Ceritasilat Novel Online

Sayap Sayap Terkembang 2

02 Sayap Sayap Yang Terkembang Karya Sh Mintardja Bagian 2


Iswari merenung sejenak. Namun kemudian katanya, "Baiklah. Bawalah Kasadha itu kemari."
Ketika kedua orang pengawal itu kembali menemui Kasadha, maka Risangpun berkata, "Tetapi Ki Lurah Kasadha mengenalku sebagai Bharata. Kami bersama-sama menjadi pemimpin kelompok dalam pasukan Seratus Orang di bawah pimpinan Ki Lurah Dipayuda. Ketika aku meninggalkan barak, Kasadha baru menjabat sebagai pimpinan sementara dalam pasukan Seratus Orang itu. Agaknya kini ia benar-benar telah diangkat menjadi Lurah Penatus."
"Mudah-mudahan kau akan dapat berbicara dengan baik dan hasilnya akan berarti bagi Tanah Perdikan ini," berkata ibunya.
"Mudah-mudahan ibu. Tetapi seperti aku katakan tadi Ki Lurah Kasadha itu mengenalku dengan nama Bharata," berkata Risang.
"Siapapun namamu, tetapi kau akan dapat menjelaskannya. Saat ini adalah saat yang baik untuk memperkenalkan dirimu yang sebenarnya kepada Ki Lurah itu," berkata ibunya.
Namun Bharata menjadi berdebar-debar juga menunggu kedatangan Kasadha. Sudah agak lama ia tidak bertemu.
"Perubahan sikap seseorang memang mungkin saja akan terjadi," berkata Risang di dalam hatinya.
Dalam pada itu, bukan saja Risang yang menjadi berdebar-debar. Ternyata Kasadhapun menjadi gelisah pula. Berbeda dengan saat-saat ia menentukan sikap di Gemantar. Ia sama sekali tidak menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika ia berhadapan dengan persoalan yang dapat langsung menyangkut pribadinya, maka iapun benar-benar menjadi berdebar-debar.
Tetapi ketika kedua orang yang menyampaikan maksudnya itu menyatakan kesediaan pimpinan Tanah Perdikan Sembojan untuk menerimanya, maka Kasadha itupun telah menetapkan hatinya pula.
"Tidak seorangpun tahu, siapa aku sebenarnya. Aku belum pernah berhubungan dengan orang-orang Sembojan," berkata Kasadha di dalam hatinya. Lalu katanya pula kepada diri sendiri, "Aku harus dapat menyisihkan kepentingan pribadiku."
Dengan langkah tetap, diantar oleh dua orang pengawal, di bawah pengawasan para peronda, Kasadha menuju ke banjar padukuhan.
Demikian Kasadha memasuki halaman banjar, maka kedua orang pengawal khusus telah menyambutnya dan membawanya naik ke pendapa.
Iswari dan Risang, bahkan bersama Ki Tumenggung Jaladara telah bersiap menerimanya di ruang dalam. Menurut pendapat mereka, pembicaraan akan lebih bersungguh-sungguh jika dilakukan di tempat yang tertutup dengan orang yang terbatas. Berbeda dengan pembicaraan rahasia yang justru sering dilakukan oleh Ki Tumenggung di tempat yang terbuka untuk menghindari kemungkinan dapat didengar oleh orang yang tidak dikehendaki.
"Marilah," pengawal itu mempersilahkan, "Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini ada di dalam. Nyi Wiradana telah menunggu bersama Risang."
Jantung Kasadha memang berdebar mendengar nama Wiradana disebut. Juga nama Risang. Saudaranya yang dilahirkan oleh ibu yang berbeda.
Tetapi Kasadha sudah bertekad untuk menyingkirkan masalah pribadinya. Ia adalah Kasadha, Lurah Penatus dari Pajang yang tidak tahu menahu tentang darah keturunan orang-orang Sembojan.
Sekali-sekali memang terungkit di dasar hatinya yang paling dalam bisikan orang yang mengaku ayahnya itu. Jika Risang terbunuh, maka ia adalah satu-satunya pewaris yang sah atas Tanah Perdikan itu, karena anak Ki Wiradana memang hanya dua orang. Risang dan Puguh.
"Persetan dengan laki-laki gila yang telah hidup bersama ibu itu," geram Kasadha di dalam hatinya, "Aku adalah Kasadha. Kasadha, Lurah Penatus dari Pajang. Aku tidak mempunyai persoalan apapun dengan Tanah Perdikan ini selain karena tugas keprajuritanku."
Demikianlah, maka Kasadha dengan hati yang berdebar-debar telah melangkah di pendapat menuju ke pintu pringgitan. Kemudian para pengawal yang menyambutnya itu telah membawanya melangkah tlundak pintu masuk ke ruang dalam.
Risang tidak terkejut. Yang datang itu memang Kasadha yang telah ditunggunya. Seorang yang paling akrab dikenalnya di saat ia menjadi prajurit. Bahkan hidup dan matinya seakan-akan telah terbagi dengan anak muda yang telah menjadi Lurah Penatus itu.
Risang tahu bahwa Kasadha tentu akan terkejut melihatnya. Tetapi tentu hanya sesaat. Ia tentu akan berkata, "Kenapa kau tidak pernah mengatakan sebelumnya?"
Namun Kasadha itu kemudian tentu akan tertawa menerima ucapan selamatnya karena Kasadha itu telah ditetapkan dalam pangkatnya sebagai Lurah Penatus pada jabatan yang telah diembannya.
Sebenarnyalah, ketika Kasadha memasuki pintu ruang dalam, jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Ia sadar, bahwa perempuan yang ada di hadapannya adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang bernama Iswari. Perempuan yang dalam kehidupannya pernah bersaing dengan ibunya sendiri. Pernah dua kali berperang tanding. Dan pernah memenangkan perang tanding sampai dua kali pula. Memang terasa sesuatu bergetar di dalam hatinya. Tetapi sejak ia memasuki dunia keprajuritan ia sudah menerima satu sikap nuraninya, bahwa ibunya, Warsi, memang bersalah. Jika ia datang saat itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan persoalan antara ibunya dan perempuan itu. Ia datang dalam tugasnya sebagai seorang prajurit.
Tetapi yang mengejutkan sekali adalah hadirnya seorang anak muda yang dikenalnya dengan baik. Anak muda yang dianggapnya sahabatnya yang paling akrab. Bahkan anak muda yang oleh beberapa orang justru dianggap sebagai adiknya karena kemiripan ujud lahiriahnya.
Kata-kata pengawal yang mengantarkan masuk ke ruang dalam saat ia memperkenalkan para pemimpin Tanah Perdikan itu bagaikan guruh yang memecahkan selaput telinganya.
"Ki Lurah Kasadha, yang berdiri di hadapan Ki Lurah adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Yang berdiri di sebelahnya adalah Risang, putera satu-satunya, kemudian yang seorang adalah perwira prajurit Jipang, Ki Tumenggung Jaladara."
Kasadha berdiri mematung. Ia sudah mendengar kehadiran Ki Tumenggung Jaladara dari Ki Rangga Larasgati. Tetapi bahwa Bharata yang dikenalnya selama ini, yang pernah menyelamatkan hidupnya itulah Risang.
Dalam pada itu, terdengar suara Risang sebagaimana pernah didengarnya, "Kasadha. Kenapa kau termangu-mangu" Marilah. Duduklah. Bukankah kau masih mengenal aku?"
"Tentu," jawab Kasadha gagap.
"Maafkan aku Kasadha. Aku tidak pernah berterus terang kepadamu tentang aku yang sebenarnya. Tetapi sekarang kau sudah tahu, bahwa aku adalah anak Sembojan," berkata Risang.
"Ya, ya," suara Kasadha semakin gugup.
Risang memang menjadi heran. Sikap Kasadha tidak sekedar terkejut melihat ia hadir di situ. Tetapi nampak bahwa ia menjadi gugup dan sangat gelisah.
"Marilah Ki Lurah," berkata Iswari, "silahkan duduk."
Tetapi Kasadha benar-benar gugup. Sementara itu Risang berkata dengan wajah yang mulai bimbang, "Ki Lurah, aku lebih dahulu ingin mengucapkan selamat atas pengangkatan Ki Lurah."
"Terima kasih Bharata, eh, Risang," jawab Kasadha.
Risang mengerutkan keningnya. Jawaban itu terlalu singkat. Namun Risang mencoba untuk mengetahui perasaan Kasadha. Agaknya Kasadha mulai menjadi gelisah, bahwa ia harus berhadapan dengan Risang seorang, sahabat, dalam persoalan Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka iapun kemudian berkata, "Silahkan duduk Kasadha. Kita akan berbicara sebagaimana kau kehendaki. Kami menghormati kesediaanmu untuk datang. Mudah-mudahan kita dapat berbicara dengan hati terbuka sebagaimana saat kita masih berada di barak yang sama."
Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk mengendapkan gejolak perasaannya. Ia mencoba menguasai diri menghadapi kenyataan tentang sahabatnya itu.
"Risang," berkata Kasadha kemudian, "aku memang terkejut melihat kau disini. Ternyata yang harus aku hadapi di Tanah Perdikan ini adalah seorang anak muda yang aku kenal dengan sangat baik. Bahkan selama ini aku tidak pernah mempunyai seorang sahabat sendiri. Namun tiba-tiba kini aku harus menghadapimu dalam kedudukan yang sangat sulit. Aku sama sekali tidak mengira sebelumnya, bahwa aku akan mengalami satu kesulitan yang tidak mudah untuk aku atasi. Apalagi aku tidak akan pernah melupakan, bahwa kau pernah menyelamatkan hidupku."
"Kasadha," berkata Risang, "biarlah semuanya itu kita lupakan. Sekarang, bagaimana kita mencari jalan keluar dari persoalan yang kita hadapi. Bagaimana kita mendapatkan satu cara yang paling tanpa merugikan kedua belah pihak. Maksudku, kami dan kau. Aku tidak tahu bagaimana sikapmu terhadap Ki Rangga Larasgati."
Kasadha termangu-mangu sejenak. Ia sudah siap berbicara dengan Iswari dan Risang. Tetapi ia tidak mengira bahwa Risang adalah Bharata yang dikenalnya dengan baik.
Namun Kasadha itu berkata di dalam hatinya, "Siapapun Risang, tetapi mereka semuanya tidak mengenal aku yang sesungguhnya."
Bahkan Kasadha masih tetap berharap bahwa sikapnya akan dapat memberikan jalan yang dapat meredakan keadaan. Setidak-tidaknya mengurangi kerasnya benturan antara prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun ia tidak dapat berbuat sebagaimana dilakukan di Gemantar, namun setidak-tidaknya ia akan dapat memberikan pendapatnya kepada Tanah Perdikan Sembojan.
Karena itu, maka Kasadhapun telah berniat untuk melakukan apa yang sudah direncanakannya.
Sementara itu Iswari, Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan berkata, "Ki Lurah Kasadha. Kedatangan Ki Lurah tentu bukannya tanpa maksud. Bahwa Ki Lurah terkejut melihat anakku yang pernah berada dalam satu kesatuan dengan Ki Lurah dapat aku mengerti. Apalagi apabila besok benar-benar kalian berdua harus bertempur. Namun barangkali Ki Lurah saat ini mempunyai beberapa pendapat yang mungkin berarti, kami akan sangat berterima kasih, karena sebenarnyalah kami telah pernah mendengar nama Ki Lurah dari orang Gemantar. Bahkan seandainya akhirnya kami tidak menemukan jalan apapun, niat baik dari kedatangan Ki Lurah ini telah menumbuhkan penghargaan kami terhadap Ki Lurah. Kami mengucapkan terima kasih. Seandainya kami belum pernah mendengar apa yang Ki Lurah lakukan di Tanah Perdikan Gemantar, mungkin kami akan bersikap lain."
"Terima kasih atas pengertian Nyai," desis Kasadha. Tetapi gejolak yang keras telah menghentak-hentak di dadanya. Meskipun orang-orang Sembojan itu tidak mengenalinya, tetapi Kasadha sendiri dapat mengenali dirinya. Ia adalah Puguh. Anak Warsi yang telah berusaha merebut segala-galanya dari Nyi Wiradana. Yang terakhir adalah usaha untuk merebut hak atas Tanah Perdikan itu dengan membunuh anak laki-laki satu-satunya. Risang.
Dengan susah payah Kasadha menekan perasaannya itu. Kemudian dengan suara bergetar ia berkata, "Nyai. Aku memang membawa satu pendapat. Tetapi segala sesuatunya terserah kepada Nyai. Dengan pendapatku ini sebenarnya aku sudah melanggar paugeran seorang prajurit. Mungkin kesetiaanku kepada Pajang semakin diragukan. Tetapi sebenarnya aku tidak ingin bergeser dari kedudukanku. Seorang prajurit. Jika saat ini kesetiaanku diragukan aku tidak menyesal, karena yang meragukan kesetiaanku terhadap Pajang adalah orang-orang yang justru tidak berdiri di atas jalur jalan kebenaran seorang pemimpin. Jika pada suatu saat jiwa dan watak Pajang pulih kembali, maka akupun akan tegak di atas kesetiaan yang utuh."
Iswari mengangguk-angguk. Katanya, "Dengan senang hati kami akan mendengarkan pendapat Ki Lurah."
Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia masih saja berusaha untuk mengendapkan perasaannya serta meredakan gejolak di jantungnya.
"Nyai," berkata Kasadha kemudian, "sebenarnyalah aku ingin mengusulkan, agar Nyai bersedia mundur selangkah pada saat yang gawat ini. Tetapi bukan berarti bahwa Nyai tidak akan maju lagi di saat-saat mendatang."
"Maksud Ki Lurah?" bertanya Iswari.
"Maksudku, Nyai sebaiknya menerima tawaran Ki Rangga Larasgati untuk sementara," berkata Kasadha.
"Menyerahkan surat kekancingan tentang Tanah Perdikan ini?" bertanya Iswari, "atau pertanda kebesaran yang berupa bandul kalung itu?"
Kasadha menggeleng. Jawabnya, "Bukan Nyai. Tetapi kesediaan Nyai memberikan upeti sebagaimana diminta oleh Ki Rangga Larasgati."
Dahi Iswari berkerut. Dengan nada dalam ia berdesis, "Bukankah itu tidak wajar" Kepada siapa seharusnya kami memberikan upeti?"
"Memang tidak wajar Nyai," jawab Kasadha, "tetapi sekedar untuk mengatasi persoalan yang rumit bagi Tanah Perdikan ini. Upeti itu akan berlangsung tidak lebih dari tiga atau empat bulan saja."
"Sesudah itu?" bertanya Nyi Wiradana.
"Mataram dan Jipang nampaknya sudah mulai bergerak," berkata Ki Lurah Kasadha sambil memandang kepada Ki Tumenggung Jaladara. Katanya kemudian, "Ki Tumenggung Jaladara tentu lebih tahu."
"Kau harapkan bahwa Mataram dan Jipang akan mengalahkan Pajang?" bertanya Iswari kemudian.
"Tentu tidak. Tetapi jika terjadi tekanan atas Pajang oleh Mataram dan Jipang dengan beberapa syarat tertentu, maka Pajang tentu akan membenahi diri. Beberapa orang pemimpin bukan saja yang datang dari Demak dan menetap di Pajang dengan hak yang lebih dari para pemimpin Pajang sendiri, kemudian para pemimpin Pajang yang ingin menutup kekurangan atas haknya dengan cara yang tidak wajar, tentu akan mendapat perhatian," berkata Kasadha.
"Tetapi jika yang berkuasa di Pajang masih saja Adipati Demak, apakah perubahan-perubahan tatanan pemerintahan akan dapat diharapkan?" bertanya Iswari.
"Kenapa tidak, jika Mataram dan Jipang langsung ikut campur tangan. Bukankah Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa termasuk keluarga sendiri" Bahkan Pangeran Benawa adalah putera Sultan Hadiwijaya yang merupakan salah satu di antara mereka yang dicalonkan untuk mewarisi tahta Pajang?" jawab Kasadha.
Iswari menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan nada rendah ia berkata, "Bukankah dengan demikian kita justru ikut membantu menegakkan wibawa Ki Rangga Larasgati yang telah menyimpang dari paugeran?"
"Tetapi itu bukan tujuan Nyai. Itu sekedar satu cara. Bahkan apa yang dilakukan Ki Rangga atas Tanah Perdikan ini pada satu saat dapat dipergunakan sebagai bukti pelanggarannya atas batas-batas wewenang dan kuasanya bersama Ki Tumenggung Bandapati."
Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Risangpun berkata, "Menurut nalar, aku dapat mengerti pendapatmu Kasadha. Tetapi perasaanku merasa berkeberatan untuk melakukannya."
"Aku mengerti," jawab Kasadha, "seakan-akan Tanah Perdikan ini tunduk kepada perintah Ki Rangga Larasgati. Padahal menurut kekancingan, upeti yang diwajibkan bagi Tanah Perdikan bukanlah dalam pengertian berapa besarnya, tetapi sekedar syarat untuk menunjukkan bahwa Tanah Perdikan ini berada di dalam satu kesatuan ikatan dengan Pajang. Sedangkan Ki Rangga Larasgati sudah menyimpang dari ketentuan itu. Bahkan Ki Rangga telah menyebut satu jumlah tertentu bagi upeti yang harus diserahkan. Apalagi nampaknya upeti itu harus diserahkan tidak kepada jalur yang seharusnya menerima upeti bagi perbendaharaan Pajang. Tetapi akan langsung masuk ke dalam bangsal simpanan beberapa orang tertentu."
"Ya," jawab Risang, "itulah yang agaknya menghambat penalaranku. Juga harga diri dan kebesaran nama kakek Ki Gede Sembojan."
Puguh yang dikenal sebagai Kasadha itu menarik nafas dalam-dalam. Risang, anak Iswari itu memang telah ditempa menjadi orang yang keras. Bahkan ibunyapun agaknya cukup keras pula sikapnya, sebagaimana ibunya sendiri. Itulah agaknya maka keduanya telah pernah mengalami perang tanding sampai dua kali.
Tetapi Kasadha mencoba untuk tidak mengingatnya. Namun sekali-sekali muncul juga pertanyaan, "Bagaimana seandainya ibuku terbunuh?"
Namun segera ia menjawab di dalam hatinya, "Itu bukan persoalanku."
Untuk beberapa saat keadaan menjadi hening. Tetapi kemudian iapun berkata, "Risang. Di dalam peperangan kita mengenal cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan akhir. Yang kalian lakukan sekarang adalah satu cara dalam lika-liku mencapai tujuan. Lebih dari itu, kita dapat mengurangi korban sejauh mungkin. Kita akan menyelamatkan beberapa puluh jiwa dari kedua belah pihak."
Risang termangu-mangu sejenak. Tetapi dengan nada dalam ia berkata, "Kasadha. Aku minta maaf kepadamu. Rasa-rasanya sulit bagi kami untuk menyisihkan harga diri kami."
Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi hampir di luar sadarnya ia berpaling kepada Ki Tumenggung Jaladara. Hanya sekilas. Tetapi ternyata Ki Tumenggung dapat membaca kilasan pandangan Kasadha.
Karena itu, maka Ki Tumenggung itupun berkata, "Ki Lurah. Aku tentu tidak dapat ingkar jika kedatanganku kemari telah membawa pengaruh bagi Tanah Perdikan Sembojan. Namun tanpa kedatangankupun para pemimpin Tanah Perdikan ini telah mempunyai pegangan bagi sikapnya. Sebagaimana Gemantar sebuah Tanah Perdikan yang lebih kecil dari Sembojan telah pula berpegang pada satu sikap. Harga diri dan tegaknya paugeran yang seharusnya berlaku di Pajang sendiri."
Ki Lurah Kasadha mengangguk kecil. Katanya, "Aku memang tidak dapat membantah. Apa yang dikatakan oleh Ki Tumenggung itu benar. Tetapi aku adalah prajurit Pajang. Bukan prajurit Jipang."
"Apa yang dikatakan oleh Ki Tumenggung memang benar," sahut Risang, "kami memang berpegang pada harga diri dan tegaknya paugeran."
"Baiklah," berkata Kasadha, "aku minta maaf bahwa kedatanganku telah mengganggu ketenangan kalian. Tetapi aku berniat untuk berbuat baik apapun hasilnya."
"Aku mengerti Ki Lurah," berkata Iswari, "aku mengucapkan terima kasih. Tetapi kami, orang-orang Sembojan, minta maaf yang sebesar-besarnya bahwa kami tidak dapat menerima pendapat Ki Lurah. Seperti yang dikatakan Risang, nalar kami dapat menerima. Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu yang terasa sangat berat untuk melakukannya."
"Akupun mengerti Nyai. Tetapi percayalah, bahwa aku telah menyatakan pendapatku dengan ikhlas," berkata Kasadha.
"Aku juga minta maaf akan sikapku Kasadha," desis Risang. Lalu katanya, "Tetapi aku tahu maksudmu. Bahkan akupun merasakan kesulitan perasaanku jika besok kita akan bersama-sama turun ke medan."
"Kita tidak akan bertemu Risang," berkata Kasadha, "aku tidak akan berada di induk pasukan. Sementara itu kami sadar, jika Nyi Wiradana turun ke medan, maka tidak akan ada seorangpun prajurit Pajang yang mampu mengimbanginya."
"Ah," desis Iswari, "kenapa Ki Lurah berkata seperti itu?"
Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, "Menurut pendengaran kami, Nyi Wiradana adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi."
"Jangan memuji," berkata Nyi Wiradana, "aku bukan apa-apa di hadapan para pemimpin di Pajang."
"Sudahlah," berkata Kasadha kemudian, "aku mohon diri. Tidak ada yang dapat aku perbuat lagi. Semoga tidak terjadi salah paham. Aku sudah bersikap sebagai prajurit Pajang."
"Tidak Ki Lurah. Kami sama sekali tidak merasa ada salah paham di antara kita. Kami tahu sepenuhnya niat baik Ki Lurah Kasadha, sebagaimana telah Ki Lurah tunjukkan di Tanah Perdikan Gemantar dengan kemungkinan yang kurang menguntungkan bagi Ki Lurah sendiri." jawab Iswari.
Ki Lurah mengangguk kecil. Sementara Risang berkata, "Kasadha, di saat-saat kita bersama-sama berada di dalam satu kesatuan di Pajang, maka kita tidak pernah bermimpi bahwa pada suatu saat kita akan berdiri berhadapan sebagai lawan."
Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun terlintas di dalam angan-angannya, bahwa selama ini ia telah berada dalam satu lingkungan yang akrab dengan orang yang menurut orang tuanya harus dimusnahkan jika ia ingin memiliki Tanah Perdikan Sembojan.
"Ternyata Risang tentu lebih tua dari aku, sementara setiap orang menganggap aku lebih tua daripadanya," berkata Kasadha di dalam hatinya, "Bahkan Ki Lurah Dipayuda pernah menyebutnya kakak beradik, sementara ia dianggap sebagai yang tua dan Risang yang dikenal sebagai Bharata, adalah yang muda."
Namun dalam pada itu ia berkata, "Seperti yang aku katakan Bharata, aku tidak akan berada di induk pasukan. Biarlah Ki Rangga Larasgati sajalah yang menjadi lajer kepemimpinan prajurit Pajang sesuai dengan kedudukannya."
"Baiklah Kasadha," jawab Risang, "akupun berharap bahwa kita tidak akan pernah bertemu di medan."
Kasadha mengangguk-angguk. Katanya kemudian, "Jika demikian, maka tidak ada lagi yang dapat aku lakukan. Aku mohon diri."
"Kami juga minta maaf Ki Lurah," berkata Iswari, "kami terpaksa tidak dapat menerima petunjuk Ki Lurah."
"Tidak apa-apa, Nyai. Sudah aku katakan, bahwa justru karena aku berada di luar Tanah Perdikan ini, maka segala sesuatunya terserah kepada Nyai," berkata Kasadha, yang kemudian telah minta diri untuk kembali ke pasukannya.
Tetapi sebelum ia beranjak dari tempatnya, dua orang telah masuk ke ruang dalam. Dua orang di antara para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan yang telah mendengarkan pembicaraan itu dari balik dinding. Keduanya adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung.
Kasadha terkejut bukan buatan. Ia mengenal kedua orang itu. Mula-mula di Song Lawa. Namun kemudian di sebuah perjalanan panjang, bahkan sampai ke tempat tinggalnya.
Terdengar desis di antara bibirnya, "Kalian berdua."
Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk hormat. Dengan nada rendah Sambi Wulung berkata, "Maaf Ki Lurah. Sebenarnyalah aku melihat saat Ki Lurah datang dan kemudian memasuki ruangan ini. Tetapi kami berdua memang sengaja menunggu, apa yang akan diperbuat oleh Ki Lurah."
Wajah Kasadha menjadi tegang. Dengan suara bergetar ia bertanya, "Apa menurut penilaianmu?"
"Ternyata Ki Lurah memang datang dengan maksud baik. Ki Lurah telah menyisihkan kepentingan pribadi yang tentu sudah Ki Lurah ketahui dengan pasti dalam hubungannya dengan Tanah Perdikan ini. Betapa kegelapan menempa hidup Ki Lurah, tetapi agaknya guru Ki Lurah telah menyalakan api terang di dalam hati Ki Lurah sehingga Ki Lurah benar-benar telah berhasil mengatasi pengaruh buruk yang ditanamkan sejak Ki Lurah dilahirkan," berkata Sambi Wulung.
Ki Lurah Kasadha memang menjadi semakin tegang. Sementara Iswari bertanya kepada Sambi Wulung, "Apakah kau pernah mengenal Ki Lurah?"
"Ya Nyai. Kini ia memang datang dengan maksud baik. Ia dengan ikhlas mengusulkan satu langkah penyelamatan bagi Tanah Perdikan ini dan kelangsungan darah Ki Gede Sembojan untuk memerintah. Ia tidak memanfaatkan keadaan yang gawat ini bagi kepentingan pribadinya. Sebenarnyalah jika kuasa kegelapan itu mampu mencengkam jantungnya, ia akan dapat berbuat banyak sekarang ini bagi kepentingan pribadinya," berkata Sambi Wulung.
"Sudahlah," potong Ki Lurah, "aku rasa keterangan itu sudah terlalu cukup. Aku ingin mohon diri."
"Tidak Ki Lurah. Sebaiknya segala sesuatunya dijelaskan sekarang. Jika hal ini diketahui kemudian justru dari orang lain, maka kesannya akan berbeda. Tetapi jika, Ki Lurah sendiri menjelaskannya, maka kesalahpahaman akan dapat dikurangi. Pembicaraan masih dapat dilakukan sebagai penjelasan atas sikap masing-masing. Karena sebenarnyalah beban itu tidak selalu harus dipikul di atas pundak Ki Lurah maupun di atas punggung Risang," berkata Sambi Wulung pula.
"Tetapi siapakah sebenarnya Ki Sanak?" bertanya Ki Lurah Kasadha.
"Kami adalah pemomong Risang sejak masa kanak-kanaknya." jawab Sambi Wulung kemudian, "terus terang, bahwa perjalanan kami sebelumnya adalah sekedar untuk mengetahui, siapa dan di manakah anak muda yang akan dapat menjadi saingan Risang itu."
"Aku semakin tidak mengerti," sela Iswari, "apakah yang sedang kalian katakan itu?"
Ki Lurah Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk menenangkan gejolak jantungnya yang terasa menghentak-hentak di dalam dadanya.
"Jadi kalian mencari aku dengan sengaja untuk mengenalku?" bertanya Ki Lurah Kasadha.
"Ya. Tetapi kami mengenal Ki Lurah dengan sungguh-sungguh ternyata baru hari ini, malam ini," jawab Sambi Wulung.
"Katakan," potong Iswari. "Jangan berteka-teki. Apa yang kalian kenal pada Ki Lurah Kasadha."
Ki Lurah Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak akan dapat ingkar lagi. Namun ia bersyukur bahwa kedua orang itu cukup bijaksana dengan membiarkannya menyatakan sikapnya lebih dahulu atas Tanah Perdikan itu.
Meskipun demikian, kemungkinan buruk dapat terjadi. Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan serta anak laki-lakinya yang tidak mempersiapkan diri menghadapi kenyataan tentang dirinya akan dapat terkejut dan kehilangan kendali perasaannya. Namun bagaimanapun juga ia berterima kasih kepada kedua orang yang nampaknya berusaha untuk bertindak dengan sangat berhati-hati.
Dalam pada itu, Sambi Wulung berkata, "Ki Lurah. Sebaiknya Ki Lurah berterus-terang. Percayalah, bahwa yang berjiwa besar bukan hanya Ki Lurah Kasadha, tetapi juga Nyai Wiradana dan Risang, putera Ki Wiradana dan cucu Ki Gede Sembojan."
Wajah Iswari menjadi tegang. Sementara Risang berkata dengan nada gelisah, "Aku menjadi bingung."
"Baiklah," berkata Sambi Wulung kemudian, "nampaknya Ki Lurah tidak dapat mengatakannya sendiri. Aku dapat mengerti perasaannya itu. Karena itu, biarlah aku mewakilinya."
"Kami tidak berkeberatan," sahut Risang yang tidak sabar lagi menunggu terlalu lama.
Sambi Wulung masih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, "Sebelumnya, kita harus mengakui bahwa Ki Lurah Kasadha datang dengan maksud baik. Lepas dari kepentingan pribadi dilambari dengan jiwa yang besar."
"Ya," jawab Iswari, "didukung oleh sikapnya di Gemantar."
"Baik," berkata Sambi Wulung pula, "selanjutnya perkenankanlah aku memperkenalkan anak muda itu. Seharusnya Risang dapat menduga sebelumnya bahwa kemiripan wajahnya dengan wajah Kasadha telah menumbuhkan kesan tersendiri. Keduanya memang pantas ditempatkan pada satu ikatan darah keturunan."
"Maksudmu...?" suara Risang terputus.
Panggraitanya cukup tajam menangkap kata-kata Sambi Wulung. Namun ia kemudian masih menunggu Sambi Wulung meneruskan.
"Nampaknya kau tanggap. Anak muda yang disebut Ki Lurah Kasadha itu adalah adikmu, Risang," suara Sambi Wulung menurun.
Wajah Risang menjadi merah. Sementara itu jantung Iswari bagaikan berhenti berdentang. Sejenak suasana justru menjadi diam dalam ketegangan.
Kasadha sendiri menundukkan wajahnya. Ia memang tidak dapat mengelak lagi. Bahkan dengan suara yang bergetar ia berkata, "Aku adalah Puguh. Orang yang barangkali paling terkutuk bagi Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi sebenarnyalah aku datang sebagai seorang Lurah Penatus dari jajaran keprajuritan Pajang."
"Jadi selama ini kau kelabuhi aku?" bertanya Risang.
"Apakah aku sengaja mengelabui seorang anak muda yang bernama Bharata yang tidak pernah mengatakan berasal dari Tanah Perdikan Sembojan?" justru Kasadha ganti bertanya.
Risang menarik nafas dalam-dalam. Selama ini ia memang tidak pernah berterus-terang tentang dirinya. Karena itu, ia tidak akan dapat menuduh Kasadha dengan sengaja telah menipunya.
Teringat oleh Risang betapa beberapa orang telah memburunya karena mereka menyangka dirinya bernama Puguh. Bahkan ketika ia berada bersama-sama dengan Kasadha yang ternyata adalah Puguh itu sendiri, masih ada orang yang salah dan mengenalinya sebagai Puguh.
Berbagai perasaan bercampur baur di dalam jantung Risang. Tiba-tiba saja kebencian telah mencuat di dalam dadanya. Namun ia tidak dapat ingkar pula, bahwa anak muda yang bernama Kasadha yang kemudian diangkat menjadi Lurah Penatus di Pajang bukan seorang yang pantas dibenci karena tingkah lakunya. Sehingga jika dengan tiba-tiba saja ia membencinya, tentu bukan karena sikap dan tingkah laku Kasadha itu sendiri, setidak-tidaknya selama ia mengenalnya. Karena selama mereka berada di dalam satu kesatuan, Kasadha justru pantas untuk mendapatkan pujian. Kenyataan itu pula yang telah mengangkatnya menjadi seorang Lurah Penatus meskipun ia masih sangat muda untuk jabatan itu.
Namun dalam pada itu Bharata yang di Tanah Perdikan Sembojan dikenal bernama Risang itupun bertanya, "Kenapa kau selama ini tidak mempergunakan namamu sendiri?"
"Pertanyaan yang sama dapat aku berikan juga kepadamu. Sudah tentu alasan kita berbeda. Jika kau masih mempunyai kepercayaan kepadaku sedikit saja, maka dengarlah, aku memang berusaha untuk mengubur masa lampauku. Puguh telah aku bunuh. Dan aku ingin lahir kembali sebagai Kasadha yang kini menjadi Lurah Penatus dalam jajaran keprajuritan Pajang," jawab Kasadha dengan nada dalam.
Risang justru termangu-mangu sejenak. Meskipun jantungnya masih saja bergejolak, tetapi ia condong untuk mempercayai kata-kata Kasadha. Jika ia beralaskan pribadi Puguh sebagaimana dibayangkan sebelumnya, maka ia akan melihat dua sosok yang jauh berbeda. Puguh menurut gambarannya sama sekali bukan Kasadha yang dikenalnya.
Dalam pada itu, hati Iswaripun telah bergejolak. Ia sama sekali tidak pernah menghubungkan anak muda yang bernama Kasadha, yang memiliki wajah mirip anaknya, bahkan dianggap sebagai kakak beradik di barak kesatuannya itu adalah benar-benar sedarah dengan anaknya. Seayah.
Persoalan yang menyangkut hubungan keluarganya itu telah mengungkat perasaannya sebagai seorang perempuan yang merasa pernah disia-siakan hidupnya sampai saat suaminya, ayah Risang itu terbunuh. Dendamnya telah membakar seisi dadanya sampai ke ubun-ubun. Dua kali ia pernah menyabung nyawa dalam perang tanding melawan ibu anak muda yang kini duduk di hadapannya dengan kepala tunduk, sikap yang mapan dan beralaskan unggah-ungguh yang baik, seorang prajurit yang berani dan bersikap jujur pada nuraninya dalam tugasnya.
"Kenapa anak itu tidak datang dengan bertolak pinggang?" Iswari menggeram di dalam hati, "kenapa ia tidak menantang Risang di medan" Kenapa ia tidak berteriak-teriak agar Tanah Perdikan diserahkan kepadanya" Jika demikian persoalannya akan jelas. Risang akan bersikap sebagai seorang laki-laki menghadapinya. Apapun yang terjadi. Kalah atau menang dapat terjadi kemudian. Tetapi anak itu datang sambil mengangguk hormat. Ia datang sebagai anak yang baik."
Demikian tajamnya gejolak di dalam dada Iswari sebagai seorang perempuan, maka gagallah usahanya untuk membendung air matanya. Tiba-tiba saja Iswari menangis. Kedua telapak tangannya telah menutupi wajahnya yang menunduk. Namun ia tidak dapat menyembunyikan isaknya.
Ki Tumenggung Jaladara benar-benar menjadi bingung. Persoalan yang dihadapinya tiba-tiba saja telah bergeser ke arah yang tidak diketahuinya. Karena itu, maka yang terbaik baginya kemudian adalah berdiam diri.
"Ibu," desis Risang, "kita memang dihadapkan pada satu kenyataan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan."
Iswari mengangguk kecil. Perlahan-lahan isaknyapun mereda. Sementara itu Sambi Wulung berkata, "Maaf Nyai. Mungkin kenyataan ini telah menggetarkan perasaan Nyai. Tetapi aku kira lebih baik semuanya ini kita sadari sekarang."
Iswari mengangguk kecil. Di sela-sela isaknya Iswari itu bertanya, "Apakah Ki Lurah sudah tahu bahwa dua kali aku pernah berperang tanding dengan ibumu?"
"Telah tersirat dalam kata-kata guru dan bahkan orang tuaku sendiri. Jelas atau tidak jelas," jawab Kasadha.
"Jadi Ki Lurah sadar apa yang Ki Lurah lakukan atas Tanah Perdikan ini?" bertanya Iswari.
"Aku sadar sepenuhnya Nyai. Aku tidak akan menyembunyikan sikap orang yang selama ini menyebut dirinya ayahku, bahwa Puguh masih harus mengambil Tanah Perdikan ini dari tangan Risang. Sampai saat terakhir hal itu masih dibisikkan di telingaku. Tetapi sudah aku katakan, Puguh sudah mati. Ki Lurah Penatus Kasadha tidak akan melakukan hal itu bagi kepentingan pribadinya. Atau lebih buruk lagi memanfaatkan keadaan untuk kepentingan diri sendiri," jawab Kasadha.
"Tetapi ibumu bagiku bagaikan hantu perempuan yang telah membayangi hidupku, bahkan sempat menghancurkan keluargaku," berkata Iswari.
"Apakah Nyai akan membebankan kesalahan itu di pundakku?" bertanya Kasadha.
Isak Iswari justru mengeras. Tetapi ia menjawab terbata-bata, "Tidak. Ki Lurah Kasadha tidak seharusnya menerima beban kesalahan ibunya. Kau terlalu baik untuk menjadi anak Warsi yang mempunyai kaitan langsung dengan kelompok yang disebut Kalamerta. Baik langkah-langkah yang diambilnya, maupun ilmunya."
"Terima kasih Nyai, jika Nyai tidak menyangkutkan aku, seorang prajurit Pajang yang mengemban tugas dengan beban kesalahan yang harus dipikul oleh Puguh," jawab Kasadha.
Iswari mengangkat wajahnya. Tiba-tiba saja meluncur dari bibirnya, "Ki Lurah Kasadha, kau telah berhasil menembus dinding kegelapan yang membelenggu. Hanya orang-orang yang berpribadi kuat sajalah yang mampu melakukannya."
"Guruku mempunyai sikap yang berbeda dengan ibu dan orang yang mengaku sebagai ayahku. Sikap ibuku yang terlalu keras dan kasar, serta kebencian laki-laki yang mengaku ayahku itu kepadaku, ternyata telah menyelamatkan jalan hidupku dari kuasa kegelapan itu, karena aku merasa menjadi jauh dari mereka," berkata Kasadha.
"Ibu," berkata Risang sambil bergeser mendekati ibunya, "aku sependapat dengan ibu."
"Terima kasih," berkata Kasadha dengan suara sendat, "aku telah menemukan sinar yang membuat hatiku semakin terang."
"Mudah-mudahan besok kita tidak, bertemu di medan Kasadha," suara Risang lembut.
"Aku tetap pada sikapku. Aku tidak akan berada di induk pasukan. Bukankah kau sebagaimana dalam pertempuran sebelumnya akan berada di induk pasukan?" bertanya Kasadha.
"Ya," jawab Risang.
"Baiklah Risang. Aku minta diri. Mudah-mudahan aku berhasil berdiri di atas sikap seorang prajurit Pajang. Meskipun prajurit Pajang yang kurang baik, karena sikapku berbeda dengan sikap Ki Rangga Larasgati serta Ki Tumenggung Bandapati," berkata Kasadha kemudian.
Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun minta diri kepada Nyai Wiradana, "Aku mohon diri Nyai. Aku mohon maaf bahwa aku telah menimbulkan persoalan di dalam diri Nyai. Aku tidak tahu, apakah yang aku lakukan ini sesuai dengan keinginan yang sebenarnya tersimpan di dalam hatiku. Tetapi aku mengucapkan terima kasih atas kebaikan keluarga di Tanah Perdikan ini. Dendam yang begitu cepat dapat disingkirkan, sementara dendam di pihak lain bagaikan semakin menyala." Lalu katanya kepada Risang, "berbahagialah kau Risang. Kau dilahirkan oleh seorang ibu yang baik, yang berjiwa besar dan berhati seluas lautan dengan kesabarannya yang mengagumkan."
"Sudahlah," potong Iswari yang masih terisak.
"Nyai masih juga memberi kesempatan ibuku untuk tetap hidup meskipun dalam perang tanding Nyai dapat membunuhnya," berkata Kasadha.
"Jika kau ingin melupakan masa lalumu dengan membunuh Puguh dan melahirkan sosok pribadi yang baru, lupakan semuanya itu Ki Lurah," berkata Iswari kemudian.
"Aku akan melupakannya Nyai. Tetapi perkenankan bahwa aku ingin memberi peringatan kepada keluarga di Tanah Perdikan ini, bahwa laki-laki yang mengaku ayahku dan hidup bersama ibuku itu masih mengancam ketenangan hidup keluarga Tanah Perdikan ini di samping sikap Pajang," berkata Kasadha.
Iswari mengangguk kecil. Katanya, "Aku berterima kasih atas peringatanmu itu."
Demikianlah, maka Kasadhapun telah mohon diri dengan kesan tersendiri di dalam hatinya. Diantar oleh dua orang pengawal Tanah Perdikan Kasadha telah dilepas di perbatasan.
Kasadhapun kemudian telah berjalan dalam kegelapan menuju ke perkemahan prajuritnya. Ternyata semua prajuritnya telah beristirahat, selain mereka yang bertugas. Seorang di antara kedua orang pemimpin kelompok yang dibawanya menghadap Ki Rangga Larasgati masih menunggunya.
"Kau belum beristirahat?" bertanya Kasadha.
"Aku menunggu Ki Lurah," jawab pemimpin kelompok itu.
"Kenapa kau menunggu aku?" bertanya Kasadha pula.
"Suasana Tanah Perdikan ini agak berbeda dengan Gemantar. Aku mencemaskan Ki Lurah."
Ki Lurah Kasadha telah memaksa diri untuk tersenyum. Katanya dengan nada lemah, "Tidak. Tanah Perdikan ini sama saja dengan Tanah Perdikan Gemantar. Keras dan tegar pada sikapnya, menentang kekuasaan Pajang yang telah disalahgunakan."
"Dan kita menjadi salah satu alat untuk memaksakan kuasa yang disalahgunakan Ki Lurah?" bertanya pemimpin kelompok itu.
Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Sementara pemimpin kelompok itu berdesis, "Jika kita mati besok, maka kematian itu sama sekali tidak berarti bagi Pajang."
Ki Lurah Kasadha telah menundukkan kepalanya. Namun iapun kemudian berdesis, "Kita adalah prajurit yang tunduk kepada perintah. Tetapi segala sesuatunya masih akan dapat diluruskan. Sementara ini kita memang harus ikut menjaga wibawa Pajang, sehingga pada saatnya semuanya diletakkan kembali pada yang seharusnya, Pajang tidak kehilangan kewibawaannya."
Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk kecil. Desisnya, "kita memang harus mencari pegangan bagi langkah sekarang ini."
Ki Lurah Kasadha tertawa. Pemimpin kelompok yang mendengar suara tertawa itu terkejut. Namun kemudian ia menyadari bahwa Ki Lurah Kasadha tertawa justru untuk mengurangi sakit yang menyengat jantungnya.
Pemimpin kelompok itu tidak bertanya apa-apa lagi. Ia tahu, bahwa pertanyaan-pertanyaannya akan dapat membuat hati Kasadha menjadi semakin tersiksa.
Apalagi jika pemimpin kelompok itu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam gejolak perasaan Lurah Penatusnya. Jika saja ia tahu hubungan keluarga antara Risang, panglima pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang juga anak Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu dengan Kasadha sendiri.
"Sudahlah. Tidurlah," berkata Kasadha kepada pemimpin kelompoknya itu.
"Ki Lurah juga harus beristirahat," berkata pemimpin kelompok itu.
"Ya. Aku juga akan tidur," sahut Kasadha.
Kasadha memang pergi ke tempat yang telah disediakan baginya. Tetapi hampir di luar sadarnya Kasadha telah melangkah meninggalkan tempat itu dan berjalan di antara prajurit-prajuritnya yang tidur lelap. Ketika ia duduk di atas sebongkah batu padas, maka terasa debar jantungnya bergetar lebih cepat. Di langit dilihatnya bulan yang tidak bulat mulai tumbuh di langit di jauh malam.
Cepat-cepat Kasadha meninggalkan tempatnya dan kembali ke perkemahannya, berbaring di bawah atap anyaman ilalang yang dibuat baginya. Bulan ternyata telah memberikan kesan tersendiri baginya. Apalagi ketika terdengar aum serigala di kejauhan.
Kasadha menutup telinga sambil memejamkan matanya. Ia mencoba untuk dapat tidur. Tetapi dadanya justru terasa bergejolak semakin cepat.
Di padukuhan pertama dalam lingkungan batas Tanah Perdikan Sembojan, Iswari benar-benar tidak dapat menahan dirinya. Sifat-sifatnya sebagai perempuan telah benar-benar bergejolak. Karena itu, maka iapun dengan tergesa-gesa telah masuk ke dalam bilik di banjar padukuhan itu dan menangis sejadi-jadinya.
"Panggil Bibi," Risang telah memerintahkan seorang pengawal untuk pergi ke padukuhan tempat Bibi dan perempuan-perempuan menyiapkan makan dan minum bagi para pengawal.
Ki Tumenggung Jaladara yang kebingungan telah bertanya kepada Sambi Wulung perlahan-lahan setelah ia minta Sambi Wulung bergeser mendekatinya.
"Satu ceritera yang panjang Ki Tumenggung," berkata Sambi Wulung.
Namun Sambi Wulungpun kemudian dengan singkat telah menceriterakan hubungan antara Nyi Wiradana, Risang dan Kasadha.
Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Meskipun belum jelas benar, tetapi ia sudah dapat membayangkan hubungan itu.
Ketika Bibi datang, maka Risangpun telah membawanya kepada ibunya dan seakan-akan telah kehilangan pegangan. Sikapnya bagaikan menjadi kabur dan bimbang.
Risanglah yang memberitahukan kepada Bibi, bahwa Ki Lurah Kasadha telah datang. Ia telah bersikap baik kepada Tanah Perdikan ini. Bahkan telah menyisihkan kepentingan pribadinya sehingga ia telah menunjukkan bahwa ia bukan lagi Puguh menurut gambaran mereka. Karena Ki Lurah Kasadha itu adalah Puguh itu sendiri.
Bibi menarik nafas dalam-dalam. Ia adalah orang yang mendapat tugas untuk menyelesaikan seorang perempuan yang sedang mengandung pada waktu itu. Ia adalah orang yang pada saatnya adalah seorang yang liar dan buas, sebuas serigala sehingga ia telah disebut sebagai Serigala Betina.
Tetapi ketika sekilas cahaya terang memancar di hatinya, sehingga ia gagal membunuh perempuan yang sedang mengandung itu, maka rasa-rasanya perempuan yang mengandung, yang akan dibunuhnya itu telah menjadi saudara kandungnya. Anak yang kemudian lahir dari perempuan itu rasa-rasanya seperti anaknya sendiri.
Karena itu, maka apa yang dirasakan oleh Iswari terasa pula di dalam jantung Bibi. Seperti Iswari ia merasakan tekanan di hatinya, justru karena Kasadha yang tidak lain adalah Puguh itu sendiri datang dengan sikap yang baik, sehingga para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat menghadapinya dengan sikap yang keras pula.
Namun dalam keadaan yang demikian, maka Bibi itu telah mencoba untuk menangkap kembali sinar terang di dalam hatinya. Ia mencoba mengerti dan memahami sikap Iswari untuk diangkat menjadi sikapnya pula. Bahkan ia sempat berkata, "Sudahlah Nyai. Kita wajib bersyukur bahwa orang yang selama ini kita cemaskan akan datang dengan dendam yang membara di hatinya, telah datang dengan niat yang lain."
"Ya bibi," desis Iswari di sela-sela isaknya, "aku menyesal kenapa selama ini aku telah menanggung beban di dalam hati. Mendendam anak yang ternyata adalah anak yang baik."
"Dendam Nyai tidak kepada Puguh. Tetapi kepada ibunya. Jika anak itu memang datang dengan niat yang baik, maka kita akan menerimanya dengan baik pula. Bahkan seandainya orang yang kita anggap bersalah terhadap kita namun kemudian menyadari kesalahannya, maka kita akan memaafkannya. Aku adalah orang yang selama hidupku, terutama di masa mudaku, bergelimang dengan dosa. Aku berharap bahwa dosa-dosa itu akan dapat diampuni pula," berkata Bibi.
Iswari mengangguk-angguk. Katanya, "aku mengerti Bibi."
"Tetapi bagaimana dengan persoalan antara Pajang dengan Jipang?"
Iswari mengusap matanya. Persoalan itu ternyata telah menggugah jiwanya sebagai seorang Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.
"Kita akan bertempur besok Bibi," jawab Iswari.
"Jadi?" bertanya Bibi, "Kita harus mempersiapkan segala-galanya?"
"Ya. Kasadha, Lurah Penatus itu sudah berusaha memberikan pendapatnya yang barangkali juga baik bagi Tanah Perdikan ini. Tetapi dengan demikian kami akan kehilangan harga diri kita."
"Risang telah berceritera serba sedikit," berkata Bibi.
"Karena itu, maka besok kita akan bertempur," berkata Iswari.
"Jika demikian, maka sebaiknya Nyai beristirahat sekarang. Lewatkan semua beban perasaan, agar tubuh Nyai besok menjadi segar, sehingga Nyai akan mendapatkan kekuatan dan kemampuan Nyai sepenuhnya," berkata Bibi kemudian, lalu, "aku akan kembali ke padukuhan sebelah."
Iswari mengangguk-angguk. Katanya, "Silahkan Bibi. Tetapi kaupun harus beristirahat pula."
Ketika Bibi kemudian meninggalkan banjar padukuhan itu, ia melihat Gandar sedang berbicara dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung. Nampaknya mereka berbicara dengan sungguh-sungguh.
Bibipun kemudian mendekatinya sambil bertanya, "Dimana Risang?"
"Bersama Ki Tumenggung Jaladara," jawab Sambi Wulung, "dua orang penghubung dari Jipang telah melaporkan, bahwa pasukan Jipang berada di padukuhan induk."
"O," Bibi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, "Kami telah menyediakan makan dan minum bagi mereka. Tentu sudah ada yang mengambil ke dapur. Kami sudah menyediakan dua pedati untuk membawa rangsum itu. Tetapi aku akan segera ke dapur."
Dalam pada itu, ternyata Risang dan Ki Tumenggung Jaladara memutuskan untuk pergi ke padukuhan induk.. Bersama Gandar mereka bertiga berpacu di punggung kuda melintasi bulak yang agak panjang menuju ke padukuhan induk.
Sebenarnyalah telah berada di banjar padukuhan induk, sepasukan prajurit Jipang. Ketika mereka melihat Ki Tumenggung Jaladara datang, maka pemimpin pasukan itupun segera menghadap dan memberikan laporan tentang kedatangannya.
"Baiklah. Kalian akan beristirahat disini. Besok menjelang fajar kalian akan berangkat ke perbatasan untuk menghadapi prajurit Pajang yang telah datang lebih dahulu. Mereka sempat beristirahat lebih panjang dari kalian. Tetapi aku harap bahwa besok di medan kalian tidak mengecewakan," berkata Ki Tumenggung Jaladara.
Sementara itu, makanan dan minuman telah datang sebanyak dua pedati. Ki Tumenggung memerintahkan agar mereka segera makan dan minum setelah mencuci tubuh mereka. Terutama kaki dan tangan.
"Makanlah agar kalian dapat segera beristirahat secukupnya," berkata Ki Tumenggung.
Pasukan yang letih itupun segera makan dan minum. Merekapun kemudian telah menebar, beristirahat dimanapun mereka menjatuhkan dirinya.
"Semuanya dapat beristirahat," berkata Ki Tumenggung Jaladara. "Percayakan pengawasan lingkungan ini kepada para pengawal Tanah Perdikan, kecuali pengawasan khusus di dalam halaman banjar padukuhan induk ini. Sehingga dengan demikian tenaga yang kita perlukan malam ini tidak terlalu banyak."
Setelah memberikan beberapa petunjuk dan memperkenalkan Risang sebagai pimpinan tertinggi pasukan pengawal di Tanah Perdikan Sembojan, maka Ki Tumenggungpun telah minta diri untuk kembali ke padukuhan pertama.
Risang yang juga kembali bersama Ki Tumenggung telah meninggalkan Gandar di induk padukuhan agar esok menjelang fajar membawa pasukan itu ke garis pertahanan pertama.
Malam itu, kedua belah pihak yang bersiap-siap untuk bertempur telah beristirahat sebanyak mungkin dapat mereka lakukan. Namun seperti juga Kasadha, maka Risang dan Nyai Wiradana hampir tidak dapat tidur sekejappun. Bahkan demikian pula Gandar dan para pemimpin yang lain.
Ketika Risang kemudian memberikan laporan kepada ibunya, bahwa ia telah pergi ke padukuhan induk untuk menerima kedatangan pasukan dari Jipang, ibunya telah bertanya pula, "Apakah kau berbicara dengan kakek dan nenekmu?"
Risang menggeleng. Katanya, "Tidak ibu. Aku tidak sempat menemui kakek dan nenek."
Iswari mengangguk kecil. Katanya, "Sudahlah, tidak mengapa. Besok kita minta seorang penghubung untuk memberikan laporan tentang kehadiran pasukan Pajang dan kemudian pasukan Jipang."
"Kakek dan nenek tentu sudah tahu akan kedatangan prajurit Jipang itu," sahut Risang.
Iswari mengangguk-angguk pula. Lalu katanya, "Sudahlah beristirahatlah. Mungkin sulit bagimu untuk dapat tidur barang sekejappun. Tetapi kau memerlukan istirahat itu."
Risangpun kemudian telah meninggalkan ibunya. Ia memang mencoba untuk memejamkan matanya di serambi banjar padukuhan itu. Meskipun ia tidak dapat tidur nyenyak, tetapi Risang ternyata sempat beristirahat barang sejenak.
Menjelang dini hari, maka semuanya telah bangun. Prajurit Pajang telah bersiap-siap untuk mengambil ancang-ancang. Pasukan Pajang yang telah bertambah dengan pasukan Ki Lurah Kasadha merasa bahwa mereka akan segera dapat memecahkan pertahanan pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan.
Namun dalam pada itu, sebelum pasukan Kasadha bergabung, Kasadha sempat mengumpulkan pasukannya dan memberitahukan kepada para prajuritnya, "Kita menyesal, bahwa di Tanah Perdikan ini kita harus bertempur dengan orang yang telah kita kenal dengan sangat baik. Orang yang pernah berada di dalam pasukan ini."
Para prajurit Pajang itu saling berpandangan. Mereka saling bertanya yang satu dengan yang lain.
Namun Kasadha kemudian menegaskan, "Orang itu adalah Bharata. Ternyata Bharata yang kita kenal dengan baik sebagai prajurit terbaik dalam pasukan ini adalah putera Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini. Bharatalah yang kini memegang pimpinan tertinggi pasukan pengawal Tanah Perdikan ini. Tetapi Bharata ternyata bukan orang yang memiliki ilmu tertinggi disini. Ibunya. Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini adalah seorang perempuan yang memiliki ilmu yang tingginya sampai menggapai langit. Tetapi kalian tidak usah menjadi cemas. Itu adalah tugas Ki Rangga Larasgati."
Prajurit-prajurit Pajang di bawah pimpinan Kasadha itu memang menjadi tegang. Bagaimana mungkin mereka akan berhadapan dengan Bharata. Satu-satunya orang yang memiliki kemampuan setinggi Bharata adalah Kasadha itu sendiri. Tetapi apakah mungkin Kasadha akan bertempur menghadapi Bharata. Keduanya di dalam pasukan mereka dikenal sebagai dua orang yang selalu bekerja bersama. Saling menolong dan keduanya sering melakukan tugas-tugas berat bersama-sama. Bahkan Ki Lurah Dipayuda dan juga beberapa orang yang lain menganggap keduanya bagaikan bersaudara. Wajah keduanyapun mirip sekali seperti kakak beradik.
Tetapi Kasadhapun kemudian berkata, "Namun bagaimanapun juga, kita tidak dapat ingkar dari kenyataan ini. Kita adalah prajurit Pajang yang mendapat perintah untuk melakukan satu tugas betapapun tugas itu terasa sangat berat. Bukan bagi wadag kita, Wadag seorang prajurit. Tetapi berat bagi hati kita. Bahkan beban yang hampir tidak terangkat."
Para prajurit itu mengangguk-angguk kecil. Memang suasananya agak berbeda dengan saat-saat yang lain jika mereka terjun di peperangan. Kasadha tidak berbicara untuk memanaskan darah mereka sehingga jika saatnya mereka turun ke medan, tangan mereka akan segera mengayunkan api yang menyala di dalam dada mereka. Sehingga dengan demikian, maka rasa-rasanya darah mereka tetap dingin sebagaimana dinginnya dini hari meskipun mereka sudah siap untuk turun ke medan.
Namun sejenak kemudian Kasadha telah membawa pasukannya untuk bergabung dengan pasukan Ki Rangga Larasgati. Pasukan Kasadha yang sepuluh kelompok itu telah dibagi menjadi tiga. Tiga kelompok di sayap kanan, tiga kelompok di sayap kiri dan empat kelompok akan berada di induk pasukan. Tetapi Kasadha telah bertekad untuk tidak berada di induk pasukan.
Demikianlah, maka mendekati fajar, pasukan Pajang telah siap seluruhnya. Mereka telah selesai makan dan minum sepuasnya-puasnya. Mereka tinggal menyiapkan diri serta memusatkan nalar budi mereka untuk memasuki medan perang yang menurut perhitungan mereka tidak akan begitu berat lagi setelah kedatangan pasukan Ki Lurah Kasadha, meskipun mereka juga memperhitungkan bahwa pasukan Tanah Perdikan Sembojan tentu juga akan memperkuat diri. Tetapi prajurit Pajang, terutama pasukan yang dibawa oleh Ki Rangga Larasgati yakin, bahwa mereka tentu akan dapat memasuki padukuhan induk pada hari itu.
Tetapi di luar pengamatan orang-orang Pajang karena pasukan pengawal Tanah Perdikan yang menebar melindungi daerah pengawasan lintasan pasukan Jipang, maka prajurit Jipang itupun telah memasuki padukuhan yang menjadi alas pertahanan pertama pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang menghadap ke perbatasan.
Ketika fajar menjadi semakin merah-maka di kejauhan telah terdengar suara bende yang pertama dibunyikan oleh prajurit Pajang. Sementara itu, Risang telah memerintahkan kepada seluruh pasukan yang ada, termasuk para prajurit Jipang untuk menyesuaikan diri dengan isyarat yang justru dibunyikan oleh pasukan Pajang.
Beberapa saat kemudian, setelah seluruh pasukan berada di tempat masing-masing sebagaimana ditentukan, telah terdengar isyarat bunyi bende yang kedua. Seluruh pasukanpun telah bersiap. Seperti prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Lurah Kasadha yang masih segar, maka para prajurit Jipangpun telah menebar merata di seluruh lapisan gelar.
Kesempatan terakhir untuk memeriksa kesiagaan diri sendiri. Senjata serta kelengkapan yang lain. Sebelum bende yang ketiga berbunyi.
Bagaimanapun juga para prajurit dan pengawal yang memasuki medan itupun menjadi berdebar-debar. Mereka menghadapi kemungkinan untuk tidak dapat keluar lagi dari arena garis perang karena jantung mereka tertembus ujung pedang.
Tetapi satu perintah terakhir telah terdengar. Bunyi bende untuk yang ketiga kalinya. Risang yang menyesuaikan diri dengan isyarat pasukan Pajang yang terdengar lamat-lamat di kejauhan itu, telah meneriakkan aba-aba yang disahut oleh para pemimpin di pasukannya. Kemudian para pemimpin kelompokpun telah menyahut aba-aba itu, sehingga sejenak kemudian telah terdengar gegap gempita di dalam pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Ketika kemudian mereka bergerak maju, maka yang meneriakkan aba-aba mengulang perintah Risang, bukannya hanya pemimpin kelompok saja, tetapi juga para pengawal Tanah Perdikan.
Sementara itu, langit menjadi terang. Cahaya fajar telah menjadi semakin menguning.
Menjelang matahari terbit, kedua belah pihak telah menjadi semakin dekat. Ternyata prajurit Pajanglah yang kemudian lebih dahulu sampai ke perbatasan.
Demikian mereka melintas, maka Risang telah memberikan isyarat kepada pasukannya untuk berlari menyongsong mereka.
Ki Rangga Larasgati melihat sesuatu yang tidak diperkirakan lebih dahulu. Ternyata pasukan pengawal Tanah Perdikan itu menjadi semakin banyak. Lebih banyak dari pasukan pengawal yang dihadapi sebelumnya.
Ketika langit menjadi semakin cerah, serta kedudukan kedua pasukan itu semakin dekat, maka Ki Rangga Larasgati telah mengumpat. Ternyata ia melihat bukan saja para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang menghadapi pasukannya, tetapi juga para prajurit Jipang.
"Setan," geramnya, "Tumenggung Jaladara ternyata sangat licik. Ia mencampuri persoalan yang timbul di dalam lingkungan rumah tangga Pajang."
Ternyata kemarahan Ki Rangga Larasgati tidak hanya bergejolak di dalam dadanya. Tetapi Ki Rangga telah berteriak nyaring, "Kita ternyata telah berhadapan dengan orang-orang yang licik. Beberapa orang prajurit Jipang telah bergabung dengan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Jangan gentar. Kita akan menghancurkan mereka."
Para prajurit Pajang memang melihat ditilik dari pakaian mereka, beberapa orang prajurit Jipang berada di pasukan Tanah Perdikan Sembojan tanpa mereka ketahui sebelumnya. Jika hal itu diketahuinya, maka Ki Rangga tentu akan membuat perhitungan-perhitungan lain. Tetapi kini mereka telah berada di arena Pertempuran.
Kasadha juga melihat prajurit Jipang yang lada di pasukan Tanah Perdikan. Tiba-tiba saja Kasadha merasa, bahwa ia akan mendapat tempat untuk menumpahkan gejolak di dalam jantungnya. Jika ia merasa sulit untuk bertempur melawan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan yang mempertahankan haknya, maka ia kemudian telah berhadapan pula dengan orang-orang Jipang yang telah melanggar hak dan wewenang Pajang.


02 Sayap Sayap Yang Terkembang Karya Sh Mintardja di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kasadha menggeretakkan giginya. Ia mulai terbakar ketika ia merasa berhadapan dengan prajurit Jipang yang melibatkan diri dalam persoalan yang bukan wewenangnya.
Karena itu, maka Kasadha yang semula darahnya terasa dingin di saat ia berangkat memasuki arena, telah menjadi hangat karena kehadiran orang-orang Jipang.
Ki Tumenggung Jaladara sendiri ternyata tidak ikut turun ke medan. Bersama Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan Ki Tumenggung berdiri di pintu gerbang padukuhan yang menjadi landasan pertahanan pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu. Bibi yang telah menyelesaikan tugasnya di dapur telah memberikan pesan-pesan kepada beberapa orang yang masih sibuk mengemasi peralatan, mencuci mangkuk dan menyiapkan makan untuk saat makan berikutnya. Jika pertempuran itu tidak dapat diselesaikan dengan cepat, maka menjelang gelap, kedua belah pihak akan menarik pasukan masing-masing. Sementara itu Bibi telah berada di dekat Nyi Wiradana. Ia siap melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Nyi Wiradana itu.
Sementara itu, ketika matahari muncul di cakrawala, maka kedua pasukan itupun telah mulai berbenturan di belakang perbatasan, sehingga dengan demikian maka pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu tetap berada di dalam lingkungannya sendiri.
Pertempuranpun segera berkobar dengan sengitnya. Para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang telah sempat beristirahat, serta merasa mendapat dukungan dari para prajurit Jipang, telah bertempur dengan garangnya. Sementara itu para prajurit Pajangpun telah mengimbangi kegarangan mereka pula. Sementara itu, para prajurit yang datang bersama Ki Lurah Kasadha, meskipun tidak mendapat perintah langsung, tetapi seakan-akan mereka telah menyesuaikan sikap mereka. Yang menjadi sasaran mereka terutama adalah para prajurit Jipang yang ada di dalam pasukan Tanah Perdikan Sembojan.
Di induk pasukan, Ki Rangga Larasgati seakan-akan telah berjanji untuk bertemu dengan Risang. Demikian kedua pasukan itu berbenturan, maka Risangpun telah berhadapan dengan Ki Rangga.
Risang menarik nafas dalam-dalam. Ia memang berniat untuk meneruskan pertempurannya dengan Ki Rangga itu. Apalagi Risang telah menjadi gelisah, karena di pasukan lawan terdapat seorang dikenalnya dengan sangat akrab. Ki Lurah Kasadha. Jika ia langsung bertemu dengan orang lain, maka ia tidak akan sempat berhadapan dengan Kasadha.
Ketika pertempuran itu menjadi semakin seru, maka sekilas Bharata melihat orang-orang yang pernah dikenalnya. Orang-orang yang berasal dari pasukan Ki Lurah Kasadha. Namun Bharata berusaha untuk menyingkirkan perasaannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat mereka atau merasa belum pernah melihat sebelumnya.
Apalagi setelah Ki Rangga yang marah itu mengerahkan segenap tenaganya, sehingga dengan demikian maka perhatian Risang sepenuhnya tertuju kepada Ki Rangga Larasgati.
Namun demikian, terhadap Risang yang dikenal oleh para prajurit Pajang di bawah pimpinan Kasadha itu sebagai Bharata, justru para prajurit itulah yang masih saja memperhatikannya. Mereka masih saja merasa kagum akan kemampuannya. Meskipun Risang berhadapan, dengan Ki Rangga Larasgati yang dikenal memiliki ilmu yang tinggi, namun Risang sama sekali tidak terdesak. Anak muda itu justru mampu mengimbangi ilmu Ki Rangga Larasgati yang banyak dibicarakan orang.
Namun para prajurit Pajang itupun kemudian harus memperhatikan lawan-lawan mereka. Terutama prajurit Jipang. Agaknya permusuhan antara Pajang dan Jipang masih saja membayangi kedua belah pihak, meskipun pimpinan pemerintahan di tempat mereka masing-masing sudah berganti. Karena itu, maka pertempuran antara para prajurit Pajang dan Jipang menjadi sangat seru. Prajurit Pajang di bawah pimpinan Ki Lurah Kasadha adalah prajurit pilihan. Mereka memiliki ketrampilan dan ketahanan tubuh yang terlatih dengan baik. Senjata di tangan mereka seakan-akan merupakan bagian dari anggota tubuhnya.
Sementara itu, orang-orang Jipang adalah orang yang berani dan keras hati. Mereka tidak pernah tergetar menyaksikan betapapun tinggi kemampuan lawan. Karena sebenarnyalah bahwa prajurit Jipang memang sudah ditempa oleh keadaan.
Demikianlah maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Ternyata bahwa seratus orang prajurit di bawah pimpinan Ki Lurah Kasadha itu benar-benar prajurit pilihan. Menghadapi para prajurit dari Jipang mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka.
Tetapi tidak mudah mendesak prajurit-prajurit Jipang yang jumlahnya memang sedikit lebih banyak dari pasukan Pajang. Meskipun kedua belah pihak tersebar dari ujung sayap sampai ke ujung sayap yang lain, namun rasa-rasanya para prajurit yang dibawa oleh Ki Lurah Kasadha telah memilih lawan.
Agak berbeda adalah prajurit Jipang sendiri. Mereka menghadapi lawan tanpa memilih apakah prajurit Pajang itu adalah prajurit di bawah pimpinan langsung Ki Rangga Larasgati atau prajurit yang dibawa oleh Ki Lurah Kasadha. Bagi prajurit Jipang semuanya adalah lawan yang harus mereka hadapi.
Sementara itu para pengawal Tanah Perdikanpun menjadi semakin garang pula. Merekapun merasa mendapat kawan bertempur yang dapat diandalkan. Bagi para pengawal Tanah Perdikan Sembojan, kehadiran para prajurit Jipang itu benar-benar merupakan imbangan dari kedatangan prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Lurah Kasadha itu, sehingga dengan demikian maka para pengawal Tanah Perdikan itu merasa bahwa tugas mereka tidak akan menjadi bertambah berat.
Dalam pada itu, para pengawal Tanah Perdikan Sembojan melihat bagaimana Risang yang muda itu mampu mengimbangi tingkat ilmu Ki Rangga Larasgati dengan hati yang bangga. Mereka berharap bahwa pada suatu saat Risang akan dapat menguasai ilmu sebagaimana ibunya.
Sambi Wulung dan Jati Wulung seperti pertempuran yang terdahulu telah berada di sayap pasukan. Tetapi baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung telah menghindari pula pertempuran dengan Kasadha. Lurah Penatus yang masih muda itu. Sementara Kasadha sendiri akan merasa, jika di pertempuran itu ia bertemu dengan salah seorang dari kedua orang yang dikenalnya di Song Lawa itu, maka berakhirlah sudah pengabdian yang dapat diberikannya kepada Pajang, karena Kasadha tahu pasti bahwa kedua orang itu adalah orang yang berilmu sangat tinggi.
Tetapi beruntunglah, bahwa Sambi Wulung maupun Jati Wulung akan selalu menghindar jika mereka bertemu dengan Kasadha.
Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung memang bukan pembunuh-pembunuh yang tidak berjantung. Mereka tidak menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak terkalahkan di medan pertempuran itu. Meskipun lawan-lawan mereka menyadari bahwa kedua orang yang berada di ujung sayap yang saling berjauhan itu memiliki ilmu yang sangat tinggi, tetapi mereka harus menghadapinya. Para prajurit Pajang telah menyusun kelompok-kelompok kecil untuk menghadapi kedua orang pemimpin Tanah Perdikan yang berada di ujung-ujung gelar.
Di induk pasukan, tidak jauh dari Risang, Gandar bertempur dengan garangnya pula. Tetapi seperti Sambi Wulung dan Jati Wulung Gandar tidak bertindak dengan sesuka hatinya. Ia tidak membunuh saja setiap orang yang mendekatinya. Tetapi Gandar memang berusaha untuk mendorong lawan-lawan mereka surut dan berpikir untuk kedua kalinya jika ia akan datang kembali menghadapinya.
Untuk mengatasinya, maka Gandar memang harus menghadapi sekelompok prajurit di bawah pimpin seorang pemimpin kelompok yang tangkas. Namun bagaimanapun juga, Gandar tetap merupakan hantu bagi para prajurit Pajang.
Bibi saat itu masih belum turun ke medan. Ia masih sibuk memberikan pesan dan petunjuk kepada perempuan-perempuan yang sedang masak bagi para pengawal dan prajurit Jipang yang ada di Tanah Perdikan Sembojan.
Bibi yang diijinkan kembali ke dapur oleh Iswari, telah memberikan petunjuk bukan saja bagaimana perempuan-perempuan itu menyiapkan makan dan minum para prajurit. Tetapi perempuan-perempuan itu harus dapat menyelamatkan diri sendiri jika prajurit Pajang sampai ke tempat mereka.
Namun agaknya dua orang petugas sandi Pajang dapat mengetahui bahwa yang berada di dapur hanyalah perempuan-perempuan saja. Karena itu, tanpa perintah dari siapapun, dua orang petugas sandi itu telah membawa dua orang kawannya yang lain untuk mengacaukan perbekalan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.
"Kita harus dapat menghancurkan alat-alat mereka," berkata salah seorang dari keempat orang itu.
"Sudah tentu. Dan membakar simpanan bahan-bahan makanan yang ada," jawab kawannya.
"Salah satu cara yang baik," berkata yang lain lagi, "dengan tanpa bekal yang cukup, mereka tidak akan dapat bertahan terlalu lama."
"Tetapi apakah mereka tidak akan berusaha untuk membalas dengan merusakkan peralatan dan barang-barang kita?" bertanya orang yang memang pada dasarnya pendiam, sehingga jarang sekali ia ikut dalam pembicaraan apapun.
Yang tertua di antara mereka berkata, "Di dapur kita, terdapat banyak laki-laki yang dapat mempertahankan barang-barang itu. Sementara yang ada di padukuhan sebelah hanya orang-orang perempuan saja. Aku sendiri telah sampai ke padukuhan itu. Yang ada di dapur tidak lebih dari perempuan-perempuan saja. Tanah Perdikan ini telah mengerahkan semua laki-laki maju ke medan pertempuran."
"Orang-orang Tanah Perdikan ini memang bodoh," berkata seorang di antara mereka, "tetapi jika hari ini pasukan kita menembus sampai ke padukuhan induk, maka kerja kita tidak akan ada artinya."
"Tetapi siapa tahu bahwa padukuhan itu adalah satu-satunya tempat untuk menyiapkan makanan dan minum para pengawal dan prajurit. Seandainya para prajurit Pajang hari ini mampu mencapai padukuhan induk, maka orang-orang yang ada di padukuhan itu akan diselamatkan. Mereka akan mengungsi dan para pengawal harus menyusun pertahanan baru. Tetapi perbekalan mereka ternyata telah habis," berkata yang tertua di antara mereka.
"Bagus," desis yang lain, "jika benar yang ada di dapur itu adalah perempuan-perempuan, tentu ada satu dua di antara mereka yang cantik. Bukankah dibenarkan jika pihak yang menang merampas harta benda dan perempuan dari daerah dikalahkan?"
"Jangan merasa menang lebih dahulu," sahut kawannya.
"Setidak-tidaknya di dapur orang-orang Sembojan." jawab orang itu.
Tetapi orang tertua di antara mereka memperingatkan "Tetapi ingat, mungkin ada satu atau dua orang pengawal yang berjaga-jaga di tempat itu. Jika demikian, maka pengawal-pengawal itu harus kita selesaikan lebih dahulu. Kemudian kita akan menghancurkan semua peralatan dan persediaan bahan makanan yang ada di dapur itu. Kita akan membakarnya sehingga asap akan mengepul tinggi. Jika para pengawal dan prajurit Jipang menyadari bahwa padukuhan itu terbakar, mereka tentu akan menjadi lemah, karena mereka mengerti, bahwa bahan-bahan makanan mereka telah menjadi abu. Sebaiknya jangan berpikir tentang perempuan-perempuan yang ada di dapur."
"Apa salahnya?" jawab orang itu.
"Kau akan dibebani oleh pikiran buruk tentang tugasmu. Tetapi terserah kepadamu jika kau merasa berhak melakukannya atas orang-orang yang akan ditundukkan oleh Pajang," berkata orang tertua.
Orang itu justru tertawa. Katanya, "Ki Rangga Larasgati telah mulai berbicara tentang perempuan pula. Katanya Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu adalah perempuan yang cantik meskipun umurnya sudah mendekati masa-masa senjanya."
"Gila," geram orang tertua di antara mereka, "kita pergi sekarang. Tetapi sasaran kita adalah membakar rumah yang dipergunakan sebagai dapur oleh Tanah Perdikan Sembojan ini. Tentu rumah itu pula yang dijadikan lumbung dan tempat penyimpanan bahan-bahan pangan yang lain."
Keempat orang itupun kemudian telah berusaha menyelinap dan menghilang di sela-sela gerumbul-gerumbul liar. Mereka sengaja tidak memberikan laporan, karena mereka ingin membuat satu kejutan bagi para prajurit Pajang dan terutama Ki Rangga Larasgati. Ki Rangga tentu akan memuji ketangkasannya berpikir dan bertindak, sehingga meskipun hanya oleh empat orang, tetapi akan dapat menggoyahkan seluruh sendi-sendi kekuatan Tanah Perdikan Sembojan.
Beberapa saat kemudian, mereka telah mendekati padukuhan yang dipergunakan sebagai dapur bagi para pengawal dan prajurit Jipang itu. Ternyata padukuhan itu memang sepi. Ketika mereka sampai ke pintu gerbang, maka mereka memang melihat dua orang pengawal. Keduanya tidak sempat berbuat banyak. Keduanya ternyata telah lengah. Seorang di antara mereka telah tertusuk pedang di dadanya, sedangkan yang lain, sabetan pisau belati panjang telah menyilang di dadanya pula.
Keempat orang itu dengan hati-hati telah menelusuri jalan induk padukuhan itu. Ternyata rumah yang dipergunakan untuk dapur itu memang tidak terlalu jauh dari pintu gerbang.
Di regol halaman dua orang pengawal nampaknya juga sedang bertugas. Tanpa ragu-ragu, keempat orang itu telah menyergap mereka bersama-sama.
Tetapi kedua orang itu sempat meloncat undur, sehingga mereka segera berada di dalam regol halaman. Namun keempat orang itu segera memburunya.
Di halaman rumah itu segera terjadi pertempuran. Dua orang pengawal melawan empat orang prajurit Pajang. Namun orang tertua itupun berkata, "Selesaikan kedua orang itu berdua. Aku akan menyelesaikan tugas yang lain."
Ketika kedua orang itu berlari ke rumah yang cukup besar itu kedua pengawal itu sempat berteriak sambil bertempur, "Hati-hati. Ada empat orang menyerang kita," suara itu bergetar menyusup ke ruang dalam. Seorang perempuan yang kurang pasti telah menjenguk lewat pintu. Namun iapun segera menjerit ketika ia melihat pertempuran terjadi di halaman, sementara dua orang telah berlari naik ke pendapa.
Teriakan-teriakanpun segera terdengar. Kekacauan telah terjadi di dapur. Meskipun saat itu, perempuan-perempuan yang ada di dapur justru sedang beristirahat sambil mempersiapkan bahan yang akan mereka masak siang nanti.
Dalam pada itu, di medan pertempuran, para prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Lurah Kasadha tengah bertempur dengan keras melawan para prajurit dari Jipang. Sedangkan para prajurit Pajang yang lain seakan-akan harus puas menghadapi para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Namun ternyata bahwa para pengawal itupun memiliki bekal yang tidak kalah dari para prajurit sebagaimana telah mereka jajagi dalam pertempuran sebelumnya.
Ki Rangga Larasgatipun sekali-sekali terdengar mengumpat. Lawannya adalah seorang yang jauh lebih muda daripadanya. Jika anak itu memiliki ilmu seimbang dengan ilmunya, maka daya tahan anak itu tentu akan lebih tinggi daripadanya.
Namun ternyata bahwa prajurit-prajurit yang dibawa oleh Kasadha adalah prajurit-prajurit yang benar-benar tangguh. Mereka secara pribadi memiliki kelebihan dari para prajurit Jipang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi beberapa orang pemimpin kelompok yang langsung mendapat tempaan dari Ki Lurah Kasadha. Mereka telah menggetarkan pertahanan para prajurit Jipang.
Tetapi prajurit Jipang itupun bukannya prajurit yang baru dibentuk. Mereka adalah prajurit-prajurit yang sudah berpengalaman. Mereka termasuk prajurit yang dipilih oleh Jipang untuk ikut serta mendekati Pajang dari arah Timur, sehingga merekapun telah bersiap bertempur melawan orang-orang Pajang.
Dengan demikian maka pertempuranpun semakin lama menjadi semakin garang dan keras. Matahari yang memanjat naik membuat orang-orang yang bertempur itu menjadi bermandikan keringat. Semakin basah tubuh mereka, maka merekapun menjadi semakin garang. Apalagi ketika korban mulai jatuh. Satu dua orang harus disingkirkan dari pertempuran.
Untuk beberapa saat garis pertempuran itu tidak berubah. Geseran-geseran kecil memang terjadi. Tetapi nampaknya kedua belah pihak hanya mampu saling mendesak. Satu pihak maju beberapa langkah. Namun kemudian terdesak kembali.
Kasadha sendiri yang mengalami gejolak di dalam dadanya telah menumpahkan beban di jantungnya itu kepada para prajurit Jipang. Tetapi ketika empat orang prajurit Jipang menghadapinya, maka Kasadha memang bagaikan terkurung. Namun seorang prajurit Pajang dari pasukannya tiba-tiba saja telah menerobos memecahkan kurungan itu, sehingga arena itupun bagaikan terurai kembali.
Baru kemudian Kasadha mendapat lawan yang agak seimbang ketika pimpinan pasukan Jipang itu datang menghadapinya. Ki Lurah Sasaban. Juga masih muda. Tetapi tidak semuda Kasadha.
Keduanyapun telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Namun ilmu kanuragan Kasadha ternyata selapis di atas kemampuan Ki Lurah Sasaban, sehingga untuk melawan Kasadha, Ki Lurah Sasaban memerlukan seorang prajurit untuk membantunya.
Melawan dua orang prajurit Jipang, Kasadha masih mampu menunjukkan kelebihannya. Kadang-kadang kedua orang lawannya itu masih harus berloncatan mundur. Namun kemudian keduanya berhasil mendesak kembali Kasadha sampai ke garis pertempuran.
Namun dalam pada itu, Kasadha dan prajurit-prajuritnya memang sulit untuk membendung gerak maju Sambi Wulung dan Jati Wulung. Kasadha sendiri tidak sempat menyaksikan keduanya yang ada di kedua ujung sayap. Namun ia sudah dapat membayangkan apa yang dapat dilakukan oleh keduanya. Seandainya masing-masing harus menghadapi sekelompok prajurit Pajang, maka keduanya masih tetap sangat berbahaya.
Ki Rangga Larasgati yang bertempur melawan Risang, ternyata benar-benar tidak mampu untuk segera mengalahkannya. Ketika Ki Rangga sampai pada puncak ilmunya, maka Risangpun telah mengerahkan ilmunya pula. Pertempuran di antara mereka memang menjadi semakin sengit. Namun Ki Rangga Larasgati masih tetap mendapat perlawanan yang keras dari Risang yang masih muda.
Gandar yang bertempur tidak jauh dari Risang ternyata ikut menentukan keseimbangan dari pertempuran itu sebagaimana Sambi Wulung dan Jati Wulung. Ketiga orang itu ternyata telah berhasil mendesak orang-orang Pajang yang menempatkan diri melawan mereka. Lima orang telah bersama-sama menghadapi Gandar. Namun mereka tidak banyak dapat berbuat. Apalagi para pengawal Tanah Perdikan Sembojanpun tidak membiarkan Gandar bertempur seorang diri melawan sekelompok prajurit. Satu dua orang pengawal kadang-kadang telah datang membantu Gandar sehingga lawan Gandar itupun menjadi berkurang. Namun, demikian satu dua orang harus bergeser menghadapi para pengawal Tanah Perdikan, satu dua orang yang lain telah bergabung pula ke dalam kelompok kecil itu karena mereka menyadari, Gandar adalah seorang yang berilmu tinggi.
Tetapi tanpa orang lainpun Gandar masih juga mampu untuk bertahan dan bahkan mendesak lawannya. Meskipun Gandar bukan seorang pembunuh yang berhati batu, namun dalam pertempuran yang sengit, kadang-kadang Gandar memang telah melukai lawan-lawannya. Bahkan di luar sadarnya, seorang di antara lawan-lawan Gandar itu telah terlempar dan terbanting jatuh. Tetapi malang baginya, karena kepala orang itu telah membentur batu padas, sehingga orang itu hanya sempat menggeliat. Namun kemudian untuk selama-lamanya prajurit itu tidak dapat bergerak lagi.
Sementara itu, di padukuhan tempat perempuan-perempuan Tanah Perdikan Sembojan mempersiapkan makan dan minum bagi para pengawal dan para prajurit, telah terjadi keributan. Perempuan-perempuan berlari-larian sementara dua orang pengawal masih bertempur di halaman. Dua orang petugas sandi dari Pajang yang lain telah memasuki ruang dalam rumah yang dipergunakan sebagai dapur bagi pasukan Tanah Perdikan dan prajurit Jipang itu.
Ternyata bahwa kedua orang prajurit sandi Pajang yang bertempur di halaman itu memiliki kelebihan dari dua pengawal yang bertugas di dapur itu. Dengan cepat kedua orang pengawal itu telah mulai terdesak.
*** Kontributor eBook: DJVU: Haryono & Kuncung (dimhad.co.nr)
Editor: Dimhader (di dimhad.co.nr, maaf... tidak tahu kontributornya), dan Dewi KZ (dewikz.com)
Spell Check & Minor Edit:
ePub Lover (facebook.com/epub.lover)
SAYAP-SAYAP YANG TERKEMBANG
Karya: SH Mintardja Penerbit: Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta
JILID 35 NAMUN kedua orang pengawal itu memang merasa bertanggung jawab. Di halaman itu tidak ada orang lain yang bertugas. Ada beberapa orang pengawal di banjar. Namun keduanya tidak sempat memukul kentongan untuk memberi isyarat kepada petugas di banjar.
Kedua pengawal itupun merasa heran, bahwa para pengawal di regol juga tidak memberikan isyarat apa-apa.
"Agaknya mereka juga tidak sempat melakukannya," berkata para pengawal itu di dalam hatinya.
Tetapi keduanya benar-benar mengalami kesulitan untuk tetap bertahan. Sementara itu kentongan berada di sebelah pendapa rumah itu. Sedangkan dua orang prajurit Pajang telah memasuki rumah itu. Mereka akan dapat berbuat apa saja di antara perempuan-perempuan yang sedang berada di dapur.
Karena itu, maka seorang di antara para pengawal itu telah bertekad untuk menggapai kentongan apapun yang terjadi atas dirinya sendiri. Ia harus membunyikan kentongan itu untuk memanggil para pengawal di banjar. Tetapi ia sadar, bahwa pada saat yang demikian, maka lawannya itu mempunyai kesempatan yang sangat baik untuk menikamnya dengan senjatanya.
Tetapi ia tidak mempunyai jalan lain untuk menyelamatkan rumah itu serta perbekalan yang ada di situ.
Namun dalam pada itu, selagi orang itu bersiap-siap untuk meloncat berlari menggapai kentongan itu, maka yang sedang bertempur di halaman itu terkejut. Seorang prajurit Pajang tiba-tiba saja telah terlempar dari pintu depan rumah itu dengan terbanting jatuh di pendapa. Belum lagi orang itu sempat bangkit maka seorang lagi telah terdorong dengan kerasnya. Bahkan kakinya telah terantuk tubuh yang sedang dengan susah payah untuk bangkit itu, sehingga orang yang kedua itupun telah terlempar dan jatuh pula di pendapa rumah itu.
Para prajurit Pajang yang bertempur di halaman itu terkejut sehingga mereka telah meloncat mengambil jarak dari lawan-lawan mereka.
Keduanya memang terkejut. Yang keluar dari pintu rumah itu kemudian ternyata adalah seorang perempuan yang agak gemuk. Namun perempuan itu memang memakai pakaian yang khusus. Tidak seperti kebanyakan pakaian orang-orang perempuan yang lain.
Demikian orang itu berdiri di luar pintu, maka terdengar suaranya lantang, "Ayo berdiri. Kita bertempur dengan jujur. Aku akan melawan kalian berdua."
Kedua orang prajurit yang terjatuh di halaman itu telah berusaha untuk bangkit. Demikian mereka berdiri, maka seorang di antara mereka mengumpat, "Iblis kau. Kau telah mengejutkan kami. Jangan kau sangka bahwa kau memiliki sesuatu yang dapat kau banggakan terhadap kami selain kegilaanmu sehingga membuat kami terkejut."
Perempuan itu adalah Bibi. Sambil bertolak pinggang Bibi berkata, "Aku adalah orang yang bertanggung jawab disini. Karena itu, maka jika kalian ingin mengganggu kami, maka kalian akan berhadapan dengan aku."
Kedua pengawal yang ada di halaman itu mulai berpengharapan. Mereka tahu bahwa Bibi adalah seorang perempuan yang memiliki kemampuan untuk bertempur. Bersama Bibi maka mereka akan mempunyai kesempatan lebih banyak. Setidak-tidaknya kedua orang prajurit Pajang yang dua orang itu akan dihambat oleh Bibi sehingga mereka tidak akan dengan mudah mengacaukan tempat perbekalan serta tempat menyediakan makan dan minum bagi para Pengawal Tanah Perdikan, meskipun untuk beberapa lamanya, perempuan-perempuan yang ada di rumah itu menjadi ketakutan.
Sementara itu, kedua orang prajurit Pajang yang ada di pendapa itupun segera mempersiapkan diri. Mereka sadar, bahwa mereka harus bekerja dengan cepat. Jika mereka berhasil menghancurkan tempat itu, maka Tanah Perdikan Sembojan akan kehilangan perbekalan yang disediakan bukan saja para pengawal Tanah Perdikan, tetapi juga bagi para prajurit yang datang dari Jipang untuk membantu Tanah Perdikan Sembojan mempertahankan dirinya.
Tetapi sementara itu Bibipun telah bersiap pula. Bahkan Bibilah yang telah melangkah maju. Namun seorang dari kedua orang prajurit itu telah meloncat menyerangnya dengan garang.
Namun Bibi benar-benar telah bersiap menghadapi orang itu. Karena itu, maka dengan cepat ia telah mengelak namun sekaligus mengangkat kakinya terayun mendatar.
Lawannya masih juga sempat mengelak. Bahkan seorang lawannya yang lain telah dengan cepat menerkamnya ke arah leher.
Tetapi Bibi melihat serangan itu. Dengan cepat Bibi telah merendah pada satu lututnya sehingga menyentuh lantai. Bersamaan dengan itu maka tangannya telah terjulur lurus tepat mengenai bagian bawah dada orang itu.
Terdengar keluhan tertahan. Nafas orang itupun bagaikan telah terputus. Sejenak ia tidak dapat bernafas karena seisi dadanya bagaikan terangkat menyumbat lehernya.
Namun Bibi tidak sempat menyerangnya lagi, karena lawannya yang lain telah meloncat pula menyerang dengan kakinya yang terjulur mengarah ke kening bibi yang berlutut pada sebelah kakinya itu.
Tetapi Bibi justru telah menjatuhkan dirinya, berguling sekali dan dengan cepat menyapu kaki orang yang menyerangnya itu, justru saat satu kakinya terangkat.
Ternyata sapuan itu telah berhasil menebas kaki lawannya yang menyerangnya itu, sehingga sekali lagi orang itu telah terbanting jatuh. Namun dengan cepat ia berguling dan melenting berdiri.
Sementara itu kawannya telah berhasil mengatasi kesulitan di dadanya. Ketika ia melihat kawannya terjatuh, maka iapun telah siap menyerang Bibi yang sedang meloncat bangkit.
Namun ternyata Bibi mampu bergerak lebih cepat. Sebelum orang itu menyerang, Bibi telah bersiap menunggunya. Dengan demikian, maka ketika serangan itu datang, maka Bibi dengan tangkasnya mampu mengelaknya.
Ketika Bibi kemudian bertempur semakin sengit melawan kedua orang di pendapa, maka kedua orang pengawal di halaman telah bertempur kembali melawan dua orang prajurit Pajang. Seperti yang terjadi sebelumnya, maka kedua orang pengawal itu telah terdesak. Kedua orang prajurit Pajang itu memang terlalu kuat bagi mereka. Namun mereka masih mampu untuk bertahan beberapa saat meskipun mereka harus bertempur sambil berloncatan mundur dan bahkan kadang-kadang harus berlari-lari.
Namun dalam pada itu, dua orang prajurit Pajang yang harus bertempur melawan Bibipun segera mengalami kesulitan. Beberapa kali kedua orang prajurit itu telah terdesak surut. Apalagi ketika kemudian Bibi telah menarik senjatanya pula. Sebuah patrem kecil di tangan kirinya dan selendangnya di tangan kanan. Selendang yang digantungi dengan bandul-bandul kecil dari timah.
Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Kedua orang prajurit Pajang itulah yang harus berlari-lari. Bandul timah itu sangat berbahaya bagi mereka, sementara itu selendang Bibi itu seakan-akan tidak dapat dikoyakkannya dengan tajamnya senjata. Jika senjata lawan-lawannya menyentuh selendang Bibi, maka selendang itupun segera mengendor sehingga tali-tali janget yang lembut mampu menahan tajamnya senjata. Bahkan dengan ilmunya yang mulai mengalir dengan permainan selendangnya itu, Bibi mampu membuat kedua lawannya semakin bingung. Selendang itu berputar semakin cepat, sehingga membuat udara di seputar bibi itu menjadi semacam berkabut. Warna pada selendang yang bergaris-garis lurus itu bagaikan membentuk pelangi yang melengkung berputaran.
Namun jika bandul-bandul timah di ujung selendang itu menyentuh kulit lawannya, maka kulit itu akan terkelupas. Bahkan jika Bibi benar-benar menghentakkan ilmunya, maka biji-biji timah itu akan dapat meretakkan tulang-tulang di dalam daging.
Beberapa saat kemudian, kedua orang prajurit Pajang itu memang telah benar-benar terdesak. Keduanya bahkan tidak lagi bertempur di pendapa. Tetapi keduanya telah berloncatan turun ke halaman.
Tetapi dalam pada itu kedua orang pengawal yang bertempur di halaman itupun benar-benar telah terdesak. Bahkan seorang di antara mereka tidak mampu lagi mengelak ketika dengan cepat prajurit Pajang itu memutar senjata dan kemudian mengayunkannya mendatar.
Meskipun pengawal itu berusaha untuk menangkis ujung pedang yang hampir saja mengoyak dadanya, namun ujung senjata itu masih juga menyentuh pundak.
Darahpun kemudian telah mengalir dari luka itu. Dengan demikian maka kedudukan pengawal itu menjadi semakin sulit.
Dalam keadaan yang demikian, maka kembali tumbuh niatnya untuk memukul kentongan meskipun punggungnya kemudian akan ditembus oleh ujung senjata lawannya.
Tetapi sebelum ia melakukannya, maka ia sempat melihat seorang lawan Bibi telah terlempar. Ternyata Bibi sempat membelit orang itu dengan selendangnya. Kemudian dihentakkannya sehingga orang itu tergeser mendekat. Pada saat itu tangan kirinya telah terayun. Patrem kecil di tangan Bibi itu telah menghunjam di dada prajurit Pajang itu.
Ketika kemudian Bibi menarik selendangnya, orang itu terputar sejenak. Namun kemudian jatuh terguling di tanah.
Lawannya yang seorang lagi menjadi gelisah. Namun tiba-tiba saja prajurit Pajang yang telah melukai pengawal di pundaknya itu telah meninggalkannya. Ia tidak membiarkan seorang kawannya melawan Bibi yang garang itu.
"Ternyata di Tanah Perdikan ini ada perempuan iblis macam kau," geram prajurit itu.
"Akulah yang dipanggil Serigala Betina," geram Bibi.
Agaknya pertempuran itu telah mengungkat kegarangannya yang sudah lama diendapkannya. Seorang lawannya telah terlempar dari arena. Tetapi lawannya kemudian kembali menjadi dua.
Namun Bibipun agak menjadi lega. Jika prajurit itu tidak meninggalkan lawannya yang telah terluka, maka pengawal itu tentu akan dibunuhnya.
Dengan demikian maka seorang di antara kedua prajurit Pajang itu harus bertempur melawan dua orang pengawal. Tetapi seorang di antaranya telah terluka. Darah mengalir dari luka di pundaknya itu. Semakin banyak ia bergerak, maka luka itupun menjadi semakin banyak mengalirkan darah. Sehingga dengan demikian, maka pengawal itu tidak banyak dapat memberikan bantuan.
Karena itu, maka niatnya untuk memukul kentongan itulah yang kemudian menggerakkannya meninggalkan arena mendekati kentongan yang tergantung di sebelah pendapa itu.
Tetapi Bibi yang melihatnya ternyata telah mencegahnya. Katanya, "Jangan bunyikan kentongan. Nanti di padukuhan ini akan timbul kebingungan."
"Tetapi prajurit-prajurit Pajang itu," sahut pengawal itu.
"Kita akan menyelesaikan mereka," berkata Bibi kemudian.
Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian yakin bahwa Bibi akan dapat menyelesaikan kedua lawannya setelah seorang di antara prajurit Pajang itu terbujur diam.
Karena itu, maka iapun telah mengurungkan niatnya. Ia sependapat dengan Bibi. Jika ia membunyikan kentongan, maka seisi padukuhan itu tentu akan segera mengungsi. Mereka tentu mengira bahwa pasukan Pajang telah memasuki padukuhan mereka.
Pengawal itupun kemudian justru telah kembali bersama-sama dengan kawannya menghadapi seorang prajurit Pajang. Meskipun tenaganya sudah menjadi semakin susut. Namun ia masih mampu mengganggu pemusatan perhatian lawannya itu. Namun setiap kali ia harus berloncatan mengambil jarak. Menekan lukanya yang berdarah.
Tetapi kemudian pengawal itu telah melepas ikat kepalanya untuk menekan lukanya agar darahnya tidak semakin banyak mengalir.
Prajurit Pajang yang harus menghadapi dua orang itu masih tetap garang. Tetapi sekali-sekali ia harus bergeser mundur jika kedua lawannya itu menyerang bersamaan dari arah yang berbeda. Pengawal yang terluka itu memang tidak dapat bertempur sepenuhnya. Tetapi ternyata ia mampu menyesuaikan dirinya dengan keadaannya.
Sementara itu kedua orang prajurit Pajang yang bertempur melawan Bibi segera mengalami kesulitan. Selendang Bibi berputaran dengan cepatnya. Desir angin yang menampar tubuh lawannya meyakinkan kedua orang lawannya, bahwa perempuan yang menyebut dirinya itu Serigala Betina adalah benar-benar orang yang memiliki ilmu kanuragan.
Sebenarnyalah Bibi tidak ingin melihat perempuan-perempuan di rumah itu menjadi semakin ketakutan. Karena itu, maka iapun telah berniat untuk segera mengakhiri pertempuran itu. Karena itulah, dengan kegarangan seekor Serigala Betina, maka Bibi telah melanda kedua orang lawannya dengan ilmunya yang memang terpaut banyak dari kedua lawannya.
Namun bagaimanapun juga ganasnya Serigala Betina itu, tetapi pengaruh pergaulannya dengan Iswari telah membuatnya sedikit berubah. Itulah sebabnya, maka ia tidak membunuh kedua orang prajurit Pajang itu.
"Cukup seorang saja di antara mereka yang menjadi korban," berkata Bibi di dalam hatinya. Namun Bibi tidak mengetahui, bahwa para prajurit Pajang itu telah membunuh dua orang pengawal di regol padukuhan.
Karena itu, maka Bibi hanya berniat untuk membuat kedua orang lawannya itu tidak berdaya.
Karena itu, maka bandul-bandul timah pada kedua ujung selendang Bibi itupun berayun semakin cepat.
Ketika bandul-bandul timah itu mengenai seorang di antara kedua orang prajurit itu pada punggungnya, maka tulang punggung prajurit itu rasa-rasanya menjadi patah.
Sekali ia menggeliat. Namun iapun kemudian telah jatuh berguling di tanah. Sementara itu, kawannya yang terkejut telah meloncat mundur untuk mengambil jarak. Tetapi Bibi bergerak lebih cepat. Selendang Bibi telah terjulur dan langsung membelit kaki prajurit itu. Dengan satu hentakkan maka prajurit itupun benar-benar telah terbanting jatuh. Tubuhnya bagaikan batang pisang yang roboh terseret arus sungai. Bahkan kepalanya menjadi pening ketika pelipisnya telah membentur tanah yang keras di halaman.
Mata prajurit itu menjadi kabur. Dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit. Namun demikian ia berdiri, bandul-bandul timah pada ujung selendang Bibi itu telah menghantam dadanya.
Tulang-tulang iga orang itu bagaikan menjadi retak. Nafasnyapun menjadi sesak. Sejenak ia terhuyung-huyung. Namun kemudian ia sama sekali tidak mampu mempertahankan keseimbangannya.
Ketika orang itu terjatuh dan berguling-guling karena nafasnya bagaikan tersumbat, maka prajurit Pajang yang bertempur melawan dua orang pengawal itupun menjadi sangat gelisah. Meskipun seorang di antara para pengawal itu sudah terluka sedangkan yang lain tidak memiliki kemampuan yang dapat menyamainya, namun perempuan yang garang itu tentu akan segera masuk ke dalam lingkaran pertempurannya.
Tetapi segala sesuatunya memang sudah terlambat. Sebelum ia sempat berbuat sesuatu, maka Bibi telah meloncat mendekati prajurit itu sambil berkata, "Kau tidak perlu lari. Jika kau berlari juga meninggalkan arena ini, maka aku akan melemparmu dengan patrem ini. Punggungmu akan berlubang dan kau akan mati. Karena itu, sebaiknya kau menyerah saja."
Prajurit itu memang tidak ada pilihan lain. Tiga orang di antara merekapun kemudian telah diikat kaki dan tangannya serta ketiganya telah diikat pula dengan tiang di pendapa. Sedangkan seorang di antara para prajurit yang telah terbujur mati itupun telah dibaringkan di pendapa itu pula.
"Tugasmu adalah mengubur kawan-kawanmu," berkata Bibi. Lalu katanya pula, "Tetapi biarlah dipanggil para pengawal yang lain untuk ikut mengawasimu."
Namun Bibipun kemudian masih sempat mengobati luka pengawal di pundaknya dan berkata, "Kau duduk saja disini. Biarlah kawanmu pergi ke banjar dan menengok para pengawal di pintu gerbang padukuhan."
Para prajurit Pajang yang merasa bahwa mereka telah membunuh pengawal padukuhan di regol induk, menjadi berdebar-debar. Jika pengawal itu mengetahui bahwa kedua kawannya telah terbunuh, mungkin para pengawal termasuk perempuan yang menyebut dirinya Serigala Betina itu akan bersikap lain.
Pengawal yang seorang itupun kemudian telah pergi ke banjar padukuhan untuk memanggil beberapa orang kawannya. Tetapi hanya ada beberapa pengawal saja di banjar, sehingga pengawal itu telah minta bantuan beberapa orang laki-laki yang sudah melewati pertengahan abad yang tidak lagi dapat turun ke peperangan untuk membantu mengubur prajurit Pajang yang terbunuh serta mengawasi para prajurit yang lain.
Beberapa orang laki-laki tua itu memang langsung pergi ke rumah yang dipergunakan untuk menyediakan perbekalan itu, sedangkan pengawal yang telah bertempur dengan prajurit Pajang itu telah pergi ke regol.
Jantungnya serasa berdentang semakin keras ketika mereka melihat dua orang kawannya telah terbunuh. Karena itu, maka tiba-tiba iapun telah berlari kembali ke rumah tempat menyiapkan perbekalan itu sambil berteriak-teriak, "Aku bunuh mereka. Aku bunuh mereka."
Bibilah yang kemudian menyongsong pengawal itu sambil bertanya, "Ada apa" Kau kenapa?"
"Dua orang kawan kita yang bertugas di regol telah dibunuh," teriak pengawal itu.
"Siapa yang membunuh?" bertanya Bibi.
"Tentu orang-orang itu," jawab pengawal itu.
Wajah Bibipun menjadi tegang sejenak. Sambil berpaling kepada para prajurit itu iapun bertanya, "Apakah kalian telah membunuh mereka?"
Para prajurit itu tidak dapat ingkar. Seorang di antara merekapun menjawab, "Aku tidak mempunyai pilihan lain. Ketika kami memasuki regol, maka kedua orang pengawal itu melihat kami dan siap untuk menyerang. Maka kamipun telah mempertahankan diri."
"Iblis kau," geram pengawal itu sambil meloncat.
"Tunggu," Bibipun menghentikannya. Katanya lebih lanjut, "Mereka telah menyerah. Kita tidak boleh membunuhnya."
"Tetapi mereka telah membunuh kawan-kawan kami," geram pengawal itu.
"Tetapi mereka saat itu sedang bertempur," berkata Bibi.
"Siapa tahu bahwa kawan-kawan kita juga sudah menyerah tetapi mereka masih membunuhnya juga," sahut pengawal itu.
"Kami memang sedang bertempur," berkata seorang di antara para prajurit itu.
"Aku tidak peduli. Aku akan membunuh mereka semua," pengawal itu berteriak.
Tetapi Bibi tetap menggeleng sambil berkata kepada pengawal itu, "Biarlah mereka bertiga di bawah pengawasan kalian dan para pengawal yang datang dari banjar untuk menguburkan kawannya yang terbunuh. Mereka malam nanti akan kami serahkan kepada Nyi Wiradana atau anak laki-lakinya. Mereka yang akan menjatuhkan hukuman."
"Aku mengharap agar mereka dihukum gantung. Kami adalah saksi kematian dua orang kawanku," berkata pengawal itu.
Namun Bibi tetap berpendapat bahwa sebaiknya para tawanan itu tidak dibunuh.
Di bawah pengawasan para pengawal dan laki-laki yang sudah mendekati senja, maka ketiga orang prajurit itu harus membawa kawannya ke kuburan dan kemudian menguburkannya. Setelah mencuci tangan dan kakinya, maka orang-orang itu harus kembali ke pendapa untuk diikat dengan tiang pendapa itu. Sementara itu para pengawal dan laki-laki tua yang datang telah mempersiapkan penguburan kedua orang pengawal yang telah gugur.
Mereka menunggu kehadiran Nyi Wiradana. Mudah-mudahan keadaan peperangan memungkinkan.
Dengan demikian maka kedua sosok mayat pengawal itu telah dibaringkan di pendapa pula. Bibi dan beberapa orang pengawal yang datang dari banjar serta beberapa orang laki-laki tua itu bersepakat untuk menunggu kehadiran Nyi Wiradana dan Risang.
Kemudian baru kedua sosok itu akan dikuburkan, meskipun hari sudah menjadi gelap.
"Kita akan menyediakan obor-obor yang cukup jika kita akan membawa kedua sosok tubuh itu ke kuburan," berkata salah seorang di antara orang-orang itu.
Sementara itu pertempuran antara prajurit Pajang yang sudah diperkuat melawan pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan dibantu oleh prajurit Jipang menjadi semakin sengit. Namun kedua belah pihak yang telah mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga mereka, mulai nampak menjadi letih. Tenaga dan kemampuanpun menjadi terperas seperti keringat mereka.
Ternyata bahwa prajurit Pajang yang dibawa oleh Kasadha memang prajurit pilihan. Kemampuan mereka melampaui kemampuan prajurit-prajurit yang dibawa oleh Ki Rangga sebelumnya. Karena itu, maka pasukan Tanah Perdikan bersama-sama dengan pasukan dari Jipang tidak segera dapat mendesak pasukan Pajang. Bahkan pasukan Pajang itu telah mampu mengguncang pertahanan Tanah Perdikan Sembojan. Kasadha dan prajurit-prajuritnya yang tersebar benar-benar merupakan lawan yang berat bagi para prajurit Jipang yang ada di Tanah Perdikan Sembojan.
Tetapi ketika pertahanan Tanah Perdikan Sembojan bergeser beberapa langkah surut, maka keseimbanganpun justru telah berubah dengan cepat. Pasukan Pajang itu terpaksa menghentikan dorongan mereka atas pasukan Sembojan. Rasa-rasanya goncangan-goncangan baru telah terjadi. Justru di beberapa tempat.
Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berada di ujung-ujung pasukan mulai tersinggung. Karena itu, maka mereka telah meningkatkan kemampuan mereka, sehingga sekelompok prajurit Pajang yang melawan mereka mengalami kesulitan. Sementara itu jumlah prajurit Pajang memang lebih sedikit dari jumlah pengawal Sembojan dan prajurit Jipang.
Di induk pasukan, Gandarpun telah mendesak lawan-lawannya, sehingga dengan demikian, maka pasukan Pajang itu harus mulai memperhitungkan lawan mereka baik-baik. Beberapa orang dari Tanah Perdikan Sembojan telah menghisap perlawanan kelompok-kelompok lawan mereka, sehingga dengan demikian maka seakan-akan orang-orang yang berilmu tinggi dari Tanah Perdikan Sembojan itu telah menghisap prajurit-prajurit Pajang ke dalam satu lingkaran pertempuran yang sengit karena baik Sambi-Wulung. Jati Wulung maupun Gandar telah bertempur dengan garangnya.
Menghadapi kepungan lawan-lawannya maka mereka telah menyerang seperti angin pusaran yang berputar dengan dahsyatnya, sehingga setiap kali lawan-lawannya justru harus menyibak.
Dengan demikian, maka kekuatan pasukan Pajang di beberapa tingkatan dengan cepat menyusut. Beberapa orang terlempar dari arena. Kawan-kawan mereka terpaksa membawa mereka menyingkir untuk menghindarkan kemungkinan yang lebih buruk lagi.
Mereka yang bertugas untuk merawat orang-orang yang terluka menjadi semakin sibuk. Di ujung-ujung sayap, maka setiap kali orang yang terluka telah disingkirkan. Beruntun dan seakan-akan seperti air yang mengalir.
Kasadha yang terikat dalam pertempuran melawan Ki Lurah Sasaban memang sulit untuk bergeser. Namun Kasadha berusaha untuk dapat mengetahui medan itu sejauh-jauh kemungkinan yang dapat dilakukan. Sebagai seorang prajurit yang memiliki ketajaman panggraita, maka Kasadhapun merasa bahwa pasukannya mengalami kesulitan untuk dapat maju mendesak pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang diperkuat oleh pasukan dari Jipang. Betapapun prajurit-prajuritnya berusaha dengan sungguh-sungguh, namun terasa getaran benturan pasukan mereka justru sangat mendebarkan.
Ki Rangga Larasgati sendiri masih saja mengalami kesulitan untuk mengalahkan Risang. Bahkan ternyata daya tahan Risang yang jauh lebih muda dari Ki Rangga itu lebih besar dari daya tahan Ki Rangga sendiri. Pengalaman yang luas yang dimiliki oleh Ki Rangga ternyata tidak mampu mengatasi ilmu yang telah diwarisi oleh Risang yang sedang dipersiapkan untuk menerima ilmu Janget Kinatelon.
Bahkan semakin lama, semakin terasa oleh Ki Rangga, bahwa anak muda itu justru semakin mendesaknya. Di saat-saat Ki Rangga telah sampai ke puncak kemampuannya, Ki Rangga ternyata tidak mampu menguasai lawannya yang masih muda.
Dengan demikian, maka Ki Rangga mulai merasa bahwa ia memang tidak akan dapat mengalahkan Risang.
Yang dilakukannya kemudian adalah bertahan sejauh dapat dilakukan. Ki Rangga tinggal menunggu kemungkinan Risang melakukan kesalahan. Hanya jika Risang melakukan kesalahan, maka Ki Rangga akan dapat mengalahkan anak muda itu.
Tetapi Risang ternyata memiliki penguasaan yang tinggi atas ilmunya. Pengalamannyapun telah memadai untuk menghadapi Ki Rangga Larasgati. Bahkan ketika Risang merasa bahwa Ki Rangga telah sampai pada batas kemampuannya serta daya tahannya, maka Risang justru telah meningkatkan serangan-serangannya.
Ki Rangga mulai mengeluh di dalam hatinya. Di saat-saat ia sempat memperhatikan pertempuran antara para prajuritnya dengan para pengawal, maka ia melihat bahwa para prajurit Pajangpun nampaknya telah sampai ke puncak kemampuan mereka. Namun mereka sama sekali masih belum mampu mendesak pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan, apalagi memecahkan pertahanannya dan menembus sampai ke padukuhan induk.
Kegelisahan Ki Rangga itu ternyata telah membuatnya kadang-kadang tidak lagi mampu memusatkan perhatiannya menghadapi anak muda yang bernama Risang itu, sehingga beberapa kali ia harus meloncat surut.
Namun getaran pertahanan pasukan Tanah Perdikan Sembojan mampu membual para prajurit Pajang menjadi gelisah. Bahkan prajurit pilihan di bawah pimpinan Kasadhapun merasakan tekanan yang semakin berat.
Tetapi ketika Matahari kemudian mulai turun, keseimbangan pertempuran mulai berubah lagi. Orang-orang Sembojan yang ikut dalam pertempuran itu, mulai men jadi letih. Mereka yang bukan pengawal penuh dari Tanah Perdikan memang tidak memiliki kemampuan dan ketahanan tubuh sebagaimana para pengawal, sehingga karena itu, maka mereka yang sudah bermandikan keringat tenaganya mulai menjadi susut. Sedangkan para prajurit Pajang, terutama yang datang bersama Kasadha masih nampak garang di antara ayunan senjata dan sorak yang mengguruh.
Namun sejalan dengan itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berusaha untuk mengisi kelemahan itu dengan meningkatkan kemampuannya.
Karena itu, maka hampir di luar sadarnya, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah merambah ke tataran ilmunya yang tinggi, sehingga sentuhan-sentuhan bukan saja senjatanya, tetapi tangan dan kakinya menjadi sangat berbahaya bagi lawan-lawannya.
Gandar yang bertempur tidak terlalu jauh dari Risangpun merasakan perubahan keseimbangan di medan pertempuran itu. Meskipun perlahan-lahan, namun rasa-rasanya pasukan Pajang akan mendesak pasukan Tanah Perdikan Sembojan.
Karena itu, seperti juga Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Gandar telah bertempur semakin keras. Gandar ternyata telah mempergunakan cara yang lain. Ia tidak menetap menghadapi sekelompok lawan-lawannya.
Tetapi Gandar itupun kemudian telah berloncatan di sepanjang garis benturan. Kehadiran Gandar di satu tempat, telah membuat para prajurit Pajang menjadi gelisah.
Dengan demikian, maka Tanah Perdikan masih sempal mempertahankan diri, sehingga para prajurit Pajang tidak mampu memecahkan pertahanan itu. Beberapa orang pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan itu seakan-akan telah menghisap lawan semakin banyak.
Dalam pada itu, ternyata bahwa Ki Rangga Larasgati juga telah sampai pada puncak kemampuannya. Pada saat matahari mulai turun, maka Ki Rangga yang telah mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya itu, benar-benar telah sampai ke batas. Ki Rangga yang berniat menghancurkan lawannya yang masih muda itu dengan kemampuan puncaknya, ternyata telah gagal. Bahkan justru karena itu, Ki Rangga itu telah mengerahkan tenaganya berlebihan tanpa mengingat batas akhir dari pertempuran itu.
Pendekar Mata Keranjang 26 Trio Detektif Misteri Cakar Perunggu Semoga Bunda Disayang Allah 1

Cari Blog Ini