Ceritasilat Novel Online

Asmara Pedang Dan Golok 3

Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng Bagian 3 orang yang memang memiliki cinta atau benci yang amat sangat. Tapi jika hal itu melebihi kapasitas kemampuan nya, dan terlalu banyak lebihnya, saat itu walaupun cinta atau benci yang amat sangat pun tidak bisa dilakukannya! Tan Lo-hen sadar dia harus bisa melakukan serangan golok yang amat dahsyat itu, baru bisa mem-balikan kekalahannya menjadi kemenangan. Tapi serangan golok sedahsyat ini hanya mudah diucapkan saja" Diam-diam dia menghela nafas, dalam hatinya sama sekali tidak ada dendam. Kemampuan sendiri kalah oleh lawan, malah lawan mengampuni dan tidak membunuh dia, lalu apa lagi yang harus disesalkan" Li Poh-hoan meloncat dua tombak lebih turun di sisinya, saat kakinya baru saja menginjak tanah, dia segera menggerakan tangannya menotok delapan jalan darah di sekeliling lengannya yang terputus, darah segar segera berhenti mengalir. Tampang Hoyan Tiang-souw masih terlihat galak, matanya melotot, dada dibusungkan. Dia tidak menghalangi Li Poh-hoan menolong, juga tidak bicara. Dia tidak bicara tapi Li Poh-hoan sudah bicara: "Tan Lo-hen, kau adalah pesilat tinggi dalam bidang ilmu golok, yang belajar Tay-hong-ciam (Memotong angin besar) dari See-cui (perbatasan barat) yang tiada duanya di dunia. Tapi apakah kau tidak tahu jurus pertama Hoyan Tiang-souw adalah jurus golok perguruan Budha yang tiada bandingannya" Kenapa dia menggunakan jurus golok yang bukan untuk membunuh?" Tan Lo-hen keheranan: "Jurus golok perguruan Budha yang tiada bandingannya" Tapi jurus golok itu amat lihay, bukan jurus golok yang bisa membunuh orang." "Aku hanya mengatakan bukan untuk membunuh orang, sebab kau tidak bisa menembus pertahanannya, dan tidak bisa diam berdiri saja, sehingga kau terpaksa mundur ke belakang." Tan Lo-hen berusaha menahan kesakitan akibat luka di lengannya, dengan nada keheranan dan curiga berkata: "Memang aku mundur, tapi apa salahnya kalau mundur?" Jika dia bukan seorang pesilat tinggi yang sudah ^ berlatih tenaga dalam dan tenaga luar, luka parah atas putus lengannya, mungkin sudah dari tadi pingsan dan roboh ke tanah. Kata Li Poh-hoan: "Mendorong mundur dirimu, maksudnya mem beri kau satu kesempatan mendinginkan kepala, dan bersamaan waktu itu kau juga mendapatkan cara untuk berdamai atau sekalian saja melarikan diri. Tapi kesempatan ini tidak kau gunakan, itu bisa diketahui walaupun jurus golokmu sangat tinggi, tapi latihan hatinya kurang cukup." Wajah Tan Lo-hen semakin pucat, katanya: "Terima kasih atas nasihat Pangcu, hamba sekarang sudah mengerti!" Dia membalikan tubuh dan langsung pergi, tidak ada orang yang menghalangi dia. Hoyan Tiang-souw bertanya: "Tadi kau menyebut Tayhongciam dari See-cui, apakah yang ilmu goloknya sangat ternama?" Li Poh-hoan menganggukan kepala: "Bukan saja ternama, malah sangat ternama, beratus tahun di dunia persilatan ada yang disebut tujuh golok besar ternama, Tayhongciam adalah salah satunya!" "Tapi jika aku tidak tahu, maka itu jadi tidak ternama. Aku pernah membunuh seorang yang dijuluki Swat-hengkinleng (Es melintang di gunung Kin) Cin Hong, setelah itu baru tahu dia adalah muridnya Ceng-kuncu Ku Jinhouw, menurut kabar jurus golok mereka juga salah satu dari tujuh golok besar ternama." "Aku sudah tahu hal ini, jurus goloknya Ceng-kuncu Ku Jin-houw di dunia disebut Ji-kian-ji-poan-su-hwan-to-hoat (jurus golok dua licik dua khianat empat bagian), menurut kabar, jika berhasil melatih Ta-kian-siau-kian-ta-poan-siaupoan empat macam jurus golok ini, lalu bisa menggabungkan dan menggunakannya, maka walaupun pun terhadap seorang penjahat nomor satu dunia, ingin memenggal kepalanya semudah mengambil benda di dalam kantong!" Pembicaraan ini sebenarnya menarik sekali, apa lagi Hoyan Tiang-souw sebagai orang dunia persilatan, Mo-to dia walaupun lihay, tapi pengalamannya masih kurang. Maka seharusnya lebih menarik bagi dia. Tapi manusia adalah mahluk yang paling ruwet. Hoyan Tiang-souw bukan saja tidak melanjut-kan pertanyaannya, malah mengepal tangannya dan berkata: "Terima kasih atas pemberitahuannya, sampai jumpa lagi." Habis bicara dia pergi dengan langkah besar, setelah melewati jembatan kuno, langsung masuk ke dalam kuil Han-san. XoXoX Kamar tamunya cukup luas dan bersih, ranjang sprei dan yang lainnya pun sangat bersih. Orang yang sedang mengembara tentu saja tidak bisa terlalu pilih-pilih. Ada kamar semacam ini untuk menginap, mungkin sedikit sekali orang yang merasa tidak puas. Hari sudah mulai gelap, koridor di luar jendela^ dua lentera telah dinyalakan, tapi di dalam kamar yang lebih gelap, lampunya masih belum dinyalakan. Di bawah jendela ada satu meja persegi, dan beberapa kursi. Cui Lian-hoa duduk menghadap ke jendela yang terbuka lebar, memandang pekarangan kecil yang gelap. Wajah dia tampak kesepian, tapi tidak ketakutan. Walaupun dia duduk sendirian di kegelapan, tapi dia tahu ada sepasang mata yang mengawasi dia di sebelah kamarnya. Jika bukan mata, maka pasti telinga yang sedang mendengarkan gerakan dia. Apa pun tidak dipikirnya di dalam hati dia, kadang berkelebat kejadian masa lalu, dia juga cepat cepat berusaha melupakannya. Jika bicara lebih dalam lagi, kejadian besar ini seumur hidupnya yang paling menyakitkan, juga paling menyedihkan, paling dirindukan, juga berusaha tidak dimunculkan di d alam hatinya. Apa lagi kejadian lalu yang hanya sekelebat, atau kerinduan yang tawar" Mata dan telinga di sebelah kamar adalah milik wanita berbaju hijau yang menjadi murid perguruan Can-bian-tokkiam dari Lam-kiang, sekarang penampil-an dia adalah pelayannya 'tuan muda Cui' Lo-cia. Sebenarnya dia bermarga Biauw namanya Cia-sa, di namanya memang ada huruf Cia. Nama ini walaupun aneh, tapi siapa yang tahu apakah nama ini adalah terjemahan dari nama suku minoritas Biauw" Biauw Cia-sa duduk di dalam kegelapan, satu tangannya mengusap mempermainkan kancing ikat pinggangnya. Jika bajunya dibuka, maka akan tampak ikat pinggang ini hitam pekat, kurang lebih sebesar ibu jari. Inilah Tok-kiam (Pedang beracun) yang dimiliki oleh setiap murid Can-bian-tok-kiam-bun dari Lam-kiang yang namanya menggetarkan dunia. Cui Lian-hoa tidak tahu sebenarnya apa yang diinginkan Biauw Cia-sa, hanya tahu dia pasti ada gunanya bagi dia. Lentera di koridor mengeluarkan sinar kuning gelap, sedikit bergoyang-goyang ditiup angin musim gugur. Dengan perasaan hati yang mentertawakan dirinya, dia malah menghujat, di sudut bibirnya tampak tersenyum pahit, diam memikirkan sesuatu. Sekarang dia lebih merasakan kesepian di musim gugur dan pembunuhan di musim gugur, lentera yang bergoyanggoyang itu, menambah rasa kesepian yang amat sangat. Tapi jika di sisinya duduk seorang teman akrab, walaupun situasinya sama, berani dipastikan keadaan hati pasti tidak akan sama. Hay, kehidupan manusia ini semuanya kosong, juga menghilang dalam sekejap mata. Tapi mimpi ini......hay, mimpi ini kapan bisa bangun" Akhirnya terdengar suaranya Biauw Cia-sa dari kamar sebelah, dia berkata: "Adik kembarmu Cui Lian-gwat, apakah kau tahu dimana dia sekarang berada" Apa yang sedang dia lakukan, kau tahu tidak?" Oh langit, benar-benar mengorek lagi pikiran yang di pendam di dalam hati. Orang yang sebisanya dilupakan, kenapa justru diungkit" "Apapun aku tidak tahu, juga tidak ingin tahu." Dia menjawab dengan nada yang amat sedih. Biauw Cia-sa tidak terlihat datang meng-hampiri, dari sebelah berkata lagi: "Aku juga tidak ingin tahu, jujur saja terhadap laki-laki mana pun aku tidak ada gairah. Tapi aku pernah melihat Pek-jiu-cian-kiam (Tangan seratus pedang seribu) To Sam-nio, dia adalah pesilat tinggi yang lebih tua dan kelasnya lebih tinggi satu kelas dariku, tentu saja aku sangat berhati-hati memperhatikan dia. Kau juga tentu bisa mengerti, To Sam-nio tidak ada di Lamkiang, ada urusan apa dia lari ke Kang-lam?" Dalam hati Cui Lian-hoa tiba-tiba timbul bayangan wajah Hoyan Tiang-souw yang muda yang pemberani yang pemarah, juga sedikit mengandung rasa terkejut ketakutan itu. Hari itu dia buru-buru pergi (melarikan diri demi menghindar dari dia), dimana dia sekarang" Apakah dia tahu, walaupun aku adalah orang dari keluarga Cui di Hoa-goat-lou, tapi telah kehilang-an ilmu silat, sama sekali tidak mampu melawan Biauw Cia-sa" Jika dia tahu, akankah dia meninggalkan aku. Pikiran yang tidak ada gunanya ini datangnya tidak pada waktu yang tepat. Demi ini dia diam-diam tertawa pahit. Sekarang sebenarnya dia bisa saja memikirkan adiknya. Jika bajunya dibuka, maka akan tampak ikat pinggang ini hitam pekat, kurang lebih sebesar ibu jari. Inilah Tok-kiam (Pedang beracun) yang dimiliki oleh setiap murid Can-bian-tok-kiam-bun dari Lam-kiang yang namanya menggetarkan dunia. Cui Lian-hoa tidak tahu sebenarnya apa yang diinginkan Biauw Cia-sa, hanya tahu dia pasti ada gunanya bagi dia. Lentera di koridor mengeluarkan sinar kuning gelap, sedikit bergoyang-goyang ditiup angin musim gugur. Dengan perasaan hati yang mentertawakan dirinya, dia malah menghujat, di sudut bibirnya tampak tersenyum pahit, diam memikirkan sesuatu. Sekarang dia lebih merasakan kesepian di musim gugur dan pembunuhan di musim gugur, lentera yang bergoyanggoyang itu, menambah rasa kesepian yang amat sangat. Tapi jika di sisinya duduk seorang teman akrab, walaupun situasinya sama, berani dipastikan keadaan hati pasti tidak akan sama. Hay, kehidupan manusia ini semuanya kosong, juga menghilang dalam sekejap mata. Tapi mimpi ini......hay, mimpi ini kapan bisa bangun" Akhirnya terdengar suaranya Biauw Cia-sa dari kamar sebelah, dia berkata: "Adik kembarmu Cui Lian-gwat, apakah kau tahu dimana dia sekarang berada" Apa yang sedang dia lakukan, kau tahu tidak?" Oh langit, benar-benar mengorek lagi pikiran yang di pendam di dalam hati. Orang yang sebisanya dilupakan, kenapa justru diungkit" "Apapun aku tidak tahu, juga tidak ingin tahu." Dia menjawab dengan nada yang amat sedih. Biauw Cia-sa tidak terlihat datang meng-hampiri, dari sebelah berkata lagi: "Aku juga tidak ingin tahu, jujur saja terhadap laki-laki mana pun aku tidak ada gairah. Tapi aku pernah melihat Pek-jiu-cian-kiam (Tangan seratus pedang seribu) To Sam-nio, dia adalah pesilat tinggi yang lebih tua dan kelasnya lebih tinggi satu kelas dariku, tentu saja aku sangat berhati-hati memperhatikan dia. Kau juga tentu bisa mengerti, To Sam-nio tidak ada di Lamkiang, ada urusan apa dia lari ke Kang-lam?" Dalam hati Cui Lian-hoa tiba-tiba timbul bayangan wajah Hoyan Tiang-souw yang muda yang pemberani yang pemarah, juga sedikit mengandung rasa terkeju t ketakutan itu. Hari itu dia buru-buru pergi (melarikan diri demi menghindar dari dia), dimana dia sekarang" Apakah dia tahu, walaupun aku adalah orang dari keluarga Cui di Hoa-goat-lou, tapi telah kehilang-an ilmu silat, sama sekali tidak mampu melawan Biauw Cia-sa" Jika dia tahu, akankah dia meninggalkan aku. Pikiran yang tidak ada gunanya ini datangnya tidak pada waktu yang tepat. Demi ini dia diam-diam tertawa pahit. Sekarang sebenarnya dia bisa saja memikirkan adiknya. Adik kembarnya Cui Lian-gwat yang wajah dan tubuhnya persis sama, malah pikirannya juga bisa saling kontak. A-Gwat (selama ini dia memanggil adiknya A-Gwat) entah bagaimana bisa belajar ilmu sesat, sehingga mendadak memutuskan kontak batin yang sudah ada sejak Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo mereka dilahirkan" Tidak begitu saja, ilmu silatku juga semakin hari semakin mundur, sehingga akhirnya hilang semua. Dan sifat kami sejak lahir yang nakal suka jail, malah kadang sedikit jahat, juga telah hilang semua. Aku sadar sekarang ini aku seperti seekor anak kambing, hatiku terasa lebih bersih dari pada bunga teratai, tapi bagaimana dengan adik" Apakah dia juga sama dengan aku"' Cui Lian-hoa tidak berani memikirkan hal ini dalam beberapa tahun ini. Dia menyembunyikan diri di rumah petani yang berada di bawah pagoda Liu-ho di sisi sungai Kian-tang, seperti burung onta menyembunyikan kepalanya di dalam tumpukan pasir, apa pun tidak berani dipikirkannya lagi. Tapi sekarang dia dipaksa harus memikirkan-nya. Karena Biauw Cia-sa telah menyebut Cui Lian-gwat, lalu kenapa menyebut dia" "Bagaimana aku bisa tahu" Orang yang namanya To Sam-nio, bagaimana sedikit pun tidak ada bayangan, walaupun dia datang ke Kang-lam untuk mencarimu, aku tetap saja sama sekali tidak tahu apa apa?" Suara Biauw Cia-sa di sebelah mengandung nada beringas: "Aku ingin sekali menghajarmu, sebab To Sam-nio yang mengikuti Cui Lian-gwat, tampaknya sudah menjadi pelayan dia, melihatmu aku jadi seperti melihat Cui Liangwat, maka aku jadi ingin marah." Kata-kata orang ini tampaknya kurang aturan. Tapi' kepalan ada di depan mata, sedangkan pejabat pemerintah ada di tempat jauh, kadang tidak ada aturan juga jadi ada aturan. Tentu saja Cui Lian-hoa tidak mau dipukul, maka buruburu dia berkata: "Jika To Sam-nio benar-benar datang ke Tiong-goan mencarimu, hal ini tidak mengherankan. Sebab kulihat kau sudah menjadi pesilat tinggi Can-bian-tok-kiam, maka pasti harus mengutus pesilat tinggi untuk menghadapi pengkhianat ini, kenapa To Sam-nio jadi pelayannya adikku" Apakah hubungan di antara mereka pun sama seperti hubungan kami?" "Tidak sama," Nada bicara Biauw Cia-sa sangat yakin, lanjutnya, "Adikmu adalah majikannya To Sam-nio, dia bisa memerintahkan To Sam-nio mengerjakan apa saja. Menurut pandanganku, adikmu memiliki kekuatan gaib yang sulit diduga, dia lebih menakutkan dari pada To Samnio!" Cui Lian-hoa menundukan kepalanya berpikir. Lentera di kolidor yang bergoyang-goyang sudah tidak membangkitkan kerinduannya, mimpi misterius juga sudah menjauh dari dia! Tentu saja bayangannya Hoyan Tiang-souw pun menghilang! Sebenarnya di dalam hati dia, bayangannya juga tidak terlalu melekat. "Sebenarnya apa maumu?" tanya Cui Lian-hoa. "Aku bisa mencari akal mencari Cui Lian-gwat, kau adalah kakaknya, dan dia adalah majikannya To Sam-nio, masalahnya jadi lebih sederhana. Aku akan membuat dia tahu, nyawamu dan berhubungan dengan nyawaku, kukira di dalam hati dia, nyawamu lebih penting dan lebih berharga dari pada nyawaku, maka dia tidak akan segan memberi pesan pada To Sam-nio." "Tindakan begini mungkin tidak bisa men-jamin." Cui Lian-hoa berkata dengan jujur. Tapi dia juga tahu, Biauw Cia-sa pasti tidak percaya, maka dia berkata lagi: "Kemana kita pergi mencari mereka?" "Bukan kita, tapi aku sendiri." Kata-kata Biauw Cia-sa kedengaran dingin sekali, "jika aku tidak bisa hidup, kau juga sama, walaupun kita tidak bersama sama, tapi aku bisa menjamin akan hal ini." ((( dw ))) Li Poh-hoan masih bersandar di pagar jembat-an, baju putihnya berkibar-kibar ditiup angin musim gugur. Ambisi ingin menguasai dunia di dalam sorot matanya semakin memudar. Akhirnya dia menarik nafas panjang sekali, lalu melangkah menuju kuil Han-san. Sampai di depan jembatan, ada tujuh delapan belas orang di sana mengawasi dia dengan sorot matanya. Tujuh delapan belas orang itu tersebar dimana-mana, bukan di satu tempat. Sorot mata Li Poh-hoan berhenti di atas seorang pemuda yang berbaju sastrawan, lalu beralih kepada seorang lakilaki besar yang bertubuh tegap yang keningnya lebar hidungnya pesek. Setelah dia menganggukan kepalanya sedikit, dua orang itu segera lari menghampiri. Mereka masih sangat muda, kira-kira berusia dua puluh tiga empat tahun. Kelihatannya Li Poh-hoan lebih tua tiga empat tahun dari mereka. Yang memakai baju sastrawan adalah Oey Go-siang, sedangkan laki-laki besar hidung pesek di panggil Pek Ieseng. Mereka adalah murid atau anaknya anggota lama Thipiantan-pang, setelah dasar ilmu silatnya cukup bagus di usia enam tujuh belas tahun, maka dipilih keluar mengembara dan mencari pengalaman, supaya bisa lebih maju lagi. Ini adalah salah satu cara Thi-pian-tan-pang membina orang berbakat selama ratusan tahun. Murid yang terpilih diijinkan keluar mengem-bara dan memperdalam ilmu, setelah beberapa tahun ketika kembali lagi pasti sudah menjadi seorang pesilat tinggi kelas satu. Oey Go-siang dan Pek Ie-seng mengikuti Li Poh-hoan dari belakang, melangkah masuk ke dalam kuil kuno Hansan. Sepatah kata pun mereka tidak bertanya, atau bersuara, tapi di dalam hati mereka tahu, kepergian ini sangat penting sekali. Tangan kanan Oey Go-siang mencabut kipas lipat bertulang baja sepanjang satu setengah kaki yang diselipkan di punggungnya, dengan pelan dipukul-pukulkanke telapak tangan kiri. Pek Ie-seng juga tidak tahan mengusap-usap tameng besi seberat empat puluh sembilan kati yang disimpan di dalam kantong kain. Li Poh-hoan melangkah melewati palang pintu gerbang kuil kuno, setelah berhenti sejenak, dengan pelan berkata: "Jangan menunjukan sikap seperti siap bertarung, belum tentu kita akan bertarung." Oey Go-siang dan Pek Ie-seng bersama-sama menjawab dengan pelan: "Ya!" Maka mereka meredam hawa membunuhnya, menganggap dirinya sedang melancong dan datang untuk sembahyang. Di dalam kuil Han-san ada pohon Hong yang sering dilihat di luar, tumbuhnya sangat subur dan enak dilihat. Ruang Lo-han di kedua sisi kiri dan kanan terlihat sepi dan tidak ada orang. Melihat ke dalam dari jalan batu, di ruangan besar tampak tenang dan damai, rupanya juga tidak banyak orang. , Maka Li Poh-hoan dengan santai berjalan ke pekarangan sebelah kanan, melewati pintu bundar, belum lagi menikmati kebun yang sangat indah, terlihat di dalam satu ruangan di sebelah kanan lagi ada banyak orang. Yang pertama muncul adalah Hoyan Tiang-souw. Dia sedikit pun tidak memalingkan kepala, dengan langkah besar keluar dari ruangan, segera sudah berada di depan Li Poh-hoan. Sepasang mata besarnya yang berkilat-kilat itu menatap Li Poh-hoan, seperti sedang melihat mahluk aneh. Sambil tersenyum Li Poh-hoan berkata: "Ada apa dengan diriku, apakah mendadak berubah menjadi sangat buruk dan aneh" Atau berubah menjadi sangat tampan?" Hoyan Tiang-souw menggelengkan kepala: "Dia tidak mempedulikan aku, seperti orang asing yang tidak pernah bertemu." Orang ini biasanya bersuara seperti geledek, tapi karena volume suaranya diatur, maka suara dia jadi terdengar pelan juga tidak mengherankan. Yang aneh adalah buat apa dia berbicara pelan" Hoyan Tiang-souw berkata lagi: "Dia sudah berubah, dia bukan yang dulu lagi, kita masih ada satu pertarungan, maka aku peringatkan padamu, lebih baik kau jangan berpikiran anehaneh pada nona Cui." Senyum Li Poh-hoan sekarang berubah menjadi senyum santai, dia balik bertanya: "Jika kau bertemu dengan gadis yang sangat cocok, apakah kau mau melewatkannya begitu saja?" Hoyan Tiang-souw tertegun sejenak, berkata: "Aku sudah melewatkannya!" Li Poh-hoan mengangkat angkat bahu: "Setiap orang berhak menentukan keinginan dirinya, silahkan!" Hoyan Tiang-souw berjalan keluar, tanpa melihat kebelakanglagi. O O O Tidak sedikit orang dalam ruangan yang luas ini, selain Ji-hong hweesio yang sedang duduk bersila di atas kursi sembahyang di sudut tembok, masih ada lima orang biasa yang memakai baju hweesio, semua nya laki-laki. Tapi jumlah wanitanya juga tidak sedikit. Nona Cui, To Sam-nio dan dua orang pelayan mereka saja sudah empat orang. Mereka berempat dan lima orang laki-laki berbaju hweesio semua duduk bersila di atas bantal duduk, mereka terbagi dua baris menghadap Ji-hong hweesio, seperti sedang mendengarkan penjelasan Ji-hong hweesio tentang ajaran Budha. Tapi Ji-hong hweesio bukan saja tidak bersuara, malah tubuhnya sedikit menyandar ke belakang. Hanya orang yang ketakutan, tanpa sadar posisi duduknya seperti ini. Sebenarnya apa yang ditakutkan oleh Ji-hong hweesio" Bukan saja Ji-hong hweesio ketakutan, sampai lima orang umat yang berbaris di depan, empat orang wanita itu, posisi duduknya juga tampak kaku dan tidak normal. Siapa pun yang melihat, tahu semua ini di sebabkan oleh 'ketakutan'. Di pintu ruangan muncul bayangan putih tinggi semampai, di pinggangnya ada sebilah pedang. Orang ini wajahnya tampan sekali, matanya berkilatkilat, menyapu sekali pada semua orang. Termasuk kepada Ji-hong hweesio. Saat sorot matanya menyapu Ji-hong hweesio, hatinya jadi tergerak. Dia melihat hweesio itu mendadak mengangkat tangannya memberi salam tanpa berkata, saat lengan-nya diturunkan ke bawah, bahu sikut dan pergelangan tangannya bergoyang-goyang. Orang berbaju putih ini adalah Li Poh-hoan. Di dalam hati dia seperti sadar akan sesuatu, tapi dia sendiri tidak mengerti. Maka setelah dia berpikir sebentar baru dia melangkah masuk ke dalam ruangan dan dengan keras berkata: "Aku Li Poh-hoan dari Siang-yang, mohon maaf telah mengganggu ketenangan Lo-hweesio." Ji-hong hweesio seperti terpaksa menaikkan semangatnya, berkata: "Li Poh-hoan Sicu" Bagus juga Sicu datang kemari, bagaimana pun ketenanganku sudah terbiasa diganggu, lebih satu orang juga tidak apa-apa!" Suara Li Poh-hoan bulat dan merdu, berkata: "Tidak hanya aku, masih ada dua orangku, yang satu adalah Oey Go-siang, yang satunya lagi Pek Ie-seng." "Nama mereka bagus-bagus, Oey Go-siang begitu terdengar pasti seorang yang tegar, tidak mudah menyerah. Dan Pek Ie-seng seorang yang membenci kejahatan dan kebiasaan buruk, tapi satu orang dengan tiga orang sama saja, silahkan kalian masuk dan duduk." Dengan bersuara keras Li Poh-hoan berkata: "Yang aku cari adalah nona Cui, aku sudah mengikuti dia sejak dari Ho-hui sampai kemari." Nona Cui sedikit pun tidak bergerak, sampai alisnya pun tidak diangkat. To Sam-nio malah berdiri sambil memalingkan kepala dia berkata: "Li-pangcu ada petunjuk apa?" "Maaf bukan ingin memberi petunjuk, aku hanya merasa heran kenapa To Sam-nio yang jauh dari Thian-lam, yang menggemparkan Thian-lam, bisa menjadi pelayan nona Cui" Sebenarnya siapa nona Cui?" Suara dia nyaring dan ramah, orangnya pun tampan sekali. To Sam-nio melihat dia dengan tertegun. Sambil bicara Li Poh-hoan menjulurkan tangan merapihkan rambutnya yang melayang-layang, gerakannya sangat tenang, tapi akibatnya sangat dahsyat. Tiba-tiba kipas tulang besi hitam Oey Go-siang maju menyerang, dia menggetarkan ujung kipasnya, dan menjelma menjadi tujuh titik sinar hitam. Di lain pihak Pek Ie-seng pun mengayunkan tameng besi yang masih terbungkus kantong kain itu, dengan dahsyat menghantam. Gerakan Li Poh-hoan yang membetulkan rambutnya ternyata adalah perintah untuk menyerang. Wajah To Sam-nio berubah dia membentak: Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo "Keji benar kau!" Setelah berkata, dia menggerakan pergelangan tangannya, lima garis sinar hijau, segaris mengikuti segaris terbang keluar. Dia melepaskan sinar hijau yang seperti garis itu bukan hanya diarahkan pada Oey Go-siang dan Pek Ie-seng saja, tapi juga termasuk Li Poh-hoan. Sedangkan Oey Go-siang dan Pek Ie-seng ini juga bukan menyerang To Sam-nio atau nona Cui, mereka hanya menyerang ke arah dua orang pelayan cantik yang duduk di paling kiri dan paling kanan. Sebenarnya semua orang tahu, dalam pertarung an yang mempertaruhkan nyawa seperti ini, harus segera mengambil sikap menyerang lawan harus menyerang kudanya, menangkap bangsat harus menangkap rajanya dulu. Maka tidak heran jika dua pesilat tinggi anak buah Li Poh-hoan mendadak menyerang. Yang mengherankan adalah, yang diserang mereka bukan nona Cui, juga bukan To Sam-nio, hanya dua orang pelayannya. Dua orang pelayan itu memutar tubuh dan meloncat ke atas, laksana kapas melayang layang ditiup angin, selain ringan juga cepat sekali. Tangan mereka memegang pedang yang sudah dicabutnya. Mata pedangnya bersinar menyilaukan mata, saat keluar dari sarung, pedang sudah menyapu tiga putaran. Tampaknya ilmu meringankan tubuh mereka sangat tinggi, jurus pedangnya juga hebat dan aneh, pasti bisa menangkis serangan mendadak dari Oey Go-siang dan Pek Ie-seng. Siapa sangka Li Poh-hoan pun ternyata ikut dalam serangan mendadak pada dua pelayan itu. Dia bukan menyerang, tapi menyabetkan pedangnya, membuat lima garis sinar hijau yang dilepaskan oleh To Sam-nio, disentak dan terbang keluar. Saat To Sam-nio melepaskan senjata rahasianya walaupun sedikit lebih lambat dari pada serangan Oey Gosiang dan Pek Ie-seng, tapi walaupun lebih belakang tibanya ternyata lebih dulu, malah yang paling pertama mendapat serangan adalah Li Poh-hoan. Maka Li Poh-hoan menyabetkan pedangnya membalikan senjata rahasia lawan, dua garis balik menyerang pelayan di sebelah kiri, dan dua garis lainnya menyerang pelayan di sebelah kanan. Sisa satu lagi malah balik menyerang To Sam-nio. Begitu dia menyabetkan pedangnya, bukan saja bisa menangkis senjata gelap, malah masih bisa menggunakan tiga macam tenaga yang berbeda, balik menyerang tiga orang lawannya, ketajaman mata, jurus pedang dan tenaga semacam ini, sungguh jarang ada di dunia. To Sam-nio mengangkat tangannya, menerima kembali senjata rahasianya, itulah jarum kecil tiga inci berwarna biru. Sisa empat jarum biru lainnya menancap pada sepasang kaki ke dua pelayan itu. Saat itu dua macam senjatanya Oey Go-siang dan Pek Ie-seng ditangkis oleh gulungan pedang mereka, serangan yang dilakukan oleh Oey Go-siang dan Pek Ie-seng Bai adalah serangan keras. Walaupun kedua pelayan itu bisa menangkis, tapi tidak bisa memperhatikan yang lainnya. Setelah sepasang kakinya terkena jarum baru mereka sadar. Dua orang gadis cantik itu langsung menjadi kaku, lalu bersama-sama roboh ke tanah. Pertarungan pertama ini hanya dalam waktu sekejap mata sudah selesai. Oey Go-siang dan Pek Ie-seng juga hanya menyerang satu jurus langsung mundur lagi, diam berdiri di samping Li Poh-hoan. To Sam-nio mengeluarkan dua butir obat, masingmasing dimasukan ke dalam mulut dua orang pelayannya. Bersamaan mengusap sepasang kaki mereka di tempat yang terkena jarum. Setelah kembali ke samping nona Cui, sambil tertawa kaku berkata: "Nona Cui, Li Poh-hoan memang sulit di hadapi, A-sia dan A-siu malah terluka jarumku, walau pun telah diberikan obat penawarnya, tapi dalam dua tiga hari ini tidak bisa bergerak seperti biasanya." Nona Cui masih tetap duduk tidak bicara, pelan-pelan memalingkan kepalanya, sepasang mata-nya yang seperti intan menatap pada Li Poh-hoan, dan tersenyum padanya. Senyumannya membuat orang serasa ditiup angin timur yang lembut, ratusan bunga bermekaran. Dia mengangkat wajahnya yang secantik bunga Tho, rambut panjangnya yang hitam melayang-layang ke belakang, ke cantikannya seperti dewi saja. Dia menunjukan giginya yang putih rapih dalam senyumnya, menambah kemanisannya. Suaranya bulat merdu: "Margaku Cui, orang lain menyebut aku Pu-couw-siancu (Dewi tidak gelisah)." Li Poh-hoan menarik nafas dalam-dalam, baru bisa meredakan hatinya yang bergejolak, menganggukkan kepala tanda menyapa dan berkata: "Li Poh-hoan memberi hormat pada dewi!" Pu-couw-siancu memutar matanya, wajahnya berubah menjadi kurang senang. Li Poh-hoan yang melihat, hatinya jadi tertekan. Untung dia masih ingat sesuatu, buru-buru menekan gejolak hatinya. Dia tahu emosi setiap orang bisa bergejolak, tapi jika terpengaruh oleh senyum atau gerakan wanita, maka itu sangat tidak baik. Pu-couw-siancu berkata: "Ku dengar, di dunia persilatan, kau adalah laki-laki sejati yang berjiwa ksatria. Tapi aku tidak mengira kau bisa menyerang dengan tiba-tiba, malah menghina kedua pelayanku." "Aku sangat menyesal, tapi aku juga tahu mereka seperti sayapnya dirimu, jika sekarang mereka masih bisa bertarung, menambah rasa waspadaku berlipat ganda juga mungkin masih tidak cukup." Pu-couw-siancu tertawa dan berkata: "Penglihatanmu tajam, orangnya juga gagah dan tampan, jika suatu hari aku bisa menyukai laki-laki, aku rasa sangat mungkin kau yang pertama ku pertimbangkan." Dia sudah bukan gadis yang berusia lima enam belas tahun, seharusnya sejak lama sudah merasakan daya tariknya kaum laki-laki. Tapi jika dia mengatakan, suatu hari nanti akan menyukai laki-laki, itu sama dengan mengakui dirinya sama sekali tidak suka laki-laki. Li Poh-hoan tersenyum sambil sedikit mem-bungkukan rubuh, menandakan terima kasih. Pu-couw-siancu berkata lagi: "Tidak sedikit pesilat tinggi berada di Thi-pian-tanpang, organisasinya juga kokoh, dan kau sendiri selain pandai juga pemberani, penuh ambisi. Ingin membuat organisasi yang bersifat daerah yang terkurung di perairan Han-sui memperluasnya menjadi organisasi terbesar di dunia persilatan, seseorang jika mempunyai ambisi besar tentu saja bagus, tapi apakah waktunya tepat atau tidak, itu mau tidak mau harus membuka mata lebar-lebar melihatnya dengan jelas." "Mohon Siancu memberitahukan organisasi apa yang Siancu pimpin?" Pu-couw-siancu dengan jujur berkata: "Aku hanya seorang murid dari Tong-tee-see (Perkumpulan di wilayah di timur)." "Tong-tee-see...Tong-tee-see......" Li Poh-hoan berpikir dalam hati, bolak-balik membacanya, otaknya berputar terus, tapi sedikit pun tidak ada bayangan. Tong-tee-see, pasti sebuah organisasi yang diam-diam di dirikan akhir-akhir ini. Tapi mungkin dia bohong. Juga mungkin dia tidak bohong mengatakan nama sebenarnya tapi jarang diketahui orang. Di dalambotani banyak contoh seperti ini, saat kita melihat nama ilmiahnya sama sekali tidak tahu benda apa itu, tapi setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri, ternyata itu adalah pepohonan yang biasa kita lihat. Makanya Li Poh-hoan sesaat tidak yakin dia ini bohong atau tidak. Dan juga tidak berani meyakinkan dirinya sebagai Pangcu Thi-pian-tan, berambisi menguasai seluruh dunia, tapi malah tidak pernah mendengar sebutan lawan yang sangat lihay ini. Dia mengangkat kepala dan menghela nafas, berharap dengan keluhan ini bisa menghilangkan perasaan lemah dan menyayangkan dirinya di dalam hati. Perasaan semacam ini muncul secara mendadak saat pertama kali dia melihat Pu-couw-siancu. Laki laki mana pun di dunia ini tidak peduli sepintar apa, pengetahuannya setinggi apa. Juga tidak peduli usahanya sesukses apa. Begitu di hadapan wanita, laki-laki adalah laki laki, hanya begitu saja. Dia merasa dia sendiri sangat sulit bisa menganggap dia adalah musuh terbesarnya. Tapi 'merasa' hanyalah reaksi dari perasaan. Akal sehatnya memberitahu dia harus tegas melihat dia adalah musuh terbesarnya, menghadapi dia harus sangat hati-hati, kejam dan tanpa perasaan. Pertentangan memenuhi dadanya. Membuat sorot j matanya meredup, tubuh serasa tidak begitu tegak, begitu santai. Tawa manis Pu-couw-siancu sudah terdengar lagi, dia melanjutkan perkataannya: "Tidak usah bersusah payah memutar otak lagi, ku dengar kau mempunyai sembilan anak buah setia yang disebut Sam-kang-sam-goan-sam-pu-tong (Tiga keras, tiga lemah lembut, tiga tidak sama), apakah mereka semuanya sudah datang" Apakah Oey Go-siang dan Pek Ie-seng adalah dua diantaranya?" Mulut Oey Go-siang dan Pek Ie-siang seperti disumbat oleh kaos kaki bau, sampai bibirnya sedikit pun tidak bergerak. "Kali ini aku hanya membawa dua diantaranya, yaitu Oey Go-siang dan Pek Ie-seng." Pu-couw-siancu mendengus sekali: "Walaupun kau hanya membawa dua orang, tapi aku tidak menganggap kau memandang sebelah mata padaku, sebab kau sendiri sudah datang." Li Poh-hoan menganggukan kepala: "Benar, aku pun tidak berani memandang sebelah mata kepadamu." Pu-couw-siancu tersenyum manis: "Jika demikian, kita tidak perlu menyuruh bawahan kita mempertaruhkan nyawa mereka." Tubuh dia mendadak terbang ke atas delapan sembilan kaki, masih dalam posisi duduk memalingkan kepalanya ke belakang. Orang-orang tidak bisa mengerti jika dia duduk tidak bergerak, tapi kenapa bisa terbang naik ke atas" Dalam sekejap mata, dewi yang sangat cantik ini mendadak posisinya berubah menjadi tengkurap, tampaknya dia bisa berbaring di atas udara, meluncur ke arah Li Poh-hoan tanpa membuat debu bertebaran. Setiap gerakan dia semuanya sangat menarik. Ketika Oey Go-siang dan Pek Ie-seng sadar, dia sudah mendekat dengan ketua perkumpulan dan melakukan penyerangan, sekarang mereka bukan sedang menonton sandiwara, tentu saja juga bukan sedang nonton orang sedang akrobatik, tapi sedang dalam pertarungan nyawa. Begitu sadar,, kedua orang itu menjadi sangat menyesal. Tangan Li Poh-hoan sudah menekan pegangan pedangnya. Kakinya memutar melangkah ke kiri dua langkah, berputar ke kanan lima langkah, dalam sekejap mata sudah berpindah delapan kali di tempat yang berbeda. Tubuh Pu-couw-siancu yang tengkurap di udara, juga bergerak meluncur berpindah-pindah tempat, akhirnya menginjakan kakinya di tanah, seperti orang biasa berdiri di tanah. 0 O 00 O 0 BAB 7 Dalam kaum hawa, penampilan Pu-couw-siancu termasuk panjang semampai, bertubuh tinggi langsing. Tapi dia masih harus mengangkat wajahnya, baru bisa melihat mata Li Poh-hoan, apakah dalam hatinya sama seperti di wajahnya mengagumi dia" Sambil tersenyum dia berkata: "Ilmu silatmu memang bagus, maka aku akan menggunakan kemampuanku yai ig sebenarnya!" "Apa maksudmu?" Tanya Li Poh-hoan heran. Gerakan tadi, apakah tidak termasuk kemampu an sebenarnya" "Aku akan menggunakan jariku, cukup satu jurus saja, tapi satu jurusku ini ada seratus perubah-annya, ada cepat ada lambat ada kosong ada isi, jika kau tidak kalah terhadap jurus jari ku, maka aku......" Hati Li Poh-hoan menjadi hangat dan bertanya: "Maka kau bagaimana?" "Maka aku akan mentraktirmu minum arak, dan lain kali aku akan menggunakan jari seribu perubahan menghadapimu." Li Poh-hoan sadar sungguh tidak masuk akal, hatinya hangat. Tapi, minum arak bersama dia, tidak diragukan lagi pasti sangat menggembirakan. Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo Maka dia menganggukan kepala: "Baik, tapi bagaimana syaratnya?" "Jika di bawah serangan jariku, kau masih bisa meloloskan diri keluar pintu, maka boleh dihitung tidak kalah." Kata Pu-couw-siancu Dia berhenti sejenak lalu berkata lagi: "Tentu saja jika kau terluka atau mati baru bisa keluar pintu, maka itu tidak bisa dihitung tidak kalah, aku pun hanya akan menggunakan satu jurus It-cie-pek-pian (Jari seratus perubahan), pasti tidak ingkar janji." "Baiklah!" Li Poh-hoan mengangkat bahunya Pelan-pelan Pu-couw-siancu mulai mengangkat tangannya, lengan bajunya melorot sampai sikunya, tampak lengan depan yang seputih salju, dan telapak tangan yang seperti giok putih. Mendadak terlihat dia jadi semakin cantik. Di saat ini laki-laki mana pun akan menatap padanya, jari tangan dia sudah datang menotok. Orang-orang yang berdiri agak jauh, melihat gerakan jari Pu-couw-siancu yang sangat indah, serangannya seperti tidak ada perubahan, hingga siapa pun bisa dengan mudah menghind arinya. Tapi perasaan Li Poh-hoan yang berhadapan dengan dia sangat berbeda. Dia tidak menyangkal gerakan Pu-couw-siancu sangat indah. Tapi perasaan yang paling dirasakan adalah 'menyeramkan'. Sebabnya ada dua alasan: Pertama, begitu dia menggerakan jarinya, gerakan tubuh dan langkahnya bersatu dengan gerakan jarinya. Ini. artinya tidak bisa melihat tubuhnya, tidak bisa melihat gerak langkahnya, hanya bisa melihat jarinya. Kedua, walaupun dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya pada pedang, jelas tidak dapat menahan tenaga jari yang menyerang dari kejauhan. Kedua sebab yang disebutkan di atas walau pun hanya perasaan saja, kenyataannya tekanan jari Pu-couw-siancu pun belum bisa menembus hawa pedang, dan melukai jalan darah pentingnya. Tapi perasaannya hal ini sudah cukup. Jika menunggu perasaan dan rasa khawatirnya menjadi kenyataan, saat itu mungkin dia tidak mati juga sudah tergeletak di atas tanah. Li Poh-hoan mengangkat tangan, pedang panjang di tangannya menyorot sinar terang. Ujung pedangnya menusuk ke arah ujung jari yang mulus itu. Tapi hanya menggunakan pedang saja masih belum cukup, dia masih harus meloncat menghindar dan mencari celah untuk balas menyerang. Hawa udara sedikit pun tidak panas, tapi ujung hidung Li Poh-hoan sudah berkeringat sedikit. Dia menyadari jari mulus yang cantik tapi menyeramkan itu, selalu bisa mendahului dan pada posisi yang paling baik mengancam delapan belas jalan darah pentingnya. Selain itu ujung jarinya yang mengeluarkan angin keras, jari itu bisa berbelok menyerang titik vital di belakang tubuhnya. Dia berturut-turut sudah menggunakan Chun-cancu-hu (Musim semi ulat sutra mengikat diri), Hi-yan-hoan-hwee (Bara palsu menjadi bayangan api), Seng-hong-kui-ku (Menunggang angin kembali pergi) tiga jurus dari dua puluh empat jurus ilmu silat keluarganya, jurus bertahan Cap-jisinkiam (Dua belas jurus ilmu pedang). Setiap jurus itu dipecah lagi menjadi tiga perubahan, jumlahnya menjadi tujuh puluh dua perubahan. Seketika tampak sinar menyilaukan mata berputar-putar di sekeliling tubuh, laksana sebuah pohon api dengan bunga perak. Tapi keringat di ujung hidungnya malah bertambah bukannya berkurang, sebab dalam tujuh puluh dua jurus pedangnya, paling sedikit ada enam kali hampir saja dia tertembus oleh angin jari lawannya. Walaupun Li Poh-hoan kelihatan kelabakan, namun Pucouwsiancu juga tidak tampak senang, sebab jurus It-ciepekpian nya sudah digunakannya sebanyak tujuh puluh dua perubahan tapi masih belum bisa melumpuhkan lawannya, sedangkan lawan pun hanya bertahan saja belum menyerang. Dia pernah mendengar jurus yang paling hebat dalam ilmu pedang keluarga Li Poh-hoan adalah jurus menyerangnya bukan jurus bertahan. Jika sekarang dia tiba-tiba membalas menye-rang, tentu keadaannya akan menjadi...." Maka dia sedikit pun tidak merasa senang, atau pun puas. Tiba-tiba serangan jarinya sedikit melambat, wajahnya yang cantik itu tampak senyuman yang ( menyilaukan mata. Entah kenapa Li Poh-hoan tidak bisa melihat ujung jarinya, dia hanya melihat wajah yang cantik yang bisa membuat orang mabuk. Di saat bersamaan terdengar suara rayuan di dalam angin musim semi, membujuk dia tidak menyianyiakan waktu yang indah ini, tidak menyia-nyiakan asmara yang manis ini. Hati dia sejenak menjadi bimbang, dan titik kematian di dada kirinya menampakan celah yang sulit ditambal. Melihat ini Pu-couw-siancu tersenyum, lalu jarinya menusuk, sisa dua puluh delapan perubahan jurusnya sekali gus menyerang. Dia sudah memperhitungkan dengan tepat, walaupun Li Poh-hoan mampu menutup celah di dada kirinya, tapi di tempat lainnya pasti akan ada yang bocor, makanya dia harus mengeluarkan seluruh jurus membunuhnya baru bisa memenangkan pertarungan ini. Dia tersenyum dengan manisnya, apa lagi melihat keringat di ujung hidung Li Poh-hoan. Seorang pesilat tinggi kelas satu seperti dia yang baru saja muncul dan bersinar terang, sudah kalah begitu saja, malah lenyap dari peredaran, sungguh satu hal yang menggembirakan. Tiba-tiba gerakan pedang Li Poh-hoan berubah, dari atas pedangnya menyabet ke bawah. Ujung pedangnya berbunyi tiga kali "Weng weng weng!" sabetannya pun tidak kaku lagi, tapi muncul tiga buah bunga sinar hujan. Sabetan pedang dia ini baik indah atau lihay kita tinggalkan sejenak. Yang terpenting adalah jalannya pedang dia yang mendadak berubah besar, seperti dari laki-laki buruk rupa mendadak berubah menjadi wanita cantik, atau kebalikannya dari wanita cantik mendadak berubah menjadi laki-laki buruk rupa juga sama saja. Tentu saja siapapun bisa merasakan kehebatannya, malah bayangannya sangat sulit dilihat. Dua puluh delapan perubahan jari mulus Pu-couwsiancu, bukan saja dihadang habis-habisan oleh nya, dia juga harus buru-buru menarik kembali serangannya, selain itu masih harus mundur ke belakang beberapa tombak! Dengan demikian, pintu untuk keluar menjadi terbuka lebar. Li Poh-hoan sedikit membungkukan tubuhnya: "Terima kasih atas kemurahan Siancu." Pu-couw-siancu melirik sambil tersenyum dan berkata: "Jurus pedang hebat, malam ini dimana kita minum arak" Song-ho-lou baik tidak?" Li Poh-hoan dengan senang berkata: "Baik." Dia memalingkan kepala melihat pada Ji-hong hweesio, tampak dia sedikit menutup matanya laksana sebatang kayu mati, segala sesuatu hal di dunia ini seperti tidak bisa membangkitkan gairahnya. Dari kejauhan Li Poh-hoan membungkukkan rubuhnya menghormat, dengan keras berkata: "Harap Lo-hweesio memaafkan kecerobohan cayhe, mohon pamit. .A" Kulit mata hweesio itu tidak bergerak sedikit pun), sampai Li Poh-hoan sudah keluar masih tetap seperti itu. Pu-couw-siancu masih berdiri di tempatnya, senyum di wajahnya yang secantik bunga musim semi sudah tidak tampak lagi, digantikan dengan wajah dingin, dan berpikir keras. Di dalam ruangan sedikit pun tidak ada suara. Setelah lewat beberapa saat, Pu-couw-siancu batuk beberapa kali, lalu menggunakan saputangan yang putih bersih menutupi mulutnya. Setelah batuknya berhenti dia lalu membuka sapu tangannya, tampak di atas sapu tangannya penuh dengan darah segar. To Sam-nio menghampiri dan melihatnya, dengan pelan berkata: "Kau kenapa" Apa terluka dalam?" Pu-couw-siancu menggelengkan kepala dengan lesu berkata: "Satu jurus pun dia tidak menyerang, bagai-mana aku bisa terluka?" Di dalam mata To Sam-nio menyorot sinar aneh, dengan penuh perhatian bertanya: "Tapi kau telah memuntahkan darah, apa sebabnya?" Muntah darah sangat melukai tubuh, apa lagi terhadap tenaga dalam, lebih merusak lagi. Pu-couw-siancu pelan mengeluh: "Jurus pedangnya yang terakhir, setelah ku pikir-pikir dengan seksama, bukan saja It-cie-pek-pian tidak bisa menembusnya, It-cie-cian-pian pun tetap tidak akan bisa, setiap perubahannya sudah aku pikirkan, tapi masih saja tidak bisa memecahkannya!" Ternyata dia berpikir keras untuk bisa mengatasi jurus pedang itu dengan jurus jarinya, dia sudah berpikir seribu seratus macam perubahan, sehingga karena terlalu berpikir keras maka dia jadi muntah darah. Tapi dia masih belum menyerah, sorot matanya yang redup melihat pada wajah To Sam-nio. Dia berkata lagi: "Julukanmu adalah Pek-jiu-cian-kiam, seorang ahli pedang besar, menurut pandanganmu apakah jurus pedang Li Poh-hoan tadi ada celahnya?" To Sam-nio adalah pesilat tinggi murid dari perguruan Can-bian-tok-kiam, nama besar Can-bian-tok-kiam tidak lemah selama ratusan tahun, sampai nama besar Hiat-kiam juga tidak bisa menekannya. (Hiat-kiam adalah Hiat-kiamyanpak.). Maka To Sam-nio adalah seorang ahli pedang besar, kata-kata Pu-couw-siancu tidak terlalu mengangkat dia. To Sam-nio berpikir sejenak, lalu berkata: "Aku perlu waktu memikirkannya, tapi saat terpikir mungkin kau sudah mendapatkan jawabannya terlebih dulu." Saat dia berpikir matanya pernah menyorot sekali, rupanya sudah ada kesadaran lain juga sudah ada rencana lain. Pu-couw-siancu mengerutkan alisnya yang panjang tipis itu dan berkata: "Karakter dan gaya jurus pedang dia, berbeda sekali dengan jurus pedang keluarganya, juga sama sekali bukan gaya lima besar perguruan pedang di Tiong......" Sesaat kembali dia berpikir keras. Lima orang laki-laki berpakaian hweesio yang selama ini diam duduk di depan, mendadak meloncat terbang dari tempat duduknya, di udara lima orang itu bersama-sama mencabut senjatanya masing-masing. Sekejab sinar golok, bayangan kapak, suara hantaman palu dan desisan pecut memenuhi ruangan. Dari lima orang itu ada tiga orang menerjang ke arah Pucouwsiancu. Dua orang lagi gerakannya lebih lambat, sepasang golok dan sebuah pecut menyerang ke arah To Sam-nio. Karena mereka lebih lambat. Maka To Sam-nio masih keburu melirik ke arah Pu-couw-siancu. Tampak tubuh tiga laki-laki besar itu bergerak sangat cepat seperti peluru menerjang Pu-couw-siancu, dengan golok panjang, kapak mas dan telapak dewa. Sudut serangan mereka masing-masing tidak sama, tinggi rendahnya juga tidak sama, tapi kerja sama mereka seperti serangan seorang yang berilmu tinggi dan mempunyai tiga kepala enam lengan. Hanya dengan hawa membunuh dan tekanan-nya saja, bagi pesilat biasa di dunia persilatan yang menyaksikan sudah bisa mati ketakutan. Jari Pu-couw-siancu menotok. Di wajah cantiknya masih tertinggal sisa warna kebingungan dan kelelahan. Sasaran serangan ketiga orang itu adalah dia, tentu saja dia tidak mungkin tidak bisa melihat wajah dan gerakan lawannya. Sedangkan tiga orang itu mungkin dalam sepanjang hidupnya baru sekarang mengetahui satu hal, yaitu mimik wajah seorang wanita cantik yang mengerutkan kening dan alis kesusahan yang kadang kala lebih menarik orang dari pada senyum manisnya. Persoalan seperti ini, hanya terjadi pada perasaan ke tiga orang baju hitam saja. Karena perasaan ini ke tiga orang itu merasa tenaga mereka telah berkurang setengahnya. Bahkan perasaan lain sudah datang menyusul, yaitu kenapa jarinya Pu-couw-siancu dengan tepat sudah mengenai jalan darah penting di dada dan perut mereka masing-masing" Tiga macam senjata sekelebat lewat memotong rambut hitam panjang Pu-couw-siancu. Baju di bahu kanannya robek, tampak yang terlihat bukan kulit yang putih bersih tapi darah segar. Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo Golok panjang juga telah membacok masuk ke dalam iga kanan dia. Tapi ke tiga laki-laki besar berbaju hitam itu pun bersama-sama jatuh ke atas tanah, tidak satu pun yang bergerak lagi. Pu-couw-siancu berturut-turut mundur tujuh delapan langkah, setelah tubuhnya menyentuh dinding baru bisa berhenti. Di dalam lengan baju kiri To Sam-nio keluar satu kilatan sinar pedang "Traang traang.'" berturut turut dia menangkis serangan bertubi-tubi dua belas tebasan golok dan delapan pecutan dari dua orang laki-laki besar berbaju hitam itu. Dia lalu meloncat laksana bunga terbang, dengan ringannya turun di sisi Pu-couw-siancu, sekali mengebutkan lengan baju kirinya, sinar pedang ber- ( kelebatan menangkis sepasang golok yang datang \ pertama. Buru-buru dia bertanya: "Siancu, bagaimana keadaanmu?" Perkataannya belum selesai, pedang di lengan baju kanannya juga sudah menangkis serangan pecut. Pu-couw-siancu melihat-lihat golok panjang yang masih menancap di tulang iganya, berkata: "Siapa mereka ini" Kenapa mau membunuh aku?" nada suaranya masih mengandung kebingung-an yang amat kental. Saat ini orang berbaju hitam yang memegang sepasang golok mendadak meninggalkan To Sam-nio, lalu menyerang Pu-couw-siancu, sepasang golok dia bukan saja kecepatannya meningkat, hawa dingin goloknya juga bertambah kuat. Jelas saat menghadapi To Sam-nio tadi dia tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Dengan kata lain dia tadi menyembunyikan kemampuan sesungguhnya. Tapi kenapa dia harus melakukan ini" Sinar pedang yang keluar dari lengan baju kiri To Sam-nio bukan hanya satu sinar pedang tapi ada tiga sinar pedang, dengan cepat menghadang orang ini. Dari dalam lengan baju lainnya malah mengeluarkan tujuh delapan sinar pedang, sehingga bisa menghalau lakilaki besar berbaju hitam yang menggunakan pecut. Tapi tiga sinar pedang dari lengan baju kirinya, bukan saja tidak bisa menghadang sepasang golok, juga tidak menghadang jari tangan Pu-couw-siancu. Satu jari dua bayangan dari Pu-couw-siancu, tepat mengenai sepasang golok. Dua golok itu segera terpental ke udara, "Tak., tak!" menancap diatas tiang. Jarinya yang mulus itu kembali mengeluarkan suara "Ssst ssst!" berturut-turut lima kali. Tubuh laki-laki berbaju hitam itu terhentak terbang ke belakang, laksana terpukul berturut-turut lima kali oleh benda berat, saat jatuh di atas tanah sejauh dua tombak lebih, tulang di seluruh tubuhnya sudah tidak ada satu pun yang utuh. Wajah To Sam-nio berubah, di dalam lengan baju kanannya kembali terbang keluar tujuh delapan sinar pedang, secepat kilat berputar ke arah tangan dari laki-laki berbaju hitam yang menggunakan pecut, dan tangan lakilaki berbaju hitam itupun hancur lebur di papasnya. Selain itu diatas wajah dan dada dia juga tampak ada tujuh lubang berdarah, "Buuk!" tubuhnya melayang jatuh sejauh satu tombak lebih. Di dalam ruangan malang melintang mayat mayat, bau amis darah menusuk hidung. Ji-hong hweesio yang menjadi satu-satunya orang hidup selain empat wanita itu, di atas ranjang pendek dia membuka matanya, dengan wajah sedih mengeluarkan keluhan beberapa kali. To Sam-nio dengan dingin berkata: "Kami tidak membunuhmu, karena tidak perlu membunuhmu, kenapa kau sedih dan mengeluh?" Seraknya suara Ji-hong hweesio seperti orang yang tidak bisa minum di atas gurun pasir. Dia berkata: "Pinceng sudah banyak menyaksikan orang mati, tapi tidak pernah ada pengalaman menguburkan mayat. Dalam sekejap kalian meninggalkan begitu banyak mayat di sini, bagaimana aku harus berbuat?" Dia bukan saja tidak berterima kasih karena mereka tidak membunuhnya, dalam nada bicaranya malah sedikit menyalahkan. Sesaat To Sam-nio jadi serba salah, terpaksa dia berteriak memaki: "Tutup mulut, ini masalahmu, bukan masalah ku." Dengan tangannya, Pu-couw-siancu melepas-kan golok yang menancap di iganya, bajunya segera menjadi merah oleh daran yang mengucur. Tapi tubuh dia sepertinya masih tegap, malah masih bisa membantu membopong dua gadis pelayan berjalan keluar. " ^^oodwoo^^ Malam hari, di dalam kota Soh-ciu sudah terang benderang oleh lampu, di atas jalanan ramai sekali. Tubuh Pu-couw-siancu benar-benar masih kuat, walaupun bahu dan iganya terluka, malah masih bisa mempersiapkan makanan di rumah makan Song-ho menjamu tamunya! Semua makanan laut segar bisa dimakan disini, araknya juga sangat bagus, produk khas dari Sauw-sing arak Ni-jiang, di hawa dingin musim gugur minum arak bagus yang sudah dipanaskan, sungguh satu kenikmatan hidup. Tapi bagi pandangan Li Poh-hoan, makanan enak dan arak bagus masih tetap tidak bisa dibanding-kan dengan senyuman Pu-couw-siancu. Dia berusaha menenangkan diri dan berpikir sejenak, baru minum arak berturut-turut tiga gelas dan berkata: "Setelah aku pikir-pikir dengan tenang, wanita cantik yang pernah kulihat sepanjang hidupku, tidak ada satu pun yang secantik dirimu." Dia mengatakannya dengan serius, tapi hanya seperti sebuah pendapat setelah melihat lukisan bagus. Sedikit pun tidak ada rasa tidak hormat. Pu-couw-siancu tersenyum tawar dan berkata: "Aku mengundangmu minum arak, tentu saja kau harus menghormati aku." "Aku tidak membesar-besarkan, kenyataannya ada banyak orang yang ingin mengundang aku minum arak tapi tidak kulayani, maka aku tidak akan memuji-mu hanya karena masakan dan minuman bagus ini." "Kalau begitu kau ini orang yang bagaimana?" dia sedikit membelalakan matanya dan bertanya lagi, "Kau memiliki ambisi sendiri, kau adalah orang yang tidak mau dikendalikan orang lain?" Sambil tersenyum Li Poh-hoan menganggukan kepala: "Aku memang orang semacam itu." "Ancaman tidak perlu disebutkan lagi, kau pasti orang yang pemberani. Tapi aku mau bertanya, bagaimana dengan kekayaan dan wanita cantik" Bisa tidak membuat orang mengalah?" Li Poh-hoan berpikir sejenak, baru berkata: "Dulu., tanpa berpikir aku bisa menjawab pertanyaan seperti ini, tapi sekarang setelah aku melihat kau dengan mata kepala sendiri, dalam hati aku malah ^' menjadi raguragu. Tadi aku berkali-kali tanya pada diriku sendiri, bisa tidak aku mengalah pada orang yang secantik dirimu" Jawabannya kau pasti sudah tahu, makanya aku tidak perlu mengatakannya lagi!" Pu-couw-siancu menggelengkan kepala tanda tidak mau tahu dan berkata: "Tidak, aku ingin kau mengatakannya sendiri." "Demi kau, banyak hal aku bisa mengalah." Pu-couw-siancu dengan gembira mengangkat gelas, minum setengahnya, dan memberikan sisa setengahnya pada dia, dengan pelan berkata: "Kau habiskan setengah gelas arak ini." Di pinggir gelas samar-samar tertinggal wangi lipstiknya. Li Poh-hoan pelan-pelan meminumnya, sesaat hatinya jadi melayang-layang. Apakah dia selalu bebas begini" Atau hanya khusus padaku" Dia tidak mungkin tidak tahu, inilah tandanya sayang bukan" Tidak peduli dia seberapa pelan minumnya, setengah gelas arak tetap saja dengan cepat habis. Pu-couw-siancu mengambil kembali gelas arak di tangannya, jari mulus dia yang seperti bawang giok itu menyentuh tangan dia, sentuhan yang pelan ini membuat Li Poh-hoan seperti terkena setrum. Dia mengisi kembali gelas arak, pelan-pelan minum dua teguk, lalu sambil tersenyum memberikan pada dia. Menunggu dia habis meminumnya, lalu dia mengambilnya kembali dan mengisinya. Dengan demikian gelas arak itu bolak-balik berpindahpindah sampai delapan kali dan sambil tersenyum menunggu dia habis meminumnya. Sepertinya mereka sangat sayang pada gelas arak itu. Dan sepertinya di rumah makan yang sangat terkenal ini hanya ada satu gelas itu saja. Melihat cara mereka minum arak seperti ini, mungkin minum sampai pagi juga tidak akan habis dua kati. Bagi peminum arak, pasti tidak akan bertahan, tapi bagi pemabuk yang tujuannya bukan pada arak, malah tidak diragukan, merasa sangat puas sekali. Tiba-tiba Pu-couw-siancu merenung sambil memegang gelas arak, lalu dengan pelan berkata: "Kau dari Siang-yang sengaja datang kesini, apa hanya ingin menghadapi aku saja?" Li Poh-hoan menganggukan kepala mengakuinya. "Akhirnya kita pun bertarung, aku sungguh mengagumi jurus pedangmu, tapi apakah kau kira bisa mengalahkan aku?" "Hari ini, saat bertemu tidak bisa mengalahkan mu, lewat dua hari lagi pun tidak akan bisa mengalah-kan mu." Sorot mata Li Poh-hoan sangat jujur dan juga sangat tajam, "tapi sekarang bisa mengalahkan kau." "Kau sudah tahu?" Pu-couw-siancu "Benar, di tubuhmu ada dua luka, rambut juga seperti telah terpotong, bisa dibayangkan, saat itu kau sangat tidak beruntung. Tapi luka luar tidak penting, aku menemukan-mu kadang-kadang saluran pernafasanmu tidak lancar dari nafasnya kacau, itu hal penting, jika aku ingin membunuhmu, pasti tidak akan melewatkan kesempat-an ini." Pu-couw-siancu kembali tertawa pahit, berkata: "Penglihatamu sangat tepat, apakah kau selalu memandang orang dengan tepat seperti ini, baru menyerang orang?" Li Poh-hoan menganggukan kepala: "Walaupun aku telah mempelajari berbagai macam jurus pedang. Tapi yang paling penting tetap adalah jurus pedang keluargaku, itulah jurus pedang pembunuh, diutamakan membunuh dalam satu jurus, lalu pergi." Pu-couw-siancu pelan-pelan mengulurkan tangan mulusnya. . Li Poh-hoan memandangi tangan mulusnya, sampai dia dengan sendirinya meletakan tangannya di atas telapak tangan dia, seperti seorang gadis menyandarkan dirinya dipelukan laki laki. Baru tersenyum dengan tenang, dia lalu mengangkat kepala memandangnya. Pu-couw-siancu dengan pelan berkata: "Walaupun kau sangat memperhatikan tangan ku, tapi sebenarnya ketika berjarak lima inci, tidak peduli kau waspada seperti apa, aku tetap saja bisa menguasaimu." Jurus jari It-cie-pek-pian dia yang sangat lihay, dia pernah menyaksikannya. Menurut kata-katanya malah masih ada It-cie-cian-pian, itu tentu jurus yang lebih lihay lagi. Makanya Li Poh-hoan mempercayai dia tidak berbohong. Kata Li Poh-hoan: "Lalu kenapa kau tidak mengambil kesempatan ini menyerangku?" Pu-couw-siancu balas bertanya: "Kenapa kau sendiri tidak mengambil kesempatan ini mencabut pedang dan membunuh aku?" Li Poh-hoan mengangkat-angkat bahu Pu-couw-siancu berkata lagi: "Kau sudah mengaku mau mengalah padaku, dan jurus pedangmu begitu hebat, kenapa aku tidak menambah satu teman yang tampan dan kuat, malah membuat permusuhan dengannya?" Tangan dia bergerak lembut di dalam telapak tangannya, perasaan seperti tersengat listrik Li Poh-hoan menjadi semakin kuat, tapi dilain pihak dia juga ada perasaan raguragu. Bagaimana ini mungkin" Tangan mulus dia sudah di dalam genggaman tanganku. Apakah benar dia ada perasaan khusus pada ku" Apakah benar di dalam hati dia ada aku" Arak yang diminum mereka tidak banyak, tapi kata-kata yang dikatakan mereka tidak sedikit. Dan tangan mulus licin dia terus ditaruh di dalam telapak tangan dia...... Z - Z - Z Di atas permukaan sungai di pagi hari, dan di antara hutan Hong di sisi sungai, lapisan embun masih belum hilang, menambah keindahan yang samar-samar. Li Poh-hoan memakai baju putih, dia tetap membawa pedangnya, penampilannya sangat tampan dan gagah. Pu-couw-siancu memakai baju kuning, cantik sekali. Tidak peduli dipandang dari jauh atau dekat, tampak seperti dewi di dalam lukisan. Mereka berdua berhenti saling berhadapan di bawah Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo daun Hong yang merah. Tidak jauh dari sisi mereka air sungai mengalir dengan tenangnya. Pu-couw-siancu yang pertama sambil ter-senyum berkata: "Aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa pagi-pagi sekali berlari kemari" Kemarin malam kita pun tidak ada janji terlebih dulu. Kenapa aku tidak sengaja tidak datang saja, bukankah akan lebih baik untuk mempertahankan gengsi" Kau tahu kami perempuan suka menggunakan cara ini, dan menurut kabar cara ini sangat berguna sekali pada ribuan tahun yang lalu!" Li Poh-hoan melihat-lihat ke sekeliling sawah datar yang luas di bawah sinar mentari pagi, dalam pemandangan musim gugur, mendadak kepercayaan dirinya meningkat berlipat ganda, semangatnya tiba-tiba lebih bergelora dari pada dulu. Dunia begitu megah, wanita begitu cantik, siapa yang mau melewatkan kesempatan ini" Siapa yang mau melewatkan keremajaan" Sorot mata dia laksana tingginya langit dalam-nya lautan, menatap pada Pu-couw-siancu dengan lembut berkata: "Jika kau mau membantuku, aku pasti bisa melaksanakan ambisi besarku. Generasi-generasi yang akan datang pasti tidak akan melupakan kesuksesan diriku!" Gelombang mata Pu-couw-siancu lebih lembut dari air di musim semi, wajahnya lebih cantik dari pada bunga bintang. Suara dia juga laksana suara musik dari khayangan, dengan lembut berkata: "Aku pasti membantumu, aku pasti membantumu...... Li Poh-hoan tidak bicara lagi, dengan lembut memeluknya, dengan lembut mencium bibirnya yang merah...... Seluruh alam semesta mendadak jadi berubah. Yang tadinya buruk jadi cantik, yang dangkal berubah jadi dalam, yang tidak berarti jadi berarti...... Tapi Li Poh-hoan tetap masih bisa memperhatikan Pucouwsiancu jadi semakin kaku, dan warna wajahnya juga jadi semakin pucat. Apakah asmara yang bisa menghidupkan alam semesta ini, malah menjadi buruk buat dia. Pu-couw-siancu terengah-engah, dengan nada yang tidak jelas berkata: "Mendadak aku teringat seseorang, orang yang paling dekat denganku. Hay, aku sudah beberapa tahun tidak mengingat dia lagi!" Hati Li Poh-hoan mendadak sakit seperti di tusuk pedang dan mengalir darah. Tapi dengan sekuat tenaga dia berusaha tenang seperti tidak jadi apa-apa dan berkata: "Orang ini pasti orang yang paling bahagia di dunia ini." Pu-couw-siancu menggeleng-gelengkan kepala: "Tidak, malah sebaliknya, dia mungkin orang yang paling sengsara." Dia memberontak melepaskan dari pelukannya, lalu berjalan mengitari pohon Hong satu putaran, wajahnya baru kembali jadi tenang. Dia tersenyum. Walau masih tetap cantik menyilaukan, tapi Ia Poh-hoan sudah berubah, seperti ada yang mengganjal. Dia mengeluh dalam. Dia tahu kenapa dirinya mengeluh" Itu karena asmara yang menyatukankan hati dan tubuh ini, dalam sekejap mata telah menghilang. Di dalam kehidupan ini, apakah masih ada saat saat sekejap yang mengharukan ini" Semua hal jika sudah mencapai puncaknya, perasaanpun tidak akan bisa tinggal terlalu lama. Tidak peduli itu amarah besar, sedih, bahagia sekali, pokoknya setelah sampai di puncaknya, tidak lama akan menurun, atau disebut mendingin. Tapi manusia sejak dahulu semuanya berharap puncaknya suatu perasaan bisa bertahan abadi, apa lagi asmara. Semua pasangan yang jatuh cinta berusaha keras mempertahankan cinta abadinya supaya tidak berubah selamanya. Jika orang luar memandang dengan tenang menelitinya, maka akan tahu jawabannya adalah sangat tidak beruntung sangat menyedihkan. Terharu juga demikian, tidak peduli kau terharu karena apa, selalu dengan cepatnya sampai ke puncaknya dan segera meluncur ke bawah. Saat sekejap ini kau bisa mengalirkan darah demi itu, boleh mati demi itu, tapi saat sekejap ini pasti tidak abadi. Sastrawan besar yang menggemparkan dunia dari negri matahari Kai-coan-lang-cie-cia, selalu ingin menangkap kecantikan yang dalam sekejap mata lalu menghilang, selalu mengira bisa melihat keabadian dalam saat sekejap, atau mendapatkan keabadian. Tentu saja ini hal yang tidak mungkin. Karena abadi sendiri mengandung singkatan, makanya abadi hanyalah pikiran yang palsu, dan singkat juga sama palsu, tidak nyata. Kai-coan-lang-cie-cia mati bunuh diri di usia tiga puluh lima tahun, hasil karya dia seperti Lok-seng-bun bersinar menyilaukan mata, dan kehidupan dia di dalam arus hidup mati di alam semesta ini, juga sangat singkat dan bersinar menyilaukan mata. Embun di antara hutan Hong dan di atas sungai hilang di bawah sinar mentari, seperti yang tidak pernah terjadi. Tapi embun pagi benar-benar telah terjadi, keindahan yang samar-samar itu tetap masih tertinggal di dalam hati Li Poh-hoan. Dia sangat membenci dirinya kenapa mau meninggalkan keindahan yang tiada taranya ini, malah menggunakan untung rugi pikiran yang buruk dan kampungan itu, untuk mempertimbangkan masalah Pu-couw-siancu. Tapi dia juga tahu bagaimana pun dia harus mempertimbangkan dari sudut pandang ini. Karena di dalam lubuk hati dia samar-samar merasakan, masalahnya tidak sebagus yang ada di permukaan, juga tidak sesederhana itu, malah timbul perasaan buruknya yang entah dari mana datangnya. Bayangan punggung langsing Pu-couw-siancu walaupun sudah menghilang di hutan dan bukit di sana, sudah di luar jangkauan pandangan dia. Tapi dia tahu sebenarnya dia belum lepas dari pandangannya, hanya saja sekarang dia melihatnya bukan dengan mata tapi melihat dengan hati, tidak peduli dia pergi kemana, dia juga bisa melihat dia. o O o O o BAB 8 Karena di musim semi, walaupun matahari panas tapi tidak terasa terik. Di belakang kuil Han-san ada hutan yang tenang, Jihong hweesio memakai jubah hweesio merah yang bersulamkan benang emas, berdiri di depan sebuah plakat papan. Plakat papan ini berruliskan "Makam lima orang tidak dikenal" tanggal, hari dan lain-lainnya, mungkin tidak lama lagi akan digantikan dengan nisan batu yang kecil. Di dalam tanah dikuburkan lima orang baju hitam yang kemarin mati di ruang sembahyang, Ji-hong hweesio hanya bisa menggunakan tikar mem-bungkus mayat, dengan sederhana menguburkannya di sini. Masalah ini sudah menghabiskan banyak waktunya. Juga telah memaksa dia menghadapi beberapa masalah sulit. Tapi bagaimana pun juga sekarang sudah tenang seperti hari-hari biasa, makam baru ini berada di dalam hutan yang tenang, mungkin selamanya tidak akan ada orang yang menemukan dan memperhatikan. Setelah Ji-hong hweesio selesai mendoakan ayat terakhir Ong-seng (Menuju kehidupan), maka dengan, santai dia membuka kancing di bahunya, melepaskan jubah sembahyang, lalu melipatnya dengan rapih dan di taruh di atas tangannya. Lalu dengan tenang dia melihat ke sekeliling. Dia memandang karena ada maksudnya, sebab saat ini di belakang pohon keluar seorang gadis cantik, alis dan matanya laksana lukisan, memakai baju kuning melayanglayang ditiup angin. Dia melenggok melangkah di atas rerumpul.ni, laksana dewi melangkah di atas gelombang. Dia berjalan mendekati hweesio tua, sepasang matanya yang hitam cantik memperhatikan hweesio tua dari atas sampai ke bawah, lalu dengan teliti melihat tulisan di atas plakat papan itu. Jangan disangka dia akan berbicara atau bertanya, dia malah dengan hikmat berdoa. Setelah beberapa saat, akhirnya hweesio tua merasa tidak tahan, dia memalingkan kepala melihat wajahnya, juga tidak tahan menduga-duga doanya ini akan memakan waktu berapa lama" Tapi saat ini dia sudah membuka suara, suara-nya nyaring enak didengar: "Aku sudah datang beberapa saat, aku terus mendugaduga apakah kau kenal dengan lima orang mati di dalam tanah ini?" Hweesio tua itu mengeluarkan jurus lihay dari agamanya: "Kenal atau tidak kenal sama saja, siapa pun setelah mati tidak ada bedanya, padahal sebenarnya semasa hidupnya pun tidak ada bedanya." Wanita cantik baju kuning itu adalah Pu-couw-siancu, dia menggelengkan kepala tanda tidak setuju dan berkata: "Buatmu boleh saja tidak ada bedanya, tapi buat aku tidak sama. Karena kemarin yang ingin mereka bunuh adalah aku bukannya kau, apa lagi diatas tubuhku ada dua luka yang ditinggalkan mereka!" "Mungkin Sicu benar." Jawab hweesio tua. Kerutan di wajahnya menandakan usia dan pengalaman dia. Tapi suaranya yang nyaring dan sorot matanya yang tajam, kembali menandakan dia tidak tunduk pada usia. Hweesio tua itu kembali berkata: "Pinceng menduga Sicu pasti ingin menanya-kan mereka, tapi orang mati selamanya tidak bisa men-jawab, makanya kenapa tidak membiarkan mereka terbaring di sana dengan tenang?" "Aku tidak akan membongkar kuburan mereka, masalah ini anda boleh tidak usah pikirkan." Hweesio tua itu dengan tegas menggelengkan kepala: "Pinceng masih tidak bisa tenang, jika Sicu datang kesini bukan ingin membuka kuburan untuk memeriksanya, lalu buat apa Sicu datang kesini?" Pu-couw-siancu tersenyum dan berkata: "Anggap saja aku mau membongkar kuburan, apa pengaruhnya pada orang mati itu" Mereka sudah tidak merasakan apa-apa, juga tidak akan memprotes. Buat apa kita berdebat tentang masalah yang tidak ada gunanya ini?" Hweesio tua tidak sependapat dan berkata: "Tidak ada gunanya" Masalah ini dalam pandanganku sama sekali bukan tidak ada gunanya, malah sangat berarti!" Pu-couw-siancu sedikit tercengang dan berkata: "Kau sepertinya sangat melindungi mereka" Sampai terhadap mayatnya juga masih merasa kasihan!" Sebenarnya orang mau melihat mayal ilu bukankah tidak halangan" Hweesio tua berkata: "Tentu saja tidak apa-apa, tapi setelah menggali keluar mayat-mayat ini, lalu siapa yang akan menguburkan mereka kembali" Heng, tidak perlu disebutkan pasti Pinceng hweesio tua ini akan kembali direpotkan. Kalian setelah membunuh orang langsung pergi meninggalkan, apakah setelah menggali kuburannya mau menguburkannya kembali?" Alasan ini walaupun sedikit lucu, tapi juga bukan sama sekali tidak masuk akal, dan malah Ji-hong hweesio kemarin juga sudah mengeluhkan soal siapa yang menguburkan mayat-mayat itu. Kelihatannya hweesio tua ini sangat tidak senang dan bersikukuh terhadap masalah ini. Mendadak Pu-couw-siancu merubah bahan pembicaraan dan berkata: "Siapa sebenarnya Lo-hweesio" Kau berpura pura menjadi hweesio yang jujur, tapi sebenarnya kau tidak jujur?" Ji-hong hweesio sangat tidak senang dan balik bertanya: "Aku berpura-pura" Pura-pura pada siapa" Sicu belum pernah bicara dengan Pinceng, kapan Pinceng telah membohongi Sicu?" Pu-couw-siancu tidak bisa membantahnya, terpaksa berkata: "Kalau begitu sekarang kau beri tahu aku, siapa kau sebenarnya" dan siapa saja orang orang yang mati ini" "Pinceng benar-benar seorang hweesio asli, sama sekali bukan hweesio palsu, hanya saja Pinceng menggunakan sebutan hweesio yang tidak diketahui orang, masalah ini tidak penting bagimu, yang Sicu rasakan penting adalah asal usul lima orang mati ini, benar tidak?" Pu-couw-siancu menganggukan kepala: "Benar, tapi aku juga ingin tahu sebutan Lo-hweesioyang diketahui orang itu." Ji-hong hweesio berkata: "Sebenarnya sebutan lainnya tidak banyak orang yang tahu, sebab waktu dengan cepat berlalu, jika dihitunghitung sudah empat puluh tahun yang lalu. Walaupun empat puluh tahun dengan cepat berlalu, tapi Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo juga sudah terjadi lebih banyak peristiwa, makanya tidak akan ada orang yang tahu sebutan hweesio yang Pinceng gunakan dahulu." Pu-couw-siancu sepertinya lebih bersikukuh sepuluh kali lipat dari pada dia dan berkata: "Tidak peduli, aku masih tetap ingin mendengarnya." Ji-hong hweesio tidak terlihat merasa kesulitan: "Tiga puluh tahun dari empat puluh tahun yang lalu, sebutan Pinceng adalah Tong-leng." . Pu-couw-siancu mengerutkan alis berpikir, sejenak, wajah cantiknya mendadak penuh dengan keheranan. Suara dia juga sedikit serak dan berkata: "Kau ini Tong-leng-siang-jin salah satu dari Ngo-tai, orang suci yang berada di bawah pimpinan mantan ketua perguruan Siauw-lim-si, Goan-seng Tai-cuncia?" Ji-hong hweesio menganggukan kepala: "Benar itu Pinceng, tapi Pinceng tidak tahu apa yang membuat Sicu keheranan?" Pu-couw-siancu dengan gugup berkata: "Kalau begitu Taysu pasti sudah tahu asal-usulku?" Sekarang nama Ji-hong hweesio kita ganti jadi Tonglengsiang-jin. Dia berkata: "Tentu saja Pinceng tahu, apa Sicu takut nanti Pinceng menyebar luaskan berita ini" Atau tidak takut Pinceng mencari akal menghadapimu" Hay, tapi Sicu tenang saja, Pinceng sudah empat puluh tahun tidak terjun ke dunia ramai, mungkinkah Pinceng mau mengurusi masalahmu" Pu-couw-siancu tetap masih gugup berkata: "Tapi aku tidak sependapat, kau pasti tahu aku berbeda dengan orang lain." Tong-leng-siang-jin menghela nafas sekali: "Sicu sungguh berbeda dengan orang lain, tapi jika Sicu masih tetap memaksa Pinceng terlibat dalam pergolakan, maka Pinceng tidak perlu mengurusnya, juga tidak bisa mengurusnya." Pu-couw-siancu menenangkan diri, baru ber-kata lagi:,. "Baik, kau harus beritahu aku, lima orang yang mati itu siapa sebenarnya" Kenapa mereka menyerang ku" Dan kenapa dengan kemampuanku, sampai sekarang masih belum bisa menyelidiki jati diri dan tujuan mereka?" Tong-leng-siang-jin berkata: "Karena Sicu telah bertanya pada Pinceng, maka Pinceng akan menjawabnya. Pertama, nama lima orang ini Pinceng tidak tahu, tapi melihat jurus silat mereka, mungkin mereka adalah orang-orang dari perumahan di gunung Bu-ih (Tidak ada yang jahat) dari daerah Tian-lam (selatan provinsi Hun-lam). perumahan di gunung Bu-ih Sicu pasti pernah mendengarnya, sebenarnya itu artinya tiada kejahatan yang tidak dilakukan. Kedua, lima orang ini pikirannya sudah di kendalikan, makanya apa yang mereka lakukan mereka sendiri juga tidak tahu, sehingga tidak bisa diketahui kenapa mereka mau menyerang Sicu." Perkataan hweesio tua itu terhenti sejenak lalu berkata lagi: "Mengenai kenapa kau tidak bisa menyelidiki jati diri mereka, inilah sebuah petunjuk, Sicu pikir-pikir sendiri, mungkin akan mendapat jawabannya." Pu-couw-siancu melototkan matanya, diam-diam berpikir. Orang cantik selalu ada nilai tambahnya, walau pun melotokan matanya, tapi tetap saja kecantikannya memikat orang. Dia pelan-pelan berkata: "Jika para pembunuh ini benar dari perumahan di ^ Buihsan, sebenarnya tidak sulit menyelidiki jati diri mereka, tapi kenapa tidak boleh diselidiki?" Tong-leng-siang-jin dengan pelan berkata: "Jika air danau sangat keruh, kau tentu tahu disana banyak ikannya, tapi pasti tidak bisa melihat ikannya." Pu-couw-siancu sambil bergumam "Benar, benar, air yang keruh menghalangi penglihatan, tampaknya aku pun begitu." Dengan serius dia memberi hormat pada hweesio tua itu. Pu-couw-siancu kembali berkata: "Banyak terima kasih pada Lo-hweesio, aku permisi, tidak peduli apa yang terjadi, aku pasti tidak akan menyebutkan nama besar anda." Tong-leng-siang-jin berkata: "Begitu bagus sekali, tapi walaupun disebutkan juga tidak apa-apa, aku hanya khawatir para murid-murid itu datang kesini, itu akan membuat keadaan menjadi tidak pernah tenang." Di dalam hutan dengan cepat kembali menjadi hening dan tenang, sebab hweesio tua dan seorang gadis yang sangat cantik sama-sama ti dak bicara, mereka berdiri seperti patung kayu. Kenapa Pu-couw-siancu setelah berkata pamit, masih belum pergi" Jawabannya segera terlihat. Di dalam hutan tiba-tiba terdengar suara yang amat kecil, jelas ada orang yang bergerak. Namun di saat begini dan di tempat begini, siapa yang mau datang kesini" Jika benar ada orang yang datang, apa tujuan dia" Hweesio tua itu memejamkan matanya sambil bersandar ke pohon, kelihatannya mungkin bisa terus di posisi begitu tiga hari tiga malam sedikit pun tidak bergerak. Wajah Pu-couw-siancu sangat dingin, juga sedikit memejamkan mata memperhatikan suara kecil yang hampir tidak terdengar itu. Setelah beberapa saat, seorang tua yang loyo berambut putih keluar dari dalam hutan. Walaupun dia tampak tua dan loyo, tapi sinar matanya sangat tajam, jelas tidak loyo karena usianya sudah tua. Setelah melihat dengan hati-hati pada hweesio tua dan Pu-couw-siancu, orang tua loyo itu baru berkata: "Pu-couw-siancu, hamba Lo-hiat memberi hormat." Pu-couw-siancu menganggukan kepalanya. Lo-hiat kembali berkata: "Kenapa Lo-hweesio ini masih berdiri disini" Kenapa dia tidak kembali ke kuilnya?" Pu-couw-siancu melihat sekali pada hweesio tua itu, setelah mengetahui dia tidak akan bicara lagi, maka dia berkata: "Dia sudah sangat tua, juga seorang hweesio, jangan pedulikan dia, katakan saja padaku, apa tujuan-mu datang kemari." Lo-hiat menganggukan kepala: "Aku datang untuk minta pertolongan Siancu." "Lihatlah, apakah aku orang yang khusus j menyelamatkan orang?" kata Pu-couw-siancu heran. Lo-hiat tertawa terkekeh-kekeh, tiba-tiba timbul maksud tidak baiknya. Dia berkata: "Kau mau menolong atau tidak aku tidak peduli, tapi atas nama Cui Lian-hoa, maukah kau menolong dan melindungi aku." Wajah Pu-couw-siancu tidak berubah, tapi tidak bisa disangkal hatinya memang tergetar. Nama Cui Lian-hoa, sudah lama dia tidak mendengar, juga sudah lama sekali dia tidak memikirkannya, tapi pagi hari ini mendadak dia teringatnya. Itu terjadi ketika dia bertemu dengan Li Poh-hoan di bawah pohon Hong di pinggir sungai. Sekarang setelah di ingat kembali, mendadak dia jadi teringat kakaknya Cui Lian-hoa, apa sebabnya" apakah karena harinya dipenuhi oleh cinta asmara, sehingga beberapa orang yang dulu sangat akrab sekali dengannya menjadi teringat kembali olehnya" Sorot mata Lo-hiat dalam tidak bisa diukur, dia kembali berkata: "Jika aku mati, dia pun tidak akan bisa hidup, apakah kau mengerti apa maksud perkataanku ini?" Wajah Pu-couw-siancu terlihat cerah, sambil tersenyum berkata: "Tentu saja aku mengerti, tapi aku tidak pernah berniat membunuhmu, maka kata-katamu mungkin tidak ada gunanya, kau dari perkumpulan atau organisasi apa?" "Aku orang Can-bian-tok-kiam-bun dari Lam-kang," Kata Lo-hiat singkat. Pu-couw-siancu tetap dengan tertawa berkata: "Kau tahu tidak Pek-jiu-cian-kiam To Sam-nio ada disini" Dia adalah pesilat tingginya Can-bian-tok-kiam-bun, masalahmu mungkin dia bisa memutus-kannya untukmu." Tiba-tiba Lo-hiat menyela: "Sekarang Cui Lian-hoa tidak bisa bersilat sedikit pun, brandalan biasa pun bisa memperkosa dia. Tapi mengenai ini kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan dia mendapat penghinaan ini." "Kalau begitu aku berterima kasih padamu." Lo-hiat menggelengkan kepala: "Tidak perlu, tidak perlu, walaupun dia tidak khawatir mendapat penghinaan, tapi nyawanya terancam, jadi jika aku tidak selamat, dia juga harus menemani aku ke akhirat." Kata Pu-couw-siancu: "Aku mengerti sekarang, sebenarnya yang kau takutkan bukan aku, tapi To Sam-nio, tentu saja aku bisa memerintahkan To Sam-nio jangan mencari gara-gara dan bertarung denganmu, apa yang kau harapkan dari aku adalah supaya aku melakukan hal ini, bukan?" Lo-hiat tidak tertawa sedikit pun, dia hanya menganggukan kepala: "Betul, kau sungguh orang yang sangat pintar." Tiba-tiba Pu-couw-siancu berkata sendiri: "To Sam-nio bisa kuperintah, tapi jika tanpa alasan yang tepat melarang dia mencari gara gara pada orang, sepertinya itu tidak pantas dan tidak adil......" Lo-hiat dengan tertawa dingin, katanya: "Cui Lian-hoa adalah alasannya." Dia berhenti sejenak lalu melanjutkan, "Namamu Cui Lian-gwat, dia Cui Lianhoa, apakah alasan ini masih tidak cukup?" "Sepertinya tidak cukup, sebab sekarang aku sudah bukan Cui Lian-gwat lagi, aku adalah Pu-couw-siancu, kau ingat baik-baik ini." Lo-hiat tertawa dingin beberapa kali, berkata: "Nyawa Cui Lian-hoa, pasti tidak lebih murah dari pada nyawaku, jika kau berkata demikian, maka kita lihat saja nanti." Pu-couw-siancu dengan dingin menatap Iaw.m-nya, matanya yang hitam menyiratkan maksud yang sulil diduga. Lo-hiat mundur ke arah hutan, dalam sekejap menghilang. Pu-couw-siancu sedikit memperkeras suaranya: "Lo-hiat, bagaimana pun juga kau pasti mati di tangan To Sam-nio atau di tangan orang lain, kenapa aku tidak turun tangan sendiri saja membunuhmu" Dengan demikian aku telah membalaskan kekesalan Cui Lian-hoa, menurutmu betul tidak?" Di dalam hutan terdengar beberapa suara senjata beradu. Setelah beberapa saat, bayangan Lo-hiat muncul kembali. Pu-couw-siancu tersenyum berkata: "Walaupun anak buahku tidak bisa membunuh mu, tapi mereka berjumlah banyak, mungkin tidak menjadi soal jika hanya menghadangmu, apa lagi diantaranya masih ada beberapa yang ahli senjata rahasia, jika kau ingin menerobos keluar, mungkin sulit sekali." Wajah Lo-hiat terlihat sedikit kewalahan, dengan marahberkata: "Kau ini siapa sebenarnya" Cui Lian-hoa adalah kakak kembarmu, apakah kau sungguh-sungguh tidak mempedulikan hidup matinya?" "Aku hanya tidak senang diancam orang. Dan juga aku tidak percaya pengakuanmu yang mengira nyawamu lebih hina dari pada nyawanya, jika kau tidak mengaku dan juga tidak memohon padaku, aku sekarang juga akan membunuhmu." Wanita yang secantik dan semanis Pu-couw-siancu, katakatanya ternyata sadis dan tidak berperasaan, sungguh membuat orang merasa tidak percaya. Mata Lo-hiat melotot tidak bisa bicara, menatap dia beberapa saat, baru berkata lagi: "Baiklah, aku mohon padamu, aku tahu To Sam-nio tidak akan melepaskan aku, tapi dia menurut perintahmu, kau tolonglah aku?" Pu-couw-siancu tidak menjawab malah balik bertanya: "Dimana Cui Lian-hoa sekarang berada" Kau sudah apakan dia?" Lo-hiat (sebenarnya adalah nyonya baju hijau Biauw Cia-sa) berkata: "Ilmu silatnya sudah musnah, aku hanya menggunakan tusukan Tok-kiam menotok tiga jalan darah-nya, sebenarnya aku tidak perlu melakukannya." Biauw Cia-sa hanya menjawab setengah pertanyaannya, jelas dia tidak mau membocorkan keberadaan Cui Lianhoa. Pu-couw-siancu berpikir beberapa saat, tiba-tiba bertanya: "Apakah kau bisa menguburkan mayat?" Biauw Cia-sa terpaku sebentar, lalu berkata: "Mengapa tidak bisa?" "Bagus, pertama, galilah keluar lima mayat dalam kuburan baru ini, setelah diselidiki, kau ber-tanggung jawab menguburkannya kembali." Dia melihat lihat pada Tong-leng-siang-jin dan berkata lagi: "Apakah kau mau menghalangi pekerjaan ini?" Tong-leng-siang-jin mengangkat bahu, tanda tidak menentang. Walaupun Biauw Cia-sa bukan orang yang biasa mengerjakan pekerjaan menggali, tapi ilmu silat dia sangat Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo tinggi dan pandai menggunakan tenaga. Maka walaupun menggunakan sebuah papan (yaitu papan yang bertuliskan makam lima orang tanpa nama), sudah berlipat ganda penggunaannya dari pada orang lain yang menggunakan pacul, dalam sekejap dia sudah menggali sebuah lobang. Di dalam lobang ada lima mayat yang di bungkus tikar, dengan tenang terbaring di atas tanah. Biauw Cia-sa mencium-ciumnya beberapa kali dan berkata: "Aneh ada bau semacam obat, bau obat untuk mengawetkan mayat." Pu-couw-siancu melihat pada Tong-leng-siang-jin dan berkata: "Kau yang melakukannya" untuk apa melaku-kan ini?" Dari keadaan seperti patung Tong-leng-siang-jin kembali berubah menjadi manusia hidup dan menjawabnya: "Jika tidak begini, bukankah sekarang baunya sudah menyengat hidung" Mayat kadang-kadang dalam sehari sudah banyak membusuk, jika kurang sempurna, Sicu pasti tidak akan merasa puas, menurutmu betul tidak?" Pu-couw-siancu terpaksa berkata: "Baik, anggap saja aku puas dengan pekerjaanmu, apa yang dilakukan kau semua demi aku, perkataanku ini apakah memuaskan anda?" "Biasa-biasa saja! Sebenarnya Pinceng melaku-kan ini demi satu orang sahabat lainnya." Pu-couw-siancu keheranan sekali, tanyanya: "Siapa?" "Sicu tidak perlu tahu, pokoknya seorang yang pasti akan memperhatikan dirimu, Pinceng tahu dia pasti memperhatikan, maka Pinceng melakukannya." Mendengar ini Pu-couw-siancu tahu hweesio tua ini pasti tidak akan mengatakan siapa orang itu. Dia segera merubah arah pembicaraan: "Kalau begitu, kemarin malam jika aku sampai kalah, anda pun tidak akan tinggal diam?" Biauw Cia-sa yang berada di dalam lubang saat ini baru merasa terkejut, dia melihatpada hweesio tua. Coba saja pikir, Pu-couw-siancu Cui Lian-gwat yang sampai Pek-jiu-cian-kiam To Sam-nio juga harus runduk mendengar perintahnya, di dunia ini apa lagi yang harus ditakutinya" Tapi dalam nada bicaranya ini menandakan dia masih harus minta perlindungan hweesio tua ini, siapa hweesio tua ini sebenarnya" Tong-leng-siang-jin berkata: "Pinceng mungkin tidak sampai tidak ada perasaan duduk diam tanpa mempedulikan, tapi jika Sicu hanya terluka di wajah, atau hanya putus tangan, kaki, \ sedang nyawa tidak terancam, saat itu mungkin Pinceng tidak akan mempedulikan!" Wanita cantik adalah mala petaka sejak zaman dulu begitu. Maka maksud dalam kata-katanya hweesio tua, di luar seperti menutup-nutupi tapi sebenarnya sangat jelas. Pu-couw-siancu menganggukan kepala, sorot matanya berpaling pada lima mayat yang dibungkus tikar di dalam lubang itu dan berkata: "Buka dan lihat." Tikar segera dibuka. Lima mayat itu masih utuh. Usia mereka diantara dua puluh lima sampai tiga puluh dua, semuanya masih muda. Hal ini memang membuat orang sedikit merasa sayang! Hal lainnya yang menjadi perhatian adalah ke lima orang mati itu semua sepasang matanya melototbesar. Walaupun semua matanya sudah berubah jadi putih, sedikit pun tidak ada cahaya, tapi bagaimana pun membuat orang heran dan ketakutan. Pu-couw-siancu terdiam melihat-lihat beberapa saat baru berkata: "Kubur kembali mereka." Pekerjaan ini Biauw Cia-sa bisa mengerjakan lebih cepat dari pada pekerjaan menggali. Melihat kejadian yang sudah berlangsung dia merasa keheranan, heran kenapa dia mendadak menjadi seperti pegawainya Pu-couw-siancu Cui Lian-gwat" Pu-couw-siancu bertanya pada dia: "Lo-hiat, kau juga sudah melihat ke lima mayat itu, coba beritahu aku, apa yang kau telah lihat?" Biauw Cia-sa berpikir paling sedikit puluhan kali baru menjawab: "Aku memang telah melihat beberapa hal!" "Ku pikir kau pasti bisa melihatnya." Pu-couw-siancu tersenyum, tapi senyumnya terasa dalam, sulit diduga, "Kalau begitu, kau beritahu, sebab aku tidak suka mendugaduga, dan juga paling baik kau ingat satu hal, yaitu jika aku berumur panjang, baru bisa membantumu supaya Cui Lianhoa tidak mati, jika Cui Lian-hoa bisa hidup dengan baik, mungkin kau juga sama." Biauw Cia-sa seperti prajurit melewati sungai di dalam permainan catur, sekali melewati sungai hanya bisa maju tidak bisa mundur lagi, saat itu dengan gagap dia berkata: "Mereka telah terkena racun serangga, terkena racun sebelum mati." Pu-couw-siancu tertawa, sepertinya dia tidak terkejut dan berkata: "Racun serangga macam ini mungkin racun yang bisa mengendalikan pikiran mereka yang terkena racun bukan?" "Betul!" Pu-couw-siancu berpikir-pikir, alisnya semakin lama semakin mengerut. Dia berguman: "Tapi kenapa dua diantaranya bergerak lebih lambat, dan juga tidak bekerja sama menyerang aku" Kenapa?" Biauw Cia-sa bengong tidak bisa menjawab. ^ Tapi hweesio tua sambil tertawa malah berkata: "Pernahkah Pinceng mengatakan Pinceng pasti duduk diam tidak mempedulikan, pasti tumpang tangan menonton di pinggir?" Pu-couw-siancu Cui Lian-gwat mengeluh: "Hay! Aku seharusnya sudah terpikirkan sejak dulu!" Biauw Cia-sa menggosok-gosok dan memukul-mukul membersihkan tanah di tangannya dan di tubuhnya. Tapi dia juga merasakan sorot mata Pu-couw-siancu seperti golok mengawasi dirinya. Kenapa dia menggunakan sorot mata setajam ini melihat orang" Aku telah bekerja tanpa bayaran, dan juga selalu menjawab pertanyaannya, apakah dia masih belum puas" Ada beberapa hal yang sangat mudah, tapi buat orang berilmu tinggi yang mempunyai banyak musuh, tidak mudah berubah. Biauw Cia-sa mengangkat kepala melihat sorot mata Pucouwsiancu yang hitam dan terang laksana bintang malam, dengan rendahnya berkata: "Apakah masih ada pekerjaan untukku?" Pu-couw-siancu dengan dingin berkata: "Di depan Lo-hweesio aku tidak bisa semba-rangan membunuh orang, tapi mematahkan kaki, tangan atau mencongkel satu mata mungkin masih boleh. Kau percaya tidak dalam satu jurus aku bisa mematahkan satu kaki dan satu tanganmu" Atau men-congkel satu mata, kau percaya tidak?" Biauw Cia-sa terkejut sekali katanya: "Kapan aku telah berbuat dosa padamu?" "Keberadaan Cui Lian-hoa belum kau katakan, hal ini membuat aku sangat tidak puas." "Jika aku mengatakannya, lalu kau menyuruh anak buahmu menolongnya terlebih dulu, saat itu aku bagaimana?" "Itu masalahmu, aku sama sekali tidak percaya setelah kau kehilangan saru kaki, saru tangan dan satu mata lalu tidak ingin hidup lagi, saat itu kau masih harus memberitahukannya padaku, betul tidak?" Biauw Cia-sa merasa kepalanya sangat sakit dan pusing, juga terpaksa mengakui Lian-gwat adalah orang yang paling dingin, paling keji, paling menakut-kan yang pernah dia temui selama hidupnya. Tidak salah, setelah satu kaki, satu tangan dan satu matanya hilang, Pu-couw-siancu baru menyang-gupi segala syaratnya, apakah dia masih mau melanjut-kan hidupnya" Jika mau melanjutkan hidup, bukankah tetap harus memberitahukan tempat ditawannya Cui Lian-hoa" Pokoknya, walaupun di tangannya ada seorang sandaranya, tapi dia yang jadi penjual, sedikit pun tidak sanggup mengajukan penawaran, malah dia yang di kendalikan oleh lawan. Dia melihat-lihat pada hweesio tua yang aneh itu, di dalam hati berpikir dua kali. Pu-couw-siancu berkata: "Lo-hweesio itu benar-benar seorang hweesio, tentang ilmu silat dan kepintaran beliau, di depan dia kita seperti anak kecil yang tidak berpakaian, kau tidak perlu mengkhawatirkannya." Biauw Cia-sa memutuskan dan mengatakan satu alamat. Dia sungguh pintar, juga seorang yang tegas. Dalam sekejap mata dia sudah berhasil memperhitungkan untung ruginya. Misalnya jika dia tidak berpihak pada Pu-couw siancu, maka Pek-jiu-cian-kiamg To Sam-nio segera ak.m menjadi bayangannya. Itulah, walaupun dia membunuh sandaranya terlebih dulu lalu pergi bersembunyi, itu pun tidak akan bisa dia lakukan. Pokoknya, keadaan dia sudah menjadi walau pun berusaha apa pun dia tetap akan mati. Tidak peduli Cui Lian-hoa hidup atau mati, keadaannya sama saja buat dia. Dari pada begitu, lebih baik dia berpihak saja pada Pucouwsiancu. Di luar dugaan, Pu-couw-siancu Cui Lian-gwat malah tidak segera menyuruh anak buahnya pergi melepaskan Cui Lian-hoa. Dia hanya pelan-pelan membalikan tubuh, bersujud pada hweesio tua, sambil menundukan kepala berkata: "Tolong Lo-hweesio memberi petunjuk." Tong-leng-siang-jin berpikir sejenak katanya: "Pinceng juga sangat berharap dengan tulus, Sicu meminta saran padaku, sayang ini hal yang sangat tidak mungkin, karena Sicu adalah orang Tong-to-bun (Perkumpulan di wilayah timur).". Pu-couw-siancu keheranan melihat pada dia dan bertanya: "Kenapa" Apakah setiap orang yang bergabung dengan Tong-to-bun, pasti menjadi tidak berperasaan tidak mengenal saudara dan tidakbisa ditolong lagi?" Wajah Budha hweesio tua terlihat serius dan berwibawa, sepertinya sudah berubah dari orang biasa rnenjadi Budha agung yang telah sadar akan segala hal, tapi senyumnya yang ramah dan lembut, malah mem-buat orang ingat dia masih berada di dunia. Masih ada saru hal lagi yang berbeda dengan orang lain yaitu sepasang tangannya menggerakan satu tanda yang jarang sekali dilihat. Dan dibawah gerakan tangannya itu, kepala Pu-couwsiancu semakin menunduk ke bawah, tubuh-nya juga sedikit membungkuk, seperti sedang memikul benda yang sangat berat. Tong-leng Siang-jin berkata nyaring: "Orang dari Tong-to-bun, tidak merasa ber-dosa terhadap kekejian, tanpa perasaan, maka walau-pun Sicu melakukan hal yang di luar kemanusiaan, di dalam hatimu juga tidak akan ada rasa menyesal dan berdosa, hal inilah yang Pinceng tahu dari Tong-to-bun, O-mi-to-hud, harap Pinceng tidak salah memahaminya, harap Pinceng tidak salah menilai orang-orang Tong-to-bun!" Senyum Tong-leng-siang-jin yang bertumpuk di atas kerutannya, malah dirasakan lebih ramah. Dia berkata lagi: "Pinceng terpaksa membicarakan ketua kuil Siauw-lim Goan-seng Tai-cun-cia dua masa sebelum-nya, dia adalah guruku, dia sering berkata, walaupun hal prinsip juga kadang ada kekecualian, tapi itu sangat-sangat sedikit sekali. Kalian jangan terbohongi karena v kemungkinan semacam ini, kekecualian tidak bisa diharapkan, begitulah keadaan dunia ini. Kemungkinan dan kekecualian membuat banyak orang mengharap berlebihan, mereka berharap kejadian aneh ini bisa terjadi, akibatnya setelah harapan nya tidak terjadi, baru sadar kekecualian itu sangat sangat sedikit sekali. Argumen yang Pinceng katakan ini mungkin kalian mengira sangat dalam sekali, tapi itu demi kebaikan kalian, karena kalian berharap terlalu besar, sekali putus asa, pukulannya akan terasa sangat berat, Pinceng pernah melihat tidak sedikit orang mendapat pukulan ini, penderitaannya sangat dalam, malah seumur hidupnya seperti memikul hukuman. Prinsip yang kalian katakan itu, Pinceng juga tahu, tapi kekecualian bagaimana pun bukan cara yang biasa, hanya bisa sesekali tidak bisa dipaksakan, berharap yang bukanbukan itu tidak boleh. 'Kekecualian' hanyalah gabungan dari semua kejadian, hanya jodohnya lebih banyak sedikit atau kurang sedikit saja, keadaan begini siapa yang bisa meramalkan" Jika sampai untuk mengetahuinya saja tidak mungkin, apakah mungkin mengharapkannya" Terima kasih Sicu telah mengatakannya, tapi maaf Pinceng tidak bisa menerimanya." Suara Pu-couw-siancu mendadak kecil seperti berbisik: "Tapi paling sedikit di dalam hatiku masih ada sedikit Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo pikiran jujur, maka aku mau minta tolong pada Taysu, bukankah kemarin anda tidak akan tinggal diam menonton aku mengalami kesulitan, tapi mengapa hari ini malah akan tinggal diam?" Tong-leng-siang-jin menghela nafas dan menggelenggelengkan kepala. Setelah beberapa saat, baru dia berkata lagi: "Pinceng sudah tahu sebelumnya Pinceng tidak mungkin bisa menolong permohonan Sicu, sebab bukan saja Sicu masih ada Cui Lian-hoa. Nama kalian Pinceng sudah beberapa kali mendengar dari Cin Sen-tong, makanya sejak awal kita sudah ada jodoh, tapi terhadap Sicu, sepertinya Pinceng juga tidak bisa memikirkan sebuah cara. Sicu tahu tidak Tong-to-bun tidak semudah seperti aliran sesat Persia" Sebenarnya perkumpulan ini setengahnya aliran hitam dari daerah India dan Tibet" Tapi masalah kakak Sicu itu Pinceng bisa tidak harus mempedulikan, mengenai Sicu, setiap kali pikiran Sicu mendadak sadar, terjerumusnya pun semakin dalam satu tingkat." Di dalam mata Pu-couw-siancu tampak warna kebingungan dan berpikir. Tong-leng-siang-jin kembali berkata: "Bukankah gurumu bernama Sen Hai-kun" Kau tentu sudah berhasil mempelajari ilmu hebatnya, Coan-sen-piancie (Dewa berubah jari berputar), Yang-yan-hoan-sin-kang (Ilmu sakti matahari membara), dan Sen-ie-tay-hoat (Ilmu bayangan gaib)?" Mendadak tubuh Biauw Cia-sa melesat pergi laksana anak panah. Arah yang dia tuju untuk melarikan diri dari hutan yang berbeda dari arah datangnya. ^oodwoo^ BAB 9 Biauw Cia-sa mengira tadi dia telah dihadang oleh anak buahnya Pu-couw-siancu, tapi dari arah melarikan diri yang di tuju kali ini tentu tidak ada yang menghalanginya, apa lagi keadaan Pu-couw-siancu tampak sedang bengong memikirkan sesuatu, jadi mungkin tidak sempat mengeluarkan perintah. Walaupun dia kembali dihadang, juga tidak menjadi masalah. Bagaimana pun dia tidak akan menemui ajal-nya, jadi tidak salah mencobanya. Jika dia berhasil melarikan diri, bukankah dia kembali menjadi bebas. Selain itu Pu-couw-siancu Cui Lian-gwat yang sudah tahu Cui Lian-hoa berada di dalam genggaman nya, maka dia tidak akan berani berbuat macam-macam terhadap dia! Tubuh dia yang melayang kurang lebih dua tombak, tibatiba seperti batu yang berat jatuh ke atas tanah, untungnya tulang dia kuat, bukan saja tulangnya tidak patah, malah masih bisa langsung berdiri. Dengan ganas dan ketakutan dia menatap hweesio tua itu dan berkata: "Kenapa kau hanya membantu dia tidak mau membantu aku" Apakah karena dia cantik?" Tadi hweesio tua hanya sedikit mengibaskan lengan bajunya, menjentikan jari di dalam lengan bajunya. Satu hawa dingin sudah melesat ke arah Biauw Cia-sa yang sedang berlari cepat. Jurus ini adalah salah satu jurus hebat Siauw-lim-si yang telah menggemparkan dunia ratusan tahun tapi jarang dilihat orang, jurus ini disebut Ban-ji-to-go-cie (Jari Budha menembus kesulitan). Hweesio tua itu sambil tersenyum berkata: "Jangan khawatir, Sicu tidak akan mati, tapi di kemudian hari Pinceng tidak berani menjamin." Lalu hweesio tua menggoyangkan tangannya tanda menyuruh dia pergi dan berkata lagi: "Pergilah ke depan kuil, dan tunggu disana, Pincengmasih ada pesan untukmu." Diam-diam Biauw Cia-sa mengerahkan tenaga dalamnya, terasa di dalam tubuhnya paling sedikit ada tiga puluh enam jalan darah selain kesemutan juga terasa sakit, dia jadi sangat terkejut. Dia tidak berani bicara lagi, lalu pergi keluar hutan. Mata Pu-couw-siancu jernih dan jelas hitam dan putihnya, dia menjadi sadar. Dia berkata: "Lo-hweesio, apakah kau tidak lupa masih ada seorang Pek-jiu-cian-kiam To Sam-nio yang bisa membunuh dia?" Tong-leng-siang-jin tidak menjawab, dia hanya berkata: "Sicu juga silahkan pergi, Pinceng masih ada tamu lain." Pu-couw-siancu berpikir sejenak baru berkata: "Apakah Ban-ji-to-go-cie dari Siauw-lim-si lebih lihay dari pada Coan-sen-pian-cie dari perguruan kami"'" Akhirnya pertanyaannya tepat ditanyakan pada orang yang tepat, sebab jika membicarakan tinggi rendah dan kehebatan ilmu silat yang tiada duanya di dunia ini, tidak ada yang lebih pantas dari pada Tong-leng-siang-jin yang menjadi salah satu dari Ngo-tai-siang-jin di Siauw-lim-si" Kata Hweesio tua itu: "Tidak, Coan-sen-pian-cie dan Ban-ji-to-go-cie tujuan dan kegunaannya sangat berbeda, yang satu untuk membunuh orang, yang satu lagi menghapus kejahatan yaitu menolong orang, jadi tidak bisa disama ratakan. Kedua jurus jari ini masing-masing mempunyai kelebihan, keadaannya berimbang, siapa pun tidak bisa mengalahkan siapa, jika Ban-ji-to-go-cie mampu menga lahkan Coan-sen-pian-cie, maka Sen Hai-kun pasti memberi tahu padamu, dan sangat mungkin tidak akan diajarkan padamu, dia adalah orang yang sangat percaya diri dan ingin menang sendiri, betul tidak?" Mendadak Pu-couw-siancu menyadari, hweesio tua ini ternyata sangat mengenal Sen Hai-kun yang sangat misterius dan jarang diketahui orang. Malah bisa ditafsirkan mereka adalah teman lama, kalau tidak bagaimana dia bisa tahu begitu banyak" Apakah di sisi Sen Hai-kun ada pengkhianat" Hingga telah membocorkan tidak sedikit rahasia dia" Tong-leng-siang-jin kembali berkata: "Nanti kalau bertemu dengan Sen Hai-kun, tolong beritahu dia, Pinceng sudah terlalu tua, sudah tidak sanggup lagi, tapi Pinceng ada seorang generasi penerus. Walaupun masih seorang hweesio kecil, tapi sangat angkuh dan tidak mau kalah, dia berharap bisa bertarung dengan Sen Hai-kun, itu adalah harapan dia seumur hidupnya!" Pu-couw-siancu sambil mengerutkan alis berkata: "Hweesio kecil ini siapa namanya?" "Nama preman dia tidak perlu disebutkan! Sebutan hweesio dia adalah Wie-it (hanya satu satunya)." Dia seperti teringat pada hal yang lucu, malah mengangkat kepala, tertawa terbahak-bahak, berkata lagi: "Dia baru berusia dua puluh tahun" Mmm, mungkin juga dua puluh satu tahun. Tapi dia mempunyai banyak harapan yang cerah. Misalnya di bidang ilmu silat, orang yang saru satunya dia ingin kalahkan adalah Sen Hai-kun, di bidang agama Budha, satu-satunya harapan dia adalah hati terang dan tahu masalah, menuju kesempurnaan, di bidang wanita, dia juga memiliki harapan satu-satunya......" Pu-couw-siancu melihat dia terhenti sejenak, jadi tidak tahan bertanya: "Dia berharap apa?" "Dia berharap sepanjang hidupnya tidak akan bertemu dengan wanita yang bisa menggetarkan hati-nya, dia sadar ini satu ujian yang sangat berbahaya, tentu saja Pinceng juga sangat setuju dengan maksud-nya." Pu-couw-siancu tersenyum dan berkata: "Boleh tidak aku bertemu dengan dia?" "Tidak bisa," hweesio tua dengan jujur menolak, dan melanjutkan perkataannya: "Karena Sicu adalah wanita yang satu-satunya tidak dia harapkan bertemu." Pu-couw-siancu pelan mengangkat bahunya, lalu mengangkat tangan merapihkan rambut panjang-nya. Tidak banyak bicara lagi, meninggalkan tempat itu sambil tersenyum. ((oodwoo)) Di dalam hutan pohon Hong keadaan tenang dan hening, hweesio tua yang berdiri tidak bergerak, tiba-tiba di hadapannya muncul satu orang. Hweesio tua itu membuka mata melihatnya, sedikit pun dia tidak merasa heran, berkata: "Akhirnya Sicu datang juga?" Orang itu memakai baju putih melayang-layang ditiup angin, muda dan tampan. Tapi dalam ketenangannya tampak kekuasaan, d i dalam sorot matanya tampak ambisi menguasai dunia. Dia membungkuk hormat katanya: "Aku tidak tahu hweesio tua menunggu aku, maka datang terlambat." "Pinceng tidak sengaja menunggumu, Pinceng hanya saja tahu Sicu mungkin akan mencari Pinceng, maka Pinceng melakuan dengan sambilan saja! Jika Sicu sudah datang, itu bagus sekali." Orang berbaju putih adalah ketua perkumpulan Thi-piantan, Li Poh-hoan yang berambisi menguasai dunia persilatan. Dia berkata: "Mohon penjelasan maksud kata 'bagus' itu?" "Guruku adalah Goan-seng Tai-cun-cia, dia adalah ketua Siauw-lim dua masa sebelumnya, yang menggantikan kedudukannya adalah Thi-kau-siang-jin, dia adalah adik seperguruan almarhum guruku." Li Poh-hoan dengan hormat berkata: "Para Siang-jin dari kuil Siauw-lim-si aku sudah mendengarnya, di dalam hatiku sangat salut dan menghormati mereka. Tapi kenapa Lo-hweesio menceritakan hal yang sudah lama lewat ini" Walaupun para ketua Siauw-lim-si dahulu menggemparkan dunia dan dihormati, lalu apa hubungannya dengan sekarang?" Tong-leng-siang-jin pelan berkata: "Susiok Pinceng pernah berpesan, jika bertemu dengan keturunan Leng-hiat Li Cap-pwee, yang jadi sahabat lamanya, Pinceng harus melindunginya." Li Poh-hoan terpaku sesaat lalu berkata: "Ah! Begitu, kiranya begitu!" Tidak heran begitu dia bertemu dengan Siang-jin yang sudah amat tua ini, langsung dia diajarkan satu jurus pedang yang sangat hebat. Tentu saja saru jurus pedang ini amat berguna sekali buatnya. Terhadap jurus It-cie-pek-pian Pu-couw-siancu" itu, dia akan kewalahan menghadapinya, dia tentu terpaksa sekuat tenaga menggunakan jurus pedang pembunuh. Jadi sangat mungkin kedua belah pihak akan sama sama terluka. Malah mungkin kedua belah pihak akan kehabisan tenaga dan tidak bisa bangkit berdiri. Maka satu jurus pedang yang diajarkan hweesio tua itu, akan menghindarkan mala petaka, dan sekarang dia baru mengerti alasannya kenapa hweesio tua ini mengajarkan jurusnya. Dia menghela nafas dalam sekali, lalu mengangkat kepala bersiul panjang, melampiaskan semangat yang bergelora di dalam dadanya melalui siulan panjang ini. Dada segera merasa lebih nyaman. Dengan terharu dia berkata: "Kebiasaan para Lo-cianpwee yang sangat berperasaan, bisa dilihat dari sini, bisa dilihat dari sini......" Tong-leng-siang-jin menatap dia sejenak, tidak tahan berkata: "Sementara ini kembalilah Sicu ke Siang-yang, berpikirlah beberapa hari, sebab Pinceng melihat masih ada satu mala petaka yang akan terjadi." Semangat Li Poh-hoan jadi terbangkit, dengan tersenyum tenang berkata: "Terima kasih banyak atas petunjuk Siang-jin, aku tahu harus bagaimana berbuat. Terima kasih banyak dan mohon Geger Di Selat Bantai 2 Kuda Putih Karya Okt Geger Di Lembah Tengkorak 2

Cari Blog Ini