Ceritasilat Novel Online

Terjebak Di Perut Bumi 1

Pendekar Naga Putih 42 Terjebak Di Perut Bumi Bagian 1


TERJEBAK DI PERUT BUMI Oleh T. Hidayat
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting: Puji S.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
T. Hidayat Serial Pendekar Naga Putih
dalam episode: Terjebak di Perut Bumi
136 hal. ; 12 x 18 cm
1 "Hua ha ha...!"
Terdengar suara tawa berat yang menggema dan
memenuhi wilayah Hutan Sindang. Di antara derai tawa yang bagaikan tak pernah habis, terselip isak tangis seorang wanita yang terdengar demikian lemah dan
tak berdaya. "Cup..., cup.... Sudah jangan menangis lagi, manis.
Jangan khawatir, kau akan kujadikan anakku yang
paling tersayang... "
Kembali suara berat yang parau itu terdengar bergema memenuhi daerah Barat Hutan Sindang.
"Nah, kita sudah sampai...," kata seorang lelaki berwajah brewok dengan dada
telanjang. Rambut laki-laki itu panjang, hingga melewati bahu. Bahkan dibiarkan menjuntai, hingga menutupi sebagian wajahnya. Di bahu kanannya tampak sesosok
tubuh ramping tak berdaya dalam dekapan tangannya
yang berbulu kasar.
"Jangan...! Aku tidak mau...! Tolooong...!"
Ketika mendengar lelaki brewok itu berkata telah
sampai di tempatnya, gadis desa yang hanya mengenakan kain sebatas dada itu kembali meronta.
Bahkan berteriak-teriak ketakutan.
"Hus..., hus.... Jangan ribut. Nanti kalau sampai anakku yang lain melihat,
mereka tentu akan merasa
iri dan marah kepadamu," desis bibir tebal yang tersembunyi di balik brewok tak
terurus itu. Nada bicara dan tingkah laki-laki kasar itu persis
seperti seorang bapak yang tengah membujuk anaknya. Tangan yang kekar, dan berbulu menepuk lembut
pantat gadis itu. Sepertinya lelaki brewok itu tidak waras. Namun, gadis desa itu sama sekali tidak perduli. la malah semakin keras
berteriak-teriak ketakutan. Rasa
takut yang hebat dalam dirinya, membuatnya nekad
menggigit bahu lelaki raksasa itu.
"Hihhh...!"
"Aakkhh...!?"
Terkejut juga lelaki kasar itu, karena tidak menyangka kalau tangkapannya akan melakukan hal itu
terhadapnya. Kekagetan itu, membuat dekapannya seketika mengendor. Wajahnya tampak agak meringis,
merasakan nyeri akibat gigitan gadis desa itu.
"Haii..."!"
Rasa terkejut lelaki brewok yang persis orang hutan itu semakin bertambah-tambah. Sebab pada saat
dekapannya mengendor, tahu-tahu saja gadis desa
yang nekad itu melorot turun. Begitu merasa terbebas, gadis berkulit kuning
langsat itu bergerak melarikan
diri ke dalam hutan.
"Hua ha ha... Bagus.... Aku suka sekali main petak umpet. Ayo, anakku cantik.
Bersembunyilah. Nanti
aku akan mencarimu sampai ketemu...."
Dasar orang gila! Melihat tawanannya lari, lelaki
brewok itu malah tertawa-tawa kegirangan. Bahkan
menganggap gadis desa itu sengaja mengajaknya bermain petak umpet. Benar-benar sinting!
Tanpa memperdulikan gadis desa yang terus melarikan diri menyusup semak-semak, lelaki kasar berusia sekitar lima puluh tahun itu meraba pinggangnya. Sebentar kemudian, tampaklah sebuah guci kecil
tempat menyimpan arak. Semakin jelas sudah. Selain
sinting, lelaki kasar itu pun seorang pemabukan.
Cegluk... cegluk...!
Terdengar suara tegukan ketika arak di dalam guci
kecil itu masuk melewati kerongkongannya. Sepasang
mata orang tua gila dan pemabukan itu tampak merem-melek, seperti tengah menghayati nikmatnya butir-butir arak yang melintasi kerongkongan.
"He he he he.... Nikmaaattt...."
Sambil menjilati bibir, orang tua itu terkekeh. Kemudian dia melangkah bergoyang-goyang. Sepertinya,
ia telah lupa pada tawanannya yang melarikan diri itu.
Tapi ternyata meskipun terlihat agak sinting, pemabukan, dan sedikit pikun, orang tua brewokan berpenampilan kumuh itu sama sekali tidak lupa pada
tawanannya yang kabur. Buktinya, dia mulai melangkah ke dalam hutan setelah mengembalikan guci arak
ke pinggangnya. Meskipun langkahnya terlihat agak
sempoyongan seperti orang akan jatuh, tapi dia terus
saja melangkah ke dalam hutan.
"Yaaahhh.... Cah ayo cah, di mana kau sembunyi..." Dasar sinting! Sambil melangkah diselingi lompatan-lompatan kecil, orang tua itu bernyanyi-nyanyi
sambil menggerak-gerakkan tangannya dengan tingkah lucu. Bahkan terkadang berhenti, hanya untuk
memutar badannya seperti seorang penari. Benarbenar edan! Setelah kurang lebih dua puluh lima tombak, mendadak orang tua sinting itu menghentikan langkahnya
dengan kening berkerut. Kemudian dengan lagak seperti seekor anjing, hidungnya mengendus-endus.
"Hayaaa...! Dasar binatang kurang ajar, tidak tahu diri. Apa tidak ada tempat
lain untuk membuang kotoran...."
Orang tua sinting itu mengomel panjang-pendek
sambil berjingkat-jingkat, sambil memijat hidungnya
yang berbentuk seperti tomat. Rupanya, telapak kakinya yang telanjang menginjak kotoran binatang yang
kebetulan masih baru dan hangat. Sambil tidak hentihentinya mengomel, dia kembali melanjutkan pencariannya dengan tidak terburu-buru. Sepertinya, ia sama
sekali tidak merasa khawatir akan kehilangan buruannya. *** Sementara itu, gadis desa yang terus melarikan diri
tanpa tujuan, sudah tidak karuan lagi kain yang dikenakannya. Di sana-sini telah robek, tersangkut dahan
atau semak berduri. Meskipun kakinya ter-gores di sana-sini hingga meneteskan darah, tapi gadis desa itu
tidak memperdulikannya. Yang ada dalam pikirannya
saat itu adalah melarikan diri sejauh-jauhnya.
"Ooohhh...."
Untuk yang kesekian kalinya, gadis desa itu kembali terhumbalang jatuh akibat akar pohon yang muncul di permukaan tanah. Tubuhnya terguling-guling ke
bawah, karena tanah di depannya agak menurun.
Begitu luncuran tubuhnya terhenti, gadis desa
yang keras hati itu berusaha bangkit, meski dengan
wajah menyeringai. Tak diperdulikannya tambahan luka memar yang diderita, dan kembali berlari dengan
napas bagaikan kuda pacu.
Graauurrhhh...!
Tiba-tiba saja terdengar raungan keras yang bagai
hendak merontokkan jantung. Suara auman harimau
yang menggetar di tengah hutan, membuat langkah
gadis itu terhenti seketika. Dia menoleh ke kiri-kanan dengan wajah pucat, dan
tubuh menggigil ketakutan!
"Ohhh..."!"
Gadis desa itu menyumbat mulutnya dengan jarijari tangan, sehingga pekikan suaranya agak tertahan.
Wajahnya tampak sudah demikian pucat, bagai tak dialiri darah. Sedangkan kedua kakinya menggigil, seperti tak sanggup menahan bobot tubuhnya.
Graurhhh...! Harimau belang yang tiba-tiba saja muncul di depan gadis itu dalam jarak lima tombak lebih, benarbenar membuat nafasnya seperti putus. Dan ketika
harimau buas itu kembali mengaum sambil memperlihatkan taring-taringnya, gadis desa itu sudah tidak sanggup berdiri lagi.
Tubuhnya melorot jatuh, ber-sandarkan sebatang pohon sambil memandang dengan
tubuh gemetaran.
Dengan langkah satu-satu, harimau berumur cukup tua itu melangkah ke arah mangsanya. Sesekali
langkahnya terhenti, lalu menggereng memperlihatkan
taringnya. Sikapnya jelas sangat waspada, dan penuh
kehati-hatian. Sepertinya, harimau itu hendak melihat apa yang akan diperbuat
calon korbannya.
Grrrhhh....! Setelah jarak antara mereka tinggal kira-kira dua
tombak, harimau itu tampak berhenti. Kemudian binatang buas itu, duduk menatap gadis desa yang hampir
mati karena ketakutan. Dan diiringi raungan panjang,
tubuh harimau itu melesat dengan kuku kaki depan
siap merencah tubuh korbannya.
Graunggg...! "Auuuwww....!"
Gadis desa itu berteriak ngeri ketika terkaman harimau belang datang mengancamnya. Dan karena rasa
ngeri yang hebat, gadis desa itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya merungkut
dengan kedua kaki terlipat.
Deeesss! Graunggg...! Gusraaakkk...! Tiba-tiba saja, gadis itu merasa heran ketika mendengar raung kesakitan dari si raja hutan. Bahkan dadanya sempat berdebar tegang, ketika juga ter-dengar
suara berdebuk yang menandakan jatuhnya sebuah
benda berat. Namun, gadis desa yang semula ingin mengetahui
apa sebenarnya yang telah terjadi terhadap harimau
buas tadi, jadi terpekik kaget. Hal itu terjadi ketika terdengar suara terkekeh
yang teramat dikenalnya.
"He he he...! Ayo, Belang. Kau ingin bermain-main dengan majikanmu. He he he....
Jangan takut. Aku tidak suka dagingmu yang alot itu. Tapi yang ku inginkan justru daging muda yang hendak kau santap. Tahukah kau, daging muda itu milikku...?"
Seorang lelaki tua brewokan yang berdirinya bergoyang-goyang, mengomel panjang-pendek kepada harimau itu. Rupanya, orang tua sinting inilah yang menyelamatkan nyawa gadis desa itu dari kematian.
Harimau jantan berumur tua itu menggerang,
memperlihatkan taringnya yang tajam berkilat. Walaupun begitu, si Raja Hutan ini sama sekali tidak berusaha maju. Sepertinya,
hajaran orang tua sinting
pemabukan tadi cukup dirasakannya. Sehingga binatang buas ini agak berhati-hati dalam menerima tantangan orang tua sinting itu.
"He he he,..! Kau takut, Belang" Atau ingin minta bagian dariku...?" tanya orang
tua sinting itu yang kini malah berjongkok sambil mengganjal dagunya dengan
sebelah tangan.
Sikap orang itu benar-benar berbahaya sekali. Sebab, apabila Si Raja Hutan itu menerkam, akan sulit
rasanya untuk menghindar dalam keadaan seperti itu.
Tapi, nampaknya orang tua sinting itu sama sekali tidak merasa khawatir.
Harimau jantan bertubuh besar ini menjilat-jilat
bibirnya, seolah-olah tengah memikirkan tawaran lelaki brewok yang tidak waras itu. Kemudian dia menggereng dengan kepala tegak.
"Eh" Kau ingin merebutnya..." Oho..., tentu saja boleh. Tapi, kau harus
merebutnya secara jantan,
ya....?" ujar orang tua sinting itu, seolah-olah mengerti isyarat sang Raja
Hutan. Tampak orang tua itu bangkit berdiri, dan memungut sebatang ranting sebesar ibu jari tangan.
Wuuut! Wuuuttt..!
Bagaikan orang yang tengah mencoba kekuatannya, si pemabuk sinting itu memukul-mukulkan ranting kayu yang dipungutnya ke udara berkali-kali.
"He he he.... Bagus.... Cukup baik, cukup baik...,"
desis orang tua sinting itu berulang-ulang sambil kembali mengebut-ngebutkan
ranting kayu di tangannya.
Kemudian, dia berdiri tegak menanti harimau itu bergerak maju. Tapi sampai beberapa saat lamanya, Raja Hutan
itu sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda menyerang. Binatang buas itu hanya berputar-putar ke
kiri dan kanan, sambil menggereng mempertunjukkan
taringnya yang runcing.
"Oooh! Rupanya kau tidak ingin memulai" Baiklah.
Kalau begitu, aku yang akan membuka serangan. Bersiaplah, Belang...," ujar orang tua sinting itu. Rupa-nya dia memang telah cukup
mengerti tingkah laku para
penghuni Hutan Sindang. Apalagi, ia pun merupakan
salah satu penghuni hutan itu.
Sebenarnya orang tua gila pemabukan yang terlihat
lucu itu tidaklah semenarik tingkahnya. Pada dasarnya, sifatnya keji dan tidak mengenal kasihan dan ampun. Meskipun tingkahnya terlihat lucu dan aneh, tapi orang tua itu adalah
seorang tokoh sesat yang sangat
ditakuti. Banyak sudah perbuatannya yang dikutuk


Pendekar Naga Putih 42 Terjebak Di Perut Bumi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kaum rimba persilatan. Tapi, siapa pula yang berani
mencegah kekejamannya" Bahkan tidak sedikit pendekar tua dan muda yang datang hanya untuk mengantar nyawa kepada orang tua itu. Sehingga lamakelamaan, nyali kaum persilatan pun mulai mengendor. Jarang ada yang berani menghalangi per-buatan
tokoh sinting pemabukan itu.
Belakangan ini, tokoh sinting yang dijuluki Pemabuk Berhati Iblis itu kembali melakukan serangkaian
kejahatan. Entah, sudah berapa puluh nyawa yang
terbang akibat tangannya yang telengas. Dan, gadis
desa itu merupakan kejahatan terakhir yang baru saja
dilakukannya. "Hiaaahhh...!"
Orang tua sinting yang berjuluk si Pemabuk Berhati Iblis tampak bergerak maju dengan langkah goyah.
Tapi, gerakannya justru sangat hebat dan membingungkan. Tubuh dan kakinya yang bergoyang-goyang
membuat orang sulit menebak, apakah orang sinting
itu hendak maju atau mundur.
Demikian pula halnya si Raja Hutan. Melihat tubuh
lawannya yang bergerak maju bagaikan malasmalasan, membuat kepala binatang itu menggeleng
seolah merasa pusing melihat tingkah lawannya.
"He he he...! Bodoh kau, Belang. Awas kepalamu...." Sambil bergerak mundur maju dengan langkah
goyah, Pemabuk Berhati Iblis menggerakkan ranting
kayu di tangan kanannya dengan kecepatan menggetarkan. Bukkk! Grauuung. .! Sang Raja Hutan meraung kesakitan! Lecutan ranting sebesar ibu jari tangan itu terasa bagaikan hantaman sebatang besi pada
kepalanya. Karuan saja binatang buas itu langsung menggelepar dengan ke-pala
retak. Benar-benar ganas serangan yang dilancar-kan
orang tua sinting itu. Sekali hajar saja, langsung membuat harimau tewas!
"He he he...! Lihat, anakku. Binatang yang menakut-nakuti mu itu sudah tidur pulas. Rupanya, ia lelah dan mengantuk setelah
menggerung-gerung kelaparan.
Ayo, bangun manis. Man kita pulang...," ujar Pemabuk Berhati Iblis itu melangkah
maju dan berjongkok
membelai punggung gadis desa yang ketakutan.
"Ohhh...!"
Gadis desa itu merenggutkan tubuhnya ketika merasakan jari-jari tangan kasar itu merayap ke belahan dadanya yang membusung
indah. Segera saja ia bangkit, dan berlari tanpa memperdulikan arah yang ditempuh. "He he he.... Jadi kau hendak kembali ke tempatku...?" Suara Pemabuk Berhati Iblis membuat langkah gadis itu langsung terhenti. Jelas, ia merasa terkejut
mendengar ucapan tadi. Dan apa yang dikatakan
orang tua sinting itu memang benar. Dia justru berlari ke arah semula
"Ohhh..." desah gadis desa itu, menahan tangisnya.
Ia berdiri menatap Pemabuk Berhati Iblis dengan sinar mata memelas mohon
diampuni dan dilepaskan.
"He he he.... Kau benar-benar binal dan menggairahkan, Anakku. Ayo, kemarilah. Jangan takut...,"
rayu Pemabuk Berhati Iblis.
Kini orang tua sinting itu bergerak maju mendekati
si gadis. Dan gerakannya yang sempoyongan itu benarbenar hebat dan mengejutkan. Sebab, tahu-tahu saja
sepasang lengannya telah memeluk tubuh gadis desa
itu. Padahal, jarak di antara mereka tadi masih sekitar dua tombak lebih. Tentu
saja hal itu menunjukkan kalau ilmu meringankan tubuh si Pemabuk Berhati Iblis
memang sangat hebat.
Gadis desa ini hanya bisa menangis saat lelaki
berwatak sinting itu mencium wajahnya. Sepertinya,
semua tingkah dan kenekatannya tadi semakin membuat Pemabuk Berhati Iblis merasa semakin terangsang. Sehingga, tanpa sabar lagi segera saja diterkamnya tubuh gadis itu.
Namun, nasib baik rupanya masih tetap menaungi
gadis desa itu. Pada saat lelaki sinting itu semakin
buas, terdengar sebuah bentakan nyaring yang mengejutkan. Bahkan bentakan itu masih dibarengi sebuah tangan yang mencengkram. Malah tubuh lelaki
bercambang bauk yang tengah menggumuli gadis itu
langsung dilemparkan.
"Ahhh...!?"
Tentu saja kejadian yang sangat tiba-tiba itu membuat Pemabuk Berhati Iblis terpekik kaget! Sebab sebelum ia menyadari, tahu-tahu
saja tubuhnya terasa melayang ke udara! Untunglah orang tua sinting itu sangat sigap. Maka segera saja ia berputar beberapa kali di udara, sebelum mendarat
selamat di tanah.
"Setan alas! Dedemit busuk! Hantu sundal...!" Pemabuk Berhati Iblis mencakmencak bagaikan cacing
kepanasan. Kali ini ia benar-benar marah, karena ada
orang yang berani mengganggu kese-nangannya.
*** 2 Sementara, di depan gadis desa itu telah berdiri
seorang pemuda tampan berjubah putih. Dengan sikap
tenang tanpa memperdulikan kemarahan lelaki brewok
sinting di hadapannya, gadis desa itu ditarik agar
bangkit. Sebenarnya bukan main dongkolnya hati Pemabuk
Berhati Iblis. Tapi karena tingkahnya seperti orang
mabuk, atau tidak waras, maka kemarahan yang diperlihatkannya nampak lucu.
Pemuda tampan berjubah putih yang melihat lelaki
sinting pemabuk itu seperti tengah bersiap untuk menyerang, segera saja mengangkat tangan kanannya
sambil berseru nyaring.
'Tunggu...!"
"Ehhh..."!" lelaki sinting berperawakan gemuk seperti orang hutan itu menahan
langkah dengan wajah
bingung. "Apa..., apa kau bilang barusan...?"
"Kubilang tunggu dulu. Pemabuk. Apa kau sudah
tuli, karena jarang bergaul dengan manusia...?" tegas pemuda tampan berjubah
putih dengan wajah tetap
tenang. Tenang sekali pemuda itu melepaskan jubah luarnya, lalu diserahkan kepada gadis desa yang kainnya
memang sudah tidak patut dikenakan ini.
"Aku..." Berhenti...?" ulang Pemabuk Berhati Iblis sambil menunjuk ujung
hidungnya sendiri dengan wajah ketololan.
Sepertinya, ia merasa heran karena ada seorang
pemuda yang pantas menjadi anaknya, begitu berani
mati menyuruhnya berhenti.
"Ya. Kau, orang tua sinting! Bukankah kau yang
berjuluk Pemabuk Berhati Iblis" Nah! Kalau benar,
berhentilah. Aku ingin bicara denganmu...," tegas pemuda tampan itu lagi tanpa
memperdulikan sikap lucu
dan ketololan lelaki sinting dihadapannya.
"He he he.... Lucu! Benar-benar lucu. Padahal, aku seorang iblis kejam yang
banyak ditakuti orang-orang
sakti. Tapi ternyata masih ada yang berani memerintah. Benar-benar aneh dunia ini. Padahal para tokoh
tua banyak yang lari terbirit-birit bila bertemu denganku. Tapi ternyata pemuda
yang pantas menjadi anakku
ini, memiliki hati macan...."
Pemabuk Berhati Iblis tergelak-gelak sambil memegangi perutnya. Dalam keadaan seperti itu, orang tentu tidak akan percaya kalau
orang tua ini memiliki otak
yang tidak waras. Sebab, ucapannya demikian rapi tidak ubahnya orang waras.
Pemuda berjubah putih itu sendiri sempat mengerutkan kening mendengar ucapan Pemabuk Berhati
Iblis. Dengan pandangan curiga, ditatapnya wajah Pemabuk Berhati Iblis dengan teliti. Seolah-olah ingin diketahui apakah orang tua
itu memang tidak waras,
atau sengaja berpura-pura gila"
"Pemabuk Berhati Iblis, dengarlah kata-kataku,"
ujar pemuda berjubah putih itu bernada agak keras.
Hal itu dilakukan untuk memancing perhatian orang
sinting ini. "Perbuatanmu selama ini sudah keter-laluan, dan tidak bisa lagi
dimaafkan! Tanganmu telah dilumuri darah korban-korbanmu yang. tidak berdosa.
Sekarang kuminta ketegasan mu. Hentikan perbuatanperbuatan jahatmu, atau terpaksa aku yang harus
menghentikannya...."
"Ha..."!"
Pemabuk Berhati Iblis terbelalak kaget bagai tidak
percaya dengan apa yang didengarnya. Dengan lagak
bodoh, dia pura-pura mengorek telinganya seolah-olah
ucapan pemuda tampan berjubah putih itu kurang begitu jelas. "Coba ulangi ucapanmu tadi, Bocah bagus?" pinta
Pemabuk Berhati Iblis sambil menelengkan kepalanya
seperti ingin mendengarkan lebih jelas. Tentu saja hal itu dilakukan hanya untuk
mengejek. "Hm..., dengarlah baik-baik. Aku, Pendekar Naga Putih memperingatkan agar kau
menghentikan semua
perbuatan jahatmu selama ini. Jika tidak, akulah yang akan menghentikan mu!"
Terdengar jawaban tegas dan mengandung perbawa menggetarkan dari pemuda tampan itu. Rupanya, pemuda tampan yang mengaku berjuluk Pendekar
Naga Putih tidak suka dipandang rendah sedemikian
rupa oleh Pemabuk Berhati Iblis. Sehingga julukannya
terpaksa disebutkan untuk memancing perhatian tokoh sesat itu. Pengakuan pemuda berjubah putih berwajah tampan itu, ternyata sangat manjur. Mendengar julukan
Pendekar Naga Putih, Pemabuk Berhati Iblis langsung
saja terbelalak. Jelas sekali wajah orang sinting itu menampilkan keterkejutan
yang sangat "Benar.... Kau pastilah Pendekar Naga Putih...," desis lelaki tua pemabukan itu
sambil menatap Panji
dengan sepasang mata yang bergerak liar.
"Hm..,. Hari ini kau telah membantai habis sebuah keluarga petani yang tak
berdosa hanya untuk menculik anak gadisnya. Sadarkah kau, bahwa perbuatan
itu sangat keji dan dikutuk orang...?" lanjut Panji. Suaranya yang mantap dan
mengandung perbawa, membuat orang tua sinting itu segera tersadar.
"He he he.... Ya..., ya. Aku memang selalu melakukan perbuatan jahat. Karena semakin banyak berbuat kejahatan, tentu orang akan semakin takut kepadaku. Ya... ya.... Aku adalah Pemabuk Berhati Iblis si Raja Kejahatan...."
Kegilaan lelaki pemabuk itu rupanya timbul kembali. Terdengarlah ucapan-ucapan ngawur yang tidak
beraturan. Panji yang sudah tidak ingin memperpanjang urusan pembicaraan kosong itu, segera saja
melompat ke arah lawannya. Kedua kakinya menginjak tanah, tepat satu tombak di hadapan orang tua
itu. Pemabuk Berhati Iblis yang mengira pemuda itu telah mulai membuka serangan,
segera saja merendahkan tubuhnya sambil mendorong sepasang telapak
tangannya ke depan.
"Whuttt...!"
Serangkum angin kuat, berhembus seiring terdorongnya sepasang telapak Pemabuk Berhati Iblis.
"Hm...," gumam Panji tak jelas. Segera Pendekar Naga Putih menggeser tubuhnya ke
samping kanan dengan kuda-kuda rendah, sehingga angin pukulan
berbau amis itu lewat di sampingnya.
"Ilmu 'Pukulan Katak Beracun'...!" desis Pendekar Naga Putih. Panji memang
langsung mengenali ilmu
pukulan tenaga dalam orang tua sinting itu. Diamdiam Pendekar Naga Putih terkejut juga melihat orang
tua sinting itu memiliki ilmu pukulan hebat, dan jarang terdapat dalam dunia persilatan.
Pemabuk Berhati Iblis rupanya tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Begitu melihat Pendekar Na-ga Putih dapat menghindari
pukulan jarak jauh-nya,
tokoh berotak miring itu segera saja melesat seperti
seekor katak melompat.
Bweeettt...! . Pemabuk Berhati Iblis segera menyambar seperti
seekor katak melompat.
Bweeettt...! Pendekar Naga Putih pun menggeser tubuhnya ke
kiri, menghindari sambaran cakar lawan yang mengandung racun itu!
Pendekar Naga Putih kembali menggeser tubuhnya, menghindari sambaran cakar lawan yang mengandung racun. Hal itu baru disadari ketika merasakan hawa yang menyambar lewat dekat tubuhnya.
"Yiaaahhh...!"
Tanpa membuang-buang waktu lagi, bergegas pemuda itu memutar tubuhnya dengan sebuah lompatan. Bahkan sekaligus melepaskan sebuah tendangan kilat! Sehingga, Pemabuk Berhati Iblis yang baru saja menjejakkan kaki dan
tangannya di tanah langsung kembali melompat menghindar. Pertarungan pun
semakin seru ketika Pemabuk Berhati Iblis mulai melancarkan serangan-serangan gencar. Tapi, Pendekar
Naga Putih hanya melayani dengan 'Ilmu Naga Sakti'
yang juga menjadi andalannya.
Jurus demi jurus berlalu cepat. Ketika pertarungan menginjak jurus yang keempat puluh, terlihat Pemabuk Berhati Iblis mulai merubah gerakan-gerakannya. Gerak langkahnya tampak tidak teratur dan bergoyang-goyang. Sesekali orang tua sinting itu meneguk araknya, sambil terus
mengelak dan membalas serangan Pendekar Naga Putih dengan gerakan terpatahpatah dan perubahan-perubahan yang mengejutkan!
"Hiaikkkhhh...!"
Tak ubahnya seperti seorang pemabuk tulen, terkadang orang sinting itu seolah-olah bergerak seperti hendak terjatuh. Namun
dalam gerakan-gerakan itu


Pendekar Naga Putih 42 Terjebak Di Perut Bumi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tersembunyi serangan-serangan cepat dan mengejutkan! Sehingga, Pendekar Naga Putih yang baru kali ini
menghadapi ilmu itu, cukup dibuat kerepotan untuk
beberapa jurus lamanya.
Tapi sebagai seorang pendekar yang telah banyak
mengalami pertempuran maut, tentu saja Pendekar
Naga Putih segera dapat menemukan kelemahan ilmu
silat lawannya. Dengan cerdiknya, Panji ikut bergerak mengikuti irama langkah
dan tubuh lawannya. Sehingga, Pemabuk Berhati Iblis sempat dibuat tercengang oleh kecerdikan pemuda itu dalam mencari
kelemahan ilmunya.
"Heaaahhh...!"
Ketika pertarungan mulai menginjak jurus yang kelima puluh lima, terlihat Pendekar Naga Putih mulai
melakukan tekanan-tekanan berat pada lawan. Lapisan kabut bersinar putih keperakan yang menyelimuti
tubuhnya selalu dapat memukul balik lontaran pukulan beracun lawan. Tentu saja racun Pemabuk Berhati
Iblis yang memang bersifat dingin, tidak mampu menembus pertahanan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'
yang juga memiliki sifat dingin. Bahkan hawa yang
terpancar dari tubuh pemuda itu masih jauh lebih
kuat daripada racun katak miliknya.
Mendekati jurus yang ke enam puluh, terlihat Pemabuk Berhati Iblis mulai kewalahan. Gerakangerakannya pun mulai melambat, karena terganggu
pancaran hawa dingin dari tubuh dan sambaran pukulan lawan. Hal Ini membuat lelaki tua berotak miring
itu menyumpah-nyumpah dengan kata-kata kotor.
"Bangsat! Kunyuk bau tengik...!"
Sambil berlompatan dan menggeser langkah untuk
menghindari serangan-serangan Pendekar Naga Putih,
mulut lelaki berotak miring itu tak henti-hentinya
mengomel. "Hiattt..!"
Saat lawan sudah benar-benar tak mampu lagi bertahan lebih lama, tiba-tiba saja Pendekar Naga Putih
berseru keras sambil melontarkan dua buah hantaman
telapak tangan secara berturut-turut ke tubuh lawan!
"Aaahhh..."!"
Bukan main terkejutnya hati tokoh sesat pemabukan itu. Maka tanpa dapat dihindari lagi, dua
buah hantaman telapak tangan pemuda berjubah putih itu langsung mencapai sasarannya!
Buuukkk! Deeesss!
"Huakhhh...!"
Darah segar langsung menyembur dari mulut Pemabuk Berhati Iblis. Tubuh lelaki brewokan itu terlempar bagaikan selembar daun kering yang
diterbangkan angin! Kemudian, tubuh tinggi kekar itu
terbanting jatuh setelah membentur sebatang pohon
yang bergerak bagaikan hendak roboh!
Panji melangkah lambat ketika melihat tubuh lawannya tidak dapat bangkit lagi. Tampak Pemabuk
Berhati Iblis terlihat menggigil hebat bagaikan orang menderita demam tinggi.
Jelas, tokoh sesat yang menggiriskan itu mengalami luka dalam yang sangat parah!
Namun, Pendekar Naga Putih benar-benar tidak
menyangka sama sekali kalau tokoh itu ternyata memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa. Tepat pada
saat Panji berdiri membungkuk dekat tubuh lelaki itu, tiba-tiba saja Pemabuk
Berhati Iblis mendorong sepasang telapak tangannya dengan sisa-sisa tenaga yang
masih dimiliki! Karuan saja serangan mendadak dalam
jarak dekat itu sangat mengejutkan Panji!
Whuuusss...! Sebagai seorang pendekar yang sering menemukan lawan berat bersifat licik, tentu saja Panji tidak mudah dikelabuhi.
Meskipun kelihatannya tidak
siap, tapi nyatanya Pendekar Naga Putih dapat menghadapi serangan licik dengan baik. 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' nya langsung bangkit seiring kibasan lengan pemuda itu untuk melumpuhkan pukulan beracun lawannya. Dan...,
Blaaarrr...! "Hukkkh...!"
Benturan dahsyat pun tidak bisa terelakan lagi.
Pemabuk Berhati Iblis mengeluarkan keluhan bagaikan orang tercekik. Bahkan tubuhnya kontan melesak
ke dalam bumi, hingga satu jengkal dalamnya. Napas
orang tua gila itu langsung putus seketika itu juga!
Pendekar Naga Putih sendiri terjajar mundur dua
langkah. Sebab biar bagaimanapun hawa beracun pukulan yang dilepaskan dalam jarak dekat dan tiba-tiba, sedikit banyak telah
mempengaruhi tubuhnya pula.
Cepat pemuda itu menarik napas beberapa kali sambil
mengerahkan hawa murni untuk mengusir pergi hawa
beracun yang sempat menyerap ke dalam tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, baru Panji dapat menarik
napas lega setelah terbebas dari hawa be-racun pukulan Pemabuk Berhati Iblis.
Sementara itu gadis desa yang diselamatkan langsung memeluk tubuh Pendekar Naga Putih karena rasa tegang dan bersyukurnya. Panji sendiri membelai
punggung gadis desa itu, dan menghiburnya ketika
mendengar isak tangis lirih.
"Sudahlah, Nisanak. Bahaya telah lewat. Sebaiknya kau tunggu sebentar. Aku
hendak menguburkan mayat tokoh sesat itu...," ujar Panji, seraya melepaskan
pelukan wanita itu dengan gerakan lembut
"Tapi, bagaimana dengan gadis-gadis lain yang ditawan di tempat kediaman orang tua jahat itu" Apakah
tuan Pendekar tidak ingin menolongnya...?" tanya gadis desa itu. Mata basah gadis itu menatap wajah tampan penolongnya. Rupanya, dia masih teringat ucapan Pemabuk Berhati Iblis sebelum melarikan diri.
"Aku sudah mendatangi kediaman tokoh pemabukan ini sebelum menemukan dan mendengar teriakanmu. Di sana, aku hanya menemukan kerangka manusia yang berserakan. Menurutku, Pemabuk Berhati
Iblis ini juga pemakan daging manusia...," jelas Panji.
Seketika, gadis desa itu membelalak terkejut Sebab, semula hanya diduga kalau Pemabuk Berhati Iblis
itu hanya hendak merampas keperawanan saja.
Melihat gadis itu jatuh terduduk setelah mendengar keterangannya, Panji bergegas menguburkan
mayat Pemabuk Berhati Iblis. Memang, meskipun semasa hidupnya orang tua itu sangat jahat, tapi tetap
saja mayatnya harus dikuburkan secara layak. Setelah
selesai menanam mayat Pemabuk Berhati Iblis, Pendekar Naga Putih mengajak gadis malang itu kembali ke
desa tempat tinggalnya.
*** "Dari mana saja kau, Kakang" Pantas sejak tadi
aku mencarimu, tidak juga ketemu...,"
Dara berparas jelita yang mengenakan pakaian
serba hijau itu langsung menyambut kedatangan pemuda tampan berjubah putih dengan pertanyaanpertanyaan. Sedang pemuda tampan berjubah putih yang baru
saja tiba di ambang pintu kamar penginapan, hanya
tersenyum. Kemudian, dia melangkah masuk dan duduk di tepi pembaringan di samping data jelita itu.
"Aku pikir kau sengaja meninggalkan aku karena
sudah merasa bosan...," rungut gadis jelita itu dengan wajah agak mendung.
Memang hatinya sempat merasa
nelangsa ketika pemuda itu pergi tanpa pamit.
Pemuda berjubah putih itu semakin melebarkan
senyumnya. Perlahan tangannya melingkar, memeluk
tubuh gadis jelita itu dengan lembut. Dikecupnya kening gadis itu penuh kasih sayang.
"Sebenarnya aku hendak mengajakmu serta, Kenanga. Tapi ketika aku masuk ke kamarmu, ternyata
kau masih tertidur pulas. Jadi, terpaksa aku pergi
tanpa memberitahukan mu terlebih dahulu," jawab pemuda tampan berjubah putih
yang ternyata memang
Panji atau lebih dikenal berjuluk Pendekar Naga Putih.
Rupanya pemuda itu telah kembali setelah mengantarkan gadis desa yang ditolongnya dari cengkraman Pemabuk Berhati Iblis. Dan kini dia berusaha
menjelaskan duduk perkaranya.
"Mengapa kau tidak membangunkan aku, Kakang...?" masih dengan nada kurang puas, gadis jelita yang memang Kenanga
kembali bertanya sambil menatap wajah Panji.
"Hmmm... Aku tidak ingin mengganggu istirahatmu. Lagi pula, aku pergi hanya sebentar. Jadi, kupikir tidak pamit pun tak
apalah. Eh, mengapa kau tidak
mengunci pintu kamarmu sebelum tidur, Kenanga"
Bagaimana kalau yang masuk itu bukan aku. Bisabisa celaka...," tanya Panji ketika teringat saat masuk ke dalam kamar gadis
itu, pintu memang tidak dikun-ci. "Mungkin aku lupa, Kakang. Tapi, aku tak
khawatir. Kalau memang ada orang jahat hendak mengganggu ku, tentu aku segera tahu...," elak Kenanga sambil menyandarkan kepalanya
ke dada bidang pemuda tampan itu. Sepertinya, gadis jelita itu sudah tidak merajuk lagi.
"Tapi ketika aku masuk, kenapa kau tidak tahu...?"
desak Panji lagi, seolah hendak mengetahui apa kirakira jawaban kekasihnya. .
"Mmm.... Mungkin sukma ku tahu kalau orang
yang masuk ke dalam kamarku adalah Kakang. Tentu
saja aku tidak segera terbangun, karena sukma ku tidak takut meskipun kakak akan berbuat macammacam," sahut Kenanga, seenaknya, sambil tersenyum menggoda.
"Sukma mu mungkin percaya denganku. Tapi bagaimana dengan kau sendiri" Apakah kau tidak takut
bila aku berbuat macam-macam terhadapmu?" pancing Panji lagi, seperti ingin mengetahui isi hati dara jelita yang sangat
dicintainya. "Mengapa harus takut" Selain aku sangat yakin
terhadap kebersihan hati mu aku pun tidak takut diapa-apakan. Bukankah kalau kau ingin berbuat yang
tidak-tidak, sudah dari dulu-dulu dapat melakukannya. Nyatanya, kau tidak pernah. Kau tetap menghormati ku, meskipun aku sendiri telah menyerahkan
diriku bulat-bulat untuk mengabdi kepadamu. Jadi,
apa lagi yang harus ku takutkan...?" elak Kenanga.
Gadis itu kini semakin merapatkan tubuhnya ke
dalam pelukan kekasihnya. Lama gadis itu menikmati
kedamaian dalam pelukan pemuda pujaannya. Sejak
dulu ia memang sudah pasrah, karena tahu kalau
Panji tidak akan pernah mau menodai cinta kasih mereka. Kenanga percaya penuh akan hal itu.
"Terima kasih, Kenanga. Aku benar-benar bahagia
menerima kepercayaan dan cinta kasih yang tulus darimu...,"desah Panji sambil menunduk perlahan.
Segera dikecupnya bibir indah kekasihnya penuh
perasaan. "Nah, sekarang ceritakanlah. Ke mana kau pergi
dari pagi hingga siang ini...?" tanya Kenanga, setelah pemuda itu melepaskan
pelukannya. "Baiklah...," desah Panji.
Segera saja Pendekar Naga Putih menceritakan
pengalamannya. Sedang Kenanga hanya mendengarkan tanpa memotong cerita kekasihnya sedikitpun.
*** Malam mulai jatuh. Kegelapan yang merambat menyelimuti permukaan bumi, membuat suasana Desa
Jipang menjadi sepi. Penduduk desa yang kebanyakan petani penggarap, sejak tadi telah meringkuk di atas pembaringan. Mereka beristirahat untuk
menyediakan tenaga, setelah bekerja keras seharian
penuh. Pendekar Naga Putih saat ini juga, telah terbaring
di atas pembaringan. Dia yang bersama kekasihnya
menginap di salah satu rumah penginapan desa itu, telah pula berada di dalam kamar masing-masing. Bedanya, Kenanga telah tertidur lelap setelah men-dengar cerita Panji tentang
pengalamannya dalam menumpas
tokoh sesat yang berjuluk Pemabuk Ber-hati Iblis. Sedangkan saat ini Panji masih belum bisa memejamkan
mata. Pemuda itu rebah telentang, menatap langitlangit kamar dengan pikiran tak menentu.
"Aneh...,"
Bibir pemuda tampan itu menggerimit perlahan,
sambil menghela napas beberapa kali dengan perasaan
tak menentu. Kemudian, Pendekar Naga Putih bangkit
perlahan dan duduk bersila di atas pembaringan. Sebentar kemudian, dia telah terlelap dalam semadi-nya.
Rupanya, Panji memutuskan untuk bersemadi daripada termenung dengan pikiran mengembara.
Keanehan yang dialami Pendekar Naga Putih rupanya mempunyai hubungan erat dengan keadaan di
luar penginapan. Memang pada saat menjelang tengah
malam, tampak sosok-sosok bayangan hitam bergerak
gesit mengepung rumah tempat Panji dan Kenanga
menginap. Dari sikap yang mencurigakan, jelas kalau
mereka mempunyai maksud tidak baik.
Panji yang tengah tenggelam dalam semadinya, tersadar seketika. Pendengarannya yang tajam dan sangat terlatih, menangkap adanya langkah-langkah mencurigakan di luar kamar. Maka, semadinya cepat-cepat
diselesaikan. Dalam kegelapan kamar, karena sejak tadi sudah
memadamkan pelita, Panji bergerak perlahan merebahkan dirinya kembali. Ia pura-pura terlelap untuk mengetahui kelanjutan dari
langkah-langkah mencurigakan yang didengarnya di luar kamar. Sekejap
pemuda itu teringat Pemabuk Berhati Iblis yang tewas
di tangannya. Maka, langsung timbul dugaan kalau
suara langkah kaki yang mendekati kamarnya pasti
mempunyai hubungan dengan tindakannya pagi tadi.
Pendekar Naga Putih menahan nafasnya ketika
mendengar daun jendelanya dibuka dari luar. Meski

Pendekar Naga Putih 42 Terjebak Di Perut Bumi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pun orang yang melakukannya sangat lihai dan hatihati, tapi tetap saja semua itu tidak terlepas dari pendengaran Pendekar Naga
Putih. Malah Panji tetap terbaring tenang, seolah tidak mengetahui hal itu.
Rupanya, sosok-sosok bayangan hitam yang mendatangi kamar Pendekar Naga Putih tidak bodoh. Tanpa melompat masuk, dua diantara mereka lang-sung
melemparkan senjata rahasia berupa jarum-jarum halus yang menebarkan bau harum memabukkan.
Panji yang semula mengira kalau orang-orang yang
mendekati kamarnya pasti akan melompat masuk, tentu saja menjadi terkejut. Apalagi, serangan senjata rahasia itu sama sekali
tidak diduga sebelumnya. Dan
karena untuk melindungi tubuhnya dengan tenaga
sakti yang dapat mengeluarkan kabut bersinar jelas
dapat diketahui, maka Panji memutuskan untuk segera melompat bangkit. Tubuh Pendekar Naga Putih
langsung melayang secepat kilat, menuju jendela kamar yang sedikit terbuka.
Braaakkk...! Jendela kamar penginapan itu langsung jebol ketika Panji menerobos sambil mendorongkan telapak tangannya ke depan!
"Aaahhh..."!"
Enam sosok tubuh yang berada di luar kamar,
menjadi terkejut bukan main. Cepat mereka berlompatan mundur sambil memberondong senjata rahasia ke arah pemuda itu.
Whuuut! Whuuut!
Siuttt..! Senjata-senjata rahasia yang diduga mengandung
racun dielakkan Pendekar Naga Putih dengan berjumpalitan ke atas setinggi beberapa tombak. Kemudian,
tubuhnya meluncur turun setelah senjata-senjata gelap itu lewat di bawah kakinya.
Pendekar Naga Putih yang baru saja meluncur turun dari udara, langsung disambut kembali oleh serangan-serangan enam sosok bayangan hitam yang rata-rata memiliki ilmu meringankan tubuh hampir sempurna. Tentu saja, hal itu membuatnya menjadi terheran-heran! "Heaaahhh...!"
Dibarengi bentakan nyaring, tubuh Pendekar Naga
Putih kembali berputar cepat ke depan. Begitu menjejak tanah, sebuah tendangan kaki kanan Panji langsung menghajar salah seorang lawan di belakangnya!
Bukkk! "Uhhh...!"
Sosok berpakaian serba hitam yang terkena tendangan keras pemuda itu langsung terjungkal ke belakang! Tapi, Panji kembali mengerutkan keningnya
dengan wajah setengah tak percaya. Memang begitu
terjatuh, sosok berpakaian hitam yang terkena tendangan keras itu langsung bangkit dengan sigapnya.
Seolah, orang itu sama sekali tidak merasakan kerasnya tendangan Pendekar Naga Putih!
"Tahannn...!"
Panji berseru sambil mengangkat tangannya untuk
menghentikan pertarungan. Bentakannya yang keras
dan menggetarkan isi dada, langsung menghentikan
gerakan lawan-lawannya. Bahkan beberapa di antaranya tampak terjajar mundur diiringi keluhannya. Jelas, Panji mengerahkannya dengan tenaga dalam tinggi. "Siapa kalian..."! Dan mengapa menyerangku tanpa sebab?" tanya Panji.
Langsung dirayapinya wajah-wajah yang tersembunyi di balik kain hitam itu. Namun, tak seorang pun yang menjawab pertanyaan
pemuda itu. Mereka saling
menatap satu sama lain. Kemudian, salah seorang di
antaranya menggerakkan kepala sebagai isyarat.
Bagaikan diberi aba-aba, enam sosok berpakaian
hitam yang wajahnya terlindungi selembar kain hitam
langsung berlompatan ke belakang secara bersamaan.
Melihat sikap dan cara mereka, tahulah Panji kalau
enam orang pengeroyoknya merupakan sebuah kesatuan yang kompak dan telah terlatih baik.
"Hmmm.... Siapa orang-orang tak dikenal ini..."
Nampaknya mereka orang-orang terlatih yang sengaja
dipersiapkan untuk membunuh. Gerakan mereka demikian rapi dan kompak...," gumam Pendekar Naga
Putih seraya mengerutkan keningnya ketika melihat
enam orang itu melompat mundur.
Panji yang tengah sibuk memikirkan apa yang
hendak dilakukan orang-orang itu selanjutnya, menoleh terkejut mendengar adanya suara pertempuran
di tempat lain.
"Kenanga...!" seru Panji, perlahan.
Pendekar Naga Putih langsung teringat gadis jelita
kekasihnya yang tadi kelihatannya telah tertidur. Tan-pa membuang-buang waktu
lagi, pemuda itu segera
saja melesat menuju kamar kekasihnya yang terletak
di sebelah kamarnya.
Usaha Pendekar Naga Putih ternyata tidak dibiarkan begitu saja. Enam sosok berpakaian hitam
yang semula berlompatan mundur itu bergerak berbarengan, untuk mencegah pemuda itu.
"Haiiittt...!"
"Yeaaattt...!"
Karuan saja perbuatan keenam sosok bayangan hitam yang mencegahnya membuat Panji menjadi geram.
Langsung saja tubuhnya berbalik dan me-nyambut serangan keenam orang itu!
"Hm... Kalian terlalu memaksa! Jangan sesali perbuatan kalian ini...!" geram
Pendekar Naga Putih.
Whuuut! Whuuut!
Dua orang di antara mereka bergerak melontarkan
pukulan-pukulan yang menimbulkan desir angin tajam! Langsung saja Panji memiringkan tubuhnya, kemudian langsung mengibaskan lengan kirinya menggunakan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'.
Breeeshhh...! Akibatnya tentu saja cukup hebat! Meskipun Panji
tidak menggunakan tenaga sepenuhnya, namun kibasan tangannya tentu saja sanggup meremukkan batu
sebesar perut kerbau bunting sekalipun!
"Akhhh...!"
Dua orang berpakaian serba hitam yang terkena
samburan angin dari kibasan tangan pemuda itu langsung terlempar deras ke belakang. Untunglah bukan
tangan itu yang sampai mengenai tubuh me-reka, karena keduanya sempat mundur ke belakang. Tapi
meskipun hanya terkena sisa angin pukulan Panji, tak
urung keduanya hampir terjungkal mencium tanah!
"Gila...."!" Terdengar dengusan salah seorang dari kedua sosok berpakaian hitam
yang menandakan ke-terkejutannya begitu merasakan kelihaian pemuda
tampan berjubah putih yang menjadi lawan mereka.
Bersamaan terdorongnya kedua orang sosok berpakaian hitam, empat lainnya segera bergerak mundur. Mereka seolah-olah sengaja memancing Panji untuk menjauhi kamar kekasihnya.
Panji yang sudah terlanjur geram, sama sekali tidak berpikir demikian. Hal itu karena ia telah percaya terhadap Kenanga. Gadis
itu pasti bisa menjaga harga
dirinya baik-baik. Memang, melihat kepandaian enam
orang yang mengeroyoknya, Panji yakin gadis jelita itu pasti dapat mengatasinya,
meskipun jumlah pengeroyok Kenanga mungkin juga sama dengan jumlah para pengeroyoknya.
Pikiran itu membuat Panji segera memutuskan untuk menggempur lawan-lawannya. Segera saja tubuhnya bergerak dengan jurus-jurus 'Ilmu Naga Sakti'nya.
Karuan saja, gempuran Panji kali ini mem-buat enam
orang laki-laki berpakaian serba hitam itu kelabakan!
Untungnya, mereka memiliki ilmu meringankan tubuh
yang rada tinggi juga. Sehingga meskipun agak terdesak, mereka masih juga sempat menyelamatkan diri
dari sambaran cakar naga Panji!
Keenam sosok berpakaian serba hitam itu terus
berlompatan secara bergantian ke belakang. Sehingga
secara perlahan, pertarungan itu terus menjauhi kamar Kenanga. Bahkan telah pula keluar dari lingkungan rumah penginapan itu.
Ketika desakan-desakan Pendekar Naga Putih semakin menghebat, mendadak keenam sosok tubuh itu
meleset menggunakan ilmu larinya. Mereka segera
meninggalkan Pendekar Naga Putih yang hanya terlongong heran. "Hei, berhenti...!"
Pendekar Naga Putih tidak bisa terpaku dalam keheranannya. Maka diputuskannya untuk menang-kap
salah seorang dari mereka. Maksudnya untuk mencari
keterangan, apa maksud orang-orang itu menyerangnya. Segera saja Pendekar Naga Putih melesat
melakukan pengejaran! Meskipun ilmu lari lawannya
rata-rata sangat mengagumkan, tapi bagi Panji tidak
menjadi masalah.
"Haiiittt...!"
Hanya beberapa kali lompatan saja, tubuh Pendekar Naga Putih telah cepat melayang. Kemudian, dia
meluncur turun sejauh satu tombak di hadapan enam
orang yang hendak melarikan diri.
"Hahhh..."!"
Keenam orang itu seperti belum mengenal betul,
siapa pemuda tampan berjubah putih dihadapan mereka kini. Buktinya, mereka sangat terkejut melihat
pemuda itu dapat mengejar dalam waktu singkat. Kini
sadarlah keenam orang itu pemuda yang dihadapi bukanlah orang sembarangan.
"Hm.... Kalian datang tanpa diundang, dan langsung mencari keributan tanpa sebab. Lalu kini mau
pergi begitu saja..." Huh! jangan harap dapat lolos sebelum menjelaskan apa
maksud kalian hendak mencelakai ku?" desis Panji sambil melangkah lambat dengan tatapan tajam mencorong,
menggetarkan dada lawan-lawannya. Tanpa sadar, keenam orang lelaki berseragam hitam itu bergerak mundur karena perbawa yang timbul
dari wajah maupun tatapan mata pemuda tampan di
hadapan mereka demikian menggetarkan!
Tapi dengan gerak tak terduga, tiba-tiba saja keenam sosok tubuh terbungkus pakaian hitam itu sama
menggerakkan tangan secara berbarengan. Kemudian
mereka langsung melemparkan benda-benda bulat sebesar telur burung puyuh ke arah Panji!
Wheeesss! Wheeesss...!
Sekali lihat saja, Panji langsung dapat menduga
kalau senjata yang dilontarkan merupakan peledak
yang bisa menewaskannya. Cepat-cepat diambilnya
keputusan untuk menghindarinya dengan lentingan
tinggi ke depan menuju ke arah enam orang berseragam hitam itu. Kemudian, tubuhnya berputar dan
meluncur turun dengan kecepatan bagai seekor elang
menyambar mangsa!
Namun, gerakan Pendekar Naga Putih ternyata
masih kalah cepat. Begitu selesai melemparkan bendabenda bulat itu, keenam lawannya langsung melempar
tubuh ke semak-semak yang banyak terdapat di sekitarnya. Bahkan kegelapan malam telah membantu mereka untuk meloloskan diri.
"Kurang ajar...!" desis Panji geram. Kemudian, pemuda itu kembali melenting
ketika terdengar ledakan
susul-menyusul di belakangnya.
Setelah mendaratkan kakinya di atas tanah, Panji
mengerahkan seluruh kekuatan pendengarannya. Begitu ledakkan itu lenyap, keadaan pun sunyi seketika.
Namun pemuda itu tetap bermaksud menangkap gerakan-gerakan di sekitarnya. Ia, memang merasa yakin
kalau musuh-musuhnya pasti belum lari terlalu jauh.
"Haiiittt...!"
Ketika mendengar langkah yang sangat ringan di
sebelah kirinya, cepat Panji berseru keras diiringi lesa-tan tubuhnya. Jarak
sejauh tiga tombak lebih itu ternyata dapat dicapainya dengan sekali lompatan saja.
"Hei"! Mau lari ke mana kau, Pengecut..!" bentak Panji saat melihat sesosok
bayangan hitam bergerak
hendak melarikan diri.
Cepat bagai kilat, tubuh Pendekar Naga Putih
kembali melenting dan berjumpalitan beberapa kali sebelum meluncur turun.
Sosok berpakaian hitam yang hanya seorang itu jelas kelihatan sangat kaget melihat kehadiran Panji.
Tanpa banyak bicara lagi, segera saja Panji diberondong dengan senjata-senjata rahasianya.
Tapi, Pendekar Naga Putih yang sudah mengambil
keputusan untuk menawan orang itu hidup-hidup, segera saja bergerak ke samping. Kemudian dia terus
melesat dengan cengkeraman kedua tangan siap melumpuhkan lawan.
Kepandaian orang itu ternyata tidak begitu tinggi.
Nyata sekali kelemahannya saat hanya seorang diri.
Jelas, kehebatan serta keuletannya hanya karena kerja sama yang serempak dengan
kawan-kawannya. Sedangkan kalau sendiri, sepertinya orang itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagi Panji.
Kreeeppp! Tuggg...!
"Uhhh...!"
Lelaki berpakaian serba hitam yang naas itu tak
sanggup lagi menghindari serangan Pendekar Naga Putih. Tubuhnya langsung melorot jatuh seketika itu juga akibat totokan yang
dilakukan Panji.
Tapi sebelum Pendekar Naga Putih sempat mencari
keterangan dari mulut orang itu, terdengar desingandesingan senjata rahasia yang mengancam keduanya.


Pendekar Naga Putih 42 Terjebak Di Perut Bumi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Cepat-cepat Panji membalikkan tubuh sambil mengibaskan tangannya, untuk menghalau pergi senjatasenjata yang mengancam nyawanya. Tapi....
"Akhhh...!"
Lelaki yang tertotok lumpuh oleh Panji, terdengar
mengeluh tertahan. Tak lama kemudian, kepalanya
langsung tergolek lemah. Jelas, kalau senjata rahasia yang mengenai orang itu
mengandung racun mematikan!
"Bangsat licik...!" dengus Panji geram.
Pendekar Naga Putih benar-benar menjadi marah
ketika melihat orang yang telah dilumpuhkannya tewas, dengan tiga buah jarum halus menancap dalam
di bagian lehernya.
Dengan perasaan geram serta penasaran, pemuda
itu bergerak bangkit. Namun, ia kembali menunduk
memeriksa mayat orang itu ketika teringat orang yang
terkena tendangan kerasnya ketika bertarung di penginapan tadi. Pendekar Naga Putih ingin tahu, apa gerangan
yang membuat tendangannya bagai tidak berarti bagi
orang-orang itu, melalui mayat laki-laki yang baru saja tewas oleh jarum-jarum
beracun. Dan pemuda itu
menjadi kecewa ketika tidak menemukan apa-apa di
balik pakaian lelaki berseragam hitam yang tewas itu.
Kini, Panji bergegas kembali ke penginapan, karena jelas tidak mungkin.
*** Tiba di tempat penginapan, kening Panji jadi berkerut ketika tidak melihat pertempuran lagi. Segera sa-ja pemuda itu berlari ke
kamar kekasihnya. Namun,
kamar telah kosong tanpa penghuninya.
"Paman.... Apakah di antara para tamu disini ada yang melihat seorang gadis
berpakaian serba hijau...?"
tanya Panji, menghampiri salah seorang tamu penginapan yang tengah berkerumun dekat kamar kekasihnya. "Aku tidak tahu, Anak Muda. Ketika mendengar suara ribut-ribut tadi, aku
tidak berani keluar dari
kamar. Baru setelah keributan tidak terdengar lagi,
aku berani keluar kamar. Namun aku tidak melihat
siapa-siapa lagi. Apalagi gadis berpakaian hijau kawanmu itu...," jawab lelaki setengah baya yang rupanya tahu kalau Kenanga adalah
kawan pemuda itu.
"Kisanak. Aku tadi melihat kawanmu mengejar
orang-orang berseragam hitam yang melarikan diri ke
arah Selatan. Sepertinya, orang-orang jahat itu merasa gentar terhadap kawanmu
yang ternyata sangat hebat
ilmu silatnya. Aku sempat melihat ketika ia dikeroyok.
Tapi..., aku hanya mengintainya dari balik jendela kamar...," ujar seorang
lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun tersenyum malu-malu.
Tapi, Panji sendiri sudah tidak memperdulikan
ucapan orang itu selanjutnya. Pemuda itu langsung
kabur ketika mendengar Kenanga mengejar lawannya
ke arah Selatan. Tentu saja lenyapnya pemuda itu
membuat para tamu menjadi gempar!
"Celaka...! Jangan-jangan tadi itu arwahnya yang merasa penasaran...,
hiiiyyy...!"
Sambil merinding ketakutan, lelaki berusia tiga puluh tahun itu langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Memang, setelah bicaranya selesai tadi, ia tidak lagi menemukan pemuda
tampan berjubah putih
itu di hadapannya. Padahal sejak tadi tak seorang pun yang mengalihkan pandangan
dari wajah pemuda
tampan itu. Tentu saja sebagai orang awam terhadap
ilmu silat, mereka menyangka pemuda itu pandai
menghilang. Bahkan dianggap sebagai arwah!
*** 4 Menjelang pagi, Panji kembali ke tempat penginapannya. Pemuda itu gagal mencari kekasihnya.
Meski semalaman telah menjelajahi seluruh daerah di
sekitar Desa Jipang, namun jejak Kenanga tetap tidak
ditemukan. Gadis jelita itu seperti lenyap ditelan bumi.
Tanpa sepengetahuan para tamu lain yang juga
menginap di penginapan itu, Panji menyelinap masuk
ke dalam kamarnya. Dari raut wajahnya, jelas sekali
kalau pemuda itu merasa cemas terhadap keselamatan
kekasihnya. Mengingat kelicikan lawan-lawannya semalam, dikhawatirkan kekasihnya terjebak. Bahkan
ada kemungkinan ditangkap gerombolan orang-orang
tak dikenal berpakaian serba hitam. Hanya itu dugaannya dan Panji merasa yakin kalau kekasihnya belum tewas. Pendekar Naga Putih termenung di atas pembaringannya menghadap langit-langit kamar. Sejauh itu,
belum juga ditemukan jawaban tentang orang-orang
yang menyatroninya semalam. Meskipun pikirannya
telah terkuras, tapi tetap saja jalan itu masih terlalu
gelap. Selain itu iapun merasa, sebagai orang yang selalu terlibat kekerasan,
pasti banyak orang dari kalangan sesat yang mengincarnya untuk membalas dendam. Ataupun, melenyapkannya agar perbuatan jahat
mereka tidak ada lagi yang menghalangi.
Ketika kamar-kamar penginapan mulai sunyi saat
penghuninya tengah menikmati hidangan di kedai depan penginapan, Panji bergegas menuju kamar kekasihnya. Diambilnya buntalan pakaian Kenanga dan
disatukan dengan pakaian-pakaiannya. Kemudian, dia
menuju ruang makan.
Tapi baru saja Panji merapatkan pintu kamarnya,
seorang pelayan bergegas menghampirinya. Meski dengan kening agak berkerut, Panji menghadapi pelayan
itu dengan wajah tetap tenang.
Setelah menyapa ramah, pelayan itu memperhatikan wajah serta pakaian yang dikenakan Panji. Puas
meneliti, pelayan setengah baya itu bertanya raguragu. "Tuan! Benarkah Tuan yang dijuluki orang sebagai Pendekar Naga Putih...?"
Panji tidak segera menjawab pertanyaan pelayan
itu. Sejenak ditatapnya wajah pelayan setengah baya
itu dengan sorot mata tajam. Tentu saja pelayan ini
menjadi salah tingkah.
"Benar, Paman. Ada apa...?" tanya Panji.
Pendekar Naga Putih menghubungkan pertanyaan
pelayan itu dengan kejadian semalam, sehingga membuat kekasihnya lenyap.
"Oooh.... Anu, Tuan pendekar...," sahut lelaki itu dengan sikap berubah jauh.
Kali ini, setelah mengetahui kalau pemuda itu adalah seorang pendekar, iapun terlihat agak ber-lebihan dalam menghormat.
"Ya, Paman. Katakanlah, ada perlu apa...?" desak Panji yang menjadi tak sabar
melihat sikap berlebihan orang tua itu.
Jelas sikap pemuda itu agak berubah akibat lenyapnya gadis jelita yang sangat dicintainya. Kesabarannya yang selama ini selalu tergambar jelas pada wajah dan senyumnya, mendadak lenyap. Hati-nya
benar-benar cemas akan nasib Kenanga.
"Ng..., anu.... Di depan ada Tuan Pendekar Garuda Sakti yang hendak bertemu
Tuan...," jelas pelayan setengah baya itu sambil membungkuk-bungkuk penuh
hormat. "Pendekar Garuda Sakti...?" gumam Panji agak merenung.
Setelah mengingat sejenak, namun tak juga mengenali orang yang berjuluk Pendekar Garuda Sakti
itu, Panji mengangguk mengiyakan.
"Orang itu menunggu di ruang makan, Tuan Pendekar...," jelas pelayan setengah baya itu lagi, ketika melihat pemuda yang
berjuluk Pendekar Naga Putih
termenung. "Baik. Aku akan segera menemuinya...," sahut Panji, segera melangkah menuju
ruang makan mengikuti
pelayan itu. Panji terdiam sesaat ketika pelayan penginapan itu
menunjuk ke arah seorang lelaki gagah berusia sekitar empat puluh tahun. Dia
tampak tenang di sebuah su-dut yang agak ke depan. Perlahan, pemuda itu melangkah mendekat.
Lelaki gagah yang wajahnya terhias kumis tebal itu
bangkit, ketika melihat seorang pemuda tampan berjubah putih menghampirinya. Segera saja tubuhnya
membungkuk hormat kepada Panji.
"Pendekar Naga Putih..., benar-benar suatu karunia besar karena aku dapat bertemu denganmu. Begitu
mendengar khabar adanya seorang pemuda tampan
berjubah putih bersama seorang dara jelita berpakaian hijau menginap di salah
satu penginapan Desa Jipang
ini, aku langsung saja bergegas ke sini. Sudah lama
aku mengagumi sepak terjang mu dalam memerangi
kaum sesat, Pendekar Naga Putih. Ah..., benar-benar
beruntung sekali aku dapat bertemu lang-sung dengan
pendekar besar yang menggemparkan dunia persilatan...." Lelaki gagah yang mengaku sebagai Pendekar Garuda Sakti itu langsung saja nyerocos sebelum Panji
bertanya. Sehingga, pemuda itu merasa sedikit curiga terhadap sikapnya yang
seperti terlalu berlebihan.
"Terima kasih atas pujian mu yang rasanya terlalu tinggi untukku itu, sahabat.
Tapi, akupun sangat senang berjumpa denganmu. Sayang, aku hanya seorang
pengembara yang kebetulan singgah di desa ini. Jadi,
maaf kalau belum begitu mendengar tentang Pendekar
Garuda Sakti...," ucap Panji.
Pendekar Naga Putih tampaknya menjadi mudah
curiga sejak kejadian semalam, yang menyebabkan hilangnya Kenanga.
"Ah.... Tidak mengapa, Pendekar Naga Putih. Aku
memang kurang begitu terkenal di kalangan rimba
persilatan. Tapi di daerah sekitar Desa Jipang, boleh dibilang akulah orang
nomor satu. Maaf, bukannya
bermaksud sombong. Apalah artinya seorang pendekar
sepertiku bila dibandingkan nama besarmu, Pendekar
Naga Putih. Mmm..., oh! Panggil saja aku Gumang. Rasanya, kita akan lebih akrab bila hanya memanggil
nama saja...," ujar Pendekar Garuda Sakti lagi sambil mempersilakan pemuda. itu
duduk. "Aku Panji," balas Pendekar Naga Putih, pendek.
Panji mulai melenyapkan rasa curiganya terhadap
Gumang. Pemuda itu tersenyum dan segera duduk
menghadapi lelaki gagah yang mengaku bernama Gumang. Kemudian Pendekar Naga Putih memesan minuman kepada salah seorang pelayan.
"Mmm.... Kalau boleh aku tahu, kira-kira apa
keperluan mu denganku, Gumang?" tanya Panji.
"Tidak ada yang khusus, Panji," sahut Gumang.
"Jelasnya, aku hanya ingin berjumpa dan agar dapat mengenal lebih jauh denganmu
saja. Mmm..., apakah
kau tidak ingin memperkenalkan aku dengan tunangan mu" Kudengar, gadis jelita berpakaian hijau
yang selalu bersamamu adalah calon istrimu. Betul
demikian...?" Lanjut Gumang sambil melirik ke arah pintu yang menghubungkan
ruang makan itu dengan
kamar-kamar penginapan.
Panji tidak segera menjawab pertanyaan atau permintaan Gumang. Dia malah meneguk airnya agar tidak kelihatan sedang termenung. Setelah beberapa
saat kemudian, Panji menurunkan minumannya dan
menatap wajah Pendekar Garuda Sakti di depannya.
"Gumang..." Panggil pemuda itu perlahan, "Sebagai orang nomor satu di daerah
ini, pernahkah kau berjumpa orang-orang berseragam hitam, yang kemunculan mereka selalu berkelompok serta memiliki ilmu
meringankan tubuh tinggi...?"
Pendekar Naga Putih mencari kesempatan untuk
memperoleh keterangan tentang orang-orang yang semalam menyatroninya. Pertanyaan itu baru terpikir
saat ia merenung tadi.
"Hm.... Orang-orang berseragam hitam yang muncul berkelompok, dan memiliki ilmu meringankan tubuh sangat tinggi..," Gumang bergumam sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam.
Kelihatan sekali kalau lelaki gagah itu berusaha
berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Panji. Kelihatannya Pendekar Garuda Sakti hendak mem-bantu
pemuda itu. "Kau pernah berjumpa orang-orang seperti yang
kusebutkan itu...?" desak Panji lagi, tak sabar menunggu jawabannya.
"Mmm..., belum. Tapi, aku pernah mendengar tentang orang-orang itu. Kalau tidak salah, mereka merupakan pembunuh bayaran yang kabarnya sangat ditakuti kalangan persilatan. Mengapa kau tanyakan itu,
Pendekar Naga Putih...?" tanya Gumang dengan kening berkerut.
Mau tidak mau, Panji terpaksa menjelaskannya.
Sedangkan Pendekar Garuda Sakti mendengarkan penuh perhatian. "Ah..., benar-benar cari penyakit!" geram Gumang setelah mendengarkan keterangan
Panji. Jelas, lelaki
gagah itu merasa marah sekali.
"Jadi, mereka berhasil menculik kekasihmu semalam...?" tanya Pendekar Garuda Sakti masih tidak percaya.
"Begitulah. Dan aku akan mencari, ke manapun
mereka pergi...!" tegas Panji sambil mengepalkan tin-junya kuat-kuat.
"Jangan khawatir, Pendekar Naga Putih. Aku akan
mencoba mencari keterangan tentang tempat sembunyinya manusia-manusia laknat itu. Setelah itu, barulah kita bersama-sama menggempurnya!" ujar Gumang dengan semangat menyala-nyala.
Kelihatan sekali kalau lelaki gagah itu sangat menaruh perhatian terhadap kejadian yang menimpa diri
kekasih Pendekar Naga Putih.
Setelah berkata demikian, Gumang pamit. Dia berniat menanyakan sahabat-sahabatnya, tentang orangorang berpakaian hitam yang menculik tunangan Pendekar Naga Putih.
Pendekar Naga Putih yang semula hendak meninggalkan penginapan untuk mencari kekasihnya, terpaksa harus menunda niatnya. Karena, Gumang yang
berjuluk Pendekar Garuda Sakti menjanjikan untuk
mencari keterangan tentang orang-orang yang menculik Kenanga. Sehingga, dia terpaksa menunggu di


Pendekar Naga Putih 42 Terjebak Di Perut Bumi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

penginapan itu.
*** Pendekar Garuda Sakti yang sepertinya sangat
bangga dapat melakukan pekerjaan untuk Pendekar
Naga Putih, beberapa hari kemudian telah kembali
mengunjungi tempat penginapan Panji. Kabar yang dibawanya pun cukup melegakan perasaan pemuda itu.
"Hm.... Jadi mereka memiliki perkumpulan yang
cukup kuat?" tegas Panji setelah mendengar keterangan Gumang. "Benar, Panji. Perkumpulan itu sendiri sangat rahasia. Jarang ada tokoh
persilatan yang tahu, di mana sarang perkumpulan pembunuh bayaran yang bernama
Naga Hitam itu. Untunglah, ada salah seorang kawanku yang secara tak sengaja pernah tersesat di daerah perkumpulan itu. Sayang, ia tidak mengetahui
orang yang menjadi pimpinan perkumpulan pembunuh
bayaran itu...," jelas Gumang lagi. Nada suaranya ter-sirat kebanggaan karena
dapat membantu pendekar
muda itu. "Kalau begitu, sekarang juga aku harus menemui
mereka," ujar Panji.
Pendekar Naga Putih segera saja hendak menyatroni markas kelompok pembunuh bayaran yang
telah menculik kekasihnya itu. Tapi, Gumang segera
mencegahnya. Sehingga, kening pemuda itu sempat
berkerut heran.
"Mengapa, Gumang" Bukankah lebih cepat akan
lebih baik?" tanya Panji, seolah tak mengerti apa maksud Gumang sebenarnya
sehingga mencegah kepergiannya. "Maaf, Pendekar Naga Putih. Bukan maksudku
mencegah keinginanmu itu. Tapi, aku merasa ragu.
apakah mereka benar-benar telah menculik kekasihmu...?" ucap Gumang, menjelaskan duduk perkaranya. "Sebenarnya aku juga kurang yakin, Gumang. Sebab, kalau benar mereka menculik kekasihku, pasti
akan menghubungi ku" Tapi sampai hari ini, mereka
ternyata sama sekali tidak menghubungi ku. Bukankah ini aneh...," Panji yang rupanya juga berpikiran sama dengan Pendekar Garuda
Sakti, segera saja mengung-kapkan rasa penasarannya.
"Itulah yang ingin kukatakan padamu, Panji. Tapi kalau memang mereka tidak
menculiknya, mengapa
pula kekasihmu tidak kembali ke penginapan...?"
tanya Gumang, mengerutkan keningnya seperti tengah
berpikir keras untuk memecahkan masalah yang masih gelap itu. Pada saat kedua orang itu tengah termenung mengikuti arus pikiran masing-masing, tiba-tiba seorang pelayan datang tergopohgopoh menghampiri.
'Tuan..., Tuan...!"
Pelayan setengah baya itu berteriak-teriak berlari
ke arah mereka. Tentu saja Panji dan Gumang tersentak kaget, dan menoleh dengan kening berketut.
"Seorang pedagang keliling mengantarkan surat ini.
Katanya surat ini untuk Tuan Pendekar Naga Putih...,"
lapor pelayan setengah baya itu sambil menyodorkan
sepucuk surat kepada Panji.
Gumang tidak berkata sepatah pun pada saat Panji
tengah membaca gulungan surat itu. Hanya saja, kening lelaki gagah itu agak berkerut melihat ketegangan dan kegusaran di wajah
Pendekar Naga Putih.
"Hm.... Rupanya mereka benar menculik Kenanga.
Perkumpulan pembunuh bayaran Naga Terbang mengundangku untuk datang ke Lembah Bintang. Mereka
akan membebaskan Kenanga, apabila aku menyerahkan diri...," gumam Panji menjelaskan isi surat itu. Sehingga, wajah Gumang
tampak menegang.
"Lembah Bintang...?" desis Gumang dengan wajah agak pucat.
Jelas lelaki gagah itu telah mengetahui lembah
yang dimaksudkan kelompok pembunuh bayaran yang
bernama Naga Hitam.
"Mengapa, Gumang" Apakah ada sesuatu yang
menakutkan di lembah itu..." Apa kau sudah pernah
mendatangi tempat itu sebelumnya?" tanya Panji. Pendekar Naga Putih memang
merasa heran melihat wajah
sahabat barunya tampak pucat.
"Aku belum pernah ke lembah itu. Tapi kalau boleh ku nasehati, sebaiknya jangan
datang ke lembah celaka itu, Panji....." ujar Gumang menjelaskan
kekhawatirannya. Semua itu tergambar jelas baik
dari wajah maupun ucapannya.
"Hm.... Tidak mungkin, Gumang. Apapun yang
akan dihadapi nanti, aku tetap harus datang memenuhi undangan mereka!" tegas Panji dengan suara mantap.
Pendekar Garuda Sakti menatap wajah Panji penuh
kecemasan. Berkali-kali terdengar helaan napas beratnya yang berkepanjangan. Beberapa saat lamanya,
Gumang terdiam tanpa kata.
"Aku yakin, mereka pasti akan menjebakmu. Sepertinya, mereka telah diperalat orang lain untuk
membunuhmu. Dan umpannya adalah kekasihmu
yang sekarang di tangan mereka...," desah Gumang tanpa semangat
Wajah Pendekar Garuda Sakti tampak demikian
kuyu. Sehingga, Panji semakin merasa suka dan bersyukur mendapatkan seorang kawan sebaik laki-laki
gagah itu. "Meskipun benar begitu, aku tetap akan memenuhi undangan mereka. kalau tidak, apa jadinya
nasib kekasihku" Atau, kau mempunyai pikiran lain
yang mungkin dapat dijadikan pilihan...?" tanya Panji, hendak mengetahui
pendapat Gumang.
Lelaki gagah berkumis tebal itu hanya menggelengkan kepala tak. bergairah. Sepertinya Gumang
ikut merasa susah memikirkan masalah yang dihadapi
Pendekar Naga Putih.
"Kalau begitu, tidak ada jalan lain. Aku harus pergi untuk menukar diriku dengan
Kenanga. Atau kalau
mungkin, aku akan menghadapi mereka untuk membebaskan kekasihku," kembali Panji menandaskan
ucapannya yang sepertinya tidak mungkin dapat berubah lagi. "Hhh.... Kalau saja ada yang bisa kulakukan untuk meringankan persoalanmu,
senang sekali rasanya.
Sayang, aku hanyalah orang bodoh yang tidak mempunyai pendapat lain...," desah Gumang disertai helaan napas beratnya yang
berkepanjangan.
"Terima kasih, Gumang. Kau tidak perlu berkecil
hati. Apa yang selama beberapa hari ini kau lakukan
untukku, itu rasanya sudah lebih dari cukup. Entah,
bagaimana aku dapat membayar lunas hutang budi
ini..,," kata Panji sambil menepuk-nepuk bahu Gumang.
Untuk beberapa saat lamanya, kedua orang lelaki
gagah itu sama terdiam tanpa kata. Mereka kembali
termenung mengikuti arus pikiran masing-masing.
Panji yang merasa tidak enak melihat wajah pendekar
itu agak gelap, terpaksa menunda kepergiannya. Dan
lagi waktu yang ditentukannya adalah tengah malam.
Jadi rasanya masih banyak waktu bagi pemuda itu untuk memikirkan cara terbaik untuk membebaskan kekasihnya. "Gumang...," panggil Panji dengan suara perlahan.
Namun, lelaki gagah itu tersentak kaget, karena
terlalu tenggelam dalam lamunannya.
"Ada apa, Panji...?" tanya Pendekar Garuda Sakti dengan mata berbinar. Seolah,
ia mengharapkan Pendekar Naga Putih akan memintanya untuk ikut serta
memenuhi undangan itu.
"Kira-kira berapa lama untuk bisa mencapai Lembah Bintang itu...?" tanya Panji, sekedar untuk melenyapkan kekakuan di antara
mereka. "Hm.... Untuk mendatangi Lembah Bintang dari
Desa Jipang ini, mungkin hanya beberapa jam kalau
dilakukan olehmu. Tapi kalau orang lain yang melakukannya termasuk aku, mungkin bisa satu hari satu malam...," jawab Gumang, singkat.
"Kalau begitu, aku harus segera berkemas. Sebab, waktu yang diberikan hanya
sampai tengah malam...,"
kata Panji, segera bangkit dari duduknya.
'"Panji...," panggil Gumang menahan langkah pemuda tampan itu, "Hati-hatilah.
Maaf, aku tidak bisa membantumu lebih jauh. Kalaupun aku me-maksa
ikut untuk menambah pengalaman, itu hanya akan
menyusahkanmu saja. Jadi, sebaiknya aku pergi dulu.
Semoga kau dapat menyelamatkan kekasih-mu...."
Gumang akhirnya berpamit kepada Panji, karena
memang tidak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk
pemuda itu. "Baiklah. Terima kasih atas segala bantuanmu...,"
ucap Panji tanpa berusaha mencegah kepergian lelaki
gagah yang begitu mau bersusah payah membantunya.
Setelah kepergian Pendekar Garuda Sakti, Panji
bergegas ke dalam kamarnya dan membuntal pakaiannya. Usai membayar sewa penginapan, dia berangkat menuju Lembah Bintang.
*** Panji bergerak cepat meninggalkan Desa Jipang
dengan mengerahkan seluruh ilmu lari cepatnya. Pemuda itu berniat tiba lebih awal, agar bisa menyelidiki daerah sekitar Lembah
Bintang. Karena diduga, bukan
tidak mungkin musuh-musuhnya telah memasang perangkap atau jebakan untuk menewaskannya. Pikiran
itulah yang membuat Panji berlari bagaikan orang dikejar setan. Menjelang senja, Panji telah tiba beberapa puluh
tombak di bawah kaki Gunung Burangkang. Memang,
di bawah kaki gunung itulah Lembah Bintang terletak.
Dengan memperlambat gerak langkah larinya, Pendekar Naga Putih terus mendekati kaki Gunung Burangkang melalui jalan yang agak tersembunyi. Ketika
bulan telah menampakkan wajahnya yang bulat, Panji
pun telah berada di daerah sekitar Lembah Bintang.
"Aneh.... Lembah yang terdiri dari batu-batu ber-lumut inikah yang menurut
Gumang menyeramkan..." Lalu, di mana letak keangkerannya...?" gumam
Panji menatapi lembah di bawahnya dari balik rimbunan semak belukar.
Kening Pendekar Naga Putih berkerut agak heran
melihat Lembah Bintang. Karena sejauh mata memandang, tak satu pun yang bisa menimbulkan keseraman. Sehingga, pemuda itu menjadi tak me-ngerti
ketika dengan rasa takut dan dengan wajah pucat
Pendekar Garuda Sakti membicarakan lembah itu.
Ketika malam sudah mulai larut, Panji bergerak
hati-hati menuruni lembah. Ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan hingga puncaknya. Pendengarannya dipasang tajam-tajam untuk mendengar suarasuara yang bisa menimbulkan kecurigaan. Sepasang
matanya mencorong tajam, bagaikan mata seekor naga
di kegelapan. Sedangkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'
nya, siap menyebar melindungi tubuhnya.
"Hua ha ha...! Untuk apa mengendap-endap seperti maling yang hendak mencuri,
Pendekar Naga Putih!
Kau tidak perlu khawatir. Tempat ini tidak ada jebakan atau perangkap
satupun...!"
Tiba-tiba terdengar suara tawa bergema memenuhi Lembah Bintang, yang disusul suara parau dan
berat. Pendekar Naga Putih benar-benar terkejut, karena sama sekali tidak mengetahui di mana musuhmusuhnya bersembunyi.
Sadar kalau kedatangannya sudah diketahui lawan, Panji pun menegakkan tubuhnya. Sambil melangkah penuh waspada, dikitarinya sekitar Lembah
Bintang dengan sorot mata yang bagaikan menyala di
kegelapan. Sementara sinar bulan yang semula memancar, telah tertutup awan hitam, membuat suasa
Lembah Bintang menjadi gelap. Apalagi, hembusan
angin demikian keras hingga membuat jubahnya berkibar. Tapi, Pendekar Naga Putih terus bergerak maju
tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Hei, mengapa kalian bersembunyi" Aku sudah datang memenuhi undangan kalian! Bebaskan kawanku, atau kuhancurkan lembah ini...!"
Panji berteriak disertai pengerahan tenaga saktinya. Tentu saja suaranya menimbulkan gaung yang
menggetarkan. Suasana kembali sunyi ketika gema suara pemuda
perkasa itu lenyap ditelan hembusan angin yang sangat keras. Beberapa saat kemudian, telinga Pen-dekar
Naga Putih mendengar banyak suara langkah kaki
orang dari depannya.
Panji termenung sambil mencoba menghitung jumlah lawan melalui langkah-langkah kaki. Kemudian
kepalanya diangkat setelah dapat menebak jumlah lawan. "Hm..., dua belas orang rasanya tidak terlalu banyak. Aneh, mengapa mereka tidak
membawa jumlah yang lebih banyak" Ataukah semua yang datang merupakan pentolan pembunuh bayaran perkumpulan
Naga Hitam...?" gumam Panji seperti bicara sendiri. Selain itu, Pendekar Naga
Putih juga menangkap adanya
langkah yang terseret-seret dengan paksa. Berdebar
hati Panji, karena diduga langkah terseret itu pastilah langkah kekasihnya yang
ditawan mereka.
Panji tidak perlu menunggu lama, karena beberapa saat kemudian tampaklah belasan sosok tubuh
yang berlarian menuju ke arah aliran sungai yang
membentang di bawahnya. Bergegas pemuda itu mengikutinya, dan baru berhenti dalam jarak tiga tombak.
Dan kini tampaklah belasan sosok tubuh terbungkus
pakaian hitam. "Nah, Pendekar Naga Putih! Sekarang kau boleh pilih. Menyerahkan diri agar
nyawamu bisa kami cabut,


Pendekar Naga Putih 42 Terjebak Di Perut Bumi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

atau terpaksa dara jelita ini kami lemparkan ke sungai...." Terdengar salah seorang dari sosok-sosok tubuh
itu berteriak memberikan pilihan kepada Pendekar Naga Putih. Panji melangkah beberapa tombak lagi untuk menegasi raut wajah sosok yang berbicara itu. Tampak
seorang lelaki tua berpakaian serba hitam, berusia sekitar enam puluh tahun.
Sepasang matanya tampak
menyorot tajam menggetarkan jantung. Jelas, hal itu
menandakan kalau lelaki tua itu bukan orang sembarangan. Di sebelah kanan lelaki tua itu berdiri seorang lelaki tinggi kurus. Tingginya hampir satu setengah kali
tinggi manusia biasa. Sepasang mata lelaki jangkung
berusia lima puluh tahun lebih itu pun menimbulkan
perbawa menggetarkan. Tahulah Panji, ia kini berhadapan dengan datuk-datuk golongan hitam. Memang
hanya orang-orang tingkat tinggilah yang memiliki sinar mata demikian tajam!
Sedangkan sepuluh orang lainnya tidak begitu diperhatikannya. Karena wajah mereka terlindung kain
hitam. Pendekar Naga Putih pun menduga, mereka itulah orang-orang yang menyatroninya di penginapan.
Sepasang mata Panji semakin mencorong ketika
melihat adanya sesosok tubuh ramping terbungkus
pakaian hijau yang tubuhnya terikat tali. Dua orang
berpakaian hitam tampak memegangi sosok yang jelas
seorang wanita itu. Sayang, wajah sosok ramping itu
tidak begitu jelas karena terhalang rambutnya yang jatuh menutupi sebagian
wajahnya. Kepala gadis itu tertunduk seperti tidak sadarkan diri.
"Kenanga...!" desis bibir Pendekar Naga Putih dengan hati berdebar.
Hati Panji bagaikan teriris melihat kekasihnya sangat menderita, seperti itu. Terdengar suara berkerotokan dari buku-buku jari tangannya ketika tinjunya dikepalkan erat-erat.
Pandangan Panji kembali beralih ke arah dua sosok tubuh yang diduga merupakan pimpinan musuhmusuhnya. Setelah menarik napas untuk menenteramkan hatinya, pemuda tampan itu menatap tajam ke
arah musuh-musuhnya.
"Rasanya dapat kuduga, siapa kalian berdua,
Orang Tua. Kalian adalah Datuk Naga Hitam dan Petapa Gunung Kulon. Tapi, tak kusangka datuk-datuk
terhormat seperti kalian demikian bersifat merendah
dengan melakukan perbuatan selicik ini. Menurutku,
kalian berdua lebih pantas menjadi pen-jahat-penjahat rendah yang tidak patut
untuk men-jadi seorang datuk....," geram Panji sambil menatap tajam kedua orang
Kisah Para Penggetar Langit 8 Dewa Linglung 1 Raja Raja Gila Pendekar Guntur 9

Cari Blog Ini