Ceritasilat Novel Online

Jalan Bandungan 4

Jalan Bandungan Karya Nh Dini Bagian 4


Hingga saat itu aku belum menerima tambahan informasi tentang guru istimewa yang diceritakan dulu. Kata Eko, memang guru itu agak aneh. Tapi tidak usah dibesar-besarkan. Asal tidak dilayani, tetapi dihadapi dengan sopan, tentu tidak akan ada salah paham. Tentu saja kalau digoda dengan pemberian yang berharga seperti sepeda motor, siapa yang akan tahan. Eko mengatakan bahwa ada murid sekolahnya yang pernah menerima radio kaset dari guru itu.
Aku ingin tidak mempedulikan peristiwa itu lagi seperti yang dinasihatkan Mas Gun maupun teman-teman lain. Namun jika teringat keberangkatanku, dengan kedudukanku sebagai istri, janda tanpa perceraian tanpa kematian yang selalu disorot pandang masyarakat" Lebih-lebih lingkunganku mengajar. Kabar yang bukan-bukan yang disangkutkan dengan kejadian antar sekolah jelas disebarkan dengan maksud tertentu. Oleh siapa"
Mas Gun rnencoba menenangkan hatiku dengan teori, bahwa kemungkinan ada pihak lain yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempertajam hubungan kaum muda. Anak-anak
191 mereka lebih rapuh. Mas Gun benar. Semua keadaan yang bisa dijadikan jembatan atau alat perantara pembentukan ide di benak para remaja, dipergunakan tanpa pilih waktu maupun tempat. Teman-teman dekatku agak dapat menghembuskan keyakinan yang kembali menguatkan jiwaku.
Tetapi walaupun demikian, julukan yang tetap merongrong jika aku mendengarnya sebagai istri tahanan politik yang diberangkatkan ke Pulau Buru, semakin kusadari amat merugikan. Aku bahkan mendengar ucapan Pantas bandel, suka berkelahi! Anak komunis! di kantor institut almamaterku. Itu sangat sukar kucerna. Polisi dari seksi yang bertanggung jawab sudah mengeluarkan pengumuman, bahwa perkelahian itu hanya didasari gejolak emosi para remaja. Yang memulainya ialah sekolah lain.
Kelegaanku bertambah berkat pengumuman tersebut. Namun sakit hatiku tetap membatu. Dendam kepada orang-orang yang semena-mena menuduh, dendamku terhadap mereka yang menerka-nerka dan dengan serta-merta menjatuhkan keputusan bahwa karena Eko anak orang komunis, maka dialah biang keladi keonaran akhirnya kuteruskan tertuju kepada suamiku. Orangorang luar itu betul. Yang salah adalah bapaknya Eko sendiri. Sampai pada pemikiran itu, tiba-tiba hatiku kembali dilapisi sesuatu yang keras. Ditambah dengan kulit baja yang baru. Tempaan dendam itu mengembalikan aku pada keputusan tegas. Aku harus berangkat. Semakin gamblang bagiku bahwa aku harus menunjukkan kepada orang-orang itu bahwa aku sendirian pun bisa tampil. Bahwa kepandaianku diakui sampai aku diundang menambah pengetahuan ke luar negeri.
Sri sudah pindah ke kota kami ketika aku harus ke Jakarta
192 hatiku dengan menyampaikan berita, bahwa dia sudah mendapat nomor telepon untuk rumahnya di Jalan Puspowarno. Pemasangan akan segera dilaksanakan. Kelak jika aku ingin berbicara dengan anak-anak dan ibuku, cukup dengan telepon. Temanku berpesan agar sebegitu aku mendapat jadwal kegiatanku dengan jam dan harinya, aku cepat menyampaikannya kepadanya.
Kabar paling akhir itu tentu saja semakin meringankan hatiku dalam melangkahkan kaki untuk menambah pengetahuan di dunia luar. Melalui Eko aku telah mengalami cobaan berat. Jalan guna mengatasi cobaan itu seolah-olah mudah diraih berkat kehadiran sahabat-sahabatku. Tuhan telah memberi kelancaran hingga waktu terakhir aku akan meninggalkan Tanah Air. Benar bahwa hidup mati kami tidak tergantung pada ada atau tidaknya telepon di rumah Sri. Tetapi sekurang-kurangnya, itu merupakan alat penting yang sangat berguna untuk mengadakan komunikasi langsung. Berita dari rumah akan lebih cepat kuketahui. Untuk kesekian kalinya Dia memberi arti yang besar terhadap keeratan persahabatan dan hubunganku dengan mereka yang melingkungi keluarga kami. Walaupun dengan Mas Gun aku jarang berurusan, dia tidak pemah melupakan pengarahan yang pernah diterimanya dari ayah kami. Dengan batas-batas tertentu yang kami mengerti, sejak suamiku ditahan, dia tetap menunjukkan perhatiannya kepada Ibu dan anak-anaknya. Terutama kepadaku. Aku bahkan pernah berterus terang kepadanya agar dia turut mengawasi pertumbuhan anak-anakku. Kata Winar, keluargaku pastilah dimasukkan ke dalam daftar tersendiri dalam berkas pihak keamanan, seperti kepolisian. Lebih-lebih jika ada anak.- anaknya. Aku sendiri tidak menginginkan anak-anakku tersesat bersimpati pada idealisme yang sama dengan bapaknya. Sebab
193 syarakat lebih ringan jika mengetahui, bahwa orang seperti Mas Gun turut memperhatikan dari dekat, jika mungkin, mengarahkan pertumbuhan anak-anakku.
Tuhan memang menghendaki aku pergi meneruskan pengalaman pencarian ilmu ke luar negeri. Keadaan rumah kupasrahkan kepada teman-teman keluargaku. Hati-hati, hanya itu yang dikatakan ibuku ketika kami berciuman di stasiun. Dalam pesan itu tercakup seluruh cinta kasih dan harapannya.
***** Bagian Tiga 196 197 ?"?" esan pertama yang kutemukan ketika sampai di Negeri
Belanda ialah kebersihan. Lantai pelabuhan udara Schipholl berkilau seolah-olah tak sebutir debu pun melekat di mana pun. Kereta dorong untuk bagasi yang bisa digunakan oleh pendatang berderet rapi di beberapa tempat. Semua orang mendapat bagian karena jumlahnya yang mencukupi. Rupa-rupanya para petugas harus mengecek berapa pesawat yang akan datang dan di gerbang mana. Ruangan pengambilan bagasi dilengkapi dengan jumlah kereta dorong yang disesuaikan dengan perhitungan kebutuhan. Jika diberitakan bahwa pesawat akan mendarat dengan rombangan atau regu-regu olahraga atau kesenian, konon kereta dorong disiapkan tiga atau empat kali lipat. Diperhitungkan tamu-tamu semacam itu membawa perlengkapan jauh melebihi penumpang biasa. Sebelum berangkat dari Tanah Air, kami sudah diberitahu bahwa di dunia Barat tidak ada kuli maupun karyawan pengangkut bagasi. Lebih-lebih di airport.
Bepergian dengan kereta api masih mungkin ditolong oleh karyawan yang bertugas di bagian ekspedisi. Tetapi itu pun seringkali meleset dari harapan. Sebab itu, sebelum kami berangkat, kami sudah ditatar agar mampu bepergian hanya dengan satu tas yang dapat dijinjing sendiri. Untuk seterusnya, kebersihan yang terkesan itu akan terlihat di mana pun aku pergi. Hal ini
198 tika dia ke rumah sakit umum, dia berkata bahwa dalam hal kebersihan, pada zaman penjajahan Belanda-lah yang paling bisa dibanggakan. Kemudian, semakin jauh aku melawat serta menyaksikan dari dekat negeri yang berada di bawah permukaan laut itu, aku semakin kagum. Lepas dari politik yang dulu sangat menindas dan membodohkan rakyat Indonesia, orang Belanda adalah bangsa yang gigih dan pekerja keras.
Dalam program perjalanan pengenalan, kami juga diantar ke daerah pertanian. Negara yang beriklim keras dan bengis itu disangga dengan keterampilan yang hebat oleh penduduknya. Dari tanah tidak hanya dihasilkan kebutuhan makanan pokok ataupun sayur dan buah yang lezat, tetapi juga beraneka bunga potong yang diekspor ke seluruh Eropa serta Amerika Serikat. Kalau orang mendengar nama Belanda, bunga yang terbayang olehnya pastilah bunga tulip. Meskipun sesungguhnya bunga itu berasal dari Timur Tengah, namun sejak berabad-abad telah menyatu dengan nama serta kepatriotan Belanda. Hingga waktu kunjungan kami tahun itu, di selatan kota Haarlem, riset dan percobaan masih dilakukan guna mendapatkan warna-warna baru maupun jenis yang tahan lama setelah dipotong. Secara perorangan maupun industri, persilangan dan penyelidikan terus dilaksanakan.
Kontak pertama dengan mereka yang kami jumpai berlangsung baik. Mereka tahu bahwa kami adalah mahasiswa tamu. Ke mana pun kami pergi, pengantar menjelaskan siapa kami. Sehingga meskipun kami bukan orang yang patut diistimewakan sebagai tamu kenegaraan, kedudukan kami cukup mempunyai arti di pandangan mereka.
Setelah masa kunjungan ke pelosok negeri itu lewat, masingmasing dari kami memilih bidang yang ditekuni, institusi pen199 dikan sumber. Kami juga memilih pondokan buat menetap.
Di waktu mulai terjun ke jantung masyarakat bangsa itu, aku baru merasa tidak akan sanggup tinggal lama di sana. Kegiatan mengikuti kuliah dan penelitian, maupun observasi di perpustakaan-perpustakaan dan sekolah-sekolah di mana anak-anak belajar bahasa asing secara dini tidak merupakan masalah. Pondokan pun kuterima tanpa praduga, karena aku dibantu Ganik.
Ketika kami baru tiba dan dibawa ke KBRI, pejabat konsul memberikan surat sahabatku. Ganik memberiku sejumlah uang dengan pesan agar aku menyewa kamar yang cukup santai, karena dia akan datang ke Negeri Belanda selama aku berada di sana. Temannya di KBRI sudah mencarikan pondokan tersebut. Tapi jika ternyata aku tidak menyukainya, diharap supaya cepat memberitahu.
Kamar yang ditawarkan cukup banyak. Jadi aku tidak perlu khawatir untuk memilih, katanya. Karena sudah diberi jadwalnya, sehari sebelum berangkat keliling, aku menelepon sahabatku. Benar-benar aku terharu mendengar suaranya begitu dekat. Kuceritakan seperlunya keadaan keluarga yang kutinggal di Tanah Air. Kusebutkan pula bahwa aku menyukai pondokan yang dicarikan temannya. Temanku bercerita mengenai dirinya, pekerjaannya. Ayahnya akan menghadiri kongres keahlian yang dilangsungkan di Jerman. Bersama ibunya, pastilah mereka akan singgah ke Negeri Belanda.
Kamar yang kami sewa cukup mahal, terletak di sebuah {#3}at kepunyaan seorang janda. Nyonya ini juga tinggal di situ, di bagian yang berlawanan dengan kamar, ruang duduk serta balkon yang menjadi tanggunganku. Apartemen itu merupakan lantai atas rumah lain. Pintu keluar kami tersendiri, masing-masing
200 ada lantai dasar dengan garasi dan taman. Tidak ada lantai lain di atas tempat tinggalku. Begitulah kebanyakan rumah di negeri tersebut. Jarang ada yang berdiri sendiri, dengan halaman atau kebunnya sendiri. Kebanyakan bergandengan dua, empat, enam atau lebih, masing-masing memiliki halaman sempit. Sedangkan bagian atas diberi balkon yang dijadikan kebun kecil. Petak perumahan demikian, yang lurus atau melekuk, kebanyakan terdiri dari dua atau tiga tingkat. Semakin sedikit jumlah apartemennya, semakin mahal sewa atau harga jualnya.
Memasuki rumah orang Belanda, aku tidak pernah tidak menemukan tanaman hias yang sehat dan terpelihara. Kembang potong juga seringkali menghiasi tempat tinggal mereka. Di dapur atau di atas sebuah meja di ruang duduk hampir selalu ada kompor yang terus-menerus menyala. Di situ berkepulan ceret kopi. Sepanjang hari, orang-orang Belanda yang kukenal tidak hentinya minum minuman tersebut.
Selain aku mendapat kamar tidur, ruang tamu dan sebagian balkon, aku juga boleh mempergunakan dapur serta kamar mandi. Dengan demikian aku leluasa menyiapkan makananku sendiri maupun mandi dan mencuci-cuci. Jadwal kegiatanku kuatur sendiri. Kuliah hanya kuikuti empat kali sepekan; ada dua yang diberikan satu hari, pagi dan sore. Waktu-waktu lain kuhabiskan di perpustakaan, di kelas-kelas sekolah yang telah sepakat menerimaku sebagai pengamat.
Pada hari-hari tertentu, aku mengunjungi yayasan-yayasan sosial. Di situ aku melihat dan mendengarkan bagaimana orang mengajarkan bahasa Inggris. Pemerintah Belanda terkenal berperhatian besar terhadap warganya yang cacat sejak lahir maupun yang cacat karena kecelakaan atau kelanjutan dari penyakit.
201 penanganan semestinya. Di jalanan dan tempat-tempat umum kelihatan nyata, bahwa orang cacat mempunyai hak sebagaimana warga negara lain yang tumbuh dengan kelengkapan anggota badan mereka. Tempat parkir yang tidak jauh dari pintu keluarmasuk kantor atau toko selalu diberi tanda bahwa itu disediakan buat para penyandang cacat. Buat mereka juga dibikinkan jalan masuk yang berbeda agar kursi roda lebih mudah menaiki ataupun menuruninya. Bahkan tempat-tempat tontonan, ruang bioskop, teater, dan lain-lain juga memberi kemudahan.
Pada umumnya orang-orang itu mandiri. Tampak tidak waswas. Di mana pun mereka berada, orang selalu sedia membantu. Mereka tidak menolak jika memang bantuan diperlukan. Para tunanetra yang hendak menyeberang dan tidak mengetahui warna lampu yang sedang menyala, biasanya sangat peka. Mereka mendengar dan merasakan arah atau jurusan lalu lintas. Tetapi jika diperlukan, orang di jalan yang mana pun selalu ada yang tidak ragu-ragu segera menggandeng dan membawanya menyeberang. Di saat lain dan pada kesempatan yang berbeda, tidak jarang penyandang cacat yang menolak pertolongan. Hal itu disebabkan karena mereka tidak ingin menjadi manja sehingga mempunyai kebiasaan menggantungkan diri.
Hampir di semua bidang yang kutekuni, aku merasa puas. Tetapi keluar dari lingkungan studi, kunyatakan ada tekanan yang sangat sukar kutahan. Toko-toko swalayan di sana amat menyenangkan. Hampir semua kebutuhan sehari-hari tersedia di dalamnya. Namun aku lebih suka pergi ke pasar. Setiap daerah kecamatan atau kelurahan mempunyai hari dan tempat tertentu sebagai waktu pasaran. Tempat parkir, lapangan atau halaman gereja, persimpangan jalan-jalan yang cukup strategis, pada hari202 menyediakan tenda-tenda yang secara berkala dipasang untuk kemudian ditarik dibenahi kembali sebegitu pasar selesai. Pada waktu ada pasar semacam itu, mobil dan kendaraan bermotor lainnya dilarang masuk ke sana.
Karena aku juga diperbolehkan mempergunakan lemari es pemilik rumah, aku berencana membeli keperluan makananku satu kali sepekan seperti yang dinasihatkan Ganik. Sejak kunjunganku pertama kalinya ke pasar, aku sudah dibentak oleh seorang penjual buah dan sayuran. Tidak pernah temanku atau siapa pun memberitahuku bahwa di pasar luar negeri, seorang pembeli tidak diharapkan menyentuh barang yang dijajakan. Tanpa perhatian, aku memilihi buah yang akan kubeli. Rupa-rupanya perbuatanku itu merupakan kelancangan yang tidak bisa dimaafkan. Langsung saja wanita Belanda yang berpakaian kerja celemek panjang dan lusuh itu menyemprotkan kata-kata kasar yang diucapkan keras.
Aku kaget sekali menerima perlakuannya; secepatnya aku berlalu meninggalkan tempat itu. Dia semakin marah karena aku tidak jadi membeli dagangannya, suaranya mengikutiku berisi gerutu serta penyesalan. Setelah jauh, barulah aku sadar, sungguhlah aku amat tolol membiarkan kesempatan dihina orang Belanda seperti itu. Mengapa aku tidak langsung pula menangkis kata-katanya bahwa aku tidak mengetahui kebiasaan negeri ini" Caraku menyentuh dagangannya tidak kasar. Aku baru mengambil buah pir satu dan menciumnya perlahan. Sebenarnya si penjual bisa berbicara dengan sikap biasa saja untuk menegurku. Dalam hal itu, aku pasti akan meminta maaf. Sejak hari itu, aku jarang sekali berbelanja di pasar. Di toko swalayan, para pembeli bisa memilih dan menyentuh semaunya semua barang dagangan yang
203 tidak pernah memerlukan banyak.
Ketika pengalaman itu kuceritakan kepada Ganik, dia mengajarku supaya berbuat lebih agresif terhadap orang Barat. Kalau kamu diam, mengalah, kamu akan terus-menerus dihina dan direndahkan. Tunjukkan sikap keras tanpa meninggalkan kesopanan, katanya. Tunjukkan bahwa kau punya kepribadian, itu perlu. Nasihat Ganik selalu kuperhatikan. Pelayan di toko-toko tertentu juga jelas memperlihatkan sikap yang kurang menyenangkan. Pada umumnya mereka itu termasuk golongan tua. Yang lebih muda lebih santai dan terbuka.
Kata sahabatku, Negeri Belanda menganut politik tangan terbuka. Selalu siap menampung penduduk bekas-bekas tanah jajahannya. Hingga saat aku berada di negeri itu, tidak jarang terjadi keonaran yang disebabkan oleh anak-anak bekas serdadu KNIL, ialah tentara bayaran Belanda yang terdiri dari orang-orang suku Ambon, Maluku, Manado, atau lainnya di waktu Perang Dunia Kedua. Keturunan golongan yang dulu membentuk negara bagian sendiri di Maluku seperti RMS, yang telah mapan di negeri itu pun sering terlibat dalam kerusuhan-kerusuhan kaum muda; ditambah anak-anak dari bangsa Indo yang turut mengungsi karena di tahun lima puluhan, RI di bawah Presiden Sukarno menjalankan politik nasionalisasi perkebunan serta perusahaanperusahaan asing di seluruh Tanah Air.
Pemerintah Belanda yang mengatur negara. Tetapi tidak semua warganya menyetujui tindakannya. Belanda negeri yang kecil. Meskipun peluasan permukaan tanah yang telah dikeringkan di bagian utara sudah bisa dianggap menambah tempat pertanian maupun pemukiman, namun jika terus-menerus para pendatang selalu diterima menetap hidup di sana, orang-orang Belanda asli
204 terus terjadi. Biasanya mereka terdiri dari para buruh yang datang dari Italia dan negeri-negeri Afrika Utara. Semua ini dijelaskan Ganik ketika dia memanfaatkan dua hari libur disambung Sabtu dan Minggu untuk datang menjengukku.
Aku terkejut sekali melihat temanku yang pucat dan jauh lebih kurus dari kali akhir aku bertemu dia di Tanah Air. Ganik mengatakan baru saja sembuh dari sakit yang agak beruntun. Katanya, tugasnya di Kedutaan Besar RI di Kopenhagen tampak tenang, tetapi sebenarnya melelahkan. Sebab itu, selama berlibur bersamaku, dia ingin bersantai-santai. Sambil benostalgia, dia ingin mengantarku ke tempat-tempat yang dia kenal dulu bersama orangtuanya.
Tiba di pelabuhan udara, temanku menyewa mobil tanpa sopir. Mulai hari itu juga dia membawaku ke museum-museum, tempattempat bersejarah, dan tempat-tempat di mana diselenggarakan pameran. Dia juga menunjukkan cara-cara berbelanja yang menguntungkan. Ganik mengetahui toko-toko dan pabrik pembuat pakaian jadi. Di sana dia tahu caranya membeli baju lebih murah, karena sebelum dipasarkan, semua barang yang mempunyai cacat atau kekurangan disisihkan. Barang-barang seperti itu dijual di toko-toko tertentu yang hanya diketahui oleh langganan tertentu pula.
Sepanjang jalan selama kami bersama, setiap kali melewati desa atau bagian negeri yang rapi, dengan deretan gedung indah, dengan suara kelakar setengah sedih, temanku mengatakan, Ini semua hasil penjualan rempah-rempah yang dirampas dari keringat bangsa kita. Inilah hasil rodi dan pajak yang dibayar rakyat se-Indonesia.
Dalam perjalanan menuju ke sebuah museum patung dan
205 Katanya dia ingin menunjukkan kepadaku sebuah kincir angin kuno yang sangat megah. Benarlah seperti kata temanku. Apa yang pernah kulihat bersama rombonganku dulu tidak memiliki daya tarik seperti yang disukai Ganik. Lingkungannya sendiri sudah merupakan latar belakang alamiah. Dimulai dari luar hingga aku masuk ke dalam kincir, terasa kekunoan dan keanggunannya. Kincir itu sudah tidak digunakan sebagai penggiling gandum, tetapi masih dipelihara baik. Bangunannya kuat dan bersih, dijadikan daya pikat bagi para pelancong dalam dan luar negeri. Bersama sahabatku, aku menikmati kegagahan sayapnya yang megah sekaligus mengerikan. Berdua kami lena membicarakan pengarang Miguel de Cervantes, bagaimana dia memaparkan pahlawan ciptaannya Don Quixote de La Mancha yang memerangi kincir sejenis itu.
Sudah lama aku tidak merasakan kesejahteraan yang menembus ke rasa kedamaian dan bahagia semacam hari-hari bersama Ganik di negeri orang itu. Yang terakhir aku berlibur dengan rasa puas ialah ketika bersama anak-anakku ke Purworejo, Klaten, dan sendirian ke Sala. Kali itu di luar negeri, suasananya berlainan, namun akrab berkat kehadiran Ganik. Temanku kelihatan lesu, sedikit-sedikit nyata kelelahan. Tetapi semangatnya tetap terasa dengan ketegaran jiwanya, dengan sifatnya yang periang, sama seperti ketika kami berada di Tanah Air.
Bergantian kami berbincang serius, lalu beralih saling menceritakan kelucuan yang tolol konyol maupun yang spiritual. Seperti Sri, temanku ini juga tidak pernah merasa terikat oleh kebutuhan akan uang. Gajinya sangat mencukupi untuk hidup santai. Kalau ditanya tidakkah dia ingin kawin, membeli rumah, membangun
206 Buat apa kawin" dia ganti bertanya.
Bagi Ganik, perkawinan hanya menghambat kelajuan langkah wanita. Kami keempat sahabatnya tahu bahwa dia tidak berpretensi hidup saleh, menutup diri dari berbagai kemungkinan untuk bersenang-senang. Memang bekerja sebagai diplomat RI sangat terikat. Lebih terikat daripada pejabat kedutaan-kedutaan lain. Tapi temanku bisa menjaga kebersihan namanya. Sudah lama pula kami tahu bahwa Ganik bebas keluar dengan siapa pun. Namun sampai di mana kebebasan itu, kami tidak pernah menyelidiki maupun mendesak ingin mengetahuinya.
Seperti dengan Sri, aku tidak tega menghunjaminya dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terlalu pribadi jika dia tidak mendahului membicarakannya. Hingga waktu itu, kuketahui bahwa laki-laki yang selalu dia ceritakan berasal dari Kanada. Dalam foto-foto, pria itu tampak berpenampilan menarik. Badannya kekar, tetapi wajahnya lembut dan rambutnya bagus lebat. Pada suatu kali, temanku mengatakan bahwa mereka berkencan akan ketemu di Singapura sebelum dia sendiri pulang ke Tanah Air. Lalu di waktu lain, dari Indonesia sebelum kembali ke Eropa, mereka berjanji akan bertemu di Tokyo. Pendek kata, dekor kisah cinta mereka sangat internasional.
Sejak tiga tahun belakangan itu, Ganik tidak menyebut nama-nama lain seperti dulu lagi. Katanya, hubungannya dengan pacarnya orang Kanada itu bisa berlangsung sebegitu lama, karena mereka mendapatkan keserasian luar biasa. Di waktu bersamasama, mereka hanya memikirkan saat itu. Tidak pernah membicarakan waktu-waktu mendatang. Tidak sekalipun berbicara tentang perkawinan.
Bertemu kembali dengan Ganik dan berjalan bersamanya se207 tangga kenalan atau kawan. Yang mana tetap kukuh dan kompak, dan mana yang jelas pincang sehingga anak-anak terbagi menjadi pemihak ibu atau ayah, meskipun mereka tinggal serumah. Kata Ganik, diakui atau tidak oleh masyarakat, dalam rumah tangga, selalu pihak wanita yang dijadikan kalahan. Umpamanya telah diadakan persetujuan sebelum pernikahan, bahwa suami-istri akan bersama-sama menyangga kewajiban serta tanggung jawab. Tapi pada akhirnya selalu wanita yang lebih banyak bekerja mengurus rumah tangga daripada lelaki.
Di dunia Barat sudah lumayan, meskipun perjanjian itu juga sering tidak berlaku. Sejak kedatanganku di negeri itu, aku sudah melihat sendiri bahwa suami-suami yang belanja makanan, yang membawa cucian dan mengerjakannya sendiri di tempat-tempat cuci umum amat menyenangkan pandang perempuan seperti aku. Kenalanku orang-orang Belanda juga jelas saling membantu. Kalau yang memasak si istri, setelah selesai makan, si suami yang ganti membenahi pecah-belah dan membersihkan meja makan. Sebaliknya, jika yang memasak sang suami, istrilah yang membersihkan meja dan dapur. Aku belum pernah menyaksikan hal yang sama di Indonesia. Barangkali karena di Tanah Air masih bisa ditemukan tenaga pembantu rumah tangga.
Pandangan Ganik terhadap lelaki bangsa sendiri hanya terbatas berukurkan rekanan. Sebagai manusia, temanku tidak bisa memberi nilai. Aku hanya mengenal bapakku, katanya. Dia lain daripada yang lain, karena dia dibesarkan oleh seorang pastur. Semua jenis pekerjaan dia kerjakan tanpa rasa praduga. Aku bahkan melihat dia mengepel ruang prakteknya karena tidak sabar menunggu pembantu, cerita Ganik. Aku juga senang cara hidup Siswi dan Winar, karena keduanya selalu saling terlibat
208 sehingga kerja keras dalam bentuk apa pun tidak membuat mereka jijik atau mundur. Di luar kekecualian-kekecualian semacam itu, perkawinan di Tanah Air bagi Ganik hanya menekan kaum wanita. Katanya, disumbarkan bahwa kebanyakan istri dimanja oleh suami. Yang sebenarnya, istri-istri itu barangkali diberi uang, diberi perhiasan, diberi makan dan pakaian, pendek kata dicukupi kebutuhan hidupnya. Tapi dalam sikap di rumah dan perbuatan di tempat tidur, istri-istri itu menjadi budak. Hanya kesenangan dan kepuasan lelaki atau suami yang dipentingkan. Jarang suamisuami yang menaruh perhatian apakah istri atau pasangan mereka benar-benar bahagia dalam cumbuan asmara. Di Indonesia, di dunia Timur umumnya, kata Ganik, bagi kebanyakan orang, tidur bersama hanya dipikirkan sebagai kepuasan kaum lelaki. Bukan kepuasan atau kesenangan berdua.
Aku agak heran mendengarkan temanku berbicara demikian. Kucurigai dia pernah menjalin hubungan dengan kekasih bangsa sendiri, tetapi mendapatkan kekecewaan. Karena tidak sampai hati menanyakan hal itu, kecurigaan itu tetap kupendam. Tapi aku mengakui bahwa yang dia katakan benar. Ketika dia bertanya kepadaku bagaimana pergaulanku dengan Mas Wid, aku rela menjawab dengan pengakuan tersebut. Salahnya ialah Mas Wid tidak pernah memanjakan aku dalam hal pakaian maupun perhiasan. Hidup sehari-hari pun tidak berlimpahan. Walaupun demikian, di tempat tidur aku diperbudak oleh dia. Dan selama itu aku mau saja, dengan rasa mengalah yang pasrah karena berpikir bahwa itulah kewajiban seorang istri. Disuruh mengelus dan membelai sementara dia bermalas-malasan tiduran, sampai tanganku pegal dan linu pun aku menurut saja hingga dia mencapai puncak kepuasannya. Disuruh apa pun, karena dia
209 aku patuh dengan pengertian, lebih baik dia berada di rumah daripada mencari perempuan lain. Kenyataannya dan akhirnya, sebagai hasil kesabaran serta kepatuhanku, suamiku tidak mencari perempuan lain. Tapi dia mengabdikan diri kepada partainya. Kesimpulan, selama itu aku membudakkan diri pada lelaki yang menjadi suamiku tanpa kemanjaan sesuatu pun. Tanpa guna. Memang Ganik benar. Lebih baik tidak kawin. Sahabatku kelihatan bahagia dan puas dengan cara hidup yang dipilihnya.
Hari yang kukira terakhir bagi kami berdua, aku tidak mau pergi terlalu jauh dari pondokan. Minggu adalah hari libur bagi orang Belanda dan sedikit sekali rumah makan yang buka. Toko-toko tutup. Langit musim gugur yang semakin kelabu dan menyimpan hujan, tiba-tiba pagi itu tersingkap. Sedari dini, udara cerah dan hangat. Dari jendela balkon kelihatan burungburung mencucuki biji-bijian atau serangga di rumput taman di belakang gedung. Suara mereka ribut renyah naik ke tempat kami. Sambil makan di depan jendela itu, kukatakan hahwa aku ingin bersantai-santai hari itu. Kami sepakat akan duduk-duduk menghadang sinar matahari di luar. Bila waktu makan siang tiba, kami akan masuk ke rumah makan terdekat. Setelah itu, kami pulang perlahan-lahan. Kalau berjalan melewati gedung bioskop dan ilmnya tidak terlalu jelek, kami akan masuk. Kalau tidak, kami akan langsung pulang, atau duduk-duduk di halaman gereja yang tidak jauh dari tempat kami. Tetapi aku khawatir temanku akan kembali ke Denmark dalam keadaan terlalu capek. Sebab itu, usulku kuganti. Lebih baik kami duduk-duduk saja santai di balkon. Matahari juga menyinari tempat kami dan cukup memberi kehangatan.
Barangkali itu lebih baik buat kamu. Jangan sampai kau mulai
210 kamu sama sekali tidak beristirahat, kataku. Ganik tidak langsung menyahut maupun menyanggah. Aku meneruskan, Siang ini kita makan apa yang ada di lemari es. Aku masih punya sisa macam-macam. Ini kesempatan untuk menghabiskannya. Kalau kau ingin turun juga, kita ke taman saja sebentar.
Tidak usah, kata temanku. Kita di balkon saja kalau begitu. Bangku di taman biar diduduki orang-orang tua. Mereka lebih memerlukan sinar matahari daripada kita.
Ya, kamu benar, aku setuju.
Aku menyapu balkon, mengelap tiga kursi dan satu meja yang selalu terletak di sana. Kudengar temanku membenahi bekasbekas sarapan kami di dapur. Kukembalikan alat-alat kerja di tempatnya, kemudian aku mencuci tangan. Aku sudah duduk santai di balkon ketika temanku menggabung. Dia tidak langsung duduk di sampingku, melainkan berdiri rapat pada pagar yang meminggiri tempat itu.
Aku tidak kembali ke Kopenhagen besok pagi, katanya perlahan.
Aku agak terkejut. Belum sempat aku bertanya mengapa, temanku meneruskan.
Aku ke Amsterdam. Lalu kapan ke Denmark"
Aku cuti sakit. Akan opname di Amsterdam.
Kali itu aku berdiri, melangkah memegang lengan sahabatku. Sebelum aku mengucapkan sesuatu pun, Ganik meneruskan berbicara tanpa menoleh maupun memandang ke arahku.
Mur, dia berhenti. Lalu meneruskan perlahan dengan suara biasa, Sudah setahun ini aku menjalani perawatan anti kanker.
211 benjolan di payudaraku sudah berhasil. Tapi sejak sebulan yang lalu, ada sesuatu dalam rahimku. Aku akan dioperasi.
Lenganku kurangkulkan di bahunya. Hatiku mendadak terasa penuh, tetapi kepalaku kosong. Tak satu kata pun bisa kutemukan untuk maju ke mulut dan kubentuk dalam suara. Apa saja. Entah bujukan, entah jeritan, sesalan. Asal suara untuk menunjukkan keterlibatan perasaanku. Kurasakan kesenyapan yang tiba-tiba mengawang di sekeliling kami. Tekanan yang berat serasa menghimpit dadaku. Dengan kesukaran yang luar biasa, aku berhasil membisikkan, Kapan operasinya"
Hari Kamis. Ayah dan Ibu akan datang Selasa ini. Aku berangkat bersamamu ke Amsterdam, kataku penuh tekad.
Tangan Ganik merangkul pinggangku. Yang satu menggapai dan memegang tanganku di atas pundaknya. Matanya memandang ke kejauhan. Sedangkan pandangku terpaku ke wajahnya.
Kurasa tidak perlu. Kau harus meneruskan programmu. Kau tinggal di sini hanya tiga bulan. Harus sepenuhnya kaumanfaatkan.
Ganik benar. Dia sudah kuberitahu, aku tidak akan betah tinggal lebih dari tiga bulan di negeri itu.
Tapi kau akan dioperasi, sedangkan aku di sini. Kalau kita berjauhan, rasanya aneh, dengan keras kepala aku mencari bantahan untuk membenarkan sikapku.
Tidak apa-apa. Kehidupan ini memang penuh dengan hal yang aneh-aneh dan tidak masuk akal, sambil mengatakan itu temanku menoleh, tersenyum perlahan. Kau jangan bersikap seperti orang-orang lain. Kanker memang penyakit ganas. Tapi
212 ditanggulangi. Setelah operasi, aku akan sembuh.
Kami berdua duduk menghadap ke taman. Aku tidak kuasa menahan keinginan mengamati sahabat di sampingku. Demikian tenang pengucapan di wajahnya. Demikian teratur dan rapi kalimat-kalimat yang dia ungkapkan mengenai dirinya yang digerogoti penyakit asing. Tahun-tahun belakangan itu aku mendengar kabar yang tidak pernah disebutkan dengan langsung Si A menderita kanker melainkan Si A terkena CA .
Itulah barangkali yang dimaksudkan Ganik ketika melarangku berbuat seperti orang-orang lain. Mengapa sesuatu benda yang sudah pasti tidak disebut dengan namanya yang sesungguhnya" Seolah-olah dengan kata CA keganasannya menjadi kurang. Dan sekarang, temanku, sahabatku yang dalam surat maupun kehidupan, juga selama tiga hari itu selalu riang dan gesit, berkata tanpa tedheng aling-aling, tanpa sembunyi-sembunyi: Aku menderita kanker.
Mengapa kau memandangiku" terkikih Ganik melirikku. Aku belum akan mati besok Kamis! Percayalah!
Aku diam. Terasa ada sedikit kebingungan dalam diriku. Aku mengira mengenal Ganik. Sungguhkah dia setenang dan sebiasa ini menghadapi penyakitnya" Tapi, kenyataannya dia mengetahui bahwa akan dioperasi dan selama tiga hari tidak hentinya kami bercanda, berdebat, dan bergaul tak ubahnya seperti dalam keadaan hati tanpa kecemasan.
Kau tak pernah bercerita mengenai hal ini. Dalam surat, di telepon, bahkan ketika kau pulang ke Indonesia yang paling akhir, aku menyesalinya. Benar-benar penyesalan dari lubuk hati.
Untuk apa" Semuanya sudah berlalu dan aku baik-baik.
213 Tidak perlu dikhawatirkan benar. Bermacam kanker begitu pula. Kalau kita mendeteksinya pada taraf awal, pasti segera bisa ditanggulangi. Hanya jenis yang rumit-rumit seperti kanker darah atau kanker sumsum, misalnya, yang sampai sekarang belum dapat dijinakkan.
Suara Ganik tenang. Seperti sediakala sewaktu dia menjelaskan: ini bangunan apa dan didirikan oleh siapa dan pada tahun berapa.
Sebetulnya kanker juga seperti penyakit-penyakit lain. Diabetes atau tekanan darah tinggi, umpamanya. Kalau kita sudah diberitahu dan harus hidup bersamanya, kita juga pasti harus bisa hidup bersama penyakit itu. Dengan diet ketat dan pengendalian diri, dibarengi penanganan medis yang tepat guna, kita bisa berumur panjang.
Aku diam. Di taman bawah tampak penduduk sekitar berdatangan. Anak-anak kecil membawa ember, cetok atau sekop dan cetakan serba kecil pula. Mereka langsung menuju bak pasir yang tersedia sebagai tempat bermain di dalam pagar. Ibu atau pengantar mereka mencari tempat duduk. Ada yang membawa kursi lipat sendiri, memilih sudut yang terkena cahaya matahari. Lalu mengeluarkan bawaan mereka. Beberapa orang membaca, yang lain merajut, ada pula yang menganggur sambil memejamkan mata menikmati kehangatan. Tanah berumput sudah dibaringi beberapa pasangan muda. Di hari-hari lain, orang menghormati larangan berjalan di atasnya. Tapi di hari-hari istimewa yang bermatahari, biasanya larangan atau peraturan menjadi kendur. Mereka memang tidak menginjak-injak rumput. Mereka hanya memilih tempat buat membaringkan diri. Suara jerit anak-anak,
214 yang cerah mengambang mencapai balkon kami.
Kita tidak akan menghabiskan waktu bersama yang tinggal semalam ini untuk berdebat mengenai penyakitku, bukan" tibatiba Ganik memegang lenganku.
Aku menoleh, sebentar meneliti matanya yang menatapku. Tidak, sahutku perlahan. Aku hanya merasa kau tidak jujur terhadap kami teman-temanmu, dan sambil mengatakan itu, aku teringat kepada Sri. Kalimat itu sudah kutujukan kepadanya karena menyembunyikan masalah Mas Tom yang berkhianat. Mengapa" Apa salahku"
Karena selama ini kau menyembunyikan sesuatu dari kami. Padahal....
Padahal kita telah sepakat membangun persahabatan yang unik di antara kita, Ganik meneruskan kalimatku. Lalu tambahnya, Aku tidak pernah bermaksud menyembunyikan apa-apa dari kalian. Setia kawan kita tetap kukuh. Jangan mengira yang tidak-tidak.
Seumpama kau tidak mengabarkan peristiwa yang gembira, barangkali aku tidak akan tersinggung.
Misalnya aku kawin, tidak memberitahu kalian pun pasti kau sakit hati. Ya apa enggak" Ganik tersenyum menggoda. Aku bersungut membuang pandang.
Nah kan" Apa pun yang kukerjakan, serba salah. Yang benar, aku tidak bermaksud menyakiti hati kalian. Kebetulan saja aku tinggal di luar negeri. Aku diberitahu harus dirawat untuk menghilangkan benjolan. Ya, aku menurut. Semua berjalan baik. Ketika bertemu kalian dulu, aku tidak ingat lagi untuk memberitahukan kejadian itu. Untuk operasi ini, aku sudah menulis kepada Mur. Dia dokter. Kuanggap dia perlu mengetahui lebih dulu. Sri juga
215 Tanah Air, tentu aku juga menulis kepadamu. Atau Sri yang memberitahu.
Ganik berhenti sebentar, lalu meneruskan, Mur sudah tahu sedari perawatanku paling awal. Kau pernah kuberitahu, bahwa aku sering mengirim majalah dan guntingan-guntingan yang menurut tafsiranku akan menarik bagi dia. Pada halaman benda cetak yang kukirim itu kutuliskan beberapa kalimat. Sekadar kabar. Untuk melestarikan hubungan. Aku jarang mengirim surat betulbetul kepadanya. Hanya dengan kau aku bersurat-suratan, karena kau paling rajin membalas. Dan karena anakmu mengumpulkan prangko.
Semua itu benar. Widowati memang mengumpulkan prangko. Sewaktu kami jalan-jalan kemarin pun, tiba-tiba Ganik masuk ke kantor pos. Di luar dia melihat etalase, lalu teringat kepada anakku. Dia keluar lagi membawa kumpulan prangko yang baru dijual beberapa hari itu.
Sekarang kau sudah tahu hal yang sebenarnya. Jangan terusmenerus memarahiku. Kalian akan turut menguatkan doa kami agar Tuhan memberi kelancaran dan kesembuhan padaku.
Itulah keputusan Ganik. Bagaimana aku akan bisa marah kepadanya" Rasa tersinggungku bukan didasari harga diriku, tetapi disebabkan oleh kasih sayangku kepadanya. Di dunia yang digaulinya, orang menganggap kanker payudara sebagai penyakit yang sudah membiasa. Namun bagiku, penyakit apa pun, jika itu menyentuh orang-orang yang kucintai, tidak lagi menyandang predikat biasa . Dan orang yang kucintai tidak terdiri dari ratusan, bahkan tidak puluhan jumlahnya. Mereka itu adalah ibuku, anak-anakku, dan keempat sahabatku. Kehilangan seorang dari
216 akan terisikan lagi. *** Sedari masa mudaku, aku bukan orang yang gampang tidur. Jika perasaanku terusik sedikit saja, malamnya aku tidak dapat tertidur cepat. Di waktu-waktu aku harus berangkat pagi-pagi buta, demikian pula, semalaman aku justru gelisah karena takut kesiangan.
Mulai dari saat aku mengetahui Ganik akan dioperasi, tidurku tidak nyenyak. Temanku berangkat ke Amsterdam sebagaimana telah dia rencanakan. Sedemikian mapan di klinik, dia meneleponku. Aku merasa lebih tenang ketika dia katakan bahwa rekan dan teman-teman ayahnya sangat memperhatikan dia, dan bahwa aku tidak perlu khawatir. Suaranya sama saja, lancar, jelas. Tak terbayang selintas pun gangguan maupun kesendatan. Dia menyampaikan pesan Sri, katanya Ibu dan anak-anak akan menelepon. Dia sebutkan hari dan jamnya. Waktu itu adalah pertama kalinya aku berbicara langsung dengan mereka sejak kepergianku. Cukup lama dan puas aku mendengar suara mereka. Ibu menceritakan bahwa Sri meminjamkan kendaraan sewaktuwaktu diperlukan. Katanya lagi, Irawan baru saja pulang ke Makassar. Selama lima hari adik iparku itu di kota kami, berurusan dengan rekan-rekannya di rumah sakit. Dua kali Ibu dan anakanak dibawa keluar untuk makan. Satu kali Sri bahkan turut pula. Aku gembira sekali mendengar berita keakraban tersebut. Terutama aku senang mengetahui bahwa Eko berkesempatan ketemu dengan pamannya itu.
Untuk menghindari kehilangan waktu karena bermenung217 Pertemuan diskusi yang kurencanakan akan kulaksanakan pada akhir masa tinggalku, segera kuberikan mulai pekan pertama Ganik di rumah sakit. Dalam kelompok mahasiswa, perpustakaan, yayasan dan sekolah-sekolah praktek kubicarakan pengalaman beserta kesimpulanku yang berupa patokan atau pegangan yang mungkin bisa dipergunakan pendidik lain. Kesemuanya itu kubagi dalam jangka waktu dua pekan. Tidak selalu dua hari berturutturut, sehingga aku tetap memiliki kesantaian meneruskan riset di perpustakaan. Dalam dua pekan itu aku berpindah-pindah tempat, menghadapi hadirin yang berbeda-beda, menuruti giliran kelompok. Pemaparan kertas dan wawancara memakan waktu dua setengah jam, kadangkala sampai tiga jam. Setiap hari aku berjalan ke stasiun atau ke perhentian bis, ganti kereta satu atau dua kali, kemudian naik bis lagi, dan setelah turun berjalan lagi. Ulang-alik demikian, tiba di rumah di waktu sore, badan serta pikiranku sudah capek. Malamnya aku lebih mudah tertidur.
Pada salah satu acara yang kuatur sendiri itu, ketika pertemuan sudah berlangsung agak lama, kulihat di antara hadirin ada yang berkulit cokelat. Penampilan mereka seperti orang Indonesia. Aku tidak kenal mereka. Bertemu dengan orang berkulit sawo matang bukan merupakan hal yang aneh di Negeri Belanda. Banyak orang-orang Afrika Utara atau Italia yang mirip bangsa Indonesia. Sebab itu, selama berbicara dan tanya-jawab, aku tidak begitu memperhatikan mereka. Pemuda-pemuda itu kuanggap sebagai bagian dari hadirin.
Ketika acara tanya-jawab selesai, beberapa orang datang mendekat dan menyalamiku. Ada yang memberi komentar atas jawaban ataupun pertanyaan yang baru lewat. Kulihat orang-orang
218 langsung mengulurkan tangan memanggil namaku.
Mbak Mur, saya Handoko. Dan dia langsung memperkenalkan teman-temannya kepadaku.
Aku bersalaman dengan mereka. Entah mengapa, aku tidak merasa heran maupun kaget melihat adik iparku berada di hadapanku. Sikapnya yang biasa dan sederhana membikinku seolaholah telah lama mengenalnya. Dia mengatakan, pagi tadi singgah di KBRI Den Haag dan diberitahu bahwa ada rombongan baru yang akan tinggal tiga bulan. Di antaranya aku yang selama dua minggu ini memaparkan pengalaman dan teori pendidikan pengajaran bahasa asing kepada anak-anak di Indonesia. Aku memang memberitahu tentang hal itu kepada rekan dan teman Ganik.
Kupandangi adik Mas Wid yang menjelaskan sebab-sehab kehadiran mereka yang tiba-tiba berada di depanku, dan selagi dia menerangkan bidang temannya seorang demi seorang. Kecuali tubuhnya yang sedang dan kurus, Handoko memiliki wajah berbeda dari suamiku maupun Irawan. Raut mukanya lebih persegi.
Mbak Mur akan ke mana sekarang" tanya Handoko menyadarkan pengamatanku terhadap dirinya.
Pulang. Dari sini ada bis yang langsung ke Amersfoort! Ya, saya dengar dari KBRI bahwa anda menyewa kamar di Amersfoort.
Kami antar saja, kata seorang teman Handoko. Anda bawa mobil" tanyaku.
Ya. Kami naik mobil dari Jerman. Selain lebih murah, di sini juga selalu berguna untuk berputar-putar.
Dalam perjalanan, Handoko bertanya mengapa aku tidak menyurati memberi kabar tentang kedatanganku di Eropa. Aku menjawab semudah mungkin. Alasan kesibukan, alasan
219 sedikit apa yang terjadi dengan Eko. Ganti kutanya mereka dalam rangka apa berada di Negeri Belanda. Seorang dari pemudapemuda itu harus menemui kakaknya yang singgah dan akan terus ke Amerika.
Ketika diberitahu bahwa Mbak Mur ceramah di tempat yang ternyata tidak jauh dari tempat menginap kakak saya, Handoko mengatakan ingin mampir sebentar menyalami anda.
Ya, semula kami hanya ingin duduk sebentar. Tapi terjerat penyuguhan yang anda susun, Mbak Mur. Menarik sekali. Biasanya, kalau menghadiri ceramah, saya selalu mengantuk, kata kawan lainnya.
Mbak Mur memang hebat, Handoko menyambung. Anda berbicara lancar dan tidak menjemukan.
Ah, sebenarnya biasa saja. Masalahnya, kalau kita biasa menghadapi murid, tentunya harus tahu bagaimana supaya orang di hadapan kita tidak bosan mendengarkan kita, sahutku, agak kebingungan menerima pujian yang tidak terduga-duga itu.
Utrecht-Amersfoort tidak begitu jauh. Tiba di blok dekat pondokanku, aku minta supaya mobil berhenti agar aku bisa belanja sebentar. Di sana ada toko yang menjual bahan-bahan makanan Asia, terutama Indonesia. Di lemari es aku masih mempunyai rendang jeroan sapi yang dibekukan dan sisa sup kubis. Di toko aku membeli tahu dan kecambah sebagai tambahan lauk untuk makan petang itu. Untuk buahnya, teman Handoko membeli satu kaleng buah kelengkeng.
Sore itu kami berempat sibuk di dapur. Sementara aku mencuci beras dan menanak nasi, Handoko dan teman-temannya memotongi tahu serta membersihkan kecambah. Dapur itu cukup lebar. Sebuah meja dan empat kursi lipat mengisi sudut di dekat
220 dan kesibukan masing-masing. Teman-teman Handoko keturunan Tionghoa. Seorang sudah menjadi dokter di Indonesia, ke Jerman atas biaya sendiri. Seorang lagi di bidang teknik bangunan, tapi kini tertarik pada mesin. Kebalikan dari Handoko yang menekuni bidang mesin, tapi juga memperhatikan bangunan berat seperti misalnya jembatan. Mereka bertiga menyewa apartemen. Sudah lima tahun ini bersama-sama. Untuk hidup, mereka mengerjakan apa saja. Yang paling sering ialah sopir dan kuli pengangkut di pusat jual-beli buah dan sayur, di mana para tengkulak dan grosir bertemu. Kerjanya berat, karena harus mulai jam dua malam. Tapi jam enam sudah selesai. Lalu mereka kuliah atau kerja lapangan.
Aku menemukan kembali suasana masak-memasak bersama yang dulu sering kualami di masa remaja. Anak-anak lelaki yang membantu menyiapkan makanan tidak pernah kulihat selain dalam masa kepanduan dan di rumah ibuku. Dari ketiga adikku lelaki, hanya yang terkecil yang mempunyai keinginan menyambal sendiri, membikin nasi goreng sendiri. Ini kuceritakan kepada tamuku sore itu. Mereka kelihatan senang. Katanya, mereka biasa sekali memasak dan mengerjakan semua tugas rumah. Selain sebagai sopir para tengkulak, diwaktu-waktu terdesak, mereka juga menjadi pembersih kaca jendela-jendela bangunan bertingkat hingga lima puluh atau enam puluh lantai. Meskipun bayarannya besar, jarang ada penyewa tenaga yang menyertakan jaminan asuransi. Oleh karenanya, kalau memang masih ada pekerjaan lain, Handoko dan teman-temannya lebih suka menghindar. Tetapi untuk membersihkan jendela kaca apartemen sendiri, secara bergilir mereka selalu siap.
Yang bayarannya agak murahan ya mencuci piring di kafe
221 Handoko. Katanya, untuk menjaga anak atau bayi juga diberi makan, kataku.
Tidak selalu. Kalau yang punya anak baik, memang disediakan makanan. Atau disuruh ambil sendiri. Umpamanya roti dan olesannya atau irisan daging, sahut teman Handoko.
Yang senang saya, sering di rumah sakit. Di sana selalu ada makanan. Tidak diberi pun, kalau sudah kenal orang dapur, tentu bisa minta makanan atau minuman yang mengenyangkan.
Perbincangan lalu menyentuh masalah bayaran setiap pekerjaan sampingan itu. Kemudian berpindah ke suasana di Tanah Air, mengenai kenakalan remaja yang mulai merajalela di Jakarta, mengenai musim gugur yang terlalu cepat berlalu. Sebelum kembali ke Den Haag malam itu, masing-masing tamuku berterima kasih dengan caranya. Barangkali karena sudah lama di luar negeri, mereka mengetahui cara-cara membujuk yang menyenangkan. Yang seorang mengatakan telah lama tidak makan makanan sesedap masakanku. Yang seorang memuji nasiku yang pas, tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras. Handoko sendiri yang menyukai tahu, mengatakan baru kali itu dia melahap sebanyak yang dia telan petang itu. Bumbunya enak sekali, katanya. Dia berharap akan bisa mengantarku menengok Ganik di Amsterdam.
Aku tidur cepat malam itu, tanpa mempunyai kesempatan mencerna kejadian seharian dari pagi hingga petang. Keesokannya, sambil membenahi ruang tamu dan makan pagi seorang diri di depan jendela yang menghadap ke balkon, aku mengambil waktu bermenung-menung. Hari itu aku santai. Tidak kuliah, tidak mempunyai kencan di perpustakaan. Tinggal satu pertemuan lagi
222 membeli roti dan beberapa keperluan kamar mandi. Udara sudah lebih dingin dari hari-hari yang lalu. Dengan kecepatan seperti ini, musim gugur akan segera diusir oleh musim dingin. Kalau aku bisa krasan tinggal di negeri ini, masa tinggalku dapat diperpanjang dua bulan. Dengan demikian, selain bahan-bahan tambahan catatanku akan lebih berisi, mudah-mudahan aku juga akan berkesempatan melihat salju. Ganik telah membawakan mantel yang dipinjamkan kepadaku. Tetapi jika aku tidak mau tinggal sampai musim dingin, bajunya dapat disimpankan oleh temannya di KBRI. Dia memberi nasihat supaya aku membeli sepatu yang kuat dan teba1. Pondokan dan telepon sudah dibayar temanku. Aku tinggal memikirkan pengeluaran makanan, bis atau kereta api, dan beberapa keperluan kecil lainnya. Sebab itu, aku harus mau membeli sepatu yang agak mahal sedikit, asal awet, karena aku sering jalan kaki. Mengenai pakaian, sahabatku juga sudah memberiku blus-blus dari kain panas dan pullover, cukup jumlahnya untuk selama masa tinggalku. Di negeri Barat, orang tidak berganti pakaian terus-terusan seperti di Indonesia. Kata Ganik, sepanjang musim, biasanya orang hanya mempunyai paling banyak tiga pasang pakaian. Atau bagian bawah sedikit, baju atas yang lebih banyak. Kulihat dalam kopor yang dia berikan kepadaku terdapat rok-rok bawah dan celana panjang yang selalu bernada warna gelap. Di sekelilingku, setelah memperhatikan dengan saksama, aku melihat warna yang sama lebih dipergunakan rekan dan kenalan-kenalanku bangsa Belanda. Orang-orang yang sering kutemui juga jarang berganti baju dalam sepekan.
Di pagi yang santai itu aku baru sempat merenungkan kejadian hari kemarin. Pertemuanku dengan Handoko dan kedua kawannya amat mengesankan. Tidak ada kekakuan atau keeng223 seperti menganggap aku sebagai kenalan lama. Aku belum pernah bertemu Handoko sejak Mas Wid masuk dalam kebiasaan hidup keluarga asalku, diteruskan hingga perkawinanku. Menurut pengertian yang kudapatkan dari ayah mertuaku, Handoko dan Irawan mempunyai persamaan, ialah mandiri sedari masa muda mereka. Baru pagi itulah aku menyadari kebenarannya. Tidak saja dalam hal kemandirian, tetapi juga dalam cara berbicara. Barangkali juga cara mereka memandang persoalan. Hanya saja, Irawan lebih matang karena umur dan pengalaman. Dan dalam membandingkan kedua bersaudara itu, aku teringat bahwa ada satu lagi orang di lingkunganku yang memiliki cara berbicara sama. Tapi seketika itu aku tidak tahu siapa.
Jum at adalah hari terakhir aku mengadakan pertemuan diskusi. Petangnya, Handoko menelepon untuk menetapkan janji kami keesokannya. Dia akan mengantar aku ke Amsterdam. Dia berangkat malam itu juga dari Jerman. Sebelum subuh, dia tiba di pondokan. Setelah kubiarkan beristirahat sebentar di kursi panjang di ruang tamu, kami sarapan. Lalu segera berangkat ke Amsterdam, menuju ke apartemen tempat tinggal Ganik dan orangtuanya. Handoko hanya sebentar bertemu mereka. Dia mempunyai kencan dengan bekas gurunya yang juga tinggal di kota itu. Sebelum pergi, dia mengingatkan aku bahwa esok paginya kami akan bertamasya berdua.
Ganik kelihatan lebih berseri dari waktu kedatangannya di Amersfoort. Sudah dua pekan dia dioperasi. Kandungannya diangkat. Berarti sahabatku tidak akan bisa mempunyai anak. Tetapi tampaknya hal ini tidak menyentuh jiwa teman yang amat kucintai itu. Ibunya bahkan berkata bahwa di dunia ini sudah terlalu banyak anak yang terlantar. Kalau Ganik memang berniat
224 yasan atau anak teman sendiri. Dan Nak Mur tahu, tambah ibu itu, Ganik sukar disuruh kawin. Sambil mengatakan kalimat tersebut, ibu itu mengejapkan matanya kepadaku.
Aku mengagumi keringanan kesan yang terpancar dari wajahnya. Bagiku, itulah orangtua ideal di zaman modern ini. Tidak mempunyai anak bukan merupakan masalah baginya karena dunia sudah terlalu berjubelan dan banyak anak menderita tanpa orangtua. Apakah aku akan bisa menjadi orangtua demikian" Kalau anak-anakku kawin, dapatkah aku menganggap ringan peristiwa yang menjadikan aku seorang nenek tanpa cucu"
Orangtua Ganik keduanya yatim piatu. Dokter Liantoro berhasil meneruskan sekolah karena kedekatannya dengan gereja. Mereka memiliki pandangan terbuka dan luas mengenai arti keluarga. Aku mengucapkan kata keluarga berarti sesepuh Purworejo, Pati, ibuku, adik-adikku dan anak-anakku. Ganik dan orangtuanya mengatakan keluarga adalah yayasan-yayasan yang pernah menumbuhkan Dokter Liantoro dan istrinya. Ganik anak tunggal. Dengan operasinya, seakan-akan tamatlah riwayat mereka bertiga. Namun itu bukan kesedihan bagi mereka. Selama itu mereka dikaruniai hidup bahagia dan sehat. Di lingkungan mereka banyak orang menderita. Banyak yang mati tanpa keturunan. Dan menurut Dokter Liantoro, orang mati setiap hari. Kalau seseorang mati, berarti Tuhan memutuskan bahwa tugas orang itu sudah selesai. Siapa tahu akan ada tugas lain yang telah siap.
Sehari semalam bersama Ganik dan orangtuanya, bagiku serasa kembali ke Tanah Air dan bertemu dengan ibuku. Tak hentinya kami berbincang dan berkelakar. Aku menceritakan pengalamanku berdiskusi dua pekan terakhir itu. Dengan bangga aku memberitahukan tawaran wawancara dari salah satu pemancar
225 gasan. Inilah keuntunganku di segi lain yang kudapatkan dari keluarga Ganik. Mereka golongan intelek yang tidak menyembunyikan pengetahuannya. Keamalannya menyeluruh. Karena banyak membaca dan menjelajahi negeri asing, mereka mengenal dan mengetahui apa yang kebanyakan orang Indonesia tidak tahu. Hal baru di berbagai bidang, mereka baca atau dengar lewat para pakar dengan siapa mereka berhubungan. Bacaan mereka tidak terbatas di bidang yang menyangkut langsung profesinya sendiri. Keterlibatannya dalam segala hal menyebabkan tampak jelas jalan pikirannya yang universal. Dokter Liantoro pernah mengatakan bahwa dirinya sudah tidak menganggap lagi hanya sebagai warga negara Indonesia. Kami ini warga dunia, katanya. Saya kadang-kadang terkejut karena melihat paspor saya. Baru ingat: Oh ya! Saya ini orang Indonesia!
Ini pulalah yang sangat baru bagiku. Ganik dan keluarganya membukakan mataku terhadap pemikiran bahwa semua masalah yang terdapat di belahan dunia mana pun adalah masalah manusia. Sejak kecil, sejak masa yang menumbuhkan daya ingatku, ialah zaman revolusi, aku hanya mendengar perkataan demi bangsa dan negara . Dengan Ganik lain halnya. Hingga masa dewasa, tak pernah aku melihat sikap sahabatku yang menonjol-nonjolkan kalimat sakti berbakti kepada negara atau sejenisnya. Sejak menjadi pejabat KBRI pun, tak sekali aku melihat dia berlebihlebihan bersikap patriotik. Mengapa mesti ribut-ribut, katanya. Kepatriotan yang berlebihan malah menyebabkan salah tingkah. Lalu temanku menyindir bagaimana kebanyakan rekannya yang keterlaluan memampangkan kebangsaannya itu pada suatu diskusi tidak mengetahui jenis kesusastraan kuno apa yang ada di Indonesia. Mereka juga tidak mengetahui nama-nama, empat
226 menyebut piano, biola, organ, celo dan bas. Apakah itu yang dinamakan demi bangsa dan negara " Dalam beberapa hal, Ganik seperti Siswi. Keduanya keras dan judes. Tapi wawasannya luas dan jauh, karena mereka juga mampu menerima wawasan orang lain. Bergaul dan menjadi orang dekat mereka, aku mendengarkan serta menyerap. Tapi aku juga bisa menyaring mana yang patut kuterapkan serta sesuai dengan jalan maupun panggilan hidupku. Dalam hal pendidikan, kuteliti benar mana yang bisa kuambil. Kemudian kubaurkan menjadi metode yang kuanut.
Selama tinggal bersama keluarga Dokter Liantoro di negeri orang itu, tiba-tiba aku menyadari bahwa inilah dia yang kucari dalam ingatanku. Dia mempunyai cara bicara dan cara memandang masalah apa pun juga, sama seperti Irawan dan Handoko. Karena tidak mampu menemukan sendiri sebab-sebab kesamaan tersebut, aku mengatakannya kepada ayah Ganik. Janganjangan dalam masa kehidupan yang lampau, mereka bertiga adalah saudara kandung. Inilah teoriku. Ayah Ganik tertawa mendengar aku sampai pada renungan kelahiran kembali sesudah kematian. Dengan mudah dia mengajukan teori lain. Katanya, Irawan, Handoko, dan dirinya terlalu biasa menggunakan bahasa asing di samping bergaul dengan bangsa sedunia. Tekanan-tekanan bahasa Jawa yang mendasari pertumbuhan mereka samasama tidak lama mereka hayati. Pada waktu itu, orangtua Ganik sudah menghabiskan waktu enam bulan di Tanah Air. Dalam setahun, mereka mempergunakan waktunya setengah-setengah untuk mengajar atau berceramah di luar negeri atau di negara sendiri. Undangan-undangan yayasan atau universitas luar negeri selalu digabung dengan pertukaran pengetahuan. Itu sangat menguntungkan bagi ilmuwan seperti ayah Ganik. Kalau
227 persoalan tentu berbeda. Teori bapaknya Ganik tidak begitu kupercaya, tetapi aku juga tidak membantahnya.
Hari Minggu pagi aku pamit. Handoko menjemputku. Kami langsung menuju ke pangkalan kapal pesiar. Ganik sudah memberitahu garis besar urutan perjalanan kapal melalui terusanterusan air di kota Amsterdam. Pelancongan jenis itu dihentikan pada musim dingin. Di akhir musim gugur seperti waktu itu pun tidak semua jurusan dapat dilewati kapal wisata. Walaupun demikian, aku senang sekali bisa menarik kesimpulan keindahan gedung-gedung dipandang dari jalan air. Menurut keterangan ayah Ganik, konon dulu terusan-terusan di kota Batavia alias Jakarta juga bisa dilewati kapal. Karena memang maksud Belanda ingin membangun kota jajahan tersebut dengan mengambil Amsterdam dan kota-kota Belanda sebagai model. Di seluruh Eropa, Belanda-lah negeri yang paling banyak mempergunakan kanal dan Sungai Rijn sebagai jalan angkutan di air.
Di samping kebaruan pemandangan yang kusaksikan itu merupakan tambahan pengalaman yang unik, hari itu juga aku menghayati perasaan lain yang telah kulupakan: aku merasa nyaman bersama seorang laki-laki. Tingkah laku Handoko selalu tepat. Sikap dan kata-katanya dalam menanggapi semua pertanyaan atau kelakuanku sendiri selalu sederhana, namun pas. Sudah kami sepakati berdua bahwa kami akan berbagi semua pengeluaran.
Aku sendiri sadar akan tidak adanya keengganan di antara kami berdua. Handoko mengetahui banyak tentang perkembangan perindustrian dan pertanian di Eropa. Bidangnya mesin dan lebihlebih lagi perkapalan tidak menghalanginya untuk mengetahui hal-hal lain secara umum.
228 menonton konser dan pertunjukan balet. Teater modern dan klasik juga dia kenal dengan baik. Dia menabung ketat karena ingin mengikuti perkembangan dunia pertunjukan secara rutin. Setiap musim dia berusaha menonton pertunjukan yang berbobot. Kami berdua banyak membicarakan orang-orang bergelar kesarjanaan di Indonesia yang tidak tahu-menahu mengenai kebudayaan ataupun pengetahuan lain di luar bidang mereka.
Tanpa ragu ataupun malu aku mengatakan apa yang kupikirkan. Biasanya, aku tidak suka berbincang terlalu mendalam dengan orang yang baru kukenal. Kepada Handoko, aku bahkan dapat mengkritik tingkah pejabat dan orang-orang yang sudah berkehidupan mapan yang sama sekali tidak berusaha memperkaya kepekaan jiwanya dengan bacaan atau pertunjukan berkualitas. Handoko mengakui bahwa dirinya berubah karena pergaulannya dengan lingkungan yang tahu menghargai kesenian. Profesornya pada suatu ketika menyebut sebuah pertunjukan opera berdasarkan karya sastra yang ditulis oleh William Shakespeare. Setelah menyaksikan opera itu, Handoko menjadi pengagum pengarang dunia berkebangsaan Inggris itu.
Lalu, demikianlah dia mulai menjadi seorang pembaca karya sastra internasional yang tekun. Tadinya dia tidak sabar membaca. Katanya dia tidak telaten, karena selalu ingin mengetahui bagaimana akhir cerita sebuah buku. Kini dia masih membaca cepatcepat. Tetapi kemudian setelah selesai, dia membaca ulang buku yang sama. Enak mencerna kembali kalimat-kalimat yang ditulis oleh orang-orang yang mengamati kehidupan dan manusia dengan cara mereka masing-masing, kata Handoko. Dia merasa lebih kaya jika merenungkan kembali setiap karangan. Kepuasan yang dia dapatkan sama seperti setelah dia berhasil memecahkan
229 pal di tempatnya dan berfungsi sebagaimana layaknya.
Dalam paket pariwisata yang kami ambil itu termasuk pula kunjungan ke tempat-tempat yang dianggap unik. Kami dibawa ke ruang bawah tanah beberapa restoran kuno. Di situ disimpan bertong-tong dan berbotol-botol minuman anggur dan bir. Koleksi gelas untuk minum bir juga merupakan atraksi yang istimewa bagi kami orang dari negeri panas. Handoko menceritakan bahwa di Jerman, koleksi seperti itu juga sangat dihargai. Aku bertanya apakah dia juga suka minuman beralkohol itu. Saya hanya minum kadang-kadang, kalau disuguhi, jawabnya. Di musim dingin, rasanya seolah-olah badan membutuhkan sesuatu yang panas. Sambil tertawa, dia menambahkan, di musim lain, kalau sedang tidak bisa tidur, dia juga minum bir. Itu obat tidur yang manjur baginya.
Kami memisahkan diri dari rombongan di sebuah tepian, lalu duduk minum teh di kafe terdekat. Sambil makan kue, agak lama kami berdebat kecil untuk menentukan ke mana selanjutnya kami akan pergi. Ketika masih berada di Tanah Air, aku sering mendengar adanya daerah pelesiran yang lebih dikhususkan buat kesenangan kaum pria di dekat pelabuhan Rotterdam. Tamutamu yang pernah kukenal dengan perantaraan Dokter Liantoro menceritakan tentang jalan-jalan yang dipinggiri dengan etalase. Di dalamnya bukannya berisi baju atau sepatu, melainkan wanita-wanita yang duduk memampangkan diri sebagai contoh dagangan.
Aku ingin sekali melihat daerah itu dari dekat. Setidaktidaknya selayang pandanglah. Rasa santai yang kualami selama bersama Handoko mendorongku untuk mengatakan keinginan tersebut. Kepadanya kukatakan, dengan siapa lagi aku akan ke sana jika tidak dengan seseorang yang kukenal baik. Terus terang
230 Barangkali aku bisa ke sana bersama Ganik. Tetapi rasanya lebih tepat jika aku mengunjungi tempat semacam itu bersama seorang lelaki.
Perbantahan kecil kami bukan menyinggung soal keengganan ataupun rasa keberatannya membawaku ke tempat pelacuran itu, melainkan disebabkan oleh hal kepraktisan. Aku tidak ingin dia terlalu capek dan menyetir langsung pulang ke Amersfoort malam itu juga. Meskipun dengan jalan-jalan besar yang nyaman, jarak yang harus ditempuh dapat cepat terlaksanakan; tetapi maksudku berakhir pekan itu adalah buat bersantai, bersenang-senang tanpa terburu-buru. Kuusulkan agar kami menginap semalam di perjalanan. Baru hari Senin pagi, dengan santai kembali ke Amersfoort.
Akhirnya kami capai kesepakatan. Kami lihat jalur jalan-jalan yang akan kami lewati. Handoko menemukan tempat-tempat yang patut dilihat. Dari peta itu pula kami mendapatkan daftar hotel. Kami catat beberapa yang sesuai dengan saku kami. Handoko menelepon menanyakan apakah masih ada kamar buat malam itu. Kami menemukan tempatnya beberapa waktu kemudian, tepat di pinggiran kota Rotterdam.
Petang itu aku menyaksikan pemandangan yang lain dari yang telah kulihat hingga saat itu. Mobil kami tinggalkan di sebuah tempat parkir, kemudian kami memasuki lorong terdekat. Baru setelah berada di daerah tersebut, kelihatanlah betapa rapi dan menariknya jalan-jalan kecil itu. Memang benar etalase-etalase yang disinari lampu temaram di sana berisikan wanita. Mereka berpakaian aneka jenis model, berkisar antara anggun, mencolok, hingga urakan menurut seleraku. Tetapi, pada umumnya para wanita itu berwajah menarik, bersolek seperti akan beraksi di atas
231 bagian-bagian badan yang dirasanya paling menggairahkan. Menghadap ke depan maupun miring, menyuguhkan proil mereka supaya mengait mata calon langganan. Bahkan ada seorang yang bersikap seolah-olah sedang berjemur di panas matahari di pantai atau di kolam renang.
Pada umumnya penghuni etalase itu memegang sesuatu. Ada yang merajut, membaca buku atau majalah. Di samping etalase ada pintu. Jika seorang atau beberapa langganan tertarik, dia memberi isyarat. Mereka berbicara lewat pintu tersebut. Pada waktu ada kesepakatan, rundingan segera berhenti. Langganan menghilang, masuk dari pintu, etalase tertutup oleh korden. Begitulah kurang lebih terlaksananya perdagangan di sana.
Handoko mengajakku berdiri di sudut sebuah persimpangan kecil untuk mengamati beberapa etalase sekaligus. Empat lelaki berkerumun di depan jendela kaca, dua dari mereka melihat ke kaca lain, kembali lagi. Kelakuan mereka tepat seperti seseorang yang sedang memilih barang yang akan dibeli. Dari tempat kami, terdengar komentar manis dan urakan silih berganti mereka ucapkan dengan sikap yang mencolok, seolah-olah itu adalah hal yang amat biasa.
Setelah menyaksikan contoh itu, kami berjalan menelusuri lorong-lorong lain sambil mencari restoran. Tampak beberapa toko tas, sepatu, dan pakaian, dan toko swalayan mini. Yang paling banyak ialah toko benda-benda pornograi, buku dan koleksi foto penggugah nafsu yang sesuai dengan daerah tersebut. Tempattempat pertunjukan tari telanjang dan yang disebut pertunjukan pribadi atau private show juga terselip di antara etalase-etalase. Poster dan papan bergambar dipampangkan dengan keterangan selengkap mungkin. Masing-masing menggunakan gambar dan
232 lebih banyak langganan dan penonton.
Kata Handoko, tidak semua penghuni etalase itu betul-betul wanita. Sebenarnya ada jalan yang khusus merupakan tempat para waria beroperasi. Tetapi seorang atau dua bisa juga terselip di lorong-lorong lain. Etalase-etalase itu ada yang mempunyai stempel atau kode. Hanya langganan yang mengenal betul kebiasaankebiasaan di sana yang mengerti arti tanda-tanda semacam itu.
Di waktu duduk menikmati makan malam, kami berbincang mengenai daerah istimewa yang baru kami kunjungi. Handoko tidak menyembunyikan keheranannya karena aku sudah banyak mengetahui perihal tempat itu. Kuceritakan lagi bahwa aku sering bergaul dengan tamu-tamu Dokter Liantoro. Selain mengajar, melalui kepanduan dan Palang Merah aku sering berhubungan dengan yayasan-yayasan sosial. Aku juga pernah menjadi pengajar sukarela di tempat yang mengurus para pelacur. Wanita-wanita itu dididik dengan keterampilan aneka ragam supaya bisa mencari pekerjaan sebagai anggota masyarakat yang terhormat. Tamu-tamu ayah Ganik adalah golongan cerdik cendekia, para lelaki matang yang merundingkan masalah pelacuran dengan ketenangan dan kedalaman pengertian. Biasanya mereka juga mencari informasi bagaimana dan apa yang terjadi dalam hal perdagangan semacam itu di Indonesia; karena itu memang merupakan sebuah bisnis di Negeri Belanda.
Sedari dulu aku tidak menyembunyikan rasa tertarikku terhadap cara dunia Barat menangani perdagangan tersebut. Di satu pihak, sebenarnya susila harus diselamatkan. Namun di sisi lain, penjajaan dengan cara unik itu sungguhlah menertibkan dan menjaga kesehatan semua pihak. Dipandang dari segi keuntungan, konon devisa yang masuk dari daerah pelabuhan Rotterdam sangat
233 bil tertawa, hasilnya hampir menyamai pemasukan uang dari ekspor bunga potong. Kami berdua menyimpulkan bahwa kalau mau, memang wanita dan bunga bisa disamakan.
Menurut ajaran moral, dan secara formal, tidak ada negara yang membenarkan pelacuran. Tetapi masalah ekonomi, lain halnya. Memang bagi wisatawan yang berpretensi bermoral, menamakan daerah itu tempat mesum. Yang kulihat dari luar, itu adalah tempat yang menyenangkan karena bersih dan menarik. Juga memiliki perdagangan lain dari yang dikhususkan di situ. Filmilm yang dipertunjukkan tidak semua berbau pornograi. Jadi, ada pilihan bagi para pengunjung. Suasana di kafe dan restoran juga sopan, dengan harga suguhan yang tidak lebih mahal dari di tempat lain.
Pendek kata aku puas bisa menyaksikan tempat tersebut. Daerah pelacuran di Tanah Air selalu gelap. Benar-benar mengesankan kemesuman. Seringkali juga kurang aman. Perkataan mesum pun mempunyai arti ganda. Karena selain arti kiasannya, selokan dan sampah berbaur menjadi uap yang tidak sehat. Liburanku akhir pekan yang panjang kuanggap lengkap. Aku sudah bertemu dengan Ganik sekeluarga. Melalui terusan-terusan di Amsterdam aku menikmati pemandangan indah yang mengandung unsur sejarah. Dan akhirnya aku mengenal Rotterdam dengan dunianya tersendiri.
Kusampaikan terima kasihku yang tak terhingga kepada adik iparku. Aku semakin menghargainya sebagai teman, sebagai manusia dengan siapa aku bisa bergaul bebas dan serius. Dia menanggapi apa pun yang kumaksudkan. Dan nyata dia mengerti, bahwa rasa ingin tahuku tidak berdasarkan atas kemanjaan perempuan yang merengek supaya dipenuhi kehendaknya, melain234 serta bertanggung jawab atas masyarakat di mana dia hidup. Aku menyukai penjelasan-penjelasan Handoko yang lancar, tidak berpura-pura mengerti. Dia selalu berterus terang tidak tahu jika memang dia tidak mengetahui masalah yang kutanyakan. Membahas soal seks bersama Handoko bagiku seperti berhadapan dengan Winar maupun Mas Gun. Kami berbicara seobyektif mungkin, sebagai orang intelek. Perbincangan kami tanpa pretensi hendak memperbaiki maupun mengkritik kebejatan susila atau mengagungkan kesalehan diri sendiri. Kami sama-sama menyadari bahwa perdagangan kesantaian sejenak jenis pelacuran itu sudah sama tuanya dengan usia dunia itu sendiri.
Mau atau tidak, seringkali aku membandingkan Handoko dengan kakaknya, suami yang kuakui semakin tidak kuanggap sebagai suami lagi. Bersama Handoko aku mendapat kesan, seolaholah hidup ini bisa disederhanakan meskipun penuh masalah dan tantangannya. Handoko mempunyai pembawaan mampu mengarahkan segala jenis kesukaran ke kesantaian dan humor. Dia mengingatkan aku kepada ayahku. Aku mengagumi bagaimana dia sabar menunggu orang mengutarakan pendapatnya sampai selesai. Di masa aku masih berumahtangga dengan kakaknya, semua perbincangan selalu dimonopoli olehnya. Lebih-lebih setelah aku memutuskan untuk bersikap pasif sebagai cara agar tidak mendapat sebutan istri yang membantah suami. Tampaknya aku adalah istri yang selalu membuntuti dan membenarkan katakata suami, istri tanpa pribadi. Barangkali begitulah kelakuan para istri yang maunya dikatakan baik serta penurut. Walaupun yang sesungguhnya, aku seribu kali tertekan. Karena aku terpaksa mengabaikan rasa harga diriku, demi pandangan lahiriah, kesan orang terhadap diriku.
235 menuju ke penginapan. Keesokannya kami santai berangkat ke Amersfoort, berhenti di mana pun Handoko mau berhenti, atau singgah di tempat-tempat penjual tanaman yang memperagakan bermacam-macam perdu serta bunga amat indah. Di Negeri Belanda, setiap kota ditata penuh dengan cita rasa. Tidak ada kota yang tidak memiliki petak tanah berhias. Setiap musim, bunga di dalamnya diganti.
Tiba kembali di pondokanku, kami masih sempat membenahi apartemen yang telah kutinggal selama tiga hari. Handoko menolong membersihkan balkon dan ruang tamu. Aku mencuci sayur serta mengemasi belanjaan. Kamar tidur bahkan kusapu. Setelah mandi, dengan santai kami makan di depan televisi di ruang tamu. Malam itu Handoko tidur di situ. Kursi panjang di sana cukup lebar dan sangat empuk seperti dipan. Aku juga tidak jarang tertidur di atasnya. Hari Selasa sebelum jam tiga dinihari, kami sudah bangun. Sementara Handoko bersiap-siap, aku membuatkan roti untuk bekal. Dia berjanji akan menjemput teman-temannya di Utrecht, lalu pulang bersama ke Hamburg. Di waktu berpamitan, tanpa ragu-ragu maupun basa-basi, dia mencium kedua pipiku.
Saya akan segera menelepon, katanya. Tangan kirinya masih memegang lenganku.
Kami berpandangan sejenak. Aku menggumamkan jawaban sambil melepaskan diri, membuka pintu yang mengarah ke belakang gedung tempat parkir.
Hati-hati, kataku ketika dia menuruni tangga. Kalau mengantuk, berhenti dulu.
Tanpa menoleh, Handoko mengatakan ya . Aku menunggu di atas tangga. Tiga kali dia mencoba menstarter barulah mesin
236 taman. Sebelum menghilang di lindungan gerbang, Handoko mengeluarkan lengan dan melambai.
*** Hujan semakin sering datang. Suhu udara selalu berada di bawah angka lima derajat Celcius. Kulitku menjadi semakin kering. Dengan warna cokelat yang kumiliki, bagian kaki serta tangan selalu tampak bergurat putih-putih dan berkeriput. Itu mengesankan ketuaan dan kotor. Setiap hari setelah mandi aku menghabiskan waktu untuk memoleskan krim serta memijatmijat kulitku. Kata Ganik, lebih baik aku membeli krim pelembap yang paling umum, tidak terlalu mahal untuk memelihara kulit. Ternyata dia benar. Karena seandainya aku membeli krim lain, anggaranku hanya buat pemeliharaan kulit saja tentulah menjadi besar.
Alur kesibukanku tetap meskipun musim dingin sudah mengetuk pintu. Waktuku masih terbagi antara perpustakaan, kuliah, dan pengamatan di lapangan. Pada hari-hari tanpa keharusan keluar, aku hampir-hampir merasa bahagia karena tidak perlu berada di jalanan menunggu bis atau trem. Terpaan angin dan udara beku sangat menyengat. Kesempatan-kesempatan semacam itu kupergunakan untuk memilihi barang-barang serta kertas-kertasku.
Dua bulan bersekolah di sana, aku menyatakan bahwa kekayaanku bertambah. Terus terang, kerinduan terhadap anakanakku mulai mengganggu. Sri termasuk sering menelepon menyampaikan berita mereka. Tetapi surat ibukulah yang paling berarti bagiku. Tiba-tiba aku menemukan ibuku sebagai seorang
237 ke kanan. Dia menulis di kertas bloknot bergaris. Katanya, sekarang dia menjual bloknot seperti itu beserta alat-alat tulis dan gambar lainnya. Sudah dicapai kesepakatan dengan Sri mengenai pinjaman uang yang cukup besar. Sri mengusulkan agar Ibu mengembangkan warungnya menjadi toko kecil yang lebih semarak, dengan penerangan yang cukup. Di daerah pemukiman itu sekarang ada lebih dari dua rumah yang meniru membuka warung. Telah tiba waktunya ibuku mengubah cara berdagangnya. Kemudian Sri membuat anggaran. Ketika adikku pulang dari Bandung, dia membuatkan rancangan desain sederhana buat toko ibu kami. Toko itu melonjok di halaman depan, mencapai pagar yang membatasi rumah dengan jalan. Bagian belakang warung tetap menjadi tempat penyimpanan dan kamar pembantu. Tambah ibuku dalam suratnya, kini ada lemari kaca memanjangi dinding. Setengah untuk gantungan pakaian sewaan dan yang dijual, setengahnya guna dagangan lain yang terlipat. Di bagian depan, ada lemari kaca buat menyimpan alat tulis-menulis. Di samping itu, Ibu tetap menjual bahan pokok beras, tepung, dan sebagainya. Tetapi semua lebih rapi, disimpan di dalam rak menuruti bungkusan kiloan, seperti yang dijajakan di toko-toko swalayan yang mulai bertumbuhan di kota kami.
Aku gembira sekali mendengar perkembangan tersebut. Kepindahan sahabatku tidak saja baik buat dirinya sendiri. Keluargaku pun turut mendapatkan manfaatnya. Dia mengarahkan ibuku, mengawasi anak-anakku. Hal ini mengurangi kegelisahan yang disebabkan oleh rasa rindu serta kekhawatiranku. Di telepon, Ganik tetap mengusulkan agar aku mau tinggal lebih lama di Eropa. Dua profesor demikian pula. Kalau memang keadaan rumah cukup mantap, mengapa aku ragu-ragu. Sementara itu aku berusaha
238 ambil. Kepada dosen yang menjadi waliku, telah kusampaikan batasan waktuku. Seandainya aku tinggal lebih lama, tentu tidak akan melewati Februari. Jadi tidak akan lebih dari enam bulan. Dan supaya tidak meninggalkan kesan kehampaan, sebegitu ada waktu terluang, aku menyaring catatanku. Sebelum meninggalkan negeri ini, aku ingin membuat rangkuman, kertas yang kutulis dengan bentuk laporan yang setidak-tidaknya mempunyai bobot. Menurut kenalanku para pengajar bangsa Belanda, orang-orang Indonesia yang diberi kesempatan belajar lagi di negeri ini tidak selalu memanfaatkan waktunya untuk menambah ilmu. Bahkan ada seorang profesor yang tanpa sembunyi-sembunyi mengibaratkan mahasiswa Indonesia seperti botol-botol kosong yang dijejerkan, lalu orang Belanda mencurahkan benda cair ke lubang botol-botol itu dengan gerakan cepat ke sana kemari. Mana yang bisa mendapatkan isi banyak, ya syukurlah. Mana yang hanya bisa kemasukan sedikit, nasibnyalah.
Mendengar seorang profesor berbicara seperti itu, aku tidak yakin apakah dia bermaksud menghina ataukah menyatakan bahwa justru para pengajar yang kurang sigap memasukkan benda cair itu ke dalam setiap botol yang kosong . Bagaimanapun juga, kuakui bahwa memang ada orang yang tidak memanfaatkan waktunya untuk menambah ilmu, melainkan untuk berbelanja, untuk bersenang-senang. Dan konon setiap kali ada rombongan baru, di dalamnya selalu ada orang semacam itu. Kulihat sendiri di antara yang seangkatan denganku, ada dua orang yang demikian. Dan konon kebanyakan dari mereka biasanya lelaki. Kesibukan mereka setiap saat ialah membaca iklan untuk mendahului yang lain-lain supaya mengetahui di mana ada obralan barang. Pertun239 menjadi sasaran masa tinggal mereka di negeri orang. Ayah Ganik menyampaikan pendapat rekan-rekannya para profesor asing, katanya siswa-siswa itu seperti kuda yang terlepas dari kendali sebegitu tiba di negeri mereka.
Aku berusaha tidak berbuat seperti mereka. Kegemaranku menonton ilm memang kumanfaatkan benar. Hampir semua ilm yang terkenal menerima hadiah dan kritik bagus, kutonton dengan senang hati. Aku bisa menganggap masa tinggalku di negeri asing sebagai waktu sambil menyelam minum air . Pengendalian diri yang diajarkan orangtuaku ternyata juga dapat kuterapkan selama hidup di dunia yang serba modern itu. Tantangan dan godaan memang tidak sedikit. Berbagai suguhan barang yang bisa dibeli berlimpah-limpah. Dengan bantuan Ganik dan keluarganya, aku mempunyai saku yang dapat dikatakan selalu berisi. Membeli ini dan itu selalu dibisikkan oleh nafsu yang serakah. Untunglah aku dapat mengatasinya, karena dengan memikirkan anak-anak, ibuku dan sahabat-sahabatku, aku dapat mengutamakan membelanjakan uang buat keperluan yang benarbenar berguna bagi mereka. Ibunya Ganik menasihatiku agar membelikan oleh-oleh satu tetapi bagus dan berguna, daripada yang kecil-kecil berjumlah banyak, sedangkan kegunaannya belum dapat dipastikan.
Dan ketika musim dingin menjenguk pertama kalinya, aku betul-betul menyaksikan jatuhnya salju yang melayang-layang turun ke jalanan. Setelah beberapa hari berselang, udara dingin yang menyengat kering tanpa kepingan es maupun salju yang datang. Baru lama kemudian, aku kembali mengalami berjalan di bawah hujan salju. Karena udara kurang dari nol derajat, air beku yang putih itu bertahan tetap beku meskipun melekat di baju mantel
240 paan serpih-serpih yang langsung melekat bersatu.
Untuk seterusnya, salju yang kulihat bukanlah hanya mewakili warna putih yang murni. Aku bahkan melihat dan menghayati kehidupan negara bermusim dingin yang amat sukar. Di waktu salju turun terus-menerus dua atau tiga hari dan udara berada jauh di bawah garis minimum, jalanan tertutup oleh lapisan tebal melebihi tiga puluh sentimeter. Truk penyapu dari kotapraja harus dikerahkan untuk mengeruk dan menyisihkannya ke samping jalan. Di mana-mana timbunan itu bisa mencapai hingga satu meter tingginya. Sedangkan trotoar tempat pejalan kaki pun tidak terhindarkan. Setiap toko dan kantor, bangunan apa pun, bertanggung jawab untuk membersihkan trotoar di depan masing-masing. Setiap hari pada musim itu aku melihat penjaga atau karyawan yang bertugas menyebarkan abu atau garam di atas trotoar sepanjang batas milik mereka guna melelehkan es. Tidak hanya itu. Es yang telah meleleh oleh bubukan garam atau abu juga bisa membeku kembali. Lalu tempat berjalan itu menjadi semakin licin. Para pekerja wajib menjaga supaya depan bangunan yang merupakan tanggungan mereka tetap aman untuk dilewati. Seandainya ada pejalan kaki yang tergelincir di sana, pemilik gedung bertanggung jawab sepenuhnya. Jika orang yang lewat di depan mereka terluka, pemilik gedung harus mengganti biaya pengobatan atau perawatan. Di surat kabar tidak jarang tersiar berita mengenai proses pengadilan berhubungan dengan kecelakaan jatuh di trotoar di musim dingin seperti itu. Adakalanya orang yang mendapat kecelakaan menjadi cacat seumur hidupnya. Tanggung jawab ganti rugi benar-benar diperhatikan dan dilaksanakan di dunia Barat. Maka tidak mengherankan jika para penjaga gedung mempunyai kerja yang semakin sulit di musim
241 depan bangunannya dapat dilalui orang dengan baik.
Sebelum menyaksikan sendiri betapa keadaan musim dingin yang sesungguhnya itu, aku tidak pernah membayangkan bagaimana sukarnya pengalaman berada di tengah-tengah kehidupan negeri itu. Di Tanah Air, kebanyakan orang berpikir, bahwa musim dingin berarti salju yang putih dan lembut seperti kapas. Selalu menjadi tanda pesta akhir tahun. Di Indonesia, musim dingin juga biasa kami, adik-adik dan ibuku, kaitkan dengan nyanyian Bing Crosby yang terkenal The White Christmas, dengan lagu Jingle Bells. Bayangan kami juga terdiri dari anak-anak atau orang dewasa yang berlempar-lemparan bola salju atau membuat arca manusia salju yang gendut lucu. Kenyataan yang kuhidupi di luar negeri sangat berlainan. Semua yang bagus-bagus dan menggembirakan itu barangkali memang terlihat di tempat-tempat pariwisata, di kota-kota di mana para pelancong menghabiskan liburan mereka. Kata kenalan-kenalanku bangsa Belanda, salju yang telah melekat di jalanan kota besar selalu tampak kotor karena pencemaran udara. Sedangkan di kota-kota berketinggian tertentu, tempattempat liburan misalnya, salju yang turun dan tetap beku di atas trotoar atau jalanan berwarna lebih putih sehingga masih ada kesan keindahan dan kebersihannya.


Jalan Bandungan Karya Nh Dini di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kehidupan yang kualami di Negeri Belanda di musim dingin ternyata lebih sukar. Salju yang berwarna putih hanya berlangsung sebentar. Memang yang terkait dan tertumpuk di atap gedung kelihatan beberapa waktu berkilau hampir kebiruan karena kemurniannya. Itu lebih awet daripada yang tertimbun di atas jalanan maupun trotoar. Setelah dilindas dan dilalui roda kendaraan atau kaki orang, warnanya berubah menjadi kelabu kotor. Jika suhu udara menurun sedikit, malahan becek seperti
242 mengenakan sepatu bersol kulit dengan bentuk biasa, tidak akan dapat lewat di situ dengan mudah. Konon tahun itu merupakan musim dingin terkeras sejak sepuluh tahun belakangan. Barangkali aku bisa menganggap diri beruntung menyaksikannya. Namun untuk keluar meneruskan kegiatanku seperti biasanya, aku semakin mendapatkan kesulitan. Untuk mencapai tempat perhentian bis, ada bagian-bagian trotoar yang selalu lebih licin dari lainnya. Walaupun sudah ditaburi garam atau abu, aku selalu merasa sulit menjaga keseimbangan badan bila berjalan di situ. Sepatu hangat yang naik hingga ke lutut cukup melindungiku dari sengatan udara beku. Tetapi solnya dari karet tetap kurang aman. Atau barangkali karena memang aku tidak biasa berjalan di atas es, sehingga aku tidak pernah yakin akan keselamatanku. Lalu seorang kenalanku bangsa Belanda memberiku akal. Aku disuruh mencari, jika perlu membeli, kaus kaki dari wol yang jauh lebih besar dari ukuran kakiku. Kaus itu aku pakai di luar sepatu. Ternyata cara itu sangat membantu sehingga aku dapat berjalan lebih cepat. Bagaimanapun juga, aku masih harus selalu waspada di mana menapakkan kaki.
Pengalaman itu membikinku melayangkan pikiran ke Tanah Air. Semula kehidupan di Indonesia kuanggap yang paling sukar bagi sebagian rakyatnya. Aku dan keluargaku sendiri tidak jarang mengeluh. Rupa-rupanya kesukaran yang kami alami itu masih bisa dipandang ringan jika dibandingkan dengan yang kulihat di negeri bermusim dingin. Luar negeri bagi orang-orang Indonesia selalu menimbulkan kesan hidup sejahtera. Masing-masing penduduk memiliki rumah gedung dan mobil. Memang itu ada kebenarannya. Tetapi hidup enak yang didapatkan oleh masingmasing penduduk di dunia Barat ternyata merupakan hasil dari
243 menantang berbagai kesulitan, gigih dan tak gentar menghadapi ancaman serta kesukaran. Satu dari kesukaran itu ialah bertahan hidup mengatasi musim dingin. Meskipun musim-musim lain juga mempunyai cacat atau kekurangannya. Umpamanya musim gugur dan musim semi yang membawa hujan besar, banjir atau topan. Semua itu bisa membobolkan bendungan dan tanggul jembatan, serta melahap hasil pertanian dan perikanan. Tidak jarang pula terjadi bencana alam yang menghancurkan daerah pemukiman serta membunuh penduduk. Pada akhirnya, semua jenis kehidupan, di mana pun sama saja. Masing-masing tempat memiliki tantangan maupun kemudahan atau keenakannya. Semua tergantung pada ulah, sikap, dan sifat manusia dalam menanggapinya; di samping, tentu saja, pengetahuan dan pemanfaatan hasil kecerdasan otak manusia yang berupa kemajuan teknologi. Ditunjang pula oleh keterampilan pemutaran ekonomi negara masing-masmg.
Memikirkan orang sebangsa yang memandang luar negeri sebagai tempat yang selalu bisa memberi kebahagiaan, aku teringat kepada penduduk pedesaan di Tanah Air. Semakin banyak dari mereka yang meninggalkan tempat asalnya, menuju ke kotakota besar terdekat atau di lain provinsi pun. Kota bagi mereka merupakan sumber lapangan kerja dan hidup enak. Desa bagi mereka berarti kerja berat tapi yang hanya menghasilkan uang sedikit. Oleh perubahan zaman terlalu cepat serta kurang tepat penerapan cara-cara modern tertentu di tempat-tempat tertentu, kaum muda pada umumnya tidak lagi dididik untuk memiliki sifat hemat, tekun, serta waspada. Tiga jalan hidup yang dalam kesatuan di Jawa disebut gemi, setiti, ngati-ati. Kcbanyakan anak menjadi remaja yang berkeinginan cepat kaya, supaya bisa hidup seenak mungkin. Kebahagiaan dan kesejahteraan hi244 kepercayaan mereka. Dunia kebendaan adalah yang utama, lebih dimenangkan daripada kejiwaan. Ini merupakan ciri-ciri sifat masyarakat modern. Dipandang dari luar, tampaknya keimanan orang Indonesia kuat, sehingga seharusnya mampu mengatasi keserakahan yang menggerogoti jiwa dan kesederhanaan hati mereka.
Ketika akan berangkat ke luar negeri, aku singgah beberapa hari di Jakarta menuruti undangan seorang bekas teman sekelas. Sekarang dia menjadi istri pejabat Bea dan Cukai. Temanku itu berhasil mengumpulkan tujuh bekas teman sekolah lain, dan kami bertemu untuk makan siang. Pada waktu itulah aku menyatakan rasa keasinganku berada di antara mereka. Suamisuami mereka adalah direktur bank, pejabat di dua kementerian, dokter terkemuka di rumah sakit swasta termahal di Ibukota, pejabat humas sebuah perusahaan penerbangan. Teman itu mengundangku barangkali memang atas dasar kekawanan. Tetapi hatiku yang usil menemukan alasan lain, ialah karena aku istri tahanan politik yang berhasil diundang ke luar negeri berkat prestasiku sendiri. Jika mereka pergi ke luar negeri tentulah karena uang atau jabatan suami mereka. Dari tujuh bekas teman sekolah itu, tentu saja ada yang memandangku dengan rasa iri, di samping ada pula yang terang-terangan mengutarakan kekagumannya, Kamu kok hebat! Bisa diundang sekolah ke luar negeri! Entah bagaimanapun tekanan suara yang diberikan, aku berusaha untuk tidak mentafsirkannya secara negatif.
Sebenarnya, bagi orang-orang seperti mereka, pergi ke luar negeri bukan lagi merupakan sebuah kejadian. Untuk membikinkan gigi baru, ada yang pergi ke Filipina. Untuk melahirkan, menginap di rumah sakit terbesar di Singapura. Untuk meme245 nyakit, pergi ke Tokyo. Terus terang aku tidak iri mendengar cerita masing-masing. Aku hanya kecewa ketika mereka mulai bercerita mengenai anak-anak mereka. Tanpa kekecualian, ketujuh ibu itu masing-masing dengan caranya mengatakan tidak pernah bisa menolak permintaan anak mereka. Bagaimanapun dan apa pun permintaan itu. Pendapat mereka ialah, kalau dulu mereka sebagai anak-anak hidupnya kurang berkecukupan, sehingga di waktu menyembelih ayam seekor pun harus dibagi buat dua belas anggota keluarga, jika kini mereka mempunyai semuanya, mengapa tidak memberikan ayam goreng sekenyang-kenyangnya hingga si anak muntah sekalipun. Mempunyai anak tiga yang duduk di SMA harus berarti satu mobil seorang. Selain sekolah mereka jauh dan tidak semuanya masuk bersamaan pagi atau siang, dengan adanya mobil buat masing-masing anak, mereka sebagai orangtua juga tenang, karena bisa mempergunakan kendaraan dengan sopirnya semau mereka. Di waktu ada keperluan rapat atau kumpul-kumpul seperti hari itu, tidak enak jika teringat harus menjemput anak pada jam tertentu. Itu benar-benar sangat mengganggu pikiran, serempak kata ibu-ibu itu. Tambahnya lagi, biar pada hari Minggu atau liburan, anak-anak bisa bersama kawan mereka ke gunung. Kasihan, karena Jakarta begini panas!
Sungguhlah mereka beruntung menjalani kehidupan yang serba mulus itu. Dan siang itu ketika aku bersendirian di dalam kamar untuk beristirahat, aku pun mengucap syukur pula karena turut merasakan kenyamanan tiduran di atas kasur berbau wangi, di kamar yang disejuki alat pendingin. Meskipun masih memikirkan kelemahan para orangtua yang kaya, yang semuanya mengeluhkan pembelotan anak mereka, yang mengaku bahwa semuanya memiliki kesukaran berkomunikasi secara akrab dengan
246 itu tidak menjauhiku sebagai istri tahanan politik. Aku agak heran mengapa dia tidak khawatir kalau-kalau kedudukan suaminya terganggu oleh kehadiranku di rumahnya. Ini besar artinya bagiku. Aku juga memaafkan sikapnya yang amat bangga mengatakan, bahwa anak-anaknya semua mendapat SIM dengan cara mengelabui mata polisi karena mengaku berumur lebih dari yang sebenarnya. Dalam hati aku hanya berdoa, supaya anak-anak itu, lebih-Iebih yang termuda, cukup sadar, bahwa menyetir mobil tidak hanya berarti bertanggung jawab terhadap keselamatan diri serta orang-orang yang ada di dalam kendaraannya, melainkan juga terhadap orang lain yang ada di jalanan. Termasuk pejalan kaki, sopir, dan penumpang mobil lainnya.
* * * Hari itu aku mengurus bermacam-macam surat penting di Den Haag. Sudah kukabarkan kepada Ibu dan anak-anak bahwa aku akan tinggal sampai akhir bulan Februari. Musim dingin di Negeri Belanda memang tidak menyenangkan, tetapi kegiatan riset dan ceramah tetap berlangsung di tempat-tempat yang tidak terlalu jauh dari pondokanku. Ganik malahan menyarankan agar aku mempergunakan liburan akhir tahun untuk pergi ke Paris. Selain akan mengambil izin tinggal yang diperpanjang yang telah diuruskan KBRI, aku juga menyalami teman serta rekan Ganik di bagian konsulat. Sebegitu aku masuk kantornya, dia langsung berkata bahwa adik iparku baru saja keluar dari ruangannya. Dia menelepon anda dari sini tadi. Tapi anda tidak ada. Sejak pagi sekali saya sudah berangkat, kataku menjelaskan. Dia baru saja keluar, dan sambil berkata, teman itu mene247 sudah keluar. Katanya lagi meneruskan, Dia akan ke Paris mengikuti pertemuan Pelajar Indonesia.
Biasanya musim semi diadakan pertemuan, bukan" tanyaku karena pernah mendapat keterangan demikian dari Ganik.
Benar. Kali ini katanya untuk membicarakan rencana pertandingan catur di Cannes, bersamaan dengan festival ilm nanti. Kapan dia ke Paris"
Saya tidak tahu tepatnya. Bagian visa mungkin bisa memberi informasi kepada anda. Kalau dia naik mobil, kalau berangkat dari sini, anda bisa ikut.
Aku sendiri belum tahu kapan berangkat. Tetapi aku diam saja, langsung ke bagian visa. Pasporku sendiri kuambil karena telah selesai diurus. Tetapi petugas di sana tidak mengetahui apaapa mengenai rencana Handoko dan kawan-kawannya.
Keluar dari KBRI, tiba-tiba aku merasa lesu. Berjalan ke perhentian bis cukup mudah. Beberapa hari itu udara yang dingin lumayan cerah. Matahari bersinar kuning. Sisa-sisa onggokan salju yang disisihkan ke tepi jalan serta meminggiri trotoar, rapi dan sama sekali tidak mengganggu. Setelah naik bis, sampai di stasiun, naik dan turun tangga, lalu duduk menunggu datangnya kereta api. Semuanya kukerjakan dengan lamban. Meskipun itu adalah gerakan yang telah biasa kulakukan, tapi aku sadar bahwa ada beban berat di dalam diriku. Sebentar-sebentar aku melihat sekeliling dan belakangku dengan harapan akan menemukan Handoko. Di perhentian dan dari dalam bis aku mengamati semua mobil berwarna biru tua yang biasa disetir Handoko dan teman-temannya.
Untuk menghindari keramaian jalan di waktu pegawai berpulangan, aku biasa meneguhi prinsipku, ialah sudah berada di jalan
248 tiga kurang seperempat aku telah turun dari bis, beberapa blok jauhnya dari tempat tinggalku. Ketika berangkat pagi tadi aku mempunyai rencana akan belanja. Siang itu niatku kubatalkan. Aku khawatir Handoko akan menelepon lagi. Jadi aku buru-buru pulang. Sampai di apartemen, di meja dapur kulihat kertas berisi pesan yang mengatakan bahwa Dokter Liantoro menelepon dari Jerman, bahwa Handoko menelepon dari Kedutaan.
Hingga saat siaran televisi berakhir dan aku masuk ke kamar, tidak ada panggilan telepon lagi. Sebelum tidur, aku biasa membaca buku atau majalah. Ayah Ganik telah mengirimiku satu sampul besar berisi guntingan teka-teki silang bahasa Inggris. Setiap malam aku berusaha mengisi kotak-kotak pengasah otak itu. Selain untuk menguji keterampilan bahasaku, juga untuk membuatku semakin lelah sehingga mudah tertidur. Namun malam itu, setelah seharian bepergian dengan berjalan kaki, amat sukar aku terlena. Berbagai pikiran mengganggu. Aku bahkan mencurigai si pemilik rumah yang memang terlalu rewel mengenai hal telepon. Dia tidak senang aku menerima panggilan alat modern itu. Barangkali karena ini menyebabkan dia bekerja, mondar-mandir memanggilku. Sebab itu, menurut pengalaman selama empat bulan di sana, kalau dia merasa malas, dia hanya menjawab bahwa aku tidak ada atau bahwa dia akan menyampaikan pesan. Padahal sewa yang dibayarkan juga termasuk pemakaian telepon yang datang dari luar. Karena pada waktu aku memerlukan menelepon, aku pergi ke telepon umum di pojok jalan.
Malam itu, tidurku tidak nyenyak. Sebentar-sebentar seperti ada dering telepon di kejauhan. Jam empat pagi aku mendengar lonceng gereja. Kali itu aku bangkit, memutuskan untuk benarbenar bangun. Barang-barang yang akan kukirim mendahuluiku
249 pagi buta itu aku mulai mengangsur mengepaknya di dalam kardus-kardus. Hari itu aku tidak mempunyai rencana. Kalau udara nyaman, aku ingin melihat-lihat toko buku dan tempat perbelanjaan untuk mencari tambahan benda-benda kecil yang bisa kubawa sebagai oleh-oleh di Tanah Air. Kira-kira setengah enam, ketika aku baru keluar dari kamar mandi, kudengar bel pintu berbunyi. Sebelum membukanya, kuintip melalui lubang kecil yang ada di tentangan kepalaku.
Oh, sebentar, kataku dengan gugup, dan cepat membuka rantai pengaman serta kunci.
Belum melangkah masuk, Handoko langsung menciumku. Tangan yang mencengkeram lenganku masih bersarung kulit kasar, tetapi wajahnya dingin menyentuh pipiku.
Sudah bangun, Mbak" Maafkan saya, pagi-pagi sudah menyerbu. Saya khawatir kalau menelepon terlalu pagi akan mengganggu yang punya rumah. Sedangkan kalau kesiangan, Mbak Mur sudah pergi.
Aku menjawab apa saja untuk menenangkannya sambil mendahului menuju ke dapur. Handoko mengikutiku dan meneruskan, Kemarin sebegitu sampai dari Hamburg, saya mencoba menghubungi anda. Tapi anda sudah berangkat. Masalahnya, kali ini saya tidak bebas karena tidak bawa mobil sendiri. Ini tadi saya menyerobot kendaraan orang tempat saya menginap. Dia bilang, saya bisa memakainya sampai jam setengah dua belas. Saya mengurus surat penting. Kami akan ke Paris minggu depan.
Aku mendengarkan penjelasannya. Panci berisi air sudah di atas api, lalu aku membalikkan badan. Kulihat Handoko menaruh bubukan kopi ke dalam cangkirnya dan mengangkat muka. Kami berpandangan sejenak tanpa mengatakan sesuatu pun.
250 dangku. Aku mengangguk. Sebentar kuamati dia mengisi cangkirku. Air sudah panas. Kucurahkan ke dalam cangkir kami. Handoko bangkit mengambil roti di dekat jendela, memasukannya ke dalam alat pemanggang.
Saya tahu anda ke KBRI kemarin, kataku.
Aku duduk. Ganti Handoko yang sibuk, membuka lemari es mencari mentega dan keju. Mengambil botol-botol selai dan meletakkan semuanya di atas meja. Dia kembali ke dekat jendela. Kuperhatikan saudara iparku baik-baik. Aku merasa dia tidak setenang waktu-waktu yang lalu. Ataukah ini hanya perasaanku sendiri" Karena aku pun demikian. Sejak mengetahui bahwa dia ada di Negeri Belanda, sejak kemarin malam menunggu teleponnya, sejak melihat dia berdiri di depan pintu; bahkan kini melihatnya setengah bersandar di tempat cucian piring pun aku kebingungan karena detak jantungku yang terlalu cepat. Saya juga akan ke Paris, akhirnya berita itu kusampaikan. Oh ya" Betul" Kapan" Kata-kata itu bersambungan dengan lajunya. Sinar cerah yang terpancar di mukanya tidak menutupi kegembiraannya.
Ya, kataku. Barangkali hari Rabu atau Kamis pekan depan ini. Sambil menunggu pertemuan bersama dengan para dosen saya, Ganik menyuruh saya ke Paris. Atase Kebudayaan di sana teman baik keluarga Dokter Liantoro.
Di mana dia tinggal"
Di Rue Raynouard. Kata Ganik, tidak jauh dari Kedutaan. Bagus, kata Handoko, wajahnya semakin bersinar oleh pandangnya yang nyata puas.
251 mula menguasainya, kini te1ah meninggalkannya.
Lalu dia meneruskan, Saya akan sibuk kira-kira dua hari. Paling lama tiga. Sesudah itu, bebas. Kita bisa membuat rencana bersama. Saya antar Mbak Mur ke mana-mana. Ke mana yang anda sukai"
Kami makan sambil berunding, mencari serta mempertimbangkan bagaimana sebaiknya. Sebenarnya Handoko bersama temantemannya akan berangkat hari Sabtu sore. Setelah mengetahui bahwa aku belum membeli karcis, dia berkata ingin menemaniku naik kereta api.
Bagaimana dengan teman-teman anda"
Itu tidak menjadi soal. Kalau saya naik kereta, meskipun anggaran bertambah, di mobil ada tempat satu lagi untuk kawan lain. Saya ingin lebih banyak bersama Mbak Mur. Kita tidak sering mempunyai kesempatan untuk bertemu. Apalagi bepergian berdua.
Mungkin dia tidak bermaksud untuk menyenangkan hatiku dengan mengucapkan kalimat tersebut. Tetapi hatiku bergetar. Aku menunduk untuk menyembunyikan pengucapan wajahku yang barangkali akan mengkhianatiku.
Hari itu jam sepuluh, ketika kami meninggalkan kantor pariwisata dinas kereta api di stasiun, karcis sudah kami bawa. Handoko akan naik dari Rotterdam, aku di Rosendaal. Tempat duduk kami sudah diberi nomor yang berdampingan. Pada waktu kereta berhenti di Rosendaal, dia akan turun ke peron menolong mengangkat koporku. Janji pertemuan dan kebersamaan selama beberapa hari itu memberiku rasa kehangatan. Perasaan nyaman di waktu Handoko berada di dekatku sama seperti jika aku ber252 bisa cepat mengambil keputusan.
Bepergian di tempat asing tidak pernah memberiku ketenangan. Yang tidak kukenal selalu mengkhawatirkanku. Berpesiar ke Paris memang enak. Dan aku sadar bahwa aku beruntung karena dibantu oleh Ganik beserta lingkungan dekatnya. Tapi meskipun begitu, aku yakin tidak akan keluar berjalan-jalan sendirian. Bahasa Prancis tidak kukenal sedikit pun. Sebagai turis aku bisa mempergunakan bahasa Inggris. Tapi kudengar orang-orang Prancis di jalanan amat tinggi hati. Pada umumnya mereka tidak mau mempelajari bahasa-bahasa lain. Sikap mereka dalam banyak hal juga tertutup. Aku yakin, selama sepuluh hari berada di Paris tidak akan pergi jauh jika tidak ditemani Yu Kartini, kenalan baik Ganik. Aku dapat pula memastikan bahwa seandainya berada di luar negeri bersama Winar atau Mas Gun, perasaan kenyamanan yang kualami tentulah berbeda. Teman-temanku itu memang memberiku perasaan tenang. Winar pernah diundang ke Amerika dan bermukim tiga bulan di sana. Tetapi ketenangan yang kudapatkan jika aku bersama Handoko sudah dapat kupastikan tidak sama seperti yang kualami pada saat aku bersama lelaki lain. Bagaimana menerangkannya" Aku sendiri pun tidak mengetahui rasa apa sebenarnya yang menyeluruhi diriku. Ada sedikit tantangan. Barangkali harapan" Dia iparku. Menurut tradisi dan ajaran yang patut, seharusnya segala rasa tertarik antara perempuan dan lelaki terhapus dari hatiku.
Dan memang telah lama sekali aku tidak merasakan tantangan ataupun harapan semacam itu. Handoko cukup tampan. Tidak mirip seorang pun dari saudara-saudaranya. Lahir dari bapakibu yang masing-masing mempunyai warna kulit cokelat dan kuning, semua anak yang kukenal menuruti hanya satu pihak.
253 bapaknya, kulitnya pun cokelat. Handoko lain. Wajahnya campuran dari kedua orangtuanya, dengan bentuk lebih lebar memanjang. Hampir persegi. Kulitnya cokelat. Rambutnya adalah yang paling kusenangi. Hampir tujuh tahun hidup di Eropa tentulah mempengaruhi pancaran yang tersimpan di wajahnya. Dia kelihatan lebih tua dari umurnya yang sembilan tahun di bawahku.
Semakin aku mengenalnya, semakin aku merasa tertarik kepadanya. Dia tanggap bahwa aku tidak suka membicarakan kakaknya. Seakan-akan dia mengerti bahwa aku ingin menggariskan batas antara hidupku yang lampau dengan masa kesendirianku.
Antara Budi Dan Cinta 4 Putri Bong Mini 04 Iblis Pulau Neraka Iblis Pemanggil Roh 2

Cari Blog Ini