Ceritasilat Novel Online

Putri Putri Kesunyian 1

Fear Street - Sagas Vi Putri Putri Kesunyian Daughters Of Silence Bagian 1


BAB 1 Desa Shadyside 1878 "STASIUN SHADYSIDE! Perhentian berikutnya!" Jenna
mendengar kondektur berteriak.
Ia menengadah dari bukunya. Mereka sudah tiba di Shadyside"
Saat ia merasa kereta melambat, detak jantungnya bertambah
cepat. Ia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu sahabatnya Hallie!
Saat mengintip ke luar jendela, ia melihat Desa Shadyside.
Main Street desa yang lebar dipenuhi kereta, kuda, serta tampak sibuk
oleh orang-orang yang berbelanja di siang hari. Jenna melihat toko
serbaada besar, toko roti, dan kantor pos.
Setelah Main Street, Jenna melihat pemandangan rumah-rumah
putih yang cantik, berdiri berdampingan di jalan-jalan yang dipagari
pepohonan. "Desa Shadyside," kata kondektur sekali lagi dari bagian depan
kereta. "Kalau hendak turun di Shadyside, folks, kalian sebaiknya
bersiap-siap." Jenna kembali memandang ke luar dan melihat Hallie bersama
orangtuanya di peron. Ia menjulurkan kepala ke luar jendela sejauh
yang ia berani. "Hallie! Di sini!" serunya, sambil melambai-lambai penuh
semangat. "Jenna!" teriak Hallie sambil balas melambai.
Hallie mengangkat roknya dan berlari mengikuti kereta yang
melaju perlahan itu. Rambut pirangnya yang keriting berkibar-kibar
diembus angin dan mata birunya berbinar penuh semangat. Jenna
bangkit dari kursi, lalu meraih tasnya. Gaun panjang dan mantelnya
bergemeresik saat ia bergegas menuju bagian depan kereta.
Saat roda-roda kereta berhenti, Jenna seolah terbang menuruni
tangga, langsung ke dalam pelukan Hallie.
Hallie memeluknya erat-erat. "Kau takkan percaya betapa aku
merindukanmu!" serunya.
"Well, kau yang pindah," goda Jenna, ia mendorong temannya
hingga sejauh jangkauan tangan. "Kulihat kau bertambah tinggi tiga
puluh sentimeter!" "Sebelum kau menyadarinya, aku akan sama tinggi denganmu,"
kata Hallie. "Oh, Jenna, aku gembira sekali kau dapat menghabiskan
seluruh musim panas bersamaku. Kita akan bersenang-senang!"
Jenna tersenyum dan meremas tangan Hallie. Hallie sahabatnya
yang terbaik di seluruh dunia. Seperti saudara, begitu yang selalu
dikatakan orangtuanya. Jenna berharap mereka benar-benar
bersaudara. "Kulihat kalian berdua tidak menyia-nyiakan waktu sedikit pun,
bukan?" Jenna mendengar ayah Hallie berkata sambil tertawa.
Ia berbalik menghadap ke orangtua Hallie yang berdiri tepat di
sampingnya. Mr. Sheridan masih tampak jangkung dan kurus.
Senyumnya yang lebar membuat Jenna merasa hangat dan diterima.
Mr. Sheridan mengenakan setelan gelap berkerah tinggi yang kaku.
Kumis hitam lebat yang ujungnya melingkar menambah
kewibawaannya. Mrs. Sheridan tampak secantik biasanya. Dari bawah
topinya yang mengikuti mode, mata birunya yang cemerlang berkilau
saat menyapa Jenna. "Selamat datang di rumah baru kami, Sayang," gumamnya.
"Kami senang kau bisa datang!"
"Terima kasih sudah mengundangku," jawab Jenna, teringat
pada pesan ibunya tentang menjaga sikap.
"Biar kubawakan kopermu, Jenna," kata Mr. Sheridan. Ia
meraih sebuah koper besar yang diturunkan kondektur dari kereta.
"Aku yang membawa tasnya," kata Hallie bersikeras. Ia meraih
tas yang lebih kecil, lalu mengaitkan lengannya pada lengan Jenna
saat mereka mengikuti orangtuanya menuju jalan.
Mr. Sheridan mengajak mereka ke sebuah kereta terbuka
dengan dua kuda yang tertambat pada sebatang tiang dan menanti
dengan sabar. Ia meletakkan koper dan membantu Jenna dan Hallie
naik. Jenna mengambil tempat duduk di samping Hallie, di kursi yang
menghadap ke depan, dan Mrs. Sheridan duduk di hadapan mereka.
Sesudah mengikat koper di bagian belakang, Mr. Sheridan melompat
naik ke kursi kusir dan meraih tali kekangnya.
"Gidd-up," seru Mr. Sheridan kepada kuda-kudanya.
Dengan entakan kaki yang menghamburkan debu, kuda-kuda
itu melaju di jalan yang membentang dari stasiun ke desa. Kuku-kuku
mereka memperdengarkan suara keteplok-keteplok lembut di jalan
yang diperkeras. Jenna merasa santai dan memandangi pemandangan
yang mereka lewati. Mrs. Sheridan membuka payungnya. "Aku sudah membuat kue
pencuci mulut kesukaanmu untuk malam ini, Jenna."
"Kue peach?" Jenna merasa air liurnya membanjir saat
mengatakannya. Mrs. Sheridan menggeleng, "Dua buah kue peach."
Jenna melihat sekelompok pemuda-pemudi yang berkerumun
dan mengobrol di depan toko pelana. Tampaknya mereka kuranglebih sebaya dengan dirinya dan Hallie. Salah satu gadis melambai,
tapi yang lain hanya mengawasi dengan tatapan ingin tahu saat kereta
melaju lewat. "Kau suka tinggal di sini?" tanya Jenna, berpaling pada
temannya. Hallie mengangkat bahu. "Kurasa boleh juga. Tapi semua orang
lain sudah tinggal di sini seumur hidup. Sulit untuk mencari teman."
"Nanti," kata ibunya berjanji. "Kau perlu waktu."
"Well, Jenna ada di sini sekarang," kata Hallie kepada ibunya.
"Dan kami akan bersenang-senang sepanjang musim panas."
Tidak lama kemudian, Mr. Sheridan membelokkan kudakudanya ke sebuah jalan kecil yang sepi di tepi kota sebelah timur,
lalu memasuki jalan masuk berkerikil.
"Lihat, Jenna. Itu rumah kami," kata Hallie riang.
Tidak jauh memasuki jalan berkerikil itu, Jenna melihat sebuah
rumah kuning pucat bertingkat dua dengan jendela-jendela berbingkai
hijau tua dan sebuah cerobong bata yang tinggi. Rumah itu berada di
tengah halaman rumput yang hijau dan sejumlah pohon ek tua yang
membuat tempat itu tampak sejuk dan nyaman. Ia menyukai serambi
depan yang lebar dengan kotak-kotak bunga mawar dan ayunan
kayunya. "Cantik sekali!" serunya.
Mr. Sheridan tersenyum melihat reaksinya.
"Kita sudah tiba. Turun dengan hati-hati, ladies," kata Mr.
Sheridan saat ia menghentikan kereta di depan rumah.
Jenna menghirup kesegaran bau bunga mekar dan udara
pedesaan yang bersih. Aroma makanan yang menggoda selera terbawa
angin dan ia merasa air liurnya kembali mengalir.
"Hmmm, ada yang beraroma lezat sekali," katanya.
"Koki pasti sudah menyiapkan makan malam untuk kita," kata
Mrs. Sheridan. "Girls, kalian bersihkan diri sementara aku membantu
Koki menyiapkan meja."
Jenna mengikuti Hallie turun dari kereta dan masuk ke dalam
rumah. Seketika ia merasa seperti di rumah sendiri. Musim panas ini
akan luar biasa, pikirnya.
Sesudah menyantap hidangan yang lezat, termasuk dua iris kue
peach masing-masing, Jenna dan Hallie duduk di ayunan di serambi.
Cuaca sudah gelap sepenuhnya, dan keteduhan pepohonan ek tampak
sangat pekat dan lembut. Jenna mengawasi bulan separo perlahanlahan menanjak di langit. Ia merasakan embusan angin mengelus
pipinya serta mendengar cabang-cabang pohon berderak-derak dan
mendesah. Jenna menaikkan kakinya ke kursi dan memeluk lututnya.
"Ingat bagaimana kita dulu sering terjaga hingga larut dan
menceritakan kisah-kisah hantu?" tanya Hallie dengan tiba-tiba.
"Bagaimana aku bisa lupa," kata Jenna. Ia menyodok bahu
Hallie. "Ingat sewaktu kau menceritakan kisah tentang Manusia
Hijau" Kurasa kita masih sekitar delapan atau sembilan tahun waktu
itu." "Kau mengira kisah itu nyata," kata Hallie sambil tersenyum.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak selama sebulan," kata Jenna.
"Aku terus menunggu suaranya mencakari jendelaku dengan kukukuku jemarinya yang panjang dan bergerigi. Aku bisa saja
mencekikmu sewaktu tahu bahwa kau hanya mengarang saja."
"Berani taruhan aku masih bisa membuat bulu kudukmu
meremang ketakutan, Jen," kata Hallie menggoda.
"Tidak lagi," balas Jenna. "Aku sudah terlalu tua untuk
termakan cerita-cerita liarmu, Hallie."
"Tentu saja," kata Hallie, menyetujui sambil tersenyum. "Jadi
kau tidak keberatan untuk berjalan-jalan di pemakaman malam ini"
Ada cerita hebat yang ingin kuceritakan, kudengar dari penduduk
kota, dan akan jauh lebih menyenangkan untuk menceritakannya di
lokasi yang tepat." Tulang punggung Jenna tergelitik perasaan tidak enak.
"Pemakaman?" "Kau tidak takut, bukan?" tantang Hallie.
"Tentu saja tidak!" sembur Jenna. "Tidak ada yang perlu
ditakutkan di pemakaman."
Lalu ia menyadari bahwa Hallie telah berhasil menjebaknya
lagi. Well, sebenarnya, Jenna menyadari ia yang telah menjebak diri
sendiri. Ia memelototi Hallie. Tapi Hallie hanya tersenyum
kepadanya. Akhirnya, Jenna balas tersenyum. "Kau memang licik, Hallie.
Baiklah, aku ikut. Tapi kalau sampai kita mendapat mimpi buruk
selama sepuluh tahun, kau yang bersalah."
"Ayo," seru Hallie penuh semangat. "Ikuti aku." Ia berlari
meninggalkan serambi dan menyeberangi halaman depan. Jenna
berhasil menyusulnya di jalan.
Mereka bergegas berjalan dan melewati dua rumah lain yang
jendela ruang tamunya memancarkan cahaya hangat. Jenna tiba-tiba
merasa ingin kembali. Tapi ia menggigit bibir dan terus berjalan.
Jalan semakin gelap, sekarang perjalanan mereka hanya
diterangi cahaya bulan. Jenna menyadari bahwa tidak ada rumah lagi.
Ia hanya melihat hutan lebat yang membentang di kedua sisi jalan.
Dedaunan lembap dan batang pohon yang meliuk berkilau tertimpa
cahaya keperakan bulan. "Mungkin sebaiknya kita membawa lampu," kata Jenna.
"Sekarang sudah terlambat," jawab Hallie sambil mengangkat
bahu. "Lihat, itu pintu masuknya."
Tiba-tiba Jenna menyadari ada dua pilar marmer yang tertutup
berkas-berkas lumut hijau di depannya. Sebuah besi melengkung
membentang di antara keduanya. Ia hampir-hampir tak bisa membaca
huruf-huruf melengkung yang ada pada tanda di lengkungan itu. Ia
berhenti sejenak dan memicingkan mata memandangnya.
"Pemakaman Shadyside," katanya perlahan-lahan.
"Menurutmu apa bunyinya?" goda Hallie. "Ayolah, lamban,"
desak Hallie sambil menyambar lengan Jenna. "Kita tidak punya
waktu sepanjang malam. Orangtuaku akan penasaran apa yang terjadi
pada kita." Hallie menyeret Jenna melewati gerbang. Bayang-bayang tanda
pemakaman jatuh di wajah Jenna saat ia melintas di bawahnya, dan ia
tak dapat menahan tubuhnya supaya tidak gemetar.
"Tempat ini menakutkan," bisiknya.
"Kenapa kau berbisik?" tanya Hallie. "Di sini tak ada orang
yang bisa mendengar kita."
"Aku..." Sambil tertawa, Jenna mengangkat tangannya. "Kau
benar. Kurasa aku berbisik karena... semua orang berbisik di
pemakaman, bukan?" "Kurasa memang begitu," kata Hallie menyetujui, sambil
memimpin jalan masuk semakin dalam ke bayang-bayang gelap
pemakaman. Dipenuhi batu-batu dan tanaman rambat liar, jalan setapak itu
berliku-liku di antara batu-batu nisan. Jenna merasakan bebatuan
keras menekan sol lunak sepatunya. Dalam keremangan cahaya bulan
deretan batu nisan itu mirip gigi-gigi tidak rata yang mencuat dari
dalam tanah. Kabut tebal menggantung rendah di permukaan tanah dan angin
mengembus kepulan debu kelabu sehingga berputar-putar di jalan
setapak dan di sekitar batu nisan. Udara berbau harum. Seiring tiap
tarikan napasnya, Jenna menyadari ada bau lain yang samar. Bau
busuk menusuk yang tak bisa dikenalinya.
"Lihat!" jerit Hallie sambil menunjuk sosok besar yang gelap di
depan. Jenna memicingkan.mata berusaha menatap bayangan itu.
Sesaat kemudian, matanya mulai terbiasa dan ia bisa melihat sebuah
bangunan persegi kecil beratap kubah. Saat mereka semakin dekat,
Jenna melihat sosok yang bertengger di atas pintu masuknya, tepat di
bagian depan kubah. Mereka berdiri di depan bangunan marmer itu dan Jenna
menengadah menatap sosok di atasnya. Patung sebuah malaikat, ia
tersadar. Bukan sesuatu yang tidak biasa ditemukan di pemakaman.
Banyak orang yang menyukai gagasan untuk menempatkan patung
penjaga seperti itu di tempat peristirahatan orang tercinta.
Tapi ini pasti malaikat terburuk yang pernah dilihatnya. Penjaga
yang paling jahat, mengancam.
Terukir dari marmer hitam dan tertutup lapisan lumut hijau,
wajah monsternya menyeringai sinis. Jenna menggigil saat menatap
wajah yang menganggu itu. Matanya yang kosong menggembung di
lubangnya dan bibirnya yang tebal melengkung lebar, menampilkan
gigi yang panjang dan runcing.
Lumut hijau, bagai sarang laba-laba, menjuntai dari sayapsayap hitamnya. Sayap-sayap yang bagi Jenna tampak terlalu besar
untuk tubuh malaikat yang kecil itu. Terlipat di bahu yang kurus dan
merosot, bulu-bulunya yang panjang berujung setajam pisau. Jenna
menatap tangan malaikat itu: cakar yang tertekuk, terlipat, dan
menempel di dadanya yang melesak.
"Tempat apa ini?" tanya Jenna tergagap.
"Ini mausoleum," bisik Hallie. "Gadis-gadis Fear dimakamkan
di sini. Kata orang hantu-hantu mereka berkeliaran di sini."
Jenna menelan ludah dengan susah payah. "Hantu itu tidak ada,
Hallie," katanya. Hallie menyandarkan punggungnya ke batu nisan terdekat.
"Mungkin begitu kau mendengar ceritanya, kau akan berubah
pikiran." Jenna bersedekap. "Aku ragu."
"Oke, kita lihat saja." Hallie menyentakkan kepalanya ke
belakang dan perlahan-lahan tersenyum. "Begini ceritanya. Ada isuisu yang menakutkan mengenai keluarga Fear di Shadyside ini. Ceritacerita yang mengerikan.... Kata mereka Simon dan Angelica Fear
orang-orang jahat. Kata orang kedua putri mereka tewas dengan cara
yang mengerikan. Mereka saling bunuh. Dan karena kematian mereka
sangat menakutkan, roh-roh mereka terikat pada tempat ini
selamanya." Angin menggoyang cabang-cabang pepohonan, mengisi malam
dengan bisikan-bisikan. Jenna hampir-hampir bisa membayangkan
ada suara di tengah-tengah gemeresik itu. Ia hampir-hampir bisa
membayangkan ada orang yang mengawasinya dari keremangan. Ia
menahan desakan untuk melirik ke balik bahunya. Atau menengadah
menatap malaikat yang menakutkan itu.
"Tapi itu bukan yang paling buruk," kata Hallie kepadanya.
"Kata orang..." Ia sengaja diam sejenak untuk mendramatisir katakatanya. Suaranya terdengar bagai bisikan. "Kata mereka, sewaktu
gadis-gadis Fear dimakamkan, jenazah mereka tidak bertulang! Kata
orang ada malam-malam saat kerangka gadis-gadis Fear berjalanjalan, belum mati, belum beristirahat dengan tenang. Selalu mencari


Fear Street - Sagas Vi Putri Putri Kesunyian Daughters Of Silence di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jalan untuk hidup kembali."
Perasaan takut Jenna seketika menghilang.
"Hallie, ini benar-benar keterlaluan. Aku akan percaya cerita
hantu lebih dulu sebelum mempercayai cerita sekonyol ini."
"Well, mungkin kau takkan berkata begitu kalau melihat
ekspresi wajah orang-orang di sekitar sini setiap kali ada yang
menyebut nama Fear."
"Ekspresi macam apa?" tanya Jenna.
"Well, sepertinya mereka... ketakutan."
Jenna mendesah. "Hallie, kau terlalu bodoh. Ingat, kau masih
baru di sini. Siapa pun yang menceritakan kisah konyol itu padamu
hanya menggodamu. Mereka mungkin tertawa terus hingga tiba di
rumah." "Oh, Jenna! Terkadang kupikir kau terlalu logis untuk
kebaikanmu sendiri," kata Hallie.
"Mengeluhlah sendiri," balas Jenna. "Dengar, kita akan
membuktikannya. Kita akan masuk ke dalam mausoleum itu, dan kau
akan melihat sendiri bahwa tidak ada setan, hantu, atau kerangka yang
menari-nari di sekitar sini."
Mata Hallie berbinar saat ia memandang sekitarnya. "Kau yakin
itu gagasan bagus?" "Apa pun yang bisa menghentikan dirimu dari mempercayai
cerita liar itu jelas merupakan gagasan yang bagus. Sekarang, ayo."
Sambil meraih tangan Hallie, Jenna melangkah menuju makam itu.
Dedaunan kering bergemeresik di bawah kaki mereka saat
mereka melangkah di sela batu-batu nisan. Jenna menengadah
memandang patung malaikat itu. Patung itu menjulang di atas mereka,
tampak lebih besar dan mengancam.
"Kau sudah bisa membaca tulisannya?" tanya Hallie.
Jenna memicingkan mata berusaha membaca huruf-huruf yang
diukir di atas balok penopang. Sejenak huruf-huruf itu tampak seakan
tengah menggeliat-geliat. "Aku hanya bisa membaca nama dan
tanggal. Julia Fear dan Hannah Fear. Mereka hampir sebaya kita
sewaktu meninggal. Menyedihkan."
Segumpal awan melintas menutupi bulan, menyelimuti
pemakaman dengan kegelapan total. Jenna menengadah. Segalanya
tampak dan terasa berbeda. Bebatuan nisan tampak berubah menjadi
berbagai sosok remang-remang dan menggeliat-geliat. Kepulan kabut
membubung dari tanah, hidup dan mencari-cari... sesuatu. Di
sekitarnya, pepohonan bergumam dan mengerang dengan seratus
suara. Lalu udara berubah dingin. Dinginnya luar biasa. Melingkupi
Jenna bagai mantel es, membekukan tubuhnya hingga yang tersisa
hanya ketakutan. Ia terhenti karena tidak mampu melangkah lagi.
Sama tiba-tibanya seperti kedatangannya, hawa dingin itu
menghilang. Jenna menggeleng. Semuanya terjadi begitu cepat....
Rasanya tidak mungkin nyata. Tak ragu lagi imajinasinya pasti sudah
menipunya. Lalu awan pun berlalu, menampilkan bulan sekali lagi. Jenna
kembali menunduk menatap tulisan yang diukirkan di sana.
"Hallie!" serunya, jantungnya mulai berdetak cepat, menghajar
dadanya seakan-akan hendak keluar.
Temannya berbalik. "Jenna, ada apa?"
"Tulisannya!" Jenna mendesis, memaksa kata-kata itu melewati
kerongkongannya yang tercekik ketakutan. "Bunyinya, 'Hannah dan
Julia, putri-putri tercinta Simon dan Angelica Fear.' Dan lalu...
Lalu...." "Apa?" tanya Hallie tak sabar.
Jenna menghela napas dalam-dalam. "Bunyinya, 'Mereka belutn
mati. BAB 2 "APA katamu?" Mata Hallie membelalak. Bagian matanya yang
putih berkilau dalam kegelapan.
"Lihat saja sendiri," kata Jenna. "Di sini!"
"'Mereka belum mati," baca Hallie.
Sesaat kedua gadis itu terdiam, saling pandang. Jenna ingin
mengatakan sesuatu yang masuk akal, tapi tenggorokannya terasa
kering. Ia tercekik ketakutan.
Sebuah suara yang dalam dan menakutkan memecah kesunyian.
Di telinga Jenna suara itu terdengar seperti suara seseorang
mengerang. Suara yang memilukan itu seakan menggema dari segala
arah pada saat yang sama. Hallie tersentak. Ia mencengkeram lengan
Jenna begitu kuat hingga menyakitkan.
"A-apa itu?" bisik Hallie.
"Burung hantu," bisik Jenna. "Kurasa."
Hallie menarik-narik lengan temannya. "Kita pergi saja."
Angin berembus di sela-sela pepohonan. Cabang pepohonan
bergoyang-goyang. Bayang-bayang gelap bagai melompat-lompat di
depan mausoleum. Jenna mencondongkan tubuhnya saat ia melihat
noda kehitaman di bagian bawah tulisannya.
Jenna mendesah keras. "Lihat, Hallie. Ada kotoran yang
menyembunyikan sebagian kata-katanya."
"Aku tak ingin tahu lebih banyak lagi," kata Hallie.
"Omong kosong. Selalu ada penjelasan yang masuk akal untuk
hal-hal seperti ini," kata Jenna bersikeras. "Tunggu sebentar."
Jenna mengulurkan tangan menyentuh tulisan itu. Noda
kehitamannya terkelupas, menyisakan kotoran di kulitnya.
"Jangan disentuh!" jerit Hallie.
"Hallie, ini hanya kotoran," kata Jenna kepadanya.
"Oh." Hallie mendesah. "Kukira darah atau apa."
Jenna tersenyum kepada temannya. "Kau benar-benar penakut.
Sekarang, kita lihat apa yang tertulis di sini."
Ia mengelupas kotoran itu dengan kuku ibu jarinya. Kotoran itu
terkelupas dengan mudah, menampilkan tulisannya.
"'Mereka belum mati," kata Jenna membacanya, sambil
menyusuri huruf-huruf berukir itu dengan jarinya. "'Mereka hidup
abadi dalam hati kami.'"
Hallie tertawa geli. Dan tawanya memicu tawa Jenna. Tak lama
kemudian mereka berdua telah terengah-engah karena tertawa.
"Sulit dipercaya kita bersikap sepenakut itu," kata Hallie.
Jenna harus menghela napas beberapa kali sebelum bisa
menjawab. "Mereka belum mati," ulangnya dengan suara pelan,
menakut-nakuti. Hallie kembali tertawa. Jenna juga ikut tertawa. Ia tertawa
begitu keras hingga sisi tubuhnya terasa sakit dan air mata
menggenang di sudut matanya.
"Oh, itu bagus," kata Hallie. "Kau seharusnya melihat
tampangmu sendiri, Jenna."
"Tampangku?" tanya Jenna. "Kau sama pucatnya seperti..."
"Jangan katakan!" kata Hallie. "Kalau aku mulai tertawa lagi,
kurasa aku takkan bisa menghentikannya."
"Aku juga." Jenna menengadah menatap malaikatnya. Ia tiba-tiba merasa
kegembiraannya menguap, digantikan ketakutan yang membekukan.
Tatapan patung itu seakan-akan terpaku pada dirinya, tangannya yang
mirip cakar siap untuk terulur dan menyambar dirinya.
Jenna mundur selangkah, menjauhi mausoleum itu. Saatnya
untuk pergi, pikirnya. Ia memandang ke arah Hallie. Temannya berdiri
di depan pintu mausoleum. Tangannya menempel pada selot pintu dari
besi berukir itu. "Hei, tidak dikunci," seru Hallie, suaranya bergetar penuh
semangat. "Ayo masuk!"
Jenna menyapukan tangannya yang lembap ke gaunnya.
Ketakutan tiba-tiba muncul bagai mencengkeram perutnya dengan
jemari yang dingin dan lengket. "Ke... sana?"
"Kenapa tidak?"
"Itu makam, Hallie."
"Justru lebih baik." Hallie menatapnya. "Kecuali kau mau
mengakui bahwa ada alasan untuk takut?"
Jenna mengangkat dagunya dengan sikap menantang. "Tentu
saja tidak!" "Kalau begitu kita masuk."
Hallie membuka selot dan mendorong pintunya. Pintu itu
terayun membuka tanpa suara. Jenna mengerjapkan mata karena
terkejut. Ia mengira pintunya akan berderit karena lama tidak
digunakan. Aneh. Ia mengintip dari balik bahu Hallie. Bayang-bayang gelap
mengisi bagian dalam mausoleum, bergerak-gerak dan berputar-putar
bagai asap hitam yang tebal. Jenna terbatuk saat menghirup udara
yang busuk dan lembap. Baunya luar biasa. Tidak menyenangkan.
Perutnya bergolak tak keruan saat ia kembali mencium bau busuk
yang lain. Jantung Jenna berdetak dua kali lebih cepat. Ia tak ingin masuk
ke dalam sana. "Ini ada lilin," kata Hallie, sambil menjulurkan tangan ke
sebuah rak mungil di luar pintu. "Dan aku membawa korek api."
Hallie menggoreskan koreknya di kusen pintu dari marmer itu.
Jenna mengerjapkan mata karena cahayanya. Sambil memegangi lilin,
Hallie melangkah masuk ke dalam mausoleum.
Jenna tak ingin membiarkan temannya masuk sendirian.
Meskipun begitu, tiba-tiba ia merasa seperti dilem di tempatnya
berdiri. Jangan bodoh, katanya pada diri sendiri dengan tegas.
"Hallie?" serunya.
Temannya tidak menjawab. Jenna mengintip ke dalam
kegelapan dan melihat kelap-kelip api lilin kecil Hallie.
Angin berembus di punggungnya. Bau busuknya semakin kuat.
Ia terbatuk dan menutupi mulut dengan tangannya.
Perasaan yang aneh menyentak-nyentak kesadarannya. Ia
merasa seperti ada yang memanggil-manggil namanya. Tapi bukan
dengan kata-kata. Tiba-tiba ia terdorong untuk menengadah.
Jenna tak ingin menengadah. Tapi perasaan aneh
mendorongnya, membuatnya memiringkan kepala sebelum ia sempat
menahan diri. Ia menengadah. Napasnya masuk, tapi tidak keluar lagi. Sebaliknya, napasnya
tetap tertahan, panas dan menyakitkan, sementara jantungnya bagai
berusaha mendobrak keluar dari dadanya.
Patung malaikat itu tengah mengawasinya.
Matanya tidak memiliki iris, atau pupil. Tapi patung itu
memandangnya. Jenna bisa merasakan tatapannya yang mengancam.
Sejenak ia mengira mendengar suara bulu-bulu bergerak, lalu
melihat sayap-sayap marmer itu bergetar sedikit.
Hendak terbang. Hendak menukik dan menyambar dirinya.
Jenna tersentak, berbalik hendak berlari.
"Jenna!" panggil Hallie saat ia bergegas keluar dari mausoleum.
Jenna mengabaikan temannya. Ia hanya ingin melarikan diri
dan tidak kembali lagi. Tapi Hallie berhasil menyusulnya tak lama
kemudian, menyambar lengannya, dan memaksanya berhenti.
"Ada apa denganmu?" tanya Hallie. "Apa yang terjadi?"
Karena terlalu ketakutan untuk berbicara, Jenna menunjuk ke
patung malaikat. Ia terpana ketika melihat mata patung itu terpejam.
Hallie mengerutkan kening. "Patung malaikat itu kenapa?"
"Di... dia memandangku."
"Mustahil," kata Hallie.
"Dia memandangku," Jenna bersikeras. "Matanya terbuka dan
memandangku!" Hallie menatapnya seakan-akan Jenna telah sinting. "Jenna, itu
hanya patung. Patung tidak bisa membuka matanya."
Jenna menggeleng. Ia tidak bisa mempercayainya. Patung tadi
tampak begitu nyata, sangat nyata. "Aku... kurasa memang tidak bisa,"
gumamnya. "Tapi aku begitu yakin tadi."
"Kau sudah membiarkan imajinasimu melayang tidak keruan,"
kata Hallie kepadanya. Tiba-tiba matanya berbinar nakal. "Ini pertama
kalinya. Jenna yang logis begitu ketakutan hingga mengira malaikat
marmer membuka mata dan memandangnya."
"Matanya benar-benar terbuka, aku berani bersumpah," kata
Jenna bersikeras. "Matanya besar, menonjol," tambahnya, tiba-tiba ia
menggigil. "Kau tidak memperhatikannya tadi?"
"Tidak, kurasa tidak," jawab Hallie. "Dan kurasa aku tidak
memperhatikan bahwa patung itu tadi sudah siap untuk menukik dari
tempatnya bertengger... dan menangkapmu!" jerit Hallie, meraih
Jenna dengan lengan yang diayunkan bagai sayap.
Jenna tertawa dan menggoda Hallie. Ia senang keisengan
sahabatnya telah mengusir ketakutannya.
"Ayo, kita lihat ke dalam mausoleum, lalu pergi," kata Hallie.
"Lalu, kalau orang-orang di kota mulai bercerita tentang keluarga
Fear, kita bisa bercerita kepada mereka bagaimana kita masuk ke
dalam mausoleum ini dan keluar lagi."
Jenna berusaha mengabaikan bulu kuduknya yang tiba-tiba
meremang. Ia sudah membiarkan imajinasinya melayang tidak keruan
sekali. Ia takkan membiarkannya terjadi lagi. Sambil mengertakkan
gigi, ia memaksa diri untuk menengadah memandang malaikat itu.
Mata malaikat tersebut tetap terpejam. Tidak balas memandangnya.
Tentu saja. Bagaimanapun juga, itu cuma patung. Cuma patung.
Ia menghela napas dalam-dalam dan mengikuti Hallie masuk ke
dalam makam. Ia sedikit ketakutan saat melintas di bawah malaikat
itu. Api lilin Hallie membentuk cahaya kekuningan yang menarinari di sekitar ruangan. Dinding, lantai, dan bahkan satu-satunya
bangku yang ada di tengah makam terbuat dari marmer hitam. Suara
lembut napas mereka terpantul pada bebatuannya.
"Di mana mereka?" bisik Hallie, berhenti tepat di depan pintu.
Jenna bisa melihat dua buah lempengan kuningan persegi yang
dipasang di dinding seberang mausoleum untuk menandai tempat
peristirahatan gadis-gadis Fear. Kelembapan telah mengubah warna
logam itu menjadi biru-kehijauan.
"Ada tulisan di plakat-plakat itu," jawab Jenna saat rasa
penasaran menguasainya. Ia mengambil lilin dari tangan Hallie dan mengacungkannya
tinggi-tinggi sambil mendekati plakat-plakat itu. Bau bunga busuk
semakin kuat. Akhirnya, ia bisa melihat huruf-hurufnya.
Julia Fear. Hannah Fear. Nama-nama itu terukir dalam-dalam di
kuningan, seakan-akan ada yang ingin memastikan nama-nama
mereka takkan pernah hilang. Gadis-gadis malang, pikir Jenna.
Mereka masih sangat muda. Kisah mengerikan tentang mereka tak
mungkin benar. "Aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada kalian
berdua," gumamnya. "Hannah yang malang. Julia yang malang."
Ia terdorong untuk menempelkan telapak tangannya ke plakat
yang menandai makam Julia. Ia tidak berencana untuk melakukannya,
tapi dorongan hatinya terlalu kuat untuk diabaikan. Ia telah bergerak
sebelum menyadari tindakannya.
Logam itu terasa hangat. Hangat seperti... kulitnya sendiri.
Aneh, apalagi karena bagian lain makam itu terasa begitu dingin dan
lembap. Jenna berbalik karena terkejut mendengar gemeresik lembut di
belakangnya. Sesosok kurus memenuhi ambang pintu. Ia mengenakan
pakaian putih-putih. Kegelapan menyembunyikan wajahnya. Saat ia


Fear Street - Sagas Vi Putri Putri Kesunyian Daughters Of Silence di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

maju selangkah dengan perlahan, angin mengibarkan gaunnya yang
panjang. Kaki Jenna bagai mati rasa.
Tanpa sadar, Hallie berdiri tidak bergerak di tempatnya. Di
belakangnya, sosok itu bagai melayang tertiup angin.
"Hallie!" bisik Jenna.
"Ada apa lagi sekarang?" tanya Hallie tak sabar.
Jenna membuka mulut hendak bicara. Tapi yang terdengar
hanyalah suara tercekik. Ia mengangkat tangannya yang gemetar dan
menunjuk. "Di belakangmu!" katanya dengan suara serak.
Hallie menatapnya sejenak, lalu berbalik. Jenna melihat lilin di
tangannya jatuh. Apinya mengerjap lalu padam, membuat makam
diselimuti kegelapan total.
Jenna mendengar suara temannya tersentak.
Lalu menjerit memekakkan telinga.
BAB 3 "BERANINYA kalian!" sosok itu meraung dalam kegelapan
total. Dengan napas tertahan, Jenna memandangi siluet sosok yang
diterangi sinar bulan di belakangnya itu perlahan-lahan mengulurkan
lengan yang panjang dan kurus. Tangan yang mirip cakar itu terjulur
untuk menangkapnya. Jenna memejamkan mata rapat-rapat dan berpegangan pada
tubuh Hallie yang gemetar. Malaikatnya, pikirnya. Aku sudah
menodai makam yang dijaganya, dan sekarang dia mau menangkapku.
"Lihat aku!" kata sosok itu.
Jenna perlahan-lahan membuka mata. Dalam cahaya keperakan
bulan, ia bisa melihat hantu itu menunjuk tepat kepadanya. Angin
berembus memasuki makam, rambut panjang sosok itu berkibar-kibar
di sekitar kepalanya. Jenna menatap jari yang begitu kurus hingga seakan hanya
terdiri dari tulang itu, berpikir bahwa kilat akan menyambar dari sana
dan mengubahnya menjadi abu. Hallie memeganginya erat-erat dan
gemetar. Ia membenamkan wajahnya ke lengan Jenna.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya sosok itu.
Jenna mengangkat kepalanya dan berusaha untuk bicara. Tapi
setiap kali ia menatap sosok itu, tubuhnya gemetar hebat. Ia berjuang
mengatasi sensasi itu. Mencoba mengusirnya. Tidak ada gunanya.
Gigi Jenna gemeletuk saat melirik sosok misterius itu. Hawa
dingin menusuk tulang menerobos tubuhnya bagai ribuan jarum es. Ia
memeluk dirinya sendiri dan merosot ke lantai, berjongkok bagai
sebuah bola yang gemetar. Sepertinya Hallie juga mengalami hal yang
sama. "Aku bertanya pada kalian!" jerit sosok bersuara serak itu
menggema pada dinding-dinding batu. "Gadis-gadis jahat!"
"Ka-kami hanya ingin melihat..." kata Jenna susah payah.
"Beraninya kalian!" jerit sosok hantu itu. "Beraninya kalian
mengganggu tempat peristirahatan putri-putriku!"
Putri-putriku" Ini bukan hantu. Bukan malaikat pembalas
dendam yang mengerikan, Jenna tersadar.
Hanya satu orang yang mungkin berdiri di ambang pintu itu.
Angelica Fear. Jenna memberanikan diri melirik Angelica Fear. Ia bergegas
bangkit. Lalu mengulurkan tangan dan menarik Hallie ikut bangkit.
Oh, tidak! Mereka menghadapi masalah besar sekarang. Jenna
melirik Hallie. Tapi temannya itu hanya berdiri dengan tangan
menutupi mulut dan mata terbelalak ketakutan. Jelas sekali, Jenna
yang harus menjelaskan. "Ma'am," bisiknya. "Mrs. Fear..."
"Nyalakan lilin kalian," kata wanita itu. "Aku ingin melihat
wajah kalian. Perusak kecil sialan. Aku ingin menatap mata gadisgadis yang sudah menodai makam kedua putriku tercinta."
Jenna membungkuk dan meraih lilin dari lantai. Dengan
tergesa-gesa, Hallie merogoh sakunya mencari korek, lalu menyulut
lilinnya. Tangan Jenna agak gemetar saat ia berbalik menghadapi Mrs.
Fear. Tapi wajah wanita itu tetap tersembunyi dalam bayang- bayang.
"Kami tidak bermaksud kurang ajar, Ma"am, kata Jenna
berusaha meyakinkannya. "Kami tidak merusak apa pun. Kami hanya
penasaran." "Penasaran?" tanya Angelica. "Tentang apa?"
Jenna merasakan pipinya memanas karena malu. "Kami, eh,
mendengar cerita-cerita..."
"Ah, ya," kata Angelica mengerang. "Aku sudah mendengar
gosip buruk mereka tentang putri-putriku. Putri-putriku yang malang."
Ia mendengus. "Tak ada yang tahu penderitaan mereka." Ia mendesah.
"Masih menderita," bisiknya, sambil menutupi mata dengan tangannya
yang kurus dan pucat. Kesunyian memenuhi makam. Jenna tak berani berbicara. Ia
hanya mendengar desahan Angelica Fear dan napas Hallie yang
pendek-pendek dan cepat. Tiba-tiba, Angelica Fear menurunkan tangannya dan menatap
Jenna dengan pandangan tajam menusuk. "Dan kau ini siapa?"
tanyanya dengan nada sedingin es.
"Nama saya Jenna Hanson. Ini teman saya, Hallie Sheridan."
Setelah menghela napas dalam-dalam, ia melanjutkan. "Keluarga
Hallie baru saja pindah ke Shadyside, dan saya kemari untuk
melewatkan musim panas bersama mereka. Kami berteman baik.
Sebenarnya, kami bahkan seperti saudara..."
Angelica melangkah masuk ke dalam makam. Dan Jenna
akhirnya bisa memandang wajahnya dengan baik. Rambut Angelica
hitam dan tampak mengilat bagai bulu burung gagak. Sejumput uban
tebal, sangat kontras, berkilau keperakan tertimpa cahaya lilin.
Tulang-tulang pipinya tinggi dan tajam, pipi- pipinya cekung. Di
bawah alis hitam yang tebal terdapat sepasang mata hijau keras yang
berkilau bagai zamrud. Menurut Jenna ia sangat cantik. Tapi ada sesuatu dalam
penampilan wanita itu yang membuat Jenna merasa aneh. Perasaan
yang mengganggu. "Saudara," gumam Angelica. "Ya."
Jenna menunggu wanita yang lebih tua itu bicara lagi. Tapi
ternyata tidak. Kesunyian terus berlangsung tidak nyaman.
"Tidak ada alasan yang bagus untuk menjelaskan pelanggaran
yang kami lakukan, Mrs. Fear," kata Jenna. "Kami hanya bisa minta
maaf. Dan berjanji takkan melakukannya lagi."
Kelopak mata Angelica menutup sejenak. Lalu ia membukanya
kembali, ia menatap mata Jenna dengan tajam. Jenna mengatakan
pada dirinya sendiri bahwa kedua mata Angelica Fear normal,
sepasang mata milik wanita yang normal. Tapi berada di dalam
makam kedua putrinya seperti ini, mata Angelica tampak seperti kaca
yang jernih dan keras. Sekejam dan sebuas langit yang semburat
kehijauan diamuk tornado.
Lalu Angelica mengerjapkan matanya, kebuasan serta
kekejamannya menghilang. Seakan-akan tak pernah ada. Jenna
penasaran apakah ia memang benar-benar melihat kebuasan dan
kekejaman di sana tadi. "Permintaan maaf kalian kuterima," jawab Angelica pelan.
"Tapi sekarang sesudah kutemukan kalian berdua di sini, kalian harus
tinggal dulu sejenak dan bercakap-cakap. Kalian harus menceritakan
tentang diri kalian sendiri lebih banyak lagi, Jenna dan Hallie."
"Maaf, Mrs. Fear, tapi saya rasa kami tidak bisa..." sembur
Hallie. "Tentu saja kalian bisa. Harus!"
Mendengar kata-kata Angelica yang tajam Jenna merasa setiap
otot di tubuhnya menegang. Jenna hampir-hampir tak bisa menarik
napas sewaktu mengawasi Angelica menyingkirkan seuntai rambut
hitam pekat dari wajahnya. Perhiasan berat pada jemarinya yang kurus
memantulkan cahaya api lilin.
"Kalian harus mengerti, aku kemari setiap kali merasa
kesepian," gumam Angelica pelan. "Aku merasa nyaman berada dekat
putri-putriku...." "Ma'am..." Jenna memulai.
"Cerita-cerita mereka tentang gadis-gadisku..." lanjut Angelica
seakan-akan Jenna belum berbicara sama sekali. "Semuanya tidak
benar, Nak. Kalian jangan mempercayainya," ia bersikeras sambil
menggeleng kuat-kuat. "Begitu isunya dimulai, tak ada yang bisa kami
lakukan untuk menghentikannya. Mungkin karena nama kami.
'Fear'"takut"cenderung menimbulkan reaksi tertentu dari orangorang. Wajar saja, kurasa...." Suaranya mengambang.
Ia menatap dinding seberang, tenggelam dalam pemikirannya.
Jenna penasaran apakah ia telah melupakan kehadiran mereka.
Mungkin mereka bisa menyelinap pergi. Ia melirik Hallie di
sampingnya. Ayo pergi dari sini! ucapnya tanpa suara.
Hallie mengangguk. Mereka mulai bergeser mendekati pintu.
Lalu Angelica menatap mereka begitu tajam. Pandangan
Angelica tidak lagi menerawang. Menghadapi tatapan seperti itu
rasanya seperti ditusuk pasak runcing. Jenna membeku di tempatnya.
Sambil tetap mengawasi mereka, Angelica Fear melangkah ke
plakat yang menandai makam Hannah. Jemarinya tampak begitu pucat
hingga bagai tembus pandang saat Angelica menyentuh plakat
kuningannya. "Mereka mengatakan hal-hal buruk tentang kedua putriku,"
gumam Angelica. "Bagaimana bisa ada yang berpikir bahwa salah
satu putriku membunuh putriku yang lain" Anak-anakku saling
menyayangi. Kucoba untuk tidak mendengarkan cerita-cerita
menyeramkan itu. Kucoba untuk tidak memedulikannya."
Tangan Angelica merosot ke sisinya. Angin berputar-putar
memasuki makam. Api lilin menari-nari dan berkelap-kelip. Sejenak,
mata Angelica Fear tampak sehitam dan sedalam langit malam. Bulubulu di tubuh Jenna meremang karena sangat ketakutan.
Lalu angin berhenti bertiup, dan api kembali menyala terang.
Angelica memandang Jenna dengan hangat.
"Aku senang kalian berdua datang kemari malam ini," katanya
mengakui. "Sudah lama sekali Julia dan Hannah tidak mendapat tamu
yang sebaya dengan mereka. Aku yakin mereka senang."
Mulut Jenna ternganga. Kata-kata itu benar-benar aneh!
Pergi, pikirnya. Sekarang. Jauhi wanita ini sejauh mungkin.
Kehilangan kedua putrinya telah membuatnya sinting.
"Eh, trims," gumam Jenna, sambil menyodok Hallie ke arah
pintu. "Sebaiknya kami pergi. Orangtua Hallie pasti penasaran ke
mana kami pergi." "Tunggu," seru Angelica.
Dengan enggan, Jenna berbalik. Angelica berdiri di dalam
kegelapan sekarang. Jenna hanya bisa melihat kilau mengerikan gaun
putihnya. "Kalian harus mengunjungiku sesekali di rumah," katanya.
"Kami sangat kesepian, Simon dan aku. Tampaknya tak seorang pun
cukup berani mengunjungi keluarga Fear. Tapi kalian tampaknya
lebih bernyali daripada orang-orang lain. Datanglah. Pasti
menyenangkan kalau ada dua gadis di rumah lagi. Aku rindu
mendengar suara tawa."
"Selamat malam, Mrs. Fear," gumam Jenna sebagai jawaban.
Ia menarik lengan Hallie dan menyeretnya ke pintu. Begitu di
luar, mereka segera berlari.
Jenna berlari hingga napasnya tersengal-sengal dan denyut
nadinya berdetak bagaikan palu di telinganya. Ia tidak berpaling
hingga melewati gerbang pemakaman. Lalu ia memberanikan diri
melirik ke belakang sekali untuk memastikan bahwa Hallie ada di
belakangnya. "Berhenti," kata Hallie sambil terengah-engah, meraih lengan
Jenna. "Aku tak bisa lari lagi."
Jenna membiarkan dirinya ditarik hingga berhenti. Ia
menumpukan tangan ke lutut dan terengah-engah mengatur napas.
"Kau percaya semua ini?" tanya Hallie.
"Tidak," jawab Jenna. "Wanita yang aneh."
************* Saat waktu tidur tiba, Hallie menyulut lilin dan mengajak Jenna
ke atas. Lingkaran cahaya yang bergoyang-goyang mengelilingi
mereka, bergerak menaiki tangga bersama mereka.
"Kalian jangan bercakap-cakap terus sepanjang malam," kata
Mrs. Sheridan dari bawah.
"Tidak, Ibu," jawab Hallie. Dengan suara rendah, ia berbisik,
"Cuma sebagian besar malam."
Kamar tidur Hallie terletak di bawah atap. Kertas dindingnya
berhiaskan gambar bunga-bunga daisy yang cantik. Tirainya juga
bergambar bunga daisy kuning yang sesuai, dan selimut hijau dan
putih menutupi dua ranjang sempit.
"Kau tidur dekat jendela," kata Hallie kepada Jenna.
Jenna duduk di ranjang. Sambil menguap, ia menyandar ke
kepala ranjang yang terbuat dari besi. "Ingat bagaimana kita dulu
sering bermain lompat katak dari ranjang ke ranjang?" tanyanya.
"Mana bisa lupa," seru Hallie. Matanya berbinar-binar. "Ibumu
sangat marah sewaktu kita mematahkan ranjangmu!"
Ia duduk di seberang Jenna. Hallie meraih sikat dari meja di
samping ranjang dan mulai menyikat rambutnya. "Ingat Sumpah
Saudara kita" Ayo kita lakukan lagi!"
"Hallie, kita berumur enam tahun sewaktu mengarangnya!"
"Memangnya kenapa?" tanya Hallie.
Jenna tersenyum. "Oh, baiklah."
Sambil menyilangkan lengannya ia meraih tangan kanan Hallie
dengan tangan kanannya, tangan kiri Hallie dengan tangan kirinya.
"Kita bersaudara. Kita bersatu dan saling melindungi. Kau
melindungiku dan aku melindungimu. Selamanya."
"Selamanya," ulang Hallie.
Mereka berjabat tangan sekeras-kerasnya, lalu menyilangkan
kembali lengan mereka dan berjabatan tangan lagi. Jenna tertawa.
"Sekarang ayo tidur."
Hallie meniup lilinnya hingga padam. Kegelapan menguasai
kamar, hanya dipecahkan oleh cahaya bulan samar yang bergerakgerak melalui jendela.
Jenna mengganti pakaiannya dengan gaun tidur dan menyelinap
ke bawah selimut. Ia kelelahan. Perjalanan kereta api yang panjang,
ketakutan di pemakaman, gadis-gadis tanpa tulang, Angelica Fear....
Kelopak matanya menutup. "Jenna?" "Mmmm?" "Apa pendapatmu tentang keluarga Fear?"
Dalam kegelapan di balik kelopak matanya yang terpejam,
Jenna mengenang kembali Angelica Fear. Begitu cantik. Dan begitu
aneh. Sejenak, bau bunga mati di pemakaman kembali mengambang
di udara malam. Napas Jenna tercekat di tenggorokannya. Lalu ia menggeleng.
Imajinasinya telah berkeliaran tanpa kendali malam ini. Ia takkan
mengulanginya. "Kukira Mrs. Fear aneh," katanya. "Tapi aku juga kasihan
padanya. Bagaimanapun juga, dia kehilangan kedua putrinya. Sedang
mengenai isu-isu tentang mereka, well, aku tak percaya dua saudara
bisa saling membunuh."
"Kau tidak tergoda, bahkan sesedikit apa pun, untuk percaya..."
"Tidak," kata Jenna tegas.
Hallie terdiam. Jenna merasakan dirinya mulai terlelap.
"Jenna?" "Ya, Hallie?" gumamnya.


Fear Street - Sagas Vi Putri Putri Kesunyian Daughters Of Silence di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kita akan mengunjungi keluarga Fear, kau tahu."
Seketika Jenna membuka matanya. Ia duduk tegak di ranjang.
"Kenapa?" "Well, dia mengundang kita, itu salah satu alasannya."
Tirai-tirai bergerak tertiup angin, menggoyang bayang-bayang
di langit-langit kamar. "Aku tidak ingin mengunjungi Angelica Fear,"
kata Jenna kepada temannya.
"Di mana semangat petualanganmu?" tantang Hallie.
"Kurasa aku sudah menggunakannya sampai habis malam ini,"
balas Jenna. Hallie tertawa. "Oh, ayolah, Jenna. Kau tidak ingin melihat
bagian dalam rumah keluarga Fear" Berani taruhan tidak seorang
penduduk kota pun yang pernah masuk ke sana selama ini."
"Dan mungkin karena alasan yang bagus, Hallie," kata Jenna.
"Sejujurnya, kau tidak penasaran sedikit pun?" desak Hallie.
"Tidak, sejujurnya tidak," kata Jenna bersikeras. Sekalipun
diam-diam ia mengakui bahwa ia memang sedikit penasaran.
Sebenarnya malah lebih dari sekadar sedikit.
Kasur bulu Hallie bergemeresik saat ia menggeser posisinya.
"Jenna, kau tahu sebenarnya aku tidak jujur sewaktu mengatakan
bahwa aku suka tinggal di sini. Aku belum mendapatkan teman satu
pun." "Oh, Hallie, nanti juga kau akan mendapat teman."
"Aku sudah berusaha sebaik-baiknya," keluh Hallie. "Aku
orang luar di sini. Gadis-gadis yang lain sopan, tapi tak seorang pun
pernah berkunjung kemari. Terkadang kupikir aku takkan bisa
menyesuaikan diri di sini."
"Apa hubungannya dengan keluarga Fear?" tanya Jenna.
"Dengar, aku juga tidak senang ke sana," kata Hallie mengakui.
"Tapi terpaksa. Kau mengerti, tidak seorang pun yang pernah berani
mendekati pintu depan keluarga Fear, apalagi masuk ke dalam rumah.
Kalau kita pergi, semua gadis lain pasti ingin mendengar ceritanya. Ini
kesempatanku untuk mendapat teman."
"Oh, Hallie." "Please?" pinta Hallie.
Jenna ingin menolak, tapi tidak mampu. Hallie sahabatnya.
Kalau mengunjungi rumah Fear akan membuatnya lebih mudah
mendapat teman di Shadyside ini, maka Jenna akan membantunya.
"Baiklah," gumamnya. "Akan kutemani. Tapi hanya sekali."
"Kau saudara terbaik yang bisa dimiliki seorang gadis," kata
Hallie. "Yang paling baik."
"Sekarang, boleh aku tidur?" pinta Jenna.
Hallie tertawa. "Aku tak sadar sudah membuatmu tetap terjaga.
Ya, Jenna. Silakan tidur."
Sambil mendesah, Jenna memejamkan mata. Perlahan-lahan,
dunia mulai memudar. Ia tidak benar-benar tertidur. Sekalipun begitu,
bayang-bayang samar bagai mimpi memenuhi benaknya. Bentukbentuk pucat yang bergerak-gerak di langit malam. Mantel-mantel
bagai hantu yang berkibar-kibar, melayang seiring kepakan sayap.
Suara samar di luar menyentakkannya kembali ke alam sadar.
Sejenak Jenna berbaring tidak bergerak, mendengarkan. Ia mendengar
suara itu lagi. Apa itu " Ia mendengarnya sekali lagi. Lebih keras. Lebih dekat. Suara
gemeresik itu membuat Jenna duduk tegak di ranjang. Bulu-bulu di
tubuhnya meremang saat ia menyadari apa yang menimbulkan suara
aneh itu. Sayap-sayap. Sesuatu yang besar, terbang. Menukik melintasi langit malam.
BAB 4 "HALLIE!" bisik Jenna. "Hallie, bangun."
Ia mendengar sahabatnya bergumam. Lalu melihat Hallie
berguling dan menekankan kepalanya semakin dalam ke bantal. Jenna
berjuang untuk bangun. Ia berjingkat-jingkat mendekati jendela. Di
bawah cabang-cabang pohon, hutan tampak gelap dan berbayangbayang.
Tidak seberkas cahaya bulan pun mampu menerobos ke sana.
Jenna menatap tajam ke hutan. Tak ada yang bergerak. Lalu
sesosok bayangan pucat melesat keluar dari keremangan di bawah
pepohonan. Sosok itu membubung, terbang di atas hutan. Lalu menukik
langsung ke arah Jenna. Sayap-sayap pucat yang mengepak-ngepak menghantam
jendela. Cakar-cakar menderit di kaca. Jenna sekilas melihat sepasang
mata bulat yang menatap tajam dan sebentuk mulut yang tidak
normal, membuka dan menutup. Membuka dan menutup.
Sambil menjerit, ia tersentak mundur. Lututnya menghantam
tepi ranjang, membuatnya jatuh ke lantai dengan suara keras.
"Ada apa?" jerit Hallie, terlonjak di ranjangnya.
"Je... jendela!" kata Jenna sambil tersentak.
Hallie turun dari ranjang dan melangkah ke jendela. "Aku tidak
melihat apa pun," gumamnya dengan nada mengantuk. "Oh! Sekarang
aku melihatnya!" tambahnya dengan nada terkejut. Ia mundur
selangkah dari jendela dan memandang Jenna.
Jenna harus mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk
bangkit berdiri dan kembali ke jendela. Tapi ia harus melihatnya. Ia
harus mengetahuinya. Denyut nadi seolah berdentam-dentam di
telinganya saat ia memandang keluar.
Sesosok putih melayang di antara angin. Bulu-bulu panjang
sayapnya membentang saat sosok itu melayang turun berputar-putar.
Lalu kembali membubung, mencengkeram sesuatu yang kecil dan
terkulai di cakarnya. Gumpalan bulu mencuat mirip telinga.
"Itu pasti burung hantu terbesar yang pernah kulihat," kata
Hallie sambil terhuyung-huyung kembali ke ranjang. "Tampaknya
berhasil menangkap tikus untuk makan malam."
Jenna mengembuskan napas lega. Burung hantu lumbung!
Memburu tikus sawah. Betapa bodoh dirinya! Ia gemetar karena lega
saat naik kembali ke ranjang.
Sesudah pengalamannya hari ini, kunjungan ke rumah keluarga
Fear akan terasa sangat mudah.
**************** Rumah keluarga Fear menjulang di puncak sebuah bukit
rendah. Tingginya tiga tingkat, dengan fondasi dari bebatuan berwarna
hijau-kehitaman. Tanaman ivy yang lebat dan kehitaman menyelimuti
bebatuan itu, terus ke atas hingga di deretan batu bata cokelat tua.
Mengelilingi jendela-jendela dan ambang-ambang pintunya yang
melengkung, tanaman ivy itu merambat hingga hampir mencapai
lantai kedua. Sebuah tangga batu panjang dan melengkung serta dua menara
di kedua sisi rumah mengingatkan Jenna akan puri dalam dongeng.
Puri yang terkena kutukan jahat. Atap kelabunya yang runcing dan
cerobongnya yang tinggi menambah kesan yang menakutkan itu.
Dahan sebatang pohon ek raksasa di halaman depan menjuntai
rendah ke arah rumah. Pohon itu sekarat. Cabang-cabangnya yang tak
berdaun bagai tulang-belulang menjulur ke atap seperti lengan-lengan
kurus yang terulur. Seolah pohon itu ingin menyeret rumah tersebut ke
dalam kematian bersamanya.
"Tempat ini menakutkan," bisik Hallie.
"Setuju. Kau yakin kau mau melakukannya?" tanya Jenna.
Temannya itu menatapnya dengan mata biru yang menari-nari.
"Aku tidak bersedia membatalkannya demi apa pun."
Kaki Jenna terasa lemas saat ia menaiki tangga batu menuju
serambi yang remang-remang. Sebuah pengetuk kuningan tergantung
di tengah pintu depan. Jenna tidak bisa memastikan pengetuk itu
menggambarkan apa. Semacam hewan, pikirnya. Singa atau harimau,
mungkin" Lalu ia melihat lidahnya yang bercabang bagai ular. Lidah itu
terjulur melengkung di sela-sela taring yang panjang dan runcing.
Perut Jenna bergolak hebat.
"Ketuklah," bisik Hallie.
"Kau," balas Jenna.
"Kau yang lebih dekat."
Jenna meraih pengetuk itu dan mencoba untuk mengangkatnya.
Sejenak, pengetuk itu terasa bagai menolak sentuhannya. Jenna
mengangkatnya lebih kuat lagi. Lalu pengetuk itu mengendur, begitu
tiba-tiba hingga buku-buku jari Jenna menghantam kening makhluk
kuningan itu. Bongggggg. Dentangan metaliknya menggema ke seluruh
rumah. Jenna membiarkan pengetuk itu jatuh kembali ke tempatnya
dan menggosok buku-buku jarinya yang terkelupas.
Tiba-tiba, pintunya terayun membuka.
Jenna tidak bisa melihat apa pun kecuali bayang-bayang di
bagian dalam rumah. Gelap. Pekat.
Ia menghela napas dalam-dalam. Tenggorokannya tercekat dan
kulitnya terasa dingin meskipun udara musim panas hangat.
Siapa yang membuka pintunya"
Sesosok bentuk oval pucat muncul dalam kegelapan. Wajah,
pikir Jenna menyadari. Wajah seorang pria, keras dan tajam. Dan
jelek. Hampir menakutkan, pikir Jenna saat perutnya bergolak ingin
muntah. Dua lubang hitam sebagai mata, tulang pipi yang menonjol,
segaris lubang sebagai mulut.... Jenna melompat terkejut saat Hallie
menyambar lengannya. "Jenna, siapa itu?" bisik Hallie..
Jenna hanya bisa menggeleng. Wajah itu semakin dekat. Dua
bercak pucat yang lebih kecil tampak melayang keluar dari
keremangan. Tangannya, Jenna tersadar dengan syok.
Tidak lama kemudian ia bisa mengenali sosok tubuhnya. Napas
Jenna tersentak. Jadi itu sebabnya! Pakaian hitam pria itu menyatu
dengan kegelapan sehingga wajah dan kedua tangannya bagai tidak
bertubuh. "Apa yang kalian lakukan di sini?" suaranya menggelegar ke
arah mereka. Jenna merasa seperti ada cakar tikus yang tajam merayapi
tulang punggungnya. Ia ber?harap bisa melihat mata pria itu, tapi
keduanya begitu gelap hingga mirip lubang di wajahnya. Kengerian
mencekam hatinya, Jenna sama sekali melupakan cengkeraman Hallie
yang menyakitkan lengannya.
"Jawab," perintah pria itu dengan suara dalam.
"Eh, kami kemari untuk mengunjungi Mrs. Fear," kata Jenna.
Lubang-lubang hitam itu beralih kepadanya. "Tidak ada yang
berkunjung kemari." "Simon sayang, apa itu tamu-tamu kita?"
Suara Angelica terdengar dari balik ambang pintu di bagian
belakang serambi. Ia muncul, gaun kremnya tampak seakan
memancarkan cahaya sendiri. Rambutnya diatur berbentuk bulu
burung gagak. Sejenak ia tampak seperti seorang gadis muda. Lalu ia
memiringkan kepalanya, menampilkan berkas ubannya.
"Tamu?" tanya Simon, sambil melirik kepada istrinya.
"Ini gadis-gadis yang kutemui semalam," kata Angelica Fear
menjelaskan. "Ingat" Aku sudah bercerita tentang mereka padamu."
"Ah." Simon Fear mengangguk. Alis matanya yang gelap
terangkat dan matanya membelalak. "Gadis-gadis itu. Aku ingat
sekarang." Sesuatu berkilau dalam genangan hitam matanya. Sesuatu yang
sangat menakutkan, pikir Jenna.
"Maaf aku sempat melupakan sopan santun, ladies," gumam
Simon Fear sambil membuka pintu lebih lebar. "Izinkan aku
menyambut kalian di rumah kami."
Jenna melihat sinar matahari membanjir masuk ke serambi,
menghapus kegelapan menakutkan yang menyembunyikan mata
Simon Fear. Jenna membalas tatapannya yang tajam menusuk, lalu
mengalihkan pandangannya.
Pandangan Simon membuatnya takut. Dekat dan hitam, seakanakan memancar dari balik kelopak tidak berwarna yang mirip kelopak
mata cicak. Ia mengenakan jas dan celana panjang hitam menutupi
tubuhnya yang jangkung dan kurus. Di atas kerah putihnya yang kaku,
wajah Simon Fear tampak kurus bulat, kulitnya yang kekuningan
tampak pucat dan kurang sehat. Bekas luka putih yang tipis dan
bergerigi membentang dari sudut mata kirinya hingga ke garis
rahangnya. Hidungnya yang mancung dan bengkok mengingatkan
Jenna akan paruh burung yang runcing. Rambut hitamnya yang disisir
lurus ke belakang dari keningnya, tampak mengilat karena minyak.
Simon tidak berkumis, tapi janggut lebat menutupi pipi-pipinya yang
cekung. "Silakan masuk," undangnya.
Jenna merasa bulu kuduknya meremang. Lalu ia merasa Hallie
mendorongnya masuk. Bagian dalam rumah terasa sejuk, dan lembap. Aroma
kelembapan menggelitik hidung Jenna. Bayang-bayang gelap
menyelimuti sudut-sudutnya, dari tirai-tirai hijau tua di setiap jendela
hingga tangga marmer hitam yang melingkar ke lantai dua.
Jenna mendengar suara berdenting kecil. Ia menengadah.
Sebuah tempat lilin kristal, terembus angin, bergemerincing di atas
kepala. Berkas-berkas pelangi bermain-main di lantai dan dindingdinding saat angin mengguncang prisma-prisma kristal itu. Lalu
Simon menutup pintu, membuat ruangan itu kembali gelap.
"Kami senang sekali kalian datang," kata Angelica kepada
mereka. "Ayo ke ruang duduk, kita nikmati teh di sana. Dan harap
kalian maklum tentang kurangnya cahaya," gumam Angelica.
"Mataku sangat peka. Dokter memerintahkan untuk membiarkan tiraitirainya terpasang di siang hari, baru minggu yang lalu. Simon dan
aku cukup mengenal rumah ini sehingga kami jarang menggunakan
lampu." Bagi Jenna tampaknya tirai-tirai itu sudah bertahun-tahun tidak
dibuka. Bukan baru beberapa hari.
"Sudah lama sekali kami. tidak mendapat tamu," kata Angelica
kepada keduanya. "Sulit dikatakan bagaimana bahagianya kami
dengan kedatangan kalian. Benar, Simon?"
"Sepenuhnya, kekasihku," jawab Simon Fear.
Jenna melirik ke belakang ke arah pria itu. Entah bagaimana
Simon Fear terasa lebih jangkung saat melangkah di belakang mereka.
Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Matanya membara
bagai mengandung api hitam rahasia. Jenna bisa memahami
bagaimana isu-isu mengerikan itu berawal.
"Kita sampai," gumam Angelica, memimpin jalan memasuki
ruang duduk. Jenna belum pernah berada di ruangan semewah itu
sebelumnya. Ia belum pernah melihat perabotan semahal itu maupun
karpet- karpet setebal itu. Tirai-tirai tebal juga menutupi jendelajendela di ruangan itu, tapi sebuah jendela kaca berwarna yang bulat,
jauh tinggi di dinding selatan, memasukkan cahaya keemasan bagai
perhiasan ke dalam ruangan.
"Simon sayang, bisakah kaumintakan teh?" tanya Angelica
sambil duduk di sofa. Ia menepuk-nepuk bantalan di sampingnya.
"Kemarilah, girls."
Simon menarik seutas tali berbordir yang menjuntai di sudut
seberang ruangan. Lalu ia duduk di kursi di seberang sofa dan
mengamati tamu-tamunya dengan teliti.
"Jadi, girls, bagaimana kalau kalian ceritakan tentang diri kalian
sendiri?" tanyanya. "Hallie, kalau tidak salah keluargamu baru pindah
ke Shadyside ini?" Hallie mengangguk. "Ayahku guru sekolah yang baru."
"Profesi yang mengagumkan," kata Angelica. "Bagaimana
pendapatmu tentang kota barumu?"


Fear Street - Sagas Vi Putri Putri Kesunyian Daughters Of Silence di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Boleh juga, kurasa," jawab Hallie. Lalu ia mengejutkan Jenna
dengan menambahkan, "Tapi di sini agak sulit untuk mencari teman."
Simon memiringkan kepala ke satu sisi. Jenna melihat lehernya
yang kurus menjulur keluar dari kerahnya bagai leher kura-kura.
"Pada waktunya nanti, Sayang. Pada waktunya. Shadyside desa kecil,
dan orang-orangnya butuh waktu untuk menerima pendatang baru."
"Di New Orleans, situasinya pasti jauh berbeda," kata Angelica
kepada mereka. "Aku bisa menyelenggarakan pesta selamat datang
untuk menyambut kehadiran kalian. Ada pesta dansa, makan-makan,
dan opera. Sialnya, di Shadyside tidak ada yang seperti itu."
"New Orleans!" Mata Hallie menggelap karena terpesona. "Aku
selalu ingin ke sana."
Angelica mendesah. "Ah, New Orleans tempat yang
menyenangkan. Tapi lalu kami harus kemari, dan kukira tempat ini
juga menyenangkan, tapi kemudian gadis-gadisku..."
Jenna melihat senyuman Angelica memudar. Lalu ekspresinya
berubah ceria. "Well, senang rasanya ada tamu."
Jenna mendengar ada yang mengetuk pintu. Simon bangkit
berdiri dan membukakannya. Jenna berusaha melihat pelayannya.
Tapi sewaktu Simon membuka pintu, Jenna hanya melihat sebuah
kereta teh kayu bermuatan cangkir dan piring-piring kecil keramik
berisi kue-kue. Poci teh peraknya berkilau dan lipatan serbet
berkanjinya berdiri bagai pasukan penjaga di sekeliling piring.
Simon mendorong kereta itu masuk ke dalam ruangan dan
menghentikannya di depan Angelica. "Well, apa yang bisa ditawarkan
kepada tamu-tamu kita ini?" tanya Angelica. "Ada yang menarik
menurut kalian, girls?"
Air liur Jenna membanjir saat mencium bau lezat kue scone
yang baru diangkat dari panggangan. Angelica menyiapkan teh dan
kue bagi mereka masing-masing. Tidak lama kemudian, Jenna dan
Hallie dengan penuh semangat menghirup teh wangi dan mencicipi
kue-kue terlezat yang pernah mereka cicipi.
Jenna mencoba menjaga sikapnya dan bersantap dengan gaya
seorang wanita terhormat. Tapi sewaktu Angelica menawarkan untuk
menambah kuenya, ia tak mampu menahan diri.
"Sepertinya kau menyukai kue scone-nya," kata Angelica.
"Ya, Ma'am," kata Jenna menyetujui.
"Lezat sekali," tambah Hallie.
Angelica tersenyum. "Aku sendiri yang membuatnya. Aku
belajar dari seorang pelayan Skotlandia dulu, bertahun-tahun yang
lalu." Senyumnya memudar. "Putri-putriku dulu juga menyukainya.
Aku tak pernah bisa memanggang cukup banyak. Terkadang mereka
bahkan memunguti remah-remahnya...."
Sejenak, Jenna merasa melihat mata wanita itu berkaca-kaca. Ia
kasihan pada Angelica. Ya, dia mungkin terkadang tampak aneh.
Tapi, bagaimanapun juga, dia sudah kehilangan kedua putrinya.
Simon mencondongkan tubuh ke depan. "Kalau tidak salah kau
hanya berkunjung kemari, Jenna."
"Selama musim panas ini," kata Jenna. "Hallie dan aku
bersahabat, dan sulit sekali bagi kami untuk tinggal terpisah."
"Mereka seperti saudara," kata Angelica kepada suaminya.
"Ah," jawab Simon dengan khidmat. "Seperti saudara."
Ia dan istrinya bertukar pandang dan tersenyum. Lalu Angelica
berpaling kepada Jenna. "Apa pendapatmu tentang, Shadyside, Jenna?" tanyanya.
"Aku belum sempat melihat-lihat banyak tempat sejak tiba
semalam," jawab Jenna.
Simon tergelak. "Kudengar kau sempat menjalani tur yang luar
biasa di pemakaman."
Jenna merasa pipinya memanas. "Well..."
"Tidak apa, Sayang," kata Simon berusaha meyakinkannya.
"Istriku dan aku menyadari bahwa kalian hanya penasaran, dan
semangat tinggi kalian sudah memancing kalian datang ke tempat
peristirahatan kedua putri kami. Kami tak pernah marah terhadap anak
muda yang agak... tinggi semangatnya."
Ia dan Angelica tertawa. Jenna tidak memahami di mana
leluconnya, tapi maklum, ini orang-orang dewasa.
"Aku tidak akan khawatir mengenai tidak mendapat teman,"
kata Simon kepada mereka, sambil terus tertawa. "Kalian berdua
begitu cantik.... Aku yakin tak lama lagi akan banyak pemuda yang
minta perhatian kalian."
Jenna mengamati mereka. Angelica tidak lagi tampak aneh, dan
Simon juga tidak menunjukkan ekspresi muram yang tadi sempat
membuatnya ketakutan. Ia merasa dirinya mulai santai dan menikmati
suasananya. Ia terkejut sewaktu Hallie meletakkan piringnya dan
beranjak bangkit. "Kami harus pergi sekarang," kata Hallie. "Orangtuaku akan
mencari-cari kami." "Mereka tidak tahu kalian pergi?" tanya Simon.
Wajah Hallie memerah. Jenna sadar Hallie sedang
menggunakan tipuan lamanya. "Well..."
"Ah, jadi kalian tidak memberitahu mereka bahwa kalian akan
mengunjungi keluarga Fear yang aneh dan menakutkan," kata
Angelica. Dengan wajah masih merah, Hallie menunduk.
"Tidak perlu merasa malu, Sayang," Simon berusaha
meyakinkannya. "Kami sudah biasa dengan apa yang dikatakan orangorang tentang kami. Kami bahkan sudah belajar untuk tidak
memedulikannya. Aku hanya senang kalian mau datang sekalipun ada
isu-isu itu." Ia beranjak bangkit. "Sekalipun begitu, kami tak boleh
membiarkan kalian mendapat masalah. Jadi, kalau sekarang kalian
harus pulang, silakan."
"Tapi sebelumnya," gumam Angelica sambil beranjak bangkit
dari kursinya. "Ada yang ingin kutunjukkan kepada kalian."
Ia kembali melirik Simon, Jenna tersadar. Seakan diam-diam
dia minta izin suaminya, begitu menurut perasaan Jenna. Simon
mengangguk kepada istrinya dan Angelica tersenyum.
"Ayo, girls," kata Angelica sambil melambaikan tangan. "Ikuti
aku." Suami-istri Fear mengajak keduanya menyusuri lorong remangremang ke serambi, lalu menaiki tangga melengkung. Di puncak
tangga, mereka berbelok memasuki koridor remang-remang dan
sempit yang lain. Jenna merasa perutnya melilit tidak nyaman.
Akhirnya, Angelica berhenti dan membuka sebuah pintu kayu
ek yang berat. Tirai-tirai tebal menutupi jendela-jendelanya, sama
seperti ruangan-ruangan lain, Jenna tersadar. Tapi cahaya yang ada
cukup baginya untuk bisa melihat kamar dengan jelas. Sebuah
ranjang, seluruhnya didekorasi dengan warna biru. Angelica mengajak
mereka masuk. Jenna berhenti sejenak di dekat ranjang bertiang empat
dan berkanopi; pandangannya terpaku pada sebuah boneka keramik
cantik yang terletak pada sarang bantal-bantal berenda. Sebuah sisir
dan sebuah sikat perak ada di meja rias. Pita-pita rambut berwarnawarni terlilit di tangkai sikatnya.
"Kamar yang cantik, bukan?" tanya Angelica.
"Oh, ya!" jawab Hallie sambil mengelus sehelai gaun indah
yang menjuntai di sandaran sebuah kursi.
Ini pasti kamar tidur salah satu putri mereka, pikir Jenna. Salah
satu almarhumah putri mereka. Di mata Jenna kamar itu sengaja
dirawat sesuai seperti saat gadis-gadis Fear meninggalkannya.
Seakan-akan suami-istri Fear mengharapkannya kembali setiap
saat. Jenna menatap sekitarnya dengan penasaran. Ia melihat lemari
kaca penuh boneka dan melangkah ke sana. Sebagian besar bonekanya
mirip dengan yang ada di ranjang. Lalu Jenna melihat sekelompok
boneka di rak bawah, jenis boneka yang belum pernah ia lihat
sebelumnya. Boneka-boneka itu terbuat dari potongan-potongan kain
dan jerami, tubuhnya kasar, terpuntir, dan tak keruan. Salah satunya
tampak berbeda. Jarum-jarum perak yang panjang mencuat dari
tangan dan kakinya. Jenna mengertakkan gigi dan mengalihkan
pandangannya. Tapi keanehan pemandangan itu menarik perhatiannya
kembali. Ia menyadari bahwa pangkal jarum-jarum itu besar dan agak
bulat. Ia mengamatinya lebih teliti dan melihat bahwa pangkal itu
sebenarnya merupakan ukiran tengkorak kecil. Noda merah yang
besar menandai setiap titik tempat jarum-jarum itu menancap di tubuh
bonekanya. Jarum-jarum itu bahkan ada yang ditusukkan ke matanya.
Pemandangan itu membuat Jenna menggigil. Dengan perut
melilit hebat, ia mengalihkan pandangannya.
"Hannah suka sekali mengumpulkan boneka," kata Simon.
"Segala jenis boneka. Dia bahkan membuat beberapa bonekanya
sendiri. Dia cukup pandai melakukan pekerjaan tangan."
"Ya, sangat pandai," ulang Angelica dengan bangga.
"Boneka-boneka di dasar itu," tanya Jenna dengan terpatahpatah. "Apakah Hannah yang membuatnya?"
"Wah, ya," jawab Simon perlahan-lahan. "Sewaktu kami tinggal
di New Orleans. Untuk anak semuda itu, dia sudah tahu cukup banyak
tentang voo..." "Pembuatan boneka," potong Angelica tiba- tiba.
Jenna menyadari tatapan tajam yang dilontarkan Angelica
kepada suaminya. Lalu Angelica kembali memandang Jenna dan tersenyum. "Seni
yang cukup bagus, kau tahu."
"Hallie, ada yang ingin kutunjukkan padamu," kata Angelica
kemudian. Ia melangkah mendekati lemari berlaci, di sana ia
membuka salah satu lacinya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru
biru. Ia membuka kotak itu dan mengulurkannya kepada Hallie.
Jenna melihat kalung dengan leontin berbentuk hati dari emas
di dalamnya. "Ini milik putriku, Hannah," kata Angelica menjelaskan sambil
mengulurkan kalung itu kepada Hallie. Emasnya berkilauan dalam
ruangan yang remang-remang itu. "Ambillah."
"Oh, cantik," seru Hallie. Ia cepat-cepat mengenakan kalung itu.
"Aku suka sekali! Terima kasih."
"Kau cocok sekali mengenakannya," kata Angelica kepadanya.
"Kalung itu memang seharusnya dikenakan gadis muda, bukan
terlupakan di dalam laci."
"Dan sekarang untuk Jenna," gumam Simon.
Ia mengajak mereka melintasi koridor ke kamar tidur lain yang
didekorasi bunga mawar seluruhnya. Kuntum-kuntum merah muda
bertebaran di kertas dindingnya, dan selimutnya berwarna dari merah
yang paling muda hingga warna karang. Mangkuk-mangkuk dan vasvas tanah liat, dalam berbagai bentuk dan ukuran, menutupi bagian
atas lemari pendek. Angelica membungkuk dan mengambil sebuah mangkuk bulat
besar yang dihiasi burung-burung dan bunga-bungaan. "Julia juga
sangat artistik," katanya menjelaskan, sambil mengusap bibir
mangkuk dengan ujung jarinya. "Dia juga membuat berbagai macam
barang indah, seperti yang bisa kaulihat."
"Boleh kulihat?" tanya Hallie.
"Wah, tentu saja," jawab Angelica.
Ia memberikan mangkuk itu kepada Hallie dan mulai
menunjukkan rincian dalam setiap burung-burung dan mawar-mawar
kecilnya. Dari seberang kamar Jenna mendengar desahan kagum
Hallie berulang-ulang. Jenna memandang sekeliling kamar Julia. Apakah ia akan
menemukan rak berisi boneka-boneka yang menakutkan lain di sini"
Atau sesuatu yang sama mengerikannya" Di sudut seberang kamar, di
atas sebuah meja kayu, Jenna melihat sebuah sangkar burung tinggi
berkubah. Sangkar yang cantik itu kosong. Dulu Julia pasti
memelihara burung, pikir Jenna, dan orangtuanya merasa terlalu
sentimentil untuk menyingkirkan sangkar kosongnya.
Tatapan Jenna jatuh ke bagian dasar sangkar, di sana ia melihat
setumpuk tulang berwarna putih.
"Julia seorang pecinta alam," Jenna mendengar Angelica
menggumam dari sebelah kanannya.
Jenna berbalik dan memandangnya.
"Dia menyukai berbagai macam makhluk," tambah Angelica.
"Besar atau kecil. Cantik. Atau yang rumahan. 'Setiap makhluk di
dunia ini memiliki tujuannya masing-masing, Ibu', katanya dulu.
Ingat, Simon?" tanya Angelica.
"Benar sekali," kata Simon. "Sekarang, Jenna," katanya. "Ada
sesuatu untukmu." Ia berbalik dan membuka sebuah kotak kayu bercat dari lemari
berlaci. Ia mengambil gelang dari butir-butir kristal. "Ini dia, Sayang,"
katanya, sambil mengulurkan gelang itu. "Ini perhiasaan kesukaan
Julia." "Aku tahu dia pasti senang kalau mengetahui gelangnya
dikenakan gadis secantik kau," kata Angelica.
Kulit Jenna meremang. Ia tidak menginginkannya. Ia tak ingin
menyentuh gelang seorang gadis yang telah meninggal, apalagi
mengenakannya. Tapi ia tidak menemukan cara untuk menolaknya
dengan sopan. Perlahan-lahan, dengan enggan, ia mengulurkan tangan.
"Terima kasih," gumamnya.
Simon meletakkan gelang itu di telapaknya. Jenna hendak
mengantunginya. "Oh, tidak, kau harus mengenakannya," kata Simon memprotes.
"Sini, biar aku yang memasangkan."
Setelah mengambil gelang itu, Simon menyelipkannya di
pergelangan Jenna, dan memasang pengait emasnya.
"Cantik sekali di tanganmu, Jenna," kata Hallie kepadanya.
Jenna mengacungkan pergelangannya. Butir-butir kristalnya
menangkap cahaya, memantulkannya menjadi serangkaian pelangi.
Aku belum pernah melihat gelang secantik ini, pikirnya, sambil
memutar-mutar tangannya. Butir-butir kaca itu terasa sejuk di
kulitnya, tapi tidak lama kemudian menyerap panas tubuhnya.
Lalu gelang itu semakin hangat.
Mustahil, pikirnya. Ia melirik ke arah Hallie. Temannya itu
tengah menatap cermin, mengagumi kalung barunya. Jenna tidak
melihat apa pun kecuali kegembiraan di wajah Hallie.
Gelangnya semakin panas. Butir-butir yang kemilau itu terasa seperti serangkaian api,
menari-nari di sekeliling pergelangannya. Jenna menunduk
menatapnya, menyadari cahaya kemerahan yang berdenyut di setiap
bola kristalnya. Warna bara yang menyala. Ia menggosok kulitnya,
mengira akan melihat bekas kemerahan. Kulitnya tampak normal, tapi
rasanya seperti dikelilingi api yang berkobar-kobar.
Perasaan itu merayap ke lengannya. Panas yang hebat menebar
di bahu dan punggungnya. Semakin tinggi jemari panas bagai mencekik lehernya. Semakin
panas. Menyerang tengkoraknya. Jenna mencengkeram sisi kepalanya
dan menjerit. Ebukulawas.blogspot.com
BAB 5 "JENNA! Ada apa, Sayang?" Angelica menyambar lengan
Jenna dan menahan tubuhnya supaya tidak terjatuh. "Kau pusing?"
Jenna menengadah dan berhasil memusatkan pandangannya ke
wajah wanita yang lebih tua itu. Alis Angelica berkerut prihatin.
Ekspresi aneh berkilauan di matanya yang hijau. Jenna membuka
mulut hendak bicara. Tapi ia hanya bisa mengucapkan beberapa kata
yang tidak jelas dengan suara tercekik.
"Anakku sayang, ada apa?" seru Angelica. Ia menekankan
telapaknya yang sejuk ke pipi Jenna yang membara. "Wah, tubuhnya


Fear Street - Sagas Vi Putri Putri Kesunyian Daughters Of Silence di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tiba-tiba panas sekali," katanya kepada Simon.
"Dia tampak pucat," kata Simon.
Tapi, sementara tangan Angelica masih menekan pipinya, Jenna
tiba-tiba merasakan panas badannya mereda. Ia mengembuskan napas
dengan suara keras. Lengan dan kakinya masih terasa lemas, dan ia
berjuang untuk berdiri tegak.
Jenna tak bisa mempercayai pengalamannya. Ia tidak bisa
mempercayainya! "Badanku terasa panas sekali," bisik Jenna, lebih kepada diri
sendiri daripada kepada yang lain. "Kulit, darah, tulang. Seperti
dibakar." "Kau sudah sinting?" tanya Hallie, sambil menatapnya dengan
mata membelalak terkejut. "Kau tidak kepanasan. Kau hanya berdiri
di sana dengan mata menonjol seperti mau lepas dari tempatnya."
Jenna menggeleng. Rasanya begitu nyata, begitu menakutkan.
Sekarang, ia merasa normal kembali. Apa yang terjadi padanya"
"A... aku tidak mengerti," bisiknya. Ia menarik diri dari
pegangan Angelica. Simon dan Angelica bertukar pandang. "Kamar ini penuh sesak.
Kau hanya memerlukan udara segar, Sayang," kata Simon. "Mungkin
segelas air?" "Ya, pasti itu," kata Angelica menyetujui. "Kita seharusnya
membuka jendela di hari sehangat ini. Benar-benar ceroboh."
Di dalam sini memang panas sekali, pikir Jenna. Ia hanya
memerlukan udara segar. Ia sudah membiarkan imajinasinya
berkelana sembarangan lagi hanya karena gelang itu pernah menjadi
milik gadis yang sudah meninggal.
"Ya, aku pasti terlalu kepanasan," katanya kepada Angelica dan
Simon. "Itu masuk akal."
Hallie tertawa. "Jenna senang membuat segalanya masuk akal."
"Ah." Simon mengangkat salah satu alis matanya. "Dan kau,
Hallie" Kau suka membuat segalanya masuk akal?"
"Aku senang berpetualang," kata Hallie kepada Simon. "Dan
aku selalu membuat Jenna yang malang mendapat masalah."
"Kenapa kau membiarkan Hallie menyeretmu ke dalam
masalah, Jenna?" tanya Simon penasaran.
Jenna mengangkat bahu. "Dia sahabatku," katanya menjelaskan.
"Dan dia tidak pernah meninggalkanku dalam masalah," tambah
Hallie. "Benar, Jenna?"
"Benar." Jenna mengangguk. EB?K?L?W?S.BL?GSP?T.C?M
Sekali lagi, ia menyadari bahwa Simon dan Angelica bertukar
pandang penuh arti. Menurut perasaannya, hal itu hampir-hampir
seperti mereka sedang saling mengirim pesan tanpa suara. Tapi itu
mustahil. Sama mustahilnya seperti gelang yang membakar dirinya.
"Jenna, kau yakin bahwa kau baik-baik saja?" tanya Angelica.
"Baik, sungguh," kata Jenna bersikeras.
Yakin atau tidak, ia ingin pergi dari rumah ini secepat mungkin.
Ia memandang Hallie. "Kita benar-benar harus pergi sekarang,
Hallie." Hallie mengerjapkan mata, seakan-akan ia baru melamun. "Oh,
ya, kurasa kita memang harus pergi," katanya menyetujui.
"Kuantar kalian ke pintu," kata Simon sambil memandu jalan.
Angelica melangkah di belakangnya. Diikuti Jenna, yang
menarik Hallie di belakangnya. Sekali lagi, perjalanan melewati
koridor yang panjang dan remang-remang itu terasa seakan tanpa
akhir. Jenna berhenti sejenak, melirik pergelangannya. Bahkan dalam
koridor yang remang-remang, gelang kristal itu berkilauan, seakan
menyala dari dalam. Ia menengadah dan kembali mengikuti Angelica dan Hallie
menuruni tangga. Di depan, ia melihat Simon tengah membuka pintu
depan yang berat. "Terima kasih untuk kunjungan kalian," katanya, sambil
memegangi pintu sementara Jenna dan Hallie lewat. "Aku tidak
menyadari betapa kesepiannya kami hingga melihat kalian wajahwajah yang masih muda dan segar. Gadis-gadis yang cantik."
Hallie tertawa kecil. "Terima kasih."
"Dan kalian memang mengingatkanku akan orang yang
bersaudara," tambah Simon, matanya yang dingin dan hitam terpaku
pada Jenna. "Terima kasih," gumam Jenna sambil bergegas melangkah ke
serambi. Ia merasakan cengkeraman Angelica di lengannya,
menghentikan langkahnya. Jemari Angelica yang kurus terasa sangat
sejuk, kuku-kukunya yang runcing menancap ke daging Jenna di balik
kain gaunnya. "Berjanjilah kalian akan datang lagi," desak Angelica. "Kurasa
aku takkan bisa bertahan kalau kalian tidak datang."
"Tentu saja kami akan datang lagi," kata Hallie.
Jenna tertegun menatap temannya. Sulit dipercaya Hallie
berjanji akan kembali! Hallie tampaknya tidak menyadari tatapan Jenna. Ia mendului
berjalan ke serambi, berhenti sejenak untuk melambai kepada tuan
rumah mereka saat ia mendekati tangga. Jenna tidak berpaling
kembali. Saat mereka telah tidak lagi terlihat dari rumah, ia
menanggalkan gelangnya. "Apa yang kaulakukan?" tanya Hallie.
"Aku tidak akan mengenakannya," jawab Jenna.
"Kenapa tidak?"
Jenna menggigil, teringat saat-saat menakutkan ketika tubuhnya
terasa seperti dilahap api. "Ini milik gadis yang sudah meninggal."
"Memangnya kenapa?" sergah Hallie. "Kalungku juga, dan aku
menyukainya. Aku akan terus mengenakannya."
"Well, aku tidak bisa."
Hallie tertawa. "Kau pengecut, Jenna. Gelang itu bagus sekali.
Keluarga Fear sangat dermawan karena telah memberikannya
padamu, dan kau justru membuatnya tampak seperti sesuatu yang
menakutkan." "Aku merasa tak berhak mengenakannya," kata Jenna
bersikeras. "Dan aku tak percaya kau berjanji akan berkunjung ke sana
lagi." "Kenapa tidak?" tanya Hallie. "Apa kau tidak kasihan pada
mereka" Terutama Angelica. Kukira dia akan akan menangis sewaktu
menceritakan tentang kue-kuenya."
"Aku juga mengira begitu," jawab Jenna. Ia belum pernah
melihat orang yang begitu berduka seperti Angelica setiap kali
membicarakan tentang putri-putrinya. Ia juga kasihan kepada
Angelica. Tapi, kasihan atau tidak, ada suara lain yang
memperingatkannya. "Ya, aku kasihan kepada mereka," katanya kepada Hallie. "Dan
mereka bersikap ramah terhadap kita. Tapi aku tak ingin kembali."
"Mereka mungkin akan memberi kita barang-barang bagus yang
lain," kata Hallie. "Hallie, itu jahat!"
Temannya mengibaskan rambut pirang keritingnya. "Oh, kau
tahu aku tidak bermaksud begitu. Tapi gadis-gadis yang lain akan iri
begitu mereka tahu bahwa kita diundang kemari. Dan setiap kali kita
kembali, ada sesuatu yang menarik untuk diceritakan kepada temanteman baru kita."
Jenna menekankan tangannya ke saku, merasakan bentuk keras
butir-butir kristal gelangnya. "Kalau hanya itu alasan mereka ingin
menjadi temanmu, mungkin mereka tidak layak untuk dijadikan
teman." "Mudah bagimu untuk berkata begitu," sergah Hallie. "Kau bisa
kembali ke Brentsville tempat kau mengenal semua orang."
"Hallie..." Diiringi ayunan gaun dan rambut pirangnya, Hallie berbalik dan
mulai berlari ke dalam hutan.
"Tunggu!" teriak Jenna kepadanya. "Hallie, apa yang
kaulakukan" Hallie!"
Tapi entah Hallie tidak mendengar, atau tidak menaruh
perhatian. Ia terus saja berlari. Sesaat kemudian, ia telah menghilang
di antara pepohonan. Jenna mengembuskan napas dengan jengkel.
"Well, terserahlah, Hallie. Aku takkan mengejarmu hingga tiba
di rumah," katanya keras-keras, jengkel pada temannya. "Aku akan
bersantai-santai... dan kau boleh menunggu."
Ia berjalan menuju rumah keluarga Sheridan. Matahari
menggantung rendah di langit musim panas, menerangi hutan yang
menghijau lebat dengan berkas-berkas cahaya miring berwarna
oranye-kemerahan. Berkas-berkas itu bercahaya di dedaunan gelap
yang menutupi lantai hutan.
Jenna merasakan kejengkelannya menghilang. Ia mengenal
Hallie. Begitu kemarahan sahabatnya itu mereda, dia akan gembira
dan tidak memprotes lagi.
Jenna melangkah perlahan-lahan sambil memandang sekitarnya.
Cahaya berubah dari oranye menjadi merah tua dan ia merasa seolah
sedang melangkah ke dalam sebuah perhiasan. Ia melihat bungabunga Queen Anne yang mengangguk-angguk, dan berhenti untuk
memetik seikat. Ia mendekatkan bunga-bunga itu ke hidungnya, dan menghirup
keharuman mereka sambil terus melangkah. Ia akan memberikan
bunga-bunga itu kepada Mrs. Sheridan. Ibu Hallie akan merasa
gembira, pikir Jenna memutuskan.
Tiba-tiba kakinya menghantam akar pohon dan lengannya
berputar-putar liar sejenak saat ia berusaha mempertahankan
keseimbangannya. Bunga-bunganya berhamburan ke segala arah
sewaktu ia terempas ke tanah dengan wajah terlebih dulu. Cukup
keras untuk mengeluarkan udara dari paru-parunya.
Jenna tergeletak terengah-engah, pipinya menekan lantai hutan
yang lembut dan lembap. Akhirnya, ia menghela napas dalam-dalam
dan beranjak bangkit. Tangan kanannya terpeleset di bawah tubuhnya
dan ia merasakan ada sesuatu yang lengket di telapaknya. Uf! Ia
bergegas duduk dan menunduk memandang tangannya.
"Apa..." katanya.
Noda kehitaman menghiasi telapak tangannya.
Lumpur. Ih. Ia menggosokkan tangannya ke gaunnya.
Tidak. Bukan lumpur. Noda merah dan basah menghiasi gaunnya yang kuning pucat.
Jenna menunduk menatap noda kemerahan itu. Rasa pahit
menyengat bagian belakang tenggorokannya.
Darah. BAB 6 JENNA bergegas bangkit berdiri. Ia pasti sudah melukai dirinya
sendiri. Luka yang cukup parah, melihat begitu banyaknya darah. Ia
mengamati telapak tangannya, tapi tidak menemukan luka apa pun.
Aneh, tangannya juga tidak terasa sakit.
Tidak masuk akal. Kenapa ia tidak menemukan luka" Dari
mana asalnya darah ini"
Ia merasakan hawa dingin merayapi tulang punggungnya. Kalau
ini bukan darahnya, maka pasti ini... darah orang lain.
Pandangannya jatuh ke tempat ia terjatuh di lantai hutan.
Di sekitarnya, bercak-bercak kemerahan tebal melapisi
dedaunan yang hijau. Jenna belum pernah melihat darah sebanyak itu.
Ia mundur selangkah. Darah menciprati tanah dan menetes turun di
sebatang pohon birch putih. Sambil tersentak kaget, ia menatap bekas
tangan berlumuran darah yang menonjol karena kekontrasannya
dengan kulit pohon yang berwarna putih.
Tepat di atas bekas tangan itu, sebuah benda logam tipis
berkilauan tertimpa cahaya matahari yang memudar. Seperti sebuah
jarum rajut perak yang ditancapkan ke pohon.
Jenna mengulurkan tangan dan mencabut benda logam itu pada
ujungnya yang bulat. Ia menunduk memandangnya. Bibirnya
mengerut ketakutan. Sebuah tengkorak mungil yang diukirkan dengan
hati-hati balas menatapnya dari ujung jarum yang bulat itu. Ujung
yang lain telah diasah hingga ketajamannya luar biasa.
Jenna seketika mengetahui benda apa yang ada di tangannya itu.
Jarum perak panjang yang sangat mirip dengan jarum-jarum
yang dilihatnya di rumah keluarga Fear: jarum-jarum yang menusuk
boneka mengerikan buatan Hannah Fear.
Pandangannya kembali teralih ke pohon dan tanah yang
berlumuran darah. Lalu menunduk memandang jarum perak
berpangkal tengkorak yang masih meneteskan darah itu.
Jenna menjerit ketakutan dan membuang jarum itu ke tanah.
Ia mendengar sesemakan bergemirisik. Lalu suara langkah kaki
di jalan setapak tak jauh dari tempatnya.
Siapa di sana" Orang yang sudah meninggalkan bekas tangan
berdarah di pohon... dan jarum perak menjijikkan itu"
Orang itu sudah melihat dirinya. Orang itu kembali.
Jenna merasa napasnya berubah menjadi sentakan-sentakan
berat. Ia harus melarikan diri. Pergi dari sini. Secepatnya. Tapi
kakinya terasa seperti telah berakar dan menancap di tanah.
Hatinya ingin menjerit. Ia berjuang keras untuk menahannya.
Tapi tidak bisa. Jeritannya menggema di hutan.
Setelah berbalik, ia mulai berlari. Ia berlari dan terus berlari.
Menyusuri jalan setapak yang sempit dan berliku-liku lalu memasuki
hutan yang gelap. Dekat di belakangnya, ia mendengar suara langkah kaki, lebih
cepat sekarang. Mengentak-ngentak lantai hutam
Jenna meraih gaunnya dan berlari dengan satu tangan terulur
untuk menyingkirkan cabang-cabang pohon yang menghalangi
jalannya. Ia menerobos sesemakan dan cabang-cabang yang menjulur
rendah. Gaunnya terbelit di kakinya, dan cabang-cabang pohon
tersangkut rambutnya saat ia menerobos sesemakan. Ikatan rambutnya
terlepas dan rambutnya melecut-lecut liar di wajahnya.
Tapi suara langkah itu masih terdengar mengikutinya.
Jenna berlari lebih cepat daripada yang pernah dilakukannya.
Detak jantungnya bagai meraung-raung dalam telinganya. Setiap
tarikan napas bagai membakar dadanya dan kakinya berdenyut-denyut
menyakitkan. Tapi ia terus maju. Memikirkan darahnya. Jarum perak
panjang yang masih meneteskan darah.
Ibu jari kakinya tersangkut akar pohon dan ia terjatuh. Ia
kelelahan, serta mati-matian berusaha bangkit dan terhuyung-huyung
maju. Ia tak boleh jatuh. Ia tak boleh berhenti.
Tidak sekarang. Tidak di sini.
Ia menahan napas dan mendengarkan.
Suara langkah kaki itu masih mengikutinya. Semakin lama
semakin dekat. Tidak! raung benak Jenna. Ia tak boleh membiarkan dirinya
tertangkap. Tak boleh. Ia mendengar suara langkah kaki itu semakin keras. Ia terus
maju. Tapi hutan di daerah itu terlalu lebat. Ia hampir tak bisa
melangkah tanpa kakinya terkait tanaman rambat dan sesemakan yang
kaku dan tajam. Pemburunya terdengar tepat di belakangnya. Jenna bisa
mendengar napas orang itu terengah-engah hampir sama cepat dengan
napasnya sendiri. Ia takkan berhasil. Pemburunya lebih cepat, lebih kuat.
Jenna akan tertangkap. Isakan putus asa merayap ke tenggorokan Jenna saat ia
berusaha menerobos sesemakan.
"Tidak," katanya terengah-engah. "Tidak!"


Fear Street - Sagas Vi Putri Putri Kesunyian Daughters Of Silence di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ia merasa dua tangan yang berat mencengkeram bahunya. Ia
berjuang membebaskan diri, tapi cengkeraman itu terlalu kuat.
Sambil memberontak dan berjuang, Jenna menjerit sekuat
tenaga. Jeritan ketakutannya membelah hutan yang gelap.
Tapi Jenna tahu tak ada yang bisa mendengarnya. Tak ada yang
bisa membantunya. Orang itu melilitkan lengan yang kuat ke sekeliling pinggang
Jenna dan menghentikannya.
BAB 7 "LEPASKAN aku!" jerit Jenna, sambil memberontak matimatian.
Orang itu terus bertahan, dengan kekuatan yang nyaris mustahil.
Jenna menggeliat-geliat dan memberontak keras, hingga tubuhnya
memar-memar karena tercengkeram.
"Berhenti," gumam orang itu pelan di telinga Jenna. "Jangan
takut." Dengan mencengkeram kedua bahu Jenna, orang itu
membalikkannya sehingga mereka berhadapan. Jenna menengadah
menatap seorang pemuda yang sebaya dengannya. Pemuda itu
sedikitnya satu kepala lebih jangkung daripada dirinya. Rambut
cokelat tua menjuntai di keningnya. Jenna menatap matanya yang
cokelat tua. "Jangan menyakitiku," katanya terengah-engah.
Pemuda itu tetap mencengkeram bahunya, tapi sentuhannya
terasa lembut. "Aku takkan menyakitimu," katanya berusaha untuk
meyakinkan Jenna. "Aku berjanji."
"K-kau mengejarku."
"Aku mendengar jeritanmu," kata pemuda itu menjelaskan.
"Aku hanya ingin membantu."
Jenna melihat keramahan dalam mata pemuda itu. Keramahan
dan keprihatinan. Pemuda itu tersenyum dan Jenna merasa dirinya
sedikit lebih tenang. "Redakan saja dulu napasmu dan ceritakan apa yang terjadi."
"Aku sedang berjalan pulang di sana tadi," kata Jenna mulai
menjelaskan. "Kakiku terkait dan aku jatuh ke tanah. Tepat di atas
genangan darah." Mata pemuda itu membelalak. "Darah?"
"Di mana-mana," kata Jenna, suaranya melengking dan
kedengarannya asing. "Di tanah, dedaunan, dan batang pohon. Ada
yang meninggalkan bekas telapak tangan berlumuran darah..."
Jenna menyadari bahwa pemuda itu tengah menatap gaunnya.
Ia menunduk, dan tersentak. Berkas kemerahan yang buruk menodai
kain tempat ia tadi mengusapkan tangannya. Perutnya terasa mual.
"Tenang, tenang," kata pemuda itu.
"Aku sudah tenang," kata Jenna bersikeras.
Baru pada saat itu ia menyadari bahwa dirinya gemetar begitu
hebat sehingga gigi-giginya beradu. Ia berjuang mengendalikan diri.
Akhirnya, ia berhasil menahan diri.
"Dengar, kau tak perlu membicarakannya lagi. Bagaimana
kalau kuantar kau pulang?" tanya pemuda itu.
"Tidak..." Jenna menggeleng. "Masih ada lagi yang lain."
Pemuda itu menatapnya. "Apa maksudmu?"
"Sewaktu aku mengamati lebih teliti, aku menemukan sebatang
jarum perak yang panjang menancap di pohon," kata Jenna. "Satu
ujungnya lancip dan ujung yang lain memiliki ukiran tengkorak."
"Jarum perak" Aku tidak mengerti." Pemuda itu menatap Jenna
dengan bingung. Apakah pemuda ini mengira dirinya hanya mengarang"
"Sulit untuk menjelaskan bagaimana bentuknya," kata Jenna
menjelaskan. Ia menunduk dan kembali menatap gaunnya yang rusak.
Dan memilin-milin kainnya dengan tangan.
Apakah sebaiknya ia menceritakan kepada pemuda asing ini
tentang boneka-boneka yang dilihatnya di rumah keluarga Fear"
Tidak, mungkin sebaiknya tidak. Kalau pemuda ini tinggal di desa dan
mendengar Jenna baru saja mengunjungi keluarga Fear, ia akan
mendapat lebih banyak alasan untuk meragukan ceritanya yang aneh.
Mungkin ia malah meninggalkan dirinya sekarang juga. Jenna tahu ia
takkan tahan ditinggalkan seorang diri di hutan sekarang.
"Maaf," kata Jenna dan kembali menengadah menatap pemuda
itu. "Kurasa kau boleh percaya padaku atau tidak. Aku memang
melihat darah dan jarum perak panjang itu. Seperti jarum rajut yang
luar biasa tajam. Ditancapkan ke pohon."
Pemuda itu mengamatinya sejenak. "Apakah kau melihat halhal lainnya" Mungkin bangkai hewan" Kau mungkin tak sengaja
menemukan tempat seorang pemburu menembak dan menguliti
kelinci atau rusa." "Aku tidak melihatnya," kata Jenna sambil menggeleng. Hewan
yang dilukai pemburu mungkin meninggalkan darah. Tapi bagaimana
dengan jarum berpangkal tengkorak" Sekarang ia berharap seandainya
membawa jarum tadi, paling tidak untuk ditunjukkan kepada Hallie.
"Kau mau aku melihatnya?" tanya pemuda itu.
Kedengarannya tindakan itu merupakan langkah paling logis
untuk membuktikan ceritanya. Pemuda itu bisa melihat dengan mata
kepalanya sendiri. Tapi sewaktu Jenna memandang sekitarnya,
semangatnya merosot. "Aku... aku tidak tahu arahnya." Ia mendesah dan memandang
ke hutan yang semakin gelap di sekitarnya. "Aku berlari keluar dari
jalan setapak dan begitu sering terjatuh, aku tidak tahu lagi arah
kedatanganku." "Dan aku terlalu memusatkan perhatian untuk mengejarmu
hingga tidak menaruh perhatian ke mana tujuanku," jawab pemuda itu.
Ia menyisir rambutnya dengan satu tangan. "Aku yakin bahwa
apa pun yang kaulihat tadi memang menakutkan," katanya kepada
Jenna dengan ramah. "Tapi menurutku kedengarannya kau tidak
sengaja menemukan tempat pemburu menembak dan menguliti seekor
rusa." "Tapi darahnya banyak sekali!" kata Jenna memprotes.
"Rusa itu hewan yang besar," kata pemuda itu. "Dan kalau
pemburu itu mengulitinya di sana, tangannya pasti berlumuran darah."
Rusa. Pemburu. Kedengarannya masuk akal. Jenna hampir bisa
mempercayai alasan yang dikemukakan pemuda itu. Kalau saja ia
tidak memikirkan jarum peraknya.
Tapi apa gunanya berdiri di sini dan memperdebatkan hal itu"
Ia tak bisa menjelaskannya bahkan kepada dirinya sendiri.
"Kau benar," akhirnya Jenna setuju. "Pasti karena pemburu."
"Sekadar untuk memastikan, besok aku akan kembali dan
mencari tempatnya di siang hari. Bagaimana?"
Jenna mengangguk penuh semangat. "Ya. Baik."
"Bagus. Sekarang mari kuantar kau pulang. Aku yakin
keluargamu sudah bertanya-tanya di mana kau..."
"Oh, tidak!" Jenna tersentak. "Hallie!"
Melihat kebingungan di wajah pemuda itu, Jenna bergegas
menjelaskan. "Hallie itu temanku. Dia melarikan diri sekadar untuk
menggodaku, dan itu sebabnya aku berada di hutan seorang diri.
Sekarang, aku yakin dia sedang mengkhawatirkanku."
"Kalau begitu kita pulang lebih dulu," kata pemuda itu. "Kau
tinggal di kota?" "Aku tidak tinggal di sekitar sini. Aku sedang mengunjungi
keluarga Hallie selama musim panas ini. Mereka tinggal di tepi timur
kota. Di Crescent Lane."
"Kalau begitu kita lewat sini," kata pemuda itu, sambil
menunjuk lurus ke depan. Sambil menegakkan bahunya, Jenna menyelipkan rambutnya
yang berantakan ke belakang telinga. "Namaku Jenna Hanson."
"Namaku Rob," kata pemuda itu, sambil melangkah di sisinya.
"Rob Smith." Dalam sisa-sisa cahaya matahari, Jenna melirik memandangi
Rob. Pemuda itu kurang-lebih sebaya dengannya, atau mungkin dua
tahun lebih tua. Walaupun mereka baru saja bertemu, Jenna sangat
menyukai pemuda itu. Matanya memancarkan kelembutan, dan
senyumnya tampak jujur dan terbuka.
"Kau pernah mengunjungi Shadyside sebelumnya?" tanya Rob.
"Ini kunjungan pertamaku," jawab Jenna. "Hallie dan aku dulu
tinggal di kota yang sama di Virginia, tapi keluarganya pindah kemari
beberapa bulan yang lalu."
"Kau teman yang baik mau datang dari tempat sejauh itu.
Kurasa kau sangat merindukannya," jawab Rob.
"Memang. Aku tidak punya saudara. Hallie juga tidak. Jadi
kami benar-benar dekat. Bagaimana denganmu?" tanyanya. "Apakah
kau punya saudara?" "Aku..." Suara Rob tercekat. "Tidak."
"Kau tinggal di Shadyside?"
Kening Rob berkerut. "Eh, tidak. Aku datang kemari... beberapa
waktu yang lalu. Keluarga Fear mempekerjakan diriku sebagai
pembantu dan pengurus taman. Mereka bahkan mengizinkanku
menggunakan rumah tukang kebun di tanah mereka."
Keluarga Fear" Dia bekerja untuk keluarga Fear" Hanya
mendengar namanya saja Jenna sudah merasa seluruh bulu di kulitnya
meremang. Ia melirik Rob. Langkah-langkah Rob melambat dan pemuda
itu memandang ke hutan di sekitarnya, tampak kebingungan. Apakah
dia mengira kami tersesat"
"Rob, ada yang tidak beres?" tanya Jenna. "Kita tidak tersesat
lagi, bukan?" "Eh, tidak. Kita tidak tersesat. Kita akan tiba di tepi hutan
beberapa menit lagi. Jalan ke rumah temanmu bertemu dengan hutan
ini tepat di sana," katanya berjanji. Rob memandang Jenna, lalu
membuang muka. Mereka berjalan sambil membisu selama beberapa waktu.
"Kau berasal dari mana?" tanya Jenna, berusaha menghidupkan
percakapan lagi. "Aku..." Rob berpaling memandang Jenna, lalu membuang
muka. Pandangannya tampak aneh. Berkaca-kaca dan kesakitan.
Seakan usaha menjawab pertanyaan Jenna telah menimbulkan
perasaan yang sangat tidak enak.
"Aku... aku berasal... dari..." kata Rob terpatah-patah. Suaranya
tercekik. Ia mengangkat tangan ke tenggorokannya sementara mulutnya
membuka dan menutup. Tapi Jenna tidak mendengar suara apa pun.
Kewaspadaan mengusik dada Jenna bagaikan mata pisau yang
membara. Ada yang tidak beres, sangat tidak beres!
"Rob?" bisiknya.
Rob terhuyung-huyung. Dengan satu tangan, ia meraih cabang
terdekat. Dengan tangannya yang lain ia meraih lengan gaun Jenna.
Jenna melihat pandangan pemuda itu memancarkan ketakutan dan
kebingungan. Dan memohon bantuan.
Jenna tak tahu harus berbuat apa. Ia mencengkeram lengan Rob
sementara kaki pemuda itu merosot di bawahnya.
"Rob!" jerit Jenna. "Jangan jatuh! Tolong jangan jatuh!"
Bola mata pemuda itu membalik. Lalu ia merosot ke lantai
hutan. Jenna berjongkok di sampingnya. "Rob!"
Pemuda itu tidak menjawab. Tidak bergerak. Jenna menunduk
memandang wajahnya yang pucat dan bergeming. Denyut nadinya
bertalu-talu di telinga. Ia meletakkan tangan di dada Rob, mencari-cari
detak jantungnya. Tidak ada. Tidak terlihat tanda-tanda bernapas.
"Tidak," bisiknya, benaknya berputar-putar liar. Tidak
mungkin! Sesaat yang lalu, Rob masih melangkah di sampingnya.
Bercakap-cakap. Tersenyum. Tidak mungkin dia...
Mati. BAB 8 JENNA menyentuh wajah Rob. Ia menampar pipi pemuda itu.
"Jangan, please. Bangun, Rob," bisiknya.
Ia menunduk menatap Rob, mencari-cari gerakan sekecil apa
pun. Air mata mengaburkan pandangan Jenna. Ia menghapusnya
dengan punggung tangan. Benaknya berputar cepat. Keluarga Fear,
darah, jarum-jarum perak yang, panjang. Pelariannya karena ketakutan
ke dalam hutan. Semuanya terasa seperti mimpi buruk.
"Rob," bisiknya. "Rob, bangunlah. Kau harus bangun!"
Mata hitam pemuda itu perlahan-lahan membuka. Ia
memandang Jenna dengan mata terpicing. Jenna tersentak lega. Ia
duduk menyandar ke belakang dan menghela napas dalam-dalam.
"Aku... pingsan lagi," gumam Rob. Ia menggosokkan tangan ke
matanya. Jenna merasa seluruh dunianya berputar cepat. "Kukira...
kukira..." Ia tak mampu menyelesaikannya. "Ini pernah terjadi
sebelumnya?" Rob beranjak duduk. Pipi dan bibirnya mulai berwarna kembali,
tidak lagi sepucat tadi. "Beberapa kali," katanya mengakui. "Aku tak bisa mengingat
apa pun tentang kehidupanku sebelum datang kemari. Dan setiap kali
kucoba, rasanya seperti ada penjepit yang menekan kepalaku, dan
segalanya berubah gelap."
"Apakah kau pernah jatuh atau kepalamu terhantam sesuatu?"
tanya Jenna. "Aku tidak ingat."
"Kau punya teman, keluarga?"
Rob menggosok wajahnya dengan tangan. "Aku tidak ingat.
Aku tidak bisa mengingat apa pun," jawabnya dengan muram.
Jenna merasa kasihan padanya. Tanpa berpikir, ia mengulurkan
tangan dan menyentuh lengan Rob. "Well, sekarang kau punya
teman," katanya kepada pemuda itu. Lalu wajahnya memerah, malu
dengan keberaniannya sendiri.
Mata Rob membelalak terkejut. Lalu ia tersenyum kepada
Jenna. "Trims," gumamnya.
Jenna mengetahui bagaimana rasanya kesepian. Sesudah Hallie
pindah, rasanya seluruh dunianya berubah kosong. Ia tak bisa
membayangkan bagaimana perasaan Rob, seorang diri di dunia dan
tidak mampu mengingat apa pun tentang masa lalunya.
"Kau bisa berjalan?" tanya Jenna.
"Tentu saja. Sesudah sadar kembali, aku sangat segar," jawab
Rob. Ia bangkit berdiri, menarik Jenna bersamanya. Mereka kembali
berjalan menuju rumah keluarga Sheridan. Matahari telah terbenam
dan Jenna melihat beberapa buah bintang yang berkelap-kelip di langit
malam. Beberapa menit kemudian, mereka telah tiba di jalan. Jenna
mengenali tempat itu. Ia berbelok ke kiri dan melihat atap rumah
keluarga Sheridan. Dari balik pepohonan, ia melihat cahaya bersinar
dari jendela dapur. "Itu dia," katanya sambil menunjuk. "Aku harus masuk
sekarang." "Kau yakin tidak ingin kutemani sepanjang sisa
perjalanannya?" tanya Rob.
"Aku yakin," jawab Jenna. "Aku..."
Gemeresik keras di sesemakan memotong kata-kata Jenna.


Fear Street - Sagas Vi Putri Putri Kesunyian Daughters Of Silence di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sambil tersentak, ia berbalik menghadap ke sumber suara itu. Ia tak
bisa melihat apa pun di sesemakan yang gelap. Terdengar suara
ranting-ranting patah dan berderak sementara sesuatu yang besar
menerobosnya. "Apa itu?" bisiknya.
Rob melangkah ke depannya. "Entahlah. Larilah ke rumah. Biar
aku yang menghadapi ini."
"Dan meninggalkan dirimu seorang diri di sini?" jerit Jenna.
"Tidak akan!" "Jenna..." "Tidak. Aku tidak akan pergi," kata Jenna bersikeras.
Derakannya terdengar lebih keras. Lebih dekat. Lutut Jenna
terasa lemas dan jantungnya berdetak begitu keras hingga ia mengira
jantung itu akan keluar dari dadanya. Meskipun begitu, ia tidak
berbalik dan lari ke rumah.
Jenna membungkuk dan meraih sepotong kayu besar dari tanah.
Ia tahu kayu itu tidak cukup ampuh sebagai senjata. Ia
mencengkeramnya begitu kuat hingga tangannya terasa sakit.
Kesempatan untuk melarikan diri telah berlalu.
Makhluk itu tiba. BAB 9 "JENNA! Dari mana saja kau?"
Suara Hallie menghambur keluar dari balik sesemakan. Jenna
begitu terkejut sehingga menjatuhkan tongkatnya.
"Hallie?" katanya. "Kau itu?"
"Bukan, jelek, ini Ratu Inggris."
Hallie menerobos sesemakan terakhir dan melangkah ke jalan.
Ia memelototi Jenna dengan dingin.
"Dari mana saja kau?" tanya Hallie. "Kukira kau tersesat.
Kukira kau jatuh dan kakimu patah atau apa. Kau sadar aku sudah
berkilometer-kilometer menerobos hutan untuk mencarimu?"
Rob berbalik memandang Jenna. Senyuman lebar merekah di
wajahnya. "Kupikir tadi beruang," katanya.
"Atau mungkin singa gunung," tambah Jenna sambil tertawa.
"Terima kasih banyak," kata Hallie menggerutu. "Dan kau
siapa?" tanyanya kepada Rob. Ia menatap Rob dengan curiga.
"Ini Rob Smith," kata Jenna menjelaskan sebelum pemuda itu
sempat menjawab. "Dia menemukanku di hutan sewaktu aku tersesat.
Aku jatuh dan..." "Jenna, noda apa di gaunmu itu?" tanya Hallie dengan
tersentak. Ia menatap rok Jenna. "Tampaknya seperti... darah! Apakah
kau terluka?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja," kata Jenna berusaha meyakinkan
temannya. "Tapi aku mengotori bajuku sewaktu jatuh. Aku mendarat
di genangan darah yang cukup besar."
Hallie menggigil dan memejamkan matanya rapat-rapat. "Ih! Itu
menjijikkan!" Lalu ia mengulurkan tangan dan meremas tangan Jenna.
"Kau pasti ketakutan setengah mati."
"Cukup ketakutan," kata Jenna, mengakui sambil mengangkat
bahu. Ia ingin menceritakan tentang jarum perak yang dilihatnya di
sana. Tapi ia memutuskan untuk menunggu.
"Kupikir tempat itu digunakan pemburu untuk menguliti rusa,"
kata Rob menjelaskan. "Pokoknya, aku akan kembali besok pagi dan
melihat. Apa yang kalian lakukan di hutan?"
"Kami pulang dari mengunjungi keluarga Fear." Hallie
mengangkat tangan dan mengelus leontin yang diberikan Angelica
kepadanya. "Aku bekerja pada keluarga Fear," kata Rob kepadanya.
"Kau menyukai mereka?" tanya Hallie.
"Mereka boleh juga."
Hallie meliriknya tajam. "Apa kau tidak mendengar isu-isu
tentang suara-suara menakutkan yang terdengar dari dalam rumah di
malam hari, dan bahwa almarhumah putri-putri mereka berjalan-jalan
di pemakaman di malam hari?"
"Hallie!" seru Jenna.
"Tidak apa-apa, Jenna," jawab Rob. "Aku tidak sering ke kota,
Hallie. Aku tidak mengenal keluarga Fear sebaik itu. Tapi mereka
memberiku pekerjaan dan tempat tinggal saat aku memerlukan
keduanya, dan itu sudah cukup bagiku."
"Aku hanya menggoda," jawab Hallie dengan ringan. "Aku
tidak benar-benar mempercayai cerita-cerita sinting itu. Terutama
sesudah bertemu dengan keluarga Fear," tambahnya, sambil terus
mengusap-usap leontin-nya. "Jenna, sebaiknya kita pulang. Ibu dan
Ayah akan bertanya-tanya apa yang terjadi pada kita."
"Sampai jumpa, Jenna," kata Rob. "Aku senang kita bertemu.
Senang rasanya untuk memiliki teman."
"Bye, Rob," kata Jenna, melambaikan tangan dan melangkah
pergi. Saat mengawasi Rob menghilang ke dalam bayang-bayang, ia
merasakan kehadiran Hallie sangat dekat di sampingnya.
"Dia sangat tampan," bisik Hallie. "Kau bersikap manis
padanya?" "Oh, Hallie! Kau mulai lagi," jawab Jenna, sambil menggeleng.
Hallie bisa menyusun roman tanpa dasar apa pun. Jenna
menyukai Rob. Tapi ia tidak merasakan apa pun selain persahabatan
dengan pemuda itu. "Dia hanya teman," kata Jenna. "Sungguh."
Hallie menatapnya tajam. "Sekarang, ceritakan lagi tentang
darahnya." Jenna menceritakan seluruhnya. Kali ini, ia bahkan
menceritakan tentang jarum perak yang panjang itu kepada Hallie.
Tapi Hallie tampak tak mengerti apa yang dimaksudkan Jenna.
"Mungkin kau menemukan sesuatu yang digunakan para
pemburu untuk menguliti rusa," kata Hallie.
"Kurasa tidak," jawab Jenna perlahan-lahan. "Jarumnya tampak
mirip dengan yang ada di boneka-boneka aneh yang ditunjukkan
keluarga Fear kepada kita."
"Boneka-boneka apa?" tanya Hallie.
Jenna mengira Hallie tengah menggodanya. Sampai ia
menyadari ekspresi kebingungan di wajah temannya.
"Kau tahu, boneka-boneka kain yang buruk di rak kaca paling
bawah di kamar tidur Hannah Fear?" kata Jenna berusaha
mengingatkan temannya. "Salah satunya ditancapi jarum-jarum perak
yang panjang. Kata Simon Fear, Hannah sendiri yang membuatnya
Hallie masih menatapnya dengan pandangan kebingungan.
"Aku pasti sudah melewatkan yang itu," jawabnya. "Aku tak ingat
pernah melihat yang seperti itu di rumah keluarga Fear."
Jenna bingung. Dan frustrasi. Satu-satunya orang di dunia
kepada siapa ia ingin berbagi rahasia tak memahami apa yang tengah
dikatakannya. "Kau tidak mempercayaiku?" tanya Jenna.
Hallie menatapnya dengan mata terbelalak. Jemarinya berputarputar dan menarik-narik leontin hati emasnya itu. "Tentu saja aku
percaya padamu," katanya memprotes. "Aku percaya kau melihat
darahnya. Demi Tuhan, ada noda yang besar di gaunmu. Dan aku
percaya kau melihat sesuatu yang tertancap di pohon. Suatu logam
yang panjang dan tajam... semacam itu," tambah Hallie. "Tapi..."
"Tapi apa?" tantang Jenna.
"Well, aku hanya penasaran apakah kau sudah mengamati
boneka-boneka itu dengan teliti. Maksudku, kamarnya gelap, Jenna."
Jenna tidak mengerti alasannya, tapi ia tahu Hallie tidak
mempercayainya. Apakah Hallie benar-benar sudah melupakan apa
yang mereka lihat di rumah keluarga Fear"
Saat mereka berjalan ke rumah keluarga Sheridan, Hallie hanya
tersenyum kepada Jenna. Dan sambil melakukannya, jemarinya
mengusap permukaan leontin yang halus.
Mengusap, mengusap, dan mengusap.
*********** Jenna membuka matanya saat berkas-berkas cahaya matahari
yang terang benderang membanjir memasuki kamar Hallie melalui
tirai bermotif bunga. Ia menguap dan menggosok-gosok matanya.
Lalu ia memandang ke ranjang yang satu lagi. Hallie berbaring
terlentang, dadanya naik-turun seirama dengan napasnya yang berat
dan teratur. "Hallie?" bisik Jenna.
Tidak ada jawaban. "Hallie, bangun," kata Jenna lebih keras lagi. "Sudah waktunya
untuk bangun." Tapi Hallie tidak bereaksi. Aneh. Hallie selalu melompat
bangun dari ranjang, bersemangat untuk menjalani hari yang baru.
Apakah Hallie sakit"
Jenna beranjak bangkit dan melangkah ke ranjang yang satu
lagi. Kelopak mata Hallie bergetar. Napasnya berat, masih terlelap.
Leontinnya berada di ceruk di tenggorokannya. Berdenyut-denyut
seiring detak jantung Hallie.
Rantainya tampak sedikit terlalu erat di leher Hallie. Jenna
mengulurkan tangan hendak mengaturnya. Tapi, begitu tangannya
menyentuh kalung itu, Hallie membuka matanya. Tangannya melesat,
mencengkeram pergelangan Jenna dengan sangat kuat.
"Aduh!" teriak Jenna.
"Apa yang kaulakukan?" tanya Hallie.
"Memperbaiki letak kalungmu," kata Jenna menjelaskan,
tertegun melihat tindakan sahabatnya.
"Oh." Sesaat kemudian, Hallie melepaskan cengkeramannya. Lalu ia
duduk tegak, menggosok-gosok matanya untuk mengusir kantuk.
"Kau membuatku terkejut."
"Maaf," gumam Jenna. Ia menggosok-gosok pergelangan
tangannya. "Kita harus mengunjungi keluarga Fear lagi," kata Hallie.
Jenna mengerjapkan mata karena kaget. "Apa?"
"Kita harus berkunjung lagi." Pandangan Hallie menerawang.
Tangannya menyentuh leontinnya. "Mereka baik kepada kita. Dan
mereka tidak punya teman yang lain lagi. Apakah kau sama sekali
tidak kasihan kepada mereka, Jenna?"
"Hallie..." Kata-katanya terputus oleh ketukan di pintu. "Waktunya
bangun, tukang tidur," kata Mrs. Sheridan. "Apa kalian lupa acara
pembangunan lumbung di pertanian Miller?"
"Pembangunan lumbung!" seru Hallie. "Aku lupa sama sekali."
"Apa itu pembangunan lumbung?" tanya Jenna.
Hallie menjejalkan leontin itu ke balik gaun tidurnya. Jemarinya
bermain-main di atas leontin itu, tepat di atas jantungnya.
"Di Shadyside ini, kalau ada yang membutuhkan lumbung,
mereka mengundang semua tetangga," katanya kepada Jenna. "Para
pria bekerja sama membangun lumbungnya, yang wanita memasak,
lalu semua orang berpiknik. Kata ayah mereka bahkan memainkan
musik dan berdansa."
"Oh, kedengarannya menyenangkan!" seru Jenna.
Hallie mengangguk. Lalu senyum nakal merekah di bibirnya.
"Sekarang waktunya untuk memberitahu gadis-gadis lain bahwa kita
sudah mengunjungi keluarga Fear. Mereka pasti sangat ingin
mendengar rinciannya."
Mr. Sheridan membawa mereka semua ke pertanian Miller
dengan kereta kuda. Kereta-kereta dan kuda-kuda memenuhi halaman
tanah pertanian itu. Tampaknya seluruh penduduk Shadyside datang
dalam acara ini. Bertumpuk-tumpuk balok kayu telah dibawa dari
tempat penggergajian. Jenna melihat meja-meja panjang bertaplak
tempat makanan akan disajikan.
Kerangka lumbung telah dibangun, dan beberapa pria telah naik
ke atasnya. Udara di-penuhi suara palu dan gergaji. Kabut serbuk
gergaji ada di mana-mana dan bau kayu segar menerobos udara.
Mr. Sheridan menggulung lengan kemejanya, lalu bergabung
dengan para pria lain. Mrs. Sheridan mengangkat keranjang piknik dari kereta. Ia
memberikan keranjang itu kepada Hallie. "Kalian bawa ini masuk ke
rumah," katanya. "Sesudah itu kalian bisa bergabung dengan para
remaja lain." "Aku sudah tidak sabar lagi!" seru Hallie sambil tertawa.
Suaranya terdengar lebih keras daripada biasanya, dan ada
semangat yang menyebabkan Jenna melirik temannya dengan
penasaran. Ada apa dengan Hallie" pikirnya. Mungkin dia memang
sakit tapi tidak ingin kehilangan acara ini.
Ia membantu Hallie membawa keranjang yang berat itu ke
dalam rumah. Seorang wanita berwajah merah mengambil keranjang
itu dari mereka, lalu menyuruh mereka kembali ke halaman.
"Sekarang, di mana..." Hallie tiba-tiba berhenti, lalu
membalikkan tubuh Jenna ke arah lain. "Lihat! Itu kekasihmu,
bukan?" Jenna melihat Rob berjalan ke arah mereka. "Dia bukan
kekasihku," katanya memprotes. "Dia temanku."
Hallie tertawa, tawa melengking yang pernah didengar Jenna
sebelumnya. Suara itu membuatnya merasa tidak enak. Tapi lalu
Rob memanggil namanya, mengalihkan perhatiannya dari
kekhawatiran tentang Hallie.
"Bagaimana kabarmu, Jenna?" tanya pemuda itu, berhenti di
depannya. Sebelum Jenna sempat menjawab, Hallie melangkah ke
depannya. "Wah, halo, Rob," katanya. "Aku tak tahu kami akan
bertemu lagi denganmu hari ini."
Rob mengerjapkan matanya, jelas terkejut. "Halo, Hallie.
Bagaimana kabarmu?" "Sempurna," gumam Hallie. "Kau tahu, hari ini kau bahkan
terlihat lebih jangkung daripada semalam, Rob. Dan bahumu sangat
lebar! Jenna, kau lihat?"
"Eh..." gumam Jenna. Ia ingin menghilang ke dalam tanah dan
tidak pernah muncul lagi.
Tawa Hallie yang melengking membuat Jenna merasa gugup.
Ada apa dengan Hallie" Ia belum pernah bersikap seperti ini.
"Jangan pedulikan dia," gumam Hallie sambil bergeser
mendekati Rob. "Dia tidak biasa bercakap-cakap dengan para
pemuda." Wah, Hallie merayu Rob! pikir Jenna. Ia sulit mempercayainya!
Jelas sekali, Rob juga merasa begitu. Ia menatap Hallie seakan-akan
menganggap gadis itu sudah kehilangan kewarasannya.
"Sebaiknya aku kembali ke lumbung," gumam Rob. Sambil
melirik Jenna, ia menambahkan, "Sampai ketemu nanti."
Jenna mengawasi Rob melangkah pergi. Lalu ia berbalik
menghadapi sahabatnya. "Hallie, ada apa denganmu hari ini?"
tanyanya. "Aku belum pernah melihatmu bersikap seperti ini"dengan
pemuda atau siapa pun lainnya."
"Itu mereka!" seru Hallie, seakan-akan Jenna sama sekali tidak
mengatakan apa-apa. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Hallie meluruskan topinya dan
dengan riang melangkah pergi. Jenna menatapnya, dan melihat Hallie
menuju ke sekelompok gadis yang sedang bercakap-cakap di bawah
Lembah Tiga Malaikat 4 Pedang Siluman Darah 2 Ratu Penggoda Siluman Muka Ayu Anak Naga 17

Cari Blog Ini