Ceritasilat Novel Online

Asleep Or Dead 9

Asleep Or Dead Karya Bunbun Bagian 9


Kenapa Gua tidak memilih Echa sedari awal saja " Gais.. It's all about feelings, Is it really possible to tell someone else what one feels ".
The saddest thing about falling in love is that sooner or later something will go wrong. ~ Anonymous
PART 47 Throwback Stories Sekarang sudah memasuki bulan februari 2007, dan kebersamaan Gua dengan Vera semakin dekat dari awal januari lalu. Memang kami tidak setiap hari bertemu karena Gua yang kuliah dan tinggal di Jakarta, sedangkan Vera di kota kami. Tapi hampir setiap weekend kami berdua selalu jalan bersama, malah pernah suatu hari Vera main ke apartmen Kinan.
Seperti di jum'at ini, Gua sedang berdiri di pinggir jalan, di atas motor. Gua membakar sebatang rokok sambil menunggu Nona Ukhti keluar dari stasiun sehabis pulang shalat jum'at tadi. Sudah dari kemarin Nona Ukhti ingin main ke jakarta katanya kepada Gua, jadi hari ini sepulang dia kuliah pukul dua siang tadi, Nona Ukhti langsung ke sini menggunakan kereta. Sebenarnya Gua agak heran kepadanya, ini soal kendaraannya. Selama ini dia tidak pernah menggunakan mobil selama jalan bersama Gua sejak bulan lalu. Entah alasan apa yang membuatnya tidak menggunakan mobil pribadinya itu dan memilih naik kendaraan umum jika janjian dengan Gua di satu tempat. "Ve..", teriak Gua seraya melambaikan tangan kepadanya.
Vera menengok kepada Gua lalu tersenyum dan berjalan ke arah Gua. "Udah lama Za ?", tanyanya ketika sudah berdiri di hadapan Gua.
"Enggak Ve, baru lima belas menitan..", "Yuk berangkat sekarang", ajak Gua. ...
Gua, Kinan dan Nona Ukhti sedang membombardir dapur apartemen, kami memasak banyak menu hari ini. Dapur apartemen Kinan pun menjadi porak poranda dengan banyaknya bahan masakan. Hari ini menunya ayam goreng tepung asam manis, capcay goreng dan pudding. Dengan telaten Kinan mengajarkan Vera cara memasak, Nona Ukhti memang belum bisa masak, hehehe.. Paling banter bikin telor ceplok atau dadar, dan mie instan rebus. Jadi hari ini kayaknya adalah salah satu hari bersejarah untuk Nona Ukhti, karena untuk pertama kalinya lah dia memasak dengan dibantu oleh Tante Gua.
Satu jam kemudian kami selesai memasak dan semua masakan sudah tersaji penuh di atas meja. Beuuh mantep ini ma, spesial banyak makanan enak. Tidak perlu waktu lama bagi kami untuk menyapu bersih makanan tersebut karena memang sudah kelaparan sedari siang.
"Kalian udah pacaran ?", tanya Kinan setelah selesai menghabiskan makanannya.
Gua mengambil gelas yang berisi air mineral lalu meminumnya sambil melirik kepada Vera di samping kiri.
Vera menoleh kepada Kinan yang berada di depan Gua lalu melirik kepada Gua sambil tersenyum. "Tanya Eza aja Kak", jawab Vera sambil tersenyum malu dan merapihkan piring kotor bekas makan kami.
Kinan menatap Gua kali ini, menunggu jawaban dari Gua. Vera membawa piring kotor tersebut ke dapur, sedangkan Gua dan Kinan masih di ruang tv. Gua menaruh gelas lalu tersenyum kepada Kinan yang menaikkan kedua alisnya.
Lalu Gua terkekeh pelan melihat Tante Gua yang satu itu. "Belum..", ucap Gua pelan seraya bangkit dari duduk dan menuju dapur. Gua lirik Kinan yang mengerenyitkan kening dan memutar bola matanya.
... Keesokan harinya, malam minggu. Gua sedang berada di rumah Nona Ukhti. Hujan masih saja mengguyur karena saat itu hampir perayaan imlek. Gua duduk di sofa ruang tamunya bersama Nona Ukhti di samping Gua dan Papahnya yang duduk di hadapan kami.
"Jadi kemarin anak saya main ke jakarta untuk nemuin kamu, makanya pulang larut malam ?", tanya Papahnya.
"Iya Om, saya yang mengajak Vera ke jakarta dan saya juga yang mengantarnya pulang", jawab Gua.
"Pah, kami pulang sampai rumah jam tujuh, belum larut Pah...", timpal Vera, "Lagian aku udah bilang, aku yang mau main ke tempat Eza, bukan dia yang ajak..", lanjutnya.
"Nak Eza", Papahnya tidak memperdulikan ucapan anaknya itu,
"Saya ini orangtua dari anak perempuan yang ada di samping kamu", kali ini Papahnya melipat satu kakinya dan menyandarkan punggungnya ke bahu sofa di belakangnya,
"Dan dia anak saya satu-satunya, yang saya jaga dan rawat selama ini, saya harap kamu mengerti batas-batas yang saya tetapkan untuk mengajaknya pergi", ucapnya sambil menepuk-nepuk satu pahanya.
Gua menghela nafas pelan lalu tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Iya Om, saya mengerti, mohon maaf kalo saya mengantarkan Vera pulang terlalu malam jum'at kemarin", jawab Gua.
"Oke, kalau begitu..", kali ini Papahnya bangun dari duduknya dan mengangkat satu tangannya sebatas dada,
"Sepertinya ini juga sudah terlalu larut untuk bertamu di rumah saya", matanya menatap jam pada pergelangan tangan yang dia angkat tadi,
"Jadi kami mau istirahat dulu Nak..", lanjutnya kali ini sambil menatap Gua.
"Pah! Papah apaan sih, ini kan baru jam setengah 7 Pah..", ucap Vera sambil ikut bangun dari duduknya,
"Papah tuh engg..".
Gua potong ucapan Vera sambil memegangi ke dua bahunya dari samping. "Ve.. Udah udah ya.. Enggak apa-apa, lagian ini udah malam juga Ve..", ucap Gua menenangkan Vera yang sudah emosi. "Kamu tuh gimana sih Za!", Vera menengok kepada Gua dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bukan gitu Ve, mungkin Papah kamu cape, mau istirahat, nanti lain hari aku main ke sini lagi ya.. Siang hari deh.. Okey ?", jawab Gua kepada Vera sambil tersenyum.
Tapi apa yang dilakukan Nona Ukhti setelah itu, dia langsung berlari masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintunya keras-keras. Gua hanya bisa mendengus kasar sambil menggelengkan kepala.
"Mmm.. Om.. Saya pamit dulu ya",
"Mohon maaf jadi buat Vera marah", ucap Gua sambil mengulurkan tangan kepada Beliau.
Papahnya Vera mengulurkan tangannya juga yang langsung Gua cium punggung tangannya itu, tapi Beliau segera melepaskannya dengan cepat.
"Nak...". "Ya Om ?". "Sepertinya kehadiran kamu diantara kami membuat hubungan orangtua dan anak jadi kurang baik", ucapnya dengan nada yang sangat dingin.
Gua sempat tertegun mendengar ucapannya itu. Gua berusaha setenang mungkin dalam situasi seperti ini. "Oh.. Ehm.. Mohon maaf Om, saya benar-benar tidak tau kalau ternyata kehadiran saya membuat Vera dan Om jadi...", ucapan Gua itu tidak Gua lanjutkan.
"Saya rasa kamu mengerti dan paham apa yang saya mau..", ucapnya.
Gua mengangguk menanggapi ucapannya itu lalu Gua pamit pulang. Baru sampai di ambang pintu rumahnya, Gua berhenti melangkah dan tangan kiri Gua memegang sisi kusen pintu rumahnya itu.
"Om..", ucap Gua sambil menengok ke belakang,
"Saya rasa, saya enggak akan mundur untuk mendapatkan restu anda", lanjut Gua sambil tersenyum. Papahnya Vera hanya tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. ...
Gua sudah berada di dalam mobil, dan terjebak di jalan protokol dengan hujan yang cukup deras di luar sana, ditambah kemacetan kendaraan roda empat lainnya yang membuat malam minggu ini benar-benar kelabu. Gua menarik rem tangan di tengah kemacetan ini, lalu membuka kaca jendela sedikit dan membakar sebatang rokok. Pikiran Gua hanya tertuju kepada seorang perempuan yang bernama Vera, yang baru saja Gua temui sekitar tiga puluh menit yang lalu di rumahnya.
Malam minggu ini, kami berencana untuk pergi menonton sebuah film layar lebar, memang hanya jalan biasa seperti layaknya muda-mudi lainnya yang sering jalan bersama pasangan mereka masingmasing. Dan Gua rasa semua itu tidak ada yang salah. Apa yang kami rencanakan pada akhirnya harus batal terjadi karena sikap Papahnya tadi.
Gua tidak ingin menyalahkan Papahnya dan Vera. Memang Gua nya saja yang belum bisa diterima oleh Papahnya untuk mengajak anak semata wayangnya itu pergi jalan-jalan. Padahal Vera sudah mengingatkan Gua untuk tidak meminta izin dan menemui Papahnya seperti tadi. Yap, Vera sebenarnya melarang Gua untuk menjemputnya di rumah, karena dia takut kalau sampai Gua diperlakukan tidak menyenangkan secara halus seperti waktu lalu.
Dan apa yang ditakutkan Vera terjadi juga hari ini. Gua memang tidak memberitahu Vera kalau Gua akan menjemputnya ke rumahnya setelah Gua pulang dari jakarta tadi sore. Jelaslah Vera kaget setelah melihat Gua sudah duduk bersama Papahnya di ruang tamu. Bukan tanpa alasan Gua senekat itu, Gua hanya ingin menunjukkan itikad baik kepada Papahnya, walaupun Gua tau beliau tidak menyukai Gua, tapi apakah tidak lebih buruk jika Gua selalu menutupi hubungan Gua dan Vera kalau sampai Papahnya tau Gua mengajak jalan anaknya diam-diam tanpa sepengetahuan beliau ".
Laki-laki itu kan calon kepala keluarga, penuh tanggungjawab kepada setiap tindakannya. Sebelum Gua benar-benar menjadi kepala keluarga, Gua harus bisa menunjukkan kalau Gua ini punya tanggungjawab kepada orangtua Vera, lebih tepatnya Papahnya. Yaaa.. Gua berusaha mulai mencari cara lain lagi untuk bisa melunakkan hati Papahnya itu, karena restu beliau adalah jalan terbaik demi hubungan Gua dengan anaknya dan tentu saja Papahnya.
Gua bukan lagi anak SMA sekalipun usia Gua belum cukup matang untuk bersikap secara dewasa layaknya laki-laki yang memiliki segudang pengalaman dalam hidup. Tapi mulai dari sekarang lah Gua harus bisa membekali diri untuk lebih bertanggungjawab dalam satu hubungan, Gua sudah lelah untuk sekedar bermain-main seperti di masa SMA.
Dengan segala niat baik di dalam hati, Gua berharap Tuhan menunjukkan jalan yang terbaik untuk hubungan ini, agar ucapan Gua kepada Papahnya Nona Ukhti benar-benar bisa Gua tunjukkan dan mendapatkan restunya. Ya, semoga saja...
... ... ... Suatu hari di bulan februari, satu minggu setelah kejadian itu Gua sedang berada di dalam kamar menonton tv ketika suara perempuan memanggil nama Gua disertai ucapan salam. Gua bangun dari kasur dan membuka pintu kamar.
"Walaikumsalam.. Eh Ve.. Darimana ?", tanya Gua sambil berjalan mendekatinya yang berdiri di jalan antara teras dengan halaman rumah.
"Aku baru pulang dari kost-an teman Za", jawabnya.
Lalu dia mencium tangan Gua ketika kami sudah saling berhadapan, kemudian Gua mengajaknya masuk dan duduk di sofa teras depan kamar seperti biasa. Gua masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan minum. Gua kembali ke teras dengan secangkir teh manis hangat untuk Nona Ukhti.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini gak pernah bawa mobil Ve ?", tanya Gua sambil duduk di salah satu sofa.
"Enggak apa-apa Za", jawabnya,
"Mmm.. Kamu gak kemana-mana hari ini " Gak ada acara ?", tanyanya.
Gua tau ini sudah kesekian kalinya Nona Ukhti mengalihkan pembicaraan setiap Gua menanyakan soal mobilnya.
"Enggak ada Ve.. Kenapa gitu ?", tanya Gua kali ini. "Mmm.. Nonton yuk, kan minggu kemarin gak jadi.. Heheehee..".
"Ya udah, habis maghrib aja kalo gitu ya".
Nona Ukhti mengangguk cepat sambil menunjukkan ekspresi bahagia pada wajahnya.
Kemudian Gua memanggil Nenek, untuk sekedar memberitahukan kepada beliau kalau ada teman Gua, lalu akhirnya kami mengobrol bertiga di teras ini hingga suara adzan maghrib berkumandang. Nona Ukhti melakukan ibadah duluan di kamar Gua, sedangkan Gua beribadah di kamar depan bekas kamar orangtua Gua dulu.
Selesai ibadah maghrib, Gua pergi keluar sebentar, membelikan martabak telur untuk Nenek karena beliau hari ini tidak masak. Gua hanya berjalan kaki dengan payung sebagai penghalang hujan untuk berjalan ke depan komplek rumah. Selesai membeli sebungkus martabak, Gua kembali ke rumah dan melihat Nenek bersama Nona Ukhti yang kembali asyik mengobrol di depan teras kamar.
Singkat cerita Gua dan Nona Ukhti sudah berada di dalam mobil untuk menuju salah satu mall di kota kami yang memiliki studio bioskop. Lalu sesampainya di sana kami berdua langsung naik ke lantai empat dimana bioskop tersebut berada. Gua mengantri di loket pembelian tiket, sedangkan Nona Ukhti membeli makanan untuk camilan kami di dalam studio nanti.
Selesai mendapatkan dua tiket, dan membeli makanan ringan, Gua ajak Nona Ukhti duduk di dekat pintu studio seperti pengunjung lainnya, karena memang sofa tunggu untuk pengunjung sudah terisi penuh. Maklumlah, ini malam minggu.
"Ve... Kamu bilangnya kemana hari ini ke Papah ?", tanya Gua sambil menyesap minuman dingin. "Aku bilang pergi sama teman kampus, hihihi...", jawabnya lalu mengambil popcorn dan memakannya.
Gua tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Ve... Aku gak mau kamu bohongin Papah kamu terus terusan karena pergi sama aku Ve..", ucap Gua lagi.
"Za.. Udah deh ya, kita udah sering bahas ini.. Cape aku", jawabnya kali ini dengan wajah yang malas.
Ya kami memang sudah sering membahas soal ini, soal hubungan kami yang sering pergi berdua tanpa izin Papahnya.
"Ya seenggaknya maksud aku kan kita bisa jujur soal hubungan kita Ve ke Papah kamu", ucap Gua lagi.
"Emang hubungan kita kayak gimana sih Za ?".
Gua paham betul apa yang dimaksud Nona Ukhti, bukan Gua tidak mau menyatakan perasaan kepadanya, tapi Gua cuma ingin kalau hubungan kami direstui oleh Papahnya, minimal sebagai teman dulu sebelum masuk ke tahap selanjutnya.
"Aku ngerti Ve, tapi kalo untuk jadi teman kamu aja aku sulit dapet izin Papah kamu, gimana kedepannya ?".
"Apa salahnya sih Za kalo kita backstreet dulu ?", tanyanya lagi kali ini dengan mata yang sayu, tapi Gua bisa melihat dari kedua bola matanya bahwa ada harapan, harapan untuk hubungan ini dan penantiannya.
"Ve.. Aku gak bisa kalo kita pacaran tapi keluarga kamu gak nerima aku, maksud aku Papah kamu, gimanapun dia orangtua kamu Ve, restu orangtua itu penting", jawab Gua,
"Dan aku gak mau kalo kita nanti backstreet sampai ketauan Papah kamu, pasti yang ada kamu bertengkar lagi", lanjut Gua.
Vera langsung menggelengkan kepalanya dengan wajah yang malas. "Terserah kamu deh Za, aku gak ngerti mau kamu tuh gimana sama hubungan ini", ucapnya sambil memalingkan mukanya kearah lain.
Gua menghela nafas pelan, lalu Gua tarik tangannya dan Gua letakkan ke dada ini. "Ve.. Aku sayang sama kamu, aku serius sama kamu.. Tapi aku gak mungkin macarin kamu tanpa izin Papah kamu Ve, kasih aku waktu..".
Nona Ukhti hanya menundukkan kepalanya tanpa mau menatap mata Gua.
Tidak lama kemudian suara penanda studio telah dibuka dan film akan segera di mulai pun terdengar nyaring. Gua ajak Nona Ukhti berdiri dan masuk ke dalam studio tersebut.
Kami duduk di bangku deretan atas bagian tengah. Sepanjang film diputar, tangan kami saling menggenggam, yang tidak lama kemudian Nona Ukhti menyandarkan kepalanya ke dada Gua.
Sekitar pukul setengah sembilan malam Gua dan Nona Ukhti sudah berada di depan rumahnya. Kami berdua masih di dalam mobil. "Ve.. Aku antar kamu sampai rumah ya, sampai depan pintu maksud ku".
"Jangan deh Za, kamu kayak gak tau Papah aja deh..", jawabnya sambil melepaskan seatbelt yang melingkar pada tubuhnya.
"Hmm.. Tapi aku gak enak udah ngajak anak tercantiknya pergi tanpa izin, masa pulangnya juga gak nemuin Papah kamu Ve".
"Nanti ya sayang.. Kalo kamu anter aku pulang siang aja, biar gak ngomel-ngomel Papahnya", jawab Vera lagi kali ini sambil menggenggam tangan kiri Gua.
"Ve.. Malah sebaliknya, kan kamu pulang malam, masa iya gak ada yg anterin, aku jamin gak apa-apa deh kali ini ya".
Pada akhirnya Vera mengalah walau dengan raut wajah yang tidak setuju kepada Gua. Kami berdua turun dari mobil lalu masuk ke halaman rumahnya. Sampai di depan pintu yang memang sudah terbuka, Papahnya berjalan menghampiri kami dari ruang tamu.
"Dari mana kamu Ve " Jam segini baru pulang ?", tanya Papahnya sambil berjalan dan berdiri tepat di hadapan kami berdua.
"Tadi pulang kuliah ke kost-an teman kampus, terus nonton bareng mereka, pulangnya sekarang diantar Eza", jawab Vera setelah mencium tangan Papahnya.
Lalu Gua pun mencium tangan beliau sambil mengucapkan salam. "Assalamualaikum Om, maaf saya antar Vera nya terlalu malam", ucap Gua setelah mencium tangan beliau.
"Heum, walaikumsalam", jawabnya singkat sambil menatap Gua tajam, "Masuk Ve", perintah Papahnya kepada anak tercantiknya itu.
Vera melirik kepada Gua yang langsung Gua jawab dengan anggukan kepala seraya tersenyum kepadanya. Lalu Vera pun masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan terimakasih kepada Gua. Papahnya menggelengkan kepala menatap Gua yang tersenyum.
"Maaf Om, kalo saya salah sudah terlambat mengantarkan anak Om sampai semalam ini", ucap Gua. "Kamu tau saya tidak suka Vera dekat dengan kamu ?", tanyanya.
Gua mengangguk sambil tersenyum lagi. "Saya tau Om, tapi saya sama Vera hanya teman, kami belum pacaran", jawab Gua.
Papahnya nampak sedikit terkejut dengan kening yang berkerut. "Kamu belum menjalin hubungan dengan Vera ?", tanyanya lagi.
"Belum Om, tapi seperti yang Om tau, kami sudah berteman dekat sejak SMA". "Dan selama itu kamu belum memacari dia ?".
"Iya Om..". "Kenapa ?". "Karena saya tau, anda belum merestui hubungan kami...".
Cukup lama Papahnya terdiam, hingga membuat Gua menerka-nerka apa yang sedang Papahnya fikirkan. Sampai akhirnya Gua berprasangka negatif, mungkin seperti yang sudah-sudah, sebentar lagi akan ada kalimat pengusiran secara halus yang Gua dengar.
"Okey.. Lain kali kalo kamu mau pergi dengan anak saya, jemput dia di rumah dan pulangkan dia sebelum pukul sembilan malam", ucapnya setelah lama kami terdiam berdiri di teras rumahnya ini.
Kali ini Gua yang sedikit terkejut mendengar ucapan Papahnya itu. Apakah ini sebuah awal kalau Gua boleh mendekati anaknya secara terang-terangan ".
"Kenapa diam ?", tanyanya mengagetkan Gua karena masih terdiam oleh ucapan yang sebelumnya.
"Oh.. Eeuu.. Maaf Om.. Iya iya.. Saya pasti izin kepada anda jika nanti kami pergi dan pulang sebelum pukul sembilan malam", jawab Gua pada akhirnya walaupun sedikit gugup.
"Bagus, sekarang sudah terlalu larut malam, kamu langsung pulang saja", ucapnya lagi.
Gua pun mengangguk seraya tersenyum dan mencium tangan beliau lagi. "Terimakasih Om, selamat malam, Assalamualaikum", ucap Gua setelah mencium tangannya dan pamit pulang.
Gua baru saja melangkahkan kaki sampai ujung teras untuk menuju gerbang rumahnya di depan sana ketika suara Papahnya kembali memanggil Gua.
"Reza". Gua menengok ke belakang. "Ya Om ?". "Jangan kecewakan saya".
PART 48 Throwback Stories Gua sadar dengan apa yang sudah Gua lakukan untuk menunjukkan kebaikan itu tidak mudah merubah hati seseorang, sekalipun Gua memenuhi semua keinginan orang tersebut. Dan Gua yakin, ketika suatu saat hati orang tersebut mulai berubah untuk bisa menerima Gua, ada Tuhan yang merubah perasaannya. Ya, hanya Dia lah yang bisa membolak-balikkan hati kita dalam sekejap. ...
Perubahan sikap Papahnya Nona Ukhti benar-benar diluar dugaan Gua, semenjak dirinya meminta Gua untuk menjaga putri kesayangannya itu, beliau mulai welcome dengan kehadiran Gua diantara keluarga kecilnya. Tidak jarang Gua dan Nona Ukhti seharian berada di rumahnya sekedar mengobrol di ruang tamunya hanya untuk menghabiskan malam minggu, tentu saja Papahnya tau akan hal ini. "Za, ayo makan bareng, makannya udah siap, yuk..", ajak Nona Ukhti.
Gua pun bangun dari sofa ruang tamunya dan berjalan bersamanya ke ruang makan. Disana sudah ada Papahnya, kami bertiga makan bersama. Dan rasanya kehangatan kebersamaan kali ini benarbenar berbeda dari beberapa waktu lalu. Tidak banyak obrolan diantara kami ketika menikmati makan malam, tapi cukup lah untuk Gua merasakan perubahan sikap Papahnya yang mulai menerima Gua mendekati anaknya.
Selesai makan malam bersama, Gua dan Nona Ukhti duduk di teras rumahnya. Sedangkan Papahnya memilih untuk menonton acara tv di kamar pribadinya. Saat itu baru pukul delapan malam.
"Za.. Papah udah bisa nerima kamu ya..", ucap Nona Ukhti sambil menatap ke taman rumahnya di depan sana.
Gua menengok kepada Nona Ukhti sambil menghembuskan asap rokok yang sebelumnya sudah Gua hisap. "Alhamdulilah Ve.. Tapi..", ucapan Gua terhenti lalu memandangi rerumputan di depan. "Heum " Tapi kenapa Za ?", tanyanya.
Gua menggelengkan kepala tanpa menoleh kepada Nona Ukhti. "Enggak apa-apa, cuma.. Kok Papah kamu bisa secepat itu berubah ya, perasaan beberapa minggu lalu beliau masih gak suka sama aku kan..", jawab Gua, lalu kembali menghisap rokok dalam-dalam.
"Mungkin Papah liat sikap kamu yang baik dan bisa menjaga amanatnya Za".
Gua sebenarnya kurang memahami perubahan sikap Papahnya itu, kenapa beliau bisa menerima Gua ketika hanya sedikit obrolan yang kami bicarakan di malam minggu beberapa waktu lalu. Kalau apa yang diucapkan Nona Ukhti benar, kok rasanya tidak berbanding lurus dengan kenyataannya. Bukan masalah sikap Gua yang baik di depan orangtuanya itu, tapi rasanya Gua masih belum bisa menjaga amanatnya dengan baik, toh ketika itu Gua mengantar putrinya pulang hampir jam setengah sepuluh malam. Pikirannya sulit di tebak, masa iya cuma karena dia tau Gua belum memacari anaknya lalu beliau berubah. Kan gak mungkin seperti itu.
"Mungkin Ve.. Entahlah", ucap Gua pada akhirnya.
"Oh ya Za, besok kan hari minggu, kamu ikut ya sama aku ketemu Mamah", ajak Nona Ukhti kali ini. "Besok " Oh iya besok minggu ya, waktunya nona bertemu ibunda tercinta, hehehe..". "Iya.. Mau kan " Kita makan siang aja sama Mamah besok", lanjutnya.
"Siaap! Bisa diatur hehehe... Perlu sekalian aku bawa bunga untuk Mamah kamu gak " Hehehe", goda Gua.
"Yeee... Malah mau godain Mamah, buat aku aja kalo mau kasih bunga ma.. Huuu", cibirnya. "Hahaha.. Iya iya, kalo untuk mamah kamu ma bunga bank aja yak.. Hehe", goda Gua. ...
Keesokkan harinya Gua makan siang bersama Nona Ukhti dan Ibunda tercintanya. Gua fikir kami benar-benar akan makan bertiga saja, ternyata ada dua orang lelaki lagi yang ikut makan bersama, salah satu lelaki itu adalah suami ibunda Nona Ukhti, atau Papah tirinya. Dan yang satu lainnya adalah anak bawaan Papah tirinya, adik tiri Nona Ukhti, seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA.
Suatu saat kalian akan tau siapa adik tirinya itu, karena dia memiliki threadnya sendiri di SFTH ini Gais. Sebelum waktunya tiba, biarlah Gua selesaikan cerita ini dulu. Hahahaha
Kami hanya makan berlima di satu restoran di Jakarta, hanya obrolan santai yang kami bicarakan ketika itu. Btw, untuk Ibunda Nona Ukhti sedari awal memang orang yang baik, dalam artian beliau menerima Gua sebagai teman dekat anaknya itu, tidak ada amanat khusus yang beliau titipkan kepada Gua semenjak Gua dan putrinya itu dekat akhir-akhir ini.
Sekitar pukul dua siang kami semua selesai makan di restoran tersebut, tidak ada acara lain yang akan kami lakukan setelah itu, jadi Gua dan Nona Ukhti pergi berdua setelah Ibundanya juga pulang bersama keluarganya. Nona Ukhti mengajak Gua untuk pergi ke sebuah tempat wisata di kota kami, maka setelah dari restoran, Gua langsung mengarahkan si Black pulang ke kota kami. Pukul setengah empat lewat kami sudah sampai di tempat wisata tersebut. Gua agak bingung sebenarnya, ini bukan tempat wisata sih, karena yang di sediakan oleh tempat tersebut kebanyakan bertema outbond. Bukan taman bunga, kebun teh, air terjun atau sebagainya. Malah yang paling menonjol adalah toko tas yang besar daripada pemandangan alam.
Dan disinilah, Gua baru tau kalau wanita sama semuanya. Nona Ukhti tiba-tiba saja masuk slonong boy ke dalam toko tas tersebut, biasalah ngomongya ma cuma, "Liat-liat yuk ke dalam", eh pas keluar dari toko tersebut, dua tangannya penuh dengan kantung belanjaan yang berisi tas baru.
Sebelum maghrib kami sudah meninggalkan tempat tersebut, yang akhirnya Gua malah menemaninya belanja, sama kayak Echa ini ma. Hadeuh...
Saat adzan maghrib, Gua dan Nona Ukhti berada di rumah Nenek. Ada perasaan bahagia saat itu di dalam hati Gua, dari sekian banyak tas yang ia beli, ternyata Nona Ukhti memberikan satu tas untuk Nenek. Ya dia membelikan tas untuk Nenek Gua. Sudah tentu Nenek senang. Setelah itu kami melaksanakan ibadah tiga raka'at lalu sekitar pukul tujuh malam, Gua mengantarnya pulang lagi ke rumah Papahnya.
... ... ... Semakin lama, kedekatan Gua dengan Nona Ukhti semakin dekat dari sebelumnya, apalagi sekarang Papahnya sudah bisa nerima Gua. Sudah tentu setiap malam minggu kami jalan bersama dengan izin Papahnya, dan Gua masih memegang amanat Papahnya dengan baik. Yang menjemput Nona Ukhti di rumahnya jika kami hendak pergi main dan pulang sebelum pukul sembilan malam.
Sikap Papahnya memang masih dingin, maksud Gua kami hanya sekedar mengobrol seadanya, tidak sesantai seperti dengan orangtua mantan-mantan Gua sebelumnya. Tapi ya, bagi Gua ini sudah lebih baik daripada sebelumnya.
Sampai di suatu hari di bulan April 2007, Gua berniat untuk menyatakan perasaan kepada Nona Ukhti, ya Gua rasa sekarang sudah waktunya kami menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman dekat. Gua yakin kali ini hubungan kami berjalan dengan baik tanpa perlu menutupinya lagi di depan Papahnya.
Saat itu Gua sudah pulang dari kampus menggunakan si Black, dengan kecepatan sedang dan berkendara santai, Gua memacu mobil menuju rumah Nenek. Sekitar pukul setengah enam sore Gua sudah sampai di rumah. Gua langsung mengganti pakaian setelah sebelumnya membilas tubuh dan bersuci untuk melaksanakan ibadah. Beres beribadah, Gua pamit kepada Nenek untuk pergi ke rumah Nona Ukhti.
Hari ini Gua memang sengaja tidak memberikan kabar kepada Nona Ukhti untuk datang ke rumahnya, sedikit kejutan yang ingin Gua berikan. Se-bucket bunga sudah berada di atas jok samping kemudi, sebuah kalung emas putih sudah terbungkus indah dan Gua simpan di saku bagian dalam blazer. Hari ini benar-benar sudah Gua persiapkan, Gua memang sudah membeli kalung berliontin hati dari dua hari yang lalu, di antar oleh Tante Gua Kinan, ke sebuah toko perhiasan di jakarta.
Pukul tujuh malam Gua hentikan mobil tepat di depan rumahnya. Saat itu langit cerah, malah bertabur banyak bintang, yang semakin membuat malam ini menunjukkan pesonanya. Semuanya perfect di mata Gua. Biarlah Gua menyatakan perasaan di rumah Nona Ukhti, karena bukan tanpa alasan Gua memilih rumahnya itu, karena disinilah bagi Gua semuanya berawal, dari restu Papahnya. Agar kedepannya Gua dan Nona Ukhti benar-benar bisa menjalin hubungan dengan baik bersama orangtuanya itu.
Gua sudah berada di depan teras rumahnya, tapi tumben.. Pintu rumahnya tertutup, mobil Nona Ukhti berada di halaman parkiran tapi tidak dengan mobil milik Papahnya. Gua mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, sampai lima kali Gua mengetuk dan mengucapkan salam tidak ada jawaban dari dalam rumah. Lalu Gua duduk di kursi teras rumahnya dan mengeluarkan hp.
Gua menelpon nomor hp Nona Ukhti hingga lima kali tapi tidak ada jawaban dari ujung sana, yang malah akhirnya nomornya tersebut tidak aktif dan tidak bisa Gua hubungi lagi.
Aneh, tumben banget seperti ini, tidak biasanya dia sulit dihubungi seperti sekarang. Gua mulai mengingat waktu sehari sebelumnya. Saat jum'at kemarin di pagi hari, Gua bangun di apartemen Kinan, Gua sempat menerima sms dari Nona Ukhti seperti biasa, ucapan selamat pagi dan jangan lupa beribadah subuh. Sampai Gua hendak berangkat kuliah pun kami masih saling berkabar lewat sms. Barulah ketika menjelang siang hingga kini Gua berada di rumahnya, kami tidak berkomunikasi lagi.
Gua memilih untuk menunggu kedatangan Papahnya, ya siapa tau Nona Ukhti sedang pergi bersama Papahnya kan. Lama Gua menunggu hingga waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi mobil Papahnya masih belum nampak. Gua semakin khawatir ketika malam semakin larut. Entah kenapa Gua tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak enak di dalam hati. Gua takut terjadi sesuatu kepada kedua orang tersebut. Tapi Gua buru-buru menepis perasaan tersebut, Gua berusaha berfikir positif kalau semuanya akan baik-baik saja.
Gua memang sengaja mendiamkan Nona Ukhti sejak siang kemarin, karena sudah berniat untuk membuat kejutan untuk malam ini. Tapi sepertinya harapan Gua harus sirna... Ya sirna bersama perasaan yang harus Gua kubur dalam-dalam.
... Gua berdiri dari kursi teras rumahnya dan berjalan keluar pagar, ya Gua memilih untuk pulang dan kembali esok pagi. Baru saja Gua menutup kembali pagar rumahnya, sebuah mobil berhenti tepat di samping Gua. Mobil itu, mobil milik Papahnya.
"Loch Om..", sapa Gua yang melihat Papahnya turun dari pintu kemudi. "Za.. Kamu dari tadi di sini ?", tanya Papahnya.
Gua berjalan mendekati Papahnya lalu mencium tangan beliau. "Iya Om, saya dari jam tujuh di sini..", jawab Gua setelah mencium tangan beliau. "Vera nya kemana ya Om ?", tanya Gua.
Papahnya hanya menatap Gua dengan ekspresi wajah yang lelah, ya, beliau seperti kurang istirahat saat itu, keletihan nampak jelas dari wajah beliau. Lalu beliau mengajak Gua masuk ke dalam rumah.
Sekarang kami berdua sudah duduk berhadapan di sofa ruang tamu rumahnya. Gua menunggu beliau bercerita, cerita yang akan membuat Gua tidak akan pernah lupa hari itu, di bulan april itu, Gua harus bertahan dengan segala kenyataan yang sangat sulit bisa Gua terima.
Papahnya Nona Ukhti bercerita langsung ke masalah yang sedang ia hadapi. Gua mendengarkan beliau dengan seksama, mendengar setiap ucapannya dengan perasaan yang khawatir, dan ke khawatiran Gua berubah menjadi sebuah sakit hati yang teramat dalam. Rasanya saat itu, Gua tidak bisa lagi mendengar kata maaf dan ikhlas dari beliau.
Dengan airmata yang sudah membasahi wajahnya, beliau mencoba membuat Gua mengerti akan situasi yang sedang ia hadapi. "Saya harap kamu ikhlas Za menerima kenyataan ini", ucapnya dalam tangis.
Tangan Gua bergetar, airmata Gua ikut menetes tanpa bisa lagi Gua tahan, saat itu rasanya Gua ingin sekali berteriak karena perasaan yang sudah tidak karuan di dalam hati ini. Emosi Gua naik seketika, sulit bagi Gua menerima kenyataan tersebut.
"Selama ini...", ucap Gua yang masih berusaha menahan emosi,
"Saya menjaga dia dengan baik.. Selama ini.. Saya berusaha untuk menjadi laki-laki yang bertanggungjawab untuknya.. Dan untuk anda..", lanjut Gua dengan suara yang bercampur isak tangis,
"Om.. Siapa pelakunya ?", tanya Gua dengan tatapan membunuh bersama emosi yang sudah meledak.
PART 49 Throwback Stories Gua berjalan di lorong rumah sakit dengan langkah yang Gua percepat. Di minggu pagi ini, Gua benar-benar ingin menemui seorang perempuan yang Gua cintai, seorang perempuan yang baik hati, seorang perempuan yang dengan segala kesabarannya menunggu Gua selama ini.
Gua berada di depan sebuah pintu kamar rawat, tapi sayangnya Gua tidak di izinkan masuk oleh seorang aparat penegak hukum yang sedang berjaga di samping pintu tersebut. Pada akhirnya Gua pun hanya bisa duduk di kursi besi di samping pintu kamar itu, untuk menunggu Papahnya datang. Tidak lama kemudian seorang wanita paruh baya berjalan bersama seorang lelaki yang sudah pernah bertemu dengan Gua beberapa minggu lalu. Gua berdiri untuk menyambut mereka dan mencium kedua tangan orangtua tersebut.
Lalu wanita itu, ibunda tercinta Nona Ukhti menangis sambil memegangi wajah Gua. "Sabar ya Nak, do'a kan yang terbaik untuk Vera", ucapnya dalam isakan tangisnya.
Hati Gua bergetar, mata Gua berkaca-kaca dan mencoba menguatkan jiwa ini. Gua hanya bisa mengangguk pelan, Gua sadar, yang paling berat menerima kenyataan ini adalah keluarga Vera.
Kami bertiga duduk di kursi panjang berbahan besi. Gua duduk di samping kiri ibundanya, sedangkan suaminya, Papah tiri Nona Ukhti duduk di samping kanan istrinya itu. Tangan Gua di genggam oleh sang ibunda. Kepala Gua tertunduk menahan emosi yang bercampur aduk dengan kesedihan. Gua mencoba menguatkan diri di depan keluarga Vera.
"Kejadiannya jum'at malam Za", ucap ibundanya.
"Ya Tante, saya sudah dengar dari Papahnya Vera kemarin malam", jawab Gua lemah.
Masih sambil terisak, tangan ibundanya itu mengusap punggung Gua. "Kamu harus sabar ya Nak, ini cobaan yang berat untuk kami sekeluarga", lanjutnya.
"Pelakunya belum ketemu sampai sekarang Tan ?".
Beliau menggelengkan kepala pelan sambil terus menangis. "Semoga pihak yang berwajib bisa segera menangkapnya", jawabnya lagi.
"Tan, maaf.. Apa saya boleh melihat Vera ke dalam ?".
Setelah Gua meminta izin kepada beliau, ibundanya langsung berbicara kepada seorang penjaga tadi. Lalu setelah menerima izin tersebut, Gua bersama ibundanya masuk ke dalam kamar rawat itu, sedangkan Papah tirinya menunggu di luar. Gua berjalan lebih dulu ke dalam kamar ini. Gua melihat seorang perempuan yang selama ini Gua kenal sedang terbaring diatas ranjang, dengan selang dan infusan pada tubuhnya. Gua semakin mendekatinya sampai Gua memegang sisi besi ranjang tersebut.
Airmata Gua tertumpah tanpa bisa lagi Gua tahan, hati Gua tercabik-cabik melihat kondisi Vera yang sedang tertidur tenang tapi kondisi fisiknya jelas menampakkan kekejaman sebuah penganiayaan keji seorang manusia. Banyak perban yang membalut beberapa bagian tubuhnya, hingga lehernya pun ikut di perban berikut keningnya.
Hati Gua hancur sehancur-hancurnya melihatnya tak berdaya seperti itu. Manusia macam apa yang tega memperlakukan perempuan sekeji ini. Emosi Gua mulai kembali naik, rasanya tidak bisa lagi Gua menahan segala perih di hati ini. Apa salah perempuan yang baik hati itu hingga harus menerima semua ini. Begitu kejam kah cobaan dunia yang harus dia terima ".
Andai saja, ini hanya sebuah kecelakaan lalu lintas, mungkin ceritanya akan lain. Mungkin.. Ya mungkin Gua masih bisa mencoba sabar dan ikhlas. Tapi... Huft... Vera Tunggadewi, seorang perempuan yang beberapa tahun belakangan ini sudah Gua kenal, sosok yang baik hati, tidak pernah dia memiliki pergaulan yang salah. Ya kalian tau maksud Gua.
Apa maksud dari cobaan yang harus dihadapinya sekarang " Apa dia berada di tempat yang salah " Bukan.. Bukan itu. Dia hanya melakukan hal yang benar.
... Ketika di malam minggu Gua mendengarkan cerita dari Papahnya. Dia menceritakan kalau sehari sebelumnya, di hari jum'at malam. Putrinya itu baru saja pulang dari kerja kelompok bersama teman kampusnya di sebuah tempat makan, selesai mengerjakan tugas tersebut, Vera pulang bersama teman perempuannya yang diantar oleh pacar temannya itu, otomatis mereka bertiga berada di dalam mobil tersebut.
Di dalam perjalanan pulang, sebuah telur ayam dilemparkan ke kaca bagian depan, tepat dibagian kaca pengemudi, si pengemudi yang tidak lain adalah pacar temannya itu, segera membersihkannya dengan washer otomatis dan menyalakan whipper, tapi kalian pasti tau apa yang akan terjadi jika sebuah telur ayam di campur dengan sedikit air dan digosok dengan whipper seperti itu. Sudah pasti menghalangi pandangan pengendara, akhirnya mobil pun menepi di pinggir jalan.
Pacar temannya turun dari mobil bersama teman perempuan Vera, sedangkan Vera masih duduk di bangku belakang. Setelah kedua temannya melihat dari luar kondisi kaca mobil tersebut, mereka langsung di hampiri oleh dua motor yang satu motornya dinaiki oleh dua orang. Total empat laki -laki yang menghampiri mereka tanpa basa-basi langsung menghajar pacar temannya Vera. Gua fikir saat mendengar ceritanya, ini adalah sebuah perampokkan atau semacamnya.
Pengeroyokan tersebut terjadi di sebuah jalanan yang sepi ketika mereka hendak mengantarkan Vera pulang. Tidak ada satupun kendaraan yang melintas di malam na'as tersebut. Vera yang ketakutan hanya bisa berdiam diri di bangku belakang mobil. Dan setelah keempat baji*ngan tersebut selesai menghajar pacar teman kampusnya itu, kekejaman berlanjut, pacarnya temannya sudah terkapar, lalu kini giliran teman kampus Vera, yang tidak lain adalah seorang perempuan menjadi sasaran selanjutnya. Dimana rasa kemanusiaan yang ada dalam diri keempat baji*ngan itu... Seorang perempuan yang tidak bisa berbuat apa-apa masih mereka hajar habis-habisan. Seburuk inikah kejamnya dunia ".
Entah mungkin karena Vera yang melihat temannya itu diperlakuan kasar oleh keempat baji*ngan tersebut, memilih keluar dari mobil dan hendak meminta tolong kepada siapa saja yang melintas, tapi karena memang tidak ada satu pun kendaraan yang melintas, otomatis Vera berlari ke jalanan lain, berharap ada seseorang yang bisa membantunya. Tapi malang tidak dapat ditolak, Vera terkejar oleh kedua baji*ngan dengan menggunakan motor dan kembali dibawa ke lokasi kejadian tersebut. Di dalam mobil itu semuanya terjadi...
Dan... Sulit sebenarnya Gua menuliskan bagian ini, berat hati Gua harus menuliskannya. Maaf, Gua hanya bisa langsung menuliskan poinnya saja.
kedua perempuan itu... Di perk**a di dalam mobil
. . . . Siapa yang menolong mereka setelah kejadian tersebut " Pengendara yang melintas, itu pun sudah dua jam setelahnya mereka ditemukan di lokasi tersebut. Vera jelas pingsan bersama teman perempuannya.
Korban yang selamat, hanya Vera seorang. Kedua temannya meninggal dunia, lelaki yang menjadi pacar teman kampusnya itu mengalami luka tusuk benda tajam dan banyak kehabisan darah.
Sedangkan teman perempuan Vera. Dia bunuh diri di rumah sakit pada keesokkan harinya. Jangan dikira kejadian ini tidak masuk media cetak.
Setelah apa yang sudah terjadi, sudah tentulah Vera menjadi saksi kunci atas kejadian tersebut, maka dari itu sebagai saksi dan juga korban yang selamat dirinya di jaga oleh pihak yang berwenang. Apalagi yang bisa kalian lakukan sekarang mendapati kenyataan pahit seperti ini ". ...
Ketika Gua ingin mencoba untuk memiliki Vera, ketika Gua ingin memberikan kebahagiaan kepadanya, ketika Gua ingin menjaganya, semua itu sudah terlambat. Karena seiring berjalannya waktu, Vera memang berangsur pulih, dia mulai menunjukkan kondisi fisiknya yang sehat. Tapi... Tidak dengan mentalnya. Ini semua berat untuk dia hadapi dan dia terima. Mentalnya hancur, dan trauma dalam dirinya benar-benar sulit untuk disembuhkan. Maka keterangan apapun yang seharusnya keluar dari mulut Vera sebagai bukti dan mendapatkan informasi tentang siapa pelakunya tidak pernah bisa didapatkan.
*** Kembali dimana saat Gua bersama istri menceritakan kejadian itu kepada Nindi dan Dian di depan teras kamar.
Airmata Nindi tertumpah dan membasahi pipinya, Dian yang berada di sampingnya mencoba menenangkan kakak kandungnya tersebut.
Gua mengambil secangkir kopi yang berada di atas meja lalu meneguknya sedikit. Echa mengusapusap punggung Gua dari samping kiri.
"Ya Alloh Za, segitu beratnya cobaan yang harus dihadapi Vera.. Aku gak tau lagi kalo kejadian itu menimpa aku...", ucap Nindi sambil menangis.
Gua tidak bisa mengatakan apapun kepada kakak tiri Gua itu, Gua mengambil sebatang rokok dari bungkusnya lalu kembali membakarnya. Gua hisap dalam-dalam racun tersebut lalu menghembuskannya keatas. Sekarang Gua memundurkan tubuh hingga bersandar pada bahu sofa. Kepala Gua mendongak ke atas, menatap langit-langit teras depan ini. Pikiran Gua membawa kenangan pahit ke kejadian beberapa bulan lalu itu. Tanpa terasa airmata Gua pun mengalir dengan sendirinya.
"Apa yang sampai akhirnya kamu menikahi Echa ?", tanya Nindi kemudian. "Karena aku hampir ngebunuh orang Kak..", jawab Gua dingin.
Lalu Gua hanya tersenyum tipis tanpa menengok kepadanya, mata Gua masih menatap langit teras.
"Ehm.. Kak, biar aku yang ceritain aja..", ucap istri Gua,
"Sayang, kamu shalat dulu ya, sebentar lagi udah mau masuk adzan ashar kan..", ucapnya kepada Gua sambil menepuk paha kiri Gua.
... ... ... Quote: Segala bentuk pertanyaan yang menyangkut kejadian diatas tidak akan Gw jawab. Mohon maaf, biarkan cerita ini yang menjelaskannya, sekalipun masih ada yang tidak terjawab atas apa yang sudah terjadi, Gw tetap tidak akan memberikan hal yang lebih dari yang sudah tertuang di cerita ini.
PART 50 Throwback Stories Awal bulan juni 2007, hampir dua bulan setelah kejadian mengenaskan yang dialami seorang perempuan baik hati tersebut sudah berlalu. Dirinya kini sehat secara fisik, tapi tidak dengan mental dan depresi yang dialaminya.
Selama itu Vera hanya mengurung diri di kamar dan tidak pernah keluar rumah, Gua paham apa yang ditakutinya. Bahkan ketika awal-awal dia pulang ke rumah dan Gua ikut mengantarnya, Vera tidak mengenali Gua dan tidak ingin bertemu dengan laki-laki manapun, termasuk Papahnya sendiri. Pada akhirnya, dia di bawa oleh ibunda tercintanya ke klinik psikologi, bukan sebuah rumah sakit jiwa, tapi lebih kepada pembangunan mental secara intensif yang dilakukan oleh ibundanya. Agar rasa traumanya bisa hilang dan kepercayaan dirinya kembali lagi seperti sediakala.
Saat itu seperti yang sudah Gua jalani selama ini, setiap weekend pulang dari jakarta Gua pasti menjenguk Vera di rumahnya.
"Masih belum pulih sepertinya Za", ucap ibundanya yang di dampingi suami barunya.
Di sofa lainnya duduk sang Papah kandungnya. Gua sedang berada di ruang tamu rumah Papah kandungnya Vera. Kami berempat sedang mengobrol di ruang tamu ini.
"Tapi ada perkembangan kah Tan ?", tanya Gua lagi.
Beliau mengangguk. "Alhamdulilah ada perkembangan sedikit, dia sudah mau berbicara dengan Papahnya", jawab ibundanya, yang dimaksud beliau adalah Papah kandungnya bukan Papah tirinya.
Gua sedikit lega mendengarnya, karena Gua rasa lumayan cepat perkembangannya, seperti yang Gua bilang, awalnya Vera sama sekali tidak ingin menemui lelaki manapun. Tapi sekarang dia sudah mau berkomunikasi dengan Papahnya.
Gua berdiri dari duduk setelah dipersilahkan untuk menengok Vera di kamarnya. Gua buka pintu kamarnya perlahan dan melongok ke dalam.
Di sana, di dalam kamarnya, Gua melihat seorang perempuan yang sedang duduk di kursi kayu, dia duduk menghadap jendela yang memberikan pemandangan taman bagian samping rumahnya. Sore itu, langit cerah, cahaya senja masuk melewati jendela kamarnya. Dirinya di sinari cahaya senja tersebut hingga Gua merasakan bahwa Vera adalah seorang bidadari yang terluka, terjebak dalam dunia yang fana ini.
Hati Gua terenyuh ketika kembali mencoba mendekatinya lagi hingga sampai tepat di belakangnya, lalu dia menengok kepada Gua, dan langsung memukul tubuh Gua seperti yang sudah-sudah. Ini bukanlah hal yang aneh bagi Gua, karena memang Vera selalu seperti ini kepada lelaki yang hendak menjenguknya, dari mulai teman kampus lelakinya, Gua, hingga Papahnya sendiri pernah dilempar benda yang berada di dekatnya.
Tapi kondisinya sekarang semakin membaik, yang dulunya dia benar-benar beringas kepada Gua, kini dia hanya memukul-mukul Gua dengan tenaga yang bisa dibilang pelan. Gua membiarkannya memukul tubuh ini, tidak ada rasa sakit dari perlakuannya itu. Gua tersenyum ketika dengan wajah emosinya dia masih memukuli dada Gua.
"Hai Vee..", ucap Gua.
"Heeuuuu... Aaaa!!", teriaknya pelan.
Bugh Bugh Bugh Bugh ... ... Airmata Gua kembali menetes membasahi pipi ini. Bukan karena sakit karena pukulannya, tapi hati Gua hancur melihatnya seperti itu. Gua tidak tau dia masih mengenali Gua atau tidak. Tanpa memperdulikan keadaannya, Gua langsung memeluknya dan menyandarkan kepalanya ke dada Gua. Dia meronta-ronta pelan, tanpa tenaga. Gua tetap memeluknya dan airmata ini pun membasahi bagian atas kepalanya.
Gua menciumi lembut rambutnya yang wangi itu, lalu Gua sandarkan wajah ini ke atas kepalanya, Gua masih menangis.. Tubuh Gua bergetar ketika Vera juga ikut menangis. Dan hari itu... Hari yang selalu Gua nantikan sepanjang hidup Gua akhirnya tiba.
Dia membalas pelukkan Gua, kedua tangannya memeluk tubuh Gua dengan erat, Gua tidak memperdulikkan perih yang terasa karena terlalu kuat genggaman tangannya pada lengan dan punggung Gua. Apa yang selama ini Gua harapkan benar-benar terjadi, dia membalas pelukkan Gua. Dan kebahagiaan Gua semakin bertambah ketika dirinya bersuara, bukan kalimat teriakkan, tapi... "Zaa.. Hiks.. Hiks.. Zaa..", ucapnya dalam tangisan.
Entah sebahagia apa perasaan Gua ketika dia benar-benar memanggil nama Gua, sudah hampir dua bulan ini dia tidak menyebutkan nama Gua, bahkan ketika melihat Gua saja dia marah. Tapi sekarang, apa yang Gua harapkan benar terwujud.
Tidak henti-hentinya Vera memanggil nama Gua dalam pelukkan ini. "Iya sayang, ini aku Eza.. Aku disini Ve", ucap Gua sambil ikut terisak dan memeluknya.
Di luar kamar, tepat di ambang pintu, orangtuanya melihat kami. Ada senyuman yang terlukis dari mereka semua ketika Vera memanggil nama Gua.
"Aku takut Za.. Aku takuuutt", ucapnya lagi.
"Iya Ve, aku disini sekarang... Aku gak akan ninggalin kamu lagi, aku janji Ve.. Aku janji", jawab Gua.
Lama kami berpelukkan dan sama-sama menangis, hingga tidak lama setelah mengatakan kalimat ketakutan tersebut, Vera mengucapkan sebuah nama dengan suara pelan, dia menyebutkan satu nama.
Salah satu nama laki-laki yang dia bilang adalah seorang baji*ngan. ...
Keesokan harinya keluarga Vera melaporkan nama yang putri mereka sebutkan itu kepada pihak penyidik, karena kondisi Vera masih trauma dan tidak mau diajak keluar rumah, maka pihak penyidiklah yang melakukan sesi tanya-jawab di rumahnya. Memang selama hampir dua bulan ini keempat pelaku itu belum tertangkap.
Hari ini Gua tidak datang ke rumah Vera, Gua tidak ikut melihat penyidik menanyakan beberapa hal soal kejadian itu di rumah Vera. Gua sedang berada di rumah teman lama.
"Ada apa Lu butuh barang kayak gitu Za", tanyanya di depan Gua.
Gua hanya tersenyum, oh bukan.. Gua ingat, Gua menyeringai kepada teman Gua itu. "Ada sedikit kejutan untuk seseorang Yo..", jawab Gua kepada Ryo.
Setelah mendapatkan apa yang Gua butuhkan, Gua langsung menyambangi kampus Vera. Gua datang ke gedung fakultasnya dan bertemu seorang satpam kampus. Gua menanyakan nama seseorang tapi satpam tersebut tidak mengenalnya. Lalu dari situ Gua pun menahan kesabaran Gua hingga esok hari.
Keesokan harinya Gua menunggu di kampus tersebut, Gua menanyai teman kampus Vera tentang nama seseorang yang Vera sebutkan dua hari lalu, tapi sayangnya nama tersebut bukanlah seorang mahasiswa di kampus ini, tapi dari beberapa teman kampusnya yang Gua tanya, Gua bersyukur ternyata ada yang mengetahuinya.
"Tapi Gue juga gak tau sih bro kalo alamatnya dimana..",
"Cuma yang kita denger sih tuh cowok preman kampung, dimananya Gue gak tau, soalnya waktu masih pacaran sama almarhumah juga gak dikenalin ke Gue dan teman lain, dia cuma suka anterjemput ke kampus",
"Emang kenapa bro ?", tanya seorang mahasiswa teman kampus Vera. "Enggak apa-apa.. Tapi Lu yakin dia mantan almarhumah itu ?".
"Iya, mereka baru putus akhir tahun kemarin.. Eh... Atau jangan-jangan dia yang...", ucapannya terhenti.
Orang yang namanya disebutkan Vera ternyata adalah mantan dari almarhumah, teman kampusnya yang meninggal karena bunuh diri di rumah sakit. Info yang Gua dapatkan ternyata hanya bisa memberikan sedikit keterangan, sulit rasanya mencari orang tersebut.
Dan pada akhirnya Gua terlambat, ternyata pihak yang berwajib sudah menangkapnya terlebih dahulu di daerah karawang hanya selang dua hari mereka mengantongi namanya dari keterangan Vera.
Ketika itu di dalam hati Gua berjanji.. 'Lu boleh tertangkap, tapi jangan difikir Gua tidak bisa membalaskan apa yang udah Lu buat kepada orang yang Gua cintai'.
Satu minggu sudah seorang pelaku tertangkap, yang tidak lama, ketiga pelaku lainnya ikut tertangkap dan masih mendekam di hotel prodeo salah satu polsek. Pada akhirnya Gua tau motif dari mereka semua, kejadian dan perlakuan bang*sat mereka itu hanya, ya hanya.. Hanya karena rasa cemburu salah satu pelaku kepada almh. Teman perempuan kampus Vera yang merasa dirinya diputuskan secara sepihak dan lebih memilih orang lain, yang mana sekarang sudah meninggal akibat pengeroyokkan tersebut. Gua tidak peduli dengan alasan mereka yang mengatakan bahwa awalnya tidak ada niat membunuh sampai memper**sa kedua korban perempuan. Bahkan tidak berniat membunuh laki-laki yang salah satu pelaku itu cemburui. Apapun, apapun alasan mereka, kini semuanya sudah terjadi, dua korban harus meregang nyawa akibat kelakuan mereka, dan satu korban selamat harus menerima trauma yang sangat berat.
Dan ketika Gua mengetahui hal tersebut, rencana Gua ubah. Balas dendam ini harus Gua rubah dan bagaimanapun mereka harus merasakan apa yang sudah Vera rasakan.
Sebuah handgun berwarna silver Gua simpan rapat-rapat di salah satu bagian kamar rumah Nenek. Sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menggunakannya.
... Gua menarik nafas dalam-dalam di malam hari. Saat itu Gua sedang berada di lapangan sepak bola depan rumah. Di samping kiri Gua ada Rekti dan Robbi di kanan, ya Robbi sudah selesai pendidikan dan kini bertugas di kota kami, sama seperti Rekti.
"Sekarang Lu berdua tau kan masalahnya", ucap Gua kepada kedua sahabat rumah Gua itu.
"Tapi apa yang Lu mau sekarang Za " Pelakunya udah ketangkep kan, tinggal nunggu sidang aja kata Lu akhir bulan nanti, dan Gua yakin mereka gak akan lolos dari hukuman Za", ucap Rekti.


Asleep Or Dead Karya Bunbun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Huuffftt..", "Bukan hukuman dari pengadilan yang Gua maksud Ti..", ucap Gua sambil menatap langit malam yang tanpa bintang di atas sana. Langit yang begitu gelap.
"Maksud Lu apa ?", tanyanya lagi.
Gua menggelengkan kepala pelan, lalu menengok kepada Rekti. Menatapnya tajam hingga ia menyadari sesuatu. Ketika itu, ketika Gua melihat wajahnya yang tersadar dengan apa yang Gua maksud, Gua pun tersenyum.
"Enggak bisa Za", ucap Rekti sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya lalu membakarnya dengan gugup.
"Malam hari Ti.. Gua cuma minta satu malam aja", ucap Gua.
"Enggak mungkin, Lu gila apa! Mana bisa Gua punya kewenangan kaya gitu!", bantahnya. "Ti...".
"Enggak Za! Lu gila!".
"Apa yang bakal Lu lakuin kalo kejadian ini menimpa Desi ?", tanya Gua dengan dingin kepada Rekti. "......".
Rekti diam tidak bisa menjawab pertanyaan Gua.
"Za.. Apa yang Lu maksud sih " Gw gak ngerti Za", tanya Robbi kali ini.
Gua menghela nafas pelan. "Gua cuma mau satu malem berada di dalam sel bersama si pelaku itu, Rob", jawab Gua sambil melirik kepada Robbi.
Jelaslah kedua sahabat Gua itu tidak mau mengabulkan permintaan Gua, yang Gua yakin sebenarnya mereka bisa membantu Gua. Perdebatan diantara kami pun akhirnya harus membuat Gua mengurungkan niat tersebut.
Tapi selalu ada jalan untuk memberikan balas dendam, ya Gua rasa saat itu, mungkin iblis berpihak kepada Gua.
Suatu hari, Gua menyambangi lagi rumah Ryo. Gua hanya bisa memberikan info kalau keluarga Ryo ini adalah keluarga mafia. Benar-benar mafia. Lu sakitin dia sekali, dia bakal balas dengan menghancurkan satu keluarga Lu. Ryo adalah teman masa SMP Gua, dan Gua sengaja tidak memasukkannya ke dalam cerita di MyPI. Dan saat Gua merilis part kali ini, Gua sudah mendapatkan izin untuk menceritakannya, yang pasti sudah Gua edit dan kaburkan segala fakta tentang keluarganya.
Gua hanya 'meminta bantuan' kepada Ryo agar apa yang sudah terjadi kepada Vera bisa dibalaskan ke salah satu pelaku tersebut. Ya hanya satu pelaku memang yang Gua incar. Dan... Semuanya terjadi begitu saja, Ryo memberikan apa yang Gua pinta.
Kami berdua hanya tertawa malam itu, sebuah tawa yang membuat Gua melakukan dosa lainnya di dunia ini. Dan Gua tidak pernah menyesal akan tindakan Gua tersebut. Sepadan rasanya untuk sebuah harga yang harus dibayar dalam kejadian yang menimpa seorang perempuan baik hati. ...
i just wanna say, send my regards to the devil in hell... Agathadera.
... ... ... Skip setelah kejadian di atas.
Sekarang fokus Gua hanya kepada Nona Ukhti Vera seorang, tidak ingin rasanya Gua meninggalkan dia lagi. Kuliah Gua pun harus Gua tinggalkan beberapa hari karena perasaan bersalah Gua kepada Vera. Gua tidak ingin menunggunya pulih tanpa keberadaan Gua di sampingnya lagi.
Sekalipun Vera sudah kembali mengenali Gua, tapi terkadang dia masih tidak bisa didekati. Gua paham dan mengerti akan hal tersebut.
Hingga akhirnya di satu hari Gua sedang menyuapinya makan di dalam kamarnya. "Ayo makan lagi Ve..", ucap Gua mencoba memberikannya satu suapan lagi.
Vera hanya terdiam menatap Gua dengan tatapan kosong. Wajahnya masih pucat. Tubuhnya kurus, beberapa luka lebam sudah sembuh dan tidak nampak dari kulitnya, luka goresan pada lehernya masih terlihat tapi sudah agak samar. Hanya lebam pada keningnya saja yang benar-benar masih terlihat dengan jelas akibat kepalanya dibenturkan ke bodi mobil.
Vera masih terdiam tanpa mau lagi membuka mulutnya untuk makan. Karena Gua rasa lumayan banyak makanan yang dia telan, akhirnya Gua taruh piring tersebut di meja dekat kasur kamarnya itu. Gua kembali duduk di kursi kayu, tepat di samping Vera yang duduk di atas kasurnya.
Gua mencoba memegang tangan kanannya dengan perlahan dan hati-hati, bahaya kalau sampai dia histeris lagi. Karena traumanya belum benar-benar sembuh. Setelah Gua berhasil memegang tangannya itu tanpa genggaman, Gua menatap Vera. Dia menengok kepada Gua. Lalu Gua tersenyum.
Gua tersenyum tapi menahan tangis yang sudah ingin meledak. Perasaan Gua hancur melihatnya seperti ini, tidak ada lagi keceriaan di wajahnya ketika bertemu Gua seperti dulu. Wajahnya selalu pucat dengan mata yang sayu. Semua orang yang melihat kondisinya saat itu Gua yakin akan terenyuh, akan menyadari bahwa perempuan cantik ini memancarkan kesedihan yang teramat dalam. Ada hal yang tidak bisa kita lihat tapi bisa kita rasakan, begitupun dengan kondisi Vera saat itu. Dia terlihat lusuh, kedua bola matanya menunjukkan tidak ada lagi harapan, harapan untuk sekedar bertahan hidup. Semuanya sirna karena sebuah prilaku manusia yang keji.
Tanpa terasa airmata Gua pun akhirnya mengalir dengan sendirinya. Lalu dengan perlahan Gua angkat tangan kanannya itu yang sedetik kemudian langsung Gua cium dalam-dalam punggung tangannya. Tubuh Gua bergetar, mata Gua terpejam, dan tangis Gua semakin menjadi.
Sebuah sentuhan pada rambut kepala Gua membuat Gua tersentak, Gua cukup terkejut ternyata Vera sedang membelai lembut rambut bagian belakang kepala Gua dengan tangan kirinya.
"Za...". Gua mendongakkan kepala ketika Vera memanggil nama Gua dengan suara yang parau. "Iya sayang... Ini aku.. Kenapa sayang " Kamu mau apa " Bilang sama aku...", ucap Gua dengan suara bergetar.
"Aku gak pantes untuk kamu Za", ucapnya dengan lirih.
Gua tersentak lagi, apa yang dikatakan Vera membuat Gua tidak percaya bahwa dirinya bisa memikirkan hal seperti itu. Padahal kondisinya belum pulih dari trauma...
Gua menggelengkan kepala cepat lalu kembali mencium punggung tangannya beberapa kali. Saat itu Gua melirik ke pintu kamarnya, kedua orangtua kandung Vera masuk ke dalam kamar dan berdiri di dekat kami.
"Aku sayang kamu Ve.. Aku gak akan ninggalin kamu, kamu jangan mikirin hal itu.. Apapun kondisi kamu sekarang, kamu berhak atas segala apa yang kamu impikan selama ini.. Dan aku terima kamu apa adanya Ve...", jawab Gua masih menangis.
"Aku udah gak punya mimpi",
"Aku gak berhak jadi perempuan yang kamu sayang lagi Za".
Gua tidak bisa melukiskan betapa sakitnya hati Gua mendengarnya mengatakan hal tersebut. Harapan dan mimpi-mimpinya itu sirna baginya, tidak ada lagi keinginannya untuk berusaha mendapatkan apa yang selama ini dia harapkan.
"Nak, jangan ngomong begitu ya sayang, Mamah sayang sama kamu, Papah juga sayang sama kamu, dan Eza juga sayang sama kamu Nak... Kami semua menyayangi kamu.. Jangan berhenti untuk berharap ya sayang. Ada kami di sini yang selalu menyayangi dan menjaga kamu", ucap Ibundanya sambil mengelus lembut kakinya.
"Aku mau wujudin salah satu mimpi kamu Ve...", timpal Gua, "Aku minta maaf selama ini udah membiarkan kamu menunggu".
Gua mengeluarkan sebuah kalung yang ingin Gua berikan sekitar dua bulan lalu kepadanya.
"Sayang..", Gua menarik nafas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, lalu Gua melirik kepada Ibunda dan Papahnya Vera, baru kemudian Gua kembali menatap Vera. "Aku mau nikahin kamu... Kamu mau kan jadi istri aku ?".
Kini tlah kusadari Dirimu tlah jauh dari sisi
Kutau tak mungkin kembali kuraih Semua hanya mimpi
Ingin ku coba lagi Mengulang yang telah terjadi Tetapi semua sudah tak berarti Kau tinggal pergi
Adakah kau mengerti kasih Rindu hati ini
Tanpa kau disisi Mungkin kah kau percaya kasih Bahwa diri ini
Ingin memiliki lagi PART 51
Cinta Dalam Hati Throwback Stories
Dua hari setelah Gua menyatakan keinginan untuk menikahinya, Gua menelpon Ayahanda dan menceritakan semua yang terjadi kepada Vera, dan Gua bersyukur Ayahanda masih mengingat Vera. Setelah mendapatkan restunya, Ayahanda berniat untuk menelpon dan menceritakan niatan Gua ini kepada adiknya, ya Om Gua. Nenek " Beliau sudah tau kondisi Vera sedari awal, Gua dan Nenek beberapa kali menjenguk Vera di rumahnya. Dan niatan Gua ini alhamdulilah direstui juga oleh Nenek.
Hari ini Om, tante, dan Nenek sudah rapih, kami semua berniat pergi ke rumah Vera, untuk melamarnya.
Segala persiapan dadakan ini hanya melibatkan satu keluarga tetangga Gua, orangtua Unang dan Unang sendiri, ya hanya mereka pihak luar selain keluarga yang kami ajak dalam acara lamaran dadakan tersebut.
Sekitar pukul sepuluh pagi, kami semua sudah sampai di rumah Vera, Gua dan yang lainnya turun dari mobil, Gua berjalan duluan untuk membuka pagar rumahnya, tapi ada yang berbeda kali ini. Pagar rumahnya tertutup rapat, terlebih pintu pagar itu terkunci dengan gembok. Gua menelpon Papahnya tapi nomor hp nya tidak aktif, kemudian Gua mencoba menelpon nomor hp Vera, dan sama saja, tidak aktif juga. Lama Gua dan keluarga berada di depan rumahnya.
"Za, mungkin sedang keluar, itu mobilnya gak ada di halaman parkir", ucap Tante Gua yang menengok ke dalam rumah di depan kami.
"Apa mungkin sedang ke klinik yang kamu bilang Za ?", timpal Om Gua.
"Enggak Om, semenjak kondisinya membaik, dokter psikologi nya malah yang sering datang kerumah. Program pemulihannya dilakukan disini, di rumahnya, bukan lagi di klinik", jawab Gua cemas.
Tidak lama seorang ibu-ibu melintas di depan kami dengan menggunakan sepeda motor dengan kantung belanjaan yang terisi penuh. Dan berhenti tepat di samping rumah Vera. Ibu itu turun dari motor dan memperhatikan kami sambil membuka pagar rumahnya sendiri. Lalu beliau pun bertanya kepada kami.
"Maaf, kalian cari siapa ya ?", tanyanya sambil melepas helm. "Oh, saya temannya Vera Bu, teman anaknya Om Alex", jawab Gua. "Oh, kamu Reza ya ?", tanyanya lagi.
Gua cukup terkejut mendengar ucapannya itu. Gua belum pernah bertemu ibu ini, tapi beliau tau nama Gua. "Ii.. Iya Bu, saya Reza.. Ibu siapa ya " Maaf", tanya Gua balik.
"Saya tetangganya Pak Alex, sebentar ya, ada titipan untuk kamu", jawab si Ibu lalu kembali menaiki motornya dan masuk ke dalam rumah.
Beberapa menit kemudian, tetangga Vera itu keluar lagi dan membawa sebuah amplop berukuran sedang di tangannya.
"Ini, saya dititipkan surat untuk anak yang bernama Reza kata Pak Alex..", ucapnya sambil menyerahkan amplop tersebut kepada Gua.
Gua masih kebingungan menatap amplop tersebut. "Eeu.. Maaf Bu, keluarga Pak Alex kemana ya " Kok rumahnya tertutup semua..?", tanya Gua sambil menerima amplop tersebut. "Keluarga Pak Alex sudah pindah, baru subuh tadi mereka pergi", jawabnya.
Gua terkejut mendengar jawaban ibu itu. Gak mungkin.. Gak mungkin mereka pergi tanpa mengabari Gua.
"Secepat itu Bu " Subuh mereka pergi ?", tanya Gua lagi dengan perasaan yang tidak percaya.
Ibu itu mengangguk. "Iya, tapi sebenarnya sudah dari kemarin barang-barangnya di angkut duluan Nak", jawabnya.
Hati Gua menclos mendengar itu, kenapa mereka pergi, untuk apa mereka meninggalkan Gua.
Sepertinya Om dan Tante Gua mengerti apa yang ada di dalam pikiran Gua, karena Gua hanya bisa tertunduk tanpa mengucapkan kalimat apapun lagi. Kini Om Gua yang berbicara kepada tetangganya Vera itu.
"Maaf Ibu, kalau boleh kami tau, keluarga Pak Alex pindah kemana ya ?", tanya Om Gua.
Ibu itu menggelengkan kepalanya pelan dengan wajah yang muram. "Saya juga tidak diberi tau Pak, mereka akan pindah kemana, hanya Pak Alex bilang mereka ke luar kota, tapi tidak menyebutkan ke kota mana mereka akan pindah", jawab si ibu.
"Apa ada pesan lain yang di katakan Pak Alex, Bu ?", tanya Tante Gua kali ini.
"Tidak ada Bu, beliau hanya menitipkan surat itu kepada saya dan meminta saya untuk menyerahkannya jika ada anak yang bernama Reza mencari keluarga Pak Alex...", jawab si Ibu lagi, "Setelah itu beliau pamit kepada saya dan keluarga", lanjutnya.
"Mmm.. Apa ibu juga liat anaknya ikut pergi ?", tanya Tante Gua lagi.
Ibu itu melirik ke rumah Vera yang berada di sisi kananya, matanya mulai berkaca-kaca, dia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan.
"Iya, anak perempuannya yang malang itu ikut bersama Pak Alex.. Kasihan dia", jawab si Ibu dengan suara yang bergetar.
Hati Gua langsung merasakan sakit, seolah-olah ada hantaman yang kuat menyakiti hati ini, Gua limbung, kepala Gua terasa berat, pandangan Gua nyaris kabur, tubuh Gua bergetar, airmata Gua mulai menetes, dan saat nyaris saja Gua benar-benar kehilangan keseimbangan, Om Gua dan Unang dengan sigap menopang tubuh Gua. Lalu Gua dipapah ke dalam mobil oleh Unang.
... ... ... Sudah berhari-hari Gua tidak masuk kuliah dan hanya mengurung diri di dalam kamar rumah Nenek. Gua tidak nafsu makan, Gua tidak melakukan aktifitas apapun selain meratapi kesedihan yang dengan indahnya bersemayam di dalam hati ini.
Gua mencintai Vera, Gua menyayangi dia dengan segala kondisinya yang dulu maupun sekarang. Rasa cinta dan sayang Gua tidak berubah sedikitpun untuk perempuan itu. Apa yang sudah terjadi kepadanya tidak membuat Gua kehilangan rasa sayang kepadanya. Tidak ada perasaan benci, jiji, atau bahkan ingin meninggalkan dia, tidak. Gua tidak seperti itu. Gua sayang dia, Gua mencintainya dengan segala kekurangannya. Apapun, apapun akan Gua lakukan untuk membuatnya kembali ceria, kembali bahagia dan kembali menjalani kehidupannya.
Niat tulus Gua yang sebelumnya sudah Gua utarakan kepada Vera di depan kedua orangtuanya bukanlah hisapan jempol atau sebuah angan-angan. Dengan segala perasaan yang Gua miliki di dalam hati, saat itu Gua bersungguh-sungguh untuk menikahi Vera, menjadi pendamping hidupnya. Memang setelah Gua mengatakan itu Vera hanya terdiam tanpa ekspresi apapun seperti biasanya. Tapi kedua orangtua Vera setuju, setuju jika Gua menikahi anaknya tersebut.
Semuanya sudah Gua lewati bersama Vera, apa yang sudah kami lalui tidaklah mudah. Tapi sayangnya semua harus berakhir.
Vera memilih pergi bersama keluarganya. Meninggalkan Gua di sini tanpa penjelasan apapun yang Gua terima. Gua menyesal tidak pernah memintanya untuk mengajak Gua ke rumah ibundanya, karena kini, Gua benar-benar tidak mengetahui rumah ibundanya itu. Om Gua sudah menanyakan kepada tetangganya, tapi sayang beliau juga tidak tau. Setelah itu, Gua teringat akan salah satu sahabat SMA kami yang juga sepupu Vera. Gua berangkat ke rumahnya bersama Unang ketika itu. Sesampainya di sana, Gua tidak bertemu dengan Gusmen, ternyata Gusmen dinas di luar pulau jawa setelah menjalani pendidikan.
Gua memang mendapatkan nomor hp Gusmen, dan saat itu juga Gua menelponnya, menanyakan kabarnya hanya basa-basi, dan langsung menanyakan keperluan Gua, memintanya jujur kepada Gua dimana keberadaan sepupunya berada sekarang. Tapi apa daya, sekeras apapun Gua meminta Gusmen untuk mengatakan dimana keberadaan Vera, dia tetap menjawab tidak mengetahui sama sekali perihal kepergian keluarga Vera, bahkan ibunya Gusmen baru tau dari Gua, kalau keluarga Vera sudah pindah. Sayangnya lagi, keluarga Gusmen tidak tau alamat rumah ibunda Vera, karena keluarga Gusmen memang berhubungan darah dari papahnya Vera, bukan dari ibundanya.
Entah sudah berapa hari, bahkan minggu, Gua tidak masuk kuliah, Gua lupa, Gua tidak memikirkan apapun selain nama Vera yang bersemayam di otak Gua.
Amplop yang dititipkan untuk Gua berisi secarik kertas putih dengan tulisan yang ditulis dengan tinta merah dan sebuah flash disk...
Kertas itu hanya tertulis sebuah kalimat, kalimat yang pendek tanpa penjelasan apapun. Kalimat sederhana namun bermakna sangat dalam, dan mampu menghancurkan segala isi hati Gua, perasaan Gua luluh lantak setiap kali membaca isi surat tersebut...
Quote: Aku Sayang Kamu, Dulu, Sekarang dan Selamanya. Vera
Dan segalanya semakin membuat Gua terpuruk kedalam jurang gelap tanpa batas, tanpa cahaya dan tanpa kebahagiaan di dalamnya. Lengkap sudah perasaan Gua yang hancur ketika Gua memutar lagu yang berada di dalam flash disk pemberiannya itu yang Gua putar di komputer.
Sudah berpuluh kali Gua mengulang-ulang lagu tersebut. Awalnya Gua tidak memahami atau mengerti maksud dari lagu itu, tapi setelah Gua putar untuk ketiga kalinya, baru Gua paham maksud yang terkandung dalam lagu tersebut. Dan perasaan Vera sepertinya tertuang dalam lagu itu.
"mungkin ini memang jalan takdirku mengagumi tanpa dicintai
tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia dalam hidupmu, dalam hidupmu
telah lama kupendam perasaan itu menunggu hatimu menyambut diriku tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah bahagia untukku, bahagia untukku"
Gua mencintai Vera dengan segenap hati Gua, bahkan melebihi cinta Gua kepada Echa ketika itu.
Perasaan sayang untuk seorang perempuan yang sudah menunggu Gua selama itu tidak pernah berubah sampai detik ini. Saat part ini Gua ketik tadi malam, Gua mendengarkan lagu tersebut, lalu menelpon istri tercinta, mengatakan hal-hal yang selama ini telah dia ketahui, mengatakan perasaan sayang Gua untuk Vera.
Istri Gua mengerti dan selalu akan mengerti akan perasaan Gua tersebut. Tidak pernah dia merasa tersisihkan sedikitpun ketika Gua bercerita tentang nama Vera. Bertahun lamanya kami menikah dan dia lah sosok yang paling mengerti isi hati Gua.
Tidak ada yang perlu diperdebatkan soal perasaan Gua kepada wanita yang satu itu. Tidak perlu. Karena kami semua saling memahami satu sama lain.
Dan cinta serta sayang Gua kepada Istri Gua adalah hal yang nyata. Sekarang dan untuk selamanya
Dan biarkan cinta ini bersemayam dalam hati.
*** ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga hujung waktuku dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
dan izinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja.
PART 52 Pada akhirnya disini lah Gua berada, kembali duduk di samping istri tercinta Gua, Echa, selesai shalat ashar sebelumnya.
Nindi dan Dian masih mengusap airmata mereka yang sudah mulai mengering dari wajah mereka masing-masing setelah Echa bercerita tentang Nona Ukhti. Gua kembali mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya tapi sebuah cubitan pelan pada punggung tangan Gua membuat Gua menoleh ke samping.
"Ngerokok terus.. Udah ah Za", ucap istri Gua dengan wajah cemberutnya.
Ya mau tidak mau Gua menaruh kembali bungkus rokok di atas meja teras. Lalu menggaruk kepala yang tidak gatal. "Iya iya sayaaang..", jawab Gua.
"Jadi karena kepergian Vera yang gak bilang sama kamu, sekarang kamu nikahin Echa ?", tanya Nindi lagi kepada Gua.
"Salah satunya itu Kak, aku benar-benar hancur saat Vera hilang, gak ada lagi semangat untuk ngejalanin hidup ini saat itu...", ucap Gua menatap Nindi sesaat,
"Rasanya waktu itu, depresi yang Vera alami berpindah ke aku, entahlah, aku gak bisa benar-benar inget kejadian itu",
"Dan soal aku hampir membunuh orang yang aku cerita sebelumnya, pelakunya lebih dulu tertangkap sebelum aku nemuin keberadaannya", lanjut Gua.
Nindi menghela nafasnya pelan, sepertinya dia sedang menetralisir segala emosi yang ada di dalam hatinya. Lalu Gua menatap Echa yang sedang tersenyum kepada Gua.
"Dan saat kamu terpuruk, Echa yang selama ini ada di sisi kamu ?", tanyanya lagi.
Gua tersenyum kepada Nindi sambil mengangguk, lalu Gua melingkarkan satu tangan ke belakang leher istri Gua dan menariknya pelan. Gua kecup keningnya sambil terkekeh.
"Dia yang menyelamatkan aku Kak, wanita berhati malaikat ini..", jawab Gua sambil menatap Echa lekat-lekat.
"Eza! Hey! Ada adik mu ini.. Jangan mesra-mesraan di depan anak kecil!", ucap Nindi sambil menepuk paha Dian yang berada di sampingnya.
Lalu kami semua tertawa karena ucapannya itu.
... ... ... Ada sedikit cerita pada saat setelah Gua kehilangan Vera, Nenek Gua sempat mengontak Mba Yu, Sherlin. Untuk memberitahukan kondisi Gua yang terpuruk saat itu, setelah mendapatkan kabar dari Nenek, keesokan harinya Mba Yu datang ke rumah tapi bersama kekasihnya, Feri. Nenek pun menceritakan hal apa yang sampai membuat Gua seterpuruk itu kepada Mba Yu dan Feri, setelah itu barulah Nenek tersadar bahwa Mba Yu belum tentu bisa menolong Gua kalau posisi dia sudah memiliki pasangan. Bukan maksud Nenek Gua meminta Sherlin memacari Gua atau sebagainya, hanya saja Nenek berharap dan berfikir, siapa tau.. Dengan kehadiran Mba Yu, Gua bisa kembali seperti dulu. Tapi apa lacur, Nenek mengerti keadaan Sherlin yang sudah memiliki kekasih, jadi ya Nenek tidak berharap banyak karena merasa tidak enak kepada pacarnya Sherlin. Walaupun katanya Feri tidak keberatan jika waktu itu Sherlin menemani Gua.
... Gua menikahi Echa sesaat setelah kehilangan sosok Vera. Sulit bagi Gua untuk menggambarkan kondisi pada saat itu, Gua benar-benar kehilangan semangat hidup dan harapan untuk melalui harihari Gua, semuanya terasa sirna bersama perempuan yang menghilang dalam kehidupan Gua ketika itu.
Echa lah yang selama ini mendampingi Gua di masa tersulit itu, dia selalu berada di sisi Gua, menemani Gua, menyiapkan makan untuk Gua, sampai membereskan kamar Gua yang tidak terurus. Pagi hari sebelum berangkat kuliah, Echa selalu mampir ke rumah untuk sekedar say hai kepada Gua, lalu pulang kuliah ketika sore hari dia datang lagi dengan berbagai macam makanan yang ia beli untuk Gua. Bahkan beberapa hari dia sempat menginap di rumah Nenek. Baru lah ketika Tante Gua datang dari Bandung dan gantian menemani Gua, Echa mulai bisa membagi waktunya lagi dengan keluarganya di rumah serta mengerjakan tugas kuliahnya. Dan apa yang terjadi memang hampir membuat Gua gila, andaikan tidak ada sosok Echa dan keluarga Gua yang selalu mendampingi.
Setelah Tante Gua menginap di rumah Nenek, dia menyarankan agar Gua di nikahkan dengan Echa, ini bukan pemaksaan melainkan sebuah jalan agar Gua bisa kembali hidup normal. Berbagai pertimbangan pun difikirkan oleh keluarga Gua, dan sudah tentu Ayahanda diberitahukan oleh Om Gua lewat telpon. Akhirnya seluruh keluarga Gua setuju untuk menikahkan Gua dengan Echa, dan keluarga Echa pun dikabari secepatnya, apa yang terjadi " Bukan main senangnya laki -laki yang berpangkat bintang kerlip engkau disana setelah mendengar kabar bahwa keluarga Gua akan melamar putri tercintanya itu.
Gua pun memikirkan hal ini setelah Nenek menceritakan niatan keluarga untuk menikahkan Gua dengan Echa, lalu setelah Gua menimang-nimang selama beberapa hari, Gua meminta petunjuk kepada Sang Pencipta, apakah ini jalan terbaik untuk Gua dan Echa, dan setelah 'berkomunikasi' dengan Sang Maha Agung, hati Gua mantap untuk menikahi wanita yang selama ini menjadi cahaya dalam hidup Gua. Dia lah yang setia menunggu Gua, setia menemani Gua dan selalu ada untuk Gua. Tanpa mengesampingkan perasaan Nona Ukhti, Gua memohon maaf dalam hati kepadanya, dimanapun dia berada saat itu.
Dan bulan agustus 2007, Gua akhirnya mengucapkan janji suci itu dihadapan Papahnya, tepat di saat kepergian Ayahanda. Menikahi putri tercintanya, menjadikan ia sebagai pendamping hidup Gua.
Apa yang sudah terjadi selama ini kepada Gua tidak pernah bisa Gua lupakan semudah itu. Banyak dan bahkan terlalu banyak kenangan pahit yang Gua alami. Tapi Gua percaya satu hal, Tuhan akan selalu bersama orang-orang yang beriman kepada-Nya. Salah satu cara Tuhan menolong Gua saat itu adalah dengan menghadirkan sosok Echa, dan Gua sangat berterimakasih, bersyukur akan pemberiannya.
... ... ... Dua hari sebelum acara resepsi di mulai. Gua bersama istri sedang berada di sebuah gedung megah yang terletak di jakarta. Kami berdua melihat persiapan dan dekorasi yang sedang dikerjakan oleh pihak E.O. Jujur ya, Gua baru sadar ketika itu...
"Cha". "Ya sayang ?". "Ini kok berlebihan sih " Aku baru sadar rasanya terlalu wah untuk sebuah acara resepi loch.. Artis bukan, anggota pemerintah apalagi...", ucap Gua sambil menyapukan pandangan ke seluruh gedung ini.
"Ya alhamdulilah sayang, disyukuri aja, ini rejeki kita dari Papah", jawabnya. "Papah " Oh.. Ehm.. Utang dong nih menantunya", ucap Gua kali ini sambil tersenyum lebar.
"Hush.. Enggaklah, Papah gak gitu kok sayang, udah jangan dipikirin ya", balasnya sambil melingkarkan tangan kanannya ke lengan kiri Gua.
Ya Gua mengikuti saja kalau mereka maunya begini, toh Gua sebagai pihak laki -laki sudah memberikan seserahan uang, mau di pakai dan jadinya seperti apa ya ngikut aja deh. Cukup gak cukup adanya segitu. Syukur alhamdulilah bener kata istri Gua tadi kalo Papahnya mau membantu. Terima beres aja laki ma.
Selesai melihat dan cek persiapan untuk acara resepsi nanti, kami berdua pun pulang lagi ke kota kami. Sekitar pukul satu siang Gua dan istri sudah sampai di rumahnya. Saat ini Gua berada di rumah mertua, Papah mertua Gua hari ini kebetulan sedang pergi bersama Mamah mertua Gua ke luar kota. Saat itu di rumah ini hanya ada art (asisten rumah tangga) keluarga Echa, supir pribadinya dan satpam rumah.
Suasanya jadi sepi setelah Gua dan Echa melaksanakan shalat dzuhur berjama'ah di mushola halaman belakang. Rasanya mata Gua sudah tidak bisa diajak kompromi, akhirnya Gua memilih naik ke lantai atas, dimana kamar istri Gua berada. Gua tidur siang, sedangkan Echa sedang memasak bersama art nya di dapur.
Mungkin sekitar pukul setengah empat sore Gua baru terbangun ketika sebuah ciuman pada kening ini mulai terasa basah dan turun ke pipi Gua.
"Hai sayang, bangun.. Udah adzan ashar tuh", ucap istri Gua dengan wajah yang sangat dekat dengan wajah Gua.
Lalu Gua mulai mengerjapkan mata dan mulai meregangkan otot tubuh ketika Echa sudah duduk di sisi kasur. Tangan Echa mengusap lembut kening Gua sambil tersenyum.
"Masih pusing ya ?", tanyanya.
"Heu'eum..", jawab Gua.
"Yaudah, duduk dulu ya, nanti kalo udah enakan baru cuci muka, terus wudhu sekalian, kita shalat berjama'ah lagi ya Za", ucapnya sebelum bangkit dari duduk lalu keluar kamar.
Gua hanya mengangguk sebelum dia pergi tadi. Lalu Gua terduduk diatas kasur seraya menyandarkan punggung ke bahu ranjang ini. Gua menyapukan pandangan ke seluruh ruangan kamar, Gua tersenyum ketika melihat foto yang bingkainya berwarna emas terpajang di bagian dinding kamar. Disana, terlihat dua orang manusia yang berlainan jenis, tersenyum satu sama lain, yang lelaki mengenakan jas hitam serta kopiah, sedangkan yang wanita mengenakan kebaya berwarna putih gading dengan rambut yang disanggul. Adegan yang tercetak pada foto tersebut adalah ketika si lelaki mengenakan cincin ke jari manis si wanita.
Gua tersenyum sesaat sebelum pada akhirnya bangun dari kasur dan berjalan kearah luar kamar. ...
Setelah melaksanakan shalat ashar berjama'ah dengan istri, sekarang kami berdua makan bersama di ruang makan rumah mertua Gua ini. Menunya cukup banyak ternyata, ada ayam goreng, sup jamur, ikan goreng, bukan bakar ye Gais dan kerupuk, duh asyik mantep deh. Btw cape kan baca part pilu terus, mending Gua share yang indah dan bahagia aja deh ya, apalagi ini malam minggu kan
Yang namanya pengantin baru itu pasti lagi mesra-mesranya, apalagi ini Echa yang jadi istri Gua, belum pernah kami pacaran selama ini, ehm.. Sorry bukan maksud apa-apa ini, udah berapa kali dirinya menyatakan perasaan kepada Gua yang ujungnya selalu Gua tolak. But here we are now, a couple for life.
Balik ke meja makan, Istri Gua itu benar-benar menjaga bentuk badannya, makannya teratur dan asupannya selalu bergizi, dalam artian dia memang pemilih untuk makanan yang dia konsumsi. Apalagi soal porsi, Echa tuh tidak pernah makan berlebihan, porsinya sedikit, kecuali khilaf menyendok lauk. Seperti halnya yang terjadi saat ini. Ketika dia lupa terlalu banyak mengambil nasi dan lauk pada piring makanannya sendiri, Gua lah yang menjadi tempat terakhir sebagai 'pembuangan' sisa makanannya yang tidak habis itu.
"Sayang, aku kebanyakan nih ngambil makannya...", rajuknya dengan wajah memelas.
"Kan.. Kebiasaan sih, suka ngambil lauk ini itu.. Taunya gak abis", jawab Gua sambil melirik ke piring makannya.
"Lupaaa.. Nanti mubazir kalo dibuang",
"Abisin ya sayang.. Ya ya ya ya ya...?", godanya lagi kali ini sambil melingkarkan tangan kanannya ke lengan kiri Gua.
"Huuuffftt... Iya iya iyaaa..", jawab Gua sok-sok males.
"Ih harus ikhlaaaasss.. Kan kalo aku kebanyakan makan terus gendut, kamu juga yang rugi", "Entar kamu gak cinta lagi sama aku, hayoo..", godanya lagi dan lagi.
"Adaaaa... aja alesannya",
"Iya sini suapin aja akunya..", jawab Gua mengiyakan permintaanya.
Istri Gua pun akhirnya tertawa pelan merasa menang setelah menggoda Gua, dan ya, akhirnya Gua benar-benar menghabiskan sisa makanannya itu, tentunya dia yang menyuapi Gua.
Perut Gua sudah terisi amunisi penuh, kayaknya cacing di dalam sana pun tidak kuat menghabiskan makanan yang Gua telan. Gua berjalan kearah halaman belakang rumah, duduk di dalam gazebo beserta secangkir kopi hitam yang siap menemani sang racun. Cuaca sore itu cerah, agustus yang cerah tahun ini. Semilir angin yang menyapa halaman belakang rumah yang asri ini benar-benar terasa mendamaikan hati Gua, apalagi dengan adanya seorang bidadari dunia yang sedang berjalan kearah Gua. Lengkap sudah kebahagiaan Gua saat itu.
"Ngerokok lagi..", Echa duduk di depan Gua.
"Hehehe.. Abis makan kan sayang", jawab Gua beralasan.
"Jangan keseringan ngerokok ya Za, gak ada bagusnya untuk kesehatan kamu". "Iya sayang hehehehe..".
"Ganti sama permen kan bisa tuh". "Ah gak enak, penyakit gula nanti".
"Ngerokok lebih bahaya. Paru-paru, serangan jantung.. Dan parahnyaaaa... Impotensi loch Za!", ucapnya kali ini sambil menekuk satu jari telunjuknya di hadapan wajah Gua.
Jiiiirrr.. Males amat yang terakhir
"Iya iyaaa... Haduuuh ribeut dah ah", Gua pun jadi sewot sendiri mendengar ucapan istri Gua yang menakuti Gua itu.
Echa hanya tersenyum kepada Gua lalu kedua tangannya ditaruh di atas meja gazebo yang berbahan kayu jati ini.
"Aku sayang sama kamu, makanya aku cerewet, kalo gak gitu, siapa lagi yang ingetin kamu", ucapnya kali ini dengan nada yang lembut.
Gua akhirnya tersenyum sambil menganggukkan kepala kepada Echa, istri Gua yang cantik dan cerewet. "Makasih ya istri kuuuu...", jawab Gua sambil mencubit pelan hidungnya. "Uuuhh sakiitt tauuu..", ucapnya manja.
Pacaran mulu ente Gan, buruan nikah, kelamaan pacaran emangnya kredit rumah apa ampe taonan. BeHahahahaha
"Eh iya Za, aku mau nanya, tapi kamu jangan marah ya", ucap Echa sedikit serius kali ini. "Heum.. Mau nanya apa " Masa aku marahin kamu hahaha", jawab Gua santai.
"Nanti kalau udah empat puluh harinya Ayah kamu, kita bulan madu ya..", ucapnya dengan nada suara yang sangat terdengar hati-hati.
Gua mengerenyitkan kening menatap istri Gua itu, lalu tersenyum lebar sambil mengucek-ucek rambut depannya.
"Hahaha.. Dasar, masa aku marah sih sayang cuma karena kamu minta bulan madu aja", jawab Gua seraya tertawa,
"Ya hayu aja, kamu mau kemana emangnya ?", tanya Gua lembut. "Mmm.. Kalo ke itali gimana ?".
"Weh.. Gak kira-kira kamu, ngajakin miskin apa ?", Gua cukup terkejut mendengarnya.
"Hehehe... Gak mau ya.. Yaudah kalo gitu ke singapore aja ya", jawabnya lagi sambil mengedipkan matanya.
"Hahaha, kamu tuh lucu, awalnya minta ke itali, eh ujungnya yang deket juga, hahaha... Bali aja sih lebih murah", ucap Gua sambil menggelengkan kepala dan tertawa.
"Huuu.. Abisnya kamu bilang kemahalan, yaudah yang deket aja. Tapi jangan Bali, singapore aja ya ya ya ya yaa..", pintanya manja kali ini.
"Iya iya, nanti aku urus paspor dulu kali gitu, kalo kamu enak udah punya kan, eh masih aktif gak ?".
Echa mengangguk cepat seraya tersenyum. "Iya masih, nanti yang kamu dokumen persyaratannya kasih ke aku aja, minta tolong ajudanannya Papah biar cepet beres paspornya ya", jawabnya antusias.
Gua mengangguk lalu meneguk secangkir kopi hitam manis yang sepertinya bertambah manis karena ada wanita eh bukan, bidadari cantik dan manis dihadapan Gua itu. Indahnya hidup setelah apa yang Gua lalui beberapa bulan lalu benar-benar tidak terfikirkan oleh Gua. Sekarang disinilah Gua berada, menjadi seorang suami dari seorang wanita yang berhati mulia, yang bisa menerima Gua apa adanya, yang mengerti kondisi psikologi Gua saat terpuruk beberapa bulan lalu. Echa yang selalu ada di dalam hati Gua. i love you sayang...
PART 53 Wedding Day Hari ini datang juga, hari dimana Gua dan Echa akan berada di atas pelaminan. Tak pernah sedikitpun terlintas dalam fikiran Gua bahwa di usia semuda ini sudah menikah, memperistri seorang wanita yang juga sahabat masa kecil Gua. Beberapa bayangan kenangan menari-nari di dalam fikiran ini, memutar setiap kepingan kenangan saat bersamanya.
Echa, teteh tercinta Gua, si bapau, yang bekulit putih, gendut, chubby, anak gadis yang selalu menangis ketika teman sekolah kami meledeknya, dan selalu berlindung di balik adik kelasnya, ya Gua lah yang menjadi tameng pertama untuknya ketika itu. Dimana saat dia menjadi bahan olok-olok teman lain, Echa selalu berlari ke kelas Gua dan mengadukan setiap perlakuan iseng temantemannya. Tak ayal Gua selalu berkelahi dengan teman kelasnya itu, yang juga kakak kelas Gua. Lucu, bukan perkelahian seperti saat Gua di SMA, melainkan perkelahian yang membuat guru tertawa, karena kami malah memperagakan adegan dalam film dragon ball, berlaga seperti super saiyan lalu mengeluarkan jurus kameha-meha. Hahahaha... Salah satu kenangan yang indah untuk Gua.
Pada akhirnya, Echa yang dulu selalu Gua lindungi kini sudah menjadi istri Gua. Penantiannya yang tak pernah surut akhirnya membuahkan sebuah hubungan yang lebih dari apa yang ia harapkan sebelumnya, lebih dari sekedar sepasang kekasih. Tapi kini kami sudah menjadi suami -istri.
Masih beberapa jam sebelum tamu undangan datang, beberapa pekerja catering masih hilir-mudik untuk mempersiapkan prasmanan. Istri Gua masih berada di kamar rias, kamar atau ruangan di bagian belakang pelaminan. Sedangkan Gua yang memang tidak pernah mau di rias, berada di halaman belakang gedung, menghisap sebatang rokok dan menikmati secangkir kopi hitam. Gua duduk di tangga bersama Unang, Dewa dan Icol. Ketiga sahabat rumah Gua itu memang sudah datang dari pagi, sedangkan Rekti dan Robbi harus datang siang karena masih bergelut dengan pekerjaan mereka masing-masing. Hanya obrolan santai seputar resepsi hari ini yang kami bicarakan.
Gua melirik jam pada pergelangan tangan kiri, dan ternyata masih satu jam lebih acara baru akan di mulai. Tidak ada perasaan cemas atau deg-dega'an lagi hari ini, karena akad nikah sudah Gua lalui beberapa minggu lalu. Saat ini Gua hanya tinggal duduk lalu berdiri terus menerus sambil memberikan senyuman kepada setiap tamu undangan, pasti lelah fikir Gua nanti. "Asyik ya Za, beres resepsi langsung nginep di hotel nih, hehehe..", ucap Icol. "Perlu obat kuat Bro ?", timpal Unang kali ini.
"Hahaha.. Lemah amat Gua sampe perlu minum obat kuat segala..", jawab Gua sambil terkekeh, "Gua sebenernya bingung, buat apa disewain kamar hotel, padahal di rumahnya atau di rumah Gua juga gak masalah, lagian pasti capek, molor yang ada Gua", lanjut Gua.
"Gua siap jadi seksi dokumentasi Za buat tar malem", ucap Dewa kali ini. "Kampret bener, buat apaan di videoin hahaha..", jawab Gua.
"Tapi enaklah, fasilitasnya oke banget, mana ni gedung megah pula Za", ucap Unang lagi.
"Berlebihan ini Nang, malu Gua sebenernya ma.. Sayang aja ini keluarganya mau hamburin duit, hadeuh".
"Laah, namanya juga anak semata wayang, anak perempuan satu-satunya, sekali seumur idup ini Za", ucap Icol kali ini sambil mengambil gelas kopinya.
"Iya Za, tamu undangan dari pihak keluarganya juga kan bukan tamu biasa, kayak gak tau aja Lu ma", timpal Dewa sambil menghembuskan asap rokok.
Ya apa yang dikatakan sahabat Gua ada benarnya, selain memang istri Gua adalah anak satusatunya, Papahnya pasti mengundang relasi dan orang-orang yang memiliki jabatan penting di pemerintahan. Jadi Gua rasa memang masih wajar mungkin dengan apa yang ia inginkan dalam resepsi pernikahan anaknya ini. Belum lagi tahun ini beliau akan pensiun dari pekerjaannya, seperti yang istri Gua katakan, acara resepsi ini sekaligus sebagai acara perpisahan Papah mertua Gua dengan rekan kerjanya.
Tanpa terasa acara sudah akan di mulai dalam waktu kurang dari satu jam, Gua dipanggil oleh pihak E.O untuk segera berganti pakaian, dan akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka Gua pun dengan pasrah merelakan diri ini di rias. Saat itu busana yang Gua kenakan untuk pertama kali dalam acara ini adalah busana adat jawa, sesuai dengan kota kelahiran kedua orangtua istri Gua. Beres di rias dan mengenakan busana adat solo yang tanpa pakaian bagian atas, Gua berjalan ke luar ruangan dan mulai mengikuti proses acara yang sudah disusun dan dibawakan oleh seorang mc.
Untuk pertama kalinya Gua melihat Echa mengenakan busana adat jawa itu, dirinya terlihat cantik dengan apa yang ia kenakan, belum lagi riasan pada wajahnya dari hasil karya seus ayu. Gua akui, itu mahluk satu jago banget ngerias pengantin, pro dan expert lah. Rambut istri Gua disanggul sedemikian rupa dengan ditambah bunga-bunga serta sedikit bunga yang entah apa Gua tidak tau namanya, belum lagi riasan warna hitam dikeningnya yang membentuk sudut-sudut. "Paesan" kalo gak salah namanya ya "
Gua skip langsung dimana saat itu Gua dan Echa sudah berada di atas pelaminan, di sisi kiri Echa, sudah duduk kedua orangtuanya, sedangkan di sisi kanan Gua, ada om dan tante Gua sebagai perwakilan dari alm dan almh orangtua Gua.
Sekitar pukul sepuluh pagi tamu undangan sudah mulai berdatangan, apa yang awalnya Gua perkirakan ternyata meleset, tiba-tiba saja Gua jadi sedikit gugup, bukan apa-apa, ini lama-lama tamu undangan jadi membludak, entah berapa lembar surat undangan yang disebar oleh kedua orangtua Echa diluar undangan untuk teman-teman Gua dan Echa. Jadi pusat perhatiaan untuk pertama kalinya itu tidak enak ternyata, ada sedikit rasa risih, dan tampaknya, istri tercinta Gua menyadari hal tersebut.
"Kenapa ?", tanyanya sambil menaruh tangan kanannya itu ke paha kiri Gua.
"Eh.. Enggak apa-apa, cuma.. Banyak ternyata yang datang ya", jawab Gua sambil memperhatikan tamu undangan yang mulai berjalan kearah pelaminan.
"Alhamdulilah kan.. Rejeki dan silaturahmi kita baik berarti sayang", ucapnya, "Tuh udah ada yang naik ke pelaminan, yuk diri Za", ajaknya sambil mulai bangkit dari duduk.
Ya akhirnya mulailah Gua berdiri untuk menyambut para tamu undangan itu, mengucapkan terimakasih atas do'a dan ucapan selamat dari mereka sambil bersalaman. Cukup lama Gua berdiri sambil menyalami tamu-tamu undangan sampai akhirnya salah satu teman masa SD Gua dan Echa ada diantara antrian tamu undangan itu. Dewi, yang merupakan saudara dari istri Gua adalah teman kami yang pertama mengucapkan selamat diatas pelaminan ini setelah sebelumnya tamu dari Papahnya Echa yang datang.
Kemudian setelah itu barulah Unang, Dewa, Meli, Icol, Desi dan Mba Yu naik keatas pelaminan dan mengucapkan selamat kepada kami berdua. Saat itu Mba Yu menjadi orang terakhir yang mengucapkan selamat diantara sahabat Gua tadi.
"Mas..", ucap Mba Yu ketika berada dihadapan Gua. Gua membalas senyumannya.
"Selamat ya.. Semoga pernikahan kamu sama Echa selalu dalam kebahagiaan. Jangan lupa ya Mas, sekarang kamu punya tanggungjawab yang besar untuk keluarga kecil mu.. Sayangi Echa sepenuh hati kamu ya", ucap Mba Yu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Saat itu, Mba Yu mengenakan kebaya berwarna pink, riasan diwajahnya benar-benar membuatnya cantik dan sangat berbeda. Mantan Gua yang satu ini memang paling berjasa untuk kelangsungan acara pernikahan Gua dan Echa. Terimakasih banyak Mba atas segala apa yang sudah kamu lakukan sampai detik ini.
"Iya Mba, terima kasih ya.. Dan..", Gua berfikir sejenak lalu memejamkan mata sebentar. "Maaf untuk janji aku yang gak pernah bisa aku tepati..", lanjut Gua pada akhirnya.
Mba Yu pun akhirnya tidak bisa menahan air mata yang memang sudah menggenang pada kedua sudut matanya sedari tadi, akhirnya air mata itu membasahi pipinya, dan sebuah pelukkan menandakan bahwa Gua dan dirinya kini benar-benar merelakan apa yang pernah kami impikan dulu.
"Makasih ya Mas, untuk waktu yang pernah kita lalui bersama.. Aku juga minta maaf", ucapnya dalam pelukkan Gua.
"Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu Mba, sampai detik ini kamu selalu bantu aku.. Maafin aku ya Mba", jawab Gua sambil mengusap punggungnya.
"Udah ah, pokoknya kamu harus bisa jagain istri kamu loch Mas, awas aja, aku gak mau denger Echa nangis karena kamu!", ucapnya kali ini sambil melepaskan pelukkan.
"Hehehe iya iya, makasih sekali lagi, cepet nyusul Mba hehehe" "Aku mau fokus kuliah dulu Za, kerja, baru nikah", jawabnya. Kemudian Mba Yu berjalan ke samping Gua lalu memeluk istri Gua.
"Selamat ya sayaaang.. Adikkuuu.. Semoga kamu bisa jadi istri yang selalu menyayangi suami kamu.. Jangan ragu-ragu suruh Eza tidur di luar kalo dia nakal ya Dek", ucap Mba Yu setelah melepaskan pelukkannya pada istri Gua.
Echa tertawa sambil melirik kepada Gua. "Iya Mba, makasih ya untuk do'a nya, makasih juga Mba udah mau bantuin aku untuk acara hari ini", jawab Echa kepada Mba Yu.
"Iya, pokoknya aku ikut bahagia untuk kalian berdua, sekali lagi selamat ya sayang, semoga jadi keluarga yang bahagia..", lalu Mba Yu memberikan kecupan pada kedua pipi Echa.
Tidak lama kemudian Mba Yu pun bersalaman dengan kedua orangtua Echa, lalu turun dari pelaminan dan kembali bergabung bersama teman-teman kami semua untuk menikmati hidangan yang sudah disajikan. Gua dan Echa kembali duduk karena tamu undangan belum ada yang naik lagi ke atas pelaminan.
"Cha, aku pingin kopi", ucap Gua kepada istri tercinta.
"Oh sebentar..", lalu mencari sosok art nya yang memang ikut ke acara hari ini. Tapi baru saja dia menemukan sosok art nya itu, Echa seperti tersadar sesuatu. "Eh.. Bukannya kamu udah ngopi tadi pagi Za ?", tanyanya.
Gua tersenyum sambil mengangguk dan menggaruk alis yang tidak gatal.
"Hmm.. Nanti lagi ya ngopinya sayang, siangan aja", ucapnya kemudian yang langsung membuat Gua memutar bola mata seraya memalingkan muka dari istri Gua itu.
"Jangan kebanyakan ngopi ah, ya ?", ucapnya lagi.
"Iya iya.. Yaudah sini air minumnya, aku minta", jawab Gua yang langsung diberikan segelas air kemasan oleh Echa yang dia ambil dari dalam tas kecil di sisi sofa pelaminan ini.
Semakin siang semakin banyak tamu undangan yang hadir, saat itu masih ramai tamu dari rekan kerja Papahnya Echa, dan teman-teman kampus Echa. Sekitar pukul setengah dua belas, Echa diminta berganti pakaian, yang membuat Gua duduk di pelaminan sendirian sebagai salah satu pasangan pengantin. Gua pun menyambut beberapa teman SD kami sendirian saat Echa masih belum kembali, baru sekitar setengah jam lebih giliran Gua yang berganti pakaian setelah Echa duduk kembali di pelaminan ini, Gua lihat dia mengenakan kebaya berwarna hijau tosca. Singkat cerita Gua pun sudah berganti pakaian dengan warna senada dengan istri Gua itu, entah apa nama pakaian yang Gua kenakan, yang jelas cukup simpel karena tidak banyak aksesoris yang Gua pakai saat itu.
Kemudian setelah tidak lama Gua kembali ke pelaminan, Kakak dan Ibunda almh. Dini datang dan naik keatas pelaminan, mereka berdua mengucapkan selamat serta do'a untuk Gua dan Echa. Sempat Ibundanya terharu dengan sedikit meneteskan airmatanya waktu memeluk Gua, dan seketika itu pula perasaan Gua langsung memicu otak Gua untuk mengingat sedikit kenangan yang pernah Gua lalui bersama mantan pacar pertama Gua dulu, seorang gadis yang baik hati dan telah berpulang kepada Sang Pencipta.
... "Za, tuh teman SMP kita pada datang", ucap Echa kepada Gua.
Gua melirik kearah pintu utama gedung yqng berada cukup jauh dari pelaminan ini, dan benar apa yang istri Gua katakan, disana sudah ada banyak teman SMP kami yang sedang berkumpul dan berjalan kearah kami. Sepertinya mereka memang datang secara bersamaan dari kota kami ke jakarta ini. Setelah semua teman SMP kami menyalami dan memberikan ucapan selamat, Gua melihat ada Shinta, Arya, Wildan, Suci, Erna dan Wulan. Saat itu Wulan datang bersama Yudha, teman SMA Gua yang kini menjadi pacarnya Wulan.
"Selamat ya A'..", ucap Wulan setelah sebelumnya sahabat SMP Gua yang lain mengucapkan selamat.
"Ah iya makasih ya Neng", jawab Gua.
"Semoga jadi suami yang bertanggungjawab A', gak boleh nakal lagi sekarang, udah punya pendamping yang sah", pesannya kepada Gua.
Gua terkekeh pelan mendengarnya sambil mengangguk. "Iya, insya Alloh aku bisa jaga amanat sebagai suami Neng", jawab Gua lagi.
"Iih dikasih tau malah cengengesan, yaudah pokoknya semoga bahagia ya untuk kamu A'..". Barulah Wulan menyalami istri Gua dan berlalu bersama Yudha.
"Mantan yaa.. Ciiee.. Masih banyak lagi ya Za, ehm..", ucap Echa menggoda Gua. "Hehehe.. Banyak gak ya yang pada datang ?", tanya Gua sambil berbalik menggodanya.
"Mana aku tauuu..",
"Oh ya, nanti kasih tau aku ya siapa aja perempuan yang pernah deket selama ini sama kamu selain yang udah aku kenal", jawabnya.
"Hahaha.. Ngapain coba, gak perlu ah, buat apa tau juga, hehehe".
"Iiiih, pokoknya kasih tau, aku cuma pernah liat kamu deket sama Mia waktu kamu kelas dua SMA, selingkuh dari Mba Yu ya waktu itu "!", cecarnya.
Ealah, ini istri Gua mata-matanya banyak apa ya, bisa tau aja Gua sempet deket ama adek kelas. "Sok tau ah, enggak kok", kilah Gua sambil memalingkan muka.
Kyuutt.. lengan kiri Gua dicubit.
"Ngaku gak "!"
"Iyaa.. Iya iya iya.. Ampun sakit Cha".
"Huh! Dasar..".


Asleep Or Dead Karya Bunbun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Akhirnya waktu yang Gua tunggu datang juga, makan siang. Gua lapar ini dari pagi baru makan bubur ayam doang di rumah. Tapi dasarnya lagi acara resepsi, malu juga makan di pelaminan dengan porsi yang banyak, jadinya Gua makan sepiring berdua dengan istri Gua di pelaminan ini. Makanannya enak, dan gara-gara salah satu menu hidangan disini lah Gua menyukai rolade sapi. Beres makan kembali lagi Gua harus duduk berdiri untuk menyambut undangan. Banyak bener ini yang datang, kata Gua dalam hati. Oh ya Kinan, Mba Laras dan keluarganya sudah datang dari pagi.
Dan sekarang Gua melihat kedatangan para mantan, aslinya sih mereka datang tidak bersamaan, cuma biar sekalian ajalah Gua ceritanya.
Saat itu ada Olla dan Indra beserta keluarganya, Papah dan Mamahnya juga datang bersama sahabat Gua di SMA, Bernat bersama pacarnya, lalu disusul kemudian ada Mba Siska dengan seorang lelaki yang Gua tidak kenal sama sekali, tapi sepertinya satu rekan kerjanya, mungkin pacarnya.
Lalu ada sahabat Gua yang lain, Rekti dan Robbi, kemudian datang lagi Rara, Astrit, Mia, Devi yang kebanyakan adik kelas Gua dan Echa di SMA dulu, ada juga teman sebangku Gua pada saat kelas tiga, Elvi. Kemudian ada Airin, Gusmen, Gladis, Sandhi, Ibunya alm. Topan serta adik-adiknya. Bianca juga datang bersama Mas Berri, mereka datang bersama Lisa, Veronica dan juga Mat Lo serta teman kampus Gua yang lain, dosen-dosen kampus Gua, seperti Pak Boy. Sore hari Nindi, Dian, serta Papahnya juga hadir ke acara resespsi Gua saat itu.
Dari sekian banyak tamu undangan yang hadir, satu orang yang selama ini Gua cari dan Gua tunggu tidak pernah tampak pada hari itu. Ya, Nona Ukhti yang Gua harapkan bisa bertemu lagi atau sekedar melihatnya tidak hadir, sekalipun Gua sempat menanyakannya kepada sepupunya, yang tidak lain adalah sahabat Gua, Gusmen. Entahlah, Gusmen berbohong atau tidak kepada Gua, dia mengatakan kalau dirinya juga tidak mengetahui keberadaan Nona Ukhti.
"Za..". "Ya sayang ?". Istri Gua tersenyum lalu mengelus pipi ini. "Sabar ya, mungkin belum waktunya kamu ketemu dia hari ini", ucap istri Gua dengan tatapan yang seolah-olah mengerti apa isi fikiran Gua. "Iya Cha, maaf ya", jawab Gua sendu.
"Enggak apa-apa, aku ngerti kok", "Yuk, kita ganti pakaian, udah selesai acaranya..", ajak istri Gua seraya berdiri dan menarik tangan kanan Gua lembut.
... ... ... Pukul delapan malam Gua sedang makan malam bersama istri Gua di sebuah restoran salah satu hotel di ibu kota. Kami duduk di bagian luar restoran yang berada di dekat kolam renang. Selesai menyantap makan malam, Gua mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya. "Sayang, mau kopi ?", tawar istri Gua.
"Kopi disini emang enak ya ?", tanya Gua seraya menghembuskan asap rokok.
"Ya kalo kamu mau kopi kesukaan kamu, enggak ada sayang...", "Atau mau aku beliin keluar " Biar nanti kita seduh di kamar aja", jawab Echa.
Gua terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala pelan. "Enggak usah, lagian kamu keluar hotel mana ada warung di depan tadi.. Udah gak apa-apa kopi dari hotel aja Cha", ucap Gua lagi.
Kemudian istri Gua pun masuk ke dalam resto dan memesan secangkir kopi hitam untuk Gua dan satu lemon tea hangat untuk dirinya sendiri. Setelah itu Echa kembali duduk bersama Gua, tapi kali ini dia menarik kursinya merapat ke samping Gua. Echa menyandarkan kepalanya ke bahu kiri Gua lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ini. Kami sama-sama menatap kolam renang di depan kami.
"Za". "Ya Cha..". "Kamu sayang kan sama aku ?", tanyanya.
Gua melingkarkan tangan kiri ke belakang kepalanya lalu mengelus rambutnya lembut. "Kok nanyanya gitu ?", tanya Gua balik.
"Enggak apa-apa.. Cuma nanya aja".
Kami berdua masih tetap menatap ke depan sana.
"Aku sayang sama kamu Cha, sayang banget... Enggak mungkin hati ku nolak kamu setelah apa yang udah kamu korbankan selama ini Cha..", jawab Gua,
"Maafin aku ya..", lanjut Gua sambil memainkan rambutnya dengan jemari tangan kiri. Echa mendongakkan kepala keatas, menatap mata Gua. "Maaf untuk apa ?", tanyanya.
Gua tersenyum tipis, lalu mematikan rokok pada jari tangan kanan Gua ke asbak di atas meja resto. Kemudian Gua kembali menoleh kepada Echa.
"Maaf karena sampai sekarang masih ada nama dia", jawab Gua.
Echa memeluk Gua erat lalu membenamkan wajahnya ke dada ini. Gua mengelus kepalanya perlahan sampai akhirnya Echa kembali mendongakkan kepalanya dan menatap Gua lagi, tapi kali ini sambil tersenyum lebar. "Aku tau perasaan kamu kok, gak mudah lupain dia, aku ngerti.. Semoga dia baik-baik ya Za, dimana pun Vera berada", ucap Echa dengan senyuman manisnya.
Gua menurunkan wajah, lalu mencium kening istri Gua itu dalam-dalam sambil memejamkan mata. Setelah Gua lepas ciuman pada keningnya, Gua pegang kedua pipinya, menatap matanya lekat-lekat. "Makasih banyak atas semuanya", ucap Gua.
Lalu Gua memiringkan wajah dan mendekati wajahnya. Kedua kelopak mata kami semakin turun ketika bibir kami semakin dekat... Dan...
. . . . . . "Ehm.. Maaf Mas, Mba, ini minumannya...".
Kampret tu pramusaji, gak bisa liat orang romantis dikit apa...
PART 54 Sekitar pukul setengah sepuluh malam Gua dan Echa sudah berada di kamar hotel, di lantai enam, dan kamar ini ternyata memang sudah disulap sedemikian rupa oleh pihak E.O pernikahan kami, diubah menjadi kamar pengantin, banyak potongan bunga mawar merah di atas kasur, lilin di beberapa sudut kamar, ucapan happy wedding pada dinding kamar dan beberapa balon yang dibiarkan tergeletak di lantai.
Gua menggaruk kepala bagian belakang ketika melihat itu semua.
"Ini apaan sih Cha.." Pesta ulang tahun ?", tanya Gua kepada Echa yang berada di samping. "Udah gak usah protes, ayo masuk", ajaknya sambil mengaitkan tangannya ke lengan Gua.
Istri Gua langsung mengambil pakaian dari tasnya, sedangkan Gua masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih, ya walaupun tadi setelah maghrib sudah mandi, tapi rasanya mulut Gua bau asap rokok dan muka sedikit berminyak setelah makan malam di restoran hotel tadi. Lalu selesai gosok gigi dan mencuci muka, Gua keluar kamar mandi dan menuju kasur.
Dracula 4 Parker Pyne Menyelidiki Parker Pyne Investigates Karya Agatha Christie Hantu Pegunungan Batu 3

Cari Blog Ini