Ceritasilat Novel Online

Asleep Or Dead 7

Asleep Or Dead Karya Bunbun Bagian 7


Gua sadar, begitu besarnya cinta Mba Siska kepada Gua saat ini. Ya Gua yakin akan hal itu. Tidak pernah kami berada dalam situasi seperti sekarang, begitu melow. Tapi ucapannya tadi langsung menyadarkan Gua.
Bahwa Gua juga tidak ingin kehilangan dirinya.
...I've fallen for you Mba...
. . . . . Kamu adalah salah satu perempuan luar biasa yang aku kenal... I love you.. I love you.. And I love you..
Doesn't matter where I am
Thoughts of you still linger in my mind No matter what time of day
I've really, really Fallen for you PART 35 Gua suka berjalan-jalan melintasi jalan raya Ibu Kota akhir-akhir ini di malam hari bersama si RR, entah mungkin karena awalnya si Bianca yang mengajak Gua untuk sekedar wisata malam ke berbagai jajanan kuliner pinggir jalan. Setelah itu malah Gua sendiri yang sering keluar jalan-jalan, walaupun tidak selalu membeli makanan. Pernah suatu ketika Gua sedang jenuh di kost-an ketika malam hari, jadi Gua memilih keluar sendirian menggunakan motor kesayangan. Sampai tidak sadar Gua malah melintas ke arah kampus UI. Oke, mungkin itu masih tidak terlalu jauh, beda cerita ketika di lain waktu Gua pergi lagi sendirian malam-malam yang ujungnya sampai ke utara Jakarta, Ancol, pulangnya Gua malah nongkrong di Monas hingga pukul 2 pagi.
Suatu malam setelah hujan mengguyur Ibu Kota sedari sore. Gua dan Bianca kembali berwisata malam, sekedar mencari bandrek dan roti bakar. Pukul 10 malam kami berdua sudah berada di satu warkop yang menyediakan makanan penghangat malam. Gua memesan roti bakar pisang keju dengan segelas bansus, Bianca memilih pisang bakar keju dengan teh tarik hangat sebagai pesanannya. Beberapa pengunjung seperti kami lumayan memenuhi warkop ini, tapi kami bersyukur masih mendapatkan tempat duduk di dalam. Daripada harus duduk di luar dan menggelar karpet di jalanan yang basah.
Cukup lama kami menunggu pesanan datang, karena banyaknya yang memesan juga sebelum kami. Sekitar 15 menit lebih akhirnya pesanan makanan kami jadi juga, dan diantar ke meja di depan kami berdua. Kami langsung menyantap makanan masing-masing, udara malam yang dingin setelah hujan sukses membuat cacing dalam perut Gua meronta meminta asupan makanan yang berlebih, Sampaisampai setelah Gua menghabiskan rotbak sendiri, Gua menyicipi pisang bakar milik Bianca. "Laper Bang ?".
"Banget Neng..".
Dan Bianca hanya terkekeh pelan ketika Gua mencomot sedikit potongan pisang bakar miliknya. Selesai menghabiskan rotbak dan minuman, Gua pun membayar makanan kami berdua, dan mengajak Bianca balik kanan alias pulang ke kost-an. Sepanjang perjalanan pulang Gua dipeluk dari belakang oleh Bianca di atas motor, kepalanya disandarkan ke punggung Gua.
Pernah juga kami makan di restoran yang menyediakan menu roti panggang lainnya ala italiano, a.k.a Pizza. Saat itu Bianca yang merengek minta diantar Gua untuk membeli pizza pukul 8.30 malam. Setelah diiming-imingi dia yang akan mentraktir Gua, barulah Gua semangat mengantarnya. Sesampainya di sana kami tidak jadi membungkus makanan yang niat awalnya mau take-away, malah makan di tempat.
... Di lain waktu, untuk pertama kalinya Gua main ke tempat kerja Bianca. Sekitar pukul 10 malam Gua dan Bianca berangkat dari kost-an menuju salah satu klub malam, dimana Bianca akan perform. Atmosfer tempat hiburan malam itu sangat berbeda, apalagi ini bukanlah hal yang biasa Gua lakukan. Kerasnya dentuman musik techno mengalahkan banyaknya suara manusia di dalam sini. Gila ini tempat, katanya masih 'sore' untuk party, tapi kok udah banyak aja orang-orang di klub ini, batin Gua dalam hati.
Gua mengikuti Bianca yang berjalan di depan, dia menghampiri seorang Captain Bar lalu menyapanya. Setelah sedikit basa-basi, Bianca memperkenalkan Gua dengan si Captain Bar tadi. Sebut saja namanya Frank, karena memang orang keturunan. Setelah berkenalan, Gua diminta menunggu di counter bar ini. Tentu saja Bianca sudah memesankan satu gelas minuman alkohol untuk Gua, yang pasti Gua tidak tau apa ini nama minumannya. Bianca pamit kepada Gua, dia berjalan menuju pintu lainnya di dalam klub ini, yang Gua yakin pasti ada sebuah kantor dan semacamnya lah, karena khusus untuk karyawan. Sambil menunggu Bianca, Gua pun membakar sebatang nikotin dan berusaha menerima lantunan musik yang awam ditelinga Gua.
"Bro, diminumlah cocktail nya..", ucap Frank kepada Gua sambil membuat satu minuman untuk tamu lain.
"Oh iya iya gampang Bro..", jawab Gua.
Gua memperhatikan Frank yang dengan tangan terampilnya meracik minuman alkohol dalam sebuah alat cocktail shaker, sedikit atraksi juggling dia tunjukkan dihadapan Gua, Lalu minuman pun disajikan ke gelas dan diberikan kepada tamu. Gua terpukau dengan kemampuan Frank meracik minuman tadi, rasanya keren aja gitu melihatnya melempar-lempar alat shaker tadi. Kami pun kembali larut dalam obrolan ringan mengenai kehidupan malam di klub malam ini, yang pada akhirnya Gua tau kalau Bianca baru 6 bulan bekerja sebagai FDJ disini, berarti sebelumnya dia bekerja di klub lain. Lalu Gua pun menceritakan soal jurusan kuliah yang Gua ambil saat ini, dan membuat Frank semakin tertarik untuk memberikan Gua masukkan soal pekerjaannya, bagaimanapun jurusan kuliah yang Gua ambil masih berbanding lurus dengan profesi Frank sekarang.
Gua bersyukur bertemu Frank, bukan apa-apa, dari dia lah Gua mendapatkan beberapa ilmu seputar meracik minuman, tips dan trik bekerja di Bar, sampai upah yang ia terima. Gua cukup tercengang ketika mendengar uang tips dari tamu kadang bisa melebih gajinya perbulan, mantapkan tuh. Karena Frank menceritakan hal-hal yang menarik seputar pekerjaannya, sampai membuat pikiran Gua ingin menjadi seorang bartender. Kami mengobrol tidak secara intens, karena semakin malam semakin ramai pengunjung atau clubbers yang datang, membuat Frank semakin sibuk bersama kedua anak buahnya.
Cukup lama rasanya Gua menunggu penampilan Bianca, sampai akhirnya Gua menikmati segelas minuman yang Frank sajikan tadi, Gua mencicipi sedikit minuman ini, dan Mmm... Rasanya manis, asam dan sedikit ada rasa asinnya karena memang ada bubuhan garam pada bibir gelas. Gua sempat menanyakan nama minuman ini kepada anak buah Frank saat melintas di depan Gua, dan sepertinya segelas 'Margarita' ini sudah cukup untuk membuat Gua menikmati malam yang masih panjang. Ya, walaupun Gua tau akhirnya, kalau jenis minuman ini ternyata lebih disukai oleh para perempuan, tapi rasanya dari sinilah awal Gua menyukai berbagai macam cocktail yang rasanya tidak strong. Daripada harus menenggak pure vodka yang bisa membuat Gua keleyengan.
Gua melirik jam dipergelangan tangan kiri, dan waktu sudah menunjukkan tengah malam lewat 5 menit ketika Bianca keluar dari pintu di bagian belakang tempat DJ perform. Di stage itulah dia mulai bekerja. Gua tersenyum melihat Bianca yang atraktif, bukan karena pakaiannya yang teramat seksi, tapi pikiran Gua membayangkan bagaimana seorang perempuan diatas sana sedang bekerja, entah hobi atau bukan, yang jelas dirinya membuat Gua sadar akan ucapan Ayahanda. Dimana setiap manusia berhak memilah jalan hidupnya masing-masing, walaupun kita tidak tau apakah pilihan itu yang terbaik untuknya atau bukan.
Lantunan musik yang Bianca mainkan ternyata dari seorang DJ terkenal dunia. Dia memainkan lagu techno yang berjudul 'adagio for strings'. Semakin malam, semakin larut saja semua clubbers menggerakkan badannya, mengikuti hentakkan musik yang Bianca mainkan. Entah sudah berapa lagu yang Bianca mainkan.
Gua masih terduduk di counter Bar, hanya dua kali Gua beranjak dari tempat duduk untuk ke toilet. Dan sepertinya ini sudah gelas cocktail keempat yang Gua minum. Tentunya Gua mencicipi jenis yang berbeda dari minuman sebelumnya. Dan yaa.. Sepertinya Gua memang cocok dengan minuman cocktail, karena kesadaran Gua masih normal walaupun tidak 100%. Bosan hanya duduk saja disini, Gua mencoba memeberanikan diri untuk bergabung dengan para clubbers lain menggerakkan tubuh ditengah-tengah kerumunan. Lama-kelamaan Gua pun larut bersama yang lainnya, menikmati setiap dentuman musik yang masuk menyapa pendengaran Gua. Sambil memejamkan mata, tubuh Gua bergerak santai mengikuti alunan musik techno. Hingga keringat mulai keluar dari kening Gua.
Lama Gua ikut bergoyang bersama clubbers lain, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik pergelangan tangan kanan Gua. Gua membuka mata dan melihat siapa orang yang menarik tangan Gua ini, tapi karena tubuhnya membelakangi Gua dan kami berada ditengah-tengah kerumunan, mata ini tidak cukup baik untuk mengenali perempuan yang menarik tangan Gua. Sampai akhirnya langkah kaki Gua terhenti ketika akan menaiki tangga stage dimana DJ perform. Dan ternyata dia adalah teman kost Gua, ya Bianca yang menarik tangan Gua ini. Sambil membalikkan badan dia tersenyum kepada Gua dan kembali mengajak Gua naik ke stage yang berukuran kecil itu.
Bianca kembali memainkan alat musiknya itu, yang terlampau banyak untuk Gua ingat, dari mulai dj mixer, headphones yang melingkar ke lehernya hingga laptop. Yang Gua heran, untuk apa Bianca mengajak Gua naik keatas sini. Apalagi ini tangan... Duh, Bianca menaruh kedua tangan Gua kedepan perut ratanya, ya tangan Gua kini melingkar ke pinggang dan perutnya itu, awalnya masih ada jarak antara tubuh Gua dengan bagian tubuh belakangnya, tapi lama-lama tubuh Gua ini maju hingga berhimpitan dengan tubuhnya. Sambil menggoyangkan tubuhnya, satu tangan Bianca bertumpuk diatas tangan kiri Gua yang masih melingkar ke perutnya dan tangannya yang lain sibuk bekerja memutar dj mixer.
Bohonglah kalo Gua tidak larut dalam gerakkan yang Bianca lakukan, apalagi tubuh kami merapat seperti sekarang, itu bumper belakangnya cuuuyyy, menghentak si Jojo. Fak!
Gua terbius ketika tidak sengaja menghirup aroma parfum dari tubuh Bianca, ditambah keringat yang membuat tengkuk Bianca mengkilat, ini gila, sungguh gila. Akhirnya, tubuh Gua tidak si nkron dengan hentakkan musik yang terdengar. Gua malah seperti orang yang menikmati lagu sendu, karena dagu Gua sudah bersandar pada bahu Bianca, dan gerakkan tubuh perlahan terhenti. Hanya gerakkan kecil nan pelan yang Gua lakukan.
Bukan musik dan suasana crowded di klub ini yang Gua nikmati, seolah-olah kesadaran Gua hilang akan suasana sekitar. Fak! Bibir ini mulai mengecup leher jenjang milik perempuan seksi di pelukkan Gua itu. Mata Gua terpejam menghirup aroma tubuh Bianca, dan sesekali masih saja bi bir Gua mengecup pelan lehernya.
"Hey..", ucap Bianca menengok ke kanan, dimana Gua bersandar pada bahunya. "Heum ?", gumam Gua membuka mata sedikit.
Entah apa maksud senyumannya. Yang pasti Gua hanya mendengar suara riuh clubbers bersorak 'Wooooowwww' ketika bibirnya menerjang bibir Gua. Let them see what we've got here.
Eksibisionis rasanya dengan apa yang kami tunjukkan. Kami berciuman cukup panas di atas stage dengan puluhan pasang mata yang memandang dari bawah sana atau mungkin ratusan, entahlah. Dan ketika tangan ini mulai otomatis menanjak ke dada Bianca, kesadaran Gua kembali. Ya untung saja tangan Bianca menahan tangan Gua dan menghentikan ciuman kami. Gua lihat Bianca terkekeh pelan lalu berbisik ke telinga Gua. "Sabar yaa..".
Kami berdua pulang pukul 3 dini hari, tentunya dengan Bianca di jok kemudi. Sedangkan Gua terkapar lemas di samping kemudi. Memejamkan mata dan berharap sampai di kost-an dengan segera. Tidak ada aksi yang kami pertontonkan lagi untuk clubbers diatas stage tadi. Karena setelah bisikkan Bianca itu, Gua undur diri turun ke bawah dan kembali duduk di counter Bar. Lalu memesan whiskey hingga 3 gelas dan itu semua sukses membuat Gua jackpot di toilet. I'm drunk and need a rest dude... Btw, bukan tanpa alasan Gua memilih mabuk daripada kembali menggerakkan badan lagi bersama para clubbers. Karena nafsu Gua yang tinggi akibat perlakuan Bianca sebelumnya itulah Gua memilih lebih baik mabuk untuk menurunkan hasrat Jojo. Yaps... Mabuk memang bisa membuat hasrat seksual Gua turun. Aneh gak " Entah ya kalau ada yang sebaliknya. Tapi dari beberapa teman Gua yang suka mabuk, jarang ada yang menginginkan seks ketika sedang mabuk berat. Ingat mabuk berat. Bukan half or little tipsy. Ya kali udah jackpot dan lemas masih nafsu aja. Mungkin saja anda sex addict, bukan kaskus addict.
Malam yang memusingkan untuk Gua, dan kasur kamar kost-an adalah tempat terindah saat ini. Dengan dibantu oleh pelukan Bianca, Gua berjalan gontai memasuki kamar dan menghempaskan tubuh diatas kasur. Gak ada lagi yang Gua inginkan selain tidur selama mungkin untuk mengistirahatkan tubuh.
... Gua terbangun dengan kepala yang berat dan tubuh yang terasa kaku. Perlahan Gua bergerak untuk duduk diatas kasur lalu menyandarkan tubuh ke dinding kamar. Mata Gua masih terpejam, jemari Gua mengurut pelan kening ini. Lalu sebuah bunyi pintu yang terbuka membuat Gua menengok kearah kamar mandi.
"Siang Za, udah bangun ?", sapa Bianca dengan balutan handuk yang melingkar di tubuhnya.
Gua tidak langsung menanggapi ucapannya itu karena kesadaran Gua masih berusaha sampai ke angka 100. Gua malah menggaruk kepala yang tidak gatal. Lalu tersenyum ketika Bianca menyodorkan segelas air mineral. "Thanks..", ucap Gua ketika menerima gelas dan meminum isinya setengah.
"Cape ya semalam " Gimana pusingnya " Udah ilang sekarang ?".
"Aduh, satu-satulah nanyanya", "Masih loading ini otak Gua".
"Hahaha... Ada-ada aja Lo", jawabnya seraya membuka lemari pakaian.
Lama Gua memperhatikan Bianca yang asyik memilih pakaian hingga Gua merasakan ada sesuatu yang tidak lazim ketika Bianca mengambil satu kaos yang besar tanpa lengan dan melemparnya keatas kasur, dekat kaki Gua. Dan perasaan Gua semakin tidak karuan ketika sebuah Bra dan cd berenda dengan warna senada ikut dilempar dan mendarat lagi di dekat kaki Gua.
Oh syiiittt... Ini bukan kamar Gua!
Ya, ternyata Gua berada di kamar no.3 sekarang. Dan bodohnya lagi, Gua baru sadar kalau... Kalau Gua tidak mengenakan pakaian sama sekali, hanya bed-cover berwarna ungu yang menutupi tubuh ini. Gua mengangkat sedikit bed-cover, dan mengintip ke dalam, disana... Oh No.. Jojo bangun dengan sendirinya seperti biasa tanpa ada yang menutupinya lagi. Jiiirrr... Apa-apaan ini. Semalam Gua ngapsssss sama Bianca.
"Ka'..", panggil Gua.
"Heum..", jawabnya cuek dan asyik dengan cream tubuh yang dia oleskan ke tangannya.
"Semalem..", "Semalem kitaa..", ucap Gua ragu.
Bianca menghentikan aktifitasnya lalu menengok kearah Gua. Dia tersenyum lalu berjalan kearah Gua dan duduk disisi kasur. Tangan kanannya diletakkan diatas dada Gua yang terpampang tanpa balutan baju. "Makasih ya Za", ucapnya.
Makasih " Apa yang makasih " Bingung Gua dengan ucapan terimakasih nya itu. "Untuk apa ?", tanya Gua bingung.
"Untuk semalem", jawabnya semakin tersenyum.
"Bentar-bentar Ka'..", Gua mengusap-usap wajah dengan cepat, "Kita emang ngapain semalem ?", tanya Gua lagi.
Bianca tertawa pelan lalu mencubit lembut hidung Gua. "Wajar kalo Lo gak inget apa-apa...", ucapnya seraya melepas cubitannya.
"Iya, yang Gua inget cuma Gua tidur abis dianter ke kamar.. Eh ini lagian Gua bisa di kamar Lu nih.. Aah bingung Gua Ka'..", kembali Gua mengurut kening yang masih sedikit terasa keleyengan.
Bianca menubruk tubuh Gua tanpa sungkan, dia memeluk Gua, menyandarkan kepalanya miring ke dada Gua. Tangannya melingkar ke belakang punggung ini. "Za, semalem kita gak sampe ML kok..", ucapnya pelan tapi masih bisa Gua dengar dengan jelas.
"Terus kok ini Gua bisa enggak pake apa-apa nih..".
"Gue cuma sedikit ngetes diri Gue aja Za.. Bisa apa enggak", jawabnya.
"Ngetes ?", "Ah ya ya.. Gua paham, terus apa yang Lu lakuin ?".
Bianca mendongakkan kepalanya dan menyandarkan dagunya di dada Gua. Matanya lekat menatap mata Gua, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis dan... Butiran air disudut matanya mulai keluar dengan sendirinya.
"Gue rasa sekarang Gue bisa kembali jadi perempuan seutuhnya Za..", lirih suaranya itu mengiringi air yang mengalir dengan pelan ke pipinya yang bersih tanpa make-up.
Gua sedikit paham maksud dari ucapannya. Ya Gua rasa dia melakukan hal-hal yang menguji diri dan jiwanya tadi malam pada tubuh Gua sebagai objeknya. Karena Gua melihat beberapa tanda merah pada dada Gua hingga perut. Cukup banyak hingga ada satu tanda yang warnanya ungu berbeda dari tanda lainnya. Ah Lu main sendiri ya Ka', egois Lu, gak nunggu Gua sadar.
Setelah itu barulah Gua mendengar penjelasannya yang masuk akal. Bianca yang memang sedang berusaha kembali ke 'jalannya' sebagai perempuan mencoba untuk menerima tubuh seorang laki -laki, dalam artian yang sebenarnya, mencoba menikmati bahwa tubuh laki-laki adalah hal yang sepantasnya dia terima, bukan dari sesama jenisnya. Dari mulai belaian hingga kecupannya dia berikan ke tubuh Gua. Sampai... Ya sampai... Sampai Jojo juga sih katanya. Awalnya ragu ketika dia ingin bermain bersama Jojo. Tapi ini yang membuat Gua tidak percaya sekaligus kaget. Karena hasratnya kurang, Bianca memaksakannya dengan menelan ineks. Lalu setelah tinggi, barulah dia kembali bergerilya lagi hingga Jojo pun tidak luput dari... Yaaaa.. Darii... Dariiii... Mulutnya.
Gua hanya bisa menggaruk-garuk kepala mendengar ceritanya itu. Enak apa enggak ya jelaslah gak enak, wong Gua nya terkapar tidur ke alam mimpi, mana bisa nikmatin coba. Dan satu hal lainnya membuat Gua heran lagi, dari pengakuannya itu, dia bilang she's still virgin. Wow amazing amat deh, selama ini belok berarti gak maen tusuktusuk.pake.doldi dong ya, hmm...
. . . Karena hal diatas, Gua tidak menjemput sang kekasih apalagi berangkat kuliah. Toh sekarang sudah jam 11, mau gimana lagi.
Selesai mandi di kamar sendiri, Gua menyeduh kopi hitam dan duduk di depan kamar. Dengan sebatang rokok yang sudah terbakar dan terselip di bibir ini, Gua mengeluarkan hp dari saku celana. And guess what..." 10 missed call dan 6 sms muncul di layar hp. Gua menelan ludah, dengan hati yang sedikit was-was Gua beranikan jemari ini membuka notifikasi tersebut. Pertama daftar missed call... Muncul lah nama sang kekasih tanpa ada nama lainnya. Dan Gua buka sms yang semua nama pengirimnya sama dengan nama kontak dari ke-10 missed call tadi. Gua lewati 5 sms pertama dan hanya membuka 1 sms terakhir.
Quote:Isi sms : Mba Siska : Jelasin semua nanti sore di kontrakan!.
PART 36 Sekitar pukul 5 sore Gua sudah menunggu di kursi teras kontrakan Mba Siska, Gua memang diberikan kunci ganda gembok pagar kontrakannya oleh sang kekasih hati, tapi Gua menolak untuk menerima kunci rumah. Gua membakar sebatang rokok di sore yang gerimis ini. Selang 15 menit kemudian sebuah mobil crv berhenti tepat di depan pagar, Gua berdiri lalu berjalan kearah pagar untuk membukakan gerbang. Setelah mobilnya terparkir rapih, turunlah pujaan hati dari pintu kemudi, lalu dia berjalan kebelakang membuka pintu tengah dan mengambil satu kantung plastik yang cukup besar.
"Udah daritadi Za ?", tanyanya ketika Gua berdiri di sampingnya.
"Baru 15 menitan Mba..",
"Sini aku bantu bawa", ucap Gua menawarkan.
Kemudian Gua mengambil alih kantung plastik yang isinya baju bersih Mba Siska, rupanya baru diambil dari laundry. Kemudian Gua mengikutinya dari belakang, berjalan kearah rumah. Setelah Mba Siska membuka pintu, Gua pun ikut masuk kedalam.
"Mau kopi atau makan dulu ?", tanyanya sambil menaruh tas kerja di salah satu sofa ruang tamu.
"Kopi aja dulu Mba, eh.. Kecuali kamu udah lapar, ya kita makan dulu aja", jawab Gua setelah menaruh kantung plastik juga.
"Yaudah aku ganti pakaian dulu sebentar..".
Gua menunggu di ruang tamu, sedangkan Mba Siska masuk kedalam kamar dan mengganti pakaiannya. Tidak berapa lama Mba Siska keluar lagi dengan pakaian yang lebih santai. Celana jeans biru dengan sweater warna hitam membalut kaos putih di dalamnya. Kami pun kembali keluar rumah. Tau dia mau makan di luar sih, ini mobil gak usah di parkir ke dalam tadi, hadeuh.
Kami berdua sekarang sudah berada di dalam mobil, Gua yang mengemudi, sedangkan Mba Siska duduk manis di jok samping. Ramainya jalan raya membuat Gua mengalihkan mobil ke jalan alternatif. Selama di dalam mobil tidak banyak yang kami obrolkan karena Mba Siska sedang menelpon Ibunya. Singkat cerita, setengah jam lebih kami sudah sampai di basement sebuah mall.
Gua mengikuti Mba Siska yang naik ke eskalator untuk menuju lantai 3, dimana resto chinese food berada. Setelah sampai di resto, kami pun memesan makanan. Sambil menunggu makanan kami diantar dan tersaji. Gua memulai obrolan dengan sang kekasih.
"Mba, ehm..". "Ya ?".
"Maaf soal pagi tadi..",
"Aku semalam begadang Mba..".
"Habis begadang ngapain emangnya Za ?", tanyanya dengan nada menyelidik.
Gua sudah memikirkan alasan apa yang akan Gua berikan kepada sang kekasih hati ini. Mau tidak mau Gua harus berbohong kepadanya sekarang, bukan Gua cari selamat untuk diri sendiri, tapi untuk hubungan kami.
"Aku main bola di PS Mba, sama temen kampus di kost-an dan..", ucap Gua tertahan. "Dan apa ?".
"Minum Mba..", jawab Gua pelan dan hati-hati.
Ya seenggaknya Gua tidak bohong 100% lah. Soal minum kan memang Gua semalam minum juga sampai jackpot. Bedanya tempat aja toh, di klub apa di kost-an.
"Jadi kalau kalah, dia yang minum tiga gelas whiskey..", lanjut Gua, "Dan aku kalah dua kali Mba", ucap Gua kali ini seraya menundukkan kepala.
Mba Siska menyandarkan punggungnya ke bahu kursi, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan menggelengkan kepala pelan seraya menatap Gua tajam. Jiiirr... Ciut nyali Gua kalau dia udah gini. Maaf Mba maafin aku deh.
"Maaf Mba, maafin aku ya", ucap Gua lagi. "Pinjam hp kamu Za", ucapnya.
Gua mengerenyitkan kening menatap wajahnya. Lalu satu tangannya diulurkan ke depan Gua dengan telapak tangan yang terbuka. Tanpa berpikir dua kali dan menunggunya meminta lagi, Gua keluarkan hp dari saku jaket dan memberikannya. Mba Siska langsung mengotak-atik hp Gua. Sambil tetap menatap layar hp Gua yang berada di genggamannya itu dia bertanya lagi ke Gua. "Siapa nama teman kampus kamu..?".
Degh Anjir dikroscek ampe ke akarnya ini ma. "Mat Lo Mba..", jawab Gua.
"Nama kontaknya di hp kamu siapa ?". "Mamat Pelo..".
Tidak lama kemudian Mba Siska serius memainkan hp Gua. Gua tidak tau apa yang dia kerjakan, karena kami duduk berhadapan. Mana mungkin Gua bisa tenang kalo sudah begini, dengan hati yang waswas Gua menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, karena kini hp Gua sudah diletakkan di atas meja, tepat di sisi tangannya yang juga ditaruh di atas meja. Jari tangannya mengetuk-ngetuk meja sambil menatap Gua dengan senyuman yang... Yang kamvret banget asli. Gua cemas, gundah, waswas, gak tenang dengan permainan yang dia lakukan sekarang. Sue bener ini sore!!!
Tidak lama kemudian makanan pun datang yang diantar oleh pramusaji, lalu dihidangkan di atas meja. Pas saat si pramusaji meninggalkan meja kami, hp Gua berdering dua kali tanda sms masuk. Mba Siska menaruh sumpit pada genggamannya lalu mengambil hp Gua yang berada di sampingnya. Keningnya berkerut sesaat lalu satu sudut bibirnya tersenyum sekali.
"Nih", ucapnya seraya memberikan hp Gua.
Gua menatap wajahnya sambil menerima hp. Gua tidak langsung melihat isi sms yang masuk tadi, cemas dan takut rasanya mata ini melirik ke layar hp. Mba Siska kembali mengambil sumpit. "Ayo makan dulu sayang", ucapnya seraya menyumpit mie goreng seafood dihadapannya.
Gua hiraukan ajakannya itu, perlahan Gua angkat hp ditangan kanan, lalu membaca isi sms yang masuk tadi.
Quote:Isi sms : Mamat Pelo : Yoi Za lain kali ganti wine lah biar berkelas dikit. Payah Lu cuma minum 6 gelas whiskey doank lgsg JP. Hahaha...
Oke itu balasan si Mat Lo, sekarang Gua runut mundur, Gua buka folder pesan terkirim yang pastinya diketik Mba Siska tadi sebelum Mat Lo balas sms diatas.
Gua : Mat, Gara2 Lo nih gw msh pusink kepala. Laen x jgn pke taruhan minuman lg ah...
Gua tersenyum simpul, lalu menahan tawa, sumpah Gua menahan tawa yang sudah diujung mulut, dan tak ayal kedua pipi Gua pun mengembung agar tidak lepas ini tawa kamvret. Gua menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Kemudian setelah bisa mengendalikan diri agar tidak tertawa, Gua buru-buru menekan keypad hp, masuk ke menu kontak, mencari sebuah nama, setelah menemukannya Gua edit langsung. Yang awalnya Gua beri nama Mamat Pelo, Gua ubah menjadi Real Man. Yooo you are the real MVP Brooowww...
Mundur kebeberapa jam sebelum Gua datang ke kontrakan Mba Siska. Tepat sehabis dzuhur, Gua menelpon Mat Lo.
Quote:Percakapan via line :
Gua : Halloo Maaattt.. Mat Lo : Oii Za, kemana Lu gak ngampus ".
Gua : Udeh nanti aja nanya-nanyanya Bro, Gua perlu bantuan Lu, dengerin baek-baek niih. Mat Lo : Waah.. Ada apaan nih Za " oke oke Gua dengerin niih.
Gua : Gini, Gua ada masalah ama bokin Gua nih, intinya Lu tolongin Gua jadi pelengkap cerita aja. Mat Lo : Pelengkap cerita gimana " Bokis maksud Lu Za "
Gua : Yaaa semacam itulah hehe.. Udah udah dengerin dulu Mat, ah gimana sih Lu.
Mat Lo : Okey okey Sorry Za.
Gua : Kita berdua nih tadi malem maen PS di kost-an Gua, kita taruhan maen pes 6 yak, yang kalah tiap pertandingan kudu minum whiskey 3 gelas. Nah, Gua kalah dua kali ama Lu ampe JP Mat, okey " Kita begadang ampe jam 3 pagi tuh.
Mat Lo : Oke deh, tapi emang sebenernya kemana tadi malem Lu "
Gua : Hehehe.. Bergoyang kita papa.. Ajeub-ajeub.. Huehehehehe... Mat Lo : Si kampreetttt kagak ngajak-ngajak Lu ye.. Parah parah.
Gua : Dadakan Mat, tar deh Gua ajakin Lu.. Santaaiii. Mat Lo : Bener Lu yak " Awas bokis nih.
Gua : Benerlah, kapan Gua boongin Lu Broo.. Pokoknya tar Gua kabarin kalo mau clubbing lagi.
Mat Lo : Yoi, gitu dong hehe.. Eh iya, sekarang Lu lagi dimana ". Gua : Gua di kost-an lah, mau kemana lagi. Oh satu lagi Mat... Hampir Gua lupa. Mat Lo : Apaan "
Gua : Kalo nomor hp Gua nelpon atau sms Lu mulai sore nanti, inget nih.. Ingeeetttt.. Itu pasti ada bokin Gua, atau lebih parahnya, dia yang akuisisi Ogut punya hp hehehe...
Mat Lo : Wooo hahahaha... Okey Brother, siaaappp.. Santai, Gua pasti gak akan lupa Brow.. Hahahaha.
Gua : Nah jangan lupa juga, Lu tau kan gaya bahasa sms Gua gimana hehehe.. Pokoknya ganjil dikit aja kata-katanya, so pasti bukan Gua tuh hehehe.
Mat Lo : Okay okay Brow, dah Gua inget kok santai, dah ya, masuk kelas lagi nih Gua. Gua : Sip, thanks brother.. Cup cup muaachh...
Mat Lo : Najiisss.. Emang akika cowok apakah Cyiiinn.
Apalagi ternyata Mba Siska tadi sms dengan gaya bahasanya sendiri, makin seneng aja Gua. Karena Gua yakin Mat Lo juga tau, kalo Gua gak pernah menggunakan kata 'pusing' menjadi 'pusink' dan 'kali' menjadi 'x'.
Begitulah Gais Gua merencanakan alasan yang ciamik untuk sang kekasih hati tadi siang.
Back to resto chinese food with Yayank Siskaaah...
"Hei, kok diem aja, ayo di makan Za..", ucap Mba Siska membuyarkan lamunan Gua. "Eh iya Mba hehehe..".
Ya si kadal selamat sekarang, makan lah dia dengan nikmat, tidak ada lagi perasaan waswas dan cemas. Hanya makanan pedas yang sekarang dia santap bersama Mba Siska yang membuatnya gemassss... Massss.. Massss.. Huahahahahaha.
... Sekarang Gua dan sang kekasih sudah berada di kontrakannya setelah beres makan malam tadi. Gua duduk di sofa ruang tamunya. Segelas kopi hitam sudah tersedia di atas meja depan Gua. Sedangkan Mba Siska membilas tubuh di kamar mandi. Gua membakar sebatang rokok lalu menghisapnya kuat-kuat, senyum lebar menghiasi wajah Gua sambil menghembuskan asap. Ya ya yaa.. Dibilang jahat kan gak juga, masa iya sih Gua mau jujur ama Mba Siska yang galak itu. Cari mati Lu pade mau jujur clubbing sama perempuan yang pacar Lu benci " Huehehehe. Cari aman lah kita Gais, gile aja kaleeee...
Gua hendak meminum kopi yang sudah minta diseruput, tapi langsung Gua lepas lagi tangan ini dari gelas kopi, tumben panas banget ini aernya, baru ngegolak kali ya. Tidak lama kemudian sang kekasih berjalan dari arah dapur dan duduk di samping Gua, daster tidurnya yang tanpa lengan sudah ia kenakan, rambutnya terbalut handuk. Hmm.. Wangi khas sabun mandi favoritnya menyeruak kedalam hidung Gua, semeriwing wanginyaaa.. Manteub manteub manteub. "Duuh wangiinyaa pacar Ku ini..", goda Gua sambil mencolek lengannya.
Mba Siska hanya tersenyum tanpa menoleh kepada Gua, karena sekarang dia sedang memakai cream kulit ke kakinya. Entah apa karena 'aksi solo' si Bianca tadi malam, membuat Gua jadi ingin mesra-mesraan dengan ini perempuan yang berada di samping Gua sekarang. Bukan apa-apa Gais, si Bianca ma enak menjamah Gua dengan bebasnya, mana Gua enggak merasakan sensasi apapun. Kan kamvretos itu. Nah sekarang bolehlah Gua bermanja-manja gemas dengan Ayank Siskah.
Gua melingkarkan tangan kiri ke sisi pinggang kirinya dari arah kanan, duduk merapat kayak angkot yang penuh penumpang. Pipi kiri Gua sandarkan ke bahu kanannya,dan tangan kanan Gua meraih tangan kanannya, yang otomatis menghentikan olesan cream pada kakinya itu. Gua terkekeh pelan saat wajahnya menengok kepada Gua dengan ekspresi yang bingung.
Lalu Gua dekatkan wajah dan mengecup pipinya sesaat. Gua tersenyum yang dia balas dengan rengutan bingung pada wajahnya lagi.
"Kenapa kamu ?", tanyanya heran.
Gua menggeleng pelan lalu menaik turunkan alis dengan cepat. Jiiirr engas Gua ini, fak!
"Aneun Mba..", jawab Gua sok manja-manja tapi najis. Yaiyalah najis Gua kalo inget momen ini. Hahahaha.
"Aneun ?", tanyanya semakin bingung.
"Kangen sayaaang.. Kangen banget aku sama kamu", jawab Gua.
Mba Siska tersenyum simpul lalu menggelengkan kepalanya seraya menjauhkan wajahnya beberapa centi dari Gua. Dan sebuah ucapan dari mulutnya keluar dengan nada yang merdu. "Emang semalam gak cukup Za ciuman sama Bianca ?".
WHAT THE FAK "!!! Hati Gua menclos, nafas Gua berat, tenggorokkan Gua tercekat, serta merta tengkuk Gua dingin lalu menjalar ke seluruh tubuh. Dan sialnya... Mba Siska santai saja melanjutkan olesan cream ke kakinya lagi. Gua mundur dan melepaskan pelukkan. Menelan ludah yang sedari tadi susah untuk Gua telan. "Diminum dulu Za kopinya", ucap Mba Siska santai tanpa menoleh kepada Gua.
Gua yang blank karena tidak percaya oleh ucapan sebelumnya itu langsung mengangkat gelas kopi dan meneguknya tanpa curiga sedikit pun.
"Ppuuueehhh... Pleehh..",
"Ciiih.. Plleeeh... Aaah.. Mbaa.. Ini kopi apaan".
Hanjir, Gua lepeh (muntahkan) kopi yang baru sampai menyentuh lidah Gua itu. Gila kopi rasanya asin ama asem gini sih.
"Kenapa ?", tanyanya setelah selesai mengoleskan cream kulit dengan ekspresi wajah yang dingin. "Ini kopi kok asin asem sih Mba ?", tanya Gua sambil menjulurkan lidah dengan mata yang berkerut. "Oh di dapur abis gulanya",
"Aku racik sama garam dan cuka, kali aja kamu doyan", jawabnya masih santai dengan wajah dinginnya.
Buangkeeeee... Kopi macam apa dikasih garam ama cukaaaa.. Fak! "Racikan apa itu Mbaaa, gak enak gini heuuh..".
Syit, Mba Siska melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya tajam menatap Gua. "Abisin", ucapnya dengan nada penuh ancaman.
Hanjir, hanjir ini sih. Mules dah perut Gua kalo beneran minum ini kopi kevarat.
Gelas yang berisi kopi kevarat itu masih pada genggaman tangan Gua. Gua melirik kepada si kevarat kopi lalu melirik ke Mba Siska, begitu terus, berharap Mba Siska tidak sungguh-sungguh dengan permintaannya tadi.
"Minum atau pulang sekarang juga Za", ucapnya yang melihat Gua ragu-ragu.
Pulang " Ah itu pilihan terbaik saat ini. Agar bisa terhindar dari hukuman kamvret dan amukkan macan betina di depan Gua sekarang. Tapi sorry, itu pilihan buat laki-laki yang menghindari masalah setelah ketahuan punya salah. Dan Gua sudah terlanjur basah, apalagi yang Gua bisa jawab selain menerima hukuman yang dia berikan sekarang.
Tanpa pikir panjang lagi Gua minum itu kopi enak gurih gurih enyoy sampai habis dengan nafas yang Gua tahan lalu memejamkan mata, seolah-olah Gua menenggak telur mentah dari cangkangnya. Wajah Gua mengkerut dengan mata yang terpejam, punggung tangan kanan Gua menyeuka bibir ini. Lalu... Lalu Gua berlari sekuat tenaga hingga menabrak meja ruang tamu, Gua lari ke luar rumah, memuntahkan kopi kevarat yang sebenarnya sudah bersemayam di dalam lambung ini. Faaaakkk.... Gua memuntahkan makanan yang tadi Gua santap juga ternyata. Sial.. Airmata mengalir dari sudut mata Gua, bukan sakit atau sedih coy, euneuk.. Eeeuuunnneeeuukk banget kamvreeeetttt. Keluar sudah makanan dan minuman yang gak jelas bentuknya dari mulut Gua, tumpah ke rumput pekarangan rumah kontrakan Mba Siska.
Gua berjongkok, lemes lagi anjir. Dua kali Gua JP dalam waktu kurang dari 24 jam. Hanjiir ini hanjir banget. Lemas tubuh abang dek...
Gua rasakan pijatan pada tengkuk Gua dari tangan yang lembut. Gua masih berjongkok dengan tubuh yang lemas, mata Gua masih terpejam dengan memegangi perut. Kemudian Gua seuka airmata dari sudut mata. Gua berusaha berdiri yang langsung dibantu oleh sang kekasih hati di belakang Gua.
Gua dipapah olehnya untuk kembali masuk ke dalam ruang tamu. Gua kembali duduk di sofa, menyandarkan tubuh ke belakang, ke bahu sofa. Lalu Mba Siska berjalan kearah dapur yang tidak lama kemudian membawa segelas air mineral hangat. Dia meminta Gua meminum air hangat itu, tapi jujur saja, Gua masih curiga sih. Tapi sepertinya kekhawatiran Gua itu terbaca oleh Mba Siska.
"Itu beneran air anget",
"Enggak aku campur apapun", ucapnya.
Lalu Gua pun meminum air hangat tersebut, dan lega memang ini air beneran tanpa campuran anehaneh kayak si kopi kevarat tadi. Setengah gelas Gua habiskan lalu Gua taruh di meja. Mba Siska duduk di samping Gua. Dengan keadaan yang masih lemas, Gua berusaha duduk biasa lagi tanpa bersandar. Gua raih tangan kirinya dan menciumnya sekali.
"Aku minta maaf, dan aku harap kamu mau dengerin dulu semua penjelasan Aku Mba..", ucap Gua.
Mba Siska memandang meja ruang tamu di depan kami, lalu tangan yang Gua genggam dilepasnya. Dia meraih hpnya yang tergeletak diatas meja. Dan memainkan hpnya sesaat lalu hp itu dia berikan kepada Gua dengan kasar ke dada Gua. Dengan hentakan kaki dia bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya dengan keras. Gua dengar putaran kunci dari dalam.
Gua berlari mengejarnya dan mengetuk pintu kamarnya. Tapi tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka dari dalam, Gua mencoba membuka handle pintu tapi sudah terkunci rapat. Lalu dengan langkah gontai, Gua kembali duduk di sofa ruang tamu dan meraih hpnya.
Tubuh Gua masih lemas karena memuntahkan isi perut, dan sekarang semakin lemas tubuh ini. Seakan tulang Gua rontok bersama hati yang ikut menclos... Karena layar hpnya itu menunjukkan sebuah foto dua orang yang sedang berciuman di atas stage sebuah klub malam... I become fakin moron rite now!!!
PART 37 Dua hari sudah Gua sulit menghubungi Mba Siska setelah kejadian sebelumnya. Bukan Gua tidak mendatangi ke rumah kontrakannya, tapi selama dua hari ini dia tidak pulang ke kontrakannya itu. Ketika Gua berusaha mendatangi kantornya dan menunggunya di luar hingga dua jam lamanya, mobil crv nya tidak pernah keluar dari dalam kantor. Hp nya tidak aktif. Bukan perkara mudah datang ke kantor Mba Siska dan menanyakan keberadaannya, ini kantor kan beda dari kantor pada umumnya, mau nanya salah satu personil mereka kok rasanya Gua malah seperti orang yang mencurigakan, masa iya Gua mau bilang 'mencari pacar saya Pak'. Malu dan gak enak aja kalau sampai Gua mencari informasi ke rekan kerjanya yang tidak Gua kenal sama sekali.
Sampai hari ketiga ini, di hari sabtu. Gua pun pulang ke rumah ketika selesai kuliah, dan Gua yakin Mba Siska juga pulang.
Ketika itu langit sudah gelap dengan diiringi hujan gerimis sedari sore. Selesai ibadah maghrib dan mandi, Gua mengenakan kaos oblong hitam yang dibalut lagi dengan sweater hitam dan celana jeans biru tua. Sekitar pukul 7 malam Gua keluar rumah, berjalan kearah rumah Pak Rw. Sesampainya di sana, Gua melihat pintu rumahnya yang terbuka. Sedikit obrolan yang berasal dari ruang tamu rumahnya terdengar ketika Gua sudah berada di ambang pintu.
"Assalamualaikum", salam Gua.
"Walaikumsalam", jawab beberapa orang yang berada di dalam ruang tamu.
Gua melihat ada Bapak, Ibu, Meli adiknya Mba Siska, dan Dewa. Disitu Gua tidak melihat sang kekasih.
"Ayo masuk sini Le'..", ucap Pak Rw.
"Eh iya Pak De..", jawab Gua sambil melangkah masuk dan menyalami kedua orangtuanya dan berjabat tangan dengan Meli dan juga Dewa.
"Sudah pulang dari sore Le' ?", tanya Bu Rw.
"Iya Bu De, tadi sampai rumah pas maghrib", "Maaf Bu De, mmm... Mba Siska nya ada ?", tanya Gua.
Gua memandangi wajah-wajah yang sedikit ragu dari semua orang yang ada di ruang tamu ini untuk menjawab pertanyaan Gua itu.
"Ehm..", Pak Rw berdeham,
"Emm.. Siska nya sedang pergi Le' sama temannya, mungkin baru pulang malam nanti, ada acara ulang tahun katanya", lanjutnya.
"Oh gitu...", ucap Gua sambil menggaruk tengkuk,
"Kalo gitu saya pamit dulu Pak De, nanti saya balik lagi aja kalo Mba Siska belum terlalu malam pulangnya", lanjut Gua.
"Minum dulu Le', nih kan ada Dewa juga", sela Bu Rw menawarkan Gua bertamu dulu.
"Nanti aja Bu De, makasih, gak enak ganggu Meli sama Dewa nya, hehehe", jawab Gua sambil melirik Meli dan Dewa.
Tapi ada tatapan yang aneh dari kedua bola mata sahabat Gua itu, entahlah, apa hanya perasaan Gua saja.
Lalu Gua pun pamit kepada mereka dan kembali keluar rumahnya untuk pulang.
Sampai di rumah, Gua duduk di sofa teras depan kamar, Gua membakar sebatang rokok sambil mengeluarkan hp, mencoba untuk menghubungi sang kekasih, tapi hasilnya tetaplah nihil, nomor hpnya masih tidak aktif. Pada akhirnya Gua hanya bisa menyandarkan punggung ke bahu sofa dan pikiran Gua menerawang ke dua hari yang lalu.
Saat itu, ketika pintu kamar kontrakan Mba Siska tertutup rapat karena kesalahan yang Gua buat, Mba Siska menangis di dalam kamarnya, ya Gua masih bisa mendengar suara tangisnya dari ruang tamu. Gua mencoba mengetuk pintu kamarnya, berusaha dan berharap dia mau membuka pintu, agar Gua bisa memohon maaf kepadanya, dan memeluknya. Tapi semua itu percuma, karena hatinya sudah sakit, dan segala logika yang ada di dalam pikirannya saat ini tidaklah cukup untuk bisa membuatnya mau mendengar segala penjelasan Gua.
Gua tidak pulang, Gua tertidur di sofa ruang tamu kontrakannya. Hingga subuh menjelang, Gua terbangun karena suara seseorang yang sedang memasak di dapur. Gua bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur, melihat seorang perempuan yang membelakangi Gua sedang memasak. Gua berjalan mendekatinya lagi hingga 2 meter Gua berhenti tepat di belakangnya. "Mba".
Mba Siska tidak menjawab, dia sibuk dengan spatula pada genggaman tangan kanannya, mengaduk nasi goreng pada wajan di atas kompor di depannya.
"Aku tau semua ini udah gak berjalan dengan baik", "Aku yang merusak semuanya".
Mba Siska masih memasak dengan tenangnya, tapi Gua yakin dia mendengarkan Gua.
"Rasanya apapun alasan yang aku jelasin ke kamu nanti, gak akan membuat hubungan kita bertahan",
"Tapi aku cuma mau kamu tau, kenapa aku sampai begitu tanpa ada kebohongan lagi... Aku akan jujur sejujurnya ke kamu soal hubungan aku dengan Bianca".
Dan Gua pun menceritakan perihal hubungan Gua dengan Bianca selama ini tanpa ada kejadian yang Gua tutupi lagi. Seburuk-buruknya kelakuan Gua, kalau sudah pada ujung tanduk seperti ini, kejujuran adalah hal yang Gua pilih. Maka hati yang memang sudah sakit itu akan semakin sakit setelah Gua jujur. Jahat " Ya kalau menilainya pada poin ini sudah pasti Gua jahat dan Gua akui itu. Tapi apa yang sudah Gua perbuat dan sangat salah ini hanya di lihat dari ujung kesalahan Gua pada pandangan Mba Siska. Ya dia hanya melihat ketika Gua mencium Bianca di klub malam itu. Alasan Gua jujur adalah cerita dari kejadian sebelum malam dimana Gua mencium Bianca.
Gua menceritakan segala kebersamaan Gua selama ini dengan Bianca, dari mulai sekedar ngobrol di depan kamar kost hingga jalan malam untuk sekedar mencari makan. Sampai akhirnya untuk pertama kali Gua ikut ke tempat kerja Bianca dan berakhir dengan tidur bersama di kamarnya. Dan Gua pun menceritakan kalau kami tidak melakukan ML saat itu, benar-benar tidak melakukannya sama sekali.
Tubuh Mba Siska bergetar, spatula yang dia genggam pun terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai. Suara isak tangisnya memenuhi dapur kontrakannya ini. Gua melangkah lagi mendekatinya dan kini berdiri tepat di belakangnya dengan jarak yang teramat dekat, sampai Gua bisa mencium aroma tubuhnya. Tangan Gua berat untuk Gua gerakan, sekedar memegang bahunya saja Gua tidak berani. Bukan Gua takut dia akan memukul Gua, tapi Gua tau, saat ini dia membenci Gua, membenci lelaki yang pernah dia cintai.
"Maafin semua kesalahan aku Mba, aku akui udah ngelanggar janji untuk gak deket dengan Bianca", "Tapi dengan semua kejujuran aku ini, aku harap kamu percaya satu hal",
"Kalau aku benar-benar enggak punya perasaan apapun untuk Bianca", "Semua itu terjadi karena suasana dan pengaruh minuman Mba", "Aku gak nyalahin siapapun".
Mba Siska masih menangis dan semakin menangis setelah Gua jelaskan semuanya. Akhirnya Gua tidak sanggup lagi melihatnya menangis seperti itu, dengan segala perasaan yang sangat bersalah kepadanya, Gua beranikan diri untuk memegang lengan kanannya dan membalikkan tubuhnya. Hati Gua menclos melihat wajahnya yang sudah bersimbah air mata, tanpa bisa Gua tahan lagi, Gua tarik cepat tubuhnya untuk kemudian Gua peluk dengan erat. Karena Gua tau, setelah semua ini, belum tentu ada kesempatan bisa mendekapnya lagi di lain waktu...
Gua membelai lembut punggungnya, mengucapkan kata maaf berulang-ulang, dan menciumi ubunubunnya.
"Maafin aku yang terlalu bodoh ini",
"Aku gak bisa lagi kasih alasan ke kamu untuk mertahanin hubungan kita",
"Bukan aku gak mau minta kesempatan kedua Mba, tapi ini semua berat untuk kamu terima kan ?", "Dan hanya kata maaf ini yang bisa aku ucapkan sekarang".
Mba Siska masih menangis dengan wajah yang terbenam ke dada Gua, sedangkan kedua tangannya hanya terjuntai ke bawah tanpa membalas pekukkan Gua.
"Aku sayang sama kamu Mba...", ucap Gua setelah beberapa saat kami terdiam dan hanya suara tangisnya yang terdengar.
Saat itulah kedua tangannya bergerak dan memeluk tubuh Gua.
Tubuhnya kembali bergetar dengan isakkan yang semakin kuat. Gua menyandarkan wajah ke ubunubun kepalanya, memeluknya lebih erat, berharap dia tau kalau perasaan sayang untuknya bukanlah buaian belaka.
Setelah kejadian itu, Mba Siska meminta Gua untuk tidak menghubunginya dulu. Tidak ada kata putus diantara kami, tidak ada kata dimaafkan juga yang dia ucapkan untuk Gua. Maka alasan inilah yang membuat Gua harus mengejarnya lagi, antara meminta kejelasan soal hubungan kami atau sekedar kata maaf yang ia terima dan memaaafkan Gua.
Tapi sulit menemuinya, entah berangkat jam berapa dia untuk bekerja, sampai-sampai jam 5 subuh pun Gua tidak melihat mobilnya terparkir di halaman rumah kontrakannya itu.
Kembali dimana Gua duduk di sofa teras depan kamar rumah Nenek, merenungi segala kesalahan yang sudah Gua perbuat kepada seorang perempuan cantik dan berwatak keras. Sebatang rokok yang hanya Gua hisap dua kali itu ternyata sudah habis terbakar dengan sendirinya, sampai ke ujung puntung. Gua matikan rokok ke asbak di atas meja teras. Lalu Gua berdiri dari sofa dan masuk ke dalam kamar.
Gua menghempaskan tubuh ke atas kasur. Memandangi kipas yang berputar di langit-langit kamar. Hati Gua tidak karuan rasanya, perasaan Gua cemas memikirkan sang kekasih. Gua lirik jam pada dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul 8 malam, lalu Gua tarik bantal untuk menutupi wajah Gua.
Lama Gua memejamkan mata dengan wajah yang tertutupi bantal, tapi rasa kantuk tidak juga datang menghampiri. Rasa lelah berkendara dari Jakarta ke rumah dengan diguyur hujan sore tadi, tidak juga membuat Gua bisa tertidur saat ini. Pikiran Gua hanya tetuju ke satu nama perempuan. Siska Syailendra Azizah.
Masih dalam posisi yang sama, Gua mendengar suara langkah kaki yang berjalan dari luar kamar dan berhenti.
"Reeza..", ucap suara seorang lelaki.
Gua menarik bantal yang menutupi wajah dan bangun dari kasur. Gua berjalan ke luar setelah sebelumnya melihat jam dinding yang kini menunjukkan angka 8.40 malam. Pintu kamar Gua memang terbuka daritadi, jadi ketika Gua berjalan dari kamar menuju teras, Gua langsung bisa melihat sosok lelaki itu.
"Oi Wa, tumben Lu kesini", ucap Gua yang masih melangkah ke teras. Ya, ternyata Dewa yang memanggil Gua dari halaman rumah. "Ada perlu sama Lu", jawabnya dengan wajah yang nampak serius.
"Wiih, tumben banget", ucap Gua ketika sudah berdiri di hadapannya, "Serius amat tuh muka Lu Wa, ada apaan nih ?", tanya Gua lagi. "Ada yang perlu Gua selesain sama Lu", jawabnya penuh penekanan.
Gua sadar betul, dari ucapan terakhirnya itu dan tatapan matanya yang tajam kepada Gua, ada hal yang serius. Gua tersenyum simpul lalu mengajaknya masuk ke teras.
"Oke, ayo duduk kalo gitu Wa", ajak Gua seraya membalikkan badan.
"Enggak disini Za",
"Kita ke lapangan..", jawabnya. ...
Gua mengikuti Dewa yang berjalan di depan Gua hingga kami sampai di lapangan sepak bola komplek rumah, kami berada di sisi Gawang. Dan Gua cukup terkejut ketika melihat ada ketiga sahabat Gua yang lain sudah ada di sini. Hanya Robbi yang tidak hadir, karena dia memang ditugaskan di luar kota setelah menjalani pendidikan solip.
"Oi Bro, apa kabar ?", sapa Unang kepada Gua.
"Hei Nang, alhamdulilah sehat",
"Pada ngapain nih ngumpul, tumben banget", ucap Gua sambil melirik kepada Unang, Icol dan Rekti.
Gua lihat Icol dan Unang hanya terdiam tanpa menunjukkan ekspresi apapun, sedangkan Rekti tersenyum tipis kepada Gua.
"Pesta nih ?", tanya Gua lagi.
"Cuma kita berdua yang bakal pesta Za", jawab Dewa sambil membalikkan tubuhnya. Sedetik kemudian, dengan jarak yang cukup dekat, sebuah kepalan tangan menghantam pipi kiri Gua. Bugh...
Gua terhuyung ke kanan tapi tidak sampai jatuh. Pernah nerima pukulan dari orang bertubuh kurus " Rasanya kayak gimana " Tenaganya gak ada, tapi sakitnya cukup terasa. Karena isinya cuma tulang doang, dan pasti peureus, tulang ngehantam pipi gais.
Kepala Gua tertunduk sedikit dengan posisi yang miring ke kanan, sedangkan Dewa sudah ditahan oleh Rekti setelah memukul Gua tadi. Gua menepuk-nepuk pipi kiri yang masih terasa pedas karena pukulan Dewa tadi. Lalu Gua menengok ke kiri, dimana Dewa dengan raut muka yang emosi menatap Gua sedang dihalangi oleh Rekti.
"Lu janji gak ada kekerasan Wa", ucap Rekti sambil menahan tubuh Dewa. "Gua udah muak liat kelakuan bang*sat satu ini Ti!!", jawab Dewa dengan penuh emosi. "Tapi bukan gini caranya Wa!", bentak Rekti.
"Gua minta, sekarang Lu harus punya cukup alasan yang masuk akal kenapa sampe mukul Gua Wa", sela Gua diantara mereka berdua.
"Eh anj*ing, gak sadar diri Lu ya!",
"Berapa kali Lu mainin hati perempuan Hah "!!", teriak Dewa kepada Gua.
Gua melangkah mendekati Dewa yang dihalangi Rekti. Gua tatap matanya yang penuh emosi itu. "Apa maksud Lu ?", tanya Gua.
"Lu paham maksud Gua Jing!",
"Playboy baji*ngan macam Lu emang harus dikasih pelajaran!", jawab Dewa. "Ini semua soal Siska ?", tanya Gua lagi.
"Gak ada hormatnya Lu ama orang yang lebih dewasa ya Jing!", balas Dewa lagi yang semakin emosi karena Gua hanya menyebut nama sang kekasih.
Gua menggelengkan kepala seraya tersenyum lebar. "Urusan Lu apa sih sebenarnya sama hubungan Gua dan pacar Gua " Heum ?", tanya Gua dengan nada suara yang pelan.
"Adiknya pacar Gua! Dan urusan kakaknya berarti urusan Gua juga!", ucap Dewa. Gua tertawa sekeras mungkin mendengar jawabannya, that's fakin amazing!!
"Wow.. Hahaha.. Gilaa.. Ini gilaaaa", kelakar Gua sambil mendongakkan kepala ke langit gelap di atas sana,
"Hebat Lu ya, cari muka dihadapan keluarga Siska", ucap Gua kali ini dengan tersenyum kepada Dewa.
"Lepas Ti, biar Gua abisin ini Bang*sat", ucap Dewa sambil mencoba melepaskan tangan Rekti dari kedua bahunya.
"Enggak ada kekerasan Wa, gak ada", jawab Rekti dingin tapi Gua rasa matanya menatap tajam kepada Dewa.
"Eh bang*sat, Lu pikir udah berapa kali Lu nyakitin hati Mba Siska hah "!", ucap Dewa lagi kepada Gua,


Asleep Or Dead Karya Bunbun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Dulu kalo enggak bokin Gua yang ngeliat Echa nginep di rumah Lu, gak akan Lu berhenti nyakitin Mba Siska!!", lanjutnya,
"Sekarang! Lu dengan enaknya ciuman ama per*ek di tempat clubbing! Bang*sat emang Lu!!".
Gua menghela napas pelan, memejamkan mata sebentar, mencoba menahan emosi yang mulai tersulut karena kata pe*ek yang Dewa ucapkan untuk Bianca tidak bisa Gua terima. Perlahan Gua atur nafas agar emosi Gua mereda.
"Wa..", ucap Gua masih mengatur nafas,
"Tau darimana Lu kalo perempuan yang Gua cium itu perempuan gak bener ?", "Enggak semua perempuan yang clubbing itu gak bener Wa.. Dan satu hal yang harus Lu tau...", "Namanya Bianca.. Dan dia bukan per*ek..", ucap Gua dengan suara yang Gua tahan senormal mungkin.
Bianca... Dia perempuan yang gak bener " Mungkin ya karena penyimpangan masalah seksualnya. Tapi dia bukan perempuan yang suka menjajakan tubuhnya untuk laki-laki berduit. Tau darimana Gua " Bukannya Gua baru kenal sebentar " Ya, memang Gua baru kenal dengan Bianca belum lama ini, tapi dengan penyimpangan masalah seksual yang dia punya, seharusnya itu udah cukup membuktikan kalau Bianca bukanlah kupu-kupu malam. Di dunia ini, siapa yang mau jadi manusia berlumur dosa " Enggak ada. Enggak ada sama sekali. Tanya hati kecil mereka. Harapan mereka adalah menjadi manusia yang berguna, sekecil apapun, dan setidaknya bagi orang-orang di sekitarnya.
"Lu denger sendiri Ti, dia bela itu pe*rek yang temen Gua bilang mereka ciuman Ti", ucap Dewa kepada Rekti.
Ops.. I heard that's... "Lu liat sendiri ?", tanya Gua dengan heran kepada Dewa.
Dewa seperti sadar akan ucapannya yang salah. Salah harus dia ucapkan di depan Gua. "Wa, Lu ada di klub itu ?", tanya Gua lagi.
"Dia gak liat Lu ciuman Za, temen kampusnya yang liat Lu..", Rekti kali ini yang menjawab pertanyaan Gua.
Gua heran dan bingung, kok bisa teman kampus Dewa tau kalo Gua ini temannya Dewa juga. Gimana maksudnya.
"Gua gak paham, gak ada satu pun temen kampus Lu yang kenal sama Gua Wa..", ucap Gua lagi.
Dan kali ini, Rekti meminta Dewa jujur dan menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Gua. Di malam itu, saat pertama kalinya Gua memasuki klub malam, ternyata satu jam kemudian ada temanteman kampus Dewa yang hadir. Saat Gua mencium Bianca, dengan lihainya salah satu teman Dewa mengabadikan kejadian tersebut lewat kamera hp. Teman kampus Dewa memang tidak kenal dengan Gua ataupun Bianca. Dan yang membuat Dewa mengetahui foto tersebut karena keesokan harinya, mereka bertemu di kampus, ya namanya dapat foto yang sedikit hot so pasti ditunjukkan ke teman lainnya, dan teman lainnya ini adalah si Dewa. Walaupun tidak begitu jelas, tapi cukup menunjukkan bahwa Gua adalah lelaki di dalam foto tersebut, yang otomatis Dewa langsung meminta bluetooth foto itu dari temannya. Dan... Kalian semua sekarang tau, darimana Mba Siska bisa mendapatkan foto itu.
Gua tidak menyalahkan Dewa, ya memang ini salah Gua sepenuhnya. Gua mengakui kalau apa yang sudah Gua lakukan dengan Bianca salah, gak perlu mencari alasan apapun lagi.
"Sekarang Lu ngaku salah dengan mudahnya, waktu Lu ngelakuin kesalahan itu dimana nama Mba Siska hah "!", ucap Dewa setelah menjelaskan soal foto dan mendengar penyesalan Gua.
"Sekarang mau Lu apa ?", tanya Gua pelan,
"Jangan dikira Gua enggak berusaha minta maaf dan gak menyesal sama Siska..", ucap Gua.
"Gua muak sama omongan sampah Lu!",
"Lepasin Gua Ti, biar Gua hajar nih Bang*sat satu!!", ucap Dewa lagi mencoba melepaskan tangan Rekti lagi.
"Ti..", "Lepasin Dewa..", ucap Gua.
Rekti menengok ke belakang kepada Gua. Gua tersenyum dan mengangguk pelan. Seketika itu juga Rekti langsung melepaskan kedua tangannya pada bahu Dewa. Dan sekian detik kemudian Dewa langsung maju menghampiri Gua dengan cepat.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, sekian sekian sekian.
Entah berapa pukulan tangan dan tendangan yang Dewa hantamkan kepada tubuh Gua. Gua terima semua hantaman itu tanpa melawannya sedikitpun, Gua hanya melindungi wajah dan kepala dengan kedua tangan. Semakin menggila dan membabi buta serangan yang Dewa berikan ke tubuh ini. Tapi Gua masih kokoh berdiri dengan semua terjangannya itu. Sampai akhirnya mungkin dia kelelahan sendiri. Dengan nafas yang terengah-engah, Dewa mundur beberapa langkah dan mengatur nafasnya.
Gua menurunkan kedua tangan yang awalnya menutupi wajah dan kepala Gua. Gua pun mengatur nafas, walaupun Gua tidak terjatuh, tapi rasa sakit dan perih langsung merambat di sekujur tubuh Gua, dan yang paling terasa adalah pinggang Gua. Ya di situlah Dewa banyak menghantamkan pukulan juga tendangannya. Gua mengurut-ngurut pinggang kiri yang terasa sakit. Gua tarik sweater berikut kaos sebatas dada, untuk melihat luka lebam yang berada di pinggang itu, tapi inilah dimana Gua lengah, baru saja Gua menatap pinggang yang sakit, sebuah tendangan telak menghantam wajah Gua, dan sukses membuat Gua terjatuh dengan posisi berbaring.
Gua meringis kesakitan memegangi wajah, lebih tepatnya hidung. Sakit dan sangat sakit. Gua terkapar, sakit menahan perih di hidung. Gua sempat melihat Rekti dan Unang menahan Dewa yang hendak menerjang Gua lagi, dan dengan menahan sakit, Gua mencoba untuk duduk. Setelah berhasil terduduk, Gua menyeuka hidung yang sudah bersimbah darah hingga masuk ke dalam mulut, dan rasa darah pun menyapa lidah Gua.
"Lepas!!", ucap Dewa.
"Cukup! Cukup Wa! Enggak perlu lagi Lu ngehajar sahabat Lu sendiri!", ucap Rekti dengan nada yang menyentak.
"Okey.. Gua gak akan hajar lagi si Bang*sat itu", jawab Dewa sambil melirik kepada Gua, "Gua cuma mau ngomong", lanjutnya.
Rekti menatap tajam kepada Dewa, dan Dewa langsung meyakinkan Rekti lagi. "Gua janji gak akan ngehajar dia lagi Ti", lanjutnya.
Rekti melepaskan tangannya, begitu juga dengan Unang. Lalu Dewa mendekati Gua yang terduduk di atas rumput dan dia berjongkok tepat dihadapan Gua.
Puk.. Tangan kanannya menepuk bahu kiri Gua.
"Za, lepasin Mba Siska", ucapnya dengan mata yang tajam menatap Gua,
"Dia gak akan bahagia sama cowok macem Lu", ucapannya kali ini diiringi cengkraman kuat tangan kanannya pada bahu kiri Gua.
Lalu Dewa berdiri dan menatap Gua dari atas. "Za..", ucapnya lagi. "Lu emang pantes di buang sama nyokap Lu".
DEGH!!! Emosi Gua pecah ketika itu juga, Gua tidak lagi bisa melihat mana yang baik dan buruk. Mulai sekarang, enggak ada lagi yang namanya sahabat diantara kita. Gak akan ada. Dan saat ini, kepala Dewa adalah satu-satunya bagian tubuh yang ingin Gua belah menjadi dua.
PART 38 Gua berlari sambil menenteng pistol, menyelinap ke gang-gang yang lebih kecil dari jalanan depan rumah. Sepertinya hanya cukup untuk dua motor gang ini luasnya. Dibelakang Gua sudah ada Unang dengan ak-47 nya yang dia dekap di depan dada. Kami bak seorang prajurit dalam perang, mata kami tajam dan awas memandangi sekitar.
"Door.. Dorr.. Doorr..", suara tembakan dari mulut seorang anak SD kelas 3 terdengar antusias dari arah samping kanan.
"Mati atuh Nang... Licik Elu maa...", ucap si anak.
"Door..", Gua arahkan pistol ke kepalanya, "Lu juga mati hahahaha...", lanjut Gua.
Kami bertiga tertawa ketika itu. Ya ketika dimana setiap lebaran kami selalu membeli mainan pistol bohongan untuk bermain ala prajurit yang sedang perang. Bermain perang-perangan. Dan Gua rasa bukan hanya kami saja yang sering bermain permainan ini. Sama halnya dengan kebanyakan anak di luar sana.
Saat itu, kami masih kelas 3 SD, bermain bersama dari mulai sepak bola tanpa alas kaki di lapangan dengan gawang yang dibuat dari sandal jepit kami, bermain petak umpat dan kelereng. Sampai masa dimana kenakalan kami pun bertambah seiring berjalannya waktu. Saat kami kelas 4 SD, Gua, Unang, Dewa dan Icol bermain di dekat taman kanak-kanak, dimana di sampingnya ada kebun singkong. Dan setiap minggu sore setelah ashar, kami mencuri singkong di kebun itu, yang pemiliknya adalah keluarga Robbi.
Selalu ada keceriaan di masa itu, bermain bersama sahabat-sahabat rumah. Saling bertukar pinjam komik dragon ball sampai goosebumps, bermain tazos, hingga mengintip seorang janda cantik di dekat sungai. Dan kami termasuk anak tahun 90-an yang pantang pulang sebelum maghrib.
Tidak ada rasa sakit hati ketika kami saling memanggil nama orangtua. Ya seperti halnya yang pernah kalian alami semua. Meledek dan menyebut teman A dengan nama bapaknya, begitupun balasan si B menyebut nama bapak si A. Gua sakit hati " Enggak sama sekali, karena Gua bangga ketika itu. Nama Ayahanda terlalu bagus untuk menjadi bahan cemo'ohan.
Dari mulai Echa, Icol, Unang, Rekti, Robbi, sampai Dewa sekalipun tidak ada yang berani menyebut nama Ibu Gua, karena semua tau peristiwa apa yang terjadi pada keluarga Gua saat itu. Dan merekalah kebahagiaan Gua. Ketika masa anak-anak dengan perih dan sakit yang menahun dalam jiwa ini karena Ibu, merekalah yang setia menghibur Gua.
Gua rindu akan masa itu. Dimana kami saling mengejek dan bermain bersama tanpa ada yang tersakiti hatinya.
Saat itu adalah masa kelam Gua dalam keluarga, dan masa bersama sahabat-sahabat kecil Gua itu adalah penawar masa kelam yang terasa menyayat hati ini.
Tapi sekarang.. Semua itu sudah tidak ada lagi, semuanya sudah berubah. Dan perpecahan ini pun membawa kami ke jurang kehancuran dalam persahabatan yang teramat sulit untuk kami tapaki.
... ... ... Buuaagh... Sebuah tendangan memutar dari arah kanan Dewa tepat mengenai tengkuknya. Dewa terjerembab ke depan, tepat di samping kiri Gua dia terjatuh. Rekti, Gua dan Icol langsung memandangi Unang yang sudah emosi. Dewa mencoba kembali berdiri dengan susah payah, tapi usahanya sia-sia, tendangan Unang yang dia rasakan pada tengkuknya itu sudah pasti sangat sakit dan membuatnya meringis. Rekti lalu menahan tubuh Unang yang hendak mendekati Dewa.
"Wa, jangan kayak banci Lu.. Bawa-bawa orang yang udah gak ada", ucap Unang dengan nada emosi.
Gua berdiri dan berbalik badan, berjalan meninggalkan mereka. Gua berjalan pelan sampai ke rumah. Gua masuk lewat pintu utama, melewati ruang tamu dan melintasi kamar Nenek yang pintunya sedikit terbuka.
"Zaa", panggil Nenek dengan suara sedikit keras dari dalam kamarnya.
Gua berhenti melangkah tepat di samping meja makan. "Ya Nek..", saut Gua dengan posisi membelakangi kamarnya.
"Darimana ?". "Main sama Dewa".
"Ooh, jangan pulang larut ya, hujan lagi nanti Za".
"Ya", jawab Gua seraya kembali berjalan ke arah gudang.
Gua putar kunci pintu gudang dan membukanya, Gua nyalakan lampu lalu masuk lebih dalam. Gua mengangkat beberapa barang yang berada di atas sebuah box berukuran cukup besar. Setelah itu Gua putar kombinasi gembok dan membuka box kayu tersebut. Gua singkirkan beberapa dokumen alm. Kakek dan beberapa barang pecah belah untuk menjangkau dasar box lebih dalam lagi. Sebuah benda yang selama ini tersimpan dan terlupakan oleh seluruh penghuni rumah Nenek, Gua angkat dengan hati-hati. Sedikit bergetar sebenarnya tangan Gua, tapi keraguan dan ketakutan Gua sirna ketika Gua mengulang-ulang ucapan Dewa tadi.
Salah satu cara agar emosi tetap berada di puncak adalah mengingat kejadian buruk tersebut, kejadian yang membuat hati kita terluka dan sakit. Jangan pernah pikiran positif memasuki otak, sekecil apapun celahnya. Jadi emosi yang sudah terbakar itu akan tetap menyala di dalam jiwa kita tanpa surut sedikitpun. Sambil kembali meletakkan semua barang pada tempatnya, Gua terus membakar emosi dengan mengulang ucapan Dewa di dalam hati dan otak Gua. Sampai akhirnya Gua keluar rumah.
Baru saja Gua keluar pintu rumah depan, Icol dan Unang sudah berada di teras depan kamar Gua.
"Za..", "Udah cukup Za, Dewa emang berlebihan. Tapi Gua harap Lu ngerti emosinya Za", ucap Icol yang berjalan menghampiri Gua bersama Unang.
"Emosi yang mana maksud Lu ?", tanya Gua sambil menyeuka darah yang mulai mengering pada hidung dengan tangan kiri.
"Soal kejadian tadi", jawab Icol.
"Siska ?", "Kurang ngerti apalagi Gua ?",
"Gua biarin dia ngelampiasin emosinya... Gua biarin dia mukulin Gua", ucap Gua, "Tapi enggak dengan omongan terakhirnya", tandas Gua sambil kembali berjalan melewati mereka berdua.
Gua berjalan cepat dengan Icol dan Unang yang mengejar dari belakang, sampai akhirnya di persimpangan antara rumah Dewa dan Pak Rw, Icol menahan bahu Gua dari belakang. "Za.. Za..", tahan Icol dan langsung berdiri dihadapan Gua.
Icol menggelengkan kepala sambil menatap Gua. Sedangkan Unang berdiri di depan kanan Gua.
"Bawa apaan Lu ?", tanya Unang kali ini yang daritadi memperhatikan tangan kanan Gua masuk kedalam saku sweater kanan.
"Apaan itu Za ?", timpal Icol yang ikut melihat ke saku kanan Gua dengan wajah waswas.
Gua menepis tangan kanan Icol dari bahu kiri Gua. "Bukan apa-apa.. Liat sendiri kan ?", jawab Gua sambil mengeluarkan tangan kanan dari saku dan menunjukkan telapak tangan yang kosong kepada mereka.
Icol sedikit lega dengan melihat telapak tangan kanan yang Gua angkat dan kosong itu. Tapi tidak dengan Unang, matanya tetap melirik pada saku sweater kanan Gua. Gua yang melihat Unang memperhatikan saku kanan, akhirnya membuat Unang melirik kepada Gua, dan dia menggelengkan kepala pelan dengan mata yang memohon. Gua hanya tersenyum tipis kepada Unang, lalu kembali berjalan kearah rumah Dewa. Icol dan Unang berada tepat di belakang.
Sampai Gua sudah di depan rumah Dewa, dan baru saja Gua mau memanggil namanya, Icol memberitahukan kalau Dewa dan Rekti ke rumah Meli. Gua menengok kepada Icol di samping kiri, mengerenyitkan kening. "Maksudnya " Mau minta tolong Pak Rw gitu ?", tanya Gua kepada Icol.
Icol mendengus pelan sambil menaikkan bahunya. Tidak lama kemudian, suara derap langkah beberapa orang dari arah kanan kami bertiga terdengar jelas sampai akhirnya Gua melihat lima orang yang berjalan kearah kami. Mungkin sekitar empat meter mereka berhenti dari tempat kami berdiri. Disana, Gua lihat ada Rekti, Meli, Dewa, Pak Rw dan... Mba Siska.
"Za, kita omongin baik-baik", ucap Rekti.
"Lu mau ngapain ke rumah Gua ?", tanya Dewa.
Gua menatap Dewa lekat-lekat sambil berjalan kearah rumahnya. Dan duduk di atas tembok pembatas teras rumahnya dengan jalanan. "Sini Lu", ucap Gua menyuruh Dewa mendekat.
Dewa hendak melangkah tapi ditahan bahunya oleh Rekti. Sekarang malah Pak Rw yang berjalan kearah Gua. Belum sampai Pak Rw berjalan jauh dari tempatnya berdiri, Gua keluarkan benda yang Gua ambil di gudang tadi dari saku sweater kanan. Dan mengangkatnya setinggi bahu. Semua mata orang-orang yang melihat Gua terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang Gua genggam pada tangan kanan ini. Mba Siska dan Meli sampai menutup mulutnya dengan tangan mereka. Gua lihat Dewa... Ya dia, Gua melihat tangannya sedikit bergetar.
"Bercanda Lu Za", ucap Unang.
Gua hanya menggeleng pelan lalu mengaitkan jari telunjuk kiri ke ring pin.
"Leeee'...!!", "ISTIGFAR Lee!! Istigfar!", teriak Pak Rw kepada Gua.
Gua melirik kepada Mba Siska yang telah berurai airmata dengan tangan kanannya yang masih menutupi mulut. Lalu Gua lihat dia menggelengkan kepala. Rekti memegangi Dewa yang baru saja bersimpuh di jalan, dengan kedua lututnya menopang tubuh dan kedua tangannya mengatup, matanya mulai berair.
"Gua mohon sama Lu Za, maafin Gua",
"Gua emosi, Gua akuin udah kelewatan. Maafin Zaa... Guaa mohoooon.. Tolong Za maafin Gua", ucapnnya dengan tangan yang bergetar.
"Za.. Za.. Ini udah kelewatan Za, istigfar Za, Dewa salah, dan lebih baik Lu hajar dia biar impas Za, tapi enggak dengan granat itu Za.. Jangan gegabah Za, jangan tarik pin-nya Za..", ucap Rekti sambil memegangi bahu Dewa.
Kepala Gua serasa berat mendengar ocehan semua orang yang ada di sini, pandangan Gua gelap, lalu Gua menarik kaki hingga kini Gua sudah berada di teras rumah Dewa.
"Za, jangan bodoh", ucap Mba Siska seraya mengeluarkan revolver dari balik pinggangnya dan mengarahkannya kepada Gua.
Gua tertawa melihatnya menodongkan senjata kepada Gua. Lalu Gua angkat hand-grenade tersebut sebatas wajah. "Mba, kamu mau tembak aku " Silahkan..", ucap Gua sambil mundur beberapa langkah hingga sampai di depan pintu rumah Dewa. Lalu mereka yang ada di luar sana mendekat sampai di depan teras.
"Ada siapa di dalam Wa ?".
"Gua mohon, Gua mohooon Za! Ampunin Gua! Di rumah cuma ada adek Gua Za, tolong Lu jangan sakitin dia..", jawab Dewa dari balik tembok teras yang sebatas pinggang.
Ceklek... Pintu terbuka, seorang anak berumur 5 tahun keluar dan menatap bingung kepada Gua. "Mas Eza ?", ucapnya.
Gua menatapnya sambil tersenyum, "Masuk Nis, main di dalam aja ya", jawab Gua.
Nissa hanya menatap Gua dengan kebingungan. Dan melirik ke arah tangan Gua yang masih menggenggam erat granat. "Itu apa Mas ?", tanyanya.
Gua menghela napas pelan. "Ini mainan baru", jawab Gua. "Ayo masuk sana, nanti Mas Eza kasih untuk kamu".
Nissa akhirnya masuk lagi ke dalam rumah tanpa menutup kembali pintunya. Gua kembali menatap Dewa yang masih berada di balik tembok teras bersama yang lainnya.
"Wa..", ucap Gua. "Sorry..".
Trik.. Gua tarik pin granat hingga benar-benar terlepas.
"BAAAANGGSSAAAAAAAAAATTTT!!!!", teriak Dewa sekeras-kerasnya sambil meloncati tembok rumahnya dan berlari menghampiri Gua.
Gua lempar granat ke dalam rumahnya yang memang pintunya masih terbuka itu...
Sedetik kemudian Gua pun berlari menerjang Dewa, setelah jarak di antara kami cukup. Gua memutar badan dan melayangkan satu tendangan tepat ke arah wajahnya.
Buugh.. Dewa terhempas ke kanan dari arah Gua dan membentur dinding teras. Sedetik kemudian suara letusan terdengar nyaring...
Daaarrr... Gua terhempas dan terjatuh. Nafas Gua berat, tangan kanan Gua memegangi pinggang yang terasa hangat, sebelum pandangan Gua menjadi gelap, Gua melirik ke kanan, dimana tubuh Dewa yang sudah terkapar. Dan saat suara derap langkah kaki menghampiri, pandangan Gua benar-benar menjadi gelap, lalu kesadaran Gua pun hilang...
PART 39 Sebuah pohon kamboja yang daunnya berayun tertiup angin menampakkan keteduhan di luar ruangan kamar ini. Entah sudah berapa lama Gua menatap daun serta bunga kamboja yang bergoyang dari atas ranjang. Suara tv yang menyala tidak mengusik pikiran Gua sedikitpun, mata Gua masih menatap keluar sana.
Suara pintu kamar terbuka dari arah kanan. Gua menengokkan kepala dan melihat sebuah senyuman mengembang dari wajah seorang perempuan pemilik wajah yang teduh, seteduh hatinya yang selama ini selalu menemani Gua. Dia berjalan mendekat lalu menarik kursi di samping ranjang dan duduk tepat di sisi kanan Gua.
"Gimana sekarang " Udah baikkan ?", tanyanya seraya menaruh kedua tangan ke lengan kanan Gua. Gua tersenyum tipis menatap wajahnya. "Lumayan...", jawab Gua. "Kamu sendirian ?", tanya Gua.
Dia menggelengkan kepala, lalu menengok ke belakang, kearah pintu kamar. Tidak lama kemudian masuklah kedua orangtuanya. "Siang Za..", sapa Mamahnya yang berjalan mendekat bersama sang suami.
"Siang Mah". "Gimana kondisi kamu ?", tanya Papahnya kali ini setelah berdiri tepat di dekat kaki Gua. "Alhamdulilah udah baikkan Pah".
"Sudah mau makan sekarang ?", tanya Mamahnya.
Gua menganggukkan kepala dengan tersenyum. Kemudian Echa mengambil buah apel dari kantung plastik yang dia bawa tadi, lalu mengambil pisau kecil untuk membelah apel tersebut. Papahnya berjalan ke sisi kiri ranjang dan kini berdiri di dekat lengan kiri Gua.
"Za". "Ya Pah ?". "Papah sudah urus semuanya",
"Sekarang kamu tidak perlu lagi memikirkan perkara kemarin...", ucapnya sambil menaruh tangan kanannya ke bahu kiri Gua.
Pikiran Gua langsung kembali ke kejadian dua hari lalu setelah mendengar ucapan Papahnya Echa.
Malam minggu terburuk... Segala kekacauan yang Gua lakukan mengakibatkan semuanya berantakan. Gua runut pada saat sebuah granat dari tangan kanan ini Gua lempar kedalam rumah Dewa, dimana di ruang tamu rumahnya itu ada seorang anak gadis yang masih berusia 5 tahun sedang bermain boneka. Bukan pin yang Gua lempar kedalam sana, tapi benar-benar bahan peledak yang bisa membuat tubuh manusia hancur.
Granat itu... Bukan granat mainan. Granat itu adalah granat sungguhan yang dimiliki seorang perwira di masa lalu. Granat yang memang diperuntukkan di medan perang. Alm. Kakek Gua lah yang membawa bahan peledak tersebut ke rumah sekian tahun yang lalu. Tubuh Gua bergetar ketika membayangkan granat tersebut meledak di ruang tamu rumah Dewa, dan menghancurkan seisi ruangan beserta... Adik kecilnya itu.
Gua menghela napas dengan kasar, lalu Gua tersenyum sambil menggelengkan kepala ketika tangan Papahnya Echa menggoyangkan bahu Gua pelan.
"Hey", "Sudah tidak usah dipikirkan lagi", ucapnya.
Gua menengok dan menatap wajahnya lalu mengangguk pelan.
"Za, ayo dimakan dulu nih..", Echa menyodorkan tangan kanannya yang memegang potongan apel dari sisi kanan Gua.
Gua menengok kearahnya lalu membuka mulut dan menerima suapannya. Manis, sangat manis buah apel yang sedang Gua kunyah ini. Lalu semakin manis rasanya ketika sebuah senyuman yang nampak dari wajah Teteh tercinta Gua itu.
Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka lagi, kali ini Gua melihat beberapa orang yang masuk kedalam dan menghampiri. Sekarang di dalam kamar rawat inap ini telah berkumpul keempat sahabat Gua ditambah seorang gadis kecil. Echa dan kedua orang tuanya keluar kamar untuk memberikan waktu kepada kami. Rekti berada di sisi kiri bersama Icol, dan Unang ada di sisi kanan bersama Dewa yang menggendong Nissa.
"Ini mainannya buat aku ya Mas Eza", ucap Nissa sambil menunjukkan granat yang cukup berat berbahan besi kepada Gua.
Gua ambil granat itu, melihatnya dengan seksama, memutarnya perlahan dan mencari pinnya. "Pin nya gak ketemu Wa ?", tanya Gua tanpa menoleh.
"Enggak Za, Gua cari di teras sampai ke ruang tamu juga gak ada..", jawab Dewa. Puuk.. sebuah tinju yang sangat pelan menyapa lengan kiri Gua.
"Bangke emang Lu..", ucap Rekti sambil menyeringai, "Gua kira beneran meledak itu granat", lanjutnya.
Gua terkekeh pelan sambil melihat Dewa kali ini. "Sorry ya Wa", ucap Gua kepada Dewa sambil terkekeh.
Dewa menggelengkan kepalanya pelan, lalu Gua melihat kedua sudut matanya mulai timbul butiran air. Cepat-cepat dia seuka airmatanya dengan punggung tangan kirinya.
"Rasanya tulang Gua lepas semua waktu Lu narik pinnya dan ngelempar granatnya ke dalem rumah.. Fak! Sial emang Lu Za.. Ha ha ha ha..", jawab Dewa.
Kami semua tertawa pelan mendengar ucapan Dewa itu, kecuali satu orang... Unang, dia menatap Gua dengan wajah yang serius.
"Kenapa Nang ?", tanya Gua yang menyadari tatapannya itu.
"Apa Lu gak kepikiran Za...", ucapnya, "Kalo misalkan itu granat masih aktif", lanjutnya.
Gua menghela napas dengan wajah yang tertunduk, lalu menyeringai sesaat sebelum kembali menegakkan kepala. "Gua yakin kalo itu granat gak aktif kok", jawab Gua. "Udah Lu test sendiri ?", tanya Icol kali ini.
"Ya, waktu Gua ambil granat itu dari gudang, Gua sempat lepasin pinnya dan Gua lepas juga safety lever nya...", jawab Gua sambil melirik kepada Icol.
"Kalo ternyata aktif, Lu...", ucap Rekti yang tidak melanjutkan ucapannya lagi. "Bum! Mati Gua..", jawab Gua.
Seketika itu juga wajah mereka pucat sambil menelan ludah.
"Hahahahaha... Santai brothers, Gua gak bodoh untuk nyoba peledak aktif di tangan Gua..", ucap Gua,
"Gua tau ini granat gak aktif, karena Kakek Gua pernah bilang ke Om Gua, kalo nih granat sebagai contoh aja, isinya atau serpihan besi udah gak ada, kosong..", lanjut Gua.
"Tapi itu beneran granat kan ?", tanya Unang lagi.
Gua melemparkan granat nanas ini keatas, setinggi kepala dan kembali menangkapnya. "Yap.. This is real hand-grenade with empty explosive..", ucap Gua lagi lalu memberikannya kepada Nissa. "Maenan baru untuk kamu Nis", lanjut Gua sambil tersenyum setelah Nissa kembali menerima granat itu.
"Makasih Masss... Hihihi", jawab Nissa dengan ekspresi yang lucu.
Shock therapy Heh.." Yes.
And I'm not psycho... I just like psychotic things... Gerard Way
So what's next " Ledakkan dalam ruang tamu yang meluluhlantakan seisi ruangan " Itu hanyalah bayangan Gua saja, bayangan dalam pikiran Gua yang menari-nari dengan indahnya dan cukup membuat Gua bergidik.
"Gimana sama luka Lu Za ?", tanya Dewa sambil menurunkan Nissa dari gendongan pada tangan kanannya.
"Yaaa.. Lumayan membaik, dan udah gak kerasa sakit sih", jawab Gua, "Ngomong-ngomong, Mba Siska gimana ?", tanya Gua melirik kepada Dewa. "Huuftt.. Gua gak tau kelanjutannya Za", jawab Dewa.
"Katanya bakal di mutasi ke luar daerah", ucap Rekti kali ini.
Gua menggelengkan kepala pelan sambil memejamkan mata. Pacar Gua, ya dia masih jadi pacar Gua, kami belum putus. Timah panas yang dia berikan kepada pinggang Gua ini bukanlah alasan untuk Gua mengakhiri hubungan kami, tapi semenjak Gua dirawat di rumah sakit ini, Belum sekalipun dirinya datang menjenguk atau sekedar menelpon Gua. Khawatir, sangat khawatir perasaan Gua ketika mendengar kabarnya kemarin, nyaris semua yang terjadi tiga hari lalu itu berakhir diatas meja hijau. Dan kabar kejadian itu pun keesokan harinya sampai ke telinga Om Gua, dan beliau langsung datang ke rumah saat Nenek menelponnya minggu pagi.
Sesuai yang diceritakan Rekti dan Unang. Saat Gua sudah terkapar dan pingsan akibat tembakkan dari sebuah revolver yang berada pada genggaman Mba Siska, mereka semua menghampiri Gua dan Dewa. Lalu Pak Rw masuk kedalam rumah Dewa, untuk memastikan keadaan Nissa, dan karena memang granat tidak meledak, Pak Rw langsung menggendong Nissa dan dibawa keluar rumah. Sedangkan Gua digotong oleh Rekti dan Unang, Dewa dipapah oleh Icol dan Meli. Sedangkan Mba Siska... Dia malah pingsan sesaat setelah melepaskan timah panas.
Beberapa tetangga keluar dan ikut membantu Mba Siska yang sudah pingsan diatas jalanan komplek. Gua langsung dibawa ke rumah sakit oleh Rekti dan Unang menggunakan mobil Rekti, darah yang keluar dari pinggang Gua dibalut oleh baju sweater Gua, yang dilepaskan oleh Unang. Sedangkan Mba Siska, Meli, Icol, Nissa dan Dewa dibawa ke rumah Pak Rw. Icol mendatangi rumah Gua untuk memberikan kabar kepada Nenek, ya tentunya dengan sedikit berbohong, dia tidak bilang kalau Gua tertembak, melainkan pingsan karena berantem dengan Dewa.
Setelah itu, barulah Pak Rw, Icol, orangtua Unang, dan orangtua Icol ikut menyusul ke rumah sakit bersama Nenek menggunakan dua mobil. Pada saat di IGD, Nenek Gua akhirnya tau kalau luka yang Gua dapatkan sebenarnya karena timah panas. Seketika itu juga kata Rekti, Nenek langsung jatuh pingsan. Dewa dan Mba Siska tidak ikut karena kondisi mereka yang masih belum sadar, mereka berdua berada di rumah Mba Siska, yang ditemani oleh Meli, Ibundanya Mba Siska dan beberapa tetangga sebelah rumah.
Keesokan paginya, di hari minggu, Gua sudah sadar setelah menerima jahitan dan pengobatan dari dokter. Gua terbangun di ranjang kamar rawat inap kelas 2. Gua baru tau, hahahahha... Fak! Itu timah hanya 'say hello' to me aja, alias serempet kamvret. Tapi ya tetep aja gais, sakit, perih, panas, dan bikin tubuh menggigil kayak orang sakit demam. Bahkan Gua pingsan. Fak!
Gak kebayang kalau sampai bersarang tuh timah. Selesai sudah riwayat kadal bunting, enggak ada nih cerita. Wassalam, game over Gua. Hahahahahha asyuuuu...!
Tapi hanya sekian tawa Gua. Karena perasaan Gua kembali cemas dan hati Gua sedih, Mba Siska... Dia harus menerima tuntutan dari Papahnya Echa. Fak!!! Gua tau akan hal itu setelah Rekti menceritakannya pada hari setelah kejadian tersebut di rumah sakit ini. Jadi apa yang sebenarnya terjadi setelah itu....
Echa yang pada akhirnya tau setelah minggu pagi Om Gua datang dari Bandung lalu mendengar kejadian itu dari Rekti dan Pak Rw langsung menghubungi Papahnya Echa. Dan disinilah Gua tidak habis pikir, Papahnya Echa tidak terima, dia menuntut Mba Siska dan akan memperkarakannya. Padahal menurut Om Gua, bukan itu yang Om dan Nenek Gua inginkan, tapi menolong Gua, keluarga Dewa dan Mba Siska agar bisa damai secara kekeluargaan. Bingung dan rumit masalah ini.
Keluarga Dewa jelas tidak terima dengan apa yang Gua lakukan pada kedua anaknya, Dewa dan Nissa. Bapaknya Dewa hendak menuntut Gua karena mengancam keselamatan anaknya walaupun granat itu tidak meledak, oke Gua salah. Tapi maksud Om Gua dan Pak Rw ingin berunding, agar semuanya bisa terselesaikan tanpa perlu menempuh jalur hukum. Ya namanya orangtua, mana ada sih yang terima, dengan emosinya Bapaknya Dewa tetap akan melanjutkan kasus ini, maka Om Gua mau tidak mau harus meminta bantuan lagi kepada bintang satu yang kerlip engkau disana...
Setelah selesai mendengar kejadian itu dari Om Gua, Papahnya Echa pun melayani tuntutan keluarga Dewa, dan akhirnya, menyeret nama Mba Siska karena kalian tau lah apa yang terjadi. Papahnya Echa memberikan gambaran tentang hukum yang berlaku dan yang akan kami semua terima jika benar-benar masalah ini sampai naik ke meja hijau. Dewa juga tidak akan lepas dari jeratan hukum, karena sudah masuk pasal penganiyayaan terhadap Gua. So... Choose wisely for this syit!!!
Siapa sekarang yang pusing " Keluarga Mba Siska dan keluarganya Dewa. Mereka jelas tidak mau sampai anak-anaknya harus mendekam di ruangan yang dingin dan pengap. Beberapa pertimbangan dan masukkan dari pengacara pribadi keluarga Echa akhirnya meluluhkan hati Bapaknya Dewa, Beliau memilih jalan damai secara kekeluargaan, dan memang kalau mau dilihat lagi toh tidak ada korban jiwa dari pihak keluarganya.
Semuanya selesai sampai disitu... Harapan Gua pun begitu, tapi sayang. Ada seorang perempuan yang tidak terima atas kejadian tersebut. Tidak terima Gua terluka karena timah panas, walaupun hanya tergores.
Echa, ya dia yang selama ini memiliki hati yang ikhlas dan baik dalam menghadapi setiap masalah akhirnya tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia tidak peduli dengan urusan keluarga Dewa, tapi lain ceritanya kepada Mba Siska. Gua dengar dari Nenek yang melihat langsung. Saat Mba Siska bertemu Echa di rumah keluarga Echa. Itu wajah Mba Siska bersimbah air sirup dan sebuah gelas melayang ke samping wajah Mba Siska. Siapa lagi yang melakukan itu kalau bukan Echa. Emosi tingkat Dewi Hera itu Teteh Gua... Serem oi! Kamvret!
Untung saja ada keluarganya, jadi masih bisa di lerai, kalau enggak, vas bunga ikut melayang ke kepala Mba Siska kata Nenek Gua. Kok Gua jadi sport jantung gini ngebayangin Echa marah. Jangan sampai Gua yang jadi objek kemarahannya deh. Kabur pilihan terbaik daripada meladeni Teteh Gua itu.
Ya namanya anak kesayangan, apapun akan diberikan oleh Papahnya. Dan permintaan maaf yang memang sudah bisa diterima Om dan Nenek Gua dari Mba Siska dan Pak Rw tidak cukup meredam hati yang emosi pada diri Echa. Jadi... Tuntutan terakhirnya adalah... Mba Siska akan di mutasi ke luar daerah. Jangan tanya kenapa kok bisa " Ya Lu spekulasi sendiri aja deh kalo punya masalah sama orang berpangkat bintang. Udah cukup, jangan bahas lagi masalah ini okey " Atau Gua gak segan-segan request deleted thread ini.
Dampaknya tidak terlalu besar bagi karir Mba Siska, hanya pemindahan tempat kerja saja.
Beruntunglah hanya itu. Tapi ingat, selalu dan selalu ada udang dibalik batu... Kalau kalian jeli, kalian akan tau kenapa kejadian ini menjadi trigger untuk hubungan Gua dan Mba Siska. And the time will tell...
Selesai sudah kejadian itu dengan segala ceritanya dan pengaruhnya kepada orang-orang yang terlibat. Tapi sayangnya, yang Gua pikir sebuah luka di pinggang ini sudah cukup memberikan dampak kepada Gua, ternyata belum cukup.
. . . . . . . . Dan... Dari part inilah titik awal kisah hidup Gua akan masuk ke dalam elegi. Ketika itu, tanpa Gua sadari, bahwa satu kaki Gua sudah menapaki jalan gelap tanpa cahaya sedikitpun di dalamnya...
Do or die, you'll never make me
Because the world will never take my heart Go and try, you'll never break me We want it all, we wanna play this part.
PART 40 Gua duduk di sebuah resto fastfood, segelas kopi hangat tersaji di atas meja makan, seorang perempuan sedang menyantap ice cream cone yang dia pegang pada tangan kanannya, tepat dihadapan Gua. Kami berdua sudah menunggu sekitar 20 menit lamanya di resto ini. Dan rokok pada selipan jemari Gua adalah batang rokok ketiga.
Mata Gua menyapukan pandangan ke beberapa orang yang berjalan dan menunggu sanak keluarganya menjemput mereka. Ada rasa bahagia dan haru ketika seseorang yang ditunggu selama ini kembali hadir ditengah-tengah kita, entah itu kekasih, sahabat atau keluarga. Tapi rasa rindu yang sudah lama bersemayam di dalam hati akhirnya terobati dengan kehadirannya lagi. Tapi... Bagaimana jika dia hanya datang untuk sekedar menyapa dan mengucapkan selamat tinggal " "Ka, masih lama gak sih ?", tanya Gua sambil menghembuskan asap rokok ke samping. "Setengah jam lagi mungkin", jawabnya sambil melihat jam tangan di pergelangan tangan kanannya.
Gua mendengus kasar karena sudah cukup lama rasanya menunggu. Lalu Gua mematikan rokok ke asbak dan meneguk kopi hitam yang rasanya beda dari kopi kesukaan Gua, apalagi ini sudah dingin. Karena bosan, Gua pun akhirnya menyandarkan punggung ke bahu kursi besi ini dan memejamkan mata lalu menopang kening dengan satu tangan kanan Gua. Entah berapa lama Gua tertidur ayam, tapi tidak lama kemudian sebuah tepukkan pada bahu kanan Gua langsung membuat Gua terbangun dan menoleh ke kanan sambil mendongakkan kepala ke atas.
Sebuah senyuman yang terakhir kali terlihat setahun lalu kini kembali nampak dihadapan Gua. Gua bangun dari duduk lalu mencium tangan Beliau, yang langsung dibalasnya dengan menarik tubuh Gua dan mendekap Gua dengan erat. Usapan tangannya pada punggung Gua terasa merontokkan semua beban yang ada dalam batin ini, segala hal-hal yang telah Gua lalui kurang-lebih satu tahun kebelakang benar-benar membebani Gua, tapi kehadirannya di malam ini membuat Gua yakin, kalau segalanya akan baik-baik saja. Dia lah kekuatan Gua, hanya dengan nasihatnya lah Gua bisa kembali ke jalan yang benar.
Gua membawa koper dan menggendong tas ranselnya, sedangkan Kinan membawakan koper Kakaknya, yang tidak lain adalah Ibu baru Gua. Kami berempat sampai di parkiran bandara dan setelah memasukkan semua barang bawaan itu, Gua pun masuk ke pintu kemudi mobil milik keluarga Kinan, sebuah mobil mini-bus. Ayahanda duduk di samping kemudi, Kinan dan Mba Laras duduk berdua di bangku tengah. Setelah memastikan semuanya sudah duduk dengan aman dan seat-belt terpasang, Gua mulai melajukan mobil dan kami semua meninggalkan bandara soetta.
Sekitar pukul 3 subuh kami semua sampai di rumah Kinan. Gua menurunkan semua barang milik kedua orangtua Gua yang dibantu oleh Kinan, lalu kami semua masuk ke dalam rumah yang langsung disambut oleh kedua orangtua Mba Laras dan Kinan. Sedikit obrolan yang kami bicarakan di ruang tamu, karena hari sudah menjelang pagi dan Gua yakin Ayahanda dan Mba Laras masih lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Kanada ke Indonesia, mereka pun akhirnya masuk ke kamar untuk istirahat, Gua tidur bersama Kinan di kamarnya. Sssttt.. She's my auntie rite now, don't you think i want to fak her! Even i want too... Huahahaha! Fak!
Kinan tidur di kasurnya, Gua terdampar di lantai dengan beralaskan karpet dan sebuah selimut tebal. Walaupun Kinan sudah menyuruh Gua tidur satu kasur dengannya, Gua tidak mau, tidak mau kata mulut ini, padahal ma jiwa gila Gua mau aja. Molek coy, tante tapi bukan milf, muda belia dan cantik lagi. Godaan ini... Tapi enggak boleh ya, kan kita sodara sekarang, apalagi Gua sekarang adalah Seorang...
Seorang... Seorang calon mempelai pria. ...
Sekitar pukul 8 pagi Gua terbangun dan sudah tidak melihat Kinan diatas kasurnya. Gua pun terduduk untuk merenggangkan otot tubuh yang terasa kaku. Lalu berjalan keluar kamar, di ruang tamu sudah ada Ayahanda yang sedang membaca koran dengan segelas teh hangat diatas meja. Gua menyapa Beliau dan duduk di sofa sebrangnya. Ayahanda menutup koran dan menyimpannya disamping. Beliau tersenyum kepada Gua. Sedangkan Gua hanya terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. "No more tears young-man", ucapnya.
Gua tertawa pelan lalu menyandarkan punggung dan menatap langit-langit ruang tamu ini. Mata Gua berkaca-kaca, namun tidak ada airmata yang tertumpah. Dalam hati, Gua mengucapkan nama seorang perempuan.
"Kerasa sekarang A' ?", tanya Ayahanda seraya mengangkat cangkir teh dan meneguknya.
"Yep.. But where is my fault " I just...", ucapan Gua terhenti lalu mengusap-usap wajah dengan cepat, "Fuuuh...", Gua menghembuskan nafas lewat mulut dengan kasar.
"You can change that way, with or without her..",
"The best thing you can do is keep on livin' and don't look at back again",
"Percaya sama Ayah, Dia pasti tau apa yang Dia pilih. Kamu harus relain A', jangan terpaku dan berdiam diri di tempat yang sama".
"Hidup ini aneh rasanya. Maksud A'a, yang terjadi sama A'a..", Gua menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.
"Hey.. Jangan selalu menyalahkan diri sendiri..", "Jawaban apa lagi yang kamu inginkan A' ?", lanjutnya. "Alasan mereka yang gak masuk akal", jawab Gua cepat.
Ayahanda mendengus pelan. Menatap keluar rumah di sisi kirinya, lalu berdiri dan berjalan ke teras. Pikiran Gua pusing, hanya ada namanya yang memenuhi isi otak Gua. Tidak pernah sedikitpun Gua membayangkan bahwa hidup Gua penuh dengan banyaknya tuntutan dan berbagai alasan bullsyit dari mereka-mereka orang! Segila apa Gua sampai harus menerima ini semua.
Tidak lama kemudian Kinan dan Mba Laras datang membawa kue kering serta roti dan segelas kopi untuk Gua.
"Eh, makasih Kak..", ucap Gua sambil menerima secangkir kopi dari Kinan. "Ayah kemana A' ?", tanya Mba Laras.
"Tuh kedepan Mba..", jawab Gua sambil melirik ke luar rumah.
Kemudian Mba Laras berjalan keluar rumah menghampiri suami tercintanya. Ibu baru Gua, Mba Laras orang yang baik, menyayangi Gua " Ya tentu, so far she's the best women for my father and me. Perbedaan umur antara Gua dan Mba Laras tidak terlalu jauh. Setelah Ayahanda menikahinya tahun 2006 kemarin, Gua dan mereka berdua sepakat, bahwa panggilan untuk Ibu baru Gua itu menggunakan 'Mba', bukan Ibu, Mamah, Bunda, Mommy or anything else. Bukan soal Gua tidak suka atau tidak ingin memanggilnya dengan sebutan yang resmi, tapi Gua sendiri yang menginginkan ini, agar Gua dan Ibu Gua itu bisa lebih dekat, aneh memang, tapi ya ini pilihan dan cara Gua. Dan Ayahanda tidak mempermasalahkannya sama sekali, apalagi Mba Laras, santai aja dia.
Kinan duduk disamping kanan Gua. Dia mengambil satu kue dan menggigitnya sedikit. "Za.. Mmm... Cobain nih, enak loch", tawarnya sambil menyodorkan potongan kue di tangannya. "Busyet.. Yang bener aja tanteee, bekas tuuh..", jawab Gua sambil melirik ke tangannya.
Kinan tertawa sambil menutupi mulutnya. Gua hanya memutar bola mata lalu meneguk kopi sedikit. Beberapa saat kemudian, bunyi dering hp yang sangat Gua hapal terdengar sayup-sayup. Gua berdiri dan berjalan kearah kamar Kinan, lalu mengambil hp diatas meja belajar.
Gua melihat satu nama yang muncul di layar hp. Lalu Gua menekan tombol answer. Quote:Percakapan via line :
Gua : Halo.. xxx : Halo Assalamualaikum Za.. Gua : Eh iya Walaikumsalam..
xxx : Ayah mu udah sampai tadi subuh "
Gua : Udah, sampai rumah jam 3 subuh.. Kamu dimana ini " Kok berisik.. xxx : Ini aku sama Papah juga baru sampai, lagi nunggu di jemput. Gua : Ada yang jemputnya enggak "
xxx : Ada kok.. Eh ini nih mobilnya udah datang. Gua : Oh ya udah hati-hati di jalan ya. xxx : Iya.. Mmm.. Za...
Gua : Ya " xxx : Hari ini jadikan kita ketemu ". Gua : Oh jadi kok, kenapa gitu ".
xxx : Enggak apa-apa, ya udah sampai ketemu nanti sore ya sayang... Love You. Gua : Iya.
Tuutt... Gua matikan telpon.
Gua kembali menaruh hp diatas meja dan keluar kamar, lalu menuju kamar mandi. ...
Siang hari, Gua, Ayahanda dan Mba Laras sudah berada di rumah Nenek, disini hanya ada Nenek seorang, sedangkan Om Gua dan keluarganya baru akan datang minggu depan. Lalu kedua orangtua Gua itu bercengkrama dengan Nenek, Gua menuju kamar dan menghempaskan tubuh di atas kasur. Kembali Gua memikirkan hal-hal yang masuk akal tapi sulit Gua terima. Lama melamun, sampai akhirnya mata Gua dengan sendirinya menutup yang membuat Gua mengarungi alam mimpi.
Sekitar pukul 3 sore Gua dibangunkan oleh Mba Laras. Dia bilang ada tamu yang menunggu Gua di ruang tamu. Gua pun bangun dari kasur lalu bergegas ke kamar mandi, untuk sekedar membasuh wajah. Dan menyeuka air yang membasahi wajah dengan handuk di depan cermin kamar, kemudian Gua keluar kamar dan menuju ruang tamu.
Ternyata sudah ada Ayahanda yang menemani tamu Gua.
"Nah ini anaknya baru bangun", ucap Ayahanda.
"Kamu gimana sih A', janji mau ketemu malah ketiduran sampai sore", lanjutnya.
Lalu Gua duduk di samping tamu perempuan itu. "Maaf, cape semalem kan, hehehe..", jawab Gua. "Udah dari tadi ?", tanya Gua kepada perempuan itu.
Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Calon istrimu sudah dari kemarin nungguin", ledek Ayahanda. "Hahaha... Maaf maaf deh", jawab Gua lagi kepada Ayahanda,
"Ya sudah, silahkan ngobrol, Reza nya sudah bangun ini..", ucap Ayahanda seraya bangkit dari sofa lalu menuju ke ruang makan.
Gua menatap wajahnya. Tidak henti-hentinya dia tersenyum kepada Gua. Mau tidak mau Gua pun ikut tersenyum geli karena sikapnya itu. Tapi Gua akui, cantik sekali dirinya, apalagi pakaiannya, rasanya lebih dewasa. Dia menggunakan blazer bewarna putih yang membalut kemeja merah maroonnya dibagian dalam, lalu bagian bawahnya mengenakan long-jeans berwarna hitam, dan wajahnya dihiasi make-up tipis yang menambah kecantikannya.
"Kok ngeliatin aku terus sih ?", tanya Gua.
"Hihihi.. Engga apa-apa, seneng aja..", jawabnya seraya tersenyum manis. Gua terkekeh. "Kamu sendirian ?", tanya Gua lagi.
"Iya, Papah ada urusan katanya.. Tadi juga udah aku sampein salam Papah buat Ayah kamu. Maaf katanya Papah belum bisa ketemu hari ini...", jawabnya.
"Hooo..", "Oh ya, gimana kemarin jalan-jalannya ?".
"Engga jalan-jalan Za",
"Cuma ngabarin ke Kakek dan Nenek dari Papah aja", jawabnya,
"Mmm.. Za, kita jalan sekarang ya " Kan janjian jam 4 sama orangnya", lanjutnya mengingatkan Gua. "Eh iya, kalo gitu sebentar, aku ganti pakaian dulu ya..".
Gua pun kembali ke dalam kamar untuk berganti pakaian, Gua memilah pakaian yang semi -formal, untuk sekedar mengimbangi penampilannya saja. Beres berganti pakaian dan mengenakan blazer hitam yang membalut kaos putih polos dan bawahan long-jeans biru laut, kami berdua pun pamit kepada Nenek dan kedua orangtua Gua untuk pergi keluar. Kemudian Gua keluar rumah dan melihat sebuah mobil sedan berwarna merah yang nampak baru.
"Loch, ini mobil kamu ?", tanya Gua ketika masih berada di teras.
Perempuan di samping Gua ini tersenyum malu sambil menganggukkan kepalanya. "Iya", jawabnya.
"Weh baru nih, yang lama kenapa emangnya ?", tanya Gua lagi kali ini sambil berjalan mendekati mobilnya dan Dia memberikan kunci mobil.
"Engga apa-apa, cuma sekarang dipakai sama Mamah", jawabnya sambil membuka pintu samping kemudi.
Gua pun membuka pintu kemudi dan masuk ke dalam mobil, setelah memastikan seatbelt terpasang dengan aman, Gua nyalakan mesin mobil, lalu mobil mulai Gua jalankan meninggalkan halaman rumah Nenek.
Sekitar 20 menit kami sudah sampai di sebuah ruko yang nampak elite. Kami berdua turun dari mobil, dan berjalam memasuki ruko tersebut. Gua berjalan di belakangnya, sambil melihat-lihat busanabusana wanita yang terpajang pada sebuah manikin.
"Haii Sayang.. Apa kabaaarr ?", ucap seorang perempuan yang menyambutnya. Lalu mereka berdua berpelukkan dan mencium pipi ala perempuan.
"Alhamdulilah baik Mba", jawabnya.
Gua masih berdiri di belakang mereka beberapa meter, mencoba mengalihkan pandangan dengan melihat-lihat busana dalam butik ini. Entah mereka mengobrol tentang apa, Gua tidak begitu memperhatikannya. Tapi tidak lama kemudian bahu Gua dicolek dari belakang. Gua menoleh ke belakang.
"Hey Mas..". "Eh " Kenapa ?".
"Dipanggilin daritadi juga, pura-pura gak denger apa ?", wajahnya sok sok cemberut seperti biasanya.
Gua tersenyum melihatnya yang seperti itu. "Enggak... Aku kan lagi-lagi liat-liat kebaya aja.. Bagusbagus ya", jawab Gua.


Asleep Or Dead Karya Bunbun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Alesan aja, yaudah yuk ke atas..", ajaknya.
Gua pun mengikutinya ke atas, menaiki sebuah tangga dan melewati lorong yang hanya cukup untuk 2 orang, sekitar beberapa meter ada pintu di sebelah kiri, lalu dia membuka pintunya dan kami pun masuk ke dalam. Gua melihat dua orang perempuan, salah satunya adalah perempuan yang datang bersama Gua dari rumah Nenek tadi, lalu satu perempuan lagi sepertinya pemilik butik, dan ada satu mahluk yang bingung untuk Gua deskripsikan... Hadeuh.
Gua dan perempuan yang baru bertemu di lantai bawah tadi duduk di sebuah kursi kayu dengan meja bundar di depan kami. Sedangkan dua perempuan dan satu mahluk gak jelas itu berada di sofa dekat jendela.
"Mas, nih contohnya.. Coba diliat dulu, bagus yang mana menurut kamu..", ucap perempuan yang ada di sebelah Gua seraya menyodorkan beberapa lembaran kertas tebal.
"Hmm..", Gua bergumam sambil melihat satu per satu kertas yang dia berikan.
"Kalo kata aku yang ini bagus Mas", ucapnya sambil menunjuk salah satu kertas yang berada di tangan kiri Gua.
"Warnanya ungu gini.. Gak suka aku".
"Ooh... Ah nih putih aja, font nya warna emas tuh bagus..".
Gua masih saja kurang cocok melihat contoh surat undangan ini. Lalu dari sekian banyak contoh yang ia sodorkan sepertinya masih kurang menarik minat Gua.
"Pilih sama kamu aja deh, pusing aku...", ucap Gua sambil menaruh banyaknya lembaran contoh surat undangan tersebut.
"Iiiih... Gimana sih!",
"Dari dulu kalo suruh milih apa-apa susah, nyebelin emang!", balasnya sambil mengambil surat undangan di atas meja.
Gua biarkan dia yang memilih sambil tidak lupa itu mulutnya yang cerewet dari bawaan lahir terus nyerocos.. Gua hanya terkekeh pelan sambil menanggapi ocehannya dengan mengatakan "Iya itu bagus", "Heu'euh itu deh" atau "Terserah mau kamu aja". Dan jelaslah sudah Mba Yu semakin emosi kepada Gua.
"Kamu tuh emang malesin tau gak, suruh milih gini aja susahnya minta ampun!".
"Aku ma ngikut aja deh Mba, serah bagus yang mana asal jangan ungu atau...", "Kamu tanya dia aja tuh..", ucap Gua sambil menunjuk seorang perempuan dengan dagu.
Mba Yu menoleh kearah sisi kirinya. "Ceuk, kamu tuh kerjasama dong Mas, apa-apa dia, apa-apa dia... Masa dia semua yang milihin, ini semua memang untuk siapa coba ?", ucap Mba Yu kali ini menengok kearah Gua.
"iya iya cerewet deh ah", jawab Gua lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku blazer dan mengeluarkan sebatang rokok.
"Heh, dilarang merokok! Ruangan ber AC Mas..", sergah Mba Yu ketika Gua menyelipkan rokok ke mulut.
"Buu..", teriak Gua kepada salah satu perempuan yang ada di sofa. "Saya merokok yaa, maaf nih", ucap Gua lagi.
"Oh iya gak apa-apa Mas, silahkan..", jawab si Ibu pemilik butik sambil tersenyum. Lalu Gua melirik ke perempuan di sebelahnya, dia tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Hii ngerokok mulu kamu tuh Mas", ucap Mba Yu kali ini sambil melotot kepada Gua, "De.. Mas mu nih larang ngerokoknya..", ucapnya lagi kali ini menengok ke perempuan di sofa sana. "Iya Mba, susah disuruh berhentinya", jawabnya sambil tersenyum.
Gua membakar rokok dengan cueknya, tidak peduli dengan ocehan mereka semua. Lalu Mba Yu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah sofa. Mba Yu berbicara dengan mahluk gak jelas diantara mereka bertiga, lalu si Mahluk gak jelas ini menengok kearah Gua sambil tersenyum. Tidak lama kemudian Mba Yu kembali berjalan kearah Gua bersama mahluk itu.
"Mas diri dulu".
"Ngapain ?", tanya Gua. "Mau diukur dulu".
Gua berdiri lalu mendekati Mba Yu dan membisikan sesuatu. "Gede kok Mba si Jojo".
"Iishh.. Apa siih..", jawab Mba Yu sambil memundurkan wajah dan memukul bahu Gua. Tapi wajahnya tersipu malu.
Hahaha... Kangen yaa... Fakin hell!!
Dan momen yang kamvret pun harus Gua lalui, mau tidak mau, suka tidak suka, mahluk gak jelas yang bernama Seus Ayu mulai merentangkan meteran baju dan mendekati Gua. Ini mahluk bisa kan sebenarnya biasa aja, gak perlu kedip-kedip manja sambil senyam-senyum gak jelas gitu.
"Maaf ya Mas Ezaa.. Eyke ukur dulu yey punya bodi", ucapnya sambil menempelkan meteran ke tubuh Gua.
Fak! Lama dia mengukur sambil mencatat angka di selembar kertas. Lalu kembali mengukur lingkar dada Gua.
"Woi! Jarinya biasa aja bisa gak Lu! Gak usah sambil colak-colek!!", sentak Gua ketika jarinya menggelitik dada Gua.
"Dada yey bidang banget sih cyiiin..", ledeknya dan malah benar-benar menoel Gua punya dada.
Plak Gua keplak itu tangannya.
"Kampret! Gua tampol nih!", sungut Gua.
"Iiih yey kasar deh sama wanitah...", jawabnya sambil memonyongkan bibir. "Anjir.. Situ emang cew.. AaaWww..!", teriak Gua meringis. "Mas! Jahat banget kamu!", ucap Mba Yu setelah mencubit pinggang Gua.
Gua dilecehkan, Gua mundur dan malas untuk diukur lagi. Mba Yu dengan ngototnya membujuk Gua agar kembali mau diukur. Tapi Gua cuekin aja dan berjalan ke sofa. Duduk disebelah calon istri. "Kenapa Za ?", tanyanya.
"Aku dilecehkan! Ternoda aku!", ucap Gua dengan wajah kesal.
"Hahaha.. Jangan gitu ah, nanti gak selesai ngukur bajunya.. Ayo sana diukur lagi, abis itu aku..". "Enggak mau!", jawab Gua.
"Yaudah kamu diukur sama Ibunya aja ya", ucapnya sambil melirik kepada Ibu pemilik butik disebelah kanannya.
"Nah oke tuh kalo gitu.. Mau aku", jawab Gua.
Ya akhirnya selamatlah tubuh Gua dari jeratan Seus Ayu. Calon istri Gua yang diukur tubuhnya oleh Seus Ayu sedangkan Gua diukur oleh pemilik butik, seenggaknya wanita tulen lah walaupun sudah berumur. Singkat cerita acara ukur mengukur baju pengantin beres juga, setelah itu Gua dan kedua perempuan tulen tadi keluar dari butik ini untuk pergi menuju salah satu restoran di kota kami.
... Suatu malam di hari sabtu.. Saat itu Gua sedang duduk di sofa teras depan kamar. Tidak lama kemudian Ayahanda keluar dari pintu kamar Gua dan duduk di salah satu sofa teras. "Gimana A' ?", tanyanya.
"Apanya ?". "Udah siap untuk besok ?".
"Hahaha, Siap gak siap lah", jawab Gua sambil menoleh kearah jalan depan rumah.
"Ayah Do'a kan yang terbaik untuk kamu A'...",
"Dia yang terbaik untuk kamu, setidaknya itu yang Ayah lihat dalam dirinya, terlepas dari sikap Papahnya", lanjut Ayahanda.
"Semoga Yah". "Oh ya, kamu udah taruh cincinnya " Hati-hati jangan sampai hilang". "Oh iya, tenang aja, udah A'a taruh di atas meja kamar kok..", jawab Gua.
"Semoga dengan cincin itu, perjalanan rumah tangga kamu lebih baik dari Ayah ya A'...", ucapnya seraya berdiri dari sofa.
Gua menengok kearahnya, menatapnya dengan sedikit rasa heran. Rasanya ada yang berbeda dengan diri Ayahanda. Tapi Gua sulit menemukan apa keanehan itu. Atau jangan-jangan yang dikatakan Kinan minggu lalu benar. Beliau terlihat kurusan dan pucat.
"Ya sudah, ayo tidur, besok acaranya kan pagi-pagi", ucapnya lagi. "Sebentar lagi Yah, A'a mau abisin kopi dulu".
"Jangan kebanyakan begadang sama rokok A', kurangin rokoknya... Ayah aja udah berhenti", ucapnya lagi.
"Hah " Sejak kapan ?", tanya Gua cukup kaget.
Beliau hanya tersenyum, lalu berbalik badan dan menuju pintu kamar. Gua pun ikut bangun dari sofa sambil mengangkat secangkir kopi, lalu berjalan kearah depan teras, Gua berdiri tepat di jalan antara teras dengan halaman.
"A'..". Gua menengok kebelakang, disitu Ayahanda masih berdiri, di ambang pintu kamar Gua. "Selamat malam..", ucapnya.
And if you carry on this way Things are better if I stay So long and goodnight So long and goodnight PART 41
Salah satu kebahagiaan dalam hidup adalah sebuah pernikahan. Ya Gua yakin akan hal itu. Ikatan suci yang diikat oleh janji kepada orangtua, keluarga, orang yang kita nikahi dan tentu saja Sang Maha Pencipta. Tidak mudah menjalaninya, karena janji terhadap Tuhan itulah yang harus kita jaga, mencoba bertahan dalam setiap godaan dan cobaan yang menerpa dalam bahtera rumah tangga. Menuntun keluarga ke jalan yang baik dan benar. Selalu mawas diri dan memegang teguh segala firman-NYA yang tertuang dalam kitab suci.
Dewa Racun Hitam 2 Istana Kumala Putih Karya O P A Peristiwa Bulu Merak 5

Cari Blog Ini