Ceritasilat Novel Online

Ranah Tiga Warna 2

Ranah Tiga Warna Buku 2 Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi Bagian 2


kos mereka. Bahkan selama beberapa hari mereka sempat
menitipkan buku, koper baju, komputer, dan peralatan lain di
rumah kami. Sejak itu kami saling kenal nama dan sering ngobrol, atau
sekadar saling melambai dari pintu rumah. Kalau ada yang
baru pulang kampung, kami saling berbagi oleh-oleh. Pinjammeminjam barang seperti setrika, ember, kuali, sampai buku
juga sering terjadi. Tapi entah kenapa yang paling berkilau di
antara mereka berlima dan yang selalu jadi topik pembicaraan
kami tetaplah Raisa seorang.
Walau aku yang pertama mengenal Raisa, Randai tampak
sangat bersemangat setiap membahas topik Raisa. Beberapa
kali aku melihat dia duduk di teras kos seberang hanya untuk
mengobrol dengan Raisa sore-sore. Entah karena merasa aku
yang pertama kenal Raisa, hatiku tidak tenteram melihat
Randai bicara dengan Raisa. Maka aku juga tidak mau kalah.
Kalau sedang tidak sibuk belajar, aku juga suka mengajak
gadis itu ngobrol tentang apa saja. Nada suaranya yang ringan
dan spontan selalu membuat aku rileks. Dia bercerita pernah
tinggal beberapa tahun di Paris mengikuti bapaknya yang
kuliah S3 di sana. Selain fasih bicara Prancis, dia ingin juga
mendalami bahasa Arab. "Kapan saja kamu mau, aku siap
mengajar," sambarku girang.
Tapi minat Raisa yang sebenarnya adalah seni budaya
Indonesia. Dia menguasai banyak alat musik, tari, dan lagu
daerah. Tentulah aku kalah telak dari Randai yang memang
mendalami dan berbakat di bidang ini. Randai bahkan melancarkan sebuah tawaran maut, berjanji mengajari Raisa tarian
tradisional Minang, mulai dari tari Piriang sampai tari Rantak.
Raisa berbinar-binar. Aku cuma bisa menatap nanar.
Seandainya di Surga Ada Durian
ampir setahun aku di Bandung. Di tengah kekurangan
uang, aku menikmati hidup di kota sejuk ini. Persahabatan dengan teman-teman baru di kampus sungguh menyenangkan. Aku tidak kesulitan dengan berbagai mata kuliah
dan alhamdulillah, nilai kuliahku bagus. Bahkan nilai agama
Islamku A plus, satu-satunya di kelasku. Alasan dosenku, karena semua pertanyaan aku jawab dengan bahasa Arab.
Yang membuat aku sering termenung adalah minimnya
uang bulananku. Walau masih cukup untuk hidup sederhana,
aku tidak punya uang lebih untuk membeli buku tambahan,
sekadar jajan, atau ke bioskop. Berbeda dengan banyak teman
kuliahku yang kerap main ke Bandung Indah Plaza untuk makan dan menonton bareng selesai kuliah.
Walau berkantong tipis, keinginanku menonton film sangat
tinggi. Sehingga setiap malam Minggu, aku bersama teman satu
kos menonton film gratis di Liga Film Mahasiswa ITB. Aku dapat jadwal film dari Asto, teman kosku yang aktivis liga film
ini. Bioskop yang aku maksud adalah sebuah ruang kuliah besar dengan kursi kayu yang keras. Di tengah ruangan tampak sebuah mesin proyektor tua dengan tekun memintal pita seluloid,
mencoba menghibur kami para mahasiswa yang sedang kere.
Kalau penonton ramai, kami terpaksa sibuk mengipasi badan dengan koran bekas karena tidak ada AC. Tapi di sini
kami bebas berteriak-teriak dan bertepuk tangan bersama
kalau jagoan film muncul untuk pertama kalinya di layar.
Atau bersuit-suit kalau ada adegan romantis. Atau berteriak
kesal kalau tiba-tiba film putus karena reel film sambungannya
sedang dijemput dengan motor dari bioskop terdekat. Potongan
kertas dalam bentuk bola kecil dan pesawat bebas dilempar
dan berseliweran. Walau suasana heboh sekali, tidak ada yang
marah dan protes. Kami tahu sama tahu bahwa kami senasib
di ruangan gerah ini. Mahasiswa miskin yang sedang tidak punya duit untuk membeli tiket bioskop ber-AC di BIP.
Ada juga hiburan gratis lain. Kalau cuaca baik, hari Minggu
pagi kami berbondong pergi lari pagi di Lapangan Gasibu, persis di depan Gedung Sate yang gagah itu. Tapi lebih sering
kami gagal menyelesaikan lebih dari satu putaran karena sudah kehabisan napas, atau terlalu terpesona melihat berbagai
makanan, pasar kaget, dan orang-orang Bandung yang mondar-mandir.
Melihat teman kuliahku yang leluasa jajan, ingin sekali
aku punya uang jajan lebih. Tapi aku tidak mungkin minta
kiriman lebih karena beban Ayah dan Amak sudah begitu berat. Karena itu aku mulai berpikir-pikir untuk mencari penghasilan tambahan seperti yang dilakukan beberapa teman kosku:
yaitu mengajar les atau privat.
Suatu hari pak pos dengan motor oranyenya mengerem di
depan rumah kami. Sambil mengetuk pintu dia berteriak, "Permisi. Untuk Alif Fikri..."
Sepucuk surat kilat khusus dengan pengirim Ayah. Di dalam
amplopnya ada kiriman foto keluarga dan dua lembar surat,
satu dari Ayah dan satu lagi dari Amak. Ayah mengabarkan
bahwa kondisi beliau sudah mulai sehat kembali. Karena itu
Ayah dan Amak ingin mengunjungiku di Bandung beberapa
minggu lagi, karena dulu tidak sempat mengantar sendiri.
Hmmm, akan menyenangkan, apalagi Amak pasti akan
khusus memasak rendang Kapau untukku. Tidak ada yang mengalahkan rasa rendang bikinan tangan Amak sendiri. Nanti
mereka akan aku ajak ke kampusku, ke ITB, ke Tangkuban
Perahu, ke Gedung Sate, dan banyak lagi. Untuk tempat menginap Ayah dan Amak, aku akan pinjam kasur dan kamar ke
Randai selama beberapa hari.
Lima hari menjelang kedatangan Ayah dan Amak, aku
berhasil membujuk Randai untuk mengungsi ke kamar Asto
selama beberapa hari. Aku sudah tidak sabar menunggu kedatangan mereka berdua.
Aku baru pulang dari kampus di sore yang rintik-rintik.
Awan kelabu bertumpuk-tumpuk di atas sana, tapi masih segan
mencurahkan hujan. Sambil berlari-lari kecil, aku melintas
gang sempit, menyebut punten beberapa kali setiap melewati
warga yang duduk santai di depan rumah mereka. Lalu aku
melewati warung nasi Bi Oom, yang menjadi langganan menu
murah meriah kami: gulai ikan tongkol dan nasi putih.
"Eh eh, Alif, sebentar. Ini ada telegram dari Padang,"
panggil Bi Oom melambaikan sebuah amplop biru dari balik
jendela warungnya. Selama ini pak pos selalu menitipkan
semua surat ke Bi Oom kalau rumah kos kami kosong. Rumah
kos kami tidak punya telepon, sehingga semua kabar penting
hanya bisa disampaikan lewat telegram. Ada kabar apa dari
rumah" Sensasi menerima surat umumnya menyenangkan,
tapi kalau telegram malah meresahkan perasaanku. Kali ini
ulu hatiku terasa dingin, entah kenapa. Aku agak khawatir.
Aku cabik amplop tipis itu dengan terburu-buru. Aku buka
selembar kertas tipis. Isinya yang diketik samar-samar berisi
pesan ringkas: "ayah sakit "harap ananda pulang segera
"ttd amak Perintah pulang segera. Hatiku bergetar aneh. Rasanya ada
yang mengganjal hatiku ketika menerima pesan ini. Sepanjang
umur, rasanya aku tidak pernah melihat dan mendengar Ayah
sakit serius. Dengan duit pinjaman dari Randai, malam itu juga aku
pulang ke Maninjau. Sayang tidak ada jadwal bus yang langsung
berangkat malam itu. Aku harus naik bus ke Merak dulu dan
menyambung dengan bus lintas Sumatra yang langsung ke
Bukittinggi. Kalau tidak ada aral melintang, dalam 48 jam aku
akan sampai di nagari Bayur.
Sepanjang jalan, pikiranku melayang kepada Ayah. Sakit
apa" Selama ini penyakit segan singgah di badannya. "Mungkin
Ayah jarang sakit karena darahnya pahit akibat selalu minum
kopi kental," kata Amak bercanda dulu.
Benar, kopi yang sangat-sangat kental setiap pagi diminum
Ayah dari gelas berkaca gemuk. Saking kentalnya, setelah
Ayah menyeruput habis kopinya, ampasnya yang seperti jelaga
hampir memenuhi seperempat gelas. Kadang-kadang aku iseng
mencicipi jelaga yang masih mengandung seteguk air hitam
itu. Rasanya pahit-pahit-manis.
Ayah tidak berolahraga, tapi otot-otot badannya liat.
Mungkin dia masih menyisakan otot masa kecil yang dipakai
naik turun Bukit Barisan untuk berladang. Ayah juga pernah
bercerita waktu muda dia suka olahraga gimnastik, bergantungan pada palang-palang besi. Waktu aku masih kecil, aku
dan adik-adik sering meminta Ayah membengkokkan lengannya, supaya kami bisa melihat otot seperti telur burung unta
mencuat di lengan atasnya. Lalu kami akan berebutan memencet telur besar itu, yang belakangan aku tahu bernama biseps.
Ayah ketawa-ketawa saja melihat ulah kami.
Pernah suatu kali Pak Etek Gindo bercerita bahwa waktu
kecil Ayah jago berkelahi. Dia tidak takut siapa pun, bahkan
pada yang lebih tua dan berbadan lebih besar. "Bahkan kalau
saudaranya dipukul teman sekolah, dia yang pertama membela.
Dia akan cari siapa yang memukul saudaranya. Walau badannya kecil, dia bisa menghajar lawan yang berbadan lebih besar.
Sering lawannya sampai menangis pulang mengadu ke orangtuanya," kata Pak Etek membanggakan Ayah.
"Kok bisa menang lawan orang yang lebih besar, Pak
Etek?" tanyaku. "Ayahmu bernyali besar. Dia nekat dan tangannya mungkin
bertuah, bawaan dari lahir," jawab Pak Etek Gindo.
Dulu Ayah selalu membawaku berburu durian di seputar
Danau Maninjau. Kalau sempat, nanti aku ingin ajak Ayah
makan durian dari Bayur atau Koto Malintang yang terkenal
gurih dan lembut. Semakin sedap kalau dihidangkan lengkap
dengan ketan, kelapa parut, serta sedikit garam dan gula. Baru
membayangkan saja jakunku sudah naik-turun dan liurku
meleleh. Aku tertawa kecil sendiri di atas bus lintas Sumatra
ini. Selain itu aku juga punya kenangan yang membuat tanganku
dan Ayah ternoda darah. Waktu aku duduk di SD, adik Ayah,
Etek Rose menikah dan keluarga Ayah mengadakan baralek
gadang. Perhelatan besar. Sanak famili dari kampung-kampung
yang jauh datang berduyun-duyun untuk membantu memasak
gulai, lemang, rendang dan kue baralek. Para keluarga jauh ini
datang membawa anak-anaknya. Aku, Safya, dan Laili senang
sekali bertemu dengan 6 sepupu sebaya ini. Ketika para orang
tua sibuk memasak, kami sibuk main kucing-kucingan atau
menangkap ikan-ikan pantau dan supareh di selokan. Setiap
malam dengan riang kami bersembilan tidur bersempit-sempit
di atas tikar anyaman pandan yang dikembangkan di tengah
rumah kakek. Setelah sepekan, para sepupu kembali pulang
ke kampung, meninggalkan aku, Safya, dan Laili yang entah
kenapa sering menggaruk-garuk kepala.
Ayah langsung menyuruh 3 anaknya duduk bersimpuh di
lantai kayu, berjejer di depan kertas putih yang terbentang.
Lalu Ayah mengeluarkan sebuah benda merah tua bergigi
banyak dan rapat. Pelan tapi pasti, diarahkannya benda berujung tajam itu ke puncak kepalaku yang lunak. Aku meringis
ketika benda itu digerakkannya menyentuh ubun-ubunku.
Benda merah, bergigi tajam ini adalah sebuah sisir besar
yang khusus digunakan untuk menangkap kutu-kutu kepala
yang kala itu kerap berpesta-pora di kepala kami, para anak
kampung. Tugasku hanya menundukkan kepala, lalu Ayahlah
yang menjalankan sisir itu dari berbagai sisi kepalaku. Yang
paling asyik adalah ketika sisir menyentuh ujung rambutku
yang terbawah, ketika itulah kertas putih di lantai tiba-tiba
riuh. Seperti gerimis petang hari, makhluk-makhluk liliput
berjatuhan satu-satu. Sebagian berperut gemuk bulat kekenyangan meminum darah, sebagian kurus, bahkan ada yang
masih mungil, mungkin baru saja menetas. Tapi semuanya
lincah menggerak-gerakkan keenam kaki mereka, berlarian ke
sana-kemari. Awalnya bulu romaku berdiri karena geli. Lalu Ayah bilang,
"Jan takuik. Jangan takut. Ayo, jangan sampai mereka lari dan
membuat kepala gatal dan makan darah kita lagi." Maka
berlomba-lomba aku, adik-adik, dan Ayah menindas kutu-kutu
di kertas putih ini dengan kuku jempol kami. Tangan mungilku
sibuk mengejar ke sana-sini, mengikuti lari makhluk-makhluk
liliput ini. Sekali berhasil aku tindas, titik darah menempel di
kuku jempolku. Kuku Ayah yang besar juga bernoda merah.
Kalau kepalaku sudah bersih dari parasit ini, tiba giliran kedua
adikku. Lalu kami kembali sibuk menindas liliput-liliput itu
di kertas putih. Begitu kami lakukan selama seminggu sampai
kutu pindahan dari 6 sepupu kami ini punah.
Potongan-potongan kenangan masa kecilku dengan Ayah
ini sejenak membuat aku lupa kalau Ayah sedang sakit. Aku
menerawang ke luar jendela bus. Aku sudah sampai di Sitinjau
Laut. Perbukitan rimbun dengan pemandangan laut lepas
yang indah tampak di kaki langit. Dalam beberapa jam lagi
aku sampai di kampungku. Begitu turun dari bus Harmonis, aku berlari ke rumah, tidak sabar melihat bagaimana keadaan Ayah. Amak langsung
menarik tanganku dengan wajah rusuh. "Kita langsung pergi,
ayo bergegas." Beliau tidak menjawab ketika aku tanya ke
mana kami akan pergi. Rupanya telegram yang dikirim Amak kemarin tergolong
telegram yang sopan. Ayah tidak ada di rumah. Tapi sudah
dirawat berhari-hari di rumah sakit Dr. Achmad Mochtar.
Begitu kami sampai di rumah sakit, kami memasuki kamar sal
yang berisi 3 tempat tidur. Salah satunya ditempati Ayah.
Ayah tergolek melingkar di dipan, memunggungi pintu
kamar. Perutnya kembang-kempis dengan gerakan lamban.
Pelan-pelan aku duduk di samping dipan dan memanggilnya dengan suara rendah, "Ayah." Dengan tidak bertenaga dia menggulingkan badan menghadapku. Mulutnya terbuka tanpa suara,
tangan kurusnya menggapai-gapai udara, memanggilku lebih
dekat. Lalu sebuah senyum lebar terbit dari mukanya yang tirus.
Hanya senyum saja, belum ada suara.
"Pulang juga wa"ang, Nak," akhirnya dengan susah payah
Ayah mengeluarkan suara berbisik.
Masya Allah, mana wajah lama ayahku" Ayahku yang
aku ingat adalah laki-laki bertubuh liat. Yang aku lihat sekarang matanya redup dan tulang pipinya runcing karena darah
dan daging telah luntur dari wajahnya. Ayah mencari-cari
tanganku dan menggenggamnya. Sedemikian kurusnya tangannya, sampai bahkan cincin akik di jari manisnya kini longgar.
Lalu tangannya satu lagi menggapai ke bawah bantal, membawa keluar kliping tulisanku di majalah Kutub tempo hari.
"Makin bagus tulisan wa"ang Nak," lanjut Ayah. Kali ini
ada sedikit binar di matanya. Dia mencoba menarik badan
dan menyandarkannya ke kepala dipan sambil meringis memegang perut.
"Tarimo kasi, Yah. Berkat doa Ayah juga," kataku sambil
menunduk mencium tangannya dengan haru.
"Dokter bilang, Ayah harus makan yang lunak-lunak dulu
sampai radang perut normal," kata Amak sambil mengacaungacau sepiring bubur kacang hijau dan mulai menyuapi Ayah.
Dua adikku, Laili dan Safya sibuk mengusap-usap punggung
Ayah dengan minyak kayu putih.
"Biar ambo yang menyuapi, Mak." Aku mengambil piring
bubur dari tangan Amak. Sesendok demi sesendok aku suapi
Ayah. Sesekali aku bersihkan sisi bibirnya dengan saputangan.
Mukanya yang pias mulai merona merah. Matanya berbinarbinar dan sedikit-sedikit menatapku dalam. Tampaknya dia
tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya aku pulang. Ayah
tidak banyak bertanya, tapi aku tahu Ayah ingin banyak berta91
nya. Karena itu aku yang banyak bercerita apa yang aku alami
di Bandung. Di ujung dipan beralaskan seprai putih ini tergeletak sebuah Alquran kecil. Kata Amak, kebiasaan Ayah akhir-akhir
ini adalah membaca Alquran sambil tidur, selain membaca
artikel yang aku tulis berulang-ulang kali. Di meja kecil dekat
dipan tampak setumpuk koran Haluan dan Singgalang serta
kamera Yashica tua kebanggaan Ayah. Beliau memang gemar
memotret apa saja, tapi aku tidak mengira bahkan sampai ke
rumah sakit saja beliau masih membawa kamera.
Tiba-tiba Ayah menarik tanganku dan menunjuk-nunjuk
ke arah kamera itu. Aku tahu, beliau ingin kami sekeluarga
difoto bersama. Mungkin merayakan kedatanganku. Aku segera menyiapkan kamera di meja sudut kamar, aku ganjal
dengan tumpukan koran. Aku pasang timer, dan klik, sinar
flash mengerjap menyilaukan dan menerpa kami berlima yang
duduk berdempetan di atas dipan. Aku ulang memotret dari
sudut berbeda. Sejenak rasanya sakit Ayah bisa kami lupakan,
yang ada hanya sebuah keluarga yang lengkap dan hangat.
Ayah terlelap dengan masih memegang tanganku.


Ranah Tiga Warna Buku 2 Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Setiap hari aku menemani Ayah di bangsal kelas ekonomi
ini. Bercerita hilir-mudik mulai dari masalah kuliah sampai
politik, membacakan kepala berita Haluan dan Singgalang,
membahas keunikan rasa durian dari setiap kampung, memijiti
kaki dan punggung yang biasanya berakhir dengan Ayah
terlelap pulas. Kalau waktu makan, sesendok-sesendok aku
suapi bubur ke mulutnya. Awalnya Ayah menolak, tapi setelah
dua suap dia sangat menikmati. Pipinya yang cekung sampai
berkecipak-kecipak setiap aku ulurkan sesendok nasi. Begitu
terus aku lakukan selama seminggu.
Pelan tapi pasti, setiap hari kondisi Ayah membaik. Bahkan
sekarang sudah bisa makan nasi tim tanpa disuapi. Dokter
Rafzen yang memeriksa juga puas dengan perkembangan ini.
"Bapak ini sudah bagus kondisinya, jadi sudah bisa pulang ke
rumah. Tapi tetap harus sering istirahat, jangan banyak jalan
dulu," kata Dokter. Dengan sukacita kami bawa Ayah kembali
ke rumah. Walau masih lemah, Ayah sudah bisa sekadar duduk-duduk
di langkan. Melihat kondisi Ayah yang membaik, aku minta
izin untuk segera kembali ke Bandung. Ayah sudah setuju
walau dari matanya aku tahu dia masih ingin aku tetap tinggal.
Amak pun tidak keberatan. Yang jelas pikiranku jauh lebih
tenang dibanding ketika aku datang pekan lalu. Hari ini aku
berkemas karena besok pagi-pagi aku akan bertolak ke Bandung.
Pagi-pagi buta Amak membangunkanku. "Mak, bus ke
Bandung masih lama berangkat. Nanti saja bangun pas azan,"
kataku malas-malasan. Tapi Amak mengguncang-guncang badanku lebih keras.
"Lif, jagolah. Caliaklah Ayah ko. Bangun, lihatlah keadaan
Ayah," kata Amak dengan suara bergetar panik. Aku terlonjak
dari mimpiku dan melempar selimut. Aku bergegas ke kamar
Ayah dan mendapatinya tersengal-sengal sambil memegang
perutnya. Napasnya satu-dua. Keningnya mengernyit seperti
kesakitan sekali. Begitu mendekat, tanganku langsung digenggamnya. Kulit
ujung jari tangannya berkerut-kerut dingin. Mata Ayah memandangku, bibir dan badannya bergetar. Dengan tersengal-sengal
dia mengeja sebuah kalimat. "Lif, sakit dan dingin sekali
badan Ayah. Tolong selimuti."
Aku renggut selimut dan membungkus badan kurusnya.
Jantungku berdebar tidak tentu dan aku berbisik ke telinganya.
"Sebut la ilaha illallah, Yah. Bantu dengan zikir, semoga sakit
dan dinginnya berkurang."
Mulut Ayah mencoba komat-kamit mengikuti kataku. Tapi
matanya semakin sayu memandangku. Tanganku kembali ditarik dan dicengkeram di pergelangan tangan. Aku mendekatkan
kepala ke wajah Ayah. Dia berbisik lirih. Lirih sekali, hampirhampir tidak terdengar. "Alif, wa"ang bukan anak-anak lagi.
Sudah jadi laki-laki. Karena itu jadilah laki-laki pembela adikadik dan amakmu....," bisik Ayah tersengal-sengal. Suaranya
terasa datang jauh dari dalam Bumi. Dia berhenti sebentar
mengambil napas. "Ambo berjanji membela mereka, Yah."
Perasaanku tidak enak, bulu remangku berdiri. Kalut.
Ayah melanjutkan, "Selesaikan apa yang wa"ang mulai,
selesaikan sekolah. Selalu patuhilah Amak kapan..." Napas
Ayah tiba-tiba tercekat dan dia tidak bisa meneruskan katakatanya. Kelopak matanya pelan-pelan terkatup. Aku dan
Amak berganti-ganti membisikkan zikir ke telinga Ayah sambil menggoyang-goyang badannya. Safya dan Laili dengan
tangan bergetar mengusap-usap kening Ayah yang sekarang
penuh manik-manik peluh. Ujung tangan dan kakinya sudah seperti es. "Ayah, dengarkan dan ikuti zikir ambo terus," kataku panik. Beberapa detik
tidak ada reaksi. Lalu pelan-pelan Ayah kembali membuka
matanya. Setiap wajah kami ditelitinya dengan pandangan
mata yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Matanya bercahaya redup seperti senter kehabisan baterai. Tangannya mencengkeram lenganku kuat-kuat.
"Maafkan Ayah dan doakan Ayah selalu. La... ilaha
illallah....," katanya lirih. Ujung suaranya luruh bersama zikir.
Pegangan tangan kurus itu melonggar dan pelan-pelan
lepas. Helaan napasnya seperti hanyut dimakan alunan ombak Danau Maninjau. Lalu hanya hening. Hening yang menikam. Beberapa saat tidak ada di antara kami berempat yang
mengeluarkan suara. Lalu beberapa isakan pecah pelan-pelan.
Terbit dari arah Amak dan adik-adikku yang duduk di pinggir
dipan. Mereka berangkulan. Amak yang duduk di tengah
seperti induk ayam yang meneduhi anak-anaknya yang kuyu
kehujanan. Safya si bungsu yang sangat lengket dengan Ayah
terus memegang lengan Ayah. Air matanya melimbak-limbak,
membentuk sungai kecil yang seakan-akan tidak mau putus
dan tidak ingin kering. Belum saatnya! Aku tidak percaya! Mungkin masih ada
harapan! Aku coba tekan jalur nadi di leher dan pergelangan
tangan Ayah. Tidak ada setitik denyut pun. Mungkin pernapasan buatan bisa membantu" Aku harus coba walau tidak
tahu caranya. Aku penuhi paru-paruku dengan udara dan aku
tiupkan napasku ke mulut Ayah berkali-kali, sampai liurnya
yang kental terasa pahit di ujung lidahku. Tidak ada reaksi.
Lalu aku coba tekan dadanya berkali-kali. Tetap saja tidak ada
reaksi apa-apa. Ya Tuhan, apakah Ayah telah pergi" Apa ini kefanaan yang
Engkau janjikan" Bahwa mati adalah kepastian paling pasti
dalam hidup" Aku tepekur dengan perasaan berkecamuk. Tengkukku terasa dingin. Aku tidak mendengar jawaban langsung
dari Tuhan, tapi hatiku terdalam bisa merasakan jawaban.
Dengan pilu hatiku berbisik, "Ayah sudah pergi."
Wajah Ayah tenang, tapi berawan. Tangan itu telah kelu
dan semakin lama semakin dingin. Dingin yang perih. Aku
belai muka Ayah dengan kedua tanganku. Lalu aku rapatkan
kelopak matanya yang setengah terbuka dengan ujung telunjuk
dan jempolku. Sambil memicingkan mata, aku genggam tangan
beku Ayah. Aku coba berlaku ikhlas dengan membisikkan
innalillahi wainna ilaihi rajiun. Semua yang ada di dunia hanya
punya Dia, dititipkan sementara dan semuanya pasti akan
kembali kepada Dia. Aku merasa malaikat maut baru saja berkemas-kemas dari
kamar ini. Kejadian setelah itu terasa begitu cepat berjalan. Rasanya
semua berkelebat-kelebat di depan mataku seperti menonton
film yang dipercepat. Aku melihat banyak orang datang, berkerumun, mengaji, membantu kami. Berkelebat. Aku lihat
Amak, Laili, dan Safya duduk bersimpuh di sebelah tubuh
yang terbujur kaku. Mereka mengusap mata dengan pung96
gung tangan berkali-kali. Berkelebat. Angku Imam Masjid
menggamitku, menyuruh aku sebagai anak laki-laki kandung
untuk menjadi imam salat jenazah, memimpin doa, dan ikut
memanggul keranda ke kuburan. Berkelebat. Sampai di depan
lubang tanah merah itu, aku meloncat ke dalam liang lahat,
menengadah ke atas untuk menerima badan Ayah yang putih
dibalut kafan. Aku bisa memeluk Ayah terakhir kali sebelum
aku baringkan di lubang lahat yang sempit, suram, bau tanah
merah, dan gerah. Tiba-tiba tidak ada kelebatan lagi. Rasanya semua kesadaranku telah hadir lagi. Detak waktu terasa melambat kembali. Aku
siapkan bantal terakhir buat Ayah dari beberapa kepal tanah
liat merah. Dengan takzim, pelan-pelan aku membuka ikatan
kafan di bagian kepala. Aku lelapkan pipi Ayah di atas tanah
di liang yang gelap dan sempit ini. Badan beliau aku miringkan menghadap ke arah Kiblat. Aku tercenung beberapa
saat melihat wajah laki-laki terdekatku ini berkalang tanah.
Apa salam perpisahanku" "Ya Allah, ampunilah kesalahannya,
limpahilah dia dengan belas kasihMu, maafkanlah dia."
Aku berjongkok dan mendekat ke wajah Ayah, melantunkan
lamat-lamat azan sendu. Titik peluh dan air mata bercampur galau di wajahku dan meneteskan rasa asin ke mulutku. Aroma
air mawar, kapur barus, dan tanah merah yang baru digali
mengerubuti hidungku. Pelan-pelan tanah basah yang berbongkah aku luruhkan sampai menimbun sehelai benang kafan putih
terakhir yang masih mencuat. Dan pada detik itulah aku merasa
punya kesadaran penuh tentang apa yang telah terjadi.
Aku baru saja kedatangan tamu. Dia datang sendirian me97
ngetuk-ngetuk pintu hidup. Kursi yang didudukinya masih
hangat dan desir angin ketika dia lewat masih mengapung di
udara. Dia pergi tanpa pamit membawa ayahku sendiri. Tamu
yang tidak ada seorang pun kuasa menolaknya. Tamu yang
membuat semua jantung, hati, dan pandangan mata seorang
raja diraja pun goyah dan bertekuk lutut. Tamu yang paling
ditakuti umat manusia sepanjang masa. Tamu yang mengisap
segenap udara kehidupan. Tamu yang baru berlalu dari rumahku itu bergelar sendu: kematian.
Awalnya pelan, hanya merembes di sudut mata, lalu air
hangat ini melimbak-limbak dari mana saja. Jatuh menetes ke
nisan kayu.Tiba-tiba berbagai bentuk penyesalan muncul di
semua sudut hatiku. Banyak petuah dan permintaan Ayah yang
belum aku patuhi. Berkali-kali aku melawan keinginannya,
beberapa kali roman mukanya berubah sedih karena kata dan
kelakuanku. Untuk itu semua belum sempat aku meminta
semua maaf dari beliau langsung. Bahkan belum pernah sekali
pun aku ucapkan "aku sayang Ayah". Kini semuanya telah
terlalu terlambat aku sadari. Tidak akan pernah kembali lagi
waktu yang berlalu. Selamat jalan, Ayah. Sampai ketemu nanti di kehidupan
setelah mati. Selamat jalan, Ayah. Semoga perjalananmu menyenangkan ke atas sana. Aku akan mendoakan Ayah dari
sini. Aku akan mencoba menjadi anak yang saleh yang terus
mendoakanmu, supaya menjadi amalmu yang tidak akan putus. Aku akan mengingat selalu nasihat terakhir Ayah. Yang
jelas kita tidak bisa menonton bola bersama lagi. Kecuali di
surga ada sepak bola. Kita juga tidak akan bisa berburu durian
bersama lagi, kecuali pohon durian juga tumbuh di surga.
Ekor Tongkol dan Setengah Porsi Bubur epekan setelah Ayah kami antar ke pusara, aku dengan
hati-hati pamit ke Amak untuk kembali ke Bandung.
Sesaat tidak ada suara apa pun yang keluar dari mulut Amak.
Muka beliau mendung dan kantong matanya yang bergelayut
tampak semakin hitam. Hampir-hampir aku mengurungkan
niat untuk bicara lagi. Tapi setelah jeda hening, Amak bergumam halus, tapi penuh tekanan. "Nak, berjalanlah sampai
batas, berlayarlah sampai pulau." Aku mengangguk cepatcepat. "Fokus sajalah kuliah, jangan pikirkan biaya. Urusan itu
biar Amak yang memikirkan. Kalau perlu Amak cari pinjaman
sampai ujung kampung di tepi danau itu," bisik Amak ke
pangkal telingaku ketika aku mencium tangan beliau. Suaranya terasa menjalar dari dasar hatinya lurus menuju jantungku.
Tangannya menggenggam kuat-kuat ujung rambut belakangku.
Bagaimana mungkin aku tidak akan ikut memikirkan" Aku
tahu Amak akan membanting tulang, tapi membayangkannya
saja telah membuatku tercekat. Aku diam saja, menekurkan
kepalaku, bingung. Ya Allah, betapa beratnya beban Amak.
Ditinggal mati suami ketika ketiga anaknya masih butuh
biaya untuk kuliah dan sekolah. Dengan gaji guru SD, tidak
mungkin rasanya Amak bisa membiayai kami bertiga. Berat!
"Wa"ang tidak percaya ya Amak bisa?" sergah Amak seperti
mendengar isi pikiranku. Aku tergagap. "Sepulang mengajar
siang, Amak akan menambah penghasilan dengan mengajar
madrasah sore," kata beliau. Tangannya merapikan rambutku
yang menjela di atas telinga. Beliau tidak bersuara lagi, hanya
bunyi napas yang ditarik dan dilepas panjang yang aku dengar
dari Amak. Hatiku semakin perih mendengarnya.
Selama perjalananku dari Maninjau ke Bandung hatiku
buncah tidak tentu. Aku coba menghibur diri dengan merogoh kantong ranselku dan mengeluarkan selembar foto yang
mengilat. Nanar mataku menatap foto kami berlima yang
dipotret 2 minggu yang lalu di rumah sakit. Aku sentuh
permukaan foto itu dengan ujung telunjuk, persis di wajah
Ayah. Betapa dekatnya jariku dengan Ayah, tapi betapa jauhnya jarak hidupku dan hidup Ayah sekarang. Aneh sekali
rasanya melihat seseorang yang dekat dan nyata di dalam
foto tapi dia tidak akan kembali lagi. Bukannya terhibur, kini
malah badanku terasa mengambang hampa dan kepalaku sakit
berdentang-dentang. Seperti jaras22, lonceng besar yang dipalu
setiap sebentar. Kini akulah laki-laki satu-satunya di keluarga kecil kami.
Akulah yang harus membela Amak dan adik-adik. Tapi bagaimana caranya" Kalau ingin menggantikan peran Ayah mencari
nafkah, aku mungkin harus berhenti kuliah dan bekerja. Tapi
bagaimana dengan impianku untuk kuliah" Untuk merantau
keluar negeri" Aku memijit-mijit keningku yang kini berkulit
Jaras: lonceng besar di Pondok Madani dalam novel Negeri 5 Menara
100 kusut. Pesan terakhir Ayah terus bersipongang di lubuk hatiku:
"Alif, bela adik-adik dan amakmu. Rajinlah sekolah." Ya
Allah, berilah aku kemudahan untuk menjalankan amanat
ini. Bus terus berlari terbirit-birit menuju Bandung. Aku coba
mengalihkan perhatian dan melihat ke luar jendela. Tapi yang
aku lihat adalah refleksi wajahku yang berlipat-lipat dan kuyu
di jendela kaca bus ini. Aku coba kembali mengingat pesan
Kiai Rais waktu di Pondok Madani: "Wahai anakku, latihlah
diri kalian untuk selalu bertopang pada diri kalian sendiri dan
Allah. I"timad ala nafsi23. Segala hal dalam hidup ini tidak
abadi. Semua akan pergi silih berganti. Kesusahan akan pergi.
Kesenangan akan hilang. Akhirnya hanya tinggal urusan kalian sendiri dengan Allah saja nanti." Rasanya nasihat ini
menukik dalam ke jantungku. Memang tidak ada yang kekal.
Ayah telah pergi, tinggallah aku sendiri yang harus menyetir
hidupku atas izin Tuhan. Mungkin sudah waktunya aku disapih, berhenti meminta
uang ke Amak. Aku genggam foto keluarga erat-erat, sampai
hampir remuk. Aku berjanji pada diri sendiri akan membiayai
diri sendiri selama di Bandung. Bukan cuma membiayai diri
sendiri, tapi kalau bisa juga mengirimi Amak uang setiap
bulan. Sejujurnya aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi ada
sebersit kepercayaan tumbuh di pedalaman hatiku kalau aku
mau bersungguh-sungguh, insya Allah bisa.
Aku tenteram-tenteramkan diriku dengan mengingat janji
I"timad ala nafsi: mandiri, bertumpu pada diri sendiri
101 Tuhan, bahwa setelah setiap kesusahan itu ada kemudahan.
Aku tahu. Tapi kapan kemudahan itu datang" Kali ini aku
sungguh tidak tahu. Sesampai di Bandung, Randai merengkuh bahuku erat-erat.
Tasku dijinjingnya dan aku dipapahnya ke kamar, seakanakan aku sedang sakit parah. Selama beberapa hari dia juga
berbaik hati membelikanku makanan dan menawarkan apa
yang bisa dia bantu. Aku terharu atas perhatiannya. Tapi tidak
banyak yang bisa dia bantu untuk masalah pedalaman hati
yang kehilangan. Bahkan walau Wira, Agam, dan Memet berbondong-bondong datang ke kosku, membawa segala macam
lelucon mereka, hatiku tetap terasa lowong dan sepi.
Aku terduduk lunglai di kasur tipisku. Rasanya kasur ini
bagai pulau mungil di tengah lautan besar yang marah, aku
terkurung dan ombak besar bergulung-gulung siap menelan
pulau ringkih ini. Ombak besar ini muncul dalam bentuk
kematian Ayah, kehabisan uang saku, dan ujian semester yang
mengintai. Kenapa semuanya datang bertubi-tubi" Ya Tuhan,
aku tahu harus sabar dan berusaha, tapi sampai kapan" Sampai
kapan" Gugatan ini terngiang-ngiang terus. Aku tidak mau
menggugat terus di kepalaku. Ini bukan aku yang biasa. Aku
bukan tipe anak cengeng yang mengulang-ulang kemalangan.
Tapi kali ini aku terlalu letih untuk melawan pikiranku.
Aku cari-cari jalan agar bisa tetap bertahan di Bandung
dengan uang bulanan yang semakin menipis. Aku hasut temanteman kos untuk iuran menggaji Bi Ipah, tetangga kami, untuk
102 memasak makan siang dan malam. Dengan cara ini aku bisa
menghemat uang makan. Tinggal sarapan yang harus tetap
kami beli sendiri. Dalam rangka pengiritan pula, biasanya
aku berebut bangun paling pagi dengan Asto kawan sebelah
kamarku yang juga prihatin. Subuh-subuh kami bergegas ke


Ranah Tiga Warna Buku 2 Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dapur, berharap masih ada sisa nasi kemarin di periuk dan
remah-remah ekor tongkol yang masih mengambang di penggorengan. Lumayan. Walau hanya kerak nasi dan ekor tongkol
yang kriyuk-kriyuk, kami bisa merayu perut untuk bertahan
sampai makan siang. Kadang-kadang, serangan fajar ke dapur gagal karena nasi
sisa kemarin sudah rasan dan berkaca-kaca. Maka tidak ada
pilihan lain, aku harus beli sarapan. Setiap pagi, Raisa dan
teman-temannya merubung gerobak bubur ayam yang berhenti
di antara kos Raisa dan kosku. Kalau mereka sudah bubar, aku
biasanya melambaikan tangan ke abang tukang bubur untuk
datang. Tapi di sakuku tinggal beberapa ribu rupiah saja. Tidak
cukup untuk makan sampai malam. Apa boleh buat, harus berhemat lagi. Dengan berbisik, supaya tidak terdengar Raisa, aku
memesan hanya setengah porsi bubur ayam dengan banyak
bawang goreng. Supaya bubur kelihatan banyak, aku tuangkan
air putih dan aku aduk. Tidak apa encer, tapi kan kelihatan
sudah semangkuk penuh. Lumayan buat menghangatkan perutku pagi hari.
Sejak kembali ke Bandung, aku acap terjaga di tengah malam buta dan larut dalam kecamuk pikiranku sampai subuh.
Yang paling mengganggu bukan kurangnya biaya untuk makan
dan tidak adanya kiriman dari Amak. Kalau perlu aku bisa
103 tinggal di masjid atau mushola, melamar menjadi marbot atau
penjaga masjid dan mencari makan dari mengajar mengaji. Itu
masalah yang gampang untuk aku atasi. Yang berat adalah membayangkan Amak harus membanting tulang sendiri, menghidupi
kami bertiga. Rasanya sebagai anak laki-laki satu-satunya, aku
tidak berguna dan tidak berbakti. Padahal, aku sudah diamanati
Ayah untuk membela Amak dan dua adikku. Tapi apa yang aku
lakukan sekarang" Bukannya membela mereka, malah aku ada
di Bandung, dan masih menadahkan tangan kepada Amak.
Enam bulan sejak Ayah meninggal, aku sudah tidak tahan lagi dengan perang batin ini. Aku harus mengambil
keputusan sekarang juga. Aku harus berhenti kuliah. Drop
out. Menguburkan impianku kuliah dan pulang kampung,
membela Amak dan adik-adikku. Kalau mengenang bagaimana susahnya aku lulus UMPTN, aku selalu galau. Aku
juga ingat nasihat Ayah untuk menyelesaikan kuliah. Tapi
membiarkan Amak kerja mati-matian membuatku merasa berdosa. Aku pasti bisa bekerja di kampungku. Dengan pengalaman yang aku punya, aku bisa mengajar di madrasah, atau
aku bisa jadi pengurus masjid, atau aku bisa melamar jadi
koresponden koran nasional. Atau apa saja. Yang penting aku
bisa meringankan beban Amak. Aku insaf, nasib telah telak
menjatuhkan impian-impianku yang tinggi.
Sebuah tanggal sudah aku silang di kalender mejaku, tanggal
pulangku. Sebuah surat aku layangkan ke Amak untuk mengabarkan rencanaku ini. Randai menggeleng-gelengkan kepala
tidak mengerti ketika melihat aku sudah mulai mengepak baju
dan buku-bukuku ke dalam ransel dan dua kardus Indomie.
104 Surat balasan dari Amak cepat sekali datang. Tidak berpanjang-panjang. Hanya ada kalimat singkat-singkat dan
ditutup dengan "ancaman": "Amak sedih sekali belum bisa
mencukupi kebutuhan wa"ang di rantau. Tapi jangan pernah
berani-berani pulang tanpa menyelesaikan apa yang sudah
wa"ang mulai. Selesaikan kuliah, Amak akan mendukung
dengan sepenuh tenaga dan doa. Menuntut ilmu itu juga berjuang di jalan Tuhan. Insya Allah, Amak masih sanggup menghidupi kalian. Dengan cara apa pun."
Ada perang berkepanjangan di hatiku sejak membaca surat
dari Amak. Mana yang harus aku patuhi" Wasiat Ayah untuk
membela Amak dan adik-adikku, dengan mengorbankan kuliah" Atau tunduk pada "ancaman" Amak untuk terus kuliah,
tapi merasa bersalah karena membebani beliau" Amak bilang
masih sanggup, tapi aku yakin beliau kesusahan. Kiriman bulanan yang tidak kunjung datang adalah bukti yang paling
nyata. Aku bokek. Aku tidak punya uang untuk makan, untuk
kos, dan untuk bayar SPP. Sebetulnya aku hanya tinggal menghitung hari sampai benar-benar KO.
105 Janji Aku dan Tuhan enteng, daun pohon jambu, gang kecil berpelur, jalan
aspal, sampai cucianku yang lupa diambil dari jemuran,
semua basah kuyup. Bandung di musim hujan selalu kelabu
dan hawa dinginnya serasa meresap sampai ke dalam tulang.
Semua terasa pas dengan suasana hatiku yang sendu. Kesedihan
ditinggal Ayah belum juga pupus. Nilai ujianku berantakan.
Duit tidak ada dan aku sudah malu untuk terus meminjam
kiri-kanan. Ingin aku pulang saja, tapi Amak melarang pula.
Bila aku berdiri di depan kaca, mukaku tampak lebih tirus dan
pangkal lenganku makin menyusut. Kurus. Mungkin karena
banyak pikiran dan kurang makan serta tidur.
Suatu hari sepulang kuliah aku lewat di trotoar Pasar Simpang yang selalu riuh. Tiba-tiba hujan mengguyur lebat dan
aku harus berteduh di emper sebuah toko pakaian. Hujan
di musim ini bisa datang dan pergi dalam sekejap. Aku
merapatkan badan ke beberapa celana jins yang digantung,
supaya tidak kena tempias hujan. Aku mundur dan kakiku menyentuh orang yang duduk di sebelahku. Aku minta maaf dan
aku tertegun. Orang itu tidak duduk menunggu hujan, tapi dia
sedang bekerja. Untuk pertama kali aku menyadari tukang sepatu yang sering aku lihat duduk di ujung trotoar ini bukan orang biasa.
106 Dia dengan telaten sibuk menikamkan jarum jahitnya ke sol
sebuah sepatu yang tebal. Tidak ada yang aneh sampai aku sadar
bahwa dia tidak menggunakan dua tangan. Hanya satu tangan
kanan. Lengan baju kirinya berkibar-kibar ditiup angin. Tidak
ada isinya. Sebagai pengganti tangan kiri, dia menggunakan
jari kakinya untuk menarik jarum dari sol sepatu tadi. Yang
membuatku terkesan adalah dia melakukan semuanya dengan
semangat, seakan-akan tidak memedulikan bahwa dirinya
cacat. Bahkan dia masih sempat bergeser memberi aku tempat
berteduh sambil melempar senyum. "Kalau perlu serpis sepatu,
bawa ke Mang Udin aja yah," katanya ketika kami mengobrol
sambil menunggu hujan reda.
Sosok Mang Udin, tukang sepatu bertangan satu ini tidak
bisa hilang dari kepalaku semalaman. Kenapa aku terbenam
dengan kemalanganku" Terlalu fokus dengan kekuranganku"
Terlalu mengasihani diri sendiri" Padahal kalau dibanding
tukang sepatu itu, nasibku jauh lebih baik. Aku malu telah
terlalu larut dengan nasibku. Aku malu dengan tukang sepatu
itu. Dunia akan tetap berputar. Kenapa aku mengharapkan
dunia yang berubah" Seharusnya akulah yang menyesuaikan
dan dengan begitu bisa mengubah duniaku.
Maka di sebuah malam yang disiram hujan lebat, aku membuat perjanjian dengan diriku. Supaya terlihat serius oleh
diriku, aku tulislah janji ini di sehelai kertas HVS putih. Aku
tuliskan setiap huruf besar-besar dengan tinta hitam dan merah. Lalu aku tanda tangani sendiri. Isinya:
107 Surat Perjanjian dengan Diri Sendiri
"Ya Tuhan yang Maha Menyaksikan, Engkau telah mengatakan tidak akan memberi manusia cobaan di atas kemampuannya. Kalau begitu, semua cobaan ini masih bisa aku
hadapi. Engkau tidak akan mengubah nasib kaum sebelum kaum itu mengubah nasibnya. Karena itu aku ingin
mengubah nasibku dengan mencari kerja sekarang juga.
Pertama supaya kuliahku tidak putus, kedua supaya aku
bisa mengirim uang untuk membantu Amak dan adik-adik."
Yang berjanji: Alif Fikri
Yang pasti menyaksikan di atas sana: Allah.
"Duhai Tuhanku, inilah janjiku pada diriku. Mohon Engkau
saksikan dan tunjukilah aku ke jalan yang benar," bisikku
sambil menempelkan janji ini di dinding kamarku. Randai
terheran-heran dan penasaran membacanya. Tapi kemudian
malah bergurau. "Aden boleh tanda tangan nggak, jadi saksi
kedua?" katanya tersenyum. Tapi senyumnya segera surut dan
dia segera minta maaf ketika mukaku mengelam. "Sori kawan,
aden hanya ingin ikut membantu. Apa lagi yang bisa aden
bantu?" "Aden butuh uang tunai secepatnya. Kalau ada peluang
kerja, tolong kasih tahu," kataku datar.
"Kenapa tidak pinjam ke aden saja?"
"Pinjaman ke wa"ang sudah banyak. Dan pinjaman tidak
menyelesaikan masalah. Aden ingin mandiri. Ingin menghasilkan sendiri."
108 "Oke, fren." Dia menjawab pendek mendengar suaraku
meninggi. Randai tentu tidak bisa merasakan kesulitan keuangan seperti yang aku alami. Kedua orangtuanya saudagar
dan dia tunggak babeleang, sebutan buat anak tunggal. Semua
kebutuhannya bisa dipenuhi orangtuanya.
Di janji ini aku tuliskan "sekarang juga". Aku tidak ingin
beralasan lagi, tapi bagaimana caranya mencari kerja sekarang
juga: ini menjelang tengah malam, hujan lebat pula"
Ooh, aku ingat. Asto, teman kosku, baru saja bercerita
bahwa dia punya murid privat di Ciumbuleuit. Aku lihat
lampu kamarnya masih nyala. Aku ketok pintu kamarnya.
"To, apa murid kamu butuh guru privat untuk bahasa
Inggris, bahasa Indonesia, atau pelajaran sosial lain?" tanyaku
berharap. "Kalau tidak salah, orangtuanya bilang mau mencari
guru privat tambahan untuk pelajaran lain. Nanti saya coba
tanya." "Juga kalau dia butuh guru mengaji dan bahasa Arab."
"Oke, Lif, besok saya ngajar di rumahnya. Saya akan tanya
sama ibunya ya." "Makasih, To. Jatah makanku bulan ini tergantung jawabanmu besok ya."
Asto tersenyum dan mengacungkan jempol. Dia kembali
tenggelam dalam buku pelajarannya.
Sebelum tidur, Randai membalikkan badan ke arahku yang
masih belajar. "Alif, aden tidak punya informasi kerja, tapi
109 aden sudah 2 semester dapat beasiswa dari kampus. Banyak
perusahaan dan yayasan yang rutin memberi bantuan buat
mahasiswa. Mungkin wa"ang bisa coba juga."
"Bagaimana cara dan syarat-syaratnya?"
"Kalau itu wa"ang harus cari sendiri. Pasti di Unpad juga
ada. Tanya saja ke bagian kemahasiswaan."
Usul Randai ini membawa secercah harapan untuk
menyelesaikan masalahku. Setidaknya malam ini aku punya dua harapan, mencari
beasiswa dari kampus seperti yang diusulkan Randai dan
menunggu kabar dari Asto. Aku berusaha tidur lebih nyenyak.
Terima kasih Tuhan untuk peluang yang Engkau datangkan
dengan bergegas. Besok paginya di kampus, Wira tiba-tiba menarikku ke
sudut ruang kuliah. "Lif, sini, ada peluang bisnis nih dari tanteku. Orang Minang biasanya kan pinter dagang. Tertarik nggak?" Dia menyorongkan sebuah brosur berisi produk kosmetik, parfum, dan
sabun cuci. Aku bingung sendiri melihat katalog yang ditawarkan
wira. Apa yang aku tahu tentang produk ini" Tapi tidak ada
salahnya aku baca dulu. Jangan-jangan ini peluang mencari
duit yang lain. "Aku baca di rumah ya?"
Sesampai di rumah kos, aku mendapati kamarku penuh
110 sesak dengan kardus-kardus. Randai sibuk menyusun dan menumpuk barang-barang ini di sudut kamar.
Sebelum aku bertanya, dia sudah menjelaskan. "Tenang,
Lif, besok barang ini sudah diambil orang. Rombongan Pemda
Bandung yang ke Bukittinggi sangat suka songket, bordir, dan
tenun Minang, jadi mereka memesan lagi." Keluarga Randai
memang punya toko konveksi dan baju di Pasar Ateh, Bukittinggi.
"Randai, kalau aden coba ikut memasarkan juga gimana?"
tanyaku ragu-ragu. "Nan sabananya ko" Serius mau" Ini kan barang ibu-ibu
semua?" "Indak baa do. Nggak apa-apa. Yang penting aden coba
dulu." Ajaib sekali, hanya dalam tempo 3 hari setelah aku membuat perjanjian dengan diri sendiri, satu per satu harapan muncul. Begitu membuka mata terhadap semua kemungkinan mencari uang, kini di depan mataku ada peluang untuk bekerja
dan menghasilkan uang tambahan.
Aku kembali ingat salah satu pepatah yang aku pelajari di
PM dulu, iza shadaqal azmu wadaha sabil, kalau benar kemauan,
maka terbukalah jalan. "Ibu Widia butuh guru privat buru-buru. Kamu disuruh datang besok siang."
111 "Tapi besok aku kuliah seharian."
"Kalo tidak datang besok, dia cari orang lain," kata Asto
melihat aku ragu-ragu. Setelah menimbang-nimbang, tidak ada pilihan lain, aku
harus membolos kuliah untuk datang ke tempat kerja pertamaku. Harus ada yang dikorbankan.
"Susah kalau naik angkot, karena harus ke perumahan di
perbukitan Ciumbuleuit. Naik ojek atau pinjam motor Randai
saja," nasihat Asto.
Randai hanya berpesan, "Hati-hati ya. STNK-nya sudah
habis. Pokoknya, jangan sampai berurusan dengan polisi." Dan
aku juga tidak punya SIM! Dengan modal bismillah, aku naiki
motor Honda tua kurus ini. Di ujung Jalan Siliwangi yang
bertemu dengan Jalan Ciumbuleuit, motor ini menggerung
dengan menyedihkan seperti malas mendaki. Bebek ini bergetar sebentar, dan tahu-tahu dia tidak mau jalan. Mesin
hidup, tapi setiap aku putar pegangan gas, motor ini hanya
menderum, asap tebal menyemprot-nyemprot dari knalpot.
Tapi tetap tidak jalan. Beberapa angkot dan truk yang antre di
belakangku mulai membunyikan klakson bertalu-talu, karena
aku berhenti pas di tengah simpang tiga yang ramai.
Satu-satu keringat terbit dari pori-pori karena gugup. Aku
tidak kuat mendorong motor ini di posisi mendaki. Seorang
polisi lalu lintas dengan wajah murka berlari-lari ke arahku.
Perut dan kumis tebalnya bergoyang-goyang mengikuti langkahnya. Jelas sekali dia terganggu dengan kemacetan yang aku
buat. Polisi makin dekat dan aku tidak punya SIM, hanya ada
112 STNK yang sudah mati dari Randai. Ya Tuhan, apakah memang sesusah ini mencari sesuap nasi"
"Jangan lari kau. Diam dan berdiri di sana!" suaranya mengguntur mengalahkan klakson yang heboh. Kumis tebalnya kali
ini kembang-kempis. Klakson semakin ramai mengerubungiku
dari belakang. Badanku kini telah licin basah oleh keringat.
Aku hanya bisa pasrah. "Ma" maaf, Pak, saya cuma pinjam. Jangan ditahan,
Pak," ucapku dengan mengiba-iba. Urat betisku mulai kram
karena dari tadi tegang menahan berat motor di jalan terjal.
Terbayang olehku akan kena tilang dan motor pinjaman ini
ditahan. Nasib paling menyedihkan yang bisa dialami oleh seorang mahasiswa bokek.
"Diam, tahan motor kau!" jawabnya tidak peduli. Mukanya
yang sudah tepat di depanku tiba-tiba bergerak turun. Dia
berjongkok. Sekejap kemudian dia merenggut rantai belakang
motorku. Apa maksud polisi ini" Takut aku lari" Mau merusak
motorku" Lalu tangannya yang besar sibuk mencantolkan rantai itu ke roda belakang. Ooo, aku baru sadar, rupanya rantai
motorku dari tadi copot. Pantas walau aku gas sekuat mungkin
motor itu bergeming. "Sudah, sudah jalan sana. Bikin macet saja kau!" semburnya
garang sambil mengibas-ngibaskan tangan.
"Siap. Siap komandan. Terima kasih, Pak," kataku terbungkuk-bungkuk, sambil menaruh tangan kanan di kening memberi salam hormat. Tanpa menunda lagi, aku menggas bebek
kurus ini secepatnya mendaki Jalan Ciumbuleuit sambil berkali-kali berbisik, "Alhamdulillah... Alhamdulillah..."
113 Rumah ini besar dan asri, tidak jauh dari kampus Unpar.
Ibu Widia sendiri yang membukakan pintu dan mengantarkan
aku ke kamar belajar Tio, anaknya yang kelas 3 SMP. Tio yang
sedang asyik main game tampak malas-malasan melihat aku
datang. "Dik Alif, tolong bantu Tio mengerjakan soal-soal
Inggris dan Indonesia. Dia itu pintar tapi malas kalau belajar
sendiri. Sedangkan saya dan suami sama-sama kerja sehingga
tidak sempat mendampingi dia belajar setiap hari. Padahal
kami ingin sekali dia lulus dengan nilai baik supaya bisa masuk SMA terbaik. Kalau tidak di sini, ya di Australia atau
Singapura," katanya dengan sungguh-sungguh.


Ranah Tiga Warna Buku 2 Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sebuah ironi. Menyekolahkan anak jauh ke luar negeri
tidak masalah buat mereka. Sedangkan bagi Tio, dia hanya
tinggal mengangguk untuk bisa dikirim sekolah ke luar negeri.
Sementara bagiku, mengajar privat ini benar-benar untuk mencari sesuap nasi demi menyambung hidupku sampai beberapa
minggu ke depan. Ibu Widia baik hati, menyediakan teh hangat dan penganan. Dia setuju dengan jadwal privat 2 kali seminggu yang
tidak mengganggu kuliahku. Honor mengajar ini tidak banyak, tapi cukup membantuku untuk ongkos transportasi dan
membeli makan pagi yang lebih layak dibanding bubur ayam
kebanjiran air. Alhamdulillah, tapi uang ini belum menutupi
semua kebutuhanku untuk sebulan.
Maka tanpa ragu lagi, aku sambut tawaran Wira untuk menjadi distributor dagangan tantenya, menjadi penjaja parfum
114 dan produk perawatan rumah. Aku pikir, tidak ada salahnya
aku coba, selama usaha halal. Dengan menekan gengsi dan
egoku sedalam-dalamnya, aku menenteng sebuah tas berat
yang disesaki daganganku berkeliling Kota Bandung setiap
sore dan malam, sepulang kuliah. Dari satu gang ke gang
lain. Dari satu rumah ke rumah lain. Dari satu pintu ke pintu
yang lain. Inilah rupanya kerja door to door itu. Bukankah ada
pendapat bilang, kalau kita mengetuk pintu, pasti akan dijawab. Masalahnya dijawab apa" Diterima, disuruh pergi, atau
dimarahi karena mengganggu orang tidur siang.
Sudah seminggu berjalan aku hilir-mudik dengan barang
dagangan ini. Rasanya tulang punggungku rontok menanggung
beban ranselku yang berat. Perasaanku juga capek, karena aku
harus berbusa-busa bercerita tentang keunggulan produk, tapi
hanya segelintir orang yang membeli. Kerja ini jauh lebih
berat daripada yang aku bayangkan. Kenapa Engkau beri aku
cobaan seperti ini ya Tuhan" Untunglah setiap keluhanku
makin menjadi-jadi dan dramatis, aku ingat lagi Mang Udin,
tukang sepatu satu tangan di Pasar Simpang itu. Aku tiba-tiba
malu besar karena telah meratapi nasib dengan cengeng.
115 Bordir Kerancang andai telah menelepon ibunya, Mak Tuo Bainar, untuk
memesan 30 potong dagangan, terdiri atas mukena,
bahan baju bordir kerancang24, dan sulam kapalo peniti25, serta
songket Pandai Sikek26 untuk daganganku. Aku diberitahu
harga pokok saja dan boleh menjualnya dengan harga terserah
aku. Selain itu barang boleh aku bayar setelah laku terjual.
Aku senang dengan aturan ini karena membuat aku tidak
punya risiko rugi uang. Randai ternyata serius membantuku
untuk berjualan pakaian. Sejak itu, selain menawarkan produk dari Wira, aku sekarang juga menjajakan kain dari Bukittinggi ini ke berbagai
acara ibu-ibu. Ada arisan, pertemuan keluarga, sampai rapat
Persit Kartika Chandra Kirana di Seskoad, Buah Batu. Bahkan
dengan menelan bulat-bulat gengsiku, jualan pun aku bawa
masuk sampai ke ruang dosen dan ruang kuliahku. Hanya
rumah kos Raisa yang belum aku datangi untuk berjualan.
Bordir kerancang: bordiran halus khas Bukittinggi dengan "lubanglubang" yang terbentuk dari jalinan benang bordir.
Kapala peniti: kain sulam dibuat dengan membulatkan benang lalu dijahitkan ke kain, persis seperti kepala peniti sehingga menjadi sulaman yang
sangat cantik. Pandai Sikek: sebuah kampung di kaki Gunung Singgalang yang
terkenal dengan tenun songketnya yang indah.
116 Dalam hanya hitungan bulan setelah aku membuat perjanjian dengan diri sendiri, aku sekarang telah punya tiga pekerjaan paruh waktu: mengajar privat, menjual barang katalog
dari tantenya Wira, dan tentu saja kain produksi Minang dari
Randai. Akibatnya, jadwal hidupku berubah drastis. Tidak ada
lagi waktu leha-leha. Pagi kuliah, siang mengajar, sore dan malam habis untuk mencari nafkah.
Biasanya baru jam 10 malam aku kembali ke kamar kos mengempaskan badanku yang terasa remuk di kasur tipis. Bahuku pegal-pegal, jari-jari tanganku perih dan merah karena
menenteng plastik barang dagangan yang berat ke sana kemari. Hidup yang letih. Tapi aku bekap mulutku supaya tidak
mengeluh. Aku memarahi diriku sendiri kalau mulai merengek
cengeng. Bolehlah badan kurusku ini perih, sakit, bahkan
luka, tapi hatiku harus terus besar dan tidak boleh menyerah.
Yang aku pertaruhkan di sini adalah kelanjutan kuliahku dan
bagaimana bisa bertahan hidup di Bandung. Yang aku kejar di
sini adalah bagaimana bisa bahkan mengirimkan uang untuk
Amak. Pesan Ayah kembali berputar di kepalaku: "Alif, bela
adik-adik dan amakmu. Rajinlah sekolah."
Apa gunanya masa muda kalau tidak untuk memperjuangkan
cita-cita besar dan membalas budi orangtua" Biarlah tulang
mudaku ini remuk dan badanku susut. Aku ikhlas mengorbankan masa muda yang indah seperti yang dinikmati kawankawanku. Karena itu aku tidak boleh lemah. Aku harus keras
pada diriku sendiri. Pedih harus aku rasai untuk tahu benar
rasanya senang. Harus berjuang melebihi rata-rata orang lain.
Man jadda wajada! 117 "Yes" yes" selesai juga ujian semester kita!" seru Wira
sambil meninju-ninju angin.
"Yuk, kita rayakan dengan jalan bareng ke Yogya!" seru
Tata, kawan kuliahku yang selalu punya ide jalan-jalan. Jangankan untuk libur semester, libur akhir pekan saja dia hampir selalu punya rencana libur.
"Siapa takut" Gimana kalau kita naik kereta rame-rame,
pasti seru," sambut Agam. Teman-teman satu angkatanku banyak yang merubung dan mengangkat tangan setuju.
"Kita konvoi naik mobil saja. Ayo, siapa saja yang mau
ikut?" kata Memet, seperti biasa siap membantu semua orang.
Dia menyiapkan kertas dan bolpoin untuk mendata teman
yang mau ikut. "Lif, ikut, kan?" tanya Wira.
Aku menggeleng lemah. Bukan aku tidak mau jalan-jalan
bersama teman-teman. Mau sekali malah, dan aku merasa
sangat butuh liburan. Tapi dengan kondisi keuanganku sekarang, aku tidak bisa. Selama aku belum punya uang cukup
untuk mandiri di Bandung, maka banyak keinginan yang
harus aku tunda. Libur semester yang pendek ini aku akan
gunakan untuk bekerja lebih banyak dan aku telah minta izin
kepada Amak untuk tidak pulang.
Libur adalah masa aku bisa menjajakan barang dagangan
dari pagi sampai malam. Peluang transaksi akan semakin besar
karena aku bisa memilih kapan orang yang aku datangi sedang
118 bersantai di rumah. Mereka lebih punya waktu mendengarkan
aku mempresentasikan apa pun yang aku bawa. Kali ini aku
berkeliling ke beberapa kompleks perumahan di Bandung, termasuk juga ke kompleks perwira di Seskoad di Buah Batu.
"Maaf, Den Kasep, bulan ini Ibu belum dapat arisan.
Mungkin bulan depan ya, Dik," kata Ibu Tin, seorang istri jenderal dengan logat Sunda yang halus. Ibu Tin salah satu langganan terbaikku. Sebelumnya dia telah membeli kain bordir
kerancang dan kapalo peniti, mukena, dan cairan pembersih
serbaguna. "Terima kasih Bu. Bulan depan saya kunjungi lagi," kataku
pamit. Aku masuki kompleks perumahan lain di kawasan Buah
Batu. Aku coba mengetuk dari satu pintu ke pintu dengan
hasil hanya sebuah sampel parfum mungil yang laku. Tampaknya hari ini bukan hari yang mujur untuk berjualan.
Ketika senja melingkupi Bandung, aku sudah berjalan sampai
ujung kompleks, sampai tidak ada lagi pintu rumah yang bisa
aku ketuk. Di depanku hanya ada gerumbul semak belukar
dan jalan setapak menuju jalan besar. Aku mengembuskan napas dan rasa nyeri merayap di belakang kepalaku.
Rasanya aku telah berusaha sampai penghujung batas upayaku. Aku telah berjalan sampai batas, paling tidak batas kompleks ini. Aku berdiri mematung, lalu menunduk, menatap
nanar si Hitam yang setiaku menemaniku. Ya Tuhan, aku merasa kesepian. Apakah memang hamba akan terus seperti ini"
Kapankah hidup ini akan berubah"
119 Setetes air jatuh di lensa kacamataku. Dua, tiga, dan banyak
tetes lain menyusul. Aku menengadah ke langit senja yang
tiris. Ini jelas senja yang berbeda dengan yang aku alami dulu
di Pondok Madani bersama kawan-kawanku Sahibul Menara.
Dulu senja kami adalah senja oranye benderang yang subur
dengan impian. Kali ini langit senja yang kalut. Berwarna
lembayung pekat dan mulai menumpahkan kemuraman.
Setiap tetes dingin hujan terasa menghunjam kulitku.
Aku berlari menyeret kakiku melintas jalan setapak yang
dikelilingi belukar menuju jalan besar. Tapi garis-garis hujan
semakin rapat sehingga aku memutuskan untuk berteduh di
sebuah bangunan tua yang reyot. Aku rapatkan punggung ke
dinding seng yang berkarat dan rapuh bolong-bolong untuk
menghindari tempias. Sinar sore yang tipis semakin sayup dan
tempatku berteduh hanya mendapat temaram dari jalan raya
yang lengang di ujung jalan setapak.
Tiba-tiba aku mendengar gedebuk-gedebuk dan dinding
seng yang aku sandari bergetar-getar. Belum aku sadar apa
yang terjadi, dua bayangan hitam mendekat. Sesosok badan
besar berwajah kelam dan berbaju hitam menghadang di depanku. Aku terloncat kaget. Di keremangan, aku hanya bisa
menangkap matanya yang berkilat-kilat. Kerjapan kilat di
langit memperlihatkan sekilas mukanya yang legam ditutupi
cambang lebat. Tangannya menggenggam sebuah benda bengkok berkilat. Sebuah celurit. Bayangan hitam kedua mendekat
dari arah belakangku. Tubuhnya lebih kurus tinggi, seperti
tiang telepon karatan. Sekilas aku melihat bekas baret luka
melintas dahinya. 120 "Maneh boga rokok" Punya rokok?" geram si cambang lebat.
Giginya yang besar-besar dan kuning seperti akan berloncatan
keluar dari mulutnya. Aku menggeleng kecut. "Punten, saya tidak merokok, Aa."
Telapak tangannya mengibas-ngibas di udara. Lengan yang
basah itu terkena selarik sinar lampu. Tato berbentuk rantai
mengular dari pergelangan sampai ujung lengan kanannya
yang gempal. Di genggamannya, celurit semakin berkilat-kilat.
Aku semakin mengerut. "Aing tidak mau rokok biasa. Tapi rokok yang tidak perlu
disundut. Rokok yang dari kertas yang ada nomornya," geram
dia dengan keras. Aliran darahku rasanya membeku, dingin.
"Aa, saya cuma tukang jualan. Nggak punya duit karena
jualan hari ini nggak laku-laku," kataku lirih. Dalam sakuku
ada uang modal jualan. Aku tidak sudi menyerahkannya kepada mereka begitu saja.
Si cambang ini melambaikan tangan dan bayangan hitam
kurus di belakangku mendengus sambil bergerak mendekat.
Tiba-tiba napasku sesak. Tulang tangannya yang kurus menjepit
kerongkonganku dari belakang. Aku ingin meronta tapi urung
karena sebuah benda dingin melingkari dan menekan urat leherku. "Mau leher maneh ditebas celurit atau....?" ancamnya.
Aku diam saja antara takut dan bingung. Dengan kasar dia menekan celurit lebih keras lagi. Aku terpekik ketika rasa perih
seperti teriris menyentuh kulit leherku. Nyaliku benar-benar
ciut. Ya Allah, lindungilah aku.
121 "Ampun, ampun, Aa. Ambil saja semua, tapi jangan lukai
saya." Aku mendengar suaraku bergetar-getar di tengah dentangan tetes hujan di atap seng di atasku.
Tadi aku sempat mengepal-ngepalkan tinjuku. Ingin rasanya
aku hantamkan sekeras mungkin kepada dua pembegal jahanam ini. Melabrak dengan pukulan silatku yang mungkin
sudah karatan karena tidak pernah diulang. Tapi aku melawan
si cambang lebat dan si kurus sekaligus" Rasanya aku tidak
akan mampu. Aku bukan Said yang jago silat. Celurit yang
menempel di leherku terlalu tajam. Sedangkan badanku entah
kenapa terasa sangat lemas sejak siang tadi. Bukan saat yang
tepat untuk menyabung nyawa. Apalah artinya uang modalku
dibanding selembar nyawa ini.
Si cambang menggeram lagi. "Maneh mau main-main lagi?"
Aku hanya bisa menggeleng lemah. Perih di leher seperti
membuatku bisu. Dia merogoh semua kantongku dan mengambil setiap lembar dan koin yang ditemukan. Bahkan jam tangan murahku
juga dipereteli. Si cambang bersungut-sungut. Mungkin tidak merasa dapat
korban yang berduit. Tangannya mengibas-ngibas lagi dan si
kurus melepaskan kalungan celurit di leherku. Buru-buru aku
menyentuh leherku yang perih. Ujung jari-jariku basah oleh
darah tapi untung hanya sobek di kulit.
"Apa isi tas maneh?" Si cambang menggeram lagi.
122 Takut bertingkah, aku berlutut membuka tas dan memperlihatkan parfum, odol, dan mukena jualanku. Tangannya
mengobrak-abrik dengan kasar. Mengambil beberapa barang
sembarangan, termasuk odol. Mungkin dia merasa harus
menggosok giginya yang kuning seperti jagung muda. Si kurus
mencampakkan dompet ke depanku. Kosong.
Aku masih mencoba memohon. "Aa, kasihanilah saya. Paling tidak sisakan saya ongkos untuk pulang ke Dago."
Si cambang tidak menjawab, hanya menyeringaikan gigi
kuningnya. Matanya tetap liar, bahkan sekarang menusuk ke
kakiku. Ke si Hitam. "Kayaknya nomor sepatu maneh pas sama aing. Buka!"
"Tolong, Aa, ini satu-satunya sepatu saya." Bukan cuma
itu, ini sepatu kenangan khusus dari Ayah.
"Buka" Buka! Nanti maneh beli lagi yang baru!"
Melihat aku diam saja, kedua orang ini kembali menggertak
maju. Celurit di tangan si kurus melambai-lambai. Aku menghela napas berat. Apakah aku pantas menyabung nyawa demi
si Hitam" Ampuni aku, Ayah. Aku tidak bisa menjaga hadiahmu. Aku menunduk untuk mengurai tali sepatu hitam. Kaki
telanjangku menjejak tanah yang becek dan basah.
Dengan terkekeh sumbang, si cambang ini merenggut si
Hitam yang masih aku pegang. Dia memasukkan sepatuku ke
dalam sebuah plastik hitam bersama barang yang lain. Mereka
melangkah menjauh. Tergesa-gesa.
Untuk terakhir kali aku berusaha, mungkin masih ada harapan. "Aa, punten, sepatu itu satu-satunya warisan ayah saya.
123 Dia baru meninggal di depan mata saya!" teriakku parau. Kedua orang hitam itu seperti tidak menghiraukan suaraku. Mereka terus berlalu di tengah gerimis. Aku menunduk lesu. Aku
merasa dirampok sampai ke lubuk hati. Habis semuanya.
Tiba-tiba sebuah plastik hitam jatuh bergedebuk tepat di
genangan air yang cokelat. Air kotor ini tidak ampun menciprati baju dan mukaku. Tapi aku tidak peduli. Alhamdulillah,
di dalam plastik itu masih ada si Hitam. "Nih, ambil lagi
sepatu jelek dan bau maneh!" teriak si cambang yang segera
menghilang di balik senja yang makin gelap.
Aku berjongkok sebentar. Sebelum memasang si Hitam,
aku rogoh alas dalam sepatu yang kanan. Di bawah bagian
tumit aku selalu selipkan beberapa ribu untuk berjaga-jaga.
Kali ini ada manfaatnya. Paling tidak untuk ongkos angkot
pulang. Aku angkat tas yang sekarang begitu ringan sambil
bergumam, "Ya Tuhan, apa salahku?"
Hujan seperti berlari kian kemari. Guntur saling menggertak
di atas sana. Badanku basah kuyup. Ujung rambutku masih meneteskan air ketika aku akhirnya sampai di Sekeloa. Dengan
menyeret-nyeret kaki yang rasanya seberat sekarung beras,
akhirnya aku sampai juga di pintu rumah kos. Aku rogoh saku,
mencari-cari anak kunci rumah. Bunyi gemerincingnya ada,
tapi tanganku tak kunjung bisa mencapai anak kunci ini. Aku
mencoba lagi dengan geregetan. Tetap tidak bisa. Dan aku
sadar, yang salah bukan kunci, tapi salah tanganku yang tiba124
tiba kaku dan tiba-tiba rasa lemas merambat ke semua bagian
tubuhku. Tanpa kuasa aku rebah ke lantai. Seluruh badanku
nyeri. Lalu panas. Lalu menggigil. Berkunang-kunang. Aku
coba memanggil Randai dan teman-teman kos lainnnya, tapi
tidak ada suara yang keluar dari tenggorokanku. Dunia terasa
gulita. Begitu kelopak mataku terbuka, pemandangan di depanku
adalah sebuah lampu besar di ruang yang penuh muka temantemanku. Hidungku menangkap aroma obat yang kental.
"Lif... Lif... bagaimana rasanya sekarang?" sapa muka yang samar-samar seperti Randai sambil menepuk-nepuk bahuku.
"Lemas," kataku lirih. Aku coba menggerakkan badan, tapi
punggung dan kepalaku linu serta perutku perih.
"Kami menggotongmu ke klinik ini, tadi kamu pingsan di
depan rumah," kata Asto.
Seseorang berpakaian putih dan berstetoskop masuk ke


Ranah Tiga Warna Buku 2 Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ruangan. Dia mendekat sambil membaca kertas di tangannya.
"Ada kemungkinan Mas diserang bakteri Salmonella typhi,"
kata dokter ini. Aku pernah membaca di majalah Intisari, ini
bakteri yang menyerang perut.
"Maksudnya apa, Dok" Gawatkah?" jawabku lemas. Dokter
menggeleng sambil tersenyum.
"Itu penyebab sakit tifus. Saran saya, Mas istirahat total dulu.
Lebih baik istirahat di rumah sakit supaya cepat sembuh."
Aku menggeleng berkali-kali. Aku bersikeras pulang dan
istirahat di kos saja. 125 Sudah 20 tahun aku hidup, tapi belum pernah sekali pun
aku sampai harus tidur di rumah sakit. Aku paling takut dengan rumah sakit dan tidak kuat dengan baunya. Apalagi kali
ini aku tidak tahu bagaimana membayar biayanya.
Randai dan teman-teman satu kos serta Bibi Ipah bahu-membahu merawatku. Geng UNO yang sudah pulang dari Yogya
berkali-kali datang menjenguk aku yang hanya terbujur lemas.
Kecuali satu kali. Ya, hanya satu kali aku bisa duduk lurus-lurus
di kasur, bersandar ke dinding. Itu pun karena terkejut dan
malu. Raisa dan kawan-kawannya datang mengantarkan sekantong jeruk dan berdoa untuk kesehatanku. Dengan segenap
kekuatan, aku coba duduk dan tersenyum walau badanku linu
minta ampun. Aku tidak mau terlihat tidak berdaya di depan
gadis berkilau ini. Berbaring terus membuatku bosan dan pegal. Aku pernah
mencoba mengangkat badan, tapi belum lagi berdiri lurus,
kepalaku berdenyut-denyut ngilu. Aku rebah kembali. Yang
bisa aku lakukan cuma bermenung. Permenungan yang panjang. Dari balik selimut aku berbisik kepada Tuhan dan mempertanyakan nasibku.
Ya Tuhan, kenapa Engkau beri aku ujian berlipat-berlipat
seperti ini" Di manakah kemudahan yang Engkau janjikan setelah kesukaran itu" Aku lelah sekali.
Telah aku luruskan niat menuntut ilmu, telah aku sempurnakan usaha dengan man jadda wajada, telah aku curahkan
segala doa kepadaMu. Tapi lihatlah kini, setelah semuanya
aku tunaikan, nasibku bukannya semakin baik, tapi tetap jelek. Jawaban yang datang adalah cobaan yang bertubi-tubi.
126 Cobaan yang menggoyahkan hatiku. Ke mana lagi aku akan
mengadu dan berharap selain kepada Engkau" Apa salahku"
Aku malu mengakui, tapi dalam hati aku mulai menyangsikan man jadda wajada yang selama ini aku percayai. Apakah memang kerja keras itu menghasilkan kesuksesan" Apa
betul man jadda wajada itu hukum alam" Kenapa aku melihat
orang tanpa kerja keras mendapat segala kemenangan" Tidak
usahlah jauh-jauh. Aku lihat Randai, kawanku ini. Dia selalu
bermandikan kemudahan. Dia dapat semua impiannya: sekolah di ITB, uang yang cukup, nilai kuliah yang tinggi. Bahkan
semakin hari nasibnya aku lihat terus semakin baik. Sebaliknya, nasibku semakin hari semakin buruk.
127 Man Shabara Zhafira asurku yang tipis terasa semakin pipih karena terus ditindas punggungku selama berminggu-minggu. Duniaku
rasanya menciut hanya menjadi sepotong kasur, dan langitku
hanya plafon kamar. Sempit dan muram. Ingin rasanya lari
dan membebaskan diri dari kemuraman yang mencekik ini.
Tapi setiap kepal semangatku seperti telah habis disedot kemalangan setelah kemalangan.
Bagaimana aku akan terus mengejar impian menyelesaikan
kuliah" Uang kuliah belum mampu aku bayar, biaya hidup
dan kos tidak punya. Bahkan semua biaya perawatan di rumah
sakit dan biaya makanku bulan ini adalah hasil berutang kepada Randai. Hidupku rasanya seperti prajurit yang telah kalah perang, pedang sudah lama patah, baju zirah telah rapuh
dilahap karat. Tidak terasa, musim libur kuliah sudah berakhir. Temantemanku sudah mulai sibuk kuliah dan tidak bisa sering menjengukku lagi. Kadang-kadang aku terjaga tengah malam.
Mataku terpejam tapi isi kepalaku terus terjaga sampai subuh.
Aku bisa mendengar segala sesuatu, jendela kayu tetangga
yang berderak-derak dibuka-tutup oleh angin, siulan burung
malam, jangkrik dan kodok yang bersahut-sahutan. Aku merasa sunyi sekali.
128 Untuk mengusir bosan, pernah aku mencoba membaca
buku pelajaran atau koran. Tapi setiap aku coba membaca
sesuatu, rasanya dunia berputar. Akhirnya aku kembali mendengar radio saja, sambil memicingkan mata.
Aku suka sekali mendengar KLCBS FM, stasiun radio
beraliran jazz. Alasanku suka karena iklan hanya lewat sekalisekali, dan penyiar menyisipkan renungan dan nasihat bernas
dengan gaya yang intelek. Aku sudah kembali memejamkan
mata, ketika lamat-lamat suara seorang penyiar laki-laki mengalir tenang.
"...begitulah grup Spyro Gyra dengan lagu Morning Dance,
komposisi yang sangat apik buat kita.
"Sahabat KLCBS, sebuah syair Arab mengatakan, siapa yang
bersabar dia akan beruntung. Jadi sabar itu bukan berarti pasrah,
tapi sebuah kesadaran yang proaktif. Dan sesungguhnya Allah itu
selalu bersama orang yangg bersabar."
SABAR" Telingaku bagai berdiri. Terasa asing. Padahal
kata ini dulu sangat familier bagiku. Aku pikir-pikir lagi,
kapan aku terakhir bersabar. Aku mencoba bersabar ketika
mengantarkan jasad Ayah sampai ke lahat. Aku sabar ketika
harus ikut ujian tanpa persiapan memadai. Aku sabar ketika
kembali ke Bandung sebagai anak yatim. Itu sejauh yang aku
ingat aku masih sabar. Setelah itu sabar aku ganti dengan
kesal dan gerutu. Apalagi ketika upayaku mencari duit tidak
gampang, dan semakin menjadi-jadi ketika aku jatuh sakit 3
minggu yang lalu. Kosakata sabar seperti hilang dalam kamus
hidupku. Aku bahkan mulai mempertanyakan nasib.
129 Pintu tripleks kamarku diketuk. "Den, ini ada surat baru datang," kata Bi Ipah memberikan secarik surat yang baru diantar
tukang pos. Surat dari Amak rupanya. Memang seminggu lalu
aku dengan susah payah bisa menulis surat pendek, tapi aku
tidak bercerita kepada Amak bahwa aku sedang sakit. Aku tidak
mau Amak tahu dan lalu menjadi cemas dengan kondisiku. Sudah begitu banyak yang dipikirkan beliau. Sebagai anak lakilaki, paling tua lagi, aku harus bisa tegar menghadapi hidup
sendiri. Lekas aku buka sampul surat, dan membaca kalimat awal
Amak: "Kenapa sudah berapa lama ini Amak punya perasaan
tidak enak" Apakah Ananda sakit" Teguhkan hati untuk terus
berjuang. Selesaikanlah apa yang Ananda mulai, biar Amak
yang memikirkan yang di kampung. Allah bersama kita....
Perbanyaklah zikir dan sabar, maka Tuhan akan membantu
kita." Dengan mata batinnya, Amak seperti bisa merasakan apa
yang terjadi pada anaknya. "Amak, iya ambo sedang sakit keras,
tapi ambo tidak ingin Amak cemas," bisikku meminta maaf.
Dan beliau selalu tahu nasihat apa yang sedang aku butuhkan. Di kondisi terpuruk ini aku disuruh Amak memperbanyak sabar. Betapa butuhnya aku nasihat seperti ini. Suara
penyiar KLCBS kembali terngiang di kupingku. "Siapa yang
bersabar akan beruntung." Sesuatu tiba-tiba berkelebat di
ingatanku. Hei, aku tahu itu. Aku bahkan pernah tahu versi asli
kata mutiara dari Arab itu. Bunyinya: Man shabara zhafira.
130 Tiba-tiba pula aku merinding, merasakan energi semangat
dari Pondok Madani mengerubutiku. Dan kenangan itu kini
hadir bertubi-tubi. Tampak jernih di ingatanku ketika Kiai Rais
tampil dengan sangat memukau di depan kami anak kelas 6
yang sedang berjuang mempersiapkan ujian akhir. Melihat ada
sebagian yang kelelahan dan menjadi malas, beliau mengumpulkan kami dan berbicara dengan pelan dan penuh perasaan.
"Yang namanya dunia itu ada masa senang dan masa kurang
senang. Di saat kurang senanglah kalian perlu aktif. Aktif
untuk bersabar. Bersabar tidak pasif, tapi aktif bertahan, aktif
menahan cobaan, aktif mencari solusi. Aktif menjadi yang
terbaik. Aktif untuk tidak menyerah pada keadaan. Kalian
punya pilihan untuk tidak menjadi pesakitan. Sabar adalah
punggung bukit terakhir sebelum sampai di tujuan. Setelah ada
di titik terbawah, ruang kosong hanyalah ke atas. Untuk lebih
baik. Bersabar untuk menjadi lebih baik. Tuhan sudah berjanji
bahwa sesungguhNya Dia berjalan dengan orang yang sabar."
Dan pada hari terakhir kami di PM, beliau kembali tampil
di khutbatul wada", pidato perpisahan. Bagai sedang berbicara
dengan anaknya yang paling dicintai, Kiai Rais menatap satu
per satu mata kami dan berbicara dengan lemah lembut:
"Hari ini sudah kami anggap cukup pendidikan dan latihan
yang kami berikan pada kalian semua. Apa pun kelebihan dan
keterbatasanmu, jadilah orang yang berguna untuk dirimu, keluargamu, masyarakatmu, sebanyak mungkin dan seluas mungkin.
"Anak-anakku" Dalam menjalani hidup, Ananda pasti
menghadapi banyak problematika kehidupan yang kadang131
kadang terasa sangatlah berat. Namun, Ananda janganlah
sampai putus asa karena putus asa adalah penyakit yang menggagalkan perjuangan, harapan, dan cita-cita. Problem tidak
akan selesai hanya dengan disusahkan, tetapi harus dipikirkan
dan dengan selalu dekat kepada Allah serta selalu mohon
hidayah dan taufikNya. Maka berbuatlah, berpikirlah, bekerjalah semaksimal mungkin, menuju kesempurnaan manusiawi yang lebih bertakwa.
Aamin yaa robbal "aalamin."27
Aku terlonjak seperti disengat listrik. Aku ingat sesuatu.
Tanganku cepat merogoh ke bawah bantal, mencari dompetku.
Ini dia, di salah satu kantong kecilnya, terselip secarik kertas
yang dilipat kecil-kecil. Seingatku, sudah 5 tahun kertas ini
ada di dompet ini. Untung tidak termasuk yang diambil oleh perampok tempo hari. Lipatan yang agak menguning ini aku buka.
Tampak tiga baris tulisan tebal bertinta biru yang mulai pudar.
Jariku bergetar ketika aku mengeja satu-satu tulisan ini:
man jadda wajada: siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses
man shabara zhafira: siapa yang bersabar akan beruntung
man sara ala darbi washala: siapa yang berjalan di jalannya akan
sampai ke tujuan Disarikan dari nasihat para kiai Gontor di acara khutbatul wada, ketika
lulusan akan berjuang di masyarakat.
132 Ketiganya adalah pelajaran pertama yang aku terima di
Pondok Madani28, yang pernah menancap dalam sekali di
hatiku. Hari ini, sekarang juga, aku membutuhkan segala
energi dan semangat dari coretan kertas tua ini. Membaca
kembali coretan mahfuzhat ini, kerongkonganku terasa asin,
tanpa terasa ada yang menetes, jatuh ke kertas ini. Butir
itu tergenang sebentar sebelum meresap ke pori-pori kertas,
membuat kawah kecil yang lembap.
"Coba kalian bayangkan, misalnya Thomas Alva Edison
yang menciptakan lampu ini kurang sabar, tidak tahulah kita
bagaimana dunia ini jadinya. Dia gagal dalam eksperimen
membuat lampu sampai ribuan kali. Tapi dia sabar, karena
tahu di depan ada jalan. Bila dia sabar dan terus man jadda
wajada, tentu lama-kelamaan dia akan beruntung. Dia bertahan
dan mencoba lagi, dan terciptalah lampu pijar yang menjadi
penerang dunia. Kalau dia tidak sabar, kita mungkin masih
pakai obor untuk menerangi rumah. Tuhan akan menerangi
jalan orang yang sabar...." Begitu jelas nasihat Ustad Salman
dulu kepada kami sekelas ketika membahas "mantra" man
shabara zhafira. Hari ini aku memutuskan bangkit dari sakitku. Aku harus
lawan rasa lemas dan pusing. Dengan menggigit bibir menahan
badanku yang masih nyeri, aku tarik diriku untuk duduk di
Pondok Madani terinspirasi oleh Pondok Modern Gontor, tempat
penulis sekolah. Ketiga pepatah itu diajarkan di mata pelajaran Mahfuzhat.
133 kursi. Aku ambil buku diary-ku yang sudah berdebu tipis karena lama tidak pernah dibuka.
Baru saja aku akan menuliskan tekadku untuk bangkit di
diary ini, rasanya dunia berputar dan kunang-kunang beterbangan mengerubutiku. Aku doyong dan merangkak kembali
ke kasur. Tidak berapa lama kemudian suhu badanku panas
dan dunia terasa sangat dingin. Peluh dingin memercik dari
segala pori. Pangkal leherku berdenyut-denyut nyeri. Aku ambruk lagi ke kasur. Kenapa berat sekali cobaan untuk kembali
bangkit" Hampir saja aku menyerah dan kembali tidur yang
panjang. Tapi man shabara zhafira mengobarkan lagi semangatku.
Aku genggam secarik kertas menguning tadi dan aku geretakkan gigi. Aku lawan semua rasa sakit. Aku harus paksa
diriku. Aku tidak ingin manja karena terlalu mengasihani diri
seperti ini. Kalau aku sudah menyerah pada nasib, siapa yang
akan membela diriku selain aku sendiri"
Apa aku akan lebih baik" Tidak.
Aku lebih maju" Tidak.
Aku lebih lemah" Iya.
Dengan segenap jiwa, aku tegaskan bahwa aku tidak mau
menjadi pecundang, orang yang kalah sebelum berjuang.
Setiap pikiran sumbang yang mencoba tumbuh di kepalaku,
aku serang balik. Aku anak yatim... Iya, TAPI YATIM YANG KUAT.
Aku tidak punya uang... Iya, TAPI AKAN SEGERA PUNYA.
134 Nasibku malang... Iya, TAPI AKAN SEGERA BERUNTUNG.
KALAU AKU MELEBIHKAN USAHAMAN JADDA WAJADA.
KALAU AKU BERSABAR MAKSIMALMAN SHABARA ZHAFIRA.
Aku kobarkan perang bubat di kepalaku. Aku babat habis
segala bisikan negatif di kepalaku. Aku sudah bosan dijajah
ketidakberdayaan. Aku ingin bebas. Aku ingin menang, aku
ingin menguasai kepala dan hatiku. Hati yang dikuasai pemiliknya adalah hati orang sukses.
Hari ini mataku terbuka dan hidup terasa lebih terang
di mata hatiku. Rupanya man jadda wajada saja tidak selalu
cukup. Aku hanya akan seperti badak yang terus menabrak
tembok tebal. Seberapa pun kuatnya badak itu, lama-lama
dia akan pening dan kelelahan. Bahkan culanya bisa patah.
Ternyata ada jarak antara usaha keras dan hasil yang diinginkan. Jarak itu bisa sejengkal, tapi jarak itu bisa seperti ribuan
kilometer. Jarak antara usaha dan hasil harus diisi dengan
sebuah keteguhan hati. Dengan sebuah kesabaran. Dengan
sebongkah keikhlasan. Perjuangan tidak hanya butuh kerja keras, tapi juga kesabaran dan keikhlasan untuk mendapat tujuan yang diimpikan. Kini
terang di mataku, inilah masa paling tepat buatku untuk mencoba bersabar. Agar aku beruntung. Agar Tuhan bersamaku.
Aku seret diriku keluar kamar pesakitan walau lututku
masih bergetar-getar seperti akan runtuh, dan badanku masih
135 kurus dan pucat. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang sabar
dan beruntung. "Man shabara zhafira!" pekikku di depan pintu.
Beberapa ekor ayam tetangga lari terbirit-birit mendengar aku
memekik-mekik. 136 Wasiat dari Dunia Lain akit tifus hampir sebulan membuat hidupku benar-benar
muflis. Bangkrut. Aku sudah berutang di mana-mana.
Dengan kondisi masih lemah begini, tidak mungkin aku
teruskan kegiatan mencari duit dengan jualan door to door.
Murid privatku juga sudah mencari guru baru. Apa akalku"
Aku sedang membolak-balik koran Kompas hari ini, mataku tertumbuk pada halaman opini. Judul tulisan itu "Solusi
Diplomatik Damai di Bosnia" dan penulisnya aku kenal.
Togar Perangin-angin, pengamat politik internasional dari
Bandung. "Jangan jadi jago kandang", itu dulu petuah Bang
Togar padaku setelah tulisanku masuk majalah Kutub. "Jago
kandang hanya berani menulis di majalah kampus. Jadilah
jago nasional, kalau bisa internasional. Menulislah di media
nasional. Dan yang jelas, kau bisa dapat penghasilan untuk
kuliah dan menabung," pidatonya waktu itu. Itu dulu, sebelum
aku memutuskan untuk berhenti berguru padanya, karena
merasa tidak cocok dengan gaya mengajarnya yang keras.
Sambil menarik-narik ujung rambut, aku berpikir. Janganjangan menulis adalah bidang paling pas denganku untuk
mencari uang. Walau aku berdarah Minang tulen, ternyata
berdagang bukan bakat terbaikku. Kalau aku mau membunuh
egoku dengan berjualan door to door, kenapa tidak menekan
137 egoku untuk kembali datang ke Bang Togar untuk berguru"
Kalau aku bisa menulis sebaik dia, dimuat di berbagai media,


Ranah Tiga Warna Buku 2 Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tentu aku bisa menutupi semua kebutuhan kuliah, bisa membayar utangku, bahkan mungkin bisa mewujudkan suatu hal
yang selama ini sangat aku impikan: mengirimi Amak uang.
Walau tempurung lututku masih bergetar-getar setiap melangkah, aku memberanikan diri keluar rumah untuk pertama
kali sejak sakit. Tujuanku: rumah kos Bang Togar.
Dia membuka pintu kosnya dengan muka masam. Belum
lagi aku bicara, dia menyemburku.
"Heh kau anak baru, ke mana saja kau selama ini" Aku
pikir kau hilang diculik. Masa baru menulis satu tulisan di
Kutub sudah senang minta ampun dan berhenti menulis.
Bagaimana akan maju kau di rantau!" katanya merepet dengan
alis terangkat tinggi. "Maaf, Bang, aku sakit tifus 1 bulan. Begitu sembuh, aku
langsung ke sini untuk belajar menulis lagi." Aku tidak perlu
memperparah rautku, karena badanku pasti kurus dan pucat
setelah sakit. "Enak saja 1 bulan. Kau hilang hampir setengah tahun, tau!"
hardiknya. Wah, dia ternyata tidak iba dengan penampilanku,
malah bisa menghitung berapa lama aku tidak terlihat.
"Maaf, Bang, sebelumnya aku harus pulang menjenguk
Ayah yang sakit keras. Beliau akhirnya dipanggil duluan, me138
ninggal." Menyebut tentang Ayah, rasanya kerongkonganku
kering dan tercekat. "Hah, meninggal" Ayah kau?" Muka garangnya tiba-tiba
seperti meleleh. Api di matanya tampak jinak.
"Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Kok kau tak cerita dari tadi?"
tuntutnya. Air mukanya berubah-ubah. Dia menarik napas
panjang dan menggeleng-menggeleng. "Sabar ya, Lif. Doakan
bapak kau sering-sering." Agak lama dia termenung sambil
menunduk dan berkomat-kamit, sampai aku tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Bang. Aku sudah berdamai dengan keadaan. Aku mencoba terus bersabar."
"Jadi sekarang kau tidak punya duit?" hantamnya tanpa
basa-basi. Dia seperti ingin mengalihkan pembicaraan dan
tidak peduli dengan berita dukaku lagi.
"Bangkrut habis, Bang. Karena itu aku datang ke sini.
Bukan buat meminjam duit, tapi ingin belajar hidup dari menulis. Aku ingin bisa menghidupi diri sendiri di rantau, dan
mengirimi Amak dan adik-adikku di kampung sana."
Dia melihat aku lagi dengan tajam. "Tapi kau kayaknya
kapok. Buktinya baru digojlok sekali sudah tidak datang lagi.
Aku sangsi..." Aku mengambil koran Kompas dari ransel dan menunjuknunjuk tulisannya yang dimuat. "Aku ingin bisa menulis
seperti ini. Kali ini kalau aku malas, maka taruhanku adalah
putus sekolah dan mati kelaparan di sini. Apa pun akan aku
hadapi untuk bisa terus kuliah."
"Yakin tahan" Aku akan didik kau keras seperti dulu, bah139
kan akan lebih keras. Siap kau?" tanyanya dengan nada mengancam.
"Siap, Bang," kataku mantap. Aku tidak punya pilihan lain
untuk menjawab. "Betul janji kau?" Dia mendekat kepadaku, matanya melotot
menuntut jawaban. Aku cepat-cepat mengangguk. Dia lalu
mengulurkan tangan. "Ayo salaman dulu, menandakan kau
tidak akan ingkar janji."
Baru saja tangan kami lepas bersalaman, dia berkata setengah memerintah, "Ayo. Kita mulai sekarang." Tanpa ba-bibu lagi, dia mengambil sebuah mesin ketik tua di bawah dipannya. "Coba kau ketik 2 halaman tulisan. Topik apa saja. Aku
tunggu sekarang juga!"
Haduh! Walau siap jadi muridnya, aku tidak mengira harus
menulis detik ini juga. Pakai mesin ketik butut pula. Ini kan
era komputer! Sejak hari itu, latihan keras kembali terulang. Bahkan makin menjadi-jadi. Pedang samurai merah berkelebat-kelebat.
Kertas dicoret dengan spidol merah, perbaiki tulisan, coret
lagi, perbaiki lagi. Berulang-ulang.
Aku tidak hanya ditempa untuk mengetik dan mengedit,
tapi juga dipaksa melakukan riset dan membaca beragam buku
mulai dari filsafat, retorika, teknis menulis, komunikasi massa,
ilmu logika, dan berbagai jurnal ilmiah. Bang Togar meng140 ajarkan kerangka tulisan yang kuat, gaya bahasa, kekuatan
paragraf pertama, judul yang tajam, argumentasi yang lengkap,
dan kesimpulan yang tuntas. Juga bagaimana berpikir sebagai
seorang redaktur opini yang harus selalu membaca banyak
naskah yang masuk ke redaksi.
Tidak jarang aku ditinggal Bang Togar bekerja sendiri di
kamar kosnya. Beberapa jam kemudian dia pulang dan tidak
sabar memeriksa hasil tulisanku. Aku dibuat berkeringat dingin
dan terseok-seok. Tapi aku telah memancang tekad, semakin
keras dia menempaku, semakin keras pula aku belajar. Dalam
hati bahkan aku menantang dia, "Mana lagi, apa lagi, berapa
kali lagi?" Akan aku layani semua tugas darinya. Targetku
jelas, aku ingin mampu membuat tulisan dengan kualitas layak
muat media massa, lokal dan nasional.
Setelah seminggu dipaksa memakai mesin ketik tua,
baru pada hari ke-8 aku boleh memakai komputer. "Nah, pengalaman pakai mesin tik itu biar kau tak manja dengan fasilitas. Menulis itu bisa dengan apa saja, tidak harus pakai komputer. Bahkan pakai tulisan tangan juga harus bisa," katanya.
Yang agak menghiburku setelah lelah digojlok seharian dan
pamit pulang, dia menumpangkan tangannya di bahuku dan
melihat langsung ke mataku sambil berujar dengan suara bagai
seorang abang kandung, "Sabar-sabar saja kau, ambil hikmahnya. Masih tahan, kan?"
Amin. Semoga aku bisa bersabar walau badan dan otakku
rasanya remuk. Bang Togar memperlakukan aku bagai murid
Shaolin yang menuntut ilmu kepada seorang suhu yang streng.
Aku mencoba menghibur diri dengan mengingat video The
141 Legend of Condor Heroes yang pernah aku tonton di rumah
Memet. Betapa beratnya Guo Jing mencari ilmu silat. Walau
tidak pandai, dia mati-matian belajar dan bersabar dalam
mencari ilmu. Dengan sungguh-sungguh dan bersabar akhirnya
dia menjadi pendekar sakti.
Setelah dua minggu pelatihan yang keras ini, coretan
merah dari Bang Togar semakin lama semakin sedikit. Pada
suatu malam, setelah aku disuruh menulis 1 artikel hanya dalam 1 jam, dia memanggilku duduk berangin-angin di teras
rumah kosnya. Lama dia diam sambil menatap lurus ke jalan
yang sepi dan tidak menghiraukan aku sama sekali. Telapak
tangannya menumpu rahang bergaris kerasnya. Aku mulai
resah. Apa dia mau bicara sesuatu karena kecewa dengan perkembangan menulisku"
Dia tiba-tiba merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah
amplop. Tanpa melihat ke arahku sama sekali, dia meletakkan
amplop itu di meja kecil antara aku dan dia. "Buka!" katanya
pendek. Matanya terus menancap lurus di jalanan. Amplop"
Bang Togar biasa menyimpan duitnya dalam amplop-amplop
yang masing-masing ditulisi berbagai pos pengeluarannya.
Mulai dari "belanja bulanan","kiriman ke orangtua","servis
mobil", sampai "sedekah".
Wah, jangan-jangan dia putus asa mengajar aku menulis
dan akhirnya memberi aku pinjaman duit saja agar tidak terus
belajar sama dia. 142 "Apa ini Bang?" tanyaku menggenggam amplop itu.
Dia tidak bersuara, hanya menaikkan dagunya, menyuruh
aku membuka. Aku buka amplop putih itu dengan hati-hati. Tidak ada
uang, tapi di dalam amplop ini ada sebuah amplop yang lebih
kecil. Beberapa baris tulisan tangan terbaca, "Kepada Yth.
Ananda Togar..." Sekilas aku merasa mengenal tulisan itu di
suatu tempat. Entah di mana dan tulisan siapa.
Tulisan itu bergaya halus kasar miring ke kiri, dengan tinta hijau tua. Tinta Quint warna hijau! Ya Allah, jantungku
berdesir-desir. Bulu romaku tiba-tiba meremang. Pasti mataku
salah. Bagaimana mungkin" Kenapa bisa ada di sini"
"Buka dan baca isinya," kata Bang Togar melihat aku raguragu menimbang amplop itu.
Dengan perasaan tidak menentu dan jari tangan gemetaran
aku buka amplop kedua ini. Aku lihat isinya selembar kertas
putih yang bergaris-garis dimulai dengan kata: "Ananda Togar
yang baik..." Aku baca seluruh isinya dengan terburu-buru.
"Terima kasih telah menjadi seorang guru dan kakak yang
baik. Meski kita belum pernah bertatap muka, anak saya
telah bercerita tentang kebaikan hati Ananda mengajari dia
menulis. Kepada Ananda, saya titipkan Alif selama dia hidup
di rantau. Semoga tidak ada keberatan di hati Ananda. Jauh
di lubuk hati, saya tahu telah meminta kepada tangan yang
tepat." Tidak panjang, tapi padat.
Dari tanggal yang tertera di pojok kanan atas, aku tahu
surat ini ditulis setengah tahun yang lalu. Hanya seminggu
143 sebelum Ayah meninggal. Mungkin Ayah telah punya firasat
bahwa umurnya tidak panjang dan tidak akan bisa membela
anak bujangnya terus untuk kuliah. Sehingga dia merasa perlu
menuliskan surat ini khusus untuk Bang Togar.
Perasaan hatiku tidak menentu. Aku tertegun membaca
kata-kata Ayah dan menyadari betapa beliau sangat memikirkan
kelanjutan kuliahku bahkan di saat maut akan menjemputnya.
Air liurku tercekat di tenggorokan. Mataku terasa pedas dan
hidungku basah. Aku terisak tapi tidak berbunyi.
Bang Togar melirik aku dengan sudut mata sambil menggigit-gigit bibir dan bilang, "Itulah, Lif, yang jadi beban beratku. Aku awalnya menanggapi biasa saja surat ini. Bahkan
tidak ada niat juga untuk melatih kau sekeras ini."
Dia berhenti sebentar. Menghela napas panjang.
"Tapi begitu tahu Ayah kau meninggal, aku sadar surat
ini artinya amanah besar, sebuah wasiat buat aku"mendidik
kau mandiri. Mana mungkin aku menolak wasiat dari seorang
bapak. Itulah tugasku dari almarhum, ayah kau," katanya
dengan wajah sungguh-sungguh menatapku tajam. Aku hanya
menjawab dengan diam. "Ya sudah, sekarang kau sudah tahu alasan kenapa aku keras, kan" Ayo latihan menulis lagi. Nih, kauperbaiki sedikit
lagi," katanya menyodorkan kertas koreksiannya padaku. Dia
memang orang Batak yang tanpa basa-basi. Keras, tapi aku tahu hatinya baik.
144 Lipatan Koran Basah ku kini sudah punya beberapa naskah tulisan opini yang
menurut Bang Togar sudah layak untuk dikirim ke koran
lokal. Tentu semuanya telah melalui proses coreng-moreng spidol merah yang kejam. Hanya satu nasihatnya: "Kalau naskah
kau ditolak, jangan berpikir naskah kau jelek."
"Iya, Bang," kataku mengangguk-angguk seperti burung
kakaktua. "Mungkin si redaktur sedang sakit, jadi tidak sempat membaca dengan teliti. Atau si redaktur kekurangan halaman
untuk memuat tulisan kau sekarang. Jangan pernah merasa
tulisan kau jelek. Tapi juga bukan berarti sudah bagus sehingga
merasa tidak bisa dibikin lebih bagus."
Aku mengangguk lagi. "Anggap saja kalau tulisan kau belum dimuat, maka media
itu yang rugi karena tidak memuat tulisan kita yang berkualitas
tinggi." Nah, aku suka cara berpikir ini, tidak pernah merasa
menjadi pihak yang rugi dan kalah, tapi orang lainlah yang
mungkin rugi. Setelah aku yakin artikelku berjudul "Diplomasi Alternatif
buat Negara Palestina" telah teruji dari sisi teknis, substansi,
dan newspeg29, aku siap maju bertarung. Sore itu, sepulang
Newspeg: dalam dunia media, perlu ada newspeg, yaitu kaitan sebuah
berita atau tulisan dan kejadian aktual sekarang.
145 kuliah, dengan naik angkot aku antar naskahku ke redaksi
sebuah koran daerah. Lima halaman tulisan dan file program
WordStar30 di disket besar aku masukkan ke dalam ransel dan
aku kepit erat bagai membawa emas batangan. Wira, Agam,
dan Memet memaksa untuk menemaniku ketika tahu aku akan
datang ke kantor redaksi harian Manggala untuk pertama kalinya
mengantar tulisan. "Anggap kami ini pasukan cheerleader
kamu, Lif," kata Wira cengengesan sambil berlenggak-lenggok
memperagakan gaya menari pemandu sorak ala NBA.
Kantor koran Manggala terselip di antara banyak gedung tua
peninggalan Belanda di kawasan Braga. Bangunannya bergaya
art deco bercat putih kusam. Ruang redaksi yang ada di lantai
dua kami capai setelah naik tangga dan melewati lorong gelap.
Dengan penuh harap dan takut-takut, aku masuk ke ruangan
redaksi. Tiga kawanku ikut berjalan seperti berjingkat-jingkat
di belakangku. Di depan pintu ada meja bertuliskan "Sekretaris Redaksi".
Seorang ibu bersasak tinggi dengan kacamata besar sibuk merapikan file. Dia acuh tak acuh. "Tidak bisa ketemu sekarang,
Pak Danang sedang rapat. Rapatnya pasti lama. Tinggalkan
saja naskahnya, nanti saya sampaikan," kata ibu itu mencerocos tanpa titik, tanpa melihat kepada kami. Tapi aku
sudah bertekad menyerahkan langsung ke tangan redaktur
opini ini. Berjam-jam pun aku akan setia duduk menunggu.
Dengan wajah tidak bergairah, kawan-kawanku terpaksa ikut
menunggu. WordStar: salah satu generasi pertama word processor, sebelum masuk
era MS Word. 146 Akhirnya seorang laki-laki separuh baya keluar dari ruang
rapat. Uban tipis melingkari tengah kepalanya yang botak.
"Siapa yang cari saya?" tanyanya mengedar pandangan kepada kami.
"Saya Alif, Pak. Mahasiswa HI Unpad, mau menyerahkan
tulisan untuk opini."
"Sudah pernah menulis di media?"
"Belum, eh sudah di majalah kampus, Kutub."
"Yah, itu tidak dihitung. Jadi ini pertama kali, ya?"
"Iya, Pak." Dia menerima tulisanku dengan tidak acuh.
Aku cepat-cepat memberi latar belakang, "Pak Danang,
tulisan ini saya persiapkan dengan latar belakang teoretis yang
kuat yang saya pelajari di kampus. Juga telah melalui sebuah
diskusi kritis dengan senior saya. Intinya, saya punya argumen
ilmiah bahwa kalau Palestina didukung dengan tekanan diplomasi PBB dan negara Arab, dan tidak ada halangan dari
Amerika Serikat, maka Palestina akan berhasil menjadi negara
yang berdaulat." Setelah mendengar aku mencerocos ini, barulah dia mengangkat kepalanya dan melihat langsung kepadaku. Dengan
datar dia berujar, "Semoga kata-kata kamu tadi tidak terlalu
dibesar-besarkan. Saya baca dulu. Opini yang terlalu teoretis
bisa membosankan. Selamat sore."
Aku menggaruk-garuk kepala. Semoga tulisanku tidak dianggapnya terlalu teoretis. Sambil menuruni tangga, kawan147
kawanku menepuk-nepuk punggungku. Mencoba membesarkan
hati, bahwa tulisanku akan lolos. Aku pun berdoa semoga
langkah pertamaku ini bisa berhasil.
Sejak hari itu, kerjaku adalah mendatangi loper koran.
Awalnya pura-pura ingin membeli, lalu melihat sekilas halaman opini, melipatnya rapi lagi dan mengembalikan ke
loper tadi. "Punten Aa, tidak jadi beli. Tidak ada tulisan saya,"
kataku. Sudah seminggu berlalu, tapi tidak ada juga tulisanku.
Mungkin belum waktunya. Pagi itu Bandung hujan lebat dan banyak teman yang
terlambat masuk kelas Politik Internasional, yang diajar Pak
Simarmata yang terkenal tepat waktu dan disiplin. Memet
tersaruk-saruk masuk kelas. Rambutnya basah meneteskan air.
Setelah melambaikan tangan dan bergumam sekejap untuk
minta maaf kepada Pak Simarmata, dia bergegas menuju kursi
di bagian belakang. Memet langsung mengguncang tubuhku.
"Sudah cetak.. sudah cetak...," katanya tersengal-sengal
dengan mata berbinar.

Ranah Tiga Warna Buku 2 Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Apanya yang sudah cetak?"
"Ini....," katanya sambil mengambil koran setengah basah
yang tadi dilipat di ketiaknya.
Aku buka pelan-pelan lipatan itu dan ini dia: terpampang
sebuah tulisan besar yang memenuhi setengah halaman koran.
Di bagian atas berjudul "Diplomasi Alternatif buat Negara
148 Palestina". Di bawah judul itu tercetak rapi: Alif Fikri, Pengamat masalah internasional. Mahasiswa HI Unpad. "Alhamdulillah," pekikku. Lupa kalau sedang ada kuliah. Tapi peduli
amat. Ini sejarah baru dalam hidupku. Tulisanku akhirnya
dimuat media massa. Mukaku bersemu merah karena senang.
Keributan kecil di sudut kelas ini membuat teman-teman
lain, juga Pak Simarmata, menoleh. Dia tampak terganggu
dan berjalan cepat ke arah kami. "Kalau mengganggu belajar,
silakan kalian keluar. Jangan mengganggu kelas saya," katanya
gusar dengan alis mencuat.
Tampang Memet sekilas menciut. Tapi hanya sebentar.
Tanpa aku sangka-sangka, dia berdiri, mengacungkan tangan,
dan langsung berpidato lantang. "Pak Simarmata, izinkan
sebentar saya bicara. Mungkin ngelantur dari bahasan kuliah
kita hari ini, tapi sangat penting buat memahami materi yang
Bapak sampaikan. Karena, yang saya pegang ini sebuah tulisan
penting yang bisa membantu kami memahami mata kuliah
Bapak. Dan kebetulan ditulis oleh kawan saya ini." Dengan
wajah serius dia kembangkan halaman koran Manggala yang
memuat tulisanku. Ajaib, Memet sekarang berpidato lurus
dan percaya diri di depan seisi kelas. Aku takjub dengan
perkembangan hasil latihan pidato kami.
Pak Simarmata tertegun sebentar mendengar celoteh
Memet. Tangannya dengan cepat merebut koran itu dari tangan
Memet. Matanya hilir-mudik beberapa jenak di halaman itu.
Lantas dia melambaikan kertas itu ke seisi kelas. Mati aku.
Biasanya kalau sudah melambaikan tangan, artinya dia sedang
marah. Dengan lantang dia berkata, "Anda semua mahasiswa
149 coba perhatikan ini. Membaca dan kuliah itu percuma saja
kalau kalian tidak tuliskan. Ini contoh hasil belajar yang baik.
Dituliskan dan diterbitkan. Kalian harus contoh kawan kalian
ini. Siapa nama kamu, Dik?"
Ajaib. Kali ini dia tidak marah. Hidungku mekar bagai
bunga bakung. Setelah kelas usai, aku segera bergegas ke kantor majalah
Kutub. Lagi-lagi, di kaca jendela kantor kami telah terpampang
kliping tulisanku, lengkap dengan catatan bertulis tangan:
"Tulisan seorang mahasiswa tahun kedua di media." Melihat
coretannya, pasti ini ulah Bang Togar lagi.
Di dalam kantor tampak Bang Togar sedang berdiskusi
dengan awak majalah lain. Aku langsung menyalaminya.
"Terima kasih, Bang, telah menggojlok aku habis-habisan."
"Ah, itu kan tulisan kau, aku cuma kasih masukan saja,"
katanya tersenyum. Teman-teman lain memuji tulisanku. Tidak
gampang bagi mahasiswa baru untuk bisa menulis langsung di
media massa luar kampus. "O ya, aku pasang tulisan kau di sana biar semua orang
ikut termotivasi dan berlomba-lomba untuk menulis di media
massa. Kalau bisa semua awak Kutub rajin menulis, apalagi
yang sudah senior-senior ini. Jangan jadi jago kandang terus,"
katanya sambil menunjuk para seniorku yang cuma senyumsenyum mesem.
150 Seminggu ini hatiku rasanya lapang. Ke mana pun aku
pergi, senyum pun selalu tersibak. Aku merasa diakui, dan yang
tidak kalah penting, aku akan dapat uang yang cukup buat
biaya hidupku. Semoga cukup banyak untuk bisa aku kirimkan
ke Amak. Kawanku satu kos juga memberi selamat, termasuk
Randai. Cuma dia menambahi komentar dengan nada datar,
"Baru media lokal. Kalau bisa tembus media nasional, baru
aku akui hebat, Lif." Ah, mungkin dia cuma iri.
Hari ini hari penting. Kembali dengan dikawal Geng
UNO, kami berangkat ke kantor harian Manggala di Jalan
Braga untuk mengambil honor pertamaku. Kawan-kawanku
ini sengaja tidak makan siang dulu di kantin kampus, begitu
tahu aku akan mentraktir mereka makan di Cisangkuy. Aku
lihat jakun Wira dan Agam sampai turun-naik ketika aku
kabari. Mereka pasti sedang membayangkan kentang goreng
sosis, sate, dan yoghurt aneka rasa.
Ibu sekretaris redaksi bersasak tinggi itu kembali menjadi
orang yang pertama kami lihat di kantor Manggala. Seperti
sebelumnya, dia terlihat sibuk.
"Punten, Ibu, saya mau ambil honor."
Sejenak dia mengangkat mukanya dari tumpukan kertas.
"Honor naon" Hadiah teka-teki silang" Kalau itu ambil di
lantai bawah." "Bukan, Ibu. Honor menulis. Saya menulis opini."
"Ooh." Dia mengintip wajahku dari balik kacamatanya
yang melorot. Mungkin kurang percaya melihat mahasiswa
ceking dengan baju lusuh dan berkacamata seperti aku ini.
151 "Sok, cari tanggal penerbitan, siapkan KTP dan tanda
tangan di sini," katanya sambil menyodorkan buku panjang
kurus bertuliskan "Catatan Pengambilan Honor". Setelah aku
teken, ibu bersasak lalu menyerahkan sebuah amplop cukup
tebal ke telapak tanganku yang bergetar karena gembira.
Dengan berbinar-binar aku turun ke lantai bawah dan
langsung dirubungi kawan-kawanku. Dengan tidak sabar aku
segera merobek ujung amplop. Berapa honor pertamaku"
Secarik surat terima kasih aku keluarkan tergesa-gesa. Bukan ini yang aku cari. Lalu selembar Rp10.000 menyelinap
keluar. Hmm ini baru awalnya, batinku. Lalu lima lembar Rp
1.000 menyelip keluar. Ini mungkin pecahan kecilnya, hibur
diriku. Sudah Rp15.000 yang aku keluarkan. Pasti masih ada
yang lain. Paling tidak aku berharap ada Rp50.000 lah, jumlah
yang cukup untuk mentraktir teman ke Cisangkuy. Teman-temanku ikut tidak sabar melihat ke dalam amplop. Wira sampai perlu meneropong dengan membulatkan tangannya.
Aku rogoh amplop itu dalam-dalam. Tidak puas, aku coba
kibar-kibarkan sambil mengangkat amplop lebih tinggi dari
kepala, sambil menerawang ke langit. Kosong. Tidak ada lagi.
Cuma Rp15.000 tadi saja. Mungkin ibu bersasak tadi salah
hitung" Dengan penasaran, aku cek lagi surat terima kasih
tadi. Tertulis dengan nyata: "Terima kasih untuk tulisan Anda.
Sebagai penghargaan, kami sediakan honor untuk tulisan
Anda di halaman opini sebanyak Rp15.000".
Apa" Jadi hanya Rp15.000 untuk usahaku habis-habisan bersabar digojlok oleh Bang Togar" Harapanku telanjur
melambung tinggi. Bagaimana dengan biaya waktu, ongkos
152 rental komputer, ongkos mencetak, belum lagi transportasi"
Bagaimana dengan impian untuk membayar kos, biaya makan,
uang kuliah, serta membantu Amak" Dan yang tidak kalah
penting, bagaimana menenangkan jakun teman-temanku yang
sudah naik-turun ini"
Wajah tiga temanku meredup. Mungkin mereka ikut kecewa.
"Kami tidak jadi ditraktir juga tidak apa-apa Lif," kata
Memet dengan tegar. Telapak tangannya menepuk-nepuk
punggungku dengan penuh pengertian. Wira dan Agam
mengangguk mengiyakan. Mereka tahu honorku tidak cukup
buat makan kami bersama di Cisangkuy. Aku tersenyum
getir dan terharu dengan pengertian mereka. Sambil berjalan
pulang, perut mereka yang keroncongan terdengar nyaring di
kupingku. 153 Rumah Sakit Malas ukannya kasihan, Bang Togar malah tergelak berderaiderai ketika aku ceritakan honor pertamaku di harian
Manggala kemarin. "Kau ini, mana ada sukses kayak mi instan, sekali celup jadi.
Kalau penulis pemula, apalagi mahasiswa, ya kecil dulu honor
kau. Apalagi nulis di koran kecil. Coba kirim tulisan kau ke
koran besar macam Pikiran Rakyat, Republika, atau Kompas.
Kalau bisa berkali-kali dimuat setiap bulan, barulah kau bisa
membiayai kuliah sendiri, bahkan mengirim ke orangtua.
Macam aku ini," katanya menepuk-nepuk dada.
Aku menghela napas. "Sekarang kau bersyukur dulu. Nama kau kan sudah masuk
ke media, sudah dibaca orang banyak. Lambat laun dikenal,
karena redaktur-redaktur koran lain mungkin juga baca. Kalau
tulisan kau yang sekarang bagus, nanti editor koran lain juga
tertarik." "Oo, gitu ya, Bang?" Aku mulai agak senang mendengar
omongannya. "Iya. Kalau sudah dikenal, kau tak perlu kirim tulisan lagi,
tapi koranlah yang meminta kau menulis. Macam aku ini."
Lagi-lagi dia menepuk dada.
154 Mataku langsung berbinar. Aku ingin merasakan seperti
yang dia alami. "Tapi satu hal yang kau tak boleh lupa. Dalam rezeki kau
itu ada hak orang lain. Walau sedikit, setiap honor itu kau potong dulu. Sisihkan buat amal, kalau perlu kau antar sendiri
ke panti asuhan." "Iya, Bang," jawabku pendek. Pikiranku melayang jauh ke
masa aku di Pondok Madani. Betapa seringnya Kiai Rais mengingatkan kami untuk mencintai anak yatim.
"Jangan baru nulis satu tulisan, sudah boros, sudah nraktir
orang sekampus. Nanti dulu traktir-traktir itu. Yang penting
kasih orang yang nggak mampu, anak yatim. Itu yang selalu aku
lakukan, merayakan dengan orang kecil. Ini memperlihatkan
kita bersyukur." Aku jadi malu untuk bercerita tentang rencana ke Cisangkuy yang batal kemarin. Anak yatim. Dua kata ini akrab sekali
dengan kupingku ketika aku masih belajar di PM. Ustadku
selalu bilang betapa banyaknya ayat Tuhan yang menyuruh
segenap masyarakat menjaga dan menyayangi anak yatim.
Sore itu, aku datangi sebuah panti asuhan di Jalan Nilem.
Aku kais-kais lembar terakhir isi dompetku dan aku serahkan
ke bapak pengurus panti itu. Dia tersenyum sejuk, lalu menyalamiku lama sekali. Matanya terpejam sambil khusyuk mendoakan aku. Aku merinding didoakan seperti itu hanya karena
menyumbang 7 ribu rupiah.
Ada aliran hawa yang hangat mengalir di dadaku, melihat
anak-anak yatim mengendap-endap dan tersenyum malu-malu
155 dari balik pintu panti asuhan ini. Dalam hati, aku berniat
akan datang ke sini teratur, dan mungkin akan memilih salah
satu dari mereka sebagai adik asuhku. Lamat-lamat, pelajaran
di PM muncul lagi di kepalaku. Bahwa sedekah terbaik itu dilakukan di kala kesusahan, bukan di kala senang saja. Bila kita
menyayangi apa yang ada di bumi, maka Dia yang di langit
akan menyayangi kita pula.
Mujarab. Mungkin karena kombinasi berkah doa anak
yatim dan doa Amak, pelan-pelan pintu rezeki terbuka. Setelah beberapa kali dimuat di koran lokal dengan honor kecil
itu, tulisanku akhirnya terpampang di Pikiran Rakyat, koran
lokal paling bergengsi di Jawa Barat. Alhamdulillah, kini aku
punya uang cukup untuk biaya hidup sebulan ke depan. Kalau
aku bisa terus menulis dengan konsisten, insya Allah aku akan
bisa benar-benar mandiri.
Dengan optimisme tinggi, aku menyurati Amak. Masalah
sakit tifus kemarin tidak aku jelaskan secara rinci, hanya
cerita kalau aku tidak enak badan. Yang banyak aku ceritakan
adalah tentang kegiatan menulisku yang mulai menghasilkan.
"Mulai bulan ini, ambo insya Allah sudah bisa mandiri secara
keuangan. Jadi Amak tidak perlu mengirimkan uang bulanan
bulan depan. Pasti Amak dan adik-adik lebih butuh lagi. Satu
hal yang ambo minta, mohon doa selalu dari Amak agar rezeki
ananda di sini dimudahkan Allah," tulisku.
156 Lapang rasanya dadaku setelah mengirimkan surat ini. Aku
tidak merasa bersalah lagi membayangkan wajah capek Amak
mengajar pagi dan sore hanya untuk mencari uang membiayai
aku di perantauan. Tapi target besarku masih belum sampai, yaitu mengirim uang setiap bulan ke Amak untuk biaya sekolah
adik-adikku. Bandung terasa lebih ceria sekarang dan aku pun semakin
semangat untuk kuliah. Beberapa nilai C dan D yang aku
dapat saat semester 2 telah bisa aku balas dengan telak di semester selanjutnya. Berbaris-baris huruf A tercetak di kertas
nilaiku. Aku pun merencanakan mengambil semester pendek
untuk memperbaiki nilaiku yang masih di bawah B. Aku ingin
membuktikan walau aku harus sibuk mencari nafkah sendiri,
nilai kuliah tidak boleh turun.
Sejak kegiatan menulisku cukup menghasilkan uang, aku
pensiun muda dari profesi penjual door to door. Beberapa kardus
produk pembersih aku kembalikan ke Wira dan beberapa
songket serta mukena yang tersisa aku serahkan kembali ke
Randai. Selamat tinggal perjalanan berpeluh-peluh menjual
barang dari pintu ke pintu. Begitu juga dengan mengajar
privat. Walau Asto telah menawarkan seorang murid baru
yang berani membayar lebih mahal dari biasa, dengan tegas
aku menolak. Aku perlu memusatkan waktu dan tenagaku
menulis saja. Untuk bisa menutupi biaya hidupku sebulan, rata-rata aku
memaksa diri untuk ngebut menulis minimal 8 tulisan sebulan.
8 tulisan sebulan adalah pekerjaan yang besar. Menulis sendiri
sudah memakan waktu, belum lagi aku harus riset untuk bahan
157 analisis. Aku hilir-mudik masuk Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika, kampus, bahkan kalau bahan riset kurang,
aku naik bus ke Jakarta untuk mendapatkan jurnal hubungan
internasional terbaru yang hanya dilanggan oleh Perpustakaan
CSIS Jakarta. Tanpa riset seperti ini, tulisanku akan kering
dan dangkal. Walaupun sudah mengerahkan segenap usaha
untuk menghasilkan tulisan bagus, pemuatan tulisanku tidak
selalu mulus. Dari 8 artikel yang kukirim, kalau nasibku
sedang baik, semuanya bisa terbit. Kalau nasib sedang kurang
baik, hanya 4 tulisan yang akhirnya terbit, bahkan pernah
hanya 1 artikel saja. Aku coba bertepuk tangan dan meloncat-loncat seperti
orang gila untuk memompa semangatku. Tetap saja aku terduduk lemas di depan komputer seperti habis disapa orang
bunian. Sejam yang lalu jemariku masih dengan riang gembira berlari-lari di atas keyboard, menumpahkan segala macam
analisisku tentang independensi PBB dan Dewan Keamanannya. Sudah satu halaman aku mengetik lancar. Begitu
masuk ke halaman kedua, tiba-tiba otakku terasa beku dan
jemariku seperti mogok kerja. Kesepuluh jari ini melawan
perintahku, tidak mau disuruh meneruskan tulisan. Rasanya
jariku terbuat dari batu yang berat. Apakah ini yang disebut
orang writer"s block"31. Entahlah. Yang jelas, di depanku tetap
Writers blocks: situasi ketika seorang penulis mandek dalam proses
menulisnya. 158 hanya monitor yang kosong melompong, ditingkahi kedipan
kursor di ujungnya. Aku menyerah dan keluar dari rental komputer untuk
mencari angin. Setelah berjalan hilir-mudik di Jalan Tubagus
Ismail dan memesan segelas jus avokad di warung Sakinah, aku
kembali duduk di depan komputer. Berharap jariku kembali
lincah dan ide mengalir deras menyelesaikan tulisan ini. Ya


Ranah Tiga Warna Buku 2 Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tuhan, bukan hanya jariku yang tidak mau bergerak, bahkan
aku sekarang tiba-tiba merasa muak untuk menulis. Apa yang
terjadi" Setelah beberapa hari aku tetap tidak punya hasrat untuk
menulis. Aku mulai waswas dan berpikir yang tidak-tidak.
Ini sudah seperti penyakit kategori gawat. Aku perlu ahlinya.
Suatu pagi aku ketuk kamar kos Bang Togar dan bertanya dengan cemas, "Bang, pernah nggak tiba-tiba nggak bisa nulis?"
"Pernah, tapi jarang sekali. Kenapa" Kau lagi malas ya?"
"Nggak malas sih, tapi nggak bisa nulis udah seminggu ini,
Bang." "Sama aja itu. Artinya kau malas. Jangan banyak alasanlah."
"Aku tidak malas, tapi aku kehilangan semangat, ide, dan
muak menulis," sanggahku.
"Apa kubilang. Itu tetap bagian dari malas. Mana ada
orang rajin kehilangan semangat dan muak" Itu artinya kau
terjangkit penyakit malas yang kronis."
"Kalau memang malas, apa obatnya, Bang?"
"Nah, lebih baik kau terus terang begitu. Aku pun tau ma159
cam mana mengobati kau. Yok, kita pergi sekarang juga. Ke
rumah sakit malas," katanya bangkit dari duduk. Kunci mobil
bergemerincing di tangannya.
"Apa itu rumah sakit malas?"
"Ah, diam aja kau. Lihat saja nanti."
Aku mengekor saja, menumpang mobil Kijang barunya,
hasil tabungan dari proyek menulis. Kami menembus lalu
lintas Bandung, mengarah ke pinggir kota. Dia melambatkan
mobil ketika memasuki kawasan yang dikelilingi banyak bukit
dan mematikan mesin di sebelah sebuah bukit. Bukan bukit
hijau, tapi bukit-bukit dari sampah setinggi rumah. Sampah
ini bercampur dengan rumah-rumah seng dan tripleks bekas.
Air kehitaman menggenang di sana-sini. Lalat-lalat hijau
yang gemuk-gemuk berdengung-dengung mengitari kepalaku.
Bau tempat ini bagai merajam saraf hidungku.
Beberapa anak kecil dengan ingus turun-naik berlarian
mendatangi kami. Anak-anak tanpa alas kaki dengan baju
compang-camping ini berteriak-teriak senang dan sejenak aku
tidak mengerti kenapa. Begitu mendekat, mereka berebutan
menyalami dan mencium tangan Bang Togar. Dari jauh,
beberapa orangtua melambaikan tangan ke arah kami. Anakanak ini dengan senang hati mengiringi ke mana pun kami berjalan. Bang Togar bertanya tentang pelajaran sekolah mereka.
"Sebentar, Om punya hadiah buat kalian!" serunya. Dia
kembali ke mobil dan membawa keluar sebuah kardus yang
berisi aneka macam penganan dan memberikannya kepada
mereka. Setelah berterima kasih, anak-anak itu bubar, berlari
membawa makanan itu ke rumah seng dan tripleks mereka.
160 "Sekali-sekali aku main ke sini, menyumbang sekadarnya,
agar mereka masih bisa sekolah. Kebetulan ada yayasan yang
membuka kelas belajar membaca di belakang rumah-rumah
seng itu. Aku ajak juga orangtuanya yang kebanyakan pemulung untuk menyadari pentingnya pendidikan untuk masa
depan anak mereka. Kadang-kadang bawa makanan. Kalau
melihat mereka hidup seperti ini, sungguh malu aku kalau
tidak rajin berkarya." Muka Batak yang keras itu terlihat melembut.
Kami sampai di sebuah pokok pohon di pinggir sebuah bangunan yang roboh, menghadap ke sebuah kali berair keruh
dan penuh sampah yang mengapung. Aku menumpangkan
tangan di depan hidungku yang masih protes dengan bau tidak
Bidadari Dasar Neraka 1 Pendekar Slebor 18 Warisan Ratu Mesir Lembah Tiga Malaikat 6

Cari Blog Ini