kita selama ini aku mau
melakukannya untukmu Tapi jika telah kau telah apa yang
ingin kau ketahui, siapa orang yang dapat kau utus ke sana
untuk mencari mampus" Hik hik hik..!"
"Mengapa bicara begitu, Sekar?" tanya Ki Belalang tidak
senang. "Kau kira jika Raja Penyihir benar-benar masih hidup, dia
mau membiarkan orang lain memasuki pulau terapung itu
begitu saja. Kalau tidak disihir menjadi batu karang, tentu
orang-orangmu akan dijadikan dendeng untuk bersantap
malam," jelas Nyai Sekar Tanjung tanpa maksud menakutnakuti.

Pendekar Rajawali Sakti 191 Kelelawar Hijau di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Sudahlah.... Jangan bicara terus. Sebaiknya kita mulai dari
Pulau Kambangan. Aku ingin tahu, apakah Bagas Pati telah
pindah dari Pulau Karang Hantu ke Pulau Kambangan atau
belum. Nah, coba cari tahu apakah di Puri Kambangan ada
sesuatu yang mencurigakan?" desak Ki Belalang tidak sabar.
"Baiklah. Sekarang aku jangan diajak bicara lagi Aku akan
memulainya langsung ke Puri Kambangan. "
Nyai Sekar Tanjung lantas mulai memejamkan mata.
Bibirnya yang tebal tampak berkemak-kemik. Sampai akhirnya
terasa adanya hembusan angin dari Laut Utara.
0odwo0 Tubuh bungkuk di depan Ki Belalang tampak bergetar.
Keringat dingin mengucur membasahi pakaian Nyai Sekar
Tanjung. "Aku melihat ada seorang gadis sangat cantik di sana. Dia
ketakutan dan bersembunyi di dalam ruangan bawah tanah.
Tubuhnya terkadang berubah menjadi ular besar. Ada
kekuatan gaib menyelimuti dirinya. Di atas ruangan itu ada
sebuah kamar. Ada empat kehidupan di sana. Kudengar desah
napasnya.... Jelas mereka adalah laki-laki. Mustahil Bagas Pati
bisa merubah dirinya menjadi empat bagian. Dan...."
Nyai Sekar Tanjung tiba-tiba hentikan ocehannya yang
seperti mengigau. Kepalanya menggeleng perlahan. Dan
tubuhnya yang semakin bergetar keras, telah bermandikan
keringat. Ki Belalang melihat semua ini. Namun dia tidak berani
berkata apa-apa. Sebab, dia tahu akibatnya bisa bahaya bagi
perempuan tua yang memang sahabatnya.
"Gila! Aku tidak dapat menembus tabir hitam yang satu ini.
Begitu kuat! Bahkan hidungnya saja tidak dapat kulihat. Ufh...
eeh! Orang dalam tabir itu melihatku. Lebih baik aku mundur!"
desis Nyai Sekar Tanjung tegang. "Wuakh...!"
Dan Nyai Sekar Tanjung kontan jatuh terguling-guling di
lantai pendopo. Ki Belalang langsung memberikan pertolongan, namun Nyai Sekar Tanjung sebaliknya malah
marah. "Edan! Jangan kau pegangi aku seperti memeluk istrimu!"
bentak Nyai Sekar Tanjung sambil mendorong tubuh Ki
Belalang. Seketika laki-laki tua itu jatuh tunggang-langgang.
"Maaf..., aku bingung melihatmu begitu. Apakah kau baikbaik saja?" tanya Ki Belalang salah tingkah.
"Hoegkh!"
Belum sempat menjawab, Nyai Sekar Tanjung muntahkan
darah segar. Saat itu juga tenaga dalamnya segera dihimpun
untuk mengobati luka dalam yang diderita.
"Hampir saja napasku putus. Kau lihat sendiri, Belalang!
Serangan jarak jauhnya saja hampir membuat tubuhku rontok
Mereka benar-benar gila!" dengus perempuan bungkuk itu
bersungut-sungut.
"Mereka?" sergah Ki Belalang. "Siapa yang kau maksudkan"
Apakah kau melihat Kelelawar Hijau atau Raja Penyihir?"
"Ternyata otakmu semakin tumpul dan tidak berharga.
Dengar!" ujar Nya! Sekar Tanjung membentak; Kemudian dia
berbisik seakan takut ucapannya didengar orang lain. "Aku
tidak bisa memastikan, apakah empat orang yang telah
memperkosa dan membunuh gadis-gadis di desa ini ada di
tempat itu Aku juga tidak melihat Bagas Pati."
"Lalu mata batinmu yang telah lamur itu melihat apa?"
tanya Ki Belalang kesal,
"Seperti yang kukatakan tadi. Di sana ada empat laki-laki.
Mereka memiliki kepandaian sangat tinggi. Entah, apa yang
mereka lakukan di sana."
"Lalu tabir gaib yang kau lihat tadi?" desak Ki Belalang.
"Di dalam tabir gaib itu, ada kekuatan lain di Puri
Kambangan. Ada kehidupan pula. Hanya saja, aku tidak bisa
memastikan apakah itu Bagas Pati." jelas Nyai Sekar Tanjung
ragu. "Keberadaan Kelelawar Hijau tidak dapat kau pastikan.
Kepastian Raja Penyihir masih hidup atau sudah mati, dan di
mana tempat tinggalnya sekarang, kau juga tidak tahu.
Apakah kau kira semua ini tidak membuatku bingung?" cibir Ki
Belalang tampak kecewa.
Nyai Sekar Tanjung memang merasa serba salah. Jika mata
batinnya diteruskan, mungkin saja dapat diketahui apakah
Raja Penyihir masih hidup atau sudah mati. Bahkan mungkin
juga dapat mengetahui siapa empat laki-laki tersebut. Tapi
jika kekuatan gaib itu terus menerus menyerangnya dari jarak
jauh, bukan suatu yang berlebihan jika akan tewas akibat
pertarungan jarak jauh tersebut.
Namun, Ki Belalang memang orang yang susah diberi
pengertian. Dia tidak mau tahu dengan segala kesulitan yang
dihadapi Nyai Sekar Tanjung.
"Sobatku, lebih baik lupakan saja masalah Puri Kambangan.
Kurasa, nenek moyangmu sejak dulu pun tidak berani
gegabah membicarakan masalah puri di pulau terapung itu."
"Mana bisa! Kepala desa sudah mati. Sekarang, mau tidak
mau keselamatan penduduk di Desa Susukan ini menjadi
tanggung jawabku!" tegas Ki Belalang, mantap.
"Kalau itu maumu, aku tentu tidak berani melarang," desah
Nyai Sekar Tanjung. "Sekarang sudah larut malam. Malam ini
aku menumpang istirahat di pondokmu ini. Segala urusan
sebaiknya kita bicarakan besok saja!"
Ki Belalang sebenarnya ingin menahan sahabatnya untuk
membicarakan masalah yang dihadapinya lebih lama. Namun,
perempuan tua berbadan bungkuk ini sudah mendengkur.
0odwo0 2 Gelombang laut mempermainkan perahu yang dinaiki
Wisesa dan dua pemuda Desa Susukan. Namun mereka
dengan mantap terus mendayung menuju Pulau Karimun.
"Hm... Pulau ini tidak jauh lagi di depan kita!" gumam
Wisesa sambil menunjuk salah satu pulau di depan mereka.
Di luar sepengetahuan mereka, sejak tadi ada sesuatu yang
terus mengikuti di belakang perahu. Gerakannya begitu pelan,
pertanda sosok yang bergerak di bawah air itu sudah sangat
terbiasa dengan alam sekelilingnya.
"Menurutmu. apakah para tokoh persilatan di Pulau
Karimun mau menolong kita, Wisesa?" tanya pemuda yang di
depan. "Mengingat jasa baik Ki Belalang yang selalu menolong di
masa-masa sulit, kurasa mereka tidak berani menolak,
Pangkur...," sahut Wisesa, pada pemuda yang bernama
Pangkur. "Ayo cepat kita dayung perahu ini agar sampai ke pulau
itu...!" ajak pemuda yang di tengah.
Tanpa menunggu lagi, mereka segera mendayung perahu
berukuran sedang ini lebih cepat seakan mengejar waktu.
Namun.... Duk! "Heh...!"
Tiba-tiba saja ketiga pemuda itu terkejut ketika merasakan
benturan keras pada perut perahu. Dan anehnya, perahu tidak
dapat bergerak lagi walaupun telah diayunkan sekuat tenaga.
"Wisesa! Perahu kita kandas!" seru Pangkur terkejut.
"Tidak! Laut ini masih dalam. Mustahil perahu kita kandas
begitu saja," bantah Wisesa. "Sebaiknya salah satu dari kalian
turun dan periksa ke bawah sana!"
Belum sempat mereka berbuat sesuatu, dari dalam air tibatiba menyembul sesosok mayat dalam keadaan telah rusak,
yang seakan-akan dilemparkan dari dalam air.
Wajah mayat itu hancur. Daging-dagingnya membusuk
berantakan. Tapi jelas itu mayat seorang laki-laki.
"Bagaimana ini bisa terjadi"!" teriak pemuda yang di
tengah sambil menutup hidungnya.
"Aku tidak tahu, Balung," jawab Wisesa.
"Kalau begitu aku tidak mau turun ke bawah sana!" tegas
pemuda yang bernama Balung merasa ngeri.
Wisesa sendiri sebenarnya sempat tegang juga. Namun dia
merasa harus turun ke laut tanpa menghiraukan mayat yang
mengapung di samping perahunya. Namun belum juga
niatnya terlaksana....
Pyarr...! Mendadak dari bawah permukaan air menyembul kepala
dari mayat lain. Dan perahu pun jadi terguncang cukup keras.
Akibatnya dua kawan Wlsesa terjungkal ke laut.
Byur...! Byurrr...!
Wisesa belum merasa cemas, karena hal itu biasa bagi dua
pemuda yang biasa melaut. Apalagi, gelombang cukup kuat
mengombang-ambingkan perahu.
Namun lama-kelamaan keheranan pemuda itu pun tebersit.
Mengapa kedua kawannya lama tidak muncul-muncul juga"
Padahal mereka sangat pandai berenang.
Tiba-tiba air laut bergolak kembali. Seketika terlihat pula
warna merah darah. Wisesa terkejut. Segera melompat ke
dalam laut untuk memberi pertolongan. Dia benar-benar
merasa khawatir kalau kawan-kawannya ini mendapat
serangan ikan hiu. Selagi W isesa masuk ke dalam air,
bersamaan dengan itu ada dua sosok tubuh terlempar ke
udara. Buk! Buk! Keduanya kemudian jatuh persis di dalam perahu dengan
perut robek menyemburkan darah. Wajah mereka hancur. Dan
yang jelas, mereka adalah kawan-kawan Wisesa.
Pemuda itu sendiri sejak terjun ke dalam air tidak timbultimbul lagi. Entah, apa yang terjadi di bawah sana tidak ada
yang tahu. Sementara itu, perahu tadi seakan ada kekuatan yang
menggerakkannya. dan kembali meluncur menuju pantai Desa
Susukan membawa dua sosok mayat kawan Wisesa.
0odwo0 Wisesa merasa ada tangan yang menyeretnya ke sebuah
gua karang di dasar laut. Tubuhnya menggelepar karena sulit
bernapas. Tapi kekuatan yang menyeretnya begitu besar.
Sehingga sekuat apa pun melepaskan diri, usahanya hanya
sia-sia saja. Setelah beberapa saat menelusuri lorong gua bawah laut,
Wisesa tahu-tahu muncul di sebuah ruangan yang terdapat
undakan-undakan menuju ke atas.
Pemuda berbadan tinggi kekar ini sudah tidak sempat
memperhatikan sekelilingnya yang terasa serba aneh dan
sangat asing. Dia terus digiring seorang laki-laki berpakaian
serba biru yang telah menyeretnya dari tengah laut ke sana.
Namun yang jelas pemuda ini berada di sebuah ruangan indah
bagai sebuah bangunan kerajaan, setelah tadi menaiki undakundakan. Rupanya, gua di bawah laut tadi berhubungan
dengan bangunan ini.
"Duduk!" perintah laki-laki itu dengan mata melotot.
Wisesa tentu saja tidak mau diperlakukan sewenangwenang. Begitu kekuatannya pulih, dengan cepat dia bangkit
berdiri. langsung diserangnya laki-laki berbaju biru dengan
jurus-jurus yang diandalkannya.
"Bodoh! Kau mencari kesulitan!"
Dengan gerakan cukup indah, laki-laki berbaju biru itu
menyambut serangan Wisesa. Ternyata kepandaian laki-laki
berbaju biru ini cukup tinggi. Sehingga dalam waktu sebentar,
Wisesa sudah berhasil didesaknya.
Pemuda ini tidak mau menyerah begitu saja. Disertai
bentakan nyaring dilancarkannya sebuah pukulan keras ke
dada laki-laki berbaju biru yang sedikit pun tidak menghindar.
Sehingga luncuran tinju Wisesa terus meluncur. Dan...
Buuk! "Ha ha ha...! Aku bukan tandinganmu! Menurut, atau
mencari mati seperti dua kawanmu itu?" dengus laki-laki
berbaju biru, tanpa terjajar serambut pun.
Sementara Wisesa terdorong mundur. Pukulannya tadi
sedikit pun tidak berarti apa -apa bagi laki-laki berbaju biru.
Bahkan tangannya seperti memukul batu karang, sehingga
langsung bengkak membiru.
"Kau bunuh kawanku! Siapa kau sebenarnya"!" bentak
Wisesa tidak kalah sengit.
"Kau berada di tangan kami. Dan aku tidak patut menjawab
pertanyaanmu. Tunggu saja.... Sebentar lagi, Ketua kami
segera menemuimu!" sahut laki-laki berpakaian bini ini.
Di luar dugaan laki-laki itu berkelebat cepat. Tangannya
terjulur ke beberapa bagian tubuh Wisesa.
Tuk! Tuk! "Oh...!' Wisesa mengeluh begitu dua totokan mendarat telak di
rusuknya. Tubuhnya saat itu juga bagai dilolosi tulangtulangnya, lemas tak bertenaga. Pemuda itu ambruk tanpa
bisa bergerak sedikit pun.
Sementara laki-laki berbaju biru yang baru saja berlalu dari
hadapannya. 0odwo0 Seorang laki-laki tua renta berumur sekitar dua ratus tahun
memperhatikan tubuh W isesa sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya. Wajah laki-laki tua berambut dan berjenggot putih
ini tampak angker. Matanya mencorong penuh kekejaman.
Tangannya memegang sebuah tongkat berwarna hitam
berhulu kepala ular sendok.
Di sekeliling pinggang laki-laki tua ini terdapat beberapa
buah tengkorak manusia. Sungguh mengerikan wujudnya.
Pada bagian lehernya, menggantung kepala perempuan cantik
berambut panjang yang sudah dikeringkan.
"Hmm...," gumam kakek berpenampilan angker ini tidak
jelas. "Bagaimana, Ketua?" tanya laki-laki berbaju biru yang tadi
membawa Wisesa ke tempat ini.
"'Ha ha ha...! Bagus sekali. Dia memenuhi syarat untuk
dijadikan tumbal kita purnama yang akan datang! Kau
memang orang yang sangat berguna bagiku, Lesmana!
Sekarang kurung dia di tempat biasa. Bulan purnama sudah
dekat, tentu dia tidak akan menunggu lebih lama," ujar lakilaki tua berwajah angker.
"Baiklah, Ketua Raja Penyihir. Hamba segera jalankan


Pendekar Rajawali Sakti 191 Kelelawar Hijau di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perintah...!" sahut laki"laki berbaju biru yang bernama
Lesmana. Wisesa saat itu juga dalam keadaan tidak berdaya langsung
diseret menuju ke ruangan penjara khusus.
0odwo0 Waktu terus berlalu tanpa terasa. Sementara tanpa sebabsebab yang jelas. penduduk Desa Susukan saling berkelahi
dengan sesamanya. Tidak jarang perkelahian yang terjadi
merenggut korban jiwa!
Sebenarnya bukan di Desa Susukan saja peristiwa demi
peristiwa aneh terjadi. Di desa-desa tetangga pun suasana
seperti itu kerap terjadi akhir-akhir ini. Pertarungan, hilangnya
harta benda penduduk secara aneh, peristiwa perkosaan
terhadap gadis-gadis remaja, serta pembunuhan terus terjadi.
Tidak seorang pun yang tahu, mengapa penduduk berubah
liar tidak terkendali. Satu hal yang perlu diketahui, mereka
biasanya menderita demam panas dulu beberapa hari.
Kemudian. disusul tingkah laku aneh yang diakhiri pertarungan
sesama penduduk. Dan biasanya, merenggut korban jiwa
tidak sedikit. Kejadian seperti itu tentu saja membuat Ki Belalang merasa
bingung. Dia telah kehabisan akal, apa yang harus
dilakukannya. Wisesa yang dipercayakan untuk menghubungi tokoh-tokoh
silat di Pulau Karimun hilang entah ke mana. sementara dua
orang lainnya yang kembali dalam keadaan tewas
mengenaskan. Ki Belalang bertanya-tanya dalam hati.
Mungkinkah Wisesa membunuh kawan-kawannya sendiri"
Lalu, apa yang terjadi dengannya"
Rasanya pertanyaan Ki Belalang hanya tinggal pertanyaan
saja, kalau tidak segera bertindak lebih jauh. Paling tidak,
semua kawannya di rimba persilatan dihubungi untuk
memecahkan persoalan yang tengah dihadapi.
Mungkinkah Kelelawar Hijau itu sumber dari semua
malapetaka yang terjadi" Padahal, sebelumnya kemunculan
Kelelawar Hijau hanya memperkosa dan membunuh gadisgadis desa secara keji.
Waktu itu tidak ada gejala-gejala yang ganjil. Harta benda
mereka juga tidak ada yang hilang, seperti sekarang ini.
0odwo0 Sementara itu tidak jauh dari tempat tinggal Ki Belalang,
tampak seorang pemuda tampan berompi putih memasuki
Desa Susukan di siang ini. Di punggungnya tergantung sebilah
pedang berhulu kepala burung rajawali. Pemuda ini tidak lain
Rangga atau lebih dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti.
Ketika melintasi Desa Susukan, Rangga terheran-heran.
Karena sejak berada di mulut desa tidak terlihat seorang
penduduk pun. Suasana tampak sepi, bagaikan tidak
.berpenghuni. Dalam keheranannya Pendekar Rajawali Sakti terus
melangkah tenang. Naluri kependekarannya mengatakan ada
berpasang-pasang mata yang terus mengawasi gerak-geriknya
dari balik pintu rumah-rumah penduduk yang tertutup.
Rangga jadi curiga. Dia berpikir, pasti ada sesuatu yang tidak
beres telah terjadi di sini.
"Aku harus mencari tahu, apa yang telah terjadi di tempat
ini. Pertama yang harus kulakukan adalah mencari rumah
kepala desa," gumam Rangga pelan.
Sampai di perempatan jalan, Pendekar Rajawali Sakti yang
baru saja ingin membelok ke kiri, mendengar suara teriakan
disertai kata-kata kotor yang ditingkahi denting senjata
beradu. Rangga segera berkelebat ke arah itu.
Sesampainya di tempat terjadinya perkelahian, Rangga jadi
tertegun. "Melihat cara bertarung, rasanya mereka tak memiliki ilmu
olah kanuragan. Gerakan silat mereka cenderung seadanya.
Tapi mengapa mereka berkelahi?" tanya Rangga, seperti
ditujukan pada diri sendiri.
Sementara itu tidak jauh di depan pertarungan seru
memang sedang terjadi antara seorang bersenjata golok
dengan orang lain yang bersenjata clurit.
Rangga segera melangkah mendekati, sambil terus
memperhatikan dengan seksama. Dan Pendekar Rajawali Sakti
pun terkejut. "Mata kedua orang ini kosong seperti terkena sihir. Jelas
orang-orang ini dalam keadaan tidak sewajarnya," gumam
Rangga. "Sebaiknya kupisahkan mereka dulu!"
Namun sebelum sempat Rangga memisahkan, laki-laki
yang berdiri paling dekat dengannya telah menyerang dengan
golok Rangga terkesiap. Langsung dia me lompat mundur sejauh
dua tombak. Tapi laki-laki bersenjata golok itu terus
mengejarnya. "Kau harus kubunuh! Kubunuuuh...!" teriak laki-laki ini
sambil menyabetkan golok dengan beringas. Sementara lakilaki yang bersenjata clurit hanya menatap kosong saja.
"Hei..." Aku tidak tahu menahu persoalanmu. Mengapa kau
menyerangku..!" Rangga mencoba mengingatkan.
"Kubunuh...!" dengus laki-laki itu lagi tanpa menghiraukan
ucapan Rangga. "Orang ini benar-benar seperti kesurupan. Dia menyerang
bukan atas perintah akal sehatnya. Pasti ada yang mendalangi
semua ini!" pikir Rangga.
Tidak ada pilihan lagi bagi Pendekar Rajawali Sakti
terkecuali mengelakkan setiap serangan yang datang.
Walaupun orang yang menyerangnya tidak mempunyai
keterampilan silat, namun serangannya cukup berbahaya juga.
Sehingga Rangga terpaksa mempergunakan jurus 'Sembilan
Langkah Ajaib' untuk menghindarinya.
"Hiyaaa...!"
Rangga segera menggeser langkahnya ke samping kiri,
sehingga golok yang meluncur deras ke bagian perut luput.
laki-laki itu rupanya kalap melihat serangannya tidak
mengenai sasaran. Tubuhnya cepat berbalik lalu kembali
melakukan serangan gencar.
Rangga meliukkan tubuhnya setiap ada serangan yang
datang. Wuut! Golok laki-laki itu kembali menyambar. Dan sekali lagi
Rangga melompat ke belakang. Ketika Pendekar Rajawali Sakti
melihat kesempatan yang cukup baik tiba-tiba tubuhnya
meluruk deras ke depan. Tangannya meluncur me lancarkan
totokan. Lalu....
Tuk! "Aaagkh...!"
Laki-laki itu kontan mengeluh saat totokan Rangga
mendarat tepat pada sasaran. Tubuhnya kaku dan sulit
digerak-gerakkan lagi.
Melihat ini orang-orang yang berada di sekitar tempat
tersebut yang semula saling serang, kini berbalik menyerang
Rangga. T entu saja Rangga jadi kerepotan. Apalagi Pendekar
Rajawali Sakti tidak bermaksud melukai. Apalagi, membunuh.
Terpaksa Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan ilmu
meringankan tubuh, sekaligus jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'
untuk menghindari hujan senjata yang tidak ada hentihentinya. "Hup! Heaaa...!"
Dengan manisnya Rangga keluar dari kepungan. Setiap kali
ada kesempatan baik, segera dilancarkannya serangan balik.
Buk! "Augkh!"
Beberapa orang yang terkena tendangan Pendekar Rajawali
Sakti langsung jatuh terguling-guling.
Kemudian Rangga memburu orang-orang ini, dan langsung
melepas totokan.
Tuk! Tuk! T uk!
"Ah...!"
Terdengar keluhan lemah disertai ambruknya beberapa
orang lawan. Empat orang lain ketika melihat kawannya dalam
keadaan tidak berdaya tampak semakin marah. Secara
bersamaan mereka menyerbu.
0odwo0 Rangga tidak lagi memberi kesempatan pada keempat lakilaki yang telah berubah linglung.
Segera dilakukannya serangan cukup gencar. Namun
gerakannya itu langsung tertahan, ketika....
"Berhenti...!"
Rangga melompat mundur begitu mendengar bentakan
keras, keempat pengeroyoknya juga melakukan hal yang
sama. Rangga berpaling ke arah datangnya suara. T idak jauh
dari tempat Pendekar Rajawali Sakti berdiri. tampak seorang
laki-laki tua berpakaian putih berada di situ.
"Pergi kalian! Dan, jangan buat kekacauan lagi!" perintah
orang ini. Nampaknya para pengeroyok Rangga begitu menghormati
orang tua berpakaian putih ini. Terbukti, mereka segera
meninggalkan tempat itu tanpa menoleh-noleh lagi.
Sementara sosok berambut putih ini memperhatikan
Rangga dengan seksama. Ada rasa curiga di matanya. Namun
kecurigaan itu tidak berlangsung lama, setelah melihat betapa
berwibawanya Pendekar Rajawali Sakti ini di matanya.
"Untuk menghindari hal-hal yang tidak diingini, sebaiknya
kau ikut aku, Kisanak...!" tegas laki-laki tua yang tak lain Ki Belalang.
"Maaf, aku tidak bisa ikut sebelum tahu namamu!" tolak
Rangga, halus. "Kau sendiri s iapa?" KI Belalang malah balik bertanya.
"Namaku, Rangga...!" jawab Pendekar Rajawali Sakti
memperkenalkan namanya
"Aku Belalang Sentadu. Aku tinggal tidak jauh dari sini.
Kalau kau berkenan, mari mampir ke pondokku...! Ki Belalang
memberi tawaran
Rangga sebenarnya merasa ragu-ragu juga. Tapi
mengingat adanya keanehan-keanehan yang terjadi di Desa
Susukan, akhirnya dia mengikuti ajakan KI Belalang.
0odwo0 3 Ki Belalang mengajak Pendekar Rajawali Sakti duduk di
ruangan Pendopo. Dua cangkir kopi panas telah terhidang di
atas meja. Ketika Ki Belalang mengajaknya minum, Rangga
hanya mengangguk saja. Ki, Belalang tersenyum. Rupanya,
dia dapat menduga kalau Pendekar Rajawali Sakti merasa
curiga kepadanya.
"Terus terang, Ki. Apa sebenarnya maksudmu mengajakku
ke sini?" tanya Rangga, tidak sabar.
KI Belalang malah tertawa. Sehingga, membuat Rangga
jadi semakin bertambah curiga.
"Kulihat kau menjatuhkan orang-orang linglung tadi dengan
cara mudah. Hm.... Kau pasti mempunyai kepandaian sangat
tinggi," bukannya menjawab, Ki Belalang malah memuji.
"Orang-orang itu memang tidak pandai ilmu olah
kanuragan. Sedangkan kepandaianku hanya kepandaian
pasaran saja," sahut Rangga, merendah.
"Memang..., biasanya pendekar tangguh selalu menganut
ilmu padi. Kurasa, Tuhan telah menurunkan kemurahannya
melalui kau," sergah Ki Belalang.
"Aku semakin tidak mengerti saja, ke mana arah
ucapanmu, Ki," ucap Rangga.
Ki Belalang terdiam sejenak. Seakan dia berusaha
menentukan, mana yang akan dibicarakannya lebih dulu pada
pemuda berompi putih ini.
"Aku melihat ada sesuatu yang aneh pada orang-orang
yang telah menyerangku tadi. Dapatkah kau katakan padaku,
apa sebenarnya yang telah terjadi di tempat ini"!" desak
Rangga, penasaran.
"itulah yang ingin kukatakan padamu " sahut Ki Belalang.
"Desa Susukan ini sebenarnya sudah dalam keadaan aman,
mengingat Raja Penyihir yang bernama Bagas Pati kabarnya
sudah mengasingkan diri ke Pulau Karang Hantu. Tapi
beberapa purnama belakangan ini, keadaan berubah kacau
oleh munculnya tokoh berjuluk Kelelawar Hijau. Dia suka
memperkosa gadis-gadis cantik di desa ini. Juga melakukan
pembunuhan demi pembunuhan.... "
"Apa tujuan Kelelawar Hijau itu yang sebenarnya?" potong
Rangga tidak sabar.
"Tidak seorang pun yang tahu. Mungkin dia melakukan
perkosaan dan pembunuhan untuk kesenangan. Bisa jadi
untuk kesempurnaan ilmu hitam yang dianut," sahut Ki
Belalang, menduga.
"Lalu, apa hubungannya dengan orang-orang yang telah
menyerangku tadi, Ki?"
"Entahlah...," desah Ki Belalang sambil menggelenggelengkan kepala. "Tapi, kurasa persoalan yang satu dengan
yang lain ada hubungannya. Aku sendiri tak tahu. mengapa
orang-orang di sini seperti lupa ingatan. Mereka setiap hari
berkelahi, tanpa sebab-sebab yang jelas. Mereka kalap,
marah, dan saling bunuh. Yang membuatku lebih heran lagi,
bersamaan waktunya dengan perubahan watak penduduk
desaku ini, banyak orang kaya kehilangan harta bendanya
secara aneh."
"Apakah kau menduga semua ini adalah perbuatan
Kelelawar Hijau...?" tebak Rangga semangat.
"Aku tidak berani menarik kesimpulan begitu. Beberapa
bulan yang lalu, saat Kelelawar Hijau melakukan penculikan
dan perkosaan, dua kejadian yang baru kukatakan tadi tidak
pernah ada," jelas Ki Belalang mantap.
Rangga merasa apa yang dihadapi Ki Belalang memang
sebuah persoalan tidak ringan Di desanya sendiri mengingat
penduduknya yang telah lupa ingatan bukan mustahil bila
sewaktu-waktu Ki Belalang terbantai. Tapi, mengapa orangorang linglung tadi begitu patuh dan seperti takut melihat Ki
Belalang" Pertanyaan ini membuat Rangga harus bertindak
hati-hati. "Kau tadi menyinggung masalah Raja Penyihir. Kalau kau
tahu, di manakah dia tinggal. Dan, apakah masih hidup
sampai saat ini?" tanya Rangga, polos.
Tanpa ragu Ki Belalang segera menceritakan pertemuannya
dengan Nyai Sekar Tanjung, perempuan renta yang masih
terhitung sahabatnya dan sangat ahli dalam hal membaca
pikiran orang. Sementara, Rangga mendengarkan penuh


Pendekar Rajawali Sakti 191 Kelelawar Hijau di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perhatian. "Jadi hidup matinya Raja Penyihir belum ketahuan?" tanya
Pendekar Rajawali Sakti, begitu Ki Belalang menuntaskan
ceritanya. "Begitulah. Hanya menurutku, mungkin Bagas Pati sudah
tiada. Sepuluh tahun yang lalu, saat dia menyebar malapetaka
di mana-mana, umurnya sudah hampir dua ratus tahun. Kabar
yang kudengar, dia mengasingkan diri di Pulau Karang Hantu
bersama Minanti, Penguasa Puri Kambangan. yang berhasil
dijadikan istrinya. Sejak saat itu kabar tentangnya tidak
terdengar lagi!" jelas Ki Belalang, panjang lebar
Rasanya Rangga merasa sulit juga memastikannya.
Seorang Raja Penyihir bisa saja mengundurkan diri dari
keramaian dunia. setelah menemukan orang yang dicintainya.
Dan kendati sudah sangat tua, orang yang memiliki sihir sulit
mati karena ilmu yang dimilikinya. Segala kemungkinan
memang dapat terjadi di dunia ini. Tapi, alangkah baiknya jika
melakukan penyelidikan sendiri.
"Ki..., kurasa persoalan yang kau hadapi cukup menarik.
Dapatkah kau tunjukan padaku, di mana Pulau Karang Hantu
itu?" tanya Rangga.
"Pulau yang kau maksud terletak di kawasan Kepulauan
Bawean. Jika kau berniat menolongku, sebaiknya bisa
memulai segala sesuatunya dari Pulau Kambangan. Mungkin di
pulau itu kau dapat menemukan sesuatu yang dapat dijadikan
petunjuk. Aku punya sebuah perahu yang dapat dipergunakan
untuk menuju ke sana," ujar Ki Belalang.
"Kuterima tawaranmu, Ki. Kurasa lebih baik aku berangkat
sekarang ini," putus Rangga.
"Jangan," cegah Ki Belalang. "Di laut sedang musim badai
Besok pagi saja kau berangkat," cegah Ki Belalang.
Sebenarnya Rangga dapat memanggil burung rajawali
tunggangannya untuk membawanya menuju pulau Kambangan. Tapi karena Ki Belalang mendesaknya terus
untuk tetap bermalam di rumahnya, akhirnya tawaran itu
diterima. 0odwo0 Pendekar Rajawali Sakti terjaga dari tidurnya ketika
telinganya yang setajam rajawali mendengar suara bergemerincing yang begitu halus. Dia bangkit berdiri, dan
langsung melangkah keluar dari kamar. Gerakannya hati-hati
sekali. Sampai di depan pintu Pendekar Rajawali Sakti berhenti,
dan memandang ke tengah-tengah kegelapan yang
menyelimuti alam sekitarnya. Dia tersentak kaget saat sebuah
tangan menepuk bahunya.
"Eeeh.... Ki Belalang.... Membuatku kaget saja," desah
Rangga dengan suara berbisik.
"Kau mendengar sesuatu?" tanya Ki Belalang, tidak kalah
pelan. "ya.... Suara gemerincing itu seperti berada di atas rumahrumah penduduk di depan sana, " ungkap Rangga.
"Hampir setiap malam aku mendengarnya. Tapi ketika
kuperiksa ternyata, aku hanya melihat dua bola api seperti
bintang jatuh bergerak tidak menentu. Terkadang menerobos
rumah penduduk. Anehnya, tidak menimbulkan kebakaran dan
korban jiwa. Biasanya bola api itu baru pergi sete lah
menjelang subuh," jelas Ki Belalang.
"Sungguh aneh?" gumam Rangga.
"Kau lihat!" seru Ki Belalang.
Tiba-tiba laki-laki tua ini menunjuk ke angkasa, tidak jauh
di sebelah kiri. Di angkasa tampak dua bola api. Yang satu
berwarna merah membara, sedangkan satunya lagi berwarna
kuning. Bola api itu terus bergerak mengelilingi rumah-rumah
penduduk. Sementara suara gemerincing terus terdengar.
Rangga yang dihinggapi rasa penasaran, bermaksud
mendekati bola api yang terus berputar-putar di udara. Namun
baru saja ia menuruni anak tangga....
"Aaa...!"
Tiba-tiba terdengar jeritan seorang perempuan.
Kembali Pendekar Rajawali Sakti tersentak kaget. Cepat dia
menoleh ke sebelahnya. Ternyata, Ki Belalang sudah tidak lagi
berada di situ. Dan Pendekar Rajawali Sakti sempat melihat
bayangan berkelebat menuju ke arah jeritan tadi.
Tanpa membuang-buang waktu Rangga menyusul. Ketika
sampai di sebuah rumah, di depan pintu terlihat seorang gadis
terkapar dengan tubuh telanjang berlumuran darah.
Sementara itu, Ki Belalang sedang bertarung melawan sosok
tubuh berjubah berwarna hijau. Kepalanya tertutup topeng
berbentuk kelelawar.
"Pemerkosa keji! Mampuslah kau malam ini di tanganku!"
teriak Ki Belalang marah.
Tiba-tiba saja laki-laki tua ini menerjang ke depan. Namun
sosok yang dikenal berjuluk Kelelawar Hijau ini telah
merentangkan kedua tangannya, sejajar bahu. Tampak jelas
jubah hijaunya melambai-lambai, berbentuk seperti sayap
sungguhan dan cukup lebar.
Tepat ketika serangan Ki Belalang hampir tiba, Kelelawar
Hijau menggerakkan kedua tangannya ke depan.
Wuttt...! Maka seketika empat buah benda berwarna hijau me luruk
ke arah laki-laki itu. Terpaksa Ki Belalang membatalkan
serangan, lalu segera berjumpalitan ke udara dengan kedua
tangan memapak.
"Hup!"
Seketika angin deras yang keluar dari tangan Ki Belalang
membuat tiga buah senjata rahasia terpental. Sementara satu
sisanya terus lolos dan mengancam dada laki-laki tua ini.
Sesepuh Desa Susukan ini terkesiap. Jelas dia tidak dapat
menghindarinya lagi.
Namun pada saat-saat yang sangat menegangkan, tiba-tiba
berkelebat sebuah bayangan putih. Gerakannya begitu cepat,
menyambut luncuran senjata rahasia itu. Dengan gerakan
mengagumkan tangannya menyambut.
Tap! "Heh...!"
Kelelawar Hijau terkejut bukan main, melihat sosok
bayangan putih itu berhasil menangkap senjata rahasia yang
pada bagian hulunya terdapat ukiran berbentuk kelelawar
berwarna hijau.
"Hiih...!"
Wuutt...! "Heh"!"
Kelelawar Hijau lebih terkejut lagi ketika sosok yang tak lain
Pendekar Rajawali Sakti melempar balik senjata miliknya.
Maka dengan cepat tubuhnya berjumpalitan ke udara.
Sehingga senjata rahasia yang dilemparkan Rangga hanya
setengah jengkal melesat di bawah kakinya.
"Mundurlah, Ki. Biarkan aku yang memberi pelajaran pada
manusia tengik ini!" ujar Rangga tegas.
"Huh...!" Kelelawar Hijau mendengus.
Tiba-tiba Kelelawar Hijau meluruk deras ke arah Rangga.
Kedua tangannya langsung terkembang seperti sayap, hendak
menghantam kepala Rangga.
"Uts...!"
Pendekar Rajawali Sakti tentu tidak tinggal diam. Wajahnya
segera ditarik ke belakang lalu tangannya dijulurkan
menangkis. Plak! "Aaakh!"
Kelelawar Hijau terhuyung mundur dengan keluhan
tertahan. Sementara Rangga sempat bergetar tubuhnya.
Namun secepat kilat tubuhnya meluruk deras membalas
serangan dengan sebuah tendangan yang begitu cepat ke
perut Kelelawar Hijau.
"Hup...!"
Namun tidak kalah cepat Kelelawar Hijau me lompat
mundur, sehingga tendangan Rangga tidak mengenai sasaran.
Bahkan tubuhnya cepat diputar. Sementara tangannya
kembali menghantam kepala.
"Uts...!"
Pendekar Rajawali Sakti cepat menunduk, maka tinju
Kelelawar Hijau lewat seperempat jengkal di atas kepala
Rangga. Pada saat itu juga, pemuda berompi putih ini melihat
sebuah kesempatan yang sangat baik. Sebuah celah untuk
menggempur pertahanan lawan. Maka seketika tangannya
menyampok ulu hati Kelelawar Hijau.
Desss... ! "Heegkh...!"
Manusia kelelawar memekik kesakitan. Dia jatuh tergulingguling, namun cepat bangkit berdiri. Seakan tidak merasakan
sakit apa-apa. Padahal tampak jelas darah menetes dari
sudut-sudut bibirnya. Bahkan kini segera dikerahkannya jurusjurus 'Kelelawar' yang cukup dahsyat
"Hiaaa...!"
Dengan penuh kemarahan Kelelawar Hijau menggempur
Rangga dengan serangan-serangan mematikan. Dan tentu
saja Pendekar Rajawali Sakti tidak tinggal diam.
Segera dikerahkannya jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' untuk
menghindari serangan.
0odwo0 Ternyata Kelelawar Hijau cukup tangguh juga. Walaupun
Rangga meliuk-liuk sambil terus menggeser kedua kakinya
dengan lincah, beberapa kali tendangan Kelelawar Hijau nyaris
menghantam kepala dan perutnya. Rangga kemudian jadi
tidak sabar. Seketika gerakannya dipercepat. Tangan dan
kakinya terus membalas serangan yang datang.
"Heaaa...!"
"Huup!"
Tiba-tiba saja Kelelawar Hijau berjumpalitan di udara.
Didukung jubah hijaunya yang dapat terkembang membentuk
sayap, maka gerakannya lebih cepat dari sebelumnya. Bahkan
Rangga terpaksa berguling-guling
untuk menghindari tendangan. Namun ketika Rangga bangkit, Kelelawar Hijau meluncur
begitu cepat melepaskan hantaman ke dada.
Desss... ! "Akh...!"
Rangga terlempar cukup jauh. Dadanya langsung terasa
sesak. Walaupun begitu, dia cepat bangkit berdiri. Setelah
menyeka darah yang keluar dari hidungnya, tiba-tiba dia
memasang kuda-kuda kokoh dengan kedua telapak tangan
terbuka di s isi pinggang. Lalu....
"Aji 'Bayu Bajra'! Heaaa...!"
Disertai bentakan keras, Rangga menghentakkan tangannya ke depan. Seketika, bertiup angin kencang bagai
topan menderu dan bergulung-gulung ke arah Kelelawar
Hijau. Sementara laki-laki bertopeng berbentuk kepala kelelawar
ini mengebutkan jubahnya yang lebar seperti sayap. Maka
seketika bertiup pula angin kencang, memapak luncuran angin
topan dari aji 'Bayu Bajra'.
Blarrr! "Aaagkh...!"
Kelelawar Hijau kontan terlempar sejauh tiga tombak
disertai keluhan tertahan. Dengan mulut meringis menahan
sakit dia berusaha bangkit. Agaknya, dia menderita luka dalam
yang tidak ringan.
Sementara, Rangga yang terhuyung-huyung tengah
mendekap dadanya, seringai kesakitan juga tergambar di
wajahnya. Namun baru saja Pendekar Rajawali Sakti hendak
bersiap kembali, Kelelawar Hijau telah berkelebat kabur.
"Mau lari ke mana kau, Keparat"!"
Rangga tentu saja tidak membiarkan lawannya lolos begitu
saja. Segera tubuhnya berkelebat mengejar.
Namun tiba-tiba Kelelawar Hijau berbalik. Kedua tangannya
terpentang lebar yang bagaikan kelelawar mengebut.
Set! Set! Seketika, melesat sinar kehijauan ke arah Pendekar
Rajawali Sakti. Dengan terpaksa, Rangga menghentikan
pengejarannya. "Hup...!"
Dengan gerakan lincah Rangga berjumpalitan di udara
hingga tidak satu pun dari senjata-senjata rahasia Kelelawar
Hijau mengenai sasarannya. Namun, pada saat yang sama
manusia bertopeng kelelawar itu telah melesat bagai terbang
meninggalkan Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga yang baru saja turun ke tanah menjadi kesal bukan
main. Sedangkan Ki Belalang menunggunya di situ dengan
perasaan cemas.
"Bagaimana keadaanmu, Rangga?" tanya Ki Belalang.
"Aku dalam keadaan baik-baik saja, Ki. Tidak ada yang
perlu dicemaskan!" jawab Rangga, mantap.
"Kulihat Kelelawar Hijau itu lari menuju ke Pulau
Kambangan. Bagaimana dia bisa terbang seperti kelelawar
sungguhan?"
"Sebenarnya dia tidak bisa terbang. Hanya jubahnya yang
lebar berbentuk sayap itu yang membuatnya dapat melayang,
seolah-olah seperti terbang." jelas Rangga.
"Aneh sekali!" ucap Ki Belalang, ternyata masih tetap
penasaran. "Sudahlah, Ki. Malam semakin larut. Gara-gara manusia


Pendekar Rajawali Sakti 191 Kelelawar Hijau di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kelelawar Hijau, aku gagal mengintai dua bola api yang
sempat kita lihat. Sekarang sebaiknya kita urus mayat gadis
malang itu!"
"Kau terlambat, Rangga. Tadi ketika kau sibuk bertarung,
aku dengan dibantu beberapa penduduk yang masih waras,
sudah menguburnya, " sergah Ki Belalang.
"Kalau begitu, sebaiknya kita pulang sekarang!" ajak
Rangga. Tanpa banyak bicara lag Ki Belalang langsung mengikuti
Rangga tidak jauh di belakangnya.
"Ljhat..!" seru Ki Belalang tiba-tiba saja.
Rangga melihat ke arah yang ditunjukkan Ki Belalang.
Tampak bola api yang mereka lihat pertama kali bergerak
meninggalkan sebuah rumah salah satu penduduk.
"Kita ikuti ke mana perginya bola-bola api itu Ki!"
"Aku setuju."
Mereka segera berkelebat mengikuti kedua bola api itu.
Dan ternyata benda-benda aneh yang menyalakan warnawarna kemilau ini menuju Laut Utara lepas.
"Tidak salah lagi, Rangga. Mereka pasti menuju Pulau
Kambangan. Kau harus menyelidikinya, Rangga. Keselamatan
penduduk di daerah ini terletak di tanganmu."
"Mengapa kau begitu yakin aku bisa melakukannya, Ki?"
tanya Rangga heran.
"Setelah melihat kehebatanmu berhadapan dengan
Kelelawar Hijau tadi, entah mengapa aku begitu percaya
dengan kemampuanmu...!" sahut Ki Belalang.
"Sudahlah.... Segalanya kita bicarakan lagi besok," desah
Rangga sambil berlalu meninggalkan pinggiran pantai.
0odwo0 4 Pulau Kambangan yang tampak angker terusap angin
lembut. Pucuk-pucuk pohon kelapa melenggak-lenggok bagai
tarian putri pantai. Kendati demikian, keadaan seperti ini
justru makin menambah seramnya suasana. Apalagi, ditambah
tulang-belulang yang berserakan di Sana sini. Konon, tulangtulang itu berasal dari korban kejahatan Raja Penyihir.
Agak menjorok ke dalam, berdiri kokoh sebuah bangunan
besar bagaikan sebuah kerajaan. Sepertinya, tidak ada
kehidupan di sana. Namun justru di dalam ruangan puri yang
berlantai batu mamer, tengah berkumpul tiga orang laki-laki
berumur sekitar enam puluh tahun. Mereka duduk bersila di
setiap sudut ruangan. Di atas pangkuan mereka terdapat
sebuah kitab tipis berisi ajaran tertentu.
Siapa sebenarnya ketiga laki-laki bertampang seram ini"
Hanya Raja Penyihir yang bernama Bagas Pati sajalah yang
tahu. Kendati demikian, antara Bagas Pati dan pembantu
utamanya yang bernama Laksamana, dengan ketiga laki-laki
ini, tidak saling mencampuri urusan masing-masing.
Walaupun, mereka sama-sama tinggal di tempat yang sama,
di dalam bangunan besar bernama Puri Kambangan ini.
"Semua cita-citaku sudah hampir terlaksana," kata laki-laki
yang berkepala botak dan berbaju serba merah. Suaranya
pelan, tapi nyaring. Sehingga semua orang yang berada di
dalam ruangan dapat mendengarnya. "Sebentar lagi, aku
segera dapat membangun sebuah kerajaan besar dengan
harta-harta yang berhasil kucuri dari penduduk di seberang
pulau ini. Kitab W ijaya Aria ternyata banyak gunanya bagiku,
seluruhnya setelah kupelajari. Aku bisa menjadi pengipri yang
tidak pernah ketahuan para pemilik harta itu! Ha ha ha...!"
"Semua yang berada di sini tahu, kalau Raja Penyihir tidak
pernah mendustai kita, Sumantri! Kitab yang kumiliki pun
benar-benar ampuh. Kurasa setelah berhasil meniduri gadis
suci sebanyak tiga puluh orang lagi, aku benar-benar menjadi
Kelelawar Hijau yang sakti. Betapa beruntungnya aku memiliki
Kitab Kelelawar Hijau ini. Kesaktian kudapatkan. Dan
kesenangan kuperoleh pula," timpal yang berpakaian serba
hijau bangga. "Kakang Manik Kanginan! Kau memang beruntung. Tapi
apa gunanya punya ilmu sakti dan bersenang-senang dengan
gadis-gadis cantik, jika tidak punya harta yang dapat
dibanggakan?" tukas laki-laki botak bernama Sumantri,
bangga. "Aku sudah punya ilmu yang dapat kubanggakan. Dengan
ilmu kelelawar yang kumiliki, aku dapat melakukan apa saja
tanpa ada orang lain yang dapat menghalanginya!" sahut lakilaki berpakaian serba hijau yang bernama Manik Kanginan.
"Tapi katamu, kau baru saja takluk ketika berhadapan
dengan pemuda berompi putih ketika mencari tumbal perawan
di Desa Susukan!" ejek Sumantri sambil mencibirkan bibirnya.
Wajah Manik Kanginan berubah merah mendengar ejekan
adik seperguruannya. Dia bangkit berdiri dengan perasaan
geram. "Pemuda berompi putih yang telah menyerangku malam
itu, tidak akan punya arti apa-apa bila kitab ini telah
kutamatkan seminggu mendatang. Ia akan menjadi korbanku
yang paling berarti!" dengus Manik Kanginan berang.
"Aku percaya. Sebagaimana percayanya ketika tubuhku
berubah menjadi bola api merah dan melakukan pencurian
harta tanpa diketahui pemiliknya," tandas Sumantri.
"Karena Kitab Kelelawar Hijau, aku menjadi sakti. Karena
Kitab W ijaya Arta kau menjadi orang kaya. Dan nantinya pasti
akan mendirikan sebuah singgasana melebihi Puri Kambangan
ini. Dan karena kita....!"
"Jangan sebut-sebut kitabku!" bentak seorang laki-laki lain
yang duduk di sudut sebelah kanan. Dia tampak lebih tua
daripada dua orang lainnya. Hanya yang satu ini selain
memakai pakaian warna kuning yang kedodoran, wajahnya
juga tampak lucu. Rambutnya yang jarang dikuncir
menghadap ke atas.
"Mengapa tidak mau, Kakang Giling Wesi" Bukankah kau
juga mewarisi kitab milik Raja Penyihir?" tanya Sumantri,
heran. "Rupanya saudara kita ini kurang bangga, karena cuma
mempelajari kitab yang dapat membuat orang lupa ingatan
sampai saling bunuh tanpa sebab!" timpal Manik Kanginan.
"Aku malah senang. Kalau perlu, aku bisa membuat kalian
berdua menjadi linglung. Tapi aku lebih bangga membuat
orang lain menderita, daripada menyengsarakan saudarasaudaraku sendiri," desis laki-laki berpakaian kuning yang
dipanggil Giling Wesi dingin
"Sebentar lagi kita telah berhasil menyelesaikan kitab ini.
Lalu.... apa rencana kita selanjutnya?" tanya Sumantri
mengalihkan pembicaraan.
Suasana di dalam ruangan ini berubah sunyi. Tampaknya
mereka berusaha memikirkan apa yang baru saja dikatakan
Sumantri. "Rencana kita cukup banyak Cuma yang kuherankan,
mengapa adik seperguruan kita Lesmana lebih suka mengabdi
pada Bagas Pati?" gumam Giling Wesi, seolah-olah
menyesalkan. "Ya.... Padahal, Bagas Pati sudah sangat tua. Kekuatannya
hanya terletak pada tongkat penyihir itu Kalau Lesmana mau,
tentu bisa mempelajari kitab-kitab ciptaan Bagas Pati. Dia bisa
mendapatkan apa yang kita dapatkan...," kata Manik
Kanginan, ikut menimpali.
"Justru kita yang bodoh. Lesmana termasuk manusia cerdik
Dia tentu saja tidak mau mempelajari kitab-kitab yang sudah
kuno ciptaan Raja Peny ihir. Jika terus mendekati Bagas Pati
dan selalu mengabdi padanya, tentu lama kelamaan Bagas
Pati tidak sayang-sayang lagi menurunkan ilmu sihirnya yang
baru. Secara tidak kita sadari, di antara kita berempat hanya
Lesmana-lah yang berhasil mewarisi ilmu sihir Bagas Pati,"
sergah Sumantri.
"Bodoh! Untuk apa mewarisi ilmu sihir Bagas Pati"! Dulu
kita berempat mampu mengalahkan kakek renta itu. Artinya,
kepandaian yang kita miliki lebih tinggi daripada kepandaian
Bagas Pati," sentak Giling Wesi.
"Sudahlah! Untuk apa kita mengadu mulut" Dulu kita dapat
mengalahkan Raja Penyihir, karena telah memakai akal dan
semua tipu muslihat yang kita dimiliki. Aku tidak mau
bertengkar untuk urusan yang sudah tidak pantas lagi
dibicarakan! Sekarang, aku ingin istirahat." dengus Manik
Kanginan sambil berlalu meninggalkan ruangan pertemuan.
0odwo0 Manik Kanginan sebenarnya bukan menuju kamarnya yang
terdapat di sisi kanan puri, tapi menuju ke sebuah lorong yang
menghubungkan ke bagian taman belakang. Taman yang
sudah tidak terawat ini sebenarnya sebelum Raja Penyihir
menguasai puri, selalu dipergunakan Ketua Puri Kambangan.
Ke tengah-tengah tampak itulah Manik Kanginan
melangkahkan kakinya, menuju sebuah bangku batu. Setelah
memastikan keadaan di sekelilingnya dalam keadaan amanaman saja, bangku batu itu mulai digerak-gerakkan.
Batu lainnya segera bergeser, sehingga terlihat lubang
seukuran kepala manusia. Manik Kanginan lantas menjulurkan
seutas tali yang ada di tempat ini. Sementara dari dalam
lubang terdengar suara mendesis seperti suara ular. Ujung tali
yang dipasang jeratan ini kemudian ditarik ke atas. Tak lama,
terlihat seekor ular sanca seukuran paha laki-laki dewasa
terangkat dan meronta-ronta. Rupanya, ular sanca itu begitu
takut pada Manik Kanginan. Terbukti,. dia terus merontaronta. Manik Kanginan tersenyum sinis. Dielusnya badan ular
hingga membuat makhluk melata ini menggelepar dan
berusaha melepaskan diri. Namun, apa yang dilakukannya
hanya membuat jeratan pada pangkal kepalanya semakin
erat. "Ha ha ha...! Tidak seorang pun yang menyangka bahwa
ular sepertimu adalah wanita sangat cantik, Kemala Dewi.
yang membuatku terheran-heran, mengapa selama itu Raja
Penyihir yang sudah hampir mampus tidak mengembalikanmu
seperti semula" Apakah dia terlalu benci padamu" Atau, kau
memang sengaja bersembunyi darinya?" tanya Manik
Kanginan, seakan ditujukan pada diri sendiri.
"Zzzttt...! "
Ular Sanca yang berada dalam pangkuan Manik Kanginan
mendesis keras. Dia lantas mencoba melepaskan diri dari
Manik Kanginan, namun tidak mempunyai daya apa-apa.
"Dua puluh sembilan gadis yang masih suci harus
berkorban demi ilmu yang kupelajari. Untuk menggenapkannya menjadi tiga puluh, tentu aku dapat
menikmati kehangatan tubuhmu! Pertama yang kulakukan
untuk membebaskanmu dari pengaruh sihir adalah dengan
mencuri tongkat penyihir di tangan Bagas Pati. Dapat kau
bayangkan, betapa aku mempertaruhkan nyawa demi
membebaskanmu dari pengaruh jahat si tua renta itu!" kata
Manik Kanginan, ditujukan pada ular yang berada dalam
pangkuannya. Ular sanca itu kembali mendesis. Kali ini desisannya lebih
panjang dari pertama tadi. Kalau saja Manik Kanginan dapat
mendengar ucapan makhluk jelmaan ini, tentu telinganya
terasa panas seperti terbakar api.
"Kalian sama busuknya dengan yang lain! Aku mengetahui
banyak rahasia yang tidak kau ketahui, Manik Kanginan! Lagi
pula siapa sudi menerima pertolonganmu yang busuk itu?"
kata ular ini dalam desisan yang tak dimengerti Manik
Kanginan. Manik Kanginan yang memang tidak mendengar apa-apa
kemudian tertawa lebar.
"Aku si Kelelawar Hijau akan menaklukkan seluruh tokohtokoh di tanah Jawa ini. Aku akan menjadi orang nomor satu.
Tapi sebelum itu, aku harus menyingkirkan pemuda berompi
putih yang telah menyerangku. Kau dengar itu, Kemala
Dewi.... Kau dengar...?" desis Manik Kanginan seperti orang
kesetanan. "Zzzttt...! "
Suara desisan kembali terdengar. Sambil tersenyum, Manik
Kanginan me lepaskan simpul tali yang menjerat leher ular
sanca bernama Kemala Dewi. Setelah itu, dilepaskannya ular
ke tempatnya kembali, seraya menghembuskan napas dalamdalam "Kau dalam keadaan aman di sini, Sayang. Tunggulah,
sampai aku berhasil mendapatkan tongkat penyihir itu. Aku
akan membebaskanmu. Dan setelah itu tentu. kita dapat
bersenang-senang!" ucap Manrk Kanginan sambil membasahi
bibir. Manik Kanginan kemudian meninggalkan taman ini,
menuju., lorong semula dan kembali ke kamarnya.
0odwo0 Sementara itu pada waktu bersamaan di ruangan lain,
Bagas Pati dan pembantu yang bernama Lesmana sedang
menghadap ke sebuah altar. Di samping altar, terdapat
sebuah lubang besar mirip sebuah sumur yang berhubungan
langsung dengan gua di bawah laut. Di dalamnya hidup
berbagai jenis binatang melata yang sangat berbisa.
Sementara itu di atas altar, tampak terikat tak berdaya
seorang pemuda bertubuh tinggi berbadan kekar. Dia tidak
lain dari Wisesa yang diculik di tengah laut beberapa hari yang
lalu. Tidak jauh dari altar, seorang laki-laki tua renta duduk
bersimpuh sambil memegangi tongkatnya. Hulu tongkat hitam
yang berbentuk kepala ular sendok itu menghadap ke arah
pemuda yang dalam keadaan terikat tidak berdaya. Dia tak
lain dari Bagas Pati yang berjuluk Raja Penyihir!
Tidak jauh di belakang Bagas Pati, duduk seorang laki-laki
berumur sekitar lima puluh tahun, berpakaian serba biru. Dia
tak lain dari Lesmana.
Mereka tampaknya memang sedang memusatkan pikiran
untuk melakukan pengorbanan tumbal.
Bahkan Bagas Pati alias Raja Penyihir menundukkan
kepalanya dalam-dalam. Sesekali ditaburkannya serbuk kayu
cendana ke dalam bara api yang berada di dalam pendupaan.


Pendekar Rajawali Sakti 191 Kelelawar Hijau di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sehingga, terciumlah bau waligi semerbak.
Di dalam lubang di tepi altar terdengar suara hiruk-pikuk
desisan ular sendok yang menebarkan bau amis menusuk
hidung. "Segala-galanya akan dimulai malam ini, Lesmana! Inilah
tumbal terakhir bagi kita untuk sang Raja Ular Sendok yang
bersemayam dalam kegelapan sana," seru Bagas Pati sambil
mengangkat kepala.
"Aku selalu patuh menjalankan perintahmu, Ketua..
Semoga kau tidak ingkar janji!" sahut Lesmana penuh harap.
"Hak hak hak...! Janjiku adalah janji sejati untuk laki-laki
setia sepertimu. Mana mungkin aku mau memungkiri janji"
Dulu sebagai Raja Penyihir, aku memang kalah oleh saudarasaudara seperguruanmu. Tapi mereka waktu itu mempergunakan kelicikan, sehingga berhasil memperdayai
aku!" aku Raja Penyihir.
"Memang.... Waktu itu kami mempergunakan kelicikan
untuk mengalahkanmu. Sehingga, kau terpaksa kehilangan
beberapa kitab penting hasil ciptaanmu. Aku menyatakan
sangat menyesal atas peristiwa itu!" ujar Lesmana tulus.
"Kau tidak perlu minta maaf padaku, " sergah Bagas Pati.
"Memang, kitab yang kuberikan pada saudara-saudara
seperguruanmu itu sangat bagus untuk dipelajari. Kuberikan
semua itu demi perdamaian antara aku dengan saudarasaudaramu. Tapi aku telah menciptakan ilmu dahsyat yang
baru akan kuturunkan padamu, dalam waktu dekat ini,"
tandas Bagas Pati, menjanjikan.
Lesmana jelas merasa gembira atas janji yang diucapkan
Bagas Pati. Hatinya yakin betul, Raja Penyihir tidak akan
membohonginya. Untuk itu, dia senantiasa sabar menunggu
sampai tiba waktunya Bagasi Pati menurunkan seluruh ilmu
sihir yang dimilikinya!
"Sekarang bulan purnama pasti sudah tepat di atas kepala.
Dorong tumbal kita ke dalam lubang biasa. Mulai saat ini
pemuda itu bukan milik kita lagi. Dia milik Raja Ular Sendok
penghuni alam kegelapan sana!" ujar Bagas Pati.
Sebelum Lesmana bergerak melaksanakan tugasnya, Bagas
Pati menekan hulu tongkatnya. Sehingga dari tongkat itu
seleret sinar berwarna biru me luncur deras ke arah Wisesa
yang dalam keadaan tertotok.
Tes! Tes! "Aaa...!"
Wisesa hanya mampu menjerit tanpa daya, ketika sinar biru
itu menyengat tubuhnya. Hanya dalam waktu singkat,
matanya kontan melotot. Lidahnya terjulur keluar. Dan dari
seluruh pori-pori di tubuhnya meneteskan darah berwarna
hitam. "Dia sudah di ambang kematian! Sekarang, tugasmu untuk
memasukkannya ke dalam lubang persembahan!" ujar Bagas
Pati lagi Lesmana segera menjalankan perintah Raja Penyihir.
Kakinya melangkah mendekati W isesa yang sudah dalam
keadaan tidak berdaya.
Dengan mudah sekali, Lesmana berhasil mendorong tubuh
Wisesa ke dalam lubang maut. Selanjutnya, terdengar suara
desisan-desisan pesta pora dari dasar lubang, menyambut
kehadiran sang tumbal.
Desisan-desisan
itu kemudian hilang begitu saja.
Sementara Bagas Pati mengangguk-anggukkan kepala pada
Lesmana. Mereka kembali ke kamar masing-masing. Dan
suasana pun berubah sunyi kembali.
0odwo0 Pendekar Rajawali Sakti menyembunyikan perahunya di
tengah-tengah hutan bakau, ketika telah sampai di bibir pantai
Pulau Kambangan. Ternyata pulau yang mengapung di
permukaan air ini cukup luas juga. Rangga sendiri harus
bersikap hati-hati. Apalagi, tidak tahu apakah benar Bagas Pati
tinggal di puri itu, atau di Pulau Karang Hantu sebagaimana
yang dikatakan Ki Belalang.
Setelah memastikan suasana di sekitarnya dalam keadaan
aman-aman saja, Rangga mulai menyelusup mendekati Puri
Kambangan yang terletak di tengah-tengah pulau.
"Daerah ini begini menyeramkan. Aku merasa seperti ada
berpasang-pasang mata yang mengawasiku!" gumam Rangga
pada diri sendiri.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Rangga
mempergunakan ilmu meringankan tubuh untuk melompati
pagar tembok puri yang cukup tinggi.
"Huup!"
Tap! Walaupun tembok puri cukup tinggi namun Rangga berhasil
juga mendaratkan kedua kakinya di atas tembok dengan baik.
Selanjutnya, diperiksanya ke bagian dalam tembok.
"Tampaknya bekas sebuah taman,," gumam Rangga.
"Sebaiknya, kumulai segala sesuatunya dari sini. Haaap!"
Tubuh Rangga meluncur turun. Begitu menjejakkan kakinya
di bagian taman, Rangga langsung terkejut ketika melihat
seekor ular sanca cukup besar telah mendesis-desis tidak jauh
di samping kirinya.
Pendekar Rajawali Sakti bersikap waspada menjaga segala
kemungkinan. Kakinya digeser pelan-pelan. Pendekar Rajawali
Sakti segera teringat dengan rapalan yang pernah diajarkan
Satria Naga Emas. Dengan rapalan itu, Rangga bisa berbicara
dengan segala macam jenis ular, termasuk siluman ular....
Sebentar mata Rangga terpejam. dengan mulut komatkamit. Lalu....
"Apa yang kau lakukan di sini Ular Sanca" Aku adalah
saudara angkat Raja Ular. Jika kau macam-macam, kau bisa
tanggung akibatnya sendiri, " tegas Pendekar Rajawali Sakti.
Ular sanca itu mengangkat kepalanya. Mulutnya mendesis,
mengucapkan sesuatu.
"Tolonglah aku, Kisanak. Bebaskan aku dari tempat ini.
Tolong aku.... Niscaya aku akan memberimu petunjuk yang
dapat menyelamatkan dirimu sendiri," kata ular sanca ini,
mendesis. 0odwo0 5 Kening Pendekar Rajawali Sakti berkerut dalam. Dia tidak
tahu, apa yang dimaksud ular itu yang meminta untuk
dibebaskan. Bahkan Rangga melihat ular ini meneteskan air
mata. Dari sini Rangga yakin kalau ular ini bukan ular yang
sesungguhnya. "Hm.... Jadi kau sebenarnya hanya ular jadi-jadian?" tanya
Rangga. "Aku sebenarnya adalah seorang gadis, Kisanak. Dulu, Raja
Penyihir telah menyihirku menjadi seekor ular. Aku ingin
Kisanak mau menolongku untuk mengembalikan wujudku.
Setelah itu aku akan membantu kesulitanmu. Bahkan aku
bersedia mendampingimu seumur hidupku! " tandas ular
sanca itu disertai desisan lirih.
"Siapa namamu?" tanya Rangga, mulai percaya.
"Namaku Kemala Dewi," jawab ular sanca ini.
"Bagaimana caranya agar aku dapat membebaskanmu dari
pengaruh sihir Bagas Pati?"
"Caranya adalah dengan mencuri Tongkat Raja Penyihir
Ular Sendok yang penuh keajaiban," sahut ular sanca bernama
Kemala Dewi penuh harap.
"Tentu pekerjaan itu tidak mudah, bukan" Karena, tongkat
sihir itu pasti selalu dibawa Bagas Pati!" tebak Rangga.
"Memang betul, Kisanak...."
"Namaku Rangga. Rasanya di antara kita tidak perlu
berbasa-basi lagi," potong Rangga.
"Kau benar, Rangga, " ujar Kemala Dewi, "Aku tahu selukbeluk puri ini, karena aku dibesarkan di sini. Jadi paling tidak
sekali waktu mereka lengah juga, bukan?"
Rangga terdiam. Kemala Dewi yang berwujud ular sanca ini
tadi menyebut kata 'mereka' itu artinya Raja Penyihir tidak
sendirian. "Berarti selain Bagas Pati masih ada lagi orang lain di sini
bukan?" desak Rangga. "Dapatkah kau katakan padaku, apa
sesungguhnya yang terjadi di tempat ini?"
Kemala Dewi tentu saja setuju. Kemudian dia menuturkan
bahwa sepuluh tahun yang lalu di Pulau Kambangan telah
terjadi kejadian besar yang menyakitkan.
Waktu itu, Raja Penyihir berhasil menaklukkan Penguasa
Puri Kambangan yang bernama Miranti, sekaligus ibu angkat
Kemala Dewi. Bagas Pati berniat memperistri Miranti. Namun
wanita itu menolaknya. Akibatnya, Kemala Dewi anak angkat
Miranti dijadikan sasaran, disihir menjadi ular sanca. Miranti
juga akan mendapat nasib yang sama jika tetap bersikeras
Kisah Para Naga Di Pusaran Badai 8 Pendekar Bayangan Sukma 13 Sumpit Nyai Loreng Kelana Buana 18

Cari Blog Ini