Ceritasilat Novel Online

Bulan Merah 1

Fear Street - Bulan Merah Bad Moonlight Bagian 1


Prolog Bulan yang hanya separo bersinar memberkaskan cahayanya
yang temaram di jendela toko swalayan, pantulan pucat bulan yang
tinggi cemerlang di langit malam. Pintu otomatis terbuka dengan suara
mendengung dan Danielle Verona melangkah memasuki toko yang
terang-benderang oleh cahaya lampu neon itu.
Ia menggigil dan menggosok-gosok kedua lengannya yang
terbuka. Pendingin udara di tempat ini pasti sengaja disetel sedingin
mungkin, pikirnya. Saat itu Danielle hanya mengenakan kaus kutung
tanpa lengan warna biru, celana pendek putih yang memang sangat
pendek, serta sandal. Lebih baik aku tidak ke bagian makanan beku, ia
memutuskan dalam hati. Ia melirik bayangannya yang terpantul di rak pajangan yang
berwarna keperak-perakan. Matanya yang bulat dan berwarna gelap
itu membalas tatapannya. Danielle menepiskan rambut lurusnya yang
berwarna cokelat dengan sedikit sapuan warna pirang itu.
Badanku kurus kering dan tak berbentuk, pikir Danielle sambil
mengerutkan kening. Aku kelihatan seperti anak dua belas tahun,
bukan delapan belas. Tiba-tiba saja punggungnya terasa sakit. Danielle buru-buru
berbalik. "Cliff"hentikan!" bentaknya. "Untuk apa kau menyundulnyundulku seperti itu?"
Adiknya yang baru berumur sepuluh tahun itu hanya nyengir.
Main sundul-sundulan adalah hobi barunya.
"Jangan menyundul-nyundulku lagi. Nanti badanku memar
semua!" semprot Danielle marah.
"Dasar cengeng," ejek Cliff. "Padahal kan nggak kena."
"Jangan ganggu kakakmu," omel Bibi Margaret sambil
mendorong kereta belanja. "Danielle baru saja pulang, Cliff. Ia capek.
Jadi jangan kauganggu dia lagi."
"Ah, masa," tukas Cliff sambil terus nyengir. Perawakan bocah
itu mirip dengan ayah mereka"pendek, gemuk, dengan raut wajah
bulat seperti bayi. Rambutnya yang kuning kecokelatan itu dipangkas
pendek di kedua sisi, tapi di bagian atasnya panjang dan disisir ke
belakang. "Ayo"kau dorong keretanya," perintah Bibi Margaret tajam.
Didorongnya kereta itu ke arah Cliff. "Kenapa aku selalu dapat kereta
yang rodanya macet?"
Cliff menyambar pegangan kereta belanja dan langsung melesat
pergi. Ia lari secepat kilat di gang, membawa keretanya berzigzag tak
keruan. "Cliff"hati-hati!" teriak Bibi Margaret. Ia berpaling pada
Danielle. "Ia girang sekali karena kau pulang," kata bibinya itu dengan
suara lirih. Danielle memutar bola matanya. "Tapi caranya mengungkapkan
kegirangannya itu aneh sekali!"
Mereka memperhatikan Cliff memutar keretanya dan
membawanya kembali menghampiri mereka dengan suara berisik. "Ia
tidak biasa kautinggal selama dua minggu," kata Bibi Margaret. "Tapi
aku senang kau berhasil, Sayang."
Bibi Margaret bertubuh mungil namun tegap. Raut wajahnya
tajam. Hidungnya mancung seperti paruh burung. Dagunya tirus.
Dengan rambut merah yang dicat, mata biru dingin, dan sapuan lipstik
merah tua, bibi Danielle itu tampak keras. Tegar.
Setelah kedua orangtua Danielle meninggal hampir tiga tahun
silam, Bibi Margaret pindah ke sini untuk merawat Danielle dan Cliff.
Karena sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu, mulanya Danielle
ragu mereka bisa akrab. Tapi ternyata Bibi Margaret baik sekali. Ia
pun menjadi ibu yang penuh kasih sayang untuk Cliff dan Danielle.
Bibi Margaret menyentuh bahu Danielle. "Badanmu dingin
sekali!" Danielle mengangkat bahu. "Habis, di sini dingin!"
Mereka mulai melangkah lambat-lambat di antara rak-rak
pajangan. Di satu sisi terpajang sayur-mayur, sedangkan di sisi
sebelahnya, buah-buahan. Di ujung gang, tampak seorang pria muda
bercelemek putih sedang asyik menyemprot daun-daun selada, supaya
kelihatan berkilauan. "Kalian sudah mendapatkan nama untuk band kalian?" tanya
Bibi Margaret sambil memasukkan sebungkus wortel ke dalam kereta.
"Ihh! Wortel!" keluh Cliff.
"Belum," jawab Danielle. "Caroline ingin menamai band kami
Musically Challenged. Kami semua menganggapnya lucu. Tapi
menurut Billy, nama itu berkesan negatif."
"Billy itu pemimpin band?" tanya Bibi Margaret sambil
merobek sehelai plastik pembungkus. Ia membungkuk dan memilihmilih beberapa buah kentang yang ada di dalam keranjang.
"Band-mu jelek," komentar Cliff. Bocah itu menepuk-nepuk
bahu Bibi Margaret. "Boleh beli permen, nggak?"
"Tidak boleh," jawab Bibi Margaret cepat, tapi lalu berubah
pikiran. Ia berdiri dan memasukkan bungkusan kentang ke dalam
kereta. "Oke. Pergilah sana, Cliff. Belilah permen. Biar aku saja yang
mendorong keretanya."
"Asyik!" seru Cliff kegirangan, lalu segera melesat pergi. Ia
sengaja menabrak Danielle keras-keras sampai nyaris membuat
kakaknya itu jatuh tunggang-langgang.
"Anak itu nakalnya minta ampun," gerutu Bibi Margaret. Ia
berpaling pada Danielle, mengamati keponakannya itu dengan
matanya yang kecil. "Kau kelihatan capek."
Danielle mengeluh. "Dua minggu berkeliling. Naik mobil van.
Main di klab-klab kecil."
"Tapi aku senang kau punya kesibukan," kata Bibi Margaret.
"Aku senang kau memutuskan untuk main band, dan tidak langsung
kuliah. Kau membutuhkan waktu satu tahun untuk mandiri, bepergian
ke tempat-tempat lain, dan bersenang-senang sebelum kembali ke
sekolah." "Well, aku memang sedang bersenang-senang sekarang," kata
Danielle. "Caroline dan aku jadi teman akrab sekarang."
"Caroline itu yang main piano?" tanya Bibi Margaret.
"Bukan piano, tapi keyboard elektrik. Sekaligus sebagai
penyanyi latar," jawab Danielle. "Aku senang punya teman-teman
baru. Dan band kami mulai punya banyak penggemar. Tapi aku benarbenar rindu masakan rumah. Selama ini aku berpikir, kalau aku lagilagi harus makan hamburger yang berlemak itu..."
Bibi Margaret tertawa kecil. Tawanya kering dan tenang.
Kedengarannya lebih mirip suara orang batuk. "Well, malam ini kau
yang memilih menunya," kata bibinya. "Terserah kau. Malam ini, aku
akan memasakkan apa saja yang kauinginkan."
"Hmmrn..." Danielle memicingkan mata, berpikir keras. "Aku
ingin makan apa, ya?" Ia tersenyum. "Oh, aku tahu. Ayam istimewa
bikinan Bibi itu. Tahu kan. Yang pakai nanas. Yang rasanya agakagak oriental?"
"Oke. Beres," jawab Bibi Margaret.
"Dan kentang tumbuk," tambah Danielle. "Selama ini aku
memikirkan kentang tumbuk bikinan Bibi terus."
"Dasar anak aneh," goda Bibi Margaret. "Tapi baiklah, nanti
Bibi masak kentang tumbuk." Lantas bibinya meneruskan langkah,
bersusah payah mendorong kereta belanja beroda tiga itu.
Danielle menggigil. Kenapa sih, AC-nya dingin sekali"
tanyanya dalam hati. Apakah orang-orang memang senang membeli
makanan yang separo beku"
Danielle beranjak ke deretan rak lain, mencari Cliff. Di bagian
sabun dan deterjen, Danielle merasa melihat temannya, sesama alumni
Shadyside High. Ia bergegas menghampiri cowok itu dan sudah
hendak memanggilnya ketika mendadak orang itu berbalik. Ternyata
bukan. Danielle berlalu melewati cowok itu, sengaja tidak mau
bertatapan mata. Deretan rak di situ seakan menyatu. Cahaya lampu neon yang
menyilaukan membuat segalanya jadi tampak kehijau-hijauan. Rakrak botol dan kaleng, pajangan, para pengunjung, semuanya tampak
terlalu terang, terlalu tajam. Tidak nyata.
Danielle berjalan terus. Lampu yang menyilaukan itu bagai
menikam matanya. Lagi-lagi ia menggigil. Udara yang dingin
menusuk tulang itu membuat bulu kuduk-nya meremang semua.
"Danielle"kau ngapain?" Suara Cliff yang melengking
membuyarkan lamunannya. "Hah?" Danielle menunduk dan memandang bungkusan yang
ada di tangannya. Bungkusan daging mentah. Dari rak daging.
Danielle melihat bungkusan itu sudah robek. Tangannya
meremas gumpalan daging mentah keunguan itu.
Mulutnya penuh. Ditelannya daging mentah yang sedari tadi
dikunyahnya. Rasanya dingin dan licin, menuruni tenggorokannya.
"Danielle"kenapa kau makan daging itu" Kau ini kenapa sih?"
pekik Cliff kaget. "Aku"aku tidak tahu!" jawab Danielle terbata-bata. Darah
segar mengalir menuruni dagunya.
BAGIAN SATU NYANYIAN Bab 1 Melayang dari Pinggir Tebing
"Joey"pelan-pelan dong," pinta Danielle.
Mobil van yang membawa mereka terguncang saat menerjang
sebuah lubang vang dalam di jalan raya. Tas-tas dan peralatan yang
diikat di atap mobil berdebum menghantam atap.
"Boleh saja, asal kau mau ke sini dan duduk di pangkuanku,"
jawab Joey. Danielle bisa melihat cengiran cowok itu melalui kaca spion.
"Tak usah ya!" tukas Danielle. "Jangan ngawur, Joey. Kita toh tidak
mau kena tilang lagi."
Joey malah tertawa melengking dan menginjak pedal gas
dalam-dalam. Mobil van itu meraung dan tersentak ke depan,
membuat Danielle terlempar ke belakang.
"Joey"!" Oh, percuma saja, pikir Danielle sebal. Joey
menganggap ngebut itu keren. Ia tidak bakalan mau berubah.
Joey berteriak-teriak kegirangan. Rambut hitamnya yang
keriting berkibar-kibar ditiup angin yang masuk melalui jendela van
yang terbuka. Walaupun saat itu malam hari, ia tetap mengenakan
kacamata hitamnya. Danielle duduk di kursi baris kedua, di antara Caroline dan
Mary Beth. "Nyerah deh. Dia memang kelewatan," bisik Danielle
pada kedua temannya. "Kalian pasti duduk berjejal-jejal di belakang!" seru Joey
mengalahkan deru angin, "Ayolah. Siapa yang mau duduk di
pangkuanku?" Sambil membelokkan mobilnya di sebuah tikungan,
Joey menepuk-nepuk pahanya.
Mereka tidak memedulikan ocehan cowok itu.
Seperti biasa. Lampu-lampu mobil dari arah depan menerpa mobil mereka.
Danielle menaungi matanya dengan tangan. Badannya terbentur
dengan badan Caroline saat Joey membanting mobil ke kanan.
"Hei"hati-hati dong!" protes Caroline pada Joey. Cewek itu
mengulurkan tangan dan menjambak rambut Joey yang berkibarkibar.
"Caroline, kau mau menggodaku, ya?" balas Joey. Caroline
melepaskan jambakannya. "Asal kau tahu saja," tukasnya dengan nada
sinis. "Aku cuma mau main mata dengan spesiesku sendiri!"
Danielle dan Mary Beth tertawa mendengarnya. Caroline
memang cepat tanggap dan memiliki selera humor tinggi.
Di kursi paling belakang, Billy dan Kit tertidur lelap. Kepala
mereka terguncang-guncang di sandaran kursi saat Joey melarikan
mobilnya di jalan raya yang sempit. Walaupun begitu, mereka tidak
terbangun juga. Danielle menoleh, memandangi kedua cowok itu.
Yang bernama Billy Dark adalah manajer band mereka. Ia
paling tua di antara mereka, dua puluh dua tahun. Sedangkan kit
Kragen dua tahun lebih muda. Jabatannya manajer peralatan, alias
penanggung jawab peralatan. Tapi karena tampangnya vang keren,
cewek-cewek penonton biasanya malah lebih memperhatikan dia
daripada para anggota band lain!
Jauh di bawah pagar pembatas jalan, tampak hamparan tanah
pertanian yang hitam kelam dan kosong. Udara yang masuk melalui
jendela mobil terasa panas dan lembap.
"Sudah lama aku memikirkan nama yang cocok untuk band
kita," kata Caroline. "Dan menurutku mungkin?"
"Memang hanya itu yang kita pikirkan," sela Mary Beth. Ia
pendek dan cantik. Rambutnya yang lurus dan merah seperti wortel
dipotong sangat pendek. Matanya hijau dan menyorotkan
kesungguhan hati. Serius adalah kata yang tepat untuk menggambarkan sifat Mary
Beth, pikir Danielle. Ia selalu memandang segalanya dengan serius.
Sebagai penggebuk drum, ia bermain dengan sungguh-sungguh dan
serius. "Sebaiknya band ini kita namai 'The Beatles' saja, habis
perkara," canda Caroline.
Danielle tertawa. "Bukannya sudah ada grup band yang
bernama begitu?" "Dan mereka toh sukses"iya kan?" timpal Caroline. "Jadi
mungkin saja nama itu juga bertuah bagi kita!"
"Kenapa sih kalian tidak pernah bisa serius?" tuntut Dee Waters
yang duduk di kursi depan. Ia menoleh dan memandangi mereka
bertiga. Rambut hitamnya dikepang kecil-kecil. Anting-antingnya
yang panjang dan berwarna kekuningan tampak serasi dengan
matanya yang berbentuk buah almond, dan cocok dengan warna
kulitnya yang cokelat. Karena Dee sangat pendiam, Danielle nyaris lupa kalau cewek
itu ada. Caroline, Mary Beth, dan Danielle mengobrol tanpa henti
sepanjang perjalanan. Tapi Dee hanya melamun sambil memandang
ke luar jendela, tidak mau ikut mengobrol.
Mungkinkah suatu saat nanti ia akan bersikap ramah
terhadapku" tanya Danielle dalam hati.
Mungkinkah suatu hari nanti Dee bisa melupakan sakit hatinya
karena ia bukan penyanyi utama di band ini lagi"
Tiba-tiba saja ingatan Danielle melayang ke saat ia diaudisi
sebelum menjadi anggota band. Ada sebuah ruangan yang belum jadi
di atas garasi rumah keluarga Caroline. Di situlah mereka latihan. Dan
Danielle pun diaudisi di sana.
Waktu itu ia gugup sekali. Padahal ia tahu suaranya bagus. Dan
ia juga pandai mencipta lagu.
Tapi apakah mereka akan menyukainya"
Ketika ia datang, semua menyambutnya dengan hangat.
Terutama Billy. Cowok itu memperkenalkannya pada para anggota
band sambil melontarkan guyonan-guyonan kecil. "Hati-hati pada
Kit," kata Billy memperingatkan. "Ia suka menggigit."
Tangan Danielle gemetaran sewaktu membuka kotak gitarnya
dan bersiap-siap membawakan salah satu lagu ciptaannya di hadapan
mereka. "Baik-baiklah pada Danielle," kata Billy pada teman-temannya
saat mereka semua duduk mengelilinginya di ruangan yang kecil itu.
"Suatu hari nanti, ia akan menjadi pencipta lagu terkenal."
Pengeras suara, kotak gitar, dan gulungan kabel berserakan di
mana-mana. Joey, si seksi sibuk, mencolokkan gitar elektrik milik
Danielle ke pengeras suara. Lalu mengacungkan jempolnya.
Yang lain-lain tersenyum dan menanti dengan penuh semangat,
sementara Danielle duduk di sebuah bangku tinggi dan mulai
menyetel gitarnya.

Fear Street - Bulan Merah Bad Moonlight di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mereka semua bersikap ramah dan terbuka.
Semua, kecuali Dee. Dee duduk bersandar di dinding dengan tampang muram, kedua
lengannya di-silangkan di dada. Ekspresi sebal tidak pernah lenyap
dari wajahnya. Bahkan setelah Danielle selesai membawakan lagu pertamanya
dan mendapat sambutan meriah, Dee tetap bergeming. Dipelototinya
Danielle dengan ekspresi getir terpampang di wajahnya.
Setelah menyelesaikan lagu yang kedua, mereka meminta
Danielle menunggu di luar. Keputusan turun tak lama sesudahnya.
Billy berlari-lari menuruni tangga. "Kau diterima!" seru cowok itu
sambil memeluknya dengan hangat. "Kau dan Dee akan menjadi
penyanyi utama. Dan kami ingin belajar memainkan lagu keduamu
tadi. Habis bagus sekali sih!"
Betapa bahagianya ia hari itu.
Tapi hari bahagia itu dirusak oleh Dee. Cewek itu mendatangi
Danielle sewaktu ia sedang menyalakan mesin mobilnya. Dee
berbicara dengan suara berbisik. Tapi Danielle bisa mendengarnya
dengan jelas. " Tempatmu bukan di band ini."
Itulah yang dikatakan oleh Dee. Bisikannya amat dingin.
Seperti embusan angin yang menusuk tulang.
"Tempatmu bukan di band ini."
Dan setelah itu Dee menoleh, matanya mengawasi kian kemari
untuk memastikan para anggota yang lain tidak melihat ulahnya. Lalu
ia cepat-cepat pergi dari situ, kembali ke garasi.
Sejak saat itu, Danielle berusaha sekuat tenaga untuk bersikap
ramah pada Dee. Tapi Dee tetap bersikap dingin dan tidak ramah.
"Entah kenapa aku tetap bermain di band ini," tukas Dee sambil
membalikkan badannya kembali. "Maksudku, band yang tidak punya
nama" Menyedihkan sekali."
"Kau tetap bertahan karena kau naksir aku!" seru Joey ikut
nimbrung. Cowok itu mengangkat tangan kanannya dan memeluk
bahu Dee. "Ngaku sajalah, babes."
"Angkat tanganmu," tukas Dee memperingatkan. Disambarnya
pergelangan tangan Joey dan dipelintirnya. "Kecuali kau memang
ingin menyetir dengan tangan satu selama sisa hidupmu!"
"Ooh!" pekik Joey. "Senangnya aku kalau kau merayuku seperti
itu!" Dee berseru jijik. Tangan kanan Joey kembali memegang setir. Tapi ia menoleh,
memandangi Danielle, Caroline, dan Mary Beth. "Aku tahu nama
yang cocok untuk band kita!" teriaknya sambil cengar-cengir.
"Joey"please!" pinta Danielle memohon. "Hati-hati! Kita di
pinggir tebing lho!"
"Namai saja Penggemar Joey!" seru Joey sambil
mencondongkan kepalanya ke belakang. Rambutnya yang panjang
berkibar-kibar. Mulutnya mengeluarkan suara lolongan panjang.
Tapi lolongannya terhenti saat mobil van itu tergelincir tanpa
kendali. Danielle menjerit. Roda-roda berdecit-decit sewaktu Joey menginjak rem.
Terlambat. Danielle mendengar suara badan mobil yang terbuat dari baja
bertabrakan dengan pagar besi pembatas jalan.
Ia menjerit lagi saat mobil mereka melayang dari pinggir tebing.
Bab 2 Aku Kenapa" MOBIL van itu melayang menembus langit malam. Jauh di
bawahnya, tampak batu-batu mencuat di dasar tebing.
Batu-batu itu berkilau-kilauan seperti pisau yang diterangi
cahaya bulan. Mobil menukik ke bawah. Danielle membungkuk ke depan dengan panik. Ia menjerit lagi
sewaktu mobil van menghunjam ke arah batu-batuan yang berkilauan
itu. Ia merasakan entakan keras, diikuti oleh suara baja remuk yang
mengerikan. Roda-roda depan mobil menghantam bebatuan.
Kepala Danielle tersentak ke belakang. Kaca depan pecah
berantakan. Serpihan-serpihannya berhamburan ke dalam.
Tamat riwayat kita, pikir Danielle. Matilah kita semua!
"Kita akan mati!" teriaknya dengan suara keras.
"Danielle!" "Tidak!" pekik Danielle. Ia membungkuk dan menutup
wajahnya dengan tangan. Mobil yang ditumpanginya terbalik.
Berguling-guling di udara seperti mobil mainan.
Sebentar lagi kami semua akan mampus, pikir Danielle. Ia
menutup matanya dengan tangan, menunggu terjadinya tabrakan yang
mematikan itu. Sebuah tangan menyentuh bahunya. Tangan itu terasa hangat
dan menenangkan. Jari-jemarinya yang panjang mencengkeramnya
erat-erat. Mengguncang-guncang badannya dengan lembut.
"Danielle!" Itu suara Caroline. Lambat-lambat, Danielle mendongak. Mata Caroline yang biru
memandanginya dengan prihatin. "Danielle, tidak apa-apa," bisik
Caroline lembut. "Tidak ada apa-apa."
"Tapi mobilnya?" Danielle terdiam. Ia bisa merasakan
guncangan mobil meluncur mulus di jalan raya. Mendengar gesekan
ban di tanah. Ia mengalihkan tatapannya ke kaca depan. Kaca itu
masih utuh dan mulus. Kami tidak mengalami kecelakaan, pikirnya. Kecelakaan itu
tidak pernah terjadi. Itu cuma khayalan. Khayalan yang mengerikan
dan menyeramkan. Danielle menghela napas dalam-dalam, gemetaran. Jantungnya
berdetak liar. "Ada apa?" tanya Caroline. "Kau kenapa, Danielle?"
"Mobil ini melayang dari pinggir tebing!" jawab Danielle
dengan napas terengah-engah. "Joey menjerit, lalu mobil ini
tergelincir. Aku melihatnya menerjang pagar pembatas jalan. Kaca
depan pecah. Aku bahkan bisa merasakan mobil ini menghantam batubatuan!"
"Pantas saja kau menjerit seperti itu," kata Mary Beth lembut.
Sekali lagi Danielle menghela napas dalam-dalam dan
memandang berkeliling. Billy dan Kit terbangun. Memandanginya.
Dee juga. Keningnya berkerut.
Danielle membuang muka. Pandangannya tertumbuk pada
bayangan Joey yang berkacamata hitam di kaca spion. Cowok itu
nyengir. Tampangnya agak malu. "Sori ya, Danny," katanya. "Aku
tidak bermaksud menakut-nakutimu."
"Memang sudah semestinya kau minta maaf," bentak Dee.
"Untung kau tidak mengakibatkan kami semua celaka."
Joey mengangkat bahu. "Hei, aku kan sudah minta maaf.
Jangan salahkan aku dong, tapi salahkan bulan." Ia tertawa kecil dan
menuding ke luar jendela. "Lihat, sudah hampir bulan purnama, kan"
Bulan memang selalu membuat kelakuanku jadi sedikit liar."
Danielle melirik ke luar jendela, ke langit malam. Bulan
menggelantung rendah dan cemerlang. Kelihatannya dingin, pikirnya
sambil bergidik. Seperti es.
Dari bagian belakang, terdengar Billy tertawa lirih. "Tidak ada
bulan pun kau sudah liar, Joey."
"Tepat sekali," gerutu Dee.
Joey terkekeh lagi. Mobil melaju semakin kencang.
"Yakin kau tidak apa-apa, Danielle?" tanya Billy.
Danielle menoleh ke belakang. Billy dan kit memandanginya.
Rambut Kit yang cokelat tua tampak berbaur dengan
keremangan yang berbayang-bayang di belakang. Tapi matanya biru
pucat dengan bulu mata hitam tebal di sekelilingnya"menyipit
dengan sikap prihatin. Billy juga mengkhawatirkannya. Itu terpancar dari matanya
yang cokelat kehijauan dan kerutan di keningnya yang lebar. Baik
sekali dia, pikir Danielle. Keren lagi. Rambutnya pirang gelap,
badannya atletis, dan pipinya dihiasi lesung pipit.
"Kurasa ya," jawab Danielle. "Aku" maafkan aku. Aku tahu
kalian sedang tidur. Aku tidak bermaksud mengagetkan kalian seperti
tadi." "Hei, no problem," ujar Billy meyakinkannya. "Jeritanmu masih
lebih bagus dari pada dering jam weker. Lagi pula, ini kan band rock"
Wajar kalau kita suka menjerit-jerit, agak tidak normal."
"Mungkin itulah nama yang cocok untuk band kita," timpal
Caroline. "Agak Tidak Normal."
Mary Beth menggeleng. "Aku tidak suka."
Caroline tertawa. "Aku cuma bercanda, Mary Beth."
"Hei, bagaimana kalau namanya Band Tak Bernama?" seru
Joey. "Kau suka tidak, Danielle?"
"Kau menyetir sajalah, Joey," perintah Billy. "Menyetir
sajalah." Cowok itu mencondongkan badannya. "Jangan perhatikan si
Joey," bisiknya dengan suara keras pada Danielle. "Kami menyewa
tenaganya, bukan otaknya."
"Aku dengar, lho!" Joey pura-pura tersinggung.
Danielle terpaksa tersenyum. Ia tahu, mereka semua berusaha
menghiburnya. Dan usaha mereka membuahkan hasil.
Walaupun tidak sepenuhnya.
Seandainya ia bisa berhenti mengkhayalkan hal-hal seram yang
seolah-olah nyata itu. Danielle menyandarkan kepala dan memejamkan mata.
"Sudah merasa baikan?" bisik Caroline.
"Lumayan," jawab Danielle. "Aku hanya berharap bisa
mengerti apa yang tidak beres. Kenapa sih aku terus-menerus
dibayangi halusinasi yang mengerikan seperti tadi?"
"Kalau yang tadi, Joey-lah gara-garanya," tukas Caroline sambil
menyelipkan seberkas rambut pirangnya di balik telinga. "Ia ngebut
sih. Padahal kami semua tahu kau takut naik mobil. Maksudku... sejak
kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuamu itu."
Danielle merasa tenggorokannya tercekat. Halusinasi itu
memang muncul setiap kali ia memikirkan ayah-ibunya.
Hampir tiga tahun yang lalu, Mr. dan Mrs. Verona mengalami
kecelakaan dalam perjalanan pulang dari sebuah acara. Mobil yang
mereka tumpangi tergelincir. Menabrak pagar pembatas jalan"
melayang dari pinggir tebing setinggi lima belas meter, dan terempas
di bebatuan di bawah sana.
Peristiwa itu terjadi pada malam hari, seperti sekarang, pikir
Danielle. Keadaan jalannya juga persis. Langit jernih dan bersih.
Bulan bersinar terang. Tapi yang itu bukan khayalan.
Ayah-ibunya benar-benar meninggal.
Keduanya terlempar dari dalam mobil. Batu karang mengoyakngoyak tubuh mereka, seperti pisau.
Tidak! tukas Danielle dalam hati. Bibi Margaret tidak pernah
mengatakan tubuh mereka terkoyak-koyak. Ia tidak pernah bercerita
hingga ke detail-detailnya. Aku cuma mengkhayalkannya.
Mengkhayalkan hal yang paling buruk.
"Aku masih saja belum percaya peristiwa itu benar-benar
terjadi," bisik Danielle pada Caroline. "Kecelakaan itu terjadi malammalam, padahal Dad sudah biasa menyetir pada malam hari. Dan
beliau juga sangat hati-hati. Maksudku, beliau tidak pernah melanggar
batas kecepatan maksimum. Dulu aku malah sering menggodanya.
Kubilang, bisa-bisa Dad kena tilang karena terlalu hati-hati!"
Caroline menggelengkan kepala dengan penuh simpati. "Kau
mulai berhalusinasi setelah kecelakaan itu terjadi, kan?"
Danielle mengangguk. Khayalan itu seperti mimpi buruk saja.
Tapi terjadinya justru bukan pada saat ia tidur. Melainkan pada waktu
ia dalam keadaan sadar"dan ketakutan.
"Kau sudah menceritakan masalah ini pada Dr. Moore?" tanya
Caroline. Danielle mengeluh. "Mana ada sih yang belum kuceritakan
padanya?" Sejak kecelakaan itu, Danielle menjadi pasien tetap Dr. Moore.
Psikiater itu berusaha membantunya menyelami akar khayalannya.
"Begitu kita menemukan penyebabnya, Danielle, maka khayalan
seperti itu tidak akan muncul lagi," kata Dr. Moore padanya.
Semoga saja dia benar, pikir Danielle. Dan semoga itu tidak
lama lagi. Khayalan-khayalannya kini semakin parah. Semakin nyata. Dan
semakin mengerikan. "Aku yakin Dr. Moore pasti bisa membantumu," ujar Caroline.
"Asal kau tetap berkonsultasi dengannya."
"Jangan khawatir," sahut Danielle. "Aku tidak bakal ganti
dokter. Ia memang terlalu banyak bertanya, tapi kurasa itu memang
sudah seharusnya. Lagi pula, ia pintar. Dialah yang mengatakan main
band adalah kegiatan yang tepat untukku. Dan itu memang benar.
Kalau tidak main band, bisa-bisa aku sinting betulan!"
Caroline terbahak. "Sinting Betulan. Bagaimana kalau band kita
dinamai begitu?" "Hei"lumayan juga," jawab Danielle.
Beberapa menit kemudian, Joey membelokkan mobilnya ke
lapangan parkir sebuah hotel. "Perhentian terakhir!" serunya.
"Midland Hotel yang mewah. Dan di seberang jalan"ada The Rocket
Club. Saksikan setiap malam"penampilan Band Tanpa Nama. Ayo,
semua turun!" Sambil menguap dan menggeliat, para anggota band turun dari
mobil. Danielle mengikuti Caroline turun. Jalanan disinari cahaya
bulan yang berkilauan. Senyum Danielle lenyap. Ia merapatkan tas ranselnya di dada.
Badannya menggigil. Ada yang tidak beres, pikir Danielle.
Badanku"rasanya kok aneh sekali.
Dingin. Sekujur tubuhku terasa dingin.
Terjadi sesuatu pada diriku. Sesuatu yang... mengerikan.
Ia menoleh dan melihat Caroline sedang memandanginya
dengan mata terbelalak kaget.
Caroline juga melihatnya! pikir Danielle menyadari.
"Caroline!" pekik Danielle sambil menggigil hebat. "Aku
kenapa" Apa yang terjadi?"
Bab 3 Aku Peringatkan Kau! "APA yang terjadi?" desak Danielle. "Katakan!"
Caroline mengangkat pandangannya. "Rambutmu, Danny.
Rambutmu tegak semua!"
"Hah" Tegak?" Danielle menjatuhkan ranselnya dan
mengangkat tangannya ke kepala.
Rambut cokelatnya dipotong model bob sebatas dagu. Rambut
yang halus dan lurus itu biasanya tergerai seperti helm yang lembut.
Tapi sekarang tidak. Setiap helainya kini tegak dan kaku, seolah-olah tertiup kipas
angin yang berkekuatan besar.
Rasanya juga aneh. Tidak halus dan lembut, tapi tebal. Kasar
dan kaku. "Pasti"pasti gara-gara tertiup angin," ucap Caroline terbatabata sambil terus memperhatikan. Tapi rambut Caroline yang panjang
dan pirang itu tergerai diam di bahunya.


Fear Street - Bulan Merah Bad Moonlight di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tapi kan tidak ada angin!" teriak Danielle. Ia menarik-narik
rambutnya dengan kalang kabut, berusaha meluruskannya lagi. "Tidak
mau diluruskan! Aneh sekali!"
"Sudahlah, Danielle, tenanglah," tukas Caroline. "Lucu kok.
Maksudku, itu toh tidak akan membuat dunia kiamat. Ayolah, kita
masuk saja." Lucu" pikir Danielle. Tidak. Apanya yang lucu. Bagiku
kejadian ini aneh. Danielle mengerang. Yang keluar adalah suara geraman rendah
yang sama sekali tidak mirip dengan suaranya.
"Ayolah, kita masuk saja ke hotel," desak Caroline.
Diulurkannya ransel dan gitar Danielle. "Kita kan habis menempuh
perjalanan jauh. Kau akan merasa lebih enak setelah berada di dalam."
Midland Hotel sama sekali tidak bisa dibilang mewah. Di
lobinya yang kecil terdapat tiga buah kursi yang ditata mengitari
sebuah meja pendek yang sudah gompal. Tanaman hias dari plastik.
Serta permadani yang sudah usang.
Tapi hotel itu bersih. Dan hangat, pikir Danielle dengan
perasaan bersyukur saat berjalan mengikuti Caroline masuk. Di langitlangit terpasang sebuah kipas angin yang berputar pelan. Embusan
anginnya yang hangat menggerak-gerakkan rambutnya dan meniup
sehelai anak rambut ke pipi.
Danielle menyelipkan anak rambut itu ke balik telinga dan
menyadari kalau rambutnya sudah tergerai normal.
Perasaan dingin yang aneh itu kini seakan merembes keluar dari
kulitnya. Badannya tidak menggigil lagi.
Ia menarik napas panjang dan merasakan otot-ototnya mulai
rileks. "Panasnya kayak di sauna!" keluh Dee sambil meletakkan
tasnya di lantai dengan kasar. "Kuharap kamarnya ber-AC. Kalau
tidak, aku tidak bakal bisa tidur."
Pegawai hotel yang mengantuk dan berkepala botak
memandangi Dee dari balik meja pendaftaran. "Kalau mau yang berAC, pergi saja ke Hilton," tukas pegawai itu dengan ketus. "Tapi kalau
mau yang murah, di sinilah tempatnya."
Dee cemberut, tapi Caroline tertawa. "Ini memang tempat
menginap yang cocok untuk kami," katanya pada pegawai hotel itu.
"Sampai kami terkenal, begitulah."
"Kalian pasti pemain band." Pegawai itu mengerutkan kening.
"Ingin ngetop, nih?"
"Benar," jawab Mary Beth menimpali dengan serius. "Tunggu
saja kemunculan kami di koran."
"Bagaimana dia bisa tahu?" bisik Dee. "Kita kan tidak punya
nama." "Oke, teman-teman, dengarkan!" Billy melangkah masuk ke
lobi sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya dengan penuh
semangat. "Kit dan Joey sudah pergi ke kelab di depan sana. Sekarang
kalian bongkar dulu barang-barang kalian, setelah itu pergi ke sana
untuk melihat-lihat."
"Bagus juga idemu," timpal Dee. "Di sana mungkin ada ACnya."
Caroline melirik Danielle. "Begitulah Dee. Kerjanya mengeluh
terus." Danielle menyeringai. Untung saja aku tidak sekamar dengan
Dee, pikirnya. Mengingat perasaan Dee terhadapku, bisa-bisa ia
mencekik leherku nanti malam.
Keadaan kamarnya setali tiga uang dengan lobi hotel. Kecil,
usang, dan berkesan murahan. Tapi bersih dan hangat.
"Hei, kasurnya lumayan empuk!" seru Caroline sambil
melemparkan dirinya ke satu dari dua tempat tidur di kamar itu.
"Kau masih ingat hotel terakhir yang kita datangi?"
Danielle mengerang sambil meletakkan gitarnya. "Rasanya
seperti tidur di atas bola-bola golf."
"Mungkin nasib kita mulai berubah." Caroline meluncur turun
dari tempat tidur dan melemparkan tasnya ke sana. "Ayo cepat, kita
segera ke Rocket Club."
Kedua gadis itu cepat-cepat membongkar tas mereka, lalu turun
ke lobi dengan lift yang jalannya lambat sekali.
Mary Beth dan Dee sudah menunggu dengan tidak sabar.
Caroline dan Mary Beth berjalan terburu-buru ke pintu keluar. Tapi
Dee sengaja berlambat-lambat. Disambarnya lengan Danielle.
"Aku harus bicara denganmu," bisik Dee cepat-cepat.
Danielle mengernyit kesakitan saat kuku-kuku Dee
menghunjam kulitnya yang terbuka. "Hei, sakit! Lepaskan aku!"
Tapi cengkeraman Dee justru semakin kuat. "Kau akan
menyesal," bisiknya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah
Danielle. "Kau akan menyesal nanti."
Bab 4 Ciuman Pertama "APA maksudmu?" tanya Danielle.
Mata Dee yang cokelat keemasan itu menyipit hingga tinggal
segaris. Mulutnya terbuka, hendak menjawab. Tapi digagalkan oleh
suara Caroline. "Ayo cepat!" seru Caroline sambil menoleh. "Kalian ikut,
tidak?" "Danielle"," panggil Dee.
"Sudahlah, Dee!" bentak Danielle. "Aku lidak mengerti kau ini
kenapa. Tapi aku sudah muak melihat sikapmu."
Ia menyentakkan lengannya hingga terlepas dari pegangan Dee,
lalu cepat-cepat berjalan ke luar. Sayangnya, sebenarnya ia tahu apa
yang membuat Dee bersikap begitu. ebukulawas.blogspot.com
Dee benci padanya. "Ada apa sih?" tanya Caroline sambil mendorong pintu hingga
terbuka. "Biasa, masalah dengan Dee lagi," jawab Danielle.
"Ia tidak bisa menerima kehadiranmu?"
Danielle mengangguk. "Tapi mulai sekarang aku sudah
memutuskan untuk tidak menggubris kelakuannya. Lupakan saja deh,
oke?" Ketika mereka menyeberang jalan, Danielle mulai menggigil
lagi. Ia mempercepat langkah, ingin segera masuk ke dalam.
Billy sudah menunggu mereka di Rocket Club. "Bagus sekali
tempat ini!" serunya dengan suara keras, mengatasi raungan suara
musik dari mesin jukebox. "Bisa menampung lebih dari seratus
pengunjung. Klab terbesar yang pernah kita singgahi!"
Dee meraih tangan cowok itu. "Kita dansa, yuk!" Ditariknya
Billy ke tengah lantai dansa yang hiruk pikuk. Caroline dan Mary
Beth pergi ke bar untuk membeli Coca-cola.
Danielle tidak ikut, hanya melihat-lihat keadaan di
sekelilingnya. Rocket Club malam itu disesaki pengunjung yang asyik
berdisko sampai keringatan sambil tertawa-tawa riuh. Untaian lampu
neon hijau dan ungu meliuk-liuk seperti ular di langit-langit dan
sepanjang dinding. Musik berdentam-dentam di telinganya.
Danielle berjalan di pinggir kerumunan pengunjung dan
menemukan sebuah meja kecil yang kosong. Lalu ia duduk di sebuah
kursi yang goyah dan melayangkan pandangannya ke arah panggung
yang pendek. Malam ini para pengunjung berdisko dengan iringan musik
melalui CD. Tapi besok kami yang akan mengiringi mereka, pikir
Danielle. Bibirnya tersenyum penuh semangat.
"Wow, aku suka senyumanmu itu," bisik seseorang di dekat
telinganya. Danielle terlonjak. Joey mencondongkan badan ke arahnya. Rambut panjangnya
yang hitam dan keriting menyentuh pipi Danielle.
"Joey!" Danielle menjauh. "Kau ingin mengaget-ngageti aku,
ya?" Joey terkekeh-kekeh dan duduk mengangkang di kursi yang
lain. "Kenapa kau tidak pernah tersenyum seperti itu padaku?"
tanyanya. Danielle sedang tidak ingin bercanda. Apalagi dengan Joey.
"Kau ngebut, sih," tukasnya. "Kau sengaja mau menakut-nakuti aku.
Aku tahu itu." Joey mendorong kacamata hitamnya ke atas kepala dan
memandangi Danielle dengan matanya yang hijau. "Kalau aku tidak
ngebut lagi?" godanya.
Danielle menggeleng. "Oh, jangan begitu dong." Joey mendekatkan kursinya. "Kita
dansa, yuk" Aku bukan cowok brengsek, kok. Sungguh."
"Terima kasih, tapi tidak usah saja, Joey. Aku agak capek."
"Barusan tadi kau tidak kelihatan capek," komentar Joey.
Lengannya terulur ke punggung kursi Danielle. Jari-jari cowok itu
menyentuh bahunya yang terbuka.
"Aku sedang memikirkan penampilan kita besok," ujar Danielle
menjelaskan. "Tahu kan. Tampil di depan pengunjung sebanyak ini."
Tangan Joey terus membelai-belai bahu Danielle. "Bagaimana
kalau main di hadapan satu orang saja?" tanya Joey lembut. "Di
kamarku. Kau bisa menyanyi untukku."
Dengan sebal Danielle menepiskan tangan Joey dari bahunya.
"Sudahlah, Joey. Oke?" Ia pura-pura menguap. "Kurasa aku mau
kembali ke hotel saja dan tidur."
Danielle memundurkan kursinya dan berdiri.
Joey menyambar lengannya. "Kau mau tahu pendapatku?"
tanyanya. "Menurutku kau takut." Cowok itu nyengir dan menggerakgerakkan alisnya. "Padahal tidak ada yang perlu ditakuti, Danny. Aku
tidak menggigit, kok. Ayolah. Nekat saja."
"Aku tidak takut, Joey," tukas Danielle sengit. "Tapi aku mulai
marah sekali." Tiba-tiba saja Billy muncul. "Ada yang tidak beres?" tanyanya.
Joey serta merta melepaskan lengan Danielle. "Tidak ada apaapa," jawabnya. "Oke-oke saja, tuh."
"Bagus." Billy menggerakkan jempolnya ke arah belakang. "Kit
butuh bantuan di belakang panggung," katanya pada Joey. "Soal
kabel." Joey mengangguk tidak senang. "Baiklah." Ditudingnya
Danielle. "Nanti dansa dengan aku, ya" Kalau kau tidak sedang
capek." "Ya." Danielle mengembuskan napas lega melihat Joey pergi.
"Ia terlalu getol mendekatimu, ya?" komentar Billy sambil
duduk di kursi yang ditempati Joey tadi.
"Getol bukan istilah yang tepat," jawab Danielle sambil
menggeleng-gelengkan kepala. "Ia mendekatiku seperti hewan yang
mengincar buruannya."
"Yeah. Kurasa benar juga," timpal Billy sependapat. "Biar aku
bicara dengannya nanti."
"Tidak, jangan," cegah Danielle. "Aku bisa menghadapi Joey
sendiri." Tapi apakah aku bisa menghadapi Dee" tanya Danielle dalam
hati. Billy mengerutkan kening. "Kalau ia mengganggumu lagi, kasih
tahu saja aku. Joey tidak berani cari perkara denganku."
"Tidak ada orang yang berani cari perkara denganmu, Billy,"
goda Danielle. "Sudahlah, tidak usah membicarakan Joey lagi," tukas Billy
sambil menepuk-nepuk meja. "Bagaimana pendapatmu mengenai
kelab ini?" "Hebat!" seru Danielle. "Sebelum Joey datang, aku sedang
membayangkan diriku berdiri di atas panggung, di depan pengunjung
sebanyak ini." "Gugup?" tanya Billy. Lesung pipinya muncul.
"Selalu," jawab Danielle mengakui. "Aku berusaha untuk tidak
gugup, tapi tidak bisa."
"Tapi tidak kelihatan kok," hibur Billy sambil mencondongkan
badannya, supaya Danielle bisa mendengar suaranya di tengah-tengah
bisingnya suara musik. "Penampilanmu luar biasa di atas panggung.
Suaramu bagus. Kami beruntung memilikimu."
"Terima kasih, tapi akulah sebenarnya yang beruntung," kata
Danielle. "Tak kukira aku bisa memperoleh kesempatan seperti ini."
Sambil tersenyum ia memandang berkeliling.
Tatapan matanya berhenti pada Dee.
Bahkan dari seberang ruangan sekalipun, Danielle bisa melihat
kilatan marah di mata Dee.
Dee mengalihkan pandangannya ke Billy, lalu kembali lagi ke
Danielle. Oh, sialan, pikir Danielle. Apakah Dee naksir Billy"
"Hei, guys," terdengar sebuah suara membuyarkan pikiran
Danielle. Ia mendongak dan bertatapan dengan sepasang mata biru
pucat milik Kit Kragen, manajer peralatan.
Kit benar-benar yang paling cakep di antara semua, pikir
Danielle sambil tersenyum pada cowok itu. Tinggi, bertulang pipi
indah, dan berdagu kokoh. Rambutnya hitam kelam. Dan matanya
biru dingin, dikelilingi oleh bulu mata hitam panjang.
"Hei, Kit," sapa Billy. "Pengeras suaranya sudah beres?"
Kit mengangguk. "Tadi aku mengkhawatirkan listrik untuk
pengeras suara bas. Alat itu butuh listrik banyak. Tapi sekarang sudah
beres. Jadi aku bisa bersantai."
"Mau kembali ke hotel?" tanya Billy.
"Aku mau jalan-jalan dulu, cari udara segar." Kit berpaling
pada Danielle. "Waktu di mobil tadi, aku sempat melihat sebuah
taman kecil. Kira-kira dua blok jauhnya dari sini. Kau mau jalan-jalan
denganku ke sana?" Danielle terkejut. Sampai sejauh ini, Kit tidak pernah
menunjukkan perhatian apa-apa padanya. Sikapnya memang baik, tapi
sedikit menjaga jarak. "Bagaimana?" tanya Kit.
Danielle mendapati dirinya mengangguk. Ia tidak bakalan bisa
menolak, kalau memang tidak mau sekalipun. "Asyik juga bisa jalanjalan," jawabnya. "Apalagi setelah naik mobil begitu lama."
Kit tersenyum saat Danielle berdiri.
Pantas saja para penggemar menjerit-jerit histeris melihatnya,
pikir Danielle. Entah pakai ilmu apa dia, yang jelas aku juga jadi tidak
berdaya dibuatnya! Danielle melirik Billy dan melihat ekspresi terkejut di wajah
cowok itu. Ia pasti menganggap tingkahku kayak penggemar yang
keranjingan, pikir Danielle. Diam-diam, ia justru merasa senang.
"Sampai ketemu lagi di hotel," kata Kit pada Billy. Cowok itu
menggandeng tangan Danielle dan menuntunnya melewati kerumunan
para pedisko. Saat hampir mendekati pintu, Danielle melihat Dee. Cewek itu
memandangi Kit dengan raut wajah tegang.
Ternyata ia tidak naksir Billy, mendadak Danielle menyadari. Ia
naksir Kit. Dee cemburu karena aku menjadi penyanyi di band.
Sekarang kecemburuannya akan semakin menjadi-jadi, karena Kit.
Mata Dee tak lepas-lepasnya memandangi Kit sampai cowok itu
lenyap di pintu. Tapi Kit seakan tidak menyadarinya.
Sesampainya di luar, Kit tetap menggandeng tangan Danielle.
Pegangannya mantap dan hangat.
Tapi Danielle malah menggigil.
"Kedinginan?" tanya Kit sambil menoleh padanya.
"Sedikit." Danielle mendongak. Langit bersih tak berawan.
Kit melepaskan gandengannya dan merengkuh bahu Danielle.
"Mau mengambil baju hangat?"
Bukan angin yang membuatku kedinginan, pikir Danielle.
Angin tidak bertiup sama sekali.
Tapi diriku sendiri penyebabnya.


Fear Street - Bulan Merah Bad Moonlight di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sesampainya di taman, Kit menuntunnya ke sebuah bangku dari
batu. Di sekelilingnya terdapat pohon-pohon. Cahaya bulan yang
keperak-perakan menyusup di sela-sela dedaunan.
"Indah sekali tempat ini," komentar Danielle, berusaha agar
suaranya terdengar antusias.
"Tenang lagi." Kit tertawa pelan. "Mungkin aku bekerja di
bidang yang salah. Soalnya, aku kadang-kadang tidak tahan suara
berisik." Danielle memaksa diri untuk tersenyum. Kenapa sih aku ini"
tanyanya dalam hati. Aku berduaan dengan Kit. Seharusnya aku
senang sekali. Tapi ia malah merasa kedinginan. Dingin dan aneh.
Tangannya terangkat ke kepala. Rambutnya mulai terasa kasar
lagi. Tapi Kit tidak memperhatikan rambutnya.
Mata birunya memandangi mata Danielle. Bersinar penuh
makna. "Sudah lama sekali aku ingin berduaan saja denganmu,
Danielle," bisik Kit. Cowok itu tersenyum dan mencondongkan
badannya. Dilihatnya mata Kit berkilat-kilat.
Cowok itu mencondongkan badannya semakin dekat dan
menciumnya. Danielle membalas.
Badanmu tidak menggigil lagi, kata Danielle pada dirinya
sendiri dalam hati. Badanmu sudah hangat kembali.
Ia merasakan darahnya mengalir deras di urat-urat nadinya. Ia
semakin bersemangat mencium Kit.
Semakin bersemangat. Mulanya Kit tampak sedikit kaget, tapi lalu menciumnya lagi.
Danielle memejamkan mata dan membalas ciuman Kit dengan
penuh semangat. Kit menjerit ketika Danielle menggigit bibir cowok itu keraskeras.
Bab 5 Darah Pertama DENGAN napas terengah-engah, Kit meloncat dari bangku. Ia
mengerang kesakitan dan memegangi bibirnya.
Apa yang telah kulakukan" tanya Danielle dalam hati.
Mendadak sekujur tubuhnya gemetaran. Kenapa aku menggigitnya"
Dengan penuh kengerian, Danielle memandangi Kit. Bibir
cowok itu berdarah. Darah mengalir dari sela-sela jari-jarinya.
Hitam mengilat diterangi cahaya bulan.
"Danielle?" bisik Kit dengan suara parau. Tampangnya
bingung. "Kenapa?""
"Maafkan aku!" ucap Danielle dengan suara tercekik. Ia
meloncat dari bangku, berdiri dengan jantung berdebar-debar. "Entah
apa yang terjadi! Maafkan aku!"
Kit mengulurkan tangan, tapi Danielle menepiskannya. Lalu,
nyaris tanpa sadar, ia mulai lari. Lari menembus sinar bulan yang
dingin keperakan, menuju ke hotel.
Danielle menelan ludah dengan susah payah. Satu kali. Dua
kali. Ia bisa merasakan darah Kit di mulutnya.
Kenapa aku menggigitnya" Lagi-lagi Danielle bertanya dalam
hati. Kenapa aku menggigitnya keras-keras"
Kenapa" Kenapa"
Sebuah pikiran menakutkan membuat bulu kuduknya
meremang. Aku senang melakukannya.
Aku senang menggigit bibir Kit sekuat-kuatnya.
Pegawai hotel mendongak sewaktu Danielle menghambur
masuk ke lobi dengan napas terengah-engah. Danielle membuang
muka dan bergegas ke lift.
Ia menekan tombol dan kemudian menyeka mulutnya dengan
punggung tangan. Darah Kit menempel di sana. Lagi-lagi Danielle
merinding. Sesampainya di kamar, tangisnya meledak.
"Danielle!" seru Caroline sambil berpaling dari lemari. "Ada
apa?" Aku tidak bisa mengatakannya, pikir Danielle. Bagaimana aku
bisa mengatakan padanya bahwa aku merasakan darah Kit dan
menikmatinya" Caroline mengencangkan tali jubah kamar warna biru di
pinggangnya yang ramping, lalu menghampiri Danielle. "Ada apa?"
ulangnya sambil memegangi lengan Danielle. "Badanmu dingin
sekali, Danny. Dan kau"kau menangis?"
Danielle menelan ludah. "Aku harus menemui Dr. Moore," kata
Danielle, akhirnya bisa bersuara juga. "Caroline, ada yang tidak beres
dengan diriku." Mata biru Caroline tampak prihatin. "Kau mengkhayalkan halhal yang aneh-aneh lagi?"
"Semacam itulah." Danielle tidak sanggup menceritakan yang
sebenarnya. "Mengerikan?" "Ya!" pekik Danielle. "Lebih parah dari yang sudah-sudah,
Caroline. Aku harus bertemu Dr. Moore besok. Hanya dia yang bisa
menolongku!" "Kalau begitu, kau harus menemuinya," ujar Caroline
menenangkan. "Nanti kita minta tolong Billy mencarikan mobil untuk
mengantarmu. Jangan khawatir, ia pasti tidak keberatan."
"Tapi kita kan harus latihan," protes Danielle.
"Kita baru akan tampil jam delapan malam," kata Caroline
mengingatkan. "Masih banyak waktu untuk bolak-balik ke
Shadyside." Danielle berharap Caroline benar; semoga Billy tidak keberatan
membiarkannya pergi. Soalnya ia harus bertemu Dr. Moore.
"Kau gemetaran," kata Caroline. "Dengar, aku baru saja mau
mandi, tapi sebaiknya kau saja dulu. Supaya badanmu hangat."
Di dalam bilik pancuran yang kecil, Danielle memutar keran air
sepanas mungkin. Curahan air yang nyaris panas mendidih itu
menghangatkan kulitnya. Tapi bayangan berciuman di taman tadi
tetap membuatnya merasa kedinginan.
Apakah akan terjadi lagi sesuatu sebelum Dr. Moore sempat
menolongnya" Sesuatu yang lebih mengerikan"
Selesai mandi, Danielle membungkus tubuhnya dengan jubah
mandi panjang berwarna kuning. Dilihatnya bayangan dirinya di
dalam cermin. Matanya hitam besar, sedangkan wajahnya pucat.
Ketika ia menyisir rambut, tangannya masih gemetaran.
Setelah Caroline masuk ke kamar mandi yang masih beruap,
Danielle mondar-mandir di dalam kamar. Ia tidak bisa tenang.
Jantungnya berdebar-debar terus.
Lalu matanya tertumbuk pada kotak gitarnya.
Mungkin bermain musik bisa membuatku tenang, pikirnya.
Danielle mengeluarkan gitarnya dan duduk di ujung tempat
tidur. Di balik jendela tampak bulan bersinar. Bulatan es di langit
malam. Dipetiknya senar gitarnya. Karena tidak dihubungkan dengan
pengeras suara, suara gitarnya seperti teredam. Tapi itu bukan
masalah. Ia bisa mendengar nada-nada dengan begitu jelas dalam
pikirannya, dan itu sudah cukup.
Jari-jarinya terus bermain. Mula-mula tanpa nada. Hanya
memainkan beberapa kunci.
Tapi saat matanya memandang bulan, telinganya mendengar
alunan nada di kepalanya. Sebuah melodi"disertai liriknya. Tanpa
ragu dan tanpa mencari-cari nada yang tepat, ia memainkan dan
menyanyikan lagu barunya itu.
Bulan merah, menyinariku,
Bulan merah, membasahiku,
Bulan merah Membuatku merasa begitu aneh dan baru.
Bulan merah, menyinariku,
Bulan merah, membasahiku,
Bulan merah" Kuingin mati untukmu! Aneh sekali, pikir Danielle setelah selesai menyanyikannya.
Belum pernah aku segampang itu menciptakan lagu. Muncul begitu
saja seperti disulap. "Danielle, lagu itu"bagus sekali!" seru Caroline dari ambang
pintu kamar mandi. "Kapan kau menciptakannya?"
"Baru saja," jawab Danielle. "Lagu itu mengalir begitu saja.
Secara tiba-tiba. Aku bahkan tidak perlu menggubahnya lagi. Kau
benar-benar menyukainya?"
"Suka" Aku suka sekali! Itu lagu terbagus yang pernah
kauciptakan!" Caroline nyengir. "Bulan Merah"kedengarannya
menyeramkan!" Menyeramkan, pikir Danielle. Benar. Seketika itu juga Danielle
sadar, bulanlah yang selama ini membuatnya merasa aneh. Merasa
sangat kedinginan. Tapi kenapa" Apa jeleknya terang bulan"
"Aku akan memanggil teman-teman kita ke sini, supaya mereka
bisa ikut mendengarkan." Caroline melepaskan balutan handuk basah
dari kepalanya dan meraih pesawat telepon.
Beberapa menit kemudian, para anggota band yang lain
berdatangan dan berkumpul di kamar itu. Dee sudah memakai jubah
kamar, tapi yang lain-lain masih berpakaian lengkap. Pakaian Joey
kusut masai, seperti habis dipakai tidur.
"Awas kalau lagunya jelek," ancam Joey sambil menguap.
"Waktu kau telepon tadi, aku sedang mimpi indah. Dua cewek?"
"Joey, tidak ada yang peduli pada ceritamu," potong Billy.
"Tunggu sampai kalian mendengarnya," kata Caroline. "Ayo,
Danielle, mainkan." Danielle memetik kunci pembukaan, lalu masuk ke lagunya.
Setelah selesai, tak ada yang bergerak atau mengatakan apa-apa.
Lalu Billy bertepuk tangan, disusul oleh yang lain-lain. Joey
bersiul dan mengentak-entakkan kaki. Mata hijau Mary Beth bersinarsinar senang. Hanya Dee yang diam saja.
Kit meremas bahu Danielle. "Lagumu maut," puji cowok itu.
"Maut!" "Trims, Kit," gumam Danielle dengan perasaan canggung. Ia
mendongak dan melihat memar kebiruan di bibir Kit. Dengan
perasaan malu dan bersalah, ia membuang muka.
Dee memandangi Kit. "Kenapa bibirmu luka?" tanyanya. "Kau
membuka botol bir dengan gigi lagi ya?"
"Tergores pisau cukur," jawab Kit dengan nada biasa-biasa saja,
tanpa melirik Danielle. Dee menyipitkan mata. "Kau bercukur malam-malam?"
"Tadi pagi tidak sempat," jawab Kit. Diusapnya bibirnya pelanpelan.
Dee menggeleng-gelengkan kepala dengan sikap curiga.
Waduh, ternyata Dee tergila-gila pada Kit, pikir Danielle tidak
senang. Satu lagi alasan Dee membenciku.
"Soalnya aku ceroboh, sih," ujar Kit sambil mengeluh.
"Well, kita namai saja band kita Bulan Merah!" seru Caroline.
"Nama yang pas sekali untuk band kita"Bulan Merah! Bagaimana
menurut kalian?" "Kedengarannya agak menyeramkan." Mary Beth mengangkat
sebelah alisnya dan tersenyum. "Tapi aku suka."
"Kau bagaimana, Dee?" tanya Caroline.
Dee mengangkat bahu. "Kayak kalian peduli saja pada
pendapatku," tukasnya dengan muka cemberut.
"Wah, hebat! Kita sudah punya nama!" seru Billy. "Sekarang
aku bisa memberitahukannya pada manajer kelab, supaya ia bisa
memperkenalkan kalian dengan nama itu." Lalu ia menambahkan,
"Ngomong- ngomong soal kelab, besok kita latihan jam setengah
sembilan. Pagi, bukan malam. Jadi sekarang semuanya tidur."
Para anggota band beranjak ke kamar masing-masing. Caroline
mengikuti mereka. "Aku akan minta tolong pada Billy agar
mencarikan mobil untukmu pergi ke Shadyside besok," serunya pada
Danielle. Setelah hanya tinggal ia sendiri di dalam kamar, Danielle
menyimpan gitarnya. Ia masih merasa gelisah. Tegang.
Ia naik ke tempat tidur dan memejamkan matanya. Ia langsung
melihat Kit berdiri di hadapannya dengan bibir berdarah. Hitam
mengilat diterangi cahaya bulan.
Pikirkan hal lain saja, omel Danielle pada dirinya sendiri. Apa
saja, asal bukan ini. Ia membalikkan badan ke posisi miring, membuat
bantalnya bergerak-gerak.
Ia memikirkan lagu barunya. "Bulan Merah." Aneh. Belum
pernah ia menciptakan lagu seperti itu. Apakah lagu itu benar-benar
maut, seperti kata Kit" Benarkah lagu itu sebagus kata mereka"
Sambil memikirkan betapa mudahnya menciptakan lagu itu,
Danielle terlena. Terdengar lolongan hewan memecah keheningan malam.
Serta merta mata Danielle terbuka.
Mimpikah ia" Ia menunggu. Waspada. Membuka telinganya lebar-lebar.
"Ohhh." Danielle sadar itu bukan mimpi.
Sambil menahan napas, didengarnya lolongan yang menakutkan
itu menggema di luar jendela kamarnya.
"Ada apa di luar sana?" teriaknya keras-keras. "Suara apa yang
menyeramkan itu?" Bab 6 Tercabik-cabik HENING. Lalu terdengar lagi suara lolongan melengking tinggi.
"Caroline?" bisik Danielle. "Kau dengar suara itu tidak?"
Tak terdengar jawaban apa-apa dari tempat tidur di sebelahnya.
Tangan Danielle meraba-raba, mencari-cari jam di meja samping
tempat tidur. Tengah malam. Jadi ia baru tidur selama dua puluh menit. Apakah Caroline
belum selesai berbicara dengan Billy" tanya Danielle dalam hati.
Terdengar lagi lolongan, kali ini nadanya memilukan hati.
Lolongan hewan liar. Dekat sekali. Amat sangat dekat.
Bayangan Joey berkelebat dalam ingatannya. Cowok itu suka
mencondongkan kepalanya ke belakang dan melolong seperti serigala
liar. Danielle berjalan melintasi kamar dalam gelap. Dengan takuttakut dibukanya tirai jendela. Melongok ke luar.
Cahaya bulan yang dingin dan terang benderang menyinari
gedung-gedung dan jalan raya.
Bulu kuduk Danielle meremang. Tapi anehnya, ia seperti
merasakan dorongan untuk lari ke luar. Menggabungkan diri dengan
lolongan itu. Tidak! tukasnya dalam hati, marah pada diri sendiri.
Pikiran macam apa itu"
Ditutupnya lagi tirai jendela.
Ia naik lagi ke tempat tidur dan bergelung di sana, mencoba
mengabaikan lolongan itu.
Ia terduduk ketika tiba-tiba terdengar suara lain.
Suara pintu diketuk pelan tapi bertubi-tubi.
"Danielle!" Itu suara Dee, memanggil-manggil dengan suara berbisik parau.
"Danielle"aku harus bicara denganmu. Sekarang!"
Danielle menahan napas dan membaringkan tubuhnya kembali
ke tempat tidur. Tidak mau, pikirnya dalam hati dengan marah. Aku
tidak akan membiarkan Dee masuk.


Fear Street - Bulan Merah Bad Moonlight di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Untuk apa bicara dengan Dee" tanya Danielle pada dirinya
sendiri. Supaya Dee bisa mengutarakan kebenciannya padaku karena
aku bergabung dengan band ini dan menjadi penyanyi utama"
Danielle sudah tahu kalau Dee benci padanya. Itu tak perlu dikatakan
lagi. "Danielle!" bisik Dee lagi. "Aku tahu kau ada di dalam."
Diketuk-ketuknya pintu kamar Danielle dengan buku-buku jarinya.
"Buka pintunya, Danielle. Sekarang!"
Pergi kau, usir Danielle dalam hati. Pergi sajalah.
Setelah mengetuk-ngetuk selama beberapa saat, akhirnya Dee
menyerah. Lorong pun sunyi sepi. Di luar, terdengar lagi lolongan yang mengerikan itu mengoyak
keheningan malam musim panas.
**************************
Danielle memegang setir mobil pinjamannya lebih erat lagi dan
memandangi jalan di depannya dengan sikap gelisah. Enam puluh
lima kilometer lagi ia sampai di Shadyside. Dalam waktu kurang dari
satu jam, ia sudah akan bertemu dengan Dr. Moore.
Caroline benar"Billy mengizinkannya pergi sehabis latihan.
Cowok itu kenal dengan salah seorang pelayan di kelab dan berhasil
merayu pelayan itu untuk meminjamkan mobilnya pada Danielle.
Danielle menggelengkan kepalanya. Mungkin Billy justru lega
bisa menyingkirkannya. Soalnya, ia tadi payah ketika berlatih. Selain
selalu terlambat "masuk", suaranya juga sumbang. Jari-jarinya terasa
kaku, tidak bisa memetik senar gitar dengan lincah.
"Hei, tidak usah dipikirkan," hibur Billy sewaktu istirahat.
"Kalau latihannya jelek, berarti penampilannya nanti bagus."
"Well, kalau begitu berarti penampilan kita nanti bakal hebat!"
canda Danielle. "Soalnya latihannya payah sekali."
Tentu saja Dee tidak menyia-nyiakan kesempatan mencecar
Danielle. "Kau ini kenapa, sih?" bentaknya. "Semalam bergadang,
ya?" "Tidak, aku justru tidur lebih awal," jawab Danielle. Ia tidak
mau Dee tahu kalau ia sebenarnya mendengar ketukannya semalam.
Dan Danielle juga memutuskan untuk tidak mengungkit-ungkit
masalah lolongan itu. Selain dirinya sendiri, tampaknya tak ada
seorang pun yang mendengarnya. Mereka semua tampak segar dan
rileks. "Aku cuma tegang. Nanti malam pasti beres."
Dee memelototinya, tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Kau pasti bakal hebat," kata Kit pada Danielle sambil
melepaskan belitan kabel pengeras suara. "Lagu barumu bakal
menghebohkan semua orang!"
Danielle merasa wajahnya memerah. Bagaimana Kit bisa tetap
bersikap baik padanya setelah kejadian kemarin malam" Coba ia bisa
kembali ke masa lalu dan menghapus perbuatannya itu.
Danielle merasa sangat tertarik pada Kit. Tapi walaupun Kit
masih sering tersenyum padanya, cowok itu mungkin tidak bakal mau
berduaan lagi dengannya. Sambil mengeluh, Danielle membelokkan mobilnya melewati
tikungan. Sekarang lupakan Kit dulu, katanya pada diri sendiri. Aku
harus menemui Dr. Moore. Minta bantuan.
Setengah jam kemudian, Danielle berbaur dengan mobil-mobil
lain yang berjajar menyusuri Division Street di Shadyside. Setelah
melewati beberapa deret toko dan bangunan kantor bertingkat tiga, ia
membelok ke Park Drive, dan melaju ke arah North Hills.
Sebenarnya ia ingin mampir menengok bibi dan adiknya, tapi
tidak ada waktu. Seusai menemui Dr. Moore nanti, ia harus segera
kembali ke Midland. Dr. Moore membuka praktek di rumahnya, sebuah bangunan
abu-abu besar bergaya Victoria yang terletak di dekat sungai. Danielle
memarkir mobilnya di bawah serambi samping, lalu lari menaiki
tangga, menuju ke pintu. Danielle memberitahukan kedatangannya dengan cara menekan
bel. Meja resepsionis kosong. Ia duduk di salah satu kursi warna
cokelat lembut yang ada di situ, dan meraih majalah.
Tapi ia langsung membuang majalah itu dan meloncat berdiri.
Ia terlalu gelisah, tidak bisa duduk diam-diam.
Sesuatu yang mengerikan terjadi pada diriku, pikirnya. Aku
harus tahu, "sesuatu" itu apa. Dan mengapa.
"Danielle?" Sebuah suara yang empuk dan dalam membuyarkan
lamunannya. "Dr. Moore!" Danielle berhenti mondar-mandir dan lekas-lekas
berbalik. Dokter itu berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.
Perawakannya besar dengan rambut sudah memutih. Di bawah alisnya
yang lebat, tampak sepasang mata biru cemerlang.
Pakaiannya selalu agak kusut dan kacamatanya tidak pernah
bersih. "Saya sudah mencoba menelepon, tapi salurannya selalu sibuk,"
ujar Danielle menjelaskan. "Saya tahu Anda punya pasien-pasien lain,
tapi Anda harus memberi waktu untuk saya." Ia berusaha agar tidak
terdengar putus asa. Tapi suara yang keluar justru melengking dan
terengah- engah. Dr. Moore melambaikan tangan ke arah ruang kerjanya. "Ada
pasien yang membatalkan janji. Masuklah, Danielle."
Di ruangan itu ada beberapa jendela kaca berukuran besar yang
menghadap ke halaman belakang. Di tengah halaman terdapat kolam
renang. Jajaran pepohonan memisahkan kolam renang dengan sungai
di belakangnya. Rak-rak buku memenuhi dua dinding kantor. Di dinding lain,
tergantung poster-poster besar bergambar bunga yang warna-warni.
Dua buah kursi empuk ditata di depan meja tulis.
Dr. Moore menyuruh Danielle duduk di salah satu kursi itu. Ia
sendiri duduk di pinggiran meja kerjanya.
"Ada apa?" tanyanya.
Nyaris tanpa menarik napas, Danielle menceritakan semua
khayalan mengerikan yang dialaminya di mobil. Lagu aneh tentang
bulan yang diciptakannya. Dan kejadian menakutkan di taman
bersama Kit. "Kalau itu sama sekali bukan khayalan!" pekiknya. "Saya
benar-benar menggigitnya. Sampai berdarah!"
"Apakah kau tertarik pada Kit?" tanya Dr. Moore.
"Ya, tapi?" Dokter itu mengangkat tangannya. "Dan apakah ia juga tertarik
padamu?" "Saya rasa begitu. Paling tidak, waktu itu saya rasa ia juga
tertarik pada saya."
Dr. Moore tersenyum. "Dua anak muda, berciuman di bawah
sinar bulan. Biasa, kadang-kadang ada yang tidak sengaja menggigit.
Mungkin Kit menelengkan kepalanya sedikit?"
Danielle merasakan secercah harapan timbul.
"Kecil kemungkinan kau sengaja berbuat kasar," kata Dr.
Moore meyakinkan Danielle.
"Mungkin Anda benar," ujar Danielle sependapat. "Tapi
bagaimana dengan khayalan-khayalan mengerikan yang saya alami"
Semuanya sangat menyeramkan!"
"Baik, mari kita telaah bersama-sama," usul Dr. Moore. "Sudah
siap menjernihkan pikiranmu?"
Danielle mengangguk dan memejamkan mata.
Dokter itu mulai menghipnotis Danielle seperti yang sudah
sering ia lakukan sebelumnya.
"Mulailah menghitung mundur dari seratus," bisik Dr. Moore.
"Singkirkan semua yang ada dalam pikiranmu. Sejalan dengan setiap
hitungan, kau akan merasa rileks."
Dengan patuh Danielle mulai menghitung. "Seratus... sembilan
puluh sembilan... sembilan puluh delapan..."
"Sekarang kau sudah merasa jauh lebih rileks," tutur dokter itu
dengan suara yang nyaris berbisik. "Tarikan napasmu dalam dan
teratur." Sambil terus menghitung, Danielle merasa dirinya semakin
tenggelam dalam kelembutan kursi yang didudukinya. Kedua
tangannya tergeletak pasrah di lengan kursi.
"Apakah kau sudah merasa nyaman, Danielle?" tanya Dr.
Moore. "Pikiranmu sudah jernih?"
"Sudah," bisiknya.
"Bagus. Sekarang, biarkan pikiranmu mengalir," perintah
dokter itu. "Dan ceritakan padaku apa yang terjadi."
Lambat-lambat Danielle menarik napas panjang. "Bulan,"
erangnya. "Bulan purnama. Menyinari saya."
"Bagaimana rasanya?"
"Dingin. Menusuk tulang." Napasnya mulai memburu. "Saya
berlari melintasi padang. Berlari kencang. Melarikan diri dari semua
orang." "Kenapa kau lari?" tanya Dr. Moore.
"Karena saya senang bisa berlari kencang," jawab Danielle.
"Tapi?" Otot-otot kakinya terasa kejang. Jantungnya mulai berdebar.
"Tapi sekarang saya dikejar-kejar! Ada yang mengejar saya!"
"Bagaimana rasanya dikejar-kejar?" tanya dokter itu tenang.
"Marah. Kesal!" jawab Danielle dengan napas memburu. "Saya
marah sekali! Saya berbalik untuk melawan. Sekarang saya berkelahi.
Berkelahi dengan seseorang." Ia menggertakkan gigi-giginya. "Saya
bergumul mati-matian! Mengamuk. Ada banyak... darah. Saya
berkelahi terus dan..."
Dr. Moore menjentikkan jari-jarinya. Sekali. Dua kali.
Mata Danielle terbuka. Dilihatnya rak-rak buku di dinding.
Matahari bersinar di luar. Dr. Moore menatapnya.
"Pikiran tadi begitu... menyeramkan!" seru Danielle dengan
napas terengah-engah. "Anda mengerti maksud saya, kan" Semakin
lama, khayalan-khayalannya semakin aneh. Sangat mengerikan."
"Kau masih memendam amarah dalam dirimu," komentar Dr
Moore. "Tapi siapa yang bisa menyalahkanmu" Kedua orangtuamu
meninggal secara mendadak. Kau pun merasa marah. Pada mereka.
Pada keadaan." Danielle mengangguk. Ia berusaha mati-matian mengatur
napasnya. "Jangan takut pada khayalan-khayalanmu. Ada baiknya bila kau
bisa mengeluarkan perasaan-perasaanmu, Danielle," saran Dr. Moore.
"Semakin sering kau melakukannya, amarahmu akan semakin
berkurang." Benarkah begitu" tanya Danielle dalam hati. Benarkah
khayalan-khayalannya yang mengerikan itu tidak berbahaya"
Benarkah semua itu ada manfaatnya"
Danielle masih merasa terguncang. Tapi Dr. Moore sudah
bergerak ke pintu. Waktunya sudah habis.
Danielle mencengkeram kedua lengan kursi untuk
membantunya berdiri. Sewaktu menunduk, ia terkejut bukan kepalang.
Kain kursi yang berwarna cokelat muda sudah robek dan
tercabik-cabik. Danielle mengangkat kedua tangannya dan memandanginya
dengan penuh kengerian. Cabikan-cabikan kain melekat di kuku-kuku jarinya.
Ia telah mencakar kain kursi itu hingga hancur tercabik-cabik.
Bab 7 Malam Terang Bulan "BULAN MERAH!" Para pengunjung Rocket Club yang asyik berdansa bersoraksorai dengan suara menggemuruh, minta mereka menyanyi lagi.
"Bulan Merah!" seru mereka. "Lagi! Bulan Merah!"
Keringat membasahi wajah Danielle. Bajunya"gaun merah
pendek dengan hiasan manik-manik"terasa seperti lap basah di
badannya. Kulit salah satu jarinya terkelupas.
Ia merasa sangat bahagia. Aku tahan nyanyi semalaman!
pikirnya riang. "'Bulan Merah! Sekali lagi!" teriak para pengunjung. "'Bulan
Merah!"' Sambil tertawa, Danielle berbalik dan memandangi para
anggota band lainnya. Caroline menepiskan rambut pirangnya yang
panjang dan mengacungkan kepalan tangannya. Di balik drum, Mary
Beth membalas seringaiannya. Bahkan Dee pun tampak gembira dan
senang. Sampai ia bertatapan dengan Danielle. Setelah itu, ekspresi
wajahnya langsung berubah masam.
Danielle berusaha untuk tidak menggubrisnya. Kami sukses,
pikirnya kegirangan. Para pengunjung menyukai kami. Menyukai lagu
ciptaanku. Dan ingin mendengarnya sekali lagi.
"Ayo, nyanyi lagi!" seru Billy dari bawah panggung. Joey
berdiri di sampingnya dengan jempol teracung.
Danielle kembali menghadap ke arah pengunjung. Diliriknya
Caroline, yang mulai memainkan nada-nada pembukaan di keyboardnya. Mary Beth menyusul dengan pukulan drum.
Danielle mendongakkan kepalanya dan mulai menyanyikan
lagu "Bulan Merah."
Para pengunjung berteriak kegirangan, lalu ikut menyanyi.
Bulan Merah, menyinariku,
Bulan Merah, membasahiku,
Bulan Merah... Sambil terus menyanyi, mata Danielle menangkap sosok
seorang cowok di tengah kerumunan pengunjung. Kehadirannya
tampak menonjol karena ia tidak bertepuk tangan atau menyanyi
seperti para pengunjung lain. Cowok itu diam saja,
memperhatikannya. Kit. Biasanya cowok itu berada di belakang panggung bila band
sedang pentas. Ia pasti sengaja pergi ke depan untuk menontonku,
pikir Danielle. Mata Kit yang biru pucat bersinar-sinar penuh kekaguman.
Bukan hanya kagum pada penampilan Danielle. Tapi pada Danielle
sendiri. Dr. Moore memang benar soal ciuman itu, pikir Danielle
menyadari. Mana mungkin Kit memandangiku seperti itu kalau ia
sudah tidak tertarik lagi.
Karena merasa diperhatikan, Danielle makin bersemangat. Ia
mengakhiri lagunya dengan semangat meledak-ledak.
Bulan Merah, menyinariku,
Bulan Merah Kuingin mati untukmu! ********************* "Ayo kita bersenang-senang!" seru Joey yang masih belum
melepaskan kacamata hitamnya. "Ayo kita hura-hura!"
Saat itu sudah jam satu pagi, dan Rocket Club sudah ditutup.
Tapi belum ada yang mengantuk. "Bulan Merah?"lagu maupun
bandnya"benar-benar mencatat sukses besar.
"Ayo kita pesta!" teriak Joey lagi. Disambarnya pinggang Dee
dan diajaknya cewek itu berjoget di panggung.
"Lepaskan aku!" bentak Dee sambil mendorong Joey jauh-jauh.
Joey mengangkat bahu dan beralih ke Mary Beth. Kaget juga
Danielle waktu melihat Mary Beth tidak menolak diajak berdansa oleh
Joey. EB?K?L?W?S.BL?GSP?T.C?M
Kalau Mary Beth saja sampai mau diajak dansa oleh Joey,


Fear Street - Bulan Merah Bad Moonlight di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berarti penampilan kami malam ini benar-benar sukses! pikir Danielle.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Billy saat Danielle sedang
sibuk mengepak gitarnya. "Habis-habisan." Danielle nyengir. "Heboh deh!"
Billy tersenyum, lesung pipinya tampak semakin dalam. "Kau
benar-benar bikin geger, Danielle. Tapi tanpa diberitahu pun kurasa
kau sudah tahu." "Beritahu saja," sahut Danielle. "Aku senang kok
mendengarnya." "Hei, kita mau ngapain, nih?" tanya Caroline. "Semua ingin
merayakan kesuksesan ini."
Billy menyisir rambut pirangnya dengan jari-jari tangan.
"Bagaimana ya, karena kelab ini sudah tutup, maka satu-satunya
tempat yang masih buka adalah coffee shop hotel."
Caroline mengangkat bahu. "Oke-oke saja. Malam ini kita bisa
pesta di mana saja! Semuanya sedang semangat, nih!"
Ketika Caroline berpaling, mata Danielle tertumbuk pada Kit.
Cowok itu sedang sibuk menggulung kabel. Otot-otot lengannya
menyembul dari balik kaus oblong hitam yang dipakainya.
Danielle tidak bisa melupakan tatapan mata Kit saat
memandanginya beraksi di atas panggung tadi. Ia ingin merasakan
kehangatan itu lagi. Ia berjalan menghampiri Kit. Tapi waktu baru setengah jalan,
ada sepasang tangan kukuh yang menyambarnya dan membalikkan
badannya. "Joey!" "Kau milikku sekarang!" seru Joey. Cowok itu mempererat
cengkeramannya dan menarik badannya.
Sebelum Danielle sempat menghentikannya, Joey sudah
mencium bibirnya. Danielle mendorong Joey keras-keras dan menyingkirkan
wajahnya jauh-jauh. "Hentikan, Joey!" bentaknya.
"Ayolah, Danny," bujuk Joey sambil mengerling. "Kau kan
naksir aku." "Nggak usah ya!" protes Danielle.
Di seberang panggung, dilihatnya Kit memasang tampang jijik.
Cowok itu memungut gulungan-gulungan kabel dan lenyap ke
belakang panggung. Sialan, pikir Danielle. Semoga Kit tidak menganggap aku
benar-benar suka pada Joey.
"Dengar, semuanya!" seru Billy sambil melambai-lambaikan
secarik kertas di atas kepalanya. "Ini cek kita. Memang kita belum jadi
miliuner, tapi kurasa kita mampu makan-makan di coffee shop hotel."
Sambil tertawa-tawa dan bercanda, Danielle dan temantemannya menyelesaikan pengepakan, lalu pergi meninggalkan kelab.
Danielle sadar, ia tidak tahan memikirkan dirinya harus dudukduduk di meja dan mengobrol. Tiba-tiba saja ia merasa ingin berlari.
Lari berkilo-kilo jauhnya di udara malam yang sejuk ini. Berlari
lepas. "Hei, aku masih tegang, nih," katanya pada Caroline saat
mereka sedang menyeberang jalan menuju ke hotel. "Aku ingin jalanjalan dulu sebentar. Pesankan cheeseburger untukku ya, setengah
matang." Danielle memisahkan diri dari rombongan dan mulai berjalan
menyusuri trotoar dengan langkah-langkah cepat. Hanya dalam tempo
beberapa menit ia sudah melewati sejumlah toko dan gedung-gedung
perkantoran kecil. Trotoar habis. Danielle mendapati dirinya berjalan di jalan
setapak dari tanah yang berada di samping lapangan. Tidak ada
tanaman apa pun di sana, cuma ilalang.
Cahaya bulan menyinari lapangan itu, membuat ilalangnya
tampak keperak-perakan. Danielle menengadah dan memandangi bulan purnama.
"Go!" bisik Danielle pada diri sendiri.
Ia pun mulai lari. Sepatunya berdebum-debum di tanah sewaktu ia berlari di
bawah sinar bulan. Ilalang menyambar kaki dan roknya, tapi Danielle tak mau
mengurangi kecepatan. Ia tidak bisa. Sinar bulan ini, pikirnya. Sinar bulan ini mengandung sesuatu.
Membuatku merasa begitu aneh dan baru.
Sesuatu menjulang di hadapannya. Dinding batu. Terbuat dari
batu-batu besar dengan jeruji besi di atasnya. Tingginya paling tidak
satu setengah meter lebih.
Stop, pikir Danielle. Stop!
Ia tidak bisa berhenti. Ia terus berlari mendekati dinding batu itu. Otot-otot kakinya
mengejang, lalu memantul seperti pegas.
Dan kemudian, ia melompat. Melayang di atas tanah.
Membumbung ke udara. Melewati dinding batu. Mudah sekali. Seperti anjing. Atau
kuda. Dan mendarat dalam posisi merangkak.
Bagaimana bisa begitu"
Dengan napas memburu, Danielle mengangkat kepalanya dan
memandang berkeliling. Ia kenal tempat ini. Ini taman tempatnya
berciuman dengan Kit. Ternyata ia sudah berlari mengelilingi pinggir
kota dan kembali ke taman.
Dengan perasaan bingung, Danielle menapakkan tangannya di
tanah dan mencoba berdiri.
Cahaya bulan menerangi tangannya.
Tapi... itu bukan tangannya!
Kukunya! Kuku-kukunya kini panjang. Tebal dan keras, serta
melengkung ke bawah seperti cakar.
Danielle mengangkat cakar yang tebal dan menyeramkan itu di
depan wajahnya dan memandanginya dengan penuh kengerian.
Bulan Merah, menyinariku.
Ada suara di belakangnya. Di lapangan. Suara gemerisik. Desah
napas. Langkah-langkah kaki.
Ada yang mengikutinya! Ia langsung meloncat, berdiri, dan mengangkat kedua cakarnya
yang mengerikan itu. "Joey!" pekik Danielle. "Ngapain kau di sini?"
Bab 8 Mayat di Taman "ADA yang lihat Joey nggak?" tanya Billy esok paginya. Saat
itu Danielle sedang duduk bersama Dee, Mary Beth, dan Caroline di
coffee shop hotel. Mary Beth menguap dan menyibakkan rambut merahnya.
"Coba cari di kamarnya," ia mengusulkan.
"Benar juga." Sambil mengerutkan kening, Billy cepat-cepat
pergi dari sana. "Siapa yang memesan telur dadar dengan ham?" tanya seorang
pelayan. "Aku. Dan kopi," tambah Mary Beth. Tampak lingkaran hitam
di bawah mata hijaunya. "Yang banyak."
Pelayan itu meletakkan piring yang dibawanya di atas meja, lalu
pergi untuk mengambil kopi.
"Untung nanti malam tidak ada show," gumam Mary Beth.
"Kalau ada, baru lagu pertama mungkin aku sudah terkantuk-kantuk."
"Ngomong-ngomong, semalam kalian bergadang sampai jam
berapa?" tanya Danielle.
"Sampai pagi," erang Caroline sambil menyelipkan rambut
pirangnya di balik telinga. "Sepanjang perjalanan pulang nanti aku
pasti tidur terus." "Kopi," kata pelayan sambil menyodorkan sebuah teko kaca.
Danielle mengangkat cangkirnya dan melihat luka baru di jari
telunjuknya. Lagi-lagi kulit arinya terkelupas.
"Ke mana kau tadi malam?" tanya Dee. "Kau tidak kembali ke
sini." "Memang." Danielle hanya ingat ketika ia mulai jalan-jalan.
Tidak lebih. "Rupanya aku capek sekali. Benar-benar teler."
"Memang," tukas Caroline sambil memutar bola matanya. "Aku
takut akan mendapat teguran dari hotel karena kau ngorok keras
sekali." "Joey belum muncul juga?" tanya Billy, menghampiri meja
mereka lagi. Kit mengikuti di belakangnya. "Seharusnya ia membawa
mobilnya ke sini supaya kita bisa memasukkan barang-barang."
"Masa kau heran kalau ia belum bangun?" tanya Caroline. "Joey
kan tukang tidur. Sambil menyetir pun ia bisa tidur!"
Kit menggeleng. "Waktu aku bangun, ia tidak ada di kamar."
Billy menoleh pada Danielle. "Kemarin malam ia pergi
beberapa menit setelah kau. Kau tidak bertemu dengannya?"
Danielle menggeleng. "Tidak, aku tidak bertemu dengannya."
Dee meletakkan gelasnya keras-keras, membuat jus jeruknya
berceceran ke atas meja. "Joey mengatakan sesuatu tentang kau ketika
ia pergi," katanya pada Danielle.
"Tentang aku?" Dee mengangguk. Danielle melihat tangan Dee gemetaran
sewaktu membersihkan tumpahan jus di atas meja.
"Kau tidak apa-apa, Dee?" tanya Billy.
"Ya." Dee melirik Danielle, lalu menunduk. "Aku baik-baik
saja." "Soal Joey," sela Kit mengingatkan teman-temannya.
"Mungkin ia ke kelab, mengambil sesuatu yang ketinggalan,"
kata Caroline memberi ide.
"Bagus juga idemu," puji Billy.
"Dasar manajer," keluh Mary Beth. "Dikiranya semua musisi
tidak punya otak." "Memang." Caroline tertawa dan melambaikan tangannya ke
arah Billy dan Kit, menyuruh mereka pergi. "Panggil Joey sana. Kami
sarapan dulu." "Kau tidak makan, Danielle?" tanya Mary Beth sambil mencuil
telur dan ham-nya dengan garpu. "Kita mengeluarkan banyak tenaga
selama pertunjukan, lho. Jangan sampai badanmu lemas karena tidak
makan." "Tenang sajalah," tukas Danielle menenangkan Mary Beth.
"Aku tidak lapar."
Aneh, pikir Danielle dalam hati. Padahal biasanya sehabis
pertunjukan, aku makan gila-gilaan.
Aku juga masih merasa capek, padahal sudah tidur selama
berjam-jam, pikirnya. Rasanya seperti habis lari maraton saja. Ototototnya terasa sakit.
Diliriknya Dee di seberang meja. Mata Dee yang cokelat
keemasan itu menghindar dengan gugup.
Mungkin ia merasa bersalah karena telah bersikap jahat padaku,
pikir Danielle. Mungkin akhirnya kami bisa berteman juga.
Sarapan selesai. Lalu mereka berempat menemui Billy dan Kit
di lobi. Tas-tas mereka sudah menunggu di sana.
"Joey sudah ketemu?" tanya Dee.
Billy menggelengkan kepala dengan sikap jengkel. "Ia tidak ada
di klub. Di kamar juga tidak. Awas kalau ia tidak muncul sebentar
lagi"akan kupecat dia."
Danielle menoleh ke arah lift. Dilihatnya Caroline dan Kit
berbisik-bisik dengan sikap sungguh-sungguh. Ia merasa cemburu.
Ada apa di antara mereka berdua"
Semoga saja tidak ada apa-apa. Soalnya ia merasa tertarik sekali
pada Kit. "Sebaiknya kita masukkan saja barang-barang kita ke mobil dan
berangkat," kata Billy memutuskan. "Mungkin kita akan berpapasan
dengan Joey di jalan."
"Kau tahu itu tidak mungkin!" bentak Dee sengit.
Danielle menoleh pada Dee, terkejut. Apa maksudnya"
Sebelum Billy sempat bereaksi, Dee sudah menyambar
ranselnya dan bergegas lari ke pintu.
"Dee kenapa?" tanya Danielle. "Kita semua tahu ia sebal pada
Joey. Kenapa sekarang sikapnya kalang kabut begitu?"
Billy mengangkat bahu. "Mana aku tahu." Ia berpaling pada Kit
dan Caroline. "Ayo, teman-teman, kita berangkat!"
Di luar, Kit dan Billy mengikat peralatan dan barang-barang
lain di atap mobil. Sementara anak-anak perempuan memasukkan tas
mereka ke dalam mobil. Danielle baru hendak masuk ke dalam mobil, tapi urung ketika
melihat sebuah mobil polisi melesat lewat, sirenenya meraung-raung.
Sebuah mobil patroli warna hitam-putih menyusul di
belakangnya, menikung di sudut jalan dengan sirene yang meraungraung seperti lolongan binatang liar.
Beberapa detik kemudian, sebuah ambulans merah-putih
melesat lewat dengan suara nyaring.
"Mereka menuju ke taman!" seru Kit sambil menaungi matanya
dengan tangan. "Yuk, kita lihat ada apa!"
Kit mengunci pintu mobil dan berlari-lari kecil ke arah taman.
Danielle dan teman-temannya menyusul di belakang.
Dua mobil polisi dan sebuah ambulans, pikir Danielle dengan
badan merinding. Tergesa-gesa lagi. Pasti ada yang tidak beres.
Sesampainya di dekat taman, ternyata yang ingin tahu bukan
hanya Danielle dan teman-temannya. Tampak sejumlah orang
berkerumun di sana, melongok-longok dan bertanya-tanya. Dua
petugas polisi berwajah muram berusaha menjauhkan orang-orang
dari Sana, tapi tidak berhasil.
Dee lari mendahului, menyusul Kit. Danielle melihat mereka
berdua menerobos kerumunan orang.
"Ayo, mundur semua!" teriak salah seorang polisi itu. "Jangan
dekat-dekat!" Terdengar suara orang menjerit.
"Sepertinya itu jeritan Dee!" seru Caroline. "Apa yang
dilihatnya?" Jantung Danielle mulai berdebar-debar.
"Aku tidak mau dekat-dekat, ah," kata Mary Beth, berhenti
beberapa meter dari kerumunan orang. "Lihat orang-orang itu.
Mengerikan." Caroline juga berhenti. Wajahnya berubah pucat. Digigitnya
bibir bawahnya dengan tegang.
Danielle berjalan terus. "Semuanya mundur! Ini Tempat Kejadian Perkara!" seru polisi
itu marah. "Jangan dekat-dekat!"
Danielle mencapai pinggir kerumunan. Saat itulah, kerumunan
di depannya menyeruak, sehingga ia bisa melihat apa yang membuat
Dee menjerit. Apa itu yang teronggok di tanah"
Sesosok mayat" Mayat manusia"
Tercabik-cabik" Bajunya"bukan, kulitnya"hancur disayat-sayat dan dicabikcabik.
Dicakar sampai mati. Orang ini pasti mati diterkam binatang liar, pikir Danielle.
Lalu dilihatnya wajah mayat itu.
Itu wajah Joey. BAGIAN DUA JERITAN Bab 9 Lagu untuk Dee Tiga Minggu Kemudian " SAYA yakin saya tidak mungkin melakukannya!" tegas
Danielle. "Mana mungkin saya sanggup melakukan hal semacam itu!"


Fear Street - Bulan Merah Bad Moonlight di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Aku juga sudah tahu, Danielle," ucap Dr. Moore tenang.
"Kenapa kau berusaha meyakinkan dirimu sendiri" Apa yang
membuatmu mengira kau mungkin telah membunuh Joey?"
Danielle duduk di kursinya dengan tegang. Saat itu ia berada di
ruang praktek Dr. Moore. Kursi baru, pikirnya ketika memasuki
ruangan ini tadi. Dr Moore tidak pernah mengungkit-ungkit soal kursi
yang dicabik-cabiknya dulu.
Tapi Danielle masih ingat. Sekarang ia meletakkan kedua
tangannya di atas pangkuan, meremas-remasnya dengan sikap gelisah.
"Danielle?" desak dokter itu. "Mengapa
"Karena apa yang selama ini saya ceritakan pada Anda," jawab
Danielle menjelaskan. "Tentang khayalan-khayalan saya. yang
mengerikan dan menyeramkan itu. Bagaimana kalau ternyata itu
semua menjadi kenyataan?"
"Kau mengkhayalkan hal-hal seram rnengenai Joey?"
Danielle menggeleng. "Tidak. Tapi kata Billy malam itu Joey
pergi meninggalkan klub beberapa saat setelah saya pergi. Dan kata
Dee, ia mendengar Joey berkata ingin bicara dengan saya!"
Dr. Moore mengetuk-ngetukkan pensilnya di atas meja. "Itu
tidak berarti apa-apa," katanya.
"Saya tahu, tapi?" Danielle menelan ludah dengan susah
payah. "Masalahnya, saya tidak ingat apa yang terjadi setelah saya
meninggalkan teman-teman saya!" semburnya. "Ingatan saya hilang.
Hilang sama sekali!"
Danielle memegang kedua lengan kursi, tapi lalu cepat-cepat
meletakkan tangannya kembali ke atas pangkuan.
"Kenapa saya tidak ingat apa-apa?" tanyanya.
"Mungkin karena memang tidak ada yang perlu diingat." Dr.
Moore menulis sesuatu di dalam buku catatannya. "Kau baru saja
pentas. Kau masih merasa 'tegang', begitulah istilahmu, jadi kau
memutuskan untuk jalan-jalan dan kemudian lari-lari. Setelah
menyalurkan semua kegembiraanmu, kau kecapekan, Danielle. Dalam
keadaan seperti itu, wajar bila orang lantas jadi pelupa."
Benarkah itu yang terjadi" tanya Danielle dalam hati.
"Kecil kemungkinan kau akan mewujudkan khayalankhayalanmu," lanjut dokter itu. "Kau hanya belum bisa melupakan
kematian orangtuamu yang tragis. Jadi pikiranmu selalu dipenuhi
khayalan-khayalan menyeramkan."
Dr. Moore mencondongkan badannya. Mata biru di balik
kacamatanya menyorotkan kesungguhan. "Tapi itu bukan berarti kau
akan melakukan tindakan mengerikan seperti yang ada dalam
khayalanmu." Danielle menunduk, memandangi kedua tangannya. Tangan itu
seolah-olah punya nyawa sendiri. Memuntir-muntir dan menggeliatgeliat di pangkuannya.
Tangan itu tidak bisa diam.
"Kau tegang sekali," ujar Dr. Moore sambil mengamatinya.
"Bagaimana kalau kita jernihkan dulu pikiranmu" Dengan begitu, kau
bisa tenang." Dokter itu bangkit dari kursinya dan duduk di pinggir meja.
"Mulailah menghitung, Danielle," perintahnya dengan suara lembut.
"Makin lama kau akan merasa makin rileks."
Danielle menyandarkan badannya di kursi dan mulai
menghitung mundur dari seratus.
*********************** Angin bertiup menerbangkan rambut Danielle saat mobil
melaju menuju sebuah hotel lain yang tak kalah suramnya dengan
hotel yang sudah-sudah. Dan lagi-lagi mereka bakal makan makanan
berlemak yang tidak enak. Serta tampil di hadapan penonton yang
bersorak-sorai. Danielle sudah tidak sabar lagi. Ia merasa rileks dan siap tampil.
Konsultasinya dengan Dr. Moore benar-benar membantu. Ia
mendongak dan melihat mata Kit di kaca spion. Cowok itu
mengedipkan mata padanya dengan gaya bercanda.
Danielle nyengir. Hatinya hangat melihat perhatian cowok itu.
"Rasanya aku tidak percaya kita bisa tampil di kelab lain,
seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa," kata Dee dengan nada getir.
"Joey meninggal. Jangan-jangan kalian sudah lupa kalau ia mati
tersayat-sayat. Masa sih tidak ada yang peduli?"
Hening. Bayangan mayat Joey berkelebat dalam ingatan Danielle.
Bersimbah darah dan tercabik-cabik. Ia menggeleng-gelengkan kepala
untuk mengusir bayangan itu dari otaknya.
"Tentu saja kami peduli, Dee," kata Billy akhirnya. Suaranya
tercekik. "Kau kan tahu itu. Kami cuma?"
"Kita harus melanjutkan hidup," sela Caroline. "Maksudku, kita
kan tidak mungkin terus-menerus mengurung diri atau semacamnya."
"Seharusnya kita membatalkan show ini," tukas Dee.
"Dee, itu tidak mungkin," kata Kit lembut. "Itu berarti kita
melanggar kontrak. Joey pasti tidak menginginkan hal semacam itu
terjadi." Dee menggumamkan sesuatu. Danielle tidak mendengarnya
dengan jelas. Ia benar-benar sedih, pikir Danielle. Ia mengulurkan tangannya
ke balik kursi dan mengeluarkan gitarnya dari dalam kotak.
"Kemarin aku menciptakan lagu baru," katanya memberitahu
teman-temannya sambil memetik sebuah kunci.
"Lagu baru lagi?" tanya Caroline. "Danny, kau kreatif sekali!"
"Kalau lagu itu sama bagusnya dengan 'Bulan Merah', kau
boleh menyanyikannya besok malam," ujar Billy menjanjikan. Mereka
dikontrak untuk tampil di sebuah kelab bernama Roadhouse yang
terletak di kota Hastings. ebukulawas.blogspot.com
"Boleh dibilang ini lanjutan 'Bulan Merah'" kata Danielle
menjelaskan. "Tapi temponya lebih cepat. Dan Dee yang akan
menyanyikan lagu ini," tambahnya.
Dee menoleh ke belakang, kedua alisnya terangkat.
Danielle tersenyum padanya. Mungkin dengan begini kami bisa
berteman, pikirnya. "Ayo mulai," desak Kit.
Danielle mengetuk-ngetukkan jarinya di badan gitar. Lalu
melantunkan kunci pembukaan dan mulai menyanyi.
Hentikan aku, wow, Bulan merah, hentikan aku,
Cegah aku, hentikan aku, Rengkuh aku laksana teman.
Caroline menggerak-gerakkan kepalanya mengikuti irama lagu.
Rambut pirangnya bergoyang-goyang. Mary Beth menepuk-nepuk
punggung kursi. Jari-jarinya berfungsi sebagai stik drum. Dee
mendengarkan dengan tekun. Matanya yang keemasan menatap wajah
Danielle lekat-lekat. Hentikan aku, wow, Bulan merah, rengkuh aku Dalam cahayamu yang dingin,
jangan biarkan aku membunuh lagi.
Semua diam mendengar akhir lagu itu.
Wajah Danielle terasa panas karena malu bercampur bingung.
Benarkah dia yang menulis lirik lagu itu"
Billy berdeham. "Wow," gumamnya.
Ia baru akan mengatakan sesuatu, tapi sudah keburu disela Dee.
"'Jangan biarkan aku membunuh lagi'?" Dipelototinya Danielle. "Kau
menginginkan aku menyanyikan lagu itu" Apa maksudmu
sebenarnya?" Danielle menggeleng. "Entahlah. Aku sendiri tidak mengerti.
Lagu itu keluar begitu saja dari mulutku dan?"
"Bukan aku yang membunuh Joey, tapi kau!" pekik Dee.
Sambil meraung marah, Dee melompat dari kursinya dan
menerjang Danielle. Sebelum Danielle sempat menghindar,
jari-jari Dee yang ramping dan kuat sudah melingkari lehernya
dan mulai mencekiknya. Bab 10 Seperti Binatang "KAU yang membunuhnya! Kau yang membunuhnya!" raung
Dee. Jari-jarinya mencengkeram semakin kuat.
Dee kuat sekali, pikir Danielle. Tak kukira ternyata ia kuat
sekali. Disambarnya tangan Dee dan dicobanya membuka
cengkeraman jari-jari kuat di lehernya itu.
Dee terus berteriak-teriak. Tidak ada kata-kata yang keluar.
Hanya jeritan-jeritan penuh amarah.
Walaupun Danielle meronta-ronta, Dee semakin mempererat
cekikannya. Gelombang rasa panik menguasai Danielle. Aku tidak bisa
bernapas! pikirnya. Ia akan mencekikku sampai mati!
Disentakkannya salah satu jari Dee dan dibengkokkannya
sejauh mungkin. Dee tersentak dan melepaskan sebelah tangannya dari leher
Danielle. Mobil mengentak maju, lalu semakin melambat, dan akhirnya
berhenti. Danielle meraih pergelangan tangan Dee yang lain dan
menariknya. Terasa udara mengalir deras memasuki paru-parunya.
Sambil menarik napas panjang, Danielle cepat-cepat bangkit dan
mendorong Dee jauh-jauh. Dee menerjangnya lagi. "Hei!" seru Billy dengan nada panik. "Dee, sudahlah! Sudah!"
Danielle mengangkat kedua tangannya, menahan serangan Dee.
"Aku tidak membunuhnya! Aku tidak membunuhnya!" Kata-kata itu
menghambur parau dari leher Danielle yang terasa sakit.
"Cepat, Kit. Bantu aku!" seru Billy.
Sepasang tangan yang kuat merenggut bahu Dee dan
menariknya jauh-jauh dari Danielle.
Danielle memelototi Dee dengan marah. Sementara Dee
meronta-ronta dalam pegangan Kit. Cowok itu menahan Dee di gang
mobil yang sempit. "Lagu untukku, heh?" pekik Dee sengit.
"Kata-katanya muncul begitu saja dalam pikiranku!" kata
Danielle menjelaskan. "Aku tidak tahu kenapa. Lagu itu tidak ada artinya, Dee. Aku
tidak bermaksud menuduhmu. Itu cuma lagu!"
"Semuanya tenang!" teriak Kit. Diguncang-guncangnya bahu
Dee. "Sekarang juga!"
Danielle memaksa diri untuk tetap tenang. Billy mengendurkan
pegangannya. Meletakkan tangannya di bahu Danielle yang
gemetaran. Kit mengedarkan pandangannya ke seluruh anggota band.
"Besok malam kita harus tampil," ujarnya mengingatkan. "Aku tahu
kita semua masih terguncang oleh peristiwa yang menimpa Joey, tapi
show kita tidak boleh gagal karenanya. Kalian semua harus tetap
tenang." Napas Dee memburu. Matanya tak sekejap pun beralih dari
wajah Danielle. Ia benar-benar yakin akulah yang membunuh Joey, pikir
Danielle dalam hati. Ia meneriakkan keyakinannya berulang-ulang.
Tapi kenapa" Kenapa ia mencurigai aku"
Danielle meraba lehernya yang sakit akibat dicekik kuat-kuat
oleh Dee tadi. Sambil bergidik, Danielle membuang muka, menghindari
tatapan Dee yang berapi-api.
Mary Beth mengawasi Danielle dengan sungguh-sungguh. Mata
hijaunya berkilau dalam keremangan cahaya di dalam mobil.
Berkilau ketakutan. Apakah Mary Beth takut pada Dee" tanya Danielle dalam hati.
Atau takut padaku" Seberkas kilat berkelebat membelah angkasa. Guntur
menggelegar seperti tembakan meriam.
Semua terlonjak. "Mau hujan," kata Kit sambil melepaskan tangan Dee. "Ayo
kita berangkat." Sepanjang sisa perjalanan, semuanya diam membisu.
********************** Badai mengamuk sepanjang perjalanan sejauh kira-kira seratus
delapan puluh kilometer. Kilat menyambar-nyambar dari langit.
Guntur menggetarkan kaca-kaca mobil.
Sewaktu Kit menghentikan mobil di depan hotel, hujan turun
amat deras. "Tolong bantu Billy dan aku menurunkan peralatan!" seru Kit
mengatasi deru hujan. "Pertama-tama kita akan membongkar barangbarang di atas atap dulu!"
Cowok itu menggeser pintu mobil dan melompat turun, disusul
oleh Billy. Mengikuti di belakangnya Dee, Mary Beth, dan Caroline.
Saat Danielle melompat turun ke jalanan yang basah, air hujan
langsung membuat rambutnya menempel di kepala. Ia
menyibakkannya dan menengadahkan wajahnya ke langit.
"Danielle, ayolah," seru Caroline sambil menoleh. "Kau mau
tenggelam di situ?" Tapi tiba-tiba saja Danielle merasakan dorongan yang kuat
untuk bergerak. Berlari menembus badai. Merasakan angin dan air menerpa
kulitnya. Sambil menyipitkan mata menahan deras air hujan, kakinya
melangkah menapaki jalanan.
"Danny!" panggil Caroline. "Mau ke mana kau" Kita harus
memhongkar barang!" "Biarkan saja." Danielle mendengar Kit berseru pada Caroline.
"Tidak apa-apa."
Benarkah begitu" tanya Danielle dalam hati. Benarkah tidak
apa-apa" Dengan kaki berdenyut-denyut, ia berlari menembus guyuran
hujan. Menginjak genangan-genangan air. Terjatuh dan bangkit lagi.
Apa yang kulakukan" tanyanya dalam hati. Aku tidak bisa
berhenti. Aku tidak bisa berhenti!
Langit sudah bersih saat ia berhenti lari.
Dengan napas terengah-engah, Danielle semakin melambat, dan
kemudian berjalan kaki. Pinggangnya sakit. Kakinya terasa lemas
seperti karet. Mulutnya terasa kering. Aku haus, pikirnya.
Haus sekali. Aku harus minum. Danielle menjatuhkan dirinya ke jalanan.
Ia merangkak mendekati genangan air dan menjilati air hujan
dengan rakus. Bab 11 Kit Tewas ESOK paginya, mereka latihan sekaligus melihat-lihat kelab
tempat mereka tampil nanti malam. Roadhouse tidak sebesar Rocket
Club. Tapi para pemilik kedua kelab itu saling mengenal, dan kabar
mengenai sukses Bulan Merah sudah tersiar hingga ke sana.
"Malam ini pasti bakal ramai," kata manajer kelab pada Billy
saat istirahat. "Aku sudah menyuruh para satpam bersiap-siap.
Mungkin nanti bakal ada pengunjung yang terpaksa ditolak masuk."
Billy menyeringai. "Kalian dengar itu, guys?" serunya. "Malam


Fear Street - Bulan Merah Bad Moonlight di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ini, kita harus tampil menghebohkan!"
Manajer itu mengacungkan jempolnya pada Danielle. "Kami
harus berterima kasih padamu, Manis," katanya pada Danielle. "Dave
dari Rocket bilang kau maut!"
Danielle tersenyum sambil mengencangkan senar gitarnya.
Caroline memutar bola matanya. "Manis?" bisiknya pada
Danielle. "Maut!" balas Danielle sambil tertawa.
"Ayo kita latihan lagi!" kata Dee dengan nada tidak sabar dari
sisi lain panggung. "Kita sudah dua puluh menit istirahat."
Billy mengangguk. "Tentu saja, Dee. Kau ingin latihan lagi"
Ayo saja." "Bagus." Dee mengambil gitarnya dan memandang Danielle
dengan kening berkerut. Ia masih menganggapku sengaja menulis lagu itu dengan
maksud menuduhnya membunuh Joey, pikir Danielle. Kami berdua
tidak akan mungkin berteman. Itu sudah mustahil sekarang.
Tapi Danielle tidak dapat melupakan cengkeraman tangan Dee
di lehernya. Yang mencekiknya erat-erat.
Mencoba membunuhnya. Dan aku bukan sekadar melawannya, pikir Danielle dengan
badan merinding. Tapi aku juga ingin membunuhnya!
Pikiran-pikiran menyeramkan ini timbul gara-gara kedua
orangtuanya tewas dalam kecelakaan. Menurut Dr. Moore, ia tidak
mungkin melakukan perbuatan seperti yang ia khayalkan itu.
Tapi Danielle takut hal itu akan terjadi.
Setelah bertengkar hebat dengan Dee, Danielle ingat bagaimana
ia lari seperti orang gila. Minum genangan air hujan yang kotor.
Menjilati air seperti anjing yang kehausan.
Aku ini kenapa" tanya Danielle keheranan. Sesuatu terjadi pada
diriku, tapi aku tidak tahu bagaimana harus menghentikannya.
"Danielle, kau sudah siap?" tanya Billy, membuyarkan
lamunannya. Danielle terlonjak. "Tentu saja, Billy. Sori." Ia mengambil
gitarnya dan berlari-lari kecil ke tengah panggung.
"Kau baik-baik saja?" bisik Kit saat Danielle lewat di depannya.
Mata birunya tampak prihatin. "Kelihatannya kau sedang
mengkhawatirkan sesuatu."
Danielle menggeleng. Ia tidak bisa memberitahu Kit.
Bagaimana caranya memberitahu cowok yang disukainya bahwa ia
mungkin sudah gila" "Aku tidak apa-apa, kok," jawabnya meyakinkan Kit. "Cuma
agak capek." "Oke!" seru Billy sewaktu Danielle sudah siap di tempatnya.
"Mulailah dengan menyanyikan 'Bulan Merah.' Bikin semua orang
berjingkrak-jingkrak!"
Sesaat Danielle terhanyut dalam entakan musik. Pikirannya
jernih kembali dan ia pun merasa aman.
Sayang latihan itu harus berakhir.
******************** "Pakai baju merahmu lagi," saran Caroline malam harinya di
kamar hotel. "Kau memakainya waktu kita tampil di Midland, dan kita
sukses besar." "Menurutku lebih baik ia memakai baju hitam," bantah Mary
Beth. "Celana hitam ketat dengan kaus kutung yang dihiasi manikmanik perak itu. Bentuknya kan mirip bulan sabit"jadi cocok dengan
nama band kita." "Aku benci celana itu," tukas Danielle. "Aku harus berbaring
dulu baru bisa memakainya. Dan aku selalu waswas bagian pantatnya
bakal robek." "Jadi bulan purnama, dong!" canda Caroline.
Mary Beth terbahak dan melemparkan gulungan kaus kaki
padanya. Caroline melemparkannya kembali, tapi Danielle
menyambar gulungan kaus kaki yang masih melayang di udara itu,
dan melemparkannya lagi ke Caroline.
Mereka masih asyik main lempar-lemparan ketika pintu kamar
digedor orang. "Hei, ini aku. Buka pintu!" seru Billy.
Caroline membukakan pintu untuknya. "Ada apa?"
"Kit hilang," kata Billy sambil menepiskan rambut pirang
cokelatnya. "Padahal ia harus menyiapkan peralatan untuk show nanti.
Satu setengah jam lagi kita tampil. Ada yang lihat dia nggak?"
"Aku melihatnya sekitar pukul tiga, sehabis latihan," jawab
Mary Beth. "Ia pergi dengan Dee."
"Dengan Dee?" tanya Danielle dengan perasaan cemburu.
Mary Beth mengangguk. "Sepertinya mereka bertengkar. Aku
tidak mendengar apa yang mereka perdebatkan, tapi kayaknya
lumayan sengit juga."
Danielle mengerutkan kening sambil berpikir keras. Apa kirakira yang diperdebatkan oleh Kit dan Dee"
Billy melirik jam tangannya. "Kita harus mencari mereka. Ayo
berpencar. Hastings kan kecil. Pasti sebentar lagi ketemu. Mary Beth,
kau ikut aku," perintahnya. "Kita akan mencari ke arah utara, dekat
sungai, lalu ke barat. Danielle, kau dan Caroline mencari ke arah
selatan, lalu ke timur."
Danielle memakai sepatunya dan keluar bersama temantemannya. "Ke mana mereka, ya?" tanyanya sambil membenamkan
kedua tangan di saku celana pendeknya. "Tidak biasanya Kit pergi
begitu saja" satu setengah jam sebelum pertunjukan."
"Memang," timpal Caroline sependapat. "Biasanya dia tidak
begitu. Ia juga tidak pernah bertengkar dengan siapa pun. Kit kan
selalu tenang dan kalem. Hanya satu kali aku melihatnya marah,
waktu Joey merusak pengeras suara."
Mereka membelok di tikungan dan bergegas menyusuri trotoar
di pinggir bangunan-bangunan tua dari batu bata. Rumput-rumput liar
menyembul di antara retakan trotoar.
"Sejak Joey meninggal, kelakuan Dee jadi aneh sekali," ujar
Caroline sambil berpikir-pikir. "Maksudku, ia memang bukan orang
yang periang, tapi belakangan ini ia lebih masam dan lebih cepat
marah." "Benar." Danielle mengangkat tangan dan menyentuh lehernya
yang masih terasa sakit akibat dicekik Dee.
Jantung Danielle berdetak semakin kencang. Tiba-tiba saja ia
mendapat firasat buruk. Apa yang dipertengkarkan oleh Kit dan Dee" Apa"
"Hei, Danielle, tunggu!" seru Caroline. "Kenapa jalanmu cepat
sekali" Ini kan bukan perlombaan!"
"Aku ingin menemukan Kit!" jawab Danielle. "Ada yang tidak
beres. Ada kejadian gawat!"
Ia lari ke ujung blok. Di sebelah kanannya ada sebuah bangunan
kosong yang tak berpenghuni. Jendela-jendelanya dipalang papan.
Danielle melayangkan pandangannya ke seberang jalan. Di sana
ada lapangan kosong. Pecahan-pecahan kaca berserakan di tanah.
Angin bertiup menerbangkan kertas-kertas pembungkus makanan dan
koran-koran tua ke pagar kawat berkarat yang mengelilingi lapangan
itu. Danielle melihat secercah warna di tengah ilalang yang
tingginya mencapai pinggang. Ia menghambur dari trotoar, dan
menyeberang jalan"matanya membelalak ngeri ke arah lapangan
kosong itu. Di balik pagar kawat, Kit tergeletak di tanah. Wajahnya pucat
pasi. Matanya terbelalak ketakutan. Kausnya koyak-koyak di bagian
bahu. Dee berdiri di dekat Kit dengan kedua tangan terlipat di dada.
Dengan susah payah Kit mencoba bangkit dan menatap Dee.
"Dee," pinta Kit dengan suara serak. "Tolong"jangan!"
Dee seolah tidak mendengarnya. Matanya menyipit. Ia maju
satu langkah. Membungkukkan badan. Tangannya terulur. Jari-jarinya
bengkok seperti cakar. Mulutnya tertarik ke belakang, membentuk seringai
mengerikan. Napasnya memburu. Matanya yang keemasan berkilat
buas. "Tidak!" jerit Danielle dari balik pagar kawat. "Kit! Dee!
Jangan!" Terlambat. Sambil menggeram liar seperti binatang, Dee menerjang Kit,
mengangkat kedua tangannya, dan mulai mencakari cowok itu.
Bab 12 Kejutan di Lemari "TIDAAAKK!" jerit Danielle lagi sambil menguncang-guncang
pagar kawat itu dengan kedua tangannya.
"Danielle"ada apa?" pekik Caroline, berlari-lari di
belakangnya. "Ada apa"'
"Kit! Kit!" seru Danielle berulang-ulang sambil terus
mengguncang-guncang pagar kawat. "Caroline"ia mencoba
membunuh Kit!" Sekuat tenaga Caroline menyentakkan tangan Danielle dan
membalikkan badannya. "Ngomong apa sih kau" Itu bukan Kit dan
Dee, Danielle! Cuma dua anak kecil. Lihat saja!"
Danielle mengerjap-ngerjapkan mata dan mengintip ke balik
pagar kawat. Tampak dua bocah lelaki berambut gelap yang berusia kira-kira
sembilan atau sepuluh tahun. Kedua anak itu balas menatapnya.
"Hei"kami sedang bergulat," kata salah seorang bocah itu pada
Danielle. "Kami tidak melakukan apa-apa, kok!" timpal bocah satunya
dengan suara kecil dan gemetar.
"Eh... maaf," gumam Danielle.
Tapi kedua bocah itu tidak mendengar permintaan maafnya.
Mereka berlari ke ujung lapangan, merunduk di bawah pagar, dan
kabur dari situ. Dua anak kecil, pikir Danielle.
Bukan Kit dan Dee. Dua bocah lelaki. Ia mengerang lirih sewaktu menyadari dirinya lagi-lagi
mengkhayalkan hal-hal seram. Fantasinya begitu dahsyat. Begitu
nyata. "Ada apa sebenarnya?" desak Caroline, menyentakkan Danielle
dari pikiran-pikiran menakutkan yang berkecamuk di otaknya. "Kau
menjerit-jerit menyebut nama Kit dan Dee. Kau melihat sesuatu,
kan?" Danielle mengangguk. "Apa yang kaulihat?"
"Itu tidak penting!" pekik Danielle. "Masalahnya adalah,
khayalan-khayalan itu muncul terus!"
"Sudahlah," hibur Caroline sambil memeluk bahu Danielle.
"Ayo kembali ke hotel. Katamu kau sudah menemui Dr. Moore. Ia
bilang apa?" "Katanya, khayalan-khayalan mengerikan itu muncul karena
kedua orangtuaku meninggal secara mengerikan."
"Well, kurasa penjelasannya itu masuk akal," ucap Caroline.
Dituntunnya Danielle dengan lembut kembali ke hotel.
Ketika sedang berjalan, sebuah bayangan mendadak muncul
dalam pikirannya. Bayangan itu bukan khayalan. Tapi sesuatu yang
lebih mengerikan. Sekali lagi Danielle melihat kecelakaan yang menimpa kedua
orangtuanya. Mobil mereka melayang dari tebing. Tubuh mereka
hancur tercabik-cabik batu karang tajam di bawah.
Ia tidak pernah melihat jenazah kedua orangtuanya. Saat
pemakaman juga tidak. Tidak ada yang pernah mengatakan tubuh
mereka tersayat-sayat batu karang. Tapi bayangan itu terus-menerus
muncul dalam pikirannya. Mengapa" tanyanya dalam hati dengan kedua tangan terkepal
erat. Kenapa aku terus-menerus memikirkan hal itu" Kenapa aku tidak
bisa melupakannya" Danielle menarik napas panjang.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Caroline, mata birunya mengamati
Danielle. "Kau mau aku minta Billy untuk?"
"Jangan!" potong Danielle. "Jangan ceritakan kejadian ini pada
Billy. Sekarang pun ia mungkin sudah muak dengan keberadaanku di
band ini." "Mana mungkin," tukas Caroline. "Ia menganggapmu hebat.
Tapi, Danielle, Billy benar-benar memperhatikan semua anggota
band, lho. Ia ingin diberitahu kalau ada yang tidak beres."
"Pokoknya jangan ceritakan masalah ini padanya," tegas
Danielle. "Saat show nanti, aku pasti sudah tidak apa-apa. Please,
Caroline. Janji kau tidak akan bercerita apa-apa padanya."
"Baiklah, aku janji," kata Caroline.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di hotel. Danielle
melihat teman-temannya berkumpul di lobi yang kecil. Lega rasanya
melihat Kit dan Dee ada di sana juga.
"Kalian kok seenaknya saja kabur!" didengarnya Billy
mendamprat Kit dan Dee. Cowok itu melirik jam tangannya. "Apa
kalian lupa kalau sebentar lagi kita harus tampil!"
"Kami tidak kabur," bantah Dee tak kalah sengit. "Kami
sekarang ada di sini, kan?"
"Sori ya," kata Kit pada Billy. "Aku ketemu teman-temanku.
Saking asyiknya sampai lupa waktu. Akan kusiapkan peralatannya.
Sekarang juga. Pokoknya beres."
Kit meremas bahu Danielle sambil bergegas pergi.
"Bagaimana dengan kau, Dee?" tanya Mary Beth. "Kau pergi ke
mana?" Dee mengangkat bahu. "Jalan-jalan."
Mary Beth mengerutkan kening. "Ke mana?"
"Memangnya kau ibuku?" bentak Dee.
"Sudahlah," tukas Billy tidak sabaran. "Kita harus segera naik
pentas. Ayo, semuanya bersiap-siap!"
********************** Malam itu Danielle mengenakan gaun merah mencoloknya.
Mungkin ini memang gaun keberuntunganku, pikirnya saat melihat
para penonton mengentak-entakkan kaki dan bertepuk tangan,
memintanya menyanyikan lagu "Bulan Merah" sekali lagi.
"Hei, apa, di kota ini tidak ada jam malam?" teriak Danielle,
menggoda para penonton. "Kalau kami menyanyi lagi, bisa-bisa
pengunjung di bawah umur dua puluh satu tahun bakal kena ciduk."
"Masa bodoh!" seru seorang cewek. Para penonton lain
bersorak-sorai. Sambil tertawa, Danielle menoleh ke para anggota band lain.
"Menurut kalian bagaimana" Kita turuti saja mereka, biar tahu rasa?"
Mary Beth menyibakkan rambut merahnya dan memukul
drumnya sebagai jawaban. Caroline dan Dee memainkan sepotong
nada pembukaan, dan Danielle berpaling menghadap para penonton.
"Kalian mau lagi" Oke!" serunya.
Para penonton bersorak-sorai.
Lagu "Bulan Merah" pun kembali menggelegar.
******************** "Kita sukses besar di Hastings!" kata Billy berulang-ulang
seusai pertunjukan. "Kita sukses besar di Hastings!"
"Kuharap kau tidak bermaksud membuatnya jadi lagu," sergah
Caroline dengan nada kering. "Kalau iya, aku wajib mengingatkan"
liriknya benar-benar maut."
Billy tertawa. "Jangan khawatir. Urusan menciptakan lagu, kita
serahkan saja pada Danielle. Aku cuma sedang kegirangan!"
tambahnya sambil buru-buru membantu Kit membereskan peralatan.


Fear Street - Bulan Merah Bad Moonlight di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Penontonnya juga ramai," komentar Mary Beth. "Malam yang
benar-benar menghebohkan!"
"Hei, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" usul Billy sambil
memperagakan beberapa gerakan dansa sambil menggulung kabel.
"Kita bikin acara gila-gilaan. Aku belum ingin tidur."
"Aku ikut," timpal Kit sambil memungut salah satu mik yang
diletakkan di lantai. "Ayo kita masukkan barang-barang ini ke mobil,
dan setelah itu jalan-jalan ke sungai."
Mereka semua bekerja secepat kilat. Hanya dalam tempo dua
puluh menit, semua sudah beres.
Danielle melompat turun dari dalam mobil dan menengadah ke
langit. Hampir sepanjang malam langit tertutup hamparan awan tipis.
Kini awan sudah berarak pergi, dan bulan pun muncul. Pucat, dan
hampir purnama. "Enak rasanya bisa jalan-jalan. Maksudku, setelah sekian lama
terkungkung dalam kelab yang kecil itu," kata Kit sambil merengkuh
bahu Danielle. "Wow. Lihat bulan itu."
Danielle merapatkan diri dalam pelukan Kit. "Hmm... indah,"
kata Danielle dengan suara lirih.
Indah"tapi mengerikan, pikirnya.
Danielle menggigil. Aku tidak bisa berjalan-jalan di bawah
sinar bulan, katanya dalam hati.
Aku sudah muak pada bulan merah.
Kata-kata itu merasuki pikirannya.
Badannya mulai gemetar. Aku takut pada cahaya bulan, pikir Danielle, baru sadar. Takut
pada terang bulan yang mengerikan.
Takut pada pengaruhnya terhadap diriku.
"Semua sudah siap?" tanya Billy sambil membanting pintu
mobil. Danielle menegakkan badannya dan melepaskan diri dari
pelukan Kit. "Aku tidak ikut," katanya, berusaha agar nada suaranya
terdengar biasa-biasa saja.
"Hah" Kenapa?" tanya Mary Beth. "Asyik lho, jalan-jalan di
tepi sungai." "Ya, ayolah, Danielle," desak Caroline. "Ada apa sebenarnya"
Kusangka kau juga sama girangnya dengan kami."
"Memang," sahut Danielle. Ia memeras otak mencari alasan
yang tepat. "Kalau begitu, ikut dong!" desak Billy.
"Kita cuma buang-buang waktu saja di sini," tukas Dee tidak
sabaran. "Aku pergi duluan. Sampai ketemu di sungai."
"Sebentar lagi kami menyusul!" seru Kit pada Dee. Lalu ia
berpaling pada Danielle. "Aku benar-benar ingin kau ikut," katanya.
Danielle merasa tergoda. Mata Kit menyorotkan kehangatan.
Tapi sinar bulan terasa dingin.
Dingin dan menyeramkan. Danielle tahu ia harus menjauhkan diri dari sinar bulan.
"Sori deh," katanya, tetap dengan nada ringan. "Aku sedang
dapat ilham untuk menulis lagu. Kalau tidak kukerjakan sekarang
juga, bisa-bisa ilhamku melayang."
Teman-temannya menggerutu, tapi tidak memaksanya lagi.
Danielle tahu persis mereka tidak akan melakukan apa-apa. Soalnya
mereka tahu susahnya menciptakan lagu. Kalau mendadak dapat
inspirasi, harus cepat-cepat dicatat.
Danielle mengambil gitarnya dari dalam mobil dan
melambaikan tangan pada teman-temannya. Cepat-cepat ia masuk ke
kamarnya. Tanpa repot-repot menyalakan lampu, ia melemparkan
tubuhnya ke atas tempat tidur yang keras.
Sekujur tubuhnya gemetaran.
Mungkin sebaiknya ia benar-benar mencoba menciptakan lagu
saja. Ia bisa menggunakan melodi lagu "Hentikan Aku" yang ia
ciptakan untuk Dee itu, tapi dengan lirik yang baru.
Ia tadi meletakkan gitarnya di dekat pintu lemari. Danielle turun
dari tempat tidur dan berjalan tersaruk-saruk menuju ke sana.
Di tengah-tengah kamar yang gelap itu ia berhenti. Telinganya
mendengar bunyi sesuatu. Bunyi gemerisik. Lalu suara orang batuk.
Aku tidak sendirian, pikirnya menyadari. Ada orang lain di
kamar ini. Danielle menegakkan badan dan mulai melangkah mundur
menjauhi lemari. Sekonyong-konyong pintu lemari terbuka dengan suara keras.
Dee melangkah ke luar, berdiri di keremangan kamar. Matanya
yang cokelat keemasan berkilat-kilat marah. "Kali ini jangan cobacoba lari lagi," bisiknya.
Bab 13 Hentikan! "DEE "apa yang kaulakukan di sini?" tanya Danielle dengan
suara tercekik. "Tadi aku melihatmu pergi ke sungai."
"Ya, benar," bisik Dee sambil menyalakan lampu. "Selama ini
kau selalu menghindariku, Danielle. Tapi sekarang kau tidak bisa
menghindar lagi. Kali ini tidak. Kita harus bicara."
"Tidak!" jerit Danielle. Tatapan mata Dee yang tajam
membuatnya takut. "Keluar kau!"
"Dengarkan aku!" desak Dee sambil melangkah maju. "Aku
tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Joey."
"Hah" Apa maksudmu?" Danielle berlari melewati Dee dan
membuka pintu kamar. "Aku tidak mau mendengar soal itu lagi!
Keluar! Keluar!" "Aku tidak mau keluar sampai kita bicara!" tandas Dee dengan
suara rendah. Dengan cepat dihampirinya Danielle.
Danielle terkesiap dan berbalik, siap hendak kabur dari situ.
Kit menghadang di ambang pintu.
"Kit!" Danielle menyambar lengan cowok itu. "Ngapain kau?"
Ah, sudahlah! Aku senang kau datang!"
Kit melangkah masuk ke kamar. Ditatapnya Dee. "Ada apa"
Kau kan tadi pergi ke sungai bersama yang lain."
Mata Dee yang semula berapi-api kini meredup. "Aku berubah
pikiran," gumamnya. "Eh... aku cuma mau mengucapkan selamat
malam pada Danielle. Sampai ketemu lagi." Tanpa memandang
mereka sedikit pun, Dee berjalan melewati mereka dan keluar dari
kamar. "Ada apa sebenarnya?" tanya Kit pada Danielle sambil
menariknya ke dalam kamar. "Kau kelihatan kalut."
"Memang!" seru Danielle. "Kit, Dee benar-benar marah! Kurasa
dia mau mencekikku lagi. Katanya ia tahu apa yang sebenarnya terjadi
pada Joey!" "Apa?" Suara Kit terdengar melengking. "Apa maksudnya?"
"Aku tidak memberikan kesempatan padanya untuk
menjelaskan." Danielle menarik napas dengan gemetar. "Tapi kau
dengar sendiri tuduhannya terhadapku waktu di mobil!"
"Hei, tenanglah," hibur Kit lembut. Cowok itu meraih
tangannya dan menariknya ke jendela. "Sejak Joey meninggal,
kelakuan Dee memang jadi aneh, dan?"
"Aku sudah tahu," sela Danielle.
Kit mengangguk. "Yeah, kurasa aku tidak perlu
memberitahumu lagi," ujar Kit mengakui. "Tapi ngomong-ngomong,
menurutku Dee tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya."
"Padahal ia tidak senang pada Joey," kata Danielle ngotot.
"Setidaknya, sikapnya begitu."
"Ada orang yang memang tidak suka menunjukkan perasaan
mereka," kata Kit. Ia merengkuh bahu Danielle dan menarik tubuhnya.
"Tapi aku bukan tipe yang seperti itu," ujarnya.
Danielle tersenyum. "Syukurlah," bisiknya.
Kit menundukkan kepala dan menciumnya.
Danielle membalas ciumannya, menikmati saat itu.
Semilir angin hangat berembus masuk melalui jendela yang
terbuka, tapi Danielle malah menggigil. Dibukanya matanya.
Cahaya bulan menerobos masuk, menyirami mereka dengan
kilauan cahayanya yang dingin.
Jangan hiraukan, tegasnya pada diri sendiri. Nikmati saja
ciuman Kit. Tangannya menekan tengkuk Kit.
Tapi mendadak ia melepaskan pelukannya. Terdengar suara
lolongan yang panjang dan memilukan. Dekat sekali. Tepat di luar
kamar hotel. Danielle terkesiap dan mundur menjauhi jendela.
Lolongan itu terdengar lagi.
Danielle menutup kedua telinganya. "Hentikan!" jeritnya.
"Please, Kit! Hentikan!"
"Hah?" Kit menatapnya dengan sikap prihatin. "Danielle"
hentikan apa?" Bab14 Billy Tewas KIT mengamati wajahnya. "Kau benar-benar mendengar
sesuatu?" "Aku?" Danielle terdiam. Jangan bilang padanya, pikirnya.
Jangan sampai ia tahu. Nanti ia akan menganggapmu aneh. Sinting.
"Danielle?" "Tidak," jawab Danielle. "Maksudku, ya. Aku mendengar
sesuatu. Suara truk, mungkin. Ngerti kan, suara truk besar lewat,
menderu." "Aku tidak dengar." Kit mengangkat bahu dan mengulurkan
tangannya lagi. "Dengar, Kit, mungkin sebaiknya kau pergi saja ke sungai
bersama teman-teman yang lain," kata Danielle padanya. "Sebenarnya
aku ingin menulis lagu, tapi tiba-tiba saja aku capek sekali."
Wajah Kit tampak kecewa. "Yakin kau tidak apa-apa?"
tanyanya. "Yeah, aku baik-baik saja." Danielle memeluk pinggang Kit dan
mendorongnya ke luar. "Aku benar-benar senang kau datang, Kit."
"Aku juga." Kit mencondongkan badan dan menciumnya.
"Sampai ketemu lagi besok. Cobalah untuk tidak terlalu
mengkhawatirkan Dee."
Benar juga, pikir Danielle sampai menutup pintu. Aku tidak
akan terlalu mengkhawatirkan Dee. Lagi pula, masih banyak hal lain
yang perlu kupikirkan. Misalnya khayalan-khayalan mengerikan itu.
Kecelakaan mobil yang dialami kedua orangtuaku.
Lolongan hewan yang aneh itu, yang tampaknya hanya aku
yang bisa mendengarnya. Cahaya bulan itu. Cahaya bulan yang mengerikan...
Danielle menutup tirai jendela agar cahaya bulan tidak masuk.
Ia membuka gaun merahnya dan memakai kaus longgar usang warna
biru yang nyaman untuk tidur.
Lolongan itu sudah tidak terdengar lagi. Mungkin sekarang ia
bisa tidur. Jadi untuk sementara ia bisa melupakan semuanya.
Danielle naik ke tempat tidur, menarik selimut, dan
memejamkan mata. Lolongan itu terdengar lagi.
Jangan hiraukan. Lolongan itu hanya ada dalam pikiranmu
sendiri, katanya dalam hati, marah pada diri sendiri.
Tidak, itu tidak benar. Lolongan itu nyata.
Danielle menutupi kepalanya dengan bantal, agar tidak usah
mendengar lengkingan yang menakutkan itu.
Tidurnya malam itu gelisah, walaupun tanpa mimpi. Ia
terbangun dengan waspada, beberapa menit selepas pukul dua pagi.
Caroline" Bukan. Caroline belum pulang.
Mengapa selarut ini ia belum pulang juga"
Karena gelisah dan tidak bisa tidur lagi, Danielle melompat
turun dari tempat tidur. Ia memutuskan untuk membeli minuman
kaleng dari mesin yang ada di ujung lorong. Dan setelah itu, aku
mungkin akan mencoba menulis lagu, pikirnya.
Danielle merogoh-rogoh ranselnya, mencari uang receh. Lalu
dibukanya pintu kamar. Ia terpaku. Ada orang tergeletak di tengah lorong, di atas karpet yang
usang. Rambutnya pirang kecokelatan.
Matanya terpejam rapat. Mulutnya terbuka sedikit.
Bukan tersenyum. Bukan tersenyum dengan lesung di pipi.
Bukan tersenyum. Bukan tersenyum. Bukan tersenyum.
Tidak. Billy tidak tersenyum.
Billy sudah mati. Bab 15 Sangat Mengkhawatirkan Danielle
JANGAN Billy, pikir Danielle. Please, jangan Billy yang mati!
Ini cuma khayalanku, kata Danielle dalam hati, sekujur
tubuhnya gemetaran. Ini cuma khayalan yang mengerikan.
Danielle memejamkan matanya rapat-rapat.
Kalau aku membuka mataku lagi, Billy tidak apa-apa.
Kalau aku membuka mataku lagi, mayatnya akan lenyap.
Danielle menarik napas panjang dan membuka mata.
Masih ada. Pelipisnya berdenyut-denyut. Danielle maju selangkah
menghampiri Billy. Lalu satu langkah lagi. Dan satu lagi.
Kaus kuning yang dipakai Billy tampak naik-turun. Ia bernapas!
Sambil mengembuskan napas lega, Danielle berlari
menghampiri cowok itu dan berlutut di sampingnya.
Hidungnya mencium bau menyengat. Bau alkohol.
Lalu matanya tertumbuk pada kaleng kosong di tangan Billy
yang terulur. Kaleng bir. "Billy?" bisik Danielle sambil menarik-narik tangan cowok itu.
"Billy!" Billy mengerang, tapi tidak bergerak.
Danielle tahu, Billy tidak begitu suka minum. Hanya sekalisekali saja minum bir. Dan tidak pernah mabuk.
Tapi berapa kaleng bir yang sudah ditenggaknya malam ini"
Pasti banyak, karena ia bisa sampai tergeletak pingsan di lorong hotel.
Mengapa" tanya Danielle dalam hati. Apa yang membuat orang
yang amat bertanggung jawab seperti Billy tiba-tiba mabuk-mabukan"
Danielle mengguncang-guncang lengan cowok itu lagi. "Billy,
bangun!" Billy mengerang lagi. Ia menoleh, menelan ludah, dan
membuka matanya. "Danielle" Apa... ada apa" Aku merasa tidak
enak." Ia tersedak dengan suara parau.
"Kau ketiduran di lorong hotel," jawab Danielle. "Ayolah,
kubantu kau kembali ke kamarmu." Ia memegang tangan Billy dan
menariknya. Dengan susah payah ia berhasil membantu Billy berdiri. Cowok
itu memandang berkeliling dengan tampang linglung. Kaleng birnya
terjatuh dan menggelinding di karpet.
"Kenapa kau sampai mabuk begini?" tanya Danielle. "Pesta
pora?" Billy menggeleng. "Banyak pikiran."
"Apa misalnya?"
Billy tidak menjawab. Danielle membim-bingnya ke kamar.
Cowok itu bersandar di pintu dengan tampang yang masih


Fear Street - Bulan Merah Bad Moonlight di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

linglung. Ditatapnya Danielle. Berusaha melihat dengan jelas. Lalu ia
mengulurkan tangan dan meraih tubuh Danielle ke dalam pelukannya.
Danielle memejamkan mata, menikmati pelukan cowok itu, dan
dagunya yang menempel di kepalanya. "Tidak biasanya kau mabukmabukan begini," bisik Danielle. "Ceritakan masalahmu padaku,
Billy." "Seandainya saja aku bisa."
"Kenapa tidak bisa?" tanya Danielle. "Masa masalahmu separah
itu." Billy mempererat pelukannya. Lalu menegakkan badan dan
melepaskan diri. "Kau keliru," katanya. "Masalahnya jauh lebih parah daripada
yang kaubayangkan." "Makanya ceritakan, dong!" desak Danielle. "Mungkin aku bisa
menolongmu." "Mauku sih begitu, tapi?" Billy terdiam dan menggelenggelengkan kepalanya. Matanya yang hijau kecokelatan itu tampak
muram. "Tidak. Kau tidak akan bisa menolongku, Danielle. Lupakan
sajalah, oke?" "Tapi?" "Kubilang lupakan saja!" bentak Billy.
Danielle memandangi Billy, kaget melihatnya tiba-tiba marah.
Billy menggumamkan ucapan selamat malam, lalu tersandungsandung masuk ke dalam kamar. Danielle terpaku di lorong,
memandangi pintu kamar yang tertutup, memikirkan kata-kata Billy
tadi. Di kejauhan, terdengar lolongan hewan liar itu lagi.
Dengan badan merinding, Danielle berbalik dan cepat-cepat
kembali ke kamarnya. Besok, pikirnya sambil membanting pintu hingga tertutup dan
menguncinya rapat-rapat. Besok aku sudah berada di rumah bersama
Bibi Margaret. Besok aku pasti aman. ********************** "Kau pendiam sekali, Danielle," komentar Bibi Margaret sambil
mengelap meja dapur usai makan siang esok harinya.
"Yeah, untung sekali kita!" Cliff tertawa mengejek dan
melemparkan gulungan serbet ke arah Danielle.
"Ha, ha, lucu, Cliff." Danielle menangkap gulungan serbet itu,
melompat menjauhi meja, dan menjejalkannya ke balik kaus oblong
yang dipakai adiknya. "Sialan!" teriak Cliff sambil berusaha mengeluarkan serbet itu
dari punggungnya. Bibi Margaret membantunya mengeluarkan serbet itu. "Cliff"
keluar kau!" perintahnya sambil menatap Danielle dan memutar bola
matanya. "Keluar dan bermainlah di halaman sementara Bibi bicara
dengan kakakmu." "Tidak ada yang bisa dikerjakan di luar," keluh Cliff.
Bibi Margaret mengembuskan napas. "Cliff, kemarin kau
membuat benteng dari kotak kardus. Masa sekarang sudah bosan?"
"Oh, benar juga"benteng," sahut Cliff. "Oke. Aku keluar saja."
Bocah itu melesat ke pintu belakang sambil menirukan suara senapan
mesin. Danielle menumpuk piring-piring kotor dan membawanya ke
mesin pencuci piring. Senang rasanya bisa kembali ke rumah,
terutama berada di dapur. Ia menyukai ruangan besar berbentuk segi
empat ini, dengan lantai keramiknya yang berwarna krem, meja
bundar dari kayu ek, dan pot-pot gantung di jendela di atas bak cuci.
"Nah," kata Bibi Margaret sambil menuangkan secangkir kopi
untuk dirinya sendiri. "Ceritakan pada Bibi apa yang mengganggu
pikiranmu." Danielle menuangkan bubuk sabun ke dalam mesin pencuci
piring. "Aku cuma merasa aneh sekali," jawabnya. "Dan aku terusmenerus berkhayal mengenai hal-hal yang menyeramkan"orangorang bergumul, saling mencakar sampai kulit mereka tercabik-cabik.
Bahkan sampai mati!"
Ia membanting pintu mesin pencuci dan menyalakannya. "Aku
senang bergabung dengan band itu, dan aku tidak mau mengecewakan
teman-temanku. Tapi mungkin sebaiknya aku keluar."
Bibi Margaret mengangkat alisnya yang dilukis dengan pensil.
"Kau bukan orang yang mudah menyerah, Danielle."
"Memang!" teriak Danielle. "Tapi bolak- balik aku berpikir,
seandainya sekarang aku kuliah, bukannya tahun depan, maka
keadaan akan berubah."
Bibi Margaret meniup-niup kopinya dan menghirupnya sedikit.
Lipstik merahnya menempel di bibir cangkir. "Menurut Bibi begini,"
kata bibinya itu. "Untuk sementara ini, sebaiknya kau tenang-tenang
saja dulu. Kapan kalian show lagi?"
"Dua hari lagi."
"Bagus. Dengan begitu kau punya waktu untuk menjernihkan
pikiran," ujar Bibi Margaret. "Tentu saja kau harus latihan. Tapi
Pedang Asmara 9 Pembunuhan Atas Roger Ackroyd The Murder Of Roger Ackroyd Karya Agatha Christie Patung Emas Kaki Tunggal 12

Cari Blog Ini