Ceritasilat Novel Online

Rencana Paling Sempurna 2

Rencana Paling Sempurna The Best Laid Plans Karya Shidney Sheldon Bagian 2


"Aku berusaha membahagiakannya, Todd."
Senator Davis menatap Oliver dan bertanya-tanya seberapa sering ia
mengunjungi apartemen rahasianya. "Dia sangat mencintaimu, Nak."
"Dan aku pun demikian." Nada suara Oliver terdengar tulus sekali.
Senator Davis tersenyum. "Syukurlah, kalau begitu. Dia sudah mulai
memikirkan bagaimana dia akan menata ulang Gedung Putih."
Oliver tersentak kaget. "Maaf?"
"Oh, kau belum kuberitahu, ya" Saatnya sudah tiba. Namamu sudah
menjadi buah bibir di Washington. Kampanye kita akan dimulai tanggal satu
tahun depan." Perasaan Oliver ketar-ketir ketika ia mengajukan pertanyaan berikutnya.
"Apakah aku memang punya peluang, Todd?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kata 'peluang' mengisyaratkan perjudian, padahal aku tak pernah berjudi.
Nak. Aku takkan mau terlibat dalam sesuatu yang belum pasti."
Oliver menarik napas dalam-dalam. "Kau bisa jadi orang paling penting di
dunia." "Todd, aku ingin menegaskan sekali lagi betapa aku menghargai
segala sesuatu yang kaulakukan untukku."
Todd menepuk lengan Oliver. "Sebagai mertua aku berkewajiban
membantu menantuku, kan?"
Tekanan pada kata "menantu" tidak luput dari perhatian Oliver.
Sambil lalu sang senator berkata, "O ya, Oliver, aku kecewa sekali dewan
legislatifmu mengesahkan undang-undang pajak tembakau."
"Uang itu akan digunakan untuk mengatasi kekurangan dalam anggaran
fiskal kita, dan..."
"Tapi tentu saja kau akan memvetonya."
Mata Oliver terbelalak. "Memvetonya?"
Senator Davis tersenyum tipis. "Percayalah, Oliver, aku bukannya
memikirkan kepentinganku sendiri. Hanya saja aku mempunyai banyak
teman yang telah menanamkan uang hasil kerja keras mereka ke dalam
perkebunan tembakau, dan tentunya aku tak ingin melihat mereka dirugikan
oleh pajak baru, kan?"
Suasana hening sejenak. "Bukan begitu, Oliver?"
"Ya," sahut Oliver akhirnya. "Rasanya itu memang tak adil."
"Aku menghargai keputusanmu. Sungguh."
Oliver berkata, "Kabarnya, semua perkebunan tembakaumu sudah dijual,
Todd." Todd Davis menatapnya dengan heran. "Buat apa aku berbuat begitu?"
"Ehm, semua perusahaan tembakau babak belur di pengadilan. Penjualan
menukik tajam, dan..."
"Kau bicara soal Amerika Serikat, Nak. Kau lupa bahwa dunia masih luas.
Tunggu saja sampai kampanye iklan kita mulai bergulir di Cina, Afrika, dani
India." Ia menatap jam tangannya dan berdiri. "Aku harus kembali ke
Washington. Ada rapat komite."
"Selamat jalan."
Senator Davis tersenyum. "Sekarang aku sudah bebas dari beban pikiran."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Oliver kalang kabut. "Apa yang harus kulakukan, Peter" Pajak tembakau
adalah undang-undang paling populer yang disahkan tahun ini. Alasan apa
yang harus kupakai untuk membatalkannya?"
Peter Tager mengeluarkan beberapa lembar kertas dari kantongnya.
"Semua jawaban ada di sini Oliver. Aku sudah membahasnya dengan Senator
Davis. Kau takkan menemui kesulitan. Aku sudah mengatur konferensi pers
untuk pukul empat sore."
Oliver mempelajari kertas-kertas itu. Akhirnya, ia mengangguk. "Ini
bagus." "Memang itu tugasku. Ada hal lain yang perlu kutangani?"
"Tidak. Terima kasih. Sampai ketemu jam empat nanti."
Peter Tager menuju ke pintu.
"Peter." Tager berbalik. "Coba katakan terus terang. Apakah aku punya peluang jadi presiden?"
"Apa kata Senator Davis?"
"Menurut dia, aku punya peluang."
Tager kembali menghampiri meja kerja Oliver. 'Aku sudah bertahun-tahun
mengenal Senator Davis. Dan selama itu, dia belum pernah keliru. Biar sekali
pun. Nalurinya luar biasa tajam. Kalau Todd Davis hilang kau bakal jadi
Presiden Amerika Serikat yang berikut, kau boleh percaya."
Pintu diketuk dari luar. "Masuk."
Pintu membuka, dan sekretaris muda yang cantik masuk sambil membawa
beberapa lembar faks. Ia herusia dua puluhan, cerdas, serta cekatan.
"Oh, maaf, Sir. Saya tak tahu Anda sedang..."
"Tidak apa-apa, Miriam."
Tager tersenyum. "Hai, Miriam."
"Halo, Mr. Tager."
Oliver berkata, "Entah apa jadinya kalau Miriam tidak di sini. Dia
mengerjakan segala sesuatu untukku."
Miriam tersipu-sipu. "Kalau tak ada lagi yang..." Ia menaruh tumpukan faks
di meja Oliver, lalu berbalik dan bergegas ke pintu.
"Dia cantik sekali," ujar Tager. Ia menoleh kepada Oliver.
"Memang." "Berhati-hatilah, Oliver."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Oh, tentu saja. Karena itulah aku minta dicarikan apartemen."
"Kau harus lebih hati-hati lagi sekarang. Taruhannya sudah bertambah
besar. Lain kali, pikirkanlah sejenak apakah Ruang Oval patut dikorbankan
demi seorang Miriam atau Alice atau Karen."
"Aku mengerti maksudmu, Peter, dan aku menghargainya. Tapi kau tak
perlu kuatir." "Syukurlah." Tager menatap jam tangannya. "Aku harus pergi. Aku mau
mengajak Betsy dan anak-anak makan siang." Ia tersenyum. "Aku sudah
cerita apa yang dilakukan Rebecca tadi pagi" Sebelum aku berangkat ke
kantor tadi, dia minta diputarkan kaset video anak-anak. Lalu Betsy bilang,
'Sayang, nanti Mommy putarkan setelah makan siang.' Rebecca menatapnya
dan berkata 'Mommy, aku mau makan siang sekarang saja.' Cerdik sekali,
ya?" Oliver tersenyum mendengar nada bangga dalam suara Tager.
Pukul sepuluh malam Oliver menemui Jan, yang sidang membaca di ruang
duduk, dan berkata, "Aku harus pergi. Ada rapat mendadak yang harus
kuhadiri." Jan menoleh. "Malam-malam begini?"
Oliver menghela napas. "Terpaksa. Besok pagi ada pertemuan dengan
komite anggaran, dan sebelumnya aku ingin mempelajari semua detail."
"Kau bekerja terlalu keras. Jangan pulang terlalu larut. ya?" Jan terdiam
sejenak. "Belakangan ini kau sering keluar rumah."
Oliver bertanya-tanya apakah ucapan itu dimaksud sebagai peringatan. Ia
menghampiri istrinya, membungkuk, dan menciumnya. "Jangan kuatir,
Sayang. Aku akan pulang secepat mungkin."
Di bawah, Oliver berkata kepada sopirnya, "Aku tak membutuhkanmu
malam ini. Aku akan menyetir sendiri."
"Baik, Sir." "Kau terlambat, Sayang." Miriam telanjang bulat.
Orang yang disapanya menyeringai dan menghampirinya. "Sori. Aku
senang kau mau menunggu sampai aku datang."
Miriam tersenyum. "Peluklah aku."
Orang itu mendekapnya erat-erat.
"Buka bajumu. Cepat."
Setelah selesai, ia berkata, "Kau berminat pindah ke Washington, D.C.?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Miriam langsung duduk tegak di tempat tidur. "Kau serius?"
"Serius sekali. Aku mungkin akan ke sana. Dan aku ingin kau
menemaniku." "Kalau istrimu sampai tahu tentang kita..."
"Dia takkan pernah tahu."
"Kenapa justru Washington?"
"Soal itu belum bisa kuceritakan sekarang. Tapi yang jelas, ini akan sangat
mengasyikkan." "Selama kau mencintaiku, aku mau pergi ke mana saja yang kauinginkan."
"Kau tahu aku mencintaimu." Kata-kata itu terucap dengan mudah, seperti
biasanya. "Ayo, sekali lagi."
"Tunggu sebentar. Aku punya sesuatu untukmu. Ia berdiri dan
menghampiri jas yang disampirkannya pada sandaran kursi. Ia mengeluarkan
botol kecil dari kantong jas, dan menuangkan isinya ke dalam gelas. Cairan
itu berwarna bening. "Coba minum." "Apa ini?" tanya Miriam.
"Kau pasti suka. Kujamin." la mengangkat gelas dan mereguk setengah
isinya. Miriam minum seteguk, lalu menghabiskan sisanya. "Lumayan juga."
"Kau akan merasa seksi sekali."
"Sekarang saja aku sudah merasa seksi. Ayo berbaringlah di sampingku."
Mereka sudah mulai bercinta lagi ketika Miriam terbelalak dan berkata,
"Aku... aku pusing." Ia mulai terengah-engah. "Aku tak bisa napas." Matanya
terpejam. "Miriam!" Tak ada jawaban. Wanita muda itu terkulai di tempat tidur.
"Miriam!" Ia tergeletak dalam keadaan tidak sadar.
Sialan! Kenapa jadi begini"
Teman kencan Miriam bangkit dan berjalan mondar-mandir. Cairan itu
telah diberikannya kepada selusin wanita, dan hanya satu kali terjadi sesuatu
yang tidak di nginkan. Ia harus berhati-hati. Kalau ia keliru menangani urusan
ini, semuanya akan berantakan. Semua impiannya, semua yang telah
dibangunnya dengan susah payah. Dan itu tidak boleh terjadi. Ia berdiri di
samping tempat tidur dan menatap Miriam. Tangannya gemetaran ketika ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meraba denyut nadi wanita itu. Miriam masih bernapas, bagus. Tapi ia tidak
boleh ditemukan di apartemen ini. Ia harus dibawa ke tempat ia akan
ditemukan dan diberi pertolongan medis. Miriam bisa dipercaya untuk
menjaga rahasia mereka. Setengah jam kemudian Miriam sudah berpakaian, dan semua jejaknya di
apartemen itu telah dihapus. Teman kencannya membuka pintu sedikit dan
mengintip ke koridor. Setelah yakin keadaannya aman, ia mengangkat
Miriam, memanggulnya, membawanya turun lewat tangga, dan
memasukkannya ke mobil. Malam sudah larut, dan jalanan sudah lengang.
Hujan mulai turun. Ia menuju ke Juniper Hil Park, dan setelah memastikan
tidak ada siapa-siapa di sekitarnya, ia mengangkat Miriam dari mobil dan
meletakkannya di bangku taman. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkannya
di sini, namun tidak ada pilihan lain. Seluruh masa depannya menjadi
taruhan. Di dekatnya ada telepon umum. Ia bergegas menghampirinya dan
memutar 911. Jan masih bangun ketika Oliver pulang. "Sekarang sudah lewat tengah
malam," katanya. "Kenapa kau begitu...?"
"Sori, Sayang. Kami berdiskusi panjang-lebar tentang anggaran, dan...
ehm, semuanya mempunyai pandangan berbeda."
"Kau kelihatan pucat." kata Jan. "Kau pasti capek sekali."
"Ya, aku memang agak letih," Oliver mengakui.
Jan tersenyum penuh arti. "Kalau begitu, kita tidur saja."
Oliver mencium kening istrinya. "Aku perlu istirahat. Rapat tadi benarbenar melelahkan." Berita itu terpampang di halaman pertama State, Journal pagi hari
berikutnya. SEKRETARIS GUBERNUR DITEMUKAN PINGSAN DI TAMAN
Pukul dua pagi tadi, polisi yang sedang berpatroli menemukan wanita
bernama Miriam Friedman di bangku taman. Miss Friedman, yang ditemukan
tergeletak dalam keadaan tidak sadar di tengah guyuran hujan, segera
dibawa ke Memorial| Hospital. Kondisinya dilaporkan kritis.
Oliver sedang membaca artikel tersebut, ketika Peter bergegas masuk ke
ruang kerjanya sambil membawa satu eksemplar koran itu.
"Kau sudah melihat ini?"
"Sudah. Kasihan dia. Sejak tadi pagi para wartawan terus menelepon."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kira-kira apa yang terjadi?"
Oliver menggeleng. "Entahlah. Aku baru saja bicara dengan pihak rumah
sakit. Miriam koma. Para dokter masih meneliti penyebabnya. Aku akan diberi
kabar begitu mereka menemukan sesuatu."
Tager menatap Oliver. "Moga-moga dia akan segera pulih."
Berita sensasional itu luput dari perhatian Leslie Chambers. Ia sedang
berada di Brazil untuk membeli stasiun televisi.
Keesokan harinya ada telepon dari rumah sakit. "Gubernur, kami baru
menerima hasil tes laboratorium. Miss Friedman menelan zat bernama
methylenedioxymethamphetamine, atau yang lazim disebut Ekstasy. Dia
menelannya dalam bentuk cair, yang lebih mematikan."
"Bagaimana kondisinya?"
"Sampai sekarang tetap kritis. Dia mengalami koma. Dia bisa siuman
atau..." Si penelepon terdiam sejenak. "Bisa juga sebaliknya."
"Tolong beritahu saya kalau ada perkembangan."
"Tentu saja. Anda pasti sangat prihatin, Gubernur."
"Memang." Oliver Russel sedang memimpin rapat ketika dihubungi sekretarisnya
melalui interkom. "Maaf, Gubernur. Ada telepon untuk Anda."
"Aku sudah bilang tak mau diganggu, Heather."
"Senator Davis di saluran tiga, Sir."
"Oh." Oliver berpaling kepada orang-orang yang hadir di ruang kerjanya. "Rapat
kita lanjutkan nanti, Saudara-saudara. Silakan tunggu sebentar di luar."
la memperhatikan mereka keluar ruangan, dan setelah pintu menutup, ia
mengangkat gagang telepon. "Todd?"
"Oliver, ada apa ini" Sekretarismu ditemukan tak sadar karena obat
terlarang?" "Ya," sahut Oliver. "Ini benar-benar menyedihkan, Todd. Aku..."
"Seberapa menyedihkan?" Senator Davis mendesak.
"Apa maksudmu?"
"Kau tahu persis apa yang kumaksud."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Todd, kau tentu tak menyangkaku... aku bersumpah tak tahu apa-apa
tentang kejadian ini."
"Mudah-mudahan." Suara sang senator bernada geram. "Kau tahu sendiri
betapa cepatnya gosip menyebar di Washington, Oliver. Ini kota paling kecil
di Amerika. Jangan sampai ada berita negatif yang dikait-kaitkan dengan
dirimu. Kita sudah bersiap-siap melangkah. Aku akan sangat, sangat marah
jika kau bertindak sembrono."
"Kujamin aku bersih."
"Pastikan kau tetap begitu."
"Tentu saja. Aku..."
Hubungan telepon itu terputus.
Oliver termenung-menung. Aku harus lebih hati-hati. Aku tak boleh
membiarkan apa pun menghalangiku sekarang. Ia melirik jam tangannya,
lalu meraih remote control untuk menyalakan TV. Siaran berita baru mulai.
Pada layar terlihat jalanan vang porak-poranda. Penembak-penembak gelap
menteror warga dari atap-atap gedung. Dentum tembakan mortir terdengar
di latar belakang. Wartawati muda-berparas cantik yang mengenakan seragam tempur dan
memegang mikrofon sedang berkata, "Gencatan senjata terbaru akan mulai
berlaku tengah malam nanti, tapi upaya perdamaian tersebut tetap tidak
dapat mengembalikan desa-desa yang tenteram di negeri yang dilanda peperangan ini atau memulihkan kehidupan para penduduk tak berdosa yang


Rencana Paling Sempurna The Best Laid Plans Karya Shidney Sheldon di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dihantui teror berkepanjangan."
Kamera beralih pada wajah Dana Evans, wanita muda dan cantik yang
memakai jaket tempur dan sepatu tentara. "Para penduduk di sini lapar dan
letih. Hanya satu yang mereka dambakan... perdamaian. Akankah harapan
mereka terkabul" Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Saya Dana Evans
melaporkan dari Sarajevo untuk WTE, Washington Tribune Enterprises."
Pemandangan medan tempur digantikan oleh film iklan.
Dana Evans koresponden luar negeri untuk Washington Tribune
Enterprises Broadcasting System. Setiap hari ia melaporkan perkembangan
terakhir, dan Oliver selalu berusaha meluangkan waktu untuk menonton
liputannya. Dana Evans salah satu wartawan TV terbaik.
Dia cantik sekali, Oliver berkata dalam hati, dan bukan untuk pertama kali.
Kenapa wanita semuda dan secantik dia mau terjun ke tengah kancah
peperangan" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
7 DANA EVANS dibesarkan di lingkungan militer. Ayahnya kolonel yang
berpindah dari satu pangkalan ke pangkalan lain sebagai instruktur
persenjataan. Waktu berusia sebelas tahun, Dana sudah pernah tinggal di
lima kota di Amerika Serikat dan di empat negara asing. Ia pindah bersama
orangtuanya ke Aberdeen Proving Ground di Maryland, Fort Benning di
Georgia, Fort Hood di Texas, Fort Leavenworth di Kansas, dan Fort
Monmouth di New Jersey. la sempat belajar di sekolah untuk anak-anak
perwira di Camp Zama di Jepang, Chiemsee di Jerman. Camp Darby di Italia,
dan Fort Buchanan di Puerto Rico.
Dana anak tunggal. Teman-temannya adalah personel militer beserta
keluarga mereka di berbagai pangkalan tempat ayahnya ditugaskan, Ia lebih
dewasa dari umurnya, riang, dan suka bergaul, namun ibunya cemas, karena
masa kanak-kanak Dana tidak seperti anak-anak pada umumnya.
"Berpindah-pindah setiap enam bulan pasti berat sekali buatmu, Sayang,"
ibunya pernah berkata. Dana menatap ibunya dengan heran. "Kenapa?"
Setiap kali ayah Dana mendapat penugasan baru, Dana selalu bergairah
sekali. "Kita pindah lagi!" soraknya gembira.
Dana senang berpindah-pindah terus. Sayangnya, perasaan ibunya tidak
demikian. Ketika Dana tiga belas tahun, ibunya berkata, "Aku tak tahan berkelana
terus. Aku mau minta cerai."
Dana terpukul sekali waktu diberitahu, terutama karena ini berarti ia
takkan bisa lagi berkeliling dunia bersama ayahnya.
"Di mana aku akan tinggal?" Dana bertanya pada ibuya.
"Di Claremont, California. Mom dibesarkan di situ. Kotanya kecil dan indah
sekali. Kau pasti betah."
Ibu Dana tidak berlebihan waktu menggambarkan Claremont sebagai kota
kecil yang indah. Namun ia keliru ketika menyangka bahwa Dana akan betah.
Claremont terletak di kaki San Gabriel Mountains di Los Angeles County, dan
jumlah penduduknya sekitar 33.000 orang. Semua jalan diapit pepohonan
asri, dan kesan keseluruhannya mirip kota universitas yang tenang. Dana
membencinya. Sebagai orang yang terbiasa melanglang buana, ia mengalami
kejutan budaya yang luar biasa ketika harus tinggal di kota kecil.
"Apakah kita akan selamanya tinggal di sini?" Dana bertanya dengan galau.
"Kenapa, Sayang?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Soalnya tempat ini terlalu kecil buatku. Aku perlu kota yang lebih besar."
Pada hari pertama di sekolahnya yang baru, Dana pulang dalam keadaan
murung. "Ada apa" Kau tak suka sekolahmu?"
Dana menghela napas. "Sekolahnya lumayan, tapi anak-anaknya terlalu
banyak." Ibunya tertawa. "Lama-lama mereka akan terbiasa, dan kau juga."
Dana melanjutkan sekolah ke Claremont High School dan mulai aktif di
Wolfpacket, koran sekolahnya. Ia ternyata menikmati tugas-tugas kewartawanan, namun tetap sedih karena tidak bisa bepergian ke
mancanegara. "Kalau sudah besar nanti," ia berkata, "aku akan keliling dunia lagi."
Ketika berusia delapan belas. Dana mendaftarkan diri di Claremont
McKenna Col ege. Ia memilih jurusan jurnalisme, dan menjadi wartawan
surat kabar mahasiswa, yaitu Forum.
Ada saja mahasiswa yang mendatanginya untuk minta tolong. "Himpunan
kami mau mengadakan pesta dansa minggu depan. Apakah kau bisa menyinggungnya di koran...?"
"Klub debat akan mengadakan pertemuan hari Selasa..."
"Kau bisa meliput sandiwara yang ditampilkan perkumpulan drama...?"
"Kami perlu menggalang dana untuk perpustakaan baru..."
Permintaan demi permintaan datang silih berganti, tapi Dana sangat
menikmatinya, la berada dalam posisi bisa menolong orang, dan menyukainya. Dalam tahun terakhirnya sebagai mahasiswa, Dana memutuskan akan
berkarier di dunia per-suratkabaran.
"Aku akan mewawancarai orang-orang penting di seluruh dunia," Dana
berkata pada ibunya. "Secara tak langsung aku akan membantu membuat
sejarah." Selama masa pertumbuhannya, Dana kecil selalu murung kalau menatap
cermin. Terlalu pendek, terlalu kurus, terlalu datar. Semua gadis lain luar
biasa cantik. Ini sudah seperti hukum alam di California. Aku bebek jelek di
negeri angsa anggun, katanya dalam hati. Sejak itu ia enggan berkaca. Kalau
saja mau melirik cermin, Dana akan sadar bahwa tubuhnya mulai mekar
ketika berusia empat belas. Saat umurnya enam belas, ia sudah sangat
menawan. Dan setahun kemudian, para pemuda mulai mengejar-ngejarnya
secara serius. Wajahnya yang berbentuk hati dan berseri-seri, matanya yang
besar dan bersinar-sinar, tawanya yang renyah memancarkan pesona
tersendiri dan sekaligus merupakan tantangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sejak berumur dua belas, Dana sudah tahu bagaimana ia akan kehilangan
keperawanannya. Peristiwa itu akan terjadi pada suatu malam yang indah
dan bertaburan bintang di pulau tropis, di ringi debur ombak pantai. Musik
lembut mengalun di latar belakang. Laki-laki tampan yang tak dikenalnya
akan menghampirinya dan menatap matanya lekat-lekat, lalu menggendongnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan membawanya
ke bawah pohon palem. Mereka akan menanggalkan baju dan bercinta,
musik di latar belakang akan memuncak sampai mencapai klimaks.
Dana kehilangan keperawanannya di bangku belakang Chevrolet tua,
seusai pesta dansa sekolah. Pasangannya pun bukan laki-laki tak dikenal,
melainkan Richard Dobbins, pemuda kerempeng berusia delapan belas tahun
yang sama-sama bekerja di Forum. Ia menghadiahkan cincinnya kepada
Dana, dan sebulan kemudian pindah ke Milwaukee bersama orangtuanya.
Dana tidak pernah lagi mendengar kabar pemuda itu.
Sebulan sebelum ia lulus col ege dengan menggondol gelar B.A. dalam
bidang jurnalisme, Dana berkunjung ke kantor Claremont Examiner, surat
kabar setempat, untuk mencari pekerjaan sebagai wartawan.
Seorang pria di kantor personalia memeriksa daftar pengalamannya. "Jadi
kau bekas editor di Forum, hmm?"
Dana tersenyum sopan. "Betul."
"Oke. Kau beruntung. Kami sedang kekurangan tenaga. Kau diterima."
Dana gembira sekali. Ia telah membuat daftar negara yang hendak
diliputnya: Rusia... Cina... Afrika...
"Saya tahu saya tak mungkin langsung ditempatkan sebagai koresponden
luar negeri," Dana berkata, "tapi begitu saya..."
"Betul. Kau akan bekerja sebagai asisten. Tugasmu adalah menyediakan
kopi untuk para redaktur setiap pagi. Mereka suka kopi kental. Kau juga akan
membawa semua naskah ke percetakan."
Dana menatapnya dengan mata terbelalak. "Saya tidak..."
Pria di hadapannya mencondongkan badan ke depan. Ia mengerutkan
kening. "Kau tidak apa?"
"Saya tidak menyangka akan seberuntung ini."
Semua wartawan memuji kopi buatan Dana, dan ia menjadi asisten terbaik
yang pernah dimiliki harian itu. Setiap hari ia datang pagi-pagi, dan bisa
bergaul dengan semua orang. Ia selalu siap membantu. Ia tahu itulah cara
terbaik untuk maju. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Masalahnya, setelah enam bulan, Dana belum juga beranjak dari posisinya
sebagai asisten. Ia memutuskan menemui Bil Crowel , pemimpin redaksi
Examiner. "Saya yakin saya sudah siap," Dana berkata dengan sungguh-sungguh.
"Kalau saja saya diberi tugas meliput sesuatu, saya akan..."
Crowel menoleh pun tidak. "Belum ada lowongan. Kopiku dingin."
Ini tak adil, pikir Dana. Mereka tak mau memberi kesempatan padaku.
Dana pernah mendengar kata-kata mutiara yang sangat diyakininya. "Kalau
ada yang mampu menghalangimu, lebih baik kaubiarkan saja." Hah, tak ada
yang mampu menghalangiku, pikir Dana. Tapi bagaimana aku bisa mulai"
Suatu pagi, ketika Dana sedang melewati ruang teletype yang lengang
sambil membawa beberapa cangkir kopi panas, salah satu mesin mencetak
laporan dari jaringan berita. Dana penasaran. Langsung saja ia mendekat
dan membaca laporan itu: ASSOCIATED PRESS"CLAREMONT, CALIFORNIA. TADI PAGI TERJADI
USAHA PENCULIKAN DI CLAREMONT. ANAK LAKI-LAKI BERUSIA ENAM
TAHUN DIBAWA ORANG TAK DIKENAL DAN...
Dana membaca sisa laporan itu dengan terbelalak, la menarik napas
dalam-dalam, merobek laporan itu dari mesin teletype, dan mengantonginya.
Tak seorang pun melihatnya.
Tergopoh-gopoh ia bergegas ke ruang kerja Bil Crowel . "Mr. Crowel , tadi
pagi ada orang yang mencoba menculik anak kecil di sini, di Claremont. Anak
itu di ming-imingi naik kuda poni, tapi dia minta dibelikan permen dulu, jadi si
penculik mengajaknya ke toko permen. Si pemilik toko ternyata mengenali
anak itu. Dia menelepon polisi, dan si penculik melarikan diri."
Bil Crowel tampak terkejut. "Kita belum terima laporan apa-apa. Dari
mana kau tahu tentang kejadian ini?"
"Saya... saya kebetulan berada di toko itu, dan orang-orang di sana sedang
membicarakannya dan..."
"Aku akan segera kirim wartawan."
"Kenapa bukan saya saja?" tanya Dana cepat-cepat. "Saya kenal pemilik
toko itu. Dia pasti mau bicara dengan saya."
Crowel menatapnya sejenak, lalu berkata dengan berat hati, "Ehm,
baiklah." Dana mewawancarai pemilik toko permen itu. Tulisannya dimuat di
halaman pertama Claremont Examiner keesokan harinya, dan mendapat
tanggapan baik. "Lumayan juga," kata Bil Crowel kepada Dana. "Terima kasih."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hampir seminggu berlalu sebelum Dana kembali sendirian di ruang
teletype. Sebuah laporan dari Associated Press baru saja masuk:
POMONA, CALIFORNIA: WANITA PELATIH JUDO MENANGKAP CALON
PEMERKOSA. Bagus, pikir Dana. Ia merobek kertas itu, meremas-remasnya,
memasukkannya ke kantong, lalu bergegas menemui Bil Crowel .
"Saya baru dapat telepon dari bekas teman sekamar saya," ujar Dana
berapi-api. "Dia kebetulan memandang ke luar jendela dan melihat seorang
wanita menyerang laki-laki yang hendak memerkosanya. Saya ingin meliput
kejadian ini." Crowel menatapnya sejenak. "Apa lagi yang kautunggu?"
Dana naik mobil ke Pomona untuk mewawancarai pelatih judo itu, dan
artikelnya kembali dimuat di halaman pertama.
Bil Crowel memanggil Dana ke ruang kerjanya. "Kau berminat diangkat
sebagai wartawan tetap?"
Dana gembira sekali. "Tentu saja!" Akhirnya! serunya dalam hati. Inilah
awal karierku! Keesokan harinya, harian Claremont Examiner dijual kepada Washington
Tribune di Washington, D.C.
Ketika pengambilalihan itu diumumkan, sebagian besar karyawan
Claremont Examiner langsung dihinggapi perasaan waswas. Pengurangan
pegawai tak terelakkan, dan itu berarti beberapa dari mereka akan
kehilangan pekerjaan. Tapi jalan pikiran Dana berbeda. Aku jadi pegawai
Washington Tribune sekarang, ia berkata dalam hati, dan pikiran logis
selanjutnya adalah, Kenapa aku tak pindah ke kantor pusat saja"
Serta-merta ia menuju ke ruang kerja Bil Crowel . "Saya minta cuti sepuluh
hari." Crowel menatapnya sambil mengerutkan kening. "Dana, kebanyakan
orang bahkan tak berani ke kamar kecil karena takut meja mereka sudah
lenyap waktu mereka kembali. Kau tak kuatir?"
"Kenapa saya harus kuatir" Saya wartawan terbaik di sini," Dana menyahut
penuh percaya diri. "Saya akan mendapat pekerjaan di Washington Tribune."
"Kau serius?" Crowel melihat roman muka Dana. "Kau serius." Ia
menghela napas. "Baiklah. Coba temui Matt Baker. Dia pemimpin umum
Washington Tribune Enterprises"surat kabar, stasiun TV, radio, semuanya."
"Matt Baker. Baiklah."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
8 WASHINGTON, D.C., ternyata jauh lebih besar dari yang dibayangkan
Dana. Inilah pusat kekuasaan dunia, dan Dana bisa merasakan getaran yang
menggairahkan. Di sinilah tempatku, pikirnya gembira.
Hal pertama yang dikerjakannya adalah menyewa kamar di Stouffer
Renaissance Hotel. Kemudian ia mencari alamat Washington Tribune dan
menuju ke sana. Kantor Tribune terletak di 6th Street dan menempati satu
blok. Ada empat gedung terpisah yang menjulang tinggi. Dana menemukan
lobi utama dan mendatangi penjaga berseragam di balik meja resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu, Miss?"
"Saya bekerja di sini. Maksud saya, saya bekerja untuk Tribune. Saya ingin
bertemu Matt Baker."
"Anda sudah membuat janji?" Dana ragu-ragu.
"Belum, tapi..."
"Silakan kembali setelah membuat janji." Si penjaga berpaling kepada
sekelompok pria yang baru menghampiri meja.
"Kami ada janji dengan kepala bagian sirkulasi," salah satu dari mereka
berkata. "Silakan tunggu sebentar." Si penjaga menekan tombol pada pesawat
telepon. Di belakang, sebuah lift baru tiba dan para penumpang melangkah keluar.
Dengan tenang Dana menuju ke sana. Ia segera masuk dan berdoa agar
liftnya naik sebelum penjaga tadi melihatnya. Seorang wanita menyusul Dana
dan menekan salah satu tombol, dan mereka pun mulai bergerak ke atas.
"Maaf," Dana menyapa wanita itu. "Matt Baker di lantai berapa?"
"Lantai tiga." Wanita itu menatap Dana. "Anda tidak memakai tanda
pengenal." "Tadi jatuh." sahut Dana sekenanya.
la segera turun ketika pintu lift membuka di lantai tiga. Pemandangan yang
dilihatnya membuatnya tercengang. Ia melihat lautan ruang kerja, seakan
ratusan jumlahnya. Ribuan orang tampak sibuk mengerjakan berbagai
kegiatan di dalamnya. Di atas masing-masing ruang itu terdapat tanda
dengan warna berbeda-beda. EDITORIAL... SENI... METRO... OLAHRAGA...
KALENDER... Dana mencegat pria yang berpapasan dengannya. "Maaf. Di mana kantor
Mr. Baker?" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Matt Baker?" Pria itu menunjuk. "Di ujung lorong sebelah kanan, pintu
terakhir."

Rencana Paling Sempurna The Best Laid Plans Karya Shidney Sheldon di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Terima kasih."
Ketika berbalik, Dana bertabrakan dengan pria bertampang lusuh yang
sedang membawa setumpuk kertas. Kertas-kertasnya berjatuhan ke lantai.
"Oh, maaf. Saya..."
"Pakai mata kalau jalan!" hardik pria itu. Kemudian ia membungkuk untuk
memunguti kertas-kertas yang berserakan.
"Saya tidak sengaja. Biar saya bantu. Saya..." Dana ikut memunguti kertaskertas itu, tapi beberapa lembar malah terdorong ke bawah meja.
Pria itu menatapnya sambil mendelik. "Tolong jangan bantu saya lagi."
"Ya sudah," balas Dana. "Moga-moga tak semua orang di Washington
sekasar Anda." Dengan kesal ia bangkit dan menuju ke ruang kerja Mr. Baker. Tulisan
pada pintu kacanya berbunyi MATT BAKER. Tak ada siapa-siapa. Dana segera
masuk dan duduk. Sambil menunggu, ia mengamati suasana kantor yang
hiruk-piruk. Ini lain sekali dengan Claremont Examiner, katanya dalam hati. Ribuan
orang tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Pria ketus berpenampilan lusuh tadi sedang menuju ke ruangan tempat Dana menunggu.
Tak mungkin! pikir Dana. Dia takkan kemari. Dia pasti mau ke tempat
lain... Dan kemudian pria itu membuka pintu. Ia memicingkan mata. "Kenapa
Anda ada di sini?" Dana menelan ludah. "Anda pasti Mr. Baker," ia berkata sambil
memaksakan senyum. "Saya Dana Evans."
"Saya tanya kenapa Anda ada di sini."
"Saya wartawan Claremont Examiner."
"Terus?" "Koran itu baru saja Anda beli."
"Oh ya?" "Maksud saya, koran Anda yang membelinya. Koran itu dibeli koran Anda."
Pertemuan dengan atasannya yang baru tidak seperti yang dibayangkan
Dana. "Ehm, saya kemari untuk mencari pekerjaan. Tapi sebenarnya saya
sudah bekerja untuk Anda. Jadi ini lebih tepat disebut transfer, bukan?"
Matt Baker menatapnya sambil membisu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya bisa mulai sekarang juga." Dana mencerocos terus. "Itu tak jadi
masalah." Pria itu menghampiri meja kerjanya. "Siapa yang mengizinkan Anda masuk
ke sini?" "Saya sudah bilang tadi. Saya wartawan Claremont Examiner dan..."
"Pulang saja ke Claremont," ujar Matt Baker ketus. "Dan tolong jangan
main tabrak lagi waktu Anda keluar."
Dana bangkit dan berkata dengan angkuh, "Terima kasih banyak, Mr.
Baker. Saya menghargai keramahan Anda." Dengan langkah panjang ia
meninggalkan ruangan. Matt Baker menatapnya sambil menggeleng. Ada-ada saja.
Dana kembali ke ruang redaksi yang luas, tempat lusinan wartawan sedang
mengetik pada komputer ma
sing-masing. Di sinilah aku akan bekerja, pikir
Dana sengit. Pulang saja ke Claremont. Huh, enak saja!
Ketika Dana menoleh, ia melihat Matt Baker di kejauhan. Baker berjalan ke
arahnya. Aduh, orang brengsek itu ada di mana-mana! Dana cepat-cepat
menyelinap ke balik sebuah ruang.
Baker melewatinya dan menghampiri wartawan di salah satu meja.
"Bagaimana, Sam" Wawancaranya sudah beres?"
"Belum. Aku sudah ke Georgetown Medical Center, tapi mereka bilang tak
ada pasien dengan nama itu. Istri Tripp Taylor tidak dirawat di sana."
Matt Baker berkata, "Aku tahu persis dia ada di situ. Sialan, mereka
menutup-nutupi sesuatu. Aku ingin tahu kenapa dia ada di rumah sakit."
"Kalau dia memang di sana, kita takkan bisa mendekatinya, Matt."
"Sudah coba siasat pengantar bunga?"
"Sudah, tapi tidak berhasil."
Dana memperhatikan Matt Baker dan si wartawan berjalan menjauh.
Wartawan macam apa yang tak tahu caranya mendapatkan wawancara"
Dana bertanya-tanya. Setengah jam kemudian Dana sudah berada di Georgetown Medical
Center. Ia segera memasuki toko bunga.
"Bisa saya bantu?" seorang pelayan bertanya.
"Ya. Saya ingin membeli bunga seharga..." "Dana terdiam sejenak" "lima
puluh dolar." Ia nyaris tersedak ketika mengucapkan kata "lima puluh."
Ketika si pelayan menyerahkan bunganya, Dana bertanya, "Apakah ada
toko di sini yang menjual topi?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Di balik tikungan ada gift shop."
"Terima kasih."
Gift shop itu menyediakan aneka macam barang, mulai dari kartu ucapan,
mainan murah, balon dan banner, wadah untuk makanan kecil, serta baju
berwarna meriah. Di salah satu rak ada sejumlah topi suvenir. Dana memilih
topi yang mirip topi seragam pengemudi dan langsung mengenakannya. Ia
membeli kartu ucapan, lalu menuliskan sesuatu di dalamnya.
Kemudian ia menuju ke meja informasi di lobi rumah sakit. "Saya mau
mengantar bunga untuk Mrs. Tripp Taylor."
Wanita di balik meja menggeleng. "Tidak ada Mrs. Tripp Taylor yang
terdaftar di sini." Dana menghela napas. "Oh" Sayang sekali. Bunga ini dari Wakil Presiden
Amerika Serikat." Ia membuka kartu ucapan tadi dan memperlihatkannya
kepada si resepsionis. Tulisannya berbunyi, "Semoga cepat sembuh." Di
bawah tertera tanda tangan, "Arthur Cannon."
Dana berkata, "Kelihatannya bunga ini terpaksa dikembalikan." Ia berbalik
tanpa menunggu jawaban si resepsionis.
Wanita itu menatapnya dengan ragu-ragu. "Tunggu sebentar!"
Dana berhenti. "Ya?"
"Saya bisa minta petugas rumah sakit untuk mengantarkan bunga ini."
"Sori," kata Dana. "Wakil Presiden Cannon berpesan agar bunganya
diserahkan langsung kepada Mrs. Taylor." Ia menatap si resepsionis. "Saya
boleh tahu nama Anda" Bos saya harus menjelaskan pada Mr. Cannon
kenapa kiriman bunganya tidak bisa diantar."
Panik. "Oh, ehm, baiklah. Saya tak mau membuat masalah. Naik saja ke
Kamar 615. Tapi begitu bunga itu diserahkan, Anda harus segera pergi."
"Oke," sahut Dana.
Lima menit setelah itu. ia sudah berhadapan dengan istri penyanyi rock
terkenal Tripp Taylor. Slacy Taylor berada di pertengahan usia dua puluhan. Sulit memastikan
apakah ia cantik atau tidak, sebab ketika ditemui Dana, wajahnya tampak
memar dan bengkak. Ia sedang berusaha meraih gelas berisi air di meja
samping tempat tidur waktu Dana masuk.
"Bunga untuk..." Dana langsung terdiam ketika melihat wajah wanita itu.
"Dari siapa?" Ucapannya tidak jelas.
Dana telah melepaskan kartu ucapan tadi. "Dari... dari seorang
pengagum." Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wanita itu menatap Dana dengan curiga. "Kau bisa mengambilkan gelas
itu?" "Tentu." Dana meletakkan karangan bunga dan menyerahkan gelas berisi
air itu kepada wanita di tempat tidur. "Ada lagi yang bisa saya bantu?" Dana
menawarkan. "Ada," wanita itu berkata dengan bibirnya yang bengkak. "Bantu aku
keluar dari tempat brengsek ini. Suamiku tak mengizinkan aku dijenguk siapa
pun. Aku sudah muak melihat para dokter dan juru rawat."
Dana duduk di kursi di samping tempat tidur. "Apa yang terjadi dengan
Anda?" Wanita itu mendengus. "Kau belum tahu" Aku mengalami kecelakaan
mobil." "Oh ya?" "Ya." "Mengerikan," ujar Dana dengan nada menyangsikan. Ia dilanda
kemarahan yang membara, sebab kelihatan jelas bahwa wanita itu dianiaya
sampai babak belur. Empat puluh lima menit kemudian, Dana muncul dengan kisah yang
sesungguhnya. Ketika Dana kembali ke lobi Washington Tribune, penjaga di meja
informasi telah digantikan petugas lain. "Bisa saya...?"
"Ini bukan salah saya," Dana menyela sambil terengah-engah. "Ini garagara lalu lintas brengsek. Tolong beritahu Mr. Baker bahwa saya sedang
menuju ke atas. Dia pasti marah sekali karena saya terlambat."
Si penjaga menatapnya sambil mengerutkan kening, lalu menekan tombol
pada pesawat teleponnya. "Halo. Sampaikan pada Mr. Baker ada wanita
muda yang..." Pintu lift membuka. Dana segera melangkah masuk. Begitu sampai di lantai
tiga, ia disambut suasana yang luar biasa sibuk. Para wartawan tampak
mengetik dengan menggebu-gebu untuk mengejar deadline. Dana
memandang berkeliling. Akhirnya ia menemukan yang dicarinya. Di sebuah
mangan dengan tanda hijau bertulisan TANAMAN & KEBUN ada meja kosong.
Dana langsung berjalan ke sana dan duduk. Ia menatap komputer di
hadapannya, lalu mulai mengetik. Pikirannya begitu terfokus pada cerita yang
sedang disusunnya sehingga ia lupa waktu. Setelah selesai, ia menyalakan
printer, dan halaman demi halaman pun tercetak rapi. Dana sedang
merapikan lembaran-lembaran kertas itu ketika menyadari ada bayangan di
belakangnya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sedang apa kau?" Matt Baker bertanya dengan ketus.
"Saya mencari pekerjaan, Mr. Baker. Saya menulis artikel ini, dan saya
pikir..." "Pikiranmu keliru," Baker meledak. "Kau tak hisa seenaknya masuk kemari
dan membajak meja orang. Cepat pergi dari sini, sebelum aku memanggil
petugas keamanan supaya menangkapmu."
"Tapi..." "Pergi!" Dana berdiri. Ia menegakkan kepala, menyerahkan semua lembaran kertas
itu kepada Matt Baker, lalu membelok di ujung lorong.
Matt Baker menggeleng. Ya Tuhan! Mau jadi apa dunia ini" Di bawah meja
ada keranjang sampah. Sambil menghampirinya, Matt melirik kalimat
pertama artikel Dana: "Stacy Taylor, dengan wajah lebam, hari ini
mengungkapkan dari tempat tidur rumah sakit bahwa ia berada di situ
karena dianiaya suaminya, bintang rock terkenal Tripp Taylor. "Setiap kali
saya hamil, dia main tangan. Dia tak mau punya anak." Matt mulai membaca
lebih lanjut dan berdiri mematung. Ketika ia menoleh, Dana sudah
menghilang. Matt segera mengejarnya ke arah lift sambil membawa lembaran-lembaran
kertas itu. Moga-moga belum terlambat, katanya dalam hati. Ia membelok di
ujung lorong, dan bertabrakan dengan wanita muda tersebut, yang ruparupanya sedang menunggu sambil bersandar ke dinding.
"Bagaimana kau mendapatkan kisah ini?" tanya Matt.
Penjelasan Dana singkat saja. "Saya sudah bilang. Saya wartawan."
Matt Baker menarik napas dalam-dalam. "Mari ikut ke ruang kerjaku."
Mereka kembali duduk di ruang kerja Matt Baker. "Artikelmu cukup bagus,"
Matt bergumam. "Terima kasih! Pujian Anda sangat berarti untuk saya," Dana menyahut
dengan berapi-api. "Saya akan menjadi wartawan terbaik yang pernah
bekerja untuk Anda. Lihat saja nanti. Sebenarnya saya bercita-cita menjadi
koresponden luar negeri, tapi saya bersedia mulai dari bawah, biarpun itu
makan waktu satu tahun." Ia melihat roman muka Matt. "Atau dua."
"Di Tribune sedang tidak ada lowongan, dan daftar tunggunya sudah
panjang." Dana terbengong-bengong. "Tapi saya berasumsi..."
"Tunggu!" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dana memperhatikan Matt Baker mengambil pena dan menuliskan kata
"assume?"ASS U ME. Baker menunjuk kata tersebut. "Kalau wartawan mulai
berasumsi, Miss Evans, itu mengundang sebutan ass untuk you dan me. Kau
dan aku akan dianggap keledai. Mengerti?"
"Ya, Sir." "Bagus." Baker merenung sejenak, lalu tiba pada suatu keputusan. "Kau
pernah menonton siaran WTE" Stasiun televisi milik Tribune Enterprises?"
"Tidak, Sir. Terus terang, saya..."
"Nah, mulai sekarang kau akan menontonnya. Kau beruntung. Mereka
punya lowongan. Salah satu penulis mereka baru saja berhenti. Kau bisa
menggantikannya." "Sebagai?" Dana bertanya dengan hati-hati.
"Penulis naskah berita televisi."
Wajah Dana langsung berkerut-kerut. "Naskah herita televisi" Saya tak
tahu apa-apa tentang..."
"Tugasmu tidak sulit. Produser siaran berita akan memberimu bahan
mentah dari semua jaringan berita. Kau harus mengolahnya dan
memasukkannya ke TelePrompTer, agar dapat dibaca para pembaca berita."
Dana termangu-mangu. "Ada apa?" "Tidak ada apa-apa. Hanya saja... saya wartawan."
"Di sini ada lima ratus wartawan, dan semuanya menghabiskan waktu
bertahun-tahun untuk mengasah keterampilan mereka. Sekarang pergilah ke
Gedung Empat. Cari Mr. Hawkins. Sebagai permulaan, televisi tak terlalu
buruk." Matt Baker mengangkat gagang telepon. "Aku akan menghubungi
Hawkins." Dana menghela napas. "Baiklah. Terima kasih, Mr. Baker. Kalau Anda
kapan-kapan memerlukan..."
"Keluarlah." Studio televisi WTE menempati seluruh lantai enam di Gedung Empat. Tom
Hawkins, produser siaran berita malam, mengajak Dana ke ruang kerjanya.
"Kau pernah bekerja di televisi?"
"Belum, Sir. Pengalaman saya hanya sebagai wartawan surat kabar."
"Kuno. Televisi adalah media masa kini. Dan entah bagaimana
perkembangan di masa depan. Ayo, kuantar kau melihat-lihat studio."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dana melihat puluhan orang bekerja menghadapi meja dan monitor.
Naskah berita dari setengah lusinan jaringan berita tampil pada sejumlah
komputer. "Di sinilah kita menerima kilasan peristiwa dari seluruh penjuru dunia,"
Hawkins menjelaskan. "Aku yang memutuskan mana saja yang akan kita
pakai. Bagian penugasan lalu mengirim kru untuk meliput kejadian yang
bersangkutan. Wartawan di lapangan mengirim laporan mereka lewat
gelombang-mikro atau pemancar. Selain dari jaringan berita, kita mendapat
informasi dari 160 saluran polisi, dan dari para wartawan yang dilengkapi
ponsel, scanner, dan monitor. Setiap liputan direncanakan sampai ke
hitungan detik. Durasi liputan rata-rata antara satu setengah menit sampai
satu menit 45 detik."
"Berapa banyak penulis yang bekerja di sini?"
"Enam. Lalu masih ada koordinator video, penyunting gambar, produser,
pengarah acara, wartawan, pembaca berita..." Ia terdiam. Sepasang pria dan
wanita menghampiri mereka. "Omong-omong soal pembaca berita,
perkenalkan Julia Brinkman dan Michael Tate."
Julia Brinkman berpenampilan mencengangkan, dengan rambut cokelat
keemasan, lensa kontak hijau yang membuat sorot matanya tampak tajam,
dan senyum menawan yang terlatih. Michael Tate berpotongan atletis,
dengan senyum ramah dan pembawaan yang menyenangkan.
"Penulis kita yang baru," ujar Hawkins. "Donna Ivanston."
"Dana Evans." "Sama saja. Oke, kita jalan lagi."
Hawkins mengajak Dana kembali ke ruang kerjanya. Ia mengangguk ke
papan penugasan yang tergantung di dinding. "Itulah topik-topik berita yang
bisa kupilih. Istilah kita di sini adalah slug. Kita mengudara dua kali sehari.


Rencana Paling Sempurna The Best Laid Plans Karya Shidney Sheldon di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Berita siang disiarkan dari jam dua belas sampai jam satu, berita malam dari
jam sepuluh sampai jam sebelas. Setelah aku memberitahumu topik mana
saja yang akan ditayangkan, kau harus mengolah semua bahan jadi
semenarik mungkin, supaya para pemirsa enggan pindah saluran. Penyunting
gambar akan memberimu sejumlah video clip untuk dijalin ke dalam naskah.
Kau harus memberi tanda di mana masing-masing klip dimasukkan."
"Oke." "Kadang-kadang ada berita dadakan yang sangat penting. Kalau begitu,
siaran reguler kita selingi dengan tayangan langsung."
"Menarik juga," ujar Dana.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tak terbayang olehnya bahwa prosedur itu kelak menyelamatkan
nyawanya. Karier Dana di dunia televisi dimulai dengan bencana. Ia keliru
menempatkan ringkasan berita di tengah siaran, bukan di bagian awal,
sedangkan Julia Brinkman diberi topik-topik yang seharusnya dibacakan
Michael Tate, begitu pula sebaliknya.
Seusai siaran berita, pengarah acara itu berkata kepada Dana, "Kau
dipanggil Mr. Hawkins ke ruang kerjanya. Sekarang juga."
Hawkins duduk di balik meja. Tampangnya berkerut-kerut.
"Saya tahu," Dana berkata dengan nada menyesal. "Siaran tadi siaran
terburuk dalam sejarah televisi, dan semuanya salah saya."
Hawkins menatapnya sambil membisu.
Dana berusaha mencairkan suasana. "Tapi kejadian ini juga ada sisi
baiknya, Tom, sebab mulai sekarang semuanya pasti lebih baik. Betul, tidak?"
Hawkins tidak menanggapinya.
"Dan ini takkan terulang lagi karena?"ia melihat ekspresi di wajah
atasannya?"saya dipecat."
"Tidak," kata Hawkins tegas. "Itu terlalu ringan. Kau akan mengulangi
tugas ini sampai bisa. Dimulai dari siaran berita besok siang. Cukup jelas?"
"Ya." "Oke. Kuminta kau datang pukul delapan besok pagi."
"Baik. Tom." "Dan mengingat kita akan bekerja sama"kau boleh memanggilku Mr.
Hawkins." Siaran keesokan siangnya berjalan lancar. Tom Hawkins benar. Dana
berkata dalam hati. Ternyata ini hanya masalah membiasakan diri dengan
irama kerja yang baru. Menerima tugas... menulis naskah... berunding
dengan penyunting gambar... menyiapkan TelePrompTer untuk para
pembaca berita. Sejak itu, semuanya menjadi rutin.
Kesempatan yang ditunggu-tunggu Dana datang delapan bulan setelah ia
mulai bekerja di WTE. la baru saja selesai menyiapkan TelePrompTer untuk
siaran berita malam, dan sedang bersiap-siap pulang. Tapi ketika ia masuk ke
studio televisi untuk berpamitan, ia menemukan suasana kacau-balau. Semua
orang bicara bersamaan. Rob Cline, si pengarah acara, berseru, "Brengsek, di mana dia?"
"Aku tak tahu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Masa belum ada yang melihatnya dari tadi?"
"Belum." "Sudah ada yang menelepon ke apartemennya?"
"Dia menyalakan mesin penerima telepon."
"Bagus. Kita mengudara" "ia menatap jam tangannya?"dalam dua belas
menit." "Barangkali Julia mengalami kecelakaan," ujar Michael Tate. "Janganjangan dia tewas." "Itu bukan alasan. Seharusnya dia meneleponku."
Dana berkata, "Maaf..."
Rob Cline berbalik dan menatapnya dengan gusar. "Ada apa?"
"Kalau Julia tak muncul, aku bisa menggantikannya."
"Tidak bisa." Si pengarah acara kembali berpaling pada asistennya.
"Hubungi Keamanan. Tanyakan apakah Julia sudah ada di dalam gedung."
Asistennya mengangkat gagang telepon dan menekan tombol. "Apakah
Julia Brinkman sudah datang..." Hmm, kalau dia datang, katakan padanya
bahwa dia harus segera naik."
"Suruh mereka menahan lift di bawah. Waktu kita tinggal?"ia kembali
melirik jam tangan?"tujuh menit."
Dana memperhatikan orang itu semakin panik.
Michael Tate berkata, "Barangkali aku bisa merangkap untuk Julia."
"Tidak bisa," sahut si pengarah acara ketus. "Kita perlu dua orang di depan
kamera." Sekali lagi ia menatap jam tangan. "Tiga menit lagi. Sialan. Tegateganya dia berbuat begini. Kita mengudara dalam..."
Dana angkat bicara. "Aku hafal naskahnya. Aku yang menulisnya."
Rob Cline menatapnya sepintas. "Kau belum pakai makeup. Dan bajumu
tak cocok." Sebuah suara terdengar dari ruang penata suara. "Dua menit. Harap ke
tempat masing-masing."
Michael Tate mengangkat bahu dan menuju ke lempat duduknya di podium
di depan kamera. "Harap siap di tempat!"
Dana tersenyum kepada si pengarah acara. "Selamat malam, Mr. Cline." Ia
berjalan ke arah pintu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tunggu sebentar!" Si pengarah acara mengusap-usap kening. "Kau betulbetul sanggup membawakan siaran berita?"
"Kita coba saja," jawab Dana.
"Rasanya tak ada pilihan lain," gumam Rob Cline. "Baiklah. Cepat naik. Ya
Tuhan! Kenapa aku tak mendengarkan nasihat Mom dan menjadi dokter
saja?" Dana bergegas ke podium dan mengambil tempat di samping Michael Tate.
"Tiga puluh detik... dua puluh... sepuluh... lima..."
Si pengarah acara melambaikan tangan, dan lampu merah pada kamera
menyala. "Selamat malam." Dana berkata dengan lancar. "Anda menyaksikan berita
WTE pukul sepuluh. Kami mulai dengan berita dari Belanda. Sore tadi terjadi
ledakan di sebuah sekolah di Amsterdam, dan..."
Siaran selanjutnya berjalan mulus. Keesokan paginya, Rob Cline mampir di
ruang kerja Dana. "Ada berita buruk. Julia mengalami kecelakaan mobil
semalam. Wajahnya?"ia terdiam sejenak?"cacat."
"Aku turut menyesal," Dana berkata dengan nada prihatin. "Seberapa
parah?" "Cukup parah." "Tapi dengan operasi plastik..."
Rob Cline menggeleng. "Rasanya tak mungkin. Kelihatannya dia takkan
kembali ke sini." "Aku ingin menjenguknya. Di mana dia sekarang?"
"Julia dibawa ke rumah orangtuanya, di Oregon."
"Aku menyesal sekali."
"Nasib orang memang tak bisa ditebak." Sejenak ia mengamati Dana. "Kau
lumayan bagus semalam. Kau akan mengisi tempat Julia sampai kita mendapatkan pengganti tetap."
Dana menemui Matt Baker. "Anda melihat saya semalam?" ia bertanya.
"Ya," Baker menggerung. "Demi Tuhan, kenapa kau tidak pakai makeup!
Dan lain kali, pilihlah baju yang lebih pantas."
Dana langsung menunduk. "Baik."
Ketika ia berbalik untuk pergi, Matt Baker menggerutu, "Penampilanmu tak
terlalu buruk." Untuk ukuran Matt Baker, ucapan tersebut sudah merupakan
pujian hebat. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada malam kelima Dana membacakan berita, Rob Cline berkata padanya,
"O ya, pihak atasan minta kau dipertahankan."
Dana bertanya-tanya apakah Matt Baker yang dimaksud dengan pihak
atasan itu. Dalam waktu enam bulan, Dana telah menjadi tokoh yang dikenal di
Washington. Ia muda dan berpenampilan memikat, kecerdasannya tercermin
dalam setiap komentarnya. Pada akhir tahun, ia diberi kenaikan gaji dan
beberapa tugas khusus. Salah satu mata acara yang dipandunya, Here and
Now, yang menampilkan wawancara dengan kaum selebriti, langsung
memperoleh rating tertinggi. Setiap wawancara yang dilakukan Dana
berlangsung dalam suasana akrab dan hangat, para bintang terkenal yang
enggan tampil di acara perbincangan lain justru minta diundang ke acara
Dana. Ia mulai diwawancarai berbagai majalah dan surat kabar, dan akhirnya
ia sendiri menjadi selebriti.
Setiap malam Dana menonton siaran berita internasional. Ia iri kepada
para koresponden luar negeri. Mereka mengerjakan sesuatu yang penting.
Mereka meliput perkembangan sejarah, dan melaporkan peristiwa-peristiwa
penting di semua pelosok dunia. Dana frustrasi.
Kontrak dua-tahunan Dana dengan WTE sudah menjelang habis. Philip
Cole, kepala koresponden, mengundang Dana ke ruang kerjanya.
"Prestasimu sangat bagus, Dana. Kami semua bangga padamu."
"Terima kasih, Philip."
"Sudah waktunya kita bicarakan kontrakmu yang baru. Pertama-tama..."
"Aku minta berhenti."
"Maaf?" "Aku tak mau melanjutkan acaraku setelah kontrakku berakhir."
Cole menatapnya sambil terheran-heran. "Kenapa kau minta berhenti" Kau
tak betah bekerja di sini?"
"Aku suka sekali," jawab Dana. "Aku senang bekerja di WTE, tapi aku mau
jadi koresponden asing."
"Ya ampun!" seru Cole. "Kenapa kau malah memilih hidup sengsara seperti
itu?" "Soalnya aku sudah bosan mendengarkan kaum selebriti bercerita tentang
apa yang mereka masak untuk makan malam dan bagaimana mereka berkenalan dengan suami mereka yang kelima. Di mana-mana ada perang,
orang-orang menderita dan sekarat. Dan tak ada yang peduli. Aku ingin
membuat dunia peduli." Ia menarik napas panjang. "Maaf, Philip, tapi aku tak
bisa terus di sini." la bangkit dan menuju ke pintu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tunggu dulu! Kau sudah mempertimbangkan keputusanmu?"
"Itulah yang ingin kulakukan dari dulu," sahut Dana.
Philip Cole merenung sejenak. "Kau mau ke mana?"
Dana sempat bingung sebelum menyadari maksud atasannya. Tapi
kemudian ia berkata dengan mantap, "Sarajevo."
9 BERTUGAS sebagai gubernur ternyata lebih mengasyikkan lagi daripada
yang dibayangkan Oliver Russel . Kekuasaan merupakan kekasih yang
menggairahkan, dan Oliver menikmatinya. Setiap keputusannya mempengaruhi kehidupan ratusan ribu orang. Ia semakin pandai
mengarahkan badan pembuat undang-undang negara bagian, dan pengaruh
serta reputasinya terus meningkat. Aku benar-benar telah membawa perubahan, pikir Oliver gembira. Ia teringat ucapan Senator Davis: "Ini hanya
batu loncatan, Oliver. Melangkahlah dengan hati-hati."
Dan ia memang berhati-hati. Berulang kali ia menjalin hubungan asmara
dengan wanita lain, tapi ia selalu memastikan semuanya dirahasiakan secara
ketat. Ia sadar betul bahwa ia tidak boleh tergelincir.
Dari waktu ke waktu, Oliver menelepon rumah sakit untuk menanyakan
keadaan Miriam. "Dia masih koma, Gubernur."
"Segera beritahu saya kalau ada perubahan."
Sebagai gubernur, Oliver kerap harus bertindak sebagai tuan rumah
jamuan makan malam resmi. Para tamu kehormatan silih berganti. Ada yang
berasal dari kalangan pendukung Oliver, ada pula olahragawan terkemuka,
artis terkenal, orang dengan pengaruh politik yang besar, serta tokoh-tokoh
penting yang kebetulan berkunjung. Jan membawakan perannya dengan
anggun, dan Oliver gembira melihat reaksi para tamu terhadap istrinya.
Suatu hari Jan mendatangi Oliver dan berkata, "Aku baru saja bicara
dengan Ayah. Sabtu besok dia akan mengadakan pesta di rumahnya. Kita
diundang. Ayah ingin memperkenalkanmu pada beberapa temannya."
Sabtu itu, di rumah Senator Davis yang mewah di Georgetown. Oliver
bersalaman dengan sejumlah tokoh paling penting di Washington. Pestanya
berlangsung semarak, dan Oliver sangat menikmatinya.
"Bagaimana, Oliver" Senang?"
"Ya. Suasananya meriah sekali. Semuanya persis seperti yang diharapkan."
Peter Tager berkata, "Omong-omong soal harapan, aku jadi teringat.
Waktu itu, putriku Elizabeth sedang rewel dan tidak mau berpakaian. Betsy
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah mulai jengkel. Elizabeth menatapnya dan bertanya, 'Mama" Mama lagi
pikir apa"' Lalu Betsy menjawab, 'Mama berharap kau jangan nakal dan
cepat berpakaian dan sarapan seperti anak manis.' Lalu Elizabeth berkata,
'Mama, harapan Mama tidak dikabulkan!' Luar biasa, kan" Anak itu memang
hebat. Sampai nanti, Gubernur."
Sepasang pria dan wanita memasuki ruangan, dan Senator Davis segera
menyambut mereka. Duta Besar Itali, Atilio Picone, adalah pria berusia enam puluhan yang
tinggi-besar dan memiliki raut wajah khas Sicilia. Istrinya, Sylva, termasuk
salah satu wanita paling cantik yang pernah dilihat Oliver. Ia bintang film
sebelum menikah dengan Atilio. dan sampai sekarang masih populer di Itali.
Oliver tidak heran. Wanita itu memiliki mata cokelat yang berkesan sensual,
paras yang menawan, serta lekuk tubuh yang menyerupai wanita-wanita
telanjang pada lukisan karya Rubens. Ia 25 tahun lebih muda dari suaminya.
Senator Davis mengajak pasangan tersebut menemui Oliver dan
memperkenalkan mereka. "Ini kehormatan bagi saya," ujar Oliver. Pandangannya melekat pada istri
sang duta besar. Wanita itu tersenyum. "Saya sudah mendengar banyak tentang Anda."
"Semoga bukan hal-hal yang buruk."
"Saya..." Suaminya menyela. "Senator Davis sering memuji Anda."
Oliver menatap Sylva dan berkata. "Saya merasa tersanjung."
Senator Davis menggiring sang duta besar beserta istrinya ke tempat
tamu-tamu lain. Ketika kembali menghampiri Oliver, ia berkata, "Itu buah
terlarang, Gubernur. Sekali saja kaucicipi, berarti selamat tinggal masa
depan." "Tenang saja, Todd. Aku tidak..."
"Aku serius. Kau bisa dimusuhi dua negara sekaligus."
Pada akhir pesta, ketika Sylva dan suaminya berpamitan, Atilio berkata,
"Saya senang bisa berkenalan dengan Anda."
"Saya pun demikian."
Sylva memegang tangan Oliver dan berkata dengan lembut, "Kami
berharap dapat bertemu lagi dengan Anda."
Tatapan mereka bertemu. "Sama-sama."
Dan dalam hati Oliver berkata, Aku harus hati-hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dua minggu kemudian di Frankfort, Oliver sedang bekerja di kantor ketika
ia dihubungi sekretarisnya melalui interkom.
"Gubernur, Senator Davis ingin bertemu Anda."
"Senator Davis ada di sini?"
"Ya. Sir." "Persilakan dia masuk." Oliver tahu ayah mertuanya sedang
memperjuangkan undang-undang penting di Washington, dan Oliver
bertanya-tanya kenapa ia ada di Frankfort. Pintu membuka, dan sang senator
melangkah masuk. Ia disertai Peter Tager.
Senator Todd Davis tersenyum lebar dan merangkul pundak Oliver. "Apa
kabar, Gubernur?" "Ini kejutan menyenangkan, Todd." Ia berpaling kepada Peter Tager.
"Pagi, Peter."

Rencana Paling Sempurna The Best Laid Plans Karya Shidney Sheldon di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Pagi, Oliver."
"Moga-moga kedatanganku yang mendadak tidak mengganggu
pekerjaanmu," ujar Senator Davis.
"Sama sekali tidak. Apakah... apakah ada yang lak beres?"
Senator Davis menatap Tager dan tersenyum. "Oh. rasanya tidak ada
masalah apa-apa, Oliver. justru sebaliknya."
Oliver memperhatikan mereka sambil terheran-heran. "Aku tidak
mengerti." "Aku membawa kabar baik untukmu, Nak. Bagaimana kalau kita duduk
dulu?" "Oh, maaf. Mau minum" Kopi" Wiski...?"
"Tak usah. Kami sudah cukup gembira."
Sekali lagi Oliver bertanya-tanya dalam hati.
"Aku baru tiba dari Washington. Ada sekelompok orang berpengaruh yang
berpendapat bahwa kau presiden kita yang berikut."
Oliver tersentak kaget. "O ya?"
"Karena itulah aku kemari. Kurasa sudah waktunya kita mulai dengan
kampanyemu. Pemilihan umum tinggal kurang dari dua tahun lagi."
"Sekarang waktu yang tepat," ujar Peter Tager berapi-api. "Setelah
kampanye ini bergulir, seluruh dunia akan mengenalmu."
Senator Davis menambahkan, "Peter yang akan menangani kampanyemu.
Dia akan mengurus semuanya. Percayalah, tak ada manajer kampanye yang
lebih baik dari Peter."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Oliver menatap Tager dan berkata dengan hangat, "Aku sependapat."
"Aku senang kalau bisa membantu. Kita akan bersenang-senang, Oliver."
Oliver berpaling kepada Senator Davis. "Bukankah kampanye ini akan
menghabiskan banyak biaya?"
"Jangan kuatir soal itu. Kau akan menikmati layanan kelas satu dari awal
sampai akhir. Aku telah meyakinkan teman-teman baikku bahwa kaulah
orang yang patut mereka dukung." Ia mencondongkan badan ke depan.
"Jangan terlalu kauremehkan dirimu, Oliver. Beberapa bulan lalu ada survei
mengenai gubernur yang paling efektif di negeri ini, dan kau tercantum di
urutan ketiga dari atas. Nah, kau memiliki sesuatu yang tak dimiliki kedua
orang lain itu. Aku sudah pernah mengatakannya padamu"karisma. Itu
sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kau disukai rakyat, dan kau akan
memperoleh suara mereka."
Oliver semakin bersemangat. "Kapan kita mulai?"
"Kita sudah mulai," Senator Davis memberitahunya. "Kita akan menyusun
tim kampanye yang tangguh, dan kita akan menyiapkan utusan di semua
negara bagian." "Seberapa besar peluangku?"
"Pada tingkat penentuan bakal calon, kau akan melibas semua
sainganmu," jawab Tager. "Untuk tingkat pemilihan umum, posisi Presiden
Norton cukup kuat. Seandainya harus melawan dia, kau mungkin akan
mengalami kesulitan. Tapi berhubung sudah dua kali memangku jabatan
presiden, dia tak bisa ikut pemilu lagi, sedangkan Wakil Presiden Cannon
cuma bayangan yang pucat. Dengan sedikit sinar matahari dia pasti langsung
lenyap." Pembicaraan mereka berlangsung empat jam. Selelah segala hal selesai
dibahas, Senator Davis berkata kepada Tager, "Peter, tolong tunggu di luar
sebentar." "Tentu, Senator."
Sang senator dan Oliver memperhatikannya keluar ruangan.
Senator Davis berkata, "Tadi pagi aku bicara dengan Jan."
Seketika Oliver dihinggapi perasaan waswas. "Ya?"
Senator Davis menatap Oliver sambil tersenyum. "Dia bahagia sekali."
Oliver menarik napas lega. "Syukurlah."
"Aku ikut senang, Nak. Jagalah api di tungku supaya tetap menyala. Kau
mengerti maksudku, kan?"
"Jangan pikirkan soal itu, Todd. Aku..."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Senyum sang senator meredup. "Tapi aku memikirkannya, Oliver. Aku
takkan menyalahkanmu kalau kau sesekali mencari selingan"asal jangan
sampai jadi bandot."
Ketika bersama Peter Tager menyusuri lorong kegubernuran, sang senator
berkata, "Kau harus mulai membentuk staf. Uang tak jadi masalah. Pertamatama, kita akan membuka kantor kampanye di New York, Washington,
Chicago, dan San Francisco. Kita punya waktu dua belas bulan sebelum
seleksi bakal calon dimulai. Lalu masih ada enam bulan lagi sebelum konvensi
partai. Setelah itu mestinya tak ada hambatan lagi." Mereka sampai di mobil.
"Sekalian kau ikut ke bandara, Peter."
"Dia cocok sekali sebagai presiden."
Senator Davis mengangguk. Dan aku akan mendapatkan boneka yang bisa
kumainkan. Aku tinggal menarik tali, dan Presiden Amerika Serikat akan
bersuara. Sang senator mengeluarkan kotak cerutu dari emas. "Mau cerutu?"
Pemilihan bakal calon presiden di Seantero negeri berjalan lancar.
Pendapat Senator Davis tentang Peter Tager terbukti benar. Tager salah satu
manajer politik terbaik di dunia, dan ia berhasil membangun organisasi yang
betul-betul hebat. Karena taat beragama dan dikenal sebagai kepala keluarga
yang baik, Tager mampu menarik kelompok berhaluan kanan yang
konservatif. Karena mengetahui cara kerja politik, ia juga sanggup membujuk
kaum liberal untuk melupakan segala perbedaan pendapat dan bekerja sama.
Peter Tager adalah manajer kampanye yang cemerlang, dan tutup matanya
yang hitam menjadi pemandangan yang tak asing lagi di semua jaringan
televisi. Tager tahu bahwa jika Oliver ingin berhasil, Oliver harus mendapat
dukungan dari paling tidak dua ratus utusan saat konvensi partai digelar. Ia
berani nekad memastikan bahwa Oliver memperoleh dukungan tersebut.
Jadwal yang disusun Tager mencakup sejumlah kunjungan ke semua
negara bagian. Oliver mengamati program yang telah dipersiapkan untuknya, lalu berkata,
"Ini... ini tak mungkin, Peter!"
"Semuanya sudah dipertimbangkan masak-masak," Tager menenangkannya. "Senator Davis akan meminjamkan pesawat pribadinya.
Kita sudah menyiapkan orang-orang untuk membimbing setiap langkahmu,
dan kau akan selalu kudampingi."
Senator Davis memperkenalkan Sime Lombardo kepada Oliver. Perawakan
Lombardo bagaikan raksasa, tinggi-besar, segala sesuatu pada dirinya berTiraikasih Website http://kangzusi.com/
kesan suram. Ia pendiam, namun kehadirannya mampu membuat orang
merasa terintimidasi. "Apa tugas dia?" Oliver bertanya pada Senator Davis ketika mereka berdua
saja. Sang senator menjawab, "Tugas Sime adalah memecahkan masalah.
Kadang-kadang orang perlu dibujuk sedikit sebelum mau menyetujui sesuatu.
Sime sangat pandai meyakinkan orang."
Oliver tidak bertanya lebih jauh.
Ketika kampanye pemilihan presiden sesungguhnya dimulai, Peter Tager
menjelaskan secara terperinci kepada Oliver mengenai apa yang harus
dikatakannya, kapan harus mengatakannya, dan bagaimana harus
mengatakannya. Ia mengatur kunjungan Oliver ke semua negara bagian
kunci. Dan ke mana pun Oliver berkunjung, ia selalu menyampaikan katakata yang memang di nginkan rakyat.
Di Pennsylvania: "Manufaktur adalah tulang punggung negeri ini. Kita tidak
akan melupakan hal tersebut. Kita akan membuka kembali semua pabrik dan
mengembalikan Amerika ke jalur yang benar!"
Sorak-sorai. Di California: "Industri pesawat terbang merupakan salah satu aset paling
vital bagi Amerika. Tidak ada alasan untuk menutup satu pabrik pun.
Semuanya akan kita buka lagi."
Sorak-sorai. Di Detroit: "Kita yang menciptakan mobil, dan orang Jepang merampas
teknologi itu dari tangan kita. Kita akan merebut kembali posisi kita sebagai
nomor satu. Detroit akan kembali menjadi pusat industri mobil dunia!"
Sorak-sorai. Di kampus-kampus universitas, ia berbicara mengenai kredit mahasiswa
yang dijamin oleh pemerintah federal.
Di pangkalan-pangkalan militer, pidatonya terfokus pada kesiagaan.
Semula, ketika Oliver belum dikenal luas, peluangnya untuk memenangkan
pemilihan presiden relatif kecil. Namun semakin lama kampanye berlangsung,
semakin tinggi pula posisi yang berhasil diraihnya dalam berbagai jajak
pendapat. Di minggu pertama bulan Juli, lebih dari empat ribu utusan dan pengganti,
beserta ratusan pejabat partai dan bakal calon, berkumpul pada konvensi
yang diadakan di Cleveland. Mereka memeriahkan kota itu dengan pawai,
kendaraan hias, dan berbagai pesta. Kamera-kamera televisi dari seluruh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dunia meliput kegiatan tersebut. Peter Tager dan Sime Lombardo
memastikan bahwa Gubernur Oliver Russel selalu berada di depan lensa.
Dari partai Oliver ada enam orang yang disebut-sebut sebagai calon,
namun berkat kesibukan Senator Todd Davis di belakang layar, satu per satu
akhirnya gugur. Tanpa segan-segan ia menagih balas budi atas berbagai
bantuan yang pernah diberikannya, kadang-kadang dua puluh tahun lalu.
"Toby, ini Todd. Bagaimana kabar Emma dan Suzy" ...Syukurlah. Aku perlu
bicara soal putramu, Andrew. Aku menguatirkannya, Toby. Menurutku dia
terlalu liberal. Orang-orang Selatan takkan bisa menerimanya. Usulku
begini..." "Alfred. ini Todd. Bagaimana kabar Roy" ...Tak perlu berterima kasih. Aku
senang bisa membantunya. Aku ingin bicara mengenai kandidatmu, Jerry.
Menurutku, dia terlalu condong ke sayap kanan. Kalau tetap maju, kita akan
kehilangan daerah Utara. Nah, aku ingin mengusulkan begini..."
"Kenneth... ini Todd. Aku cuma ingin mengucapkan selamat karena urusan
real estate itu akhirnya berhasil. Tak percuma kita menunggu agak lama.
Omong-omong, kelihatannya kita perlu bicara tentang Slater. Dia lemah. Dan
kita tidak mungkin mendukung orang yang lemah, kan" ..."
Dan begitu seterusnya, sampai calon yang patut mendapat dukungan
partai boleh dibilang tinggal Gubernur Oliver Russel .
Proses nominasi berjalan lancar. Pada balot pertama, Oliver Russel
mendapat 700 suara: lebih dari 200 dari 6 negara bagian yang didominasi
industri di kawasan timur laut, 150 dari 6 negara bagian di New England, 40
dari 4 negara bagian di Selatan, 180 lagi dari 2 negara bagian agraris, dan
sisanya dari 3 negara bagian di Pantai Barat.
Peter Tager bekerja keras agar bola publisitas tetap menggelinding. Ketika
hasil perhitungan final diumumkan, Oliver keluar sebagai pemenang. Dan di
tengah kemeriahan suasana sirkus yang sengaja dikobarkan, Oliver Russel
dinominasikan dengan suara bulat.
Langkah berikut adalah penetapan calon wakil presiden. Melvin Wicks
merupakan pilihan sempurna. Ia orang California dengan pandangan politik
yang sejalan, pengusaha kaya raya, dan juga anggota Kongres yang
terpandang. "Mereka akan saling mengisi," ujar Tager. "Sekarang pekerjaan
sesungguhnya dimulai. Kita mengincar angka keramat"270." Jumlah suara
dewan pemilihan yang dibutuhkan untuk memenangkan pemilihan presiden.
Tager berkata kepada Oliver, "Rakyat menginginkan pemimpin berusia
muda... Tampan, punya rasa humor dan wawasan ke depan... Mereka ingin
mendengar betapa hebatnya mereka"dan kau harus membuat mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
percaya... Tampilkan kecerdasanmu, tapi jangan sampai menimbulkan kesan
menggurui... Kalau kau menyerang lawanmu, jangan serang pribadinya...
Jangan remehkan para wartawan. Perlakukan mereka sebagai teman, dan
mereka akan jadi temanmu... Hindarilah segala sesuatu yang berkesan genit.
Ingat... kau negarawan."
Kegiatan kampanye berlangsung nonstop. Pesawat jet Senator Davis
membawa Oliver ke Texas selama tiga hari, ke California selama sehari, ke
Michigan selama setengah hari, Massachusetts selama enam jam. Setiap
menit diperhitungkan secara cermat. Adakalanya Oliver mengunjungi sampai
sepuluh kota dan menyampaikan sepuluh pidato. Setiap malam ia menginap
di hotel yang berbeda, Drake di Chicago, St. Regis di Detroit, Carlyle di New
York City, Place d'Armes di New Orleans, sampai akhirnya semuanya seakan
berbaur menjadi satu. Ke mana pun Oliver pergi, ada mobil polisi yang
mendului iring-iringan, kumpulan massa, dan pemilih yang bersorak-sorai.
Jan mendampingi suaminya pada hampir semua kunjungan, dan Oliver
harus mengakui bahwa ia merupakan aset berharga. Ia cantik dan cerdas,
dan para wartawan menyukainya. Dari waktu ke waktu, Oliver membaca
berita tentang akuisisi terakhir yang dilakukan Leslie: surat kabar di Madrid,
stasiun televisi di Meksiko, stasiun radio di Kansas. Ia ikut senang melihat
sukses yang dicapai Leslie. Keberhasilan itu mengurangi rasa bersalah yang
menghantuinya. Ke mana pun pergi, Oliver selalu dikejar-kejar wartawan. Ia dipotret,
diwawancara, dan ucapannya dikutip. Kampanyenya diliput lebih dari seratus
koresponden dari segala penjuru dunia. Menjelang akhir masa kampanye,
Oliver Russel berhasil menduduki posisi teratas dalam jajak pendapat.
Namun secara tak terduga ia mulai tersusul oleh lawannya, Wakil Presiden
Cannon. Peter Tager tampak khawatir. "Posisi Cannon naik terus. Kita harus
menghentikannya." Wakil Presiden Cannon dan Oliver telah menyepakati dua debat di televisi.
"Cannon akan membahas perekonomian," Tager memberitahu Oliver. "Dia
memang jago dalam urusan ekonomi. Kita harus menyiasatinya. Begini
rencanaku...." Pada malam debat pertama, di depan kamera-kamera TV, Wakil Presiden
Cannon berbicara mengenai keadaan ekonomi. "Perekonomian Amerika
belum pernah semantap sekarang. Dunia usaha terus mengalami
pertumbuhan." Ia menghabiskan sepuluh menit untuk menguraikan topik
tersebut, dan semua pendapatnya didukung dengan fakta dan angka.
Ketika mendapat giliran, Oliver berkata, "Pemaparan yang baru saja kita
dengar sangat mengesankan. Saya yakin kita semua gembira bahwa bisnis
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
besar berkembang pesat dan meraup keuntungan besar." Ia menoleh kepada
lawannya. "Sayangnya Anda lupa menyinggung bahwa alasan di balik
keberhasilan perusahaan-perusahaan raksasa adalah apa yang oleh para
pakar manajemen digembar-gemborkan sebagai 'peningkatan efisiensi'.
Dalam dunia nyata, peningkatan efisiensi berarti pemecatan orang-orang
untuk digantikan dengan mesin. Tingkat pengangguran kini mencapai angka
yang tak pernah kita alami sebelumnya. Perhatian kita seharusnya terfokus
pada sisi manusia. Saya tidak sependapat dengan Anda bahwa keuntungan
finansial perusahaan besar lebih penting daripada manusia...." Dan begitu
seterusnya. Di mana Wakil Presiden Cannon membahas dunia bisnis, Oliver Russel
memilih pendekatan humanistis dan berbicara mengenai emosi dan peluang.
Ketika selesai menyampaikan pandangannya, ia berhasil menimbulkan kesan
bahwa Cannon tak lebih dari politikus berdarah dingin yang tidak
memedulikan rakyat Amerika Serikat.
Keesokan paginya terjadi pergeseran dalam jajak pendapat. Oliver Russel
berhasil mengejar ketertinggalannya sampai selisih tiga angka di belakang
Wakil Presiden, sedangkan kesempatan debat nasional masih ada sekali lagi.
Arthur Cannon menarik pelajaran dari kekalahannya. Pada debat final, ia
berdiri di depan mikrofon dan berkata, "Kita hidup di negeri di mana semua
orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama. Amerika dianugerahi
kebebasan, tapi itu saja belum cukup. Rakyat kita harus memperoleh
kebebasan bekerja, dan mencapai kehidupan makmur...."
la mementahkan serangan Oliver Russel dengan menguraikan semua
rencana yang telah disusunnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Namun Peter Tager telah mengantisipasi langkah tersebut. Oliver Russel


Rencana Paling Sempurna The Best Laid Plans Karya Shidney Sheldon di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menunggu Cannon kembali ke tempat duduknya, lalu menghampiri mikrofon.
"Uraian tadi sangat mengharukan. Saya yakin kita semua sangat tersentuh
oleh ulasan Anda mengenai penderitaan kaum pengangguran, dan. kalau
saya boleh meminjam istilah Anda, 'kaum terlupakan'. Namun ada satu hal
yang terasa mengganjal, yaitu Anda lupa menjelaskan bagaimana Anda akan
memenuhi semua janji yang baru saja Anda ucapkan." Selanjutnya. Oliver
Russel membahas rancangan ekonominya secara mendetail, sehingga sang
wakil presiden kembali dibuat tak berkutik.
Oliver, Jan, dan Senator Davis bersantap malam di kediaman sang senator
di Georgetown. Sang senator tersenyum kepada Jan. "Aku baru saja
mendapat hasil jajak pendapat terakhir. Kelihatannya kau sudah bisa mulai
menata ulang Gedung Putih."
Wajah Jan berseri-seri. "Ayah benar-benar percaya kita akan menang?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku bisa keliru mengenai banyak hal, Sayang, tapi tak pernah mengenai
politik. Bulan November; kita akan mempunyai presiden baru, dan orangnya
sedang duduk di sampingmu."
10 "SILAKAN kenakan sabuk pengaman."
"Ini dia! pikir Dana.
Ia menoleh kepada Benn Albertson dan Wal y Newman. Benn Albertson,
produser Dana, adalah pria berjanggut berusia empat puluhan yang tidak
bisa diam. Ia telah menghasilkan beberapa acara berita televisi dengan rating
tertinggi, dan ia sangat dihormati. Wal y Newman, juru kameranya, berusia
lima puluhan. Ia berbakat dan penuh semangat, dan sudah tak sabar
memulai tugasnya yang baru.
Dana memikirkan petualangan yang menanti mereka. Mereka akan singgah
di Paris dan kemudian terbang ke Zagreb, Kroasia, sebelum akhirnya tiba di
Sarajevo. Selama minggu terakhirnya di Washington, Dana mendapat brifing dari
Shel ey McGuire, editor luar negeri Tribune. "Kau perlu truk di Sarajevo untuk
mengirim liputanmu ke satelit," McGuire memberitahunya. "Kita tidak punya
truk di sana, jadi kita akan menyewa truk dan membeli waktu dari perusahaan Yugoslavia yang memiliki satelit. Nantinya kita mungkin akan
mengusahakan truk sendiri, tapi kita lihat dulu bagaimana perkembangannya.
Kau akan bekerja pada dua level. Beberapa berita akan kauliput live, tapi
sebagian besar akan direkam. Benn Albertson akan menjelaskan apa yang
dikehendakinya, kemudian kalian akan mengambil gambar dan merekam
suara di studio setempat. Kau kuberi produser dan juru kamera terbaik di
bisnis kita. Mestinya tak ada masalah."
Kelak Dana akan teringat ucapan optimis itu.
Sehari sebelum keberangkatan Dana, Matt Baker sempat meneleponnya.
"Coba datang ke kantorku." Nada bicaranya ketus.
"Aku segera ke sana." Dana agak waswas ketika menutup telepon. Janganjangan dia berubah pikiran tentang transferku dan tak mengizinkan aku
pergi. Tega betul dia berbuat begini. Hah, pikirnya geram, aku takkan tinggal
diam. Sepuluh menit kemudian Dana masuk ke ruang kerja Matt Baker.
"Aku tahu kenapa kau memanggilku," ia langsung angkat bicara, "tapi tak
ada gunanya. Aku tetap berangkat! Aku sudah memimpikan ini sejak masih
kecil. Aku yakin bisa berbuat sesuatu di sana. Kau harus memberiku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kesempatan untuk mencobanya." la menarik napas panjang. "Oke," kata
Dana dengan nada menantang. "Kau mau bilang apa tadi?"
Matt Baker menatapnya dan berkata pelan, "Bon voyage."
Dana berkedip. "Apa?"
"Bon voyage. Artinya 'selamat jalan'."
"Aku tahu apa artinya. Aku... kupikir kau menyuruhku kemari karena...?"
"Aku minta kau datang karena aku sempat bicara dengan sejumlah
koresponden luar negeri kita. Mereka memberi beberapa saran untuk
disampaikan padamu."
Pria berperangai galak itu ternyata telah meluangkan waktu untuk
berbicara dengan sejumlah koresponden luar negeri agar dapat membantu
Dana! "Aku... aku tak tahu bagaimana..."
"Kalau begitu, jangan," Matt Baker menggerung. 'Kau akan memasuki
kancah perang. Keselamatanmu tak bisa dijamin seratus persen, sebab
peluru tak peduli siapa yang diterjangnya. Tapi saat pertempuran
berlangsung, mungkin kau terbawa suasana. Kau akan cenderung melakukan
tindakan gegabah yang takkan kaulakukan dalam keadaan normal. Itu yang
harus kauwaspadai. Utamakan keselamatan. Jangan jalan-jalan sendirian.
Tak ada berita yang sepadan dengan nyawamu. Satu hal lagi..."
Kuliah itu berlanjut hampir sejam. Akhirnya, Matt Baker berkata, "Oke,
sekian dulu. Hati-hatilah. Aku akan marah sekali kalau sampai terjadi apa-apa
denganmu." Dana mencondongkan badan ke depan dan mencium pipinya.
"Jangan ulangi lagi," Baker menghardik. Ia bangkit. "Situasi di sana betulbetul gawat. Dana. Kalau kau berubah pikiran setelah sampai di sana dan
ingin pulang, segera hubungi aku, dan aku akan mengatur semuanya."
"Aku takkan berubah pikiran," Dana menyahut dengan mantap.
Nyatanya, ia keliru. Penerbangan ke Paris berlangsung tanpa gangguan. Setelah mendarat di
Charles de Gaul e Airport, mereka naik minibus bandara ke Croatia Airlines.
Penerbangan lanjutan tertunda selama tiga jam.
Pukul sepuluh malam itu, pesawat Croatia Airlines yang mereka tumpangi
mendarat di Butmir Airport di Sarajevo. Para penumpang digiring ke gedung
keamanan, tempat paspor mereka diperiksa oleh petugas-petugas
berseragam. Ketika Dana menuju ke pintu keluar, ia dicegat oleh pria pendek
bertampang tidak menyenangkan yang memakai pakaian sipil. "Paspor."
"Tadi sudah saya perlihatkan pada..."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya Kolonel Gordan Divjak. Paspor Anda."
Dana menyerahkan paspor berikut kartu persnya.
Si kolonel memeriksa semuanya dengan teliti. "Wartawan?" Ia menatap
Dana sambil memicingkan mata. "Anda di pihak siapa?"
"Saya tidak berpihak kepada siapa pun," Dana menyahut dengan nada
datar. "Berhati-hatilah dengan laporan Anda," Kolonel Divjak memperingatkannya. "Kami tidak memberi ampun kepada mata-mata."
Selamat datang di Sarajevo.
Mereka dijemput Land Rover berlapis baja. Pengemudinya pemuda dua
puluhan berkulit gelap. "Saya Jovan Tolj, siap melayani Anda. Saya sopir
Anda selama di Sarajevo."
Jovan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ia membelok
tanpa menginjak rem, dan melintasi jalan-jalan yang lengang seakan dikejarkejar. "Maaf," Dana menegurnya dengan gugup. "Apakah ada alasan khusus
untuk terburu-buru seperti ini?"
"Ada, kalau Anda ingin selamat sampai di tempat tujuan."
Di kejauhan Dana mendengar gemuruh guntur, dan bunyi itu seolah
bertambah dekat. Suara yang didengarnya bukan gemuruh guntur. Dalam
kegelapan, Dana melihat gedung-gedung dengan sisi depan hancur,
bangunan-bangunan apartemen tanpa atap, toko-toko tanpa kaca jendela. Di
depan terlihat gedung Holiday Inn, tempat mereka akan menginap. Bagian
muka gedung itu tampak bopeng, dan di jalan masuk mobil terdapat lubang
menganga. Mereka melewatinya tanpa mengurangi kecepatan.
"Tunggu! Ini hotel kami," seru Dana. "Kami mau dibawa ke mana?"
"Lewat pintu depan terlalu berbahaya," ujar Jovan. Ia membelok dan
melesat ke gang. "Semua orang masuk lewat pintu belakang."
Mulut Dana mendadak kering kerontang. "Oh."
Lobi Holiday Inn dipadati orang-orang yang berdiri mengelompok sambil
mengobrol. Seorang pemuda Prancis yang tampan menghampiri Dana. "Ah,
kami sudah menunggu Anda. Anda wartawati dari Amerika itu, bukan?"
"Ya, saya Dana Evans."
"Jean Paul Hubert, M6, Metropole Television."
"Ini Benn Albertson dan Wal y Newman." Dana memperkenalkan kedua
rekannya. Mereka bersalaman.
"Selamat datang di kota kita yang porak-poranda."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang-orang lain mendekat untuk menyambut para pendatang baru. Satu
per satu mereka memperkenalkan diri.
"Steffan Muel er, Kabel Network."
"Roderick Munn, BBC 2."
"Marco Benel i, Italia."
"Akihiro Ishihara, TV Tokyo."
"Juan Santos, Channel 6, Guadalajara."
"Chun Qian, Shanghai Television."
Dana mendapat kesan bahwa semua negara di dunia menempatkan
wartawan di Sarajevo. Acara perkenalan itu seolah tak ada habisnya. Giliran
terakhir jatuh pada wartawan Rusia berbadan kekar dengan gigi emas
berkilauan. "Nikolai Petrovich, Gorizont 22."
"Berapa jumlah wartawan di sini?" Dana bertanya pada Jean Paul.
"Lebih dari 250. Jarang ada perang yang seramai ini. Ini yang pertama
buat Anda?" Ia bersikap seperti sedang membicarakan pertandingan tenis. "Ya."
Jean Paul berkata, "Kalau Anda perlu bantuan, jangan segan-segan
menghubungi saya." "Terima kasih." Dana terdiam sejenak. "Ehm, siapa Kolonel Gordan
Divjak?" "Oh, Anda sudah bertemu dia" Kami menduga dia dari polisi rahasia
Serbia, tapi tak ada yang tahu pasti. Sebaiknya Anda menghindari orang itu."
"Oke." Ketika Dana bersiap-siap tidur malam itu, tiba-tiba terdengar ledakan
dahsyat dari seberang jalan, disusul ledakan kedua. Seluruh ruangan
bergetar. Kejadian itu betul-betul menakutkan, tapi sekaligus mengasyikkan.
Kesannya seperti adegan dalam film. Sepanjang malam Dana terjaga di
tempat tidur. Ia tidak dapat memejamkan mata akibat gemuruh mesin-mesin
perang dan kilatan cahaya yang tak henti-hentinya terpantul di jendela
kamarnya yang kotor. Keesokan paginya Dana berpakaian"jeans, sepatu bot, rompi antipeluru.
Ia merasa canggung, namun di pihak lain: "Utamakan keselamatan... Tak
ada berita yang sepadan dengan nyawamu."
Dana, Benn, dan Wal y berkumpul di restoran di lobi. Mereka bercerita
mengenai keluarga masing-masing.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ada kabar baik yang lupa kuceritakan," ujar Wal y. "Aku akan mendapat
cucu bulan depan." "Wah, selamat!" Dan dalam hati Dana bertanya: Apakah aku akan punya
anak atau cucu" Que sera sera.
"Aku punya ide," kata Benn. "Kita mulai dengan liputan mengenai situasi
secara keseluruhan, lalu kita perlihatkan bagaimana pengaruhnya terhadap
kehidupan masyarakat setempat. Wal y dan aku akan mencari lokasi
pengambilan gambar yang cocok. Sementara kami pergi, bagaimana kalau
kau mencari tahu di mana kita bisa menyewa saluran satelit, Dana?"
"Oke." Jovan Tolj dan Land Rover-nya sudah menunggu di gang samping hotel.
"Dobro jutro. Selamat pagi."
"Selamat pagi, Jovan. Aku mencari tempat yang menyewakan saluran
satelit." "Saya tahu tempatnya," ujar Jovan. Mereka segera berangkat.
Baru sekarang Dana bisa melihat kota Sarajevo dengan jelas. Sekilas
tampaknya tak ada satu bangunan pun yang bebas dari kerusakan akibat
perang. Letusan senapan terdengar tanpa henti.
"Apakah mereka tak pernah berhenti?" tanya Dana.
"Mereka akan berhenti kalau kehabisan peluru,"
Jovan menyahut dengan getir. "Dan mereka tak pernah kehabisan peluru."
Semua jalanan lengang. Hanya segelintir pejalan kaki yang berani
melintas. Tak satu kafe pun buka. Permukaan jalan penuh lubang bekas
tembakan artileri. Mereka melewati gedung Oslobodjenje.
"Itu surat kabar kami," kata Jovan dengan bangga. "Orang-orang Serbia
terus berusaha menghancurkannya, tapi mereka takkan mampu."
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di kantor perusahaan satelit. "Saya
menunggu di luar saja," ujar Jovan.
Petugas penerima tamu di balik meja di lobi ternyata seorang pria yang
kelihatannya berusia delapan puluhan.
"Anda bisa berbahasa Inggris?" tanya Dana.
Pria tua itu menatapnya sambil menghela napas panjang. "Saya menguasai
sembilan bahasa, Madam. Apa keperluan Anda?"
"Saya dari WTE. Saya bermaksud menyewa saluran satelit dan
mengatur..." Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lantai tiga." Papan nama pada pintu di lantai tiga bertulisan: YUGOSLAVIA SATELLITE
DIVISION. Ruang tunggunya penuh orang yang duduk di bangku-bangku
kayu di sepanjang dinding. Dana menghampiri wanita muda di balik meja
resepsionis. "Saya Dana Evans, dari WTE. Saya ingin menyewa saluran
satelit." "Silakan duduk dan tunggu giliran."
Dana memandang berkeliling. "Semua orang di sini mau menyewa saluran
satelit?" Wanita itu menatapnya dan menjawab, "Tentu saja."
Dana harus menunggu hampir dua jam sebelum gilirannya tiba. Ia
menemui manajer perusahaan tersebut, seorang pria pendek-gemuk dengan
cerutu terselip di bibir; penampilan orang itu seperti prototipe produser
Hol ywood di film-film kuno.
Ia berbicara dengan logat kental. "Bagaimana saya bisa membantu Anda?"
"Saya Dana Evans, dari WTE. Saya perlu truk pemancar, dan saya ingin
menyewa saluran satelit selama setengah jam. Untuk pukul enam waktu
Washington. Dan saya minta waktu yang sama setiap hari. Saya belum bisa
memastikan sampai kapan." Ia mengamati ekspresi pria itu. "Ada masalah?"
"Satu. Semua truk pemancar sudah dipesan orang lain. Saya akan
menghubungi Anda kalau ada yang membatalkannya."
Dana menatapnya sambil mengerutkan kening. "Tidak ada..." Tapi saya
butuh saluran satelit," katanya. "Saya..."
"Orang lain pun demikian, Madam. Kecuali mereka yang memiliki truk
sendiri, tentu saja."
Ketika Dana keluar dari ruang kerja manajer, jumlah orang yang memadati
ruang tunggu ternyata sudah bertambah lagi. Aku harus cari akal, ujarnya
dalam hati. Ketika keluar dari kantor perusahaan satelit, Dana memberitahu Jovan,
"Saya ingin diantar keliling kota."
Sejenak Jovan menatapnya sambil mengerutkan kening. Kemudian ia
berkata, "Terserah Anda saja." la menghidupkan mesin dan segera memacu
mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Jangan kencang-kencang. Saya perlu merasakan suasana tempat ini."
Sarajevo adalah kota yang sedang sekarat. Jaringan listrik dan air bersih
sudah lama terputus, dan jumlah rumah yang hancur akibat ledakan bom
bertambah banyak dari jam ke jam. Raungan alarm serangan udara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terdengar demikian sering, sehingga orang-orang tidak

Rencana Paling Sempurna The Best Laid Plans Karya Shidney Sheldon di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lagi menghiraukannya. Semua warga kota tampaknya telah pasrah pada nasib.
Jika memang ditakdirkan tewas karena peluru, tak ada gunanya
bersembunyi. Di hampir setiap sudut jalan terdapat kelompok pria, wanita, dan anakanak yang berusaha menjual barang-barang milik mereka yang masih tersisa.
"Mereka pengungsi dari Bosnia dan Kroasia," Jovan menjelaskan. "Mereka
mencari uang untuk membeli makanan."
Api berkobar di mana-mana. Tak satu petugas pemadam kebakaran pun
terlihat. "Apakah di sini tidak ada dinas pemadam kebakaran?" tanya Dana.
Jovan angkat bahu. "Ada, tapi mereka tidak berani datang. Mereka sasaran
empuk bagi para penembak gelap Serbia."
Mula-mula, Dana kurang memahami perang yang terjadi di BosniaHerzegovina. Tapi setelah berada di Sarajevo selama seminggu, ia sadar
bahwa perang itu memang tidak masuk akal. Tak ada yang bisa
menjelaskannya. Dana sempat mencatat nama seorang profesor dari
universitas setempat. Ahli sejarah terkenal itu mengalami luka-luka dalam
suatu baku tembak, dan kini tak dapat meninggalkan rumahnya. Dana
memutuskan untuk menemuinya.
Ia diantar Jovan ke salah satu kawasan tua di Sarajevo, tempat sang
profesor tinggal. Profesor Mladic Staka ternyata pria kecil berambut kelabu
yang terkesan rapuh. Ia menderita kelumpuhan karena tulang punggungnya
remuk diterjang peluru. "Terima kasih atas kunjungan Anda," ia berkata. "Belakangan ini saya
jarang menerima tamu. Anda bilang Anda perlu bicara dengan saya."
"Ya. Saya ditugaskan meliput perang ini," Dana menjelaskan. "Tapi terus
terang, saya tidak memahami apa yang terjadi di sini."
"Alasannya sederhana saja, Nona. Perang di Bosnia-Herzegovina ini
memang tidak mungkin dipahami. Selama berpuluh-puluh tahun para warga
Serbia, Kroasia, Bosnia, dan Muslim di sini hidup berdampingan dengan rukun
dan damai, di bawah pemerintahan Tito. Mereka berteman dan bertetangga.
Mereka tumbuh bersama-sama, bekerja bersama-sama. belajar di sekolah
yang sama. Perkawinan antarsuku merupakan hal biasa."
"Dan sekarang?"
"Sekarang orang-orang yang sama saling menyiksa dan membunuh.
Kebencian di antara mereka telah memicu hal-hal yang tak bisa saya sebut,
karena terlalu mengerikan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya sempat mendengar beberapa cerita," ujar Dana. Cerita-cerita yang
didengarnya nyaris tak mungkin dipercaya: sumur yang penuh buah zakar
manusia, bayi-bayi diperkosa dan disembelih, penduduk desa tak berdosa
dikurung dalam gereja yang selanjutnya dibakar.
"Siapa yang memulai semuanya ini?" tanya Dana. Si profesor menggeleng.
"Tergantung siapa yang Anda tanya. Dalam Perang Dunia Kedua, ratusan
ribu warga keturunan Serbia, yang berpihak kepada Sekutu, dibantai oleh
warga keturunan Kroasia, yang berada di pihak Nazi. Sekarang orang-orang
keturunan Serbia melakukan pembalasan dendam berdarah. Mereka
menyandera seluruh negeri, dan mereka tak kenal ampun. Lebih dari
200.000 peluru artileri telah jatuh di Sarajevo. Paling tidak 10.000 orang
tewas dan lebih dari 60.000 mengalami luka-luka. Warga Bosnia dan Muslim
ikut bertanggung jawab atas penyiksaan dan pembunuhan yang telah terjadi.
Orang-orang yang tidak menginginkan perang pun dipaksa turut serta.
Semua orang saling mencurigai. Satu-satunya yang tersisa adalah kebencian.
Yang kita hadapi di sini adalah
kobaran api yang memangsa orang-orang tak berdosa."
Ketika Dana kembali ke hotelnya sore itu, Benn Albertson sudah
menunggu. Rupanya Benn telah menerima pesan bahwa mereka akan
mendapatkan truk pemancar dan saluran satelit pukul enam sore hari
berikutnya. "Aku sudah menemukan tempat ideal untuk pengambilan gambar," Wal y
Newman memberitahu Dana. "Ada lapangan dengan gereja Katolik, mesjid,
gereja Protestan, dan sinagoga, semuanya berdekatan. Semuanya rusak
parah karena terkena bom. Kau bisa menulis tentang kebencian yang tak
pandang bulu, dan bagaimana pengaruhnya terhadap orang-orang di sini,
yang sebenarnya tidak mau terlibat tapi terpaksa menderita akibat perang."
Dana mengangguk. "Oke. Sampai ketemu waktu makan malam nanti. Aku
mau langsung mulai bekerja saja." Ia menuju ke kamarnya.
Pukul enam keesokan sorenya, Dana, Wal y, dan Benn berdiri di lapangan
tempat-tempat ibadah yang hancur itu berada. Wal y sudah selesai memasang kamera TV-nya pada tripod, dan Benn sedang menunggu konfirmasi
dari Washington bahwa sinyal satelit telah diterima. Dana mendengar letusan
senapan penembak gelap, tidak jauh dari tempat mereka berada. Kini ia
bersyukur mengenakan rompi antipeluru. Tenang saja. Yang di ncar bukan
kita. Mereka hanya saling menembak. Mereka membutuhkan kita untuk
menyampaikan kisah mereka ke seluruh dunia.
Dana melihat Wal y memberi aba-aba. Ia menarik napas dalam-dalam,
menghadap lensa kamera, lalu mulai dengan laporannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bangunan-bangunan gereja yang hancur di belakang saya merupakan
simbol dari kejadian yang menimpa negeri ini. Tak ada lagi tempat
bersembunyi bagi rakyat, tak ada lagi tempat aman. Di masa lampau, orang
dapat berlindung di dalam gereja. Tapi di sini, masa lalu, masa sekarang, dan
masa depan sudah bercampur baur dan..."
Tiba-tiba ia mendengar bunyi mendesing yang semakin nyaring. Ia
menoleh, dan melihat kepala Wal y meledak bagaikan semangka yang jatuh
ke lantai. Aku cuma salah lihat, pikir Dana. Dan kemudian, dengan terbelalak,
ia menyaksikan tubuh Wal y roboh ke trotoar. Dana berdiri mematung,
seakan tak percaya. Orang-orang di sekitarnya menjerit-jerit.
Bunyi tembakan beruntun semakin dekat, dan Dana mulai gemetaran tak
terkendali. Beberapa tangan menyambarnya, dan menyeretnya menjauh.
Dana berusaha melepaskan diri.
Jangan! Kita harus kembali. Jatah waktu kita belum habis. Kita tak boleh
menyia-nyiakan apa pun. "Habiskan supmu. Sayang. Di Cina banyak anak
kecil yang kelaparan." Ini tak adil. Tak adil. Kenapa harus Wal y" Dia sedang
menunggu kelahiran cucu pertamanya. Ini tak adil!
Dana antara sadar dan tidak. Ia menurut saja ketika digiring ke mobil
mereka melalui jalan belakang.
Ketika Dana membuka mata. ia sudah terbaring di kamar hotelnya. Benn
Albertson dan Jean Paul Hubert berdiri di samping tempat tidur.
Dana menatap wajah mereka. "Jadi ini bukan mimpi?" Ia memejamkan
mata rapat-rapat. "Aku turut berdukacita," ujar Jean Paul. "Kejadian ini mengerikan sekali.
Kau beruntung tak ikut terbunuh."
Dering pesawat telepon memecahkan keheningan. Benn mengangkat
gagangnya. "Halo." Sejenak ia mendengarkan lawan bicaranya. "Ya. Tunggu
sebentar." Ia berpaling kepada Dana. "Dari Matt Baker. Kau sanggup terima
telepon?" "Ya." Dana duduk tegak. Sesaat kemudian ia turun dari tempat tidur dan
menghampiri pesawat telepon. "Halo." Tenggorokannya kering kerontang,
dan ia sulit berbicara. Suara Matt Baker terdengar menggelegar. "Aku minta kau segera pulang,
Dana." Dana hanya bisa berbisik-bisik. "Ya, aku ingin pulang."
"Aku akan memesan tiket untuk pesawat pertama yang berangkat dari
sana." Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terima kasih." Dana menutup telepon. Jean Paul dan Benn membantunya
kembali ke tempat tidur. "Aku turut berdukacita." ujar Jean Paul sekali lagi.
Air mata Dana berlinangan. "Kenapa mereka membunuhnya" Dia tak
pernah menyakiti siapa pun. Kenapa ini bisa terjadi" Orang dibantai seperti
hewan dan tak ada yang peduli. Tak ada yang peduli!"
Benn berkata, "Dana, tak ada yang bisa kita perbuat..."
"Harus ada!" Suaranya bergetar karena marah. "Kita harus membuat
mereka peduli. Perang ini bukan soal gereja atau bangunan atau jalanan
yang hancur. Ini soal manusia"orang-orang tak berdosa"yang mati sia-sia.
Itulah yang harus kita liput. Itulah satu-satunya cara agar perang ini
mendapat perhatian." Ia berpaling kepada Benn dan menarik napas panjang.
"Aku akan tetap di sini, Benn. Aku takkan lari ketakutan."
Benn menatapnya sambil mengerutkan kening. "Dana, kau benar-benar
yakin...?" "Ya. Aku sudah tahu sekarang apa yang harus kulakukan. Maukah kau
menelepon Matt dan memberitahunya?"
Dengan berat hati Benn menjawab, "Kalau memang itu yang
kaukehendaki." Dana mengangguk, la memperhatikan Benn meninggalkan ruangan.
Jean Paul angkat bicara. "Ehm, kau harus beristirahat dan..."
"Tunggu." Sejenak Dana teringat bagaimana kepala Wal y meledak dan
tubuhnya terempas ke trotoar. "Jangan pergi," ujar Dana. Ia menatap Jean
Paul. "Aku tak ingin sendirian."
Jean Paul duduk di tempat tidur. Dana langsung memeluk dan
mendekapnya erat-erat. Keesokan paginya, Dana berkata kepada Benni Albertson, "Kau bisa
mencarikan juru kamera. Aku mendengar cerita dari Jean Paul tentang rumah
yatim-piatu di Kosovo yang baru saja dibom. Aku ingin ke sana dan
meliputnya." "Aku akan mengusahakannya."
"Thanks, Benn. Aku berangkat duluan. Kita ketemu di sana nanti."
"Hati-hati." "Jangan kuatir."
Jovan menunggu Dana di gang.
"Kita akan ke Kosovo," Dana memberitahunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jovan menatapnya. "Itu berbahaya, Madam. Untuk ke sana kita harus
lewat hutan, dan..."
"Kita sudah cukup banyak terkena sial, Jovan. Takkan terjadi apa-apa."
"Terserah Anda saja."
Mereka melaju melintasi kota, dan lima belas menit kemudian mereka
sudah memasuki daerah berhutan lebat.
"Masih jauh?" tanya Dana.
"Tidak. Kira-kira..."
Dan pada detik itu juga, Land Rover mereka' melindas ranjau darat.
11 KETIKA tanggal pemilihan umum semakin dekat, persaingan di antara
kedua calon presiden pun semakin ketat.
"Kita harus menang di Ohio," kata Peter Tager. "Itu berarti 21 suara dewan
pemilihan. Posisi kita di Alabama sudah aman"itu 9 suara"dan ke-25 suara
dari Florida juga sudah di kantong kita." Ia memperlihatkan bagan. "Il inois,
22 suara... New York, 33, dan California, 44. Huh, sekarang masih terlalu
pagi untuk membuat prediksi."
Semua orang prihatin, kecuali Senator Davis.
"Aku punya penciuman tajam," ujarnya. "Dan aku mencium kemenangan."
Sementara itu, Miriam Friedland masih terbaring dalam keadaan koma di
rumah sakit di Frankfort.
Pada hari pemilihan umum, Selasa pertama di bulan November, Leslie
tinggal di rumah untuk menyaksikan penghitungan suara melalui TV. Oliver
Russel menang dengan selisih lebih dari dua juta suara langsung dan
mayoritas suara dewan pemilihan. Oliver Russel telah menjadi presiden,
sasaran paling besar di dunia.
Tak ada yang lebih cermat mengikuti kampanye pemilihan daripada Leslie
Stewart Chambers. Ia senantiasa memperluas kerajaan bisnisnya, dan telah
membeli serangkaian surat kabar serta stasiun TV dan radio, bukan hanya di
seluruh Amerika Serikat, melainkan juga di Inggris, Australia, serta Brasil.
"Kapan Anda akan merasa cukup?" tanya pemimpin redaksinya, Darin
Solana. "Sebentar lagi," jawab Dana. "Sebentar lagi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ada satu langkah yang masih tersisa, dan kesempatan yang ditunggutunggunya muncul pada acara makan malam di Scottsdale.
Seorang tamu berkata, "Saya mendapat kabar bahwa Margaret Portman
akan bercerai." Margaret Portman adalah pemilik Washington Tribune, yang
berkantor pusat di ibu kota.
Leslie tidak berkomentar, tapi pagi berikutnya segera menelepon Chad
Morton, salah satu pengacaranya. "Kuminta kau mencari tahu apakah Washington Tribune hendak dijual."
Ia menerima jawabannya pada hari yang sama. "Aku tak tahu dari mana
kau mendapat informasi itu, Mrs. Chambers, tapi barangkali kau benar. Mrs.
Portman dan suaminya sudah sepakat untuk cerai, dan keduanya sedang
membagi semua harta milik mereka. Tampaknya Washington Tribune
Enterprises akan dijual."
"Aku ingin membelinya."
"Ini transaksi raksasa. Aset milik Washington Tribune Enterprises
mencakup rangkaian surat kabar, majalah, jaringan televisi, dan..."
"Aku menginginkannya."
Sore itu, Leslie dan Chad Morton sudah dalam perjalanan menuju ke
Washington, D.C. Leslie menelepon Margaret Portman. Mereka sempat berkenalan beberapa
tahun lalu, tapi sejak itu tidak pernah bertemu lagi.
"Aku sedang di Washington," ujar Leslie, "dan aku..."
"Aku tahu." Kabar burung memang cepat menyebar, pikir Leslie. "Kudengar kau
mungkin ingin menjual Tribune Enterprises."
"Bisa jadi." "Barangkali aku bisa melihat-lihat kantor itu."
"Kau berminat membelinya, Leslie?"
"Bisa jadi." Margaret Portman memanggil Matt Baker. "Kau tahu siapa Leslie
Chambers?" "Si Putri Es. Tentu."
"Sebentar lagi dia akan kemari. Tolong antarkan dia melihat-lihat kantor
kita." Semua orang di Tribune sadar bahwa tempat kerja mereka akan berganti
pemilik. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kau akan membuat kesalahan kalau menjual Tribune pada Leslie
Chambers." ujar Matt Baker tanpa tedeng aling-aling.
"Kenapa kau berpendapat begitu?"
"Pertama, aku sangsi dia benar-benar menguasai bisnis surat kabar. Kau
tahu apa yang dilakukannya dengan koran-koran lain yang dibelinya" Dia
mengubah koran-koran berwibawa menjadi tabloid murahan. Tribune akan
hancur di tangannya. Dia..."
Ia menoleh. Leslie Chambers berdiri di pintu sambil mendengarkannya.
Margaret Portman langsung menyambutnya. "Leslie! Apa kabar" Ini Matt
Baker, pemimpin umum Tribune Enterprises."
Mereka bertegur sapa seperlunya.
"Matt akan mengantarmu berkeliling."
"Aku sudah tak sabar."
Matt Baker menarik napas panjang. "Baiklah. Kita langsung mulai saja."
Pada awal perjalanan itu, Matt Baker berkata dengan nada diramahramahkan, "Struktur organisasi di sini sebagai berikut: Posisi puncak
ditempati pemimpin umum..."
"Berarti Anda, Mr. Baker."
"Betul. Di bawah saya ada redaktur pelaksana dan staf redaksi. Itu
mencakup Metro. Nasional, Luar Negeri, Olahraga. Bisnis, Gaya Hidup,
Tokoh, Kalender, Buku, Real Estate, Pariwisata, Tata Boga... mungkin ada
beberapa yang terlewatkan."
"Luar biasa. Berapa banyak karyawan Washington Tribune Enterprises, Mr.
Baker?" "Lebih dari lima ribu."


Rencana Paling Sempurna The Best Laid Plans Karya Shidney Sheldon di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mereka melewati meja copy. "Di sinilah editor berita menyusun tata letak
halaman. Dia yang menentukan penempatan semua foto dan artikel. Bagian
copy menulis judul berita, menyunting artikel, lalu menggabungkan keduanya
di ruang composing."
"Menarik sekali."
"Anda berminat melihat gedung percetakan?"
"Oh, ya. Saya ingin melihat semuanya."
Matt Baker menggerutu pelan-pelan. "Maaf?"
"Saya hanya bilang, 'Baiklah.'"
Mereka turun dengan lift dan berjalan kaki ke bangunan sebelah, yang
setinggi gedung bertingkat empat dan seluas empat lapangan bola. Segala
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sesuatu di ruangan raksasa tersebut telah diotomatisasi. Ada tiga puluh
kereta robot yang mengangkut gulungan kertas besar ke berbagai tempat.
Baker menjelaskan, "Berat masing-masing gulungan kertas itu lebih dari
satu ton. Seandainya digelar, panjang kertasnya hampir tiga belas kilometer.
Kertasnya melewati mesin cetak dengan kecepatan tiga puluh tiga kilometer
per jam. Beberapa kereta yang lebih besar sanggup membawa enam belas
gulungan sekaligus."
Ada enam mesin cetak, tiga di masing-masing sisi ruangan. Leslie dan Matt
Baker menyaksikan koran-koran dicetak, dipotong, dilipat, ditumpuk, di kat,
dan dibawa ke truk-truk yang sudah menunggu, semuanya secara otomatis.
"Dulu diperlukan tiga puluh orang untuk menyelesaikan pekerjaan yang
sekarang dapat ditangani satu orang saja," ujar Matt Baker. "Ini zaman
teknologi." Leslie menatapnya sejenak. "Ini zaman peningkatan efisiensi."
"Soal biaya operasi mungkin terlalu membosankan untuk Anda," Matt
Baker berkata sambil lalu. "Barangkali lebih baik kalau pengacara atau akuntan Anda saja yang..."
"Saya menaruh perhatian besar pada masalah itu, Mr. Baker. Anggaran
editorial Anda berjumlah 15 juta dolar. Sirkulasi harian Anda adalah 816.000,
474, dan 1.140.000, 498 untuk edisi Minggu, sedangkan indeks iklan Anda
mencapai 68,2." Matt menatapnya sambil berkedip-kedip.
"Sirkulasi harian untuk semua surat kabar dalam grup Anda mencapai lebih
dari 2 juta, dan 2,4 juta pada hari Minggu. Tapi ini tidak berarti surat kabar
Anda terbesar di dunia, bukankah begitu, Mr. Baker" Dua surat kabar
terbesar di dunia terbit di London. Yang paling besar adalah Sun, dengan
tiras harian sebesar 4 juta. Daily Mirror terjual 3 juta eksemplar setiap hari."
Baker menarik napas dalam-dalam. "Maaf. Saya tidak tahu Anda..."
"Di Jepang terdapat lebih dari 200 harian, termasuk Asahi Shimbun,
Mainchi Shimbun, dan Yomiuri Shimbun. Anda masih bisa mengikuti saya?"
"Ya. Saya minta maaf kalau saya berkesan menggurui."
"Baik, Mr. Baker. Mari kita kembali ke kantor Mrs. Portman."
*** Pagi hari berikutnya, Leslie berada di ruang rapat eksekutif di gedung
Washington Tribune. Ia berhadapan dengan Mrs. Portman dan setengah lusin
pengacara. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mari kita bicara soal harga," ujar Leslie. Pembicaraan mereka berlangsung
empat jam, dan setelah selesai, Leslie Stewart Chambers telah menjadi
pemilik baru Washington Tribune Enterprises.
Harga yang akhirnya disepakati ternyata lebih tinggi daripada yang
diantisipasi Leslie. Tapi ia tidak ambil pusing.
Ada hal yang lebih penting.
Pada hari Washington Tribune Enterprises resmi berpindah tangan, Leslie
memanggil Matt Baker. "Bagaimana rencana Anda selanjutnya?" tanya Leslie.
"Saya akan mengundurkan diri."
Leslie menatapnya sambil mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Reputasi Anda tak bisa dibilang bagus. Banyak orang tidak suka bekerja
untuk Leslie Chambers. Kalau tak salah, mereka sering memakai kata 'bengis'
untuk menggambarkan Anda. Saya tidak membutuhkannya. Tribune adalah
surat kabar bermutu, dan saya enggan meninggalkannya, tapi saya sudah
mendapat tawaran kerja dari mana-mana."
"Berapa lama Anda bekerja di sini?"
"Lima belas tahun."
"Dan Anda akan mencampakkannya begitu saja?"
"Saya tidak mencampakkan apa pun, saya..."
Leslie menatapnya. "Dengarkan dulu. Saya sependapat bahwa Tribune
surat kabar yang bermutu, tapi saya menginginkan surat kabar yang hebat.
Saya berharap Anda membantu saya."
"Tidak. Saya..."
"Enam bulan. Cobalah selama enam bulan. Kita mulai dengan
melipatduakan gaji Anda."
Kini giliran Baker yang menatap Leslie. Wanita itu muda, cantik, dan
cerdas. Tapi... Baker mempunyai firasat buruk.
"Siapa yang akan berkuasa di sini?"
Leslie tersenyum. "Anda pemimpin umum Washington Tribune Enterprises.
Tentu saja Anda." Dan Matt Baker mempercayainya.
12 ENAM bulan telah berlalu sejak Land Rover yang ditumpangi Dana
melindas ranjau darat. Ia lolos dari maut dan hanya menderita gegar otak,
retak tulang iga, pa tah pergelangan tangan dan luka-luka memar. Jovan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengalami patah kaki dan berbagai luka ringan. Malam itu Dana ditelepon
Matt Baker, yang memerintahkannya untuk segera kembali ke Washington,
namun insiden yang menimpa Dana justru memperkuat tekadnya untuk tetap
tinggal. "Keadaan di sini sangat menyedihkan. Aku tak bisa pergi begitu saja. Kalau
kauperintahkan pulang, aku akan berhenti."
"Kau mencoba memerasku?"
"Ya." "Sudah kuduga," Matt menyahut dengan ketus. "Aku tak bisa diperas siapa
pun. Mengerti?" Dana menunggu. "Bagaimana kalau kau cuti saja?" tanya Matt. "Aku tak perlu cuti."
Dana mendengarnya menghela napas lewat telepon.
"Baiklah. Kau tetap di sana. Tapi, Dana..."
"Ya?" "Berjanjilah kau akan hati-hati."
Dari luar hotel terdengar bunyi tembakan senapan mesin. "Oke."
Kota Sarajevo digempur sepanjang malam. Dana tidak bisa tidur. Setiap
ledakan mortir berarti satu bangunan lagi yang hancur, satu keluarga lagi
yang kehilangan tempat tinggal, atau bahkan tewas mengenaskan.
Pagi-pagi sekali, Dana dan krunya sudah turun ke jalan untuk meliput.
Benn Albertson menunggu gemuruh ledakan mortir mereda, lalu
mengangguk kepada Dana. "Sepuluh detik."
"Aku siap," kata Dana.
Benn mengacungkan jari, lalu Dana berpaling dari reruntuhan di
belakangnya dan menghadap kamera televisi.
"Kota ini perlahan-lahan lenyap dari muka bumi. Sejak aliran listrik
terputus, kota ini tak lagi memiliki mata... Stasiun-stasiun TV dan radio telah
ditutup, mengakibatkan kota kehilangan telinga... Semua sarana transportasi
umum tak lagi berfungsi, sehingga seluruh kota pun lumpuh total...."
Kamera bergeser untuk memperlihatkan tempat bermain anak-anak yang
lengang dan porak-poranda, dengan sisa-sisa ayunan dan luncuran yang
telah berkarat. "Tempat ini pernah menjadi tempat bercengkerama yang penuh canda dan
tawa anak-anak." Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tembakan mortir kembali terdengar di kejauhan. Sirene tiba-tiba meraungraung. Para pejalan kaki di latar belakang meneruskan perjalanan seolah
tidak mendengar apa-apa. "Bunyi yang Anda dengar adalah alarm serangan udara. Bunyi tersebut
merupakan peringatan untuk segera mencari tempat berlindung. Namun para
warga Sarajevo telah mengetahui bahwa tak ada tempat yang aman,
sehingga mereka pun meneruskan langkah sambil membisu. Tak sedikit yang
memutuskan untuk mengungsi ke luar negeri, meninggalkan tempat tinggal
dan seluruh harta benda mereka. Di antara yang bertahan, terlalu banyak
yang kemudian tewas sia-sia. Pilihan yang tersedia sungguh kejam. Kabar
burung mengenai perdamaian terus beredar. Akankah perdamaian itu tiba"
Dan bilakah" Kapankah anak-anak akan keluar dari ruang bawah tanah dan
kembali bermain di sini" Tak ada yang tahu. Mereka hanya bisa berharap.
Saya Dana Evans melaporkan dari Sarajevo untuk WTE."
Lampu merah pada kamera padam. "Ayo, sebaiknya kita segera pergi dari
sini," ujar Benn. Andy Casarez, juru kamera yang baru, mulai terburu-buru membereskan
peralatannya. Seorang bocah laki-laki berdiri di trotoar, memperhatikan Dana. Ia anak
jalanan, dengan pakaian compang-camping dan sepatu berlubang. Matanya
yang cokelat menyorot tajam. Wajahnya kotor. Ia tidak mempunyai lengan
kanan. Dana menatap bocah itu. Ia tersenyum. "Halo."
Tak ada jawaban. Dana mengangkat bahu dan berpaling kepada Benn.
"Oke, kita jalan saja."
Beberapa menit kemudian, mereka sudah dalam perjalanan menuju ke
Holiday Inn. Hotel itu dipadati wartawan surat kabar, radio, dan televisi, mereka
membentuk semacam keluarga besar. Sesungguhnya mereka saling bersaing,
namun di tengah bahaya yang terus mengintai, semuanya selalu bersedia
saling membantu. Berita terbaru diliput bersama-sama:
Huru-hara pecah di Montenegro....
Vukovar diguncang ledakan bom....
Sebuah rumah sakit hancur terkena mortir di Petrovo Selo....
Jean Paul Hubert telah pergi. Ia mendapat tugas baru, dan Dana sangat
kehilangan. Ketika Dana meninggalkan hotel suatu pagi, bocah laki-laki yang sempat
dilihatnya di jalan sudah berdiri di gang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jovan membukakan pintu Land Rover pengganti untuk Dana. "Selamat
pagi, Madam." "Selamat pagi." Bocah itu terus menatap Dana.
Dana menghampirinya. "Selamat pagi."
Tak ada jawaban. Dana bertanya kepada Jovan, "Bagaimana mengucapkan
'selamat pagi' dalam bahasa Slovenia?"
Bocah itu menyahut, "Dobro jutro."
Dana berpaling padanya. "Ternyata kau bisa bahasa Inggris."
"Mungkin." "Siapa namamu?"
"Kemal." "Berapa usiamu, Kemal?"
Bocah itu berbalik dan pergi.
"Dia takut pada orang yang tak dikenalnya," ujar Jovan.
Dana memperhatikan bocah tersebut menjauh. "Kukira itu wajar. Aku juga
begitu." Empat jam kemudian, ketika Land Rover Dana kembali ke gang di
belakang Holiday Inn, Kemal sudah menunggu di dekat pintu masuk.
Waktu Dana turun dari mobil, Kemal berkata, "Dua belas."
"Apa?" Kemudian Dana teringat. "Oh."
Bocah itu termasuk kecil untuk usianya. Dana menatap lengan baju kanan
Kemal yang menggelantung. Ia hendak menanyakan sesuatu, tapi lalu
berubah pikiran. "Di mana rumahmu, Kemal" Kau mau diantar pulang?"
Kemal berbalik dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Dia tidak tahu sopan santun," ujar Jovan.
"Mungkin sopan santunnya hilang waktu dia kehilangan lengannya," Dana
menyahut lirih. Malam itu di ruang makan hotel, para wartawan membahas kabar burung
baru bahwa perdamaian akan segera tiba. "PBB akhirnya turun tangan," kata
Gabriel a Orsi. "Memang sudah waktunya."
"Menurutku malah sudah terlambat."
"Tak ada istilah terlambat," Dana menanggapinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Keesokan paginya, dua berita diterima melalui teleks. Berita pertama
menyangkut kesepakatan damai dengan perantaraan Amerika Serikat dan
PBB. Berita kedua menyebutkan bahwa Oslobodjenje, surat kabar Sarajevo,
telah hancur terkena serangan bom.
"Kesepakatan damai sudah ditangani oleh biro Washington," kata Dana
kepada Benn. "Kita liput Oslobodjenje saja."
Dana berdiri di depan reruntuhan bangunan yang sebelumnya merupakan
kantor Oslobodjenje. Lampu merah pada kamera sudah menyala.
"Setiap hari ada orang yang tewas di sini," Dana berkata sambil
menghadap ke lensa, "dan setiap hari ada yang bangunan yang hancur.
Namun gedung yang terlihat di belakang saya dibunuh. Tadinya gedung ini
ditempati satu-satunya surat kabar yang bebas di Sarajevo, Oslobodjenje,
surat kabar yang berani mengungkapkan keadaan secara jujur. Ketika kantor
pusatnya terkena serangan bom, harian itu berpindah ke ruang bawah tanah
untuk melanjutkan perjuangannya. Ketika tak ada lagi kios majalah, para
wartawannya turun ke jalan untuk menjajakan koran mereka. Mereka
menawarkan lebih dari sekadar warta berita. Mereka menawarkan
kebebasan. Dengan kematian Oslobodjenje, berarti satu bagian kebebasan
lagi yang telah lenyap."
Matt Baker menonton siaran berita itu di ruang kerjanya. "Hmm, dia
memang hebat!" Ia berpaling kepada asistennya. "Carikan truk satelit untuk
dia. Cepat." "Baik, Sir." Ketika kembali ke kamarnya, ternyata Dana sudah ditunggu. Kolonel
Gordan Divjak duduk di salah satu kursi waktu Dana melangkah masuk.
Dana sempat kaget. "Saya tidak diberitahu ada tamu."
"Ini bukan kunjungan sosial." Si kolonel menatap Dana dengan matanya
yang kecil dan hitam. "Saya melihat laporan Anda tentang Oslobodjenje."
Dana membalas tatapannya dengan waswas. "Ya?"
"Anda di zinkan memasuki negeri kami untuk memberikan laporan, bukan
untuk menghakimi kami."
"Saya tidak..."
"Jangan menyela. Pandangan Anda mengenai kebebasan belum tentu
sama dengan pandangan kami. Anda mengerti maksud saya?"
"Tidak. Saya rasa..."
"Kalau begitu saya akan menjelaskannya, Miss Evans. Anda tamu di negeri
saya. Barangkali Anda mata-mata untuk pemerintah Anda."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya bukan..."
"Jangan menyela. Anda sudah saya peringatkan di bandara. Ini bukan
permainan. Ini perang. Setiap orang yang terlibat kegiatan mata-mata akan
dieksekusi." Kata-katanya semakin menakutkan karena diucapkan pelanpelan. Ia bangkit. "Ini peringatan terakhir untuk Anda."
Dana memperhatikannya pergi. Aku tak mau ditakut-takuti, pikirnya
geram. Namun sebenarnya, ia takut.
Dana menerima kiriman dari Matt Baker, kardus besar berisi cokelat,
makanan kalengan, dan selusin barang lain yang tahan lama. Dana
membawanya ke lobi untuk membagi semuanya dengan para wartawan lain.
Mereka senang sekali. "Ini baru bos yang hebat," Satomi Asaka memuji.
"Barangkali ada lowongan di Washington Tribune?" Juan Santos
berkelakar. Dana kembali melihat Kemal di gang di belakang hotel. Jaket tipis yang


Rencana Paling Sempurna The Best Laid Plans Karya Shidney Sheldon di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dikenakan bocah itu sudah compang-camping.
"Selamat pagi, Kemal."
Bocah itu berdiri membisu. Ia memicingkan mata menatap Dana.
"Aku mau belanja. Mau ikut?"
Tak ada jawaban. "Begini sajalah," ujar Dana jengkel. Ia membuka pintu belakang mobil.
"Cepat naik!" Kemal membelalakkan mata karena kaget, lalu mendekat pelan-pelan.
Dana dan Jovan memperhatikannya masuk mobil.
Dana bertanya kepada Jovan, "Ada tempat kita bisa beli baju?"
"Saya tahu toko pakaian yang buka."
"Kalau begitu, kita ke sana sekarang."
Selama beberapa menit pertama, tidak ada yang berbicara.
"Kau punya ayah atau ibu, Kemal?"
Bocah itu menggeleng. "Di mana rumahmu?"
Ia mengangkat bahu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dana merasakan Kemal merapatkan badan, seakan-akan ingin menyerap
kehangatan yang terpancar dari tubuh Dana.
Toko pakaian yang dimaksud Jovan berada di Bascarsija, pasar lama
Sarajevo. Bagian depannya hancur karena bom, tapi tokonya buka. Dana meraih tangan kiri Kemal dan mengajaknya masuk.
Salah satu penjaga toko bertanya, "Ada yang bisa saya bantu?"
"Ya. Saya mencari jaket untuk teman saya." Dana menatap Kemal. "Dia
kira-kira sebesar anak ini."
"Mari saya tunjukkan."
Di bagian anak laki-laki ada satu rak berisi jaket. Dana berpaling kepada
Kemal. "Mana yang kausukai?"
Kemal diam saja. "Saya ambil yang cokelat," Dana berkata kepada si penjaga toko. Ia
menatap celana Kemal. "Dan rasanya saya juga perlu celana dan sepatu."
Ketika mereka meninggalkan toko itu setengah jam kemudian, Kemal
sudah mengenakan pakaian barunya. Tanpa berkata apa-apa ia naik ke
mobil. "Apakah kau tak bisa bilang terima kasih?" Jovan bertanya dengan gusar.
Kemal langsung menangis. Dana merangkulnya. "Sudahlah," katanya.
"Tidak apa-apa."
Dunia macam apa yang tega berbuat begini terhadap anak-anak"
Ketika mereka kembali ke hotel, Dana memperhatikan Kemal berbalik dan
pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Di mana anak-anak seperti Kemal tinggal?" Dana bertanya pada Jovan.
"Di jalanan, Madam. Di Sarajevo ada ratusan anak yatim-piatu seperti dia.
Mereka tak punya rumah, tak punya keluarga...."
"Bagaimana mereka bisa bertahan hidup?"
Jovan mengangkat bahu. "Saya tak tahu."
Keesokan paginya, ketika Dana keluar dari hotel, Kemal sudah
menunggunya. Bocah itu mengenakan baju barunya. Ia telah mencuci muka.
Topik yang ramai dibahas waktu makan siang adalah kesepakatan damai
dan apakah kesepakatan tersebut akan dapat bertahan. Dana memutuskan
menemui Profesor Mladic Staka guna menanyakan pendapatnya.
Pria itu tampak lebih rapuh lagi dibandingkan terakhir kali mereka bertemu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apa kabar, Miss Evans" Banyak orang membicarakan liputan Anda, tapi..."
Ia mengangkat bahu. "Sayangnya tak ada listrik untuk pesawat TV saya.
Bagaimana saya bisa membantu?"
"Saya ingin menanyakan pendapat Anda mengenai kesepakatan damai
yang baru, Profesor."
Sang profesor menyandarkan punggung dan berkata dengan serius, "Yang
paling menarik bagi saya adalah keputusan mengenai masa depan Sarajevo
diambil di Dayton, Ohio."
"Para juru runding menyepakati jabatan presiden yang diduduki bersama
oleh tiga orang, masing-masing satu wakil kelompok Muslim, Kroasia, dan
Serbia. Menurut Anda, Profesor, apakah pemecahan ini bisa berhasil?"
"Hanya kalau Anda percaya keajaiban." Ia mengerutkan kening. "Kami
Api Di Bukit Menoreh 23 Wiro Sableng 128 Si Cantik Dalam Guci Siluman Penghisap Darah 1

Cari Blog Ini