Ceritasilat Novel Online

Penyair Maut 1

Pendekar Rajawali Sakti 20 Penyair Maut Bagian 1


PENYAIR MAUT Oleh Teguh Suprianto
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Gambar sampul oleh Tony G.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa
izin tertulis dari penerbit Teguh Suprianto
Serial Pendekar Rajawali Sakti
dalam episode: Penyair Maut Ebook: Abu Keisel
http://duniaabukeis
http://duniaab el.blogspot.com
ukeisel.blogspot.com
1 Langkah terayun menyongsong fajar
Ombak bergulung menabur karang
Jerit anak gembala terngiang
Membelah pagi nan gersang
... "Sialan! Jelek...!" makian keras terdengar di antara bait-bait syair yang
mengalun dari mulut seorang pemuda di atas sebongkah batu hitam di pinggir
jalan. Pemuda berkulit agak kehitaman dengan wajah penuh goresan luka menghentikan
alunan bait-bait syairnya.
Kepalanya menoleh dan memandang seorang laki-laki tua yang berdiri tidak jauh
darinya. Beberapa orang yang berlalu-lalang di jalan itu tidak menggubris sama
sekali. "Tidak adakah pekerjaan lain, Kumbara?" nada suara laki-laki tua itu terdengar
ketus. "Aku seorang penyair, Ki Ampar. Hanya itu satu-satunya pekerjaanku," sahut
pemuda itu lembut.
"Desa ini bukan tempatnya penyair! Semua orang bekerja keras untuk hidup. Apa
syair-syair bututmu bisa memberi makan, memberi sandang, dan segala macam
keperluan hidupmu"! Kau harus bekerja, Kumbara. Lihat sekelilingmu! Lihat semua
orang yang ada di sekitarmu!"
agak keras suara Ki Ampar.
Pemuda berkulit hitam yang kini dinasehati itu diam saja. Dia melompat turun
dari atas batu yang didudukinya.
Sebentar ditatapnya Ki Ampar agak tajam, lalu melangkah
pergi tanpa berkata-kata lagi.
Gending pengantin bertalu merdu
Wajah-wajah ceria menyambut
Adakah hati semanis madu..."
Menyapa embun nan lembut
... "Dasar penyair edan!" rutuk Ki Ampar bersungut-sungut.
Sementara pemuda yang bernama Kumbara itu terus melangkah sambil mengalunkan
bait-bait syairnya.
Beberapa orang desa yang kebetulan berpapasan, langsung mencibir. Anak-anak
bertelanjang dada, berlarian, merubung, dan menyorakinya. Tapi Kumbara kelihatan
acuh saja, bahkan semakin bersemangat melantunkan bait-bait syairnya.
Orang-orang tua menarik anak mereka yang merubungi Kumbara. Sedangkan pemuda itu
hanya memandanginya saja dengan sinar mata sayu. Hanya sekejap saja keceriaan
terpancar di wajahnya, kemudian berganti dengan kemurungan yang menyaput
wajahnya kembali.
"Kalau membaca syair, sana di gunung! Biar monyet-monyet terhibur!" bentak
seorang perempuan tua yang kainnya kedodoran.
"Mending kalau bagus! Suaranya saja persis burung gagak!" sambung seorang
perempuan lainnya mencibir.
Kumbara memandangi orang-orang yang mencibir mengeluarkan kata-kata menyakitkan.
Sinar matanya redup dan sayu. Bibirnya terkatup rapat. Dengan lesu, dia berbalik
dan melangkah pergi. Caci-maki dan segala macam rutukan terdengar di sekitarnya.
Pemuda itu terus berjalan perlahan-lahan dengan kepala tertunduk.
"Minggir...! Minggir...!"
Tiba-tiba saja terdengar suara-suara keras berteriak, disertai suara derap
langkah kaki kuda. Kumbara menghentikan langkahnya, dan kembali membalikkan
tubuhnya. Pada saat itu, empat orang penunggang kuda menerobos kerumunan orang
desa yang tengah mencaci-maki Kumbara. Orang-orang desa itu segera menyingkir
memberi jalan. Kumbara memandangi empat orang penunggang kuda itu. Sinar matanya terlihat sayu,
namun memancarkan sesuatu yang sukar untuk dikatakan. Seorang penunggang kuda
melompat turun. Gerakannya begitu ringan dan indah, pertanda memiliki ilmu
kepandaian cukup tinggi.
Langkahnya tegap menghampiri Kumbara.
"Sudah berapa kali aku bilang, jangan kembali lagi ke sini!" bentak orang
berwajah kasar dengan tubuh tegap berotot itu.
"Desa ini tempatku dilahirkan. Mengapa aku tidak boleh hidup di sini" Aku tidak
pernah menyakiti orang lain,"
sahut Kumbara. "Sudah, jangan banyak omong! Ayo cepat pergi, sebelum kurusak mukamu!" bentak
orang berwajah kasar itu.
"Sekalipun kalian bunuh, aku tidak akan pergi dari desa ini!" dengus Kumbara
tegas. Belum lagi hilang kata-kata Kumbara dari pendengaran, orang berwajah kasar itu
melepaskan cambuk yang membelit pinggangnya. Cambuk berwarna hitam pekat dengan
ujungnya berbentuk ekor kuda itu langsung dihentakkan dengan kuat.
Ctar! "Akh!" Kumbara memekik menahan sakit.
Cambuk itu mendarat tepat di wajah Kumbara. Darah langsung merembes keluar dari
kulit wajah yang sobek.
Tapi Kumbara tetap berdiri tegak dengan sorot mata yang tajam. Laki-laki
bertubuh kekar dan memegang cambuk itu kembali mengangkat senjata itu tinggitinggi ke udara.
"Tunggu!" tiba-tiba terdengar bentakan keras.
Laki-laki bertubuh tegap itu menghentikan ayunan cambuknya. Dia menoleh ke
belakang dan langsung membalikkan tubuhnya, kemudian membungkuk di hadapan
seorang pemuda yang usianya mungkin sebaya
dengan Kumbara.
Pemuda itu duduk di atas punggung kuda putih, diapit dua orang berbadan tinggi
besar dan berotot. Wajahnya cukup tampan, namun sorot matanya demikian tajam.
Bibirnya tipis, dan selalu menyunggingkan senyuman.
Sikapnya terlihat angkuh, apalagi saat memamerkan ilmu meringankan tubuhnya
ketika melompat turun dari kudanya. Ringan sekali gerakannya, dan tanpa
menimbulkan suara sedikit pun kakinya mendarat tepat di depan Kumbara.
"Sebenarnya aku tidak ingin menyakitimu, kalau kau sedikit lunak," kata pemuda
itu. Suaranya terdengar lembut, namun mengandung arti yang sangat dalam.
Kumbara tidak menyahut. Namun pandangan matanya sangat tajam, menusuk langsung
ke bola mata pemuda tampan di depannya. Dia tahu kalau pemuda itu sangat
berpengaruh dan berkuasa di desa ini. Bahkan kekuasaannya melebihi kepala desa.
Meskipun masih muda, dia seorang saudagar yang amat kaya dan sangat berpengaruh.
Hampir seluruh tanah di desa ini miliknya.
Semua orang di Desa Komering Ilir ini menyebutnya Raden Glagah. Padahal, pemuda
itu bukan keturunan bangsawan!
"Pergilah, sebelum orang-orangku habis kesabarannya,"
sambung Raden Glagah.
"Kau memang sangat berkuasa di sini. Baik...! Aku pergi, tapi akan kembali
membuat perhitungan pada kalian semua!" sahut Kumbara tegas.
Laki-laki yang memegang cambuk langsung mengangkat senjatanya dan siap
menghantam Kumbara. Tapi Raden Glagah cepat-cepat merentangkan tangannya untuk
mencegah. Kumbara hanya menatap tajam, kemudian berbalik, dan langsung melangkah
pergi. "Huh! Anak itu sudah berani kurang ajar, Raden!"
dengus laki-laki berwajah kasar itu seraya menurunkan cambuknya, lalu
membelitkannya kembali di pinggang.
"Biarkan saja dia pergi," kata Raden Glagah kalem.
"Tapi dia sudah berani mengancam."
"Dia cuma penyair miskin, tidak punya kekuatan apa-apa. Sudahlah, Naraka!
Sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan. Waktu kita sudah terhambat hanya untuk
mengurusi orang gila saja."
Raden Glagah berbalik dan melompat naik ke punggung kudanya. Naraka mengikuti.
Empat ekor kuda pun kembali berpacu cepat membelah jalan Desa Komering Ilir,
menuju arah selatan. Penduduk desa yang menyaksikan semua kejadian itu, menarik
napas lega. Mereka memang sudah tidak suka lagi terhadap Kumbara. Mereka
berharap agar penyair gila itu benar-benar meninggalkan desa dan tidak kembali
lagi. Di antara penduduk Desa Komering Ilir itu, terlihat Ki Ampar. Laki-laki tua yang
menjabat kepala desa itu hanya diam. Matanya memandang lurus ke punggung Kumbara
yang melangkah gontai meninggalkan desa kelahirannya.
"Kumbara.... Kalau saja kau ikuti semua kata-kataku, pasti nasibmu tidak
semalang ini...," desah Ki Ampar dalam hati. "Malang benar nasibmu, Kumbara...."
*** Waktu terus berjalan, namun terasa lambat. Kumbara berhenti melangkah setelah
sampai di tepi sungai besar yang berair keruh kecoklatan. Sungai itu menjadi
pembatas antara Desa Komering Ilir dengan Desa Sindang Laga. Kumbara berdiri
mematung memandang ke seberang sungai.
"Kalau saja aku punya ilmu silat, sudah kuhajar mereka semua!" gumam Kumbara
memberengut. Tangannya terangkat menyentuh luka di wajahnya. Dia meringis merasakan perih
pada lukanya. Darah sudah mulai mengering. Dan memang, luka itu hanya menyobek
kulitnya saja. Tidak seberapa parah, tapi cukup menyakitkan. Lebih-lebih hati
pemuda itu. Begitu sakit terbalut dendam.
Sebuah sampan terapung di tengah-tengah sungai. Di
atas sampan itu duduk seorang perempuan tua dengan baju kumal penuh tambalan.
Kumbara memperhatikan perempuan tua itu yang tengah mengayuh sampan.
Sepertinya sampan itu sengaja diarahkan ke tepi. Kumbara masih terus
memperhatikan sampai sampan itu benar-benar menepi di depannya.
Perempuan tua itu melompat keluar dari sampannya, dan menariknya ke tepi. Tapi
sampan itu tidak juga bergerak. Tanpa pikir panjang lagi, Kumbara bergegas
menghampiri dan segera membantu perempuan tua itu menarik sampan ke tepi.
"Terima kasih," ucap perempuan tua itu setelah sampannya berada di daratan.
"Sama-sama, Nek," sahut Kumbara.
Perempuan tua itu merayapi wajah Kumbara yang penuh bekas luka goresan.
Keningnya yang berkerut, semakin dalam kerutannya melihat luka di wajah Kumbara.
Darah kering masih menempel jelas, dan tampaknya luka itu masih baru.
"Ada apa dengan diriku, Nek?" tanya Kumbara jengah dipandangi terus seperti itu.
"Siapa yang melukai mukamu?" tanya perempuan tua itu tanpa menjawab pertanyaan
Kumbara. "Ah! Hanya tergores ranting, Nek," sahut Kumbara berdusta.
"Coba kulihat."
Kumbara mau menolak, tapi perempuan tua itu sudah menjulurkan tangannya
memeriksa luka di wajah pemuda itu. Kumbara hanya diam saja. Terdengar suara
berdecak dari bibir perempuan tua itu. Kepalanya yang ditumbuhi rambut putih,
menggeleng-geleng.
"Tidak parah, tapi akan meninggalkan bekas yang tidak akan hilang seumur hidup,"
kata perempuan tua itu seperti bicara pada diri sendiri.
"Nenek mau ke mana?" Kumbara mengalihkan
perhatian perempuan tua itu.
"Ke Desa Komering Ilir," sahut perempuan tua itu. "Kau
sendiri?" Kumbara tidak segera menjawab. Kepalanya kemudian menggeleng beberapa kali.
Sinar matanya kini redup tanpa cahaya sedikit pun. Kembali perempuan tua itu
memandanginya. "Kalau kau tidak punya tujuan, sebaiknya ikut aku saja. Cucuku pasti bersedia
menerima kedatanganmu. Kau anak yang baik," kata perempuan tua itu lembut
suaranya. "Terima kasih, Nek," ucap Kumbara bernada menolak.
"Jangan sungkan, anak muda. Meskipun aku dan cucuku hidup serba kekurangan, tapi
kau bisa tinggal bersama kami," desak perempuan tua itu.
"Cucu Nenek tinggal di Desa Komering Ilir?" tanya Kumbara.
"Benar."
"Ah! Tidak usah, Nek. Permisi."
Kumbara cepat melangkah pergi. Sementara perempuan tua yang memakai baju kumal
penuh tambalan itu semakin heran saja. Dipandanginya pemuda itu dengan benak
bertanya-tanya. Kemudian dia melangkah pergi setelah Kumbara berjalan cukup
jauh. Namun kepalanya terus dipenuhi berbagai macam pertanyaan akan sikap
Kumbara yang dirasanya sangat aneh itu.
*** Senja mulai merayap turun. Kesibukan di Desa
Komering Ilir berangsur-angsur reda. Sebagian penduduk sudah meninggalkan
pekerjaannya masing-masing.
Seorang perempuan tua berbaju kumal penuh tambalan berjalan tertatih-tatih,
dibantu sebatang tongkat berkeluk dari bahan kayu hitam. Perempuan tua itulah
yang bertemu Kumbara di tepi sungai tadi.
Langkahnya agak terseok menuju sebuah rumah kecil berdinding anyaman bambu dan
beratapkan daun rumbia.
Seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh tahunan muncul dari dalam rumah itu,
tepat di saat perempuan tua itu tiba di depan pintu. Laki-laki muda bertubuh
kurus tampak terkejut.
"Nenek...!" serunya terkejut.
Pemuda itu segera membantunya berjalan dan membawanya masuk ke dalam. Sebuah
kursi kayu berdebu kini jadi tempat duduk perempuan tua itu.
Sebuah pelita kecil dari minyak jarak tergantung di tengah-tengah ruangan yang
sempit. Cahayanya begitu redup seolah-olah hendak padam.
"Kenapa tidak memberi kabar dulu kalau ingin datang?"
nada suara pemuda kurus itu seperti menyesal. "Nenek kan bisa titip pesan pada
penduduk yang pergi ke Desa Sindang Laga?"
"Aku belum jompo, Baruna!" sahut perempuan tua itu yang dikenal oleh seluruh
penduduk Desa Komering Ilir dengan nama Nek Selong.
"Tapi, paling tidak aku bisa menjemputnya di tepi sungai, Nek."
"Sudah ada yang membantuku menarik sampan ke tepi."
"Siapa?"
"Ah, aku lupa menanyakan namanya. Tapi dia sangat baik, membantuku tanpa
kuminta. Sayang, pemuda itu tidak bersedia kuajak singgah ke sini."
"Sayang sekali. Padahal, dia bisa singgah di sini. Atau kalau dia mau bisa juga
tinggal beberapa hari di sini."
"Aku juga sudah menawarkan begitu. Tapi...."
"Kenapa, Nek?"
"Dia kelihatan sangat aneh. Begitu kukatakan bahwa cucuku tinggal di sini, dia
langsung pergi begitu saja."
Baruna diam merenung.
"Yang aku heran, mukanya penuh luka. Aku sempat memeriksa luka-lukanya.
Sepertinya terkena sayatan senjata yang mengandung racun ringan, tapi tidak
mematikan. Hanya saja akan membuat cacat kulitnya seumur hidup," kata Nek Selong
setengah bergumam.
"Benar itu, Nek..."!" Baruna kelihatan terkejut.
"Iya. Kenapa kau kaget?"
"Tidak ada orang lain yang mukanya penuh goresan, kecuali Kumbara. Dia orang
malas yang bisanya hanya membaca syair. Hhh...! Tapi kasihan juga, Nek. Hidupnya
sebatang kara, tidak punya tempat tinggal, dan...
Yaaahhh...! Begitulah kalau semua orang sudah tidak menyukainya. Paling-paling
aku hanya bisa merasa kasihan saja," kata Baruna pelan.
"Jadi, dia juga penduduk desa ini?" Nek Selong ingin menegaskan.
"Ya, tapi sekarang tidak lagi. Raden Glagah sudah mengusirnya. Kumbara dianggap
biang kekacauan dan selalu menimbulkan keresahan. Padahal, dia tidak pernah
melakukan perbuatan yang meresahkan. Apalagi sampai merugikan orang lain.


Pendekar Rajawali Sakti 20 Penyair Maut di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Entahlah! Aku sendiri tidak mengerti, kenapa semua orang membenci dan
menjauhinya seperti melihat anjing buduk berpenyakitan."
"Kumbara...," Nek Selong bergumam pelan.
"Ada apa, Nek?" tanya Baruna.
"Ah, tidak. Oh, ya. Bagaimana dengan kemajuan olah kanuraganmu?" Nek Selong
mengalihkan pembicaraan.
"Lumayan, Nek. Tapi...," wajah Baruna berubah mendung.
"Ada apa?" tanya Nek Selong. "Kau mendapat kesulitan?"
"Kesulitan dalam latihan tidak ada, Nek. Hanya ini...."
"Apa?"
"Badanku, kenapa tidak menjadi kekar juga" Padahal aku selalu giat berlatih.
Semua jurus yang Nenek ajarkan sudah aku kuasai penuh," nada suara Baruna
terdengar mengeluh.
"Kau menyesal dengan badanmu yang kurus kerempeng itu, Baruna?"
"Aku ingin seperti pemuda lainnya, Nek. Punya badan kekar, berisi dan otot
menonjol. Aku pasti bisa bekerja pada Raden Glagah, dan tidak terus-terusan
hidup miskin, selalu kekurangan! Semua orang selalu menganggapku lemah, dan
tidak ada yang mau mempekerjakanku," keluh
Baruna. "Baruna..., Baruna. Sudah berapa kali kukatakan, jangan suka mengeluh dan
menyesali diri. Lagi pula aku mengajarkan jurus-jurus olah kanuragan bukan untuk
bekerja jadi tukang pukul! Lebih-lebih buat Raden Glagah.
Lebih baik kau tetap kurus begitu daripada buang tenaga buat orang macam Raden
Glagah!" "Nek! Semua orang di sini selalu menginginkan begitu.
Mereka merasa bangga kalau bisa bekerja pada Raden Glagah."
"Mereka semua tolol!" agak keras suara Nek Selong.
"Nek..., mengapa Nenek selalu menganggap semua orang di sini tolol" Kenapa Nenek
tidak mengijinkan aku bekerja pada Raden Glagah" Kenapa, Nek...?"
Nek Selong tidak segera menjawab. Dia hanya menarik napas panjang, kemudian
bangkit berdiri. Tanpa berkata-kata lagi, perempuan tua itu kemudian merebahkan
diri di atas balai-balai bambu yang beralaskan tikar daun pandan.
"Bangunkan aku tengah malam nanti. Aku ingin lihat, sampai di mana kau menguasai
jurus-jurus yang telah kuturunkan," pesan Nek Selong.
"Baik, Nek," sahut Baruna lirih.
Baruna masih duduk diam memandang keluar dari pintu yang terbuka. Saat itu, di
luar sana kegelapan sudah menyelimuti seluruh Desa Komering Ilir. Baruna benarbenar tidak mengerti. Setiap kali dia menanyakan perihal itu, neneknya selalu
menghindar. Macam-macam dugaan dan pertanyaan muncul. Dan semuanya tidak ada
yang bisa terjawab. Baruna hanya bisa menyimpannya di dalam hati.
*** 2 "Hup! Yaaah...!"
Glar...! Sebongkah batu sebesar kerbau berwarna hitam pekat, hancur berkeping-keping
disertai suara ledakan menggelegar. Di antara kepulan debu dan reruntuhan batu
itu, tampak seorang pemuda bertubuh kurus kerempeng berdiri tegak. Kedua
tangannya terentang ke depan.
Perlahan-lahan tangan yang kurus bagai tulang terbalut kulit itu bergerak turun.
Kemudian tubuhnya berbalik, menghadap pada seorang perempuan tua berbaju kumal
penuh tambalan.
"Bagus! Kau telah menguasai jurus 'Pukulan Tapak Geledek' dengan baik, Baruna,"
kata perempuan tua berbaju kumal penuh tambalan itu, yang tak lain adalah Nenek
Selong. Pemuda kurus kerempeng yang memang ternyata Baruna itu melangkah mendekati.
Keringat masih membasahi wajah dan tubuhnya. Dada yang kurus dengan tulangtulang bersembulan, bergerak turun naik tidak teratur. Di tengah malam buta
seperti ini, mereka berdua berada di tengah-tengah hutan dekat Desa Komering
Ilir, tempat Baruna berlatih ilmu-ilmu olah kanuragan hampir tiap malam.
"Nek, boleh aku tanya sesuatu?" nada suara Baruna terdengar berharap.
"Katakan," sahut Nek Selong.
"Terus terang, untuk apa sebenarnya aku mempelajari
ilmu olah kanuragan ini" Sedangkan Nenek sendiri tidak pernah mengijinkan aku
untuk menggunakannya. Semua yang kupelajari selama ini sepertinya jadi sia-sia
saja. Apa sebenarnya maksud Nenek?" Baruna langsung
menumpahkan ganjalan yang berada dalam hatinya.
"Semua yang aku ajarkan padamu hanya untuk menjaga diri, Baruna. Ilmu olah
kanuragan dan ilmu-ilmu kesaktian bukan untuk jago-jagoan! Apalagi untuk
melakukan sesuatu yang dapat merugikan orang lain, bahkan memperkaya diri
sendiri," sahut Nek Selong tenang.
Baruna kelihatan tidak puas dengan jawaban yang diberikan Nek Selong.
"Dengar, Baruna! Semua ilmu yang telah kau kuasai itu adalah ilmu turunan dari
leluhurmu. Tidak ada yang memilikinya selain keluarga kita. Dan kau sendiri
adalah keturunan yang terakhir. Aku tidak ingin ilmu warisan ini hilang. Itulah
sebabnya selalu kutekankan agar kau berlatih keras dan menguasai semuanya dengan
baik," sambung Nek Selong lembut nada suaranya.
"Pasti bukan itu maksud sebenarnya!" gerutu Baruna tetap merasa tidak puas.
"Nenek menyembunyikan sesuatu! Terus terang saja, Nek...," desak Baruna ingin
tahu. "Tidak ada yang kusembunyikan," kata Nek Selong.
Pandangan matanya tajam menatap langsung ke bola mata pemuda di depannya.
"Nenek bohong!"
"Baruna..., kapan aku pernah berbohong padamu?"
"Nenek selalu menghindar kalau aku bicara tentang Raden Glagah. Apa itu bukan
bohong namanya" Nenek menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh kuketahui.
Kenapa Nenek lakukan itu" Apakah Raden Glagah musuh Nenek?" desak Baruna.
Nek Selong tidak langsung menjawab. Kata-kata Baruna yang begitu lancar bagai
air sungai mengalir dari pegunungan itu, langsung menyentuh hatinya. Beberapa
kali ditariknya napas panjang, seolah-olah ingin dilonggarkan rongga dadanya
yang mendadak terasa sesak.
Sedangkan Baruna sendiri telah bertekad untuk mengetahui semua yang
disembunyikan Nek Selong selama ini. Malam ini dia harus bisa mendesak perempuan
tua itu. Pemuda itu sudah tidak tahan lagi menyimpan ganjalan terpendam dalam
hati. Dia yakin kalau Nek Selong menyembunyikan sesuatu. Terutama yang
berhubungan dengan Raden Glagah.
"Aku sudah cukup dewasa, Nek. Usiaku sudah hampir dua puluh satu tahun. Untuk
apa aku menguasai semua ilmu yang Nenek berikan, kalau tidak ada tujuan yang
pasti" Katakan yang sebenarnya, Nek," desak Baruna penuh harap.
Nek Selong masih diam membisu. Sekali lagi dia menarik napas panjang, kemudian
berbalik. Langkahnya terayun pelan mendekati sebongkah batu ceper di bawah pohon
beringin tua. Nek Selong duduk bersila di atas batu itu. Baruna mendekati dan
duduk bersila di depannya.
Pandangan matanya masih mengharapkan agar neneknya bersedia mengatakan apa yang
disembunyikannya selama ini. Kemudian untuk beberapa saat lamanya mereka hanya
berdiam diri saja.
"Kau memang sudah dewasa, Baruna. Aku lupa, kalau cucuku sudah berusia hampir
dua puluh satu tahun...,"
kata Nenek Selong pelan, memecah kebisuan di antara mereka.
Baruna diam. Hatinya mulai gembira karena Nek Selong sudah mulai berkata seperti
apa yang diharapkannya selama ini. Pemuda itu menunggu dengan sabar.
"Maafkan kalau selama ini aku telah menggelisahkan hatimu. Tapi bukan itu
maksudku, Baruna. Memang sengaja kusimpan rahasia ini sampai kau benar-benar
dewasa dan mampu menerimanya dengan hati bersih dan lapang," sambung Nek Selong
tetap pelan suaranya.
"Apa pun yang akan Nenek katakan, aku akan
menerimanya dengan lapang dada," kata Baruna.
"Dengar baik-baik, cucuku...."
*** Baruna tetap menunggu dengan sabar. Sudah lama dia mengharapkan agar neneknya
mau terbuka dan tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi. Sementara Nek Selong
masih diam mencari kata-kata yang tepat. Sepertinya dia begitu berat untuk
mengatakan rahasia hidup cucunya.
"Dulu, sebelum kau lahir. Desa Komering Ilir merupakan sebuah desa yang damai
dan tentram. Tapi semua itu berubah setelah kedatangan seorang saudagar kaya
yang membeli hampir separuh tanah penduduk desa ini. Semua itu memang sering
terjadi, dan tidak menimbulkan kejadian apa-apa. Namun belakangan semuanya
berubah menjadi bencana. Saudagar itu memaksa seluruh penduduk untuk menjual
tanah kepadanya dengan cara-cara keji. Bahkan Kepala Desa Komering Ilir sendiri
tewas karena tidak bersedia menyerahkan tanahnya...," Nek Selong menghentikan
ucapannya sebentar sambil menarik napas panjang-panjang.
"Teruskan, Nek," desak Baruna mulai tidak sabaran.
"Tewasnya Kepala Desa Komering Ilir menimbulkan kemarahan penduduk. Tapi mereka
tidak punya daya dan kekuatan. Saudagar itu memiliki tukang-tukang pukul yang
sangat kejam. Bertahun-tahun mereka menguasai Desa Komering Ilir, hingga suatu
hari datang seorang pemuda tampan dan gagah. Dia menumpas semua perlakuan
saudagar itu. Seluruh penduduk sangat berterima kasih, tapi pemuda tampan itu
pergi tanpa diketahui," kembali Nek Selong menghentikan ceritanya.
"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Baruna.
"Setelah pemuda yang membebaskan penduduk dari tekanan saudagar kaya itu pergi,
datang seorang laki-laki muda yang mengaku putra saudagar yang telah tewas itu.
Langsung dikuasainya seluruh desa ini, dan diangkatlah
kepala desa yang baru. Sikapnya memang mengundang simpatik, sehingga seluruh
penduduk menerimanya dengan baik. Pemuda itu mengembalikan tanah-tanah penduduk
yang dulu telah dibeli paksa oleh ayahnya."
"Apakah dia itu Raden Glagah, Nek?" tebak Baruna tidak sabar.
"Benar! Pemuda itu adalah Raden Glagah," sahut Nek Selong. "Sedangkan kepala
desa yang terbunuh itu adalah kakekmu sendiri, adik kandungku."
"Ohhh...," Baruna mendesah lirih.
"Pada saat itu, aku punya pikiran untuk membawa ayah dan ibumu yang tengah
mengandung meninggalkan desa ini. Tapi ayahmu tidak mau mendengar kata-kataku.
Dia kembali ke desa ini dan menuntut balas atas kematian ayahnya. Tapi malang!
Orang-orang Raden Glagah berhasil membunuhnya. Ibumu sangat terpukul dan
akhirnya meninggal. Pada waktu itu kau baru berusia setahun, Baruna."
Baruna terdiam. Entah apa yang ada di dalam kepala dan hatinya saat ini.
"Aku sengaja membesarkanmu di sini, karena tanah ini adalah tanah kelahiranmu.
Tentunya agar kau tahu, bahwa yang terjadi di sini semuanya hanya kepalsuan
belaka...," sambung Nek Selong.
"Kalau begitu, Raden Glagah sebenarnya sudah tua ya, Nek?" tanya Baruna polos.
"Benar, Baruna. Dia dapat kelihatan tetap muda dan seperti berusia dua puluh
lima tahun, karena memiliki ilmu hitam. Setiap bulan purnama dipersembahkan
seorang pemuda gagah pada dewa sesembahannya agar dirinya tetap muda dan berumur
panjang," jelas Nek Selong.
"Aku mengerti sekarang, kenapa Nenek menginginkan aku tetap kurus. Ini dilakukan
supaya Raden Glagah tidak menunjuk aku untuk korbannya. Begitu kan, Nek?"
Baruna cepat tanggap.
"Kau cerdas, Baruna."
"Tapi kenapa aku bisa tetap kurus kerempeng begini, Nek?" tanya Baruna tidak
puas. "Setiap pagi kau minum ramuanku, bukan?"
"Iya."
"Sengaja kubuat ramuan itu untuk menjaga agar kau tetap kurus kerempeng, tapi
memiliki tenaga luar dan tenaga dalam tinggi. Tubuhmu dapat kembali normal
seperti pemuda lain kalau kau minum penolak ramuanku.
Tapi itu nanti, Baruna. Belum saatnya sekarang ini."
"Aku mengerti, Nek. Mulai sekarang aku tidak akan mengeluh lagi."
"Bagus! Memang itu yang kuharapkan," sambung Nek Selong.
Baruna tersenyum, namun terasa sekali kalau senyumnya itu hambar dan dipaksakan.
Pemuda itu bangkit berdiri. Nek Selong juga melompat turun dari atas batu. Saat
itu pagi telah menjelang. Matahari mulai menampakkan cahayanya di ufuk timur.
"Baruna...."
"Ya, Nek."
"Kau tetap ingin bekerja pada Raden Glagah?" tanya Nek Selong memancing.
"Tidak!" sahut Baruna tegas.
"Kau ingin balas dendam?" tanya Nek Selong lagi.
"Percuma saja, Nek. Balas dendam bukan penyeIesaian yang baik. Nenek kan sering
berkata demikian padaku,"
jawab Baruna lagi. Namun nada suaranya terasa getir.
Nek Selong mengangguk-anggukkan kepalanya
beberapa kali. Bibirnya yang keriput menyunggingkan senyuman. Kakinya terayun
melangkah. Sementara Baruna ikut melangkah di samping perempuan tua itu.
Namun di dalam benak Baruna, tersimpan berbagai macam rencana.
*** Hari terus berganti sejalan dengan peredaran waktu.
Keadaan Desa Komering Ilir terlihat tenang. Penduduk
tidak lagi merasa terganggu oleh alunan syair-syair Kumbara. Hingga pada suatu
malam yang hening dan pekat tanpa cahaya bulan, suasana tenang itu pecah oleh
jeritan yang menyayat.
Jeritan itu datang dari sebuah rumah besar yang paling megah di Desa Komering
Ilir. Suasana rumah yang semula tenang dan sunyi, seketika itu jadi gempar.
Beberapa orang berlarian keluar dari rumah besar itu. Mereka menuju arah
terdengarnya jeritan tadi.
Terlihat tiga orang tergeletak bersimbah darah, tepat di ambang pintu gerbang
rumah besar itu. Mereka yang berdatangan itu terkejut, dan langsung berkerumun.
Tampak seorang pemuda berwajah tampan menyeruak di antara kerumunan itu, diikuti
empat orang laki-laki berwajah kasar. Laki-laki tampan itu tidak lain dari Raden
Glagah. Seorang pemuda bertubuh tegap dengan golok terselip di pinggang,
menghampiri dengan tubuh agak membungkuk hormat.
"Ada apa?" tanya Raden Glagah.
"Hamba menemukan ini pada salah satu korban, Raden," kata pemuda itu seraya
memberikan secarik daun lontar.
Raden Glagah menerima dan membaca baris-baris tulisan di atas secarik daun
lontar itu. Wajahnya langsung merah padam, gerahamnya bergemeletuk. Diedarkan
pandangannya ke sekeliling. Semua orang yang rata-rata membawa senjata itu hanya
memandang tidak mengerti.
"Naraka...!" panggil Raden Glagah.
Seorang laki-laki tinggi tegap dengan wajah kasar penuh berewok datang
mendekati. Raden Glagah memberikan daun lontar itu, dan Naraka menerimanya.
Langsung dibacanya tulisan di dalam daun lontar itu. Sementara Raden Glagah
berbalik, lalu melangkah pergi.
"Ada apa, Kakang Naraka?" tanya Carika.
"Syair...," sahut Naraka pelan seraya meremas daun lontar.
"Syair..."!" semua orang yang berkerumun di situ
terkejut heran.
"Mustahil...!" desis Balika, saudara muda Naraka.
Semua orang yang ada di situ menduga-duga. Tiga orang tewas, tepat di pintu
gerbang. Ada secarik daun lontar tergeletak di atas salah satu tubuh yang tewas.
Daun lontar itu bertuliskan bait-bait syair yang bernada mengancam. Mereka semua
tahu kalau beberapa hari yang lalu Raden Glagah telah mengusir Kumbara, pemuda
penyair yang miskin dan malang.
Orang yang ada di situ memang rata-rata masih muda.
Tapi mereka tidak tahu persis sebabnya, mengapa Raden Glagah begitu membenci
Kumbara si Penyair itu. Bahkan hampir semua penduduk Desa Komering Ilir ini juga
tidak menyukainya. Hanya Raden Glagah dan empat saudara, Naraka, Carika, Balika,
dan Mandaka, saja yang tahu sebab-sebabnya.
Naraka memerintahkan kepada orang yang berkerumun untuk menguburkan tiga mayat
itu. Mereka yang memang bekerja menjaga keamanan di rumah besar bagai istana
milik Raden Glagah itu, segera melaksanakan perintah Naraka. Mereka tahu kalau
Naraka dan tiga orang adiknya adalah pengawal pribadi Raden Glagah. Empat
bersaudara itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi.
"Naraka...!" terdengar teriakan keras memanggil.
Naraka bergegas melangkah diikuti adik-adiknya. Raden Glagah berdiri bertolak
pinggang di tangga depan istananya. Empat bersaudara itu segera membungkuk
hormat, begitu tiba di depan laki-laki yang kelihatan masih muda itu.
"Perintahkan anak buahmu mencari penyair keparat itu!" perintah Raden Glagah.
"Hamba laksanakan, Raden," sahut Naraka.
"Aku minta secepatnya kau bawa kemari! Hidup atau mati!"
"Secepatnya hamba laksanakan, Raden," sahut Naraka lagi.
Raden Glagah membalikkan tubuhnya dan segera
melangkah masuk ke dalam istana. Sementara Naraka dan ketiga adiknya bergegas


Pendekar Rajawali Sakti 20 Penyair Maut di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengatur anak buahnya untuk mencari Kumbara si Penyair. Dalam waktu yang tidak
berapa lama, beberapa ekor kuda bergerak cepat keluar dari pintu gerbang
bangunan megah itu.
Sementara Raden Glagah segera menuju ke kamar peristirahatannya. Seorang wanita
muda berwajah cantik tergolek di atas pembaringan. Wanita itu melemparkan
senyum, namun senyumnya sirna begitu melihat wajah Raden Glagah terlihat murung.
"Ada apa, Raden?" tanya wanita itu lembut.
"Tidak ada apa-apa. Hanya ada orang gila telah menewaskan tiga orang pekerjaku!"
sahut Raden Glagah seraya naik ke atas pembaringan itu.
"Siapa?" tanya wanita cantik itu sambil melingkarkan tangannya ke punggung Raden
Glagah. "Kau tidak perlu cemas, Manis. Orang-orangku pasti bisa mengatasinya," Raden
Glagah mencoba menghibur.
Padahal saat itu hatinya juga perlu dihibur.
"Aku tidak khawatir, selama Raden ada di sini."
Raden Glagah tersenyum. Dia membalikkan tubuhnya dan langsung dipeluknya wanita
itu. Pelahan-lahan tubuh mereka rebah. Tak terdengar lagi kata-kata. Kamar besar
dan indah itu jadi sunyi. Hanya sesekali terdengar erangan lirih diselingi
desahan napas memburu. Sementara di luar sana, Naraka dan adik-adiknya masih
sibuk mengatur penjagaan dan pencarian terhadap Kumbara.
*** Peristiwa malam itu membuat Raden Glagah jadi gelisah. Lebih-lebih anak buahnya
belum berhasil menemukan Kumbara. Dan malam-malam berikutnya, selalu terjadi
pembunuhan secara misterius. Satu dua orang selalu terbunuh! Tidak ketinggalan,
daun lontar bertuliskan bait-bait syair selalu terdapat pada tubuh korban.
Tiga malam berturut-turut selalu jatuh korban secara
misterius. Raden Glagah semakin diliputi kegelisahan.
Maka berita tentang pembunuhan misterius itu cepat menyebar ke telinga para
penduduk Desa Komering Ilir.
Mereka yang pernah membenci dan mengusir Kumbara, dicekam perasaan takut.
Pendeknya, kecemasan dan perasaan takut menyelimuti hampir seluruh penduduk Desa
Komering Ilir. Sementara itu, Baruna yang mengetahui tentang terjadinya beberapa pembunuhan
selama tiga malam berturut-turut terlihat tenang-tenang saja. Sikapnya tidak
peduli, meskipun hampir seluruh penduduk
membicarakannya. Rata-rata mereka dicekam perasaan cemas yang amat sangat, takut
kalau-kalau ikut jadi sasaran pembalasan Kumbara si Penyair Maut. Ya...,
penduduk Desa Komering Ilir telah memberi julukan tambahan pada Kumbara. Penyair
Maut...! Siang itu langit tampak cerah, tak terlihat awan sedikit pun bergantung di
angkasa. Matahari bersina terik, seakan-akan hendak membakar seluruh makhluk di
permukaan bumi. Tidak begitu jauh dari Desa Komering Ilir, tepatnya di sebuah
bukit yang bernama Bukit Halu, seorang pemuda berkulit agak kehitaman dan dengan
wajah penuh luka goresan duduk di bawah pohon rindang.
Dari bibir pemuda itu meluncur bait-bait syair dan berirama. Dialah Kumbara si
Penyair Maut yang kini tengah menjadi momok menakutkan bagi penduduk Desa
Komering Ilir. Pandangan matanya tidak lepas ke arah sepasang burung yang
bercumbu di dahan.
"Ah..., betapa bahagianya kau. Andai saja aku bebas lepas sepertimu, selalu
riang tanpa harus memikul beban...," Kumbara mendesah lirih.
Pemuda itu bangkit berdiri. Dan begitu kakinya akan terayun melangkah, tiba-tiba
terdengar derap kaki beberapa ekor kuda menuju ke arahnya. Kumbara mengurungkan
langkahnya. Kelopak matanya agak menyipit begitu melihat beberapa kuda berpacu
cepat mendekatinya. Dia mengenali salah seorang dari
penunggang kuda itu, yang ternyata adalah Balika, salah seorang kepercayaan
Raden Glagah. Dan tentu saja yang ikut dengan Balika adalah orang-orang Raden
Glagah. Kumbara terheran-heran, karena sekitar lima belas orang berkuda itu serentak
berlompatan mengurung.
Sedangkan Balika masih tetap berada di punggung kudanya. Kumbara sedikit
terperanjat juga begitu semua orang yang mengurungnya telah mencabut golok
semua. "Kumbara! Sebaiknya kau menyerah saja, dan jangan melakukan perlawanan!" kata
Balika lantang.
"Ada apa ini" Kenapa aku harus menyerah?" tanya Kumbara keheranan.
"Jangan pura-pura bodoh, Penyair Maut! Sekarang juga kau ikut aku, atau kau mati
di sini!" bentak Balika.
"Apa salahku" Aku tidak melakukan apa-apa" Sudah kuturuti perintah Raden Glagah
untuk tidak kembali lagi ke Desa Komering Ilir. Mengapa Tuan Balika mau
menangkapku?" Kumbara semakin kebingungan tidak mengerti.
"Huh! Kau pikir aku bisa dikelabui dengan sikap tololmu itu, Kumbara! Setelah
kau bunuh orang-orangku, sekarang pura-pura tidak tahu!" geram Balika sengit.
"Aku..." Aku membunuh..."!" Kumbara semakin terperanjat kebingungan.
"Tangkap dia! Kalau melawan, bunuh saja!" perintah Balika keras.
"Eh, tunggu...!"
Tapi salah seorang pengepungnya sudah melompat hendak meringkus. Kumbara
terperangah melihat golok yang melayang ke arah kepalanya. Tanpa disadari, dia
merunduk. Maka tebasan golok itu lewat di atas kepalanya. Orang itu terkejut
karena tebasannya berhasil dihindari.
Dengan cepat tangan kirinya menghentak menyodok ke arah dada. Kembali Balika dan
anak buahnya terperanjat.
Ternyata Kumbara berhasil mengelakkannya hanya dengan menggeser kakinya ke kiri.
Bahkan tanpa diduga sama
sekali, tangan kanan Kumbara mendorong ke depan dengan tenaga penuh. Dorongan
yang tak terduga itu, tidak sempat dihindari. Maka orang yang hendak
meringkusnya terpekik kaget. Tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Setan keparat! Rupanya kau punya simpanan juga, Penyair Maut!" geram Balika
menyaksikan seorang anak buahnya terkena sodokan tangan kanan Kumbara.
"Oh..., maaf.... Maaf, Tuan. Aku...," Kumbara tergagap.
"Kau harus mampus, Kumbara! Hiyaaat...!"
Balika langsung melompat cepat dari punggung kudanya. Kumbara terkesiap,
tubuhnya gemetaran begitu hebatnya. Dan pada saat jari-jari tangan Balika yang
mengembang hendak mencengkeram sudah demikian dekat, tubuh Kumbara melorot jatuh
ke tanah. Terkaman Balika hanya lewat di atas tubuhnya. Tentu saja hal ini
membuat Balika semakin geram. Kumbara dianggap benar-benar mempunyai ilmu
kepandaian yang selama ini disimpannya.
"Monyet! Keparat...!" geram Balika merasa
dipermainkan. "Ampun, Tuan Balika.... Ampun...," rintih Kumbara tetap berlutut menyembah
memohon ampun. Seluruh tubuhnya tampak gemetar.
"Edan! Masih juga kau berpura-pura, heh!" bentak Balika semakin gusar melihat
sikap Kumbara. Sret! Cring...!
Gemetaran Kumbara bertambah keras begitu Balika mencabut pedangnya yang
tergantung di pinggang. Pedang berwama keperakan itu berkilat tertimpa cahaya
matahari. Keringat dingin mengucur deras dari seluruh tubuh Kumbara.
"Mampus kau! Hiyaaat...!" teriak Balika keras.
Bagaikan kilat, Balika melompat sambil mengibaskan pedangnya ke arah leher
Kumbara. Pemuda yang wajahnya penuh luka goresan itu ternganga dengan mata
membeliak lebar. Tubuhnya semakin keras gemetar. Napasnya terasa
berhenti ketika mata pedang Balika hampir menyentuh lehernya. Semua orang yang
berada di situ sudah menyangka leher Kumbara bakal buntung. Tapi....
Tring! "Heh...!"
Balika tersentak kaget bukan main. Pedangnya terpental pada saat hampir
memenggal leher Kumbara.
Seluruh persendian tangannya bergetar kesemutan. Balika langsung melompat
mundur. Sedangkan Kumbara tetap berlutut dengan tangan merapat di depan hidung.
Lima belas orang bersenjata golok yang menyaksikan semua kejadian itu
terperanjat. Kumbara sendiri terlihat seperti tidak mengerti dengan apa yang
baru saja terjadi.
*** 3 Balika benar-benar tidak mengerti. Pedangnya seperti membentur suatu benda yang
amat keras melebihi baja.
Padahal dia tadi begitu yakin kalau kepala Kumbara bakal buntung terbabat
pedangnya. Tapi, yang terjadi justru pedangnya terpental dan tulang-tulang
tangannya seperti rontok.
Sementara Kumbara sendiri masih tetap berlutut tidak bergeming sedikit pun.
Balika mulai bertanya-tanya, apakah Kumbara si Penyair Maut itu punya ilmu
kebal" Balika memeriksa mata pedangnya. Seketika itu juga dia terperanjat hingga
melompat dua langkah ke belakang.
Matanya membeliak lebar melihat mata pedangnya gompal cukup lebar.
"Kumbara! Kau benar-benar setan keparat! Ayo, bangun! Jangan pura-pura tolol!
Ayo kita bertarung sampai mampus!" keras suara Balika.
"Ampun, Tuan Balika. Jangan bunuh aku.... Aku janji akan meninggalkan Desa
Komering Ilir sejauh-jauhnya,"
ratap Kumbara memohon.
"Keparat!" geram Balika memuncak amarahnya. Balika berteriak keras sambil
melesat cepat bagaikan kilat, sedangkan ujung pedangnya menusuk ke arah dada.
Kembali Kumbara pucat wajahnya. Dan begitu ujung pedang Balika hampir menembus
dada si Penyair itu, mendadak sebuah bayangan putih berkelebat cepat memapak.
"Ugh!" Balika mengeluh pendek, dan tubuhnya terpental
sejauh dua batang tombak.
Tiga kali Balika bergulingan di tanah. Sementara itu, lima belas orang anak
buahnya hanya ternganga menyaksikan kejadian yang sangat di luar dugaan itu.
Balika melompat bangkit berdiri. Bola matanya membeliak lebar begitu melihat di
samping Kumbara sudah berdiri seorang pemuda tampan berambut panjang terurai.
Pemuda itu memakai baju rompi putih. Sebuah gagang pedang berbentuk kepala
burung menonjol keluar dari balik punggungnya.
"Bangunlah, Kisanak," kata pemuda berbaju rompi putih itu lembut.
Kumbara mengangkat kepalanya dan menoleh. Hatinya terkesiap begitu mengetahui di
sampingnya sudah berdiri seorang laki-laki tampan yang menepuk halus pundaknya.
Kumbara bangkit berdiri, namun matanya masih menatap penuh keheranan. Sementara
Balika menggeram sengit melihat kemunculan pemuda asing yang tidak dikenalnya.
"Tikus busuk! Siapa kau" Berani mencampuri urusanku!" bentak Balika sengit.
"Hm..., kotor sekali kata-katamu, Kisanak," tenang suara pemuda berbaju rompi
putih itu, namun nada suaranya mengandung kejengkelan.
"Sebaiknya kau enyah dari sini, sebelum pedangku yang bicara!" bentak Balika
kasar. "Pedang yang mana...?"
Balika terperanjat, karena baru sadar kalau pedangnya sudah tidak ada lagi di
tangan. Seketika itu juga wajahnya berubah pucat, tapi sebentar kemudian
memerah. Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu pedang Balika telah berada di
tangan pemuda berbaju rompi itu. Kejadian yang begitu cepat dan sukar diikuti
pandangan mata biasa.
"Nih, kukembalikan pedangmu!"
Pemuda itu melemparkan pedang yang sudah gompal.
Ujung pedang itu menancap sedikit ke tanah, tepat di ujung kaki Balika. Orang
kepercayaan Raden Glagah itu meraih gagang pedangnya, dan berusaha mencabutnya.
Tapi dia terkejut bukan main, karena pedangnya tidak tercabut. Balika
mengerahkan tenaga dalamnya, tapi pedang itu tetap tertanam kuat di tanah.
Balika menyadari kalau pemuda itu memiliki ilmu yang sangat tinggi, dan pasti
berada jauh di atasnya. Jadi, jelaslah kalau Kumbara tadi bukannya hendak
melawan, tapi pemuda berbaju rompi itulah yang menggagalkan setiap serangannya.
Menyadari semua itu, Balika cepat melompat naik ke punggung kudanya. Dia tidak
mempedulikan pedangnya lagi yang masih tertancap di tanah.
"Persoalan ini belum selesai, bangsat!" maki Balika begitu berada di punggung
kudanya. Setelah berkata demikian, Balika segera menggebah kudanya dengan cepat. Lima
belas orang anak buahnya bergegas naik ke punggung kudanya masing-masing.
Mereka segera memacu cepat kudanya meninggalkan Lereng Bukit Halu itu. Sementara
Kumbara bangkit berdiri memandangi kepergian orang-orang yang hampir
menewaskannya. "Oh, terima kasih..., terima kasih. Tuan telah menyelamatkan nyawaku," ucap
Kumbara terbungkuk-bungkuk.
"Siapa mereka" Kenapa ingin membunuhmu?" tanya pemuda berbaju rompi putih itu.
"Maaf, Tuan...."
"Rangga, panggil saja aku Rangga."
"Sebaiknya Tuan Rangga segera meninggalkan tempat ini. Mereka sangat kejam, dan
pasti akan datang kembali untuk membunuh Tuan," kata Kumbara agak bergetar
suaranya. "Hm...," pemuda berbaju rompi putih yang memang Rangga si Pendekar Rajawali
Sakti itu mengerutkan keningnya.
"Aku berterima kasih sekali Tuan telah menyelamatkan nyawaku, tapi...," Kumbara
tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa?" tanya Rangga ingin tahu.
"Ah..., memang sudah nasibku. Mungkin memang sudah ditakdirkan kalau aku harus
mati di ujung pedang mereka...," nada suara Kumbara terdengar pasrah.
"Kelihatannya kau putus asa sekali. Dan tadi kulihat, sama sekali kau tidak
melawan mereka. Tapi kenapa mereka ingin membunuhmu?" selidik Rangga penuh rasa
ingin tahu. "Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja mereka datang dan ingin membunuhku," sahut
Kumbara pelan. "Aneh...! Kelihatannya mereka bukan perampok. Dan kau sendiri..., maaf, tidak
ada sesuatu yang mereka bisa dapatkan darimu," Rangga seakan tidak percaya.
Kumbara hanya diam saja. Diayunkan kakinya melangkah menghampiri sebatang pohon
yang rindang. Kemudian dia duduk di atas akar besar yang menyembul keluar dari dalam tanah.
Sedangkan Rangga
memperhatikan apa yang diperbuat Kumbara. Pendekar Rajawali Sakti merasa yakin
kalau ada sesuatu pada diri laki-laki yang wajahnya penuh luka goresan itu.
Melihat bekas-bekas luka pada wajah Kumbara, Rangga jadi semakin ingin tahu. Dia
tidak percaya kalau orang-orang tadi ingin membunuh tanpa sebab yang pasti.
Jelas mereka bukan perampok yang kecewa karena korbannya tidak memiliki harta.
Pakaian mereka bukan seperti perampok, terlalu mewah dan rapih. Lebih-lebih
orang yang hampir memenggal leher Kumbara. Pakaiannya terbuat dari bahan sutra
halus, yang tentunya mahal harganya. Rangga jadi semakin ingin tahu saja. Dia
melangkah mendekati Kumbara dan duduk di sampingnya.
*** Sementara itu, Balika dan lima belas orang anak buahnya sudah sampai di Desa
Komering Ilir. Mereka langsung menuju ke bangunan besar bagai istana yang
dikelilingi pagar tembok menyerupai benteng kokoh. Balika baru menghentikan lari
kudanya setelah tiba di dalam
pagar tembok tinggi dan kokoh itu.
Balika segera melompat turun dari punggung kudanya, lalu bergegas berlari
menaiki anak-anak tangga depan bangunan megah itu. Tetapi tiba-tiba langkahnya
tertahan, karena bersamaan dengan itu ketiga saudaranya muncul.
Tiga orang yang baru keluar itu terkejut melihat keadaan Balika yang nampak
kotor berdebu, keringat bercucuran dan napasnya terengah-engah.
"Ada apa, Balika" Kenapa keadaanmu seperti ini"
Dan.... Eh! Mana pedangmu?" tanya Naraka terkejut ketika melihat sarung pedang
adiknya kosong.
"Uh, celaka...! Celaka, Kakang! Hampir saja aku mati,"
sahut Balika masih terengah napasnya.
"Ceritakan, apa yang terjadi padamu?" desak Carika.
"Aku bertemu dengan si Penyair Maut dan berusaha menangkapnya. Tapi dia melawan
dan...." "Teruskan!" pinta Naraka agak terkejut.
"Dia tidak sendiri, Kakang. Dia bersama dengan temannya yang sangat tangguh. Aku
dibuat babak belur, bahkan pedangku berhasil dirampasnya," sambung Balika.
"Kumbara..., keparat!" geram Naraka.
"Siapa temannya, Kakang Balika?" tanya Mandaka.
"Aku tidak tahu siapa. Sepertinya dia orang asing, bukan penduduk Desa Komering
Ilir ini," sahut Balika.
"Kau bertarung dengan temannya, atau dengan Kumbara?" Carika ingin ketegasan.
"Semula aku bertarung dengan Kumbara. Dia kebal, Kakang. Pedangku sampai gompal
begitu menebas lehernya. Tapi temannya juga lebih tangguh lagi. Dia bergerak


Pendekar Rajawali Sakti 20 Penyair Maut di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bagai siluman, tidak ketahuan arahnya," jelas Balika. Tentu saja ditambah dengan
karangannya sendiri.
"Aku berusaha mengalahkannya, tapi mereka memang tangguh! Aku tidak mampu
menghadapinya sendiri."
"Tapi bukankah kau bawa lima belas orang anak buahmu?" celetuk Mandaka.
"Benar! Tapi, aku saja tidak mampu menghadapinya, apalagi tikus-tikus tidak
berguna itu. Bisa-bisa mereka
semua mati konyol kalau kukerahkan semua," Balika menyombong.
"Kau terlalu berani, Balika. Lain kali jangan menghadapi sendiri. Kehilangan
beberapa orang bukan masalah, yang penting keparat itu mampus," dengus Naraka.
"Tindakan Balika benar...!"
Empat orang bersaudara itu terkejut begitu tiba-tiba terdengar suara dari
belakang. Mereka serentak menoleh, dan membungkuk saat melihat Raden Glagah
tahu-tahu sudah berada di belakang. Raden Glagah melangkah mendekati.
"Mulai sekarang, kita harus bisa menghemat tenaga.
Satu nyawa sangat berarti. Yang kita hadapi sekarang bukan orang sembarangan!
Bahkan nyawa kita sendiri terancam," kata Raden Glagah.
"Raden, apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Naraka meminta petunjuk.
"Naraka, dan kau, Balika. Bawa beberapa orang.
Tangkap Kumbara dan temannya itu. Sedangkan kau, Carika dan Mandaka, perintahkan
seluruh penduduk desa untuk selalu siaga. Laporkan setiap ada pendatang baru.
Biar aku sendiri yang akan menanganinya," perintah Raden Glagah.
Empat bersaudara itu segera membungkuk dan melangkah pergi. Raden Glagah
berbalik, segera melangkah masuk kembali ke dalam istananya. Sebentar kemudian,
tampak Naraka, Balika, dan sekitar dua puluh orang sudah bergerak keluar
menunggang kuda.
Sedangkan Carika dan Mandaka melaksanakan tugasnya, memberitahu penduduk agar
waspada dan melaporkan setiap ada pendatang baru.
*** Sementara itu, di Bukit Halu, Rangga dan Kumbara masih duduk di bawah pohon
rindang. Rangga masih belum dapat mengerti akan kejadian tadi. Tapi mendengar
cerita Kumbara, hati Pendekar Rajawali Sakti itu tergugah.
Hanya yang masih menjadi pertanyaan besar adalah sikap penduduk Desa Komering
Ilir terhadap pemuda yang penuh luka goresan pada wajahnya itu.
Memang tadi Rangga sempat mendengar Kumbara membacakan syair-syairnya dari
tempat tidak berapa jauh.
Dan dia mengetahui semua yang terjadi. Kalau bukan karena Pendekar Rajawali
Sakti, mungkin nyawa Kumbara sudah meninggalkan raganya. Kumbara sendiri tidak
tahu, mulai kapan munculnya pertolongan Rangga itu.
"Rasanya sukar dipercaya...," gumam Rangga pelan, seolah-olah bicara pada
dirinya sendiri.
"Kenyataannya memang begitu, Rangga," Kumbara menimpali. Kini dia sudah tidak
lagi menyebut Tuan pada Pendekar Rajawali Sakti. Dan itu memang yang diharapkan
Rangga, yang selalu sederhana, tidak suka sanjungan.
"Aku heran padamu, Kumbara. Sudah tahu semua penduduk Desa Komering Ilir ini
membencimu, bahkan orang yang paling berpengaruh pun juga membencimu, tapi kau
sendiri tidak berusaha untuk mencari tahu sebabnya," sambung Rangga tetap
bernada bergumam.
"Percuma, tidak ada seorang pun yang mau bicara padaku. Mereka hanya mencela,
mencaci, dan mengusirku.
Ah, biarlah.... Memang itu sudah takdirku untuk jadi orang yang selalu dihina,"
suara Kumbara bernada mengeluh.
"Sekarang, setelah mereka ingin membunuhmu, apa kau akan tinggal diam?"
Kumbara tidak langsung menjawab. Matanya
menerawang jauh ke depan. Pertanyaan Rangga tadi tidak mudah dijawab. Dia tahu
kalau orang-orang yang hampir saja membunuhnya bukan orang sembarangan. Tapi
sungguh disadari kalau dirinya tidak mampu berbuat apa-apa. Tidak ada yang bisa
dilakukannya, kecuali pergi sejauh-jauhnya dari Desa Komering Ilir. Namun itu
pun belum tentu bisa menyelamatkan dirinya dari kematian.
"Kau harus melakukan sesuatu, Kumbara," kata
Rangga memberi dorongan semangat.
"Apa yang harus kulakukan?" lesu suara Kumbara.
"Pokoknya berbuat sesuatu! Paling tidak mencari tahu, mengapa seluruh penduduk
Desa Komering Ilir membencimu!" Rangga terus mendorong semangat Kumbara.
"Tidak mungkin...!" desah Kumbara seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku
hanya seorang penyair miskin, yang tidak punya kepandaian apa-apa. Sedangkan
mereka...."
Rangga mengamati wajah yang murung itu. Hatinya merasa iba juga melihat Kumbara
yang begitu lemah dan pasrah menerima nasib dirinya. Belum pernah Pendekar
Rajawali Sakti menemukan orang sepasrah Kumbara yang menerima nasib malangnya
tanpa melakukan sesuatu.
Pendekar Rajawali Sakti itu mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara
langkah kaki kuda dari kejauhan.
Telinganya yang setajam rajawali, langsung mendengar suara itu. Sedangkan
Kumbara tetap memandang kosong ke depan, sama sekali tidak mendengar suara kaki
kuda yang semakin jelas.
"Mereka datang lagi," desis Rangga.
"Apa..."!" Kumbara terlonjak kaget.
"Hm..., jumlah mereka begitu banyak...," gumam Rangga.
"Oh, Yang Maha Agung..., habislah riwayatku kali ini...,"
gumam Kumbara mendesah lirih.
Seluruh wajah pemuda itu seketika terlihat pucat pasi.
Tubuhnya gemetaran, keringat dingin mengucur deras di wajahnya. Sementara Rangga
sudah bangkit berdiri.
Pandangannya tajam menatap ke arah kaki Bukit Halu ini.
Tampak di antara pepohonan, terlihat beberapa orang berkuda mendaki bukit. Jelas
kalau mereka itu menuju ke arahnya.
"Kumbara, cepat tinggalkan tempat ini!" kata Rangga.
"Ke mana?" tanya Kumbara lesu. Saat itu dia tidak bisa lagi berpikir. Rasa takut
yang amat sangat, membuat
otaknya sukar diajak berpikir.
Rangga tidak menjawab. Dengan cepat disambarnya tubuh Kumbara, dan langsung
melesat cepat bagai kilat.
Kumbara sempat terpekik ngeri. Sekejap mata saja, Pendekar Rajawali Sakti itu
sudah lenyap membawa Kumbara dalam kepitannya.
Tidak lama berselang, Naraka dan Balika serta beberapa orang berkuda lainnya
telah tiba di tempat itu. Mereka menghentikan kudanya tepat di tempat Balika
sempat bertarung tadi. Mereka tentu saja tidak mendapatkan apa-apa, karena
Kumbara dan Rangga telah meninggalkan tempat itu.
"Mana...?" tanya Naraka.
"Tadi di sini, Kakang. Sungguh...!" sahut Balika.
Balika segera melompat turun dari punggung kudanya.
Bergegas dia menghampiri sebilah pedang yang masih tertancap di tanah. Naraka
mengenali kalau pedang itu milik adiknya. Balika berusaha menarik keluar pedang
itu. Dia masih ingat kalau pedang itu tertanam kuat. Seketika dikerahkan penuh tenaga
dalamnya. Namun begitu dibetot, pedang itu dengan mudah tertarik keluar!
Akibatnya Balika terpental karena menarik dengan mengerahkan tenaga dalam penuh.
Terdengar suara tertawa cekikikan tertahan. Balika bersungut-sungut merasa
ditertawakan. Dia memang terjungkal jatuh duduk. Sedangkan Naraka hanya
tersenyum-senyum saja. Balika menggerutu sambil bangkit berdiri. Dipandangi
sejenak pedangnya, lalu dimasukkan ke dalam sarungnya.
"Kadal buduk! Setan belang...!" Balika mengumpat habis-habisan.
"Kau membuang-buang waktu percuma saja, Balika.
Tidak ada siapa-siapa di sini," kata Naraka mulai tidak percaya dengan cerita
adiknya. "Tadi mereka di sini, Kakang. Tanya saja mereka!" sahut Balika menunjuk orangorangnya yang tadi ikut serta.
"Benar, kalian bertemu Kumbara di sini?" tanya Naraka
pada orang-orang yang ditunjuk Balika.
"Benar, Gusti," sahut mereka serempak.
"Kalian tidak bohong?" Naraka jadi tidak percaya.
"Ini buktinya, Kakang!" dengus Balika geram karena kakaknya tidak percaya.
Balika kembali mencabut pedangnya, menunjukkan gompalan pada mata pedang itu.
Naraka sempat mengernyitkan alisnya melihat pedang itu gompal cukup besar.
Padahal, pedang Balika terbuat dari bahan yang amat keras. Baja sekalipun tidak
akan mampu membuat gompal seperti itu.
"Dan ini...!"
Balika mengeluarkan selembar daun lontar dari balik bajunya. Daun lontar itu
berisikan bait-bait syair yang ditemukannya tertinggal di tanah, dan jelas kalau
itu milik Kumbara. Sesaat Naraka bimbang melihat bukti-bukti yang ditunjukkan
adiknya. "Mereka pasti belum jauh dari sini, Kakang!" kata Balika lagi seraya memasukkan
pedang ke dalam sarungnya kembali. Diremasnya daun lontar itu hingga lumat, dan
dicampakkannya dengan hati jengkel.
Balika melompat naik ke punggung kudanya. Sebentar dia memandang kakaknya.
"Ayo kita kejar mereka, Kakang!" seru Balika bersemangat.
"Sebaiknya kembali saja ke Desa Komering Ilir," sahut Naraka.
"Tapi...," Balika ingin menolak.
"Balika! Kalau si Penyair Maut itu memang digdaya seperti katamu, dia pasti
kembali lagi ke desa! Kita tunggu saja di sana. Jangan buang-buang tenaga dan
waktu percuma," kata Naraka.
Balika tidak bisa menjawab. Dia tetap tidak menggebah kudanya meskipun Naraka
sudah menjalankan kudanya.
Naraka menoleh dan menghentikan kudanya.
"Ayo, Balika!" seru Naraka.
"Aku akan mencarinya, Kakang!" tegas Balika.
"Mau cari ke mana?"
"Pokoknya aku harus mencarinya!"
Balika langsung menggebah kudanya cepat. Naraka memerintahkan pada lima belas
orang untuk mengikuti Balika. Tanpa membantah sedikit pun, lima belas orang itu
segera memacu kudanya menyusul Balika. Sedangkan Naraka kembali ke Desa Komering
Ilir bersama sisa orang-orangnya.
*** 4 Malam telah menyelimuti seluruh permukaan bumi di Desa Komering Ilir. Beberapa
orang bersenjata masih terlihat di jalan-jalan dan sudut-sudut pelosok desa itu.
Sementara seluruh penduduk telah mengunci pintu rumahnya masing-masing. Sejak
Carika dan Mandaka mengumumkan keadaan gawat, seluruh penduduk Desa Komering
Ilir semakin dicekam rasa takut.
Malam terus merayap kian larut. Hawa kematian seolah-olah menyelimuti Desa
Komering Ilir. Anak buah Raden Glagah yang mendapat tugas jaga malam ini, ciut
juga nyalinya jika harus tugas seorang diri. Mereka membentuk kelompok-kelompok
kecil yang terdiri dari empat atau lima orang. Setiap saat mereka dicekam
perasaan cemas. Setiap saat, maut mungkin dapat datang menjemput. Pembunuh
misterius yang selalu
meninggalkan daun lontar bertuliskan bait-bait syair, dapat datang setiap saat,
dan menghilang cepat bagaikan siluman. Mengerang secara tiba-tiba, lalu
menghilang bagai setan. Hal ini membuat seluruh orang yang bertugas malam ini
semakin dicekam kegelisahan.
Di saat seluruh penduduk Desa Komering Ilir dicekam perasaan takut yang amat
sangat, terlihat sebuah bayangan hitam berkelebat cepat menyelinap dari satu
rumah ke rumah lainnya. Sebentar bayangan itu berhenti berlindung dari cahaya
bulan. Cahaya matanya terlihat berkilat meneliti setiap keadaan. Tubuhnya
kemudian bergerak cepat menuju rumah yang paling besar dan
megah di Desa Komering Ilir ini.
Slap! Bayangan hitam itu melesat cepat melompati pagar tembok yang tinggi dan kokoh.
Hanya sekali lesatan saja, sudah hinggap di atas atap bangunan besar dan megah
itu. Sebentar direbahkan dirinya merapat di atap.
Telinganya ditempelkan lekat-lekat pada atap bangunan bagai istana itu.
"Hm..., itu Naraka," orang itu bergumam dalam hati.
Pandangannya langsung tertuju pada Naraka yang tengah duduk sendiri di taman
belakang bangunan bagai istana itu. Bagaikan seekor burung elang hendak menerkam
mangsa, orang itu berkelebat cepat, dan tahu-tahu sudah berada di depan Naraka.
"Heh...!" Naraka tersentak kaget.
Belum lagi hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba orang yang mengenakan baju serba
hitam dengan tutup kepala hitam pula itu, mendorong kedua tangannya ke depan.
Duk! "Hugh...!" Naraka mengeluh pendek.
Seketika itu juga tubuhnya terpental beberapa tombak ke belakang. Dengan keras,
punggungnya menghantam sebuah pohon yang cukup besar. Naraka ambruk ke tanah
dengan tubuh membungkuk. Dadanya terasa sesak, sukar untuk bernapas. Matanya
berkunang-kunang. Dan belum lagi sempat mengatur napasnya, satu tendangan keras
menghantam tubuh Naraka.
Naraka bergulingan beberapa kali. Tendangan itu sangat keras dan mengandung
tenaga dalam cukup tinggi.
Tulang iga laki-laki berwajah kasar itu seperti remuk.
Begitu tubuhnya membentur dinding tembok, Naraka segera melompat bangun.
Sebentar digeleng-gelengkan kepala, dan ditariknya napas dalam-dalam. Kelopak
matanya agak menyipit melihat seorang laki-laki bertubuh kecil berdiri di
depannya. Belum sempat Naraka mengenali wajah orang itu, mendadak satu serangan cepat
terarah kepadanya. Buruburu Naraka menggeser kakinya ke samping, dan melayangkan pukulannya ke arah
dada. Tapi tanpa diduga sama sekali, orang itu melentingkan tubuh sebelum
serangan Naraka sampai padanya.
"Hey...!" seru Naraka terkejut.
Secepat kilat Naraka melesat ke atas, dan hinggap di atas atap. Pada saat itu,
masih sempat dilihatnya bayangan hitam berkelebat keluar dari bangunan istana
ini. Naraka cepat melentingkan tubuhnya disertai pengerahan ilmu meringankan
tubuh. "Hup!"
Dua kali Naraka berputar di udara, dan melewati kepala orang berbaju serba hitam
itu. Dengan manis, laki-laki berwajah kasar itu mendarat tepat di depan orang
itu. Langsung dikirimkan satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi ke arah orang
berbaju hitam. "Uts!"
Orang berbaju hitam itu mengegoskan tubuhnya sedikit ke samping, lalu tangannya
terangkat menghantam tangan Naraka yang mendorong ke depan.
Trak! "Akh!" Naraka memekik tertahan, buru-buru ditarik kembali tangannya.
Tulang tangan Naraka seperti patah ketika berbenturan dengan tangan orang itu.
Naraka melompat mundur satu tindak, tapi seketika itu juga satu pukulan
menggeledek terarah padanya. Belum juga Naraka dapat berkelit, pukulan orang itu
kembali menghantam dadanya.
"Akh...!" Naraka memekik keras.
Tubuhnya terlontar jauh ke belakang, dan keras sekali menghantam dinding tembok
benteng. Sebentar Naraka menggeliat, lalu merosot ke bawah. Tampak orang berbaju
hitam itu bersiap-siap akan menyerang kembali, tapi pada saat itu beberapa orang
berlarian sambil menghunus golok.
"Sial! Hup...!"
Hanya sekali lesatan saja, orang berbaju hitam itu telah
lenyap ditelan kegelapan malam. Dan pada saat orang-orang itu sampai di tempat
Naraka tergeletak, terdengar satu jeritan panjang melengking. Sebagian segera
memburu ke arah jeritan itu, dan sebagian lagi membantu Naraka berdiri.
"Kakang Naraka, ada apa...?"
Carika dan Mandaka berlarian menghampiri.
"Cepat, kejar orang itu. Dia pasti belum jauh!" seru Naraka agak tersengal.
"Hugh...!" Naraka memuntahkan darah kental kehitaman.
Mandaka segera membantu kakaknya, sementara Carika melompat cepat diikuti
sekitar enam orang bersenjata golok terhunus. Mandaka, dibantu empat orang anak
buahnya membawa Naraka meninggalkan tempat itu.
Tampak sekali kalau keadaan Naraka begitu payah.
Napasnya pun kembang kempis tersengal. Dua kali dia memuntahkan darah kental
kehitaman. Sementara malam terus merayap semakin larut.
Beberapa orang terlihat menggotong tiga sosok tubuh berlumuran darah. Di antara
mereka, terlihat Carika.


Pendekar Rajawali Sakti 20 Penyair Maut di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Rupanya orang berbaju serba hitam itu berhasil menewaskan tiga orang yang
berjaga di bagian belakang benteng bangunan bagai istana itu.
*** Malam masih menyelimuti seluruh permukaan bumi Desa Komering Ilir. Carika dan
Mandaka bersama sekitar tiga puluh orang keluar dari pintu gerbang benteng yang
mengelilingi bangunan megah bagai istana kecil itu.
Namun ketika mereka belum jauh meninggalkan pintu gerbang, sebuah bayangan hitam
berkelebat cepat memotong.
"Hei...!" seru Carika terkejut.
Pada saat yang bersamaan, secercah cahaya keperakan melesat ke arah rombongan
itu. Carika kontan melesat, maka cahaya keperakan itu melesat di bawah tubuhnya.
Tapi laju cahaya keperakan tidak berhenti sampai di situ
karena langsung menghajar orang yang kebetulan tepat di belakang Carika.
"Aaa...!"
Satu jeritan melengking terdengar disusul dengan ambruknya salah seorang anak
buah Mandaka. Tampak sebilah pisau kecil berwarna keperakan tertancap dalam di
dadanya. "Menyebar...!" seru Mandaka keras.
Tiga puluh orang pengikutnya segera membentuk kelompok menjadi lima bagian, lalu
menyebar mengikuti perintah Mandaka. Sementara itu Mandaka sendiri segera
menggebah kudanya mengikuti arah kepergian kakaknya yang mengejar orang berbaju
hitam itu. Mandaka masih sempat melihat Carika berkelebat cepat dan menghilang
di balik salah satu rumah penduduk.
"Hup!"
Mandaka langsung melompat dari punggung kudanya.
Tapi belum juga kakinya menyentuh tanah, tiba-tiba sebuah bayangan hitam
berkelebat menerjangnya.
Mandaka tidak sempat lagi menghindar. Tubuhnya tak urung terjungkal keras, dan
dadanya mendadak jadi sesak.
Belum lagi Mandaka mampu bangkit, bayangan hitam itu berbalik seraya tangannya
berkelebat cepat melontarkan sebuah benda keperakan. Mandaka buru-buru
menjatuhkan tubuhnya, sehingga benda keperakan berbentuk pisau kecil tipis itu
menancap di tanah.
Bergegas Mandaka melompat bangkit.
Sret! Mandaka mencabut goloknya yang melengkung ke atas, lalu disilangkan di depan
dada. Matanya agak menyipit berusaha melihat wajah orang di depannya. Tapi malam
begitu pekat, apalagi tidak ada cahaya bulan sedikit pun yang menerangi. Belum
lagi Mandaka dapat melihat wajah orang itu, tiba-tiba orang berbaju hitam itu
melesat cepat sambil melontarkan dua pukulan sekaligus.
"Hup! Hiyaaa...!"
Mandaka melompat ke samping seraya mengibaskan
goloknya ke depan. Sukar diduga! Bagaikan kilat, orang berbaju hitam itu melesat
ke atas, lalu kakinya mendupak pundak Mandaka. Mandaka hanya mampu mengeluh
pendek. Tubuhnya terdorong beberapa langkah ke samping. Tulang bahunya seperti
patah dan terasa nyeri menyengat.
"Modar!"
Sambil berteriak keras, orang berbaju hitam itu menggedor dada Mandaka begitu
kakinya mendarat di tanah. Mandaka terkesiap. Buru-buru diegoskan tubuhnya ke
kanan, lalu goloknya dikibaskan ke depan disertai tenaga dalam penuh. Begitu
cepat kejadian itu. Mandaka mengira tangan orang berbaju hitam itu bakal buntung
terbabat goloknya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya!
Mandaka memekik keras dan tubuhnya terpental ke belakang.
Sukar dipercaya. Dari balik lengan baju orang itu, tiba-tiba saja keluar sebilah
senjata seperti pedang pendek tipis. Golok Mandaka terpotong jadi dua bagian
begitu membentur senjata yang keluar dari balik lengan baju.
Dan tangan kiri orang berbaju hitam itu menggedor dada Mandaka dengan keras.
"Hoegh...!"
Mandaka memuntahkan darah kental kehitaman.
Dadanya terasa remuk, dan napasnya sukar diatur. Belum lagi Mandaka bisa
bangkit, orang berbaju hitam itu sudah kembali melompat menyerangnya. Mandaka
terperangah, tidak mampu lagi berkelit.
"Hiyaaa...!"
Tepat pada saat ujung senjata orang itu hampir merobek dada Mandaka, sebuah
bayangan melesat cepat memapak serangan itu. Orang berbaju hitam itu terkejut,
lalu buru-buru menarik pulang serangannya sambil melompat mundur. Dia mendengus
melihat Carika tahu-tahu sudah berdiri tegak di depan Mandaka. Pedang panjang
melintang di depan dada.
"Uh! Untung kau cepat datang, Kakang," kata Mandaka
tersengal sambil berusaha bangkit berdiri. Dibuang goloknya yang tinggal
setengah lagi. Begitu mampu bangkit berdiri, Mandaka mencabut dua buah senjata trisula dari
balik bajunya. Senjata berbentuk lonjoran besi berwarna kuning dan bermata tiga
itu tergenggam erat di tangan kanan dan kirinya. Mandaka menyeka sisa darah dari
mulut dengan punggung tangannya.
"Bagus! Berarti bisa kudapatkan dua nyawa sekaligus!"
dengus orang berbaju hitam itu dingin. Suaranya berat dan terdengar datar.
"Siapa kau?" bentak Carika bertanya.
Belum sempat orang itu menjawab, sekitar dua puluh orang berkuda datang
menghampiri. Orang itu mendengus kesal, lalu tangan kanannya berkelebat cepat.
Secarik daun lontar melesat bagai panah, langsung mengarah pada Carika. Selagi
Carika menangkap daun lontar itu, orang berbaju hitam melesat pergi bagai kilat.
"Hei...!" Carika tersentak.
Belum juga Carika melompat mengejar, bayangan orang itu telah lebih dulu lenyap.
Carika melihat pada daun lontar di tangannya. Matanya membeliak lebar melihat
bait-bait syair tertera pada daun lontar itu.
"Penyair Maut," desis Carika pelan.
Carika bergegas melompat ke arah perginya orang berbaju hitam tadi. Mandaka
memerintahkan sepuluh orang yang baru datang untuk mengikuti Carika. Dia sendiri
kemudian naik ke punggung kudanya. Segera kuda itu digebah cepat dengan arah
memutar diikuti sekitar lima belas orang yang berdatangan bagai semut mencium
gula. Mandaka masih meringis merasakan nyeri pada dadanya.
*** Sementara itu, di sebuah rumah kecil dan reyot dari bilik bambu, seorang
perempuan tua tengah duduk memandang ke depan. Bajunya yang longgar dan kumal
penuh tambalan, meriap dipermainkan angin malam yang
dingin. Pandangannya tidak berkedip. Sesekali terdengar tarikan napasnya yang
panjang dan berat.
Pandangan wanita tua yang ternyata adalah Nek Selong itu beralih pada beberapa
orang berkuda. Keningnya sedikit berkerut begitu mengenali orang yang berkuda
paling depan. Orang itu adalah Mandaka. Rombongan berkuda itu berhenti tepat di
depan rumah kecil reyot itu.
"Gusti Mandaka...," Nek Selong buru-buru bangkit berdiri.
"Malam-malam begini belum tidur juga, Nek Selong?"
tanya Mandaka. "Belum, Gusti. Belum mengantuk...," sahut Nek Selong.
"Hm..., kau lihat seseorang lewat di sini, Nek?" tanya Mandaka.
"Tidak, Gusti. Sejak tadi hamba duduk di sini, tak seorang pun yang lewat,
kecuali peronda," sahut Nek Selong.
"Baiklah, Nek. Dan sebaiknya Nenek masuk saja. Orang gila itu kembali beraksi
dan membunuh banyak orang,"
jelas Mandaka. "Oh...!" Nek Selong kelihatan terkejut
"Cepatlah masuk, Nek. Aku tidak ingin ada korban lagi,"
perintah Mandaka tegas.
"Baik... baik, Gusti."
Nek Selong bergegas melangkah masuk ke dalam gubuknya. Perempuan tua itu segera menutup pintu, tapi tidak terlalu
rapat. Diintipnya Mandaka dan orang-orangnya yang bergerak pergi. Perempuan tua
itu masih memperhatikan meskipun rombongan kecil berkuda itu sudah jauh pergi.
"Nek..."
"Oh!" Nek Selong terperanjat, kontan berbalik. Dia menarik napas lega melihat
Baruna sudah berada di dekatnya. "Dari mana saja kau?"
"Latihan," sahut Baruna.
"Dari sore tadi tidak pulang. Aku cemas, tahu...!" rungut Nek Selong.
"Maaf, Nek. Aku cuma pergi dan latihan di tempat biasa," jawab Baruna kalem.
"Kau tidak ke sana, Baruna! Aku tahu kau pergi bukan untuk latihan!"
Baruna tersentak kaget. Dipandanginya wajah wanita tua itu dalam-dalam. Memang
diakui, kalau dia tidak pergi berlatih malam ini. Dan yang pasti, Nek Selong
telah pergi ke tempat mereka biasa berlatih ilmu olah kanuragan.
"Katakan terus terang, dari mana kau?" desak Nek Selong.
Baruna tidak langsung menjawab, tapi malah menarik napas panjang dan melangkah
menghampiri dipan kayu.
Direbahkannya tubuhnya di atas dipan itu. Sementara Nek Selong mengunci pintu,
kemudian duduk di kursi tidak jauh dari dipan itu.
"Kau tahu, Baruna. Si Penyair Maut semakin ganas.
Tadi baru saja Gusti Mandaka ke sini. Kebetulan aku ada di luar," kata Nek
Selong memberitahu.
Baruna tetap diam.
"Aku cemas bukan apa-apa, Baruna. Hanya aku tidak ingin mereka salah menuduh
karena kau setiap hari keluar malam. Aku tidak khawatir kalau kau bertemu si
Penyair Maut itu. Hanya yang kucemaskan, mereka bisa berbuat sembrono dengan
menuduhmu sebagai si Penyair Maut,"
lanjut Nek Selong mengutarakan kecemasannya.
Baruna tetap diam. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit pondok itu.
Napasnya teratur lembut. Titik-titik keringat terlihat bagai mutiara di dadanya
yang bergerak turun naik.
"Kau dengar, Baruna...?"
"Dengar, Nek," sahut Baruna mendesah pelan.
"Mulai malam ini, aku melarangmu keluar rumah!"
tegas kata-kata Nek Selong.
Baruna terperanjat dan langsung menoleh menatap langsung ke bola mata perempuan
tua itu. Ingin dipastikan kesungguhan kata-kata yang baru didengarnya dari
neneknya itu. "Nek, aku keluar hanya untuk berlatih. Lain tidak. Lagi pula tidak ada yang
tahu, mengapa aku harus takut"
Tidak perlu cemas, Nek. Aku bisa menjaga diri," kata Baruna meyakinkan hati
perempuan tua itu.
"Jangan membodohi aku, Baruna! Kau tidak berlatih setiap malam!" dengus Nek
Selong. "Aku berlatih, Nek!" Baruna berusaha meyakinkan.
"Di mana" Di mana kau berlarth?"
Baruna tidak menjawab. Kembali dipalingkan mukanya menatap langit-langit yang
hitam. "Jangan-jangan kau sendiri yang jadi pembunuh misterius itu, Baruna," tebak Nek
Selong langsung.
"Nek...!" Baruna terkejut. Seketika itu juga dia bangkit, lalu duduk di tepi
dipan. "Menyesal aku menceritakan perihal keluargamu, Baruna. Memang sudah kuduga, kau
pasti akan membalas dendam. Sayang, jalan yang kau tempuh tidak kusukai,"
suara Nek Selong terdengar lirih bernada penyesalan.
"Aku..., aku tidak melakukan apa-apa! Sungguh, Nek.
Aku...." "Berapa orang korbanmu malam ini?" potong Nek Selong cepat.
"Korban..." Korban apa?"
"Kau masih juga berpura-pura, Baruna. Padahal sekarang ini banyak jiwa yang
terancam. Bahkan orang yang tidak bersalah juga terancam jiwanya karena
perbuatanmu!"
"Aku tidak mengerti maksud Nenek...?"
"Ah, sudahlah! Sekarang tidurlah. Besok, kau harus ikut aku ke Bukit Halu."
"Mau apa ke sana?"
"Kau harus minta maaf di depan makam ayahmu. Kau sudah berbuat salah, membalas
dendam dengan cara memfitnah orang lain!"
"Nek...!"
Tapi Nek Selong tidak ingin lagi mendengar bantahan dari cucunya. Dia segera
bangkit dan melangkah masuk ke
kamar tidurnya. Baruna membanting keras tubuhnya ke dipan. Terdengar keluhan
panjang dan berat. Sementara malam semakin bertambah larut Masih terdengar
langkah kaki manusia dan derap kaki kuda sesekali di luar sana.
Orang-orang Raden Glagah masih tetap berusaha mencari si Penyair Maut yang malam
ini kembali beraksi meminta korban jiwa.
*** 5 Siang itu matahari bersinar amat terik. Di bagian timur lereng Bukit Halu
terlihat Rangga duduk bersila di bawah sebatang pohon yang sangat besar. Daundaunnya lebat melindungi Rangga dari sengatan matahari. Tidak jauh di depannya
Romantika Sebilah Pedang 7 Candika Dewi Penyebar Maut V I Bentrok Di Kali Serang 2

Cari Blog Ini