Ceritasilat Novel Online

Pendeta Murtad 1

Pendekar Rajawali Sakti 196 Pendeta Murtad Bagian 1


. 196. Pendeta Murtad Bag. 1 - 4
10. Mai 2015 um 08:28
Pendekar Rajawali Sakti
episode: Pendeta Murtad Oleh Teguh S. Penerbit Cintamedia, Jakarta
? ? 1 Ctar! Ctar! "Heaaa...!"
Lecutan cambuk terdengar berkali-kali membelah, ditingkahi teriakan membahana. Kemudian terdengar derap seekor kuda berwarna coklat yang melesat sejadi-jadinya bagaikan sedang dikejar setan. Penunggangnya seorang laki-laki berusia lima puluhan, tapi masih tampak gagah dan berwibawa. Entah ada urusan apa, sampai dia mengendarai kuda secepat itu.
Begitu sampai di tepi sebuah hutan kecil yang cukup gelap, mendadak laki-laki setengah baya menarik tali kekang kudanya, ketika di depannya pada jarak sepuluh tombak berdiri satu sosok tubuh berpakaian serba merah.
Setelah berhasil mengendalikan kudanya, laki-laki setengah baya itu melompat dengan gerakan ringan. Dan setelah beberapa kali berjumpalitan di udara, kakinya mendarat dengan mulus di tanah. Langsung diawasinya manusia bercadar itu dari kepala sampai ke kaki.
"Siapa kau, Kisanak..." Mengapa kau menghadang perjalananku...?" tegur laki-laki setengah baya itu dengan wajah tak senang.
"Ha ha ha...! Masih ingatkah kau pada seorang perampok yang bernama Sampuraga, Giras Lawa" Kalian telah menghina dan mengeroyok, sehingga dia melarikan diri dari tanah Jawa?" sahut sosok berpakaian serba merah dan bercadar merah yang jelas seorang laki-laki.
"Hah..."! Siapa kau..." Apa hubunganmu dengan perampok kejam dan telengas itu...?" laki-laki setengah baya bernama Ki Giras Lawa ini balik bertanya, terkejut. Wajahnya sedikit pucat. Tetapi, dia berusaha tenang dan mengatasi rasa terkejutnya.
"Ha ha ha...! Kau tak perlu tahu, siapa aku. Yang jelas, aku utusan Sang Pendeta yang akan menghukummu! Heaaa...!" sahut sosok bercadar merah tenang, sambil meluruk dengan golok di tangan berkelebat mengarah tenggorokan.
"Hiaaa...!"
Tetapi sambil berteriak keras Ki Giras Lawa menangkis dengan pedangnya.
Trang! Terjadi benturan dua senjata, membuat masing-masing terjajar beberapa langkah. Namun Ki Giras Lawa telah memutar pedangnya setengah lingkaran, dan langsung meluncur ke tenggorokan sosok yang mengaku sebagai utusan Sang Pendeta.
"Hiih...!"
Laki-laki bercadar merah ini menangkis. Namun pedang Ki Giras Lawa membeset ke bawah, mengancam ulu hati. Maka dengan tidak kalah cepatnya, golok utusan Sang Pendeta membabat pinggang Ki Giras Lawa. Kalau dilanjutkan, tentu keduanya akan mati bersama.
Dan tentu saja Ki Giras Lawa tidak mau mati secara demikian. Maka sambil menarik pedangnya, laki-laki setengah baya ini meloncat mundur.
Melihat Ki Giras Lawa tidak berani mengadu jiwa, laki-laki bercadar tertawa mengejek. Dan dia terus mendesak dengan serangan-serangan keras disertai tenaga dalam tinggi.
Ki Giras Lawa terpaksa meladeni. Tubuhnya seketika melompat ke sana kemari bagaikan gerakan seekor belalang. Sambil bergerak, pedangnya berputar-putar melindungi diri. Sesekali, dikirimkannya serangan balasan.
"Hm...! Hanya begini saja kemampuan manusia sombong Ketua Padepokan Walang Wesi yang mengeroyok Sampuraga! Sekarang, terimalah ajalmu. Heaaa...!"
Disertai teriakan keras, utusan Sang Pendeta menerjang maju. Tenaga dalam penuh dikerahkan. Tulang tangannya sampai terdengar berkerotokan. Begitu berada dua setengah tombak di hadapan Ki Giras Lawa, kedua tangannya dihentakkan.
Zeb! Zeb! Angin pukulan keras terdengar nyata, ketika utusan Sang Pendeta melepas pukulan jarak jauh. Pasir dan daun kering sampai berterbangan ke atas.
Merasa terdesak, Ki Giras Lawa menyambuti. Kedua tangannya cepat dihentakkan disertai tenaga dalam tinggi.
Blarrr...! Terdengar ledakan keras ketika dua tenaga dalam tinggi beradu pada satu titik. Sementara Ki Giras Lawa terhuyung-huyung ke belakang dengan tangan terasa sakit. Pedang yang digenggamnya hampir terlepas.
Melihat ada kesempatan, laki-laki bercadar ini tanpa pikir panjang segera memanfatkannya. Segera dia melompat sambi! menebas Ki Giras Lawa dengan goloknya.
Ki Giras Lawa yang dalam keadaan tak menguntungkan cepat menaikkan pedang ke atas untuk menahan serangan.
Trang! "Uhhh...!"
Begitu pedangnya bertemu golok, kembali telapak tangan Ketua Padepokan Walang Wesi itu terasa perih bukan main. Kulitnya tampak mengelotok. Tidak dapat dipertahankan lagi, pedangnya terlepas dari pegangan setelah terjajar tiga langkah. Belum hilang rasa sakitnya, sebuah tendangan telak menghantam dadanya.
Buk! "Aaakh...!"
Ki Giras Lawa kontan terlempar disertai semburan darah dari sudut bibirnya. Sebagai seorang ketua padepokan, dia tidak mau menunjukkan kelemahan. Cepat tubuhnya melenting bangkit. Tetapi karena sedang terluka, gerakannya jadi tersendat dan kaku.
Hal itu tidak lepas dari pandangan utusan Sang Pendeta. Seketika tangan kanannya dihentakkan. Sebuah pukulan jarak jauh kembali dilancarkan.
Wer...! Jblarrr...! "Waaa...!"
Pukulan itu tepat menghantam perut Ki Giras Lawa yang kontan terlempar. Begitu jatuh di tanah, seluruh isi perutnya bagai terbalik. Matanya terasa gelap. Dia tidak sadarkan diri. Dari mulut, hidung, dan telinga mengucur darah segar. Agaknya laki-laki ini mendapat luka dalam yang parah, dan tinggal menunggu waktu saja.
Tetapi laki-laki bercadar ini seperti tidak puas bertindak. Golok besarnya segera diangkat tinggi-tinggi. Dan sekali tebas....
Crasss...! Tanpa bersuara lagi kepala Ki Giras Lawa tanggal dari tubuhnya. Darah menyembur dari lubang bekas lukanya.
"Hm.... aku akan membawa mayatnya ke Padepokan Walang Wesi," gumam utusan Sang Pendeta.
? *** Padepokan Walang Wesi gempar, dengan ditemukannya mayat Ki Giras Lawa di halaman depan. Para murid padepokan begitu geram melihat keadaan mayat yang mengenaskan. Ketua Padepokan Walang Wesi ini terbunuh dengan kepala terpisah. Yang lebih menggeramkan, di dada mayat terdapat secarik kain berisi tulisan dari darah.
? Yang bertanggung jawab atas kematian ini adalah si Cadar Merah, utusan Sang Pendeta. Ki Giras Lawa telah membayar lunas hutang lamanya pada Sampuraga.
Sekarang semuanya telah selesai.
Si Cadar Merah.
? ? Seminggu setengah penguburan mayat Ki Giras Lawa, kain yang ditulis dari tinta darah itu masih tergenggam erat di tangan pemuda tampan dengan wajah persegi. Badannya kekar, dengan otot-otot bertonjolan. Pakaiannya ketat berwarna merah. Rambutnya selalu berwarna hitam pekat.
"Ayah! Aku bersumpah akan menuntut balas atas perlakuan dan penghinaan ini terhadapmu. Akan kucari orang yang berjuluk si Cadar Merah itu...," desis pemuda yang tak lain anak tunggal Ki Giras Lawa.
Sambil berkata demikian, pemuda ini meremas kain yang digenggamnya. Dengan amarah meluap, tanpa sadar dia mengerahkan tenaga dalam tinggi. Akibatnya, kain itu jadi hancur bagai tepung!
"Sudahlah, Mudrika. Relakan kepergian ayahmu...," hibur seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun yang selalu setia menemani pemuda anak tunggal Ki Giras Lawa yang bernama Mudrika.
"Tidak, Kakang Maharata! Sekarang juga aku harus berangkat!" tandas Mudrika.
"Bukan begitu, Mudrika. Biarlah aku yang akan berangkat mencari si Cadar Merah. Kalau kau berangkat, siapa yang mengurus padepokan ini?" kilah laki-laki bernama Maharata.
"Sebagai pengganti ayah, aku menugaskanmu mengurus padepokan ini. Kau murid utama, Kakang Maharata. Dan lagi, aku ingin membunuh si Cadar Merah dengan tanganku sendiri!"
Maharata hanya mendesah. Tak bisa lagi dia menghadapi tekad putra gurunya ini. Malah sejak kemarin, Mudrika telah membereskan perbekalan yang hendak dibawa. Dia telah bertekad tak akan kembali, sebelum berhasil membalaskan dendam ayahnya. Semua urusan dalam Padepokan Walang Wesi, tadi telah diserahkan pada Maharata. Mudrika memang sudah tidak mempunyai ibu, sehingga kepergian ayahnya merupakan pukulan berat yang tak terhingga.
? *** Berita kematian Ketua Padepokan Walang Wesi, telah mengejutkan kalangan persilatan. Apalagi dalam peristiwa itu disebut-sebut nama Sampuraga, dan si Cadar Merah yang mengaku sebagai utusan Sang Pendeta. Soal Sang Pendeta dan si Cadar Merah, masih asing bagi kalangan persilatan. Tapi nama Sampuraga" Tokoh itu ternyata memang pernah membuat ulah yang menghebohkan.
Para tokoh persilatan tahu, Sampuraga dulu bekas seorang tokoh aliran hitam yang ditakuti. Membunuh, memperkosa, dan merampok sudah merupakan pekerjaan sehari-harinya. Kepandaiannya tinggi dan pengikutnya banyak. Siapa pun akan berpikir panjang kalau harus berurusan dengannya.
Sampai suatu saat, amarah para tokoh golongan putih pun meledak. Mereka bertindak, mengeroyok Sampuraga yang merupakan biang penyakit yang tidak berperikemanusiaan. Akhirnya, Sampuraga berhasil dikalahkan. Namun sayang, dia berhasil melarikan diri entah ke mana. Kalau melihat luka-lukanya para tokoh golongan putih berpendapat, Sampuraga telah binasa. Apalagi setelah sepuluh tahun lamanya, manusia berjiwa iblis itu tidak pernah muncul lagi dalam dunia persilatan.
Lalu, siapa yang telah muncul saat ini..." Apakah Sampuraga yang sekarang muncul sama dengan Sampuraga yang dulu..."! Kalau benar, tentu akan muncul kembali peristiwa besar dan berdarah!
? *** Walaupun saat ini matahari bersinar penuh, namun tak juga mampu mengusir kabut di puncak Gunung Saka ini. Sebagian sinar matahari, memberi suasana cerah di sebuah padepokan yang di kalangan persilatan dikenal sebagai Padepokan Kijang Kencana.
Padepokan ini memang sudah terkenal sejak puluhan tahun yang lalu, karena sering menelurkan pendekar-pendekar digdaya pembela kebenaran dan ketidakadilan. Bahkan para tokoh persilatan mengenal betul, siapa ketua padepokan itu. Dia tak lain dari Ki Burisrawa, seorang tokoh tua berkepandaian tinggi.
Saat ini beberapa orang murid Padepokan Kijang Kencana sedang beristirahat sehabis bekerja di sawah yang terletak didepan pagar padepokan. Padi yang ditanam di sawah tampak tumbuh subur.
Pada saat mereka melepaskan lelah sambil makan dan minum, terlihat serombongan orang yang memikul tandu. Dua dari empat orang yang menggotong tandu, memakai cadar merah dan biru. Sementara yang berada di depan, seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, mirip raksasa. Di belakangnya, dua orang laki-laki bermata sipit dan berkulit putih bersih.
Dengan seenaknya rombongan itu menginjak-injak tanaman sawah milik Padepokan Kijang Kencana. Melihat kejadian yang tak mengenakan ini, para murid menjadi gusar.
"Hei...! Berhenti dulu...! Itu bukan jalanan umum! Apa kalian sengaja mencari gara-gara..."!" tegur murid-murid Padepokan Kijang Kencana.
Mereka marah karena melihat tanaman padi menjadi rusak terinjak-injak para penggotong tandu.
Rombongan ini berhenti. Namun, orang berbadan paling besar yang melebihi ukuran manusia bisa maju ke depan. Dihampirinya murid-murid Padepokan Kijang Kencana yang sudah bersiaga.
"Apa katamu"!" bentak laki-laki tinggi besar berwajah penuh bekas luka, begitu berdiri setengah tombak di hadapan murid-murid padepokan itu.
"Ini hasil jerih payah kami, Kisanak. Hormatilah pekerjaan kami," sahut pemuda murid Padepokan Kijang Kencana yang berdiri paling depan bersama seorang murid lain.
"Hmm.... Di depan Kaladewa kalian jangan jual lagak. Hiih...!"
Begitu habis kata-katanya, laki-laki bertubuh besar bernama Kaladewa ini menyambarkan tangannya, seperti menepuk lalat. Begitu cepat gerakannya, sehingga....
Prokkk! "Aaa...!"
Dengan teriakan menyayat, kedua murid itu binasa dengan kepala pecah. Mereka ambruk tak berkutik, dengan darah menggenangi tanah.
Melihat kekejaman para pendatang ini, beberapa murid langsung menerjang dengan cangkul dan arit.
"Ghrrr...!"
Kaladewa menggerung marah. Dengan menggunakan tangan dan kaki, laki-laki ini meladeni serangan murid-murid Kijang Kencana. Agaknya tenaga Kaladewa sangat luar biasa dan kuat. Dengan sekali tangkis, cangkul, dan arit berterbangan dari genggaman pemiliknya.
Melihat kekuatan tenaga lawan, murid-murid Kijang Kencana mundur dengan muka pucat. Tetapi tindakan mereka terlambat sudah. Karena Kaladewa telah menghampiri dengan langkah lebar.
"Huh...! Rupanya masih ada tikus sawah yang berani melawanku. Sudah bosan hidup rupanya...!" dengus Kaladewa sambil menghantamkan tinjunya.
"Hait!"
Krak...! "Aaakh...!"
Dua orang murid berusaha menangkis. Tetapi begitu terjadi benturan, terdengar suara tulang berderak patah disertai jeritan kesakitan.
Kedua murid ini melompat mundur sambil menyeringai menahan sakit. Tangan mereka terkulai, karena tulang-tulang patah.
"Chiaaat...!"
Salah seorang murid yang bertubuh gempal mencoba menyerang dari belakang. Sementara yang seorang lagi menusuk perut dengan pisau pendek. Namun, Kaladewa, membiarkan saja, seolah hendak pamer kehebatan.
Dug! Murid yang menyerang dengan tinju tersentak kaget, ketika tangannya patah begitu menghantam punggung. Sementara Kaladewa cepat mengayunkan tangan ke belakang.
Prak! Kepala murid bertubuh gempal itu langsung pecah terhantam tangan Kaladewa. Pada saat yang sama pisau murid Padepokan Kijang Kencana mengenai perut. Namun begitu menyentuh bagaikan menusuk karet yang keras dan kenyal. Akibatnya, tangan murid ini tertolak balik.
Melihat serangannya tidak mempan, pemuda yang memegang pisau ini mendelik dengan perasaan tak mengerti. Namun keterkejutannya harus dibayar mahal, karena tangan Kaladewa telah mengibas cepat. Dan....
Prak! "Aaakh...!"
Pemuda naas ini langsung ambruk dengan kepala retak. Sebentar tubuhnya meregang nyawa, lalu diam tak berkutik lagi.
Merasa tidak unggul menghadapi Kaladewa, murid-murid Padepokan Kijang Kencana ini segera berlari memasuki padepokan. Mereka segera memberi laporan pada Ki Burisrawa.
"Huh...! Kutu busuk-kutu busuk yang mencari mati!" dengus Kaladewa.
Kemudian laki-laki bertubuh besar ini memberi aba-aba, untuk memasuki padepokan.
? *** ? 2 ? "Keparat...! Kalian benar-benar iblis jahanam...! Kalau ada urusan, langsung saja dengan aku. Mengapa harus membunuh orang yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa..."!" bentak Ki Burisrawa, begitu berhadapan dengan Kaladewa.
Mendengar bentakan ini, Kaladewa menggeram keras. Otot di tubuhnya bertonjolan. Tampak jelas kalau dia memiliki tenaga yang besar. Dengan mengandalkan kelebihannya, Kaladewa menyerang Ketua Padepokan Kijang Kencana yang berusia sekitar tujuh puluh tahun itu.
Namun, Ki Burisrawa yang berjubah coklat ini tidak tinggal diam, tangannya cepat bergerak memapak. Plak!
"Aaakh...!"
Terdengar suara benturan keras. Tangan Kaladewa kontan bergetar. Malah, kuda-kudanya juga tergeser. Mau tak mau, dia terpaksa mundur dua tindak sambil menggosok-gosok tangannya yang terasa sakit.
Ki Burisrawa sendiri merasa heran. Biasanya, jarang ada yang sanggup menandingi tenaga dalamnya. Tapi bila melihat tokoh persilatan yang menjadi lawannya, hal ini masih dapat dimengerti. Karena selain memiliki tenaga besar, tenaga dalam Kaladewa bisa jadi sudah sangat tinggi.
"Haaat...!"
Ketua Padepokan Kijang Kencana kali ini menghentakkan tangan kanannya, melancarkan serangan jarak jauh sampai menimbulkan angin keras. Sementara Kaladewa agaknya kembali ingin memamerkan kekebalan tubuhnya. Dadanya langsung dikembangkan sambil menyalurkan tenaga dalam untuk menahan pukulan itu. Dan....
Dugk! "Hoagk...!"
Sambil berteriak tertahan, tubuh Kaladewa yang seperti raksasa jatuh telentang disertai lelehan darah dari sudut bibir. Ki Burisrawa yang sedang murka karena beberapa muridnya terbantai, bermaksud menghabisi sekaligus. Tetapi....
Wusss...! Mendadak meluncur angin keras yang berbau harum, Ki Burisrawa membatalkan serangannya. Dia cepat melompat mundur dengan wajah sedikit pucat. Matanya langsung terarah pada tandu, asal angin pukulan tadi.
Ketua Padepokan Kijang Kencana ini tahu betul, pukulan berbau harum yang tadi dihindarinya adalah milik datuk sesat yang telah lama menghilang. Pukulan ini tak lain milik Sampuraga yang sepuluh tahun lalu telah membuat petaka.
"Hm.... Apakah dia masih hidup" Dan kini, kedatangannya hendak membalas dendam, karena aku telah ikut mengusirnya sepuluh tahun yang lalu...," pikir Ki Burisrawa dalam hati.
Tapi, laki-laki tua berjubah coklat ini tidak dapat berpikir terlalu jauh. Karena, dari dalam tandu telah muncul seorang laki-laki setengah baya bertubuh tegap terbungkus pakaian bagai pendeta. Kepalanya gundul, wajahnya ramah penuh senyum, berminyak dan bersinar kekuningan. Tangannya memegang tasbih besar dari emas murni. Semua itu pas dengan pakaian pendetanya yang warna kuning keemasan.
"Selamat jumpa lagi, Burisrawa.... Apa kabarmu selama ini" Apakah baik-baik saja...?" sapa laki-laki setengah baya berpakaian pendeta dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibir.
"Huh...! Kiranya benar kau yang muncul, Sampuraga. Kukira kau sudah mati. Ternyata kemunculanmu kali ini bukan membawa berkah, malah menimbulkan petaka di mana-mana. Apa pula maksudmu dengan berpakaian seperti pendeta..."!" tanya Ki Burisrawa, bernada dingin.
"Hei...! Sopanlah kalau bicara dengan Sang Pendeta, Kalau tidak ingin mati dengan tubuh hancur tidak berbentuk lagi...!" bentak Kaladewa sambil menyusut darah yang masih menetes dari sudut bibir.
"Sang Pendeta..." Kau telah melampaui batas, Sampuraga...! Sebaiknya sadarlah sebelum yang lain datang memusuhi seperti waktu yang lalu...," ujar Ki Burisrawa sedikit memberi nasihat.
"Terima kasih, Sahabat! Rupanya kau masih baik hati padaku...! Inilah sebagai rasa terima kasihku, Hup...!"
Begitu selesai dengan kata-katanya, laki-laki berpakaian pendeta yang ternyata Sampuraga mengibaskan tangan kanannya perlahan saja.
Zeb! Pukulan berbau harum langsung berdesir lembut ke arah Ki Burisrawa. Namun dengan mengerahkan tenaga sekuatnya, Ketua Padepokan Kijang Kencana itu menyambuti dengan menghentakkan tangannya.
Blarrr! "Hugkh...!"
Dua tenaga berkekuatan tinggi beradu. Tampak Ki Burisrawa tersentak mundur. Dadanya kontan terasa sakit dan napas sesak. Padahal, dia melihat Sang Pendeta hanya mengebutkan tangan secara perlahan, seolah tidak mengerahkan tenaga sama sekali.
"Hiaaa...!"
Disertai teriakan keras, Ki Burisrawa menerjang sambil mencabut golok yang langsung disabetkan ke pinggang dan leher Sampuraga.
Walaupun bertubuh agak gemuk, Ki Burisrawa memiliki gerakan gesit bagaikan kijang. Goloknya tampak berkelebat mencari lubang kelemahan lawan.
Namun dengan gerakan biasa saja, Sampuraga berhasil menghalau serangan.
"He he he...! Kepandaianmu kini telah maju pesat, Burisrawa...! Coba tahan ilmuku ini.
Heaaat..!"
Kaki Sang Pendeta menjejak tanah tiga kali.
"Heh"!"
Ki Burisrawa tersentak kaget begitu merasakan tanah yang diinjaknya terguncang keras bagaikan ada lindu. Tubuhnya terhuyung-huyung. Pada saat itu, tasbih emas milik Sampuraga berkelebat.
Cprattt! "Aaakh...!"
Tak ampun lagi, tulang pundak Ki Burisrawa remuk. Goloknya terlepas dari tangan. Sebagai seorang tokoh persilatan, laki-laki tua ini tidak mau menunjukkan rasa sakitnya. Dengan nekat tenaga dalamnya dikerahkan. Kembali diterjangnya Sampuraga dengan maksud mengajak adu jiwa.
Dug! Krek...! Tetapi ketika serangan itu mengena, tangan Ki Burisrawa seperti memukul tembok besi yang kokoh.
Tangan laki-laki tua ini kontan patah menjadi tiga bagian. Sakitnya terasa menusuk ulu hati.
"Hiaaa...!"
Kali ini Ki Burisrawa sudah bertindak nekat. Sambil berteriak keras Ketua Padepokan Kijang Kencana melenting ke udara, lalu melakukan tendangan ke arah kepala.
"Balik...!" teriak Sang Pendeta sambil mendorong dengan telapak tangan terbuka.
Bet! "Aaa...!"
Bagaikan sehelai daun kering, tubuh Ki Burisrawa terpental kembali ke belakang. Ketika menyentuh tanah, tubuhnya berkelojotan sejenak lalu diam untuk selama-lamanya.
Setelah menatap dingin mayat Ki Burisrawa, Sampuraga berbalik dan melangkah masuk kembali ke dalam tandu.
Sementara para murid utama Ki Burisrawa tak ada yang berani bertindak lagi. Di samping merasa ngeri, mereka juga yakin tak akan menang menghadapi orang-orang telengas ini.
Tak lama laki-laki bercadar merah maju beberapa tindak. Matanya tajam mengawasi satu persatu murid-murid Padepokan Kijang Kencana.
"Hm...! Kalian tidak perlu takut. Lihatlah! Apa yang kalian harap dari seorang guru yang tidak memiliki kepandaian apa-apa..." Bila kalian mau menurut dan mengikuti kami, maka di samping mendapat ilmu olah kanuragan tinggi, juga akan mendapat kekayaan dan kesenangan.... Bagaimana" Pilih mati, atau ikut pada kami?"
Laki-laki berpakaian serba merah dan bercadar merah yang tadi mengusung tandu memberi penawaran pada murid-murid Padepokan Kijang Kencana yang masih terpaku.
Para murid ini saling pandang dan berpikir sejenak. Tetapi dasar manusia, mereka kemudian mengangguk.
"Kami semua ikut pada ketua baru...!" seru mereka, serempak.
"Hidup Sang Pendeta...! Hidup Maha Guru Sampuraga...!"
"Hidup Maha Guru, Sampuragaaa...!" mereka berteriak-teriak sekuat tenaga. Suara mereka menggema keempat penjuru lereng Gunung Saka.
*** Sejak Sampuraga dan para pengikutnya menguasai Padepokan Kijang Kencana berikut sisa murid-murid Ki Burisrawa, keadaan di sekitar Gunung Saka berubah kacau balau. Perkosaan dan perampokan merajalela. Tidak hanya dilakukan oleh anak buah Sampuraga, tapi juga oleh bekas murid-murid Ki Burisrawa yang membelot.
Dan sejak itu pula, beberapa tokoh persilatan mulai melirik untuk menghambakan diri pada Sampuraga yang berjuluk Sang Pendeta. Malah, konon sudah ada seorang tokoh hitam yang telah menjadi pengikut Sampuraga. Namanya, Dewi Kencana Wungu. Dia adalah seorang tokoh wanita berpakaian tipis tembus pandang. Menurut kabar, wanita cantik ini sangat telengas. Apalagi kalau sudah menggunakan senjata rahasianya yang bernama Duri Bunga Beracun. Sedangkan senjata yang menjadi ciri-ciri utamanya adalah senjata pedang bercabang dua.
Akibat semua itu, para penduduk desa di sekitar Gunung Saka, mulai pergi mengungsi ke desa lain yang jauh letaknya. Mereka takut jadi bulan-bulanan pengikut Sampuraga. Siapa yang berani melawan, tentu akan binasa dengan keadaan menyedihkan.
Waktu terus bergulir tanpa ada yang dapat menahan. Sementara jerit tangis penduduk yang jadi korban anak buah Sampuraga, seolah tidak berhenti. Sampai saat ini belum ada yang peduli. Terutama, dari tokoh persilatan golongan putih. Entah, mereka tidak mau peduli, atau pura-pura tidak tahu....
*** ? Kabar tentang Sepak terjang Sampuraga dan para pengikutnya jelas merebak ke mana-mana. Tak urung, sampai pula di Padepokan Wesi Kuning yang berada di pantai selatan tanah Jawa. Namun padepokan yang terkenal sebagai padepokan khusus wanita ini belum menanggapi secara sungguh-sungguh. Kendati demikian, bukannya mereka meninggalkan kewaspadaan.
Ketua padepokan ini yang di kalangan persilatan dikenal bernama Nyai Pohaci tak henti-hentinya mengingatkan anak-anak muridnya untuk selalu waspada, di samping memberi jurus-jurus baru untuk bekal menghadapi Sampuraga dan begundal-begundalnya.
Senja baru saja menyapa, ketika murid-murid Padepokan Wesi Kuning yang seluruhnya wanita ini selesai berlatih. Namun ketika mereka hendak istirahat melepas penat, dari luar pagar padepokan berlompatan tiga sosok tubuh dengan gerakan-gerakan indah. Setelah berputaran beberapa kali, mantap sekali mereka mendarat di tanah.
Para murid padepokan tersentak. Mata mereka menyipit melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, didampingi dua orang laki-laki bermata sipit dengan kulit putih bersih.
"Siapakah Kisanak bertiga..." Ada perlu apa datang ke padepokan kami...?" tanya salah satu gadis murid Padepokan Wesi Kuning.
"Aku Awyang Seng. Dan adikku bernama Awyang Hok. Sedangkan yang bertubuh seperti raksasa adalah Kaladewa.... Kami datang hendak menagih hutang lama...," kata salah satu laki-laki bermata sipit yang mengaku bernama Awyang Seng.
"Hutang lama..." Kami tidak mengerti" Lagi pula, kami tidak merasa punya hutang pada siapa pun...!" jawab seorang murid wanita lainnya.
"Jelas kalian tidak mengerti.... Maka, suruh saja Nyai Pohaci keluar dan menemui kami. Katakan, teman lamanya Sampuraga ingin bertemu dengannya...," potong adik Awyang Seng, yang bernama Awyang Hok.
Sebenarnya, mendengar nama Sampuraga disebut, para murid padepokan itu hampir tercekat.
Namun sebagai orang persilatan mereka tak sudi menampakkan rasa takut. Bagi mereka, cerita Nyai Pohaci tentang Sampuraga hanya isapan jempol sebelum ada buktinya.
"Hei...! Sopanlah sedikit kalau bicara. Atau kuusir kalian dengan kasar"!" bentak murid lain, yang memegang cambuk.
"Sebenarnya aku merasa sayang kalau harus membunuh wanita-wanita cantik seperti kalian.... Tetapi kalau kalian membandel dan banyak tingkah, kami tidak akan berlaku sungkan lagi...," tandas Awyang Hok.
"Ucapanmu semakin tidak sopan! Cepat tinggalkan tempat ini! Kami tidak ada waktu main-main dengan kalian...!" hardik wanita itu.
"He he he...! Sombongnya kalian ini. Hmm.... Sebaiknya rasakan dulu sentuhanku ini...!" seru Awyang Seng sambil mengulurkan tangannya ke arah dada wanita itu.
Mendapat serangan yang bersifat kurang ajar dan memandang rendah, wanita itu jadi murka.
"Serang...!" teriak wanita ini seketika.
Tanpa pikir panjang lagi para wanita ini segera menerjang Awyang Seng dan Awyang Hok. Senjata khas mereka yang berupa cambuk langsung menyentak-nyentak mencari sasaran. Suaranya seperti hendak membelah angkasa.
Ctar...! Sebuah cambuk mendadak menjilat ke arah tangan Awyang Seng. Namun dengan cepat, laki-laki dari Tiongkok itu menarik tangannya. Tubuhnya cepat berbalik, langsung mencolek pipi.
"Kurang ajar.... Rupanya kalian ini bajingan yang tidak perlu dikasihani. Mampuslah kalian semua...!"
Pertarungan sengit segera terjadi. Suara lecutan cambuk terdengar berkali-kali. Para wanita itu mengeroyok tiga anak buah Sampuraga karena yakin kalau mereka hanyalah pengacau yang hendak mengganggu padepokan.
"Hiyaaat!"
Tap! Laki-laki bertubuh tinggi besar yang tak lain Kaladewa menangkap tali cambuk, lalu menariknya sekaligus. Dengan tenaganya yang kuat, salah satu wanita yang cambuknya tertangkap langsung terseret dan jatuh dalam pelukan Kaladewa.
"Auuuwww...!"
Kontan wanita itu menjerit-jerit kalap. Namun sambil tertawa-tawa, Kaladewa meraba dan menggerayangi tubuhnya.
? *** ? 3 ? Setelah puas mempermainkan, Kaladewa membunuh wanita murid Padepokan Wesi Kuning itu. Sementara Awyang Seng dan Awyang Hok lebih gila lagi. Mereka merobek-robek pakaian lawannya tanpa rasa kasihan. Jelas, para murid Padepokan Wesi Kuning bukan tandingan walaupun wanita-wanita itu menggunakan cambuk, tapi menghadapi ketiga tokoh sesat yang berilmu tinggi ini, tak ada artinya sama sekali.
Keadaan Padepokan Wesi Kuning jadi kacau. Para murid wanita yang bajunya disobek-sobek berlarian masuk ke dalam bangunan padepokan.
Dalam keadaan yang kacau balau itu, dari dalam bangunan padepokan berkelebat satu bayangan kuning tua ke arah Kaladewa.
Ctarrr...! Tanpa banyak kata lagi, dengan kemarahan luar biasa bayangan kuning itu langsung mengebutkan senjatanya yang berupa cambuk di tangannya.
"Hiih...!"
Kaladewa yang tengah memeluki seorang murid Padepokan Wesi Kuning tidak mau dirinya terhajar cambuk. Dengan cepat didorongnya wanita dalam pelukannya ke depan. Dan bayangan kuning itu juga tidak mau wanita itu terhajar. Maka cepat sekali ditariknya serangan maut tadi.
Tetapi tanpa terduga, Kaladewa menarik kembali dan membenturkan kepala wanita itu pada kepalanya sendiri.
Prok! Tanpa dapat bersuara lagi, wanita itu ambruk binasa dengan kepala pecah. Pada saat yang sama, cambuk sosok ramping berpakaian kuning tua telah menggeliat ke arah punggung Kaladewa.
Jtarrr! "Aaagkh...!"
Punggung Kaladewa robek tersengat cambuk, membuatnya mengeluh tertahan. Laki-laki tinggi besar ini heran. Ternyata, ilmu kebalnya tidak berarti bagi sosok berpakaian kuning tua yang ternyata adalah seorang perempuan tua. Baru disadari kalau kepandaian wanita ini tinggi, sehingga dapat menembus ilmu kebal yang dibanggakan. Maka tak bisa dipungkiri kalau wanita tua itu tak lain dari Nyai Pohaci.
Dengan meringis menahan sakit Kaladewa meloncat mundur. Tangannya cepat mengambil sebongkah batu, lalu dilemparkan pada Nyai Pohaci.
Awyang Seng dan Awyang Hok melihat Kaladewa tidak mungkin dapat mengalahkan Nyai Pohaci. Maka dengan cepat mereka melompat menghadang sambil menghunus senjata masing-masing.
"Siapakah kalian..."! Kudengar kalian mengaku ada hubungan dengan orang yang bernama Sampuraga. Apa benar begitu...?" tanya Nyai Pohaci sambil memutar-mutar cambuknya.
"Benar...! Kami datang kemari diutus Sampuraga untuk menagih hutang lama...," tukas Awyang Seng.
"Kau jangan mengada-ada! Sampuraga telah binasa sepuluh tahun yang lalu...! Katakan saja terus terang, apa maksud kalian...?" tukas Nyai Pohaci dengan suara keras.
Baru saja suara Nyai Pohaci hilang....
"Ha ha ha...!"
Mendadak dari atas genteng terdengar suara tawa menggetarkan disusul berkelebatnya sesosok bayangan. Beberapa kali bayangan itu berputar, lalu mendarat dua tombak di hadapan Nyai Pohaci.
Perempuan tua ini bisa melihat laki-laki setengah baya berpakaian pendeta membawa tasbih besar terbuat dari emas. Sambil melangkah lebar, dihampirinya Nyai Pohaci.
"He he he...! Pohaci! Masih ingatkah kau padaku..." Apa kabarmu selama ini..." Semoga kau baik-baik saja...," sapa laki-laki berpakaian pendeta yang tak lain Sampuraga.
"Eh..."! Kiranya kau masih hidup, Sampuraga.... Kukira kau sudah mati dimakan cacing tanah.... Hm.... Kemunculanmu telah menebar kematian di sini. Rupanya iblis telah menjelma dalam dirimu!" gumam Nyai Pohaci dingin sambil memandang tajam pada Sampuraga.
"Sang Pendeta! Izinkanlah kami membereskan nenek tua yang bawel dan tidak tahu diri ini...!" seru Awyang Seng sambil memutar-mutar pedang berbentuk bulan sabitnya.
"Ssst...!"
"Ada apa, Sang Pendeta...?" tanya Awyang Seng.
"Sopanlah terhadap orang yang lebih tua. Jangan menghina dan kurang ajar seperti itu...," sergah Sang Pendeta, bernada menasihati.
"Kau tidak perlu berpura-pura baik, Sampuraga...! Apa pula maksudmu dengan panggilan Sang Pendeta itu..."!" tukas Nyai Pohaci.
"Aku belajar di daratan Cina, karena telah mencapai ilmu tertinggi dan memiliki kepandaian melebihi para pendeta lain. Maka, mereka memanggilku Sang Pendeta...," papar Sampuraga.
"Sombong...! Manusia macam dirimu tidak pantas memakai gelar itu. Pantasnya Pendeta Murtad...!" desis Nyai Pohaci.
"Bagus! Kau telah membuatku berbuat seperti julukan yang kau berikan padaku...!" jawab Sampuraga tenang sambil mengibaskan tangannya pelan saja.


Pendekar Rajawali Sakti 196 Pendeta Murtad di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Haaap...!"
Zeb! Zeb! Merasakan ada angin serangan menyambar, Nyai Pohaci juga menghentakkan tangannya berusaha memapak.
"Yeaaat...!"
Blarrr! Dua tenaga dalam kuat bertemu. Nyatanya, Nyai Pohaci tergetar mundur beberapa langkah.
?????? "Gila! Tenaganya semakin kuat. Kesaktiannya maju pesat sekali...!" desis Nyai Pohaci.
Mengetahui lawannya sangat tangguh. Nyai Pohaci mendahului dengan serangan cambuknya yang berwarna kuning.
"Uts...!"
Sang Pendeta alias Sampuraga menggeser kakinya ke samping. Lalu dengan gerakan aneh, tubuhnya meliuk ke arah perempuan tua itu. Dua jari telunjuk dan tengahnya, tiba-tiba bergerak menotok ke arah pergelangan tangan. Nyai Pohaci pun tidak mau menjadi sasaran. Seketika tubuhnya berjumpalitan, sehingga berhasil menghindari serangan.
"Bagus! Ternyata kepandaianmu tidak lenyap dimakan usia tua. Terimalah serangan yang berikut ini...!" puji Sang Pendeta.
Dengan langkah-langkah aneh, si Pendeta Murtad memutar tasbih emasnya sampai mengeluarkan suara mengaung. Begitu tubuhnya meluruk, tasbihnya cepat dikebutkan ke kepala Nyai Pohaci.
"Hiih!"
Cepat wanita tua itu menangkis dengan lecutan cambuknya.
"Shaat!"
Jdarrr! Kembali senjata mereka beradu. Untuk kesekian kalinya Nyai Pohaci mundur dengan telapak tangan terasa sakit Memang sejak dulu, kepandaian wanita itu di bawah Sampuraga. Sehingga lambat laun, keadaannya terdesak. Apa pun usahanya untuk mengatasi si Pendeta Murtad, tetap saja tidak berhasil. Semua geraknya seolah tertutup.
Keadaan yang paling mengenaskan adalah para murid Padepokan Wesi Kuning. Mereka dipermainkan secara tak senonoh oleh para pengikut Sampuraga yang rata-rata bekas kaum sesat.
Tidak memakan waktu lama, wanita-wanita bertekad mengadu jiwa. Mereka tidak tahan menanggung malu. Lebih baik mati mengadu jiwa daripada hidup menanggung malu.
Sementara, Nyai Pohaci sendiri tinggal menunggu waktu saja.
"Yaaat...!"
Sambil berteriak keras, wanita tua itu menerjang dengan jurus andalannya yang dahsyat. Cambuknya menggeliat-geliat, mengincar daerah kematian di tubuh Sampuraga. Ke mana pun laki-laki itu menghindar, ujung cambuk selalu mengikutinya.
Namun dengan jurus-jurus anehnya, kembali Sampuraga berhasil mengelakkan semua serangan.
"Ha ha ha...! Cukup sudah kita bermain-main, Pohaci! Sekarang terimalah kematianmu...!" dengus Sang Pendeta.
Begitu habis kata-katanya, Sampuraga melancarkan serangan jarak jauh. Namun sampai sejauh itu, Nyai Pohaci berhasil mengelakkan serangan dengan menggulingkan dirinya ke tanah.
"Hmm.... Boleh juga jurus menghindarmu. Tapi sekarang, kau akan kujadikan kelinci percobaan dari ilmu baruku... Huaeeet...!"
Sang Pendeta berteriak dengan suara nyaring. Mendadak, tubuh Sampuraga mengembang perlahan-lahan. Makin lama, makin tinggi. Badannya membesar. Demikian pula kaki dan tangannya. Wajahnya pun berubah mengerikan, matanya melotot hampir keluar. Pada mulanya tumbuh dua taring pada masing-masing sudut bibirnya. Begitu melangkah menghampiri Nyai Pohaci saat itu juga, bumi seakan berguncang. Sulit sekali untuk berdiri tetap. Sampuraga, kini telah berubah menjadi sosok raksasa yang mengerikan!
"Gila! Ilmu sihir apa yang dipakainya"!" desis Nyai Pohaci seraya melangkah mundur.
Sambil menggeram, tangan raksasa ini terulur dengan maksud mencengkeram kepala wanita tua ini. Tetapi, cepat bagai kilat Nyai Pohaci mengayunkan cambuknya.
Tap! Enak sekali raksasa ini menangkap lidah cambuk. Dan dengan sekali tarik, cambuk itu telah terlepas dari tangan Nyai Pohaci. Bahkan tubuh wanita itu ikut tertarik sampai tersuruk ke tanah.
Raksasa ini bergerak mendekati. Dan hanya sekali injak....
Jrottt..! "Aaa...!"
Saat itu juga nyawa Nyai Pohaci putus dari raga. Teriakannya menggema setinggi langit. Tubuhnya hancur bagai terinjak-injak ratusan gajah. Darah langsung menggenangi sekitar tubuhnya.
Dengan binasanya Nyai Pohaci, habislah riwayat Padepokan Wesi Kuning.
? *** Satu sosok bayangan berkelebat menembus kegelapan pagi buta. Sosok yang bagaikan bayangan setan yang sedang mencari mangsa. Kemudian, bayangan itu mendekati jendela sebuah rumah dan langsung masuk ke dalamnya.
"Kukira kau tidak datang, Mundinglaya...."
Terdengar suara begitu sosok itu menutup jendela kembali. Dia melihat seorang laki-laki setengah baya tengah duduk di bangku kamar rumah ini sambil menenggak tuak.
"Maaf, Balad Kabrang. Aku tadi siang mengikuti seorang pemuda. Setelah kuselidiki, namanya Mudrika. Dia mempunyai tujuan dan maksud yang sama seperti kita. Itulah sebabnya aku datang terlambat...," sahut sosok yang ternyata laki-laki setengah baya bernama Mundinglaya.
"Mudrika..." Siapakah dia" Awas, kita jangan sampai terpancing dan masuk perangkap iblis yang mengaku bernama Sampuraga itu...," ingat laki-laki setengah baya bernama Balad Kabrang.
"Kau tidak perlu khawatir, Balad Kabrang.... Aku bukan anak kemarin sore. Dia telah kuikuti sejak beberapa hari yang lalu...," jawab Mundinglaya.
"Syukurlah.... Semakin banyak yang memusuhi iblis itu, akan semakin baik bagi kita. Tapi, apakah kau tahu asal usul pemuda itu...?" tanya Balad Kabrang, kembali meneguk tuaknya.
"Tentu saja aku tahu. Mudrika adalah anak Ki Giras Lawa, Ketua Padepokan Walang Wesi. Dia sangat dendam, karena ayahnya binasa di tangan anak buah Sampuraga beberapa waktu lalu," papar Mundinglaya sambil mengambil tuak, dan minum sedikit untuk menghangatkan tubuh.
"Baguslah kalau begitu...," desah Balad Kabrang sambil menganggukkan kepalanya.
Dan baru saja mereka hendak mengatur siasat untuk menyerang Sampuraga di Gunung Saka....
"Chiaaa...!"
"Heh"!"
Kedua orang ini tersentak, ketika terdengar teriakan keras yang menyiratkan terjadinya sebuah pertarungan. Tanpa banyak kata lagi, keduanya menerobos jendela, keluar dari rumah ini.
? *** Balad Kabrang dan Mundinglaya tiba di tempat asal suara pertarungan. Mereka melihat seorang pemuda berpakaian ketat warna merah tengah bertarung melawan seorang laki-laki tinggi besar yang dibantu dua orang laki-laki bertampang seram.
"Lihat, Balad Kabrang! Pemuda berbaju merah itulah yang bernama Mudrika...!" tunjuk Mundinglaya.
"Dan dia tengah dikeroyok oleh begundal-begundalnya Sampuraga. Kalau yang bertubuh seperti raksasa, namanya Kaladewa. Entah yang dua lagi...," sahut Balad Kabrang. "Berarti si Mudrika benar-benar ingin membalaskan kematian orang-tuanya...."
"Lalu, bagaimana kita, Balad Kabrang...."
"Kita lihat dulu saja...!"
Pemuda berbaju merah yang memang Mudrika. Dia tahu, laki-laki bertubuh besar itu pasti memiliki tenaga kuat. Maka dia tidak mengadu tenaga, melainkan bergerak mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya saja. Sesekali dikirimkannya tusukan atau tebasan pedangnya.
"Ciaaat!"
Bleng...!"
Sebuah babatan mendarat tepat di dada Kaladewa. Tapi ternyata tak menimbulkan bekas sama sekali!
"Hah..."! Setan ini memiliki ilmu kebal...," sentak Mudrika dalam hati.
Tetapi pemuda tampan ini segera merubah serangannya. Kini sasarannya adalah bagian yang lemah, dan tak mungkin dilatih menjadi kebal. Pedangnya dengan gerakan kilat menyerang mata, tenggorokan, ulu hati dan daerah bawah perut Kaladewa.
"Sialan! Bocah gila! Mengapa seranganmu tidak karuan seperti ini..."!" teriak Kaladewa sambil berloncatan menghindari serangan gencar yang membahayakan.
Melihat Kaladewa terdesak, dua laki-laki bertampang seram segera maju membantu. Tapi, baru saja mencabut senjata, Mundinglaya dan Balad Kabrang telah melompat ke dalam kancah pertarungan.
"Hei! Jangan main curang. Biarkan saja mereka bertarung. Kalau tangan kalian gatal biar kami temani, agar jadi seimbang...," seru Mundinglaya.
Segera kedua laki-laki setengah baya itu menggebrak dua teman Kaladewa. Perkelahian satu lawan satu berlangsung seru. Kedua belah pihak sama-sama secepatnya ingin menghabisi.
Tanpa disadari oleh orang bertarung, tidak jauh dari mereka tampak dua orang laki-laki tua sedang bermain catur diterangi sebuah lampu dari jarak. Mereka seakan tidak mau peduli pada orang-orang yang sedang bertarung mati-matian. Yang berbaju dan berambut putih, sebentar-bentar menggaruk kepalanya.
"Keparat kau, Demong! Kalau jalan jangan yang sulit-sulit seperti ini...!" maki laki-laki tua satunya dengan pandangan tak bergeser dari biji catur.
"He he he...! Sudah kukatakan, hari ini kau akan kalah bila melawanku Sabda Gendeng...! Bagaimana" Menyerah..."!" tukas laki-laki tua yang ternyata Ki Demong dengan wajah berseri. Guci tuaknya selalu menempel di bibirnya.
"Siapa yang mau menyerah" Tidak ada sejarahnya aku kalah darimu pemabuk butut...!" bentak laki-laki satunya yang tak lain Ki Sabda Gendeng.
Kedua kakek ini memang selalu ribut dan tarik urat bila main catur. Tingkahnya seperti anak-anak saja.
Pada saat yang sama, Balad Kabrang berhasil menghantam lawannya dengan sebuah pukulan keras. Hantaman itu disusul dengan tendangan ke arah dada.
Bugk! Tubuh orang itu terpental, dan jatuh tepat ke arah Ki Demong. Dengan cepat laki-laki tua yang berjuluk Pemabuk Dari Gunung Kidul mengeluarkan tangannya.
"Hush...! Pergi sana! Mengganggu orang main saja kau...," seru Ki Demong sambil mengibaskan telapak tangan terbuka.
Wuuuttt! Tubuh itu kontan melayang ke tengah, tepatnya ke arah Ki Sabda Gendeng. Tetapi....
"Eh, malah kemari.... Pergi sana...!" teriak Ki Sabda Gendeng sambil menampar dengan tangan terbuka.
Wuuutt! Kontan tubuh itu melayang kembali ke arah Balad Kabrang. Langsung saja laki-laki setengah baya ini menyambutnya dengan tusukan pedang.
Crap! Orang itu kontan jatuh binasa tanpa mengeluarkan teriakan sedikit pun. Rupanya ketika ditepuk-tepuk Ki Demong dan Ki Sabda Gendeng, nyawanya memang telah melayang.
Begitu juga dengan Mundinglaya. Ketika lawannya membabat leher, dia menunduk sambil mengirimkan tendangan ke perut.
Tapi orang itu juga tidak tinggal diam. Segera lututnya dinaikkan untuk melindungi perut. Dan memang itu yang dikehendaki Mundinglaya. Tiba-tiba kakinya bergerak ke atas. Dan....
Desss...! "Aaakh...!"
Tubuh teman Kaladewa kontan terdorong ke arah Ki Sabda Gendeng begitu dadanya terhantam tendangan Mundinglaya. Dan tanpa menoleh, kakek itu melemparkan biji catur.
Seeet! Taks! Brug! Orang itu jatuh dengan kening berlubang. Di keningnya telah tertancap biji catur berbentuk kuda. Setelah bergelimpangan sejenak, dia menghembuskan napas terakhir.
"Kampret! Mengganggu yang sedang main saja, tahu rasa kalian!" gerutu Ki Sabda Gendeng.
Kini Kaladewa kena batunya. Dia dikeroyok tiga orang. Walaupun kebal dan memiliki tenaga dalam kuat, menghadapi Mudrika yang dibantu Mundinglaya dan Balad Kabrang dia jadi mati kutu!
Sebelas jurus kemudian, Baladewa telah pontang panting. Nafasnya telah memburu keras. Walau kebal, tetapi merasa sakit dipukuli terus-menerus. Bahkan tiba-tiba, Mudrika menusukkan pedangnya ke arah mata....
Cras! Cras! "Wuaaa...!"
Kontan Kaladewa memekik keras. Dia merasakan sakit luar biasa pada dua kelopak matanya. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan Ki Sabda Gendeng dan Ki Demong. Cepat mereka melemparkan biji-biji catur.
Set! Set! Crap! Crap! "Aaa...!"
Seketika biji-biji catur itu menghantam daerah terlarang milik Kaladewa. Kontan mulutnya meringis sambil memegangi kebanggaannya yang pecah terhantam biji catur. Tubuh raksasa itu ambruk dengan jiwa melayang.
Ketika Mudrika, Balad Kabrang, dan Mundinglaya menoleh, dua pemain catur itu sudah tak ada di tempatnya lagi.
? *** ? 4 ? Betapa murkanya Sampuraga mendengar kematian Kaladewa di tangan Ki Sabda Gendeng dan Ki Demong. Bahkan laki-laki yang mengaku sebagai Sang Pendeta ini telah mengirim beberapa pengikutnya untuk mencari Ki Sabda Gendeng dan Ki Demong.
Orang kepercayaan Sampuraga yang diutus mencari kedua tokoh putih berkepandaian tinggi adalah Awyang Seng dan Awyang Hok. Tapi, mencari Ki Sabda Gendeng dan Ki Demong sama saja mencari jarum di tengah lautan. Walau begitu, mereka tidak berputus asa. Sementara lima orang yang menemani telah merasa kelelahan. Apalagi, malam sebentar lagi telah jatuh. Berjalan sejak pagi memang membuat badan terasa penat.
"Tuan Awyang Seng.... Bagaimana kalau kita beristirahat dulu...?" usul salah satu dari lima orang yang menemani, begitu tiba di pinggiran sebuah desa.
"Baiklah.... Aku pun sudah merasa lelah...," sahut Awyang Seng.
"Apakah boleh kami berbuat seperti biasa, Ketua.."!" tanya yang lain sambil tersenyum penuh arti.
"Tentu saja boleh. Siapa yang melarang..." Tapi setelah itu, kalian harus bekerja lebih giat lagi...," ujar Awyang Hok.
"Jangan lupa, bawa makanan serta wanita muda kemari.... Tetapi, ingat! Cukup dua saja agar tidak menimbulkan kecurigaan. Kalian tidak boleh sembrono. Jangan sampai membuat ketua marah...," ingat Awyang Seng kalem.
Sambil tersenyum penuh suka cita, mereka kembali bergerak menuju tengah desa. Kebetulan, di situ terdapat rumah kecil yang sudah tidak terpakai lagi. Walau begitu masih terdapat balai-balai tempat beristirahat orang yang sedang melakukan perjalanan jauh.
"Kalian pergilah. Biar aku dan Awyang Hok menunggu di gubuk ini," ujar Awyang Seng seraya duduk di balai-balai bambu. Demikian pula Awyang Hok.
Begitu mendapat isyarat, kelima orang ini segera bergerak memasuki desa lebih dalam lagi. Namun tanpa disadari, tiga pasang mata tampak bergerak mengikuti.
*** ? "Setan! Ke mana mereka semua. Edan! Sampai sekian lama mereka belum kembali..."!" rutuk Awyang Hok, setelah sekian lama menunggu kelima bawahannya belum juga kembali.
"Kurasa mereka bersenang-senang dulu. Huh! Rupanya mereka ingin merasakan bagaimana enaknya dihukum...!" seru Awyang Seng, kesal.
"Biar kususul saja ke sana...," kata Awyang Hok.
"Tidak perlu! Sebaiknya kita tunggu saja di sini...!" cegah Awyang Seng menyabarkan adiknya.
Kini keduanya merebahkan diri sambil memejamkan mata. Mungkin karena kelelahan, keduanya segera tertidur lelap. Kalau tadi mereka duduk-duduk di balai-balai bambu di depan rumah ini, kini berbaring di ranjang papan di dalam kamar.
Namun baru beberapa kejap terbuai dalam tidur, tiba-tiba telinga mereka menangkap suara ribut-ribut di luar rumah ini. Cepat mereka beringsut dan loncat keluar rumah.
Wut! Wut! Pada saat itu, melayang lima buah karung berisi benda besar ke arah mereka. Kedua kakak beradik itu langsung menyambuti dengan pukulan keras.
"Haiiit!"
Bug! Begkh! Kelima karung terpental balik. Tetapi begitu menyentuh tanah, pengikatnya terbuka. Maka dari dalamnya keluar lima sosok tubuh tidak bergerak lagi.
Ketika kedua laki-laki dari Tiongkok ini menegasi, ternyata kelima orang itu adalah anak buah mereka sendiri yang tadi hendak mencari hiburan di dalam desa.
"Bedebah! Siapa yang berani macam-macam dengan pengikut Sampuraga"!" bentak Awyang Seng seraya memandang ke sekeliling. Dia jadi heran, karena suara berisik tadi mendadak lenyap. Bahkan suasana di depan rumah ini terlihat gelap dan sunyi. Namun....
Wesss...! "Heh..."!"
Betapa terkejutnya kedua laki-laki dari daratan Tiongkok ini ketika dari samping melesat angin serangan yang begitu cepat. Namun sebagai tokoh berkepandaian lumayan, mereka berusaha menghindari dengan melompat ke depan.
Ketika mendarat, mata mereka langsung tertuju ke arah serangan tadi berasal. Ternyata yang menyerang adalah dua laki-laki setengah baya.
Merasa tidak mengenal, kedua kakak beradik dari daratan Cina ini memandang penuh keheranan.
"Hei"! Siapa kalian, Orang Tua"! Mengapa membokong kami secara licik"! Apa tidak malu...?" tegur Awyang Seng geram, seraya bersiaga.
"Ha ha ha...! Aku Mundinglaya. Dan temanku, Balad Kabrang. Terhadap para iblis pengikut Sampuraga, kami tidak perlu main sopan.... Kalian orang asing, mengapa ikut campur dalam urusan ini..." Bukankah kalian sendiri yang tidak tahu malu..."!" tukas sosok penyerang yang ternyata Mundinglaya.
"Perbuatan kami ini tidak seberapa bila dibandingkan tindakan Sampuraga terhadap tokoh rimba persilatan. Dan siapa pun pasti akan berusaha membunuhnya.... Dari dulu, dia selalu membuat kacau dan menimbulkan petaka dalam dunia persilatan. Hmm.... Kalian yang berpihak padanya, pasti setali tiga uang.... Maka bersiaplah untuk mampus...!" sambung laki-laki setengah baya satunya yang tak lain Balad Kabrang.
"Bajingan Sampuraga telah berhutang jiwa padaku...! Kalian sebagai anak buahnya terpaksa kusingkirkan dulu...!"
Mendadak terdengar suara lain, yang disusul munculnya seorang pemuda berbaju merah dari belakang Mundinglaya dan Balad Kabrang.
"Hmm.... Siapa pula kau ini..."!" tanya Awyang Seng.
"Namaku Mudrika. Aku anak Ki Giras Lawa, Ketua Padepokan Walang Wesi. Belum lama ayahku telah dibantai anak buah Sampuraga. Dan kalian sebagai anak buahnya kalian harus turut bertanggung jawab...!" desis Mudrika.
Merasa telah terkurung dan tidak ada gunanya banyak bicara, kedua tokoh dari Cina itu segera mencabut senjatanya. Awyang Seng bersenjata pedang bulan sabit. Sedangkan adiknya sebilah pedang biasa.
"Heaaa...!"
Sambil berteriak keras kakak adik itu masing-masing menerjang Mundinglaya dan Balad Kabrang.
"Sheaaat!"
"Hait!"
Menghadapi jurus-jurus dari tanah Tiongkok, Mundinglaya dan Balad Kabrang masih tampak kebingungan. Sehingga untuk sementara, mereka hanya berusaha mengimbangi sambil mencari titik kelemahan dari jurus-jurus itu. Lagi pula kerja sama kedua tokoh asing itu sangat baik.
Awyang Seng yang bersenjata pedang berbentuk bulan sabit membabati Mundinglaya dengan gerakan tidak terduga. Sebentar ke atas dan ke bawah bagaikan naga yang sedang mengamuk. Langkah kakinya tidak sama dengan langkah ilmu silat yang terdapat di tanah Jawa ini. Kadang kala tubuhnya diam bagai patung, lalu bergerak menyambar-nyambar bagaikan patukan ular.
Sedang Awyang Hok yang berhadapan dengan Balad Kabrang selalu menjaga setiap serangan yang datang dengan kelincahan tubuhnya.
Untuk mengacaukan pertahanan kedua tokoh dari Cina itu, Mudrika seketika meluruk maju sambil membabatkan pedangnya.
Semakin lama pertarungan jadi bertambah seru. Tampaknya mereka berimbang dan sulit mendapat kemenangan dalam waktu singkat. Walau begitu, Mudrika yang mempunyai dendam sedalam lautan terus mengacaukan pertahanan lawan tanpa memikirkan keselamatan dirinya lagi. Pedang di tangannya menusuk dan menyabet cepat. Inilah jurus pedang andalan Padepokan Walang Wesi yang memiliki gerakan cepat dan gesit.
Trang! Tring! "Yaiik...!"
Awyang Hok yang bertugas melindungi selalu bentrok dengan pedang Mudrika. Dalam hal tenaga dalam, laki-laki Cina itu berada di atasnya. Tetapi sayang, dua laki-laki setengah baya yang ikut mengeroyok memiliki kepandaian berimbang dengan kedua tokoh dari Cina itu. Maka bila ditambah Mudrika, Awyang Hok dan Awyang Seng makin terdesak saja.
"Heaaa...!"
Disertai teriakan keras, Awyang Seng menyabetkan pedang bulan sabitnya pada leher Mundinglaya. Namun orang tua itu cepat berjongkok sambil meraup pasir bercampur debu yang ada di tanah. Dan ketika berdiri, tangan yang memegang debu dan pasir itu ditaburkan pada mata Awyang Seng.
Wuurrr...! "Aaakh...!"
Karena tidak menyangka, tokoh daratan Cina itu jadi kelabakan. Pasir dan debu yang masuk matanya telah membuatnya jadi kalang kabut. Dalam keadaan begitu, mendadak sebuah tendangan keras menghantam iganya.
Desss...! "Aaakh...!"
Awyang Seng hanya dapat berteriak tertahan, begitu iga tulangnya patah dan nyerinya bukan kepalang. Tubuhnya pun terhuyung ke sana kemari sambil menekap tulangnya yang patah.
"Ciaaat!"
Balad Kabrang yang melihat kesempatan baik cepat meluruk sambil menebaskan goloknya. Dan....
Cras! "Aaa...!"
Golok di tangan Balad Kabrang berhasil menebas leher tokoh dari Cina itu. Kontan Awyang Seng terguling, dengan darah menggenangi. Sebentar dia meregang nyawa, lalu diam tak berkutik lagi.
?"Awyang Seng...! Keparat! Kalian akan menunggu balasanku nanti!"
Awyang Hok merutuk-rutuk setinggi langit. Dan tiba-tiba tubuhnya berbalik, lalu melesat kabur dari tempat ini. Begitu cepat gerakannya, sehingga Mundinglaya, Balad Kabrang, dan Mudrika hanya sempat terperangah.
Tentu saja, mereka tak ingin membiarkan begundal itu melarikan diri. Cepat mereka berkelebat mengejar.
*** ? "Ada apa Awyang Hok..." Apa yang telah terjadi. Dan, mana kakakmu Awyang Seng...?" tanya Sampuraga, melihat kehadiran Awyang Hok di ruang utama tempat tinggalnya, bekas Padepokan Kijang Kencana di Gunung Saka.
Dengan tersendat-sendat dan napas memburu dibakar dendam, Awyang Hok menceritakan apa yang telah terjadi.
"Edan!"
Si Pendeta Murtad Sampuraga terperangah dan membentak saking marahnya setelah Awyang Hok selesai bercerita. Wajahnya berubah merah membara terbakar amarah. Yang berada dalam ruangan ini tidak ada yang berani membuka suara.
Suasana jadi berubah hening dan sepi. Tarikan napas para tokoh hitam yang berada dalam ruangan ini terdengar jelas.
"Keparat! Hancurkan saja siapa yang berani menentang kita! Hm.... Jadi anak si Giras Lawa hendak menuntut balas padaku" Kalau jumpa lagi, bunuh saja.... Kalian lihat saja! Akan kubuat banjir darah dalam rimba persilatan ini! Siapa saja yang menghalangi, singkirkan! Yang mendukung rencana kita, ajak bergabung!" ujar Sampuraga tegas dengan suara keras menggelegar.
"Bagaimana dengan rencana kita yang satu lagi...?" tanya Dewi Kencana Wungu, yang juga hadir di tempat ini.
"Oh.... Soal itu harus tetap kita utamakan...! Tetapi, harus hati-hati. Jangan sampai tercium orang luar sebelum terlaksana dan matang! Oleh karena itu, kita harus mencari pengikut sebanyak mungkin, untuk mendukung rencana pemberontakan ini.... Kalau aku telah menjadi raja, kalian semua akan kuberi pangkat dan hadiah...!" tandas Sampuraga.
Rupanya mereka tengah menyusun rencana untuk memberontak terhadap Kerajaan Lemah Abang, yang menguasai daerah ini. "Dan kalau...."
Si Pendeta Murtad tiba-tiba menghentikan kata-katanya. Matanya sedikit melirik ke langit-langit. Kegeraman semakin tersirat di wajahnya.
"Ada apa...?" tanya Awyang Hok.
"Hiih...!"
Tanpa menjawab, tangan Sampuraga mendorong ke atas.
Wuuttt...! Selarik sinar merah berhawa panas kontan melesat ke atas dengan kecepatan kilat. Dan....
Bruak! Wuwungan rumah hancur berikut gentengnya. Pada saat yang hampir bersamaan dari atas meluruk dua sosok tubuh. Lalu ringan sekali mereka berhasil mendarat di lantai. Keduanya saling pandang sebentar dengan senyum menjengkelkan.
"Hm...! Kukira siapa yang datang berkunjung. Tidak tahunya si Pemabuk Dari Gunung Kidul dan Ki Sabda Gendeng. Apa maksud kalian datang ke gubukku yang reot ini...?" sambut Sampuraga tersenyum ramah.
Rupanya, setelah mengetahui ciri-ciri dua sosok yang baru datang, Sampuraga langsung mengenali kalau yang ada di depannya adalah Pemabuk Dari Gunung Kidul dan Ki Sabda Gendeng.
"He he he...! Tidak perlu bersikap ramah. Semua pembicaraanmu telah kudengar.... Tidak sangka, kemunculan Sampuraga kali ini malah hendak memberontak pada Kerajaan Lemah Abang yang syah. Sungguh suatu perbuatan dan rencana gila...!" desah Ki Sabda Gendeng.
"Lalu kalian mau apa..." Tentu kalian mau bergabung dengan kami dan mencari kesenangan di hari tua, bukan..." Masa" kalian ingin mencari kematian dengan datang ke tempat ini..."!" tukas si Pendeta Murtad.
"Hua ha ha...! Kalian mengancamku secara halus. Sungguh lucu! Apa kau pikir aku ini anak kecil" Soal mati, bagi kami tidak masuk hitungan. Tapi yang penting, dapat memberi pelajaran pada kalian...!" desis Ki Demong, memandang tajam pada Sampuraga.
"Ketua! Biar kuberi mereka pelajaran agar tahu sopan sedikit kalau berbicara dengan Sang Pendeta...," timpal Dewi Kencana Wungu tenang.
Namun begitu ucapan wanita berpakaian merangsang itu habis, kedua kakek urakan itu telah menyerang ke arah Sang Pendeta. Ki Demong menyemburkan tuak merahnya, sedangkan Ki Sabda Gendeng menyabetkan tongkat hitamnya.
"Pruhhh...!"
Bragk! Bangku tempat duduk Sampuraga hancur berantakan. Tetapi laki-laki itu telah melenting dan mendarat tepat di belakang kedua laki-laki tua ini.
"He he he...! Segala orang tua pikun mau menantangku. Lucunya kalian ini...," ejek Sampuraga, tetap tersenyum.
Kedua kakek itu saling berpandang. Sadarlah mereka kalau kali ini masuk ke sarang macan. Rasanya, sedikit harapan untuk dapat keluar dari ruangan ini dalam keadaan selamat. Kedua tokoh ini sama-sama tersenyum, pertanda telah siap mengadu jiwa.
? *** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 " . 196. Pendeta Murtad Bag. 5 - 8 (Selesai)
10. Mai 2015 um 08:31
? 5 ? Setelah saling memberi tanda, Ki Demong dan Ki Sabda Gendeng menerjang serentak. Tapi anak buah Sampuraga yang berada di ruangan ini cepat menghadang dengan senjata terhunus.
"Pruhhh...!"
Seketika Pemabuk Dari Gunung Kidul menyemburkan tuak merahnya. Butir-butir tuak yang disertai kobaran api langsung melesat.
Crasss! "Aaa...!"
"Hust! Minggir kalian...!"
Ki Sabda Gendeng tak mau kalah. Tongkat hitamnya disabetkan ke sana kemari.
Bletak! "Aaakh...!"
Beberapa anak buah Sampuraga yang berkepandaian rendah langsung ambruk tersembur tuak Ki Demong dan terhantam tongkat Ki Sabda Gendeng. Tetapi, di kandangnya sendiri mereka tidak kenal takut. Apalagi, di situ terdapat si Pendeta Murtad dan para bawahannya yang berilmu tinggi.
Trang! Tring! Beberapa kali terdengar bentrokan senjata. Walau bagaimanapun kedua tokoh urakan yang tangguh itu mempunyai tenaga dan tangan terbatas. Lambat laun, mereka jadi kewalahan dan terdesak. Apalagi setelah dua laki-laki yang bercadar merah dan biru turun tangan. Belum lagi serangan senjata rahasia Duri Bunga Beracun dari Dewi Kencana Wungu.
Laron Pengisap Darah 4 Kitab Mudjidjad Lanjutan Bocah Sakti Karya Wang Yu Partai Rimbah Hitam 3

Cari Blog Ini