Ceritasilat Novel Online

Manekin 1

Manekin Karya Abdullah Harahap Bagian 1


JUDUL : MANEKIN KARYA : ABDULLAH HARAHAP DJVU : KOLEKTOR E-BOOK EDIT TEKS DAN PDF : SAIFUL BAHRI SITUBONDO
Ebook persembahan dari Group Fb Kolektor E-Book
Selesai di edit : 2 Juli 2018 (Situbondo)
Selamat membaca ya ! *** Hormat dan terima kasihku pada:
' Bapak Budi Sutrisno, atas keleluasaan yang diberikan pada saya untuk berkreasi.
' Bapak Chand Parves Servia. Ir. Pada siapa saya pernah belajar bagaimana menilai alur carita yang baik.
' Bapakferry Angriawan. untuk doanya yang tulus.
' Bapak Raam Soraya, atas kritikan-kritikannya yang pedas tapi terarah.
*** LANGIT malam sungguh tak bersahabat.
Jutaan bintang yang sebelumnya tampak berceloteh riang gembira, mendadak berebutan pergi. Minggat entah ke mana. Hanya rembulan yang masih bertahan di tempatnya semula. Itu pun tampak seperti memaksakan diri. Gerakannya malas, dan dengan tenaga yang masih tersisa berusaha untuk tetap memancarkan sinar kebanggaannya yang dari waktu ke waktu kian melemah. Sambil sesekali mengalah pada gumpalan mendung tebal yang datang bergulung-gulung dari berbagai penjuru. Mendung yang kemudian menyatu dalam gumpalan maha padat dan pekat yang setiap saat bisa menumpahkan bermetrik-metrik ton lautan hujan. Tanpa ada yang mampu menahan.
Anehnya, guntur belum sekali pun menggelegar. Hanya lidah petir saja yang tampak menjilat-jilat kian kemari. Jilatan cepat dan liar, namun tanpa bersuara. Seakan cuma ingin mengintip. Dan me
nunggu tibanya saat yang paling tepat untuk mengeluarkan ledakannya yang maha dahsyat.
Agaknya fenomena alam yang tidak lazim itulah yang membuat warga Bumi Asri-kompleks perumahan kelas menengah, enggan keluar rumah. Ancaman dari langit malam yang tidak bersahabat itu membuat suasana di seputar kompleks terasa sunyi. Mencekam. Namun toh masih ada juga yang berani menempuh risiko, yakni penumpang tunggal serta pengemudi mobil van berwarna gelap yang meluncur tenang di jalan utama perumahan. Muncul dari arah utara, mobil van tersebut tampak mengurangi kecepatan sewaktu melewati salah satu rumah semimewah yang pintu gerbangnya menganga terbuka. Untuk kemudian kembali menambah kecepatan menuju arah selatan. Dan dalam tempo singkat sudah melenyap ditelan kegelapan malam.
Di ruang makan rumah yang pintu gerbangnya dibiarkan terbuka lebar itu, Rendi Suhandinata mengangkat muka sejenak. Ia seorang pria gagah tampan berusia sekitar 35 tahun dan saat itu tampak berpenampilan rapi, meski malam sudah mendekati larut. Agaknya Rendi sedang menunggu kedatangan tamu. Terbukti dari gumaman lirihnya setelah mengawasi jam dinding. "Lima menit lewat pukul sepuluh. Berarti dia sudah terlambat satu jam dari waktu yang disepakati.?"
Menundukkan wajahnya kembali. Rendi meneguk habis kopi kental yang masih tersisa dalam cangkir di tangannya. Lalu menatap murung ke arah kursi di seberang meja makan. Di kursi itu duduk seorang perempuan bergaun malam berwarna merah
hati. Kontras dengan warna kulitnya yang putih dan terkesan pucat.
Masih muda namun tampak sudah matang, perempuan itu berambut ikal yang dipotong sebatas tengkuk. Wajahnya cantik menawan. Hidung tidak terlalu mancung. namun katupan bibir merah segar di bawahnya tampak begitu mungil. Setengah mencuat pula. seakan mengundang untuk dicium. Yang paling menarik adalah mata di bawah alisnya yang lentik. Sepasang mata yang membuka lebar itu benar-benar bulat. Sinarnya lembut dan teduh, seakan selalu siap memberi perlindungan sekaligus kasih sayang yang tulus serta dalam.
Di hadapan si perempuan terhidang secangkir teh yang isinya masih penuh. jelas belum disentuh. Kedua tangannya tampak tersembunyi di bawah tepi meja. menangkup diam di haribaan.
"Barangkali," Rendi bergumam lagi, mendugaduga. "dia tak yakin aku benar-benar sendirian di rumah ini" sebagaimana tadi kutegaskan di telepon. Atau, dia takut diam-diam aku merekam pembicaraan kami nanti. Takut dijebak...!" Rendi menggeleng-geleng. Murung. Lantas melanjutkan dengan suara yang terdengar bernada pahit, "Tadi. aku memang sempat terpikir ke situ. Tetapi. untuk apa" Selain punya uang. dia juga punya pengaruh. Lebih hebat lagi. kekuasaan. Aku" Cuma seorang kere!"
Menggeleng geleng lagi, Rendi kemudian diam. Tampak frustrasi. Si cantik juga diam. Tidak bereaksi, tidak pula berkomentar. Hanya sepasang matanya saja yang terus menatap. Serta bibir mungilnya yang terus pula tersenyum. Tipis. Misterius.
Sambil berpikir-pikir. Rendi balas menatap. Lantas akhirnya. bisa juga ia tersenyum, walau hanya seulas senyuman kecut. "Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu..." la mendesah. Lembut.
Perempuan di seberang meja tetap diam, dan tampak seperti menunggu.
"Aku memang tidak betul-betul sendirian di rumah ini," Rendi melanjutkan. Sinar matanya kini memancarkan kasih sayang. "Kau ada di sini. Tetapi seperti halnya orang lain... bahkan saudara kembar dan adik iparku, dia tak akan dan tak perlu tahu, bahwa kau tinggal serumah denganku. Mendampingiku dengan setia. Dan penuh rasa cinta...!"
Tak ada sahutan atau reaksi. Si cantik rupawan tetap diam membisu. Duduk kaku di kursinya. Bergeming.
Di luar rumah, langit malam tampak semakin menghitam. Pekat.
Diterangi sinar petir yang kembali menjilat-jilat dalam kebisuannya. van berwarna gelap tadi muncul lagi di jalan utama perumahan Bumi Asri, meluncur tenang dari arah berlawanan. Dan seperti sebelumnya, begitu mendekati rumah Rendi. laju kendaraan tampak diperlambat.
Bedanya, mobil tersebut tidak terus meluncur ke arah utara. Dengan lampu-lampu lebih dulu dipadamkan, mobil membelok pelan dan hati-hati memasuki pintu gerbang yang terbuka. Lalu berhenti di depan teras rumah. Tetapi pengemudi serta penumpangnya tidak langsung turun. Keduanya tetap diam di dalam mobil. Mungkin menunggu. Atau barangkali, ragu-ragu.
Sementara di dalam rumah, Rendi sudah mengambil keputusan. Tegas, yakin, serta penuh kepercayaan diri.
Berdiri mengawasi kegelapan malam di luar jendela kaca ruang makan, ia sedang mengutarakan keputusannya. "Kau benar. Jadi atau tidak dia datang malam ini, aku harus segera menemuinya. Secara baik baik. Membuat kesepakatan untuk tidak saling mengganggu, dan sekaligus menyerahkan surat pengunduran diriku. Setelah itu... seperti yang dulu pernah kulakukan. aku akan menyingkir sejauh mungkin dari kota ini. Ke mana dan bagaimana, itu urusan nanti!"
Diam sejenak, Rendi kemudian membalikkan tubuh. menatap pasrah pada si perempuan cantik yang masih tetap duduk di tempatnya semula. Duduk kaku dengan punggung tegak. serta tangan tctap berada di haribaan. Juga dengan bibir merah segarnya tetap mengulas senyuman tipis. Serta sepasang mata bulatnya yang terus membuka. tanpa sekali pun mengedip.
Mata-yang anehnya, bukan menatap ke arah jendela tempat Rendi mengawasi dirinya. Sepasang mata bulat itu-seperti juga pOsisi duduknya, tetap menatap lekat-lekat ke arah yang sama, yakni kursi yang sebelumnya ditempati Rendi!
"Dan kau, sayangku..." Rendi tersenyum penuh kasih, sambil berjalan mendekat lalu bersimpuh di samping kursi yang diduduki si perempuan. Setengah menengadah, ia menatap ke wajah cantik rupawan dari teman bicaranya yang berperilaku ganjil itu, lalu meneruskan bicaranya. Sepenuh pe
rasaan. sehingga suaranya setengah gemetar. 'ke mana pun kakiku yang tak berdaya ini melangkah pergi. kau akan tetap ikut denganku, bukan" Aku berharap sangat. juga yakin bahwa kau akan terus mendampingiku dengan kesetiaanmu yang tulus... dan cinta kasihmu yang membuat hidupku bahagia. Kebahagiaan yang tak akan pernah dimiliki orang lain. Siapa pun adanya!"
Tak ada sahutan. Juga tak ada reaksi.
Tetapi Rendi tidak sedikit pun memperlihatkan kekecewaan di wajah maupun nada biaranya. Malah dengan terharu biru, wajahnya kemudian ia rebahkan ke paha si perempuan. Tangan ia julurkan ke depan, bergerak mencari lalu mengusap sepasang tangan lainnya. Tangan putih pucat di haribaan si perempuan.
"Bahkan. kekasihku,' Rendi berkata. gemetar. "aku percaya... kau akan terus mendampingku... sampai ke alam kubur!"
Untuk pertama kali. ada sahutan.
Tetapi bukan dari bibir mungil si perempuan cantik rupawan. Melainkan dari kotak bel di ruang tengah, dengan bunyi berdentang-dentang setengah mengalun, lembut tetapi terdengar monoton.
Si cantik rupawan tidak bereaksi.
Adapun Rendi. untuk sejenak masih larut dalam luapan perasaannya. Baru setelah bel berdentang lagi untuk kedua kalinya Rendi tersadar lantas mengangkat muka dengan rona wajah memperlihatkan pcrasaan terganggu.
"Hem!" la mendengus tak senang. "Jahanam itu berani juga datang akhirnya!"
Tampak enggan, Rendi bangkit dari lantai. Tetapi tidak langsung berlalu.
Lebih dulu ia menatap wajah antik di hadapannya. tersenyum penuh kasih lantas berujar lembut. "Kau tetaplah di sini, Kekasih. Aku akan menemuinya sebentar, mengubah janji temu di lain waktu dan tempat. lantas mengusirnya pergi. Setelah itu..." Rendi berhenti sejenak, membungkuk sedikit, ia mengecup bibir mungil si perempuan. Meluruskan tegaknya lagi, Rendi kemudian melanjutkan kalimatnya. Dengan pipi bersemu merah dan suara yang terdengar malu-malu, "Aku tiba-tiba ingin bercinta denganmu!"
Setelah mengutarakan hasrat hatinya itu. barulah Rendi berjalan meninggalkan ruang makan. Sang kekasih tercinta tetap saja diam, bergeming. Dengan mata bulatnya, ia tetap pula menatap tak berkedip. Lurus ke depan. Ke sandaran kursi di seberang meja makan.
Bibir mungilnya masih pula mengulas senyum.
Dan kali ini. tampak bahagia.
BERUBAH serius dan tampak sedikit tegang. Rendi tiba di ruang depan dan tidak langsung membuka pintu. Lebih dulu sisi tirai jendela ia singkap seperlunya, cukup untuk melihat ke luar. Yang terlihat pertama-tama adalah van berwarna gelap di halaman. Bukan sedan putih metalik dari orang yang ditunggunya. Lebih ke kiri sedikit, tampaklah dua sosok sedang berbincang-bincang dengan suara direndahkan. yang seketika sama-sama berpaling ke arah dirinya.
Rendi langsung mengenali Markus, salah seorang satpam di kantor tempatnya bekerja. Lelaki berusia empat puluhan iru memakai jaket kulit yang terkancing rapat. membuat tubuhnya yang pendek gempal tampak lebih kekar dibanding ketika memakai seragam dinas. Yang satunya lagi, Rendi lupa-lupa ingat. Rasanya pernah beberapa kali bertemu. Tetapi yang pasti, bukanlah orang yang ia harapkan kedatangannya.
Agak heran. Rendi melepas rantai penahan. me
mutar anak kunci dan kemudian membuka pintu lebar-lebar. Ia langsung disambut sepasang senyuman lebar dan terkesan sopan. Markus yang pertamatama menyapa disertai anggukan dagu sebagai pertanda hormat pada orang yang disapanya. "Selamat malam, Pak Rendi?"
"Malam, Markus." sahut Rendi. lalu mengalihkan perhatian pada orang satunya lagi. 'Dan..."
Yang ditatap mengulurkan tangan seraya memberitahu. "Saya Ronald. Sopir dari..."
Tak syak lagi. sopir merangkap pengawal pribadi dari orang yang kedatangannya ditunggu Rendi. Seraya menyambut uluran tangan lelaki yang sebaya dirinya itu. Rendi cepat menukas dengan suara diriang-riangkan. "Ah, ya. Ronald. bukan?"
"Memang itulah nama lengkap saya." Yang ditanya mengangguk disertai senyuman tipis yang maknanya Sukar ditebak. "Kuat juga jabat tangan Pak Rendi. Saya benar-benar kagum!"
"Hem!" Rendi melepas jabat tangannya lalu memanjangkan leher untuk dapat melihat lebih jelas ke arah van di halaman. "Kok beliau tak ikut turun?"
"Maaf. Bapak tak jadi datang. Ada panggilan mendadak dari kantor provinsi. Kami berdua diutus beliau untuk memberitahu Pak Rendi. Dan?" Ronald berhenti, tampak ragu-ragu melanjutkan penjelasannya.
Rendi pun menyisih dan mempersilakan. "Ayo, masuklah. Kita berbicara di dalam saja!"
Markus mengangguk senang lalu melangkah lebih dulu, diikuti Ronald yang masuk dengan wajah
tampak ragu-ragu. Rendi baru membuka mulut untuk mempersilakan kedua orang tamu duduk manakala Markus tiba-tiba terbatuk. Keras dan berulangulang. sampai tubuhnya terbungkuk-bungkuk. Meluruskan tegaknya kembali, Markus menarik turun ritsleting atas jaket kulitnya. Mengurut dadanya sejenak. lantas dengan napas tersengal-sengal ia menggerutu. Kesal. "Sialan benar! Pasti cuaca buruk di luar tadi membuat penyakit menahunku kambuh lagi." la terbatuk lagi namun tidak separah tadi. "Sebelum meninggalkan rumah. saya membekali diri dengan obat. Untuk berjaga-jaga!"
Kalimat terakhir diucapkan Markus seraya merogoh ke dalam saku jaket. Tanpa mengeluarkan isinya, ia cepat berpaling pada Rendi yang menatap kuatir. Dan ia berkata memelas, "Boleh minta segelas air putih. Pak Rendi?"
"Sebentar, kuambilkan." Rendi mengangguk seraya memutar tubuh. "Kalian duduklah!" Berhenti sesaat dan beralih pada tamu satunya lagi, Rendi bertanya menawarkan, "Dan kau, Ronald. Mau teh atau kopi?"
Ronald yang saat itu diam-diam melamun. seketika mengangkat muka. Terkejut. Lebih dulu menatap gelisah ke arah Markus, ia kemudian menjawab dengan tampak setengah hati, "Teh saja!"
"Oke!" Rendi mengangguk tersenyum. Membalikkan tubuh. ia kemudian berjalan melintasi pintu tembus ke ruang tengah disertai pikiran kuatir pada penderitaan Markus.
Dan. saat itulah semuanya terjadi.
Dimulai dari sentuhan naluri yang memberitahu
ada pergerakan di belakang tubuhnya, Rendi berhenti, tertegun. Telinganya sempat mendengar adanya desahan napas berat sebelum ia berbalik tubuh dengan cepat.
Sayang, Rendi kurang cepat.
Karena Markus yang diam-diam mengikuti di belakangnya sudah lebih dulu mengeluarkan tangan dari dalam saku jaket. Dan di tangannya sudah tergenggam sebilah pisau lipat yang begitu keluar langsung terhunus dan sekaligus ditusukkan ke lambung Rendi. Sedikit di bawah iga.
Tusukan yang menghunjam itu nyaris tak dirasakan oleh Rendi. Yang lebih ia rasakan adalah kejutan luar biasa diikuti oleh perasaan terheran-heran. Sempat terdongak oleh hunjaman pisau lipat pada lambungnya, Rendi menatap heran ke wajah Markus yang tampak menyeringai lebar. Samar-samar juga terlihat olehnya di belakang tubuh Markus. Ronald yang buru-buru menutup pintu depan. Lalu tertegak diam dan kaku... memandang ke arah dirinya dan Markus.
"Apa..." desah Rendi heran.
Hanya sampai di situ. Karena tusukan lainnya sudah datang menyusul, tanpa Rendi sempat berpikir, apalagi mengelak. Dan pada tusukan ketiga. kedua lututnya terasa melemah, lantas tertekuk. Rendi mencoba untuk bertahan, tetapi lututnya tak mau bekerjasama. Tubuhnya pun ambruk dengan cepat.
Jatuh tertelungkup. Di atas genangan darahnya sendiri.
TERTEGAK pucat beberapa saat lamanya. Ronald kemudian mendekat lalu berdiri di samping Markus yang sudah membungkuk di dekat sosok tuan rumah yang tertelungkup diam tanpa memperlihatkan adanya tanda-tanda kehidupan. Dengan tangan kanan tetap memegangi gagang pisaunya yang berlumuran darah. Markus mempergunakan tangan kirinya untuk memeriksa pupil mata serta denyut urat nadi lengan korban kebiadabannya.
"Bagaimana?" tanya Ronald, tegang.
Markus menghela napas lalu berdiri tegak dengan wajah memperlihatkan perasaan puas. "Beres," jawabnya tak acuh. "Dia sudah kembali kepada Penciptanya!"
"Yakin." Markus seketika menoleh, tampak tak senang. "Si mungilku yang keramat ini. Nak"." katanya dengan nada setengah mengejek, seraya mata pisau lipatnya yang digenangi darah merah segar ia amang-amangkan di depan wajah Ronald sehingga
wajah orang yang lebih muda darinya itu tampak semakin pucat. 'sudah banyak makan asam garam. Dan tak pernah gagal." Markus tersenyum penuh kebanggaan, lantas menambahkan, "Di tanganku. tentunya!"
Ronald menelan ludah, batuk-batuk kecil, baru kemudian suaranya keluar. Setengah membela diri. "Aku cuma ingin tahu!"
'Sekarang kau sudah tahu." Markus memperlunak sikapnya. Pisaunya diturunkan. "Nah. aku mau ke dapur untuk membersihkan si mungilku yang keramat ini. Dan kau pasti sudah tahu apa tugasmu. bukan?"
Ronald mengangguk dan mencoba tersenyum. "Mencari lalu mengacak-acak isi kamar tidur," jawabnya sambil berusaha keras untuk tampak lebih santai. "Sebagaimana layaknya seorang pencuri!"
'Dan. sesuai perjanjian..." Markus menyeringai lebar, "apa pun juga yang nanti kita boyong dari rumah ini sepenuhnya menjadi milikku, bukan?"
Sekali lagi Ronald mengangguk lalu dengan hatihati dan wajah tampak kecut ia pun melangkahi mayat tuan rumah yang menelungkup diam dan kaku. Seraya membatin, takut-takut, "Diamlah di tempatmu. Pak Rendi. Jangan kau sambar kakiku!"
Saking takutnya, Ronald yang baru berjalan dua tiga langkah nyaris terpekik manakala dari belakangnya terdengar suara panggilan bernada lembut. "Bung Ronald?"
Seketika itu juga. Ronald berbalik tubuh dengan wajah pucat pasi. "Heh, apa...?"
Masih berdiri di tempatnya semula, Markus tersenyum maklum. Tangan kirinya ia rogohkan ke balik jaket, sambil bergumam memberitahu, "Kau melupakan sesuatu"." Keluar dari balik jaket. tangannya dengan cepat melemparkan semacam benda ringan ke arah Ronald. "Ini!"
Dalam keterkejutannya. refleks Ronald ternyata masih bekerja dengan baik. Ia berhasil menangkap lemparan Markus, lalu mengamat-amatinya sekilas. Gulungan sepasang kaus tangan. Ronald menghela napas, membuka gulungan itu, kemudian menyarungkannya ke masing-masing tangannya. Tersenyum kaku ke arah Markus, ia meneruskan langkah yang tadi tertunda. Pintu pertama yang ditemuinya di ruang tengah ia buka dengan hati-hati. Meninjau sekilas, ia kemudian menghilang di sebelah dalam pintu.
"Muda. gagah dan pengawal pribadi pula." Markus yang terus mengawasi bergumam menggeleng-geleng. "Nyatanya. ia masih harus banyak belajar!"
Markus ganti mengawasi sosok tuan rumah di depan kakinya. Sepasang mata serta mulut di wajah pucat Rendi tampak terbuka, seakan masih memperlihatkan ketidakpercayaannya. Markus tersenyum. Manis. Lalu bertanya sama manisnya. "Sudi memberitahu di mana letak dapur, Pak Rendi?"
Tak ada sahutan tentunya.
"Ya sudah!" desah Markus, masih tersenyum. "Akan kucari sendiri." Sosok kaku yang menelungkupi genangan darah sendiri itu pun dilangkahi Markus disertai gumaman segan, "Permisi."
Saat melangkahi mayat Rendi, Markus sempat mendengar suara berisik dari sebelah dalam pintu yang tadi dimasuki Ronald. Markus menoleh sekilas, lantas meneruskan langkah. tak acuh.
Baru setelahnya. ia terkejut. Alang kepalang.
Terjadinya di ruang makan.
Infomasi yang diterima Markus sebelumnya cukup jelas. Akurasinya pun terjamin. Target seorang bujangan. Suka menyendiri, terutama bila di rumah. Dahulu ada pembantu yang tinggal menetap. tetapi setahun terakhir digantikan oleh pembantu harian. Itu pun hanya untuk tugas-tugas terbatas yang tidak umum dikerjakan oleh kaum pria. Masih ada sejumlah informasi tambahan lainnya. namun dari kesemuanya itu, yang paling penting adalah malam ini. Melalui pengecekan tidak langsung dalam pembicaraan telepon dapat dipastikan bahwa target hanya seorang diri di rumahnya dan sedang menunggu dikunjungi.
Ternyata hanya sebagian saja dari informasi itu yang benar. Karena begitu Markus melangkah masuk ke ruang makan. ia langsung tertegun. Kaget. Bagaimana tidak, ada orang duduk di salah satu kursi makan, sejajar dengan kursi lainnya yang sandarannya membelakangi pintu keluar-masuk. Duduk diam dan tenang, dengan sepasang mata bulatnya menatap nyalang ke arah Markus.
Secara naluriah, Markus refieks menyembunyikan tangan yang menggenggam pisau berdarah ke bela
kang punggung. Berjuang keras mengatasi keterkejutannya, Markus memaksakan diri untuk tersenyum lantas menyapa ramah dan sopan, "Hai!"
Tak ada sahutan. Perempuan cantik berpenampilan menawan itu juga tidak bereaksi. Duduknya bergeming. Tak terlihat tanda-tanda terkejut pada wajahnya, apalagi takut. Malah bibirnya yang merah segar tampak seperti tersenyum.
Dampak dari senyuman itu cukup jelas, keberanian Markus bangkit kembali. Hebatnya lagi. kejantanan Markus ikut-ikutan bangkit begitu terkilas pikiran iseng di otaknya. Keng lelaki sudah kubunuh. Apa ruginya perempuannya kuperkosa saja sekalian" Baru setelah itu....
Markus maju selangkah. Dengan hati-hati.
Sama hati-hatinya, ia kembali membuka mulut, seramah dan sesopan mungkin. "Maaf jika kehadiran saya mengejutkan Anda. Saya teman dekatnya Pak Rendi. Dan sudah terbiasa mengambil sendiri minuman saya di dapur!"
Tak ada tanggapan. Begitu pula reaksi.
Si cantik tetap diam, tak bergerak-gerak di tempat duduknya. Dengan kedua tangan tctap pula tersembunyi di bawah tepi meja. sepasang mata bulatnya terus pula menatap. Tak berkedip. Bibir, Tersenyum-senyum. Tipis, dan terkesan misterius.
Oh, oh. Jangan-jangan wanita itu buta dan tuli. Atau memang normal. tetapi berbahaya" Siapa tahu kedua tangan yang tersembunyi itu diam-diam menggenggam sepucuk pistol yang sudah siap tembak"
Seketika Markus waspada. Bertindak gegabah. maka tembakan pistol dapat mendahului karena tangan Markus masih berada di balik punggung. Maka, kalau tadi di depan Rendi ia berpura-pura batuk parah, kini ia pura-pura menggaruk punggung yang tidak gatal. Melirik ke dapur bersih di pojok kanan ruang makan lalu ke cangkir yang masih terisi penuh di hadapan si perempuan, Markus menurunkan tangannya perlahan-lahan, sambil posisi pisau diubah, siap untuk diayun melayang.
"Maaf," katanya, tersenyum. "Saya mau bikin kopi dulu. Teruskanlah minum Anda. Jangan biarkan tehnya dingin!"
Sambil berbicara demikian, Markus bergerak maju ke arah dapur, dengan ekor mata melirik waspada ke bawah meja makan. Lalu mendadak Markus berhenti, sekaligus lega. Tangan di bawah meja itu ternyata kosong. Perempuan itu tidak berbahaya. Markus juga menyadari ingatannya yang mau tidak mau membuat Markus terheran-heran. Si perempuan bukan saja tidak bergerak. tatapan matanya juga tidak mengarah ke pintu. Tetapi, ke kursi kosong di seberangnya. Pasti sebelumnya diduduki oleh Rendi, karena di depan kursi ini ada cangkir yang menyisakan bubuk kopi.
Jelas sudah, kemungkinan pertamalah yang benar. Perempuan itu memang buta dan tuli. Bahkan lebih parah lagi, juga bisu. Benar-benar sempurna. Kesempurnaan yang menyedihkan. Lebih menyedihkan lagi, perempuan secantik dia!
Tetapi Markus tahu betul aturan permainannya.
Sekali kau melakukan kejahatan apalagi membunuh orang. jangan meninggalkan saksi hidup. Tidak ada tempat untuk berbelas kasihan! Tetapi sebelumnya....
Markus menarik napas. Rileks, ia mendekat dan tidak lagi berbasa-basi. Pisau berlumuran darah di tangannya kini ia biarkan terlihat. bahkan kemudian diayunkan-ayunkan di depan wajah si perempuan. Benar, buta.
"'Tadinya aku sempat mengira kau ini seorang polwan yang diam-diam disewa Pak Rendi untuk menjebak bos kami!" katanya berterus terang. "Tak tahunya kau ini cuma kekasih yang tidak rewel dan tidak banyak tingkah!"
Santai, pisaunya ia letakkan di atas meja. Cangkir teh di depan si perempuan diambilnya lalu didekatkan ke mulut. "Daripada mubazir, biar deh kuminumkan untukmu. Boleh, kan?"
Tanpa menunggu jawaban, yang memang tidak perlu. Markus menenggak habis isi cangkir dengan sekali teguk. Meletakkan cangkir tersebut ke tempat semula, ia berkata menyeringai, "Sekarang, karena Pak Rendi sudah mati, boleh dong aku menggantikannya bercinta denganmu. Tubuh cantikmu yang seksi, juga sayang kalau dibiarkan mubazir!"
Tak ada sahutan. Juga reaksi. Sementara sepasang mata bulat itu masih saja menatap ke arah yang sama. Begitu pula bibir mungilnya yang merah segar. Tersenyum tipis. Misterius. tetapi tampak manis. Membuat Markus semakin tak sabar saja. Mana kejantanannya semakin terbangkit pula, malah terasa sudah membengkak di balik celana.
Menyeringai lebat, Markus pun membungkuk lalu tanpa malu-malu mencercahkan mulutnya ke bibir si perempuan. Markus sempat mengulum sebelum kemudian tersentak sadar.
Bibir itu tidak hanya dingin. Tetapi juga keras dan kaku.
Kaget, Markus meluruskan tegaknya. Menatap terkejut bercampur heran pada si perempuan yang tetap duduk tak bergeming. Ada yang salah, pikirnya. Lalu dengan kasar. tubuh si perempuan ia ringkus dari kursi. Terangkat dengan mudah. Karena tubuh bergaun malam merah hati itu ternyata sangat ringan, bahkan nyaris tanpa bobot.
Memandangi wajah kaku di depan matanya. Markus bergumam tercengang. "Astaga. Rupanya kau ini cuma boneka pop!"
Kaget bercampur marah, tubuh manekin alias boneka pop itu langsung ia lepaskan. Pop bergaun malam merah hati itu pun jatuh setengah terguling ke lantai. Salah satu kakinya tertekuk patah. Leher terpenggal, lalu kepalanya yang memakai wig terlempar lalu terguling-guling sebelum kemudian berhenti mati membentur tembok di sisi terjauh. Tertegak diam sesaat di atas potongan lehernya, kepala pop tersebut perlahan-lahan oleng lalu terguling ke samping. rebah diam di permukaan lantai. Menghadap pintu keluar-masuk ruang makan.
Pelipis dan sebelah pipinya tampak pecah. Dan di balik pecahan itu, terlihat adanya ruang kosang dan gelap. Namun bibir mungilnya yang merah segar dan masih utuh, masih saja tersenyum. Begitu
pula sepasang mata bulatnya. Tetap terbuka dan menatap nyalang.
Mata itu tampak seperti menunagu.
Dengan penuh kesabaran. *** PRASETYO mengangkat muka. Terkejut.
Ada suara jeritan tertahan. Dan kalau tak salah, itu adalah... astaga. Suara Rinda. istrinya!
Terlempar bangkit dari kursi, Prasetyo seketika menghambur keluar dari ruang kerjanya dan dalam tempo singkat tiba di kamar tidur. Lampu kamar masih menyala. begitu pula lampu baca disamping ranjang. Dan di atas ranjang tidur yang seprainya awut-awutan, tampaklah istrinya duduk tersengal sengal. Wajahnya puat, bersimbah peluh. Kedua telapak tangan memegangi leher, seakan takut kepalanya terenggut lepas.
Sebuah buku tebal yang terhampar di lantai nyaris terinjak ketika Prasetyo berlari mendekat lalu duduk di tepi ranjang. Tangan istrinya yang gemetaran dipegangi sambil setengah ditarik menjauh dari lehernya. Rinda sempat meronta tetapi kemudian menurut. Tangannya ia biarkan turun dalam genggaman lembut sang suami yang bertanya. kuatir.
"Ada apa, Ririn?"
Agak lambat dan tersengal-sengal, barulah Rinda menyahuti, "Leherku."'
"Kenapa dengan lehermu?" tanya Prasetyo lagi sambil matanya mengamati. Tidak tampak adanya tanda-tanda mencemaskan di leher sang istri. Kecuali dibasahi peluh, leher itu mulus-mulus saja.
"Terpenggal...." jawab Rinda. gemetar. dengan wajah tampak masih dilanda teror. "leherku terpenggal. Dan mereka... membunuhnya!"
"Eh, nanti dulu!" Prasetyo sempat bingung. Berpikir sejenak, ia kemudian tersenyum. Lega bercampur geli. "Coba jawab, Ririn. Kau ini masih tidur atau sudah terjaga?"
Seketika wajah Rinda mengeras. "Aku bukan sedang bermimpi, Mas Pras!" dengusnya tak senang.
"Oke. Jadi kau sudah terjaga. Dibangunkan oleh mimpi buruk. Benar, bukan?"
"Tetapi...." "Buktinya, ini. Ayo, rabalah sendiri." Prasetyo tersenyum, menyabarkan, sambil tangan sang istri diangkat lalu dibantu meraba-raba lehernya yang mulus jenjang.
Setelah yakin lehernya masih utuh, Rinda menghela napas lega. Namun wajahnya tampak masih tegang. "Kalau begitu, bukan leherku. Tetapi" dia!"
"Dia siapa?" "Entah. Tetapi wajahnya sangat mirip denganku. Bagai pinang dibelah dua!"
"Aduh, sayangku. Dengarlah. Kau pasti..."
Rinda cepat memotong, tegas dan tanpa kom
promi, 'Jangan ulangi lagi bahwa aku habis bermimpi, Mas!"
"Oke. oke. Lantas?"
"Lihat saja buku itu!" Rinda menunjuk ke arah buku yang terhampar di lantai dan tadi nyaris terinjak Prasetyo. "Aku sedang asyik membacanya ketika..."
Rinda berhenti. Tampak ragu-ragu dan terkesan menyimpan perasaan malu.
"Ketika apa?" tanya sang suami tanpa nada mendesak.
Berpikir sejenak, Rinda menggeleng-geleng. Ketika membuka mulut lagi, wajahnya tampak serius. Kembali tegang. "Aku mendengar suara-suara bercakap-cakap tak jelas. Lalu ada sosok samar-samar mendatangiku. Laki-laki. Yang di mataku masih asing. Wajahnya memperlihatkan keramahan. Tetapi matanya..." Rinda berhenti dan tampak gemetar kembali. 'Mata itu menyimpan bau kematian! Lantas aku langsung tahu. Mereka sudah... membunuhnya!"
Prasetyo yang yakin betul istrinya baru terjaga dari mimpi buruk menanggapi dengan tenang sambil menahan senyum, kuatir voltase sang istri meningkat lagi, "Mereka siapa?"
"Aku tak tahu...."
"Oke. Lalu siapa yang dibunuh" Perempuan yang wajahnya mirip denganmu itu?"
Rinda menggeleng-geleng. Dan wajahnya kembali tampak ketakutan. Agak lambat. barulah suaranya terdengar lagi, setengah berbisik gemetar, "Bukan dia. Tetapi dia!"
Prasetyo mengernyitkan dahi. Bingung alang kcpalang. Scmoga saja pikiran istriku tidak sedang terganggu, pikirnya kuatir. Lantas bertanya, hatihati,
"Dia yang mana?"
"Saudara kembarku. Rendi!"
Prasetyo terdiam seketika.
Kesunyian yang sempat mencekam kamar tidur akhirnya dipecahkan oleh suara Rinda yang gemetar. Menggenggam kuat lengan suaminya. ia berkata dengan nada memohon. "Ayo kita ke sana, Mas. Siapa tahu Rendi masih hidup. Masih sempat tertolong!"
Prasetyo menatap tercengang. "Apa?"
"Kita ke Cirebon. Sekarang juga!"
Saking bingung dan tak percaya mendengar permintaan istrinya, Prasetyo menanggapi secara sambil lalu. "Kau pasti main-main!"
Di luar dugaan Prasetyo, sepasang mata istrinya tampak mulai membasah. "Tolonglah. Atau kalau Mas tidak bersedia ikut. izinkanlah aku pergi. Selagi sempat!"
Melihat keseriusan sang istri-lebih-lebih lagi air matanya-Prasetyo mau tidak mau dipaksa memutar orak. la yakin istrinya diganggu mimpi buruk, tetapi....
"Aku sih mau saja ke sana," akhirnya ia berkata. ragu-ragu. "Apalagi untuk mengunjungi saudara iparku pula, yang semenjak kita menikah. langka bertemu. Tetapi sekarang kan sudah larut malam.
Mana jauh lagi. Secepat apa pun mobil kita kebut, toh sampainya paling cepat tiga jam. Dan...."
Prasetyo berhenti. Selagi berbicara, secara tak sengaja pandangan matanya tertuju ke telepon seluler yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidur. "Astaga!" desahnya. terkejut sendiri. "Kok kita bisa lupa!"
ia kemudian menyambar telepon. mengontak nomor telepon rumah saudara iparnya, sambil berbicara seriang mungkin pada sang istri. "Semoga saja dia ada di rumah dan tidak sedang sibuk berkaraoke!"
Lalu mereka menunggu. Prasetyo menunggu dengan tenang. Rinda, dengan wajah tampak tegang. seraya membatin sama tegang.
"Bangun, saudaraku. Kumohon, bangunlah!"
*** langit yang semakin menghitam membuat suasana di perumahan Bumi Asri tampak seperti daerah pemukiman tak berpenghuni walaupun lampu-lampunya menyala. Termasuk di salah satu rumah yang pintu gerbangnya dibiarkan menganga terbuka. Halaman depan tampak sepi. Mobil van yang sebelumnya diparkir di situ, kini sudah tak ada lagi. Pintu depan rumah tertutup. Anehnya, pintu garasi dibiarkan setengah terbuka. memperlihatkan bagian dalam yang kosong melompong.
Pesawat telepon di rumah itu terdengar berdering. Dan terus berdering. Seakan tak sabar. Namun
tubuh yang tertelungkup di lantai ruang tengah agaknya tidak mendengar. Tubuh itu tampak diam dan kaku. Begitu pula wajahnya. yang rebah dengan posisi menyampimg. Wajah yang mulai memucat dengan mata terbuka nyalang. seakan mengawasi darah merah segar yang menggenang di sekitar tubuhnya dengan pandangan heran.
Di pojok ruangan yang sama. pesawat telepon masih saja berdering. Pada dering kesepuluh, kelopak mata Rendi tampak mengerjap. Lemah dan kaku.
Bunyi dering telepon kemudian berhenti.
Kerjapan kelopak mata itu pun ikut berhenti. Mata itu kembali terbuka. Dan menatap diam.
Terheran-heran. *** Di Jakarta, Prasetyo mengatupkan handphone-nya dan berkata menenangkan kepada sang istri, "Dia tertidur pulas atau pergi bergadang entah ke mana!"
Rinda menggeleng. "Dia ada di rumah." katanya yakin. "Mas, telepon rumah sakit atau polisi setempat supaya mereka pergi memeriksa ke sana. Siapa tahu Rendi masih sempat tertolong!"
"Dengan alasan apa" Bahwa kau bermimpi telah?" Prasetyo berhenti begitu menangkap perubahan di wajah istrinya. lalu cepat memperbaiki kalimatnya, "Atau katakanlah kau memang bukan bermimpi. Kau sedang tidur-tiduran. membaca novel ketika kau tiba-tiba melihat bayangan mengerikan. Saudaramu terbunuh. Lehermu terpenggal...."
'Bukan leherku. Tetapi..."
"Sejak kapan kau punya kekuatan supranatural?"
'Apa?" Dengan sabar Prasetyo menjelaskan. "Maksudku polisi. Berani bertaruh. pertanyaan semacam itulah yang akan mereka ajukan. Apakah kau seorang dukun. atau punya kekuatan supranatural!"
Rinda terdiam. lalu air matanya jatuh. Menetes netes.
Tak tega, sang suami menyerah. "Baiklah. Kau persiapkan pakaian untuk kita seperlunya. Aku akan mengeluarkan mobil dan membangunkan si Inah untuk memberitahu kita akan ke Cirebon!'
Dalam tempo singkat mereka berdua sudah siap berangkat, dipandangi oleh pelayan mereka yang terbingung-bingung. Sebelum meninggalkan rumah. sekali lagi Prasetyo mengangkat telepon. berharap saudara iparnya menyahuti. Sambil mengomel-ngomel pun tak apa.
Hasilnya sama saja. Telepon di seberang sana tetap tidak diangkat.
*** BUKANNYA tidak mendengar, akan tetapi tidak sempat.
Ketika telepon di ruang tengah rumahnya berdering-dering. kelopak mata Rendi kembali mengerjap. Kali ini lebih kuat, juga cepat. Berulang-ulang. Saat matanya membuka kembali sambil memperlihatkan adanya tanda-tanda kehidupan. bunyi telepon pun berhenti.
Rendi mengeluh. Pendek dan lemah.
Diam membeku beberapa saat lamanya, tubuh Rendi kemudian menggeliat hidup. Saat berikutnya ia mencoba bangkit tetapi gagal. Yang mampu diangkat Rendi hanyalah kepala serta tangannya saja. Itu pun sempat jatuh terkulai dan rebah lagi di lantai, sebelum ia berhasil mengangkatnya lagi. Berjuang dengan segenap tenaga yang masih tersisa, Rendi memutuskan untuk bergerak maju dengan merayap.
Dan itulah yang dilakukan Rendi. Merayap bagaikan binatang melata sekarat yang sedang mencari
tempat yang pas untuk menghembuskan napasnapas terakhir. Sekujur tubuh Rendi lemas alang kepalang. Otaknya berjuang, namun otot serta tulang tulang tubuhnya malas untuk bekerjasama. Jantung sepertinya enggan berdenyut. sementara paru-paru bagai terbakar. Akibatnya, Rendi terpaksa harus jatuh-bangun. Itu menurut perasaannya. Yang sebenarnya jatuh-bangun dengan susah payah. adalah wajah serta tangannya.
Namun Rendi pantang menyerah.
la harus tahu dan harus melihat bagaimana keadaan satu-satunya orang yang paling ia sayangi dan paling ia cintai di dunia ini. Ia harus memegang tangannya, berbicara untuk dapat menghibur hatinya karena mereka terpaksa harus berpisah selamanya. Terakhir. mencium bibirnya dengan segenap kasih. Baru setelah itu Rendi rela untuk pergi meninggalkannya.
Tangan Rendi jatuh lagi. Diikuti wajahnya. yang rebah terkulai di lantai. Diam membeku beberapa saat.
"Tidak!" ia mengerang, sakit bercampur marah. 'Jangan mati dulu, terkutuk! Bangun, ayo bangunlah! Dia menunggu kedatanganmu!"
Dengan napas terputus-putus, kepala Rendi terangkat dari lantai. Tangannya kemudian bergerak mengikuti. Maju bergantian. Menjambak dan mencengkeram lantai yang keras dan dingin, mencakar dengan kuku-kukunya untuk memperoleh pegangan dan tenaga tambahan.
Dan Rendi pun terus merayap. Menyeret tidak hanya tubuh tetapi juga genangan darah yang me
ninggalkan garis merah yang lebar dan lurus di scpanjang lantai. Sambil memanggil-manggil lemah dan parau dengan tenggorokan yang kering kerontang, "Rinda, sayangku. Ini aku datang. kekasihku!"
Setengah tertutup oleh rambut wignya yang awutawutan, wajah pecah-pecah sang boneka pop rebah diam di salah satu pojok lantai ruang makan. Sepasang mata bulatnya menatap lebar ke ambang pintu. arah tempat Rendi tampak muncul merayaprayap.
Berhenti sebentar, Rendi mengangkat kepalanya. Matanya mencari-cari. lalu berhenti pada kursi yang sebelumnya diduduki oleh sang boneka.
Kosong! Tampak terkejut, Rendi menurunkan pandangan matanya dan melihat bagian tubuh pop terkapar di sebelah sana kursi. dengan sebelah tangan dalam posisi terlipat. Patah. Lebih mengejutkan lagi, tubuh yang terbungkus gaun malam merah hati itu tidak berkepala.
"Tuhanku!" Rendi mendesah. Ngeri,
Terpejam ngeri beberapa saat, Rendi kembali membuka matanya. lalu mencari-cari. Liar. Yang dicari akhirnya ketemu. Dan ke situlah Rendi kemudian memutar arah. Merayap dengan susah payah, kepala serta tangan jatuh-bangun. Rendi merasa seolah-olah dirinya merayap sejauh ratusan kilometer, sebelum akhirnya tenaga Rendi habis terkuras.
Berhenti sebentar, wajahnya ia rebahkan di lantai. Beristirahat.
Ketika wajahnya diangkat lagi. kepala boneka pop itu tampak sudah dekat. Paling terpisah satu meter dari dirinya. Mula-Mula hanya terlihat samarsamar karena pandangan mata Rendi semenjak tadi terus mengabur. Tetapi, dengan melecut keras sel sel otaknya, pandangan mata Rendi mau juga menjelas. Hanya untuk beberapa detik memang, namun sudah cukup buat Rendi melihat bagaimana wajah pop itu pecah-pecah, menyedihkan.
"Oh, tidak. Tidak!" Rendi mengerang dengan hati yang sangat terluka. "Manusia-manusia terkutuk itu sudah merusak wajah cantik kekasihku!"
Tangan kanan Rendi kemudian terangkat. Berusaha menggapai ke depan, dengan keinginan kuat untuk menyentuh dan mengusap wajah sang boneka. la berjuang keras menyeret tubuhnya ke depan dengan tangan kirinya. Gagal. Tangan kirinya terasa sudah kaku, membeku. Hal yang sama terasa menjalar ke tangan kanannya. Rendi masih coba bertahan tetapi tangan kanannya yang menggapai itu benar-benar lemah alang kepalang. Kehabisan tenaga, lantas jatuh ke lantai. Terkulai, lemas.
Disaksikan dengan mata terbuka sang manekin, leher Rendi akhirnya tampak tertekuk. Wajah Rendi jatuh rebah ke lantai. Sepasang matanya kemudian terpejam rapat. Dan semakin rapat. Namun bibir Rendi masih bergerak, menggerimir. Mcmperdengarkan bisikan samar-samar. berbau kemarahan. "Mereka harus menerima balasan yang setimpal. Mereka...!"
Hanya sampai di situ. Karena bibir pucat Rendi tahu-tahu berhenti menggerimit. Dengan satu gerakan tiba-tiba dan tampak menyentak, sang maut datang juga akhirnya.
Dan kedatangan sang maut itu terlihat atau tepatnya terasakan di tempat yang terpisah sejauh ratusan kilometer, yakni di dalam mobil yang tengah melaju menembus kegelapan malam.
"Tidaaaaaaaak!" terdengar jeritan sayup dari dalam mobil tersebut.
Seakan terkejut, mobil sempat melenceng keluar jalur sebelum kemudian menepi lalu berhenti disertai bunyi decitan ribut ban yang dipaksa menggigit aspal.
Di dalam mobil, Prasetyo yang wajahnya tampak pucat, bertanya kuatir, "Ada apa lagi, Ririn?"
Agak lambat, barulah terdengar jawaban Rinda. Gemetar, menahan tangis. "Rendi sudah...."
Rinda tak sanggup meneruskan. Dan meski kebingungan, secara naluriah sang suami menangkap sesuatu yang sulit ia mengerti karena tak terjangkau oleh akal sehatnya. Apa yang kemudian mampu diperbuat Prasetyo hanyalah merangkul sang istri.
Lalu menangis bersama-sama.
Di tcmpat lainnya. alam seolah-olah ikut berkabung. Rembulan di atas perumahan Bukit Asri menutupi wajahnya dengan tabir gelombang mendung yang hitam pekat. Hujan memang belum turun . Te
tapi angin badai sudah ribut belarian kian kemari sambil menjerit-jerit penuh kemarahan.
Di dalam ruang makan rumah Rendi. jeritan marah angin badai itu merembes sayup-sayup dan seakan-akan berubah jadi suara-suara ritual yang menakjubkan sekaligus menggetarkan hati.
Bersama terdengarnya suara ritual itu, kepala boneka pop tampak seperti menggeliat hidup. lantas perlahan-lahan berdiri tegak di atas penggalan lehernya. Sepasang mata bulatnya ganti bergerak, mencari-cari lalu berhenti diam begitu menemukan pecahan pelipis serta pipinya yang tercecer di bagian lain lantai sewaktu kepala itu jatuh terguling. Pecahan pelipis serta pipi itu tampak bergetar kemudian terangkat dari permukaan lantai. Lalu dengan kecepatan yang sulit diikuti kasatmata, pecahan pelipis serta pipi tersebut melesat ke arah kepala pop hingga dengan mulus sampai di tempat semestinya berada, langsung menyatu dengan bagian lainnya. Menyatu rapat. tanpa meninggalkan bekas walau hanya goresan bekas retak.
Penampilan wajah pop kembali sempurna. Tinggal wignya saja yang masih tampak awut-awutan. Tetapi itu tidak terlalu penting agaknya, karena sepasang mata sang boneka dengan cepat sudah teralih ke bagian tubuhnya yang terkapar menyedih di dekat kursi meja makan. Dan kali ini, tak ada tarikan pada sinar mata sang boneka. Kepalanyalah yang bereaksi.
Tampak bergetar sesaat dan. kepala itu terangkat dari permukaan lantai. terus melayang melewati jasad Rendi yang tcrkulai mati. Tiba di dekat bagian
penggalan lehernya, sang kepala meliuk turun. Lalu dengan suatu putaran indah. mengambil posisi yang pas untuk menyatu ke tubuhnya.
Berhasil. Dan benar-benar sempurna. Bahkan tangannya yang semula terlipat patah pada waktu bersamaan bergerak menggeliat lalu kembali ke posisi yang seharusnya. Juga tanpa meninggalkan bekas goresan.
Rebah diam sejenak, boneka pop itu menggeliat bangkit lalu berjalan mendekati sosok Rendi dengan langkah kaki serta ayunan tangan yang tampak kaku dan patah-patah. Tiba di samping tubuh Rendi, sang boneka tegak menatap beberapa saat, tanpa emosi apa pun di wajahnya. Sang boneka kemudian duduk berlutut. Kembali menatap, ia membungkuk ke depan. Mencium bibir pucat Rendi. Bibir digenangi darah yang masih menetes-netes keluar dari sebelah dalam mulutnya.
Itu adalah ciuman panjang dan lama. Seakan tak rela berpisah. Tetapi sang boneka agaknya tahu diri. Ciuman bibirnya akhirnya ditarik mundur. Kembali tegak dan menatap sekali lagi ke wajah Rendi, sang boneka kemudian memutar tubuh lalu berjalan meninggalkan ruang makan. Dengan gerakan kaku dan patah-patah.
Suara-suara ritual perlahan-lahan melenyap dan membiarkan ruang makan dicekam oleh kesunyian yang menekan.
Tidak demikian halnya di luar rumah.
Terdengar suara guntur yang menggelegar diikuti oleh ledakan demi ledakan petir yang menyambar nyambar. Gelombang mendung hitam pekat yang
menutupi langit malam pun akhirnya pecah juga.
Menumpahkan lautan air dalam badai yang menjerit-jerit. Histeria.
***

Manekin Karya Abdullah Harahap di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"BAGAIMANA, Dok?"
"Datang juga kau akhirnya, Komandan!" sahut yang ditanya tanpa sedikit pun berpaling pada yang bertanya. Ia terus saja asyik menekuni pekerjaannya, memeriksa luka bekas tusukan pada bagian lambung dada mayat yang kemejanya terbuka lebar. Mayat Rendi sudah dipindahkan dan posisinya pun dibuat melentang untuk mempermudah pemeriksaan bagian luar penyebab kematian korban. "Miranda menahanmu di tempat tidur ya?"
"Bukan istriku, Dokter. Tetapi Kapolres," bantah Ajun Komisaris Polisi Bursok Sembiring dengan wajah tanpa emosi. Tegak berdiri di samping sang dokter berusia lanjut itu, Bursok mengalih perhatiannya dari wajah mayat ke garis kapur yang menandai letak serta posisi mayat ketika ditemukan, sambil melanjutkan. "Putri bungsunya ada yang melamar. Dan aku kebagian tugas mewakili tuan rumah sebagai penyambut sekaligus pembicara!"
Faisal. sang dokter yang juga menyandang gelar
profesor di depan namanya, mengeleng-geleng. Takjub. "Lucu!"
"Apanya yang lucu?" tanya Bursok sambil tersenyum. Heran.
"Bayangkan sendiri." sahut Dokter Faisal, tetap berlutut dan masih tanpa berpaling. "Di sebuah upacara adat. orang Batak mewakili orang Sunda!"
Bursok kembali tersenyum. Begitu pula ajudan sekaligus orang kepercayaannnya yang berdiri di sebelah lain. Hadi Saputra. Inspektur Satu Polisi itu semenjak tadi hanya diam mendengar dan memperhatikan, dengan bolpoin serta notes di tangan. Siap mencatat bila sewaktu-waktu diperlukan.
'Apa salahnya?" Bursok menanggapi. "Aku banyak belajar dari keluarga Mira. Ya tata cara adat, ya penggunaan bahasa tinggi. Termasuk langgam, pantun dan..."
"Luar biasa!" potong Dokter Faizal dengan desahan takjub, seraya mengamati kuku jemari tangan mayat yang pergelangannya ia pegang dan di dekatkan ke wajah sendiri.
Senyuman di bibir Bursok seketika melebar. "Menurutku sih biasa biasa saja. Karena...!"
"Jangan ge-er, Komandan!" Dokter Faisal kembali menyela. Serius. "Yang kumaksud luar biasa, perjuangan orang malang ini pada saat-saat terakhir hidupnya, yang pasti sangat tragis!"
Bibir Bursok langsung mengatup rapat. Sementara Hadi Saputra pura-pura berpaling untuk menyembunyikan tertawanya yang ia tahan di perut. Faisal merebahkan lengan yang ia pegang ke dada mayat, kemudian bangkit dengan ringan. Tampaklah
bahwa meski sudah berusia lanjut, wajah maupun gerakan serta penampilannya masih tetap energik.
Tanpa mengetahui perubahan di wajah sang Ajun Komisaris. dokter itu memutar tubuh dan memusatkan perhatiannya pada garis lebar ceceran darah di lantai ruang makan, terus ke pintu tembus koridor menuju ruang tengah di mana lanjutan garis darah itu tak kelihatan lagi.
"Aku sudah mengukurnya tadi," ia berkata serius, masih dengan nada takjub, "Tidak kurang dari dua ratus meter. Sejauh itulah ia bersusah payah menyeret tubuhnya untuk tiba ke ruangan ini. tempat dia akhirnya mengembuskan napas terakhir!"
Bursok melupakan perasaan malunya dan diam menyimak. Sementara Hadi Saputra sibuk menulis pada notesnya. Wajahnya sama seriusnya dengan wajah si dokter yang kembali memutar tubuh lalu mengawasi wajah mayat Rendi dengan sorot mata bersimpati.
"Sebuah perjuangan yang nyaris tak terjangkau akal sehat!" Dokter Faisal menggeleng-geleng. "Merayap dan terus saja merayap. Sampai kulit lengan maupun telapak tangannya memar dan lecet. Bahkan kuku jarinya sampai belah dan sobek-sobek!"
"Letak keluarbiasaannya, Dokter?" Bursok akhirnya bertanya, seraya mengamati sosok mayat yang terbujur di depan kaki mereka. Kulit wajah mayat itu kini bukan lagi pucat. Tetapi sudah mulai membiru.
"lni sekaligus menjawab pertanyaanmu yang tadi terabaikan...," jawab sang dokter, disertai helaan napas panjang. "Perjuangan orang malang ini, Koman
dan, dia lakukan dengan jantung yang sudah tembus. Aku yakin itu tusukan pertama. Dan melihat garis serta dalamnya tusukan. jelas sangat mematikan!"
Sementara ajudannya terus mencatat. Bursok menanggapi, tak yakin, "Bagaimana mungkin?"
"Mungkin saja. Jika kau bertanya mengapa dia masih mampu bertahan dan berjuang sehebat itu. jawabannya cuma satu. Yakni, keajaiban!"
lptu Hadi Saputra mengangkat muka dengan wajah bertanya. Komandannya meneruskan pertanyaan itu dalam bentuk lisan. "Keajaiban, Dokter?"
"Benar." Dokter Faisal manggut-manggut. "Keajaiban dari apa yang kita sebut kehendak Tuhan. Itu jelas dan pasti. lainnya, otak kecil. yang menyimpan hasrat kuat untuk bertahan hidup. Lantas sel-selnya saling menyambung untuk beberapa detik!"
Menyimak penjelasan dokter yang sudah berumur itu sejenak. Bursok mengalihkan perhatiannya dari sosok mayat ke seputar ruang makan, termasuk ke dua cangkir kosong bekas diminum di atas meja. Tampak sisa taburan tepung sidik jari di sekitar cangkir, pertanda kedua alat bukti itu telah diidentifikasi.
"Kalau dia masih hidup dan ingin meminta bantuan..." Bursok akhimya bergumam, tak mengerti, "Tadi di ruang tengah aku sempat memperhatikan adanya pesawat telepon. Tetapi tak ada tanda-tanda garis darah akan mengarah ke sana. Jalur darah itu semua mengarah ke ruang makan ini!" Bursok diam
sejenak. Berpikir. "Mengapa" Dan apa yang dia cari, sehingga korban harus memaksakan diri merayap sejauh itu ke sini?"
"ltu tugas kalian untuk mencari tahu, Ajun Komisatis. Bagianku. adalah meja bedah." Untuk pertama kali Dokter Faisal tersenyum. "Nah. Sudah waktunya aku menyuruh petugas ambulans untuk memboyong mayat ini ke rumah sakit untuk diautopsi. Setelah mendapat izin darimu dan keluarganya juga, tentunya...."
"Nanti akan kutanyakan!"
"Oke. Akan kutunggu di ambulans." Tampak lelah, Dokter Faisal mengangguk lantas berlalu dari ruang makan. "Akan kuteruskan tidurku yang tadi sempat tertunda!"
Menunggu sejenak, Bursok sudah membuka mulut mau bertanya pada lptunya, ketika dari arah perginya Dokter Faisal tampak seorang polisi wanita datang dengan menenteng tustel siap pakai di tangannya. Memakai seragam dinas dengan tanda pangkat Brigadir Dua dari bagian identifikasi. label namanya bertuliskan Diana Medina. Potongan rambutnya mengikuti model si pencetus dan kebetulan senama dengan dirinya, Lady Di.
"Senang melihat Anda sudah bergabung, Komandan!" Diana menyapa ceria setelah lebih dulu memberi salam. "Ada yang mau minum?" tanyanya kemudian sambil berjalan menuju mesin dispenser air mineral di salah satu sudut ruang makan. "Saya sudah haus dari tadi...."
"Brigadir?" Diana berhenti dan sekaligus berbalik pada si
pemanggil. Masih tersenyum, namun seketika berubah serius setelah melihat sorot tajam menusuk di balik mata komandannya. "Siap, Komandan!"
"Boleh kulihat bagian bawah sepatumu?"
Mulanya polwan itu sempat kebingungan. Tetapi setelah ekor matanya menangkap lirikan serta anggukan kepala samar-samar Hadi Saputra, Diana cepat mengangguk. "Yang kiri atau kanan, Komandan?"
Menangkap nada menggoda dibalik pertanyaan itu. Bursok segera menyadari situasi lalu memaksakan diri untuk tampak lebih rileks namun masih tetap dengan wajah serius ketika menanggapi, "Bila kau mampu mengangkat dan memperlihatkan bagian bawah kedua sepatumu... sekaligus dan sambil tetap berdiri, gajiku setahun boleh kau ambil," ia berkata. Tanpa senyum. "Yang mana saja!"
Mendengar itu, Diana ikut rileks kembali. "Dan saya siap untuk dipecat saat ini juga, Komandan," ia balik menantang disertai senyuman sopan. "bila saya terbukti berbuat keteledoran merusak bukti kasus di TKP!"
Berkata demikian, Diana menekuk lutut kanannya lalu melepas sepatu yang bagian bawahnya segera diarahkan pada sang komandan. Malah setengah menggoda ia memberitahu, "Maaf, Komandan. Belum sempat dibersihkan!"
Sebelum menyimak dari tempatnya berdiri, Bursok sudah tahu. Sol maupun tumit sepatu itu bersih. Memang sedikit kotor. tetapi kotor bekas dipakai di atas jalur aman. Tak terlihat adanya bekas
atau tanda-tanda bahwa Diana telah melanggar prosedur. yaitu menginjak jalur berdarah.
"Oke. Pakailah kembali!"
"Terima kasih, Komandan!" sahut Diana santai. la mengenakan sepatunya. lalu meneruskan langkah ke dispenser air mineral, juga dengan santai. Sebuah gelas kosong diambil dari tempat persediaannya. Berlambat-lambat, sambil nguping.
"Aku harap kalian berdua tidak menganggap aku mengajukan permintaan yang tolol," Bursok bergumam, didahului deheman kecil. "Atau kau dapat menjawab apa yang ada dalam pikiranku, Hadi?"
"Jujur saja." Hadi Saputra menjelaskan, "Sebelum tiba di TKP kami tidak tahu apa-apa. Tetapi begitu kami mendarat, jangankan hidung manusia yang keberadaannya tak kami inginkan, tikus nyelonong masuk tanpa izin pun pasti kami tembak!"
Di tempatnya mengisi air panas ke gelas di tangan, Diana menahan senyum dan berusaha untuk tidak berpaling.
"Jadi?" Bursok kembali bertanya.
"Keajaiban. Itulah yang tadi kita dengar dari mulut Pak Tua," Hadi Saputra berkata tenang. 'Tctapi menurut pikiran saya. Komandan, ada seseorang yang coba coba mempermainkan kita!"
"Oh ya" Siapa?"
"Dugaan sementara, tersangka pelaku yang identitas maupun keberadaannya sampai saat ini belum kita ketahui. Mari kita lihat cara dan bentuk permainannya...!"
Barulah Diana berpaling dan melihat kedua orang atasannya berlalu begitu saja tanpa menoleh pada
dirinya. Konon lagi pamit. Tetapi Diana Medina termasuk orang yang berpikir praktis. Tak mau dibuat pusing oleh urusan tetek-bengek, terutama bila urusannya sepele.
lagi pula. di ruang makan yang tiba-tiba terasa bagai sunyi mencekam itu ia masih punya teman berbicara.
Meniup-niup lebih dulu air panas dalam gelas di tangannya, Diana memusatkan perhatiannya ke wajah puat membiru dari mayat yang tergeletak menyedihkan tak jauh dari kakinya.
"Mau bertaruh?" Diana bertanya.
Mayat Rendi diam. Membisu.
'Komandanku itu bermental baja. Lebih tebal dari bukit Sibolangit di Sumatra sana. Tempatnya dilahirkan!" Diana memberitahu. Diam sejenak, ia meneruskan. "Maka taruhan kita begini. Aku yakin dia akan tetap tenang. Tidak terpengaruh. Apalagi sampai terpekik seperti tadi aku sempat terpekik saking kaget!"
Untuk beberapa saat, sepasang mata Diana tampak menerawang. Lalu ia menggeleng keras untuk membuang bayangan memalukan ketika sempat ditertawakan oleh rekan-rekan sejawatnya di kamar tidur TKP. Dan kembali ia meneruskan, "Nah. Jika aku ternyata keliru..."
Lagi Diana berhenti, diam mengawasi wajah mayat yang menengadah di lantai. Wajah pucat dan kaku membeku, dengan noda genangan darah di sudut-sudutnya-akibat luka tusukan pada jantung yang juga sudah membeku. Namun demikian, di mata Diana-terutama sewaktu tadi sibuk me
motret, wajah pucat membiru dari sang mayat masih menyimpan gurat-gurat daya tarik. Malah boleh dibilang masih tetap tampan. Maskulin.
Diana tersenyum kecut. Lama mengakhiri kalimatnya. "Aku bersedia mencium bibirmu!"
Mayat Rendi tetap diam membisu.
Diana meniup niup isi gelasnya lagi. Kemudian gelas diacungkan ke arah mayat. sambil berkata tersenyum, "Maaf, minuman di rumahmu kucicipi. Boleh, kan?"
Lalu Diana pun meneguk isi gelasnya.
Dengan nikmat. Pada waktu bersamaan, di ruangan lainnya.
Dengan ajudannya berjalan di depan, Ajun Komisaris Polisi Bursok Sembiring melangkah tenang dan hati-hati sepanjang koridor, mengikuti jalur berdarah yang ditinggalkan tuan rumah sewaktu merayap menuju ruang makan.
Pada jarak tertentu terlihat ada bekas pijakan sepatu di tengah atau sisi jalur. Bekas pijakan sepatu wanita, dengan jarak yang tetap dan tampak teratur. Bekas pijakan tersebut kemudian tampak membelok ke kamar tidur yang pintunya terbuka. Suasana di dalam kamar tidur benar-benar berantakan. seakan pelakunya bertujuan membongkar habis seisi kamar untuk mencari lalu mengambil apa yang diinginkannya.
Di mata Bursok maupun polisi lainnya, itu biasa.
Yang tidak biasa adalah jejak-jejak berdarah di permukaan lantai. Jejak sepatu wanita. yang di beberapa tempat tampak dengan seenaknya menginjak tebaran kapas dari kasur tempat tidur yang dirobek dengan benda tajam. dan sepotong celana dalam pria yang terbuang dalam keadaan masih terlipat. Menginjak lagi sehelai gaun-yang ini gaun wanita, jejak sepatu berdarah tampak berakhir di depan lemari berpintu dua. Atau persisnya di depan salah satu pintu lemari tersebut yang dalam keadaan tertutup, sementara pintu kembarnya dalam keadaan terbuka.
Sewaktu ia tiba di TKP, Bursok hanya sempat memperhatikan sekilas dari luar pintu kamar. Karena yang pertama-tama ingin dilihatnya adalah korban, bekas pijakan sepatu di sepanjang jalur berdarah sampai ke ruang makan sempat ia amati namun tak terlalu serius. Dan kini, di kamar tidur korban. jejak yang tidak lazim itu mau tidak mau membuat Bursok diam-diam terpaksa harus memeras otak.
Sebuah permainan, kata Hadi Saputra dan tidak menjelaskan lebih dari itu.
Tetapi apa" Dua orang petugas bawahan yang sedang sibuk di ruangan tersebut langsung berhenti bekerja begitu melihat komandan mereka memasuki ruangan. Namun begitu beradu pandang dengan sang komandan yang mengawasi mereka tanpa bertanya, keduanya cepat-cepat menyibukkan diri lagi. Yang seorang memeriksa bagian lain kasur yang bekas disobek. Satunya lagi menyibukkan diri dengan mempergunakan sebatang pensil. mengotak-atik isi salah satu laci yang setengah tertelungkup di lantai. Agaknya laci dari lemari besar berpintu tiga dan terletak berdampingan dengan lemari pertama. Pintu-pintu lemari besar itu juga pada terbuka menganga. memperlihatkan bagian dalam yang jelas diisi perlengkapan untuk keperluan pria.
Melangkah tenang tetapi hati-hati, Bursok mendekati lemari pertama yang pintu terbukanya memperlihatkan bagian dalam yang kosong melompong, Jelas habis dijarah. Pada pintu satunya lagi yang dalam keadaan tertutup, terlihat sisa taburan tepung sidik jari. Berarti sudah diidentifikasi.
Lantas mengapa dibiarkan tertutup"
Menangkap tanda tanya di wajah komandannya. Hadi Saputra membuka mulut. menjelaskan tanpa diminta, "Hanya untuk menjaga keutuhan apa yang ada di dalamnya. Komandan. Karena..."
Sang lptu tidak meneruskan karena tangan Bursok sudah terulur ke depan. Sementara Hadi Saputra dan kedua petugas lain diam-diam mengawasi dengan sikap menunggu... bahkan terkesan tegang. Bursok memutar kunci pintu lemari. Detak bunyi anak kunci pada lubangnya terdengar keras serta mengejutkan karena suasana di dalam kamar mendadak sunyi menekan.
Perubahan suasana itu bukannya tidak disadari oleh Bursok. Namun berlagak tidak tahu apa-apa. ia terus saja menarik pegangan pintu. Tenang-tenang. dengan wajah tidak memperlihatkan emosi.
Pintu tertutup itu pun terbukalah.
Dan orang Sibolangit itu seketika tertegak. Menegun.
Karena di sebelah dalam lemari-tepat di hadapannya. berdirilah seorang perempuan cantik rupawan bergaun merah hati. Sepasang mata bulatnya menatap terbuka, lurus ke mata Bursok. Sementara bibir mungilnya yang merah segar, tampak mengulas senyum.
Senyuman tipis. Dan misterius.
*** Dan sesudah mati, Rendi harus gigit jari.
Ciuman gratis seorang polisi wanita-konon pula yang sedang menjalankan tugas, sungguh langka didapat. Malah boleh dikata mustahil. Yang pasti, mayat Rendi terpaksa harus melupakan asyiknya ciuman bibir sensual Diana "Lady Di" Medina.
Karena jangankan terpekik. Ajun Komisaris Polisi Bursok Sembiring terlompat mundur saja tidak. Jika pun ia dibuat terkejut. reaksi kejutan itu hanya berupa kerjapan mata cepat dan sekilas. Tak lebih dari itu.
Tanpa ada perubahan apa pun di wajahnya, Bursok dengan saksama mengawasi sosok rupawan yang tegak di hadapannya. Ada dua bagian yang ia amati sedikit lebih lama ketimbang bagian lainnya. yakni wajah serta lantai dasar lemari tempat sosok pemilik wajah itu berdiri diam dan kaku.
Reaksi maupun diamnya sang komandan, mau tidak mau membuat Hadi Saputra diam-diam mulai cemas. Apalagi setelah menyadari kedua anggota
lainnya yang sedang bertugas di kamar tidur itu sama-sama melihat ke arah dirinya dengan pandangan menuding. Nah, apa kami bilang. Tahu rasa Pak Hadi sekarang!
Memang Hadi yang melontarkan ide konyol itu. "Ayo kita uji, setebal apa mental orang Sibolangit itu!" Sekarang ia tahu. Dan justru mentalnya sendirilah kini yang terpaksa harus diuji. Maka lptu Hadi Saputra pun diam menunggu. Siap untuk ditegur.
Agak lambat. barulah terdengar suara sang komandan, sedikit lebih berat dari yang biasa mereka dengar. "Sebelum membuka pintu lemari ini, aku sudah menduga..." ujarnya tenang. Seakan berkata pada diri sendiri, ia menambahkan, "Boneka pop!"
Hadi Saputra menelan ludah, berjuang keras menahan perasaan cemasnya. "Bagaimana Komandan mengetahuinya?"
"Sederhana saja. Inspektur..." jawab Bursok sambil menyebut pangkat, bukan nama, penanda ia ingin ditanggapi serius. Lantas meneruskan tanpa berpaling dari sosok menawan di hadapannya. "Manusia hidup takkan kalian biarkan terkunci di dalam lemari. Mayat" Harus segera dikeluarkan, diidentifikasi dan tentunya juga. divisum. lalu, sepatu. Jejaknya jelas, begitu pula arahnya. Tetapi mengapa harus repot-repot kalian memasukkannya kembali" Dan, dikunci pula!"
Lagi, pandangan mata kedua anggotanya membuat Hadi Saputra kembali merasa dituding. Jangan libatkan kami, Inspektur!
Mau tidak mau Hadi Saputra kembali menelan ludah. Bertambah cemas.
"inspektur?" "Siap, Komandan!" Hadi Saputra menyahut. terkejut. Sambil tegak menyahut. dengan mengentakkan kuat-kuat rumit sepatunya di permukaan lantai, berharap lantai itu belah dan dirinya tersedot masuk ke dalamnya.
Barulah Bursok memutar tubuh. Menatap heran sejenak, lantas berkata disertai senyuman lembut, "Wah, Hadi. Santai sajalah!"
Tanpa sebutan pangkat! ltu pertanda si orang Sibolangit kembali berbicara sebagai seorang sahabat. bukan komandan.
"Dilaksanakan!" Hadi Saputra menyahuti. Masih setengah resmi, tetapi dengan nada lebih gembira. Sementara kedua anggota lainnya yang semula sama menatap tegang. diam-diam saling bertukar pandang. Lalu sama-sama pula mereka menghela napas lega, sambil melanjutkan pekerjaan mereka dengan berlagak tidak melihat atau tidak mendengar apaapa.
"Tadi kau bilang tersangka pelaku mencoba mempermainkan kita. Benar toh?"
"Hanya dugaan sementara. Komandan!"
"Oke. Tetapi misalkan dugaanmu benar, maka menurutku dia sudah overacting. Berlebihan. tepatnya!" Bursok memberitahu sambil tampak berpikirpikir. "Mendekatlah. Dan jangan sungkan-sungkan menegur jika aku ternyata keliru!"
Berkata demikian, Bursok mundur sedikit dari hadapan pintu lemari yang sebelumnya ia buka,
tempat sang sosok tegak mematung. seakan menunggu. Sang inspektur Satu yang sudah menemukan dirinya kembali berjalan mendekat lalu menempati tempat yang ditinggalkan komandannya. Kedua anggota lainnya diam-diam meninggalkan pekerjaan mereka, ikut mendekat lalu berdiri di belakang Hadi Saputra. ikut memperhatikan ke sebelah dalam lemari dengan pandangan ingin tahu.
"Pertama, Hadi..." Bursok menjelaskan, "Jejak-jejak tumit sepatu berdarah di dasar lemari. Kali ini tidak beraturan. Tampak seperti berputar. Punya pendapat?"
Yang ditanya manggut-manggut lantas menjawab yakin, "ltulah permainannya, Komandan. Tersangka pelaku membuat situasinya tampak rumit!"
"Rumitnya?" "ia ingin kita percaya bahwa pop ini berjalan sendiri. Membuat jejak-jejak pada jalur berdarah. lalu menyimpan pop ke lemari ini dengan cara sedemikian rupa, sehingga pop seolah-olah masuk ke dalam lalu memutar langkah. Agar ketika berdiri. pcsisinya menghadap ke sebelah luar pintu!"
"Untuk apa tersangka pelaku berbuat serepot itu?"
"Kejutan tentunya, bagi siapa saja yang membuka pintu...." Di ujung kalimatnya, Hadi Saputra berhenti. Kembali merasa bersalah. kembali siap untuk ditegur. Setelah teguran yang ia tunggu tak juga kunjung tiba, sang lptu menambahkan, "Bahkan Lady Di kita nyaris histeris!"
"Oh. ya?" Bursok mengernyitkan dahi.
"Maksud saya, Komandan, Bripda Diana sempat
terpekik. Saking kaget!" Hadi Saputra memperbaiki dengan senyum ditahan. teringat bagaimana polwan atau polisi wanita yang ia sebut-sebut bukan cuma terpekik. Wajah Diana Medina juga pucat pasi dan mulutnya yang terbuka tidak mampu mengeluarkan kata-kata selama beberapa detik.
Sementara ingatan itu membuat salah seorang anggota tampak menahan tawanya, Bursok kembali membuka mulut. "jika dugaan kalian benar. tersangka pelaku jelas bukan cuma rajin. tetapi juga punya otak dengan segudang ide kreatif. Sayang. aku tetap menganggap kreativitasnya sudah berlebihan!"
"Mengapa, Komandan?"
"Bibir si jelita ini. Coba kalian perhatikan!" jawab Bursok datar. "Apa yang kalian lihat?"
Sang Iptu maupun kedua orang anggota di belakangnya serempak mengangkat muka. Dan samasama memperhatikan ke arah bibir mungil sosok di dalam lemari, yang tampak jelas dan nyata karena posisi berdiri sang sosok tepat menghadap ke sinar lampu kamar yang menyala terang benderang.
Saat itulah Hadi Saputra diam tertegun.
Salah seorang anggota di belakangnya tak sabar menunggu, lantas tanpa bisa menahan diri, ia lontarkanlah isi otak pintarnya. "Bibir merah segar ini. Komandan. Senyumannya... tampak hidup!"
"Karena bentuk cetakan pabriknya benar-benar sempurna!" anggota satunya lagi tidak mau ketinggalan menanam andil. Manggut-manggut yakin. ia menambahkan, "Termasuk pengecatan warna bibir. Sehingga..."
"Cat!" Hadi Saputra tiba-tiba mendesah tajam. "Cat bibirnya ternoda!"
Untuk meyakinkan apa yang telah dilihatnya. Hadi Saputra maju lagi selangkah. Leher bahkan ia panjangkan supaya dapat melihat lebih dekat. sehingga wajahnya nyaris bersentuhan dengan wajah cantik boneka pop di sebelah dalam lemari. Kedua anggota yang berdiri di belakangnya ingin mencuri lihat. Malang, batas pandang mereka diborong habis oleh tengkuk dan kepala sang Inspektur yang sesaat kemudian bergumam lirih setengah tak mengerti.
"Kok tadi aku tak melihatnya, ya?"
Saat Hadi Saputra memundurkan kepalanya, barulah kedua anggota lainnya menyimak dan melihat apa yang telah dilihat oleh sang lptu. Sadar sang komandan masih berada di dekat mereka, orang pertama yang tadi berbicara sekali lagi membuka mulut. Kali ini. dengan nada setengah membela diri. "Pasti karena tadi kita dibuat sibuk menenangkan sang Lady?"
"Juga membandingkan bibir-bibir yang kita saksikan. Bibir yang sama sensualnya, dan...!" orang kedua menimpali, lalu menutup sendiri mulutnya setelah ujung sepatunya diinjak oleh rekan sejawatnya.
Bursok diam-diam menahan tawa. Lalu bertanya. serius. "Nah. Inspektur?"
Kembali menyebut pangkat. Maka Hadi Saputra pun menyahuti dengan nada resmi. "Siap, Kontandan. Ada noda pada sudut bibir kiri pop ini. Warna merahnya lebih tua. 'Tidak segar, tidak bersinar-sinar sebagaimana bagian bibir lainnya!"
"Juga lembap, kalau tak salah!" timpal Bursok. Kalem.
"Siap. Komandan. Juga lembap!" Hadi Saputra mengangguk setuju.
"itu maka kubilang... jika dugaan kalian benar. tersangka pelaku sudah berlebihan. Meneiumkan bibir pop ke bibir orang malang yang sudah jadi mayat itu. Benar-benar keterlaluan." Bursok menggeleng-geleng. Tampak masgyul, ia menambahkan. "Sangat tidak manusiawi!"
Menangkap adanya perubahan di wajah komandannya, Hadi Saputra memberanikan diri untuk bertanya, hati-hati, "Agaknya Komandan punya sesuatu..."
Bursok seperti terkejut. Cuma sesaat. Lantas seraya tersenyum misterius, ia kemudian menjawab enteng. "Cuma firasat...!"
Tak ada penjelasan tambahan. Dan Hadi Saputra tidak punya keranian untuk mendesak. Apalagi komandannya sudah keburu mengajukan pertanyaan dengan wajah masih tetap serius. "Masih ada kejutan lainnya untukku, Hadi?"
Kembali cuma nama. Sang lptu bertukar pandang dengan kedua anggotanya yang balas menatap dengan pandangan pasrah: terserah Pak Inspektur sajalah!
Hadi Saputra segera mengambil keputusan. Didahului oleh penjelasan resmi, sebagai pengantar kata. "Pop akan kami serahkan pada bagian forensik untuk memastikan DNA pada bibirnya. Pak tua Faisal yang suka nyinyir itu pasti bersedia mengerjai si Cantik ini?" Hadi Saputra melirikkan ekor mata
ke sosok menawan di dalam lemari, "Sebagai selingan yang mengasyikan!"
Bursok ikut melirik ke arah yang sama. Tampak berpikir. lalu bergumam murung, "Tentang boleh tidaknya dikerjai, nantilah kuputuskan!"
"Siap, Komandan!"
Bursok kembali mengawasi wajah ajudannya. Menatap lurus. "Nah" Masih ada kejutan lainnya untukku?"
Barulah wajah Hadi Saputra kembali tampak bergairah lantas masuk ke jawaban yang seharusnya. "Masih, Komandan. Namun tak lebih dari sebuah kejutan kecil!" la memberitahu dengan santai, "Pop kita ini punya kembaran..."
"Dan hidup, lagi!" si anggota pertama yang tadi merasa pintar cepat mengamini.
Yakin, kali ini ia memberi sumbangan komentar yang benar.
*** PIA bolak-balik pingsan," Hadi Saputra menjelaskan seraya membukakan pintu depan untuk komandannya. "Atau menjerit-jerit histeris sambil meronta ronta. Maka kami ungsikan bersama suaminya ke rumah sebelah. supaya tidak menganggu TKP!"
Bursok tidak menanggapi karena memang tidak mendengarkan. Ia sedang berpikir keras.
jejak-jejak sepatu berdarah itu begitu sempurna, terutama pada gerakan berputar di lantai lemari.
Bagaimana mungkin sebuah manekin atau boneka pop yang keras dan kaku mampu melakukannya, walaupun dibantu tersangka pelaku"
Masih ada lagi. Jika memang benar demikianlah kejadiannya, berarti tersangka pelaku membiarkan korbannya merayap sekarat dari ruang tengah ke ruang makan. Untuk apa" Bukankah di ruang tengah tersedia cukup banyak darah untuk disapukan ke sepatu boneka"
Lalu, pertanyaan yang terus mengusik sel-sel otak Bursok itu adalah, mengapa ke ruang makan"
Apa yang ingin dilihat atau dicari korban di ruang makan itu"
Pasti ada yang salah di sini.
Tetapi apa" Udara malam yang dingin menusuk langsung menyergap begitu mereka berada di luar. Bursok sempat menggigil lalu mengawasi segerombolan warga yang berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil di seberang jalan. Hampir serempak, kelompok warga tersebut balik mengawasi dengan pandangan ingin tahu.
Salah seorang petugas ambulans yang sedang duduk mengobrol di kursi teras cepat bangkit sambil bertanya, "Rongsokannya sudah boleh kami angkut. Pak Hadi?"
"Itu yang mau kami konfirmasikan pada yang lebih berhak!" jawab Hadi Saputra seraya menggerakkan ibu jari tangan kanannya ke arah rumah besar yang lokasinya berdampingan dengan rumah TKP. lalu ia mengikuti Bursok menuruni teras.
Sewaktu melewati ambulans yang pintu belakangnya tertutup rapat, terdengar suara orang mendengkur keras. Dengkuran siapa lagi jika bukan si dokter tua Faisal, yang kalau sudah mengantuk bisa tergeletak pulas di mana saja, tak peduli itu di atas ranjang lipat pengangkut mayat!
Petugas bersenjata yang berjaga di sebelah dalam garis polisi seketika menyahut saat Bursok serta ajudannya mendekati pintu gerbang. Bursok membalas dengan anggukan sekilas sambil mengawasi luapan air selokan yang melimpah ke badan jalan.
"Yang begini inilah penyebab mengapa tadi aku
terlambat tiba," gumamnya tanpa gairah seraya melangkah di atas trotoar yang basah. "Rombongan tamu Kapolres kita terperangkap banjir di tengah perjalanan, sehingga kedatangan mereka tidak sesuai jadwal. Ditambah obrolan ngalor-ngidul hampir satu jam sebelum upacara dimulai, hanya untuk menuding birokrasi yang dianggap sebagai penyebab selalu tertundanya usaha penanggulangan bencana banjir. Aku sempat nimbrung. memberitahu mereka jalan mana yang paling aman dilalui baik untuk datang maupun pulangnya nanti dari rumah Kapolres..."
Bursok berhenti bicara untuk merunduk keluar dari bentangan pita kuning garis polisi di sepanjang trotoar, yang diangkatkan oleh ajudannya. Berjalan kembali, ia berkata menggeleng-geleng, "Eh, tak tahunya dalam perjalanan ke sini, ganti akulah yang terperangkap. Mobilku malah sempat mogok karena knalpot dijejali luapan air!" Bursok menggeleng lagi, lantas mengakhiri. "Hujan badai sialan itu!"
"Padahal turunnya tidak sampai dua jam." sang ajudan menimpali, setengah menyabarkan. "Cuma ya itu. Ditumpahkan sekaligus. Bukan hanya kita-kita ini, langit pun terkadang juga malas mencicil...!"
Memasuki gerbang rumah yang dituju dan juga dijaga oleh seorang petugas bersenjata, Hadi Saputra bertanya setengah memperingatkan, "Apa tidak lebih baik besok pagi saja dia kita temui?"
"Jangan membuang waktu yang sudah ada di tanganmu. lnspektur." Bursok menanggapi. Wajahnya sudah kembali pada sikap serius. "Lagi pula, sekarang toh sudah memasuki pagi hari!"
Tuan rumahlah sebenarnya yang dipikirkan Hadi Saputra. Sudah direpoti, kini masih juga diganggu. Tetapi lelaki tengah baya yang menyambut mereka dengan wajah tampak jernih dan segar. cuma menanggapi dengan santai sewaktu Bursok meminta maaf karena datang bertamu tidak pada waktu yang menggembirakan.
"Bukan salah Anda, Komandan!" ia berkata ringan disertai senyuman ceria dan bersahabat. Tanpa memerinci apa atau siapa yang bersalah. seakan semua itu sudah menjadi urusan Tuhan semata. "Lagi pula, dia dan suaminya memang sudah tak sabar menunggu kedatangan kalian!"
"Oh ya?" Bursok menanggapi pendek dan he
ran. Keheranan Bunok terjawab dengan segera setelah ia serta ajudannya memasuki kamar tidur tempat orang yang mereka tuju terbaring lemah dan pucat ditunggui oleh suaminya dan istri tuan rumah yang segera berlalu setelah saling memperkenalkan diri dengan Bursok.
Begitu tuan rumah mereka berlalu, Rinda langsung mengangkat muka. Menatap lurus ke wajah Bursok dengan sepasang matanya yang tampak sembap bekas tangis yang berkepanjangan. Dlpegangi sang suami. lirih dan gemetar ia berbicara tersendatsendat, tapi terdengar seperti menyimpan kemarahan. "Mereka bilang... Rendi akan dibawa ke rumah sakit. Untuk... dibedah!"
"Tepatnya diautopsi!" Hadi Saputra membetulkan, dengan sikap dan suara lembut, setelah jawaban yang ditunggu tak kunjung keluar dari bibir
Bursok yang mengatup rapat. Sangat rapat malah. Sambil Busrok terus menatap si pembicara dengan kelopak mata nyaris tidak mengedip.
Cuma sebuah kejutan kecil, kata ajudannya.
Tetapi cukup membuat Butsok takjub alang kepalang. Hanya karena sudah terbiasa menahan emosi sajalah yang membuat mulutnya tidak membuka. tcrcengang-cengang. Bagaimana tidak. di hadapannya duduk setengah berbaring kembaran sang manekin! Bibir mungilnya, hidung, tulang pipi, mata lebarnya yang bulat, bahkan sampai ke potongan rambut.
Dan yang lebih menakjubkan lagi, semua itu tampak bersinar dan bergerak-gerak. hidup.
Tidak selayu dan semati yang tegak membeku di balik pintu lemari!
Inspektur Satu Hadi Saputra terpaksa harus mengambil alih, sibuk berdebat dengan kedua orang saksi utama mereka. Terutama si kembaran pop yang cepat berpaling ke arah dirinya, lantas berkata dengan nada pedas dan marah. "Sama saja! Tubuh Rendi-ku tercinta tetap disayat-sayat dengan kejam!"
"Nanti juga akan dijahit kembali, Bu Rinda. Dan?"
Sementara ajudannya sibuk menjelaskan dengan sabar tentang prosedur serta perlunya autopsi. Bursok sudah menemukan dirinya kembali. Hal itu dikarenakan ekor matanya secara kebetulan menangkap sesuatu. yakni perubahan di wajah sang suami.
Wajah yang semula menyimpan duka cita itu seketika tampak berubah kaku sewaktu tadi mendengar penuturan istrinya.
Kata-kata yang mana kiranya tadi" Oh ya. Kalau tak salah: Rendi-ku tercinta. Seketika otak Bursok pun sibuk bekerja. Sebelumnya, melalui pembicaraan telepon yang diterima Bursok sewaktu ia masuk di rumah Kapolres. Hadi Saputra sudah memberitahu. Ada dua saksi utama, salah satunya wanita. Saudara kembar korban. "...tctapi tidak mirip satu dengan lainnya. Jelas lahir dari sel telur yang tidak sama!" Hadi Saputra menambahkan di telepon.
Ajudannya tidak salah. Terbukti wanita yang kini ada di hadapan mereka-kecuali pada bentuk tulang pipi serta dagu. tidak punya kemiripan lainnya dengan mayat yang tadi mereka tinggalkan di rumah sebelah. Kembaran yang lebih tepat, justru dengan apa yang tersimpan di balik pintu lemari, sebuah boneka pop!
Ah. lupakan dulu manekin atau boneka sialan itu! Tanamkan di benakmu ucapan kembarannya: Rendi-ku tercinta. bukan saudara-ku tercinta. ltu jelas berbeda. Seorang ibu boleh saja menyebut anakku tercinta mengenai anak kesayangannya, tetapi tidak oleh seorang wanita pada saudaranya yang sudah sama-sama dewasa.
Terutama. bila wanita itu sudah bersuami!
Di sisi lain, sebutan khusus itu bisa saja tidak punya arti apa-apa. Mungkin sekadar kecemburuan seksual dari seorang suami. Tetapi...
'Tidak! Saya tetap tidak mengiyakan!"
Bursok mengerjap dan kembali menatap pada si
kembaran boneka, yang menggeleng-geleng marah lalu menambahkan. "Luka bekas tusukan itu sajameski saya belum melihatnya, sudah lebih dari cukup. jasad Rendi jangan lagi dibuat semakin parah dan menyedihkan!"
Kalimat terakhir diucapkan beserta isakan tangis tertahan. Diikuti lelehan air mata pula. Prasetyo sang suami. cepat merangkulkan tangan ke pundak istrinya. Membujuk dengan suara lirih oleh pcrasaan. "Sudah. sayangku. Sudahlah. Biarkan aku yang berbicara...!"
Lalu tanpa menunggu jawaban istrinya. Prasetyo cepat mengangkat muka. Berpaling lalu bertanya. tidak pada Hadi Saputra, tetapi langsung pada Bursok, "Jawablah pertanyaan saya. Komandan. Apakah penyebab kematian saudara kembar istri saya sudah diketahui?"
Untuk sesaat, Bursok menghela napas. lalu menyahuti dengan suara datar, "Memang sudah. Tetapi baru visum sementara. Jadi?"
"Selesai sudah, kalau begitu!" Prasetyo cepat menyela. Tuntas. "Keputusan istri saya. saya dukung sepenuhnya!"
Mereka punya hak, dan Bursok pun menyerah. Lantas memperlunak sikapnya. "Baiklah. Tetapi masih banyak yang akan kami tanyakan. Baik dari Anda maupun dari istri Anda...!"
"Sekarang juga?"
Bursok mengangguk tenang. "Makin cepat makin baik. bukan?"
Ganti Prasetyo yang mengalah, sebagai timbal
balik. "Tetapi istri saya nanti saja. Menyusul. Dia masih shock berat. Perlu istirahat...."
"itu sudah pasti!" Bursok menyetujui. "Marilah kita dari tempat yang lebih leluasa untuk berbincang-bincang!"
"Oke." Prasetyo lebih dulu membantu istrinya supaya dapat rebah dengan nyaman. Seraya membujuk. dengan senyuman lirih tapi lembut. "Kau cobalah tidur, Ririn. Jangan membuatku kehilangan dirimu pula, setelah kita kehilangan Rendi...!"
Rinda mengangguk patah-patah. "Cepatlah kembali padaku, Mas Pras!"
"Pak Komandan pasti mengembalikan aku secepat mungkin!" Prasetyo menjawab sekaligus memberi peringatan pada Bursok. Sambil menyelimuti dan kemudian mengecup kening istrinya, "Jangan lupa, perbanyaklah beristigfar, oke?"
Lalu Prasetyo bangkit dan sudah berjalan ke arah pintu. manakala Bursok yang terus mengawasi tempat tidur tahu-tahu berkata dengan nada sambil lalu, "Walau dalam keadaan kusut, Bu Rinda. Potongan rambut Anda tetap saja menarik hati...."
Perempuan! Biar kata masih shock, Rinda toh bisa juga tersenyum. Dipaksakan, memang. Tetapi tetap saja itu seulas senyuman. Dan cukup untuk Bursok melempar umpan pancing yang ada di benaknya. "Pasti model kesukaanmu ya?"
Rinda menyambut umpan itu tanpa berpikir. "Bukan saya. Komandan. Melainkan saudara kembar saya. Rendi. Dia?"
Ada helaan napas. Pendek tetapi dalam. Bursok
tahu itu helaan napas siapa. Dan cepat menutup pembicaraan sebelum Rinda mengakhiri kalimatnya, "Saudara kembarmu, Bu Rinda, jelas punya selera tinggi!"
Selagi senyum di bibir pucat Rinda tampak lebih mekar, Bursok sudah mengakhiri, "Tegurlah saya bila suamimu terlambat kami pulangkan ke sisi ibu. Permisi!"
Bursok mengangguk sopan, tersenyum, lalu memutar tubuh dan melangkah ke luar pintu. Diikuti oleh Prasetyo yang wajahnya tampak membeku. lalu Hadi Saputra yang mengernyitkan dahi. Tak mengerti.
Apa-apaan komandanku ini"!
*** SELAIN mempersilakan ruang tamunya untuk dipakai, tuan rumah juga dengan segera sudah menghidangkan kopi panas serta mi rebus pakai telur yang sungguh mengundang selera.
"Istri saya sudah berlelah-lelah di dapur. Maka tolong hidangannya tidak dibiarkan dingin!" Katanya riang sebelum berlalu sambil tak lupa mengingatkan pelayan yang mengantar hidangan agar tidak memperbolehkan siapa pun hilir mudik ke ruang tamu.
Mangkok Bursok serta Hadi Saputra dengan cepat sudah licin tandas. Prasetyo hanya mencicipi sedikit sebelum kemudian ia simpan kembali mangkoknya di meja, seraya bergumam. murung, "Rasanya seperti disambar petir!"
Seperti orang tolol, Bursok dan ajudannya sama menatap dari wajah lalu ke mangkok Prasetyo.
"Bukan hidangannya," Prasetyo menggeleng disertai senyuman getir. "Tetapi kematian saudara ipar saya. Rendi!" Diam melamun sejenak. kemudian
menambahkan, "Masih segar dalam ingatan saya saat terakhir kami bertemu. Suara tawanya yang Iepas... semangat hidupnya yang masih tetap tinggi, dan..."
"Kapankah itu?" Sang Ajun Komisaris dengan cepat menyambar kesempatannya untuk memulai interogasi. Sementara di kursi lainnya, sang ajudan segera bersiap dengan bolpoin serta buku notesnya.
Dengan mata menerawang, Prasetyo menjawab setengah tak sadar, "Tiga hari yang lalu. Selasa!"
"Jam?" "Kalau tak salah sekitar jam satu. itu makanya saya ajak dia mengobrol di restoran dekat kantornya. Karena memang pas waktunya untuk makan siang."
"Apa saja yang kalian bicarakan?"
"Tidak banyak. Karena waktu saya pun sempit. Saya kebetulan ditugasi perusahaan untuk mengurus sesuatu di kota ini. Dan...." Prasetyo berhenti. Matanya tampak terjaga kembali. Menatap lurus ke wajah Bursok, ia kemudian tersenyum. Kecut. Lantas berkata serius. "Saya menangkap apa yang ada dalam pikiran anda, Komandan. Untuk itu... kapan saja Anda butuhkan, saya siap menyerahkan data yang Anda inginkan. Termasuk siapa dan apa yang saya bicarakan dengan relasi perusahan yang saya temui hari itu!"
"Oke." Bursok balas tersenyum. Datar. "Teruskanlah!"
"Namanya juga singgah. Sebentar pula. Jadi kami hanya saling menanyakan kabar serta keadaan masing-masing. Cuma itu!"
"Tidak ada pembicaran khusus?"
"Tentu saja tidak. Karena... oh. ya. Memang ada juga. Namun jelas tidak ada kaitannya sama sekali dengan urusan penyelidikan Anda."
"Kita lihat saja nanti...." Bursok menanggapi. disertai senyuman membujuk.
Prasetyo mengalah. Lebih dulu meneguk kopinya-tanpa wajahnya memperlihatkan sedikit pun selera, ia kemudian menceritakan bagaimana ia dititipi amanat oleh Rinda. istrinya. "Sempatkan singgah dan bujuk lagi dia supaya cepat menikah. Bilangi, aku tak suka dia menyia-nyiakan umurnya...."
Karena sudah pernah mencoba dan beberapa kali gagal, selagi makan siang dengan saudara iparnya, Prasetyo hanya menyinggung amanat itu dengan setengah bercanda. "Aku terutama adikmu, selamanya pasti akan bersedih bila onderdilmu jadi mubazir. Dibiarkan aus, tak terpakai!"
Rendi tertawa bergelak mendengar penuturan iparnya. lalu dengan wajah serius tapi ceria ia menanggapi dengan santai, "Tak usah kuatir, Pras. Onderdilku selalu kuasah dengan baik!"
"Mengasah bagaimana?" Hadi Saputra menyeletukkan tanya. setelah melihat saksi mereka kembali duduk diam. Melamun.
Agak lambat. barulah terdengar jawaban Prasetyo. "Mana saya tahu. Inspektur. Karena ipar saya agaknya menangkap gelagat dan cepat mengalih
percakapan kami ke hal-hal lain. Sampai akhirnya saya pamit untuk pulang ke Jakarta!"
"Hem!" Hadi Saputra mendesah. lantas diam. Tampak berpikir-pikir. Manekin. Lalu 'onderdil' yang selalu diasah. Mungkinkah ada kaitannya"
Salah mengerti, Prasetyo mengawasi sang Iptu dengan pandangan mengejek. "Atau, jika masih pcnasaran juga. mengapa tidak Anda tanyakan saja sendiri pada orangnya" Mumpung dia masih di rumah sebelah!"
"Saran yang menarik." Hadi Saputra tersenyum. Kaku. "Nanti akan saya tanyakan padanya!"
Sementara Prasetyo menatap heran, Bursok mengerling sekilas pada ajudannya sebagai isyarat mereka punya pikiran yang sama. Lalu mereka kembali melanjutkan tanya jawab. "Apakah korban ada memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia sedang dipusingkan atau dikejar-kejar oleh sesuatu?"
"Dikejar apa, Komandan?"
Bursok angkat bahu. "Masalah. mungkin!"
"Tidak!" Prasetyo menggeleng. "Kalau pun ipar saya punya masalah, saya bahkan juga istri saya yang saudara kembarnya sendiri, mungkin tidak akan pernah tahu. Bukan karena orangnya tertutup, tetapi lebih dikarenakan karakternya yang kuat. Selain percaya diri. Rendi selalu menyimpan dan mengatasi sendiri masalah yang ia hadapi. Tanpa pernah mau merepotkan orang lain, betapapun beramya. ltulah setidak-tidaknya yang saya tahu mengenai dirinya!"
Bursok mengawasi sejenak. menghela napas, lalu mengajukan sejumlah pertanyaan yang sifatnya ru
tin, yang jawabannya pun kemudian terdengar bernada rutin.
Sudah lama menikahi adik kurban" Oh, baru kira-kira setahun setengah, persisnya yah... lima belas bulanlah. Pernikahan kalian direstui oleh korban" Direstui. Apakah korban punya pacar" Setahu saya. tidak. Bagaimana dengan musuh" Idem ditto. Dia terlibat utang pada seseorang" Dan sejumlah pertanyaan rutin lainnya, sebelum akhirnya Bursok mengajukan pertanyaan yang semakin menjurus, "Malam tadi, antara pukul 10 dan 10.30. Anda berada di mana?"
"Masih di Jakarta. Karena sewaktu akan meninggalkan rumah, saya sempat memperhatikan jam digital di mobil saya. Dan?" Prasetyo berhenti. Lantas balik bertanya. Serius. "Apakah itu saat kematian ipar saya?"


Manekin Karya Abdullah Harahap di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Bursok mengangguk. "Perkiraan sementara. Dari pak tua Faisal yang ketajaman otaknya tak pernah kami ragukan!"
"Oh." Bursok tidak memberi saksi mereka kesempatan untuk bernapas. "Pukul berapa persisnya Anda beserta istri meninggalkan rumah?"
"Yah, sekitar waktu yang Anda sebut tadi...."
"Berangkat malam. Jadi, sebuah kunjungan yang sudah terencana tentunya !'
"Tanpa rencana!" Prasetyo cepat menggeleng. Murung, sambil matanya tampak resah. "Sudah mendadak. juga sangat membingungkan...."
'Membingungkan?" 'Bagaimana tak bingung, Komandan." Prasetyo
menarik napas berulang-ulang. Berpikir ragu-ragu sejenak. ia kemudian memberitahu, "Keberangkatan kami berdua ke kota ini semata-mata digerakkan oleh... mimpi buruk!"
Bursok mengernyitkan dahi.
Hadi Saputra. orang kepercayaannya. bahkan sampai berhenti menulis. lantas diam. Menunggu.
Prasetyo bercerita dengan mata menerawang jauh. Saking anehnya. baru beberapa menit meninggalkan rumah, mereka sempat menepi di jalan. Untuk bertangis-tangisan. karena sadar mereka toh terlambat dan Rendi sudah benar-benar mati.
Namun sewaktu meneruskan perjalanan. Prasetyo menemukan akal sehatnya kembali. lalu berusaha keras menolak bayangan musibah yang menghantui pikiran istrinya. la bilang mungkin saja sewaktu membaca novel, Rinda terlelap. Walau cuma sekilas, toh mimpi buruk mungkin saja datang mengganggu.
Ketika istrinya membantah, Prasetyo pun mendesakkan argumen lain. Halusinasi, katanya. lalu mengingatkan Rinda pada tayangan film televisi yang mereka saksikan sebelum Rinda masuk tidur dan Prasetyo sendiri terkurung di ruang kerjanya. Rinda sempat mengomentari, tokoh yang mati terbunuh di sebuah pondok pegunungan dalam film tersebut persis saudara kembarnya Rendi. yakni Iebih suka hidup menyendiri dan terlalu yakin pada kemampuannnya sehingga sering-sering tidak waspada.
"Kau lantas terpengaruh. Dan sewaktu rebahan membaca. pikiranmu ngelantur. Dan jadilah halusinasi itu muncul!"
Dibantah lagi. Prasetyo pun sibuk mencari dan mengemukakan beberapa argumen lainnya. Karena terus ditolak, Prasetyo capek sendiri. Lantas sekeluar dari jalan tol Cikampek, ia membelokkan mobil mereka ke halaman restoran Padang. "Kita makan dan istirahat saja dulu sebentar," katanya, setengah frustrasi. "Supaya kita dapat berpikir lebih jernih dan..."
"Makan"!" Rinda langsung mengerang dalam rintihan sakit. "Sementara di sana Rendi-ku mati sengsara?"
Disaksikan tukang parkir dan para pelayan restoran yang menatap heran, Prasetyo mau tidak mau memundurkan mobil mereka. Kembali ke jalan, tanpa sempat turun. Untuk menghindari silang pendapat, perjalanan malam yang aneh itu mereka teruskan dengan mulut Prasetyo lebih banyak terkunci, begitu pula Rinda yang sesekali terlihat mengeluh atau melelehkan air mata.
Dan. mereka pun tiba di Bumi Asri.
Setelah sempat terganggu oleh luapan air yang menggenangi badan jalan yang mereka lalui, tampaklah pintu gerbang yang secara mengherankan dalam keadaan menganga terbuka. Rumah yang dituju sunyi sepi. Dan pintu garasi tidak ditutupkan dengan benar. Jantung Prasetyo langsung berdetak melihatnya. Sementara Rinda menutupkan tangan ke mulut, berusaha untuk tidak menjerit dengan sepasang matanya menatap tegang dan liar.
Sama tegangnya, Prasetyo berbisik serak pada sang istri. "Kau tunggulah di sini. Tetapi segeralah lari menyelamatkan diri bila kau melihat atau mendengar tanda-tanda mencurigakan selagi aku di dalam sana. Minta pertolongan pada siapa saja. Paham?"
Usai memperoleh anggukan tegang istrinya, Prasetyo mengendap-endap ke arah garasi dengan kunci pembuka roda sebagai senjata di tangan. Namun toh Rinda diam-diam keluar juga. ltu diketahui oleh Prasetyo sewaktu ia masih tertegun pucat menyaksikan banjiran darah segar di lantai ruang tengah. Ada helaan napas tertahan di belakang punggungnya. Dan Prasetyo sudah berbalik tubuh untuk. secara naluriah. menghantamkan kunci roda di tangannya. Lalu melihat tubuh Rinda yang tengah menggeloyor ke bawah.
Ambruk di lantai. Pingsan.
"Syukurlah dia keburu semaput begitu melihat darah," Prasetyo mengakiri ceritanya dengan suara mengerang. Wajahnya tampak masih menyimpan ketegangan. "Bila tidak, korban yang jatuh bukan cuma ipar saya!"
Bursok mengambil cangkir berisi kopi di hadapan Prasetyo lalu menyorongkannya ke tangan lelaki yang tampak gemetaran itu.
"Ini. Minumlah!"
*** MANEKIN itu sudah kalian perlihatkan pada kedua orang saksi?"
Mereka baru keluar dari rumah penitipan saksi untuk kembali menuju rumah TKP dan langsung disambut lantunan suara orang mengaji dari pengeras suara masjid terdekat. Pertanda waktu sudah mendekati saat menunaikan sholat subuh. Hadi Saputra diam mendengarkan sejenak, baru kemudian menjawab pertanyaan komandannya. "Belum, Komandan. Sewaktu kami tiba di TKP, suami-istri itu terlalu shock untuk disuruh melihat-lihat dan memberitahu kemungkinan apa saja yang telah dicuri dari rumah korban."
Melihat sekilas ke arah kerumunan warga yang sebagian mulai membubarkan diri, sang lptu menambahkan, "Bahkan makhluk cantik itu pun belum sempat kami keluarkan dari lemari untuk diperiksa secara menyeluruh!"
"Kenapa?" "Kita tidak tahu bagian mana saja dari tubuhnya
yang kemungkinan dipegangi atau diraba oleh tersangka pelaku. Praktis, si makhluk cantik harus ditelanjangi. Dan kita tidak membawa bahan sidik jari yang cukup untuk itu."
Seharusnya aku tidak bertanya. Bursok membatin. "Tahu apa yang ada dalam pikiranku, Hadi, ketika si suami tadi bercerita mengenai onderdil yang diasah?"
"Saya malah sudah tidak sabar untuk membuktikannya, Komandan!" jawab sang ajudan, bersemangat. Seraya langkahnya dipercepat.
Melewati ambulans di halaman TKP, dengkuran itu masih saja terdengar. Melirik sekilas. Hadi Saputra pun bertanya. "Perlu kita bangunkan?"
"Biarkan saja orangtua itu menghabiskan sisa umurnya dengan tenang!" jawab Bursok. Datar.
Masuk ke dalam rumah. tampak Bripda Diana Medina sedang berbicara dengan kedua petugas ambulans yang sibuk menutupi jalur darah di lantai ruang tengah. Hadi Saputra mengerling penuh arti pada komandannya. Lantas sambil lewat. bertanya pada si polisi wanita dengan nada sopan, "Sudi mengikuti kami, Bu Medina?"
Diana menatap heran lalu mengikuti tanpa bertanya. Bursok diam saja. Tanpa emosi apa-apa di wajahnya. Sebenarnya ia ingin menegur Hadi Saputra, tetapi selain sudah terlambat. buat apa" Ya, sudah. Anggap saja sebagai selingan. Yang tentunya menggembirakan.
Tak ada petugas lainnya di kamar tidur yang dituju. Mereka langsung berjalan menuju pintu lemari berisi boneka pop yang sebelumnya telah di
tutupkan. Dipandangi dengan bingung oleh Bripda Diana, tanpa berbicara Hadi Saputra langsung membuka pintu dimaksud.
Sang manekin pun tampaklah. Tegak menatap dengan mata bulatnya yang indah sambil tersenyum. Seperti menunggu.
Bahan dari kain tidak termasuk dalam daftar prioritas sidik jari. Maka. tanpa ragu-ragu Hadi Saputra maju selangkah. Tangan dijulurkan ke depan. memegangi bagian bawah gaun merah hati sang boneka. Bripda Diana "Lady Di" Medina sudah membuka mulut untuk bertanya ketika kedua tangan Hadi Saputra bergerak cepat ke atas sekaligus meluruskan tegaknya.
Saat itu juga, tiga pasang mata serempak menatap. Nyalang.
Sesuai dugaan. di balik gaunnya, tubuh si boneka cantik memang tidak memakai lapis penutup lain. Pada bagian tengah selangkangan telanjangnya tampak jelas ada bagian yang sudah dilubangi. Dan di bagian berlubang itu terekat rapat vibrator dengan bentuk yang khas.
Vibrator apalagi jika bukan vagina.
Tak pelak lagi. Kulit wajah sang "Lady Di" langsung memerah!
*** MANEKIN! Bursok menjalankan tugas sehari-harinya di kantor sambil pikirannya tak lepas dari sosok menghebohkan di lemari almarhum Rendi. Padahal urusan pop itu boleh dibilang sudah selesai. Prasetyo sudah dipanggil. disuruh melihat, dimintai komentarnya.
Begitu melihat. saksi utama mereka itu langsung tertegak membeku dengan mulut mengatup rapat. Tetapi telinga tajam Bursok sempat mendengar bergemeletuknya gigi saksi utama mereka itu. sebagai pertanda dari kemarahan yang ditahan. Setelah menyatakan tidak tahu-menahu mengenai keberadaan sang boneka, Prasetyo kemudian memberi lampu hijau.
"Terserah mau diapakan atau mau kalian bawa ke mana benda menjijikkan ini." ia berkata setengah menggeram. "Yang penting. kalian singkirkanlah secepatnya. jangan sampai terlihat oleh istriku!"
Hadi Saputra tentu saia menyeringai kecut ka
rena 'makhluk antiknya' disebut benda menjijikkan. Yang di luar perkiraan. adalah si dokter tua Faisal.
"Tak dapat mayat. boneka pun jadi!" katanya. Bersemangat. "Akan kuboyong dan kusimpan dia di ruang kerjaku!"
"Boneka pop, Dokter?" Bursok mengernyitkan dahi. "Di kamar bedah mayat?"
Hadi Saputra lebih tetang-terangan. Agaknya perasaan jengkelnya pada Prasetyo ia lampiaskan ke alamat lain. "Sebelum menidurinya, Pak Tua, tanya dulu diri sendiri. Apa masih kuat atau tidak melayani goyangannya!"
"Mau bertaruh. Inspektur" Punyamu atau punyaku yang lebih tahan lama?" jawab sang dokter. menantang. Selagi para pendengar mereka menunggu jawaban Hadi Saputra, si tua Faisal sudah mendahului. Menggeleng tertawa. ia memberitahu. "Si cantik ini pasti berharga sebagai penyegar di tempat kerjaku yang kalian tahu seperti apa!"
"Dengan memerkosanya!" Hadi Saputra bersikeras.
"Dia akan kuposisikan di pintu keluar-masuk." Dokter Faisal berkata tak peduli. "Jadi setiap aku datang, aku pasti disambut oleh senyuman manisnya. Pulang. ada tatap mata yang mengantar. Sepasang mata indah. Yang akan setia menunggu!"
Beres sudah. Maksud semula untuk mengetik atau jika perlu membuat rompal bibir boneka pop yang bernoda darah sudah teratasi. Prasetyo pun tak perlu lagi mencemaskan istrinya. Sang manekin tidak pula memprotes apa-apa sewaktu sosoknya dimasukkan dengan hati-hati ke dalam kantong plas
tik ekstra besar untuk kemudian dinaikkan ke ambulans. Menggantikan tempat yang semestinya diisi mayat Rendi.
Kalau pun ada dan bisa disebut protes, datangnya justru dari mulut salah seorang petugas ambulans. "Bukan main!" katanya dengan wajah tampak heran. "Tak kusangka boneka pop akan seberat ini. Seperti menggotong mayat beneran!"
"Itu kan perasaanmu saja!" teman sekerjanya menimpali.
Ambulans pun pergi meraung-raung. Meninggalkan Bursok yang menatap termenung-menung.
Mayat beneran. Maknanya bisa bermacam-macam, pikir Bursok selagi duduk merenung di belakang meja kerjanya. sambil berharap ada salah seorang anggota menerobos masuk, melaporkan adanya kasus baru. Kasus besar dan menantang, yang dapat menghilangkan si boneka dari pikirannya.
Tidak ada yang mengetuk pintu. Telepon genggamnya di atas mejalah yang kemudian berbunyi.
Bursok segera menyahuti. Dengan malas. "Halo?"
"Kau itu, Komandan?"
"Ah, Dokter Faisal kiranya." Bursok menjawab. Tanpa gairah. "Bagaimana DNA-nya?"
"Sesuai perkiraan kita. Noda darah di bibir boneka itu dapat dipastikan milik korban!"
"Dan... bonekanya?"
"Mengapa kau tanya?"
"Entahlah. Mungkin aku sedang kacau. Karena...
"Maka itu aku menelepon, Jadi. Komandan, sebelum kau menelan obat. segeralah datang kemari. Ada sesuatu yang sangat menarik menunggumu di atas meja bedah!"
Bursok pun melompat dari kursinya.
Tak sampai setengah jam, ia sudah menelusuri koridor panjang berkelok-kelok di rumah sakit. langsung menuju ruang patologi, tempat Dokter Faisal tampak sudah menunggu di luar bersama seorang lainnya yang tidak dikenal Bursok.
"Asep taryat," dokter tua itu memperkenalkan orang dimaksud. "Pakar elektro!"
"Bagian servis, tepatnya," si pendamping membetulkan seraya menyalami Bursok. Disusul protes bernada jengkel pada sang dokter. "Berhentilah menyindir saya, Pak Dokter. Saya..."
"Salahmu!" Faisal menyela seraya berjalan memasuki ruang bedah diikuti oleh Bursok dan Asep yang wajahnya tampak tak senang. "Mengapa kau bermaksud jahat pada pasienku!"
"Saya belum dan sumpah mati, tidak akan melakukannya. Seperti saya bilang tadi, saya cuma membayangkan..."
"Untuk bersanggama dengannya!" Dokter Faisal memotong dengan gelengan kepala tak senang. "Sungguh pikiran yang buruk dan mengerikan!"
Perdebatan sengit itu diakhiri setiba mereka di salah satu meja bedah yang sekelilingnya terlindung rapat oleh tirai kain putih yang salah satu sisinya
segera disingkapkan oleh dokter Faisal. Suara rel-rel penyangga kain terdengar keras dan mengejutkan di kamar bedah yang saat itu kosong dan sunyi sepi. Bau formalin tercium di mana-mana. Campur aduk dengan aroma yang hanya tercium samar-samar. Anyirnya darah.
Sisi lain menyusul disingkapkan.
Dan sang Ajun Komisaris pun tertegak. Membelalak. Menyaksikan mayat yang hancur mengerikan di TKP ia sudah terbiasa. Begitu pula dengan mayat yang tengah diiris di atas meja bedah. Namun apa yang ia saksikan kali ini jelas berbeda. Dan entah mengapa membuat kerongkongannya bagai tersedak.
Di atas lapisan meja bedah yang licin dan bersih, terbaringlah sang manekin. TelentTelentang, menatap langit-langit ruangan. Berbugil ria. tanpa malumalu. Namun, alangkah malangnya boneka pop tersebut. Dan alangkah akan naik pitamnya Hadi Saputra andai ajudannya itu berdiri di tempat Bursok sekarang ini berdiri.
Sang manekin atau si boneka pop di atas meja bedah tampak begitu menyedihkan. Bukan cuma kepalanya saja yang telah dipenggal. terpisah dari batang tubuh, melainkan juga tubuh itu sendiri. Jelas telah dibelah dua. Mungkin dengan gergaji.
Dari pundak sampai ke selangkangannya.
MENGAPA, Dokter" Pertanyaan yang tak terucap itu terungkap jelas di wajah sang Ajun Komisaris. Maka dengan senang hati Dokter Faisal membungkukkan tubuhnya ke depan. Lalu dengan kedua tangannya. belahan memanjang pada lambung boneka ia tarik ke kiri-kanan. Belahan pada dada otomatis ikut merenggang. begitu pula selangkangan yang vibrator vaginanya sudah dilepas dan disimpan di dekat kaki boneka.
"Anda lihat apa isi lambung ini, Komandan?" tanya Dokter Faisal bergairah. Sementara si petugas servis peralatan listrik dengan cepat memasangkan sepotong kecil balok kayu yang rupanya sudah dipersiapkan untuk keperluan demonstrasi tersebut, menjaga agar belahan dimaksud tetap merenggang.
Bahkan sebelum ditanya, Bursok sudah mencondongkan tubuh ke depan dan jelas melihat apa yang ditanya. Tak ada daging. urat-urat darah, jantung. usus. maupun organ dalam lainnya dari tubuh manusia. Yang ada ialah sejumlah kabel listrik yang
simpang siur di antara seperangkat peralatan anehaneh. Berbentuk batangan atau lempengan. juga gigi roda berbagai ukuran serta perangkat aneh lainnya. Sebagian besar terbuat dari bahan plastik. selebihnya besi atau baja tipis.
Menunggu sampai Bursok tegak kembali-dengan wajah memperlihatkan perasaan takjub bercampur bingung-Dokter Faisal pun memulai penjelasannya, diawali dengan sebuah pertanyaan, "Ingat petugas ambulans itu berkata bahwa pop yang mereka angkat lebih berat dari bobot yang mereka perkirakan?"
Masih terbingung-bingung, Bursok manggutmanggut.
"Nah. Di situlah aku mulai curiga. Keeurigaanku terbukti benar setelah pakaian pop ini kutanggalkan. Lihatlah!"
Dengan hati-hati Dokter Faisal memiringkan tubuh pop sehingga bagian sampingnya terlihat oleh Bursok. Sedikit di atas lekukan pinggang, tampak tertanam stop kontak dengan kombinasi sakelar. Dokter Faisal kembali merebahkan tubuh pop. Menoleh pada Asep Taryat. ia berkata disertai seringai lebar, "Seterusnya bagianmu, Pakar Elektro!"
Cemberut pada sang dokter. si pendamping kemudian berkata pada tamu mereka dengan suara menahan marah, "Sebenarnya. Komandan, sebagai tukang servis saya hanya tahu sedikit-sedikit. Namun mengenai apa yang sekarang ini kita lihat, anak lulusan sekolah teknik pun dapat menjelaskannya dengan mudah. Karena..."
"Lupakan tele-relemu. Nak," Dokter Faisal me
nyela. Kali ini dengan nada lembut. "Tamu kita tak punya waktu!"
"Baiklah!" Asep Taryat mengangguk lalu menyambar senter kecil yang sebelumnya juga sudah dipersiapkan. Seraya membungkuk ke arah lambung pop, ia bergumam, "Mari lihat, Komandan!"
Bursok tidak ikut membungkuk. Ia hanya ingin mendengar.
Dan jadilah si tukang servis sibuk sendiri memperlihatkan kebolehannya. Tanpa menyadari tamu mereka tetap berdiri, ia sibuk menunjuk-nunjuk, sibuk mengarah-arahkan sinar senter, agar sang tamu dapat "melihat" dengan jelas. Sambil mulut sibuk pula menerangkan nama serta fungsi dari masing-masing benda.
"Panel kecil itu adalah PCB-nya. Printed Circuit Board, jaringan sirkuit. Yang itu transistor. Di sebelahnya, resistor. Yang agak sana, kapasitornya. Lihat angka-angka itu, Komandan" ltu menunjukkan motor penggerak semua perangkat ini hanya memerlukan tekanan arus rendah. Sekitar l2 Volt. Dibantu isolator, maka..."
Asep Taryat terus sibuk, sampai akhirnya ia menyadari ada yang salah. Tidak sekali pun terdengar suara berkomentar. Bahkan tidak juga helaan napas. "Jika arus menyentuh roda gigi, maka batangan besi dan lempengan baja..." ia masih meneruskan sebelum akhirnya berhenti sendiri lalu perlahan-lahan tegak berdiri.
Yang pertama-tama dilihatnya adalah gelengan masygul dari Dokter Faisal. Baru kemudian ulasan
senyum di bibir tamu mereka. Senyuman lembut disertai pandangan mata menyabarkan.
Bessemu merah muka karena malu, Asep pun bertanya ragu-ragu. "Perlu saya teruskan?"
"Terima kasih. Tak usah," jawab Bunok, lembut. "Penjelasanmu barusan cukup rinci dan mudah dicerna. Akan tetapi, pertanyaannya bukan itu!"
Asep Taryat diam menunggu.
"Pertanyaannya, Bung Asep." ujar Bursok tenang. "Apakah dengan semua komponen yang kausebutkan tadi, pop ini dapat bergerak atau berjalan sendiri?"
"Berjalan sih, jelas tidak," jawab Asep, sama tenangnya. "Bergerak, ya. Itu pun cuma gerakan terbatas".
Asep kemudian berjalan ke sudut ruangan bedah mayat tempat tersimpan gulungan kabel dengan stop kontak kombinasi yang sudah terhubung pada stop kontak di tembok. Seutas kabel pendek dengan piting sudah terpasang di masing-masing ujungnya ia luruskan, sementara Dokter Faisal tanpa berbicara apa-apa mencabut balok kayu penahan dari belahan pop, sehingga belahan itu kembali menyatu meski tidak terlalu rapat.
Asep lalu menghubungkan satu piring ke pinggang boneka. Sambil menjelaskan. "Jika tadi Anda ikut melihat, Komandan. Anda akan tahu bagian dalam lengan boneka ini dilengkapi dengan batangan-batangan besi. juga engsel tanam pada setiap siku...!"
"Lakukan saja, Nak!" desah Dokter Faisal. Lembut tetapi tajam.
Berpikir sesaat, Asep kemudian bertanya pada sang dokter dengan seringai mengejek, "Boleh saya pasangkan dulu vibratornya. Dokter?"
Yang ditanya lebih dulu melirik ke arah vagina buatan yang tersimpan di dekat kaki boneka. lalu ke lubang menganga bekas tempat vibrator itu menempel di bagian selangkangan boneka. Baru setelahnya menyahuti dengan tenang.
"Mengapa tidak sekalian kau buka dulu celanamu" Toh lubangnya cukup lebar untuk kau masuki!"
Menyeringai kalah. Asep pun merayap naik ke atas meja bedah. Disaksikan oleh kepala boneka yang tersimpan dengan posisi tegak di meja yang sama. Asep kemudian merebahkan tubuh. menindih tubuh boneka. "Nikmatilah gerakannya, Komandan!"
Berkata demikian, lengan kiri Asep dirangkulkan ke tubuh boneka. sementara lengan kanannya bergerak ke bagian pinggang. la tekan salah satu tombol sakelar lalu diam menunggu. Tanpa sadar, Bursok lantas ikut-ikutan menungggu. Dan setelah melihat tidak juga terjadi apa-apa, Bursok sudah akan bertanya. tetapi keburu didahului oleh Asep.
"Bersedia menyentuh popnya, Komandan" Bagian mana saja, terserah!"
Ragu-ragu sejenak, Bursok maju selangkah lantas menyentuhkan jemari tangannya ke paha pop. Untuk sesaat ia tidak mengerti dan tidak merasakan apa-apa. Namun setelah jarinya lebih ditekankan lalu didiamkan sebentar. terasalah batang paha yang semula dingin sejuk itu mulai menghangat dan terus menghangat.
"Kapasitor di dalam akan mengatur sendiri suhu yang dibutuhkan." Asep menjelaskan. "Sekarang. mundurlah sedikit!"
Selagi Bursok mengikuti perintahnya, tangan Asep kembali sudah bergerak dan menekan tombol satunya lagi. Ketika tangan Asep bergerak menjauh. gerakannya tampak diikuti oleh gerakan tangan lain.
Yakni, tangan-tangan pop. Bergerak perlahanlahan. Dari semula terkulai diam di sisi tubuh, bergerak terangkat. Setengah mengembang. Dan ketika kedua lengan itu bergerak lagi menurun, lengan-lengan pop sudah saling bertaut. Dan merangkul punggung manusia yang menidurinya. Dengan sebuah rangkulan ketat.
Bursok berjuang keras menahan emosi sambil diawasi diam-diam oleh Dokter Faisal. yang langka melihat emosi di wajah sang Ajun Komisaris. Tetapi bukan hanya dia seorang yang mengawasi. Ada sepasang mata lain ikut mengawasi, yakni sepasang mata bulat yang menatap nyalang. tanpa berkedip.
Turun Ke Desa 1 Rajawali Emas 12 Hantu Seribu Tangan Kaki Tiga Menjangan 39

Cari Blog Ini