Ceritasilat Novel Online

Jalan Bandungan 3

Jalan Bandungan Karya Nh Dini Bagian 3


Adik iparku itu konon berada di Jerman. Dulu ketika masih di Surabaya, kiriman dari mertuaku hanya cukup buat membayar pondokan. Entah bagaimana caranya, anak paling muda ini bisa belajar sendiri sambil bekerja di pelabuhan. Lalu kesempatan tiba. Dia berangkat ke luar negeri sebagai awak kapal.
Suratnya hanya datang sekali setahun. Yang paling sering bertemu dengan dia ya hanya masnya yang di Makassar. Nak Mur tahu Irawan, bukan" sekali lagi ibu mertuaku yang memberi informasi.
Barangkali dia tahu nama panggilannya, mertuaku yang lakilaki berkata kepada istrinya. Lalu menoleh ke arahku, meneruskan, Namanya Irawan. Dia juga anak yang bisa dikatakan merintis sendiri kariernya di bidang kedokteran. Bapak hampir tidak mengeluarkan biaya buat kuliahnya. Sejak masuk universitas, dia menerima beasiswa. Sampai sekarang pun masih sering diundang mengikuti kursus di luar negeri. Dia selalu berusaha lewat Eropa supaya bisa bertemu dengan adiknya. Saya akui, keduanya saling cocok. Sambil berbicara, bapak mertuaku memandang ke luar. Matanya seperti merenung, menikmati apa yang dikatakannya. Dari nada suaranya, aku merasa bahwa dia bangga. Aku tidak tahu, mana dari kedua anak yang sedang dibicarakannya itu yang lebih dia banggakan.
Benar. Dua anak itu yang paling, ya bisa dikatakan, tidak mengganggu kami. Jalannya mereka cari dan mereka temukan
129 di luar pun, Handoko tidak mau minta apa-apa. Kalau dalam surat bapaknya bertanya apakah perlu uang, mau dikirimi apa, dia tidak menjawab. Sebentar ibu itu diam setelah mengatakan isi hati yang kutafsirkan sebagai uneg-uneg. Apakah dia menyesali kemandirian anaknya, ataukah juga membanggakannya" Lain dari mas-masnya lainnya yang ada di luar Jawa! Itu berbeda, Pakne. Mereka bertani. Dan sambil meneruskan, ibu mertuaku memandang kepadaku. Barangkali Nak Mur ingat Wijanarko, dulu dia menemani kami ketika Nak Mur kawin. Dia di Sulawesi Utara. Terpikat oleh gadis Minahasa, lalu membeli tanah. Jadi petani cengkeh. Wibisono, adiknya lagi, di Lampung. Punya kebun kelapa sawit. Tapi sekarang sudah mengangsur modal yang dipinjamkan bapaknya. Sudah mulai mapan.
Benar. Kalau punya kebun berhektar-hektar ya memang lain. Tidak, Bu, aku bukannya menyesali mereka karena minta modal kepadaku. Ya kepada siapa lagi kalau tidak minta kepada orangtuanya. Aku hanya mengatakan hal itu sebagai perbandingan.
Memang, Nak Mur. Anak banyak, harusnya ya macam-macam. Sekarang sudah mapan seperti kata Bapak tadi. Kadangkadang kalau lagi lega, ya mereka kirim surat. Kalau tidak, malahan mendadak muncul di muka pintu karena tugas membawa mereka ke Jawa. Kita sebagai orangtua sudah bahagia kalau mengetahui bahwa anak cucu pada sehat, selamat.
Sebetulnya kami juga bisa bepergian, mengunjungi mereka; barangkali setiap dua tahun sekali. Tapi ah, Nak Mur, saya tidak suka meninggalkan rumah. Ibu itu yang saya suruh pergi. Sana ke Sumatra, sana ke Sulawesi. Ke Semarang saja dia juga malas. Yang paling sering, dia ke Sala atau ke Yogya. Bukan untuk menengok
130 bapak mertuaku menyindir istrinya.
Benar, Nak Mur. Saya sama seperti Bapak. Malas pergi. Kalau tidak tinggal di rumah sendiri, rasanya kok tidak enak. Meskipun hanya berkunjung beberapa waktu. Meskipun di rumah anak sendiri! Kalau ke Semarang, saya serba bingung. Saya tidak tahu apakah Nak Mur mau saya tengok atau juga sungkan ketemu saya. Kan saya khawatir, jangan-jangan Widodo sudah mempengaruhi anda ....
Kalimat mertuaku itu segera aku potong untuk menjelaskan sikapku yang sesungguhnya. Nasihat ibuku tuntas aku laksanakan hari itu. Pokoknya aku datang untuk mencoba menjalin hubungan baik, tidak karena disuruh suamiku. Dia tidak menghidupiku lagi. Sekarang aku sudah tinggal di rumah ibuku sendiri, sudah bekerja sendiri. Mas Wid tidak berhak lagi mendiktekan kemauannya kepadaku. Soal anak-anak dan sekolahnya, akan kuusahakan supaya mereka menjadi orang yang normal seperti anak-anak lain yang dibesarkan dengan ditunggui ayah mereka. Demikianlah katakataku kepada kedua mertuaku.
Hari itu aku bahkan mengatakan pula bahwa tiga bulan adalah batasnya. Kalau istri tidak lagi menerima nafkah lahir dan batin selama itu, proses perceraian sudah bisa dimulai. Aku sementara itu tidak akan memulai sesuatu pun karena mengingat anak-anak. Tetapi untuk selanjutnya harus kuberitahukan kepada mertuaku, bahwa kemungkinan yang lain-lain juga terbuka. Aku tambahkan, bahwa hidup menjanda ternyata lebih enak bagiku. Kecuali tentu saja, ulah Mas Wid yang merugikan negara itu ternyata juga merugikan pribadiku dalam pergaulan. Lalu kuceritakan kepada kedua orang tua itu bagaimana aku menutup telinga terhadap hinaan dan cemohan sekelilingku.
131 siku. Kalau memang mereka sakit hati karena aku telah mengatakan isi hatiku yang sebenarnya, biarlah hubungan kami putus. Tapi jika mereka mengerti perasaanku, jalinan kekeluargaan akan menjadi normal, meskipun barangkali tanpa rasa kedekatan. Aku datang ke tempat mereka demi anak-anakku. Mereka biar merasa senang karena tahu mempunyai kakek dan nenek lain.
Rupa-rupanya kedatangan kami berdua berkenan di hati mertuaku. Sore setelah mandi, pick-up yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil tanah disuruh mengantarkan kami pulang ke pesisir utara. Kami duduk di depan, sedangkan di belakang ada sekarung beras, sepuluh butir kelapa, satu ember ikan emas, dan aneka ragam hasil bumi lainnya.
Dan seolah-olah hubunganku dengan keluarga Mas Wid memang disetujui oleh Tuhan, berselang dua bulan kemudian, Irawan singgah di kota kami. Dia sedang kongres di Surabaya dan ingin menjenguk ke Klaten. Pagi hari Jumat dia sampai di Semarang, langsung ke tempat kami tinggal diantar oleh sopir Dokter Liantoro. Dia hanya bertemu dengan Ibu dan anakku yang bungsu.
Setelah meninggalkan pesan, dia pergi untuk urusannya ke rumah sakit pusat. Dia datang kembali siang ketika kami berkumpul untuk makan. Katanya, dia mendapat pinjaman mobil yang akan mengantarkan ke Klaten hari Sabtu keesokannya. Apakah aku dan anak-anakku mau ikut, menginap di sana dan pulang hari Minggu sore. Kejutan kedatangannya saja sudah sangat menggembirakan, apalagi tawarannya yang di luar dugaan itu.
Petang dia datang lagi untuk menjemput kami makan di Restoran Oen, rumah makan terpandang dan megah yang belum pernah kami masuki. Orangtua Ganik juga diundang, karena Irawan
132 sama, bertemu di seminar atau lokakarya di dalam maupun di luar negeri. Aku tidak ingat bahwa ayah Ganik memang pernah memuji kecakapan Irawan setelah mengetahui bahwa dia adalah adik iparku. Semua yang berhubungan dengan keluarga Mas Wid sedemikian dijauhkan oleh suamiku sehingga aku yang sudah mengambil sikap pasif juga menjadi kurang perhatian.
Sabtu siang setelah makan, kami berangkat ke Klaten. Irawan sudah minta tolong kepada rekannya di Yogya agar memberi kabar orangtuanya mengenai kedatangan kami. Aku dan anakanakku diberi satu kamar di rumah induk. Tempat tidurnya dua, satu besar, satu kecil, digelari seprei bersih yang berbau khas akar wangi dari daerah Yogyakarta. Jelas kamar itu baru dibersihkan, dengan lantainya yang dipel dengan karbol. Rasa nyaman karena kedatangan kami yang ditunggu itu sungguhlah baru kali itu menyelinapi dadaku.
Keputusan untuk pergi bersama Irawan tidak disarankan oleh ibuku, melainkan kuambil sendiri. Ibu hanya menyampaikan pesan Irawan tentang maksudnya pergi ke Klaten. Baru setelah berhadapan sendiri dengan aku, dia mengajak kami bersama-sama pergi. Waktu itu aku tidak berpikir dua atau tiga kali, langsung menerima undangannya tanpa meminta pendapat Ibu. Selain aku yakin bahwa ibuku juga gembira karena Irawan berbaik hati kepada kami, dia pasti bersenang hati pula karena kesempatan yang ada bagi anak-anakku yang lain untuk mengunjungi kakek dan neneknya di Klaten. Kemudian aku menyadari bahwa aku telah biasa lagi berprakarsa dengan penerimaanku pergi bersama adik iparku itu. Tanpa meminta pendapat Ibu aku langsung menjawab ya.
Dan ternyata aku juga tidak menyesal turut Irawan ke rumah
133 dengan kelurga mertuaku. Dari Sabtu malam hingga Minggu sore kami banyak berbincang. Anak-anakku dibawa kakeknya melihatlihat belakang rumah yang penuh empang, pergi ke kebun pisang, diantar ke candi-candi yang tidak begitu jauh dari sana. Irawan sendiri mengingatkan aku kepada Mas Wid pada awal perkenalan kami di zaman revolusi dan ketika kami bertemu kembali di kota sebelum kami bertunangan. Sikap dan kata-katanya memikat, membikin orang semakin ingin mendengarkan pembicaraannya. Tidak mengherankan jika Irawan adalah dokter yang disukai, guru yang berhasil, dan ilmuwan yang maju.
Kata ayah Ganik kepada ibuku ketika kami makan bersama di Restoran Oen, konon adik suamiku itu akan segera dipercaya memegang pimpinan rumah sakit di Makassar. Dia adalah satusatunya dokter tangguh dalam bidangnya di seluruh Indonesia Timur. Anakku sulung Eko kelihatan segera melekat pada pamannya itu. Mereka tinggal satu kamar sewaktu bermalam di Klaten. Itu adalah kamar Irawan. Dan dia berkata. bahwa setiap kali Eko datang, dia boleh menempati kamar tersebut. Sedari tiba di Klaten sampai kami diantar pulang, mereka berdua selalu bersama.
Mulai dari waktu itu, dari hari ke hari, hubunganku dengan keluarga suamiku berangsur mendekat. Selama hidupku bersama suami, belum pemah aku merasakan manfaat atau kenyamanan memiliki mertua ataupun adik ipar. Sampai-sampai Handoko, adik terkecil yang bersekolah di Jerman pun tiba-tiba mengirimi kartupos bergambar, satu untuk Eko dan adik-adiknya, satu ditujukan kepadaku. Isinya biasa, salam perkenalan.
Masa menjandaku yang menuju tahun kelima kujalani dengan rasa mapan dalam segala kesulitan dan keringanannya. Jiwaku semakin membaja. Kedekatanku dengan keluarga suamiku sudah
134 pada mertuaku sendiri, bahwa ini kulakukan demi anak-anak. Irawan bahkan dengan terus terang bertanya kepadaku apakah tidak lebih baik jika aku membentuk hidup baru daripada menunggu Mas Wid. Dia kenal dengan orangtua Ganik. Tentulah dia mendengar banyak tentang aku dan apa yang kupikirkan mengenai kakaknya selama ini. Tapi aku menanggapi pertanyaan Irawan dengan jawaban yang mengambang.
Sementara itu aku ingin menikmati kesendirianku, yang ruparupanya juga berarti kebebasanku untuk menentukan sikap dan perbuatanku. Pada tahun-tahun pertama penderitaanku, aku selalu ditopang dan dibantu oleh ibuku. Tanpa mertua, tanpa saudara ipar, ibuku adalah sumber kekuatan dalam berbagai bentuk. Setelah keluarga Mas Wid memperhatikan kami, keyakinan terhadap diriku sendiri menambah kekebalanku untuk menanggulangi sindiran, cemohan, hinaan. Baik yang diucapkan terangterangan di depanku maupun yang kudengar diucapkan orang di balik punggungku. Keyakinan itu mengantarkan aku untuk mendaftarkan diri kembali belajar sambil meneruskan bekerja. Institut Pendidikan di kota kami menawarkan kesempatan bagi guru-guru Sekolah Dasar yang ingin menambah pengetahuan. Aku masuk untuk belajar bahasa Inggris. Konon jika rencana berjalan lancar, akan dibuka kelas-kelas percobaan di Sekolah Dasar yang ditunjuk sebagai laboratorium. Murid-murid di situ akan diajar bahasa Inggris. Aku mendaftarkan nama sebagai calon guru pengajar bahasa asing itu.
Waktuku semakin padat terisi. Hidup kami tetap prihatin dalam arti keseluruhannya. Sepedaku yang tua amat besar jasanya. Benda antik itu setia mengantar ke mana pun aku pergi. Kemajuan telah membawa aneka kendaraan angkutan modern
135 jalan-jalan menjadi semakin gaduh dan ribut. Tapi aku tetap naik sepeda. Anak-anak naik becak. Hanya Eko yang berangsur-angsur meningkat sekolahnya, mulai naik kendaraan umum baru yang disebut Daihatsu.
Setiap bulan, Irawan mengirim sejumlah uang. Katanya sebagai pendorong Eko supaya bersekolah baik-baik dan menuruti ajaran ibunya. Uang kiriman itu cukup untuk biaya sekolah dan keperluan Eko sendiri. Ini sangat membantu. Selain itu, secara berkala, kami menerima beras dan berbagai hasil bumi yang dikirim mertuaku dari Klaten. Kadangkala disertai sampul berisi uang, di lain waktu potongan-potongan bahan baju. Semua itu juga amat berguna. Dan dengan cara demikianlah, di saat orang-orang lain yang berpenghasilan kecil seperti aku tidak bisa makan pisang raja atau jeruk manis, kami dapat berbahagia merasakan buah-buah mewah yang mahal itu. Kami bahkan bisa membantu orang lain dengan memberikan baju-baju yang sudah tidak terpakai, karena dapat diperkirakan akan mampu memiliki lainnya yang baru.
Namun demikian, walaupun kami merasa mempunyai kehidupan yang lebih baik, anak-anakku mengerti dan taat jika kami ajari harus selalu bisa mengendalikan nafsu yang berlebihlebihan. Kami harus tetap prihatin meskipun makanan yang tersedia mencukupi. Semakin anak-anak menjadi besar, ibuku menjadi semakin sukar mengetatkan aturan-aturan yang ingin aku terapkan. Ibu kurang sampai hati berlaku keras terhadap anakanak, terutama terhadap Eko. Kata-kata yang ditonjolkannya sebagai alasan selalu sama: Kasihan, sejak kecil tidak ditunggui ayahnya ; atau ada saja alasan lain yang menurut dia patut dibenarkan.
136 yang mencolok. Dia jadi masuk SGA setelah lulus dari SMP. Selama itu anak-anakku cukup menuruti pengarahannya. Lebihlebih Eko. Tetapi setelah adikku itu lulus dan ditempatkan di luar kota, tinggal Ibu dan aku sendirilah yang mengawasi anak-anak. Eko tumbuh menjadi remaja yang tidak direngkuh dari dekat oleh lelaki idolanya. Widowati menyusul tepat di bawahnya dengan kematangan anak perempuan yang terlalu cepat. Sementara aku semakin sibuk, waktuku bersama mereka semakin menipis. Seto tampil sebagai pra-remaja yang tampak manis, tapi kadangkadang tersirat janji watak lebih sukar dari kakak-kakaknya. *****
137?"?" embali ke sekolah membikinku tampak lebih muda. Demikian komentar ibuku. Nafsu untuk maju, untuk mendapat nilai paling unggul sedari dulu memang merupakan bagian dari sifat-sifatku masa remaja. Rupa-rupanya setelah kawin dan mempunyai anak tiga, karena hidup tanpa suami, aku masih bisa mendapatkan lagi sisa-sisa gairah berlomba tersebut. Setiap test, setiap ujian, kulalap dengan kemudahan yang menimbulkan keheranan lingkunganku. Belajar sambil semalaman menjaga anakku yang demam pun, keesokannya aku maju ujian bisa lulus. Penggunaan waktuku yang semakin padat ternyata masih dapat diselingi dengan kegiatan lain.
Di antara sahabat-sahabatku, hanya Siswi yang tinggal sekota setelah pindah dari Pekalongan. Winarno, suaminya, banyak membantuku di berbagai bidang. Sedari permulaan perkenalan kami yang didasari karena aku sahabat istrinya, Winar menunjukkan perhatiannya terhadap diriku sekeluarga. Dia menjadi ketua Persatuan Guru di kota kami.
Hampir bersamaan dengan dimulainya masa kuliahku, bendahara perkumpulan itu jatuh sakit dan diopname. Tugasnya harus diteruskan orang lain. Winar menemukan kesulitan memilih orang yang mau dan yang bisa dipercaya. Siswi mengusulkan, barangkali untuk sementara aku bisa menolong suaminya. Semula
138 sedikit yang bukan milikku. Lagi pula aku tidak berpengalaman berorganisasi. Winar meringankan bebanku dengan mengatakan bahwa itu sifatnya hanya sementara. Akhirnya, setelah berkalikali didesak Siswi, dan merasa karena telah berhutang budi kepada Winar, aku menyanggupi.
Tetapi kemudian, bendahara yang sesungguhnya meninggal. Diadakan rapat serta pemilihan untuk menentukan pemegang bagian keuangan yang baru. Semua mengusulkan agar aku tetap menjabat tugas tersebut. Dengan setengah terpaksa, aku tetap menjadi bendahara.
Melalui organisasi itulah kenalanku bertambah. Tingkat keahlian tertinggi yang dapat dicapai di tempatku kuliah hanya sarjana muda. Karena memang bukan maksudku mengejar gelar, itu sudah mencukupi bagiku. Hanya aku masih memerlukan pengalaman kerja yang lain daripada jenis yang telah kuketahui. Maka pada hari-hari tertentu aku bekerja di sekolah laboratorium dan mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak pra-remaja. Honorariumnya sangat rendah. Tapi lumayan untuk tambah-tambah, di samping sebagai tabungan pengalaman kerja.
Dan dimulai waktu kelulusanku itu, aku memenuhi undangan orangtua Ganik. Mereka tinggal di kompleks dengan nama jalan kota-kota peristirahatan seperti Tawangmangu, Kopeng, Kaliurang. Tempatnya di dekat rumah sakit pusat, dan jalan mereka bernama Bandungan, ialah kota berudara sejuk tidak jauh dari Ungaran maupun Ambarawa. Keluarga Ganik mempunyai satu ruangan yang penuh buku dalam berbagai bahasa. Terutama bahasa Belanda, Inggris, Jerman, dan Prancis.
Dokter Liantoro menyuruh aku membaca cerita-cerita klasik yang ditulis oleh para pengarang dunia. Ayah Ganik itulah
139 meminjam majalah-majalah lama terbitan zaman pendudukan Jepang. Sebagai selingan, aku membaca ulang karangan-karangan pengarang Indonesia, baik yang sudah dibukukan maupun yang termuat dalam majalah-majalah yang dikumpulkan orangtua Ganik.
Kemudian kenalanku bertambah tidak hanya melewati perkumpulan. Dokter Liantoro sering menerima tamu bangsa asing. Tamu-tamu itu berkunjung ke Indonesia karena mengikuti kongres atau atas biaya sendiri. Selain rekan-rekan sekerja ayah Ganik, beberapa dari mereka sudah menjadi teman akrab keluarga itu. Tidak selalu mereka itu dokter. Ada yang profesor, wartawan, pegawai kedutaan atau diplomat. Beberapa kali aku bahkan diminta ayah temanku itu menemani tamu-tamunya mengunjungi tempattempat pariwisata. Pada waktu-waktu itulah aku berkesempatan mempraktekkan bahasa Inggris. Berangsur-angsur pengetahuanku yang serba teori menguat dengan percakapan dan tambahan kaidah-kaidah yang bahkan kebanyakan tidak ada di dalam buku.
Di antara tamu-tamu itu, seorang pejabat dari Kedutaan Belanda adalah kawan baik keluarga Ganik. Karena melihat bahwa aku akrab dengan orangtua Ganik, maka dia juga akhirnya sangat leluasa bergaul santai dengan aku. Pada waktu dia ke Jawa Tengah, istrinya memintaku untuk menemaninya ke pasar. Kalau kebetulan aku tidak bisa karena mempunyai kesibukan lain, ibukulah yang menggantikanku. Hubungan kami menjadi semakin dekat dengan cara demikian. Kata Dokter Liantoro, orang dari Kedutaan Belanda itu banyak sekali menolong memberangkatkan ahli-ahli Indonesia untuk melakukan riset di Perpustakaan Besar Leiden. Lalu ayah Ganik bertanya apakah aku tertarik untuk belajar di luar negeri. Tentu saja aku tertarik.
140 sih harus menunggui pertumbuhan anak-anakku.
Aku tidak membesar-besarkan tanggung jawabku karena seorang diri menjaga dan mengawasi tiga anak. Hingga saat itu aku tidak menemui kesulitan yang serius. Eko sampai pada umur remaja. Biasanya, bagi anak lelaki, diperlukan laki-laki dewasa, yang serumah atau akrab dengan keluarga, untuk dijadikan idola maupun teladan. Setelah adikku pergi, Winar menjadi semacam pegangan. Dia cukup luwes. Tidak jarang suami sahabatku itu menyempatkan diri membawa anakku menonton pertandingan sepakbola. Kalau ada ilm menarik untuk segala umur, kami dua keluarga menonton bersama-sama. Di waktu lain, hanya Winar berdua dengan Eko, pergi menikmati ilm untuk anak yang lebih besar.
Pada suatu kesempatan, Ganik pulang dengan membawa sepasang temannya bangsa asing. Dia menyewa kendaraan yang cukup besar sehingga kami sekeluarga dapat terbawa bertamasya. Sudah lama ibuku tidak bepergian dengan santai. Dia mudah terbujuk untuk menyertai kami ke luar kota. Anak-anakku demikian pula, kecuali Eko. Bagiku pribadi, tidak begitu penting anak sulungku pergi bersama kami. Tapi Ganik berkata bahwa sudah waktunya dia menyenang-nyenangkan kami sekeluarga. Eko sudah besar, setiap Minggu mempunyai rencana sendiri. Akhirnya Ganik dapat membujuknya untuk ikut kami dengan menyerahkan kameranya kepada anakku. Dia menjadi juru potret kami. Rupa-rupanya tugas itu cukup menggiurkan.
Kami berangkat pagi-pagi sekali supaya dapat sampai di Borobudur untuk berpiknik sarapan. Lebih dari satu setengah jam kami santai semaunya, berjalan-jalan atau mengelilingi candi yang megah itu. Dari sana kami langsung ke Klaten. Ibu dan
141 ke candi-candi di sekitarnya. Kami kembali lagi tepat untuk makan siang. Kebetulan mertuaku sedang mengadakan percobaan beternak belut. Disuguhkannya ikan itu sebagai lauk membikin percakapan mengasyikkan bagi tamu-tamu Ganik.
Setelah makan, kami mengantar tamu ke rumah teman Ganik di Yogyakarta. Ibu turut karena hendak berbelanja di Pasar Beringharjo. Anak-anak ditinggal di Klaten. Ketika akan kembali ke pesisir utara, kami lewat Sala menyalami Sri. Ibu mengambil dagangan untuk warungnya pula. Seharian penuh aku merasakan kepuasan yang telah lama tidak kunikmati. Sebagian besar disebabkan karena aku tahu bahwa anak-anakku dan ibuku juga bersenang-senang hari itu. Eko juga tampak mempunyai kenangan bagus hari itu. Untuk beberapa hari berikutnya, dia menyebut-nyebut peristiwa yang terjadi ketika kami pergi ke Borobudur , kata Bu Ganik , atau Bu Ganik menganjurkan supaya ... dan seterusnya.
Periode kenaikan kelas dan ujian menyusul. Kami guru dan dosen semakin sibuk, karena pengawasan ujian dan pemeriksaan kertas juga harus kami laksanakan di samping meneruskan tugas mengajar. Bersamaan waktu itulah ayahnya Ganik memberitahukan, bahwa namaku ditunjuk sebagai calon yang akan diikutkan test di Kedutaan Belanda. Kata Dokter Liantoro, institut tempatku dulu kuliah dikirimi surat pemberitahuan yang juga berupa undangan. Kedutaan Belanda memberi jatah tiga beasiswa kepada guru-guru sekolah percobaan untuk melanjutkan kuliah di beberapa tempat di negeri itu. Satu nama sudah ditunjuk, ialah aku. Dua lagi, Kepala Institut dipersilakan memilih sesuai dengan prestasi calon pengikut. Biaya perjalanan ke Jakarta akan diganti,
142 ditunjuk. Lama aku menunggu panggilan atau pemberitahuan dari Institut mengenai undangan itu. Tak satu surat pun kuterima. Dan tak seorang rekan pun membicarakannya. Beberapa hari sekali, aku menyempatkan singgah ke Bagian Administrasi dan cobacoba bertanya kalau-kalau ada berita baru. Mereka hanya bilang semua biasa saja . Bahkan dua kali aku bertemu sendiri dengan dekanku dulu, tapi dia hanya berkabar berbasa-basi. Ayah Ganik turut penasaran. Dia menelepon temannya di Kedutaan Belanda. Jawabannya: sudah ada tanda terima. Berarti surat tercatat sudah diambil. Pasti Rektor dan Dekan Fakultas sudah mengetahui maksud baik kedutaan asing itu.
Aku baru tanggap. Naluriku sebagai wanita yang telah banyak menerima sindiran, hinaan, dan bisik-bisik di balik punggung, kini mendorongku pada satu praduga yang nalar: tentu ada penjegalan. Kerugianku yang segera nyata ialah sementara itu waktu bergerak cepat. Batasan yang diberikan untuk datang mengikuti test akan segera habis. Barangkali mereka memang berharap supaya aku terjebak. Tidak bisa berangkat ke luar negeri karena terlambat atau tidak turut test itu. Dan dua calon beasiswa pun dikorbankan.
Ada dua jalan yang bisa kutempuh, kata ayah Ganik. Aku nekat, berangkat mengikuti test. Kalau lulus, dapat ke luar negeri atas dasar diundang secara perorangan. Aku sebagai guru yang berdiri sendiri. Jalan satunya ialah terang-terangan aku bertanya kepada Rektor atau kepala bagianku dulu. Baik yang pertama maupun yang kedua tidak kusukai. Kalau aku nekat jalan sendiri, kelak jika pulang lagi, aku tidak yakin akan masih diterima bekerja di sekolah percobaan itu. Risikonya besar, karena aku akan
143 sih sangat rapuh. Kata ayah Ganik, aku perlu menjadi pegawai negeri guna mengukuhkan situasiku yang goyah karena aku istri orang yang terlibat. Seumpama aku sudah bercerai, masalahnya lain. Aku bisa nekat pergi. Sewaktu kembali lagi, akan mudah mencari pekerjaan lain meskipun harus bersabar sedikit. Kalau mempunyai modal, bahkan barangkali bisa mendirikan Taman Kanak-Kanak di mana muridnya diberi pelajaran berbahasa Inggris. Wawasan jangka panjang yang menantang ini sangat mempesona. Tapi kenyataannya aku belum bercerai. Dokter Liantoro tidak mendesakku. Namun, katanya, pada suatu ketika aku harus sampai pada titik penentuan yang tegas. Karena mau atau tidak, karier dan kehidupanku bisa jalan bersama hanya jika aku lepas dari masa lalu yang sangat mengekang dengan nama Widodo.
Rupa-rupanya terjadi perdebatan tersekap di lingkungan pengarah administrasi institut almamaterku. Mereka mempertanyakan mengapa aku yang ditunjuk dengan kepastian harus berangkat sekolah ke luar negeri. Aku tidak pernah berjasa sesuatu pun. Siapa pejabat di Jakarta yang demikian memperhatikan nasibku, istri orang terlibat" Apakah akan bisa berangkat biarpun ditunjuk oleh kedutaan asing" Pendek kata, aku dipergunjingkan.
Untuk kesekian kalinya aku dihadapkan pada kenyataan betapa ruginya menjadi istri Mas Wid. Untuk kesekian kalinya aku diingatkan betapa tidak bertanggung jawabnya dia sebagai kepala keluarga. Karena dengan kepergianku bersekolah lagi ke luar negeri, kepulanganku akan berarti meningkatnya kepandaianku. Tidak mungkin itu tidak berupa kertas tambahan yang bakal menaikkan tingkatan yang menentukan gaji seseorang. Tambahan gaji merupakan peningkatan kesejahteraan anak-anakku, yang juga
144 mendekatnya batasan waktu test, dendamku bagaikan tergosok semakin meruncing.
*** Dimulai saat aku tahu bahwa dia ditahan dan karena apa, aku tidak lagi mempunyai rasa kelembutan terhadapnya. Hubungan yang tetap lestari dari pihakku lebih didasari oleh kewajiban atau setia kawan. Itu pun yang sebenarnya dipaksakan karena kehadiran Eko, Widowati, dan Seto.
Di sekitar, aku menyaksikan seorang demi seorang para istri tahanan yang minta cerai. Atau yang tetap mengirim te tapi sudah bergaul atau hidup bersama dengan pria lain. Enam tahun perpisahan bagiku bukan kesunyian. Tak setitik pun rasa rindu atau rasa kehilangan. Kebalikannya, justru hidupku bersendiri lebih santai dan mapan. Tentu saja semua itu berkat kehadiran ibuku. Dia juga menolongku mengingatkan anak-anakku supaya menyurat kepada bapak mereka. Lebih-lebih Eko. Sedikit demi sedikit aku memindahkan kewajibanku dalam kirim-mengirim. Eko harus memberitakan perkembangan paling akhir di rumah. Mengenai sekolahnya dan sekolah adik-adiknya. Terhadap Mas Wid aku tidak merasakan kedekatan yang melebihi keakraban seorang kenalan, atau barangkali rekanan, sama-sama mengusahakan yang baik-baik bagi anak-anak kami. Hanya pada waktu itu, akulah yang mencari makan; di samping menerima bantuan dari Irawan dan mertuaku sejak beberapa waktu belakangan itu.
Aku heran melihat istri-istri tahanan lain. Mereka tampak tetap setia, penuh cinta jika membicarakan suami mereka. Mungkin mereka memang pernah hidup bahagia bersama suami-suami itu.
145 hadap keluarga demi pengabdian terhadap partai pun bisa dimaafkan. Bagiku sendiri, suamiku telah berkhianat kepadaku, anakanakku, bahkan orangtuaku yang dulu menerima lamarannya. Masalah kelakuannya yang bagaimana terhadap negara, itu soal lain lagi. Pokoknya, sementara itu, korban terdekat dan langsung adalah keluarganya.
Setelah membaca puluhan karya dunia, aku mendapat kesimpulan bahwa pembibitan kader Partai Komunis memang demikian: orang harus mengutamakan idealisme daripada keluarganya sendiri. Menurut cerita Mas Gun, bekas anak buah bapak kami, tanda tangan suamiku tertera dalam persetujuan pembantaian keluarga-keluarga tertentu yang tinggal di daerahdaerah pemukiman tertentu. Daerah tempat tinggal ibuku termasuk dalam daftar tersebut. Memang itu tergolong pemukiman priyayi. Meskipun yang sesungguhnya zaman telah berubah, dan penghuni di sana tidak lagi merupakan kekuatan feodal yang bisa meruntuhkan sesuatu sistem pemerintahan. Penduduknya sudah tua, kebanyakan janda. Anak-anak mereka tersebar bekerja atau bersekolah di kota-kota lain. Aku tidak akan heran jika ibuku termasuk dalam daftar yang harus dibantai. Dia janda polisi bekas pejuang. Yang ingin kuketahui ialah apakah aku sebagai anak ibuku juga tercantum dalam daftar calon korban" Mas Gun tidak pernah memenuhi rasa ingin tahuku itu dengan jawaban yang jelas. Kelas atau golongan tengah dan atas, orang yang dianggap tidak bisa ditatar guna membangun masyarakat baru memang harus dimusnahkan, begitu menurut bacaanku mengenai pembentukan kader partai yang membahayakan itu.
Dalam perbincangan serius maupun santai, ibuku sering menyinggung kemungkinan-kemungkinan perceraian antara Mas
146 keberatan dan akan membantuku melancarkan prosesnya. Saudara Winar yang pejabat penting juga pernah mengatakan hal itu.
Seandainya aku hanya memikirkan diri sendiri, tentulah aku tidak menunggu hingga enam tahun. Pertimbangan-pertimbangan yang memberatkan keputusanku ialah anak-anakku. Paling penting, Seto belum mengenal bapaknya karena dia baru berumur dua tahun ketika Mas Wid masuk tahanan. Bercerai berarti aku menjadi janda betul-betul. Menjadi janda barangkali lebih memudahkan aku sebagai seorang warga negara. Tetapi sebagai seorang wanita" Kedudukan sebagai istri tahanan politik sekurangkurangnya membikin aku aman dari keisengan rekan-rekan atau para lelaki yang kujumpai di bidangku. Meskipun tentu saja ada yang mencibirkan bibir dengan ucapan perempuan bekasnya orang komunis!
Seandainya aku menjadi janda karena bercerai, belum tentu aku akan menemukan ketenangan dan kesantaian. Lagi pula, buat apa bercerai padahal aku tidak bermaksud kawin lagi. Aku tidak mempunyai calon atau pasangan dengan siapa aku ingin hidup bersama maupun bercumbuan meskipun tanpa menikah. Kawin lagi atau tidak, aku tidak ingin terjerat kembali oleh keharusankeharusan yang disemukan di balik perkataan kewajiban maupun kodrat: istri harus begini, istri harus begitu. Aku terlanjur khawatir jatuh lagi ke tangan lelaki serba slintutan yang tidak terus terang seperti Mas Wid, dan yang hanya memperhatikan aku sebagai alat pemuas nafsunya di tempat tidur. Kesimpulannya, perceraian tidak terpikirkan olehku sebagai kenyataan yang akan membawa lebih banyak kebaikan padaku daripada keadaanku waktu itu. Aku juga sering menerima pujian sebagai istri yang setia
147 punya kekasih. Orang tidak memperhatikan, bahwa jarang sekali aku menyebut atau bercerita mengenai suamiku. Aku hanya menjawab jika orang bertanya. Misalnya pertanyaan: Bagaimana kabar Mas Wid" Jawabku: Menurut surat yang diterima anak-anak, katanya baik-baik. Tidak pernah aku secara suka rela berkepanjangan membicarakan dia. Bahkan di kalangan keluargaku sendiri pun demikian. Bagiku, Mas Wid sudah keluar dari hidupku. Orang-orang yang bukan lingkungan dekatku kurang memperhatikan, bahwa pergaulanku cukup luas dan tidak tertutup melulu di satu bidang. Aku jarang diketahui tidak menutup diri terhadap kesempatan-kesempatan bersenang-senang.
Suatu ketika, keluargaku menonton ilm bersama keluarga Siswi. Secara kebetulan di gedung bioskop bertemu dengan rekanku. Itu merupakan berita penting. Di hari-hari berikutnya aku disapa dengan nada keheranan oleh rekan-rekan lain. Nyata mereka tidak mengira bahwa aku juga mempunyai minat untuk menonton, untuk bepergian. Tentu saja hal itu tidak kulakukan terlalu sering. Aku membatasi diri terutama oleh penghematan. Bukan karena aku hendak mengurung diri maupun menjauhi kesenangan. Pesta-pesta perkawinan, ulang tahun atau selamatan lain pun tidak jarang kuhadiri. Tetapi adakalanya kuhindari. Waktu yang habis untuk berkondangan dan uang buat membeli hadiah sangat kuperhitungkan. Jika hubunganku dekat dengan si pengundang, hadiah bisa berupa makanan yang kumasak sendiri. Hadiah antara rekan lebih praktis karena dapat dibeli secara patungan beberapa orang. Kalau pesta terjadi di luar kota, aku biasa hanya mengirim telegram atau kartu ucapan selamat.
Sejak masa kesulitanku karena kepelitan suami, aku sudah belajar untuk tidak mengacuhkan basa-basi dalam hal hadiah.
148 sekecil apa pun, dapat melestarikan hubungan. Kami dibiasakan saling memberi hadiah kecil-kecil tetapi yang diharapkan berguna atau disukai oleh yang menerima. Kebiasaanku dalam hal ini luntur karena perkawinanku.
Ayah kami pernah berkata bahwa memberikan sesuatu kepada seseorang mempunyai arti beragam. Si pemberi bisa menganggap dirinya lebih tinggi dari yang diberi. Bisa juga karena si pemberi hendak mencari muka, ingin disukai, ingin mendapatkan nama di pandangan si penerima atau lingkungan kedua orang yang bersangkutan. Yang paling terpuji bagi orangtua kami ialah jika pemberian didorong oleh keinginan membagi apa yang dimiliki. Yang didasari oleh keinginan menolong tanpa pamrih, yang dilandasi oleh kasih dan cinta. Semakin aku bertambah umur, aku semakin menyatakan bahwa ayahku memang benar.
Untuk menyenangkan anak-anakku, Ibu, sahabat-sahabatku, dan lingkungan mereka, aku harus memutar otak dalam membelanjakan uangku yang sedikit dan pas-pasan. Tapi jika aku mengeluarkan uang untuk memberi mereka hadiah, hatiku diselinapi rasa bahagia karena yakin akan membahagiakan, akan membikin senang orang-orang yang kukasihi. Ini tidak lagi kurasakan jika aku menyiapkan kiriman buat suamiku. Masa bodoh dan seperlunya saja yang mengarahkan gerakanku. Sebab itulah tugas itu kupasrahkan kepada anak sulungku.
*** Desas-desus dan omongan menggugat di belakang punggungku mengenai penunjukan namaku oleh kedutaan asing untuk mengikuti test di Ibukota dapat kuabaikan. Perasaanku telah terasah
149 suamiku terlibat. Pendengaranku sudah kebal. Aku tidak merasa bersalah, jadi tidak perlu mempedulikan mereka yang iri hati ataupun tidak tahu-menahu duduk perkaranya. Tapi jika rasa iri atau tidak tahu-menahu duduk perkaranya itu menyebabkan aku kehilangan kesempatan ke luar negeri kali itu, alangkah rugiku. Pikiran ini membikinku panik.
Kusampaikan praduga dan kecemasanku kepada ayahnya Ganik dan kepada Winar. Dokter Liantoro memutuskan akan menemui Rektor sendiri. Aku semakin kagum. Orang tua yang sigap dan baik hati, dokter ternama dengan jadwal padat untuk seminar, pertemuan, operasi, mengajar, namun masih sempat menyisihkan waktu untuk mengurusi teman anaknya.
Entah apa yang dia katakan kepada pimpinan Institut, aku segera menerima panggilan. Dua hari kemudian aku berangkat ke Jakarta bersama dua orang yang ditunjuk, seorang lelaki dan seorang wanita. Aku belum pernah bekerja sama dengan mereka. Di Kedutaan Belanda kami diterima teman baik ayah Ganik yang telah kukenal dengan baik pula. Secara bergilir rekan-rekanku diwawancara, sementara aku disuruh tenang-tenang melihat isi perpustakaan. Test kesehatan lebih rumit dan lama.
Selama tiga hari kami mendapat pinjaman kendaraan dan sopir dari teman Dokter Liantoro. Kami bisa melancong, mengunjungi tempat-tempat yang patut dikenal. Waktu itu yang menjadi gubernur ialah Ali Sadikin, lebih tersohor dengan panggilan Bang Ali. Ibukota asri, tampak memiliki tatakota yang nyaman dipandang karena kebersihannya. Air sungai-sungai buatan yang berjuluran di tengah kota mengalir lancar. Lebih bersih dari yang ada di kota kami. Waktu itu Taman Ismail Marzuki baru selesai dibangun. Kami termasuk orang luar kota yang beruntung bisa
150 Hari ketiga kami mendapat informasi bahwa kami dianggap pantas diberangkatkan ke Negeri Belanda di musim semi mendatang.
Berita tersebut kurahasiakan terhadap Ibu dan anak-anakku. Aku belum yakin akan memenuhi persyaratan, akan bisa lolos dan mendapat izin dari pihak yang berwenang. Surat tanggungan dan undangan dari Kedutaan Belanda kusimpan rapi dalam berkas yang berisi kertas-kertas penting lain. Ka1au Ibu dan anak-anak tahu bahwa aku menerima undangan, tetapi pada akhirnya tidak bisa berangkat karena tidak diperbolehkan mendapat paspor, tentu mereka akan kecewa. Sebab itulah mereka hanya akan kuberitahu jika waktu keberangkatanku sudah dekat, dan jika paspor sudah betul-betul berada di tanganku.
Sepulangku dari test di Jakarta, ada kejutan yang menungguku. Ibu menyampaikan bahwa rombongan keluarga tahanan akan berangkat ke Nusakambangan. Ka1au aku hendak turut, harus mendaftarkan nama dan jumlah anggota keluarga. Reaksi pertamaku ialah tidak ada gunanya aku pergi. Gajiku yang sedikit harus kuhemat sebagai tabungan persiapan keberangkatanku ke luar negeri. Meskipun kami akan diberi uang saku, tetapi aku harus menyediakan sejumlah sebisaku untuk membeli barang-barang kerajinan tangan asli Indonesia. Setiap kali Ganik pulang, aku melihat dia memborong benda-benda tersebut untuk simpanan hadiah di tempatnya bertugas. Dia mengatakan, bahwa selendang atau taplak meja yang sederhana sangat berguna dan menyebabkan si penerima bersenang hati. Pada kesempatan dia diundang makan, tidak perlu dia membeli bunga atau hadiah lain, karena selembar taplak meja atau sawal bantal kursi yang dibungkus rapi pasti akan membahagiakan si nyonya rumah yang telah berjerih payah memasak. Contoh ini bisa kutiru. Kalau belum-belum aku
151 nya untuk menengok suami yang sudah tidak lagi berarti bagiku, kapan aku akan memulai menabung"!
Kali itu, untuk kesekian kalinya, ibuku turut campur. Katanya, baiklah Eko yang menjenguk ayahnya. Ini adalah kesempatan yang harus dimanfaatkan. Siapa tahu akan lama lagi mereka bisa berjumpa. Kalau berangkat sendiri ke Nusakambangan, tentu biayanya jauh lebih besar. Dan karena Eko akan pergi menengok ayahnya, Widowati ingin turut pula. Setelah dirundingkan, sesungguhnya Seto-lah yang paling ingin bertemu dengan bapak mereka. Tetapi aku tidak bisa melepasnya tiga bersama-sama. Setelah kami membujuk dan memberi pengertian, diputuskan bahwa Eko dan Wido yang berangkat.
Sisa perhiasan ibuku yang hingga saat itu masih selamat, dia korbankan agar cucu-cucunya bertemu dengan ayah mereka. Kebetulan Sri berada di kota kami. Perhiasan kenang-kenangan dari almarhum Bapak itu kami jual kepada sahabatku. Kelak jika kami mempunyai cukup uang, akan bisa kami tebus. Itu berupa peniti kebaya bermata mirah delima. Bapak memberikannya kepada Ibu ketika aku lahir. Sebab itulah ibuku tetap mempertahankannya tidak dijual. Keberangkatan anak-anakku tidak mungkin dengan tangan kosong. Surat Mas Wid selalu berisi daftar benda yang dia butuhkan. Ibu tidak tega menolak permintaan menantunya. Katanya, demi anak-anak.
Kiriman kepada Mas Wid diatur oleh Eko. Kalau Ibu tidak membelikan benda yang diminta, artinya Ibu berurusan dengan Eko juga. Aku bosan mendengar alasan semacam itu. Sebab itulah aku tidak mau lagi menyaksikan kesibukan anakku dalam mengatur kiriman atau surat. Namun adakalanya debat berkepanjangan antara Eko dan ibuku mengenai permintaan yang
152 harus turun suara. Aku yang harus menjadi wasit, memutuskan apakah benda itu memang harus dibeli atau tidak. Kebanyakan kali, karena memang uang sukar buat kami, permintaan suamiku yang aneh-aneh seperti alat cukur listrik, kucoret saja. Kepada Eko kujelaskan bahwa kami harus bersikap tegas. Sedari dulu hanya neneknya yang dermawan mengirim. Jangan hendaknya kedermawanan itu dimanfaatkan menjadi keterlaluan. Perhiasan ibuku habis untuk membiayai mereka menengok ayahnya. Itu sudah bagus sekali, dan ibuku rela. Kalau memang Eko ingin berangkat, harus puas membawa kiriman semampu yang membelikan.
Rombongan terdiri dari orang-orang yang aku kenal. Ibu dan aku membikin sedemikian rupa sehingga anak-anakku mempunyai bekal makan, minum, obat-obatan, dan pakaian ganti. Mereka juga kami beri bantal supaya bisa bersandar dengan enak. Sebelum berangkat, kuulangi ajaranku mengenai kemandirian. Aku tidak ingin anak-anakku terlalu menggantungkan diri kepada orang lain.
Prakarsa ibuku mengirim anak-anak menengok bapaknya ternyata ada kebaikannya. Walaupun sepulang dari perjalanan itu Wido sakit sehingga beberapa hari tidak masuk sekolah, tetapi setelah sembuh, dengan lebih suka rela dia mau membantu kakaknya menulis surat atau mengemasi kiriman untuk ayahnya. Sebaliknya, Eko menjadi pendiam.
Tahun itu anak sulungku masuk SMA kelas satu bagian pasti dan alam. Sudah kukatakan bahwa hingga saat itu, kami tidak menemukan kesukaran yang serius dalam mengawasi pertumbuhannya. Hubunganku dengan dia kubikin santai namun berbatas kedisiplinan: kamar harus dirapikan, waktu belajar yang teratur dan keharusan berada di rumah di waktu makan malam.
153 keseluruhannya, aku tidak mempunyai keluhan mengenai sikap dan kelakuannya.
Menuruti naluri keibuan yang ditunjang oleh pengalaman di dunia pendidikan, aku tahu mengukur kekenduran atau keketatan tali kendali yang ada di tanganku. Tetapi sejak pertemuannya dengan bapaknya, aku merasa bahwa jiwa Eko goyah. Aku berusaha mencari sebabnya. Kutanyakan kepada adiknya apa saja yang mereka bicarakan, siapa-siapa yang mereka jumpai, apa yang mereka lihat, apa yang dikerjakan selama perjalanan maupun ketika berada di sana.
Ibuku khawatir kalau-kalau bapak mereka atau orang lain mengatakan atau menceritakan sesuatu. Barangkali Eko meragukan fakta yang selama ini dipercayainya sebagai pegangan kebenaran. Aku tidak akan pernah bisa mempercayai orang-orang partai seperti itu, kata ibuku. Dan dia memang benar. Ditambahkan, bahwa berapa tahun pun mereka disekap, kelihatan dari luar sudah berubah, menjadi alim dengan memasuki agama apa pun, tetapi dalamnya tetap berulat. Mereka itu sembahyang, pergi ke gereja, ramah tamah, kelihatan mengalir bersama arus, tapi ya tetap komunis. Kata ibuku, mereka paling pintar berselubung. Menyelundup ke bagian-bagian yang paling tidak dicurigai. Itulah pendapat ibuku yang telah kehilangan paman dan beberapa saudara di zaman peristiwa Madiun. Meskipun pemikiran itu banyak didasari rasa dendam, tetapi banyak pula kebenarannya.
Dan sejak Eko berubah, mau atau tidak, kecurigaan kami muncul dengan sendirinya. Aku mempergunakan kesempatan itu untuk menyesali ibuku mengapa selalu memanjakan suamiku dengan mengirim hampir semua permintaannya. Orang seperti itu tidak bisa diberi hati. Di Jawa ada peribahasa sudah diberi hati
154 kebaikan, semakin kurang ajar. Karena ibuku selalu mengambil dalih kasihan kepada anak-anak, maka dianggapnya semua kelakuan yang mengiyakan menantunya itu bisa dibenarkan, dihalalkan. Kuminta agar ibuku bisa membatasi diri. Kiriman terakhir yang dibawa Eko dan Wido memang tidak lengkap memenuhi keinginan Mas Wid, tetapi Ibu masih selalu berusaha mengganti benda yang tidak ada dengan benda lain. Pengeluaran uang dan tenaga atau waktu buat membelikannya sama saja. Ini tidak dipikirkan orang yang berada di dalam penjara.
Perubahan Eko mencemaskan hatiku. Hal ini kusampaikan kepada Winar. Dia sudah mengetahui rencanaku pergi ke luar negeri. Aku tidak akan tenang meninggalkan rumah dalam keadaan yang tidak normal. Winar membujukku untuk tidak terlalu berprasangka. Eko sedang tumbuh. Tahun itu umurnya akan mencapai enam belas tahun. Mungkin itulah yang membikin dia murung. Kuserahkan tugas untuk mengorek dan mengetahui isi hati anakku. Bulan itu Winar harus ke Yogyakarta, keperluan dinas. Karena ada hari Sabtu libur, akan digabung dengan Minggu. Dia akan mengajak Eko. Siapa tahu hal ini akan membawa kebaikan bagi anak sulungku.
Keputusan Kedutaan Belanda sudah kami terima. Rekanrekanku akan berangkat lebih dulu, menggabung dengan rombongan yang telah menunggu sejak setahun, berasal dari luar pulau dan Ibukota. Aku akan dimasukkan ke kelompok Jawa Barat dan Bali. Bersamaku akan berangkat tujuh guru lain. Kalau harus meninggalkan keluarga dalam suasana yang tidak mantap, aku tidak akan tenang di negeri orang. Itu bukan perjalanan bersenang-senang.
Kami memang tidak diwajibkan membikin kertas kerja se155 rut Dokter Liantoro, sebaiknya meninggalkan kesan yang menarik. Caranya ialah harus berangkat dengan catatan-catatan pengalaman mengajar selama ini, diteruskan di sana, lalu kedua jenis penemuan dirangkum menjadi sebuah kesimpulan. Tidak perlu terlalu panjang. Seolah-olah hanya berupa laporan. Meskipun aku tidak bisa berbahasa Belanda, kertas itu dapat kutulis dalam bahasa Inggris. Dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan di sana, aku bisa menjadikan catatanku sebagai pegangan. Dengan pengarahan ayah Ganik itu, aku menyiapkan tulisanku. Bapak sahabatku antusias membaca halaman-halaman yang sudah kutulis.
Keberangkatanku ke luar negeri mendekat. Untuk mengurus paspor, diperlukan antara lain surat berkelakuan baik. Aku ke kantor polisi. Dalam berkas sudah terselip kartu tanggungan dari saudara Winar yang berkedudukan penting di Jakarta. Tetapi itu akan kuberikan jika surat-surat dari Kedutaan Belanda tidak mencukupi. Saudara Winar yang di Jakarta itu sudah banyak membantuku dalam urusan perizinan dan berbagai surat keputusan Kementerian tempatku bekerja. Administrasi negara ditangani oleh terlalu banyak bagian dan orang, sehingga kadangkadang perlu dikejutkan dengan dobrakan. Ternyata dari kantor polisi aku tidak mendapatkan kesukaran. Barangkali Mas Gun sudah memberikan instruksinya. Aku segera menerima surat yang kuperlukan tanpa ejekan atau kata-kata menyakitkan hati. Aku merasa lega. Sudah bisa kupastikan bahwa paspor akan mudah kudapatkan pula.
Berita lain menyusul: suamiku akan dipindahkan ke Pulau Buru. Walaupun tidak menyebabkan aku menjadi lebih sedih atau bingung, ini adalah suatu kejadian penting bagi keluargaku.
156 lebih-lebih kepada Eko dan Widowati, bahwa cobaan bapak mereka belum selesai. Bahwa Tuhan masih mengharuskan ayah mereka meneruskan bertapa. Kukatakan pula bahwa di pulau sana, para tahanan mungkin akan lebih leluasa bergerak. Barangkali mereka lebih diberi kesempatan mengerjakan kegiatan di udara terbuka. Itu lebih sehat dan baik untuk jiwa manusia.
Tetapi bersama Ibu, aku semakin mengerti betapa besar keterlibatan suamiku dalam perkaranya dengan negara. Dan mengenai waktu kebebasannya, tidak perlu anak-anak dibiarkan bermimpi sehingga berharap. Aku semakin mengkhawatirkan keadaan Eko. Atas dasar itulah aku berpendapat, barangkali guna mengimbangi kabar buruk itu, aku memberitahukan kepergianku ke luar negeri kepada anak-anakku. Dengan demikian, aku berharap bisa membelokkan perhatian mereka. Sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, aku membicarakan bahwa ada kemungkinan kami guruguru sekolah percobaan akan dikirim ke Negeri Belanda. Kalau aku lulus test, mungkin aku akan terpilih.
Wido dan Seto menunjukkan reaksi yang lebih langsung daripada Eko. Anakku perempuan mengatakan mudah-mudahan aku terpilih. Seto hanya memikirkan dirinya; katanya kalau aku ke luar negeri dia minta dibelikan permainan blok untuk bikin macam-macam bentuk maket seperti kepunyaan kawannya. Eko tidak memperlihatkan pendapatnya. Aku harus bertanya, barulah dia ganti menanyakan berapa lama aku akan pergi seandainya jadi berangkat. Kujelaskan semua yang kuketahui. Ada dua macam tambahan kuliah. Tiga bulan dan enam bulan. Aku harus bersepakat dengan institut almamaterku dulu mengenai mana yang akan kupilih. Lalu aku bertanya dia ingin oleh-oleh apa dari sana. Katanya sudah lama dia ingin jaket yang bagus. Tambahnya lagi,
157 membelikan. Dulu Eko sudah ditanya. Lalu, dia mengatakan lagi, kalau aku pergi, lebih baik ambil kuliah yang enam bulan. Sayang kalau hanya mengambil yang singkat. Jauh-jauh, tanggung kalau hanya belajar tiga bulan. Pengetahuannya pasti kurang mantap dari yang enam bulan.
Aku agak terkejut mendengar pendapat anak sulungku itu. Dalam sikap dan kelakuannya yang mencurigakan, rupa-rupanya dia juga memiliki kematangan. Tanpa kusembunyikan, aku menyatakan kegembiraanku karena dia mempunyai pikiran yang sama dengan aku. Kalau Ibu pergi, kataku kepadanya, apakah Eko tahu dan bisa bertanggung jawab di rumah" Dia bilang bisa. Kalau memang semuanya baik-baik di rumah, kelak kalau aku pulang, barangkali akan dapat menambah oleh-oleh untuk Eko. Apa lagi yang diinginkannya" Dia menjawab dengan suara yang sama tegasnya: mikroskop mini. Permintaan itu pun cukup mengejutkan. Meskipun mini, mikroskop yang sungguh-sungguh tentu mahal. Kutanyakan apakah ada dan berapa harganya kirakira. Eko mengatakan bahwa dia melihat benda itu di rumah temannya, oleh-oleh dari ayahnya yang pergi ke Jepang. Bagus sekali. Bisa digunakan untuk mengamati bakteri dalam setitik air.
Aku terdiam, kuamati anak sulungku yang berangkat dewasa. Apakah dia ingin menekuni bidang biologi" Kalimat yang tidak kuucapkan itu segera mendapatkan jawaban. Dia berkata ingin menjadi dokter dulu, kemudian menjadi peneliti, bekerja di bidang riset. Hanya, dia tidak yakin apakah akan ada biaya buat meneruskan sekolah. Aku menanggapinya secara langsung. Soal biaya tidak seharusnya dia pikirkan sekarang. Cita-citanya bagus. Sampai saat itu sekolahnya stabil, nilainya cukup tangguh. Biaya bisa dicari. Itu nanti, kelak dipikirkan. Yang perlu, sekarang
158 pamannya, adikku yang hanya dua tahun duduk di SMA. Sekarang dia sudah menjadi dokter. Beasiswa bisa diusahakan. Kalau tidak dari negara, mungkin dari yayasan-yayasan. Kalau memang Eko bertekad kuat, aku juga akan mencarikan terobosan lain kelak.
Percakapan bersama keluarga mengenai kepergianku malahan memberi pandangan gamblang padaku. Anakku sulung menyingkapkan isi hatinya. Kubicarakan penemuanku itu kepada Winar. Kesimpulan kami sama. Eko mulai khawatir. Mungkin di Nusakambangan dia melihat kenyataan yang mencolok: keadaan bapaknya. Di situ barangkali anakku sadar bahwa dia benarbenar tidak dapat menggantungkan diri pada ayahnya. Semula, selagi jauh, dengan hanya menulis surat, membaca surat dan pengarahan bapaknya, Eko masih menyimpan gambaran lain. Harapan terhadap bapak sebagai pelindung masih ada. Kenyataan lain yang sejak dulu dilihat, bahwa neneknyalah yang membayari dan mencukupi keperluan si bapak, tidak juga dia terima sebagai hal yang akan berkesinambungan. Ataukah dia menutup mata" Jadi Eko masih berharap. Dia tidak percaya bahwa ayahnya adalah orang yang tidak berdaya.
Bersama Winar aku mempunyai perkiraan tersebut. Meskipun hanya merupakan dugaan, tapi aku senang karena bisa agak jelas melihat dasar masalahnya. Mungkin dugaan kami meleset. Namun tidak ada jeleknya jika dari segi kepercayaan terhadap masa depan yang cerah bagi kelanjutan studinya itulah aku akan mengukuhkan kekuatan jiwa anakku. Namun mempunyai teori untuk mengembalikan suasana seperti semula, tidak membikin Eko segera serba terbuka. Dia tetap pendiam, lebih suka mengurung diri. Radio pemberian kakeknya di Klaten tetap bersuara sehari-hari.
159 paksa makan sendiri-sendiri. Tapi petang hari, aku berusaha mengumpulkan ketiga anakku untuk duduk makan bersama. Eko semakin sulit diatur. Dia berangkat keluar justru jam enam, belum pulang ketika kami makan jam tujuh. Hal itu terjadi beberapa kali. Kalau hanya sekali, barangkali bisa dimengerti. Dia kutegur, namun tidak ada perubahan. Aku mulai kehilangan kesabaran. Ibu membelanya. Eko tidak berbuat kesalahan besar, mengapa orangtua harus berkeras kepala ingin memperlihatkan wibawanya"
Bagiku sendiri, hanya sedikit waktu yang kunikmati buat bersama dengan anak-anakku. Setelah makan malam, empat kali seminggu aku belajar bahasa Belanda pada ibunya Ganik. Aku curiga, Eko memang menantangku. Dia sengaja menyalahi aturan yang sudah kugariskan. Meskipun sesungguhnya itu bukan aturan. Aku hanya meminta pengertiannya bahwa aku ingin bersama anak-anakku lengkap selama setengah jam dalam sehari. Kalau Eko bisa menuruti keinginanku tiga kali seminggu saja, aku tidak akan merasa diremehkan, karena selama bersama setengah jam sehari itu aku dapat mendengarkan apa pikiran mereka, bagaimana keadaan sekolah mereka. Kalau dipikir secara lebih mendalam, ibuku benar. Eko tidak berbuat sesuatu yang menyalahi hukum. Barangkali harga diriku sebagai orangtua yang tersinggung, karena aku merasa digampangkan. Aku sadar bahwa semakin orangtua terlalu cerewet, anak-anak semakin jenuh. Pada akhirnya mereka tidak mau lagi memperhatikan apa yang kami inginkan dari mereka. Mungkin Eko merasa sudah besar, namun sekaligus belum mampu bertindak penuh seperti orang dewasa.
Aku memutuskan untuk mengalah sedikit. Kasus-kasus kenakalan remaja yang melibatkan ganja dan minuman keras
160 terlarang yang disalahgunakan oleh para siswa semakin menonjol menjadi bahan berita koran daerah kami. Hingga waktu itu, Eko bukan anak yang sukar. Aku harus dapat mengendalikan perasaanku sebagai orangtua. Kalau aku salah langkah, Eko akan mudah terpengaruh oleh pergaulannya dengan anak-anak muda yang lemah itu.
*** Sementara itu, di akhir tahun ajaran, anak-anakku naik kelas dengan angka yang lumayan. Di waktu liburan, untuk pertama kalinya, mereka akan dibawa lama oleh pamanku, adik Ibu di Purworejo. Kemudian pada hari yang telah ditentukan, aku diantar Winar menjemput mereka. Kami tidak pulang ke Semarang, melainkan ke Klaten. Aku bermalam semalam, sedangkan Winar ke Yogyakarta. Keesokannya dia menjemputku, anak-anak kami tinggal di Klaten. Sepuluh hari sesudah itu, aku naik bis ke Sala dan tinggal bersama keluarga Sri. Dua hari kemudian, Sri mengantar aku menjemput anak-anakku ke Klaten; dan bersama-sama kami menuju ke kota kami di pesisir utara.
Mendengar dan melihat kelakuan mereka, liburan panjang pertama yang dihabiskan di luar rumah kami itu memberikan kenangan tersendiri bagi anak-anakku. Selama liburan itu kubiarkan Eko mengurus adik-adiknya dan berkomunikasi sendiri dengan pihak sesepuh. Hampir semua saudara tahu waktu itu bahwa aku harus ngebut belajar bahasa Belanda guna kuliah tambahan di negeri itu. Menurut anak-anakku, baik keluarga di Purworejo maupun Klaten, semua bangga karena kepergianku disebabkan dipilih oleh kedutaan. Keluarga ibuku turut bergantian mengundang dan
161 menghindari ibuku karena punya menantu yang terlibat.
Ya, aku tidak menyembunyikan lagi perihal kepergianku ke luar negeri. Aku sudah yakin akan berangkat. Di samping itu, ada sedikit kepongahan dariku. Aku ingin menunjukkan kepada mereka bahwa aku mampu melepaskan diri dari tekanan. Meskipun suamiku masuk tahanan, terbukti bahwa aku tetap dapat berkembang sesuai dengan bidangku, bahwa aku tidak terpengaruh sedikit pun oleh idealismenya. Kesempatan bertemu dan berbicara santai dengan mertuaku tidak pernah kupergunakan untuk memperbincangkan suamiku. Kalau mereka mendahului, misalnya menanyakan berita paling akhir, aku menjawab bahwa hal itu harus ditanyakan kepada Widowati atau kepada Eko. Lama kelamaan, mereka tanggap bahwa perasaanku terhadap anaknya yang sulung sudah kosong. Mengurusi beritanya pun aku sudah malas. Dan memang ini bukan merupakan rahasia bagi keluargaku sendiri.
Bagian pertama tahun ajaran berikutnya meluncur tanpa terhalang oleh sesuatu kejutan yang lain. Dalam kesibukan yang telah menggaris menjadi alur biasa di kehidupanku, aku merasa semakin mapan dan siap untuk berangkat. Paling akhir aku diberitahu bahwa tiga orang akan menggabung ke dalam program yang sama. Orangtua Ganik keduanya mengarahkan aku tidak saja dalam penulisan catatan atau pengetahuan bahasa Belanda. Ibunya Ganik bahkan memberikan alamat kenalan dan temantemannya di beberapa kota. Katanya, lebih baik aku menyewa kamar sendirian. Kebanyakan, dengan menyewa lebih murah, dua mahasiswa bisa berbagi kamar tempat pondokan. Tetapi itu tidak menjamin ketenangan belajar dan lain-lain. Kalau teman sekamar kebetulan baik, semua ya baik. Tetapi kalau teman sekamar tidak
162 temanku menyarankan agar sedari semula aku menyewa kamar sendirian.
Pada suatu siang, aku sedang mengajar di sekolah percobaan ketika orang mengetuk pintu kelas. Aku menoleh, melihat petugas kantor berdiri di luar. Aku mendekat. Barulah tampak laki-laki berpakaian seragam, anak buah Mas Gun. Dia memberi salam.
Ibu harus cepat ke rumah sakit. Anak anda mendapat kecelakaan, katanya dengan suara direndahkan.
Anak yang mana" Di mana"
Eko. Mengapa" Di mana" pertanyaanku berturut-turut, tapi tanpa menunggu jawaban aku kembali ke meja di depan kelas dan membenahi barang-barangku. Sebegitu keluar, aku pamit kepada Kepala Sekolah yang sedang mengajar juga. Sebelumnya, pagi itu, aku menunaikan tugas seperti biasa di sekolahku sendiri. Jam dua belas aku pulang dan langsung makan. Eko belum datang ketika aku berangkat lagi. Hal itu tidak kurisaukan, karena tidak jarang kami bertemu di ujung jalan pemukiman. Atau di lain hari, anakku pulang tidak lama setelah aku pergi lagi untuk mengajar di sekolah percobaan. Aku selalu menanyakan jam berapa Eko pulang.
Di dalam kendaraan aku bertanya kepada polisi yang menjemputku. Lukanya gawat, Mas"
Tampaknya begitu. Di mana dia ditabrak" Mobil apa" Tidak ditabrak. Perkelahian. Aku hampir terpental karena kaget. Apa" Bagaimana bisa" Dengan siapa" Keroyokan, Bu. Di depan sekolah.
163 perkataan kecelakaan, bayanganku adalah tabrakan. Sama sekali tidak terpikir olehku Eko berkelahi. Jawaban yang diberikan polisi itu membikin jantungku berdetak lebih cepat.
Keroyokan bagaimana"
Belum jelas persoalannya. Yang luka berat dibawa ke rumah sakit. Yang luka ringan masih ditahan di seksi.
Banyak yang luka" Empat yang berat. Eko kena tusukan pisau.
Kini darah di jantung berdesir turun. Perutku mulas. Dengan susah payah aku bertahan agar tidak gemetar. Tapi aku tidak kuasa mengucapkan kata-kata lagi. Kudengarkan cerita polisi itu. Mas Gun kebetulan sedang berada di Seksi Tiga, dekat dengan kancah pertikaian itu ketika laporan datang. Karena dia tahu Eko sekolah di sana, dia mengikuti regu yang ditugaskan menangani masalah tersebut. Jip Mas Gun-lah yang membawa korban ke rumah sakit.
Semua yang luka berat akibat tusukan pisau" tanyaku untuk mengetahui apakah ada yang lebih parah daripada Eko.
Dua barangkali akibat pukulan. Ada pengeroyok yang membawa lempengan besi. Dua kena pisau. Yang satu luka di lengan. Satu lagi di perut.
Eko" Di perut. Oh, Tuhan! Oh, Eko, sulungku yang tumbuh tanpa bapak dan tanpa kesulitan hingga saat itu. Hatiku menjeritkan namanya dan nama Allah silih berganti. Apakah hanya sampai di situ waktunya aku dipasrahi mengasuh anakku itu" Anak tiga akan diambil seorang. Dan pada umur tanggung di mana aku hampir akan bisa menyaksikan kelajuan atau kemandekan cita-citanya. Dalam
164 mengendalikan cengkeraman rasa cemas. Apa pun yang hendak kutanyakan lagi, polisi itu tidak akan bisa menjelaskan yang lebih gamblang. Bukankah tadi dia mengatakan bahwa masalahnya sedang diusut"
Di rumah sakit aku diantar dari ruang ke ruang mencari keterangan di mana murid-murid yang luka berada. Seseorang yang kukenal melambai-lambai di lorong. Dia berjalan ke arah kami. Dia adalah teman Eko yang sering datang ke rumah. Kami diantar ke ruang bedah. Melihatku dari jauh, Mas Gun bangkit dari bangku, memapakku dan segera mendahuluiku.
Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, tangannya digandengkan ke lenganku. Dia menggeretku duduk di kamar tunggu sambil meneruskan, Dokter Liantoro menanganinya. Eko masih dilindungi Tuhan. Tusukan pisau lewat satu setengah senti dari levernya.
Sekali lagi darah mendesir di jantungku, berputar, mengalir cepat ke perut.
Dia bukan anak yang suka berkelahi. Bagaimana itu bisa terjadi" Pertanyaan itu sedari tadi tersekap. Kini kuucapkan di hadapan Mas Gun, dan kutambahkan bersyukur, Untunglah Mas Gun ada di dekat sana. Kalau tidak ...
Ya, kebetulan aku sedang mengunjungi rekan di Seksi Tiga. Menurut dia, memang sudah berkali-kali ada cegatan. Anak-anak sekolah lain yang menghadang murid sekolah Eko. Tapi selalu dihindari. Yang dihadang mencari jalan lain untuk pulang. Hari ini pengeroyok penasaran. Diserang saja di kubunya sendiri. Apa persoalannya"
Belum jelas. Tapi sudah ada gambaran. Tadi kami omongomong dengan teman-temannya Eko. Kepala Mas Gun digeleng165 masih diinterogasi di Seksi. Masalahnya cemburu. Masalah pacar kalau begitu. Gadisnya ada di sana juga" Mas Gun mendekatkan wajahnya, menunduk sambil berbisik, Homoseks.
Apa"! aku tidak bisa menahan kekagetanku, hampir berteriak.
Ssssst. Nanti saja kuceritakan, tangannya menepuk-nepuk punggung tanganku. Yang penting sekarang, Dik Mur tahu bahwa Eko tidak apa-apa.
Ya apa-apa, bantahku rendah, dengan suara kesal. Dia tertusuk pisau. Itu kan mengerikan. Dia terlibat perkelahian. Itu sangat memalukan!
Ya, benar. Tapi dia sudah dirawat Dokter Liantoro. Pokoknya Eko berada di tangan yang bisa dipercaya. Soal perkelahian, sebenarnya dia hanya mau melerai. Dik Mur tidak perlu malu. Malahan harus bangga.
Bagaimana Mas Gun tahu" Dia bilang begitu"
Dia belum sempat mengatakan apa-apa karena aku gendong dia sudah pingsan. Itu teman-temannya yang bilang! sambil berkata demikian, mukanya bergerak lagi menunjuk ke tempat murid-murid yang duduk mengelompok.
Yang menyerang banyak" tanyaku lagi. Begitu kabarnya. Barangkali sepuluh, lima belas. Aku menghela napas. Untuk kesekian kalinya kusadari betapa kebetulan yang baik dan Tuhan masih melindungi keluargaku. Untunglah Mas Gun segera ke sana dan melihat Eko! kuulangi kata hatiku.
Itulah! dia menyetujui. Lalu meneruskan ceritanya, Aku memang harus ke Seksi Tiga. Kepalanya diganti. Dia sudah
166 tetapi belum sempat-sempat juga. Jadwal mengajar, kongres ke luar kota, sakit, akhirnya sudah enam bulan lewat. Baru hari ini tadi sebelum pulang, aku pikir, ah, lewat sebentar menyalami!
Di waktu pamit, ada anak buah yang melaporkan kerusuhan di depan SMA. Mas Gun ingat bahwa Eko sekolah di sana. Dia mengikuti petugas untuk melihat suasana dari dekat. Polisipolisi lain berhasil membubarkan kelompok dan kerumunan, lalu membekuk beberapa yang jelas terlibat. Dalam kerumunan, Mas Gun melihat Eko berjongkok memegangi perut. Darah bertetesan dari jarinya. Rupanya dia sudah kehilangan banyak darah. Begitu Mas Gun mendekat, Eko langsung menggeletak di trotoar. Sekarang anak-anak lainnya masih di ruang potret. Seorang belum sadarkan diri sejak kena pukulan. Kata Mas Gun, Dokter Liantoro baru saja datang. Dia sudah pensiun, tetapi berapa kali sepekan masih datang ke rumah sakit umum secara sukarela. Keahliannya masih diperlukan di bidang pengajaran maupun praktek. Mas Gun kebetulan melihat dia di lorong, dan langsung ayah temanku itu merawat anakku.
Mengikuti cerita Mas Gun aku menjadi lebih lega, tetapi ketegangan sarafku belum mengurang. Aku ingin segera melihat anakku. Alangkah besar kurnia Allah kepadaku. Orang-orang yang selama ini bisa dikatakan selalu mendampingi serta menopangku, hari itu tetap ditakdirkan dengan kemampuan masing-masing menolong anakku. Tiba-tiba aku teringat bahwa cerita Mas Gun belum lengkap. Aku bangkit, sambil berbisik dan melirik ke seisi ruang.
Kita berdiri di luar saja. Aku ingin tahu cerita yang tadi itu. Mas Gun mengikutiku. Sampai di pintu, dia memanggil anak buahnya. Kulihat dia memberikan uang.
167 sihan. Sudah menunggu lama, pasti mulai lapar. Aku sendiri haus sekali, katanya menjelaskan.
Tapi aku kurang memperhatikan, bertanya. Bagaimana cerita homo yang tadi"
Kami berdampingan berjalan menelusuri lorong terbuka yang menghubungkan bagian-bagian dalam rumah sakit. Sinar matahari tidak penuh sampai di bumi. Sejak pagi, mendung mengawang seolah-olah menyaring cahaya. Tetapi karena tak ada sesilir angin pun, udara panas, pengap. Berada di luar begitu, rasanya lebih nyaman daripada di kamar tunggu. Rumput dan daun-daun tanaman yang kelihatan tidak terpelihara di halaman rumah sakit itu memunculkan tunas-tunas. Warnanya lebih hijau. Baru kejatuhan hujan dua atau tiga kali saja, setiap tumbuh-tumbuhan di sana menunjukkan kesegaran yang berbeda. Musim hujan sudah mulai.
Salah satu guru laki-laki di sekolah Eko memiliki kecenderungan lebih menyukai anak-anak pria daripada gadis, kata Mas Gun. Kalau sore guru itu mengajar di sekolah menengah lain. Kabarnya, sudah lama mempunyai murid kesayangan di sekolah sore itu.
Murid kesayangan kan boleh saja, kataku menyela. Apa yang menimbulkan tuduhan bahwa dia homo"
Kata kawan-kawan Eko, guru itu suka mengelus, membelai. Ya yang ketahuan hanya mengelus tangan, rambut sampai pipi siswa. Katanya, kalau di rumah lain lagi!
Ah, ada-ada saja! tak tertahankan aku menyela lagi untuk diriku sendiri. Sudah ada buktinya" Jangan-jangan hanya desasdesus! Hanya omongan murid yang iri!
Itulah! suara Mas Gun ditekankan. Perlu diusut dulu
168 cerita, murid kesayangan itu sudah diberi bermacam-macam barang. Di antaranya sepeda motor Honda. Katanya kredit, si murid membayar angsuran pada guru. Tapi kenyataannya kan kita tidak tahu!
Kok sampai pada keroyokan"
Rupa-rupanya bulan terakhir ini sang guru kurang memperhatikan murid kesayangannya. Kelakuan ini menimbulkan kecemburuan. Terutama terhadap seorang murid sekolah Eko. Ada pembikinan dekor untuk mementaskan sandiwara di sekolah pagi. Guru itu memang hebat dalam soal dekorasi dan desain. Dia mengarahkan anak-anak, menasihati dan menyediakan pondokannya sebagai tempat kerja. Lalu Mas Gun meneruskan dengan suara lebih rendah. Saya pernah melihat guru itu. Orangnya agak kemayu. Genit. Kata kawan-kawan Eko, yang disukai selalu remaja yang gagah, penuh kejantanan.
Aku tidak pernah merasa aneh jika melihat laki-laki genit. Juga aku tidak keberatan laki-laki atau perempuan memiliki citarasa seks yang mana pun. Asal saja anakku tidak terkena tusukan pisau.
Ini soal yang pelik lho, Mas Gun. Hati-hati kalau menyelidik. Jangan menyinggung perasaan. Ya kalau betul. Kalau tidak, kan kasihan yang terkena tuduhan homo itu!
Aku akan menelepon rekan di Seksi Tiga besok pagi. Mestinya dia juga tahu sendiri.
Tapi sebaliknya, kalau memang benar begitu, harus ada tindakan. Bayangkan, guru merusak tatasusila anak remaja!
Pandangku menangkap sesuatu di pintu. Seorang perawat berdiri di sana seperti mencari. Ketika melihat kami, dia mendekat. Aku beranjak ke arahnya, meninggalkan Mas Gun.
169 Ya, Bu. Dokter Liantoro yang mencari anda.
Kami bersama-sama kembali ke ruang tunggu, langsung ke lorong yang menuju ke kamar bedah. Sebuah brankar keluar. Ayah Ganik berjalan di sampingnya. Anakku berbaring di brankar tersebut. Perawat yang menyertai kami mengambil alat infus dari tangan dokter. Barulah aku bisa mendekat. Langsung aku mengelus dan mengusap kening anakku.
Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, kata ayah Ganik dengan suara rendah dan meyakinkan. Seminggu berbaring, Eko akan sembuh kembali.
Aku menegakkan kepala, memandang ke bapak sahabatku. Melihat wajah yang demikian kukenal dan yang selalu tampak seperti mengulum senyum keramahan bagiku itu, tiba-tiba tangisku mendesak menggetarkan bibirku. Ketegangan rasa yang kutahantahan sejak meninggalkan sekolah, kini terlepas menerobos segala jaringan penghambat. Ayah Ganik merangkulku, setengah mendorongku berjalan mengikuti brankar.
Eko belum sadar. Sesudah mengetahui di mana kamarnya, Nak Mur pulang saja dulu. Nanti kemari lagi.
Aku tidak menyahut. Yang pasti, aku ingin berada di sisi anakku di saat dia sadar.
Berapa lama lagi dia akan bangun, Dokter, tanya Mas Gun. Sekurang-kurangnya satu jam lagi. Kecuali jika panas badannya melebihi perkiraan, dia akan gelisah, dengan kesadaran setengah-setengah.
Ya, benar, ada kemungkinan dia akan demam, Mas Gun menyetujui.
Mungkin sekali. Pasti ada reaksi, tergantung pada daya tahan tubuh Eko pada saat ini bagaimana. Kita lihat saja nanti. Sudah
170 Nanti tolong Mas Gun belikan yang lain-lainnya.
Anakku ditempatkan di ruangan yang telah terisi dua pasien. Dua tempat tidur di samping dan seberangnya masih kosong. Aku duduk di kursi di sisi ranjang.
Dik Mur kuantar sekarang, kata Mas Gun.
Saya tidak pulang. Mas Gun saja ke rumah. Tolong sampaikan kepada Ibu bahwa Eko sudah dirawat Dokter Liantoro.
Lebih baik Nak Mur pulang dulu. Sekarang tidak ada gunanya anda di sini. Eko masih tidur pulas. Sedangkan kalau anda pulang, bisa beristirahat sebentar, mandi. Nanti ke sini lagi. Eko akan bangun waktu itu. Bawakan pakaian sekalian.
Dokter Liantoro betul, Dik Mur. Anda sebaiknya istirahat di rumah. Nanti biar dijemput sopir, diantar kemari. Barangkali malahan bisa bermalam di sini, bukankah demikian, Dokter"
Ya, bisa diusahakan. Nanti saya tinggalkan pesan biar dicarikan ranjang rendah yang bisa masuk ke kolong supaya tidak memenuhi tempat.
Itu masih ada tempat kosong, kataku menunjuk ke ranjang seberang dan samping.
Jangan. Kalau Nak Mur tidur di situ, berarti mengambil tempat pasien lain. Kalau ada kasus urgen, biar selalu ada tempat tidur.
Anak-anak lain bagaimana" Yang kena pukulan" Yang tadi masih di ruang foto" tanyaku.
Sedang ditangani dokter saraf. Nanti akan saya tanyakan. Kalau perlu, bisa disatukan di sini, sahut Dokter Liantoro.
Seorang dari teman-teman Eko mendekat. Ya, Bu. Anda pulang saja. Kami yang tinggal menjaga Eko.
171 cepat istirahat, semakin cepat bisa kembali.
Aku tidak tega, masih merenung memandangi muka anakku. Dia tampak tenang seolah-olah sedang tidur di hari-hari biasa. Matanya tidak tertutup rapat, dipinggiri bulu-bulu yang pendek tetapi terbalik melekuk. Hidung Eko seperti bapaknya, lebih menonjol dengan tulang yang tinggi mulai dari pangkal. Sebaliknya bibirnya adalah yang paling tebal di antara anak-anakku. Seperti bibirku. Wido dan Seto mempunyai lipatan bibir yang lebih tipis dan selalu berwarna cerah. Terasa lenganku dipegang erat.
Sudah! Nak Mur pulang dulu! ayah Ganik menarikku ke pintu.
Titip ya, Mas, kataku kepada teman-teman Eko. Tiba di pintu, aku sekali lagi menoleh. Dua teman anakku sudah duduk, yang lain berdiri.
Mereka belum makan. Bagaimana kalau kelaparan, kataku seperti kutujukan kepada diriku sendiri.
Mereka tahu jeruk dan biskuit di meja itu buat mereka, jawab Mas Gun. Biar itu dihabiskan. Sekali-sekali merasa lapar sedikit tidak apa-apa.
Sebelum meninggalkan bagian tersebut, anak buah Mas Gun menyodorkan kartu pendaftaran masuk opname. Sebelum aku menerimanya, Dokter Liantoro telah mengulurkan tangan dan mengambil kartu dari pegangan polisi itu.


Jalan Bandungan Karya Nh Dini di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Biar nanti diuruskan perawat. Sudah, sana pulang! dan sambil berkata begitu, dia akan membelok ke arah lain. Kita perhitungkan semuanya besok, Pak, kataku. Dia hanya menoleh, tersenyum sambil melambaikan kartu di tangannya.
172 Baru itulah aku melihat ibuku menunjukkan ketidaksabarannya. Sampai-sampai dia duduk di bangku di samping kamar mandi supaya segera bisa mendengarkan ceritaku. Kemudian dia mengikutiku ke kamar Eko. Kusiapkan tas berisi pakaian dan barang-barang yang mungkin diperlukan anakku. Berdua kami memuji keadaan lemari Eko. Kata ibuku, ketika aku seumur anak sulungku itu, pakaianku di lemari tidak pernah sedemikian rapi. Aku selalu tergesa-gesa menarik blus atau rok yang hendak kupakai, sehingga baju yang tertinggal tidak teratur lagi. Mereka hanya kusumpalkan kembali cepat-cepat. Aku tersenyum mendengar komentar ibuku.
Akhirnya Eko mondok di rumah sakit selama tujuh hari. Kesibukan yang ditambah dengan menengok anakku semakin menyita waktuku. Pengeluaran buat keperluan itu semua tidak mungkin bisa kulunasi seandainya amplop dari Ganik tidak kuterima pada saat yang bersamaan. Musim hujan selalu berarti semua lebih mahal bagi keluarga kami. Sebabnya ialah karena kami terpaksa lebih sering naik becak. Untuk keperluan sekolah dan ulang-alik ke rumah sakit, obat-obatan, dan akhirnya biaya pondokan Eko, semuanya tertutup oleh kiriman sahabatku. Uang muka yang dibayarkan Dokter Liantoro pun tidak kuganti. Ayah temanku itu juga meringankan bebanku dengan pemberian jenis obat-obat yang dipunyainya. Para dokter biasa menerima contoh-contoh benda farmasi, termasuk obat-obatan yang kadang-kadang amat mahal harganya dan tidak terdapat di semua apotek. Uang dari Ganik sebenarnya dimaksudkan sebagai pembeli hadiah-hadiah kecil asli Indonesia yang akan kubawa ke luar negeri. Jadi itu termasuk persiapanku sebelum berangkat. Dalam surat yang kemudian kukirim, aku minta maaf kepada Ganik karena terpaksa menggunakan pemberiannya guna menutupi semua biaya.
173 jadi pergi mengikuti kuliah yang enam bulan, seumpama pada waktu itu terjadi sesuatu pada anak-anakku, apakah yang akan dilakukan Ibu" Dalam perbantahan sendirian itu aku mensyukuri kehadiran Winar, Mas Gun, dan lebih-lebih Dokter Liantoro serta istrinya. Tapi meskipun demikian, aku bimbang. Mereka juga mempunyai keluarga yang membutuhkan perhatian penuh. Aku tidak berhak meminta terlalu banyak dari mereka. Keraguraguanku berdasarkan pilihan yang seharusnya aku tetapkan secepatnya, Kewajiban manakah yang lebih berbobot: memenuhi undangan untuk menambah pengetahuan yang di kemudian hari akan dapat kumanfaatkan buat orang lain, diri sendiri, dan keluarga; sedangkan pilihan kedua ialah tidak pergi, mengawasi anak-anakku.
Ibuku tidak pernah mengeluh. Sedari masa mudaku, jarang sekali aku mendengar dia mendesah atau menyesali kelakuan kami dengan cara yang berlebih-lebihan. Sejak hidupku sendirian menyangga kebutuhan anak-anakku, dia selalu mendampingiku dengan segala kasih cintanya. Tidak sekali pun dia terangterangan menyesali nasibku, atau nasibnya sendiri. Tetapi ketika cucunya menderita baru-baru ini, kusaksikan betapa dia ribut dan gugup. Ibuku sudah tidak muda lagi. Walaupun tetap giat dan mengerjakan semuanya dengan semangat yang sama seperti dulu, namun kemampuan manusia terbatas. Ada keausan yang tidak tampak oleh penglihatan mata. Oleh sebab itu, karena tidak tahu mengambil keputusan mana yang tepat kulakukan, aku membicarakan masalah pilihan tersebut dengan ayah Ganik.
Dokter Liantoro tidak mau menerima alasan yang mendasari keraguanku. Kecelakaan bisa terjadi sewaktu-waktu dan di mana saja, katanya. Orang mati setiap hari, tambahnya. Apabila Tuhan
174 tidak bernapas lagi di tempat tidurnya. Di rumah sakit, setiap saat orang dewasa atau anak-anak dibawa ke ruang perawatan gawat darurat karena kecelakaan remeh maupun serius. Yang paling sering ialah tabrakan, jatuh, menelan jarum, kancing, sampai uang logam yang paling besar. Sambil tertawa sinis, dokter itu bahkan mengatakan bahwa orang sedang pesta makan-makan pun bisa pingsan karena lauk yang dikunyah kurang lembut, tersesat dan menyumbat jalan pernapasan. Jadi, kesimpulannya, aku harus berangkat.
Winar dan Mas Gun memberi pandangan yang hampir sama. Ini kesempatan yang harus disambar, kata Mas Gun. Tidak semua beruntung terpilih. Dik Mur juga harus mengingat bahwa anakanak bangga kalau ibunya pulang sudah berpengalaman sekolah di luar negeri. Siswi malahan mencaci membodoh-bodohkan aku. Bagaimana kamu akan maju kalau sedikit-sedikit bimbang" kata temanku itu. Coba aku yang disuruh berangkat, sudah duludulu aku pergi! Kaupasrahkan semuanya kepada Tuhan. Dia tahu segalanya. Kalau Dia tahu kau ke luar negeri bukan untuk main-main, Dia tidak akan mencelakakan keluargamu. Sudah! Berangkat saja! Siswi memang keras sedari dulu. Tapi dia tahu mana yang baik dan mana yang tidak pantas.
*** Pada waktu-waktu itulah aku sering bertemu dengan Sri. Kunjungannya yang biasa ialah sebulan sekali sehubungan dengan barang-barang dagangan yang ditaruh di toko bibinya di Kauman. Dia selalu singgah di tempat ibuku juga untuk melihat berapa dan apa yang sudah dijualkan oleh orangtuaku. Ketika aku bertemu
175 sering membantuku dengan meminjamkan mobilnya, kukira dia mengundurkan kepulangannya ke Sala. Ibu dan aku harus bergantian menengok Eko. Pakaian yang kotor dibawa pulang, dari rumah dibawa yang bersih. Dengan adanya kendaraan, ulang-alik terasa kurang merepotkan. Musim hujan menambah lagi kesibukan kami, karena harus mencari becak lebih dulu. Kemudian, setelah Eko pulang, bahkan sesudah istirahat di rumah dan masuk kembali sekolah, Sri masih berada di kota kami. Sering dia muncul di rumah atau mengirim sopir mengambilku di sekolah. Kalau dia ke rumah dan melihat bahwa paginya aku berangkat naik becak karena hujan, dia menyuruh sopir menjemputku. Siang begitu, biasanya dia membawa lauk, lalu turut makan bersama kami. Apabila aku segera pergi lagi, dia mengantarkan. Tapi kalau aku santai bisa beristirahat sampai sore, dia turut tiduran di kamarku. Demikian sampai dua bulan lewat. Dapat dikatakan hampir setiap hari kami berjumpa.
Aku mulai curiga ada sesuatu yang terjadi dalam kehidupan pribadinya. Dengan Sri, hubunganku tidak pernah bisa langsung ke tujuan. Lain jika aku berhadapan dengan Siswi atau Ganik. Bahkan dengan Mur pun, dengan siapa aku sangat jarang bertemu setelah perkawinanku, aku bisa berbicara terang-terangan yang menyinggung kehidupan pribadi. Sri orangnya terbuka, ramah, tapi kurang mudah ditembus. Karena mengetahui sifatnya, aku tidak mendahului berbicara tentang keluarga maupun dirinya. Tetapi kali itu, aku tidak hendak mengekang rasa ingin tahuku. Aku bertanya mengenai kelanjutan sekolah suaminya di bidang notaris. Di lain kesempatan aku bertanya bagaimana anak-anaknya. Setiap kali, dia menjawab pendek, lalu menunduk dan mengalihkan pokok pembicaraan ke masalah lain.
176 rahat. Kami hanya berdua di kamar.
Kamu kok lama tidak pulang ke Sala. Bagaimana dengan anak-anakmu" Suamimu" kataku sepintas lalu.
Sri terduduk di dipan yang berseberangan dengan ranjangku. Tangannya menutup mukanya. Tidak kedengaran suaranya, tetapi bahunya bergerak-gerak, terlonjak oleh getaran. Aku terkejut, segera duduk di sampingnya. Kupaksa supaya tangannya diturunkan. Ketika tersingkap, kulihat wajahnya kemerahan, basah oleh air mata. Seketika itu juga terdengar tangisnya. Dadaku bagaikan teriris, ngilu pedih.
Husssssh, desisku sambil mengambil tubuhnya yang gemetar ke dalam pelukanku. Kudekap dia, kadang-kadang kubelai rambutnya. Kubiarkan dia terisak dan tersedu-sedu. Aku menunggu sampai akhirnya dia sendiri yang tertegak. Kuambil wajahnya dengan dua tanganku, kuciumi pipinya.
Sebentar. Kuambilkan handuk basah, kataku sebelum keluar. Lalu sambil memberikan handuk kecil, aku duduk di sisinya. Ada apa" Mertua atau Mas Tom" tanyaku langsung. Sri tidak segera menyahut. Handuk basah dia tutupkan pada wajahnya. Lalu, Dua-duanya. Mas Tom kebangetan, kalimatnya terhenti, napasnya tersengal. Aku sudah melihat sendiri dia punya gundik di Yogya.
Siapa" Kamu kenal"
Tidak. Barangkali teman sama-sama kuliah. Sudah dibelikan rumah segala!
Kaulihat sendiri surat-surat rumahnya" Tidak. Aku hanya diberitahu. Siapa yang memberitahu" Saudara.
177 nya, melainkan untuk membujuk temanku.
Tapi aku percaya. Mas Tom memang tidak selalu memberi uang belanja setiap bulan. Gampang sekali kalau dia memang mau membeli sesuatu yang besar dan hendak dirahasiakan dariku. Kupikir, karena dia kuliah lagi, pengeluarannya tentu banyak. Jadi aku tidak minta kalau dia tidak memberiku.
Dia diam. Aku sendiri tidak tahu apa yang patut kukatakan. Mereka tinggal bersama di rumah itu, kata Sri lagi. Barangkali itu hanya rumah kontrakan. Kau jangan terburu nafsu percaya. Sudah lama kamu tahu"
Sudah. Setahun" Lebih. Mungkin dua tahun ini. Kalau benar sudah dibelikan rumah, siapa tahu, malahan sudah dikawin pula! Menjadi istrinya yang sah ....
Kurengkuh lagi badannya sebentar. Lalu kubelai rambutrambut kecil yang melindungi dahinya. Sri sahabatku. Selama ini dia pendam dan dia sembunyikan kesedihannya dari kami. Barangkali karena dia tidak ingin merepotkan kami yang dianggap sudah cukup memiliki beban pikiran. Uang tidak pernah menjadi masalah bagi temanku ini. Selain keluarganya punya harta, Sri juga mempunyai usaha sendiri. Menurut pengertian Ibu, toko yang di Kauman juga sudah menjadi miliknya. Penghasilan pribadinya bisa menghidupi empat atau lima keluarga besar setiap bulan. Tapi persoalannya tidak di situ.
Lalu mengapa kamu malahan pergi" Anak-anak di mana" Di rumah Ibu. Yang bungsu, biasa, dibawa adik ke Bandung. Sri punya anak lima. Sulungnya seumur Widowati. Yang paling
178 yang hingga waktu itu belum mempunyai anak.
Apa Mas Tom tidak semakin senang kalau kau tinggal begini" Kukira urusannya tidak akan selesai hanya dengan cara begini.
Memang tidak. Tapi aku ingin berpikir tenang. Jauh dari rumah. Sekarang aku agak tenang. Kapan-kapan aku akan pulang, keputusanku sudah tetap. Aku akan minta cerai.
Kedengarannya mudah, tanpa kerepotan urusan yang berlikuliku. Aku menyuarakan kata hatiku.
Bagaimana mengurusnya" Kamu sendiri"
Sekarang ada yang namanya Lembaga Hukum. Di sana aku punya kenalan baik.
Aku tidak bisa memberi nasihat apa pun. Perceraian selalu peka. Itu hanya dapat diselesaikan antara mereka yang berkepentingan. Secara baik-baik atau dengan tuduh menuduh. Hanya yang menjalani kehidupan itulah yang tahu bagaimana rasanya. Bisa atau pantas dipertahankan atau tidak cara hidup yang demikian itu. Aku melihat Mas Tom sama seperti orangorang luar melihat suamiku: ramah dan baik. Kenyataannya, aku sebagai pendamping Mas Wid tahu betul bagaimana hidupku bersama dia. Mas Tom dan Mas Wid sama-sama pengkhianat. Yang pertama punya perempuan lain, suamiku mempunyai kegiatan yang disembunyikan, yang merampas dia dari aku dan anakanakku. Bahkan dari kewajibannya sebagai warga negara yang taat.
Kau tidak mencintainya lagi" Soal inilah yang juga ingin kuketahui.
Sri tidak langsung menyahut. Kami masing-masing berbaring, berjauhan. Handuk kecil terlipat, dikompreskan di matanya. Aku tidak yakin apakah cinta itu semuanya. Maksudku,
179 bersama dengan perempuan lain, aku tidak bisa tidur dengan dia lagi. Kalau dia meraba pun, aku ingin menolak. Rasanya jijik.
Dan uneg-unegku pun aku keluarkan. Aku heran dan kagum. Kamu bisa menyembunyikan hal itu dari kami sampai sebegitu lama.
Aku tidak mau merepotkan kalian. Terutama kamu dan Ibu. Bukan merepotkan. Kami ingin turut meringankan pikiranmu. Siapa tahu kami punya wawasan yang bisa berguna; meskipun dalam persoalan rumah tangga, sebenarnya hanya suami-istri yang pokok. Kalau masih bisa berkompromi, masih bisa perkawinan diselamatkan. Kamu agak curang. Seperti kataku, lebih-lebih terhadapku. Selama ini kamu banyak membantu Ibu, aku, dan anakanakku. Tapi bebanmu kautanggung sendirian.
Temanku diam. Aku menambahkan. Dari dulu kamu selalu begitu. Apa arti bersahabat"!
Sri tetap tidak menyahut.
Bagaimana kau tahu untuk pertama kalinya"
Mas Tom semakin sering tidak pulang ke Sala. Semula hanya semalam atau dua malam dalam sepekan. Biasa, alasannya belajar, mencari data-data, berusaha menghubungi rekan-rekan yang sudah berhasil. Lalu ditambah uang belanja yang jarang kuterima. Padahal aku tahu bahwa usaha percetakannya di kampus tetap jalan lancar. Lama-lama, aku curiga. Mulai ada desas-desus. Katanya dia sering kelihatan di tempat-tempat umum bersama wanita lain. Aku menguntitnya.
Aku kaget lagi. Kumiringkan badanku agar bisa melihatnya lebih jelas.
Kau kuntit dia" 180 bah posisi. Ya Allah! Kok berani kamu!
Habis bagaimana"! Aku tidak merasa bersalah. Yang kuawasi adalah hakku. Dia suamiku. Kalau sudah terdesak begitu, siapa yang bisa menolong kita kalau bukan kita sendiri"! Benar juga kata Sri. Aku merenung sejenak.
Tentu saja mertuamu tahu masalah ini, nada bicaraku mengatakan seadanya, karena aku mengetahui bagaimana orangtua Mas Tom.
Sri membuka handuk, menghadapkan tubuhnya ke arahku. Orang-orang tua itu justru mengetahui lebih dulu. Pembantuku yang mengatakan hal ini kepadaku. Jadi pengkhianatan Mas Tom itu sudah menjadi pembicaraan antar pembantu. Bayangkan! Ketika aku mengadu kepada mertuaku perempuan, dia malahan bilang itu sudah nasib wanita. Aku disuruh manut, nerimo saja. Waktu muda, bapaknya Mas Tom juga begitu, katanya. Apalagi laki-laki itu sering keliling Jawa. Barangkali sampai sekarang anak cucunya tersebar di mana-mana.
Kali itu aku yang terdiam. Masih ada uneg-uneg satu lagi dalam hatiku. Dengan ragu-ragu aku mengemukakannya. Hubungan kalian di tempat tidur"
Sri tidak menjawab, kembali menelentangkan badannya. Aku khawatir dia tersinggung. Kutambahkan, Maafkan kelancanganku. Tapi aku ingin tahu. Meskipun ada orang lain, apakah Mas Tom tetap menggauli kamu. Dan lagi, apakah masih sama seperti dulu. Maksudku, dari pihak dia. Apa yang kamu rasakan"
Rutin saja, akhirnya suara temanku terdengar lirih. Setidaktidaknya itu sikapku, penerimaanku. Tapi sikapnya, ketika kutunjukkan bahwa aku tahu dia menyimpan perempuan lain pun,
181 jijik. Cintamu kepadanya bagaimana"
Entahlah! Dulu, kalau dia tidak datang, memang aku masih mengharapkan kehadirannya karena anak-anak. Tapi aku enggan dia sentuh. Melihat dia di rumah saja sudah cukup bagiku. Ya itu, demi anak-anak. Rasanya aku tidak memerlukan dia lagi. Tidak mempunyai rasa kangen lagi. Lama kelamaan, karena aku juga menyibukkan diri belajar atau kursus macam-macam yang berhubungan dengan kimia, pencampuran warna untuk tenunan, aku masa bodoh dia hadir atau tidak. Ini membahayakan bagi suami-istri. Sebab itu lebih baik cerai. Aku pengusaha. Kalau dibutuhkan kertas-kertas untuk ini atau itu, umpamanya pinjaman di bank, harus ada tandatangan persetujuan suami. Aku bosan dengan aturan itu. Sedangkan kalau sudah sendirian, malahan bebas. Keputusan apa pun, aku tandatangani, jaminan rumah atau tanahku sendiri. Lebih leluasa. Tidak sakit hati menunggu saat dia datang atau berkenan memberi tandatangannya.
Sri berhenti berbicara untuk berpaling memandang ke arahku sambil meneruskan, Hebat, ya! Dikatakan kita wanita sudah diberi hak memilih anggota perwakilan rakyat, sudah menjangkau gelar-gelar kesarjanaan, tapi kalau hendak pergi ke luar negeri masih harus diperlakukan seperti anak-anak, karena harus mendapat surat persetujuan sang suami atau ayahnya. Untuk pinjaman di bank begitu pula. Sebaliknya, kalau yang meminjam sang suami, si istri tidak tahu pun tidak menjadi soal! Meskipun umpamanya rumah atau tanah yang dijadikan jaminan hutang itu milik bersama. Para bapak kalau mau ke luar negeri juga gampang. Tinggal punya tiket. Untuk mengurus paspor, tidak ditanyakan surat persetujuan dari istri!
182 dia merasa perlu bangkit, dan dengan bersemangat meneruskan, Betul! Semua yang kukatakan itu betul!
Apa alasannya mempertahankan peraturan yang menghina itu" aku juga tidak dapat mengekang rasa penasaranku.
Ah, alasannya ada saja kalau memang mau menunjukkan kekuasaan. Ini memang negara lelaki. Dunia ini memang kepunyaan lelaki. Nyatanya, semua yang serba biasa, umum, untuk lelaki. Lihat, bordil misalnya. Itu buat lelaki. Dan kalau ada lelaki ke sana, kata orang: Oh, biasa! Untuk peraturan yang membatasi gerak perempuan, katanya bersifat melindungi. Pendek kata, segala alasan dianggap baik kalau memang lelaki tidak percaya bahwa kita kaum perempuan juga bisa berpikir mana yang baik mana yang tidak, mana yang selamat mana yang membahayakan. Kita dikira seperti anak-anak saja, masih terus harus dikekep, dikerudungi. Ini tidak boleh, itu dilarang.
Dari suaranya yang penuh emosi, aku mendapat kesimpulan bahwa temanku sudah sering terbentur pada peraturan yang sangat membatasi geraknya. Baik di bidang usaha maupun kehidupan pribadinya.
Lalu kalau kamu cerai, anak-anak bagaimana" Turut siapa" Jelas kuminta supaya turut aku! katanya tegas. Kaubayangkan anak-anak turut bapaknya" Turut ibu tiri yang tidak mereka kenal"
Tidak. Maksudku barangkali dibagi. Yang mana ikut kamu, yang lain turut Mas Tom.
Tidak. Aku tidak mau memperlakukan anak-anakku seperti barang, dibagi-bagikan. Yang jelas, mereka sudah kelihatan akan lebih suka turut aku. Setelah semua urusan selesai, aku akan menetap di sini.
183 Di Semarang" Ya, di Semarang.
Agak lama kami terdiam. Kukira aku akan mengantuk. Tapi ternyata pikiranku sama sekali tidak mau diistirahatkan. Aku menoleh. Mata temanku tidak berkedip, menatap langit-langit. Kau tidak akan menyesal nanti hidup sendirian di kota ini" Mengapa"
Tiba-tiba aku juga tidak tahu pasti mengapa aku menanyakan hal itu. Aku hanya membayangkan betapa Mas Tom dan dia dulu merupakan pasangan yang amat ideal. Kelihatan sangat saling mencinta. Di waktu bersama-sama, aku sering bahkan merasa iri. Mas Tom penuh perhatian, Sri yang manja tetapi penuh pelayanan terhadap pacarnya. Aku dan Mas Wid tidak demikian. Kalau aku agak ngalem, melendotkan diri atau menggandeng lengannya, dingin saja dia.
Dulu aku iri melihat kalian berdua. Seperti Ratih dan Kamajaya, dewi dan dewa cinta.
Sri tertawa tanpa melihat kepadaku.
Kalau memikirkan, mengenang masa lampau, memang rasarasanya tidak mungkin kami sampai pada titik penutupan seperti ini. Kami berbulan madu lama sekali. Temanku berpaling lagi menghadapkan dirinya ke arahku sambil meneruskan, Benar, Mur. Aku merasa berbulan madu meskipun anak-anak berlahiran. Setiap kali dia menyentuhku, iiih, rasanya aku seperti kena setrum listrik karena besarnya cintaku kepadanya. Aku tidak ingat benar sampai kapan dia masih kadang-kadang merangkul atau meraihku, dipeluk di depan anak-anak atau orang lain. Kalau bergurau juga tiba-tiba memangku aku! Lalu anak-anak dan aku saling berebutan minta dipangku!
184 ras dan tegas. Tapi semua itu sudah lewat. Kuanggap aku akan mempunyai jenis kehidupan yang lain. Begitu saja. Tanpa rasa kangen" Penyesalan" tanyaku.
Tanpa rasa kangen maupun penyesalan. Dia sudah baik kepadaku selama ini. Anakku bahkan ada yang kembar karena dari keluarga dialah keturunannya. Aku cukup bahagia dengan apa yang telah kudapat selama bersama dia.
Aku mengeluh tanpa mengetahui mengapa.
Kalau sudah tidak kangen, jelas kau tidak mencintainya lagi. Kadang-kadang, tanpa cinta, kalau masih ada hubungan batin, ada kebutuhan bersama untuk sesuatu yang lain, perkawinan dapat diselamatkan. Berteman saja juga begitu. Dengan yang lain-lain, sedari dulu, aku tidak pernah mempunyai sambungan batin seperti yang kurasakan bersama kalian. Misalnya lama aku tidak ketemu kau, atau Ganik, rasanya ya kangen. Sekarang, aku kangen sekali dengan Mur.
Tiba-tiba Sri bangun, terduduk dan memandangiku. Katanya, Ya, benar. Ayo kita tengok dia!
Ke Kalimantan" aku bertanya dengan terkejut. Ya, ke Kalimantan! Kita berlibur mencari dia. Kita kejutkan dia dengan kedatangan kita!
Ah, kamu ini ada-ada saja! kataku memprotes. Tapi tidak dapat menahan senyumku. Bulan depan kan aku berangkat!
Oya, kamu benar. Dia kembali berbaring, pandangnya terpaku lagi ke awang-awang.
Sebenarnya, sejak kejadian yang menimpa Eko, aku ragu untuk berangkat, aku mengeluarkan kebimbanganku kepadanya. Dan kutambahkan, Seandainya itu terulang, sedangkan aku tidak di sini ....
185 Ganik. Aku juga! Kamu benar-benar akan pindah"
Ya. Masak kau tidak percaya" Aku akan buka toko di daerah atas sana. Ada tempat perbelanjaan yang sedang dibangun tidak jauh dari sekolahmu dulu.
Ada apartemennya untuk tinggal sekalian" Atau kamu akan menempati rumah bibimu yang di Pandanaran"
Memang ada {#3}at di atasnya. Tapi itu buat gudang. Aku sudah beli rumah di daerah baru, di jalan ke Kalibanteng.
Ini adalah berita baru. Belum pemah dia menyinggung soal pembelian itu.
Bulan yang lalu sudah selesai dikontrak orang. Sekarang sedang diperbaiki. Air minum akan segera dipasang.
Bukan main! Rupa-rupanya temanku ini telah lama mempersiapkan pengunduran dirinya dari Sala. Sri memang cekatan dan gesit. Dia selalu tahu mempergunakan kesempatan. Uangnya selalu ditempatkan dengan tepat. Entah kapan dia membeli rumah itu. Nyatanya kini sangat berguna, dan aku turut merasa lega. Kalau Sri tinggal sekota, keluargaku akan lebih mendapat perhatian.
Seolah-olah membaca isi hatiku, Sri memandangku tajam. Kau harus berangkat. Betul-betul mengenai rumah, jangan kaurisaukan. Kalau aku sibuk, biar sopir yang menengok setiap hari. Supaya setiap hari aku tahu apa yang terjadi. Anak-anak kita ada yang seumur. Nanti aku bikinkan acara kegiatan bersama. Kalau usahaku yang lain jadi, aku akan segera punya kendaraan lagi. Apakah kau setuju seumpama Eko punya roda dua"
Setuju sekali. Aku pernah mendapat tawaran kredit dari sekolah. Tapi masalahnya, aku tidak bisa membayar angsurannya.
186 tolak. Mengapa kau tidak bicara kepadaku" Sekali lagi dia memiringkan badannya, tapi melanjutkan, Tidak apa-apa. Aku sudah punya hubungan di sini. Nanti aku carikan. Tanpa kredit, aku bisa mendapat potongan harga lumayan.
Kalau ada kendaraan, mudah-mudahan Eko tahu bertanggung jawab. Tapi jangan-jangan malahan pergi terus, kataku agak khawatir.
Kamu ini! kata sahabatku kesal. Jangan terlalu mengekang anak! Besok kalau dia dewasa juga hilang dari rumah!
Bukannya mengekang, suaraku kubikin sebiasa mungkin. Aku hanya was-was. Jangan-jangan dia suka ngebut.
Mendengar itu, Sri terdiam sebentar. Lalu, Lagi pula, belum tentu aku pinjami dia roda dua. Kalau jadi, aku akan menjalankan colt buat sewaan. Pendek kata, proyekku ada beberapa. Kamu pergi saja tenang-tenang. Kalau semua rencanaku beres, biar satu kendaraan dipakai Ibu dan anak-anak. Nah! Kamu lebih tenang sekarang"
Ganti aku yang terdiam. Agak lama.
Sri memalingkan muka melihat kepadaku. Katanya, Selain rumah, ada alasan lain"
Aku heran mengapa dia menanyakan hal itu. Tidak, sahutku. Mengapa"
Sepertinya kau berat sekali pergi. Soal anak-anak dan Ibu, aku berjanji akan turut mengawasi dari dekat. Jika perlu, biar anak-anak turut aku saja. Kuboyong ke Puspowarno. Rumahku cukup besar. Halamannya luas. Aku juga ingin bikin lapangan supaya anak-anak bisa main voli atau basket. Aku lebih tenang kalau anak orang lain yang ngumpul ke rumahku daripada anak187 raga, biasanya mereka lebih suka rela datang. Lha kalau anak orang lain datang, anak-anakmu lebih baik tinggal saja bersama kami di sana!
Aku tertawa. Ah, tidak usah. Kau ini ada-ada saja. Bagaimana ibuku akan mau melepas mereka"! Kadang-kadang saja, misalnya Wido atau Eko kalau mau bermalam di waktu liburan. Tapi jangan dipaksa!
Mana aku memaksa anak"! Kamu yang suka memaksamaksa!
Rasa egoisku berharap agar Sri tidak berganti pikiran. Aku akan turut rugi jika tiba-tiba temanku itu berbalik, menjadi baik kembali dengan suaminya. Seolah-olah hendak memenangkan hati dan menuruti kepentingan diri sendiri, aku bertanya, Kau sudah yakin benar akan cerai"
Pasti dan yakin. Dari segala segi sudah kuperhitungkan, sahut temanku. Aku menunggu sampai sekarang ini, karena masih berat memikirkan anak-anak. Kemudian, pertimbanganku berkembang. Lebih baik aku tidak memperpanjang kedudukan yang serba semu ini. Aku tidak mampu bersikap seperti istri-istri lain, seperti kamu. Hidup berpisah dari suami, kalau kondangan, resepsi, pesta sendirian. Atau bersama keluarga, bersama teman. Padahal si suami ke mana-mana tampil bersama wanita lain. Selalu sama. Berarti dia sudah tidak memikirkan etika menyelamatkan muka . Lalu aku mendapat nama apa" Sebutanku di bibir lingkungan, bisa istri yang ditinggalkan" Atau istri yang setia" Atau malahan lagi istri yang tidak tahu harga diri! Ah, enggak sajalah! Kalau memang harus hidup sendirian, ya tidak setengah-setengah. Lebih baik sendirian betul-betul. Jadi cerai saja.
Aku diam, merenung. Apa yang dikatakan Sri semuanya be188 tuk berbuat setegas dia. Tapi aku menyetujuinya. Kau punya pacar"
Sri tertawa mendengar pertanyaanku. Aku menoleh, kami berpandangan. Mengapa kautanyakan itu"
Karena kau sedemikian yakin akan bahagia hidup sendirian. Aku jadi curiga!
Bisa saja, kan" Tidak perlu punya pacar untuk hidup bahagia seperti aku. Seperti kau juga. Apakah kau punya pacar" Aku minta cerai karena ingin menguasai dan mengatur sepenuhnya kehidupanku. Lebih-lebih secara profesional, perempuan tidak diakui berhak menandatangani kertas-kertas penting jika punya suami. Kamu umpamanya. Bagaimana kau bisa mendapatkan paspor"
Ya, benar. Memang harus ada surat dari suami yang menyatakan tidak berkeberatan aku berangkat ke luar negeri. Tetapi karena dia orang tahanan, Kepala atau Rektor Institut cukup bertindak sebagai penanggungjawabku. Kata Winar, kalau itu masih tidak diterima, aku bisa menunjukkan surat tanggungan dari saudaranya yang pejabat dan yang hingga waktu itu banyak membantuku.
Kalau kukatakan tidak punya pacar, barangkali bisa kutambahkan perkataan sekarang . Kita masih cukup muda untuk membentuk hidup rumah tangga yang baru. Sementara ini, aku ingin bersih dulu. Melepaskan diri dari ikatan yang sudah tidak jujur, yang munaik. Pura-puranya masih kawin, tapi berpisahan. Hidup sendirian, bahkan tanpa anak, dua bulan ini ternyata juga mengasyikkan. Dia tertawa lirih, lalu katanya, Kamu" Mengapa aku" tanyaku tidak mengerti maksudnya. Punya pacar"
189 Sama seperti kau. Malas dibikin repot. Sejak hidup sendirian, rasanya tidak hentinya aku menemukan kepuasan. Pendeknya aku senang hidup begini.
Siapa tahu di luar negeri kamu menemukan pacar. Aku kagum. Kamu kok bisa hidup begitu lama bersama Mas Wid. Setelah dia ditahan, sampai sekarang kau tidak minta cerai. Tidak punya pacar. Kalau ketemu pacar di luar negeri cerita, ya! Sebagai jawaban, aku tertawa lagi.
Orang bule bau, kataku ringan. Dan kuteruskan, Lagi pula, mana ada orang sana yang mau pacaran dengan aku yang begini pendek!
Maksudku, bukan orang sana. Bangsa kita sendiri. Kan banyak mahasiswa kita belajar di Negeri Belanda.
Baik. Nanti aku carikan seorang buat kamu! Kami tertawa bersama-sama.
*** Akibat keroyokan antar sekolah tidak selesai hanya sampai di situ. Peristiwa tersebut untuk selanjutnya selalu ditanyakan kerabat dan lingkunganku: Bagaimana kabar anak anda" Saya dengar dia terlibat keroyokan. Kabarnya terkena tusukan. Ah, anak-anak zaman sekarang, sukar dikendalikan. Apakah dia sudah keluar dari tahanan"
Rupa-rupanya berita yang tersebar bukan penuturan kejadian yang sesungguhnya. Keseluruhannya sangat memberatkan anakku dan sekolahnya. Konon yang memimpin keroyokan adalah anakanak orang komunis yang ditahan di Pulau Buru. Katanya lagi, asal mula perkelahian adalah iri hati. Anak-anak sekolah sore
190 olahraga mentereng. Siang di saat meledaknya peristiwa itu, masalahnya adalah sepatu kickers, sepatu merek terkenal yang sedang gencar diiklankan di televisi dan poster-poster raksasa. Ketika kutanyakan kepada Eko apakah hal itu benar, dia malahan ganti bertanya apa yang dinamakan sepatu kickers. Kujelaskan seperlunya. Juga kukatakan keadaan hatiku yang kacau bercampur rasa harga diriku yang tersinggung. Dengan gayanya yang biasa, anakku mengatakan agar aku tidak memikirkan desas-desus. Yang penting, Pak Gun juga berpendapat bahwa yang salah adalah sekolah lain. Bukan Eko dan teman-temannya.
Pedang Bengis Sutra Merah 1 Simple Past Present Love Karya Thia Kyu Ori Tangan Geledek 18

Cari Blog Ini