Ceritasilat Novel Online

Setan Gembel 2

Pendekar Rajawali Sakti 214 Setan Gembel Bagian 2


"Aku melihat sendiri, Nona. Kepandaiannya sungguh tidak masuk akal!" jelas Mayong dengan suara sedikit tinggi.
Gadis itu kembali terdiam sesaat.
"Antarkan aku kepadanya!" ujar gadis itu datar.
"Sekarang..., eh! Maksudku, apakah Nona tidak berpamitan dulu pada...."
"Mayong! Jangan banyak tanya!" potong Lembayung. "Naik ke kudamu. Dan, kita berangkat sekarang!"
"Eh! Baiklah, Nona!"
Mayong langsung melompat ke punggung kudanya, setelah-menjura hormat. Lalu perlahan-lahan kudanya digebah.
Sementara Lembayung segera mengenakan topi caping lebar dari bambu yang tadi tergolek di tanah. Caping itu untuk menghalangi wajahnya dari pandangan orang. Dan dengan gerakan ringan, gadis ini melompat ke punggung kuda berbulu putih yang tertambat di dekatnya. Segera diikutinya pemuda itu, dan cepat menjajari di sampingnya.
Lama mereka berdiam dud tanpa banyak bicara, sambil menjalankan kuda perlahan-lahan. Sampai suatu ketika Mayong memberi isyarat agar mereka berhenti, lalu membelokkan langkah kudanya.
"Di depan sana ada beberapa prajurit kerajaan, Nona...!" tunjuk Mayong.
"Ya, aku tahu...," sahut Lembayung.
"Bagaimana kalau mereka menemukan kita di sini?"
"Diamlah! Tidak usah kau banyak bicara. Kita harus menghindari siapa pun yang punya hubungan dengan kerajaan!'
"Baik, Nona!"!
? *** ? Desa Jenang merupakan salah satu desa yang biasa dilalui orang bila hendak ke timur maupun hendak ke barat. Tidak mengherankan bila selain penduduk setempat, orang-orang asing pun sering singgah barang sesaat. Atau bermalam barang beberapa hari. Dan bagi para pedagang, hal ini justru dipergunakan untuk berniaga bila keadaan memang cukup ramai.
Bila orang berpakaian gembel biasa yang melintasi jalan utama di desa ini, mungkin hal itu adalah pemandangan biasa. Tapi bila gembel itu membawa-bawa peti mati dan berjalan tanpa mempedulikan keadaan sekelilingnya, tentu saja hal itu cepat menarik perhatian orang di Desa Jenang ini. Apalagi bila gembel itu ternyata tokoh yang belakangan ini menjadi bahan pembicaraan. Bukan saja di kalangan persilatan, tetapi juga bagi semua orang!
"Setan Gembel...!" desis salah seorang pe-ngunjung kedai yang melihat kehadiran laki-laki berbaju compang-camping itu dari jendela.
"Heh"!"
Pengunjung kedai lainnya terkesiap mendengar kata-kata orang itu. Dan tanpa sadar semua orang yang berada di dalam kedai memalingkan muka memperhatikan gembel yang menarik peti di jalan utama desa.
"Mau apa dia ke sini" Apakah ada yang dica-rinya?" tanya seorang laki-laki bermuka bulat dan bertubuh agak kecil.
"Di sini banyak tokoh-tokoh persilatan. Mungkin salah satu di antara mereka ada yang diincar-nya!" sahut yang lain.
'Ya, mungkin saja..."
Dan entah dari mana datangnya, tahu-tahu seorang pemuda bemsia sekitar dua puluh lima tahun menghadang gembel yang tak lain memang Respati alias Setan Gembel.
"Berhenti kau! Aku akan membuat perhitungan denganmu, Setan Gembel!" bentak pemuda berpakaian ketat warna kuning gading.
Respati tidak langsung menjawab. Langkahnya berhenti dan terdiam sejurus lamanya.
"Setan Gembel! Kau telah membunuh ayahku si Pedang Kayu! aku akan membuat perhitungan denganmu!" bentak pemuda bertubuh tegap dengan wajah lebar itu lagi seraya mencabut pedang.
Sring! "Ayo, keluarkan senjatamu! Hadapi Wisesa, anak tunggal si Pedang Kayu! Kita bertarung secara ksatria!" lanjut pemuda bernama Wisesa dengan suara garang.
"Anak muda.... Pergilah. Dan, jangan mengha-lang-halangi langkahku. Kau akan mati percu-ma...," ujar Setan Gembel datar.
"Bedebah! Kau kira aku anak kecil yang bisa ditakut-takuti dengan cara begitu" Huh! Aku tidak peduli, apakah kau bersenjata atau tidak. Lihat seranganku, Setan Gembel! Heaaa...!"
Dengan teriakan membahana, Wisesa melompat. Pedangnya langsung diayunkan, menyambar leher gembel di depannya.
"Hup!"
Setan Gembel melompat ke belakang. Sehingga serangan Wisesa luput dari sasaran. Tapi anak tunggal Ki Tejareksa ini tidak berhenti sampai di situ. Dia kembali mencelat dan menyerang dengan membabi-buta.
"Heaaa! Heaaa...!"
Pedang di tangan Wisesa berkelebat-kelebat seperti hendak mencincang tubuh Respati menjadi beberapa potong. Tapi sekali lagi, Setan Gembel mampu menghindarinya dengan gesit. Tubuhnya bergerak ke atas, lalu tiba-tiba meluruk ke bawah, siap mengayunkan tendangan.
"Uts!"??
Dan itu membuat Wisesa terkesiap. Untung dia buru-buru membuang diri ke samping sambil bergulingan.
Tapi Setan Gembel memang bukan orang yang sabar. Sekali atau dua kali mungkin dia masih mau mengalah. Namun selanjutnya, tahu-tahu dia telah membuka serangan balasan.
"Heaaa...!"
Dengan satu gerakan kilat, Setan Gembel mencelat melepas serangan tangan bertubi-tubi. Wisesa gelagapan. Dia mencoba memapak dengan kelebatan pedangnya.
Wut! Tapi, tidak sedikit pun pedang itu mampu mengenai Respati. Bahkan tiba-tiba kepalan Setan Gembel menghantam dari arah kiri menuju pelipis. Dengan sigap, Wisesa menangkis kepalan dengan tangan kirinya.
Plak! Dan pada saat tubuh Wisesa terjajar, justru satu tendangan keras Setan Gembel menghantam perutnya.
Desss...! "Aaakh...!"
Wisesa jatuh tersungkur sambil memekik kesakitan. Dari mulutnya meleleh darah kental. Dia berusaha bangkit dengan kepayahan. Wajahnya tampak berkerut menahan rasa sakit hebat. Sesaat dia mengejang sambil berteriak lepas, lalu ambruk dan diam tidak bergerak lagi.
Beberapa orang yang menonton pertarungan menatap tak percaya. Dan salah seorang memberanikan diri memeriksa nadi Wisesa saat Setan Gembel berlalu begitu saja sambil menarik peti matinya.
"Dia telah mati...," desah orang yang memeriksa itu, lirih.
"Kejam! Manusia itu betul-betul biadab!"
Baru saja mereka berkata seperti itu, mendadak...
"Berhenti kau, Manusia Laknat!"
Sebuah bentakan keras terdengar, membuat semua mata berpaling ke arah sumbernya. Ternyata Setan Gembel tengah dihadang oleh dua laki-laki bertubuh gemuk, terbungkus pakaian merah tua. Wajah, bentuk tubuh, dan penampilan kedua orang gemuk itu sama persis, bagai pinang dibelah dua. Kepala mereka sama-sama botak. Perbedaan mereka hanya pada letak tahi lalat.
Kedua orang kembar ini memandang Respati penuh kebencian dan dendam mendalam.
"Siapa kalian" Dan mau apa dariku?" tanya Setan Gembel, pelan.
"Kami si Kembar dari Gunung Lawu. Aku Ras-wita! Dan saudaraku Raswata. Kami tidak bisa membiarkan kau pergi begitu saja, setelah membunuh pemuda tadi!" sahut laki-laki kembar yang bertahi lalat di dagu yang bernama Raswita.
"He he he...! Apakah bocah itu, anakmu?"
"Dia masih terhitung keponakan kami!" jawab Raswita, mantap.
"Keponakanmu" He he he...! Pergilah! Dan jangan coba-coba menantangku. Kalau keponakanmu saja mampus di tanganku, maka kalian bukan tandinganku," ujar Respati.
"Kurang ajar! Kau merendahkan kami, he"!" maki laki-laki kembar yang bertahi lalat di hidung. Namanya, Raswata.
"Apa yang bisa kupandang hebat dari kalian" Perut yang buncit itu atau pedang besar yang kalian sandang" He he he...! Itu semua amat menggelikan buatku," sahut Setar Gembel tenang bernada mengejek.
"Keparat!"
Kedua orang kembar itu memaki geram. Dan serentak mereka mencabut pedang, lalu melompat menyerang.
"Ha ha ha...!"
Setan Gembel hanya terkekeh menyambut serangan. Tidak terlihat sedikit pun kalau hatinya gentar. Bahkan dengan sikapnya, kelihatan kalau dia betul-betul menganggap enteng kedua lawannya.
Wut! Bet! "Uts! Hup...!"
Pedang besar si Kembar dari Gunung Lawu itu berkelebat dari dua arah. Dan dengan gerakan kompak, mereka mulai mengurung Respati dengan ketat.
Setan Gembel mencelat ke samping. Dan seketika itu juga, kedua lawannya mengikuti.
"Heaaa...!"
? *** ? Serangan si Kembar dari Gunung Lawu bertubi-tubi. Bukan saja amat cepat, bahkan juga di-dukung oleh kekompakan. Sehingga untuk sesaat terlihat kalau Setan Gembel tidak mampu berbuat apa-apa.
"He he he...! Baru kau rasakan sekarang keadaan dirimu. Sebentar lagi kau akan mampus, Keparat!" desis Raswita.
"Dan riwayatmu akan tamat untuk selamanya!" timpal Raswata.
"Riwayatku tamat" Oleh kalian" Ha ha ha...!" Respati tertawa mengejek.
Saat itu juga, Setan Gembel segera melompat. Dipapaknya kedua serangan yang saat itu sudah meluncur datang dari depan.
"Heaaa...!"
Tak! Tak! Si Kembar dari Gunung Lawu sama sekali tidak menyangka kalau kedua belah tangan pemuda itu bermaksud menangkis senjata. Karena bisa dipastikan kedua tangannya akan putus dalam sekejap mata. Tapi yang terjadi justru sangat mengejutkan! Pedang mereka bagai menghantam batang besi. Dan belum lagi keduanya sempat tersadar, tendangan Setan Gembel yang keras dan beruntun telah meluncur datang. Sehingga....
Des! Des! "Aaakh...!"
Si Kembar dari Gunung Lawu jatuh tersungkur dengan isi dada seperti mau pecah. Sebelum mereka sempat bangkit, Respati telah mencelat. Langsung diinjaknya dada salah satu orang kembar itu disertai tenaga dalam tinggi.
Krak! "Aaa...!"
"Raswitaaa...!"
Terdengar suara berderak tulang patah yang diiringi pekikan setinggi langit. Dan itu masih di-tingkahi jeritan kaget Raswata yang memanggil saudara kembarnya.
"Heh"!"
Kejadian itu menyentak orang-orang yang berada di sekitarnya. Mereka seperti terbangun dari mimpi. Dan ketika beberapa orang mendekati Setan Gembel, maka yang lain menyusul dengan berbondong-bondong mengepung.
"Iblis terkutuk! Perbuatanmu sungguh bia-dab...!" teriak seseorang.
"Iblis jahanam! Bunuh dia! Bunuh dia...!" timpal yang lain.
Serentak mereka mengeluarkan senjata ma-sihg-masing, dan berlompatan menyerang Setan Gembel.
"Heaaa...!" ????
"Habisi dia...!"????
Namun Setan Gembel sama sekali tidak terpe-ngaruh. Hatinya benar-benar tegar sekokoh batu karang. Tidak terlihat sedikit pun merasa gentar oleh keroyokan banyak orang yang bersenjata ber-aneka ragam. Padahal orang-orang itu bukan hanya terdiri dari penduduk desa, tapi juga tokoh-tokoh persilatan yang kebetulan berada di desa ini. Mereka memang telah muak mendengar sepak terjang Setan Gembel.
"Heaaa...!"
Respati menarik napas dalam-dalam. Dan seketika kedua telapak tangannya didorong ke depan. Maka seketika meluncur angin menderu kencang menghantam para pengeroyok.
Des...! "Aaa...!"
Beberapa orang yang tidak sempat menghindar langsung terjungkal roboh ke belakang dengan nyawa putus seketika. Tapi yang lainnya masih mampu menghindar. Lantas dengan penuh amarah, mereka kembali menyerang Setan Gembel.
"Heaaa...!"
"Huh!"
Setan Gembel menggeram. Wajahnya tampak kelam ketika mencibir sinis. Kemudian kedua tangannya disilangkan di dada, dan digerak-gerakkan barang sesaat. Maka dalam waktu singkat, kedua telapak tangannya sampai sebatas siku terlihat bercahaya merah.
"Hei" Bukankah itu pukulan 'Tapak Setan'"!" seru salah seorang dengan wajah kaget.
"Ya! Mungkinkah dia ada hubungannya dengan Iblis Gembel?" sahut yang lain.
Namun belum sempat mereka menghubung-hubungkan pemuda itu dengan seorang tokoh sesat yang telah puluhan tahun menghilang dari dunia persilatan, mendadak...
"Heaaa...!"
Disertai teriakan keras menggelegar, Respati menghentakkan kedua tangannya yang telah bercahaya merah ke depan. Maka seketika meluncur sinar yang bagaikan lidah api menyambar orang-orang di depannya.
Wuusss! Glarrr! "Aaa...!"
Seketika terdengar pekikan kematian. Beberapa orang roboh dengan tubuh hangus seperti terbakar. Dan ketika Setan Gembel kembali mengumbar pukulannya, korban kembali berjatuhan.
Orang-orang yang mengeroyok kini mulai gentar. Dan di antaranya ada yang lari ketakutan. Sementara beberapa tokoh persilatan menggabungkan kekuatan mereka, langsung membalas pukulan yang bernama 'Tapak Setan' itu.
"Heaaa...!"
Wusss...! Namun Setan Gembel tidak tinggal diam. Langsung kedua tangannya menghentak kembali, memapak.
Glarrr! Terdengar suara keras ketika terjadi benturan keras beberapa tenaga dalam tinggi. Lima orang tokoh silat tadi terpental ke belakang. Dan dari mulut mereka meleleh darah segar akibat benturan tadi. Sedang Setan Gembel sedikit terhuyung-huyung ke belakang. Napasnya turun-naik sesaat, namun dalam waktu singkat telah kembali seperti biasa.
"Sekarang kalian rasakan pembalasanku!" desis Respati geram, siap menghabisi kelima lawan-nya.
Tapi baru saja pemuda itu hendak mengangkat sebelah tangan untuk mengerahkan pukulan 'Tapak Setan' kembali, mendadak...
"Kisanak! Cukup sudah sepak terjangmu. Dan, jangan lagi kau membuat korban!"
"Hmm...!"
Respati menggumam tak jelas ketika terdengar suara teguran dari belakangnya.
? *** ? 6 ? Setan Gembel berbalik. Matanya langsung me-nyorot tajam pada pemuda berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung di punggung yang telah berdiri di hadapannya.
"Pergilah, Kisanak! Jangan ikut campur urusan orang! Apakah kau tidak sayang jiwamu?" ujar Respati tanpa tekanan.
Pemuda tampan berbaju rompi putih yang tak lain Rangga yang di kalangan persilatan dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti hanya tersenyum kecut.
"Kisanak pun tak perlu merisaukan diriku. Aku tahu, bagaimana menjaga diriku sendiri. Tapi alangkah baiknya bila kau menghentikan sepak terjangmu. Dengan apa yang kau perbuat hari ini, jelas semua orang akan berusaha untuk membunuhmu," sahut Rangga tenang.
Pendekar Rajawali Sakti yang telah mendengar sepak terjang Setan Gembel setelah diberi tahu Ketua Perkumpulan Pengemis Tongkat Angin memang merasa berkewajiban untuk menghentikannya. Dan dari bicara serta tatapan Setan Gembel, Rangga telah menarik kesimpulan kalau pemuda itu selalu meremehkan lawan bicaranya. Dan hal itu tidak lain karena Respati merasa sebagai seorang tokoh yang tidak terkalahkan.
"He he he...! Pintar juga bicaramu. Tapi aku yakin, kau lebih pintar memilih keselamatan dirimu sendiri. Sebab bila coba mengusikku, maka nasibmu tidak akan lebih baik ketimbang mereka!" ancam Respati, yakin.
"Setan Gembel! Aku hanya memberi kesempatan sekali saja. Sudah cukup korban berjatuhan karena ulahmu. Dan jangan ditambah lagi. Kau harus menyerahkan diri menerima hukuman. Kalau tidak, terpaksa aku yang harus menangkapmu?" jelas Rangga tak kalah gertak.
"Kau ingin menangkapku" Ha ha ha...!" Setan Gembel tertawa mengejek. "Kalau begitu..., heaaa...!"
Dengan teriakan keras, Respati melayangkan satu tendangan keras ke wajah. Namun dengan sigap, Pendekar Rajawali Sakti menarik kaki kanannya ke belakang dengan tangan mengibas ke atas.
Plak! Baru saja benturan terjadi, kaki Setan Gembel yang terpapak telah kembali meluncur. Kali ini sasarannya tulang rusuk Pendekar Rajawali Sakti. Namun cepat sekali Pendekar Rajawali sakti menurunkan tangannya dan mengibaskannya ke samping.
Plak! Begitu kembali terjadi benturan, Rangga memutar tubuhnya. Lalu dengan satu kemposan, kaki kirinya sudah melayang melepas tendangan setengah lingkaran.
Wuuttt! "Uts!"
Tendangan itu lewat di atas kepala ketika Setan Gembel merendahkan tubuhnya dengan gerakan cepat sekali.
"He he he...! Boleh juga kepandaianmu. Tapi jangan kira dengan begitu kau sudah merasa me-nang!" leceh Setan Gembel.
"Aku tidak butuh kemenangan darimu, Setan Gembel. Aku hanya ingin menangkapmu dan me-nyerahkanmu pada orang yang pantas untuk memberi hukuman," tandas Pendekar Rajawali Sakti, mantap.
"He he he...! Kau betul-betul bodoh dan menyia-nyiakan kehidupanmu sendiri, Kisanak!"
"Akan kita lihat, siapa sebenarnya yang menyia-nyiakan hidupnya. Kau ataukah aku!" sahut Rangga tenang.
"Huh!"
Setan Gembel mendengus geram. Kedua tangannya cepat disilangkan di dada. Wajahnya tampak geram penuh amarah.
"Kau akan mampus, Kisanak!" desis Respati.
"Apakah dengan menggunakan pukulan 'Tapak Setan' kau kira bisa lolos dari incaranku?" kata Rangga.
"Kau akan tahu setelah nanti sampai di akhirat!"
Setelah berkata begitu, Setan Gembel melompat menerjang.
"Heaaat...!"
Bet! Tidak seperti menghadapi keroyokan tadi, kali ini Respati tidak mengumbar pukulan. Agaknya dia hendak menyerang dari jarak dekat, karena menyadari kalau pemuda ini memiliki gerakan gesit. Sehingga mudah sekali pukulannya dihindari.
Rangga yang menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' mulai merasakan tekanan yang dilancarkan Setan Gembel. Dan dia merasa tidak boleh gegabah. Malah sebisa mungkin menghindari setiap pukulan serta tendangan yang dilancarkan lawan.
"He he he...! Kau mulai ketakutan, Kisanak! Kematianmu sebentar lagi. Maka, berdoalah sebelum aku mencabutnya!" ejek Setan Gembel.
"Tak ada yang bisa menentukan kematianku, kecuali Yang Maha Kuasa. Dan aku jadi khawatir, ucapanmu malah sebaliknya," balas Pendekar Rajawali Sakti.
"Huh! Kau akan mampus sekarang juga!" dengus Setan Gembel. "Heaaa...!"
Diiringi satu bentakan keras, kedua telapak tangan Respati menghentak ke arah Rangga pada jarak kurang dari tiga langkah. Gerakannya cepat bukan main.
Tapi yang dihadapi adalah Pendekar Rajawali Sakti, seorang pendekar berkepandaian tinggi yang sudah banyak makan asam garam. Tak heran kalau sejak tadi Rangga telah bersiap dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke tangan. Maka begitu melihat lidah api meluncur dari telapak Setan Gembel. Pendekar Rajawali Sakti cepat menghentakkan tangannya, memapaki.
"Aji Guntur Geni'! Heaaa.".!"
Jdarrr...! "Aaakh...!"
? *** ? Rangga dan Respati sama-sama terlempar ke belakang. Pendekar Rajawali Sakti mampu bangkit dengan sigap mesti kedua bahunya turun naik menandakan bahwa pernapasannya tengah tersengal. Mukanya sesekali berkerut menahan rasa sakit. Dan dari sudut bibirnya menetes darah segar.
Sebaliknya Setan Gembel menderita luka yang cukup parah. Pemuda itu jatuh berguling-gulingan sambil berteriak kesakitan. Dari mulutnya beberapa kali memuntahkan darah kental bercampur kehitam-hitaman. Dia berusaha bangkit, namun kembali terjatuh.
Sementara itu, orang-orang yang melihat kejadian ini terkesiap. Mula-mula mereka takut-takut. Tapi setelah mengetahui kalau Setan Gembel tengah tidak berdaya, salah seorang berteriak pada yang lainnya.
"Bunuh Setan Gembel! Ini kesempatan baik. Dia tengah tidak berdaya!"
Teriakan itu disambut yang lain dengan penuh semangat. Maka mereka yang tadi lari pontangpanting ketika Setan Gembel mengamuk, seperti punya kesempatan untuk melampiaskan sakit hatinya.
Respati memang tidak berdaya. Namun pemuda itu sepertinya tidak gentar menghadapi keroyokan. Dia berusaha untuk duduk bersila dengan kepala tertunduk. Gerakannya lemah, seperti tidak bertenaga.
"Heaaa...!"
"Awas...! Minggiiir...!"
Pada saat yang gawat bagi Setan Gembel, mendadak terdengar derap langkah kaki kuda disertai teriakan keras. Orang-orang yang hendak menghabisi Respati seketika buyar, menyelamatkan diri. Kalau tak ingin dilanggar seekor kuda yang ditunggangi satu sosok tubuh berpakaian ketat warna hitam! Kuda itu terus berlari kencang, menuju sosok Setan Gembel.
Slap! Begitu penunggang kuda itu melewati Respati, pununggang kuda itu segera menambah lari kudanya. Dan saat itu juga, tubuh Setan Gembel telah raib dari tempatnya semula.
"Heh"! Ke mana dia"!"
"Hilang" Tidak mungkin...!"
Orang-orang yang ada di tempat ini kaget dan mulai sibuk mencari-cari.
Sementara itu, Pendekar Rajawali Sakti tetap berdiri pada tempatnya, dengan pandangan tetap tertuju ke arah Setan Gembel lenyap tadi. Baru kemudian pandangannya berbalik pada mayat-mayat yang bergelimpangan di jalan utama. Diam-diam dia mengerahkan aji 'Tatar Netra' untuk mengenali sosok penunggang kuda tadi yang telah menyelamatkan Setan Gembel.
"Kisanak... Aku atas nama kawan-kawan mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang kau berikan...."
Pendekar Rajawali Sakti menoleh saat mendengar suara dari belakangnya. Tampak kelima orang yang tadi sempat dihajar Setan Gembel.
"Namaku Setiaji...," lanjut yang bicara tadi.
Rangga menaksir usia laki-laki ini mungkin sebaya dengannya. Tapi empat orang lainnya berusia paling tidak, sudah kepala empat.
"Aku Rangga...."
"Ya! Kami tahu, kau adalah Pendekar Rajawali Sakti...!" tukas Setiaji.
Rangga tersenyum saja.
"Kami lihat kau terluka. Kalau tidak keberatan, sudilah mampir ke rumahku. Tidak jauh dari sini...," lanjut Setiaji.
"Terima kasih. Tapi aku...."
"Harap jangan menolak! Kau harus istirahat barang beberapa waktu untuk menyembuhkan luka dalam yang kau derita saat ini!" tukas salah seorang.
"Benar! Lebih baik ikut kami sebelum luka yang kau derita semakin parah!" timpal Setiaji.
Rangga berpikir beberapa saat sebelum me-nyatakan persetujuannya lewat anggukan.
Baru saja mereka melangkah beberapa tindak, mendadak beberapa orang bergerak mengerumuni peti mati yang tertinggal di jalan utama. Peti mati dari kayu jati, milik Setan Gembel.
"Kuburkan saja peti ini!" teriak salah seorang.
'Tidak! Sebaiknya bakar. Barangkali, setelah dibakar Setan Gembel akan terus sial!"
"Ya, betul! Sebaiknya dibakar saja!"
Rangga kembali melanjutkan langkah diiringi Setiaji dan tiga orang kawannya. Mereka tak ingin memusingkan soal peti mati. Biarlah para penduduk yang mengurusnya.
? *** ? "Ohh...!"
Suara keluhan terdengar saat Respati tersadar. Matanya terbuka namun pandangannya masih samar-samar. Beberapa saat setelah mengerjap-ngerjapkan mata, mulai terlihat batu-batu karang yang mencuat dari permukaan bumi ataupun yang menjorok ke bawah dari langit-langit ruangan.
Pemuda itu mencoba bangkit berdiri namun kepalanya terasa berat. Dan pandangannya kembali berkunang-kunang. Namun sebelum tubuhnya sempat jatuh terhempas kembali seseorang telah menahannya.
"Jangan bangkit dulu, Kakang. Kau tengah terluka parah...!" ujar orang yang menahannya dengan suara merdu.
"Siapa kau?" tanya Respati, penuh tatapan menyelidik.
Setan Gembel memutar pandangan. Lalu matanya mengerjap-ngerjap untuk menegaskan pandangan.
"Kau..., kau...."
"Kau masih mengenaliku, Kakang?" tukas suara itu lembut.
Laki-laki berbaju compang-camping dan penuh tambal itu memalingkan muka sambil mendesah pelan.
"Kaukah yang menolongku, Lembayung...?"
"Betul, Kakang Respati!"
"Kenapa kau lakukan itu" Bukankah sebenar-nya kau senang kalau melihatku mati?" desis Respati dengan senyum kecut.
"Kakang, jangan berkata begitu! Siapa bilang aku menghendaki kematianmu"!" seru gadis yang dipanggil Lembayung cepat.
Pemuda itu terdiam beberapa saat. Pandangan matanya lurus ke arah langit-langit ruangan yang kusam. Di beberapa tempat terlihat sarang laba-laba.
'Tapi kau sangat menghendaki kematian Kemala...," gumam Respati, suaranya terdengar ga-lau.
"Aku tahu, dia kakakmu, Kakang! Tapi kenya-taannya, Kak Kemala terlalu mengumbar nafsunya. Gampang tergoda oleh rayuan laki-laki."
"Cabut kata-katamu, Lembayung! Kakakku Kemala kini telah mati akibat sering dikhianati. Dia mati bunuh diri! Dan aku harus membalas pada orang-orang yang mengkhianatinya!" teriak Respati, dengan nada tinggi.
'Tapi sekarang, tindakanmu sudah terlalu jauh...," desah Lembayung.
"Mereka sendiri yang menginginkan kematiannya. Lantas, apa aku salah kalau harus membela diri?" tukas Respati.
"Tapi kau terlalu kejam dan jumawa."
"Itu urusanku!"
Lembayung langsung terdiam mendengar bentakan Respati. Sungguh dia tak mengira kalau pemuda ini telah benar-benar berubah. Sepuluh tahun yang lalu dia mengenal Respati sebagai pemuda ramah, lembut, sopan, dan penuh tata krama. Tapi sekarang" Respati kini tak lebih dari seorang pemuda brangasan dan jumawa.
Gadis ini dulu mengenal Respati dan Kemala sebagai anak seorang adipati dari Kadipaten Sega-rawedi yang termasuk wilayah Kerajaan Linggapura. Mereka bertiga sama-sama menimba ilmu olah kanuragan di perguruan yang sama. Perguman Kilat Kencana.
Sejak itu hubungan mereka kian akrab. Bahkan antara Respati dan Lembayung telah tertanam benih-benih cinta. Sementara Kemala hanya berguru selama dua tahun saja, karena menikah dengan seorang tokoh persilatan.
Namun sejak Kemala diketahui telah bunuh diri akibat ditinggal suaminya, hubungan cinta Respati dan Lembayung terpenggal di tengah jalan. Respati yang amat mencintai kakaknya, menjadi marah terhadap orang-orang yang mengkhianati kakaknya. Dia merasa orang-orang itu harus bertanggung jawab. Oleh sebab itu pemuda ini berniat membalas dendam.
Tentu saja dengan kepandaian yang belum se-berapa Respati merasa belum mampu mengalahkan mereka. Maka sejak itu Respati pamit pada Lembayung untuk pergi ke Hutan Rogo Jembangan, yang katanya akan berguru pada Iblis Gembel.
Semula Lembayung tak mengizinkan. Tetapi, tekad Respati telah bulat tanpa bisa digugat. Akhirnya dengan berat hati, Lembayung mengizinkannya. Sambil terus berlatih ilmu kadigdayaan di Perguruan Kilat Kencana, Lembayung bertekad menunggunya.
Lembayung yang merupakan anak seorang kepala desa yang berada di wilayah Kadipaten Se-garawedi, akhirnya tak kuasa menunggu Respati. Apalagi sejak sepuluh tahun kepergian Respati, hampir tak ada kabar berita. Maka ketika ada pi-nangan dari Gusti Pangeran Kerajaan Linggapura, atas desakan orangtuanya, Lembayung meneriman pinangan itu. Walaupun, sebenarnya gadis itu masih mencintai Respati.
Dan baru beberapa hari Lembayung menikah, terdengar kabar kalau saat ini terjadi keresahan di mana-mana oleh munculnya seorang tokoh berjuluk Setan Gembel. Mendengar nama itu, Lembayung teringat pada Iblis Gembel. Mengingat Iblis Gembel, gadis ini langsung teringat Respati. Maka dengan menyuruh pembantunya yang bernama Mayong, Lembayung terus memata-matai Respati alias Setan Gembel.
"Apa ini...?" tanya Respati dengan nada curiga, ketika Lembayung mengangsurkan cawan berisi ramuan.
"Kau curiga padaku" Kau menyangka aku me-racunimu" Kalau memang aku menginginkan kematianmu, telah sejak tadi kulakukan," tukas Lembayung.
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu...."
"Minumlah. Ramuan obat ini akan memulihkan luka dalammu...."
Tanpa banyak bicara Respati menenggak ramuan obat itu sampai habis.
"Duduklah bersila. Akan kubantu kau mem-bangkitkan tenaga dalammu kembali," lanjut gadis itu seraya duduk bersila di belakang Respati.
Tanpa banyak bicara pemuda itu mematuhi-nya. Sementara Lembayung segera menarik napas panjang. Lalu kedua telapak tangannya ditempel-kan erat-erat ke punggung Respati.
Beberapa saat lamanya mereka dalam keadaan demikian. Wajah pemuda itu beberapa kali berkerut. Keringat sebesar butiran jagung keluar dari seluruh pori-pori di tubuhnya. Demikian pula halnya Lembayung.
"Hufff...!"
Gadis itu menghela napas panjang ketika me-nyudahi penyaluran tenaga dalam ke tubuh Respati. Mukanya sedikit pucat. Dan sesaat dia mengatur pernapasan. Sementara Respati batuk-batuk kecil disertai percikan cairan merah agak kehitam-hitaman.
"Kurang ajar! Pukulan orang itu ternyata hebat sekali!" maki Respati geram.
"Sudahlah, Kakang. Tidak lama lagi kau akan sembuh...," hibur gadis itu.


Pendekar Rajawali Sakti 214 Setan Gembel di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

'Terkutuk! Tidak semudah itu. Si keparat itu telah memunahkan ilmu kebalku. Sehingga, kini aku sama dengan yang lainnya!" maki Respati lagi.
"Masih untung ilmu kebalmu hebat. Sebab kalau bukan karena itu, kau sudah binasa...."
"Kau memang benar. Siapa sebenarnya orang itu...?"
"Apakah kau benar-benar tidak mengenal-nya?"
Respati menggeleng lemah.
"Dialah yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti."
"Pendekar Rajawali Sakti" Hm, pantas! Namanya selama ini sering dibicarakan orang. Dan kepandaiannya ternyata tidak jauh berbeda dari yang pernah kudengar...."
"Dia memang hebat, Kakang. Untuk saat ini memang sulit mencari tandingannya...."
Mendengar itu Respati tersenyum.
"Kau kira begitu" Aku belum merasa kalah olehnya. Dia akan mati olehku!" desis Respati.
"Apa maksudmu, Kakang" Kau ingin membu-nuhnya?" wajah gadis itu tampak cemas mendengar tekad Respati.
"Dia harus mati di tangan Setan Gembel!" desis pemuda ini seraya mengepalkan kedua tangan.
"Kakang! Lebih baik kau urungkan niatmu itu. Kau akan tewas di tangannya...!" seru Lembayung dengan wajah cemas.
"He, bicara apa kau"!" dengus Respati dengan wajah geram.
"Kakang! Pendekar Rajawali Sakti bukanlah tokoh sembarangan! Lebih baik jangan berurusan dengannya...," pinta Lembayung dengan suara penuh harap.
'Tutup mulutmu! Aku bukan Respati yang dulu. Aku si Setan Gembel murid Iblis Gembel! Mana mungkin bisa dikalahkannya. Kau tidak usah menguruaku!" dengus pemuda ini seraya bangkit dan bergegas keluar dari tempat itu.
"Kakang! Mau ke mana kau"! Kau masih terluka! Jangan terlalu banyak bergerak!" seru Lembayung, segera mengejarnya keluar dengan wajah khawatir.
"Lembayung! Jangan campuri urusanku! Pergi kau!" bentak Respati seraya berlari cepat meninggalkan gua yang tadi ditempati.
Lembayung berdiri di mulut gua seraya memandangi kepergian pemuda itu dengan pandangan sayu. Respati memang telah berubah. Tidak lagi seperti dulu. Sekarang dia kelihatan kasar, sombong, dan tidak tahu berterima kasih. Beda betul dengan Respati yang pendiam, rendah hati, dengan tutur kata penuh sopan santun.
? *** ? 7 ? Seorang pemuda berpakaian ketat warna hitam melompat turun dari kudanya dan langsung menjura hormat pada Lembayung.
"Hormat hamba, Tuan Putri...," ucap pemuda itu.
"Mayong! Kita berada dalam penyamaran! Tinggalkan segala peradatan istana! Panggil aku seperti yang telah kuperintahkan," ujar Lembayung mengingatkan.
"Baik, Tu..., eh! Nona Lembayung," sahut pemuda yang tak lain Mayong, pengawal sekaligus mata-mata Lembayung. "Aku telah membawa obat-obat yang Nona Lembayung perintahkan."
"Percuma saja kau bersusah payah mencari obat itu, Mayong," desah Lembayung, wajahnya berubah mendung seketika.
"Kenapa, Nona?"
"Dia telah pergi...."
"Respati?"
Gadis itu mengangguk. Lalu dia melangkah untuk mengambil caping bambunya.
"Sudahlah. Ayo!" ujar Lembayung seraya me-ngenakan capingnya.
"Baik, Nona!"
"Bagaimana keadaan di luaran sana?" tanya gadis bercaping ini seraya beranjak ke dalam gua.
Mayong mengikuti setelah menambatkan kudanya di tempat yang tersembunyi.
"Prajurit-prajurit kerajaan dikerahkan untuk mencari Nona...."
"Gusti Pangeran juga turut mencari?" tanya Lembayung khawatir.
"Benar, Nona!'
Gadis itu terdiam seraya membenahi barang-barangnya yang ada di dalam ruangan gua.
"Apakah Nona tidak berkenan di tempat ini?" tanya Mayong.
'Ya. Kita akan pindah, Mayong."
''Ke mana lagi, Nona?"
Gadis itu menoleh dan tersenyum getir. "Apakah kau tidak suka kalau aku kembali ke istana?"
"Oh! Nona hendak kembali"! Tentu saja aku senang! Aku senang sekali, Nona!" seru Mayong. Gadis itu mengangguk pelan.
"Gusti Pangeran tentu akan senang sekali! Tapi..., tapi apa alasan kita bila bertemu beliau?" tanya Mayong, dengan suara ragu seraya memandang majikannya.
"Katakan saja kalau kita diculik seseorang...."
"Diculik seseorang" Bagaimana mungkin, Nona" Istana keputren dijaga ketat. Bagaimana mungkin seorang penculik bisa masuk tanpa diketahui prajurit" Lalu, untuk apa dia menculik Nona?"
Gadis itu tersenyum melihat wajah Mayong yang kelihatan kusut karena pikirannya berke-camuk.
"Itu soal mudah. Serahkan saja padaku."
'Tapi..., tapi bagaimana kalau aku pun dita-nya?" tanya Mayong lagi.
"Mayong! Aku akan katakan bahwa kita diculik Setan Gembel...."
"Respati" Apakah Nona hendak mencelakai-nya" Ah, aku jadi pusing sendiri memikirkan semua itu. Nona lari dari istana karena ingin bertemu dengannya. Dan kini tiba-tiba menginginkan orang itu ditangkap," keluh Mayong dengan dahi berkerut, memikirkan jalan pikiran majikannya.
"Itu dulu, Mayong. Kau mungkin benar, bahwa Respati kini telah banyak berubah. Dia bukan lagi Respati yang kita kenak dulu saat di Perguman Kilat Kencana. Kau pun dulu tahu, bagaimana sifatnya. Tapi sekarang" Dia tak lebih dari manusia pongah berhati batu. Dia harus ditangkap dan dihukum mati!" desis gadis itu.
"Oh, begitukah" Syukurlah kalau memang Nona telah sadar...," sahut Mayong lagi. Bibirnya bisa menyungging senyum setelah mengerti sedikit, kenapa tiba-tiba majikannya yang dulu juga teman seperguruannya berubah pikiran.
"Aku ingin agar kau menghubungi Pendekar Rajawali Sakti nanti...," lanjut gadis itu seraya beranjak keluar.
"Untuk apa?" tanya Mayong sambil mengikuti majikannya.
"Bujuk dia agar mau membunuh Setan Gembel! Berikan apa pun yang dimintanya sebagai im-balan!"
"Baiklah, Nona. Akan kutemui dia nanti...."
? *** ? Telah semalaman Pendekar Rajawali Sakti duduk bersila di atas dipan beralaskan tikar pandan, ditemani lima orang penduduk Desa Jenang yang selalu melayani kebutuhannya dengan telaten. Bahkan sambil terkantuk-kantuk mereka tetap setia menunggu dan menjaga tidak jauh dari Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga tersenyum. Pagi telah tiba. Dan hawa dingin segar telah menyeruak ke dalam ruangan. Sementara itu kelima penduduk desa itu kelihatan tidur pulas. Dua orang terlelap di kursi. Dan dua lagi berdesak-desakan di dipan kayu yang berada di dekatnya. Sementara yang seorang terlelap dengan kedua tangan bertelekan pada tepi dipan yang didudukinya saat ini.
Pendekar Rajawali Sakti merasa tubuhnya lebih segar setelah beberapa kali memuntahkan darah kental sedikit kehitaman. Untungnya Setiaji telah membuat ramuan obat yang bisa memulihkan peredaran darah serta menyembuhkan luka dalamnya dengan cepat. Masih untungnya lagi, Rangga memiliki tenaga dalam tinggi sehingga mampu bertahan dari hantaman pukulan yang menghajar dadanya.
Tengah larut dalam lamunannya, Setiaji terjaga dan menguap panjang.
"Astaga! Kau tidak tidur semalaman, Sobat?" seru Setiaji kaget.
'Tidak. Dalam keadaan begini, sama artinya tidur...," sahut Rangga.
"Bagaimana keadaan lukamu?" tanya Setiaji kembali seraya membangunkan keempat kawannya.
"Sudah agak lebih baik..."
"Syukurlah. Akan kusuruh istriku membuat ramuan lagi. Setelah sarapan, kau harus meminumnya agar lukamu cepat sembuh."
'Terima kasih, Sobat"
Setiaji beranjak ke dalam. Sementara keempat kawannya menyusul satu persatu.
Rumah ini sebenarnya milik Setiaji. Dia hanya tinggal berdua bersama istrinya. Adapun keempat kawannya itu tinggal tidak begitu jauh. Namun, mereka sering berkumpul di sini. Bahkan pada malam-malam tertentu mereka berlatih ilmu olah kanuragan bersama. Semua itu diceritakannya pada Rangga tadi malam. Dan dengan penuh harap, Setiaji meminta agar pemuda ini sudi menurunkan ilmunya sedikit kepada mereka.
Setiaji dan keempat kawannya telah kembali ke tempat Rangga berada. Masing-masing di tangan mereka membawa kopi dan penganan kecil. Mereka kini telah berkumpul di ruang depan. Wajah Pendekar Rajawali Sakti itu kelihatan lebih segar daripada semalam.
"Bagaimana dengan permintaan kami semalam, Sobat" Bersediakah kau mengabulkannya?" ulang Setiaji.
Empat orang lainnya yang ada di tempat ini mengangguk-angguk seraya memandang penuh harap pada Rangga.
"Kami seperti murid-murid yang berlatih tanpa petunjuk seorang guru. Jangan-jangan malah bukan kemajuan yang diperoleh, tapi kemunduran," sahut salah seorang.
"Benar apa yang dikatakan Kang Kari, Sobat. Selama ini kami malah sering bingung, tapi tidak tahu kepada siapa harus bertanya," timpal Setiaji.
Rangga tersenyum.
"Aku senang sekali mendengar kalian percaya padaku. Tapi, maaf. Dan kuharap kalian semua tidak salah paham. Aku bukanlah guru yang baik Lagipula, kehadiranku di sini tidak lama. Bagaimana mungkin bisa membimbing kalian?" jelas Rangga.
"Memang sangat disayangkan. Tapi sebagai tokoh persilatan ternama, kau pasti bisa menunjukkan barang satu atau dua jurus kesalahan-kesalahan yang kami perbuat. Dan, bagaimana seharusnya perbaikan yang harus kami lakukan...," sahut Setiaji berharap.
"Benar, Sobat. Meski seujung kuku sekalipun, kami berharap betul kau sudi membimbing!" timpal yang lain.
Rangga kembali terdiam sambil tersenyum. Di-pandanginya mereka satu persatu. Wajah-wajah itu kelihatan penuh harap kepadanya.
"Baiklah...," sahut Pendekar Rajawali Sakti pendek.
Serentak wajah mereka berseri mendengar jawaban pemuda itu.
"Kalian berlima memiliki ilmu silat berbeda. Apabila hal itu digabung, maka akan terlihat jurus-jurus yang saling melengkapi. Yang kurang akan ditambah oleh jurus yang lain. Nah! Sebelum kucari di mana kekurangan serta kelebihannya, maka perlihatkan padaku jurus-jurus yang kalian miliki," lanjut Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Baiklah. Kalau begitu mari kita ke belakang!" sahut Setiaji, langsung mengajak kawan-kawannya.
Tapi baru saja mereka hendak beranjak, tiba-tiba pintu depan diketuk dari luar. Buru-buru Setiaji membukakan pintu. Di situ berdiri dua sosok tubuh. Yang seorang berusia lanjut. Dan dia kenal betul, sebab orang tua itu adalah tetangganya. Sedang di sebelah orang tua itu seorang pemuda yang sama sekali asing.
'''Ada apa, Ki Projo?" tanya Setiaji.
"Aduh.... Maaf, Setiaji. Tuan ini ingin bertemu denganmu," sahut laki-laki bernama Ki Projo.
"Oh, silakan masuk, Ki. Dan kau, Kisanak."
"Kalau aku langsung saja, Setiaji. Masih ada urusan lain."
Setelah berkata demikian, Ki Projo segera ber-lalu. Setiaji tak menahannya, dan segera mengantarkan tamunya masuk.
"Menurutnya, dia ada keperluan lain...," jelas tamu yang diantar Ki Projo.
"Oh, ya" Hm.... Kisanak siapa" Dan, ada keperluan apa mencariku?" tanya Setiaji begitu mereka duduk di mangan.
"Namaku Mayong. Dan sebenarnya aku ingin bicara dengan...."
Pemuda itu tidak meneruskan kata-katanya, melainkan tersenyum seraya menunjuk Pendekar Rajawali Sakti yang masih berada di ruangan ini bersama yang lain.
"Rangga?"
Mayong mengangguk.
"O, silakan kalau begitu!" sahut Setiaji.
Setiaji bangkit. Langsung dipersilakannya Rangga untuk duduk di dekatnya.
"Apakah dia kawanmu, Sobat?" tanya Setiaji sambil tersenyum.
Rangga menggeleng perlahan.
'Tidak..."
"Hm.... Kalau begitu, di mana kau kenal Rangga?" tanya Setiaji kepada tamunya.
? *** ? "Aku belum pernah kenal dengannya. Ada sesuatu yang harus kubicarakan berdua dengannya. Bolehkan?" tanya Mayong sopan.
"Kenapa aku mesti percaya padamu?" sahut Setiaji, bernada curiga.
"Aku utusan kerajaan...," sahut Mayong seraya mengeluarkan lencana lambang Kerajaan Linggapura.
Melihat itu Setiaji dan keempat kawannya serentak menjura hormat.
"Maafkan kami, Tuan...!"
Satu persatu mereka meninggalkan ruangan ini.
''Nah, katakanlah padaku. Kepentingan apakah sehingga pihak kerajaan mengutusmu untuk menemuiku?" tanya Rangga.
"Aku adalah pengawal pribadi Kanjeng Gusti Lembayung, calon permaisuri kerajaan ini. Beliau menginginkan agar kau menangkap Setan Gembel. Hidup atau mati...."
"Menangkap Setan Gembel. Hm.... Apa urusannya dengan junjunganmu?" tanya Rangga dengan dahi berkerut.
"Harap kau tak bertanya-tanya soal ini...!" seigah Mayong.
"O, begitu...."
"Junjunganku bersedia memberi hadiah besar padamu!"
"Hadiah" Apa hadiahnya?"
"Apa saja yang kau inginkan! Harta ditambah wanita, atau kesenangan. Pokoknya, apa saja yang kau inginkan!" sahut Mayong, cepat, berharap Pendekar Rajawali Sakti tertarik untuk menyanggupi. "Asal saja kau berjanji bisa menangkap Setan Gembel. Jika kau bawa dia menghadap junjunganku dalam keadaan hidup, maka mungkin akan ada hadiah tambahan."
Rangga tersenyum tipis. Hambar sekali. Mayong memang terlalu bersemangat bercerita soal hadiah. Seolah-olah Rangga akan tertarik. Padahal yang dipikirkannya bukan itu, melainkan karena dirinya disamakan dengan pemburu hadiah yang selalu bersemangat bila mendengar iming-iming hadiah besar.
"Bagaimana, Kakang?"
"Maaf, kau salah menilai orang. Aku bukan orang yang tepat. Jika kau melihatku bertarung dengan Setan Gembel, itu semata-mata memerangi kekejamannya...."
"Ah! Kalau demikian berarti kau sependirian dengan junjunganku! Beliau pun menginginkan kematian Setan Gembel demi ketenteraman dan keamanan rakyat!" seru Mayong dengan wajah gembira.
"Begitukah" Lalu, mengapa junjunganmu ha-rus mengiming-imingi dengan hadiah segala?" tukas Rangga.
"Tak ada seorang pun di negeri ini yang mampu mengalahkan Setan Gembel. Sedangkan kau telah terbukti nyata mampu mengalahkannya. Jika junjunganku sekadar meminta, mungkin rasanya tidak pantas. Dan hadiah itu diberikan sebagai tanda terima kasih atas kesedianmu menerima tawarannya," sahut Mayong berkelit.
Rangga tersenyum hanya dengan menarik ujung bibirnya sedikit. Dan dia bisa menilai kalau Mayong pintar bicara dan sulit dipojokkan. Dia seperti punya segudang alasan untuk menjawab semua pertanyaannya.
"Kau bersedia bukan, Rangga?" desak Mayong.
"Ada satu hal yang mengganjal pikiranku...," gumam Rangga.
"Apa itu?"
"Jika sudah mendapatkannya, kenapa malah menyuruh orang lain untuk mencarinya" Apakah ini bukan pancingan yang ditujukan padaku?" tanya Rangga seperti ditujukan pada diri sendiri.
"Hm.... Apa maksudmu, Rangga?" tanya Mayong, sedikit kaget.
"Maksudku tentu saja kalian!" tuding Pendekar Rajawali Sakti, langsung.
"Aku jadi semakin tidak mengerti...?" Mayong menggeleng dengan wajah bingung.
"Mayong! Ada kalanya kita bisa menipu seseorang dengan menunjukkan wajah palsu dan bicara yang manis. Sebagian orang akan silau melihatnya. Sedang sebagian lagi tidak. Dan aku termasuk di antara yang tidak. Kenapa kukatakan begitu" Sebab, aku mengetahui bahwa kaulah penunggang kuda kemarin. Kau membubarkan orang-orang yang hendak menghabisi Setan Gembel dengan melarikan kudamu kencang-kencang. Padahal ada jalan lain yang bisa kau tempuh...," papar Rangga dengan nada datar.
Wajah Mayong berusaha untuk tidak terkejut. Dan buru-buru dia tersenyum.
"Kau tentu bercanda, Rangga! Sebab mana mungkin aku melakukan hal itu...!"
"Aku tidak bercanda. Dan untuk membuktikan bahwa aku tidak main-main, baju yang kau gunakan masih seperti kemarin. Aku pun sempat melihat rupa wajahmu...."
"Mungkin kau salah lihat, Rangga. Dan lagi ada beberapa banyak baju sepertiku di kerajaan ini...?" kilah Mayong.
Rangga tersenyum.
"Aku biasa bekerja dengan orang jujur. Dan belum apa-apa, kau coba berbohong di depanku. Bagaimana mungkin aku bisa percaya padamu" Maaf, aku tidak bisa membantu kalian...!" sahut Rangga.
"Pendekar Rajawali Sakti! Apakah kau tidak memandang muka sama sekali kepada junjunganku?" nada suara Mayong agak meninggi.
"Apa maksudmu?" tukas Rangga dengan dahi berkerut.
"Beliau adalah calon permaisuri di kerajaan ini. Dan kau sama sekali tidak menaruh perhatian kepada keinginannya. Perintah beliau harus bisa dilakukan. Dan bila kau membangkang, sama artinya menolak perintah. Menolak perintah Kanjeng Gusti Putri Lembayung sama artinya melanggar larangan. Dan hukumannya berat!" gertak Mayong dengan suara semakin bersemangat untuk menjatuhkan nyali Pendekar Rajawali Sakti.
"Ketahuilah, aku bukan rakyat negeri ini. Aku hanya seorang pengembara. Sebentar atau saat ini juga, aku bisa angkat kaki dari negeri ini. Jadi, jangan menakut-nakutiku dengan segala macam hukuman. Nah! Sekarang, kuminta padamu. Tinggalkan tempat ini! Jika kesabaranku habis, aku bisa berbuat kasar padamu. Tak peduli kau siapa dan dari mana!" sahut Rangga penuh tekanan.
Mayong mendengus geram. Segera dia bangkit dan keluar dari rumah ini. Masih sempat matanya menatap tajam.
"Asal tahu saja! Siap-siaplah menanggung akibatnya!" ancam Mayong.
? *** ? 8 ? "Rangga...!"
"O, kalian. Ada apa?" tanya Rangga tenang, ketika melihat Setiaji telah berdiri di depannya bersama keempat kawannya.
"Maaf kalau kami menguping pembicaraan kalian...," sahut Setiaji dengan suara lirih.
"Ah! Pembicaraan itu sendiri sifatnya bukan pribadi. Bahkan sebetulnya kalian tidak apa-apa mendengarnya."
"Tapi..."
"Tapi kenapa, Sobat" Kalian kelihatan ketakutan. Ada apa?" tanya Rangga heran.
"Rangga.... Kau tidak bersungguh-sungguh untuk menolak permintaannya, bukan?" tanya Setiaji dengan wajah cemas.
"Kalian dengar sendiri pembicaraan kami, bukan" Mula-mula dia bersikap baik dan sopan. Tapi ketika mengetahui keinginannya mulai tidak terkabul, dia menunjukkan watak aslinya. Orang itu mulai mengancam. Dan aku paling tidak suka diancam," tegas Rangga.
'Tapi..., bagaimana dengan kami" Bila kau di sini mungkin kami merasa sedikit aman. Tapi mana bisa kami menahanmu lama-lama di sini" Dan setelah kau pergi, para prajurit kerajaan pasti ke sini untuk menangkap kami...!" keluh Setiaji.
"O, jadi itukah yang kalian takutkan?" tanya Rangga sambil tersenyum.
Kelima orang itu mengangguk cepat.
"Tidak usah khawatir. Aku kenal penguasa di negeri ini. Biar kutulis surat. Dan salah seorang dari kalian harap menyampaikannya."
"Oh, betulkah"!" seru Setiaji dan keempat kawannya dengan wajah kaget.
Mereka memandang Pendekar Rajawali Sakti dengan wajah tidak percaya. Tapi Rangga tidak banyak berkata apa-apa lagi. Dimintanya alat-alat tulis. Lalu pemuda ini mulai menulis sepucuk surat.
Baru saja Rangga selesai menulis surat, mendadak pendengarannya yang tajam merasakan desir angin kencang yang menerobos dari jendela ke arah Pendekar Rajawali Sakti.
"Hup!"
Sambil menarik badannya ke belakang, tangan Pendekar Rajawali Sakti bergerak lincah ke depan.
Tap! "Rangga...! Ah, untung saja!" seru Setiaji kaget.
Tahu-tahu di antara jari telunjuk dan tangan Pendekar Rajawali Sakti, terselip sebatang anak panah yang menerobos lewat jendela rumah ini.
"Kurang ajar!"
Salah seorang teman Setiaji langsung melompat keluar. Sementara dua kawannya segera mengikuti.
'Tidak perlu! Orang itu pasti telah kabur. Dia hanya ingin menyampaikan ini padaku...," ujar Rangga, seraya membuka gulungan surat pada batang panah itu.
"Apa isi surat itu, Rangga?" tanya Setiaji dengan wajah penasaran.
'Tantangan..."
'Tantangan dari siapa?"
Rangga tidak menjawab. Tapi, diserahkannya surat itu pada Setiaji. Dan Setiaji serta seorang kawannya membaca isi surat itu dengan cepat.
? Temui aku di lereng Bulat Gamus pada tengah malam. Kita selesaikan urusan yang tertunda.
? Setan Gembel ? "Setan Gembel"!" desis Setiaji memandang tajam kepada pemuda di depannya.
"Ya...," sahut Rangga, pendek.
"Tapi luka dalam yang kau derita belum sembuh benar, Sobat?"
"Tidak usah cemas. Sebelum tengah malam, aku akan merasa lebih baik. Dan, jangan lupa! Dia pun terluka lebih parah ketimbang aku," ingat pemuda itu seraya tersenyum manis.
"Jadi kau betul-betul ingin memenuhi tantang-annya?" tanya Setiaji.
"Aku pantang menolak tantangan seseorang!"
Wajah Setiaji dan kawannya kelihatan masy-ghul. Dan ini dapat dirasakan Pendekar Rajawali Sakti kalau mereka mencemaskan dirinya.
Sementara itu ketiga kawan Setiaji kembali masuk dengan wajah kecewa.
"Sudah kami cari-cari, tapi tidak ada seorang pun yang mencurigakan...," lapor salah seorang.
Setiaji tidak menyahut, melainkan menyerahkan isi surat dalam anak panah itu tadi pada kawan-kawannya. Mereka membaca dengan dahi berkerut, lalu memandang Pendekar Rajawali Sakti.
"Apakah kau akan menerima tantangannya, Rangga?" tanya yang berpakaian hijau.
Rangga mengangguk.
"Tapi kau masih terluka dalam...?" lanjut laki-laki berpakaian hijau.
'Tidak apa, Jureng! Nanti juga akan sembuh...," sahut Rangga, tenang.
Rangga mengambil surat yang tadi baru saja selesai dibuatnya, kemudian mengacungkannya ke atas.
"Siapa di antara kalian yang bersedia memberikan surat ini kepada Gusti Prabu Jatranta?"
"Biar aku saja!" sahut yang berbaju merah.
"Terima kasih, Barin! Sampaikan salam hor-matku pada beliau," ujar Rangga seraya menyerahkan surat itu.
"Baiklah...."
Laki-laki berbaju merah yang dipanggil Barin segera bergegas keluar dari ruangan ini.
Sementara itu Rangga segera mengajak yang lainnya ke belakang. Mereka hendak melanjutkan rencana yang tadi sempat tertunda. Pemuda itu kelihatan tenang-tenang saja seperti tidak ada kejadian apa-apa. Padahal Setiaji dan kawan-kawannya sudah tidak merasa tenang oleh dua kejadian berturut-turut yang dialami tadi.
? *** ? Malam ini tepat bersamaan dengan pertengah-an bulan. Kini purnama muncul perlahan, memantulkan cahayanya ke bumi. Bagi sebagian tempat lain mungkin pemandangan ini terasa indah dan menyejukkan hati. Namun di lereng Bukit Gamus tetap saja menyeramkan. Selain alamnya tak ramah, juga banyak dihuni ular-ular berbisa dan hewan buas lainnya.
Pendekar Rajawali Sakti periahan-lahan men-daki lereng bukit ini dengan menajamkan pandangan serta pendengaran.
Tiba di suatu tempat yang agak lapang, Rangga berhenti dan berdiri tegak sambil melipat kedua tangan di dada. Cahaya bulan menerangi sebelah tubuhnya. Dengan begitu dia berharap Setan Gembel tidak kesulitan menemukannya.
"Ha ha ha...! Kau memang pemberani, Pendekar Rajawali Sakti!"
"Hmm...!"
Rangga bergumam tak jelas ketika terdengar suara yang disusul berkelebatnya sesosok bayangan hitam. Dan tahu-tahu di depannya para jarak enam langkah berdiri satu sosok tubuh berpakaian compang-camping. Rambutnya panjang kusut masai. Tatapannya dingin menggetarkan.
"Kenapa aku mesti merasa takut padamu, Setan Gembel?" sahut Rangga seraya memperhatikan sosok yang tak lain memang Setan Gembel.
Diam-diam Rangga sedikit terkejut melihat keadaan Setan Gembel. Menurut perhitungannya tentu, pemuda itu masih menderita luka dalam yang cukup berat. Dan itu akan terpancar di wajah serta sorot matanya. Sebagai tokoh yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja Rangga bisa menilai.
"Bagaimana, Pendekar Rajawali Sakti" Jadi kita melakukan pertarungan?" tanya Respati, me-nantang.
"Setan Gembel! Aku punya beberapa perta-nyaan. Bersediakah kau menjawabnya sebelum kita bertarung?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.
"Apa itu?"
"Peti matimu kenapa kau tinggalkan di Desa Jenang?"
"Aku sudah tak membutuhkannya lagi!"
"Kenapa?"
"Dendamku telah tuntas!"
"Bukankah peti mati itu berisi mayat kakakmu?" pancing Rangga. "Dan peti itu kini telah dibakar penduduk."
"Siapa bilang peti itu berisi mayat kakakku" Di dalamnya hanya berisi bangkai kambing!"
"Kenapa mesti kau bawa-bawa?"
"Hanya untuk menggertak pada orang-orang yang telah berkhianat pada kakak perempuanku. Puas" Nah! Sekarang mari kita bertarung!"
"Apakah kau dalam keadaan sehat lahir batin?" tukas Rangga.
"Keparat sombong! Kematianmu telah di de-pan mata. Masih juga kau mengigau!" bentak Setan Gembel. "Heaaa...!"
Disertai bentakan nyaring, tubuh Respati berke-lebat melepas pukulan bertubi-tubi.
Bet! Bet! Rangga langsung mengerahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Tubuhnya meliuk-ljuk indah, terkadang condong ke depan, terkadang ke belakang sejajar tanah. Semua gerakannya ditunjang oleh permainan kaki yang lincah. Sehingga tak satu pun serangan yang berhasil menyentuh tubuhnya. Kendati demikian, tubuhnya sempat merasakan satu pusaran angin kencang yang membuat panas kulitnya seperti tersengat.
Melihat serangan selalu gagal, Respati menjadi murka bukan kepalang. Dia menganggap Pendekar Rajawali Sakti telah meremehkan dirinya.
"Bangsat! Apa kebisaanmu hanya menghindar"!"
Belum juga gema bentakannya hilang, Setan Gembel sudah kembali melanjutkan pertarungan. Kali ini serangannya lebih cepat dan berbahaya, mengancam tujuh jalan kematian di tubuh Pendekar Rajawali Sakti.
"Hup!"
Melihat hal ini, Rangga tak mau ayal-ayalan lagi. Tubuhnya mencelat ke belakang. Begitu mendarat, jurusnya segera dirubah dengan gabungan dari lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'.
Kini pertarungan tingkat tinggi tak dapat ter-elakkan lagi. Berlangsung cepat dan mematikan. Masing-masing sudah menggelar jurus-jurus tingkat tinggi. Begitu cepat gerakan mereka, sehingga yang terlihat hanya kelebatan-kelebatan bayangan yang kadang saling terjang, lalu sama-sama terpental.
"Heaaa...!"
Setan Gembel agaknya mulai mengerahkan tenaga dalamnya ke tangan. Maka sebentar saja, kedua tangannya telah berwarna merah. Dan saat itu juga, kedua telapak tangannya menghentak ke depan.
Wusss...! Pendekar Rajawali Sakti cepat berkelit gesit ketika dari kedua telapak Setan Gembel meluncur lidah api.
Jderrr...! Pukulan yang diketahui Rangga bernama 'Tapak Setan' itu langsung menghantam sebuah pohon hingga tumbang dalam keadaan hangus, menimbulkan suara berderak ribut.
Dalam hati, Pendekar Rajawali Sakti memuji kedahsyatan pukulan 'Tapak Setan' milik Setan Gembel. Namun bukan berarti nyalinya langsung ciut.
"Ayo, keluarkan pukulanmu! Atau kebisaanmu hanya main kucing-kucingan" Tunjukkan kehebatanmu, Pengecut!" teriak Setan Gembel dengan suara lantang.


Pendekar Rajawali Sakti 214 Setan Gembel di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Jangan terlalu memaksaku, Setan Gembel. Masih ada kesempatan bagimu untuk bertobat. Ingat! Ini peringatanku yang terakhir...," sahut Pendekar Rajawali Sakti penuh tekanan.
"Bangsat! Telan kata-katamu ke dalam perut busukmu! Aku tak butuh nasihat dari orang-orang yang sok pahlawan! Heaaa...!"
Setan Gembel terus mengumbar seluruh ke-mampuannya untuk menghabisi Pendekar Rajawali Sakti secepat mungkin. Namun dengan kelincahannya Rangga selalu saja mampu menghindar. Bahkan diam-diam tenaga dalamnya mulai dikerahkan, mengingat Setan Gembel sepertinya memang menginginkan kematiannya.
"Hup!" "Yeaaa...!"
Baru saja Pendekar Rajawali Sakti berhasil menghindari serangan dengan melenting ke belakang dan mendarat manis di tanah, Setan Gembel telah menghentakkan kedua tangannya, menyerang dengan kekuatan penuh.
Rangga cepat merenggangkan kedua kakinya. Langsung dibuatnya beberapa gerakan tubuh dan tangan, ke kiri-kanan. Tepat ketika tubuh Pendekar Rajawali Sakti tegak, kedua tangannya telah terselubung sinar biru berkilau. Dan setengah tombak lagi sinar merah yang keluar dari telapak Setan Gembel menghantam....
"Aji 'Cakra Buana Sukma'!" bentak Pendekar Rajawali Sakti nyaring, sambil menghentakkan kedua tangannya.
Wuutt! Blarr...! Suara ledakan dahsyat terdengar disertai bongkahan api tercipta, saat sinar biru dari telapak Pendekar Rajawali Sakti menghantam sinar merah milik Setan Gembel. Seketika tempat itu dipenuhi asap tebal.
Sinar merah langsung pecah ke segala arah. Namun sinar biru terus meluncur dahsyat ke arah Setan Gembel. Dalam lingkaran asap tebal, masih bisa terlihat kalau sinar biru itu tak ampun lagi menghajar pemuda bernama Respati. Dan....
Blarrr...! "Aaa...!"
? *** ? Terdengar suara jeritan menyayat. Sesaat Respati berdiri tegak, lalu terlihat ambruk tak berdaya. Sebagian tubuhnya terlihat hitam laksana arang. Sebenarnya keadaan itu masih bagus. Karena bagi orang yang memiliki tenaga dalam tak setangguh Respati, pasti tubuhnya akan hancur berkeping-keping dalam keadaan gosong.
Sementara Pendekar Rajawali Sakti jatuh berlutut. Kelihatan terkulai seperti tidak bertenaga. Dari lubang hidung dan bibirnya meleleh darah kental sedikit kehitam-hitaman.
Untuk sesaat tempat itu terasa sunyi. Unggas malam seperti enggan bernyanyi. Mereka seperti menjadi saksi atas kejadian mengerikan yang berlangsung di sini.
"Rangga...! Rangga...!"
Mendadak terdengar beberapa suara teriakan bernada memanggil.
Dan dari kejauhan terlihat beberapa obor mendekati. Rangga menghela napas dengan kepala tertunduk. Namun begitu telinganya masih mendengar keadaan di sekitarnya. Termasuk derap langkah memburu yang mendekatinya!
"Rangga! Kau tidak apa-apa"!" tanya sese-orang bernada khawatir.
Orang yang bertanya ini mendekatkan cahaya obor untuk melihat luka yang diderita pemuda itu. Sementara, tiga orang lain ikut berjongkok di dekatnya.
"Setiaji.... Kenapa kalian ke sini" Bukankah aku telah melarang?" tanya Rangga, perlahan.
"Sudah, jangan banyak bicara dulu! Luka da-lammu kelihatan kambuh. Malah bertambah. Kami akan menggotongmu pulang!" ujar sosok yang ternyata Setiaji.
"Terima kasih. Aku tidak apa-apa...," ucap Rangga, menolak halus.
"Jangan berkeras, Sobat! Kami akan memban-tumu. Dan kau tidak boleh membantah!"
"Setan Gembel mati!"
Terdengar seruan dari sosok lainnya saat melihat mayat Setan Gembel yang tergeletak tidak jauh dari situ.
"Kau berhasil membunuhnya, Sobat?" tanya Setiaji dengan wajah cerah.
Rangga tersenyum getir. "Aku terpaksa mela-kukannya...."
"Sudahlah, jangan salahkan dirimu. Dia toh manusia jahat yang banyak dibenci orang. Ayo, mari kubantu!" ujar Setiaji seraya menggendong Rangga di punggungnya.
Rangga tidak menolak dan hanya menurut saja. Perlahan-lahan mereka meninggalkan lereng bukit ini. Seiring perjalanan mereka, alam pun kembali sunyi. Bahkan lebih sunyi dibanding semula!
? ? PENDEKAR RAJAWALI SAKTI
? www.duniaabukeisel.blogspot.com
www.padepokanjagatsatria.com
Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 Golok Maut 4 Pendekar Mabuk 090 Kematian Sang Durjana Pendekar Pedang Sakti 9

Cari Blog Ini