Ceritasilat Novel Online

Sabuk Penawar Racun 2

Pendekar Rajawali Sakti 22 Sabuk Penawar Racun Bagian 2


Jelas, ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup burung raksasa itu.
Rangga bergegas menotok beberapa bagian tubuh Rajawali Hitam disertai penyaluran
hawa murni. Rajawali Hitam itu berkaokan keras, lalu mengepakka sayapnya dengan
kuat Burung raksasa itu melesat cepat kembali ke Lembah Neraka.
Totokan berhawa murni dari Pendekar Rajawali Sakti hanya bersifat sementara agar
Rajawali Hitam bisa kembali ke Lembah Neraka.
"Hhh..., kasihan sekali kalian. Aku janji akan mendapatkan obat penawar itu,
walau apa pun yang akaf terjadi...," bisik Rangga dalam hati.
*** 5 Saat itu, tidak jauh dari Lembah Neraka, tampak "eorang laki-laki gemuk
menunggang kuda putih, sedangkan keempat kakinya warna hitam. Baju yang
dikenakannya cukup mewah, meskipun sudah kotor oleh ikibu. Laki-laki gemuk itu
memacu kudanya dengan kecepatan sedang, namun kelihatannya
binatang itu mendengus-dengus kelelahan. Sedangkan titik-titik ke-ilngat
membasahi sekujur tubuh laki-laki gemuk itu.
"Hooop...!" laki-laki gemuk itu menghentikan laju kudanya ketika melihat sebuah
pondok kecil berada di antara pepohonan.
Dengan gerakan ringan dan cukup indah, cfia melompat turun dari punggung
kudanya. Kuda itu pun "egera minum di dalam kubangan kecil. Laki-laki gemuk itu
melangkah mendekati sebatang pohon besar yang tinggal sedikit daunnya.
Dia berdiri bersandar pada pohon itu. Napasnya masih tersengal, dan keringat
membanjiri tubuhnya.
Pandangan matanya tidak lepas ke arah pondok kecil yang hanya sekitar tiga
tombak lagi jauhnya. Pondok kecil itu kelihatan sepi bagai tidak berpenghuni.
Daun-daun kering bertebaran menyemaki sekitar pondok Itu. Laki laki gemuk Itu
mengayunkan kakinya menghampiri pondok itu. Namun belum juga sampai, mendadak
sebatang tombak panjang melesat dari arah pondok itu.
"Ih, hup..!"
Laki-laki gemuk itu bergegas melentingkan tubuhnya, berputar ke belakang. Tombak
itu meluruk lewat di bawah tubuhnya. Dan belum lagi kakinya sempal menjejak
tanah, tiga batang anak panah meluruk dera ke arahnya. Laki-laki gemuk itu
segera mencabut pedangnya, lalu diputar cepat membentuk perisai! Maka, tiga
batang anak panah itu pun rontok terbabal pedang yang berputar cepat bagai
baling-baling "Hhh! Ada-ada saja...!" dengus laki-laki gemuk itu begitu kakinya menjejak
tanah. "Ha ha ha...!" terdengar tawa menggelegar.
"Hm..., Girindra...," gumam laki-laki gemuk itu. "Bagus!
Akhirnya kita bertemu juga di sini, Patih Giling Wesi!"
Suara itu terdengar bersamaan dengan munculnya seorang laki-laki tua berjubah
merah. Tidak berapa lama, sesosok tubuh lain melesat keluar dari dalarri pondok.
Laki-laki gemuk itu memang Patih Giling Wesi. Saat ini, dia memang tengah
mencari Intan Kemuning hingga sampai ke tempat ini.
Patih Giling Wesi tidak terkejut lagi melihat seorang pemuda tampan berbaju
putih bersih bagai seorang ningrat, muncul dari dalam pondok itu. Dia kenal
betul dengan pemuda itu.
"Rupanya kau masih hidup, Kalaban!" dingin suara Patih Giling Wesi.
"Aku tidak akan mati sebelum mendapatkan putriku, Patih Giling Wesi!" sahut
Kalaban tidak kalah dinginnya.
"Sampai kapan pun kau tidak akan bisa mendapatkan anakku, bocah setan!"
"Ha ha ha...!" Kalaban hanya tertawa saja. 'Mampus kau, keparat!"
Kalaban langsung melompat menerjang laki-laki gemuk dari Kerajaan Galung itu.
Terjangan yang sangat cepat dan bertenaga dalam penuh itu dengan manis dapat
dihindari Patih Giling Wesi. Dan pada saat, tubuhnya miring ke kanan mengelakkan
terjangan itu, satu sodokan keras diarahkan ke perut.
"Uts!"
Tak! Patih Giling Wesi terlonjak kaget begitu tangannya membentur tangan Kalaban saat
menangkis sodokan llu.
Bergegas dia melompat mundur ke belakang. Seluruh
persendian tangannya seperti tersengat ribuan kala berbisa.
Tulang-tulangnya menjadi kaku, dan nyeri rasanya. Patih Giling Wesi langsung
menyadari kalau tenaga dalamnya kalah jauh dibanding pemuda llu.
"Ha ha ha...! Kau akan mampus, Patih Giling Wesi" Kalaban tertawa terbahakbahak. "Tidak semudah itu kau membunuhku, Anak Muda!" dengus Patih Giling Wesi seraya
mencabut pedangnya yang tadi sempat dimasukkan ke dalam sarungnya.
Setelah berkata demikian, Patih Giling Wesi cepat melompat menerjang sambil
mengibaskan pedangnya Kalaban menarik perutnya ke belakang sehingga jadi agak
membungkuk. Ujung pedang Patih Giling Wesi sedikit lagi pasti akan membabat
perut Kalaban. Gagal dengan serangan pertamanya, Patih Giling Wesi segera melancarkan seranganserangan dahsyatnya. Setiap serangannya mengandung tenaga dalam tinggi. Namun
Kalaban bukan anak kemarin sore. Dia selalu dapat menghindari serangan serangan
tu. Bahkan mampu memberikan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya.
Sementara tidak berapa jauh dari tempat pertarungan itu, Eyang Girindra
memperhatikan dengan mata tidak berkedip.
Dari bibir tipis yang tertutup kumis putih, laki-laki tua berjubah merah itu
tersenyum. Kepalanya terangguk-angguk penuh kepuasan melihat muridnya mampu
menandingi Patih Giling Wesi. Bahkan serangan-serangan balasannya mampu membuat
patih gemuk itu harus jungkir-balik menghindarinya.
Entah sudah berapa jurus berlalu dengan cepat Tampaknya pertarungan masih
berjalan seimbang.
"Awas kepala...!" seru Kalaban tiba-tiba dengan keras.
Sret' Bersamaan dengan keluarnya tongkat putih keperan dari balik ikat pinggangnya,
Kalaban segera mengibaskan tongkat itu ke arah kepala Patih Giling Wesi. Tongkat
berwarna keperakan itu langsung menunjang dan berkelebat cepat ke arah kepala.
"Uts!"
Patih Giling Wesi merundukkan kepalanya sedikit, menghindari tebasan tongkat
keperakan itu. Tapi belum juga bisa mengangkat kepalanya kembali, mendadak saja
sebelah kaki kanan Kalaban menghentak ke depan. Tendangan keras yang cepat
disertai pengerahan tenaga dalam penuh itu tidak dapat dielakkan lagi.
"Ugh!"
Patih Giling Wesi mengeluh pendek. Seketika saja dadanya terasa sesak, dan
tulang-tulangnya seperti remuk kena tendangan keras bertenaga dalam cukup penuh
itu. Tubuhnya terlontar deras ke belakang. Sebongkah batu besar kontan hancur
herkeping-keping terbentur tubuh gemuk itu. Patih Giling Wesi berusaha bangkit
kembali, namun tubuhnya sempoyongan. Dari mulutnya meluncur segumpal darah
kental. "Ha ha ha...! Sebutlah nama leluhurmu sebelum kukirim ke neraka, Patih Giling
Wesi!" ujar Kalaban pongah.
"Phuih!" Patih Giling Wesi menyemburkan ludahnya yang bercampur darah.
Dengan tubuh masih terhuyung-huyung, dicobanya untuk menyerang pemuda itu
kembali. Pedangnya berkelebat cepat ke arah leher. Namun manis sekali Kalaban
menghindarinya dengan menarik lehernya ki belakang. Dan tiba-tiba tongkat
perak Kalaban bergerak cepat bagaikan kilat menghajar iga Patih Gilini Wesi.
Kembali Patih Giling Wesi terpental ke samping Tulang iganya benar-benar patah
kali ini. Beberapa kali dia bergulingan di tanah, dan dengan cepat berusaha
bangkit kembali. Namun baru saja dapat bangkit datang lagi satu pukulan keras ke
arah wajahnya yang disusul sebuah pukulan telak mengjajar dadanya.
"Hiyaaa...!" Kalaban berteriak keras seraya mengibaskan tongkatnya ke arah
kepala laki-laki gemuk itu.
Patih Giling Wesi yang sudah tidak berdaya lagi hanya mampu membeliak melihat
tongkat perak itu meluncur deras ke arah kepalanya. Saat itu dirasakan nyawanya
sudah melayang dari badan. Dan pada saat yang genting itu, tiba-tiba satu
bayangan putih berkelebat cepat memapak ayunan tongkat perak Kalaban.
Trak! "Akh!" Kalaban memekik tertahan.
Tongkatnya terpental jauh ke udara. Tiba-tiba Eyang Girindra melesat cepat
mengejar tongkat itu dan langsung meluruk turun setelah berhasil menangkap
tongkat muridnya. Dengan sigap, kakinya menjejak tanah di samping Kalaban.
Tampak pemuda itu masih dihinggapi rasa terkejut seraya mengurut pergelangan
tangannya. "Kau tidak apa-apa, Paman Patih?" tanya seorang pemuda tampan mengenakan baju
rompi putih, yang tahu-tahu sudah berdiri di samping Patih Giling Wesi.
"Rangga...," desis Patih Giling Wesi begitu mengenali pemuda itu. "Syukurlah kau
cepat datang...."
"Siapa orang yang bersama Kalaban itu?" tanya Rangga seraya melirik laki-laki
tua berjubah merah yang berdiri di samping Kalaban.
"Dia Eyang Girindra, gurunya Kalaban dan Empat Bayangan Iblis Neraka," jelas
Patih Giling Wesi.
"Hm...," Rangga menggumam tidak jelas.
Pendekar Rajawali Sakti itu berdiri tegak membelakangi Patih Giling Wesi.
Pandangannya tajam, langsung tertuju pada Eyang Girindra. Sesaat kemudian
tatapan matanya beralih pada Kalaban. Dia harus meminta obat penawar racun untuk
Intan Kemuning pada pemuda telengas Itu.
"Kebetulan sekali kita berjumpa di sini, Kalaban," kata Rangga kalem, namun
bernada sinis. "Ya, memang kebetulan sekali! Kau bisa membayar hutangmu, Pendekar Rajawali
Sakti!" sambut Kalaban dingin.
"Dan kau pun harus membayar hutang atas penderitaan rakyat Kerajaan Galung,
Kalaban!" balik Rangga ketus.
"Setan! Mampus kau...!" geram Kalaban seraya merebut tongkat peraknya dari
tangan Eyang Girindra
"Tahan, Kalaban!" sentak Eyang Girindra merentangkan tangannya mencegah serangan
pemuda itu. Kalaban tidak jadi menyerang Pendekar Rajawal Sakti. Sementara Eyang
Girindra melangkah ke depan tiga tindak. Tatapan matanya begitu tajam tidak
berkedip. Sebatang tongkat diketuk-ketukkan ke tanah dekat ujung jari kakinya.
Rangga yang memperhatikan sejak tadi, sudah bisa mengukur tingkat kepandaian
laki-laki tua berjubah merah itu. Jelas dia harus hati-hati menghadapinya.
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, Anak Muda. Tapi kau sudah membunuh empat
orang murid kesayanganku.
Seharusnya kau kubunuh untuk membayar nyawa murid-muridku. Hanya saja kali ini
aku akan memberimu kebnggaran.
Dan sebaiknya, cepat tinggalkan tempat ini," kata Eyang Girindra kalem, namun
nada suaranya mengandung ancaman.
"Terima kasih atas kebaikanmu, Orang Tua. Tapi maaf, aku tidak bisa pergi begitu
saja karena masih ada urusan dengan muridmu itu," sahut Rangga tegas,
"Eyang, biar kubunuh setan keparat itu!" bentaK Kalaban tidak sabar.
"Diam kau, Kalaban!" bentak Eyang Girindra.
"Persetan!"
Kalaban tidak bisa lagi mengekang amarahnya Tanpa menghiraukan bentakan gurunya,
dia langsung melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Tongkat peraknya
berkelebat cepat mengarah ke kepala pemuda berbaju rompi putih itu.
*** "Hait...!"
Rangga mengegoskan tubuhnya ke samping, seraya tangannya dengan cepat berkelebat
memapak tongkat perak itu. Satu benturan keras terjadi, hingga menimbulkan suara
seperti ada sesuatu yang patah. Bukan saja Kalaban yang tersentak kaget, bahkan
Eyang Girindra pun sampai ternganga melihatnya.
Betapa tidak! Tongkat perak kebanggaan Kalaban, patah jadi dua setelah membentur
tangan Pendekar Rajawali Sakti.
Padahal tongkat perak itu bukan tongkat biasa! Tongkat itu
mampu menggempur sebongkah batu besar hingga hancur berkeping-keping. Tapi di
tangan pendekar muda itu, hanya bagaikan sebatang ranting kayu kering yang tak
berguna sama sekali.
"Sayang sekali. Barang mainan itu tidak pantas dipamerkan di hadapanku," kata
Rangga sinis. "Keparat...!" geram Kalaban sengit. "Kubunuh kau, setan!"
"Kalaban! Tahan!" Eyang Girindra menyentakkan tangan muridnya.
Kalaban menggeram kesal. Sepasang bola matanya berbinar berapi-api menatap
Rangga. Dibuangnya potongan tongkat perak kebanggaannya. Dengan perasaan yang
sukar untuk diungkapkan, Kalaban melangkah mundur dua tindak.
"Apa yang kau inginkan dari muridku, Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Eyang
Girindra, agak ketus nada suaranya.
"Obat Penawar Racun Merah!" sahut Rangga datar.
"Ha ha ha...!" Kalaban tertawa terbahak-bahak "Bagus! Itu berarti sebentar lagi
kau akan mati pendekar keparat!"
"Racun itu bukan untukku, Kalaban"
Kalaban kontan berubah wajahnya. Semula dia sudah senang karena dikiranya tubuh
Pendekar Rajawali Sakti mengidap Racun Merah-nya yang dilepaskan ketika
bertarung di halaman Istana Galung. Tapi nyatanya pendekar muda itu meminta obat
penawai bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk orang lain.
"Pendekar Rajawali Sakti! Kau tahu tentang Racun Merah, itu berarti kau sudah
tahu apa akibatnya" kata Eyang Girindra.
"Ya, aku tahu. Itulah sebabnya aku mencari muridmu ini!"
sahut Rangga. "Obat penawar itu tidak ada padaku!" celetuk Kalaban.
"Hm...," Rangga menggumam sengit.
"Benar, Pendekar Rajawali Sakti Kalaban memang memiliki jurus 'Pukulan Racun
Merah', tapi tidak memiliki obat penawarnya. Sedangkan aku sendiri kehilangan
obat itu beberapa tahun yang lalu," jelas Eyang Girindra.
Rangga tidak bisa mempercayai keterangan itu. Ditatapnya dalam-dalam dua orang
di depannya secara bergantian.
Kemudian pandangannya beralih pada Patih Giling Wesi yang masih duduk dengan
sikap bersemadi.
Tapi kata-kata Eyang Girindra barusan sepertinya bernada sungguh-sungguh. Dan
ini membuat Rangga jadi berpikir juga.
Kembali ditatapnya Kalaban. Namun mengingat keadaan Intan Kemuning yang begitu
parah, dia bertekad untuk mendapatkan obat penawar Racun Merah.
"Kau boleh tidak percaya padaku, Pendekar Rajawali Sakti.
Tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Racun Merah memang hanya bisa dihilangkan
oleh obat penawarnya. Tapi obat itu hilang beberapa tahun lalu," kata Eyang
Girindra lagi, coba untuk meyakinkan.
"Bisa kupercaya kata-katamu itu, Eyang Girindra?" sinis nada suara Rangga.
"Percaya atau tidak, itu hakmu!" celetuk Kalaban ketus.
'Hm..., rasanya bisa kupercayai kata-katamu, Eyang Girindra.
Tapi muridmu itu...."
"Phuih! Kau memang selalu mencari-cari perkara denganku!"
geram Kalaban. Setelah berkata demikian, Kalaban cepat melompat seraya melontarkan satu pukulan
yang begitu dahsyat. Rangga tahu
kalau pemuda itu mengeluarkan jurus 'Pukulan Racun Merah'.
Satu jurus yang luar biasa dahsyatnya. Herannya, Pendekar Rajawali Sakai itu
tidak bergeming sedikit pun! Dengan tenang di angkat tangannya ke depan,
menerima serangan jurus
'Pukulan Racun Merah'.
"Hiyaaa...!"
"Yaaa...!"
Satu ledakan keras terjadi begitu dua pasang telapak tangan saling berbenturan.
Seketika itu juga tubuh Kalaban terlempar jauh ke belakang, hingga menghantam
sebatang pohon besar yang kemudian hancur berkeping-keping. Sedangkan Rangga
masih tetap berdiri tegak dengan tangan melipat di depan dada.
Kalaban bergegas bangkit kembali. Dia menggeram keras bagai seekor harimau
kelaparan melihat seonggok daging.
Digerak-gerakkan tangannya dengan cepat, kemudian berlari kencang sambil
berteriak keras melengking. Kalaban tidak lagi menghiraukan peringatan gurunya.
Kembali diserangnya Rangga lewal jurus-jurus andalannya.
Menghadapi serangan dahsyat itu, Rangga menggunakan jurus 'Sembilan Langkah
Ajaib'. Suatu jurus permainan kaki yang dipadukan dengan ilmu meringankan tubuh.
Gerakan-gerakan kaki Rangga begitu cepat dan lincah, diimbangi gerak tubuh yang
lentur. Dia meliuk-liuk bagai seekor belut!
Beberapa kali serangan Kalaban hampir mengenai tubuh Pendekar Rajawali Sakti.
Namun pada saat pukulannya tinggal seujung rambut lagi, Rangga mengelak dengan
manis sekali. Hal ini membuat Kalaban semakin geram dibuatnya. Diperhebat jurus-jurusnya,
dengan pengerahan tenaga dalam penuh.


Pendekar Rajawali Sakti 22 Sabuk Penawar Racun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Hih!"
Pada saat tangan Kalaban menyodok ke arah dada, dengan cepat Rangga memapaknya
dengan tangan kanan, disertai satu sodokan keras ke arah perut. Kalaban tidak
sempat lagi menghindarinya karena terlalu memusatkan perhatiannya pada
penyerangan. Akibatnya, sodokan itu telak mengenai perutnya.
"Hugh!" Kalaban mengeluh pendek. Tubuhnya terjajar beberapa langkah ke belakang.
Pada saat yang tepat. Rangga cepat melompat seraya melontarkan satu tendangan
lurus ke depan. Dan begitu kaki kanannya hampir mengenai dada Kalaban, Eyang
Girindra melompat memapak serangan itu.
"Hait!" .
Buru-buru Rangga menarik
pulang kakinya, lalu melenting
ke belakang. Manis sekali
kakinya mendarat di tanah.
Eyang Girindra berdiri tegak
membelakangi muridnya yang
masih terbungkuk memegangi
perutnya. Sodokan tangan kiri
Rangga begitu keras,
membuat perutnya mual.
"Cukup, Pendekar Rajawali
Sakti!" bentak Eyang Girindra.
"Jangan seenaknya membunuh muridku di depan mataku!"
"Maaf, aku rasa dia sendiri yang menginginkan kematiannya," sahut Rangga dingin.
"Hm..., kau sudah membunuh empat orang muridku.
Seharusnya kau kubunuh, Pendekar Rajawali Sakti. Sampai saat ini aku masih bisa
mengampunimu. Tapi jika Kalaban kau bunuh juga, itu berarti harus berhadapan
denganku!"
Rangga tahu kalau kata-kata itu bernada ancaman serius.
Dalam hati dikaguminya juga sikap Eyang Girindra yang bisa menelaah dari setiap
peristiwa yang terjadi, dan tidak mengambil keputusan secara sepihak. Rangga pun
dapat memaklumi ancaman itu. Setiap guru pasti akan membela muridnya, walaupun
murid itu sendiri melakukan kesalahan.
Tapi mengingat ada nyawa yang harus diselamatkan, Rangga menyimpan dulu rasa
kagumnya. Bagaimanapun juga dia harus mendapatkan obat penawar Racun Merah.
Jurus 'Pukulan Racun Merah' hanya dimiliki Eyang Girindra dan Kalaban. Jadi, hanya
mereka berdua sajalah yang dapat memberikan obat penawar itu.
"Kalaban, ayo kita tinggalkan tempat ini," ajak Eyang Girindra.
"Eyang...," Kalaban akan membantah.
"Tinggalkan tempat ini, kataku!" bentak Eyang Girindra keras.
Kalaban tidak bisa membantah lagi. Dibalikkan tubuhnya setelah menatap tajam
penuh kebencian dan rasa dendam pada Rangga. Tapi baru saja mereka berjalan
beberapa tindak, Rangga sudah berseru....
"Tunggu dulu!"
Eyang Girindra menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Pendekar
Rajawali Sakti itu kembali. Sedangkan Kalaban menggerutu kesal.
"Apa lagi yang kau inginkan, Anak muda?" tanya Eyang Girindra.
"Di mana kau sembunyikan Seruni?" tanya Rangga yang tiba-tiba teringat pada
gadis kecil yang harus dilindungi keselamatannya.
"Seruni..."! Siapa itu?" Eyang Girindra kembali bertanya.
"Kau jangan berpura-pura, Eyang Girindra! Bukankah kau yang menculik Seruni! Di
mana dia?"
"Maaf, aku tidak ingin menambah persoalan lagi. Ayo, Kalaban."
"Hey, tunggu...!"
Tapi Eyang Girindra sudah melompat cepat seraya menyambar tangan Kalaban. Begitu
cepatnya dia melesat, sehingga dalam sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap
dari pandangan. Rangga ingin mengejar, tapi tiba-tiba teringat akan keadaan
Patih Giling Wesi. Niatnya pun langsung diurungkan.
Sementara Patih Giling Wesi masih duduk di bawah pohon.
Kedua matanya terpejam rapat, dan sikapnya begitu tenang bersemadi. Rangga
kemudian duduk di depan laki-laki gemuk itu. Dia tidak ingin mengganggu semadi
Patih Giling Wesi. Luka-luka yang diderita laki-laki gemuk itu cukup parah,
sehingga butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Namun dengan cara bersemadi,
luka-luka itu bisa disembuhkan tanpa menunggu sampai beberapa hari.
*** 6 Rangga semakin tidak mengerti akan keadaan yang tengah terjadi saat ini.
Sepertinya setiap persoalan datang beruntun
tanpa henti-hentinya. Belum selesai satu persoalan, muncul lagi persoalan
lainnya. Dan yang membuat Rangga pening, semua yang dihadapinya selalu berkaitan
erat Dan itu harus diselesaikan satu persatu.
Hari sudah berganti senja. Sebentar lagi malam pasti akan datang, tapi Patih
Giling Wesi belum juga bangun dari semadinya. Rangga menggeser duduknya
mendekati. Dijulurkan tangannya hendak memeriksa keadaan luka-luka yang diderita patih dari
Kerajaan Galung itu. Mendadak, keningnya berkerut dalam. Buru-buru ditarik
kembali tangannya.
"Racun Merah...!" desis Rangga terkejut Sama sekali tidak diduga kalau Patih
Giling Wesi terkena 'Pukulan Racun Merah'
yang amat dahsyat. Rangga benar-benar kelabakan saat ini.
'Pukulan Racun Merah' sulit untuk ditangkal. Sedangkan penangkal satu-satunya
hanya ada pada pemilik jurus itu. Tapi Eyang Girindra telah mengatakan kalau
obat penawar Racun Merah hilang darinya beberapa tahun lalu.
"Gita Raka...!" tiba-tiba Rangga tersentak, teringat dengan wanita muda
misterius yang ditemuinya.
Ya.... Gita Raka bercerita kalau Seruni diculik oleh Eyang Girindra. Sedangkan
laki-laki tua berjubah merah itu tidak mengakui, bahkan tidak kenal dengan orang
yang bernama Seruni. Rangga jadi berpikir keras, mencoba untuk menelaah semua
kejadian yang dialaminya. Dicobanya untuk merangkai setiap kejadian yang
ditemui. Memang rasanya mustahil kalau Eyang Girindra berada di sini, jauh dari tempat
tinggalnya di Puncak Gunung Sendir.
Sedangkan Seruni tadi tidak bersamanya di tempat ini. Tidak mungkin laki-laki
berjubah merah itu meninggalkan Seruni sendirian di Puncak Gunung Sendir. Lagi
pula, untuk apa dia
menculik seorang gadis kecil" Adakah sesuatu pada Seruni sehingga diperebutkan"
Rangga melayangkan pandangannya berkeliling. Sesaat matanya terpaku ke arah
pondok kecil yang tidak jauh dari tempat ini. Dia tahu kalau tempat Ini tidak
berapa jauh dari Lembah Neraka, dan masih termasuk dalam wilayah lembah angker
itu. Rangga jadi teringat akan kata-kata terakhir Ki Biran yang berpesan agar
membawa Seruni pada bibinya di dekat Lembah Neraka.
Mendadak, Pendekar Rajawali Sakti tersentak kaget begitu telinganya mendengar
rintihan lirih tidak jauh darinya. Segera ditatapnya Patih Giling Wesi.
Tapi, laki-laki gemuk itu tampak diam bersemadi. Dan rintihan lirih itu terus
terdengar di telinganya.
"Pondok itu...!" desis Rangga.
Slap...! Seketika itu juga tubuh Pendekar Rajawali Sakti melesat ke arah pondok kecil
itu. Begitu cepatnya berkelebat, tahu-tahu sudah berada di dalam pondok. Senja
yang remang-remang, membuat pandangannya agak terhalang di dalam pondok.
Namun masih bisa terlihat sesosok tubuh kecil tergolek di lantai beralaskan daun
tikar pandan. "Seruni...!"
*** Rangga bergegas menghampiri gadis kecil itu, dan memindahkannya ke atas dipan
bambu. Gadis kecil itu memang Seruni. Dia merintih lirih dengan mata terpejam.
Sebentar Pendekar Rajawali Sakti itu memeriksa keadaan tubuh Seruni, lalu
menarik napas lega. Ternyata tidak ada luka-luka dalam
maupun luar yang ditemukan. Rangga menyalurkan sedikit hawa mumi pada tubuh
gadis itu. Pelahan-lahan Seruni mulai sadarkan diri.
"Kakang..!" Seruni langsung bangun dan memeluk erat Rangga.
"Ssst...," Rangga berusaha meredakan tangis gadis kecil itu.
Dengan lembut dilepaskan pelukannya.
Serani masih menangis sesenggukan. Rangga duduk di tepi dipan bambu. Dia
menghapus lembut air mata di pipi Seruni yang halus kemerahan. Sedikit demi
sedikit Seruni mulai bisa tenang. Namun sesekali masih terdengar tangisnya yang
lirih. "Mereka, Kakang.... Mereka sangat kejam...!" isak Seruni kembali menangis.
"Ssst... Tenanglah, Seruni. Bicaralah yang tenang. Apa yang terjadi pada
dirimu...?" Rangga masih berusaha menenangkan gadis kecil itu.
Seruni belum bisa menjawab dengan tenang. Dia terus sesenggukan. Mungkin apa
yang tadi dialami masih membekas dalam ingatannya. Rangga tidak tahu lagi, apa
yang harus dilakukannya. Tidak mudah menenangkan seorang gadis kecil yang tengah
dilanda kemelut. Rangga segera teringat pada Patih Giling Wesi yang kemudian
dipindahkannya ke dalam pondok kecil itu. Sementara Patih Giling Wesi kembali
bersemadi dekat api unggun, mencoba mengurangi menjalarnya racun di dalam
tubuhnya. "Kakang...," pelan suara Seruni memanggil.
Rangga menoleh memandang gadis kecil itu. Kelihatannya Seruni sudah mulai
tenang, dan tidak lagi menangis. Air matanya pun sudah kering.
"Ya..., ada apa?" tanya Rangga lembut.
Seruni melepaskan sabuk yang melilit pinggangnya. Sabuk tebal dari kulit
binatang. Dari coraknya sudah dapat ditebak kalau sabuk itu terbuat dari kulit
harimau. Seruni memberikan sabuk itu pada Rangga yang terpaku keheranan tidak
mengerti. "Apa ini?" tanya Rangga seraya menerima sabuk itu.
"Mereka menginginkan ini, tapi tidak tahu kalau yang dicari ada di dalam sabuk
ini," jelas Seruni.
Sejenak Rangga mengamati sabuk kulit harimau itu.
Keningnya sedikit berkerut mendapati ada kantung di dalam sabuk itu. Dirogohnya
kantung itu. Ternyata, di dalamnya terdapat beberapa butir pil berwarna merah
kehijau-hijauan.
Ada sekitar dua puluh pil yang besarnya tidak lebih dari sebuah biji saga.
"Ayah memberikan sabuk ini padaku. Katanya, sabuk ini jangan sampai jatuh ke
tangan orang lain. Tapi aku percaya kalau Kakang bukan orang jahat," kata
Seruni. "Kau tahu, benda apa ini?" tanya Rangga.
"Tentu. Ayah pemah bilang kalau itu adalah pil Penawar Racun Merah," sahut
Seruni. "Pil Penawar Racun Merah..."!" Rangga mendesis pelan.
"Ada apa, Kakang?" tanya Seruni ketika melihat raut wajah Pendekar Rajawali
Sakti yang langsung berubah.
"Tidak..., tidak ada apa-apa," sahut Rangga cepat-cepat.
"Seruni! Kau tahu, dari mana ayahmu mendapatkan pil ini?"
Belum juga Seruni menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba terdengar tawa menggelegar
dari luar pondok. Rangga kontan melompat turun dari dipan bambu itu. Bergegas
dilemparkan sebutir pil pada Patih Giling Wesi. Pil itu tepat jatuh di telapak
tangannya. Patih Giling Wesi terbangun dari semadi, dan memandang Pendekar
Rajawali-Sakti yang mengangguk kecil.
Patih Giling Wesi tidak berpikir panjang lagi, dan langsung menelan pil itu.
"Ah...!" Patih Giling Wesi mengeluh pendek.
Seketika itu juga badannya terasa panas. Keringat sebesar-besar butiran jagung
menitik deras membasahi wajahnya. Buru-buru dirapatkan tangannya di depan dada,
namun cepat dicegah Rangga. Sementara tawa di luar pondok terus terdengar
menggelegar. Jelas kalau tawa itu dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam
cukup tinggi. "Seruni...!" Rangga tersentak ketika mendengar suara jeritan kecil.
Pendekar Rajawali Sakti itu bergegas melompat ke arah Seruni yang menggelepar
tidak mampu menahan gempuran gelombang suara bertenaga dalam cukup tinggi.
Rangga segera memberikan totokan di sekitar telinga gadis kecil itu. Maka Seruni
pun menjadi tenang setelah mendapat totokan.
"Hup, hup...!"
Rangga menggerak-gerakkan tangannya di depan dada.
Kemudian menarik napas panjang. Sesaat kemudian, kedua tangannya menghentak
cepat ke depan. Suatu gelombang keras meluncur dai dari kedua telapak tangannya
Temyata Pendekar Rajawal Sakti mengeluarkan aji 'Bayu Bajra'.
*** "Aaa..,!" satu jeritan melengking terdengar bersamaan dengan hancurnya pintu
pondok. Secepat kilat Rangga melompat ke luar. Suasana malam yang gelap menyambut
Pendekar Rajawali Sakti itu. Matanya yang tajam langsung beredar ke sekeliling.
Tampak sesosok tubuh menggeletak berlumuran darah.
"Hiyaaa...!"
"Hait...!"
Rangga melompat dua langkah ke belakang ketika dari arah samping seseorang
melompat sambil menggenggam sebilah golok terhunus. Serangan yang cepat itu
dengan manis dapat dielakkan, bahkan kepalan tangan Pendekar Rajawali Sakti
berhasil menggedor dada orang itu.
"Akh...!" orang itu memekik keras. Tubuhnya terlontar jauh ke belakang
Hanya sebentar dia mampu bergerak menggeliat, kemudian diam tidak berkutik.
Dadanya melesak ke dalam. Rangga berdiri tegak memandang tajam ke sekeliling.
Tidak terdengar sedikit pun suara yang mencurigakan, kecuali deru angin malam
yang kencang I membawa udara dingin menusuk tulang.
"Kakang...!" tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam pondok.
"Hiyaaa...!"
Rangga langsung melompat masuk ke dalam pondok. Tapi baru saja melewati pintu
pondok, sebuah bayangan merah berkelebat cepat menyongsongnya. Begitu cepatnya
bayangan merah itu berkelebat, sehingga Pendekar Rajawali Sakti itu tidak bisa
lagi berkelit. Dadanya telak kena hajar bayangan merah itu.
"Ugh!" Rangga mengeluh pendek. Tubuhnya terlontar beberapa tombak ke belakang.
Dua kali Rangga berputaran di udara, kemudian manis sekali kakinya menjejak
tanah. Pada saat itu, bayangan merah kembali berkelebat cepat bagai kilat
menyambarnya. Kali ini Rangga sudah siap, dan cepat-cepat memiringkan tubuhnya
ke kiri seraya melayangkan satu pukulan keras bertenaga dalam penuh. Tapi
Pendekar Rajawali Sakti itu pun kecewa, karena bayangan merah itu berhasil
mengelak. "Senjata rahasia...!" Rangga mendesis terperangah.
Bayangan merah itu melontarkan beberapa puluh senjata kecil seperti jarum.
Padahal dia masih berkelebat cepat di saat menghindari pukulan maut Pendekar
Rajawali Sakti. Seketika itu juga Rangga berlompatan ke belakang seraya memutar
tubuhnya menghindari serbuan senjata rahasia itu.
Pada saat Pendekar Rajawali Sakti itu sibuk menghindari terjangan jarum-jarum
kecil itu, bayangan merah kembali bergerak cepat menerjangnya. Tentu saja hal
ini membuat Rangga makin kewalahan. Ternyata bayangan merah itu menyerang
disertai lontaran jarum-jarum kecilnya.
"Bedegul...!" geram Rangga sengit Menghadapi serangan beruntun disertai serbuan
senjata rahasia itu, Rangga tidak punya pilihan lain lagi. Segera dikerahkan
jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' diseling jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.
Dengan dua jurus yang saling susul itu, keadaan kini menjadi seimbang.
"Hap...!"
Rangga melompat mundur ketika ada kesempatan.
"Eyang Girindra...!" desis Rangga begitu mengenali bayangan merah itu.
"Serahkan sabuk harimau itu padaku, Bocah!" bentak Eyang Girindra.
Rangga melompat mundur dua tindak ke belakang. Kelopak matanya agak menyipit
menatap tajam pada laki-laki tua di depannya. Wajah dan bentuk pakaiannya memang
mirip Eyang Girindra. Tapi orang itu lebih kecil dan kurus.
"Kau bukan Eyang Girindra! Siapa kau sebenar nya"!"
dengus Rangga. "Hi hi hi...!" orang itu tertawa mengikik menyeramkan.
Rangga menggeser kakinya ke samping mendekati pintu pondok. Pada saat itu dari
dalam pondok, Seruni keluar sambil menyangga Patih Giling Wesi. Meskipun sudah
meminum pil Penawar Racun Merah, keadaan Patih Giling Wesi belum sempurna benar.
Tapi kondisi tubuhnya sudah mulai membaik.
"Hati-hati, Rangga. Dia sangat licik," ujar Patih Giling Wesi memperingatkan.
"Siapa dia, Paman Patih?" tanya Rangga yang sudah berada di sampingnya.
"Dia...."
Belum juga Patih Giling Wesi menjawab tuntas, mendadak saja orang berbaju merah
yang wajahnya mirip Eyang Girindra itu mengelebatkan tangan kanannya. Maka dari
balik lengan bajunya yang longgar, meluncur beberapa jarum kecil berwarna


Pendekar Rajawali Sakti 22 Sabuk Penawar Racun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

keemasan. "Hiyaaa...!"
Secepat kilat Rangga melompat ke depan, dan
menghentakkan kedua tangannya ke depan. Bersamaan dengan itu, dari mulutnya
meluncur teriakan keras yang menyebutkan suatu nama ilmu kesaktian.
"Aji Bayu Bajra'...!"
Jarum-jarum kecil keemasan itu kontan berbalik ke arah pemiliknya begitu
terhempas udara keras yang keluar dari sepasang telapak langan Pendekar Rajawali
Sakti. Tentu saja hal ini membuat orang berjubah merah itu jadi kelabakan.
Sebisanya-dia berjumpalitan menghindari serbuan senjatanya sendiri.
"Setan belang! Keparat kau. Rangga...!" umpat orang itu menggeram marah.
Belum lagi orang berjubah merah itu sempat menjejakkan kakinya di tanah, Rangga
sudah melompat cepat bagaikan kilat ke arahnya. Lompatan Pendekar Rajawali Sakti
itu demikian cepatnya, dan tahu-tahu sudah berada di atas kepala orang berjubah
me rah. "Ikh...!" orang berjubah merah itu memekik kaget. Buru-buru dirundukkan
kepalanya seraya dijatuhkan tubuhnya ke tanah. Tapi sambaran tangan kiri Rangga
berhasil juga menjambak rambutnya. Saat Rangga terhenyak kaget, karena rambut
orang itu copot bersama kepalanya. Bergegas Pendekar Rajaw Sakti meluruk turun.
"Topeng...!" desis Rangga terkejut begitu melihat benda yang ada dalam
genggamannya! Rangga lebih terkejut lagi ketika melihat orang berjubah merah itu. Ternyata di
balik wajah tua laki-laki, tersembunyi seraut wajah cantik. Orang berjubah merah
itu menggeram sengit. Dibuka jubahnya dari dicampakkan begitu saja ke tanah.
Kini jelas, siapa yang berada di balik bentuk Eyang Girindra itu.
*** 7 "Gita Raka...," Rangga mendesis setelah mengenali wanita berbaju merah muda yang
telah menyamar jadi Eyang Girindra.
"Keparat kau, Rangga! Serahkan sabuk harimau itu padaku!"
dengus Gita Raka menggeram.
"Sabuk ini tidak ada gunanya untukmu, Gita Raka," ujar Rangga ketus. Dia benarbenar kesal terhadap wanita itu yang telah mempermainkannya.
"Aku perlu sabuk itu! Cepat, serahkan padaku!"
"Hm..., ini hanya sabuk biasa. Apa yang kau inginkan dari sabuk harimau ini?"
Rangga berusaha memancing.
"Jangan berpura-pura, Rangga. Sabuk itu menyimpan obat Penawar Racun Merah."
"Aneh... Kau sudah tahu, mengapa tidak diambil ketika Seruni kau culik" Kau
sudah beberapa kali bertemu, bukankah bisa mengambilnya dengan mudah" Mengapa
baru sekarang kau ingin merebutnya?" Rangga seperti bicara sendiri.
"Kalau aku tahu sejak dulu, untuk apa susah-susah"
Sudahlah...! Berikan sabuk itu padaku!"
Rangga berpikir sejenak. Sebentar dipandangi sabuk kulit harimau di tangannya,
kemudian pandangannya beralih pada Gita Baka. Tampaknya wanita itu sangat
membutuhkan obat penawar racun yang tersimpan dalam sabuk harimau ini. Tapi
berhubung Patih Giling Wesi sudah memperingatkan, Rangga jadi bersikap hatihati. Dia tidak mau begitu saja mempercayainya.
"Rangga...," panggil Patih Giling Wesi.
Rangga menoleh sedikit, lalu melangkah mundur menghampiri laki-laki gemuk itu.
Patih Giling Wesi sudah mampu berdiri tegak meskipun keadaannya masih lemah.
Sedangkan Seruni tetap memegangi tangannya.
"Aku tahu siapa dia, Rangga. Dia adalah murid tunggal si Raja Topeng,
Keahliannya memang membuat topeng yang dapat mirip dengan wajah seseorang. Di
samping itu kelicikan dan kejahatannya sudah terkenal Pasti pil penawar Racun
Merah akan digunakannya untuk kejahatan," kata Patih Giling Wesi dengan napas
masih tersengal.
"Benar, Kakang," sambung Seruni. "Dialah yang menculik dan memaksaku untuk
menyerahkan pil penawar Racun Merah.
Dia jahat, Kakang. Untung saja pil itu tersimpan dalam sabukku, sehingga tidak
diketahuinya!"
"Bukankah dia itu bibimu, Seruni?" tanya Rangga.
"Bukan!" sahut Seruni cepat.
"Justru dia yang membunuh bibiku, dan menyamar menjadi Bibi. Bibiku selalu
memakai bunga anggrek Jingga di telinganya.
Sedangkan dia tidak tahu kebiasaan bibiku itu, sehingga tidak memakainya. Aku
tahu betul walaupun dia memakai kedok berupa wajah Bibi."
"Setan kecil! Tutup mulutmu...!" bentak Gita Raka berang.
"Hm...," Rangga menggumam tidak jelas. Diliriknya Gita Raka dengan tajam.
Kini bagi Pendekar Rajawali Sakti sudah jelas semua duduk persoalannya. Rupanya
Gita Raka memang pernah menemui Seruni dengan menyamar sebagai bibi gadis kecil
ini. Tapi Seruni terialu cerdik untuk dibodohi. Diam-diam Rangga mengagumi juga
kecerdikan Seruni. Rangga memindahkan pilpil penawar Racun Merah ke dalam saku sabuknya sendiri, kemudian menimang-nimang
sabuk kulit harimau itu.
"Kau perlu sabuk ini, kan" Nih, terimalah!" ucap Rangga seraya melemparkan sabuk
kulit harimau itu pada Gita Raka.
"Setan..,!" geram Gita Raka merasa dipermainkan.
Tentu saja sabuk kulit harimau itu tidak berarti lagi tanpa pil penawar Racun
Merah di dalamnya. Dengan sengit perempuan cantik itu mencabut pedangnya. Cepat
sekali pedangnya dikibaskan pada sabuk kulit harimau itu, hingga terbelah jadi
dua potong. Tepat ketika dua potong sabuk kulit harimau jatuh ke tanah, Gita
Raka melompat menerjang Rangga. Ujung peelangnya bergerak menusuk ke arah dada.
"Menyingkir kalian!" seru Rangga keras. Seketika itu juga dia melompat ke atas,
lalu meluruk deras mempergunakan jurus
'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Tusukan pedang Gita Raka menyambar tempat
kosong. Tapi, dengan cepat dikele-batkan pedangnya ke atas, melindungi kepalanya
dari tendangan kaki Pendekar Rajawali Sakti.
"Hiyaaa...!"
Rangga menarik kakinya, laiu berputar dua kali di udara.
Dengan cepat dia meluruk turun, kemudian hinggap di belakang Gita Raka. Satu
sodokan keras diarahkan ke punggung wanita itu. Gita Raka memekik tertahan.
Buru-buru digeser kakinya ke samping, menghindari sodokan itu seraya memutar
pedangnya ke belakang membabat ke arah pinggang.
Tapi Rangga dengan manis sekali menarik mundur tubuhnya.
Ujung pedang Gita Raka hanya lewat di depan perut Pendekar Rajawali Sakti.
"Bagus! Rupanya kau tangguh juga, Gita Raka," kata Rangga memuji.
"Jangan banyak omong!" rungut Gita Raka sengit.
Wanita itu kembali menyerang lewat jurus-jurusnya yang dahsyat dan mematikan.
Pada saat itu, dari balik pepohonan dan gerumbul semak belukar, muncul sekitar
sepuluh orang yang menghunus senjata golok. Mereka serentak berlompatan
mengepung Patih Giling Wesi dan Seruni.
"Bunuh mereka...!" seru Gita Raka keras.
"Setan kodok...!" geram Rangga melihat sepuluh orang bersenjata golok itu
mengeroyok Patih Giling Wesi.
Pada saat itu Rangga tidak mungkin membantu Patih Giling Wesi yang berusaha
bertarung sambil melindungi Seruni.
Serangan-serangan Gita Raka demikian tajam dan dahsyat Wanita itu benar-benar
tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk menggunakan kesempatan keluar
dari pertarungan. Rangga benar-benar geram begitu melihat Patih Giling Wesi
terguling kena tendangan salah seorang pengeroyoknya.
"Hiyaaat...!" tiba-tiba saja terdengar satu teriakan keras bersuara kecil.
Tampak Seruni mengeluarkan sebuah selendang berwarna merah muda dari balik
bajunya, dan langsung diputar-putarnya dengan cepat. Gerakannya begitu lincah.
Selendang itu seperti hidup di tangannya. Sepuluh orang pengeroyok yang semula
memandang ringan pada Seruni, kini jumpalitan menghindari sambaran selendang
yang meliuk-liuk bagaikan ular itu.
Rangga sendiri cukup kagum melihat kelincahan Seruni memainkan selendang merah
mudanya. Sungguh tidak disangka kalau gadis kecil itu memiliki kepandaian yang
lumayan, sehingga mampu memporakporandakan sepuluh orang pengeroyoknya.
Sementara Patih Giling Wesi yang sudah
dapat bangkit kembali, segera membantu gadis kecil itu.
Denganl pedang perak, diserangnya pengeroyoknya dengan cepat .
"Bagus! Kalian bisa menghadapi mereka...!" seru Rangga gembira melihat Patih
Giling Wesi dan Seruni tampaknya mampu menghadapi lawan-lawannya itu.
Lain halnya dengan Gita Raka. Wanita cantik itu kelihatan marah menyaksikan
sepuluh orang anak buahnya yang tidak berdaya menghadapi bocah kecil dan seorang
laki-laki tua yang belum sembuh benar dari lukanya. Gita Raka sendiri tidak bisa
berbuat banyak, karena Pendekar Rajawali Sakti telah melancarkan seranganserangan yang begitu cepat dan dah syat.
Keadaan benar-benar terbalik sekarang. Dua orang anak buah Gita Raka sudah
menggeletak berlumuran darah.
Sedangkan Gita Raka sendiri harus jatuh bangun menghindari gempuran Pendekar
Rajawa Sakti. Hanya sesekali saja dia mampu membalas serangan, tapi itu pun
dapat dimentahkan sebelum mencapai sasaran. Gita Raka benar-benar kewalahan
menghadapi gempuran Pendekar Rajawali Sakti. Jurus-jurus andalan sudah
dikeluarkan, tapi serangan lawannya belum juga mampu dipatahkan
"Hiyaaat...!" tiba-tiba Gita Raka berteriak keras seraya melompat tinggi ke
atas. "Hap, hiyaaa...!"
Rangga juga ikut lompat ke atas. Dalam keadaan di udara, Rangga mengerahkan satu
pukulan keras bertenaga dalam sangat sempurna. Sedangkan Gita Raka
mengimbanginya dengan mengerahkan pukulan andalannya. Satu benturan keras
mengakibatkan ledakan dahsyat di udara.
"Aaa...!" Gita Raka menjerit melengking.
Tubuhnya yang ramping itu terpental, dan jatuh dengan keras ke tanah. Sedangkan
Pendekar Rajawali Sakti bergegas turun dan mendarat lunak tidak jauh dari wanita
ahli menyamar itu. Tampak Gita Raka berusaha bangkit kembali, namun terhuyunghuyung. Mulut dan hidungnya mengucurkan darah segar.
*** Sementara itu di lain tempat, pertarungan antara Patih Giling Wesi dan Seruni
dalam menghadapi para pengeroyoknya, masih berlangsung sengit. Tapi sudah lebih
dari separuh anak buah Gita Raka terjungkal tewas. Selendang merah muda di
tangan Seruni cukup dahsyat, bahkan terlalu kuat untuk satu tebasan golok.
Meskipun masih berusia di bawah sepuluh tahun, tapi Seruni sudah digembleng
dengan beberapa jurus ilmu olah kanuragan.
Ki Biran selalu menempanya dengan keras, dan sekarang ada manfaatnya. Begundalbegundal macam anak buah Gita Raka tidak mampu menghadapinya.
"Hiya, hiya, hiyaaa...!" Seruni berteriak keras beberapa kali.
Dengan lincah dan bertenaga penuh, dikibaskan selendang merah mudanya membabat
sisa anak buah Gita Raka. Orang-orang bersenjata golok itu terpaksa harus
jumpalitan dengan darah mengucur deras dari tubuhnya. Selendang itu bagai
sebilah pedang yang mampu memenggal leher hanya sekali kebutan saja.
"Setan! Kalian harus mampus...!" geram Gita Raka.
Amarahnya memuncak melihat sepuluh orang anak buahnya tewas di tangan seorang
gadis cilik. Sambil, berteriak keras, Gita Raka meiompat menerjang Seruni. Namun Rangga lebih
cepat lagi bertindak. Sebuah pukulan bertenaga dalam luar biasa, telah
menghambat terjangan Gita Raka. Akibatnya gadis itu terpental jauh ke belakang.
Dua kali dia memuntahkan darah segar sebelum bisa bangkit kembali. Sementara
Rangga sudah berdiri tegak di depan Seruni dan Patih Giling Wesi. Akibat
pertarungan tadi, keadaan Patih Giling Wesi terlihat letih. Rasanya tidak akan
mampu jika harus bertarung kembali.
"Awas, Kakang...!" seru Seruni tiba-tiba.
Rangga yang baru berbalik, langsung berputar sambil mengibaskan tangannya. Pada
saat itu, Gita Raka sudah melompat cepat seraya mengerahkan kekuatan
terakhirnya. Kibasan tangan Pendekar Rajawali Sakti tepat menghantam dadanya.
"Aaa...!" Gita Raka menjerit keras. Tubuhnya terlontar jauh ke belakang, dan
menghantam sebongkah batu besar hingga hancur berantakan. Hanya sesaat Gita Raka
mampu bergerak, kemudian diam tak berkutik. Nyawa telah melayang dari tubuhnya.
Rangga berdiri terpaku memandangi mayat wanita itu. Sebenarnya tak ada maksud
untuk menewaskannya.
"Hhh..., syukurlah dia tewas," desah Patih Giling Wesi.
Rangga membalikkan tubuhnya, dan langsung menatap laki-laki gemuk itu. Desahan
pelan Patih Giling Wesi membuatnya penasaran. Siapa sebenarnya Gita Raka, dan
ada hubungan apa dengan Patih Giling Wesi yang tampaknya kenal betul dengannya"
*** "Sudah lama aku ingin agar dia lenyap dari muka bumi, Rangga...," kata Patih
Giling Wesi yang menangkap arti pandangan mata Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Hm.... Kau tahu banyak tentang Gita Raka, Paman Patih,"
ujar Rangga bergumam.
"Sebanyak yang diketahui Seruni," jawab Patih Giling Wesi seraya melirik Seruni.
Rangga menatap gadis kecil itu. Seruni hanya diam, dan kepalanya tertunduk.
Pelahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti itu mendekatinya dan duduk di depan
Seruni. Kebisuan mencekam di dalam pondok kecil
"Seruni...," lembut suara Rangga.
Seruni mengangkat kepalanya, langsung menatap ke bola mata Pendekar Rajawali
Sakti. Sinar matanya begitu redup, namun banyak mengandung makna yang sukar
dipahami. Bibirnya yang tipis kemerahan bergerak-gerak. Seolah-olah hendak mengatakan
sesuatu, tapi tidak ada yang terucapkan.
"Jangan desak dia, Rangga," kata Patih Giling Wesi.
"Kenapa" Ada apa dengan Seruni?" tanya Rangga tidak mengerti.
Patih Giling Wesi tidak menyahut, tapi malah berdiri dan melangkah ke luar
pondok. Sebentar Rangga menatap Seruni dan laki-laki gemuk itu bergantian,
kemudian juga bangkit berdiri dan melangkah keluar pondok. Patih Giling Wesi
berdiri sambil bersandar pada tiang beranda. Rangga menghampirinya dan ber-diri
drsampingnya. "Kasihan anak itu. Selama hidupnya, selalu dirundung penderitaan," kata Patih
Giling Wesi pelan, seolah-olah bicara pada dirinya sendiri.
Rangga hanya diam saja, dan tidak ingin menebak-nebak.
Semua yang ada pada diri Seruni, maupun semua kejadian yang dialami ternyata
masih menjadi beban pertanyaan.
"Aku tahu siapa sebenarnya Seruni. Dia sebenarnya anak seorang panglima yang
tewas ketika menumpas gerombolan perampok yang dipimpin si Raja Topeng, guru
dari Gita Raka.
Waktu itu ayah Seruni dapat memberantas gerombolan itu, karena dibantu seorang
tokoh sakti yang kemudian tewas di tangan si Raja Topeng. Tapi si Raja Topeng
pun tewas terkena
'Pukulan Racun Merah' yang dilepaskan tokoh sakti itu...," Patih Giling Wesi
menghentikan ceritanya.
"Teruskan, Paman," pinta Rangga.
"Aku tidak tahu siapa tokoh sakti itu. Tapi dari kabar yang kudengar, dia adalah
saudara seperguruan Eyang Girindra.
Tokoh itu memiliki obat penawar 'Pukulan Racun Merah' yang dicuri dari Eyang
Girindra. Hal itu dilakukan karena Eyang Girindra telah mencuri dari gurunya
setelah meracuninya lebih dahulu lewat minuman. Semasa tokoh sakti itu masih
hidup, dia sempat memberikan obat penawar 'Pukulan Racun Merah' pada pengawal
ptibadi panglima yang kemudian membawa Seruni yang saat itu masih berusia
sekitar tujuh tahun...," kembali Patih Giling Wesi menghentikan ceritanya.
Rangga hanya diam saja menunggu kelanjutannya.
"Kau tahu. Rangga. Orang yang sempat meminum obat itu akan kebal terhadap
'Pukulan Racun Merah' seumur hidupnya, selain bisa disembuhkan dari pukulan itu.
Gita Raka menginginkannya untuk menghancurkan Eyang Girindra yang dianggap
sebagai penyebab kematian gurunya. Oleh sebab itulah, mengapa dia menculik
Seruni. Gadis itu disangkanya menyimpan pil itu."
"Hm..., aneh. Bukankah gurunya tewas bukan oleh Eyang Girindra" Mengapa
mendendam pada nya?" tanya Rangga.
'Memang benar. Tapi kalau diingat bahwa guru nya tewas di tangan saudara
seperguruan Eyang Girindra, jelas dendamnya akan dilampiaskan pada laki-laki
berjubah merah itu.
Masalahnya, saudara seperguruan Eyang Girindra itu kan sudah tewas."
"Hm..., jadi benar yang menculik Seruni adalah Gita Raka.
Dan gadis itu memanfaatkan wajah Eyang Girindra untuk menyamar. Hm..., sungguh
licik sekali dia."
"Semua orang akan gembira mendengar kematiannya, Rangga. Sepak terjang Gita Raka
selama ini selalu membuat penderitaan bagi orang banyak," ujar Patih Giling
Wesi. "Tapi kita jangan bergembira dulu, Paman Patih. Eyang Girindra dan Kalaban masih
hidup. Mereka juga pasti tidak akan diam saja sebelum mendapatkan obat penawar


Pendekar Rajawali Sakti 22 Sabuk Penawar Racun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

'Pukulan Racun Merah' ini," Rangga mengingatkan.
"Memang benar. Tapi sebelum ini dia belum yakin kalau Seruni memiliki benda itu.
Jadi, tidak akai mungkin ke sini lagi.
Pondok ini memang milik bibinya Seruni yang tewas di tangan Gita Raka, yang
kemudian menyamar jadi bibinya Seruni."
"Kapan itu terjadi?"
"Belum lama. Aku sempat melihat kuburannya di belakang pondok ini. Kelihatannya
memang masih baru. Yaaah..., paling-paling baru beberapa hari."
"Hm.." Aku mengerti sekarang...!" selak Rangga tiba-tiba.
"Ada apa, Rangga?" tanya Patih Giling Wesi.
"Pasti Gita Raka menculik dan membawa Seruni ke tempat ini untuk memancing
kehadiran Eyang Girindra, setelah dia
tidak menemukan apa-apa pada diri Seruni Kemudian, Gita Raka meniupkan kabar
bahwa Seruni-lah yang menyimpan pil penawar Racun Merah, dan sekarang gadis
cilik itu ada di tempat ini," Rangga menghentikan sebentar penjelasannya.
"Lalu?" desak Patih Giling Wesi. Dalam hati, diakui pula ketajaman pemikiran
Rangga. "Eyang Girindra yang mendengar kabar itu, mulai terpancing.
Ketika dia datang ke sini hanya mendapatkan Seruni, tanpa memperoleh apa yang
diharapkan. Hm.... Aku yakin, maksud Gita Raka memancing Eyang Girindra ke sini,
sebenarnya hanyalah untuk melampiaskan dendamnya. Hm..., licik juga dia," jelas
Rangga, mengakhiri.
"Benar, Rangga! Untung kita cepat datang ke sini, sehingga pancingan itu
berantakan Huh! Kalau saja salah satu di antara mereka berhasil menemukan pil
penawar Racun Merah yang disimpan Seruni, entah apa jadinya dunia persilatan
saat ini!"
kata Patih Giling Wesi menambahkan.
Rangga terdiam. Apa yang dikatakan Patih Giling Wesi memang benar. Tidak ada
seorang pun yang sanggup menandingi kehebatan 'Pukulan Racun Merah', kecuali
dirinya sendiri yang kebal terhadap segala jenis racun. Jurus 'Pukulan Racun
Merah' tidak ada artinya sama sekali bagi dirinya.
Pendekar Rajawali Sakti itu mendesah panjang. Dia sudah mendapatkan obat yang
dicarinya, dan kini harus segera menemui Putri Rajawali Hitam yang tengah
sekarat karena terkena jurus 'Pukulan Racun Merah'. Tapi mengingat Patih Giling
Wesi dan Seruni yang keadaannya belum lagi bisa dikatakan aman, pikirannya jadi
bimbang. Masalahnya, dia tahu keinginan Putri Rajawali Hitam yang tak akan mau
dirinya diketahui orang lain.
Lebih-lebih oleh Patih Giling Wesi. Mana mungkin Putri Rajawali Hitam bersedia
menemui ayahnya! Dia telah membuat kecewa ayahnya, sehingga menyebabkan seluruh
Kerajaan Galung porak-poranda akibat perbuatannya yang kekanak-kanakan. Pada
saat Rangga tengah kebingungan, tiba-tiba terdengar suara keras dari angkasa.
"Rajawali...," desis Rangga dalam hati. Jelas dia kenal suara itu.
"Suara apa itu...?" tanya Patih Giling Wesi.
"Paman, aku akan pergi sebentar," kata Rangga tanpa menjawab.
"Kau mau ke mana?" tanya Patih Giling Wesi.
Tapi Rangga tidak sempat lagi menjawab. Dia segera melompat dan berlari cepat
meninggalkan pondok itu. Pada saat yang sama, Seruni keluar dari dalam pondok.
Rupanya juga mendengar suara keras di angkasa tadi. Tampak, di angkasa melayang
seekor burung raksasa berwarna keperakan.
Namun kedua orang itu tidak menyadarinya.
"Ke mana Kakang Rangga, Paman?" tanya Seruni.
"Pergi," sahut Patih Giling Wesi singkat.
"Kita harus menyusulnya, Paman!"
"Seruni..!"
*** 8 Namun Seruni sudah berlari kencang. Patih Giling Wesi tidak punya pilihan lain
lagi. Bergegas disusulnya gadis kecil itu.
Mereka berlarian mengikuti arah yang dituju Pendekar Rajawali Sakti. Tapi Patih
Giling Wesi tidak tahu, ke mana tujuan mereka. Dia tidak sempat lagi bertanya,
atau mencegah gadis kecil itu, dan hanya bisa mengikuti dengan perasaan tidak
menentu. Rangga langsung melompat tinggi ke udara begitu Rajawali Putih menukik turun.
Belum juga burung raksasa itu mencapai tanah, Rangga sudah hinggap di
punggungnya. Rajawali Putih kembali melesat ke angkasa dengan kecepatan kilat,
dan langsung menuju ke Lembah Neraka.
Pendekar Rajawali Sakti itu tahu kalau kedatangan Rajawali Putih yang tiba-tiba
merupakan satu peringatan baginya. Paling tidak, burung raksasa itu sudah
merasakan adanya bahaya mengancam pasangannya, Rajawali Hitam. Memang di antara
kedua burung raksasa itu sudah tertanam satu ikatan batin yang sukar untuk
dipisahkan kembali. Dan salah satu dapat merasakan bila pasangannya mendapatkan
ancaman bahaya.
"Khraghk...!" Rajawali Putih menukik deras begitu sampai di atas Lembab Neraka.
Hawa panas langsung menerpa begitu mendekati lembah yang selalu berwarna merah
bagai terbakar itu. Rangga agak terkejut juga begitu melihat Eyang Girindra dan
Kalaban tengah berusaha mengalahkan Rajawali Hitam. Mereka berdua memang telah
mendengar kabar bahwa Putri Rajawali Hitam ada di sini.
Putri Rajawali Hitam adalah satu tokoh yang ikut menghancurkan ambisi Kalaban
dalam menduduki Istana Galung. Oleh sebab itu, Eyang Girindra dan Kalaban
berniat membunuhnya.
Sementara itu Rajawali Hitam tampak kewalahan, karena tidak dapat terbang lagi
akibat terkena 'Pukulan Racun Merah'
ketika bertarung melawan Kalaban di Istana Galung (Baca; Serial Pendekar
Rajawali Sakti dalam kisah, "Sepasang Rajawali").
"Khraghk...!"
"Hup, hiyaaat...!"
Rangga segera melompat turun sebelum Rajawali Putih tiba di dasar lembah itu.
Eyang Girindra dan Kalaban tampak terkejut melihat kedatangan Pendekar Rajawali
Sakti yang menunggang seekor burung raksasa berwarna putih keperakan Mereka
serentak berlompatan menjauhi Rajawali Hitam.
Rangga berdiri tegak di belakang Rajawali Hitam. Tampak sekali kalau burung
raksasa itu semakin terluka parah akibat menghadang gempuran dua tokoh sakti.
Bergegas Rangga menghampiri dan mengambil sebutir pil penawar Racun Merah.
Dimasukkan pil itu ke dalam mulut Rajawali Hitam.
"Khrrrkh...," Rajawali Hitam mengkirik lirih, seakan-akan hendak mengatakan
sesuatu! "Khraghk...!" Rajawali Putih berkaokan keras.
"Rajawali Putih, hadang mereka. Usahakan jangan sampai terkena pukulannya!" seru
Rangga. "Khraghk!"
Rangga bergegas melompat masuk ke dalam bangunan besar bagai istana raksasa itu.
Sementara Rajawali Putih sudah bergerak menyambar Eyang Girindra dan Kalaban.
Gerakannya begitu cepat bagai kilat, sehingga membuat dua tokoh sakti itu
kerepotan. Sementara Rajawali Hitam hanya bisa diam memandangi sambil memulihkan
tenaganya. Sementara itu Pendekar Rajawali Sakti kini sudah berada dalam ruangan besar
bagai istana megah di Lembah Neraka ini.
Tampak Intan Kemuning masih tergolek lemah tanpa daya di pembaringan. Rangga
bergegas menghampiri dan
mengeluarkan dua butir pil berwarna merah kehijauan itu, dan langsung
memasukkannya ke dalam mulut Intan Kemuning.
"Kakang...," masih lemah suara Intan Kemuning.
"Semadilah sebentar. Kau akan pulih kembali, Intan," kata Rangga.
"Kau berhasil mendapatkan obat itu, Kakang?" tanya Intan Kemuning.
"Berkat doamu," sahut Rangga merendah seraya membantu gadis itu duduk.
"Apa yang terjadi di luar?"
"Rajawali Putih sedang menghadang Eyang Girindra dan Kalaban"
"Hitam...?"
"Dia tidak apa-apa. Sebentar juga pulih keadaannya."
"Oh..., syukuriah. Dia juga tertuka yang sama denganku."
"Aku tahu, Intan. Nah, sekarang bersemadilah. Gunakan hawa murni untuk
mempercepat penyembuhanmu."
"Terima kasih, Kakang."
"Aku akan melihat ke luar sebentar."
Intan Kemuning mengangguk lemah Dibiarkan saja Rangga pergi, meskipun hatinya
ingin sekali berlama-lama bersama pemuda tampan yang selalu dirindukan dan
diimpikannya. Dia memang harus segera bersemadi untuk memulihkan keadaannya.
Intan Kemuning segera menyiapkan diri untuk bersemadi, menyalurkan hawa murni ke
seluruh jaringan jalan darahnya.
*** Sementara itu di luar, Rajawali Putih masih mencoba menghadang Eyang Girindra
dan Kalaban, Rangga yang baru keluar, langsung melompat terjun dalam
pertarungan. Tapi pada saat yang sama, satu pukulan telah berhasil disarangkan
Eyang Girindra ke tubuh Rajawali Putih. Rajawali raksasa itu menggerung keras
bagai hendak meruntuhkan lembah ini.
Tubuhnya terpental keras, dan menghantam batu besar hingga hancur berantakan!
"Rajawali...!" pekik Rangga terkejut.
Dengan cepat Rangga melompat hendak menghampiri, namun Kalaban lebih cepat lagi
menghadang seraya mengirimkan satu pukulan keras bertenaga dalam cukup tinggi.
Rangga tidak mungkin menghindari pukulan itu, karena perhatiannya terpusat penuh
pada Rajawali Putih. Pendekar Rajawali Sakti memekik keras, dan tubuhnya
terpental jauh ke belakang.
Hantaman dari jurus 'Pukulan Racun Merah' yang dilepaskan Kalaban demikian
keras, sehingga membuat tubuh Pendekar Rajawali Sakti bergulingan di tanah
sejauh tiga batang tombak.
Pada saat yang sama, Eyang Girindra sudah melompat ke arah Rajawali Putih dengan
ujung tongkat yang runcing terhunus.
"Khraghk...!"
Pada saat yang kritis itu, Rajawali Hitam melesat cepat bagaikan kilat, langsung
menerjang Eyang Girindra. Laki-laki tua berjubah merah itu terkejut setengah
mati. Buru-buru dibuang dirinya ke samping, sehingga terjangan Rajawali Hitam
menemui tempat kosong.
"Hiyaaat...!"
Rangga yang segera bisa bangkit kembali, melompat cepat ke arah Rajawali Putih.
Burung raksasa itu mengkirik lirih di atas puing-puing batu merah yang terkena
hantaman tubuhnya. Dan belum lagi Rangga bisa mencapai Rajawali Putih, Kalaban
sudah melontarkan senjata rahasianya.
Wut! "Hap...!' Sret! Rangga yang tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya, segera mencabut senjata
pusakanya. Sebuah pedang yang memancarkan cahaya biru berkilauan. Seketika itu
juga seluruh Lembah Neraka menjadi terang benderang oleh sinar biru yang
terpancar dari pedang Pendekar Rajawali Sakti.
"Hiya, hiya, hiyaaat...!"
Rangga mengebutkan pedangnya dengan cepat,
merontokkan puluhan senjata rahasia yang ditebarkan Kalaban.
Dan belum lagi Kalaban hilang rasa terpananya melihat pedang di tangan Rangga,
Pendekar Rajawali Sakti itu sudah melompat deras seraya mengebutkan pedangnya ke
arah leher pemuda itu.
"Uts!"
Kalaban cepat tersadar. Buru-buru dijatuhkan tubuhnya ke tanah, dan bergulingan
beberapa kaki. Bergegas dia bangkit kembali, dan langsung bersiap-siap. Rangga
yang sudah dilanda kemarahan, kali ini tidak lagi memberikan kesempatan pada
lawannya. Kemarahannya begitu memuncak melihat Rajawali Putih terluka, hingga
tidak dapat lagi bergerak.
"Mampus kau, setan! Hiyaaa...!" teriak Rangga keras.
Kalaban terkesiap melihat pedang bercahaya biru menyilaukan itu berkelebat cepat
ke depan mukanya. Tapi dengan gerakan cepat, ditarik mundur kepalanya Namun
pemuda itu masih juga merasakan adanya satu dorongan kuat yang membuat tubuhnya
terpentai ke belakang. Rupanya Rangga mengerahkan tenaga dalam penuh sewaktu
mengibaskan pedangnya. Akibat yang ditimbulkan adalah angin yang begitu kuat,
hingga tubuh Kalaban terpental jauh.
"Khraghk!"
Saat itu terdengar satu seruan keras dari Rajawali Hitam.
Dalam kondisi yang belum begitu sempurna, kembali Rajawali Hitam terkena pukulan
telak dari Eyang Girindra. Rajawali Hitam terpental dan menghantam sebuah pohon
besar hingga hancur beran-takan. Eyang Girindra tidak lagi mempedulikan burung
raksasa itu. Dia bergegas melompat ke arah bangunan istana. Tapi pada saat yang
tepat, dari dalam melesat sebuah bayangan hitam.
"Setan!" Eyang Girindra mengumpat sambil melentingkan tubuhnya ke belakang
"Tidak semudah itu kau membunuhku, setan tua!"
Eyang Girindra menggeram sambil mengumpat memaki-maki melihat Intan Kemuning
atau yang berjuluk Putri Rajawali Hitam sudah tegak berdiri, dan bersikap
menantang. Sebatang pedang hitam bergagang kepala burung, tergenggam melintang
di depan dada. Sementara Rangga masih bertarung sengit menghadapi Kalaban.
Meskipun berada di atas angin, tapi tidak mudah bagi Pendekar Rajawali Sakti
melumpuhkan perlawanan Kalaban.
Sementara itu di bibir Lembah Neraka, Patih Giling Wesi menggendong Seruni
menuruni lembah itu. Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh, tidak sukar
bagi laki- laki gemuk itu menuruni lembah yang cukup terjal. Sementara Seruni yang berada
dalam gendongannya, juga mengerahkan ilmu meringankan tubuh agar Patih Giling
Wesi lebih leluasa bergerak.
Tidak berapa lama, mereka sudah sampai di dasar lembah.
Seruni segera melompat turun dari gendongan Patih Giling Wesi. Gadis kecil itu
bertari cepat menghampiri pertarungan yang tengah berlangsung sengit. Kalau saja
Patih Giling Wesi tidak cepat menarik tangannya, mungkin Seruni sudah
menerjunkan diri ke dalam pertarungan.
"Lepaskan, Paman!" Seruni berusaha memberontak.
"Jangan bodoh, Seruni Kau akan membuat kesulitan bagi mereka!" ujar Patih Giling
Wesi. 'Tapi..." Belum lagi Seruni meneruskan bantahannya, terdengar suara Rangga yang keras.
"Seruni! Lemparkan ujung selendangmu ke sini!"
"Baik, Kakang...!"
Seruni segera melemparkan ujung selendangnya ke arah Rangga. Sedangkan satu
ujung lainnya dipegangnya erat-erat.
Selendang merah muda itu meluruk deras, dan langsung ditangkap Rangga yang
tengah menghadapi Kalaban. Rangga menyelipkan tiga butir pil ke dalam lipatan
selendang itu, lalu melemparkannya kembali pada Seruni yang segera menariknya
pulang. "Berikan pada Rajawali!" perintah Rangga.
"Apa...?" Seruni kurang mendengar.
"Kemarikan selendangmu, Seruni," pinta Patih Giling Wesi seraya merebut
selendang itu dari tangan Seruni
Patih Giling Wesi sempat melihat Rangga telah menyelipkan sesuatu pada lipatan
ujung selendang itu. Dan benar saja! Ada tiga butir pil pada lipatan selendang
itu. Bergegas Patih Giling Wesi mengambilnya dan memberikan selendang itu pada
Seruni. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Patih Giling Wesi berlari menghampiri
Rajawali Putih. Tapi sejenak dia bingung, karena di tangannya ada tiga butir
pil. "Dua untuk Putih, satu Hitam...!" seru Rangga bisa mengetahui kebimbangan Patih
Giling Wesi, meskipun dalam keadaan bertarung sengit.
Patih Giling Wesi menghampiri Rajawali Putih. Jelas sekali kalau dia gemetar
ketakutan melihat burung raksasa itu. Tapi dengan hati bulat, diberanikan
dirinya dan disodorkan dua pil pada Rajawali Putih.
"Hihhh...," Patih Giling Wesi bergidik juga ketika kepala Rajawali Putih
menjulur dan mematuk kedua pil di tangannya.
Patih Giling Wesi bergegas menghampiri Rajawali Hitam dan memberikan pil yang
tinggal sebutir lagi, kemudian bergegas berlari mendekati Seruni kembali.
Sesekali dia masih melirik pada sepasang burung raksasa itu. Rasa ngeri dan
takut masih melandanya. Betapa tidak! Seumur hidupnya baru kali ini melihat
burung rajawali sebesar itu!
Sementara Rangga yang melihat Sepasang Rajawali sudah menelan pil penawar Racun
Merah, jadi lebih tenang. Dan kini dipusatkan perhatiannya pada pertarungannya
melawan Kalaban. Dengan pedang pusaka di tangan dan dalam keadaan perhatian
tidak terpecah, serangan-serangan Rangga semakin dahsyat dan sukar untuk
ditandingi. "Celaka! Bisa mati aku...!" desah Kalaban dalam hati. Hatinya mulai dihinggapi


Pendekar Rajawali Sakti 22 Sabuk Penawar Racun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perasaan gentar.
Kalaban melirik pada gurunya yang menghadapi Intan Kemuning. Dia berusaha
mencari kesempatan untuk melarikan diri. Dan kesempatan itu datang ketika Rangga
mengibaskan pedangnya ke arah kaki. Dengan cepat Kalaban melesat ke udara, lalu berusaha kabur. Tapi pada saat itu Seruni
lebih cepat bertindak.
"Hap, Hiyaaat...!"
Gadis kecil itu melontarkan selendangnya, dan langsung melibat kaki Kalaban.
Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, Seruni menarik selendangnya ke bawah.
Kalaban terperanjat.
Jelas dia tidak punya kesempatan lagi menahan hentakan itu.
Tubuhnya meluncur deras ke bawah. Pada saat yang tepat.
Patih Giling Wesi pun melompat sambil mengibaskan pedangnya.
"Hiaaat...!"
"Aaa...!" Kalaban menjerit melengking.
Tebasan pedang Patih Giling Wesi merobek dada pemuda itu. Dan belum lagi tubuh
Kalaban mencapai tanah, satu tebasan lagi membuat lehernya hampir terpenggal
putus. Seketika itu juga nyawanya melayang. Tubuh Kalaban menghantam tanah, tanpa nyawa
melekat lagi di badan. Darah mengucur deras dari dada dan lehernya.
"Hup!"
Seruni menarik kembali selendangnya, dan langsung dililitkan ke pinggang. Patih
Giling Wesi berdiri tegak memandangi mayat Kalaban. Sementara Rangga hanya bisa
menarik napas panjang. Patih Giling Wesi berbalik dan menghampiri Seruni.
"Kau hebat, Anak Manis," puji Patih Giling Wesi.
"Paman juga," balas Seruni polos.
Saat itu Rangga tidak sempat lagi memperhatikan keakraban yang terjadi antara
Patih Giling Wesi dan Seruni Perhatiannya sudah beralih pada pertarungan antara
Intan Kemuning melawan Eyang Girindra.
"Khraghk...!" Rajawali Hitam yang sudah pulih keadaannya!
langsung melesat cepat bagaikan kilat menerjang Eyang Girindra. Terjangan
Rajawali Hitam sungguh tidak diduga sama sekali, sehingga laki-iaki tua itu
tidak sempat lagi berkelit.
Sambaran sayap burung raksasa itu membuat Eyang Girindra terpental beberapa
tombak jauhnya.
"Mampus kau, hiyaaat...!" pekik Intan Kemuning.
Bagaikan seekor burung rajawali, Intan Kemuning melompat tinggi ke angkasa.
Tiba-tiba tubuhnya menukik deras dengan ujung pedang tertuju langsung ke arah
dada Eyang Girindra.
Rangga yang melihat kejadian itu, sudah paham kalau Intan Kemuning menggunakan
jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa Jurus yang sama persis dengan yang
dimilikinya. "Hait!"
Eyang Girindra berusaha menangkis serangan itu dengan mengibaskan tongkatnya.
Tapi sungguh di luar dugaan, pedang hitam Intan Kemuning berbelok arah, dan
berkelebat cepat ke arah leher. Perubahan itu membuat Eyang Girindra terkesiap.
Buru-buru ditarik mundur tubuhnya, tapi kibasan pedang itu sangat cepat luar
biasa! Sehingga....
Cras! "Aaa...!" Eyang Girindra menjerit keras.
Darah segar langsung muncrat dari leher yang terbabat hampir buntung. Belum lagi
tubuh laki-laki tua berjubah merah
itu ambruk, satu tendangan menggeledek didaratkan Intan Kemuning ke dadanya.
Tidak ampun lagi, tubuh Eyang Girindra terjungkal roboh membentur dinding
bangunan istana.
Hanya sebentar Eyang Girindra mampu bergerak, kemudian diam tidak berkutik lagi.
Darah mengucur deras dari lehernya yang hampir buntung. Sedangkan dadanya
melesak masuk ke dalam. Intan Kemuning menarik napas panjang Dimasukkan
pedangnya ke dalam warangkanya di punggung. Gadis itu berbalik dan matanya
langsung terbeliak begitu melihat ayah nya ada di situ bersama seorang gadis
kecil di samping Pendekar Rajawali Sakti.
"Ayah...," desis Intan Kemuning seraya membuka cadar hitamnya.
Saat itu Patih Giling Wesi seperti tidak percaya pada penglihatannya. Mulutnya
ternganga lebar, dengan mata terbuka tidak berkedip. Sedangkan Intan Kemuning
jadi salah tingkah. Dia tidak tahu lagi apa yang dilakukannya.
'Intan, Anakku...," desah Patih Giling Wesi seakan-akan baru tersadar dari
mimpi. "Ayah:...'
Patih Giling Wesi merentangkan tangannya seraya melangkah ke depan Intan
Kemuning tidak kuasa lagi membendung rasa haru dan kerinduannya. Dia berlari dan
jatuh dalam pelukan ayahnya, dan langsung menumpahkan tangisnya. Patih Giling
Wesi pun tidak kuasa lagi membendung air matanya.
Sementara Seruni yang menyaksikan kejadian itu hanya bengong tidak mengerti.
Sebentar matanya menatap Patih Giling Wesi yang berpelukan dengan Intan
Kemuning, kemudian beralih pada Rangga di sampingnya. Rangga sendiri
hanya bisa meneguk air ludahnya karena haru melihat pertemuan itu.
"Maafkan aku. Ayah," ucap Intan Kemuning setelah melepaskan pelukannya.
"Lupakan saja. Anakku. Ayah senang kau masih tetap hidup," ujar Patih Giling
Wesi terharu. "Intan sudah membuat Ayah susah."
'Tidak, Anakku. Semua yang terjadi bukan kesalahanmu. Aku juga turut bersalah.
Yang sudah terjadi, biarlah berlalu, sekarang..."
"Ayah..," Intan Kemuning memutuskan kata-kata ayahnya.
"Intan tidak mungkin kembali lagi ke Kerajaan Galung. Intan tidak sanggup
bertemu dengan Gusti Prabu. Biarkan Intan di sini bersama Rajawali Hitam."
"Rajawali Hitam..."!" suara Patih Giling Wesi tercekat.
"Benar. Rajawali Hitam-lah yang telah menyelamatkan aku dari maut. Dia juga yang
membuatku semakin sempurna.
Rasanya tidak bisa iagi aku berpisah darinya, Ayah," jelas Intan Kemuning.
"Benar, Paman. Intan Kemuning sudah menjadi bagian dalam hidup Rajawali Hitam.
Seperti juga halnya denganku yang tidak bisa terpisah dengan Rajawali Putih.
Kami adalah pasangan dari Sepasang Rajawali," sambung Rangga seraya menghampiri.
"Aku tidak mengerti maksud kalian...?" Patih Giling Wesi kebingungan.
"Nanti kujelaskan. Sekarang masuk dulu, Ayah,"' sahut Intan Kemuning. "Ini
istanaku, juga istana Ayah."
"Rangga...," Patih Giling Wesi menatap pada Pendekar Rajawali Sakti.
"Maaf, bukannya aku menolak. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Masih banyak yang
harus kukerjakan," tolak Rangga halus.
Dia bisa mengerti keinginan Patih Giling Wesi dan Intan Kemuning.
Saat itu mereka seperti lupa terhadap gadis kecil yang banyak membantu dalam
masalah ini. Dan Seruni yang merasa tersisih, melangkah pelahan-lahan
meninggalkan tempat itu Tapi Rangga cepat teringat, begitu pula Patih Giling
Wesi. Mereka segera mengejar dan menghentikan langkah gadis kecil itu. Intan Kemuning
pun ikut mendekati.
"Seruni, kau mau ke mana?" tanya Rangga lembut.
"Pergi," sahut Seruni singkat dan pelan. "Kau jangan pergi, Anak Manis. Aku akan
mengangkatmu sebagai anak," kata Patih Giling Wesi.
Seruni memandang laki-laki gemuk itu, kemudian memandang Rangga yang tersenyum
dan mengangguk. Tentu saja Rangga senang mendengar keinginan! Patih Giling Wesi,
sebab gadis cilik itu bisa aman dan terlindung bila berada dalam istana. Bahkan
Seruni bisa lebih baik lagi mengembangkan ilmunya yang sudah dimiliki.
"Benar, Dik. Kau akan menjadi pengganti diriku. Tinggallah bersama Ayah di
istana," sambung Intan Kemuning.
"Istana..."!" Seruni mengerutkan keningnya.
"Iya! Di sana masih ada saudaramu yang lain. Kau masih punya Paman dan Bibi.
Bahkan kau masih punya seorang adik sepupu yang sebaya dengan usiamu," kata
Patih Giling Wesi.
"Benarkah itu, Paman?"
"Akan kau buktikan sendiri nanti."
"Sungguh..."!" Seruni kelihatan gembira. Dia menoleh ke arah Rangga tadi
berdiri, tapi Pendekar Rajawali Sakti sudah lenyap.
Seruni celingukan mencari-cari. Bahkan Patih Giling Wesi dan Intan Kemuning
mendongakkan kepalanya ke atas. Tampak Rajawali Putih melayang-layang di angkasa
bersama Rangga di punggungnya.
"Ah! Kakang..., mungkin ini sudah takdir kita untuk selalu berpisah," gumam
Intan Kemuning lirih.
"Kakang Rangga...!" teriak Seruni keras begitu mendongak ke atas.
"Tinggallah bersama Paman Patih, Seruni! Kelak aku akan mengunjungimu!" seru
Rangga keras. "Khraghk...!" Rajawali Putih berkaokan keras.
"Khraghk...!" Rajawali Hitam menyambutnya.
Rajawali Putih melesat cepat membumbung tinggi ke angkasa. Sekejap saja
bayangannya lenyap ditelan awan. Patih Giling Wesi memeluk pundak Intan Kemunlng
dan Seruni Memang ada sesuatu yang hilang pada diri mereka. Tapi pertemuan Ini
membuat mereka bahagia, meskipun pada akhirnya harus berpisah kembali. Tapi
Patih Giling Wesi tidak akan merasa gelisah lagi, karena sudah mengetahui
keadaan dan tempat tinggal anaknya. Sewaktu-waktu dia bisa berkunjung ke tempat
Ini. "Selamat berpisah, Kakang Rangga...," desis Intan Kemuning pelan.
SELESAI Pembuat Ebook :
Scan buku ke djvu : Abu Keisel
Convert & edit : Dewi KZ
Ebook oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/
http://kangzusianfo/ http://ebook-dewikz.com/
Pedang Langit Dan Golok Naga 39 Alap Alap Laut Kidul Seri Ke 3 Pecut Sakti Bajrakirana Karya Kho Ping Hoo Peristiwa Merah Salju 14

Cari Blog Ini