Ceritasilat Novel Online

Kelelawar Hijau 12

Kelelawar Hijau Lanjutan Payung Sengkala Karya S D Liong Bagian 12


tak bakal salah lagi"
Sekali lagi sekujur badan Janda kawin tujuh kali bergetar
keras. tanpa sadar ia bergumam seorang diri:
"Jangan2 aku akan kawin dengan siluman tua itu..."
tapi...aah masa iya?"
"Benar dialah orangnya...nona bakal kawin dengan
orang yang kau maksudkan itu."
Janda kawin tujuh kali segera tertawa dingin.
"Heeehh-heeehh-heeehhh... engkau tahu siapakah yang
kumaksudkan?"
"Aku bukan seorang anggota dunia persilatan. tentu saja
tidak tahu siapakah orang itu, tapi aku dapat melukiskan
bentuk wajah serta potongan badan orang yang nona
maksudkan itu"
"Kalau engkau dapat menebak secara jitu, nonamu
segera akan menghadiahkan kembali sepuluh tail lagi"
Paras muka Hartawan berhati keji berbunga, dengan
muka berseri katanya:
"Harap nona suka menyerahkan lebih dahulu hadiah
yang nona janjikan itu, bagaimanapun toh kalau aku salah
bicara maka engkau masih dapat mendepak tendaku ini"
Janda kawin tujuh kali tertawa dingin.
"Heehh...heehh...heeehh... kalau engkau dapat
melukiskan raut wajah orang itu secara tepat, engkau
benar2 adalah dewa hidup,."
Sambil berkata ia merogoh kedalam sakunya, dan
serahkan sepuluh tahil perak. keatas meja.
Tanpa banyak bicara Hartawan berhati keji menyambar
uang diatas meja dan segera dimasukkan kedalam sakunya.
"orang itu berusia tujuh puluh tahunan, badannya tinggi
besar dan mukanya penuh bopeng putih..."
Janda kawin tujuh kali tak dapat menahan emosinya
lagi, ia segera menjerit kaget,.
"Woou.. engkau.,, benar2 seorang dewa
hidup,,.ramalanmu sungguh lihay"
Hartawan berhati keji menyeringai dan tertawa senang,
sambil menggertak gigi ujarnya:
"Nama besar ong setengah dewa sudah amat tersohor
dimana-mana empat penjuru kolong langit tak ada yang tak
kenal namaku, kalau cuma meramal begitu saja sih urusan
keciL. apabila nona bersedia untuk mengorbankan uang
sebesar dua puluh tahil perak lagi, maka akan kutunjukkan
sebuah jalan terang bagimu"
Janda kawin tujah kali jadi mendongkol bercampur
jengkel, ia berteriak keras:
"Uang dalam saku nonamu tinggal tiga puluh tahil perak
belaka, apakah engkau hendak menguras semua isi
kantongku hingga ludas?"
Hartawan berhati keji tersenyum. "Tangan nona halus
dan empuk itu tandanya selama hidup tak akan kekurangan
uang asal engkau kirim satu kerlingan mata yang aduhai. .
tanggung uang akan datang sendiri ketanganmu."
"coba kau terangkan dahulu jalan terang apakah yang
hendak kau tunjukkan kepadaku?""
"Aku dapat membuat engkau jadi manusia nomor satu
didalam dunia persilatan, mulai saat ini bukan saja apa
yang kehendaki akan terpenuhi, tak pernah kekurangan
uang lagi, bahkan setiap malam bakal ada pemuda tampan
yang kuat dan gagah menemani kau tidur."
Janda kawin tujuh kali jadi tertarik sekali oleh obrolan
tersebut, dengan Cepat dia ambil keluar dua puluh tahil
perak dari sakunya dan diletakkan keatas meja, serunya,
"Ayoh cepat katakan"
Dengan cekatan Hartawan berhati keji masukkan uang
perak itu kedalam sakunya, lalu berkata:
"Dari sini menuju kearah barat. ketika hampir mendekati
kaki tembok kota terdapat sebuah kebun bunga yang besar
milik keluarga Siok. tempat itu sangat sepi. terpencil dan
sudah lama tak pernah dihuni orang, tetapi didalam kebun
bunga yang amat luas itu terdapat pelbagai macam
bangunan loteng serta gardu istirahat yang sangat indah,
malam nanti mendekati kentongan ketiga, berangkatlah
menuju kegedung tersebut, sebelum berangkat dandan dulu
yang ayu agar kelihatan lebih menarik hati. apa bila sudah
mengadakan pertemuan dengan setan tua itu. gunakanlah
kesempatan yang sangat baik itu untuk mencuri benda
mustika yang dimilikinya, asal benda mustika itu berhasil
kau dapatkan maka engkau akan jadi manusia nomor satu
dikolong langit?"
Timbul kecurigaan dalam hati Janda kawin tujuh kali
setelah mendengarperkataan itu, dia segera menegur:
"siapakah sebenarnya engkau" darimana engkau bisa
tahu tentang urusan dunia persilatan?"
"Pepatah kuno mengatakan: kalau seorang siucay tak
pernah keluar pintu rumah. dia tak akan tahu urusan dunia.
Aku mendapat julukan setengah dewa, masa urusan sekecil
itu saja tidak tahu.,. apakah engkau tidak terlalu menghina
akan kepandaianku?"
Janda kawin tujuh kali segera bangkit berdiri, dengan
enteng ia bergerak maju kedepan. tiba2 ia merasa sakit hati
sekali karena lima puluh tahil perak telah kabur dengan
begitu saja, sambil tertawa dingin ia menerjang kemuka dan
menyambar saku Hartawan berhati keji yang berada
dihadapannya. Rupanya Hartawan berhati keji sudah menduga sampai
kesitu, tubuhnya yang bulat bagaikan bola daging segera
bergerak mundur kebelakang dengan suatu gerakan
cekatan, serunya sambil tertawa cekikikan.
"Hiiihh...hiiihh...hiiihh.. nona.,.engkau jangan sok
bergurau aah.. aku selama hidup paling takut geli.. jangan
me-ngitik2 pinggangku..."
Dengan suatu gerakan yang manis dia menghindarkan
diri, dengan demikian cengkeraman yang dilancarkan Janda
kawin tujuh kali mengena disasaran yang kosong.
Melihat serangannya gagal, perempuan cabul itu merasa
agak tidak puas, dengan jurus macan tutul unjukkan cakar,
sekali lagi dia cengkeram saku orang itu. Hartawan berhati
keji segera berteriak keras2:
"Aduuuh..tolong...tolong.. .perempuan ini hendak
merampas uang perakku. . .tolong ... ada begal perempuan.
. . " Sambil gembar-gembor dia melarikan diri kearah orang
banyak, teriakan tersebut segera memancing perhatian
orang banyak dan didalam waktu singkat sekitar tempat itu
telah dikerumuni orang banyak.
Dalam keadaan demikian terpaksa Janda kawin tujuh
kali harus urungkan maksudnya tanpa memperdulikan diri
Lampu hitam pengejar nyawa lagi dia kabur lebih dahulu
menuju ketengah kerumunan orang banyak.
Keadaan yang dialami Lampu hitam pengejar nyawa
jauh lebih mengenaskan lagi tujuh puluh tahil perak kena
tertipu binasa ludas, dengan wajah uring2an terpaksa ia
kabur menuju ketengah kerumunan orang banyak.
Setelah dua orang pria dan wanita itu lenyap dari
pandangan mata Hartawan berhati keji baru unjukan diri
dari tempat persembunyiannya sambil mengerahkan
tubuhnya yang bulat bagaikan gentong ia dekati catatan
mati hidup sambil menegur, "Toa-ya daganganmu hari ini
tentu sukses bukan?"
"Waah payah sekali deh." jawab catatan mati hidup
dengan cepat, "aku Toa-ya sudah bersilat lidah putar bibir
berusaha untuk menjebak cecunguk itu tapi sama sekali tak
ambil gubris setengikpun aku tidak dapat bagaimana
dengan Ji-ya?"
HARTAWAN berhati keji gelengkan kepalanya yang
bulat gede seperti biligo jawabnya.
"Aaai. .toa-ya, engkau toh tahu sebetulnya aku jie-ya
masih punya setahil uang perak...sungguh tak nyana
mencuri ayam tak berhasil, malahan uangku sendiri kena
dirampas..sungguh sialan"
Lam-kong Pak yang secara diam2 mengikuti jalannya
peristiwa itu segera memaki dalam hati kecilnya setelah
mendengar jawaban tersebut:
"Kurang ajar, mereka benar2 setan pelit dalam saku
masing2 terdapat puluhan tahil perak. tapi diluaran tak mau
bicara sejujurnya, entah apa yang sedang mereka lakukan
ditempat ini" biarlah kuintil terus gerak-gerik mereka
berdua" Sementara pemuda itu masih termenung, catatan mati
hidup telah berkata lagi:
"Ji-ya urusan sekecil ini buat apa dibicarakan biarlah hari
ini aku toa-ya yang menjamu dirimu, apalagi ketika tempo
hari aku kalah bertaruh satu meja perjamuan sampai
sekarang toh belum kubayar, ayoh kita cari rumah makan."
"Benar juga perkataan dari toa-ya. ayoh berangkat" sahut
Hartawan berhati keji dengat cepat, "didengar dari
pembicaraan toa-ya tersebut. dapatlah dibuktikan kalau
hubungan persaudaraan diantara kita berdua tak bisa
dibandingkan dengan persaudaraan manapun juga . kalau
ada kesempatan aku ji-ya pasti akan balas menjamu diri toaya
juga ." Dua orang manusia ajaib itu segera tinggalkan tenda
tempat usaha mereka dan berangkat menuju kesebuah
rumah makan yang besar dan mentereng.
Diam2 Lam-kong Pak mengintil dibelakang mereka
berdua, dengan suatu gerakkan yang manis dia berhasil
mencari tempar duduk ditengah ruangan.
Dua orang makhluk ajaib tersebut memilih tempat duduk
disebelah luar, setelah duduk catatan mati hiduppun
berkata: "Ji-ya, ini hari aku sengaja akan memilih sendiri sayur
yang akan dipesan, agar kita berdua bisa menikmati
masakan yang lezat dengan se-puas2nya"
"Hooree... toa-ya, engkau memang royal sekali." teriak
Hartawan berhati keji sambil bertepuk tangan kegirangan.
"toa-ya, engkau tentu tahu bukan beberapa hari belakangan
ini perutku terasa amat masam dan kering, lebih baik
pilihlah menu sayur yang banyak mengandung minyak
babi" "ooah...tentu saja..tentu saja.. asal ji-ya tidak merasa
Canggung. aku pasti tak akan membuat dirimu jadi
keCewa" Habis berkata catatan mati hidup segera bangkit berdiri
dan turun dari loteng untuk pesan sayur, beberapa saat
kemudian ia muncul kembali disamping rekannya sembari
berkata: "Ji-ya, sungguh tak disangka kita harus berjumpa dengan
kedua orang gembong iblis itu disini"
"Perhitungan dari majikan sun selamanya jitu dan tepat.
ia telah memperhitungkan bakal ada beberapa orang
gembong iblis akan munculkan diri disini. pekerjaan kita
tidak lebih hanya mendorong ombak membantu gelombang
agar dua orang gembong iblis itu mencari penyakit buat diri
sendiri. sungguh tak disangka mereka benar2 tak takut mati.
malam ini pasti ada pertunjukkan bagus disini."
Mendengar perkataan tersebut. satu ingatan secara cepat
berkelebat dalam benak Lam-kong Pak, tahu rombongan
yang dipimpin ibunya sudah pasti berada disekitar tempat
ini, sedangkan kedua orang makhluk ajaib itu hanya
menjalankan tugas yang diperintahkan kepada mereka
untuk menipu habis uang perak yang dimiliki Lampu hitam
pengejar nyawa serta Janda kawin tujuh kali kemudian
disuruh mereka pergi menempuh bahaya.
sementara ia masih termenung, dari anak tangga
berkumandang suara gemericikan kayu yang berdenyit,
tanpa berpalirg lagi Lam-kong Pak. dapat menduga kalau
malaikat raksasa Loo Liang-jan pasti sudah munculkan diri
disitu, sebab langkah kaki orang lain tak mungkin seberat
itu, apabila membuat seluruh ruangan bergetar keras.
Sedikitpun tidak salah, terdengar Loo Liang-jan berteriak
keras setibanya dihadapan dua orang manusia jelek^
"Aku Loo-tua mendapat tugas untuk jual silat ditempat
ini dengan tujuan untuk melindungi kerja kalian berdua,
sebetulnya aku berhasil mendapat untung beberapa tahil
perak, siapa tahu uangku kena dicuri oleh kadet2 sialan,
untung kalian berdua mendapat keuntungan besar, ini hari
aku Loo-tua akan ikut makan sampai se-puas2nya"
"Loo Liang-jan takaran perutmu terlalu besar dan
mengerikan, kami tak mampu memberi makan dirimu"
teriak catatan mati hidup dengan cepat, "jamuan yang
kuadakan pada hari ini semuanya telah menelan biaya
sebesar tujuh delapan tahil perak. bagaimana kalau kuberi
dua tiga tahil perak kepadamu" tapi kalau lain kali engkau
sudah bertemu dengan Lam-kong sauya, jangan lupa untuk
mintakan ganti buat diriku loo"
"oooh. sudah tentu, sudah tentu, engkau tak usah kuatir"
Tak lama kemudian pelayan muncul sambil membawa
dua baki besar serta dua teko arak.
setelah dihidangkan keataS meja Hartawan berhati keji
segera mendengus dingin. Dengan muka masam ia berseru:
"Toa-ya, sayur apaan ini?"
"oooh... ji-ya, engkau benar2 tak tahu diri, masih ingat
tidak sewaktu tempo hari engkau mengatakan sedang sakit
perut dan menceret, bukankah engkau katakan jangan
pesan makanan yang terlalu mengandung minyak" aku
telah pesankan beberapa piring sayur mayur untukmu,
akhirnya engkau malah tak senang hati. Barusan engkau
mengatakan kalau belakangan ini kurang makan hidangan
yang berminyak. maka sengaja toa-ya pesan kepada koki
agar siapkan sayur yang mengandung banyak minyak
babinya, coba lihat sayur ini bernama Ang-sio Ti-ba kulit
babi masak kecap"
Loo Liang-jan yang rakus sama sekali tidak ambil perduli
kulit babi atau bukan, sumpitnya dengan cepat bekerja
untuk sikat hidangan tersebut.
Hartawan berhati keji memandang sayur lain yang
dihidangkan- kemudian sambil mendengus serunya
kembali: "Toa-ya, lalu apa nama sayur ini?"
"Oooh sayur ini namanya duri ikan masak saus"


Kelelawar Hijau Lanjutan Payung Sengkala Karya S D Liong di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hartawan berhati keji kontan tertawa dingin.
"Hahh..heehh.,heehh...aku cuma pernah dengar
masakan Hi-sit sirip ikan, belum pernah dengar ada sayur
yang bernama duri ikan masak saus. IHuuh coba lihat,
mana lihat daging ikannya" masa engkau anggap aku
sebagai kucing yang doyan makan duri2 ikan sisa orang
lain?" Tak lama kemudian pelayan muncul kembali
menghidangkan delapan macam sayur dan satu macam
kuah, diantaranya terdapat masakan ikan asin digoreng.
tahu masak kecap. kuah sari daging sapi dan lain-lain...
Hartawan berhati keji segera bangkit berdiri dengan hati
mendongkol serunya.
"Toa-ya, aku tak berani menerima jamuan makanmu
ini.. kalau toh Loo Liang jan tidak merasa keberatan, biar
dia yang menemani engkau makan-. aku mau pesan satu
mangkuk nasi goreng saja"
"Ji-ya, mau makan atau tidak itu urusanmu sendiri,
pokoknya aku toa-ya sudah menjamu dirimu, kalau engkau
menampik maka lain waktu jangan salahkan aku lagi"
Dengan hati mendongkol Hartawan berhati keji pesan
nasi goreng dan bersantap dimeja lain, sementara si catatan
mati hidup dan Loo Liang jen melahap hidangan yang
berada didepan mata.
Dari meja seberang, Hartawan berhati keji sempat
berseru dengan rasa mendongkol:
"Hey, Loo Liang-jan- engkau tertipu mentah2 kalau
Cuma hidangan semaCam itu sih tak bakal kelewat dari dua
tahil perak. toa-ya kalau suruh kau ganti tiga tahil itu
namanya selain dia makan dengan gratis engkau malah
disuruh nombok satu tahil perak lagi"
Loo Liang-jan tidak ambil perduli urusan tetek bengek
seperti itu, yang paling penting bagi dirinya adalah isi
perutnya yang lapar.
Kuah daging sapi yang begitu encer segera diteguk habis.
kemudian ia menguras pula sisa2 kulit babi yang masih ada
diatas baki. setelah itu dia minta satu gentong nasi seorang
diri ia habiskan separuh gentong lebih.
Pada saat itulah... dari arah anak tangga berkumandang
suara langkah kaki manusia. disusul seseorang munculkan
diri dalam ruang loteng, orang itu bukan lain adalah Kakek
ombak menggulung.
Hartawan berhati keji segera putar biji matanya,
kemudian serunya dengan suara lantang:
"Hey setan tua malam ini ditengah kebun bunga keluarga
Siok bakal dilangsungkan suatu pertunjukkan bagus. aku
dengar katanya payUng sengkala benda mustika dari dunia
persilatan itu sudah terjatuh ketangan Janda kawin tujuh
kali, kalau engkau ada maksud untuk mengincar benda
mustika tersebut, jangan lupa untuk berangkat kesitu lihat
keramaian-.."
Kakek ombak menggulung tertawa dingin.
"Heehh..heehh..heehh...payung sengkala berada
ditangan suhengku Bintang yang bertaburan diangkasa Liok
Hoa Seng. lebih baik engkau jangan bicara sembarangan
yaa" "Kakak seperguruanmu telah terpikat oleh kegenitan
Janda kawin tujuh kali, setelah permainan satu babak
ternyata secara diam2 payung sengkala tersebut telah dicuri
oleh Janda kawin tujuh kali, menurut berita yang kudengar.
saat ini perempuan tersebut sedang bersembunyi ditengah
kebun bunga keluarga Siok"
sekali lagi Kakek ombak menggulung tertawa dingin.
"Heehh-heehh-heehh...kalau kejadian itu benar, masa
engkau sendiripun tidak tertarik untuk ikut serta dalam
perebutan payung sengkala tersebut?"
"Waaahh...kalau kami sih tak punya ambisi untuk ikut
memperebutkan benda mustika itu, karena walaupun punya
payung sengkala belum tentu kami mampu untuk
melindunginya. oleh sebab itu aku sama sekali tidak
tertarik... kalau engkau tidak percaya yaa sudahlah,
bagaimanapun toh sebentar lagi Lam-kong sau-ya bakal
datang kemari,.."
Nama besar diri Lam-kong Pak pada saat ini berbeda
jauh dengan keharuman namanya dimasa silam, Kakek
ombak menggulung tidak berani berdiam terlalu lama
disitu, sengaja ia berlaku santai dan perlahan turun dari
loteng. Selesai bersantap diam2 Lam-kong Pak menguntil
dibelakang dua orang makhluk ajaib serta Loo Liang-jan, ia
lihat beberapa orang itu masuk kedalam sebuah rumah
penginapan, dia pun segera ikut pesan sebuah kamar
dirumah penginapan yang sama.
Sang surya telah condong keufuk sebelah barat, tak lama
kemudian haripun jadi gelap. Lam-kong Pak menggunakan
kesempatan yang sangat baik itu untuk bersemedi dan
mengatur pernapasan selama satu dua jam didalam
kamarnya sendiri, dalam waktu singkat semua rasa penat
dan lelah yang semula menyelimuti tubuhnya hilang tak
berbekas, bahkan ia merasakan adanya segulung aliran
hawa panas yang amat kuat memasuki jalur peredaran
hawa murninya dan ikut mengelilingi seluruh badannya.
Pemuda itu tak berani membuang waktu terlalu lama.
selesai bersemadi berangkatlah dia menuju kehalaman
belakang, sebab ia tahu rombongan yang dipimpin oleh
ibunya saat itu berdiam disederetan kamar yang berada
diujung paling belakang.
Dari salah satu ruang kamar. secara lapat2 Lam-kong
Pak mendengar ada suara pembicaraan yang amat lirih,
dengan cepat ia dekati ruangan itu.
Dengan cepat dia kenali suara pembicaraan adalah
ibunya. sedangkan lawan berbicaranya bukan lain adalah
ayahnya. kenyataan tersebut sangat menggirangkan
hatinya, dengan cepat ia hampiri jendela kamar yang lainPada saat itu dia dengar seorang dara muda dengan
suara yang nyaring sedang berkata:
"Enci Hiang, siau-moay ada sepatah dua patah kata
hendak ditanyakan kepadamu. cuma selama ini aku merasa
kurang enak untuk mengutarakannya keluar, karena sudah
lama terpendam dalam perutku maka lama kelamaan aku
merasa andai kata tidak diucapkan keluar, maka akhirnya
aku yang bakal sengsara sendiri. oleb sebab itu
menggunakan kesempatan yang sangat baik ini hendak
kuutarakan kepada cici. entah setelah mendengar perkataan
itu apa cici bisa marah kepadaku?"
Suara pembicaraan itu bukan lain adalah cu Li- yap.
Terdengar Pek li Hiang dengan cepat menjawab:
"Adik Yap hubungan kita sudah melebihi saudara
sekandung sendiri, apa yang hendak kau ucapkan segeralah
diutarakan keluar, kenapa musti canggung atau malu" apa
engkau anggap diriku sebagai orang luar?"
"Sebetulnya...sebetulnya-,..agak malu aku utarakan
persoalan ini kepadamu. ehmm lebih baik tak usah
dibicarakan lagi aah... aku malu"
"Eeeh. ..kenapa sih kalau bicara mencle-mencle. ayoh
dong kalau mau bicara. awas ya, kalau engkau tak mau
ucapkan keluar aku ogah bicara dengan kau lagi.. ayoh
cepat katakan"
cu Li- yap tampaknya masih sangsi, tapi setelah didesak
terus menerus akhirnya toh ia berbicara juga :
"Selama ini,.. apakah engko Pak pernah melakukan...."
Apa yang diucapkan selanjutnya tak sempat didengar,
sebab suara bisikan tersebut amat lirih sekali melebihi
bisikan nyamuk. sulit bagi Lam-kong Pak yang
bersembunyi diluaran untuk menangkap pembicaraan itu.
Beberapa saat kemudian terdengarlah Pek-li Hiang
tertawa cekikikan lalu dengan nada mengomel sahutnya:
"Kau harus beritahukan dahulu kepadaku dengan kau
apakah dia sudah."
"Belum pernah" jawab cu Li- yap sambil gelengkan
kepalanya berulang kali.
"Akupun belum pernah" sambung Pek-li Hiang dengan
cepat. Lam-kong Pak yang bersembunyi diluar kamar segera
angkat bahu, dengan ringan ia mendorong pintu dan masuk
kedalam ruanganMula2 dua orang gadis itu tampak agak terperanjat
ketika menyaksikan kemunculan seseorang didalam kamar
mereka. tapi sesaat kemudian dengan girang mereka lari
kedalam pelukannya sambil berseru manja:
"Kau jahat kau jahat apa yang kami bicarakan barusan
pasti sudah kau dengar"
= =000000000= =
"APA SIIH yang barusan kalian bicarakan." seru Lamkong
Pak sambil berlagak pilon, "aku sama sekali tidak
mendengar, apakah kalian bersedia untuk ulangi kembali
apa yang barusan kalian bicarakan itu?"
cu Li- yap dan Pek-li Hiang saling bertukar pandangan
sekejap. kemudian tertawa cekikikan.
Lama sekali cu-li Yap baru berkata:
"coba kau tebak apa yang sedang kami bicarakan
beberapa saat berjelang?"
"Baiklah aku akan coba untuk menerkanya, bagaimana
kalau aku dapat menebaknya secara jitu ?"
"Kalau engkau bisa menebak secara jitu, maka apa yang
kau inginkan dari kami akan kami berikan tanpa
membantah" sahut Pek-li Hiang sambil tertawa.
"Baik. kita tetapkan dengan ucapanmu itu, eeei... jangan
coba menghindar yaa kalau betul"
"Jangan kuatir, kami tak akan main curang" ujar orang
gadis itu menyahut bersama.
Lam-kong Pak gelengkan kepalanya sambil pura2
berpikir keras dengan dahi berkerut, lama sekali ia baru
bergumam seorang diri:
"Kalau berani menjanjikan hadiah yang begitu besar buat
diriku, itu berarti apa yang sedang kalian bicarakan pastilah
susah ditebak dengan akal sehat. ...atau dengan perkataan
lain aku harus memikirkan dari persoalan2 yang tidak
biasa...."
Tiba2 sianak muda itu menepuk batok kepalanya sendiri.
se-olah2 seseorang yang mendadak memahami akan
sesuatu, dengan cepat ia berseru: "Aaah mungkin apa yang
kutebak tak akan keliru."
Meskipun cu Li yap dan Pek-li Hiang tidak perCaya
kalau pemuda itu dapat menebak apa yang barusan mereka
bicarakan, tak urung juga paras muka kedua orang gadis itu
berubah jadi merah padam karena jengah, serunya dengan
cepat, "ciiss jangan ngibul dulu... sampai tua pun jangan harap
bisa menebak persoalan itu dengan jitu"
Lam-kong Pak tersenyum misterius, dengan suara yang
amat lirih dia berbisik:
"Bukankah kalian berdua sedang saling menanyakan
kepada lawannya. apakah pernah mengadakan hubungan
senggama dengan diriku" ayoh...betul tidak?"
Dua orang dara cantik itu agak terperangah, kemudian
dengan ter-sipu2 mereka tundukkan kepalanya rendah2,
lama sekali mereka tak mampu mengucapkan sepatah kata
pun "Bagaimana?" Betul bukan tebakanku?"" teriak Lamkong
Pak dengan suara keras.
"ciiss tak tahu malu, tebakanmu keliru besar." teriak cu
Li-yap pula sama kerasnya"Engkau berani sumpah dihadapan Thian- atau
pengakuanmu itu tidak bohong?""
cu Li-yap makin ter-sipu2, tanpa banyak bicara lagi ia
segera jatuhkan diri kedalam pelukan pemuda itu sambil
omelnya: "Kau jahat..kau jahat...aku tak mau tahu aaah.. kalau
kau jahat lagi. Aku tak mau pedulikan kau"
Sekali rangkul Lam-kong Pak memeluk gadis2 itu
dengan kencang. katanya:
"Nah kalian kalah bukan" ayohlah sekarang siapa kalah
musti Penuhi apa yang telah dijanjikan sebelumnya,
sekarang aku mau tuntut hadiahnya dari kamu berdua."
"Apa yang kau inginkan?" tanya cu Li-yap dan Pek-li
Hiang hampir berbareng.
"Tentu saja aku inginkan suatu pekerjaan yang paling
menyenangkan bagi umat manusia."
"Suatu pekerjaan yang paling menyenangkan bagi umat
manusia?" seru cu Li-yap keheranan, "apa itu" apa engkau
bersedia menerangkan lebih jelas lagi?"
"Bagi seorang pria muda semaCam aku maka pekerjaan
yang paling menyenangkan ialah lulus ujian negara serta
menikmati malam pengantin, karena itu sekarang aku
inginkan yang terakhir itu dari kalian berdua"
cu Li-yap dan Pek-li Hiang seketika merasakan
jantungnya berdebar keras, tapi mereka pura2 berlagak
bodoh, kembali tanyanya, "Jadi apa yang kau inginkan dari
kami berdua" kami bingung jadinya."
Lam-kong Pak tertawa ter-bahak2, ia rangkul dua orang
gadis itu makin erat, bisiknya:
"Aku ingin tidur bersama kalian berdua, kemudian aku
akan ajak kalian berdua untuk menikmati Sorga dunia yang
katanya sangat nikmat itu... mau bukan ?"
Dua orang gadis manis itu jadi malu sekali. mereka
memukul dada sianak muda itu dengan tinjunya yang
halus, tentu saja pukulan itu tidak keras. sementara paras
mukanya berubah makin merah padam. Melihat dua orang
gadis itu tidak mengucapkan sepatah katapun, kembali
Lam-kong Pak berkata: "Apa yang musti kalian takutkan"
setiap umat manusia yang hidup dikolong langit pasti akan
merasakan nikmatnya sorga dunia tersebut, hanya saja
persoalannya tergantung sekarang atau nanti... ayohlah
sayang, kalian tak usah takut, tidak sakit kok."
Suasana hening untuk beberapa saat lamanya. tiba2 Pekli
Hiang buka suara dan alihkan pokok pembicaraan kesoal
lain, katanya^ "Engkoh Pak. tahukah engkau kalau empek Lam-kong,
empek Lu serta oei cianpwee telah datang semua kemari "


Kelelawar Hijau Lanjutan Payung Sengkala Karya S D Liong di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ehmm Aku sudah tahu."
"Engkoh Pak" ujar cu Li-yap pula dengan sedih,
"tahukah engkau, lantaran kedatangan empek Lam-kong
kemari, telah timbul suatu peristiwa yang kurang
menyenangkan?"
"Apa yang telah terjadi?" seru Lam-kong Pak dengan
wajah terperangah. "Ibuku telah lenyap tak berbekas, entah
kemana dia sudah pergi...?"
Terhadap peristiwa tersebut Lam-kong Pak sama sekali
tidak merasa aneh. ia tahu dimasa lampau cu Hong Hong
secara diam2 mencintai ayahnya, hal ini mengakibatkan
timbulnya perasaan dendam dalam hati Sian-yan Peng
terhadap ayahnya, tetapi ia sama sekali tak menduga kalau
mereka yang sudah berusia lanjut dalam kenyataan masih
mempunyai watak seperti anak kecil.
"Engkau tidak berusaha untuk menemukan kembali
ibumu yang pergi tanpa pamit?" tanya Lam-kong Pak
kemudian- "Aaah.. siapa bilang aku tidak berusaha untuk
mencarinya" kami secara be-ramai2 sudah berangkat
melakukan pencarian, wilayah sekitar seratus li dari kota ini
sudah kami geledah selama dua hari ber-turut2, namun
sama sekali tiada kabar berita yang berhasil didapat, a a i...
mama memang agak keterlaluan-"
"Engkau tak usah kuatir" hibur Lam-kong Pak dengan
suara lembut, "bibi cu tidak akan pergi terlalu jauh dari sini
Aa a ii... mereka semua telah dicelakai oleh Cinta, engkau
tahu" ayahmu Sian-yan Peng bakal melangsungkan pula
pertarungan yang amat seru melawan ayahku"
Tanpa diminta, Lam-kong Pak segera menceritakan
semua kejadian yang dialaminya selama berada dilembah
tersebut. serta semua peristiwa yang terjadi belakangan ini"
kemudian ia menambahkan:
"Ini hari aku lihat sepasang manusia jelek dari wilayah
Hay-thian buka tenda menjadi tukang ramal, menurut apa
yang kudengar rencana tersebut muncul dari usul ibuku,
apakah kalian tahu apa maksud yang sebenarnya dengan
segala macam perbuatan itu?"
"Kami telah menemukan kalau Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng bersembunyi didalam kebun
bunga keluarga Siok." sahut Pek-li Hiang menerangkan,
"secara diam2 mereka ditugaskan untuk mengawasi gerak
geriknya. kami ingin tahu apakah masih ada gembong iblis
lainnya yang berada ber-sama2 dirinya. dan terakhir kami
temukan kalau cuma Kakek ombak menggulung seorang
yang berada ber-sama2 dirinya."
Lam-kong Pak tertawa dingin sehabis mendengar
keterangan tersebut, ujarnya.
"Kedua orang gembong iblis itu sama2 mempunyai
kepentingan pribadi yang saling bertentangan, kerja sama
mereka sebetulnya diselubungi oleh niat busuk yang amat
keji. Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
bersedia menerima kakek ombak menggulung sebab dia
hendak memperpunakan tenaganya. sedangkan kakek
ombak menggulung bersedia digunakan tenaganya karena
dia ingin merampas payung mustika itu dari tangan kakak
seperguruannya. meskipun sekarang nampaknya akur dan
bisa bekerja sama dalam kenyataan keadaan mereka
ibaratnya harimau dan srigala hidup dalam satu liang, cepat
atau lambat akhirnya pastilah akan terjadi suatu
pertarungan seru yang mengakibatkan kedua orang itu
saling bunuh membunuh"
"Malam ini empek Lam-kong, empek LU empek oei
Serta Bibi Lam-kong Sekalian akan melakukan
penyelidikan kedalam kebun bunga keluarga Siok." seru cu
Li-yap. "engkau ada minat untuk pergi kesana tidak"
Mungkin pada saat ini mereka semua telah berangkat lebih
dahulu" "Barusan aku masih sempat mendengar suara ayah dan
ibuku sedang ber-cakap2 dalam kamar, aku rasa mereka tak
akan berangkat dalam saat2 sepagi ini."
"Aku dengar katanya mereka akan berangkat agak
pagian, agar gembong iblis tua itu sama sekali berada diluar
dugaan" seru Pek-li Hiang dengan cepat.
"Kalau begitu biarlah kutengok dulu mereka, kalau
ternyata beberapa orang itu sudah berangkat maka akupun
segera akan menyusul mereka kesana, kalian berdua lebih
baik menunggu disini saja. karena dengan andalkan payung
mustika tersebut. kekuatan yang dimiliki gembong iblis tua
itu jadi hebat dan luar biasa sekali"
"Tidak kami tak mau tinggal disini, kami mau ikut
bersama, Kau jangan tinggalkan kami disini sendirian,"
rengek kedua orang gadis itu hampir berbareng.
Lam-kong Pak didesak sehingga jadi merasa apa boleh
buat, terpaksa ia mengajak dua orang gadis itu untuk
menengok keruang sebelah, ternyata beberapa orang itu
sudah berangkat maka ketiga orang muda mudi itupun
segera meneruskan perjalanan menuju kearah barat.
sebelum kentong kedua menjelang, mereka telah sampai
ditempat tujuan.
Walaupun kebun bunga dari keluarga Siok termasuk
harta peninggalan dari seorang pedagang kaya raya tetapi
berhubung keturunannya sama sekali sudah pUnah maka
tiada orang yang mengurusi lagi harta warisan tersebut oleh
sebab itu tempat ini jadi puing berserakan yang sama sekali
tak berpenghuni. dari rakyat jelata yang hidup disekitar
sanapun tak ada yang berani menempatinya.
Setibanya diluar dinding kebun, Lam-kong Pak segera
menyambar tubuh kedua orang gadis tadi, lalu satu
dikempit dikiri yang lain dlkanan, ia enjotkan badan
melayang tutun kebalik kebun tadi gerakan tubuhnya
enteng dan lincah sekali
Ditengah kebun bunga tersebut terdapat sebuah
bangunan bertingkat yang amat tinggi, semuanya terdiri
dari empat tingkat pada waktu itu cahaya lampu yang redup
memancar keluar dari tingkat kedua secara lapat-lapatpun
dari ruangan itu berkumandang suara pembicaraan
manusia. Lam-kong Pak segera menyembunyikan dua orang gadis
itu ketengah semak belukar.
kemudian dia sendiri melayang keluar jendela tingkat
kedua, dari situ dia melongok kedalam ruangan,
Tampaklah Janda kawin tujuh kali dan Lampu hitam
pengejar nyawa roboh terkapar diatas tanah, meskipun
masih hidup namun mereka tak dapat berkutik, sebab jalan
darahnya telah tertotok.
Sedangkan Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng duduk berhadapan dengan Kakek ombak menggulung.
mereka sedang minum arak sambil ber-cakap2. Terdengar
kakek ombak menggulung sedang berkara^
"Suheng, apa yang hendak kau lakukan untuk
menghukum kedua orang bangsat ini ?""
"Tentu saja kita tak boleh biarkan mereka tetap hidup
dikolong langit, jagal saja sampai mampus"
"Suheng, sebelum hukuman dijatuhkan apakah engkau
bersedia untuk menghadiahkan Pui Kun Janda kawin tujuh
kali itu kepada siau-te?" pinta kakek ombak menggulung.
"Baiklah cuma engkau mesti bersikap sangat hati2, sebab
aku lihat perempuan ini bukanlah seorang perempuan yang
sederhana"
"Siau-tepunya cara untuk mengendalikan dirinya" kata
kakek ombak menggulung dengan nada meyakinkan.
la segera mendekati Lampu hitam pengejar nyawa dan
menotok jalan darah kematiannya, kemudian
membebaskan jalan darah yang ada ditubuh Janda kawin
tujuh kali seraya berkata:
"Pui Kun, sejak sekarang engkau sudah jadi milikku. aku
harap engkau jangan coba2 main gila lagi yaa, Hmm kalau
tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku bertindak keji
kepadamu."
Pui Kun Janda kawin tujuh kali mengerling sekejap
kearah kakek tua itu, kemudian serunya:
"Sejak lama aku sudah menaruh rasa kagum dan hormat
yang luar biasa terhadap kalian suheng-te berdua.. tak usah
kuatir, apa yang berdua inginkan pasti akan kupenuhi tanpa
membantah."
Seraya berkata ia melemparkan sebuah kerlingan maut
kearah Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng,
bahkan duduk pula disamping gembong iblis berwajah
bopeng itu. Menyakslkan tingkah laku dari perempuan binal itu,
diam2 Kakek ombak menggulung mendengus dingin, tapi
diapun tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Tampaklah Bintang yang bertaburan diangkasa Liok
Hoa Seng mengamati sekejap wajah Janda kawin tujuh kali,
tiba2 ia merangkul perempuan itu dan didekapnya kedalam
pelukan, Kakek ombak menggulung semakin tertegun melihat
perbuatan dari kakak seperguruannya. sorot mata yang
memancarkan cahaya bengis terlintas diatas wajahnya,
saking gusar dan terpengaruh oleh emosi sampai2 sayur
yang berada dalam jepitan sumpitpun sampai terjatuh
keatas meja, dari sini bisa dibayangkan betapa marah dan
dendamnya jago tua tersebut terhadap Janda kawin tujuh
kali serta kakak seperguruannya. cuma saja ia tak berani
mengumbar hawa amarahnya itu.
Dipihak lain Janda kawin tujuh kali tertawa terkekehkekeh
dengan cabulnya, bersandar dalam rangkulan
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng sambil
memberi minum iblis tua itu dengan arak wangi, dengan
senang hati gembong iblis tersebut menerima layanan maut
dari perempuan tersebut.
"Sute " serunya kemudian dengan suara lanang,
"perempuan ini tidak jadi kuberikan kepadamu, aku hendak
memakainya buat diriku sendiri"
Kakek ombak menggulung tetap membungkam dalam
seribu bahasa, tapi saking mendongkolnya sekujur
badannya gemetar keras.
Janda kawin tujuh kali yang berada dalam pclukan
Bintang yang bertaburan diangkasa Lok Hoa Seng,
menggesek-gesekan payudaranya keatas badan gembong
iblis tersebut, sedang tangannya melayani iblis tua itu
minum arak begitu syaduh dan mesrah keadaannya
membUat kakek ombak menggulung semakin mendongkol
dibuatnya. Suatu ketika.... tiba-tiba Janda kawin tujuh kali
melancarkan sebuah totokan kilat menghajar jalan darah
siau-hay-hiat ditubuh Bintang yang bertaburan diangkasa
Liok Hoa seng, kemudian tanpa membuang waktu ia
sambar payung sengkala yang tergantung dipunggung iblis
tua itu dan melayang mundur lima enam langkah dari
tempat semula, tertawa jalangnya kian lama klan bertambah
nyaring, Bagaimanapun juga Bintang yang bertaburan diangkasa
Liok Hoa Seng adalah seorang jagoan lihay yang
berkepandaian tinggi, ketika ujung jari lawan menempel
diatas tubuhnya tadi, buru2 jalan darahnya digeserkan
kearah lain- Kendati begitu, tak urung sekujur badannya sempat jadi
kaku juga untuk beberapa saat lamanya, disebabkan karena
itulah sewaktu Pui Kun merampas payung sengkala yang
tergantung diatas punggungnya, dia sama sekali tak mampu
untuk turun tanganUntuk beberapa saat lamanya dua orang gembong iblis
itu dibikin terperangah tanpa mengetahui harus berbuat
apa, kejadian ini benar2 suatu peristiwa yang memalukar
sekali, mereka tak mengira bakal kecundang di tangan
seorang perempuan cabul.
Dengan muka masam dan mata melotot penuh
kegusaran- Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng segera besseru desgan suara berat:
"Pui Kun serahkan kembali payung mustika itu
kepadaku, percuma saja engkau miliki payung itu sebab
walaupun engkau andalkan senjata tersebut, akhirnya toh
tetap bukan tandinganku"
"Aaah aku tidak percaya...kalau engkau ingin ambil
kembali payung ini, silahkan untuk coba merampasnya
sendiri" sahut Janda kawin tujuh kali sambil tertawa
sekikikan- Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng sama
sekali tidak berkutik dari tempatnya semula, sedangkan
Kakek ombak menggulung tanpa banyak bicara segera
menerjang kedepan,
Menyaksikan datangnya tubrukan itu, Pui Kun sijanda
kawin tujuh kali segera menggerakkan payung sengkalanya
untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
"Blammm.." ditengah suatu bentrokan kekerasan yang
amat memekikkan telinga. Kakek ombak menggulung kena
dihajar sampai jatuh jumpalitan diudara.
Menggunakan kesempatan yang amat baik Janda kawin
tujuh kali melayang turun diatas pagoda tersebut, siapa tahu
baru saja kakinya menempel diatas permukaan tanah,
sesosok bayangan manusia laksana sambaran kilat telah
meluncur memapaki datangnya perempuan itu.
Janda kawin tujuh kali Pui Kun menjerit kaget, sebelum
dia tahu apa yang sudah terjadi, tahu2 payung mustika yang
berada dalam genggamannya sudah berpindah tangan.
Lam-kong Pak yang mengikuti jalannya peristiwa itu
dari tempat persembunjiannya cuma bisa gelengkan
kepalanya berulang kali, ternyata orang yang turan tangan
secara cepat itu bukan lain adalah Suma Ing.
Dalampada itu Bintang yang bertaburan diangkasa Liok
Hoa Seng serta kakek ombak menggulung telah melayang
turun dari atas pagoda.
Setelah mengetahui kalau payung mustika itu terjatuh
ketangan Suma Ing, Bintang yang bertaburan diangkasa
Liok Hoa Seng segera maju kedepan seraya berkata.
"Suma Ing, serahkan payung mustika itu kepadaku, aku
akan menerima engkau sebagai muridku yang terakhir"
Suma Ing tertawa dingin.


Kelelawar Hijau Lanjutan Payung Sengkala Karya S D Liong di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Huuuhh... untuk mempertahankan payung mustika
inipun engkau tak becus. mau apa terima aku sebagai
mUrid" Hmm Benar2 manusia bermUka tebal"
Merah padam selembar wajah Bintang yang bertaburan
diangkasa mendengar sindiran itu, dengan gusar ia
membentak keras lalu menerjang maju kedepanKakek ombak menggulung tanpa mengucap sepatah
katapun mengikuti dari arah belakang. Bintang yang
bertaburan diangkasa tahu kalau orang yang mengikuti dari
belakang tubuhnya adalah adik seperguruan sendiri, ketika
mendengar desiran angin lewat dia segera berpaling
kebelakang. Dengan gerakan itu maka terjangannya kearah depanpun
mengalami kegagalan total, sementara Suma Ing dengan
gampang berhasil menghindarkan diri dari tempat itu,
"Sute apa yang hendak kau lakukan?"" hardik Bintang
yang bertaburan diangkasa dengan suara keras.
"Siau-te ingin membantu suheng untuk membekuk
bajingan cilik itu, engkau harus tahu kalau Suma Ing
bajingan cilik itu mempunyai banyak sekali permainan
setan, apabila engkau bertindak kurang hati2 maka bisa jadi
akan tertipu oleh siasat licinnya" Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeehh-heeehh-heeeh...maksud baikmu biarlah aku
terima dalam hati, lebih baik kau..."
Pada saat itulah tiba2 dengan suatu gerakan yang cepat
bagaikan sambaran kilat Lam-kong Pak meluncur ketengah
gelanggang dan menyambar payung mustika tersebut.
Suma Ing cepat2 putar senjata balas menghantam tubuh
sianak muda itu. sementara dua orang gembong iblis
tuapun secepat sambaran petir melancarkan cengkeraman
maut keatas punggung Lam-kong Pak.
Dewasa ini mereka lebih rela apabila payung mustika itu
untuk sementara waktu berada ditangan Suma Ing,
daripada benda mustika tadi terjatuh ketangan Lam-kong
Pak^ sebab kedua gembong iblis itu tahu bahwa ilmu
silatnya yang dimiliki Lam-kong Pak tanpa mustika pun
sudah luar biasa dahsyatnya, apa lagi kalau memiliki
payung sengkala yang mempunyai kekuatan maha dahsyat
itu, Dalam keadaan begini terpaksa Lam-kong Pak harus
menyelamatkan diri lebih dahulu, cekatan tubuhnya
mundur tiga langkah kebelakang, terhadap mundurnya
pemuda itu maka posisi Suma Ing malah jauh lebih
menguntungkan, ia selamat dari gangguan bahkan tak usah
turun tangan sendiri untuk menghadapi serangan2 dari
Lam-kong Pak. karena dua orang gembong iblis itu selalu
menghalangi serangan Lam-kong Pak yang diarahkan
kepada dirinya.
"Sreeet sreeet sreeet " secara beruntun empat sosok
bayangan manusia munculkan diri dari belakang
gunung2an, orang pertama adalah Awan hitam pengejar
rembulan oei ci-hu. kemudian disusul manusia yang suka
pelancongan Lu It Beng, sedang dibelakangnya
mengikutiJago angin guntur Lam-kong Liu serta Sun Han
Siang. Lam-kong Pak segera berjalan mendekati rombongan
ayah ibunya dan berkumpuljadi satu komplotan.
"Sreet sreeet Sreeet " Kembali tujuh delapan sosok
bayangan manusia melayang masuk ketengah gelanggang.
orang pertama yang munculkan diri lebih dahulu adalah
Sian-yan Peng atau ketua dari perkumpulan bulu hijau,
diikuti oleh Ngo-hoa-bak daging lima warna oei Hun. Pihek
Cuncu Datuk hitam tebal chin Tong Ho bu-sang Setan
gantung hidup Gou Jit Pat-pit-lul-kong dewa geledek
berlengan delapan Si put Slu. BU siang-to golok tanpa
tandingan Hong Goan. Tiat-sau-ciu sapu baja Kim Kiu,
Tiat-pan-than bangku besi oh Sik Kay serta Sui sang-biau
melayang diatas air Ma Tie sekalian beberapa orang.
Apakah kelompok yang dipimpin oleh Sian-yan Peng
dapat bekerja sama dengan rombongan dari Lam-kong Liu
untuk menghadapi dua orang gembong itu atau tidak. yang
jelas posisi sangat tidak menguntungkan dua orang iblis tua
tersebut. Dengan suara mendalam Bintang yang bertaburan
diangkasa Liok Hoa Seng segera berkata^
"Suma Ing. engkau harus tahu diri lihatlah, sebagian
besar jago2 persilatan yang berada dihadapanmu adalah
kelompok manusia yang memusuhi dirimu dan tak dapat
hidup berdampingan dengan engkau, mereka amat
membenci dirimu, ingin menghirup darahmu dan makan
dagingmu ..walaupun sekarang engkau hendak kabur, tak
mungkin kau bisa lolos dari kejaran mereka."
Suma Ing menyeringai seram. sahutnya:
"iblis tua, engkau tak usah pakai akal busuk membohongi
diriku apa lagi menggertak aku sehingga takut... Huuhh
semakin banyak orang yang berkumpul disini semakin baik
bagi diriku. karena posisiku jauh lebih aman lagi...engkau
tak percaya" silahkan saja menyaksikan sendiri"
Habis berkata ia segera duduk bersila keatas tanah dan
turunkan kantong rangsumnya sambil menggigit bak-pao
dan ayam goreng ia menikmati santapannya dengan
nikmat, se-akan2 disekitar tempat itu sama sekali tak orang
lain- Ber-puluh2 orang jago lihay yang berada disekeliling
tempat itu melotot dan mengawasi gerak geriknya tanpa
berkedip. siapa pun tak ada yang berani turun tangan lebih
dahulu karena siapa berani turun tangan itu berarti harus
menanggung resiko dikerubuti orang banyak.
Suma Ing tertawa terbahak-bahak. sambil
memperlihatkan separuh ayam gorengnya ia berkata kepada
bintang yang bertaburan di angkasa:
"Haaah-haaah-haaahh... iblis tua, ayam goreng ini betul2
enak dan nikmat sekali.... masakan tersohor dari rumah
makan Ki-eng-lou dikota Lok-yang memang terkenal
karena enaknya, engkau pingin mencicipi tidak" Haaahhhaahh...
daging ayamnya yang enak biar aku yang makan
sendiri, bagaimana kalau kuberi bagian tulangnya saja"
Haaahh-haaahh...engkau toh anjing tua yang doyan makan
tulang?""
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
merasa amat gusar sekali mendengar ejekan tersebut
sepasang matanya melotot besar. mukanya merah padam
dan otot2 hijau diatas wajahnya pada menonjol keluar
semua, namun ia tak bisa berbuat apa2. sebab ia tahu asal
serangan dilancarkan kearah pemuda itu niscaya perbuatan
itu akan mendapat sambutan dari orang banyak.
Menyaksikan gembong ibis tua itu sama sekali tak
terkutik terhadap sindirannya Suma Ing semakin
kegirangan, sorot matanya segera dialihkan keatas wajah
Sian-yan Peng sambil berseru pula:
"Sian-yan Peng semua orang berkata bahwa istrimu tidak
setia, diam2 main serong dengan suami orang lain, engkau
tahu tidak akan peristiwa ini" ooh...sungguh kasihan istri
menyeleweng sang suami masih belum sadar rupanya
engkau senang yaa kalau istrimu mencicipi kehebatan dari
suami2 orang lain haaah-haaahh-haaahh... mungkin
punyamu sudah lemas dan tak berguna lagi" penyakit
impoten?" Hawa amarah yang berkobar dalam dada Sian-yan Peng
sukar dikendalikan lagi, apalagi setelah mendengar ejekanejekan
yang menyakitkan hati itu ia mendengar dingin
kemudian alihkan sorot matanya dan melotot kearah Lamkong
Liu dengan penuh kebencian.
Lam-kong Pak jadi amat mendongkol dan gusar sekali
atas perbuatan lawannya diam-diam ia memaki dihati:
"Anjing bedebah... sungguh keji maksud hatinya
manusia semacam ini tak boleh dibiarkan hidup lebih lanjut
dikolong langit, dia harus dibunuh".
Pemuda itupun tahu kalau bajingan muda tersebut
sengaja hendak menciptakan keonaran dan kegaduhan
diantara sesama jago sehingga dia mendapat kesempatan
untuk melarikan diri, dalam hati ia merasa sangat gelisah.
Sun Han Siang teramat gusar sekali dengan suara keras
teriaknya lantang.
"Suma Ing kalau engkau mengakui bahwa dirimu adalah
seorang manusia cepat tinggalkan payung mustika itu diatas
tanah, aku tanggung engkau masih bisa mengundurkan diri
dari sini dalam keadaan selamat, aku minta engkau jangan
ngaco belo dan bicara yang tak karuan lagi"
Suma ing yang berwajah amat jelek tertawa dingin tiada
hentinya. "Heeehh-heeeh h-heeehh... kalau aku bukan
manusia, maka orang yang membuat diriku juga bukan
manusia. itu berarti engkau yang memaki suamimu sendiri"
Lam-kong Pak tak dapat menahan diri lagi dengan
langkah lebar ia maju ketengah gelanggang lalu terhadap
Bintang yang bertaburan diangkasa serta Sian-yan Peng
serunya "Tujuanku tidak lain hanya ingin memberi ajaran kepada
Suma ing binatang terkutuk itu, aku sama sekali tiada
maksud untuk mengincar payung sengkala, aku harap
kalian tak usah kuatir kalau aku bermain curang. andai kata
kalian tidak lega hati, maka setiap saat silahkan untuk turun
tangan-" sian-yan Peng Ketua perkumpulan bulu hijau sama sekali
tidak memberi komentar apa2, sebaliknya Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng segera tertawa dingin
tiada hentinya.
"Heeeh-heeehh-hheeehh...sekarang aku hendak
memperingatkan kepadamu, barang siapa berani mendekati
dirinya maka itu berarti dia ada niat untuk mengincar
payung sengkala. apa akibatnya... Hmm silahkan saja untuk
menanggungnya sendiri"
Lam-kong Pak balas tertawa dingin"Heeehh-heeehh-heeehh...iblis tua, engkau tak usah jual
lagak dihadapanku, jangan anggap aku Lam-kong Pak
untuk menghadapi dirimu, kalau tidak percaya ayohlah kita
bertempur lebih dahulu sebanyak beberapa ratus jurus"
cu Li-yap dan Pek-li Hiang segera bangkit berdiri teriak
mereka dengan suara lantang:
"Engkoh Pak. dalam keadaan begini lebih baik jangan
turun tangan lebih dahulu, orang lain bisa bertahan masa
kita tak bisa menahan diri" Marilah kita saling
mempertahankan diri, dan coba lihat bangsat itu bisa
bertahan sampai kapan?"
"Betul" seru Bintang yang bertaburan diangkasa Liok
Hoa Seng dengan cepat, "delapan sampai sepuluh hari tidak
makan nasi, bagiku sama sekali tidak ada pengaruh apa2,
apalagi mempengaruhi tenaga dalamku, ayohlah kita
bertahan saja disini. coba lihat saja masing2 pihak bisa
bertahan sampai kapan"
Habis berkata dia segera tarik tubuh Kakek ombak
menggulung untuk diajak duduk diatas tanah.
Sian-yan Peng tertawa dingin, dengan suara berat ia
segera berseru pula "Duduk semua"
Kawanan iblis itu tak ada yang membantah mengikuti
pimpinan mereka didalam waktu singkat semua orang
sudah duduk bersila diatas tanah.
Lam-kong Pak terperangah dibuatnya, sebelum dia
sempat berbuat sesuatu terdengar oei ci-hu berseru dengan
suara dalam: "Ayoh kita juga duduk keatas tanah"
Terpaksa Lam-kong Pak mengundurkan diri kembali
kedalam rombongan dan duduk diantara ayah dan ibunya.
Berpuluh-puluh orang jago persilatan itu duduk
membuatsatu lingkaran luas disekitar Suma ing dengan
Cepatnya pula manusia terkutuk itu sudah terkepung rapat.
Sekejap mata suasana dalam kebun bunga keluarga Siok
diliputi keheningan dan kesuyian begitu sepi sehingga suara
jengkerik dan hembusan angin yang menggoyangkan daun
ranting pohon saja yang kedengaran. ..
Semua orang duduk mengitari gelanggang dengan sabar
tiada orang yang berbicara dan tiada orang pula yang
berkutik dari posisinya masing- masing.
Kejadian ini sangat menggelisahkan Suma ing yang
berotak licik sehingga tanpa sadar peluh dingin mengucur
keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng
mampu tidak makan tidak minum selama delapan sampai
sepuluh hari tanpa mempengaruhi tenaga dalam serta
kesehatan tubuhnya, sedang rombongan lain mempunyai
jumlah anggota yang sangat banyak setiap saat mereka
depat mengutus orang2nya untuk pergi membeli bahan
makanan, walaupun duduk disana sampai tiga atau lima
tahunpun tidak menjadi soal.
Lain keadaannya dengan ia sendiri, kalau dalam enam
tujuh hari ia tak makan tak minum, jangan dibilang untuk
bertempur melawan jago2 lihay. mungkin untuk jalanpun
masih merupakan suatu tanda tanya besar, karena itu biji
matanya segera berputar dan otaknya diperas untuk
mencari akal bagus guna mengatasi keadaannya yang amat
gawat itu. = -oodwoo- = SEMALAM berlalu dengan cepatnya, fajarpun telah
menyingsing diufuk timur diantara para jago lihay tersebut
tak seorangpun yang bergerak dari tempat duduknya
semula, walaupun Suma ing berulang kali coba menghasut
dan memancing perpecahan diantara mereka, tetapi tak ada
orang yang sudi mempercayai perkataannya, usahanya pun
seketika mengalami kegagalan total. Dalam hati kecilnya
Lam-kong Pak segera berpikir:
"Kalau ditinjau dari situasi yang terbentang didepan
mata saat ini, mungkin dalam tiga empat hari mendatang
tak akan mengalami banyak perubahan yang berarti."
Berpikir sampai disitu, dengan ilmu menyampalkan
suara ia segera berbisik kepada oei ci Hu:
"Cianpwee, aku rasa dalam tiga empat hari mendatang
situasi dalam gelanggang tak akan mengalami banyak
perubahan yang berarti, apa salahnya kalau menggunakan
kesempatan yang sangat baik ini Cianpwee bertiga duduk
bersemedi untuk pulihkan kembali tenaga dalam kalian


Kelelawar Hijau Lanjutan Payung Sengkala Karya S D Liong di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang masih berantakan" dengan aku sebagai pelindungnya
aku rasa tiada mara bahaya yang bakal terjadi"
"Baiklah" Sahut oei ci-hu setelah termenung dan berpiklr
sebentar, "setelah tenaga dalam yang kami miliki pulih
kembali seperti sedia kala, engkaupun bisa bersemedi
selama beberapa hari, kalau dalam enam hari mendatang
situasi masih tetap tiada perubahan apapun, itu berarti
kekuatan yang dimiliki kelompok kita akan semakin
bertambah kuat lagi."
Bicara sampai disitu. awan gelap pengejar rembulanpun
segera menyampaikan maksud tersebut kepada Lu It-beng
serta Lam-kong Liu.
tiga orang jago lihay tersebut dengan Cepat duduk bersila
untuk atur pernafasan, dalam beberapa saat kemudian
mereka sudah berada dalam keadaan lupa akan segalagalanya
Dalam keadaan seperti ini Lam-kong Pak tidak berani
juga bertindak seCara gegabah, diam2 dia berpesan kepada
dua orang gadis muda itu untuk bukan saja memperhatikan
setiap jago yang berada dalam gelanggang bahkan harus
memperhatikan pula jago-jago yang datang dari luar
gelanggang. Tengah hari baru saja lewat, dari luar dinding
pekarangan berkelebat kembali beberapa sosok bayangan
manusia, orang pertama yang munculkan diri lebih dahulu
digelanggang adalah Sin-ji-cong-goan atau sarjana
bertangan Sakti, Siang Hong Tie. disusul oleh pencuri sakti
Pek li Gong, Sepasang manusia jelek dari Hay-thian dan
terakhir adalah Malaikat raksasa Loo Liang-jan.
Setelah melayang masuk kedalam gelanggang, beberapa
orang itu segera menggabungkan diri kedalam rombongan
dari para jago kalangan lurus.
Semua jago lainnya yang menyaksikan kejadian tersebut
dengan cepat dapat mengetahui apa yang telah terjadi.
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng saling
berpandangan sekejap dengan Kakek ombak menggulung,
mereka sadar bahwa keadaan situasi yang terbentang
didepan mata saat itu kian lama kian tidak menguntungkan
bagi mereka, andaikata sampai terjadi pertarungan maka
rombongan merekalah yang paling lemah. janda kawin
tujuh kali Pui Kun sama sekali tidak ikut duduk disekitar
gelanggang, sejak ia mengetahui kalau tiada harapan lagi
baginya untuk merebut kembali payung sengkala tersebut,
diam2 perempuan itu sudah ngeloyor pergi dari situ.
Suasana dalam gelanggang kembali pulih dalam
kesunjian biji mata semua orang berputar kesana kemari
sementara otaknya bekerja untuk mencari akal guna
memecahkan kesulitan tersebut.
Walaupun diluaran suasana tetap sunyi dan hening,
dalam kenyataan situasinya sangat tegang, keadaan tersebut
ibaratnya api yang terbungkus dalam kertas, setiap saat
kemungkinan besar dapat meledak jadi suatu pertarungan
yang seru. Loo Liang-jan duduk disamping gelanggang dengan
sikap yang tenang dan tanpa banyak bicara, tubuhnya yang
tinggi besar sangat menyolok mata, saat itu ia sedang
turunkan buntalan besar dari punggungnya dan
membagikan rangsum kering kepada setiap jago
dipihaknya, Disatu pihak para jagonya bersantap dengan penuh
kenikmatan, dipihak lain para gembong iblis dibawah
pimpinan Sian-yan Peng hanya bisa menelan ludah sambil
menahan lapar. Rupanya kemarin malam mereka baru saja tiba disitu.
maka tidak sempat menyiapkan rangsum kering untuk
dimakan, seandainya tak ada orang yang bersantap
dihadapan mereka. mungkin keadaannya masih
mendingan- sekarang setelah dilihatnya rombongan lain
bersantap dan minum arak dengan penuh kenikmatan- tak
kuasa lagi perut mereka jadi keroncongan setengah mati.
Lam-kong Pak segera menyambar sebiji bak-pao dan
sepotong daging kemudian dilemparkan kearah Sian-yan
Peng sambil berseru^ "cianpwee, silahkan bersantap"
Sian-yan Peng menerima makanan tersebut ia sama
sekali tidak makan- karena anak buahnya yang berjumlah
puluhan orang itu sekali tidak makan, tentu saja ia tak
bersantap sendiri tanpa memikirkan orang lainSuma Ing tertawa licik, menggunakan kesempatan itu dia
segera berteriak keras:
"Sian-yan Peng meskipun cu Hong Hong tidak ikut
datang kemari, namun suami gelapnya berada disitu...
setelah engkau memakai topi hijau masa dapat menahan
sabar sampai sekarang" waaduuh. , kehebatan imammu
sungguh mengagumkan, aku Suma Ing benar-benar merasa
takluk kepadamu"
Sian-yan Peng mengernyitkan sepasang alisnya, namun
ia tidak buka suara atau mengucapkan sepatah katapun.
kembali Suma Ing berkata:
"Menurut kabar yang kudengar, katanya kemungkinan
besar putrimu itu sebenarnya bukan anak kandungmu...tapi
anak jadah antara istrimu dengan lelaki lain-"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar sekujur badan
Sian-yan Peng bergetar keras, sepasang matanya yang tajam
bagaikan pisau belati dialihkan keatas wajah cu Li-yap
membuat gadis itu jadi seram dan gemetar keras.
"Sudah kau lihat jelas?" jengek Suma Ing lagi sambil
tertawa licik, "kalau cu Li-yap dibuat olehmu, tak mungkin
ia berwajah begitu Cantik, lagi pula dia sudah tahu kalau
engkau adalah bapaknya tapi dalam kenyataan dia malah
duduk dipihak Lam-kong Liu sepantasnya kalau dari sini
engkau bisa menarik kesimpulan yang amat nyata" Tiba2 cu
Li-yap menengadah dan ujarnya dengan serius:
"Ayah, jangan percaya hasutannya. Bajingan anjing itu
hanya bermaksud mengaCau dunia dan bikin onar disana
sini. Ketahuilah sudah lama ananda berkumpul dengan
rombongan dari engkoh Pak. sedang rombongan empek
Lam-kong baru kemarin berjumpa dan bergabung dengan
kami, dalam kenyataan ananda sampai sekarangpun belum
pernah bicara sepatah katapun dengan empek Lam-kong"
Walaupun Sian-yan Peng sendiripun tidak perCaya
dengan obrolan serta hasutan dari Suma Ing, akan tetapi
ucapan cu Li-yap yang memanggil empek Lam-kong
terus2an membuat rasa dongkol dan dendam yang
tertimbun selama puluhan tahun sukar dikendalikan lagi, ia
segera mendengus sambil berteriak:
"Hmm kau tak usah banyak cerewet, aku tak punya anak
seperti kau.. tak usah panggil ayah kepadaku lagi"
Betapa sedihnya cu Li-yap setelah mendengar perkataan
itu. matanyajadi merah dan air mata bercucuran"oooh...ayah..kau..kau. jangan percaya...percaya
perkataannya, ananda..tak...tak pernah mengkh ianati
kau..dan akupun tak pernah melakukan perbuatan yang
memalukan. ,oooh ayah...kau jangan berhati kejam..."
Lam-kong Pak sendiripun tak kuasa mengendalikan
hawa amarahnya. sambil menggigit bibir teriaknya:
"Suma Ing, pepatah kuno mengatakan: Manusia punya
muka pohon punya kulit, aku perCaya tak lama kemudian
engkau akan peroleh pembalasan yang setimpal... sesuai
dengan perbuatan kejimu. kau akan merasakan kutukan
Thian- yang paling berat dan paling hebat "
Suma Ing angkat bahunya dan menyeringai sinis.
"Lam-kong Pak" ia berseru," tahukah engkau bahwa asal
usulmu patut dicurigai." Lam-kong Pak terperangah.
"Bajingan terkutuk Anjing geladak Tutup baCot
anjingmu yang bau dan tak usah ngaco belo tak karuan "
"Heeh.. heehh..heehh.. menurut apa yang kudengar,"
ejek Suma Ing sinis. "sebelum Lam-kong Liu kawin dengan
Sun Han Siang terlebih dahulu Sun Han Siang pernah main
roman dengan Sian-yan Peng siapa tahu kalau benihmu itu
sebetulnya adalah benih yang ditinggalkan Sian-yan Peng
dalam rahim ibumu" Haaahh-haahhh...bukankah itu berarti
bahwa kau....."
Lam-kong Pak meraung gusar dan loncat bangun, tapi
Siang Hong Ti segera menarik tangannya sambil berbisik,
"Apa yang dia harapkan sekarang adalah kekacauan dan
kegaduhan. dia berusaha bikin hatimu panas hingga tak
kuasa mengendalikan diri, jika terjadi keributan maka ia
akan gunakan kesempatan itu untuk kabur, duduklah dan
tenangkan hatimu... tak usah pedulikan anjing geladak yang
sudah edan itu Anggap saja dia seekor anjing buduk yang
sedang menggonggong. kenapa harus gubris gonggongan
seekor anjing geladak?"
Pe-lahan2 Lam-kong Pak duduk kembali di tanah, walau
begitu hawa amarah yang sudah mencapai pada puncaknya
itu sukar dihilangkan dalam waktu singkat, Sekarang ia
baru menyesal dan membenci diri sendiri, beberapa kali dia
punya kesempatan untuk membunuh Suma Ing, tapi setiap
kali kesempatan itu dibuang dengan begitu saja sekarang
akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2.
Tiba2 Pencuri sakti Pek li Gong tertawa cekikikan,
sambil menggigit daging ayam, ujarnya kepada Suma Ing:
"Hey Suma Ing. anjing budukan yang bermulut bau
walaupun barusan kau sudah mencaci maki orang lain, tapi
berhubung Semua perkataanmu bohong dan merupakan
hasutan maka kendatipun lidahmu sampai capai juga tiada
mendatangkan hasil apa- apa, sekarang tiba giliranku untuk
memberitahukan suatu rahasia kepadamu. dan rahasia
tersebut menyangkut asal usulmu."
"Pencuri tua, tak usah kau bongkar rahasia tersebut" sela
Sun Han Siang cepat, "buat apa sih ribut dengan manusia
semacam itu" apalagi ibunya...."
"Lebib baik rahasia tersebut kuberitahukan kepadanya,
daripada dia mengira kalau asal usulnya itu bersih dan
terhormat "
suma ing tertawa dingin, ia segera berkata:
"Bajingan tua, kau tak usah mencoba untuk mengarang
cerita bohong. Aku tak akan percaya dengan semua
perkataanmu itu"
"Haaah-haaah-haaah... kalau kau tak suka
mendengarkan,-Silahkan tutup telinga sendiri tapi aku
yakin orang lain senang untuk mendengarkan cerita
tersebut, percaya tidak?"
"Bangsat tua lebih baik tutup saja bacot anjingmu, orang
lain tak akan percaya obrolanmu itu, semua orang toh tahu
bahwa aku adalah saudara seayah lain ibu dengan Lamkong
Pak. kalau engkau hendak memfitnah aku berarti pula
akan menjelekkan nama Lam-kong Pak..."
"cuuh" Pencuri tua Pek li Gong meludah keatas tanah,
kemudian serunya sinis:
"Kau jangan mabok saudara.. haahh...haaah...haahh.
ketahuilah bahwa kau adalah anak jadah dari manusia yang
paling memalukan dikolong langit, Lam-kong Liu tak
punya anak jadah semacam kau. Terus terang saja, sampai
sekarang semua orang masih mengira kebusukanmu masih
dapat dlobati dan kemungkinan besar suatu hari akan
bertobat serta kembali kejalan yang benar, siapa tahu
perkataanmu serta tingkah lakumu itu telah menusuk
perasaan semua orang, ibaratnya hatimu jauh lebih rendah
dan hina daripada seekor binatang, seekor anjing geladak
budukan. oleh karena itulah terpaksa aku harus
membongkar rahasia ini dihadapan orang banyak"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar kecuali oei cihu
bertiga yang masih bersemedi sambil atur pernafasan,
para jago lihay lainnya sama alihkan perhatiannya keatas
wajah pencuri tua tersebut.
"Gak hu (Ayah mertua), sudahlah buat apa ribut2
dengan manusia seperti itu..." Cegah Lam-kong Pak.
"Tempo hari semua orang tak berani membongkar
rahasia ini tidak lain tidak bukan karena semua orang
merasa kasihan kepadanya, takut kalau kenyataan tersebut
menyinggung perasaan halus dan gengsinya, dan lagi semua
orang pun berharap agar dia bisa bertobat serta kembali
kejalan yang benar tapi sekarang, apa yang mesti kita
kuatirkan lagi?" perasaan halusnya sudah hilang dimakan
anjing, mukanya sudah terlalu tebal dan kebejatan dan
moralnya sudah tak bisa dlobati lagi, keadaan bangsat itu
sudah kelewat batas dan tak mungkin bisa berguna bagi
masyarakat, bukan saja budi tak dibalas bahkan berani
mencemooh dan menodai nama baik orang tuanya, oleh
sebab itulah aku akan musnahkan perasaan halus dan
gengsinya, agar dia jadi gila danpunah dengan sendirinya"
Sepanjang masa perCuri sakti adalah seorang manusia
yang koCak dan suka humor jarang marah dan banyak
tertawa, tapi sekarang paras mukanya amat serius, matanya
melotot besar dan penuh diliputi oleh hawa napsu
membunuh yang sangat tebal. membuat siapapun yang
menyaksikan sikapnya itu semakin yakin akan
keputusannya. Sun Han Siang menghela napas panjang dan tetap
membungkam. rupanya dia sudah putus asa dan dingin
hatinya, sejak Suma ing hendak memperkosa Jenasahnya
sewaktu berada dalam kuil kecil tempo hari ia sudah
kecewa dan perasaan kasih antara ibu dan anakpun telah
putus. Sementara itu percuri tua Pek li Gong sedang tertawa
haha-hihi dan berkata lagi,
"Saudara2 sekalian, sudah tentu kalian kenal bukan
dengan seorang perempuan mustika yang pernah malang
melintang dalam dunia persilatan, dimasa lampau karena
kecabulan serta Kebejatan mentalnya melebihi Janda kawin
tujuh kali Pui Kun" Dan ilmu silatnyapun jauh lebih hebat
dari Pui Kun" coba terka siapakah dia?"
Hanya berpikir sebentar saja Sian-yan Peng sudah
menduga siapa yang dimaksudkan tapi dia tetap
membungkam. Lain halnya dengan Ngo-hoa-bak daging lima warna oei
Hun, sambil tertawa dingin serunya:
"Haaah-haaahh-haaaahh...mungkin kau maksudkan
Boan-Cuang-hui Menari diatas pembaringan Liau Giok
Ing?" "Tepat-sekali perkataanmu itu Haaah-haaahhaaah...


Kelelawar Hijau Lanjutan Payung Sengkala Karya S D Liong di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mungkin engkaupun merupakan salah seorang
langganan tetapnya?"
Sepanjang hidup Ngo-hoa-bak Daging lima warna oei
Hun paling anti wanita, sampai setua itu belum pernah dia
jamah perempuan apa lagi melakukan hubungan, kontan ia
naik pitam mendengar ejekan tersebut, makinya:
"Bajingan tua!! Jaga baik2 mulut anjingmu, selama hidup
aku tak pernah berhubungan dengan perempuan, kalau
bicara hati2 sedikit dengan mulutmu"
Pek-li Gong tak menggubris makian orang ia lanjutkan
kembali kata2nya:
"Saudara2 sekalian. sepanjang hidupnya entah berapa
puluh laksa kali Menari diatas pembaringan Liau Giok Ing
lepas celana didepan orang laki, bukan saja cabul diapun
terhitung seorang perempuan yang paling tak tahu malu..."
Sun Han Siang serta dua orang gadis segera mencibir dan
berpaling kearah lain dengan muka merah jengah.
sebaliknya para jago lainnya sama2 tertawa ter-bahak2
seraya berpaling kearah Suma ing.
Terdengar pencuri tua itu melanjutkan kembali kata2nya:
"Lonte busuk itu ibaratnya buah To yang sudah masak,
ketika mencapai usia tiga puluh tahunan mendadak ia
bertelur, waktu itu romannya dengan Hiat Hu-tiap kupu2
darah Suma ciang sedang mencapai pada puncak yang
paling hot, tidak sampai sebulan setelah menari diatas
pembaringan Liau Giok lng melahirkan seorang bayi laki,
mereka berdua melakukan perkosaan dan pembunuhan lagi
dikota Lok-yang, namun perbuatan mereka diketahui oleh
seorang jago lihay, dalam pengejarannya sampai dibukit
Bong-san, akhirnya kedua orang itu sama2 terkena sebuah
pukulan dahsyat..."
"Hay pencuri tua," tiba2 catatan mati hidup menyela,
"she apa sih anak jadah yang dilahirkan oleh Menari diatas
pembaringan Liau Giok Ing?"
Sengaja Pek-li Gong melirik sekejap kearah Suma ing,
kemudian menjawab dengan lantang.
"Tentu saja dia she suma, sudahlah, jangan menukas
pembicaraanku dulu setelah terkena pukulan dahsyat,
hampir saja jantung kedua orang manusia cabul itu tergetar
putus. mereka sadar bahwa kesempatan hidup kian menipis,
ketika ia hendak bunuh bayi itu sebelum ajal mereka sendiri
tiba, kebetulan muncullah dua orang ditempat kejadian...."
"Aku dapat menebak siapakah kedua orang itu." seru
Wang wee berhati hitam, "mereka pastilah Lam-kong Liu
tayhiap suami istri"
"Bocah muda, engkau pandai sekali Agaknya aku yang
jadi bapaknya dapat berlega hati...."
GELAK tertawa kembali berkumandang memecahkan
kesunyian. "Lam-kong Liu dan Sun Han Siang tiba ditempat
kejadian tepat pada saatnya." ujar Pik-li Gong lebih jauh.
"untuk menyelamatkan jiwa bayi itu, mereka lancarkan
sebuah pukulan kedepan, mereka tak menyangka kalau dua
bajingan cabul itu sudah sekarat dan hampir mampus,
walaupun hanya menggunakan tenaga sebesar tiga empat
bagian toh dua orang manusia cabul itu mampus juga,
akhirnya Lam-kong Liu suami istri berunding sebentar dan
mengambil bayi itu sebagai anak angkatnya"
"Haahh ..haahh..haahh.. kalau begitu Suma ing adalah
anak jadah dari Menari diatas pembaringan Liau Giok lng
dengan kupu2 darah Suma ciau. haahh-haahh-haahh pantas
kalau orangnya bejad, maklum anak haram, haah-haahhhaahh...."
Gelak tertawa yang riuh rendah menggetarkan seluruh
angkasa, semua jago baik dari golongan putih maupun dari
golongan hitam sama2 mengolok dan mencemooh pemuda
itu. Bagaimanapun tebalnya muka Suma ing setelah asal
usulnya dibongkar dihadapan umum, tak urung berubah
juga air mukanya.
Makin rendah asal usul seorang semakin takut borok itu
ketahuan orang, hampir setiap orang mempunyai penyakit
tersebut, tak kecuali pula Suma ing sendiri.
Dengan wajah serius pencuri tua Pek-li Gong tertawa
dingin, lalu serunya kembali:
"Suma Ing, kau musti tahu, maksudmu mengungkap
persoalan ini yang paling penting adalah agar engkau bisa
mawas diri dan periksa semua perbuatan yang pernah kau
lakukan, coba bayangkan sendiri dengan perbuatan terkutuk
dari orang tuamu apa orang lain bersedia memelihara
engkau" Ketahuilah orang kuno berkata: Naga akan
melahirkan naga, burung Hong melahirkan burung hong
hanya tikus saja yang pandai menggali lubang sejak
dilahirkan, artinya begitu orang tuanya begitu juga
anaknya, maka aku harap engkau suka mengingat kembali
akan budi kebaikan yang pernah kau terima, bukan aku
sengaja meng-olok2 dirimu, aku berharap engkau baik dan
jadi sadar.. Nah, perkataanku hanya sampai disini saja,
pikirlah kembali dengan seksama."
Keadaan Suma Ing pada saat ini ibaratnya orang yang
ditelanjangi dihadapan umum, semua rahasia dan boroknya
telah ketahuan orang, bukan saja ia terima nasehat tersebut
dengan hati terbuka. jelas ia semakin benci dan mendendam
terhadap pencuri tua itu.
Keadaannya sekarang jauh berbeda, kedoknya telah
terbongkar maka diapun tidak takut menghadapi segala
percobaan, ia lebih tega berbuat keji dan bejad, diluar
sikapnya tetap tenang dan tidak bergerak. ia biarkan orang
tertawa kan dirinya.
Pek-li Gong mengira ucapannya telah mendatangkan
hasil dan mungkin sianak muda itu sedang berpikir dan
mulai menyesal, maka diapun tidak bicara lagi. suasana
pulih kembali dalam kesunyian... dan keheningan yang
mencekam. Sehari sudah lewat, malampun menjelang kembali,
selama ini Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng maupun kakek ombak menggulung tetap
membungkam. mereka tetap duduk bersila tanpa
memperdulikan keadaan disekelilingnya. Suatu ketika,
dengan suara lirih cu Li-yap berbisik,
"Engkoh Pak, sekarang malam telah menjelang. aku rasa
dengan andalkan ilmu meringankan tubuhmu. tidak sulit
untuk meloncat setinggi tujuh delapan tombak dan
melayang ketengah gelanggang untuk merampas payung
mustika tersebut, bagaimana kalau kau bertindak Cepat dan
biar pencuri tua yang melindungi gerakanmu itu?"
"Tak mungkin" sahut Lam-kong Pak sambil menggeleng,
"kalau kurampas payung mustika itu maka suatu
pertarungan massal akan terjadi, padahal Cianpwee bertiga
sedang mencapai puncak yang paling bahaya dalam
semedinya, kita tak boleh menempuh bahaya ini."
Satu malam kembali lewat, beberapa kali Suma Ing
hendak kabur tapi setiap kali ia batalkan kembali
rencananya. karena jago lihay disekitar itu mengawasi terus
gerak geriknya tanpa berkedip.
Tiga hari tiga malam sudah berlalu tanpa terasa, oei cihu,
Lu It Beng serta Lam-kong Liu telah menyelesaikan
semedinya, tenaga dalam yang mereka miliki telah pulih
kembali seperti sedia kala, mereka lantas suruh Lam-kong
Pak duduk bersemedi agar lebih bersemangat bila terjadi
sesuatu nanti. "Aku rasa usul itu kurang pantas" Sun Han Siang
menolak tegas, "tak dapat kita pungkiri bahwa diantara
rombongan kita, ilmu silat Pak-ji yang paling lihay, dan
cuma dia seorang yang sanggup menghadapi Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng, andaikata seCara
tiba2 bajingan tua itu menyerang Pak-ji, bukankah
keselamatan jiwanya jadi terancam?"
Semua orang merasa bahwa perkataan itu tepat sekali,
menuratpendapat beberapa orang itu bersemedi dalam
keadaan seperti ini tak cocok buat Lam-kong Pak.
karenanya semua orang tidak setuju akan usul tersebut.
"Dengan kekuatan yang kita miliki sekarang, rasanya tak
perlu keadaan seperti ini dibiarkan ber-larut2, dengan
gabungan tenaga kami berempat rasanya masih sanggup
untuk menghadang dua gembong iblis tua itu, dan
seandainya Sian-yan Peng tidak mengacao dari tengah,
delapan puluh persen Pak-ji akan berhasil merebut kembali
payung mustika itu"
"Masa Sian-yan Peng hanya akan berpeluk tangan
belaka?" sela Lu It Beng dari samping, "kalau
kedatangannya bukan lantaran payung sengkala, kenapa dia
harus menyiksa diri selama beberapa hari beberapa malam
tanpa makan minum ditempat seperti ini?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, serentetan
desiran angin tajam menyambar kearah mereka dari luar
bangunan, desiran tajam itu langsung menghajar kearah
Lam-kong Pak. Dengan tenang sianak muda itu menyambar benda tadi,
yang ternyata bukan lain cuma segulung kertas kecil belaka.
cepat gulungan kertas itu dibuka dan diperiksa isinya.
tampaklah tulisan itu berbunyi demikian:
"Bertahan terus menerus Cara begini bukan suatu Cara
yang baik. aku bersedia membantu siau-hiap. bila ada orang
menerjang masuk kedalam bangunan nanti, jangan se-kali2
kalian tubruk. menanti ledakan keras sudah terjadi
gunakanlah kesempatan itu untuk merebut payung tersebut
tertanda: salju bulan keenam Tong Hui"
Lam-kong Pak tahu kalau Tong Hui hendak
menggunakan peluru ngo-lui-yan-hwee-tannya untuk
mengacau pandanga norang banyak. menggunakan
kesempatan dikala asap tebal membumbung keangkasa
maka dia disuruh merampas payung itu.
Tapi ada satu hal yang membuat hatinya bingung.
kenapa Tong Hui terangkan bahwa ada sesuatu bayangan
manusia akan menerjang masuk Keruangan.." apakah dia
tidak takut dengan kedahsyatan dari peluru Ngo-lui-yanhweetan tersebut"
Sehabis membaca tulisan itu, Lam-kong Pak segera
memberitahukan surat tadi kepihak teman2nya, kemudian
menggulung kembali kertas itu dia lempar kearah Sian-yan
Peng. "Sian-yan cianpwee, terima ini..."
Sian-yan Peng sambar timpukan benda itu dan dibaca
isinya, tapi sebelum dia kabarkan kepada anak buahnya,
mendadak dari luar ruangan menggema suara bentakan
nyaring disusul sesosok bayangan manusia dengan gerak
burung manyar sambar ikan menyerbu ketengah
gelanggang. Para jago dari kelompok Lim-kong Pak sama2 bertiarap
keatas tanah begitu melihat bayangan manusia menyerbu
kedalam ruangan, lain halnya dengan para begundal dari
Sian-yan Peng, mereka tak kenal lihay, berbareng orang2 itu
loncat bangun dan menyerbu ketengah gelanggang..
Betapa terkejutnya Sian-yan Peng menyaksikan tingkah
laku anak buahnya, ia berteriak keras:
"cepat kembali"
Ketika gulungan kertas tadi melayang masuk kedalam
ruangan dan menyambar kearah Lam-kong Pak tadi.
Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng maupun
Kakek ombak menggulung sudah menaruh curiga apa lagi
ketika gulungan kertas itu dilempar kearah Sian-yan Peng,
kecurigaan mereka kian bertambah besar, oleh karena itulah
ketika melihat ada bayangan hitam menyerbu kedalam
mereka lantas bangkit dan hendak loncat kedepan, namun
bagitu Sian-yan Peng berteriak. merekapun batalkan
gerakan tersebut dan buru2 melayang kembali ketempat
semula. Dalam pada itu bayangan manusia tadi sudah
menyambar kesisi suma Ing. cekatan pemuda itu loncat
bangun sambil melancarkan sebuah pukutan dahsyat.
"Blaaamm.." suara ledakan yang amat dabsyat
menggelegar diseluruh ruangan- bumi bergoncang dan asap
tebal menyebar ke empat penjuru.
Ternyata bayangan manusia yang menerjang masuk
kedalam ruangan itu bukan lain adalah mayat dari Lampu
hitam pengejar sukma Leng cing ciu. peluru sakti Ngo-laiyanhwee-tan yang maha dahsyat itu diikat pada tubuh
mayat tadi oleh Tong Hui, maka ketika mayat tersebut
termakan oleh pukulan yang dahsyat, meledaklah peluru itu
dengan hebatnya.
Pecahan daging dan muncratan darah berhamburan
diatas tanah, bumi terasa merekah jadinya, pada saat yang
amat bagus itulah Lam-kong Pak bertindak Cepat, ia tubruk
Suma Ing dan menyerobot payung mustika yang berada
dalam genggamannya.
Siapa tahu Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa
Seng serta kakek ombak menggulung bukan manusia
sembarangan, pada saat yang bersamaan merekapun terjun
ketengah gelanggang.
"Blaamm. " dalam keadaan terburu Lam-kong Pak saling
beradu tenaga sekali dengan gembong ibiis itu, seketika ia
terdoroog mundur tiga langkah.
Ditengah hamburan kabut tebal, dua sosok bayangan
manusia membumbung keudara diiringi dengusan berat,
Suma Ing termakan oleh sebuah pukulan yang amat
berat hingga muntah darah segar, sementara dua orang
gembong iblis tua itu dengan membentangkan payung
mustika tersebut telah membumbung tinggi keudara, dalam
sekejap mata mereka sudah berada pada ketinggian pulahan
tombak dari permukaan tanah.
Para jago tercengang dan menengadah ke atas mengikuti
gerakan dari dua gembong iblis tua itu, sedang Suma Ing
segera manfaatkan kesempatan itu se-baiknya. dengan
menahan luka dalam yang parah ia loncat tembok
pekarangan dan kabur dari situ.
Empat sosok mayat berserakan ditengah gelanggang.
mereka adalah "pat-pu-lui-kong,"Dewa guntur berlengan
delapan Si Pu Siu, "Bu-siang-to" gook tanpa tandingan
Hong Gwan "Tiat-sau-ciu" sapu besi Kim Kiu serta "Tiatpanthan" baja oh Sak kay.
Kutungan anggota badan berserakan ditengah genangan


Kelelawar Hijau Lanjutan Payung Sengkala Karya S D Liong di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

darah kental, menyaksikan kesemuanya itu Sian-yan Pang
menghela napas sedih, kepada Ngo-hoa-bak Daging lima
warna pesannya "Kubur semua yang mati dalam kebun bunga keluarga
Siok ini" Sementara itu Lak-gwee-soat salju bulan keenam Tong
Hui telah melayang masuk ke tengah gelanggang, serunya
sambil menghela napas,
"Aaaii... sungguh tak kusangka kecerdasan maupun
kecekatan dua orang gembong iblis itu luar biasa sekali,
akhirnya toh mereka yang berhasil dapatkan payung
mestika itu.. untuk kegagalan ini aku mohon maaf yang
sebesar-besarnya"
"Tong Hui" hardik Sian-yan Peng dengan gusar, "empat
orang anak buahku mampus ditanganmu. bagaimana
pertanggungan jawabmu atas kejadian ini?"
"Demi payung mustika tersebut terpaksa aku harus
melakukan pembunuhan. apalagi ke empat orang itu toh
sudah bertumpuk kejahatan yang dilakukan, walaupun
mampus rasanya juga pantas"
Sian-yan Peng tertawa dingin .
"Heeeh-heeeh-heeeeh...besar amat lagakmu, Tangkap dia
dan gusur kemarkas"
Ho-hek cuncu Rasul hitam tebal tampil kedepan dan
langsung menerjang kearah Tong Hui.
Melihat itu Lam-kong Pak segera mengerdip kepada Loo
Liang-jan, manusia raksasa itu membentak keras dan
memapaki datangnya terjangan itu.
"Duukk... Blaamm.." bentrokan dahsyat menggelegar
diudara, seketika Ho-hek cuncu terpental lima langkah
kebelakang. Loo Liang-jan tidak kasih kesempatan bagi musuhnya
untuk tukar napas. kembali sebuah pukulan dilancarkan
memaksa Ho-hek cuncu terpental balik ketempat semula.
Sian-yan Peng amat gusar, kepada Lam-kong Pak
hardiknya penuh kemarahan: "Bocah muda, engkau hendak
musuhi aku?"
"Aku yang muda tidak berani Tapi pada hakekatnya
Tong-heng tak dapat disalahkan. toh sebelum kejadian ia
sudah memberitahukan kepada kita. dalam peristiwa ini
yang salah adalah anak buah ciannpwee yang tak bisa putar
kemudi mengikuti hembusan angin. coba lihatlah dua orang
gembong iblis tua itu, toh mereka tak membaca isi surat
yang dilempar Tong-heng kepada kita" tapi kenyataan
mereka dapat lolos dalam keadaan selamat, oleh karena
itulah kalau cianpwee mau cari siapa yang salah maka
kesalahan itu justru terletak pada lambannya reaksi mereka
waktu menghadapi kejadian"
Kembali Sian-yan Peng tertawa dingin.
"Heehh-heeehh-heeehh..jadi kesalahan ini adalah
kesalahan dari para korban sendiri?"
"Yang pasti kejadian ini hanya boleh dianggap sebagai
suatu kecelakaan, dan kecelakaan tersebut tak bisa salahkan
diri Tong-tayhiap."
Sian-yan Peng mendengus dingin. ia berpaling kearah
Lam-kong Liu dan berseru: "Lam-kong Liu, sekarang kita
dapat melangsungkan pertarungan bukan-.?"
"Benar, menggunakan kesempatan yang ada aku sudah
pulihkan kembali kekuatan tenaga dalam yang kumiliki.
marilah kita selesaikan persoalan itu sekarang juga" Dengan
langkah lebar ia maju kedepan.
Sun Han Siang menyambar tangan suaminya tapi luput,
terpaksa diapun ikut maju kedepan"Sian-yan cianpwee" seru Lam-kong Pak lagi dengan
suara dalam, "bersediakah mendengarkan sepatah dua
patah dariku?"
"Aku tak sudi mendengarkan perkataan apa pun. lebih
baik kau mundur dari situ "
"Sian-yan Peng tua bangka sialan" teriak pencuri tua
pula. "apa sih gunanya persoalan ini di-ulur2 terus tiada
habisnya" Ketahuilah pada hakekatnya peristiwa dimasa
lampau hanya suatu salah paham belaka bukan saja Sun
Han Siang sudah kawin dengan Lam-kong Liu, anak
merekapun sudah menginjak dewasa. masa engkau tak bisa
sudahi persoalan sampai disini saja" Kendatipun Lam-kong
Liu berhasil kau bunuh. toh Sun Han Siang tak mungkin
akan kawin dengan kau lagi."
Ucapan tersebut segera memancing gelak tertawa para
jago, suara ter-bahak" memenuhi seluruh angkasa membuat
suasana jadi gaduh.
Gelak tertawa yang riuh rendah ini semakin
menggusarkan hati Sian-yan Peng, teriaknya dengan marah:
"Pencuri tua sialan, kalau berani bicara lagi...Hmm kau
kubacok sampai mampus"
"IHuuh... tua bangka sialan, kalau punya keberanian
ayolah bacok aku sampai mampus putriku sudah punya
pasangan- akupun sudah tak punya tanggungan apa2 lagi,
kalau kau bunuh aku. haahh-haahh-haahh...aku malah
bertambah senang."
"Pek li-heng" Lam-kong Liu maju kedepan sambil
berseru. "lebih baik kau mundurlah kebelakang, percuma
banyak bicara, toh akhirnya persoalan ini harus diselesaikan
dengan kekerasan, kalian tak usah membantu pihak
manapun. biarlah kami selesaikan sendiri persoalan ini."
Jarak mereka berdua cuma terpaut satu tombak, setelah
berdiri berhadapan mereka saling melotot dengan gusar,
keadaan tersebut ibaratnya sepasang ayam jago yang siap
bertarung, inilah yang disebut musuh besar saling bertemu,
matapun berubah jadi merah.
Hakekatnya Sun Han siang tak ingin bicara dengan sianyan
Peng, tapi dalam keadaan begini mau tak mau terpaksa
ia harus buka suara, seraya maju kemuka katanya "Sian-yan
Peng, Jadi kau nekad untuk bertempur?"
Betapa kacau dan tak tenteramnya hati sian-yan Peng
menyaksikan kemunculan Sun Han Siang dihadapannya.
namun ia segera mengangguk.
"Benar, bagaimanapun juga aku harus selesaikan
persoalan ini dengan kekerasan, tahukah kau apa yang kutunggu2
selama puluhan tahun mengasingkan diri dan
sembunyikan nama" Ini harilah yang kutunggu."
"Tahukah kau kenapa kau berbuat demikian ?"
"Aku menggunakan nama kakek pendendam berkain
hijau sebagai sebutan, sebagai orang cerdas tentu kau tahu
bukan apa yang menjadi sebab atas terjadinya peristiwa
ini?" Sun Han Siang tertawa ter-kekeh2.
"Haahh-haahh-haahh...Sian-yan Peng. Aku lihat
meskipun kau sudah hidup mendekati enam puluh tahun.
tapi sifat ke-kanak2anmu masih belum hilang. dalam
urusan macam apapun aku dapat membelai Lam-kong Liu
tapi hanya dalam urusan itu aku tak akan membelai dirinya.
masa engkau masih belum percaya?"
Siao-yan Peng terperangah, tentu saja ia pernah berpikir
sampai kesitu, walau begitu rasa dongkol dan benci yang
sudah telanjur menyesak dadanya harus tersalur keluar,,.
karena keadaannya pada saat ini ibarat menunggang
dipunggung harimau, tetap duduk susah mau turun juga tak
dapat, serba susah jadinya.
Setelah suasana hening untuk beberapa saat lamanya,
Sian-yan Peng berkata lagi dengan suara dalam:
"Aku tak bisa mempercayai keterangan dari sepihak,
andaikata cu Hong Hong perempuan rendah itu juga hadir
disini, maka aku...."
Belum sempat kata2 itu diselesaikan, sesosok bayangan
manusia melayang masuk lewati dinding perkarangan,
ternyata orang yang munculkan diri itu bukan lain adalah
cu Hong Hong yang sudah lenyap bebarapa hari lamanya.
cu Li-yap berteriak keras dan memburu kemuka, tapi cu
Hong Hong dengan wajah kaku mengebaskan ujung
bajunya sambil berseru^ "Budak. mundurlah dulu"
Perempuan ini selamanya keras kepala dan kukuh pada
pendirian, meskipun usianya telah lanjut namun watak
tersebut sama sekali tak pernah berubah, sambil tertawa
dingin tiada bentinya perlahan ia mendekaii suaminya.
Sian-yan Peng agak tertegun- paras mukanya berubah
hebat. tapi sejenak kemudian ia hela napas panjang dan
pulih kembali dalam ketenangan,
cu Hong Hong tak mau mengalah dengan begitu saja,
sambil mendekati suaminya dengan suara dingin dan tajam
ia berseru: "Hmm, Bukankah kau hendak turun tangan setelah laki
perempuan yang berbuat serong telah berkumpul jadi satu"
Inilah saat yang paling baik bagimu untuk bertindak,
kenapa masih mematung saja?"
Paras muka Sian-yan Peng kembali berubah hebat,
"Perempuan lonte. Aku memang sedang mencari engkau..,"
"Heeeh-heeeh-heeeh...aku tahu engkau sedang
mencariku, maka sekarang aku munculkan diri disini apa
yang hendak kau katakan lagi" ayoh katakan "
"Dahulu kau dengan Lam-kong Liu...."
"Benar tebakanmu tepat sekali." tukas cu Hong Hong
dengan suara lantang, "dahulu aku memang pernah
melakukan hubungan suami istri dengan Lam-kong Liu,
puas dengan jawaban ini?"
Ucapan tersebut begitu diutarakan keluar para jago dari
golongan putih sama2 tergertar keras, terutama sekaii Lamkong
Liu suami istri, paras muka mereka berubah hebat.
Sian-yan Peng sendiri kerutkan dahinya rapat2, lalu
tertawa ter-kekeh2 dengan seramnya.
"Haahh-haaah-haaah...Lam-kong Liu. sekarang apa yang
hendak kau katakan lagi?"
"Selama aku tak pernah malakukan perbuatan salah, tak
jeri ada setan mengetuk pintu. masa engkau benar2 percaya
dengan pengakuannya...?" ujar Lam-kong Liu serius.
"Kau anggap dia hanya ber-main2 dengan pengakuannya
itu" hmm Kau anggap pengakuan seperti itu bisa dibuat
sebagai bahan lelucon?" hardik sian-yan Peng makin gusar.
Sementara itu paras muka Sun Han Siang pun berubah
hebat. sebagai seorang perempuan ia merasa hatinya tersayat2
ketika mengetahui suaminya telah berbuat serong,
dan kejadian itu dirahasiakan selama ber-tahun2 lamanya.
Terdengar cu Hong Hong berkata lagi dengan suara ketus:
"Sian-yan Peng aku tahu engkau kawin dengan diriku
bukan karena Cinta yang murni, tindakan tersebut kau
ambil karena kegagalan cinta mu terhadap Sun Han Siang.
maka kau gunakan cara itu untuk melampiaskan rasa
kecewa dan sedihmu. kau gunakan perkawinanmu sebagai
suatu tindakan balas dendam. tentu saja dahulu akupun
pernah mencintai Lam-kong Liu. dan semua orang
mengetahui akan hal ini. maka kau lantas melampiaskan
semua api dendam dan kemarahanmu keatas tubuhku dan
Lam-kong Liu. kau berusaha menjelekkan namaku agar
hatiku tersiksa-. Hmm dan sekarang aku telah penuhi
harapanmu itu, Walau aku tak pernah melakukan
perbuatan semacam itu tapi aku telah mengakuinya agar
kau merasa puas dan senang setelah mendengar jawaban
tersebut.. heehh..heehh...heehh.. Sian-yan Peng Sekarang
kau sudah merasa cuas bukan?"
Sekarang Lam-kong Liu suami istri dan Lam-kong Pak
baru bisa menghembuskan napas lega, sebaliknya paras
muka Sian-yan Peng berubah makin hebat, begitu jeleknya
hingga sukar dilukiskan dengan kata2, dia jadi serba salah
dan tak tahu bagaimana harus mengatasi kejadian tersebut.
cuma cu Hong Hong merasa putus asa, kecewa dan sedih
sekali, sejak kemunculannya digelanggang ia telah
kesampingkan soal mati hidupnya. terdengarlah ia berkata
lagi: "Sian-yan Peng Terus terang kukatakan kepadamu, aku
sangat benci kepadamu, engkau tak pantas jadi suami
orang... engkau berjiwa cupat dan berpandangan sempit,
engkau lebih pantas jadi seorang siau-jin-.. seorang manusia
rendah yang memalukan- Hm aku sudah kenyang hidup
tersiksa, ayohlah kalau ingin bunuh aku, cepatlah turun
tangan.," = =ooooooooo= =
"KAU ANGGGAP aku tak berani membinasakan
dirimu?" seru Sian-yan Peng sambil tertawa dingin.
"Tentu saja berani, aku tahu engkau adalah seorang
Enghiong. seorang pendekar besar. seorang manusia gagah
yang dihormati orang, untuk menyelidiki tingkah laku
bininya sendiri telah mendirikan perkumpulan bulu hijau,
selama puluhan tahun sudah banyak orang yang dibunuh,
telapak tanganmu sudah penuh berpelepotan darah, boleh
dibilang hasil karyamu itu sangat hebat, belum pernah
terjadi sepanjang masa, kecuali merasa kagum aku cu Hong
Hong juga . . . ."
"Tutup mulut" hardik Sian-yan Peng dengan paras muka
merah padam karena marah bercampur jengah .
cu Li-yap menjerit sedih, ia peluk ibunya erat2 sambil
menangis terisak-"oooh.. ibu, apakah kau tega tinggalkan
putrimu hidup seorang diri?"
"Tak lama kemudian engkau sudah akan menjadi milik
Lam-kong Pak. ia tak akan menyia-nyiakan dirimu, aku
telah mengetahui segala pahit getir hidup didunia, sekarang
pikiranku sudah terbuka dan tiada yang kuberatkan lagi.
mundurlah kebelakang dan jangan campuri urusan ini."
cu Li-yap menangis makin menjadi, dengan air mata
membasahi seluruh wajahnya ia berseru:
"ibu, kalau engkau tidak urungkan niat tersebut. aku
akan cukur rambut jadi nikoh."
"Jangan ngaco-belo" hardik cu Hong Hong dengan tubuh
gemetar keras. Ia mengerling sekejap kearah Lam-kong Pak dan
mendorong putrinya kebelakang. cu Li-yap segera terpental
kebelakang dan jatuh kedalam pelukan sianak muda itu.
Setelah menyingkirkan putrinya. cu Hong Hong kembali
menghardik dengan suara nyaring:
"sian-yan Peng, Pandekar besar. Enghiong gagah.
Kenapa diam melulu .." ayoh turun tangan"
Sikap cu Hong Hong yang begitu menantang dan
mukanya yang begini manis membuat setanpun tak kuat


Kelelawar Hijau Lanjutan Payung Sengkala Karya S D Liong di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

manahan diri, sebetulnya Sian-yan Peng telah tenang
kembali dan hawa amarahnya agak mereda. tapi begitu
melihat sikap menantang dari istrinya, kontan ia naik
pitam. sambil mendengus dingin satu pukulan dahsyat
dilancarkan kedepan,
cu Hong Hong sama sekali tidak memberi perlawanan, ia
mendengus tertahan, tubuhnya mencelat sejauh satu
tombak dari tempat kejadian dan tak berkutik lagi.
cu Li-yap menjerit keras, bagaikan orang gila ia meronta
dari pelukan Lam-kong Pak dan menubruk kepangkuan
ibunya. Darah kental mengalir keluar dari tujuh lubang indra cu
Hong Hong, ia mati dalam keadaan yang mengenaskanIsak tangis cu Li-yap tak terbendung lagi. ia menangis
meng-gerung2, membuat suasana diliputi kesedihan dan
kepedihan, tak sedikit para jago yang ikut melelehkan air
mata. Mimpipun sian-yan Peng tak menyangka kalau istrinya
bakal menanti kematian tanpa melawan, sebab sikap
tersebut jauh berlawanan dengan wataknja dimasa lalu. Ia
pun sama sekali tak menduga kalau cu Hong Hong telah
bertekad untuk mati sejak Lam-kong Liu bertemu kembali
dengan Sun Han Siang, ia tidak lebih hanya pinjam
kekuatan dari Sian-yan Peng untuk tinggalkan dunia yang
penuh percobaan ini,
Demi menyatakan Cintanya kepada Lam-kong Liu.
tentu saja ia gunakan kesempatan yang sangat baik itu
untuk mencuci bersih semua noda dan kecurigaan
suaminya terhadap Lam-kong Liu, sebab hanya berbuat
begitulah dia baru bisa mati dengan mata meram.
Sekarang para jago yang hadir digelanggang telah
memahami maksud hati dari cu Hong Hong, rasa antipati
dan kurang senang mereka terhadap cu Hong Hong semasa
masih hidupnya pun ikut tersapu lenyap. sebaliknya semua
orang malah kagum dan memuji kebijaksanaan perempuan
itu. Sedangkan Sian-yan Peng sendiripun sekarang baru tahu
akan kesalahannya, tapi nasi sudah menjadi bubur, siapa
yang harus disalahkan?" tanpa sadar air mata bercucuran
membasahi pipinya .
Dia belai rambut cu Li- yap yang hitam terurai, lalu
gumamnya seorang diri:
"Nak. maafkanlah ayahmu Ketahuilah kesalahan bukan
terletak pada diriku seorang...maafkanlah kesalahan
ayahmu..."
cu Li- yap menyingkir dari belaian ayahnya, ia loncat
bangun dan serunya dengan ketus: ...
"Bagaimanapun kesalahan yang telah dilakukan ibu dari
tindakanmu yang tega membinasakan istri sendiri sudah
Cukup membuktikan bahwa hatimu kejam dan pikiranmu
Cupat, sejak keCil aku cu Li-yap tak pernah merasakan budi
kebaikan atau pendidikan apapun darimu, aku tidak
mengaku kau sebagai ayahku"
"Anak Yap..."
Dengan air mata bercucuran cu Li-yap membopong
jenasah ibunya, lalu berkata lagi
"Tak usah panggil aku begitu, aku she cu dan tidak kenal
she-Sian-yan, sedikitpun kau tak punya kewajiban dan
tanggung jawab sebagai seorang ayah, sekarang malah kau
bunuh satu2nya sanak yang paling kucintai, kau terlalu
kejam... kau tak punya Liang-sim...."
Sambil menangis terisak gadis itu putar badan dan segera
berlalu dari situ"Adik Yap. engkau tak boleh bersikap kasar,
Bagaimanapun juga toh Sian-yan cianpwee adalah ayah
kandungmu. tiada kasih yang lebih dalam selain kasih
orang terhadap anaknya, takdirlah yang membuat orang
harus mengalami penderitaan, siksaan dan kesedihan,
tahukah kau kepedihan dan kesedihan yang dialami Sianyan
cianpwee pada saat ini jauh melebihi dirimu" adik Yap.
turutlah perkataanku. jangan bertindak ngawur,..Kini
payung sengkala telah terjatuh ketangan Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng, situasi dalam dunia
persilatan amat gawat, kita harus bersatu padu Untuk
menghadapi musuh tangguh, janganiah turuti emosi hingga
mencerai beraikan kekuatan kita sendiri"
Tiba2 pencuri tua Pek-li Gong berseru dengan suara
serak: "Bocah muda, ayoh Cepat panggil ayah mertuamu,
dengan sebutan itu urusan toh akan beres dengan
sendirinya."
Terpaksa Lam kong Pak berlutut dihadapan sian-yan
Peng sambil memberi hormat.
"Gak hu. harap jangan marah" katanya, "Adik Yap baru
kematian ibunya, ia masih dipengaruhi emosi.., mengalah
sedikit kepadanya. tentu Gak hu tidak keberatan bukan?"
Sementara itu Pek-li Hiang sudah menghibur pula diri cu
Li-yap hingga suasana dapat tenang kembali,
Pada hakekatnya dalam peristiwa berdarah ini, Sian-yan
Peng sama sekali tak dapat disalahkan, karena sikap yang
ditunjukkan cu Hong Hong tadi terlalu menantang dan
menyudutkan orang hingga siapapun tak akan tahan
menghadapi keadaan tersebut.
Lagipula dalam serangan tadi Sian-yan Peng hanya
menggunakan tiga empat bagian hawa murni, dari situ
menunjukkan bahwa jago tersebut sama sekali tak berhasrat
membinasakan istrinya, kalau ingin mencari siapa yang
salah maka kesalahan terbesar terletak pada diri cu Hong
Hong sendiri, karena dialah yang punya niat bunuh diri dan
sama sekali tak mau menangkis serangan tersebut.
Kawanan jago dari golongan putih sama2 menghibur cu
Li-yap. Sun Han siang sendiripun turun tangan mengatasi
keadaan itu. akhirnya cu Li-yap bisa ditenangkan kembali.
ia mendekap ayahnya dan menangis ter-sedu2.
Sian-yan Peng sendiripun tak dapat menahan lelehan air
mata. ayah dan anak saling berpelukan sambil menangis
membuat suasana sangat mengharukan. Beberapa waktu
kemudian, Lam-kong Pak berkata.
"Walaupun malam ini Gak-hu dengan adik Yap juga
merupakan suatu kejadian yang mengerikan hati. aku harap
saudara sekalian tak usah bersedih hati lagi marilah kita
bicarakan masalah penting."
Setelah berhenti sebentar. dia melanjutkan: "Ada satu hal
aku ingin menanyakan kepada saudara sekalian. siapakah
yang per-tama2 menyebarkan berita sensasi yang
mengatakan payung sengkala berada dalam perkampungan
Toa-lo sancung?"
"Semua kejadian itu adalah hasil karyaku."jawab Awan
hitam pengejar rembulan oei ci-hu, "sesungguhnya akupun
tidak siarkan berita bohong. Ceritanya begini: kalian semua
tentu tahu bukan betapa keji dan liciknya ciu ci Kang
tersebut" rupanya secara diam2 mereka telah buat sebuah
payung sengkala palsu yang tanpa diketahui oleh siapapun
telah dikirim kedalam perkampungan Toa-lo sancung.
sekalipun barangnya palsu tapi mereka bersikap se-olah2
benar2 telah mendapatkan benda pusaka, ditambah pula
aku sebar luaskan berita ini keempat penjuru maka orang
semakin yakin kalau perkampungan Toa-lo sancung benar2
terdapat benda mustika itu. tindakanku ini bukan
bermaksud untuk melaksanakan siasat sekali timpuk dua
burung. pada hakekatnya aku sedang menggunakan siasat
racun melawan racun untuk menggagalkan rencana busuk
mereka" "Lalu bagaimana dengan payung sengkala milik cu
cianpwee yang sekarang terbukti adalah barang palsu juga .
permainan siapakah itu?""
"Menurut dugaanku kemungkinan besar permainan
tersebut adalah hasil karya dari Mo-jiu-sam-seng tiga
bintang bertangan iblis, sebab payung sengkala yang asli
aku dapatkan diri tangan mereka. Sekarang asal usul dari
payung mustika itupun sudah dibikin terang, sungguh tak
nyana hanya karena ingin memperebutkan sebuah payung
sengkala palsu, banyak jago baik dari golongan lurus
maupun dari golongan sesat telah kehilangan nyawa
dengan percuma."
"Sian-yan Peng" ujar Sun Han Siang kemudian,
"sekarang kejadian lampau sudah lewat, cu Hong Hong
juga sudah tinggalkan dunia yang ramai, urusan
perkawinan dari putrimu hanya engkaulah yang berhak
untuk ambil keputusan, walaupun semasa hidupnya cu
Hong Hong tak pernah menolak atau keberatan akan
perkawinan ini. akan tetapi ia belum pernah memberikan
jawaban yang pasti, maka aku harap pada malam ini juga
kau bersedia memberi jawaban yang pasti agar semua orang
bisa berlega hati"
"Sejak pertama kali mereka bergaul sudah menyatakan
persetujuan apalagi hubungan mereka kian hari kian
bertambah akrab, tentu saja tiada persoalan lagi bagiku,
semua urusan kuserahkan pelaksanaannya kepada kalian"
Pada waktu itulah catatan mati hidup berpaling kearah
wangwee berhati hitam dan berkata:
"Ji-ya. mengetahui urusan menjamu yang berlangsung
tempo hari. aku toa-ya sangat tak berkesan, pertama kali
kuundang dirimu kau bilang sayurnya terlalu tawar tak ada
minyak babinya, kedua kali kujamu kau alasanmu
kebanyakan minyak babi, maka dari itu agar kau merasa
puas aku toa-ya akan menjamu dirimu untuk ketiga
kalinya." Wangwee berhati hitam yang gemuk segera tertawa terbahak2.
"Haaah-haaahh-haaaahh....toa-ya, engkau memang
menyenangkan hati, demi aku ji-ya ternyata kau bersedia
melanggar kebiasaan."
"Aaah itu toh urusan kecil, apalagi hubungan diantara
kita berdua toh sudah terlalu akrab, masa antara saudara
sendiri juga membicarakan soal kebiasaan" dan lagi aku kan
Cuma tanggal satu serta tanggal lima belas tidak menjamu
tamu, karenanya aku hendak menjamu dirimu tepat harinya
dengan hari perkawinan dari majikan kecil kita"
Paras muka Wangwee berhati hitam berubah bebat. ia
segera berteriak lantang:
"Huuhh Masa ingin menjamu kok dibarengkan dengan
hari perkawinan orang, aku tak sudi menerima
undanganmu itu. Heey toa-ya...janganlah kau pandang aku
sebagai bocah cilik...maaf, aku tak mau menerima
kebaikanmu itu"
Dalam pada itu Sun Han Siang telah mengutus orang
untuk membeli peti mati, merekapun segera mengebumikan
jenasah cu Hong Hong diluar kebun bunga keluarga Siok.
Disaat upacara pemakaman cu Hong Hong berlangsung.
diam2 Sian-yan Peng berlalu dari sana, tak seorangpun
mengetahui kepergiannya itu dan tak ada orang yang tahu
kemana dia pergi.
Tapi semua orang cukup memaklumi perasaan hatinya.
mereka tahu jago tua itu penuh diliputi kekecewaan,
kesedihan dan putus asa,jelas ia tak punya muka untuk
berjumpa lagi dengan rekan2nya. kepergian jago tua sudah
pasti tak akan diketemukan orang sebab Sian-yan Peng pasti
akan menjauhkan diri dari pergaulan manusia.
Para begundalnya yang kebanyakan merupakan anggota
penggadaian dunia persilatan segerapun pada
membubarkan diri dan berlalu dari sana, karena mereka
pernah menghianati sun Han Siang.
Setelah semua iblis itu pergi, Siang Hong Ti menghela
napas panjang dan berkata
"Sandiwara berakhir penontonpun bubar, orang2 pandai
yang mati telah mati, yang pergi telah pergi, hanya tersisa
kita2 manusia pembuat bencana yang harus menanggulangi
bahaya didepan mata, kita pulang bertugas menyingkirkan
dua orang gembong iblis itu beserta Suma Ing"
"oei ci-hu" seru pencuri tua dari samping, "tenaga dalam
yang kalian bertiga miliki telah pulih kembali seperti sedia
kala, yakinkah kalian bisa menghadapi Bintang yang
bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng?"
"Hey pencuri tua, bagaimana kalau kurangi sindiranmu
itu?" jawab oei ci-hu Cepat," kalau tenaga gabungan kami
bertiga masih belum mampu untuk menghadapi iblis tua
itu, lebih baik aku gantung diri diatas pohon saja"
"Kalau toh memang begitu kita tak usah tercerai berai
lagi. hakekatnya bukan pekerjaan yang mudah untuk
menemukan jejak iblis tua itu, dari pada mencari lebih baik
kita menunggu saja kedatangannya. mumpung urusan
sudah beres bagaimana kalau kita Cari hari baik dan
menyelenggarakan upaCara perkawinan dari Pak-ji dikota
Lok-yang" kalau mendengar kabar ini, sudah pasti dia orang
gembong iblis tua itu akan datang mengaCau. Nah kita bisa
gunakan kesempatan yang baik itu untuk singkirkan mereka
dari muka bumi."
"Bagus juga akalmu itu " puji Sun Han Siang. "cepat atau
lambat kedua ikan kakap itu pasti akan masuk jaring "
"Sekarang masih ada satu urusan penting yang harus
segera kuselesaikan." tiba2 Lam-kong Pak menyela, "aku
rasa urusan perkawinan tak perlu diselesaikan dengan
tergesa-gesa, lain waktu saja?"
"Bocah yang tak tahu diri. maunya kau sengaja
mengganggu kegembiraan aku?" damperat Pencuri tua.
"Harap gak-hu jangan salah paham" Bukannya aku
sengaja menghilangkan kegembiraan gak-hu, dalam
kenyataan dua orang anggota Mo-jiu-sam-seng telah
meninggalkan dunia. sekarang tinggal seorang saja yang
masih hidup, itupun menderita luka dalam yang parah
Meskipun ia berpesan kepadaku tak usah mencari dia lagi
sebab katanya tak lama kemudian ia akan kembali kedunia
yang fana. tapi aku telah menyanggupi untuk menguburkan
jenasah mereka bertiga, oleh karena itu aku harus pergi
memenuhi janji"
"Janji yang telah diucapkan memang sepantasnya
dipenuhi" sambung Sun Han Siang. "apabila dua orang
gembong iblis tua itu sudah tahu bahwa guru mereka belum
mati, dua orang murid murtad itu pasti akan berkunjung
kesana untuk melakukan pembunuhan, Pak-ji cepatlah


Kelelawar Hijau Lanjutan Payung Sengkala Karya S D Liong di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berangkat kesana dan bawa beberapa orang sebagai
pembantu, cepat pergi cepat kembali. kami tunggU kau
dikota Lok-yang"
"Biarlah aku pergi dengan membawa serta Loo-tua dan
sepasang manusia bagus dari Hay-thian" kata Lam-kong
Pak kemudian. Wartawan berhati hitam dari Hay-thian siang-cho
kontan menyela "Yaya sekalian, julukan kami telah diubah sau-ya
menjadi sepasang manusia bagus. itu tandanya sau-ya
menilai tinggi kekuatan dan budi kita berdua..haabh..haah
.haahh.. baik, baik, kami segera akan berangkat untuk
menyumbang tenaga."
"Kami juga ikut" sela dua gadis muda itu cepat
Lam-kong Pak mengangguk tanda setuju, berangkatlah
dia menuju kelembah terpencil tersebut dengan membawa
serta Pek-li Hiang, cu Li-yap. Loo Liang-jan serta sepasang
manusia jelek dari Hay-thian.
Setibanya didepan gua. Lam-kong Pak memerintahkan
semua orang menunggu diluar, sedang ia masuk kedalam
gua itu seorang diri.
Setibanya dimulut kawah gunung berapi, ditemuinya
beberapa buah tulisan tertera diatas dinding, ketika didekati
dan dibacanya ternyata tulisan itu berbunyi demikian.
"Aku sudah tinggalkan gua ini bersama loo-hek. akan
kucari murid durhaka itu untuk bikin perhitungan, engkau
tak usah menguatirkan keselamatanku."
Mendapat tahu kakek itu sudah pergi terpaksa Lam-kong
Pak mundur dari gua itu dan menceritakan kejadian tadi
kepada semua orang. akhirnya ia menambahkan:
"Menurut pengelihatanku, kakek itu belum lama
tinggalkan gua ini, mari kita cari jejaknya disekitar tempat
ini" "Engkoh Pak" seru Pek-li Hiang kemudian, "bukankah
engkoh pernah cerita kalau kakek tua itu sudah berpuluh
tahun lamanya duduk diatas tonggak batu yang runcing,
setelah menderita luka parah masa ia dapat tinggalkan gua
itu?""
"Aku sendiripun keheranan. Tapi yang jelas selama
puluhan tahun tersekap dalam gua. tiga orang kakek tua itu
tak pernah mengendorkan latihannya, tenaga dalam yang
mereka miliki telah peroleh kemajuan yang sangat pesat.
kendatipun terluka aku rasa asal bersemedi luka itu dapat
disembuhkan toh disanapun tersedia telur ikan leihi emas
yang bisa pulihkan kembali kekuatan orang, aku tahu sudah
pasti kakek tua itu tak rela kalau orang lain yang
membinasakan Bintang yang bertaburan diangkasa Liok
Hoa Seng, maka ia beritahu kepadaku bahwa tak lama
kemudian ia akan mati. padahal secara diam2 ia telah
tinggalkan gua tersebut untuk bikin perhitungan."
Setelah keluar dari lembah terpencil itu, tiba2 sepasang
manusia jelek dari Hay-thian berkata:
"Tuan muda, bagaimana kalau kita memecahkan diri
jadi dua rombongan" baik menemukan jejaknya atau tidak.
sebelum kentongan kelima kita berkumpul kembali disini"
"Baik, kalian berdua bawalah Loo-tua dari barat berputar
keutara, sedang kami dari selatan berputar ketimur,
Sebelum kentongan kelima nanti kita bertemu lagi disini,
tapi ingat jika kalian bertamu dengan iblis tua itu janganlah
melawan dengan kekerasan, cepat mundur dan kabur"
Begitulah, setelah Sepasang manusia jelek dari Hay-thian
bertiga berangkat. maka Lam-kong Pak dengan membawa
dua orang gadispun bergerak menuju keselatan
pada waktu itu kentongan ketiga baru lewat malam amat
sunyi dan udara amat dingin, Sudah puluhan li ketiga orang
itu bergerak kearah selatan tanpa menemukan sesuatu
apapun, kemudian mereka bergerak kearah timur. Suatu
ketika mendadak cu Li-yap berkata:
"Engkoh Pak. marilah kita beristirahat sebentar disini
aku rasa keCepatan gerak ketiga orang itu tak akan lebih
Golok Halilintar 1 Seruling Samber Nyawa Karya Chin Yung Pedang Pusaka Buntung 4

Cari Blog Ini